Anda di halaman 1dari 10

Tenaga Kependidikan (#1) <<<

Tenaga Kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat
untuk menunjang Penyelenggaraan Pendidikan. Yang termasuk kedalam tenaga kependidikan
adalah:
Kepala Satuan Pendidikan
epala Satuan Pendidikan yaitu orang yang diberi wewenang dan tanggung jawab untuk
memimpin satuan pendidikan tersebut. epala Satuan Pendidikan harus mampu melaksanakan
peran dan tugasnya sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator,
motivator, figur dan mediator stilah lain untuk epala Satuan Pendidikan adalah:
epala Sekolah
Rektor
Direktur, serta istilah lainnya.
Pendidik
Pendidik atau di ndonesia lebih dikenal dengan pengajar, adalah tenaga kependidikan
yang berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan dengan tugas khusus sebagai profesi
pendidik. Pendidik mempunyai sebutan lain sesuai kekhususannya yaitu:
O Guru
O Dosen
O onselor
O Pamong belajar
O widyaiswara tutor
O instruktur
O fasilitator
O Ustadz, dan sebutan lainnya.
Tenaga Kependidikan lainnya
rang yang berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan,
walaupun secara tidak langsung terlibat dalam proses pendidikan, diantaranya:
O Wakil-wakil/Kepala urusan umumnya pendidik yang mempunyai tugas tambahan dalam
bidang yang khusus, untuk membantu epala Satuan Pendidikan dalam
penyelenggaraan pendidikan pada institusi tersebut. Contoh: Kepala Urusan Kurikulum
O Tata usaha, adalah Tenaga ependidikan yang bertugas dalam bidang administrasi
instansi tersebut. Bidang administrasi yang dikelola diantaranya;
4 Administrasi surat menyurat dan pengarsipan,
4 Administrasi epegawaian,
4 Administrasi Peserta Didik,
4 Administrasi euangan,
4 Administrasi nventaris dan lain-lain.
O Laboran, adalah petugas khusus yang bertanggung jawab terhadap alat dan bahan di
Laboratorium.
O Pustakawan
O Pelatih ekstrakurikuler,
O Petugas keamanan (penjaga sekolah), Petugas kebersihan, dan lainya.
Tak seorang pun dapat membantah bahwa guru berada di garda depan dalam upaya
mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka telah melahirkan banyak dokter, insinyur, menteri,
bahkan presiden. Tidak heran apabila guru dielu-elukan sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa.
Zaman memang telah berubah. Pergeseran nilai menyergap di segenap lapis dan lini
kehidupan masyarakat. Nilai-nilai keluhuran budi dan cerahnya akal budi (nyaris) luntur tergerus
oleh derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang cenderung memanjakan nilai
konsumtivisme, materialisme, dan hedonisme. Banyak orang yang makin cuek dan masa bodoh
terhadap keagungan nilai kejujuran, keuletan, atau kebersahajaan. Sukses seseorang pun
semata-mata dinilai dari kemampuannya menumpuk harta, tanpa memedulikan dari mana harta
itu diperoleh.
Dalam kondisi zaman yang makin memberhalakan gebyar duniawi semacam itu, profesi
guru pun makin tidak dilirik dan diminati generasi muda. Secara sosial, pamor guru pun
semakin redup. alau hanya mengandalkan penghasilannya sebagai guru, hampir mustahil
seorang guru bisa hidup layak di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang kian gencar
memanjakan nafsu keduniawian. Jangan heran apabila banyak guru yang terpaksa nyambi jadi
tukang ojek, penjual rokok ketengan, atau calo, sekadar untuk bisa mengikuti "ombyaking
zaman.
Sinyalemen tentang meredupnya pamor guru sebenarnya sudah lama terdengar,
bahkan gaungnya masih sering menggema hingga sekarang. Sosok guru menjadi objek yang
gampang mengundang perhatian, tanggapan, dan penilaian tersendiri dari berbagai kalangan.
