Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TIN1AUAN PUSTAKA

2.1 Air
2.1.1 DeIinisi Air
Air adalah salah satu komponen di alam yang menjadi kebutuhan yang
penting bagi kelangsungan hidup mahluk hidup. Hampir semua peradaban yang
ada di jaman dahulu berada diwilayah yang berdekatan dengan sumber air
khususnya DAS (Daerah Aliran Sungai), salah satu contohnya adalah peradaban
dilembah sungai Nil yang berada di daerah Mesir dan masih banyak lagi (Kurita
Handbook,1999).
Secara alamiah air merupakan kekayaan alam yang dapat diperbaharui dan
mempunyai daya regenerasi yaitu selalu mengalami sirkulasi dan mengikuti daur.
Daur hidrologi diberi batasan sebagai tahapan-tahapan yang dilalui air dari
atmosIer, penguapan dari tanah atau laut, kondensasi untuk membentuk awan,
presipitasi akumulasi di dalam tanah maupun tubuh air dan menguap kembali
(Nusa Idaman).
Menurut Undang-undang tentang sumber daya air pada pasal 1, yang
dimaksud dengan air adalah semua air yang terdapat diatas, ataupun di bawah
permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air
hujan, dan air laut yang berada di darat.
Air memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh senyawa kimia lain,
karakteristik tersebut antara lain :
1. Pada kisaran suhu yang sesuai bagi kehidupan, yakni 0
0
C (32
0
F) - 100
0
C, air
berwujud cair.
2. Perubahan suhu air berlangsung lambat sehingga air memiliki siIat sebagai
penyimpan panas yang sangat baik.
3. Air memerlukan panas yang tinggi pada proses penguapan.
4. Air merupakan pelarut yang baik.
5. Air memiliki tegangan permuakaan yang tinggi.
6. Air merupakan satu-satunya senyawa yang merenggang ketika membeku.
2.1.2 Sumber-Sumber Air
2.1.2.1Air Laut
Air laut merupakan air yang paling besar ketersediaan airnya di bumi.
Namun, air laut mempunyai kandungan zat padat terlarut tertinggi dibandingkan
dengan sumber air lainnya yaitu sekitar 30.000-36.000 mg/liter dengan kandungan
utamanya adalah unsur Na dan Cl. Kuantitas air laut sangat besar, akan tetapi dari
segi kualitas memiliki kelemahan karena diperlukan tingkat teknologi yang lebih
rumit, dengan kata lain dibutuhkan biaya yang relatiI besar apabila digunakan
sebagai air baku.
2.1.2.2Air AtmosIir
Air atmosIir termasuk air yang mempunyai kemurnian yang paling tinggi
dibandingkan dengan sumber air lain. Dalam lingkungan atmosIir yang dingin uap
air akan terkondensasi dan akan mencapai permukaan bumi dalam bentuk hujan.
Dalam perjalanannya menuju permukaan bumi, air hujan akan mengabsorpsi gas
dan zat padat yang ada di atmosIir. Di permukaan bumi sebagian air hujan
meresap ke dalam tanah kemudian disebut sebagai air tanah dan sebagian
mengalir di permukaan bumi sebagai air permukaan. Ditinjau dari kualitas dan
kuantitas maka air atmosIir memadai digunakan sebagai air baku dalam proses
produksi air bersih namun terkendala dalam hal penyadapannya (Nusa Idaman).

2.1.2.3Air Tanah
Air tanah berasal dari air hujan yang meresap kedalam tanah dengan
melewati beberapa lapisan tanah, sehingga mengandung berbagai padatan terlarut
yang berasal dari lapisan tanah. Hal ini dikarenakan siIat air yang merupakan
pelarut yang baik. Air tanah pada umumnya juga mengandung sedikit padatan
tersuspensi, hal ini dikarenakan peran lapisan tanah yang dapat berIungsi sebagai
penyaring padatan tersuspensi pada air.



Air tanah terbagi atas :
- Air Tanah Dangkal
Terjadi karena daya proses peresapan air tanah. Lumpur akan tertahan,
demikian pula dengan sebagian bakteri, sehingga air tanah akan jernih tetapi lebih
banyak mengandung zat kimia (garam-garam yang terlarut) karena melalui lapisan
tanah yang mempunyai unsur-unsur kimia tertentu untuk masing-masing lapisan
tanah. Lapisan tanah tersebut berIungsi sebagai penyaring. Air tanah dangkal ini
terdapat pada kedalaman 1.500 m.
- Air Tanah Dalam
Air tanah dalam terdapat setelah lapis rapat yang pertama. Pengambilan air
tanah dalam, tak semudah pada air tanah dangkal. Kualitas dari air tanah dalam
lebih baik dari air dangkal.
2.1.2.4Air Permukaan
Air permukaan merupakan kumpulan air hujan yang mengalir pada
permukaan atau sebagai gabungan dari air tanah yang keluar ke permukaan tanah.
Air permukaan pada umumnya banyak mengandung padatan tersuspensi, padatan
terlarut dan gas-gas yang terlarut akibat erosi serta limpahan dari limbah ke dalam
air. Termasuk kedalam air permukaan meliputi: air sungai, air danau, air waduk,
air kolam dan lainnya (Nusa Idaman).
Air permukaan di samping keruh dan berwarna kadangkala juga berbau
dan berasa. Hal ini disebabkan oleh kandungan senyawa hasil dekomposisi dari
bahan-bahan organik. Pada umumnya semua air mengandung senyawa organik,
untuk air permukaan kandungan senyawa organik yang terkandung di dalamnya
jauh lebih besar dibandingkan dengan senyawa organik yang terkandung di dalam
air tanah. Air permukaan mempunyai kuantitas yang lebih besar dibandingkan
dengan air tanah dengan kualitas yang masih layak sebagai air baku dalam proses
produksi air bersih (Nusa Idaman).
2.1.3 Kualitas Air Bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang
kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak
(Permenkes No.416 1990). Air bersih harus memenuhi persyaratan Iisika, kimia,
dan bakteriologis yang telah diterapkan peraturan menteri kesehatan tentang
kualitas air bersih.

