Anda di halaman 1dari 18

TEKNOLOGI PERLINDUNGAN TANAMAN EKSPLOSI HAMA, DAMPAK NEGATIF DAN PERUBAHAN BUDIDAYANYA

KELOMPOK 2 INDAH KURNIASARI GUFRAN NUHALIM PUTRI INDRA N ANGGI FIKTIRIANI H YUDHI FERMANA P 150510090042 150510090043 150510090081 150510090082 150510090083

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

PENDAHULUAN Tujuan utama pembangunan sektor pertanian baik dunia maupun kawasan adalah untuk menaikkan produksi pertanian guna meningkatkan pendapatan petani dan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, khususnya kebutuhan pangan penduduk yang populasinya meningkat dengan cepat. Pada tahun 2000 ini penduduk di dunia diperkirakan mencapai 6,1 milyar dimana tiga perempat dari populasi ini hidup di negara berkembang dan lebih kurang separuhnya hidup di kawasan Asia dan Pasifik. Permintaan akan pangan, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, dan gaya hidup semakin meningkat. Ini berarti diperlukan lahan yang semakin luas, produksi bahan pangan, sandang, dan papan yang semakin meningkat pula (Triharso, 1974). Pengaruh badai El Nino membawa musim kering berkepanjangan, ditambah berkurangnya lapisan Ozon yang membawa dampak bertambahnya panas di bumi mengakibatkan ribuan bahkan jutaan hektar pertanaman padi dan pertanaman pangan lain kering dan tidak dapat dipanen. Kasus lain adalah kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan mencapai ribuan hektar bahkan jutaan hektar, polusi asapnya sampai di Singapura dan Malaysia. Kendala yang berasal dari faktor biotik adalah adanya gangguan dari OPT yang terdiri atas hama, penyakit, dan gulma. Menurut Triharso (1994) gangguan adalah setiap perubahan pertanaman yang mengarah pada pengurangan kuantitas atau kualitas dari hasil yang diharapkan. Macam gangguan yang berasal dari faktor biotik antara lain: kerusakan akar, kerusakan batang, kerusakan daun, kerusakan cabang, ranting dan pucuk, kerusakan bunga, buah dan biji, dan kerusakan pada umbi atau ubi. FAKTOR PENYEBAB EKSPLOSI HAMA Hingga saat ini belum ada penelitian komprehensif tentang hubungan perubahan iklim dan hama penyakit di lapangan. Namun, tanda-tanda di lapangan menunjukkan kaitan kuat antara masalah hama dan penyakit dengan perubahan iklim yang terjadi. Dalam tiga tahun terakhir terjadi beberapa perubahan persoalan hama dan penyakit di Indonesia, terkait peningkatan dan penurunan serangan hama/penyakit. Salah satu faktor iklim yang berpengaruh terhadap hama adalah banjir. Beberapa hama/patogen ditularkan aliran air. Contohnya hama padi keong emas, di persawahan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur tahun 2008. Suwito (50 th) dan Suyanto (26 th)keduanya petani di

Desa Tinawun Malo, Bojonegoromenyatakan sebelumnya tidak ada hama keong emas di daerahnya. Namun setelah banjir besar tahun 2007, tiba-tiba menjadi banyak dan merusak tanaman padi muda. Studi yang dilakukan Pusat Kajian Pengendalian Hama Terpadu IPB tahun 1999 pada 90 titik di tiga kabupaten di Jawa Baratyaitu Karawang, Indramayu, dan Tasikmalaya juga menunjukkan bahwa sawah-sawah yang terkena banjir pada musim sebelumnya berpeluang lebih besar mengalami ledakan hama wereng coklat. Thrips juga merupakan hama yang akhir-akhir ini makin merusak. Saat kemarau tahun 2006, Thrips menimbulkan kerugian besar pada usaha tani cabai di Tegal dan Brebes, Jawa Tengah. Saat itu populasi hama sangat tinggi dan tingkat kerusakan yang ditimbulkannya berat. Di lapangan tidak ada satu pestisida sintetispun yang efektif mengendalikannya. Tiga tahun terakhir ini, serangan Thrips sp. makin berat di berbagai daerah, seperti Brebes, Tegal, Pati, Klaten, Magelang dan Wonogiri. Thrips berkembang pada musim kemarau dan bisa meledak populasinya bila kemarau makin kering dan suhu rata-rata makin panas. Hama seperti mahluk hidup lainnya perkembangannya dipengaruhi oleh faktor factor iklim baik langsung maupun tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara relatif dan foroperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, keperidian, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga. Sebagai contoh hama kutu kebul (Bemisia tabaci) mempunyai suhu optimum 32,5 C untuk pertumbuhan populasinya (Bonaro et al. 2007). Contoh yang lain adalah pertumbuhan populasi penggerek batang padi putih berbeda antara musim kemarau dan musim hujan, sementara itu panjang hari berpengaruh terhadap diapause serangga penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata) di Jawa (Triwidodo, 1993). Umumnya serangga serangga hama yang kecil seperti kutu-kutuan menjadi masalah pada musim kemarau atau rumah kaca karena tidak ada terpaan air hujan. Pada percobaan dalam ruang terkontrol peningkatan kadar CO2 pada selang 389- 749l/L meningkatkan reproduksi tungau Tetranychus urticae (Heagle et al., 2002) Pengaruh tidak langsung adalah pengaruh faktor iklim terhadap vigor dan fisiologi tanaman inang, yang akhirnya mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap hama. Temperatur berpengaruh terhadap sintesis senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, falvonoid yang berpengaruh terhadap ketahannannya terhadap hama. Pengaruh tidak langsungnya adalah kaitannya dengan musuh alami hama baik predator, parasitoid dan patogen. Sebagai contoh adalah perkembangan populasi ulat bawang Spodoptera exigua pada bawang merah lebih tinggi