Hal ini sangatlah beralasan, sebab gurulah yang berada di garda depan dalam "barikade
pendidikan sebagai pengajar, pembimbing, pelatih, dan pendidik yang langsung bersentuhan
dan bergaul dengan peserta didik sehari-hari di sekolah. Gurulah yang dinilai sangat dominan
dalam mewarnai "kanvas pendidikan. Tidaklah berlebihan jika terjadi sesuatu yang tidak beres
dalam gerak dan dinamika pendidikan, orang beramai-ramai menuding guru sebagai biangnya.
eberadaan guru kalau boleh ditamsilkan seperti lampu bangjo. ehadirannya sangat
penting dan amat dibutuhkan untuk memperlancar arus lalu lintas. etika guru mampu
menjalankan tugasnya dengan baik, profesional, penuh dedikasi, disiplin, kreatif, inovatif,
wibawa, dan mumpuni di bidangnya, orang menganggap hal itu sebagai hal yang biasa, bahkan
menjadi sebuah keniscayaan. Ya, memang seharusnya dalam menjalankan tugas-tugas
profesinya, guru harus memiliki landasan idealisme semacam itu. Lampu bangjo pun akan
diperlakukan seperti itu. Tak seorang pun pengendara yang akan berteriak-teriak ketika lampu
bangjo berfungsi dengan baik. Namun, ketika sang guru melakukan penyimpangan dan
kesalahan sedikit saja, hal itu dianggap sebagai noda dan "dosa tak terampuni. Gugatan dan
hujatan pun terus mengalir (nyaris) tanpa henti. Hampir sama dengan para pengendara yang
berteriak-teriak, bahkan mungkin mengumpat, ketika lampu bangjo mati.
Secara jujur memang harus diakui, apresiasi masyarakat terhadap profesi guru pun
mulai berkurang. Pamor guru makin meredup di tengah atmosfer peradaban yang gila dan
kacau. Gurulah yang harus menanggung beban ketika mutu pendidikan merosot, meruyaknya
perkelahian antarpelajar, merajalelanya dekadensi moral dan involusi budaya, atau kian
keringnya aplikasi nilai-nilai kesalehan hidup di atas panggung kehidupan sosial.
Persoalannya sekarang, mengapa pamor guru meredup? Mengapa sosok yang selalu
disanjung puji dan dielu-elukan lewat lirik "Hymne Guru bagaikan "pelita dalam kegelapan itu
seakan-akan sudah tak berdaya lagi menghadapi arus budaya global yang demikian dahsyat
menggerus nilai-nilai luhur hakiki? Mengapa guru tidak lagi menjadi profesi yang
membanggakan, bahkan konon guru hanya tinggal menunggu saat-saat kematiannya? Bisa jadi
masih ada setumpuk tanda tanya yang bisa ditimbun untuk mempertanyakan keberadaan guru
yang makin tersisih oleh dinamika dan hiruk-pikuk zaman.
Banyak fakta yang bisa diungkap untuk menggambarkan bahwa saat ini profesi guru
benar-benar tengah mengalami degradasi nilai yang cukup serius. asus guru disatroni
muridnya saat pembagian rapor atau pengumuman kelulusan, stigma guru sebagai pembual
dan penjual kecap di kelas, atau kasus guru nyambi yang menelantarkan murid-muridnya,
merupakan deret keprihatinan yang layak direnungkan dan dicari penyebabnya, sehingga bisa
ditemukan solusinya. Jika kondisi semacam itu terus dibiarkan, jelas sangat tidak
menguntungkan bagi citra dan kredibilitas guru sebagai figur yang dijuluki sebagai "pahlawan
butuh tanpa tanda jasa itu.
Ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab meredupnya pamor guru. Pertama,
terjadinya pergeseran nilai, etika, moral, dan budaya akibat kuatnya arus modernisasi dan
globalisasi yang melanda masyarakat kita. Tayangan film yang mengintrodusir adegan-adegan
kekerasan, brutal, sadis, dan berbau porno, baik melalui tayangan TV maupun media hiburan
yang lain, setidak-tidaknya telah ikut memicu munculnya sikap agresif, sadis, dan brutal, kering
dari sentuhan nilai kemanusiaan dan kearifan dalam kepribadian pelajar kita. mbasnya, mereka
tidak peduli lagi batas-batas kesopanan, kesusilaan, dan tata krama, sehingga berakibat pada
menurunnya rasa hormat terhadap guru mereka sendiri.
Kedua, mulai tumbuhnya sikap permisif (serba boleh) di sebagian besar masyarakat kita
terhadap segala macam bentuk perilaku kejahatan, amoral, dan anomali sosial. asus-kasus
semacam penodongan, perampokan, pemerkosaan, korupsi, manipulasi, dan "antek-antek-nya
dinilai sebagai kasus yang wajar terjadi di tengah peradaban gila dan kacau ini. Akibatnya,
masyarakat yang diharapkan dapat menjadi kekuatan kontrol terhadap segala perilaku
menyimpang menjadi lemah. Masyarakat hanya sekadar melimpahkan tanggung jawabnya
kepada pihak yang berwenang saja. Demikian juga masyakarat kita dalam memandang perilaku
menyimpang yang melanda pelajar kita. Masyarakat kita *yang pasti tidak semuanya demikian
lho, ya* telah menganggap sebagai hal yang galib terjadi jika seorang pelajar merokok atau
tidak hormat lagi kepada guru atau orang tua.
Ketiga, masih kuatnya anggapan bahwa guru adalah pribadi yang harus selalu tampil
perfeksionis, tanpa cacat dan cela, berbudi luhur dan mulia bagaikan seorang resi yang hidup di
sebuah institusi pertapaan tempoe doeloe yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk
kepentingan kemanusiaan tanpa pamrih. Anggapan semacam itu justru menjadi "bumerang
bagi guru itu sendiri. Mereka jadi serba salah dalam bersikap dan bertingkah laku, sempit ruang
geraknya, dan setiap sepak terjangnya selalu berada dalam bingkai sorotan dan pengawasan
dari berbagai pihak.
Keempat, guru dinilai telah gagal menanamkan dan mengakarkan nilai-nilai luhur dan
budi pekerti dalam jiwa siswa didik di sekolah sehingga menjadi brutal dan tak bermoral.
Gurulah yang dinilai paling bertanggung jawab terhadap kegagalan itu. Penilaian semacam itu
jelas akan menggiring publik luas pada opini bahwa guru bukan lagi sebagai profesi luhur yang
senantiasa menjadikan dedikasi, loyalitas, dan berjuang tanpa pamrih sebagai basis
pengabdiannya.
Kelima, memudarnya wibawa guru di mata peserta didik. Banyak pengamat menyatakan
bahwa wibawa guru merupakan kata kunci untuk melahirkan generasi yang cerdas secara
intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Pernyataan semacam itu jelas masuk akal sebab
jika wibawa guru hilang, mustahil segala macam bentuk penanaman dan pengakaran nilai-nilai
yang berlandas tumpu pada ajaran-ajaran luhur dan suci bisa diwujudkan secara riil oleh
peserta didik.
Dan keenam, tingkat kesejahteraan guru yang dinilai masih timpang jika dibandingkan
dengan beratnya beban dan tanggung jawab yang harus dipikulnya. Alasan klasik inilah yang
konon menjadi pemicu banyak guru yang nyambi di luar profesinya untuk menambah
penghasilan. Akibatnya, proses belajar-mengajar jadi kacau dan tersendat-sendat, siswa didik
berada dalam kondisi tidak siap belajar, hancur pula pamor sang guru.
Mengingat keberadaan guru begitu penting dan dibutuhkan dalam dunia pendidikan,
maka sikap dan tindakan bijak dari berbagai pihak sangat diperlukan dalam menyikapi
meredupnya pamor guru. Di pundak gurulah nasib anak-anak bangsa negeri ini dipertaruhkan.
