Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

PENGUKURAN DAN RALAT ME1

Disusun oleh Nama Nim Fak/jurusan Kelompok Tgl. Praktikum Nama Asisten

: Imron Rosadi : 115090800111007 : MIPA / FISIKA :7 : :

LABORATORIUM FISIKA DASAR JURUSAN FISIKA MIPA UNIVERSITAS BRAWIJAYA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 TUJUAN PERCOBAAN Setelah melaksanakan percobaan praktikum ini diharapkan dapat menggunakan alat-alat utuk mengukur panjang dan, massa, dan volume suatu benda dengan baik dan benar, serta dapat menerapakan teori ralat dalam menatakan hasil pengukuran 1.2 Teori Engukuran-pengukuran dalam eksperimen sering sekali menjengkelkan dan tidak ada buku pelajaran tentan metode eksperimen yang dpat menyelesaikan semua persoala yang memningungkan yng temui para insinyur , khususnya mereka yng bergerak dibidang ekperimen. Namn mengheran juga jika banyak lulusan keinsyi[uran tidak dapat memapu melakukan pengukuran teknik yang sederhana, denga ketelitaian yang memadai. Oelh karena itu dibutuhkan keampuna pengukuran yang memadai dan tepat. J.P HOLMAN METEODE ENGUKARAN TEKNIK, ELRLANGGA 1984 Satuan Hokum-hukum fisika menyatakan hubungan antara besaran-besaran fisik seperti panjang wajtu dan gaya, energy dan suhu jadi, kemamapun untuk mendefenisikan besaran-besaran tersebut secara tepat dan mengukurnya secara teliti merupakan syarat dalam fisika. Semua besaran dapat dinyatakan dalam bebrapa satuan-satuan pokok pemelihan satauan untuk satuan-satuan mengahasilkan satuan system untuk digunakan secara universal yang disebut sistem international (SI). Giancoli. 2001 Konversi Satuan Semua factor konversi mempunyai nilai 1. Dan digunakan untuk mengubah suatu besaran yang dinyatakan dalam satu satuan ukuran menjadi nilai ekivalennya dalam satuan ukuran lainnya. Contoh : 240 km = 240 km x = 149 mi

Dimensi Besaran-besaran Fisik Konsisten dalam dimensi adalah kondisi yang perlu tetapi tidak cukup agar sesuatu persamaan benar. Dalam tiap sukunya, namun masih tidak mengambarkan sesuatu keadaan fisik apapun. Notasi Ilmiah Bilangan yang sangat kecil dan sangat besar paling mudah ditulis dengan bilangan antara 1 dan 10 dan dikalikan dengan bilangan berpangkat 10. Cara penulisan ini disebut penulisan cara penulisan disebut dengan notasi ilmiah. Angka signifikan dan ordo magnitudo Jumlah angka signifikan dalam hasil pengalian atau pembagina tidak lebih besar dari jumlah angka signifiakan terkecil dan factor-faktornya. Hasil penjumkahan atau penguranagn dua bilangn tidak akan mempunyai

angka signifiakan di luat tempaat decimal terahir dimana keduan bilagan asal mempunyai angka signifikan. Dalam banyak hal orde magnitude saautu besaran dapat diperkirakan dengan mengguanakan asumsi yang masuk akal dan diperhitungan secara sederhana. Tip;er, 1991

Perhitungan Ralat Prinsip-prinsip dasar Mengukur adalah menentukan suatu besaran fisik dari suatu benda dengan cara membanadingakan benda dengan satuan, untuk cara, bagiamana satuan dibandingakan dengan benda harus ada aturan yang jelas . Besaran yang sebenarnya suatu besaran dari suatu bensa atau system fisik memliki tinggi teretentu. Nilai dari besaran itu merupakan sifat dari system fisik atau benda itu, kita akan sebutkan nilai itu sabegai nila yang sebenarnya. Hasil Ukur Ketika kita mengukur suatu benda fisik, maka kita akan mendapatkan suatu nilai untuk besaran fisisk sebagai hasil pengukuran. Hasil pengukuran biasanya disebut secara singkat sebagia hasil ukur. Perbedaan antara hasil ukur dan besaran yng sebenarnya disebut ralat ukur, untuk mendapatkan hasil pengukuran yang baik, kita harus berusaha supaya rlat ukur kecil sehingga hasil ukur pasti dekat dengan besarana yang sebenarnya. Ralat Ralat adalah perbedaan antara hasil ukur dan nilai yang sebenarnya. Karena kita tidak tahu nilai yang sebenarnya. , maka kita juga taidak tahu bear ralat ukur dengan pasti. Untuk mengetahui berapa besar ketidak pastian dari hasil ukur, maka kita harus memperkirakan besar ralat ukur. Ketidak pastian hasil ukur menunujukkan berapa besar perbedaan antar hasil ukur dan nilai yang sebenarnya terjadi. Dengan kata lain, untuk setiap pengukuran selain hsil ukur juga ralat hasil ukur harsu ditentukan. Menentukan ralat hasil ukur disebut memebuat ralat ukur. Sumber Ralat Dalam setiap pengukuran terdapat bermacam-macam sumber kesalahan yang mengakibatkan hasil pengukura tidakk sama dengan besaran fisik yang sebebnarnya. Semua sumber ralat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu ralat sistematis dan ralat statistis. 1. Ralat Sitematis Ralat sistematis terjadi pada setiap kali pengukuran. Arah dan besar dari ralat sisematis selalu sama. Ralat sistematis adalah suatu kesalahan yang terdapat dari cara smengukur. Beberapa contoh ralat sistematis 1. Posisi nol tidak berada pada posisi nol yang sebeanrnya.

