Anda di halaman 1dari 5

RIASRI NURWIRETNO

209000053
PSIKOLOGI

Konsep Kewarganegaraan dalam Otonomi Khusus (Otsus) Papua
Setelah 10 tahun dilaksanakannya UU Otsus Papua, tidak dihasilkan kebifakan yang dapat
dirasakan manfaatnya oleh Rakyat Papua. Hal itu tidak menafikan bahwa
UU Otsus perlu disempurnakan. (Sumber: Kompas, 1 November 2011)

ISU-ISU KEWARGANEGARAAN
Budaya dan Warga Aegara (Penduduk Orang Asli Papua)
Otsus Papua adalah pemberian kewenangan yang lebih luas bagi Provinsi dan rakyat
Papua untuk mengatur dan mengurus diri sendiri di dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Kewenangan ini berarti pula kewenangan untuk memberdayakan potensi sosial
budaya dan perekonomian masyarakat Papua, termasuk memberikan peran yang memadai bagi
orangorang asli Papua melalui para wakil adat, agama, dan kaum perempuan. UndangUndang
ini menempatkan orang asli Papua dan penduduk Papua pada umumnya sebagai subyek utama.
1

Namun, berbagai indikator yang dihasilkan pasca UU Otsus Papua pada Tahun 2001
menunjukkan bahwa Otsus identik dengan adanya korupsi. Salah satu indikator yang tampak
adalah .ivil so.iety yang lemah serta kondisi masyarakat yang terkotakkotak karena kesukuan.
2

Diperkirakan total penduduk Orang asli Papua hanya sekitar 66 dari keseluruhan
jumlah penduduk yang ada. Berdasarkan penelitian di bidang Antropologi, ditemukan tujuh
kategori zona kebudayaan di seluruh tanah Papua: Saireri, Doberai, Bomberai, HaAnim, Tabi,
LanoPago, dan MePago. Terdapat lebih dari 250 kelompok etnis dengan kebiasaan, bahasa,
praktek dan agama asli yang berbeda di Papua. Artinya terdapat ratusan norma adat yang
berlaku, ditambah lagi, ada sekitar 100 kelompok etnis nonPapua.
3
Berkurangnya jumlah
penduduk Orang asli Papua merupakan suatu bahaya atau ancaman menuju kepunahan etnis
Papua. Bila dilihat dari berbagai aspek yang memengaruhi, pertumbuhan penduduk Papua lebih
besar ditentukan oleh arus migrasi dari luar Papua (pendatang), bukan akibat pertambahan
penduduk karena kelahiran hidup, khususnya dikalangan Orang asli Papua.
Pengaruh kesukuan yang masih sangat kuat di Papua menyebabkan insiden yang
menampakkan ketidakpedulian terhadap keharmonisan sosial akan berujung pada tindak
kekerasan. Misalnya, pada tahun 19711973, pemerintah Indonesia melaksanakan operasi Koteka
(penutup penis dari sejenis labu, sebagai pakaian tradisional di dataran tinggi di Papua). Operasi
Koteka bertujuan memengaruhi orang asli Papua di pegunungan untuk meninggalkan aspek
aspek kebudayaan asli mereka.
4

Identitas kolektiI orang asli Papua dipaksakan oleh pemerintah sebagai sebuah
masyarakat yang modern dan beradab. Seperti menggunakan pakaian, bersekolah, menjadi
modern secara ekonomi, dan mengadaptasi identitas Indonesia yang lebih umum. Secara tidak
langsung orang Papua akan merasa kehilangan jati diri dan tersisih dari akar budaya mereka. Hal
ini menunjukkan .ivi. so.iety yang lemah, bahwa tidak ada batasan yang jelas antara hak dan
kewajiban sebagai warna Negara, baik yang diatur secara konvensi maupun konstitusi.