Jangan biarkan kondisi yang tidak kondusif menelikung tugas dan profesi guru. rang tua,
tokoh-tokoh masyarakat, dan pemerintah yang dikenal sebagai pilar penyangga roda
pendidikan, harus bersinergi, saling introspeksi, dan senantiasa memiliki "kemauan baik untuk
mengangkat pamor guru.
Paling tidak, ada empat agenda penting dan mendesak untuk menyelamatkan pamor
guru agar mampu menjalankan kiprahnya sebagai "pencerah peradaban. Pertama, perlu
tindakan tegas terhadap berbagai media hiburan yang menafikan dan menihilkan sisi edukatif
sehingga meracuni jiwa dan kepribadian pelajar kita. Tentu saja dengan cara yang arif dan
persuasif, tidak dengan cara mengangkat pedang dan brutal yang tidak jauh berbeda dari cara-
cara preman. Nihilnya hiburan-hiburan yang menyesatkan, paling tidak, sudah mampu ikut
berkiprah membantu guru dalam menanamkan dan mengakarkan berbagai macam nilai kepada
siswa didik.
Kedua, masyarakat harus mampu menjadi kekuatan kontrol terhadap segala macam
bentuk tindak kejahatan dan tingkah amoral lainnya, termasuk kenakalan remaja. Hal ini sangat
penting dan urgen untuk direalisasikan dalam tataran praksis, sebab anak yang terbiasa hidup
dalam lingkungan yang sarat dengan tindak kejahatan, mereka juga akan belajar jadi penjahat.
Ketiga, perlu diciptakan sebuah imaji atau citra bahwa guru adalah manusia biasa yang
tidak bisa luput dari khilaf dan dosa. Citra semacam itu justru akan mampu menumbuhkan sikap
guru yang manjing-ajur-ajer, adaptif, mengabdi tanpa beban, dan merasa dimanusiawikan. Dus,
tak perlu lagi dicitrakan sebagai sosok perfeksionis yang pantang berbuat salah. ni tidak lantas
berarti bahwa guru mesti ditolerir ketika melakukan kesalahan yang melawan hukum.
Keempat, pemerintah mesti benar-benar serius dan menepati janjinya yang telah
memiliki "kemauan politik untuk meningkatkan kesejahteraan guru seperti yang tertuang dalam
UU No. 14 /2005 tentang Guru dan Dosen. Pemerintah tidak boleh setengah hati, apalagi
menyiasatinya dengan Ujian Sertifikasi Guru yang pada kenyataannya justru menimbulkan
masalah baru, bukan solusi jitu untuk menaikkan kesejahteraan guru.
Yang dialami sebagaian besar guru di ndonesia cukup mewakili keseluruhan keluarga
besar tenaga kependidikan yang ada di negeri kita yang tercinta ini. arena itu akankah ada
perubahan dalam pendidikan kita jika orang-orang yang ada didalamnya tidak merasa betah
sedikitpun dalam melaksanakan tugasnya. Bukan hanya karena tidak mendapatkan dukungan
dari masyarakat luas tetapi juga adanya tekanan yang didapat dari atas akan membuat semakin
terpuruknya pendidikan ndonesia dalam hal peningkatan kualitas tenaga kependidikan.

Pancasila Dalam RUU Sisdiknas


Oleh Dedi Supriadi
Suara Karya: 27 Maret 2003
Salah satu hal yang cukup inovatiI dalam RUU Sisdiknas (yang sedang banyak disorot sekarang
terutama Pasal 13 tentang pendidikan agama tetapi luput dari perhatian banyak orang adalah
tentang tenaga kependidikan. InovatiI dalam pengertian mengandung hal-hal baru yang akan
mengubah "wajah" tenaga pendidikan di masa depan, dan tentunya dunia pendidikan nasional
kita.