pada musim kemarau, selain karena laju pertumbuhan intrinsik juga disebabkan oleh tingkat parasitasi dan tingkat infeksi patogen yang rendah (Hikmah, 1997). CONTOH KEJADIAN EKSPLOSI HAMA
1. Hama Sexava sp. Di Sulawesi Utara

Penelitian kelapa telah mendapat perhatian sejak awal abad ke 19. Pada Tahun 1876, pemerintah kolonial Belanda mendirikan Cultuurtuin atau Economic Garden dan kelapa di masukkan dalam program penelitian pada tahun 1907. Penelitian kelapa secara institusional dilaksanakan pada tahun 1911 yaitu koleksi kelapa dari berbagai daerah diIndonesia. Pada tahun 1900 terjadi serangan hama Sexava sp dan Aspidiotus sp di Kabupaten Sangihe Talaud (Sulawesi Utara) dan Maluku Utara. Dr P.L.M. Tammes, seorang ahli agronomi Belanda, atas praksasa sendiri dibantu oleh dua orang rekannya, melakukan penelitian hama Sexava sp. Pada tahun 1927 terjadi kembali serangan hama Sexava sp bersamaan dengan kekeringan yang panjang. Akibat serangan hama dan kemarau yang panjang. Akibat serangan hama dan kemarau yang panjang dilaporkan kurang lebih 100.000 pohon kelapa mati. Pemerintah Belanda kemudian mendirikan Klapper Proefstation (Satatiun Percobaan Kelapa) pada tahun 1930 dengan kantor bertempat di Sario dan kebun percobaan di Mapanget. Dr. A. Reyne, seorang ahli zoology, sebagai kepala Stasiun Percobaan ditugaskan melakukan usahausaha pemberantasan hama Sexava sp. Ia dibantu oleh Dr. P.L.M. Tammes dan Ir. Tulner. Hasil penelitian yang menonjol saat itu adalah seleksi dan koleksi lebih dari 40 kultivar kelapa dari berbagai daerah. Hasil koleksi Tammes sebagaimana masih dipelihara di Kebun Percobaan Mapanget. Dalam masa kekuasaan Jepang (1942-1945) penelitian kelapa terhenti sama sekali karena Mapanget dinyatakan sebagai daerah terlarang. Di Mapanget terdapat lapangan terbang tempat pendaratan pesawat-pesawat Jepang. Beberapa cultivar kelapa koleksi Tammes di kebun Percobaan Mapanget rusak. Sesudah Indonesia Merdeka (1945), Penelitian kelapa dilanjutkan pemerintah Indonesia dan mendapat lebih besar pada tahun 1955 1961, terutama setelah merosotnya eksport kopra Indonesia. Seorang ahli pemuliaan tanaman FAO berkebangsaan Jerman, Diplm. Img. A.F. Ihne didatangkan untuk melakukan inventarisasi, seleksi dan hibridisasi materi-materi yang telah dikumpulkan Tammes. Pada Tahun 1956 dan 1958, Kebun Percobaan Kayuwatu dan Kima Atas

