P. 1
ANAK_HARIMAU

ANAK_HARIMAU

|Views: 175|Likes:
Dipublikasikan oleh Golok Pembunuh Sapi

More info:

Published by: Golok Pembunuh Sapi on Nov 08, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/20/2014

pdf

text

original

1

ANAK HARIMAU Oleh Siauw Siauw
KUBURAN KUNO DI TENGAH HUTAN Matahari bersinar cerah menyoroti telaga Huan-yang ou yang beriak karena hembusan angin, udara tampak cerah dan bersih, udara di musim gugur memang terasa lebih nyaman dan semilir. Sebuah perkampungan nelayan berdiri di tepi telaga, rumah bambu yang berjajar di antara sela-sela dedaunan nan hijau tampak berderet memanjang menampilkan suatu pemandangan yang indah. Sepanjang bendungan tampak jala yang dibentangkan di bawah terik matahari, nona-nona muda duduk berkumpul di bawah pohon yang rindang sambil menambal jala-jala yang robek. Kaum wanita dan ibu-ibu sedang mencuci pakaian di tepi telaga, sedang anak-anak saling berkejaran diiringi teriakan dan jeritan gembira. Saat itu, sekumpulan gadis nelayan sedang duduk berkerumun sambil membicarakan seorang tamu dari utara yang menginap di rumah Thio lopek, seorang kakek yang ramah bersama seorang gadis yang cantik dan se-orang anak lelaki berkulit hitam.... Tampaklah seorang gadis nelayan berbaju hijau yang berambut kepang, sambil menghentikan sulamannya memandang ke arah seorang gadis berbaju kembang-kembang di hadapannya sana, kemudian berseru: "Enci Ing cun, nampaknya sahabat dari Thio lopek adalah seorang yang berwajah hokki, coba lihat rambutnya yang putih, jenggotnya yang berwarna perak, kalau berjalan halus dan lembut, tidak seperti Thio lopek, mana matanya segede jengkol, alis matanya tebal, kumisnya malang melintang, hiiih, mengerikan ...." "Aaah, Ji-niu, masa kau tidak tahu? Thio Lopek kan seorang jago silat sedang tamu dari utara ia orang sekolahan, tentu saja berbeda," sela seorang nona bercelana hijau. Seorang nona berumur lima enam belas tahun lainnya ikut menimbrung dengan wajah serius. "Aku rasa tamu dari utara itupun seorang ahli silat, buktinya setiap kali ke tiga putra Thio lopek beradu silat dengan si bocah jaliteng dari utara itu, yang kalah selalu ke tiga putra Thio lopek " "Yaa.... yaa, betul, apa yang dikatakan adik Kim-hoa memang benar," gadis nelayan yang bernama Ing-cun itu berseru ce-pat: "apalagi si nona cantik dari utara itu, mana bajunya serba merah, cantik lagi, hakekatnya

2

seperti cabe merah. Sekali melompat ke atas, atap rumah orangpun dilalui. . ." Belum habis dia berbicara, mendadak dari arah dusun sana terdengar suara bentakan gusar. Diikuti sekumpulan anak-anak desa bersorak sorai dan berlarian menuju ke dalam hutan bambu di tepi dusun. Nona-nona nelayan itu segera melongok bersama ke arah hutan bambu, kemudian salah seorang diantaranya berseru sambil tertawa: "Nampaknya ke tiga orang putra Thio Lopek lagi-lagi menantang si Jaliteng untuk berduel!" Belum habis dia berbicara, sorak sorai anak-anak dusun itu kembali berkumandang dari balik hutan bambu. Mendengar sorakan itu, nona-nona nelayan itu saling berpandangan sambil tertawa, seakan akan mereka berkata: "Sudah pasti Thio Toa-keng anaknya Thio lopek kena dibanting lagi oleh si Jaliteng!" Mendadak mencorong sinar terang dari balik mata seorang nona nelayan, lalu jeritnya kaget: "Hei, coba kalian lihat!" Ketika semua orang berpaling, tampaklah dari atas tanggul telaga lebih kurang puluhan kaki di depan sana, muncul sesosok bayangan kecil yang mengenakan jubah panjang. Tapi oleh karena ilalang yang tumbuh di sekitar tanggul amat tinggi dan bergoyang terhembus angin, maka bayangan itu tidak nampak jelas, tapi mereka yakin kalau orang itu adalah seorang sekolahan dari kota, sebab di seluruh dusun nelayan itu tak pernah dijumpai ada orang yang mengenakan jubah panjang. Lambat laun bayangan itu makin mendekat, sekarang baru terlihat jelas, ternyata bayangan kecil itu adalah seorang bocah lelaki berbaju biru. Bocah lelaki itu berusia lima enam belas tahunan, berwajah tampan dan bergigi putih, tubuhnya tegap dan mukanya ganteng, sungguh nampak menarik hati. Terutama sekali sepasang biji matanya yang jeli, penuh dengan pancaran sinar kecerdasan. Ujung bajunya yang berwarna biru berkibar terhembus angin, sedang sorot matanya yang jeli memandang ke sana ke mari, agaknya dia sedang menikmati keindahan alam di sekitar telaga. Wajahnya yang tampan tampak berubah ubah, sementara keningnya kadangkala berkerut, kadangkala pula senyuman menghiasi bibirnya.

3

Dengan terkesima, kawanan gadis nelayan itu memperhatikan wajah pemuda itu, seakan akan mereka sedang menyaksikan sesuatu yang sangat indah. Sebaliknya pemuda itu seakan akan tak pernah melihat kalau di bawah pohon yang rindang, duduk sekelompok gadis nelayan yang sedang memperhatikannya. Karena waktu itu dia sedang melamun, ia sedang berpikir bagaimana dia harus melaporkan kisah perjumpaannya dengan bibi Wan kepada ayahnya sesudah tiba di dalam kuburan kuno di tengah hutan nanti, Teringat akan keagungan wajah Bibi Wan nya itu, kembali sepasang alis matanya berkerut. Ia tidak tahu kalau ayahnya masih mempunyai seorang adik perempuan yang sudah setengah umur namun berwajah cantik, bahkan ibunya yang telah meninggal lima tahun berselangpun tak pernah membicarakan tentang soal ini, hal mana membuatnya merasa bingung dan tak habis mengerti. Dia pun tak tahu apa isi kotak kecil yang diperintahkan oleh ayahnya untuk diserah-kan kepada Bibi Wan, tapi kalau dilihat dari sikap ayahnya ketika berpesan sebelum berangkat, dapat dipastikan isi kotak tersebut tentu barang berharga. Tapi kalau membayangkan sikap tegang dan gugup yang terpancar dari wajah Bibi Wan setelah menyaksikan isi kotak itu, dapat diduga pula kalau benda itu adalah sebuah benda yang luar biasa. Mendadak ia tertawa lagi, mukanya kembali berseri, hatinya menjadi riang gembira lagi. Sebab dia terbayang pula dengan Ciu Siau cian, putri tunggal Bibi Wan nya itu. Enci Cian berusia setengah tahun lebih tua, mukanya putih halus, wajahnya cantik jelita, dia adalah seorang gadis cantik, yang alim dan baik hati. Selama tiga hari dia berada di rumah bibi nya, gadis itu jarang tertawa atau berbicara tapi perhatian terhadap dirinya amat besar. Sekalipun ia jarang berbincang-bincang dengan Enci Cian, ketika ia sedang duduk di sisinya. duduk membungkam sambil menikmati kecantikan wajahnya dan keanggunan sikapnya. Terutama sekali sepasang mata Enci Cian yang jeli dengan alis mata yang lentik, membuat siapa saja yang memandangnya merasa amat nyaman--Sorak sorai serombongan anak dusun dengan cepat membuat pemuda berbaju biru itu mendusin kembali dari lamunannya.

4

Ia lantas mendongakkan kepalanya ke depan, dijumpai nya serombongan anak sebaya dengan usianya sedang berteriak, bersorak dan menggoyang-goyangkan tangannya di dalam hutan bambu... Rasa ingin tahu dan dorongan sifat ke kanak-kanakannya membuat pemuda itu berjalan, menuju ke hutan tanpa terasa. Tapi baru berapa langkah kembali dia menjadi ragu, karena pesan dari Bibi Wan kembali mendengung di sisi telinganya. "..langsung pulanglah ke rumah, jangan berhenti di tengah jalan lagi..." Maka dia hanya melirik sekejap ke arah hutan bambu, kemudian melanjutkan kembali perjalanannya Dia masih ingat, setelah melewati dusun nelayan itu, dia harus menelusuri sebuah jalan setapak di arah barat laut sana. Mendadak terdengar suara bentakan gusar menggema di dalam hutan, diikuti anak-anak dusun yang sedang bersorak sorai itu membuyarkan diri ke mana-mana. Tak tahan pemuda berbaju biru itu segera berpaling, dengan cepat ia menjumpai. seorang anak lelaki berkulit hitam dan berbaju hitam, berusia paling banyak empat belas tahun terlempar ke luar dari balik hutan bambu. Menyusul kemudian muncul tiga orang anak dusun yang berperawakan lebih besar dari anak berkulit hitam itu dengan mata melotot, mereka menyusul ke luar sambil mengepalkan tinjunya. Dasar pemuda berbaju biru ini memang berjiwa pendekar, hawa amarahnya segera berkobar sesudah menyaksikan kejadian itu, dia lupa dengan pesan bibi Wan, dengan suara lantang bentaknya: "Cepat berhenti, masa kalian bertiga mengerubuti satu orang? Huuh, tak tahu malu." Sambil membentak, ia turut menubruk ke muka. Serentak empat orang anak yang sedang berkelahi segera berhenti saling memukul, sedang anak-anak nakal yang berada di se-kitar hutan bambupun sama-sama mengalihkan sorot mata mereka yang terkejut ke arah pemuda baju biru itu. Menanti pemuda berbaju biru itu semakin mendekat, ia baru merasa kalau keadaan agak kurang beres, sebab empat orang anak yang berkelahi tadi kecuali seorang anak bertubuh agak besar yang sedang melotot gusar ke arahnya, tiga orang yang lain telah berdiri berjajar sambil tertawa. Tergerak hati pemuda baju biru itu dan ia segera menahan gerak terjangannya. "Aaah, jangan-jangan mereka sedang bermain-main?" demikian dia lantas berpikir.

5

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, anak yang melotot gusar telah maju menghampirinya dengan sepasang kepalannya dikepalkan kencang-kencang. Pemuda berbaju biru itu sangat menyesal, ia merasa tidak seharusnya mencampuri urusan orang lain, tapi hatinya mendongkol juga setelah melihat tampang anak desa yang jumawa itu. Setibanya satu kaki di hadapannya, anak dusun itu melotot gusar ke arah pemuda berbaju biru itu. kemudian tegurnya dengan suara dalam: "Hei, kau datang dari mana? Mau ikut-ikutan yaa?" Pemuda berbaju biru itu berdiri tenang, tapi melihat sepasang kaki lawan bersikap dalam bentuk kuda-kuda, sepasang tinjunya dikepal kencangkencang, jelas ia bermak-sud hendak berkelahi, amarahnya makin berkobar. Ia mencoba berpaling ke arah bocah dusun yang lain, dua orang anak yang terlibat dalam perkelahian tadi, seorang anak berbadan gemuk seperti babi kecil, dan seorang anak kurus seperti monyet sedang tertawa haha hihi sambil berbisik-bisik dengan anak berkulit hitam itu. Sementara dia masih mengamati anak-anak itu, si anak dusun yang menantangnya telah membentak keras: "Hai, aku bertanya kepadamu datang dari mana, mengapa kau tidak menjawab?" Pemuda berbaju biru itu menjawab de-ngan hati mendongkol. "Aku datang dari mana, apa urusannya denganmu?" Didamprat dengan pedas, anak dusun itu jadi terbelalak dengan wajah merah padam. Sedang anak-anak dusun lainnya yang berada di sekitar hutan segera tertawa terbahak-bahak mentertawakannya. Salah seorang di antaranya, seorang anak berbaju robek segera mengejek ke arah anak dusun itu. "Hmm, Thio Toa-keng, biasanya kau cuma berani menganiaya kami, coba rasain hari ini---" Dengan gemas Thio Toa-keng melotot sekejap ke arah anak berbaju robek itu, kemudian kepada si pemuda berbaju biru teriaknya lagi: "Kalau memang tak ada sangkut pautnya, mengapa pula kau datang mengacau permainan kami?" Agak memerah juga wajah si pemuda baju biru itu. tapi ia berteriak pula dengan mendongkol: "Belum pernah kujumpai orang yang tak tahu aturan seperti kau.. " Kemudian setelah melotot sinis ke arah Thio Toa-keng, dia membalikkan badan siap akan pergi.

6

Karena dia teringat lagi dengan pesan Bibi Wan nya, maka ia tak berani berada terlalu lama di situ. Suatu bentakan keras tiba-tiba menggema memecahkan kesunyian itu, angin menderu-deru dan sesosok bayangan manusia telah menghadang di depan lelaki berbaju biru itu. Dengan perasaan gusar pemuda berbaju biru itu mundur ke belakang, belum sempat ia menegur, anak-anak dusun lainnya telah bersorak sorai. "Hoooree--- hooooree-- Enci Soat telah datang, Enci Soat telah datang- -" Serta merta pemuda berbaju biru itu berpaling, dia saksikan sesosok bayangan merah berkelebat lewat dari balik hutan bambu, lalu di depan kawanan anak dusun itu telah berdiri seorang anak perempuan berbaju merah darah yang menyoren pedang pendek. Anak perempuan berbaju merah itu berumur empat lima belas tahun, mukanya yang putih berbentuk potongan kwaci, matanya jeli dan besar, hidungnya mancung, bibirnya tipis, di atas rambutnya yang panjang tampak sebuah pita berbentuk kupu-kupu. Sarung pedang di punggungnya berwarna merah menyala, sepatunya juga berwarna merah dengan sepasang bola merah di ujung sepatu tersebut. Dengan kening berkerut dan bertolak pinggang, nona cilik itu sedang mengawasi si pemuda berbaju biru dengan sorot mata tajam. Pemuda baju biru itupun sedang menatap ke arahnya, dia hanya merasa dari balik hutan bambu muncul sebuah bola api dan tahu-tahu di depan matanya telah bertambah dengan seorang gadis baju merah yang kelihatan binal dan sukar dihadapi. "Lebih baik aku cepat-cepat meninggalkan tempat ini---" demikian ia berpikir. Tapi baru saja ingatan itu sempat melintas dalam benaknya. dari arah belakang telah terdengar suara bentakan lagi. "Siauya sedang mengajakmu berbicara, mengapa kau tidak menggubris---?" Begitu selesai membentak. angin tajam sudah menyambar ke punggungnya. Dengan cekatan pemuda berbaju biru itu berpaling, ia saksikan Thio Toa-keng sedang mengayunkan tinjunya sambil melotot marah. Pemuda berbaju biru tertawa dingin, ia segera miringkan badannya ke samping sambil menjatuhkan diri, lalu secepat kilat dia cengkeram pergelangan tangan Toa-keng. Kawanan anak dusun di sekitar hutan bambu menjerit kaget hampir bersamaan waktunya dengan ditangkapnya pergelangan tangan Thio Toakeng oleh bocah itu.

7

Thio Ji keng yang gemuk seperti babi kecil segera melotot gusar melihat kakaknya ditangkap orang bentaknya keras-keras. "Cepat lepas tangan . . . . " Di tengah bentakan keras tubuhnya me-nu-bruk ke depan, kepalannya langsung di ayunkan ke muka memukul kepala pemuda berbaju biru itu keras-keras. Dengan kening berkerut pemuda berbaju biru itu mendengus gusar, tangan kanannya yang menggenggam tangan Thio Toa-keng segera digetarkan keras-keras . . . "Duuk, duuk, duuk . . . " di tengah suara langkah kaki yang mundur ke belakang Thio Toa-keng merintih sambil meringis menahan kesakitan, sementara sepasang tangannya diayunkan kesana ke mari berusaha untuk menjaga keseimbangan badannya. Angin berhembus lewat, kepalan kecil dari Thio Ji-keng si anak berbadan gemuk seperti babi telah meluncur datang. Pemuda berbaju biru itu tidak gugup atau panik, dia segera merendahkan kepala sambil membuang bahu ke samping, lalu sambil maju ke depan dia bacok pergelangan tangan kanan Thio Ji-keng yang bulat gemuk dengan jurus Si gou huang gwat ( badak melihat rembulan). Pada saat itulah . . "Duuk. . . ! diiringi dengusan kesakitan. Thio Toa-keng yang terlempar mundur tak sanggup menjaga keseimbangan badannya lagi, ia terjatuh ke tanah lalu roboh terlentang dengan gaya empat kaki menghadap atas. Suara bentakan gusar dan jeritan kaget kembali bergema, pergelangan tangan kanan Thio Ji keng telah terpapas telak oleh bacokan bocah berbaju biru itu, sambil menahan kesakitan Thio Ji keng yang gemuk segera menerjang maju lebih ke depan. Dengan cekatan anak berbaju biru itu membalikkan badannya lalu melayang dua kaki ke samping. "Blaammm!" lantaran tenaga terjangan Thio Ji-keng kelewat besar dan ia tak sang-gup menahan tubuhnya, tak ampun tubuhnya terjerembab ke tanah dengan gaya "harimau lapar menubruk domba." Suasana di seluruh arena menjadi sepi, tiada orang yang bersorak sorai lagi, semua anak dusun itu berdiri terbelalak dengan wajah ketakutan, mereka bersama sama mengawasi pemuda berbaju biru itu dengan sorot mata terperanjat. Thio Sam keng yang kurus seperti monyet berdiri bodoh. sedang si jaliteng berdiri dengan mata melotot ke luar, diapun ter-perana dibuatnya.

8

Hanya si nona cilik berbaju merah yang masih berdiri sambil bertolak pinggang, sekulum senyuman acuh menghiasi bibirnya, sedang sorot mata yang dingin mengawasi pemuda berbaju biru itu tanpa berkedip. Agaknya Thio Toa-keng tahu kalau telah bertemu dengan "musuh tangguh". tanpa berbicara dia segera merangkak bangun, lalu sambil meraba pantatnya yang sakit dia menghampiri Thio Ji keng dan menarik bangun adiknya dari tanah. Tiba-tiba pemuda berbaju biru itu me-nyaksikan matahari telah condong ke barat dengan wajah gelisah dia lantas membalik-kan badan dan berlalu dari situ dengan langkah lebar. "Berhenti!" Nona cilik berbaju merah itu membentak keras. Sekali lagi pemuda berbaju biru itu merasa jengkel setelah mendengar bentakan yang dingin dan bernada memerintah itu, dia segera berhenti dan menengok ke arah si nona . . . . Tampak olehnya nona cilik berbaju merah itu berdiri dengan wajah tanpa emosi, matanya yang jeli menatap dingin ke arahnya, sikap maupun lagaknya amat angkuh dan jumawa. Dasar dalam hatinya sudah mangkel, melihat tampang seperti itu lagi, ibaratnya api bertemu bensin, kontan saja hawa amarah pemuda yang berbaju biru itu membara. Tapi dia kuatir ayahnya marah karena dia pulang terlambat, maka sambil menahan sa-bar katanya dengan suara dalam: "Ada urusan apa kau memanggilku?" Nona kecil berbaju merah itu melengos ke arah lain, sekejappun ia tidak memandang ke arahnya, kepada si anak berkulit hitam, pekat itu serunya dengan nada memerintah: "Adik Gou, kau coba kekuatannya!" Begitu nona cilik itu berseru, kawanan anak dusun di sekitar sana segera bersorak sorai, seolah-olah sedang memberi duku-ngan kepada si hitam tersebut: "Thio Toa-keng, Ji-keng dan Sam-keng juga tertawa senang sorot mata mereka me-man-carkan sinar harapan, mereka berharap si hitam bisa menghajar pemuda berbaju biru itu sampai babak belur, atau paling ti-dak bisa membalaskan sakit hati mereka. Anak hitam itu mengencangkan dulu ikat pinggangnya, lalu setelah menatap sekejap ke arah lawannya dengan sepasang biji mata yang hitam pekat, ia maju ke muka dengan langkah lebar. Sementara itu, si pemuda berbaju biru itu sudah melihat awan gelap di langit sebelah barat-daya, hatinya semakin gelisah, sebab dia tahu awan mendung telah menyelimuti langit yang makin gelap.

9

Dengan langkah tegap anak berkulit hitam itu telah tiba di hadapannya, mula-mula dia menjura lebih dulu, kemudian dengan bibirnya yang merah dia menegur; "Saudara, tolong tanya siapa namamu? Aku Wu Thi-gou mendapat perintah dari enci Soat untuk mencoba berapa jurus ilmu silatmu." Meski dalam hati pemuda berbaju biru itu merasa gelisah dan tak sabar, tapi dia tahu jika hari ini tidak unjuk gigi dan menentukan menang kalah, jangan harap dia bisa meninggalkan tempat itu. Maka ketika dilihatnya si anak berkulit hitam Wu Thi-gou bersikap sopan dan nampaknya seperti berpendidikan, mungkin murid seorang jago kenamaan, diapun balas memberi hormat. Sekalipun kukatakan namaku belum tentu kalian tahu, lebih baik tak usah di utarakan saja---" katanya tak sabar. Belum habis dia berkata, mendadak terdengar nona cilik berbaju merah itu menukas dengan suara dalam: "Sebutkan saja namamu, setelah kau ucapkan, bukankah kami akan mengetahuinya ?" Merah jengah selembar wajah pemuda berbaju biru itu, dengan gusar dia melotot sekejap ke arah gadis cilik itu, kemudian katanya kepada Wu Thigou: "Aku bernama Lan See-giok, cepatlah lan-carkan seranganmu!" Siau Thi-gou tidak sungkan lagi, sambil membentak dia lepaskan sebuah pukulan keras. Lan See-giok tahu bahwa si bocah hitam ini tak boleh dianggap enteng, dengan cekatan dia berkelit ke samping, kemudian mengayunkan telapak tangannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut. Apa yang diduga ternyata benar juga. baru saja Lan See-giok menggerakkan tubuhnya. permainan jurus serangan Siau Thi-gou (si kerbau baja kecil) segera berubah weess. weess! segulung angin tajam menyapu ke depan. dalam waktu singkat dia telah melancarkan lima buah serangan dahsyat. Untung saja Lan See-giok telah mempersiapkan diri sebelumnya, buruburu ia tangkis ancaman itu lalu berebut melepaskan serangan balasan, meski begitu, ia toh kena terdesak juga sampai mundur beberapa langkah dari posisi semula. Thio Toa-keng bersaudara. segera ber-sorak sorai kegirangan. Sedang anak-anak nakal lainnya ikut berteriak teriak sambil memberi semangat kepada kedua belah pihak, seakan akan mereka sedang menonton pertunjukan adu jago saja.

10

Si Nona berbaju merah pun tampak tertawa puas, dari balik bibirnya yang kecil mungil terlihat dua baris giginya yang putih bersih. Agak memerah paras muka Lan See-giok karena kena didesak mundur, amarahnya segera berkobar, permainan jurus pukulannya pun berubah, sekarang dia mulai unjuk gigi, sambil menyerbu ke depan . . . Sreeet! Sreeet! Sreeet Secara beruntun dia lancarkan tiga buah pukulan berantai yang maha dahsyat. Siau Gou - cu segera merasakan empat penjuru sekeliling tubuhnya diliputi oleh bayangan telapak tangan yang membukit, dengan susah payah dia harus menangkis kesana ke mari berusaha untuk meloloskan diri dari ancaman, tak ampun dia menjadi kelabakan setengah mati. Sekarang Thio Toa-keng bertiga tak bisa berteriak lagi, kawanan anak nakal di sekitar arenapun berhenti berteriak, sedang senyuman yang menghiasi ujung bibir si nona kecil berbaju merahpun turut menjadi lenyap. Seluruh arena menjadi hening, semua orang mengawasi Siau Gou cu dengan mata terbelalak dan perasaan kuatir, mereka kuatir kalau sampai si hitam kecil itu di kalahkan. Pertarungan makin lama berkobar makin seru, baik Lan See-giok maupun Siau Thi-gou sama-sama tak mau mengalah, kedua belah pihak mengerahkan segenap kepandaian silat yang dimilikinya untuk kemenangan. Matahari semakin condong ke barat, senja pun telah menjelang tiba, angin yang ber-hembus kencang membawa kelembaban udara, tampaknya hujan sudah hampir tu-run. Lan See-giok bertambah gelisah setelah menyaksikan keadaan itu, jurus serangan yang dilancarkan makin lama semakin kalut, untung saja ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya jauh lebih hebat dari pada Siau Thigou, sehingga beberapa kali dia berhasil menghindarkan diri dari ancaman bahaya. Mendadak terdengar seseorang membentak merdu: "Adik Gou, mundur!" Siau Thi-gou segera melancarkan tiga buah serangan berantai untuk mendesak mundur lawannya, kemudian menggunakan kesempatan itu tubuhnya melompat mundur sejauh satu kaki lebih dari posisi semu-la. Lan See-giok segera mendongakkan kepalanya, dia saksikan si nona cilik berbaju merah itu sedang berjalan mendekat dengan sikap yang sangat angkuh. Tampaknya kegagalan Siau Thi-gou untuk merobohkan Lan See-giok membuat nona cilik berbaju merah itu segera tampil sendiri untuk menghabisi lawannya.

11

Setelah berada di hadapan Lan See-giok, dengan angkuh nona berbaju merah itu ber-kata: "Aku bernama Si Cay-soat, tampaknya le-bih kecil dua tahun darimu, tapi kami sudah bergilir mengerubuti dirimu, rasanya sekalipun memang juga tidak gagah, maka sekarang aku hendak menetapkan tiga puluh gebrakan saja, menang atau kalah kita selesaikan dalam batas waktu tersebut---" Lan See-giok sudah habis kesabarannya sedari tadi, maka sahutnya. dengan cepat; "Bagus sekali, silahkan kau segera lancarkan serangan!" Si Cay-soat tidak sungkan lagi, dia segera melompat ke depan sambil mengayunkan telapak tangannya menghantam wajah anak lelaki itu. Paras muka Lan See-giok berubah hebat, buru-buru dia memiringkan badannya sambil menghindar. Bentakan nyaring kembali berkumandang, bayangan merah berkelebat lewat, bagaikan bayangan setan saja Si Cay-coat telah memburu ke depan, telapak tangannya langsung menghantam pinggang lawan. Lan See-giok menjadi sangat terkejut, peluh dingin jatuh bercucuran, dia baru merasa kalau kepandaian silat nona cilik ini berapa kali lipat lebih dahsyat dari pada si anak hitam tadi. Serta merta dia menjejakkan ujung kakinya ke tanah dan melejit satu kaki dari posisi semula, nyaris dia termakan serangan tersebut, menyusul kemudian sambil membentak keras, dia mengayunkan kembali telapak tangannya melancarkan serangan balasan. Tiba-tiba dari arah tanggul berkumandang suara gelak tertawa orang serta suara pembicaraan gadis-gadis nelayan yang sedang pulang ke rumah. Lan See-giok yang mendengar hiruk pikuk itu bertambah panik, dia lihat awan mendung sudah makin menyelimuti angkasa. Si Cay-soat ternyata cukup cerdas, dari kegelisahan di wajah orang, dia lantas tahu kalau anak inipun buru-buru ingin pulang ke rumah. Maka menggunakan kesempatan dikala pikirannya bercabang, dengan cepat tubuh-nya berkelebat ke muka, jari tangan kanan nya langsung menusuk ke atas jalan darah dipinggang anak itu. Lan See-giok amat terperanjat, dia ingin menghindar tapi tak sempat lagi, tahu-tahu jari tangannya sudah mengancam di depan mata, Satu ingatan segera melintas dalam benak nya, dengan jurus Hud liu ti hoa (menyapu liu memetik bunga), telapak kanannya segera membacok ke bawah keras-keras. Si Cay-soat segera tersenyum, jari tangan-nya dengan cepat menotok di atas jalan da-rah siau-yau-hiat di tubuh Lan See-giok.

12

Akan tetapi Lan See-giok tidak merasa apa-apa, telapak tangan kanannya masih melanjutkan bacokannya menghajar pergelangan tangan lawan. Si Cay-soat amat terkejut, pucat pias paras mukanya, Sambil menjerit cepat-cepat dia melompat mundur sejauh dua kaki dari tempat semula. Sayang, walaupun dia sudah berkelit dengan gerakan cepat, toh kelima jari tangan kanannya kena tersambar juga oleh angin pukulan yang dilancarkan Lan See-giok, kontan dia merasa kesakitan setengah mati. Menanti dia berpaling ke arah lawannya, waktu itu Lan See-giok sudah membalikkan badannya dan kabur menuju ke utara dusun dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Thio Toa-keng dan Siau Thi-gou. segera membentak keras, mereka melompat ke muka siap melakukan pengejaran. "Kembali . . . " Si Cay-soat segera membentak keras. Thio Toa-keng dan Siau Thi-gou membatalkan langkahnya dan berpaling ke arah nona cilik itu dengan sinar mata keheranan. Si Cay-soat berkerut kening, bisiknya kemudian dengan wajah agak bingung dan kosong : "Dia yang menang!" Sambil berkata, sepasang matanya yang bulat besar segera dialihkan ke arah baya-ngan punggung Lan See-giok yang menjauh dengan pandangan aneh. Sampai sekarang dia masih saja tidak habis mengerti, mengapa totokan jalan darahnya yang bersarang telak tadi bisa tidak bermanfaat apa-apa? Bayangan tubuh Lan See-giok sudah lenyap di luar dusun sana, tapi dalam hati kecil Si Cay-soat masih tertera jelas bayangan tubuhnya. Setelah meninggalkan perkampungan nelayan itu Lan See-giok merasa menyesal sekali karena kelancangannya mencampuri urusan orang, dia berpikir, saat itu ayahnya pasti sudah menunggu dengan tak sabar di luar hutan. Menelusuri jalanan yang kecil, dia berpikir terus ke hal-hal yang beraneka ragam- hatinya makin gelisah dan dia ingin cepat-cepat sampai di rumah, Setelah habis menelusuri tanah persawahan, dia berjalan menembusi semak belukar yang lebat dan akhirnya menembusi hutan belantara yang lebat sekali. Baru satu li dia berjalan menembusi hutan, seluruh angkasa telah berubah menjadi gelap gulita, angin malam berhembus kencang dan membawa udara yang dingin. Titik-titik cahaya api berkedip di balik hutan yang gelap, sebentar bergerak mendekat sebentar lalu bergerak menjauh cahaya api itu menambah suasana seram di sekitar sana.

13

Lan See-giok tahu kalau sinar titik api itu bernama api setan, konon merupakan setan- setan yang berjalan ke luar dari dalam kuburan untuk mencari sukma-sukma yang lain Tapi Lan See-giok tidak takut, dia percaya ayahnya pasti sudah menanti di ujung hutan sana, menanti kedatangannya. Maka dia segera mempercepat perjalanan nya menembusi hutan tersebut . .. Tak lama kemudian ia sudah sampai di ujung hutan, tapi . . di mana ayahnya? Ia tidak menjumpai bayangan tubuh ayahnya berada di situ. Dia segera berhenti, ternyata tempat yang dituju memang tak salah, ayahnya telah berkata dengan jelas, dia akan menunggunya di bawah pohon besar ini. Mungkinkah ayahnya tertidur di atas po-hon? Berpikir demikian dia lantas mendehem-dehem, tapi kecuali bunyi jengkerik dan binatang kecil lainnya, tidak terdengar suara jawaban ayahnya. Dengan cepat dia mendongakkan kepala nya dan memandang ke arah depan, hutan belantara tampak sangat gelap, api setan berkedip-kedip dan bergoyang ke sana ke mari terhembus angin, dia seolah-olah menyaksikan api setan itu makin lama makin membesar dan akhirnya lambat-lambat seperti nampak munculnya sesosok ba-ya-ngan setan. Lan See-giok mulai ketakutan, dia segera berpikir: "Mengapa ayah tidak menjemputku?" Dia tahu dari sini sampai di kuburan kuno itu masih cukup jauh, dia harus melewati dua buah tebing tinggi, tiga buah tanah pekuburan dan sebuah sungai seluas satu kaki. Dia tidak takut ular beracun atau babi hutan, tapi dia takut dengan jeritan burung hantu, suaranya yang menggetarkan sukma cukup mendirikan bulu roma siapapun yang mendengarnya. Teringat jeritan burung hantu, bulu kuduk Lan See-giok segera pada berdiri, dalam keadaan begini betapa besarnya dia berharap ayahnya bisa datang menjemputnya. la maju beberapa langkah lagi ke depan, semak belukar sudah setinggi lutut, tak jauh di balik hutan sana adalah sebuah tanah pekuburan yang sudah porak poranda keadaannya. Hampir sebagian besar kuburan di situ sudah hancur, batu nisan berserakan. peti mati pada merekah, bahkan tulang belulang manusia yang tak terurus tergeletak di sana sini menimbulkan cahaya api setan yang menggidikkan hati....

14

Walaupun sejak kecil Lan See-giok telah belajar silat, bagaimanapun juga dia hanya seorang anak berusia lima enam belas tahun, sewaktu kecil dulu dia sering mendengar ibunya bercerita tentang setan. Membayangkan kembali cerita setan yang pernah didengarnya dulu, anak itu semakin ketakutan, tanpa terasa dia berteriak keras. "Ayah, anak Giok telah pulang!" Suasana amat hening, kecuali beberapa ekor ayam alas yang berlarian karena kaget, tak nampak sesosok bayangan manusiapun yang muncul di sana. Lan See-giok sangat kecewa, dia tahu dalam keadaan begini dia harus pulang sendiri ke kuburan kuno. Maka setelah menghimpun tenaganya dan memusatkan pikiran, dia segera mengerah kan ilmu meringankan tubuhnya bergerak menuju ke depan. Setelah melewati tanah pekuburan yang terbengkalai itu, keadaan mega semakin meninggi, hutan semakin rapat dan suasana pun semakin gelap gulita .... Sepanjang perjalanan, Lan See-giok menyaksikan burung-burung beterbangan karena takut, dua tiga babi hutan mengejar dengan kencang, diapun menyaksikan ular-ular beracun dengan sorot matanya yang buas muncul dari balik tulang kerangka manusia atau peti mati yang berserakan... Tapi anak itu tidak mengambil perduli, dia berlarian terus dengan kencangnya menuju ke tempat tujuan. "Beberapa saat kemudian ia telah melewati dua buah tebing dan sebuah sungai kecil, di depan sana terbentang hutan pohon siong, di dalam hutan itulah terletak kuburan kuno tempat tinggal ayahnya. Selama ini Lan See-giok selalu tidak habis mengerti apa sebabnya ayahnya pindah ke dalam kuburan kuno itu, berapa tahun setelah pindah ke sana, ibunya meninggal dunia, sejak saat itulah ayahnya menjadi seorang yang pemurung. Beberapa kali dia menyaksikan ayahnya duduk tepekur sambil bermuram durja, adakala ayahnya menjadi berangasan dan suka marah-marah, tapi ada kalanya pula dia nampak amat gelisah dan tidak tenang . . . Lan See-giok tahu kalau ayahnya pasti mempunyai suatu rahasia besar yang tak ingin diketahui orang lain, diapun menduga ibunya pasti mati karena merasa murung dan sedih karena persoalan ini. Dia ingin sekali mengetahui rahasia tersebut, dia bersedia membantu ayahnya untuk memikirkan persoalan itu, tapi dia tak berani bertanya,

15

diapun tahu sekalipun di tanyakan, belum tentu ayahnya bersedia menjawab. Mendadak dari atas pohon tak jauh di hadapannya sana, terdengar bunyi burung hantu yang memekakkan telinga. Lan See-giok merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri, dengan cepat dia men-dongakkan kepalanya ke depan, ternyata dia sudah berada dalam hutan siong, jarak nya dengan kuburan kuno itu sudah tak jauh lagi. Di depan matanya kini muncul sebuah tugu yang terbuat dari batu hijau, di atas permukaan tugu itu tertera dua huruf yang amat besar: "ONG LENG." Akhirnya sampai juga di tempat tujuan, Lan See-giok merasa girang sekali, ia mempercepat larinya menuju ke depan. Setelah melewati tugu itu muncullah sebuah jalanan beralas batu yang sangat lebar, panjangnya puluhan kaki, di kedua belah sisi jalan besar itu berjajar patung-patung kuda, patung kambing, patung orang dan lain sebagainya. Di ujung jalan tersebut adalah sebuah pintu bangunan yang sudah ambruk, yang tersisa tinggal tiang-tiang penyangganya saja. sedang bangunan itu sendiri telah porak poranda. Dalam bangunan yang porak poranda terdapat sebidang tanah pekuburan yang luasnya mencapai puluhan hektar, puluhan buah kuburan besar berserakan di sana sini. batu bong pay berdiri kekar di depan setiap kuburan itu, tapi tulisannya sudah buram. Terbayang kalau sebentar lagi bakal berjumpa dengan ayahnya, Lan Seegiok merasa amat gembira, ia telah mempersiapkan ucapannya yang pertama begitu bersua dengan ayahnya nanti, ia hendak mengatakan bahwa kotak kecil itu telah diserahkan kepada Bibi Wan yang anggun tersebut. Begitu besar keinginannya bertemu dengan ayahnya, dia tak ingin berjalan berputar lagi, dengan suatu lompatan cepat ia melewati tanah pekuburan itu langsung menuju ke depan sebuah kuburan yang paling besar. Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya paling hebat, ayahnya sering memuji akan kehebatannya, sedang kepandaian kedua yang paling ampuh adalah ilmu Gi-hiat kang, kepandaian untuk menggeserkan tempat kedudukan jalan darah. Tanpa terasa ia teringat kembali pertarungannya dengan Si Cay-soat belum lama berselang, kepandaian silat nona itu memang sangat hebat, coba kalau dia tak pandai memindahkan letak jalan darah, niscaya dia sudah dipecundangi orang.

16

Sementara masih melamun, dia telah melayang turun di depan kuburan ke depan yang menghadap ke arah timur laut. Tiba di depan kuburan itu, ia saksikan pintu rahasianya terbuka lebar, mungkin ayahnya lupa untuk menutup kembali. Tanpa sangsi lagi Lan See-giok melompat masuk ke dalam kuburan, menelusuri anak tangga dan berlarian menuju ke ruang dalam. Suasana di dalam kuburan itu gelap gulita hingga lima jari tangan sendiri pun susah dilihat, tapi Lan See-giok sudah banyak tahun berdiam di sini, sekalipun harus berjalan dengan mata meram pun dia dapat mencapai ruangan dalam. Sesudah melewati dua tikungan, akhir nya dari dalam ruangan bulat di depan sana nampak setitik cahaya lentera. Lan See-giok amat gembira, dia tahu ayah-nya belum tidur, dengan suara lantang segera teriaknya: "Ayah, anak Giok telah kembali!" Sambil berteriak gembira dia segera menubruk ke depan. Tapi dengan cepat anak itu berhenti dengan wajah tertegun, ternyata ia tidak menjumpai ayahnya berada di sana. Cahaya lentera memancar ke luar dari sebuah lampu minyak di atas meja, cahaya itu amat redup sehingga suasana di seluruh ruangan itu remangremang dan terasa menyeramkan. Pembaringan di sisi dinding ruangan nampak rapi, di atas meja besar dekat pembaringan terletak senjata gurdi emas "Cing kim-kong-luau-jui!" senjata andalan ayahnya. Gurdi emas itu berujung runcing dan amat tajam, bagian ekornya lebih kasar dan besar hingga bentuknya mirip jarum. Senjata itu kalau lemas bentuknya seperti seutas tali, tapi kalau sudah disaluri tenaga dalam bentuknya mirip gurdi, tanpa tenaga dalam yang sempurna jangan harap orang bisa memainkan senjata semacam itu. Begitu melihat senjata gurdi emas milik ayahnya masih tergeletak di atas meja, Lan See-giok segera tahu kalau ayahnya tidak pergi. Mendadak . . . Segulung bau amisnya darah berhembus lewat dan menusuk hidung anak itu. . . Lan See-giok merasa sangat terkejut, dengan cepat dia mengendusnya beberapa kali, benar juga, bau yang menusuk hidung itu adalah bau amisnya darah segar. Hatinya menjadi amat tercekat. tanpa terasa dia mundur dua langkah, sementara perasaan seram menyelimuti seluruh benaknya.

17

Pada saat itulah dari luar kuburan terdengar bunyi burung hantu berpekik keras, suaranya terdengar amat menyeramkan .... Lan See-giok segera bergidik, bulu kuduknya pada bangun berdiri, tanpa terasa dia berteriak dengan suara keras: "Ayah. . . ayah . . . ayah . . ." Teriakan anak itu kedengaran parau dan diselingi isak tangis yang gemetar. Tapi, kecuali suara dengungan keras dari balik lorong yang memantulkan suaranya, tidak terdengar suara jawaban dari ayahnya. Kembali terendus bau amis darah yang amat menusuk penciuman. Sekali lagi Lan See-giok terperanjat, dia berusaha mengumpulkan segenap kemampuannya untuk meneliti ruangan itu. Tiba-tiba mencorong sinar terang dari balik matanya, ia saksikan di sebelah kiri meja batu nampak sesosok bayangan hitam berada di sana. Dengan suatu kecepatan kilat dia menyambar lentera di meja dan menghampiri bayangan itu. Di bawah cahaya lentera yang redup, ia segera menyaksikan suatu pemandangan yang menyeramkan, peluh dingin segera jatuh bercucuran, sukmanya serasa melayang meninggalkan raganya. Lan See-giok betul-betul berdiri kaku bagaikan patung, mukanya pucat, matanya terbelalak lebar sedang mulutnya ternganga lebar. Sebab bayangan itu tak lain adalah tubuh ayahnya, tubuh ayahnya yang tergelepar di atas genangan darah. Cepat dia letakkan lentera itu ke meja, lalu sambil menjerit dan menangis dia menubruk ke atas tubuh ayahnya dan menangis tersedu sedu. Seketika itu juga dalam seluruh kuburan itu dipenuhi oleh suara isak tangis yang penuh kesedihan, keseraman dan kengerian. Lan See-giok menangis terus sampai air mata yang ke luar berubah menjadi darah sambil menangis tersedu sedu, dia mulai memeriksa jenazah ayahnya itu. Ia saksikan ayahnya tewas dengan mata melotot mulut ternganga, noda darah menyelimuti seluruh wajahnya, jenggot yang putih dan rambut yang putihpun penuh dengan darah, sekilas pandangan saja dapat diketahui kalau ayahnya tewas akibat suatu gempuran tenaga pukulan dahsyat yang menghancurkan isi perutnya. Ditinjau dari posisi ayahnya sewaktu jatuh setelah menyadari kehadiran musuh tak di undang, ayahnya buru-buru menyambar senjata gurdi emas yang tergeletak di meja sayang sebelum maksudnya tercapai, punggungnya sudah kena dihajar lebih dulu.

18 Tak terlukiskan rasa sedih yang menyelimuti perasaan Lan See-giok waktu itu melihat ayahnya mati secara begitu mengenaskan. dengan kepandaian silat ayahnya yang begitu lihai pun bukan tandingan lawan. bila dia sampai melakukan suatu gerakan. . angin malam berhembus kencang mengiringi suara hujan yang turun dengan deras. kalau bisa dengan suatu gerakan secepat kilat untuk membinasakan orang yang sedang menggeledah sakunya itu. Berpikir begitu. Di luar kuburan. "Blaam!" tiba-tiba orang itu menendang tubuhnya keras-keras sampai mencelat dan terbalik. Tapi dia tahu. dia menjerit keras lalu muntah darah segar. Kebetulan orang itu berdiri di belakang tubuhnya sehingga di atas dinding tertera sesosok bayangan manusia yang tinggi besar. Lan See-giok membuka matanya lebar-lebar. . yang tersisa hanya suara dengungan keras yang memantul ke mana-mana. Menyusul kemudian sebuah tangan dengan gugup dan panik menggeledah seluruh tubuhnya. malam itu benar-benar suatu malam yang amat mengenaskan. asal dia mengerahkan tenaga. diam-diam ia membuka matanya dan mencoba untuk mengintip. tubuhnya segera terkapar di atas tanah dan tak sadarkan diri. . usaha membalas dendam bisa dilakukan di masa mendatang. merintih pun tidak. asal wajahnya teringat. Lan See-giok menggigit bibirnya kencang-kencang menahan rasa sakit. bukankah tindakan tersebut ibaratnya telur diadu dengan batu? Maka dia bermaksud untuk mengintip dulu siapa gerangan orang itu. pihak lawan pasti akan menyadari akan hal itu. dia berharap bisa menyaksikan raut wajah orang itu dari bayangan badannya. ia tak tahu siapakah orang itu? Tapi ia yakin orang itu sudah pasti adalah pembunuh biadab yang telah membunuh ayah nya. Mendadak--Lan See-giok yang lambat-lambat mulai sadar kembali dari pingsannya merasa ada seseorang menotok jalan darah Hek ci hiat nya keras-keras. Isak tangis dalam kuburan itu segera terhenti. gusar dan takut segera menyelimuti seluruh perasaan Lan See-giok. la merangkak di tanah dan pelan-pelan membuka matanya lalu melirik ke arah orang itu. orang itu seperti sedang mencari sesuatu dari dalam saku dan bagian tubuh lainnya--Kejut. Dia ingin membalikkan badan sambil me lancarkan serangan.

hampir saja dia mengeluarkan suara. sebab menurut perasaan nya. "Aneh. kesempurnaan tenaga dalam yang di miliki orang ini benar-benar luar biasa. Sementara itu suara ujung baju yang terhembus angin kedengaran semakin jelas.. kemudian terdengar seseorang tertawa terbahak-bahak. jenggotnya tidak banyak. dia sedang berdiri di sana seperti lagi termenung memikirkan sesuatu. Tapi ia tak habis mengerti mengapa orang itu menyembunyikan diri secara tiba-tiba ? Pada saat itulah terdengar suara ujung baju terhembus angin berkumandang datang dari arah mulut lorong rahasia: Lan See-giok terperanjat. bahkan ada kalanya diiringi pula suara benda berat yang menyentuh lantai. tinggi besar. orang itu sekali lagi membungkukkan badan dan menggeledah seluruh badan Lan See-giok . sekali lagi hatinya merasa bergetar keras. tahu-tahu orang itu sudah lenyap dari pandangan. kenapa tidak ada juga?" Walaupun Lan See-giok tak berpengalaman dalam dunia persilatan hingga tak dapat membedakan dialek setiap propinsi. kening dan dagunya sempit.19 Orang itu berperawakan. orang ini pasti tinggal di sekitar telaga Huan-yang ou. Lan See-giok tak berani bergerak. cuma beberapa gelintir. bersamaan itu pula dia lantas paham kenapa orang itu secara tiba-tiba menyembunyikan diri ke belakang pembaringan. tahu orang itu belum pergi. .. nampaknya orang itu sedang menyembunyikan diri di sisi pembaringan. dia tahu kembali ada jago lihay berkunjung ke situ. Tampak bayangan manusia berkelebat lewat. sebab menurut arah bergeraknya bayangan di atas dinding. Setelah berguman. Tapi setelah dipikir lebih lanjut. darah segar dalam rongga dadanya serasa bergelora keras. syukur dia tidak jadi melancarkan serangan gelap terhadap orang itu. memakai baju pendek celana panjang. "Tiba-tiba tangan itu berhenti menggeledah kalau dilihat dari bayangan yang tertera di atas dinding.. Lan See-giok yang tertelungkup di tanah merasa telinganya sakit sekali oleh getaran suara tertawa yang memekikkan te1inga itu. hidungnya mancung. Mendadak terdengar orang itu berguman dengan perasaan keheranan. Kemudian tampak bayangan manusia berkelebat lewat. tapi dia yakin. tampaknya orang itu seperti memasang telinga dan memperhatikan sesuatu.

hmmm . Kini Lan See-giok tidak merasa takut.. haaah. orang itu sudah tiba di depan jenazah ayahnya.. bisa diperkirakan kalau usianya di atas empat puluh tahunan. meski demikian ia sempat melihat kaki kiri orang itu sudah kutung. pendatang adalah seseorang yang kenal dengan ayahnya. siapa tahu dari orang ini di kemudian hari dia bisa menyelidiki siapa gerangan orang berjenggot yang berhidung mancung itu? Baru saja Lan See-giok akan membuka matanya.. Lan See-giok tahu. Setibanya di sisi tubuh Lan See-giok. kembali dia tertawa terbahak-bahak. suara ketukan keras yang bergema kian bertambah keras. menyusul kemudian terdengar suara ketukan keras bergema semakin dekat. orang itu mulai menyentuh badannya dengan ujung tongkat besi itu meski maksudnya untuk menggeledah namun hal itu dilakukan tidak serius. bayangkan saja betapa gagahmu dimasa lalu. suatu ketika sakit hati ini pasti akan dituntut balas. Ia merasa perlu untuk memperhatikan wajah orang ini. sekalipun mempunyai barang itu. se-dang di bawah ketiaknya terdapat sebuah tongkat besi yang amat berat menyanggah tubuhnya. haaah. dia berseru lantang: "Lan Khong-tay wahai Lan Khong-tay. kemudian tanpa perasaan takut barang sedikitpun jua. kemudian sambil mendongak kan kepala dia membentak keras. orang itu sudah berjalan ke arah-nya. Lan See-giok yang tubuhnya ditusuk-tusuk oleh toya besi itu merasakan sekujur badannya kesakitan. apalah gunanya?" Selesai berkata. dia hanya ingin tahu siapakah pembunuh ayahnya.20 Terdengar pendatang itu menghentikan suara tertawanya. "Siapa di situ?" . Kalau diamati dari suara tertawa serta nada pembicaraan orang itu. dalam hati dia bersumpah. karena dalam hatinya penuh diliputi kobaran api dendam yang membara. bahkan terasa pula getaran keras yang menggetarkan sukma. sungguh tak disangka Kim cui gin tan (gurdi emas peluru perak) Lan tayhiap juga akan mengalami nasib seperti hari ini. Mendadak orang itu menghentikan perbuatannya... Karena pendatang itu sudah menduga bahwa pembunuh yang telah membinasakan si Gurdi emas peluru perak Lan Khong-tay tentu sudah menggeledah pula tubuh bocah itu. maka ia tidak menganggap serius akan hal itu... bahkan mempunyai ikatan dendam dengan ayahnya. tapi. maka cepat-cepat dia memejamkan ma-tanya kembali. tapi dia menggertak gigi sambil menahan diri. Sementara dia masih termenung.

se-mentara kedua sosok bayangan manusia itu-pun lenyap dari pandangan mata. tongkat bajanya di angkat ke atas dan. bayangan manusia nampak berkelebat lewat.. dia sempat menyaksikan paras muka yang sebenarnya dari pembunuh keji tersebut. Sebelum dia sempat berbuat sesuatu. saking kagetnya dia sampai bergidik dan lupa kalau dia sedang berlagak seakan akan tertotok jalan darahnya. Segera itu juga orang yang berkaki buntung itu tertawa terbahak-bahak. jangan harap kau bisa kabur dari sini?" Ditengah bentakan. hanya secara tiba-tiba tangan kanannya diayunkan ke belakang. .. Kemudian terdengar pula suara senjata rahasia yang bergelinding ke sisi lorong. Serentetan cahaya tajam bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya segera meluncur ke arah orang yang berkaki buntung. dia mengayunkan tongkat besinya sambil menghantam tubuh orang itu. dia masih berlarian terus ke depan. "traaang!" terdengar suara benturan keras yang disertai percikan bunga api tersebar dalam lorong gelap tersebut. tahu-tahu orang itu sudah lenyap dari pandangan. Orang yang berada di depan tidak mengeluarkan suara berang sedikitpun juga. Siapa tahu belum sempat dia melangkah ke depan mendadak dari luar kuburan telah terdengar suara si pincang sedang mencaci maki dengan penuh kegusaran. sebelum meninggalkan barang itu. dia berharap dengan mengandalkan kehapalannya dengan daerah di sekitar tempat itu.. Lan See-giok merasa telinganya kembali mendengung keras oleh suara bentakan la-wan yang memekikkan telinga.. buru-buru dia membalikkan badan sambil berpaling--Tampak olehnya di balik lorong di samping pembaringannya sana terdapat dua sosok bayangan manusia sedang berkelebat saling mengejar. Dengan cepat Lan See-giok melompat bangun. Lan See-giok tahu bahwa orang yang berada di depan adalah orang yang telah membinasakan ayahnya. sedang yang berada di belakang adalah orang yang berkaki buntung.21 Di tengah bentakan tersebut. dia merasakan sekujur badannya linu dan sakit. tapi sambil menahan rasa sakit dia mengejar ke luar. orang yang berkaki buntung telah membentak lagi dengan suara keras: "Sobat.

sekalipun badan harus hancur. Dia berpikir. makin menangis semakin tak ingin hidup. kemudian sambil berlutut dan mbenangis terseduj sedu. Dia memang ingin mati. kau anggap barang itu dapat kau telan seorang diri? Tidak begitu mudah. Maka dia berjalan kembali ke samping jenazah ayahnya yang terkapar ditengah genangan darah. locu akan mengejarnya sampai dapat!" Lan See-giok tahu kedua orang itu sudah pergi amat jauh sekalipun hendak dikejar juga tak ada gunanya. dia merasa tidak seharusnya mati sebelum sakit hati itu terbalas.tahukah kau anak Giok telah pulang--tahukah kau anak Giok telah menyelesaikan perintahmu dan menyerahkan kotak kecil tersebut ke pada bibi Wan. . tapi bila teringat akan dendam kesumatnya yang lebih dalam dari samudra. pipi yang telah berubah menjadi merah karena dendam. di luar kuburan hanya terdengar suara rintikan hujan serta angin malam yang menderu-deru. Sementara itu tengah malam sudah menjelang tiba.bsungguh kasihan kau--. duduk di samping jenazah ayahnya dan di bawah cahaya lentera dia membersihkan noda darah dari atas wajah ayahnya yang pucat.22 "Anak jadah. sekalipun kau kabur ke ujung langit. pembunuh ayahnya akan di kejar terus dan dibunuh sampai mati. Di luar kuburan kembali terdengar suara pekikan burung hantu yang menyeramkan.-" Lan See-giok makin menangis semakin sedih. Titik-titik air mata jatuh bercucuran mem-basahi pipinya. karena dia hanya memikirkan soal dendam kesumat. dia harus membinasakan pembunuh berhidung mancung itu sebelum menyusul ayah dan ibunya di alam baqa. dia berharap arwah ayahnya di alam baqa dapat melindunginya dan membantu nya untuk membalas dendam. anak bangsat peliharaan anjing. Seorang diri Lan See-giok bersembunyi di dalam kuburan. sekalipun harus menjelajahi sampai ke ujung langit. diamdiam ia berdoa. dia ingin mati bersama ayah dan ibunya. Maka sambil memandang wajah ayahnya yang penuh noda darah. dia tidak merasa ngeri. tapi dia tidak takut. katanyag: "Ayah--.

hatinya sedang merasa amat pedih. dia bertekad hendak melihat jelas paras muka pendatang itu. tapi. . sebab orang itu selain sempurna dalam ilmu meringankan tubruh. karena dia tak tahu bagaimana caranya untuk menutup kembali sepasang mata ayahnya yang melotot besar penuh kemarahan itu. tangannya yang kecil masih saja mengelus mata ayahnya yang melotot besar. Tapi sikap Lan See-giok masih tetap kaku tanpa perasaan. ... di bawah sinar lentera yang redup serta didampingi jenazah ayahnya yang membujur kaku. "kalau dilihat dari kecepatan gerak tubuhnya jelas dia adalah seorang jago kelas satu dalam dunia persilatan. Tergerak hati Lan See-giok. Lan See-giok masih memperhatikan wajah kelabu ayah-nya yang sudah membujur kaku di tanah. Benda apa pula yang dimaksudkan si pincang tadi? Mendadak suara pekikan itu berhenti. "Sungguh cepat gerakan tubuh orang ini. . . Waktu itu. Sambil melelehkan air mata. Pekikan seram makin lama semakin mendekat. Lan See-giok merasa makin terkejut lagi. di balik pekikan itu penuh diliputi perasaan gelisah bercampur gusar. Lambat laun suara pekikan aneh itu makin keras dan menusuk pendengaran agaknya orang itu sudah tiba di luar kuburan. hembusan angin tersebut sudah kedengaran semakin jelas. ada satu hal yang tidak dimengerti olehnya. . juga amat hapal dengan daerah dalam kuburan tersebut. mengapa kuburan yang sudah banyak tahun tak pernah dikunjungi orang. . tahu-tahu kebanjiran pengunjung pada malam ini. Suara pekikan itu amat tajam dan memekakkan telinga.23 BAB 2 BAYANGAN IBLIS MULAI BERMUNCULAN MALAM semakin kelam . dia seolah-olah tidak mendengar suara pekikan itu.. Tapi Lan See-giok masih tidak berkutik. ." Dengan terkejut Lan See-giok segera ber-pikir. Angin berhembus semakin kencang.. . b Mendadak . membuat siapa saja yang mendengarnya merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri." Belum habis dia berpikir. terdengar suara pekikan panjang yang memekakkan telinga berkumandang datang dari luar kuburan. Terutama sekali bagi Lan See-giok yang seorang diri berada dalam kuburan. lalu mendengar suara ujung baju terhembus angin menggema datang.

. Ternyata orang itu adalah seorang lelaki berjubah hitam. Kemudian dengan marah dia melemparkan semua benda itu ke atas tanah. Saat itulah bayangan manusia nampak berkelebat lewat.. tanpa berpikir panjang dia segera menerobos kedalamnya. peluh di-ngin segera membasahi seluruh tubuhnya. sementara jantungnya seakan akan mau me-lompat ke luar dari dalam rongga dadanya. lalu dengan gugup ia mulai meraba empat kaki pembaringan di empat penjuru. Lan See-giok tersentak kaget. matanya yang tinggal sebelah melotot besar seperti gundu. dapat diketahui orang itu belum sempat melakukan penggeledahan setelah berhasil melaksanakan perbuatan kejinya tadi. wajahnya benar-benar mengerikan sekali. . Apa yang dilihat? Ternyata orang itu berwajah hijau penuh dengan bekas bacokan yang dalam. Lan See-giok merasa tegang bercampur cemas. tahu-tahu orang itu muncul di dalam ruangan dan langsung menerjang ke depan pembaringan ayahnya. orang berbaju hitam itu membalikkan badannya. akhirnya dia merasa di belakang meja batu besar itu merupakan tempat persembunyian yang baik. dia merasa besar kemungkinan orang ini adalah orang yang menotok jalan darahnya serta menggeledek seluruh badannya tadi. Kalau dilihat dari tindak tanduk orang itu sewaktu ke dalam kuburan serta tingkah lakunya yang tergesa-gesa sewaktu melakukan penggeledahan atas seluruh isi ruangan itu. diam-diam hawa murninya dihimpun ke dalam telapak tangannya. . gelisah dan tak tenang orang itu nampak menggeledah seluruh pembaringan. ia tidak bersenjata. Tergerak hati Lan See-giok setelah menyaksikan kejadian itu. gigi taringnya nampak panjang. rambutnya sepanjang bahu berwarna kelabu. wajahnya juga tak nampak karena sedang menghadap ke arah pembaringan. dia segera memutuskan kalau orang inilah pembunuh yang telah membinasakan ayahnya. Mendadak. peluh telah membasahi telapak ta-ngannya. dengan perasaan gusar bercampur berdebar dia mengintip ke luar . .24 Buru-buru dia melompat bangun dan me-mandang sekejap sekeliling tempat itu. selimut dan bantal ayahnya.. ia siap sedia menyergap orang itu dari belakang. Dengan perasaan gusar. Kemarahannya segera bergelora. Makin dipikir Lan See-giok merasa apa yang diduga makin cocok...

hal ini membuat wajahnya nampak semakin mengerikan. Belum habis dia berpikir. Berada dalam keadaan seperti ini.. dia kuatir si mata tunggal itu menemukan tempat persembunyian nya. peluh sebesar kacang ijo nampak bercucuran membasahi seluruh jidatnya. orang bermata satu itu menyepak dan menendang hancur barang-barang itu. tapi dia tak ingin mati sebelum dendam sakit hati ayahnya dibalas. dengan mata tunggalnya yang tajam ia mulai memeriksa setiap sudut ruangan yang mencurigakan. ?. tampbak olehnya oranjg bermata satu gitu sudah mengubmbar hawa amarahnya. dia berharap dari balik pecahan barang-barang tersebut bisa dite-mukan barang yang sedang dicari. Setelah membalikkan badan tadi. Dalam waktu singkat seluruh ruangan itu dipenuhi dengan suara hiruk pikuk serta pecahan barang yang tersebar ke mana-mana. .25 Mata sebelah kanannya yang buta ditutup dengan selembar kulit berwarna hitam. . gigi taringnya yang panjang kedengaran bergemerutuk keras. disembunyikan di manakah barang itu. setelah memeriksa seluruh ruangan itu. sementara di hati kecilnya dia bertanya: Siapakah orang bermata satu ini ? Benarkah ayahnya tewas di tangan orang ini . lagi pula orang ini mengenaskan pakaian pendek. tampang orang bermata satu itu betulbetul menggetarkan hatinya.. diapun menyaksikan perawakan orang ini tidak sekekar orang yang menggeledah tubuhnya tadi. Tapi akhirnya ia menghela napas dengan perasaan kecewa. sementara wajahnya nampak makin gelisah. dia dapat mengenali suara orang ini tidak sama dengan suara orang yang menggeledah tubuhnya tadi. sebab suara orang itu parau dan berat. Dengan penuh bernapsu. hal ini menambah seramnya tampang orang ini. Selain itu. Kini sorot matanya mulai dialihkan ke atas lubang bangunan di langit-langit kuburan. Ia tidak takut mati. ditatapnya orang bermata satu itu lekat-lekat.?" Begitu mendengar suara gumaman orang itu. dia merasa hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri. semua barang yang berada di sekelilingnya segera beterbangan di angkasa. Lan See-giok semakin tak berani berkutik. Diam-diam Lan See-giok berkerut kening. . Begitulah. kakinya terlihat diayunkan ke sana kemari. sekali lagi Lan See-giok merasa kebingungan. dengan nada gemas orang ber-mata satu itu berguman: "Aneh. Lan See-giok tak berani berkutik. .

"Blaaammm!" diiringi suara nyaring senjata gurdi emas itu menancap di atas dinding dan tembus hingga ke belakang. akhirnya orang bermata satu itu kembali menghela napas dengan wajah kecewa. Untung saja meja batu itu tinggi lagi besar. jaraknya dengan dindingpun amat sempit. Tak lama kemudian ia mendengar orang bermata satu itu menjerit kaget: "Haaah. maka bila orang itu tidak memeriksa dengan teliti. ia segera mengintip kembali ke luar. Lan See-giok terkesiap. akhirnya dia melemparkan senjata gurdi emas yang berada di tangannya itu ke depan keras-keras. Ternyata orang bermata satu itu tidak bermaksud untuk menggeledah tempat itu. Lan See-giok yang bersembunyi di belakangnya menjadi sangat terperanjat. ia tidak berhasil menemukan sesuatu dari balik lubang angin itu. Tapi. Dengan penuh perasaan mendongkol. sekilas perasaan girang menghiasi wajahnya yang seram. di balik dinding itulah terletak kamar tidurnya. gurdi tersebut menyambar ke arah dinding sebelah kiri. hampir saja ia menjerit keras saking kagetnya. Kekecewaan yanbg berulang kali kontan saja membuat orang itu bertambah marah. Mimpipun dia tak menyangka kalau di dalam kamar tidurnyapun terdapat kawanan musuh yang sedang menyembunyikan diri.. dengan suatu kecepatan tinggi tiba-tiba ia melompat ke depan meja batu itu. sebab setelah mengambil senjata gurdi emas yang terletak di meja. begitu kagetnya dia sampai jantungnya seolah-olah terlepas. sulit rasanya untuk menemukan tempat persembunyian itu. paras mukanya yang memang sudah mengerikan kini berubah semakin menggidikkan hati. Ternyata orang bermata satu itu sedang mengorek setiap lubang angin yang berada di langit-langit kuburan dengan senjata gurdi emas milik ayahnya.26 Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata tunggalnya. ia melayang kembali ke tempat semula. Tiba-tiba --. Sekilas cahaya emas berkelebat lewat bagaikan serentetan cahaya bianglala.. "Sungguh menggemaskan?" gumamnya menahan geram. kau?" . lalu dengan wajah berubah hebat dia menerjang masuk ke dalam ruangan sebelah. Orang bermata tunggal itu sendiri juga nampak agak tertegun.terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang datang dari balik ruangan tersebut. Diam-diam Lan See-giok menghembuskan napas lega. Lan See-giok mengenali.

Sekalipun mereka tak akan mengetahui nama dari bibi Wan.. Mendadak Lan See giok merasakan firasat tak enak. Lan See giok juga duduk termangu mangu. tapi apakah isi kotak kecil itu? Kepergian si orang bermata satu yang tergesa-gesa tadi membuat Lan See giok merasa amat gelisah. agar dia tahu kalau-kalau ayahnya sudah mati.. Lan See giok amat terperanjat. dia tidak berharap orang bermata satu itu menolong orang tadi. karena hidupnya orang itu berarti bencana besar bagi bibi Wan. Terbayang akan semua peristiwa tersebut. kemungkinan besar kehadiran orang-orang tak dikenal pada malam ini dikarena-kan kotak kecil tersebut. mendadak tampak sesosok bayangan hitam menyambar tiba disertai segulung angin tajam yang maha dahsyat. "Blammm---!" sebuah benda yang mem-punyai daya pantul yang amat keras tahu-tahu sudah menghajar di belakang batok kepalanya. tanpa sadar ia menjerit keras. tapi jika mereka mau melakukan penyelidikan dengan seksama. Tanpa sadar dia segera membalikkan kepalanya ke belakang. karena dia menduga orang yang bersembunyi dalam kamar sebelah tentu sudah mendengar doanya kepada ayahnya tadi . dia harus segera melaporkan kejadian ini kepada bibi Wan. Lan See giok merasakan peluh dingin jatuh bercucuran. ia merasa bila kedatangan orang-orang itu benarbenar dikarenakan kotak kecil tersebut. dia tak tahu siapakah orang tadi? Masih hidupkah orang itu? Atau sudah mati? Tapi dia berharap orang itu sudah mati. langit serasa menjadi gelap. tak kede-ngaran sedikit suarapun. . Lan See giok sudah dapat men-duga. makin lama suara itu makin lirih dan akhirnya lenyap di luar kuburan sana. seluruh bumi serasa berputar. panda-ngan matanya menjadi gelap dan tak ampun ia roboh tak sadarkan diri. tak sulit untuk menemukan tempat tinggal bibi Wan nya. hening.. dia telah menyerahkan kotak kecil terrsebut kepada Bibi Wan. Untuk sesaat suasana dalam kuburan kuno itu menjadi sepi. . .27 Suara ujung baju yang terhembus angin segera berkumandang saling menyusul. Tapi baru saja kepalanya digerakkan. Sekawrang. ia seperti merasa ada sesosok tubuh manusia sedang berjalan mendekatinya dari belakang. ia merasa dalam kuburan itu seakan akan bukan cuma dia seorang. Kontan Lan See giok merasakan kepalanya seperti mau pecah. .

tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian dihimpun ke dalam tangan kanannya. lalu tanya nya lembut: "Nak. apa lagi dalam jarak sedemikian dekatnya. tapi sudah pasti orang itu adalah seseorang yang telah berusia lanjut bahkan berperawakan tidak begitu tinggi. "Blammm!" pukulan dari Lan See giok itu secara telak bersarang di atas dada kakek itu. . kemudian . . la tak bisa membedakan apakah orang itu seorang kakek atau seorang nenek. Betapa terkejutnya Lan See giok setelah melepaskan pukulan itu.. mendadak dia melompat bangun kemudian melotot dengan mata besar. kemudian sesosok bayangan manusia berbaju kuning.pandangan pertama yang sempat terlihat olehnya adalah setitik cahaya len-tera. mungkin juga ia keburu tak sadarkan diri. "Weess!" dihantamkan ke atas dada kakek itu keras-keras. Lan See giok merasakan kelopak matanya sangat berat.. secara beruntun dia mundur sejauh dua langkah. kau lagi marah kepada sibapa? Mengapa kaju lampiaskan kemarahanmu itu kepadaku?" . sambil membentak keras. kau telah sadar ? Bagaimanakah perasaanmu sekarang?" Tiba-tiba Lan See-giok teringat kembali kejadian yang belum lama menimpa dirinya. tak mungkin lagi buat kakek itu untuk menghindarkan diri. Pelan-pelan Lan See giok membuka matanya. ia merasa tak bertenaga lagi.28 Sesaat sebelum jatuh pingsan. kakek yang berada di hadapannya telah tertawa ramah. Tiba-tiba terdengar seseorang menegur dengan suara yang lembut dan penuh perhatian: "Nak. . ternyata orang yang berada di hadapannya adalah seorang kakek berambut putih. . . ternyata segenap kekuatannya serasa hilang lenyap tak berbekas. tak kuasa ia memejamkan matanya kembali. Kemarahan yang mencekam dalam dada nya tak bisa ditahan lagi. kepalan kanannya yang menghajar dada kakek itu serasa menghantam di atas gumpalan kapas. Entah berapa saat sudah lewat. . Menghadapi perubahan yang terjadi amat mendadak. begitu mendengar teguran tersebut. la tidak merasakan tubuhnya mencium tanah. . secara lamat-lamat dia masih sempat menyaksikan orang yang berada di belakang tubuhnya adalah seseorang yang berambut putih. mungkin orang yang berada di belakangnya keburu menyambar badannya dan membaringkan ke tanah. . Sementara itu. meski hanya untuk membuka kelopak matanya.

malahan menunggu sampai ia mendusin kembali. bermuka merah dan bermata tajam tapi penuh keramahan. Maka sambil mendengus dingin. si kakek berjubah kuning kembali tertawa terbahak bahak setelah menyaksikan sinar mata Lan See giok berkedip dan wajahnya berubah. kemudian pikirnya lebih jauh: "Sudah pasti dia" Tapi ia tidak habis mengerti. dia menganggap semakin ramah kakek itu. Mendadak satu ingatan melintas kembali dalam benaknya. semakin menaruh perhatian kepadanya. diapun berpendapat hanya kakek bertenaga dalam selihai ini yang sanggup membunuh ayahnya di dalam sekali pukulan. apa sebab-nya kakek berwajah ramah tapi berhati kejam ini tidak segera meninggalkan tempat itu setelah menghantam pingsan dirinya. kemudian melototi kakek ramah di hadapannya dengan pandangan penuh kebencian. serunya dengan suara dingin: . berarti semakin berbahaya dan jahat orang itu. "Hmmm. berulang kali tanpa menjawab pertanyaannya. dia cukup tahu keterbatasan tenaga dalam yang dimilikinya. dengan cepat ia menyadari apa sebabnya kakek itu belum juga pergi. Ia menggosok gosok matanya. pikiran nya lebih jauh. siapakah dia?" Diamatinya kakek berambut putih itu sekali lagi. siapakahb yang telah merobohkan dirimu?" Kemarahan dalam dada Lan See giok semakin membara. sekalipun badan harus hancur tak nanti aku akan memberitahukan hal ini kepadamu." Sementara itu. jangan bermimpi di siang hari bolong. "Orang yang menghantam kepalaku tadi berhati kejam. diamdiam ia lantas memperingatkan diri sendiri agar jangan bertindak secara gegabah. ia memakai jubah berwarna kuning dan bersikap amat gagah sekali. tapi. Lan See giok segera merasa kalau kakek ini tidak mirip dengan orang jahat. sudah pasti dia ingin menanyakan tempat tinggal Bibi Wan" demikian dia ber-pikir. diam-diam pikirnya. Buru-buru Lan See giok memusatkan pikirannya sambil perhitungan. dibandingkan dengan kemampuan lawan. Selain itu. Setelah mendengus marah. "Yaa.29 Seraya berkata dia tertawa tergelak dengan penuh keramahan. selisih tersebut ibarat langit dan bumi. dengan penuh pebrhatian kembalij dia bertanya: "Nak. . Tampak kakek itu berambut putih.

tentu saja kau mengetahui jelas sebab kematian dari ayahku. Sambil tertawa dingin segera ejeknya sinis: "Huuuh. mustahil kau tidak tahu!" Tertegun si kakek berjubah kuning itu setelah mendengar dampratan tersebut.-" terdengar kakek berjubah kuning itu melanjutkan kembali kata katanya. .benar tak tahu malu . aku tidak menyalahkan kau. aku sudah mengetahui perasaanmu sekarang.. aku tahu kau mendendam kepadaku karena mengira ayahmu mati di tanganku. Sedangkan Lan See giok meski tahu kalau kepandaian silatnya tak mampu menandingi kepandaian kakek berjubah kuning itu. . yang membuat hatiku amat pedih adalah keterlambatanku datang ke mari malam ini. tapi diapun percaya bahwa musuhnya tak nanti akan membinasakannya meski berada dalam keadaan yang bagaimana gusarpun. sudah tahu pura-pura bertanya lagi. kekasaran serta kekurang ajaran bocah itu sangat di luar dugaannya. benar.30 "Siapakah yang menghantamku sampai roboh? Heeehhh.. Sebab dia menganggap kakek berjubah kuning itu ingin mengetahui tempat tinggal Bibi Wan nya serta jejak dari kotak kecil ter-sebut. Benar juga. . lalu berkata lagi dengan ramah: "Nak. kalau tidak niscaya pembunuh ayahmu itu pasti akan berhasil kutangkap.." demikian pikirnya lagi. lama-lama kemudian ia baru sadar seperti memahami sesuatu dan segera tertawa.. mungkin akupun jauh lebih jelas dari pada dirimu." Ucapan tersebutr semakin membuat Lan See giok percaya kalau orrang yang memukul nya sampai pingsan tadi adalah kakek berjubah kuning ini. kakek berjubah kuning itu menghela napas panjang.. ia su-dah bertekad tak akan melayani pembi-cara-an si kakek yang dianggapnya manusia munafik ini.heeehhh--heeehhh. !" Kakek berjubah kuning itu kembali berk-erut kening. di-tatapnya Lan See giok dengan termangu. sedang mengenai alasan ayahmu sampai dicelakai orang. diam-diam dia lantas mendengus dingin: "Tentu kau adalah seorang yang berkomplot untuk membunuh ayahku. "Nak!" katanya kemudian sambil menga-lahkan pembicaraan ke soal lain: "Apakah Lan Khong tay adalah ayahmu?" Api yang berkobar dalam dada Lan See -giok sekarang hanyalah dendam kesumat. ". karenanya bagaimanapun marahnya lawan tak nanti ia berani bersikap kasar.

" Belum habis kakek berbaju kuning itu menyelesaikan kata katanya. buat apa kau mesti bertanya kepadaku? Aku yakin." Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar ucapan itu. heeehhh." Lan See giok tertawa dingin: "Heeehhh. ketika aku mendengar suara jeritan tadi dan menerobos masuk ke dalam kuburan Ong-leng. Dalam pada itu... kemudian katanya dengan serius: "Nak. aku rasa justru ada orang yang kuatir bila aku sampai mati!" Sekali lagi kakek berbaju kuning itu mengerutkan dahinya rapat-rapat.. heeehhh. kemudian seakan akan memahami sesuatu.. Lan See giok telah tertawa keras penuh kegusaran.. emosi dan tak menggunakan akal terhadap diriku? Ketahuilah perbuatan semacam ini akan memporak porandakan keadaan.. benar.. jelas orang itu merasa agak tak senang hati. terutama sekali kata bayangan manusia kurus pendek. kau harus mawas diri. kau sudah pasti jauh lebih mengerti dari pada diriku sendiri.. "Sudah sedari tadi aku tak pernah memikirkan soal mati hidupku. jenggotnya gemetar keras.. kusaksikan ada sesosok bayangan manusia yang kurus pendek sedang kabur ke arah utara. paras mukanya agak berubah. ceritakan pula bagaimana terjadinya Pertarungan. gerakan tubuh nya secepat sambaran petir. tukas-nya dengan perasaan benci yang me-luap. coba ceritakanlah kisah pembunuhan yang telah menimpa ayahmu malam tadi. dengan cepat dia teringat kalau . tidak bermanfaat bagi masalah yang sebenarnya." Merah padam selembar wajah kakek berju-bah kuning itu setelah mendengar ucapan tersebut. kakek sialan. aku tidak habis mengerti mengapa kau bersikap kasar. dia manggut-manggut. dinginkan otakmu dan terutama sekali harus tahu kalau keselamatanmu sedang terancam bahaya. berapa orang yang datang serta manusia-manusia macam apa saja yang telah kemari. "Ehmmm. berkilat sepasang matanya.31 "Bedebah. tapi hanya sejenak ke-mudian ia telah bersikap lembut kembali. kenapa aku mesti takut mati? Hmmm. mungkin aku bisa membantumu untuk mengenali orang-orang itu serta merebut kembali kotak kecil tersebut.. Ditatapnya wajah Lan See giok lekat-lekat. manusia licik---" kontan saja Lan See giok menyumpah di hati. si kakek berjubah kuning itu sudah berhenti sejenak sebelum kemu-dian melanjutkan kembali kata katanya: "Nak..

Tapi mengapa dia bisa datang terlambat? Maka tak tahan lagi dia lantas bertanya: "Dari mana kau bisa tahu kalau ayahku tinggal di sini?" "Aaaah kau ini . dia lantas ber-pikir lagi: "Jangan-jangan bukan si kakek berjubah kuning ini yang menghantamku sampai pingsan tadi . . Berpikir sampai di sini. Karena berpendapat demikian. Lan See giok dapat segera meng-am-bil kesimpulan kalau kakek ini belum lama datangnya. oleh karena ayahmu memberi kesan yang sangat mendalam bagiku. ?" Tapi ingatan lain dengan cepat melintas kembali di dalam benaknya. niscaya jejaknya akan ditemukan olehnya." Setelah mendengar ucapannya yang terakhir ini. ia merasa meski perawakan orang ini tidak termasuk tinggi besar. niscaya dia tak akan berkata begitu. tapi jika dia bersembunyi di belakang meja batu.32 orang yang menghantamnya sampai pingsan tadi memang seorang kakek yang berperawakan kurus lagi pendek. kalau tidak. menga-pa dia bisa tahu kalau tujuan orang-orang itu adalah untuk mendapatkan kotak kecil milik ayahnya? Dari sini bisa disimpulkan kalau orang inipun bukan orang luar. maka apa yang selanjutnya diucapkan kakek berjubah kuning itu sama sekali tak terdengar olehnya. . tapi ia sudah pasti termasuk salah seorang yang berniat jahat kepada ayahnya. kau harus mengikuti aku untuk menyingkir dulu ke dusun kaum nela-yan Ho hi cun. dia merasa walaupun bukan kakek ini.. aku pernah berjumpa muka dengan ayahmu di bawah puncak Giok li-hong di bukit Hoa san. aku segera mengenalinya sebagai Kim wi-gin tan Lan Khong tay yang termasyhur di kolong langit dimasa dulu." . si kakek berbaju kuning tadi sudah berkata lagi: "Oleh karena itu. Maka dia segera mengamati tubuh kakek berbaju kuning itu sekali lagi. berarti diapun bukan manu-sia sembarangan. Dalam pada itu. ia bisa mencari sampai di sana. maka begitu masuk ke mari dan menyaksikan jenazah yang terkapar di atas genangan darah. sebab jika ia sudah mendengar kalau kotak kecil tersebut telah di-serahkan kepada bibi Wan nya. kenapa bertanya lagi? Bukankah tadi sudah kukatakan kepada-mu?" "Apa yang kau ucapkan tadi? Tak sepatah katapun yang kudengar!" "Tujuh delapan tahun berselang. kemudian baru berusaha untuk menemukan beberapa orang itu serta merampas kembali kotak kecil itu.. Lan See giok sema-kin kebingungan dibuatnya.

Baru tiba di depan pintu gerbang yang bo-brok itu. Tanpa terasa dia lantas mengerling seke-jap ke arah senjata "gurdi emas" yang menembusi dinding ruangan itu. Lan See giok merasa amat sedih sekali sehingga tanpa terasa dia berpaling dan memandang seje-nak ke arah jenazah ayahnya. cuma dia enggan untuk meng-utarakannya. baru kuketahui kau sedang pingsan." . kemu-dian kusaksikan kau terkapar di balik meja sana. Terdengar kakek berjubah kuning itu ber-kata lebih jauh: "Sampai kini aku tidak tahu apa sebabnya orang itu tidak membunuhmu. kujumpai dari belakang kuburan muncul sesosok bayangan kecil dan kurus sedang kabur ke arah utara. sebenarnya aku hendak mengejarnya. maka akupun masuk ke mari. jelas kau pun akan dibunuh juga. Terdengar kakek berjubah kuning itu ber-kata lebih jauh: "Aku hanya tahu kalau ayahmu si gurdi emas peluru perak Lan Khong tay berdiam di sekitar telaga Huan-yang ou. tapi aku yakin orang itu pasti menganggap kau mem-punyai kegunaan yang amat berharga. namun bila apa yang berharga itu sudah dapat diraih." "Pertama tama kutarik dulu badanmu ke luar dari situ. dalam kagetnya aku bergerak berangkat ke mari. mengapa orang yang telah membinasakan ayahmu telah melepaskan kau de-ngan begitu saja --" Tentu saja Lan See giok tahu apa sebab-nya dia tak mati. mendadak kudengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema dari sini. tapi tidak kuketahui jika ia berdiam dalam kuburan Ong leng. tapi setelah ku-temukan di belakang kuburan terdapat pintu yang ter-buka lebar. itu berarti jeritan yang kudengar tadi bukan berasal dari ayahmu. titik-titik air segera jatuh bercucuran membasahi wajahnya. ketika kuperiksa ternyata kau belum mati. tapi ada satu hal yang tidak kupa-hami. karena suatu persoalan secara kebetulan aku lewat di sini." "Setengah jam berselang. Terdengar kakek berjubah kuning itu ber-kata lebih jauh: "Waktu itu aku merasa keheranan." Tanpa terasa Lan See giok mengangguk ia tahu jeritan ngeri yang didengar kakek berjubah kuning tadi sudah pasti orang yang kena ditembusi gurdi emas di balik dinding itu. Apba yang kulihat pertama kalinya adalah ayahmu yang terkapar di atas genangan darah bila kuperiksa ternyata mayatnya sudah kaku dan ia sudah meninggal cukup lama.33 Mendengar sampai di situ.

aku hendak membunuh orang itu untuk membalaskan dendam bagi ayahku" Kakek berjubah rkuning itu termenung se-bentar. demi keselamatanmu kau harus pergi dari sini-. untuk membalas dendam . ... sekarang aku harus pergi dulu. Mendadak mencorong sinar tajam dari balik matanya." Selesai berkata. diapun termenung: "Orang-orang itu semuanya berilmu tinggi." Dengan sedih dia memandang ke arah ayahnya sekali lagi. karena ia masih ragu terhadap apa yang telah diucapkan orang itu. "tunggu saja di sini.34 "Oleh sebab itu. aaai tampaknya sulit melebihi mendaki ke langit. Lan See-giok agak terkejut pula me-nyaksi-kan kelihaian ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu.. dia lantas membalikkan badan dan bertalu dari tempat itu. "Baiklah". sambil ber-paling ke arah Lan See giok pesannya: "Nak.. Setelah berjalan beberapa langkah. dia segera berlalu dari situ. tidak menanti jawaban dari bocah itu lagi. men-da-dak kakek itu berhenti lagi. Setelah berpikir sejenak. membungkukkan badannya dan bermaksud untuk membopong tubuh ayah-nya. jika kau mempunyai kesulitan atau membutuhkan bantuanku. Pelan-pelan dia berjalan ke sisi jenazah ayahnya. hanya dalam sekejap mata saja baya-ngan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. ia tidak menahannya pun tidak menghantar kepergiannya. tanpa terasa serunya dengan perasaan terperan-jat: "Mengapa?" "Aku hendak menunggu orang itu datang kembali. akhirnya diaprun manggut-manggut. Lan See giok hanya mengawasi kakek ber-baju kuning itu dengan pandangan di-ngin." Selesai berkata. sekarang kau harus pergi meninggalkan tempat ini. semoga kau bisa baik-baik menjaga diri dan ber-hati-hati dalam setiap tindakan. dengan cepat dia berjongkok untuk memeriksa dengan lebih seksama. katanya kemudian. saat itulah aku akan memberitahukan kepadamu apa sebabnya orang--orang itu membunuh ayahmu. sementara air mata kembali jatuh bercucuran.--" "Tidak" tukas Lan See giok dengan cepat: "aku tak akan meninggalkan tempat ini" Jawaban tersebut sama sekali di luar dugaan kakek berjubah kuning itu. datang saja ke rumahnya Huan kang ciang liong (naga sakti pembalik sungai) di dusun Hong hi cun un-tuk mencari diriku.

.? Ataukah menunjukkan nama marga orang itu?" Dengan cepat dia memeras otak berusaha untuk mencari diantara namanama tokoh persilatan yang pernah diberitahukan ayah-nya selama ini. Sebagai bocah yang pintar. . Dengan cepat Lan See giok menduga kalau goresan itu pasti dibuat oleh ayahnya menjelang ajal merenggut nyawanya. pula dengan orang yang telah menggeledah sakunya ketika ia pingsan karena sedih tadi. Lan See giok segera berhenti menangis. besar kemungkinan goresan tersebut menyangkut soal nama pembunuh yang telah menghabisi jiwa ayahnya . "Betul. sudah pasti si manusia bermata tunggal itu--. Sambil menangis dia berdoa kepada ayah-nya agar membantunya dalam pencarian orang yang menggunakan huruf "tunggal" pada julukan atau namanya .35 Ternyata ujung jari telunjuk jenazah si Gurdi emas peluru perak Lan Khong tay sedang menancap di atas tanah. Mata tunggal--Mendadak bayangan manusia berjubah hitam. siapa pula orang itu? Apakah dia bukan pembunuh ayahnya? . entah goresan lukisan atau tulisan . diapun tak tahu apakah di kolong langit terdapat orang yang menggu-na-kan nama marga To. Tampaknya tulisan itu adalah sebuah hu-ruf "To" atau tunggal. Tapi dia kecewa. Lama sekali Lan See giok mengamati go-re-san itu dengan seksama. "Apakah arti kata dari huruf To itu? Apakah julukan dari pembunuh ayahnya. dengan kobaran api dendam segera gumam nya.. berwajah seram dan bermata tunggal itu melintas kembali dalam benaknya. . Lan See giok segera mengambil lampu lentera di meja dan didekatkan pada goresan tersebut. la tahu... Dengan termangu mangu dia mengawasi huruf tersebut sambil berpikir. . ke-mudian sambil duduk di sisinya dia menangis ter-sedu sedu. akhirnya dia ber-hasil menarik kesimpulan kalau goresan tersebut adalah sebuah goresan tulisan. apakah ada yang ber-julukan dengan huruf To "ataupun meng-gunakan nama marga To--. . sementara di atasnya telah terukir sebuah goresan. Akhirnya dia meletakkan kembali lampu lentera itu ke atas meja. . tak seorangpun diantara jago-jago yang teringat olehnya memper-guna-kan-kan julukan itu. membopong jenazah ayahnya ke atas pembaringan.sudah pasti keparat itu---" Tapi diapun teringat.

buru-buru dia menuju ke sisi pembaringan di mana jenazah ayahnya berbaring. bahkan curiga kalau orang itu telah menyaksikan adegan sewaktu ayahnya terbunuh. dia curiga bukan saja orang itu telah menyimpan barang yang hendak didapatkannya. dia bertekad hendak mengguna-kan senjata gurdi emas milik ayahnya untuk membinasakan pembunuhan keji tersebut. diapun tak habis mengerti sia-pakah orang yang kemungkinan besar sem-pat mengikuti adegan pembunuhan ter-ha-dap ayahnya. baru pertama kali ini dia me-n-getahui betapa tajamnya senjata gurdi emas tersebut. kemudian menggulungnya dan dimasukkan ke dalam saku. Dalam keadaan begini dia. Selangkah demi selangkah dia berjalan menuju ke depan pembaringan. dia masih tetap mena-ruh curiga terhadap kakek berjubah kuning yang berwajah ramah itu. dia harus mencari ke belakang dinding ruangan itu serta menemukan orang yang telah menghantamnya sampai pingsan itu.36 Satu ingatan segera melintas di dalam benaknya. kemudian ber-jongkok ke bawah. Ia berjalan ke luar dari ruangan. kemudian orang yang menggeledah tubuhnya merupakan orang kedua yang perlu dicurigai. sedangkan orang yang bersembunyi di sana telah dilarikan si manu-sia bermata tunggal itu. mengerahkan segenap tenaganya untuk membetot keluar senjata gurdi tersebut. dia merasa bila ingin mengetahui siapakah pembunuh ayahnya. dia hendak membawa jenazah . Selain itu. ter-nyata fajar telah menyingsing. dia tak tahu apakah orang itulah yang telah menghajar-nya sampai pingsan atau bukan. Setitik cahaya terarah mencorong masuk lewat lubang angin dalam kamarnya. lagi pula kakek itupun pernah ber-janji dia akan menerangkan sebab musabab terja-di-nya pembunuhan terhadap ayahnya itu. Sekarang dia merasa kemungkinan si manusia bermata tunggal itulah pembunuh ayahnya yang terbesar. Walaupun begitu. Setelah mengambil keputusan. Mendadak dia melompat bangun dan segera lari menuju ke dalam kamar tidurnya. lantas ber-pen-dapat bahwa ia harus pergi menuju ke dusun Hong hi cun mencari si kakek berju-bah kuning itu dan mencari keterangan darinya. sedang-kan orang yang bersembunyi di belakang dinding dan belakang meja serta si kakek tunggal paling kecil kemungkinannya. Dalam sekejap mata saja dia lantas me-na-ruh curiga terhadap orang yang telah di-lari-kan si mata tunggal itu. di situ hanya dijum-pai segumpal darah. Dengan termangu Lan See giok menga-wasi senjata gurdi emas yang menembusi dinding ruangan itu.

. suasana begitu sedih dan penuh kepedihan membuat siapapun akan turut beriba hati bila melihatnya. oooh . . ia saksikan sesosok baya-ngan manusia diiringi suara isak tangis yang parau bergema tiba dengan kecepatan luar biasa. dengan suara yang parau si kakek bertelinga tunggal itu menangis tiada hentinya. . Lan See-giok dibuat kalut juga pikiran-nya setelah menyaksikan kejadian itu. . Dengan perasaan terperanjat Lan See giok segera berpaling. .37 ayahnya menuju ke ru-ang dalam dan membaringkannya bersama dengan jenazah ibunya. Ketika dia mengawasi pula orang yang se-dang menangis di depan jenazah ayahnya. berambut putih dan bertelinga tunggal. . Dalam waktu singkat seluruh ruangan kuburan itu sudah dipenuhi oleh isak tangis yang mengenaskan. Ketika ia mencoba untuk mengamati benda yang terjatuh ke tanah. Dalam isak tangisnya. terdengar suara isak tangis yang amat keras berkumandang datang dari pintu masuk ruangan kuburan itu. Lan See giok me-rasa ada sebuah tangan yang kurus kering sedang membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang. Waktu itu. Cepat sekali gerakan tubuh bayangan hi-tam itu. ternyata isi-nya adalah sebuah keranjang bambu yang penuh berisikan hio. hanya di dalam waktu sekejap ia te-lah tiba di sana. "Ooooh adik Khong-tay . sungguh me-ngenaskan kematianmu ini . Tampaklah bayangan hitam itu segera menubruk ke depan jenazah yang berada di atas pembaringan dan menangis tersedu sedu. dia segera menubruk ke tubuh kakek itu dan turut menangis tersedu sedu. . sebuah benda tiba-tiba terjatuh ke tanah. . . Dengan perasaan terperanjat Lan See giok segera berpikir "Siapa lagi yang datang?" Mendadak . Oleh kejadian yang berlangsung sangat mendadak dan di luar dugaan ini. Belum lagi dia berbuat sesuatu mendadak terdengar lagi suara ujung baju yang ter-hem-bus angin berhembus tiba. kontan saja Lan See -giok merasakan kesedihan yang tak ter-ken-dalikan." Begitu mengetahui kalau orang itu adalah sahabat karib ayahnya. lilin dan uang kertas. . . betapa sengsaranya engkoh tua mencari dirimu . ternyata orang itu adalah seorang kakek ku-rus kering yang berbaju abu-abu. Lan See giok hanya bisa berdiri termangu mangu dan untuk sesaat tak tahu apa yang mesti di-la-kukan. untuk menyembunyikan diri tak sempat lagi. . .

. isak tangis Lan See giok semakin menjadi. Lan See-giok belum sempat melihat raut wajah empek tuanya ini. Lan See-giok masih saja menangis ter-sedu-sedu . Lan See giok benar-benar tidak percaya dengan pandangan matanya. .." Sambil berkata dia lantas membopong tubuh Lan See-giok dan membangunkan-nya. tiba-tiba timbul suatu perasaan seram dalam hatinya. namun sepasang mata sesatnya yang penuh kelici-kan telah berubah menjadi merah membara. anak yang patut dikasi-hani. biar empek tua melihat wajahmu. tipis tak ber-jenggot. sungguh tak nyana kalau kau sudah tumbuh menjadi begini dewasa. mata sesat." Kata selanjutnya tak bisa dilanjutkan karena suaranya menjadi sesenggukan dan tersendat sendat. Mendengar panggilan "Anak Giok" yang mesra itu. su-dah sepuluh tahun lebih kita berpisah. . Dengan penuh kasih sayang kakek ber-telinga tunggal itu menyeka air mata yang membasahi pipinya. tanpa terasa lagi dia me-meluk tubuh kakek ceking bertelinga tung-gal itu semakin kencang. .. dia tak me-ngira kalau seorang yang bersuara lembut. bangun-lah. anak yang patut dikasihani. inilah panggilan mesra pertama yang dide-ngar olehnya. . tulang kening lancip serta hidung melengkung seperti pa-ruh elang. Itulah sebabnya pula dalam hati kecilnya segera menaruh perasaan yang akrab terha-dap kakek ceking bertelinga tunggal ini. mu-lut. walaupun di atas wajahnya yang penuh keriput tak nampak basah oleh air mata. namun sejak kehilangan ayahnya. jangan menangis.38 bersamaan itu pula terdengar kakek bertelinga tunggal itu berseru sambil menangis terisak: "Anak Giok. ketika dia mendo-ngakkan kepalanya dan mengamati dengan seksama. ternyata kakek ceking bertelinga tunggal ini mempunyai wajah ber-bentuk kuda. ber-alis botak. Kembali kakek itu menghela napas sedih lalu bisiknya agak gemetar : "Anak Giok.. bersi-kap hangat dan . Terdengar kakek ceking itu berkata de-ngan penuh kasih sayang." Air mata Lan See giok ibaratnya anak su-ngai yang meluap. "Anak Giok.. Tampang semacam ini seratus persen adalah tampang dari seorang manusia sesat. Setelah menangis sekian lama. Walaupun dalam ingatannya dia belum pernah mendengar ayah ibunya pernah ber-bicara tentang seorang empek yang ber-telinga tunggal... .

" Berbicara sampai di situ. dia lantas mem-bungkukkan badan dan memunguti lebih dulu kertas uang. sayang anak Giok bodoh dan tak bisa mengingat terlalu banyak. Kakek bertelinga tunggal itu segera ter-tawa getir. Tergerak hati Lan See giok setelah me-nyak-sikan benda-benda itu.. sudah tidak kenal lagi dengan empek tua?" Sambil berkata.. katanya dengan sedih: "Yaa. dengan cepat dia ber-seru: "Empek tua. Tapi menyaksikan kening Lan See giok berkerut kencang. Tapi bukankah di dunia ini tak sedikit manusia berwajah jelek dan menyeramkan yang justru berhati bajik dan mulia? Berpikir demikian.. sepasang mata sesat nya segera melirik sekejap ke arah ma-yat Lan Khong tay." Berbicara sampai di situ. waktu itu kau masih seorang anak cilik yang tak tahu apa-apa. ini memang tak dapat me-nyalahkan kau. dia segera menarik kem-bali senyumnya dan berkata lagi dengan sedih: "Anak Giok." Mendengar jawaban tersebut. Anak itu menatap sekejap si kakek. si kakek bertelinga tunggal itu segera tertawa bangga. cepat kau pungut hio dan lilin itu.39 penuh kasih sayang itu ter-nyata memiliki raut wajah yang menye-ram-kan serta menggidikkan hati. sudah sepuluh tahun lebih kita tak per-nah bersua. Menyaksikan Lan See giok hanya meng-a-matinya terus tanpa berkedip. sahutnya dengan pelan: . mari kita bersembahyang di depan jenazah ayahmu . sudah sepuluh tahun lebih kau berpisah dengan ayahku. apakah ayahmu belum per-nah membicarakan tentang diriku kepadamu?" Lan See giok merasa kurang leluasa untuk menjawab secara terus terang.. kemudian sambung-nya lebih jauh: "Anak Giok. hio dan lilin. agak lega juga perasa-an hatinya. dengan nada penuh kasih sayang kakek bertelinga tung-gal itu segera menegur: "Anak Giok. tangannya yang kurus keying itu tiada hentinya meraba bahu mau-pun punggung Lan See giok.. lalu mengangguk jujur. maka sahut-nya: "Ayah memang seringkali membicarakan tentang nama dan empek yang banyak sekali jumlahnya. darimana kau bisa tahu kalau ayah dan anak Giok tinggal di sini?" Dajri mana pula kagu bisa tahu kalbau ayahku tewas?" Kakek bertelinga tunggal itu sedikitpun tidak gugup.

semalam ketika aku berada di kota sebelah depan sana. menurut dia. apakah kau tidak bertanya ke-padanya siapa yang telah membinasakan ayahku?" Sekali lagi kakek bertelinga tunggal itu merasakan hatinya bergetar keras sesudah menyaksikan sorot mata Lan See-giok yang tajam bagaikan sembilu. dengan kening berkerut serunya penuh rasa dendam. cepat dia menimbrung: "Empek maksudkan seorang kakek ber-tongkat besi yang kehilangan kaki sebelah kiri nya?" Kakek bertelinga tunggal itu nampak agak tertegun. dia menjawab: "Sebodoh-bodohnya empek. suatu kehebatan yang luar biasa. aku tahu kalau kalian tinggal di sini dan tahu juga kalau adik Khong tay te-lah tewas.40 "Anak Giok. kemudian dengan paras muka berubah hebat pikirnya: "Tebal amat hawa pembunuhan dari anak ini .. "Benar. tiba-tiba ia ber-paling ke arah kakek bertelinga tunggal itu." Kemudian sambil menghela napas sedih katanya lebih jauh. akupun mem-beli hio dan lilin. langsung berangkat ke mari. "Dua jam berselang. ternyata orang itu adalah To-kak-thi koay (Tongkat besi kaki tunggal) Gui Pak -ciang. ia merasa walau-pun usia Lan See giok hanya belasan tahun.. seorang musuh bebuyutan ayahmu di masa lalu.. aku tahu karena dia yang mem-berita-hukan hal itu kepada empek. tiba-tiba kudengar di luar penginapan ada orang se-dang membentak-bentak." Tergerak kembali perasaan Lan See giok.. Maka sambil menunjukkan perasaan sedih dan pedih. Lan See giok segera teringat kembali akan perbuatan si Toya besi berkaki tunggal Gui Pak ciang yang te-lah menusuk tubuhnya dengan toya besi terse-but.. sudah sepuluh tahun lebih empek mencari ayahmu." Kemarahan dan rasa dendam Lan See -giok segera berkobar lagi.. dia telah datang ke mari!" Diam-diam kakek bertelinga tunggal itu melirik sekejap wajah Lan See giok yang dili-puti hawa amarah. waktu itu aku merasa sedih sekali. sehingga setelah mencari keterangan jalan kemari. lalu ber-tanya dengan sedih: "Empek. kemudian serunya tidak habis mengerti: "Apa? Jadi kau kenal dengan dia?" Menyinggung soal itu. tapi paling tidak ia sudah memiliki tenaga dalam sebesar sepuluh tahun hasil latihan.. sewaktu ia mema-suki kuburan ini dibalik kegelapan tampak sesosok bayangan manusia yang . tak nanti aku akan lupa menanyakan persoalan yang maha penting ini. ketika empek lari ke luar.

Karenanya dengan kening berkerut dia mulai memutar otak untuk melakukan analisa. rupanya dia adalah seorang yang berlengan tunggal. bu-kankah hal ini membuktikan kalau ia su-dah pernah datang satu kali di situ? Dalam pada itu si kakek bertelinga tunggal sedang memasang hio sambil diam-diam mengawasi Lan See giok yang sedang ber-diri termenung. Tapi sewaktu si manusia bermata tunggal memasuki gua tadi. kemungkinan yang paling besar adalah si Beruang berlengan tunggal. Tapi sekarang telah muncul seorang ber-kaki tunggal. ia masuk dengan terburu-buru. setelah dilakukan pengejaran sampai di dalam hutan. . dengan cepat ia menjadi sadar kembali apa sebab-nya orang itu setelah menotok jalan darah-nya. tetap meraba pula dengan tangan kanan. maka dia mulai merasa ragu lagi terhadap kesimpulan nya semula yang menduga si manusia ber-mata tunggal itulah pembunuh ayahnya. siapakah yang kau maksud kan?'. sebaliknya langsung menuju ke pembaringan dan melakukan pemeriksaan. lalu berpaling sambil bertanya: "Empek tua. bahkan melirik ke arah ayahnya pun tidak. tergerak hati Lan See giok. tampaknya dia merasa ter-kejut sekali. apakah kau kenal dengan se-orang manusia bermuka hijau. Tiba-tiba ia mendengar bocah itu sedang berguman. bergigi taring dan bermata tunggal?" Paras muka kakek bertelinga tunggal itu berubah hebat. mengapa dia balik lagi untuk menggeledah pembaringan serta lubang angin?" Dengan perasaan tidak habis mengerti si kakek bertelinga tunggal itu segera menim-brung: "Anak Giok.. . dan seorang lagi bermata tunggal. "Tapi. Lan See giok berusaha menenangkan hati-nya. . kemudian serunya dengan ce-mas: ." dia lantas terbayang kembali dengan huruf "tunggal" yang digoreskan ayahnya di atas tanah. sebenarnya pembunuh ayahnya itu si Beruang berlengan tunggal Kiong Tek ciong ataukah si manusia bermata tunggal? Tapi akhirnya dia menarik kesimpulan..41 menyem-bunyikan diri. barulah diketahui kalau orang itu adalah To pit him (beruang berlengan tunggal) Kiong Tek cong. siapakah yang dimaksudkan ayahnya sebagai "tunggal" tersebut? Dengan keterangan yang diperolehnya dari si kakek yang bertelinga tunggal ini. Teringat akan "berlengan tunggal. seorang berlengan tunggal." Mendengar nama "Beruang berlengan tunggal'.

"Empek. inilah yang dina-makan takdir." "Aaai . anak Giok. dilihat dari sini dapat diketahui kalau tenaga dalamnya benar-benar sangat lihay. Diam-diam kakek bertelinga tunggal itu melirik sekejap ke arah Lan See giok ke-mudian serunya: "Anak giok. tahukah kau. tiba-tiba Lan See. Ternyata kakek bertelinga tunggal itu telah menancapkan hio tadi ke atas tiang kayu di ujung pembaringan. dia lupa menderita. apa sebabnya ayah-ku pindah ke dalam kuburan kuno ini?" Kakek bertelinga tunggal itu nampak agak sangsi.42 "Apa? Iblis keji itupun telah datang?" Dari mimik wajah kakek itu. Lan See giok segera tahu kalau manusia bermata tunggal itu adalah seorang manusia yang sangat lihay. . cepat kau bakar uabng kertas itu!"j Lan See giok gsegera tersadarb kembali dan maju mendekat. Lan See giok teringat kembali akan kakek berbaju kuning yang ber-wajah ramah itu. "Dia adalah seorang iblis yang amat ter-masyhur namanya di dalam golongan putih maupun golongan hitam. empek malah tidak tahu kalau kalian berdiam di dalam kuburan rahasia ini. "Oooh empek tua. dia . Dengan air mata bercucuran Lan See giok segera berseru.thi-koay Gui Pak ciang secara kebetulan. . Sambil menjawab. Menyinggung soal puncak Giok li hong di bukit Hoa San. ia sudah dibikin kebi-ngungan oleh teka teki yang berada di hada-pannya. jika empek ada di sini." Setelah hening sejenak. kemudian sahutnya: "Keadaan yang sebenarnya tidak begitu kuketahui. tiada air mata dalam kelopak matanya. siapakah orang itu?" serunya. tapi menurut sementara orang persilatan.giok bertanya lagi: "Empek. mereka menduga ayahmu telah berhasil menemukan sejilid kitab Cinkeng ketika berada di bawah puncak Giok li hong di bukit Hoa san . Lan See giok masih saja berdiri termangu -mangu sambil membawa uang kertas ter-se-but. orang menyebut nya sebagai To gan liau pok (setan buas ber-mata tunggal) Toan Ki tin". . . kalau aku tidak bertemu de-ngan To kak. dia lantas manggut-manggut. ". dia lantas membawa hio dan berjalan ke depan pembaringan. niscaya ayah tak sampai dicela-kai orang. . tapi apa yang kemudian tertera di hadapannya membuat ia menjadi terkejut sehingga paras mukanya berubah. . mengapa kau tidak mau datang sehari lebih pagian.

di atas wajahnya yang menyeramkan terpancar pula sinar kerakusan. kini semakin menakutkan lagi. . senyuman menyeringai segera menghiasi wajahnya. se-sungguhnjya tak lebih cuma sebuah kotak kecil . "Anak Giok apakah ayahmu pindah ke mari benar-benar dikarenakan persoalan tersebut? Dengan cepat bocah itu menggeleng. tapi ia merasa tak baik untuk mengungkap persoalan tersebut sekarang. tapi belum pernah kusaksikan ayahku membaca kitab Cinkeng apapun . Sedang si kakek bertelinga tunggal itu nampak berubah hebat paras mukanya. kelima jari tangannya yang di pentangkan bagaikan cakar pelan-pelan di ang-kat ke angkasa. dia merasa walaupun kakek bertelinga tunggal ini adalah sahabat karib ayahnya. Sementara dia masih termenung. anak Giok tidak tahu. Lan See-giok hampir saja tak sanggup menahan diri.." Mendengar sampai di situ. sahut-nya agak tergagap: "Anak Giok belum pernah menyaksikannya!" Selesai berkata dia lantas menundukkan kepalanya dengan perasaan malu dan me-nyesal. kakek bertelinga tunggal itu telah bertanya lagi de-ngan ramah. saking malunya dia sampai tak berani mendongakkan kepalanya lagi. tampang yang pada dasarnya sudah menyeramkan. "Tidak. Tenaga dalamnya segera dihimpun ke dalam telapak tangan kanannya yang kurus kering. waktu itu merasa menyesal sekali karena telah berbohong. dengan senyum ramah kakek bertelinga tunggal itu telah menukas. dia merasa tidak seharusnya berbohong terhadap se-orang empek sahabat karib ayahnya yang su-dah sepuluh tahun lebih mencari mereka. tapi sejenak kemudian katanya lagi sam-bil tertawa ramah: "Anak Giok. Sedang Lan See-giok sendiri. .43 mengatakan kalau telah ber-temu dengan ayahnya di bawah pun-cak Giok li hong. jan-tungnya berdebar semakin keras. . Maka setelah ragu-ragu sebentar." Belum selesai Lan See-giok menjawab. katanya: "Sekalipun namanya kitab Cinkeng. pernahkah kau menyaksikan kotak kecil itu?" Lan See-giok merasakan jantungnya se-makin keras. Mencorong sinar terang dari balik mata si kakek yang sesat. keningnya berkerut dan mata sesatnya me-lotot besar.

tangan kanannya yang ceking dan penuh disertai tenaga dalam itu sudah di angkat melampaui bahunya. kita harus segera mengebumikan jenazah ayahmu ini---" Lan See giok merasakan hatinya amat sa-kit bagaikan diiris-iris dengan pisau belati. kemudian kembali dia berkata: "Anak Giok." Berbicara sampai di situ. wajah yang semula menyeringai serampun kini pulih kembali seperti sedia kala. Kemudian dengan suara yang tetap ramah dan lembut dia berkata: "Tentu saja. Kejut dan girang segera menyelimuti wa-jah jelek kakek bertelinga tunggal itu. tapi sorot matanya masih tetap menatap jenazah ayahnya. Tapi kemudian berkilat sepasang mata-nya. de-ngan tak sadar dia segera berseru.44 Si kakek bertelinga tunggal itu sudah me-ngejangkan seluruh kulit mukanya." Setelah berhenti sebentar. "Kalau memang begitu. Tanpa ragu Lan See giok mengangguk. kemudian kata-nya: "Anak Giok bermaksud untuk membaring-kan-kan jenazah ayahku di samping jenazah ibuku di dalam kuburan sana---" "Apakah kau tahu jalan menuju ke dalam kuburan sana?" tidak menunggu bocah itu menyelesaikan kata katanya. mari kita segera turun tangan" .. ia mendongakkan kepalanya dan memandang jenazah ayahnya sekejap.. "Setiap tahun disaat hari kematian ibuku. ayah pasti mengajak Giok ji masuk ke dalam untuk menengok wajah ibu. ta-ngan kanannya yang sudah dipersiaprkan seperti cakar setanpun diturunkan kembalri ke bawah. mana mungkin dia akan perlihatkan kepada seorang anak yang tak tahu urusan seperti kau. se-nyuman licik menghiasi ujung bibirnya. si kakek ber-telinga tunggal itu telah menukas lebih dulu. Kakek bertelinga tunggal itu memandang sekejap ke arah jenazah yang berbaring di atas pembaringan. orang bilang masuk ke tanah akan membuat yang tiada menjadi tenteram. dua baris air mata segera jatuh bercucuran membasahi pipinya." Lan See giok segera mengiakan berulang kali untuk menutup ketidak tenangan di dalam hatinya. terhadap masalah sepenting ini. dia berkata le-bih jauh: "Apa lagi sekalipun kau tahu juga tak akan memahami betapa pentingnya benda terse-but. apalagi menyangkut benda mestika dari dunia persilatan.

dengan ce-pat dia alihkan Lan Kong thay ke bawah ketiaknya. buru-buru jenazah Lan Khong tay dibopong dengan baik. di kedua belah samping lorong itu terdapat dinding yang berbentuk hampir sama. si kakek bertelinga tunggal itu nampak sangat gelisah. sehingga wajahnya nampak berseri.hati.giok lagi. di depan situlah terletak kuburan ibuku!" Kemudian. berjalan terus tiada hentinya . kau jalan di muka!" Lan See giok pun merasa ada baiknya un-tuk segera mengirim jenazah ayahnya ke dalam kuburan. dia menjadi terharu sekali. Tak selang berapa saat kemudian. Saat itulah Lan See giok telah berpaling sembari berkata. dia tahu di depan sana adalah tempat yang mereka tuju. "Empek. Kakek bertelinga tunggal itu hampir saja tak sanggup mengendalikan gejolak emosi dalam dadanya. Akhirnya sampailah mereka di depan se-buah persimpangan jalan. sambil membopong jenazah Lan Khong-tay ia segera mengikuti di belakang Lan See giok kencang.-" . Tergerak hati kakek bertelinga tunggal itu. tahukah kau bahwa kuburan raja ini berada dalam keadaan kosong? Hanya kuburan inilah baru benar-benar merupakan kuburan Leng ong-. sewaktu dilihatnya kbakek itu membopjong jenazah ayahnya dengan amat hormat. Maka setiap kali mereka melakukan belokan dia lantas mengerahkan tenaga dalam-nya ke ujung jari dan diam-diam membuat sebuah tanda di atas dinding gua tersebut.kencang. akhirnya di depan sana muncul setitik cahaya yang amat redup dibalik kegelapan. dan di sana terdapat pintu besi yang besarnya hampir sama tertutup rapat. buru-buru dia menuju ke depan pembaringan dan membopong bangun jenazah dari si Gurdi emas peluru perak Lan Khong tay. maka sambil mengangguk dia berjalan lebih dulu menuju ke sebuah lorong. "Empek. kemudian melanjutkan: "Giok ji. . Kedua orang itu dengan menelusuri lorong yang gelap segera berputar ke kiri berbelok ke kanan. apa lagi setelah menyaksikan Lan See-giok berjalan dengan langkah yang amat berhati .45 Tidak menunggu pendapat dari Lan See. Melihat hal itu. mereka telah melalui tujuh buah ruangan batu ber-bentuk persegi serta tiga puluh ruang ku-buran kosong yang amat besar. segera ujarnya lebih jauh.

" BAB 3 RAHASIA TERCURINYA PEDANG DENGAN wajah tertegun Lan See giok segera berpaling dan memandang sekejap ke arah kakek bertelinga tunggal itu. tapi nyatanya Lan See giok dengan sepasang tangannya dapat mengangkat batu itu secara mudah. Lan See giok segera menyeka air mata dan berjalan masuk ke dalam ruangan batu di sebelah kiri. hal ini kontan saja membuat kakek itu berubah wajah dan terperanjat sekali. Pelan-pelan Lan See giok berjalan menuju ke sudut ruangan sebelah dalam lalu me-nyingkapkannya ke atas. . Batuan yang berada di sana palbing tidak mencapai dua tiga ratus kati beratnya. meskipun tak bisa ber-temu dalam keadaan hidup. paras mukanya yang jelek dan licikpun mengikuti setiap perubahan dari Lan See giok berubah ubah. Dengan cepat kakek itu tahu kalau dia te-lah salah berbicara. Sementara itu kakek bertelinga tunggal se-dang mengawasi gerak gerik. Di atas pintu besi itu terdapat sebuah mu-tiara yang memancarkan cahaya berkilauan. bocah itu de-ngan seksama. ujarnya de-ngan penuh kesedihan. "Sesudah sepuluh tahun lebih empek men-cari orang tuamu. Sebuah pintu besi yang tinggi besar ber-diri angker di hadapan mereka. dengan cepat pikirnya: . pintu itu tertutup rapat sementara di sebelah kiri dan kanannya masingmasing terdapat sebuah ruangan batu. . tapi asal aku bisa melihat wajah ibumu yang sudah lama tiada pun rasanya tidak sia-sia belaka per-jalananku selama puluhan tahun ini" Lan See giok segera mengucurkan kem-bali air matanya karena ia sedih. mereka sudah tiba di suatu tempat yang bersinar itu. "Empek tahu . Selintas hawa napsu membunuh segera menghiasi wajah yang jelek. Menurut penilaiannya secara diam-diam. . Sementara pembicaraan sedang berlangsung. sampai lama kemudian ia baru ber-kata dengan suara gemetar.46 Tak terlukiskan rasa girang kakek ber-telinga tunggal itu setelah mendengar uca-pan tersebut. satu ingatan dengan ce-pat melintas dalam benaknya. paling tidak tenaga dalam yang dimiliki Lan See giok telah mencapai sepuluh tahun ke-sempurnaan.

Hawa dingin yang mengalir ke luar dari gua tersebut terasa makin lama semakin tebal. gelang itu dengan cepat terangkat ke atas menyusul muncul-nya seutas rantai besar. Kakek bertelinga tunggal itu segera merasakan ada segulung hawa dingin yang menusuk tulang memancar ke luar dari balik pintu tersebut. Lan See giok segera menyingkap kain tirai itu lalu berbisik: . dia lantas berjalan ma-suk lebih dulu ke dalam pintu besi tersebut. di ujung lorong sana merupakan sebuah dinding lagi. tanpa terasa pikirnya: "Tak heran kalau jenazah yang disimpan di sini tidak membusuk. Sekalipun kakek bertelinga tunggal itu sudah melawan dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Mendadak. suhu udaranya saja sudah begini dinginnya. pintu besi itu pelan-pelan menggeser ke samping dan terbuka lebar. Di balik pintu merupakan sebuah lorong yang panjangnya dua kaki. mari kita masuk!" Sembari berkata. manusia semacam ini tak boleh diampuni dengan begitu saja-" Ia menyaksikan pula sebuah gelang besar berwarna hitam yang berkilat berada di bawah batu itu dan menempel di atas tanah. tanpa terasa sekujur badannya gemetar keras. terlihat-lah di kiri dan kanan lorong terdapat pula se-buah pintu besi. Lan See-giok telah masuk pula ke dalam ru-angan. dari bawah tanah sana berkumandang suara gemerincing yang amat ramai.. Setibanya di ujrung lorong sana. Waktu itu pintu besi sudah terbuka lebar. Menyusul kemudian pintu besi yang tinggi besar itu pelan-pelan bergeser kedua belah samping dengan menimbulkan suara gemericit yang berat. kemudian mengikuti di belakang Lan See giok. Lan See giok berjalan ke pintu sebelah kiri.47 "Jelas dia merupakan bibit bencana. kemudian membentak keras sambil membetotnya ke atas. dia segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan hawa dingin yang mencekam.. Lan See giok segera menggenggam gelang itu. kemudian mendorongnya dengan sepenuh tenaga." Setelah memasuki pintu besi. di bagian tengah dinding terdapat sebaris batu permata sebesar kepalan yang memancarkan cahaya berkilauan. Kakek bertelinga tunggal itu manggut-manggut. kepada kakek bertelinga tunggal itu segera serunya: "Empek tua. namun ia masih terasa kedinginan bagaikan berada dalam gudang es. di hadapan mereka terbentang selapis kain tirai yang sangat tebal.

. Lambat laun dari satu kaki di depannya muncul setitik cahaya bersilang yang aneh sekali. .48 "Empek. . Kedua bilah pedang itu diletakkan di atas sebuah hiolo kecil terbuat dari tembaga yang diletakkan di atas meja batu. ditengah langit-langit terdapat sebuah mutiara merah sebesar telur itik. ." Kakek bertelinga tunggal itu memang su-dah lama mendengar kalau dalam kuburan raja terdapat banyak barang mestika yang tak ternilai harganya. cahaya di dalam kuburan itu sangat redup. dia telah memasukinya. masuklah lebih dulu!" Tanpa sangsi kakek itu membungkukkan badan dan sambil membopong jenazah Lan Khong-tay masuk ke dalam. hanya saja dikarenakan kuburan jebakan kelewat banyak. sebelum daya penglihatannya pulih kembali. Dan kini. sifat kera-kusan-nya muncul kembali. sekali lagi sepasang mata sesat dari kakek bertelinga tunggal itu me-mancarkan cahaya tajam. cepat dia amati dengan lebih seksama lagi. dia tak berani masuk ke dalam secara gegabah. maka jarang sekali ada orang yang berani masuk ke sana. Dinginnya udara dalam ruangan itu segera membuat kakek bertelinga tunggal itu merasakan tangan maupun wajahnya sakit bagaikan disayatsayat pisau. Dengan wajah serius Lan See-giok me-nu-runkan kembali tirai itu.. masing-masing membujur beberapa buah peti mati tembaga. bahayanya juga besar. Mendadak terdengar Lan See giok berbisik lirih. seakan akan lupa dengan jenazah Lan Khong tay yang masih berada dalam pelukannya dia maju ke de-pan. lalu bisiknya: "Empek. sekarang baru terlihat olehnya kalau di se-belah kiri dan kanan meja batu di mana pedang tersebut terletak. "Empek. Ketika cahaya silang itu diperhatikan lagi dengan seksama. Memandang semua benda gemerlapan yang berada di sana. dari peti tembaga ke tiga belok ke sebelah kanan. hal tersebut benar-benar merupakan suatu kejadian yang tak pernah diduga sebelum-nya. di kedua belah sisi hiolo kecil itu terletak sebuah ko-tak kecil yang terbuat dari emas. sebentar lagi kau akan melihat dengan jelas. ternyata benda itu adalah sepasang pedang berkain kuning yang diletakkan bersilang." Selesai berkata ia maju ke depan lebih dulu Teguran itu segera menyadarkan kembali si kakek bertelinga tunggal dari kekhilafan-nya. untuk sesaat suasana di dalam sana masih terasa remangremang dan tidak jelas.

49 Maka dia segera maju ke depan dan me-ngikuti di belakang Lan See. Sebab dia masih ingat. Iapun menjumpai paras muka Lan See giok mirip sekali dengan wajah perempuan sete-ngah umur yang berbaring dalam peti mati itu. Peti mati tembaga itu terbuat dari batu kristal sehingga raut wajah seorang perempuan setengah umur yang berada di sebelah kanan peti mati itu dapat terlihat jelas. sikap tersebut seakan akan sudah lupa de-ngan tujuan kedatangan yang sebenarnya di sana. Sambil menangis tersedu sedu. waktu itupun dia merasa keheranan dan ingin tahbu malah tidak bjerada di bawah gempek bertelingba tunggal ini. Lan See giok tak dapat mengendalikan rasa sedihnya lagi..". pelan-pelan Lan See giok menggeser penutup peti mati itu ke samping. Maka tanpa banyak berbicara lagi dia menghampiri sebuah peti mati tembaga dan melongok sekejap wajah ibunya yang berbaring di dalam. Tampaknya kakek bertelinga tunggal itu sangat bernapsu dengan sepasang pedang serta sepasang kotak kecil di meja batu. dia jumpai sebuah peti mati tembaga yang besar dan cukup memuat dua orang membujur di hadapannya.giok. hingga dengan begitu wajah pe-rempuan setengah umur yang berada dalam peti mati itupun dapat terlihat se-makin jelas. Kini sepasang mata kakek bertelinga tung-gal itu sudah terbiasa melihat dalam kege-lapan ia saksikan pula sebuah peti mati rak-sasa yang terbuat dari kaca kristal. meski matanya terpejam dan mukanya putih bagaikan kemala namun tak bisa disangkal lagi kalau perempuan itu adalah seorang perempuan cantik.. sewaktu ia masuk ke sana untuk pertama kalinya dulu. Diam-diam Lan See giok merasa agak tak senang hati juga melihat tindak tanduk kakek bertelinga tunggal itu setelah berada di sana dan celingukan ke sana kemari. tapi diapun tidak menegur ataupun mengu-apkan sesuatu. ketika Lan See- . lalu dengan air mata bercu-curan bisiknya: "Ibu. ayah telah datang untuk menemani mu . Kakek bertelinga tunggal itu segera me-narik kembali pandangannya dan menundukkan kepala. Perempuan itu berhidung mancung dan berbibir kecil.. dia segera menjerit ter-tahan: "Ibu!" Kemudian diapun memeluk kepala ayah-nya sambil menangis terisak sebelum akhirnya empek bertelinga tunggal mem-bopong jenazah ayahnya untuk dibaringkan di sisi jenazah ibunya.

ia nampak masih amat segar. paling banter umurnya baru dua puluh enam-tujuh tahunan.50 giok sedang berlutut sambil menangis. beristirahatlah kalian dengan tenang. Sang raja mengenakan kopiah kebesaran dengan jubah kuning bersulamkan naga. " Berpikir sampai di situ. ternyata di peti mati itu adalah Raja Leng ong serta permaisurinya. tapi suatu saat bila lohu su-dah merasa ajalku hampir tiba. wajahnya cantik dan senyuman dikulum. Ketika melewati sisi beberapa buah peti mati tembaga yang membujur di sana. sekilas pabndangan saja djapat diketahui gkalau semua benbda itu terbuat dari bahan berharga. jenggotnya yang hitam terurai sepanjang dada. jelas perempuan ini dipaksa mati untuk menemani suaminya. kemudian sambil me-nyeringai seram pikirnya. sekarang kau boleh berbaring nyaman di situ. Kakek bertelinga tunggal itu segera ber-jalan mendekati peti mati kaca kristal itu. ia saksikan pula banyak sekali ukiran-ukiran bocah lelaki dan perempuan dengan pakaian yang perlente tergeletak di situ. Ayah. bila anak Giok berhasil mencincang tubuh musuh kita. ia nampak sangat tenang. kemudian melongok ke dalamnya." Si kakek bertelinga tunggal yang mende-ngar gumaman tersebut diamdiam mendengus. dia lantas berjalan menuju ke depan kain kuning berisi sepasang pedang itu dan siap untuk me-ngambilnya. Kakek bertelinga tunggal itu memandang sekejap ke arah jenazah Lengong yang berada dalam peti mati. sekulum senyuman sinis segera ter-sungging di atas wajahnya. lindungilah anak Giok. . .sedu: "Ayah. "Hmm . . . pejamkanlah matamu yang melotot gusar itu . diam-diam dia meninggalkan tempat itu dan mendekati meja batu terse-but. aku bersumpah akan mencincang tubuh manusia laknat itu untuk membalas-kan dendam bagimu. saat itulah kau harus ke luar dari situ karena tempatmu akan kugunakan . Barulah pada peti mati tembaga yang ke empat dia jumpai jenazah dari seorang pemuda dan gadis yang sesungguhnya. ibu. Kemudian dia melanjutkan kembali per-buatannya untuk membuka kain kuning tersebut--- . sekalipun badan Giok ji harus han-cur lebur. . Di sisinya berbaring permaisuri yang nam-pak masih amat muda. Mendadak di pihak sana kedengaran Lan See giok sedang berseru sambil menangis tersedu.

dunia persilatan akan banjir darah.. apakah pedang itu adalah Jit hoa?" Berseri wajah kakek itu setelah mendengar ucapan tersebut. niscaya dia sudah mendorongnya keluar dari tempat itu. jangan kau sentuh.51 Begitu kain kuning itu terbuka.. andaikata ia bukan teman akrab ayah-nya. se-ketika itu juga cahaya berkilauan yang amat menusuk pandangan mata memancar ke em-pat penjuru. pedang itu melejit ke luar sepanjang beberapa inci. di bagian tengahnya ter-dapat sebuah sulaman matahari merah dengan di sisinya terdapat sulaman awan. Lan See giok menyesal sekali setelah menyaksikan kenekatan kakek itu.. dia merasa tidak seharusnya mengajak orang itu ke mari. Pedang yang berada di tangan kakek ber-telinga tunggal itu bercahaya merah. Klik!" lamat-lamat berkumandang suara pekikan naga. sahutnya dengan cepat: "Benar. Pada kedua belah sisi sarung tadi bertatahkan batu permata kecil yang membentuk dua buah huruf kecil. Maka segera serunya setelah menyaksikan kakek bertelinga tunggal itu hanya mem-bungkam belaka. dari mana kau bisa tahu?" "Ayah yang mengatakan kepadaku!" Dengan gembira kakek itu segera menekan tombol rahasia di atas pedang itu. Lan See-giok memang seorang bocah." Sembari berkata dia lantas mengambil salah satu dari pedang itu. "Empek. cahaya. di atas sarung pedangnya bertaburan batu permata yang sangat indah. berkilauan segera memancar ke empat pen-juru.. . serunya sinis. Lan See giok merrasa amat terperanjat. buru-buwru dia lari mendekat sambil berte-riak: "Empek. tapi setelah diambil empek terse-but. pedang ini memang pedang Jit -hoa. omongan anak kecil. diapun ikut maju ke depan untuk bisa melihat lebih jelas. tunggal itu nampak membungkam dalam seribu bahasa. Giok. jika sepasang pedang itu tergeser. ayah pernah bilang.ji. agaknya ia tidak mengenal apa arti dari kedua huruf kuno itu. walaupun dia tahu kalau pedang itu dilarang disentuh. Menyusul kemudian tubuh. jangan kau sentuh sepasang pedang itu!" Kakek bertelinga tunggal itu kontan saja tertawa dingin. Dengan kening berkerut kakek bertelinga. "Aaah.

la mencoba untuk mengenali tulisan kuno di gagang pedang tersebut. setelah itu dia mengambil pedang yang lain. akhirnya dengan wajah memerah dia pura--pura bertanya: "Giok ji. "Ayah pernah membaca risalah sejarah dalam kitab pusaka kedua pedang itu." buru-buru Lan See giok mencegah. Lan See-giok masih teringat selalu dengan pesan ayahnya dulu. kulit wajahnya mengejang keras . hanya bedanya di tengah sarung pedang ini berukirkan sebuah rembulan. Kakek bertelinga tunggal itu segera manggut-manggut sambil memuji. jangan dilihat lagi. " Tentu saja kakek itu tidak menggubris per-kataan bocah tersebut. perasaan si kakek bertelinga tunggal itu kembali tergerak. sambil me-lotot besar teriaknya. segera memancar ke luar serentetan cahaya ber-warna emas yang menyilaukan mata. maka ayah tahu dengan jelas. Bentuk pedang ini hampir serupa dengan pedang yang pertama tadi. . "Empek. kedua bilah pedang ini memang merupakan pedang Jit hoa dan Gwat hui kiam yang menjadi idaman dari setiap umat persilatan---" "Klik!" di tengah dentingan nyaring. meski sudah bersejarah ribuan ta-hun. "Ayahmu dengar pula dari siapa? " Sembari berkata dia menyarungkan kembali pedang itu. sepasang pedang ini adalah Jit gwat tong kong kiam.52 Saking emosinya seluruh tubuh kakek bertelinga tunggal itu gemetar keras. tapi tak dikenal. "Ehmm. . ke atas kotak emas kecil di sisi hiolo tersebut. namun jarang sekali muncul dalam dunia. cepat kembalikan pada tempatnya!" . . sepasang matanya yang licik tanpa terasa melirik sekejap. ucapanmu memang benar. "menurut ayah." Seketika itu juga paras muka kakek itu berubah menjadi merah padam. "Empek" dengan perasaan tak habis mengerti Lan See giok berseru." Mendengar perkataan itu. "Klik!" ia masukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya kemudian diletakkan kem-bali ke meja.. jarang diketahui umat per-silatan. dia telah melo-loskan pedang yang lain. maka ketika dilihatnya kakek bertelinga tunggal itu belum juga mengembalikan pedang mestika itu ke tem-patnya semula. "kedua belah pedang ini sama bentuknya . dengan gelisah dia lantas berseru: "Empek. kau kenal dengan nama pedang ini?" "Pedang itu adalah Gwat hui kiam!" jawab Lan See giok tanpa sangsi. sebelum Lan See -giok menyelesaikan kata katanya.

" Dia lantas berjalan menuju ke arah luar. satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya. kemudian baru ke luar dari sana. Lan See giok segera mengangguk puas. ketika ia memandang ke dalam peti mati tersebut. tapi dia tidak berkata apa-apa lagi. Lan See giok mulai membenahi pakaian serta barang keperluan sehari -harinya. beberapa kali dia nampak seperti kehabisan sabar tapi secara tiba-tiba wajah-nya berseri. katanya kemudian: "Empek. Lan See giok memandang sekejap wajah orang tuanya. Kakek bertelinga tunggal itu mengikuti di belakangnya. dengan cepat ia membantu bocah itu untuk menutup kembali peti mati tembaga tersebut. sebelum senyuman menyeramkan segera menghiasi bibirnya. Rupanya sepasang mata si Gurdi emas peluru perak Lan Khong tay yang semula melotot besar. meski dia tidak percaya dengan setan. tak urung hatinya merasa bergidik juga. Setelah ke luar dari ruangan kuburan. mari kita berangkat. Dengan perasaan terkesiap buru-buru seru nya kepada Lan See giok: "Coba lihat. kini telah terpejam kembali. mata ayahmu telah memejam kembali. lalu sambil berdiri katanya: "Empek. tapi hanya sejenak ke-mudian dia telah bersikap tenang kembali. Kakek bertelinga tunggal itu nampak geli-sah sekali. peluh dingin segera ber-cucuran. Lan See giok segera menuju ke kamar sebelah kiri dan memutar kembali gelang besi di atas pintu besar itu. dia melirik sekejap dengan sinar mata rakus. . pelan-pelan pintu besi yang besar tadi merapat kembali. namun di dalam ku-buran yang sepi dan mengerikan ini. mendadak paras mukanya berubah. Kemudian mereka berjalan kembali ke ru-angan depan. Setelah semua selesai. Lan See giok baru menyembah beberapa kali di depan peti mati itu. mari kita tutup peti mati itu!". Sembari berkata dia berjalan lebih dulu menuju ke depan peti mati orang tuanya. lalu menjawab: "Sepasang mata ayahku terpejam kembali ketika aku bersumpah akan mencincang tubuh musuh besar pembunuhnya!" Agak berubah wajah kakek itu. kapan mata ayahmu memejam kembali?" Ketika mengucapkan perkataan itu mata nya yang sesat menunjukkan perasaan kuatir wajahnyapun merasa ngeri.53 Sekilas hawa amarah segera melintas di atas wajah kakek itu. sewaktu lewat di sini pedang Jit-hoa-gwat hui kiam. sambil manggutmanggut dia letakkan kem-bali ke dua bilah pedang itu di tempat semu-la. Kakek bertelinga tunggal itu mengikuti di belakangnya.

tanpa terasa serunya.54 Dengan suara ramah dan penuh kasih sayang diapun segera berkata: "Giok ji. setelah berhasil menenangkan dia menyahut : "Tentu saja pernah berjumpa!" . kemudian katanya kembali: "Empek. dia lama sekali tidak memberi komentar apa-apa. " Kakek bertelinga tunggal itu hanya mendengarkan dengan seksama." Setelah berhenti sebentar. maka dengan cepat dia mengambil makanan dari ruangan lain sekalian membawa serta sebotol arak ayahnya yang belum sempat diminum. "yang kumaksudkan adalah bibi Wanmu -itu!" Lan See giok segera termenung sebentar. bukan begitu. apakah kemarin dia akan menduga bakal terjadi peristiwa seperti hari ini? Seperti juga adik Wan. sedang suami bibi Wan she Ciu . Mendadak dengan kening berkerut Lan See-giok berseru "Empek. agaknya dia tidak menduga akan menjumpai pertanyaan semacam itu. "Empek maksudkan bibi Wan?" "Benar. kembali dia melanjutkan: "Kalau dibilang bibi Wan adalah adik kandung ayahku. apakah dia akan menduga kalau engkohnya bakal tiada. . kakek itu menghela napas panjang. seperti misalnya ayahmu. apakah kalian pernah bersua dengan bibi Wan?" Agak tertegun kakek bertelinga tunggal itu mendengar pertanyaan tersebut. cuma aku tidak habis mengerti kenapa ayah ibuku belum pernah membicarakan hal itu kepadaku? Mengapa mereka tak pernah memberitahukan kepadaku kalau mempu-nyai bibi Wan yang begitu cantik. benarkah bibi Wan adalah adik kandung ayahku?" "Untuk sesaat kakek bertelinga tunggal itu merenung sebentar. Setelah meneguk secawan arak. secara mendadak ---" Terkesiap hati Lan See giok mendengar perkataan itu. kemudian katanya: "Giok ji. kemudian setelah me-mandang cawan arak di meja sekejap sahut-nya: "Mengapa secara tiba-tiba kau ajukan per-tanyaan ini? Apakah bibi Wan mu tidak me-nyayangi dirimu?" "Bukan. . ambilkan makanan untuk empek mengisi perut. "bibi Wan sangat baik kepadaku."" sahut kakek itu sambil mengang-guk tenang. aku pikir kau sendiri pun tentu sudah lapar bukan." seru bocah itu serius." Lan See giok memang lapar. nasib manusia sukar ditebak. orang bilang perubahan cuaca su-kar diduga. padahal ayahku she Lan sedang bibi Wan she Han.

mengapa harus malu? Di kemudian hari kau akan siang malam hidup bersama dengan enci Cu mu." Tanpa terasa Lan See giok terbayang kem-bali dengan bayangan tubuh enci Cian nya. aku tak akan takut lagi terhadap musuh besarku. haaah ." Lan See giok merasa perlu untuk memberi kabar kepada Bibi Wan nya tentang musibah yang menimpa ayahnya. "Anak dungu... sekarang aku belum bisa ikut em-pek untuk belajar silat--" .. empek memang paling suka dengan orang yang bersemangat seperti kau. "Putri bibi Wan sekarang telah berusia enam belas tahun!" Kakek bertelinga tunggal itu segera me-ng-iakan dengan mengandung sesuatu mak-sud." Paras muka kakek bertelinga tunggal itu kembali mengejang keras. Sekali lagi kakek itu tertawa tergelak.. agaknya dia hendak mengguna-kan kesempatan itu untuk menenangkan kembali hatinya. kaupun sebaya dengan usia enci Cu mu" "Enci Cu? Enci Cu yang mana?" Lan See -giok tertegun. "Haaah . Kakek bertelinga tunggal itu segera tertawa terbahak-bahak. adalah Siau cu putri empek!" Merah padam selembar wajah Lan See -giok karena jengah. "Tentu saja!" Dengan cepat Lan See giok menggebrak meja keras-keras. anak bodoh. . dia lantas berseru. Terdengar kakek bertelinga tunggal itu berkata lebih lanjut dengan gembira. .55 Sambil berkata dia lantas mereguk arak-nya setegukan. buru-buru dia menundukkan kepalanya rendah-rendah. Berapa saat kemudian ia baru melanjut-kan. . pujinya berulang kali: "Punya semangat. serunya sambil tersenyum. punya semangat. jadi kau hendak mengajarkan Ilmu silat kepada Giok ji?" seru Lan See giok gembira. bermain bersama . "Cuma waktu itu dia masih seorang gadis yang berusia lima enam belas ta-hunan. maka dia berkata kembali: "Cuma. tapi ia segera men-dongakkan kepalanya sambil tertawa terge-lak. enci Cu. "Kalau begitu. berlatih ilmu silat bersama. ." "Empek. kemudian dengan mata melotot serunya: "Bila Giok ji telah berhasil memiliki ilmu silat selihai empek. haaah .

56 "Kenapa?" tanya kakek bertelinga tunggal itu terkejut. "Tidak usah. bau obat apaan ini?. . "Sebab Giok-ji merasa perlu untuk mem-beri kabar dulu kepada bibi Wan atas musi-bah yang telah menimpa ayahku---" Belubm lagi Lan See-jgiok menyelesaigkan kata-katanyba. ternyata diteri-ma-nya juga tanpa sangsi. anak bodoh. "Cuma. "Haaah . meski bau obat itu busuknya menusuk hidung. tapi aku hendak mewariskan ilmu silat dulu kepadamu. busuknya bukan buatan ---" Sementara ia masih termenung. lalu ujarnya lebih jauh. tenaga . haaah . sekilas perasaan kejut ber-campur girang telah menghiasi wajah si kakek yang jelek. Dengan cepat ujarnya lagi dengan suara dalam: "Yaa. kemudian kau mesti duduk bersemedi sesaat sebelum khasiat obat itu dapat diserap oleh tubuh-mu. Giok ji tidak lelah!" tukas Lin See giok sambil menggeleng. senyuman yang semula me-nye-limuti wajahnya seketika lenyap tak ber-bekas. setelah bersantap nanti kita mesti beristirahat dulu sebelum berangkat . haaah ." Setelah tahu kalau dia hendak diberi pela-jaran silat yang hebat. ia seperti ter-ingat akan sesuatu dengan cepat dia melirik sekejap kearah bocah itu. . Selesai bersantap. empek bukan kuatir kau kecapaian. . katanya ke-mudian sambil tersenyum ramah: "Giok ji. Diam-diam Lan See giok berkerut kening sesudah mengendus bau tersebut. Bau pedas yang menusuk hidung dengan cepat menyebar ke luar dari balik buli-buli tersebut. segera pikirnya: "Huuuh. tapi ia cukup waspada. pil apaan ini?" "Obat ini merupakan pil penguat badan penambah tenaga yang empek buat selama puluhan tahun lamanya dengan mengumpulb-kan pelbagai bjahan obat mestigka dari se-antebro jagad. Minum sebutir saja. kakek bertelinga tunggal itu mengeluarkan sebuah bulibuli hitam dari sakunya dan membuka penutupnya. telanlah pil ini!" Lan See-giok bernapsu untuk cepat me-miliki ilmu silat tinggi. tentu saja Lan See giok tidak mengotot lagi. "Empek tua. Maka selesai ber-santap nanti akan kuberi sebutir pil penam-bah tenaga lebih dulu untukmu. . kakek bertelinga tunggal itu telah mengeluarkan se-butir pil kecil berwarna hitam dan mengang-surkan ke hadapan bocah itu. betul! Kabar duka ini memang harus cepat-cepat disampaikan kepadanya " Setelah berhenti sebentar. . tapi sebelum dite-lan ia bertanya lagi.

"Kau harus ingat baik-baik. apalagi cuma setahun." Bau busuk yang memualkan dan hawa panas yang menyengat badan segera menye-limuti seluruh isi perutnya. sekalipun obat racun dia juga tak ambil perduli. keta-huilah betapa sulit dan sengsaranya empek untuk membuat pil tersebut. kau bisa muntah da-rah sampai mati!" Tak terlukiskan.. ia segera naik ke atas pembaringan dan duduk bersila di situ. mendadak Lan See giok jejalkan obat itu ke dalam mulut-nya. selain dapat mengusir hawa dingin. setiap bulan kau harus minum sebutir." kata si kakek bertelinga tunggal lagi dengan wajah ber-sungguh sungguh. menawarkan racun juga mem-bersihkan darah. bahan-bahan obatnya langka dan susah ditemukan. sepuluh tahurnpun belum terhitung lambat. seluruh tubuhnya terasa remuk dan sakitnya bukan kepalang. busuk dan pe-nuh perasaan bangga segera menghiasi wajah si kakek yang jelek. Sementara ingatan tersebut melintas dalam benaknya. Tapi sambil menggertak gigi bocah itu berusaha untuk mempertahankan diri. ia segera mengangguk.57 dalammu akan bertambah dengan berapa tahun hasil latihan. pokoknya obat mestika se-macam ini amat langka di dunia dewasa ini." Sambil menggigit bibir dan menahan napas Lan See giok manggutmanggut.." Mendengar kalau pil itu berkhasiat sangat banyak. kalau tidak selain khasiat obatnya tak akan menghasil-kan apaapa. seoranrg lelaki hendak membalas dendawm. jangan kau tumpahkan. cepat berbaring atau duduk di atas pembaringan. tapi demi mem-peroleh ilmu hebat. Bau busuk dari pil itu makin mengocok isi perutnya dengan makin menghebat. "mulai hari ini. kalau sudah tak tahan. lalu ditelan ke dalam perut secara "paksa. Baginya. tak sampai kakek bertelinga tunggal itu menyelesaikan katanya. bahkan tiga hari setelah masa yang ditetapkan lewat. Lan See giok tidak berbicara lagi. Selintas senyum yang licik. tulang belu-lang-nya seakan- . rasa kaget Lan See giok setelah mendengar perkataan itu. tapi di mulut ia masih berkata lagi dengan lemah lembut. dia merasa semakin mual dan hampir saja muntah-muntah. tepat setahun!" jawab kakek itu sambil tertawa bangga penuh keli-cikan.. "Anak Giok. sambil berusaha keras menekan perasaan sakit dan menderita yang mengocok isi perutnya. dia bertanya: "Berapa butir lagi yang harus kutelan?" "Dua belas butir.

