Anda di halaman 1dari 22

92 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

S|StCH tCnHOnCuLnS|
















0
MARYATI ABIDUNA
08 300 040


UNIVERSITAS NEGERI MANADO
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
2011


SISTEM TERMOREGULASI
93 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen
pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan
saraI eferen serta termoregulasi. Pengaruh suhu pada lingkungan, hewan dibagi menjadi dua
golongan, yaitu poikiloterm dan homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh
lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar.
Hewan seperti ini juga disebut hewan berdarah dingin. Dan hewan homoiterm sering disebut
hewan berdarah panas

A. MEKANISME PERTUKARAN PANAS


. Keseimbangan suhu
Produksi panas merupakan suatu Iungsi metabolisme energi. Dalam keadaan istirahat
kira-kira 56 dari panas basal dihasilkan oleh organ-organ dalam dan hanya kira-kira18
yang dihasilkan oleh otot dan kulit. Pada waktu pengerahan tenaga, terjadi peningkatan
produksi panas akibat peningkatan aktivitas otot sebanyak 90. Agar suhu tubuh tetap
konstan, panas harus dihilangkan ke lingkungan dengan laju yang sama dengan yang
dihasilkan. Kegagalan mengontrol suhu tubuh dapat menyebabkan serangkaian perubahan
Iisiologis. Sebagai contoh, suhu tubuh di bawah 36
0
C atau di atas 40
0
C dapat menyebabkan
disorientasi sedangkan suhu di atas 42
0
C menyebabkan sawan dan kerusakan sel yang
permanent. Oleh karena itu, ketika kondisi lingkungan meningkat di atas atau turun dibawah
'ideal tubuh harus mengontrol perolehan atau pembuangan panas untuk mempertahankan
homeostasis.
Mekanisme menghilangkan panas pada umumnya adalah pengaturan Iisika olekarena
melibatkan kerja Iisik sedangkan mekanisme perolehan panas banyak melibatkan mekanisme
kimiawi. Pertukaran energi panas antara hewan dan lingkungan tergantung pada nutrisi,
metabolisme dan mekanisme Iisika pertukaran panas seperti suhu dan kelembaban
lingkungan.
. Mekanisme Pertukaran panas
Pertukaran panas dengan lingkungan meliputi 4 proses yaitu:
#adiasi :
Apabila kita merasakan panas matahari maka itu adalah karena radiasi sinar matahari.
#adiasi (elektromagnetik) dipancarkan dari permukaan yang suhunya lebih tinggi
94 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

dan diabsorbsi oleh bagian lain yang suhunya lebih rendah. Perbedaan suhu yang
cukup besar menyebabkan banyak panas yang hilang melalui radiasi.
Panas tubuh kita juga hilang dengan cara yang sama meskipun dalam jumlah yang
kecil. Lebih dari 50 panas yang hilang dalam ruangan diakibatkan oleh radiasi dan
jumlah sesungguhnya bervariasi sesuai dengan suhu tubuh dan suhu kulit
Konduksi :
Merupakan perpindahan langsung energi melalui kontak Iisik. Sebagai contoh ketika
kita duduk di kursi plastik yang dingin maka panas yang berasal dari kita
dipindahkan ke kursi sampai akhirnya terjadi keseimbangan.
Konveksi
Merupakan hasil kehilangan panas secara konduksi ke udara yang melapisi
permukaan tubuh. Udara panas timbul oleh karena lebih ringan dari udara dingin.
Seiring tubuh kita memindahkan panas ke udara berikutnya maka udara panas
bergerak menjauh dari permukaan kulit. Udara dingin yang menggantikannya pada
akhirnya menjadi panas, pola ini berulang-ulang. Jumlah konveksi kira-kira 15 dari
panas tubuh yang hilang dalam ruangan.
vaporasi
vaporasi merupakan perubahan dari Iase cair ke uap air. vaporasi memerlukan
energi dalam jumlah yang besar, kira-kira 0.58 kal per gram air yang dievaporasikan.
Oleh karena itu, maka mekanisme ini digunakan oleh hewan untuk mendinginkan
tubuhnya. vaporasi juga berlangsung di permukaan respitatoris dan organ-organ
termasuk kulit. . Laju evaporasi yang berlangsung di kulit sangat bervariasi. Setiap
jam kira-kira 20-25 ml air melintasi epithelium dan dievaporasikan melalui
permukaan alveolar dan permukaan kulit. Kehilangan air insensibel ini relatiI
konstan. Pada saat istirahat, jumlahnya kira-kira 20 dari rata-rata kehilangan panas
tubuh dalam ruangan. Kelenjar keringat bertanggung jawab terhadap perspirasi
sensibel yang mencapai kira-kira 2-4 L per jam dalam keadaan aktiIitas yang hebat.
vaporasi berlangsung hanya apabila udara tidak jenuh dengan uap air.
Perolehan dan kehilangan panas melibatkan aktivitas berbagai sistem yang
dikoordinasi oleh pusat kehilangan panas (heat-loss centre) dan pusat perolehan panas (heat-
gain centre) pada area preoptik hipotalamus anterior.
93 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

