Anda di halaman 1dari 8

SIAPA YANG MENGURUSI BENCANA DI KOTA SOLO !!??

Oleh Herman Suryosardjono Peer Group Pusat Studi Bencana UNS Penasehat /Pengarah BPBD Prov Jateng Herman.suryo@gmail.com

Pembaca yang budiman,sengaja judul tulisan ini saya buat dengan tanda baca seru dan tanda baca tanya sehingga jika diucapkan akan terkesan menanyakan tetapi dengan nada keras atau membentak. Hal ini dilakukan,tidak lain untuk mewakili ekpresi diri saya pribadi,yang dengan nada gusar campur sedikit marah ditambah dengan perasaan jengkel mempertanyakan siapa yang akan mengurusi bencana di kota Solo saat ini meskipun sebenarnya saya sadar betul bahwa dalam tata bahasa Indonesia yang baik dan benar , judul tersebut dapat di nilai sebagai tata bahasa yang amat buruk. Ekspresi ini muncul sebagai sebagai respon terhadap hasil keputusan DPRD Kota Solo terhadap Raperda Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Pemkot Solo yang telah di gedok sebagai Peraturan Daerah pada tanggal 26 Okteber 2011. Hasil akhir dalam keputusan tersebut diantaranya adalah tidak

terbentuknya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)

KotaSolo

.Sebuah lembaga kebencanaan yang telah didorong - dorong dan diharapkan oleh berbagai pihak untuk dapat terbentuk.Dengan adanya BPBD diharapkan dapat mengatasi masalah kebencanaan baik yang sekarang seakan akan rutin terjadi,dimungkinkan akan terjadi maupun untuk melakukan sesuatu hal pada saat sebelum terjadi dan setelah terjadinya bencana.

Dengan diterbitkannya perda sotk yang baru maka penanggulangan bencana akan diampu oleh lembaga yang bersifat sektoral ataupun yang bertupoksi sama urusannya dengan bencana. Urusan yang bersifat tehnis akan tetap diurus oleh dinas dinas tehnis terkait ataupun kantor dan badan yang ada seperti pekerjaan umum untuk

mengelola infra strukur yang rusak akibat bencana,dinas sosial akan mengurusi urusan logistik korban bencana ataupun dinas perhubungan yang akan menjadi leading sektor dalam bidang penyelematan dan evakuasi,demikian juga dengan permasalahan bencana yang berkaitan dengan kesehatan maka hal ini akan menjadi tugas dinas kesehatan. Dibatalkannya pembentukan BPBD Kota Surakarta maka batal juga rencana masuknya Seksi Pemadam Kebakaran kedalam BPBD tersebut dan statusnya tetap berada dibawah dinas pekerjaan umum. Pada hal dengan bergabungnya pemadam kebakaran menjadi satu dengan BPBD maka mungkin saja tingkat kesejahteraan personil pemadam kebakaran akan bertambah.

Meraba alasan Mengapa akhirnya BPBD tidak terbentuk ?, penulis memang tidak sepenuhnya mengikuti secara langsung pembahasan bahkan perdebatan dalam konteks rancangan SOTK baru khususnya pembentukan BPBD di persidangan legislatip.

Untuk itu tiada salahnya sedikit meraba raba mengapa BPBD tidak jadi untuk dibentuk di kota Solo Pertama,alasan normatip . Bahwa dalam Permendagri Nomor 46 tahun 2008 tentang Pedoman Organiasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah pasal 2 ayat (1) berbunyi disetiap Provinsi dibentuk BPBD Provinsi dan disetiap Kabupaten/Kota dapat dibentuk BPBD Kabupaten/Kota. Istilah dapat memberikan makna bahwa pembentukan BPBD bukan merupakan hal yang bersifat wajib artinya boleh dibentuk dan boleh juga tidak dibentuk. Kedua,ketaatan .Pengambil kebijakan terkesan lebih taat kepada lembaga yang mempunyai kewenangan mengatur pemerintahan daerah yakni Departemen Dalam Negeri (depdagri) dari pada mentaati ketentuan lain yang tidak bersinggungan secara langsung dalam pemerintahan yang bersifat umum meskipun kedudukan peraturan tersebut lebih tinggi dari Permendagri. Dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang PENANGGULANGAN BENCANA,disebutkan bahwa dalam pasal 5 UU ini yang berbunyi Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Disebutkan pula dalam pasal 18 ayat (1) Pemerintah daerah

sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 membentuk badan penanggulangan bencana daerah. Jika dicermati lagi dalam pasal 18 ayat (1) bahwa yang dimaksud dengan pemerintah daerah sesuai dengan Ketentuan Umum undang undang ini adalah