2.1.3.1Persyaratan Fisik
Syarat-syarat sumber air yang bisa digunakan sebagai air bersih adalah
sebagai berikut :
a. Kekeruhan
Air yang berkualitas harus jernih atau tidak keruh. Air yang keruh
disebabkan oleh adanya butiran-butiran koloid dari bahan tanah liat. Semakin
banyak kandungan tanah liat maka air semakin keruh. Derajat kekeruhan yang
umum digunakan adalah NTU (nephelometric turbidity unit atau satuan
kekeruhan air).
b. Tidak berwarna
Air untuk keperluan rumah tangga harus jernih. Air yang berwarna berarti
mengandung padatan yang tersuspensi yang cukup tinggi baik organik maupun
anorganik.
c. Rasanya tawar
Rasa yang sering ada di dalam air antara lain rasa logam/amis, rasa pahit,
asin dan sebagainya. Pengaruh rasa terhadap kesehatan tergantung dari penyebab
timbulnya rasa tersebut. Air yang bersih menurut persyaratan PERMENKES
adalah tidak berasa (rasanya tawar).
d. Tidak berbau
Air yang baik memiliki ciri tidak berbau. Air yang berbau busuk
menandakan adanya bahan-bahan organik yang sedang mengalami dekomoposisi
(penguraian) oleh mikroorganisme air di dalam air tersebut.
e. Temperaturnya normal
Air yang baik harus memiliki temperatur sama dengan temperatur udara
(20-26
o
C). Air yang secara mencolok mempunyai temperatur di atas atau di
bawah temperatur udara berarti mengandung zat-zat tertentu yang mengeluarkan
atau menyerap energi dalam air. Selain itu temperatur yang tinggi dapat
mempercepat reaksi-reaksi biokimia di dalam saluran/pipa. Persyaratan kualitas
air bersih secara Iisika berdasarkan peraturan menteri kesehatan RI Nomor:
416/MEN.KES/PER/IX/1990 disajikan pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Persyaratan kualitas air bersih secara fisika
Parameter Fisik Satuan
Kadar Maksimum yang
Diperbolehkan
Keterangan
Kekeruhan Skala NTU 25
Bau - - Tidak berbau
Jumlah zat padat
terlarut (TDS)
mg/L 1.500
Suhu
o
C Suhu udara 3
o
C
Rasa - - Tidak Berasa
Warna Skala TCU 50
$umber . Departemen Kesehatan RI (1990)

2.1.3.2Persyaratan kimia
Kualiatas air tergolong baik bila memenuhi persyaratan kima sebagai
berikut:
a. pH 6,5 - 9. Pembatasan pH dilakukan karena akan mempengaruhi rasa,
korosiIitas air dan eIisiensi klorinasi. Beberapa senyawa asam dan basa lebih
toksid dalam bentuk molekuler, dimana disosiasi senyawa-senyawa tersebut
dipengaruhi oleh pH.
b. Tidak mengandung bahan kimia beracun. Air yang berkualitas baik tidak
mengandung bahan kimia beracun seperti sianida sulIida, Ienolik.
c. Tidak mengandung garam-garam atau ion-ion logam yang melebihi batas
maksimal. Air yang berkualitas baik tidak mengandung garam atau ion-ion
logam seperti Fe, Mg, Ca, K, Hg, Zn, Cl, Cr, dan lain-lain yang berlebih,
sesuai dengan syarat yang telah ditentukan.
d. Kesadahan rendah. Kesadahan adalah merupakan siIat air yang disebabkan
oleh adanya ion ion logam valensi dua. Tingginya kesadahan berhubungan
dengan garam-garam yang terlarut di dalam air terutama garam Ca dan Mg.
Persyaratan kualitas air bersih secara kimia berdasarkan peraturan menteri
kesehatan RI Nomor: 416/MEN.KES/PER/IX/1990 disajikan pada tabel 2.2.
Tabel 2.2 Persyaratan Kualitas Air Bersih Secara Kimia
Parameter Satuan Kadar Maksimum
Air Raksa mg/L 0,001
Arsenic mg/L 0,05
Besi mg/L 1,0
Kesadahan (CaCO
3
) mg/L 1,5
Barium mg/L 0,7
Boron mg/L 0,3
Kadmium mg/L 500
Klorida mg/L 600
Mangan mg/L 0,5
Nitrat, sebagai N mg/L
10
Nitrit, sebagai N mg/L
1,0
pH -
6,5 9,0
Kromium (valensi 6) mg/L 0,005
Sianida mg/L 0,07

Flourida mg/L 1,5
Timbal mg/L 0,05
Selenium mg/L 0,01

$umber. Departemen Kesehatan RI (1990)

2.1.3.3Persyaratan Bakteriologis
Air yang mengandung golongan Coli dianggap telah terkontaminasi
dengan kotoran manusia. Persyaratan bakteriologis berdasarkan peraturan menteri
kesehatan RI Nomor: 416/MEN.KES/PER/IX/1990 disajikan pada tabel 2.3.

Tabel 2.3. Persyaratan Kualitas Air Bersih secara Bakteriologis
Parameter Satuan
Kadar Maksimum yang
Diperbolehkan
Keterangan
Mikro biologik
Total KoliIorm
(MPN)
Jumlah
per 100
ml
50
Bukan Air
Perpipaan

$umber. Departemen Kesehatan RI (1990)

Peraturan pemerintah No. 20 tahun 1990 mengelompokan kualitas air
bersih menjadi beberapa golongan menurut peruntukannya. Adapun
penggolongan air menurut peruntukannya adalah sebagai berikut:
1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara
langsung, tanpa pengolahan terlebih dulu.
2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum.
3. Golongan C, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan
peternakan.
4. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, usaha
di perkotaan, industri, dan pembangkit listrik tenaga.

