Anda di halaman 1dari 5

duduk iftirasy atau tawaruk

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuhu..


BAYAN DUDUK IFTIRASY (duduk sujud antara 2-sujud)
DAN TAWARRUK (duduk rakaat terakhir) DALAM SHOLAT DUA RAKAAT
MUQADIMAH
Pertama-tama yang harus diketahui, bahwa topik ini termasuk
pembahasan serius di kalangan para Fuqaha' dan Muhadditsin. Intinya,
tak ada kata putus, meskipun dalil yang dipakai ahlul ilmi itu
berputar pada hadits yang sama. Pada akhirnya, konklusi hukum
iftirasy-tawarruk oleh para muhaqqiq (peneliti hukum) dinyatakan
sebagai masalah yang muwassa'ah, butuh kelapangan masing-masing
pihak untuk memilih opsi iftirasy-kah atau tawarruk-kah untuk jenis
sholat "ast-Tsaniyah" (2-rakaat, seperti: Shubuh, Jum'at, Iedain,
Khusuf-Kusuf, Qiamul Lail, Rawatib, Mutlak, dan lain-lain yang
serupa).
PEMBAHASAN
o
Dalil Iftirasy:
Sebagaimana terbaca dalam kitab monumental Syeikh Albani, Sifat
Shalat Nabi s.a.w [193-194 (terj.) atau 156-158 (asli)], beliau
memilih kesimpulan duduk iftirasy untuk semua jenis sholat 2-rakaat
(shalat ats-tsaniyah). Karena baginya, duduk tawarruk hanya
diperuntukan untuk sholat ats-tsalitsah (3-rakaat) dan ruba'iyah (4rakaat).
Dalil yang dipegang, HR.Nasa'i, I:53 (Foot note, 354) dan HR. Abu
Dawud dan Baihaqi (FN:356). <Sifat Sholat Nabi s.a.w, p.193 (terj.)>.
Berikut hadits Abu Dawud-Baihaqi dari sumber aslinya:
1 - - 289 <<
858 -





" :
=




- -




=






Adapun kelengkapan hadits Nasa'i adalah sebagai berikut:
761 << 13 <<



:




= 1261




:





:
=

" :





" .



=

.
Syeikh Said Al-Qahthani dari Saudi Arabia termasuk yang memilih
iftirasy (Sholatu'l-Mu'min, Juz I:220-1, Riyadh:1422).
Dalilnya hadits Abu Humaid As-Sa'idy (Bukhari, 288, Abu Dawud (7301; Turmudzi (3-4-5) lihat juga Bulughul Maram no. 284): "Apabila
Nabi s.a.w duduk pada rakkat kedua, beliau duduk atas kakinya yang
< "kiri dan mendidirkan yang kanan.
>. Cara duduk iftirasy itu sama persis dengan
duduk antara dua sujud. Demikian Syeikh Al-Bani dan Al-Qahthani.
o
Dalil Tawarruk:
. << . .
<<
.

:
:

:
-

: : :

:

:




.

Abu Humaid as-Sa'idiy berkata: Aku mendengar dari Abu Qatadah bin
Rib'i, dia termasuk 10 besar dari sahabat Nabi s.a.w, ia
berkata: "Aku ingin mengajarkan sholat Rasul s.a.w pada kalian,
..hingga apabila Nabi s.a.w duduk dirakaat penghabisan dari
sholatnya, neliau keluarkan kakinya yang kiri, Nabi s.a.w duduk
miring di atas punggungnya secara tawarruk, lalu beliau salam.
Mereka (sahabat) mengatakan: "Beginilah senantiasa sholat Rasulullah
s.a.w." (HR. Ahmad, Juz V, Musnad al-Anshar).
Riwayat serupa terdapat dalam Abu Dawud, Kitab Sholat, Bab:
, Juz II:181 dengan lafadz yang sama tetapi
dengan tambahan "pada sholat yang rakaat akhirnnya terdapat salam:



