Anda di halaman 1dari 12

LAND POSITION MAP SEBAGAI ARAHAN MAKRO TATA RUANG WILAYAH JAWA MADURA YANG BERBASIS KONSERVASI Oleh

: Transtoto Handadhari Moech Firman Fahada

PENDAHULUAN Sumberdaya hutan dan lahan di Indonesia selama tiga dekade terakhir telah memberikan kontribusi nyata pada perekonomian nasional dan memberikan dampak positif lainnya seperti peningkatan devisa , penyerapan tenaga kerja, serta mendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, terutama dari hasil kayunya. Tetapi di sisi lain kebijakan pembangunan yang hanya berorientasi kepada pendapatan ekonomi tersebut telah menyebabkan kerusakan hutan dan degradasi lahan, yang apabila dihitung secara ekonomi, nilainya mungkin tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh. Semakin besar intensitas kegiatan pembangunan, maka terjadi pula peningkatan eksploitasi sumberdaya alam yang bersifat multi-use (pertanian, perikanan, pariwisata, industri, pertambangan, dll), sehingga terjadi konflik kepentingan yang memicu kerusakan lingkungan. Perkembangan pembangunan dibidang pemukiman, pertanian, perkebunan, industri, ekploitasi sumber daya alam berupa penambangan, dan ekploitasi hutan menyebabkan penurunan kondisi hidrologis suatu daerah aliran sungai (DAS). Gejala penurunan fungsi hidrologis DAS ini juga terjadi di P. Jawa. Berdasarkan data Badan Planologi Kehutanan (MPPRH, 2001), pada wilayah Jawa-Madura, luas kawasan hutan yang terindikasi kritis dan perlu direhabilitasi adalah 1.714.431 Ha, atau 56,67 % dari luas seluruh kawasan hutannya, sedangkan sebanyak 10.730.919 Ha atau 84,16 % dari luas wilayahnya perlu segera direhabilitasi. Dampak dari luasnya lahan kritis tersebut sangat terasa selama beberapa tahun terakhir ini, dengan terjadinya bencana alam berupa banjir di Bandung Selatan, perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, Semarang, Brebes, Tulungagung, Purworejo, serta tanah longsor di Pacet, Garut, Kuningan dan sejumlah daerah lainnya di seantero Pulau Jawa. Sementara pada musim kemarau, pada beberapa daerah (antara lain di Jakarta) terjadi penurunan muka air tanah dan kekeringan pada sebagian daerah yang lain. Pada saat hal tersebut terjadi, masyarakat dan beberapa pihak selalu menganggap kondisi dan kerusakan sumberdaya hutan sebagai biang kerok penyebab bencana-bencana tersebut. Bahkan beberapa LSM yang bergerak di bidang pelestarian dan ekosistem sudah melemparkan isue moratorium penebangan (jedah balak) untuk seluruh hutan di Pulau Jawa. Padahal dari data sementara luas lahan kritis seperti tersebut di atas degradasi lahan tidak hanya terjadi pada kawasan hutan, tetapi juga di luar kawasan hutan, bahkan prosentasenya jauh lebih luas/besar. Apalagi apabila dilihat dari fungsinya terhadap perlindungan ekosistem dan pelestarian lingkungan, lahan di dalam dan di luar kawasan hutan mempunyai peran dan tanggung jawab yang sama, sementara luas kawasan hutan di Pulau Jawa hanya 22 persen dari luas wilayahnya. Tetapi tudingan beberapa pihak tersebut dapat dimaklumi, karena belum ada data yang bisa menunjukkan hal-hal tersebut di atas.

