Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Masa remaja adalah masa transisi dari kanak-kanak menjadi dewasa (Sarwono, 2005).
Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun
sampai dengan 18 tahun. Salah satu Ienomena kehidupan yang sangat menonjol adalah
terjadinya peningkatan minat dan motivasi terhadap seksualitas (Desmita, 2007). Pada masa
remaja, rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan
baru yang lebih matang dengan lawan jenis. Terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap
seksual ini sangat dipengaruhi oleh Iaktor perubahan-perubahan Iisik selama periode pubertas,
terutama kematangan organ-organ seksual dan perubahan-perubahan hormonal, mengakibatkan
munculnya dorongan-dorongan seksual dalam diri remaja. Dorongan seksual remaja sangat
tinggi, dan bahkan lebih tinggi dari dorongan seksual orang dewasa. Sebagai anak muda yang
belum memiliki pengalaman tentang seksual, tidak jarang dorongan-dorongan seksual ini
menimbulkan ketegangan Iisik dan psikis.
Untuk melepaskan diri dari ketengangan seksual tersebut, remaja mencoba
mengekspresikannya dalam bentuk tingkah laku seksual, mulai dari melakukan aktiIitas
berpacaran, berkencan, bercumbu sampai dengan melakukan kontak seksual. Oleh karena itu,
inIormasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan kepada remaja, agar tidak
mencari inIormasi dari orang lain atau sumber-sumber yang tidak jelas atau bahkan keliru sama
sakali. InIormasi yang benar tersebut dapat diberikan melalui pendidikan seksual.
Pendidikan seks adalah salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan
seks, khususnya untuk mencegah dampak-dampak negatiI yang tidak diharapkan, seperti
kehamilan yang tidak direncanakan, penyakit menular seksual, depresi dan perasaan berdosa
(Sarwono, 2007). Pendidikan seks haruslah dipandang sebagai suatu proses pengalihan nilai-nilai
tentang seks yang benar yang didapat anak sebagai bimbingan, teladan dan kepedulian para
orang tua dan pendidikan dalam membantu anak membangun sikap bathin yang sesuai dengan
kodrat manusia, tidak hanya akal budi tetapi juga hati nurani. Pendidikan seksual juga berIungsi
memberikan landasan dalam membangun suatu hubungan yang objektiI antara remaja dengan
tubuhnya (Yunita, 2002).
Umumnya pendidikan seks telah berhasil meningkatkan pengetahuan remaja tentang
masalah-masalah seksual, termasuk cara mengembangkan kemampuan interpersonal yang
berkaitan dengan perilaku seksual dan menerapkan nilai-nilai yang tepat, tapi belum
menggembirakan terutama dengan pengguna kontrasepsi dan perilaku seksual. Hasil terbaik
ditemukan pada program pendidikan yang bekerja sama dengan klinik kesehatan sekolah.
Pandangan yang mendukung pendidikan seks antara lain di ajukan oleh Zelnik dan Kim
(1982) yang menyatakan bahwa remaja yang telah mendapat pendidikan seks tidak cenderung
lebih sering melakukan hubungan seks, tetapi mereka yang belum pernah mendapat pendidikan
seks cenderung lebih banyak mengalami kehamilan yang tidak di kehendaki. (Sarwono, 2007).
Peneliti berpendapat bahwa pendidikan seks bukanlah penerangan tentang seks semata-mata.
Pendidikan seks, sebagaimana pendidikan lain pada umumnya seperti pendidikan agama, atau
pendidikan Moral Pancasila yang mengandung pengalihan nilai-nilai dari pendidik ke subjek-
didik. Dengan demikian, inIormasi tentang seks diberikan secara kontekstual, yaitu dalam
kaitannya dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat (Sarwono, 2007).
Pendidikan seks yang kontekstual ini jadinya mempunyai ruang lingkup yang luas. Tidak
terbatas pada perilaku hubungan seks semata tetapi menyangkut pula hal-hal lain, seperti peran
pria dan wanita dalam anak-anak dan keluarga, dan sebagainya (Sarwono, 2007).
Sementara meninjau berbagai Ienomena yang terjadi di Indonesia, agaknya masih timbul
pro kontra di masyarakat, lantaran adanya anggapan bahwa membicarakan seks adalah hal yang
tabu dan pendidikan seks akan mendorong remaja untuk berhubungan seks. Sebagian besar
masih berpandangan stereotype dengan pendidikan seks seolah sebagai suatu hal yang vulgar
(SyariI, 2008).
