Anda di halaman 1dari 2

Bolehnya Memberi Kunyah pada Anak

Kunyah adalah nama yang dimulai dengan Abu kalau yang berkunyah itu laki-laki dan dimulai dengn ummu kalau wanita. Dibolehkan memberi kunyah pada anak kecil berdasarkan hadits berikut ini: Dari Anas t berkata: "Nabi r adalah orang yang paling bagus akhalaknya. AKu memilik saudara laki-laki yang biasa dipanggil dengan Abu Umair". Rawi berkata: aku mengira ia (Abu Umair) telah disapih. Jika nabi datang, beliau berkata: "Ya Abu Umair apa yang dilakukan burung kecil itu?" 83) Imam Al Bukhari membuat satu bab untuk hadits ini yang ia namakan: Bab kunyah untuk anak kecil dan sebelum seseorang memiliki anak. Demikian pula boleh memberi kunyah pada anak yang belum lahir karena ada nash yang shahih dari hadits Ali bin Abi Thalib, ia berkata: "Wahai Rasulullah , bagaimana pendapatmu bila dilahirkan untukku anak laki-laki sepeninggalmu lalu aku beri nama anak itu Muhammad dan aku beri kunyah dengan kunyahmu?" Nabi menjawab: "Ya" (Kata Ali: "Hal ini merupakan keringanan/pengecualian untkku")84) Dan siapa yang belum berkunyah pada waktu kecilnya maka tidak perlu ia menunggu hingga punya anak untuk berkunyah, karena dalil yang ditunjukkan dalam hadits-hadits yang telah lalu dan juga hadits Shuhaib t. Ibnu Shuhaib meriwayatkan dari ayahnya (Shuhaib), ia (ayahnya) berkata: "Umar t berkata kepada Shuhaib t: "Engkau adalah lelaki yang sempurna andai tidak ada padamu tiga perangai?" Shuhaib berkata: "Apa itu?" Umar menjawab: "Engkau memaki kunyah padahal tidak punya anak, engkaumenggolongkan diri ke dlam bangsa Arab padahal engkau orang Romawi dan padamu ada kelebihan dalam makanan." Shuhaib berkata: "Adapun ucapanmu, engkua berkunyah padahal tidak punya anak, maka sesungguhnya Rasulullah r memberiku kunyah dengan Abu Yahya. Adapun ucapanmu, engkau menggolongkan diri ke dalam bangsa Arab padahal bukan termasuk dari mereka padahal engkau orang Romawi, maka sebenarnya kau lelaki dari An Namr bin Qasith lalu bangsa Romawi dari Al Mushil menawanku, ketika itu aku adalah anak kecil yang telah tahu nasabku. Adapun ucpanmu, padamu ada kelebihan dalam makanan, maka aku telashmendengar Rasulullah r bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang memberi makan." 85) Dalam hadits ini ada dalil disyariatkannya berkunyah dan kunyah itu tidak terkait dengan adanya anakanak. Berkata Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah (1/74) setelah membawakan hadits ini: "Dalam hadits ini adalah dalil disyariatkannya berkunyah bagi orang yang belum punya anak, bahkan telah shahih dalam shahih Al Bukhari dan selainnya bahwasanya Nabi r : "Beliau memberi kunyah pada anak wanita kecil ketika beliau memakaikan baju bagus kepadanya. Beliau berkata kepada anak itu: "Ini bagus wahai Ummu Khalid, ini bagus wahai Ummu Khalid." Kaum muslimin terlebih lagi orang-orang ajam (non Arab) dari kalangan mereka telah meninggalkan sunnah Arabiyah Islamiyah ini. Maka jarang sekali anda dapatkan dari mereka yang memakai kunyah walaupun ia memiliki banyak anak. Lalu bagaimana lagi keadaanyya orang yang tidak punya naak (tentunya lebih jauh dari berkunyah)? Mereka menggantikan tempat sunnah ini dengan gelar-gelar yang diada-adakan seperti Al Afandi, Al Beik, Al Basya, As Sayid, Al Ustadz 86) dan semisalnya dari gelargelar yang sebagian atau seluruhnya masuk dalam baba tazkiyah yang dilarang dalam banyak hadits, maka perhatikanlah hal ini." Boleh seseorang yang punya anak berkunyah dengan nama selasin nama anak-anaknya. Abu Bakar Ash Shidiq r berkunyah dengan Abu Bakar padahal tidak ada anaknya yang bernama Bakar dan Umar ibnul Khaththab t berkunyah dengan Abu Hafsh padahal tidak ada putranya yang bernama Hafsh. ----Catatan kaki:

83) Dikeluarkan oleh Al Bukhari (6203-Fathul Bari), Muslim (2150-Nawawi), Abu Daud (4969), At Tirmidzi (1989), Ibnu Majah (3720-3740) dan Ahmad (3/115-119-171-188) 84) Shahih. Dikeluarkan oleh Abu Daud (4967), At Tirmidzi (2843) dan tambahan ini dalam riwayatnya, Al Baihaqi (9/301) dan dalam Al Adab karyanya (616), Ahmad (1/95) dan Al Bukhari dalam Al Adab (843). 85) Hasan. Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (3738) bagian kunyah saja, Al Hakim (4/278), Ahmad (6/16) dan berkata Al Buhiri dalam "Az Zawa'id" (2/253): "Isnadnya hasan". Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah (44) 86) Kami kecualikan dari ucapan Syaikh adalah lafadh Al Ustadz jika diberikan kepada yang berhak. Telah pasti keterangannya bahwa Imam Muslim berkata kepada gurunya yaitu Imam Al Bukhari: "Ya Ustadznya para Ustadz". Maka kata ini bukanlah ajam (non Arab) berbeda dengan kata dokter yang semata-mata dari ajam. Diketik ulang dari: "Hukum Khusus Seputar Anak dalam Sunnah yang Suci", Syaikh Salim Ali Rasyid As Syubli, Syaikh Muhammad Khalifah Muhammad Ar Rabah. Penerbit: Pustaka Al Haura', Yogyakarta. Penerjemah: Ummu Ishaq Zulfa bint Husain. Editor: Abu Umar Ubadah. Hal.:93-96 ==== demikian tulisan ini...semoga bermanfat bagi kita semua. Amiin. Assalamualaikum wa rohmatullohi wa barokatuh Abu Fida Sutikno bin Tumingan