Anda di halaman 1dari 64

Revitalisasi Danau, Telaga, atau Situ

Revitalisasi Danau, Telaga, atau Situ


Revitalisasi danau, telaga, atau situ kaitannya dengan memanen air hujan sebaiknya dilakukan dengan konsep ekologi-hidraulik atau ekologi-hidrologi. Konsep ini diartikan sebagai upaya memperbaiki dan menyehatkan seluruh komponen ekologi (flora-fauna) dan hidraulik-hidrologi (sistem keairan) penyusun danau, telaga, atau situ yang bersangkutan, sehingga dapat berfungsi menampung air yang dapat digunakan untuk keperluan air bersih masyarakat, meresapkan air hujan untuk pengisian air tanah, dan dapat berkembang menjadi wilayah ekosistem wilayah danau, situ dan telaga yang hidup dan lestari. Dasar filosofi pengelolaan danau atau telaga termasuk juga situ secara ekologi-hidraulik adalah berorientasi pada danau alami yang ada. Artinya bahwa dalam pengelolaannya berangkat dari danau alami, bukan berangkat dari filosofi reservoir atau kolam tandon bangunan sipil-hidro. Segala kondisi yang ditemui pada danau, telaga ataui situ alami coba diadopsi dan diterapkan pada telaga, danau atau situ yang direvitalisasi. Intinya adalah mengembalikan kondisi alamiah danau, telaga atau situ yang bersangkutan.

Gambar 1. Ilustrasi telaga lestari dengan konsep ekologi-hidraulik dan telaga tidak lestari hidraulik murni Danau atau telaga alami memenuhi kondisi ekologi hidraulik yaitu daerah tangkapan airnya bagus, komposisi dan heterogenitas tanamannya legkap, belum ada penggundulan hutan dan sistem tata air dan drainasenya masih alamiah; tumbuh vegetasi dan pohon-pohon besar yang melingkari danau atau telaga pada zona amphibi dan daratan (sempadan danau atau telaga) yang cukup rapat. Pohon dan vegetasi melingkar ini, secara umum dapat dibedakan menjadi tiga ring. Ring pertama pada umumnya ditumbuhi pohon-pohon besar yang biasa ada di daerah yang bersangkutan (misalnya pohon beringin di daerah Jawa). Ring kedua dipenuhi dengan pohonpohon yang lebih kecil dan relatif kurang rapat dibanding dengan ring pertama. Ring ketiga atau ring luar berbatasan dengan daerah luar telaga, dengan tingkat kerapatan tanaman lebih jarang. Jika kondisi vegetasi di sekeliling danau atau telaga ini punah, maka dapat dipastikan bahwa umur telaga akan memendek, baik disebabkan oleh tingkat penguapan dan suhu yang tinggi maupun tingkat sedimentasi yang tinggi (Gambar 1 dan 2)

Gambar 2. Kiri: telaga Towet dan Tengah: Telaga Endog Gede; dua telaga lestari di Kabupaten Gunung Kidul. Kanan: Telaga Jrakah, contoh telaga dengan tidak lestari talud-reservoir di Gunung Kidul, Propinsi DIY Pada pengembangan danau, telaga , atau situ untuk pariwisata sering dilakukan dengan membuat sarana prasarana pariwisata tanpa memperhitungkan ekologi danau, telaga, atau situ tersebut. Dampaknya, sarana-prasarana tersebut justru mengambil areal vegetasi dan menjadi pemicu rusaknya ring-ring ekologi danau, telaga, atau situ tersebut. Oleh karena itu, selain perbaikan daerah tangkapan air yang masuk ke danau, telaga atau situ, juga upaya melestarikan dan menumbuhkan pohon-pohon dan vegetasi di sekelilingnya baik pada ring pertama, kedua dan ketiga. Pengembangan sarana pariwisata hendaknya diletakan di luar ring ketiga dan hendaknya mengacu pada konsep eko wisata. Dalam konsep eko-hidraulik pembuatan talud melingkar harus sejauh mungkin dihindari, karena bangunan ini akan mematikan ekosistem secara destruktif, disamping talud tersebut tidak efektif untuk menahan rembesan air secara horisontal. Justru dengan penanaman vegetasi yang sesuai dengan kondisi setempat dapat menurunkan rembesan horisontal secara efektif, menahan longsoran, menurunkan suhu, menahan air dan meningkatkan kualitas ekosistem. Demikian juga dengan cara pengerukan dan pelapisan aspal akan berakibat sebaliknya yaitu menurunkan kualitas ekosistem dan bahkan menahan base flow. Dalam revitalisasi danau, telaga, dan situ, dalam konteks memanen air hujan dapat dilakukan dengan menumbuhkan dan memelihara ekologi daerah sempadan (bantaran) danau, telaga atau situ. Danau, telaga dan situ yang lestari dapat dilihat dari kesuburan daerah sempadannya. Pada ring pertama banyak ditumbuhi tanaman-tanaman besar yang rapat, pada ring lingkaran kedua sempadan tersebut ditumbuhi tanaman-tanaman keras yang lebih kecil dari ring pertama, dan pada ring ketiga daerah sempadan danau tersebut banyak ditemukan tumbuhan-tumbuhan produksi yang relatif rapat.

