Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Taman Nasional Alas Purwo merupakan salah perwakilan tipe ekosistem hutan hujan
dataran rendah di Pulau Jawa. Keadaan topograIi bergelombang sampai datar dengan
puncak tertinggi G. Linggamanis ( 322 m dpl). Ketinggian tempat antara 0-322 m dpl,
iklimnya termasuk tipe B dengan curah hujan antara 1.000-1.500 mm/tahun.
Kawasan ini terdiri dari hutan mangrove, hutan pantai, hutan tanaman, hutan bambu
dan terumbu karang. Jenis-jenis Ilora yang ada antara lain ketapang (Terminalia cattapa),
nyamplung (Calophylum inophylum), kepuh (Sterculia Ioetida), keben (Baringtonia
asiatica), sawo kecik (Manikara kauki) dan lain.lain. Tumbuhan khas dan endemik pada
taman nasional ini yaitu sawo kecik (Manilkara kauki) dan bambu manggong
(Gigantochloa manggong). Tumbuhan lainnya adalah ketapang (Terminalia cattapa),
nyamplung (Calophyllum inophyllum), kepuh (Sterculia Ioetida), keben (Barringtonia
asiatica), dan 13 jenis bambu.
Taman Nasional Alas Purwo merupakan habitat dari beberapa satwa liar seperti lutung
budeng (Trachypithecus auratus auratus), banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon
alpinus javanicus), burung merak (Pavo muticus), ayam hutan (Gallus gallus), rusa
(Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus melas), dan kucing bakau
(Prionailurus bengalensis javanensis). Satwa langka dan dilindungi seperti penyu lekang
(Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik
(Eretmochelys imbricata), Kijang (Muntiacus muntjak), Lutung (Presbytis cristata),
Burung merak (Pavo muticus), Ayam hutan (Gallus sp.), Penyu lekang (Olive ridely
turtle), Penyu belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu sisik (Eretmochelys imbricata),
Penyu hijau (Chelonia mydas), juga pada periode bulan Oktober-Desember dapat dilihat
sekitar 16 species burung yang berimigrasi dari Australia, diantaranya cekakak suci
(Halcyon chloris/ Todirhampus sanctus), burung kirik-kirik laut (Merops philippinus),
trinil pantai (Actitis hypoleucos), dan trinil semak (Tringa glareola).
Tempat yang akan dijadikan praktikum lapang adalah Taman Nasional Alas Purwo
(TNAP), Banyuwangi. TNAP dipilih sebagai tempat praktikum lapang karena di TNAP
terdapat tiga ekosistem yang berbeda dalam satu tempat dan dapat menunjang
dilakukannya kegiatan praktikum lapang Sistematika Hewan II dan Sistematika Tumbuhan
II.

1.2%::an
Tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah untuk
1. mengenal beberapa spesies vertebrata beserta habitat alaminya
2. MengidentiIikasi dan mengklasiIikasi vertebrata yang tumbuh di taman nasional alas
purwo



BAB II
ME%DLI

2.1 Wakt: dan %empat
Praktikum dengan judul '. dilaksanakan pada tanggal 21-22 Mei 2011, pukul
07.00-14.00 di Taman Nasional Alas Purwo.

2.2 Metode Praktik:m
Praktikum lapang sistematika Hewan II di Taman Nasional Alas Purwo
dilaksanakan dengan cara pengamatan langsung terhadap vertebrata yang ada di daerah
tersebut. Vertebrata yang diamati dideskripsikan morIologi, habitat dan tempat
ditemukannya. Pelaksanaannya dilakukan di 2 jalur, yaitu jalur menuju Sadengan dan
jalur menuju pantai pancur.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Felis bengalensis (K:.ing H:tan)