didirikan. Namun kegiatan penelitian kelapa di Mapanget mengalami gangguan pada tahun 1957 1960 karena adanya pemberontakan PERMESTA. Klimaks dari perhatian pemerintah Indonesia terhadap penelitian kelapa terjadi pada tahun 1961 yaitu dengan didirikannya Lembaga Penelitian Tanaman Lemak. Lembaga ini diubah namanya menjadi Lembaga Penelitian Kelapa dan Jenis-jenis tanaman Lemak Lainnya pada Tahun 1962 yang selanjutnya bergabung dengan Lembaga Penelitian Serat dan jenis-jenis Tanaman Industri (LPTI) pada tahun 1967. Lembaga Penelitian Tanaman Industri (LPTI) dalam operasionalnya membawahi tiga cabang wilayah, yaitu Cabang Wilayah I, Cabang Wilayah II dan Cabang Wilayah III. LPTI Cabang Wilayah III berkedudukan di Manado. Pembagian tugas LPTI berorientasi wilayah Indonesia Bagian Timur yang meliputi 9 Propinsi. Lebih dari 30.000 hektar pertanaman kelapa di provinsi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara dan Papua telah terserang berat hama belalang Sexava sp. Serangan hama ini sudah terjadi sejak puluhan tahun silam, populasinya berkembang secara dinamis, dan sudah sering terjadi ledakan populasi (eksplosi) yang mengakibatkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi petani kelapa, terutama di provinsi Sulawesi Utara. Keberadaan hama di daerah tersebut wilayah ini sudah bersifat endemis. Sampai saat ini belum ada teknologi pengendalian yang benar-benar ampuh atau efektif yang bisa menekan populasi hama sampai pada batas yang tidak merugikan secara ekonomi. Kegiatan penelitian pun sudah banyak dilakukan. Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain (Balitka) dan Fakultas Pertanian, Universitas Sam Ratulagi (UNSRAT), Manado merupakan institusi yang paling banyak melakukan penelitian tentang pengendalian hama Sexava sp., Hasilnya, pengendalian secara hayati (biologis) menggunakan parasitoid telur Leefmansia bicolor adalah salah satu teknik pengendalian yang mempu menekan serangan hama ini. Namun demikian, bila populasi hama sudah tinggi, cara ini kurang efektif karena hasilnya baru bisa dilihat dalam waktu yang cukup lama dan diperlukan pelepasan parasitoid dalam jumlah yang besar. Pengendalian secara kimiawi menggunakan insektisida, mungkin sangat efektif dan hasilnya dapat dilihat dalam waktu singkat, akan tetapi perlu dipertimbangkan dampak negatifnya, seperti terbunuhnya organisme bukan sasaran, residu bahan kimia dalam produk, pencemaran udara, air dan tanah, menurunnya kesehatan manusia, dan lain-lain. Sanitasi kebun, pemasangan perangkap, pengumpulan dan pemusnahan telur, nimfa dan belalang dewasa adalah

teknik pengendalian lainnya yang mudah dan murah untuk diterapkan, tetapi sering diabaikan oleh petani. Hal ini dapat dilihat dari kondisi kebun kelapa rakyat di kabupaten Kepulauan Talaud, provinsi Sulawesi Utara (dan mungkin juga di daerah lainnya) yang kebanyakan ditumbuhi oleh semak belukar sehingga terkesan tidak terpelihara. Dengan mempertimbangkan berbagai kendala tersebut, maka penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan cara yang paling efektif. Serangan berat hama yang terjadi di provinsi Sulawesi Utara yang mencapai 18.737 hektar, belalang ini menyerang tanaman kelapa dengan memakan daun sehingga tersisa lidinya saja. Jika serangan berat terjadi hama ini juga menyerang buah kelapa yang masih muda, sehingga dapat menyebabkan buah muda menjadi rontok, atau jika tidak pertumbuhan buah menjadi tidak normal telah menyebabkan petani semakin kehilangan mata pencaharian. Sebagian besar petani kelapa di kabupaten Kepulauan Talaud sudah meninggalkan kebunnya dan beralih menjadi nelayan. Secara lisan, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Utara pernah mengungkapkan kepada Direktur Perlindungan Perkebunan tentang rencana mereka untuk mengkonversi tanaman kelapa karena sulitnya mengendalikan hama ini. Menanggapi keadaan tersebut, Dirjen Bina Produksi Perkebunan telah memberikan pembinaan teknis pengendalian hama Sexava sp. melalui suratnya kepada Kepala Dinas Perkebunan provinsi Sulawesi Utara Nomor 100/PD.510/E6.1/03/04 tanggal 18 Maret 2004 yang ditembuskan antara lain kepada Gubernur provinsi Sulawesi Utara. Sebagai respon atas surat tersebut, pada bulan September 2004 Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud telah mengeluarkan instruksi Nomor 07 Tahun 2004 tentang pengendalian hama Sexava sp. pada tanaman kelapa. Instruksi tersebut disampaikan kepada seluruh Camat, Aparat Dinas Pertanian, Kepala Kampung dan Lurah, Petani/Kelompok Tani dan warga masyarakat pemilik tanaman kelapa se kabupaten Kepulauan Talaud. Ada 4 (empat) butir isi instruksi tersebut, yaitu : 1. Segera melaksanakan gerakan massal pengendalian hama Sexava sp. di seluruh wilayah/ kampung/kelurahan yang dikoordinasikan oleh Camat bekerjasama dengan Polisi Sektor, Komando Rayon Militer, ajaran Cabang Dinas Pertanian Kecamatan, Pimpinan Agama, Pimpinan Adat, Lurah, Kepala Kampung, Kelompok Tani.Petani di Kabupaten Kepulauan 2. Talaud. Melaksanakan gerakan massal hama Sexava sp. berpedoman pada teknis Pengendalian

