Anda di halaman 1dari 6

Joo opobllo meteko betJltl ootok sbolot meteko betJltl Jeoqoo molos Meteko betmoksoJ tlyo

(Jeoqoo sbolot) Jl boJopoo moooslo uoo tlJoklob meteko meoyebot Allob kecooll seJlklt sekoll
(CSAnnlsa'142)
Iman adalah asas penting yang menjadi landasan tempat berdirinya sebuah pribadi
mukmin. Jika kita ibaratkan manusia seperti sebatang pohon, maka iman adalah akar
tunjang untuk pohon itu. Jika manusia diibaratkan sebuah rumah, maka iman adalah
pondasi rumah itu.Demikianlah pentingnya Iaktor iman
dalam usaha mewujudkan seorang manusia yang sempurna dan diredhai Allah SWT.
Tanpa iman, manusia itu ibarat pohon
yang tidak berakar tunjang atau rumah yang tanpa pondasi. Maknanya, seseorang yang
tidak memiliki iman tidak akan memiliki kekuatan untuk berhadapan dengan kehidupan.
Dia pasti gagal. Sekalipun ada ciri-ciri keislaman yang terlihat melalui ibadah lahiriah,
tetapi ibadah itu tidak akan berIungsi apa-apa ketika manusia yang tidak memiliki iman
berhadapan dengan persoalan-persoalan hidup. Boleh jadi semakin banyak ibadah,
justru semakin cepat gagalnya. Seperti halnya pohon yang tidak kuat berakar tunjang,
semakin besar pohon itu maka semakin cepat tumbangnya. Atau ibarat rumah yang
didirikan di atas lumpur, semakin besar rumah itu justru semakin cepat robohnya.
Ketika datang ujian kecil pun, orang yang tidak memiliki iman sudah goyang. Apalagi
ketika berhadapan dengan ujian-ujian yang besar, akan hanyut dan tenggelamlah dia.
Sejarah telah membuktikan hal ini dalam berbagai kisah. Salah satunya adalah kisah
seorang ahli ibadah bernama Barsisa yang terkenal dengan ibadahnya yang luar biasa,
memiliki banyak pengikut tetapi di akhir hayatnya meninggal dalam keadaan kaIir
karena ditipu oleh syaitan hanya dengan seteguk arak dan seorang wanita.
Demikianlah, Islam hanya akan dapat tegak dan kuat dalam pribadi kita dan dalam
masyarakat karena adanya iman yang kuat. Tanpa iman yang kuat, Islam hanya akan
menjadi simbol-simbol lahiriah yang diamalkan hanya sebagai tradisi dan kebiasaan
semata-mata. Sebaliknya, dengan iman yang kuat akan lahir pribadi yang benar-benar
kuat dan Islami.








Islam adalah amalan lahiriah, iman adalah amalan hati (batin). Kalau iman kuat, amalan
Islam pasti kuat. Tetapi kalau sekedar amalan Islam yang yang kuat, belum tentu
imannya kuat. Hal ini harus diperhatikan. Jangan sampai kita menjadi orang yang kuat
beramal saja tetapi lemah imannya. Sebaliknya, jadilah orang yang kuat beriman dan
kuat beramal. Allah menjanjikan berbagai kemuliaan hanya bagi orang-orang yang
beriman dan beramal. Firman Allah SWT:

'Mereka yang senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring,
dan mereka senantiasa memikirkann tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),
'Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau jadikan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci
Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran 191)

Ibadahnya khusyuk dan meresap ke hati.

Senantiasa merasakan kebesaran Allah di mana saja berada dan berserah diri
kepada Allah tanpasyak atau keraguan. Firman Allah :
'Sesungguhnya orang yang sebenarnya beriman itu hanyalah orang-orang
yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu
dan mereka berjuang dengan harta dan diri mereka di jalan Allah. Mereka
itulah orang-orang yang benar. (QS Al Hujurat 15)

Hati sensitiI dengan Allah. Apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka.
Firman Allah:
'Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut
nama Allah bergetarlah hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah
kepada mereka, maka bertambahlah iman mereka dan hanya kepada Tuhan
mereka saja mereka bertawakal. (QS Al AnIal 2)

Semua perintah Allah, kecil atau besar dipatuhi dan semua larangan Allah baik sesuai
atau tidak sesuai naIsunya, ditinggalkan dengan penuh kerelaan. Firman Allah:
'Sesungguhnya jawaban oran-orang beriman, apabila mereka dipanggil
kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memberi ketetapan di antara mereka
(ialah ucapan), 'Kami mendengar, dan kami patuh. Dan mereka itulah orang-
orang yang beruntung. (QS An Nur 51)

Sangat sensitiI dengan dosa. Sabda Rasulullah :
'Orang-orang mukmin itu, apabila terbuat sedikit dosa, terasa bagaikan
gunung besar yang akan menimpa mereka. (Riwayat Ibnu Mas`ud)

Sangat berakhlak dengan Allah dan juga berakhlak dengan manusia.