Gambar 1. Felis bengalensis

Berdasarkan pengamatan, kucing hutan memiliki ukuran tubuh sedang. Seluruh
tubuhnya ditumbuhi oleh rambut lebat. Rambut pada tubuh bagian dorsal dan lateral
berwarna coklat sedangkan pada bagian ventral berwarna putih masih. Pada kepala
hingga tubuh bagian dorsal terdapat gasris-garis memanjang berwarna coklat tua. Pada
sisi lateral terdapat totol-totol coklat tua. Pada leher bagian ventral terdapat garis
melingkar seperti kalung berwarna coklat tua, dan pada bagian abdominal terdapat totol-
totol coklat tua namun jarang.
Berukuran sama seperti kucing rumahan, Bulu tubuhnya halus dan pendek
Warnanya khas, yaitu kuning kecoklatan dengan belang-belang hitam di bagian kepala
sampai tengkuk Selebihnya bertotol-totol hitam Pola warna ini sama sekali tidak terdapat
pada kucing-kucing liar lainnya. Bagian bawah perut putih dengan totol-totol coklat tua.
Ekornya panjang, lebih dari setengah panjang badannya. Kucing hutan selalu tampak
berkeliaran, sendirian atau berpasangan jantan dan betina. Masa beranak sepanjang tahun
dengan masa kehamilan selama 70 hari. Pada setiap kelahiran dihasilkan 2 - 4 ekor anak.
Sampai 10 hari, anak kucing hutan belum dapat membuka mata. Akan tetapi begitu dapat
melihat, segera anak kucing ini dapat mencari mangsanya sendiri. Kucing betina dibantu
yang jantan di dalam mengasuh anak. Anak kucing hutan menginjak masa dewasa
kelamin ketika mencapai umur 13 bulan.
Sebaran populasi kucing hutan di Indonesia hamper merata dari Sumatra,
Kalimantan, jawa, dan Sulawesi. Di asia tenggara, kucing hutan bisa dijumpai di
Malaysia, Thailand, Vietnam, dan laos. Di wilayah asia selatan, dapat ditemui di india,
Bangladesh, dan sri lanka.
Kucing hutan mendiami hutan hujan. Kucing hutan merupakan karnivora yang
hidup di alam liar. Kucing hutan memangsa burung, tupai, kancil, dan ular dahan. Kucing
hutan bersiIat soliter atau menyendiri ketika mencari makan. Dia menandai daerah
teritorialnya dengan mengencingi pohon-pohon agar kucing lain tidak masuk pada daerah
kekuasaannya.
KlasiIikasi ilmiah:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Mamalia
Order : Carnivora
Family : Felidae
Genus : Felis
Species : Felis bengalensis
Family Falidae : Kelompok kucing
Genus Felis : Genus Felis terdiri dari sekitar 29 spesies, yang memiliki area
distribusi yang luas, anggota genus ini berbeda beda dalam ukuran dan warna
tubuh, tetapi dari segi anatomi tubuh mereka secara garis besar adalah sama. Felidae
telah digolongkan dalam beberapa spesies

3.2 $:s scrofa (Babi H:tan Alang-alang)

Gambar 2. $:s scrofa
Babi Hutan berkelana dalam kelompok kecil, terdiri dari 4-6 ekor, sedangkan Babi
Alang-alang kadang-kadang yang ukurannya sepuluh kali lebih besar (Payne, 2000).
Babi Hutan betina dewasa jauh lebih kecil daripada yang jantan (kurang dari
setengah berat badan babi jantan). Sedangkan pada Babi Alang-alang, betina mempunyai
berat sampai 85 berat babi jantannya (Payne, 2000).
Babi Hutan tidak terdapat pada ketinggian ~800 m, habitat yang disukai oleh Babi
Hutan adalah dataran rendah dengan vegetasi sekunder yang luas, terutama tumbuhan jati
di daerah Jawa Tengah, dimana terdapat campuran pohon-pohon dengan umur
pertumbuhan yang berbeda dan tanah berumput dengan semak-semak belukar atau hutan
yang terganggu berat (Payne, 2000).
KlasiIikasi:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Mammalia
Order : Artiodactyla
Family : Suidae
Genus : $:s
Species : $:s scrofa

3.3 endrelaphis pict:s (Ular %ali Pi.is)