1
Djojosoekarto, A., Rudiarto S. & Cucu S. 2008. 'Kebijakan Otonomi Khusus Papua. Jakarta: Kemitraan
2
Kristiadi, J. 'Mengurai Kekusutan Nestapa Papua. Kompas, 1 November 2011, hlm. 15
3
Sugandi, Yulia. 'Analisis KonIlik dan Rekomendasi Kebijakan Mengenai Papua. Jakarta, 2008, hlm.4
4
Ibid, hlm. 56
RIASRI NURWIRETNO
209000053
PSIKOLOGI

Konsep Kewarganegaraan dalam Otonomi Khusus (Otsus) Papua
ak Asasi Manusia (AM)
Kejahatan terhadap kemanusiaan terjadi dibanyak tempat dengan berbagai modus dan
bentuk yang berbedabeda. UU Otsus secara tersirat pun mengakui telah menelantarkan rakyat
Papua dan tidak tegas dalam menangani pelanggaran hakhak asasi manusia. Hak Asasi Manusia
merupakan hakhak seseorang yang melekat pada dirinya sejak lahir, bersiIat universal dan wajib
dipenuhi oleh Negara. Hak tersebut apabila dicabut dari seseorang akan menyebabkan
kehilangan eksistensi.
Tertulis dalam artikel bahwa UU Otsus memuat berbagai hal Iundamental, dua
diantaranya adalah: (1) kebijakan aIirmasi untuk orang asli Papua di bidang Pendidikan, jabatan
pemerintahan, kepegawaian, dsb; (2) penyelesaian masalah HAM dengan membentuk Komisi
Kebenaran dan Rekonsiliasi serta membentuk Komnas HAM dan Pengadilan Ham.
Namun, kenyataan yang ditemukan di lapangan justru menunjukkan rendahnya tingkat
kesejahteraan untuk Orang asli Papua. Walapun Otsus Papua telah berjalan 10 tahun, persoalan
kesehatan di Papua masih menjadi persoalan yang serius. Kemudian sekalipun Papua telah
menjadi Daerah Otonomi Khusus Papua selama 10 Tahun ini, namun realitas yang alami oleh
masyarakat Asli Papua, tidak mengalami perubahan signiIikan justru sebaliknya masyarakat sipil
Papua masih terus menjadi korban aparat keamanan yakni TNI dan POLRI.
Berdasarkan pada hasil survey Foker LSM Papua tentang keadaan kesehatan di Papua,
kematian Ibu pada Tahun 2001 ditemukan sebanyak 64.471 bayi, yang seharusnya hidup di
Papua. Namun demikian, hanya 51.460 bayi yang hidup dan 7.150 bayi yang meninggal. Angka
kematian bayi 122/1000 kelahiran hidup. Sebanyak 47.709 balita yang hidup dan terdapat 3.751
balita yang meninggal. Angka kematian Balita yakni 64/1000 kelahiran hidup. Disinyalir
anggaran Kesehatan yang tertuang dalam dokumen APBD Provinsi Papua selama 10 (sepuluh)
tahun selalu menggambarkan ketidakadilan dan justru menyalahi aturan. Hal itu pula yang terjadi
pada anggaran untuk bidang pendidikan.
5


%eori Politik
Tampak jelas bahwa penjelasan diatas tidak menunjukkan adanya penerapan HAM secara tepat.
Karena hakhak yang seharusnya diperoleh warga Negara tidak dapat terpenuhi dan menjamin nilai
kemanusiaannya. Seperti contoh, hak hidup, hak mendapatkan kehidupan yang layak, hak kesehatan, hak
pendidikan, dsb. Kenyataan yang terjadi diakibatkan oleh korupsi yang merajalela hingga
menyebabkan rakyat menderita. Hal ini merupakan imbas dari campur tangan politik, yakni
adanya tujuan dan kepentingan politik dalam pemerintahan. Pemerintah dijadikan suatu produk
politik untuk menata keseluruhan sistem yang ada pada Negara Papua. Bahkan disinyalir
pembuatan UU atau konstitusi yang ada dimanIaatkan untuk kepentingan politik penguasa.