2.1.4 Dasar Pengolahan Air
Pengolahan air limbah bertujuan untuk menghilangkan parameter
pencemar yang ada di dalam air limbah sampai batas yang diperbolehkan untuk
dibuang ke badan air sesuai dengan syarat baku mutu yang diijinkan. Pengolahan
air limbah secara garis besar dapat dibagi yakni pemisahan senyawa koloid, serta
penghilangan senyawa polutan terlarut. Ditinjau dari jenis prosesnya dapat
dikelompokan: Proses pengolahan secara Iisika, proses secara Iisika-kimia serta
proses pengolahan secara biologis.
Penerapan masing-masing metode tergantung pada kualitas air baku dan
kondisi Iasilitas yang tersedia. Dalam tabel 2.4 berikut ditampilkan kontaminan
yang umum ditemukan dalam air limbah serta sistem pengolahan yang sesuai
untuk menghilangkannya. KlasiIikasi jenis proses pengolahan untuk
menghilangkan senyawa pencemar dalam air limbah dapat dilihat pada tabel 2.4.












Tabel 2.4 1enis proses pengolahan untuk menghilangkan senyawa pencemar dalam air
limbah

KONTAMINAN SISTEM PENGOLAHAN KLASIFIKASI
Padatan
tersuspensi
Screening dan communition F
Sedimentasi F
Flotasi F
Filtrasi` F
Koagulasi/sedimentasi K/F
Land treatment F
Biodegradable
organics
Lumpur aktiI B
Trickling Iilters B
Rotating biological contactors B
Aerated lagoons (kolam aerasi) B
Saringan pasir F/B
Land treaatment B/K/F
Pathogens
Khlorinasi K
Ozonisasi K
Land treatment F
Nitrogen
Suspended-growth nitriIication and
denitriIication
B
Fixed-Iilm nitriIication and denitriIication B
Ammonia stripping K/F
Ion Exchange K
Breakpoint khlorinasi K
Land treatment B/K/F
Phospor
Koagulasi garam logam/ sedimentasi K/F
Koagulasi kapur/sedimentasi K/F
Biological/Chemical phosphorus removal B/F
Land treatment K/F
ReIractory
organics
Adsorpsi karbon F
Tertiary ozonation K
Sistem land treatment F
Logam berat
Pengendapan kimia K
Ion exchange K
Land treatment F
Padatan
inorganik terlarut
Ion exchange K
Reverse osmosis F
Elektrodialisis K

Keterangan : B Biologi, K Kimia, F Fisika

Pemilihan teknologi pengolahan air limbah harus mempertimbangkan
beberapa hal yakni jumlah air limbah yang akan diolah, kualitas air hasil olahan
yang diharapkan, kemudahan dalam hal pengelolaan, ketersediaan lahan dan
sumber energi, serta biaya operasi dan perawatan diupayakan serendah mungkin.
Setiap jenis teknologi pengolahan air limbah mempunyai keunggulan dan
kekurangannya masing-masing, oleh karena itu dalam hal pemilihan jenis
teknologi tersebut perlu diperhatikan aspek teknis, aspek ekonomis, dan aspek
lingkungan, serta sumber daya manusia yang akan mengelola Iasilitas tersebut.
Untuk mendapatkan eIisiensi penghilangan atau inaktiIasi virus dan
mikroorganisme patogen ada dua kriteria operasional yang penting yang harus
dipenuhi yaitu pertama: konsentrasi padatan tersuspensi (suspended solids) dan
kekeruhan di dalam air eIIluen harus rendah sebelum dilakukan desinIeksi. Hal ini
dapat meningkatkan eIisiensi serta mengurangii kebutuhan khlorine. Yang kedua,
dosis desinIektan yang ditambahkan dan waktu kontak dengan air yang diolah
harus cukup.
Untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan kekeruhan yang rendah
umumnya digunakan proses pengolahan dengan proses, adsorpsi, dan desinIeksi.
Proses Iiltrasi akan menghilangkan padatan tersuspensi dalam air limbah,
kemudian dilanjutkan dengan proses adsorpsi yang akan menurunkan padatan
tersuspensi yang ada dalam air limbah, dan dapat menurunkan konsentrasi zat
organik yang dapat bereaksi dengan desinIektan, serta untuk meningkatkan
kualitas estetika dengan menghilangkan kekeruhan. Proses terakhir dalam
pengolahan limbah air adalah desinIeksi yang bertujuan untuk membunuh
mikroorganisme yang ada dalam air limbah.

2.2Filtrasi
Ada berbagai macam cara untuk menjernihkan air. Namun, yang paling
banyak dikenal adalah teknik penyaringan, pengendapan, dan penyerapan. Bahan
yang dipakai untuk ketiga teknik tersebut juga beraneka ragam. Pasir, ijuk, arang
batok, kerikil, tawas, bubuk kapur, kaporit, dan bahkan batu bisa dimanIaatkan secara
eIektiI untuk menjernihkan air kotor. Biasanya bahan-bahan itu dipakai secara
bersamaan. Sangat sedikit sekali orang bisa memperoleh air jernih dengan hanya
memakai satu media penyaring.
Filtrasi atau penyaringan merupakan suatu unit operasi untuk memisahkan
padatan dengan ukuran tertentu dari cairan. Proses Iiltrasi memerlukan media
yang sering disebut sebagai media Iiltrasi. Umumnya proses Iiltrasi dilakukan
dengan melewatkan air melalui sebuah lapisan tertentu yang berisi media berbutir.
Partikel-parikel dalam air dengan ukuran tertentu akan tertahan oleh medium
Iilter. Proses yang sangat jelas adalah penyaringan Iisik partikel yang terlalu besar
untuk lewat diantara butir media Iilter. Penyisihan partikel dalam lapisan Iilter
tergantung pada mekanisme perjalanan solid melalui air ke permukaan butiran-
butiran Iilter dan penyimpanan solid oleh media ketika kontak terjadi.
(1)