Gambar 3 endrelaphis pict:s
Dendrelaphis pictus memiliki moncong yang pendek. Memiliki 1 sisik pre okular, 2
sisik post okular. Dendrelaphis pictus memiliki ekor panjang. Dendrelaphis pictus
mempunyai warna tubuh coklat zaitun seperti logam perunggu di bagian punggung.
Bagian ventral ular ini terdapat pita tipis kuning terang keputihan, dan terdapat sebuah
garis hitam tipis memanjang hingga ke ekor. Kepala kecoklatan perunggu di sebelah atas,
dan kuning terang di bibir dan dagu,terdapat garis hitam mulai dari bagian pipi hingga
mata dan melebar di pelipis belakang, kemudian terpecah menjadi noktah-noktah besar
dan mengabur di leher bagian belakang. Terdapat warna-warna peringatan berupa bintik-
bintik hijau terang kebiruan di bagian leher hingga tubuh bagian muka, yang biasanya
tersembunyi di bawah sisik-sisik hitam atau perunggu dan baru nampak jelas apabila si
ular merasa terancam. Sisik-sisik ventral putih kekuningan atau kehijauan Ular ini
mencolok dan memiliki kepala yang lebih terang dari pada badan dengan ukuran mata
yang besar. Bagian dorsal memiliki skala sisik yang berbeda. Ukuran baris dorsal bagian
tengah semakin kebawah semakin besar atau lebar. Perut dengan tipe scute sangat lebar
yang memIasilitasi pada saat mendaki atau memanjat. Memiliki ekor yang panjang.
Hewan jenis ini terdapat di hutan basah, hutan pegunungan dan juga hidup di hutan-hutan
bambu. Terkadang jenis ini mengikuti habitat manusia Di daerah Himalaya termasuk
Indocina, Hainan dan Philipina diperkirakan terdapat empat sub spesies dari jenis ini.
Di gunung, hutan, gurun, dataran rendah, lahan pertanian, lingkungan pemukiman,
sampai ke lautan, dapat ditemukan ular. Hanya saja, sebagaimana umumnya hewan
berdarah dingin, ular semakin jarang ditemui di tempat-tempat yang dingin, seperti di
puncak-puncak gunung, di daerah Irlandia dan Selandia baru dan daerah daerah padang
salju atau kutub.
Banyak jenis-jenis ular yang sepanjang hidupnya berkelana di pepohonan dan
hampir tak pernah menginjak tanah. Banyak jenis yang lain hidup melata di atas
permukaan tanah atau menyusup-nyusup di bawah serasah atau tumpukan bebatuan.
Sementara sebagian yang lain hidup akuatik atau semi-akuatik di sungai-sungai, rawa,
danau dan laut.
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Reptilia
Order : Squamata
Family : Colubridae
Genus : endrelaphis
Species : endrelaphis pict:s

3.4 alcyon cyanoventris (B:r:ng Cekakak)

Gambar 10. alcyon cyanoventris

Berdasarkan pengamatan, cekakak memiliki kepala membulat kecil, tubuh oval,
dan ekor panjang. Bulu bagian kepala dorsal berwarna bitu. Bulu pada leher dan
abdominal berwarna putih. Bulu pada tubuh bagian dorsal dan sayapnya berwarna bitu.
Ekornya berwarna kehitaman. Mata membulat kecil berwarna hitam. Paruhnya panjang
dan kekar berwarna hitam kecoklatan, bagian bawah paruh berwarna coklat. Kaki
petengger berwarna abu-abu.
Tubuh berukuran sedang (25 cm) berwarna gelap. Dewasa: kepala coklat tua,
tenggorokan dan kerah coklat, perut dan punggungnya biru ungu. Penutup sayap hitam,
bulu tebang biru terang, bercak putih pada sayap terlihat sewaktu terbang. Remaja:
tenggorokan keputih-putihan. Iris coklat tua, paruh dan kaki merah. Bertengger pada
cabang rendah pohon yang terisolasi atau pada tiang dilahan rumput terbuka. Memburu
serangga dan mangsa lain. Jarang sekali berburu diatas air lebih pendiam dari cekakak
sungai tapi suara sering terdengar.
Burung ini menyebar luas mulai dari Timur Tengah, India, Tiongkok, Asia
Tenggara, Semenanjung Malaya, Filipina, Kep. Andaman, dan Sumatra. Burung migran
kadang-kadang sampai ke Jawa Barat. Di Sumatra terutama menghuni lahan-lahan
terbuka, wilayah pertanian dekat sungai atau badan air lainnya, termasuk dekat pantai.
Burung ini lincah memburu aneka mangsanya: serangga besar, kodok, kadal, ular, hewan
pengerat, dan bahkan juga burung-burung migran kecil yang kelelahan.
Fungsi ekologis burung cekakak berperan dalam proses ekologi (sebagai
penyeimbang rantai makanan dalam ekosistem). Membantu penyerbukan tanaman,
khususnya tanaman yang mempunyai perbedaan antara posisi benang sari dan putik..
Sebagai predator hama (serangga, tikus, dsb.). Penyebar/agen bagi beberapa jenis
tumbuhan dalam mendistribusikan bijinya. Sebagai bahan penelitian, pendidikan
lingkungan, dan objek wisata (ekoturism).
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Aves
Order : CoraciiIormes
Family : Halcyonidae
Genus : alcyon
Species : alycon cyanoventris