Gambar 3. Sempadan danau (ring pertama, kedua, dan ketiga); ekologi hidup maka air lestari, ekologi hancur maka danau rusak Perkembangan yang ada di Indonesia akhir-akhir ini adalah banyak sekali danau, telaga dan situ yang rusak karena pendangkalan oleh sedimen, pengurugan untuk dijadikan areal perumahan atau permukiman, direlokasi untuk ditukar guling, dijadikan tempat timbunan sampah, dialihfungsikan sebagai areal pertanian dan lain-lain. Perkembangan seperti ini akan menghilangkan manfaat danau, situ dan telaga secara drastis. Oleh karena itu perlu dilakukan revitalisasi secepat mungkin sebelum semua terlambat sehingga tidak bisa direvitalisasi kembal. Berikut ini contoh danau yang diurug dan dijadikan tempat pembuangan sampah.

Gambar 4. Contoh danau dan situ yang diurug dan dijadikan tempat pembuangan sampah (kanan). Kiri: danau / situ baru di Bekasi, Jawa Barat). Perlu segera direvitalisasi dan

Sumber: Agus Maryono dan Edy Nugroho Santoso (2006). Metode Memanen dan memanfaatkan Air Hujan untuk Penyediaan Air Bersih, Mencegah Banjir dan Kekeringan. Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup.

1. Monday, January 18, 2010


2. Potensi Perikanan Danau
3. Potensi sumberdaya Danau Tempe yang sudah dikelola dan dimanfaatkan sejak dahulu oleh masyarakat adalah potensi perikanan. Danau Tempe dikenal dengan produksi perikanan air tawar dan hasil ikan tersebut dipasarkan sampai keluar wilayah Kabupaten Wajo. Potensi perikanan ini telah memberikan manfaat kepada masyarakat dan pemerintah. Tetapi produksi perikanan telah menurun karena kondisi lingkungan danau yang semakin menurun. Produksi perikanan Danau Tempe dapat dilihat dalam Suara Publik (2003) dimana diinformasikan bahwa hingga akhir 1960-an Danau Tempe masih dikenal sebagai sentra terpenting produksi perikanan air tawar di Indonesia. Selama kurun waktu 1948 1969 produksi ikan danau terluas di Sulawesi Selatan ini tiap tahun mencapai 37.000 40.000 ton berbagai jenis ikan. Bahkan tahun 1957 1959 sempat menembus angka 50.000 ton/tahun. Melimpahnya produksi ikan Danau Tempe dikenal dengan mangkuk ikannya Indonesia. Potensi perikanan Danau Tempe masih cukup besar, khususnya untuk penangkapan di perairan danau. Potensi ini relatif tetap terjaga karena restocking yang dilakukan pemerintah setiap tahun. Kemudian berdasarkan data statistik tahun 2006, produksi perikanan air tawar sekarang yang berasal dari Danau Tempe serta nilainya tahun 2005 adalah 9.785 Ton atau sebesar Rp. 58.786.750.000. Produksi dan nilai perikanan yang berasal dari Danau Tempe memberikan kontribusi ekonomi yang cukup tinggi kepada masyarakat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Wajo. Kemudian potensi luas areal penangkapan menunjukkan bahwa luas areal penangkapan ikan di danau pada empat kecamatan di atas adalah 8.973 ha.

Mengistirahatkan Danau, Menjaga Populasi Ikan Sejak dahulu, masyarakat yang berdiam di wilayah sekitar Danau Lindu, Sulawesi Tengah, terkenal dengan aturan adat yang hingga kini masih terjaga. Aturan adat ini tidak hanya menyangkut hubungan sosial antarmanusia, tetapi juga hubungan manusia dengan alam. OLEH RENY SRI AYU Kompas 01 Agustus 2011,hal. 43

Masyarakat Lindu percaya, hubungan manusia dan alam harus seimbang dan terjaga. Alam ada untuk kelangsungan hidup manusia dan karena itu, alam tetap harus terjaga Salah satu tradisi yang tetap terjaga dan sangat dipatuhi hingga kini adalah "ombo", tradisi di