2.1. Mekanisme meningkatkan kehilangan panas
Apabila suhu di nukleus preoptik melebihi set point maka pusat kehilangan panas
dirangsang sehingga menghasilkan 3 pengaruh utama yaitu:
a. Penghambatan pusat vasomotorik yang menyebabkan vasodilatasi peripheral dan
darah yang panas mengalir ke permukan tubuh. Kulit menjadi berwarna kemerah-
merahan, suhu kulit meningkat dan peningkatan kehilangan panas melalui konduksi
dan konveksi.
b. Perangsangan saraI simpatis untuk meningkatkan sekresi kelenjar keringat seiring
dengan meningkatnya aliran darah ke kulit. Perspirasi mengalir melintasi permukaan
tubuh dan meningkatkan kehilangan panas melalui evaporasi. Apabila evaporasi
komplit maka sekresi maksimal dapat memindahkan 2320 kal/jam.
c. #angsangan terhadap pusat respirasi sehingga meningkatkan kedalaman respirasi.
Sering orang melakukan respirasi dengan mulut terbuka daripada melalui hidung
untuk meningkatkan evaporasi melalui paru paru.
2.2. Mekanisme perolehan panas.
ungsi pusat perolehan panas di otak adalah untuk mencegah hipotermia atau suhu
tubuh di bawah normal. Apabila suhu pada nukleus preoptik turun di bawah tingkat yang
dapat diterima maka pusat kehilangan panas di hambat dan pusat perolehan panas
diaktiIkan.
Mekanisme untuk memperoleh panas dapat dibagi dalam 2 kategori besar yaitu:
$hivering thermogenesis.
Pada shivering thermogenesis terjadi peningkatan secara perlahan-lahan tonus otot
sehingga meningkatkan konsumsi energi otot skelet seluruh bagian tubuh. Dengan
demikian lebih banyak energi yang dikonsumsi dan pada khirnya lebih banyak panas
yang dihasilkan. Derajat stimulasi bervariasi sesuai kebutuhan. Apabila pusat
pengaturan perolehan panas sangat aktiI, tonus otot meningkat sampai pada titik
dimana rangsangan reseptor renggang menghasilkan kontraksi yang singkat. Dengan
kata lain kita mulai menggigil. Menggigil meningkatkan kerja otot dan selanjutnya
meningkatkan konsumsi oksigen dan energi. Panas yang dihasilkan menghangatkan
pembuluh darah bagian dalam yang kemudian darah dialirkan ke pusat vasomotorik
96 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

simpatis. Menggigil sangat eIektiI dalam meingkatkan suhu tubuh dimana laju
perolehan panas dapat mencapai 400
onshivering thermogenesis
Proses ini melibatkan pelepasan hormon untuk meningkatkan aktivitas metabolisme
di semua jaringan.
a. pineprin: Pusat perolehan panas merangsang kelenjar suprarenalis melalui cabang
simpatis sistem saraI otonomi sehingga melepaskan epineprin. pineprin
meningkatkan laju glikogenolisis di hati dan otot skelet dan laju metabolisme di
kebanyakan jaringan
b. Tiroksin: Nukleus preoptik mengatur produksi thyrotropin releasing hormone (T#H)
oleh hipotalamus. Pada anak-anak ketika suhu tubuh di bawah normal, T#H
dilepaskan merangsang pelepasan thyroid stimulating hormone oleh adenohipoIisis.
Kelenjar tiroid menanggapi pelepasan T#H dengan meningkatkan sekresi tiroksin.
Tiroksin tidak saja meningkatkan laju katabolisme karbohidtrat tetapi juga semua laju
katabolisme nutrient lainnya. Pengaruh ini berkembang secara perlahan-lahan setelah
periode beberapa hari sampai minggu
Batas atas dan bawah suhu kritis merupakan zona homeotermia (ona of homeothermy),
merupakan suhu inti yang dapat dipertahankan pada tingkat normal. Pada zona suhu netral
(ona of thermal neutrality) suhu lingkungan tidak menyebabkan adanya aktivitas Iisik
maupun kimiawi untuk mengatur produksi panas dan menghilangkan panas. Ketika suhu
lingkungan turun di bawah zona netral, maka mekanisme kimiawi merupakan satu-satunya
yang digunakan untuk mengatur suhu tubuh. Zona ini dikenal dengan zona pengaturan suhu
kimiawi (ona of chemical thermoregulation). #endahnya suhu lingkungan pada zona ini
mengakibatkan terjadinya peningkatan termogenesis. Pada suhu kritis terrendah (lower
critical temperature) kehilangan panas semakin besar melebihi panas yang dihasilkan melalui
termogenesis, suhu tubuh turun menjadi rendah dan hewan memasuki zona hipotemia (ona
hypothermia). Apabila suhu lingkungan dipertahankan maka mencapai suhu letal terendah
dimana hewan akan mati.
Pada suhu di atas kisaran suhu netral terdapat zona dimana hewan berhasil mengatasi
bahaya kelebihan panas melalui pengaturan Iisik, panting atau berkeringat. Zona ini dikenal
dengan zona termoregulasi Iisik (ona of physical thermoregulation). .Pada suhu kritis atas
(Upper critical temperature) produksi panas kembali meningkat seiring dengan peningkatan
97 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

suhu lingkungan. Suhu tubuh mulai meningkat akibat mekanisme kehilangan panas tidak
dapat mengimbangi perolehan panas. Zone ini merupakan zona hipertermia ona of
hyperthermia), Akhirnya, hewan memasuki suhu letal atas (Zona of upper lethal
temperature.) dimana suhu tubuh meningkat dan terjadi kematian. Suhu letal atas dan bawah
sangat tergantung pada jenis hewan, lamanya terpapar pada suhu ambient tertinggi atau
terendah eIektivitas mekanisme perolehan atau kehilangan panas dan Iaktor-Iaktor lainnya.
. PENGANGKUTAN GAS RESPIRASI, HIPOKSIA DAN ADAPTASI
Lintasan temoreguIasi
Pusat pengaturan menerima inIormasi dari 2 set reseptor suhu yaitu di kulit dan di
hipotalamus. Dalam keadaan normal, set point suhu tubuh kira-kira 37
0
C. Apabila suhu
tubuh meningkat di atas 37.2
0
C maka target aktivitas di pusat pengaturan suhu ada 2 eIektor
yaitu: 1) jaringan otot di pembuluh darah yang mensuplai darah kulit dan 2) kelenjar keringat.
Jaringan otot mengalami relaksasi, pembuluh darah mengalami dilatasi sehingga
meningkatkan aliran darah yang melalui pembuluh darah dekat permukaan tubuh dan
kelenjar keringat meningkatkan sekresinya. Kulit kemudian bekerja sebagai radiator dengan
menghilangkan panas ke lingkungan dan proses evaporasi kelenjar keringat sehingga suhu
tubuh kembali menjadi normal. Suhu di hipotalamus menurun dan pusat termoregulasi
menjadi kurang aktiI. Aliran darah dan aktivitas kelenjar keringat kembali normal seperti
sebelumnya. Pada saat suhu lingkungan yang tinggi atau selama periode latihan, pembuluh
darah dikulit mengalami dilatasi dan aliran darah ke daerah periIeri meningkat,
mengakibatkan kehilangan panas yang lebih banyak.
Kelejar keringat diipersaraIi oleh saraI kolinergik simpatis. Keseluruhan kontrol
berkeringat di bawah pengaturan hipotalamus. Pusat ini dirangsang oleh aktivitas impuls
saraI aIIerent dari reseptor panas di kulit dan juga secara langsung melalui inIormasi dari
suhu darah yang melintasi hipotalamus. Berkeringat sangat tergantung pada kelembaban dan
suhu lingkungan. Pada manusia, kelenjar keringat pada telapak tangan dan telapak kaki
dikontrol terutama oleh emosi yang dikontrol oleh korteks serebral.
Aktivitas vasomotorik (vaskontriksi dan vasidilatasi arteriol) digunakan untuk
mengarahkan darah keberbagai area tubuh. Aktivitas vasomotorik arteriol di kulit
menentukan jumlah darah yang melintasi kulit dan oleh karena tu menentukan jumlah panas
yang dapat dipindahkan dari darah ke lingkungan. Peningkatan aliran darah ke kulit juga
98 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