5
Lokobal, Vincentsius. 'Kegagalan Pelaksanaan UU No.21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua 10 Tahun di Tanah
Papua. hlm. 8
RIASRI NURWIRETNO
209000053
PSIKOLOGI

Konsep Kewarganegaraan dalam Otonomi Khusus (Otsus) Papua
NEGARA PAPUA - Prinsip Eksistensi Aegara Papua
Pada artikel yang berjudul 'Mengurai Kekusutan Nestapa Papua, terdapat beberapa hal
yang merujuk pada sebuah eksistensi Papua sebagai suatu Negara. Adapun sebuah negara
dikatakan eksis apabila memenuhi syaratsyarat antara lain: 1) Mempunyai wilayah/ daerah
tertentu, 2) Adanya rakyat, 3) Adanya pemerintahan, 4)Adanya pengakuan negara dari negara
negara lain; 5) Adanya tujuan Negara.
6

Pertama, adanya wilayah/ daerah tertentu. Papua menggambarkan Negara dengan
kekayaan alamnya yang berlimpah ruah dengan luas wilayah 421.981 KM2 (3,5 kali lebih besar
dari pada Pulau Jawa) dengan topograIi yang meliputi daerah pegunungan dan sebagian besar
tanah yang berawarawa di daerah pesisir. Papua berbatasan dengan; Laut Halmahera dan
Samudra PasiIik di utara, Laut AraIura dan Australia di selatan, Papua New Guinea di sebelah
timur, dan Laut AraIura, Laut banda dan Maluku di sebelah barat.
7

Kedua, Adanya Rakyat. Total penduduk Papua adalah sekitar 2.576.822 jiwa, yang
hanyalah 1 dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia, di mana 70 tinggal di daerah
pedesaan dan di tengah daerah pegunungan yang terpencil.
8
Meskipun terbagai ke dalam suku
suku, baik penduduk dari Orang asli Papua ataupun penduduk nonPapua keduanya tinggal di
satu wilayah yang sama. Hal ini mengindikasikan bahwa di wilayah tersebut terdapat masyarakat
yang mempunyai tujuan dan citacita yang sama. Citacita untuk bersatu dalam satu wilayah
untuk waktu yang tidak terbatas.
Terkait dengan kinerja UU Otsus dalam 10 tahun terakhir, bahwa UU Otsus perlu
disempurankan. Tujuannya adalah menyempurnakan kekurangan UU Otsus agar Papua
mempunyai aturan yang menjadi sarana mewujudkan Papua damai secara permanen. Terlihat
bahwa tujuan penyempurnaan UU Otsus tersebut merupakan salah satu bentuk eksistesi sebagai
suatu tujuan yang hendak dicapai oleh masyarakat Papua. Demi terlaksananya kebahagiaan
umum agar dapat mencapai tujuan bersama.
Papua juga masih memiliki penguasa yang pada dasarnya dipilih secara demokratis, serta
adanya pemerintahan yang berdaulat atas daerah dan rakyatnya . Dalam hal ini penguasa
menampilkan adanya suatu otoritas kepada rakyat agar tunduk pada suatu pemerintahan yang
berdaulat dan mengatur hidup bersama.
Pengakuan Negara lain terhadap Negara Papua, salah satunya adalah pengakuan dari
pihak Belanda. Berdasarkan sejarah dari proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945,
pemerintah Belanda telah memisahkan daerah Papua dari Hindia untuk mempersiapkan Papua
dan penduduknya kepada pemerintahan mereka sendiri. Kemudian pada tahun 1969 dilakukan
pemungutan suara 'pilihan bebas (Iree choice) yang diterapkan oleh PBB dengan melibatkan
lebih dari 1000 kepala suku. Dalam hal ini PBB dan UNTEA (United Nation Temporary
Administration Pemerintahan Sementara PBB) bertanggung jawab dalam periode transisi
berdirinya Negara Papua.
9