Hama Terpadu (PHT), yaitu mengutamakan cara-cara sebagai berikut: Sanitasi/pembersihan di bawah pohon kelapa secara massal dan berkelanjutan; Menggunakan musuh alami telur Sexava sp., yakni parasitoid Leefmansia bicolor dan atau musuh alami lainnya yang dilepas dan dipelihara pada areal tanaman kelapa secara rutin dan berkelanjutan ; Melakukan pembakaran pada seputar pangkal tanaman kelapa, radius 1 1,5 meter secara terus menerus pada semua pohon kelapa selama 6 - 8 bulan untuk memusnahkan telur Sexava sp.; Mencari dan langsung memusnahkan telur, nimfa dan induk Sexava sp. secara terus menerus ; Melakukan Gerakan Anti, yakni tidak lagi menggunakan pestisida dalam pengendalian hama Sexava sp. secara terus menerus, melainkan berusaha sungguhsungguh untuk melakukan semua cara pengendalian tersebut secara terpadu dan berkelanjutan ; Melaksanakan semua pola pengendalian tersebut di atas pada tanaman inang Sexava sp. lainnya, seperti pisang, sagu, salak, pinang dan sebagainya ; Melakukan gerakan peremajaan swadaya berupa Gerakan Sepuluh-Satu, yakni setiap panen sepuluh butir disisihkan satu butir dari tanaman kelapa yang buahnya besar dan lebat untuk dijadikan bibit dengan tetap memperhatikan jarak tanam yang dianjurkan; Melakukan penanaman tanaman sela, yakni kacang tanah, kedelai, jagung, umbiumbian, sayuran dan tanaman perkebunan lainnya, seperti pala, cengkeh, vanili, lada serta tanaman kehutanan unggulan lokal Kabupaten Kepulauan Talaud, seperti matoa hutan (gehe), kayu raja (linsanada), balukha, kenari, awaa, lanuan, dan lainlain di bawah pohon kelapa yang jarak tanamnya memungkinkan ; Hal yang paling utama yang harus dilakukan adalah hidup kudus dan berdoa sungguh-sungguh mohon pertolongan Tuhan agar usaha para petani terhindar dari 3. belalng pelahap yang sangat merugikan Daerah tersebut. Menyebarluaskan instruksi kepada seluruh masyarakat terutama para petani dan dibacakan pada momentum pertemuan umum secara periodic seperti pada rapat umum 4. dan pada setiap pelaksanaan ibadah. Para Camat menyampaikan laporan setiap bulan tentang kemajuan pelaksanaan semua sistem pengendalian hama Sexava sp. tersebut dan dampaknya terhadap produksi dan pendapatan petani kelapa di wilayah kerja masing-masing.

BBP2TP Ambon saat ini sedang mengembangkan Pengendalian Hayati dengan Musuh Alami, salah satu yang dikembangkan adalah parasitoid Leefmansia bicolor. Parasitoid L. bicolor digunakan untuk mengendalikan hama belalang sexava sp. Belalang ini menyerang tanaman kelapa dengan memakan daun sehingga tersisa lidinya saja. Jika serangan berat terjadi hama ini juga menyerang buah kelapa yang masih muda, sehingga dapat menyebabkan buah muda menjadi rontok, atau jika tidak pertumbuhan buah menjadi tidak normal. Pengembangan L. bicolor sudah dilaksanakan dari bulan Juni 2009. Kegiatan di bertujuan untuk mempersiapkan stok musuh alami jika terjadi serangan di wilayah kerja BBP2TP Ambon Serangga hama ini sangat menyukai habitat dengan ciri kelembaban tinggi yaitu 90-100 persen dan suhu antara 24.5 -29,5. Serangga ini meletakan telur di tanah yang banyak mengandung pasir dan kompos dengan cara menusukan ovipositor ke dalam tanah. Telur tersebar disekitar areal perkebunan pohon kelapa sepanjang pesisir pantai. Hama sexava sp menyerang tanaman kelapa di semua umur, baik tanaman muda maupun tanaman yang sudah tua. Penanggulangan eksplosi hama kelapa Sexava sp. dan hama Penggerek Buah Kakao di Maluku Utara, dilakukan melalui Gerakan Masal Pengendalian yang dimotori oleh Pemerintah Daerah. Gerakan Masal ini dicanangkan oleh Gubernur Maluku Utara dan merupakan bagian dari program kerja 100 hari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Maluku Utara. Tujuan dari pencanangan gerakan masal adalah agar petani pemilik lahan perkebunan khususnya kelapa dan kakao, terdorong untuk melaksanakan pengendalian OPT pada tanamannya secara mandiri. Teknik yang digunakan untuk pengendalian hama Sexava sp adalah dengan pelepasan parasit Leefmansia bicolor serta pembersihan dan pembakaran lahan di bawah pohon kelapa. Sedangkan untuk pengendalian hama Penggerek Buah Kakao dilakukan dengan teknik penyelubungan (sarungisasi) buah muda yamg berukuran 8 12 cm. BBP2TP Ambon saat ini sedang memperbanyak L. bicolor ,di Laboratorium Lapangan. Perbaikan teknik pengembangan dilakukan dengan cara memperbaiki teknik rearing dengan memperhatikan habitat serangga. Hal ini bertujuan agar memperoleh serangga dalam jumlah yang besar sehingga mempunyai stok yang cukup banyak, mengingat wilayah kerja BBP2TP Ambon sangat luas.