LPM_BPKH Wilayah XI Jawa-Madura

Untuk itu, pemahaman seluruh stakeholders dalam permasalahan DAS harus dilakukan melalui suatu pengkajian komponen-komponen DAS dan penelusuran hubungan antar komponen yang saling berkaitan, sehingga tindakan pengelolaan dan pengendalian yang dilakukan tidak hanya bersifat parsial dan sektoral, tetapi sudah terarah pada penyebab utama kerusakan dan akibat yang ditimbulkan. Peningkatan jumlah penduduk, akan diikuti oleh peningkatan kebutuhan hidup yang dipenuhi melalui pemanfaatan sumberdaya alam. Kedua hal tersebut akan mempengaruhi perubahan perilaku manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan perilaku yang bersifat negatif akan menimbulkan tekanan terhadap lingkungan fisik, yang memiliki keterbatasan dikenal sebagai daya dukung lingkungan. Jika tekanan semakin besar maka daya dukung lingkungan pun akan menurun. Penurunan fungsi hidrologis tersebut menyebabkan kemampuan DAS untuk berfungsi sebagai storage air pada musim kemarau dan kemudian dipergunakan melepas air sebagai base flow pada musim kemarau, telah menurun. Ketika air hujan turun pada musim penghujan air akan langsung mengalir menjadi aliran permukaan yang kadang-kadang menyebabkan banjir dan sebaliknya pada musim kemarau aliran base flow sangat kecil bahkan pada beberapa sungai tidak ada aliran sehingga ribuan hektar sawah dan tambak ikan tidak mendapat suplai air tawar . Besarnya aliran permukaan yang terjadi pada musim penghujan dan berkurangnya luas kawasan hutan serta semakin luasnya bagian permukaan tanah DAS yang terbuka menyebabkan erosi permukaan menjadi semakin besar sehingga angkutan sedimen aliran permukaan bertambah besar pula. Angkutan sedimen yang terbawa aliran air akan mengendap di alur sungai bagian sebelah hilir dan pada bangunan pengairan, seperti bendung, dan saluran irigasi. KETERKAITAN HULU-HILIR DAS DAS merupakan suatu ekosistem, maka setiap ada masukan (input) ke dalam ekosistem tersebut dapat dievaluasi proses yang telah dan sedang berlangsung dengan melihat keluaran (output) dari ekosistem tersebut. Dalam ekosistem DAS, komponen masukan terdiri atas curah hujan sedang komponen keluaran terdiri atas debit aliran dan muatan sedimen, termasuk unsur hara di dalamnya. DAS yang terdiri atas komponen-komponen vegetasi, tanah dan air/sungai dalam hal ini berlaku sebagai prosesor. Ekosistem DAS, terutama DAS bagian hulu merupakan bagian yang penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap keseluruhan bagian DAS. Perlindungan ini antara lain, dari segi fungsi tata air. Oleh karenanya, perencanaan DAS hulu seringkali menjadi fokus mengingat bahwa dalam suatu DAS, daerah hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biogeofisik melaui daur hidrologi. Aktivitas perubahan tataguna lahan dan atau pembuatan bangunan konservasi yang dilaksanakan di daerah hulu dapat memberikan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit air dan transpor sedimen serta material terlarut lainnya. Oleh adanya bentuk keterikatan daerah hulu-hilir seperti tersebut di atas maka kondisi suatu DAS dapat dipakai sebagai satuan monitoring dan evaluasi pengelolaan sumberdaya air. Lebih spesifik lagi hubungan antara masukan dan keluaran dari DAS yang bersangkutan dapat dipakai secara sederhana untuk menganalisis dampak suatu aktivitas pembangunan (proyek) terhadap lingkungan (hidrologi) dan juga sebaliknya dampak lingkungan hidrologi terhadap proyek pembangunan di daerah tersebut dan, terutama pengaruhnya di daerah hilir.