mana segala aktivitas pengambilan ikan di danau dihentikan sama sekali. Dengan kata lain, danau diistirahatkan. Saat ombo dilaksanakan, bahkan seekor pun ikan tidak boleh keluar dari danau. Masa ombo bisa berlangsung antara 40 hari, tiga bulan, bahkan enam bulan. Siapa yang melanggar, siap-siap kena gmt atau denda. Dendanya minimal satu kerbau, bahkan lebih tergantung dari beratnya pelanggaran. "Kalau sudah diombo. biasanya kami, para nelayan, menggarap kebun, pergi menjadi tukang, atau kerja yanglain. Yang pasti, kami tidak ke danau. Sedikit pun kami tidak mau melanggar karena, selain dendanya berat, kami juga paham pentingnya ombo," kata Mixon (39), nelayan asal Desa Langko, Kecamatan Lindu. Maksud ombo ini di antaranya menjaga populasi ikan. Dalam masa ombo. ikan-ikan yang masih kecil diberi kesempatan tumbuh besar, atau memberi kesempatan kepada ikan untuk berkembang biak. Nyatanya, memang setiap kali seusai diombo, hasil ikan Danau Lindu lebih melimpah. Pada mulanya, ombo dilakukan sebagai penghormatan bila ada madika (bangsawan) yang meninggal. "Biasanya penghormatan ini dilakukan dengan tidak melakukan aktivitas mengambil ikan di danau selama 40 hari. Pokoknya, selama 40 hari itu tidak satu orang pun yang ke danau, apalagi untuk mengambil ikan, bahkan satu ekor." kata Nudin Tendesavu (71). salah seorang tokoh masyarakat adat Lindu yang juga Ketua Lembaga Adat Desa Tornado. Dalam perjalanannya, ombo akhirnya tidak hanya dilaksanakan untuk menghormati madika yang meninggal, tetapi juga dibuat dalam waktu-waktu tertentu, bahkan kini setiap tahun, untuk kepentingan menjaga populasi ikan. Biasanya untuk melaksanakan ombo dipilih bulan-bulan tertentu, terutama saat kondisi hasil tangkapan ikan berkurang. Penentuan masa ombo ditetapkan berdasarkan urun rembuk yang melibatkan tokoh adat, tokoh masyarakat, nelayan, dan pemerintah desa. Tahun lalu, misalnya, ombo dilaksanakan selama Desember 2010 hingga Februari 2011. Rencananya, akhir 2011 danau akan kembali diombo. "Biasanya dalam urun rembuk ini juga dibicarakan hal-hal bersifat di luar rencana, misalnya ada tamu desa atau tamu adat yang harus dijamu. Biasanya disepakati, bila terjadi hal seperti itu. ikan boleh diambil dalam masa ombo, sekali saja dan secukupnya hanya untuk kepentingan menjamu dan menghormati tamu desa atau tamu adat Itu pun dengan pertimbangan bahwa memang saat itu tidak ada persediaan," kata Sekretaris Desa Tornado, yang juga Pelaksana Tugas Kepala Desa Tornado, Sudarmin Toningki. Sejauh ini, ombo betul-betul dipatuhi nelayan setempat, juga pendatang yang berdiam di sekitar Danau Lindu. Selain ombo, masyarakat Lindu juga punya aturan lain untuk kepentingan pelestarian populasi ikan, yakni pengaturan mata jaring yang boleh digunakan. Aturan itu adalah mata jaring terkecil, yang boleh dipakai adalah yang berukuran 3 inci. Menggunakan jaring berukuran di bawah 3 inci adalah pelanggaran dan ini berarti givu. Maksud pengaturan jaring ini agarikan-ikan yang masih kecil tidak ikut diambiL Kearifan lokal ini yang membuat Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah tidak perlu bersusah payah melakukan sosialisasi soal menjaga populasi ikan atau pengawasan dan

pengaturan mata jaring, saat menetapkan Danau Lindu sebagai salah satu pusat pengembangan budidaya ikan air tawar. "Kami hanya perlu membangun balai benih ikan, menebar benih ikan pada waktunya, dan aturan-aturan atau kesepakatan lain yang sifatnya lebih mengatur dan membantu pengembangan ekonomi. Soal bagaimana menjaga populasi, eksploitasi, mereka lebih paham dan bahkan aturannya lebih keras dan sangat ditaati. Jadi, kami sangat terbantu." knta Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah Hasanuddin Atjo. Kearifan lokal ini pula agaknya yang membuat selama puluhan tahun ikan Danau Lindu tidak pernah habis. Selama puluhan tahun pula sebagian warga tetap memanfaatkan dan menjadikan Danau Lindu sebagai sumber mata pencarian utama Nelayan membersihkan jaring di tepi Danau Lindu. Sulawesi Tengah, seusai mengambil ikan. Dengan potensi ikannya, selama puluhan tahun Danau Lindu menjadi salah satu urat nadi perekonomian warga setempat. Pengelolaan Danau dan Waduk di Indonesia

PENGELOLAAN DANAU DAN WADUK DI INDONESIA

PENDAHULUAN Danau/situ/waduk/embung adalah salah satu sumber air tawar yang menunjang kehidupan semua makhluk hidup dan kegiatan sosial ekonomi manusia. Ketersediaan sumber daya air, mempunyai peran yang sangat mendasar untuk menunjang pengembangan ekonomi wilayah. Sumber daya air yang terbatas disuatu wilayah mempunyai implikasi kepada kegiatan pembangunan yang terbatas dan pada akhirnya kegiatan ekonomipun terbatas sehingga kemakmuran rakyat makin lama tercapai. Air danau/waduk digunakan untuk berbagai pemanfaatan antara lain sumber baku air minum air irigasi, pembangkit listrik, penggelontoran, perikanan dsb. Jadi betapa pentingnya air tawar yang berasal dari waduk/danau bagi kehidupan.

Danau/situ Di Indonesia terdapat kurang lebih danau kategori besar > 50 ha sebanyak 500 buah. Danau tersebut tersebar merata di setiap pulau besar (Sumatra, Jawa, Kalimantan Sulawesi, Papua) kecuali Pulau Bali. Sebaliknya waduk besar sebagian besar berlokasi di P.Jawa. Selain kategori danau besar terdapat juga danau kecil yang jumlahnya ribuan dan waduk kecil yang disebut embung. Danau kecil sering dikenal sebagai situ berukuran besar. Di Provinsi Jawa Barat terdapat 354 buah situ, di Provinsi Jawa Timur 438 buah situ.