2. Gerakan Pengendalian Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Kalimantan Timur

Dengan dukungan dana APBD telah dilakukan gerakan pengendalian hama Penggerek Buah Kakao (PBK) seluas 2.045 ha dari 6.238 ha areal terserang atau 33 %. Teknik pengendalian yang digunakan adalah teknik penyelubungan buah muda (sarungisasi).

Perbaikan teknis budidaya yang dapat dilakukan antara lain: Pemangkasan kakao Ditujukan agar iklim mikro tidak kondusif untuk berkembangannya hama dan penyakit sehingga pengelolaan hama dan penyakit akan lebih mudah. Beberapa hasil penelitian menujukkan bahwa pemangkasan yang teratur dapat memberikan hasil panen yang lebih baik. Hasil pengamatan dilapang perlakukan pemangkasan kurang diperhatikan oleh petani. Panen Sering Berdasarkan siklus hidup PBK untuk memasuki fase pupa maka larva harus keluar dari sehingga perlakuan panen sering diharapkan akan dapat memutuskan siklus hidupnya. Hasil penelitian dengan masa panen setiap 5 7 hari dapat menekan populasi hama PBK. Meskipun demikian untuk menyempurnkannya sanitasi limbah buah kakao perlu dilaksanakan misalnya limbah kako dibenamkan kedalam tanah sekaligus dapat menjadi pupuk organik. Eksplorasi klon tahan PBK Perlu dilakukan sesegera mungkin atau memanfaatkan teknologi rekayasa genetik untuk membuat tanaman transgenik yang tahan terhadap PBK buka sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Tentunya peran ini tidak perlu dipikul oleh petani tetapi merupakan tantangan bagi peneliti. Pemupukan Pemupukan merupakan komponen budidaya yang perlu diperhatikan. Mengingat secara geografis lahan yang banyak ditanami adalah tipe Podsolik Merah Kuning dengan tingkat

kemasaman tanah yang cukup tinggi, sehingga penggunaan pupuk sintetis perlu dicermati secara hati-hati. Oleh karena itu, amandemen bahan organik menjadi sesuatu yang amat penting sebelum melakukan pemupukan secara sintetis. Pengaturan tanaman selain kakao yang dapat digunakan sebagai inang alternatif seperti rambutan. Inang alternatif tersebut sebaiknya tidak ditanam atau berada disekitar pertanaman kakao. Untuk mengantisipasi penyebaran hama ini, Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara Telah mengeluarakan SK Gubernur No. 195 tahun 2000 tentang larangan Mendatangkan, Memperdagangkan dan atau Menggunakan Benih, Bibit, serta bahan Tanaman Kakao Terinfeksi maupun yang berasal dari wilayah/ area yang terserang hama PBK. Meskipun aturan ini telah dikeluarkan implemetasinya masih perlu dipertanyakan. Oleh karena itu sosialisai aturan ini perlu sesegera mungkin diketahui oleh masyarakat Sulwesi Tenggara.
3. Pengendalian Hama Pleisispa sp di Kalimantan Barat

Pengendalian hama Pleisispa sp di Kabupaten Pontianak Provinsi Kalimantan Barat dilakukan melalui Gerakan Masal Pengendalian seluas 525 ha [19.890 pohon] yang tersebar di 34 desa dari target pengendalian 475 ha atau 28,3 % melebihi target. Teknik yang digunakan adalah mekanis, fisik dan kimiawi, dan hasilnya memperlihatkan adanya penurunan intensitas serangan 5% sampai 10 % dalam waktu 1 sampai 2 bulan setelah pengendalian. Kegiatan ini akan dilanjutkan tahun 2005, dan disertai dengan pengembangan dan penyebaran agens hayati Tetrastichus brontispae untuk menstabilkan populasi Pleisispa sp.