LPM_BPKH Wilayah XI Jawa-Madura

Kebijakan pengelolaan DAS seringkali mengabaikan konsekuensi alami dari prinsip-prinsip dasar hidrologi bahwa: air mengalir ke tempat yang lebih rendah. Meskipun ada kesadaran yang semakin meningkat bahwa aktivitas pemanfaatan lahan di wilavah hulu DAS yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah konservasi akan berakibat pada timbulnya dampak jangka panjang di luar wilayah di mana aktivitas tersebut berlangsung, namun demikian belum banyak penelitian yang mencoba memperhitungkan secara kualitatif peran setiap lahan, dengan karakter fisik dan posisinya, terhadap kerusakan lingkungan yang akan terjadi. Secara alamiah, karena lokasinya yang berada di hilir DAS, kawasan hilir merupakan wilayah yang rentan terhadap berbagai dampak lingkungan yang berkaitan dengan aktivitas manusia di wilayah hulu dan tengah DAS. Dampak lingkungan yang umum terjadi terutama adalah anomali sirkulasi air sungai dan gangguan ekologi kelautan, pelumpuran dan pencemaran perairan (termasuk intrusi air laut) yang diakibatkan oleh aktivitas yang bersifat merusak lingkungan serta aktivitas ekonomi (a.l. kebutuhan air untuk irigasi) yang bersifat mengurangi jumlah air tawar yang sampai di wilayah pesisir. INDIKATOR KERUSAKAN FUNGSI HIDROLOGI DAS Penurunan kualitas lingkungan pada suatu wilayah dapat diindikasikan dari tingkat kerusakan/kinerja suatu DAS (daerah aliran sungai) yang dapat diketahui dari beberapa indikator sebagai fungsi hidrologis DAS, antara lain adalah : debit mata air, koefisien limpasan (run-off), erosi dan sedimentasi, muka airtanah dan kualitas air. Debit Air Kondisi daerah resapan (recharge area) sangat berpengaruh terhadap debit mata air dan kualitas airnya. Tata guna lahan pada daerah resapan berpengaruh langsung terhadap bagian air hujan yang masuk ke dalam tanah sebagai aliran airtanah (sumber mata air). Pada saat ini, beberapa daerah resapan mata air (khususnya di P.Jawa) telah mengalami kerusakan yang mengkhawatirkan. Beberapa mata air di daerah Bogor, Purwokerto, dan Malang telah mengalami penurunan debit bila dibandingkan dengan kondisi tahun 1970 an. Apabila tidak ada upaya pengendalian kerusakan ekosistem mata air, maka dapat dipastikan bahwa pemanfaatan mata air di masa mendatang akan terganggu. Penurunan/hilangnya debit mata air juga berarti kerusakan ekosistem mata air secara keseluruhan sebagai salah satu ekosistem lahan basah. Di Wilayah Bogor, hingga Tahun 2001 telah terjadi penurunan debit mata air yang dimanfaatkan oleh PDAM setempat, yaitu sebesar 4 15 % (Prastowo, 2001). Koefisien Limpasan (Run-off Coefficient) Koefisien limpasan adalah rasio jumlah limpasan terhadap jumlah curah hujan, dimana nilainya tergantung pada tekstur tanah, kemiringan lahan, dan jenis penutupan lahan. Berdasarkan data debit dan curah hujan di DAS Ciliwung (Tahun 1981 s/d 2001) terlihat bahwa debit Sungai Siliwung Hulu adalah 2.363mm/th dengan rata-rata curah hujan tahunan sebesar 3.519 mm/th. Hal ini berarti bahwa koefisien limpasan tahunan di Sub-DAS ini telah mencapai 67 %. Dapat diperkirakan bahwa koefisien limpasan maupun kejadian hujan tunggal tidak jauh berbeda. Dari data hidrograf juga dapat dilihat bahwa koefisien aliran permukaan di Ciliwung Hulu berkisar antara 60 75 % dari total curah hujan. Nilai koefisien limpasan tersebut menggambarkan
LPM_BPKH Wilayah XI Jawa-Madura