Menurut SoIyan, selaku senior Koordinator Central Mitra Remaja (CMR) yang
merupakan salah satu unit kegiatan dari Perkumpulan Keluarga Indonesia (PKBI) menyebutkan,
selama ini jika kita membicarakan mengenai seks, maka yang terbersit dalam benak sebahagian
orang adalah hubungan seks. Harus diakui, sampai saat ini di kalangan masyarakat tertentu,
bebicara soal seks masih dianggap masalah yang tabu. Seks belum menjadi wacana publik, pro
kontra masih saja ada. Oleh karena itu, jarang sekali di jumpai pembicaraan perihal seks secara
terbuka. Namun disisi lain (Iakta yang tidak terbantahkan), masalah seks juga berjalan terus.
Untuk itu, sosialisasi pemahaman tentang makna hakiki cinta dan perlunya kurikulum kesehatan
reproduksi di sekolah sangat perlu sebagai salah satu alternatiI yang dapat ditempuh untuk
memIilter perilaku destruktiI seksual remaja (Pasti, 2008).
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal oI the American Academy oI Pediatrics, 114
keluarga yang diwawancarai pada masalah-masalah mulai dari perubahan tubuh pada masa
pubertas sampai dengan kondom dan kehamilan. Dalam satu sesi, peneliti menanyakan kepada
para remaja dan orang tua mereka secara terpisah, tentang kapan topik ini dibahas oleh mereka.
Kemudian hasilnya dibandingkan dengan jawaban para remaja tentang aktivitas seks pertama
mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata, remaja telah berhubungan seks sebelum orang
tua mereka mulai mendiskusikannya dengan mereka. Menurut salah satu peneliti, Dr. Mark
Schuster, kepala pediatri umum di Children's Hospital Boston, hasil penelitian ini seharusnya
mendorong orang tua untuk berbicara dengan anak remaja mereka tentang pendidikan seks lebih
awal. Dengan harapan perilaku seks bebas pada remaja bisa dikendalikan.
Di Indonesia sendiri penelitian tentang Perilaku Seks Bebas Remaja Perkotaan pernah
dilakukan dengan hasil bahwa ketika inIormasi yang diterima remaja bukan inIormasi yang
transparan maka kecenderungan untuk melakukan seks bebas makin tinggi karena ketidak-
tahuannya akan inIormasi seks yang baik dan benar. Makin beragamnya sumber-sumber
inIormasi seks tidak menjamin bahwa kecenderungan perilaku seks remaja akan menurun.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, keterbukaan dan transparansi harus ada dalam
proses pendidikan seks. Bukan saja pendidikan seks yang disampaikan melalui sekolah, media
massa, saluran komunikasi publik dan lain-lain, tetapi yang paling penting pendidikan seks dari
orang tua. Karena orang tua dan keluarga merupakan agen sosialisasi yang paling utama sebelum
remaja melakukan sosialisasi dengan institusi lainnya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Damayanti (2010), dari pusat Kesehatan
Masyarakat UI pada 170 SMA di Jakarta, hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 25
responden yang diteliti menyatakan seks boleh saja dilakukan dengan pasangan asal suka sama
suka. Sebanyak 3 responden mengaku pernah melakukan seks dengan pasangan nya, kemudian
35 responden remaja pria tidak perlu mempertahankan keperjakaannya, didapatkan juga 10
remaja putri mengatakan tidak perlu mempertahankan keperawannya. Selanjutnya 95 gaya
pacaran siswa adalah mengobrol, 60 saling berpegangan tangan, 40 saling rangkulan, 30
saling pelukan, dan 20 saling berciuman sementara 10 siswa mengaku sudah saling meraba
pasangan nya.
Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, kebanyakan orang tua selalu menunda-
nunda untuk membicarakan tentang seks dengan anak remaja mereka. Ketika orang tua mulai
membicarakannya dengan anak remaja mereka, sering sudah terlambat, sebagian remaja sudah
pernah berhubungan seks pada saat orang tua mereka mencoba untuk membicarakan seks dengan
mereka. Berdasarkan data Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) tahun 2010, jumlah
remaja Indonesia usia 10-24 tahun sudah mencapai 62 juta (30,3) dimana 15 dari jumlah
remaja diestimasikan telah melakukan hubungan seks diluar nikah (Husni, 2010). Data remaja
pekanbaru tahun 2009 yaitu umur 10-14 tahun sebanyak 64.496 orang. Umur 15-19 tahun
sebanyak 71.729 orang (Badan Pusat Statistik Pekanbaru, 2009).