3.5 :ntiac:s m:ntjak (Kiang)

Tubuh berukuran sedang, panjang tubuh termasuk kepala 89-135 cm, panjang ekor
12-23 cm, tinggi bahu 40-65cm, dengan berat mencapai 35 kg. Mantel rambut pendek,
rapat, lembut dan licin. Warna bervariasi dari coklat gelap hingga coklat terang. Kijang
jantan mempunyai ranggah pendek, tidak melebihi setengah dari panjang kepala dan
bercabang dua serta gigi taring yang keluar.
Habitatnya di hutan tropika hingga mencapai ketinggian 2000 mdpl, India,
Indonesia ke timur sampai Jawa, Cina dan Taiwan.
klasiIikasi kijang adalah:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Mamalia
Order : Cetartiodactyla
Family : Cervidae
Genus : :ntiac:s
Species : :ntiac:s m:ntfak
3.6 ctinaet:s malayensis (Elang Hitam)

Elang yang bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh antara
60-70 cm (dari ujung paruh hingga ekor). Kepala berwarna cokelat kemarahan dengan
jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjang hingga 12 cm) dan tengkuk yang cokelat
kekuningan(yang nampak keemasan bila terkena matahari). Jambul hitam dengan ujung
putih;mahkota dan kumis berwarna hitam sedangkan punggung dan sayap cokelat gelap.
Kerongkongan keputihan dengan garis (sebetulnya garis-garis) hitam membujur
ditengahnya. Kebawah, ke arah dada, coret-coret hitam menyebar di atas warna kuning
kecokelatan pucat,yang pada akhirnya di sebelah bawah lagi berubah menjadi pola
garis(coret-coret) dapat melintang merah sawo matang sampai kecokelatan di atas warna
pucat keputihan bulu-bulu perut dan kaki. Bulu pada kaki menutup tungkai hingga dekat
ke pangkal jari.
Ekor kecokelatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang nampak jelas
di sisi bawah, ujung ekor bergaris putih tipis. Betina berwarna serupa, sedikit lebih besar.
Iris mata kuning atau kecokelatan; paruh kehitaman; cera (daging di pangkal paruh)
kekuningan; kaki(jari) kekuningan. Burung muda dengan kepala, leher dan sisi bawah
tubuh berwarna cokelat kayu manis terang, tanpa coretan atau garis-garis. Ketika terbang,
elang jawa cenderung kecokelatan dengn perut terlihat lebih gelap, serta berukuran
sedikit lebih kecil. Bunyi nyaring tinggi berulang-ulang , klii-iiw atau (ii-iiiw, bervariasi
antara satu hingga tiga suku kata). Atau bunyi bernada tinggi dan cepat kli kli kli kli kli.
Sedikit banyak, suaranya mirip sama elang brontok meski perbedaanya cukup jelas dalam
nadanya.
Sebaran elang ini terbatas di pulau jawa, dari ujung barat (Taman Nasiona Ujung
Kulon) hingga ujung timur DI Semenanjung Blambangan Purwo. Namun demikian
penyebarannya kini terbatas di wilayah-wiayah degan hutan primer dan di daerah
perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dan pegunungan. Sebagian besar
ditemukan di separuh bagian selatan pulau Jawa. Agaknya burung ini hidup
berspesialisasi pada wilayah berlereng.
Elang jawa menyukai ekosistem hutan hujan tropica yang selalu hijau, di dataran
rendah maupun pada tempat-tempat yang lebih tinggi mulai dari wilayah dekat pantai
seperti di Ujung Kulon dan Merubetiri, sampai ke hutan-hutan pegunungan bawah dan
atas hingga ketinggian 2200 m dan kadang-kadang 3000 m dpl.
Burung pemangsa ini berburu di tempat bertenggernya di pohon-pohon yang tinggi
dalam hutan. Dengan sigap dan tangkas menyergap aneka mangsanya yang berada di
dahan pohon maupun di atas tanah, seperti reptil, burung-burung sejenis walik, punai, dan
bahkan ayam kampung. Juga mamalia berukuran kecil seperti tupai dan bajing, kalong,
musang, sampai dengan anak monyet.
Kindom :Animalia
Phylum :Chordata
Class :Aves
Order :AccipitriIormes
Family :Accipitridae
Genus :ctinaet:s
Species :ctinaet:s malayensis