4. Serangan Hama Kutu Daun di Nusa Tenggara Timur

Serangan hama kutu daun kelapa Aspidiotus destructor dan Aleurodicus destructor di Provinsi Nusa Tenggara Timur mencapai luas 813 Ha dan telah dikendalikan seluas 780 Ha dengan cara injeksi insektisida sistemik [Marshall 200 EC]. Setelah populasi hama Aspidiotus sp. menurun pengendalian dilanjutkan dengan menggunakan musuh alami Chilocorus sp. Dinas Perkebunan Provinsi NTT bekerjasama dengan Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) pada bulan Mei s.d. November 2004 melakukan evaluasi efektivitas pengendalian yang

dilakukan baik secara kimiawi maupun secara hayati (menggunakan Chilocorus politus) terhadap kutu perisai (Aspidiotus destructor) dan kutu kapuk (Aleurodicus destructor) yang menyerang pertanaman kelapa. Hasil penelitian di Kabupaten Ngada, Ende, Sikka, Alor, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), Kupang, Sumba Timur dan Kabupaten Sumba Barat menunjukkan bahwa pelaksanaan pengendalian hama kelapa baik kutu perisai maupun kutu kapuk telah berhasil.
5. Serangan Hama Kelapa Aspidiotus sp

Serangan hama kelapa Aspidiotus destructor di Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku mencapai 185.350 pohon. Serangan tersebut telah dikendalikan sejak tahun 2003 dengan dana APBD II dan ABT APBN, dan dilanjutkan oleh pemerintah daerah dengan dana APBD II pada tahun 2004. Pengendalian dilakukan dengan teknik injeksi batang menggunakan insektisida sistemik Marshal 200 EC. Saat ini populasi hama Aspidiotus destructor telah mulai menurun dan direncanakan pemerintah daerah bersama BPTP Ambon, telah memulai langkah untuk penyebaran musuh alami Chilocorus sp. yang diintroduksi dari propinsi NTT.
6. Pengendalian Kumbang Promecotheca cumingii Pada Tanaman Kelapa

Kumbang kelapa Promecotheca curningii (Coleoptera: Hispi-dae), merupakan salah satu hama yang merusak tanaman kelapa, kelapa sawit, Areca dan palrna lainnya. Hama ini telah dilaporkan sebagai hama utama pada tanaman kelapa di Indonesia, tetapi eksplosi hama ini jarang terjadi secara terus menerus dalam periode yang lama. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh aktivitas musuh alami yang dapat menekan perkembangan populasi hama tersebut secara alamiah. Daun yang diserang oleh hama ini jaringannya akan mati sehingga berubah warna menjadi coklat, dan apabila serangan hebat tanaman kelihatan seperti terbakar dan buahnya akan gugur. Dilaporkan juga bahwa kerusakan seperti ini jarang terjadi di Jawa karena adanya aktifitas parasitoid. Di Sulawesi dan Maluku, eksplosi P.cumingii dan P.soror jarang terjadi, walaupun kerusakan serius dapat terjadi secara lokal (Ka1shoven, 1981). Secara nasional hama ini bukan merupakan masalah yang besar tetapi pada tahun 1984, eksplosi hama ini terjadi di Sulawesi Tengah dan merusak tanaman kelapa seluas 1812 ha (Wiryosoehardjo dan Budiman, 1986) Pada tahun 1988, 1989, eksplosi hama P.cumingii terjadi di Suli, Balingg , Tolai dan Palu, Sulawesi

Tengah (Ooi dan Hosang, 1989). Tahun 1991 eksplosi harna ini rnasih terjadi pada beberapa tempat di Sulawesi Tengah dengan luas serangan 905.48 ha. Dengan demikian jelas bahwa kerusakan yang disebabkan oleh hama ini secara tidak langsung dapat berpengaruh terhadap produksi. Usaha pengendalian hama ini telah banyak diteliti, tetapi pada umumnya hanya bersifat parsial dan beberapa metode belurn dipelajari sampai tuntas, sehingga masih perlu dilakukan penelitian. Walaupun demikian beberapa usaha pengendalian rnempunyai prospek yang baik untuk diterapkan dan dikembangkan untuk waktu mendatang. Untuk keberhasilan pengendalian hama ini, maka perlu diketahui aspek biologi dan tingkah laku hama agar supaya dapat diterapkan teknik pengendalian yang sesuai. 7. Hama Penggerek Batang Pada Jagung Penggerek batang, Ostrinia furnacalis Guenee, merupakan salah satu hama utama pada tanaman jagung sehingga keberadaannya perlu diwaspadai. Kehilangan hasil akibat hama tersebut mencapai 2080%. Besarnya kehilangan hasil dipengaruhi oleh padat populasi larva O. furnacalis serta umur tanaman saat terserang. Telur O. furnacalis diletakkan secara berkelompok pada bagian bawah daun, bentuknya menyerupai sisik ikan dengan ukuran yang berbeda-beda. Periode telur berlangsung 34 hari. Larva terdiri atas lima instar, setiap instar lamanya 37 hari. Stadium pupa berlangsung 79 hari. Lama hidup ngengat adalah 27 hari sehingga siklus hidup dari telur hingga ngengat adalah 2746 hari dengan rata-rata 37,50 hari. Musuh alami O. furnacalis yang ditemukan di Sulawesi Selatan, seperti di Maros, Barru, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, dan Sinjai adalah parasitoid telurTrichogramma evanescens dan parasitoid larva dari ordo/famili Hymenoptera/Ichneumonidae (1 spesies), Hymenoptera/Braconidae (1 spesies), dan Diptera/Tachinidae (1 spesies). Persentase telur O. furnacalis yang terparasit dalam satu kelompok berkisar antara 71,5689,80%. Larva O. furnacalis yang terparasit Ichneumonidae, Braconidae, dan Tachinidae berkisar antara 16%. Parasitoid telur lebih efektif menekan populasi O. furnacalis dibanding parasitoid larva. Jenis jenis predator telur dan larva O. furnacalis adalah cecopet (Proreus sp., Euborellia sp.) dan laba laba (Lycosa sp., Chrysopa sp., dan Orius tristicolor), sedangkan patogen yang efektif menekan populasi O. furnacalis adalah Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana. Keefektifan kedua jenis cendawan tersebut bergantung pada konsentrasi konidia dan stadium perkembangan larva O. furnacalis; makin muda stadium larva makin tinggi tingkat mortalitasnya.