bahwa kondisi penutupan lahan di Sub-DAS Ciliwung Hulu telah mangalamai kerusakan, sehingga memerlukan perhatian serius (Tim IPB, 2002) Erosi dan Sedimentasi Sedimentasi merupakan dampak lanjutan dari terjadinya erosi di daerah hulu sungai, yang diakibatkan oleh limpasan. Hilangnya vegetasi (hutan) pada suatu daerah aliran sungai, selain menyebabkan limpasan juga sekaligus meningkatkan laju erosi. Erosi yang berlangsung secara terus menerus pada musim hujan dapat menyebabkan hilangnya lapisan tanah atas (top-soil), yang kemudian terbawa aliran sungai dan seterusnya menyebabkan sedimentasi di sungai (pendangkalan sungai). Disamping itu, erosi juga menyebabkan menurunnya tingkat kesuburan tanah. Laju erosi di berbagai DAS saat ini relatif tinggi. Misalnya di Sub-DAS Ciliwung Hulu, secara kumulatif laju erosi yang terjadi adalah 19.3 ton/ha/tahun, dengan Indeks Erosi sebesar 1.29 (lebih besar dari 1) yang berarti bahwa (ditinjau dari segi erosi) DAS tersebut tergolong dalam kondisi jelek. Kehilangan lapisan tanah atas akibat erosi sebesar 1.6 mm/tahun. Nilai TSS (total suspended solid) dan TDS (total disolved solid) pada beberapa sungai di Indonesia telah melampaui 100 mg/liter. Hal ini menunjukkan adanya tingkat erosi yang tinggi di daerah hulu DAS akibat berkurangnya areal bervegetasi (Kementerian Lingkungan Hidup, 2003). Sedimentasi juga telah menyebabkan pendangkalan beberapa danau/setu di Pulau Jawa. Jumlah setu di kawasan Jabotabek telah mengalami penurunan, yaitu dari 218 situ pada awal tahun 1970, saat ini tinggal tersisa 50 100 situ. Di Kabupaten Bogor, 67 % dari jumlah setu yang ada dalam keadaan rusak, dimana sebagian akibat sedimentasi. Luas setu berkurang 24,59 %, yaitu dari 501 hektar tahun 1995 menjadi 446,67 hektar tahun 2002 (Dirjen Penataan Ruang Departemen Kimpraswil, 2002). Kejadian sedimentasi juga terjadi di Segara Anakan. Pada periode Tahun 1987 - 1992 telah terjadi pengurangan areal seluas 2 490 hektar atau 166 hektar/tahun. Pada periode Tahun 1992 2002 telah terjadi lagi pengurangan areal seluas 600 hektar atau 60 hektar/tahun (Agus Maryono dalam Kementerian Lingkungan Hidup, 2003). Muka Airtanah (Groundwater Table) Penggunaan airtanah berlebihan telah mengakibatkan terjadinya penurunan muka air tanah, penurunan muka tanah (land subsidence), dan intrusi air laut semakin jauh ke darat. Di kota Bandung, penurunan muka airtanah pada akuifer menengah (intermediate well, 40-150 meter) berkisar antara 0,12 8,76 meter per tahun dan pada akuifer dalam (deep well, >150 meter) berkisar antara 1,44 12,48 meter per tahun. Di Jakarta (di kawasan Cengakareng, Grogol, Cempaka Putih, dan Cakung) telah terjadi penurunan muka airtanah sampai 17 meter (Kementerian Lingkungan Hidup, 2003). Di Kabupaten Nganjuk Jawa Timur, sejak tahun 1996, pada wilayah Kecamatan Gondang, Rejoso, dan Sukomoro, pompa pada sumur dalam (deep well) harus diturunkan 1 3 meter di bawah permukaan tanah untuk dapat menaikkan airtanah pada musim kemarau. Pada tahun 1998 pompa harus diturunkan 1 5 meter dibawah permukaan tanah untuk dapat menaikkan air pada musim kemarau. Beberapa sumur dangkal (shalow well) tidak dapat dieksploitasi pada musim kemarau karena kedalaman sumur yang relatif dalam, yaitu 12 20 meter. Eksploitasi sumur
LPM_BPKH Wilayah XI Jawa-Madura

airtanah dengan jarak antar sumur yang rapat (lebih kecil dari jarak optimum) telah meningkatkan penurunan muka airtanah (Liyantono, 2001). Kualitas Air Penggunaan lahan dapat berdampak terhadap kualitas air, yang dapat berpengaruh negatif, dan pada beberapa kasus dapat berdampak positif terhadap penggunaan air di daerah hilir. Pengaruhpengaruh yang dapat ditimbulkan termasuk perubahan dalam sedimen dan konsentrasi hara, garam-garam, logam dan agrokimia, oleh patogen dan perubahan regime temperatur (Kiersch, 2000). Menurut Arsyad (2000) kualitas air menyatakan tingkat kesesuaian air untuk dipergunakan bagi pemenuhan tertentu bagi kehidupan manusia, seperti untuk mengairi tanaman, minuman ternak dan kebutuhan langsung untuk minum, mandi mencuci dan sebagainya. Kualitas air ditentukan oleh kandungan sedimen tersuspensi dan bahan kimia yang terlarut di dalam air tersebut. Pengaruh sedimen yang tersuspensi ditentukan oleh sifat sedimen itu sendiri dan keadaan tanah tempat sedimen terendapkan. Sedimen yang berasal dari daerah yang subur akan mempersubur dan memperbaiki tekstur tanah berpasir tempatnya mengendap. Akan tetapi sedimen yang berasal dari daerah miskin dan mengalami erosi yang parah akan memiskinkan tanah yang diendapinya, dan akan meninggikan permukaan tanah serta dapat mengurangi permeabilitas tanah. Air yang berasal dari bawah tanah tidak mengandung sedimen yang dapat memberikan dampak negatif seperti yang dikemukakan di atas. Air yang berasal dari reservoir biasanya juga kurang mengandung sedimen.