Hati senantiasa merasa khusyuk, takut, terasa diawasi oleh Allah dan tidak cinta
dunia.

Sabar berhadapan dengan ujian-ujian hidup.

Mampu mengamalkan Islam dalam diri, keluarga dan masyarakat.

Senantiasa mendapat bantuan dan pertolongan dari Allah.

Mereka tidak lama menjalani perhitungan amal di akhirat dan dimudahkan
masuk ke syurga.
Di dalam Al Quran, Allah memuji golongan yang beriman ayan dan menamakan mereka
dengan berbagai nama yang baik, diantaranya:

Sholihin (orang-orang yang baik), Ulil Abrar (orang-orang yang berbakti), MuIlihun/Al
Faizun (orang-orang yang mendapat kemenangan), Ashabul Yamin (orang yang akan
menerima catatan dari sebelah kanan di Padang Mahsyar nanti.
4. Iman Haq
Iman haq adalah iman yang sebenar-benarnya. Iman haq adalah peringkat iman yang
dicapai setelah peringkat iman ayan. Seseorang yang mencapai iman haq, mata hatinya
senantiasa melihat Allah. Artinya, terhadap segala suatu yang dilihatnya, hati dan
pikirannya selalu tertuju kepada Allah.
SiIat orang-orang yang memiliki iman haq adalah :

Senantiasa mengingat Allah tanpa dibuat-buat. Mereka merasakan kehebatan Allah dan
merasa takut kepada-Nya setiap saat. Hatinya tidak lalai dalam mengingat Allah dan
khusyuk dengan-Nya.

Hati tidak lagi terkait dengan dunia dan tidak dapat dilalaikan oleh naIsu dan
syaitan.

Cintanya kepada Allah sepenuh hati. Begitu juga kepada kehidupan akhirat.

Mereka diberi gelar sebagaiMuqarrabin oleh Allah, yakni orang-orang yang sangat
dekat (karib) dengan Allah.

Kebaikan orang sholeh itu masih dirasakan bagaikan kejahatan bagi orang-orang
Muqarrabin.

Mereka lah yang dikenal sebagai wali Allah, karena memiliki siIat-siIat istimewa,
sebagaiman Iirman Allah:
'Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan pada diri mereka dan tidak
(pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus 62)

Hati mereka dihiasi dengan siIat-siIat mahmudah (siIat terpuji) seperti siIat zuhud,
ikhlas, tawadhu, dan lain-lain.

Mereka senantiasa menunaikan perintah Allah

Tidak merasa gembira atau besar hati bila dipuji dan tidak merasa hina bila dicaci.

Bagi mereka kebahagiaan hati lebih utama daripada harta benda dunia.

Mereka mendapatkan Al Jannatul Ajilah atau syurga yang disegerakan di dunia ini.

Mereka mencintai akhirat sebagaimana orang lain mencintai dunia. Sehinga mereka
dinilai oleh Allah SWT layak untuk mengurus dunia ini. Firman Allah:

'Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh MahIuzh,
bahwasanya Bumi ini diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang sholeh. (QS Al Anbiya`
105)
5. Iman Hakekat
Iman hakekat ialah peringkat iman yang tertinggi dan paling sempurna. Inilah keimanan
yang dimiliki oleh para Rasul, Nabi, KhulaIaur Rasyidin dan wali-wali besar atau
kekasih-kekasih Allah. Mereka akan ditempatkan Allah di dalam syurga yang paling
tinggi. Mereka dimasukkan ke dalam syurga tanpa melaluihisab atau tanpa perhitungan
amal.
Dalam 24 jam keseharian mereka, hati mereka asyik dan selalu sibuk dengan Allah. Hati
mereka kekal mengingat Allah dalam keadaan tidur maupun terjaga. Setiap perbuatan
mereka menjadi ibadah kepada Allah. Ibadah mereka luar biasa, akhlak mereka akhlak
terbaik dan termulia. Allah akan menurunkan keberkatan di mana saja mereka berada.
Mereka adalah golongan`super-scale` akhirat yang hidup di dalam syurga yang maha
indah dan maha lezat. Allah menganugerahkan nikmat tersebut untuk membalas cinta
dan pengorbanan mereka yang sungguh besar.
Demikianlah uraian tentang iman dan berbagai persoalannya. Setelah kita mengetahui di
peringkat mana iman kita, marilah kita berusaha meningkatkannya untuk mencapai
peringkat iman yang tinggi yang selamat sejahtera menuju Allah.