Danau yang terbesar adalah Danau Toba yang terletak 905 meter dpl, panjang 275 km, lebar 150 km dengan luas 1.130 km2, dan kedalaman maksimum 529 m di bagian utara dan 429 m di bagian selatan. Danau Toba merupakan danau terdalam kesembilan di dunia dan merupakan danau tipe vulkanik kaldera yang terbesar di dunia. Danau yang terdalam di Indonesia adalah danau Montana di Sulawesi Tengah dengan kedalaman maksimum 590 m dan merupakan danau terdalam ketujuh di dunia (Bemmelen 1949 dalam Lehmusloto et.al, 1995).

Pada umumnya kedalaman danau bervariasi antara 50 200 m, akan tetapi banyak juga yang mempunyai kedalaman lebih rendah dari 50 m. Sampai saat ini sebagaian besar dari danau belum diketahui volumenya dengan pasti, demikian juga halnya presipitasi, evaporasinya serta debit inflow dan outflow-nya. Dengan demikian waktu tinggal air danau tidak diketahui sehingga daya tampung beban pencemaran tidak diketahui dan sekaligus pemanfaatan bagi berbagai keperluan sulit untuk diprogramkan.

Waduk dan Embung

Waduk sering juga disebut danau buatan yang besar. Menurut Komisi Dam Dunia Bendungan/Waduk besar adalah bila tinggi bendungan lebih dari 15 m. Sedangkan embung merupakan waduk kecil dan tinggi bendungannya kurang 15 m. Embung banyak dibangun di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Pembangunan waduk besar di Indonesia sampai tahun 1995 kurang lebih 100 buah. Dan sebagian besar 80% berlokasi di P.Jawa. Sejak terjadi krisis moneter pada tahun 1998, pembangunan waduk besar di Indonesia belum dilakukan lagi kecuali perencanaan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat.

Sistem tata air waduk berbeda dengan danau alami. Pada waduk komponen tata airnya umumnya telah direncanakan sedemikian rupa sehingga volume, kedalaman, luas, presepitasi, debit inflow/out flow waktu tinggal air diketahui dengan pasti.

Balai Lingkungan Keairan

Pengelolaan Danau dan Waduk di Indonesia

Pembangunan waduk/embung diperuntukkan berbagai keperluan antara lain pembangkit listrik, irigasi, pengendalian banjir, sumber baku air minum, air industri, penggelontoran, air perikanan, tempat parawista. Jumlah tenaga listrik yang dihasilkan dari tenaga air yang

berasal dari air waduk ada sebanyak 3,4% dari total dari kebtuhan nasional.

PENELITIAN KUALITAS AIR DANAU

Periode tahun 1928 -1993, Penelitian kualitas air danau di Indonesia sesungguhnya sudah dilakukan sejak tahun 1928 yang dikenal dengan Sunda Expedition. Pada penelitian tersebut studi yang dilakukan baru pada taraf penelitian sifat fisika, kimia, dan biologi. Sesudah tahun tersebut penelitian danau dilakukan sporadis artinya hanya satu atau dua danau saja yang diteliti dan dilakukan oleh beberapa instansi termasuk Puslitbang Sumber Daya Air, yang dahulu dikenal dengan Direktorat Penelitian Masalah Air, yang diwakili oleh seksi Hidrokimia, kemudian pada tahun 1985 berubah menjadi Balai Lingkungan Keairan. Danau yang diteliti pada waktu itu antara lain Danau Batur, Bratan, Buyan, Tamblingan di Bali (1980), Danau Maninjau, Singkarak, Diatas, Dibawah di Sumatra Barat (1983 - 1984).

Pada periode 1993 - 2000, Penelitian danau diseluruh Indonesia baru dilaksanakan kembali pada tahun 1992-1994 dengan kerjasama antara pemerintah Republik Indonesia dengan Republik Filandia. Pemerintah Indonesia diwakili oleh Pusat Litbang Sumber Daya Air. Jumlah danau alamiah yang diteliti ada sebanyak 19 buah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke seperti pada Gambar - 1. Fokus penelitian masih terfokus pada karakteristik fisika, kimia, biologi, belum meneliti tentang beban pencemaran, dan daya dukung danau dan waduk.

100 BT

110 BT

120 BT

14

27

23 24

26

28

15

16

22

21

20

25

29

30

33

32

10 11

31

34 9 12

10 LS

Keterangan :

Eutrofik Oligotrofik Mesotrofik

1. Danau

2. Danau 3. Danau 4. Danau 5. Danau 6. Danau 7. Danau

Toba Maninjau Diatas Dibawah Singkarak Kerinci Ranau

Gambar 1. Tingkat Kesuburan Danau dan Waduk di Indonesia

8. Danau Rawa Pening 9. Danau Tamblingan 10. Danau Buyan 11. Danau Bratan 12. Danau Batur 13. Danau Tondano

14. Danau Limboto

15. Danau Poso 16. Danau Tempe 17. Danau Matano 18. Danau Towuti 19. Danau Sentani 20. Waduk Saguling 21. Waduk Cirata

Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa beberapa danau mengalami masalah antara lain terjadi sedimentasi, (berkurangnya kedalaman), berkurangnya volume, berkurangnya luas,

Balai Lingkungan Keairan

Pengelolaan Danau dan Waduk di Indonesia

terjadinya pencemaran organik, berkurangnya populasi ikan bahkan beberapa jenis ikan endemik hampir hilang.