Sebagian dari hal-hal baru itu telah mulai dirintis atau didiskusikan sejak beberapa
tahun terakhir, namun lebih dieksplisitkan lagi dalam RUU ini. Sebagian lainnya merupakan
reaksi terhadap kecenderungan "salah kaprah" yang terjadi sejak dimulainya otonomi
daerah tahun 2001. Ada juga bagian yang mencerminkan kegamangan RUU ini terhadap
isu-isu tenaga kependidikan yang berada dalam wilayah yang "samar-samar" (grey area)
berkenaan dengan untung-ruginya bagi pendidikan nasional.
Tulisan ini hanya menyoroti soal tenaga kependidikan dalam RUU Sisdiknas (Pasal 1
angka 3 dan 4; Bab Bab XI Pasal 35, 36, 37, 38 dan 39) beserta kaitan-kaitannya yang
dibandingkan dengan UU No 2/1989 tentang Sisdiknas yang akan diganti itu.
Ada sedikit perubahan tentang pengertian "tenaga kependidikan" dan "tenaga
pendidik" dalam RUU ini dibandingkan dengan pada UU No 2/1989 tentang Sisdiknas. UU No
2/1989 mendefinisikan tenaga kependidikan sebagai "anggota masyarakat yang
mengabdikan diri dalam penyelenggaraan pendidikan" yang jenisnya meliputi tenaga
pendidik (guru dan dosen), pengelola satuan pendidikan, penilik, pengawas, peneliti dan
pengembang di bidang pendidikan, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar. RUU
ini mengartikan tenaga kependidikan sebagai "anggota masyarakat yang memiliki
kepedulian dan kemampuan serta berpartisipasi dalam menyelenggakan
(penyelenggaraan?) pendidikan". Jenisnya adalah guru, dosen, konselor, pamong belajar,
widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lain sesuai dengan kekhususannya.
Sementara UU No 2/1989 menggunakan istilah "tenaga pendidik", RUU ini untuk pengertian
yang sama memakai istilah "pendidik". Tapi, ini pun tak konsisten; pada Pasal 35 disebut
"pendidik", sedangkan pada Pasal 38 digunakan istilah "tenaga pendidik".
Tentang pengertian tenaga kependidikan, baik UU No 2/1989 maupun RUU itu
menggunakan genus "anggota masyarakat" yang bisa sangat luas cakupannya. Ini sangat
baik karena menunjukkan sifat inklusif dari pengertian tenaga kependidikan. Jadi, siapa pun
bisa menjadi tenaga kependidikan tapi tidak dapat begitu saja menjadi pendidik atau tenaga
pendidik tanpa memenuhi persyaratan (misalnya pendidikan prajabatan yang sesuai dan
akta mengajar). Mengenai tenaga pendidik, secara keseluruhan RUU ini lebih membuka
kemungkinan bagi adanya jenis tenaga-tenaga pendidik lain di luar apa yang secara khusus
disebut dalam ayat itu seperti tersimpul dalam kalimat "... dan sebutan lain sesuai dengan
kekhususannya". Keterbukaan ini akan membuat RUU ini lebih fleksibel dalam
mengakomodasi perkembangan jenis-jenis jabatan profesional kependidikan. Jadi,
perubahan ini positif, kecuali rumusannya yang perlu diperbaiki.
Sesungguhnya, terbatasnya spektrum tenaga kependidikan pada UU No 2/1989 telah
dikoreksi melalui PP No 38/1992 tentang Tenaga Kependidikan dengan memasukkan lebih
banyak jenis tenaga kependidikan. PP ini masih berlaku sampai sekarang, sementara
perubahan melalui PP No 39/2000 hanya terbatas untuk Pasal 20. Pasal ini berisi ketentuan
tentang persyaratan pengelola satuan pendidikan, pengawas, dan penilik pada pendidikan
dasar dan menengah serta pendidikan luar sekolah yang harus berasal dari kalangan guru,
tenaga pendidik PLS, dan disiapkan melalui pendidikan khusus.