" Mendengar pesan itu. peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercu-curan membasahi sekujur badannya. . buru-buru Lan See. Lan See-giok makin terkesiap. sebelum ingatan terakhir lenyap dari benaknya. namun empek bertelinga tunggal itu sudah tidak nampak lagi. Tapi dia masih sempat mendengar kakek itu berpesan: " . . Sebenarnya dia masih ingat dengan pesan empeknya dan ia tak berani muntah. Pelan-pelan Lan See giok sadar kembali dari pingsannya.giok mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghisap sari obat yang dimaksudkan. entah mengapa ternyata dalam mulutnya masih tersisa sedikit bau harum yang semerbak dan menyegarkan badan. segera pikirnya: "Heran. meski ia belum pernah minum pil penambah tenaga. tapi lambat laun kesadarannya makin pudar dan menghilang. jangan mencabangkan pikiran-mu.Kau harus tahu. . ke mana perginya empek tua?" Dengan cepat dia melompat turun dari atas pembaringan. mendadak lambungnya terasa mual sekali hingga tak tahan dia segera tumpah-tumpah.. orang bilang obat yang pahit justru merupakan obat paling mujarab untuk menyembuhkan penyakit" Dalam keadaan setengah sadar setengah tidak.. Entah berapa saat kemudian . kerahkan tenaga dalammu untuk membawa sari obat ke seluruh bagian tu-buhmu. men-dadak ia merasa kepalanya amat pusing dan kelopak matanya makin lama terasa semakin berat. dia seakan akan mendengar kakek bertelinga tunggal itu tertawa terbahak. kemudian seraplah khasiat obat itu dengan tenaga dalammu. mendadak terdengar kakek itu ber-kata lagi. sebusuk pil yang telah diminumnya barusan -Belum habis ingatan tersebut melintas le-wat.58 akan hancur berantakan. Ia merasa amat keheranan mengapa pil yang busuk baunya bisa berubah menjadi harum dan segar setelah dipakai untuk me-ngatur pernapasan? Dengan cepat dia berpaling ke sekitar situ.. baru saja menggunakan sedikit tenaga. tapi rasa mual dalam perutnya sungguh tak ter-tahan lagi sehingga tak tahan lagi. Lan See giok masih sempat mendengar sepatah dua patah kata lagi.bahak dengan seramnya. " "Giok-ji. tapi ia percaya bau sebutir pil mestika tak akan. sekarang daya kerja obat itu baru me-nyebar cepat. Dalam penderitaan yang luar biasa.

se-hingga tanpa terasa dengan perasaan. . pintu gerbang besi tetap tertutup sedangkan mutiara itupun masih memancarkan sinar yang redup. Maka sambil menghimpun tenaga dalam-nya ke dalam telapak tangan. . tentu tenaga dalam yang kumiliki akan jauh lebih dahsyat . Maka sambil menghimpun tenaga dalam-nya ke dalam telapak tangan kanan. oooh betapa beruntungnya aku. dia merasakan getaran pada dinding gua makin keras. Ketika angin pukulan itu sudah lewat. Memandang gumpalan air hitam yang ber-ceceran di tanah. Menyesal dan jengkel dia memandang se-kejap lagi ke arah gumpalan air hitam yang ditumpahkan ke luar tadi. Menyusul kemudian kedengaran pula suara gemuruh yang dahsyat menggoncang kan seluruh permukaan bumi. pikirnya : "Coba kalau air hitam itu tidak muntah ke luar. permukaan tanah kelihatan licin dan rata. Hembusan angin puyuh yang dahsyat di-iringi suara desingan yang memekakkan telinga langsung menggulung ke dalam lorong itu dan membawa habis seluruh debu dan pasir yang berada di sekitar situ. suasana dalam kuburan pun telah pulih kembali dalam keheningan. gumpalan bau busuk ber-campur air berwarna hitam. Kejut dan girang Lan See giok setelah men-yaksikan kejadian itu. Semakin ke dalam. dia ber-gerak menuju ke dalam lorong rahasia terse-but.. dengan cepat dia mencoba untuk mengatur perna-pasan. segera berham-buran keluar dari mulutnya dan berceceran di atas tanah. dengan cepat-nya dia lari menuju be depan pintu besi di muka kuburan raja-raja." . suaranya juga makin lama semakin mengerikan. . malah di balik lorong sana kedengaran suara gemuruh yang memekakkan telinga. banyak lapisan langit-langit kuburan yang bergu-guran ke tanah Lan See-giok terkejut sekali dia merasa amat kenal dengan jeritan kaget itu.59 "Uaakk. dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat ke arah mulut lorong. . .. ternyata segala sesuatunya berjalan lancar. suara jeritan itu penuh disertai perasaan ngeri. . " Pada saat itulah . Lan See giok gugup sekali.. tanpa terasa timbul perasa-an curiga dalam hati Lan See giok. lalu mengerah-kan ilmu meringankan tubuhnya. bahkan tidak terasa adanya ham-batan apa-apa. Waktu itu suara aneh tadi sudah sirap. . Mendadak ia mendengar suara jebritan kaget yanjg parau dan memgekakkan telingab berkumandang datang dari arah kuburan raja-raja dalam lorong rahasia sana. ternyata tenaga dalamnya telah peroleh kemajuan pesat. sambil tampaknya sangat mirip dengan suara jeritan empeknya.

dia tidak habis mengerti mengapa empek bertelinga satu itu belum juga ditemukan. tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya terperanjat. Gejala ini menunjukkan gejala seseorang yang terkena totokan. yang satu dipakai untuk menutupi muka. telapak tangan kanannya langsung dibabat ke atas tubuh Lan See giok. wajah penuh air keringat dan napas membu-ru.60 Lan See giok makin keheranan. "Empek tua. ." Telapak tangan kanannya yang penuh dengan himpunan tenaga dalam itu segera diayunkan pula untuk menyongsong datang-nya ancaman tersebut. terpaksa dengan suara pelan dia berseru. ia sudah tiba di kamar batu sebelah kiri. dan jelas apa yang telah dibicarakan dengan empeknya tadipun sudah didengar oleh orang yang "bersembunyi" di balik kegelapan tersebut. . Mendadak dia melompat dari atas tanah sambil membentak keras. Terpaksa Lan See giok menghimpun tenaga dalamnya ke dalam sepasang tangan. empek tua . dengan sorot mata yang tajam pelan-pelan dia berjalan menuju ke depan . tampak empek bertelinga satu terkapar dengan wajah pucat. Tombol rahasia untuk membuka pintu ger-bang kuburan raja-raja telah terbuka. bukankah hal ini menunjukkan kalau kepandaian yang dimili-ki orang itu sudah mencapai ke tingkatan yang luar biasa ? Sementara pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya. "Empek. aku. ternyata dia adalah si empek bertelinga satu. . Dengan terperanjat bocah itu segera men-jerit. yang lain dipakai melindungi dada. Kakek bertelinga satu itu menghembuskan napas panjang-panjang lalu mendusin. maka Lan See giok segera berjongkok dan menepuk pelan di atas jalan darah Mia bun hiatnya. . dengan kepandaian si em-pek bertelinga satu yang begitu libhaypun ia tak bjerhasil menemukgan orang yang mben-yembunyikan diri itu.. sedang sesosok bayangan hitam terkapar di atas tanah. dia kelihatan amat ketakutan selain merasa terperanjat sekali. Makin dipikirkan pemuda itu merasa se-makin terkesiap. Buru dia memburu ke sisinya dan meme-riksa keadaan empeknya. Ketika orang itu diperiksa dengan seksama. .-!" Namun kecuali suara yang mengandung dan memantul di empat penjuru tidak ke-de-ngaran suara lainnya. Dia tahu ada orang bersembunyi di dalam kuburan kuno itu.

paras muka si kakek berubah menjadi pucat pias. di jumpai batu di atas permukaan tanah telah terbuka. bukan aku. aku yanrg datang. "Bukan. sinar matanya memancarkan rasa kaget dan cemas peluh sebesar kacang kedelai pun jatuh ber-cucuran dengan deras. ternyata tidak ditemukan sesuatu gejala yang menunjukkan ketidak beresan. . Dalam pada itu kesadaran si kakek bertelinga tunggalpun telah pulih kembali seperti sedia kala.kong ci. Maka ditatapnya si empek yang sedang bersandar di atas dinding dengan wajah tertegun. cepat dia mencoba untuk mengatur napas. menanti dia berpaling lagi. hawa tajam segera memancar ke empat pen-juru. sedang rantainya juga telah pada menyusup masuk ke dalam lubang bagian bawah. mengapa tenaga pukulannya masih be-gitu dahsyat dan hebat walaupun sudah mi-num pil hitam pemberiannya..ke-ping oleh seorang dengan ilmu Tay-lek-kim. sesudah itu teriaknya gelisah: "Mana pedang dan kotak kecil itu?" Sekali lagi Lan See giok tertegun. Diapun melihat gelang besi di permukaan batu itu sudah dihancurkan berkeping." Dengan cepat kakek itu membalikkan badannya lalu mencari ke arah ruang dalam dengan gugup. . kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali. Maka dengan mata melotot bentaknya keras-keras. aku adalah Giok ji!" Dengan cepat rkakek itu menenangkan kembali pikirannya. gelang besar pembuka pintu besi telah rusak!" Dengan cepat dia memburu ke depan dengan terburu-buru.61 "Blaaammm. kemudian teriaknya keras-keras: "Empek. "Apakah kau yang menyergapku barusan?" Lan See giok agak tertegun.!" di tengah benturan keras. Menyaksikan kesemuanya itu. dia segera menjerit kaget: "Haaah. akibatnya Lan See giok dan kakek ber-telinga tunggal itu sama-sama mundur dengan sempoyongan dan. aku baru memburu ke mari setelah mendengar teriakanmu tadi. "Duuuk!" bahu masing-masing menumbuk di atas dinding. dalam keadaan seperti ini dia tak sempat lagi untuk memikirkan mengapa Lan See giok bisa mendusin kem-bali. . Mimpipun Lan See giok tidak menyangka kalau dia bisa menyambut serangan si empek bertelinga tunggal yang maha dahsyat itu. sekarang dia mengerti su-dah bahwa orang yang menotok jalan darah-nya barusan bukanlah Lan See giok. .

" Sementara itu paras muka si kakek ber-telinga tunggal telah pulih kembali seperti sedia kala. Kakek itu tidak menjawab. mendadak kudengar suara gemerincing. "Aaai. sambil memandang si kakek dengan kehe-ranan Lan See giok bertanya. kata Lan See giok secara tiba-tiba dengan gelisah. kunci yang mengendalikan pintu gerbang menuju ke makam rajaraja telah putus." Lan See giok merasa terkejut sekali set-elah mendengar perkataan itu. tahu-tahu jalan darahku telah ditotok orang. siapakah orang itu?" "Entahlah. sejak kini tiada orang yang bisa me-masuki makam tersebut lagi. seperti pintu besi makam raja-raja dibuka orang. buru-buru tanya-nya dengan gelisah. dia tahu hari ini telah berjumpa dengan seorang jago lihay. Setelah menutup kembali lapisan batu itu. aku jadi curiga dan memburu ke situ. buru-buru Giok ji menyusul ke mari. menyusul kemudian terdengar suara gemuruh nyaring. tiba-tiba kudengar empek berteriak. mendadak ditariknya tangan Lan See giok dan diajak berlarian menuju ke luar makam tersebut. "Cepat lari!" . Kujumpai pintu makam sudah terbuka se-dang kedua bilah pedang dan kotak kecil itu sudah terletak di atas tanah. sebenarnya apa yang telah terjadi?" Kakek bertelinga tunggal itu hanya me-na-tap wajah Lan See giok lekatlekat. meski dia masih kesal tapi ia ma-sih mempunyai pengharapan. dia seperti teringat akan sesuatu. baru saja akan masuk ke dalam pintu. "Empek tua. waktu itu empek sedang berse-medi. ia menganggap kesemuanya itu benar. dia hanya berdi-ri termangu-mangu. ternyata jalan darah empek sudah ditotok orang. sungguh tak nyana kedatangan empek terlambat selang-kah sehingga pedang Jit hoa gwat hui tong kong kiam serta kedua macam kotak kecil itu keburu dicuri orang. "Empek. Melihat empeknya tidak berbicara Lan See giok terpaksa harus berkata lagi: "Waktu Giok ji bangun. mencorong sinar tajam dari balik mata kakek bertelinga tunggal itu. tampaknya kehendak takdirlah yang menentukan segala sesuatunya. maka kata-nya setelah menghela napas sedih. sampai lama sekali tak mengucapkan se-patah kata-pun. maka tanyanya lagi dengan keheranan: "Lantas di manakah orang itu sekarang?" Ketika mendengar pertanyaan itu. empek menjadi keheranan.62 "Empek." Lan see giok tidak berpikir lebih jauh.

kakek itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Lan See giok untuk berhenti. maka tanpa komentar. Kakek bertelinga tunggal itu tidak menghi-raukan keadaan alam di sekitar sana. rantai di bawah gelang besi itu sudah terpapas kutung. tapi me-lihat kegugupan kakek itu. kenyataan tersebut mem-buatnya semakin berterima kasih atas pem-berian pil bau dan hitam dari si empek. "Empek. tela-pak tangan kirinya secepat kilat membabat rantai besi yang sedang dicengkeram dengan tangan kirinya itu-Tak terlukiskan rasa terperanjat Lan See giok menyaksikan kejadian itu. Lan See-giok jatuh terduduk di atas tanah. pintu bela-kang makam kosong itu segera menutup ra-pbat. Kakek itu nampak terkejut bercampur gi-rang. dia tahu kalau keadaan pasti gawat. waktu itu matahari sedang bersinar terang. dengan mata berkedip dia mendorong Lan See giok ke samping. Buru-buru mereka berdua menyelinap ke depan makam dan tiba di depan altar yang dimaksudkan. tanpa berhenti dia menarik Lan See giok menuju ke luar makam. di bawah batu itu terdapat sebuah gelang besi kecil. Lan See giok segera membungkukkan badan menyingkap rerumputan di balik ku-buran dan membuka sebuah batu. dengan cepat dia menghentikan gerakan tubuhnya sambil bertanya : "Di manakah letak kunci pengatur pintu masuk ke dalam makam?" "Di bawah meja altar dari batu itu. Dalam waktu singkat mereka sudah tiba di luar makam. Suara gemerincing terdengar. Dengan sikap tergesa-gesa. "Blaaammm!" Pintu belakang makam segera merapat keras-keras. kakek itu segera menarik gelang besi itu keras-keras. jangan----" Belum habis dia berkata. Setibanya di ruang tengah. Tiba-tiba kakek itu membentak keras." jawab si bocah gugup. dia mengikuti di belakang nya. segera te-riak-nya terperanjat.63 Lan See giok dibuat kebingungan oleh tin-dakan yang amat tiba-tiba itu. Karena tak diduga akan didorong. se-mentara sepasang matanya terbelalak lebar dengan wajah tidak habis mengerti. Ilmu meringankan tubuhnya memang lihay tapi sekarang anak itu merasa ilmunya se-makin lihay lagi. menyusul kemudian terdengar suara gemuruh dan goncangan yang amat dahsyat---- . pepohonan siong melambai lambai terhembus angin.

agar orang yang mencuri pedang tewas terkurung di dalam makam tersebut Berpikir sampair di situ." sela Oh Tin san sambil tertawa seram. ." "Empek akan mewariskan segenap kepan-daianku kepadamu. membuat siapa pun yang mendengar merasakan bulu kuduknya pada bangun ber-diri.haaah. sudahlah." Sebelum habis Lan See giok berkata. apalah artinya pakaian? Biar lain kali enci Cu mu yang buatkan pakaian baru buat dirimu " "Tapi di sana masih ada pula senjata raha-sia andalan ayahku Khong sim liang gin tan." Selesai berkata dia lantas menarik tangan Lan See giok sambil menambahkan: "Hayo berangkat. ru-panya kakek itu bertujuan untuk merusak pintu masuk makam raja tersebut. kita bersama sama men-cari bibi Wan mu lebih dulu. . yang di dalam pun ikut rusak. jika tombol di depan sudah putus.haaah--.. mendadak sambil melompat bangun serunya cemas: "Tapi empek. -aku hendak menggunakan cara ini untuk menunjukkan betapa lihainya aku Oh Tin san!" Sekarang Lan See giok baru mengerti. . . dia lantas berseru : "Tapi. Menanti kakek itu telah berhenti tertawa. . haaah . haaah .64 BAB 4 PERISTIWA DI TEPI TELAGA KAKEK bertelinga tunggal itu segera mem-buang gelang besi di tangannya dan men-do-ngakkan kepalanya sambil tertawa terba-hak bahak. bukankrah di dalam makam terdapat pula tombol rahasia untuk membuka pintu tersebut?" "Haaah--. Lan See giok menjadi gugup. bocah bodoh. kepandaian empek jus-tru jauh lebih hebat daripada kepandaian peluru perak ayahmu itu. kau. si kakek bertelinga tunggal itu telah tertawa tergelak kembali. semuanya berada dalam buntalan. pakaianku masih berada dalam ruangan dalam!" "Aaah. . ia baru berseru agak tergagap: "Empek. "Haaah . . untuk sesaat lama-nya dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. sebab rantai itu kan saling berhubungan satu sama lain nya. . . .. Lan See giok merasa terkejut sampai duduk termangu mangu." Dia lantas menarik tangan bocah itu berlalu dari sana. Suara tertawanya keras dan mengerikan. kau tak usah memikirkan soal itu lagi.

mendengar pertanyaan tersebut ia ragu sejenak. kini telah berubah menjadi kesedihan yang luar biasa.. ayahnya yang dicintai pun telah tiada. toh empek sendiripun bukan tandingannya.Sementara dia masih termenung. . hal .. kemungkinan saja benar. Sekarang. -dia tahu gelisahpun percuma. kemudian sahutnya. Sepanjang jalan. . suasana riang gembira yang masih mencekam perasaannya kemarin. terpaksa sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya ia mengikuti di samping kakek tersebut. Teringat akan kematian ayahnya. Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya. . dengan cepat tanyanya: "Empek. mereka lantas menelusuri jalan-jalan kecil menuju ke depan. itu berarti tin-dakan yang dilakukan empek bertelinga tunggal hanya sia-sia belaka. "Andaikata orang yang membunuh ayah adalah orang yang mencuri pedang.aku sedang berpikir. .65 Walaupun Lan See giok merasa tak senang hati.?" Berpikir sampai di situ. menda-dak terdengar Oh Tin san menegur dengan suara dalam: "Giok ji. kupelajari segenap ilmu silat yang dimiliki empek juga percuma. Lan See giok memper-hati-kan sekejap pemandangan di sekitar kom-pleks makam itu dengan pandangan sayu. "Yaa. Dalam hati kecilnya dia yakin kalau orang mencuri pedang dan kotak kecil itu sudah berhasil ke luar dari makam. dengan kepandaian silat empek yang begitu lihai pun. kau tidak merasa ada orang menguntit di belakangmu. setelah ke luar dari kompleks makam raja-raja.. ia merasa pemandangan di sekeliling tempat itu seakan akan telah berubah. mungkinkah orang yang mencuri pedang itu adalah orang yang telah membunuh ayahku?" Agaknya Oh Tin san sendiripun sedang membayangkan kembali peristiwa yang baru dialaminya. berubah menjadi lebih mengenaskan dari pada kematian ibunya dulu. Sebaliknya berbeda dengan jalan pemikiran Oh Tin san. Begitulah. apa yang sedang kau pikirkan?" "Oooh. dia mengira pencuri itu masih bersembunyi dalam kuburan dan mencuri dengar pembicaraan Lan See giok. dia lantas ber-tekad untuk mencari tokoh persilatan lain untuk belajar silat darinya. ter-utama tentang jejak kotak kecil tersebut. pikirnya. menurut pendapatmu. berarti sekalipun. mungkin memang dia!" Mendengar itu Lan See giok segera berke-rut kening. tapi setelah pintu makam tertutup. diapun teringat pula pada masalah siapakah musuh besar pembunuh ayahnya .

Setelah turun dari bukit. mendadak bentaknya keras-keras: "Giok -ji. sambil memperketat larinya dia menyusul ke sisi tubuh kakek itu. "Hmmm. Dihampirinya bocah itu dengan langkah le-bar. kemudian diamatinya jalan darah Sim keng hiat diantara alis mata Lan See giok lekat-lekat. bahkan tenaga dalamku telah memperoleh kemajuan yang cukup pesat".66 ini menunjukkan kalau kepandaian silat yang dimiliki orang itu luar biasa sekali!" Merah padam selembar wajah Oh Tin san mendengar ucapan tersebut. maka diapun tak berani banyak ber-bicara lagi. ia segera ter-tawa dingin. . bagaimana rasamu sekarang?" Ditatap sedemikian tajam oleh empek nya. meskbi ber-ilmu tinggi juga tidak terhitung seorang eng-hiong" Kemudian sambil mendengus marah dia percepat gerakan tubuhnya menuruni bukit tersebut. melejit ke udara untuk menyeberanginya. dia segera meng-hen-tikan gerakan tubuhnya lebih dahulu. benar-benar sangat baik. di depan sungai merupakan sebuah kompleks tanah pekuburan yang telah terbengkalai. kalau kerjanya hanya mabin kun-tit. Dengan kening berkerut Oh Tin San segera mengawasi wajah Lan See giok yang putih segar itu lekat-lekat. Oh Tin san sama sekali tidak berhenti. berhenti!" Seraya berseru keras. dia seperti teringat akan sesuatu. sebuah sungai kecil terbentang di depan mata. Terpaksa Lan See-giok ikut mengenjotkan badannya dan menyusul pula dari belakang. sementara pe-rasaan tertegun bercampur keheranan menyelimuti wajahnya yang jelek. Lan See-giok segera menghentikan pula gerakan tubuhnya. Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Tin san. dia mengira empek bertelinga tunggal ini sudah tahu kalau obat busuk yang dimi-numnya telah muntah ke luar. maijn sergap secarag pengecut. lalu katanya. Lan See giok merasa jantungnya ber-debar keras. Lan See giok tahu kalau empeknya lagi marah. tapi ia sudah terlanjur maju delapan depa dari pada empeknya. maka dengan agak takut-takut sahutnya "Sekarang aku merasa baik sekali empek. Ketika tiba di tepi sungai.. sampai lama kemudian ia baru bertanya "Giok ji..

. Maka diiringi bentakan nyaring. betul juga ia tidak menjumpai gejala keracunan diantara wajah bocah tersebut. . dia menuding ke arah sebuah bongpay (batu nisan) yang ter-geletak tak jauh dari situ. Setelah berhasil menenangkan hatinya. Itu berarti di balik kesemuanya itu pasti ada hal-hal yang luar biasa sekali. dia tak -tahu bagaimana caranya untuk menarik kembali telapak tangan kanannya yang telah dilon-tarkan ke depan tersebut. sambil menghimpun tenaga sebesar sepuluh bagian. . ia berharap batu nisan tersebut bisa di-hajarnya sampai hancur menjadi dua bagian. Paras muka Oh Tin san kontan saja berubah hebat. Dalam pada itu. mimpipun dia tak menyangka kalau Lan See giok memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna. bahkan pengaruh racun keji Cui bean hwe khi ngo tok wan (pil panca bisa pembawa hawa ngantuk dan bodoh) kehilangan kemampuannya. pelan-pelan dia berjalan mendekati batu nisan tersebut. dia kuatir empeknya merasa tidak puas dengan hasil yang diperolehnya. bahkan ilmu meringankan tubuhnya tidak kalah kalau dibandingkan dengan kemam-puan sendiri. . Sambil mengawasi batu nisan itu lekat-lekat. asap hijau mengepul diantara percikan batu dan pasir." diantara ledakan keras yang terjadi. telapak tangan kanannya sekuat tenaga diayunkan ke bawah-"Blaaammm. Malah sebaliknyab dia nampak lebih cerah lebih bersemangat dan matanya lebih tajam. ia tidak habis mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi. Lan See giok merasa terkejut bercampur gembira. Oh Tin san makin tercengang lagi ketika melihat jalan darah Thian teng hiat di tubuh Lan See giok tidak menunjukkan gejala hijau kehitam hitaman sewaktu menyalurkan tenaga. lalu katanya dengan serius: "Coba bacoklah batu nisan ini!" Lan See giok merasa amat tegang. maka setelah mengi-akan. tenaga dalam yang dihimpun ke dalam telapak tangan kanannya makin diperkuat. Lan See giok menjadi tertegun.67 Sekali lagi Oh Tin sun mengamati kening Lan See giok dengan mata sesatnya. mendadak dia membalikkan badan nya dan menubruk ke arah Oh Tin san sam-bil bersorak sorai. . Lan See giok sudah ber-henti pada tujuh langkah di depan batu ni-san tersebut. Maka sambil manggut-manggut pura-pura menaruh perhatian khusus.

Sambil membentak nyaring Lan See giok segera menubruk ke arah mana datangnya suara tersebut. Sekali lagi terdengar suara rintihan. dia lantas menduga Lan See giok pasti sudah menjumpai sesuatu penemuan aneh ketika ia meninggalkan nya seorang diri tadi. paras mu-kanya Segera berubah hebat. Belum sempat dia bertanya lagi. empek---" Oh Tin san pura-pura turut tertawa gem-bira. suara apakah itu?" Oh Tin san tidak menjawab pertanyaan itu. Maka diapun kembali tertawa terbahak ba-hak pura-pura gembira. . tiba-tiba berkumandang suara rintihan penuh rasa kesakitan dari sisi tempat itu. "Giok ji. "Tidak. dengan wajah terkejut bercampur heran ta-nyanya. tapi selamanya tak pernah me-nimbulkan ledakan yang menghancur lumat kan batu nisan tersebut". katanya: "Giok ji. ia tak me-n-yangka kalau di dalam kuburan yang ter-bengkalai dan peti mati. yang hancur bakal ditemukan sesosok tubuh manusia yang pe-nuh bermandikan darah segar. "Empek--. dulu aku hanya sanggup menghantam. kali ini suara tersebut kedengaran berasal dari balik sebuah kuburan bobrok. Lan See giok segera berteriak me-manggil nama empeknya dengan penuh ke-gembiraan. bahkan menyambut kedatrangan bocah ituz dengan uluran wtangannya. Lan See giok segera menangkap suara itu. kepala dan punggung bocah itu. tulangmu baik asal mau belajar dengan bersungguh hati. apakah tenaga pukulanmu dulu dapat menghancurkan batu nisan ini?" Sambil mendongakkan kepalanya yang basah karena air mata kegirangan. kemudian sambil tertawa dia baru ber-tanya. kepada Oh Tin san: "Empek. bakatmu bagus. niscaya segenap kepandaian silat empek yang lihai dapat kau pelajari semua.oooh. Berbicara sampai di situ. tangannya meraba bahu.68 Melihat itu buru-buru Oh Tin san menun-jukkan sikap senyum dan ramahnya. Begitu sampai di tempat tujuan. hanya sepasang matanya yang tajam mem-perhatikan sekeliling tanah pekuburan itu dengan seksama dan amat berhati-hati. Lan See giok menggelengkan kepalanya berulang kali. batu nisan itu hingga terbelah menjadi dua. Oh Tin san makin berkerut kening semen-tara dalam hatinya merasa terkejut. Begritu menubruk masuk ke dalam pelukan kakek itu.

Agaknya waktu itu orang yang terluka tersebut telah mendengar suara manusia. Tapi ketika ia tiba di situ. cepat-cepat dia lari menuju ke tepi sungai tersebut. membuat tampangnya ke-lihatan aneh sekali. sorot matanya semakin memancarkan rasa kaget dan gelisah. wajahnya masih diliputi oleh perasaan kaget dan marahnya. tampak oleh-nya Oh Tin san sedang memandang ke arah peti mati itu sambil menggelengkan kepala-nya berulang kali. . baru saja dia hendak berjongkok untuk mengajukan pertanyaan. matanya yang sesat ber-keliaran kesana ke mari dengan panik. Ketika melihat pula wajah Oh Tin san. muka ceking yang berbentuk segi tiga pucat pias tak nampak warna darah. kulit mukanya mengejang terus. Paras muka Oh Tin san nampak pucat pias pula seperti mayat. "Lan See giok merasa amat terperanjat. bibirnya yang pucat pias gemetar tiada hentinya. akhirnya dengan suara rendah tapi tegang bisiknya: "Cepat kau lari ke tepi sungai dan ambil-kan sedikit air!" Lan See giok tak berani berayal. Tiba-tiba terasa bayangan manusia berkelebat lewat. mendadak terdengar Oh Tin san membentak keras: "Jangan kau sentuh dia. pelan-pelan diapun membuka kembali sepasang matanya dengan sayu dan lemah. serta merta dia melompat bangun dengan perasaan tak menentu. meski sikapnya jauh lebih tenang namun air keringat nampak membasahi jidat serta hidungnya. sementara sepasang mata sesatnya berkedip kedip tanpa tujuan. cepat-cepat diham-pirinya peti mati itu. Dia seperti hendak mengucapkan sesuatu kepada 0h Tin san. Dengan cepat dia mengambil air dengan sepasang tangannya. terutama sekali atas ubun ubunnya yang tumbuh se-buah bisul besar. Lan See giok sangat tidak mengerti menghadapi kejadian seperti itu. . Paras muka Oh Tin san kelihatan berubah sangat aneh. Ketika orang itu berjumpa dengan Oh Tin san. ternyata orang tersebut sudah tewas dalam keadaan me-ngerikan. dia tahu gelagat tidak beres.69 Orang Itu mengenakan pakaian kasar dengan jenggot pendek di bawah dagunya. tapi seperti pula merasa ketakutan setengah mati." Lan See giok amat terperanjat. . kemudian cepat-cepat lari balik ke tempat semula. sementara sepasang matanya membalik ke atas. Belum lagi Lan See giok mengajukan se-suatu pertanyaan. tahu-tahu Oh Tin San sudah melewati dari sisinya dan meng-hampiri orang itu. dia tahu empek bertelinga satu hendak me-nyelamat-kan orang itu.

"Empek tampaknya orang inilah yang tanpa sengaja dilukai oleh Si bayangan setan bermata tunggal dengan senjata gurdi emas se-malam. Mendadak. apakah kita tak akan mengubur nya lebih dulu?" seru Lan See giok dengan gelisah. mengapa orang itu mati?" Oh Tin san segera menghela napas pan-jang. tampaknya orang inilah orang yang kena tertusuk oleh senjata gurdi emas dari balik dinding ruangan semalam. Dengan cepat Lan See giok menjadi sadar kembali. "Anak Giok. mari kita pergi!" Sampai di situ. se-te-lah itu ujarnya lebih jauh. kemudian setelah memandang ke arah Lan Seegiok. mungkin oleh si manusia bermata satu itu dia di buang di sana.70 Dengan perasaan tak habis mengerti Lan See giok segera bertanya: "Empek. . Oh Tin san segera menghentikan langkahnya sambil membalik kan badan. pergilah kau untuk mencari bebe-rapa buah peti mati yang sudah rusak!" Lan See giok tidak menjawab. -" Oh Tin san berlagak seakan akan terkejut bercampur keheranan. tanpa terasa dia menyeka air keringat yang membasahi jidatnya. katanya dengan sedih: "Luka yang dideritanya kelewat parah" Seraya berkata. Lan See giok merasa tidak habis mengerti. Melihat itu. katanya: "Sungguh tak kusangka kau si bocah ber-jiwa ksatria dan penuh rasa kemuliaan. "Empek. Ia menyaksikan gumpalan darah memba-sahi iga kiri orang itu. dia berkata kepada On Tin san. Mendengar itu... tapi dia lantas menduga mungkin empeknya menggerutu kepadanya karena banyak urusan. baiklah. ternyata pada tulang iga ke tiga di bawah ketiak kirinya terdapat sebuah mulut luka sebesar buah tho. Mencorong sinar mata Lan See-giok. dengan wajah berubah hebat ia membuang kayu peti mati yang masih dipegangnya tadi dan segera berjongkok. papan peti mati yang berhasil dikumpulkan itu lantas dijajar-kan ke atas tanah. dia segera pergi mencari kayu.. kemudian sorot mata nya dialihkan ke tubuh mayat tersebut dan tidak berkata apa-apa lagi. maka diapun tidak memikirkan per-soalan itu di dalam hati. Maka seraya mendongakkan kepalanya. Oh Tin-san segera mencibir-kan sekulum senyuman dingin yang meng-gidik-kan hati. dia lantas membalikkan badannya siap berlalu dari situ.

berkedip sepasang mata Lan See giok. beralis lebar. kepalanya ada benjolan daging. ia lantas berjalan paling dulu. maka dia pun mengerahkan segenap kekuatannya untuk melakukan per-jalanan. Dengan tenang Oh Tin-san memperhati-kan Lan See giok bekerja. keadaannya pasti akan lebih baikan!" seru Lan See giok kemudian sambil mengawasi mayat tersebut." Hampir saja Lan See giok menjerit ter-tahan setelah mendengar nama orang itu. ke-mudian baru menyusul di belakang Oh Tin san. sekujur badannya menggigil keras. si kaki tunggal. kenapa gelar yang digunakan orang-orang itu semua nya menggunakan kata To ? Si mata tunggal. . "Sudah pasti orang ini mengetahui siapa-kah pembunuh terkutuk yang telah membi-nasakan ayahku!" Sembari menggumam dia lantas bekerja keras untuk mengebumikan jenazah orang itu. ketika ia mendongakkan kepala tampak olehnya Oh Tinsan sudah berada puluhan kaki jauhnya di depan sana. . Mendadak. si lengan tunggal. dia tidak berbicara pun tidak berkutik. seakan-akan benaknya penuh dengan persoalan. tak selang berapa saat kemudian ia telah berhasil menyusul si kakek itu. dia baru berkata lagi: "Mari kita pergi !" Sambil berkata. masih ada apa tunggal lagi? Tiada hentinya dia berpikir di dalam hati kecilnya . Lan See-giok memandang sekejap ke arah peti mati yang sudah tertutup rapat itu. Sekarang dia telah dapat menenangkan kembali hatinya. . kemudian baru sahutnya: "Aku tidak kenal dengan orang ini. "Mengapa?" tanya Oh Tin san seperti tak mengerti. tapi kalau dilihat dari ciri khas wajahnya yang berbentuk segi tiga. Lan See giok mempunyai persoalan di dalam hati. Oh Tin san termenung dan berpikir bebe-rapa saat. si tanduk tunggal. tampaknya dia mirip sekali dengan To ciok-siu (binatang bertan-duk tunggal) Siau gi . Menanti Lan See-giok selesai bekerja. diam-diam dia merasa keheranan. apakah kau kenal dengan orang ini?" tanyanya kemudian dengan perasaan ingin tahu.71 "Coba kalau empek berhasil menolong jiwa orang ini. maka tubuhnya segera ber-gerak lagi ke depan. . "Empek. sementara sepasang matanya yang jeli mengawasi terus telinga Oh Tin san yang tinggal satu itu.

sahutnya: "Telusuri jalanan kecil itu menuju ke arah tenggara!" Dengan gembira Oh Tin san mengangguk. dia akan menerangkan pula orang-orang yang mencurigakan itu satu per satu. kedua orang itu sudah berjalan ke luar dari hutan. di samping dusun merupa-kan sebuah telaga yang luas. tampak kalau em-peknya itupun sedang termenung. kemudian bibirnya bergetar bebe-rapa kali seperti menggumamkan se-suatu. tapi ingatan lain berkecamuk pula dalam benaknya untuk menyanggah jalan pemikiran yang pertama: "Aaaah. Sambil berjalan cepat. kita harus menuju ke arah mana?� Lan See giok mengamati sekejap sekeliling tempat itu. Dia hendak menuturkan pula semua kisah kejadian yang dialaminya di makam kuno.masa empek pun mempunyai ju-lukan yang mempergunakan julukan To-Sementara ingatan itu masih melintas di dalam benaknya. diapun hendak memohon kepada bibi Wan untuk mengeluarkan kotak kecil itu. bagaimanapun juga dia merasa tak punya keberanian untuk menanyakan julu-kan dari empeknya ini. di depan mata sekarang terbentang persawahan dan hutan bambu. Kemudian. diapun membayangkan kembali si empek bertelinga tunggal itu. dengan nada tak sabar: "Giok ji. Dikejauhan sana sudah muncul sebuah dusun nelayan. ia saksikan em-pek bertelinga tunggal itu sudah berada pu-luhan kaki di depan sana. Selain itu.72 Sekali lagi dia mendongakkan kepalanya memperhatikan telinga Oh Tin san yang tinggal satu. kemudian sambil menunjuk ke arah tenggara. lalu tanyanya dengan suara lembut: "Giok ji. agar bibi Wan nya bisa menganalisa dan menyim-pulkan siapa gerangan musuh besar yang telah membinasakan ayahnya. mari kita lakukan perjalanan dengan sepenuh tenaga!" Sambil berkata die segera berangkat lebih dulu. tiada hentinya Lan See giok berpikir. kalau dilihat dari bayangan punggungnya. bagaimanakah caranya ia me-ngi-sahkan peristiwa tragis yang telah me-nimpa ayahnya. .. lalu serunya. dia ingin memeriksa sendiri isinya apa-kah benar sejilid kitab Hud bun cinkeng yang diidamkan oleh setiap umat persilatan. Tapi. itulah telaga Huan yang cu.. setibanya di rumah bibi Wan nanti. Oh Tin san mendongakkan kepalanya me-mandang sekejap matahari yang telah con-dong ke barat. Mendongakkan kepalanya.

empek bertelinga tunggalnya telah berhenti di ping-gir jalan.. . dapatkah andaikata kita tak usah melewati kampung nelayan ini . dengan perasaan tidak habis mengerti dia lantas berkata: "Empek. Ternyata mereka sudah tiba di kampung nelayan di mana dia berkelahi dengan si bo-cah hitam kemarin.. Sekalipun Oh Tin San telah membeli hio dan memeluk jenazah ayahnya sambil me-nangis tersedu sedu. bahkan membantunya sehingga ia memperoleh tenagga dalam yang hebat.. " tanya Oh Tin San sambil berusaha untuk menenang-kan hatinya. terlalu banyak. karena pada detik itu pula dia sedang mem-pertimbangkan perlukah mengajak empeknya berkunjung ke rumah bibi Wannya. . entah sedari kapan.. karena aku hanya kenal sebuah jalanan ini saja . ada urusan apa?" "Giok ji. Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar ucapan tersebut.73 Lan See giok menyaksikan Oh Tin san ber-gerak makin lama semakin cepat. maka tanyanya: "Kau maksudkan kampung nelayan ini?" "Yaa. Benar. . Lan See giok segera menghentikan gerakan tubuhnya sembari menengadah.. dia adalah seorang anak yang cer-das tapi sebelum hatinya menjadi tenang kembali rasanya mustahil baginya untuk memecahkan rentetan teka teki yang diha-dapinya sekarang. Dia tak berniat untuk menyusulnya. apa yang sedang kau pikirkan?" Suaranya agak gemetar. tapi sekarang dia mulai merasakan banyak hal yang mencurigakan. seperti lagi mena-han rasa kaget yang luar biasa . Oh Tin san kembali me-nukas dengan perasaan cemas: "Bibi Wan-mu itu sebetulnya tinggal di dusun apa?" . sinar matanya segera dialihkan ke depan. Yaa. pada hakekatnya pukulan batin yang dirasakan Lan See giok akibat peristiwa yang terjadi semalaman ini terlalu berat. Mendengar teguran itu. "Tidak mungkin. persoalan yang dihadapinya pun kelewat banyak. perasaan tegang dan ta-kutnya amat tebal menyelimuti wajahnya. apakah kita bisa tak usah melewati tempat ini?" Dengan cepat anak itu menggeleng. Mendadak ia mendengar Oh Tin San se-dang menegur dari depan sana: "Giok ji." Belum habis anak itu berbicara. jarak mereka pun makin lama selisih semakin jauh. Ia menjumpai paras muka kakek itu pucat pias seperti mayat.

dengan perasaan bimbang dia melanjutkan kembali perjalanan nya memasuki dusun. tapi aku tahu rumah yang didiami bibi Wan dalam dusun tersebut. meski ilmu silat empek itu tidak . "Dulu. makin lama semakin menimbulkan perasaan muak di dalam hati kecilnya. sekarang wajahnya yang jelek tampak menyeringai seram tangan kanannya yang kurus gemerutukan keras. cuma diantara kerutan alis matanya masih nampak perasaan kaget dan gelisahnya. Sekali lagi Lan See giok menggelengkan kepalanya berulang kali. segera jawaban-nya . serunya cepat: "Mana peta itu sekarang?" Tak sabar dia lantas mengulurkan tangan kanannya yang kurus kering. "kau boleh melanjut-kan perjalanan lebih dulu. Dia ingin sekali meninggalkan kakek itu. lama kemudian dia baru ber-tanya lagi: "Dahulu. tahu?" Walaupun Lan See giok tidak mengerti dengan maksud tujuan orang. meng-hiasi wajahnya yang jelek. bagaimana caramu untuk pergi ke sana?" Lan See giok tidak begitu memperhatikan maksud dari pertanyaan itu. sampai kita bertemu lagi!" Lan See giok mengiakan. terutama sekali wajah jeleknya yang berubah ubah tak menentu. Kini. senyumpun kembali menghiasi wajahnya. Oh Tin san segera menepuk bahu Lan See giok dengan hangat." Perasaan gelisah dan marah menbyelimuti wajah jOh Tin san. dia sudah mulai menaruh curiga ter-hadap kakek bertelirnga tunggal itu. "Sayang peta itu sudah diminta oleh bibi Wan!" Paras muka Oh Tin san kembali berubah hebat. selintas rasa kejut bercampur girang.74 "Apa nama dusun itu aku kurang tahu. pergilah! Ingat. ayah melukiskan sebuah peta jalan untukku. lalu berkata lagi: "Giok ji. . seakan akan kalau bisa dia hendak mencekal Lan See giok sampai mampus. dan akupun berjalan mengikuti peta tersebut" Mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Tin san setelah mendengar perkataan itu. "Giok ji" kembali dia berkata setelah melirik sekejap ke arah dusun. tunggu aku di de-pan dusun sana. tapi diapun berharap bisa mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi. tapi ia toh mengangguk juga. Pelan-pelan air Muka Oh Tin san ber-ubah menjadi lembut kembali. kengingnya yang kelimis bekernyit. "Empek mengapa kita tidak pergi ber-sama saja?" seru Lan See giok kemudian dengan perasaan tidak mengerti. sampai kita ber-temu lagi.

Hanya saja. serta merta dia lantas berpaling ke arah belakang. Menanti dia berpaling lagi. wajahnya yang merah dan penuh keramahan tampak berwarna merah ber-ca-haya di bawah sinar matahari sore. ketika men-dongakkan kepalanya. bahkan menampik untuk bersama sama melalui dusun nelayan itu--Sementara otaknya berputar. dengan ce-pat dia menggeleng. tapi ba-yangan tubuh Oh Tin san sudah lenyap tak berbekas. duduklah si kakek berjubah kuning yang pernah di jum-painya semalam. dia harus berangkat ke rumah kediaman bibi Wan-nya bersama empek bertelinga tungga1. di bawah sebatang potion besar. tanpa terasa ia sudah tiba di depan dusun. tenaga dalamnya akan memperoleh kemajuan yang cukup pesat. maka rasa curiga dan muaknya pun turut lenyap tak berbekas. apakah kau datang untuk mencari diriku?" Karena ditegur.75 begitu lihay. dia lantas berjumpa dengan kakek berjubah kuning tersebut. kakek ber-jubah kuning itu telah berada di depan tubuhnya. mau tak mau Lan See -giok harus menghentikan langkahnya. ia menjadi amat terpe-ranjat. Dengan wajah penuh senyuman kakek berjubah kuning itu duduk di atas sebuah batu hijau dan sedang mengawasinya dengan lembut. dia masih tidak habis me-ngerti mengapa empeknya menunjukkan sikap yang begitu tegang dan gelisah. paling tidak setiap bu-lan setelah menelan pil hitam yang busuk dan amis. Teringat akan empek bertelinga tunggal itu. Kurang lebih lima kaki di hadapannya. paling tidak tenaga dalam yang dimilikinya sekarang berapa tingkat lebih dahsyat dari pada kemarin. Waktu itu dia sedang memandang Lan See-giok sambil tertawa terbahak bahak. diam-diam ia merasa berterima kasih sekali terhadap jasa empeknya. lalu tegurnya dengan ramah: "Nak. Berpikir sampai di situ. Ia memang dapat merasakan manfaatnya. Tapi sekarang ia tak dapat melakukannya. Sekalipun dia sedang membutuhkan kete-rangan dari kakek berjubah kuning itu ten-tang sebab musabab yang sebenarnya dari kematian ayahnya serta asal usul orang-orang yang julukannya dimulai dengan huruf "To" tersebut. Lan see giok sama sekali tak menyangka kalau begitu masuk ke dusun nelayan itu. jangan-jangan Oh Tin san kenal dengan kakek berjubah kuning itu? Atau mungkin di antara mereka terikat dendam kesumat? Berpikir sampai di situ. . kembali tergerak hatinya.

Sembari berkata. merasa makin gusar. sete-lah memandang sekejap ke arah dusun. seperti sengaja tak se-ngaja dia melirik sekejap ke arah bawah di mana Lan See giok berasal. akhirnya sambil menggertak gigi dan melotot besar pelan-pelan dia menghampiri kakek berjubah kuning itu. mendadak ia bangkit berdiri kemudian mem-bentak keras: "Manusia jumawa. Lan See giok merasa terkejut bercampur kaget. di mana angin serangan berkelebat lewat. maka tak disangkal lagi kakek berjubah kuning ini adalah salah seorang yang berkomplot untuk membunuh ayahnya. Kakek berjubah kuning itu berkerut ke-ning. . menggunakan kesempatan itu kelima jari tangannya segera diayunkan ke depan menghajar jalan darah Pay wi hiat di tubuh bocah tersebut. wajahnya kelihatan agak gelisah. malah karena dengan perbuatan ini. ternyata ia dapat menotok jalan darahnya yang telah di geserkan letaknya." Sambil membalikkan badan. maka dengan nada mendongkol dia berkata: "Mengapa? Apakah aku. ujung bajunya segera dikebaskan ke depan.. hari ini jika lohu tidak memjberi pelajaran kepadamu. jalan darah Pay wi hiat nya kena tertotok se-cara telak. Lan See giok amat terkejut setelah mendengar seruan itu. ia tahu kalau bukan tandingan kakek berjubah kuning tersebut. sambil menggertak gigi dia mengawasi kakek berjubah kuning itu de-ngan penuh kegusaran." Seraya berkata dia lantas menghindari si kakek berjubah kuning itu dan berjalan menuju ke dalam dusun. terpaksa dia kabur mengambil langkah seribu. Semakin dipikirkan Lan See-giok merasa semakin gusar. kau pasti akan menganggap di dunia ini tiada hukum lagi. Sayang serangan itu datangnya lebih cepat. Semakin dipikir Lan See-giok. Sepasang kakinya segera menjadi lemas dan "Bluuk!" tubuh Lan See giok segera ter-jungkal ke atas tanah. harus memberi-ta-hukan kepadamu? Sekarang aku ada urusan dan tak bisa banyak berbicara denganmu. terkejut karena ilmu silat si kakek berjubah kuning itu sangat lihay.76 "Mengapa nak?" tanya kakek berjubah kuning itu sangat terkejut bercampur kehe-ranan. Waktu itu Lan See giok ingin buru-buru pergi ke tempat tinggal Bibi Wannya.. diapun takut empek bertelinga tunggal itu menunggu kelewat lama di depan dusun sana ditambah pula dia memang mencurigai si kakek ber-jubah kuning sebagai salah seorang yang tu-rut ambil bagian dalam persekongkolan peristiwa pembunuhan terhadap ayahnya.

dia segera mengenali kedua orang itu sebagai si nona berbaju merah Si Cay soat dan si bocah hi-tam Siau Thi gou adanya. . kemudian cepat-cepat mem-balikkan badan dan berlalu dari situ. Bayangan manusia berkelebat lewat. katanya de-ngan suara lantang.77 Pada saat itu . gusur dia pulang!" Siau Thi gou segera menenangkan hatinya lalu memburu ke depan Lan See giok. "Saudara . Tampak Siau Thi gou berlari mendekat sambil berteriak teriak penuh kegembiraan: "Suhu. dengan kening berkerut dan menjura. kenapa sampai sekarang kau baru kembali. kejut dan girang me-nyelimuti wajahnya. terhadap ucapan dari bocah perempuan berbaju merah itu dia hanya mengiakan belaka. cepat gusur pergi!" bentak kakek berjubah kuning itu gusar. ia merasa seakan akan tubuh mulai dari pinggang sampai ke bawah seperti sudah bukan menjadi miliknya sendiri. dia kuatir kalau empek bertelinga tunggal itu tak berhasil menemu-kan tempat tinggal . Kemudian kepada Siau Thi gou katanya dengan suara dalam. tahu-tahu mereka berdua telah tiba di depan mata. . . "Thi gou. sepasang matanya yang gmerah karena mengawasi Si Cay soat dan siau Thi gou tanpa berkedip. Dalam keadaan seperti ini.suhu. tapi ketika kedua orang itu me-nyaksikan Lan See giok yang tergeletak di tanah. buru-buru dia membungkukkan badan dan membopong Lan See giok. dengan ke-cepatan bagaikan sambaran petir mereka meluncur tiba. selain gusar diapun merasa takut.. Si Cay soat membelalakkan sepasang ma-tanya lebar-lebar. semalam Thio lo koko ma-sih menunggu dirimu untuk minum arak!" Lan See giok segera mendengus bdingin. paras mukanya ber-ubah beberapa kali. . Jalan darah di tubuh Lan See giok sudah tertotok. kontan saja mereka jadi tertegun. seluruh badannya terasa lemas tak bertenaga. satu berwarna hitam dan satu berwarna merah. Siau Thi gou amat terperanjat. segera teriaknya: "Suhu. Ketika Lan See-giok berpaling. " "Tak usah banyak bicara. dialah Lan See giok yang kumaksud kan sebagai bocah lelaki yang tidak roboh meski jalan darahnya tertotok!" Paras muka si kakek berjubah kuning itu bercampur aduk tak karuan.. Dari dalam dusun sana melesat ke luar dua sosok bayangan manusia.

maka semakin dipikirkan dia merasa semakin mendongkol dan gelisah. Kini dia merasa menyesal. Dengan kening berkerut dan wajah serius kakek berjubah kuning itupun mengikuti di belakang Thi gou. Dia masih ingat. Si Cay soat. Lan See giok tak dapat berbicara. Dalam waktu singkat Siau Thi gou sudah membopong Lan See giok memasuki hutan bambu dan tiba di depan sebuah pekarangan rumah. Siau Thi gou bernar-benar bertenaga besar bagawikan kerbau bajra persis seperti nama nya. Ia tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki kakek berjubah kuning itu sangat hebat. dia segera melompat ke tengah udara dan melayang masuk. ternyata ia masih bisa berjalan dengan langkah tegap. ternyata bocah itu berhasil disusul oleh gurunya. Siau Thi gou mengitari sebuah rumah bambu dan memasuki sebuah halaman kecil. ternyata rumah bambu itu berderet dikelilingi sebuah halaman yang luas. kemudian setelah mencari tahu arah yang dituju Lan See giok.78 bibi Wan nya sehingga tiada orang yang bisa menyampai kan berita tentang kematian ayahnya. Sungguh tak disangka. . paras mukanya segera berubah hebat. dengan langkah tergesa-gesa dia menyusul ke luar dusun. tak dapat berkutik. Dengan membopong tubuh Lan See giok. dia seperti merasa murung sekali karena masalah Lan See giok. sekali-pun di bahunya harus membopong tubuh Lan See giok. menyesal telah memberitahukan kepada gurunya bahwa Lan See giok tidak roboh meski jalan darahnya tertotok. untuk kabur mungkin jauh lebih sukar daripada naik ke langit. setelah tertotok sekarang. Siau Thi gou mengiakan. Lan See giok mencoba untuk memandang ke depan. ketika gurunya men-de-ngar berita itu kemarin. tapi diam-diam ia merasa kagum sekali atas kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Siau Thi gou. sewaktu kakinya mencapai permukaan tanah ternyata tidak menimbul-kan sedikit suarapun. sekalipun sedang membopong tubuh Lan See giok. karena dia tahu gurunya adalah seorang kakek yang saleh dan sangat welas kasih terhadap siapa-pun. Tapi dia percaya keselamatan jiwa Lan See giok sudah pasti tak akan terancam. si gadis berbaju merah itu mengikuti di samping kakek berjubah kuning wajahnya yang cantik nampak pula diliputi perasaan amat gelisah dan cemas. "Lompat masuk!" bisik kakek berjubah kuning itu mendadak. ke balik dinding pekarangan.

Sebelum Lan See giok sempat melihat jelas dekorasi yang berada dalam ruangan itu. . Si Cay soat dan Siau Thi gou segera mem-beri hormat pula sambil memanggil: "Thio toako . Huan kang-ciong liong Thio Lok-heng telah memburu ke tepi pemba-ringan dan menatap wajah Lan See giok lekat--lekat. . Lan See giok kembali memperhatikan orang itu." Belum habis Huan kang ciong liong me-nyelesaikan kata-katanya. setelah memperhatikan sekejap dengan gelisah. kemudian dia berjalan masuk ke dalam ruangan sebe-lah timur. serunya dengan suara rendah: "Locianpwe. tubuhnya sudah di baringkan oleh Siau Thi gou di atas pembaringan. paras mukanya segera berubah he-bat. Lan See giok segera tahu kalau orang yang masuk adalah ayah Thio Toa keng. alis matanya tebal. . diapun bertanya lagi kepada kakek berjubah kuning itu dengan nada hormat: .. Sementara itu. dia nampak gagah dan mentereng sekali. . Tergerak hati Lan See giok. matanya besar. bisa ditarik ke-simpulan kalau Huan kang ciong liong dan kakek berjubah kuning adalah pembunuh ayahnya. Kakek berjubah-kuning itu segera memba-likkan badan sambil menyongsong keda-tangan orang itu. " Mendengar nama itu. Kakek berjubah kuning dan Si Cay soat segera menyusul pula ke dalam ruangan Saat itulah mendadak terdengar suara se-o-rang kakek yang tua dan serak bertanya: "Apakah Locianpwe telah kembali?". Kalau ditinjau dari hal ini. Gerak gerik Huan kang ciong liong Thio Lok heng terhadap kakek berbaju kuning itu sa-ngat hormat. tapi begitu menyaksikan Lan See giok. ternyata kau benar-benar telah menemukan si gurdi emas . dia tahu yang dimaksudkan sebagai Huan kang-ciong liong adalah gelar ayahnya yaitu si Gurdi emas peluru perak. hidung singa dan mulut lebar.79 Thi gou berpaling dan memandang sekejap kearah kakek berjubah kuning itu. Sesosok bayangan tubuh yang tinggi besar telah muncul dari balik pintu ruangan. yaitu orang yang dimaksud-kan kakek berjubah kuning itu sebagai Huan kang ciong liong ( naga sakti pembalik sungai ) Thio Lok heng . ia saksikan orang tersebut mempunyai perawakan badan yang tinggi besar dan be-rambut putih. kakek berjubah kuning itu telah memberi tanda agar dia ja-ngan berbicara lebih jauh.

paras mukanya segera berubah hebat. apakah ia tak akan terluka?" Tampaknya kakek berjubah tuning itu mempunyai kesulitan untuk diutarakan. tampaknya jauh melebihi tingkat usianya. ingat.. Setelah menarik kembali tangannya. maka setelah termenung sebentar." Sedang kakek berjubah kuning itu segera mengangkat bahu sambil manggut-manggut. setelah memandang sekejap ke arah kakek berjubah kuning itu dia seperti hendak mengatakan: "Tenaga dalam yang dimiliki bocah itu. temanilah dia bermain main. jangan tinggalkan tempat ini. Melihat Si Cay soat berjalan mendekat. yang pertama tidak menge-nai sasarannya. Si Cay soat telah ber-jalan ke depan pembaringan dan melepaskan lima buah pukulan berantai ke atas jalan darah Mia bun hiat di tubuh Lan See giok. Tampaknya kakek berjubah kuning itu ma-sih mempunyai banyak masalah lain yang hendak dirundingkan dengan Huan-kang -ciong-liong..80 "Locianpwe. bebaskan totokan jalan darah-nya!" Dengan wajah merah dadu Si Cay soat mengiakan." pesan kakek berjubah kuning itu kemudian dbengan wajah serjius. baru pada tepukan yang ke tiga Si Cay soat baru menghajar jalan darah-nya secara tepat. bila jalan darah bocah ini ter-totok kelewat lama. "Thi gou. Huan-kang-ciong liong yang menyaksikan kejadian itu. lalu dengan kepala tertunduk mendekati pembaringan. lalu de-ngan jantung berdebar keras berjalan kem-bali. Setiap organg pasti akan mengerti kalau kakek berjubah kuning itu sedang memperingatkan Siau Thi gou agar jangan membiar-kan Lan See giok lari. katanya lembut kepada Si Cay soat. "Mari kita pergi!" . d-ngan biji mata yang jeli Si Cay soat me-man-dang sekejap ke arah Lan See giok. Lan See giok merasa kehormatannya seba-gai seorang lelaki merasa tersinggung.. hawa amarahnya segera berkobar. gadis berbaju merah itu: "Anak Soat. Dua pukulan. Pada saat itulah. agaknya banyak persoalan yang mencekam di dalam hatinya. Siau Thi gou segera manggut-manggut dengan mata terbelalak lebar. begitu selesai meninggalkan pesannya. dari balik sepasang matanya yang jeli segera terpancar ke luar cahaya dingin yang menggidikkan hati. buru-buru dia berlalu.

Berhasil denganr serangannya. anak itu menentu-kan arah tujuannya kemudian bergerak menuju ke luar hutan bambu--- . Tiba di tepi pagar bambu. dia segera mendekati meja untuk membesarkan lampunya. Siau Thi gou baru berpaling ke arah Lan See giok sambil tertawa. Waktu itu Siau Thi gou sedang menyulut lampu dan sama sekali tidak melakukan per-siapan apa-apa. diam-diam Lan Seegiok telah me-ngatur napasnya untuk memeriksa seluruh tubuhnya. buru-buru mereka tinggalkan ruangan itu. se-bab hal ini akan memancing perhatian dari si kakek berjubah kuning serta si raga sakti pembalik sungai. Lan See giok menjejakkan kakinya melambung ke angkasa dan melayang turun di luar dinding. Maka dia duduk dan manggut-manggut. Lan See giok merasa semakin gugup. merasa dirinya segar bugar. dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat dia menotok jalan darah tidur di tubuh Siau Thi gou. mencorong sinar tajam dari balik mata Lan See giok. bintang ber-taburan di angkasa. "Bluuk---!" dia segera terjatuh ke tanah dan tertidur pulas. bagaimana perasaanmu seka-rang? Apakah ingin turun untuk berjalan jalan?" Sejak jalan darahnya bebas dari pengaruh totokan. mendadak dia merasakan datangnya ancaman. Melihat itu. Tiba-tiba Siau Thi gou merasa ruangan di tempat itu terlalu gelap. maka ha-rus memperalat si bocah bermuka hitam ini. Si Cay soat yang menduga Lan See giok belum bersantap malampun buruburu ikut berlalu dari sana. ia merasa bila ingin me-loloskan diri dari mulut harimau. Sepeninggal ke tiga orang itu. hati-nya segera tergerak. cahaya rembulan bersi-nar redup menerangi seluruh jagad. pertama tama dia mengendalikan dulu debaran jantungnya kemudian baru secara diam-diam menyelinap ke luar dari kamar. lalu kabur ke belakang bangunan rumah itu. setelah itu turun dari pembaringan.81 Selesai berkata bersama Huan kang ciong liong. la tak berarti mengerahkan ilmu meri-ngankan tubuhnya untuk melarikan diri. dia merasa kesem-patan baik tak boleh di sia-sia kan dengan begitu saja. maka setelah maju be-berapa langkah. Dengan langkah yang sangat berhati-hati dan penuh kewaspadaan. tahu-tahu jalan darah tidurnya sudah kena tertotok. Waktu itu langit sudah gelap. kemudian tegurnya: "Saudara.

selain suara air telaga yang menubruk tang-gul tiada kedengaran suara lain. hatinya semakin gugup dan kalut. apalagi tidak menjumpai empek bertelinga satu itu berada di sana. Mendadak . maupun si naga sakti pembalik sungai. ce-pat-cepat dia membalikkan badan sambil ka-bur ke atas tanggul telaga. bila sampai ditemukan jejaknya. Setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu dan yakin kalau si kakek ber-jubah kuning maupun si Naga sakti pem-balik su-ngai tidak mengejarnya. karena suara itu berasal dari naga sakti pembalik sungai Thio Lok-heng. dia merasa kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya masih bukan tandingan kakek berjubah kuning. dia tak menyangka kalau kali ini bisa kabur dengan lancar dan cepat. Tapi selain air telaga yang hening dengan angin yang berhembus lewat menggoyang-kan daun serta ranting. ternyata dia berada di luar hutan di mana Thio Toa keng sekalian berkelahi dengannya. . Lan See giok merasa gelisah bercampur tegang. Ke luar dari hutan bambu itu. dia segera menyembu-nyikan diri ke belakang sebatang pohon ke-mudian dengan sorot mata yang tajam mem-perhatikan sekejap sekeliling tempat itu. bocah itu segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan melesat ke atas tanggul telaga Tiba di tepi telaga. . sedang puluhan kaki lebih ke depan adalah jalan di tepi tanggul menuju ke tempat kediaman bibi Wan nya. dia berharap empek bertelinga satu itu menyembunyikan diri ditempat itu. Dalam keadaan demikian ia tak sempat mencari si empek bertelinga tunggal lagi. Lan See giok merasakan matanya berkilat tajam. di situ tak nampak seso-sok bayangan manusia pun. Tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya. Lan See giok merasa gembira sekali. suatu bentakan gusar yang penuh bertenaga menggema datang dari ke-jauhan sana: "Thi gou si bocah ini kelewat jujur!" Lan See giok merasa terkejut sekali.Ia segera mendongakkan kepalanya me-meriksa setiap cabang pohon yang tumbuh di sana. belum sampai setengah li sudah pasti akan tersusul.82 Suasana di dalam dusun sunyi senyap.

Diam-diam Lan See giok merasa amat ter-peranjat. kemung-kinan besar masih bersembunyi di sekitar tempat ini . saking takutnya dia sampai tak berani bernapas keras-keras. Pada saat itulah . . . menyusul kemudian kedengaran suara dari si Naga sakti pembalik sungai berkata dengan nada sangat gelisah: "Locianpwe.. maka diputuskan untuk menyembunyikan diri untuk sementara waktu di atas sampan. Kemudian terdengar kakek itu berkata lagi: "Waktu itu aku sama sekali tidak me-nyangka. buru-buru dia menuruni tanggul itu dan melompat naik ke atas sampan yang penuh dengan tali jerami. aku mendengar jelas sekali. Mendadak suara itu terhenti di atas tang-gul. diam-diam ia bersyukur tidak mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya sedari dalam halaman rumah itu. seakan akan hendak melompat ke luar dari rongga dadanya saja. dia menyaksi-kan di bawah tanggul di tepi telaga tertambat bebe-rapa buah sampan kecil. jantungnya berdebar semakin keras. Ia men- ." Lan See giok semakin tegang lagi. kemudian menggunakan tali tersebut untuk menutupi badannya. dia tahu mustahil baginya bisa kabur. Bau amis ikan yang menusuk hidung dengan cepat menyelimuti sekeliling tubuh-nya. menurut pendapat boanpwe tak mungkin bocah itu lari ke arah telaga. dia tidak menyangka kalau gerakan tubuh dari kakek berjubah kuning itu jauh lebih cepat berapa kali lipat dibandingkan dengan apa yang dia bayangkan semula. tapi ia belum pergi jauh. Lan See-giok semakin tegang setelah mendengar suara itu. sementara jantungnya berdetak keras sekali. terdengar suara ujung baju tersampok angin berkumandang datang dari arah hutan bambu. Berpikir sampai di situ. .. mungkin dia baru mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya setelah ke luar dari hutan bambu." "Tak bakal salah. Peluh dingin segera membasahi seluruh badan Lan See giok. ketika sampan-sampan itu saling bersentuhan segera me-nimbulkan suara benturan yang nyaring.83 Berpaling ke arah lain. terdengarlah suara ujung baju ter-hembus angin itu sudah tiba di atas tanggul. pikirnya: "Hitunghitung masih mendingan bau amis ini dari pada bau busuk pil hitam pembebrian si empek bjertelinga tungggal.." Ketika diba mencoba untuk memasang telinga." sahut kakek berjubah kuning itu dengan nada pasti. de-ngan kening berkerut dia membaringkan diri. Dalam keadaan demikian Lan See giok ti-dak memikirkan hal semacam itu lagi.

dengan cepat dia berpaling pula ke luar dusun. tahu-tahu Si Cay-soat telah berhenti di antara si kakek berjubah kuning. apakah Lan See-giok berhasil dite-mukan?" Mendengar suara itu. Naga Sakti pembalik sungai Thio Lok-heng juga melototkan sepasang matanya bulat-bulat dengan wajah gusar. Lan See-giok segera mengenalinya sebagai Si Caysoat atau gadis cilik berbaju merah itu. dari situ ia dapat melihat si kakek berjubah kuning serta naga sakti pembalik sungai di atas tanggul. nampak pula dia sedang marah bercampur gelisah. Dengan perasaan terkesiap Lan See giok berpikir: "Jangan-jangan si empek bertelinga tunggal telah datang?" Dia mencoba untuk memasang telinga baik-baik. dia tahu bakal celaka bila jejaknya ketahuan. benar juga dia mendengar suara ujung baju yang terhembus angin. Tampak paras muka Si Cay soat pucat pias. tangan kanannya mengelus jenggot tiada hentinya. Mendadak kakek berjubah kuningb itu ber-palingj ke arah muka dgusun sebelah debpan sana . Kakek berbaju kuning dan naga Sakti pembalik sungai menggelengkan kepalanya berulang kali. paras mukanya berubah hebat dan hampir saja ia menjerit. Waktu itu dengan wajah serius si kakek berjubah kuning itu sedang memperhatikan sekeliling tempat itu. Sorot matanya yang semula ramah dan lembut.84 coba mengintip dari balik celah-celah tali. Lan See-giok amat terkesiap. tanpa terasa peluh dingin jatuh bercucuran. Waktu itu si Naga Sakti pembalik sungai juga telah mendengar suara tersebut. Tiba-tiba terdengar seseorang berseru de-ngan gelisah: "Suhu. Bayangan merah nampak berkelebat lewat. Akhirnya sinar mata gadis itu dialihkan ke atas beberapa buah sampan kecil di bawah tanggul. dengan matanya yang tajam dia sedang celingukan ke sana ke mari. sepasang mata yang jeli berkilat. dengan si naga sakti pembalik sungai. rupanya dia telah menemukan dua titik sinar mata tajam di balik tumpukan tali dalam sampan kecil se-belah tengah. dia seperti me-rasa cemas dan murung sekali atas kaburnya Lan See giok. . sorot mata mereka tetap ber-alih ditempat kejauhan sana. . . alis matanya bekernyit dan wajahnya penuh kegelisahan. kini memancarkan sinar tajam yang menggidikkan hati. Mendadak sepasang mata Si Cay soat ber-kilat.

ia merasa hal ini mustahil . sesak dan jantungnya seperti melompat ke luar dari rongga dadanya.. napas-nya. Sekarang dia baru menyesal kenapa me-nyembunyikan diri dalam sampan kecil itu sehingga jejaknya ketahuan. mendadak terdengar si Naga sakti pembalik sungai berkata dengan sedih: "Locianpwe. Peluh bercucuran dengan derasnya mem-basahi seluruh badan Lan See giok. ia tahu asal Si Cay soat menuding ke bawah sambil menjerit. . Lan See giok turut tertegun. hati nya bergoyang seperti ayunan sampan. jangan harap bisa me-lo-loskan diri lagi.85 Melihat itu. sekalipun matanya celingukan kesana ke mari. mungkin bocah itu sudah lari. Suasana amat hening . . dia tak berani berkutik. sebab bila sampai ketahuan maka ibaratnya katak masuk tempurung." Kakek berbaju kuning itu menggelengkan kepalanya berulang kali.. dia tidak habis mengerti apa sebabnya gadis itu tidak berte-riak? Mungkinkah dia tidak melihat jelas? Tapi setelah dipikirkan kembali.... BAB 5 NONA CANTIK BERBAJU PUTIH DI TENGAH keheningan yang mencekam seluruh jagat. beberapa saat kemudian Si Cay soat baru berhasil me-ne-nangkan hatinya seraya berpaling ke arah lain. . . . mulutnya ditutup de-ngan tangan sementara sorot. . ia te1ah berkata dengan gelisah: . juga tak berani lari. Atau mungkin gadis itu sengaja hendak melepaskan dirinya? Tapi mengapa pula dia berbuat demikian . matanya nam-pak gugup bercampur panik. niscaya dia akan dibekuk kembali. Lan See giok merasa kepala-nya kontan menjadi pusing tujuh keliling. tapi wajahnya yang gugup dan cemas kelihatan jelas sekali. rambut dan masuk ke dalam telinganya. Berada dalam keradaan seperti ini. meski sudah diusahakan untuk ditenangkan kem-bali namun tak bisa.. Si Cay soat yang berada di atas tanggul juga membelalakkan matanya dengan wajah kaget serta tertegun. Makin dipikir Lan See giok merasa makin kebingungan dan tidak habis mengerti. Sementara butiran air keringat bercucuran dengan derasnya dan membasahi kepala. lebih baik besok pagi kita langsung mencari Oh Tin san untuk minta orang . belum habis si naga Sakti pembalik sungai menyelesaikan kata katanya.

. ia merasa putus asa. kemungkinan besar benar" "Tapi menurut analisa pada umumnya. apakah kau menganggap kitab pusaka Hud bun cinkeng tersebut berada di rumah kediaman bibi Wan nya Lan See giok?" "Yaa. Lan See giok menjadi mengerti sekarang. hawa amarahnya yang memuncak membuat rasa takutnya sama sekali lenyap tak berbekas. yang dimaksudkan sebagai Sam Ou ngo to oleh si Naga sakti pembalik sungai tentulah orang-orang yang menggunakan julukan "To" atau tunggal pada permulaan namanya. " Mendengar sampai di situ.. . Makin dipikir Lan See giok merasa darah-nya makin mendidih. Sementara dia masih termenung. " sahut kakek itu setelah termenung sebentar. Tapi. bahkan setiap sudut ruangan yang mungkin bisa dipakai untuk menyimpan kotak kecil itupun sudah kuperiksa . mungkin juga dialah pembunuh ayahnya. . .. . mungkin saja dia menyimpannya di dalam makam raja-raja . . .86 "Tidak. . ." "Aku telah melakukan pemeriksaan setiap sudut makam tersebut dengan seksama. besok pagi terlalu lambat. tipis rasa-nya harapan baginya untuk membalas den-dam . kemudian tanyanya dengan tidak habis mengerti: "Locianpwe. Mungkin saja selama ini kakek berjubah kuning itu bersembunyi terus di dalam ku-buran. sebab hanya orang yang berilmu begitu tinggi baru bisa membunuh ayahnya dalam sekali pukulan . si Naga sakti pembalik sungai telah berkata lagi: "Menurut apa yang locianpwe saksikan se-malam. bila teringat akan kelihaian ke-pan-daian silat yang dimiliki kakek berjubah kuning itu. . mustahil kalau si Gurdi emas peluru perak Lan Khong-tai akan menyerahkan mestika yang amat berharga itu kepada seorang pe-rempuan. sekarang dan malam ini juga kita harus mencegah Lan See-giok agar jangan pergi ke tempat ke-di-aman Bibi Wan nya." Si naga sakti pembalik sungai termenung sebentar. adalah sekomplotan dengan pembunuh-pembunuh ayahnya. . Lan See-giok yang bersembunyi di bawah tumpukan tali merasa gusar sekali. siapakah di antara Sam ou ngo to (lima tunggal dari tiga telaga) yang besar ke-mungkinannya sebagai pembunuh Lan Khong tay?" "Kelima limanya patut dicurigai semua . ia menduga pasti sekarang kalau kakek berjubah kuning yang berwajah ramah ini benar-benar.

diapun bertelinga tunggal. Kemudian adalah To tui thi koay (tongkat baja berkaki tunggal) Gui Pak cong yang menusuk tubuhnya dengan tongkat besinya. . . bertubuh kurus kering. di bawah tanggul sana tampak sesosok bayangan manusia se-dang berkelebat lewat!" Dengan perasaan tergerak Lan See giok ikut melirik. . tentu saja mungkin juga orang itu adalah si binatang bertanduk tunggal pribadi. orang ini adalah satu satu-nya orang yang mengetahui siapa pembunuh ayahnya. diam-diam ia mulai meng-hitung semua orang yang pernah di-jum-painya semalam. . lantas siapakah si tunggal yang kelima? Mungkinkah dia adalah kakek berambut perak yang telah menghajar dirinya hingga semaput itu . si mata tunggal dan si tanduk tunggal . Dengan perasaan bimbang dia lantas ber-pikir: "Yaa. . Kemudian adalah si manusia berbisul be-sar pada kepalanya yang tertembus oleh senjata gurdi emas. . besar kemungkinannya orang ini adalah pelaku pembunuhan atas diri ayah-nya. cepat lihat.?" Sementara pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya. mendadak terdengar si naga sakti pembalik sungai yang berada di atas tanggul berseru cemas: "Locianpwe. . . . . Bayangan tubuh seorang kakek bermata sesat.. . Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya. bermuka kuda dan bertelinga tunggal dengan cepat melintas dalam benaknya. diapun kehilangan sebuah telinganya mungkinkah empek adalah salah seorang dari Sam ou ngo to tersebut . dia saksikan si naga sakti Thio Lok heng sedang menuding ke arah utara dengan cambang yang bergetar keras. Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya.87 Sambil memandang bintang yang berta-buran di angkasa. si le-ngan tunggal. Orang ke tiga adalah si manusia bermuka hijau dan bergigi taring yang bernama To-gan liau pok (setan bengis bermata tunggal ) Toan Ki tin. kontan saja Lan gee giok merasa-kan hatinya bergidik. orang itu diketahui ber-nama To ciok siu (binatang bertanduk tung-gal) Si Yu gi. mulai dari si kaki tunggal. Dari lima manusia tunggal ada empat di antaranya telah diketahui. Orang pertama yang dijumpai adalah To pit him (beruang berlengan tunggal) Kiong Tek cong yang menggeledah seluruh badan-nya dengan tangan kanannya dikala ia jatuh pingsan.

Terdengar kakek berjubah kuning itu ber-kata lagi dengan suara murung bercampur kesal: "Sesungguhnya Lan See giok adalah se-orang bocah yang cerdik. sayang pukulan batin yang dialaminya kelewat hebat sehingga membuat hatinya tak dapat tenang dan menyumbat semua kecerdasan otaknya. bahkan boanpwe yang sudah jago kawakan pun dibi-kin kebingungan dan tak habis mengerti dibuatnya . meski Lan See giok yang bersembunyi di balik sampan sudah men-duga kalau empeknya yang bertelinga tunggal kemungkinan besar adalah salah seorang dari ngo to ( lima tunggal ). namun setelah mendengar julukan manusia buas bertelinga tunggal tersebut. . lama kelamaan Lan See giok pasti dapat me-ngeta-hui belangnya tersebut. mungkin dia adalah Lan See giok?" "Bukan. " Kakek berjubah kuning itu menghela napas dan manggut-manggut.88 "Ehmm.manggut. . coba kau lihat!" Sambil berkata dia lantas menuding ke arah depan dusun. dia adalah To oh cay jin(manusia buas bertelinga tunggal)!" tukas si kakek berjubah kuning sambil menggeleng. jangan toh Lan See giok yang masih bocah. berbicara soal luas-nya pengetahuanku. Hal ini ditambah lagi dengan pancingan si Manu-sia buas bertelinga tunggal Oh Tin san yang menggunakan pelajaran ilmu silat se-bagai umpan. Si Cay soat segera mengerling sekejap ke arah Lan See giok. kemudian ujarnya kepada Si naga sakti Thio-Lok-heng: "Empek Thio. sesungguhnya boleh di-bilang lumayan juga.giok?. "jelek--jelek begini sudah setengah hidupku berkelana dalam dunia persilatan.-" Belum habis ucapan tersebut diutarakan." "Locianpwe" si naga sakti Thio Lok heng segera berkata sambil tertawa. diapun terhitung se-orang manusia licik. . Sementara itu. dengan kemampuan dari Manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san mana mungkin dia dapat mengelabuhi Lan See. tapi setelah men-dengar pembicaraan dari locianpwe semalam. akibatnya mengurangi ke-curigaan Lan See-giok terhadap dirinya coba kalau bukan begitu. sayang cara kerjanya kurang mantap dan lagi tidak sabaran. dengan sorot mata berkilat si naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng telah menu-kas sembari berseru keras: "Locianpwe. aku sudah melihatnya!" sahut kakek berjubah kening itu sambil manggut. sahutnya: "Walaupun si Manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san termasyhur karena ke-buasan dan kekejamannya. hatinya toh merasa ter-ke-siap juga sehingga tubuhnya menggigil keras.

dapat diketahui kalau kakek berjubah kuning itu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam dunia persilatan. kenapa kakek berjubah kuning itu berlalu dan me-ngapa Si Cay soat tidak membocor-kan jejak-nya yang bersembunyi di bawah tumpukan tali.89 Kakek berjubah kuning itu berkerut kening sambil berpaling. dia tak sempat memikirkan lagi apa yang berhasil dilihat Thio Lok heng. karena dia sedang mempergunakan segala akal dan kecerdasannya untuk memecahkan kesulitan yang sedang dihadapinya. tahu-tahu dia sudah meluncur ke depan. Yang dipikirkan sekarang adalah cepat-ce-pat menyusup ke rumah kediaman bibi Wan nya tanpa diketahui orang lain. meski kakek berjubah kuning itu telah pergi. Mendadak ia mendengar suara gelak ter-tawa yang amat keras berkumandang datang dari depan dusun sana. . dia sudah tidak menaruh minat lagi terhadap setiap perobahan yang telah terjadi di sekeliling tempat itu. . Menyusul kemudian naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng dan Si Cay soat pun ikut berlalu dari situ. Sekalipun kakek itu mungkin bermaksud untuk mendapatkan kotak kecil milik ayah-nya dan telah menggeledah seluruh isi makam. namun belum tentu ia bersekongkol dengan sam ou ngo to. Ditinjau dari sikap hormat dan panggilan merendah dari Naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng. Pertama-tama. tapi kemungkinan besar dia akan balik lagi. tidak nampak bagaimana caranya menggerakkan badan. Dia tahu. Lan See giok kenal suara tersebut se-bagai suara si Naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng. pelan-pelan Lan See giok yang bersembunyi dibalik tumpukan tali dapat menenangkan kembali hatinya. Angin malam berhembus lewat membawa udara yang sangat dingin. Tapi saat ini. bisa disimpulkan pula kalau orang yang bersem-bunyi di belakang meja dan meng-hantam dirinya sampai pingsan itu bukanlah kakek ini. sebab itu dia tidak berani naik ke atas tanggul telaga tersebut. dia berpikir tentang kakek berjubah kuning yang berilmu tinggi itu. Waktu itu pikiran Lan See giok amat kacau. . Dilihat dari sikap si kakek yang hingga kini masih belum tahu kalau kotak kecil tersebut sudah berada di rumah bibi Wan-nya.

kalau tidak mungkin selembar jiwa nya sudah melayang sekarang. Tentang pemberian obat untuk menambah kekuatan. manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san sengaja membunuh orang itu. lantas siapakah orang yang telah menyergap Oh Tin san. mau tak mau diapun melaksanakan rencana kejinya dengan amat berhati hati. mengapa begitu? Dia tak dapat memecahkannya. Tapi segera muncul kembali pikiran lain. Tapi kematian dari si Binatang bertanduk tunggal. dengan cepat dia pun menjadi sadar kembali. tapi dia justru ter-kecoh dan kena dikibuli habis habisan. Di samping itu dia membenci akan ketololan sendiri. merusak rantai penghubung pintu besi menuju makam raja-raja dan membawa lari pedang Jit hoa gwat hui kiam serta dua buah kotak emas tersebut? Mungkinkah orang itu sudah lama bersembunyi di dalam makam? Atau mung-kin kakek berjubah kuning yang tidak pernah meninggalkan makam? Atau bisa jadi juga si tongkat besi berkaki tunggal serta si beruang berlengan tunggal yang secara diam-diam balik kembali ke situ. tanpa terasa Lan See giok mem-bayangkan kemba1i si Manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san. dengan pergi membeli hio dan lilin.90 Teringat akan kakek kurus berambut perak yang menghajarnya sampai semaput dari be-lakang itu. semua siasat busuk dari Manusia buas bertelinga tunggal pun kontan terungkap semua. bisa disimpulkan kalau tujuan yang sebenarnya dari tindakannya Itu adalah memberi kesempatan bagi dirinya untuk memasuki makam raja-raja dan mencuri pedang mestika dan kotak kecil yang tersim-pan di situ. . Tentunya setelah menghajar dia sampai pingsan. jelas kematian tersebut disebabkan oleh tindakan keji manusia buas bertelinga tunggal ketika ia disuruh pergi mengambil air Ia menduga. Masih untung dia tak sempat melihat jelas wajah aslinya sebelum dihantam pingsan dulu. kemudian juntuk mencari tahu tempat tingbgal bibi Wan nya. di mana manusia buas berhati busuk yang amat berbahaya telah dianggap-nya sebagai sahabat karib ayahnya. Oh Tin san lantas menyusun rencana kejinya. karena dia kuatir binatang bertanduk tunggal . Kemudian bocah itu teringat pula sikap kaget bercampur rasa tercengang dari manu-sia buas bertelinga tunggal ketika menyaksi-kan tenaga dalamnya peroleh kemajuan pesat. Terbayang sampai ke situ. Padahal gerak gerik maupun cara ber-bicara Manusia buas bertelinga tunggal semenjak masuk ke dalam makam sudah mencuriga-kan sekali.

Sebagaimana diketahui. dia tahu di bawah sampan pasti ada jago lihay yang sedang mendorong sampan itu bergerak ke depan. sedang tujuh delapan kaki di depan sana adalah hutan gelaga yang luas dan amat le-bat. tapi hatinya makin terpe-ranjat lagi. tiada hentinya bocah bitu membayangkajn tentang lima gmanusia tunggalb dari tiga telaga. sekilas pandangan mirip awan putih di angkasa.91 membocorkan soal ter-simpannya kotak kecil itu di rumah bibi Wan kepada orang lain. Mendadak. sampan yang mulai berjalan lambatpun mendadak melun-cur ke depan semakin cepat. Dia masih ingat dengan ucapan kakek berjubah kuning itu: "Kelima limanya mencu-rigakan. Begitu dia bergerak bangun. tapi ia tidak tahu siapa gerangan orang tersebut dan mengapa membawanya menuju ke tengah telaga.. Pemuda itu merasakan hatinya bergetar keras. Berpikir sampai di situ. kini sampan tadi se-dang melesat ke arah satu satunya jalan air yang bebas dari tumbuhan gelaga. Tak terlukiskan rasa gugup dari Lan See giok ketika itu. Dengan gugup dia melompat bangun dari balik tumpukan tali temali dia memandang sekitar tempat itu. Sementara itu sampan kecil itu bergerak makin cepat ke depan. dia lantas bertekad untuk segera berangkat ke rumah kediaman bibi Wan nya mumpung malam masih kelam dan suasana di sekeliling tempat itu masih hening. Sekeliling tempat itu hanya nampak air. itu sedang bergerak pelan ke arah depan. perasaan hatinya yang baru tenang kontan saja menja-di tegang kembali . tentu saja dia lebih-lebih membenci Manusia buas bertelinga tunggal itu. Makin dipikir dia merasa makin membenci akan kebodohan sendiri.. sambil berbaring di atas sampan sambil memandang bintang yang bertaburan di angkasa. . Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok menghadapi kejadian tersebut. . Demikianlah. . tapi mungkin juga dikarenakan sebab-sebab lainnya. ternyata bayangan dari tanggul sudah tidak nampak lagi. Bunga gelaga yang berwarna putih bergo-yang terhembus angin. hanya Si binatang bertanduk tunggal Si Yu gi dan Manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san saja yang me-ngetahui kabar berita tentang kotak kecil itu.. dia merasa sampan kecil." dari sini dapat ditarik kesimpulan kalau Manusia buas bertelinga tunggal pun merupakan salah seorang manusia yang patut untuk dicurigai.

.. . Dalam pada itu. "Yaa. . sekali lagi dia menghimpun tenaga dalamnya ke dalam telapak tangan kanan. Dengan perasaan gelisah dia lantas ber-tanya kepada diri sendiri: "Siapakah orang ini. ? Siapakah dia.. sudah pasti orang yang berada dalam air adalah perompak dari telaga Huan yang ou. sudah pasti perbuatan dari si Naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng. Cepat dia menenangkan hatinya dan ber-pikir lebih jauh: "Seandainya orang itu adalah si Naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng.yaa. . tatkala sorot matanya membentur dengan permukaan air di sekeliling sampan.92 Dengan gugup Lan See-giok lari menuju ke buritan sampan. api kemarahan segera berkobar dalam benak Lan See giok. "Yaa. tapi di sana pun dia hanya bisa menyaksikan gelrembung air dan zbunga ombak yanwg memercik di artas permukaan. telapak tangan kanannya yang sudah siap melancarkan serangan itu pelan-pelan di tu-runkan kembali. sampan kecil itu sudah menembusi jalan air diantara tumbuhan jela-ga yang lebat dengan kecepatan yang makin lama semakin tinggi. tanpa terasa ia berbisik: "Aaaah. sekeliling-nya penuh dengan tumbuhan gelaga setinggi satu kaki lebih. jangan-jangan si Naga sakti pem-balik sungai Thio Lok heng .. .... hanya dia yang memiliki ilmu menyelam di dalam air yang begini sempurna.. besarnya se lengan bayi dan bunga berwarna putih seperti awan me-nyeli-muti di atasnya. Teringat akan hal ini. niscaya aku akan dibawa kembali ke perkampung-an nela-yan tersebut. .? Mengapa membawa aku ke mari ." sekali lagi dia berguman." demikian dia berpikir. Dengan gugup Lan See giok memperhati-kan sekitar tempat itu. . . Tapi. siapakah orang itu?" Satu ingatan segera melintas di dalam benaknya dan cepat anak muda itu sadar kembali. bayangan tubuh seorang kakek bercambang yang berperawakan tinggi besar segera melintas di dalam benaknya. " Sekali lagi dia melongok ke buritan sampan ke balik air yang bergelembung. kemudian diangkatnya tangan tersebut ke udara siap melakukan penyerangan.. . tapi sekarang aku di bawa ma-suk ke dalam hutan gelaga yang begini luas dan lebat. ?" Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya. . dia lihat jalan air itu luasnya cuma delapan depa.

Menyusul tusukan itu. darah segarpun memancar ke luar dari dalam air dan menyebar ke sekeliling tempat itu. sampan kecil tadi sudah ber-belok ke kiri berputar ke kanan menembusi hutan gelaga yang luas. Seketika itu juga cahaya emas yang me-nyilaukan mata memancar ke empat penjuru. Lan Seej giok menghembugskan napas panjbang dan mencabut ke luar senjata gurdi emas itu. selembar nya-wa manusia dalam waktu singkat akan mus-nah di tangannya. Setelah berhasil menenangkan hbatinya. Lan See giok tahu kalau tusukannya ber-hasil melukai orang yang ada di dalam air. senjata gurdi emas yang panjangnya mencapai tiga depa itu tahu-tahu sudah menembus dasar sampan tersebut dan menusuk ke dalam air telaga. sampan kecil ter-se-but mengalami goncangan yang amat keras. Sambil menggenggam gurdi emas itu. mau tak mau terpaksa dia harus bertindak nekad. Dengan perasaan terkejut pemuda itu mencari kain dan menyumbat lubang pada dasar sampan tersebut. ombak nampak menggelegar ke mana-mana. darah segar tampak memancar ke luar me-ngikuti lubang pada dasar sampan itu. dia merasa-kan seluruh badannya sedikit agak gemetar. Peluh dingin telah membasahi seluruh ji-dat. Sementara itu. dalam waktu singkat Lan See giok sudah tak bisa membedakan lagi mana sebelah timur dan mana sebelah barat. tidak sulit baginya untuk membinasakan orang yang berada di balik perahu akan tetapi dasar sampan itu pasti akan remuk dan diapun pasti akan ter-cebur ke dalam telaga dan mati tenggelam. Lambat laun sampan kecil itupun berhenti bergerak dan melintang di tengah jalan air tersebut. Cahaya emas berkelebat lewat. tapi dia tak berani segera mencabut ke luar senjata gurdi emasnya--Tak selang berapa saat kemudian gon-cangan di bawah sampan kecil itu telah ber-henti. cepat dia mengeluarkan senjata gurdi emas milik ayahnya. Lan See giok benar-benar merasa sangat gelisah. . tubuh dan tangan kanannya yang meng-genggam senjata gurdi emas itu. Satu ingatan segera melintas dalam benak nya. Lan See giok merasa tegang sekali. Tapi demi keselamatan jiwa sendiri. dia tak ingin terjatuh kembali ke mulut serigala setelah lolos dari sarang hari-mau.93 Dengan kemampuan tenaga serangan yang dimilikinya sekarang.

kemungkinan besar orang itu akan menggunakan sisa tenaga yang dimilikinya untuk menarik dia masuk ke dalam air. Dia mendayung tiada hentinya dan sampan itupun berputar. tapi sampan tersebut masih saja berputar putar di tempat. tapi air telaga yang bocor ke dalam sampan itu sudah mencapai beberapa inci. kemudian mbuncullah sebuah sampan kecil. Bila bambu itu mendayung ke kiri maka sampan itupun berputar ke kiri. Dengan cepat dia mengalihkan sinar ma-tanya ke kiri. Pada saat itulah. sampan itupun berputar ke sebelah kanan. akhirnya dia berdiri termangu mangu dan tak tahu bagaimana caranya untuk bisa menggerakkan sampan tadi menembusi hu-tan gelaga tersebut. Teringat akan bahaya tersebut. mendadak terdengar suara air memecah ke tepian bergema tiba dari kejauhan sana. tiada hentinya pula . tampaklah pada ujung jalan air tersebut terdapat setitik bayangan abu-babu yang sedangj bergerak mendegkat. dia tahu lagi-lagi muncul perompak di tempat itu. . dia takut berjumpa lagi dengan perampok lain. Lan See giok kembali merasa gugup ber-campur panik. padahal di atas sampan itu se-lain setumpuk tali hanya terdapat sebuah bambu sepanjang lima depa. Lan See giok tahu. orang yang berada di dasar perahu itu belum putus nyawa. Sadarlah Lan See giok bahwa tiada ha-rapan lagi baginya untuk menyembunyikan diri. agaknya suara itu berasal dari jalan air di sebelah kiri. Makin lama suara itu bergerak makin mendekat. Lan See giok menjadi gelisah sekali sampai mengucurkan keringat dingin. Sekarang permukaan air telaga telah tenang. kemu-dian dengan menggunakan bambu panjang itu dia mulai mendayung dengan sekuat tenaga . Lan See-giok yang berada dalam keadaan seperti ini merasa gelisah bercampur gusar. Lan See giok amat terperanjat. . dia merasa agak gugup. . sekali lagi dia mencoba untuk mendayung dengan bambu panjang. bila menda-yung ke kanan.94 Tiba-tiba terjadi lagi goncangan keras pada sampan kecil itu . Cepat sekali gerakan sampan kecil terse-but. ia segera membuang bambu itu dan me-loloskan . warna merah pun sudah makin tawar. Dengan cepat Lan See giok menyelipkan senjata gurdi emasnya ke pinggang. . hanya dalam waktu singkat sampan itu sudah berada tujuh kaki di hadapannya. . Melihat keadaan itu. .

Dalam waktu singkat sampan kecil itu sudah berada lebih kurang tiga kaki di hada-pannya. kemudian tampak selapis ca-haya tajam menyambar ke pinggang Lan See giok. Lambat laun sampan itu makin dekat. Setitik cahaya bintang yang disertai dengan suara desingan angin tajam langsung melun-cur ke tengah udara dan mengancam tubuh Lan See giok." benturan nyaring yang memekakkan telinga segera berkumandang tiada hentinya. gadis yang berada di sampan tersebut telah mengayunkan tangannya ke depan. Disaat Lan See giok sedang repot meng-ha-lau ancaman senjata rahasia itulah .. kemudian sambil berdiri di ujung geladak. Lan See giok gusar sekali. Mendadak terdengar suara bentakan nyaring: "Kawanan tikus dari mana yang berani mendatangi benteng Wi lim poo ditengah malam buta begini?" Berbareng dengan suara bentakan terse-but... di antara percikan air telaga. seluruh an-caman senjata rahasia tersebut berhasil di-patahkan semua. . "Traaang. berambut panjang dan menyoren sebilah pedang berdiri di ujung sampan itu. Tak terlukiskan rasa kaget anak muda itu menghadapi datangnya ancaman. Kembali terdengrar suara bentakan nyaring sekali lagi muncul rbeberapa buah titik caha-ya tajam yang menyerang tiba. Serta merta dia melejit ke tengah udara dan meloloskan diri dari sambitan senjata rahasia tersebut. dia menggetar-kan tangannya.95 senjata gurdi emasnya. Mendadak sampan kecil itu menerjang ke hadapannya. cepat tubuhnya melejit dan menjatuhkan diri ke dalam sampan: Berbareng dengan menyambar lewatnya dari sisi sampan kecil tersebut dan meleset sejauh dua kaki lebih. Di buritan sampan duduk pula dua orang dayang berpakaian ringkas yang memegang dayung. senjata gurdi emas itu segera menciptakan selapis cahaya tajam yang melindungi seluruh badannya. Agaknya Lan See giok tidak menyangka kalau gadis itu begitu tak tahu aturan. traaang. traaang. ia bersiap siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. sam-pan kecil itu meluncur tiba dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya. "Pluuung!" senjata rahasia tadi segera ter-cebur ke dalam air telaga beberapa kaki di belakang sampan. dia lantas menduga kalau gadis itupun seorang perompak. sekarang dia dapat melihat seorang gadis bertubuh langsing.

Belum habis Lan See giok mengamati gadis itu. tampaknya dia tak mengira kalau lawannya yang paling banter baru berusia lima enam belas tahun itu su-dah memiliki ilmu meringankan tubuh yang begitu sempurna. . . Sekarang dia baru mengetahui kalau pada ujung sampan lawan rupanya dilapisi dengan lempengan baja yang sangat kuat. "Blaaammm. sementara sampan itu pun langsung menerjang perahu-nya. . sampan tersebut sudah kena tertumbuk se-hingga terbalik. Sekarang dia dapat melihat jelas kalau gadis itu berbaju putih. setelah dewasa nanti niscaya merupakan se-orang pemuda tampan yang menawan hati.!" diantara suara benturan nyaring. sampan kecil itu meluncur lagi ke depan Lan See giok yang berada di tengah udara dengan cepat meluncur ke bawah dan me-layang turun di atas sampan yang terbalik itu. dia tak be-rani menyambut datangnya ancaman terse-but. Lan See-giok amat terperanjat. Gadis yang berada di atas sampan itu pun nampak terkejut sekali. . Gadis berbaju putih itu berusia delapan sembilan belas tahunan. . Dalam pada itu. Gadis itu segera membentak keras.. pedangnya dengan jurus Gin-hoo-ci li ( menusuk ikan leihi di sungai ) langsung menusuk ke perut Lan See-giok. air memercik ke empat penjuru. Tapi dengan cepat sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya. kemu-dian dengan cekatan dia melompat bangun. mukanya berbentuk kwaci dan kulit badannya putih bersih . Lan See giok merasa cemas dan gusar meng-hadapi kejadian seperti ini dengan sorot mata berkilat dia menunggu datangnya ter-jangan dari sampan lawan. agaknya baru sekarang dia dapat melihat kalau Lan See giok berwajah bersih dan menarik.96 Lan See giok tak berani berayal. . . bermata besar ber-hidung mancung dan berbibir kecil ber-warna merah. sedangkan dua orang dayangnya berwarna hijau pupus. Setelah berhasil dengan terjangannya. buru-buru tubuhnya melejit ke tengah udara . tapi tak urung bajunya basah kuyup juga oleh air telaga yang telah menggenangi sam-pan kecil tersebut. kedua orang dayang terse-but telah memutar sampannya dengan ce-katan. . cepat dia menghantam pinggiran sampan lawan de-ngan ayunan telapak tangan kirinya. . sampan lawan kembali telah menerjang tiba. kini sampan tersebut meluncur datang lagi dengan kecepatan tinggi me-ner-jang sampannya.

Tergerak hati Lan See giok menghadapi keadaan seperti ini. . Belum habis ingatan tersebut melintas. . Agaknya dayang berbaju hijau itu sama sekali tidak menyangka akan datangnya ten-dangan itu. Belum habis dia berpikir. dayang berbaju hijau lainnya telah meng-ayunkan dayungnya untuk menghantam ke pinggangnya. Dengan jurus Kim ciam teng hay (jarum emas tenangkan samudra) Lan See-giok me-ngayunkan senjata gurdi emasnya ke bawah menyapu dayung kayu itu. "Blaaammm---!" tubuh Lan See giok melun-cur ke bawah dengan kecepatan tinggi. dayung kayu di tangan dayang berbaju hijau itu terlepas dari genggaman dan mencelat ke tengah udara. dayang tersebut sudah pasti pandai menyelam di dalam air. . Lan See giok tidak berdiam diri belaka. ia tidak nam-pak berniat untuk melancarkan tusukan. penuh dengan pancaran sinar mempesona hati. dite-ngah percikan bunga air. si gadis berbaju putih itu su-dah membentak nyaring. dia bertekad hendak membereskan kedua orang dayang tersebut lebih dulu agar sampan itu tak ada yang mendayung. Lan See giok menjadi agak tertegun me-lihat hal itu. ujung kakinya telah menginjak di buritan sampan. pedangnya secepat kilat menusuk datang. saking kagetnya sambil mem-bentak keras dia segera menceburkan diri ke dalam air. dia tahu bakal celaka kali ini. terutama sepasang matanya serasa membetot sukma. se-belum sampan lawan mencapai sasaran. dayang itu tahu-tahu sudah terce-bur ke air dan menjadi ikan duyung. Kemudian sambil membentak keras dia lepaskan sebuah tendangan kilat menghajar pinggang seorang dayang berbaju hijau yang sedang mendayung perahu. dia saksikan senyuman gadis itu amat mem-pesona-kan hati. Ternyata gadis itu hanya merentangkan pedangnya saja di depan dada. dayang yang berada di dalam air mengayunkan pula senjata palu berantainya menyerang pinggang Lan See -giok.. dia telah melejit dahulu ke tengah udara. Bersamaan itu pula. setelah itu dia baru berusaha untuk menaklukkan si nona baja putih dan berusaha melarikan diri . Percikan bunga air memancar ke empat penjuru. sampban kecil itu sekali lagi telah menerjang tibab. . "Blaaammm . Baru saja Lan See-giok akan melepaskan tendangan lagi.97 Lan See giok juga agak tertegun.. Tampak gadis berbaju putih itu memberi tanda kepada kedua orang dayangnya dan sampan tersebut menerjang lagi dengan ke-cepatan yang luar biasa.!" di tengah jeritan tertahan.

melihat datangnya cahaya emas yang mengurung tubuhnya dengan membawa desingan angin dingin. senjata gurdi emasnya diputar sedemikian rupa menciptakan beribu ribu bayangan gurdi emas yang langsung mengurung seluruh badan gadis tersebut--Padahal waktu itu ujung kaki si nona ber-baju putih tersebut baru saja mencapai tanah. Dengan cepat otaknya berputar. ia menjerit keras karena kaget. karena dia sama sekali tidak tahu akan ilmu berenang. niscaya badannya akan tenggelam. . Lan See giok menjadi gugup setelah me-nyaksikan kejadian ini. si nona berbaju putih itu se-dang melamun di ujung perahu. sementara senjata gurdi emasnya dengan jurus Kim coat sim (ular emas menjulurkan lidah) menusuk ke ulu hati lawan dengan disertai kilatan cahaya emas. cepat-ce-pat dia mengundurkan diri ke buritan sampan. dia me-rasa satu satunya jalan yang dimilikinya sekarang untuk kabur adalah secepatnya menakluk kan gadis berbaju putih yang berada di sam-pan itu. kemudian memaksa dua orang dayang tersebut untuk menghantarnya ke luar dari sana. dayang ber-baju hijau itu sudah menyelam ke dalam air. asal sepasang kakinya menempel di air. sambil mem-bentak dia menerjang lebih ke depan. lalu dengan jurus Jiau yan -huan-sin (walet lincah membalikkan badan) cepat-cepat dia kabur ke dalam air. Lan See giok amat gembira. dia lantas melejit ke udara. kemudian ber-gerak mendekati sampan yang terbalik itu dengan kecepatan luar biasa. Maka sambil membentak keras. Berpikir demikian. Waktu itu. sebab itu dia tak mengira kalau Lan See giok bakal menerjang tiba sambil melancarkan serangan Menanti dia sadar akan datangnya bahaya untuk turun tangan sudah tak sempat lagi.98 Menghadapi kerubutan dari depan dan belakang. Lan See-giok tak sanggup me-laku-kan perlawanan lagi. dengan cepat dia melejit ke udara dan melayang kembali ke atas sam-pan yang telah terbalik itu. Melihat lawannya telah kjabur ke sampan gyang terbalik dbengan wajah girang gadis ber-baju putih itu segera berteriak keras: "Tangkap dia! Bawa pulang ke benteng menunggu keputusan dari pocu!" Baru saja perintah diberikan. dengan gerakan Hay yan keng sui (bu-rung manyar menyambar air) dia terjang ke arah sampan lawan. Dua orang dayang itu segera memisahkan diri ke kiri dan ke kanan.

ditambah lagi pertarungan tersebut ber-langsung di atas sampan. telinganya secara lambat-lam-bat mendengar dua kali teriakan gembira dan sekali jeritan tertahan--Baru saja badannya tenggelam. Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok menghadapi kejadian seperti ini. "Byuuurrr---!" bunga air memercik setinggi beberapa depa. Tahu-tahu pandangan matanya terasa ka-bur. Secara beruntun Lan See giok meneguk beberapa tegukan air telaga. . sambil membentak keras sepasang lengannya di putar kencang kemudian secepat kilat tubuhnya meluncur ke bawah . Baru saja ia mengendus baru harum se-merbak. dia merasa menyesal sekali setelah mendengar ucapan tersebut. cepat-cepat dia menutup pernapasannya sambil berusaha keras untuk mengendorkan badannya. . tubuhnya langsung tengge-lam ke dasar telaga yang dingin.. dan bayangan tubuh dari gadis berbaju putih itupun sudah lenyap tak berbekas. Tak ampun lagi ia segera tercebur pula ke dalam telaga. anak muda itu sudah menghembuskan napas panjang-panjang. tubuh-nya sudah terseret ke luar. belum lagi mem-buka matanya. Kemudian diapun merasa jalan darah tidurnya ditotok oleh gadis berbaju putih itu. cepat ceburkan lagi. tapi senjata gurdi emasnya dipegang kencangkencang. pada rhakekat-nya dia tak pernah menduga kalau lawannya bakal kabur ke dalam air. . Sesaat sebelum tubuhnya tercebur ke dalam air tadi. Mendadak terdengar seseorang menjerit keras "Nona. empat tangan dari dua orang dara tersebut telah menyambut tubuhnya. dia menyesal tidak seha-rusnya menarik napas panjang-panjang.99 Sesungguhnya Lan See giok sama sekali tak berpengalaman dalam suatu perta-rungan. sebuah lengan tahu-tahu sudah merangkul pinggang nya dan menyeretnya ke atas permukaan air. Meskipun gerakannya cukup cepat akibat-nya tubuh itu masih terlambat berapa depa untuk mencapai di atas sampan. dia belum pingsan!" Lan See-giok merasa amat terkejut. Tak selang berapa saat kemudian. Tapi segera terdengar pula nona itu mem-bentak keras: "Hayo cepat sambut tubuhnya dan baring kan ke atas sampan" Lan See giok baru tahu sekarang kalau orang yang menyeretnya ke luar dari air adalah nona berbaju putih itu.

Sebaliknya gadis berbaju putih itu tampak memiliki potongan badan yang indah. selain payudaranya besar dan montok. dibawah pakaian berwarna putih yang basah kelihatan menonjol ke luar sangat menantang. Tanpa terasa Lan See-giok membuka sedikit matanya dan mengintip ke depan. apakah tidak bisa pelan sedikit?!" Tak berapa lama kemudian. Kalau tidak melihat masih mendingan. yang seorang gemuk dan yang lain kurus. cukup bikin jantung orang berdebar keras. bpinggangnya amajt ramping dengagn pinggul yang bbesar. Terutama puting susunya yang sudah matang di ujung payudara. tapi dia menggertak giginya keras-keras dan tidak membiarkan mulutnya mengeluarkan suara. mukanyapun turut berubah menjadi merah padam karena jengah. Lan See-giok hanya melirik sekejap kemudian memejamkan matanya rapat-rapat. saat ini mungkin Lo-pocu sudah kembali ke benteng!" Kemudian terdengar suara air memecah ke tepian dan perahu kecil itu bergerak cepat ke depan. Setelah ditegur oleh nonanya tadi. . jantungnya kontan berdebar keras.100 Lan See giok mengetahui maksud hati dari nona itu. ter-nyata sikap kedua orang dayang tersebut terhadap Lan See giok menjadi lebih sungkan. jangankan melirik lagi. seakan-akan sudah tertidur pulas. potongan badannya benar-benar aduhai. Kedua orang dayang itu. dengan begitu pakaiannya menjadi melekat dengan badan dan terlihatlah seluruh lekukan badan mereka. Rupanya seluruh tubuh si nona berbaju putih maupun kedua orang dayang itu sudah basah kuyup karena tercebur. dengan cepat kedua orang itu membaringkan tubuh pemuda itu ke dalam perahu. sampan itu terasa bergoyang keras. begitu melirik. Lan Seegiok tahu si gadis dan kedua orang dayangnya telah naik ke atas perahu itu. bahkan untuk bernapas lebih keraspun tidak berani. Kembali terdengar seseorang membentak nyaring: "Budak sialan. Mendadak terdengar gadis itu berseru kembali: "Cepat kembali ke benteng. tapi payudara mereka kelihatan montok dan sudah matang. maka dia pun segera berlagak. . "Bluuk--!" Lan See giok merasa ping-gang-nya agak sakit karena membentur ujung sampan. diantara dengusan napasnya terlihat naik turun menantang.

Kedua belah sisi jalan air penuh dengan tumbuhan gelaga yang bergoyang menimbul-kan suara gemerisik. meski demikian dalam perasaan tegang bercampur gugup.b sebuah sapu tangan basah telah digunakan untuk me-nye-ka jidatnya. Maka satu-satunya jalan yang bisa dilaku-kannya sekarang adalah bersabar untuk se-mentara waktu sambil menantikan peru-bahan selanjutnya . hal ini mem-buat Lan See-giok merasa gatal tapi nyaman. kadangkala dia membuka sedikit matanya untuk mencuri lihat keadaan di luar sampan.. tapi tidak nampak cahaya rembulan sehingga praktis suasana di sekitar sana gelap gulita. terasa olehnya bau harum itu aneh sekali dan cukup membuat jantung orang bebrdetak keras. orang yang menyeka wajahnya sekarang tak lain adalah si nona berbaju putih itu. Padahal dia tak pandai mengemudikan sampan. selanjutnya dagunya. kecuali itu hanya suara air yang memecah ke tepian saja yang ter-dengar memecahkan keheningan.101 Lan See-giok berbaring di dalam sampan sambil memejamkan matanya rapat-rapat. .. Ia cukup sadar. bintang bertaburan di angkasa. . seandainya serangannya tidak berhasil maka bukan mustahil jiwanya akan terancam. kemudian dengan lembut berge-ser ke bawah untuk menyeka air di atas wa-jahnya. Mendadak terendus bau harum semerbak menusuk penciuman pemuda itu. diapun tak mengerti ilmu berenang. Lan See giok merasakan hatinya berdebar keras. lepaskan tanda pengenal!" Sampan yang sedang bergerak majupun segera melambat dan akhirnya berhenti. Lan See giok pura-pura tertidur nyenyak. Jari tangan si nona yang lembut seringkali menyentuh pipinya yang halus. Menurut dugaannya. pipinya. j Baru saja diga akan melirik. Malam yang gelap mencekam seluruh jagat. bahkan arah mata angin pun sudah dibikin kacau balau. Walaupun Lan See giok masih menggeng-gam senjata gurdi emasnya kencang-ken-cang. diapun dapat merasakan sesuatu ke-hangatan yang nyaman. napasnyapun diatur sedemikian rupa agar gadis berbaju putih itu jangan sampai tahu kalau dia hanya purapura tidur. rambutnya. Tak lama kemudian terdengar gadis ber-baju putih itu berseru: "Siau lian. . tapi ia tak berniat sama sekali untuk melompat bangun dan melancarkan serangan terhadap ke tiga orang gadis itu.

. di samping itu Lan See giok juga dapat melihat jelas ke tiga huruf besar di atas lampu lentera merah tersebut yang berbunyi. trapi berhubung jaraknya kele-wat jauh. Tapi setelah budak berbaju hijau itu meng-gerakkan lentera kecilnya. Lamat lumat Lan See giok mendengar suara teriakan keras dari para penjaga di atas benteng. terdapat pula lampu lentera yang kedua.102 Lan See giok pun merasa gadis berbaju putih itu bangkit sambil maju ke depan. WI LIM POO. mung-kin mereka sudah berada di tengah hutan gelaga yang mendekati benteng Wi lim poo. Tak selang berapa saat kemudian. Maka diam-diam dia melirik kembali ke se-kitar sana. sehingga Lan See giok tak dapat melihat dengan jelas. Tampak si dayang berbaju hijau itu mem-buat api lalu memasang empat buah lentera kecil berwarna merah dan digoyang goyang kan secara beraturan sekali. sampan kecil itu menembusi bayangan pintu gerbang ben-teng wi lim poo tersebut. ta-hulah pemuda itu bahwa mereka telah mendekati Benteng Wi lim Poo seperti apa yang dikatakan si nona tadi. Di atas lenterar itu tertera huzruf besar dari wkertas putih. di atas lentera inipun tertera huruf besar yang terbuat dari kertas putih. muncul pula lampu lentera merah yang ke tiga --Sebuah bangunan benteng yang tinggi dan kokoh muncul jauh di belakang lentera merah yang ke tiga. Sampan kecil itupun makin melamban. Lan See giok tak berani mendongakkan kepalanya. karena itu diapun tak dapat me-nyaksikan keadaan di depan sana serta berapa jauh lagi jaraknya dengan benteng Wi lim poo tersebut. Tak lama kemudian. sekarang pemuda itu baru merasa kalau mereka sudah berada tak jauh dari benteng tersebut. ternyata di sekitar sampan sudah tidak nampak tumbuhan gelaga lagi. ketika dia mencoba melirik tampaklah olehnya ada sebuah lampu lentera merah yang amat besar tergantung di tengah angkasa dan memancarkan cahaya ke empat pen-juru. sampan kecil itu segera didayung kembali sehingga meluncur ke depan dengan cepat. Kurang lebih tujuh delapan depa dari len-tera merah yang pertama. Dengan suatu gerakan cepat. kemudian terdengar pula suara pintu benteng yang berat pelan-pelan dibuka. tiba--tiba Lan See giok merasakan matanya agak silau.

niscaya dia akan diserahkan kepada kawanan lelaki kekar itu untuk dijebloskan ke dalam penjara air. Padahal mereka tahu kalau ilmu silat yang dimiliki nonanya sangat lihay. dengan hormat berdiri di kedua belah sisi bangunan benteng. ""Apakah Lo-pocu telah kembali?" gadis itu segera menegur dengan suara dalam. Lan See giok yang mencoba melirik ke arah depan. Sementara dia masih termenung. Lan See giok segera sadar bahwa dia yang baru lolos dari gua harimau kini sudah terjerumus lagi ke dalam sarang naga. Tapi setelah mereka saksikan Lan See giok yang tergeletak dalam sampan. tiada orang yang percaya kalau nona mereka telah dipaksa terjun ke dalam air oleh seorang bocah yang baru berusia lima enam belas tahun tersebut. Menyaksikan kesemuanya itu. Ketika puluhan lelaki kekar itu menyaksi-kan si nona den kedua orang dayangnya berada dalam keadaan basah kuyup. setelah sampai di dalam benteng. dari sini dapat diketahui kalau kepandaian silat yang dimiliki orang itu pasti lihay sekali. . beralis tebal dan membawa senjata garpu yang memancarkan cahaya tajam. Berpuluh-puluh orang lelaki kekar. Lan See giok sadar bahwa dia bakal celaka. sewaktu dibuka pintu ter-angkat ke atas dan bila menutup pintu ber-gerak ke bawah. selain kokoh juga mendatangkan sua-sana seram bagi yang melihatnya. segera merasa kagum sekali. mereka tahu kalau ke tiga orang gadis itu telah men-jumpai jago lihai di tengah telaga.103 Pintu benteng yang lebarnya delapan depa dan tingginya satu kaki dua depa itu terbuat dari kayu besar. puluhan orang lelaki itupun cepat-ce-pat menundukkan kepalanya dengan keta-kutan. dia tak habis mengerti bagaimana caranya memba-ngun benteng yang begitu kokoh di dalam telaga yang begitu luas. sampan kecil itu sudah meluncur ke bawah pintu gerbang benteng itu. puluhan orang lelaki kekar itu kembali dibuat tidak habis mengerti. paras muka mereka segera berubah hebat. mereka rata-rata bermata besar. untuk melarikan diri dari benteng sekokoh ini nampaknya tidak lebih mudah dari pada melarikan dari dusun nela-yan. bila nona yang lihay pun bisa dipaksa tercebur ke dalam air. sampan kecil itu pun segera berhenti. Dinding benteng maupun bangunan loteng terbuat dari batu-batu cadas yang besar dan kuat. Tiba-tiba terlihat nona berbaju putih itu memberi tanda. Sambil bertolak pinggang gadis berbaju putih itu memandang sekejap sekeliling arena.

setelah melalui jalan air yang menembusi berapa rumah besar. gadis berbaju patih itu berkerut kening. Tempat apakah benteng Wi lim poo ini? sarang perampok kah? Atau suatu markas besar dari suatu perkumpulan besar dalam dunia persilatan? Atau . Be congkoan telah mengirim pula dua setan lainnya untuk menyambut pocu!" Tampaknya nona berbaju putih itu merasa agak lega setelah mendengar ucapan itu. kemudian tanyanya lebih jauh: "Tengah hari tadi. Selesai berkata. Entah berapa lama sampan kecil itu ber-gerak maju menembusi jalan air di dalam benteng. salah seorang diantara tiga se-tan!" kembali lelaki bercambang itu men-jawab dengan sikap yang sangat meng-hor-mat. sampan kecil itu sudah bergerak melewati pintu benteng tersebut. dia lantas mengangguk dan memerintahkan sampan untuk bergerak maju. membuat Lan See giok merasa putus asa. "Tidak usah. Lan See giok menjadi lega kembali setelah perahu itu meneruskan perjalanan. sebab setiap berapa kaki tampak sebuah lampu lentera. Apa yang terlihat di sepanjang perjalanan. karena dia merasa harapannya untuk mela-rikan diri tipis sekali. menyeberangi jembatan berbentuk bulan dan berhenti di depan sebuah pintu gerbang berwarna merah. Bangunan benteng Wi lim poo itu benar-benar luas sekali.104 Seorang lelaki bercambang segera me-nya-hut dengan kepala tertunduk dan sikap hor-mat: "Lapor nona. Lo pocu belum kembali!" Dengan perasaan kaget bercampur ke-heranan. lelaki itu menambahkan: "Barusan. Be congkoan telah me-ngutus siapa untuk menyambut kedatang-an Lo pocu?" "Tui-keng-kui (setan pengejar ikan paus). di sekeliling tempat itu penuh de-ngan bangunan rumah dan loteng yang ter-buat dari batu hijau. akhirnya mereka baru memasuki sebuah pintu air. Yau Huang. Kemudian setelah memandang sekejap ke pintu belakang. aku masih ada persoalan yang hendak ditanyakan kepadanya!" tukas nona itu dengan suara dalam. meski di tengah ke-ge-lapan namun suasana tetap terang benderang. Tiba-tiba terdengar lelaki bercambang itu bertanya dengan sikap hormat: "Nona. tanpa terasa dia menggenggam senjata gurdi emasnya kencang-kencang. apakah mata-mata itu perlu di-tahan di sini untuk diperiksa?" Lan See giok merasa terkejut sekali.

Suara langkah dan sorak gembira menda-dak terhenti.." Suara langkah yang ramai kembali terde-ngar. maka pikirnya lebih jauh: "Kalau toh lo-pocu dari benteng ini me-ru-pakan jago silat yang berilmu tinggi. mengapa aku tidak mengangkatnya menjadi guruku --?" Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya dia merasa tubuhnya telah digotong oleh dua orang dayang. buat apa aku mesti berkhayal yang bukan-bukan---?" Tiba-tiba ia mendengar gadis berbaju putih itu sedang menegur dengan suara nyaring: "Siau ci. belum pernah ia mendengar ayahnya menyinggung tentang hal ini. Dengan cepat Lan See giok tersadar kem-bali dari lamunannya. apakah kau tak dapat meng-angkat kepala itu lebih ke atas sedikit?" Lan See giok merasa kepalanya segera ter-angkat lebih tinggi sehingga terasa nyaman sekali. agaknya mereka sedang dibuat tercengang oleh kehadiran Lan See giok yang digotong Siau lian serta Siau ci.105 mungkin tempat per-tapaan seorang jago persilatan yang me-ngasingkan diri? selama ini. sekelompok pelayan yang datang menyambut segera berhenti dan menjadi hening. tapi bersamaan itu pula Lan See giok merasa kebingungan. kembali dia berpikir: "Jiwaku sendiripun belum tentu bisa di dipertahankan. . maka bocah itu tak berani membuka matanya.. kali ini pelayan-pelayan tersebut pergi menjauh. dia tak habis mengerti apa sebabnya nona itu ber-sikap begitu baik terhadap dirinya. nona telah pulang!" Oleh karena nona berbaju putih itu ber-jalan di samping Lan See giok. Tiba-tiba terdengar suara sorak sorai yang penuh kegembiraan berkumandang datang: "Nona telah datang. Kemudian senjata gurdi emas itupun di ambil oleh si nona berbaju putih tersebut. Tapi ada satu hal yang bisa diduga olehnya.. Kemudian ia mendengar pula nona berbaju putih itu berseru cepat: "Kalian segera menyiapkan air untuk membersihkan badan dan hidangan ma-lam. Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya. Lo pocu dari benteng wi lim poo ini sudah pasti adalah seorang kakek yang ber-ilmu silat sangat tinggi. dia teringat kembali akan dendam sakit hati ayahnya. secara lamat-lamat dia hanya merasa dirinya di bawa ma-suk ke dalam sebuah pintu berbentuk bulat.

hati-hati kalau kulitmu disayat oleh nona . Tak selang berapa saat kemudian. . . Ditinjau dari sikap gugup dan tegang dari pelayan-pelayan itu. Lambat-lambat diapun mende-ngar suara bisik bisikan lirih di kejauhan sana. . Kemudian kedengaran nona itu berkata lagi dengan suara yang jauh lebih lembut: "Sekarang kalian berdua boleh pergi mem-bersihkan badan dan berganti pakaian!" Dua orang dayang itu mengiakan lalu ber-lalu dari situ. . . ". tampan sekali wajahnya . Lan See-giok tahu kalau si nona sedang membebaskan jalan darahnya. segera terendus bau harum semerbak yang merangsang hati. . . Kembali terdengar gadis itu berseru: "Letakkan dulu di atas tempat duduk ber-sulam!"" Lan See giok tidak tahu bagaimanakah bentuk tempat duduk bersulam itu. lalu pelayan-pelayan itu membubarkan diri de-ngan cepat sesaat kemudian kedengaran lagi suara langkah manusia yang mendekat.106 Kemudian ia merasa digotong masuk menaiki undak undakan dan memasuki se-buah ruangan. oooh. tam-paknya seperti berjalan ke arahnya. Lan See giok segera merasakan seluruh badannya bagaikan ditusuk-tusuk dengan jarum. jangan sentuh dia. . menggeliat dan pelan-pelan membuka matanya. Cahaya lampu dalam ruangan itu terang benderang membuat Lan See giok merasa agak silau. kenapa dia masih tidur terus. maka dia berpura-pura menghembuskan napas panjang. Lan See giok lantas menduga kalau nona berbaju putih itu telah balik kembali ke situ." "Siau-ho. disusul se-buah tangan menghantam pelan di atas jalan darah Mia-bunhiat di tubuhnya. . " Serombongan pelayan mengerumuni tem-pat itu sambil berbincang tiada hentinya. ia hanya merasakan badannya dibaringkan di atas tempat yang empuk dan nyaman di mana tangannya menyentuh terasa tempat itu em-puk sekali."" " .?" "Mungkin jalan darahnya ditotok oleh nona. . Mendadak suasana menjadi hening. Tapi Lan See giok tahu kalau tak jauh dari situ masih berdiri beberapa orang dan ia pun tahu kalau si nona berbaju putih itu telah pergi. . . suara lirih tadi kedengaran makin mendekat. Benar juga.

Beberapa orang dayang yang berada di sana rata-rata berusia empat lima belas ta-hunan. ini membuat sepasang payudaranya turut bergoncang keras mengikuti suara tertawa cekikikannya. Ketika biji matanya berputar dia saksikan nona berbaju putih itu masih tetap mengenakan pakaiannya yang basah. dia pun mengikuti di belakang gadis tersebut... hayo cepat membersihkan badan dan tukar pakaian.. mereka mengenakan pakaian ber-warna merah." Seraya berkata dia segera berjbalan lebih duluj di depan. me-mandang sekejap ke arah Lan See giok. lantainya dilapisi permadani merah sedang lentera keraton menghiasi mana-mana. malah sekulum senyuman segera menghiasi bibirnya setelah menyaksikan ketegangan Lan See-giok. Tindakan Lan See-giok yang sangat tiba-tiba ini. lalu dengan tangan kiri melindungi muka.. Karena itulah setelah tertegun sejenak. cepat-cepat dia melompat turun dari atas tempat duduk. sedang di tangannya membawa beberapa stel pakaian. dia bersikap dalam posisi siap siaga. benar-benar suatu dekorasi yang indah sekali.107 Tapi sinar mata yang silau segera membuat sepasang matanya terpejam kembali. hijau dan biru. . kontan saja membuat beberapa orang dayang tersebut menjadi tertegun dan gelagapan dibuatnya. Lan See-giok pura-pura terkejut. saat itu mereka semua sedang berdiri di depan pintu berbentuk bulat dengan wajah ke-heranan. Menelusuri ruangan dalam. Sementara sepasang matanya yang jeli berlagak memandang nona berbaju putih itu dengan tegang. ia saksikan semua perabot yang ada di situ rata-rata in-dah dan mahal harganya. gSekalipun Lan Sbee giok merasa kurang senang atas panggilan itu. ooo0ooo BAB 6 PEMILIK BENTENG WI-LIM-PO DENGAN sepasang matanya yang genit dan menggiurkan nona berbaju putih itu. Si nona berbaju putih itu sendiri masih tetap bersikap tenang. kuning. ke-mudian katanya sambil tertawa cekikikan: "Bocah dungu. tangan kanan melindungi dada. tapi dia tak berani bersikap kelewat keras karena dia takut akan terbongkar rahasianya sehingga menyulitkan diri sendiri. dia sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum manis.

"Aaaah. nona berbaju putih itu segera berhenti dan katanya sambil tertawa: "Cepat masuk. . .. . untung saja ia masih sanggup untuk mengendalikan ge-jolak perasaan dalam hatinya. namun dia merasa tak terbiasa mengenakan pakaian yang berwarna warni seperti itu. Ternyata pakaian itu terdiri dari jubah biru dengan celana hijau. Setelah menembusi ruangan dalam. setiap macam benda yang ada di sana me-nimbulkan rasa ingin tahunya. tapi celananya. akhir-nya gadis berbaju putih itu mengajaknya menuju ke depan sebuah pintu kecil di mana tampak ada dua orang dayang berbaju bunga berdiri di situ. untuk se-mentara waktu dia terpaksa harus me-ngena-kan pakaian pemberian gadis itu. Ia tahu kamar untuk membersihkban badan ini mujngkin merupakang kamar mandi prbibadi si nona berbaju putih itu. pakaian dalam putih. walaupun kurang necis. Semua bahan pakaian terbuat dari bahan sutera yang sangat halus don mahal harga nya. Si anak muda itupun tidak sungkan-sung-kan. ia menjadi ber-pikir pikir. Lan See giok tahu bahwa tempat itulah tempat untuk membersihkan badan . Benar juga. kelewat panjang.108 Baru pertama kali ini Lan See giok me-nyaksikan dekorasi yang begini indahnya. tapi dapat terlihat betapa tam-pannya pemuda itu. lalu di bagian tengah terdapat sebuah bak mandi terbuat dari kayu. sepatu model busa . tak apalah" akhirnya dia berpikir "toh pakaian ini kupakai untuk sementara waktu . pakaian luarnya agak kedodoran. Selesai membersihkan badan." Sembari berkata dia lantas menyodorkan beberapa stel pakaian itu kepada Lan See giok. tanpa terasa Lan See giok berkerut kening. setelah membersihkan badan gantilah dengan pakaian ini. isi bak itu setengah penuh dan mengepalkan uap panas. kenapa nona berbaju putih itu bersikap istimewa kepadanya. sepatunya kelewat sempit. Meski usianya masih kecil.. Lan See giok memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu dia lihat di ujung ruangan terdapat sebuah rak pakaian. ." Pakaian dalamnya persis. seluruh ruangan terasa harum se-merbak. dia segera menerima pakaian ter-sebut dan masuk ke dalam ruangan.. . Dengan wajah ingin tahu.. . Dua orang dayang yang berada di luar de-ngan cepat menutupkan pintu ruangan.

. kemudian melangkah ke luar dari ruangan itu. tolong carzikan air sedikiwt .109 Selesai berdandan. bintangbintang ber-kerlipan di tengah angkasa yang gelap. tapi setelah berpikir sebentar mereka segera memahami jalan pemikiran pemuda itu. selu-ruh benteng Wi lim poo berada dalam keadaan hening. sementara otaknya ber-putar terus untuk menemukan cara yang baik untuk meloloskan diri dari situ. Sekarli lagi kedua orang dayang itu tertegun. . Sambil menundukkan kepala dia pun ber-jalan kian kemari. kemudian berjalan menuju ke ruang depan. Tiba di ruang muka sebuah meja per-jamuan telah disiapkan. Sedang Lan See giok mengira mereka se-dang mentertawakan pakaiannya yang kedo-doran. sedang nona ber-baju putih itu masih belum nampak. dia lantas celingukan lagi ke sana ke mari untuk mencari air guna mencuci pakaian sendiri . apalagi setelah menyaksikan hidangan ma-lam yang lezat. mangkuk piring yang terbuat dari perak telah dihidangkan secara lengkap. Beberapa orang dayang berdiri penuh hor-mat di sudut ruangan. pakaianmu akan budak cucikan. tanpa terasa dengan wajah berubah menjadi merah padam tanyanya sambil ter-tawa "Adik kecil berrdua. silahkan kongcu bersantap malam lebih dulu!" Dengan sopan Lan See giok mengucapkan terima kasih. kontan saja mereka tertawa ce-kikikan. perutnya merasa semakin la-par. Pemandangan malam di luar ruangan nampak sangat indah. agaknya baru pertama kali ini mereka jumpai seorang pemuda yang begitu tampan. Pada saat itulah. tapi dia tahu pang-gilan tersebut ditujukan kepadanya. . karena itu dengan sabar dia pun menantikan kemunculan si nona terse-but. Dua orang dayang itu nampak tertegun untuk sesaat. pintu diketuk orang seca-ra tiba-tiba. . itu berarti bukan disiapkan buat dia seorang saja. Lan See-giok memang merasa amat lapar. kemudian terdengar pelayan itu bertanya: "Kongcu. Di atas meja tersedia dua perangkat mang-kuk sumpit. sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun. Maka diapun membalikkan badan sambil membuka pintu. Salah seorang dayang yang berusia agak tua segera berkata sambil tersenyum ramah: "Kongcu. sudah selesaikah mandimu?" Kongcu? Lan See-giok merasa asing sekali terhadap panggilan itu.

Ia beranggapan bersembunyi di dalam benteng Wi lim poo merupakan tempat per-sembunyian yang paling rahasia. tampak dua orang dayang cilik lari masuk ke dalam ruangan dengan wajah tergopoh gopoh. Lan See giok merasa seakan akan sudah melewati waktu selama satu dua bulan. hingga sekarang jantung-nya ma-sih terasa berdebar keras. . Membayangkan kembali pengalamannya selama dua hari belakangan ini. tanpa terasa Lan See giok terbayang kembali akan kepandaian sakti yang dimiliki si nona berbaju putih sewaktu berada dalam air. dia memutuskan untuk mempelajari kepandaian tersebut secara baik-baik. meski demikian dia merasa hatinya lega dan nyaman. sebab ia dapat lolos dari cengkeraman To oh cay jin (si manusia cacad telinga) Oh Tin san. dia harus menunggu sampai kelima manusia cacad dari tiga telaga berlalu dan meninggalkan tempat tersebut jauh-jauh karena merasa sadar bahwa harapan mereka amat tipis. ke dua orang dayang itu memisahkan diri dan berdiri di kiri dan kanan.110 Beberapa orang pelayan berdiri mem-bung-kam di tempat. Bila teringat kembali kejadian yang di-alami malam tadi. Kini dia memutuskan untuk tidak ter-buru buru mengunjungi bibi Wan. mendadak terdengar suara dentingan nyaring berkumandang datang. Lan See giok segera menghentikan langkah nya seraya berpaling. kemudian barulah berusaha untuk pergi ke sana. Kemudian setibanya di depan pintu. pertempuran-nya melawan si perompak yang mati tertusuk di air serta pertarungannya melawan gadisgadis itu hampir saja membinasakan dirinya di dalam air telaga. Siapa tahu dalam sepanjang sejarah hidupnya dia akan menjumpai bencana ban-jir? Atau mungkin akan bertemu perompak dan mengalami musibah kapalnya karam? Tanpa dibekali ilmu dalam air yang sempurna biarpun ilmu silat yang dimiliki cukup hebat-pun jangan harap bisa mempertahan kan hidupnya dengan baik--Sementara ia masih melamun sampai di situ. mimpipun ke lima manusia cacad serta kakek berjubah kuning itu tak akan menduga kalau dia berada di sini. sementara sorot mata mereka yang jeli mengikuti gerak gerik Lan See giok berjalan kian kemari. Membayangkan kembali kesemuanya itu. Tak lama kemudian suara dentingan tadi makin mendekat dan akhirnya tirai di-singkap orang.

. tak terlukiskan rasa girang dan gembira yang berkecamuk di dalam dadanya. entah mengapa dia sedang marah-marah di ruang tamu. sambil tertawa manis gadis. dari luar pintu berkumandang suara langkah kaki manusia yang tergesa-gesa.. gaun-nya berwarna putih dengan pakaian warna hijau pupus. jangan kau tunda lebih lama lagi" Lan See giok memang memutuskan untuk berdiam sementara waktu di dalam benteng Wi lim-poo sampai suasana menjadi aman kembali. "Lo pocu telah pulang. wajahnya yang memerah tambah dilihat tambah menarik hati. seorang gadis cantik rupawan dengan perawakan yang ramping dan indah tahu. maka sambil tertawa dia manggut-manggut. Ia benar-benar terkejut sampai tertegun.tahu sudah muncul di depan mata.. Ia berdoa semoga Lan See giok bukan se-o-rang bocah berusia lima enam belas tahun. nampak begitu tampan dan gagah. sebab tahun ini dia sendiri telah berumur sembilan belas tahun. Lan See giok baru mengenali kalau si nona anggun yang berbadan indah ini ternyata tak lain adalah si nona berbaju putih tadi. Lan See giok yang selesai membersihkan badan dan berganti pakaian. Rambbut si nona cantjik itu disanggugl tinggi denganb mutu manikam menghiasi mahkota nya. dia berharap pemuda itu sudah termasuk seorang pemuda dewasa." . Mendadak. Setelah diamati beberapa saat. katanya sambil menunjuk ke arah meja: "Ayo silahkan. suatu perpaduan yang mem-buat wajahnya nampak lebih cantik dan menawan hati. ia berwajah potongan kwaci. Gadis cantik itu berdiri tertegun pula di depan pintu sepasang matanya yang jeli mengawasi juga wajah Lan See giok yang baru selesai membersihkan badan dengan termangu. tanpa sungkan pemuda itu mengikutinya.. berbaju putih itu maju mendekat.111 Agak berkilat sepasang mata Lan See giok setelah melihat apa yang tertera di depan mata. Lan See giok segera berpaling. pertanda kalau dia tidak berniat bermusuhan. tampak se-o-rang dayang berbaju kuning sedang berla-rian masuk ke dalam ruangan dengan wajah gugup bercampur tegang. Setelah termangu sesaat. Sewaktu si nona mempersilahkan Lan See giok duduk di kursi utama. alis mata-nya indah dengan bibir yang mungil. Dengan kening berkerut si nonab segera menegurj: "Apa yangg terjadi di tembpat hujin sana?" "Lapor nona" kata dayang itu cepat-cepat.

"Pergilah dulu. hatinya yang tak tenang pun segera menjadi tenang kembali. bukan orang yang ditugaskan mencari dia? "Aaaah. sewaktu huzjin ber-tanya lwo-pocu sendiri rtidak menjawab.112 "Aaaah. masa mereka berani mendirikan markasnya di sekitar ini?" Lan See giok memang bukan anak bodoh. bilang saja aku akan segera menyusul !". pikirnya: "Jangan-jangan si setan pengejar ikan paus adalah orang yang mati kutusuk tadi?" Tapi ia segera merasa jalan pemikirannya tidak benar. Berpikir sampai di situ. Tui keng hi ( Setan pengejar ikan paus ) yang diutus untuk menjemput lo-pocu ditemukan tewas tertusuk dalam air telaga. . maka budak lihat lebih baik nona saja yang men-coba membujuk lo pocu-.-" Sekulum senyuman sinis dan angkuh segera melintas di wajah nona berbaju putih itu. sahutnya: "ikan dan udangpun tak berani berenang mendekati benteng Wi lim poo. dari sikap angkuh si nona berbaju putih itu. tahukah kau apa yang menyebab-kan lo pocu marah-marah?" sela si nona sambil menjerit kaget. pasti orang itu hanya seorang perompak air . "Budak tidak trahu. seakan akan merasa segan untuk pergi. Lan See giok amat terkejut setelah mendengar laporan itu sehingga tanpa terasa wajahnya berubah. Terdengar si nona berbaju putih itu berta-nya lagi kepada si dayang berbaju kuning: "Mayat si setan pengejar ikan paus di-temu-kan di daerah air sebelah mana?" Dayang itu segera menggelengkan kepala-nya berulang kali. apakah di sekitar telaga ini masih terdapat markas besar dari perkumpulan atau pergu-ruan lain-. tapi setelah termenung sejenak akhirnya ia berkata. mayatnya sudah terapung di atas permukaan air. bukankah si setan pengejar ikan paus ditugaskan untuk menjemput Lo pocu-nya. !" akhirnya dia menyimpul-kan. . ia sudah menyimpulkan kalau tiada orang luar yang berani mendekati daerah telaga tersebut." Gadis berbaju putih itu segera mengerut-kan dahinya. apa lagi per-guruan atau perkumpulan lain. . kecuali benteng kalian. "Menurut laporan dari Be-congkoan kepada nyonya. selanya: "Tolong tanya nona. Maka sambil memandang si nona ber-baju putih yang termangu.

kemudian tanyanya: "Mengapa kau mendatangi telaga Lu wi -tong kami malam ini? Di tengah jalan tadi apakah kau telah bersua dengan seorang le-laki setengah umur berbaju hitam. Sepeninggal si dayang." Melihat kemarahan sang pemuda yang kian lama kian menjadi.. tergerak hatinya. nona berbaju putih itu baru berpaling kearah Lan See giok sam-bil berkata: "Dalam benteng kami terdapat tiga orang jago yang disebut tiga setan. beralis tebal dengan mata yang jeli? Atau mungkin sudah terjadi pertarungan diantara kalian?" "Sejak memasuki telaga ini. Gadis berbaju putih itu cukup memahami kalau Lan See-giok tidak mengerti ilmu dalam air. cuma dia tak be-rani banyak bertanya. sewaktu mendusin perahuku sudah terbawa arus hingga sampai di dalam wilayah Lu-wi tong. jadi mustahil ia dapat membunuh si se-tan pengejar ikan paus yang lihay dalam soal ilmu berenang di dalam air.. maka sambil. nona berbaju putih itu semakin yakin kalau di balik kesemuanya ini masih terdapat hal-hal lain.. . si setan pengejar ikan paus terma-suk orang yang berilmu paling tinggi.giok: tiba-tiba teriaknya dengan marah: "Kapan sih aku bilang mau datang ke mari? Semalam toh aku cuma bertidur di dalam perahu. sete-lah berhenti sejenak. ilmunya di dalam airpun paling sempurna. biarpun bertemu jago lihay. cepat dia berguman lebih jauh: "Jangan-jangan sudah bertemu dengan Huan kang ciong liong ( naga sakti Pembalik sungai)?" Dari pembicaraan itu kembali Lan See -giok menyimpulkan bahwa antara pihak Wi lim Poo dengan si naga sakti pembalik sungai pasti terdapat perselisihan. tersenyum katanya: . namun tampak-nya diapun enggan untuk bertanya lebih jauh. mana mungkin bisa terlibat dalam suasana perta-rungan?" sahut pemuda tanpa ragu. mengapa kau memasuki telaga Lu-wi tong?" Tak terkirakan rasa mendongkol Lan See. .113 Dayang berbaju putih itu mengiakan de-ngan hormat. aku pun tak pandai menda-yung. kemudian membalikkan badan dan terburu buru meninggalkan tempat tersebut. semestinya tak mungkin ia akan tertusuk mati di dalam air . tak sesosok bayangan manusiapun yang kujumpai. maka dengan kening berkerut dan nada tak me-ngerti gumamnya lebih jauh: "Lantas. di antara ke tiga orang ini. . Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata nona berbaju putih itu. padahal aku tak mengerti ilmu berenang. ia segera berpaling ke arah Lan See giok.

Perubahan yang berlangsung secara tiba-tiba ini bukan saja membuat semua dayang menjadi tertegun. wajahnya berubah hebat."" Meminjam cahaya lentera yang memancar ke luar dari ruangan Lan See giok ikut me-mandang ke depan.. lalu ber-bisik lirih: "Nona. yang bbergema semakin mendekat. lo-pocu datang!" Berubah wajah si nona berbaju putih itu. Cepat-cepat dia bangkit dan lari ke luar untuk menyambut kedatangan ayahnya. Sementara itu dari ruang tengabh terdengar suajra langkah kakig manusia. . maka diapun mulai bersantap. Mimpipun dia tak pernah menyangka kalau lo pocu dari benteng Wi lim poo ter-nyata adalah si manusia cacad telinga Oh Tin san yang baru saja berhasil dihindari. segera dia melepaskan sumpitnya dan menangis tersedu sedu.. . ayo cepat bersan-tap!" Sembari berkata dia mengambil sumpit perak. ia tahu pastilah si dayang berbaju kuning yang melaporkan kepada ayahnya kalau di situ hadir seorang pemuda tampan. Baru saja hidangan akan dimasukkan ke mulut. . hidangan yang baru saja di antar ke mulut pun segera terjatuh kembali ke atas tanah. bahkan gadis berbaju putih sendiripun sampai berdiri melongo. Kemudian dengan suara keras teriaknya: "Empek.114 "Arus dari telaga ini menang sering kali berubah ubah. Melihat gadis berbaju putih itu tidak berta-nya lebih jauh dan kebetulan hal ini memang sesuai dengan keinginannya. Cepat-cepat Lan See giok berusaha mene-nangkan hatinya. satu ingatan segera melin-tas dalam benaknya.--" Ia lari ke depan menyongsong orang itu. ada kalanya angin telaga da-pat membawa sampan kecil menuju ke arah yang lain. tapi dengan cepat selu-ruh badannya gemetar keras. lalu terdengar gadis ber-baju putih itu berseru memanggil: "Ayah. Manusia cacad telinga Oh Tin san sendiri pun nampak terkejut bercampur gembira setelah mengetahui pemuda yang duduk di ruangan tak lain adalah Lan See giok. mendadak tampak seorang dayang berlari masuk dengan tergesa gesa. Dengan cepat Lan See giok menubruk dan memeluk si manusia cacad telinga erat-erat lalu meledaklah isak tangisnya. kejadian semacam ini umum dan tiada sesuatu yang aneh.