Danau yang mengalami sedimentasi yang berat antara lain Danau Tondano, Tempe, Limboto di Sulawesi, Danau Jampang, Semayang, Melintang di Kalimantan. Danau Rawapening di Jawa Tengah dan danau lainnya mengalami sedimentasi ringan. Danau yang mengalami

pengurangan luas antara lain Danau Limboto, Rawapening, Cidanau di Banten.

Danau yang ditumbuhi oleh eceng gondok sehingga menutupi luas danau lebih dari 10% antara lain danau Rawa Pening, Kerinci di Jambi. Danau yang mengalami penurunan muka air yang nyata, yang disebabkan airnya digunakan untuk membangkitkan listrik antara lain danau Toba, Maninjau, dan Singkarak.

Danau yang mengalami pencemaran oleh bahan nutrien (nitrogen, posfat) yang berasal dari limbah penduduk, pertanian, akitifitas perikanan dengan Keramba Jaring Apung (KJA) antara lain Danau Maninjau, Tondano, dan Toba.

Danau yang mengalami berkurangnya populasi ikan dan hampir punah ikan yang bersifat endemik adalah ikan bilik di Danau Singkarak, ikan Depik di Danau laut Tawar di Kabupaten Aceh Tengah.

PENELITIAN KUALITAS AIR WADUK

Periode 1970-1980, Penelitian kualitas air waduk yang dilakukan Puslitbang Sumber Daya Air sudah dilakukan sejak tahun 1970-an. Jumlah waduk yang diteliti tidak banyak mengingat waduk yang sudah selesai dibangun pada periode tersebut juga tidak banyak. Waduk yang sudah terbangun pada priode tersebut adalah Waduk Darma, Jatiluhur di Jawa Barat Karangkates di Jawa Timur (1972). Penelitian kualitas air waduk dilakukan terhadap waduk yang baru beroperasi

digenangi dan waduk yang sudah lama beroperasi.

Berdasarkan hasil penelitian pada periode tersebut kondisi kualitas air waduk masih bagus baik pada lapisan epilimnion dan hypolimnion.atau dengan kata lain masih tercemar ringan. Hal ini kita dapat mengerti oleh karena penduduk, industri, perambahan hutan belum banyak sehingga limbahnya masih dapat dibersihkan oleh sungai atau waduk itu sendiri (self purification).

Periode 1980 - 1995, Penelitian kualitas air waduk awal tahun 80-an dilakukan oleh Puslitbang Sumber Daya Air dan hasilnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan tahun periode 70-an. Akan tetapi penelitian kualitas air waduk yang dilakukan pada 90-an bersama Pemerintah Filandia hasilnya mengalami perubahan dibandingkan dengan hasil tahun 80-an.

Hasil penelitian kualitas air waduk 90-an menunjukkan bahwa kualitas airnya sudah banyak menurun. Penurunan kualitas air waduk tersebut disebabkan oleh pencemaran organik terutama senyawa nitrogen dan posfat yang berasal dari air limbah industri, penduduk, pertanian dan aktifitas perikanan KJA. Tingkat pencemaran waduk yang diakibatkan senyawa nitrogen, posfat, dan zat organik dapat dibagi 3 kategori yaitu: pencemaran amat sangat berat (hypertrophic = penyuburan amat sangat berat), pencemaran berat (eutrophic = penyuburan berat), dan pencemaran sedang (oligotrophic = penyuburan sedang), dan mesotrophic (belum tercemar). Waduk yang masuk tingkat eutrophic adalah Waduk Saguling, Cirata, Karangkates, dan Sengguruh. Kategori oligotrofik adalah Waduk Lahor, Jatiluhur, Muara

Nusa Dua, Mrica, Kedungombo, dan yang termasuk mesotrophic adalah Waduk Palasari, Wlingi, Malahayu, dan lain-lain.

Balai Lingkungan Keairan

Pengelolaan Danau dan Waduk di Indonesia

Periode 1996 - 2010, Pada periode tersebut penelitian kualitas air waduk baru dimulai pada tahun 2004. Pada tahun 2004-2005 penelitian baru dilakukan pada waduk di P. Jawa sebanyak 10 waduk terutama waduk yang mengalami pencemaran yang amat sangat berat dan berat. Dari penelitian terlihat bahwa pencemaran waduk makin berat dibandingkan dengan sebelumnya. Sebagai contoh Waduk Saguling, kadar oksigen pada lapisan hypolimnion-nya sangat rendah yaitu < 3 mg/L. Padahal secara umum kadar oksigen pada lapisan tersebut mendekati kadar oksigen pada lapisan epilimnion (lapisan dengan sinar matahari dapat tembus sampai kedalaman tsb.). Selain itu kualitas airnya telah tidak memenuhi baku mutu untuk keperluan sebagai sumber air baku, air perikanan, air industri, air irigasi. Contoh waduk lain yang mengalami pencemaran berat adalah waduk Karangkates sehingga sering terjadi algal bloom. Dampak algal bloom tersebut air waduk Karangkates mulai berwarna hijau pekat kemudian berubah menjadi coklat, ikan mati, timbul bau busuk, Mesin-mesin PLTA makin cepat terkorosi. Pencemaran di Waduk Karangkates yang menyebabkan terjadi algal bloom adalah limbah penduduk, peternakan, pertanian. Dampak yang paling serius dari algal bloom pada waduk adalah adanya produksi toksin oleh ganggang Microcystis yang disebut Mycrocystein yang

dapat menyerang syaraf dan mengakibatkan kematian.