Adapun penelitian terkait tentang perilaku seksual remaja adalah penelitian yang
dilakukan oleh Dewi Permata (2007) yakni tentang persepsi responden berdasarkan umur adalah
remaja yang berumur 16 tahun persepsi positiI sebanyak 57 dan persepsi negative pada umur
19 tahun sebanyak 69. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada November 2010
oleh Badan Pusat Statistik Kuantan Singingi diperoleh data jumlah remaja yang berumur 15-19
tahun adalah 15.274 jiwa.
Teluk Kuantan merupakan Ibukota kabupaten yang sedang berkembang, banyak remaja
putra dan putri disana yang mulai mengikuti gaya pergaulan anak-anak di kota-kota besar, mulai
dari cara berpakaian, bahasa serta gaya pacaran remaja dikota-kota besar. Berdasarkan hasil
wawancara dengan salah seorang anggota Satpol Pamong Praja di Teluk Kuantan mengatakan
bahwa mereka sering mendapati anak-anak sekolah sedang berdua-duaan ditempat yang sepi
sambil bermesraan pada malam hari. Selain itu, disalah satu sekolah negeri di Teluk Kuantan
yaitu di SMKN 2 pernah ada siswi yang di keluakan dari sekolah karena hamil diluar nikah. Dari
hasil wawancara dengan 10 orang remaja sekolah di Teluk Kuantan, 5 orang dari mereka
mengatakan pernah pacaran lebih dari 4 kali, ciuman 3 kali, dan melihat video porno sebanyak 2
kali. Dan 6 dari mereka mengatakan kalau orang tua mereka sangat jarang bahkan hampir tidak
pernah menjelaskan kepada mereka perihal perilaku seks yang sehat dan sesuai dengan norma
dan agama. Dan 5 dari 8 orang tua dengan anak remaja mengaku jarang sekali membahas perihal
menyangkut masalah seks dengan remaja putra dan putri mereka karena beranggapan belum
pantas menceritakannya kepada anak mereka saat ini.
Berdasarkan latar belakang dan Ienomena di atas, yakni kurang nya pendidikan seks bagi
remaja khususnya di Teluk kuantan, maka penulis tertarik untuk meneliti permasalahan tersebut
dengan judul ' Gambaran Persepsi Orangtua Terhadap Pentingya Pemberian Pendidikan Seks
(sex education ) Pada Remafa di Perumnas, Teluk kuantan.
B. Perumusan masalah
Banyaknya orang tua yang tidak memberikan pendidikan seks kepada anak remajanya
karena mereka berpendapat bahwa seksualitas merupakan sesuatu yang alamiah yang akan
diketahui setelah menikah dan menganggap masalah seks sebagai masalah yang tabu untuk
dibicarakan, walaupun banyak media yang telah memIasilitasi tentang pendidikan seks
(Mu'tadin, 2002). Selain itu, komunikasi yang tidak eIektiI antara orang tua dengan anak, dan
tidak terbuka terhadap pertanyaan yang diajukan anak tentang seks mengakibatkan anak mudah
terpengaruh melakukan tindakan seksual (Sarwono, 2000).
Perbedaan persepsi ini dapat saja terjadi karena nilai, sikap dan pengalaman seseorang
terhadap seksualitas serta norma yang ada di lingkungan tempat tinggal dapat menyebabkan
perbedaan ini bisa muncul (Darwisyah, 2003; Habsyah, 1996; PKBI, 2003). Perilaku seksual
tersebut disertai resiko-resiko yang tidak hanya ditanggung oleh remaja itu sendiri melainkan
juga oleh orang tua dan masyarakat.
Berdasarkan hal tersebut, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah :
'Bagaimana persepsi orang tua terhadap pendidikan seks bagi remaja di Lingkungan Perumnas
Teluk Kuantan
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengidentiIikasi persepsi orang tua terhadap pendidikan seks bagi remaja di
lingkungan Perumnas Teluk Kuantan.
D. Manfaat Penelitian
1. Memberikan masukan bagi perawat dan tim kesehatan untuk pengembangan materi
penyuluhan kesehatan tentang peran orangtua dalam memberikan pendidikan seks pada
remaja.
2. Sebagai bahan inIormasi bagi orangtua untuk mengetahui lebih banyak tentang pentingnya
pendidikan seks bagi remaja.
3. Sumber inIormasi dan data dasar bagi penelitian selanjutnya dalam ruang lingkup yang sama.