mengakibatkan tersedianya air dalam jumlah yang besar untuk dievaporaskan oleh kulit
setelah didiIusikan atau disekresikan oleh kelenjar keringat. Adapun pengaturan aktivitas
vasomotorik di pembuluh darah dikonrol oleh hipotalamus.
Bila suhu tubuh turun di bawah normal, pengeluaran panas dikurangi dan produksi
panas ditingkatkan. Selama kondisi dingin pembuluh darah di kulit mengalami konstriksi dan
oleh karena itu mengurangi aliran darah dan kehilangan panas melalui kulit. Stimulus untuk
aktivitas vasomotorik terjadi melalui impuls sensorik yang dihasilkan oleh reseptor dingin
atau stimuli langsung yang berasal dari darah yang melintasi hipotalamus.
Termoregulasi pada bayi
Selama perkembangan embrio dikelilingi oleh lingkungan maternal pada suhu tubuh
normal. Pada saat lahir, mekanisme pengaturan suhu bayi belumlah sepenuhnya Iungsional.
Bayi akan kehilangan panas dengan cepat akibat ukurannya yang masih kecil. Sebagai
konsekwensinya, bayi yang baru lahir harus dalam keadaan kering dan dibungkus dan bagi
bayi yang lahir prematur membutuhkan alat inkubator sebagai pengatur suhu. Pada bayi,
suhu tubuhnya juga kurang stabil dibandingkan dengan orang dewasa. Laju metabolisme
menurun ketika mereka tidur dan meningkat ketika bangun. Meskipun mereka tidak dapat
menggigil, namun mereka mampu meningkatkan suhu tubuh dengan cepat. Pada bayi
terdapat jaringan lemak di antara bahu, sekitar leher dan kemungkinan di tubuh bagian atas.
Jaringan ini memiliki banyak vakularisasi dengan sel-sel adiposit yang mengandung
mitokondria yang dinamakan lemak cokelat (brown Iat). Sel-sel adiposit dipersaraIi oleh
serabut saraI simpatis yang apabila dirangsang meningkatkan lipolisis pada adiposity.
nergi yang dilepaskan melalui katabolisme asam lemak dilepaskan kesekeliling jaringan
sebagai panas yang kemudian didistribusikan ke seluruh tubuh. Dengan cara ini maka bayi
dapat meningkatkan perolehan panas metabolisme 100 lebih cepat sementara termogenesis
nonshevering pada orang dewasa hanya meningkatkan produksi panas sebanyk 10-12
setelah periode mingguan. Dengan meningkatnya usia dan ukuran tubuh, suhu tubub menjadi
lebih stabil dan pentingnya mekanisme termoregilasi jenis ini menjadi berkurang.
Demam
Setiap peningkatan suhu tubuh disebut pireksia. Pireksia biasanya temporer.. Demam
adalah suhu tubuh dipertahankan pada lebih besar dari 37.2
0
C. Demam terjadi untuk
99 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

berbagai alas an, tidak semuadarinya patologis.Demam dapat juga akibat dari Iktr sebagai
berikut:
Pengaruh Abnormalitas memauki mekanisme termoregilasi seperti kelelahan panas
atau heat stroke
Problem klinis merupakan aliran darah yang terbatas seprti pada kegagalan jantung
kongestiI
Kondisi dimana gagalnya aktivitas kelenar keringat seperti pada reaksiobat dan
beberapa kondisi kulit
#esetting hipotalamus 'thermostat oleh pirogen.
Seperti pada pengaturan homeostasis, pengaturan suhu secara tidak langsung bahwa
panas yang hilang harus sama dengan panas yang diperoleh oleh hewan bila suhu tetap
relative konstan.. Kembali kata relative harus harus dibatasi konstan oleh karena suhu
bahkan pada hewan homeotermis berIlukruasi secara normal, contohnya oleh karena ritmik
sirkadian. Perolehan panas oleh orgnisme dapat diperoleh baik dri matahari atau dari
aktivitas metabolisme.sdangkan kehilangan panas melalui proses Iisika dari radiasi, konduksi,
konveksi dan evaporasi air.. Hewan-homeotermis mengatur shu tubuh pada suhu ekstrim
yang rendah dengan meningkatkan peroduksi panas metabolisme. Pada suhu panas, mereka
meningkatkan kehilangan panas khususnya dengan evporasi air. Selanjutnya, control
muscular pada bulu dan rambut membiarkan ketealaan lapisan insulasi mempengaruhi suhu
lingkungan. Kontrol metabolisme dikenal dengan kntrol mkimiawi oleh karena mereka
meliputi pengaturan reaksi kimia dalam organisme . Apabila objek bersentuhan dengan
objek lain, pergerakan molekuler dari objek pertama dapat dipindahkan ke objeklainnya
melalui proses bombardemen agak sedikit analog dengan aktiIitas diIIuse. Seperti
perpindahan gerakan molekul adaah konduksi termal (panas). Udara merupakan penghantar
panas yang buruk, sedangkan air merupakan penghntar panas yangrelatiI baik. Oleh karena
air juga mempunyai kapasitas panas yang tinggi dan memerlkan jumlah yang besar panas
untuk menyerap panas secara signiIikan, pada cuaca panas manusia sering
mencelupkan/membenamkan tubuhnya ke dalam ir untuk pendinginan
Konveksi termal sesungguhnya kasus khusus perpindahan panas melalui konduksi.
Apabila sekeliling medium adalah ciran (seperti udara atau air) itu akan meningkatkan suhu
dan lapisan cairan berikut objek panas apabila dipanaskan akan digantikan oleh masa cairan
yang ingin.
AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