Gubernur,Bupati / walikota atau perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Dengan membaca secara utuh dan mengkaitkan antara pasal 5 dan pasal 18 ayat (1) tampak jelas bahwa UU ini mengamanatkan bahwa untuk menyelenggarakan membentuk BPBD. Ketentuan ini dapat ditafsirkan secara bebas bahwa untuk penanggulangan bencana maka pemerintah daerah

menyelenggarakan penanggulangan bencana yang terdiri dari penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana,kegiatan

pencegahan,tanggap darurat dan rehabilitasi maka pemerintah membentuk BPBD. Dalam berbagai literatur hukum, UU sebagai salah satu produk peraturan dapat dimaknai sebagai perintah untuk menjalankan atau untuk tidak menjalankan ketentuan tersebut. Untuk itu pula dalam pasal 18 ayat (1) UU Nomor 24 tahun 2007 dapat dimaknai sebagai perintah untuk menjalankan yakni membentuk

BPBD,bukan sekedar dapat seperti yang tercantum dalam permendagri no 46 tahun 2008. Namun ternyata pengambil kebijakan dalam hal ini DPRD kota Solo terkesan lebih mentaati kebijakan yang diambil oleh depdagri dari pada mentaati UU nomor 24 tahun 2007 yang kedudukannya lebih tinggi dibandingkan permendagri nomr 26 tahun 2008.

Ketiga,alasan Solo.Timbul

rendahnya

karateristik kota

ancaman Solo

bencana daerah

di

kota rawan

pertanyaan

benarkah

bukan

bencana ?.Dengan mengacu pada peristiwa banjir di berbagai tempat antara tahun 2007 2009 yang menimpa di sebagian Solo bagian timur dan selatan serta menimpa wilayah yang seakan akan daerah bebas banjir yakni Sumber,Banyuanyar dan sekitarnya. Dari hal ini dapat disimpulkan bawa DPRD Kota Solo melihat apa yang terjadi tahun tahun tersebut sebatas peristiwa saja. Kejadian tersebut dianggap bukan bencana. Atau mungkin saja anggota dewan sangat pede bahwa dengan sumber daya yang tersedia di pemkot maka mitigasi bencana banjir akan berjalan secara optimal sehingga Solo akan bebas banjir maupun bencana lainnya misalnya untuk banjir yang dapat diatasi dengan menyedot air yang berpotensi sebagai penimbul bencana. Pada hal senyatanya sebagai daerah rawan bencana, di kota Solo terdapat ancaman bencana selain banjir yakni kebakaran gedung dan pemukiman,Kekeringan,Transportasi darat maupun tidak terkontrolnya

pemanfaatan sumber air bawah tanah yang memungkin terjadinya penurunan struktur tanah seperti yang tercantum dalam Perka BNPB Nomor 3 tahun 2010 tentang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana Keempat,Pembentukan BPBD akan menambah anggaran.Asumsi ini dibentuk dengan mendasarkan hitung hitungan cost and benefit,berapa tambahan anggaran yang harus dikeluarkan untuk membiayai tunjangan

struktural pejabat baru di BPBD,biaya program lainnya

ataupun biaya operasional

Coba kita tengok ke kabupaten tetangga yakni Karanganyar.Dengan berdirinya BPBD di Kabupaten Karanganyar maka daerah ini dalam APBN tahun 2010 ini telah mendapat kucuran bantuan sosial berpola hibah lebih dari Rp. 9 milyar dari BNPB. Dana tersebut digunakan untuk membangun infrastruktur yang rusak

akibat bencana,demikian juga dengan 9 kabupaten lainnya diJawa Tengah dimana di tahun yang sama BNPB telah mengucurkan lebih dari Rp.110 milyar bantuan sosial berpola hibah yang digunakan untuk kerusakan infrastruktur akibat bencana.Sungguh ini sebuah angka yang sangat fantastis untuk memecahkan permasalahan infrastruktur yang rusak akibat bencana. Sebaliknya jika membentuk BPBD justru malah dapat mendatangkan benefit bagi semua pihak.

Masalah tak selesai

Dengan tidak terbentuknya BPBD kota Solo maka

akan menyisakan

masalah yang mestinya dapat diselesaikan seperti, kelembagaan penanganan bencana akan tetap dikendalikan oleh Satlak PB yang tidak mempunyai anggaran otonom,hanya berfungsi koordinatip saja bukan pelaksana atau komando seperti yang dimlki BPBD dan lebih banyak bertugas pada saat

bencana pada.Seperti diketahui kebutuhan penanggulangan bencana adalah

pada masa sebelum,saat dan sesudah bencana,permasalahan anggaran kebencanaan,kemampuan untuk menganalis terhadap risiko bencana terhadap kebijakan pembangunan mapun melakukan kegiatan pengurangan risiko

bencana ataupun memadukan kebijakan penanggulangan kedalam rencana pembangunan yang dapat dilakukan pada saat tidak ada bencana. Akhirnya kita hanya dapat bertanya tanya siapa yang akan mengurusi penangggulangan bencana di kota Solo BPBD hadir tidak hanya pada saat terjadinya bencana tetapi ada pada saat sebelum .sesaat dan sesudah bencana dan sayang sekali jika urusan bencana akan dikelola oleh lembaga yang tidak berkapasitas untuk melakukan pekerjaan itu seperti pernyataan Wawali kota Solo kepada media ( Kamis ,27 Oktober 2011 ) bahwa urusan bencana akan dipegang oleh Disnakertrnas.

Herman Suryosardjono Peer Group PSB UNS