Perubahan itu dimaksudkan untuk mencegah masuknya orang-orang yang tidak jelas
latar belakangnya dalam profesi kependidikan untuk memegang jabatan pengelola,
pengawas dan penilik pendidikan. Tanpa ketentuan itu, bisa saja para bupati/walikota pada
era otonomi daerah sekarang menempatkan mantan camat atau lurah menjadi kepala
sekolah, penilik atau pengawas. Selebihnya, isi PP No 38 itu masih berlaku. Masalahnya
adalah kekuatan PP jelas di bawah UU, sehingga (terutama pada era otonomi daerah
sekarang) bisa saja ketentuan dalam PP 38/1992 dan 39/2000 itu "dimentahkan" oleh
Peraturan Daerah (Perda) di tingkat kabupaten/kota.
Banyak Pemkab/Pemkot dan DPRD yang begitu bersemangat menolak peraturan
bikinan pusat bila itu tak sejalan dengan kehendaknya. Tapi di pihak lain, mereka begitu
entusias memanfaatkan peraturan yang sesuai dengan kepentingannya sekalipun
hierarkinya lebih rendah. Misalnya, Kepmendikbud tahun 1996 tentang pembatasan masa
jabatan kepala sekolah (yang dulu ditentang) sekarang ramai-ramai dijadikan pijakan di
daerah dan dirujuk dalam Perda. Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi dengan menerapkan
pembatasan masa jabatan kepala sekolah itu berlaku surut! Di beberapa kabupaten/kota di
Jawa Barat, dilaporkan banyak kepala sekolah yang shock dengan penerapan yang begitu
ketat dari ketentuan itu oleh Pemkab/Pemkot, karena seakan-akan tiba-tiba saja mereka
harus turun dari jabatannya.
Alasan dan kasus-kasus seperti ini pula yang melatarbelakangi mengapa pemerintah
pusat (dalam hal ini Depdiknas) berencana untuk juga menyiapkan RUU tentang
Dikdasmen, Dikmenjur, Dikti, dan Diklusepa; sedangkan UU Sisdiknas sendiri akan menjadi
UU payung atau induknya. Untuk Dikmenjur, RUU itu bahkan telah mulai disiapkan oleh
Direktorat Dikmenjur.
esejahteraan Guru
Meskipun butir-butirnya sama dengan pada UU No 2/1989, RUU ini secara lebih
eksplisit menekankan hak tenaga kependidikan untuk memperoleh penghasilan yang pantas
dan jaminan kesejahteraan sosial yang memadai (Pasal 36 ayat 1). Dalam penjelasan ayat
ini dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan penghasilan yang layak adalah penghasilan
yang mencerminkan martabat guru sebagai pendidikan profesional; sedangkan jaminan
kesejahteraan sosial yang memadai antara lain berupa jaminan kesehatan dan jaminan hari
tua. Bias pegawai negeri sipil (PNS) dalam UU sebelumnya dihilangkan dalam RUU ini,
sehingga hak itu berlaku bagi tenaga kependidikan yang bekerja pada satuan pendidikan
mana pun, baik berstatus negeri maupun swasta, dan tentunya termasuk guru kontrak/guru
bantu yang rekrutmennya dimulai sekarang.
Rekomendasi Pokja Bappenas/Bank Dunia tahun 1998-2000 (di mana saya terlibat
sebagai wakil ketua) sangat menekankan pentingnya peningkatan kesejahteraan
guru/tenaga kependidikan, bahkan menempatkannya pada butir pertama rekomendasi.
Setelah melalui kajian yang ekstensif tentang kondisi kesejahteraan guru, Pokja antara lain
merekomendasikan kenaikan penghasilan guru (gaji dan tunjangan) minimal dua kali lipat
dari keadaan tahun 1998. Untuk memungkinkan semua itu terjadi, maka Pokja
mengusulkan dibuatnya peraturan khusus tentang gaji guru/ tenaga kependidikan seperti
halnya untuk TNI/ Polri dan hakim. Apalagi, populasi guru begitu besar, mewakili lebih dari
separoh jumlah PNS di Indonesia dan belum termasuk guru-guru sekolah swasta.