LPM_BPKH Wilayah XI Jawa-Madura

PARAMETER FISIK DAS YANG BERPENGARUH Seyhan (1976) mengemukakan bahwa pendekatan hidromorfometri untuk menjelaskan respon run-off dari suatu sistem DAS sebagai reaksi dari variabel morfometri DAS masukan hujan. Variabel-variabel penting yang dapat dihubungkan dengan proses hidrologi dalam DAS dapat dibagi menjadi 4 kategori, yaitu : 1. Variabel iklim (curah hujan) 2. Variabel fisik permukaan lahan, yang terdiri dari : a. Variabel morfometri b. Variabel vegetasi dan penggunaan lahan c. Variabel tanah 3. Variabel keluaran (output) 4. Variabel proses Kondisi Iklim Faktor iklim khususnya curah hujan merupakan faktor alam yang relatif tidak bisa dikendalikan. Penelusuran data setiap hujan yang jatuh pada permukaan setiap lahan pada DAS diperlukan, sehingga dalam seluruh DAS dapat diketahui pada satuan lahan mana yang banyak kehilangan air melalui limpasan, intersepsi, evapotranspirasi/evaporasi dan infiltrasi. Berdasarkan pengaruhnya terhadap limpasan dan erosi, ada beberapa klasifikasi curah hujan yang biasa digunakan. Departemen Kehutanan mengelompokkan kelas curah hujan ke dalam 5 (lima) kelas, sesuai Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 1997. Tipe Batuan (Geologi) Ketahanan batuan terhadap erosi tergantung pada kondisi iklim, sifat fisik dan kimia batuan. Banyak contoh di lapangan, sisa-sisa pelapukan batuan sebagai hasil ketahanan batuan terhadap kondisi iklim, daerah-daerah yang terlindung (kondisi batuan, tanah dan vegetasi baik) maka sedimen tidak dijumpai. Karl P. Kucera (1999) dalam Proyek Pengendalian Banjir Jawa Bagian Selatan, telah melakukan pengelompokan formasi geologi yang dilakukan berdasarkan adaptasi dari klasifikasi formasi/jenis batuan utama dan Erodibilitas Geologis Inherent untuk wilayah Jawa. Berdasarkan tingkat kepekaannya terhadap erosi dan longsor, dibagi menjadi 10 kelas. Jenis Tanah Berdasarkan kepekaaannya terhadap erosi, jenis tanah dapat dikelompokkan dalam beberapa kelas. Selain itu tingkat sedimentasi, kapasitas infiltrasi untuk setiap jenis tanah juga berbedabeda, yang akhirnya menentukan besarnya run-off yang terjadi pada lahan tersebut. Asosiasi berbagai jenis tanah juga sangat berpengaruh terhadap fisiografi dan morfologi lahan.

LPM_BPKH Wilayah XI Jawa-Madura

Morfologi Dalam studi faktor erosi, faktor lereng dan stabilitas lereng disebut sebagai faktor morfologi. Laju erosi meningkat secara eksponensial dengan meningkatnya ketajaman lereng. Batasan lereng dikaitkan dengan panjang lereng yang efektif adalah 20% dengan menggunakan hubungan empiris, tetapi tidak berlaku bagi daerah singkapan batuan atau tanah yang sangat berbatu. Laju erosi menurun dengan meningkatnya panjang lereng dan lereng yang tidak stabil dapat sebagai sumber sedimen. Kenyataan di lapangan menunjukkan fakta bahwa total sedimen dari DAS biasanya lebih kecil daripada akumulasi sedimen dari lereng (Wischmeier, et.al.,1961). Karekter Fisik DAS Meijerink (1982) mengemukakan dalam bukunya hidrogeomorfologi, dengan menunjukkan berbagai contoh pengaruh parameter-parameter DAS dan kondisi fisiknya terhadap bentuk puncak hidrograf, yaitu : kerapatan aliran (drainage dencity), bentuk DAS, kemiringan DAS dan bentuk tipe batuan dalam DAS. PENYUSUNAN LAND POSITION MAP (LPM) Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, untuk menjaga fungsi hidroorologis suatu DAS sehingga tercapai suatu kelestarian lingkungan dan terhindar dari bencana erosi, banjir dan lainnya, perlu disusun suatu arahan ruang (tata guna lahan) yang diacu bersama oleh seluruh pihak terkait. Land Position Map (LPM) merupakan arahan makro tata guna lahan berdasarkan identifikasi karakteristik lahan yang memuat kelas lereng, kondisi klimat (curah hujan), jenis tanah, geologi, karakteristik fisik DAS serta posisinya dalam DAS/Sub DAS. Dengan LPM dapat diketahui peran dan fungsi masing-masing lahan, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan terhadap ekosistem lingkungan pada suatu wilayah. LPM merupakan suatu inovasi dan pengembangan pemikiran yang dilakukan oleh Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XI Jawa-Madura, dalam menjawab/mengantisipasi permasalahan kerusakan sumberdaya hutan dan lahan dan dampaknya terhadap ekosistem lingkungan di wilayah Jawa-Madura. Dengan penyusunan LPM tersebut, diharapkan dapat memberikan informasi dan bahan pertimbangan bagi pembuat kebijakan dalam merencanakan kegiatan rehabilitasi lahan dan upaya-upaya konservasi lingkungan, baik menyangkut lahan prioritas, luasan, sebaran maupun arahan kegiatannya. Juga bagi pengelola kawasan maupun pihak terkait dalam merencanakan pengelolaan kawasan hutan yang berbasis konservasi ekosistem lingkungan.