Telur

Larva

Pupa

Ngengat Ostrinia furnacalis

Imago Trichogramma evanescens

Sejumlah cendawan dari kelas Hyphomycetes menyebabkan penyakit muscardine pada serangga. Sebutan ini pertama kali digunakan terhadap muscardine putih ulat sutra yang disebabkan oleh Aspergillus flavus dan Paecilomyces farinocus, serta muscardine merah oleh Sorosporella uvella.
8.

Scirpophaga innotata (Ulat Penggerek Batang Padi) Klasifikasi Kingdom : Animalia Fillum : Arthropoda Subfillum : Heksapoda Class : Insecta Ordo : Lepidoptera Famili : Pyralidae Genus : Scirpophaga Species : Scirpopagha innotata

Morfologi Scirpophaga innotata dikenal dengan penggerek putih batang padi. Telurnya berbentuk bulat panjang berukuran 0,6x0,5 mm diletakkan berjejer seperti letak genteng pada permukaan bawah daun dan dekat ujung daun berjumlah 50-150 butir. Larva yang baru menetas berwarna abu-abu, kemudian menjadi krem muda, kepalanya berwarna lebih tua, kuning, cokelat, dengan panjang 20-25 mm. Pupa berwarna kuning yang terbungkus kokom warna putih. Sedangkan imagonya mempunyai warna sayap muka coklat kekuningan. Ukuran imago jantan lebih kecil daripada ukuran betina dan berwarna coklat muda. Daur Hidup Perkawinan S. Innotata terjadi pada sore hari pada pukul 19.00-21.00. Suhu yang cocok untuk telur S. Innotata adalah 290 dengan kelembaban 90%. Di dataran tinggi telur S. Innotata menetas dalam waktu 14 hari sedangkan di dataran rendah menetas lebih cepat 5 hari. Setelah menetas, larva bergerak ke bawah lalu masuk ke batang padi dan mulai menggerek bagian antara upih daun dan batang. Larva terus menggerek batang anakan utama dan larva yang lebih tua mungkin berpindah dari satu anakan ke anakan lain. Selama penggerek memakan bagian dalam tanaman, maka penggerek batang dapat mengakibatkan matinya bagian atas tanaman. Penyerangan pada masa vegetatif disebut sundep, sedangkan penyerangan pada masa generatif disebut beluk. Penyerangan ribuan ulat S. Innotata yang sama sekali mematikan tanaman padi itu disebut juga penyerangan hema sundep. Metamorfosis Scirpophaga innotata mengalami metamofosis sempurna yaitu dari telur kemudian menjadi larva, lalu berubah menjadi pupa (kepompong) sampai akhirnya menjadi dewasa (imago) dan biasanya berlangsung selama 35 hari. Gejala Serangan Pada masa sundep Ujung bagian bawah batang berwarna gelap Daun padi yang masih muda menguning dan mati Anakan tanaman padi kerdil atau mati

Terhambatnya pertumbuhan daun dan tunas baru Ujung bagian bawah batang berwarna gelap Malai padi mati dan berwarna keabu-abuan Bulir padi kosong dan mudah dicabut

Pada masa beluk

Pengendalian Menggunakan musuh alaminya Platygaster oryzae Cam, Prapycrascytus murificus (grizault). Penggunaan karbofuran dengan dosis 0,5-1,0 kg bahan aktif per ha.
9. Cylas formicarius F. (Hama Lanas)

Morfologi Kumbang Cylas formicarius adalah kumbang pembuat lanas atau kebusukan pada hasil tanaman ubi jalar. Secara sepintas tidak jauh berbeda dengan seekor semut besar, umumnya berukuran 5-7 mm. Kepala dan sayapnya berwarna biru sedangkan leher dan kakinya berwarna merah. Daur Hidup Cylas formicarius yang betina sebelum saatnya bertelur selalu berada didalam tanah, berusaha untuk menempatkan telur-telurnya pada umbi yang cukup besar. Produksi telur rata-rata selama hidupnya mencapai kurang lebih 200 butir. Siklus hidup hama lanas ini sekitar 6-7 minggu. Lingkungan Hidup/Agroekosistem Kumbang Cylas formicarius senang menetap di daerah ladang yang tanahnya gembur. Gejala Serangan Ubi berlubang Pengendalian Pergiliran tanaman dengan bukan inang Perbaikan cara bercocok tanaman dengan pembumbun tanaman agar ubi

tidak menonjol keluar atau tidak terlihat.