Selain pencemaran kimia, juga terjadi pencemaran fisik, yaitu sedimentasi yang berat kepada waduk. Waduk yang sedimentasinya tinggi disebabkan oleh tingkat erosi yang tinggi di DASnya. Hal ini disebabkan oleh karena adanya perambahan hutan, sistem pertanian yang kurang memperhatikan prinsip prinsip konservasi air dan tanah. Selain faktor tersebut diatas juga disebabkan oleh perubahan tataguna lahan dan tekanan kemiskinan penduduk serta kepadatan penduduk. Sebagai contoh akibat kemiskinan dan perambahan hutan adalah di hulu Kali Brantas yaitu pada saat terjadi krisis moneter tahun 1997, hutan di hulu Kali Brantas hampir 70% habis dijarah oleh penduduk.

Waduk yang mengalami tingkat sedimentasi yang tinggi adalah Sengguruh dan Karangkates di DAS Kalibrantas Hulu, Waduk Wonogiri di DAS Bengawan Solo, Waduk Mrica di DAS Serayu, Waduk Saguling dan Cirata di DPS Citarum Tengah, Waduk Bili-bili di Sulawesi Selatan serta lainnya.

PENGELOLAN DANAU DAN WADUK

Sesuai dengan UU. No. 7 Tahun 2004 tentang SumberDaya Air, yang terdiri 3 komponen utama yaitu konservasi, pemanfaatan dan pengendalian daya rusak air. Waduk embung, situ dan danau yang merupakan sumber daya air telah banyak banyak mengalami penurunan fungsi dan kerusakan ekosistem. Hal ini disebabkan oleh karena pengelolan waduk/danau yang banyak mengalami kendala. Dalam UU-Sumber Daya Air telah mengamanatkan untuk

melakukan pengelolaan waduk dengan melakukan konservasi, pemanfaatan, pengendalian daya rusak air. Selain itu masih ada peraturan lain seperti PP. No. 51 Tahun 1997, tentang Lingkungan Hidup; PP. No. 82 Tahun 2001, tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air; PP. No. 32 Tahun 1990 tentang Kawasan Lindung; Kep. Pres No.123/2001, tentang koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air pada tingkat Propinsi, Wilayah Sungai, Kabupaten dan Kota serta Keputusan Menteri yang terkait tentang pengelolaan sumber daya air.

Walaupun sudah banyak undangundang atau peraturan yang diundangkan tentang pengelolaan sumber daya air dan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air akan tetapi pada kenyataannya konservasi sumber daya air, pengendalian daya rusak air terhadap sumber daya air pada danau dan waduk, situ, embung dan sungai masih jauh dari harapan malahan semakin rusak baik kuantitas maupun kualitas airnya.

Balai Lingkungan Keairan

Pengelolaan Danau dan Waduk di Indonesia

Beberapa faktor yang menyebabkan kendala dalam melakukan pengelolaan sumber daya air antara lain: a. Banyaknya instansi yang terkait dalam melakukan pengelolaan DAS waduk, yaitu setiap instansi lebih mementingkan sektornya dari pada konservasinya. b. Banyaknya instansi yang terkait dalam pemanfaatan air danau atau waduk sehingga

menimbulkan konflik kepentingan. c. Perbedaan batas ekologis dan administratif, sehingga ada keengganan pemerintah tempat berlokasinya danau/waduk untuk melakukan upaya konservasi yang optimal. d. Masih lemahnya kapasitas kemampuan instansi pengelola dalam melakukan konservasi. e. Kurangnya pemahaman dan kesadaran, pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan konservasi bagi penduduk yang ada di sekitar DAS ataupun penduduk yang bermukim di sekitar danau/waduk.

KESIMPULAN Berdasarkan hasil ulasan tersebut di atas, ada beberapa simpulan sebagai berikut: 1. Kualitas air danau pada umumnya masih baik, kecuali di lokasi yang DAS yang telah rusak, misalnya tutupan hutannya kurang dari 15%, sistem pertanian tidak memperhatikan konservasi air dan tanah, dan pemanfaatan air yang tidak memperhatikan water balance,

2. Aktifitas Keramba Jaring Apung yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungannya

3. Kualitas air (parameter kimia-biologi) waduk yang di DAS-nya banyak industri, penduduk mengalami pencemaran yang sangat berat,

4. Kualitas air (parameter fisika) waduk pada umumnya sudah tercemar berat oleh sedimen, kecuali waduk yang dilengkapi check dam atau terdapat penampungan di bagian hulunya.