6
Victor Situmorang. 1987. ntisari lmu Negara. Jakarta : Bina Aksara, hal.1617
7
Sugandi, Yulia. 'Analisis KonIlik dan Rekomendasi Kebijakan Mengenai Papua. Jakarta, 2008, hlm. 3
8
Ibid, hlm. 4
9
Ibid
RIASRI NURWIRETNO
209000053
PSIKOLOGI

Konsep Kewarganegaraan dalam Otonomi Khusus (Otsus) Papua
ANALISIS
ubungan Penegakan ukum dan AM dengan Kerentanan AKRI di Wilayah Papua
Kita ketahui kini di kalangan rakyat Papua tampaknya semakin memudar rasa
nasionalisme dan kebanggaan orang Papua sebagaai bangsa Indonesia. Kenapa? Persoalan
tersebut dapat ditinjau dari beberapa aspek. Pertama, aspek sejarah politik, Papua berintegrasi
dengan Negara Kesatuan RI (NKRI). Kedua, aspek ideologi subyektiI pada pelaksanaan
pembangunan nasional selama 32 tahun berkuasanya rezim Orde Baru. Ketiga, aspek kejahatan
dan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat TNI/POLRI di wilayah Papua.
Pasca integrasi Papua dengan NKRI, kesadaran subyektiI telah dirusak dan dihapus lewat
pengalaman dari pelaksanaan pembangunan nasional, disertai kejahatan dan pelanggaran HAM
selama masa Orde Baru dengan alat kekuasaannya, yakni TNI (ABRI). Hak itu dilakukan dengan
dalil stabilitas nasional dan separatisme Papua Merdeka (OPM). Sehingga tidak jarang terjadi
kejadiankejadian pembunuhan dan pejuang di Papua, demi ideologi pembangunan dengan dalih
untuk mengadili realitas masyarakat.
Kejadian pembantaian dan pembunuhan di Papua disertai pelanggaran HAM yang
dilakukan aparat TNI (ABRI) dan kepolisian (POLRI) mengindikasikan bahwa pemerintah
Indonesia tidak memiliki kemauan dan 'itikad baik terhadap rakyat Papua untuk menumbuhkan
dan mengembangkan identitas mereka. Tidak ada peluang dan kesempatan yang diberikan
pemerintah Indonesia dan aparat keamanan kepada rakyat Papua untuk mengekspresikan
'identitas budaya mereka. Hal menjadi Iaktor mendasar bagi rakyat di wilayah ini untuk tidak
lagi merasa menjadi 'orang Indonesia. Ideologi subyektiI keindonesiaan telah dirusak sendiri
oleh praktek dan kenyataan dari pelaksanaan pembangunan dan pelanggaran HAM yang
dilakukan oleh Indonesia.
Selama berintegrasi dengan Indonesia, rakyat Papua tidak mendapatkan perlakuan yang
setara, hal inilah yang juga dirasakan dan dialami oleh rakyat di wilayah lain di Tanah Air
selama kekuasaan Orde Baru. Pemerintah pusat sering megabaikan konIlikkonIlik yang
berlarutlarut di tengah masyarakat. Tidak pernah diusahakan penyelesaian yang adil dan
demokratis, selalu terlambat bahkan diabaikan. Ditambah lagi dengan metode dan caracara
kekerasan (se.urity approa.h), bukan melalui dialog secara kekeluargaan, adil dan demokratis.
Soeharto dan ABRInya tidak segansegan menggunakan kekerasan militer untuk mendapatkan
kesetiaan dan ketaatan rakyat. Seolaholah Negara yang tahu hal apa yang terbaik untuk
rakyatnya. Sebab elite politik yang memimpin memang mempunyai begitu banyak pengalaman
dan telah mengatasi begitu banyak krisis.
Papua yang kaya akan sumber daya alam dieksploitasi habishabisan oleh elite kekuasaan
Orde Baru Soeharto dan konglomerat Jakarta serta perusahaan multinasional Freeport Mc.
Moran. Masyarakat Papua yang seharusnya memperoleh emansipasi di bidang pendidikan dan
ekonomi justru tertinggal dengan wilayah lainnya. Papua justru menjadi salah satu provinsi
termiskin di Republik Indonesia. Munculnya berbagai tantangan dan kenyataan yang ada
menyebabkan bergesernya paradigma. Kini rakyat tidak bisa lagi dibihongi, sehingga muncullah
aspirasi dan tuntutan dari Papua untuk memisahkan diri dengan NKRI. Hal tersebut bukan hanya
sebatas persoalan budaya dan ekonomi semata, namun sebuah perwujudan politik dari akumulasi
berbagai permasalahan yang dihadapi.
RIASRI NURWIRETNO
209000053
PSIKOLOGI