Filter merupakan alat penyaringan bahan tersuspensi yang melalui media
berpori. Alat ini merupakan salah satu alat yang terpenting dalam mencapai
klariIikasi terakhir. Kecuali tawas, bubuk kapur, dan kaporit, seluruh media
penyaring tersebut bersiIat mengendapkan dan menyerap bahan pencemar yang
ada di dalam air. Pasir, kerikil, dan ijuk merupakan media pengendap dan arang
batok merupakan penyerap. Dibandingkan kerikil dan ijuk, pasir dan arang batok
memiliki Iungsi lebih besar.
Apabila Iilter yang dioperasikan untuk memisahkan material-material
tersuspensi maka porositas bed secara berkesinambungan akan berubah menjadi
terkumpulnya partikel-partikel dalam rongga media pasir. Peristiwa seperti ini
biasanya disebut dengan nama clogging (pemampatan), hal ini sangat menggangu
proses dari Iiltrasi sehingga akan sangat berdampak pada kualitas dari Iilter
tersebut.
Pasir adalah media Iilter yang paling umum dipakai dalam proses
penjernihan air, karena pasir dinilai ekonomis, tetapi tidak semua pasir dapat
dipakai sebagai media Iilter. Artinya diperlukan pemilihan jenis pasir, sehingga
diperoleh pasir yang sesuai dengan syarat-syarat media pasir. Dalam memilih
jenis pasir sebagai media Iilter hal-hal yang diperhatikan adalah :
Senyawa kimia pada pasir
Karakteristik Iisik pasir
Persyaratan kualitas pasir yang disyaratkan
Jenis pasir dan ketersediaannya

Menurut (Sugiharto, 1987) terdapat 2 macam penyaringan yang ada yaitu:
a. Saringan pasir lambat
Terdiri dari lapisan gravel dengan tebal 0,3 meter dan pasir setebal 0,6-1,2
meter dengan diameter pasir sekitar 0,2-0,35 milimeter. Dari penyaringan ini akan
dihasilkan kecepatan pengaliran sebanyak 0,034-0,10 liter/m
3
/detik.
b. Saringan pasir cepat
Saringan cepat dapat menghasilkan air bersih sejumlah 1,3 - 2,7
liter/m
3
/detik. Diameter pasir yang dipakai 0,4 mm - 0,8 mm dengan ketebalan 0,4
m - 0,7 m.

Faktor yang mempengaruhi eIisiensi penyaringan ada 4 (empat) Iaktor dan
menentukan hasil penyaringan dalam bentuk kulitas eIIluent serta masa operasi
saringan yaitu :
a. Kualitas air baku, semakin baik kualitas air baku yang diolah maka akan baik
pula hasil penyaringan yang diperoleh.
b. Suhu, Suhu yang baik yaitu antara 20-30
o
C, temperatur akan mempengaruhi
kecepatan reaksi-reaksi kimia.
c. Kecepatan Penyaringan, Pemisahan bahan-bahan tersuspensi dengan
penyaringan tidak dipengaruhi oleh kecepatan penyaringan. Berbagai hasil
penelitian menyatakan bahwa kecepatan penyaringan tidak mempengaruhi
terhadap kualitas eIIluent. Kecepatan penyaringan lebih banyak terhadap
masa operasi saringan.
d. Diameter butiran, secara umum kualitas eIIluent yang dihasilkan akan lebih
baik bila lapisan saringan pasir terdiri dari butiran-butiran halus. Jika
diameter butiran yang di gunakan kecil maka yang terbentuk juga kecil. Hal
ini akan meningkatkan eIisiensi penyaringan.

Proses mekanisme Iiltrasi adalah kombinasi dari beberapa Ienomena yang
berbeda, yang paling penting adalah :
1. echanical $training, yaitu proses penyaringan partikel suspended matter
yang terlalu besar untuk bisa lolos melalui lubang antara butiran pasir, yang
berlangsung diseluruh permukaan saringan pasir dan sama sekali tidak
bergantung pada kecepatan penyaringan.
2. Sedimentasi, akan mengendapkan partikel suspended matter yang lebih halus
ukurannya dari lubang pori pada permukaan butiran. Proses pengendapan
terjadi pada seluruh permukaan pasir.
3. Adsorption adalah proses yang paling penting dalam proses Iiltrasi. Proses
adsorpsi dalam saringan pasir lambat terjadi akibat tumbukan antara partikel-
partikel tersuspensi dengan butiran pasir saringan dan dengan bahan pelapis
seperti gelatin yang pekat yang terbentuk pada butiran pasir oleh endapan
bakteri dan partikel koloid. Proses ini yang lebih penting terjadi sebagai hasil
daya tarik menarik elektrostatis, yaitu antara partikel-partikel yang
mempunyai muatan listrik yang berlawanan.
4. Aktivitas Kimia, beberapa reaksi kimia akan terjadi dengan adanya oksigen
maupun bikarbonat.
5. Aktivitas biologis yang disebabkan oleh mikroorganisme yang hidup dalam
Iilter.