Lan See giok sendiripun segera me-nyadari akan masalah yang sedang dihadapi dengan berpura-pura terkejut bercampur gembira teriaknya keraskeras: "Kau adalah enci Cu!" Di tengah sorak gembiranya dia lari ke de-pan dan memeluk pinggang nona berbaju putih itu kencang-kencang kemudian seru-nya tiada hentinya: "Enci Cu. kemudian dengan wajah jengah menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Oh Tin san. Pemuda Lan See-giok memang pintar sekali. tak urung semua kecurigaannya lenyap tak ber-bekas setelah menyaksikan sikap gembira dari Lan See giok. ini rumahmu. . enci Cu. coba kau lihat siapakah bu-dak yang cantik itu?" Sembari berkata dia menunjuk ke arah si nona berbaju putih yang sementara itu dari rasa kaget dan tercengangnya telah berubah menjadi luapan kegembiraan. toh ia dibuat malu dan tersipu-sipu oleh pelukan Lan See giok tersebut. . jangan menangis lagi. mendadak dia berlagak tersipu-sipu dan buruburu melepaskan pe-lukannya. Begitu keras. suara tertawanya sehingga menggetarkan seluruh benteng Wi lim poo. Biarpun Oh Tin-san yang licik dan keji berakal bulus dan berpengalaman luas. Apalagi perawakan tubuh Lan See giok su-dah sejajar dengan ketinggian tubuhnya.115 Hawa amarah yang semula berkobar dalam dada manusia cacad telinga Oh Tin san se-ketika lenyap tak berbekas. Setelah termangu beberapa saat. gadis berbaju putih itu segera berteriak keras. setelah memeluk tubuh Oh Li cu yang bahenol erat-erat. wajahnya segera berubah menjadi merah padam bagai kepi-ting rebus. . "Ayah. tanyagnya lagi sambilb tertawa senang: "Anak bodoh. kau adalah satu satunya sau pocu dari benteng ini" Kemudian sambbil mendorong sajng bocah. sambil membelai tubuh Lan See giok dengan penuh rasa gem-bira ia berkata: "Anak bodoh. sebenarnya apa yang telah terjadi?" Manusia cacad telinga Oh Tin san menghen-tikan gelak tertawanya. ia tak bisa me-ngendalikan rasa girangnya lagi dan men-dongakkan kepalanya sambil tertawa terba-hakbahak. ."" Meskipun nona berbaju putih Oh Li cu ter-hitung seorang gadis jalang yang cabul.

dengan cepat ia berpaling ke arah Oh Tin san lalu sambil tertawa manggut tiada hentinya.. tak terlukis kan rasa gembiranya waktu itu. . Cu ji tak bisa berbakti lagi kepadamu di kemudian hari. pikirnya: "Asal aku si manusia cacad telinga mem-peroleh kotak kecil itu. "Bocah bodoh.. ?" Lan See giok turut berpaling. "cepat. persoalan apa sih yang membuat kau tertawa terbahak bahak . ia saksikan di depan pintu telah berdiri seorang nyonya tua bersanggul tinggi. buru-buru serunya dengan manja: "Ayah. Biarpun usianya sudah tua. namun nyonya itu masih tetap "hot" dengan anting-anting model dakocan yang amat besar menghiasi telinganya. berkeriput mukanya dan berbedak serta gincu amat tebal. sepatunya berwarna merah juga." Tergerak hati Lan See giok. . cantik kah enci Cu?" "Enci Cu amat cantik!" sahut pemuda itu dengan kepala tertunduk rendahrendah. ini menun-jukkan kalau perempuan ini biar sudah tua namun seorang yang suka pesolek. ia memakai gaun hijau pupus dikombinasikan baju berwarna merah darah. Merah dadu selembar wajah Oh Li-cu karena jengah. . mengapa malu?" tegurnya dengan gembira. sudah pasti dunia berada di bawah telapak kakiku!" Pada saat itulah. napsu birahinya segera te-rangsang dan sinar matanya memancarkan napsu birahi yang amat tebal. . bagaimana kalau empek jodohkan enci Cu untuk menja-di istrimu!" Ucapan tersebut kembali membuat 0h Li cu merasakan timbulnya aliran hawa panas dari antara pahanya terus meluncur ke atas. Memandang Lan Sree giok yang bezrada di-hadapanwnya. Sekali lagi Oh Tin san mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahakbahak. malah tak tertahankan lagi ia tertawa terba-hak-bahak. .. Serunya kemudian sambil menepuk bahu Lan See giok dengan tangannya yang kurus kering: "Jika enci Cu memang cantik. hilang lenyap semua kecurigaannya sekarang. manusia carcad telinga 0h Tin san merasa seolah-olah kotak kecil itu sudah berada di dalam genggamannya.116 Biarpun Oh Tin san licik dan hebat. beritahu kepada em-pek. Mendadak dari belakang beberapa orang itu berkumandang suara teguran seorang perempuan setengah umur dengan nada terkejut: "Tin san.

Lan See giok segera menduga kalau dia adalah bininya si manusia cacad telinga. seka-lipun demikian dia toh memandang juga ke arah perempuan tersebut sambil berlagak seakan akan tidak mengerti. kemudian tanyanya dengan bangga: "Ci hoa. Manusia cacad telinga Oh Tin san men-do-rong tubuh Lan See giok ke depan nyonya tua itu.117 Melihat tampang perempuan tua itu. begitu menyaksikan sorot mata Oh Tin san.nyoo-hui Ki Ci hoa adalah seorang perempuan yang sudah berpengalaman luas di dalam dunia persilatan. sebab raut wajah Lan See giok lebih mirip ibunya dari pada ayah-nya. ia pandai sekali melihat gelagat dan menilai perasaan hati orang. Namun dia tak berani berbicara lebih lan-jut karena tidak memahami maksud tujuan suaminya. dengan kening berkerut dia pun mengamati Lan See giok dari atas hingga ke bawah. maka dengan nada tidak pasti katanya: "Ehmmm---rasanya sih seperti pernah di kenal. agaknya diapun dibuat tidak habis mengerti oleh sikap Oh Tin san yang sebentar gusar sebentar tertawa senang itu. Oh Tin san segera tertawa terkekeh-kekeh buru-buru serunya: "Bocah ini adalah satu-satunya kongcu keturunan adik Khong-tay. ia berseru tertahan dan segera serunya sambil tertawa: "Yaa. coba lihat siapakah dia?" Sambil berkata ia tertawa licik dan memu-tar biji matanya berulang kali. Walaupun nyonya tua itu masih dihiasi dengan senyuman.." Sejak memandang wajah nyonya tua pe-solek ini. dalam hati kecil Lan See giok sudah tumbuh perasaan muak dan bencinya. betul. jelas ia sedang memberi tanda kepada nyonya tua tersebut: "Say nyoo-hui" atau Tandingan . ayah menganiaya Cu ji!" Sambil berseru dia menjatuhkan diri ke dalam pelukan nyonya tua tersebut. memang agak mirip adik Khong-tay---" Ucapan tersebut kembali membuat Oh Tin san menjadi gugup. coba lihat. bocah ini lebih mirip dengan istri adik Khong-tay!" . Oh Li cu segera lari menyong-song kedatangan perempuan itu sambil ber-seru manja: "Ibu. maka cepatcepat katanya lagi: "Jelek amat ketajaman matamu. sepu-luh tahun tak bersua. Benar juga.. bocah ini sudah tum-buh menjadi begitu gagah dan tampan. makin dewasa pasti makin perkasa keadaannya---" Nyobnya tua itu berjkerut kening kegmudian berlagakb seakan akan baru memahami.

dayang itu nampak agak gugup dan buru-buru lari pergi dari situ. Oh Li cu berdiri di belakang ibunya dengan senyuman dikulum. Kemudian dengan senyum dikulum. menggunakang kesempatan terbsebut dia menarik seorang dayang dan membisik-kan sesuatu ke sisi telinganya. lalu dengan cepat dia menyusul kembali istrinya bertiga. kepada kawanan dayang di sisi rua-ngan serunya kemudian: "Cepat siapkan arak. mungkin sau poocu sudah lapar sedari tadi. . menarik Lan See-giok di tangan kanan ber-sama sama menuju ke luar ruangan. ilmu sastra dan lain-lain dengan penuh perhatian. Setelah mendengar bisikan Oh Tin-san. Ki Ci hoa menggandeng putrinya di tangan kiri. katanya pula: "Dia adalah bibimu Ki Ci hoa. dulu dia termasuk seorang perempuan cantik yang termasyhur namanya " Lalu sambil tertawa terbahak bahak. sedang kepada sang bocah. ia tertawa terkekeh tiada hentinya dengan mata sete-ngah terpejam. kemudian setelah mendorong Oh Li cu. orang me-nyebutnya sebagai Tandingan Nyoo-hui. Lan See giok!" Oh Tin san menerangkan. . Ki Ci hoa masih saja menggenggam tangan Lan See giok dengan hangat. Oh Tin san sengaja berjalan dib paling be-lakajng. siapa namamu?" "Dia bernama. ilmu silat. Oh Tin-san sendiripun tertawa terbahak bahak. . !"" Ki Ci hoa nampak semakin gembira lagi setelah mendengar panggilan itu. dia menghampiri pemuda itu sambil tegurnya ramah: "Nak. kemu-dian menanyakan usianya. matanya yang jeli meng-amati terus wajah Lan See giok yang tampan tanpa berkedip.118 Sekali lagi nyonya tua itu memandang wa-jah Lan See giok sambil manggut-manggut memuji. rupanya ia benar-benar su-dah terpukau dibuatnya. . Setelah masing-masing mengambil tempat duduk. malam ini aku akan minum arak sampai mabuk!" Orang menjadi sibuk untuk menyiapkan segala hidangan dan meja perjamuan. ia menepuk bahu Lan See giok sembari berseru lagi: ""Ayo cepat memanggil bibi!"" Sambil menahan kobaran hawa amarahnya Lan See giok memanggil dengan hormat: "Bibi .

namun berhubung apa yang diu-capkan Lan See giok pada dasarnya memang sama seperti apa yang dilihatnya. begitu berjumpa denganku." siapa sangka dia lantas membentak dan menotok jalan darahku. Dengan kening berkerut ujarnya kemudian: "Kakek berjubah kuning itu benar-benar tak tahu aturan... maka perjamuanpun segera dilangsungkan. dia tahu Thi Gou yang dimaksudkan Lan See giok tentulah si bocah lelaki tersebut. dia ingin tahu apa saja yang telah dikatakan kakek tersebut kepada bocah itu.119 Oh Tin san duduk di bangku lain sambil mengawasi istrinya berusaha mengorek kete-rangan dari mulut pemuda itu dengan tak-tiknya. Oh Tin san selalu merasa kuatir tentang keadaan Lan See giok setelah diajak menuju ke dusun nelayan tadi. Sepanjang perjamuan dilangsungkan. Terdengar Lan See giok berkata lebih jauh: ". maka tak heran kalaur dia sudah mem-zpersiapkan jawawbannya sedari tradi. dia lantas. karena hal ini penting baginya di dalam usahanya untuk menguasai Lan See giok di kemudian hari. mengapa sih kakek berjubah kuning itu menangkapmu den membawanya ke dalam dusun?" Lan See giok memang sudah menduga Oh Tin san akan mengajukan pertanyaan terse-but. sedang otaknya berputar terus ber-usaha mencari akal bagaimana caranya menghadapi Lan See giok sehingga kotak kecil yang diincar bisa diperoleh kembali dan bagaimana pula caranya untuk menghindari perjumpaannya dengan Huan kang ciong liong serta kakek berjubah kuning. dengan suara yang lembut dan ramah tapi penuh nada perhatian Oh Tin san ber-tanya: "Giok ji." Walaupun si Manusia cacad telinga Oh Tin san dapat merasa kalau di balik masalah tersebut mustahil duduknya persoalan begitu sederhana.. terpaksa dia manggut-manggut sambil bertanya lebih jauh: "Bagaimana selanjutnya?" Secara ringkas Lan See giok mengisahkan kembali keadaannya setelah masuk ke dalam dusun nelayan tersebut dan akhirnya dia menyinggung . Maka setelah menghabiskan tiga cawan arak.. menegur mengapa kemarin aku menghajar muridnya Thi Gou.aku tahu empek sedang menungguku di luar dusun oleh sebab itu tanpa sungkan-sungkan kusahut kepadanya: "Tidak tahu. Tak selang berapa saat kemudian hidangan sudah disiapkan.." Oh Tin san memang pernah melihat dari balik hutan muncul seorang bocah perem-puan berbaju merah serta seorang bocah le-laki berkulit hitam berbaju hitam.

tidak kujumpai dirimu berada di sekitar sana" Agak memerah paras muka Oh Tin san lantaran jengah. matanya melotot wajah-nya menyeringai seram.120 juga tentang tidak ditemukan nya si manusia cacad telinga di tanggul telaga. Dalam hal ini. dengan nada tak senang hati serunya pula. Selama ini Say nyoo-hui Ki Ci hoa cuma membungkam diri belaka. buruburu selanya: "Tin san. cuma berhubung aku kuatir kakek berjubah kuning itu datang menyusul. ." Tiba-tiba tergerak hati Lan See giok dengan nada tak mengerti dia bertanya.. empek sebagai seorang pemilik benteng yang menjagoi seputar telaga ini belum pernah takut kepada orang lain. Namun setelah melihat Oh Tin san men-jadi gusar karena jengah. alis matanya berkerut. Di samping itu. dari kegelapan ia pun da-pat melihat betapa gugup dan gelisahnya Lan See giok ketika mencari jejaknya. hal tersebut membuat manusia licik ini menaruh percaya seratus persen. Oh Li cu pun merasa tidak puas dengan si-kap ayahnya. "Ayah memang jelek dalam hal ini. Maka setelah tertawa kering katanya: "Dari kejauhan sebetulnya empek melihat kedatanganmu. . dengan nada tak senang hati dia menegur. agaknya ia benar--benar sedang diliputi hawa amarah. dia tertawa kering dan nam-paknya merasa puas dengan penuturan dari Lan See giok tersebut. maka . sedikit-sedikit jadi marah!" . "Bukankah empek sendiri bilang sebelum bertemu tak akan bubar. serunya gusar: "Omong kosong. berhubung dia memang tak tahu duduknya persoalan di samping kuatir salah berbicara." Ketika mengutarakan ucapan tersebut. "Mengapa sih empek begitu takut terhadap si kakek berjubah kuning tersebut?" Berubah paras muka si Manusia cacad telinga Oh Tin san setelah mendengar ucapan mana. bocah kecil tahu apa sih? Masa kata katanya kau masukan dalam hati hingga membuatnya menjadi marah?" Sembari berkata dia mengerling sekejap ke arah Oh Tin san. namun ketika aku sampai di tepi telaga. Berdasarkan kisah yang amat singkat itu diapun dapat menyimpulkan bahwa kakek berjubah kuning itu tak nanti telah menyam-paikan sesuatu kepada Lan See giok.

mestinya kedudukannya dalam dunia persilatanpun amat tinggi . . bayangkan saja betapa tidak marah aku setelah dituduh takut dengan kakek berjubah kuning ter-sebut". haaah . Namun setelah digerutui istrinya dan pu-trinya menunjukkan wajah tak senang hati. sedangkan tentang siapa namanya dan dari mana asal usulnya. manusia-manu-sia golongan putih maupun golongan hitam dari dunia persilatan pada jeri tiga bagian kepadaku. ia tahu jawaban dari Oh Tin san ini tidak jujur. bayangkan saja aku Oh Tin san adalah seorang tokoh silat yang nama nya sangat menggetarkan telaga Phoan yang oh. "Hmmm! Empek cuma tahu kalau dia bu-kan orang baik-baik. dengan ilmu Hun sui ciang hoat (ilmu pukulan pemisah air) yang kumiliki puluhan tahun belum pernah ber-sua dengan musuh tangguh. . Dalam hati kecilnya sekarang cuma ada satu masalah saja yang perlu diketahui sece-patnya. . . haaah . . . buru-buru dia mengendalikan emosinya dan tertawa terbahak bahak. sebenarnya siapa sih kakek berju-bah kuning itu?" Oh Tin san mendengus dingin. ia pun masih tanda tanya besar sebab belum pernah hal ini di dengar dari ayahnya. Kemudian setelah tertawa terbahak bahak kembali. Maka dengan perasaan tak habis mengerti dia bertanya. belum pernah kudengar tentang hal ini ."" Lan See giok pura-pura merasa kaget dan tercengang. " "Darimana kau tahu?" belum habis Lan See giok berkata. yakni asal usul dari si kakek berju-bah kuning tersebut. katanya kemudian: "Aku lihat ilmu silat yang dimiliki kakek berjubah kuning itu lihay sekali. Tanpa ragu-ragu sahut Lan See giok: . . katanya lebih jauh kepada Lan See giok. namun berhubung perkataan dari Lan See giok tadi telah me-nyinggung aib yang pernah dijumpainya dan justru mengena pada penyakit hatinya. . tak heran kalau hawa amarahnya segera mele-dak. "Haaah . . "Sebenarnya empek tidak menampakkan diri waktu itu karena aku tak ingin men-cari urusan yang tak berguna dalam keadaan be-gitu" Dalam hati kecilnya Lan See giok tert-awa dingin.121 Sesungguhnya Oh Tin-san merupakan seo-rang manusia licik yang pandai mengen-dalikan perasaan sendiri. "Empek. Oh Tin san telah menukas de-ngan perasaan dalam. sedangkan mengenai keterangan Wi lim poo dalam dunia persilatan.

. empek akan mewa-riskan segenap kepandaian yang empek miliki untukmu. sekarang turut berseru pula de-ngan nada girang. bila ia sampai berani datang kemari. asal kau bersedia untuk mem-pelajarinya secara tekun. Oh Tin san tak bisa me-ngendalikan hawa amarahnya lagi. mulai besok aku ingin menyuruh empek untuk mengajarku ilmu dalam air . padahal tubuhnya masih berada berapa kaki dariku. " Lan See giok sama sekali tidak menggubris ocehan dari Manusia cacad telinga tersebut. serunya dengan girang: "Kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih lebih dulu kepada empek . "Bocah bodoh. baik. ia bermoral bejad. manusia tak tahu malu. tanpa terasa ia men-dongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak. . ." Tidak sampai Lan See giok menyelesaikan kata-katanya. . . dan beraneka ragam jenisnya. suka merendahkan derajat sendiri . ilmu silat itu tiada batas batasnya. aku pasti akan menyuruh si anjing tua ini merasakan enaknya air Phoan yang oh!" Lan See giok segera merasakan semangat nya bangkit kembali. "Empek tua. dengan nada gembira dia berseru. masih mendi-ngan kalau kakek berbaju kuning itu tidak datang ke benteng Wi lim poo ku ini."" Mendapat pujian dari Lan See-giok. dia berkata lebih jauh: "Kepandaian silat yang dimiliki kakek ber-jubah kuning itu memang amat lihay.122 "Aku dengar kakek bercambang yang ber-nama naga sakti pembalik sungai itu selalu membahasai kakek berbaju kuning itu seba-gai locianpwe . masing-masing kepandaian memiliki keisti-mewaan yang berbeda beda. . . !" Oh Tin san yang licik den banyak tipu muslihatnya ini mengira rencana kejinya berhasil dengan sukses. paras muka Oh Tin-san yang semula suram segera berubah menjadi cerah kembali. hmm. kau sebagai seorang pocu yang namanya termasyhur di seantero dunia. Oh Tin san dengan mata me-lotot dan menggertak gigi telah berseru lebih dulu: "Thio-Lok-heng." Lan See-giok berlagak kegirangan." Ketika selesai mendengar perkataan dari Lan See giok ini. . se-waktu ia membentak kemarin.. . ilmu dalam airmu tentu lihay sekali. ia tertawa bangga dan menganggukkan kepalanya berulang kali: "Baik. ia segera berseru keras. tapi jalan darahku tahu-tahu sudah kena ditotok olehnya. . Say-nyoo-hui yang selama ini cuma mem-bungkam. dia melompat-lompat dan segera menjura dalam-dalam.

. Sebab diantara lima cacad dari tiga telaga.123 "Nak. tapi malam ini tiga orang kongkoan yang berkedudukan di bawah Oh Tin san te-lah datang. matanya yang jalang mengerling sekejap ke arah Oh Li cu yang sedang berseri. tak tahan lagi ia tersenyum genit. lalu serunya dengan naga girang. "Terima kasih banyak bibi!" Kemudian dia membalikkan badan dan duduk kembali ke kursi semula . asal kau bersedia untuk belajar. . berda-sarkan julukan yang mereka miliki paling ti-dak dari lima cacad ada tiga yang bercokol di atas air. dengan pandangan terkejut mereka berpaling ke arah Oh Tin San. . Be congkoan. biar enci Cu mu yang mewakiliku mengajarkan dasar ilmu di dalam air kepadamu. Waktu itu Oh Tin san sudah dibikin kegi-rangan sehingga sedikit tak dapat mengenda-likan diri. orang lain belum pernah mengunjungi tempat kediaman dari Oh Li cu. kontan saja hatinya menjadi kegirangan. Thio Gi si dan Li Tok cay datang mohon bertemu!" Mendengar laporan tersebut paras muka Say nyoo-hui dan 0h Li cu berubah hebat. Pada saat itulah dari luar ruangan muncul seorang dayang berbaju hijau yang menghampiri Oh Tin san dengan langkah tergesa gesa. Perlu diketahui. Oh Li cu yang mendengar ayahnya meme-rintahkan kepadanya untuk mengajar kan ilmu berenang kepada Lan See giok. be-berapa jurus ilmu Cau hong jiu (ilmu sakti menggapai lebah) yang kumilikipun akan kuwariskan juga kepadamu!" . kemudian ujarnya sambil tersenyum. oleh sebab itu kepandaian berenang boleh dibilang merupakan kepandaian yang paling penting baginya. ini menunjukkan kalau di dalam benteng telah terjadi suatu peristiwa yang maha besar.. bila dasar dasarnya sudah kau ketahui baru aku yang mengajarkan langsung kepadamu!" Mendengar perkataan ini Lan See giok ter-tawa. cepat-cepat dia membalik kan badan dan menjura dalam-dalam. setelah memberi hormat kata-nya: "Lapor lo pocu. di hari-hari biasa kecuali Oh Tin San suami istri. kali ini suara tertawanya benar-benar timbul dari hati sanubarinya. sebab hal tersebut memang sesuai dengan kehendak hatinya. ""Mulai besok. Lan See giok sama sekali tidak bertanya apakah ilmu yang dimaksudkan sebagai Cau hong jiu tersebut. tak seorangpun yang paling dicurigai.

hidungnya agak mancung dan bibirnya terasa amat tebal. "Silahkan mereka masuk!" Dayang itu mengiakan dengan hormat ke-mudian membalikkan badan dan buru-buru berlalu dari situ. Meminjam cahaya yang memancar ke luar dari balik ruangan. Sedangkan orang yang berada di sebelah kanan berperawakan tinggi langsing. tampangnya kurus macam monyet dengan hidung yang meleng-kung seperti hidung betet. hal tersebut membuat-nya makin terkesiap. tapi matanya kecil. hanya matanya yang sesat mengawasi depan pintu dengan termangu. tubuhnya kekar dengan alis mata yang tebal. diantara rekan rekannya dia memang kelihatan lebih tampan. terde-ngar suara langkah kaki manusia berkuman-dang memecahkan keheningan. Lan See giok dapat meli-hat ada tiga sosok bayangan manusia sedang melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah tergesa-gesa. Ia mengenakan topi model seorang busu. Tak selang berapa saat kemudian. berusia antara tiga puluh tahunan. Oh Tin San memang sudah mengetahui hal ini. Orang yang berada di sebelah kiri adalah seorang pemuda berusia dua puluh lima-enam tahunan. beralis tebbal dan memelihajra jenggot kambging. apalagi saat ini menunjukkan kentongan ke empat. mengenakan jubah panjang warna putih yang kedodoran. tapi di luar dia berlagak seolah-olah kaget dan tercengang. tampangnyba menunjukkan kelicikan. Orang yang berada ditengah berperawakan kecil dan pendek.124 Menyaksikan keterkejutan Say nyoo-hui dan Oh Li cu. sepasang matanya memancarkan cahaya ta-jam yang berkilauan. telinganya dihiasi anting-anting besar. seolah-olah sedang memikirkan persoalan tersebut. . tanyanya kemudian dengan nada tak mengerti: "Ada apa sih? Masa hari begini juga datang menghadap?" Oh Tin san tidak menjawab dengan segera. sambil mengerut-kan dahinya ia berseru. Lan See giok merasa terperan-jat sekali. membuat kakek ini tampak mengerikan. Say nyoo-hui maupun Oh Li cu meman-dang ke arah Oh Tin san dengan pandangan terkesiap. matanya yang bulat memancarkan juga cahaya tajam. dia adalah seorang kakek bungkuk bermata segi tiga. pakaiannya ringkas dan ikat pinggangnya merah. berjubah hitam dengan celana kombrang.

Dalam pada itu ke tiga orang tersebut su-dah memasuki ke dalam ruangan. sahutnya dengan sikap yang sangat meng-hormat: . . Perubahan wajah Oh Li cu. Terutama sekali pemuda berpakaian ring-kas tersebut.125 Di antara ke tiga orang ini. diapun pada hakekatnya tidak memandang sebelah mata-pun. seorang lagi bertampang keji dan pemuda ini meski masih muda namun wajahnya memancarkan pula hawa sesat dan hawa kecabulan. Biarpun Lan See giok hanya seorang bocah berusia lima enam belas tahunan. akan tetapi mereka berlagak seolah-olah ti-dak memperhatikan. tapi dalam pandangannya bocah itu sudah terhitung se-orang pemuda yang amat ganteng. Hanya Lan See giok seorang yang masih tetap duduk tak bergerak. karena dia me-mang tidak kenal dengan ke tiga orang ini. keningnya sudah berkerut dan wajahnya diliputi hawa napsu mem-bunuh. kontan saja semakin mengobarkan api cemburu yang berkobar di dalam dada pemuda berpakaian ringkas tersebut. . terhadap sorot mata permusuhan dari pemu-da berpakaian ringkas tersebut. Lan See giok segera menduga kalau ke tiga orang ini adalah para anggota penting dari benteng Wi-lim-poo. lalu de-ngan hormat mereka menjura seraya ber-kata: "Mengunjuk hormat buat Lo pocu. Menyaksikan wajah cemburu yang terpan-car dari wajah pemuda tersebut. entah ada urusan apa?" Kakek bungkuk tersebut segera menjura. Oleh sebab itulah sebelum melangkah ke dalam ruangan. Dalam pada itu ke tiga orang tersebut su-dah memasuki ruangan. Manusia cacad telinga Oh Tin San maupun Say-nyoo-hui Ki-Ci-hoa menyaksikan per-u-bahan wajah ke dua orang itu dengan jelas. Setelah meletakkan cawan araknya. seorang ber-tampang licik. ia nampak berkerut kening setelah menyaksikan ketampanan wajah Lan See giok serta kegagahannya. berla-gak tidak mengerti Oh Tin San segera berta-nya: "Malam-malam begini kalian bertiga datang ke sini. senyuman yang semula menghiasi wajah Oh Li cbu kini telah bejrubah menjadi dgingin seperti ebs. enam buah sorot mata mereka yang jeli mengawasi wajah Lan See giok yang sedang duduk dihadapan Oh Li cu itu dengan pandangan terkejut. hujin dan nona!" Say nyoo-hui dan Oh Li cu segera memba-las hormat sambil tersenyum .

kemudian sambil berpura pura gembira katanya dengan suara lantang: "Persoalan ini tak usah kita bicarakan dulu untuk sementara waktu. oooh." .126 "Hamba sekalian mendengar Lo pocu marah-marah yang mungkin disebabkan peristiwa terbunuhnya si setan pengejar ikan paus. di sekitar sana ditemukan sebuah sampan nelayan dalam keadaan terbalik. diketahui perahu itu milik dusun nelayan setempat. Belum habis ia berpikir. agak termangu ia mengawasi pocunya. hamba lang-sung memeriksa sendiri di tempat kejadian.. dia merasa kejadian tersebut perlu diterangkan sejelasjelasnya kepada semua orang . "Setelah menerima laporan. matanya yang sesat memandang sekejap ke arah Lan See-giok. ru-panya hanya masalah sekecil ini.. hamba yakin perbuatan ini pasti hasil karya si naga sakti pembalik sungai. namun aku percaya si setan pengejar ikan paus bukan tewas di tangan si Naga Sakti pembalik sungai. ia jadi lupa kalau dirinya berada di mulut hari-mau. biarpun sampan tersebut milik dusun nelayan se-tem-pat. oleh sebab itu hamba sekalian khusus datang ke mari untuk melaporkan kejadian yang sebenarnya". Belum lagi hal tersebut dilakukan. Setelah menghentikan gelak tertawanya. dengan kening berkerut dia siap melompat bangun. . kami merasa belum puas sebelum da-pat mencuci dusun nelayan itu dengan darah . . kini segenap saudara dari benteng sudah diliputi emosi dan gusar sekali." Ucapan itu menggusarkan Lan See giok. sementara hatinya keheranan dan tidak habis mengerti apa sebabnya Oh Tin San tertawa tergelak. tiba-tiba serunya dengan penuh kegusaran. "Menurut hasil rpenyelidikan atzas sumber dari wsampan tersebutr. . . Lan See giok. Oh Tin San sudah mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak. Say-nyoo-hui serta Oh Li cu juga mengawasi Oh Tin San dengan perasaan tidak habis mengerti. di dasar sampan dijumpai sebuah lubang yang persis sebesar luka mematikan di tubuh si setan pengejar ikan paus " Lan See giok yang mendengar perkataan tersebut menjadi sangat mendongkol." Berbicara sampai di situ. tiba-tiba pemuda berpakaian ringkas itu sudah berdiri dengan kening berkerut. Gelak tertawa ini langsung membungkam kan pemuda berpakaian ringkas itu. Oh Tin san berkata dengan lantang: "Kukira ada kejadian besar apa. . Lelaki setengah umur berwajah monyet segera menyambung pula dengan hormat. ayo kuper-kenalkan dulu kalian bertiga dengan sau poocu kalian Lan See giok.

terutama sekali pemuda berpakaian ringkas tersebut. Umpakan dari Oh Tin san itu kontan mem-banggakan hati Be Siong-pak. untuk di kemudian hari masih ba-nyak membutuhkan petunjuk dari Be lo-enghiong" Betapa gembiranya Be Siong-pak ketika Mendengar Lan See giok membahasai diri sendiri sebagai Be lo-enghiong. la cukup tahu bahwa kesemuanya ini me-rupakan bagian dari perangkap Oh Tin san. memberi hormat buat Sau pocu. lo-pocu terlalu memuji!"" Lelaki setengah umur berwajah seperti monyet itu segera maju pula ke depan. sembari menjura katanya dengan hor-mat: "Congkoan dari benteng Wi-lim-poo. maka dia pun turut beranjak." . tapi mengapa? ia kurang jelas. senyum hambar menghiasi ujung bibirnya. paras mukanya segera beruban hebat. namun ada satu hal dia merasa yakin. dialah otak dari empek mu. Lan See giok masih tetap bersikap tenang. Dalam pada itu si kakek bungkuk itu su-dah maju ke depan dengan senyuman di ku-lum. hamba tidak berani" Sambil tersenyum Oh Tin san segera menimbrung dari samping. dua orang lain-nya nampak tertegun. semua masalah dan pekerjaan merupa-kan hasil kerjanya.127 Seraya berkata dia menunjuk ke arah pe-muda Lan. "Bocah bodoh. Be-Siong-pak memberi hormat buat sau pocu. buru-buru dia membungkukkan badan dan berkata sambil tersenyum: "Hamba tidak berani. oleh karena Oh Tin san telah bangkit berdiri. sahutnya sambil tersenyum ringan: "Aku masih muda dan berpengetahuan rendah." Buru-buru Lan See giok membalas hormat. Kecuali kakek bungkuk. kata nya kepada Lan See giok dengan hormat: "Hamba Thio-Wi-kang. di kemudian hari kau memang perlu minta banyak petunjuk dari Be congkoan. ia tahu Be Siong pak merupakan pe-rintang utama bagi usahanya melarikan diri di kemudian hari." Lan See giok menganggukkan kepalanya berulang kali sementara hatinya bergetar keras. saking senangnya dia sampai mendongakkan kepala nya dan tertawa terbahak bahak. katanya ber-ulang kali: "Aaah. Be congkoan sudah amat berpengalaman di dalam dunia persilatan ke-cerdasan otaknya seperti Khong-Beng yang menjelma kembali. bisa jadi hal ini akan semakin membantu usahanya untuk melarikan diri. matanya bersinar tajam.

. orang me-nye-butnya sebagai Sam-ou kau-ong (Raja monyet air dari tiga telaga). dengan dahi berkerut dan mulut mencibir menunjukkan sikap angkuh tetap berdiri di tempat. Pemuda berpakaian ringkas yang berada di belakang. selamat bersuba!" seru Lan Seje giok berulangg kali sambil mebnjura. Akan tetapi setelah menyaksikan Oh Li cu. matanya berkilat tajam." Lan See giok tidak menyangka kalau pen-jelasan Oh Tin san sedemikian ringkasnya. Melihat hal ini Oh Tin-san kembali berkata: ""Dia adalah Thio-Wi-kang. ""Empek. kepandaian dalam airnya tiada tandingan. "Dia adalah Li Ci cun. ia baru berkata sambil tersenyum. hanya ujarnya ketus: "Lin Ci cun menjumpai sau pocu!" Tapi dikala menyaksikan senyuman seram menghiasi ujung bibir Oh Tin san. persilahkan Be lo enghiong berti-ga turut menghadiri perjamuan ini !" Baru saja ucapan tersebut diutarakan.. saat ini dia termasuk se-orang tokoh yang amat menonjol namanya dalam dunia persilatan. selamat bersua!" Kupu-kupu dibalik ombak Li-Ci-cun merasa sangat tidak puas. orang menyebut-nya Long Ii hu tiap (kupu-kupu di tengah ombak).. Lan See-giok telah berkata kepada Oh Tin sari sambil tersenyum. Agaknya Oh Tin san merasa tak senang hati terhadap sikap angkuh yang dipancar-kan Li Ci cun di hadapannya. kekasihnya yang selama ini hidup bagaikan suami istri dengannya sama sekali tidak ber-paling ke arahnya. maka diapun memberi penjelasan secara ringkas. . kontan saja api cem-burunya makin lama semakin ber-kobar. Oh Li cu segera menarik wajahnya sambil cem-berut. "Selamat bersua. sehingga terburu buru ia membung-kukkan badannya memberi hormat. kontan hatinya bergetar keras. . walaupun sudah sedari tadi ia muncul di situ. kesemuanya itu mem-buat perasaannya dicekam rasa kaget." "Selamat bersua. maka setelah termenung sejenak.128 Sembari berkata dia membungkukkan badan sambil menjura dalamdalam . di samping itu diapun dapat menyadari kalau manusia ca-cad telinga yang termasyhur sebagai manusia licik yang berhati keji ini menaruh perasaan tak puas terhadapnya.. Dalam pada itu.

"Be congkoan. Baru ke luar dari pintu ruangan. Kakek bungkuk. Thio-Wi-kang maupun Li Ci cun nampak agak tertegun pula. Itulah sebabnya sebelum Lan See giok menyelesaikan perkataannya. agaknya ia belum bisa menduga asal usul Lan See giok yang sesungguhnya. bukankah urusan bakal berabe? Perasaannya tiba-tiba saja menjadi gugup dan sangat tak tenang. na-mun setelah menyaksikan ketidak senangan putrinya. dengan kening berkerut katanya dengan gusar: "Empek. setiap pasukan harus berpakaian lengkap dan panji kebesaran kita kibarkan di setiap tiang perahu. maka serentak ke tiga orang itu memberi hormat dan mohon diri. kumpulkan segenap anggota kita di lapangan air. sementara Say nyoo-hui serta Oh Li cu di-buat tertegun." Setelah menurunkan perintah tadi tam-paknya Oh Tin san mulai berpikir kalau ta-ruhan yang dilakukan olehnya kali ini kele-wat besar. mendingan kalau berhasil meraih keuntungan. nah pergilah!" Lan See-giok terkejut oleh ucapan tersebut. apalagi Be Siong pak juga telah beralasan masih ada urusan lain. dengan wajah berseri ia berkata: "Tidak usah sau pocu. Thio-Wi-kang maupun Li Ci cun tahu bahwa mereka sudah seha-rusnya pergi. dia tahu bisa jadi Oh Tin san ber-niat membasmi kampung nelayan tersebut dengan kekerasan. dengan tak sa-dar ia menyela: .129 Agaknya kakek bungkuk itu amat berke-nan dihati atas sebutan Be toenghiong dari Lan See giok tersebut. si setan pengejar ikan paus . Kejut dan gusar perasaan Lan See giok waktu itu. tapi untung saja waktu di kemudian hari masih panjang. Sesungguhnya Oh Tin san memang berniat mempersilahkan ke tiga orang bawahannya untuk menghadiri perjamuan tersebut. Maka setelah merenung sejenak. menda-dak terdengar Oh Tin san berseru lagi dengan suara dalam dan bertenaga. . lain waktu saja kita minum ber-sama sama!" Si kakek bungkuk. sebelum fajar besok harap siapkan semua kapal perang yang kita miliki. toh tak usah tebrburu napsu bukjan?" Selesaig berkata kembalbi ia tertawa terbahak bahak. maka sem-bari mengulapkan tangannya ia berkata: "Baiklah. jika kalah. tapi ke-mudian dengan semangat berkobar serentak ia mengiakan dan berlalu dengan langkah ter-buru buru. besok hamba masih ada urusan yang mesti diselesaikan se-hingga tak berkesempatan untuk menemani sau pocu bersantap.

"mengapa kau menitahkan kepadanya agar diam-diam mendorongku. Oh Tin san cukup tahu bila Be Siong pak yang tersohor karena kecerdasan otaknya pun menunjukkan sikap kaget dan gugup seperti ini. niscaya hal mana akan menarik perhatian si kakek berjubah kuning---" Belum habis dia berkata. Maka sambil berusaha untuk mengendali-kan perasaan gugup dan kalut dalam pikir-annya dia menegur. Mengikuti komat kamitnya mulut Be Siong pak. bila pembicaraan dilakukan waktu itu. bayangan manu-sia nampak berkelebat lewat di depan pintu. peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuh-nya. dari gugup. takut sampai pucat pias dan matanya memancarkan sinar ketakutan. . serta merta mereka melompat ba-ngun." "Empek" tukas Lan See giok tak puas. dasar kepandaian silatnya masih jauh di bawah mu sekarang. . si kakek bungkuk yang be-lum lama meninggalkan ruangan kini sudah melompat masuk kembali ke dalam ruangan dengan wajah gugup dan pucat pias. "Ada urusan apa?" Be Siong pak menunjukkan sikap kaget dan cemas. dengan tergesa gesa dia menghampiri majikannya kemudian membisikkan sesuatu di sisi telinganya. berarti di dalam bentengnya sudah terjadi suatu peristiwa yang luar biasa sekali. .130 "Sirapa suruh si seztan pengejar ikwan paus mencarir kematian sendiri. maka kuperintah kan kepada si setan pengejar ikan paus agar mendorongmu ke mari secara diam-diam. waktu itu aku su-dah memperingatkan dia. katanya sambil tertawa hambar: "Waktu itu aku mengira kau sudah semaput lantaran kaget. Sebagai manusia yang berwatak licik dan pandai membawa diri. bahkan sekalipun sudah di dorong sampai ke tengah telaga pun belum jua menampakkan diri untuk memberi penjelasan?" Agaknya Oh Tin san sudah dapat mene-nangkan hatinya sekarang. karena sejak ber-sembunyi di dalam sampan tak pernah menampakkan diri kembali. Be Congkoan. Para dayang yang berdiri berjajar di kedua belah pintu pun sama-sama memperdengar kan jeritan kaget yang melengking. Kemunculannya yang sangat mendadak ini tentu saja sangat mengejutkan Lan See giok sekalian. paras muka Oh Tin san pun turut berubah ubah juga.

takut dan gugup yang diperlihatkan Oh Tin san maupun kakek bungkuk tersebut. Sepeninggalb ayahnya dan Bej Congkoan. tak tahan lagi dia bertanya dengan gelisah. matanya terbelalak dan ia benarbenar tertegun saking kaget dan takutnya. . kita segera berangkat." Buru-buru mereka berdua melompat ke luar dari ruangan tersebut dan melejit ke atas atap rumah. sambil menarik ujung baju Oh Tin San. kalau tidak mustahil Si manusia cacad telinga Oh Tin San akan menunjukkan rasa takut yang begitu hebat. kemudian sambil berkernyit dahi katanya seraya tertawa paksa: ""Ayahmu selalu dapat mengendalikan diri bila menjumpai sesuatu persoalan. Agaknya Say-nyoo-hui Ki-Ci-hoa juga dapat merasakan betapa seriusnya masalah terse-but. menurut pendapatmu siapa sih yang telah datang?" ooo0ooo BAB 7 SAY-NY00-HUI Ki-Ci-hoa memandang se-kejap ke arah Lan See giok yang masih tetap duduk dengan tenang. padahal masalah nya bukan sesuatu yang luar biasa"" Oh Li cu tidak setuju dengan pendapat itu. sete-lah menghembuskan napas panjang sahut-nya: "Sekarang dia berada di ruang tamu!" Jawaban ini segera menggetarkan perasaan si manusia cacad telinga Oh Tin san seluruh tubuhnya gemetar keras.131 Begitu Be congkoan menyelesaikan kata katanya. kemudian dalam beberapa kali lompatan saja bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata. Lan See giok segera men-duga kalau di dalam benteng tersebut pasti sudah kedatangan seorang musuh yang sa-ngat lihay. buru-buru serunya kepada Be congkoan: "Ayo. ujarnya dengan wajah bersungguh sungguh. bisiknya lirih: "Tin San siapa sih yang telah datang?" Seperti baru mendusin dari kagetnya Oh Tin San tak sempat lagi menjawab perta-nyaan dari Ki-Ci-hoa. sudah pasti tangannya amat keji dan membunuh orang tanpa berkedip. Dari sikap tegang. Bukan saja kepandaian silat yang dimiliki pendatang tersebut hebat sekali. "Sekarang --sekarang dia berada di mana?" Kakek bungkuk itu semakin tegang. Oh Lgi cu baru berpabling ke arah ibunya sambil bertanya dengan perasaan tak habis me-ngerti: "Ibu.

jangan lagi perahu sampan. ia tak tahu benarkah benteng Wi-lim-poo mempunyai penjagaan sedemikian ketatnya. mengapa dari pihak loteng penjaga tidak dikeluarkan tanda peringatan . "Kalau dilihat dari kegugupan ayahmu tadi. kian lama hatinya kian bertambah berat. Sebaliknya Lan See giok yang mendengar ucapan tersebut. dia pun ter-masyhur sebagai Khong-Beng yang menitis kembali. di luar ada hu-tan gelaga yang lebat. jago lihay yang tinggal disinipun tak ter-hitung jumlahnya. bisa juga perempuan tua itu sedang mengibul. di dalam air ada pen-jaga. dengan kening berkerut Say nyoo-hui segera mene-gur: "Betapa pun besarnya persoalan yang di hadapi. Sedangkan Say nyoo-hui sendiri.b terdengar Say jnyoo-hui telah gberkata lebih jbauh. di dalam ada ranjau air. perasaan tak tenang yang semula mencekam perasaannya pun kini bilang le-nyap tak berbekas. benteng tersebut paling-paling cuma begitu saja . sedangkan Lan See giok makin lama semakin terkejut. sikap angkuhnya menghiasi wajahnya. di atas benteng ada pengawal. diban-dingkan dengan Lok ma oh dimasa lalu. bisa jadi mata-mata kita yang di tugaskan di luar telah pulang dengan membawa berita besar yang luar biasa. Sementara dia masih termenung.. ?" Ketika berbicara sampai di situ.132 "Be congkoan orangnya cerdik dan sangat pandai menghadapi masalah.. bila dilihat dari sikapnya yang gugup dan kelabakan." Makin berbicara Say nyoo-hui semakin bersemangat.. biar burungpun sukar untuk terbang lewat tanpa ketahuan. .. walaupun di luaran ia ma-sih tetap mempertahankan ketenangan nya. sambungnya lebih jauh: "Lagi pula kita Wi-lim-poo sudah lama menjagoi di seputar telaga ini. sekeliling benteng dilingkari air telaga. ber-dasarkan kelihaian ilmu silat dari ayahmu serta pamornya yang besar. ." Melihat putrinya tak tahu keadaan. asal ayahmu sudah ke situ niscaya urusan akan beres dengan sendirinya. Oh Li cu segera merasakan semangatnya turut berko-bar. siapa sih yang berani mencabut gigi dari mulut harimau?" Lalu setelah mengerling sekejap ke arah Oh Li cu penuh arti. sesung-guhnya amat menguatirkan pula kesela-matan dari Oh Tin san. bahkan hampir semua-nya pandai ilmu berenang. sebab seandainya ada orang luar yang masuk ke mari. nampak semangat Say nyoo-hui berkobar kembali. Mendengar ucapan dari ibunya.. apalagi kalau dilihat dari sikap gugup dan .

mereka berdiri di situ hingga bayangan tubuh perempuan tua tersebut melangkah ke luar dari pintu hala-man. namun sebisa nya ia beru-saha untuk mengendalikan diri." Sambil berkata ia beranjak dan menuju ke luar ruangan. dia tak tahu apa yang dinamakan "dupa lebah ber-main di putik bunga" itu? Maka pikirnya kemudian: "Aaah. akupun sudah kenyang.. sampai lama kemudian ia baru menyahut agak tergagap. Pelayan pun segera membereskan hida-ngan dari atas meja perjamuan--Setibanya di depan pintu. seakan akan teringat akan sesuatu. Say nyoo-hui menitahkan kedua orang itu agar berhenti. "Ibu.. buru baru serunya: "Ibru. sekarang aku sudah kenyang. Buru-buru Lan See giok berseru dengan hormat: "Silahkan bibi.. temanilah adik Giok mu untuk minum be-berapa cawan lagi. Mendadak berkilat sepasang mata Oh Li cu. aku ingin meminjam sebentar bangau kecil Siau sian hok terbuat dari emas itu-" Belum habis Oh Li cu berkata. aku hendak menengok dulu keadaan di sana. cepat dia menarik napas pan-jang. mungkin dupa untuk mengharum-kan tubuh Oh Li cu ." Bersama Oh Li cu mereka bangkit berdiri dan menghantar Say nyoo-hui KiCi-hoa sampai di luar pintu. berpaling sekejap memperhatikan seke-liling tempat itu kemudian melejit ke arah pintu dan menyembunyikan diri di balik pintu halaman. Lan See giok dan Oh Li cu menurut perin-tah dan berhenti. Say nyoo-hui telah menukas dengan nada terkejut: "Apa? Kau--kau menghendaki dupa lebah bermain di putik bunga---?" Lan See giok yang menyadap pembicaraan tersebut menjadi tak habis mengerti. "Ada apa anak CU?" Oh Li cu nampak agak sangsi dan sukar untuk menjawab.?" .133 takut yang menghiasi wajah suaminya. tunggu dulu!z" Sambil berwseru dia memburru ke luar pintu dan menghampiri ibunya. Kembali ujarnya sambil tertawa paksa: "Anak Cu.. tergeletik hati Lan See giok.. Sementara itu dari luar halaman terdengar Say nyoo-hui sedang bertanya dengan nada tak mengerti. Menyaksikan kejadian itu.

" Selang berapa saat. Terdengar kemudian Say nyoo-hui berkata lagi. mari ikuti aku sekarang!" Menyusul kemudian terdengar suara lang-kah kaki manusia yang makin lama semakin menjauhi tempat tersebut. kecuali lentera merah yang tergantung di puncak loteng benteng.. tak mungkin akan memberi ke-pu-asan kepadamu. Oh Li cu telah berseru kembali agak ngotot. Dalam pada itu Say nyoo-hui serta Oh Li cu sudah masuk ke dalam bangunan bercat merah tersebut. maka diapun berlagak seolah-olah tak ada urusan. segala sesuatunya berada dalam keadaan gelap gulita dan sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. sambil bergendong tangan balik kembali ke dalam ruangan. di li-hatnya para dayang masih sibuk bekerja... .. Ketika berpaling lagi ke ruang dalam."" Tapi sebelum Say nyoo-hui menyelesaikan kata-katanya. dia mencoba untuk mengintip ke luar. "Terus terang kukatakan. di bawah un-dak undakan tetap tertambat sampan kecil yang ditumpangi Oh Li cu tadi. Menelusuri tepi tanggul. sedang di sebelah kanan terbentang pula sebuah lorong air yang agak sempit dan tampaknya lang-sung menuju ke pintu gerbang benteng.. akhirnya dengan nada apa boleh buat Say nyoo-hui berkata lagi: "Baiklah. sekarang dia ma-sih kecil. Lan See giok merasa sangat kebingungan oleh pembicaraan itu. tapi berhubung di sekitarnya berderet bangunan rumah maka pemandangan tak dapat ter-lihat lurus ke depan. Di depan lorong air terdapat sederet ba-ngunan yang berupa pagoda air. namun ia tak berani mem-percepat langkahnya. mungkin gadis itu sedang manggut-manggut. tidak. "Tidak. .134 Tapi setelah dipikir kemudian ia merasa hal tersebut kurang begitu cocok . Lan See giok memandang lagi ke arah de-pan. pelan-pelan Lan See giok berjalan pula menuju ke arah Say nyoo-hui dan Oh Li cu berlalu. Selanjutnya ia tidak mendengar jawaban dari Oh Li-cu... kuatir gerak geriknya diawasi orang secara diam-diam . suasana waktu itu amat gelap. dilihatnya Oh Li cu telah mengikuti ibunya berjalan sejauh beberapa puluh kaki dan menuju ke depan sebuah pintu halaman bercat merah. di situ terbentang sebuah lorong air yang lebarnya beberapa kaki.. Kentongan ke empat sudah lewat.

dasar bangunan hampir menempel pada permukaan air. malam ini benteng Wi-lim-poo betul-betul sudah ke-datangan seorang manusia yang berkedu-dukan amat tinggi di dalam dunia persilatan dewasa ini.135 Setelah maju beberapa kaki. agar tidak menarik perhatian. dari ujung tikungan jembatan kecil itu se-cara ke-betulan sekali dapat menyaksikan selurbuh keadaan di djalam pagoda tergsebut. Memandang keadaan bangunan tersebut. Lan See giok segera tahu bisa jadi bangunan tinggi ini adalah tempat tidur dari si Manusia cacad telinga Oh Tin san. Dari nada suara itu. Tiba di mulut jembatan. tampak daun-daun itu memantul kan cahaya yang berkilauan. Sementara otaknya masih berputar. Baru saja hampir sampai di ujung jem-batan. Bangunan itu terdiri dari tiga tingkat. pelan-pelan dia berjalan menelusuri jembatan bambu itu. ter-pantul cahaya lentera dari balik bangunan. sambil berjalan ia berlagak seolah-olah sedang menikmati pemandangan di sekelilingnya. biarpun di luaran ia berusaha untuk berjalan se-santai mungkin. tubuh-nya sudah menelusuri jembatan bambu kecil itu. dari balik jendela yang berada di empat penjuru nampak cahaya lentera mencorong ke luar. dia ingin tahu sebenarnya manusia li-hay macam apakah yang telah berkunjung ke situ sehingga membuat Oh Tin san yang keji dan licikpun dibuat ke-takutan setengah mati. . mendadak ia mendengar suara Oh Tin san yang sedang menyahut dengan nada yang amat menaruh hormat. Sejak melihat kegugupan dan kebingungan dari Oh Tin san. dib depan sana ditjemukan sebuah jgembatan bambu ybang le-barnya hanya dua depa dan melingkar ke arah kanan. . Setelah maju lagi beberapa langkah. Lan See giok tahu. daun-daun bunga teratai yang lebar dan berwarna hijau hampir menutupi seluruh permukaan telaga. Tergerak hati Lan See-giok. secepat mungkin dia mempersiapkan diri sebaik baiknya untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan. bahwa dugaannya tak salah . Lan See giok memang sudah diliputi perasaan ingin tahu yang meluap luap. dia saksikan jem-batan bambu itu membentang terus ke depan dan menghubungi sebuah bangunan tinggi yang besar dan luas di tengah telaga. di sebelah kanan bangunan tunggal tampak pula sebuah pagoda ber-bentuk bulat.

rupanya dia cuma pandai omong besar saja ketimbang melaksanakannya . Be congkoan. rasa kaget yang di alami Lan See giok saat ini sama sekali tidak berada di bawah To oh cay-jin sendiri. setelah menyaksikan sikap munduk-munduk dari Oh Tin san tersebut. Sepasang mata si kakek berjubah kuning yang tajam bagaikan sembilu itu diarahkan ke wajah See giok Seketika itu juga Lan See-giok merasakan tubuhnya gemetar keras. Mendadak . .136 Seandbainya tidak melihat masih mendi-ngan. . . Sekarang ia merasa menyesal sekali. bila berani." Tapi kenyataannya sekarang? Tak sepatah katapun dari ucapan sesumbar Oh Tin san yang diwujudkan dengan tindakan. begitu menyaksikan keadaan yang ter-bentang di depan mata. si kakek bungkuk apakah tu-rut hadir dalam pagoda tersebut. Sedangkan Oh Tin san berdiri lima langkah di hadapannya dengan sikap yang munduk-munduk dan menghormat sekali. . sepasang tangannya menjulur ke bawah sedangkan sepasang mata sesatnya hampir boleh dibilang tak berani saling beradu pandangan dengan kakek berjubah kuning itu. Detak jantungnyra turut berdebazr keras karena wtegang. saking kagetnya sepasang kaki sampai terasa lemas tak ber-tenaga. benarkah Lan See giok si bocah itu tidak berada dalam bentengmu?" . saking rngerinya nyaris dia membalikkan badan untuk melarikan diri. aku pasti akan menyuruh anjing tua itu men-cicipi rasanya air telaga Huan yang oh. Mendadak terdengar kakek berjubah kuning itu bertanya kepada Oh Tinsan de-ngan suara dalam "Oh pocu. . me-nyesal karena telah menelusuri jembatan kecil tersebut hingga tiba di situ . sayang tak sempat dilihat oleh Lan See giok. sorot matanya memancarkan pula cahaya tajam yang me-mikat sambil mengelus jenggotnya dia seperti lagi merenungkan sesuatu. . Mimpipun dia tak menyangka kalau orang yang duduk di depan meja bundar dalam pa-goda tersebut ternyata tak lain adalah si kakek berjubah kuning tersebut. cepat-cepat ia berpegangan tiang jembatan. . Kakek berjubah kuning itu masih tetap nampak ramah dan lembut. hmm hmmm. Lan See giok segera teringat kembali dengan ucapan se-sumbar yang di-katakan sewaktu ada dalam perjamuan tadi: "Masih mendingan kalau kakek berjubah kuning itu tidak datang ke benteng Wi-lim-poo kami.

masa boanpwe berani membohongi locianpwe?" Lan See giok menjadi mendongkol sekali. "biar aku masuk ke dalam dan tunjukkan diriku di de-pan kakek berjubah kuning itu ." Lan See giok segera memandang sekejap sekeliling tempat itu. kau harus tahu. . sekarang aku hendak pergi dulu" Lan See giok amat terkejut di samping merasa keheranan. biar aku matipun tak nanti akan ku serahkan kepada kalian manusia . dia mendengus gusar dan membalikkan badan berlalu dari sana. Baru saja ia berjalan turun dari jembatan kecil itu... kembali terdengar kakek berjubah kuning itu berkata. tampak olehnya 0h Tin san sedang berjalan ke luar dari pintu pagoda dan membungkukkan badannya memberi hormat seraya berkata: "Boanpwe Oh Tin san menghantar kebe-rangkatan locianpwe. Lan See-giok betul-betul tiada dalam benteng kami. sudah hampir sepuluh tahun lamanya aku mencari Lan Khong-tay. namun dengan cepat hatinya merasa terperanjat." sahut Oh Tin-san mun-duk-munduk. dan sekarang soal kitab pusaka Tay loo hud bun pay yap-cinkeng hanya diketahui Lan See giok se-orang. .. kau harus mengantarnya ke rumah kediaman Huan kang ciong liong (naga sakti pembalik sungai) Thio-Lok-heng di dusun nelayan sana. pikirnya: "Hmm.manusia jahat". Ketika ia berpaling kembali. " Namun sebelum dia beranjak maju ke de-pan." Betapa gusar dan mendongkolnya Lan See giok sehabis mendengar perkataan itu.137 "Lapor locianpwe. ia tidak menyangka kalau Oh Tin san begitu berani ngotot dengan mengatakan ia tidak berada dalam bentengnya. padahal jarak antara pagoda tersebut dengan tepi kolam sudah mencapai puluhan kaki. . namun kenyataan nya suara pembicaraan dari kakek jubah kuning itu masih dapat kedengaran dengan jelas. aku harap kau suka mengutus bebe-rapa orang untuk mencari jejaknya di empat penjuru. sebab selain jembatan kecil tersebut tiada jalan lain yang menghubungkan pagoda air itu dengan da- . . "Baiklah" demikian ia berpikir. jangan harap kalian bisa peroleh kitab pusaka Tay lo hud bun cinkeng ter-se-but. aku akan menunggu di situ. akupun tak ingin kelewat mendesak dirimu. kembali terdengar manusia ber-jubah kuning itu berkata lagi: "Baiklah kita tentukan dengan sepatah kata ini. "Oh pocu. bila jejak Lan See giok telah ditemukan. lantaran apa pasti kau lebih mengerti dari pada diriku.

138

ratan, namun kenyataannya kakek ber-jubah kuning tersebut telah hilang lenyap dengan begitu saja dalam waktu singkat. Tampak Oh Tin san membungkukkan badannya beberapa saat. . kemudian baru menegakkan kembali tubuhnya. Lan See giok takut jejaknya ketahuan, de-ngan cepat dia menyelinap ke balik tempat kegelapan untuk menyembunyikan diri, ke-mudian dengan menelusuri jembatan batu dia balik kembali ke rumah kediaman Oh Li cu. Dengan sekuat tenaga pemuda ini ber-usa-ha mengendalikan gejolak perasaannya, ke-mudian dengan langkah sesantai mungkin maju ke depan, kini dia mulai merasa agak curiga, mengapa tidak nampak jejak pen-jaga di sekeliling tempat itu. Baru tiba di pintu gedung, kebetulan Oh Li cu sedang lari ke luar dengan wajah gugup dan terburu napsu. Lan See giok sangat terkejut, cepat dia menyingkir ke samping memberi jalan lewat buat Oh Li cu hampir saja mereka berdua saling bertumbukan. Dengan cepat Oh Li cu menghentikan gerakan tubuhnya, kemudian dengan pe-rasaan gelisah tanyanya: "Adik Giok. kau tidak boleh meninggalkan tempat ini secara sembarangan, ber-bahaya sekali bagimu!" Lan See giok tertawa hambar: "Aaah, aku tidak pergi terlalu jauh, hanya jalan-jalan mencari angin saja di sekitar sini!" Oh Li cu tidak berniat menanyakan ke mana pemuda itu telah pergi, dengan penuh perhatian kembali katanya. "Kau telah semalam suntuk tidak tidur, sekarang pasti lelah sekali, sekarang pergilah tidur dulu, besok kau mesti belajar ilmu berenang-- !" Sambil berkata dia lantas menarik tangan pemuda itu dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Lan See giok sama sekali tidak menampik, dia membiarkan dirinya ditarik Oh Li cu ma-suk ke dalam, sementara bau harum semer-bak yang aneh menerpa tiada hentinya di se-kitar tubuh pemuda itu. Mengendus bau harum mana, tanpa terasa Lan Se giok berkerut kening, ia mendongak kan kepalanya kembali, ternyata Oh Li cu telah berdandan kembali dengan rapi, sedang bau harum itu tak lain berasal dari bau tubuhnya. Setelah masuk ke dalam kamar, suasana di sana terasa gelap, sedang Oh Li-cu pun segera menutup kembali pintu kamar tersebut rapat-rapat. Lan See--giok sungguh tidak habis mengerti dengan keadaan ini, di pandangnya gadis itu penuh tanda tanya.

139

Oh Li-cu tertawa genit, sambil menghampiri anak muda tersebut, katanya kemudian dengan lembut: "Kamar tidur ini langsung berhubungan dengan kamar tidur cici, maka sengaja kukunci pintu kamar ini." Biarpun dari ayahnya Lan See-giok pernah mendapat pendidikan yang mengatakan bahwa muda mudi kaum persilatan tak perlu kelewat memperhatikan adat istadat, namun ia merasa tidak seharusnya adat istiadat dilanggar seperti ini, tanpa terasa timbul suatu kesan muak dalam hati kecilnya, dia merasa sebagai gadis yang baik, tidak sepantasnya kalau sikap Oh Li-cu kelewat jalang. Belum sempat melihat jelas keadaan di luar ruangan, ia telah diajak memasuki sebuah pintu kecil berbentuk bulat. Suasana di ruang dalam lebih redup lagi, disitupun dipenuhi oleh bau harum yang hampir sama dengan bau harum yang keluar dari tubuh Oh Licu. Cuma saja perabot yang dipersiapkan disini amat mewah dan indah, pembaringan gading dengan kelambu serta seprei yang putih bersih, di samping pembaringan terdapat sebuah meja kecil dengan sebuah lentera kecil berwarna merah. Pokoknya seluruh perabot dalam kamar itu terasa serasi dan penuh dengan suasana syahdu. Menyaksikan keadaan ruangan tersebut, tiba-tiba saja Lan See-giok merasakan timbulnya suatu perasaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata... "Adik Giok" tiba-tiba Oh Li-cu berkata sambil tertawa, "puaskah kau dengan suasana dalam kamar ini?" "Ehmmm, bagus sekali." Lan See-giok manggut-manggut dengan kening berkerut. Sambil menuding ke arah sebuah pintu bulat kecil di bagian dalam sana, kembali gadis itu berkata lembut. "Di balik pintu sana adalah kamar tidur cici, apakah kau ingin masuk untuk me-1ihatnya?" Tanpa ragu Lan See giok segera mengge-lengkan kepalanya berulang kali: "Tidak usah, hari ini sudah terlalu malam biar besok saja---" Jawaban tersebut segera menimbulkan setitik kekecewaan yang segera menghiasi wajah Oh Li cu, namun dengan cepat dia te-lah memutar biji matanya dan berkata lagi sambil tertawa riang: "Adikku, kalau begitu cepatlah tidur, kita berjumpa lagi besok pagi. . ." Kemudian setelah mengerling sekejap ke arah Lan See giok dengan penuh pancaran cinta, dia masuk ke dalam kamar sendiri.

140

Sepeninggal Oh Li cu, Lan See giok me-rasakan hatinya seperti dicekam beban yang sangat berat, entah mengapa semenjak ia tahu kalau Oh Li cu adalah putri Oh Tin san, kesan baik yang semula timbul dalam hati-nya segera berubah menjadi perasaan muak dan benci. Setelah melepaskan pakaian luarnya dia, menjatuhkan diri berbaring di atas ranjang, memandang langit-langit ruangan pikirannya kembali terombang ambing tidak menentu, kacaunya bukan buatan, dia tak tahu apa yang mesti dilakukannya sekarang. Terutama sekali bayangan tubuh Oh Li- cu yang terus menerus muncul di dalam benaknya, kesemuanya itu sungguh mem-buat dia semakin tak dapat tidur. Mendadak terdengar suara gemerisik dari kamar sebelah, agaknya Oh Li cu sedang melepaskan busananya. Menyusul kemudian, terendus bau harum yang amat menggairahkan napsu memenuhi seluruh ruangan. Menjumpai kesemuanya ini, pikiran dan perasaan Lan See giok semakin tak dapat tenang lagi. Namun akibatnya diapun semakin ter-ba-yang kembali kehidupannya yang tenang se-lama tiga hari di rumah bibinya tempo hari... Bibi Wan adalah seorang perempuan cantik yang anggun dan penuh kasih sayang, se-pintas lalu dia seperti baru berusia dua pu-luh tujuh delapan tahunan, namun ia telah mempunyai seorang putri yang telah me-nginjak usia enam belas tahun . . . Cui Siau cian namanya. Teringat akan Cui Siau cian, terbayang kembali wajah seorang gadis yang halus, lembut, penuh sopan santun dan daya tarik... Wajahnya yang cantik, alisnya yang lembut dengan mata yang jeli, hidung yang mancung dengan dua belah bibir yang kecil mungil, semuanya itu menciptakan suatu perpaduan yang menawan hati. Tanpa terasa pikiran dan perasaan Lan See giok terbuai kembali dalam lamunan, dia se-olah-olah merasakan dirinya terbawa kembali dalam sebuah rumah berpagar bambu yang terpencil letaknya . .. Rumah itu hanya rumah bambu yang se-derhana dengan tiga ruangan serta sebuah dapur kecil, ditengah halaman penuh tum-buh aneka bunga yang berwarna warni, se-dang pagar rumah terdiri dari susunan bambu yang diatur secara artistik sungguh menawan hati. Dari ke tiga ruang bambu itu, sebuah adalah kamar tidur enci Cian, sebuah adalah kamar tidur bibi Wan, sedang tengah adalah ruang tamu. Semua perabotannya sederhana tapi bersih dan teratur sehingga mudah menimbulkan suasana nyaman bagi siapapun yang meli-hatnya.

141

Tiga malam dia menginap di sana, tidur di kamar enci Cian nya, sedang enci Cian tidur sekamar dengan bibi Wan. Kamar enci Cian amat bersih dan teratur boleh dibilang tak setitik debupun yang me-nempel di situ, sepreinya selalu menimbul-kan bau harum yang aneh, bau harum yang jelas bukan berasal dari bau bedak. Sebab bau itu sangat lembut, bau yang khas dari tubuh enci Cian, seindah dan se-cantik wajahnya yang syahdu. Cui Siau cian jarang sekali bergurau de-ngannya, namun amat memperhatikan diri-nya, setiap malam dia pasti akan pergi me-meriksa selimutnya, apakah sudah dipakai secara baik atau tidak. Setiap kali dia memandang wajah, enci Ciannya yang cantik, dalam hati kecilnya se-lalu timbul suatu perasaan gembira dan nyaman yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Seringkali dia melamunkan gadis itu, membayangkan potongan badannya yang ramping, langkahnya yang ringan dan gerak gerik yang lembut . . . Setiap kali dia sedang mengawasi wajah enci Cian, tak pernah bibi Wan mengusiknya, dia seperti selalu memberi kesempatan ke-padanya untuk menikmati sampai puas. Setiap malam Cui Siau cian datang me-meriksa selimutnya, diapun selalu merasa kan suatu keinginan yang aneh serta suatu gejolak perasaan yang sukar dikendalikan, dia sangat ingin bisa memegang tangan enci Ciannya yang lembut dan halus serta me-re-masnya. Tapi setiap kali ia tak berani berbuat demikian karena kelembutan dan keang-gunan enci Cian menimbulkan suatu kewi-bawaan yang membuat orang lain tak berani mengusiknya secara kasar. Wajah Cui Siau cian selalu dihiasi dengan senyuman yang manis, belum pernah gadis itu menunjukkan sikap dingin atau ketus kepadanya. Kadangkala, ketika Ciu Siau ciban lewat di-hadjapannya, ia takg tahan ingin meb-manggil-nya, namun Cui Siau cian selalu membalas panggilannya dengan senyuman yang manis, kerdipan mata yang indah dan gerak gerik yang mempesona.. Kini, perasaan Lan See giok sudah terbuai, terbawa ke sisi tubuh enci Cian nya, dia se-olah-olah merasa lupa dimanakah ia berada sekarang. . . Sementara dia masih melamun, mendadak terdengar suara rintihan lirih berkumandang datang dari balik kelambu. Lan See giok segera tersadar kembali dari lamunannya dan kembali ke hadapan ke-nyataan. la merasa mendongkol sekali dengan suara rintihan dari Oh Li cu tadi, tanpa terasa di-tatapnya pintu kamar nona itu dengan penuh kegemasan.

142

Dengan terbayangnya kembali diri Cui Siau cian, tanpa terasa dia pun memperbandingkan gerak gerik maupun cara berbicara kedua orang gadis tersebut. Tapi dengan cepat dia telah menemukan perbedaan yang besar dan menyolok diantara kedua orang itu. Sekarang dia baru mengetahui bahwa Oh Li-cu adalah seorang gadis jalang yang genit dan pandai merayu kaum lelaki untuk terjatuh ke dalam pelukannya. Dia memiliki tubuh yang bahenol, memiliki payudara yang besar dan bundar, senyuman yang merangsang, kerlingan mata yang memikat dan tubuh yang montok serta matang... Mendadak... Napsu birahinya terasa bergelora di dalam tubuhnya, jantung terasa berdebar keras, suatu aliran hawa panas yang aneh muncul dari perut bagian bawahnya dan menyebar ke seluruh badan dengan cepat... Sekali lagi dia mendengar suara rintihan lirih berkumandang dari balik kamar Oh Li-cu. Perasaan Lan See-giok semakin tak karuan lagi, suatu keinginan yang aneh tiba-tiba saja menyelimuti perasaannya. Dengan perasaan terkejut dia melompat bangun, belum pernah dia rasakan gejolak perasaan yang demikian aneh seperti apa yang dialaminya hari ini. Dia merasa sepasang pipinya panas sekali, napasnya memburu dan hatinya berdebar semakin keras... Ia mencoba untuk menbgawasi keadaan jdi sekeliling tgempat itu, selabin cahaya lentera yang redup, semua benda dalam ruangan hanya terlihat secara lamat-lamat, semuanya itu menambah merangsangnya napsu di dalam tubuhnya. Akhirnya sepasang mata Lan See-giok berhenti di suatu tempat, mencorong sinar tajam dari balik matanya, karena dia menyaksikan sebuah benda berbentuk burung bangau kecil terbuat dari emas diletakkan di bawah lentera kecil tersebut. Selapis asap putih yang lembut dan sukar diketahui, menyembur keluar tiada hentinya dari ujung mulut burung bangau emas tersebut... Ia mencoba untuk mengendus beberapa kali, dengan cepat disadari bahwa bau harum aneh yang selama ini memenuhi ruangan tersebut tak lain berasal dari benda tersebut. Dan justru bau asap dupa yang harum inilah yang membuat hatinya gelisah, pikirannya kalut dan tak tenang...

143

Memandang burung bangau kecil tersebut mendadak tergerak hati Lan See-giok, dia seperti menyadari akan sesuatu, segera teringat olehnya akan semua pembicaraan antara Say Nyoo-hui dengan Oh Li-cu. Teringat akan kesemuanya itu, tanpa terasa lagi si anak muda tertawa dingin tiada hentinya. Rasa gusar yang kemudian muncul dan menguasai seluruh perasaannya membuat gejolak perasaan aneh yang semula sudah menguasai dirinya itu seketika menjadi tenang dan mereda kembali. Cepat-cepat dia menjatuhkan diri bersila dan mengatur napas, tak selang berapa saat kemudian pemuda itu sudah berada dalam keadaan lupa diri. Tak selang beberapa saat kemudian, tiba-tiba pemuda itu mendengar suara gemerisik lirih bergema dari depan pembaringannya. Lan See-giok segera terjaga kembali dari semedinya setelah mendengar suara tersebut, namun apa yang kemudian terlihat hampir saja membuatnya menjerit keras saking kagetnya. Oh Li-cu dengan pakaian sutera tipis berwarna merah telah berdiri di depan pembaringannya, begitu tipis kain sutera tersebut sehingga bukan cuma sepasang payudaranya yang montok, besar, padat darn berisi itu kezlihatan jelas, wbahkan pinggangrnya yang kecil, pinggulnya yang montok, kulit badannya yang putih serta bagian terahasia dari seorang gadis terlihat semua dengan nyata, pada hakekatnya gadis itu seperti lagi bugil saja di hadapannya. Waktu itu, Oh Li-cu sedang mengawasi wajah Lan See-giok dengan pandangan terkejut dan kening berkerut, mukanya penuh diliputi perasaan bingung dan tidak habis mengerti. Tampaknya gadis itu benar-benar sudah dibuat tertegun saking kagetnya atas ketenangan serta daya kemampuan pemuda tersebut untuk mengendalikan diri. Ia masih ingat dengan perkataan ibunya, setiap lelaki di dunia ini pasti akan men-jadi gila setelah mengendus bau harumnya dupa lebah bermain di kuncup bunga tersebut, bahkan akan menerkam setiap perempuan yang dijumpainya seperti seekor harimau kelaparan. Sekembalinya ke dalam kamarnya tadi, Oh Li cu benar-benar merasa tak sabar untuk menunggu lebih lama, yang lebih membuatnya keheranan adalah apa sebabnya Lan See giok tidak menerkam tubuhnya yang bugil itu seperti harimau kelaparan. Jangan-jangan dia masih berusia muda sehingga belum mengerti untuk merasakan sorga dunia tersebut? Tapi ingatan lain segera melintas di dalam benaknya, dia curiga benda yang diberikan ibunya Say nyoo-hui kepadanya itu bukan barang asli,

144

kalau tidak, seorang hwesio tua berusia seratus tahun yang mengendus bau dupa tersebut pun akan terangsang napsu birahinya, Lan See giok yang masih muda belia sama sekali tidak terpengaruh? Tak mungkin daya tahannya melebihi se-orang hwesio tua? Sementara berpikir, dia sudah tiba di de-pan pembaringan, ketika dilihatnya Lan See giok sedang mengawasinya dengan mata ter-belalak, dia tertawa jalang, lalu tegur-nya: "Adik Giok, mengapa kau belum tidur?" Sementara itu Lan See giok sudah berhasil mengendalikan perasaannya, dia sudah sa-dar kalau Oh Li cu memang sengaja menga-tur kesemuanya itu untuk menjebaknya, agar dia terangsang oleh napsu birahi sehingga melakukan perbuatan yang amoral. Bisa dibayangkan betapa gusar dan men-dongkolnya anak muda tersebut diperlaku-kan demikian, tapi dia tak berani mengumbar amarahnya, dia tahu keadaan seperti ini ha-rus dihadapi secara luwes dan halus, sebab dia sudah terjerumus ke mulut harimau. Pelan-pelan dia memejamkan matanya dengan cepat dalam hatinya mengambil suatu keputusan, yang penting dia harus bersikap wajar sehingga tidak sampai me-nimbulkan amarah Oh Li cu karena malunya: Maka sambil tersenyum ujarnya kemudian: "Aku sudah tertidur sedari tadi . ." Sewaktu berbicara, sikapnya amat biasa dan seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu apapun, kendatipun dia berusaha keras untuk meredakan detak jantungnya yang berdenyut keras. Terutama sekali terhadap tubuh bugil yang begitu merangsang dibalik kain sutera yang terpampang di depan matanya. Tertegun juga Oh Li-cu sesudah menyaksikan kemampuan Lan See-giok untuk mengendalikan perasaan, napsu birahi yang semula telah menguasai benaknya kini hilang lenyap tak berbekas, sambil duduk termenung di sisi pembaringan sambil mengawasi wajah Lan See-giok, sampai lama sekali dia taak mengucapkan sepatah katapun... Lan See-giok juga membungkam dalam seribu bahasa, karena dia mesti mengendalikan kobaran api birahinya, apalagi Oh Li-cu yang duduk disisinya selalu menghembuskan bau harum semerbak yang aneh dan mengilik-ilik hatinya. Yang terutama adalah sepasang payudaranya yang begitu montok, begitu besar dan putih di balik kain suteranya, yang tampak bergetar merangsang, lelaki mana yang tidak tergiur menyaksikan adegan seperti ini..?

145

Merah padam selembar wajah Lan See-giok, ia merasa darah yang mengalir di dalam tubuhnya bergolak kencang, perasaan anebh yang dirasakajn tadi kini mungcul kembali serbta menyebar ke seluruh badan, dia tak tahu bagaimana mesti menghadapi situasi demikian. Mencorong sinar terang dari balik mata Oh Li-cu setelah menyaksikan keadaan ini, ia segera tertawa genit, sementara tubuhnya bergeser semakin mendekati tubuh pemuda itu. Dengan selembar bibirnya yang merah membara seperti api dan nyaris menempel di atas bibir Lan See-giok, dia berbisik lembut: "Adikku, bagaimanakah perasaanmu sekarang?" Hampir meledak denyutan jantung Lan See-giok, untung saja kesadaran otaknya masih tetap ada, dia mengerti apa yang dibutuhkan olehnya sekarang. Suatu kobaran api napsu birahi kembali mengembang dalam tubuhnya, ia merasa begitu berharap dapat memeluk tubuh Oh Li-cu serta mencomot payudaranya, tapi diapun ingin menghajar perempuan jalang ini hingga mampus. Namun dia tidak berbuat apa-apa, kesadarannya belum lagi runtuh seluruhnya, ia masih sadar bahwa dirinya berada di depan mulut harimau, dia harus berusaha menahan segala siksaan dan penderitaan agar bisa membalaskan dendam bagi kematian ayahnya. Terbayang kembali kematian yang menimpa ayahnya, kobaran api birahi dalam dada Lan See-giok seketika menjadi padam bagaikan tercebur ke gudang salju, sekujur tubuhnya gemetar keras sementara sepasang matanya memancarkan sinar tajam yang menggidikkan hati.. "Sekarang aku merasa baik sekali." jawabnya dengan suara hambar. Oh Li-cu tertegun dan kaget setengah mati, tapi dia dapat mengendalikan diri dengan cepat, sedikit malu bercampur marah tanyanya: "Dahulu, pernahkah kau mengalami suatu peristiwa?" "Peristiwa? Peristiwa apa?" tanya Lan See-giok tidak habis mengerti. "Misalkan saja pil dewa, obat mustajab atau teratai salju, rumput lengci..." "Ooh itu yang kau maksudkan." kata Lan See-giok seperti menjadi paham kembali, ia tertawa geli. "Yaa, empek tua pernah memberi pil penguat badan, pelenyap racun dan penambah tenaga untukku, menurut si empek tua tersebut, dengan menelan sebutir pil itu berarti tenaga dalamku bertambah sebesar puluhan tahubn hasil latihanj." Kata "pelengyap racun" yangb diucapkan lebih nyaring itu kontan mengecewakan Oh Li-cu, ia menjadi masgul sekali: "Waaah... makanya kau bisa memiliki daya tahan yang begitu ampuh..."

146

Belum habis dia berkata, sekujur tubuhnya telah gemetar keras, wajahnya menjadi pucat pias dan tiba-tiba ia teringat kalau ayahnya belum pernah memiliki obat semacam ini. "Apakah pil yang kau makan adalah pil hitam sebesar kelereng baunya amis dan memuakkan?" buru-buru dia bertanya. Berkerut kening Lan See-giok menyaksikan kepanikan orang, ia manggutmanggut. "Betul, menurut empek tua, saban bulan mesti menelan sebutir, kalau tidak aku bisa muntah darah dan mati." Terbelalak lebar sepasang mata Oh Li cu karena kaget, mulutnya melongo lebar dan diawasinya Lan See giok tanpa berkedip, lama, lama kemudian ia baru berguman: "Ke . . kenapa begitu? . ke . . kenapa harus begitu . . ?" Sembari berkata dia mengawasi alis mata Lan See giok tanpa berkedip, sementara air matanya jatuh bercucuran dengan deras. Lan See giok semakin tak habis mengerti, tanyanya kemudian: "Enci Cu, adakah sesuatu yang kurang beres?" Bukan mereda keadaannya, Oh Li cu malah menangis semakin keras lagi, sambil lari masuk ke dalam kamarnya dia menangis dan menjerit-jerit. "Aku tidak mau begitu, aku tidak mau be-gitu..." Menyusul kemudian dengan suara penuh amarah dia berteriak: "Siau ci! Siau lan! cepat bantu aku me-ngenakan pakaian..." Berikutnya kedengaran suara orang yang berlarian mendekat dari luar ruangan dengan langkah gugup dan terburu buru. Lan See giok hanya bisa duduk sambil melongo, pandangannya yang kosong me-ngawasi kamar Oh Li cu tanpa berkedip, ia benar-benar dibuat bodoh, pada hakekatnya dia tidak habis mengerti apa gerangan yang sesungguhnya telah terjadi. Hanya satu kesirmpulan yang berzhasil diraihnyaw, yakni baik Ohr Li cu maupun Oh Tin san tempo hari, buru-buru mengawasi alis matanya setelah mendengar dia menelan pil berwarna hitam yang bau tersebut. Selang beberapa saat kemudian, hatinya bergetar keras, dengan perasaan terkejut dia berpikir: "Jangan-jangan pil hitam yang baunya amis itu adalah obat beracun atau sebangsa nya?" Sekuat tenaga dia mengendalikan hatinya yang gugup dan kalut, secara pelan-pelan semua kejadian yang pernah dialaminya ber-sama Oh Tin san dianalisa kembali. . . Tak lama kemudian ia pun menjadi faham, sudah pasti pil hitam itu adalah sejenis obat beracun yang lambat daya kerjanya.

147

Jelas Oh Tin san bermaksud untuk me-ngendalikannya dengan obat beracun, agar dia tak berani menghianatinya, selama hidup menjadi budak Oh Tin san menuruti perin-tahnya, bahkan bisa jadi dia akan mempergunakan keselamatan jiwanya untuk me-maksa dia memberitahukan tempat tinggal bibi Wan nya. Boleh jadi dia enggan menyebutkan alamat dari bibi Wan nya, namun akibat dari per-buatannya itu, dalam satu bulan kemudian ia tentu mati akibat keracunan, kecuali Oh Tin san, waktu itu pasti tiada orang ke dua yang mengetahui jejak kotak kecil tersebut lagi. Betul masih ada orang ke tiga yang me-ngetahui tentang jejak kotak kecil itu yakni si makhluk bertanduk tunggal Si Yu gi, namun orang tersebut akhirnya tewas di sergap oleh Oh Tin san. Ada satu hal yang belum dipahami juga oleh Lan See giok, yaitu bila pil hitam yang ditelan adalah obat beracun, apa sebabnya tenaga dalam yang diperoleh malah men-da-pat kemajuan yang sangat pesat? Mendadak satu ingatan melintas lewat, ia teringat kembali tatkala baru sadar dari se-medinya dulu, bukan bau amis yang di endus melainkan bau harum semerbak yang meng-gairahkan tubuhnya. Hal ini kembali menimbulkan rasa heran di dalam hatinya. Berdasarkan sikap Oh Tin san yang segera memeriksa alis matanya begitu memandang terkejut ke arahnya setelah mengetahui ke-majuan pesat yang diperolehnya di bidang tenaga dalam, tak bisa disangkal lagi pil berwarna hitam itu adalah sejenis obat racun yang mempunyai sifat lamban daya kerjanya. Tapi siapa pula yang telah menyelamat-kan jiwanya...? Pada saat itulah..... Tiba-tiba berkumandang suara tambur yang dibunyikan bertalu-talu dari tempat kejauhan sana. Diam-diam Lan See giok merasa terkejut ia segera teringat kembali akan perintah Oh Tin san untuk mempersiapkan segenap perahu perang yang ada untuk berkumpul. Buru-buru dia mengenakan sepatu dan membuka pintu kamarnya, ternyata hari su-dah terang tanah. Dua orang pelayan telah siap menanti di luar pintu, tatkala melihat Lan See giok membuka pintu, serentak mereka memper-siapkan air untuk cuci muka. Di dalam keadaan cemas, gelisah dan gusar tentu saja Lan See giok tidak berniat lagi untuk cuci muka, dia harus mencari Oh Tin san secepatnya dan mencegah mereka membantai orang-orang di dusun nelayan----

148

Tergesa-gesa dia membuka pintu dan lari ke luar dari halaman tersebut. Baru tiba di depan pintu, dia bertemu Oh Li cu yang sedang berlari masuk ke dalam halaman dengan mata merah dan bibir ter-tutup rapat, Berjumpa dengan Lan See giok, Oh Li cu segera menegur: "Mau ke mana kau?"" Biarpun Lan See giok sedang diliputi hawa amarah, namun dia tetap menjawab dengan suara dalam: "Aku hendak mencari ayahmu." "jangan, jangan pergi" seru Oh Li cu sambil menarik tangannya, "Ayah dan Be Congkoan bertiga sedang merundingkan masalah penting . . ." Lan See giok tidak dapat menahban kobaran amarjahnya lagi, diag segera berteribak keras. "Aku justru hendak mencari mereka ber-empat" Sekuat tenaga dia mengebaskan tangan Oh Li cu, kemudian melanjutkan perjalanan-nya dengan langkah lebar. Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Oh Li cu sudah menghadang kembali di depan Lan See giok sambil serunya dengan gugup. "Percuma kau kesana, segenap anggota benteng dan kapal perang, telah berkumpul dan bersiap sedia, kau harus mengerti ayahku berbuat demikian adalah demi ke-baikan dirimu-.." "Demi kebaikanku? Kebaikan apa?" Lan See giok tertegun dan mengawasi Oh Li cu dengan pandangan tak habis mengerti. Menyaksikan sikap anak muda tersebut, Oh Li cu tak dapat menahan rasa gelinya lagi, ia segera tertawa cekikikan. "Anak bodoh, ayah sengaja mengumpulkan semua anggota benteng dan kapal perang karena dia ingin menyelenggarakan suatu upacara perkenalan bagi Sau pocu nya kepada semua anggota." Lan See giok semakin berdiri bodoh lagi setelah mendengar perkataan itu. Oh Li cu tertawa cekikikan, katanya lagi sambil menarik tangan Lan See giok. "Ayo jalan, cepat kembali, cici masih ingin berbicara denganmu---" Seraya berkata dia menarik Lan See giok secara paksa menuju ke kamarnya. Lan See giok berjalan mengikuti di bela-kang Oh Li cu, ia tak habis mengerti apa se-babnya Oh Tin san menyelenggarakan perte-muan seperti itu, rencana busuk apa pula yang sedang disusun olehnya-- ? Oh Li cu membawa Lan See-giok menuju ke ruang kamarnya, kemudian memerintah-kan pemuda itu duduk dan bertanya dengan serius: "Adik Giok, bagaimana perasaanmu sekarang?"

149

Lan See giok tertegun, ia tidak mengerti apa maksud pertanyaan tersebut, terpaksa katanya sambil mengangguk : "Aku merasa baik sekali!" Obh Li cu mengertji kalau anak mugda ter-se-but tbidak memahami maksudnya, maka ta-nyanya lebih jelas: "Maksudku dikala sedang mengatur perna-pasan, apakah kau merasakan aliran tenaga dalammu tersumbat, dan tidak dapat menu-ruti kehendak hati?" Lan See giok baru paham setelah mende-ngar kata-kata ini, dengan cepat dia mengge-lengkan kepalanya berulang kali "Aku tidak merasakan gejala demikian, aku hanya merasa tenaga dalamku seperti mem-peroleh kemajuan yang sangat pesat setelah menelan pil hitam pemberian empek tua!" Mendengar perkataan mana. Oh Li cu mendengus gusar mulutnya sampai cemberut saking mendongkolnya, dia menganggap Lan See giok tidak cukup jujur terhadap dirinya. Melihat hal ini Lan See giok tertawa ham-bar, ia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi suara tambur yang memekakkan telinga te-lah berkumandang lagi, bahkan suaranya kali ini kedengaran lebih berat dan santar. Berubah paras muka Oh Li cu, sambil ber-seru tertahan dia bangkit berdiri, lalu ka-tanya cepat: "Tambur kedua telah dibunyikan, itu ber-arti semua kapal perang telah berkumpul di depan pintu benteng." Sambil berkata, cepat-cepat dia menge-luarkan sebuah botol kecil dari dalam saku-nya dan diserahkan kepada Lan See giok seraya ujarnya lagi: "Di dalam botol ini berisikan tiga butir pil Cing hiat ciat tok wan (pil pencuci darah pe-lenyap racun), bila kau rasakan aliran tenaga dalammu seperti tersumbat, cepatlah telan sebutir". Kemudian tergesa-gesa dia lari masuk ke dalam kamar sendiri. Memandang bayangan si nona yang men-jauh, tanpa terasa Lan See giok tertawa di-ngin, pikirnya. "Bapaknya licik, putrinya cabul, tak nanti aku Lan See giok akan terjebak oleh siasat kalian." Sambil tertawa dingin ia lantas membuka penutup botol itu dan memeriksa isinya. Dalam waktu singkat bau harum semerbak memancar ke mana-mana, seketika itu juga semangatnya terasa bangkit kembali.

150

Lan See giok mernjadi tertegun,z karena obat tewrsebut sama sekrali berbeda dengan pil hi-tam yang diberikan Oh Tin san ke-padanya tempo hari. TANPA terasa ia mengerling sekejap ke kamar nona itu sementara botol tadi di ma-sukkan kembali ke dalam sakunya, kini dia benar-benar tak habis mengerti, dia tak tahu mengapa Oh Li cu memberi obat pe-nawar racun kepadanya. Kenyataan ini tentu saja disambut gembira olehnya, perasaan simpatik yang semula memang tumbuh dalam hatinya terhadap Oh Li cu, kini mulai tumbuh kembali. Tak selang berapa saat kemudian, tampak Oh Li cu berjalan ke luar dari kamarnya de-ngan langkah tergesa gesa, di punggungnya bertambah dengan sebilah pedang, di ta-ngannya menggenggam senjata gurdi emas Cing kim kong luan cui milik Lan See giok. Tergerak hati Lan See giok setelah menyak-sikan kejadian itu, buru-buru dia bangkit berdiri, lalu memandang gurdi emas di ta-ngan Oh Li cu itu dengan termangu, dia tak habis mengerti apa sebab nya gadis itu menggembol senjata. Dengan cepat Oh Li cu sudah berjalan mendekat, katanya dengan wajah serius: 'Kau harus membawa serta senjata an-dalanmu ini, karena seusai upacara perke-nalan nanti, bisa jadi benda tersebut di per-lukan." "Mengapa?" tanya Lan See giok tidak mengerti. "Biasanya seusai upacara perkenalan, akan muncul orang-orang yang berwatak ingin menang sendiri untuk mencoba kepandaian dari anggota baru, mereka akan manfaat-kan kesempatan mana untuk memamerkan kepandaiannya di hadapan pocu dengan harapan bisa memperoleh pujian atau kedudukan yang jauh lebih baik." Lan See giok segera tertawa, memanfaat-kan peluang itu dia sambut senjata gurdi emasnya dan diselipkan di pinggang. Tampaknya Oh Li cu dipenuhi banyak pikiran, setelah memandang sekejap dan-danan Lan See giok yang mengenakan pakaian kedodoran, dia bertanya dengan kuatir: "Apakah kau perlu ikat pinggang untuk meringkaskan pakaianmu?" "Aaah tidak usah, masa benar-benar ada orang yang begitu berani hendak merebut kursi sau pocu ini dari tanganku?" Selesai berkata, dia berpura pura tertawa gembira. Melihat pemuda itu gembira, Oh Li cu turut gembira pula, katanya kemudian sambil ter-tawa: "Kalau begitu, mari kita segera berangkat!"

151

Sementara itu matahari sudah tinggi di angkasa, seluruh benteng Wi-limpoo dilapisi cahaya keemas emasan. Ketika Lan See giok dan Oh Li cu berjalan ke luar dari halaman, di tepi sungai telah parkir sebuah perahu naga yang agak nya dipersiapkan untuk menjemput Oh Tin san, Be congkoan dan lain lainnya. Perahu naga panjangnya empat kaki dan terdiri dari dua tingkat, seluruh tubuhnya berwarna kuning emas, bangunan perahunya pun sangat indah dan mempesona hati. Di ujung buritan perahu tampak beberapa orang lelaki berpakaian ringkas warna perak dengan tubuh yang tinggi tegap berdiri kekar di situ, wajah mereka rata-rata bengis, beralis tebal dan bermata besar, namun sikapnya munduk-munduk dan hormat. Ketika Oh Li cu berjalan mendekat, seren-tak semua lelaki kekar itu membungkuk kan badannya memberi hormat, tapi ketika men-dongakkan kepalanya kembali, mereka segera mengawasi Lan See giok dengan pandangan agak terkejut. "Adikku." kata Oh Li cu kemudian sambil tertawa angkuh. "inilah perahu naga emas milik ayah yang khusus untuk mengangkut ayah dan ibu saja." Lan See giok hanya tertawa hambar sambil manggut-manggut, melihat sikap sang pemu-da yang acuh tak acuh, Oh Li cu segera menambahkan lagi: "Kau adalah sau-pocu, tentu saja se-lanjut-nya kau boleh menumpang perahu ini juga, kau pun boleh memakai perahu ini untuk berpesiar ke mana-mana." Berkilat sepasang mata Lan See giok, se-ketika itu juga dia teringat untuk melarikan diri, tanpa terasa semangatnya berkobar kembali, katanya dengan gembira: "Sungguhkah itu? Aku benar-benbar boleh menumpjang perahu ini guntuk berpesiarb?" Melihat pemuda itu gembira, Oh Li cu turut tertawa cekikikan, sambungnya dengan ce-pat: "Aaah, masa enci bakal membohongi diri mu?" Belum habis tertawanya, dari balik pintu gedung berwarna merah telah bergema datang suara langkah kaki manusia. Ternyata mereka adalah si kakek bungkuk Be congkoan Thio-Wi-kang, Li Ci cun yang berjalan mengikuti di belakang Oh Tin san serta Say nyoo-hui. Kali ini Oh Tin san mengenakan pakaian perlente yang halus dan mahal harganya dengan mengenakan topi model hartawan. sepatunya indah, gayanya dibuat buat, persis seperti tampang seorang tuan tanah.

152

Say nyoo-hui Ki-Ci-hoa pun telah ber-ganti pakaian baru, wajahnya yang telah keriputan dihiasi dengan bedak yang tebal, agaknya jauh lebih tebal daripada kemarin. Ketika Oh Tin san dan Ki-Ci-hoa me-nyak-sikan Lan See giok berdiri berdampingan dengan putri mereka, ke dua orang itu segera tertawa gembira. Buru-buru Lan See giok dan Oh Li cu maju ke depan sambil memberi hormat. Sambil tertawa gembira Oh Tin san segera berkata: "Anak Giok, hari ini empek tua akan mem-perkenalkan kau kepada segenap komandan dan saudara-saudara kita yang ada di dalam benteng, mulai hari ini kau sudah kami ang-kat menjadi sau pocu -benteng Wi-limpoo." Say-nyoo-hui tertawa pula sambil menarik tangan Lan See-giok, sengaja ujarnya: "Anak Giok, kenapa kau tidak cepat-cepat berterima kasih kepada empek Oh mu?" Demi keberhasilannya melarikan diri, demi berhasil mempelajari ilmu berenang dan demi keberhasilannya mem-balaskan dendam ayahnya, terpaksa Lan See giok harus mengesampingkan semua masalah, biarpun harus menganggap bajingan sebagai ayah dia mau tak mau harus menahan diri. Maka kepada Oh Tin san katanya lagi sambil menjura: "Terima kasih banyak empek tua!" Oh Tin san segera tertawa terbbahak bahak dengjan bangganya. gBe congkoan danb Thio-Wi-kang pun secara beruntun maju ke depan untuk menyapa Lan See giok dan Oh Li cu. Lain halnya dengan si kupu-kupu ditengah ombak Li Ci cun, sejak menyaksikan sikap mesra Oh Li cu terhadap Lan See giok, dia sudah menarik mukanya, menunjukkan si-kap tak senang hati, apalagi setelah dilihat nya gadis itu tak pernah memandang sekejap matapun ke arahnya, api amarahnya sema-kin berkobar. Namun ia terpaksa harus mengekang rasa gusarnya setelah menyaksikan Be congkoan dan Thio-Wi-kang telah maju menyapa, dia segera maju pula ke depan sambil memberi hormat. Begitulah, dengan Oh Tin san berjalan di depan, Say nyoo-hui dan Oh Li cu mengapit Lan See giok di tengah, Be congkoan sekalian bertiga menyusul di belakang, mereka ber-sama sama naik ke atas perahu naga emas.

153

Sepanjang perjalanan, Oh Li cu tak pernah meninggalkan Lan See giok barang selang-kahpun, begitu mesra dan hangatnya hubu-ngan mereka tak ubahnya seperti sepasang pengantin baru. Oh Tin san dan Say nyoo-hui yang me-nyaksikan adegan itu menjadi amat gembira senyuman lebar tidak hentinya menghiasi bibir mereka--Benteng Wi-lim-poo memang luas sekali, mereka berlayar hampir seperti minum teh lamanya sebelum mencapai sebuah jalur air yang cukup lebar di depan pintu benteng yang tinggi dan kokoh. Waktu itu pintu benteng sudah terbentang lebar, aneka lentera menghiasi seluruh ba-ngunan benteng, ketika terhembus angin bola-bola lentera itu bergoyang tiada henti-nya. Enam orang lelaki bercelana biru berbaju merah, berdiri berjalan di atas loteng, di ta-ngan masing-masing orang tampak mem-bawa terompet panjang yang dihiasi bendera warna warni. Begitu perahu naga berlayar memasuki lorong benteng, serentak ke enam lelaki itu meniup terompetnya keras-keras. Menyusul kemudian suara tambur dan genderang dibunyikan bertalu talu, meng-i-ringi gerakan sang perahu yang semakin ce-pat. oooOooo BAB 8 Dengan wrajah serius pelzan-pelan Oh Tinw san bangkit berrdiri, kemudian didampingi Say nyoo-hui mereka beranjak ke luar dari ruangan perahu. Oh Li cu segera menarik tangan Lan See giok dan menyusul di belakang ke dua orang tuanya. Biarpun Lan See giok tahu kalau semua yang dipersiapkan oleh Oh Tin san termasuk bagian dari rencana busuknya, tak urung hatinya merasa tegang juga setelah menyak-sikan kesemuanya itu terutama sekali suara tambur yang dibunyi-kan bertalu talu, mem-bikin hatinya semakin tak tenang. Berpaling ke belakang, keningnya segera berkerut kencang, dia menyaksikan si kupu-kupu di tengah ombak Li Ci cun yang berdiri di belakangnya sedang menyeringai seram sambil melotot ke arahnya penuh kebencian. Lan See giok sungguh tak habis mengerti, dia tak mengerti apa sebabnya Li Ci cun menunjuk sikap yang begitu tak bersahabat dengan dirinya. Mendadak satu ingatan melintas lewat, ia lantas teringat kembali dengan peringatan dari Oh Li cu, pikirnya: "Waah, jangan-jangan sehabis upacara perkenalan nanti, Li Ci cun akan me-nan-tangku untuk bertarung?"

154

"Aaah, mustahil." demikian pikirnya kemu-dian, "hal ini tak masuk di akal, siapa yang berani merebut kedudukan sau-pocu de-nganku---?" Sementara dia masih melamun, perahu te-lah berlabuh di sisi kanan pintu gerbang, menyusul kemudian beberapa orang itu tu-run dari perahu dan menelusuri undak un-dakan batu yang besar menuju ke bangunan loteng di atas benteng. Sekarang Lan See giok baru berkesem-patan untuk melihat jelas lagi, dinding ben-teng itu luasnya mencapai delapan depa, se-lain tebal dan panjang, nampaknya amat kokoh. Setibanya di atas loteng, beberapa orang itu langsung menuju ke atas mimbar di de-pan loteng, di depan mimbar tersedia se-buah meja panjang beralas kain merah, mungkin disitulah terletak mimbar kehormatan. Dalam pada itu suara tambur telah ber-henti, kecuali suara ombak yang memecah di kaki benteng, sama sekali tak ke-dengaran sedikit suarapun. Lan See giok mengikuti di belakang Oh Tin san langsung menuju ke atas mimbar ke-hormatan. Sesampainya di depan meja kehormatan dan melongok ke bawah, pemuda itu kontan merasakan matanya silau, ia betul-betul dibuat terkejut sampai tertegun untuk se-saat. Rupanya pada permukaan telaga di luar dinding benteng, terlihat kapal perang berla-buh berderet deret, tiang perahu yang men-julang angkasa dengan aneka bendera yang berwarna warni, cahaya go1ok dan tameng yang gemerlapan, menimbulkan suasana yang amat mengerikan hati. Biarpun begitu banyak perahu berderet- deret di sana, ternyata suasana begitu hening dan sepi sehingga boleh dibilang tak kede-ngaran sedikit suarapun. Lan See-giok coba mengamati dengan lebih seksama, ternyata perahuperahu perang itu lebarnya beberapa kaki, waktu itu sepanjang anjungan perahu berderet deret lelaki kekar bergolok yang menyandang busur dan tameng. Jumlah kapal perang itu mencapai ratusan buah, sedang lelaki-lelaki kekar itu mencapai dua ribu orang lebih, namun mereka semua berdiri dengan tenang, sedemikian tenangnya sehingga tak kedengaran sedikit suarapun. Kapal perang itu terdiri dari empat pasu-kan dengan membentuk posisi empat persegi panjang, semuanya berlabuh di atas permu-kaan telaga di muka benteng dengan rapinya. Dengan cepat Lan See giok menjumpai kalau lambang dari setiap pasukan tersebut berbeda beda, pakaian seragam yang di ke-nakan masing-masing pasukan pun tidak sama satu dengan lainnya.

dan dia pula yang akan menjadi satu satu-nya penerus kedudukanku ini. . segenap lelaki kekar itu ber-sama sama menurunkan kembali tombak masing-masing. bunyi terompet segera berhenti. pada ujung perahunya terpancang sebuah panji bergambar kepala naga yang sedang mementangkan cakar. semua anggotanya berseragam hitam. Dengan wajah serius dan pancaran sinar sesat dari balik matanya. serentak mengangkat tom-bak masing-masing sambil bersorak sorai. hari ini aku sengaja mengumpulkan kalian semua di tempat ini karena aku ingin memperkenalkan se-orang warga baru dari benteng kita. Menyusul kemudian dari arah belakang berkumandang suara terompet yang di bu-nyikan nyaring. sorak sorai turut berhenti. pelanpelan Oh Tin-san mengangkat tangan kanannya ke atas sambil memandang ke kiri dan kanan. Pasukan ke tiga berlambang seekor singa baju seragamnya abu-abu muda. Di ujung tiang bendera masing masing-pasukan terpancang bendera dari masing-masing regu. Oh Tin-san dan Say nyoo-hui telah berdiri berja-jar di depan panggung kehormatan tersebut. Dua ribu orang lelaki kekar yang berada di sisi kapal perang. Sedangkan pasukan ke empat berlambang macan kumbang hitam. sejak hari ini dia Lan See-giok akan menjadi sau pocu kalian. Pasukan kedua mempunyai lambang hari-mau terbang. anggotanya bersera-gam warna hijau.155 Pada pasukan yang berada di sebelah kiri. Bersama itu pula. dia berkata lebih jauh: "Dia adalah keturunan satu satunya dari Kim lui gin tan (Gurdi emas peluru perak) Lan tayhiap yang sesungguhnya adalah sa-habat karibku. Belum habis Lan See giok melihat. baju seragamnya kuning. suasana betul-betul mengerikan. agaknya daya pengaruh dari Wi-lim-poo memang tak boleh dipandang enteng. tombak di angkat ke atas hingga berkilauan terpantul cahaya mentari. Dengan suara nyaring pelan-pelan Oh Tin san berkata: "Saudara sekalian. Diam-diam Lan See-giok merasa terkejut menyaksikan keadaan seperti ini." Begitu perkataan tersebut selesai diutara-kan. kembali suara tempik sorak yang gegap gempita berkumandang memecahkan ke-heningan." Lalu sambil menuding Lan See-giok yang berdiri di sisinya.

"Sekarang. tapi ia berusaha keras untuk mengendalikan gejolak perasaannya. Lan See-giok merasakan darah panas di dalam dadanya bergolak keras. nah harap masing-masing pasukan memberi hormat kepada sau pocu. Oh Tin san telah mengang-kat tangannya kembali. Menyusul kemudian Oh Tin san memper-kenalkan pasukan singa jantan dan pasukan macan kumbang hitam." Kembali semua anggota pasukan harimau terbang mengangkat tombaknya sambil me-nengok ke arah benteng. dia pun hendak menggunakan kekuatan tersebut untuk memunahkan perompak dan perampok yang seringkali mengganggu kaum nelayan. suasana segera menjadi hening kembali. timbul tekadnya untuk memanfaatkan kekuatan yang ada untuk membalaskan dendam bagi kematian ayah-nya. suara tempik sorak yang gegap gempita tadi kini menjadi sirap sama sekali. . Lan See giok segera mengangkat tangan kanannya dan dilambai lambaikan ke arah pasukan tersebut Oh Tin san beralih memandang ke arah pasukan kedua. Sekarang Lan See giok baru menemukan bahwa di dalam setiap pasukan.. Sementara itu Say nyoo-hui." Menyusul teriakan itu.. Oh Li cu serta Be congkoan sekalian mendapat kesan kalau Lan See giok seakan akan telah berubah jauh lebih matang hanya dalam sekejap saja. aku hendak memperkenalkan setiap pasukan kepada sau pocu kalian yang baru. Sementara itu. Detik itu juga dia merasa semangatnya berkobar kembali. di ujung geladak berdiri se-orang manusia yang mengenakan pakaian berwarna sama namun berbeda bahannya. segenap lelaki kekar yang berada di atas kapal perang Naga sakti bersama sama mengangkat tongkatnya sam-bil menengok ke arah loteng benteng." Kemudian sambil berpaling ke arah pasu-kan kapal perang pertama yang berlambang naga dia berseru: "Pasukan naga sakti .156 Menyaksikan kesemuanya itu. pelan-pelan dia melambaikan tangannya untuk menyambut tempik sorak dari kawanan jago di ratusan perahu perang tersebut.. seakan akan berubah menjadi seorang lelaki dewasa yang berpengalaman.. mungkin itulah ko-mandan dari masingmasing pasukan. di belakang orang itu masih berdiri pula bebe-rapa orang lelaki kekar. tentu ter-dapat sebuah kapal perang yang berada di paling depan. teriaknya pula: "Pasukan harimau terbang.

" Sebetulnya Lan See giok tak ingin banyak urusan. Seandainya tiada kehadiran Lan See giok. dalam keadaan demikian. apalagi Oh Tin san dan Say nyoo-hui sudah lama menyetujui hubungan mereka. bahkan terhadap Oh Tin-san pun menaruh perasaan benci yang luar biasa. Kupu-kupu dibalik ombak Li Ci-cun me-ngawasi kesemuanya ini dari belakang. Tapi kini dari tengah jalan muncul se-orang Lan See giok. sudah pasti ia telah menjadi suami istri de-ngan Oh Li cu. sebentar aku pasti akan membuatmu tergeletak di tanah dengan ber-mandikan darah kental. . ini berarti kedudukan sau pocu dari benteng Wi-lim-poo tentu akan menjadi mi-liknya. bahkan Oh Tin-san mengu-mumkan di depan umum bahwa dia telah mengangkat Lan See giok sebagai ahli waris kedudukannya sebagai seorang pocu. sampaikanlah beberapa pesan kepada segenap saudara kita yang hadir di sini. dia merasa berkewajiban un-tuk menyampaikan beberapa patah kata. bukan saja Oh Li cu menjadi berubah hati. tanpa sadar rasa bencinya terhadap pemuda itu merasuk sampai ke tulang sum-sum. lalu sekulum senyuman yang menggidikkan hati menyungging di ujung bibirnya. suasana di seluruh arena masih tetap diliputi keheningan yang luar biasa. ia kelihatan begitu gagah dan perkasa.157 Tampak pemuda itu berdiri tegap dengan mata berkilat . ketika menyaksikan Lan See-giok mem-peroleh kedudukan begitu tinggi tanpa ber-susah payah. kau jangan kebu-ru sombong dulu. Tiba-tiba Oh Tin san berpaling dan me-mandang sekejap ke arah Lan See giok ke-mudian dengan sikapnya yang angkuh dan penuh rasa bangga ia berkata: "Bocah bodoh. tanpa terasa Oh Li cu tertawa serta merta dia menyikut tubuh ibunya Say nyoohui. . pikirnya kemudian: "Bocah keparat she Lan. dan senyuman menghiasi ujung bibirnya. . tampaknya dia sedang dibebani oleh suatu pemikiran yang men-dalam atau bisa jadi dia telah mengetahui asal usul Lan See-giok yang sesungguhnya. Diliriknya sekejap ke empat manusia yang berada di panggung kehormatan itu dengan penuh kebencian. Say nyoo-hui sendiri hanya termenung dengan wajah serius. Kini dia bukan hanya membenci Lan See giok dan Oh Li-cu. Menyaksikan ketampanan serta kegagah-an anak muda tersebut. namun terdorong oleh ambisi di dalam hatinya." Sementara itu upacara perkenalan telah selesai.

beliau dihormati dan disanjung semua umat persilatan. Maka kuanjurkan kepada saudara sekalian agar lebih ketat menjaga peraturan benteng kita dan membangun ber-sama kejayaan benteng kita. kemudian dengan kening berkernyit ujarnya dengan lantang. maka cepat-cepat dia mengangkat tangannya untuk meredakan suasana. menggetarkan sungai besar dan tersohor di seantero jagad. bahkan sorak sorai yang terdengar kali ini jauh lebih nyaring ketimbang tadi. menghimpun hawa murninya dan memandang sekejap ke seluruh arena. . wajahnya segera berseri-seri. Melihat reaksi spontan dari semua anggota benteng. . kapal perang yang perkasa serta semangat kalian yang berkobar. sebab selama banyak tahun ini. dia merasa taruhan yang dilakukan kali ini pasti akan menghasilkan kemenangan di pihaknya. . dia berkata lebih jauh: "Wi-lim-poo bisa menjagoi telaga Huan yang oh. Tak terlukiskan rasa gembira Oh Tin san setelah mendengar pujian dari Lan See giok itu.158 Maka dia maju ke depan." Sekali lagi tempik sorak yang gegap gem-pita berkumandang memenuhi angkasa." Setelah berhenti sejenak dan sekali lagi memandang sekejap wajah orangorang itu. bayangkan saja kemajuan yang berhasil dicapai Wi-lim-poo kita sekarang. mana mungkin bisa mencapai ke-adaan demikian?. dia kuatir Oh Tin san iri sehingga usahanya akan menemui kegagalan total. Lan Sjee-giok berkatag lebih jauh.. tampaknya perkataan dari si anak muda tersebut telah membangkitkan rasa gembira dari masing-masing orang. itu berarti semua kejayaan dari Wilim-poo sesungguhnya adalah milik saudara sekalian . semua keberhasilan ini sesungguhnya berkat kemampuan dari toa pocu serta semangat saudara sekalian yang perkasa dan berani mati. belum pernah mereka mendengar suatu nasehat dan anjuran yang bersemangat seperti ini. setelah kusaksikan senjata kalian yang bergemerlapan.." Belum habis perkataan itu diutarakan suara tempik sorak yang gegap gempita telah berkumandang memecahkan keheningan. barisan kalian yang rapat. "Saudara sekalian. "bLo-pocu kita adalah seorang manusia yang cerdas dan seorang angkatan tua yang ber-kedudukan tinggi. kecerdasan otak hujin dan bantuan perencanaan dari Be to-enghiong sekalian bertiga. Setelah suasana menjadi tenangb kembali. tanpa pimpinan dari Lo pocu. Lan Se giok merasa ter-kejut. aku merasa benar-benar bangga dan gembira bisa berkumpul dengan kalian semua.

tiong . Ketika Oh Tin san sekalian sudah kembali ke dalam rumah. hatinya gugup dan panik. diapun mengikuti di belakang Be congkoan den Thio-Wikang untuk menyampaikan selamat kepada Oh Tin san. suatu rencana keji kembali telah melintas di dalam benaknya. Dalam gembiranya. ini berarti dia tak akan pernah bisa berebut kedudukan dengan pemuda ter-sebut.sam kui untuk menantang Lan See giok sehabis upacara perkenalan ini menjadi kecewa sekali. Oh Tin san segera menitahkan kepada Be congkoan untuk menyiapkan pesta di ruang Kit oh ting tengah hari nanti. Namun ketika melihat kegembiraan yang dialami Oh Tin san. dalam anggapannya. seorang calon suami yang paling ideal baginya. Berpikir demikian. Say nyoo-hui yang cukup memahami jalan pemikiran putrinya segera. sebab dengan terjadinya peru-bahan tersebut berarti semua rencananya akan mengalami kegagalan total--Tapi harapannya segera timbul kembali setelah mendengar akan diselenggarakan-nya pesta tengah hari nanti. bukannya merasa gembira. Oh Li cu yang merasa paling gebmbira. tapi dia tidak berkata apa-apa kepada Lan See giok.b sorot matanya yang berkilat tak pernah bergeser dari tubuh Lan See giok. sedang-kan segenap anggota lainnya dipersilahkan minum arak di tempat masingmasing sepuasnya. sambil bersyukur karena pocu mereka berhasil mendapatkan ahli waris yang baik. sambil bjersandar di sisgi tubuh ibunya. berkata kepada mereka berdua. Sadarlah dia sekarang bahwa kemampuan yang dimilikinya masih jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan kemampuan Lan See giok. untuk beristirahat!" . Sebaliknya paras muka si kupu-kupu di balik ombak Li Ci cun berubah menjadi pucat pasi seperti mayat.159 Menyusul kemudian Be Siong pak dan Thio-Wi-kang datang memberi selamat kepada Oh Tin san dan Lan See giok. maka diapun ikut ter-tawa lebar. Kupu-kupu dibalik ombak Li Ci-cun yang sebenarnya telah menyiapkan rencana busuk dengan menyuruh ji-kui (setan kedua) dari Po . "Kalian berdua boleh kembali ke kamar. dia justru merasa hatinya makin lama semakin berat. Lan See giok adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah. dia tidak menyangka kalau Lan See giok de-ngan usianya yang begitu muda ternyata sanggup menarik simpatik dari segenap ang-gota benteng dengan beberapa patah kata-nya. semua komandan kapal perang diundang untuk menghadiri pesta. Say nyoo-hui Ki-Ci-hoa yang jauh lebih licik ketimbang Oh Tin san segera merasakan pula betapa cerdik dan berbakatnya Lan See giok.

Waktu itu Oh Li cu sedang dipengaruhi oleh kobaran napsu birahi.160 Oh Li cu menyambut seruan itu dengan penuh kegirangan ia segera menarik tangan Lan See giok kembali ke kamarnya. Belum habis jalan pikiran tersebut me-lin-tasi lewat. semenjak masih berada di panggung kehor-matan tadi dia sudah tak tahan ingin meme-luk Lan See giok. Lan See-giok benar-benar tidak menyangka Oh Li cu akan bersikap begitu tak tahu malu." Kemudian dia menghantar bibirnya yang merah merekah itu ke depan dan mendarat-kan beberapa kali ciuman mesra ke wajah dan bibir Lan Seegiok. menyusul kemudian terdengar gadis itu berseru dengan lembut: "Ooh adikku. . . Mencorong sinar tajam dari balik mata Lan See giok. padahal dalam hati kecilnya dia merasa muak dan bosan. seakan akan tidak memahami jalan pemikiran orang. ternyata hal ini disebabkan hubungannya yang terlampau mesra dengan Oh Li cu. ia sedang terbuai dalam suasana yang begitu hangat dan syah-du ketika tubuhnya didorong secara tiba-tiba oleh pemuda tersebut. Melihat hal ini Len See-giok menjadi paham kembali apa sebabnya Li Ci cun begitu mem-bencinya. Lan See giok sendiri tetap bersikap wajar. Maka cepat-cepat dia mendorong tubuh Oh Li cu sambil menuding ke arah jendela sebe-lah belakang . Sudah sedari tadi dia mesti menahan diri untuk mengekang gejolak napsu birahinya. sebab dalam anggapannya. Mendadak . kini Lan See giok sudah menjadi suaminya. Dalam perjalanan masuk ke ruangan dalam. apalagi bau harum yang begitu tebal sudah membikin kepalanya terasa pusing tujuh keliling. . cici pingin sekali melalap kau si bocah bodoh dan menelannya ke dalam perut. tiba-tiba pemuda itu merasa tubuhnya telah dipeluk erat-erat oleh Oh Li cu. tiba-tiba ia menyaksikan Li Ci cun sedang berdiri di luar pagar rumarh sambil mengawzasi ke arahnya wdengan pandangarn penuh kegusaran dan menggigit bibir me-na-han rasa dendam. sebab gerak gerik dari Say-nyoo-hui tadi telah menimbulkan perasaan was-was bagi dirinya. . rupanya dia telah menyaksikan munculnya sesosok bayangan hitam dari be-lakang jendela sana. senyum manis tetap meng-hiasi ujung bibirnya. tapi dia pun tak berani menolak ciuman tersebut terlalu kasar.

hawa napsu mem-bunuhnya dengan cepat menyelimuti seluruh benaknya. malah ada yang sudah naik ke atas punggung mim-bar. alis mata berkernyit dan pedang terhunus sedang berhadapan dengan seorang lelaki berbaju ungu.. kali ini menerobos ke luar dari jendela luar. Serentetan cahaya tajam segera berkelebat lewat menembusi jendela. buru-buru dia menutul permu-kaan tanah dan secepat kilat berkelebat ke depan menyusul di belakang gadis tersebut. . Bayangan manusia di luar jendela itu le-nyap tak berbekas. pemuda itu melongo. Hmm! Jika kau eng- . ia sama sekali tidak berpaling ke arah para ko-mandan pasukan yang sementara itu berda-tangan dengan penuh tanda tanya. . Bayangan manusia kembali berkelebat le-wat. tangan kanannya segera di-ayunkan ke depan melepaskan sebilah pisau terbang. sementara tubuhnya selangkah demi selangkah mundur terus. Lan See giok yakin kalau orang yang bersembunyi di belakang jendela tadi pasti adalah si kupu-kupu di balik ombak Li Ci cun." Paras muka Oh Li cu kontan berubah menjadi merah membara. di sekitar sana sama sekali tidak nampak bayangan tubuh dari Li Ci cun. Oh Li cu berdiri dengan hawa napsu mem-bunuh menyelimuti seluruh wajahnya. sambil membentak keras. mata yang bulat penuh bercambang tapi berwajah pucat. kau berani memaksa menciumi nona.161 Dengan cepat dia berpaling ke arah yang ditunjuk. Sementara itu di ruang depan telah ber-datangan dua tiga puluhan sampan kecil yang mengangkut para komandan pasukan yang datang mengikuti perjamuan. kemudian dengan nada penuh kebencian pelan-pelan ia berkata: "Say-li-kui (setan ikan leihi) siapa yang memerintahkan kau mengintip kami? Ayo cepat menjawab dengan sejujurnya. alis mata yang tebal. apa yang terlihat olehnya membuat gadis ini naik pitam. Tiba di tempat kejadian.? serahkan nyawa anjingmu. Lelaki berbaju ungu itu memiliki perawa-kan tubuh yang kekar. sebuah pukulan dahsyat dengan cepat meluncur ke depan menghajar jendela belakang itu sehingga hancur lebur. Aku ya-kin kalau kau sendiri tak akan mem-punyai keberanian sebesar ini. ternyata Oh Li cu dengan muka hi-jau membesi. sorot matanya mengawasi lelaki itu lekat-lekat. matanya penuh diliputi sinar kaget dan melihat tanpa berkedip dia mengawasi ujung pedang Oh Li cu. . tapi oleh sebab dia kuatir Oh Li cu men-dapat celaka. tapi kemudian terdengar seseorang membentak secara kasar: "Manusia rendah yang tak tahu malu.

ti--. maka dengan memperhalus suara nya ia berkata. asal kau bersedia mengaku. apa yang terjadi?" bDengan wajah mejrah bercampur hgijau membesi. "Katakan saja. .162 gan menjawab.tidak sengaja--. jangan salahkan kalau keta-jaman pedang nonamu akan membacok tubuhmu mbenjadi dua bagijan---". se-mentara butiran keringat sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran dengan amat derasnya." Oh Li cu semakin naik darah. nona tak akan membunuhmu---" Mendadak pada saat itulah dari kejauhan sana terdengar seseorang berseru keras: "Lo pocu dan hujin tiba---" Dengan bergemanya suara itu. ia lihat Oh Tin san bersama Say nyoo-hui datang bersama. hatinya mulai goyah. Lan See giok berpaling. hatinya dan bersedia me-ngaku. bila kau tetap mem-bungkam. Obh Li cu memandang ke arah Se-tan ikan leihi dengan pedangnya. sekujur badannya gemetar keras. Sementara itu. lalu kepada Oh Li cu ia bertanya: "Anak Cu. kembali hardiknya: "Tutup mulut.. wa-jah Oh Tin san yang kurus memanjang dili-puti hawa dingin dan kelicikan yang tebal. hampir seluruhnya berkerumun di sekitar sana dan mengawasi Oh Li cu serta setan ikan leihi dengan pandangan kaget bercam-pur keheranan. sambil mundur berulang kali rengeknya ketakutan. di dalam anggapannya si setan ikan leihi ini tak mau mengaku. sepi dan amat serius. . .tidak ada yang memberi pe-rintah. nona akan membuat tubuh mu tercincang di tempat ini juga!" Setan ikan leihi semakin ketakutan. hamba---. walaupun kedua orang ini tidak mengerti masalah apakah yang telah terjadi... para komandan yang ikut dalam perjamuan telah berdatangan semua.hamba tidak sengaja . lalu berseru penuh amarah: "Ia berani mengintip dari belakang jendela!" . serentak suasana di sekeliling tempat itu berubah menjadi hening. Si setgan ikan leihi sbangat gugup dan keta-kutan.. bibirnya sudah bergetar pucat. Dengan mata sesatnya Oh Tin san me-nya-pu sekejap sekeliling tempat itu.tidak sengaja lewat di de-pan jendela. namun tak se-orangpun berani membuka suara. Oh Li cu sudah merasa kalau setan ikan leihi mulai goyah. "Nona--. Menyusul kemudian Be Siong pak dan Thio-Wi-kang berdatangan pula.

soal cium mencium bagi mereka adalah urusan pribadi antara suami istri. seperti juga lagi berbicara terhadap para hadirin di situ. tunggu sebentar---" Oh Tin san berseru dengan suara dalam. . keningnya segera berkerut. seperti lagi berbi-cara terhadap dia seorang. sorot mata sesatnya memandang sekejap ke wajah setan ikan leihi. . dia segera mengigos ke samping.163 Oh Tin san berkerut kening lalu manggut. Berada di depan umum. . juga menantuku. ia segera menarik kembali pedangnya sambil mundur setelah mendengar perkataan itu.hamba---hamba hanya tanpa sengaja melihat sau pocu men-cium nona dengan paksa. kemudian sekulum senyuman me-nyeringai menghiasi ujung bibirnya. . matanya terbelalak lebar dan menengok kesana kemari dengan terkejut. Si Setan ikan leihi segera sadar kalau ben-cana besar telah berada di depan mata. . Begitu tusukan pedang dari Oh Li cu me-ngenai sasaran kosong. Suasana menjadi amat hening dan sepi. seakan akan sedang mencari se-seorang. sorot mata semua orang yang hadir bersama sama dialihkan ke wajah Lan See giok." Lan See giok tertegun. ia segera mundur dengan gugup. dia me-ru-pakan ahli waris dari benteng kita. soal tersebut tak ada sangkut pautnya dengan siapa saja. dia tidak me-nyangka kalau si manusia bertelinga tunggal Oh Tin san bakal mengumumkan di depan umum kalau dia adalah calon suami Oh Li cu. Oh Li cu sendiripun nampak sangat marah dengan wajah merah membara dia membentak nyaring lalu menusuk tubuh lelaki itu. de-ngan penuh ketakutan buru-buru dia mem-bela: "La--. . ia adalah keponakanku. cuma bibirnya yang semula merah kini telah berubah menjadi pucat. Biarpun dalam keadaan kaget bercampur ketakutan. ia merasa percuma saja banyak mem-bantah dalam suasana begini.lo pocu--. wajah semua orang diliputi ketegangan." Begitu ucapan tersebut diutarakan. ujarnya dengan suara dingin: "Lan See giok adalah sau pocu. matanya berkilat kilat dan sekujur tubuhnya gemetar keras. . Bisa dibayangkan betapa gusarnya Lan See giok. . . Pada saat itulah--"Anak Cu. Oh Tin sazn memandang ke warah setan ikanr leihi sambil tertawa dingin. bahkan banyak di antara mereka yang me-nyadari bahwa selembar nyawa si setan ikan leihi tak akan bisa melewati hari irni. ilmu silat yang dimiliki setan ikan leihi memang cukup tangguh.lapor lo -. tentu saja Oh Li cu tak berani membangkang perintah ayah-nya.

sambil membentak se-buah bacokan maut langsung dilontarkan olehnya ke wajah Lan See giok. Oh Tin san memandang ke arah Li Ci cun lalu sambil menuding ke arah Setan ikan leihi. Ketika selesai berbicara. sedangkan si ikan leihi semakin amat ketakutan sampai wajah-nya turut berubah menjadi pucat pias. kemudian baru meneruskan perjalanan-nya ke depan Oh Tin san. Mendadak--Sambil menggertak gigi Li Ci cun men-jejak-kan kakinya ke tanah. Begitu musuh datang. ia melejit ke sam-ping dan mundur sejauh satu kaki lebih. Dalam pada itu Li Ci cun sudah tiba di ha-dapan Lan See giok.164 Sementara itu Oh Li cu yang semula berdiri dengan wajah hijau membesi. saking terke-jutnya ia sampai termangu. Oh Li cu membelalakkan pula matanya le-bar-lebar. kedengaran Li Ci cun menjawab dengan suara gemetar. lalu teriaknya keras-keras: "Di mana pengawas Li?" "Hamba di sini!" diantara kerumunan orang banyak. ia melirik sekejap ke arah Lan See giok dengan penuh kebencian. kemudian dengan gaya tubrukan yang buas dan nekad ia ter-jang tubuh Lan See-giok. alis matanya yang tebal ber-kernyit. sekarang berubah menjadi merah dadu dan tersenyum simpul. serunya dengan suara dalam: "Binasakan dia!" Li Ci cun seperti tertegun sesudah mendengar perintah itu. matanya yang kecil memancarkan sinar buas yang berapi api. Lan See giok terkejut. diam-diam ia mengerling sekejap ke arah Lan See giok. Li Ci cun munculkan diri dengan wajah hijau membesi. mulutnya melongo. cepat ia berpaling ternyata Li Ci cun munculkan diri dari keru-munan orang banyak orang tak jauh di bela-kang tubuhnya dan sebelum ini ter-nyata ia tak melihat kehadiran orang ter-sebut. Selama ini pandangan mata Lan See giok tak pernah beralih dari tubuh Li Ci cun sejak musuh menerjang tiba. Oh Tin san kem-bali memandang sekejap seluruh arena de-ngan pandangan sesat. Kejadian ini sama sekali di luar dugaan semua orang. kontan saja suasana menjadi gempar. setelah muncul dari kelompok manusia. . ia telah mempersiap-kan diri dengan sebaik baiknya.

Oh bTin san tahu dejngan jelas sebagb musabab yang bme-ngakibatkan Li Ci cun bersikap demikian. tapi menangkan dulu pedang mes-tika di tanganku ini". .. . Lan See giok sendiri berdiri ditengah arena dengan senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya. Lan See giok hanya berdiri sambil tertawa sinis selama ini. tapi ia toh menegur juga dengan suara dalam: "Li Ci cun. ia telah bertekad un-tuk beradu jiwa.. "kalau Lan See giok tidak diberi kesempatan untuk memper-lihatkan kelihaiannya kalian memang selalu tak mau takluk." tiba-tiba terdengar Oh Tin san berkata sambil tertawa dingin.!" Berbicara sampai di situ. Say nyoo-hui yang selama ini mem-bung-kam dalam seribu bahasa tibatiba memutar biji matanya. sekalipun dia segera menghen-tikan gerak serangannya setelah mendengar bentakan tadi namun orangnya masih tetap berdiri garang di sana. . mau apa kau?" "Aku hendak menantang keparat she Lan itu untuk berduel. berdiri sambil melototi Lan See giok dengan penuh kegusaran." mendadak Oh Tin san mem-bentak nyaring. Karena itu. dengan marah ia berkata: "Tidak susah bila kau ingin kawin de-ngan-ku.. tahu-tahu ayunan telapak tangan kanannya telah mengenai sasaran kosong. . Sejak si kupu-kupu ditengah ombak Li Ci cun mendengar Oh Tin san mengumumkan kepada umum bahwa Lan See giok adalah calon suami Oh Li cu." "Baiklah. agaknya dia tidak menyangka kalau se-rangannya bakal menemui kegagalan. kemudian menyela. dia menengok ke arah Li Ci cun sembari bertanya: "Kau ingin bertarung dalam tangan kosong atau ingin beradu senjata tajam?" . "Bila kau sanggup mengungguli Lan See giok. Berbicara yang sebenarnya. "Tahan . . terbias sekilas bayangan tajam yang berkilauan. ia memandang sinis ke arah musuhnya tersebut." jawab kupu-kupu di tengah ombak dengan kalap. di bawah cahaya mata-hari siang.165 Kupu-kupu ditengah ombak Li Ci cun merasakan pandangan matanya menjadi si-lau. aku akan mengambilkan keputusan bagi anak Cu untuk dijodohkan denganmu!" Oh Li cu gusar sekali setelah mendengar perkataan itu. sedang dalam hatinya: "Dasar sesarang manusia-manusia yang tak tahu malu. berkilat sepasang matanya. Seraya berkata pedangnya segera di-ayun-kan ke tengah udara.

buat apa banyak ngebacot yang tidak-tidak!" . aku yakin kau telah me-warisi kepandaian ayahmu." Sementara berbicara dengan mata ber-kilat dia mengamati Lan See giok tiada hentinya. lebih baik beradu secepatnya. kini masih muda lagi berbakat. Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Oh Li cu. sikapnya begitu jumawa sehingga memuak-kan. ia bersama Say nyoo-hui segera mundur beberapa langkah. ditambah pula Say nyoo-hui telah mengutarakan dihadapan umum. setelah menjura. ia berjalan ke hadapan Lan See giok dan berhenti enam tujuh langkah di ha-dapannya. ingin sekali kumanfaat-kannya untuk minta berapa petunjuk ilmu sakti dari siauhiap. hamba bersediga mempergunakanb sepasang tangan kosong untuk mencoba berapa ampuh dari Lan See giok!" Mendengar jawaban tersebut. senjbata tak bermataj. katanya dengan angkuh: "Sudah lama kudengar ilmu silat yang di miliki Lan Khong-tay sangat hebat dan na-manya termasyhur dalam dunia per-si1atan. sekulum senyuman menyeringai segera menghiasi ujung bibir Oh Tin san.166 Kupu-kupu di tengah ombak Li Ci cun tahu bahwa ilmu silat Lan See giok cukup tangguh terutama dalam ilmu gurdi emas yang tiada tandingannya. katanya kemudian sambil manggutmanggut. maka sambil tertawa dingin katanya: "Kalau ingin beradu silat. maka Oh Li cu akan dikawinkan de-ngannya. karena itu dia tak berani beradu senjata tajam melainkan ber-harap bisa mencari kemenangan dengan an-dalkan tangan kosong. menggunakan kesempatan tersebut dia mengundurkan diri dan secara diam-diam mendekati si setan ikan leihi dari arah lain. Dalam pada itu Li Ci cun telah mengepal tinjunya sambil maju dengan dada di-bu-sungkan. sejak tadi ia sudah habis kesabarannya. dengan wajah hijau membesi tapi ber-sikap hormat dia menyahut: "Dalam suatu pertarungan. Itulah sebabnya sesudah ragu se-jenak. bila ia sanggup mengungguli Lan See giok. lama sudah kukagumi namanya hanya sayang selama ini belum ada jodoh untuk menjumpainya. Lan siauhiap. harap kau suka berhati hati" Selesai berkata. Para komandan pasukan yang semula mengitari tempat tersebutpun serentak meng-undurkan diri. Lan See giok merasa sikap maupun gerak gerik Li Ci can tak ubahnya seperti kalangan si1at kampungan. Mumpung hari ini ada kesempatan. "Baiklah.

seakan akan pemuda tersebut sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap dirinya. Begitu selesai mendengarkan perkataan Lan See giok. namun sepasang kakinya sama sekali tidak bergerak mundur barang setengah langkahpun. sedang pernapasannya diatur secara diam-diam. se-andainya dia tak mampu mengalahkan Li Ci cun. tibatiba kaki kanannya mundur setengah langkah. dia pelototi wajah Lan See giok penuh kebuasan. dihati kecilnya dia telah mengambil keputusan untuk menyam-but serangan lawan dengan kekerasan. meskipun lengan kirinya amat sakit bagaikan disayat pisau. dengan amarah yang meledak ledak ia membentak keras kemudian me-ner-jang ke muka.. jangan harap dia bisa angkat kepala di dalam benteng Wi-lim-poo. para komandan pasukan yang berkumpul di situ diamdiam pada ber-bisik membicarakan persoalan tersebut. Dalam pada itu. sementazra tangan kananwnya membacok warjah Lan See giok.. . rasa malu bercampur gusar membuat wajahnya berubah menjadi merah padam. Dengan senyuman hambar menghiasi ujung bibirnya secara diam-diam ia men-ghimpun hawa murninya. . Tempik sorak segera bergema memenuhi seluruh arena pertarungan . secara beruntun dia mundur sampai sejauh empat langkah lebih. diam-diam ia menggertak gigi mena-han diri. . Li Ci cun memegangi pergelangan tangan kanannya yang kesakitan sambil me-nyeri-ngai. Lan See giok sendiripun cukup sadar. ketika musuh me-lancarkan bacokan. Telapak tangan kanannya yang melepas-kan bacokan. tangan kirinya diayunkan ke muka mendorong tubuhr musuh. suara de-ngusan tertahan bergema memecahkan ke-bisingan." umpat Li Ci cun dengan gusar. segera ditambahi lagi dengan tenaga sebesar dua bagian. "Blaammm!" "Ditengah benturan nyaring. se-dang sorot mata yang tertuju kearah Lan See giok pun penuh dengan pancaran sinar kekaguman. Ia bertekad akan mematahkan lengan kiri Lan See giok terse-but. dengan alis berkernyit dan meng-gigit bibirnya kencang. kemudian sambil miring-kan badan ia menangkis dengan le-ngan kirinya-"Cari mampus. hampir semuanya tercengang oleh kelihaian anak muda tersebut. dengan sepasang mata yang melotot besar bagaikan gundu.167 Li Ci cun yang sudah marah semakin naik darah lagi setelah melihat cara Lan See giok berdiri. Sepasang bahu Lan See giok bergetar keras.

168 Dalam pada itu. Lan See giok merasa perbuatan yang dila-kukan Oh Li cu itu sesungguhnya kelewat batas. Li Ci cun berpaling. "Li.. "Siapa? Siapa yang memerintahkan kepadamu untuk melakukan pengintipan?" bentak Oh Li cu segera dengan suara dalam. Sementara itu. tapi tiada orang yang tahu dengan pasti sikap muak tadi sbe-benarnya tertjuju untuk Oh Lig cu ataukah terbhadap lelaki berbaju ungu itu.. setengah merengek katanya: "Oooh nona. maka dengan suara gemetar sahutnya. Be congkoan dan Thio-Wi-kang serta segenap komandan yang berada di sekitar sana telah mengalihkan pandangan mereka ke arah kedua orang tersebut. para komandan pasukan yang berada di se-kitar sana segera berpaling dan memandang ke arah mereka dengan pandangan terkejut. Setan ikan leihi merasa jiwanya jauh lebih berharga daripada masalah lain. disaat perhatian semua orang sedang terpusat pada pertarungan antara Lan See giok melawan Li Ci cun. . ujung pedang Oh Li cu secara diam-diam telah ditempelkan di belakang pinggang setan ikan leihi. karenanya dia melirik sekejap kearah nya dengan wajah muak. . Oh Tin san pasti akan mencabut jiwanya seketika itu juga. sengaja ia mempertinggi suaranya sambil mem-bentak keras. Tak terlukiskan rasa kaget setan ikan leihi setelah menyaksikan kejadian tersebut.Li Ci cun yang memerintahkan aku!" Oh Li cu memang sengaja berbuat demikian agar orang tuanya turut mendengar. dia sadar enggan berbicarapun tak ada gunanya. melihat apa yang terja-di wajahnya segera berubah hebat peluh di-ngin segera bercucuran saking kagetnya. Dengan cepat setan ikan leihi dapat me-rasakan hal tersebut. ampunilah hambamu!" Dengan diutarakannya rengekan tersebut. Oh Tin san. Say nyoo-hui. dia tahu asal setan ikan leihi mengatakan hal yang sebenarnya. peluh dingin bercucuran deras. sekulum senyuman dingin meng-hi-asi ujung bibirnya dan wajah diliputi hawa napsu membunuh telah berdiri tegak di bela-kangnya. tapi apa yang kemudian terlihat mem-buat ia merasa terkejut sekali. sukma serasa melayang meninggalkan raganya . "Siapa? Katakan dengan lantang!" Sambil berkata pedangnya ditekan lebih ke depan hingga masuk ke tubuh setan ikan leihi sedalam berapa inci. dengan cepat ia berpa-ling. Oh Li cu dengan kening berkerut dan mata melotot. . darah segar segera bercucuran ke luar dengan amat derasnya.

Dalam keadaan demikian timbullah niat jahatnya. berdiri bodoh Pada saat itulah--Lan See giok berkerut kening. Kupu-kupu di tengah ombak Li ci cun segera mengerti bahwa riwayatnya sudah habis. sekali lagi ia teringat kembali akan pil hitam yang dice-kokkan ke dalam perut Lan See giok. Oh Tin san berdiri dengan wajah dingin sinis dan pandangan tajam. kemudian sambil membentak keras ia kerahkan tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian ke telapak tangan kanan. tanpa terasa dia melirik sekejap ke arah Oh Tin san. kemudian dengan sepenuh tenaga. "Blaammm!" Benturan keras menggelegar di angkasa. lalu sepasang telapak tangannya didorong ke muka sepenuh tenaga--Segulung angin pukulan yang sangat keras dengan membawa debu yang sangat tebal segera menyambar ke arah Lan See giok. dia tak habis mengerti mengapa pilnya malahan menambah tenaga dalam anak muda itu hingga peroleh kemajuan yang begitu pesat. Tindakan ini boleh dibilang sangat licik dan rendah. mendadak ia membalikkan badan secepat kilat. saking kaget-nya dia sendiripun turut. kontan saja para komandan pasukan yang berada di seputar arena berteriak teriak marah. Lan See-giok pasti akan ter-hajar hingga terluka parah. de-ngan sempoyongan ia mundur sampai beru-lang kali . Say nyoo-hui sendiripun berkerut kening. Thio-Wi-kang semuanya ge-metaran karena terperanjat. Oh Li cu menjerit lengking. Segulung angin puyuh yang sangat kuat langsung menggulung ke depan dan me-nyongsong datangnya angin pukulan dari Li Ci cun. Paras muka Lan See-giok sendiripun ber-ubah menjadi pucat pias. dalam anggapan mereka semula.169 Kebetulan sekali disaat Li Ci cun berpaling tadi si setan ikan leihi sedang menuding ke arahnya dengan tangan gemetar. tapi sambil menggertak gigi dia beru-saha keras agar tubuhnya tidak sampai mundur barang setengah langkah pun. Segenap komandan pasukan yang bberada di arenaj sama. siapa sangka Li Ci cun sendiri yang dibikin sampai mengenaskan keadaannya. diayunkan ke depan. Paras muka Li Ci cu berubah menjadi hijau membesi. debu dan pasir segera menyambar ke mana-mana. tubuhnya bergetar keras.sama tergtegun saking kabget-nya: Be congkoan. keningnya berkerut kencang. . seakan akan dia sedang berkata be-gini: "Darimana datangnya tenaga dalam yang begitu sempurna dari bocah keparat ini?" .

. Oh Li cu dibikin tertegun karena sergapan dari Li Ci cun tersebut menyusul kemudian ia berdiri termangu oleh tenaga pukulan Lan See giok yang -maha dahsyat. ia memandang kearah Oh Li cu de-ngan wajah kaget bercampur tercengang. Suatu bentakan keras tiba-tiba meng-gele-gar. lagi pula jarak mereka amat dekat. Peristiwa ini terjadi sangat tiba . Be Siong pak maupun Thio-Wi-kang turut merasa amat terkejut. Segzenap komandan pwasukan yang berrke-rumun di sekeliling arena menjadi pucat pias seperti mayat. pedangnya memancarkan sinar pelangi berwarna keperak perakan dan sekuat tenaga dibacokkan ke tubuh Li Ci cun yang sedang terduduk sambil terengah engah di hadapannya. . kebetu-l-an ia saksikan Li Ci can terduduk dihada-pannya. . ia baru mendusin kembali dari rasa kagetnya. rupanya gadis ini se-lain jalang dan cabul. ia mende-sak desak orang yang berkerumun di sekitar sana dan melarikan diri ke arah saluran air sungai.170 "Blaammm!" Akhirnya Li Ci cun tak sanggup berdiri tegak lagi. Ketika Lan See giok mendongakkan kepalanya. sekarang ia baru tahu. Pada saat itulah kembali terdengar jeritan kaget bergema memecahkan keheningan. percikan darah segar bersama isi pe-rut berhamburan ke mana-mana. Dimana cahaya perak berkelebat lewat. dia tahu bila dirinya masih berada dalam benteng Wi-lim-poo. hatinya kejam dan jauh lebih jahat daripada kalajengking. hal ini segera membangkitkan hawa napsu membunuhnya. se-ketika itu juga ia tewas. Atas terjadinya peristiwa ini. keadaan sudah tidak mengijinkran ..tiba. dengan pandangan kaku mereka hanya bisa memandang tubuh Li Ci -cun yang terkapar di atas genangan da-rah dengan mulut tertutup rapat-rapat. Tubuh Li Ci cun sejak dari bahunya sam-pai ke arah iga telah terbabat menjadi dua bagian. menanti Oh Tin San dan Say nyoo-hui mengetahui keja-dian tersebut dan ingin menghalanginya. semuanya membungkam dalam seribu bahasa. ia terperosok dan jatuh terduduk di atas tanah. Pada mulanya. ia segera meningkatkan kewaspadaannya terhadap perempuan itu. sampai Li Ci cun jatuh terduduk. Lan See giok sendiripun turut berdiri bodoh. ia saksikan si setan ikan leihi se-dang berlarian seperti orang kalap. jeritan ngeri yang memilukan hati segera ber-gema memecahkan keheningan. lebih baik jangan mencoba-coba untuk mengusik Oh Li cu.. . Sewaktu menundukkan kepalanya.