Tujuannya adalah agar setiap agenda meningkatkan kesejahteraan guru tak selalu
terbentur pada pertanyaan: bagaimana dengan pegawai lainnya yang bukan guru?
Usulan ini ditanggapi positif oleh pemerintah. Pada Hari Guru Nasional, tahun lalu,
Presiden Megawati meminta Depdiknas dan PGRI untuk menyiapkan rancangan peraturan
dimaksud. Saya tidak tahu, sudah sampai mana perkembangannya sekarang.
(Selengkapnya, hasil-hasil Pokja itu dapat dibaca dalam Fasli Jalal & Dedi Supriadi, editor,
Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah, 2001).
Sekarang, tingkat kesejahteraan guru sudah mulai relatif baik setelah ada kenaikan
gaji/tunjangan beberapa kali sejak 1998. Agenda berikut yang harus dikerjakan adalah
mengaitkan setiap perbaikan kesejahteraan itu dengan kualitas kerjanya. Jadi, tepat sekali
bunyi ayat (1) Pasal 36 RUU ini mengenai hak guru untuk mendapatkan penghargaan
sesuai dengan tugas dan prestasi kerjanya (butir b), dan pembinaan karier sesuai dengan
tuntutan pengembangan kualitas (butir c). Artinya, dimungkinkan berlakunya merit system.
Mengenai kewajiban guru/tenaga kependidikan, ada perubahan, yaitu tidak lagi
dicantumkannya kewajiban guru untuk membina loyalitas pribadi dan peserta didik
terhadap ideologi negara Pancasila dan UUD 1945" (butir 1 Pasal 31 UU No 2/1989).
Tentang kewajiban lainnya umumnya tak banyak perubahan, kecuali adanya penekanan
yang lebih kuat pada komitmen pribadi, sosial, moral dan profesional guru dalam upaya
meningkatkan mutu pendidikan. Inilah yang menjadi rujukan tertinggi dari komitmen guru
menurut RUU ini.
Dihapusnya butir 1 itu dapat dipahami bila dikaitkan dengan gelegak semangat
reformasi sejak 1998 yang cenderung rada alergi terhadap segala yang berlabel Pancasila.
Tapi, justru timbul pertanyaan: pada tataran tertinggi, lalu kepada apa kewajiban guru
diabdikan? Di sini saya menilai ada sesuatu yang hilang, yaitu nilai-nilai inti (core values)
dari kewajiban guru yang melandasi dan membingkai komitmen-komitmen di atas; dan itu
adalah kesetiaan pada keutuhan NKRI, pada nilai-nilai dasar yang membentuk kerangka
dasar negara yang ber-Bhinneka Tunggal Ika ini, yaitu Pancasila.
Karena itu, saya menyarankan agar isi butir 1 pada UU No 2/1989 itu tetap
dipertahankan, tapi rumusannya diubah. Misalnya, menjadi, "memelihara persatuan dan
kesatuan bangsa" yang kedengarannya lebih netral. Bisa juga dilanjutkan dengan "... yang
berdasarkan Pancasila". Memang di masa lalu ada deviasi, yaitu kesetiaan pada ideologi
negara diidentikkan dengan kesetiaan pada pemerintah. Bahkan pemerintah sendiri
merepresentrasikan dirinya sebagai yang paling setia pada Pancasila dan UUD 1945. Tapi
terlepas dari beban psikologis dan trauma "serba Pancasila" di masa lalu itu, apa sih
sebenarnya keberatan penyusun RUU ini untuk mencantumkan Pancasila dalam konteks
kewajiban guru? Sebab, tanpa ada nilai-nilai dasar yang melandasi kewajiban guru itu, saya
khawatir kita sedang menggali lobang yang makin dalam bagi kuburan bangsa ini. Apalagi,
guru memiliki peran sentral dalam membangun karakter bangsa melalui tugas
pendidikannya di hadapan peserta didik yang sedang tumbuh. ***
(Penulis adalah guru besar Universitas Pendidikan
Indonesia - UPI, Bandung).

Beri Nilai