Mekanisme Kehilangan panas
Mekanisme kehilangn panas adalah alat morIologis atau Iisiologis yang mempengaruhi
laju konduksi, konveksi , radiasi atau evaporasi dari permukaan tubuh. Mekanisme
kehilangan panas termasuk lapisan insulasi dan penyesuaian diri dalam ketebalan lseperti
lapisan, kelenjar keringat, respons vasootorik yang mempengaruhi jumlah darah yang dibawa
ke area permukaan, adaptasi morIologi dari tonjolan/tambahan seperti telinga, susunan
pembuluh darah untuk arus balik pertukaran panas, dan mekanisme tingkah laku yang
mempengaruhi jumlah bagian tubuh yang terpapar ke lingkungan.
Lapisan insulasi alam bentuk bul, rambut atau lapisan isnsulasi dari lemak di bawah
kulit yang ditemukan pada homeotermis. Muskulus piloerektor dibawh control SSP
menyebabkan bulu,rambut berdiri dengn demikian meningkatkan kedalaman lapisan insulasi
dan itu menjadikan udara yang terperangkap dan mengurangi jumlah panas yang hilang di
bawah kondisi lingkungan yang dingin. Seperti kita ketahui, udara adalah penghantar panas
yng buruk.
Di bawah kondisi yang panas relaksasi m. piloerektor menyebabkn lapisan insulasi
menjadi datar menurunkan kdalaman udara dekat dengan kulit dan membiarkn kehilangan
pana yng begitu besar ke lingkungan.. Pada manusia, ram.but telah hilang namun
m.piloerektor masih ada ddan apabila kulit terpapar pada rangsangan dingin,bulu roma tegak
ketika m piloerektor berkontraksi.
Lemak merupakan pe dan Iamiliar seperti pada nghantar panas yang butuk dan lapisan
lemak di bawah kulit bekerja sebagai material yang mencegah panas yang baik. Seperti
halnya Insulasi yang banyak sekali khususnya pada hewan yang hidupdi lingkungan yang
dingin dan Iamiliar seperti pada lemak ikan paus dan hewan yang sama.
Mekanisme ingkah laku digunakan denganmerubah jumlah permukaan tubuh yang
terpapar ke lingkungan dan olehkarena itu merubah jumlah panas yang hilang melalui
konduksi, konveksi atau radiasi.. Sebagai contoh, pada kucing dan kebanyakan mamalia
lainnya, pada suhu dingin tampak menggelung. Pada posisi ini meminimalkan permukan
tubuh yang terpapar pada lingkngan yang dingin sehingga meminimalkan kehilangan panas.
Di bawah kondisi panas, hewan berbring dengan demikin menyediakan permukaan yang luas
untuk menghilangkan panas. Mekanisme mengambil sikap untuk menngontrol jumlah panas
yang hilang oleh permukaan tubuh digunakan oleh kebanyak hewan poikilotermis untuk
AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

mendapatkan sedikit beberapa tingkat pengaturan suhu tubuh. Mekanisme pengaturan suhu
tubuh lain untuk mengatur kehilangan panas termasuk penggunaan material sarang atau
berbaring berdekatan bagi bberapa hewan.Hal ini digunakan pasa saat kondisi yang dingin.
vaporasi air merupakan lintasan utama untuk menghilangkan panaspada homeotermis.
Beberapa evaporasi dan kehilangan air terjadi melalui perspirasi insensible (insensible
perspiration). Kira-kira 1/3 air hilang melalui jalur ini melalui permukaan respirasi. Dan
sisanya melalui kulit dan itu berasal dari cairan intersisial yang dibawah olehkapiler pada
lapisan dermis. Air ini berdidusi ke kulit dan dievaaporasikan dan sebelumnya membasahi
permukaan. Apabila suhu lingkungan meningkat suplai darah cutaneus mengalami
peningkatanjadi meningkatkan suplai air untuk perspirai insensible.
Apabila kehilangan panas melalui konduksi,radiasi, konveksi atau perspirasi insensible
tidak juga mencegah lebih lama peningktan uhu tubuh paa lingkungan yng panas atau selama
aktivitas otot, maka kelenjar keringat diinervasi dn air untuk evaporasi dsuplai oleh stuktur
ini.
Beberapa mamalia dan semua aves kurang memiliki kelenjar keringat. hewan-hewan
ini termasuk contohnya anjing dan kucing, panting dimulai pada saat kondisi panas untu
meningkatkan evaporasi melalui traktus respiratoris. Berkeringat merupakan mekanisme
yang paling eIisien untuk meningkatkan kehilangan panas dan pada hewan yangmemiliki
kelenjar keringat biasanya tidak da system ang mengatur aktivitas respirasi sebagai resposns
perubahan suhu. Keringat mengandung kalium dalamkonsentrsi yang tingg dibandingkan
dngan yang trdapat di dalam plasma darah dan juga mengandung ion natrium. Beberapa
buangan nitrogen seperti urea juga diekkresikan di keringat.
Volume keringat pada saat hari panas atau selama latihan mungkin sangat tinggi
dibawah kondisiekstrim sebanyak 1L/hri akan hilang pada manusia. Dalam kedaan normal
sebanyak beberapa ratus ml yang hilng perhri. Kehilangn air melalui keringat ( juga melalui
perspirasi insnsibel pada traktus respiratorius) harus diimbangi degn perolehan air.
Selanjutnya karena ehilangan air diikuti oleh kehilangan natriu dak ion kalium harus jud ada
asupan garam untuk menggantikan yang hilang. Apabila setelah kehilangn keringat hanya
air yang dipasok oleh hewan mak akan terjadi apa yang dikenal dengan shok osmotic oleh
karena pasokan air akan mengencerkan konsentrasi garam pada cairan tubuh. Untuk
mendapatkan kembali keseimbangan osmotic setelah berkringat harus juga mengapatkan
2 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