2. Alat ukur tidak sesuaikan dengna standarht asli 3. Cara mengukur atau alat untuk mempengaruhi besarna asli yang sebenarnya sehingga berubah ketika diuukur. Hal inin ini bisa terjadi ketika mnegukur volatas dan harus serentak. Untuk mengihindari ralat sisiteamtis, kita harus menera alat ukur dengan baik dan harus memeperhatikan semua pengaruh yang bisa mengubah hasil pengukuran. Ralat statistic Berasal dari hal yng terjadi secara kebetulan dan dapat dirubahrubah. Ralat staistis bisa mengakibatkan hasi ukur menjadi lebih besar atau lebih kecil dari nilai yang sebenarnya. Ralat statis kadang-kadang membuat hasil pengukuran menjadi lebih kecil. Beberpa caontoh untuk ralat statis: 1. Tidak melihat skala ukur secar teliti. 2. Stopwatch dijalankan terlambat atau lebih awal 3. Getaran mekani memengaruhi hasil ukur. Ricard blocher , 2007 Berbagai Pengukuran a. pengukuran Panjang pada pembahasan pengukuran panjang. Anda akan dikenalkan dengan alat pengukuran berupa mistar, jangka sorong, dan mikrometr sekrup. Pengukuran panjang Menggunakan Mistar Mistar atau penggaris yang anda akan gunakan data berbeda jenisnya satu sama lain. Namun demikian, pada umumnya mistar memiliki garis-garis skala dengan skala terkecil I mm atau 0,1 cm. oleh karena itu, mostar memili ki nilai ketidak pastian pengukuran sebesar x= 0,5 mm = 0,5 cm

Pengukuran panjang menggunkan jangka sorong Alat ukur seperti misatr memiliki keterbatasan, yaitu kurang akurat jika digunakan untuk mengukur diameter dalam satu pipa. Alat ukur yang tepat untuk pengukuran tersebut adalah jangka sorong. Selain pengukuran diameter dalam, juga dapat digunakan

metode pengukuran diameter luar (ketebalan) serta kedalam celah lubang.

jangka sorong memiliki dua ukuran skala, yaitu skala utama dan skala nonius. Pasa skala nonius (vernier), panjang 20 skalanya mewakili 1 mm skala terkecil pada skala utama sehingga skala terkecil jangka sorong adalah mm 0.05 mm. dengan demikian, nilai ketidak pastian adala X 0.05 mm = 0.025 mm. Pengukuran panjang menggunkan micrometer sekrup Pengukuran dengan menggunakan micrometer skrup. Anda akan mendapatkan hasil pengukuran yang lebih teliti dibandingkan jangka saorong. Micrometer sekrup memiliki dua skala terkecil 0.05mm. adapun skala nonius micrometer sekrup terdapat pada selubing lingkaran luar. Pada setiap 1 putaran skala nonius terdapat 50 skala yang dilalui dalam perpindahan skala utama besar 0.05 mm. dengan demikian, nilai terkecil skala nonius adalah 0.005 mm/50 = 0.01 mm Nilai ketidak pastian pengukuran menggunakan micrometer sekrup adala x skala terkecil x x (0,01 mm) = 0.005 mm.

fisika untuk teknologi dan kesehatan, oza paulisa , grafindo pratama, 2008

b. pengukuran waktu dalam penentukan berbagia pengukuran fisika, misalnya penentuan kelajuan, besara percepatan rata-rata atau periode bandul. Alat yang digunakan untuk melakkukan pengukuran waktu tersebut adalh stop watch, ada dua jenis stopwatch jarum dan stopwatch digital. Stopwatch jarum memilii skalat terkecil yang dapat tercaca sbesar 0,1 sekon, stopwatch digital biasanya memiliki ketelitian pengukuran yang lebih baik, daintaranya memiliki skala terkecil sebesar o,o1 sekon. c. pengukuran massa massa enda yagn diukur menggunakan naraca, sperti neraca ohaus atau neraca digital. di bebrapa laboratorium umumnya menggunakan neraca Ohaouss untuk mengukur massa benda. Adapun beberpa laboratorium sudah menggunakan neraca digital untuk mengukur massa.pada neraaca ohaus benda yang aka diuukur masssanya diletakkan pada piringa nerca. Lalu beban pada neraca digeser pada angka-angka tertentu sapai neraca kembali berada pada keadaan simbang.