." Dengan suasana yang hening para koman-dan pasukan memasuki ruangan serta me-nempati kursi masing-masing. . Be Siong pak segera mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap ke wajah semua orang. si setan ikan leihi tahu-tahu sudah terjun ke dalam air dan menyelam ke dasarnya. lalu kepada Be Siong pak katanya.171 Oh Li cu sangat gusar melihat hal ini. Dalam perjalanan itu dia sempat melirik sekejap ke arah Oh Li cu yang berjalan di samping Say nyoo-hui. Sementara Lan See giok sendiri mengikuti di belakang Oh Tin san dengan mulut mem-bungkam. Say nyoo-hui juga tidak mengumpat kekejamannya." "Baiklah. Kembali Oh Tin san berkata kepada Thio-Wi-kang: "Thio-Wi-kang. yang baru saja dilakukannya itu sudah lupa. . . wajahnya berseri. . sam-bil membentak nyaring ia mengejar dari bela-kangnya. "Byuuur. perjamuan telah siap silah-kan masuk ke dalam ruangan. . Oh Tin san sendiri sama sekali tidak mene-gur perbuatannya. kita segera mulai dengan perja-muan!" Oh Tin san manggutmanggut. dia mengejar sampai di tepi sungai lalu sambil mengangkat pedangnya. dia menangkap bayangan tubuh si setan ikan leihi yang menyelam dalam air serta siap untuk menimpuknya. kirim orang untuk member-sihkan jenazah tersebut dari situ!" Thio-Wi-kang mengiakan dengan hormat dan buru-buru berlalu dari sana. "Anak Cu. mereka berlarian mengundurkan diri sambil berseru kaget.!" percikan bunga air memancar ke mana-mana. seakan akan mereka semua beranggapan bahwa membu-nuh orang adalah suatu kejadian yang sangat wajar. biarkan dia pergi!" bentak Oh Tin San tiba-tiba. lalu serunya dengan lantang: "Silahkan saudara semua menempati meja perjamuan masing-masing. mereka langsung menuju ke ruang tengah. ternyata gadis itu tetap tenang. Ou Li cu tidak berpeluk tangan dengan be-gitu saja. apakah perjamuan telah di-siapkan?" "Lapor lo-pocu. "Be congkoan. Para komandan pasukan yang berkerumun di sekitar sana kontan saja pada bubar. Sebenarnya Oh Li cu hendak mengatakan "tidak" tapi berhubung si setan ikan leihi su-dah berenang entah ke mana terpaksa dia menarik kembali senjatanya dan berjalan menuju ke depan ibunya. Oh Tin san memandang sekejap para ko-mandan pasukan yang masih berdiri dengan wajah kaget bercampur ngeri. seakan akan terhadap peristiwa berdarah.

kemudian baru memperkenalkan Lan See giok kepada para hadirin. Say nyoo-hui duduk pada kursi ke dua. . di depan mereka adalah ke empat komandan pasukan kapal perang. Pada meja bagian tengah. Oh Tin san memandang seluruh penjuru ruangan dengan mata berkilat dan tersenyum. semuanya terdiri dari puluhan meja perjamuan. ia duduk di sisi Be congkoan tanpa mengucapkan sepatah kata-pun. ditambah pula hatinya lagi risau dan resah. Thio-Wi-kang juga telah tiba kembali. Pertama-tama Oh Tin san menyilahkan semua orang duduk kembali. berbondong bondong para komandan pasukan berdatangan untuk menghormati Oh Tin san serta Lan See. Diluar wajahnya Lan See giok tetap bersi-kap tenang dan tersenyum. mereka telah memasuki ruangan tengah. serentak para ko-mandan pasukan bangkit berdiri sambil hormat. usianya rata-rata tiga puluh delapan sembilan tahu-nan. Tak lama kemudian. Dia tidak berhasrat untuk mengingat ingat wajah serta nama dari ke empat komandan kapal perang itu. Lan See giok tahu ke empat orang tersebut pastilah komandan dari ke empat pasukan kapal perang.giok dengan secawan arak. Setelah melangkah masuk ke dalam ru-angan. kuning. komandan pasukan harimau dari marga Ong. suasana dalam ru-angan segera menjadi hening kembali. Ketika Oh Tin san dan Lan See giok ber-lima masuk ke dalam ruangan. duduk empat orang lelaki kekar berbaju ringkas warna hi-jau.172 Sementara masih berpikir. abu-abu dan hitam. Tak lama kemudian perjamuanpun dimu-lai. arakpun dibagi bagikan secara berlimpah. tangan kanannya yang kurus diulapkan beberapa kali. sementara para komandan pasukan juga telah menempati tempat masingmasing. Walaupun senyuman menghiasi wajah setiap arang. tapi jelas terlihat kalau se-nyu-man itu terlalu dipaksakan. Pada dasarnya takaran minum arak dari Lan See giok memang terbatas. padahal dalam hati kecilnya merasa amat mendongkol. Selesai upacara perkenalan. komandan pasukan Singa jantan dari marga Seng sedang komandan pasukan macan kumbang dari marga Nyoo. dia hanya meng-ingat baik-baik komandan pasukan naga adalah ko-mandan Ciang. Oh Li cu berdiri di sini Lan See-giok sedang Be congkoan berdiri di sisi kiri Oh Tin san. tak lama kemudian ia sudah berada dalam keadaan setengah mabuk.

sedang dia sendiri pun mulai sadar merasakan kepalanya pe-ning. tapi dia berusaha keras untuk tetap memperta-hankan diri sebab perjamuan itu diselengga-rakan baginya. Perahu menentang ombak. . Biarpun Lan See giok sudah mabuk. lihat sekarang. . . putri ke-sayanganmu sudah betul-betul terpikat oleh bocah tersebut. apakah adik Giok mu belum sa-dar dari mabuknya?" . Say nyoo-hui yang menyaksikan hal terse-but segera mengerling sekejap ke arah Oh Tin San. berbaring dalam pelukan Oh Li cu de-ngan lemas. akhir nya Lan See giok tertidur nyenyak. wajahnya kelihatan agak bangga. . seolah-olah ia sedang berkata begini: "Hei rase tua. Akhirnya perjamuan pun berakhir Lan See giok mengikuti di belakang Oh Tin San suami istri menumpang perahu naga emas untuk kembali ke rumah. apa artinya mengorban-kan seorang putri?" Lan See giok benar-benar mabuk ketika itu. Entah berapa lama sudah lewat. Tiba-tiba saja ia tersadar kembali dari tidurnya karena mendengar suara pem-bica-raan seseorang yang keras. sementara kepalanya persis ber-baring di atas sepasang payudara yang mon-tok dan padat berisi. maka berulang kali dia minta ijin kepada Say nyoo-hui untuk mengundurkan diri. angin silir se-milir berhembus lembut ditengah dentingan bunyi lonceng yang merdu. pikirnya pula dalam hati: "Asal kotak kecil itu berhasil kudapat-kan dan aku berhasil pula menguasai ilmu yang tercantum dalam kitab Tay lo hud bun cinkeng. "Anak Cu.173 Oh Li cu yang menjumpai begitu banyak komandan datang menghormati Lan See giok dengan secawan arak. Oh Li cu dapat melihat kalau Lan See -giok sudah setengah mabuk. mereka berdua duduk di kursi dan gadis tersebut membiarkan Lan See giok ber-baring di dalam pelukannya. guci arak pun satu demi satu di go-tong naik. tapi ia masih ber-usaha keras untuk menjaga Lan See giok. ." Sebaliknya Oh Tin San tertawa hambar. . tanpa terasa dia meneguk beberapa cawan lebih banyak . Walaupun Oh Li cu sendiripun sedikit ter-pengaruh oleh arak. tapi keinginannya se-lalu ditampik oleh Lan See giok. Perjamuan makin lama berlangsung makin ramai. rasa hangat dan empuk membuat ia semakin terbuai. hatinya merasa girang bercampur gelisah. . tentu saja ia tak boleh me-ngundurkan diri di tengah jalan .

. . "tapi aku telah men-cekoki kuah Liam sim-tong kepadanya.. pikirnya dengan ce-pat. lalu sambil menengok ke arah Oh Tin san tanyanya dengan nada terkejut. di dalam bidang ini kau perlu banyak berlatih lagi di kemudian hari. bagaimana mungkin ia dapat me-nandingi kawanan setan arak tua tersebut?" Lan See giok terkejut sekali setelah men-dengar pembicaraan itu. Lan See giok segera melompat bangun. begitu melihat Lan See giok sudah mendusin. "ADUUUH. wah." Kemudian terdengar Say nyoo-hui berkata pula: "Bocah ini memang minum arak kelewat banyak." Tidak sampai Lan See giok selesai ber-bi-cara. ia manggut-manggut dan sahutnya dengan lembut: "Anak bodoh. sedang Oh Tin san dan Say nyoo-hui duduk di sudut pembaringan. SAKIT KEPALAKU . maka dia berlagak sakit kepala. ia saksikan ru-angan penuh bermandikan cahaya. nyenyak amat tidurmu kali ini!" seru Say nyoo-hui sambil tertawa. minum arak merupakan suatu kebiasaan yang mencerminkan se-orang pendekar sejati.174 "Belum!" terdengar Oh Li cu menjawab de-ngan suara lirih. "Adik Giok. "Benarkah itu empek?" Oh Tin san tertawa riang. ter-nyata ia berada di dalam kamar sendiri. hanya saat ini dia belum dapat menebak maksud tujuannya. se-baliknya dia malah bertanya. . "Berada di mana aku sekarang?" Ketika membuka matanya. "Sudah jam berapa sekarang?" "Sudah mendekati kentongan pertama." Sambil berkata. dengan gelisah dan penuh perhatian Oh Li cu segera bertanya: "Kalau memang sakit kepala. kenapa harus duduk? Ayah dan ibu toh bukan orang luar. sambil memegangi kepala sendiri serunya penuh penderitaan. bagaimana perasaanmu sekarang?" Lan See giok tahu perhatian yang berle-bihan dari Oh Tin san suami istri terhadap-nya disertai dengan maksud tertentu. Oh Li cu duduk dengan kening berkerut dan wajah sangat gelisah. ia segera bertanya dengan penuh perhatian. ia membaringkan kembali Lan See giok ke atas pembaringan. bagaimana rasamu sekarang?" Lan See giok tidak menjawab.

dengan kening berkerut dia menghembuskan napas panjang." Berkilat sepasang mata Oh Tin san. aku kuatir si beruang berle-ngan tunggal dan si setan bermata tunggal akan sampai di rumah bibi Wan lebih du-luan. dari dunia persilatan itu sudah dikirim ke rumah bibi Wan atas perintah ayah. Lan See giok tertawa dingin di dalam hati. .." kata Oh Tin san kemudian sambil meraba jidat Lan See giok. "aku hanya menotok jalan darah Hek-ki-hiat nya . seru-nya dengan cepat." Oh Tin san mengiakan lirih. tenang-kan hatimu dan beristirahatlah selama be-berapa hari ini. aku pikir mereka tak bakal tahu. "Walaupun begitu.. katanya kemudian dengan sikap acuh tak acuh. kau pernah melukai Thi Gou murid dari si kakek berjubah kuning itu . tiba-tiba dari luar jendela bergema suara tertawa dingin yang rendah dan menggidik-kan hati. Toh berapa waktu belakangan ini kau tidak usah terbaru buru pergi ke bibi Wan mu. Maka setelah berpura-pura ragu-ragu seje-nak. "Kenapa empek?"" "Anak bodoh.. tapi di luar dia berlagak kaget bercampur tercengang.. .. " Oh Tin san tidak membiarkan Lan See -giok menyelesaikan perkataannya. . "Aku sama sekali tidak melukai Thi Gou". wajah yang semula menjadi tegangpun segera menjadi tenang kembali.. kau harus mengerti. ." Padahal Lan See giok sudah tahu kalau Oh Tin san kuatir kakek berjubah kuning itu mengetahui dirinya berada dalam benteng Wi-lim-poo maka sengaja tidak memperke-nankan pergi." Mendengar ucapan mana. "Anak bodoh. namun dengan per-buatanmu itu paling tidak sama artinya telah mempercundangi si kakek berjubah kuning serta si naga sakti pembalik sungai. "Empek tua.. ia meng-go-yangkan tangannya mencegah pemuda itu melanjutkan kata katanya. ia baru sengaja menjawab. bantah Lan See giok. .. "Kotak kecil yang empek katakan sebagai mestika. setelah itu kata-nya." Belum habis perkataan itu diutarakan.175 Lan See giok tidak membantah.. dengan wajah berubah hebat ia berseru kaget: "Kenapa? " Sekarang Lan See giok sudah memastikan bahwa 0h Tin san adalah orang yang menghajarnya sampai tak sadarkan diri tempob hari. itu berajrti disimpannyag kotak kecil dib rumah bibi Wannya sudah bukan menjadi rahasia lagi baginya. "Aaah. maka sengaja ia berlagak geli-sah sambil serunya.

suara tertawa dingin itu seperti guntur yang membelah bumi disiang hari bolong. Udara amat bersih waktu itu."Blaammm!" Ditengah benturan yang sangat nyaring.b Say nyoo-hui serta Oh Li cu telah melompat ke luar dari jendela. bibirnya terkatup ra-pat dan tiada hentinya menggigit bibir. ia berseru tertahan sementara peluh dingin jatuh bercucuran. debu dan pasir beterbangan ke mana-mana. Tiba di situ. wa-jahnya nampak jelas sedang gemetar keras. mata sesatnya berkilat kilat. lebih kurang belasan kaki di depan wuwu-ngan rumah sana ia saksikan Oh Tin San dengan sorot mata yang tajam sedang celingukan kian ke mari." BAB 9 MENDADAK dari arah belakang ter-dengar seseorang membentak dengan suara rendah.. agaknya Oh Tin san pun tak boleh di anggap enteng. hanya sorot mata-nya yang gugup bercampur gelisah celingu-kan ke sana kemari tiada hentinya Paras muka Oh Tin san pucat pias. dalam waktu sedemikian singkat ia sudah pergi hingga tak ber-bekas. Lan See giok memutar badannya ditengah udara dan segera menyusul pula di belakang.. dengan suatu gerakan secepat sambaran ki-lat Oh Tin san melompat ke luar dari jendela. Dengan kening berkerut Lan See giok ber-pikir dihati. tapi suasana di sekeliling tempat itu amat hening dan tak kelihatan sesosok ba-yangan manusia pun. mereka meluncur ke arah mana Oh Tin San berada. merekapun tetap mem-bung-kam dalam seribu bahasa. Lan See giok segera memusatkan perhatian nya dengan menyilangkan telapak tangan kanannya di depan dada.176 Lan See giok merasakan hatinya bergetar keras. kemudian dengan jurus burung walet menembusi tirai dia melompat ke luar dari ruangan tersebut me-lalui jendela. cepat amat gerakan tubuh orang ini. sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke jendela bagian belakang. . kemudian tanpa berhenti mereka melambung ke tengah udara . "Waah. sinar rem-bulan memancarkan cahayanya ke empat penjuru. "Ayo cepat naik ke atap rumah bdan laku-kan pejncarian!" Di tgengah bentakan. Maka dengan mengikuti di belakang tubuh Say nyoo-hui berdua. Oh Tin san sendiri sudah melompat ba-ngun sambil membentak nyaring.

malah menyadap pembicaraan kita. Kendatipun demikian. tapi bila teringat ba-gaimana rahasia tentang kotak kecil itu ber-hasil dicuri dengar orang lain."" Waktu itu 0h Li cu sendiripun sedang di li-puti perasaan terkejut bercampur men-dong-kol. dengan alis mata berkernyit ia menggembor semakin keras. ia merasa tidak lelu-asa untuk bertanya banyak. tapi kenyataannya sekarang orang lain bisa masuk dengan sekehendak hati sendiri. amarahnya semakin berkobar lagi. Ketika mereka berdua tiba kembali di ru-ang sebelah timur. Oh Tin san dan Say nyoo-hui sendiripun harus mengalah tiga bagian kepadanya. dibalik kemas-gulannya terselip pula perasaan ngeri dan seram. . dengan kening berkerut Oh Tin san baru berbisik lirih. siapa yang berani masuk kemari ibarat masuk ke dalam neraka. . wajah mereka berubah dan ham-pir semuanya mandi keringat dingin mengu-atirkan keselamatan Lan See giok. Dengan kening berkerut dan tertawa dingin tiada hentinya ia berseru dengan suara dalam: "Berapa banyak lagi yang hendak kau ka-takan?" Walaupun Lan See giok telah melihat kalau Oh Li cu sedang marah. sekawanan pelayan se-dang membersihkan debu dan hancuran kaca yang berserakan di seputar sana. Lan See giok segera marah-marah: "Kalian menggambarkan benteng Wi-lim-poo kokoh bagaikan berdinding baja. "Tentu saja aku harus berbicara!" Kawanan dayang yang sedang membersih-kan lantai di sana menjadi ketakutan sete-ngah mati. Begitu masuk ke dalam pintu. sejak kecil Oh Li cu sudah terbiasa dimanja. agaknya Oh Tin san sudah mengetahui siapakah orang yang telah mencuri dengar dan tertawa dingin itu. watak-nya jelek dan amat berangasan. terpaksa bersa-ma Oh Li cu mereka kembali ke dalam ru-angan. boleh dibilang belum pernah dia dihadapi dengan cara seperti ini Jangan lagi orang lain. Berapa saat kemudian.177 Siapa saja dapat melihat kalau Oh Tin san sedang diliputi gejolak emosi. amarahnya segerra meledak se-tezlah mendengar pwerkataan terserbut. bisa dibayangkan bagai-mana . "Lebih baik kalian semua kembali untuk beristirahat!" Say nyoo-hui segera memberi tanda ke-pada Oh Li cu agar mengajak Lan See giok berlalu dari sana. melihat kemasgulan Oh Tin san. Sebagaimana diketahui. Lan See giok membungkam pula.

ia sadar keadaan bakal celaka. ia kuatir garagara urusan kecil itu berakibat semua masalah besar menjadi terbengkalai. ia amat menyesal dengan perbuatannya tadi. perbuatan yang sama sekali tanpa perhitu-ngan. ia me-nubruk ke dalam pelukan anak muda itu kemudian menangis semakin menjadi. Panggilan ini mengha-ngatkan kembali hatinya. ia baru merasa bingung dan tak tahu apa yang mesti diperbuat. kemudian satu demi satu secara diam-diam mengundurkan diri sana . bahkan sempat menangis ter-sedu sedu. sedikit-dikit lantas turun tangan membunuh orang. Lan See giok menyesal sekali dengan kece-robohan sendiri. karena ia tak tahu apa lagi yang mesti dikatakan olehnya sekarang. keangkuhan serta api amarahnya tiba-tiba memudar. ia men-jadi sedih sekali tak terbendung air matanya segera jatuh ber-cucuran. Lan See giok segera sadar kalau perbu-atannya tidak menguntungkan posisi nya. Lan See-giok kelabakan setengah mati. sekarang bersikap begitu lemah dan mengenaskan. mereka pun tidak percaya kalau si nona mereka yang di hari-hari biasa begitu tinggi hati. Oh Li cu membelalakkan sepasang mata-nya yang jeli dan mengawasi Lan See giok dengan termangu. seperti anak kecil yang diberi gula-gula. buru-buru dia mendekati nona tadi dan berbisik dengan wajah penuh rasa sesal. tapi setelah ter-lanjur berbicara. ia menjadi tak tega. sekarang setelah nasi menjadi bubur. diapun enggan tunduk kepada orang lain dengan begitu saja. . " Hanya kata-kata tersebut yang sempat dia ucapkan.bentak secara kasar oleh Lan See giok sekarang. Begitu melihat Oh L! cu sudah me-nangis.178 perasaannya setelah dibentak. Dalam sekejap mata inilah ia benar-benar ditaklukkan oleh kegagahan serta kejantanan lawan. tak usah menangis . "Enci Cu. Saking mendongkolnya. Oh Li cu jarang sekali mendengar Lan See giok menyebutnya "cici" atau bahkan belum pernah sama sekali. Kawanan pelayan yang menyaksikan ke-jadian tersebut sama-sama berubah wajah-nya. Semua pelayan berdiri melongo. sekujur badan gadis tersebut sampai gemetar keras. aki-batnya ia semakin menarik wajahnya. agaknya ia tak mengira kalau wajah tampan yang begitu memukau dari pujaan hatinya itu kini berubah men-jadi dingin dan hijau membesi.

sekarang kita boleh berbicara. mana mungkin.179 Oh Li cu menyandarkan diri di atas bahu Lan See-giok sambil menangis tersedu. orang itu bisa memanjati tembok ben-teng dan masuk ke ruang dalam. mustahil dia dapat melewati tempat-tempat yang berpenjagaan ketat semudah itu. "mereka sudah pergi semua... sudahlah" buru-buru Lan See-giok berseru. bukan pekerjaan yang gampang bagi orang luar untuk memasuki Wi-lim-poo ini. baiklah. setiap sepuluh langkah boleh dibilang terdapat satu pos pen-jagaan. Dengan kening berkerut Lan See giok ber-jalan bolak balik lagi di dalam ruangan. dari sini dapat diketahui kalau penjagaan dalam benteng sangat mengendor. apa salahnya kalau berbicara setelah menunggu mereka pergi semua?" "Sudah." Dengan suara tak puas Oh Li cu segera membantah: "Aaah. dengan wajah tbak senang hati jia mendorong tugbuh Lan See giobk ke-mudian duduk sendiri di bangku. ka-tanya lebih jauh: "Kecuali kepandaian ilmu meringankan tubuh yang dimiliki oleh orang ini sudah mencapai tingkatan yang sempurna. maka setelah memandang sekejap jendela belakang yang hancur." . "Sekarang kau harus berbicara dulu!" Sambil berkata. "Menurut penilaianku sendiri setelah me-nyaksi kan kekuatan kapal perang yang di miliki benteng ini. "aku cuma ingin berta-nya. tapi kenyataannya orang tersebut dapat bersembunyi di luar jendela tanpa di ketahui jejaknya. Lan See giok yang semula merasa gusar kini menjadi murung bercampur gelisah. maka ka-tanya kemudian dengan sedih. benteng Wi-lim-poo dikelilingi air. bisa jadi dia sudah hapal sekali dengan keadaan di dalam ruangan benteng ini. kalau tidak. de-ngan suara yang lemah ia berkata: "Orang toh tidak melarang kau berbicara. ujarnya murung." "Baik. aku sudah tahu" tukas Lan See giok tidak sabar. sementara sapu tangannya berulang kali digunakan untuk menyeka air mata. betul juga semua pelayan yang berada dalam ruangan telah mengundurkan diri. dia hanya bisa mengerdipkan sepasang matanya de-ngan mulut membungkam. untuk berapa saat dia tak tahu apa yang mesti dibicarakan. kurang disiplin dan ke-lewat ceroboh." Dengan wajah masih basah oleh air mata 0h Li cu melirik sekejap ke arah ruangan. untuk hal mana berapa lebarkah jalan air yang mesti ditempuh? Beberapa banyak pos pen-jagaan yang harus dilalui? dalam hal ini pernahkah kau bayangkan?" Oh Li cu yang dihadapkan dengan per-ta-nyaan tersebut menjadi tertegun.

. " "Ssst!" cepat-cepat Oh Li cu menempelkan ujung jarinya ke atas bibir memberi tanda agar tutup mulut. dia merasa rahasia ini kelewat awal un-tuk diberitahukan kepada Lan See giok sekarang. aku rasa bisa jadi orang terse-but adalah anggota benteng sendiri?" Mendengar ucapan tersebut. bi-siknya kemudian.r ia berbisik lagi: . Lanb See giok segerja teringat kembgali akan Be Siobng pak serta Thio-Wi-kang.sebab itu dia hanya manggut-manggut. "Be congkoan. . tiga setan dari benteng. tanyanya kemudian dengan nada tidak mengerti: "Di hari biasa siapa saja yang sering ke-mari. Meskipun demikian. jangan kata berani memasuki ruang dalam. dia toh tak berani menuduh siapapun secara gegabah. mendengar kata "nona" saja tubuhnya sudah gemetaran keras . setelah rmengerling sekezjap ke ruang sewbelah belakang. Dengan cepat Lan See giok menjadi paham. mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Li cu. . " " Paras muka Lan See giok segera berubah menjadi terkejut bercampur keheranan. tanpa terasa ia ber-tanya: "Apa kau bilang? Gedung belakang ini tak berpenghuni?" Kembali nampak keraguan di wajah Oh Li cu. Oh Li cu kembali termenung. "Aku rasa kecuali beberapa orang saja yang sering datang ke gedung bagian belakang ini.. tak heran kalau tiada orang yang menegur di sekitar sana sewaktu ada orang menyusup ke tempat tersebut. jarang ada yang tahu kalau gedung ini ko-song---" Tergerak hati Lan See giok setelah men-dengar perkataan itu. Thio-Wi-kang. "Kau maksudkan Be ." "Kau mencurigai si setan ikan leihi?" Lan see giok segera memotong. "Bagaimana kau bisa berkata begitu?" ta-nyanya kemudian. hanya saja ia tak berani sembarangan berbicara. karenanya sambil memperendah suaranya dia menya-hut.180 Baru selesai dia berkata. dia segera berbisik: "Adik Giok. dan siapa pula yang mengetahui raha-sia dari gedung belakang ini?" Agaknya Oh Li cu masih tetap menaruh keraguan terhadap dugaan itu. akhirnya ia berkata. "Oh Li cu segera mendengus menghina. katanya dengan bangga: "Nyali anjingnya sudah pecah sedari tadi. agaknya ia sedang mempertimbangkan kembali pelbagai kemungkinan dari dugaannya tersebut..

setelah itu baru ujarnya. . . di bawah ca-haya rembulan. "mengapa tidak kujumpai penjagaan di sekitar wilayah ini?" Oh Li cu kembali berkerut kening sambil menunjukkan keraguan. "Aneh. lalu bisiknya." Tanpa terasa Lan See-giok mendongakkan kepalanya memandang ke gedung seberang." serunya kemudian de-ngan nada tidak mengerti. mereka berdiam di gedung tunggal di seberang sana. ia pun berbisik: "Apakah mereka tidak berdiam di tempat ini? Oh Li cu segera menggelengkan kepalanya berulang kali: "Tidak. buru-buru dia masuk ke bilik pintu bulat. "ayah yang suruh demikian!" Lan See-giok tahu bahwa Oh Li cu enggan berbicara. masa benar-benar ada orang yang berani menyadap pembicaraan kami dari luar jendela" Tiba-tiba Oh Li cu bangkit berdiri." Oh Li cu menggelengkan kepalanya berulang kali. maka sambil memandang bangunan di seberang sana. dengan cepat ia berbisik. "Aku tahu. pikirnya di dalam hati. aku bisa menghadapi mereka dengan sebaik baiknya----" Seusai berkata. . "Sungguh aneh. "Biar aku menengok ke sana!" Lan See giok kembali merasakan hatinya tegang. karena tindakan yang diambil olehnya jelas merupakan suatu tindakan yang menyerempet bahaya. "Entahlah. bagaimana-pun juga ia toh menguatirkan juga ke sela-matan dari perempuan tersebut." Tergerak hati Lan See giok sesudah mendengar perkataan itu. paling baik kalau membawa serta Siau ci dan Siau lian berdua" Oh Li cu manggut-manggut. suasana di sana sangat hening dan tak kedengaran sedikit suarapun.181 "Aku rasa kecuali mereka berdua. tidak ada orang ke tiga yang berani memasuki daerah sekitar tempat ini. "Memang di sekitar gedung ini dan gedung di seberang sana tidak disertai dengan penja-gaan. ia melihat jelas tiada penjaga di sekitar sana." "Mengapa?". "Kau harus bersikap lebih berhati hati. tentu saja diapun merasa kurang leluasa untuk mengajukan pertanyaan. sekalipun Lan See giok ti-dak begitu menyukai Oh Li cu. tanya Lan See giok lagi tidak habis mengerti.

sementara hatinya berdebar makin keras. belum juga nampak Oh Li cu menampakkan diri .182 Terutama sekali selama dia berada dalam benteng Wi-lim-poo. sorot ma-tanya yang tajam mengawasi perkembangan situasi tanpa berkedip. ja-ngan-jangan Oh Tin san telah membongkar pula rahasia sekitar kotak kecil tersebut di hadapan mereka berdua? . dalam sekejap itulah ia seolah-olah men-da-patkan suatu firasat jelek. Lan See giok berdiri di depan jendela de-ngan perasaan yang sangat kalut. selama ia berada di sana ber-arti lebih menguntungkan bagi usahanya untuk melarikan diri. Sampan itu sudah hampir tiba di seberang sana. sementara Siau ci tetap menanti di atas sampan. . Kurang lebih seperminuman teh blamanya sudah ljewat. ia butuh sekali bantuan dari Oh Li cu. akan tetagpi suasana di sbeberang sana masih tetap hening . sebilah pedang tersoren di punggungnya. Cepat-cepat Lan See giok menuju ke jendela belakang dan melongok ke luar. andaikata orang yang menyadap pembicaraan mereka tadi benar-benar adalah Be Siong pak serta Thio-Wi-kang. tiba-tiba ia saksikan Oh Li cu berpaling ke arahnya. Lan See giok segera menggapai ke arahnya. Entah mengapa. sementara ia masih sangsi Oh Li cu serta Siau lian sudah naik ke daratan sebe-rang dan menuju ke jalan tembus. Dengan penuh kegelisahan dia berjalan mondar mandi dalam ruangan agar pihak lawan tak sampai mengawasi gerak gerik-nya secara jelas. Lan See giok merasakan hatinya berdebar keras. diapun sengaja memadamkan semua lentera yang berada dalam ruangan tersebut. tapi kuatir hal tersebut malah berakibat merugi-kan. jelas kepergian Oh Li cu kali ini mengandung resiko yang amat berat. Oh Li cu berdiri tegak di ujung sampan. se-dang Siau ci dan Siau lian membawa dayung duduk di belakang. Lan See giok semakin gelisah. pikirnya: "Wah. Berapa waktu kemudian. sorot matanya berkilat seperti bintang timur. Suara dayung membelah air kedengaran berkumandang ditengah keheningan itu. . se-buah sampan kecil sedang meluncur ke luar dari tempat tersebut. jangan-jangan orang yang menyadap pembicaraan tadi benar-benar adalah Be Siong pak serta Thio-Wi-kang?" Ia tak berhasil menebak dengan pasti me-ngapa Be Siong pak dan ThioWi-kang me-nyadap pembicaraan pribadi pocu nya. Dia ingin memanggil pulang Oh Li cu. .

abunya. Oh Tin san masih tetap mengenakan jubah abu . Sekali lagi Lan See giok berpikir dihati: "Dalam suasana begini. . tiba-tiba terdengar suara keleningan kecil ber-kuman-dang dari kejauhan sana. kecuali terhadap Say nyoo-hui. sedangkan Say nyoo-hui telah berganti dengan sebuah pakaian ringkas. Setibanya di depan pintu. Tergerak hati Lan See giok.b sepasang golokj burung hongnyag tersoren di-pubnggungnya tergantung sebuah kantung kulit. dalam waktu singkat perahu naga emas itu sudah melaju pergi. Tapi suara tersebut hanya bergema sing-kat. agaknya genta tersebut cepat-cepat dipegang orang hingga tak sampai bersuara. Tiba-tiba Siau ci yang berada di sampan seberang berpaling ke arah pintu air. tapi yang pasti hal ini tentu ada sangkut pautnya dengan si penyadap pembi-caraan mereka tadi. semua cahaya lentera di atas perahu telah padam. Oh Tin San cepat-ce-pat mengulapkan tangannya setelah itu ber-sama sama Say nyoo-hui masuk ke ruang perahu.183 Tentang rahasia mestika tersebut. jadi seharusnya mustahil kalau dia membocorkan pula kepada kedua orang itu. Setibanya di perahu. Beberapa orang lelaki kekar yang sudah siap dengan cepat mendayung perahu itu berlalu dari sana. Oh Tin san boleh di-bilang tak pernah membicarakannya kepada Oh Li cu. ke dua orang itu segera menjejakkan kakinya ke atas tanah dan melompat naik ke atas perahu naga emas. Suara keleningan tersebut mirip sekali dengan suara keleningan yang berkuman-dang dari perahu naga emas milik Oh Tin san. Tiba di pintu halaman.. beberapa orang lelaki berpakaian ringkas berdiri di buritan.. benar juga ia lihat perahu naga emas telah berlabuh di depan pintu gedung persegi. masa Oh Tin san akan ke luar benteng? Ke mana dia hendak pergi?" Belum habis ingatan tersebut melintas le-wat. ia tidak mengerti mengapa Oh Tin san suami istri pergi dengan langkah tergesa gesa. salah seorang diantara-nya sedang menggeng-gam lonceng kecil itu. Oh Tin san dan Say nyoo-hui sudah nampak muncul dari balik gedung dengan langkah tergesa gesa. dengan cepat dia melompat ke luar pula dari dalam ru-angan. Sementara dia masih termenung. Lan See giok yang menyaksikan semua peristiwa tersebut menjadi bingung ber-cam-pur gelisah.

" . Oh Li cu yang berdiri di geladak se-dang mengawasi perahu naga emas yang berlalu tanpa berkedip. tanyanya lagi dengan gelisah: "Apa yang sedang mereka bicarakan?" Setelah lentera disulut. Belum habis ingatan tersebut melintas le-wat. Lan Sree giok merasa kan hatinya bergetar keras. Nada suaranyapurn kedengaran peznuh de-ngan kegwembiraan. maka diapun manggut-manggut sambil mengiakan belaka. karena ia mengendus bau arak dari mulut Oh Li cu. Oh Li cu tertawa genit. maka sekarang dia bertekad akan berusaha me-larikan diri dari situ. di kemudian hari pasti akan menjadi seorang pemimpin yang disegani setiap orang. sudah pasti dia akan banyak rejeki di kemudian hari. Cepat-cepat Lan See giok menenangkan hatinya kemudian maju menyongsong. kalau tadi berniat meninggal-kan benteng Wi-limpoo. ia mulai me-nguatirkan keselamatan dari bibi Wan serta enci Ciannya. tapi dengan nada tak mengerti ia toh bertanya juga ke-pada Lan See giok: "Agaknya ayahku sekalian barusan pergi?" Dengan cepat Lan See giok berkerut ke-ning." Alangkah kecewanya Lan See giok se-telah mendengar perkataan ini. ini yang membuat nya tidak mengerti. ia pun dapat me-li-hat Oh Li cu berdiri sambil memandang arahnya dengan pandangan cinta. pipinya semu merah. Mereka berdua masuk ke ruang dalam. senyum manis menghiasi ujung bibirnya. Ia pura-pura ber-tanya lagi dengan wajah gembira. "Apa lagi yang mereka bicarakan tentang diriku?" Paras muka Oh Li cu berubah semakin merah membara. sebagai pertanda masuk dulu kemudian baru berbicara. tapi untuk berhasil melepaskan diri dari sana..184 Dalam keadaan yang begini. sahutnya merdu: "Mereka semua mengatakan kau tampan dan gagah. lama kemudian ia baru berkata tersipu sipu: "Mereka masih memuji ketajaman mata ayahku yang bisa mendapatkan seorang menantu gagah seperti kau. sambil memasang lampu lentera Lan See -giok segera bertanya: "Bagaimana dengan mereka?" "Mereka sedang membicarakan tentang diri mu!" ucap Oh Li cu dengan wajah berseri. sampan kecil 0h Li cu telah didayung kembali. lalu sambil menarik Oh Li cu naik ke atas darat ia berbisik lirih: "Bagaimana? Apakah mereka berada di situ`" Dengan wajah riang Oh Li cu menunjuk ke arah pintu halaman..

berwajah kurus memandang kagum kepadamu. jelas hal tersebut akan sangat mempengaruhi usahaku untuk melarikan diri. ditambah pula rasa ingin menang-nya. masing-masing telah menghormati tiga cawan arak kepadaku. besok kita hendak berpesiar. dengan gembira ia segera berseru: "Sungguh? Enci Cu. Be congkoan dan Thio-Wi-kang. . . wah--. kemudian katanya." . "Cici tidak mabuk. . segera pikirnya." "Kalau begitu cici sudah mabuk. aku harus menitahkan Siau lian untuk memberitahukan kepada komandan pasukan harimau terbang agar menyiapkan sebuah kapal perang dan kuda untuk kita berdua. mari kita bermain ke telaga Oh peng." Terkejut Lan See giok mendengar ucapan ini. " seru Lan See giok gugup "cepatlah pergi tidur." Waktu itu Oh Li cu sedang merasa gembira sekali.rencana ini mesti kucegah. dengan penuh perhatian dia pun bertanya: "Cici.185 Berbicara sampai di situ. diapun berkata pula demikian". . besok kita pergi bersama!" Ketika Lan See giok menyaksikan paras muka Oh Li cu makin lama semakin ber-tam-bah merah. pergilah tidur lebih du-luan. cuma Be congkoan toh sempat memuji kita berdua sebagai sepasang sejoli yang amat serasi. mereka berdua lagi mi-num arak demi merayakan cici yang berhasil mendapatkan kekasih tampan seperti kau. tanpa berpikir panjang ia menyahut: "Baik. ditatapnya anak muda tersebut dengan pandangan penuh cinta kasih. aku ingin lihat bagaimana para nona-nona nelayan yang ber-muka beng-kak. entah berapa banyak manusia lain yang akan merasa kagum" Tergerak hati Lan See giok setelah men-dengar ucapan tersebut. tidak tahan lagi dia tertawa cekikikan . bila kita berdua berjalan bersama. Dengan cepat 0h Li cu menggelengkan kepalanya berulang kali. Paras muka Oh Li cu berubah semakin merah. cepat-cepat dia membantah. terpengaruh pula oleh beberapa cawan arak. sesungguhnya enci lah yang merasa tidak sesuai untukmu. kau telah minum arak?" Oh Li cu tertawa. mungkin aku yang tidak sesuai untuk enci?" Sengaja Lan see giok me-rendah. "Kalau aku mesti berpesiar dalam keadaan seperti ini. "Sewaktu kesana. "Aaah. "Adik Giok terlalu sungkan. "Adik adalah pemuda gagah dan enci adalah gadis cantik.

bagaimanapun ia berusaha tidur. Mempersiapkan bagaimana caranya menciptakan kesempatan. "Tapi aku tak pandai menunggang kuda." "Besok cici akan mengajar kepadamu. Ketika membuka mata. dia lantas beranjak pergi dari situ. Sekarang ia dapat memastikan kalau orang yang mencuri dengar rahasia kotak kecilnya adalah orang lain namun hal tersebut sema-kin memperbesar tekadnya untuk melarikan diri.186 Berpikir demikian. sinar fajar telah mencorong masuk lewat jendela. Dengan seksama dan berhati hati sekali dia mulai merancang rencananya untuk melari-kan diri. cepat-cepat dia berseru "Urusan pribadi kita berdua mengapa ha-rus merepotkan orang lain . Diam-diam Lan See giok mengeluh. ta-hukah betapa gagahnya kita berkuda!" Dia mengerling sekejap ke arahb si nona denganj pandangan penugh cinta kasih dban masuk ke dalam kamarnya dan berpesan lagi dengan mesra. ke-mudian bisiknya kepada pelayan itu: "Tolong ambilkan pakaian milikku sendiri!" Baru selesai ia berkata.?" Tidak sampai Lan See giok berbicara lagi. dengan nada meyakinkan Oh Licu berkata lebih jauh: "Besok kita harus menunggang kuda. ia telah persiapkan beberapa macam jawaban.. dalam keadaan begini ia tahu keadaan tak tertolong lagi. seorang dayang kecil telah muncul sambil membawa keperluan membersihkan mulut dan muka. Lan See giok segera melompat bangun. ia baru terlelap tidur--Entah berapa saat sudah lewat.. tanggung sekali belajar segera akan bisa" Selesai berkata. Berbaring di atas ranjang. hatinya amat gelisah. besok kita akan berangkat pagi-pagi!" Tiba-tiba satu ingatan melintasi kembali dalam benak Lan See giok. dari kamar sebe-rang sudah kedengaran suara Oh Li cu lagi menegur: . apa yang harus diperbuat untuk menghindari pe-ngejaran dari Oh Li cu serta bagaimana selanjutnya menyusup ke rumah kediaman bibi Wan nya Sampai dia beranggapan bahwa rencana nya betul-betul matang dan sempurna. sambil berlagak resah ia berkata. "Cepatlah tidur. terpaksa dia harus bekerja menurut situasi besok. .. matanya terasa tak mau terpejam. akhirnya suara langkah kaki manusia menyadarkan Lan See giok dari tidurnya.

ia yakin hanya diri-nya yang pantas mendampingi seorang pe-muda ganteng macam dirinya. Oh Li cu muncul dengan dandanan yang sangat mentereng. Oh Li cu tertawa puas setelah melihat adik Giok nya nampak lebih tampan setelah me-ngenakan jubah biru itu. pakaian ini kelewat kedo-doran" "Aku masih mempunyai satu stel baju kongcu berwarna biru. tirai kelambu tersing-kap dan Lan See giok merasakan pandangan matanya menjadi silau. ia muncul kembali dengan wajah berseri.. tahun berselang baru selesai dibuat. terpaksa dia hanya mengiakan. kali ini dia nampak ang-gun. Lan See giok menyambut jubah panjang itu dan mengenakannya. " Apakah kau merasa pakaian itbu kurang serasij dibadan?" tanyga Oh Li cu lagib dengan nada tidak mengerti. kalau tidak bisa dikatakan cocok sekali. berarti rencananya untuk melarikan diri sudah berhasil separuh. cantik dan menawan hati. ambillah dan cepat kenakan!"" Sambil berkata dia melemparkan jubah panjang tersebut ke arah Lan See giok. "Aaah enci Cu. Sambil membawa sebuah jubah panjang.. dia se-dang mengkhayalkan bagaimana para gadis dusun mengagumi kecanrtikan dan keangz-gunannya. Memandang dandanan perempuan ini. diam-diam Lan See giok turut merasa gembi-ra. sebab sudah jelas tak mungkin akan mem-bawa senjata tajam atau senjata rahasia itu. "Betul enci Cu.. jauh berbeda dengan dan-danannya semalam. kau telah bangun?" "Benar cici!" sahut Lan See giok dengan perasaan terkejut. ia tertawa semakin bangga "Nah. kalau kau berjalan jalan di tepi telaga dalam dandanan seperti ini.187 "Adik giok. Lan See giok tak berani bersikeras meminta kembali pakaian lama-nya. Ketika sarapan mereka berdua sama-sama membungkam dengan pikiran masing-masing Oh Li cu bersantap dengan lahap. ternyata potongan pakaian itu persis sekali dengan bentuk badannya. ja-ngan-jangan nona dusun akan mengira dewi sianggo turun dari rembulan . . biar kucarikan untukmu!" Untuk menghindari kecurigaan perempuan tersebut." Oh Li cu merasa girang sekali dengan um-pakan tersebut. Tak lama kemudian. Karenanya dengan nada gembira dia berse-ru.

Komandan pasukan harimau serta koman-dan pasukan naga telah menantikan keda-tangan mereka di perahu pertama. Begitu sampan yang ditumpangi Lan See -giok sekalian muncul. Lan See giok segera berlagak sangat gem-bira. Sampan itu didayung langsung menuju ke kapal perang pertama. pintu gerbang telah berada di depan mata. apalagi tinggi geladak yang delapan depa lebih tinggi. Setelah melewati benteng air yang tinggi dan menembusi dua buah saluran air.188 Sebwaliknya Lan Seer giok tak sanggup me-nelan nasi yang disuapnya. ratarata segera berpikir di dalam hati: "Waah. terompet dibunyikan dan serentak semua lelaki-lelaki kekar itu menengok ke arah mereka. pikirannya sa-ngat resah bila memikirkan rencana pe-lariannya nanti--Selesai bersantap." Ke luar dari pintu gerbang. setelah mendekat. Lan See giok merasakan matanya silau. ada yang mem-bawa busur. puluhan orang lelaki kekar itu serentak memberi hor-mat dengan wajah serius. Sedangkan mereka yang melihat sikap alim dan lembut dari Oh Li cu. rupanya di kiri pasukan harimau dan pasukan naga. Lan See-giok malu sendiri. dia yakin orang-orang itu tak ada yang tahu kalau sekarang ia sedang berusa-ha untuk melarikan diri. padahal tinggi perahu mencapai dua kaki lebih. bentakan nyaring menggelegar dan pintu gerbang segera dipentangkan lebarlebar. nona berubah seratus delapan pu-luh derajat. Setiap kapal perang berlabuh rapi. rata-rata mereka tunjuk-kan sikap menghormat. Di kedua belah sisi pintu gerbang berdiri puluhan orang lelaki berbaju kuning. pemuda itu baru tahu kalau di situ tidak di sediakan tangga untuk naik. dan melaju menembusi aliran su-ngai dengan Siau ci serta Siau lian yang me-megang dayung. mereka berdua naik ke sampan. Tatkala sampan kecil itu lewat. dengan wajah berseri dia mengulapkan tangannya ke arah kawanan pasukan yang berada di kiri kanannya Ketika menyaksikan wajah menghormat dan sorot mata kagum yang terpancar dari wajah orang-orang itu. ketika memandang wajah Lan See giok. . ada yang menyandang golok. panji berkibar terhembus angin dua puluhan lelaki kekar berbaju kuning dengan tombak dan tameng di tangan berdiri serius di atas gela-dak. sewaktu melihat sampan yang ditum-pangi Lan See giok dan Oh Li cu lewat.

tubuhnya nam-pak gontai dan bergetar keras.ratus lelaki kekar itu sama . Karena tidak disediakan tangga. demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang baru saja akan dipertunjukkan sau pocu adalah ilmu meri-ngankan tubuh yang . Maka sambil tertawa hambar dia melompat ke atas. . sementara suasana di sekitar situpun dicekam dalam keh-eningan. "Memalukan. Jeritan kaget kontan saja berkumandang dari sana sini. "Nona. Komandan pasukan harimau dengan cepat berhasil menguasai diri. ia ber-kata seraya tertawa.sama tertegun karena kaget. Lan See giok segera berkerut kening. dia tahu Oh Li cu sengaja hendak memamer-kan kehebatannya dihadapannya.189 Kedengaran dua orang komandan pasukan itu berseru dari atas geladak dengan hormat: "Perahu dan kuda sudah dipersiapkan. lalu ditengah udara dia menggunakan jurus bu-rung Hong masuk sarang untuk melayang ke atas perahu. Tempik sorak bergema gegap gempita. sedang kan Siau ci dan Siau lian yang berada di sampan kecil malah sempat men-jerit leng-king: Mendadak. Lan See -giok tahu kalau dia diharuskan melompat naik dengan mengandalkan ilmu meringan-kan tubuh. Lan See giok mengibaskan ujung baju kanannya. beratus . setelah itu dengan tubuh lurus seperti pena ia berdiri di ujung perahu dengan mantap. lalu badannya yang terlempar he luar perahu tadi berputar ke sebelah kiri. sementara tubuh bagian atasnya tahu-tahu terpelanting ke luar kapal. se-mua anggota pasukan yang berada d di se-kitar sana berteriak memuji untuk menyam-but keindahan gerak tubuh nona mereka. Disaat ujung kaki Lan See giok hampir me-nempel di sisi perahu itulah. serunya kemudian dengan suara lantang: "Saudara sekalian. hal ini membuat orang mengira dia tak bertenaga penuh. ia melejit ke udara setinggi tiga kaki. tingginya tidak seberapa dimana sepasang kakinya persis menginjak di tepi perahu. ke dua orang komandan kapal perang itu jadi melongo dan termangu beberapa saat. si-lahkan sau pocu dan nona naik ke atas perahu". sungguh memalukan!" akhir-nya Lan See giok memecahkan keheningan tersebut. maka sambil berpaling ke arah Oh Li cu yang berada di belakangnya. silahkan kau naik dulu!" Oh Li cu tersenyum dan manggut-manggut. Menyaksikan demonstrasi ini.

Menyaksikan kuda yang kurus dan lemah apalagi nampak begitu jinak tersebut. ia seringkali mengajak pe-muda itu membicarakan soa1 pemandangan alam.190 disedut "Angin menggo-yangkan pohon liu. Sekarang Lan See giok baru tahu bahwa perahu mereka diarahkan ke barat daya. kasih kepada ke dua orang komandan pasukan. meski Lan See-giok dibebani pelbagai masalah. Tak lama kemudian. sewaktu datang ia sama sekali tidak tahu arah mata angin. ia seperti tidak berniat untuk menyaksikan keadaan di luar perahu dan nampaknya hal ini justru amat cocok dengan keinginan Oh Li cu. Semakin mendekati daratan. Sebagaimana diketahui. agaknya disitulah kampung nelayan itu berada. tempik sorak yang gegap gempita baru berkumandang memecahkan keheningan. kemudian setelah menyampaikan rasa terima." pengetahuan kalian tentu akan semakin terbuka dengan diperli-hatkannya ilmu kepandaian itu" "Sesudah ucapan tersebut diutarakan. Dalam ruang perahu. dua orang lelaki kekar segera menu-runkan papan dan menarik ke luar dua ekor kuda putih dari atas perahu. toh dia harus menghadapi dengan berhati hati . kon-tan saja Lan See giok berkerut kening. . tentu saja saat inipun ia tak tahu dimana-kah letak benteng Wilim-poo. 0h Li cu dan Lan See giok duduk bersanding.. apalagi masih berapa jauh jaraknya dengan kampung ne-layan itu. ber-sama Oh Li cu yang dihiasi senyum di kulum mereka bersama sama masuk ke ru-ang kapal. Lin See giok merasa hatinya semakin tegang. lebih kurang tujuh delapan li di depan sana ke-li-hatan sebuah garis hijau. Makin lama perahu dijalankan semakin ce-pat. perintah diturunkan dan perahu pun bergerak meninggalkan tem-pat tersebut. "Kalau kudanya saja . ketika memandang jauh ke muka. sepanjang jalan hanya suara ombak yang memecah kesepian memainkan suasa-na. ia harus berusaha secepatnya meninggalkan tempat itu. matahari telah muncul di ufuk timur. la juga takut kalau sampai bertemu dengan si naga sakti pembalik sungai. Lan See giok duduk di ruang dalam. terutama sekali dengan si kakek berjubah kuning maka ia beranggapan setelah turun dari perahu nanti. Ketika kapal perang itu meninggalkan hu-tan gelugu. Akhirnya perahupun merapat dengan pantai. Lan See giok segera mengulapkan tangan nya untuk menenangkan suasana. cahaya keemas-emasan memancar ke permukaan telaga dan memercikkan cahaya yang menyilaukan mata. gadis itu kelihatan sangat gembira.

Setelah diberi petunjuk ringkas oleh Oh Li cu. seolah-olah kuatir kalau tubuhnya ter-jengkang ke belakang. . disangkanya ia se-dang ketakutan. Oh Li cu amat geli melihat sikap kaku nya. Turun dari perahu. "Tak usah takut. bila perlu kempitkan kaki pada perut kuda. pegang tali les kuda erat-erat. Sementara itu. berdiri sebuah bangunan rumah yang mungil. niscaya jiwamu tak akan bahaya.191 begitu kurus dan lemah. "Hei. "Apakah dua ekor kuda tua itu?" Kedua orang lelaki itu segera mengiakan dengan hormat. Oh Li cu yang melihat pemuda itu gemetar dan wajahnya berubah. pandangannya selalu tertuju ke de-pan. baru pertama kali ini ia menunggang kuda. Lan See giok merasa sedikit gugup. cepat-cepat perhatiannya dipusatkan jadi satu dan manggut. kalau menunggang kuda lebih baik angkat saja kepalamu. "oleh sebab itu cici sengaja berpesan agar dipersiapkan dua ekor kuda tua yang tidak binal lagi!" Diam-diam Lan See giok mengeluh.manggut kearah Oh Li cu dengan perasaan terima kasih. Tiba-tiba terdengar Oh Li cu bertanya kepada si lelaki penghela kuda itu. sebab berbicara yang sesungguhnya. tahu begini semalam dia tak akan beralasan tak -pandai menunggang kuda. hampir saja ia terjerembab dari atas kuda. dengan demikian kau tak akan sampai jatuh. Diantara pepohonan siong yang terbentang di depan situ. asal tubuhmu tak sampai terlempar ke udara. jawab Oh Li cu sambil tertawa manja. merekapun menunggang kuda dan men-jalankan nya menelusuri tanggul." Lan See giok merasa kalau ia telah khilaf. ba-gaimana mungkin bisa berlari cepat?" demikian ia berpikir dengan perasaan geli-sah. tapi apa yang terlihat mem-buat badannya gemetar keras. ternyata rumah itu bu-kan lain ada1ah rumah bibi Wan serta enci Ciannya. Lan See giok sudah melihat jelas pintu ruangan bibi Wan nya. Lan See giok menjadi sangat mendongkol. cepat serunya dengan kuatir. sambil tertawa getir ia berseru. merekapun mendekati kedua ekor kuda tua tersebut. luruskan pandangan ke muka!" Lan See giok mengiakan sambil meman-dang ke muka. dengan nada tak puas dia bertanya: "Mengapa kau memilih dua ekor kuda tua?" "Sebab kau tak pandai berkuda". kuda mereka sedang lewat di muka pintu rumah. Sepanjang jalan Lan See giok berlagak tegang.

andaikata sekitar sana ada lubang niscaya ia telah menyembunyikan diri di sana. namun tidak mengurangi sikap anggun dan daya tariknya. baru saat ini dia dapat merasakan. Sementara itu Oh Li cu berdiri ter-tegun lantaran kaget. semoga Thian melindunginya dan jangan sampai mempertemukan dia dengan bibinya. apakah kau menganggap gadis yang berada di dalam halaman itu lebih can-tik dari pada cici?" Terkejut Lan See giok mendengar per-ta-nyaan ini. menurut penaksirannya kalau di tinjau dari rambut panjang dan perawakan tubuh gadis berbaju kuning itu. . Agaknya Oh Li cu juga telah melihat gadis tersebut. Api cemburu Oh Li cu seketika berkobar ketika ia saksikan Lan See giok tiada henti nya melirik kearah gadis dalam halaman tersebut.192 Sekarang ia hanya bisa berdoa. Terutama sekali sepasang biji matanya yang jeli sungguh menawan hati. dia memang tak berani per-caya kalau dalam dusun nelayan terdapat gadis yang berparas begitu cantik. Tiba-tiba Lan See giok merasa hatinya ber-getar keras. Betapa rikuh dan tersipu-sipunya Lan See giok waktu itu. dengan rasa cemburu yang amat tebal ia lantas berseru: "Adik giok. jantungnya berdebar begitu keras sehingga hampir saja akan melompat ke luar dari mulutnya. hidung mancung dengan bibir yang kecil mungil. ketika mendengar ada suara pertanyaan bergema di situ. bermata bening. Ciu Siau cian segera berpaling. setelah melihat paras cantik lawan. bagaimanakah perasaan seseorang yang punya mulut namun tak dapat mengutara-kan kesulitan sendiri. tapi yang jelas takut kalau jejak nya sampai ketahuan Ciu Siau cian. Gadis berbaju kuning itu berkulit putih. dalam keadaan begini ia kuatir sekali Ciu Siau cian atau enci Cian nya akan menyapa dia. sekalipun dia hanya mengenakan pakaian yang amat sederhana. dia bukan takut Oh Li cu menjadi gusar. Ternyata enci Cian nya sedang berdiri di dalam halaman dengan punggung meng-ha-dap ke luar. Betul juga. dia semesti-nya berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan. Ketika kuda mereka maju lebih ke depan semua pemandangan dalam halaman rumah itu dapat terlihat jelas. tiba-tiba saja timbul perasaan rendah diri pada dirinya.

Tanpa disadari akhirnya dia berseru: "Dia memang benar-benar sangat cantik!" "Aaah. setelah lari beberapa langkah kembali jalannya melamban. tak tahan ia tertawa cekikikan. ia men- . Mimpi pun Oh Li cu tak pernah menyangka kalau kuda tua yang di hari-hari biasa sangat penurut dan jinak. . mendadak saja menjadi sewot dan gila menyaksikan kegugupan Lan See giok di atas punggung kuda itu. dengan gugup ia memegang tali les kuda nya kencang-ken-cang. tangan-nya yang memegang tali les juga di perken-cang. wajahnya menjadi murung dan timbu1 perasaan yang amat tak sedap di hati. ia tak tahu apakah enci Cian nya telah mendengar perkataan tersebut atau ti-dak. saking mendongkolnya tiba-tiba saja ia menendang perut kuda itu keras-keras. kudanya kaget. mungkin lantaran kesakitan. dengan gelisah ia menjerit: "Aduh celaka. Lan See giok amat gusar. Nampaknya gerak gerik dari pemuda ter-se-but tak dapat membendung rasa geli Oh Li cu. dia tahu ba-haya sehingga tanpa sadar kakinya me-ngem-pit. rasa rendah diri yang semula menyelimuti perasaan Oh Li cu segera hilang lenyap tak berbekas. tanpa terasa ia tertawa bangga. dia cuma berharap selekasnya bisa meninggalkan tempat itu. Beberapa kali Lan See giok mencoba untuk melarikan kudanya. . Dalam keadaan begini. biar cantik. Apalagi setelah melihat gadis berbaju kuning itu segera tertunduk malu sehabis mendengar perkataan dari Lan See giok tadi. Ringkikan panjang yang amat memekik-kan telinga segera berkumandang memecah kan keheningan. dia kan gadis dusun yanbg tak tahu adatj. gbagaimana mungkbin bisa dibandingkan dengan cici yang berasal dari keluarga persilatan?" tukas Lan Se giok tiba-tiba. Setelah mendengar perkataan tersebut. Oh Li cu terkejut juga melihat kejadian ini.193 Agak berubah wajah Oh Li cu setelah me-nyaksikan paras muka gadis berbaju itu. Lan See giok tak berani memandang wajah Ciu Siau cian. tiba-tiba saja kuda tersebut kabur se-cepat cepatnya ke muka. Bisa dibayangkan betapa kagetnya Lan See giok waktu itu. hatinya tak terlukiskan geli-sahnya. perut kuda itu semakin kencang. Merasa dirinya ditertawakan. badannya menjadi gontai dan nyaris terjerembab ke tanah. apa mau dikata kuda tua tersebut larinya lamban sekali. sayang kuda tersebut kelewat tua. kudanya kaget---" Lan See giok semakin gugup.

"Adik Giok-adik Giok. ia melihat jelas bagaimana Lan See giok menggenggam kencang tali les ku-danya dengan wajah tegang. Dengan lenyapnya daya beban dari kuda tua itu. apalagi kalau menunggang kuda liar. binatang tadipun menghentikan larinya." jeritnya kemu-dian setengah menangis.194 jadib gelisahnya bukjan kepalang. Lan See giok ti-dak tahu berapa jauh ia sudah dibawa kabur. cepat bungkuk-kan tubuhmu di atas pelana . Hampir menangis Oh Li cu menyaksikan kejadian itu. namun akibatnya harus men-jum-pai pengalaman yang mendebarkan hati aki-batnya rasa tegang yang mencekam pe-rasaannya tidak juga bisa ditenangkan. Cepat ia menekan kuda itu dengan telapak tangan kanannya.sampai teblapak tangannya menjadi basah oleh keringat dingin. Di depan sana terbentang kini sebuah la-pangan rumput yang luas.. ia berjumpalitan beberapa kali kemu-dian melayang turun ke atas tanah berum-put.. tanpa berpikir panjang ia segera menuruti nasehat tersebut dengan membungkukkan badannya di atas pung-gung kuda. bisa mendengar jerit tangis Oh Li cu tersebut dengan jelas. Baru pertama kali Lan See giok mencoba naik kuda. Lan See giok mulai dapat mengingat ingat kembali pela-jaran yang diberikan Oh Li cu kepada nya bila menjumpai bahaya. yang tersisa hanya debu dan pasir yang beterbangan menutupi pemandangan... diapun melamban kembali. begitu tubuhnya melejit ke udara. Dalam waktu singkat kuda sewot yang di tunggangi Lan See giok sudah kabur jauh ke depan. karena kudapun sudah mulai melamban larinya.. dia mencoba untuk melarikan kudanya untuk mengejar. peluh telah membasahi tubuhnya maupun tubuh sang kuda. setelah lari beberapa langkah. Sambil duduk di tanah lapang dengan na-pas terengah. pepohonan demi pe-po-honan dilalui dengan cepat. bagarimana jadinya?"z . lambat laun lari si kuda sewotpun kian melamban. Lan See giok yang gugup bercampur tegang. Hutan demi hutan. apa mau dibilang kudanyapun sudah kelewat tua. Dalam keadaan begini.cepat bungkuk-kan tubuhmu di atas pelana. sagmpai. ia memandang kuda putih di kejauhan sana sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. pikirnya: "Menunggang kuda tua bangkotan saja su-dah mendebarkan hati.

. harus ku-tunggu sampai kapan lagi? Yaa. betul juga derap kaki kuda itu sangat ramai. kuda tadi tetap berdiri tegak di tempat semula. tampak dua tiga puluhan ekor kuda sedang dilarikan mendekat dengan kecepatan luar biasa. suaranya ba-gaikan gemuruh yang menggelegar men-jelang datangnya hujan deras. kejut dan gembira ia segera melompat bangun dan mencak-mencak kegi-rangan. tiba-tiba ia mendengar suara derap langkah kuda yang amat ramai bergema secara lamat-lamat dari arah tanggul telaga sana. Makin lama suara derap kaki kuda itu se-makin nyaring dan mendekat. tapi sejauh mata memandang hanya hutan belantara belaka. ke-lihatan debu dan pasir beterbangan ke ang-kasa. di-betot. tidak sungkan-sungkan lagi Lan See giok memetik buah buahan tersebut dan melahapnya dengan rakus . Lan See-giok gelisah sekali. bagaimanapun ditarik. cepat-cepat dia me-lompat naik lagi ke punggung kuda tua dan mencoba untuk meneruskan perjalanan sayang kuda tua itu sudah kelewat lelah. ia memasang telinganya baik-baik dan mendengarkan de-ngan penuh perhatian. Dari sana ia memanjat ke pucuk pohon dan menyembunyikan diri di balik dedaunan yang lebat. Lan See giok sangat terkejut. di atas pegunu-ngan itu penuh pepohonan li yang buahnya mulai memasak. pada wilayah antara tanggul dengan tanah padang berumput. Dikejauhan sana. Tengah hari sudah lama lewat. . Tergerak hati Lan See giok ia segera bang-kit berdiri dan lari ke depan sebuah pohon besar di puncak bukit. Mendadak--- . gumamnya seorang diri: "Kalau sekarang tidak kabur. tampaknya ada se-rombongan manusia berkuda sedang melalui tempat tersebut.195 Mendadak satuw ingatan melintras dalam benaknya. ke mana ia harus pergi untuk bersantap? Untung saja tak lama kemudian ia sudah tiba di sebuah pegunungan. dia kuatir Oh Li cu keburu menyusul ke mari.. Lan See -giok mulai merasa perutnya sangat lapar. inilah ke-sempatan paling baik yang belum tentu bisa kujumpai lagi---.! Berpikir begitu. Entah berapa saat kemudian. karenanya terpaksa ia melompat turun dari kuda tua itu dan melarikan diri menuju ke gundukan bukit kecil di depan situ.

ia tidak berminat untuk menyaksikan adegan terse-but lebih jauh. ia benar--benar tak mengerti mengapa pasukan dari Wi-lim-poo bisa secepat itu tiba di tempat kejadian. dia tahu berlarian di padang rumput berbahaya sekali. badannya meluncur bagai-kan segulung asap saja. BAB 10 IA tak berani berayal lebih jauh. dan tempat tersebut merupakan daerah yang terdekat dengan dirinya berada. sebab tiada tempat untuk menyembunyikan diri. kini dihadapannya terbentang padang rumput yang sangat luas. . seingatnya dalam kapal perang yang ditumpanginya hanya memuat dua ekor kuda tua. ia jumpai sebuah dusun. Ketika diamati dengan lebih seksama. ter-nyata orang yang berada di punggung kuda berwarna merah dimuka barisan adalah Oh Li cu sendiri. pada hakekatnya tidak dijumpai sesuatu apapun yang mencurigakan. Dalam beberapa saat saja hutan lebat su-dah ditembusi. ia harus secepatnya memasuki daerah yang lebat dengan pepohonan yang luas. Lan See giok sangat keheranan setelah menyaksikan kejadian itu. dengan perasaan tidak mengerti dia celingukan kian kemari. tapi selain padang rumput yang luas.196 Rombongan itu memecahkan diri bagai-kan bunga api yang meletuk dengan berbentuk seperti kipas. lantas darimana datang-nya kuda sebanyak itu? Walaupun Oh Li cu bisa kirim orang untuk memberi laporan ke benteng. rombongan kuda tadi menye-barkan diri serta mengepung lapangan rum-put tersebut rapat-rapat. Sambil melarikan diri. ke dua tiga puluh ekor kuda tadi sudah berdiri berjajar di sepanjang garis padang rumput. kemudian kabur ke dalamb hutan dengan mjengerahkan ilmug meringankan tubbuh yang dimilikinya. dengan cepat dia melompat turun dari atas pohon. Tapi ingatan lain membuat pemuda ini menjadi ragu. ia segera kabur menuju kearah dusun tersebut. jelas mereka adalah anggota benteng Wi-lim-poo. Tak terlukiskan rasa kaget yang men-cekam perasaan Lan See giok sekarang. Sementara itu. dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya. Lan See giok semakin gelisah. Matanya yang jeli segera mengamati seke-jap sekeliling tempat itu. ter-nyata penunggang kedua tiga puluh ekor kuda itu adalah lelaki-lelaki kekar berpa-kaian ringkas warna kuning. pada jarak tiga em-pat li di sebelah kanan. Tiba-tiba Lan See giok jadi melongo. itu pun paling cepat malam nanti pasukan mereka baru akan tiba di sini. dihati kecilnya tiada hentinya merasa keheranan. kalau diperhati-kan baju seragamnya. pe-muda kita segera gemetar karena kaget.

ia segera kecewa setelah dekat de-ngan perahu tadi. daerah tikungan tadi merupakan sebuah tanah perbukitan. Tapi belum berapa langkah. arus sungai kelewat deras. se-cepatnya ia kembali ke pesisir dan menye-lusuri air. Diam-diam ia menjadi gembira sebab pasukan dari Wi-lim-poo belum muncul dari hutan tadi. pemuda itu berpaling sekejap. makin ke depan sungai tersebut me-ni-kung semakin ke dalam. . ia membalikkan badan dan segera melarikan diri. ini berarti pantai sungai tak mungkin bisa dipakai untuk menyembunyikan diri lagi. Lan see giobk amat terperanjat dan cepat berpaling. Lan See giok tahu keadaan bakal runyam. jangan lagi perahu. apa yang kemudian terlihat segera membuat keringat dingin bercucuran. Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok. Dengan gelisah ia berpaling kembali.197 Ketika hampir mencapai di depan dusun. Dengan putus asa dia menelusuri tepi su-ngai. maka dengan cepat ditelusurinya sungai tersebut: Tapi dengan cepat ia menjadi putus asa. sedang lelaki kekar yang berada di punggung kuda dengan sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu mengawasi tepi seberang sungai. Mendadak ia mendengar suara ribngkikan kuda bejrkumandang datagng. Pada saat itulah--Dari depan situ bergema lagi suara ringki-kan kuda. dasarnya sudah jebol dan berantakan. ternyata di depannya terbentang sebuah su-ngai besar yang lebarnya mencapai sepuluh kaki lebih. pemuda itu bagai-kan menemukan bintang penolong saja segera berlarian menuju kearah situ. bayangannya saja tidak dijumpai. ternyata perahu yang nampak utuh dari luar. Rupanya beberapa ekor kuda sedang ber-larian menelusuri tepi sungai menuju kearah nya. pemuda Itu segera menghen-tikan perjalanannya dan berdiri tertegun. Tapi. Tapi setelah ia berpaling kembali meman-dang ke depan. Dalam pelarian tersebut. un-tung pasukan dari Wi-lim-poo belum menyu-sul sampai di situ. dari seputar hutan di tanah gundukan depan muncul pula beberapa puluh ekor kuda. ia kabur ke sebelah kanan sungai tersebut. ia pikir masih punya waktu untuk mencapai perahu. tiba-tiba Lan see giok menemukan sebuah sampan kecil yang tergeletak di tepi pesisir. bersamaan itu juga dari ke jauhan situ berkumandang suara derap kaki kuda yang amat keras.

198 Lan See giok benar-benar amat gugup. "Apakah kalian telah melihat sau pocu?" Diam-diam Lan See giok terkesiap. Mendadak terdengar seseorang menegur dengan suara yang serak dan tua. Menyusul kemudian beberapa ekor kuda berlarian mendekat bagaikan gemuruh angin puyuh. "Aneh. mengapa Be Siong pak bisa me-mimpin pasukan untuk melakukan pengejar-an. sekali lagi terdengar suara ringkikan panjang yang bergema dari tempat tak jauh dari situ. . bila ia sampai tersusul saat ini. saat ini mungkin aku sudah tiba di dusun pantai seberang--. biar dia tahu perahu bobrok itu tak mungkin bisa di-pakai untuk bersem-bunyi. taznpa disadari iaw meraba senjatar gurdi emas Cin kim kong luan jui yang melilit. diam--diam ia bersyukur karena tempat persembunyian nya tidak sampai ketahuan. Pada saat Lan See giok baru saja melompat naik ke atas perahu bobrok dan menyem-bunyikan diri. pikirnya. hatinya berdebar keras. tak tahan lagi pikirnya setelah menghela napas: "Betapa senangnya bila ilmu berenang ku-kuasai. kemudian berhenti tak jauh dari ka-pal bobrok itu berada . Suara bentakan-bentakan keras bergema kemudian. jelas tiada alasan yang dapat digunakan. satu satunya jalan hanya bertarung sampai titik darah penghabisan: Menyaksikan arus sungai yang begitu deras. suara derap kaki kuda yang amat gencar telah bergema datang dari sisi sebelah kanan. "hamba sekalian tidak melihatnya" Diam-diam Lan See giok merasa keheran-an juga. Lan See giok amrat terkejut. ia teringat kembali ilmu berenang yang belum sempat dipelajari. agaknya pasukan yang datang dari sebelah kiri telah berpapasan dengan pasukan yang telah datang dari sebelah kanan. "Lapor congkoan" beberapa orang lelaki itu segera menjawab dengan hormat. manusia yang mempunyai banyak akal muslihat. ." Belum habis ingatan tersebut melintas le-wat. Sekarang Lan See giok berada dalam posisi yang berbahaya sekali. Dalam pada itu suara ringkikan kuda su-dah semakin mendekat. ia me-ngenali suara tersebut sebagai suaranya Be Siong pak. namun terdesak oleh keadaan mau tak mau dia menerobos juga ke dalam perahu bobrok itu. suara tersebut ber-gema pula dari kiri dan kanan tubuhnya. Lan See giok menahan napas sebisa mung-kin. tak terlukis-kan rasa gelisah hatinya. . di pinggangnya.

Sekali lagi air mata 0h Li cu bjatuh ber-cu-cujran. lalu kepada Be Siong pak yang menyongsong kedatangannya. Dengan pandangan mata gelisah bercam-pur cemas dia menengok sekejap ke arah pantai seberang. Be Siong-pak segera mencemplak kudanya dengan memimpin puluhan anak buahnya maju menyongsong ke tepi sungai. rambut nya sedikit kusut dan cahaya mukanya ham-pir pudar . Sementara itu dari arah pantai ber-kuman-dang kembali suara derap kaki kuda yang sangat ramai. Paras muka Oh Li cu telah basah oleh air mata.. . .. ia berta-nya cemas: "Apakah kalian tidak menemukannya?" "Di kedua belah pesisir sungai sama sekali tidak dijumpai bayangan tubuh dari sau pocu!" jawab Be Siong pak. matanya merah membengkak. . . mereka meme-gang tali les kuda masing-masing dengan kencang. ia menutupgi muka sendiri bdan berkata sambil menangis tersedu-sedu: . Derap kaki kuda dan suara ringkikan kuda yang ramai akhirnya berhenti di belakang perahu bobrok persis di sisi pesisir sungai. sementara peluh membasahi tubuh-tubuh mereka maupun tubuh kuda-kuda tersebut. !" MENDENGAR Oh Li cu telah tiba pula di tempat kejadian. Be Siong pak yang duduk di punggung kuda tampak sedang berkerut kening dengan wajah resah. . . nona telah datang. ia segera mengintip dari celah-celah perahu bo-brok itu. Lan See giok yang mengintip ke luar kem-bali merasakan tubuhnya gemetar keras. ternyata orang yang duduk di atas kuda merah yang tinggi besar itu tak lain adalah Oh Li cu. "Congkoan. Seorang lelaki yang berada di sisi Be Siong pak segera berpaling dan memandang seke-jap ke arah pantai. debu dan pasir tampak beterbangan meme-nuhi angkasa.199 Karena dorongan rasa ingin tahunya. kemudian serunya de-ngan nada gelisah. Lan See giok merasakan hatinya semakin tegang. Paras muka belasan lelaki berbaju kuning pun kelihatan amat serius. sorot matanya yang tiada henti-nya dialihkan ke pantai seberang sungai tersebut. Menyusul kemudian seekor kuda merah yang tinggi besar muncul pula di tempat tersebut .

Dengan wajah menyesal dan murung Be Siong pak menjawab: "Yaa. sambil menangis Oh Li cu su-dah mengomel: "Semuanya ini kau lah yang salah. dia menangis tiada henti nya. dengan nada meng-hibur dia ber-kata lagi: . sekujur badannya telah basah oleh keringat darah rupanya sudah kehabisan tenaga." "Yaa. "hamba memang pantas mati.200 "Sebenarnya ia tak pandai menunggang kuda. sekembalinya lo pocu nanti. bagaimana mungkin ia bisa ter-jatuh dari kuda?" Tidak sampai Be Siong pak menyelesaikan kata katanya. coba kalau hamba tidak mende-ngar suara tampik sorak pagi tadi sehingga segera mengutus orang untuk mencari berita. memang hambalah yang teledor serta tidak berpikir sempurna. ini menunjukkan kalau binatang tersebut telah berlari kencang sepanjang jalan. seolah-olah seorang kanakkanak yang kehilangan mainan kesayangannya. apa mau dikata kuda tua itu kaget!" Lelaki kekar berkuda hitam yang tampak nya komandan dari pasukan tersebut segera berkata dengan hormat: "Kuda tua itu sudah berhenti di tanah la-pang. tidak ku-sangka lo pocu sama sekali tidak memberi kabar kepada nona serta sau pocu ketika hendak berangkat. bisa jadi ia sudah terja-tuh ditengah jalan!" Be Siong pak segera melototkan matanya bulat-bulat. coba kalau kau bertindak cepat semab-lam dengan menjurunkan perintagh itu kese-mua bpenjaga pintu benteng. hamba memang tentu akan minta hu-kuman sendiri!" Setelah berhenti sejenak. akulah yang memaksanya naik. kesemuanya ini memang kesalahan hamba" Be Siong pak mengangguk berulang kali. serunya dengan suara dalam: "Tenaga dalam yang Sau pocu miliki amat sempurna. hari ini kami tak akan bisa ke luar dan tak mungkin akan ter-jadi peristiwa di luar dugaan seperti ini. bila sau-pocu memang tak pandai menunggang kuda. hamba memang pantas mati. mungkin hingga sekarang pun belum kuketahui kalau nona dan Sau pocu telah berpesiar ke pantai telaga!" "Apa pula gunanya kau menyusul sampai di sini?" kembali Oh Li cu menangis ter-sedu sedu. bila di dalam ben-teng ada urusan harus dirundingkan dulu dengan Sau pocu---?" Sambil berkata. serta me-mandang sekejap semua orang yang berada di seputar tempat itu. menga-pa sewaktu aku datang ke tempatmu sema-lam -kau tidak mengatakan kalau pocu sudah menurunkan perintah bahwa setiap orang dilarang ke luar benteng.

dengan gugup dia mela-rikan pula kudanya untuk menyusul dari belakang.201 "Walaupun kita sudah mengerahkan keku-atan sedemikian besarpun belum berhasil juga menemukan kembali sau-pocu. . tunggu dulu hati-hati kalau sampai terjatuh dari kuda!" Sembari berteriak.. biar sekarang agak tersiksa dan menderita. Sedang maksud Oh Tin san suami istri pergi tanpa pamit semalam. nona. dengan cepat ia menu-runkan kembali tangannya dari atas wajah. ditambah pula seputar pesisir sudah penuh dengan bekas telapak kaki kuda dia mengira pasukan sebelumnya telah melakukan peme-riksaan di sana. lalu sambil melotot ke arah Be Siong pak bentaknya: "Obrolan busuk. . Kawanan lelaki lainnya serentak mem-ben-tak dan melarikan kuda masingmasing dalam waktu singkat kedua tiga puluhan kuda tersebut telah berlalu semua mengikuti di belakang Oh Li cu. orangnya di mana sekarang?" "Pokoknya bila tidak kau temukan kembali Lan See giok hari ini. tanpa terasa teriaknya keras-keras: "Nona. perasaan tegang yang sempat mencekam perasaannya kinripun berkurang. sau pocu ber-bakat ba-gus dan berwajah cerah.. Lan See giok menghembuskan napas pan-jang. kau sendiri pun tak usah kembali ke Wi-lim-poo" Sambil berkata ia segera mencemplak kembali kudanya dan melarikan binatang tersebut meninggalkan tempat tersebut. melihat itu dia baru mengerti apa sebabnya Oh Li cu tidak me-ngirim orang untuk memeriksa perahu bo-brok tersebut. toh akhirnya akan kembali juga ke Wi-lim-poo dengan selamat---" Dalam suasana gelisah bercampur marah mana ada niat dari Oh Li cu untuk mende-ngarkan obrolannya. siapa yang mau mende-ngarkan ucapanmu itu. semua bencana akan berubah menjadi rejeki. Hmm! bencana bisa berubah jadi rejeki . tunggu dulu.z diam-diam ia mwelompat ke luarr dari perahu! Sepanjang pesisir dijumpainya penuh de-ngan bekas kaki kuda. Agaknya perahu itu kelewat bobrok dan mustahil bisa dipakai untuk bersembunyi. Apalagi Be Siong pak serta Oh Li cu pada hakekatnya tidak me-ngetahui kalau dia berniat melarikan diri . itu ber-arti besar kemungkinannya sau-pocu telah diculik oleh si kakek berjubah kuning tapi nona tak usah kuatir.. Be Siong pak termangu melihat kemarahan nonanya. sekalipun mengha-dapi bencana. jelas hal ini untuk mencegah putri-nya . di mana dia hanya memberitahukan kepada Be Siong-pak dan melarangnya memberitahukan kepada Oh Li cu.

lamat-lamat kedengaran suara orang menghardik dan ringkikan kuda. karena tak satupun yang terpakai saat ini. pikirnya: "Yaa. tanpa terasa ia menggelengkan kepalanya sambil tertawa. . apa yang direncanakan semalam boleh dibilang semuanya tidak ber-guna. gelisah pula. Lan See giok percepat langkahnya menuju ke muka . da-haga. sebelum malam tiba dia harus sudah tiba di rumah kediaman bibi Wannya. Cahaya lentera mulai berkelap-kelip di arah dusun nelayan sana. diapun percaya Oh Tin san tak bakal membi-carakan rahasia tentang kotak kecil tersebut dengan mereka.. . di kejauhan sana hanya kedengaran suara derap kaki kuda yang makin menjauh. suasana remang-remang telah mulai menyelimuti se-luruh angkasa. Sesudah menembusi hutan dan mendaki sebuah bukit kecil. Kelancaran yang diperolehnya dalam usaha melarikan diri kali ini benarbenar berkem-bang di luar dugaan. ia yakin kedua orang tersebut masih belum mengeta-hui asal usulnya yang sesungguhnya. terpaksa dia harus berhenti di situ dan menunggu sampai kapal-kapal pe-rang dari Wi-lim-poo tersebut berlalu se-be-lum meneruskan perjalanannya. Sementara itu matahari sudah tenggelam di langit barat Lan See giok merasa lapar. Berpikir sampai ke situ. Senja lewat. ia saksikan di bawah lembah sana masih nampak puluhan ekor kuda mondar mandir melakukan penca-rian. Di atas ke tiga kapal perang pun telah dikerek naik sembilan buah lentera besar berwarna merah. dari kejauhan sana mulai nampak tanggul telaga Huan yang oh. . dan tentu saja takut kalau dia menggunakan kesempatan tersebut mela-rikan diri. Dengan cepat pemuda itu menelusuri pantai menuju ke arah timur laut. pada dermaga telaga tiga buah kapal perang berlabuh di situ. Kalau didengar berdasarkan pembicaraan Be Siong pak dengan Oh Li cu. udara amat bersih. Lan See giok tak berani meneruskan per-jalanannya. Dari puncak bukit kecil. Beberapa saat kemudian ditengah kege-la-pan yang mulai mencekam seluruh angka-sa. siapa yang bisa menduga perubahan yang bakal terjadi di dunia ini?" la berjalan menuju ke pantai depan sana dan mendongakkan kepalanya. kalau dapat dia ingin se-cepatnya tiba di rumah kediaman bibinya. malam haripun tiba.202 pergi ke luar.

Lan See giok segera mengerahkan kembali ilmu meringankan tubuhnya dan menuruni bukit tersebut dengan cepat. sekalipun ia tidak tahu apakah enci Cian mencintainya atau tidak. Namun permintaan mana tidak tebrmasuk memperisjtri dirinya. namun betapa terkejutnya dia . hanya beberapa biji bintang yang berkelipan. agaknya kapal perang dari Wi-lim-poo tersebut sudah mulai berangkat pulang. tiada rem-bulan. Dengan perasaan lega Lan See giok mem-percepat langkahnya berlarian ditengah ke-gelapan. tentu saja ia tak dapat berpeluk tangan belaka terhadap cinta kasihnya itu. Teringat kembali enci Ciannya. tapi per-hatian dan kasih sayangnya tak mungkin bisa dilupakan dengan begitu saja.. ia telah tiba di belakang dusun kecil tempat kediaman bibi Wan nya. ia saksikan cahaya len-tera dalam kamar enci Cian nya masih terang benderang. segbab di kemudianb hari dia ingin mempersunting enci Ciannya seba-gai istri. terutama sekali usahanya untuk mencarikan obat penawar racun baginya. dia keheranan. lama sekali ia berdiri tegak sambil memperhatikan keadaan di sekitar situ adakah sesuatu yang mencurigakan. suasana dalam dusun itu amat hening. Ia dapat melihat ke sembilan lentera merah diarah telaga sudah mulai bergerak pelan. Dalam perjalanan. kemudian pelan-pelan ia baru menuju ke rumah kediaman bibi Wan nya Waktu itu udara sangat gelap. angin malam yang berhembus lewat membawa suara deburan ombak dari tanggul telaga. mau tak mau Lan See giok harus meningkatkan kewaspadaannya..203 Lan See giok tahu. sementara telinga nya dipasang lebar-lebar. Berapa waktu kemudian. Dengan meningkatkan kewaspadaannya dia maju terus ke depan. bila di kemudian hari Oh Li cu membutuh-kan sesuatu kepadanya. Ia terbayang pula bagaimana Oh Li cu menangis karena sedih dan gelisah. semalam ini me-ngapa enci Ciannya belum juga tidur Padahal biasanya sudah naik ke atas pem-ba-ringannya. cuma satu dua buah rumah saja yang masih bersinar. Diam-diam ia bersumpah di dalam hati. betul ia tidak terlalu menyukainya. kesemuanya ini membuat hatinya terharu. pihak Wi-lim-poo sudah mulai menarik pasukannya kembali ke kapal. oleh sebab itu dia pun membayangkan kem-bali keadaan Oh Li cu entah bagaimanakah perasaan perempuan itu kini? la teringat pula cinta kasih serta perhatian dari Oh Li cu ter-hadapnya selama berapa hari belakangan ini. Sampai di situ.pelan. ia bersedia menga-bulkan permintaan nya demi membayar se-mua ke-baikannya selama ini.

ia menerjang masuk ke arah jendela. agaknya paling tidak ia sudah menangis setengah harian lamanya. tapi hanya sebentar saja. ruangan segera men-jadi terang benderang-Ketika Lan See giok berpaling. Jendela belakang terbuka dan wajah bibi-nya muncul dari balik tirai. dilihatnya enci Cian sedang menyulut sebuah lentera dengan wajah gugup. di bawah sinar lentera. sepasang matanya merah membengkak. Lan See giok melom-pat terus masuk ke dalam ruangan. dimana ayahmu?" Lama sekali Lan See giok sesenggukan se-belum sahutnya amat pedih. dengan jelas Lan See giok dapat mendengar debaran jantung bibi Wan yang semakin bertambah kencang. "Anak Giok kah yang datang?" Seperti anak yatim piatu yang btiba-tiba mendejngar suara pangggilan ibunya. terlihat jelas wajah Ciu Siau cian basah oleh air mata. apakah selama beberapa hari ini kau tidak kembali ke kuburan kuno?" Lan See giok segera menubruk ke dalam pangkuan bibinya dan menangis tersedu. sedang bibi Wan melirik sekejap ke sekeliling hala-man dengan seksama. namun ia tetap menjaga kewaspadaan nya terhadap keadaan lingkungan. . dipandangnya Lan See giok dengan terkejut lalu bisiknya: "Ayo cepat masuk!" Sambil berusaha keras mengendalikan rasa pedih di dalam hatinya. "Anak Giok. dengan gelisah ia bertanya. Dengan perasaan terkejut dia melejit ke udara dan segera melayang masuk ke dalam pekarangan. "Ayah telah dibunuh orang!" Untuk sesaat suasana dalam ruangan menjadi hening. setelah memanggil "bibi" dengan lirih. Baru saja kakinya menempel di atas tanah---Mendadak dari dalam kamar tak bersinar di sisi kamar enci Cian nya bergema suara teguran yang lembut. kemudian cepatcepat menutup kembali daun jendelanya. karena dengan cepat isak tangisnya berubah menjadi se-senggukan belaka Tampaknya bibi Wan sudah merasakan firasat jelek. Cahaya api berkilat. "Anak Giok. abir mata segera bercucuran membasahi wajah Lan See giok.204 setelah mendengar suara isak tangis dari enci Ciannya yang lamat-lamat bergema datang dari kamar tidurnya.

butiran air mata kembali jatuh bercucuran membasahi wajahnya. Sewaktu bercerita tentang si kakek ber-jubah kuning." Secara ringkas dia pun menceritakan kem-bali semua peristiwa yang disaksikan mau-pun dialaminya dalam kuburan kuno tempo hari. . agaknya sedang merenung-kan sesuatu . Lan Seer giok tahu bibiz Wan sedang amawt sedih saat itru. .205 Ketika ia berpaling lagi ke arah bibi Wan. bibi. potongan wajah serta ciri khas dari lima manusia cacad dari tiga telaga. siapakah musuh besar kita?" "Ketika anak Giok pulang tempo hari ayah telah meninggal dunia. tanpa terasa serunya sambil menangis: "Oooh . bibi . Karena itu sekali lagi dia berseru: " Oooh.." kata bibi Wan sambil mengawasi wajah Lan See giok yang basah oleh air mata. pertanda dia diminta melanjutkan ceritanya. keningnya berkerut dan dua baris air mata mengalir ke luar membasahi bibirnya yang gemetar. Bibi Wan serta enci Cian masing-masing duduk di kursi bulat dan mendengarkan pe-nuturan tersebut dengan seksama. kemudian berkata lagi agak se-senggukan: "Aku telah memperingatkan kepadanya. Lan See giok segera menarik kesimpulan kalau hubungan antara bibi Wan dengan ayahnya pasti luar biasa.. Bibi Wan menyeka air matanya dengan ujung baju. "beritahu kepada bibi. bibi!" "Anak Giok. . Cerita Lan See giok sangat jelas. . . " Tiada hentinya dia menggoyang-goyangkan lengan bibi Wannya. . . lebih baik dikembalikan secepatnya daripada me-mancing datangnya bibit bencana!" Ketika berbicara. bersinar terang sepasang mata bibi Wan. terutama mengenai dandanan. kemu-dian menggeleng. Dengan pandangan kosong ia mengawasi sudut ruangan. "Anak giok tidak memperhatikan soal ini!" Bibi Wan berkerut kening lalu manggut-manggut. Mendengar perkataan tersebut. . tampak wajah bibinya pucat pias. . kalau toh barang tersebut tak berguna. tanpa terasa ia berbisik lirih: "Apakah diantara alis mata kakek ber-jubah kuning itu terdapat sebuah tahi lalat merah?" Lan See giok termenung sebentar. duduklah. .

jadi tak bisa dibanding kan mereka dengan kelima manu-sia cacad tersebut. sedang Li Ci-san orangnya terbuka dan berjiwa besar. kemudian menundukkan kepalanya rendahrendah. seperti manusia bangsa Oh Tin san.206 Sewaktu Lan See giok bercerita tentang si manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san menangisi jenazah lalu bagaimana mencuri pedang dan sebagainya. ia pun melanjutkan kembali cerita nya. biar-pun kaum laknat pandai ber-bicara. dengan nada tidak puas. tapi jangan pula dinilai dari si-kapnya dan caranya berbicara manis.. ia mengiakan cepat-ce-pat. Paras muka Lan See giok ikut berubah menjadi merah dadu. harus kau hormati kedua orang itu sebagai angkatan tua." Lan See giok mengiakan berulang kali. tidak sulit untuk me-ngetahui baik tidaknya seseorang. asal kau bersedia memperhatikan dengan seksama. "Menilai seseorang jangan berdasarkan wajah saja. Ciu Siau cian yang duduk di sampingnya segera nyelutuk de-ngan nada cemburu. Thio-Lok--heng orangnya jujur dan polos. . coba kalau tidak. Bila kau berjumpa lagi dengan mereka di kemudian hari. "Apakah dia adalah gadis yang menung-gang kuda bersama-sama kau hari ini?" Selesai berkata dengan wajah bersemu merah karena jengah dia melirik sekejap ke arah ibunya. ia segera berkata: "Si naga sakti pembalik sungai Thio-Lok-heng serta naga emas pengaduk samudra Li Ci-san dari telaga tong ting oh termasyhur dalam dunia persilatan karena ilmu dalam airnya. ke-mudian dia melanjutkan kisahnya bagai-mana memasuki benteng Wi-lim-poo. jangan bersikap kasar atau kurang ajar sehingga merosotkan pamor dari mendiang ayahmu. hal ini membuktikan kalau pikiranmu ter-sumbat waktu itu karena kese-dihan yang berlebihan" Kemudian sesudah berhenti sebentar. kembali bibi Wan menukas. kedua orang itu dijuluki Sui sang siang hiong (sepasang jagoan dalam air) oleh umat persilatan. kenyataannya kau dapat dikibuli dengan begitu mudah. ketika berce-rita tentang On Li cu. kedua orang tersebut merupakan pendekar yang dihormati umat persilatan baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam. setelah itu meneruskan ceritanya bagai-mana kudanya kaget. mungkin kita tak akan bisa berjumpa muka lagi" Lan See giok mengiakan dengan wajah je-ngah. toh akhirnya bakal salah berbicara juga. dia melanjutkan: "Untung saja kau mudah dikibuli ketika itu. Tatkala bibi Wan mendengar Lan See giok mencurigai si naga sakti pembalik sungai Thio Lok-heng sebagai otak dari ke lima manusia cacad.

suasana dalam ruangan kembali dicekam keresahan.207 kemudian bagaimana dia manfaatkan kesempatan itu untuk mela-rikan diri. lagi-lagi kau usil mulut!" Kejut dan girang Lan See giok setelah mendengar perkataan itu. ia menjadi ter-tegun. kalau ditinjau dari penu-turanmu tadi. namun manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san terhitung manusia paling mencu-rigakan . usahaku untuk membalas dendam bagi ayahku tak akan lancar." Berbicara soal membalas dendam. bila anak Giok tidak menguasai ilmu dalam air. kau harus mengajar-kan ilmu kepandaian tersebut kepada anak Giok.. ada tiga diantaranya menjagoi telaga. dari kelima manusia cacad. . diantaranya meski si iblis buas bermata tunggal dan beruang berlengan tunggal yang mencuriga-kan. Hu-yong siancu Han Sin Wan baru berkata lagi. kepada. bibi. " "Atas dasar apa bibi mengatakan Oh Tin san paling mencurigakan?" sela Lan See -giok tidak mengerti. Hu-yong-siancu Han Sin wan menghela napas sedih. Sebagai akhir kata dia menambahkan.ada suhu lihay tak mau minta pelajaran. Mendengar perkataan tersebut sambil ter-tawa Ciu Siau cian segera berkata: "Ibu adalah Hu-yong siancu (dewi Hu-yong) yang amat termasyhur dalam dunia persilatan. kau malahan---" Belum habis perkataan itu diutarakan. kelima manusia cacad tersebut memang mencurigakan semua. "Anak Cian. kemudian setelah berhasil menenang-kan pikiran nya dia berseru dengan gembira. "Oh Tin san merupakan seorang manusia yang kejam dan berhati buas. andaikata semalam tiada orang yang mencuri dengar tentang rahasia kotak kecil di luar jendela anak Giok berniat be)ajar ilmu berenang lebih dulu sebelum datang kemari menengok bibi dan enci Cian!" Tanpa terasa dia mencuri lihat sekejap lagi ke arah Ciu Siau cian. yang paling mencurigakan dari perbuatannya adalah ia tidak membunuhmu . Han Sin wan telah menegur putrinya. ilmu berenang siapakah di kolong langit saat ini yang bisa me-nandingi Han Sin wan? Selain mengalah-kan naga sakti pemba-lik sungai pernah juga mengungguli si naga emas pengaduk samudra-. "Anak Giok. "Ilmu berenang dari bibi rupanya hebat sekali dan ternyata anak Giok tidak me-nge-tahui sama sekali. Setelah lewat berapa saat. "Oh Tin-san pernah memerintahkan kepada putrinya memberi pelajaran berenang. anak Giok sejak hari ini.

. tanpa terasa Ciu Siau cian menutupi bibirnya sambil tertawa." "Yaa. seperti misalnya si tongkat besi berkaki tanggal Gui-Pak-ciang yang kau maksudkan. bagaimana mungkin bisa dibilang telah tua? Tak heran kalau dia menjadi tertegun saking kagetnya." Lan See giok berkerut kening..208 melainkan menghajar mu sampai pingsan. kau boleh minta kepada enci Cian mu agar mengajarkan ilmu berenang.. Oh Tin San baru turun tangan mem-bunuhnya" ucap Han Sin wan dengan ber-sungguh sungguh. dia melirik seke-jap ke arah putri kesayangannya. halus dan lembut. apa sebabnya mereka bisa berkumpul pada malam yang sama. " . di mata Lan See giok paling banter bibinya baru berusia dua puluh enam tujuh tahunan. mengapa mereka bisa muncul bersama sama dalam kuburan kuno pada malam itu . bisa jadi dia takut si binatang ber-tanduk tunggal membocorkan rahasia kotak kecil itu. lalu menggunakan ke-sempatan tersebut membinasakan si bina-tang bertanduk tunggal. Memandang wajah kaget yang menghiasi wajah Lan See giok. dulunya ia lebih dike-nal sebagai Kun lui koay (tongkat geledek) yang merajai wilayah Soa lam. . bibi sudah kelewat tua sehingga tak mungkin bisa mengajarkan sendiri kepadamu. bibi sendiripun kurang jelas." Sekilas perasaan sedih segera menghiasi wajah Hu-yong siancu. "siapa tahu hal ini dise-babkan dia kuatir si binatang bertanduk tunggal akan membocorkan rahasia kotak kecil.. anggun. lalu sambil mengulumkan senyuman. lanjutnya: Sedangkan mengenai belajar ilmu be-renang. sedikit sekali masalah dunia per-silatan yang kuketahui. Hu-yong siancu tersenyum. sedang tokoh-tokoh lima manusia cacad pun baru muncul berapa tahun belakangan ini. dia masih nampak muda. "Sudah banyak tahun bibi bersembunyi di tepi telaga. hanya terusnya: "Mulai besok.... atau mungkin juga kuatir kalau si bi-natang bertanduk tunggal akan menuding Oh Tin San sebagai pembunuh sesungguhnya . sebab sebelum peristiwa itu ber-langsung si binatang bertanduk tunggal me-mang bersembunyi pula di tempat kegelapan !" "Justru karena si binatang bertanduk tunggal bersembunyi dalam kegelapan itu-lah.. . lalu dengan wajah tak mengerti ia bertanya: "Selama ini lima manusia cacad menguasai wilayah yang berbeda. Benar.. . dia tidak menanggapi pertanyaan Lan See giok terse-but. ujarnya sedih." "Apa? Bibi sudah tua?" Lan See giok melongo. .. cantik. Berbicara sampai di situ.

menderita dan malu serta pelbagai perasaan lain yang ber-campur aduk. mau tak mau harus kusanjung dirinya agar tidak curiga. oleh sebab itulah aku tak berani menerima permintaan dari ibu untuk mem-beri pelajaran kepadamu. Ciu Siau cian yang terbayang kembali ba-gaimana ia merasa kecewa. meman-faatkan kesempatan itu ujarnya sambil ter-tawa: "Siaute berani bersumpah kepada langit." Memandang wajah Lan See giok yang merah membara karena gelisah. hal ini memang merupakan pucuk dicinta ulam tiba baginya. segera ujarnya: "Siau cian. tak tahan lagi katanya dengan hambar "Aku tahu kalau diriku ini rendah dan tak mungkin bisa menandingi si nona terhormat dari keturunan keluarga ternama. aku tak lebih hanya gadis dusun yang tak tahu soal adat. Sambil tertawa paksa." Mendengar perkataan itu. bagaimanakah posisi adik Giok mu waktu itu tentunya sudah kau ketahui. anak Cian. . "Oooh. bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan enci Cu yang pan-dai. wajahnya bersinar cerah ujarnya kemudian sambil tersenyum. Nah. ilmu berenang lagi pula terhitung ketu-runan keluarga persilatan yang terhormat ." Mendengar bibinya membelai dia. katanya dengan gem-bira: "Kalau begitu siaute ucapkan banyak teri-ma kasih dulu kepada cici Cian.. Lan See giok menjadi gugup. dari mu-rung Lan See giok menjadi gembira. kali ini dia menjura dalam sekali hingga sepasang tangannya hampir menempel di atas tanah. . . maka sambil melompat bangun dan menjura kepada Ciu Siau cian.. bila cici sampai dibuat marah. sekali lagi dia menjura dalam-dalam. katanya kemudian dengan gugup. harap cici jangan mengingatnya terus dihati" Sambil berkata. apa lagi yang hendak kau katakan sekarang?" . cici! Mengapa kau masih meng-ingat ingat kata lelucon tersebut? Dalam situasi dan kondisi siaute waktu itu.209 Lan See giok girang sekali. Hu-yong siancu tersenyum. selama hidup aku tak berani lagi membuat cici marah. dia memang tidak menyangka kalau enci Cian nya yang lemah lembut ternyata mempunyai rasa cem-buru yang begitu besar. tanpa terasa Han Sin wan melirik sekejap ke arah putrinya sambil tertawa riang.. buat apa sih mesti menyiksa dia. siaute bersedia untuk berlutut di depan cici dan menerima hukuman." Siapa tahu Ciu Siau cian segera menghin-dar ke samping sambil berseru: "Aaah.

kalau orang melihat gerak gerikku. mereka bilang kotak kecil itu berisi-kan kitab pusaka Tay lo hud bun tiap yap cinkeng. itukan menghadapi orang tua atau angkatan yang lebih tua---" seru bibi Wan sambil tertawa geli. se-lain angin malam yang berhembus lewat menggoyangkan dedaunan serta ranting dan suara ombak telaga yang memecah di tepian tanggul. benarkah itu?" Bibi Wan tidak langsung menjawab. ayah selalu menyuruh anak Giok berlutut sebagai hukuman. anak Cian bukan enggan memberi pelajaran kepada adik Giok.tiba saja dia memasang telinga dan mende-ngarkan dulu keadaan di sekeliling tempat tersebut . mereka bisa salah sangka. mukanya merah sampai ke telinga. tempat persembunyian kita di tempat inipun akan segera tersebar luas pula dalam dunia persi-latan." "Anak Giok. apalagi si manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san bertekad akan mendapatkan kotak kecil itu. pihak Wi-lim-poo pasti tak akan mele-paskan pengejarannya. Suasana di luar halaman amat hening. sahutnya dengan suara lirih: "Betul.210 Ciu Siau cian malu sekali. oleh sebab itu mereka . apalagi dengan kaburnya adik Giok mu. . Belum habis perkataan tersebutb. kitab pusaka tersebut benar-benar merupakan mestika dunia persilatan yang diidam idamkan setiap umat persilatan."" Hu-yong siancu segera memahami maksud putrinya. sambil tertawa ujarnya lagi. sebab dengan begitu akan menarik perhatian orang banyak.. Dengan wajah serius diapun manggut-manggut. sungguh men-dongkol kan---" Sekali lagi Lan See giok berdiri melongo si-kap enci Cian dan sikap bibinya boleh dibi-lang merupakan dua reaksi yang berbeda. dengan wajah jbersemu merah Cgiu Sian cian sebgera menimbrung: "Ibu. sambil menghentak-hen-takkan kakinya dengan manja serunya: "Sungguh mendongkolkan. tak kedengaran suara yang lain.. sambil memandang ke arah bibinya ia pun berkata agak tersipu sipu: "Aku tidak tahu apakah kembali salah ber-bicara. tapi sedikit sekali yang tahu dimanakah ilmu sakti tersebut tercatat. .. cuma kurasa disini terlalu banyak mata-mata." Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan itu. tanyanya tanpa terasa: "Bibi. "Tentu saja pelajaran tak boleh diberikan disiang hari. dulu kalau anak Giok telah me-laku-kan kesalahan.. tiba.

211 yang tidak mengetahui rahasianya. mari kita lihat sampai di manakah rejekimu?" Ia beranjak menuju ke jendela belakang dan mengintip sekejap keadaan di sekitar sana dengan cekatan. dengan nada memohon segera ujarnya: "Bibi. bibi dan enci Cian kita akan berhasil memahami rahasia kitab pusaka tersebut?" "Baiklah. Saat ini satu ingatan tiba-tiba melintas di dalam benaknya... "malam ini." Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan itu. ter-dengar bibi Wan kembali berkata: "Bibi pernah menasehati ayahmu. . sedang keadaan yang sebenar-nya tidak bibi ketahui.." sahut Hu-yong siancu tanpa ragu-ragu.. --"Apakah bibi mengetahui bagaimana cara nya membaca kitab pusaka tersebut?" Hu-yong siancu menghela napas sedih: "Aai. bukankah kejadian tersebut sama artinya dengan ayahnya telah mengorbankan selembar jiwanya demi suatu benda "rongsokan"? Apakah hal ini tidak kelewat tidak berharga? Sementara dia masih termenung." Lan See giok hanya ingin cepat-cepat men-getahui kisah ayahnya sampai mendapatkan kotak kecil itu. darimanakah ayah peroleh kotak kecil itu?" Sorot mata bibi Wan menjadi redup. kalau toh tak dipahami rahasia dari kitab pusaka tersebut. tak mampu kupahami arti dari pelajaran tber-se-but" Betjapa kecewanya Lgan See giok setbelah mengetahui hal ini.. kemudian tubuhnya melompat ke luar dan sekejap kemudian su-dah lenyap dari pandangan. buru-buru ia ber-tanya: "Bibi. bersediakah kau mengeluarkan ko-tak kecil itu agar giok ji periksa? Sekarang hari sudah malam. tanpa terasa tanyanya dengan gelisah. karenanya ia tidak ter-lalu memperhatikan perubahan wajah bibi-nya. seperti juga ayahmu. lebih baik segera dikirim kembali saja. ayahmu telah berjumpa dengan kekasihnya yang telah menikah di bawah puncak Giok-li-hong di bukit Hoa san dan secara kebetulan juga mendapatkan ko-tak kecil itu. seakan akan terbayang kembali kisah dimasa silam. siapa tahu dengan tenaga pikiran giok ji. lama kemudian dia baru berkata: "Bibi hanya tahu. bibi bukan orang yang berjodoh dengan Buddha. mendapat kan benda tersebut sama artinya dengan memperoleh benda rongsokan!" Lan See giok sendiripun sangat berharap bisa mempelajari kepandaian sakti yang ter-cantum dalam kitab pusaka itu.

pelan-pelan ia mem-buka penutup kotak itu. seketika itu juga suasana dalam ru-angan dicekam kegelapan. Mendadak. Dari arah tepi telaga sana. Di dalam kotak itu berisikan tiga buah daun emas yang panjangnya beberapa inci. Bayangan mzanusia kembali wberkelebat le-wrat. suasana di sekeliling tempat itu dicekam dalam keheni-ngan yang luar biasa. Berhubung Lan See giok sudah tahu kalau isi kotak tersebut berisikan sejilid kitab pusaka. ternyata di tangan bibi Wan telah bertambah dengan sebuah kotak kecil berwarna kuning yang empat inci lebarnya. Lan See giok menutup jendela dengan ce-pat kemudian berpaling.212 Ketika Lan See giok turut menengok ke de-pan. mereka pun berusaha memusatkan segenap perhatiannya untuk turut memeriksa ke tiga lembar daun emas tadi. namun apa yang ditemukan tak lebih cuma daun emas biasa.. sedemikian hening nya sampai masing-masing dapat mendengar de-tak jantung lawannya.. Biarpun bibi Wan nya terhitung seorang pendekar wanita yang namanya menggetar kan dunia persilatan. maka dalam hati kecilnya timbul perasaan hormat.. cepat-cepat dia menutup kembali kotak tersebut dan menyerahkannya kembali kepada bibi Wan. polos dan halus sekali. Lan See giok sangat terkejut. lamat-lamat kedengaran suara yang amat lirih. daun dan ranting bergoyang lembut. Dengan hormat sekali Lan See giok mene-rima kotak kecil itu kemudian setelah mele-paskan kain kuningnya.. wajahnya ber-ubah menjadi serius dan sepasang tangannya turut gemetar. sedang bin-tang berkedip kedip memancarkan cahaya nya. Pertama tama Hu-yong siancu yang me-rasakan lebih dulu. Untuk beberapa saat lamanya.. tengah malam sudah lewrat. gerakan tubuhnya ri-ngan dan sama sekali tidak menimbulkan suara. setelah memegang ko-tak kecil berisi kitab pusaka itu. dengan cepat dia menge-baskan tangannya untuk memadamkan len-tera. toh terpe-ngaruh juga oleh emosi. sinar gemerlapan segera memancar ke mana-mana. . Lama sekali Lan See giok memperhatikan benda tersebut namun gagal untuk menemu-kan sesuatu yang mencurigakan. apalagi ke tiga lembar daun emas itu tidak beraksara tidak pula bergambar. rembulan nampak bersinar cerah. bibi Wan dengan jurus walet lincah menerobos tirai sudah melayang masuk kembali ke ruangan.-Hu-yong siancu serta Ciu Siau cian berdiri membungkam di belakang Lan See giok.

dia cuma berharap bisa bersama dengan enci Ciannya untuk selama lamanya . dan bau tadi membuat ia merasa gembira dan sangat nyaman. Dalam keadaan begini. terselip pula bau harum khas dari enci Ciannya. Lan See giok menyusul di belakang Ciu Siau cian. Ciu Siau cian tidak menolak sebab ia se-dang memusatkan semua perhatiannya un-tuk mengintip melalui celah-celah pagar pekarangan. dia tidak ber-hasrat untuk memikirkan hal lain lagi. Sudah lama dia mimpikan menggenggam tangan enci Ciannya yang lembut. Ketika Lan See giok merasa tangannya di-genggam oleh tangan enci Cian nya yang ha-lus dan lembut seakan akan tak bertulang. tubuhnya. di bawah cahaya rembulan mereka hanya sempat melihat potongan badannya saja. Mendadak Ciu Siau cian menyikutnya pe-lan. dan perasaan ini dapat membikin jantungnya berdebar keras dan wajahnya bersemu merah. . lalu dengan nada kaget ia berbisik: "Ibu. Lan See giok segera tersadar kembali dan mengalihkan pandangannya ke arah telaga.213 Sedangkan Ciu Siau cian memasang telinga baik-baik sembari mengerdipkan ma-tanya. Diantara bau harum itu. dan kini harapannya telah menjadi kenyataan. Ketika Ciu Siau cian mengetahui adik Gioknya menyusul. lalu menarik tangan pemuda itu dan diajaknya menuju ke pintu pekarangan. . tanpab disadari ia mejnggenggam tangagn Ciu Siau cianb semakin kencang. mereka bersama sama berdiri di belakang pintu. segulung hawa panas yang segar dengan ce-pat menyusup ke dalam lubuk hatinya. Tanpa terasa ia bersama Ciu Siau cian te-lah berjongkok di bawah pagar pekarangan. bau harum semerbak yang berhembus lewat membuat hatinya berdebar semakin keras. Dari bawah tanggul telaga tampak ada tiga sosok bayangan manusia sedang ber-gerak mendekat. udara terasa sedikit di-ngin. seperti ada perahu yang merapat di tepi telaga!" Dengan langkah terburu buru dia me-nuju ke luar. . membuka pintu rumahnya sedikit lalu mengintip ke luar segulung angin dingin berhembus masuk. Mengikuti di belakang gadis tersebut sekarang. dengan cepat ia mem-beri tanda. sebaliknya Lan See giok malah termangu . seolah-olah melayang di atas awan.mangu oleh kecantikan wajah kekasih hatinya ini. dia seperti sudah melupakan segala ketegangan yang dirasakan hanya se-macam perasaan aneh yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

udara yang hangat dan harum... "Siapakah mereka? Apakah perempuan yang bernama Oh Li cu?" Suara yang halus. Tanpa terasa dia lantas menggenggam ta-ngan Ciu Siau cian kencangkencang. dia telah menyaksikan bibi Wan berdiri di belakang pintu pagar dengan wajah tenang. Baru berpaling. "Bukan hanya 0h Li cu seorang. Betapa leganya Lan See giok setelah meli-hat bibinya munculkan diri.. sungguh merupakan suatu rangsa-ngan yang luar biasa. agaknya dia pun sedang me-ngawasi gerak gerik Oh Tin san bertiga. Oh Tin san. ke enam mata mereka yang ta-jam dialihkan kemari tiada hentinya. setelah itu dia menuding ke tepi telaga. Oh Tin san dan Say nyoo-hui segera mengalihkan sorot mata mereka yang tajam bagaikan sembilu ke arah depan. hanya sayang Lan See giok yang tegang sehingga dia sama sekali tidak merasakan akan hal tersebut. tanpa terasa bisiknya lirih: "Bibi. Lan See giok mengangguk dengan gelisah sahutnya dengan nada gelisah. begitu diintip dia menjadi kagetnya setengah mati. Tiba-tiba Oh Li cu menuding ke muka. ternyata Oh Tin san berti-ga sedang berbisik bisik seperti merunding-kan sesuatu. Ciu Siau cian segera merasakan akan hal itu. meski demikian rasa tegang toh belum mereda. bahkan hampir saja men-jerit tertahan. Dalam pada itu Oh Tin San dan Say nyoo-hui sedang memberi gerakan tangan kepada Oh Li cu. kedua orang lainnya adalah orang tua mereka.214 Mendingan kalau Lan See giok tidak meli-hat. tak tahan dia berpaling ke arah pintu rumah mohon bantuan. cepat-cepat dia mengangguk dan kemudian meng-alihkan kembali sorot matanya ke arah tepi telaga. Lan See giok merasakan tubuhnya gemetar keras. . rupanya ke tiga sosok manusia yang baru saja melompat turun dari tanggul telaga itu adalah si manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san. mengikuti tudingan itu. agaknya dia sedang menanyakan bkejadian yang djialaminya hari gini kalau di tibnjau dari wajah Oh Tin san tampaknya dia amat gusar. Say nyoo-hui KiCi-hoa serta Oh Li cu yang cantik tapi genit itu." Sewaktu Ciu Siau cian mendengar perka-taan itu dia seperti agak terkejut pula. dengan cepat dia berbisik. Menyaksikan sorot mata mereka. Oh Tin san serta Say nyoo-hui." "Ssst--!" Hu-yong siancu menempelkan jari tangannya ke atas ujung bibir me-lakukan gerakan melarang berbicara. Lan See-giok memahami maksudnya dan berpaling kembali.

Hu-yong siancu mengikuti di belakang mereka dengan sikap yang tenang. Rambut Oh Li cu sangat kusut. . sementara sepasang matanya telah merah membengkak karena kebanyakan menangis. Say nyoo-hui Ki-Ci-hoa berkerut kening juga. dwia tidak berhasrrat lagi untuk mendengarkan apa yang dibicara-kan bibi Wan nya. Saat ini dia mengenakan pakaian ringkas berwarna merah. sekalipun dia sayang anak tapi berhu-bung masalahnya menyangkut suatu urusan besar. Oh Li cu telah mengangguk dengan pasti. Peluh dingin dengan cepat bercucuran membasahi tubuh Lan See-giok. dengan gugup dia me-nyandarkan diri dekat jendela depan. . dia menuding ke arah pepo-honan ditengah halaman. pintu rumah sekalian ditutup rapat. kali ini Oh Tin san suami istri serta Oh Li cu telah berdiri di luar pagar sambil menengok ke dalam rumah. maka dia menarik tangan Ciu Siau cian dan bersama sama kembali ke dalam kamar. Ke tiga orang itu bersama sama memberi tanda.215 Mendadak . Lan See giok mengangguk dengan gugup kemudian berjalan masuk ke dalam kamar tidur bibinya. cepat dia berpaling. sementara tangannya yang kurus kering menuding kesana ke mari seperti lagi me-nanyakan sesuatu. disaat dia hendak melangkah ke dalam kamar dilihatnya enci Cian sedang dibisiki sesuatu oleh ibrunya. Oh Tin san segera melejit ke udara dan melayang turun ke dalam halaman. waktu itu mereka sedang berbisik bisik sambil menuding ke sana ke mari. lalu memberi tanda kepada Lan See giok agar bersembunyi di ruang dalam. Sorot mata sesat kelihatan mencorong ke luar dari balik mata Oh Tin San. diperingatkan sebelum di-panggil agar jangan munculkan diri. sebilah pedang tersoren di punggungnya. dengan wa-jah penuh amarah dia mengawasi Oh Li cu. Dalam suzasana begini. . lalu membuat sebuah lubang kecil pada kertas jendela tadi. keningnya berkerut dan bibirnya cemberut. Sementara itu. Tanpa banyak membuang waktu. maka dia seakan-akan tak sanggup lagi untuk membendung amarah 0h Tin San terhadap putrinya. sedangkan Say nyoo-hui serta Oh Li cu mengikuti di bela-kangnya. Baru saja mereka bertiga menginjakkan kakinya ke atas tanah. Dari situ kembali dia mengintip ke muka. kemudian berjalan mendekati ba-ngunan rumah mereka. bibi Wan nya memberi tanda kepadanya agar kabur secepatnya.

tak ada salahnya aku berbicara secara blakblakan. Paras muka Oh Tin san suami istri berubah hebat. kemudian gelengkan kepalanya dengan tidak me-ngerti. . setelah berseru tertahan mereka mundur setengah langkah. . malam sudah larut." Merah padam selembar wajah Oh Tin san dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak. sebagai manusia yang berpengala-man. Kemunculan tuan rumah yang amat tiba-tiba ini sangat mengejutkan Oh Tin San suami istri. .216 "Kraak. . "Entah apa maksudmu?" Paras muka Oh Tin san berubah. setelah tertawa dingin katanya dengan suara dalam. "Kini. sambil tertawa ham-bar Hu-yong siancu berkata: "Selama ini kalian menjagoi dunia per-si-la-tan dengan bercokol di benteng Wi-lim-poo. entah ada perso-alan apa kalian suami istri bersama putri kalian berkunjung ke mari? Gubuk kami reyot. bila lihiap tidak berbohong. nama besarnya sudah termasyhur sampai di seantero dunia. malam ini sengaja kami datang untuk me-ngambil kembali kitab pusaka Tay lo tiap yap cinkeng. Hu-yong siancu dengan wajah yang anggun dan tenang telah berdiri angker di depan pintu. malah dengan senyum dikulum dia melangkah ke luar dari dalam ruangan. "Bila kau mengaku tak tahu. dia melanjutkan. tapi hanya sebentar saja paras muka mereka segera pulih kembali seperti sedia kala dan menunjukkan sikap angkuh. tapi dalam waktu singkat mereka berhasil me-nguasai kembali keadaan. tentunya sudah kau ketahui bu-kan apa maksud kunjungan kami pada ma-lam ini" Hu-yong siancu berkerut kening. Hu-yong siancu tidak menunjukkan sikap apapun. tentunya kau tahu bukan sepasang tangan susah melawan empat tangan. sahutnya sambil tertawa nyaring: "Hu-yong siancu adalah seorang pendekar wanita yang namanya sudah menggemparkan lima telaga dan sekarang hidup menyendiri di tepi telaga untuk mencari kehidupan yang aman damai.!" Tahu-tahu pintu depan terbuka lebar. senyum dingin segera menghiasi lagi ujung bibir mereka. Setelah berdiri tegak. bila tidak keberatan silahkan masuk ke ruangan untuk minum teh dulu. kami suami istri berdua tak lebih hanya manusia kasar. ujarnya hambar. agaknya kejadian tersebut sama sekali di luar dugaan. kami ibu dan anak ber-un-tung sekali bisa hidup bertetangga dengan kalian dengan mendirikan gubuk reyot di tepi telaga" Kemudian setelah memandang seke-jap kearah Oh Li cu.

terpaksa kami akan mengerubutib lihiap" Dengajn wajah berlagagk kaget bercampbur keheranan Hu-yong siancu segera berseru. "Kotak kuning itu diserahkan oleh Gurdi emas peluru perak Lan tayhiap kepadaku agar disampaikan kepada seorang cianpwe. "Di atas bukit sana. aku seperti tak pernah mendengar harus menyerahkannya kepada mu" Berubah paras muka Oh Tin san setelah mendengar ucapan itu. . suaranya tinggi melengking per-sis seperti suara kucing kawin. "Siapakah ciancu itu?" Hu-yong siancu menggelengkan kepala nya berulang kali: "Di dalam suratnya Lan tayhiap tidak menjelaskan siapakah manusia tersebut. Oh Tin san suami istri serta Oh Li cu ber-tiga merasakan hatinya bergetar keras. tapi untuk mem-bela diri. Say nyoo-hui memutar biji matanya. Selain Hu-yong siancu sendiri yang di bikin tak mengerti oleh suara tertawa lengking itu. se-lain itu dia pun mempunyai sebuah ciri yang sangat khas . . sebab mereka serentak teringat kembali de-ngan Lan See giok yang hilang lenyap. peluh dingin jatuh bercucuran dengan amat deras." Ketika mendengar perkataan terbsebut. setelah itu melanjutkan: "Adapun ciri khas dari manusia berjubah kuning itu adalah pada keningnya terdapat sebuah tahi lalat yang berwarna merah!" Sekujur badan Oh Tin san gemetar keras. "Lan Khong-tay memerintahkan kepada-mu harus menyerahkan kotak kecil itu ke-pada si manusia aneh tersebut pada saat kapan?" "Tengah hari tadi!" jawab Hu-yong siancu tanpa ragu. tanpa terasa mereka saling berpandangan sekejap. "Di tempat mana?" Hu-yong siancu menggerakkan alis mata nya. ia sudah bertanya dengan wajah kaget. tapi toh bertanya juga dengan nada tidak mengerti. lalu sambil menuding ke belakang rumah sahutnya. hanya diterangkan ia memakai jubah kuning."" Setelah berhenti sejenak dia memandang sekejap ke arah Oh Tin san yang wajahnya mulai memucat serta Say nyoo-hui yang berkerut kering. berambut perak dan berjenggot panjang. sekalipun Oh Tin san serta On Li cu sendiri-pun dibuat keheranan. tak sampai Hu-yong siancu menyelesaikan kata katanya. . Say nyooj-hui mendongakkgan kepalanya dabn ter-tawa seram. . .217 biar-pun kami bertiga sadar bukan tandingan lihiap. ke-mudian menimbrung.

ditatapnya wajah Say nyoo-hui yang sedang menyeringai itu lembut. Oh Li cu telah meloloskan pula pedangnya.. ke-mudian jawabnya dingin: "Dia adalah putriku Siau cian!" Say nyoo-hui melototkan matanya. kepalanya terasa pusing tujuh keliling.. dan gugup anak muda itu melompat turun dari pembaringan lalu melompat ke jendela belakang dan mem-bukanya dengan cepat. "Criing!" cahaya tajam berkilauan. tiba-tiba sepasang ta-ngannya berputar dan sepasang goloknya sudah diloloskan dari sarung. Lan See giok termangu mangu. Lan See rgiok tertegun lalu melongo. hampir saja ia roboh tak sa-darkan diri karena terkejutnya. makin besar. Si kakek berjubah kuning yang berwarna halus dan lembut itu tahu-tahu sudah mun-cul di luar jendela dengan senyuman diku-lum. Tapi. tenaga dalam-nya dihimpun ke dalam telapak tangan. "Lonio akan menggeledah!" Sembari berkata. Agaknya Hu-yong siancu tidak menyangka kalau Say nyoo-hui bakal berubah sikap sedemikian cepatnya. kendatipun kau cerdas dan lihay. mencorong sinar tajam dari balik ma-tanya. untung tiada suara yang terpancar ke luar. "Kemudian dengan mata melotot dan ter-tawa seram. Berubah hebat paras muka Lan See giok yang mengintip dari balik jendela. Karena kaget dan cemas.218 Selesai tertawa. aku tidak percaya dengan segala obrolanmu tersebut". ia menghardik: "Siapa yang berada di dalam ruangan?" Sambil membentak dia menuding kearah pintu kamar. sekalipun dia ternganga karena kagetnya. lalu dia bersiap siap untuk menerkam ke muka.seperti rdisambar gunturz disiang hari bwolong. kemudian setelah tertawa seram dia berkata: "Aku tidak percaya. . meski begitu dia tetap bersikap tenang. toh tampak juga kecerobohan mu itu." "Jika tidak percaya lantas kau mau apa!" Hu-yong siancu segera menarik mukanya dengan gusar. Say nyoo-hui kembali ber-kata dengan suara dingin: "Kau siluman rase cilik yang tak tahu diri. Memandang si kakek berjubah kuning yang berdiri di luar jendela itu. dia benar-benar tak menduga kalau situasi di dalam halaman akan mengalami perubahan sedemikian cepatnya. Sementara itu keberanian Oh Tin san pun nampaknya semakin menjadi.

apakah kalian sanggup me-lewati diriku sebelum dapat me-masuki ru-angan ini?" Oh Tin san termasuk manusia licik yang banyak curiga. Dengan buas penuh kebencian Say nyoo-hui melotot sekejap kearah Huyong siancu. . "Hmm. Sementara ia masih termenung. tapi ilmu meringankan tubuh yang demikian sempurnanya ini pada hakekatnya belum pernah di dengar atau dilihat olehnya. sekalipun kau sudah bercerita yang aneh-aneh. terutama setelah mendengar kalau Lan See giok telah diterima tokoh silat itu sebagai muridnya. sesudah memberi tanda agar jangan berisik. dia telah menyela dengan dingin. tapi sekalipun kepandaian silatmu lebih hebatpun jangan harap bisa me-nandingi kami bertiga . Sementara dia masih termangu.219 Mimpi pun ia tak pernah mengira bakal menjumpai kakek berjubah kuning itu di rumah bibi Wan nya. sekalipun ia berada dalam rumah. "Oh Tin-san. Dalam pada itu suara bentakan gusar dari Hu-yong siancu telah berkumandang lagi dari tengah halaman. lalu setelah tertawa dingin katanya. silahkan dicoba. ti-dak sampai Say nyoo-hui menyelesaikan kata katanya. kalau toh kau yakin gabungan tenaga kalian bertiga sanggup mengatasi diriku. betul juga. bukan saja aku Han Sin wan akan serahkan Lan See giok kepada kalian. asal satu diantara kalian bertiga sanggup melewati diriku dan memasuki ru-angan. bayangkan saja. kakek berjubah kuning itu sudah melompat masuk ke dalam ruangan dengan enteng tanpa menimbulkan sedikit suarapun. Diam-diam Lan See giok amat terkejut. kau tak usah bersilat lidah. kuanjurkan segera kau ajak istri dan putri mu untuk pergi meninggalkan tempat ini. tampak bayangan manusia berkelebat lewat. jangan mencari penyakit di tem-pat ini. Hu-yong siancu memang termasyhur sebagai perempuan cantik. "Ki-Ci-hoa. " Tergetar juga perasaan Hu-yong siancu. kakek berjubah kuning itu telah menepuk nepuk bahunya dengan lembut wajahnya sangat ramah penuh senyuman. sayang sekali aku tidak percaya kalau dalam dunia ini terdapat kejadian yang begitu kebetulan. kendatipun dia sudah tahu kalau si kakek berjubah kuning itu memiliki kepandaian si-lat yang sangat lihay. . jangan lagi Lan See giok telah diajak tokoh silat itu belajar silat di pegunungan terpencil. dia berjalan menuju ke pintu gerbang. kecurigaannya segera timbul setelah mendengar perkataan itu. dia merasa kepalanya seperti di-pukul dengan tongkat besar. .

mungkin bapak ibumu sendiri juga tak akan kau akui!" Baru selesai perkataan itu diutarakan. urusan jadi kacau gara--gara ulahmu.220 kitab pusaka Tay loo hud bun-pwee yap cinkeng-pun akan kupersembahkan ke pada kalian bertiga!. . seolah-olah dia sedang bertanya: Bagaimana sekarang? Tergerak hati Hu-yong siancu. "Tutup mulut. di hati kecil mereka merasa amat terkejut. . bentaknya penuh amarah. sambil menggertak gigi menahan dendam ia berseru kembali: "Terus terang kuucapkan kedatabngan kami pada jmalam ini adalagh bertujuan untbuk merebut kitab Tay lo-pwee yap cinkeng. tentu saja ia bukan hanya gertak sambal belaka. "Ibu. . tentu saja kami akan membawanya pula " Baru saja perkataan itu sudah diucapkan dengan wajah berubah Oh Li cu telah me-nimbrung. dia merasa kesempatan baik ini tak boleh disia-siakan dengan begitu saja. sebab ucapan tersebut kelewat tekebur. se-dang soal Lan See giok. balik!" Tapi suasana di luar halaman sangat he-ning. bagi kami bukan menjadi masalah yang serius. yang terdengar hanya ujung baju ter-hembus angin yang makin menjauh. BAB 11 PARAS muka Oh Tin san suami istri sama-sama berubah. teriaknya tanpa terasa: "Anak Cu. jangan-jangan Hu-yong siancu telah berhasil mempelajari berapa diantara nya? Kalau tidak. bila kau bersedia serahkan pula kepada kami. segera ujarnya dengan suara hambar: . Oh Tin san memandang sekejap ke arah Say nyoo-hui yang tampaknya mulai menye-sal dengan pandangan gelisah. Oh Li cu sudah melejit ke tengah udara dan ka-bur menuju ke luar halaman . dengan pamor Hu-yong siancu di dalam dunia persilatan. masa ia berani berbicara membual . begitu mende-ngar perkataan dari Oh Li cu amarah yang semula tak terlampiaskan kontan saja mele-tus dengan mata melotot besar. Oh Tin san menjadi gugup.? Begitu terbayang kemungkinan besar kepandaian silat Hu-yong siancu telah me-ningkat lebih hebat. kau tak boleh berkata begini . Oleh sebab itu tanpa sadar mereka berdua menghubungkan kejadian tersebut dengan kepandaian sakti yang tercantum-dalam ki-tab cinkeng. sekarang kau masih punya muka untuk banyak ngebacot lagi di sini? Bila Lan See giok benarbenar berada di sini." Api amarah dan rasa iri sedang membara di dalam dada Say nyoo-hui. rasa iri dan marah kem-bali berkobar di dalam dada Say nyoo-hui.

Ciu Siau cian telah menyongsong pula dari kamarnya. Suasana amat hening." Dalam keadaan demikian ini.. ketika tidak dijumpai Lan See giok turut ke luar. Dari gerak gerik ibunya yang gugup." pekik Hu-yong siancu panik. tapi jendela sudah terbuka Lan See giok juga lenyap tak berbekas. Cian ji kagum sekali kepadamu. pintu rumah masih terbuka lebar. buru-buru ia menegur: "Mana adik Giokmu?" Sambil bertanya cepat-cepat dia masuk ke kamar sendiri.. posisi Oh Tin san serta Say nyoo-hui benarbenar serba salah. dengan cepat dia berpaling pula ke ruangan. selangkah demi selang-kah mereka mundur terus ke belakang. mereka telah dibikin kabur oleh perka-taanmu. bila kalian masih saja bersikeras akan menggeledah rumah. dia tak berniat menjawab perkataan dari putri-nya. keningnya berkerut sedang hati kecilnya ke-heranan. mereka berdua segera saling bebrpan-dangan sekjejap. dia berlari masuk ke rumah. serunya kemudian de-ngan gembira. Maka dia berpaling lagi. baru saja akan menyusup ke atas atap rumah. Hu-yong Siancu yang menyaksikan peristiwa ini tentu saja menjadi tertegun. "Celaka. di jumpai putri kesayangannya masih ber-sembunyi pula di situ. lebih baik kalian berdua cepat-cepat menyusul putri kesayangan kalian saja. hanya rembulan bersinar di langit barat. sambil menjerit kaget mereka mundur tiga langkah sorot matanya penuh rasa kaget dan ngeri." Hu-yong siancu datang amat gelisah. Ciu Siau cian tahu kalau gelagat tidak beres. sedang masalah ki-tab pusaka Tay lo hud bun pwee tiap cinkeng telah kuserahkan kepada kakek berjubah kuning. Sadarlah Hu-yong siancu. ce-pat-cepat dia menyusul ke luar jendela. tak sesosok baya-ngan manusia pun yang nampak. Hu-yong siancu telah melayang turun . bisa jadi akan mengambil jalan pendek.221 "Kepergian putri kalian dalam gusar. pasti ada se-suatu yang tak beres. Tapi sewaktu mereka berdua mendongak-kan kembali kepalanya. tanpa terasa dia melirik pula ke depan jendela pu-trinya. "Ibu. ternyata Oh Tin san suami istri sudah melarikan diri ter-birit birit. ia melompat ke luar jendela dan naik ke atap rumah. terpaksa aku akan mencoba pula ilmu baru yang baru kupelajari dari kitab Hud bun cinkeng tersebut. agaknya mgereka sudah berbtekad hendak menyerbu ke dalam ru-angan. keadaan di situ tiada perubahan. Tapi. wajah mereka ber-ubah hebat. tapi kemudian dia seperti mema-hami sesuatu. coba lihat.

bila dia ingin melarikan kocak kecil tersebut.sama kzembali ke dalamw ruangan. hal tersebut seharusnya bisa dia lakukan se-mudah merogoh barang dalam saku sendiri. dia merasa pemikiran tersebut tidak benar. Lan See giok yang berlarian mengikuti kakek. kini sudah mereda kembali Ia pernah berpikir.222 Cepat-cepat Ciu Siau cian menyusulnya sambil bertanya: "Ibu. ditambah pula dia tidak menun-tut kotak kecil itu. Apalagi masalah ke lima manusia cacad serta siapa gerangan pembunuh sebenarnya. Ketika kakek berjubah kuning itu menge-baskan ujung bajunya. ketika penutupnya dibuka tampak daun emas tersebut masih tetap seperti sedia kala. sekali bagaikan sambaran kilat. tubuh merekapun berhenti bergerak. ia saksikan ibunya sedang mengeluarkan sebuah kotak kecil berkain kuning dari bawah pembaringan. apa yang telah terjadi? Mana adik Giok?" Dengan wajah pucat pias Hu-yong siancu menuding ke jendela bagian belakang kemu-dian mereka berdua brersama . Lan See giok telah dibawa si kakek berjubah kuning itu berlarian di tengah tanah pegunungan. yang telah menghabisi nyawa ayahnya perlu diketahui dan di tanyakan pula dari kakek berjubah kuning ini---Sementara dia masih termenung. jangan . Agak lega perasaan Hu-yong siancu setelah melihat kotak itu masih tetap utuh. mereka langsung menuju ke sebuah puncak bukit. tapi setelah berpikir lebih jauh. tubuhnya terasa sudah melambung ke atas puncak te-bing itu. rasa cemas yang semula mencekam perasaannya kini men-jadi lega kembali. gerakan tubuh kakek itu cepat. tersebut dapat merasakan angin ta-jam menderu deru di sisi telinganya. kedua orang terse-but tetap merasa tak habis mengerti. dia merasa kakinya seolaholah tidak menginjak tanah. perasaan gelisah dan ce-mas yang semula menyelimuti perasaan Lan See giok. Berhubung kemunculan kakek berjubah kuning itu berhasil membuat Oh Tin san 1ari ketakutan.jangan hal tersebut hanya merupakan sebuah taktik merebut hati dari kakek berjubah kuning tersebut. Kendatipun demikian. ia saksikan kakek berjubah kuning itu dengan senyuman ramah dikulum dan sorot mata yang berkilat kilat . kenapa Lan See giok bisa lenyap dari situ? Sementara itu. melainkan melayang diantara awan. de-ngan kepandaian sakti yang di miliki kakek berjubah kuning itu. Lan See giok segera berpaling. Ciu rSiau cian menutup daun jendelanya rapat-rapat.

dia hanya tersenyum tanpa me-ngucapkan sepatah katapun.. selama ini aku. Tanpa terasa diapun menjura seraya ber-kata dengan hormat: "Boanpwe Lan See-giok menyampaikan salam untuk locianpwe" Seraya berkata dia lantas jatuhkan diri berlutut dan memberi hormat. jelas tak mungkin ada orang yang bisa menyadap pembicaraan mereka tanpa ketahuan jejaknya. "Haaahhh--. waktu yang tersedia bagi kita tidak banyak. Dengan kepandaian maha sakti yang di miliki kakek berjubah kuning itu. "dari mana Oh Tin san bisa me-ngetahui tempat tinggal dari bibi Wan---?" . tak pernah meninggalkan Oh Tin san. terus terang kukatakan kepadamu nak. rum-put tumbuh amat subur. Kemudian kakek berjubah kuning itu ber-tanya dengan ramah: "Nak. akupun dapat pula me-nemukan dirimu. juga tiada batuan cadas. Kemu-dian dengan suara lembut dia ber-kata: "Nak.. haaahhh. dijumpainya bukit itu sangat datar. Kakek berjubah kuning itu kembali ter-tawa terbahak bahak.. oleh sebab itu mereka dapat menemu-kan kau. suaranya nyaring bagaikan pekikan burung hong. Boleh dibilang tempat semacam ini me-ru-pakan sebuah tempat yang ideal sekali untuk bercakap-cakap. jatuhnya bunga atau daun pada jarak sepuluh kaki di seputar sana pun bisa ditangkap olehnya dengan nyata. puluhan kaki di seputar sana tidak dijumpai pepohonan pinus ataupun bambu. ayo cepat bangun dan duduk. kita harus berbicara banyak. nadanya penuh kegembiraan. Kakek berjubah kuning itu mengangkat kepalanya dan tertawa terbahak bahak." SAMBIL berkata dia lantas membangun-kan pemuda tersebut dari atas tanah. Lan See giok mengiakan dengan hormat. Mereka berduapun duduk di atas tanah berumput. sejak aku masuk ke dalam benteng Wi-lim-poo.. apalagi bila terbayang sikap hor-mat dari si naga sakti pembalik sungai terha-dap orang itu. maka dia mengiakan dengan hor-mat. tidakkah kau merasa keheranan.haaahhh. setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu.223 sedang memandang ke arahnya penuh belas kasih.-" "Locianpwe" tanya Lan See giok tidak habis mengerti. Sikap yang begitu belas kasih dan ramah ini dengan cepat menggetarkan perasaan pe-muda kita. tanah yang amat lembut bagai-kan busa. mengapa aku datang mencarimu malam-malam begini?" Lan See giok memang berperasaan demikian.

tapi Oh Li-cu berusaha-keras membe-laimu. "Nak. kepergian Oh Tin san ditengah malam buta tanpa pamit tempo hari adalah untuk pergi mencari bibi Wan nya. maka semua duduknya persoalanpun menjadi jelas. ketika mereka ketahui bibi Wan mu ternyata adalah Hu-yong siancu Han Sin -wan yang sudah lama mengasingkan diri." Lan See giok pernah menaruh curiga. dia manggut-manggut.. "Tatkala Oh Li cu bercerita ada seorang gadis berbaju kuning yang berusia enam tu-juh belas tahunan menunjukkan perubahan wajah dan nampak amat sedih sekali setelah bertemu kau. Kakek berjubah kuning itupun melanjut-kan kembali ceritanya.. Oh Tin san segera menaruh curiga kalau rumah ini bisa jadi adalah tem-pat kediaman bibi Wan mu. tanpa terasa seru-nya cemas. maka kembali ia ber-tanya: "Tahukah locianpwe." Berbicara sampai di situ ia berhenti seje-nak seakan akan sedang memikirkan se-suatu lalu dengan tidak mengerti ia ber-tanya. ketika Oh Tin san suami istri kembali ke benteng.-" Mendengar sampai disini. akhirnya mereka putuskan untuk melakukan penyelidikan.224 "Kalau dibicarakan sebenarnya hanya seca-ra kebetulan saja." . apa sebabnya Oh Tin san suami istri meninggalkan rumah secara tergesa gesa ditengah malam buta?" "Walaupun Oh Tin san orangnya buas dan kejam. malam berse-lang kalian membicarakan lagi soal kotak kecil itu. di luar dikelilingi telaga yang luas. untung saja penjagaan di dalam benteng tidak ketat sehingga banyak memberi keleluasaan bagiku. penjagaan dan pengintaian tersebar di mana-mana. memang tidak gampang bagi orang luar untuk me-n-yelundup masuk. Say nyoo-hui segera menuduh kau berusaha melarikan diri. Lan See giok pun menjadi paham kembali. Di dalam benteng Wi-limpoo banyak terdapat kapal perang yang berlabuh. "Pernahkah kau bercerita kepada Oh Tin san bahwa bibi Wan mu mempunyai seorang putri berusia enam tujuh belas tahunan?" Mendengar pertanyaan itu Lan See giok segera menjadi menyesal sekali. seharusnya kau bisa menduga akan diriku. orang berdiri di luar jendela semalam itu adalah locianpwe?" Sambil tertawa ramah kakek berjubah kuning itu manggut-manggut. Oh Li cu menangis sambil mengadukan peristiwa lenyapnya kau kepada orang tua mereka. "Anak Giok tahu sekarang. namun ia tak bisa menguasai diri bila menghadapi suatu persoalan.

" "Tapi locianpwe toh tidak berada di kam-pung nelayan itu." Mendengar penjelasan tersebut. tapi kenyataannya kalian semua malah naik ke atap rumah. . niscaya akan kau jumpai jejakku. tapi nyatanya tidak ditemukan seso-sok bayangan manusiapun. se-waktu kau ke luar dari jendela. lalu sahutnya: "Oh Tin-san adalah seorang manusia yang gampang menaruh curiga. justru keba-likannya. . karena nya ia menjadi gugup dan ketakutan. dari kejauhan sana kedengaran suara ayam jago mulai berkokok--- ." Tergerak hati Lan See giok setelah men-dengar perkataan tersebut. maka dia sengaja tidak mengatur penjagaan di seputar sana. "Locianpwe bilang malam berselang kau berdiri di luar jendela. seakan akan me-mahami sesuatu. dengan nada tak mengerti kembali dia bertanya: "Tahukah locianpwe di dalam gedung bagian pusat benteng Wi-lim-poo kenapa ti-dak diberi penjagaan?" Kembali kakek berjubah kuning itu ter-menung sebentar. si naga sakti pembalik sungai akan mengatakan aku telah pergi!" Lan See giok semakin tidak mengerti. dia bertanya kembali. Terdengar kakek berjubah kuning itu melanjutkan kembali ceritanya: "Waktu itu Oh Tin san pun berpendapat akulah yang telah menyadap pembicaraan tentang rahasia kotak kecil tersebut. hal ini bisa dibuktikan pula dengan tiadanya orang yang berdiam di seputar situ..225 Lan See giok segera teringat akan sesuatu rahasia yang tidak diketahui olehnya. bisa jadi dia me-nganggap penjagaan di luar benteng-nya su-dah sekokoh dinding baja lantai tembaga dan mustahil ada orang menyusup ke dalam. akhirnya diputuskan untuk berangkat pada malam itu juga mencari si naga sakti pemba-lik sungai dan menjelaskan masalah kotak kecil itu kepadaku. haaahhh ... maka kuatir rahasia pribadi dalam ru-angannya ketahuan orang lain. . haah . waktu itu apakah locianpwe sudah masuk ke ruang belakang?" Kakek berjubah kuning itu tertawa terba-hak bahak: "Haah . aku cuma bersembunyi di bawah lantai batu di depan jendela pagoda air. diam-diam Lan See giok memuji akan keberanian kakek berjubah kuning tersebut. kemudian Oh Tin san ke luar dari ruangan setelah mendengar suara. dia merasa tinda-kan semacam ini sungguh kelewat me-nye-rempet bahaya. asal kau tun-dukkan kepalamu. Kakek berjubah kuning itu tertawa ramah. baru saja dia hendak minta penjelasan lebih jauh." tukas Lan See giok kuatir.. . "Sekalipun aku berada di situpun.

maka dia berkata kemudian. kakek berjubah kuning itu berkata kemudian. apakah kau masih ada urusan lain yang hendak ditanyakan kepadaku?" Menghadapi pertanyaan tersebut. "Hanya sampai kini anak Giok belum me-ngetahui siapakah pembunuh sebenarnya dari ayahku. "Nak. kita harus menyelidiki secara seksama lebih dulu sebelum bisa me-nentukan siapakah pembunuh yang sebenar-nya. pada mulanya mereka pun bukan manusia yang cacad telinga. katanya dengan perasaan sedih. dia menimbrung. "Sekarang. apakah kau sudah memahami sebab musabab yang mengakibatkan kema-tian ayahmu?" Lan See giok mengangguk. "Kalau ditinjau dari segi-segi yang ada sekarang. Lan See giok menjadi sangsi. sedang soal dari mana mereka bisa tahu ayahmu berdiam dalam kuburan kuno itu. setelah memandang se-kejap keadaan langit. "Pertanyaan mu yang beruntun tersebut bila kujawab dengan memerlukan waktu yang amat panjang. karena pertanyaan yang akan diajukan kelewat banyak. kau harus kembali se-belum fajar menyingsing kalau tidak. kelima manusia cacad itu sama-sama mencurigakan. Teringat akan julukan-julukan yang isti-mewa dari kelima manusia cacad itu. sehingga untuk sesaat dia tak tahu pertanyaan mana-kah yang hendak diajukan lebih dahulu--Tampaknya kakek berjubah kuning itu bisa menduga jalan pemikiran Lan See giok. hal tersebut baru dapat diketahui setelah kita . Lan See giok segera memohon: "Dapatkah locianpwe menjelaskan asa1 usul dari kelima manusia cacad dari tiga te-laga itu? Mengapa kelima orang itu sama-sama memiliki julukan yang mengandung kata "tunggal"? Darimana mereka bisa tahu kalau ayahku berdiam di kuburan kuno serta apa sebabnya ke lima manusia cacad yang berdiam di pelbagai wilayah bisa berkumpul di tempat yang sama pada malam yang sama-" 'Tidak sampai Lan See giok menyelesaikan kata katanya.226 Kakek berjubah kuning itu segera me-rasa waktu sudah siang. mustahil semua masalah bisa dijelaskan dalam waktu singkat. sekarang sudah mendekati kento-ngan ke lima. kakek berjubah kuning itu te-lah menggoyangkan tangannya men-cegah pemuda itu melanjutkan kembali kata kata-nya. sekarang aku hanya bisa memberitahukan kepadamu. bibi Wan mu pasti akan sangat gelisah dan tidak tenang. sebenarnya julukan semula dari ke lima orang tersebut tidak disertai kata "tunggal". diapun berkata. mata atau kaki." Sambil mengelus jenggotnya dan terme-nung sejenak.

tahukah kau darimana ayahku bisa mendapatkan kotak kecil itu?" "Dia mendapatkan secara kebetulan di bawah Giok li hong bukit Hoa san. "Untuk membaca isi kitab pusaka ter-sebut. cuma orang yang tidak mengetahui rahasianya. kemudian tanyanya bimbang: "Kalau toh locianpwe sudah mengetahui cara untuk membaca rahasia kepandaian si-lat tersebut mengapa kau tidak membaca nya seorang diri?" Kakek berjubah kuning itu memandang sekejap kearah Lan See giok. dia tahu kakek berjubah kuning itu hendak pergi se-belum fajar menyingsing. Lan See giok memandang sekejapb ke ufuk timur jdi mana matahargi telah memancabrkan sinarnya yang keemas emasan. "Benar." Lan See giok ingin sekali mempelajari ilmu silat maha sakti yang tercantum dalam cinkeng itu. benarkah perkataan tersebut?" Tanpa ragu barang sedikit pun jua kakek berjubah kuning itu mengangguk. dengan be-gitu kepandaian tersebut biru dapat dikuasai olehnya. sela-nya." Sekali lagi tergerak hati Lan See giok. tapi hanya aku seorang diri tak mungkin bisa membacanya" Lan See giok sangat tidak mengerti atas perkataan itu. Buru-buru ia bertanya lagi: "Locianpwe. "Meskipun aku tahu bagaimana cara mem-bacanya.227 datangi kelima manusia tersebut. katanya ke-mudian. lalu tertawa pe-nuh arti. Menjadi termangu Lan See giok bsehabis mendengjar perkataan itgu. cuma orang inipun ha-rus memiliki bakat yang sangat bagus dan memiliki daya ingat yang tajam. "�Pernah locianpwe membaca isi kitab tersebut?" Kakek berjubah kuning itu segera mem-perlihatkan paras serba salah. harus ada seorang yang bertenaga dalam sempurna menggenggam daun emas tadi ke-mudian mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya ke dalam daun emas tadi sedang si pembaca harus berlutut di hada-pannya sambil baca. maka kembali die bertanya. nah hari ini aku hanya bisa menjelaskan sampai di sini. meskipun mendapatkan pusaka tersebut pun sama artinya dengan men-da-patkan benda rongsokan. keningnya berkerut. lama kemudiabn ia baru bertanya: . lain kali tentu akan kujelaskan lebih jauh! Selesai berkata diapun beranjak siap-siap meninggalkan tempat tersebut. "Konon tiga lembar daun emas yang berada dalam kotak kecil itu berisikan se-macam ki-tab pusaka ilmu silat yang memuat kepan-daian silat maha sakti.