asupangaram. Pada hewan dengan panting, hany asupan air yng dibutuhkn untuk
mengembalikan osmotic dan keseibangan air.
Termoreseptor.
Adaptasi Tingkah laku.
Aktivitas lainnya dalam mengontrol suhu tubuh adalah mechanism tingkah laku
digunakan oleh berbagai hewan termasuk poikilotermis sedikitnya secara periodic
mempertahankan suhu tubuh lebih tinggi dari lingkungan. Hewan Homeotermis tidklah
menunjukkan terus-menerus endotemis sedangkan sejumlah invertebrate dan vertebrata linya
, pada umumnya hewan ini iklsiIikasikan ebagai poikilotermis ectoderm dapat memiliki
kemampuan periodic sebagai aktivitas endoderm Oleh karena adaptasi Iisiologis, morIologis
dan tingkah laku membolehkan mereka baik poikiloterm maupun homeotermis untuk
memanIaatkan berbagai nici lingkungan.
Hibernasi
Kebanyakan hewan kecil mengalamiperiode hipoternia dan dorman selama masa ingin
dalam stahun. Poikilotermis dan hibernator pad umumny bersembunyi selama periode ketika
suhu lingkungan tidak menguntngkan. Pada dasarnya hibernator merupakan homeotermis
yang memerlukan karakteristik poikilotermis di bawh konisi lingkungan dingin, meskipun
hibernator tidak pernah secara lengkap kehilangan kesanggupan untuk mengatur suhu tubh.
Pola aktivitas yang ditemukana pda adapatai hipotermia bervriael dn kompleks. Pada
kenytaanny ada beberapa ksulitan yang dapat didiIinisikan mengenai hebernasi. Hibernasi
dapat didiIinisikan sebagai aktivitas periodic pengturan dimana heart rate, laju metabolisme
dn laju respirasi dll, rendah sementara suhu inti dipertahannya pada tingkat rendah yang baru
Laju metabolisme basal (Basal metabolic rateBM#) merupakan laju penggunaan
energi oleh tubuh. nergi tidak dapat ditangkap dan digunakan oleh sel dan dilepaskan
sebagai panas. dn bekerja penting untuk tujuan homeostasisProduksi panas yang dihasilkan
oleh reaksibiokimia ditahan oleh air. Yang menmpati hamper 2/3 bobot tubuh. Air
merupakan penghantar panas yang baik, jadi panas yang dihasilkanoleh derahyng stu dalam
tubuh secara cepat diditribusikan melalui diIusi sebaik melalui aliran darah..
Arah dimana bebagai Iactor Iisika memindahkan panas sangat tergantung Iactor Iaktor
lingkungan.Konduksi hanya terjadi dari daerah suhu yang lebih tinggi ke ke daerah yang
3 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

lebih rendah. vaporasi berlangsung hanya apabila udara tidak jenuh dengan uap air.
Meskipun konduksi , konveksi dan radiasi merupakan jalan utama untuk menghilangkan
panas pada kndisi normal, apabila suhu ambient sama dengan suhu tubuh maka metode ini
tidal beroperasi. Apabila suhu tubuh lebih dari suhu ambient, panas dipindahkan ke
organisme. Hal itu dibawah kondisi maka hewan terrestrial masih dapat dingin sendiri
melalui evaporasi. Pada hewan akuatik, tidakdapat mendinginkan dirinya sendiri, kecuali
menggunakn mekanisme tingkah laku yaitu berpindah kelingkungan yang dingin sedapat
mungkin.

%#!&$%
.Tuju,Dr. 2008. $istem Termoregulasi. Modul Mata Kuliah AnIisman. Biologi MIPA.











S|StCH nCnODuuS| nDn HnNuS|n




4 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna










0
MARYATI ABIDUNA
08 300 040

UNIVERSITAS NEGERI MANADO
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
2011



SISTEM REPRODUKSI PRIA DAN WANITA

A. Sistem reproduksi pria meliputi organ-organ reproduksi, spermatogenesis dan hormon
pada pria.
. Organ Reproduksi
Organ reproduksi pria terdiri atas organ reproduksi dalam dan organ reproduksi luar.
a. Organ Reproduksi Dalam
3 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

Organ reproduksi dalam pria terdiri atas testis, saluran pengeluaran dan kelenjar
asesoris.
Testis
Testis (gonad jantan) berbentuk oval dan terletak didalam kantung pelir (skrotum).
Testis berjumlah sepasang (testes jamak). Testis terdapat di bagian tubuh sebelah
kiri dan kanan. Testis kiri dan kanan dibatasi oleh suatu sekat yang terdiri dari serat
jaringan ikat dan otot polos. ungsi testis secara umum merupakan alat untuk
memproduksi sperma dan hormon kelamin jantan yang disebut testoteron.
Saluran Pengeluaran
Saluran pengeluaran pada organ reproduksi dalam pria terdiri dari epididimis, vas
deIerens, saluran ejakulasi dan uretra.
3 Epididimis
pididimis merupakan saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang keluar dari
testis. pididimis berjumlah sepasang di sebelah kanan dan kiri. pididimis berIungsi
sebagai tempat penyimpanan sementara sperma sampai sperma menjadi matang dan
bergerak menuju vas deIerens.
4 Vas deferens
Vas deIerens atau saluran sperma (duktus deIerens) merupakan saluran lurus yang
mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis. Vas deIerens tidak
menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di dalam kelenjar prostat. Vas
deIerens berIungsi sebagai saluran tempat jalannya sperma dari epididimis menuju
kantung semen atau kantung mani (vesikula seminalis).
5 Saluran ejakulasi
Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan kantung semen
dengan uretra. Saluran ini berIungsi untuk mengeluarkan sperma agar masuk ke
dalam uretra.