3.7 Fejervarya cancrivora (Katak Hia:)

Family Ranidae ini sering disebut juga katak sejati. Bentuk tubuhnya relatiI
ramping. Tungkai relatiI panjang dan diantara jari-jarinya terdapat selaput untuk
membantu berenang. Kulitnya halus, licin dan ada beberapa yang berbintil. Gelang bahu
bertipe Iirmisternal. Pada kepala tidak ada pematang seperti pada BuIo. Mulutnya lebar
dan terdapat gigi seperti parut di bagian maxillanya. Sacral diapophysis gilig (Berry, P.Y.
1975). Katak adalah bilateral simetris, dengan bagian sisi kiri dan kanan equal. Bagian
tengah disebut medial, samping/lateral, badan muka depan adalah ujung anterior, bagian
belakang disebut ujung posterior, bagian punggung atau dorsal, sedang bagian muka
ventral. Bagian badan terdiri atas kepala/ caput, kerongkongan/ cervik, dada/ thorax atau
pectoral, perut atau abdomen, pantat pelvis serta bagian kaudal pendek (Dharmawan,
Agus. 2005).
Kodok yang sering dijumpai di daerah berawa, khususnya dekat lingkungan buatan
manusia: kebun yang becek, sawah, saluran air; namun agak jarang di aliran sungai. Juga
merupakan satu-satunya jenis amIibia modern yang mampu hidup di daerah yang berair
payau dan hutan bakau. Kebanyakan aktiI di waktu gelap dan pagi hari, di siang hari
kodok ini berlindung di balik rerumputan atau celah di pematang atau tebing saluran air;
dan tiba-tiba melompat ke air apabila hendak terpijak. Pada malam hari, terutama sehabis
hujan turun, kodok jantan berbunyi-bunyi memanggil betinanya dari tepi air dengan ritme
cepat. Kodok sawah menyebar luas mulai dari Indochina, Hainan, Semenanjung Malaya
sampai ke Filipina, Borneo, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Kodok ini juga terintroduksi
ke Papua.
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Amphibia
Order : Anura
Family : Ranidae
Genus : Fefervarya
Species : Fefervarya cancrivora
amily Ranidae:
Famili ini sering disebut juga katak sejati. Bentuk tubuhnya relatiI ramping.
TungkairelatiI panjang dan diantara jari-jarinya terdapat selaput untuk membantu
berenang.Kulitnya halus, licin dan ada beberapa yang berbintil. Gelang bahu
bertipeIirmisternal. Pada kepala tidak ada pematang seperti pada BuIo. Mulutnya lebar
danterdapat gigi seperti parut di bagian maxillanya. Sacral diapophysis gilig.
Fertilisasisecara eksternal dan bersiIat ovipar. Famili ini terdiri dari 36 genu

3.8 ot:rnix cot:rnix (P:y:)