. sebab hanya manusia berkepandaian sangat lihay seperti To seng cu saja yang mampu menghabisi nyawa ayahnya di dalam sekali pukulan. dimanakah pemilik kotak tersebut sekarang? Dapatkah anak Giok pergi men-carinya de-ngan membawa kotak kecil ter-sebut?" "Menurut apa yang kuketahui. tapi ada pula yang memasuki lembah tersebut sambil menyebutkan namanya serta berhasil men-jumpai wajah asli orang tersebut. to-seng cu? Dia. hal ini tergantung papa tekad. Tentang apakah kau berhasil menjumpainya. akhirnya tempat kediaman ayahnya ditemukan? Semakin dipikir Lan See giok merasa se-makin masuk diakal. waktu itu tangan kanannya dengan menggunakan sisa tenaga yang dimi-likinya hanya sempat mengukir kata. Lan See giok menjadi amat gembira. Jangan-jangan orang yang membunuh ayahnya adalah To seng cu ini? Siapa tahu To sreng cu menaruh zdendam kepada wayahnya karena rkotak kecil tersebut tidak dikembalikan kepadanya. Tanpa terasa dia menjadi terbayang kem-bali keadaan ayahnya yang terkapar di atas genangan darah. tapi menurut cerita orang. Walaupun Lan See giok merasa sulit tapi ia bersedia untuk mencobanya. banyak yang ingin me-nyambanginya tapi sebagian besar harus pulang dengan kecewa. Satu ingatan segera melintas dalam benak nya. siapakah tokoh sakti terse-but?" Kakek berjubah kuning itu termenung se-jenak. kesungguhan mu serta rejekimu.. . serunya tanpa sadar.. orang itu berdiam di bawah kaki puncak giok Ii hong di bukit Hoa san. kemudian dengan nada tidak pasti katanya. "Konon orang itu bernama To seng-cu!" Gemetar keras sekujur badan Lan See -giok. .228 "Locianpwe siapakah yang memiliki tenaga dalam sedemikian sempurnanya se-hingga dapat memaksa daun emas tersebut memperlihatkan catatannya?" Hanya si pemilik semula dari kotak ter-se-but" jawab kakek berjubah kuning itu tanpa ragu.. diapun me-makai gelar kata "tunggal" . paras mukanya berubah hebat. . to. kaki bukit yang mana tidak kuketahui. "To . dengan cepat ia bertanya. . anak Giok tidak becus tapi percaya memiliki daya ingat yang cukup baik. ?" . . . "Locianpwe. "To" atau tunggal di atas tanah.. ta-nya-nya cepat: "Locianpwe. maka se-telah menelusuri jejak ayahnya selama banyak ta-hun.

tapi aku tidak mengambilnya." Setelah mengebaskan ujung bajunya. diapun beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut. bila aku menyangkal dari ucapanku. itulah sebabnya kuberikan kesempatan yang sangat baik ini kepadamu.. aku sudah banyak tahun mencari ayahmu di mana-mana. biarpun aku mengetahui kotak kecil itu di-sembunyikan di bibi Wan mu dikolong ran-jang. cepat dia turut melompat bangun sambil berseru dengan cemas. tapi sejak aku bertemu dengan kau dan me-nemukan kau adalah manusia yang berbakat bagus untuk belajar ilmu silat. apalagi jika kau berhasil mempelajari kepandaian sakti dalam pusaka Pwee yapCinkeng tersebut sudah pasti kau bisa menjadi tangguh dan keadilan serta kebenaran di dunia ini bisa ditegakkan. hawa napsu membunuh pun segera menyelimuti seluruh wajahnya yang tampan. semoga kau tidak sampai menyia-nyiakan harapanku!" Betapa terharunya Lan See giok setelah mendengar perkataan itu. Lan See giok tahu bahwa kakek berjubah kuning itu hendak pergi. anak Giok bertekad tak akan menyia nyiakan harapan kau orang tua. tentu saja akupun berharap bisa membawa kotak kecil itu pergi menghadap To seng cu serta menjadi orang yang paling tangguh dalam dunia persilatan. "Locianpwe. lama kemu-dian dia baru menjawab: "Kecuali To seng cu seorang. dia semakin me-naruh hormat kepada kakek berjubah kuning itu. berko-barlah api marah dalam dadanya. Sambil mengangkat kepalanya dan mena-tap wajah kakek berjubah kuning itu lekat-lekat." Kemudian setelah berhenti sejenak dan menghela napas. setiap orang mempunyai kepentingan pribadi masing-masing. katanya lebih jauh: "Terus terang saja anak Giok. katanya dengan hormat: "Locianpwe tak usah kuatir. mungkin dalam dunia persilatan dewasa ini sudah tiada orang kedua yang memiliki tenaga dalam seperti dia lagi. . dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang dapatkah kau menampilkan tulisan di atas daun emas tersebut?" Kembali kakek berjubah kuning itu menunjukkan sikap serba salah. biar langit menghukumku!" Dengan penuh kegembiraan kakek berj-u-bah kuning itu tertawa terbahak bahak. ke-mudian serunya: "Kau memang anak yang penurut dan bisa diberi pelajaran. Nah anak Giok. dia bertanya.229 Membayangkan kesemuanya ini..

setelah berpamitan lagi dengan kakek itu. segera serunya lirih. katakan saja berterus terang" `Bila anak Giok berhasil menjumpai To seng cu serta mempelajari kepandaian silat maha sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Pwee yap cinkeng tersebut. Ketika tiba di dusun. setelah melewati pepohonan siong yang lebat. jangan kelewabt memamerkan dijri. sekalipun To seng cu terhitung jagoan nomor satu dikolong langit dewasa ini. Dari kejauhan ia sudah melihat enci Cian duduk di belakang jendela dengan wajah mu-rung. apakah kau berniat sungguh-sungguh serta bersedia tekun mempelajari kepandaian itu. Dengan cepat Lan see giok melompati pa-gar dan melayang turun di depan jendela. dia baru membalikkan badan dan turun dari bukit tersebut. Membayangkan betapa cemas dan gelisah nya bibi Wan serta enci Cian nya waktu itu. dalam waktu singkat dia telah tiba di halaman bela-kang rumah bibi Wan nya. dia mempercepat langkahnya menuju ke de-pan. mungkin kemampuannya waktu itu masih di bawah kemampuanmu" Mendengar sampai di sini. anak giok masih ada satu per-soalan yang tidak mengerti!" "Bila ada persoalan. sepanjang jalan kau mesti berhatihati karena membawa mestika. fajar sudah hampir menyingsing cepatlah pergi!" Lan See giok mengiakan dengan hormat. Sementara itu fajar mulai menyingsing di langit timur kabut tipis menyelimuti permu-kaan tanah. dalam perjalananmu kali ini. Lan See giok segera menjatuhkan diri berlutut di atas tanah. sepasang matanya memandang seba-tang pohon di hadapannya dengan termangu. jika kau rajin berlatih. Setelah membangunkan Lan See giok dari atas tanah. lalu ditatapnya kakek itu sekejap titik air mata hampir saja jatuh berlinang. dan yang pagling penting tabk boleh mencari gara-gara. langit sudah terang. katanya dengan amat ramah: "Anak Giok. apakah tenaga dalamku bisa melampaui To seng cu ? Dengan wajah bersungguh sungguh kakek berjubah kuning itu segera berkata. "Enci Cian! Enci Cian!" . seakan akan ia sedang melamun. lalu katanya dengan hormat. kabut pagi pun terasa semakin tebal. pasti akan kubalas budi kebaikan dari kau orang tua!" Kembali kakek berjubah kuning itu tertawa terbahak bahak.230 "Locianpwe. anak Giok akan pergi dulu. "Hal ini tergantung dirimu sendiri. "Harap locianpwe suka menjaga diri baik-baik. kecuali suara ayam berkokok dari arah kampung nelayan itupun sudah mulai kedengaran suara manusia. bila aku su-dah kembali dengan belajar ilmu.

Ciu Siau cian memperhatikan sekejap keadaan sekelilingnya." "Kakek berjubah kuning yang mana?" tanya Ciu siau cian tidak mengerti. kejut dan girang ia berseru lirih: "Ayo cepat masuk!" Dengan cepat dia menarik tangan pemuda itu." Sambil berkata dia mengangguk bpemuda itu dudujk di depan pembgaringan.231 Ciu Siau cian sadar kembali dari lamunan. tak urung dia toh tertawa cekikikan juga. Ciu Siau cian menarik kembali senyuman nya. mencorong sinar terang dari balik matanya. maka diapun meng-ang-guk. omelnya dengan penuh rasa kuatir: "Bagaimana sih kau ini? Mengapa pergi selama ini? Bikin hati orang gelisah saja. melihat pemuda itu sudah muncul di hada-pannya. aku diajak kakek ber-jubah kuning itu untuk bercakap cakap. katanya dengan pe-nuh perhatian. sementbara sepasang matanya yang jeli dengan perasaan tak tenang dan gelisah mengawasi pemuda itu tiada hentinya. setelah itu sambil meng-genggam tangan pemuda itu. lalu sambil sengaja menarik muka dia berkata: "Ke mana lagi? Tentu saja pergi mencari mu. "Yaa kakek berjubah kuning itu!" Meski Ciu Siau cian bisa memahami. kata-nya kemudian sambil ter-tawa: "Cici jangan marah. Meminjam tenaga tarikan tadi. kemudian setelah melihat sekejap matahari di luar jendela. dengan wajah memerah terpaksa ujarnya. siapa suruh kau tidak meninggalkan pesan ketika pergi. Lan See giok baru teringat kalau tadi ia lupa me-na-nyakan nama kakek tersebut. Menghadapi pertanyaan tersebut. . masuk ke dalam ruangan. "Enci Cian. aku takut Oh Tin san dan Say nyoo-hui mendengar suara panggilanku sehingga menambah kesulitan. berterima kasih dan hangatnya perasaan Lan See giok meli-hat perhatian enci Cian terhadapnya. lalu merapatkan pula daun jendelanya. aku memang berniat menghindar untuk sementara waktu ke luar dusun sana " Ciu Siau cian menganggap perkataan itu ada benarnya juga." "Bukan siaute tidak ingin memberi pesan. mana bibi?" tiba-tiba pemuda itu teringat akan Hu-yong siancu. Tak terlukiskan rasa haru. Lan See giok melayang.

Menyusul kemudian kedengaran suara enci Cian nya berseru: "Ibu.Tapi tiba-tiba saja terdengar Ciu Siau cian berkata. dia hendak menunggumu sampai pulang. namun masih bergetar tiada hentinya. cepat-cepat dia membaringkan kembali badannya ke atas ranjang. . namun baur harum semer-bazk yang terpancawr dari pem-barirngan terse-but semakin membuat pemuda ini tak dapat tidur. Mendengar perkataan itu Lan See giok segera melompat bangun dan siap ke luar. "Adik Giok sudah tertidur ibu. ibupun segera akan pulang" kata Ciu Siau cian sambil menuding ke luar jendela. segera serunya: "Enci Cian aku tidak lelah." "Coba kau lihat. fajar telah menyingsing sekarang. adik Giok telah pulang!" "Oya? Di mana ia sekarang?" tanya Hu-yong siancu kejut bercampur gembira. Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Lan See giok membaringkan diri sambil me-mejamkan mata. Tersenyum Ciu Siau cian setelah melihat kejadian ini.232 "Kau sudah bergadang semalaman suntuk. lalu terdengar bibi Wan nya tertawa geli. akulah yang telah menotok jalan darahnya sebelum ia tertidur ---" Lan See giok yang mendengar perkataan Itu segera teringat kalau jalan darahnya su-dah tertotok. melihat jalan darah tidurnya ditotok hampir saja ia ter-tawa geli. aku akan memanggilmu lagi!" Sambil berkata ia menekan bahu pemuda itu agar membaringkan diri. Oleh karena itu meski kelopak matanya telah dipejamkan. pasti bibinya tahu kalau dia telah belajar ilmu menggeser jalan darah kepada enci Ciannya. Lan See giok memang merasa agak lelah. aku hendak menunggu sampai bibi kembali. Pada saat itulah dari luar jendela ke-de-ngaran suara pintu pekarangan dibuka orang. Lan See giok segera tahu keadaan runyam." Setelah beberapa malam tak tidur. bila ibu pulang. Lan See giok membuka matanya melirik sekejap ke arah enci Cian nya yang ter-senyum dengan muka merah. tapi dia kuatir dengan keselamatan bibinya. Untuk sesaat suasana dalam halaman menjadi hening. tidurlah dulu. hanya menotok dengan pelan kemudian beranjak ke luar dari ruangan. sekarang beristirahatlah sebentar. tiba-tiba ia menotok jalan darah Hek-si-hiat di tubuh pemuda itu.

Dengan perasaan terkejut Lan See giok melompat bangun. Sambil berkata dia mengerling sekejap ke arah enci Ciannya yang masih tersipu sipu. Memandang sepasang muda mudi yang amat lucu itu. anak Giok merasa tak tenang untuk memejamkan mata". lalu tanyanya sambil ter-tawa. "Anak Giok. kau belum tertidur?" Menyusul kemudian dari luar muncul se-seorang yang masih basah oleh embun pagi. Tiba-tiba terdengar Hu-yong siancu ber-tanya: "Anak Giok. Ciu Siau clan dengan wajah cemberut telah berdiri di depan pembaringan. aku rasa bisa jadi dialah pem-bunuh yang sebenarnya dari ayahku. perasaan ti-dak tenang yang semula mencekam perasaan Lan See giok pun segera menjadi lega kem-bali. Lan See giok mulai menceritakan bagaimana pengalamannya bertemu dengan kakek berjubah kuning itu sampai dia pulang kembali. Menyaksikan keadaan adik Gioknya yang mengenaskan. bayangan manusia muncul di depan mata. Akhirnya pemuda itu menambahkan. Lan See giok segera melompat turun dari pembaringan. "Bibi. terasa ada angin berdesir le-wat. apakah bibi telah pulang?" Melihat Lan See giok sudah tahu masih pura-pura bertanya.233 Benar juga. sampai lamba kemu-dian baru tanyanya. mukanya men-jadi merah padam karena jengah. duduklah. segera ujarnya dengan ramah: "Anak Giok. Dengan tertawanya gadis itu. ia pun turut tertawa. sambil menun-dukkan kepalanya ia menjawab: ." Paras muka Hu-yong siansu amatb serius. Ciu Siau cian merasa makin mendongkol ia bersiap siap meng-um-bar hawa amarahnya. tanpa terasa Ciu Siau cian tertawa cekikikan. Hu-yong siancu turut merasa gembira. apakah kau berhasil melihat tahi lalat besar di kening kakek tersebut pada perjumpaan kali ini?" Bergetar keras perasaan Lan See giok mendengar pertanyaan itu. lalu katanya dengan hormat. . anak Giok bertekad akan mencari To-seng cu. ia tidjak segera menjagwab. "Sebelum bibi pulang." Setelah semua orang mengambil tempat duduk masing-masing. "Cici. kontan saja sikapnya menjadi sangat tak tenang . coba kau cerita-kan kisah perjumpaanmu dengan kakek berjubah kuning itu. .

katanya kemudian sambil ter-tawa hambar. "Dendam sakit hati anakku lebih dalam dari pada samudra. bibi tak akan menghalangi niatmu untuk mengunjungi bukit giok li -hong. Lama-lama kemudian ia baru berkata agak tergagap: "Jangan-jangan dia adalah si kakek yang dijumpai Khong-tay tempo hari. sekalipun harus naik ke bukit golok atau terjun ke kuali berisi minyak mendidih." perjalanan mu kali ini lebih banyak bahayanya dari pada selamat. katanya malah dengan gagah. siapakah yang telah berjumpa de-ngan ayahku?" Hu-yong siancu segera sadar atas kekhi-lafan sendiri. "Anak Giok. "Kalian masih kanak-kanak. sampai sekarang pun belum kita ketahui To seng cu sebenarnya musuh besar pembunuh ayahku atau bukan seandainya bukan.seng cu benar-benar adalah musuh besar yang membinasakan ayahmu. tapi mesti kau ketahui. selain bisa mem-pela-jari ilmu silat yang hebat akupun dapat membalaskan dendam bagi kematian ayah-ku"" Dengan sorot mata gembira Hu-yong siancu memandang sekejap ke arah Lan See giok lalu ujarnya sambil manggut-manggut. lalu dengan nada penuh perhatian dia berkata. sampai sekarang belum pernah ada orang . katanya kemudian de-ngan nada menghibur. "Bibi. andaikan To. anak Giokpun karena bencana peroleh rejeki. To seng cu ter-hitung manusia paling kosen di dunia persi-latan dewasa ini.-" Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan itu. sekarang be-lum saatnya untuk mengetahui persoalan-persoalan tersebut" Dengan cepat paras mukanya telah pulih kembali seperti sedia kala. ia seperti sedang melamun-kan sesuatu. perjalanan semacam ini jelas merupakan suatu perja-lanan menyerempet bahaya. "Berbicara soal ilmu silat. selanya tibatiba.234 "Berhubung waktu yang amat singkat. anak giok tak akan mundur barang setapak pun" Mendadak ia saksikan Cu Siau cbian menunduk dejngan wajah sedigh. "Apalagi bencana atau rejeki bukan di tentukan manusia." Hu-yong siancu tidak menegur pemuda itu. karenanya aku lupa untuk memeriksanya dengan teliti. tanpa terasab ia turut beriba hati. anak Giok cuma teringat persoalanpersoalan yang dihadapi. bahkan bisa jadi akan mengorban-kan selembar jiwamu" Lan See giok sama sekali tidak gentar oleh perkataan tersebut. sorot matanya dialihkan ke luar jendela me-mandang matahari yang memancarkan sinar keemas emasan.

persiskah dia dengan kakek berjubah kuning yang diceritakan adik Giok tadi? " Hu-yong siancu berkerut kening. kau harus mengata-kan yang sebenarnya yakni men-dapat pe-tunjuk dari seorang kakek berjubah kuning untuk datang minta belajar ilmu.. Lui cengcu. bukankah kau pernah berkata kau pun pernah bersua dengan To seng cu? Coba kau bayangkan." Melihat sikap bibinya begitu menaruh hormat. . sekilas perubahan aneh menghiasi wajahnya. membawa kipas dan amat berwibawa sehingga siapa-pun akan berkesan mendalam bila menjumpainya." Hu-yong siancu tertawa hambar. bila berjodoh dan dapat menjumpai To seng cu. mungkin saja dia ber-anggapan akulah yang dipertuan . dimana hal tersebut justru berla-wanan sekali dengan pandangan nya.... maka dengan perasaan tak puas katanya. seperti memahami sesuatu dia menyela: "Ibu. kau tidak boleh sekali kali menyinggung . ritulah sebabnya To seng cu memberi kesan kurang baik kepadamu. seperti nama-nama Siau yau-cu. hal ini hanya disebabkan kau sudah terlanjur menaruh perasaan benci ter-hadap julukan yang mernggunakan kata zper-mulaan "To"w atau tunggal.! Dengan sedih Ciu Siau cian mendongakkan kepalanya. namun dihati kecilnya dia terta-wa dingin. anak Giok berpendapat gelar To-seng cu ini kurang sedap didengar. kepandaian silatnya boleh dibilang sudah mencapai ting-katan yang luar biasa. padahal arti sebenarnya dari To seng-cu atau aku yang telah sadar!" Berada dihadapan bibinya. namun kelewat memaksakan pendapat sendiri dalam perjalananmu menuju ke bukit Hoa san kali ini. katanya kemudian: "Anak Giok tetap berpendapat. waktu itu To seng cu mengenakan jubah panjang berwarna putih. maka katanya kemudian sambil manggut-manggut dan ter-tawa: "Penjelasan secara demikian pun boleh juga. julukan To seng cu itu kelewat jumawa dan tekebur.. nama tersebut ke-banyakan adalah kaum tosu. " Hu-yong siancu segera berkerut kening agaknya ia telah melihat perasaan benci Lan See giok terhadap To Seng cu.235 yang mengetahui nama dan usia yang sebenarnya. anak Giok rasa arti dari julukan itu bukan aku yang telah sadar. katanya dengan lembut: "Anak Giok. Lan See giok tak berani memperlihatkan perasaan tak senang hati. konon dia telah berumur di atas seratus tahun. "Bibi. lalu ujarnya sambil manggut-manggut: "Peristiwa ini sudah terjadi sepuluh tahun berselang. . Sian kicu dan lain sebagainya.

dengan menempuh perjalanan seorang diri. "Bisa jadi di sekeliling tempat ini masih pe-nuh dengan mata-mata dari Wilim-poo un-tuk menghindari segala sesuatu yang tak di-inginkan. kemudian dengan kepala tertunduk mengikuti di belakang ibunya menuju ke kamar tidur ibunya. Benar hubungan mereka belum lama." "Tidak usah merepotkan enci Cian. tapi setelah diberi kesempatan untuk menjalin hubungan lebih mendalam." Dengan perasaan amat berat Lan See giok mengangguk berulang kali sambil mengia-kan. Ciu Siau cian memandang sekejap ke arah Lan See giok dengan pedih. dari sana kau boleh langsung ber-angkat ke bukit Hoa san. "Baiklah..236 masalah den-dam sakit hati. wajah pedih enci Cian nya sekarang pada hakekat nya berbeda sekali dengan wajah riang ketika menotok jalan tidurnya tadi. sekarang beristirahatlah dulu di pem-baringan enci Cian mu. semalam kau belum tidur. bila menggunakan ilmu meringankan tubuh paling banter sele-watnya tengah malam kau sudah tiba di sana. jarak dari sini hingga kota Tek an sekitar seratus li. Lan See giok termangu mangu. sikap Ciu Sian cian saat ini sudah jauh lebih terbuka. Terdengar Hu-yong siancu berkata lebih jauh. . lebih baik kau berangkat se-telah malam nanti. dia melanjutkan. semoga kau berhati hati di sepanjang jalan." Tampik Lan See giok cepat. diapun mengangguk." Selesai berkata. sampai waktunya biar enci Cian yang melindungimu sampai di keresi-denan Tek an. anak Giok ya-kin masih dapat menjaga diri sebaik baiknya. hal tersebut lebih mudah bagiku untuk me-loloskan diri dari kepungan bila menjumpai kawan jago lihay dari Wi-lim-poo" Hu-yong siancu segera menganggap uca-pan ini masuk diakal. dari pada me-nimbulkan kecurigaan To seng cu dan mempengaruhi kemajuanmu dalam menuntut ilmu. malam nantipun harus melanjutkan perja-lanan. . dia lantas berjalan menuju ke luar. "Anak Giok. . Keesokan harinya kau boleh meneruskan perjalanan menuju ke wilayah Kui ciu lewat Sui ciang. " Kemudian setelah memandang sekejap ke arah putrinya yang sedang murung. beristirahat di luar kota semalam.

agaknya aku sudah tertidur cukup lama?" Melihat wajah Lan See giok cerah kembali dia sedikitpun tidak memperlihatkan tanda keletihan." Kemubdian setelah mejlirik sekejap mgatahari senja dbi luar pagar. "Bibi. dengan begitu kau akan bisa tiba di Hoa san dengan tak usah takut kehabisan beaya. "Waah." Sambil berkata. hal mana membuat perasaannya amat resah. mana enci Cian?" "Ia sedang menyiapkan santapan malam untukmu" sahut Hu-yong siancu sambil melirik sekejap ke dapur. sepanjang jalan kau tak boleh kelewat menonjolkan diri. cepat dia ke luar dari ruangan sambil bertanya. masalah demi masalah pun berdatangan secara beruntun. ia tahu gadis itu baru saja habis menangis. . terusnya. sampai lama sekali dia baru dapat tertidur. bisa jadi per-pisahan kali ini merupakan perpisahan untuk sela-manya. mungkin sudah mendekati pu-kul lima sore. simpanlah kotak kecil ini baik." Sambil tertawa Lan See giok menggeleng-kan kepalanya berulang kali. Akhirnya Hu-yong siancu mengambil kotak kuning itu dari dalam kamarnya serta se-bungkus uang perak. "Bibi. sayangnya ke tiga orang itu merasa tak enak untuk makan. Ciu Siau cian telah masuk sambil menghi-dangkan santapan malam. Lan See giok melihat sepasang mata enci nya sudah merah membengkak.237 Kini ia harus berpisah lagi. Ketika mendusin. sudah jam berapa sekarang. Baru saja dia menyelesaikan kata kata-nya. dengan girang Hu-yong siancu berkata. kembali ia bertanya dengan perasa-an tak mengerti." Ketika tidak menjumpai Siau cian di ru-angan. tidurmu hari ini boleh dibilang sudah lebih dari cukup. dia harus ber-angkat ke Hoa san dengan membawa nasib yang sukar diketahui. tidur anak Giok kali ini memang betul-betul nyenyak sekali..baik.. matahari sore sudah di jendela belakang. Hidangan pada malam itu sangat lezat. dia serahkan kotak dan kantung uang tersebut kepada Lan See giok. "Selama berapa hari belakangan ini kau belum tertidur baik. "Anak Giok. wajahnya sedih dan murung. guna-kan uang perak terse-but sehemat mungkin. Pikir punya pikir. dengan kaget dia me-lompat bangun melihat bibinya berada di luar. "Sekarang. kemudian dengan pe-nuh perhatian ia berkata..

dua baris air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.238 Buru-buru pemuda itu bangkit berdiri sambil menerimanya. jangan emosi dan jangan kelewat kolot. Siau cian yang paling sedih. namun tak akan melancarkan serangan keji terhadap seorang anak muda seperti kau" Sementara itu Lan See giok telah me-nyimpan baik-baik kotak kecil serta kantung berisi uang itu. Dengan kening berkerut Hu-yong siancu berkata lebih jauh: "Bukan cuma bibi yang mengharapkan kepadamu. bibi mempunyai firasat kita pasti akan bersua kembali. dengan air mata bercucuran dia segera berpaling dan memandang sekejap Ciu Siau cian yang se-dang menangis tersedu sedu. sekali pun ia bisa jadi telah membunuh ayahmu. ia disegani dan dihormati setiap orang. Hu-yong siancu tersenyum. "Anak giok. ujarnya sedih: "Bila anak Giok berhasil mempelajari ilmu silat dalam kepergian kali ini serta membalas dendam sakit hati. berpi-kirlah yang cermat. anak Giok pasti akan pu-lang dengan secepatnya. lalu anak Giok akan mendampingi bibi dan tak akan terjun lagi ke dunia persilatan untuk selamanya." walaupun kau sendiri tidak menyayangi ji-wamu. To seng cu adalah seorang tokoh persilatan yang berkedudukan sangat tinggi. namun kau harus memikirkan juga mereka--mereka yang selalu menguatirkan keselamatanmu" Lan See giok amat terkejut. kemudian dengan air mata bercucuran namun sikap tegas ia menjawab. Sambil membangunkan Lan See giok dari tanah.. kalau sampai nasibku jelek dan tewas. enci Cian mu juga berharap kau bisa berjaya dalam dunia persilatan di kemu-dian hari. bibi harap kau bersikap cerdik dalam menghadapi setiap persoalan. tapi aku tak akan melepaskan dia dengan begitu saja. dalam-dalam. cuma kuatir kepergian anak giok kali ini lebih ba-nyak bahayanya daripada keberuntungan. terutama sekali melakukan tindakan "mengadu telur dengan batu.. "Walaupun dia tak akan turun tangan keji kepadaku. tak terlukiskan rasa haru dalam hatinya hingga tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran. dia menutupi wajahnya dengan sepasang tangan dan menangis tersedu sedu." Sambil berkata seka1i lagi dia menjura. Hu-yong siancu berkata lagi dengan air mata bercucuran: "Bangkitlah anak Giok." Hu-yong siancu menghela napas sedih. ter-paksa budi kebaikanb bibi dan enci jCian akan kubaygar dalam penitibsan mendatang." . kata nya kemudian dengan mengandung arti dalam.

tidak sampai sepuluh li kau akan tiba di jalan raya menuju ke kota Tek-an." Ciu Siau cian memandang Lan See giok dengan wajah sayu. "Kehidupan orang di kampung nelayan amat sederhana dan bersahaja. setelah memandang suasana gelap di luar halaman. Lan See giok sendiri meski merasa berat hati." . "Anak giok menerrima semua nasezhat. aku pasti da-pat kembali dengan aman dan selamat. kau boleh berangkat sekarang. namun wajahnya masih tetap tenang.239 Lan See giok sangat terharu. tak akan kulupakan pengharapan dari cici.!" Lalu kepada Siau cian ujarnya pula: "Enci Cian. nah. sahut nya dengan air mata bercucuran. "Adikku cici akan selalu menantikan ke-datanganmu.." BAB 12 CIU Siau cian manggut-manggut. pasti tak wakan kusia siakran harapan bibi dan cici". sekarang ke-banyakan orang dusun telah pergi tidur.." Seusai berkata. dia lantas membalikkan badan dan masuk kembali ke ruang dalam Melihat bibinya telah masuk. anak Giok akan segera berangkat. tujuan kepergianmu ke bukit Hoa san adalah untuk belajar ilmu silat." Ciu Siau cian yang masih menangis terisak pun segera mengangkat kepalanya dan me-mandang Wajah Lan See giok dengan mu-rung. namun dia toh menjura juga seraya berkata: "Harap bibi baik-baik menjaga diri. lalu larilah menuju barat laut. baik baiklah menjaga diri. dia memang tidak mempunyai keyakinan apakah kepergian Lan See giok kali ini benar bisa pulang kembali dengan selamat. Lan See giok segera menggenggam tangan Siau cian dan berkata dengan lembut. beribu ribu patah kata semuanya di-tumpukkan dalam balik sorot matanya itu. butiran air mata sekali lagi jatuh bercucuran. "Cici tak usah bersedih hati. katanya lebih jauh. kepergian siaute kali ini paling banter cuma satu tahun. se-andainya terjadi sesuatu ditengah jalan kau tak boleh berdiam diri terlalu lama. ujarnya de-ngan wajah penuh rasa menyesal. kemudian manggut-manggut. Hu-yong siancu manggut-manggut dengan sedih. Maka sekali lagi dia berkata dengan wajah bersungguh sungguh: "Anak giok. sekarang berangkatlah lewat halaman belakang. sampai waktunya aku pasti akan balik kembali. Walaupun Hu-yong siancu merasakan hatinya sakit bagaikan diiris iris dengan pisau.

kemudian mengulap-kan tangannya ke arah jendela belakang. semoga kau selamat dan sukses sepanjang jalan" Kemudian dengan penuh keramahan dia menepuk bahu pemuda itu. ia da-pat merasakan ada empat buah sorot mata yang tak tenang dan gelisah sedang menga-wasi dirinya. beribu bintang bertebaran diangkasa. Hu-yong siancu segera tertawa. Buru-buru Lan See giok menggunakan ujung bajunya untuk menyeka air mata di wajah encinya. ia lihat langit nan biru. sementara air matanya tak tahan jatuh bercucuran. sambil pura-pura gembira. Sementara itu bibi Wan telah membuka jendela belakang secara hati-hati. namun tak sepatah katapun yang dikeluar-kan. kemudian dengan cekatan dia menengok sekeliling jendela luar. suasana kegelapan menyelimuti seluruh dusun. dua baris air mata sudah meleleh ke luar bagaikan air bah yang menjebolkan bendungan. ke-mudian baru melompat ke luar dari jendela dan secepat kilat meluncur ke luar dari pagar rumah. setelah itu mereka berdua baru masuk ke ruang dalam. Ketika Lan See giok menyusul sampai di situ. namun dari celah-celah jendela. bibirnya bergetar seperti ingin mengucapkan sesuatu. Setelah sampai di belakang sebatang pohon yang rimbun. Setelah celingukan sekejap ke sekeliling tempat itu. Dengan cekatan sekali lagi dia mengawasi sekeliling tempat itu. Pada saat dia membalikkan badan itu-lah. . Tak terlukiskan rasa kaget Lan See giok. saking terkejutnya ia membentak seraya menerjang ke muka dengan sebuah pukulan siap dilontarkan.240 Belum habis perkataan tersebut diucap-kan. "Anak giok. berangkatlah sekarang. sekali lagi dia menengok sekejap ke arah encinya. dari bawah pohon yang ke tiga dijumpai ada sesosok bayangan manusia sedang berjong-kok di situ. . jendela rumah bibinya telah di tutup. ia berhenti sebentar seraya berpaling. . Lan See giok manggut-manggut. dengan menyembunyikan diri di-balik pepohonan dia meneruskan perjala-nannya ke depan. mumpung saat ini tiada orang cepatlah berangkat. tam-paknya belakang dusun tidak ada se-orang manusiapun!" Lan See giok memandang ke arah bibinya airmata bercucuran amat deras. Tiba-tiba Hu-yong siancu berpaling dan bisiknya lirih: "Anak giok. Tiba-tiba . katanya dengan suara rendah. setelah itu baru membalikkan badan dan melanjut-kan perjalanannya.

Dengan perasaan terkejut Lan See giok mengangkat kepalanya.. bila ada orang menghalangimu. napasnya sangat teratur." Lan See giok mengangguk berulang kali. kemudian. sekali lagi paras muka mereka berubah hebat. akan tetapi Oh Li cu masih tetap tidur amat nyenyak. kemudian berjongkok dan me-meluk Oh Li cu ke dalam rangkulannya. aku menemukannya bersandar di tempat ini!" Sekarang Hu-yong siancu sudah merasa-kan kalau gelagat kurang beres. Ketika kedua orang itu melihat Oh Li cu dalam rangkulan Lan See giok. telapak tangannya segera di angkat siap membebaskan totokannya. je-las ia sudah ditotok jalan darah tidurnya.241 Tapi setelah berhasil mendekati dihadapan nya. dari antara pepo-honan ia saksikan ada dua sosok bayangan manusia sedang meluncur datang dengan kecepatan luar biasa ternyata mereka adalah bibi Wan serta enci Cian yang mungkin mendengar suara bentakannya tadi. Waktu itu Oh Li cu sudah tertidur dengan nyenyak sekali. dengan cekatan dia awasi sekeli-ling tempat itu. se-telah itu bisiknya lirih: "Anak Giok. ternyata orang itu tak lain adalah Oh Li cu yang telah ditotok jalan darahnya. . Dengan nada gelisah Hu-yong siancu segera menegur: "Anak giok. bantah Lan See giok. lalu bisiknya: "Bibi. Mendadak terdengar ujung baju terhembus angin berkumandang datang . anak giok berangkat dulu!" . menyusul kemudian dia periksa keadaan di sekeliling tempat itu dengan seksama. Hu-yong siancu dan Ciu Siau cian de-ngan wajah pucat dan gerak gerik gugup te-lah meluncur tiba. ia sudah dito-tok lebih dulu jalan darah tidurnya oleh orang lain. Lan See giok segera berusaha mengen-dalikan diri.. agaknya jalan darah tidurnya telah ditotok serangan dengan se-macam ilmu totokan khusus!" Hu-yong siancu manggut-manggut. ia baru tertegun karena kaget. persoalan di sini biar aku yang hadapi. kau tak boleh membunuhnya. "Bibi. Pada saat itulah. Dalam keadaan begini Lan See giok sudah tak bisa memikirkan lagi bagaimana akibat nya bila dia menyadarkan kembali Oh Li -cu." Seraya berkata ia berjongkok dengan gugup. Belum habis Ingatan tersebut melintas le-wat. Dengan perasaan tegang Lan See giok segera berbisik "Bibi. ia segera me-nerima 0h Li cu dari rangkulan Lan See-giok dan secara beruntun melepaskan tiga buah tepukan. . tak usah dilayani. cepat pergi.

bukan berarti aku ta-kut kepadamu. dia sudah tak ber-minat lagi untuk memikirkan soal Oh Li cu yang ditotok orang. Pada saat itulah. kemudian baru mene-ngok kearah utara. apa yang dipikirkan sekarang adalah secepatnya meninggalkan daerah pesisir telaga. kemudian meneruskan per-jalanan ke depan. Perasaan tegang dan panik yang semula mencekam perasaannya. Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera menyembunyikan diri di belakang se-batang pohon besar. aku To pit him (beruang berlengan tunggal) Kiong-Tek-ciong selalu mengalah kepadamu.. Setelah melalui sebuah tanah perbukitan. Lan See giok tidak merubah arah. beberapa lompatan kemudian ia telah tiba di luar dusun. bila kau memang punya kepandaian. kau harus tahu hanya mereka yang berjodoh dan punya rejeki besar yang akan mendapatkan benda mestika. lamat-lamat di kejauhan sana sudah terlihat jalan raya menuju ke kota Tek an. lambat laun dapat ditenangkan kembali. dari tempat itulah gelak tertawa nya-ring tadi berasal. berada dalam kegelapan yang luar biasa. ayolah ma-suk sendiri." . Tanah persawahan yang dilewati. dalam waktu singkat tujuh delapan li telah dilalui. kau jangan kelewat memojokkan orang. Sekeluarnya dari dusun. Dengan menghimpun tenaga dalamnya ke dalam telapak tangan untuk berjaga jaga atas segala kemungkinan yang tak diingin-kan. Kembali terdengar suara bentakan penuh kegusaran: "Hei orang she Gui. Satu dua li dari tempat persembunyian nya merupakan sebuah hutan pohon siong yang lebat. dia meneruskan perjalanannya menembusi hu-tan melewati bukit langsung ke arah barat laut. di sana sini hanya terdengar suara jengkerik serta kunang-kunang yang terbang kian kemari. dia membenarkan arah tujuannya.242 Sekali lagi dia menengok ke arah encinya yang berwajah pucat pias itu kemudian membalikkan badan segera berangkat me-ninggalkan tempat itu. Dalam keadaan begini. aku tak nanti akan mengincar dirimu. Lan See giok percepat langkahnya mening-galkan tempat itu. Serentetan suara gelak tertawa yang sangat keras dan nyaring berkumandang datang dari arah utara sana. Dikejauhan sana nampak tanah perbu-kitan secara lamat-lamat serta hutan lebat yang gelap gulita. sorot matanya yang tajam memperhatikan keadaan di sekitarnya de-ngan seksama.

ter-nyata hutan pohon siong di depan sana tak lain adalah kuburan Ong-leng yang didia-minya selama banyak tahun. jangan harap kau bisa pulang ke bukit Tay ang-san mu dalam keadaan hidup!" Tergerak hati Lan See giok. menyusul kemudian bergema suara desingan suara tajam dan deruan angin pukulan. Ketika ia mencoba untuk memasang telinga kembali. Rupanya pemuda itu segera menyadari karena agaknya pertarungan dari si tongkat besi berkaki tunggal dan Beruang berlengan tunggal segera di akhiri ber-hubung mereka telah menangkap suara ujung bajunya yang terhembus angin. ia jumpai dibalik hutan pohon siong terse-but ternyata bukan lain adalah puncak ku-buran Ong-leng yang sangat dikenal olehnya. hanya tidak di-pahami olehnya masalah yang membuat kedua orang itu ribut sendiri. cepat-cepat dia lari turun dari bukit dan kabur menuju ke-gelapan di arah utara. Lan See giok tahu bahwa kedua orang itu sudah mulai melibatkan diri dalam pertaru-ngan sengit. hari ini kaupun jangan harap bisa kembali ke benteng Pek-hoo-cay!" Diiringi suara gelak tertawa yang nyaring. Lan See giok segera memastikan kalau suara tertawa itu berasal dari To tui thi koay (tongkat ber-kaki tunggal) Gui Pak ciang. kau tidak usah bermain kembangan dihadapanku. "Orang she Gui!" bentakan nyaring kembali berkumandang. Sekarang Lan See giok baru mengerti. kita boleh dibilang musuh bebuyutan yang merasa jalan kelewat sempit. "Aduh celaka" pekik Lan See giok dalam bad. Dengan cepat dia menyembunyikan diri ke belakang bantuan cadas yang berada tak jauh dari sana. dengan perasaan terkejut pemuda itu segera berhen-ti. "aku akan beradu jiwa de-nganmu. ia dapat meli-hat kalau tempat kegelapan di depan sana memang sebuah hutan pohon siong. . sekarang dia baru mengerti bahwa markas besar si beru-ang berlengan tunggal berada di bukit Tay ang san. ternyata suasana dalam hutan tersebut sudah pulih kembali dalam ketena-ngan. Dalam perjalanan tersebut.243 Mendengar pembicaraan tersebut. agaknya pertarungan yang semula berlangsung kini telah mereda. Tapi setelah maju lebih ke muka. Dari balik hutan kembali kedengaran suara Gui Pak ciang yang kasar. tergerak hatinya. "Beruang berlengan tunggal. bila kau tidak serahkan benda tersebut pada malam ini.

Tanpa terasa dia meraba kotak kecil dalam sakunya. kalau tidak segera ke luar. diapun hanya bisa menunggu sampai kedua orang itu mencari sampai ke arahnya. gelisah berkecamuk di dalam benaknya kalau bisa dia ingin segera menghabisi nyawa sendiri. Berpikir demikian. rasa menyesal. mereka berdua tentu tak akan menyangka kalau dia sudah terperosok ke dalam keadaan yang sangat berbahaya kini. terpaksa satu satunya jalan adalah beradu jiwa . dari pada benda mestika itu terjatuh ke tangan dua orang penjahat itu. Beruang berlengan tunggal berdua merasa sangat terkejut. ia merasa telapak tangan nya sudah mulai basah oleh keringat dingin." . Untuk kabur. malu. lebih baik ia hancurkan kitab pusaka tersebut. Pada saat tangan kanan Lan See giok ham-pir menyentuh kotak kecil tersebut. ke empat buah sorot mata mereka yang tajam bagaikan sembilu segera dialihkan ke arah tanah persawahan sana.. dari balik hutan pohon siong di depan sana segera muncul dua sosok baya-ngan manusia. Teringat bibi Wan serta enci Cian nya. Buru-buru Lan See giok menundubkkan kepalanya jsambil menyembugnyikan diri. ternyata si tongkat besi kaki tunggal serta si beruang berlengan tunggal dengan senjata disiapkan sedang melakukan pencarian ke arahnya. jelas hal ini tak mungkin akan berhasil.. Di dalam waktu yang amat singkat itu. di samping Lan See giok menyesali kecerobohan sendiri. mau bertarung diapun sadar bahwa kemampuannya belum mampu untuk menghadapi kedua orang tersebut. .. dengan cepat dia membalik-kan badan seraya membentak: "Siapa di situ?" Tapi suasana dalam hutan sangat hening dan tak kedengaran sedikit suarapun. di samping itu diapun lantas teringat kembali pesan bibinya sebelum berpisah tadi. Sewaktu mengangkat kepalanya kembali. dia jadi gemetar karena ketakutan. ia tahu benda tersebut tentu akan sukar dipertahankan lagi. menda-dak terdengar suara tertawa dingin seseorang yang sangat rendah berkumandang datang dari arah hutan pohon siong sana. diam-diam ia merogoh ke dalam sakunya. Mendadak terdengar si tongkat baja kaki tunggal membentak nyaring: "Manusia sialan mana yang tak berani bertemu orang. . Dalam keadaan begini. habtinya sangat gelisah selain menyesal.244 Benar juga.

kalau ditinjau dari jeritan kagetnya yang menyeramkan tadi. Pemuda itu dapat menduga. sambil membentak nyaring serentak mereka menyerbu ke dalam hutan. Sementara masih termenung. ketika berpaling kecuali pepo-honan rendah yang tersebar di belakang sana. "Plaaakkk.245 Belum habis umpatan tersebut dbiutarakan. dengan cepat dia melompat bangun dan segera kabur menuju ke arah barat laut. Kedua orang tersebut menjadi tertegun kemudian berteriak kesakitan. dria tak menyangka dalam bahayanya tadi ternyata muncul seo-rang bintang penolong yang tak sempat di-jumpai wajahnya. bagaikan segulung asap ringan dia langsung melarikan diri menuju ke arah jalan raya. larinya semakin diper-cepat. Kontan saja si Tongkat baja kaki tunggal serta si Beruang berlengan tunggal jadi gusar sekali. . Belum sampai lima kaki Lan See giok mela-rikan diri. tahu-tahu saja kedua titik hitam tadi sudah menghajar di atas kening si Tongkat baja kaki tunggal dan si beruang berlengan tunggal secara te-lak. po-hon siong telah berkumandang dua kali jeri-tan kaget yang tinggi melengking serta penuh mengandung nada seram den ngeri. darij balik hutan teglah meluncur keb luar dua titik bayangan hitam yang langsung me-n-yambar ke hadapan tongkat baja kaki tunggal berdua dengan membawa desingan suara tajam. ternyata senjata rahasia yang bersarang di atas pipi mereka berdua tak lebih hanya dua gumpal lumpur belaka. Lan See giok segera memperoleh peluang yang baik sekali. . tiba-tiba saja dari arah hutan. masa aku harus menunggu sampai datangnya saat kematian?" Berpikir demikian. si Tongkat baja kaki tunggal serta Beruang berlengan tunggal tentu sudah bertemu dengan gem-bong-gembong iblis yang kejam dan buas. ia tidak melihat ada manusia yang mengejar ke arahnya.. plaaakkk!" Debu bertebaran ke angkasa. kedua orang itu tak sempat lagi untuk menghindarkan diri. Dalam hati kecirlnya Lan See gizok tiada hentinwya bersyukur. Gemetar sekujur badan Lan See giok. Berhubung gerakannya sangat cepat dan luar biasa. ia tak berani berpaling lagi. bisa diketahui kalau kedua orang tersebut tentu ketakutan sekali menjumpai lawannya. pekiknya dalam hati: "Kalau sekarang tidak angkat kaki. mereka meraba pipinya. ia sudah tiba dijalan raya.

Lan See giok tahu. Sementara masih termenung dia telah tiba di kota Tek-an. cahaya lentera tersebut berasal dari kota Tek-an. dahaga. . dia langsung berangkat menuju ke kota Toan cong. akan tetapi bayangan kota Toan-cong belum juga nampak. Berhubung pada siang harinya dia sudah tidur cukup. tak lama kemudian tengah malam pun telah tiba. Tiba-tiba--Bau harum semerbak yang sangat aneh muncul secara mendadak dari dalam tenggo-rokannya. kegelapan malam yang mencekam makin terasa gelap. di bawah cahaya rembulan yang amat redup Lan See giok berlarian seorang diri ditengah jalan raya yang lenggang. Dalam kegelapan di kejauhan sana lamat-lamat dia melihat munculnya sebuah kota besar dengan beberapa titik lentera merah digantungkan ke tengah angkasa. Malam semakin kelam. tapi oleh sebab dia tidak merasa lelah. karenanya tanpa terasa semangatnya kembali berkobar. meski hanya setitik cahaya namun cukup menda-tangkan semangat bagi Lan See giok yang sedang -berlarian ditengah kegelapan. selain tenaga dalamnya telah peroleh kemajuan yang pesat. hingga sekarang ma-salah tersebut masih merupakan sebuah tanda tanya besar. angin malam terasa makin dingin.246 Sekalipun orang yang berada di belakang itu tidak mengejarnya. Maka dengan melingkari kota. Sementara itu rasa lapar. ia tak berani melambatkan gerakan tubuhnya barang se-bentarpun karena sekarang dia baru mengingatkan diri atas pesan dari bibinya. me-ngapa bisa demikian. diapun sama sekali tidak merasa lelah. tapi pemuda kita ber-larian terus dengan kencang. dari keja-uhan sana ia mulai mendengar suara ayam jago berkokok. apalagi semenjak dia me-ne-lan pil racun pemberian dari manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san. diputuskan untuk melanjutkan perjalanannya lebih jauh. Dia tahu. entah berapa jauh perjalanan telah ditempuh. Satu kentongan sudah lewat. jangan mencampuri urusan yang bukan masalah sendiri. sesaat lagi fajar akan menyingsing. saat ini semangatnya terasa berkobar-kobar. lelah dan gelisah telah menyerang datang bersama sama. Waktu berlangsung amat cepat. air peluh sudah mulai membasahi se-luruh jidatnya. suasana di sekeli-ling tempat itupun sangat hening.

bau harum tersebut makin lama terasa semakin menebal. Dia merasa cairan harum itu berasal dari dalam tubuhnya sendiri. persis seperti bau harum yang dirasakan setelah menelan pil berwarna hitam pemberian dari Oh Tin san sewaktu berada di dalam kuburan kuno tempo hari. sebelum ia bersemedi tadi. enam tujuh kaki di sebelah kiri jalan. bdahaga dan lelajh yang semula mgenghantui dirinbya. Lan See giok memejamkan matanya sambil mengatur pernapasan. hal ini pasti bukan ditimbul-kan oleh cairan racun pil pemberian Oh Tin san tempo hari. dusun di kejauhan sana pun lamat-lamat sudah mulai kelihatan. dia merasakan mun-culnya cairan harum yang amat luar biasa dari bawah lidah dan kerongkongan nya. tapi sekarang selesai ia . Ia tidak berniat untuk berpikir lebih jauh. sekarang telah hilang lenyap tak ber-bekas. pada hakekatnya bagaikan dua manusia yang ber-beda bila dibandingkan sebelum bersemedi tadi. kerongkongannya juga tidak terasa dahaga lagi. Dengan perasaan girang dia meneruskan perjalanannya. penuh semangat dan tenaga. tapi ia percaya. dari ke-jauhan sana mulai terdengar suara anjing menggonggong. jelas hal semacam ini tak mungkin bisa dilakukannya. dia harus bersemedi lebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan. malah rasa lelah yang semula mencekam tubuhnya kini sudah jauh berkurang. kejadian tersebut kem-bali membuat anak muda tersebut ter-mangumangu karena kaget. ia merasakan tubuhnya telah segar bugar kem-bali. sekali melompat tahu-tahu saja sepasang kakinya sudah melayang turun ditengah jalan raya. Maka dengan sorot mata yang tajam dia mulai mengawasi keadaan di sekeliling tem-pat itu. dia lihat fajar mulai menyingsing. rasa lapar. Padahal jarak antara pepohonan dimana ia bersemedi tadi dengan jalan raya men-capai enam tujuh kaki lebih. Dalam keadaan begini dia merasa tak bisa melanjutkan perjalanannya lagi.247 Berbareng itu juga. dengan cepat pula rasa lapar yang semula merong-rong dirinya kini hilang lenyap tak berbekas. ENTAH berapa lama sudah lewat. Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera memperlambat gerakan tubuhnya. Lan See giok segera melompat bangun. akhirnya ia duduk bersila di bawah sebatang pohon yang rindang. dalam waktu singkat timbul hawa panas yang sangat hangat dari pusarnya yang dalam waktu singkat telah menyebar ke seluruh tubuhnya. ketika Lan See giok membuka matanya. Entah sedari kapan.

saat para pedagang mulai meninggalkan rumah penginapan untuk melanjutkan per-jalanan. Ia segera memilih sebuah rumah pengina-pan yang agak besar untuk beristirahat. Langit baru saja terang tanah.248 bersemedi. lalu dengan senyuman di wajah sapanya: "Siauya. di sana tersedia kamar tunggal yang dikelilingi ke-bun. dia meneruskan perjalanannya juga lebih cepat lagi. ternyata hal mana bisa dilakukan olehnya dengan begitu mudah. Ketika Lan See-giok masuk ke jalan Lam-kwan. namun jalan raya itu sudah banyak manusia yang berlalu lalang. Rasa terkejut. silahkan masuk ke dalam." Kemudian sambil menuding sebuah kamar tunggal di depannya. jangan lagi bekalnya amat sedikit. gembira. cepat-cepat mereka maju menyam-but kedatangannya. seusai bersantap nanti aku masih melanjutkan perjalanan kembali. matahari baru saja muncul. dia melanjutkan: "Biar aku menyewa kamar itu saja!" Pelayan segera mengiakan berulang kali dan mengajak Lan See giok menuju ke ru-angan. kota Toan-cong pun kini sudah mun-cul di depan mata. Para pelayan rumah penginapan kebanya-kan adalah orang-orang yang sudah berpe-ngalaman. kemudian berkata dengan hambar: "Aku hanya ingin beristirahat sebentar saja. Beberapaj orang pelayan gtersebut tak bebrani berayal. . girang membuat semangatnya semakin berkobarkobar. Apalagi kalau melihat usianya yang paling banter baru lima enam belas tahunan. dalam sekilas pandangan saja. mereka sudah tahu kalau Lan See giok adalah anggota persilatan yang baru saja menempuh perjalanan semalam suntuk. tanggung siauya akan puas" Lan See giok tidak ingin melakukan pem-borosan. maka dengan langkah le-bar dia segera berjalan menuju ke depan. ada kacung ada pelayan. semua persediaan lengkap. Karenanya dengan kening berkerut dia awasi beberapa orang pelayan itu. kendati pun dia membawa sejumlah uang yang lebih besar pun tak nanti dia akan boros seperti itu. orang yang berani menempuh perjalanan malam dalam usia seperti ini jelas sudah kalau kepandaian silat yang dimiliki nya pasti amat hbebat.

ia tidak terlalu yakin sekarang bahwa To seng cu adalah musuh besar pem-bunuh ayahnya. Ditinjau dari kejadian berkumpul dan berpisah dengan encinya. namun ia tetap menaruh curiga kepadanya. selain tidak sombong. biarpun berasal dari keluarga kaya namun hidupnya bersa-haja. Cairan harum itu yang muncul dari kerongkongannya pagi tadi serta bertambah-nya tenaga dalam yang dimiliki. Lantas dia pwun terbayang kermbali Oh Li cu yang jalan darah tidurnya ditotok orang. berarti dia tak akan bisa me-nyelidiki lagi sebab musabab mereka bisa mendatangi kediaman ayahnya pada malam itu. selain sebuah meja dua bangku dan sebuah pem-baringan kayu. Beberapa orang pelayan itu saling ber-pan-dangan sekejap lalu samasama mengundur-kan diri. diapun menjum-pai kalau antara bibi Wan dengan ayahnya tentu pernah mempunyai suatu hubungan ryang luar biasaz. Dari pembicaraan Oh Tin san suami istri. Maka pemuda itu pun memesan sejumlah makanan yang sederhana untuk mengisi pe-rut. sekarang dia berani memastikan kalau selama berada dalam kuburan kuno tempo hari. Lan See giok segera membaringkan diri untuk beristirahat. Akhirnya diapun membayangkan kembali soal To seng-cu. tapi biar sederhana namun segalanya bersih. maka ia bertekad dihati. dari nasehat dan teguran dari bibinya. . dia tahu kalau enci Cian amat mencintainya. dia akan hidup selamanya bersama enci Cian serta bibi Wannya. per-tama tama dia teringat akan enci Cian serta bibi Wannya. en-tah bagaimana keadaannya sekarang? Dia pikir. tidak nampak perabot yang lain. Seusai bersantap. ia memang telah memperoleh penemuan luar biasa. semuanya membuat dia bingung dan tidak bebas mengerti. apabila kepergiannya ke bukit Hoa--san kali ini berhasil mempelajari kepandai-an silat sehingga dendamnya bisa terbalas. diam-diam mereka memuji akan kesederhanaan pemuda itu. orangnya selalu merendah. bibi Wan dan enci Cian pasti akan baik-baik merawat dirinya. dua jeritan kagetnya yang memekikkan telinga tadi entah merupakan jerit kesakitan ataukah jeritan ngeri men-je-lang saat ajalnya tiba? Bila kedua orang itu sudah tewas. diapun tahu kalau bibinya dahulu terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang ber-nama Hu-yong siancu.249 Ruangan tersebut sangat sederhana. Setelah itu diapun membayangkan si Tongkat baja kaki tunggal serta Beruang berlengan tunggal. kemudian berdasar-kan pembicaraan kemarin.

dalam waktu singkat ia telah berada dalam keadaan tenang' Entah berapa saat kemudian. ter-utama rasa terima kasihnya atas pemberian beberapa butir pil pemunah racun untuknya. Diapun amat berterima kasih kepada kakek berjubah kuning itu. dia selalu menempuh perjalanan dengan berhati hati dan hemat. Dari jauh memandang. bukan saja tidak melarikan kitab pusaka Tay lo hud bun pwee tiap cinkeng. dalam benaknya juga sering muncul bayangan wa-jah dari enci Cian nya yang cantik dan lem-but serta bibi Wan nya yang anggun dan ramah. gagah tak malu di sebut bukit kenamaan di daratan Tionggoan Baru pertama kali ini dia berkunjung Ke bukit Hoa san. membayar rekening dan meneruskan perjalanan. waktu sudah mendekati pu-kul sembilan. Dalam satu bulan perjalanan. hanya sewaktu ter-ingat Siau thi-gou yang polos dia selalu merasa agak menyesal. menutup mata dan mengatur pernapasan. dia jadi ingin sekali tiba di bukit Hoa san secepatnya. selama ini dia tak pernah da-pat melupakan dendam sakit hatinya. ia menjadi jauh lebih ma-tang daripada ketika berada di benteng Wi-lim-poo. begitu angker. dengan cepat dia mem-benahi diri.250 Teringat akan To seng cu. ketika mem-buka matanya. malah dia sempat memberita-hukan kepadanya bagaimana caranya mem-pelajari kitab pusaka tersebut. Lewat tengah hari. . Maka dia segera melompat bangun. lalu duduk bersila. Hanya saja. walaupun beberapa kali ia menjumpai hujan salju yang lebat. bukit itu nampak angker dan bersambungan dengan awan di angkasa. Hari ini ia menyeberangi Han sui. boleh dibilang dia sama sekali tidak mengenal dengan keadaan situasi di sekitar situ. Sepanjang perja-lanan Lan See giok selalu menuruti nasehat dari bibinya. Dia juga berterima kasih kepada gadis ber-baju merah Si Cay-soat. Dalam sepanjang perjalanan. Lan See giok pun telah memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman. namun sama sekali tidak mem-penga-ruhi perjalanannya. Kadangkala diapun teringat Oh Li cu. bukit Hoa san yang tinggi dan angkerpun sudah muncul di kejauhan sana. akhirnya pemuda itu memutus-kan untuk menginap di sebuah kota kecil yang jaraknya hanya sepuluh li dari kaki bukit. dia sudah memasuki wilayah propinsi Ou pak.

puncak manakabh yang paling indah?" Menghadapi pertanyaan itu. sang pelayan kembali telah menimbrung: "Giok li hong amat tinggi bukitnya dan se-lalu tertutup awan putih. .251 Seorang diri pemuda itu duduk di loteng rumah makan sambil memandang bukit yang menjulang tinggi ke angkasa dengan panda-ngan termangu." mencorong sinar terang dari balik mata Lan See giok. . lama kelamaan ia menjadi tak tega. Seorang pelayan yang sudah sejak lama mengamati tamunya ini.. kemudian ta-nyanya dengan nada tidak mengerti: "Masa di atas bukit Hoa san hanya ter-da-pat tiga buah puncak kenamaan saja . Giok li hong. Lan See giok segera berkerut kening. tentu saja banyak sekali. gardu Nyoo kong teng. apakah perlu hamba hangatkan dulu?" Melihat pelayan tersebut.. dan dia pun tak tahu harus masuk melalui jalan bukit yang mana. sang pelayan segera merasakan semangatnya bangkit kembali. tum-buhan bambu. "seperti Im tay hong.?" "Aaah." jawab pelayan itu bersungguh sungguh. " "Giok li hong . ia tak tahu bukit manakah yang dinamakan Giok li hong. Tidak menanti sampai pemuda itu me-nye-lesaikan kata katanya." Melihat si pelayan sama sekali tidak me-nyinggung soal puncak Giok li hong. Menyaksikan pelayan itu bercerita dengan penuh semangat sampai mukanya turut menjadi merah. di atas puncak terdapat kuil Pek tee bio. pohon siong. ia bertanya: "Tolong tanya. diantara sekianb banyak bukit dji bukit Hoa sang. setelah itu menunjuk ke tanah per-bukitan di depan sana. sedangkan Lok-eng-hong terletak di sebelah selatan. segera selanya: "Tolong beri petunjuk kepadaku Giok-li--hong adalah puncak yang mana?" . puncak di bagian tengah yang paling tinggi disebut puncak Lian hoa hong. tugu Jian jip pit masih ada lagi tem-pat-tempat kenamaan lain. dia menunjuk kearah deretan pe-gunungan itu lalu. segera datang menghampiri sambil menegur: "Tuan. tergerak hati Lan See giok. dia tertawa ramah kemudian meng-geleng. Kun cu hong. araknya sudah mulai dingin rupa-nya. batuan air kolam penuh ber-serakan dimana mana. semua tempat indah seperti gadis cantik yang tinggi semampai. kolam Lok eng ti. di sebelah timur adalah Sian jin hong. menerangkan: "Tiga puncak bukit Hoa san sukar di beda-kan satu dengan lainnya.

"Hamba hanya manusia kasar yang tidak berkependidikan. meski kabut pagi masih menyelimuti angkasa. bila kau ingin berkunjung ke Giok.dan segar bugar. jadi tidak ter-lihat dari tempat ini. Waktu itu udara sangat cerah. terhembus angin pagi yang segar tubuh terasa lebih bersemangat. kemu-dian sambit menuding katanya lagi. masuklah ke gunung lewat mulut lembah sempit. Lan See giok telah me-ninggalkan kota kecil itu langsung menuju ke jalan raya yang berhubungan dengan kaki bukit bagian selatan dari bukit Hoa-san. banyak manfaat yang berhasil di-raih olehnya. dari situ akan kau jumpai Giok li hong. ular besar. di atas gunung pun banyak harimau. namun pegunungan Hoa san dapat terlihat secara lamat-lamat. sambil tertawa paksa ia menggelengkan kepalanya berulang kali. andaikata dia menggu-nakan ilmu meringankan tubuh. . apalagi dari sini sam-pai di Giok li hong memakan waktu perja-la-nan selama dua hari lebih. menurut cerita pelayan itu. aku tidak memiliki jiwa seni yang begitu tinggi. "Kau pernah berkunjung ke Giok li hong?" tanyanya kemudian dengan kening berkerut. binatang buas dan lain lainnya." Sambil berkata dia lantas mengalihkan pandangannya kearah Lok eng hong.giok mengangkat kepalanya. dia pun manggutmanggut.252 Pelayan itu segera menggelengkan kepala nya berulang kali. langsgung pergilah keb Lok eng hong. awan putih nampak menyelimuti puncak-puncak bukit itu se-hingga kelihatan seperti bersambungan satu dengan lainnya. ketika matahari belum muncul dia sudah tiba di kaki selatan bukit Hoa san. orang biasa dapat mencapai tujuan dalam dua hari perjalanan. "Tuan. "Begitulah.li-hong. setibanya pada puncak bke tujuh Tiau yjang hong. bintang bertaburan diangkasa. Memandang jauh ke depan. salahsalah aku bisa kehilangan nyawa" Lan See giok tersenyum saja mendengar cerita itu. puncak Giok li hong tertutup oleh puncak Lok eng hong. Dengan dilangsungkannya pembicaraan tersebut. sukar diketahui berapa jauh jaraknya dari tempat itu." Mengikuti arah yang ditunjuk Lan See. berarti hanya setengah harian saja dia akan tiba di tempat tujuan. katanya sambil tertawa paksa: "Maaf tuan. Merah padam selembar wajah pelayan itu. keesokan harinya ketika fajar baru menyingsing. Lan See giok menempuh perjalanannya dengan cepat.

puncak terse-but masih ada ratusan kaki tingginya. Lan See giok meninggalkan jalan raya menuju ke sebuah mulut bukit. kabut masih menyelimuti angkasa. Sewaktu tiba di sebuah sudut bukit. ia mencoba un-tuk mendongakkan kepalanya. Segera diamatinya suasana di sekeliling tempat itu dengan seksama. puncak bukit ber-munculan seperti hutan. Dua jam kemudian. Dalam keadaan begini dia mulai merasa gugup. dengan cepat ia temukan antara puncak dengan puncak lain boleh dibilang semuanya berhubungan. kakinya sudah mulai menginjak lapisan salju. tumbuhan. akar rotan tumbuh dimana mana. di samping itu diapun berhasil menemukan kilauan cahaya dinding kuil di punggung bukit di kejauhan sana. Mendongkol dan gelisah segera menye-li-muti perasaan Lan See giok. sebab bila keadaan seperti ini ber-langsung terus. dia meneruskan perjalanannya bagaikan terbang.. Sejauh mata memandang hanya lautan mega yang tak bertepian. tidak akan sulit untuk menemu-kan Giok li hong.. biarpun berlarian sampai be-sok tengah haripun belum tentu dia akan menemukan puncak Giok li hong. jauh memandang ke atas. Pemuda itu segera mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan.253 Setelah membenarkan arah menuju ke puncak Tiau yang hong sesuai dengan pe-tunjuk pelayan. Baru pertama kali ini Lan See giok mema-suki sebuah bukit besar yang begitu angker. mendongakkan kepalanya dia hanya melihat pantulan sinar matahari yang amat menyi-laukan mata. awan putih yang berkuntum kuntum lewat di sisi tubuhnya membuat pemuda itu kadangkala tak bisa membedakan lagi arah mata angin. Tapi pemuda itu tidak putus asa. dia sudah tak tahu dimanakah dirinya berada. Setelah membenarkan arah. dalam angga-pannya setelah mencapai puncak bukit itu.. hanya awan putih yang menyelimuti dimana mana. suasananywa segera berubarh. makin lama makin sesukar medan yang ha-rus di lewatinya. pada-hal tengah hari sudah tiba.hong yang berjejer dengan puncak Lok eng hong ternyata masih berada dua tiga puluh li jauhnya. selang-kah demi selangkah dia melanjutkan perja-lanannya ke atas. jauh berbeda dengan apa yang semula dibayangkan. batuan cadas berse-rakan. Setelah memasukri daerah pegunuzngan. . puncak Tiau yang. akhirnya pandangan ma-tanya menjadi terang dan ia sudah menem-busi lapisan awan.

Lan Se giok benar-benar amat kegirangan. Mendadak. lalu dengan sorot mata yang tajam meng-awa-si Lan See giok dari atas hingga ke bawah.. Lan See giok sangat gembira. Benar juga. tanpa terasa sekali lagi dia berpekik panjang. setelah melewati beberapa buah puncak bukit. gerakan tubuhnya juga dipercepat. gelisah hampir terlampiaskan ke luar. Pemandangan di atas puncak ini sangat indah. marah. pita kuning tergantung pada gagang pedangnya dan bergoyang tiada hen-tinya sewaktu terhembus angin. kemudian baru meneruskan perjalanannya ke depan. puncak Lok eng hong makin lama semakin dekat. tanpa terasa lagi ia berteriak keras-keras. lautan awan yang tak bertepian menyelimuti empat penjuru.. kemudian seperti menahan amarah yang meluap-luap. dia saksikan seorang pemuda berbaju abu-abu dan berusia dua puluh satu dua tahunan sedang berlarian datang dari balik hutan pohon siong dengan langkah tergesa gesa. kedatangan orang itu pasti hendak menyelidiki sumber dari pekikan-nya tadi. Memandang wajah gusar yang menbyelimuti pemudaj berbaju abu-abgu itu. Suara pekikannya mengalun di seluruh angkasa dan membumbung tinggi ke angka-sa.. lama sekali belum juga mereda. kabut melayang dekat per-mukaan sementara suara air terjun bergema entah dari mana. semua perasaan kesal. resah. pohon siong tumbuh berjajar jajar.. Benar jaga. walaupun dia merasa dirinya sangat kecil ditengah bukit yang luas namun perasaan-nya sangat lega dan membuat orang merasa se-gar. berwajah tampan dan menyoren sebilah pedang di punggungnya. Ia menangkap suara ujung baju yang ter-hembus angin berkumandang datang dari belakang tubuhnya. Tak lama kemudian dia telah tiba di pun-cak Tiau yang hong. setibanya di situ pemuda ber-baju abu-abu itu langsung menghampirinya. dia menegur dengan suara dalam. "Apakah kau baru pertama kali ini tiba di sini?" . Dengan pekikan itu. Pemuda berbaju abu-abu itu. Suara teriakannya segera menggema di seluruh angkasa dan mengalun sampai di tempat kejauhan sana. Lan See bgiok segera mengerti. Dengan perasaan terkejut Lan See giok membalikkan badan..254 Maka dia membuka perbekalannya untuk menangsal perut. dadanya terasa lega sekali. semangatnya segera berkobar kembali.

oleh sebab itu melihat datang-nya bacokan maut dari pemuda ber-baju abu-abu itu. kau pasti tak akan menyesal!" Sembari berkata ia menerjang kbe muka. Lan See giok cukup sadar. . dia tak berani menyambut dengan kekerasan. . Gulungan angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepatnya menerjang ke dada lawan. terutama sikapnya yang sangat tidak ber-sa-habat itu. biasanya pegunungan yang terpencil merupakan daerah pertapaan tokoh-tokoh persilatan yang ber-ilmu tinggi. hmmm! kalau tidak di-kasih sedikit pelajaran. "Hmmm.255 Mendongkol juga Lan See giok melihat kesombongan pemuda berbaju abu-abu itu. sebuah bacokan tangan kanan segera dilontarkan ke luar. dalam kejutnya dia mem-bentak keras. pemuda berbaju abu-abu itu segera berkerut kening. Pemuda berbaju abu-abu itu tertawa di-ngin. ujung kakinya segera menjejak tanah dan melayang mundur se-jauh dua kaki lebih.. "Aku ke mari bukan untuk memasang hio menyembah Buddha. "namun dia manggut.. tubuhnya berkelit ke samping kemu-dian mengejar lebih ke depan. pemuda berbaju abu-abu itu sudah menubruk datang. lalu dejngan jurus Lik gpit hoa san (mebm-bacok runtuh Hoa san) dia langsung meng-hajar batok kepala Lan See giok dengan kekuatan besar. aku hanya tahu. kontan saja meledak dengan hebatnya. buat apa mesti ber-kunjung ke kuil?" Amarah yang semula sudah sukar terken-dali. . jawabnya dengan suara hambar. soal-soal semacam itu mah tidak mengerti!" "Tutup bacotmu" hardik pemuda berbaju abu-abu itu semakin gusar. Karena itu dengan perasaan mendongkol dan sikap yang lebih angkuh pemuda kita menggelengkan kepalanya berulang kali.?" kembali pemuda ber-baju abu-abu itu menegur: Usia pemuda berbaju abu-abu itu paling banter hanya berapa tahun lebih tua ketim-bang Lan See giok. Belum lagi Lan See giok dapat berdiri tegak. selain memojokkan orang lagi pula bernada menegur. lalu bentaknya dengan penuh kegusaran: "Apakah kau tidak mengetahui pantangan dan larangan kami?" Lan See giok segera tertawa dingin. datang kemari untuk berpesiar. .manggut juga sambil menjawab: "Benar. tapi kesombongan nya luar biasa. baru pertama kali ini aku tiba di sini!" "Ada urusan apa kau datang ke mari? Mengapa berpekik panjang disini? "Sudah kau bertanya kepada para pendeta dan tosu dari pelbagai kuil. "masih muda sudah bicara sengak.

Menyaksikan kejadian tersebut Lan See giok merasa gelagat tidak menguntung-kan. jalan darah Pay tui hiat dipinggang belakangnya sudah kena di totok oleh pemuda berbaju abu-abu itu.. tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu sudah lenyap tak berbekas.. justru pemuda itu bisa roboh lantaran dia sedang tertegun karena totokan jalan darah nya tak mempan. tenaga dalamnya masih jauh melebihi dirinya. di antara suara langkah kaki yang mundur dengan berat. sebaliknya pemuda berbaju abu-abu itu terjatuh hingga pantat-nya beradu keras dengan tanah. . ternyata serangan dari Lan See giok menghajar permukaan tanah. Padahal dalam keadaan tak siap saja lawan sanggup membuat dirinya terdorong mundur sejauh lima langkah. Pemuda berbaju abu-abu itu membuka mulutnya dengan napas terengah engah. "Blaammm!" Benturan nyaring menggelegar memeca-h-kan keheningan. dia tahu pemuda berbaju abu-abu itu tentu anak murid se-orang jago yang lihay yang menetap di atas bukit tersebut. bisa dibayangkan sam-pai dimanakah taraf tenaga dalam yang dimi-liki orang ini. Lan See giok serta pemuda baju abu-abu itu saling berpisahr dengan sempoyozngan. pasir dan debu beterbangan ke mana-mana. Lan See giok berlagak seolah-olah tidak merasa.256 Pemuda berbaju abu-abu itu mendengus dingin. sambil membentak telapak tangan kanannya sekali lagi didorong ke muka. Akibatnya ke dua orang itu sama-sama membelalakkan matanya lebarlebar dan tertegun. Lan See giok merasakan juga lengan kanannya linu dan kaku bahkan secara lamat-lamat terasa sakit. Gerakan tubuh dari pemuda berbaju abu--abu itu selain indah dan cekatan. Tak terlukiskan rasa terkejut pemuda ber-baju abu-abu itu. sepasang telapak tangannya segera disilangkan untuk melindungi dada. Secara bweruntun Lan Seer giok mundur se-jauh lima langkah lebih. dengan perasaan terkejut dia segera memba-likkan badan: Pada saat dia sedang membalikkan badan secara tiba-tiba itulah. dia tak tahu kepandaian silat apakah yang telah dipelajari bocah berbaju perlente itu sehingga totokan jalan darahnya sama sekali tak mempan. "Blaammm!" benturan keras menggelegar lalu terdengar suara dengusan tertahan. saking kagetnya dia menje-rit keras. disam-butnya serangan tersebut dengan kekuatan penuh.

melihat pemuda berbaju abu . Tapi jika kau bersikeras juga hendak menjajal senjata ta-jamku.abu itu sudah meloloskan pedangnya. Sementara itu pemuda berbaju abu-abu itu sudah mengejar datang sambil tertawa di-ngin..257 Sementara dia masih berpikir.. akupun ingin melihat sampai dimana kah kehebatan ilmu pedang yang kau miliki itu" Seraya berkata dia lantas merogoh ke dalam pinggangnya dan meloloskan senjata andalannya. baik. segera bentaknya dengan gusar: "Kau jangan kelewat memojokkan orang. padahal dia belum mengetahui di ma-nakah letak puncak Giok li hong. aku takut urusanku jadi tertunda. tapi langit sudah malam. sesaat kemudian dia baru menegur dengan perasaan tak habis mengerti: "Senjata aneh apa sih yang kau perguna-kan itu?" Lan See giok tertawa dingin. Aku bukan bermaksud melarikan diri. tanpa terasa dia berpaling memandang matahari senja yang mu-lai tenggelam di langit barat. dari balik pohon siong te-lah muncul kembali seseorang. sebelum dia sempat menjawab. jarang sekali kujumpai manusia yang tak tahu sopan santun seperti kau. kemudian per-gelangan tangan kanannya diputar dan. Tampak cahaya keemas emasan yang amat menyilaukan mata memancar ke empat pen-juru. tahu-tahu senjata gurdi emas Kang luan tui milik Lan See giok sudah diloloskan bagaikan seekor ular emas hidup. cuma saja senja telah hampir lewat. Hamm. akan tetapi dalam permainan senjata belum tentu dia sampai kalah. . Ia sadar gerakan tubuhnya mungkin tidak selincah dan seenteng lawan. "Criing!" dia telah meloloskan pedangnya yang tersoren di punggung. maka aku tak ingin melayanimu lebih jauh. hal inilah yang membuat hatinya merasa sangat geli-sah. Pemuda berbaju abu-abu itu segera ter-tegun dan serentak menghentikan langkah-nya. keningnya berkerut kencang. Hoa san adalah tempat umum yang boleh di datangi setiap orang. kemudian tegurnya: dengan suara dalam: "Bagaimana? Kau masih ingin kabur?" Lan See giok yang didesak terus menerus akhirnya menjadi naik darah juga. dengan pandangan termangu serta ke-heranan dia awasi senjata gurdi emas di ta-ngan Lan See giok tanpa berkedip. Pemuda berbaju abu-abu itu sudah bangkit berdiri. Mimpi pun Lan See giok tidak me-nyangka kalau gara-gara pekikan nyaringnya tadi bakal mendatangkan kerepotan bagi-nya. gerakan tubuh orang ini terasa satu kali lipat lebih cepat daripada pemuda berbaju abu-abu itu. bukan daerah khusus yang menjadi milikmu.

namun sepasang matanya berkilat kilat dan gerak geriknya amat tinggi hati. Tak terlukiskan amarah Lan See giok me-nyaksikan datangnya ancaman tersebut. biar jalan darah nya sudah tertotok namun tubuhnya sama sekali tidak roboh. barusan dialah yang ber-pekik keras!" Sambil berkata dia lantas menuding ke arah Lan See giok. jari tangan kanannya langsung menotok jalan darah Cong hiat-hiatnya. maka setelah mendengus katanya sinis. bila sampai ter-totok. orang inipun mengenakan baju berwarna abu-abu. "Mengapa kau sembarangan berpekik di tempat ini dan tak suka mengindahkan nasehat?" " Sembari berkata. "Khu suheng. kemudian berseru keras. kulit mukanya kuning dan tubuh-nya kurus ceking tinggal kulit pembungkus tu-lang. Lelaki setengah umur itu berjalan men-dekat kemudian memperhatikan Lan See giok sekejap dengan pandangan tanpa emosi.akan tidak mendengar apa yang dikatakan Lan See giok. sementara sepasang matanya yang tajam mengawasi Lan See giok dengan pandangan terkejut bercampur keheranan. ke-mudian dia baru menegur dingin. Ketika Lan See giok berpaling. setelah berseru tertahan dia lantas menghentikan langkahnya. itu-lah sebabnya hawa napsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya. berpengetahuan picik sok kehe-ranan saja? Namun lelaki setengah umur itu seakan." Tertegun lelaki setengah umur itu. mendadak cegahnya.258 Pemuda berbaju abu-abu tadi segera mem-balikkan tubuhnya. dengan datangnya kakak seperguruan dari pemuda tersebut maka urusan akan bisa di-bereskan dengan segera. "Hmmm. dia memiliki semacam kepandaian aneh. jalan darah Cong--hiat merupakan salah satu jalan darah penting di tubuh manusia. siapa tahu suheng nya ini lebih tak tahu aturan. dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke hadapan Lan See giok. "Khu suheng. . Pemuda berbaju abu-abu itu terkejut. Dalam anggapan Lan See giok semula. dia saksi-kan pendatang itu baru berusia tiga puluh tahu-nan. jangan terlampau dekat. sekali-pun tak sampai mati juga bakal terluka. dengan kening berkerut ter-de-ngar ia berguman seorang diri: "Aku merasa sedikit tidak percaya!" Tiba-tiba saja dia menubruk ke muka. se-bagaimana diketahui.

gurdi emasnya melepaskan tiga jurus serangan se-cara beruntun. "bila kau ti-dak percaya. bagaikan hujan badai menyambar tiada hentinya. karena didesak oleh Lan See giok sehingga kalang kabut dengan gugup ia mundur. sekali lagi dia menjerit keras lalu mundur ke belakang dengan ce-pat--Mencorong sinar tajam dari balik mata Lan See giok. Sebelum itu. kemudian dengan jurus Kim coa toh sim (Ular emas menjulurkan lidah) ia lepaskan sebuah tusukan dengan gerakan pedang--Sebelum lelaki setengah umur itu berhasil berdiri tegak. dia tahu musuhnya telah menyelinap ke belakang punggungnya. ditengah deruan angin sera-ngan. tanpa menghentikan tubuhnya dia meneruskan terjangannya ke muka.. Lan See giok sudah pernah menyaksikan gerakan aneh dari pemuda ber-baju abu-abu itu. dengan gerakan ilmu cambuk dia menyambar pinggang lelaki setengah umur itu. Dengan cekatan lelaki setengah umur itu berkelit ke kiri dan menghindar ke kanan. sambil ter-tawa dingin tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu lenyap dari pandangan. dalam waktu singkat muncul beribu ribu bayangan gurdi emas yang melindungi seluruh badan Lan Seegiok. silahkan saja dicoba sendiri. . Menganggap kepandaian silat yang dimili-kinya cukup tinggi tentu saja lelaki setengah umur itu tidak memandang sebelah matapun terhadap Lan See giok.jurus tangan kanannya yang baru saja melepaskan totokan nyaris tersapu oleh gurdi emas tersebut. Agaknya lelaki setengah umur itu tidak menyangka kalau Lan See giok begitu hebat dalam perubahan . sambil membentak keras hawa murninya disalurkan ke dalam gurdi itu. Lan See giok sudah diliputi oleh hawa napsu membunuh. dia segera menjerit kaget lalu mundur sejauh delapan depa lebih. sudah barang tentu ia tak akan membiarkan lelaki setengah umur itu pergi dengan begitu saja.. Serentetan suara desingan tajam segera menderu deru. gurdi emasnya segera menyerang lagi dengan jurus wi ceng pat hong (menggemparkan delapan penjuru). gurdi emas dari Lan See giok telah menusuk tiba. Maka tanpa menggerakkan badan." Sambil membentak. cahaya tajam berkilauan me-mancar ke empat penjuru.259 "Bagus sekali" ia membentak. cahaya emas berkilauan. gurdi emasnya menusuk ke muka secepat sambaran petir dengan jurus Pau hou pay wi ( harimau ga-nas mengebaskan ekor ).. sungguh mengerikan sekali keadaannya.

cepat-cepat dia menjura seraya menjawab dengan hormat. Dengan wajah penuh kegusaran lelaki berjubah panjang itu memandang sekejap ke arah kedua orang muridnya.. men-de-ngar itu Lan See giok segera menghentikan gerak serangannya. . "Tiba-tiba ia mendengar bentakan keras berkumandang memecahkan keheningan. "Cepat tahan . maka dia hanya berdiri tegak di situ tanpa memberi hormat. kemudian tanyanya sambil tersenyum: "Siauhiap membawa gurdi emas. boleh aku tahu siapa nama cianpwe dan dari mana kau bisa mengenali senjata tajam andalan dari guruku ini-. "Lan Khong-tay adalah guruku. . Kakek itu berwajah amat ramah tapi me-mancarkan sinar kewibawaan amat tinggi. dia sampai lupa un-tuk turun tangan membantu kakak sepergu-ruan-nya melepaskan diri dari bahaya. " Suaranya sangat nyaring seperti suara genta amat menusuk pendengaran. Pads saat itulah .?" . di atas wajah kedua orang itu sama sekali tidak dijumpai sinar keangkuhan lagi. Lan See giok sedang ber-pikir pula dihati. Sewaktu ia berpaling. gurunya pasti seorang manusia latah yang berjiwa sempit pula" Oleh karena berpendapat demikian. "Mundur kalian!" Lelaki setengah umur dan pemuda itu segera mengiakan dengan hormat dan me-ngundurkan diri ke sisi tubuh gurunya. kemudian kata nya dengan suara dalam. lelaki setengah umur dan pemuda ber-baju abu-abu sudah melompat ke hadapan kakek tadi dengan wajah tersipu -sipu. . mereka ber-bisik lirih: "Suhu!" Dalam pada itu. apakah kau adalah keturunan dari Lan tay-hiap?" Menyinggung soal ayahnya.260 Pemuda berbaju abu-abu itu menjadi ter-tegun saking kagetnya. . Sambil mengelus jenggotnya yang panjang kakek berjubah panjang itu memandang wa-jah Lan See giok. lebih kurang dua kaki di tepi arena tampak orang kakek berju-bah panjang warna abu-abu dan berjenggot panjang berdiri tegak di sana. . di antara bayangan manusia yang berkelebat lewat. paras muka Lan See giok segera berubah menjadi serius kembali. "Dengan murid yang begitu berpikiran picik dan berdada sempit. setelah memberi hormat.

apabila setelah mendengar per-kataan dari Ban Peng cuan." Setelah berhenti sejenak. sudah barang tentu kenal juga dengan senjata kenamaan-nya" Mengetahui kalau dia kenal dengan ayah-nya Lan See giok segera berkata dengan serius: "Oooh rupanya Ban locianpwe. seakan akan se-ngaja mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain. Namun bila teringat kembali tujuan ke-datangannya ke bukit Hoa san kali ini. de-ngan kening berkerut dan nada tidak me-ngerti tanyanya. dia sangat kebingungan. aku memang sudah tua dan ingatanku tidak tajam lagi. Sekali lagi Ban peng cuan ter-tawa tergelak. ayahmu Lan Khong-tay sangat termasyhur dikolong langit. dia tahu kalau dirinya khilaf. "Apakah kedatangan hiantit kemari hanya untuk berpesiar saja?" Sejak semula Lau See giok sudah merasa kalau hubungan bibi Wan dengan ayahnya tidak biasa. ter-paksa kecurigaannya terhadap bibi Wabn ha-rus ditundja sampai lain wgaktu. apabila boanpwe Lan See giok berbuat ceroboh dan mengganggu ketenangan locianpwe. sembilan butir peluru peraknya selalu tepat dan tak pernah meleset. ayah ibumu selalu hidup bagaikan dewa dewi. apakah selama ini dia selalu berada dalam keadaan baik-baik?" Lan See giok segera merasakan hatinya bergetar keras. sedang ibumu Hu-yong siancu juga su-dah banyak tahun tak menampakkan diri.haaahhh . Sahutnyab kemudian dengan hormat: . kecurigaannya semakin berlipat ganda. dengan nada minta maaf katanya kemudian: "Oh betul. kembali dia menjura dalam-dalam. bu-kan Hu-yong siancu bibi wan.. "Ibuku adalah Ki lu lihiap Ong Si hoa.261 Manusia berjubah panjang itu mendongak kan kepalanya lalu tertawa terbahak bahak: "Aaah -." Selesai berkata. harap locianpwe sudi memaafkan.haaahhh. pertanyaan dari locianpwe ini sungguh membuat boan-pwe tidak habis mengerti!" Merah padam selembar wajah Ban peng coan. senjata gurdi emasnya merajai dunia persi-latan. dia bertanya lebih jauh dengan nada tidak mengerti. "Tiada induk harimau yang melahirkan an-jing. andaikata kau tidak mengingatkan kembali. dan aku per-nah berjumpa dengan ayahmu. hampir saja aku lupa dengan Ong lihiap.

tapi tak kuketahui di manakah letak puncak Giok-li--hong. tanpa terasa dia memandang ke arah pemuda ber-baju abu-abu itu dengan termangu.262 "Boanpwe ingin buru-buru menjumpai To seng cu.. . kami guru dan murid bertiga sudah banyak tahun berdiam di puncak ini." "Keponakanku" ujar Ban Peng cuan dengan bersungguh sungguh. maghrib pun menjelang tiba. tapi belum per-nah bertemu dengan "To seng cu" locianpwe barang satu kalipun. boanpwe tetap akan mencarinya. Sementara itu matahari senja telah ter-benam. cerita tentang berdiam-nya dia orang tua di bawah puncak Giok li hong sudah mulai beredar semenjak sepuluh tahun berselang" Mendengar perkataan tersebut. disinilah letak puncak Giok-li. karena itu khusus aku berangkat dari kota Tek an kemari. Ban Peng cuan sendiripun tak dapat me-nahan rasa gelinya. Ban Peng coan berpikir sebentabr. "Agaknya baru pertama kali ini kau datang kemari. Terdengar Ban Peng cuan bertanya lagi dengan ragu. kalau toh akhirnya tidak kutemukan tentu saja aku akan pulang ke rumah" ucapnya pelan. "Boanpwe tidak tahu." "Terima kasih atas petunjuk locian-pwe. didapati puncak Giok li hong memang jauh berbeda dengan bukit-bukit lainnya. dia lantas menuding ke arah sebuah puncak bukit yang berada pulu-han kaki jauhnya. Lan See giok menjadi tertegun. "bukan aku sengaja hendak menghilangkan kegembiraanmu. ketika Lan See giok mengangkat kepala nya. memang tak ada salahnya untuk dicoba. "Baikglah kalau begitbu. "Apakah kau sudah mengetahui tempat kediaman dari To seng-cu locianpwe?" Lan See giok segera menggelengkan kepalanya berulang kali. boanpwe ingin mohon diri lebih dulu" Setelah memberi hormat. karena itu . .hong!" Sambil berkata. namun kuharap kau jangan membawa pengharapan yang kelewat besar. sambil tersenyum ia segera berkata. kegela-pan mulai menyelimuti seluruh bukit Hoa san. . "Setelah boanpwe datang kemari. kemudian menjgangguk. " Belum habis ia bercerita. tapi konon berada di bawah puncak Giok li hong-. pemuda berbaju abu-abu itu sudah tertawa geli. Lan See giok segera merasakan kepalanya seperti diguyur dengan sebaskom air dingin. pemuda itu mem-balikkan badan dan melompat turun dari puncak itu. tapi ia percaya kakek berjubah kuning yang ramah itu tidak bakal membohonginya.

dia lantas memusatkan semua perhatiannya untuk mengawasi dan mendengarkan suasana di sekelilingnya. tidak pula gua atau tempat lain yang bisa di-pakai sebagai tempat berteduh. dia berseru dengan lantang: "Boanpwe Lan See giok datang dari tempat jauh untuk menyambangi To seng-cu locian-pwe.giok berhenti sekarang tak lain adalah lembah yang meng-hubungkan puncak Tiau yang-hong dengan puncak Giok. kemudian setelah menghimpun tenaga dalamnya.lihong. Maka dengan mengerahkan ilmu meri-ngankan tubuhnya. dia bertekad hendak mencobanya. pohon siong tumbuh me-rata. tanpa terasa ia lantas teringat kembali dengan pesan dari kakek berjubah kuning itu. Mendadak-z----Dari balwik kegelapan lerbih kurang seratus kaki dihadapannya sana muncul setitik ca-haya lentera.263 Suasana di bawah puncak gelap gulita. karena dengan cara demikian tak mungkin dia bisa menemukan tempat kediaman To seng cu. dia berjalan lebih ke de-pan. pemuda itu segera melompat naik ke atas sebuah batu cadas. aneka bunga tumbuh dengan suburnya. Lan See giok amat terperanjat setelah meli-hat cahaya lentera itu. ternyata cahaya itu berasal dari sebuah lentera merah yang bergoyang goyang karena terhembus angin gunung. Lambat laun pepohonan siong tumbuh se-makin rapat. Akhirnya pemuda itu merasa percuma untuk berlarian secara membuta tanpa arah tujuan tertentu. hatinya terkejut ber-campur gembira. tumbuhan bambu menghutan. biarpun dihati kecilnya dia tidak mempunyai harapan yang terlalu bersar. sudah barang tentu To seng cu tak mungkin ber-diam di sana. air mengalir sangat tenang. di situ tidak nampak bangunan rumah. Tempat dimana Lan See... pemandangan yang berada tujuh delapan kaki dihadapannya sukar untuk dilihat Seca-ra jelas. Berpikir demikian. bila diperkenankan mohon diberi pe-tunjuk untuk menemui beliau!" Selesai berteriak. pemanda-ngan alam di situ sungguh mempesonakan. makin ke dalam suasananya semakin ber-tambah gelap.Udara dalam lembah tersebut ternyata hangat lagi nyaman.Dengan penuh perhatian Lan See giok mengawasi sekejap keadaan di sekitar sana. pikirnya kemudian: "jangan-jangan To seng cu memang benar-benar berdiam dalam lembah ini?" BAB 13 .

dia me-mu-tuskan untuk membuktikan sendiri.. Tergerak hatinya setelah menjumpai hal itu. Dengan cepat dia melompat naik ke atas sebuah pohon besar. dia tak tahu mengapa kejadian bisa berlangsung begitu kebetulan. kembali dia berpikir di hati. dia berniat untuk menyeli-diki tempat tinggal To seng cu dari mereka. Berpikir demikian. diapun berangkat me-nuju ke arah lentera merah yang muncul pada seratus kaki di hadapannya itu.. ternyata lentera merah yang berada di depan sana tampaknya sedang berlarian ke depan.. sudah banyak tahun mereka berdiam di situ namun belum pernah berjumpa dengan To seng cu. entah mengapa. andaikata di situ menang ber-diam penduduk. ia teringat kembali akan perkataan dari Ban Peng coan. harap gerakkan lentera merahmu ke kiri dan ke kanan . betul juga. baru saja dia berteriak. Baru selesai dia berseru. agar ti-dak sampai terjerumus ke dalam perangkap lawan. akan tetapi lente-ra merah tersebut masih kelihatan berada di tempat yang begitu jauh. kau sedang memberi petunjuk jalan kepadaku untuk berjumpa dengan To seng cu locianpwe? Kalau memang demikian. Melihat hal ini Lan See giok malah men-jadi sangsi.. Dengan menghimpun tenaga dalamnya dia berseru lantang: "Wahai lentera merah yang berada di depan apakah. mung-kinkah kemunculan lentera merah tersebut hanya suatu kejadian secara kebetulan saja? Menyusul kemudian dia berpikir lebih jauh: "Jangan-jangan di situ terdapat rumah pemburu" Atau mungkin si penebang kayu yang sesat jalan?" Akhirnya dia memutuskan untuk meme-riksa sendiri. "Yaa.. .. cahaya lentera lantas muncul kan diri? �Tanpa terasa. lentera merah tersebut benar-benar bergerak ke kiri dan ke kanan. paling tidak seratus kaki sudah dilalui. dalam saat itu-lah dalam hati kecilnya timbul suatu firasat yang tidak menguntungkan. la telah berlarian amat cepat. Di samping itu diapun terbayang kembali wajah bibi Wan serta enci Cian nya yang sedih dan murung ketika berpisah tempo hari.264 LAN SEE GIOK mengawasi lentera merah yang muncul di balik kegelapan sana dengan perasaan kejut bercampur girang di samping perasaan tak habis me-ngerti. jangan-jangan lentera merah itu memang bermaksud membawanya un-tuk menjumpai To seng cu?" karena berpendapat demikian.

Dalam perjalanan majunya. Lentera merah yang berada di depan itu memang aneh sekali. ketika Lan See giok berhenti. . lentera merah yang berada ditengah kegelapan itu masih digoyangkan tiada hentinya. Perasaan mendongkol dan curigab berkeca-muk dij dalam benak Lagn See giok. dia masih melan-jutkan pengejarannya terhadap lentera merah tersebut". Dia tahu. . Mendadak-----Dari balik kegelapan puluhan kaki dihada-pannya. Lan See giok tidak berniat untuk memper-hatikan kesemuanya itu. muncul kembali sebuah lentera merah lain yang menyongsong kedatangan lentera merah yang pertama. Begitulah dengan berlarian mengejar lente-ra merah itu. Lan See giok segera teringat kembali akan tujuan kedatangannya. karenanya tanpa ragu-ragu lagi dia menyusul kearah mana lentera merah tersebut berada. jauh berbeda dengan keadaan ditempati lain. tanpa terasa dia telah melewati puncak Giok li hong dan tiba di sebuah lem-bah lain. seakan akan sedang mende-saknya agar melanjutkan perjalanan. diapun turut maju. begitu Lan See giok maju. diapun turut berhenti biarpun Lan See giok sudah mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. akhirnya dia menggigit bibir dan membulatkan tekadnya untuk mengejar lebih jauh. kemudian dendam berdarah dari ayahnya " . seakan akan dia memiliki beribu ribu mata. Lambat laun dia mulai menangkap suara yang amat keras diantara pepohonan siong yang bergoyang terhembus angin. Tapi lentera kedua yang menyongsong tadi lebih sampai dua kaki itu tahutahu saja padam dengan begitu saja. namun dia belum berhasil juga menyusul lentera merah terse-but. sedang lentera merah itu agaknya berada di tangan seorang manusia yang tinggi besar.265 Dalam pada itu. lentera . harapan dari enci Cian serta bibi Wannya. lambat laun dia dapat melihat sebuah tebing yang tinggi-nya ratusan kaki menghadang jalan perginya. ternyata lentera merah yang pertama masih tetap tak berkutik di tempat semula. Lan See giok merasa sungguh tak habis mengerti dia mengalihkan kembali panda-ngan matanya. Setelah dekat dengan tempat itu baru dia ketahui bayangan tinggi besar itu bukan orang melainkan sebatang pohon yang telah mengering. bisa jadi di tempat inilah meru-pakan tempat kediaman dari To seng cu. di samping itu memandang alam dalam lembah itu sa-ngat indah. di btak tahu permainan setan apakah yang sedang diperbuat lentera merah tersebut.

betul juga. tibatiba saja ia merasakan pandangan matanya menjadi te-rang. di dalam langkah majunya kali ini.266 tersebut tergantung di atas pohon tadi dan bergoyang tiada hentinya ketika terhembus angin. Lan See giok mundur dua langkah. di dalam hutan tidak dijumpai rumah gubuk ataupun rumah batub. Setelah ke luar dari hutan dan mencapai jarak berapa kaki dari tebing. mulut gua tersebut memang sukar ditemukan. itu dengan cepat dia sak-sikan mulut gua penuh ditumbuhi lumut hi-jau serta sarang laba-laba. Pada sisi kanan tebing curam itu dijumpa sebuah gua. suasana gua itu gelap gulita. dalam waktu singkat dia dapat membaca gaya tulisan yang indah. hutan pohon yang mulai mengering itu. jelas tuli-san seorang wanita. seolah-olah tidak ada yang menetap di situ. Lan See giok merasa sangat keheranan. Sekali lagi tergerak hatinya.. dia percaya tokoh nomor satu seperti To seng cu tak mungkin akan mendiami gua yang begitu suram dan kotor seperti itu. cepat-cepat dia menghampiri dinding tebing dan memeriksa dengan seksama. Ia mendongakkan kepalanya.. garis-garis itu merupakan serangkaian kata yang diukir dengan pisau. pikirnya: "Kalau toh dia adalah penunjuk jalan. . Dengan perasaan gembira ia segera menu-bruk ke depan gua. kemudian menghapus lumut hijau yang menempel diatasnya. ia bertindak dengan berhati-hati sekali. ia bertekad ajkan menuju ke dginding tebing tbersebut untuk melakukan pemerik-saan. mengapa tidak ditunjukkan sampai ke pintu depan?" Tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya. Baru saja dia akan beranjak pergi" men-dadak di atas dinding gua yang sudah dipe-nuhi lumut hijau itu ia saksikan ada gura-tan-guratan aneh yang sangat mirip dengan tulisan. tapi berhubung lumut nya amat tebal. sebatang pohon siong persis tumbuh didepannya sehingga menutup mu-lut gua tadi. sulit untuk membaca kata-kata tersebut. kemu-dian membaca huruf-huruf tersebut dengan pelan. Terdorong oleh perasaan ingin tahunya lalu dia mengambil sekeping batu. jika tidak diperhatikan dengan seksama. Lan See giok segera berkerut kening. mungkin saja To sengcu berdiam di dalam hutan itu. dalamnya menca-pai dua tiga puluh kaki sebelum tiba di de-pan dinding tebing tersebut. Berhubung timbulnya firasat yang kurang enak tadi.

telah merupakan ujung jalan. Suasana dalam gua amat hening dan sepi. Untuk sesaat dia berdiri ragu di depan pintu. Air mata bercucuran bagaikan mutiara. Oh Thian. Dengan perasaan terkejut Lan See giok mundur dua langkah. Lan See giok se-makin bimbang.267 "Musim gugur pergi musim dingin lewat. Thian tidak menrgasihi aku. bulan berganti bulan. 0h Thian. atau mungkin juga tersebut merupakan kuburan dari perempuan yang bernasib buruk itu. keadaannya gelap gulita sehingga sukar melihat kelima jari ta-ngan sendiri. pintu tersebut segera terbuka dengan sendiri. segera ditemukan gua itu miring ke sebelah kanan. Kini tinggal kepedihan dan air mata. biarpun dia telah mengerahkan tenaga dalamnya ke mata. . tapi dorongan . ia sudah tidak melihat mu-lut gua tersebut lagi. pintu batu itu sangat licin seperti cermin. Sebenarnya anak muda ini sudah tak ber-niat untuk memasuki gua.. musim semipun tiba. Pelan-pelan dia maju ke depan. Rindu dan kangen menyerang setiap malam. betapa buruknya na-sibku. tapi sekarang tanpa disadari dia telah melakukan masuk ke dalam gua tersebut. " Gua itu dalam sekali.. tak kedengaran Lagi suara yang lain. setelah pemuda itu maju lagi dua tiga langkah. . tak diketahui harus melanjutkan per-jalanan atau mundur dengan begitu saja. zSepasang merpatwi harus terbangr berpisah. Hari berganti hari." Membaca sampai di sini. ketika berpaling. apa yang bisa dili-hatpun hanya mencapai sejauh lima depa. Mendadak lima depa di depan sana. Dia mencoba untuk meraba. Kemesraan di masa lalu. cahaya terang yang menusuk mata segera mencorong ke luar dari balik pintu. Wajah telah basah entah oleh air mata atau embun. kecuali langkah kakinya. dia percaya dalam gua tersebut tentu berdiam seorang perem-puan yang menderita karena cinta. baru diketahui di depan sana terbentang sebuah pintu batu yang sangat berat.. ketika di-dorong dengan sekuat tenaga. dipandangnya sekejap mulut gua yang gelap gulita itu. ternyata dibalik pintu itu yang terbentang sebuah undak undakan batu yang sangat lebar dan menjurus ke atas.

"Hati di langit barat. bisa jadi orang ini adalah To seng cu sendiri maka pemuda ini bertekad untuk . ternyata cahaya tajam tadi berasal dari sebutir mutiara yang di pasang di atas pintu masuk. Pada kanan pintu tertuliskan kata-kata. membuat pemuda tersebut se-makin bertekad untuk menyelidiki apa gerangan yang terdapat dalam ruangan tersebut. Bila ada orang bertapa di dalam gua ini waktunya pasti cukup lama. bila dia masih berada di dalam mungkin dia akan mengetahui tempat tinggal dari To seng cu.268 rasa ingin tahu yang kuat mengki-lik hatinya. dalam waktu singkat puluhan kaki telah dilewati. Setelah membelok pada sebuah tikungan. pintu tersebut tertutup rapat-ra-pat. Berpikir demikian diapun berjalan masuk ke dalam ruangan." Sedangkan di sebelah kiri pintu bertulis-kan. "Seratus tahun menghadap dindibng lepas tulangj jadi dewa. ca-haya terang memancar ke empat penjuru dari depan sana. takg akan tergo-da boleh gadis dan cinta!" Lan See giok menjadi melongo setelah sele-sai membaca tulisan itu. gua tersebut seharusnya didiami oleh seorang perempuan yang hidup sengsara karena cinta. Itulah sebabnya dia dapat meneruskan -perjalanannya dengan cepat. tapi ia percaya nada tulisan dari sepasang Lian tersebut tidak cocok satu. setiap tikungan selalu diberi sebutir mutiara kecil sebagai penerangan. melatih ilmu membenahi watak menanti datangnya saat gembira. pada ujung undak undakan batu kembali muncul sebuah pintu batu raksasa yang tingginya satu kaki dan lebarnya dela-pan depa. tapi bila dilihat dari arti sepasang lian tersebut agak nya penghu-ni gua tersebut adalah seorang pertapa. sinarnya tajam dan sangat menyilaukan mata. Akhirnya dia putuskan untuk masuk ke dalam dan menyelidiki sendiri sebab ia merasa nasib perempuan itu kelewat menge-naskan. Undak undakan batu itu menjurus naik ke atas. sepasang matanya kembali terasa silau. sehingga keadaan di dalam gua bisa terlihat secara lamat-lamat. sama lainnya: Kalau berbicara dari tulisan yang terukir dimuka gua. walaupun ia tak bisa memahami arti sari tulisan tersebut se-cara tepat. Tujuh butir batu mulia yang sangat indah berserakan di atas pintu. tubuh di alam se-mesta. Ketika diamati lebih seksama di atas pintu tersebut tergantung pula sebuah lian dengan huruf-huruf yang amat besar.

ketika diperiksa. Apa yang kemudian terlihat segera mem-buat paras mukanya berubah hebat. ketika dido-rong dengan sepenuh tenaga. tapi sekarang sudah tak ada lagi. tapi lama sekali belum juga kedengaran suara jawaban. Menyaksikan kesemuanya ini. di sisi kiri dan kanan masing-masing terdapat se-buah ruangan. . Sewaktu masuk ke dalam kedua ruangan ia jumpai di situ terdapat masingmasing se-buah kasur untuk duduk. segulung bau harum yang semerbak pun segera berhembus ke luar dari balik pintu. Lan See giok menyelinap masuk ke balik pintu. lantas mengambil kesimpulan gua itu kosong tak berpenghuni. kedua ruangan itu tanpa pintu semua. Lan See giok melo-ngok ke dalam. ternyata lantai gua dilapisi oleh permadani kuning te-bal. Maka dia maju ke depan dan menempelkan telapak tangannya di atas pintu. Di muka meja pendek terletak pula se-buah kasur duduk yang besar dan tebal. saking kagetnya dia sampai mundur dua langkah sembari berseru kaget. dengan langkah cepat dia menghampirinya. Sewaktu sorot matanya terbentur dengan benda di atas kain kuning di meja rendah itu tergerak hati Lan See giok. caha-ya yang terpancar ke luar sangat lembut. ternyata dibalik pintu terbentang sebuah ruangan gua yang meman-jang. mungkin sudah menjadi dewa semua. kini boanpwe merasa tidak habis mengerti. ia merasakan kakinya menginjak tem-pat yang lembut. Lan See giok berdiri menanti di luar gua dengan tenang. dalam gua tersebut tidak di jumpai benda apapun. kepada pintu batu tersebut diapun menjura. selain itu. namun tak nam-pakb seorang manusija pun. kemudian berkata dengan lantang: "Boanpwe Lan See giok tertarik oleh syair di luar gua sehingga masuk kemari dengan ceroboh. terdengarlah suara gemerutuk yang amat berat--Pintu batu yang sangat besar itu pelan-pe-lan terbuka sebuah celah lebar. Di bawagh mutiara kuninbg di ujung gua ter-dapat sebuah meja pendek yang panjang diatasnya dilapisi kain kuning sampai ter-ku-lai ke atas lantai.269 masuk lebih ke dalam. mohon locianpwe sudi memberi petunjuk" Ucapan mana diutarakan dengan suara nyaring sehingga nada suaranya menggema di seluruh ruangan gua. se-dang di ujung gua terdapat pula sebutir batu manikam yang besar berwarna kuning. dalamnya mencapai lima kaki. Lan See giok tahu bahwa dalam goa ini paling tidak terda-pat tiga orang yang bertapa di situ.

Kalian berdua sudah berani bermain setan. tanpa sangsi dia segera menubruk ke sana. kemungkinan besar orang itu bersembunyi di sisi kiri atau kanan pintu. Diam-diam Lan See giok terkesiap. kemudian dengan penuh kasih sayang dia berkata. . " Tiba-tiba kakek berjubah kuning itu menghentikan gelak tertawanya. ia celingukan sekejap ke kiri kanan." Lan See giok berdiri termangu mangu. . tapi ia segera berpikir. saking gembiranya air mata sampai jatuh bercucuran. lebih kurang tiga kaki dihadapannya seperti ada bayangan hitam berkelebat lewat.. sekarang dia baru tahu kalau gua tersebut adalah tempat To seng cu bertapa. ." Sambil berseru dia segera menubruk ke muka. "TAY-LO PWE CIN-KENG. maka diapun siap beranjak . Ternyata orang yang melayang masuk ke dalam gua saat ini bukan lain adalah kakek berjubah kuning yang berwajah ramah itu. Pada saat itulah. sikapnya nampak gembira sekali. dalam ru-angan masih terletak dua buah kasur duduk yang kosong. tiba-tiba dari depan ger-bang melayang masuk se sosok bayangan kuning. Ketika tiba diantara kedua belah pintu. tiada henti-nya dia memanggil: "Locianpwe ... ayo cepat kau teri-ma buah buahan ini!" . me-nyusul kemudian denganr perasaan terkezjut bercampur gwirang.270 Ternyata di atas kain kuning pada meja rendah itu tertera sembilan huruf besar yang terbuat dari emas. Lan See giok memeluk kakek berjubah kuning itu erat-erat. melanggar perintah guru. ketika melihat pemuda itu menubruk tiba dia segera mengangkat ke dua belah ta-ngannya dan tertawa terbahak bahak. ia saksikan dari sisi pintu ruangan sebelah kiri. "Locianpwe. Kakek berjubah kuning itu masuk sambil membawa banyak sekali buah anggur yang segar. Mendadak terdengar suara tertawa cekiki-kan berkumandang dari belakang tubuhnya. Mula-mula Lan See giok agak terperanjat ketika melihat kemunculan orang itu.. tulisan itu berbunyi demikian.. namun tak nampak se-sosok bayangan manusiapun. locianpwe . teriaknya keras-keras. Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera membalikkan badan. seolah-orlah bertemu kem-bali dengan sanak keluarga sendiri.

ayo jalan mari kita berbicara di dalam. Siau thi gou yang berkulit hitam sedang melototkan sepasang biji matanya yang be-sar. dia bilang kita takut takuti Lan See giok agar bisa membalaskan rasa mendongkol Gou ji!" Sembari berkata. Tiba di depan meja rendah. dia mem-belai rambut Lan See giok sambil ujarnya dengan ramah. semuanya ini merupakan ide enci Soat seorang. rupa kakek berjubah kuning ini adalah To seng cu. dia tetap berdiri tak ber-gerak di depan pintu ruangan. "siapa suruh kau berdiam diri saja? Ayo cepat memasang lentera. Dalam perjalanan itu. anehnya perasaan benci yang semula mencekam perasaannya kini sudah lenyap tak berbekas. Lan See giok mengiakan dengan hormat dan segera duduk bersila di sebelah kanan To seng cu. kebingungan setengah mati. �"Hmmm!" kakek berjubah kuning itu mendengus marah. ternyata kau benar-benar datang. SI CAY SOAT telah meletakkan pula buah buahan segar itu di depan kasur duduk ke-mudian ia sendiri duduk di sebelah kiri To seng-cu. To seng cu segera menunjuk ke sisi kasur duduk itu sambil berkata dengan gembira.271 Lan See giok yang mendengar perkataan itu menjadi. entah mengapa ia sudah tak percaya sekarang kalau To seng cu adalah orang yang mencelakai ayahnya. hal ini semakin membuktikan kalau kakek berjubah kuning ini memang To--seng-cu. Thi gou tak berani. ketika berpaling tampak olehnya si nona ber-baju merah Si Cay soat dengan wajah ter-sipu-sipu dan senyum dikulum sedang melompat mendekat. Lan See giok dapat melihat pula kalau di antara alis mata sebe-lah kiri kakek berjubah kuning itu benar-benar terdapat sebuah tahi lalat merah." Setelah menyerahkan buah buahan itu kepada Si Cay soat yang berdiri dengan wajah gembira tapi agak tersipu sipu itu. "Duduklah anak giok!" Sembari berkata ia sendiri duduk bersila pula di atas kasur duduk tersebut. Sekarang Lan See giok baru mengerti. "Suhu. dengan wajah ." Ditariknya tangan pemuda itu dan diajak menuju ke bantal duduk di depan meja ren-dah. tahi lalat tersebut hampir tertutup oleh alis mata yang tebal. ia merasa kasur duduk itu empuk sekali sehingga sangat nyaman untuk ditempati. "Nak.

kemudian sambil mengambil sepuluh biji anggur besar yang disodorkan ke hadapan Lan See giok.272 bersemu merah dan mata yang jeli tiada hentinya dia mengawasi Lan See giok. . dengan cepat ia menjelaskan: "Adik Gou paling suka makan buah ang-gur. tanpa terasa diapun jadi ter-ingat kem-bali bagaimana dia sendiripun di permainkan ketika baru datang ke sana. Siau thi gou berjalan ke depan kasur tanpa berbicara. kemudian sambil memandang ke arah Siau Thi gou dengan wajah tak mengerti." Berjumpa dengan Siau thi gou. To seng cu telah menghentikan tertawanya dan berkata dengan suara dalam tapi ramah. Belum habis perkataan itu diutarakan. diapun tidak tahu. Dengan wajah merah padam Si Cay soat tertawa terkekeh kekeh. gtanpa terasa tibmbul perasaan menyesal di dalam hatinya. katanya dengar ber-sungguh hati: "Kau sudah menempuh perjalanan selama seharian suntuk. bila makan tiga betas biji maka se-lama hidup akan selalu kontet (cebol)!". malah menghadiahkan buah anggur. Lan See giok segera teringat pula dengan peristiwa di dusun nelayan tempo hari. kalau ditanya bagaimana rasanya. Belum habis perkataan itu diselesaikan. Ketika ia saksikan Siau thi gou sama sekali tidak mendendam kepadanya. segera ujarnya sambil menjura. dia tertawa terbahak bahak. ia bertanya cepat: "Thi gou. dia segera duduk pula di samping Si Cay soat. paras muka Si Cay soat segera berubah menjadi merah padam. siapa yang bilang kalau setiap kali makan hanya boleh makan sepuluh biji buah anggur?" Mendengar pertanyaan itu. Sementara itu To seng cu telah berkerut kening. dengan melototkan sepasang mata nya dia menjawab: "Enci soat yang berkata demikian. bila makan dua belas biji akan mencret-mencret. sekarang tentu merasa amat dahaga. Agaknya Lan See giok juga dapat mende-ngar kalau ucapan semacam itu hanya ulah Si Cay soat untuk mempermainkan Siau thi gou. tapi ingat. ia bilang kalau makan sebelas biji perutnya akan sa-kit. setiap kali makan buah anggur seperti ini. setiap kali makan dia bisa menghabis-kan empat lima biji tanpa dikunyah lagi. kau hanya boleh makan sepuluh biji. "Terima kasih banyak. cepatlah makan anggur ini. To seng cu sudah tak dapat menahan rasa ge-linya lagi. Siau thi gou segera menuding ke arah Si Cay soat. adik Thi gou!" Siau thi gou tertawa lebar. dimana ia btelah menotok jjalan darahnya.

Lan See -giok segera mengangkat kepalanya sambil bertanya: "Locianpwe." Memandang kotak kecil itu. sekarang dia baru tahu rupanya dia menjadi kakak bukan se-bagai adik seperti apa yang diduganya se-mula. Melihat hal tersebut. terlintas perasaan sedih di atas wajah To seng cu. To seng cu segera tahu kalau pemuda itu telah salah paham. kesemuanya ini membuat rasa hormatnya terhadap To seng cu makin bertambah. bagraimana ceritanyza sampai ayahkuw berhasil mendarpatkan kotak kecil ini?" . .. di dalam gugupnya kotak tersebut telah terjatuh ditengah jalan tanpa mereka sadari . Terbayang kembali maksud tujuannya datang ke situ. sambil tertawa ramah dia lantas menjelas-kan: "Segala sesuatu yang ada di dunia ini su-dah di atur oleh takdir. bahkan kasih sayangnya bagaikan seorang ayah terhadap putra putrinya.273 "Hei si binal. dia adalah kakakmu. waktu itu Oh Tin san dan komplotannya berhasil mencuri cinkeng tersebut. kotak ini tercuri di luar dugaan." paras muka Lan See giok segera berubah menjadi merah padam karena malu. Mendengar kata "dicuri. Ketika dilihatnya hubungan To-seng cu dengan murid muridnya tidak disertai dengan peraturan yang ketat. Paras muka Lan See giok juga berubah menjadi merah padam. yang tak ada masalah yang dapat dipaksakan. diterimanya kotak itu serta diperhatikan se-kejap kemudian ia berkata: "Kitab pusaka ini sudah menemani aku setengah hidupku. " Mendengar penjelasan tersebut. sungguh tak disangka hari ini bisa bertemu kembali." Sembari berkata dia lantas meletakkan kotak kecil itu di depan kasur duduknya. diapun mengeluarkan kotak kecil bungkus kuning itu dari sakunya dan dipersembahkan ke hadapan To seng cu sambil ujarnya dengan hormat: "Anak giok telah menuruti perintah dengan membawa cinkeng tersebut datang ke mari. sepuluh tahun berselang. saking tak tahannya dia sampai menundukkan kepalanya rendah-rendah. kau kan enci masa senang mempermainkan adik? Sekarang anak giok telah datang. sedangkan Si Cay-soat melirik sekejap ke arah Lan See giok kemudian menunduk-kan kepalanya rendah-rendah." Siau thi gou mencibirkan bibir tanpa berbi-cara. akan kulihbat apakah dia ajkan menganiaya gkau si adik atabu tidak. dari tempatku tapi kemudian karena ketahuan olehnya sehingga melarikan diri.

dihati kecilmu pasti mena-ruh banyak prasangka serta kecurigaan. dia melan-jutkan: . dia hanya manggut saja tanpa menjawab. "Seperti apa yang diucapkan bibimu. masa kedua orang itu kubunuh? Waktu itu aku hanya menotok jalan darah kaku mereka se-cara diam-diam.274 "Menurut apa yang kuketahui. "Anak giok. Menyusul kemudian Lan See giok teringat kembali dua kali jeritan kaget yang mengeri-kan itu. diapun segera teringat apa yang menyebab-kan jalan darah tidur Oh Li cu tertotok. To seng cu manggut-manggut. berhubung ayahmu mati terbunuh orang. mengapa dia ti-dak menerangkannya kepada anak giok?" To seng cu segera tertawa riang. "Kalau toh bibi Wan tahu. "Oleh karena kulihat kau sudah berangkat maka aku tidak jadi masuk. mengapa tidak munculkan diri untuk menempuh perjalanan bersama-sama ku?" Sekali lagi To seng cu tertawa terbahak ba-hak. kalau toh kau selalu mengikuti di sisi anak giok." Kemudian setelah memandang sekejap ke arah Si Cay soat serta Siau thi gou yang mendengarkan dengan seksama. dia me-ne-mukan benda itu dalam keadaan yang sangat kebetulan. kalian masih kanak-kanak dan tak perlu mengeta-hui semua kejadian itu" "Jadi locianpwe telah berkunjung ke rumah kediaman bibi Wan pada malam itu?" seru Lan See giok terkejut. dengan nada tak mengerti kembali dia bertanya: �Apakah dalam gusarnya locianpwe telah menghabisi nyawa kedua orang itu?" To seng cu segera tertawa terbahak bahak: "Sudah puluhan tahun lamanya aku tak pernah melakukan pembunuhan. bukan aku sengaja bermain setan denganmu. Sekarang Lan See giok baru mengerti. bila tidak berbuat begini kau belum tentu akan menyusul ke mari. de-ngan nada menyelidik dia segera bertanya: "Apakah locianpwe juga yang tertawa di-ngin di kuburan Ong leng serta memancing kepergian si Tongkat baja kaki tunggal serta Beruang tunggal?" To seng cu memandang anak muda itu sambil tersenyum. duduk persoalan yang sebenarnya bibi Wan mu yang mengetahui paling jelas" Lan See giok segera merasakan hatinya bergetar keras. menyusul kemudian hatinya tergerak. mungkin karena kaget mereka baru berteriak keras!" "Locianpwe. tanpa terasa ia bertanya de-ngan gelisah.

apalagi malam sudah semakin la-rut. Lan See giok segera terbayang kembali perjumpaan mereka yang pertama kali di dusun nelayan. untung saja masa mendatang masih panjang. Begitulah. dia masih mem-punyai banyak kesempatan untuk membica-rakan persoalan itu lagi. Akhirnya To seng cu berkata: "Anak giok sudah menempuh perjalanan cukup jauh. Sewaktu To seng cu melihat sepasang mata Siau thi gou berputar tiada hentinya di atas buah anggur tersebut. selain itu memberi penjelasan. sungguh tak disangka mereka berdua begitu binal. Setelah menerima buah anggur itu Lan See giok teringat kembali akan peristiwa lima ca-cad dari tiga telaga yang datang mencuri ki-tab. seolah-olah persoalan ini sama sekali tiada hubungan dengan dirinya. kem-bali ujarnya kepada Lan See giok. sebaliknya Siau thi gou hanya duduk tenang tanpa mengucapkan sepatah katapun.275 "Aku pernah berpesan kepada Soat ji dan Thi gou berdua agar menyambut kedata-nganmu di mulut lembah. dengan cara apa Oh Tin san sekalian berhasil mencuri kitab pusaka tersebut pada sepuluh tahun berselang?" To seng cu tertawa dan manggut-manggut: "Persoalan ini panjang sekali untuk di ceritakan. anak giok kau boleh tidur bersa-ma Siau thi gou" Mendengar perkataan itu. ke tiga orang muda mudi itu segera minta diri kepada To seng cu dan berjalan menuju ke depan pintu ruangan batu itu. malam ini beristirahatlah de-ngan cepat. dengan nada tidak mengerti kembali dia bertanya: "Locianpwe. kepadamu apa yang sesung-guhnya terjadi. ayo cicipi buah buahan ter-se-but!" Sambil berkata dia mengambil seuntai buah anggur dan diberikan kepada Lan See giok kemudian mengambil seuntai lagi untuk siau thi gou. sambit tertawa. . sejak waktu itu dia sudah merasa kalau Si Cay soat adalah seorang nona cilik yang sukar dilayani. Melihat To seng cu enggan berbicara. biar kita bicarakan di kemudian hari saja. su-dah barang tentu Lan See giok sungkan un-tuk bertanya lebih jauh. suasana dilalui de-ngan penuh riang gembira. selanjutnya dia berjanji akan bertindak lebih berhati -hati." Mendengar perkataan itu Si Cay soat segera tertawa geli. mukanya nampak sangat binal. ke empat orang itupun sambil makan buah anggur membicarakan serba serbi dunia persilatan. "Anak giok.

"Engkoh giok. Siau thi gou segera berseru. dia melanjutkan: . aku akan naik lebih dulu" Mendengar seruan tersebut Lan See giok segera berpaling. Pada permukaan lantainya dilapisi perma-dani yang sama tebalnya dengan permadani yang berada di bawah. di sisi kiri bertumpuk selimut tebal yang pada satu bagian merupa-kan lapisan kain sutera sedang pada lapisan yang lain adalah bulu kambing yang berwar-na putih. tidak boleh. Melihat gerak gerik yang polos dan lincah dari Siau thi gou. tampak bayangan hitam berkelebat lewat. mengapa sih namamu Thi gou atau kerbau baja? Mengapa tidak ber-nama Kim gou (kerbau emas) saja?" Siau thi gou melototkan matanya bulat. Siau thi gou mengulurkan tangannya dan menarik tangannya sehingga melayang tiga depa ke samping. se-dang kan Si Cay soat seorang diri menuju ke pintu ruangan sebelah kanan.bulat dan menggelengkan kepalanya ber-ulang kali. tidurlah!" Sambil berkata dia melemparkan selembar selimut kulit kepada Lan See giok. Sambil menjatuhkan diri berbaring di atas lantai. jawabnya dengan wajah ber-sungguh sungguh: "Tidak boleh. baru saja Lan See giok ingin mengucapkan sesuatu kepada gadis itu." Kemudian sambil menunjuk pada jari ta-ngannya. Terdengar Siau thi gou berseru dari atas: "Engkoh Giok. Ketika dia mendongakkan kepalanya. sekeliling dinding ruangan terdapat enam buah lubang sebesar kepalan yang berfungsi sebagai ventilasi udara. ketika hampir mencapai ujung langit-langit. ter-nyata di atas langit-langit ruangan itu ter-da-pat sebuah gua yang luasnya tiga depa dan tinggi dua kaki dari permukaan tanah diataspun terpancar sinar yang terang.276 Lan See giok mengikuti Siau thi gou menuju ke pintu ruangan sebelah kiri. tubuh Siau thi gou telah melayang ke atas langit-langit ruangan. karena itu setelah menerima selimut pembe-riannya dia bertanya sambil tertawa: "Adik Thi gou. Ternyata di situ terdapat sebuah ruangan berbentuk bulat. cepat naik!" Lan See giok mengiakan dan segera melompat naik ke atas ruangan itu. nampaknya sangat lembut dan halus. Si Cay soat sudah lenyap dari pandangan. di langit-langit ruangan tertera tiga butir mutiara. Lan See giok merasa bocah itu memang rada mirip seperti kerbau kecil. Sementara itu terdengar Siau thi gou telah berseru: "Engkoh giok. tahu-tahu bayangan merah berkelebat lewat.

" Lan See giok yang mendengar jawaban tersebut menjadi tertegun. tapi setelah mendengar ancaman dari gadis tersebut. Dengan perasaan apa boleh buat Lan See -giok segera menggelengkan kepalanya beru-lang ulang kali. dari balik liang tersebut. diapun tak berani bertanya lebih jauh. sedang ayah bernama Tong kou (kuda tembaga) maka aku bernama Thi gou (kerbau baja)" Lan See giok segera menjadi tertarik se-kali dengan susunan keluarga tersebut. ketika berpaling. tiba-tiba dari sisi tubuhnya bergema suara orang mendengkur. aku rasa urutan ini kurang sesuai. besi dan platina. seandainya kau punya anak di kemudian hari. akan kau namakan siapa anakmu itu?"! "Akan kunamakan Sikou (anjing platina). Sementara dia masih termenung. bukankah dengan demikian satu generasi lebih jelek dari generasi beri-kutnya?" Baru selesai dia berkata. Sian thi gou segera menjulurkan lidahnya yang kecil dan segera memejamkan matanya rapat-rapat. masa dari emas perak merosot terus menjadi tembaga. hati-hati besok!" Mendengar teguran tersebut. "Kau jangan bingung. Siau thi gou segera tertawa terbahak bahak sambil ber-kata:.277 "Kongcou ku bernama Kim liong (naga emas). Melihat Lan See giok tertegun. kemudian berkata: "Adik Thi gou. sebenarnya dia ingin bertanya kepada Siau thi gou. cepat dia bertanya: "Adik Thi gou. Lan See Giok sendiri hanya bisa meman-dang lubang-lubang angin di atas dinding tersebut dengan wajah tertegun. sepasang alis matanya segera berkerut. ternyata Siau thi gou sudah tertidur nyenyak. dengan cepat dia menarik selimut dan ditutupkan ke atas tubuh sendiri. tiba-tiba dari balik sebuah lubang bulat di atas dinding terdengar suara seseorang sedang tertawa cekikikan: Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera berpaling. engkongku bernama Gin hou (harimau perak). berasal. bila kau cerewet terus. dari naga dan harimau merosot menjadi kuda kerbau lantas anjing. enci Soat yang se-dang tertawa dia seringkali membicara-kan soal kau dengan diriku---" Belum selesai dia berkata. apa saja yang telah diperintahkan To seng cu locianpwe kepada Si Cay soat mengapa pula gadis itu tidak menuruti perintah gurunya malahan mempermainkan dia. . namun dari balik tutup lubang itu gelap tak bersinar sehingga sulit baginya untuk menentukan dari liang yang manakah suara tertawa tersebut. kembali terdengar Si Cay soat ber-seru: "Adik Thi gou.

Dari pikiran yang bergolak. Siau thi gou yang semula tidur di sisinya kini sudah tak nam-pak lagi batang hidungnya. Perjalanan jauh selama berbulan bulan membuat pemuda ini tak pernah beristirahat dengan perasaan tenang. Ketika sadar kembali. jantungnya berdebar keras.278 Walaupun sudah berbaring. tanpa terasa diapun tertidur nyenyak. pada bagian tengah pintu batu itu ter-dapat pula sebuah lubang angin yang sama besarnya dengan lubang angin di sisi lain. pelan-pelan perasaannya berhasil ditenangkan kembali. Cepat-cepat dia melompat bangun. termasuk kejadian-kejadian yang sama sekali tak pernah diduga sebelumnya. sementara dalam benaknya dipe-nuhi berbagai kejadian yang dialaminya se-lama ini. ditemu-kan pada dinding ruangan di sisinya bertam-bah dengan sebuah pintu batu yang lebarnya dua depa dan tingginya mencapai langit-langit ruangan. segala sesuatunya berjalan dengan lancar. ditambah pula Siau Thi gou yang berbaring di sisinya telah mendengkur sedari tadi. diapun tertidur dengan nyenyak sekali. dia selalu kuatir kotak kecilnya dicuri orang. termangu mangu ditatapnya ke tiga butir mutiara di atas langitlangit ruangan tanpa berkedip. bau harum semerbak yang sangat aneh memancar ke luar dari sana. ternyata dia telah mengalami banyak kejadian yang semula dianggap bahaya tahu-tahu berubah menjadi rejeki. sementara wajahnya segera memperlihatkan perasaan menyesal. Kini.. . Dengan perasaan tak habis mengerti dia segera menuju ke pintu yang lain serta melongok ke dalam. Tak terlukiskan rasa kaget Lan See giok dengan cepat dia mundur beberapa langkah sepasang matanya dengan cekatan menengok ke kiri dan kanan. Lan See giok sungguh tak habis mengerti mengapa setelah mendusin diri tidurnya di sana telah bertambah lagi dengan sebuah pintu batu?" Setelah melompat bangun dan diperiksa ternyata dinding ruangan telah digeserkan orang.. selimut bulu serta sebuah cermin tembaga putih.. Ternyata ruangan itu hanya berisikan per-madani merah. Ke luar di pintu dia temukan sebuah un-dak undakan batu menuju ke atas yang en-tah menghubungkan ke tempat mana sedang pada bagian lain terdapat pula sebuah pintu yang lebarnya lebih kurang dua depa. namun se-pasang mata yang belum juga mau terpejam. Kini setelah beban pikirannya hilang.

segalanya kelihatan rapi dan teratur. punggung puncak Giok li hong. aneka bunga tumbuh subur dimana mana. "Enci Soat. Lan See giok tahu Siau thi gou serta. Sesudah berbelok ke kiri menikung ke kanan dan bergerak naik terus ke atas. Baru saja dia akan berjalan balik. Rumah batu itu dikelilingi pepohonan siong yang mengitarinya pada jarak tujuh delapan kaki. namun semua perabot diatur dengan amat rapi. sedikitpun tidak kelihatan acak-acakan." Belum habis Siau thi gou berteriak. men-dadak ia mendengar suara teriakan Siau thi gou yang bergema datang secara lambat-lam-bat. Lan See giok lari ke luar pintu. disini terdapat seekor kijang kecil--. cepat kemari. tampak tiga buah puncak bukit menjulang ke angkasa. "Enci Soat. ruangan ter-se-but sudah pasti merupakan kamar tidur Si Cay soat. tiba-tiba saja Lan See giok merasakan dadanya men-jadi terbuka dan nyaman sekali. pemandangan indah sekali. terde-ngar suara Si Cay soat telah menukas: "Jangan kita usik dia. dari balik hutan ber-ku-mandang lagi suara teriakan dari Siau thi gou. Sebenarnya dia hendak menelusuri undak undakan batu itu untuk melongok ke atas. Ketika pandangan matanya dialihkan ke sekitar sana. Menyaksikan kesemuanya itu. nisca-ya bmartabatnya akan dinilai sangat rendah. dia melihat cahaya matahari telah memancarkan cahaya keemas-emasannya ke empat penjuru.279 Selain itu diapun mengerti. ternyata di mana ia berada sekarang tak lain adalah dinding te-bing yang terlihatnya se-malam. peman-dangan alam sangat indah dan me-nawan hati. Puncak Giok Ii hong tingginya mencapai ratusan kaki. mari kibts menangkap ikjan saja di telagga Cui oh? . bila sampai ketahuan gadis itub bahwa dia telajh memasuki kamagrnya. Si Cay soat sedang berada di atas. Pada saat itulah. tapi sekarang ia sudah tak berani sembara-ngan bergerak lagi. dia men-jumpai mulut ke luar berada di belakang se buah meja batu ruangan batu. Pada ujung undak undakan itu. disini terdapat seekor kelinci liar yang amat besar" Mendengar teriakan itu. akhirnya sampailah pemuda itu di ujung un-dak -undakan tersebut. di sisi kirinya terdapat sebuah air terjun. maka ia segera menelusuri undak undakan batu itu dia berlari ke atas. di dalam ru-ang batu Itu tersedia pula meja bambu dan bangku kayu.

Berpuluh puluh kaki dia telah menembusi hutan tersebut.280 Menbdengar suara pembicaraan mereka. Pada saat itulah. tunggu aku---" Sambil berseru di segera berlarian masuk menuju ke dalam hutan yang terbentang di hadapannya. Lan See giok su-dah menerobos ke luar dari hutan tersebut. "Adik Thi gou. lalu berseru dengan nada tak senang hati: "Yang dia panggil kan adik Thi gou. belok tiga kali ke kiri. itulah dia telah munculkan diri!" Lan See giok segera berlari mendekat. Siapa sih yang memanggil aku" Sekali lagi Lan See giok berpekik di dalam hati: "Aduh celaka. cepat beritahu kepada engkoh Giok. belok lima kali ke kanan melihat tujuh jalan serong. Ih--heng segera datang!" Baru selesai dia berseru. mengapa aku lupa me-manggil Si Cay soat? Tidak heran kalau dia menjadi tak senang hati---" Berpikir demikian. tiba-tiba terdengar Siau thi gou sedang memohon dari tempat yang tak jauh darinya. menarik tangan Siau thi gou dan berterima kasih kepadanya. berjumpa delapan maju ke depan-" Lan See giok bukan anak bodoh. sambil tezrtawa terbahak wbahak ia segerar berseru: "Nah. tapi anehnya belum juga pe-muda tersebut berhasil ke luar dari lingku-ngan hutan tadi. yaa. dengan nada minta maaf dia segera berseru. melihat Lan See giok munculkan rdiri. Lan See giok segera menyadari kalau keadaan di situ kurang beres dengan cepat dia menghentikan gerakan tubuhnya. Sementara Siau thi gou masih berteriak te-riak dengan suara lantang. kau pasti akan dimaki sebagai si binal lagi!" Mendengar perkataan tersebut. pemuda itu jadi celingu-kan---- . Lan See giok segera berlarian menuju ke hu-tan itu sambil berteriak. "Adik Soat. tapi oleh karena tidak di jumpai Si Cay soat. Waktu itu Siau thi gou sedang berdiri sam-bil memegang seekor kelinci besar. turuti perkataanku. Tiba-tiba terdengar Si Cay soat men-dengus dingin. tiba-tiba terde-ngar Siau thi gou sudah berteriak sambil tertawa: "Engkoh Giok. kejadian tersebut dengan cepat menimbulkan perasaan-perasaan tak habis mengerti baginya. "Enci Soat. bila guru tahu. begitu peroleh petunjuk dia segera menjadi paham.

Sambil menuding ke arah bayangan Si Cay soat. ia merasakan pandangan matanya menjadi silau. namun dia tak lupa menyampaikan salam untuk Si Cay soat. . payudaranya yang montok nampak menonjol besar dibagian dada. airnya berwarna hijau dan beriak terhembus angin. namun terbuat dari seje-nis bahan istimewa. Setelah mengenakan pakaian renang ini. jarak antara tempat itu dengan per-mukaan telaga paling tidak masih mencapai enam tujuh kaki. Walaupun dalam hati kecilnya merasa terkejut. sepasang matanya yang terbelalak lebar di arahkan terus ke permukaan telaga. Waktu itu Siau Thi gou hanya berharap enci Soat nya bisa menangkap seekor ikan besar. Setelah berlarian sekian waktu.281 Akhirnya dari jarak tujuh delapan kaki di depan sana. lagi dia dapat melihat permukaan telaga yang luas-nya mencapai beberapa bau. sekarang ia dapat melihat pakaian yang dikenakan Si Cay soat adalah sebangsa pakaian renang yang kulit bukan kulit sutera. hatinya berdebar keras dan seolah-olah sedang dihadapkan dengan segumpal api. Ketika maju beberapa puluh kaki. Si Cay soat yang sedang berlarian di depan telah menghentikan langkahnya. pahanya berbentuk manis se-dang kakinya terbungkus sepatu kulit ber-warna merah. ia saksikan ada sesosok baya-ngan merah sedang berlarian menuju ke arah air terjun dengan kecepatan tinggi. Lan See giok benar-benar merasa ter-tegun. tempat dimana Si Cay soat berdiri sekarang bisa jadi adalah telaga Cui oh. waktu itu si nona sedang membung-kus rambutnya dengan kain merah. Lan See giok baru menjumpai tempat dimana Si Cay soat berdiri sekarang adalah sebuah tebing yang tinggi. perawakan tubuh Si Cay soat nampak lebih indah. Lan See giok tahu. bahkan hanya berdiri di tepi tebing dengan mulut membungkam sa-darlah Lan See giok bahwa gadis itu sedang marah kepadanya. pada hakekatnya dia tidak memper-hatikan mimik wajah Lan See giok. peman-dangan alam di situpun amat indah. Siau thi gou segera berseru: "Engkoh giok ayo berangkat. mari kita lihat enci Soat menangkap ikan!" Mereka berdua segera menyusul dari bela-kangnya dengan gerakan cepat. pinggangnya amat ramping. rambutnya yang panjang juga telah dibungkus kain merah. Setelah berjalan mendekat. Melihat Si Cay soat sama sekali tidak menggubris dirinya. semua lekukan tubuhnya tertera amat jelas.