6 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna






6 Uretra
Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat di dalam penis. Uretra
berIungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen dan saluran untuk
membuang urin dari kantung kemih.
7 Kelenjar Asesoris
Selama sperma melalui saluran pengeluaran, terjadi penambahan berbagai getah
kelamin yang dihasilkan oleh kelenjar asesoris. Getah-getah ini berIungsi untuk
mempertahankan kelangsungan hidup dan pergerakakan sperma. Kelenjar asesoris
merupakan kelenjar kelamin yang terdiri dari vesikula seminalis, kelenjar prostat dan
kelenjar Cowper .
8 Vesikula seminalis
Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung mani) merupakan kelenjar berlekuk-
lekuk yang terletak di belakang kantung kemih. Dinding vesikula seminalis
menghasilkan zat makanan yang merupakan sumber makanan bagi sperma.
9 Kelenjar prostat
Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan terletak di bagian bawah kantung
kemih. Kelenjar prostat menghasilkan getah yang mengandung kolesterol, garam dan
IosIolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma.
Kelenjar Cowper
Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar yang salurannya
langsung menuju uretra. Kelenjar Cowper menghasilkan getah yang bersiIat alkali
(basa).
b. Organ Reproduksi Luar
Organ reproduksi luar pria terdiri dari penis dan skrotum.
Penis.
Penis terdiri dari tiga rongga yang berisi jaringan spons. Dua rongga yang terletak di
bagian atas berupa jaringan spons korpus kavernosa. Satu rongga lagi berada di
bagian bawah yang berupa jaringan spons korpus spongiosum yang membungkus
uretra. Uretra pada penis dikelilingi oleh jaringan erektil yang ronggarongganya
7 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

banyak mengandung pembuluh darah dan ujung-ujung saraI perasa. Bila ada suatu
rangsangan, rongga tersebut akan terisi penuh oleh darah sehingga penis menjadi
tegang dan mengembang (ereksi).
Skrotum
Skrotum (kantung pelir) merupakan kantung yang di dalamnya berisi testis. Skrotum
berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri. Di antara skrotum kanan
dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot polos (otot
dartos). Otot dartos berIungsi untuk menggerakan skrotum sehingga dapat mengerut
dan mengendur. Di dalam skrotum juga tedapat serat-serat otot yang berasal dari
penerusan otot lurik dinding perut yang disebut otot kremaster. Otot ini bertindak
sebagai pengatur suhu lingkungan testis agar kondisinya stabil. Proses pembentukan
sperma (spermatogenesis) membutuhkan suhu yang stabil, yaitu beberapa derajat
lebih rendah daripada suhu tubuh.
c. Spermatogenesis
Spermatogenesis terjadi di dalam di dalam testis, tepatnya pada tubulus seminiIerus.
Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal dengan melalui proses
pembelahan dan diIerensiasi sel, yang mana bertujuan untuk membentu sperma Iungsional.
Pematangan sel terjadi di tubulus seminiIerus yang kemudian disimpan di epididimis.
Dinding tubulus seminiIerus tersusun dari jaringan ikat dan jaringan epitelium germinal
(jaringan epitelium benih) yang berIungsi pada saat spermatogenesis. Pintalan-pintalan
tubulus seminiIerus terdapat di dalam ruang-ruang testis (lobulus testis). Satu testis umumnya
mengandung sekitar 250 lobulus testis. Tubulus seminiIerus terdiri dari sejumlah besar sel
epitel germinal (sel epitel benih) yang disebut spermatogonia (spermatogonium tunggal).
Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapisan luar sel-sel epitel tubulus seminiIerus.
Spermatogonia terus-menerus membelah untuk memperbanyak diri, sebagian dari
spermatogonia berdiIerensiasi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu untuk membentuk
sperma.Pada tahap pertama spermatogenesis, spermatogonia yang bersiIat diploid (2n atau
mengandung 23 kromosom berpasangan), berkumpul di tepi membran epitel germinal yang
disebut spermatogonia tipe A. Spermatogenia tipe A membelah secara mitosis menjadi
spermatogonia tipe B. Kemudian, setelah beberapa kali membelah, sel-sel ini akhirnya
menjadi spermatosit primer yang masih bersiIat diploid. Setelah melewati beberapa minggu,
setiap spermatosit primer membelah secara meiosis membentuk dua buah spermatosit
sekunder yang bersiIat haploid. Spermatosit sekunder kemudian membelah lagi secara
meiosis membentuk empat buah spermatid. Spermatid merupakan calon sperma yang belum
8 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

