Anda di halaman 1dari 6

KEJUJURAN DAN KEBENARAN MENURUT GEREJA

DISUSUN OLEH : Houtsma Simon Tomboy Maria gosetha Vincentius Rio

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

2011

BAB I.

PENDAHULUAN

Agama mempunyai hubungan erat dengan moral. Dalam praktek hidup sehari-hari, motivasi kita yang terpenting dan terkuat bagi perilaku moral adalah agama. Setiap agama mengandung suatu ajaran moral yang menjadi pegangan bagi perilaku para penganutnya. Ajaran moral dalam suau agama dianggap penting karena ajaran itu berasal dari Tuhan dan mengungkapkan kehendak Tuhan. Dengan kata lain, dasar-dasar adalah Wahyu. Sepuluh perintah Allah, misalnya, disampaikan oleh Yahwe kepada Musa, tergoreslah atas dua batu loh (Kitab Keluaran 31:38). Ajaran moral itu diterima karena alasan keimanan. Namun demikian, nilai-nilai dan norma-norma moral tidak secara eksklusif diterima karena alasan keagamaan. Ada juga alasan-alasan lebih umum untuk menerima aturan-aturan moral dengan alasan-alasan rasional untuk menerima aturan seperti jangan membunuh, jangan berdusta, dan sebagainya. Namun, alasan-alasan rasional untuk nilai-nilai dan norma-norma yang kita pakai perlu digali karena hal tersebut menjadi pegangan bagi perilaku moral kita.

BABII.
2.1 Kebenaran .

PEMBAHASAN

Arti kebenaran secara umum yaitu suatu nilai yang diakui sebagai sesuatu yang baik bagi dirinya dan menjadi pegangan dalam hidup setiap orang. Dalam kebenaran ajaran kristiani yang dimaksud nilai-nilai dan pegangan adalah ajaran-ajaran Kristus yang termasuk dalam Kitab suci. Misalnya : ajaran mengenai relasi dengan orang lain Kasihilah sesamamu seperti mengasihi dirimu sendiri. Dengan demikian kitab suci dikatakan sebagai sumber kebenaran yang ada, dan menjadi acuan untu perilaku umatnya secara benar. Selain itu di dalam kitab suci (Yohanes 14:16) Yesus menyatakan : Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Pernyataan tersebut di perkuat dalam (Timotius 3:16-17) yaitu : Segala tulisan yang di Ilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyakan Allah di perlengkapi untuk setiap perbuatan baik. 2.2 Kejujuran . Kejujuran adalah suatu nilai yang mengungkapkan kenyataan hidup atau kebenaran. Dalam ajaran Katolik, nilai kejujuran itu dapat diperoleh jika manusia berani untuk mengakui baik kekurangan maupun kelebihan serta mengakui akan kelemahan maupun kekuatan yang dimiliki. Pada umunya orang yang dikatakan jujur adalah orang yang polos. Dalam kitab suci Yesus menggambarkan kejujuran melalui kisah-kisah perumpamaan bendahara yang tidak jujur. Misalnya dalam (Lukas 16 ayat 8). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kejujuran itu sendiri merupakan bagian dari kebenaran Kristiani. Bila agama berbicara tentang topik-topik etis, pada umumnya ia berkotbah. Hal ini berarti bahwa ia berusaha memberi motivasi serta inspirasi supaya umatnya mematuhi nilainilai dan norma-norma yang sudah diterimanya berdasarkan iman. Mengapa perbuatan ini atau itu tidak boleh dilakukan?.

Hampir semua jawaban diberikan secara spontan : karena agama melarang atau karena hal itu bertentangan dengan kehandak Tuhan. Contoh konkrit yang sering terjadi dalam kehidupan kita yaitu masalah moral yang aktual mengenai seksualitas. Menghadapi masalah-masalah itu, banyak orang mengambil sikap aku ini orang beragama dan agamaku melarang melakukkan perbuatan itu; aku akan merasa berdosa, bila melakukkan hal tersebut. Dengan itu masalahnya sudah selesai. Cara bagaimana kita harus hidup, memang biasanya kita ditentukan berdasarkan keyakinan keagamaan. Kesimpulan Kejujuran merupakan integritas, yaitu mengatakan sesuai dengan apa yang dilakukan, ajaran gereja mengajarkan agar kita merefleksikan firman Tuhan dan bertindak benar dan jujur oleh karena kesadaran dan kecintaan kita dalam menjalankan agama, sehingga kejujuran dan kebenaran merupakan sikap hati dari perefleksian terhadap pengenalan akan firman Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA
Simon Kistemaker, Perumpamaan-perumpamaan Yesus, Saat, 2001, p 248 256. Alkitab LAI, lukas 16:8, Timotius 3:16-17, Keluaran 31:38, Yohanes 14:16
Tridianto Agus, Pendidikan Moral,yogyakarta:2011