Penggunaan bibit sehat Sanitasi lahan sebelum ditanami ubi jalar

10. Etiella zinckenella (Penggerek Polong)

Taksonomi Kingdom : Animalia Fillum : Class : Ordo : Lepidoptera Famili : Pyralidae Genus : Etiella Species : Etiaella zinckenella Morfologi Telur berwarna keputihan sampai jingga dan berbentuk bulat panjang. Larva instar pertama berwarna kekuningan sedangkan larva instar dua sampai instar empat berwarna kehijauan. Larva instar lima berwarna kemerahan. Pupanya dibentuk dalam kokon dengan panjang 8-10 mm berwarna cokelat. Imagonya berwarna ke abuabuan. Kupu-kupu etiella zinckenella yang berukuran kecil, sayap mukanya panjang segitiga, sedang sayap belakangnya lebar dan bulat. Dampak negatif cokelat Pengendalian Tanam serempak Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang Penyemprotan insektisida pada tanaman yang berumur 45 hari, dan bila Polong tanaman kedelai mengalami kerusakan berat Biji kedelai didalamnya keropos Terdapat gerekan pada biji kedelai dan adanya butiran kotoran berwarna

telah ditemukan intensitas serangan lebih dari 2% pada tanaman yang berumur lebih dari 45 hari setelah tanam.

11. Helicoverpa armigera (Ulat Penggorok buah)

Taksonomi Kingdom : Animalia Fillum : Arthropoda Class : Insecta Ordo : Lepidoptera Famili : Noctuidae Genus : Helicoverpa Species : Helicoverpa armigera Morfologi Telur bulat, berwarna putih agak kekuningan berubah menjadi kuning tua dengan ukuran 0,4-0,5 mm. Ulat wrnanya beragam dengan garis bergelombang dibagian saraf yang warnanya lebih muda dipengaruhi oleh warna makanan. Pada tubuhnya banyak tonjolan kecil seperti kutil yang kemudian ditumbuhi sehelai rambut. Pupa berwarna kuning berubah kehijauan kemudian kuning kecokelatan dan berukuran 1418 mm. Imagonya berupa ngengat dan berwarna cokelat. Dampak Negatif Terdapat lubang-lubang bekas gerekan larva KESIMPULAN Organisme Pangganggu Tanaman terdiri dari tiga kelompok pengganggu yaitu hama (binatang Vertebrata dan Invertebrata), penyakit (Mikoplasma, Virus, Jamur, Bakteri) dan gulma (rumput-rumputan dan gulma berdaun lebar). OPT tersebut sangat besar peranannya di bidang pertanian karena sebagai pengganggu tanaman mereka mampu membuat luka tanaman, luka menyebabkan kerusakan tanaman, selanjutnya kerusakan tanaman akan berdampak pada penurunan angka hasil dan mutu hasil produksi tanaman. Akhirnya penurunan angka hasil dan mutu hasil tersebut akan berdampak pada kerugian. Dalam mengganggu tanaman, pengganggu dapat bekerja sendiri-sendiri atau dapat bekerja sama antara dua atau lebih pengganggu (vektor, sinergisme, mengangkut, membuat jalan masuk). Gangguan hama lebih banyak bersifat mekanik yang prosesnya tidak

berkesinambungan, gangguang penyakit lebih bersifat gangguang fisiologis tanaman yang sifatnya berkesinambungan dan gangguan gulma lebih bersifat persaingan baik unsur hara maupun cahaya. Dalam rangka mencukupi kebutuhan hidup manusia akan pangan dan sandang, maka setiap usaha budidaya pertanian mutlak perlu dilakukan perlindungan tanaman terhadap OPT. Perlindungan tanaman dapat dilakukan melalui berbagai taktik pengendalian hama dan penyakit (mekanik, fisik, kultur teknis, penggunaan tanaman tahan hama dan penyakit, hayati, rekayasa genetik, pemanfaatan senyawa atraktan, repelen, pheromon dan pestisida) yang dilakukan dalam satu kesatuan pengendalian yang lazim dikenal sebagai PHT (Pengendalian/Pengelolaan Hama Terpadu). Menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas beberapa tahun mendatang serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat orang sadar akan keamanan pangan dan lingkungan. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka peran perlindungan tanaman menjadi semakin peting, utamanya perlindungan tanaman yang sifatnya ramah lingkungan dan tidak menimbulkan dampak residu pestisida.