Badannya bulat, ekornya pendek, paruhnya lebih pendek dan kuat, jari kakinya
empat buah, tiga jari kakinya kemuka dan satu jari kakinya ke arah belakang, warna kaki
kekuning-kuningan. Pertumbuhan bulunya menjadi lengkap setelah berumur dua sampai
tiga minggu. Kedua jenis kelaminnya dapat dibedakan berdasarkan warna bulunya,
suaranya dan beratnya. Burung puyuh jantan dewasa: bulu pada kepala dan di atas mata
pada bagian alis mata ke belakang ada bulu berwarna putih berbentuk garis melengkung
yang tebal; bulu punggung berwarna campuran coklat gelap, abu-abu, dengan garis-garis
putih; sayapnya berwarna campuran coklat gelap, abu-abu, dengan garis-garis putih;
sayapnya berwarna campuran pula dengan bercak-bercak atau belang kehitam-hitaman,
sayapnya kira-kira 89 mm panjangnya; bulun daerah kerongkongan bervariasi dari coklat
muda (cinnamon) sampai coklat kehitam-hitaman; bulu dadanya berwarna merah sawo
matang tanpa adanya warna belang atau bercak kehitam-hitaman. Burung puyuh betina
dewasa: warna bulunya sama dengan bulu yang jantan, kecuali bulu dadanya berwarna
merah sawo matang dengan garis-garis atau belang kehitam-hitaman. Suara yang jantan
dewasa keras, sering sepanjang malam bersuara terus menerus, sedangkan yang betina
tidak bersuara keras.
Puyuh dapat dijumpai dari daratan nusantara, Jepang, hingga ke Amerika. Puyuh
dapat ditemui di daerah dataran rendah sampai dataran tinggi. Bahakn lereng Gunung
Gede di ketinggian 2000 m dpl.
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Aves
Order : GalliIormes
Family : Phasianidae
Genus : ot:rnix
Species : ot:rnix cot:rnix
amily Pasianidae:
Phasianidae adalah suku unggas tanah yang meliputi ayam hutan, ayam hutan hias,
burung puyuh, sempidan, kuau, kuau-kerdil, dan merak.
Burung-burung dalam suku ini banyak menghabiskan waktunya di permukaan
tanah. Mereka mempunyai bermacam-macam ukuran, tapi pada umumnya memiliki
sayap yang pendek. Sebagian besar jantan memiliki taji di kakinya dan berukuran lebih
besar dari betina. Jantan yang berukuran lebih besar juga biasanya memiliki bulu-bulu
hiasan yang berwarna-warni.
en:s ot:rnix:





















BAB IV
PENU%UP

1.1 Kesimp:lan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa Taman Nasional Alas
Purwo merupakan habitat dari beberapa satwa liar seperti Felis bengalensis (Kucing
Hutan), $:s scrofa (Babi Hutan Alang-alang), endrelaphis pict:s (Ular Tali Picis),
alcyon cyanoventris (Burung Cekakak), Fefervarya cancrivora (Katak Hijau), ot:rnix
cot:rnix (Puyuh), ctinaet:s malayensis (Elang Hitam), :ntiac:s m:ntfak (Kijang),
dan lain-lain. Satwa liar tersebut merupakan vertebrata yang rata-ratanya merupakan
endemic Indonesia.


1.2 Saran
Disarankan untuk praktikum lapang selanjutnya agar praktikan tidak hanya
melakukan pengamatan di tepi hutan saja, namun meluaskan sudut pandang ke tanah dan
bebatuan di dalam hutan agar spesimen yang ditemukan lebih beragam.


DA%AR PUS%AKA

http://www.dephut.go.id/inIormasi/tamnas/tn13alas.html
http://www.anneahira.com/kucing-hutan-16500.htm
http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN20INDO-ENGLISH/tnalaspurwo.htm
ulLun[uk MenLerl kehuLanan Sk no 283/kpLsll/92
seluas 43420 hekLar
ulLeLapkan
LeLak kabupaLen 8anyuwangl rovlnsl !awa 1lmur

1emperaLur udara 27 30 C
Curah hu[an 1000 1300 mm/Lahun
keLlngglan LempaL 0 322 meLer dpl
LeLak geografls 823' 847' LS 11420' 11436' 81
Campbell, N.A., J.B. Reece, dan L.G. Mitchell. 2000. Biologi Jilid 2 Edisi 5. Erlangga.
Jakarta
Hodgetts, N.G. 2000. Mosses, Liverworts, and Hornworts: Status Survey and Conservation
Action Plan Ior Bryophytes. IUCN. USA
Konrat, M.V., A.J. Shaw, dan K.S. Renzaglia. 2007. Bryophytes: The Closest Living
Relatives oI Early Land Plants. Magnolia Press. London
Shaw, A.J., dan B. GoIIinet. 2000. Bryophyte Biology. Cambridge University Press.
Cambridge
Tuba, Z., N.G. Slack, dan L.R. Stark. 2011. Bryophyte Ecology and Climate Change.
Cambridge University Press. Cambridge
Payne, J., Francis CM., Phillips, Kartikasari. 2000. Panduan Lapangan Mammalia di
Kalimantan, Sabah, Serawak, dan Brunei Darussalam. The Sabah Society dan WildliIe
Conservation Society.