. Siau thi gou yang menyaksikan kejadian tersebut segera tertawa lebar. bayangan merah telah berkelebat lewat.. dengan suara yang amat ramah pemuda itu kembali menyapa. Dalam hati kecilnya ia segera memutuskan untuk memohon kepada To Seng-cu locian-pwe selain mempelajari ilmu silat yang ter-cantum.. Percikan air segera memancar ke empat penjuru. Lang See giok selaibn merasa kagum juga sangat memuji. menceburkan diri ke dalam telaga.282 Setelah tersenyum. "Aaah. diapun hendak mempelajari ilmu berenang.benar terdapat seekor ikan besar yang sedang berenang menjauhi dengan gerak gerik yang amat gugup. kemudian pergela-ngan tangannya diayunkan ke depan seren-tetan cahaya perak langsung me-nyambar ke arah ikan besar itu. Si Cay soat mengerling sekejap ke arahnya dengan pan-dangan indah.. ternyata gerak-gerik Si Cay sobat terlihat indjah sekali. Si Cay soat dengan gaya Hay yan si sui (walet air bermain air) telah menubruk ke arah permukaan telaga.. Kejar mengejar pun segera terjadi. dalam air memutar badannya. kemudian tersenyum. sedangkan ikan besar tersebut . biarpun sedang berenang. "Selamat pagi adik Soat!" Mendengar sapaan tersebut. sepasang lengannya didayungkan bersama lalu sepasang tangannya ditempelkan satu lama lainnya dan . Tiba-tiba terdengar Siau thi gou berteriak keras. Pada saat itulah. waktu itu cahaya perak telah lenyap.. Dengan cepat Lan See giok mengalihkan kembali sorot matanya ke arah telaga. Gemetar sekujur badan Lan See giok me-li-hat gerakan tubuh gadis itu. tanpa di-sadari dia menjerit kaget: "Adik Soat. Hati-hati !" Tampak Si Cay soat menekuk pinggang. Lan See giok harus memasang telinga baik-baik sebelum dapat melihat bahwa kurang lebih dua kaki di depan Si Coy soat benar.. Tiba-tiba Si -Cay soat yang berada. Secepat ikan terbang bayangan merah itu meluncur dan menyelam ke dalam air telaga yang berwarna hijau tadi. dia tak menyangka ilmu berenang yang dimiliki gadis itu demikian indah dan sempurna. "Byuuur!". ombak menggulung kian ke mari. ! " Baru saja dia berteriak. seekor ikan Cui oh li (ikan leihi tela-ga cu)..dalam kitab pusaka Pwee yap cin keng.

bila suatu ketika Ihheng. namun sorot matanya masih ditujukan ke arah Si Cay soat yang sedang menaiki pantai." Sekali lagi Si Cay soat tertawa manis. betapa pun be-sarnya ikan yang diburu dan betapa cepat nya ikan itu berenang.283 sudah berguling di atas air kemudian terapung dengan bagian perut nya menghadap ke atas. tahu-tahu Si Cay soat telah melompat naik ke atas tebing. tentu akan merasa sangat puas. tiba-tiba ia menegur: "Apa sih Ih-heng.pun dapat menguasai ilmu tersebut sesempurna kau.. Bayangan merah berkelebat lewat dengan menutulkan ujung kakinya di atas tonjolan batu karang. Setibanya di depan hutan. Si Cay soat segera berenang mendekati-nya.j "Adik Soat. walaupun kena disemprot. Siau thi gou juga berpaling kearah Lan See giok sambil ujarnya dengan senyum dikulum: "Ilmu peluru pembelah air dari enci Soat amat tepat dan lihay sekali. rambut yang panjangpun segera terurai ke bawah. Lan See giok berjalan mengikuti di belakang Si Cay soat. . Ih-heng terus terusan? Masa lagakmu selalu sok sungkan?" Merah padam selembar wajah Lan See giok. gerak gerik Si Cay soat memang sungguh terlampau indah. iglmu berenangmu bsungguh amat indah. . Lan See giok yang menyaksikan kejadian itu segera merasakan hatinya berdebar keras. Tanpa terasa diapun memuji sambbil ter-senyum. dengan gembira ia berteriak keras: "Ayo berangkat. kita harus siapkan san-tapan siang yang paling lezat" Maka berangkatlah ke tiga orang itu menuju ke hutan. buru-buru dia mengiakan berulang kali. Dalam pada itu Siau thi gou telah selesai mengikatkan ikan besar dan kelinci besar itu. Sambil tersenyum manis Si Cay soat me-ngerling sekejap ke arah Lan See giok yang sedang memandangnya dengan perasaan kagum. Sambil bersorak kegirangan Siau thi gou segera menyerbu ke depan untuk memeluk ikan besar itu." Lan See giok mengangguk berulang kali. pelan-pelan dia membuka pengikat rambutnya. lalu sambil mengempit bangkai ikan besar tadi ia berenang ke tepian. jangan harap bisa lolos dari tangannya.. anehnya dia sama sekali tidak mendongkol.

suhu orangnya ramah dan pengasih. . konon kalau hendak melakukan upacara pengangkatan. dia membalikkan badan menuju ke dalam ruang batu.284 Hutan tersebut dalamnya hanya sepuluh kaki. maka soal menguliti kelinci juga bukan sesuatu pekerjaan yang asing baginya. aku pikir itu sudah cukup. Si Cay soat segera membalikkan tubuhnya. ia segera berhenti bekerja dan bisiknya: "Adik thi gou. bayangan merah berkelebat lewat." . aku belum pernah meng-ang-kat guru. ternyata di situ letak dapur. Selama Lan See giok mengikuti ayahnya hidup dalam kuburan kuno. "Engkoh giok menguliti kelinci. apakah kau datang kemari khusus untuk belajar ilmu dari suhu?" Lan See giok mengangguk. " Belum selesai dia berkata. dalam beberapa kali lompatan saja mereka telah menembusi hutan tersebut. agaknya diapun sempat mendengar pembicaraan kedua orang itu. . semua peralatan dapur tersedia komplit di situ. selesai bersantap siang nanti. aku datrang kemari atasz petunjuk dari wlocianpwe . aku akan pulang dulu untuk berganti pakaian" Sembari berkata. apa yang kau laku-kan dulu?"! "Tanpa ragu Siau thi gou segera menjawab: "Aku merangkak di atas tanah dan me-nyembah berulang kali . Adik Thi gou memotong ikan. "r "Sungguh aneh" kembali Siau thi gou me-nukas. dia tidak terlalu memperhatikan soal tetek bengek. cara kerjanya cekatan dan amat terlatih. tiba-tiba Siau thi gou bertanya: "Engkoh Giok. mengapa kau masih saja memanggil suhu sebagai locianpwe?" Lan See giok menjadi tertegun menghadapi pertanyaan tersebut. Siau thi gou segera mengambil pisau dan mulai membersihkan sisik ikan dan mem-ber-sihkan isi perutnya. Lan See giok mengikuti di belakang Si Cay soat menuju ke sebuah ruang kecil yang ter-letak di belakang ruangan batu. maka kita mesti menyembah empat kali. lalu kepada Lan See giok dan Siau thi gou ujarnya. kepada Lan See giok segera ujarnya: "Engkoh Giok. "kalau toh tujuanmu belajar ilmu. diapun sering kali berburu. Sambil membersihkan ikan. Tiba di depan ruangan itu.. jawabnya de-ngan bersungguh hati: "Benar. Si Cay soat yang selesai berganti pakaian telah muncul kembali di situ. kau cukup menyembah empat kali di-hadapannya sambil memanggil suhu.

sayur sayuran. setelah mengiakan diapun melanjutkan pekerjaan-nya menguliti kelinci.. ayo cepat bangun!" Walaupun Siau thi gou kelihatan agak bodoh.haaahhh. Lan See giok menunggu sampai To-seng-cu sudah duduk. panggang daging kelinci. si . Siau thi gou baru berteriak ke arah gua: "Suhu. hidangan segera disajikan. kionghi kau orang tua telah me-nerima seorang murid baru.." Tak lama kemudian. Lan See giok segera bangkit dan duduk di samping Siau thi gou. maka menggunakan ke-bsempatan tersebjut segera ujarngya dengan hormabt. Tergerak hati Lan See giok. silahkan bersantap." Sambil mengelus jenggotnya To seng cu tertawa terbahak bahak.. "Suhu. selain ang sio hi.. Ketika To seng cu mencicipi Ang sio hi. kuah tahu. dia segera teri-ngat kembali dengan ilmu berenang yang di-miliki Si Cay soat..." `To seng-cu tertawa terbahak bahak.. Mendekati tengah hari pekerjaan memasak pun telah selesai. senyum ramah masih menghiasi wajah-nya. dia memuji tiada hentinya atas kelezatan hida-ngan tersebut.285 Lan See giok memandang ke arah Si Cay soat dengan penuh rasa terima kasih. akan tetapi diapun dapat melihat kalau gurunya sedang amat gembira pada hari ini.. Siau thi gou turut mengangkat cawan araknya..haaahhh. suasana riang gembira segera me-nyelimuti seluruh ruangan. bukankah kau pun termasuk murid suhu yang baik?" Diangkatnya cawan arak dan diteguk de-ngan lahap. Ketika semuanya sudah siap. "Suhu diantara lima cacad dari tiga telaga. masih tersedia pula seguci besar arak wangi. "Anak giok. lalu ujarnya tersenyum. To seng cu dengan jubah kuningnya telah muncul dari balik gua. Haaahhh. "Suhu berada di atas.budak binal. terimalah penghor-matan dari tecu Lan See giok. sedang Si Cay soat yang hendak membuat gembira gurunya mengambil cawan arak dan berseru kepada To seng cu sambil tertawa. Soat-ji menghormati secawan arak untukmu. isi cawan bagi dirinya ke-lihatan paling sedikit. tecu sudah mendapat tahu kalau si Tongkat besi berkaki tunggal berdiam di benteng Pek hoo cay. dia baru menjatuhkan diri berlutut dan menyembah empat kali sambil katanya dengan serius. ditatapnya pemuda itu dengan ramah. Dalam pada itu Si Cay soat telah menuang empat cawan arak.

sa-hutnya dengan gembira: "Berbicara soal ilmu berenang. sedangkan ilmu berenang dari adik Soat mu berasal dari ajaran si naga sakti pembalik sungai. . tiga diantaranya menjagoi di atas telaga. orang yang berilmu berenang paling tinggi adalah enci Cian mu. . To seng cu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak. ia telah ditotok mati oleh serga-pan Oh tin san sehingga tak perlu dikuatir-kan lagi. padahal anak Giok tidak mengerti ilmu berenang. berdi-am di telaga Pek toh oh. mohon suhu bersedia mewariskan pula ilmu berenang kepada anak giok". "Dari lima manusia cacad di tiga telaga. sedang si binatang bertanduk tunggal yang berilmu silat paling lemah tapi berotak paling cerdas itu. ia berdiam di Lim lo pah. dalam dunia persilatan tiada orang yang bisa menandingi kehebatan Hu-yong siancu. Lan See giok berkerut kening. tecu rasa dua manusia cacad lainnya pasti berdiam pula di atas telaga. si Setan ganas bermata tunggal yang terhitung paling garang. ia segera bangkit meninggalkan tempat duduknya dan menjura kepada Si Cay soat sambil serunya: "Adik soat. bila hendak menyelidiki jejak mereka rasanya sukar sekali."" Sebelum Lan See giok menyelesaikan kata katanya. kalau begitu Ih-heng meng-u-capkan banyak terima kasih dulu kepadamu. sedang si manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san bercokol di benteng Wi-limpoo yang dikitari telaga phoa yang oh.286 beruang berlengan tunggal ber-diam di bukit Tay ang san. lalu berkata dengan sedih. tak ada salahnya untuk minta kepada adik Soat mbu untuk mengajajrkan dasar dasagrnya. diantaranya aku kira yang patut diperhitungkan kekuatan nya adalah si raja ganas dari telaga Tong Ting oh. bila kau memang berniat untuk mempelajari kepandaian tersebut. "Benar." . kemudian me-lan-jutkan sambil tertawa: "Namun. sampai sib naga Sakti pembalik sungai datang ke Hoa San. Setelah berhenti sejenak. dia memandang kearah Si Cay soat yang sedang cemberut dan tidak senang hati itu. se-balik nya berbicara dari tingkat muda. sambil mengelus jenggot To seng cu segera menyela. orang ini termasuk yang memiliki daya pengaruh terbesar antara rekan-rekannya. suhu sendiri sama sekali tidak menguasai kepandaian tersebut. barulah kau minta pelajaran secara langsung kepadanya---" Lan See giok yang mendengar perkataan tersebut menjadi sangat gembira. si Setan ganas bermata tunggal Toan Ci tin tersebut.

selalu menuruti petunjukku. tidak mungkin. walaupun ia tahu bahwa gurunya sengaja menggoda." To seng cu cukup mengetahui akan kebi-nalan muridnya ini. jangan-jangan ada orang yang merasa tak senang hati. tenang dan cantik jelita bak bidadari dari kah-yangan. . sekalipun demikian dia . ternyata memiliki ilmu berenang yang jauh lebih hebat dari pada si naga pem-balik sungai. benarkah ilmu berenang yang di-miliki enci Ciannya engkoh giok masih jauh lebih hebat daripada si naga tua pembalik sungai?" To seng cu tahu kalau Si Cay soat telah memahami maksudnya.juga tahu kalau sesungguhnya gadis ini amat ramah dan berhati mulia. . sungguh cepat nya luar biasa. tapi diapun mengerti. dia seperti tidak percaya kalau enci Ciannya yang begitu lembut.287 Dalam hati kecilnya Si Cay soat me-rasa kegirangan. diapun sadar bahwa gadis ini diam-diam merasa tak puas dengan ilmu berenang yang dimiliki Ciu Siau cian. bila Ciu Siau-cian merasa tak puas kau dan anak giok bisa minta pelajaran bersama dengan-nya!" Si Cay soat adalah seorang gadis yang pintar dan cekatan. bila soat ji memberi pelajaran dulu kepada engkoh giok.. Berbicara sampai di situ. terutama sekali ilmu pedang di dalam airnya. harap kau jangan berbuat demikian. maka enci Cian. maka setelah tertawa geli katanya: "Tidak mungkin. engkoh Giok kan sudah mempunyai enci Cian yang sangat lihay dalam ilmu berenang. . sambil tersenyum ia segera menjawab: "Kalrau Thio loko muz mengandalkan twenaga dalamnya ryang sempurna. mulai hari ini pasti akan seperti Siau thi gou." Kemudian sengaja dia menengok ke arah To-seng-cu dan berkata kembali: "Suhu. andaikata ilmu berenang yang di-miliki Ciu Siau-cian tidak lebih sempurna daripada kepandaiannya. dia memandang sekejap ke tiga orang muda mudi dengan pandangan penuh kasih sayang . tak mungkin guru nya akan berkata demikian: Oleh sebab itu dengan nada tak percaya dia berkata dengan bersungguh sungguh: "Suhu." Sebaliknya diluaran dia berkata dengan tenang: "Engkoh giok. pikirnya: "Hmm. Kejut dan girang menyelimuti seluruh wa-jah Lan See giok. bahkan tidak kalah sempurna nya dari ilmu berenang yang dimiliki ibu nya. siau moay tak berani menerima-nya.mu lebih mengandalkan gerakan tubuhnya yang lihay dan luar biasa.. dia segera bangkit dan balas memberi hormat.

na-mun hatinya ramah dari orangnya saleh. dengan membelalak-kan sepasang matanya dia awasi gurunya tanpa berkedip. tanpa terasa dia tertawa. persoalan apa sih yang sedang kau bayangkan? Mengapa kau nampak kegi-rangan?" Lan See giok tidak menduga kalau guru-nya akan mengajukan pertanyaan seperti itu. Maka setelah meneguk araknya. ." Si Cay soat mengangguk berulang kali. walaupun usianya sudah mencapai seratus tahun. dia ber-tanya sambil tertawa. To seng cu memandang sekejap ke tiga murid kesayangannya. sinar matanya turut ber-kilat-kilat. panggillah lebih banyak enci kepadanya. Lan See giok merasa gem-bira sekali karena gurunya To seng cu me-muji kehebatan enci Cian nya. di dalam hati kecilnya dia lantas berjanji. mukanya memerah dan segera memperlihatkan perasaan tidak tenang. dia akan mewariskan kembali kepandaian terse-but kepada encinya agar gadis itu menjadi seorang pendekar wanita yang tiada keduanya di dunia ini. To seng cu adalah seorang jagoan nomor wahid yang amat disegani orang di dalam dunia persilatan dewasa ini. Membayangkan kesemuanya itu. Maka sambil menengok ke arah Si Cay soat. dia seperti ingin secepatnya dapat bertemu dengan Ciu Siau cian. sifat ke kanak kanaknya juga sangat menonjol dimukanya. setiap orang yang berhubungan dengannya pasti akan menaruh hormat dan sayang kepadanya. dia menjadi tergagap. ia merasa amat gem-bira terutama setelah menerima Lan See giok. katanya lebih lanjut dengan mengan-dung arti mendalam: Soat ji. orang tua itu segera mengetahui kalau si bocah lagi memikirkan suatu kejadian yang meng-gembirakan hati-nya. bila kau bertemu dengan Ciu Siau cian lain waktu. suhu jamin pasti ada keuntu-ngan bagimu. dia merasa kepandaian silatnya bakal ada yang mewarisi. Ketika ia menangkap sinar berkilat dari balik mata Lan See giok. suatu perubahan aneh segera menghiasi paras mukanya. meski begitu dia pun tidak lupa untuk melalap daging dan ikan yang di-hidangkan dihadapannya. "Anak giok. bila ia berhasil mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam kitab Hud bun pwe-yap cinkeng tersebut. senyum kegirangan kembali menghiasi wa-jahnya. Sementara itu. Hanya Siau thi gou seorang yang tidak menaruh perhatian khusus atas persoalan ini namun perkataan dari gurunya juga tak be-rani tidak didengarkan.288 Si Cay soat sendiri tentu saja percaya seratus persen atas perkataan dari gurunya.

lalu sambil me-nyodorkan mangkuk kosong itu ke hadapan Sian thi gou yang masih tertegun.ji. yang berat akan dikeluarkan dari perguruan. namun dia dapat meli-hat bahwa suhunya sedikit tak bisa mengen-dalikan rasa gembiranya. Siau thi-gou segera memenuhi cawan gu-runya dengan arak dan mengangsurkan kembali ke atas meja To seng cu. ia terkejut dan wajahnya segera berubah. kembali ke hadapan gurunya. anak giok. walaupun Si Cay soat juga dibuat kebingungan. yang ringan. Setelah menerima cawan dan meletakkan kembali ke atas meja. penuhi cawanku ini! " Sementara itu. kau masih muda tapi setia dan seder-hana. dengan sorot mata yang bimbang tiada hentinya mereka awasi Lan See giok dan To seng cu secara bergantian. dihadapan suhu memang masih teringat enci Cian. dia meneguk araknya sampai habis. sudah jelas guru-nya sedang merasa kegirangan setengah mati. senyum gembira sekali lagi menghiasi wajah To Seng cu. kata-nya dengan suara rendah dan berat. buru-buru seru-nya kepada To seng cu: "Anak giok tidak becus. To seng cu kembali berkata dengan wajah serius: "Selama berada dihadapan guru.j mereka tidak hgabis mengerti abpa sebabnya Lan See giok menunjukkan wajah gugup. agaknya mereka berusaha mencari tahu masalah apakah yang membuat pemuda itu demikian gugupnya? To seng cu juga tidak berkata kata. hal ini merupakan pantangan terbesar bagi dunia persilatan. sungguh tidak kecewa kuterima dirimu sebagai murid!" Selesai berkata. pelanggarannya akan peroleh hukuman. Lan See giok terharu sekali oleh perkataan itu. "Gou. sekali lagi dia memberi hormat sambil berkata: . Si Cay soat memang gadis yang pintar. ia segera cemberut dan sambil mendengus kalanya agak cemburu: "Apa lagi? Tentu sedang membayangkan enci Cian nya yang lihay dalam ilmu berenang!" BAB 14 LAN See giok tidak menyangka kalau Si Cay soat bakal membongkar rahasia hatinya secara blak blakan. harap suhu sudi memaafkan ketidak tahuan anak giok!" Si Cay soat maupun Siau thi gobu jadi melongo.289 Melihat pemuda itu tidak berusaha untuk membohonginya. berpikir-an cabang dan menjawab secara ngawur perta-nyaan guru. Ia me-neguk habis isi cawannya.

" Mendengar perkataan itu. "Sekarang. katanya kemudian lengan ramah: "Anak giok. agar kisah tadi bisa menambah pengetahuan kalian se-mua. To seng cu sangat gembira. di dalam kala-ngan hitam terdapat lima orang jago lihay. Namun dia bisa menduga. ." "Kemudian. melihat di atas wajah pemuda itu tidak ter-lintas perasaan bangga. duduklah suhu tidak akan menyalahkan dirimu lagi. saking menyegsal-nya dia sambpai menundukkan kepalanya rendah--rendah." Kemudian setelah meneguk seteguk arak dan termenung beberapa saat. mungkin hanya akan menyia nyiakan harapan suhu saja! To seng cu meneguk setengah cawan arak lagi. Siau thi gou orangnya ramah den polos. ia benar-benar tak me-nyangka kalau perbuatannya bakal segawat itu. entah dari mana mereka peroleh kabar ternyata orang. dengan tenaga dalam gurunya yang begitu sempurna serta ketebalan imannya yang mengagumkan. namun dapat terasa olehnya kalau enci Soat maupun engkoh giok nya sama-sama telah melakukan kesalahan besar. setelah me-mandang sekejap ketiga orang bocah itu un-tuk mengurangi perasaan tak tenang dalam hati mereka. Lan See giok segera mengiakan dengan hormat dan duduk.-" Sambil berkata. See giok sebagai muridnya. berkumpullah mereka me-rundingkan bagaimana cara mencuri kitab tadi dan kemudian mempelajarinya ber-sama sama.. Si Cay soat pun merasa gugup dan panik. meski ia tidak mengerti apa gerangan yang terjadi.290 "Anak giok bodoh.orang itu mendapat tahu kalau aku memiliki sejilid kitab pusaka ilmu silat yang amat hebat. aku akan mengisahkan kembali peristiwa pada sepuluh tahun berselang ketika kitab cinkeng itu lenyap. kini gejolak emosinya telah mereda. maka ujarnya kemudian sambil tersenyum. "Sepuluh tahun berselang. toh tak mampu mengendalikan gejolak emosi-nya. dia membuat gerakan de-ngan mempersilahkan pemuda itu duduk. dia pun mulai bercerita. mereka adalah lima cacad dari tiga telaga yang termasyhur sekarang. muda mudi ber-tiga itu segera meletakkan kembali sumpit nya dan bersama sama memandang ke arah guru mereka> Sambil tertawa ramah To seng cu segera berkata: "Kalian boleh mendengarkan sambil makan dan minum. terbayang kembali ketika ia membongkar rahasia hbati Lan See giojk. hal ini menandakan betapa gembira nya orang tua itu setelah mendapatkan Lan.

"Masalah ini menyangkut hubungan antara orang tuamu dengan bibi Wan. kemudian katanya sambil tersenyum. masalah pedih apakah yang dialami bibi Wan sehingga dia merasa begitu sedih?" tanya Lan See giok dengan perasaan tidak habis mengerti. pada waktu itu aku se-dang bersemedi di dalam gua. secara terpisah mereka datang ke Hoa San dan berkumpul di bawah bukit sambil berunding bagaimana caranya mengamati gerak gerikku. namun untuk menghindar mulut guaku ketahuan orang luar. tak lama kemudian kusaksikan seseorang sedang berlarian dengan cepat. baru kuketahui kalau orang itu adalah Hu-yong siancu Han sin wan . . . aku tidak membuka pintu secara langsung. To seng cu telah berkata lebih jauh: "Menanti suhu sampai di pintu depan. toh dihati kecil masing-masing masih saja saling curiga men-curigai. orang yang mengukir tulisan di de-pan gua tak lain adalah bibi Wanmu. ?" "Benar." Lan See giok kembali merasa tidak habis mengerti. tanpa terasa serunya kaget: "Aaah . Dalam pada itu. sampai orang itu sudah pergi jauh.291 "Dasar bangsa kurcaci. namun untuk menghindari perhatian orang. . dia tahu yang di maksudkan gurunya. orang itu sudah pergi hingga tak terlihat lagi. aku sendiri juga kurang tahu sehingga lebih baik tak usah kuterangkan di sini. hanya saja ia tidak habis mengerti siapakah perempuan tersebut. tak ada salahnya bila kau tanyakan sendiri kepada bibimu di kemudian hari. barulah kubuka pintu gua dan ke luar. mengapa ia tidak menjumpai "pintu gua" ketika memasukinya semalam." "Suhu. sudah pasti bait-bait syair yang terpampang di atas dinding di mulut gua tersebut. . tapi kalau menurut pembicaraan suhu pintu gua tersebut pasti tersembunyi di balik dinding gua sehingga tidak terlihat sama sekali. To seng cu berkata lebih jauh: "Tergerak hatiku waktu itu sehingga segera munculkan diri. Tong seng cu berkerut kening seakan -akan enggan menjawab pertanyaan itu. Tergetar perasaan Lan See giok. "Justru persoalran menjadi berazntakan aki-bat wsuatu kebetulanr. . . mendadak kudengar suara golok sedang mengukir batu di depan dinding gua . " Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan itu. menanti kususul lebih dekat. " . . . dia adalah bibi Wan . kubaca sebentar bait syair di dinding gua itu lalu menembusi hutan tho dan me-ngejar ke luar lembah. walaupun mereka telah memutuskan bersama. . Setelah meneguk araknya setegukan. mungkin dia akan mencerita-kan pengalamannya kepada mu. . . . dia .

"Sampai aku sudah berada di belakangnya. menanti aku tiba kembali di gua.292 Melihat gurunya enggan menjawab. orang itu tak lain adalah ayahmu. si peluru perak gurdi emas Lan Khong-tay. baru ku-jumpai kotak kecil di atas meja telah lenyap." "Kemunculan mereka di bukit Hoa San segera menimbulkan kecurigaanku. Hu-yong siancu belum pergi. "Dalam keadaan begini. tapi di sisinya telah bertambah seseorang. kemudian baru lanjutnya lebih jauh. terpaksa aku turun tangan keji. serta Wi-lim pocu Oh Tin-san di mulut lembah. sedang ayahmu serta Hu-yong siancu juga menyusul di belakangku. karena itu rasa curigaku segera lenyap. tapi setelah mendengar perkenalan dari Hu-yong siancu. itulah sebab-nya ia tidak merasa keheranan ketika ayah-nya disinggung: "Waktu itu aku paling mencurigai ayahmu. Atas perta-nyaanku. segera kukejar mereka ke luar lembah. saat itu juga mereka kabur terbirit -birit ke empat penjuru. "Kedua orang itu merupakan pentolan kaum hitam yang termasyhur sekali. barulah kuketahui kalau ayahmu adalah Lan tayhiap yang termasyhur namanya dalam dunia persilatan." Berhubung To seng cu bercerita sambil menengok ke arahnya." Berbicara sampai di situ dia. Tampaknya Siau thi gou memperhatikan sekali masalah tercurinya kitab cinkeng itu." . maka di dalam gelisahnya dicampur gusar dan mendongkol. Lan See giok sudah memahami maksud gurunya. dengan gelisah tiba-tiba dia menyela: ""Suhu. "Sewaktu aku mengejar sampai di luar hutan tho. Aku pun segera mengeluarkan ilmu berjalan ter-bang menempel angin untuk menyusul di belakang mereka. memandang sekejap ke arah Lan See giok yang sedang mendengarkan dengan seksama. sudah barang tentu Lan See giok tak berani ber-tanya lebih jauh. kelima orang itu baru merasakan kehadiran-ku. segera aku sadar bahwa kotak itu tercuri. terpaksa dia mengiakan berulang kali. Setelah mengejar melampaui dua buah puncak bukit. diantara hutan bambu dan pohon siong kulihat ada lima sosok bayang-an manusia sedang kabur ke luar bukit. sudah pasti pintu depan lupa kau tutup kembali?" "Benar"! To seng cu segera mengangguk. ketika kau ke luar dari gua. dengan perasaan gelisah akupun segera menyusul ke luar lembah. waktu itu aku memang kelewat gegabah. mustahil bagiku untuk mengejar mereka satu persatu. baru kuketahui ayahmu telah ber-jumpa dengan Pek-ho-caycu si toya guntur Gui Pak-cian.

kemudian Pek toh oh cu si binatang bertan-duk tunggal Si Yu gi menjadi ketakutan dan berlutut minta ampun sambil menerangkan kalau cinkeng tersebut berada di tangan Kiong Tek ciong. karena itu ku kejar Toan Ci tin dari telaga Tong Ong oh sambil melepaskan sebiji biji cemara untuk menghalangi niatnya melarikan diri. baru-lah diketahui kalau kotak kecil tadi sudah terjatuh dalam perjalanan. mengapa mengejar Oh Tin san sekalian dan kedua mereka tahu kalau kotak kecil itu milikku. tak ampun lagi biji ce-mara itu bersarang telak di mata sebelah kirinya. kebetulan Toan Ci tin sedang menengok ke belakang. pintu gua berada dalam keadaan tertutup. Oh Tin san sekalian-pun mulai menelusuri . itu-lah sebabnya kubebaskan Oh Tin san ber-lima. maka dalam gusarnya kubacok kutung lengan kiri Kiong Tek ciong sedangkan Oh Tin san segera berlutut minta ampun. siapa tahu ketika biji cemara itu hampir mengenai tubuhnya. akhirnya baru kuketahui apa sebab-nya ayahmu tidak datang mencariku: "Pertama mereka tidak tahu siapakah aku. "Menanti pikiran dan perasaanku sudah mulai mereda kembali. dia telah berada di luar hutan tho. "Waktu itu aku tidak tahu siapa yang ber-nama Kiong Tek ciong. "Atas pertanyaanku baru kuketahui arah Kiong Tek ciong melarikan diri. tapi aku perca-ya bila kotak cinkeng itu berhasil mereka te-mukan niscaya akan dikembalikan kepadaku. "Berhubung orang tuamu dan Hu-yong siancu kemudian lenyap secara tiba-tiba dari dunia persilatan. tapi ketika kemu-dian kucari. walaupun alasannya hendak me-lindungi padahal tujuannya yang utama adalah mengawasi gerak gerik rekannya. "Setelah kuperiksa kedua orang itu. sebab ketika Huyong siancu mengukir syair di depan gua. "Waktu itu meski akupun sedikit menaruh curiga kepada ayahmu dan Huyong siancu yang tidak menyusul datang. baru kusesalkan per-buatan berdarah yang telah kulakukan. tapi sampai matahari tenggelam di langit barat aku belum juga melihat ayah-mu datang. biar begitu aku percaya kalau Kiong Tek ciong dan Oh Tin san tidak berbohong. "Ketika aku mengejar mereka lebih jauh dalam keadaan terpojok ternyata ke dua orang itu melakukan perlawanan.293 "Mula pertama kukutungi dulu kaki kiri dari Gui Pak ciang. namun tidak mengetahui bagai-mana caranya untuk mengembalikan. menanti aku membukanya. waktu itu Oh Tin San sedang kabur membuntuti Kiong Tek ciong. berhubung aku tahu kalau dia orangnya keji dan berbahaya maka segera kupotong sebuah telinga kirinya seba-gai hukuman. Caycu dari Pekho cay. Cong Caycu dari bukit Tay ang san. kotak tersebut sama sekali tak berhasil kutemukan kembali.

akupun berpendapat demikian. beliau merubahnya dari sebuah gua alam menjadi sebuah tempat tinggal yang indah. segera ujarnya kemu-dian dengan hormat.. "Suhu.294 jejak ayahmu. . Hu-yong siancu yang sudah mem-buat tulisan di atas dinding gua saja tidak menemukan mulut gua tersebut. itulah se-babnya mereka dapat membuktikan pula kalau kitab Cinkeng tersebut memang berha-sil ditemukan oleh ayahmu serta bibi Wan mu . masih lebih kecil daripada kalian. lalu manggut-manggut seraya men-jawab: "Benar. Oh Tin san sekalian dengan perasaan ingin tahu segera munculkan diri untuk melihat tulisan apakah yang diukir Hu-yong siancu di atas dinding. "Tatkala Hu-yong siancu selesai mengukir tulisan kemudian berlalu. . peristiwa ini sesungguhnya bersum-ber pada perbuatan Hu-yong siancu ketika mengukir syair di atas dinding gua sana. itu namanya sudah takdir!" Dengan ramah dan penuh kasih sayang To-seng cu memandang sekejap kearah Siau thi gou. se-bagaimana diketahui Hu-yong siancu adalah seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan. Ketika itu akupun cuma berusia sebelas dua belas tahunan. . bahkan bersumpah selama hayat masih dikandung badan pasti akan mendapatkan kembali kitab cinkeng tersebut. cousu yaa berada di mana? Menga-pa Gou ji tidak tahu?" Siau thi gou segera bertanya dengan nada tidak mengerti." Tergerak hati Lan See giok sesudah men-dengar perkataan itu. siapa sangka pada saat itulah secara kebe-tulan aku membuka pintu gua.!" Siau thi gou yang mendengar sampai di situ segera menyela pula dengan suara lan-tang: "Waah. Ketika Oh Tin san sekalian menjumpai kemunculan Hu-yong siancu di bawah puncak giok li hong mereka pun menjadi tertarik dan diam-diam menguntit dari belakang. oleh sebab itu aku segera kembali ke gua dan minta ampun kepada sucou kalian. mengapa Oh Tin san sekalian bisa tahu kalau suhu berdiam di dalam gua tersebut? To seng cu segera menghela napas panjang "Aai. sebelum sucou kalian kembali ke alam baka. dia khusus membuat sepasang "lian" di kedua belah pintu gua yang terbuat dari tatahan mutu manikam serta intan permata yang tak ter-nilai harga nya. tiba-tiba menimbrung: "Suhu. itulah sebabnya setiap kali aku peroleh kesulitan. "Gua ini merupakan hasil pembangunan dari cousu di masa lalu. pasti akan berlutut di depan pintu itu sambil berdoa dan minta pengarahan. Si Cay soat yang membungkam selama ini. entah berapa ba-nyak lelaki yang pernah jatuh hati kepadanya dimasa lalu.

kita sebagai angkatan muda tentu saja harus ikut bergembira. paras muka To seng cu nampak berubah menjadi merah segar dan penuh dengan perasaan kagum. Biarpun ketiga orang muda mudi itu masih kecil. tapi sahut nya juga meski tidak memahami maksud muridnya" "Tentu saja amat baik. kemudian dengan membawa pedangnya beliaupun berangkat ke alam baka untuk menjadi dewa abadi--Ketika menyelesaikan perkataan itu. Kini anak giok telah masuk perguruan dan membonceng ketena-ran suhu dan sucou. "semenjak dia orang tua menjadi dewa. per-nah beliau pulang untuk menengokmu?" "Tidak pernah" To Seng cu menggelengkan kepalanya dengan sedih. beliau hidup bebas di alam sana dan tak pernah akan kembali ke dunia yang fana lagi" Lan See giok serta Si Cay soat yang melihat kemurungan suhunya."" Paras muka To seng cu segera berubah menjadi amat serius. kembali bertanya dengan tidak habis mengerti: "Suhu. Siau thi gou merasa sedih sekali tiba-tiba ia bertanya: "Suhu. Sebelum kembali ke alam baka. karena itu mereka semua merasa turut tak tenang. Siau thi gou yang melihat gurunya sedih.pwee yap cinkeng tersebut dan diwariskan kepadaku. semenjak sucou menjadi dewa. baikkah bila sucou menjadi dewa?"" To seng-cu tertegun dibuatnya." . apakah suhu bersedia menerangkan nama sucou kami agar anak giok sekalianpun mendapat tahu siapa nama sebenarnya sucou kami yang mulia itu. mereka pun dapat melihat pancaran sinar hormat dan perasaan kagum .295 "Tatkala anak giok membaca sepasang "lian" yang berada di depan pintu gua sudah terasa olehku bahwa tulisan mana merupa-kan hasil karya seorang Bulim Cianpwe yang amat saleh dan hebat. dia orang tua telah berhasil memperoleh apa yang di kehendaki-nya. kini jadi menyesal karena sudah menanyakan soal sucou mereka sehingga memancing rasa murung bagi gurunya. sucou kalian khusus mencatatkan segenap ilmu silatnya di atas Hud bun. beliau sudah bertapa hampir seratus tahun di dalam gua ini. beliau merupakan se-o-rang dewa pedang yang paling hebat pada seratus lima puluh tahun berselang. dipandangnya aneka bunga di luar ruangan dengan ter-mangu. sampai lama kemudian pelan-pelan ia baru berkata: "Sucou kalian Thian ih siu telah berusia dua ratusan tahun.yang tak terhingga dari suhu mereka ter-hadap sucou-nya.

Sambil mengelus jenggotnya dan me-man-dang ketiga orang bocah itu dengan riang To seng cu berkata: "Tengah malam nanti. Matahari senja sudah mulai tenggelam di balik awan. Santapan siang itu dilewatkan dalam sua-sana riang gembira. Lan See giok dan Siau thi gou sedang mengeringkan pakaian dengan asap dupa. bibi Wan tak sempat mempersiapkan segala sesuatunya bagiku. tak tahan lagi ia segera mendongakkan kepala-nya dan tertawa terbahak-bahak.. mereka sama-sama menengok ke arah Thi gou de-ngan sorot mata kagum. apalagi pakaianku kebanyakan masih tertinggal di dalam kubu-ran kuno" Mencorong sinar tajam dari balik mata Siau thi gou.. Lan See giok serta Si Cay soat juga ikut tertawa. Lan See giok tidak mempunyai banyak pakaian untuk berganti. karena itu dia hanya mengeringkan jubahnya yang berwarna biru saja serta pakaian dalamnya.296 "Lantas apa sebabnya kau orang tua nam-pak tak senang hati?" seru Siau thi--gou polos. buntalanmu itu berada dalam kamar enci Soat. Soat-ji serta Thi gou ha-rus menjadi pelindung pada saatnya nanti. serunya tak tertahan lagi. aku akan mewaris-kan ilmu silat maha sakti yang tercantum dalam Hud bun pwee yap cin keng kepada engkoh giok kalian. seakan akan teringat akan se-suatu. . senja yang gelap mulai menyeli-muti Giok-li-hong. guru dan murid empat orangpun nampak sedikit agak mabuk. Melihat Siau thi gou berhasil memancing gelak tertawa guru mereka. Tiba-tiba Siau thi gou bertanya dengan nada tak mengerti: "Engkoh Giok.. dan Siau thi gou segera mengiakan dengan hor-mat. bselewat malam njanti kalian bergtiga harus su-dbah mempersiapkan diri baik-baik dan menunggu perintah dihadapanku. sedangkan Si Cay soat. Kontan saja To seng-cu dibuat tersumbat mulutnya oleh ucapan Siau thi gou. bahkan masih terdapat pula Sembilan butir peluru perak yang berkilauan" Lan See giok segera merasakan hatinya bergetar keras setelah mendengar perkataan itu. "Aaah. teringat aku sekarang." Kejut dan gembira Lan See giok mendengar perkataan itu. ia segera melompat bangun sambil berkata. kau tidak membawa bunta-lan pakaian?" Lan See giok menggelengkan kepalanya bertulang kali. paras mukanya berubah. "Berhubung aku datang dengan tergesa gesa.

hanya pedang Jit hui kiam serta kotak kecil itu yang lain tidak diketahui berada di mana? Waktu. ia tidak berada di kamarnya. cepat kembalikan ke tempat asalnya. kemudian bisiknya: "Enci Soat sedang mandi di atas.kanakan. Tiba dalam kamar tidur Si Cay soat. ayo biar kuambilkan untukmu" Sambil berkata. dengan perasaan kaget dia mundur dua langkah dari posisi semula. Lan See giok segera merasakan hati-nya berdebar keras dan wajahnya merah padam. oleh sebab itu dengan gelisah ia lantas berseru: "Adik Thi gou. Siau thi gou sudah bermaksud mengembalikan bungkusan kecil itu. bahkan bisiknya dengan girang. namun diapun mengerti bahwa bungkusan itu tidak boleh diambil sekarang.-!" . de-ngan acuh tak acuh dia melanjutkan lang-kahnya melewati celana dalam. ayo cepat ke luar-. menggikuti Siau thi bgou mereka langsung menuju ke arah kamar tersebut. kali ini paras mukanya berubah. Lan See giok merasa amat gelisah bercam-pur bimbang. rupanya pedang Jit hoa kiam beserta kotak kecil emas itu diletakkan menjadi satu dengan buntalan-nya.297 "Apa kau bilang?" Siau thi gou segera meletakkan pakaian nya ke atas lantai. bukankah bungkusan ini milikmu?" Lan See giok segera mengenali bungkusan itu sebagai miliknya yang tertinggal di dalam kuburan kuno. Tapi Siau thi gou sendiripun tidak me-nyangka kalau di atas permadani ruangan tergeletak pakaian luar serta pakaian dalam Si Cay soat yang baru dilepas. dia langsung memasuki kamar tidur enci Soat-nya tanpa canggung. apalagi usianya dua tiga tahun lebih muda dari pada Lan See giok. saat itulah Lan See giok baru mendu-sin dari kekhilafannya dan segera berhenti di pintu luar. Siau thi gou masih polos kekanak. "Coba kau lihat engkoh giok. pakaian dalam dan gaun gadis tersebut sambil mema-suki ruang dalam. Lan See giok segera mengalihkan kembali pandangan matanya ke dalam ruangan. Berbeda sekali dengan Siau thi gou. saat ini dia seolah-olah lupa kalau tidak patut seorang lelaki memasuki bkamar tidur seojrang dara. teren-dus bau harum semerbak yang menyegar-kan badan. ia segera menarik Lan See giok menuju ke kamar tidur Si Cay soat.

hanya ada satu hal yang belum dipahami yakni ke mana perginya pedang Gwat-hui kiam tersebut?" . kemudian melompat ke luar dari dalam ruangan.298 Melihat wajah tegang dan peluh bercu-curan yang membasahi muka Lan See giok yang gelisah. sampai kemudian On Tin san muncul di situ dia baru mengganti kedudukannya seba-gai pelindung keselamatan jiwanya. Lan See giok lebih-lebih tak berani berayal lagi. Siau thi gou segera tahu kalau persoalannya tidak semudah itu. Siau thi gou segera mengangguk berulang kali. meski demikian ia toh bertanya lagi dengan nada tak mengerti. "Pakaian itu kan milikmu? Mengapa tak boleh diambil?" Tentu saja Lan See giok merasa kurang le-luasa untuk menerangkan alasannya. "Adik Thi-gou. setibanya di kamar sendiri ia baru bertanya dengan suara tak mengerti: "Engkoh giok. sekarang ia baru mengerti tentang bau harum itu berasal dari obat mestika pemberian gurunya yang segera memaksa ke luar sari racun dalam tubuhnya di samping menambah tenaga dalamnya. Kalau hendak diambil pun harus bertanya dulu kepada suhu mengerti?" Siau thi gou segera manggut-manggut berulang kali dan melanjutkan pekerjaannya menggarang pakaian. ter-paksa sahutnya. sebentar bila adik Soat datang. Lan See giok baru berkata dengan ber-sung-guh sungguh. sambil menarik tangan Siau thi gou mereka segera mengundurrkan diri dari zsitu. "Teringat bau harum semerbak yang terasa di mulut. Sekarang Lan See giok sudah memahami segala sesuatunya. Siau thiw gou sungguh dirbuat bingung dan tak habis mengerti. Sekarang. apa yang terjadi?" Setelah berusaha menenangkan hatinya. Ia pun berani menyimpulkan bahwa tujuan suhunya menyembunyikan diri tak lain adalah berharap bisa mengamati gerak gerik-nya secara diamdiam sehingga dapat me-ngetahui dimana kotak kecil tersebut disim-pan. melainkan selalu menyembunyikan diri di seputar sana. dengan terkejut ia meletakkan kembali bungkusan tersebut ke tempat semula. rupanya To seng cu sama sekali tidak meninggalkan kuburan kuno tersebut pada malam itu. kau tak boleh mengatakan telah mengajakku pergi ke kamarnya untuk me-ngambil bungkusan kecil itu mengerti?" Berhubung Lan See giok berbicara dengan wajah serius dan bersungguh sungguh.

de-ngan gugup dan panik Si Cay soat telah muncul kembali di situ. Siau thi gou mengiakan dengan bgembira dia segjera melompat bagngun dan siap mbe-nuju ke luar kamar. Tapi baru berjalan beberapa langkah. tampak olehnya Si Cay soat yang habis mandi kelihatan lebih segar. kemudian serunya kembali kepada Siau thi gou: "Mari. ikut cici untuk mengambilnya!" Sambil berkata dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ. kemudian jawabnya: "Engkoh giok bilang. di sana tidak ditemukan sesuatu apapun. Siau thi-gou memandang sekejap ke arah Lan See giok yang duduk dengan wajah merah padam. engkoh giok tak punya pakaian untuk ganti!" "Mengapa kami tidak mengambilnya di kamarku?" omel Si Cay soat setelah mende-ngar perkataan itu. kau tak usah kemari." Selesai berkata kembali dia melayang pergi.299 Berpikir sampai di situ. angin lembut terasa berhembus lewat. bayangan merah berkelebat di depan mata. . telinga. lebih cantik jelita dan menawan hati. Tentu saja Siau thi gou jadi melongo dan berdiri tertegun di tempat. mau menunggu sam-pai kedatanganmu!" Si Cay soat melirik sekejap ke arah Lan See giok. bahkan dengan wajah tersipu sipu dia menggoyangkan ta-ngannya berulang kali sambil mencegah: "Adik Thi gou. ba-yangan merah kembali berkelebat lewat. benar juga ia mendengar suara langkah kaki manu-sia berjalan mendekat. tahu-tahu Si Cay soat telah muncul di depan pintu ruangan. Pada saat itulah mendadak terdengar Siau Thi gou berbisik: "Engkoh giok. hari ini dia benar-benar dibikin kebingungan setengah mati dan tak tahu apa gerangan yang telah terjadi. tanpa terasa dia-mati ruangan dimana ia berada sekarang namun kecuali dua lembar selimut kulit serta bungkusan berisi pakaian milik Siau thi-gou. Tampak paras muka Si Cay soat merah padam seperti kepiting rebus. Hanya Lan See giok yang mengerti apa yang telah menyebabkan Si Cay soat gelisah serta gelagapan setengah mati. biar cici saja yang segera mengambilkan untuk mu. wajahnya gugup bercampur gelagapan. Siau thi gou segera berseru: "Enci Soat. enci Soat datang"" Lan See giok segera pasang. Lan See giok segera menengok ke arahnya.

dua batang lilin tersulut rapi di meja. Si Cay soat serta Siau thi gou segera melayang turun dari kamar masing-masing menuju ke istana gua. asap dupa menyiarkan bau harum ke seluruh ruangan.300 Sesaat kemudian. Pelan-pelan To seng cu membuka matanya dan menitahkan mereka bertiga agar duduk. Lan See giok merasa sangat emosi setelah melihat bungkusan kain miliknya itu. bahkan dilipat dengan rapi dan rajin. impiannya untuk mewariskan kembali ilmu silat yang dipelajari dari kitab Cinkeng kepada enci Ciannya segera buyar tak berbekas. Si Cay soat. duduk di sebelah kiri. biar terhadap istri maupun putra putri sendiri. perasaan mereka amat tenang. Setibanya dihadapan guru mereka. Si Cay soat telah muncul kembali dengan membawa sebuah bungku-san kecil. kepandaian silat ini dilarang untuk diwariskan kepada sembarangan orang. tanpa terasa malampun menjelang tiba . To seng cu baru berkata dengan wa-jah bersungguh-sungguh: "Aku akan melaksanakan peringatan dari sucou kalian dengan hanya mewariskan ke-pandaian silat yang tercantum dalam kitab Cinkeng kepada seorang murid yang paling berbakat. sedang Lan See giok dan Siau thi gou duduk di se-belah kanan.. mem-buat suasana di situ terasa diliputi oleh ke-seriusan. Lan See giok. kepalannya seperti dihantam kayu keras-keras. Dalam kesibukan masing-masing itulah." Lan See giok merasakan hatinya bergetar keras.. wajah merekapun diliputi keseriusan. ia telah mengundurkan diri lagi dengan kepala tertunduk rendah-rendah. Menanti ke tiga orang muda mudi itu duduk. Sekarang sambil melanjutkan peker-jaan-nya menggarang pakaian. dia mulai memutar otak memikirkan bagaimana caranya untuk mempelajari rahasia ilmu silat yang ter-can-tum dalam kitab Cinkeng. ketika dibuka ternyata Si Cay soat telah memban-tunya mencucikan semua pakaian tersebut. tak sampai Lan See giok mengu-capkan terima kasih. wajahnya amat serius. Lan See giok sekalian bertiga segera menyapa sambil menjatuhkan diri berlutut. To seng cu dengan jubah kuningbnya duduk bersijla di atas kasugr duduknya dengban mata terpejam. tanpa terasa ia sangat berterima kasih sekali kepada gadis itu. Sementara itu To seng cu telah berkata le-bih jauh: . Tampak kitab Hud bun pwe yap cin keng terletak di atas meja rendah...

301 "Hampir sepuluh tahun belakangan ini. anak giok memang benar-benar seorang anak baik yang dapat dipercaya ." Jangan lagi soal ilmu silat tersebut. untuk meng-hindari pelanggaran peraturan di kemudian hari dengan mewariskan ilmu tersebut kepada suami atau putra putri sendiri. Dari pembicaraan dan perkataan To -Seng cu yang begitu serius. hanya sayang sifat keibuan mereka terlalu besar.dan tak akan melanggar peraturan yang telah ditetapkan perguruan. namun semakin sulit untuk dipelajari. Meskipun demikian. namun aku merasa wajib untuk mengamati dulu segala gerak gerik. maka Siau thi gou segera mengiakan dengan sikap tulus. bahkan memikirkan masalah itupun tak per-nah. . Kata-kata terserbut diutarakan zsecara tegas dawn sama sekali trak bisa dibantah kembali. baginya asal engkoh giok bisa mempelajarinya hal tersebut sudah cukup memuaskan hatinya. kemudian melanjutkan: "Gou ji polos. Itulah sebabnya aku selalu membun-tutinya secara diam-diam. maka ilmu silat ini pun tak akan diwaris-kan kepadanya. guru. Siau cian merupakan orang-orang yang berbakat baik. aku selalu membawa Soat ji dan Gou ji ber-kelana ke mana-mana tanpa tujuan. kese-tiaan dan kejujurannya bisa dipertanggung jawabkan. Dengan wajah gembira To Seng cu meman-dang sekejap ke arah Si Cay soat. dia memang manusia yang berbakat bagus untuk mempe-lajari segala isi cinkeng tersebut. Sementara itu To Seng cu telah berkata lagi setelah berhenti sejenak: "Ketika masih berada dalam kuburan kuno. "Soat ji maupun putri kesayangan Hu-yong siancu. maka setelah men-de-ngar perkataan dari gurunya." Kemudian setelah memandang sekejap muda mudi bertiga yang duduk dengan wa-jah serius itu. cepat dia bang-kit berdiri dan mengiakan dengan hormat. sayang kecerdasannya kurang. karena itu aku telah mengambil keputusan untuk me-wariskan kepandaian silat maha sakti terse-but kepadanya. sikap maupun perangai-nya. dia melanjutkan. dia pun semakin bertekad untuk tidak menyia nyiakan harapan. aku pernah memeriksa seluruh urat dan tulang belulang anak Giok. . berdasarkan pengamatanku secara diam-diam selama satu bulan lebih. maka kepada mereka berdua tak akan diwarisi kepandaian silat tersebut". Lan See giok pun mu-lai sadar bahwa tidak gampang untuk mem-pelajari ilmu silat dari Hud bun pwee yap cinkeng tersebut. jujur dan sederhana. maksud ku tak lain adalah hendak mencari kembali Cinkeng tersebut serta menemukan seorang manusia yang berbakat sangat baik untuk mempelajari ilmu silat tersebut. Pada hakekatnya Si Cay soat memang ti-dak berniat mempelajari isi kitab cinkeng tersebut. " .

melihat wajahnya gembira dia turut gembira. memandang sepasang "lian" yang tergantung di sisi pintu. sedemikian terangnya sampai debu di lantai pun dapat terlihat jelas.302 Setelah berhenti sejenak." buru-buru Lan See giok men-jawab dengan hormat." la lantas bangkit berdiri dan maju ke balik pintu gerbang istana gua. anak giok mendengarkan pembicaraanku dengan sek-sama." Dengan gembira To Seng cu manggut. cahaya tajam pun segera meman-car ke luar dari balik ruangan tersebut.. To Seng cu berdiri serius di depan pintu gerbang yang tinggi besar itu sambil me-ngangkat kepalanya. melihat aku murung dia menjadi tak tenang. mentaati pera-turan perguruan dan tidak akan menyia-nyiakan harapan suhu terhadap anak giok. Lan See giok bertiga berdiri berjajar di be-lakang To Seng cu. Tiba di depan pintu. Si Cay soat dan Siau thi gou. katanya kemudian dengan serius: "Sekarang. mendengar pembicaraan orang lantas menghubungkannya dengan orang lain bahkan kemudian berani meng-aku salah dan minta hukuman. . dia melanjutkan: "Dalam santapan siang tadi. To Seng cu melaku-kan suatu gerakan dengan telapak tangannya. giok. Lan See giok. pintu segera terbuka sebuah celah selebar dua depa. suasana amat hening Lan See giok yang berdiri di belakang To Seng cu memandang ke arah pintu dan mebnde-ngarkan hemjbusan angin dalgam gua. tiba-tibba saja merasakan pikiran dan perasaannya menjadi sangat kalut. ia bertanya lebih jauh: "Anak. Malam sudah kelam. Cahaya terang benderang mencorong di luar pintu. sikap mereka pun amat serius." Setelah berhenti sebentar dan menatap wajah Lan See giok dengan penuh kasih sayang.manggut. ikutilah suhu menjumpai sucou mu!. itulah sebabnya aku pun mempercepat waktunya setahun lebih awal untuk mewa-riskan ilmu silat tersebut ke-pada anak giok. kesemuanya ini menambah keyakinanku bahwa pilihanku memang tak salah. To Seng cu. dengan wajah gembira yang terpancar dari balik keserius-an mukanya. bagaimanakah perasaanmu setelah mendengar perkataanku ini?" "Pujian dari suhu membuat anak giok me-rasa malu. "selanjutnya anak giok bersumpah akan mengutamakan kejujuran serta berlatih dengan tekun. segera bersamasama me-nuju ke luar pintu.

303 Ia teringat kembali akan dendam kesumat ayahnya. To Seng-cu bangkit berdiri." Selesai bersumpah. kau harus me-nyatakan kesetiaanmu untuk selama hidup melaksanakan perintah sucou serta menaati peraturannya. ." Selesai berkata. dia menyembbah lagi beberapja kali. Kemudian To Seng-cu pun berkata kepada Lan See giok dengan wajah serius. biar Thian melimpahkan kutukannya kepadaku. tapi akhirnya dia manggut--manggut sambil tersenyum girang. dengan sorot mata yang tajam To Seng-cu mengamati terus gerak gerik Lan See giok. dia maju beberapa langkah ke depan dan menjatuhkan diri berlutut. suhu di alam baka mohon tahu. ujar-nya dengan wajah bersungguh sungguh: "Murid angkatan ke tiga Lan See giok de-ngan hormat melaporkan kepada arwah Su-cou dialam baka. "Anak giok." Lan See giok mengiakan dengan hormat. cepat berlutut dan mengangkat sumpah dihadapan sucoumu. Setelah menyembah sebanyak empat kali. tiba-tiba terdengar To Seng cu telah berkata dengan suara rendah tapi hormat. Setelah bangkit berdiri Lan See giok ber-sama gurunya. hari ini murid ang-katan ketiga Lan See giok khusus datang untuk menyampaikan sumpah serta rasa terima kasihnya. Kesemuanya itulah yang memantapkan ke-sempatan baginya untuk mempelajari ilmu silat maha dahsyat pada malam ini dan peristiwa tersebut membuatnya amat terha-ru. bila tecu sampai melanggar sumpah ini. Si Cay soat dan Siau thi gou menutup kembali pintu gua. Sementara ia masih termenung. kemudian sambil memandang sepasang "lian" di sisi pintu. dia lantas jatuhkan diri berlutut dan menyembah beberapa kali. Sedangkan Lan See giok sekalian bertiga setelah memberi hormat beberapa kali baru ikut berdiri pula. tecu Cia Cing wan telah menuruti perintah dengan menemukan seorang ahli waris untuk mempelajari isi cinkeng. "Arwah. Tatkalga Lan See giok bmengucapkan sum-pah nya tadi. tecu bertekad akan meneruskan kejayaan sucou dan bersumpah akan menaati setiap peraturan yang ditetap-kan perguruan serta menegakkan keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan. Lan See giok. pengharapan dari bibi Wan serta enci Cian serta penghargaan yang begitu tinggi dari gurunya terhadap dirinya. Si Cay soat serta Thi-gou se-rentak berlutut pula ke atas tanah.

ingat waktu sangat berharga bagimu. . kau harus menggunakan segenap daya ingatmu untuk menghapalkan semua catatan tersebut. kemudian memerintahkan Lan See giok berlutut di ha-dapannya dan menitahkan Si Cay soat serta Siau thi gou berdiri di sisinya. karenanya saking gelisahnya peluh sampai jatuh bercucuran. terlebih dulu hendak kusampaikan beberapa pesan kepadamu. sebelum mempelajari isi cinkeng itu. wajahnya berubah hebat diam-diam ia berdoa semoga engkoh gioknya bisa berhasil dengan sukses." Lan See giok mengiakan berulang kali dan manggut-manggut pelan-pelan To Seng cu melanjutkan kata katanya: "Ke satu." "Ke dua. selain tergantung pada bakat. biar ada golok diayunkan ke leherku juga percuma. tak boleh dicekam perasaan panik. "Selain dari pada itu. Sebaliknya Siau thi gou berdiri bodoh di situ. lalu ujarnya dengan lembut: "Anak giok. ke-cerdasan serta daya ingat seseorang. To seng cu duduk bersila kembali dikasur duduknya. diam-diam Lan See giok mengatur per-na-pasan dan berusaha keras untuk menenang-kan pikiran dan perasaannya yang bergolak. gangguan macam apapun yang datangnya dari luar tidak akan mengganggu konsentrasiku. untuk mempelajari ilmu silat maha sakti yang tercantum dalam kitab cinkeng. tulisan di atas Pwee yap tersebut hanya akan mun-cul sekali setiap enam puluh tahun hurufnya amat banyak dan ilmu silatnya beraneka ragam. akupun akan mengalami jalan api menujru neraka sehingzga ber-akibat cwacad seumur hidrup--!" Si Cay soat yang mendengarkan perkataan itu segera berkerut kening. dalam hal ini kau harus ingat baik-baik. sebelum mempelajari kitab cinkeng. sekali pikiranmu bercabang. Sambil berlutut dihadapan To Seng cu. ia benar-benar tak pernah menyangka kalau untuk mempelajari kitab cinkeng pun bakal menghadapi ancaman yang begitu serius. bukan hanya kau bakal tewas. kau harus menggunakan saat yang amat singkat dimana aku akan memperta-hankannya dengan seluruh tenaga untuk membaca dan menghapalkan secara teliti. juga tergantung besar tidaknya rejekimu. Dengan sorot mata yang lembut To Seng cu mengamati wajah Lan See giok.304 Tiba di ujung ruangan. kau harus berusaha menenangkan pikiran serta membuang jauh-jauh semua pikiran yang tak berguna. harap kau suka mengingatnya dihati.

Suasana dalam ruangan itu sangat hening. sorot" ma-tanya memandang lurus ke depan dan tenang bagaikan pendeta tua. Dalam pada itu To seng cu telah merang-kapkan tangannya menjadi satu dengan menjepit ke tiga pwee yap tadi dalam telapak tangannya. ketajaman matamu bisa melebihi sinar sang surya. seketika itu juga pikirannya terasa ter-buka. setelah menitahkan kepada Lan See giok agar berlutut di depan sepasang lututnya. Si Cay soat serta Siau thi gou berdiri serius di sampingnya. mereka memusatkan seluruh perhatiannya sambil mengawasi gurunya serta Lan See giok dengan serius. aku memberi beberapa tetes sari susu batu ke-mala kepadamu sehingga tenaga dalam yang kau miliki sekarang telah melipat ganda. Dengan bersungguh hati dan serius Lan See giok mengatur napas. uap putih menguap dari ubun-ubunnya dan membaur dengan bau dupa yang memenuhi seluruh ruangan.305 Menyaksikan wajah tegang dan panik yang mewarnai wajah Lan See giok sudah lenyap tak berbekas. rejeki setiap orang berbeda. Paras muka To Seng-cu berubah menjadi merah membara. Lan See giok sendiripun berhasil men-e-nangkan pikirannya bagaikan air. dengan cepat dia mengangguk: Akhirnya To Seng cu memandang sekejap lagi kearah Lan See giok kemudian baru me-mejamkan mata rapat-rapat. oleh sebab itu ia pun tak sempat memikirkan apa yang di-se-but sari susu batu pualam itu. To Seng cu merasa gembira sekali. pe-ngalaman yang dijumpai pun tidak sama. mengerti?" Lan See-giok segera memahami maksud-nya. kau harus tahu. lambat laun peluh mulai bercucuran membasahi jidatnya. oleh sebab itu aku tidak kuatir kau tak bisa membaca tulisan di atas pwee yap ini. mengeluarkan ke tiga biji pwee yap tadi dan diletakkan di atas telapak tangan. dia berpesan lagi." Sambil berkata dia membuka kotak kecil itu. ia segera berkata lebih jauh: "Sewaktu berada di kuburan kuno. kau harus mem-bawa tekad menyerahkan segalanya kepada yang kuasa. sepasang ta-ngannya menggenggam ke tiga biji Pwee yap itu lekat-lekat dan meletakkannya di atas lutut di depan dada. . sedemikian sepinya sehingga tak kedengaran sedikit suarapun. bahkan nasibpun berbeda. Pikirannya bersih dan perasaannya kosong. Pasrah sepenuhnya kepada Thian sambil membaca kitab itu. dia tak berani menyabangkan pikirannya. "Anak giok.

bercucuran deras.. tapi sekarang dia tidak merasa semenderita tadi lagi. menyusul ke-mudian muncul huruf-huruf dari emas. mereka tak tahu apakah Lan See giok dapat membaca isi pelajaran dalam pwee yap itu atau tidak? Suasana dalam gua amat sepi. ia merasa datangnya pancaran sinar tajam yang amat menusuk pandangan membuat mata-nya terasa sakit seperti ditusuk-tusuk pisau.- . . Si Cay soat dan Thi.. Pwee-yap sam-ciang ( tiga pukulan Pwee-yap) . seluruh tenaga dalamnya telah di him-pun dan perhatiannya dipusatkan ke atabs telapak tangajn gurunya. segulung cahaya ta-jam segera memancar ke luar ke atas langit-langit gua. Lan See giok segera membaca pula isi pelajarannya dengan seksama . ia merasa udara sangat panas bagaikan ko-baran api.. secara ber-urutan diapun membaca terus. . perasaan tegang pun semakin bertambah. .. Dargi balik telapakb tangan gurunya..Pada saat itulah. . Thi siu-yau-kong ( ujung baju baja menge-bas udara ).Lan See giok sangat girang. . Sambil berusaha menahan rasa sakit Lan See giok mengerahkan tenaga dalam nya untuk bertahan. namun terhadap perubahan mimik muka dari To Seng cu itu.. Dalam pada itu. hatipun ikut berdebar Mendadak -To Seng-cu merentangkan kedua ibu jari tangannya ke samping.306 Lan See giok berlutut di depan To Seng-cu. tanpa terasa peluh. dan sepasang matapun terasa segar kembali. seketika itu juga suasana di dalam gua menjadi terang benderang-Lan See giok tak berani berayal. sepasang matanya mengawasi kedua ibu jari To seng cu lekat-lekat. peluh dingin jatuh bercucuran.gou yang berdiri di kedua belah sisinya merasa amat tegang. . Lambat laun cahaya tajam yang menusuk pandangan itu mulai hilang. bahkan menerpa tubuhnya beru-lang-ulang.. Menyusul kemudian segulung bau harum muncul dari tenggorokannya. . biarpun sepasang matanya seakan akan melihat sinar matahari. . . Hud kong sin kang (Hawa sakti cahaya Buddha ). Setelah membaca ke empat nama ilmu silat -tersebut. Yu-hong-hui heng ( Menunggang angin ter-bang melayang ) . sambil membungkukkan badan. sedemikian sepinya sampai dapat terdengar suara detak jantung masing-masing. dia berlagak seakan akan tidak melihatnya: Si Cay soat serta Siau thi gou juga ikut merasakan meningkatnya suhu udara di se-kitar mereka.

Dengan cepat Si Cay soat melompat naik ke ruang tidurnya. Karena teringat olehnya bisa jadi ada orang telah menyusup masuk ke dalam barisan po-hon bambu. Si Cay soat segera manggut-manggut mengerti. hatinya menjadi amat gelisah dengan cepat dia menyambar pedang Jit-hoa-kiam dan menaiki anak tangga batu menuju ke rumah batu di atas tebing. mukanya berubah hebat. cahaya yang tajam dan pekikan yang amat nyaring tak lain ber-asal dari pedang tersebut. Setibanya di ujung jalan. setelah menuding kearah gurunya dan Lan See giok yang se-dang berlutut membaca kitab cinkeng itu kepada Siau thi gou. ia tak berani langsung membuka tombol rahasia. dengan wajah berubah hebat mereka segera memasang telinga baik-baik dan mendengarkan dengan seksama. tapi apa yang kemudian terlihat membuat sekujur tubuhnya gemetar keras. Setelah berada di pintu ruangan. hampir saja ia menjerit kaget. karena dia tahu bila dalam keadaan seperti ini benar-benar . Jangan-jangan ada orang yang hendak menyatroni kami?" Berpikir demikian. Kalau diamati secara teliti. ia dapat menangkap suara pekikan nyaring itu ber-gema semakin nyaring. di mana ia minta Siau thi gou melindungi keselamatan mereka. mula-mula diintipnya dulu lewat celah-celah pintu dan memasang telinga baik-baik. dia seperti me-mahami akan sesuatu.307 Sreeet--Suara desingan besi bergema datang disu-sul suara pekikan nyaring yang berkuman-dang datang secara lamat-lamat. Suasana dalam rumah batu gelap gulita. diam-diam ia melompat mundur sejauh tiga kaki dan menuju ke ruang batu. dia baru menekan tombol dan masuk ke dalam rumah. sbuara pekikan nyjaring itu seakagn akan berasal bdiri kamar tidur Si Cay soat. setelah ya-kin kalau tiada orang. gumamnya kemudian dengan suara gagap: "Orang kuno bilang: Pedang antik yang berjiwa. Belum pernah Si Cay soat merasakan perasaan gugup dan panik seperti apa yang dialaminya pada hari ini. Si Cay soat serta Siau Thi gou sangat terkejut. akan memberi tanda bahaya bila ada musibah mengancam. pintu dan jendela masih tertutup rapat maka ia berjalan menuju ke depan jendela. Tergerak hati Si Cay soat. Ternyata pedang Jit hui kiam tersebut te-lah lolos sendiri dari sarungnya sebanyak be-berapa inci.

apalagi setelah mendengar suara pekikan aneh yang menggidik-kan hati itu.. . Diw samping itu dirapun bisa menduga yang berani menyerang ke tempat kediaman mereka sudah pasti merupakan gembong ib-lis dari kalangan hitam yang berilmu silat sangat tinggi.. dengan cepat dia melompat ke jendela belakang. Ia tahu.dicekam oleh perasaan tegang bercampur ngeri. Berpikir sampai di situ. Sesosok bayangan hitam yang tinggi besar sedang melayang turun dari puncak bukit. maka bukan saja engkoh gioknya bakal tewas. bintang ber-taburan dimana mana. Suara pekikan nyaring yang menggidikkan hati berkumandang dari atas puncak giok-li-hong di belakang bangunan rumah itu. Begitu kagetnya Si Cay soat. Tiba di depan jendela. Siau thi gou yang melihat enci Soatnya lama juga belum kembali. Tidak meleset dari dugaan Si Cay soat. suasana amat hening. sepasang matanya memancarkan cahaya ta-jam. pendatang itu sudah pasti sese-orang yang memiliki ilmu silat amat tinggi. . bagaimana mungkin enci Soatnya seorang dapat menghadapi pendatang tersebut. tanpa terasa ta-ngan kanannya meraba pedang Jit hoa kiam. Mendadak. Si Cay soat amat terkejut. saat itu dia tak tahu apakah gurunya telah selesai mengerahkan tenaganya atau belum. sorot matanya yang tajam mengawasi bayangan hitam yang meluncur datang itu tanpa berkedip. hatinya menjadi amat gelisah. Tapi perasaan Si Cay soat waktu itu. apa yang ter-lihat segera membuat sekujur badannya ge-metar keras. dia mengintip ke luar lewat celah-celah jendela. tampak malam gelap mencekam seluruh jagad.. Pekikan aneh tadi memanjang dan sangat menggetarkan perasaan.. gurunya juga akan mengalami rjalan api menujzu neraka.308 ada orang menyerang datang. diapun tak tahu apakah Siau thi gou bisa mengen-dalikan diri atau tidak.. dalam sekilas pan-dangan saja orang sudah tahu kalau penda-tang memiliki tenaga dalam yang amat sem-purna. dia sampai terjongkok sambil mengintip.. Dia memusatkan seluruh perhatiannya untuk melihat dan mendengarkan keadaan di seputar sana dengan seksama diperiksanya barisan bambu lebih kurang tujuh delapan kaki dihadapannya . lengannya direntangkan lebar-lebar ketika meluncur turun sehingga keadaannya tak jauh berbeda seperti seekor burung raja-wali raksasa. saking cemasnya dia sampai mandi keringat.

tiba-tiba dilihatnya To Seng cu berkerut kening. Dalam keadaan demikian. dia pun tak tahu harus memanggil mereka atau jangan. Sementara itu. Pada saat dia selesai membaca jurus ter-ak-hir dari ilmu pedang Tay lo kiu thian kiam hoat tersebut. Ketika memandang pula Lan See giok yang berlutut di atas tanah. secara lamat-lamat dia telah menangkap pekikan suara aneh tersebut." . peluh bercucuran deras. Begitu mengambil keputusan dalam hati-nya. Siau thi gou dengan wajah gugup dan gelisah segera berjalan menghampiri To Seng cu yang berada dalam keadaan kritis. Paras muka To seng cu pucat pias. pe-luh membasahi seluruh jidatnya. Setiap persoa-lan telah diatur oleh Thian Yaa. kemudian setelah menghela napas katanya: "Segala sesuatunya sudah diatur oleh tak-dir. di jumpai sepasang tangannya basah oleh keringat. namun untung nya dia tak sampai terpengaruh oleh suara itu. mana mung-kin To Seng cu akan menduga datang nya lawan tangguh dalam keadaan seperti ini? Dengan perasaan gelisah dan gugup Siau thi gou berjalan menuju ke hadapan To Seng cu. baru saja dia akan membuka suara. paras mukanya berubah menjadi pucat. Pepatah kuno mengatakan. hal ini tak bisa salahkan Thi gou. mendadak cahaya tajam yang semula terpancar ke luar dari ke tiga biji Pwee yap tersebut menjadi suram dan selu-ruh tulisan turut hilang lenyap tak berbekas. Lan See giok tak ingin gurunya terlalu ba-nyak kehilangan tenaga. se-pasang matanya seolah-olah menempel di atas ta-ngan gurunya dan berada dalam keadaan tak sadar. pelan-pelan dia mem-buka mata dan memandang sekejap kearah Siau thi gou.309 Maka dia memutuskan untuk memba-ngunkan gurunya. Lan See giok yang berlutut di atas tanah dan baru saja selesai membaca empat macam rahasia ilmu silat. apa lagi aku pun sebelumnya lupa berpesan dengan jelas kepadanya sehingga ketidak tahuan Thi gou telah membuyarkan segenap hawa murniku yang telah terhimpun. Siau thi gou yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi terbelalak dengan mulut melongo saking kagetnya. ia berdiri terma-ngu. si anak muda tersebut segera melanjutkan usahanya mem-baca dua macam ilmu silat yang terakhir yakni. ia segera mengang-kat kepala sambil bangkit berdiri. Hud lek kim kong sin ci (jari sakti tenaga Buddha ) serta Tay l o kiu thian kiam hoat.tak mampu melindungi kita. Ia tak habis mengerti mengapa suhu dan engkoh giok nya bisa berada dalam keadaan seperti ini.

daripada diriku. maka dengan penuh ke-gembiraan dia berkata: "Seluruhnya enam macam. . "Anak giok.! "Anak giok tidak berani membohongi suhu. Lan See giok tahu kalau sesuatu keajaiban pasti telah menimpa dirinya. To seng cu benar-benar tidak percaya de-ngan pendengaran sendiri. apakah kau dapat menghapal-kan ke enam macam ilmu tersebut tanpa melupakan sepatah kata saja?" tampaknya To seng-cu masih saja tidak percaya." "Coba kau sebutkan satu persatu. "Anak giok. tak tahan lagi ia bertanya agak emosi. wajahnya berubah dan ia bertanya dengan perasaan amat terkejut: "Anak giok. kau bilang berapa macam?" Menyaksikan gurunya terkejut. anak giok telah selesai membaca seluruh isi kitab Pwee yap cinkeng tersebut serta menghapalkan ke enam macam ilmu silat yang tercantum di dalamnya. dengan wajah penuh perasaan menyesal dia menengok ke arah Lan See giok dan katanya lebih jauh. aku pun merasa amat menyesal kepadamu---" Lan See giok merasa sangat tidak me-ngerti dengan perkataan gurunya itu." . pada bagian ke dua adalah ilmu pwee yap sam ciang serta Thi siu you khong. kemampuanmu ini sungguh mem-buat aku kurang percaya. sampai lama kemudian ia baru menghela napas sambit katanya: ""Anak giok.. apa kau bilang!" "Anak giok telah selesai membaca ke enam macam ilmu silat yang tercantum dalam ki-tab tersebut" sahut pemuda itu dengan hor-mat. Dahulu aku mesti membuang waktu selama dua setengah jam." "Dua macam pada bagian permulaan adalah ilmu Hud kong sin kang serta Yu hong hui heng. bukan saja aku telah me-nyia nyiakan pesan sucou mu. dari tengah malam sampai mendekati fajar untuk menyelesaikan ke lima macam ilmu silat terse-but. sedangkan pada bagian yang ter-akhir adalah ilmu jari Hud lek kim kong sin ci serta Tay lo kiu thian kiam hoat" "Anak giok. tapi kenyataan nya sekarang kau berha-sil mempelajari enam macam ilmu silat dalam satu jam. Tanpa ragu Lan See-giok segera meng-ang-guk: "Anak giok yakin tidak bakal salah!" To Seng-cu segera mengawasi wajah Lan See-giok lekat-lekat.310 Setelah berhenti sebentar. kecerdasanmu juga jauh melebihi aku. mengapa suhu malah berkata begitu---"! Tiba-tiba To Seng cu membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar. dengan hor-mat dia segera berkata: "Suhu. rejekimu selain lebih tebal ..

.. haaahhh . Mendengar gelak tertawa tersebut." Setelah berhenti sejenak dan memandang sekejap Siau-thi-gou yang masih berdiri de-ngan tertegun.311 To Seng cu segera tertawa ramah.. To Seng cu segera berseru kepada Thi gou yang masih berdiri termangu: "Thi gou. haaahhh . .. Sementara ia masih termenung. To Seng-cu kelihatan agak berubah wajahnya. beritahu kepada enci Soat mu. kalau didengar dari nada pembica-raannya. agaknya orang itu sering berkun-jung ke sana. hanya saja kejadian semacam ini sungguh membuat aku merasa terkejut. buka pintu dan sambut dia masuk kalian suguhkan semangkuk arak dulu kepada orang itu. tapi kalau dilihat dari sikap gurunya. kemudian membalikkan badan dan berlalu dari situ: To Seng cu seperti teringat lagi akan se-suatu. . . dengan cepat dia berpesan kepada bo-cah itu: "�Gou ji. budak cilik. cepat. setiap meng-ha-dapi peristiwa tak tahu untung ruginya. suara gelak ter-tawa yang amat nyaring telah ber-kumandang datang dari atas tebing.. dia berkata lebih jauh: "Biasanya Thi gou bodoh. . tercengang dan sangat gem-bira. " Mendengar seruan itu. . kemudian ia menuju ke ruang sebelah kanan dan melompat naik ke atas Lan See giok yang menyaksikan kesemua nya itu menjadi bimbang dan tidak habis mengerti. terdengar seseorang telah berseru lantang diiringi gelak tertawa keras: "Haaahhh . Tak lama kemudian. tiba-tiba To Seng cu berkata lagi dengan gelisah: . ingat! Kau jangan bilang kalau aku sedang mewariskan ilmu silat kepada engkoh giok mu!" Siau thi gou berhenti sebentar seraya manggut-manggut. dia seakan-akan telah teringat akan se-suatu. aku percaya kepadamu. . . katakan kalau aku akan segera datang. kau kira setelah bersembunyi di belakang jendela maka aku tidak dapat meli-hatmu? Ayo cepat suruh gurumu ke luar untuk menyambut kedatangan aku si mak-hluk tua . . justru karena hatiku tergerak maka huruf-huruf pada Pwee-yap tersebut segera hilang lenyap tak berbekas.. mungkin dia mendengar suara pekikan aneh tersebut sehingga dia telah memasuki daerah sekitarku yang telah kupancari hawa Hud-kong-sinkang." Belum selesai dia berkata." Siau thi gou segera menenangkan hatinya dan mengiakan dengan hormat.. kata.. seakan akan dia menaruh prasangka jelek serta kewaspadaan terhadap orang ini. yaa dengan gembira: "Nak.

" Berbicara sampai di situ. mengapung. berdiri dihadapan To Seng cu dan berkata dengan suara rendah: "Himpun tenaga pada sepasang tangan. salurkan tenaga murni menembusi ujung jari . buas. tepat sekali serang sekali kena. cepat kau bacakan lagi pela-jaran dari ilmu pukulan Pwe yap sam ciang. mungkin dia sendiripun tak mampu untuk menghadapinya.khong (daun salju terbang melayang---)" Tubuhnya melambung ke udara secara tiba-tiba. secepat kilat telapak tangan kanannya melepaskan bacokan. Menyusul kemudian tubuhnya melejit sambil berputar.-." Memandang sikap gurunya. selain beberapa orang tokoh yang maha sakti dalam dunia persilatan dewasa ini. sepasang telapak tangannya segera dirapat-kan. dalam perasaannya. se-bar hawa murni ke seluruh tubuh. Lan See giok pun berkata lebih jauh: "Jurus ke dua. Lan See giok tahu sudah pasti gurunya tak sempat mem-baca rahasia ilmu silat ini hingga selesai di masa lalu. ga-nas. badannya berputar satu lingkaran sambil melayang dengan kepala di bawah kaki di atas pelan-pelan dia melambung kembali ke atas--. maka setelah manggut-manggut dia bangkit berdiri.. nampaknya saja lamban namun kenyataannya sangat cepat. tubuhnya meluncur ke bawah dengan cepat.ki-yap-yang (angin berhembus daun berguguran)" Bersamaan dengan selesainya perkataan itu. To Seng cu duduk bersila dengan wajah serius. Menyusul kemudian dia melompat mundur sejauh dua kaki. bayangan tangan segera menyelimuti se-luruh angkasa. rasanya jarang sekali ada yang mampu menerima ancaman itu. secepat kilat sepasang ta-ngannya direntangkan sambil menyambar ke bawah-Tatkala hampir menyentuh tanah. diperhatikannya setiap gerakan dan perubahan jurus Lan See-giok dengan sek-sama. Hong. lamban. melayang. Sedangkan mengenai jurus yang ke dua. Menyusul kemudian badannya berputar dan melayang kembali ke atas tanah. Melihat gurunya hanya duduk sambil mendengarkan dengan seksama. keras. menyusul kemudian deruan angin serangan .312 "Anak giok. lambat.. dia menghimpun hawa murninya dan berbisik lebih jauh: "Jurus pertama Siang-yap-biau.. Tatkala mencapai tengah angkasa. dalam waktu singkat ia telah mencapai langit-langit gua.

menyusul kemudian sepasang telbapak ta-ngannyaj bergerak aneh. kepada To Seng cu katanya kemudian dengan hormat: "Tolong tanya suhu. dia berlagak tidak melihat. bayangan manusia berkelebat dan Lan See-giok tahu. Lan See-giok segera ber-kata lagi dengan suara hormat: "Jurus ke tiga.kui tiong(selaksa daun sumbernya satu)---"" Kembali tubuhnya melejit ke tengah udara hingga mencapai langit-langit gua tersebut. seluruh ruang gua seolah-olah sudah diliputi oleh angin puku-lan itu. Lan See-giok tak berani membalikkan badan untuk mengamati dengan sesama wa-jah pendatang itu. tangan yang lain berada di belakang secepat kilat membabat kearah permukaan tanah. sambil mengelus jenggotnya dia baru mang-gut-manggut berulang kali: Melihat hal itu. apakah kali ini anak Giok telah melakukan kesalahan lagi?" .313 yang sangat mengerikan melanda kemana-mana. diiringi bentakan keras seluruh gua diliputi oleh bayangan tangan yang amat menyilau-kan mata-Mendadak --Kabut serangan memenuhi seluruh gua dan menggulung ke bawah. dari besar kian mengecil. Selama muridnya melakukan demonstrasi. Ban yap. desingan tajam menderu deru. dari tebal lambat laun menjadi tipis. Mendadak dibalik bayangan tangan yang menyelimuti angkasa itu berkumandang suara bentakan rendah. sampai muridnya sudah berhenti.g babatan yang lbang-sung membacok ke tanah itu disertai dengan suatu sodokan yang luar biasa sekali. Lan See-giok menyentilkan ke sepuluh jari tangannya ke depan. desingan tajam seketika berhenti. sedangkan Lan See giok dengan tangan sebelah di muka. Awan pukulan begitu mereda. dalam waktu singkat tinggal bentuk setitik.tahu su-dah berdiri di tengah arena. Dalam gulungan angin serangan mana. Si Cay soat serta Siau thi gou mengikuti di belakang kakek itu dengan wajah gugup ber-campur gelisah. Disaat Lan See-giok baru saja menghenti-kan gerakan tangannya. bayangan tangan segera lenyap tak berbekas. kabut tipis menyelimuti ang-kasa dan berhamburan ke tanah seperti hu-jan deras. mendadak ia me-nangkap bayangan manusia berkelebat dari luar pintu ruangan sebelah kiri kemudian menyusul munculnya seorang kakek yang tinggi besar. To Seng-cu memperhatikan terus dengan seksama.

314 Sebenarnya To Seng cu juga telah melihat akan kedatangan dari kakek yang tinggi be-sar itu. malah sambil manggut-manggut dan mengelus jenggotnya ia me-nya-hut: "Ehmm. bagus sekali. sebaliknya kau jus-tru telah mendapatkannya. kali ini bkau telah peroljeh kemajuan yangg lebih pesat kbetim-bang tempo hari. selama ini belum pernah kujumpai seorang bocah dengan bakat yang begini bagus. ia bertanya dengan perasaan kaget bercampur tercengang: "Ciu tua. kemudian kepada To Seng cu yang baru saja bangkit untuk menyambut keda-tangannya. sungguh heran. namun dia juga berlagak seakan ak-an tidak melihat. "biarpun ilmu pu-kulan tadi hanya sempat kulihat buntut nya saja. wajahnya lebar. Tergerak hati Lan See-giok. pakaian panjangnya terbuat dari bahan belacu dan panjangnya mencapai setinggi lutut. aku mesti mengajarkan sampai belasan kali sebelum berhasil!" "Aarah. Seorang kakek berambut kusut yang memiliki perawakan tubuh tinggi besar kini sudah muncul di sana. rupanya kau sedang me-wariskan ilmu pukulan kepada murid ke-sayanganmu! Sementara berbicara. un-tuk mempelajari satu jurus ilmu pukulan saja. masa iya?" zsekali lagi kakwek itu mengawasri wajah Lan See-giok dengan pan-dangan kurang percaya. tapi aku tahu jurus tersebut benar-benar . namun kebebalan otaknya jus-tru membuat orang hampir tak percaya. Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu kakek itu berjalan ke hadapan Lan See-giok serta mengamatinya dari atas hingga ke bawah." Sebelum Lan See-giok sempat menjawab. hidungnya besar dan mulutnya lebar. jenggot putihnya ter-urai sepanjang dada.. Kakek tersebut beralis mata tebal dan mata besar. dari belakang tubuhnya sudah berkuman-dang suara gelak tertawa keras yang meng-getar-kan seluruh ruang gua menyusul kemu-dian seseorang berkata dengan suara yang kasar: "Aku kira ada urusan apa sehingga me-la-rang diriku masuk." Seraya berkata tiada hentinya dia membe-lai tubuh Lan See giok dengan telapak ta-ngannya yang besar. cuma kau mesti berlatih lagi de-ngan tekun bila ingin mendapatkan kesuk-sesan di kemudian hari. kagum dan sayang: To Seng-cu mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-babak: "Haaahhh-.. biarpun bocah ini ber-bakat bagus. dia telah melangkah masuk ke dalam ruang gua. sementara wajahnya memperlihatkan perasaan iri. dia kuatir orang itu datang dengan maksud tak baik cepat-cepat ia bangkit berdiri seraya berpa-ling.-haaahhh ---haaahhh saudara The kelewat memuji.

To Seng-cu juga berkata: "Anak Giok. maka kepada Siau-thi gou yang ma-sih berdiri termangu mangu dia berseru: "Gou ji....haaahhh . Sementara itu. tak usah banyak adat!" seru kakek berambut kusut itu kasar diiringi gelak tertawa keras. membalikkan badan dan buru-buru berlalu dari situ. Siau.haaahhh. To Seng . dengan cepat Lam See giok dapat menyimpulkan kalau kedua orang itu bukan sahabat karib yang sebenarnya. wah.cu segera menuju ke atas perma-dani dihadapannya sambil berseru: "Gou-ji. ketika dilihatnya Si Cay soat sedang menyimpan kembali kotak kecil itu.. hal ini mem-buktikan pula kalau diapun seorang cianpwe yang telah berusia di atas seratus tahun. bersama Wan-san-popo dan Si-to cinjin. mereka disebut Hay gwaa-sam khi (tiga manusia aneh dari luar lautan).dari mana saudara The bisa menyangka kalau ilmu pukulan tadi sudah memeras pikiran dan tenaga siaute selama setengah tahun?" Sementara berbicara.315 sangat hebat dan luar biasa jika ada orang yang bisa menguasai ilmu pukulan seperti itu dalam sekali pandangan saja. thi-gou telah meng-hi-dangkan sayur dan arak secara tergopoh. tapi berhubung si pendekar aneh dari Lam hay menye-but Cia tua kepada gurunya. Berpikir demikian.gopoh. hidangkan saja di tempat ini!" Pendekar aneh dari Lam-hay yang se-sung-guhnya bernama The Bu-ho itu cepat mencegah: . cukup. Kemudian kepada Lan See-giok. mengapa kau tidak segera me-ngambil arak untuk menyambut kedatangan The locianpwe!" Siau-thi-gou segera mengiakan dengan hormat. ayo ce-pat kau jumpainya----" Sesudah mendengar pembicaraan antara gurunya dengan si kakek berambut kusut tersebut.-haaahhh---.. cianpwe ini adalah Lam hay koay-kiat (pendekar aneh dari Lam-hay) The cianpwe yang seringkali kuperbincangkan denganmu. diapun menjura dalam-dalam seraya berkata dengan hormat: "Boanpwe Lan See-giok menjumpai The cianpwe!" "Haaahhh. itu baru manusia super namanya: Sekali lagi To Seng-cu tertawa terbahak bahak: "Haaahhh ----haaahhh--.

" Lan See-giok bertiga mengiakan dengan hormat lalu beranjak pergi dari situ. hatinya ke-jam dan semua orang baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam sama-sama jeri kepadanya." "Aaah. sepe-ninggal ketiga orang itu. mengapa. Waktu itu ruang batu diterangi sebuah lentera. aku tak berminat untuk minum arak.316 "Cia tua." To Seng-cu tertawa hambar: "Urusan besar dalam dunia persilatan lebih baik jangan sampai diketahui oleh anak-anak muda. "Adik Soat.. Kemungkinan besar kedatangan nya kali ini bermaksud untuk adu kepan-daian dengan suhu guna memperebutkan kedudukan manusia nomor wahid di kolong langit. Lan See giok segera berbisik lirih. namun sete-lah mendengar ucapan gurunya." Sebenarnya Lan See giok enggan beranjak pergi dari ruangan tersebut." Lan See giok segera berkerut kening. rupanya begitu"! To Seng cu berke-rut kening sambil berseru kaget. The Bu-ho baru ber-kata dengan nada kurang puas: "Cia tua. aku hendak ber-bin-cang-bincang dengan The cianpwee. . di atas mejapun terletak secawan be-sar arak. kata-nya kemudian kepada Lan Seegiok bertiga. dia termasuk seorang makhluk tua yang berdiri antara kaum sesat dan lurus. Setelah tiba di ruang atas. siapa sih kakek bebrambut ku-sut ijtu? Mengapa kaug ijinkan orang bitu menerobos masuk ke dalam gua?" Dengan perasaan agak mendongkol di samping rasa takut masih mencekam perasaannya Si Cay-soat menjawab lirih: "Orang itu adalah makhluk tua dari Lam hay The Bu-ho. kau suruh mereka ke luar dari sini? Urusan ini toh tak ada salah nya diketahui mereka. Menggunakan kesempatan tersebut. kalau tidak akupun tak bakal mener-jang masuk kemari secara tergesa gesa. mereka bertiga menelusuri anak tangga menuju ke ruang batu di atas permukaan. "Kalian pergilah dulu. aku datang karena ada urusan penting. orangnya kasar. karena dia kuatir kakek berambut kusut itu datang de-ngan membawa maksud jahat. ke-mudian serunya dengan nada tak setuju: . terpaksa dia harus mengikuti di belakang Si Cay-soat dan Siau-thi-gou untuk masuk ke ruang dalam.

. ." waktu kuhidangkan secawan arak dan me-ngatakan suhu segera akan muncul. sayang suhu tidak mengijinkan kita turut mendengarkan pembicaraan tersebut. . . hal ini semakin membukti-kan kalau dia bukan datang kemari untuk beradu kepandaian." Siau thi gou membelalakkan matanya le-bar-lebar." dengan cepat Lee See giok mencegah. Menyusul kemudian bayangan manusia berkelebat lewat.. suhu tentu akan memberitahukan kepada kita ... coba lihat apa saja yang dibica-rakan makhluk tua itu. rasanya dia bukan kemari untuk mengajak beradu kepandaian. mendadak dari balik gua terdengar suara gelak tertawa mak-hluk tua dari Lam hay yang amat keras dbisu-sul. seakan-akan memahami sesuatu dia berkata: "Kalau begitu. baru saja enci Soat membukakan pintu. dari Lam hay serta To Seng cu secara beruntun sudah muncul dari gua dan langsung menuju ke luar ruang batu. kemudian dalam waktu singkat bayangan tubuhnya su-dah lenyap dari pandangan mata. ternyata Lam-hay lokoay sudah berada tujuh delapan kaki jauhnya dan tiba di ujung hutan sana. lalu katanya pula: "Makhluk tua itu sangat tak sabaran. dia sudah bertanya dengan kasar: "Dimana suhu mu. ." "Haaahhh... Belum habis dia berkata.. bisa jadi dia mempunyai tujuan lain.. seruanjnya dengan nadag lantang: "Kalbau begitu. dari bawah sana segera ter-de-ngar suara ujung baju yang terhembus angin bergema datang. Tiba-tiba Siau thi gou membuka mata nya lebar-lebar. "setelah makhluk tua itu pergi.." "Yaa. dia seperti tak sabar lagi untuk menanti!" Pelan-pelan Lan See giok mengangguk. "Cia tua. kita sadap saja pembi-ca-raan mereka.". . " Buru-buru Lan See giok berbisik kepada Si Cay soat dan Siau thi gou: "Si makhluk tua itu akan pergi!" Betul juga. makhluk tua. si-lahkan saudara The berangkat dulu. Terdengar si makhluk tua dari Lam-hay berseru kembali.. kalau tidak kita tentu akan mengetahui pembicaraan apa saja yang dilangsungkan di situ." omel Si Cay soat.. kita berjumpa lagi di tempat kediaman Wan-san popo. . maaf aku tak dapat menghantar lebih jauh" sahut To Seng. Menanti Lan See giok bertiga menyusul ke luar dari ruangan. kemudian bisiknya: "Ayo berangkat." "Jangan adik Gou. aku The-tua akan berangkat selangkah lebih duluan .haaahhh.317 "Kalau ditinjau dari nada pembicaraan makhluk tua itu.haaahhh.cu sambil tertawa terbahak-bahak.

badai darah melanda bumi. aku bermaksud hendak pergi ke luar lautan-" Berubah air muka. kawa-nan iblis mulai bermunculan.318 Diam-diam Lan See-giok merasa amat terkejut. To Seng cu berkata lagi sambil tertawa ramah: "Kalian bertiga tak usah takut. namun udara sa-ngat segar. membikin bergairahnya semangat hidup setiap orang.kata yang menyebutkan. To Seng-cu baru berpaling kearah Lan See . Ayo kita masuk. seolaholah ada suatu masalah yang terpendam dalam hati-nya dan menjadi beban pikiran. dia tak mengira kalau ilmu meri-ngankan tubuh yang dimiliki makhluk tua ter-sebut benar-benar sudah mencapai pun-cak kesempurnaan. Lan See-giok bertiga se-sudah mendengar perkataan ini. Dengan cepat Lan See-giok menjumpai kerutan kening gurunya. bila sepasang pedang bergeser tempat. kabut tipis masih menye-limuti permukaan tanah. kendatipun senyuma-n masih tetap menghiasi ujung bibirnya. Sementara itu fajar sudah mulai me-nying-sing di ufuk timur. Berapa saat kemudian. Melihat perubahan wajah murid muridnya. mendadak ia berkata: "Aaah. ucapan itu pernah didengar olehnya dari ayahnya. Lan See giok segera merasakan hatinya bergetar keras. To Seng-cu mengawasi ujung hutan dimana bayangan tubuh Lam-hay Lo-koay melenyapkan diri tanpa berkedip. bukankah dunia persilatan bakal dilanda oleh suratu bencana yanzg sangat besar?w Mendadak To Sreng-cu seperti teringat akan sesuatu. sungguh cocok sekali dengan kenyataan. dalam kepergianku ini. paling banter setengah ta-hun kemudian tentu sudah pulang kembali ke rumah!" . tampaknya kata. Sedang Lan See-giok bertiga masuk me-ngi-kuti di belakang gurunya kemudian berdiri hormat di sampingnya. lama-lama kemudian ia baru berguman lirih: "Badai dunia persilatan sudah tiba. jika ditinjau dari nada pembicaraan gurunya sekarang. dia telah pergi jauh" Sambil membalikkan badan dia masuk ke ruang dalam dan duduk di depan meja.giok bertiga sam-bil berkata lembut: "Berhubung ada suatu urusan yang penting. Dengan kening berkerut dan mengelus jenggotnya.

ingat sebelum aku pulang." Dengan wajah gembira To Seng cu mang-gut-manggut. Selama-ini Lan See-giok mengamati terus perubahan wajah gurunya. ketika dilihatnya fajar telah menyingsing.kiam." Dengan perasaan berat Lan See giok segera mengiakan. "Tidak. kepada adik Soat-nya. tak mau kalah kepada siapapun. dia melanjutkan. diapun bangkit berdiri seraya berkata lagi: "Sekarang hari sudah terang tanah. karena itu kalian bertiga tak boleh ikut dan mesti tetap tinggal dalam gua untuk berlatih ilmu silat secara rajin. janganlah membuat gara-gara dari pada memancing perhatian orang. kau sebagai kakaknya harus baik-baik menjaga adikmu ini. Soat. bila kepandaianmu sampai ketinggalan." Tergerak hati Lan See-giok mendengar ucapan tersebut. Kembali To Seng-cu berpaling kearah Si Cay-soat sambil melanjutkan: "Soat ji. aku akan segera berangkat.! Seusai berkata. menyesal kemudian tak ada gunanya maka kuanjurkan kepadamu berlatihlah diri dengan tekun. sambil tersenyum Si Cay-soat segera berkata: "Silahkan suhu pergi dengan hati lega. "Thi-gou orangnya jujur dan polos. ingat jangan mencari gara-gara dengan orang luar" Kemudian setelah memandang sekejap kearah Lan See-giok dan Siau-thigou dengan kening berkerut. jalan pemikirannya kelewat sederhana. Di samping itu. masalah yang kuhadapi kali ini kelewat-berat.319 "Apakah suhu tak akan mengajak Gou ji?" buru-buru Siau thi-gou bertanya dengan wajah tak mengerti: To Seng cu menggelengkan kepalanya berulang kali. selama ini kau selalu ingin menang sendiri. Giok-ji. jika suhu telah pulang nanti. dalam kepergianku kali ini kau mesti mem-perdalam ilmu pedang dan jangan sampai mencari gara-gara terus. diapun melangkah ke luar dari ruangan.ji pasti akan mempergunakannya un-tuk memohon petunjuk dari suhu. Ternyata dugaannya memang betul. bila tidak tekun berlatih. dia tahu yang dimaksud gurunya sebagai ilmu pedang adalah kitab pusaka dalam kotak emas kecil yang berada di sisi pedang Jit-hoa. . ia menjumpai disaat To Seng cu bangkit berdiri tadi sekilas rasa sedih sempat melintas di atas wajahnya yang ramah. diapun tahu gurunya -se-dang memperingatkan. setengah tahun kemudian Soat-ji tentu telah berhasil menguasai ilmu Tong kong kiam-hoat tersebut. di kemudian hari dia tentu akan kalah dengan orang yang membawa pedang Gwat-hui-kiam.

bila melatih diri selama sete-ngah tahun akan terpupuk dasar yang kuat.. biar pun aku berada jauh di luar lautan. dia segera memberi tanda untuk mencegahnya berbi-cara lebih jauh. tanpa permintaanmu.320 Kembali hatinya tergerak. dan bila sudah melatih diri se-lama seratus tahun. dengan dasar tenaga dalam mu sekarang. asal tenaga sinkangmu telah berhasil dilatih. namun tak akan sedih memikirkan masa depan kalian. tentunya ucapan ini kalian pahami bukan?" .. aku pasti akan mengutus kau seorang untuk pergi menyelesaikan tugas ini. seandainya pertemuan kita terjadi pada setahun berselang atau peristiwa yang terjadi hari ini berlangsung setahun kemudian.." Lan See-giok buru-buru memberi hormat. cahaya Buddha akan melindungi seluruh tubuhmu. cuma diapun segera menjelaskan. itulah sebabnya tinggallah kalian bertiga di dalam gua sambil berlatih diri dengan tekun. dasar utama dari ilmu silat yang tercantum dalam cinkeng adalah Hud kong-sinkang.. aku tahu kbau ingin secepatnya melacaki jejak musuh-mu itu.. selain menambah pengetahuan juga peroleh banyak pengalaman yang berharga` Sekali lagi To Seng-cu menghela napas sedih." "Suhu. yang pasti hanya kerugian yang akan kau peroleh bagi kema-juan ilmu silatmu.. jika kau meng-ikuti aku melaku-kan perjalanan jauh. . ditengah jalan selain bisa melatih diri pun setiap saat bisa minta petunjuk dari suhu.. kau boleh turun gunung dan tak usah menunggu aku sampai kembali. " Mendengar panggilan itu To Seng-cu ber-henti lalu berpaling dan memandang sekejap ke arah Lan See-giok sambil tertawa paksa mendadak seperti memahami sesuatu diapun berkata: "ANAK Giok kau mempunyai bebanb den-dam kesumajt di atas pundagkmu. ." tukas Lan See-giok cepat. sudah dapat dipastikan kemajuan yang ku-capai akan luar biasa . "Tidak. kemudian setelah tersenyum sedih. cepat-cepat dia memburu maju ke muka sambil serunya: "Suhu . anak Giok ingin turut suhu... To Seng cu tidak membiarkan Lan See giok menyelesaikan kata katanya. berlatih sepuluh tahun akan muncul sinar dalam tubuh. "sudah sepantasnya bila anak Giok mengikuti perjalanan suhu. sekarang anak Giok telah berhasil mendapatkan ilmu silat tersebut. dia berkata: "Anak Giok. Dasar sinkang yang kau miliki sekarang baru mencapai taraf permulaan. "Anak Giok.

"Sekarang aku hendak pergi dulu. "sekarang suhu telah pergi. mau menyadap pembicaraan si makhluk tua itu." Menanti mereka bertiga mendongakkan kepalanya kembali. suhu yang ingin berpisah dengan kita sudah tentu menunjukkan rasa berat hati. gurunya sudah lenyap dari pandangan mata. dia lantas berkata sambil tertawa: "Engkoh Giok. pernah pula kusaksikan dua kali pertarungan suhu melawan makhluk tua tersebut dan sekali pertarungan melawan si nenek setan. kembali katanya. namun selalu saja kepandaian suhu lebih tinggi setingkat.. Lagi purla selama tujuhz delapan tahun wbelakangan ini rsiau moay selalu men-dampingi suhu.321 Selesai berkata kembali dia awasi Lan See-giok bertiga dengan sorot matanya yang penuh kasih sayang. apa yang mesti di kuatirkan lagi ?" "Tadi aku toh sudah bilang. To Seng-cu tersenyum dan manggut-mang-gut. dia-pun melayang ke luar dari ruangan. ketika menjumpai kemurungan Lan See-giok." "Suhu tidak memberitahukan masalahnya berhubung beliau kuatir kita turut mengua-tirkan keselamatannya sehingga hal ini akan mempengaruhi kemajuan yang bakal kita ca-pai di dalam ilmu silat. jangan lagi kedatangan lam hay lo koay bukan untuk beradu kepandaian. Lan See-giok. de-ngan demikian harapan suhu pun tak sampai tersia siakan. sekalipun benar dengan kepandaian sakti yang dimiliki suhu." Tampaknya Si Cay soat tidak menemukan sesuatu yang aneh pada gurunya. kau memang kebangetan. kenapa kalian berdua melarangku?" gerutu Siau-thi gou pula dengan cepat. Mendengar ucapan tersebut.." Sambil mengebaskan ujung bajunya. semestinya kita semua harus menenangkan dulu pikiran agar bisa memusatkan pikiran untuk berlatih diri. tanpa terasa Si Cay-soat tertawa cekikikan sambil menu-kas. Buru-buru Lan See-giok bertiga menjatuh-kan diri berlutut sambil berseru: "Moga-moga suhu selamat dalam per-jalanan dan cepat pulang kembali ke rumah. apa yang hendak dilakukan ternyata tidak diberitahukan kepada kita. Pertama tama Lan See-giok yang bangkit berdiri lebih dulu sambil berkata: "Sebelum pergi wajah suhu menunjukkan rasa sedih. bisa kita duga perjalanan suhu kali ini tentu banyak rintangan dan kesu-li-tan. kalian harus menjaga diri baik-baik. Si Cay-soat dan bSiau-thi-gou bejrtiga serentak gmengiakan dengabn hormat. "Kalau sudah tahu. ." ujar Lan See -giok dengan perasaan berat.

di saat suhu kembali nanti. tambah tahun tambah usia. musim semipun tiba. istirahatnya sangat jarang. Pendapatku. Kini usia Lan See-giok. Lan See giok dengan tekun mempelajari ilmu Hud kong sin kang. .kong-kiam-hoat yang dilatih Si Cay-soat pun sudah mencapai ke-berhasilan. sedang Siau thi gou segera melototkan sepasang matanya sambil berkata dengan sungguh-sungguh: "Aku Thi-gou bersumpah. akibatnya soal berburu dan membuat nasi harus dikerjakan oleh engkoh Giok dan enci Soatnya. mereka tertawa terbahak bahak. Si Cay soat menekuni ilmu pedang Tong kong-kiam hoat dan Siau-thi-gou melatih diri dengan ilmu pukulan Liong hou jit si. Si Caysoat dan Siau-thi-gou telah bertambah setahun lagi. hasil yang diperoleh kecil sekali. ditambah pula Liong hou jit si merupakan sejenis ilmu pukulan yang dahsyat. biar menjumpai mara bahaya aku yakin akan berubah menjadi se-lamat. bila kita ingin mere-but hati suhu. Biarpun begitu. Siau thi gou yang bodoh justru memiliki ciri kebodohannya. Lan See giok yang menekuni ilmu silat nya telah peroleh kemajuan yang sangat pesat. Lan See giok telah mencapai usia tujuh belas tahun. Orang bilang. Tahun baru lewat.322 Suhu selalu hidup terbuka dan jujur. Lan See-giok dan Si Cay soat tak bisa menahan rasa geli-nya lagi. turutlah nasehat dan pesan suhu sebelum berangkat tadi" Lan See giok menganggap perkataan terse-but memang betul juga. Hanya Siau thi gou yang pada dasarnya memang bebal otaknya. tujuh jurus ilmu naga dan ha-rimau sudah berhasil kugunakan secara baik. agar suhu tahu bahwa Gou . kenyataan tersebut membuat anak muda tersebut sangat gembira sebab dia tahu harapannya untuk membalas dendam sema-kin besar. dalam waktu singkat bulan tiga yang nyaman pun telah menjelang. Ilmu pedang Tong. Beberapa hari lagi tahun baru akan tiba. maka walaupun sudah melatih diri hampir tiga bulan lamanya.. kini tinggal meningkatkan kema-tangannya. Bunga salju yang turun sepanjang hari membuat seluruh bukit Hoa-san diliputi warna putih keperak-perakan yang sangat menyilaukan mata. perasaannya juga semakin terbuka. dia manggut beru-langkali. ia disegani setiap orang. setiap hari dia melatih diri terus tanpa berhenti." Mendengar ucapan tersebut.ji bukan gentong nasi yang tak berguna. Sejak itu..

cahaya pedang yang menyilaukan mata. betul-betul merupakan suatu ancaman yang berbahaya. sadarlah dia bahwa kecer-dasan engkohnya memang jauh lebih hebat dari pada dirinya. hal tersebut mem-buatnya sangat berterima kasih sekali kepada adik seperguruannya ini. hawa serangan yang menyayat badan. namun dia tak pernah bisa mengetahui kelihaian dan kelebihan dari kepandaian tersebut. padahal seringkali secara sengaja tak sengaja dia membeberkan rahasia ilmu pedangnya. dengan ayunan tangan mampu membunuh harimau. akhir nya juga menguasai ilmu pukulan Liong hou-jit-si yang sangat hebat itu. Walaupun demikian ia sama sekali tidak merasa dengki ataupun iri hati. Maka setelah menyaksikan kemampuan engkoh Giok nya yang bisa menguasai ilmu pukulan tersebut hanya dalam mengamati berapa bulan saja. di samping melatih diri dengan tekun sering-kali dia membangkitkan semangat saudara-nya itu agar melatih diri lebih tekun lagi. mampu me-matahkan bambu. Ilmu Hud-kong sin.kang yang dilatih Lan See-giok telah mencapai puncaknya. boleh dibilang tenaga sakti itu bisa dipergunakan sekehen-dak hatinya. Sebagai seorang pemuda yang cerdas.kong-kiam-hoat. Sebaliknya Siau thi-gou di bawah bimbi-ngan serta petunjuk dari Lan Seegiok. Dengan ayunan ujung baju ia sanggup menghancur-kan batu dengan sentilan jari. pedangnya bisa dipergunakan secepat terbang. Dengan pengamatan yang seksama selama tiga bulan terakhir ini. su-dah barang tentu Lan See-giok mengetahui akan maksud adiknya ini. . dapat disimpulkan kan olehnya bahwa ilmu Liong hou jit si me-mang sangat hebat. Bulan lima kini menjelang. Oleh sebab itu dia seringkali bminta pada Lan jSee-giok agar mgemberi petunjukb kepada nya. musim panas pun tiba.323 Lan See giok yang mendapat tugas dari gu-runya untuk memperhatikan adik Gou--nya. begitu dikembangkan angin pukulan yang dihasilkan sungguh luar biasa. Ilmu pedang Tong-kong-kiam-hoat dari Si Cay-soat juga mendapat kemajuan yang pesat. Si Cay-soat yang menganggap dirinya pin-tar boleh dibilang sudah banyak tahun mem-perhatikan perubahan jurus serangan Liong-hou jitsi itu. malah seba-liknya dia sangat berharap engkoh Giok nya bisa mempelajari pula ilmu pedang Tong.

serunya dengan cepat: "Baik. agaknya baru saja ia selesai-melatih ilmu pedangnya. dia berkata kemudian agak tersipu-sipu: "Tapi sayang ih-heng tidak punya pakaian untuk berenang . terima kasih ba-nyak adik Thi-gou!" "Tak usah sungkan. buat apa kau lepaskan baju ganti celana? Kau kan hendak belajar ilmu berenang di telaga?" Lan See giok segera menghentikan langkah nya sesudah mendengar perkataan tersebut. rambut terurai sebahu sedang berdiri tenang dimuka ruangan batu. ayo kuajarkagn ilmu berenangb kepada-mu!" Lan See giok yang mendengar tawaran tersebut menjadi sangat gembira." seru Siau thi gou cepat. Siau-thi-gou mengambil sebuah bungkusan kecil dari tempat pakaiannya dan diserahkan kepada Lan See-giok sambil serunya: . udara pada hari bini sangat indajh. merah jengah selembar wajahnya. kau toh bukan bermaksud menangkap ikan di selokan. Si Cay soat yang sedang mengawasi air terjun dikejauhan sana se-olah-olah teringat akan sesuatu. "Oooh. mendadak ia berseru keras: "Engkoh Giok. .." Dengan terburu buru mereka masuk ke dalam ruang batu. St Cay soat segera tertawa cekikikan mendengar seruan mana. Lan See giok dengan jubah birunya dan senyum dikulum sedang mengawasi Siau thi gou berlatih ilmu pukulan. .324 Keberhasilan yang dicapai membuat ke tiga orang itu semakin getol berlatih. pinjamlah. Si Cay soat dengan pakaian serba merah. diapun mengikuti di belakang kedua orang tersebut. Si Cay soat sendiri hanya tersenyum sam-bil membungkam diri. udara bersih dan angin berhembus semilir. biarpun di musim panas namun sua-sana terasa segar dan nyaman. sambil memandang ke arah Si Cay soat dan Siau thi gou yang sedang menertawakan dirinya. ." "Aku punya sebuah pakaian renang yang terbuat dari kulit ikan hiu. Setibanya di dalam kamar. . Sambil berkata. aku akan melepaskan jubah panjang dan berganti celana dulu . Hari ini matahari sudah bersinar ditengah angkasa. Pada saat itulah. ayo ikutlah aku. mereka se-mua berharap dapat menunjukkan kebo-le-hannya dihadapan gurunya sehingga mem-buat gurunya gembira. kau sangat baik. demikian juga Siau thi gou segera tertawa terbahak-bahak sambil serunya: "Engkoh Giok. buru-buru dia lari masuk ke dalam ruangan.

"Ehmmm. Bahkan kalau dilihat dari sikap gadis itu. ternyata bungkusan kecil itu berisikan sebuah pakaian renang yang memancarkan sinar keemasemasan. Thi-gou sendiri jarang mengena-kannya karena dia sendiripun merasa kekecilan. ternyata pakaian renang itu berwarna hitam dan putih dengan bentuk yang sangat lunak. Dengan perasaan gembira. . dalam genggamannya . ku-tunggu kalian di tepi telaga . dia selalu terperangkap.. Selama setengah tahun belakangan ini. Biarpun Lan See giok tidak habis mengerti. ia merasa dalam hal apapun adik seperguruannya jauh di bawahnya. buru-buru dibukanya bungkusan itu. membawa se-buah bungkusan kecil dan sedang berdiri memandang kearah mereka sambil tertawa terpingkal-pingkal. Pada saat itulah dari depan pintu terdengar gelak tertawa yang amat merdu bergema memenuhi ruangan. Lan See giok sudah tumbuh lebih dewasa. kemudian buru-buru melepaskan jubah panjangnyra dan mengena-kzan pakaian renawng itu. Sewaktu Lan See giok dan Thi-gou berpa-ling mereka jumpai Si Cay scat telah berganti dengan sebuah pakaian renang berwarna merah. Dengan perasaan ingin tahu Siau-thi-gou turut melihat. dia berterima kasih kepada Thi gou.325 "Ayo kenakan. tapi setelah menjumpai kejadian macam begini.. cepatcepat dia me-mungut bungkusan kecil itu dan membuka nya. ternyata isinya adalah pakaian renang yang terbuat dari kulit ikan hiu. Tapi arpa yang kemudian terlihat mem-buat senyuman yang semula menghiasi wajah Siau-thi gou hilang lenyap tak berbekas. rupanya celana pakaian renang itu hanya berhenti di sebatas paha dan tak mampu diteruskan lagi. malah sepasang matanya ikut melotot ke luar. tanpa benda ini jangan harap bisa mempelajari ilmu berenang de-ngan baik!" Lan See-giok tidak berniat untuk men-de-ngarkan obrolannya itu. ambil dan cepat kenakan. sudah jelas dia telah menduga sebelumnya. dia lantas melemparkan buntalan kecil ke tangan Lan See giok . bagaimana mungkin kau bisa me-makainya?" Lan See giok yang mendengar perkataan tersebut diam-diam menjadi sangat men-dongkol." Sambil berkata. . Tiba-tiba Si Cay soat berkata sambil tersenyum.. Apa yang terlihat membuatnya amat gem-bira. Terdengar gadis itu berseru: "Pakaian renang itu sudah tiga tahun la-manya. namun dia seperti sudah memahami akan sesuatu.

ia lantas berseru: "Haaahhh.haaahhh .326 bagian yang hitam ber-warna keemas emasan. Si Cay soat tentu su-dah mengukur pakaiannya secara diam-diam. Lan See-giok merasa berterima kasih sekali setelah menyaksikan kejadian ini. tanpa terasa bertanya dengan nada tak mengerti: "Hei.. bisa dibayangkan betapa susah payahnya Si Cay soat untuk menyelesaikan pekerjaan terse-but. kedua orang itu buru-buru ke luar ruangan. Waktu itu. hati-hati kalau dia sampai me-ngambek gara-gara kau datang terlambat!" Lan See giok segera sadar kembali dari la-munannya. Berpikir sampai di situ.." Kemudian sambil mendorong Lan See giok yang masih termangu mangu. perasaan mendongkol yang semula menyelimuti pe-rasaannya. jangan diraba melulu. ini membuat pemuda tersebut merasa tak tega untuk mempergu-nakannya. Dia mencoba untuk meraba pakaian renang itu. Si Cay soat kelihatan sedang berdiri di tepi telaga sambil tiada hentinya menengok kemari dengan wajah tak sabaran. ternyata Si Cay soat sudah tak ada di situ.. Siau thi gou yang menyaksikan kejadian ini dengan cepat dia peringatkan: "Engkoh Giok. semuanya ini gara-gara kau yang melarang aku memasuki kamar cici. coba kalau tidak hari ini dia tak akan mem-buat kejutan untuk kita. timbul perasaan sayang di hati kecilnya. buru-buru ia bertukar pakaian renang itu. Ternyata pakaian tersebut sangat persis. Selesai bertukar pakaian.tak tahu sekarang. Sedangkan Siau thi gou seakan akan me-mahami sesuatu." Lan See giok sendiripun tidak pernah men-yangka bahwa di samping berlatih ilmu pedang dan menanak nasi. dan setiap kali cici selalu berebut untuk memo-tong ikan. rupanya disinilah letak rahasia-nya. sedang bagian yang putih berwarna keperak perakan.. rupanya baju renang ini terbuat dari dua tiga puluh ekor kulit ikan Cui oh li yang dikumpulkan selama ini.. kembali dia mengomel. tahulah pemuda kita. tak aneh kalau saban kali kita makan ikan selalu tak dijumpai kulitnya. Siau thi gou yang menyaksikan hal terse-but. maka mereka ber-dua pun berangkat ke telaga Cui oh. semuanya halus dan lunak.. sudah pasti enci Soat se-dang marah" .. "Engkoh Giok. kini hilang lenyap tak berbekas. Si Cay soat masih meluangkan waktu untuk membuatkan pakaian renang baginya.haaahhh.. ayo cepat di kenakan.

bikinanmu sangat bagus. Lan See giok mengamati adik sepergu-ruannya yang memakai pakaian renang itu. apalagi menyaksikan pakaian renang bikinannya persis sekali di tubuh engkoh Giok nya. boleh dibilang gadis tersebut memiliki potongan badan yang sangat menarik hati. namun setelah mendengar pujian dari Lan See giok.327 Mendengar itu Lan See giok segera mem-percepat larinya dan secepat kilat meluncur ke tepi telaga dengan begitu Siau thi gou pun tertinggal jauh di belakang. Siau thi gou telah muncul pula di situ sambil berseru: "Enci Soat.. makin dangkal airnya makin baik" Si Cay soat kembali tertawa cekikikan mendengar ucapan itu! Mereka bertiga pun menelusuri telaga menuju ke sebuah pantai dengan air yang dangkal. "Engkoh Giok. perasaan tak senang yang semula mencekam perasaannya seketika lenyap tak berbekas. mula-mula Si Cay soat mengajarkan dulu rahasia . Lan See giok segera berseru kepada Si Cay soat dengan senyum dikulum. payudaranya nampak lebih besar. tapi bayangan manusia berkelebat lewat. air di telaga ini terlalu dalam. "Baik." Buru-buru Lan See giok menenangkan kembali hatinya. Sepasang pipinya berubah menjadi merah. pinggulnya bulat dan pahanya mulus. terima kasih banyak pakai-an renang buatanmu sungguh indah. Sementara dia masih mengamati dengan seksama. pinggang nya ramping. baik. dipandangnya wajah Lan See giok sekejap dengan gembira. "Adik Soat. pas lagi!" Sesungguhnya Si Cay soat sedang menanti dengan perasaan gelisah. Begitu tiba di tempat tujuan. dia seperti hendak meng-ucapkan sesuatu." mari kita belajar di telaga yang agak dangkal saja.soat sedang berbicara dengan Siau thi gou. enci pasti akan buatkan sebuah untuk-mu. aku juga minta satu" Si Cay soat kuatir bocah itu ribut. Ia merasa gadis ini lebih matang lagi dalam setengah tahun belakangan. mendadak terdengar Si Cay soat berkata. mulai hari ini aku pasti akan menu-ruti perkataanmu!" Menggunakan kesempatan sewaktu Si Cay. tubuhnya keli-hatan lebih matang dan montok. cepat-cepat dia mengangguk sambil tertawa: "Asal kau bersedia menuruti perkataan-ku. "Baik..

" Melihat wajah Lan See-giok berseri Si Cay soat turut bergembira hati. ia menjadi tegang. Si Cay soat yang semula berada di sisinya mendadak lenyap tak berbekas. Kenyataan ini membuat anak muda itu kegirangan. kemudian baru mengajak pemuda itu masuk ke air. katanya kemu-dian: "Sekarang kita belajar berenang. Lan see-giok mengikuti cara tersebut. menyelam dan mengapung. letakkan tanganmu di atas le-nganku. ini semua mem-buat anak muda tersebut buru-buru menggunakan ilmu bobot seribunya.. kemudian ia baru berkata: "Sekarang kita berlatih dulu ilmu menga-pungkan diri.. Si Cay soat menghentikan langkah nya dan berkata sambil tertawa: "Bagaimana kalau di tempat ini saja? Ke-dalaman air sudah cukup untuk taraf per-mulaan belajar berenang" Lan See giok mengangguk berulang kali sambil mengiakan." Lan See-giok menurut dan mengikuti teori yang diperoleh. Sesungguhnya Lan See giok adalah seorang pemuda yang sangat cerdas dengan daya tangkap yang mengagumkan. Kemudian dayunglah sepasang tangan dari depan ke belakang.. Sayang sekali di air dan di darat keadaannya sama sekali berbeda. dii-kuti gerakan kaki. napasnya sesak dan langkahnya se-olah-olah menjadi enteng.. semua tehnik berenang telah dikuasai nya.. setelah menceburkan diri ke dalam telaga.. dimana permukaan air mencapai dadanya. anak muda menja-di gelagapan sendiri." Sambil memberi keterangan dia memberi contoh di depan pemuda itu sambil bergerak ke depan. Bayangan merah berkelebat lewat. bisa dibayangkan betapa gembira-nya pemuda kita. salurkan semua tenaga ke seluruh badan. Sekali lagi Si Cay-soat mengulangi tehnik ilmu berenang. dia lupa de-ngan teorinya dan tak ampun lagi bunga air memercik ke mana-mana. dia menarik nafas sambil meluruskan kakinya ke belakang. . begitu diberi tahu. utamakan keringanan tubuh. pikirannya dengan cepat: "Oooh rupanya tidak terlalu sulit untuk belajar ilmu berenang ..serta merta badannya terapung ke atas permukaan air. betul juga tubuhnya bisa bergerak ke muka pe-lan-pelan.328 mengambang.. Lan see giok menjadi gugup. Mendadak. Melihat pemuda itu gugup bercampur kaget.

ini membuat badannya segera tenggelam... Dalam waktu singkat dia berhasil mem-pertahankan keseimbangan tubuhnya dan berenang lagi ke depan. Kebetulan sekali si Cay soat yang gagal menyambar tangan pemuda itu sedang berge-rak ke muka." Maka sambil munculkan diri di atas per-mukaan air dia berseru keras.. Rupanya sepasang kaki Lan See giok me-nginjak tempat yang kosong. bagaikan menangkap tuan penolong saja. . "Engkoh giok kemarilah cepat. sewaktu melihat pemuda itu lambat laun dapat mengendalikan diri... mem-balikkan badannya dan membiarkan Lan See giok berada di atas dadanya.. Siau thi gou yang berdiri di tepi telaga juga sangat terperanjat sehingga berteriak keras. saking kaget-nya dia menjerit keras dan segera berusaha untuk menariknya. Si Cay-soat menjadi yaa malu.. "Pusatkan pikiran." Lan See giok baru merasa lega setelah melihat adik seperguruannya muncul di de-pan sana dalam keadaan selamat dengan ce-pat dia menaati seruan tersebut. . di bawah sini terdapat sebuah batu besar" Lan See giok merasa ini memang cocok dengan pikirannya.. dalam waktu singkat air telaga menggenangi kepalanya.. semen-tara tubuhnya menubruk ke atas . Lan See giok yang berhasil memeluk adik seperguruannya. dia berharap pemuda itu bisa berenang lebih lama.329 Sementara itu Si Cay soat yang baru mun-culkan diri pada dua kaki dari situ. Si Cay soat tidak menyangka Lan See giok akan berhenti secara tiba-tiba. pelukannya makin diperken-cang lagi. gelisah selain gugup.. namun ia cu-kup memahami perasaan engkoh Giok nya waktu itu. Sekarang dia berharap bisa naik ke darat untuk beristirahat sebentar. Dalam keadaan begini. maka tubuhnya" bergerak ke depan Si Cay soat kemudian berusaha untuk berdiri di situ . atur pernapasan dan berenang ke muka dengan tenang . Berbeda sekali dengan jalan pemikiran Si Cay soat.. menjadi amat terperanjat setelah menyaksi kan keja-dian ini... maka dia memutar pinggul. Bisa dibayangkan betapa terperanjatnya pemuda tersebut.... cepatcepat teriaknya. serta merta tangannya mendayung dengan sepenuh tenaga. tak ampun lagi dia lantas dipeluk anak muda tersebut erat-erat.

. Pada saat itulah. segera dia membalikkan badan begitu tekanan di atas tubuhnya hilang. pipinya berubah menjadi merah jengah. sewaktu mengetahui bagaimana dia sedang memeluk pinggang adik seperguruannya dan mukanya menem-pel diantara sepasang payudaranya yang em-puk. karenanya bagaikan seekor ikan duyung.. Si Cay soat sendiripun merasa amat malu. pelan-pelan ia berenang menuju ke tepi pantai. seandainya bisa dia ingin menyelam ke dasar telaga dan menyembunyikan diri di sana. Si Cay soat yang sudah tahu suara teriakan siapakah tadi segera berkata dengan gembira: "Ayo cepat berangkat. Tak terlukiskan rasa malu Lan See giok se-sudah mendengar gelak tertawa Siau thi gou. . dia memutar badan dan me-ngambil langkah seribu. Si Cay soat bertindak cepat. lalu sambil memeluk tubuh See giok. Siau thi gou yang semula dicekam perasaan terkejut dan gugup sekarang dapat merasa kan betapa lucunya kejadian ini. hatinya menjadi terkejut dan pegangan-nya segera dilepaskan. tak tahan dia bertepuk tangan sambil tertawa terbahak bahak. kami semua berada sini!" Ditengah teriakan itu. dia berblarian cepat mejnuju ke arah magna berasalnya sbuara tadi. Sementara itu Si Cay soat dan Lan So giok sudah tiba pula di daratan. soraknya gembira: "Aku berada disini. Thi gou . sementara Lan See giok tertegun melihat wajah gembira Siau thi gou yang sedang berlari menjauh.. ia tahu sudah membuat gara-gara maka tanpa membuang waktu lagi. si naga sakti pemba-lik sungai Thio loko telah datang" Lan See giok amat girang. "Thi gou. dia melesat ke darat dengan cepatnya.. Berkilat sepasang mata Siau thi gou mendengar suara panggilan itu. hatinya berdebar keras sekali Tapi ia bertekad untuk berenang ke darat dan menghajar Siau thi gou untuk melam-piaskan rasa malu dan gemasnya. Siau thi gou segera merasakan bahwa gela-gat tidak menguntungkan. apalagi membayangkan kembali kejadian yang baru saja berlangsung.330 Sementara itu.... Lan See giok telah pulih kembali kesadarannya setelah ia berhasil menarik napas panjang. Dari kejauhan sana terdengar seseorang sedang berteriak teriak dengan suara yang lantang. mendadak . dia berharap bisa peroleh sedikit kabar tentang bibi Wan dan enci Cian nya dari mulut si naga sakti tersebut.

setelah ragu-ragu sejenak akhirnya dia terima juga buntalan itu. . Melihat buntalan itu. Si Cay soat segera bersorak gembira. haaahhh . maka tidak sempat kubawakan se suatu untuk kalian. namun juga tak enak untuk menolak. nampaknya kau lebih dewasa!! Berhubung Si Cay soat dan Siau thi gou menyebut engkoh tua kepada si naga sakti pembalik sungai. ... dia berkata pula sambil tertawa: "Saudara cilik. tidak usah. maka Lan See giok segera menjura sambil menyapa pula: "Siaute Lan See giok menjumpaib engkoh tua !" j Naga sakti pemgbalik sungai tebrtawa terge-lak penuh kegembiraan. di bawah ketiaknya seperti tergantung sebuah buntalan kecil. kali ini hidangan lezat apa yang kau bawakan untuk kami semua?" Waktu-itu si naga sakti pembalik sungai sudah menggenggam tangan Siau thi gou.. pemuda itu segera berseru pula. Tentu saja Lan See giok merasa sungkan untuk menerimanya. di depan sana terlihat si naga sakti pembalik sungai yang bertubuh tegap dan berambut putih se-dang mendekat dengan langkah tegap. "Mari kita pun segera berangkat!" Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh.331 BAB 16 DENGAN wajah gembira..haah tidak usah. Setelah melewati batuan cadas. ber-hubung kedatanganku terlalu tergesa-gesa. "Thio loko. haaahhh kali ini. bocah itu baru tertawa senang." Kemudian kepada Lan See-giok yang mendekat." Sambil berkata dia lepaskan buntalan kecil dan diserahkan kepada Lan See giok. aku si engkoh tua harus meminta maaf. aku si engkoh tua juga tidak membawa hadiah apa-apa sebagai tanda mata untuk perjumpaan kali ini" "Nah terimalah bungkusan ini. Menanti Lan See giok menitipkan buntalan tersebut ke tangan Siau thi gou. mendapat pertanyaan itu diapun menjawab sambil tertawa terbahak-bahak: "Haaahhh . Siau thi gou tidak tahan untuk mengulur-kan lidahnya sambil menelan air liur beru-lang kali. "Haaahhh. . berangkatlah muda mudi dua orang tersebut mengejar Siau thi gou. nampaknya dia sedang mengira-ngira hidangan lezat apakah yang berada di dalam buntalan tersebut. semua barang yang berada di dalamnya menjadi milikmu semua. tujuh bulan kita tak bersua.

saat itulah dia baru merasakan bahwa adik seperguruannya telah tumbuh menjadi se-orang gadis remaja.332 Dalam pada itu si naga sakti pembalik sungai sudah bertanya sambil tersenyum setelah menyaksikan Lan See giok berdua. sedang perasaan yang mencekam hatinya sekarang sungguh tak bisa dilukis-kan dengan kata-kata." "Kenapa? Kenapa tidak berdiam beberapa hari lagi?" tanya Lan See-giok bertiga cemas." "Waah. biar engkoh tua menunggu kalian di sini. Lan See giok turut merasakan hatinya ber-debar keras. Setelah berada rdi ruang batu. cepat-cepat Si Cay soat membantah: "Suhu menugaskan kepada siaumoay un-tuk mengajarkan dasar-dasar ilmu berenang kepada engkoh Giok. mereka berdua muncul kembali dari kamar masing-masing. "Sekarang adik Giok dan adik Soat berganti pakaian dulu. Membayangkan kembali peristiwa dalam air tadi. masih mengenakan pakaian berenang ?" "Ooh. Dengan wajah semu merah. siau-moay mah tak akan uru-san lagi. sedangkan ia sendiripun sudah mendekati seorang pemuda dewasa. znaga sakti pembwalik sungai barru berkata kepada Lan See giok dan Si Cay-soat. khusus siaute minta pelajaran dari adik Soat" sahut Lan See-giok cepat. sebelum malam tiba nanti harus su-dah turun gunung.. Selesai bertukar pakaian.. pipinya turut berubah menjadi merah. rupanya hari ini kalian sedang berla-tih ilmu berenang?" "Siaute baru pertama kali mempelajari ilmu ini. paling lama hanya setengah hari aku berada di sini. Si Cay soat segera tersenyum jengah meli-hat sikap tertegun pemuda itu. sayang sekali engkoh tua masih ada urusan penting yang mesti diselesaikan. Lan See giok mengikuti di belakangnya. Naga sakti pembalik sungai sangsi sejenak akhirnya dia berkata: "Mari kita pulang dulu sebelum membicarakan lebih jauh!" Maka berangkatlah ke empat orang itu menaiki bukit. cepat-cepat dia lari naik ke atas tangga.. mereka berdua cepat-cepat berlalu untuk bertukar pakaian. tapi Si Cay soat yang berjumpa kembali de-ngan See giok segera merasakan pipinya menjadi merah dan tertunduk malu-malu. ." See giok dan Cay soat mengiakan. sekarang engkoh tua sudah datang. ia menunjukkan sikap jengah seorang gadis yang bertemu dengan pemuda asing saja. kedua orang itu merasa amat malu di samping perasaan manis dan hangat yang sukar dilukiskan dengan kata-kata..

.. . de-ngan sikap sewajar wajarnya ia men-jawab: "Engkoh tua telah menerima surat yang ditulis Cia locianpwe dan dikirim dari luar lautan!" Sambil berkata. . Garis besarnya dalam surat itu dijelaskan bahwa guru mereka harus pergi ke luar lau-tan demi keselamatan dunia persilatan. hampir bersamaan waktunya mereka berseru: "Darimana engkoh bisa tahu?" Naga sakti pembalik sungai tertawa. .pura gembira dan tertawa tergelak. . mungkin beberapa bulan lagi beliau baru bisa pulang" Lan See giok bertiga menjadi sangat terke-jut. Dengan gugup pemuda itu membukanya dan membaca isinya. di samping itu . dia segera berpura . sekarang aku si engkoh tua hendak membe-ritahukan kepada kalian. selapis kemurungan segera menyelimuti wajahnya yang berkeriput. keningnya segera berke-rut. Dari sikap dan wajah Lan See giok serta Si Cay soat yang memerah.. sewaktu sorot mata si naga sakti Pembalik sungai yang tajam diarahkan kepada mereka oleh sebab itu mereka pun tidak melihat pe-rubahan wajah dari engkoh tuanya itu. se-bab masalah tersebut menyangkut nasib pel-bagai perguruan besar di dunia persilatan. Lan See giok dan Si Cay soat cepat--cepat menundukkan kepalanya rendah-rendah. maka urusan tak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Namun bila teringat kembali tujuan keda-tangannya ke sana. Siau. Si Cay soat segera mendekati anak muda itu sambil menumpang membaca isi surat tersebut." Mendengar ucapan tersebut. haaahhh . berhubung cia cianpwe masih ada urusan lain yang belum selesai dikerjakan. si naga sakti pembalik sungai seakan akan teringat akan sesuatu. si naga sakti pem-balik sungai memandang sekejap wajah kedua orang itu.333 Tiba kembali di ruang batu. haaahhh . mengapa sih kau terburu -buru ingin pulang? Siapa tahu tiga atau lima hari lagi suhu sudah pulang . dengan cepat dia tahu bahwa benih cinta rupanya sudah tumbuh dalam hati mereka. dia mengambil sepucuk surat dari sakunya dan diserahkan kepada Lan See giok. thi gou telah mengeluarkan hidangan serta empat mangkuk arak. . "Haaahhh . Tiba-tiba terdengar Siau thi you berseru dengan nada tidak senang hati: "Thio loko..

orang menyebut nya Keng-hiang sian-tiang!" Si Cay soat kembali berkerut kening.. "Berbicara soal orang ini. kemudian jawabnya sambil ter-tawa: "Engkoh tua menitipkan pesan tersebut se-cara lisan kepada si pembawa surat. kalianpun belum tentu tahu. Ketika selesai membaca surat itu. Orang itu adalah tianglo angkatan yang lampau dari Bu-tong-pay. siapakah si pembawa surat itu?" tiba-tiba Siau thi gou bertanya dengan wajah tak mengerti: Agaknya si naga sakti pembalik sungai ti-dak menduga Siau thi gou bakal mengajukan pertanyaan tersebut. menyusul kemudian ia menjelaskan lebih bjauh: "Saudaraj cilik. si nags sakti pembalik sungai: "Thio loko. jadi akupun tak tahu kapan pulangnya.. Si Cay soat yang pertama-tama berguman dengan nada tak habis mengerti: "Thio loko. Agaknya si naga sakti Pembalik sungai se-dang memperhatikan dengan seksama sikap Lan See giok yang masih meneliti surat terse-but. mengapa suhu tidak menjelas-kan kapan baru akan pulang . namun ia toh menjawab juga." "Coba sebutkan agar kami tahu" timbrung Si Cay soat. memangnya dia tak akan berangkat? Baru selesai dia berkata Lan see Giok yang masih memegang surat itu berseru kepada. Berubah hebat paras muka si naga sakti pembalik sungai setelah mendengar ucapan tersebut. pernahkgah kau bayangkabn berapa ribu li jarak dari sini sampai ke luar lautan? Apalagi Keng hian sian-tiang meng-gembolnya .334 guru mereka berpesan agar Lan See giok bertiga melatih diri lebih tekun serta tak usah memecahkan perhatian ke masalah lain." "Thio loko. bahkan Cia locianpwe saja harus berangkat sendiri apalagi persoalan ini menyangkut Bu-tong -pay secara langsung. .. . lalu tanyanya dengan nada tidak mengerti: `Bukankah Keng hiang sian-tiang dari Bu tong-pay sudah lama tidak muncul kembali di dalam dunia persilatan?! Dengan wajah bersungguh-sungguh si naga sakti pembalik sungai berkata: "Masalahnya kali ini menyangkut suatu keadaan yang besar. dengan unda-ngan khusus dari Lam-hay-lo koay. siaute jumpai tinta bak di atas surat tersebut nampaknya sudah lama sekali ..?" Naga sakti pembalik sungai membandang sekejap jkearah Lan See ggiok yang sedanbg termenung. . dengan kening berkerut dia segera tersenyum. tapi cepat-cepat ia mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak bahak. jadi tak bisa dibanding-kan dengan kejadian biasa.

dimana kena keri-ngat dan air hujan.. apakah kau hendak mem-bukanya sekarang juga ." Siau thi gou menjadi amat kecewa setelah mendengar perkataan itu. kemudian terdengar ia berkata: . diapun sengaja mengalihkan pembicaraan ke soal lain. masa surat tersebut dapat utuh seratus persen?" Berbicara sampai disini. dia telah menitipkan bungkusan baju itu untukmu. Si Cay soat yang melihat kesemuanya ini segera merasakan segulung hawa amarah yang entah darimana datangnya membara di dalam dadanya dan ingin dimuntahkan ke luar. ia segera tertawa setelah meneguk arak sahutnya: "Mereka semua berada dalam keadaan baik-baik.335 dalam saku. Ia percaya setiap jahitan dan setiap lipatan pakaian tersebut. Berbeda dengan Lan See giok. maka khusus membuatkan be-berapa stel pakaian untukmu.."" Berkilat sepasang mata Lan See giok. wajahnya memancar-kan sinar kerinduan yang amat tebal. sahutnya sambil tertawa: Oooh. mereka menduga kau pasti sudah makin tinggi. kebetulan Hu-yong siancu Han lihiap juga berada di rumahku.. dia bertanya sambil tertawa penuh arti: "Saudara cilik. terkandung kasih sayang dari bibinya dan cinta suci dari enci Cian nya. mencorong sinar tajam dari balik matanya setelah mendengar perkataan itu. Naga sakti pembalik sungai yang melihat tujuannya berhasil. na-mun akhirnya dia menggeleng kan kepalanya berulang kali. sam-bil menunjuk ke arah bungkusan kecil itu katanya lagi: "Sewaktu menerima surat ini.. dia tertawa paksa namun setiap orang bisa mendengar betapa kecutnya suara tertawa itu.. setiap worang bisa melirhat betapa inginnya Lan See giok membuka bungkusan itu dengan segera dan ingin melihat pakai-an apa saja yang telah dibuatkan untuknya." Lalu sambil mengambil buntalan kecil itu. Si Cay soat tak bisa menahan rasa gusar di dalam hatinya lagi. bibirnya berge-rak seperti ingin mengucapkan sesuatu. tidak usarh.. dari tangan Siau thi gou. "Apakah bibi Wan dan enci Cian berada dalam keadaan sehat-sehat semua?" Sewaktu berbicara. bisa dilihat hatinya diliputi emosi. namun diapun tak berani melampiaskannya ke luar . cepat tanyanya dengan gembira. ketika ia tahu aku hendak kemari. tidak usah!"z Tapi. serta merta dia mengangkat buntalan kecil itu dan dilihat sekejap.

tak tahan lagi mereka tertawa tergelak. tanpa disadari lang-kahnya menjadi . tanggung dia akan gembira. maka Lan See giok pun mempercayai keaslian surat itu seratus persen. mereka baru kembali ke ruangan. entah bagaimanakah kemajuan yang berhasil kalian capai dalam setengah tahun ini?" Siau thi gou segera melebarkan matanya. bila suhu pulang. ditambah pula Hu-yong-siancu �hadir sebagai saksi . Naga sakti pembalik sungai segera minta diri.336 "Sudah tentu jahitannya pas sekali diba-dan. Berbeda sekali dengan Naga sakti pem-balik sungai yang berpengalaman. hingga bayangan tubuh naga sakti pembalik sungai lenyap dari pandangan. sebelum berpisah ia berpesan kembali agar mereka bertiga tetap menjaga gua sem-bari berlatih ilmu silat dengan tekun sampai kembalinya guru mereka. dengan cepat dia dapat menangkap gelagat yang tidak baik. kemudian setelah tertawa tergelak dengan cepat dia mengalih-kan pokok pembicaraan ke soal lain. tanpa terasa wajahnya nampak le-bih bersinar terang. Lan See giok ingin secepatnya membuka bungkusan kecil itu dan melihat isinya. cepat-cepat dia meletakkan kembali bungku-san kecil itu ke atas meja. uca-pannya: "Di dalam surat Cia locianpwe tadi di pesankan agar kalian melatih diri dengan te-kun. secantik enci Cian yang membuatnya!" Lan See giok yang polos masih mengira adik Soatnya benar-benar memuji kecantikan enci Ciannya. Si Cay-soat dan Siau-thi gou menghantar engkoh tua mereka sampai di luar barisan pohon bambu. semangatnya berkobar kembali dengan pe-nuh bersemangat katanya: "Aku telah berhasil mempelajari ilmu Hou-liong-jit-si. Lan See-giok. Dalam perjalanan kembalinya. Setelah melihat ketiga orang itu tidak ragu lagi. " Tak heran kalau Lan See giok bertiga memperoleh pengetahuan dan faedah yang besar sekali. Tanpa terasa matahari pun tenggelam di langit barat." Lan See giok bertiga yang menyaksikan semangat Siau-thi gou. Naga sakti membalik sungai baru me-ngajarkan teori dan tehnik bertempur dalam air kepada Lan See-giok di samping ketera-ngan-keterangan lain yang berharga sekali. Berhubung penjelasan dari naga sakti pembalik sungai tentang huruf yang luntur cocok dengan keadaan.

woouw isinya adalah ayam panggang.selamanya tidak akan menggubrisnya lagi. potongan indah dan menawan. sambil menahan air mata diapunb cepat-cepat kejmbali ke kamar gtidur sendiri. baju itu terbuat dari kain halus. dia ingin tahu apakah dalam bungkusan tersebut terdapat makanan yang enak atau tidak. maka dia singkirkan bungkusan makanan itu serta membuka bungkusan kain putih yang berada di bawahnya. daging kecap. . b Sian thi gou yang terdorong perasaan ingin tahu segera membuntuti engkoh Giok nya dengan ketat.. maka dalam hati kecilnya dia mengambil sebuah keputusan. Begitu bungkusan dibuka. telur asin serta makanan yang lain yang banyak sekali jumlahnya. terlalu banyak masalah yang membuatnya mendongkol. namun di tengah pegunungan yang terpencil begini betul--betul merupakan hidangan lezat yang punya uang pun tak bisa dibeli. bau harum semerbak terhembus ke luar dari balik bungkusan itu. Diam-diam Lan see giok berterima kasih sekali atas pemikiran bibinya yang menga-turkan semuanya itu dengan sempurna. Gadis yang semenjak kecil sudah terbiasa dimanja gurunya ini. . Saking pedih hatinya. mau marah tak bisa dilampiaskan. Ia jadi mendongkol sekali kepada engkoh Gioknya .. . mau menangis malu. dia merasa pemu-da tersebut seolah-olah mempunyai banyak dosa dan kesalahan yang tak bisa diampuni lagi. entah hasil karya bibinya atau enci Cian nya! . Begitu bungkusan kertas itu dibuka. Karenanya sambil melototkan matanya bulat-bulat.. meski makanan itu biasa.337 terburu buru sehingga Si Cay soat serta Siau thi gou tertinggal jauh di belakang. sekulum senyuman lebar segera menghiasi bibirnya. ketika Lan See giok me-ngambil bungkusan kecil dan kembali ke kamar nya. ia segera merasa diri-nya seperti dikesampingkan pemuda itu. dia awasi terus engkoh Giok nya membuka bungkusan kecil itu. Pada bagian atas adalah jubah biru kege-marannya. 0leh sebab itu.. bisa dibayangkan bagaimana perasaan hatinya waktu itu. berbeda sekali dengan Si Cay soat yang setiap hari bersama sama engkoh Gioknya. Dengan cepat Siau thi gou mengendus bau itu berulang kali.. Siau thi gou yang polos dan terbuka masih tidak merasakan apa-apa. dibaliknya tem-pat sebuah kertas minyak pembungkus. hampir saja air ma-tanya jatuh bercucuran. untuk pertama kalinya merasakan hatinya sedih dan pedih.

hidangan semeja yang baru saja diletakkan disanapun turut lenyap tak berbekas. "Engkoh Giok. Siau thi gou sudah muncul dari balik kamar Si Cay soat.g sarung pedang bmerah dan pita pedang berwarna merah. dengan perasaan segera ia segera mendongakkan kepalanya: Namun adik Soat sudah tak nampak. dengan cepat dia men-jadi paham kembali.. bahkan adik Gou pun tidak kelihatan. "Sakit apa? Barusan toh ia nampak sangat gembira dan segar bugar .. Rupanya pakaian merah dengan sbepasang sepatu jberwarna merah. Di bawah jubah itu adalah kain pengikat kepala berwarna biru.. ia jumpai gadis tersebut sedang membaringkan diri di atas permadani merah sambil me-nyembunyikan kepalanya dibalik selimut. apa yang terlihat segera membuat pemuda itu tertegun dan mencorongkan sinar tajam dari matanya. tercium bau harum yang sangat khas baginya. tubuhnya sama sekali tidak bergerak. rupanya semuanya ini disiapkan enci Cian untuk adik Soatnya.?" "Aku rasa dia sakit kepala!" Oooh. adik soat. kenapa kau? Apa yang kau rasakan sakit---?" . enci Scat telah jatuh sakit!" Lan See-giok terkejut sekali. ketika berpaling lagi.338 Ketika diendus. Dari keadaan tersebut. pemuda itu mendu-ga gadis itu memang sakit kepala. Sebelum tiba di kamar tidur. rasa gembira yang me-luap membuatnya tanpa sadar memanggil nama enci Cian dengan mesra.. Lan See giok segera tertawa tergelak de-ngan rasa gembira. ia berseru kaget sambil teriaknya. di tangannya masih menggeng-gam bungkusan berisi makanan lezat tadi. `Dengan cepat Lan See giok paham kem-bali.. Dengan langkah terburu-buru Lan See giok lari masuk ke dalam kamar tidur si nona. sambil membawa bung-kusan berisi baju itu cepat dia lari naik ke tangga. Begitu berjumpa dengan Lan See giok. pemuda itu sudah tidak tahan untuk berteriak keras. Baju yang kedua berwarna merah cerah." Tiba-tiba bayangan hitam berkelebat lewat.. cepat-ce-pat ia letakkan bungkusan berisi pakaian itu ke lantai.. kemudian tanyanya dengan penuh perhatian: "Adik soat. celana biru serta dua stel pakaian dalam berwarna putih.. "Adik Soat. adik Soat . meski sedikit agak kebesaran namun bisa dipakai. ketika dicoba dibandingkan ke tubuhnya. dia lantas berseru dengan wajah murung..

menjawab pun tidak... Lan See giok terkejut. ber-samaan itu pula diapun menjadi sadar.l" Cahaya tajam segera memancar kemana mana. sedang Si Cay soat juga melompat bangun dengan cepat. Mendadak ia melihat pedang Jit-hoa kiam yang terletak tak jauh di atas permadani. Sedangkan Lan See-giok duduk termenung di sampingnya. Namun sebagai pemuda yang pintar. betapapun dia telah memeras otak belum juga diketahui apa kesalahannya. rupanya gadis itu bukan sakit kepala melainkan lagi mengam-bek. "Criing.. ia mengambil keputusan untuk mem-buat kejutan bagi si nona tersebut. ten-tunya sarung pedang yang indah tersebut merupakan hadiah dari Ciu Siau cian yang selalu dipuji puji oleh gurunya itu. sambil tertawa terbahak -bahak. Dalam pada itu Lan See giok telah mem-betulkan letak pedang itu dan sambil tertawa tersipu sipu dia mengembalikan senjata tersebut kepada si nona. Si Cay soat segera jatuh hati. Diambilnya pedang Jit hoa kiam tersebut. tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya tertegun dan melongo. .. tubuh pedang melejit berapa inci lebih ke muka dan seketika menyiarkan suara dentingan yang amat memekikkan telinga. tertegun. satu ingatan segera melintas di dalam benak nya. Hanya Siau thi you seorang yang mengu-nyah paha ayam. de-ngan cepat Lan See giok menyadari apa gerangan yang telah terjadi. Lan See giok segera mendekati dan beru-saha untuk memeriksa denyutan nadinya-"Plaaakkk!" tahu-tahu tangannya sudah di pukul gadis itu keras-keras-Dengan perasaanr terkejut Lan Szee giok menarikw kembali tanganrnya lalu memandang sekejap ke arah Siau thi gou dengan mata terbelalak. kemudian melapisinya de-ngan sarung pedang yang halus dan lembut itu. Siau thi gou juga merasa lega setelah me-ngetahui enci Soatnya lagi mengambek.339 Si Cay soat tetap tak bergerak. Melihat sarung pedang yang begitu mena-wan hati. mula-mula pita pedang diikatkan dahulu pada gagangnya. sam-bil tertawa dia mulai menyambar paha ayam dan melahapnya dengan rakus. suatu ketidak sengajaan membuat jari tangannya menyentuh tombol rahasia. Disaat ia sedang mengikatkan tali sarung itulah.