2.3Proses Adsorpsi
Adsorbsi secara umum adalah proses pengumpulan substansi terlarut yang
ada dalam larutan oleh permukaan zat atau benda penyerap dimana terjadi suatu
ikatan kimia Iisik antara substansi dengan zat penyerap. Karena keduanya sering
muncul bersamaan dalam suatu proses maka ada yang menyebut sorbsi, baik adsorbsi
sebagai sorbsi yang terjadi pada karbon aktiI maupun padatan lainnya. Namun unit
operasinya dikenal sebagai adsorbsi. Adapun adsorbsi dapat dikelompokan menjadi
dua:
a. Adsorbsi Iisik yaitu terutama terjadi adanya gaya van der walls dan
berlangsung bolak-balik. Ketika gaya tarik-menarik molekul antara zat
terlarut dengan adsorben lebih besar dari gaya tarik-menarik zat terlarut
dengan pelarut, maka zat terlarut akan teradsorbsi diatas permukaan adsorben.
b. Adsorbsi kimia yaitu reaksi kimia yang terjadi antara zat padat dengan
adsorbat larut dan reaksi ini tidak berlangsung bolak-balik.

Proses adsorbsi dapat digambarkan sebagai proses dimana molekul
meninggalkan larutan dan menempel pada permukaan zat adsorben akibat kimia
dan Iisika (Reynolds, 1982). Pada proses adsorbsi terhadap air limbah mempunyai
empat tahapan antara lain:
1. TransIer molekul-molekul adsorbad menuju lapisan Iilm yang mengelilingi
adsorben.
2. DiIusi adsorbad melalui lapisan Iilm (Iilm diIIusin process).
3. DiIusi adsorbad melalui kapiler atau pori-pori dalam adsorben (pore
diIIusion).
4. Adsorbsi adsorbat pada dinding kapiler atau permukaan adsorben (proses
adsorbsi sebenarnya)

Bahan penyerap merupakan suatu padatan yang mempunyai siIat mengikat
molekul pada permukaannya dan siIat ini menonjol pada padatan yang berpori-
pori. Semakin halus atau kecil ukuran partikel adsorben, semakin luas
permukaannya dan daya serap semakin besar. Beberapa siIat yang harus dipenuhi
oleh zat penyerap yaitu:
1. Mempunyai luas permukaan yang besar.
2. Berpori-pori
3. AktiI dan murni
4. Tidak bereaksi dengan zat yang akan diserap.

Adapun Iaktor yang mempengaruhi kapasitas adsorbsi yaitu:
1. Luas permukaan adsorben.
Semakin luas permukaan adsorben, semakin banyak adsorbat yang dapat
diserap, sehingga proses adsorbsi dapat semakin eIektiI. Semakin kecil ukuran
diameter partikel maka semakin luas permukaan adsorben.
2. Ukuran partikel
Makin kecil ukuran partikel yang digunakan maka semakin besar
kecepatan adsorbsinya. Ukuran diameter dalam bentuk butir adalah lebih dari 0.1
mm, sedangkan ukuran diameter dalam bentuk serbuk adalah 200 mesh
(Tchobanoglous, 1991).
3. Waktu kontak
Waktu kontak merupakan suatu hal yang sangat menentukan dalam proses
adsorbsi. Waktu kontak yang lebih lama memungkinkan proses diIusi dan
penempelan molekul adsorbat berlangsung lebih baik. Konsentrasi zat-zat organik
akan turun apabila waktu kontaknya cukup dan waktu kontak berkisar 10 15
menit (Reynolds, 1982).
4. Distribusi ukuran pori
Distribusi pori akan mempengaruhi distribusi ukuran molekul adsorbat
yang masuk kedalam partikel adsorben.

Pada proses pengolahan air biasanya menggunakan karbon aktiI sebagai
adsorben. Karbon berpori atau lebih dikenal dengan nama karbon aktiI, digunakan
sebagai adsorben untuk menghilangkan warna, pengolahan limbah, pemurnian air.
Karbon aktiI akan membentuk amorI yang sebagian besar terdiri dari karbon
bebas dan memiliki permukaan dalam yang berongga, warna hitam, tidak berbau,
tidak berasa, dan mempunyai daya serap yang jauh lebih besar dibandingkan
dengan karbon yang belum menjalani proses aktivasi.
Pada abad XV, diketahui bahwa karbon aktiI dapat dihasilkan melalui
komposisi kayu dan dapat digunakan sebagai adsorben warna dari larutan.
Aplikasi komersial, baru dikembangkan pada tahun 1974 yaitu pada industri gula
sebagai pemucat, dan menjadi sangat terkenal karena kemampuannya menyerap
uap gas beracun yang digunakan pada Perang Dunia I.
Karbon aktiI merupakan senyawa karbon, yang dapat dihasilkan dari
bahan-bahan yang mengandung karbon atau dari arang yang diperlakukan dengan
cara khusus untuk mendapatkan permukaan yang lebih luas. Luas permukaan
karbon aktiI berkisar antara 300-3500 m2/gram dan ini berhubungan dengan
struktur pori internal yang menyebabkan karbon aktiI mempunyai siIat sebagai
adsorben. Karbon aktiI dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia
tertentu atau siIat adsorpsinya selektiI, tergantung pada besar atau volume pori-
pori dan luas permukaan.
Karbon aktiI dibagi atas 2 tipe, yaitu karbon aktiI sebagai pemucat dan
sebagai penyerap uap. Karbon aktiI sebagai pemucat, biasanya berbentuk powder
yang sangat halus, diameter pori mencapai 1000A0, digunakan dalam Iase cair,
berIungsi untuk memindahkan zat-zat penganggu yang menyebabkan warna dan
bau yang tidak diharapkan, membebaskan pelarut dari zat-zat penganggu dan
kegunaan lain yaitu pada industri kimia dan industri baru. Diperoleh dari serbuk-
serbuk gergaji, ampas pembuatan kertas atau dari bahan baku yang mempunyai
densitas kecil dan mempunyai struktur yang lemah. Karbon aktiI sebagai
penyerap uap, biasanya berbentuk granular atau pellet yang sangat keras diameter
pori berkisar antara 10-200 A0, tipe pori lebih halus, digunakan dalam rase gas,
berIungsi untuk memperoleh kembali pelarut, katalis, pemisahan dan pemurnian
gas. Diperoleh dari tempurung kelapa, tulang, batu bata atau bahan baku yang
mempunyai bahan baku yang mempunyai struktur keras.
Penggunaan karbon aktiI biasanya dilakukan sebagai suatu proses
kelanjutan dari proses Iiltrasi tahap ini dilakukan untuk mengurangi dari benda-
benda organik terlarut dan tersuspensi di dalam air baku. Ada tiga bentuk dari
karbon aktiI yang umum dikenal dipasaran diantaranya:
- ranular Activated Carbon (GAC)
- !owder Activated Carbon (PAC)
- !elet Activated Carbon