Balai Lingkungan Keairan

Pengelolaan Danau dan Waduk di Indonesia

Balai Lingkungan Keairan

Manajemen Budidaya Ikan Sistem KJA yang Berkelanjutan di Danau/Waduk


Posted by Andhi Fish Jogja Jul 15

Dalam rangka mendukung visi Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu menjadikan Indonesia sebagai penghasil ikan terbesar tahun 2015, budidaya ikan sistem KJA memiliki prospek yang cerah untuk peningkatan produksi ikan. Peningkatan produksi ikan sebesar 353% secara langsung akan berdampak pada meningkatnya usaha budidaya ikan intensif dengan tingkat kepadatan ikan yang tinggi dan pemberian pakan buatan. Pada saat jumlahnya melampaui batas tertentu dapat mengakibatkan proses sedimentasi yang tinggi berupa penumpukan sisa pakan di dasar perairan yang akan menyebabkan penurunan kualitas perairan (pengurangan pasokan oksigen dan pencemaran air danau/waduk). Sisa pakan dan metabolisme dari aktifitas pemeliharaan ikan dalam KJA serta limbah domestik yang berasal dari kegiatan pertanian maupun dari limbah rumah tangga menjadi penyebab utama menurunnya fungsi ekosistem danau yang berakhir pada terjadinya pencemaran danau, mulai dari eutrofikasi yang menyebabkan ledakan (blooming) fitoplankton dan gulma air seperti enceng gondok (Eichornia crassipes), upwelling dan lain-lain yang yang dapat mengakibatkan organisme perairan (terutama ikan-ikan budidaya) serta diakhiri dengan makin menebalnya lapisan anaerobik di badan air danau. Kondisi inilah yang mengakibatkan salah satunya adalah kematian massal ikan tiap tahun terjadi di berbagai danau/waduk di Indonesia. Selain self polution (sisa pakan dan feses ikan budidaya), meningkatnya polusi di area ini diperparah oleh adanya buangan limbah pabrik tekstil dan buangan limbah rumah tangga yang memang penduduknya sudah terlalu padat tinggal di sekitar kedua waduk tersebut. Melihat akibat yang ditimbulkan dari budidaya ikan sistem KJA di danau/waduk maka budidaya ikan sistem KJA perlu mengindahkan manajemen budidaya yang berkelanjutan. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui manajemen budidaya ikan yang berkelanjutan di kawasan danau/waduk. Keuntungan merupakan target utama dalam menjalankan bisnis industri budidaya perikanan khususnya budidaya sistem KJA di danau/waduk. Pembudidaya ikan berpikir kearah bagaimana cara-cara terbaik untuk memaksimalkan keuntungan sehingga memicu berbagai permasalahan terkait dengan sistem budidaya yang berkelanjutan. Adapapun permasalahan yang timbul yaitu

penurunan fungsi ekosistem danau/waduk berupa pencemaran perairan budidaya yang secara langsung mengakibatkan menurunnya produksi perikanan. Maka sudah sepatutnya mencari solusi pemecahannya berupa manajemen budidaya ikan sistem KJA yang berkelanjutan yang sesuai dengan konsep dasar pemikiran pembangunan perikanan budidaya. Manajemen budidaya ikan yang berkelanjutan adalah pengelolaan yang dapat berlanjut sepanjang waktu sebagai hasil proses kebijakan sosio-politik, menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan secara ekologis harus dapat menjamin kelestarian sumberdaya perairan. Secara umum budidaya ikan sistem KJA merupakan kegiatan ekonomi yang menguntukan jika dikelola dengan baik. Belajar dari pengalaman yang sudah terjadi diperlukan cara pengelolaan atau manajemen perairan danau/waduk sesuai dengan daya dukung. Tujuan pengelolaan tersebut yaitu peningkatan produksi ikan dan memelihara produksi dan sumber daya perairan tersebut sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pemanfaatan danau/waduk. Pemilihan lokasi Danau/waduk yang dipilih sebagai kawasan untuk pengembangan budidaya ikan sistem KJA dengan minimal danau/waduk 100 ha dengan memperhatikan daya dukungnya. Pemanfaatan danau/waduk untuk kegiatan budidaya ikan sistem KJA harus dilakukan secara rasional dan tetap mengacu pada tata ruang yang telah ditentukan serta kondisi sumber daya dan daya dukung perairannya dengan maksud untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mempertahankan fungsi utama waduk. Pembagian zonazi untuk perairan waduk secara umum dilakukan dengan mengacu pada kondisi lingkungan fisik, sifat kehidupan dan penyebaran populasi ikan dalam usahanya mengelola perikanan yang terpadu dan lestari (Ilyas et al, 1989). Salah satu penyebab kematian massal ikan budidaya adalah penurunan tinggi muka air. Apabila tinggi muka air menurun maka jarak karamba jaring apung dengan dasar menjadi lebih dekat, akibatnya ikan budidaya semakin mendekati lapisan hipolimnion yang reduktif. Sementara kedalaman perairan dangkal, sehingga jarak KJA dan dasar menjadi semakin dekat. Akibatnya kolom air yang reduktif semakin mendekati KJA. Kolom air menjadi anoksik atau lapisan anoksik telah mencapai permukaan sehingga dapat disebutkan bahwa penyebab kematian massal karena kekurangan oksigen dan tingginya konsentrasi zat toksik (H2S) (Simarmata, 2007). Sebaiknya pada saat tinggi muka air minimum, padat tebar ikan di KJA dikurangi atau ikan budidaya diganti dengan jenis yang lebih toleran terhadap konsentrasi DO yang rendah. Menurut Krismono (1999), kegiatan budaya ikan sistem KJA di danau/waduk, kedalaman air disyaratkan minimal 5 m pada jalur yang berarus horizontal. Kedalaman tersebut dimaksudakan untuk menghindari pengaruh langsung kualitas air yang jelek dari dasar perairan Daya dukung danau/waduk, desain, tata letak dan konstruksi KJA Menurut Soemarwoto (1991), bahwa luas areal perairan waduk yang aman untuk kegiatan budidaya ikan di KJA adalah 1% dari luas seluruh perairan waduk dengan pertimbangan bahwa angka 1% tersebut non significant untuk luasan suatu waduk serbaguna sehingga dianggap tidak akan mengganggu kepentingan fungsi utama waduk. Memperbaiki konstruksi KJA yang ramah lingkungan dengan pelampung polystyrene foam. KJA yang terbuat dari bambu dengan pelampung polystyrene foam merupakan KJA yang paling ramah lingkungan dibandingkan dengan KJA lainnya (Prihadi dkk, 2008).