LPM_BPKH Wilayah XI Jawa-Madura

Metode Penyusunan LPM Metode yang digunakan dalam penyusunan LPM tersebut, secara singkat dapat dibagi dalam beberapa tahapan kegiatan, yaitu : 1. Mengklasifikasikan parameter-parameter fisik lahan berdasarkan peran dan pengaruhnya terhadap fungsi hidroorologis suatu DAS, yaitu kelas lereng, kondisi klimat (curah hujan), jenis tanah, geologi, karakteristik fisik DAS serta posisinya dalam DAS/Sub DAS Menentukan bobot masing-masing parameter berdasarkan peran dan pengaruhnya terhadap fungsi hidroorologis suatu DAS Mengoverlay dan melakukan skoring berdasarkan bobot masing-masing parameter Membuat kelas posisi lahan dari hasil skoring tersebut (sangat rawan, rawan, agak rawan, cukup aman dan sangat aman)

2. 3. 4.

Ketinggian > 2000 m Kelerengan Pengklasifikasian berdasarkan penentuan fungsi lindung (Kepres No. 32 dan SK Mentan No. 837 Pembobotan dengan metode pairwiswe comparisson Pengklasifikasian berdasarkan tingkat pengaruhnya terhadap run-off dan erosi Overlay peta dan skoring

Jenis Tanah

Curah Hujan

Kelas Posisi Lahan

Geologi

Karakter fisik DAS Posisi dalam DAS

Gambar 1. Metode Penyusunan LPM

Penentuan Kelas Posisi lahan Posisi suatu lahan berkaitan dengan perannya dalam fungsi perlindungan ekosistem lingkungan, dikelompokkan pada kategori sangat rawan, rawan, agak rawan, cukup aman dan sangat aman. Berdasarkan pengelompokkan dalam 5 kategori tersebut, posisi lahan dengan kategori sangat rawan, rawan dan agak rawan dikelompokkan dalam sebutan lahan sensitif (sensitive land). Posisi lahan dengan kategori cukup aman dan aman dikelompokkan dalam sebutan lahan tidak sensitif (un-sensitive land).
LPM_BPKH Wilayah XI Jawa-Madura

Untuk wilayah Jawa-Madura, posisi lahannya dapat dilihat dalam gambar berikut :