(Terjemahan hadits sda)
Diriwayatkan juga oleh Turmudzi dengan redaksi serupa Imam Ahmad
(Kitab Sholat:280), juga Ibnu Majah dalam Iqamat Shalat wa's-Sunnah
Fiha:1051.
Status hadits ini dalam penjelasan Jarh wa't-Ta'dil, (autokritik
hadits) CD-Room Kutub Tis'ah berikut komentar para Muhadditsin,
semuanya menyatakan tsiqah dan shaduq (sanad dengan rawi terpercaya).
KOMENTAR PARA ULAMA:
o
Terhadap cara Iftirasy:
Syeikh Bin Baz dalam "Tsalatsul Rasa'il Fi's-Shalah:
Jika shalat itu adalah shalat dua raka`at, seperti shalat Subuh,
shalat Jum`at dan shalat `Id, maka duduk iftirasy setelah bangkit
dari sujud kedua, yaitu dengan menegakkan kaki kanan, dan bertumpu
pada kaki kiri, tangan kanan diletakkan di atas paha kanan dengan
menggenggam semua jari kecuali jari telujuk untuk berisyarat kepada
tauhid di saat meng-ingat Allah shallallahu 'alaihi wasallam dan
berdo'a. Jika jari manis dan jari kelingking tangan kanan
digenggamkan, sedangkan ibu jari dibentuk lingkaran dengan jari
tengah dan berisyarat dengan jari telunjuk, maka hal tersebut sangat
baik sekali, karena kedua cara tersebut ada di dalam hadits shahih
dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan afdhalnya melakukan cara
yang pertama pada suatu saat dan cara yang kedua pada saat yang
lain. Sedangkan tangan kiri diletakkan di atas (ujung) paha kiri dan
lutut; lalu membaca Tasyahhud.
Syeikh `Abdullah bin `Abdurahman Al-Jibrin dalam risalah

mininya, "Sifat Shalat" juga seirama dengan cara ini. Imam Abu
Hanifah (80-150 H/699-767 M), penggagas utama madzhab Irak yang
merekomendasikan cara ini. Syeikh `Abdullah bin Abdurahman Al-Bassam
dalam Taudhihu'l-Ahkamnya melaporkan (Juz II:265, Mekkah:2003),
demikian pula dengan Imam Ahmad.
"Imam Abu Hanifah an-Nu'man bin tsabit bin Zawti begitu juga muridmuridnya sangat menyukai (mustahabbah) untuk duduk iftirasy dalam
semua duduknya dalam semua jenis sholat, tanpa membedakan antara
laki-laki dan wanita."
Imam Ibnu Qayyim menulis: "sifat duduk seperti diterangkan ini,
sebenarnya tidak popular.Aku hanya mengetahuinya dari jalur Abu
Hanifah, sedang murid-muridnya sendiri pun berbeda sudut-tinjau."
(Zadul Ma'ad II:236, Tahqiq & Takhrij; Syuaieb Arnoth, Beirut:2000).
o
Terhadap Cara Tawarruk
Berbeda dengan Abu Hanifah dan yang mengikuti cara ini, Imam-3 di
luar Madzhab Baghdad, seperti Imam Malik (93-197 H/712-795 M), Iman
As-Syafi'i (150-204 H/767-820 M) serta Imam Ahmad (164-241 H/780855 M) merekomendasikan cara tawarruk, untuk semua jenis tahiyat
akhir, baik pada sholat 2-rakaat (tsananiyah), 3 (tsalatsiyah)
maupun 4 (ruba'iyah). Demikian laporan otentik dari Ibnu Ruslan
dalam Syarh as-Sunnah seperti dikutip dalam Syarah Abu Dawud (Kitab
Thaharah, Bab: - ) , juga
Imam Syaukani dalam Nailul Awtharnya (Juz II:184, []
>> ) .
Imam Malik mengatakan Aku lebih menyukai duduk tawarruk disemua
jenis duduk (tahiyat) akhir, baik pada sholat 2-rakaat maupun 4rakaat, karena begitulah hadits Ibnu Mas'ud menjelaskannya (Bukhari,
II:258,261); Muslim (402); Turmudzi (289); Abu dawud (986); Nasa'i,
II:237-9 Ahmad, Musnad, I:236, dst).
Imam As-Syafi'i secara mutlak memfatwakan: "
" duduk tawarruk berlaku penuh untuk semua jenis tasyahhud
akhir".
TARJIH:
Bagaimanakah menyikapi dua sudut-tinjau yang bersebelahan ini. Imam
Ibnu Jarir At-Thabari, Begawan tafsir klasik menengahi, "kedua tata
cara ini (iftirasy-tawarruk) pada waktu mana saja dia duduk dalam
tahiyat, maka sesungguhnya ia telah mengikuti sunnah. Saya berharap,
perkara ini hendaknya dielastiskan mengingat atsar dan riwayat yang
menjelaskannya juga sangat luas. Wallahu A'lam. (Al-Bassam, II:266),
Ibnu Rusyd dalam Bidayah Mujtahidnya mengikuti pola Thabari dalam
menyikapi cara duduk ini, sebagaimana juga Imam Nawawi dalam Shahih
Muslimnya karena memang gurunya, Imam As-Syafi'i merekomendasikan
demikian.
Syeikh Albani didalam Tamamul Minnah menerangkan bahwa duduk yang

berlaku dalam shalat dua rakaat adalah duduk iftirashy.


Ana pribadi lebih condong dengan pendapat yang merajihkan pendapat
duduk Iftirashy pada shalat dua rakaat atau yang satu kali tasyahud.