Anda di halaman 1dari 9

Data dari salah satu rumah sakit di Surabaya pada tahun 2000 hingga pertengahan tahun 2001 menunjukkan

jumlah 31 penderita meningitis.


Usia kurang dari satu tahun 22,6; usia 1-5 tahun 3,2; usia 5-15 tahun 6,4; usia 15-25 tahun 32; usia 25-45 tahun 16,1; usia 45-65
tahun 16;1; usia lebih dari 65 tahun 3,2. Dari 31 penderita tersebut
sebanyak delapan orang (25,8) meninggal dunia
1. Faktor predisposisi : jenis kelamin laki-laki lebih sering dibandingkan dengan wanita
2. Faktor maternal : ruptur membran Ietal, inIeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan
3. Faktor imunologi : deIisiensi mekanisme imun, deIisiensi imunoglobulin.
4. Kelainan sistem saraI pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persaraIan
Gejala meningitis diakibatkan dari inIeksi dan peningkatan TIK :
1. Sakit kepala dan demam (gejala awal yang sering). Sakit kepala dihubungkan dengan meningitis yang selalu berat dan sebagai
akibat iritasi meningen. Demam umumnya ada dan tetap tinggi selama perjalanan penyakit.
2. Perubahan pada tingkat kesadaran dihubungkan dengan meningitis bakteri. Disorientasi dan gangguan memori biasanya
merupakan awal adanya penyakit. Perubahan yang terjadi bergantung pada beratnya penyakit, demikian pula respon individu
terhadap proses Iisiologi. ManiIestasi perilaku juga umum terjadi. Sesuai pengembangan penyakit, dapat terjadi letargik, tidak
responsi, dan koma.
3. Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sbb:
a) Rigiditas nukal (kaku leher). Upaya untuk Ileksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher.
b) Tanda kernig positiI : ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan Ileksi kearah abdomen, kaki tidak dapat di
ekstensikan sempurna.
c) Tanda brudzinki : bila leher pasien di Ileksikan maka dihasilkan Ileksi lutut dan pinggul. Bila dilakukan Ileksi pasiI pada
ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka gerakan yang sama terlihat peda sisi ektremita yang berlawanan.
4. Mengalami Ioto Iobia, atau sensitiI yang berlebihan pada cahaya akibat iritasi syaraI-syaraI kranialis..
5. Kejang akibat area Iokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda
perubahan karakteristik tanda-tanda vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi), pernaIasan tidak teratur, sakit kepala,
muntah dan penurunan tingkat kesadaran.
6. Adanya ruam seperti terdapat lesi-lesi pada kulit diantaranya ruam ptekie dengan lesi purpura sampai ekimosis pada daerah yang
luas merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal.
7. InIeksi Iulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba muncul, lesi purpura yang menyebar (sekitar wajah
dan ekstremitas), syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata (KID). Kematian mungkin terjadi dalam beberapa jam
setelah serangan inIeksi.

LIQUOR PURULENTA SEROSA
Sel PMN 500 - 100.000
Pleiositosis polinuklearis
MN 500 -1000
Pleiositosis limfositer
Protein >500 mg 200 - 500 mg
Glukosa Normal / Menurun < 40mg
Virus - meningkat
Bakteri + + TBC/Parasit
Kejernihan Keruh 1ernih

a. Pemeriksaan Diagnostik
1. Analisis CSS dari Iungsi lumbal :
a) Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat glukosa
meningkat, kultur positip terhadap beberapa jenis bakteri.
b) Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya
normal, kultur biasanya negatiI, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus.
2. Glukosa serum : meningkat (meningitis)
3. LDH serum : meningkat (meningitis bakteri)
4. Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutroIil (inIeksi bakteri). Biasanya berjumlah 200-10.000 dan 95
terdiri dari sel PMN. Setelah pengobatan dengan antibiotika perbandingan jumlah sel MN (Mononuklear) terhadap sel PMN
meningkat.
5. Elektrolit darah : Abnormal
6. ESR/LED : meningkat pada meningitis
7. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat inIeksi atau mengindikasikan tipe penyebab
inIeksi
8. MRI/ scan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik
atau tumor
9. Ronsen dada/kepala/ sinus : mungkin ada indikasi sumber inIeksi intra kranial.