Setelah diperiksa dengan seksama. ia memungut pakaian tersebut dengan gugup." karenanya dia mengangguk dengan bangga. apa yang terlihat membuatnya segera menjerit gembira. tapi yang pokok. dia segera melompat bangun dan berjalan bolak balik dengan penuh keriangan Ia dengan suara bernada kegembi-raan yang tak terlukiskan dengan kata. Lan See giok mengira Si Cay soat terkejut atas hasil karya enci Cian. Lan See giok menjadi tertegun melihat hal itu. . sangat indah! persis seperti apa yang kuidam-idamkan selama ini. ia berseru: ""Aaah. . Melihat adik Soatnya gembira. berkilat sepasang matanya. bisa menahan senjata .340 Si Cay soat sendiri berhubung ia sudah terlanjur jatuh hati pada keindahan sarung pedang tadi. dengan perasaan terkejut serunya tanpa terasa: "Engkoh Giok. sepasang kaki milik adik Soat memang indah dan sangat menawan hati. tentu saja Lan See giok turut tertawa riang. kemudian katanya pula dengan hati-hati. kemu-dian serunya lagi dengan perasaan terkejut: "Engkoh Giok. ditambah pula perasaan ingin tahunnya untuk memeriksa hasil karya Ciu Siau cian." Cepat-cepat dia letakkan pedangnya ke lantai serta menerima sepatu baru itu. "Adik Soat. Tiba-tiba Si Cay soat melihat jubah biru yang terletak di sisi anak muda tersebut. Dalam gembiranya Si Cay soat pun me-lu-pakan semua kekesalan dan kemasgulan yang dialaminya tadi. Si Cay soat meraba jubah baru itu. masuk ke air tak bakal tenggelam. baik sekali . mau tak mau gadis itu harus menyatakan kekagumannya. Sebagai seorang pemuda yang cerdik Lan See giok segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerahkan pula sepatu kecil berwarna merah kepada si nona. sungguh indah. selesai mengenakan sepatu baru. persis dengan kakiku. membuatnya tanpa banyak bicara segera menerima angsuran tadi. coba kau lihat. oooh! Banyak sekali khasiat dari pakaian tersebut. begitu banyaknya sampai siaumoay tak dapat menerangkannya satu per satu. ke-mudian dengan tergesa-gesa sekali dia mele-paskan sepatu lamanya hingga tampak sepasang kaki mungilnya yang putih bersih. pakaian ini dibuat dari serat ulat langit. "Oooh.. masuk api tak akan terba-kar. enci Cian memang orangnya baik sekali. dia sadar bahwa hasil kera-jinan tangan dari Ciu Siau cian memang betul-betul sangat indah. apakah baju itupbun bikinan encij Cian untukmu?"g Sambil berkatba. inilah tanda mata dari enci Cian untukmu!" Si Cay soat segera mendongakkan kepalanya..

kata mereka dengan riang: "Selama ini suhu mengatjakan adik Gou bodoh. Setelah saling berpandangan sekejap de-ngan perasaan cinta yang semakin menda-lam.. Lan See giok betul-betul dibikin terkejut sampai berdiri melongo-longo . Musim panas lewat dan musim gugur kini sudah menjelang tiba. . Baru sekarang Lan See giok dan Si Cay soat memahami apa yang dimaksudkan. dapat menahan bacokan senjata. hooore .haaahhh . . Si Cay soat serta Siau thi gou merasa murung dan masgul sepanjang hari. . . . Lan See giok. dengan pakaian tersebut maka selanjutnya kau tak usah mengenakan pakaian renang lagi bola ingin masuk ke dalam air. setelah engkoh Giok memiliki pakaian mesti-ka. Lan See giok dan Si Cay soat jadi ter-tegun menyaksikan ulah bocah tersebut. kendatipun tenaga dalam mereka bertiga peroleh kemajuan yang sangat pesat namun perasaan gembiranya tidak seperti semula lagi. . padahal. muda mudi tiga orang itu melanjutkan latihan mereka dengan lebih tekun. dengan pandangan tak mengerti mereka awasi baya-ngan punggung Siau thi gou hingga lenyap dari pandangan mata. katanya lagi sambil tertawa ter-bahak-bahak: "Haaahhh . Siau thi gou telah muncul kembali sambil membawa pakaian renang baru." "Padahal aku tidak blo"on!" sambung Siau thi gou dengan cepat sambil tertawa lebar. . mendadak ia letakkan bungkusan berisi makanan itu ke lantai." Mengetahui kalau jubah itu memiliki kha-siat yang begitu banyak. mereka tidak mendapat berita dari .. Yang membuat mereka bertiga merasa geli-sah adalah si naga sakti pembalik sungai pun tidak muncul lagi. . se-rentak mereka ikut tertawa terbahak-bahak. bersorak sorai de-ngan riang gembira: "Hooore . Lan See giok di samping belajar ilmu berenang dari Si Cay soat. Tak lama kemudian.341 rahasia.. . Sebaliknya sepasang mata Siau thi gou segera terbelalak lebar-lebar. haaahhh .. . engkoh Giok. kalau begitu aku Thi-gou akan memperoleh pakaian renang baru! Sambil berteriak ia lari ke luar dari ru-angan tersebut dan kembali ke kamar sendiri. . dia pun meng-kombinasikan ilmu gurdi emas ajaran ayah-nya dengan ilmu pedang Tong kong kiam hoat sehingga terciptalah suatu ilmu baru yang dinamakan ilmu gurdi pengejut langit. pakaian renang jahitan enci Soat pun tanpa sungkansungkan akan menjadi milik aku si Thi gou. setelah itu sambil mengangkat ta-ngannya tinggi-tinggi ia. sebab guru mereka To Seng cu belum juga kembali. Semenjak hari itu.

. ia bertekat untuk membakar semangat sendiri dan adikadik seperguruannya agar lebih te-kun melatih ilmu silat masing-masing. Dzi samping itu dwiapun membayangrkan pula be-tapa lihainya ilmu silat yang dimiliki orang-orang tersebut Bilamana dugaannya tak meleset. tapi untuk menghadapi tiga manusia aneh dari luar lautan. Siau thi gou juga saban hari bermuram durja. dia yakin dunia persilatan tentu sudah diliputi kekacauan dan kekalutan. satu hari menjadi guru. Semakin membayangkan apa yang telah terjadi. . Dengan kepergian To Seng cu yang tak pernah kembali lagi. sedangkan Lan See giok sering kali melamun sambil memandang pegunungan dikejauhan sana. dia pun teringat kembali -kan Lam hay lo koay. Membayangkan musuh-musuh tersebut. Si Cay soat mulai menguatirkan kesela-matan dari gurunya. terutama bila memba-yangkan kembali gumaman gurunya sebelum berpisah. Cuma pemuda itu hanya berani memba-yangkan namun tak berani menyampaikan jalan pemikirannya kepada Si Cay soat serta Siau thi gou. Berbicara soal kemampuan yang dimiliki nya sekarang.. bahkan bisa jadi darah telah menggenangi permukaan tanah. men-jumpai musibah. paling tidak gurunya sudah ditawan dan disekap atau terperangkap dalam jebakan musuh hingga terkurung di suatu tempat. dia tak akan menampik untuk melakukannya. lautan api mesti diterjang.Dendam orang tua dan musibah dari gurunya.. Dihati kecilnya dia seperti memperoleh suatu firasat.342 dunia luar sehingga praktis sela-ma satu tahun penuh mereka tidak mengeta-hui bagaimanakah perubahan dalam dunia persilatan. saking gelisahnya peluh sampai jatuh bercu-curan membasahi seluruh tubuhnya. gurunya benar-benar. Sekali lagi dia mulai mencurigai isi surat yang pernah dibawa si naga sakti pembalik sungai tempo hari.. Seandainya. kedudukan Lan See giok dihati Si Cay soat dan Siau thi gou pun ber-tambah penting. membalas dendam bukan pekerjaan yang terlampau sulit baginya.. dia tak mempunyai suatu keya-kinan pun berhubung dia sendiri juga tak tahu sampai dimanakah kekuatan mereka yang sesungguhnya. kepergian gurunya tempo hari meski sampai mengancam keselamatan jiwa-nya. Pepatah kuno berkata. anak muda itu semakin ketakutan. budi bagaikan orang tua sendiri. di atas bahunya sekarang tertanam dua macam be-ban yang sangat berat. sekalipun tubuh harus hancur.. Wan San popo serta rSi to cinjin.

Sebagaimana diketahui. sejak itu tak pernah menampilkan senyuman blo"on-nya yang menggiurkan di atas wajah bulat-nya yang hitam berkilat lagi. Meski keputusan ini disambut Si Cay soat dengan perasaan berat. Lan See giok dan Si-Cay soat sudah tak dapat menenangkan hatinya lagi. selain tidak melanggar pesan guru mereka. Hasil dari perundingan mereka menyim-pulkan bahwa si naga sakti pembalik sungai sudah tidak berada di tepi telaga Phoa yang lagi bisa juga dia telah menyusul ke luar lautan untuk mencari jejak suhu. mereka berdua selalu memanfaatkan kesem-patan tersebut untuk berunding bagaimana caranya mencari berita tentang guru mereka. jejak . dan tak pernah berpisah barang sejengkalpun. waktu berlalu sangat cepat. maka See-giok eng ambil keputusan untuk turun gunung dan mencari berita tentang gurunya. setiap kali Siau Thi-gou sedang menanak nasi di dapur. tak heran kalau kedua orang itu terpaksa mengambil jalan tersebut. dengan diutusnya pemuda tersebut. bunga salju turun dengan derasnya menyelimuti seluruh permukaan tanah. jika selewatnya tahun baru guru mereka be-lum juga kembali. dia pasti akan mengunjungi bukit Hoa-san untuk mengetahui apakah guru mereka sudah pulang atau belum. Sikap Si Cay soat berubah menjadi lebih lembut dan hangat. tokoh persilatan nomor wahid dikolong langit sudah setahun meninggalkan gunung. kini telah berubah menjadi serba putih. hal inipun merupakan pilihan yang paling tepat. apalagi guru mereka pun berpesan agar tidak meninggalkan gua terse-but itulah sebabnya mereka bertiga tak berani turun gunung bersama-sama. To Seng-cu. dia semakin menyayangi engkoh Giok nya dan memperhatikan adik Gou nya.343 Saban hari mereka bertiga selalu hidup berdampingan. Lan See giok memang sebelumnya telah memperoleh ijin dari gurunya untuk turun gunung mencari balas. Akhirnya kedua orang itu memutuskan akan menunggu sampai setengah bulan lagi. kini musim dingin telah tiba. dalam gua mereka tersimpan kitab pusaka cinkeng warisan su-cou mereka. namun hingga saat itu belum juga ada kabar beritanya tentang mereka. dalam suasana murung dan sedih. kalau ti-dak. namun berhubung dendam berdarah engkoh Giok nya belum terbalas. Permukaan bukit Hoa-san dengan be-berapa buah bukitnya yang tinggi. Siau thi gou yang polos dan lugu.

boleh di bilang mereka bertiga selalu berkumpul ber-sama. jika See giok su-dah turun gunung. keadaan yang harus dialaminya selama ber-tahun lamanya mungkin. DALAM setahun belakangan ini. tidak terkecuali Si Cay soat. . yaitu si gadis cantik lainnya yang sering dipuja oleh gurunya. tapi alhasil malah kebalikannya yang diperoleh. sepi dan layu. diapun sangat menya-yangi adiknya yang menawan tersebut. Setiap kali ia membicarakan soal Ciu Siau cian. selain rasa hormat terselip juga perasaan cinta. Tekanan jiwa yang dialaminya membuat gadis itu sukar tidur dan tak enak bersantap tidak sampai berapa hari. di atas wajah engkoh Giok nya tentu terlintas setitik cahaya tajam. Ciu Siau cian. ia sering-kali melamun. tapi bagaimanapun juga perasaan kasih sayang sebagai kakak terhadap adik tentu saja ber-beda sekali dengan kasih sayang terhadap pujaan hatinya.344 gurunyapun merupakan se-buah tanda tanya besar. selama dua tahun ini. kosong. Selain itu. maka kehidupannya akan menjadi kering. atau bermain air di telaga Cui-oh. entah berla-rian di tanah perbukitan ditengah malam. tak sedetikpun berpisah. Pikiran dan perasaan seorang gadis me-mang selalu lebih sempit dan cupat. mereka selalu berduaan dan bermesraan. kalau bisa dia ingin bersama engkoh Giok nya hidup sepanjang tahun di tempat yang terpencil ini dan tak akan me-ngadakan hubungan lagi dengan dunia luar. kesemuanya ini membuat si nona tak berani banyak berbi-cara. Baru sekarang dia menyadari bahwa diri nya sudah tak mungkin lagi berpisah dengan engkoh Gioknya.. dia berusaha untuk menjauhkan diri dengannya. tubuhnya menjadi kurus dan mukanya pucat. dari seorang bocah tanggung yang binal Seegiok berubah menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa. dan biasa-nya dalam keadaan begini Siau thi gou yang blo"on selalu menghindar jauh-jauh.. Betul di sisinya masih ada Siau thi gou yang polos dan lugu. Tapi Lan See giok harus turun gunung untuk menelusuri gurunya. masih ada satu hal lagi yang membuat perasaannya tidak tenang. Lewat beberapa hari lagi Lan See-giok akan genap berusia delapan belas tahun. tidak heran kalau Si Cay soat menjadi begitu tergiur dan kesemsem kepadanya. hampir setiap saat ia selalu berdoa agar gurunya bisa cepatcepat kembali ke rumah. semenjak mengambil keputusan tersebut. sebelum hal ini benar-benar terjadi. Sekarang dia mulai sadar.

namun Lan See giok. diapun menyaksikan bahwa engkoh Giok nya tak pernah sedikit pun melupakan Ciu Siau cian. apa yang mereka lakukan setelah perjum-paan itu? Sudah pasti--la tak berani berpikir lebih jauh. hati nya pasti berdebar keras. Perjamuan perpisahan berlangsung cukup meriah. Biarpun suasana tahun baru merupakan hari-hari yang paling bahagia. mungkin sekali banyak kesu-litan dan percobaan yang bakal dialaminya. Seringkali dia menghibur nona tersebut selain berpesan kepada Siau-thi gou agar se-lalu memperhatikannya. Si Cay soat sibuk di dapur untuk menyiap-kan hidangan bagi perjamuan perpisahan-nya dengan Lan See giok. Malam semakin kelam. meskipun masingmasing pihak berusaha untuk menyembunyikan perasaan dukanya di dalam hati. . digantungkan di balik jubahnya. namun masalah dendam orang tua dan musibah gurunya jauh lebih memenuhi jalan pemikirannya. gurdi emasnya disembunyikan di-balik pinggang dan senjata rahasia andalan ayah nya peluru cahaya perak. dalam perjalanannya turun gunung nanti. Si Cay soat dan Siau thi gou nam-pak lebih masgul dan murung. kejadian ini membuatnya lebih cemburu. Lan See-giok telah bertukar pakaian de-ngan baju baru pemberian bibi Wan serta enci Cian. akhirnya Lan See giok harus membesarkan hati untuk bangkit berdiri. salju masih menyelimuti seluruh permukaan tanah. akhirnya menjelang tiba. sebab sa-ban kali membayangkan hal tersebut.345 Selama setahun ini. Meski diapun pernah memikirkan bibi Wan dan enci Cian nya. lebih mendong-kol dan tak tenang. Akhirnya tanggal tiga bulan pertama. Diapun berharap gurunya bisa kembali dengan selamat. Siau-thi-gou membantu See giok membe-reskan perbekalannya. hal ini berarti bisa membe-baskannya untuk berangkat ke luar lautan. wajahnya berubah merah dan sepanjang malam tak bisa tidur nyenyak--Lan See giok pun merasa sangat tak tenang melihat keadaan adik Soat nya yang makin lama semakin kurus dan murung. Tahun baru kedua semenjak See-giok tiba di bukit Hoa-san. Lan See-giok mengambil keputusan untuk turun gunung. Ia juga tahu. Pernah terbayang olehnya bagaimana eng-koh Giok dan Ciu Siau cian bertemu kembali.

dia menangis tersedu sedu. di hati kecilnya pun dipenuhi oleh pelbagai kemurungan yang serasa menyumbat hatinya. begitu selesai pekerjaanku. secepatnya aku akan pulang kembali.. untuk kesekian kalinya dia ha-rus merasakan kembali betapa berat nya saat-saat perpisahan dengan orang-orang yang dicintainya. Sedangkan Si Cay coat harus mengucur-kan air mata sambil menahan isak tangis-nya. . Akhirnya hutan bambu sudah dilewati.. se-jauh mata memandang. selain berharap engkoh Gioknya bisa berhasil dengan sukses. serentak mereka bangkit untuk mengantar ke luar ruangan: Barisan bambu dan pohon siong mereka lewati dengan perasaan yang sangat berat dan masgul. Tiba-tiba Lan See giok menghentikan lang-kahnya. sesungguhnya dia merasa amat murung dan kesal. dengan wajah yang basah oleh air mata dan wajah yang amat layu. Karena itulah meski wajahnya nampak -sangat tenang. Lan See giok pun merasakan hatinya berat dan murung. kemudian sambil menengok adik Gou dan adik Soatnya yang tampak sangat murung. lapisan salju nan putih menyelimuti seluruh jagad." Siau thi gou membuka matanya lebar-lebar sambil mengangguk.346 "Adik Soat. matanya berkaca kaca dan hampir saja air matanya jatuh bercu-curan: Si Cay-soat juga berusaha untuk me-ngen-dalikan gejolak perasaannya. aku harus berangkat sekarang!" ujarnya kemudian dengan suara tenang...thi-gou manggut-manggut pedih. Adik Gou. ia berkata sedih: "Adik Soat.. Namun ia tak berani banyak berbicara. adik Gou. Siau-thi-gou diam-diam berdoa bagi keberhasilan engkoh Giok-nya dan menemukan kembali jejak guru mereka serta berhasil membalas sakit hati.. kalian harus menjaga diri baik-baik. Si Cay-soat dan Siau. namun dia tak mampu mengendalikan diri untuk mem-bungkam terus. tubuhnya segera gemetar keras. ia berusaha untuk menjaga ketenangan hatinya serta mencari akal bagaimana mesti bertin-dak untuk menyelidiki jejak gurunya sesudah turun gunung nanti. sambil menutupi wajah sendiri dengan kedua belah tangan. dia menengok pemuda itu sambil bisiknya de-ngan suara gemetar: "Engkoh Giok . Sepanjang perjalanan." Namun hanya sebutan itu yang sempat meluncur ke luar.

sambil menangis tersedu dia menubruk ke dalam pelukan See giok lalu bisiknya.. tak mungkin ia bisa menghibur perasaannya yang duka dengan sepatah dua patah kata saja.. lalu mengangguk lirih. dia menghela napas sedih seraya men-jawab: "Perasaanku hanya Thian yang mbaha tahu. akhirnya sambil membulatkan tekad ia berkata: "Adik Soat. bila akan ingin mengucapkan sesuatu. Lan See-giok mengerti.. "Apa yang hendak kukatakan. jagalah diri kalian baik-baik. moga-jmoga adik Soat gbisa menjaga dibri baik-baik dan merawat adik Gou semestinya. sudah barang tentu pemuda itu cukup mengetahui bagai-manakah perasaan gadis tersebut sekarang. . ia segera menyeka air matanya dan mengangguk. mungkinkah pemuda itu akan kembali secepatnya?" Melihat gadis itu membungkam diri dalam seribu bahasa. semoga kau jangan terlalu memikirkan siaumoay berdua sehingga mengganggu pikiranmu. pe-muda itu segera menghibur. kau jangan kelewat menyiksa diri. Dengan lemah lembut dipegangnya lengan gadis itu kemudian dengan perasaan pedih dia berkata: "Adik Soat. diapun harus menelusuri jejak gu-runya. bahkan bisa jadi perjalanannya didampingi Ciu Siau cian. namun bila teri-ngat dia tugas berat yang berada dibahunya." Lan See giok mengerti apa yang dimaksud-kan.347 Sedih nian perasaan Lan See giok me-nyak-sikan kejadian seperti ini. "Jangan sampai membuat kau sendiri jatuh sakit!" Kata-kata tersebut amat menghibur perasaan Si Cay-soat. aku akan berangkat dulu!" Si Cay-soat mengangkat kepalanya me-mandang pemuda itu sedih. sebab di samping me-nyelidiki musuhmusuh besar pembunuh ayahnya. pemuda tersebut tak berani berpikir lebih jauh. Dengan perasaan sedih dan terharu." Dalam keadaan begini Si Cay soat tidak memperdulikan lagi kehadiran Siau thi gou di tempat tersebut.. telah kau ketahui semua-Sebagai seorang yang pintar. "Adik Soat. "Berangkatlah engkoh Giok. adik Gou. katakanlah sekarang juga. seusai bertugas aku pasti akan kembali lagi!" Si Cay soat pun cukup tahu bahwa anak muda tersebut tak mungkin bisa kembali sedemikian cepatnya.

meski Gui Pak ciang tidak termasuk orang yang paling mencurigakan. Perasaan sedih. dia pun me-masuki sebuah rumah makan yang berada tak jauh dari situ. Lan See giok mendapat tahu kalau tempat itu terletak paling dekat dengan benteng Pek hoo cay milik si toya besi berkaki tanggal Gui Pak ciang ketimbang bukit Tay ang san dari beruang berlengan tunggal. Suasana dalam rumah makan ramai sekali. sesudah memesan hi-dangan. . ke-mudian diiringi ucapan selamat tinggal ia membalikkan badan dan berlalu dari situ. Dalam waktu singkat bayangan tubuh Lan See giok sudah lenyap di balik pepohonan sana. Mengetahui hal tersebut. dia bersantap sambil tiada hentinya menyusun rencana bagaimana meng-hadapi Gui Pak ciang nanti. dia tiba di sebuah bkota yang jarakjnya tinggal sepguluh li dari bebnteng Pek hoo cay. Sementara masih melamun. Setelah menempuh perjalanan jauh. hampir semua tempat dipenuhi dengan tamu yang minum arak sambil bermain dadu. namun Lan See giok ma-sih meneruskan perjalanannya dengan cepat. Sawah dan gunung sudah dilalui. ia mengambil keputusan untuk berangkat ke Benteng Pek hoo cay mencari si toya baja berkaki tunggal. tak tahan lagi air matanya sekali lagi jatuh bercucuran dengan derasnya. Langit mulai terang. Ketika tiba di sebuah kota besar. Lan See giok memilih sebuah tempat yang dekat dengan jendela. "mari kita masuk. sepi dengan cepat menyelimuti seluruh perasaan Si Cay-soat. engkoh Giok telah pergi jauh. tiba-tiba dari luar jendela berkumandang suara derap kaki kuda yang ramai sekali. Lan See giok mengerahkan segenap tena-ganya untuk berlari kencang. dia masih berdiri termangu sambil memandang ke muka dimana baya-ngan tubuh Lan Seegiok melenyapkan diri tadi. "Sudahlah enci Soat" Siau-thi-gou segera menghibur. begitu pesatnya dia berkelebat membuat pemuda itu terce-ngang sendiri atas kemajuan yang telah dica-painya selama ini. dengan menelusuri jalan raya yang ramai dia berge-rak terus menuju ke arah tenggara. kosong.348 Sekali lagi Lan See giok memandang wajah ke arah Si Cay-soat serta Siau-thi gou. namun siapa tahu kalau dari mulutnya akan diperoleh sedikit informasi yang menguntungkan? Malam itu. matahari mulai mun-cul dari ufuk timur. Lan See giok merasa perutnya lapar." Namun Si Cay soat tidak memberikan reaksi apapun.

suasana amat kalut dan panik. Serentak semua keramaian dalam rumah makan terhenti sama sekali. ia berseru kaget dan segera menarik tali les kudanya kencang-kencang. Dibagian paling depan nampak seekor kuda putih ditunggangi seorang nyonya can-tik bermantel hitam yang nampaknya baru berusia dua puluh enam tujuh tahunan. ketika ia sedang kabur dari benteng Wi-lim-poo. ji-hujin dari benteng Pek hoo cay. yang semula berkaok-kaok kini pun membungkam diri dalam seribu ba-hasa. dengan cepat dia bangkit berdiri dan melongok ke luar. tapi paras mukanya segera berubah hebat serunya tiba-tiba: "Aduh celaka. orang yang se-mula berlalu lalang. Lan See giok. nampaknya nyonya muda itu mahir sekali menunggang kuda. sendiri meski tidak pandai menunggang kuda.kencang. kuda putih itu segera mengangkat kakinya ke atas meski begitu.. suasana menjadi hening sekali. para pejalan kaki yang sudah me-nyingkir ke samping. Tiba-tiba saja mencorong sinar tajam dari balik mata nyonya cantik bermantel hitam itu. Tak heran kalau dia segera bersorak me-muji setelah menyaksikan kemahiran Tok -nio-cu dalam ilmu menunggang kudanya. Kelima ekor kuda lainnya serentak mena-han pula kuda masing-masing secara men-dadak. hal ini membuat suasana ber-tambah kalut. Tok nio cu (wanita beracun) telah datang!" Berkilat sepasang mata Lan See giok mendengar ucapan itu. Sedangkan lima rekor lainnya diztunggangi oleh wlima lelaki kekrar yang semuanya menyo-ren senjata. tapi setahun telah ber-selang.. kini kelihatan lari kian kemari mencari perlindungan.. sama-sama menjerit kaget sambil membubarkan diri ke empat penjuru . . Sementara itu dari ujung jalan sana terli-hat ada enam ekor kuda jempolan sedang dilarikan kencang. tanpa terasa dia membuka daun jendela sambil menengok ke depan. Pada saat itulah seorang pelayan telah membuka jendela sambil mengintip ke luar. orang berhenti bermain dadu. kebetulan sekali nyonya cantik itupun sedang menengok ke arahnya. Diiringi suara ringkikan panjang. Hal tersebut tentu saja mengherankan Lan See giok.349 Menyusul kemudian terdengar suara orang yang berteriak-teriak kaget dari arah jalan raya. ketika Lan see giok menengok ke luar. ia sama sekali tidak terjatuh dari kudanya. pemuda itu pernah mengalami suatu pengalaman yang cukup mengagetkan di tepi telaga Phoa-yang -oh.

. kini se-dang membereskan uang dan gundu mereka dengan wajah panik dan peluh dingin bercu-curan deras. serentak me-ninggal-kan kuda kudanya dan berlarian menuju ke depan rumah makan itu. nyonya cantik berbaju hitam itu sudah melejit ke tengah udara de-ngan suatu gerakan yang sangat enteng. Dilihat dari cara orang-orang Pek hoa cay yang berani melarikan kudanya kencang-kencang ditengah jalan yang ramai.350 Tapi perasaan tak puas segera muncul pula sesudah menyaksikan para rakyat jelata pada membubarkan diri dalam keadaan panik dan kalut karena ketakutan. Mantel hitamnya yang lebar segera ber-ki-bar pula ketika terhembus angin. ia tak ingin banyak menimbulkan urusan daripada belum-belum sudah mengejutkan lawannya. . "Blaammm !" Serentak para tamu bangkit berdiri seraya membungkukkan badan memberi hormat. dengan perasaan tak habis mengerti ia ber-paling. Kelima orang lelaki lainnya yang me-nyaksi-kan kejadian tersebut. semuanya menahan napas sambil mengawasi Tok Niocu yang cantik dengan senyuman dikulum itu dengan perasaan panik bercam-pur tegang.. dua orang lelaki berwajah penuh amarah telah muncul di atas loteng. sebab dia sedang mengawasi Tok Nio-cu yang menampakkan diri sehingga tidak terlalu memperhatikan gerak gerik para tamu lain-nya. kebetulan sekali pada waktu itu hanya Lan See giok seorang yang duduk di kursinya. bisa diketahui bagaimanakah sepak terjang mereka diwaktu waktu biasa. berarti dia telah memberi kesempatan kepada si Toya baja berkaki tunggal Gui Pak ciang untuk mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya. bagaikan sekuntum awan hitam.. Sejak muncul dalam dunia persilatan hingga kini sudah ada beberapa orang gadis cantik yang pernah dijumpainya. bila hal terse-but sampai terjadi. BAB 17 LAN SEE-GIOK segera berkerut kening. Sementara ingatan tersebut masih melintas di dalam benaknya. Tok Nio-cu si perempuan can-tik berbaju hitam itu diiringi ketiga orang le-laki lainnya telah muncul pula di ruang loteng dengan langkah tergesa gesa. dia melayang turun di depan pintu rumah makan.. Menyusul kemudian bayangan hitam ber-kelebat lewat. dilihatnya para tamu yang semula berada dalam ruang rumah makan.. Sekalipun demikian. Tak selang berapa saat kemudian.

351 . Sayang bentakan itu sudah terlambat. mendadak seorang lelaki kekar berjalan mendekatinya. Sementara dia masih melamun. keningnya langsung berkerut.. tahu-tahu saja pergelangan tangan lelaki itu sudah kena dicengkeram olehnya. kembali!" mendadak Tok. setelah bertemu dengan hujin. Tidak terlihat secara jelas gerakan apakah yang dipergunakan olehnya. te-lapak tangan kanan Koan-ki sudah diayun-kan ke muka membacok tubuh Lan See giok yang masih duduk dengan tenang itu. Jeritan kaget dan teriakan panbik dengan cepatj berkumandang dgari luar jendelba. api amarah pun berkobar. tapi setelah menyaksikan sikap kasar lawan yang jelas hendak mencari gara-gara itu. Lan See giok tertawa dingin. "Koan-ki. menyusul kemudian sekali bentakan saja. jurus tiang sakti penahan langit segera diperguna-kan. sambil menarik muka dia membalikkan pergelangan tangannya sambil mengayun ke atas. tubuhnya menerjang ke muka dan telapak tangan kanannya siap dibacokkan ke atas tubuh Lan See giok. Lan See giok merasa amat terkejut. diiringi jerit kesakitan lelaki itu terlempar ke luar dari jendela -Melihat hasil dari gerakannya itu. Dan kini. . dia telah melemparkan tubuh lelaki itu ke belakang. kemudian dengan mats melotot besar har-diknya keraskeras: "Bocah keparat. kemudian adik seperguruannya Si Cay-soat yang lincah dan ketiga adalah Oh Li cu yang genit. Sesungguhnya Lan See giok tidak berniat mencari urusan. kau benar-benar tak tahu adat. Rambutnya yang lembut.Orang pertama yang masuk ke dalam lembaran hidupnya adalah enci Cian yang lembut. Dia jadi teringat kalau di belakang jendela merupakan jalan raya.. wajahnya ber-bentuk bulat telur dengan biji mata yang bening.Nio-cu membentak keras. Tok Nio-cu yang usianya sudah mencapai dua puluh enam-tujuh tahunan ini ternyata dirasakan berwajah mirip sekalbi dengan Oh Li jcu. mengapa tidak bangkit berdiri untuk memberi hor-mat?" Di tengah bentakan keras. debu dan pasir beterbangan kemana mana. hidung mancung dan bibir kecil mungil. "Blaammm!" Diiringi suara benturan yang sangat keras. namun sayang keadaan sudah terlam-bat baginya untuk menarik kembali serangan tersebut. seolah-olahg mereka berdua badalah saudara sekandung saja. dia memang seorang perempuan cantik yang sangat menawan hati.

"Duuk!" Tak ampun tubuh koan-ki yang kekar mencium di atas tanah keras-keras. suasana kalut sekali. begitu kerasnya bantingan tersebut. dari belakang tubuh nya telah bergema lagi dua kali bentakan keras yang memekikkan telinga. kau si keparat berani turun tangan dengan semau-nya sendiri?" Angin pukulan yang sangat kencang men-dadak meluncur kearah belakang kepalanya. "Kawanan tikus.352 Lan See-giok mencoba untuk melongok ke bawah. Meski pun suasana di atas jalan raya amat ramai dengan jeritan kaget. Ucapan yang tersebut tadi kembali mem-bangkitkan amarah dalam dada Lan See-giok Dengan cepat dia memutar badannya sem-bari membentak nyaring. posisinya boleh dibilang semakin ter-desak. semua orang hanya bisa membelalakkan matanya dengan perasaan terkejut. belum pernah Tok Nio-cu diperlakukan orang semacam ini. bertambah dua orang anak buahnya lagi terlempar ke bawah loteng. "Dengan kehadiran nyonya di sini. di jumpainya orangorang yang se-mula berkerumun melihat keramaian di bawah loteng situ kini sedang saling berde-sak-desakan saja. bahkan nyaris terbanting mampus di bawah loteng. Selama berkelana di dalam dunia per-sila-tan. Diiringi jeritan kesakitan. pingin mampus rupanya kalian!" Kedua belah tangannya dipergunakan ber-sama dengan suatu gerakan cepat ia mencengkeram lengan kedua orang lelaki tersebut kemudian mengayunkan ke bela-kang. kedua orang -le-laki itu kembali terlempar ke luar dari luar jendela. namun di ruang loteng dengan berpuluh orang tamunya jus-tru dicekam dalam keheningan yang luar bia-sa. tak heran kalau paras mukanya segera berubah menjadi hijau membesi dan tubuhnya gemetar keras. Bersamaan waktunya ketika Lan See-giok melongok ke bawah. bukan saja serangannya mengalami kegagalan. . Semula Tok Nio-cu sebetulnya hanya terta-rik oleh ketampanan wajah Lan See giok dia merasa pemuda tampan dengan pakaian tipis yang dikenakan di musim dingin ini sudah pasti mempunyai asal usul yang luar biasa. lelaki kekar tadi kelewat sombong dan tak mau memandang sebelah mata kepada orang lalu. membuat un-tuk sementara hanya bisa mengaduh-aduh lemah. Tok Nio-cu ikwut kehilangan mruka sehingga mustahil lagi baginya untuk berdiam diri belaka. Apa mau dikata Koan-ki. Akibat dari perristiwa tersebutz. Apalagi sekarang.

tampak nya sebelum kuberi sedikit pelajaran. Anak muda itu sangat terkejut..haah. keningnya berkerut kencang. dia berkata lebih lanjut.. akan kusuruh kau rasakan sampai di manakah kelihaian dari aku Tok nio-cu!" "Haah.. ia cukup tahu akan kelihaian dari peluru api beracun tersebut. Cepat menyingkir ke samping!" . bahkan mengejek pula. bisa di bayangkan betapa amarahnya perempuan itu. katanya kemudian dengan suara berat dan dalam: "Masih muda sudah tak tahu diri. kau tak akan mengetahui kelihaian orang teriak Tok Nio-cu bertambah gusar. hmmm . kalau tidak.. langsung menerjang ke arah Lan See-giok. kalau toh kau tekebur terus dan tak tahu diri. Sepasang matanya segera melotot besar.. dengan suara keras bentaknya: "Bagus. hanya kali ini suaranya jauh lebih lembut. belum per-nah kujumpai manusia tekebur yang begitu jumawa macam kau. berani amat melukai anak buahku? Hmm. kau pasti seorang anak ayam yang baru muncul dalam dunia persilatan sehingga tak tahu tinggi nya langit dan tebalnya bumi!" Kemudian setelah mengamati wajah Lan See giok sekali lagi. tiba-tiba ia menjerit." Segulung bola api kecil yang memancar kan cahaya hijau. "Jika kulihat dari gerak serangan-mu yang hebat. Sebetulnya Tok Nio-cu berniat mengalah dengan harapan Lan See giok bisa mencari alasan untuk menyudahi persoalan tersebut. namun diapun dapat melihat de-ngan jelas bahwa peluru api beracun itu bu-kan ditujukan ke arahnya.353 Sambil tertawa dingin. ayo cepat kau sebut kan nama gurumu dan asal perguruanmu. diiringi suara mendesis yang keras dan memancarkan asap merah kehitam hitaman." "Anak muda yang tak tahu diri." Lan See-giok tertawa tergelak.. .. Tok Nio-cu sendiri yang menjadi pucat melihat sikap lawannya." "Kalau tidak mau apa kau?" jengek Lan See giok dengan nada yang amat sinis.haah. Tiba-tiba dia mengayunkan telapak tangan nya ke muka. Siapa tahu.. me-mandang di atas hubungan kita dimasa lalu aku bersedia melepaskan dirimu dan menyudahi persoalan sampai disini saja. bila ada hubungannya dengan kami.. anak muda itu justru lebih berani lagi. itulah sebabnya ia tetap tidak berkutik. "Eeeh. "biar aku masih muda. semestinya kau berasal dari pergu-ruan kenamaan. .

beberapa puluh percikan bunga api toh sempat memercik ke atas jubah birunya. Peluru beracun itu sudah melesat lewat duri samping Lan See giok dan langsung me-nerjang ke atas daun jendela. tibatiba suasana dalam ruang loteng itu menjadi kalut. percikan bunga api yang jatuh di baju birunya itu tabu-tahu saja ron-tok semua ke atas tanah. pemuda itu menghimpun tenaga Hud -kongsin-kangnya lalu diiringi bentakan keras. Pucat pias Tok Nio-cu melihat kejadian ini. ternyata jilatan api telah membakar daun jendela yang dengan segera menjalar ke mana-mana. apa yang terlihat membuatnya amat terkejut. Tanpa berpikir panjang lagi. bersamaan itu pula dia mengangkat ujung bajunya untuk melindungi muka. Rupanya dalam suasana gugup tadi. ujung baju kanannya dikebutkan ke arah jendela dengan ilmu ujung baju baja menggapai angkasa semacam ilmu kebasan yang sangat hebat "Weess!" Asap tebal berputar di angkasa. hari ini aku bersedia memberi sebuah ke-sempatan kepadamu untuk menyesali ulah dan tingkah lakumu . Suatu kejadian aneh tiba-tiba saja berlang-sung di depan mata. saking terkejutnya untuk sesaat dia sampai berdiri tertegun. otomatis niatnya untuk memberi pelajaran kepada Tok Nio-cu pun ikut lenyap. sementara dia bermaksud un-tuk turun tangan memberi hukuman pada Tok Nio-cu. percikan api yang menjilat gedung seketika padam se-mua. sedangkan dua orang lelaki kekar lainnya semenjak tadi sudah berdiri bodoh. Sambil menatap wajah perempuan itu. Cepat-cepat pemuda itu mendongakkan kepalanya. Anak muda tersebut sangat terkejut. Lan See-giok telah mendemonstrasikan kelihaian ilmu silatnya.354 Belum habis dia berseru. pemuda itu merasa menyesal sekali. sedang pakaiannya tidak mengalami cedera barang sedikibtpun juga. kebakaran besar mengancam gedung tersebut. "Blaammm!" Asap belerang dan gulungan api segera muncrat ke mana-mana dan memercik ke atas tubuh Lan See-giok. "Mengingat kau adalah seorang wanita. setelah kejadian. ka-tanya kemudian dengan suara dalam. cepat-cepat din melompat mundur ke belakang. Daljam hati kecilnyga See-giok tahub apa yang telah terjadi. jeritan kaget berge-ma dari mana-mana. Sekalipun begitu.

Namun sebagai seorang jagoan ybang sudah berpejngalaman dalam gdunia persilatabn. kalau toh siauhiap akan segera berkunjung ke benteng kami. dia sama sekali tidak mengira kalau pemuda tampan berilmu silat tinggi ini me-mang khusus datang ke Pek ho cay untuk mencari gara-gara. de-ngan cepat wanita tersebut berhasil mengen-dalikan perasaan sendiri. "Aaah. setelah dibuang ke atas meja. dengan demikian aku pasti dapat mengawasi gerak gerik Gui Pak ciang--. "Boleh aku tahu berapa jauh letak Pek hoo cay dari sini? Dan aku harus lewat mana?" Mendapat pertanyaan itu. semua orang segera berebut menjawab. Mendadak satu ingatan melintas di dalam benak Lan See giok sepeninggal Tok Nio-cu sekalian. Buru-buru dia membalikkan badan dan melayang turun dari ruang loteng itu. mengapa kubiarkan mereka pulang ke Pek ho cay lebih dulu? Bila Gui Pak ciang berusaha menghin-darkan diri dari pertemuannya denganku. ayo cepat keluarkan uang untuk membayar kerugian yang diderita rumah makan ini. ." Belum habis dia berpikir. baiklah siauli berangkat selangkah lebih dulu. mereka segera mengikuti di belakang Tok Nio cu dan berlalu dari situ. kalau bisa tiba di tempat tujuan sebelum Tok Nio-cu tiba di situ. segera tanyanya. Lan See giok sama sekali tidak berniat untuk melayani orang-orang tersebut. bukankah hal tersebut akan menghambat usahaku untuk menyelidiki pembunuh ayah-ku yang sesungguhnya---" Kemudian dia pun berpikir lebih jauh. "Pesan dari siauhiap tentu akan siauli lak-sanakan dengan baik. pemilik rumah makan dan para tamu lainnya sudah berbondong bondong menghampiri nya sembari menyatakan terima kasih. para pelayan. "Yaa. Bila ditinjau dari kemampuan yang di-miliki semula tersebut. bahwa aku ada urusan khusus datang kemari untuk minta petunjuknya. agaknya hasil jerih payah Gui Pak-ciang selama banyak tahun sudah terancam kebangkrutan. . aku akan segera me-nyu-sul Air muka Tok Nio-cu sekali lagi berubah hebat. bodoh amat aku ini. Dua orang lelaki kekar lainnya cepat-cepat merogoh kantung mengeluarkan empat tahil perak. kemudian cepat pulang ke Pek ho cay dan sampaikan kepada Toya baja berkaki tunggul Gui Pak ciang. Kalian bo-leh berangkat dulu.355 selama ini. aku harus berangkat sekarang juga. jawabnya kemu-dian dengan suara dingin.

dimuka benteng terdapat sebuah hutan siong yang sangat luas. Lan See-giok tak berani bertindak gegabah. dengan pandangan mata yang cermat dan pendengaran yang tajam diperiksa dulu sekeliling tempat itu. Setelah meninggralkan rumah makzan Lan See-giokw menentukan ararhnya kemudian sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya bergerak menuju ke barat. Dia baru meneruskan perjalanannya memasuki hutan tersebut. Dalam sekali kelebatan saja. Suasana dalam hutan itu cukup hening lagi gelap gulita. Hutan pohon siong itu mencapai ratusan kaki. Jarak sejauh tujuh-delapan li ditempuh dalam waktu yang amat singkat. sedang di sisi kiri. pada ujung jalan itulah terletak pintu gerbang benteng yang tingginya mencapai puluhan kaki: . namun ia tak nampak Tok Nio-cu berenam menyusul dirinya. di ujung hutan adalah sebuah gundu-kan tanah serta sebuah jalan beralas batu yang menanjak ke atas. kemudian dengan lang-kah cepat berjalan menuju ke belakang jendela. sawah dan ladang terbentang luas. kanan dan belakang-nya di batasi oleh tanggul sungai. cepat dia mengeluarkan sekeping uang perak diletakkan di meja. bisa jadi mereka sedang mencari kuda-kuda mereka yang lari ketakutan serta merawat setiap anak buah-nya yang terluka. maka tanpa terasa dia percepat larinya menuju ke depan. Sepanjang jalan Lan See-giok beberapa kali berpaling. Setelah ke luar dari kota. yang terdengar hanya suara ranting yang terhembus angin serta suara air yang mengalir. Lan See giok ingin sekali secepatnya berangkat ke situ. setelah tidak menjum-pai sesuatu yang mencurigakan. bahkan lama lamat terdengar juga suara pohon siong yang di hembus angin serta suara air yang mengalir di selokan. Lan See giok tahu cahaya lampu yang muncul di depan sana sudah pasti benteng Pek-hoo cay. ia mulai menangkap beberapa titik cahaya lentera di kejauhan sana. di tepi jalan masih tersisa pula tumpukan salju yang belum melumer. kurang lebih sembilan li dari sini. bagaimana keadaan di dalamnya jarang sekali diketahui oleh orang luar!" Dalam keadaan demikian. Setelah menempuh perjalanan beberapa li. kini Lan See-giok sudah berada dalam hutan pohon siong yang cukup lebat. bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. kesemuanya itu mendatang-kan perasaan tak tenang bagi siapa pun yang mendengarnya.356 "Pek-hoo-cay terletak diarah barat.

dia tidak menyangka kalau jejaknya telah diketahui musuh dengan begitu cepat. Tak heran kalau suasana di sekeliling tem-pat itu segera berubah menjadi amat kacau. Anak panah tersebut dengan cepat me-nyambar lewat dari atas kepalanya dan ron-tok beberapa kaki di belakangnya. Lan See giok sangat terkejut. Lan See giok tak berani bertindak secara gegabah. tentu saja ia tak ber-mi-nat sama sekali untuk -melayani orang-orang tersebut.. sedemikian tingginya sehingga seseorang dengan ilmu meringankan tubuh yang sempurna pun ja-ngan harap dapat melampauinya.. . hampir saja ia ter-jerumus ke bawah benteng. seorang pemanah yang ber-diri tak jauh dari situ telah membentak keras. dia telah meluncur ke muka dan tanpa menghentikan gerakannya ia langsung melejit ke tengah udara--Baru saja badannya hampir mencapai dinding benteng. Dalam keadaan begini. sebelum anak panah tersebut mencapai sasa-ran. sapuan dari lelaki berbusur itu menjadi mengenai sasaran ko-song. Menyusul kemudian beberapa kali desiran angin tajam berhamburan dari arah benteng menuju ke arahnya.357 Batas pagar benteng terbentuk dari batang pohon yang besar lagi tinggi. Lan See-giok tidak ingin kehadiran di situ diketahui musuh kelewat dini.. sayang sekali kedatangan mereka terlambat. Dengan gerakannya itu. Rekan rekannya yang menjumpai bhal itu serentajk membentak margah dan bersama bsama datang memberi bantuan. serta merta dia percepat gerakan tubuhnya untuk lewat ke muka. mungkin karena menggunakan tenaga kelewat keras. tatkala orang-orang itu sampai di tempat kejadian. Tujuan dari kedatangan Lan See-giok kali ini adalah menemukan si toya besi berkaki tunggal secepatnya.. dengan ber-hati hati sekali dia meninggalkan jalan raya yang lebar dan menyusup ke sisi kanan dinding benteng: Disaat tubuhnya sedang menerjang ke muka dengan kecepatan bagaikan kilat itu lah--"Sreeet!" Mendadak sebatang anak panah dibidikkan ke arahnya disertai tenaga sam-baran yang sangat kuat. bayangan musuh telah hilang lenyap tak berbe-kas. kemudian dengan busurnya orang itu menyerang secara ganas dan bengis . bagaikan segulung asap ringan dia meluncur ke muka. Tidak membuang banyak waktu. tubuhnya kembali-melejit ke muka dan meluncur se-jauh beberapa kaki ke depan..

bentuknya mirip sekali dengan sebuah balai pertemuan. Lan See-giok yang berada ditengah udara sama sekali tidak menghenti-kan gerakan tubuhnya. Tanpa membuang waktu lagi. bisa diduga kalau. beberapa kaki dari posisi semula. orang itu tak lain adalah Gui Pak-ciang.. pemuda itu menangkap cahaya lentera yang amat terang muncul dari sebuah gedung di depan situ. jumlah mereka semua hampir mencapai dua tiga puluhan orang. Sementara itu. apalagi se-telah mengetahui bahwa pendatang cuma seorang pemuda baju biru yang berwajah tampan. semuanya teratur rapi dan bersih sekali Puluhan kaki kemudian. dari kilatan matanya yang menggidikkan serta tongkat digenggamnya. si toya baja berkaki tunggal Gui Pak-ciang telah berhasil menguasai perasaan sendiri. bermuka persegi beralis tebal dan sepasang mata yang bagaikan mata seekor ayam jago. Kehadirannya yang sangat tiba-tiba dan di luar dugaan tersebut segera membuat para hadirin tertegun. dengan gerakan naga bermain ditengah angkasa. bangunan itu sangat besar dan paling megah. beralis tebal. Dengan langkah tubuh yang berhati hati Lan See giok mendekati bangunan itu. ia semakin tidak memikirkannya di dalam hati. Kakek berjubah hijau yang berdbiri di sisi Guij Pak-ciang memigliki wajah yangb bengis.. dapat diduga orang ini merupakan seorang nenek yang su-kar dihadapi. ia seorang manusia berhati licik. menu-rut perkiraannya. Sebagai tuan rumah yang duduk dikursi utama adalah seorang kakek berambut putih. ia meluncur lebih ke atas wuwungan rumah. anak muda itu segera melayang turun ke tengah ruangan tersebut. bermata besar dan membawa sebuah toya besi yang berat sekali. . dari sorot matanya yang tajam sewaktu mengawasi Lan See-giok. kemudian ujung kakinya kem-bali menjejak tanah dengan cepat ia melun-cur lebih ke depan. mata ikan dan alis mata tumpul. air muka mereka hebat sekali. Sepanjang jalan yang terlihat hanya ba-ngunan rumah yang berlapis. Lan See giok mengawasi semua orang yang berada dalam ruangan dengan cepat. dari atas wuwungan rumah ia dapat melihat ba-nyak orang sedang berkumpul di dalam ru-angan tersebut. kemudian kecuali Gui Pak ciang beserta seorang kakek berjubah hijau dan seorang nenek berbaju abu-abu.358 Sementara itu. Sebaliknya si nenek berbaju hijau yang telah ubanan rambutnya.

bila kedatanganku sangat di luar dugaan. ditambah pula dengan sikap sombongnya sekarang. Lan See giok lantas teringat kembali akan perlakuan orang itu terhadap dirinya ketika masih berada dalam kuburan kuno. Setelah termenung sejenak. Berkilat sepasang mata nenek berbaju abu-abu itu." Bertemu dengan Gui Pak-ciang. "Saudara cilik. sebab ia tahu bila pemu-da ini tidak memiliki pegangan yang kuat. pemuda itu pun berkata seraya menggelengkan kepala nya berulang kali: "Tidak usah. aku hanya ingin bertanya be-berapa patah kata saja. Namun Pemuda itu segera mengendalikan hawa amarahnya. dengan cepat dia meng-u-lapkan tangannya dan menitahkan semua orang untuk menyingkir ke samping dan memberi jalan lewat kepadanya.359 Sementara Lan See giok baru selesai me-ngawasi orang-orang yang berada di situ. Gui Pak-ciang sekalian segera merasa bahwa kedatangan pemuda berbaju biru itu nampaknya tidak berniat baik." Dari sikap pemuda tersebut. katanya kemudian: "Kalau toh ada urusan penting yang hen-dak disampaikan. tiba-tiba saja hawa amarahnya berkobar. Setelah tertawa terbahak-bahak. tak mungkin ia berani bertindak begini. harap lo-caycu jangan marah!" Gui Pak-ciang semakin tak senang hati terutama melihat sikap musuhnya yang ang-kuh dan sama sekali tidak memberi hormat kepadanya. maka ujarnya kemudian dengan suara tenang. mendadak ujarnya kepada Gui Pak ciang: . Lan See-giok memandang sekejap ke dalam ruangan. mari silahkan masuk ke dalam ruangan untuk berbincang-bincang!" Sambil berkata. datang dari mana? Ada urusan apa kau berkunjung ke mari ditengah malam begini? Silahkan kau utarakan saja secara terus terang. lebih baik ku ajukan dari sini. di situ sudah tersedia meja perja-muan yang lengkap derngan hidangan lzezat namun perjwamuan belum dimrulai. itu sedang menanti kedatangan Tok Nio-cu. bisa jadi orang-orang. namun dia sendiripun tak berani bertindak gegabah. sebagai jago-jago yang berpengalaman dalam dunia persi-latan. siapa namamu. dia ingin berusaha mencari keterangan yang banyak dari orang ini. Tongkat besi berkaki tunggal Gui Pak ciang dengan wajah hijau membesi telah menegur. "Aku Lan See giok ingin mencari tahu suatu persoalan yang amat penting dari caycu.

ia sudah cukup lama menantikan kedatangan Tok Nio-cu. Gui Pak ciang segera manggut-manggut kepada Lan See giok ujarnya kemudian de-ngan tidak sabar: "Kalau toh kau ingin mengucapkan bebe-rapa patah kata saja. Tergerak hati Lan See-giok menyaksikan hal tersebut. kemudian dengan suara dalam tegur nya: "Aku hanya ingin tahu. ini menunjukkan pula bahwa orangnya licik dan sangat berbahaya. bila dugaannya tak keliru. sebetulnya men-diang ayahku Lan Kong tay terbunuh di ta-ngan siapa? Siapakah diantara kalian lima manusia cacad yang telah melakukan per-buatan keji itu. si pukulan pasir merah To Siok se-dang kecewa karena dendam sakit hati yang kuterima tiga belas tahun berselang tak mungkin bisa menuntut balas kembali. berda-sarkan panggilan si nenek atas Gui Pak ciang. "Aku." Lan See giok mengerutkan dahinya rapat-rapat. masa kau ingin mempertontonkan kejelekan ini dihadapannya lagi?" Lan See giok segera tertawa dingin. se-baliknya. To Siok adalah tamu agung kita dari tempat jauh.360 "Pak ciang. Gui Pak ciang serta To Siok si kakek berju-bah hijau itu sudah berubah muka. hmm ----rupanya Thian memang memberi kesempatan kepadaku untuk melampiaskan-nya. si pukulan pasir merah To Siok telah me-lom-pat ke depannya. To Siok segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.-" Belum selesai ucapan tersebut diutarakan. bisa jadi nenek tersebut adalah istri tuanya. kalau begitu suruh saja ia ber-bicara secepatnya. Sementara Lan See-giok masih termenung. Gui Pak ciang nampak agak tertegun. Betul juga dugaannya. ia merasa si pukulan pasir merah To Siok pandai sekali bersandiwara. nah katakan sekarang juga. ia menegur keras. setelah berhenti tertawa seram. kemudian sambil menga-wasi pemuda itu dengan sorot mata benci. bisa jadi antara kakek berjubah hijau itu dengan ayahnya pernah terjalin hubungan permu-suhan yang sangat mendalam sekali. kakek berjubah hijau itu segera berseru dengan penuh kebencian. sedangkan yang disebut sebagai To Siok mungkin sekali adalah kakek berjubah hijau itu. ""Kau benar-benar adalah putra dari gurdi emas peluru perak Lan Khongtay ?" . atas kesempatan ini aku pasti berterima kasih kepada Lo thian ya!" Lan See-giok tertawa dingin.

kau tak usah sombong dulu. .. heeehhh. pelan-pe-lan dia mengundurkan diri dari situ. keras sebuah tendangan kilat dilancarkan menghantam belakang pinggang musuh . Gui Pak ciang..361 "Sekarang aku tak punya banyak waktu untuk berbicara denganmu. .. wajahnya berubah menjadi hijau membesi. pemuda cebol itu mende-sak maju lebih jauh. dengan cekatan dia mengegos ke samping. Lan See-giok gusar sekali. kau tidak berani mengata-kan siapa yang telah membunuh ayahku?" Toya baja berkaki tunggal Gui Pak ciang sama sekali tidak menggubris pertanyaan Lan See giok. kepada seorang lelaki cebol berwajah kuning yang berdiri di belakangnya. warna kulit yang semula putih seketika berubah menjadi merah membara. sambil mengawasi si toya besi berkaki tunggal segera bentaknya keraskeras. jika kau memang berniat membalas dendam atas sakit hati yang pernah kau terima dari ayahku dulu. bocah keparat. lihat saja nanti apakah kau masih mampu me-ninggalkan Pek hoo cay ini dalam keadaan hidup?! Sambil berkata.. ia berseru keras: "Harimau berkaki cebol. . kembali dia melancar-kan pukulan." Sebagai tamu yang datang dari jauh. gagal de-ngan serangannya. hawa murninya segera di-salurkan ke dalam telapak tangannya. Lan See-giok berkerut kening. "Heeehhh. silahkan saja kau menuntutnya kepadaku. tiba-tiba Gui Pak-clang telah berkata pula dengan suara yang berat dan dalam. "Saudara To. Lan See giok mendengus. heeehhh. Lan See giok mendengus marah. pu-kulan pasir merah To Siok merasa kurang leluasa untuk menampik maksud baik Gui Pak ciang. buat apa kau mesti terburu napsu? Untuk membunuh ayam mengapa mesti memakai pisau pembunuh kerbau? Biar siaute utus orang untuk membekuk bangsat tersebut.. "Blaammm!" . tiba-tiba dia ber-putar kencang dan menyelinap ke belakang pemuda cebol itu... tanpa banyak bicara dia menerjang ke muka Lan See giok." Sekali lagi si pukulan pasir merah To Siok mendongakkan kepalanya sambil tertawa seram. diiringi bentakan. tangan kirinya menggapai semen-tara kepalan kanannya langsung menjotos ulu hati lawan.. namun sebelum ia sempat berkata sesuatu. cepat kau ringkus bocah keparat she Lan itu!" Pemuda cebol itu mengiakan.. kemudian baru diserahkan kepada saudara To untuk menghukumnya. setelah tertawa angkuh.

Ditengah bentakan. Dengan suara dalam sahutnya kemudian: "Enso. ""Lan siauhiap.! " Debu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa. mustahil masalah yang dihadapi bisa diselesaikan se-cara damai. jerit kesa-kitan yang menyayat hati seperti babi mau disembelih. harap tahan dulu!" Dengan wajah tertegun Lan See giok ber-paling. Betapa gusarnya Lan See-giok melihat tingkah laku nenek berbaju abu-abu itu. bergema di seluruh ruangan tubuhnya yang cebol tahu-tahu sudah mencelat ke luar dari ruangan dan meluncur ke dinding bangunan seberang. tentu saja si pukulan pasir merah To Siok tidak memandang sebelah matapun ter-hadap Lan See giok..362 Diiringi suara benturan keras. kalau ingin membalas dendam. se-mentara ia bersiap sedia melancarkan sera-ngan. karenanya kepada si pukulan pasir merah To Siok. kau mesti berhati hati!" Kemudian dia sendiri menyelinap ke bela-kang tubuh Lan See giok. "Hei. tiba-tiba dari atas rumah terdengar se-seorang berseru merdu. "Saudara To. wajah mereka berubah hebat. si nenek berbaju abu-abu itu sudah memutar toyanya menciptakan selapis bayang-an toya yang langsung mengurung batok kepala anak muda tersebut. Sementara itu. -Tergerak hati si pukulan pasir merah To Siok mendengar ucapan itu. ayo cepat turun tangan. peristiwa ini berlangsung amat cepat untuk sesaat Gui Pak-ciang. tunggu dulu! Biar aku saja yang mematahkan kaki anjing bajingan cilik ini!" tiba-tiba nenek berbaju abu-abu itu menjerit marah. tentu saja pemuda cebol itu sendiri segera jatuh tak sadarkan diri Lan See-giok cukup mengerti keadaan situasi yang dihadapinya sekarang. dia turut menerjang pula ke arah Lan See giok.. kembali dia menantang. mendengar tantangan itu. dia segera berteriak keras dan langsung menerjang ke muka. rupanya pemuda cebol itu sudah menumbuk di atas dinding bangunan sebe-rang menyebabkan sebagian dindingnya am-brol. "Blaammm. si nenek dan To Siok sampai tertegun dibuatnya. tapi pada saat itulah desingan angin tajam menyambar dari belakang kepalanya. aku sendiri memang ingin selekasnya menyelesaikan persengke-taanmu dengan mendiang ayahku dulu" Sebagai seorang jago kawakan yang cukup termasyhur namanya di dalam dunia persi-latan. toya . bersamaan waktunya si nenek berbaju abu--abu itu juga membentak keras. mendadak tim-bul niat jahat dihati kecilnya.

tak . suatu gerakan sakti dari tujuh gerakan naga harimau. Ketika Lan See-giok berpaling. Gui Pak-ciang dan Tok Nio-cu sekalian yang berusaha menolongpun jadi terlambat se-langkah.. d tambah lagi jarak diantara mereka begitu dekat.. Diiringi jeritan lengking yang memilukan hati. Berhasil membunuh nenek tersebut. Untung saja Lan See-giok tidak menjadi panik.. cepat-cepat ia berusaha membantu si pukulan pasir merah To Sio! untuk bangkit dari genangan darah . kemudian sambil menjerit kaget ia buang toya nya ke atas tanah. sudah terhajar oleh sapuan toya baja si nenek berbaju abu-abu sehingga hancur tak karuan. Tatkala sadar bahwa serangannya me-n-genai sasaran yang keliru. lalu isi benak nampak berceceran dimana mana.. tiba-tiba saja si pukulan pasir merah To Siok me-lejit ke udara dan menumbukkan kepala nya ke atas lantai.. nenek berbaju abu-abu itu tewas se-ketika.363 bajanya mendadak berubah arah menyapu lutut musuh dengan gerakan secepat kilat.. Tiba-tiba saja terdengar suara bentrokan yang amat keras disusul suara jerit kesakitan yang sangat memilukan hati. Pada saat itulah dari atas atap rumah me-layang turun sesosok bayangan manusia. "Plaaakkk!" Suara retakan yang sangat keras bergema diangkasa.. sambil membentak keras ia keluarkan gerakan naga sakti melambung ke udara. ternyata sepasang kaki si pukulan pasir merah To Siok yang sedang melancarkan sergapan licik dari belakang itu. sambil memben-tak keras tiba-tiba saja telapak tangan kanannya yang berwarna merah darah itu dibacokkan ke atas thian-leng hiat di ubun-ubun si nenek berbaju abu-abu. Keadaan menjadi kritis dan berbahaya sekali. dia tak lain adalah Tok Nio-cu yang baru saja menyusul pulang. tulang dan darah berham-buran menyelimuti seluruh permukaan tanah. dengan gerakan secepat sambaran petir dia melejit ke atas atap rumah.. Sedangkan Gui Pak-ciang sekalian yang menyaksikan peristiwa tersebut menjadi panik dan buru turun semua ke gelanggang. Berkilat sinar bengis dari balik mata pu-kulan pasir merah To Siok. si nenek berbaju abu-abu itu nampak tertegun dan berdiri mematung.. Dengan wajah pucat pias dan peluh dingin jatuh bercucuran. Mendadak. Peristiwa ini berlangsung sangat tiba-tiba dan sama sekali di luar dugaan.

Ujung baju terhembus angin bergema me-mecahkan keheningan.. Sambil melepaskan cekalannya pada per-gelangan tangan Gui Pak-ciang. "Bocah keparat. saat tersebut tanpa terasa ia berseru tertahan dan mengalihkan pandangannya yang kaget ke wajah Lan See giok dua kaki dihadapannya. toh masih termasuk seorang jago kawakan dalam dunia persilatan.."" Belum habis ia berseru. Seketika gerak maju Gui Pak ciang terhen-ti... Gui Pak ciang yang melihat hat tersebut segera membentak keras. "Pak ciang!" terdengar Tok Nio-cu berkata dengan gelisah.. aku akan beradu jiwa denganmu!" Bagaikan seekor harimau gila. tubuhnya telah menubruk ke muka dan mencengkeram per-gelangan tangan Gui Pak ciang. dengan pandangan tak habis mengerti ia menengok kearah gundik kesayangannya itu.364 ampun kepalanya hancur seketika dan jiwanya turut melayang meninggalkan raganya. Sementara berbicara. masa kau tidak da-pat melihat bahwa ilmu si1at Lan siauhiap telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa. kau bukan tandingan dari Lan siauhiap. kalau dihitung-hitung kau. dengan suatu gera-kan yang ringan Lan See giok melayang turun ke atas tanah. dia masih tetap menggenggam pergelangan tangan kanan Gui Pak ciang erat-erat. Di hari-hari biasa Gui Pak ciang memang paling menyayangi Tok Nio-cu serta menuruti semua perkataannya. dia men-dorong beberapa orang yang berdiri di seki-tarnya dan sambil mengayunkan toya me-nyerbu ke hadapan Lan See giok. tanpa terasa dia mengalihkan pandangan matanya ke atas . "Pak-ciang. kembali Tok nio-cu berkata. sementara sorot matanya penuh dengan tanda tanya: Lan See giok sendiripun turut tertegun melihat tindak tanduk dari Tok Niocu itu. Tok Nio-cu sangat terkejut melihat ke kala-pan orang. cegahnya tanpa terasa: "Pak ciang. Gui Pak ciang serta Tok Nio-cu hanya bisa berdiri melongo menghadapi perubahan yang berlangsung secara tiba-tiba itu.. "tenangkan dahulu pikiran-mu. jangan. dimana panas dingin tak akan mempengaruhi tubuhnya menyerang dengan menurut kemauban pikirannya?"j Menggigil kergas sekujur badabn Gui Pak -ciang setelah mendengar ucapan itu.

. Gui Pak-ciang dan Tok Nio-cu mengi-ringi Lan See-giok masuk ke dalam ruangan. Dalam pada itu. sementara toya besinya pelanpelan di turunkan kembali ke bawah: Tok Nio-cu mengerling sekejap ke arah Lan See giok. Setelah perjamuan diselenggarakan.. mesti tidak diketahui olehnya apakah Tok Nio-cu mempunyai rencana lain dibalik kesemuanya ini. de-ngan tak sabar Lan See giok segera berkata: "Lo cay-cu. dengan diiringi kata-kata me-rendah. namun demi sakit hati ayahnya dia tak ingin memperdulikan hal-hal semacam itu." .. ada diantara mereka yang justru berdiri di depan jenazah pukulan pasir merah dan si nenek berbaju abu-abu guna menghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan." Dengan cepat Gui Pak ciang berhasil me-ngendalikan perasaan cepat dia mengangguk berulang kali kemudian sambil menjura ka-tanya: "Lan siauhiap. mengapa kau tidak mempersilahkan Lan siauhiap masuk ke dalam ruangan . sekarang kuharap bkau suka menjeljaskan kepadaku gsiapakah pembunbuh sebenarnya yang telah menghabisi nyawa mendiang ayahku? Dengan bantuanmu." Begitulah. "cuma dengan berbuat begitu ke-hadiranku tentu akan mengganggu kalian berdua.365 pakaian tipis yang dikenakan pemuda itu. sebelum pemuda itu menyelesai-kan kata katanya. silahkan masuk dan me-ngambil tempat duduk!" "Maksud baik caycu dan hujin biar kute-rima di dalam hati saja . kemudian katanya lebih jauh: "Lan siauhiap ada urusan yang khusus hendak ditanyakan kepadamu. bila sampai hal tersebut menyebabkan hal yang tidak di-inginkan. aku harap bisa selekasnya membalaskan dendam bagi kematian ayahku sehingga arwah nya di alam baka pun bisa secepatnya memperoleh ketenangan. bukankah berabe jadinya? Aku rasa lebih baik kita bicarakan secara seksa-ma dan mendalam saja!" Lan See giok menganggap perkataan tersebut memang ada benarnya juga. "Perkataan hujin memang benar. sedangkan kedua puluhan lelaki kekar itu sama-sama berkum-pul di sekitar arena." katanya kemudian." tampik Lan See giok cepat. Tok nio-cu kembali me-nyela: "Mana mungkin masalah besar yang penting artinya bisa di selesaikan dengan dua tiga patah kata saja? Apalagi pembicaraan secara tergesagesa. ke tujuh-delapan orang dayang sudah menyembunyikan diri ke balik ruangan dengan ketakutan. akan menyebabkan ba-nyak masalah yang tertinggal.

" Melihat rasa menyesal yang meliputi wajah Gui Pak-ciang. kemudian setelah menghela napas sedih ia berkata: "Walaupun aku merupakan salah satu di antara lima orang yang menguntit ayahmu namun sesungguhnya aku sendiripun tak tahu sebetulnya ayahmu tewas di tangan siapa. perasaan tak puas yang su-dah lama tersimpan dalam benak Lan See-giok pun segera hilang lenyap tak berbe-kas. "Dendam sakit hati terbunuhnya ayahku jauh lebih berat ketimbang sedikit siksaan dan penderitaan dibadan" katanya kemudian "bila lo-caycu bersedia menerangkan kepadaku siapa pembunuh sebetulnya." Secara diam-diam Lan See giok mengamati wajah Gui Pak ciang dengan seksama kemu-dian dikombinasikan pula dengan dugaan sendiri. "Waktu itu aku benar-benar tidak tahu kalau Lan siauhiap belum mati. sebab pada malam itu lo-caycu juga pernah menggeledah seluruh tubuhku dengan toya besimu. mendiang ibuku hanya melahirkan aku seorang" Perasaan tak tenang segera menyelimuti perasaan Gui Pak ciang. itulah sebabnya aku sampai melakukarn perbuatan bodzoh yang sangat wmenggelikan. tanyanya kemudian dengan nada tak habis mengerti: "Jadi si bocah yang menggeletak mati di lantai adalah adik kandungmu?" "Tidak. itulah sebabnya aku sengaja datang kemari untuk mohon petunjuk dari Lo caycu. Menghadapi pertanyaan tersebut. aku memang tak pernah mencurigai lo caycu sebagai pembunuh ayahku. katanya kemudian dengan wajah menyesal. kurharap siauhiap sudi melupakan kesalahanku dima-sa lampau. si toya besi berkaki tunggal Gui Pak ciang hanya termangu-mangu untuk beberapa saat lama nya. dalam geli-sah dan gusarku.366 Ketika mengucapkan kata-kata tersebut ia seperti tak bisa menahan rasa pedih dalam hatinya lagi. meski kau hanya sebagai manusia kedua!" Berubah hebat paras muka Gui Pak ciang setelah mendengar ucapan tersebut tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan mengawasi wajah Lan See giok dengan perasaan terkejut. bu-kan cuma arwah ayah dialam baka akan ber-gembira akupun tak akan pernah melupakan budi kebaikan lo caycu " . aku sangat berharap bisa muncul suatu keajaiban didepanku. maka katanya kemudian sambil manggut-manggut: "Yaa. air mata segera mengembang dalam kelopak matanya. sekalipun begitu aku berani bersum-pah kepada langit bahwa kematian ayahmu bukan disebabkan oleh perbuatanku.

kebetulan sekali aku baru pu-lang dari berpergian. kuharap lo-caycu bersedia memberi penjelasan. Tok Nio-cu yang melihat kesulitan suaminya segera menimbrung dengan cepat. daripada orang lain menaruh curiga terus kepadamu. Karenanya pemuda itu lantas mengangguk sambil ujarnya: Baiklah kalau begitu aku ingin lo-caycu menjelaskan apa sebabnya kalian. terus terang saja kukatakan bahwa banyak persoalan yang tak mungkin bisa ku jelaskan secara leluasa. Itu pula sebagai alasanku me-ngapa datang kemari hari ini. itulah sebab nya tidak kuketahui siapakah pembunuh sebenarnya. silahkan saja di sampaikan. sudahsepantas-nya bila kau memberi tahukan hal yang se-benarnya kepada Lan Siauhiap. bagi mereka kepala boleh dipenggal. tanpa terasa dia melirik sekejap ke arahnya dengan pandangan berterima kasih.. namun janji tetap janji dan sekali berjanji tak pernah akan diingkari kembali. berlima yang masing-masing menjagoi wilayah yang berbeda. darah boleh mengalir. "Pak-ciang. kalau toh kau berada di luar garis dalam persoalan itu. tapi bila Lan siauhiap ingin meng-ajukan suatu pertanyaan. bila dendam ini bisa kubalas budi kebaikanmu tak akan pernah kulupakan . "Bukankah waktu itu siauhiap hadir di arena? Masa kau tidak tahu siapa pembunuh sebenarnya?" "Waktu itu. begitu ku jumpai men-diang ayahku tewas. dia menjadi ragu dan tampaknya seperti ada se-suatu masalah yang tak bisa dijelaskan olehnya. saking sedihnya aku lantas jatuh pingsan.. kemudian tanyanya dengan perasaan tak mengerti. ia seperti teringat akan sesuatu. apakah sebelum kejadian kalian telah berhasil mendapat tahu alamat ayahku?! . kemudian katanya pelan: "Untuk tetap memegang janji. asal aku tahu pasti akan ku-jawab seluruhnya. Gui Pak-ciang termenung beberapa saat lamanya. entah bagaimana penda-pat Siauhiap?" "Lan See giok cukup mengetahui watak umat persilatan yang sangat memegang janji.."! Lan See-giok segera mendapatkan kesan bahwa Tok Nio-cu meski berwajah genit dan berjulukan tak sedap." Di atas wajah Gui Pak-ciang segera menunjukkan perasaan serba salah.367 Gui Pak ciang berkerut kening. sesungguhnya ia ber-hati baik dan pandai memahami perasaan orang.. ternyata pada malam yang sama telah muncul semua di tepi telaga Phoa-yang--oh.

. "HAAAAAAHHHHH.masing sepuluh tahun kami tak pernah beristirahat namun kamipun tak pernah berhasil me-ne-mukan sesuatu jejakpun. bukankah saat ini semua rambut Hu-yong siancu telah berubah menjadi putih?" . "Kalau menurut keteranganmu.. ia berkata lebih jauh. haaahhh. Tok Nio-cu menjadi sangat cemburu sete-lah mendengar suaminya memuji muji ke-cantikan wajah Hu-yong siancu. ada orang yang secara diam-diam telah melihat Hu--yong siancu muncul ditengah sebuah hutan lebih kurang dua puluh li di sebelah barat telaga phoa-yang-oh.. menurut pandangannya bibi wan paling banter baru berusia dua puluh enam tujuh tahunan dan tak bakal melewati tiga puluh tahun. kemudian ia baru menjawab lirih: "Kami berlima dari tiga telaga telah berte-kad untuk mencari barang yang hilang terse-but sampai ketemu." Kembali dia meneguk habis secawan arak untuk melampiaskan gejolak emosi di dalam hatinya. lalu serunya dengan nada serius: "Kelihaian ilmu silat Hu-yong siancu dan kecekatannya dalam menghadapi setiap per-soalan. aku sengaja hendak mengu-capkan kata-kata yang tidak menyenangkan hatimu. waktu itu kau masih seorang budak ingusan yang tak tahu urusan!" Diam-diam Lan See giok terkejut. "Menjelang tahun ke sembilan. segera dia bertanya: "Kalau toh Hu-yong siancu amat cantik hingga termasyhur dikolong langit. tapi kalau mendengar dari perkataan Gui Pak ciang. Cui-peng bukan." Tiba-tiba ia menatap wajah Tok Nio-cu dan Lan See-giok sekalian. haaahhh. biajr si makhluk begr-tanduk tunggabl yang kesohor karena kecer-dasannyapun belum tentu bisa menguntit di belakang Huyong siancu serta menyelidiki tempat tinggalnya. jangan lagi orang yang melihatnya cuma se-orang mata-bmata biasa. pada hakekatnya sama ter-masyhurnya dengan kecantikan wajahnya... lalu setelah memandang ke tempat kejauhan sana. selain itu kamipun berjanji setiap tahun bertemu dua kali untuk mela-porkan hasil penyelidikan masing. mengapa aku tak pernah mengetahuinya selama ini? Gui Pak ciang segera tertawa terbahak ba-hak.368 Gui Pak ciang meneguk habis secawan arak. sesungguhnya disaat kecantikan Hu-yong siancu termasyhur dalam dunia persi-latan. bukankah bibi wan nya sudah mendekati usia empat puluh tahun? Sementara dia masih termenung. untuk itu kami telah mencari jejak ayahmu dan Hu-yong siancu di mana-mana.. Tok Nio-cu dengan wajah merah jengah telah berta-nya lagi.

haaahhh. kebanyakan mereka masih dapat mempertahankan kecantikan wajahnya tetap awet muda.. diapun segera menjawab dengan wajah bersungguh sungguh.. tiba-tiba saja matanya memancarkan sinar berkilat. Melihat semua orang terbungkam untuk sesaat. "Lalu dengan cara apa Lo caycu sekalian berhasil menemukan kuburan tempat tinggal ayahku?" tanya pemuda itu tak habis mengerti. karena kuatir duduknya persoalan akan kabur dari maksud tujuan kedatangannya juga gagal total. minggu berikut-nya kembali gagal-... Lan See giok sendiripun ingin sekali mengetahui sampai dimanakah hubungan dari ayahnya dengan Hu-yong siancu dimasa lampau." Sementara itu. ia jadi terbungkam dalam seribu bahasa karena terkejut. maka hasil perundingan memutuskan akan mengadakan pencarian secara besar besaran di wilayah hutan dan bukit kecil di seputar barat telaga Phoa yang Oh. kemudian berkata: . . dia pun segera berkata lagi: "Apakah orang yang pertama kali men-jum-pai jejak Hu-yong siancu tersebut ber-hasil menguntit sampai di tempat kediaman Han lihiap?" Sampai sekarang Gui Pak ciang masih be-lum mengetahui apakah hubungan dari Lan See giok dengan Hu-yong siancu. Tok Nio-cu yangb melihat si-narj mata Lan See ggiok yang begitub tajam seperti sembilu. Minggu pertama gagal. "Pokoknya usia. Dengan cepat Gui Pak ciang menyadari akan kekhilafan sendiri sambil tertawa ter-gelak dan wajah memerah katanya kemu-dian. "Apa kau anggap gampang untuk mengejar perempuan itu? Tampaknya Hu-yong siancu sendiripun sudah merasa kalau jejaknya se-dang di ikuti orang. mendengar pertanyaan itu. Berbicara yang sebenarnya... . empat puluh tahunan .369 "Bagi mereka yang memiliki tenaga dalam sempurna. tapi mungkin juga sudah tiga puluh sem-bi-lan. dia tak ingin mem-bong-kar masalah tersebut lebih jauh.... "Setelah kejadian.. Gui Pak ciang menghela napas panjang. haaahhh . kami semua memperoleh laporan tersebut. Hu-yong siancu saat ini paling tidak sudah mencapai tiga puluh tujuh delapan tahun." Lan See giok merasakan hatinya bergetar keras. Namun sekarang. berbicara ketika Hu-yong siancu termasyhur dan sedang hangat hangatnya ber-main asmara dengan Lan Khong tay. dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dia lantas menerobos masuk ke dalam hutan dan le-nyap dalam waktu singkat.

tanpa sengaja telah melihat ada sesosok bayangan manusia yang bergerak cepat ke depan. tapi aku segera menemukan pintu belakang sebuah kuburan besar terbuka lebar. kuatir kalau pintu itu akan tutup dengan segera. puluhan li kemudian kusaksikan di arah barat laut muncul kembali sesosok bayangan manusia yang bergerak cepat. Setelah menarik napas panjang." Melihat Gui Pak -ciang telah berbicara sampai ke masalah yang amat diperhatikan olehnya. hanya saja berhubung jaraknya amat jauh hingga tidak kuketahui siapakah dia. sampailah dimuka kuburan Leng ong-bong. waktu itu kentongan per-tama baru menjelang. bayangan tadi tahu-tahu sudah hilang lenyap. ketika aku mengejar lebih ke utara.370 "Kalau dibicarakan yang sebenarnya. keadaannya wamat mencuriga-rkan. maka tanpa memperdulikan ancaman bahaya 1agi. Sebaliknya Tok Nio-cu seperti tidak tertarik sama sekali atas persoalan tersebut namun ia toh berlagak seakan-akan ikut mendengar-kan dengan seksama meski matanya yang jeli tiada hentinya mengawasi wajah Lan See-giok dengan lembut. bayangan itu sering kali berhenti sebentar sambil celingukran ke-sana kemazri. aku segera menerjang masuk!" . menanti aku menyusul ke situ. . mungkin ia kesal karena tak berhasil mendapatkan kotak kecil itu atau mungkin juga merasa menyesal karena datang terlambat. "Waktu itu tergerak hatiku dan segera me-lakukan pengejaran. Ini se-mua membuat aku sadar bahwa sesuatu ke-jadian pasti berlangsung di sana. sewaktu aku melewati daerah yang berhutan lebat itu. wajahnya selain nam-pak murung juga mendongkol. alhasil kulihat orang itu memasuki sebuah hutan yang lebat. akupun berhenti sambil mengamati orang tadi lebih seksama. orang itu seperti lagi bergerak menuju ke kuburan-Leng ong bong. akhirnya baru kuketahui kalau orang itu bukan orang yang pertama kali tadi. ia berkata lebih jauh. kalau di tanah peku-buran yang sudah terbengkalai itu terdapat rumah tinggal manusia hidup. Terdengar Gui Pak-ciang bercerita lebih jauh: "Aku tidak percaya.. bila dilihat dari arah tujuannya. hal ini merupakan suatu kejadian yang sangat kebetulan sekali. namun aku toh mengejarnya juga. udara gelap dan awan sangat tebal." Ia berhenti sejenak. "Menanti aku menyusul ke kuburan Leng ong bong orang itupun tak kutemukan lagi. karena itu kulanjutkan pengejaran ke utara. ini membuat hatiku bertambah curiga. ia pun memasang telinga sambil mendengarkan dengan seksama.

sebenarnya kalian masuk ke dalam kuburan lewat mana? Sudah banyak tahun aku berdiam di kuburan itu. tanpa terasa tanyanya dengan cemas: "Lo caycu. Ya. hingga kinipun aku masih curiga. sekarang aku baru ingat. ada orabng yang telah mjembuka pintu magsuk baru sebelubm peristiwa itu terjadi?" `Benar" Gui Pak-ciang mengangguk beru-lang kali." Lan See-giok merasakan tubuhnya bergetar keras. dan katakata selanjutnya tak mampu dilanjutkan lagi. siapa gerangan yang telah membuka pintu ke luar itu?" Lan See giok terkejut sekali. setelah kususul sampai di luar kuburan barulah kuketahui bahwa orang itu adalah Kiong Tek ciong. dia menengok kearah Lan See giok dengan permintaan maaf.. rasanya tidak melalui tempat di mana aku roboh?" Gui Pak ciang pun merasa terkejut.. "setelah aku mengejar si beruang berlengan tunggal malam itu. dia sudah tak dapat menahan rasa sedih di dalam hati-nya lagi. cepat-cepat ia bertanya kemudian: "Jadi maksud Lo-caycu. Ketika berbicara sampai disini. namun belum juga men-jelaskan siapa pembunuh ayahnya.. hatinya menjadi gelisah.kaca.tiba dia menimbrung: "Lo caycu. Gui Pak ciang segera berkata: "Pada mulanya aku tidak mengetahui kalau dia adalah si beruang berlengan tunggal. usah bercerita lebih jauh" Lan See giok yang melihat si toya besi ber-kaki tunggal Gui Pak ciang meski sudah ber-bicara sekian lama. kuketa-hui kuburan tersebut hanya terdapat sebuah pintu masuk. dapat kulihat bahwa pintu ke luar di bawah batu nisan kuburan tersebut masih baru sekali . siauhiap alami sendiri. apakah kau tidak bertanya kepadanya dengan kesempatan yang bagaimanakah dia turun tangan terhadap mendiang ayahku. sepasang matanya segera berkaca. bukankah si beruang berlengan tunggal Kiong Tek ciong telah bersembunyi dalam lorong jauh sebelum peristiwa itu ter-jadi.. ketika kalian saling berkejaran ke luar dari kuburan ma-lam itu. . ketika jejaknya berhasil kau temukan. jadi aku pun tak. karena suasana dalam lorong sangat gelap. dia seperti teringat akan sesuatu." . tiba . ditambah pula ada pantulan sinar lentera di atas meja. dia harus melalui kuburan kosong di mana mendiang ayahku berdiam. "Ya. katanya penuh rasa menyesal. Keadaan selanjutnya telah.371 Berbicara sampai di situ. .. barang siapa hendak memasu-ki kuburan itu.

katanya. dia yakin orang yang membunuh ayahnya pasti sudah lama mengetahui jejak ayahnya. " Sementara itu Tok Nio-cu ikut menimbrung pula." Berpikir sampai disini. Sebelum Gui Pak-ciang menyelesaikan kata. ia lantas berpaling ke arah Gui Pak ciang dan bertanya dengan nada menyelidik. Berpikir demikian. "Yaa. Lan See-giok sangat setuju dengan penda-pat ini. ini menunjukkan bahwa Toan ki-tin pun tidak mengetahui letak pintu baru tersebut .. "Seharusnya hal ini sudah tak perlu dira-gukan lagi. mestinya dia bukan tandingnya Lan tay-hiap.b aku rasa bayanjgan yang di lihgat Pak-ciang mablam itu pun bisa jadi adalah Kiong Tek ciong. akupun berpendapat demikian" Gui Pak ciang mengangguk tanda menyetujui pendapat tersebut. "Bila Kiong Tek-ciong tahu kalau dia bisa kabur melalui tempat tersebut.. pembunuh ayahku yang sesungguhnya tentulah si beru-ang berlengan tunggal?" Sebelum Gui Pak-ciang sempat menjawab. "Menurut keterangan tersebut. menurut pandangan pada umum nya Kiong Tek-ciong bisa mempersiapkan pintu baru untuk memasuki lorong kuburan ini berarti dia sudah mempunyai rencana sebelumnya. "Mengapa sih makin tua kau seperti se-makin pikun? Beruang berlengan tunggal bisa menyusup masuk secara diam-diam dan bersembunyi di . berarti mulut masuk itu dibuka olehnya!" "Aaah. tapi kalau dinilai dari kemampuan ilmu silat yang dimilikinya. Tok Nio-cu telah mendengus sembari menukas. kejadian ini kembali membuatnya bingung dan merasa tidak habis mengerti. semestinya pembunuhan itu merupakan hasil karya Kiong tua.372 Sekarang Lan See-giok baru merasa terke-jut sekali... malahan membongkar pembaringan dan almari yang ada. kalau dilihat dari segala bukti yang ada. dengan nada meyakinkan Tok Nio-cu menim-brung. dia merasa semakin yakin kalau si beruang berlengan tunggal lah si pembunuh ayahnya tapi ia pun teringat kembali akan tingkah laku si setan bermata tunggal yang sama sekali tidak menggeledah jenazah ayahnya.. sebab ketika si Setan iblis ber-mata tunggal Toan ki tin memasuki kuburan terse-but dan kemudian ke luar lagi dari situ sam-bil membawa si makhluk bertanduk tunggal si Yu-ih dia tidak melalui pintu baru terse-but. sehingga segala sesuatunya dia lak-sanakan dengan rencana yang sangat rapi dan matang." Gui Pak ciang mengangguk berulang kali sambil berguman. .

masa hal seperti ini tak mungkin ia lakukan?" Gui Pang ciang segera terbungkam oleh perkataan itu. Betul lima manusia cacad dari tiga telaga terlibat semua dalam usaha melacaki jejak ayahnya. dia tak ingin mengandalkan kepandaian silatnya untuk sembarangan membunuh hingga aki-bat nya mereka yang tak bersalahpun ikut me-ngorbankan selembar jiwanya. Dari penuturan Gui Pak ciang tentang di buatnya pintu baru oleh beruang berlengan tunggal untuk melarikanr diri. tapi diapun tak ingin menyingkirkan rasa curiganya terhadap tingkah laku Setan bermata tunggal yang menggeledah pemba-ringan serta barang-barang miliknya.. . tapi kemudian ia merasa hal ini tak perlu. "Kami berdua segera bertarung begitu ber-jumpa. "Hal ini ter-gantung bagaimana penjelasan si beruang berlengan tunggal setelah berhasil disusul oleh Lo caycu. Lagi pula tujuan kedatangannya ke Pek hoo cay juga tak lain hanya ingin menyerap lebih banyak hal-hal yang mencurigakan dari beruang berlengan tunggal. Sebagai seorang pemuda yang saleh. akibatnya aku tidak menegur. Oleh sebab itu pemuda tersebut bertekad hendak menyelidiki dulu persoalan tersebut sampai jelas sebelum melakukan tindakan pembalasan. tapi diapun percaya orang yang membunuh ayahnya pasti orang lain. bagaimana menurut pendapat-mu tentang perkataanku barusan?" Lan See giok segera memusatkan kembali pikirannya seraya menjawab... sebab hanya akan mengalutkan keadaan saja hingga merugikan diri sendiri. kecurigazannya terhadap wKiong Tek ciongr memang bertambah besar. bukan cuma dirinya akan dikucilkan orang. Bila hal ini sampai dilakukan. segeramenegur sam-bil tertawa genit: "Siauhiap. . berarti dia dapat pula menyerang Lan tayhiap secara tiba-tiba. Tok Nio-cu yang menjumpai pemuda itu hanya termenung saja. dari pembica-raannya dengan Gui Pak ciang." Gui Pak ciang menggelengkan kepalanya berulang kali. . Apalagi berbincang soal jalan .373 tempat kegelapan. bukan saja bibi Wan nya tak akan senang hati. gurunya pasti marah dan bila sampai tersiar luas dalam dunia persilatan. jadi berbicara yang se-sungguhnya aku sama sekali tidak tahu de-ngan cara bagaimana si beruang berlengan tunggal bisa mendapat tahu alamat ayahmu dan bagaimana mungkin ia bisa membuka lorong rahasia tersebut. dia pun tidak bertanya. arwah ayahnya yang berada dialam baka pun akan turut menang-gung malu. Sebenarnya Lan See giok ingin mencerita-kan semua pengalamannya.

Gui Pak ciang serta ke enam orang lainnya serentak bangkit berdiri dan berusaha pula menahan pemuda itu. mengapa kau harus meninggalkan tempat ini? Apa salahnya kalau beristirahat dulu semalam. maka ia segera bangkit berdiri dan ujarnya seraya menjura: "Aku berterima kasih sekali atas sambutan dan jamuan yang diselenggarakan Lo-caycu bagi kehadiranku ini. tapi kalau dilihat dari keberhasilannya mendapat tahu bahwa si beruang berlengan tunggal menge-tahui pintu rahasia tersebut. saat ini tengah malam sudah lewat. Tok Nio-cu tahu kalau percuma saja ia mencoba menahannya. Lan See-giok sangat terharu.374 pemikiranku waktu itu. . Namun Lan See giok menampik dengan tegar." Tok Nio-cu segera bangkit berdiri sambil berseru cepat: "Siauhiap. "Sekarang aku masih mempunyai urusan penting lainnya sehingga tak berani ber-diam kelewat lama." Seusai berkata dia lantas meninggalkan meja perjamuan. Melihat maksud hati sang pemuda yang teguh. . maksud baik Lo caycu dan nyonya biar kuterima dalam hati saja. Lan See giok menganggap pertanyaannya sudah cukup. Walaupun hasil pembicaraan kali ini tidak berhasil baginya untuk mendapat tahu siapa gerangan pembunuh sebenarnya. bila siauhiap tidak menampik aku bersedia menghadiahkan kuda Pek liang kou milikku untuk siauhiap . masalah-masalah demikian sama sekali tidak penting bagiku" Lan See-giok merasa perkataan dari Gui Pak ciang ada benarnya juga. mumpung waktu belum terlampau larut malam. boleh di bilang perjalanannya ke Pek ho cay kali ini tidak sia-sia belaka. aku pikir pasti membutuhkan seekor kuda jempolan. namun die pun enggan menerima hadiah orang dengan begitu saja. cuma dalam perjalanan siauhiap untuk menelusuri jejak musuh besarmu kali ini . aku bermaksud un-tuk mohon diri lebih dulu. sehingga masalah-masalah demikian memang sama sekali tidak penting baginya. tentu saja kami tak berani menahannya lebih jauh. sebab waktu itu apa yang terpikir olehnya hanya bagai-mana cara merebut kotak kecil itu. maka katanya kemu-dian: "Bila siauhiap masih ada urusan penting. maka sebelum perempuan itu menyelesaikan kata-katanya. besok baru melanjutkan per-jalanan lagi. dia telah men-jura sambil tukasnya: .

tapi sebagai tuan rumah paling tidak kami harus menghantar mu sampai di atas benteng . Lan See-giok ghanya ingin secbepatnya meneruskan per-jalanan. mereka menghantar pe-muda itu sampai di luar ruangan� Dalamb keadaan beginij. serentak para penjaga membungkukkan badan nya memberi hormat. "Jalan pemikiran siauhiap memang amat sempurna. serentak kedua orang itu menyusul dari belakang.. tanpa banyak berbicara dia segera me-lejit ke atas atap rumah dan melayang ke bangunan seberang. .� "Bersama si toya baja berkaki tunggal Gui Pak-ciang sekalian. dia telah mempergunakan tehnik "melayang" untuk meluncur ke bawah bukit. pemu-da itu meluncur ke bawah secepat sambaran kilat dan langsung meluncur ke arah hutan pohon siong yang lebat itu. Ketika menyaksikan kemunculan pemim-pin benteng beserta istri di situ. Lan See-giok menghentikan lang-kahnya sambil berkata lagi. meski kagum dan memuji dihati. Tok Nio-cu tentu saja tak ingin memaksa kan kehendaknya. tidak usah merepotkan orang lain untuk membuka pintu benteng lagi. padahal cepat-nya bukan alang kepalang. aku akan mohon diri lebih dulu. katanya kemudian sambil tersenyum: "Lan siauhiap...375 "Aku tak pandai menunggang kuda dan lagi sama sekali tak berpengalaman me-rawat kuda. Selesai berkata kembali dia melangkah ke luar dari ruangan.. aku pikir ingin memohon diri disini saja.. kini tengah malam sudah lewat. Berhubung Gui Pak-ciang dan Tok Nio-cu sudah mengetahui kalau Lan See giok memiliki kepandaian silat yang tinggi. "Harap kalian menjaga diri baik-baik. meski kelihatannya lamban. . kau terlampau merendah saja. dia lantas menjura kepada Gui Pak-ciang dan Tok Nio-cu sambil katanya: "Harap Kalian berdua menghantar sampai di sini saja. dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah berada dimuka hutan.. begitu sampai di luar ruangan. Tampaknya Lan See giok memang ada maksud untuk mendemonstrasikan kehe-batannya. Lan See-giok tak ingin menampik lebih jauh.? Gui Pak ciang tertawa terbahak-bahak ber-sama Tok Nio-cu katanya. Dalam waktu singkat mereka telah tiba di depan pintu gerbang benteng.." Dengan mengerahkan ilmu Hud kong sin kang untuk menunjang gerakan tubuh menunggang angin terbang melayang. maksud baik nyonya biar ku terima di hati saja. mereka sama sekali tidak tercengang. . sementara sorot mata pe-nuh rasa terkejut dialihkan ke wajah sang pemuda.

sebab bukankah dia berkata akan tetap memegang janji? . sudah jelas pekerjaan tersebut tak akan selesai di kerjakan selama satu hari. Berdasarkan keterangan dari Gui Pak ciang. belum tentu betul semuanya. Teringat persoarlan ini." Menyaksikan kehebatan pemuda itu. "Lan siauhiap... belum pernah mereka bdengar tentang jilmu meringankagn tubuh yang bebgini hebatnya. Dalam perjalanan. Tapi benarkah peristiwa itu hanya suatu kebetulan? Jika dipikirkan dengan lebih mendalam dia dapat merasa bahwa di antara kelima orang tersebut tampaknya sudah mempunyai per-janjian secara diam-diam. berkumpulnya lima manusia cacad di pekuburan raja hanya merupakan suatu ke-jadian yang kebetulan saja. otaknya berputar tiada hentinya memikirkan soal perbuatan si Beru-ang berlengan tunggal yang membuka pintu masuk baru secara diam-diam. Segera Gui Pak ciang dan Tok Nio-cu ber-seru lantang. ba-yangan tubuh Lan See giok telah lenyap di-balik hutan sana. Lan See giok ingin secepatnya menempuh perjalanan. bagaimana mungkin perbuatan orang tersebut sampai tak di ketahui olehnya.. memang sebelum peristiwa mereka tak pernah meng-adakan kontak satu sama lainnya. Padahal seingatnya ayahnya adalah si orang yang sangat cekatan.? Darimana si beruang berlengan tunggal mendapat tahu kalau ayahnya bersembunyi dalam kuburan.. Sementara mereka masih melamun. bila ada jodoh kita akan berjumpa kembali lain kesem-patan." Dari kejauhan sana segera berkumandang suara Jawaban dari Lan See giok: "Silahkan kalian kembali. maaf bila kami tak bisa meng-antar lebih jauh. menunggang kuda justru malah akan merepotkan" Dia lantas membalikkan badan dan kem-bali dulu ke dalam ruangan. tanpa terasa Gui Pak-ciang menggelengkan kepalanya berulang kali sambil berguman: "Ya.376 Gui Pak-ciang maupun Tok Nio-cu dan para penjaga lainnya untuk sesaat dibikin tertegun saking kagetnya... dengan ilmu meringankan tubuh yang begini hebatnya. maka sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna dia melaju menuju ke bukit Tay ang san. diapunz lantas ber-penwdapat bahwa ketrerangan yang diberikan Gui Pak-ciang kepadanya.. harap kau menjaga diri baik-baik..

menghadapi Lan See giok yang berjalan mendekat sambil tersenyum itu. Lan see-giok tidak berniat sama sekali un-tuk berpesiar. tiga empat batang pohon siong raksasa tumbuh di sana sini. mereka tidak nampak takut atau berniat untuk kabur. karenanya dia memutuskan untuk menyeberangi bukit Bu-tong-san dan lang-sung menuju ke kota Siang yang... kepalanya malah berulang kali berpaling mengawasi orang asing tersebut. Dibalik kabut pagi yang lamat-lamat men-yelimuti permukaan tanah. Kedua ekor burung bangau itu memang kelihatan aneh.. Semakin jauh dia menempuh perjalanan dirasakan semakin sukar dan berbahaya. pelan-pelan dia berjalan menghampirinya. Di bawah ranting . ia tak berani menubruk secara sembarangan. Lan See giok merasa tertarik sekali. Lan See giok memperhatikan sekitar tem-pat itu beberapa saat.. di situ-lah terletak bukit Bu-tong-san. Tanpa terasa hari sudah terang tanah. takut kalau burung-burung bangau itu terbang ketakutan. bukan begitu saja bahkan kabut makin lama semakin menebal sehingga untuk beberapa saat dia kehilangan arah mata angin. tiba-tiba berkilat sepasang matanya. binatang tersebut sama sekali tidak menunjukkan rasa takut terhadap kehadiran orang asing. tampak bayangan bukit menjulang jauh di depan sana... dihadapan nya sekarang terbentang sebuah lembah hi-jau yang luasnya mencapai puluhan hektar. .ranting pohon siong yang rindang. akhirnya dia merasa persoalan baru akan menjadi terang bila ia sudah tiba Tay-ang-san dan mengorek keterangan dari mulut si beruang berlengan tunggal Kiong Tekciang.. Aneka bunga yang indah tumbuh di dalam lembah tersebut. Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna. rumput bagaikan permadani hijau. hawa udara terasa hangat bagaikan di musim semi. tampak seekor bangau kecil sedang memandang ke arahnya dengan sek-sama. betul-betul sebuah tempat pengasingan yang amat romantis dan indah. dia melesat ke de-pan memasuki bukit Bu-tong-san melalui kaki bukit sebelah barat. Setelah mendaki sebuah dinding tebing dan melalui sebuah bukit curam. dia hanya ingin secepatnya sampai di bukit Tay-ang-san dan meng-ung-kap misteri yang menyelimuti pikirannya se-lama ini. rasa kaget bercampur gembira menyelimuti seluruh wajahnya .377 Setelah memikirkan masalah tersebut berulang kali.

.. sebab sudah jelas mengerti gerakan ilmu silat. Sementara pemuda itu masih termenung.. sambil menukik ke bawah dengan paruhnya yang panjang itu menyerang ubun-ubun Lan See giok. Tampak seekor burung bangau besar se-dang meluncur datang dari arah utara dan menukik ke bawah sambil menyambar sang pemuda yang berdiri di tepi kolam itu. itulah sebabnya ketika sang bangau menyerang. Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok menghadapi kejadian ini. sekarang dia yakin kalau burung bangau itu merupakan bina-tang peliharaan orang. sepasang cakarnya secepat kilat mencengkeram jalan darah cian keng hiat dibahu pe-muda itu. mereka justru mematuki pohon siong dengan paruh paruhnya.. karena menganggap sebagai kewa-jiban sang induk untuk melindungi anak anaknya. Karenanya anak muda itu mengebaskan kembali ujung bajunya dan melesat mundur ke belakang. mungkinkah sepasang bu-rung bangau itu peliharaan orang? Kalau benar berarti si pemelihara tersebut adalah se-orang tokoh persilatan yang sedang hidup mengasingkan diri di sini. Bangau raksasa tersebut sungguh hebat. Bangau raksasa tersebut memang sangat hebat.378 Lan See giok mendekati tepi kolam. serta merta dia melompat mundur sejauh dua kaki lebih untuk meloloskan diri. kini dia me-nyerang dengan paruhnya. sayap kanan ba-ngau itu sudah menyerang dengan membawa deruan angin pukulan yang amat dahsyat. mendadak ia rentangkan sayapnya sambil menyerang ke depan. Peristiwa ini membuat Lan See-giok tidak habis mengerti. begitu dahsyatnya kebasan tadi membuat anak muda itu tertegun. bisa jadi bu-rung bangau besar ini adalah sang induk dari sepasang burung bangau kecil itu. Pemuda itu sama sekali tak berniat melu-kainya. Pemuda itu lantas menduga. Dengan perasaan "terkejut "Lan See-giok mendongakkan kepalanya . Bangau raksasa itu memang luar biasa sambil menyingkap sayapnya. disaat Lan See giok sedang melompat ke belakang itulah. tiba-tiba dari tengah udara berkumandang suara pekikan bangau yang sangat keras. . anehnya burung bangau tersebut tiada menyantap ikan-ikan tersebut. dia menjumpai air kolam amat jernih dengan aneka ikan berenang kian kemari. baru saja Lan See giok menggerakkan tubuhnya. Siapa sangka. Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera menjejakkan kakinya ke atas tanah dan melayang mundur sejauh lima kaki le-bih.

. sambil berpekik keras ia lantas melayang ke tengah udara untuk menghindarkan diri. juga nampak polos. ingin mencuri bangau kecil milikku rupanya.. ayo cepat pergi dari sini!" Sembari berkata. Lan See giok segera tertawa. untuk menghantam burung itu . akupun tak ingin menyalahkan kau. tanpa terasa semua rasa kesal hilang lenyap dari benaknya. Pada saat itulah . juga tak ingin memukulmu. Gadis cilik itu segera menuding ke empat penjuru seraya berseru keras. "Hmmm. lincah dan amat menyenangkan. dia mengulapkan ta-ngannya berulangkali memberi tanda agar pemuda itu pergi secepatnya. sambil tersenyum katanya kemu-dian. cilik. kau sudah datang mencuri bangau ku. dia mengenakan baju hijau dan menyoren pedang pendek di punggung. "Adik.?" Lan See giok amat gusar pada mulanya setelah mendengar tuduhan itu namun sete-lah mengetahui orangnya. hilang lenyap se-mua amarah dalam dadanya. "Tak tahu malu. Agaknya burung bangau itu cukup me-ngetahui akan kelihaian serangan mana. aku betul-betul tersesat!" katanya sambil berlagak kebingungan. "Sungguh. bohong! Kau sudah dewasa. selain cantik. sementara dia masih mengamati nona cilik itu. hmm! Baiklah. dii-ringi bentakan keras dia mengeluarkan tehnik lembek dari ilmu kebasan baju me-nyapu angkasa. Lan See giok tak ingin melukai burung itu. masa tidak tahu jalan?" Dengan cepat Lan See giok menggelengkan kepalanya berulang kali. aku hanya tersesat dan kehi-langan arah. . Kedua ekor burung bangau kecil itupun segera turut terbang pula ke atas tebing. dia merasa gadis cilik ini memang menarik sekali. waktu itu dia sedang meluncur datang dengan kecepatan tinggi. mempu-nyai sepasang mata yang besar..379 Sebagai pemuda yang berjiwa luhur.... kulit badan yang halus dan muka berbentuk buah apel. ia mendengus. sehingga tidak kuketahui ba-gaimana caranya ke luar dari sini! Nona cilik itu seperti tak percaya. tak tahan dia ter-tawa geli: Ternyata pendatang adalah seorang gadis cilik berumur sebelas dua belas tahunan. Segulung angin pukulan yang lembut tapi sangat kuat dengan cepat menyambar bu-rung bangau tersebut. si nona telah berada dihadapannya sam-bil berteriak marah: "Baru saja ia pergi dari sini. Gadis itu mengenakan baju hijau. Bentakan gusar yang amat keras menda-dak berkumandang dari balik pepohonan siong.

mengerti? . selamat tinggal kalau begitu. dengan suara keras ia berteriak tibatiba: "Kau memang goblok sekali. tanyanya kemudian sambil tersenyum: "Kalau begitu kau senang bermain dengan siapa?. "Hmmm. maka sambil berpura pura menebak katanya kemudian setelah termenung sebentar. sana utara.! "Hmm. sudah begini besar masa tak bisa menebaknya dengan tepat!" "Oooh. "kau orang dewasa sedang aku cuma anak kecil. segera terasa olehnya arah utara dan selatan sukar dilewati. hanya te-bing di sebelah timur yang nampaknya paling mudah dilalui.. paman guru punya jenggot aku sih tak senang bermain dengan-nya!" "Kalau begitu dengan suhumu?" desak See giok lagi. serunya tiba-tiba: "Kau memang goblok.380 "Di situ adalah timur. tahu aku sekarang. aku tak senang bermain dengan-mu! Lan See giok merasa gadis ini menarik sekali. aku mah tak sudi memberitahu-kan kepadamu!" Timbul kegembiraan Lan See giok setelah melihat kelincahan dan kepolosan gadis cilik itu. keningnya dikerutkan kemudian dan ber-la-gak seakan akan tak mampu menebaknya. siapa sih yang sudi bertemu lagi dengan mu?" nona cilik itu mencibir dengan sinis. tapi ia jus-tru tak mau menanyakan hal itu. Nona cilik itu menjadi mendongkol sekali melihat Lan See-giok tak bisa menebaknya secara jitu. kepada nona cilik berbaju hijau itu kata nya kemudian sambil tersenyum: "Adik cilik. Kali ini nona cilik itu hanya mengerutkan hidungnya sebagai pertanda tidak benar Lan See giok tahu kalau gadis cilik itu senang bermain dengan burung bangau. ditambah pula dia memang berniat me-nyelidiki asal usul nona itu.. orang itu adalah Tek lim siau suheng. tentunya si bu-rung bangau raksasa itu bukan ?" pemuda itu segera berlagak seakan akan baru mengerti. semoga kita berjodoh dan bisa berjumpa kembali. "Huuh. Siapa tahu nona cilik berbaju hijau itu justru menganggap Lan See giok sebagai ma-nusia yang paling bodoh. .. "Apakah paman gurumu?" None cilik berbaju hijau itu segera mendengus. sana selatan dan sini barat --" Lan See giok mencoba untuk mengamati sekeliling situ.

yaa aku memang goblok sekali. cepat dia bergerak mengejar sambil berteriak keras. dia me-mutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut secepatnya.. Tergerak hatinya untuk sekali lagi menyeli-diki asal usul nona cilik itu. Sekali lagi ia tertawa terbahak bahak. tak dapat kuduga. ya. . begitu usahanya menyelidiki asal usul nona itu menemui kegagalan. Tiba-tiba paras muka nona berbaju hijau itu berubah hebat.sumoay suka dengan suheng. tanyanya kemu-dian.. cepat dia menghenti-kan langkahnya. dengan cemas nona cilik berbaju hijau itu mendepak depakkan kaki-nya berulang kali sambil berseru. di bawah tebing di bela-kang deretan pepohonan ia saksikan sebuah mulut gua secara lamat-lamat. kemarilah dulu. Kenapa adik cilik?" "Sucou sedang bersemedi disini. setelah kemari aku baru akan memberitahukan kepadamu. kejadian semacam ini memang lumrah..haaahhh. betul juga. sepasang tangannya yang kecil direntangkan dan segera menyerang dada pemuda itu. siapapun dilarang mengusik ketenangannya!" "Oooh . `Adik cilik." Lan See giok sudah menduga bahwa nona cilik ini binal dan banyak akal muslihat-nya tentu saja dia tak ingin dipecundangi orang dengan begitu saja.. haaahhh. masa hal seperti inipun.. "Berhenti-berhenti. aku harus menghajarmu !" Tubuhnya menubruk ke depan. selamat tinggal kalau begitu. "Hei. buru-buru dia berseru: "Kau jahat.. siapa sih sucoumu itu?"! Berhubung Lan See-giok masih saja berdiri tak bergerak di situ..... Pada dasarnya Lau See giok tidak berminat sama sekali untuk bertarung dengan nona cilik itu." Dengan perasaan kaget Lan See giok ber-paling. harap kau jangan marah-marah!" Dengan cepat dia melompat ke muka dan bergerak menuju ke bawah tebing sebelah timur." Merah padam selembar pipi si nona karena jengah. "Adik cilik.381 "Haaahhh. kau tak boleh kesana!" Lan See giok tahu pasti ada hal yang tak beres diarah tersebut. kemudian bertanya dengan nada tak habis mengerti..

Berubah hebat paras muka Lan See giok. bentaknya kemudian: "He!. Cepat pemuda itu melayang ke hadapan si nona. mendengar pertanyaan itu dengan cepat dia mengangguk. apakah tahun berselang Keng hian sian tiang pernah meninggalkan daratan Tionggoan menuju ke luar lautan?" Nona cilik itu menjadi tak senang hati ber-hubung Lan See-giok bertanya terus tiada hentinya. aku akan memberitahukan kepadamu. "Sudah berapa lama dia orang tua menutup diri?" "Sudah hampir tiga tahun" jawab si nona cilik itu tanpa ragu-ragu.To Seng-cu menuju ke luar lautan nampak-nya lebih banyak bahayanya dari pada sela-mat. Sadar kalau dia bsudah melanggarj panta-ngan besgar umat persilabtan. se-runya kemudian dengan gelisah: "Baik. pemuda itu me-mutuskan untuk berlalu secepatnya dari situ. maksudmu sucou mu Keng hian sian tiang sedang menutup diri"" Nona cilik berbaju hijau itu nampak lega sekali setelah melihat Lan See giok menghampirinya. kemudian tanyanya lirih. Lan See giok kembali bertanya dengan nada penuh-perhatian. kemudian dengan membawa suatu pengharapan ia bertanya lagi. "Adik cilik. "Kau enggan memberitahukan kepadaku juga tak mengapa." "Adik cilik. satu ingatan kembali melintasi di dalam benaknya. kau jangan ke situ sucou ku adalah Keng-hian sian tiang!" Lan See-giok terkejut sekali sesudah mendengar nama tersebut. sedikit agak marah dia berseru: . baik . ia menjadi gugup sekali. peluh ber-cucuran dan sinar matanya mendelong. dia teringat kembali dengan surat gurunya To Seng cu yang konon dititipkan kepada Keng hian Sian tiang dari luar lautan.382 Maka katanya kemudian sambil tetap tak bergerak dari posisinya semula. mengapa kau belum juga pergi?" Lan See-giok berusaha mengendalikan perasaan sendiri dengan cepat. aku kan bisa masuk dan menanyakan sendiri kepada sucou mu. tianglo angkatan yang tua dari Bu-tong-pay. saking kagetnya dia sampai termangu mangu. ia tak menyangka kalau penghuni lembah hijau ini adalah keng-hian sian tiang. Nona cilik itu mengira Lan See-giok di buat ketakutan oleh nama besar sucounya sehing-ga mukanya berubah jadi pucat. Dia seperti merasa bahwa kepergian. Pada saat dia hendak melangkah pergi." Paras muka nona cilik berbaju hijau itu berubah hebat. Suatu firasat tak enak cepat menyelimuti hatinya. dari pada menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

maaf kalau aku telah mengganggu ketenanganmu!" Tiba-tiba saja dia meluncur kearah tebing sebelah muka. Perasaan Lan See-giok saat itu amat kalut dengan membawa perasaanperasaan pedih bercampur gusar dia menembusi hutan men-daki bukit. bila dipikirkan kembali. Kemudian diapun membayangkan kembali bagaimana si naga sakti pembalik sungai su-dah setengah tahun lamanya tak pernah berkunjung ke bukit Hoa-san. dalam waktu singkat ia sudah mencapai puncak tebing dan sekali berkelebat. Sekali lagi paras muka bocah perempuan itu berubah hebat. . kepada bocah perempuan itu kata nya kemudian: "Selamat tinggal adik cilik. kbini dia sudah tidak berminat untuk bertanya lebih lanjut. Lan See-giok sudah mencapai tebing sebelah muka dan melambung ke tengah udara. Dalam keadaan begini. bibi Wan juga kebetulan hadir di situ. sambil mengendalikan gejolak perasaannya yang panik dan tak tenang. menurut Si Cay-soat. baru saja dia menggerakkan badannya.383 "Kau ini memang aneh sekali. tanpa sadar dia hentikan gerak majunya dan membelalakkan matanya le-bar-lebar sambil menyaksikan bayangan tubuh Lan See-giok lenyap dari pandangan mata. semua perjalanan ditempuh de-ngan ilmu Liat-hong-hui-heng yang hebat se-hingga gerakannya cepat bagaikan kilat. diapun tidak membenci si Naga sakti pembalik sungai sebab ia tahu si naga sakti pembalik sungai sampai berbuat demikian pasti diperuntungkan maksud baik. Belum pernah nona cilik berbaju hijau itu menyaksikan ilmu meringankan tubuh seperti ini. sambil membentak keras ia berusaha untuk mengejar dari belakang. baya-ngan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. aku kan su-dah bilang sucou telah tiga tahun menutup diri? Itu berarti dia tak pernah meninggalkan guanya barang selangkahpun. buat apa dia mesti bersusah payah pergi ke luar lautan?" bHabis sudah semjua pengharapan gLan See giok. tapi. dia hanya ingin se-cepatnya kembali ke telaga Phoa yang-oh dan mencari si naga sakti pembalik sungai untuk menanyakan apa maksudnya dengan per-mainan surat palsu tersebut: Walaupun begitu. Dari sini bisa dibuktikan pula bahwa si naga sakti pembalik sungai bisa jadi sudah tidak berada di perkampungan nelayan lagi. kejadian semacam ini belum per-nah dialaminya. bisa jradi itupun meruzpakan tipuan swi naga sakti permbalik sungai. Diapun masih ingat perkataan dari si naga sakti pembalik sungai yang mengatakan di saat menerima surat tersebut dari gurunya.

." Tok Nio-cu tersenyum.. orang yang berlalu lalang dijalananpun semakin ramai. "Mari kita masuk kota sebelum berbincang!" "Baik mari kita berangkat. Makin ke kota. Pemuda itu segera berkerut kening.penat yang di ala-minya selama beberapa hari. Suasana di dalam kota ramai sekali.. ia tak tahu apa maksud dan tujuan Tok-Nio-cu menyusulnya sampai di situ. akhirnya aku berha-sil juga menyusulmu . senyuman manis selalu menghiasi ujung bibirnya. namun diluar-nya dengan senyuman dikulum dia segera menyapa: "Nyonya. sementara rasa . kemudian meneruskan kembali perjalanannya menuju kota Kou-sia.384 Ke luar dari wilayah Bu tong-pay.. malah tubuhnya sudah melompat turun dari atas kuda. selalu masuk hidung pemuda itu. berba-gai ingatan melintas dalam benaknya dia tak habis mengerti mengapa perempuan itu menyusulnya? Belum habis dia berpikir.. bisa jadi ia tidak memba-wa maksud jahat. "Adik Giok-adik Giok. apalagi malam itu adalah malam Cap go--meh tidak heran kalau banyak orang yang berlalu lalang ditengah jalan. menyusul kemudian terdengar seseorang berseru dengan nada terkejut bercampur kegirangan.. sampailah pemuda itu di depan kota Siang-yang. kini mereka harus jalan berdesak-desakan... ketika matahari sudah tenggelam di langit barat." Sambil menuntun kudanya Tok Nio-cu ma-suk ke kota bersama-sama Lan See-giok. Pada hari ketiga. tapi bila ditinjau dari kehadirannya yang cuma seorang diri. Tok Nio-cu telan menghampirinya sambil tersenyum. Sepanjang jalan boleh dibilang Tok Nio-cu selalu menempel di sisi badan See giok. kehadiran yang secara tiba-tiba dari Tok Nio-cu dengan cepat meningkatkan kewaspa-daan dalam hati Lan See giok. hari su-dah mendekati malam.. Sebaliknya Lan See-giok penuh diliputi perasaan curiga. Sementara dia masih melamun tak karuan tiba-tiba dari belakang tubuhnya berku-man-dang suara derap kaki kuda yang amat ra-mai. ternyata Tok Nio-cu dengan mantel dan pakaian ringkasnya berwarna hitam se-dang menggapai ke arahnya dari atas kuda-nya yang berwarna putih. nampaknya su-dah ikut lenyap tak berbekas. apalagi sepasang payudaranya yang . pemuda itu mengisi perutnya secara tergesa-gesa di sebuah kota kecil bawah bukit. ada urusan apa kau buru-buru datang ke kota Siang yang..." Dengan perasaan terkejut Lan See-Giok berpaling. bau harum semerbak yang memancar ke luar dari tubuhnya.

bagaimana kalau kita me-ngi-nap di rumah penginapan yang merangkap dengan rumah makan ini?" Lan See giok memang berharap bisa sele-kasnya mengetahui sebab musabab Tok Nio cu menyusulnya sampai ke situ. Walaupun Lan See giok menganggap pem-bicaraan mereka membutuhkan suatu tem-pat yang tenang. . dua oragng pelayan segebra me-nyambut kedatangan mereka. setiap kali seperti sengaja tak sengaja di gesekgesekan pada lengan pemuda itu. dia hanya tahu menempuh perjalanan cepat. Tapi sebelum ia kemukakan pikiran ter-se-but kepada Tok Nio-cu. otomatis pembicaraan akan semakin tak leluasa. dilengkapi juga dengan sebuah ruang tamu. apalagi dengan kehadiran pelayan. silahkan masuk !" seru me-reka hampir bersama sama. penampilannya itu tentu saja sangat me-mancing perhatian orang banyak. Ketika mereka berdua tiba di pbintu rumah pengjinapan. selain dua kamar yang mewah. tiba--tiba Tok Nio-cu menjawil tangan pemuda itu sam-bil berbisik lembut: "Adik Giok. . di tambah lagi dia belum mengetahui secara pasti akan maksud kedatangan Tok Nio-cu. karenanya pemuda itu pun mengurungkan niatnya untuk berbicara lebih jauh . melihat bangunan rumah itu memang megah. diapun manggut-manggut menyetujui. pelayan telah mem-bawa mereka ke depan sebuah pavilliun yang indah sekali. namun ia tak setuju me-nyewa sebuah pavilliun secara tersendiri. Pelayan segera mengetuk pintu. seorang mene-rima kuda sedang yang lain membawa Lan See giok berdua memasuki ruangan. . badannya boleh dibilang sudah matang dan menyiarkan api birahi yang membara. nona. Pavilliun itu sa-ngat indah dengan perabot yang mewah dan dekorasi yang menawan hati. empat dayang membuka pintu dan menyambut ke-datangan mereka. Itulah sebabnya. Tok Nio-cu segera minta sebuah pavilliun dengan perabot lengkap dan pelayan. pemuda itu sama sekali tidak merasakan ataupun menggubris terha-dap senggolan-senggolan payudara yang montok dari perempuan tersebut. "Tuan. Tok Nio-cu adalah seorang nyonya muda yang berusia dua puluh limaenam tahunan. hal mana membuat hatinya kesal dan mu-rung. Namun sayang pikiran dan perasaan Lan See-giok waktu itu diliputi kekalutan. Sementara perjalanan ditempuh.385 montok dan padat berisi.

katanya kemudian penuh rasa gembira. Lain dengan Tok Nio cu. "Siauhiap adalah tamu. nyonya. silahkan makan Goan siau dulu. Sementara itu dua orang dayangb telah menghidajngkan makanan kgecil dan air tebh. kemudian muncul dua orang dayang meng-hidangkan sebuah mangkuk besar yang diberikan kepada Lan See giok dan Tok Nio-cu seraya berkata: "Tuan. Untuk sesaat ia dibikin mendongkol se-lain geli. Merah jengah selembar wajah Lan See giok mendengar sebutan yang digunakan pelayan-pelayan itu. Lan See giok sama sekali tak berniat makan ronde sebelum mengetahui maksud kedatangan Tok Nio-cu. kemudian tertawa genit: . silahkan duduk. mak-lum karena banyak orang" "Aaah. sebetulnya ada urusan apa sih kau menyusulku sampai disini?" Tok Nio-cu melirik sekejap wajah Lan See giok yang gelisah. tentu saja pemuda itu pun merasa kurang leluasa untuk mencegah pelayan-pelayan tersebut menggantikan se-butan demikian. cuma aku takut sebutan ini justru akan menodai nama adik" Sebenarnya Lan See-giok bermaksud untuk bersungkan sungkan saja.386 Setelah masuk ke dalam ruangan. maaf-kan sebutan adik Giok yang kupakai tadi. bagiku sama saja. Paras muka Tok Nio-cu berseri. ia tak menyangka kalau Tok Nio-cu justru menunggangi ke-sempatan tersebut. sudah sepantasnya kau yang duduk di kursi utamanya. "Kalau memang begitu. nampak ronde yang hangat di atas mangkuk tersebut. namun diapun tak bisa berbuat banyak." Tok Nio-cu tertawa genit. ia segera menger-ling sekejap ke arah Lan See giok sambil tersenyum jengah. tapi jika digabungkan dengan Tok Nio cu. kepada perempuan itu dia segera bertanya: "Nyonya. sebutan siauhiap atau adik. meski sebutan itu memang tak ada salahnya. Biarpun demikian. biar aku memba-hasa diri sebagai enci saja." Dengan hormat sekali mereka letakkan mangkuk ke atas meja sambil membuka pe-nutupnya. Lan See--giok baru menjura sambil katanya: "Nyonya. maka akan menimbulkan makna yang lain. nyonya tak perlu memikirkannya di hati" Tanpa sungkan dia lantas mengambil tem-pat duduk.

Tapi untuk melerpaskan diri seczepatnya dari pewrempuan itu. "Tahukah kau. selesai makan wedang. penjaganya ter-diri dari jagoan-jagoan tangguh. "Sudahlah. terrpaksa dia habiskan semangkuk wedang ronde tersebut. di samping . kembali dia bertanya: "Tay ang san dengan tiga tebing. ini membuat pemuda itu semakin mendongkol.-� Menyaksikan tingkah laku Tok Nio-cu.387 "Sebenarnya urusan itu penting sekali. tapi sesudah berhasil menyusulmu. bagaimana caranya menuju ke sana?" Pertanyaan itu segera mengobarkan hawa amarah dalam dada Lan Seegiok. tapi ia ma-sih berusaha untuk menahan diri. cici tentu akan memberitahukan kepadamu. pos pen-jagaan berada dimana mana. ternyata pertanyaan pertama adalah bertanya apakah dia akan ke bukit Tay-ang san. Jangan dilihat sikap Tok Nio cu yang genit dan jalang." Tok Nio cu tertawa tenang. ia merasa perempuan ini bagaikan duplikat dari Oh Li-cu.. lalu tanyanya lagi. apalagi jika dihubungkan dengan julukannya yang tak sedap. dalam hal ini nyonya tak perlu mengu-atirkan. urusan men-jadi tak penting lagi" Lan See giok segera berkerut kening de-ngan perasaan tak mengerti. "Aku bisa menelusuri jalan raya menuju ke sana. dia mengeluarkan secarik sapu tangan untuk menyeka bibirnya yang merah. sembilan puncak serta dua belas benteng merupakan daerah yang rawan dan berbahaya. Hampir tertawa geli Tok Nio-cu melihat si-kap Lan See-giok yang seolaholah dibuat apa boleh buat.. " Kalau pemuda Itu menghabiskan wedang nya secara tergesa gesa. tak usah kuatir. sewaktu bersantap caranya halus lagi anggun. tiba-tiba saja timbul perasaan muak dihati kecil arak muda itu. tentu saja yang bisa dilakukan olehnya hanya menahan diri belaka. rasa tak senang hati pun segera menyelimuti wajahnya: Tok Nio cu tertawa cekikikan. Setelah itu semua dia baru memandang sekejap kearah Lan See giok yang sudah marah sambil tertawa dan tanyanya hambar: "Bukankah kau hendak pergi ke bukit Tay-ang-san?" Sudah setengah harian Lan See giok me-nunggu. Lan See-giok jadi teringat kembali dengan Oh Li-cu dari Wi-lim-poo. maka Tok Nio-cu justru meneguk wedangnya amat lamban. sahut nya dingin. saking gemasnya dia mengangguk seraya menjawab singkat: "Benar!" Sekali lagi Tok Nio cu memandang wajah sang pemuda dengan lembut. jangan panik dulu. mari kita habiskan wedang ronde ini lebih dulu.

apalagi orang--orang tersebut merupakan kawanan manusia nekad yang tak takut mati. burungpun sulit terbang melewati nya. Terus-nya: "Berbicara soal kepandaian silatnya. apalagi dia memang tak pernah menyangka kalau Tay ang san memiliki kekuasaan dan pengaruh sebegitu besarnya. Tok Nio-cu kembali tertawa ringan. ia pergi ke puncak Ti seng hong.388 anak buahnya mencapai puluhan ribu. Namun ia masih mendongkol sekali terha-dap perempuan itu. " "Aaah. kau tak akan tega untuk mem-bunuhnya . "bila keadaan memang me-maksa. bila kau pergi ke benteng Gi sim . "Biarpun Tay ang san terdiri dari bukit golok dan hutan pedang. sembilan puncak lain merobohkan kedua belas pemimpin benteng. maka katanya kemudian lantang. . ditatapnya Tok Nio-cu yang tampaknya sudah mempunyai persiapan matang itu lekat-lekat. Apakah kau sudah tahu tentang keadaan-keadaan tersebut?" Lan See giok cukup sadar bahwa persoa-lan-persoalan tersebut merupakan masalah yang besar dari penting. jadi maksudmu asal kau labrak ke tiga tebing. aku tidak akan memperdulikan hal--hal semacam itu" Kembali Tok Nio-cu tertawa. keadaannya masih mendingan jika kau ter-masuk manusia kejam. namun ia sadar apa yang diu-capkan Tok Nio-cu memang merupakan titik kelemahannya. biar kau hendak membantai merekapun tak bakal habis dibantai. . bila kau datang ke tebing Bong thian nia. ter-dapat pula perangkapperangkap serta jeba-kan-jebakan yang berbahaya. dengan cepat dia menyela lagi. "Tapi ia didukung dan dilindungi oleh be-gini banyak pemimpin benteng serta jago-jago berilmu tinggi. apa yang mesti ku-takuti--" Tok Nio cu tidak memberi kesempatan kepada Lan See giok untuk menyelesaikan kata katanya. jangan lagi manusia. belum tentu" Lan See giok segera mendengus. pada hakekatnya ia tak akan mampu menandingi kemampuanmu. tapi aku tahu kau saleh dan penuh welas kasih. maka si beruang berlengan tunggal dapat ditemukan secara mudah?" Lan See-giok tertegun. sementara mulutnya terbungkam dalam seribu bahasa. "Misalkan si Beruang berlengan tunggal selalu berusaha menghindarkan diri dan eng-gan berjumpa dengan dirimu. Oooh. kecuali terha-dap seseorang manusia yang sangat jahat dan berdosa. si Beruang berlengan tunggal memang hanya bisa dibandingkan dengan kawasan jago lihay biasa.

Bagaimana kalau sebelum. ?" Dengan cepat si anak muda tersebut me-rasakan betapa gawatnya masalah yang se-dang dihadapi.389 cay. akibatnya dia bakal mati konyol di tangan musuh. tiada henti nya ia berusaha untuk bertanya kepada diri sendiri. dan asalkan si Beruang berlengan tunggal sudah kutemukan. dan secara langsung menuju ke puncak utama. Lan See--giok merasa bertambah gelisah. Membayangkan kesemuanya itu. Apalagi di seputar wilayah tersebut me-mang telah dipersiapkan pelbagai macam je-bakan dan alat perangkap. tapi dia toh berkata lagi.. bagaimana tindakanmu. aku yakin dia tak bakal bisa ka-bur lagi!" Tok Nio-cu mengerling sekejap ke arah Lan See-giok. masa akan terjadi peristiwa se-macam ini?" Tok Nio co tertawa dingin. . adik Giok ku!b Kau toh bukan jdewa. ia segera berseru tertahan: "Apakah Lo caycu sudah berangkat ke Tay ang san?" . apakah dia bakal menantikan kedatangan-mu?. siapa gerangan orang yang menyam-paikan berita tersebut kepada musuhnya? Tibba-tiba satu ingjatan melintas dgi dalam benaknyba. paras mukanya berubah hebat dan tanpa sadar ia berseru. Ooh. memang menjadi kesulitan yang besar bagi nya untuk menemukan si Beruang berlengan tunggal bila yang bersangkutan berniat menghindarkan diri.. Lan See-giok merasa terkejut sekali. selangkah saja kurang berhati hati. dia pergi ke benteng Ka cu cay . akhirnya kau sendirilah yang bakal kehabisan tenaga dan mati lelah di bukit Tay ang san" Diam-diam Lan See giok gelisah sekali. seandainya ada orang telah menyampaikan kabar tersebut. Ji long sgeng atau Na chab si pangeran ketiga yang mampu merubah diri. setelah mendengar keterangan tersebut. kedatanganmu sudah ada orang lain tiba dulu di bukit Tay ang san dan melaporkan kejadian ini kepada si Beruang berlengan tunggal? Bila ia sudah mendapat kabar bahwa di dalam waktu sing-kat kau hendak mencari balas kepadanya. aku yakin musuh pasti akan kelabakan. dengan suatu sergapan mendadak. tujuannya cuma ingin membohongi diri-mu saja . na-mun dia toh masih juga tak mau mengaku kalah. dengan wila-yah yang begitu luas di bukit Tay ang san. "Kau anggap dengan susah payah aku me-nempuh perjalanan ratusan li untuk menyu-sulmu. "Aaah. kembali katanya: "Aku toh bisa menyusup ditengah malam buta. . lalu manggutmanggut memuji.

. szi hari-mau berkwaki cebol itu mrembawa bekal ba-nyak... maka kau sudah dapat mendahului si Harimau berkaki cebol sampai di tempat tujuan?" Tanpa ragu-ragu Lan See giok mengang-guk. mendengar pertanyaan itu.heeehrhh. aku rasa hari ini sudah tiba di Tiang.. mana mungkin ia berkesudian hati untuk mem-beri kabar kepada Beruang berlengan tunggal?" "Lantas siapakah orang itu?" tanya Lan See giok berkerut kening. cepat ia bangkit berdiri dun ber-seru kepada Tok Niocu sambil menjura. betul.heeehhh... alis matanya berkerut sepasang matanya berapi-api.. "Heeehhh... wajahnya gelisah ber-campur tak habis mengerti. si harimau berkaki cebol! " "Oooh. selang beberapa hari berse-lang ia telah menyeberangi Han-sui. "Kau anggap bila berangkat ke Tang ang san sekarang juga. ditatapnya Lan See--giok kemudian katanya sambil ter-tawa di-ngin. nah aku hendak memohon diri lebih dulu." Lan See-giok benar-benar merasakan hati nya gelisah sekali. lagi pula dia telah bertekad untuk sampai di tempat tujuan mendahuluimu. kau maksudkan manusia yang ku-tendang sampai mencelat pada malam itu?" Lan See giok seperti baru memahami. Tok Nio-cu menjadi tak tega sendiri melihat kegelisahan si pemuda tersebut. "Ya. peristiwa se-macam ini benar- . sa-ban tempat pem-berhentian ia pasti menukar kuda." Namun Tok Nio-cu masih tetap duduk tak bergerak sama sekali.390 Sementara itu Tok Nio-cu sedang men-dongkol karena maksud baiknya tidak di-tanggapi sebagaimana yang diharapkan se-mula. setiap kali bertemu pasti saling gebuk--gebu-kan sampai muncrat darah. siang malam ia menempuh perjalanan tiada hentinya. dialah orangnya!" "Sejak kapan ia meningggalkan Pek-ho cay!" "Setengah jam setelah kau meninggalkan benteng Pek hoo cay!" Diam-diam Lan See giok memperhitung-kan waktunya. mendadak berkilat sepasang ma-tanya. kata nya Kemudian lirih: "Orang itu tak lain adalah pelindung ben-teng kami. "Aku mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian nyonya. Sekali lagi Nio-cu tertawa dingin. dia hanya mendengus dingin: "Hmm! Mereka adalah musuh bebuyutan. budi kebaikanmu pasti akan kubalas di kemudian hari.an tian dan mu-lai memasuki wilayah bukit Tayang-san.

pokoknya enci jamin akan memberi-kan seorang Beruang berlengan tunggal yang utuh kepadamu untuk diperiksa dan mem-balas dendam. "aku mah tak berhasrat sama sekali untuk merayakan hari cap go meh ini!" . Tanpa terasa ia bertanya dengan suara mendongkol: "Menurut pendapatmu. apa yang harus kulakukan?" Tok Nio-cu tertawa cekikikan penuh perasaan bangga.--" "Kalau kau ingin pergi. hal ini memang perlu diatasi dengan pemikiran yang masak. Walaupun demikian."! Dengan perasaan tidak habis mengerti Lan See-giok menengok kearah Tok Nio-cu. mari kita berdua berjalan jalan melihat keramaian dulu di jalan raya. katanya kemudian angkuh: "Bukankah sudah kujelaskan tadi? Sebe-tulnya persoalan ini penting sekali.tapi setelah berhasil menyusulmu menjadi sama sekali tak berarti lagi. berhubung pikirannya sedang kalut. lalu tertawa gesit. minumlah arakmu dengan hati tenang. tak sesuappun yang tega ditelan. Lama kelamaan habis sudah kesabaran Lan See giok. sikapnya wajar senyuman manis dikulum. "Selesai bersantap nanti." Lan See giok pun sadar bahwa gelisah terus tidak ada gunanya. Kebetulan sekali para pelayan datang menghidangkan sayur dan arak sehingga pembicaraanpun terhenti sejenak. lagi pun Tok Nio-cu berani berkata demikian. pergilah sendiri" tampik Lin See giok agak marah. Tok Nio cu memandang sekejap hidangan-hidangan yang lezat itu. biarpun hidangan yang berada dihadapannya rata-rata sangat lezat. ke-mudian tanyanya pula dengan gelisah. Tok Nio cu turun tangan sendiri memenuhi cawan Lan See giok dengan arak. `Mengapa demikian?". seakan akan dia sedang merayakan hari cap-go-meh tersebut bersama sama kekasihnya. tidak tahan kembali dia berta-nya. "Sekarang.391 benar merupakan suatu peristiwa yang mimpipun tak pernah diba-yangkan olehnya. "Nyonya mempunyai akal bagus apa sih yang bisa memaksa Beruang berlengan tung-gal untuk munculkan diri menjumpai aku?" "Tok Nio cu tertawa misterius. hal ini sudah mempunyai keyakinan untuk berhasi1.

Tertegun Tok Nio-cu melihat hal ini. segera ia berhenti seraya berpaling. Begitu selesai bersantap. rasanya memang bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk ber-jumpa dengan si beruang berlengan tunggal. segera kukirim dua puluh ekor kuda cepat untuk mengejarnya dengan pesan entah dibunuh atau ditawan hidup-hidup. padahal yang sebetulnya kita pergi mencari mereka. "Adik Giok!" Tok Nio-cu yang sedang kabur menjadi tertegun. ia segera menyikutnya pe-lan. mereka harus bertindak menurut keadaan. . Dengan cepat Lan See-giok menjadi sadar kembali. dia menyusul ke dalam ruangan.392 Sekali lagi Tok Nio tertawa cekikikan. Maka selesai bersantap nanti kita memakai alasan melihat keramaian di dalam kata. Rupanya seorang gadis berwajah cantik dengan pakaian ringkas warna putih dan menyoren pedang di punggungnya. Suasana di jalan raya sangat rbamai. ter-gopoh-gopoh membalikkan badan dan lari masuk ke dalam ruangan. dari arah jendela rumah makan seberang berkuman-dang pula suara teriakan keras yang penuh mengandung nada terkejut bercampur gem-bira. Lan See giok tidak bisa berbicara lagi. tiba-tiba berkilat sepasang mata pemuda itu sekujur tubuhnya gemetar keras dan sorot matanya ditujukan ke arah sebuah jendela dengan pandangan tertegun: Tok Nio-cu segera merasakan keanehan dari pemuda itu. de-ngan cepat dia memberi penjelasan. Sementara Lan See giok dan Tok Nio-cu masih berdiri di depan pintu menyaksikan manusia yang berdesakan di tengah jalan. dia mengerti biarpun si harimau berkaki cebol berhasil disusul olehnya. "Adik Giok!" Sambil membalikkan tubuh. dia seperti teringat akan sesuatu tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Setelah mendapat laporan bahwa Harimau berkaki cebol melarikan diri pada malam itu. namun apa yang terlihat membuatnya tertegun. sedang menyeberangi jalan mengejar ke arahnya. Pada saat yang bersamaan. namun dengan anggota benteng yang begitu banyak di bukit Tay ang san. manu-sia jyang berlalu laglang sangat banbyak sehing-ga mereka harus saling berdesak -desakan. kedua orang itu segera meninggalkan rumah penginapan. selain telah kujanjikan pula agar malam ini berkumpul semua di kota Siang-yang. seru-nya cepat.