memiliki ekor dan bersiIat haploid (n atau mengandung 23 kromosom yang tidak
berpasangan). Setiap spermatid akan berdiIerensiasi menjadi spermatozoa (sperma). Proses
perubahan spermatid menjadi sperma disebut spermiasi. Ketika spermatid dibentuk pertama
kali, spermatid memiliki bentuk seperti sel-sel epitel. Namun, setelah spermatid mulai
memanjang menjadi sperma, akan terlihat bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor.
Kepala sperma terdiri dari sel berinti tebal dengan hanya sedikit sitoplasma. Pada bagian
membran permukaan di ujung kepala sperma terdapat selubung tebal yang disebut akrosom.
Akrosom mengandung enzim hialuronidase dan proteinase yang berIungsi untuk menembus
lapisan pelindung ovum. Pada ekor sperma terdapat badan sperma yang terletak di bagian
tengah sperma. Badan sperma banyak mengandung mitokondria yang berIungsi sebagai
penghasil energi untuk pergerakan sperma. Semua tahap spermatogenesis terjadi karena
adanya pengaruh sel-sel sertoli yang memiliki Iungsi khusus untuk menyediakan makanan
dan mengatur proses spermatogenesis.
d. Hormon pada Pria
Proses spermatogenesis distimulasi oleh sejumlah hormon, yaitu testoteron, LH
(Luteinizing Hormone), SH (ollicle Stimulating Hormone), estrogen dan hormon
pertumbuhan.
Testosteron
Testosteron disekresi oleh sel-sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiIerus.
Hormon ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal untuk membentuk sperma,
terutama pembelahan meiosis untuk membentuk spermatosit sekunder.
LH (Luteinizing Hormone
LH disekresi oleh kelenjar hipoIisis anterior. LH berIungsi menstimulasi sel-sel Leydig
untuk mensekresi testoteron
3 FSH (Follicle Stimulating Hormone
SH juga disekresi oleh sel-sel kelenjar hipoIisis anterior dan berIungsi menstimulasi
sel-sel sertoli. Tanpa stimulasi ini, pengubahan spermatid menjadi sperma (spermiasi)
tidak akan terjadi.
4 Estrogen
strogen dibentuk oleh sel-sel sertoli ketika distimulasi oleh SH. Sel-sel sertoli juga
mensekresi suatu protein pengikat androgen yang mengikat testoteron dan estrogen
serta membawa keduanya ke dalam cairan pada tubulus seminiIerus. Kedua hormon ini
tersedia untuk pematangan sperma.
5 Hormon Pertumbuhan
9 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

Hormon pertumbuhan diperlukan untuk mengatur Iungsi metabolisme testis. Hormon
pertumbuhan secara khusus meningkatkan pembelahan awal pada spermatogenesis.

e. Gangguan pada Sistem Reproduksi Pria
Hipogonadisme
Hipogonadisme adalah penurunan Iungsi testis yang disebabkan oleh gangguan
interaksi hormon, seperti hormon androgen dan testoteron. Gangguan ini
menyebabkan inIertilitas, impotensi dan tidak adanya tandatanda kepriaan.
Penanganan dapat dilakukan dengan terapi hormon.
Kriptorkidisme
Kriptorkidisme adalah kegagalan dari satu atau kedua testis untuk turun dari rongga
abdomen ke dalam skrotum pada waktu bayi. Hal tersebut dapat ditangani dengan
pemberian hormon human chorionic gonadotropin untuk merangsang terstoteron. Jika
belum turun juga, dilakukan pembedahan.
3 Uretritis
Uretritis adalah peradangan uretra dengan gejala rasa gatal pada penis dan sering
buang air kecil. Organisme yang paling sering menyebabkan uretritis adalah
Chlamydia trachomatis, Ureplasma urealyticum atau virus herpes.
4 Prostatitis
Prostatitis adalah peradangan prostat. Penyebabnya dapat berupa bakteri, seperti
scherichia coli maupun bukan bakteri.
5 Epididimitis
pididimitis adalah inIeksi yang sering terjadi pada saluran reproduksi pria.
Organisme penyebab epididimitis adalah . coli dan Chlamydia.
6 Orkitis
Orkitis adalah peradangan pada testis yang disebabkan oleh virus parotitis. Jika terjadi
pada pria dewasa dapat menyebabkan inIertilitas

. SISTEM REPRODUKSI WANITA
Sistem reproduksi wanita meliputi organ reproduksi, oogenesis, hormon pada wanita,
Iertilisasi, kehamilan, persalinan dan laktasi.
. Organ Reproduksi
Organ reproduksi wanita terdiri dari organ reproduksi dalam dan organ reproduksi luar.
a. Organ reproduksi dalam
AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

Organ reproduksi dalam wanita terdiri dari ovarium dan saluran reproduksi (saluran kelamin).
Ovarium
Ovarium (indung telur) berjumlah sepasang, berbentuk oval dengan panjang 3 - 4 cm.
Ovarium berada di dalam rongga badan, di daerah pinggang. Umumnya setiap
ovarium menghasilkan ovum setiap 28 hari. Ovum yang dihasilkan ovarium akan
bergerak ke saluran reproduksi. ungsi ovarium yakni menghasilkan ovum (sel telur)
serta hormon estrogen dan progesteron.
Saluran reproduksi
Saluran reproduksi (saluran kelamin) terdiri dari oviduk, uterus dan vagina.
















3 Oviduk
Oviduk (tuba Ialopii) atau saluran telur berjumlah sepasang (di kanan dan kiri
ovarium) dengan panjang sekitar 10 cm. Bagian pangkal oviduk berbentuk corong
yang disebut inIundibulum. Pada inIundibulum terdapat jumbai-jumbai (Iimbrae).
imbrae berIungsi menangkap ovum yang dilepaskan oleh ovarium. Ovum yang
ditangkap oleh inIundibulum akan masuk ke oviduk. Oviduk berIungsi untuk
menyalurkan ovum dari ovarium menuju uterus.
4 Uterus
AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