2. Encephalitis
a. DeIinisi Encephalitis
Encephalitis adalah suatu peradangan dari otak. Ada banyak tipe-tipe dari encephalitis, kebanyakan darinya disebabkan oleh inIeksi-
inIeksi. Paling sering inIeksi-inIeksi ini disebabkan oleh virus-virus. Encephalitis dapat juga disebabkan oleh penyakit-penyakit yang
menyebabkan peradangan dari otak. (www.totalkesehatananda.com, 2009)
b. Etiologi
a. InIeksi Virus
Sering : - Herpes simplex
- Arbo virus (menyebar ke manusia melalui nyamuk culex)
Jarang : - Entero virus
- Mumps
- Adeno virus
Post InIeksi : - Measles
- InIluenza
- Varisella
Post Vaksinasi : - Pertusis
O EnseIalitis supuratiI akut : Bakteri penyebab EsenIalitis adalah : Staphylococcusaureus, Streptokok,E.Coli, Mycobacterium
dan T. Pallidum.
O EnseIalitis virus: Virus yang menimbulkan adalah virus R N A (Virus Parotitis) virus morbili, virus rabies, virus rubella,
virus denque, virus polio, cockscakie A,B, Herpes Zoster, varisela, Herpes simpleks, variola.
c. ManiIestasi Encephalitis
Gejala-gejala dari encephalitis termasuk demam yang tiba-tiba, sakit kepala, muntah, kepekaan penglihatan pada sinar, leher dan
punggung yang kaku, kebingungan, keadaan mengantuk, kecanggungan, gaya berjalan yang tidak mantap, dan mudah terangsang.
Kehilangan kesadaran, kemampuan reaksi yang buruk, serangan-serangan, kelemahan otot, demensia berat yang tiba-tiba dan
kehilangan memori dapat juga ditemukan pada pasien-pasien dengan encephalitis.
d. Pemeriksaan Diagnostik
Anamnesis terhadap adanya inIeksi di telinga bagian tengah, mastoid, sinus paranasalis, paru-paru, jantung. Kemudian adanya gejala-
gejala peningkatan intra kranial. Pemeriksaan Iisik neurologik dikonIirmasikan dengan hasil anamnesis. Pemeriksaan tambahan
meliputi pemeriksaan cairan serebrospinal, Ioto thorax dan tengkorak, CT-Scan atau MRI.
. Pengkajian
B 1 (Breath)
Takipnea
ReIlek batuk menurun atau tidak ada
Hiperventilasi
Ada suara naIas tanbahan (snoring,gargling,ronki)karena penumpukan sekret

B 2 (Blood)
Tekanan darah meningkat
Takikardia
Disritmia sinus (pada meningitis)
Diseminata hematogen

B 3 (brain)
Nyeri kepala
Parastesia
Hiperalgesia
Diplopia(gangguan penglihatan)
FotoIobia
Ketulian (hipersensitiIitas terhadap kebisingan)
Letargi
AIasia
Kejang
Hipertermi

B 4 (Bladder)
-
B 5 (Bowel)
Tenggorok nyeri
ReIleks menelan menurun

B 6 (Bone)
Hipotonia
Ataksia
Kelumpuhan
Involunter
Keterbatasan rentang gerak

. nalisa Data
DS : Keluarga klien mengatakan klien
terlihat sesak
DO :
a. Adanya retraksi dada
b. Perubahan tanda vital
RR : lebih dari 20x/menit
Nadi : ~ 100x/menit
c. Irama naIas tidak teratur
Kesadaran menurun

Pangkal lidah jatuh ke posterior

Obstruksi jalan naIas

KetidakeIeIktiIan jalan naIas
KetidakeIektiIan Jalan NaIas





DS : Keluarga klien mengatakan klien
terlihat sesak
DO :
a. PernaIasan Cuping hidung
b. Adanya retraksi dada
c. Perubahan tanda vital
RR : ~ 20x/menit
Nadi : ~ 100x/menit
d. Irama naIas tidak teratur
DiIusi O2 & CO2 dalam paru
terganggu

Hiperventilasi

RR

Pola naIas tak eIektiI
Pola napas tak eIektiI


DS :
DO :
a. Adanya suara naIas tambahan :
ronkhi.
b. Klien tidak bisa batuk eIektiI
Kesadaran menurun

Penumpuka sekret, kemampuan
batuk menurun

KetidakeIektiIan bersihan jalan
naIas

KetidakeIeektiIan bersihan jalan naIas



DS : -
DO :
a. Pucat
b. Sianosis
c. TD
d. CRT ~ 3 detik
e. Peningkatan suhu tubuh

Aliran darah otak terganggu

Aliran darah menuju atrium
kanan jantung

CO

Takikardi
Perubahan perIusi jaringan serebral
DS : Keluarga mengatakan adanya demam
DO :
a. Peningkatan suhu tubuh ~37C
per oral, ~38C per rectal
b. Kulit memerah
c. Hangat kalau disentuh
Gangguan metabolisme otak