Kali ini dia berhasil menghadang persis di hadapan gadis berbaju putih itu. lalu dengan kening berkerut bentaknya keras-keras: "Hei. dia masih melanjutkan penge-jarannya ke ruang dalam. si nona berbaju putih itu sudah sampai dihadapannya dan lang-sung mengejar ke ruang dalam--Dengan cepat Tok Nio-cu berhasil mempe-roleh kembali ketenangan pikirannya. ia tertawa dingin: . dia memben-tak pula dengan suara keras.b hei! Mau mencajri siapa kau?" g Sambil membentbak gusar. hidungnya yang mancung. matanya yang jeli. Meledak amarah Tok Nio cu melihat tindakan lawan. dia menerjang ke arah gadis tersebut--Nona berbaju putih itu sama sekali tidak menggubris. sambil membentak ia melejit ke te-ngah udara dan langsung melayang turun di hadapan gadis tersebut. si nona berbaju putih itu sudah mengeluarkan jurus burung hong kembali ke sarang dan langsung menyusup ke dalam pavilliun. "Siapa kau? Siapa suruh kau mencampuri urusanku?" Sebagai seseorang yang sudah lama berkecimpungan dalam dunia persilatan dan memiliki pengalaman yang matang. pucat pias wajahnya dan titik air mata jatuh bercucuran. Gagal dengan hadangannya. segera bentaknya penuh amarah: "Hei. Tok Nio-cu malu bercampur gelisah. siapakah kau? Mengapa berniat mengejar adik Giok?" Sementara itu si nona berbaju putih itu merasa gelisah bercampur mendongkol karena melihat Lan See-giok berusaha menghindari dirinya. bibirnya yang mungil serta wajah berbentuk kwaci yang diliputi kegelisahan.393 Tok Nio cu merasa wajah gadis itu seperti sangat dikenal olehnya seakan akan pernah bersua di suatu tempat. amarahnya segera memuncak. sekujur badannya gemetar keras menahan emosi. dengan cepat dia nyusul di belakangnya. . ternyata gadis itu ber-wajah mirip sekali dengan wajah sendiri. Tok Nio-cu tahu kalau antara si nona dengan Lan See -giok pasti mempunyai hubungan yang luar biasa itulah sebabnya sambil menahan hawa amarahnya. Ketika dilihatnya Tok Nio-cu menghadang di depan mata sambil membentak-bentak. Sementara dia masih mengawasi gadis terse-but dengan seksama. Disaat tubuhnya sedang melayang turun itulah. BAB 19 YANG lebih aneh lagi.

belum saja berjumpa. Sebagai ahli waris dari Oh Tin san serta Say nyoo-hui. Akhirnya setelah bersusah payah. ilmu silat yang dimiliki Oh Li cu memang luar biasa sekali. Dalam pada itu. dia berkelana ke seantero jagad dengan tujuan mencari Lan See-giok. sambil membentak dia berte-kuk pinggang lalu melejit ke depan. dia tertawa dingin. sambil tertawa dingin jengeknya kemudian: "Hei. Sementara ke empat dayang yang berada dalam ruangan menjadi kaget dan ketakutan. heran mengapa ia justru sama sekali tidak menggubrismu ?" Oh Li cu naik darah. dia pingin menangis saja -jadinya. seakan akan ia telah melihat kalajengking yang sangat berbisa saja.394 "Dia adalah adik Giok ku. sedangkan aku adalah encinya. siapa suruh kau banyak bertanya?" Ditengah bentakan keras. kalau memang kau adalah bininya. Teringat akan hal yang sangat menyedihkan hati ini. boleh di-biwlang Oh Li cu srudah banyak menderita. . "Minggir kau se jauh jauhnya dari sini. seru-nya berulang kali dengan suara gemetar: "Adik Giok. apa mau dikata. telapak tangan nya secepat kilat menyapu wajah Tok Nio cu de-ngan jurus menyapu rata bukit mega. tak terdengar jawaban dari Lan See giok. Tok Nio cu telah berhasil menenangkan hatinya. sambil memandang ke ruang pavilliun. Tok Nio-cu semakin berani setelah mengeta-hui Lan See giok sama sekali tidak menggu-bris Oh Li cu. dia seperti memahami sesuatu. mengapa aku tak boleh men-campuri urusannya?" Nona berbaju putih itu semakin gusar: "Dia adalah suamiku. adik Giok. keningnya berkerut dan bentaknya keras-keras. aku adalah Li cu. mengapa pula aku tidak boleh menge-jarnya?" Tok Nio cu melongo kemudian berdiri tertegun. Selama berapa trahun terakhir izni. su-dah hampir setahun lamanya aku mencari-mu!" Namun ruang pavilliun berada dalam keadaan sunyi dan hening. ia berhasil juga menemukan adik Giok yang di cintainya. telapak tangannya dibalik mencengkeram urat nadi Oh Li cu. adik Giok nya sudah lari terbirit birit karena keta-kutan. aku adalah istrinya Oh Li cu. telapak tangannya yang sedang menyapu ke muka mendadak berubah menjadi bacokan langsung membabat dada lawan.

sahut-nya: "Bila kau tak mampu memikat adik Giok mu. "Criing . kemudian menjumpai pemuda itu. !" Diiringi desingan suara nyaring. Setelah berhasil mendesak mundur Tok Nio-cu. berarti kau sendiri yang tidak memiliki kepandaian. Sejak melihat Lan See giok memasuki ruang pavilliun.395 Dengan pengalamannya yang cukup luas dalam dunia persilatan. di atas wajah nya sama sekali tidak terlintas rasa takut. Kemudian sambil mengawasi Tok Nio cu de-ngan sorot mata penuh kebencian dan hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wa-jahnya dia berkata sambil menggigit bibir: "Sudah pasti kau. Amarah Tok Nio-cu segera meledak ledak sambil membentak keras telapak tangannya diputar menciptakan selapis bayangan te-la-pak tangan yang diiringi desingan angin ta-jam mendesak mundur tubuh Oh Li cu . namun dia tak sampai menjadi gugup atau panik. dengan wajah pucat pias serentak melarikan diri mencari selamat. pasti kau siluman rase yang telah mempengaruhi adik Giok. meskipun Tok Nio cu agak terkejut menghadapi ancaman tersebut. begitu tega mengurung diri dan menghin-darinya.. cahaya ta-jam berkilauan di udara. Oh li cu lantas berpendapat bahwa pemuda tersebut sudah pasti telah dipenga-ruhi perempuan muda yang genit itu. sementara pedangnya disiapkan di depan dada dan selangkah demi selangkah maju mendekati ke muka. Semua kekesalan dan amarahnya segera berubah menjadi api cemburu yang entah dari mana datangnya. sebilah pedang ta-jam tahu-tahu sudah berada dalam geng-gamannya . bila hari ini nonamu tak bisa mencincang tubuhmu sehingga hancur menjadi perkedel. Oh Li cu sama sekali tidak meng-gubris lawannya lagi. nonamu lebih suka menggorok leher dan menghabisi nyawa sendiri!" Sembari berbicara. dia mengawasi Tok Nio cu lekat-lekat. Serta merta tubuh bagian atasnya di-buang ke belakang.. bila kau tidak menggo-rok lehermu sendiri. Ketika tubuhnya kena didesak oleh serangan gencar Tok Nio cu sehingga terpaksa harus mundur dari ruangan. hari ini. dia langsung menerjang ma-suk ke ruang dalam. . jangan harap dapat meninggalkan tempat ini dalam keadaan se-lamat!" . ujung kakinya menjejak permu-kaan tanah dan melompat mundur ke bela-kang... Tok Nio-cu tertawa dingin. Ke empat dayang yang berdiri didekat-nya menjerit kaget karena ketakutan. ia menjadi nekad dan tangannya diputar kencang....

Berbicara yang sebenarnya. orang-orang Pek-ho-cay te-lah berjanji akan berkumpul di kota ini ma-lam nanti. terutama sekali ren-cananya untuk memancing Beruang berle-ngan tunggal ke luar dari tempat persembu-nyiannya. Perempuan itu diperlukan untuk mengadakan kontak dengan mereka.. diapun menaruh curiga kepada Oh Tin-san sebagai salah seorang pem-bunuh keji ayahnya. kemudian berseru keras: "Hei.. besok dia masih harus berangkat ke Tay ang san dan segala sesuatunya." Lan See giok yang melihat kejadian tersebut dari tempat persembunyiannya men-jadi kaget. Selain itu. Oh-li-cu de-ngan pedang di depan dada telah meng-him-pun tenaganya siap melancarkan serangan... Lan See giok dapat melihat betapa gawatnya situasi yang terbentang dihadapannya sekarang.396 Tangannya segera merogoh ke dalam saku kulit kecil yang tergantung di pinggangnya dan mengeluarkan tiga butir peluru Tok. Sedang mengenai pengumuman Oh-Tin san tentang perkawinan mereka. kalian jangan salah paham. tiba-tiba wajahnya berubah. tampaknya dia hendak mengatasi serangan dengan ketenangan. karena itu dia enggan bertemu de-ngan putrinya.leng tan . Baginya. Sedangkan Tok Nio-cu.. Tok Nio-cu dengan peluru api beracunnya sedang mengawasi pedang ditangan Oh Li--cu lekat-lekat.. kalian ja-ngan salah paham dulu.!" . Di samping itu . perempuan ini le-bih-lebih tak boleh sampai terluka. cepat-cepat dia menampakkan diri dari tempat persembunyiannya. kejadian terse-but hanya merupakan keputusan sepihak. Oh li-cu dan Tok Nio-cu telah saling berhadapan dengan senjata terhunus. ia tahu bagaimanapun juga harus munculkan diri guna mengatasi masalah tersebut. niscaya ketiga butir peluru api beracunnya akan di sambit ke luar.. ia masih mengharap kan petunjuk jalan darinya. entah siapa yang akhirnya menjadi korban. baginya hal tersebut tak pernah diakui. dia bukannya takut bertemu dengan Oh Li cu yang benar adalah dia merasa tak bisa memberi penjela-san kepada gadis itu atas usahanya melari-kan diri waktu dulu. yang jelas kejadian semacam ini sama sekali tak diharapkan olehnya. karena itu kehadiran perempuan tersebut amat diharapkan. Tapi sekarang. Asal pedang Oh-Li-cu digerakkan. Oh Li cu mempunyai budi pertolo-ngan dan membantunya kabur dari Wi-lim-poo. Sementara dia masih berpikir.

kemu-dian memasukkan kembali peluru api beracunnya ke dalam saku. kembali ia merasakan hatinya bagaikan ditembusi beratus batang anak panah. Melihat si anak muda itu telah menampak-kan diri. kini ia sudah menjadi seorang pemuda yang matang sekali.. kau tak usah berkata apapun. cici akan mengakui sendiri bahwa nasibku memang buruk. harap cici jangan marah lagi. Sebagai seorang pemuda yang berhati baik apa lagi Oh Li cu selalu menunjukkan sikap yang amat memperhatikan diri nya. Tok Nio cu memandang sekejap ke arah Oh Li-cu sambil tertawa dingin. tadi. dan cici bersedia membantu untuk mengungkap latar belakang kejadian itu sampai tuntas. Menyaksikan keadaan si nona yang masih saja berdiri termangu seolaholah tidak mendengar sama sekali apa yang dikatakan barusan. harap kau sudi memaafkan siaute yang mempunyai kesulitan untuk memberi keterangan kepadamu. atas kesalahan tadi biar siaute minta maaf. tapi teringat kejadian tadi rasa sedih dalam hatinya belum juga hilang. Sembari menjura katanya kemudian: "Enci Cu.. dia melompat ke tengah ru-angan. namun biarpun hatinya sedikit agak terhibur. seandainya pembunuh ayahmu Lan tayhiap benar-benar adalah ayahku. yaa anggaplah nasibku memang jelek. Oh Li-cu pun memperlihatkan rasa gembira yang tak terlukiskan dengan kata-kata sete-lah menyaksikan kemunculan pemuda itu ia menjumpai Lan See giok lebih tampan dan lebih dewasa. Oh Li cu menghela napas sedih. dia menya-rungkan kembali pedangnya lalu berkata dengan air mata bercucuran: "Semua duduknya persoalan telah dl jelaskan Hu-yong siancu Han lihiap kepadaku. Namun bila teringat kembali sikap Lan See-giok yang melarikan diri serta berusaha menghindari pertemuan dengannya tadi." Sembari berkata. air matanya tak terbendung lagi dan segera ber-cucuran seperti air bah yang menjebol kan tanggul. tapi aku berbuat demikian disebabkan keadaan yang terpaksa. sesungguh nya aku bukan bermaksud menghindarimu.397 Sambil berseri." . ia betul-betul menj-ura dalam-dalam kepala gadis tersebut. anak muda itu tak bisa melukai hatinya lebih jauh. dengan nada minta maaf sekali lagi dia berkata: "Enci Cu. silahkan duduk di dalam ruangan!" Panggilan "enci" itu segera mengobati jerih payah Oh Li cu yang telah merantau dan berusaha mencarinya hampir setahun lama-nya.

selamat berjumpa" seru Tok Nio-cu kemudian sambil tertawa nyaring. sekarang telah bekerja kembali menghidang kan air teh. dari benteng Pek hoo cay. Tok Nio-cu tertawa genit. Ketika Lan See giok melihat di atas wajah On Li cu masih diliputi hawa amarahnya. rupanya putri kesayangan dari Oh Pocu selamat berjumpa." "Oooh. "Gui caycu dari benteng Pak ho cay adalah sahabat karib dari Oh lo pocu. jadi untuk beberapa saat diapun tak habis mengerti. maka dia segera memberi penjelasan. kian lama ia kian bertambah kebingungan. Lan See giok segera mempersilahkan juga Tok Nio cu untuk masuk. Setelah semua orang duduk. Oh Li cu melangkah masuk ke dalam ru-angan. Sebaliknya Tok Nio-cu yang melihat Lau See giok menyebut "cici" kepada Oh Li cu. hubungan persahabatan mereka amat akrab dan sekarang kalian berdua telah berjumpa. Sementara itu. ia langsung menuju ke ruang dalam. Tok Nio-cu yang turut mendengarkan pembicaraan mana. Lan See giok baru menuding ke arah Tok Nio-cu dan memperkenalkan kepada Oh Li cu. ia segera mempersilahkan gadis itu untuk me-masuki ruangan. selama ini dia tidak berpaling ke arah Tok Nio-cu. nona Oh Li cu. Tok Nio-cu yang mendengar itu segera menyambung dengan cepat: "Aku adalah Tok Nio cu Be Cui peng. ini menandakan bahwa pemuda tersebut telah mengakui Oh Li cu sebagai bininya tiba-tiba saja ia merasa sedih bercampur cemburu. dia mengangguk pelan terhadap Tok Nio-cu. seolah kuatir perempuan itu mengejek lebih jauh. maka sambil membalikkan badan bersama pemuda itu masuk ke dalam ruangan" Ke empat dayang yang semula ketakutan. bahkan memandang sekejappun tidak. apalagi Lan See giok memang tak pernah membicarakan soal Oh Tin san kepadanya. ke-sempatan untuk berkumpul pun akan ber-tambah banyak. Setelah mempersilahkan Oh Li cu. "Dia adalah Gui hujin. ia merasa gembira sekali dengan sikap pemuda itu.398 Lan See giok manggut-manggut sedih." Kemudian Lan See giok segera memperkenal-kan Oh Li cu kepada perempuan itu: "Dan dia adalah putri kesayangan dari Oh Po cu dari Wi-lim-poo. dengan pengalaman Gui hujin yang luas dan pengetahuan yang .

karena itu dia-pun tak berani menceritakan pengalaman nya belajar silat di bukit Hoa san. dia toh masih rada curiga. buru-buru Lan See giok me-ngalihkan pembicaraan ke soal lain. diapun enggan menyusahkan pemuda pujaan hatinya. itulah yang menye-babkan timbul perasaan cemburu dalam hatinya. sebaliknya Tok Nio-cu me-nunjukkan sikap acuh tak acuh." Sembari berkata. ma-tanya berkaca kaca. selesai mendengarkan penuturan itu. ujarnya kemudian kepada Oh Li-cu: "Enci Cu.... karenanya sepeninggal Tok Nio-cu ia segera bertanya dengan perasaan tidak habis mengerti: "Adik Giok. Secara ringkas dia hanya bercerita tentang kepergiannya ke Pek ho cay untuk menuntut balas terhadap Gui Pak ciang . bagaimana sih ceritanya sehingga kau dapat bergaul dengan orang--orang dari Pek-ho-cay?" Sampai sekarang Lan See-giok masih belum tahu apa saja yang telah dibicarakan Hu-yong siancu kepadanya. sekarang ia su-dah dapat menilai bahwa hubungan antara adik Giok dengan Tok Nio-cu ters-ebut ter-nyata masih jauh di bawah apa yang diduganya semula. baik-baiklah kau selama satu tahun belakangan ini?" Sebelum menjawab. ." Buru-buru Lan See giok bangkit berdiri sam-bil mengantar. tentug saja enggan mebnde-ngarkan urusan pribadi kedua orang itu. maka sambil bangkit berdiri katanya kemudian: "Silahkan adik Giok dan nona Oh ber-bin-cang-bincang dulu. terpaksa On Li cu turut bangkit pula. semenjak berpisah di pesisir telaga tempo hari. Melihat perkataan dari Oh Li cu diutarakan amat terpaksa. sudah sepantasnya bila enci Cu se-ringkali memohon petunjuk dari Gui hujin " Selama ini Oh Li cu selalu menaruh curiga kepada Tok Nio cu bahwasanya perempuan itu mempunyai hubungan yang luar biasa dengan adik Giok nya. Kendatipun demikian. Walaupun begitu. dia lantas beranjak ke luar dari ruangan. seakan akan sama sekali tidak menaruh perhatian atas hal mana. tiba-tiba saja sepasang mata Oh Li cu berubah menjadi merah.. Karena pemuda itu bangkit berdiri. aku hendak pergi ke pekan raya dulu untuk melihat apakah sau-dara-saudara ku sudah berkumpul semua. karena itu dengan memaksakan diri dia ha-rus mengucapkan beberapa patah kata me-rendah untuk perempuan tersebut. Oh Li cu segera bertanya dengan perasaan tak mengerti.399 ba-nyak. Tok Nio-cu sebagai seseorang ybang berpe-ngalajman luas.. dit-ambah pula dia kuatir orang-orang Pek ho cay belum berkumpul semua. malah mengucapkan pula rasa terima kasihnya..

setiap hari aku melakukan perja-lanan..400 "Lantas ke mana kau hendak pergi dalam langkah kedua ini?" "Bukit Tay ang San!" jawab Lan See giok tanpa ragu-ragu. kau amat bernilai tinggi.. menembusi angin dan salju untuk mencari jejakmu. dengan air mata bercucuran dan sekujur badan gemetar keras. katanya kemudian dengan nada sedih: "Dendam sakit hati ayahku lebih dalam dari-pada samudra. kau hari ini. "Gara-gara kau. Oh Li-cu telah menyela. dengan perasaan berterima kasih katanya kemudian. setahun terakhir ini aku telah banyak menderita bagimu. mau tak mau aku toh harus menda-tanginya juga!" "Baiklah" akhirnya Oh Li cu menghela napas. Lan See giok turut merasa sedih. bila sampai menderita cedera atau sesuatu yang tak diinginkan. "Dendam sakit hati ayahku lebih dalam dari samudra. memang tidak bbohong selain ijtu dia juga mengdapat tahu kalabu Oh Li cu belum tahu jika ia telah belajar silat di bukit Hoa san.. air mata bercucuran dengan deras dan meledaklah isak tangisnya yang memilukan hati. kembali kata katanya. sungguh tak kusangka. "cici akan mengiringi kepergianmu ini. jangan lagi cuma kau seorang biar kami bertiga pergi bersama pun masih meru-pakan masalah besar--" Ditinjau dari peru-bahan sikap Oh Li cu. rasa terima kasih memenuhi dadanya. dengan cepat Lan See giok mendapat tahu kalau keterangan dari Tok Nio cu tadi. sekalipun aku tahu jalan tersebut merupakan sebuah jalan kematian bagiku. semuanya di jaga oleh jago-jago kenamaan dari golongan hitam dan konon ilmu silat mereka luar biasa sekali.. Setelah tertawa hambar. se-muanya terdiri dari tiga bukit.. hatiku pun rela ." Gadis itu tak sanggup melanjutkan. cici telah meninggalkan rumah. Berubah hebat paras muka 0h Li cu mende-ngar nama tersebut. sembilan pun-cak dan dua belas benteng.. sudah pasti siaute akan menyesal sepanjang jaman " Sebelum anak muda itu menyelesaikan kata katanya. aku tak ingin musuh besarku itu mampus ditangan orang lain. bila aku bisa mati bersamamu. Dengan perasaan terharu dan gelisah. sukar makan tak nyenyak tidur memikirkan kau. teru-tama se-lama setahun belakangan ini. cepat-cepat ia berseru: . ia berseru tertahan: ""Bukit Tay ang san? Aku dengar Tay ang san meliputi daerah seluas berapa ratus li. akan tetapi diapun enggan membiarkan gadis tersebut mengorbankan jiwa demi dirinya. memutuskan hubungan dengan orang tua." Lan See-giok benar-benar terharu sekali oleh ucapan mana. Cici kau adalah seorang putri seorang kenamaan.. dia dapat merasa-kan perubahan dari Oh Li-cu.

. Entah berapa saat sudah lewat..." "Apakah kau ditolong oleh kakek berjubah kuning?" tanya Oh Li cu tak sabar. Lan See. hanya saja. masih ada pula Hu-yong siancu bibi Wan!" . tiba-tiba saja terhembus segulung angin kuat yang menerpa datang. "Tapi mengapa aku tak berhasil menemukan jejakmu meski seluruh bukit dan hutan telah kucari?" "Kalau dibicarakan sesungguhnya merupa-kan suatu kebetulan saja. Lan See giok segera manfaatkan kesempatan itu untuk mengalihkan pembicaraan ke soal lain. Cepat-cepat Lan See-giok mengangguk. bukankah kau telah bersua dengan Hu-yong siancu bibi Wan? Apa saja yang te-lah ia katakan kepadamu?" Dengan sapu tangannya Oh Li cu menyeka air mata yang berlinang. "kalau tidak.. "Ya. maka tanpa sangsi barang sedikitpun jua dia menjawab: "Kalau menurut pandanganmu waktu itu.giok memang telah mempersiapkan diri semenjak tadi." teriak Oh Li-cu sambil menutupi wajahnya dengan kedua belah ta-ngan lalu menangis tersedu. akhirnya isak tangis dari Oh Li-cu pun mulai mereda. jangan dibica-rakan lagi. kuda tua tadipun segera berhenti berlari. apakah siaute memang mempunyai rencana untuk melarikan diri?" Oh Li-cu seperti belum juga mau percaya..." Lan See-giok menjelaskan dengan kening berkerut. kembali tanyanya dengan nada tak mengerti. jangan berbicara lagi. bukan menjawab dia malah berbalik bertanya: "Ketika kau menunggang kuda putih tempo hari. Sewaktu mendekam di punggung kuda waktu itu aku dilarikan ke atas sebuah bukit kecil. ia terbungkamr untuk sesaat dan cuma bisa mendengarkan isak tangis nona itu dengan wajah melongo. Untuk sesaat suasana dalam ruang pavilliun itu hanya dipenuhi oleh suara sedu sedan yang memilukan hati.401 "Budi kebaikan cici tak pernah akan siaute lupakan.. agaknya memang berniat untuk melari-kan diri rupanya. mungkin aku sudah terbanting mam-pus oleh kuda putih tua itu.. katanya: "Enci Cu." Terhadap pertanyaan tersebut.." "Sudah. Lan See giok tark ingin Oh Li czu bersedih hatiw.

" Kemudian sewaktu dilihatnya Oh Li cu menunjukkan perasaan tak senang hati. tahu-tahu Tok Nio-cu sudah berjalan masuk dengan langkah tergesa gesa: Lan See giok menjumpai Tok Nio cu berkerut kening. karenanya dia bertanya lagi: "Adik Giok. perguruankupun me-rupakan rahasia orang luar. kau belajar silat dimana. Lan See giok segera menegur: . "Apakah selama setahun belakangan ini.?" "Maafkanlah daku cici. maka diapun bertanya dengan perasaan kuatir." Sekali lagi Oh Li-cu menganggukkan kepalanya. kami pulang dulu ke rumah kedia-man bibi Wan. "Tidak. maka tanyanya lebih jauh dengan perasaan tak mengerti: "Apakah kau segera dibawa pergi oleh kakek berjubah kuning itu?" Lan See giok segera teringat kembali bagai-mana gurunya To Seng-cu masih sempat menampakkan diri dihadapan Oh Tin san suami istri dari balik rumah bibi Wan hingga membuat gembong iblis itu kabur ketakutan. ""Cuma ayahmu mengetahui dengan jelas akan asal usul guruku itu. Karenanya dia menggelengkan kepalanya.? Siapa pula kakek berjubah kuning Itu. "Tentu saja ada kemajuan yang telah ku peroleh. bukankah akan segera kau keta-hui?" Oh Li cu sangat tidak puas denbgan jawaban darji Lan See giok gsebelum ia bertbanya lebih lanjut. hal ini membuatnya berkesimpulan bahwa orang-orang dari Pek ho cay tidak berhasil menyusul si harimau berkaki cebol" Sambil menyambut kedatangan perempuan itu. nama besar guru ku tak bisa disebut sebut.402 Oh Li cu segera mengangguk berulang kali. baru malam berikutnya aku meninggalkan rumah kediaman bibi Wan. ia merasa penjelasan anak muda tersebut mirip sekali dengan penjelasan dari Hu-yong siancu. siaute sendiri juga tidak tahu. cuma saja sampai di manakah ke-majuan yang berhasi1 kucapai itu. ia menjelaskan lebih jauh. kau selalu mengikuti tokoh sakti itu belajar silat?" Lan See giok mengiakan sambil mengangguk "Bagaimana dengan taraf kepandaian silat mu sekarang? Apakah telah memperoleh ke-majuan yang pesat? gadis itu bertanya lebih jauh. wajahnya nampak berat dan serius. asal cici bertanya kepadanya." Meninjau dari mimik muka anak muda itu Oh Li-cu menyimpulkan bahwa kemajuan yang dicapai pemuda tersebut dalam ilmu silatnya tidak begitu pesat. bayangan manusia telah berke-lebat lewat di depan pintu.

Tok Nio cu telah menyela lebih dulu. laporan dari setiap pos mengatakan bahwa mereka tidak melihat orang itu berganti kuda di tempat mereka. asal kau bertindak lebih hati-hati saja. Bisa jadi pada hari pertama ia telah menduga akan datangnya pengejar dari pihak benteng. dia baru mulai melakukan perjalanan menuju kota Han sia dan sekarang bisa jadi telah memasuki wilayah Tay-ang san di bawah pengaruh si Beruang berlengan tunggal. Oh Li cu yang selama ini mendebngarkan pembicajraan tersebut. kau mempunyai kuda?" Sebelum pemuda itu menjawab. "Aku telah memilihkan seekor kuda Wu--wi dari antara dua puluhan "ekor kuda jempo-lan. je-jaknya baru ketahuan. dalam keadaan demikian sekalipun para jago dari Pek-ho cay berhasil menyusulnyapun belum tentu berani menangkapmya.." "Sayang sekali biar adu kudapun. tanggung tak bakal ada persoalan. si harimau berkaki cebol memang se-orang setan alas yang licin." Diam-diam Lan See-giok merasa gelisah. bisa jadi dia menelusuri Pek hoo cay. setelah sampai di kota Huan-sia." jarak dari tempat itu sampai di Pek hoo cay hampir mencapai ratusan li diantaranya terpisah oleh perbukitan Bu -tong san. Dengan gemas Oh Li cu segera berseru: "Tempo hari. ia segera bertanya dengan gelisah: "Adik giok. gtiba-tiba mencobrong sinar tajam dari balik matanya." . melalui Tin -siang langsung menuju ke Kong-hua dan tiba di kota huan sia.. "Aai.?" Dengan kening berkerut Tok Nio-cu menghela napas panjang. karena itu dia menyem-bunyikan diri di tempat kegelapan. Dengan sedih Tok-Nio-cu menggelengkan kepalanya berulang kali: "Dia sudah lewat semenjak dua hari berse-lang. aku tak mau menaikinya!" tukas pemuda itu sedih. kau toh tidak sampai dl banting oleh kuda tua itu hingga terluka? Apa sih yang mesti kau takuti? Dengan kepandaian silat yang kau miliki." "Aneh betul" seru Lan See giok kemudian makin gelisah. menanti para pengejar sudah lewat. Dengan cara bagaimana ia dapat berlalu dari situ?" "Menurut dugaan dari para pengejar. "Apakah sudah berhasil dikejar?" tanya Lan See giok gelisah. na-mun diapun merasa kagum sekali. sejak perjumpaan di Pek ho cay tempo hari dia su-dah menduga kalau si harimau berkaki cebol adalah seorang manusia yang pandai bekerja..403 "Apakah mereka telah berhasil menyusul si harimau berkaki cebol..

sekalipun si harimau berkaki cebol belum tiba di tempat tujuan. kita bersama-sama ke luar dari Siang-yang.. kembali dia berkata. biar aku yang menunggang Wu wi.." "Sayang sudah tak sempat lagi" cegah Tok Nio cu. sekarang kau tak perlu kuatir untuk menungganginya lagi" Kemudian sambil berpaling kearah Tok Nio cu. dengan cepat dia menimbrung dari samping. tanpa terasa tanyanyar kemudian dengazn perasaan sangwat gelisah: Larntas apa yang mesti kita lakukan menurut pendapat nyonya?" Dengan rencana yang matang.. "Kalau memang begitu. lebih baik kita bertindak secara tenang saja. bukankah hal tersebut berarti kita akan memberi kesempatan yang lebih banyak bagi Beruang berlengan tunggal un-tuk mempersiapkan diri?" seru Oh Li cu tidak setuju. Tok Nio-cu tertawa dingin: "Kecepatan orang-orang Tay ang san mene-rima berita sangat mengejutkan hati. memanfaatkan kesempatan tersebut katanya kemudian. adik Giok. sedang adik giok boleh memakai kuda pek liong kou milikku. asal kita berangkat pada malam ini." Waktu itu Lan See gook sudah dibuat keha-bisan akal oleh pembicaraan kedua orang itu.. kuda kesayangan Kwan Kong dimasa lampau. itu lebih bagus lagi. bukan cuma cepat. esok juga. Oh Li cu tahu kalau kata-kata semacam itu hanya bermaksud untuk memuji kehebatan kudanya saja. kita boleh menem-puhnya di dalam lima hari . "Kalau begitu.. kita sudah pasti telah-sampai di bukit Tay-ang san.404 Tampaknya Tok Nio cu sudah mengambil keputusan untuk menyerahkan kuda kesa-yangannya untuk Lan See giok. delapan ratus li mah masih bisa dicapai. "Nah. Tok Nio cu menjawab: "Kalau toh masalahnya sudah tak mungkin ditolong lagi. "Bagaimana kalau kita berangkat sekarang juga? Kuda Ci hwee kou milikku adalah ketu-runan dari Ci toh-kou. biarpun tak bisa menempuh seribu li dalam sehari. kuda itupun bisa lari tenang. tanggung ada orang yang segera akan menguntit perjalanan kita.. sewaktu berlari biar kita menaruh semang-kuk air di atas pelannya pun. burung-burung merpati pos milik Tay ang san sudah pasti telah tiba lebih dulu di tempat tujuan.. Pek liong kou me-mang salah satu kuda jempolan yang sangat langka dalam dunia ini. perjalanan yang seharusnya bisa dicapai dalam dua hari. bila kau tak percaya lihat saja besok. dia bisa lari cepat tapi tenang. air dalam mangkuk tak bakalan tumpah." .

namun besok kita harus menempuh perjalanan pagi-pagi sekali. si anak muda itu telah memutuskan secara tegas.tiba satu ingatan melintas dalam benak Oh Li cu. mari kita pergi beristirahat saja . toh mereka tetap tidak begitu percaya. tapi se-betulnya aku belum memesan kamar. "Meskipun aku telah menitipkan kudaku di dalam rumah penginapan seberang. kepada Oh Li cu katanya kemudian... Sementara dia berniat untuk membujuk Lan See giok agar segera berangkat. "Walaupun sekarang waktu masih pagi. sampai waktunya meski kita tak usah mendobrak kedua belas benteng mereka. biar nyonya tinggal di kamar sebelah timur sedang enci Cu di kamar sebelah barat. suatu pemborosan belaka.. kita berangkat besok pagi saja!" Tok Nio-cu tertawa renyah." "Itu mah gampang sekali" sambung Tok Nio cu penuh keramahan. Oh Li-cu selalu berkesimpulan bahwa Tok Nio-cu mempunyai maksud tu-juan yang kurang baik atas adik Giok nya. dan saat itu perta-rungan berdarah tak akan bisa dihindari lagi!" Kemudian ia mengerling sekejap ke arah Lan See giok dengan sorot mata yang lembut dan genit.. "Saat ini kita harus menghimpun tenaga se-baik baiknya sambil menjaga kondisi badan tetap prima..". sedang aku sendiri cu-kup bersemedi di ruang tengah saja" Napsu birahi yang semula menyelimuti wajah Tok Nio-cu seketika hilang lenyap tak mem-bekas. Terdengar Tok Nio cu berkata lebih jauh. Tiba. biar kuperintahkan kepada pelayan untuk menyediakan sebuah kamar lagi untukmu -" Tidak usah" cegah Lan See giok.. dengan nada suara yang memikat terusnya: "Tentu saja semuanya ini tergan-tung keputusan dari adik Giok sendiri. ia merasa tindakan semacam itu hanya merupakan. sekarang aku akan perintah kan para pelayan untuk menghubungi kasir agar rekening dihitung dan kuda dipersiap-kan!" Selama ini. bila adik Giok memutuskan akan berangkat pada malam ini juga..405 Walaupun Lan See giok dan Oh Li cu me-ngangguk berulang kali. aku yakin para caycu yang lain akan berdatangan untuk memberi ban-tuan kepada rekannya. tapi ia masih memaksakan diri untuk berkata sambil tersenyum: . "Kalau memang begitu. "satu dua jam" akan lewat dengan cepat. sambil berpaling kearah Lan See giok segera ujarnya. namun setelah memasuki puncak Keng thian hong. ini dilihat dari sorot matanya yang jalang serta nada suaranya yang memikat hati.

g kemudian dengabn cekatan dia berpaling ke arah sang pemuda sambil bisiknya lirih: "Hei. lalu mengangguk de-ngan perasaan tak mengerti. "Aku pernah minum cairan kemala Leng. sedikit-sedikit lantas turun tangan melakukan pembunuhan. menawan hati. Besok kita bersua lagi. Lan See giok termangu mangu untuk bebe-rapa saat lamanya. ia merasa Oh Li cu telah berubah sama sekali. maaf kalau aku akan mengundurkan diri le-bih dulu" Lan See giok dan Oh Li cu serentak bangkit berdiri sambil berseru: "Selamat malam!" Dengan senyum dikulum Tok Nio cu me-ngundurkan diri dari ruangan dan langsung menuju ke ruang timur.toh men-jelaskan juga.sik-giok-ji. secara otomatis di dalam cairan darahku sudah terkandung hawa sakti yang dapat melawan pengaruh racun " Oh Li cu sudah pernah mengalami kegagalan. karena itu dia cukup mempercayai perkataan anak muda tersebut. dia begitu cabul. lembut dan memberikan ke-san yang indah bagi siapapun yang meman-dangnya. terutama kesombongannya.406 "Begitu pun ada baiknya. Bila membayangkan kembali sikapnya ketika masih berada di Benteng Wilim-poo tempo hari. Kini si nona berubah menjadi begitu cantik. masih berada disakuku!" Bagaikan seorang istri yang sangat memper-hatikan suaminya. dua orang dayang mengikuti di belakangnya untuk melayani keperluan nyonya tersebut. Dua orang dayang segera mengikuti pula di belakangnya untuk melayani keperluan pe-rempuan itu. jalang keji dan buas. Oh Li cu kembali berbisik.. "Ayo cepat kau telan sebutir!" Lan See giok sungguh dibuat kebingungan oleh sikap gadis tersebut tapi dia. pil pemunah racun Ban leng ciat tok wan pemberianku dulu apakah masih berada disakumu?" Lan See giok tertegun. "Yaa. Oh Li cu mengawasi sampai Tok bNio-cu ma-suk kje ruang timur. terutama setelah perpisahannya dalam setahun ini. waktu itu dia benar-benar termasuk seorang perempuan berhati sejahat bisa ular beracun. cuma hal ini akan menyiksa adik Giok. maka sambil tertawa genit ujarnya lembut: "Tidurlah sampai berjumpa esok pagi!" Setelah melemparkan sekulum senyuman manis. dia membalikkan badan dan beranjak ke luar dari ruangan. .

Kota Siang-yang yang selalu sibuk dan ramai. diam-diam dia mengumpat di-hati kecilnya "Keparat.407 Tapi sekarang. Oh Li cu merasa sangat gundah. penderitaan dan jerih payahnya selama setahun terakhir. Tok Nio-cu dengan langkah yang berhati hati sekali sedang membuka pintu kamar. tiba-tiba terdengar pula pintu dibuka orang dari ruang sebelah. 0h Liu cu terkejut. pikiran nya kalut dan hatinya tak pernah tenang. Waktu berlalu sangat cepat. mem-bayangkan kesulitan. dengan jari tangannya dia melubangi kertas jendela kemudian me-ngintip ke luar.. ternyata siluman rase itu memang mempunyai tujuan yang amat jahat. akhirnya adik Giok berhasil ditemukan kembali. mendadakr dilihatnya Tok Nio-cu.. dan perlambat langkahnya. lambat laun sudah berubah menjadi lengang kembali. . namun bagaimana kah nasibnya kemudian? Apakah semuanya bisa diramalkan mulai sekarang? Dia hanya bisa berdoa. ." Baru saja dia hrendak melompat zke luar dari jewndela. tanpa terasa dua titik air mata jatuh berlinang. dia hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil terta-wa. Berkat doa restu. Sepeninggal kedua orang perempuan itu Lan See-giok duduk bersila di atas kursi dan bersemedi untuk melatih ilmu Hud-kong sinkangnya. dia ingin tahu ba-gaimana keadaan adik Gioknya sekarang Bersamaan waktunya melompat turun dari ranjang. Pelan-pelan dia turun dari ranjang dan menuju ke ruang tengah. Membayangkan kesemuanya itu. dia seperti telah berubah sama sekali. ia segera teringat akan Tok Nio cu. tak terlukiskan rasa gusar Oh Li cu menyak-sikan hal ini. moga-moga saja ia dapat mendampingi adik Gioknya se-panjang jaman. tapi persoalan apakah yang membuatnya berubah? Waktu? Cinta? Atau pebngalaman? Atau jmungkin kasih sgayang membuat hbatinya berubah selembut kapas -Y Membayangkan kesemuanya itu.. tanpa terasa kentongan ketiga sudah lewat. Betul juga. Tiba di depan jendela. maka sambil menahan napas. mengempit segulung selimut di bawah ketiak nya. akhirnya hanya begini hasil yang diperolehnya. pelan-pelan dia menuju ke depan jendela. berpikir sampai di sini ia segera teringat kembali dengan Lan See-giok yang tidur di ruang tengah..

yakni gerak gerik mereka berdua ternyata tak sebuahpun yang lolos dari pengamatan Lan See giok dengan Hud kong sinkangnya. tapi sebelum melompat ke luar dari ruangan. satu ingatan telah melintas dalam benaknya. niscaya mereka sudah berteriak teriak panik. maka ia melompat ke arah pintu dan mengintip dari situ. dia membayangkan kembali guma-man memuji dari Tok Nio cu tadi. agaknya ia telah menjumpai suatu keajaiban pada diri adik Giok. Dalam keadaan begini meskipun Oh Li cu tidak habis mengerti. Tok Nio-cu berdiri ditengah halaman dan memandang ke ruang tengah dengan wajah termangu. kembali nona ini dibuat tidak habis mengerti. "Siapa yang suruh kau memperhatikan suamiku?" Dengan cepat dia melompat ke depan pemba-ringan sambil menyambar sebuah selimut. Sementara ia bermaksud untuk menyelinap ke luar. bukankah hal ini akan ditertawakan oleh Tok Nio cu? Setelah berbaring kembali di atas pem-ba-ringan. mendadak dilihatnya Tok Nio-cu se-dang menggelengkan kepalanya berulang kali kemudian setelah berguman memuji. Niatnya semula segera diurungkan. Sulit baginya untuk memandang keadaan di ruang tengah. diam-diam Oh Li cu mendengus dingin. coba kalau ke empat orang dayang tersebut. dia ma-suk kembali ke dalam kamarnya. dia seakan akan dibuat terkesiap oleh pemandangan yang terbentang dihada-pannya. Tapi setibanya di depan jendela dan menyak-sikan apa yang terbentang di depan mata. namun dia sendiri pun mengurungkan niatnya untuk mengantar selimut buat sang pemuda. tiada sesuatu gejala yang aneh hanya saja dia tak dapat melihat tempat dimana adik Giok berada sekarang. dia ingin menyelidiki perbuatan apakah yang hendak dilakukan Tok Nio cu.408 Hawa amarah kontan berubah menjadi ko-baran api cemburu setelah melihat hal ini. Dari posisi Oh Li cu berada saat ini. Ada satu hal yang mungkin tak pernah disangka oleh Tok Nio-cu serta Oh Li-cu. . ke-mudian pikirnya lagi. Sudah barang tentu dia tak pernah akan menyangka kalau Tok Nio-cu telah menyak-sikan lingkaran cahaya di atas kedua belah bahu dan ubunubun Lan See giok yang se-dang duduk bersemedi. Untung saja Tok Nio cu yang sudah berpe-ngalaman luas yang melihat kejadian ini. Suasana di ruang tengah terang benderang bermandikan cahaya. andaikata per-buatannya sampai ditampik oleh adik Giok.

Kentongan kelima sudah berbunyi. Oh Li cu juga ti-dak mengungkapnya. Mendadak terdengar Tok Nio-cu berbisik dengan suara rendah.. sama sekali tidak menderita dan kemung-kinan. Berhubung Tok Nio cu tidak membicarakan tentang peristiwa semalam. suatu senyu-man yang penuh mengandung arti. kuda Ci hwee kou milik Oh Li cu juga telah dipersiap-kan. Pada mulanya Lan See giok masih ragu de-ngan kemampuan kudanya yang dikatakan sangat hebat itu.. "Kawanan tikus itu betul-betul tak tahu diri. segera katanya. Sedangkan kuda Wu-wi kou berbulu hitam pekat. otomatis Lan See giok pun berlagak pilon. Tanpa terasa dua belas li sudah dilewat-kan dengan cepat. namun setelah perjalanan sekian lama. berpakaian ringkas sedang." Tergerak hati Lan See giok menbdengar per-katajan itu. . Oh Li-cu sangat gusar setelah melihat ke-jadian tersebut. sebaliknya Ci hwee kou berbulu serba merah.." Lan See giok sendiri meski agak men-dongkol. dengan gcepat ia berpalbing. "Kalau begitu mari kita percepat lari kuda kita untuk meninggalkan mereka jauh-jauh!" Tok Nio-cu tersenyum hambar. orang kelima di belakangmu sudah lama sekali menguntit perjalanan kita. melarikan kudanya menguntit mereka. "Adik Giok. terjatuh kecil sekali. tinggi kekar dan gagah. Pek liong kou adalah seekor kuda berwarna putih mulus dengan pelana emas dan alas perak.. Lan See giok bertiga mulai merencanakan perjalanan mereka. lati-hannya hanya untuk menangkap per-buatan mereka berdua. fajar pun mulai menyingsing. mereka bertiga ke luar dari rumah penginapan. dengan kening berkerut seru nya. berangkatlah ketiga orang itu menuju kearah timur kota. Selesai membayar rekening. Dengan menunggang kuda. namun ia tidak berkata apa-apa. rupanya mereka sudah bosan hidup se-mua. cepat ber-paling. namun dia enggan mencari banyak urusan. Selesai sarapan.409 Cuma dia enggan membuyarkan tenaga. dia merasakan kuda putih itu memang bisa lari dengan cepat tapi mantap. Lebih kurang puluhan kaki di belakangnya terlihat ada lima ekor kuda dengan lima lelaki kekar.

sementara ke lima orang penunggang kuda tadi sudah tertinggal jauh di belakang. kemudian ia tertawa senang. Tetapi pada saat itulah--Terdengar suara sayap yang berkebas me-nembusi angkasa melintasi di atas kepala ke tiga orang itu--Tok Nio cu mendongakkan kepalanya sambil menengok sekejap. benar juga seekor burung merpati pos sedang terbang melintas. Dalam waktu singkat bayangan tersebut su-dah berada ratusan kaki jauhnya dari tempat semula. Di samping itu. mereka berdua juga segera mengerti apa sebabnya Tok. perjalanan sesuai jadwal. namun dia pun tidak banyak bertanya dan segera melarikan kudanya meninggalkan tempat itu . Tok Nio cu serta Oh Li cu sama-sama tergerak hatinya. dalam waktu singkat mereka telah menem-puh perjalanan sejauh sepuluh li lebih. Tiba-tiba -Dari arah belakang kembali berkumandang suara burung yang terbang melintasi di ang-kasa. Tentu saja Lan See giok dan Oh Ii cu tidak habis mengerti. mereka ikut mendongakkan kepalannya. rupanya bayangan abu-abu itu adalah bu-rung merpati pos yang di lepaskan ke lima orang penguntit tersebut. Ketika mereka bertiga berpaling. Menempuhg perjalanan le-bbih cepatpun percuma. mereka tahu kelima orang yang berada di belakang kem-bali telah melepaskan burung merpati pos. Berpikir sampai disini. Dengan kemampuan ketiga ekor kuda itu. Dengan cepat mereka berdua menjadi sadar. jarak ketinggian dari permukaan tanah paling banter cuma enam kaki. Menanti Lan See giok berpaling kembali di belakang tubuhnya hanya nampak debu yang mengepul di angkasa. .. tampak setitik bayangan abu-abu melintas ditengah angkasa dan meluncur ke arah timur dengan kecepatan bagaikan sambaran petir. Nio-cu tertawa bangga tadi. Lan See giok segera memperlambat lari kudanya. tentunya dia seperti henbdak berkata demjikian. lebih baik melanjut-kan. otomatis Oh Li cu dan Tok Nio cu pun ikut mengurangi ke-cepatan lari kudanya.410 Lan See giok yang menyaksikan hal tersebut menjadi tidak habis mengerti. ". bahkan sama sekali sudah tak nampak lagi. Lan See giok. ..

411 Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Lan See giok. Oh Li cu merasa agak bimbang. Dengan cepat mereka bertiga melanjutkan perjalanan lagi menuju ke depan. setelah sa-dar kalau di sekitar situ tiada orang lain. di depan situ muncul sebuah jembatan batu.. Lan See giok yang melihat hal tersebut cuma membungkam diri mesti hati kecilnya tertawa geli. diam-diam Lan See giok dan Oh Li cu memuji ketelitian cara kerjanya. melepaskan tabung kecil yang terikat di kakinya kemudian membuang bangkai tersebut ke dalam sungai. disaat Tok Niocu dan Oh Li cu sedang mengamati burung merpati tersebut. Maka kepada Lan See giok serta Oh Li cu ujarnya kemudian: "Ayo cepat berarngkat. Tidak sampai lima li. serentak mereka menjerit kaget. kemudian mereka melarikan kudanya menghampiri bangkai merpati tadi. "Prakkk!" Burung merpati itu terguling guling di tengah udara kemudian meluncur ke muka dan akhirnya menukik ke arah persawahan bebe-rapa puluh kaki di depan sana. Tergerak hati Tok Nio cu. tampak air yang mengalir di sungai itu deras sekali. ketika tiba dimuka jembatan.. diam-diam ia menghimpun hawa murninya yang disalurkan ke dalam lima jari tangannya. sungguh tark nyana merpati pos ini bisa terserang angin duduk sehingga mam-pus secara mendadak" Dengan cepat dia melompat naik ke atas ku-danya dan menyembunyikan bangkai merpati itu ke dalam kantung senjata rahasia. Burung merpati itu menukik langsung ke arah persawahan dan menggeletak mampus. . kemudian segera menyentil nya ke udara. Tok Nio cu maupun On Li cu sama-sama ter-peranjat setelah menyaksikan kejadian itu. Suara desingan angin tajam langsung melun-cur ke tengah udara dan persis menghantam burung merpati yang kebetulan sedang ter-bang melintas. Melihat cara kerja perempuan itu. Lan See giok memperhatikan sekejap keadaan di sekeliling tempat itu. dia baru turut menyusul ke bawah. Tok Nio cu telah melayang turun ke bawah dan memungut bangkai burung merpati itu. Tok Nio cu serta Oh Li cu tertegun untuk sesaat. tentu saja ia tak percaya ada kejadian yang begini kebe-tulan. ternyata sudah mampus. dia mengeluarkan bangkai merpati itu. Sementara dia mendekat. ini namaznya kemauan takwdir.

. Lan See-giok menerima surat tersebut dan dibaca isinya. diantara nya Tok Nio cu. namun berhubung Lan See giok hadir di situ. Ia merasa terkejut bercampur kagum atas kecepatan pihak Tay ang san untuk me-nyampaikan berita. "Sekarang kita boleh melanjutkan per-jalanan dengan berlega hati." Selesai membaca surat itu. Tertanda ketua cabang kota Kang tin. "Mengapa di tengah jalan kita tak perlu kuatir` dikuntit orang lagi. sahutnya dingin: "Berhubung burung merpati ini tak mencapai kota Pang kang tin. dengan ter-putusnya berita itu mereka pun akan kehi-langan jejak "Tapi.412 Selesai membuang bangkai burung itu. otomatis mereka tak akan mengetahui siapa-kah sasaran yang sebetul nya. maka para ketua cabang di kota berikutnya jadi ke-hilangan berita. Sementara itu Oh Li cu telah berpaling kearah Tok Nio cu sambil bertanya dengan nada tak habis mengerti. setelah diamati seke-jap. Tok Nio cu merasa sangat tak senang hati melihat Oh Li cu tidak menyebut sesuatu kepadanya.. " Lan See giok segera mengangguk me-muji setelah mendengar perkataan itu.. Tok Nio-cu melanjutkan perjalanannya kembali sambil mengeluarkan selembar kertas dari dalam tabung kecil itu. Pada dasarnya Oh Li cu memang tak puas melihat Tok Nio-cu turut serta dalam perja-lanan mereka menuju ke bukit Tay ang san. di samping itu diapun. Karena itu setelah tertawa hambar. meremasnya lalu disentilkan ke dalam semak belukar di sisi jalan. apalagi setelah . Sambil berkata ia menggulung kertas itu. ia pun berkata sambil tertawa. Lan See giok menyerahkannya ke tangan Oh Li cu. sepan-jang jalan tak bakal ada orang yang akan menguntit kita lagi. tentu saja ia tak dapat mem-bungkam diri terus menerus. tak usah kuatir. ternyata berbunyi demikian: "Sasaran ada tiga. . mengagumi cara kerja Tok Nio cu yang begitu cekatan dan seksama dalam melaksana kan pekerjaannya. "Merpati yang pertama tadi sudah barang tentu dikirimkan kepada si Beruang berle-ngan tunggal Kiong Tek ciong yang berada di bukit Tay ang san ." Dia melarikan kudanya mendekati Lan See giok dan menyerahkan surat tersebut kepadanya. bukankah sudah dikirim burung mer-pati yang pertama?" tanya On Li cu tidak habis mengerti.

Tok Nio cu dan Oh Li cu segera terbungkam dalam seribut bahasa. kebetulan saja aku ber-sua dengan adik Giok ditengah jalan se-hingga akhirnya kami putuskan untuk be-rangkat bersama" Dengan cepat Lan See giok menjumpai situasi yang semakin tak beres. "Aku pergi ke Tay ang san tujuannya tak lain untuk menyeret pulang Harimau berkaki ce-bol si penghianat itu. Lan See giok segera merasa bahwa cara tersebut sangat manjur sekali. sahut sambil tertawa bangga. walaupun sepanjang ja1an mereka jumpai satu dua orang lelaki berpakaian ringkas yang mirip orang-orang dari kantor cabang Pek kang tin. Tengah hari itu mereka bertiga bersantap di kota peng kang tin.413 menjumpai sikap me-ngejek dan menghina yang menghiasi wajahnya. Dalam keadaan demikian. Ini berarti dia pun sudah mengetahui sebab-sebab utama dari perselisihan antara Tok Nio-cu dengan Oh Li cu. sebab terdapat aku Tok Nio-cu yang men-dampingi adik Giok !" " Berubah hebat paras muka Oh Li cu saking mendongkolnya namun ia masih berusaha untuk menahan amarahnya dengan berkata ketus: "Jarak dari Pek hoo cay sampai di Tay ang san mencapai ribuan li jauhnya. berkaki ce-bol dari benteng kalian yang me-nyampaikan berita kepadanya ? Buat apa orang-orang itu mesti memberi kabar lagi kepada pemimpin mereka di Tay ang san? "" Tok Nio-cu tidak menjadi marah oleh ejekan. seperti apa yang diduga Tok Nio-cu. tiada orang yang menguntit mereka lagi. agak mendongkol dia berseru. malah bisa jadi suatu pertarungan tak terelakkan. sekarang hatinya semakin panas. . betul juga. aku lihat Gui hujin tidak usah berangkat ke situ lagi." Tok Nio cu segera berkerut kening." "Tujuan mereka melepaskan burung merpati itu tak lain adalah memberi tahu kepada Kiong Tek ciong agar berhati hati. sudah pasti percekcokan antara Tok Nio cu dengan Oh Li cu akan se-makin bertambah sengit. satu ingatan segera melintas di dalam benaknya dengan perasaan tak sabar serunya. namun orangorang itu sama sekali tidak menaruh perhatian khusus terhadap Lan See giok ber-tiga. "Kalian berdua tak usah cekcok terus biar siaute berangkat ke sana seorang diri saja! Dengan diutarakannya perkataan tersebut. Setelah meninggalkan kota Peng kang tin. jika dia tidak beru-saha melerai. maka de-ngan nada menyindir diapun berkata ketus: "Bukankah di pihak Kiong-ciong situ sudah mendapat kabar dari si harimau.

Setibanya lima langkah di depan meja. ternyata pelayan itu membawa se-lembar kartu merah. sebuah kota di kaki selatan bukit Tay ang san. sedangkan Oh Li cu dengan gembira berjalan bersama pemuda itu di belakang nya. namun ia yakin kartu merah itu dikirim oleh pihak orang-orang Tay ang san.414 Hal ini membuat Lan See giok. pelayan itupun menyerahkan kartu merah itu ke tangan si kacung sambil meninggalkan pesan dengan suara lirih. kemudian berseru dengan suara nyaring. Kemudian terlihat kacung itu manggut-manggut dan masuk kembali-ke dalam ru-angan. dia tetap merasa tak puas terhadap kesombongan serta sikap tinggi hati Tok Nio-cu. Sesuai dengan rencana dari Tok Nio cu. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di sebuah pavilliun yang letaknya di ujung be-lakang rumah penginapan. Lan See-giok tahu. merasa sema-kin kagum terhadap kemampuan Tok Nio cu. Lan See giok bertiga turun dari kudanya di depan sebuah rumah penginapan yang paling besar di kota itu.ang-san dengan tiga puncak sembilan tebing dua belas benteng. Setelah memasuki kota. secara otomatis Lan See giok membiarkan ia berjalan di muka. anak buah ketua benteng dari Tay. si lengan tunggal peng-getar langit Kiong Tek-ciong khusus datang . Seorang kacung yang melayani pavilliun itu cepat ke luar dari ruangan. Deretan tanah perbukitan Tay ang san yang terjal dan berbahaya terletak di sebelah utara kota. Sementara mereka bertiga masih duduk ber-gurau. Berhubung Tok Nio-cu berusia paling tua di-antara ketiga orang itu. kendatipun demikian. mendadak seorang pelayan muncul dalam ruangan itu dengan wajah panik dun langkah terburu-buru. dia merasa perlu sekali mengajak se seorang yang amat berpengalaman semacam Tok Nio cu di dalam perjalanannya menuju ke Tay ang san kali ini. kacung itu mengangkat kartu merah itu tinggi-tinggi. banyak orang berdagang di situ. Sebaiknya Oh Li-cu merasa kagum juga ter-hadap kecerdasan dan pengalaman Tok Nio cu. tentu ada sesuatu yang tak beres. Lan See-giok tidak begitu memahami atas semua peraturan dunia persilatan. menjelang maghrib hari ke dua mereka ber-tiga telah tiba di Tiang siu tian. sehingga tak heran kalau suasana kota ramai sekali. Liang Si-gwan. Ketua cabang kota Tiang-siu tian. Tiang siu tian adalah sebuah kota keresi-denan yang cukup banyak penduduknya.

maka kepada pelayan sekalian yang berdiri di situ ia menitahkan: "Bersihkan semua sisa hidangan!" Selesai berkata. ketua cabang yang berada di sini merupakan seorang jagoan yang setaraf kedudukannya dengan para caycu di atas gunung. seusai bersantap akan kuutus seorang pelayan untuk mengundang kehadiran Liang toucu . kemudian ujarnya dengan suara yang amat lirih. katanya kemudian dengan suara dalam. "Tiang siu kian merupakan pintu gerbang Tay ang san. Tok Nio cu sama sekali tidak memandang se-kejap pun. kami baru bersantap sampai di tengah jalan sehingga kurang leluasa untuk menyambutnya. kepada sang pelayan yang masih berdiri di depan halaman. "Tolong sampaikan kepada Liang toucu. Di samping itu diapun tahu akan julukan Kiong Tek-ciong di bukit Tay-angsan sebagai si lengan tunggal penggetar langit. BAB 20 OH LI-CU yang melihat kejadian ini segera menjadi percaya kalau burung merpati per-tama yang terlihat mereka tempo hari. dia tak mengira kalau Tok Nio cu mempunyai nama yang begitu termasyhur dalam dunia persilatan. selain ilmu silatnya sangat hebat. Setibanya di halaman belakang.415 menghadap setelah mendengar akan kehadir-an Gui hujin dari Pek-hocay!" Berubah paras muka Lan See giok mende-ngar perkataan itu." Pelayan yang berdiri ditengah halaman itu mengiakan dengan hormat. dia termasuk satu . Seorang dayang segera maju untuk menerima kartu merah itu kemudian diangsurkan ke hadapan Tok Nio cu dengan sikap yang amat menaruh hormat. tunggu dulu sebentar. kecerdasan dan kelicikan mereka pun luar biasa. Lan See giok berdua memahami maksud tersebut dan mengikuti dari belakang. Tok Nio cu memperhatikan sekejap keadaan di sekeliling tempat itu. dilepaskan lawan tak lain karena kehadiran Tok Nio cu. ia memberi tanda kepada Lan See giok serta Oh Li-cu kemudian me-ngundurkan diri dari ruangan. hal ini membuat rasa tak puas yang semula menyelimuti wajahnya seketika hilang lenyap tak berbekas. Tok Nio-cu tahu bahwa Lan See giok serta Oh Li-cu sudah tak bernapsu lagi untuk ber-santap. kemudian burn-buru meninggalkan halaman.

"Jika Liang Si gwan menanyakan soal asal usul nona Oh." Merah jengah selembar wajah Lan See giok. berbicara soal kekuatan. belum tentu mereka berada di bawah kekuatan Tay ang san. dia menja-di marah. dengan cepat dia memberi penjelasan. sekarang dia baru teringat. "Dalam soal ini. kapal perang nya mencapai ratusan buah. dia disebut orang Say go yong (Tandingan Go Yong). dengan perasaan tak puas kembali dia bertanya. serunya kemudian dengan cepat. bila Liang Si gwan telah datang nanti. anggota benteng pun semuanya kekar dan berdisiplin tinggi. halus dan seorang seniman. cici rasanya jauh lebih jelas daripadamu. adik Giok boleh mengutarakan maksud tujuanmu seca-ra berterus terang. Oh Li cu tertawa dingin. Tok Nio cu tertawa hambar. "Kali ini. Liang si gwan orangnya se-derhana. kau lupa rupanya bahwa Tay-ang-san bukan Phoa yang oh. sedangkan masalah lain lakukan menurut kode mataku" `Lan See giok segera mengangguk sambil mengiakan berulang kali. akalnya tajam otaknya cerdas. na-mun memang tak berdaya sama sekali untuk menghadapi pihak Tay ang san. harap nona Oh jangan marah. "Setelah ku utarakan nanti." Berubahlah paras muka Oh Li cu. "Wi-lim-poo mempunyai kekuatan yang besar di telaga Phoa yang oh. sesungguhnya kedua belas orang caycu dari Tay ang oan seperti tak per-nah memandang sebelah matapun ter-hadap Wi-lim-poo. Tok Nio cu segera berpaling pula kearah Oh Li cu sambil menambahkan. biarpun Wi--lim-poo memiliki angkatan laut yang kuat. terutama sekali antara Kiong Tek ciong dengan ayahmu agaknya seperti mem-punyai suatu dendam kesumat yang dalam.416 satunya jagoan ke-percayaan si beruang berlengan tunggal yang paling tangguh. Tok Nio-cbu tertawa hambar. . kau harus menjawab seadanya saja dan tidak usah membicarakan masalah orang tuamu serta masalah Wi-lim-poo dengannya "Mengapa?" tanya Oh Li cu sambil ber-kerut kening dengan wajah tidak mengerti. akan kusuruh mereka rasakan keli-haian dari anggota Wi-lim-poo!" Lan See giok sendiripun segera merasa bahwa Tok Nio cu kelewat memandang ren-dah pihak Wi-lim-poo."Gembira nian perasaan Oh Li cu oleh karena Lan See-giok membelai Wilim-poo tanpa terasa dia memandang sekejap kearah pbemu-da itu dengjan pandangan megsra.

tiga cawan teh telah dihidangkan. lalu tertawa menggiurkan: "Berapa banyak sih manusia di dunia ini yang memiliki kepandaian silat sehebat adik Giok?" Ucapan tersebut kontan membuat Oh LI cu tertegun. kemudian men-jawab dengan angkuh: "Walaupun Pek ho cay bukan terdiri dari dinding baja tembok besi. dengan perasaan yang amat mendongkol katanya: "Kalau toh benteng kalian begitu tangguh dan hebat. Tok Nio-cu segera berseru dengan suara dalam. PUCAT pias selembar wajah Oh Li cu sete-lah mendengar perkataan itu.417 "Apa kau anggap keadaan medan dari ben-tengmu itu jauh melebihi ketiga tebing sem-bilan puncak dari Tay ang san. . jangan harap bisa memasuki Pek ho cay secara mudah. mengapa adik Giok bisa mema-suki benteng kalian secara mudah?" Tok Nio-cu mengerling sekejap ke arah Lan See giok. Sementara Itu meja di tengah ruangan te-lah diatur kembali dengan rapi. karena itu dia lebih mempercayai perkataan perempuan itu. kalau bu-kan seorang jago yang benar-benar sangat hebat. cepat ujarnyga kepada Tok Nibo-cu. seketika itu juga dia melupakan kegenitan Tok Nio-cu. bahkan mungkin jauh le-bih sukar ketimbang memasuki Tay ang san apalagi biarpun pihak Tay ong san memiliki jago-jago yang tak terhitung jumlahnya. dia tidak tahu perka-taan dari perempuan itu adalah kenyataan ataukah hanya sengaja menyanjung adik Giok nya. sekujur badannya gemetar keras. namun penjagaan serta pertahanan kami kuat sekali. mereka bertiga segera kembali ke ruang te-ngah. dan anggota-nya jauh lebih banyak daripada kedua belas caycu dari Tay ang san . "Undang kehadiran Liang toucu!" ." Lau See giok pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana si Beruang berlengan tunggal didesak oleh Gui Pak ciang dari Pek ho cay sehingga mati kutunya. Kepada seorang kacung yang berdiri di luar ruangan. "Sisa hidangan di meja sudah dibersihkan aku rasa kau harus mengirim orang untuk mengundang kehadiran Liang toucu!" Tok Nio-cu tertawa seraya mengangguk. na-mun belum tentu ada yang mampu menandingi kami suami istri berdua. Lan See-giok kuatir kedua oranbg itu ribut lagji." Tok Nio-cu berkerut kening.

kacung itu sudah muncul kembali dengan langkah tergesa gesa. se-lain itu juga dikarenakan orang itu agak se-gan terhadap ilmu silatnya yang hebat: Tapi jika dilihat dari kemampuan Tok Nio-cu sewaktu bertempur melawan Oh Li cu di kota Siang-yang tempo hari rasanya perem-puan tersebut tidak memiliki ilmu silat yang kelewat tangguh. Beberapa saat kemudian. Kacung itu segera membalikkan badan dan berseru kembali dengan lantang: "Hujin mempersilahkan Liang toucu ma-suk!" Dari depan pintu halaman segera ber-jalan masuk sesosok bayangan manusia. silah-kan duduk berbincang-bincang!" Liang Si gwan mengiakan.418 Kacung itu mengiakan dengan cepat ke-mudian buru-buru berjalan ke luar dari! ha-laman. Yang dinamakan Liang Si gwan adalah se-orang sastrawan berusia tiga puluh tahunan. Tok Nio-cu bangkit berdiri dari kursinya. dia segera berseru keras. begitu sampai di depan pintu. . Liang Si gwan buru-buru masuk ke ruang tamu dan memberi hormat sambil katanya: "Liang Si-gwan. kemudian baru duduk di sisi sebelah kanan. Dengan senyuman dikulum dan mata me-mancarkan cahaya berkilat. ketua cabang Tiang-lu-tian dari Tay ang san khusus datang men-jumpai nyonya Gui!" Tok Nio-rcu tertawa hambzar. . Begitu bersua dengan Tok Nio-cu. dia melirik se-kejap ke arah Lan See giok dan Oh Li cu yang duduk bersanding." "Silahkan!" jawab Tok Nio-cu tersenyum. Lan See-giok dapat merasakan bahwa si-kap hormat Liang Si-gwan terhadap Tok Nio-cu sebagian disebabkan karena baik Tok Nio-cu maupun si beruang berlengan tunggal sama-sama merupakan jagoan yang mempunyai kedudukan dalam dunia persilatan. dari ke-seder-hanaannya bisa diketahui bahwa orang ini sangat berbahaya. kemudian mewnjawab nyaring:r "Liang toucu tak usah banyak adat. Terutama sekali sepasang matanya yang memancarkan sinar tajam dan wajahnya yang memancarkan keseriusan. Lan See giok dan Oh Li-cu serentak turut bangkit berdiri pula . ini menun-jukkan bahwa diapun seorang yang cerdas. dia mengenakan pakaian model sastra-wan dengan wajah yang bersih. "Liang toucu tiba. .

" tampik Tok Nio-cu tanpa ragu-ragu. tak usah mengganggu ketenangan kalian lagi. sudah sewajarnya bila kami sambut kedatangan nyonya dengan suatu perjamuan besar.* "Nyonya telah datang dari jauh untuk menjenguk kami. ada kalanya melalui jalan sam-ping. ""Kami sudah kenyang bersantap maupun minum arak. Lan See-giok sadar. dihati kecilnya dia tahu. Tok Nio-cu telah berkata sambil tertawa merdu. mungkin soal inilah yang membuat kalian tidak peroleh berita kami secara pasti. Liang Si gwan cuma dapat mengangguk seadanya saja. sehingga segala persiapan telah dilakukan secara baik. apa lagi kamarpun sudah dipesan. ia berkata: "Berhubung berita kami terputus ditengah jalan sehingga tak bisa menyambut kedata-ngan nyonya serta Lan siauhiap suami istri di luar kota. "sekarang hari sudah malam. paling tidak sebagai pene-bus bagi kekhilafan kami yang tidak me-nyambut dari kejauhan" cepat--cepat Liang Si gwan mendesak lagi. "Liang toucu kelewat merendah. Tok Nio-cu memandang sekejap ke arah Liang Si gwan. niscaya gerak-geriknya menjadi kurang leluasa. perjamuan dari Liang Toucu biar kuhadiri di kemudian hari saja. aku telah peroleh pemberi-tahuan secara langsung dari markas pusat. "Untuk kehadiran Nyonya serta Lan siau-hiap suami istri. namun dihati kecilnya menunjukkan senyuman penuh kepuasan. kemudian sambil menjura sekali lagi kepada Tok Niocu. tapi sebelum ia sempat me-ngucapkan sesuatu.419 Dalam pada itu. adapun kedatangan Kami kemari ada kalanya melalui jalan raya. bila mereka sampai datang ke pesanggrahan penyambut tamu agung itu. Liang Si gwan telah me-mandang sekejap kearah Lan See giok serta Oh Li cu. Atas pertanyaan tersebut. se-telah itu dia baru berkata lebih jauh. sudi me-ngunjungi pesanggrahan Eng pia kek kami agar dapat dilayani lebih baik. sengaja aku datang kemari sekarang untuk memohon maaf atas kekhilafan tersebut" Lan See giok merasa sangat tidak tenang sesudah mendengar Liang Si gwan salah mengira dia dan Oh Li cu sebagai suami istri. kemudian sahutnya lembut. namun diapun merasa kurang leluasa untuk membantahnya. Sebaiknya Oh Li cu kelihatan agak tersipu sipu. Kini aku khusus datang kemari untuk mengundang kalian bertiga." "Tidak usah. sudah pasti hal tersebut terjadi karena percek-cokan Oh Li cu dengan Tok Nio-cu di Siang yang tempo hari." .

maaf bila aku tidak menghantarmu?. menggunakban ke-sempatan jdisaat Liang Sig gwan sedang mebm-beri hormat." Melihat hal ini Tok Nio-cu seperti teringat akan sesuatu. katanya lem-but: "Nyonya dan Lan siauhiap telah menempuh perjalanan selama berharihari. wajahnya kontan ber-ubah he-bat. . Sementara berbicara. begitu meli-hat tanda rahasia dari Tok Nio-cu.420 Liang Si gwan sedikit mengerutkan dahi nya lalu berdiri dengan sopan. Cepat dia bangkit berdiri lalu menjawab dengan riang. Tiba. sedang paras muka Tok Nio-cu telah berubah menjadi hi-jau membesi mengerikan sekali . Buru-buru serunya berulang kali.!" . ia men-jumpai senyuman yang begitu cerah di wajah perem-puan tersebut. . . . sekulum senyuman halus dengan cepat menghiasi bibirnya yang merah. !" Sembari berkata. sementara gerakan tubuhnya yang mundur pun semakin bertambah cepat. tiba . nyonya -tak perlu menghantar lagi . Sebaliknya Liong Si gwan yang mende-ngar ucapan Tok Nio-cu yang merdu dan nyaring tersebut menjadi menggigil karena terkejut. toh ia dibuat tertegun juga oleh peristiwa itu. apalagi setelah menjura. aku tak akan mengganggu lebih lama lagi. "Nyonya tak usah menghantar lagi. sementara tubuhnya mengundurkan diri dengan ter-gesa. itu Lan See Giok don Oh Li cu sedang merasa geli atas sikap Liang Si Gwan yang begitu sopan santun dan mau mengun-durkan diri dengan begitu saja. biar memohon diri sampai di sini saja. Pada waktu. . Paras muka Liang Si gwan segera me-nun-jukkan perubahan yang semakin ngeri dan takut.gesa." Lan See giok sebagai seorang pemuda yang saleh dan penuh cinta kasih. tak tahu apa gerangan yang sesungguhnya telah terjadi? Dalam pada itu Liang Si gwan telah me-ngundurkan diri dari ruangan. matanya mengawasi tubuh Tok Nio-cu lekat-lekat. sepasang matanya memancarkan ca-haya berkilat dan tanpa terasa ia perdengar-kan suara tertawa dingin yang penuh me-ngandung hawa napsu membunuh. meski belum mempunyai pikiran yang kelewat mendalam. dengan cekatan sekali dia mem-beri tanda kepada Lan See giok dan Oh Li cu yang berdiri di sisinya. "Selamat jalan Liong toucu. . keningnya berkerut dan mata-nya cerah. ke dua orang tersebut menjadi melongo don tidak habis mengerti. Berkerut kening Tok Nio-cu melihat sikap lawan. sekarang tubuh pasti penat dan perlu beristirahat.

Namun begitu. Hanya ada satu hal yang tidak dipahami olehnya. kemudian berpaling pula ke arah Liang Si gwan. kemudian melepas-kan genggamannya atas tangan lawan. yaitu apa sebabnya Tok Nio-cu hen-dak membunuh Liang-Si gwan?" Ketika ia menunduk kembali.gesa.b tangan kanannyja sudah merogohg ke dalam saku bdan cahaya biru berkilauan. . Berkilat sepasang mata Tok Nio-cu. ada tiga bilah pisau terbang liu yap hui to ber-warna biru yang berada dalam genggaman-nya. bahkan jauh di atas kekejaman sendiri.w . jelas "pisau-pisau terbang tersebut su-dah diberi racun yang amat jahat. Lan See giok yang awas dengan cepat maju setindak. ?" . Pemuda itu tertegun. Akhirnya dia bertanya keheranan. ben-taknya secara tiba-tiba. di samping itu diapun merasa kan betapa kejamnya Tok Nio-cu. Dengan sorot mata tajam Tok Nio-cu me-ngamati wajah Lan See giok lekat-lekat. dia cengkeram pergelangan tangan Tok Nio-cu. nampak nya orang itu kuatir sekali bila Tok Nio-cu melepaskan serangannya yang keji. asal kita tidak terlepas dari arah dan rel yang sebenarnya. "Bila kau membiarkan dia kabur sekarang akhirnya pasti akan menyesal sekali" Lan See giok tertawa hambar. . dia pun tidak habis mengerti mengapa Tok Nio-cu hendak turun tangan membunuh Liang Si gwan. maka hal ini akan bermanfaat sekali dengan ursaha kita menujzu Tay ang san . ke-mudian ujarnya dingin. "Apakah kau beranggapan dengan mem-bunuh Liang Si gwan. Baru sekarang Lan See giok mengerti apa sebabnya Liong Si gwan mengundurkan diri dari ruangan secara tergesa . Oh Li cu yang berdiri di sampingnya me-muji sekali atas kecerdasan dan kecekatan Liang Si gwan bertindak." Merah padam selembar wajah Tok Nio-cu ucapan anak muda tersebut membuatnya terbungkam dalam seribu bahasa. kemudian melejit ke tengah udara. "Kawanan tikus. terlihat olehnya cahaya biru berkilauan diantara jari-jari tangan Tok-Nio-cu yang lembut. Belum habis bentakan tersebut.421 Secepat sambaran petir Liang Si gwan membalikkan tubuhnya. dia siap melepaskan serangan ke muka. sahutnya serius: "Biarkan saja perbuatan mereka mencuri-gakan. ternyata orang itu sudah tak nampak lagi bayangan tubuhnya. kau berarti kurang ajar .

dia sudah memastikan rupanya bahwa malam ini kita akan berangkat ke Tay ang san. ! �` Tok Nio-cu merasa sangat tak senang karena selama ini Lan See giok selalu me-manggil dirinya dengan sebutan "nyonya".422 "Tentur saja.sekarang. dapat dibuktikan kalau kehadiran kita disini telah memberikan rasa kaget yang luar biasa baginya." Mendengar penjelasan tersebut. Tok. namun dia sendiripun tak bisa memaksa pe-muda tersebut untuk memanggilnya dengan sebutan cici. "Jika besok baru berangkat. . "aku berani memastikan Kiong Tek ciong dari Tay ang san hingga kini masih be-lum tahu kalau kita bertiga sudah berada di Tiang siu tian. Lan See giok. dan hal tersebut membuatnya merasa-kan betapa gawatnya situasi. aku kuatir su-dah agak terlambat. mendengar ucapan mana dia segera tertawa dingin." Mendengar betapa seriusnya persoalan yang mereka hadapi Lan See giok menyela. kau dan aku ja-ngan harap bisa kembali dalam keadaan hidup." "Atas dasar apa kau berkata begini?". "Ditinjau dari kedatangan Liang Si gwan yang tergesa-gesa. . karena itulah tawarannya ku tam-pik. Oh Li-cu segera mendengus sambil segera me-ngalihkan pokok pembicaraan. hal tersebut tak lain bertujuan untuk mengurangi gerak gerik kita. "Pandangan nyonya memang tepat sekali aku merasa sangat kagum ." jawab Tok Nio-cu tanpa ragu-ragu. "Kalau memang begitu mari kita be-rangkat sekarang juga!" "Bila berangkat . tanya oh Li cu tidak puas. karena itu dia buru-buru minta diri agar ada waktu cukup untuk melaporkan kejadian ini ke markas besar dan membuat persiapan seperlunya. mengangguk berulang kali sembari me-muji. lebih baik kita sengaja berangkat esok pagi saja" Waktu itu Tok Nio-cu sedang merasa tak senang hati. Niocu ter-tawa ang-kuh. aku yakin kecuali adik Giok seorang. . dari situ pula terbukti kalau pihak Tay ang san masih be-lum mengetahui gerak gerik kita. "Kalau dia menduga kita naik gunung tadi malam ini. Melihat pemuda itu memuji Tok Nio-cu. Liang Si gwan mengundang kita agar menginap di pesanggrahan penerima tamu." kata Tok Niocu sambil memandang sekejap pemuda tersebut dengan pandangan apa boleh buat.

jika kau tak percaya mengapa kita tidak segera berangkat untuk membuktikan sendiri?". ketbiga orang itu sjegera mengerahkgan ilmu meringabnkan tubuh masing-masing dan berangkat menuju ke kaki bukit sebelah selatan.. Habis kesabaran Lan See giok setelah me-mandang bukit Tay-ang san yang berada di depan mata... bukit Tay-ang san yang angker berdiri di depan mata.. bukit yang terjal dan bayangan hitam yang me-nye-limuti seluruh tanah perbukitan mendatang-kan suasana. Dalam pada itu para pelayan dan kacung yang melayani pesanggrahan tersebut sudah pada ketakutan dan menyembunyikan diri di sudut ruangan. : " "Hmm.. berangkatlah mereka bertiga menuju ke ruangbelakang.. Tok. tak seorangpun diantara mereka yang berani bersuara. Lan See giok bertiga segera melejit dan melompat naik ke atas atap rumah. ujarnya cepat.. perkiraan baru mendekati kentongan kedua.. "Aku tidak percaya kalau Tay ang san be-gitu hebat dan menakutkan sehingga jauh lebih mengerikan dari pada akherat . segera ujarnya dingin. Memandang jauh ke muka. Ditengah udara bergema suara burung yang terbang melintas dari atas kepala mereka. Waktu itu langit masih agak terang karena cahaya rembulan.Nio-cu berkata kemudian kepada sang pemuda" "Kalau dilihat dari keadaan. Memandang tanah perbukitan itu.. yang menggidikkan hati bagi yang melihat . Sementara mereka sedang menempuh per jalanan cepat menuju ke arah tanah perbu-kitan itu. . Tiba di halaman belakang. .. tiba-tiba . Berbicara sampai di situ. agaknya mereka masih belum melakukan suatu per-siapan yang ketat . jumlahnya mencapai puluhan. Lan See-giok segera menghentikan lang-kahnya sambil mendongakkan kepala-nya. mari kita be-rangkat sekarang juga:" Tidak membuang waktu lagi. "Kalau toh memang begitu... dan burung-burung merpati itu semuanya terbang menuju kearah bukit.. di tengah kegelapan tampak ads selapis titik hitam sedang terbang melintas dengan gera-kan yang cepat sekali.423 Oh Li-cu menganggap sikap tersebut me-rupakan kesengajaan Tok Nio-cu bersikap sok tegang.

424 Berkerut kening Tok Nio-cu menyaksikan kesemuanya itu. diam-diam ia mencoba untuk melihat kembali kearah manakah mereka harus meneruskan perjalanannya. tidak bakal kita jumpai kesulitan macam begini. segera serunya keraskeras. menggunakan batuan karang dan pohon siong yang tumbuh di situ sebagai perlindungan. ia seperti hendak mengucapkan sesuatu. Mendekati tempat bersinar lentera itu. Lan See giok memandang sekejap sekitar sana. bukit. Berbeda sekali dengan Oh li-cu. "Adik giok. dia memandang sekejap ke arah Lan See giok yang sedang memperhati-kan burungburung merpati itu. angin malam terasa berhembus kencang. Kini keningnya berkerut setelah meman-dang keadaan sekitar situ dan wajahnya memperlihatkan perasaan serba salah. sinar matanya yang di-ngin seperti es kembali dialihkan ke wajah Oh li-cu. dia baru sadar bahwa keadaan Wi-lim-poo dimana ia berdiam me-mang tidak sebahaya dan seterjal keadaan medan di tempat ini. aku rasa para bukit lainnya pasti akan kelabakan dibuatnya. Tok Nio-cu sendiri walaupun sudah dua kali mengunjungi bukit Tay ang san." Sembari berkata. lalu ujarnya agak mendongkol. "Bila bersikap lemah terhadap kaum dur-jana. keningnya segera berkerut. sesudah melihat keadaan medan dibukitbukit Tay ang-san ini. . namun setiap kali bersama Gui Pak ciang diundang sebagai tamu. Selesai berkata dia lantas meluncur ke arah bukit itu lebih dulu. Lan Seegiok dan Oh li-cu yang tidak begitu mengenal keadaan medan hanya bisa mengikuti di belakang pe-rempuan itu. Memasuki mulut. namun secara tiba-tiba ia lihat diantara rombongan burung merpati itu ada satu titik bayangan hitam yang menukik ke bawah dan meluncur ke arah tanah tebing bersinar lentera di depan situ. ketuanya adalah si hakim paku hati. mereka bertiga meneruskan perjalanannya ke atas. coba kalau Liang-Si-gwan kita bunuh. jika kita serbu tebing tersebut secepatnya. Mencorong sinar terang dari balik mata Tok Nio-cu. Berkobar amarah di dalam dada Oh Li-cu melihat sikap lawannya. akibatnya diri sendiri yang rugi. diab merasa keadaanj medan di atas gbukit Tay ang-sban ini tidak sebahaya apa yang dilukiskan Tok Niocu sebelumnya. di depan sana rupanya adalah Tebing mayat menggelapar.

. kebanyakan penjagaan yang mereka lakukan tidak terlalu ketat. kenyataan menunjukkan bahwa-ilmu meringankan tubuh yang dimiliki nya masih kalah setring-kat jika dizbandingkan dengwan perempuan terrsebut. Dalam keadaan was-was dan prihatin. Sedikit saja mereka bertindak kurang hati-hati. baru sekarang ia merasakan betapa berbahayanya keadaan di sekitar situ. gadis tersebut turut melompat naik dengan menghimpun seluruh kekuatannya. Mungkin saking kagetnya. batu besar dan kayu raksasa yang dipersiapkan di tepi tebing niscaya akan mengguling ke bawah. . rupanya di sepanjang tebing itu ditemukan banyak sekali balok kayu dan batu-batu cadas yang digulingkan ke bawah. satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya lalu ia berbisik. Mereka bertiga tidak ragu lagi dan lang-sung menuju ke tebing curam tersebut. jadi rupanya perempuan itu bukan mengumpak atau menyanjung kehe-batan adik giok nya. Agak tertegun Oh li-cu sesudah menyaksi-kan gerakan tubuh Lan See-giok ketika melompat naik. mari kita turun ke bawah melalui dinding tebing itu saja" Tok Nio-cu dan Oh li-cu menjumpai din-ding tebing yang dimaksud tingginya menca-pai ratusan kaki. tiba di situ Lan See-giok segera memimpin dengan melompat naik lebih dahulu. Ketika memandang pula kearah Tok Nio-cu. Sementara itu Lan See-giok telah berubah wajahnya setelah memandang keadaan di seputar sana. karena yakin mereka masih sanggup untuk melewatinya. Baru sekarang dia membuktikan ucapan dari Tok Nio-cu. gerakan begitu cepat seperti burung elang. niscaya mereka bertiga akan mati dengan tubuh hancur berantakan. dan bila hal ini sampai terjadi.425 Sementara itu Lan See-giok telah melihat sebuah terjalan dinding tebing pada puluhan kaki diarah barat daya mereka. Di samping itu diapun amat terkejut atas kepesatan ilmu silat yang diperoleh pemuda tersebut dalam setahun belakangan ini. di jumpainya Tok Nio-cu serta Oh li-cu masih berada puluhan kaki di bawahnya. tanpa terasa dia sampai menghentikan langkahnya di atas sebatang pohon Menengok ke bawah. di atas ditebingpun seperti dipenuhi batuan cadas dan semak belukar. maka kedua orang itu segera mengangguk. dilihatnya perempuan itu pun bisa berge-rak dengan enteng dan cekatan.. dalam sekali lompatan saja beberapa kaki bisa melampaui secara mudah. . "Bila keadaan medan sudah curam dan berbahaya.

dia manfaatkan kesempatan tersebut untuk menempelkan bibirnya di sisi telinga sang pemuda sembari berbisik lirih: "Adik Giok keselamatanku dan nona Oh sudah mencapai titik yang kritis dan ke-mungkinan besar akan hilang setiap saat. di samping merasa kagum atas ketenangan Tok Nio-cu di dalam menghadapi masalah. Setibanya di atas pohon. di dalam beberapa kali lom-patan saja mereka sudah menghampiri-nya. hampir saja dia tak tahan untuk berteriak-teriak agar pihak atas tebing mele-paskan batu dan balok kayunya sehingga mereka bertiga mampus bersama. tubuhnya segera menggigil karena ketakutan. api cemburu segera membara dan api amarahpun berko-bar. Tok Nio-cu dan Oh Li-cu segera menangkap tanda tersebut.. tapi berhubung pohon itu pendek lagi kecil me-manfaatkan kesempatan tersebut dia berpe-gangan pada lengan kanan sang pemuda sambil menempelkan tubuhnya ke depan payudaranya yang montok dan empuk otomatis menempel sebagian di atas lengan kanan si anak muda tersebut. Oh li cu baru menjumpai bagaimana Tok Nio-cu bersandar di atas tubuh kekasihnya. . nyaris dia jatuh tertelung-kup ke bawah. Mimpi pun dia tak menyangka bahwa tem-pat dimana ia. Apa yang terlihat hampir saja membuat Oh li-cu menjerit. Tok Nio-cu tiba pada sasaran lebih dulu.426 Dalam keadaan begini. tiba-tiba saja pe-muda itu merasakan bahwa kehadiran Tok. dia segera bertindak pula menarik tangan Oh li-cu. api cemburu yang semula berkobar pun seketika menjadi padam. Lan See-giok telah menunjuk ke atas tebing di depan sana. karena itu dia mengu-lapkan tangannya berulang kali memberi tanda agar mereka berdua mendekati ke arahnya. Sayang sekali Lan See-giok yang berada dalam keadaan berbahaya sama sekali tidak berminat untuk memperhatikan kesemuanya itu. Berbeda sekali dengan keadaan Tok Nio-cu dia tetap bersikap acuh tak acuh terhadap batuan besar dan balok kayu di sekitarnya tebing tersebut. ia pun mendongkol kepadanya karena perempuan itu pandai memanfaatkan kesempatan untuk bermesraan dengan kekasihnya. berada sekarang merupakan suatu tempat yang begitu berbahaya sehing-ga setiap saat besar kemungkinannya akan merenggut jiwa mereka. malah sambil tertawa ham-bar. aku ingin tahu dengan cara apakah engkau menyelamatkan kami sekarang? Oh li-cu yang melihat kesemuanya ini. Sedemikian mendongkolnya dan mangkel-nya dia. Nio-cu bersama Oh li cu justru merupakan suatu beban baginya. Tapi sebelum ia sempat mengumpatkan kata katanya.

kemudian dalam satu jumpalitan ia sudah melenting ke atas. Jeritan ngeri yang memilukan hati segera bergema memecahkan keheningan. Disaat sepasang kaki Lan See giok menca-pai permukaan tebing dan belum sempat melihat pemandangan di sekitarnya. "Siapa di situ?" Sebilah anak panah tiba-tiba dibidikkan ke arahnya. dengan bentakan kaki kanannya dia injak tali yang putus itu agar berhenti. . dia rendah-kan bahunya sambil menghindar. agak tersipu-sipu sa-hutnya: "Mari kalian ikuti aku naik ke atas tebing setibanya di situ. Lan See giok sangat terkejut. saking kaget-nya hampir saja mereka menjerit tertahan. pertama tama Lan See giok memberi tanda dulu kepada Tok bNio-cu serta Ohj Li cu. Tiba-tiba mereka saksikan Lan See giok menyambar tali sambil berayunan ditengah udara. lelaki bergolok itu melejit lalu roboh terkapar di atas tanah. gunakanlah kesempatan disaat ku terjang para penjaganya. Setelah itu dia baru melihat seorang lelaki kekar sedang mengangkat goloknya dengan gugup untuk siap dibacokkan k e atas tali pengendali jebakan. menda-dak dari tebing itu kedengaran seseorang membentak keras. goloknya yang besar ke-betulan sekali terjatuh di sisi tali tersebut dan tak ampun tali tadi menjadi putus. kemudiagn tubuhnya meleb-jit ke atas dan menerjang ke arah tali yang mengendalikan tumpukan batu karang serta balok kayu tersebut Pucat pias selembar wajah Tok Nio-cu serta Oh Li cu melihat kejadian itu. kalian berdua menggunakan tali untuk melompat naik.. Apa mau dikata.427 Merah padam selembar wajah Lan See -giok atas pertanyaan tadi. sebisa mungkin mereka mencoba untuk mengurangi suara yang di timbulkan dari baju mereka" Setibanya dibawa tumpukan batu cadas dan balok kayu tersebut. dengan hati terkejut ia meluncur ke bawah secepat kilat. ia memben-tak keras. Melihat hal ini Lan See giok membentak keras. keadaan berbahaya sekali. tubuhnya melejit ke udara dan ke-lima jari tangan kanannya memancarkan lima gulung desingan angin jari yang tajam menyambar tubuh lelaki itu.. anak panah itu segera melesat melalui sisi telinga nya. Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok menyaksikan kejadian tersebut." Tok Nio-cu dan Oh li cu mengangguk ber-sama dan mengikuti di belakang Lan See -giok untuk melanjutkan gerakannya menuju ke atas tebing.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring ber-gema di udara.Bentakan . "Enci Cu....bentakan keras ber-gema dari empat penjuru. bayangan manusia ber-kelebat lewat. sambil membentak dia menerjang ke muka. kawanan penjaga di situ bersama-sama mengayunkan senjata-nya sambil menerkam ke arah muka. hentikan seranganmu!" Belum habis ia berseru.428 Disaat ujung kaki Lan See-giok menginjak tali yang putus itu. menyusul kemudian Oh Li-cu dengan pedang terhunus mengikuti di belakangnya. Dalam pada itu Lan See-giok beranggapan kalau tujuannya datang ke sana adalah me-nemukan Beruang berlengan tunggal Kiong Tek ciong secepatnya.masing mengayunkan sen-jatanya mengancam tubuh Oh Li cu. maka secara otomatis batu cadas dan balok kayu raksasa yang telah dipersiapkan pun berhamburan memuntah ke bawah te-bing sana . diantara cahaya tajam yang berkilauan. Berkilat sepasang mata Oh Li cu diiringi senyuman dingin yang menggidikkan hati. Bagaikan melepaskan beban yang berat Lan See-giok mengangkat kaki kanannya. keadaanpun terasa bertambah tegang. Tok Nio-cu telah melompat naik ke atas puncak tebing. kedua batang anak pariah tersebut segera disapunya se-hingga mencelat. dua batang anak panah menyambar ke tubuhnya disertai desingan angin tajam. dia merasa tidak ada perlunya untuk melibatkan diri dalam pem-bantaian di situ.. dia lepaskan sebuah bacokan kilat ke arah dua bilah . pedangnya diayun kian kemari melepaskan bacokan-bacokan maut. Lan See-giok sama sekali tidak bergeser dari posisi semula. dua kali desingan tajam telah meluncur tiba. mereka masing . Sementara itu di atas tebing tbadi sudah berkujmandang suara tgeriakanteriakabn yang gegap gempita. puluhan orang le-laki kekar itu sudah menerjang tiba. Oh Li-cu berkerut kening. ber-hubung tali pengendali alat jebakan itu terle-pas. Dalam waktu singkat suasana menjadi sangat ramai dan gaduh. dengan menghimpun tenaga dalamnya ke ujung baju kanan ia mengebaskannya ke muka. Mendadak ia membentak dengan suara keras.. Suara gemuruh yang memekikkan telinga pun bergema memecahkan keheningan. wajahnya dingin seperti es. segenap lelaki penjaga tebing te-lah mengayunkan goloknya untuk membacok putus tali pengendali alat jebakan itu.

sedang-kan puluhan orang lelaki yang mengepung Oh Li cu juga serentak mengundurkan diri. " Letupan bunga api segera memancar ke empat penjuru. nisca-ya dia sudah akan mati kelelahan lebih dulu dibukit Tay ang-san. nampaknya sebatang anak panah berapi telah dibidik-kan ke tengah udara. sebagaimana yang dikatakan Tok Nio-cu. Diantara darah segar yang memancar ke mana-mana.429 golok yang berada di hadapannya dengan jurus serangan menyikap awan meli-hat sang surya: "Trriiing traang . Tentu saja oh Li cu tak akan memandang se-belah matapun terhadap kawanan manusia tersebut. meznyu-sul bentakawn keras. dua bilah golok besar itu ter-sampok hingga mencelatr ke samping. . Kembali terdengar Tok Nio-cu membentak dengan suara dingin: "Mana hiangcu kalian yang bertanggung jawab di tempat ini?" Mendapat pertanyaan tersebut. kalian semua cepat hentikan pertarungan--" Mendengar nama "Tok Nio-cu". Lan See giok serta Oh Li cu yang menjum-pai hal tersebut menjadi tertegun. Sementara itu dari kejauhan sana tampak cahaya api memancar ke udara. kawanan lelaki bersenjata yang sedang menerjang tiba serentak menghentikan langkahnya. mereka berdua sama sekali tak menduga kalau Tok Nio-cu memiliki daya pengaruh yang begitu besar. dia harus melakukan pembantaian secara besar besaran atas orang-orang yang berada di tiga tebing sembilan puncak dan dua belas benteng sebelum bisa bertemu dengan sasa-ran utamanya. Baru saja dia hendak membentak 0h Li cu agar menghentikan pertarungan. puluhan orang lelaki lainnya serentak menyerbu ke depan dan mengepung Oh Li cu ketat-ketat. diiringi bentakan-bentakan nyaring serangan dilancarkan bertubi tubi. "Tok Nio-cu berada disini. bila hal sampai terjadi. pedangnya dengan jurus Hujan angin di delapan penjuru. ke dua orang lelaki itu ter-gele-tak mampus di atas tanah. cahayar tajam menyam-bar lewat dan dua jeritan ngeri yang memilu-kan hati segera bergema memecah kan kehe-ningan. beratus ratus pasang mata yang kaget dan ngeri bersama sama dialihkan ke wajah Tok Nio-cu. bila keadaan semacam ini dibiarkan berlangsung terus. . puluhan orang lelaki yang berada di sekitar tempat Itu menjadi celingukan kian kemari tak lama kemudian dari . mendadak Tok Nio-cu yang berdiri angkuh di arena telah membentak nyaring. Dengan cepat Lan See giok dapat melihat bagaimana kawanan lelaki yang memenuhi itu kian lama kian bertambah banyak. ia ciptakan lapisan cahaya pedang yang membukit dan mende-sak kawanan lelaki itu.

akulah Ho hiangcu. sorot matanya yang ta-jam memandang sekejap kearah Oh Li cu yang membawa pedang terhunus serta Lan See-giok yang berdiri tak jauh darinya. tampak kawanan lelaki lainnya sama-sama menyingkir ke samping untuk memberi jalan lewat. Lelaki berpakaian ringkas yang berada ditengah itu segera maju ke muka dengan dada dibusungkan dan langkah lebar. "Nona. siapa namamu? Ada urusan apa kau datang membunuh orang ditengah ma-lam buta?" "Hmm!" Oh Li cu mendengus menghina. "Ho hiangcu telah datang!". Tok Nio-cu tidak menunggu sampai lelaki tadi berdiri tegak.430 kejauhan sana tampak tiga sosok bayangan manusia sedang bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi. "Akulah yang membunuh mereka.. tiba-tiba terdengar Oh Li-cu me-nimbrung sambil tertawa dingin. selain Kiong Tek-ciong sendiri." . Tatkala ketiga orang itu sudah mencapai lima kaki dari mereka. tegurnya ke-mudian. sepasang matanya yang bulat besar dan ber-cahaya mula-mula memandang sekejap ke arah dua sosok mayat yang terkapar di atas genangan darah itu.. Lan See-giok segera menengok ke muka... dengan suara dalam ia lantas menegur: "Apakah kau adalah Ho hiangcu yang ber-tanggung jawab atas tebing sebelah timur ini ?" Lelaki itu berhenti melangkah lalu men-jawab dengan suara tajam: "Betul. ada urusan apa nyonya datang membunuh orang ditengah malam buta begi-ni?" Sambil berbicara. ternyata ketiga sosok bayangan manusia yang sedang bergerak mendekat itu adalah tiga orang lelaki yang berusia diantara tiga puluh tahunan. urusan sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dia!" Ho Hiangcu segera berpaling dan menatap wajah Oh Li-cu penuh amarah. Salah seorang diantaranya mengenakan baju merah dengan senjata tombak pendek. Sebelum Tok Nio-cu menjawab pertanyaan itu. Sedangkan dua orang lainnya berbaju abu-abu dengan menyoren golok dipunggungnya mungkin para komandan regu di bawah pimpinannya.serentak pulu-han orang lelaki itu berseru bersama. �"siapakah namamu. alis matanya tebal matanya besar dan ber-perawakan tinggi besar lagi kekar. siapa saja tidak berhak untuk me-ngetahuinya.

Belum sempat sepasang kaki Ho hiangcu menginjak tanah. karenanya sambil tertawa dingin tubuhnya bergerak secepat kilat. tidak heran kalau dia manfaatkan kesempatan tersebut untuk mengajak Oh Li-cu bertarung. Lan See giok sangat gusar atas kejadian ini. Menyusul kemudian ia membentak nyaring pedangnya dilancarkan secara bertubi tubi melepaskan tiga serangan berantai yang mengancam atas tengah dan bawah tubuh lawan. "Biarpun aku tidak berhak untuk mena-nyakan namamu. alis mata nya berkernyit lalu bentaknya keras-keras. kecepatannya luar biasa sekali. dalam kaget nya dia segera melompat mundur ke belakang Sudah barang tentu Oh Li-cu tak sudi membiarkan musuhnya kabur. Kendatipun demikian. namun aku berhak untuk membunuhmu guna membalaskan dendam bagi kematian kedua orang anak buahku" Sambil membentak tubuhnya menerjang ke muka. pingin mampus rupanya kau!" Dua titik cahaya biru diiringi desingan angin tajam menyambar ke wajah ke dua orang lelaki tersebut. Melihat pemimpin mereka diserang. senjata tombak pendeknya disapu ke muka. Tampaknya Tok Nio-cu ada maksud untuk menilai ilmu silat "yang dimiliki Oh Li cu. Baru saja serangannya gagal. pedangnya meluncur ke muka menusuk lambung Ho hiangcu. diiringi bentakan keras. dengan begitu sapuan senjata lawan mengenai sasaran kosong. tapi sebelum ia bertindak.. dalam sekilas berkelebat tahu-tahu sudah tiba di sasaran. . cahaya tajam telah menyambar tiba. menyambar pinggang Oh Li cu. Sesungguhnya Ho Hiangcu datang ke situ dengan tugas untuk berusaha mengulur waktu selama lamanya. dia hendak melepaskan sentilan jarinya untuk merobohkan lawan. dua orang lelaki berbaju abu-abu lainnya segera membentak keras. Tok Nio-cu telah membentak lebih dulu. dada serta lambung.431 Ho hiangcu seketika naik darah. se-baliknya Oh Li cu sendiripun berhasrat un-tuk menunjukkan kehebatan Wi-lim-poo. yaitu bagian tenggorokan. sambil mengayunkan golok mereka membacok Oh Li cu. mimpi pun dia tidak mengira kalau kekejaman Oh Lieu sebetulnya jauh melebihi kekejaman Tok Nio-cu sendiri. tahu-tahu Oh Li cu sudah menyusul tiba. "Kawanan tikus. ia menjejak-kan kakinya ke atas tanah dan melakukan pe-ngejaran dari belakang.

sama memutar senjata sambil membentak. Ditengah gerakannya meluncur ke depan tiba-tiba Lan See giok berpaling dan ujarnya kepada Tok Nio-cu serta Oh Li-cu. namun tak seorang pun di antara mereka yang berani mendekati lawannya. Oh Li cu juga berusaha untuk menghenti-kan gerakan tubuhnya. "Kita tak usah membuang waktu percuma di tempat-tempat semacam itu. tentu saja selembar jiwanya turut melayang meninggal-kan raganya. yang penting terus menemukan si Beruang berlengan tunggal secepatnya!" Oh li cu manggut berulang kali tanpa menjawab. dari atas dinding benteng kedengaran suara teriakan keras. Puluhan orang lelaki itu sama . namun berhubung peringatan tersebut datangnya terlalu men-dadak. berpuluh puluh orang lelaki bersenjata golok itu sama-sama mengayunkan senjatanya sambil menjerit. Ho Hiangcu pun berteriak keras. Melihat musuhnya beranjak pergi. membuat tubuhnya tetap maju sejauh tujuh depa sebelum bisa berhenti. ca-haya lentera yang terang benderang dimuka situ tinggal sepuluh kaki lagi. cepat berhenti!" Lan See-giok tahu tentu ada sesuatu hal yang tak beres. Tok Nio-cu segera melihat bahwa kesem-patan baik ini tak boleh dibuang dengan be-gitu saja. Tatkala Tok Nio-cu melihat cahaya api itu berasal dari obor-obor yang disulut di atas dinding benteng.432 Tiga kali jeritan ngeri yang memilukan hati bergema memenuhi angkasa. "Hei. sedangkan Tok Nio-cu segera menjelaskan: "Tanpa melalui sembilan puncak dengan tiga tebingnya mustahil kita dapat memasuki puncak Keng thian hong dimana markas be-sar Kiong Tek ciong terletak. tiba-tiba saja dia hentikan gerakan tubuhnya. dua orang ko-mandan pasukan itu membuang senjatanya sambil menutupi wajah sendiri dengan kedua belah tangan. lalu secara tiba-tiba ." Sementara pembicaraan berlangsung. dada dan lambungnya tersayat hingga robek. Bersamaan waktunya dengan berhentinya ketiga orang itu. Suasana dalam arena menjadi amat kalut dan kacau tidak karuan. isi perut-nya berhamburan ke luar semua.jerit. sementara ka-wanan lelaki yang mengejar dari belakang makin lama semakin mendekat. mendadak ia menjerit kaget. tubuhnya segera terjungkal ke tanah. kepada Lan See giok serunya: "Ayo berangkat!" Mereka bertiga segera berangkat menuju kearah mana cahaya lentera bersumber. serentak mereka lakukan pengejaran.

. puluhan orang lelaki yang semula mengejar mereka. manusia. dia memutar senjata gurdi emasnya sambil me-ngundurkan diri. apa yang terlihat membuatnya sangat kaget. bayangan gurdi membukit dan se-mua panah berapi yang menyambar datang kena dipukul sampai terpental ke mana--mana. . memancar ke empat penjuru. Tok Nio-cu berkelebat maju ke muka lalu menyembunyikan diri di belakang tubuh Lan See-giok. tiada seorangpun yang maju ke depan. semenjak tadi telan menghentikan diri di luar jangkauan anak-anak panah beracun itu. biar-pun api sudah padam tapi masih mengepul-kan asap tebal. Lan See giok sudah berada tiga depa dari Oh Li cu. panah berapi itu mengandung racun belerang yang sangat jahat. cahaya emas dengan cepat. Mendadak terdengar jeritan lengking ber-gema di udara. Ketika mendengar jeritan dari Oh Li cu. tiada orang pula yang berteriak. suara gendewa dipentang orangpun bergema. Ternyata bahu bagian belakang gadis itu sudah tertancap sebatang anak panah. Gusar sekali Lan See giok melihat kejadian ini. ia bertambah kaget. secepat sambaran petir dia memutar senjata gurdi emasnya sambil buru-buru bergeser mendekati Oh Li cu. ujung baju kirinya segera dikebaskan ke muka. Tok Nio-cu tahu." Lan See giok merasa sangat tidak tenang apalagi setelah mendengar panah berapi itu beracun.Nio-cu berseru. apalagi setelah menengok ke samping. Dengan perasaan terperanjat Lan See-giok berpaling... dengan perasaan terkejut ia segera berteriak keras "Ayo cepat kembali!" Sementara berbicara. luka dari nona Oh perlu diobati dengan segera. panah itu menancap di tubuh sang gadis karena terpental oleh puta-ran senjata Lan See-giok sendiri. Setelah mengangguk berulang kali. Dalam pada itu. serta merta ia meraba pinggangnya sam-bil melepaskan senjata gurdinya. panah-panah berapi berhamburan ke arah mereka seperti sambaran petir.433 muncul puluhan sosok bayangan. anak panah yang menancap dibahu belakang Oh Li cu pun segera rontok ke tanah. Sekali lagi Tok. hilang niatnya untuk melanjutkan perjalanan. "Adik Giok. cepat mundur. Tok Nio-cu sadar bahwa keadaan tidak me-nguntungkan. Sebaliknya Oh Li cu masih memutar pedangnya ke sana kemari tanpa berhenti.

Pada saat inilah mendadak dari atas din-ding benteng berkumandang suara gelak tertawa seseorang yang penuh kegembiraan. Dengan nada susah Tok Nio-cu kembali berkata. dengan cepat mereka mencari batu besar sebagai tempat perlin-dungan. hawa napsu membunuhnya segera timbul. haaahhh. dari sakunya dia mengeluarkan sebuah botol porselen kecil lalu diserahkan kepada Oh Li cu-. kemudian bertanya. "Apakah kau maksudkan ketiga butir pil mestika yang kau berikan kepadaku tempo hari?" Berkilat sepasang mata Oh Li-cu. Sebaliknya paras muka Oh Li cu dan Tok Nio-cu berubah menjadi merah membara." Tergerak perasaan Lan See giok mendengar perkataan itu. tapi sayang setelah dibubuhkan akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Dengan cepat dia memeriksa keadaan luka yang diderita On Li-cu. kejut dan girang dia menganggukkan kepalanya beru-lang kali. haaahhh ." Ucapan itu sudah jelas mengandung nada yang cabul lagi kotor. Lan See giok. "Haaahhh ." Oh Li cu menjadi sangat mendongkol. merasakan kehe-batanku. "Nona Oh. tidak heran jika Lan See giok menjadi amat gusar. "Benar. jmalam ini aku sgi Hakim paku habti pasti akan menyuruh kau menggoyang pinggul kian kemari sebelum. tiba-tiba terdengar Tok Nio-cu membentak sambil menggertak gigi: . apakah kau mempunyai obat penawar racun yang lebih mustajab?" Oh Li cu hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab. "Walaupun aku mempunyai bubuk penawar racun.Pada saat itulah. Tok Nio-cu dan Oh Li-cu mengundurkan diri sampai di luar jangkauan anak panah berapi. benar.434 Sewaktu menyaksikan Lan See giok dan Tok Nio-cu bertiga muncul kembali. "Walaupun ayahku mempunyai pil penawar racun yang bagus. ayo cepat keluarkan dan berikan kepadaku adik Giok---" Lan See giok tak berani berayal lagi. tanyanya kemudian tak mengerti. tentu saja Tok Nio-cu segan-menjawab kata-kata cabul dari si Hakim paku hati tersebut. Tok Nio-cu. tapi dia tak bisa menghukum manusia jahanam tersebut pada detik itu juga. sayang aku tidak membawanya. serentak mereka membubarkan diri untuk mencari selamat..b .

tangannya disambit ke depan melepaskan dua butir peluru api beracun. Suasana jadi panik. Melihat bunga api yang beterbangan itu. tanpa terasa ia menggeleng-kan kepalanya berulang kali. pucat pias wajah puluhan lelaki kekar itu. suasana mengerikan dan mengenaskan sekali. semua orang berdesak desakan agar bisa kabur lebih cepat lagi.435 "Manusia-manusia bodoh. suasana menjadi kalut dan serentak semua orang membubarkan diri dengan perasaan panik ketakutan setengah mati. tak ampun mereka bergulingan di atas tanah sambil menjerit jerit kesakitan. Dua gulung bola api yang memanbcarkan sinar bijru. Sesungguhnya Tok Nio-cu bisa disebut orang sebagai perempuan beracun karena konon dia memiliki enam macam senjata ra-hasia yang beracun itu. Apakah kalian ingin pergi dengan begitu saja?" Kembali tangannya diayunkan ke depan. Akibat dari ledakan tersebut. "Blaammm! Blaammm!" Sewaktu ke empat butir peluru api beracun itu saling bertumbukan di tengah udara ter-jadilah ledakan yang gegap gempita. di antara mereka yang sudah terpercik api tersebut. Berubah hebat paras muka puluhan lelaki itu. segulung api. Tok Nio-cu membentak keras. Tiba-tiba Tok Nio-cu membentak keras. mereka jadi ketakutan setengah mati hingga sukma serasa melayang meninggalkan raganya. Dalam waktu singkat sembilan orang. diiringi sugara desingan dabn mengepulkan kabut hijau yang tebal segera meluncur ke tubuh puluhan orang lelaki tersebut. ternyata puluhan orang lelaki berpakaian ringkas itu dengan langkah berhati hati dan senjata ter-hunus sedang mendekati tempat mereka berada. . ke empat gumpalan api biru tadi segera berubah men-jadi beratus ratus api bintang yang meluruk ke empat penjuru dan berhamburan kemana mana. Sambil tertawa dingin sekali lagi. sebab dari kekejamannya hal ini. memang sesuai dengan keadaan tersebut. Berubah hebat wajah Lan See giok melihat kesemuanya itu. "Sebelum meninggal-kan nyawa. biru secepat kilat meluncur ke depan menubruk ke dua butir peluru api beracun pertama yang sedang meluncur ke bawah. nampaknya kalian benar-benar ingin mencari mampus!" Lan See giok segera berpaling. Bagaimana pun juga Tok Nio-cu memang pantas diberi julukan perempuan beracun.

.. Kemudian dari tangan si nona dia me-ngambil secarik sapu tangan. . Menjumpai Lan See-giok menggeleng sam-bil menghela napas. tidak heran kalau mereka dibuat ."! Tentu saja sikap Tok Nio-cu yang sangat tiba-tiba ini sama sekali di luar dugaan Lan See giok serta Oh Li cu. cepat dia meremasnya menjadi bubuk lalu ditebarkan di atas mulut luka Oh Li-cu. waktu itu. "Adikku. mendadak dia memeluk tubuh Oh Li-cu kencang-kencang sambil menangis tersedu sedu penuh kesedihan. Oh Li cu segera berkata dingin. darah hitam yang busuk ma-sih ke luar tiada hentinya. Ditengah suasana penuh jerit kesakitan yang memilukan hati. sikap Tok Nio-cu masih tetap acuh tak acuh seolah-olah sama sekali tidak terpengaruh oleh suasana di hadapan-nya. . .?" Oh Li-cu juga merasakan keanehan lawan. . Sambil menangis terisak. Dengan perasaan terkejut bercampur tidak habis mengerti. . ooh. Setelah menerima pil kecil itu. sekarang telah bertambah dengan sebuah jalur panjang mulut luka yang berdarah. wajahnya berubah hebat. Lan See giok segera me-negur: "Nyonya. mengapa kau.436 di samping itu entah masih terdapat beberapa macam lagi benda-benda beracun yang digembolnya. mengapa kau tidak merasa sakit hati dan sedih? Mengapa kau tidak mengeluh sambil memeriksa keadaan lukaku?" Sambil berkata dia melemparkan sebutir pil berwarna merah yang diserahkan kepada Tok Nio-cu. Menanti Tok Nio-cu peroleh kesadarannya kembali. sedih itu de-ngan perasaan tak habis mengerti.. "Di atas bahu bagian belakangnya yang putih dan halus. ia seolah-olah tertegun dibuatnya. Mendadak sekujur badan Tok Nio-cu ge-metar keras. ia berseru beru-lang kali. menyingkap pakaiannya dan menyeka air darah berwarna hitam itu . .kau adalah adik ku yang patut dikasihani. kemudian mengembalikan botol kecil itu ke tangan sang pemuda. sorot matanya yang jeli mengawasi mulut luka Oh Li-cu tanpa berkedip. . "Sewaktu terkenra panah berapi ztadi. Merah jengah selembar wajah Lan See giok. nyaris akwupun ikut hendark bergulingan di atas tanah. setelah menerima botol tadi diapun segera memeriksa keadaan luka dari Oh Li-cu.. cepat ia berpaling lalu mengawasi Tok Nio-cu yang masih termangu mangu.. mengapa .

seakan akan dia berharap dari guncangan tersebut bisa membuat Oh Li cu teringat kembali dengan masa. "Aku telah melihat tahi lalat tiga bunga yang berada dibahu adikku. dia menggoyangkan badan Oh Li cu tiada hentinya. Lan See giok bisa menyimpulkan kalau di atas bahu Tok Nio-cu pun pasti terdapat juga sebuah tahi lalat. dia melanjutkan sambil menangis terisak. Sebaliknya ke sembilan lelaki yang tubuhnya terjilat api beracun itu sudah mela-rikan diri kalang kabut. j Lan See giok sgeperti dapat mebrasakan bahwa Oh Li cu enggan mengakui hal ter-se-but secara gegabah." Bagaikan orang gila. apalagi diapun merasa raut wajahnya memang mirip sekali dengan wajah perem-puan itu. " . Tok Nio-cu me-ngangguk berulang kali. betul masih ada keraguan di hati kecilnya. "Apa? Kau maksudkan enci Cu adalah adik kandungmu"" sambil menemukan Oh Li cu dan menangis tersedu sedu.437 tertegun dan kelabakan. maka selanya kemudian. lalunya: Dalam pada itu Oh Li cu seperti tak bisa menyambut perubahan yang datangnya seca-ra tiba-tiba ini setelah melihat sikap gila Tok Nio-cu. dari mana kau bisa tahu kalau enci Cu adalah adik kandungmu?" Tok Nio-cu menjadi sadar kembali. keadaan yang terpentang di depan mata sekarang membuatnya segera mengerti. cepat ia memperingat kan kepada Tok Nio-cu: "Nyonya.. sekarang juga menoleh dengan perasaan kaget.. . nyonya kan boleh mempersilahkan enci Cu untuk me-lihat pula tahi lalat di atas bahumu . Sambil menjerit kaget katanya kemudian. "Itu mah gampang sekali. "Kau adalah Cui-lan.. . namun air matanya tak urung toh jatuh bebrcucuran juga. Puluhan lelaki yang sudah kabur di kejau-han sana. ia menunjuk ke bahu Oh Li-cu sambil berkata. tahi lalat terse-but dibuat oleh ibu kami. . lama sekali mereka berdua hanya bisa memandang perempuan itu tanpa memahami apa gera-ngan yang sebenarnya telah terjadi. . sembari menyeka air matanya. kau tak akan ter-ingat dengan keadaan kita yang amat tragis . "Benar. Lan See-giok sudah merasa bahwa wajah Tok Nio-cu agak mirip dengan wajah Oh Li cu. tentu saja mereka tak sempat lagi memperdulikan jerit tangis Tok Nio-cu yang mendadak itu Memang semenjak pandangan pertama tempo hari. dia adalah adik Cui lan ku!" Kemudian sambil memandang Oh Li cu yang masih berdiri melongo.

diantara kejengahan terselip pula perasaan bangga. mendadak terdengar lagi dengan dua kali desingan angin tajam. Sementara ke tiga orang itu berada dalam keadaan serba salah. Lan See giok menjadi tertegun. tahu-tahu dua batang anak panah sudah meluncur datang . sambil memutar senjata gurdi emasnya dia menerkam kembali ke arah puluhan pemanah tersebut secara kalap. cepat kem-bali. Oh Li-cu dapat melihat kejadian tersebut dengan jelas ia membentak keras dan pedang nya segera diayunkan ke depan. maka tanda tahi lalat tersebut akan turut menjadi hilang. Disaabt tubuh Lan Seej giok sedang meg-ner-jang ke lubar dari tempat persembunyiannya. bibirnya bergerak seperti hendak mengucap-kan sesuatu. malah merahnya sampai ke telinga. ternyata gadis itupun menunjukkan wajah semu merah. "Lepaskan panah berapi!" Mengiringi bentakan itu. "Dari atas dinding benteng berkumandang suara gelak tertawa keras. "Adik Giok. Tahun ini. cepat lihat!" .438 Belum habis ia berkata. paras muka Tok Nio-cu telah berubah menjadi merah dadu. dia membalikkan badan lalu mundur kembali secepat kilat. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Tok Nio-cu menjerit kaget. . . Lan See giok memang sudah berusia delapan belas tahun. namun seperti sukar untuk di-utarakan. Tidak sampai pemuda itu berdiri tegak. namun ia be-lum tahu bahwa seorang gadis yang sudah ke-hilangan keperawanannya. Lan See giok tahu ada sesuatu yang tak beres. tentu saja persoalan semacam ini sulit bagi Tok Nio-cu yang sudah kawin itu untuk menerangkan. menyusul kemudi an terdengar seseorang membentak nyaring. Oh li-cu segera menuding ke muka sambil seru-nya: "Adik Giok. panah berani ba-gaikan ular meluncur ke tubuh Lan See giok secara gencar. Lan See giok menghentikan sebentar gera-kan tubuhnya. . terdengar teriakan keras bergema memecah-kan keheningan lalu hujan panah pun ber-hamburan ke seluruh udara. hawa napsu membunuh kini sudah membara di dadanya. anak panah itupun rontok seketika. Lan See giok yang pertama tama me-nyadari hal tersebut. ketika ia berpaling pula ke arah Oh Li-cu. Lan See giok ikut naik pitam sambil mem-bentak keras dia menerjang ke arah mana berasalnya bidikan anak panah itu.

dapat diduga bahwa kebakaran besar telah melanda bangunan rumah mereka." Sesudah mendengar teriakan dari Tok Nio-cu. serentak ia mengalihkan gerakan tubuhnya dengan menerjang kearah dinding benteng. Mendadak terdengar si Hakim paku hati berteriak. jangan ke situ .. merasa datangnya ter-jangan cepat ia mendongakkan kepalanya . Gerakan tubuh Lan See giok cepat bagai-kan sambaran petir. sewaktu panah berapi dibi-dikkan. apalagi dari teriakan "kebakaran" yang bergema di mana-mana.439 Mengikuti arah yang ditunjuk. Waktu itu Lan See-giok sedang meroboh kan beberapa orang lelaki kekar dengan sen-jata gurdi emasnya.. ternyata dari atas sebuah puncak bukit di sebelah depan situ. baru selesai si Hakim paku hati berbicara. suasana di atas dinding benteng telah terjadi kekalutan. siapakah orang ini?" Belum habis ingatan tersebut melintas le-wat. buru-bruru teriaknya keras "Adik Giok. Lan See giok baru teringat kalau jalan di depan sana buntu. ia telah menerjang ke depan benteng. sambil membentak keras se-cepat kilat ia menerjang ke depan. tubuhnya telah melayang ke tengah udara: Cahaya emas segera menyambar lewat. Gemetar keras seluruh badan Lan See giok mendengar suara tersebut.san pada malam ini?" Lan See giok sendiripun tidak habis mengerti. terdengar benta-kan keras bergema memecahkan keheningan. Pucat pias selermbar wajah Tok zNio-cu melihat whal ini. "Sungguh aneh. wajahnya berubah hebat. Bagaikan sedang berguman. "Lepaskan panah api !" Jeritan yang kalut kembali berubah menja-di teriakan ramai. siapa lagi yang mendatangi Tay ang. dua kali jeritan ngeri yang memilukan hati mengi-ringi robohnya dua orang lelaki ber-busur dari pagar benteng. BAB 21 DALAM pada itu. Tok Nio-cu berbisik tiba-tiba. suara bentakan merdu yang amat di-ke-nal olehnya tiba-tiba berkumandang dari puncak tebing itu... panah--panah berapi mulai berhamburan kemana-mana.. ia sedang tiada hentinya bertanya kepada diri sendiri. Pada saat itulah ditengah kekalutan yang melanda kawanan lelaki itu. Lan See giok merasa sangat terkejut. sesosok bayangan manusia melompat ke luar. tampak asap tebal mengepul diangkasa agaknya ada beberapa buah bangunan rumah yang sudah terjilat api.

tangannya di-getarkan ke muka dan tahu-tahu senjata poan-koan-pit tersebut sudah terlepas dari cekalan. suasana menjadi kacau dan semua orang berusaha untuk menyela-matkan diri. lalu sambil berteriak aneh dia menerjang ke muka... segum-pal jarum lembut seperti bulu kerbau. cahaya apib membum-bung tijnggi ke . Hakim paku hati jadi ketakutan setengah mati. senjata poan-koan-pit nya dengan jurus bintang timur menubruk bintang. "Hakim paku hati. si Hakim Paku hati telah menjerit kesa-kitan lalu roboh dari atas atap rumah dan jatuh berguling. Tampaknya orang inilah yang menamakan dirinya sebagai si Hakim paku hati. Belum habis ingatan tersebut melintas le-wat. Bertemu dengan Lan See-giok. dia melompat naik ke atap rumah dan melarikan diri terbirit-birit . Berubah hebat paras muka Lan See-giok ia cukup mengetahui akan kelihaian jarum lembut tersebut. tinggalkan dulu jiwa mu. selain cepat dan hebat.. . di tambah pula dia ingin selekasnya tiba di puncak se-berang. si Hakim Paku hati melotot besar. sambil membentak dia melompat mundur dengan sepenuh tenaga. diiringi percikan cahaya tajam Langsung menyambar kearah si Hakim paku hati yang sedang mela-rikan diri itu.440 Ternyata orang yang sedang menerjang datang itu adalah seorang lelaki berusia em-pat puluh tahunan yang berjubah merah. Pada saat itulah. dia serang ubun-ubun lawan. Kematian dari si Hakim paku hati tersebut segera membuat paniknya kawanan lelaki di atas dinding benteng. beralis segi tiga mata bulat hidung paruh betet dan berjenggot hitam." Tok Nio-cu tahu membentak keras. senjata gurdi emasnya di ayunkan ke muka dan mengikat senjata poan-koan-pit lawan. sukmanya merasa melayang Mening-galkan raganya. dalam waktu singkat jiwanya turut melayang meninggalkan raga nya.. se-rangan datang tanpa menimbulkan suara bahkan seseorang yang berilmu tinggi jangan harap bisa menghindari secara mudah. Hakim paku hati sangat terkejut. sambil menjerit aneh. ta-ngannya segera diayunkan ke depan.. Lan See-giok tertawa dingin. Bersamaan dengan bentakan tersebut. Lan See-giok benci kepada si Hakim Paku hati karena mulutnya cabul sekali. membawa senjata poan-koan pit.. dari atas puncak bukit di seberang yang terjadi ledakanledakan yang memekikkan telinga. maka tubuhnya begitu berkelebat lewat.

. tapi mau tak mau dia harus menguatirkan kebahagiaan adiknya itu." Belum selesai berkata. Di bawah cahaya api yang membara sua-sana di seputar situpun dapat terlihat de-ngan jelas. sahutnya singkat: "Dia adalah sumoay ku. Maka sambil menengok kearah Tok Nio-cu. paras mukanya berubah hebat. siapa sih perempuan itu?. kemudian ter-tawa dingin tiada hentinya." Tok Nio-cu amat menyayangi adiknya. lalu dengan kening berkerut segera tanyanya lagi: ""Adik Giok..-. Lan See-giok sama sekali tak berminat untuk berbicara lagi dengannya.. . titik air mata tanpa terasa jatuh bercucuran. tubuhnya bagaikan segulung asap telah meluncur ke utara.. kobaran api yang menggila seakan-akan menyambar benda apa saja yang di jumpainya. diambilnya obor-obor di situ kemudian di-sambitkan kearah bangunan benteng". Ia manggut-manggut.. terutama sekali ia dapat melihat bahwa Lan See-giok sebenarnya tidak berniat sama sekali untuk memperistri Oh Li-cu . apakah harus lewat situ me-nuju ke utara ?" Tangan kirinya yang menuding ke arah de-pan kelihatan agak gemetar. tapi sesudah mendengar kata "sumoay". . tapi suara yang amat dikenalnya itu cukup menimbulkan kecurigaan dalam hati-nya. asap tebal mebnyeli-muti pandangan. hawa napsu membunuh segera menyelimuti wajahnya.. memandang bayangan punggung Lan See-giok yang menjauh.. Biarpun saat ini dia sudah tak ingin ber-saingan lagi dengan adiknya.441 angkasag. "Nyonya. selintas wajah benci dan dendam menghiasi wajah Tok Nio-cu.. Dalam pada itu Lan See giok hanya me-mikirkan soal teriakan merdu yang didengar-nya tadi.. walaupun dia belum berani me-mas-tikan.. tanyanya kemudian dengan gelisah.. Tok Nio-cu tahu bahwa orang tersebut sudah pasti mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan Lan See-giok. Oh Li-cu sangat mendendam karena bahu-nya termakan bidikan panah.. Dari sikap Lan See giok yang gelisah dan cemas setelah mendengar suara bentakan merdu tadi. Pada mulanya Oh Li cu menyangkba benta-kan terjsebut berasal dgari Huyong siabncu atau Ciu Siau-cian. sambil menggigit bibir ia segera berseru. ditatapnya bayangan punggung Lan See-giok tanpa berkedip. dia segera melompat naik ke atas dinding benteng." Menjumpai Tok Nio-cu mengangguk. Dengan jawaban ini.

.. ia tidak melihat bayangan tubuh si anak muda itu lagi.. kemudian melakukan pengejaran lebih dulu. kau tak boleh membunuhnya!" Dengan cekatan Tok Nio-cu mengigos ke samping sehingga goloknya tidak sampai terampas. hal ini dikarenakan ia mencurigai Oh Tin san sebagai pembunuh ayahnya. "Cici. dengan begitu tak nampak sesosok ba-yangan manusia pun di situ. tiba-tiba ia melihat lebih kurang puluhan kaki didepannya ter-bentang sebuah jurang yang dalam sekali. tanpa terasa dia memperlambat gerakan tubuhnya. Ketika mendekat. Sementara itu. Waktu itu. ketika men-do-ngakkan kembali kepalanya. Beberapa buah obor yang dilemparkan Oh Li cu ke dalam bangunan rumah tadi kini mulai membara besar dan menimbul-kan asap hitam yang amat tebal. buat apa kita mesti biarkan ia tetap hidup bagi keuntungan orang lain.?" "Dia tentu akan mencintaiku. BERUBAH paras muka Oh Li-cu menyaksi-kan hal ini.. asal cici masih hidup selain kau. Lan rSee giok denganz mengerah-kan iwlmu meringankanr tubuhnya sedang bergerak menuju ke utara.. sebaliknya tu-run gunung dan berkelana dalam dunia per-silatan? Dalam gerakan larinya. semua orang yang berada di benteng tersebut telah kabur menyelamatkan diri. dia yakin suara bentakan merdu yang didengar berasal dari adik seperguruannya Si Cay soat. hanya lamat-lamat masih kedengaran suara air yang sedang mengalir. tapi setelah ia mengetahui asal usulku sekarang" Perkataan itu terpaksa terhenti sampai separuh jalan karena gadis itu melihat Tok Nio-cu semakin mengejar semakin cepat. dia lantas membungkuk kan badan dan memungut sebilah golok dari sisi sesosok mayat. setelah mendengus marah segera serunya: "Bila Lan See-giok tidak mencintaimu de-ngan sesungguh hati... . aku tak akan membiarkan siapa pun berbaik dengan Lan See-giok!" Sambil berkata.." pinta Oh Li cu lagi dengan air mata bercucuran. ternyata jurang itu le-barnya mencapai sepuluh kaki dasarnya sama sekali tak nampak. tapi ia tak habis mengerti apa sebabnya gadis itu bukan berdiam di dalam gua. dia takut encinya Tok Nio-cu benar-benar akan turun tangan keji terhadap Lan See giok. dengan cepat ia menubruk ke muka dan menarik pergelangan tangan Tok Nio-cu sambil pintanya dengan air mata ber-cucuran..442 "Ayo kita kejar. Oh Li cu sangat gelisah. "dia ber-sikap dingin kepadaku.

" Tubuhnya yang telah mendekati pohon be-sar itu cepat menyambar tali tersebut. aku berada disini!" Di tengah seruan mana. ia lantas menubruk datang. ujung tali tersebut justru tepat pada puncak pohon setinggi delapan sembi-lan kaki. cepat ia meluncur ke depan. adik Soat. begitu kakinya mencapai tanah. dia bergerak terus menuju ke bawah. "di sini terbentang jurang yang lebar!" Tapi Si Cay soat yang sedang meluncur ke bawah seolah-olah tidak mendengar peri-ngatan tersebut. Tatkala Lan See giok mengamati lebih sek-sama lagi. Tergerak hatinya melihat hal itu. sementara cahaya pedang yang terpantul cahaya api memekikkan sekuntum awan merah yang menyilaukan mata. dia lari menuju ke kanan dengan menelusuri sisi jurang. cepat hentikan lang-kahmu adik Soat. se-mentara gurdi emas yang berada ditangan kanannya diayunkan ke depan memutuskan ujung tali yang terikat pada pohon di ujung seberang. Dengan cepat dia memandang sekejap seki-tar itu. perasaannya segera bergetar keras." teriak Lan See giok lagi memperingatkan. ditambah lagi letusan-letusan keras sedang menggelegar dari arah puncak. keadaannya bagaikan sebutir bintang yang sedang meluncur. "Tunggu dulu adik Soat. Kejut dan gembira membuat pemuda itu segera berteriak keras: "Adik Soat.. tanpa mengurangi kece-patan tubuhnya yang sedang meluncur. . cepat-cepat teriak-nya lagi dengan keras: "Berhenti adik Soat. ia pun menjumpai Si Cay soat sudah berada cuma dua puluh kaki dari tepi jurang.. Lan See giok yakin. tiba-tiba ia melihat ada seutas tali yang terikat pada sebatang pohon besar di sisi jurang.. Agaknya Si Cay soat yang sedang meluncur ke bawah itu sempat pula menangkap teria-kan Lan See giok.443 Disaat itulah dari puncak bukit seberang berkelebat cahaya tajam yang meluncur dari atas ke bawah. Bersamaan waktunya. ini semua membuatnya tidak mendengar suara peringatannya. Dalam kejutnya peluh dingin sempat ber-cucuran membasahi seluruh tubuhnya. Si Cay soat tentu se-dang terpengaruh emosi yang menggelora. ternyata bayangan manusia yang se-dang meluncur ke bawah itu tak lain adalah Si Cay soat yang membawa pedang Jit hoa kiam.

ia tak menduga kalau tali yang digunakan un-tuk berayun mendadak putus menjadi dua".. ia jatuh tak sadarkan diri. Lan See-giok sangat terkejut. "Weess.. sambil menjerit ia langsung menubruk ke tubuh anak muda tersebut. kini jarak nya tinggal satu kaki. baru saja dia bermaksud menghalangi perbuatan gadis itu. men-dadak sepasang matanya menangkap se-batang pohon yang tumbuh di sisi jurang .. Dari pantai seberang.. Pemuda itu terkejut sekali. Lan See giok benar-benar berada dalam keadaan yang amat kritis. Lan See giok mendengus tertahan. sambil berayunan sekali lagi ia berteriak: "Adik Soat. namun tubuh Si Cay soat yang menubruk tiba telah menerjang di atas badannya. cepat berhenti. masih kedengaran dengan jelas suara teriakan dan isak tangis Oh Li cu yang memilukan hati . padahal selisihnya dengan tepi jurang hanya tinggal tiga depa saja Si Cay soat memeluk tubuh si anak muda itu kencang-kencang.!" Tubuhnya mengikuti sisa tenaga yang ter-pantul dari tali yang terputus meluncur lagi sejauh enam depa ke arah pantai seberang. Sementara tubuhnya masih meluncur ke dasar jurang dengan kecepatan tinggi. Dengan lenyapnya keseimbangan badan maka tidak ampun lagi tubuhnya segera meluncur ke bawah.." Si Cay-soat tidak mampu menahan diri lagi. "Engkoh Giok." Si Cay-soat yang terkejut bercampur gem-bira bahkan seperti agak tertegun itu masih saja berlarian menuju ke tepi jurang.... "Kraas!" tali itu putus secara tiba-tiba... aku telah datang. mendadak dari tepi seberang kedengaran suara dari 0h Li-cu sedang menjerit kaget. Waktu itu Lan Sbee giok sedang jbersiap -siap ugntuk menyambar bpinggang Si Cay soat.. masih untung dia tak sampai panik atau gelagapan." Tapi. dengan cepat tubuhnya meluncur ke bawah.. pedang Jit hoa kiam yang berada di ta-ngannya ikut meluncur ke dasar jurang .. ujung baju kirinya dikebaskan ke muka dengan sepenuh tenaga. .444 Sesudah itu dia menjejakkan kakinya ke tanah dan tubuhnya berayun menggunakan tali tadi menuju ke pantai seberang.. jangan .. se-bilah golok berkelebat lewat sambil meman-carkan cahaya tajam. "Aaah. sambil mem-bentak keras.

... Kini dia tahu bahwa Si Cay soat telah jatuh ping-san.445 Serta merta ia membentak keras. kemu-dian baru membaringkan Si Cay soat dalam pelukannya. Sekuat tenaga pemuda itu berusaha untuk menenangkan hatinya. dengan demikian tubuhnya yang sedang meluncur ke bawahpun terhenti secara mendadak. Mula-mula dia mengikat diri di atas dahan pohon dengan senjata gurdi emasnya.. tapi sayang ia tak dapat menunduk-kan kepalanya untuk memeriksa keadaan gadis tersebut. tiba di atas pohon. . berhubung si nona berada dalam keadaan tak sadar. senjata gurdi emas di tangan kanannya secepat kilat diayunkan ke muka. gerakan merangkaknya dilakukan amat berhati-hati.. Segenap tenaga dalamnya telah disalurkan ke luar dengan menyelimuti badan. hanya berpisah setengah bulan. Begitu tubuhnya yang bergelantungan di tengah udara sudah menjadi tenang. juga turut mengendor lepas. Bibirnya yang pucat sedikit terbuka hingga kelihatan dua baris giginya yang putih dian-tara bulu matanya masih tampak basah oleh air mata. Dengan tangan kanan berpegangan pada senjata gurdi emasnya. sepasang tangan Si Cay soat yang memeluknya. Namun dengan terhentinya gerakan me-luncur itu. membiarkan pikiran-nya yang kalut menjadi jernih kembali. lalu menggigit pakaian bagian dadanya kuat-kuat. bdengan cepat iaj memeluk tubuh gsi nona kencangb-kencang. dia membaringkan tubuh si nona diantara dahan dengan ranting pohon yang kuat. wajahnya sayu. tangan kiri di pakai untuk memeluk Si Cay soat. setelah melepaskan tangan kiri nya. tubuhnya bergoyang kian kemari tiada hentinya . baru sekarang pemuda itu merasakan amat penat memandang adik Soat dalam pelukannya tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang---Air muka Si Cay soat pucat pias bagaikan mayat. sung-guh tak disangka adiknya menjadi begitu layu dan lemas bagaikan baru sembuh dari penyakit parah. "Sreeet!" Senjata gurdi emas itu persis melingkar pada batang pohon yang besar itu. . bergelantungan di udara. matanya terpejam ra-pat-rapat sementara alis matanya yang lem-but berkernyit menjadi satu. Lan See giok sedih sekali setelah melihat kesemuanya ini. pemuda itu baru mengangkat tubuh Si Cay soat ke atas.. Lan See giok sangat terkejut. air mata terasa jatuh bercu-curan. dengan tangan yang lengkap dia baru merangkak naik ke atas pohon.

tanpa terasa dia mulai menciumi seluruh wajah Si Cay soat yang sayu.. Si Cay Soat hanya menggerakkan matanya yang sayu." Cepat-cepat Lan See-giok mendongakkan kepalanya. ia dapat mendengar detak jantungnya yangr lemah.. sementara tangannya memeluk gadis itu makin kencang. dia hanya bisa memeluk tubuhnya sambil bercu-curan air mata. Padahal asal dia tepuk jalan darah Mia bun-hiatnya. tanpa terasa dia menyusupkan kepala-nya di atas dada Si Cay soat dan menangis. Seperti diketahui. diapun tak menggubris apa sebabnya tali yang digunakan berayun tadi bisa putus secara tiba-tiba? Mendadak suara panggilan yang lemah tak bertenaga bergema di sisi telinganya"Eeeh .. yang dipikirkan olehnya saat ini hanya pengorba-nan dan cinta kasih si nona kepadanya. Lan See-giok adalah se-orang pemuda yang sama sekali belum ber-pengalaman. "Adik Soat." sapa nya kemudian sambil menyeka air mata si nona dengan penuh kasih sayang. Tak terlukiskan rasa kalut dan bingung yang menghantui pikiran Lan Seegiok sekarang. butiran air mata nampak bercucuran sangat deras. dalam anggapannya gadis itu baru sembuh dari penyakit parah hingga kondisi tubuhnya masih lemah.. wajahnya ditatap lekat-lekat seakan-akan raut wajah yang cantik itu tak bakal dijumpai lagi. ia tak tahu bahwa Si Cay-soat bisa demikian lantaran gejolak emosi yang melampaui batas membuat darahnya tersumbat.. dalam keadaan demikian.engkoh Giok. Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya. . hal terzsebut membuat awir matanya bercrucuran semakin deras. dia melihat Si Cay soat sedang membuka matanya dengan sayu. niscaya gadis tersebut akan nampak segar kembali. Pipi kanannya ditempelkan di atas payu-dara sebelah kiri si nona. gadis itu memejamkan kembali ma-tanya. ia benar-benar tak tahu bagaimana mesti mengutarakan rasa kuatir dan sayangnya terhadap gadis itu.446 Teringat akan kejadian yang memedihkan hati. napasnya yang lirih.. setelah mengetahui bahwa dirinya sedang berbaring dalam pangkuan kekasih hatinya.. kau telah mendusin.. Dia tak ingin mencari tahu lagi mengapa adik Soatnya bisa muncul di bukit Tay ang san. melihat kondisi Si Cay soat yang makin melemah. Isak tangis yang memedihkan hati mem-buat seluruh kemurungan dan kemasgulan dalam hatinya terlampiaskan ke luar.

ditengah jeritan dan teriakan yang amat ramai lamatlamat ia pun mendengar suara seorang gadis sedang menangis ter-sedu sedu. adik Giok... tanyanya tiba-tiba dengan perasaan kuatir: "Adik Soat... . dia ingin men-ciumnya sampai menjadi merah segar kem-bali seperti sedia kala. uuh. wajahnya ber-ubah semakin merah membara.. cepat-cepat dia mene-puk jalan darah Mia bun hiat di tubuh gadis tersebut. Kemudian dia pula mencium bibir Si Cay soat yang pucat tak berdarah. dia hendak mencium air matanya sampai mengering. se-mentara dadanya terasa sesak sukar ber-na-pas.uuh. tubuhnya yang ramping justru gemetar semakin keras. Pemuda Itu segera menghentikan ciuman-nya lalu mengawasi wajah Si Cay soat yang kini merah membara hingga telinganya. api kebakaran di atas ju-rang telah merubah langit menjadi merah membara. Sementara tubuhnya dipeluk semakin ken-cang..447 Ketika dirasakan badan gadis itu mulai gemetar. " Setelah mendengar seruan itu.. la mencoba untuk memeriksa keadaan ju-rang tersebut. Di samping itu dia pun menjumpai tangan si nona memeluknya kencangkencang sam-bil menggosokkan dadanya di atas dada sendiri." Lan See-giok masih mengenali suara isak tangis tersebut dari Oh Li-cu. di bawah sinar merah yang .. uuh. uuh .. bagaimana rasanya sekarang7" Walaupun pikiran Si Cay soat telah jernih sekarang.. Si Cay soat menarik napas panjang lalu membenamkan kepalanya makin dalam ke dalam pelukan pemuda itu. dengan perasaan terkejut dipeluk si nona semakin kencang . akhirnya tak tahan lagi dia berbisik lirih. Lan See giok baru mendusin. . Dalam pada itu. Dengan perasaan kaget bercampur kehe-ranan. Betul juga. Lan See giok terkejut. tak tahan dia mencium matanya. bibirnya mulai membara bagaikan api. ia segera teringat kembali dengan Oh Li-cu serta Tok Nio-cu. "Adik Giok. . jalan darah Mia bun hiat. "Engkoh Giok. namun ia justru merasa malu sampai tak berani membuka matanya. bibirnya bergetar dan memanggil namanya tiada hentinya... ternyata jaraknya dari permu-kaan masih dua puluh kaki lebih. dia hendak mempergunakan tenaganya untuk menghangatkan hatinya. Memandang butiran air mata yang bercu-curan dari balik matanya yang lentik.. ia menjumpai paras muka Si Cay soat mulai memerah.

mungkin juga tertegun. baru sekarang terpikir olehnya mengapa tali yang diikatkan pada pohon tersebut dapat putus secara tiba-tiba. Melihat tali yang putus itu. mengapa --.!" Teriakan itu begitu bergema. pemuda itu mengangguk sam-bil tertawa misterius.?" Lan See giok tertawa riang. ia masih dapat melihat pohon besar di tepi jurang tersebut. tanyanya ketakutan. setelah itu kembali dia bertanya. lalu bertanya keheranan. . "sebab Thian telah mengatur kita berdua tidak mati di sini --" Dengan cepat Si Cay soat memahami apa yang dimaksud itu. dengan wajah tersipu sipu karena malu.? Dia pun masih ingat. agar kita berdua bersama sama terjatuh ke dalam jurang!" Si Cay soat tidak memahami maksud per-kataan dari Lan See giok. tali itu baru putus setelah mendengar Oh Li-cu berteriak kaget. "Thian lah yang mengatur kesemuanya itu untuk kita. sambil memeluk tubuh Lan See giok kencang-kencang. maksudmu kita lolos dari musibah maka di kemudian hari tentu ba-nyak rejeki? " . satu ingatan segera melintas di dalam benak pemuda tersebut.mengapa kita bisa berada disini--. "Hei. "Thian yang mengatur kesemuanya ini?" "Tentu saja. isak tangis di atas jurang pun segera terhenti. tanyanya lagi sambil tersenyum: "Engkoh Giok. Ketika didengarnya suara tangisan Oh Li cu makin lama semakin memedihkan hati.448 membara. Sementara Si Cay soat yang berada dalam pelukannya tiba-tiba bangun dan duduk. aku belum lagi mampus. ia mengerdipkan matanya berulang kali sambil mengawasi engkoh Gioknya yang masih tersenyum. "Engkoh Giok. dia pun melihat pula ujung tali yang ter-putus di atas pohon tersebut. hal ini membuktikan bahwa tali itu memang sengaja diputus oleh seseorang. mungkin mereka kaget. tak lain tak bukan adalah Tok Nio-cu yang bersedia untuk berbakti kepadanya. kalian tak usah menangis lagi. tapi siapakah dia? Mungkinkah para jagoan dari Tay ang san? Biarpun Lan See giok cerdik.. tentu saja mimpi pun dia tak pernah akan menyangka kalau orang yang memutuskan tali tersebut. kemudian ia menjerit lengking dengan perasaan kaget. "Siapa sih mereka itu?" Sementara berbicara matanya mengawasi sekeliling tempat itu dengan mata terbelalak. tak tahan lagi pemuda itu segera mendongak-kan kepalanya dan berteriak keras..

"Engkoh Giok. air mukanya berubah hebat lalu serunya dengan kaget. ia tahu yang dimaksudkan adalah mencium-nya.. kepada Lan See-giok kembali katanya dengan gelisah. tak heran mukanya berubah menjadi merah karena jengah. di bawah sinar api yang membara dia melihat bayangan tubuh Oh Li cu dan Tok Nio-cu yang berdiri di tepi jurang. "Engkoh Giok jahat. apalagi merupakan pemberian gurunya. peluh dingin bercucuran deras dengan perasaan gelisah dia celingukan kesana ke-mari. "Adik Giok. Lan See giok tersenyum tanpa menjawab. dia mencoba untuk memeriksa di sekitar sana. Lan See-giok cukup mengetahui akan asal usul pedang