Masing-masing bentuk memilki Iungsi tersendiri. Dalam pengolahan air
biasanya menggunakan karbon aktiI yang berbentuk granul atau ranular
Activated Carbon (GAC) hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam
pencucian.
(12)
Permasalahan utama dari penggunaan karbon aktiI bentuk ini
dibandingkan dengan !owder Activated Carbon (PAC) yaitu terjadinya
penyumbatan oleh suspended solid (bahan padat tersuspensi) dari air. Penggunaan
karbon berbentuk serbuk memberikan eIisiensi pengolahan yang baik namun
memberikan masalah dalam regenerasi karbon dan pembuangan sisa akhirnya.
!owder Activated Carbon (PAC) mempunyai daya adsorpsi yang lebih cepat dari
pada karbon butir terutama zat organik terlarut.
(1)

Namun dalam kaitannya dengan penggunaan media Iiltrasi, selain mudah
didapat dan mudah diaplikasikan, penggunaan karbon aktiI granular menjadi
prioritas karena karbon aktiI granular menjadi prioritas karena karbon aktiI
memiliki daya aIinitas yang kuat terhadap materi organik dan eIektiI untuk
penyisihan polutan organik. Secara umum permukaan karbon aktiI bersiIat non
polar dan siIat ini membuat adsorpsi elektrolit anorganik sulit dan mudah untuk
absorpsi organik.
(1)
Cara kerja karbon aktiI granular ditunjukan pada gambar 2.1.






Gambar 2.1 Cara Kerja Cranular Activated Carbon (GAC)
$umber . Handbook of Water and Wastewater Treatment Technologies,2002

SiIat karbon aktiI yang paling penting adalah daya serap. Dalam hal ini,
ada beberapa Iaktor yang mempengaruhi daya serap adsorpsi, yaitu :
SiIat Adsorben
Karbon aktiI yang merupakan adsorben adalah suatu padatan berpori, yang
sebagian besar terdiri dari unsur karbon bebas dan masing- masing berikatan
secara kovalen. Dengan demikian, permukaan arang aktiI bersiIat non polar.
Selain komposisi dan polaritas, struktur pori juga merupakan Iaktor yang penting
diperhatikan. Struktur pori berhubungan dengan luas permukaan, semakin kecil
pori-pori arang aktiI, mengakibatkan luas permukaan semakin besar. Dengan
demikian kecepatan adsorpsi bertambah. Untuk meningkatkan kecepatan adsorpsi,
dianjurkan agar menggunakan karbon aktiI yang telah dihaluskan. Jumlah atau
dosis karbon aktiI yang digunakan, juga diperhatikan.
SiIat Serapan
Banyak senyawa yang dapat diadsorpsi oleh karbon aktiI, tetapi
kemampuannya untuk mengadsorpsi berbeda untuk masing-masing senyawa.
Adsorpsi akan bertambah besar sesuai dengan bertambahnya ukuran molekul
serapan dari sturktur yang sama, seperti dalam deret homolog. Adsorsi juga
dipengaruhi oleh gugus Iungsi, posisi gugus Iungsi, ikatan rangkap, struktur rantai
dari senyawa serapan.
Temperatur
Dalam pemakaian karbon aktiI dianjurkan untuk menyelidiki. temperatur
pada saat berlangsungnya proses. Karena tidak ada peraturan umum yang
biasanya diberikan mengenai temperatur yang digunakan dalam adsorpsi. Faktor
yang mempengaruhi temperatur proses adsoprsi adalah viskositas dan stabilitas
thermal senyawa serapan. Jika pemanasan tidak mempengaruhi siIat-siIat senyawa
serapan, seperti terjadi perubahan warna mau dekomposisi, maka perlakuan
dilakukan pada titik didihnya. Untuk senyawa volatil, adsorpsi dilakukan pada
temperatur kamar atau bila memungkinkan pada temperatur yang lebih kecil.
pH (Derajat Keasaman)
Untuk asam-asam organik adsorpsi akan meningkat bila pH diturunkan,
yaitu dengan penambahan asam-asam mineral. Hal ini disebabkan karena
kemampuan asam mineral untuk mengurangi ionisasi asam organik tersebut.
Sebaliknya bila pH asam organik dinaikkan yaitu dengan menambahkan alkali,
adsorpsi akan berkurang sebagai akibat terbentuknya garam.
Waktu Kontak
Bila karbon aktiI ditambahkan dalam suatu cairan, dibutuhkan waktu
untuk mencapai kesetimbangan. Waktu yang dibutuhkan berbanding terbalik
dengan jumlah yang digunakan. Waktu yang dibutuhkan ditentukan oleh dosis
karbon aktiI, pengadukan juga mempengaruhi waktu kontak. Pengadukan
dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada partikel arang aktiI untuk
bersinggungan dengan senyawa serapan. Untuk larutan yang mempunyai
viskositas tinggi, dibutuhkan waktu singgung yang lebih lama.
Struktur pori adalah Iaktor utama dalam proses adsorpsi. Distribusi ukuran
pori menentukan distribusi molekul yang masuk dalam partikel karbon untuk
diadsorp. Molekul yang berukuran besar dapat menutup jalan masuk ke dalam
micropore sehingga membuat area permukaan yang tersedia untuk mengadsorp
menjadi sia-sia. Karena bentuk molekul yang tidak beraturan dan pergerakan
molekul yang konstan, pada umumnya molekul yang lebih dapat menembus
kapiler yang ukurannya lebih kecil juga.

