Anda di halaman 1dari 2

ABSTRAK

ANALISIS PERBANDINGAN PENGATURAN DELIK KESUSILAAN MENURUT KUHP, UNDANG-UNDANG PORNOGRAFI DAN RUU-KUHP Oleh MAYZESTIKA DEWANTI LUBIS

Upaya penanggulangan kejahatan dengan hukum pidana pada hakikatnya merupakan bagian integral dari upaya mencapai perlindungan masyarakat (social defence) dan upaya mencapai kesejahteraan masyarakat (social welfare). Dengan demikian dapat dikatakan tujuan akhir dari kebijakan hukum pidana adalah perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Salah satunya adalah dengan cara mengetahui bagaimanakah pengaturan dan bentuk delik kesusilaan menurut KUHP, UU Pornografi dan RUU KUHP yang diharapkan dapat mencapai tujuan akhir dari kebijakan hukum pidana. Data yang diperlukan dalam penelitian bersumber dari Data Kepustakaan. Data kepustakaan merupakan data yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka yang berkaitan langsung dengan masalah yang diteliti. Data kepustakaan berupa bahan-bahan hukum yang mengikat, yang terdiri dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta peraturan-peraturan lainnya yang berhubungan dengan penelitian. Dalam mencari data dan informasi mengenai hal tersebut diatas menggunakan metode wawancara dan studi pustaka, sedangkan yang menjadi sampel antara lain: Satu orang Jaksa pada Kejaksaan Negeri Bandarlampung, Tiga orang Jaksa pada Kejaksaan Tinggi Lampung, Satu orang pegawai Departemen Hukum dan Ham. Pengaturan tentang delik kesusilaan di dalam KUHP menggolongkan jenis tindakan pidana kesusilaan, penggolongan tindak pidana kesusilaan tersebut yakni: 1. Tindak pidana kesusilaan dengan jenis kejahatan, yakni pasal 281 s.d. 303 Bab 14 Buku ke 2 KUHP. 2. Tindak pidana kesusilaan dengan jenis pelanggaran, yakni Pasal 532 s.d. 547 Bab 6 Buku 3 KUHP. RUU KUHP hanya mengelompokkan dalam 1 (satu) bab dengan judul tindak pidana terhadap perbuatan yang melanggar kesusilaan. Tindak pidana terhadap perbuatan yang melanggar kesusilaan tersebut diatur dalam pasal 467 s.d. 505 Bab 16 RUU KUHP. Adapun pengaturan delik kesusilan dalam Undang-Undang Pornografi meliputi larangan

dan pembatasan perbuatan yang berhubungan dengan pornografi sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, yakni: 1. Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat: a. persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang; b. kekerasan seksual; c. masturbasi atau onani; d. ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; e. alat kelamin; atau f. pornografi anak. 2. Setiap orang dilarang menyediakan jasa pornografi yang: a. menyajikan secara eksplisit ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; b. menyajikan secara eksplisit alat kelamin; c. mengeksploitasi atau memamerkan aktivitas seksual; atau d. menawarkan atau mengiklankan, baik langsung maupun tidak langsung layanan seksual. Pengaturan delik kesusilaan menurut KUHP dan RUU KUHP pada dasarnya tidak jauh berbeda karena pada RUU KUHP hanya mengkaji ulang atau merevisi pengaturan sebagaimana diatur dalam KUHP, namun dalam Undang-undang Pornografi pengaturan delik kesusilaan difokuskan pada perbuatan cabul yang tujuannya menimbulkan atau merangsang nafsu. Ketika kita hendak melihat bentuk delik kesusilaan dari ketiga undang-undang tersebut tentu tidak berbeda ketika kita melihat perbedaan pengaturannya karena memang bentuk delik kesusilaan tidak terlepas dari pengaturannya. Dengan adanya Undang-undang pornografi, sudah ada peraturan perundang-undangan yang lebih khusus untuk mengatur perbuatan cabul yang tujuannya menimbulkan atau merangsang nafsu, namun apabila dirasa perlu juga dibentuk peraturan perundangundangan yang mengatur tentang delik kesusilaan lainnya selain delik kesusilaan yang menimbulkan atau merangsang nafsu.