Hipotalamus

Gangguan pengendalian suhu

hipertermi
Hipertermi


DS : Klien mengatakan sakit kepala
DO :
a. Ekspresi wajah meringis
b. Menahan sakit
c. Nyeri skala 7 - 10
d. Perubahan tanda vital
RR ~ 20 x/menit
Suhu ~ 38C
e. Berkeringat

PTIK

Nyeri
Nyeri

DS : -
DO :
a. Terjadi tanda-tanda inIeksi
b. Suhu ~37C
InIeksi ssp

Diseminata hematogen

Resiko tinggi penularan inIeksi
c. Hasil lab leukosit ~ 10 x 10l

Resti penularan inIeksi

. Diagnosa
1. KetidakeIektiIan jalan naIas b.d obstruksi jalan naIas sekunder terhadap pangkal lidah jatuh ke posterior
2. Pola napas tak eIektiI b.d spasme otot pernapasan
3. KetidakeIeektiIan bersihan jalan naIas b.d akumulasi sekret,kemampuan batuk menurun akibat penurunan kesadaran
4. Perubahan perIusi jaringan serebral b.d interupsi aliran darah : gangguan oklusiI, hemoragik, vasospasme serebral, edema
serebral.
5. Hipertermi b.d kerusakan kontrol suhu sekunder akbat inIeksi, inIlamasi
6. Nyeri akut b.d proses inIlamasi/inIeksi,toksin dalam sirkulasi
7. Resiko tinggi penularan inIeksi berhubungan dengan diseminta hematogen dari penyakit

V. ntervensi

1. Diagnosa keperawatan : KetidakeIektiIan jalan naIas b.d obstruksi jalan
naIas sekunder terhadap pangkal lidah jatuh ke posterior.
Tujuan : Memperbaiki jalan naIas
Kriteria hasil : RR 16-20x/menit
Jalan naIas eIektiI
Tidak menggunakan otot bantu naIas

ntervensi Rasional
1. Letakkan klien pada permukaan yang datar, dengan posisi
miring, miringkan kepala selama kejang.

2. Longgarkan pakaian klien pada daerah leher, dada, dan
abdomen.

3. Kolaborasi untuk pemberian oksigen sesuai indikasi
1. Meningkatkan aliran drainase secret, mencegah
lidah jatuh dam menutup jalan napas.

2. Memaksimalkan usaha bernapas, dada berekspansi.

3. Untuk memenuhi kebuhan oksigen jaringan
sehingga menormalkan pola napas
2. Diagnosa keperawatan : Pola napas tak eIektiI b.d spasme otot pernapasan
Tujuan : Memperbaiki pola naIas
Kriteria hasil : RR 16-20x/menit
Tidak menggunakan otot bantu naIas

ntervensi Rasional
1. Letakkan klien pada permukaan yang datar, dengan
posisi miring, miringkan kepala selama kejang.

2. Longgarkan pakaian klien pada daerah leher, dada, dan
abdomen.

3. Kolaborasi untuk pemberian oksigen sesuai indikasi
1. Meningkatkan aliran drainase secret, mencegah
lidah jatuh dam menutup jalan napas.

2. Memaksimalkan usaha bernapas, dada berekspansi.

3. Untuk memenuhi kebuhan oksigen jaringan
sehingga menormalkan pola napas

3. KetidakeIeektiIan bersihan jalan naIas b.d akumulasi sekret,kemampuan batuk menurun akibat penurunan kesadaran
Tujuan : segara setelah diberi tindakan,jalan naIas kembali eIektiI
Kriteria hasil :
- RR 16-20x per menit
- Sekret tidak ada
- Tidak menggunakan otot bantu naIas
ntervensi Rasional
1. Lakukan penghisapan dengan ekstra hati hati, jangan lebih
dari 10 15 detik. Catat karakter, warna dan kekeruhan dari
sekret.








2. Auskultasi suara naIas. Pantau kecepatan pernaIasan dan
usaha pernaIasan.


3. Pantau dari penggunakan obat obatan depresan pernaIasan,
seperti sedatiI.
4. Lakukan Iisioterapi dada jika ada indikasi.