Uterus (kantung peranakan) atau rahim merupakan rongga pertemuan oviduk kanan
dan kiri yang berbentuk seperti buah pir dan bagian bawahnya mengecil yang disebut
serviks (leher rahim). Uterus manusia berIungsi sebagai tempat perkembangan zigot
apabila terjadi Iertilisasi. Uterus terdiri dari dinding berupa lapisan jaringan yang
tersusun dari beberapa lapis otot polos dan lapisan endometrium. Lapisan
endometrium (dinding rahim) tersusun dari sel-sel epitel dan membatasi uterus.
Lapisan endometrium menghasilkan banyak lendir dan pembuluh darah. Lapisan
endometrium akan menebal pada saat ovulasi (pelepasan ovum dari ovarium) dan
akan meluruh pada saat menstruasi.
5 Vagina
Vagina merupakan saluran akhir dari saluran reproduksi bagian dalam pada wanita.
Vagina bermuara pada vulva. Vagina memiliki dinding yang berlipat-lipat dengan
bagian terluar berupa selaput berlendir, bagian tengah berupa lapisan otot dan bagian
terdalam berupa jaringan ikat berserat. Selaput berlendir (membran mukosa)
menghasilkan lendir pada saat terjadi rangsangan seksual. Lendir tersebut dihasilkan
oleh kelenjar Bartholin. Jaringan otot dan jaringan ikat berserat bersiIat elastis yang
berperan untuk melebarkan uterus saat janin akan dilahirkan dan akan kembali ke
kondisi semula setelah janin dikeluarkan.
b. Organ reproduksi luar
Organ reproduksi luar pada wanita berupa vulva. Vulva merupakan celah paling luar dari
organ kelamin wanita. Vulva terdiri dari mons pubis. Mons pubis (mons veneris) merupakan
daerah atas dan terluar dari vulva yang banyak menandung jaringan lemak. Pada masa
pubertas daerah ini mulai ditumbuhi oleh rambut. Di bawah mons pubis terdapat lipatan
labium mayor (bibir besar) yang berjumlah sepasang. Di dalam labium mayor terdapat lipatan
labium minor (bibir kecil) yang juga berjumlah sepasang. Labium mayor dan labium minor
berIungsi untuk melindungi vagina. Gabungan labium mayor dan labium minor pada bagian
atas labium membentuk tonjolan kecil yang disebut klitoris. Klitoris merupakan organ erektil
yang dapat disamakan dengan penis pada pria. Meskipun klitoris secara struktural tidak sama
persis dengan penis, namun klitoris juga mengandung korpus kavernosa. Pada klitoris
terdapat banyak pembuluh darah dan ujung-ujung saraI perasa. Pada vulva bermuara dua
saluran, yaitu saluran uretra (saluran kencing) dan saluran kelamin (vagina). Pada daerah
dekat saluran ujung vagina terdapat himen atau selaput dara. Himen merupakan selaput
mukosa yang banyak mengandung pembuluh darah.
c. Oogenesis
2 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

Oogenesis merupakan proses pembentukan ovum di dalam ovarium. Di dalam ovarium
terdapat oogonium (oogonia jamak) atau sel indung telur. Oogonium bersiIat diploid
dengan 46 kromosom atau 23 pasang kromosom. Oogonium akan memperbanyak diri dengan
cara mitosis membentuk oosit primer. Oogenesis telah dimulai saat bayi perempuan masih di
dalam kandungan, yaitu pada saat bayi berusia sekitar 5 bulan dalam kandungan. Pada saat
bayi perempuan berumur 6 bulan, oosit primer akan membelah secara meiosis. Namun,
meiosis tahap pertama pada oosit primer ini tidak dilanjutkan sampai bayi perempuantumbuh
menjadi anak perempuan yang mengalami pubertas. Oosit primer tersebut berada dalam
keadaan istirahat (dorman).
Pada saat bayi perempuan lahir, di dalam setiap ovariumnya mengandung sekitar 1 juta
oosit primer. Ketika mencapai pubertas, anak perempuan hanya memiliki sekitar 200 ribu
oosit primer saja. Sedangkan oosit lainnya mengalami degenerasi selama pertumbuhannya.
Saat memasuki masa pubertas, anak perempuan akan mengalami perubahan hormon yang
menyebabkan oosit primer melanjutkan meiosis tahap pertamanya. Oosit yang mengalami
meiosis I akan menghasilkan dua sel yang tidak sama ukurannya. Sel oosit pertama
merupaakn oosit yang berukuran normal (besar) yang disebut oosit sekunder, sedangkan sel
yang berukuran lebih kecil disebut badan polar pertama (polosit primer). Selanjutnya , oosit
sekunder meneruskan tahap meiosis II (meiosis kedua). Namun pada meiosis II, oosit
sekunder tidak langsung diselesaikan sampai tahap akhir, melainkan berhenti sampai terjadi
ovulasi. Jika tidak terjadi Iertilisasi, oosit sekunder akan mengalami degenerasi. Namun jika
ada sperma masuk ke oviduk, meiosis II pada oosit sekunder akan dilanjutkan kembali.
Akhirnya, meiosis II pada oosit sekunder akan menghasilkan satu sel besar yang disebut ootid
dan satu sel kecil yang disebut badan polar kedua (polosit sekunder). Badan polar pertama
juga membelah menjadi dua badan polar kedua. Akhirnya, ada tiga badan polar dan satu ootid
yang akan tumbuh menjadi ovum dari oogenesis setiap satu oogonium.
Oosit dalam oogonium berada di dalam suatu Iolikel telur. olikel telur (Iolikel)
merupakan sel pembungkus penuh cairan yang menglilingi ovum. olikel berIungsi untuk
menyediakan sumber makanan bagi oosit. olikel juga mengalami perubahan seiring dengan
perubahan oosit primer menjadi oosit sekunder hingga terjadi ovulasi. olikel primer muncul
pertama kali untuk menyelubungi oosit primer. Selama tahap meiosis I pada oosit primer,
Iolikel primer berkembang menjadi Iolikel sekunder. Pada saat terbentuk oosit sekunder,
Iolikel sekunder berkembang menjadi Iolikel tersier. Pada masa ovulasi, Iolikel tersier
berkembang menjadi Iolikel de GraaI (Iolikel matang). Setelah oosit sekunder lepas dari
3 AnaLoml llslologl Manusla | Maryat| Ab|duna

Iolikel, Iolikel akan berubah menjadi korpus luteum. Jika tidak terjaid Iertilisasi, korpus
luteum akan mengkerut menjadi korpus albikan.

%#!&$%
Anonim. 2008. $istem Reproduksi Pria dan Wanita. http://google.co.id/sistem-reproduksi-
manusia.html diakses 28 Oktober 2011