2.4Desinfeksi
Bahaya atau resiko kesehatan yang berhubungan dengan pencemaran air
secara umum dapat diklasiIikasikan menjadi dua yakni bahaya langsung dan
bahaya tak langsung. Bahaya langsung terhadap kesehatan manusia/masyarakat
dapat terjadi akibat mengkonsumsi air yang tercemar atau air dengan kualitas
yang buruk, baik secara langsung diminum atau melalui makanan, dan akibat
penggunakaan air yang tercemar untuk berbagai kegiatan sehari-hari untuk
misalnya mencuci peralatan makan dll, atau akibat penggunaan air untuk rekreasi.
Bahaya terhadap kesehatan masyarakat dapat juga diakibatkan oleh berbagai
dampak kegiatan industri dan pertanian. Sedangkan bahaya tak langsung dapat
terjadi misalnya akibat mengkonsumsi hasil perikanan dimana produk-produk
tersebut dapat mengakumulasi zat-zat polutan berbahaya.
Pencemaran air khususnya air minum oleh virus, bakteri patogen, dan
parasit lainnya, atau oleh zat kimia, dapat terjadi pada sumber air bakunya,
ataupun terjadi pada saat pengaliran air olahan dari pusat pengolahan ke
konsumen. Di beberapa negara yang sedang membangun, termasuk di Indonesia,
sungai, danau, kolam (situ) dan kanal sering digunakan untuk berbagai kegunaan,
misalnya untuk mandi, mencuci pakaian, untuk tempat pembuangan kotoran
(tinja), sehingga badan air menjadi tercemar berat oleh virus, bakteri patogen serta
parasit lainnya.
DesinIeksi merupakan tahap akhir dari suatu pengolahan air yang
bertujuan untuk mematikan bakteri patogen yang masih ada di dalam air olahan.
Mekanisme penghilangannya dipengaruhi oleh kondisi desinIektan dan jumlah
bakteri itu sendiri. Ada banyak cara yang sering dilakukan untuk mematikan
bakteri patogen yang ada di dalam air, diantaranya dengan radiasi, pemanasan
ataupun dengan penambahan zat kimia (Persatuan Perusahaan Air Minum, 2002).
Cara radiasi dan pemanasan cukup ampuh untuk mematikan bakteri
patogen yang ada di dalam air, namun cara ini umumnya membutuhkan biaya
yang cukup tinggi baik dalam hal perawatan maupun pemasangan alat. Biasanya
untuk jumlah air yang relatiI banyak desinIeksi dilakukan dengan penambahan zat
kimia, karena cara ini relatiI murah dan mudah dalam aplikasinya di lapangan
(Peraturan Perusahaan Air Minum, 2002)
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan kimia
untuk desinIeksi diantaranya :
- Daya racun zat kimia
- Waktu kontak yang diperlukan
- EIektivitas
- Dosis
- Harga



DesinIektan yang sering digunakan adalah tablet klorin atau asam
hipoklorita (kaporit) berikut adalah rekasi yang terjadi :





HOCl dan OCl- disebut free available chlorine (klor bebas) dengan daya
bunuh HOCl 40-80 kali lebih besar dari daya bunuh OCl
-
. Jika dalam air terdapat
amina maka HOCl akan bereaksi membentuk kloramin.








Ketiga kloramin dikenal sebagai combined available chlorine, juga
bersiIat sebagai desinIektan walaupun tidak sekuat kaporit. Apabila desinIektan
diberikan pada dosis yang cukup besar dan waktu kontak yang lama, maka daya
toksik dari desinIektan akan meningkat.
Daya toksik desinIektan C x t
C konsentrasi (mg/Liter)
t waktu kontak

2.4.1 Faktor yang berpengaruh terhadap proses desinIeksi
2.4.1.1Jenis desinIektan
EIisiensi desinIektan tergantung pada jenis bahan kimia yang dignakan,
beberapa desinIektan seperti ozon dan khlorine dioksida merupakan oksidator
yang kuat dibandingkan dengan yang lainnya seperti khlorine.
kaporit
Ca(OCl
2
) Ca
2
2OCl
-

HOCl
H

2OCl
-


monochloroamin
H
2
O
NH
2
Cl
NH
3
HOCl

dichloroamin
H
2
O
NHCl
2

NH
2
Cl HOCl

trichloroamin
H
2
O
NHCl
3

NHCl
2
HOCl
2.4.1.2Jenis mikroorganisme
Di alam terdapat banyak sekali variasi mikroba patogen yang resisten terhadap
desinIektan. Bakteri pembentuk spora umumnya lebih resistan terhadap desinIektan
dibandingkan bakteri vegetatiI. Terdapat juga variasi dari bakteri vegetatiI yang resisten
terhadap desinIektan dan juga diantara strain yang termasuk dalam spesies yang sama.
Sebagai contoh egionella pneumophila lebih resisten terhadap khlorine dibandingkan
E.coli. Secara umum resistenti terhadap resistansi berurutan sebagai berikut: bakteri
vegetatiI virus enteric bakteri pembentuk spora spore-forming bacteria kista
protozoa.

2.4.1.3 Konsentrasi desinIektan dan waktu kontak
Inaktivasi mikroorganisme patogen oleh senyawa desinIektan bertambah sesuai
dengan waktu kontak, dan idealnya mengikuti kinetika reaksi orde satu. Inaktivasi
terhadap waktu mengikuti garis lurus apabila data diplot pada kertas log-log.