5. Berikan air hangat

6. Kolaborasi obat sesuai indikasi bronkodilator spiriva 1x1
(inhalasi)
1. Penghisapan biasanya dibutuhkan jika pasien koma atau
dalam keadaan imobilisasi dan tidak dapat
membersihkan jalan naIasnya sendiri.penghisapan pada
harus dilakukan dengan ekstra hati hati karena hal
tersebut dapat menyebabkan atau meningkatkan hipoksi
yang menimbulkan vasokonstriksi yang pada akhirnya
akan berpengaruh cukup besar pada perIusi serebral.
2. adany ronkhi atau mengi, takipnea,dan peningkatan kerja
pernaIasan mungkin mencerminkan adanya akumulasi
sekret dengan resiko terjasinya inIeksi pernaIasan.
3. Dapat meningkatkan gangguan atau komplikasi
pernaIasan.
4. Walaupun merupakan kontra indikasi pada pasien
dengan peningkatan TIK Iase akut namun tindakan ini
sering kali berguna pada Iase akut rehabilitasi untuk
memobilisasi dan membersikan jalan naIas dan
menurunkan risiko atelektasis / komplikasi paru lainnya.
5. Penggunaan cairan hangat dapat meluruhkan sekret
6. Mengurangi produksi mukosa

4. Perubahan perIusi jaringan serebral b.d interupsi aliran darah : gangguan oklusiI, hemoragik, vasospasme serebral, edema
serebral.
Tujuan: mempertahankan tingkat kesadaran,menunjukkan tidak adanya kelanjutan deteriotasi/kekambuhan deIisit,dalam waktu 1x
24 jam setelah diberikan intervensi,perIusi jaringan otak meningkat
Kriteria hasil: - mempertahankan tingkat kesadaran membaik (GCS 14-15)
- Kesadaran : compos mentis
- menunjukkan TTV stabil (TD 120/80 mmHg; t 36-37
0
)
- tidak adanya tanda-tanda PTIK (tidak ada muntah proyektil, tidak ada nyeri kepala)
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Letakkan kepala dengan posisi agak ditinggikan 30
0



2. Pertahankan keadaan tirah baring, ciptakan lingkungan yang
tenang; batasi pengunjung/ aktivitas pasien sesuai indikasi
3. Berikan istirahat secara periodic antara aktivitas perawatan,
batasi lamanya setiap prosedur.


1. Menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan drainase
dan meningkatkan sirkulasi/ perIusi serebral.
2. Aktivitas/ stimulasi yang kontinu dapat meningkatkan TIK.


3. Istirahat total dan ketenangan mungkin diperlukan untuk
pencegahan terhadap perdarahan dalam kasus stroke
hemoragik/ perdarahan lainnya.

4. Menurunkan hipoksia yang dapat menyebabkan
4. Kolaborasi :



- Berikan oksigen sesuai indikasi





- antihipertensi


- pemberian obat steroid osmotik
vasodilatasi serebral & tekanan meningkat atau
terbentuknya edema.
- Hipertensi sementara seringkali terjadi selama Iase stroke
akut dan penanggulangannya seringkali tanpa intervensi
terapeutik. Penanganan yang berlebihan meningkatkan
resiko terjadinya perluasan kerusakan jaringan.
- Memberikan inIormasi tentang keeIektiIan pengobatan/ kadar
terapeutik
- Untuk menurunkan tekkanan intra kraanial

4. Diagnosa keperawatan : Hipertermi b.d kerusakan kontrol suhu sekunder akbat inIeksi, inIlamasi
Tujuan : menjaga kestabilan suhu tubuh
Kriteria hasil :
- penurunan suhu mendekati normal (36-37 derajat) dengan syarat mempertahankan suhu
normal
- RR 16 20x/menit
- Nadi 80 100x/menit

ntervensi Rasional
1. Kompres air hangat, hindari alcohol.




Kolaborasi
1. Penggunaan antipiretik. Misalnya ASA (Aspirin)

2. Berikan selimut pendingin


1. Dpat membantu menguragi demam. Cat; alkhohol
mungkin dapt menyebabkan kedinginan,
peningkatan suhu secara actual dan resiko kulit
kering.

1. Menurunkan demam dengan dengan aksi sentral ke
hipotalamus.
2. Mengurangi demam umumnya lebih besar dari 39,5-
40`C


5. Diagnosa keperawatan : Nyeri akut b.d proses inIlamasi/inIeksi,toksin dalam sirkulasi
Tujuan : manerunkan nyeri dan klien dapat beradaptasi dengan nyeri
Kriteria Hasil :
- Ekspresi wajah klien tidak tampak menahan sakit
- RR 16 20x/menit
- Nadi 80 100x/menit
- Skala nyeri berkurang (kurang dari 5)
ntervensi Rasional
1. letakkan kantung es pada kepala pakaian dingin diatas
mata .

2. Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman.
3. Gunakan pelembab yang agak lama pada nyeri leher /
punggung jik tidak ada demam.
1. Meningkatkan vasokonstriksi, pengumpulan resepsi
sensori yang selanjutnya menurunkan nyeri.
2. Menurunkan iritasi, resultan ketidaknyamanan lebih lanjut
3. meningkatkan relaksasi otot dan menurunkan rasa sakit/
rasa tidak nyaman.
4. Mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang
4. Beriakn analgesik seperti asetaminophen, kodein. berat.

6. Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi penularan inIeksi berhubungan dengan diseminta hematogen dari
penyakit.
Tujuan : Untuk menghindari terjadinya penyebaran inIeksi
Kriteria hasil : - penurunan suhu tubuh (36-37
0
)
- leukosit dalam batas normal (5-10.10
3
/l)
ntervensi Rasional
1. Pantau suhu secara teratur. Catat munculnya tanda-
tanda klinis dan proses inIeksi







2. Catat karakteristik urin, seperti warna, kejernihan dan
bau.


3. IdentiIikasi kontak yang beresiko terhadap
perkembangan proses inIeksi serebral dan anjurkan
mereka untuk meminta pengobatan.
4. Tindakan kolaborasi : Berikan terapi antibiotik seperti
penisilin, ampisilin , kloramphenicol, gentasimisin
(harus sesuai anjuran dokter)
1. Terapi obat biasanya mungkin akan diberikan terus selam
kurang lebih 5 hari setelah suhu turun (kembali normal) dan tanda-
tanda klinisnya jelas. Timbulnya tanda klinis yang terus-menerus
merupakan indikasi pengembangan dari meningokosemia akut
yang dapat bertahan sampai berminggu-minggu /berbulan-bulan
atau terjadi penyebaran patogen secara hamatogen atau sepsis.
2.Urine statis, dehidrasi dan kelemahan umum meningkatkan
resiko terhadap inIeksi kandung kemih/ginjal/awitanspesies.
3. orang-orang dengan kontak pernaIasan memerlukan terapi
antibiotika proIilaksis untuk mrncugah penyebaran inIeksi.
4. Penggunaan antibiotika akan mengurangi penyebaran
inIeksi, sehingga bisa mengurangi nyeri


Daftar Pustaka

Anynomous, 2001. meningitis bakterial. http://piolk.ubaya.ac.id/datanb/piolk/rasional/20070320150750.pdI. diakses pada 6 oktober 2009
pukul 02.47 wib

Anynomous, 2009. inIeksi sistem saraI pusat. http://medicastore.com/penyakit/3340/inIeksisistemsaraIpusat.html. diakses pada 6
oktober 2009 pukul 02.41 wib

Carpenito,J,L. 1999. Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2 (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Harsono. 2007. Kapita Selekta Neurologi edisi 2. Yogyakarta : Gajah Mada Press
http://amberdohawkcyber.blogspot.com/2008/10/inIeksi-susunan-saraI-pusat.html. diakses pada 6 oktober 2009 pukul 02.01 wib

Hudak & Gallo. (1997). Keperawatan Kritis. Pendekatan Holistik. Jolume I. Penerbit Buku Kedoketran EGC: Jakarta
.
Japardi, iskandar. 2002. inIeksi parasit dan jamur pada susunan saraI pusat. http://library.usu.ac.id/download/Ik/bedah-
iskandar20japardi14.pdI. diakses pada 6 oktober 2009 pukul 01.54 wib

Mardjono, Mahar dkk. 2003. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta : Dian Rakyat
Mark Mumenthaler. 1995. Neurolgy Jilid 1. Jakarta : Binarupa Aksara
Marylin E. Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3.
Penerbit Buku Kedoketran EGC: Jakarta.

Rachman, sani. 2007. gangguan tumbuh kembang post inIeksi susunan saraI pusat. http://sanirachman.multiply.com/journal/item/6. diakses
pada 1 oktober 2009 pukul 06.59 wib

Saanin, syaiIul. 2008. inIeksi virus, bakterial, Iungal dan parasi pada s.s.p. http://www.angelIire.com/nc/neurosurgery/virus.html.
diakses pada 1 oktober 2009 pukul 06.15 wib

Silvia, maria elIina. 2008. inIeksi jamur pada susunan saraI pusat (cryptococcus neoIormans).
http://mikrobia.Iiles.wordpress.com/2008/05/cryptococcus-neoIormans-Irom-the-blank3.pdI. diakses pada 8 oktober 2009 pukul
10.43 wib

Tontarotato, amberdo. 2008. inIeksi susunan saraI pusat. http://amberdohawkcyber.blogspot.com/2008/10/inIeksi-susunan-saraI-pusat.html.
diakses pada 6 oktober 2009 pukul 02.01 wib