Hasil Penghitungan Posisi Lahan

Gambar 2. Posisi Lahan Wilayah Jawa-Madura Hasil Penghitungan Luas Posisi Lahan Total areal yang dilakukan penghitungan seluas 14,904 juta ha (tidak termasuk Propinsi DKI Jakarta) terdiri dari kawasan hutan seluas 3.469 ribu ha dan Areal Penggunaan Lain (APL) seluas 11.434 juta ha. Hasil penghitungan menunjukkan bahwa: 1. Luas lahan yang dikategorikan sangat rawan untuk seluruh wilayah Jawa-Madura adalah 2,011 juta ha atau 13,5 %, kategori rawan seluas 3,443 juta ha atau 23,1 % dan agak rawan seluas 4,971 juta ha atau 33,4 % dari total wilayah. 2. Luas kawasan hutan yang dikategorikan sangat rawan untuk seluruh wilayah Jawa-Madura adalah 945.300 ha atau 27,2 % dari total kawasan hutan, kategori rawan seluas 1.001.500 ha atau 28,9 % dan agak rawan seluas 986.900 ha atau 28,4 %. 3. Luas lahan di luar kawasan hutan (APL) yang dikategorikan sangat rawan untuk seluruh wilayah Jawa-Madura adalah 2.011.900 ha atau 13,5 % dari total luas APL, kategori rawan seluas 3.443.700 ha atau 23,1 % dan agak rawan seluas 4.971.100 ha atau 33,4 %. 4. Lahan dengan kategori lahan sensitif (sangat rawan, rawan, agak rawan) pada kawasan konservasi seluas 410,7 ribu Ha (80,31 %), kawasan hutan lindung seluas 741,3 ribu Ha (87,24 %), kawasan hutan produksi seluas 1.781,6 ribu Ha (84,49 %) dan areal penggunaan lain seluas 7.493,1 ribu Ha (65,63 %). 5. Lahan tidak sensitif (cukup aman dan sangat aman) pada kawasan konservasi seluas 100,6 ribu Ha (19,69 %), kawasan hutan lindung seluas 108,4 ribu Ha (12,76 %), kawasan hutan produksi seluas 327,1 ribu Ha (15,51 %) dan areal penggunaan lain seluas 3.941,7 ribu Ha (34,47 %)

LPM_BPKH Wilayah XI Jawa-Madura

Hasil perhitungan detil dapat dilihat pada Tabel 1. berikut ini. Tabel 1. Hasil Perhitungan Posisi Lahan Wilayah Jawa-Madura (di luar Propinsi DKI Jakarta) Dalam Ribu Ha KAWASAN HUTAN
KSA KPA 55,9 44,7 151,1 69,2 190,5 511,4 HL 28,7 79,7 142,9 224,7 373,7 849,7 HP+HPT 87,8 239,3 692,8 707,7 381,1 2.108,7 Jumlah 172,4 363,8 986,9 1.001,5 945,3 3.469,8 % 5,0 10,5 28,4 28,9 27,2 100,0

POSISI LAHAN
Sangat Aman Cukup Aman Agak Rawan Rawan Sangat Rawan Jumlah

APL
Jumlah 1.054,1 2.887,7 3.984,2 2.442,3 1.066,7 11.434,9 % 9,2 25,3 34,8 21,4 9,3 100,0

TOTAL
Jumlah 1.226,5 3.251,4 4.971,1 3.443,7 2.011,9 14.904,7 % 8,2 21,8 33,4 23,1 13,5 100,0

Dari data tersebut di atas, menunjukkan bahwa peran lahan di dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan mempunyai peran yang hampir sama berdasarkan fungsinya dalam perlindungan ekosistem lingkungan, dimana walaupun besarnya prosentase lahan di dalam kawasan hutan yang termasuk kategori sangat rawan dan rawan lebih besar bila dibandingkan dengan lahan di luar kawasan hutan (APL), tetapi dari angka luasannya, lahan di luar kawasan hutan jauh lebih besar. Bahkan khusus untuk kategori agak rawan, lahan di luar kawasan hutan lebih dominan, hal ini merupakan kenyataan yang cukup menarik dan menghapuskan anggapan selama ini bahwa penyebab utama bencana banjir, tanah longsor, kekeringan dan erosi di Jawa adalah rusaknya kondisi kawasan hutan. Walaupun hal tersebut masih memerlukan penelaahan lebih lanjut dengan data-data dan simulasi yang lebih detil. REKOMENDASI 1. Sebagai bahan pertimbangan kebijakan pembangunan kehutanan yang berorientasi Resource Base Management, data dan peta posisi lahan yang telah dibuat dapat dijadikan arahan makro dalam perencanaan dalam pengelolaan sumberdaya hutan. Penelaahan data posisi lahan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pembangunan kehutanan dan sektor lain, antara lain: a. Kebijakan dalam kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan pada kawasan hutan yang menjadi prioritas pada suatu provinsi, baik hutan konservasi, hutan lindung maupun hutan produksi.

2.

b. Kebijakan dalam kegiatan pemanenan hutan dan sistem silvikultur pada suatu kawasan hutan. c. Penetapan kebijakan pengelolaan kawasan hutan, antara lain kawasan hutan yang dapat dikonversi untuk penggunaan non kehutanan, namun dapat menjamin kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan.