Konsep Kewarganegaraan dalam Otonomi Khusus (Otsus) Papua
Papua telah sampai pada keyakinan bahwa hanya dengan memisahkan diri atau merdeka
dari NKRI, maka mereka akan mampu mengatasi persoalapersoalan ketidakadilan, diskriminasi
dan kejahatan HAM. Ketika Soeharto selaku presiden mundur pada 21 Mei 1998, rakyat Papua
bangkit dan menyatakan 'identitas budaya mereka sekaligus mempertanyaan posisi identitas
mereka di tengahtegah kehidupan NKRI. Sesungguhnya ada tiga Iaktor yang menjelaskan
mengapa rakyat Irian Jaya sampai menuntut kemerdekaan, Iaktor tersebut antara lain:
10

Pertama, ketidakmampuan lembaga Negara menangkap sinyal di balik aspirasi dan
tuntutan 'merdeka yang disimbolkan lewat pengibaran bendera Bintang Kejora. Rakyat Irian
jaya tidak percaya bahwa pemerintah pusat memberikan perhatian pada mereka. Perlakuan
diskriminatiI sangat dirasakan rakyat Irian Jaya, sejak era Soekarno Seoharto sampai
sekarang, pemerintah tidak mampu memberikan kesejahteraan, keadilan, dan kesetaraan.
Kedua, sebagian besar elite Jakarta sibuk menyuarakan kepentingan kelompok sendiri,
bukan kepentingan bangsa. Ketiga, perkembangan globalisasi yang ditandai oleh ekonomi pasar
dunia mendorong berbagai kelompok masyarakat kembali bernaung di bawah panji tradisi dan
solidaritas kesukuan, agama, golongan dan kedaerahan.
Pada dasarnya rakyat Papua menyimpulkan bahwa mereka merasa 'bukan lagi bagian
dari suatu bangsa yang namanya Indonesia. Mereka mempertanyakan identitas diri sebagai suatu
komunitas sosial dan menggugat kembalinya nama 'Papua yang selama ini telah sengaja
digelapkan oleh Indonesia dengan sebutan 'Irian Jaya.

Referensi Bacaan
Djojosoekarto, A., Rudiarto S. & Cucu S. 2008. 'Kebijakan Otonomi Khusus Papua. Jakarta:
Kemitraan
Kristiadi, J. 'Mengurai Kekusutan Nestapa Papua. Kompas, 1 November 2011, hlm. 15
Lokobal, Vincentsius. 'Kegagalan Pelaksanaan UU No.21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus
Papua 10 Tahun di Tanah Papua. hlm. 8
Maniagasi, Frans. 2001. asa Depan Papua. erdeka, Otonomi Khusus dan Dialog. Jakarta:
PT. Dyatama Milenia
Sugandi, Yulia. 'Analisis KonIlik dan Rekomendasi Kebijakan Mengenai Papua. Jakarta, 2008

10
Maniagasi, Frans. asa Depan Papua. erdeka, Otonomi Khusus dan Dialog. Jakarta, 2001 hlm. 139140