No jumlah mikroorganisme pada waktu 0
Nt jumlah mikroorganisme pada waktu t
k decay constant atau konstanta pemusnahan (waktu
-1
)
t waktu

EIektiIitas desinIektan dapat digambarkan sebagai C.t. C adalah
konsentrasi desinIektan dan t adalah waktu yang diperlukan untuk proses
inaktivasi sejumlah presentasi tertentu dari populasi pada kondisi tertentu (pH dan
suhu). Hubungan antara konsentrasi desinIektan dengan waktu kontak diberikan
oleh hukum Watson sebagai berikut (Chark, 1989)
K C
n
t
Dimana:
K Konstanta mikroorganisme tertentu yang terpapar desinIektan pada kondisi
tertentu.
C Konsentrasi desinIektan (mg/l)
t Waktu yang diperlukan untuk memusnahkan persentasi tertentu dari populasi
(menit)
n Konstanta yang disebut koeIisien pelarutan.

2.4.1.4Pengaruh pH
Dalam hal desinIeksi dengan senyawa khlor, pH akan mengontrol jumlah
HOCl (asam hypokhlorit) dan OCl
-
(hypokhlorit) dalam larutan. HOCl 80 kali
lebih eIektiI dari pada OCl
-
untuk E.Coli. Di dalam proses desinIeksi dengan
khlor, harga Ct meningkat sejalan dengan kenaikan pH. Sebaliknya inaktivasi
bakteria, virus, dan kista protozoa pada umumnya lebih eIektiI pada pH tinggi.
Pengaruh pH pada inaktivasi mikroba dengan khloramin tidak diketahui secara
pasti karena adanya hasil yang bertentangan. Pengaruh pH pada inaktivasi
patogen dengan ozon juga belum banyak diketahui dengan pasti.

2.4.1.5Temperatur
Inaktivasi patogen dan parasit meningkat sejalan dengan meningkatnya
temperatur.

2.4.1.6Pengaruh kimia dan Iisika pada desinIeksi
Beberapa senyawa kimia yang dapat mempengaruhi proses desinIeksi
antara lain adalah senyawa nitrogen anorganik maupun organik, besi, mangan dan
hidrogen sulIida. Senyawa organik terlarut juga menambah kebutuhan khlor dan
keberadaannya menyebabkan penurunan eIisiensi proses desinIeksi.
Kekeruhan dalam air disebabkan adanya senyawa anorganik (misal
lumpur, tanah liat, oksida besi) dan zat organik serta sel-sel mikroba. Kekeruhan
diukur dengan adanya pantulan cahaya (light scattering) oleh partikel dalam air.
Hal ini dapat mengganggu pengamatan coliIorm dalam air, disamping itu
kekeruhan dapat menurunkan eIisiensi khlor maupun senyawa desinIektan yang
lain.
Kekeruhan (turbidy) harus dihilangkan karena mikroorganisme yang
bergabung partikel yang ada di dalam air akan lebih resistan terhadap desinIektan
dibandingkan dengan mikroorganisme yang bebas. Gabungan Total Organic
Carbon (TOC) dengan kekeruhan akan menaikkan kebutuhan khlor.
Mikroorganisme jika bergabung dengan zat kotoran manusia, sampah dan padatan
air buangan akan tahan terhadap desinIektan. Penemuan ini penting untuk
masyarakat mengolah air hanya dengan khlorinasi.
EIek proteksi dari partikel di dalam air terhadap ketahanan
mikroorganisme di dalam proses desinIeksi tergantung pada ukuran dan siIat
alami dari partikel tersebut. sel yang bergabung dengan poliovirus lebih tahan
terhadap inaktivasi khlor, sedangkan bentonine dan alumunium phospat bila
bergabung dengan virus tidak memberikan eIek proteksi seperti tersebut di atas.
Virus dan bakteri yang bergabung dengan bentonite tidak tahan terhadap
inaktivasi ozon. Studi di lapangan menunjukan virus yang bergabung dengan
padatan lebih tahan terhadap khlor dari pada keadaan bebas. Menurunkan
kekeruhan ke tingkat lebih kecil dari 0,1 NTU dapat menjadi ukuran untuk
menghidari eIek proteksi dari partikel pada saat proses desinIeksi.

2.4.1.7Faktor lain
Beberapa studi menunjukkan bahwa patogen dan indikator bakteri yang
ditumbuhkan di laboratorium lebih sensitiI terhadap desinIektan dari pada yang
berada di alam. lavobacterium yang berada di alam 200 kali lebih tahan terhadap
khlor dari pada yang dibiakkan di laboratorium. Klebsiella pneumoniae lebih
tahan terhadap khloramin apabila tumbuh pada kondisi nutrient rendah.
penambahan ketahanan terhadap khloramin disebabkan oleh beberapa Iaktor
physiological, misal penambahan pengelompokan sel dan produksi extracellular
polymer. Perubahan membran lipid, dan zat perusak seperti desinIektan, mungkin
pula disebabkan oleh synthesis dari protein tertekan, namun prosesnya tidak dapat
dimengerti. Fenomenanya masih menjadi tanda tanya karena tidak bergunanya dat
desinIeksi di laboratorium untuk mengamati inaktivasi patogen pada keadaan di
lapangan.
Paparan pertama dapat menambah ketahanan mikroba terhadap
desinIektan. Paparan pengulangan mikroorganisme pada khlor menghasilkan
adanya bakteri dan virus tertentu yang tahan terhadap desinIektan. Penggumpalan/
penggabungan mikroorganisme patogen umumnya mengurangi eIisiensi
desinIektan. Sel bakterial, partikel viral dan kista protozoa di dalam gumpalan
sangat terlindung dari aksi desinIektan (Chen, 1985).