LPM_BPKH Wilayah XI Jawa-Madura

d. Kebijakan penatagunaan lahan berdasarkan daya dukung lahan tersebut dalam perlindungan ekosistem lingkungan e. Kebijakan pengelolaan/budidaya tanaman pada lahan-lahan di luar kawasan hutan, termasuk hutan rakyat, perkebunan dsbnya f. Kebijakan arahan penggunaan/tata ruang wilayah 3. Hasil penyusunan LPM tersebut dapat dikembangkan pada level mikro dengan dasar data yang lebih detil pada skala yang lebih besar untuk level kabupaten atau unit pengelolaan serta dilengkapi dengan memasukkan parameter-paramer fisik lainnya dan dapat digunakan oleh aparat Pemerintah Daerah maupun pihak-pihak pengelola kawasan lainnya sebagai : a. Antisipasi/langkah-langkah penanggulangan bencana alam yang akan terjadi, seperti banjir, tanah longsor dan sebagainya. b. Alokasi lahan untuk kegiatan-kegiatan budidaya pertanian, pertambangan, kawasan industri dan lainnya yang aman terhadap ekosistem dan lingkungan pada wilayah di sekitarnya. c. Perencanaan pembangunan daerah berbasis ekosistem lingkungan DAFTAR PUSTAKA Anna S. 2001. Model Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Kawasan Pesisir Secara Terpadu. Makalah M.K. Falsafah Sains. Program Pascasarjana IPB, Bogor. Arsyad S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. Serial Pustaka IPB. Press. Bogor Dahuri,R. 2000. Permasalahan Pengelolaan Lingkungan Kawasan Pesisir, Journal Ekologi dan Pembangunan No. 4 Agustus 2000, PPSDAL-LP Unpad. Deutsch, G. W. and L. A. Busby. 2000. Community-Basid Water Quality Monitoring: fraom Data Collection to Sustainable Management of Water Resources. Land and Water Development Division FAO Rome, Rome. Ditjen Penataan Ruang Departemen Kimpraswil. 2002. Kaji Ulang Penataaan Ruang Kawasan Bopunjur/Kabupaten Bogor Dalam Rangka Mitigasi Banjir DKI Jakarta. Executive Summary. Jakarta. Pawitan, H., J. S. Baharsjah, R. Boer, I. Amien dan B. D. Dasanto. 1996. Keseimbangan Air Hidrologi Wilayah Indonesia Menurut Kabupaten. Laporan Penelitian LP-IPB. ARMP Badan Litbang Pertanian. Kementerian Lingkungan Hidup. 2003. Laporan Status Lingkungan Hidup Tahun 2002. Jakarta. Kiersch B. 2000. Land Use Impact on Water Resources: A Literature Review. Land and Water Development Division FAO Rome, Rome. Liyantono. 2001. Potensi dan Pola Pemanfaatan Air Tanah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Fateta-IPB, Bogor.
LPM_BPKH Wilayah XI Jawa-Madura

Logan T. J. 1990. Sustainable Agriculture and Water Quality. Sustainable Agricultural Systems. Soil and Water Conservation Society. Ankeny, Iowa. Meijerink, A.M.J. 1982. Hydrogeomorfology, Lecture Notes. Dept. Geomorphology, ITC, Enschede, The Nedtherland. Pawitan, H., J. S. Baharsjah, R. Boer, I. Amien dan B. D. Dasanto. 1996. Keseimbangan Air Hidrologi Wilayah Indonesia Menurut Kabupaten. Laporan Penelitian LP-IPB. ARMP Badan Litbang Pertanian. Prastowo. 2001. Kerusakan Ekosistem Mata Air. Makalah Workshop. Bapedal, Jakarta Saparis, MS. 2000. Macro Screening untuk Perencanaan Pengelolaan DAS Jawa Bagian Selatan, Kertas Kerja WM 11. Proyek Pengendalian Banjir Jawa Bagian Selatan, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Jakarta Seyhan, E. 1977. The Watersheed as an Hydrological Unit. Publicate uit het Geograficch Instituut Rijksuniversiteit Utrecht, Utrecht. Supriadi, D. 2000. Uplands Management: Cases of Cimanuk and Cisanggarung River Basin, makalah pada Linggarjati Environmental Meeting, 9-13 November 2000. Tim IPB. 2002. Peningkatan Kapasitas Pengelolaan DAS Ciliwung Untuk Pengendalian Banjir Di Ibukota Jakarta. Makalah Sintesa, Lokakarya. Pemda DKI, Jakarta.

LPM_BPKH Wilayah XI Jawa-Madura