Menurut Rochdianto (2000), letak antara jaring apung sebaiknya berjarak 1030 m agar arus air leluasa membawa air segar ke dalam jaring-jaring tersebut, sedangkan menurut Schmittou (1991), jarak antar unit KJA yang baik adalah 50 m. Pengendalian/pengurangan jumlah KJA yang beroperasi. Pemindahan lokasi KJA pada saat akan terjadi umbalan yang terjadi secara menyeluruh (holomictic) ke lokasi perairan yang lebih dalam (Enan dkk, 2009). Untuk meningkatkan DO di perairan menggunakan: 1). kincir yang dapat dipasang pada setiap unit KJA atau pada satu lokasi KJA (Enan dkk, 2009), 2). pompa air yang dipancarkan dari atas (Krismono, 1995), dengan penambahan oksigen murni yang diberikan pada saat oksigen kritis (dini hari) (Danakusumah, 1998). Keramba jaring apung ganda/berlapis dikembangkan dengan tujuan untuk mengurangi beban dari sisa pakan, yang dapat mencemari perairan. Kuantitas limbah pakan yang signifikan tinggi perlu diadakan restorasi waduk melalui pengangkatan sedimen (dredging) agar kegiatan perikanan dapat aman dari tingginya bahan toksik dan limbah pencemaran ini berpeluang dijadikan pupuk pertanian (Yap, 2003). Manajemen pakan Pemberian pakan dengan sistem pompa akan mengakibatkan banyak pakan yang terbuang di dasar perairan danau/waduk. Untuk mengurangi pakan yang terbuang ke dasar danau/waduk, efisiensi pakan dapat dilakukan dengan cara pemberian pakan berselang-seling dalam hal ini ikan tidak setiap hari diberi makan namun diberikan berselang-seling yakni satu hari diberi makan, hari berikutnya tidak diberi makan (dipuasakan) ternyata pertumbuhan tidak terganggu dan efisiensi pakan 2030% (Krismono, 1999). Efisiensi pakan juga dapat dilakukan dengan menggunakan benih unggul yang efektif memanfaatkan pakan sedangkan untuk kondisi kualitas air yang jelek menggunakan benih ikan patin (Pangasius sp) yang tahan kualitas air jelek (Prihadi, 2005). Selain itu, perlu melakukan upaya pemberian pakan dengan kadar fosfor yang rendah atau pemberian enzim fitase terhadap ketersediaan fosfor dari sumber bahan nabati pakan ikan. Penerapan pemberian pakan yang efektif dengan rasio 3% dengan pakan yang rendah kandungan fosfornya dengan pemberian tepung ikan seyogyanya dikurangi, sehingga dapat mengurangi limbah (sisa pakan) yang masuk ke perairan danau. Oleh karena itu, perlu alternatif lain sebagai substitusi tepung ikan yaitu antara lain protein sel tunggal (PST), tepung rumput laut. Kualitas pakan, selain ditentukan oleh nilai nutrisinya, dalam Suhenda et al. (2003) juga disebutkan bahwa pakan yang baik untuk pembesaran ikan dalam KJA adalah berbentuk pelet yang tidak mudah hancur, tidak cepat tenggelam serta mempunyai aroma yang merangsang nafsu makan ikan. Pemilihan jenis ikan dan penebaran benih Jenis ikan yang dibudidayakan di KJA harus memenuhi kriteria:

Tidak mengancam keanekaragaman hayati di perairan waduk; Mempunyai nilai ekonomis tinggi; Dalam proses budidaya menghasilkan limbah organik yang sedikit.

Pemilihan benih bertujuan untuk mendapatkan benih yang sehat dan bermutu. Beberapa hal yang harus diperhatikan:

Benih ditebar sesuai SNI yang dijamin dengan sertifikat sistem mutu perbernihan dan padat penebaran sesuai dengan SNI pembesaran di KJA; Sebelum ditebar benih harus dilakukan penyesuaian dengan kondisi perairan.

Pola dan perizinan usaha Kegiatan usaha budidaya ikan sistem KJA dapat dilakukan melalui Pola Swadaya dan Pola Kemitraan Usaha. Dalam pengelolaan danau/waduk, hendaknya tidak memikirkan keuntungan dari aspek ekonomi saja tetapi juga harus mempertimbangkan aspek lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan pengelolaan zonasi danau/waduk yang sesuai. Selain itu, sisi perizinan pendirian KJA diprioritaskan pada masyarakat sekitar danau/waduk. Tetapi masalah yang muncul dari masyarakat sekitar waduk waduk yaitu ketiadaan modal. Pengembangan budidaya ikan sistem KJA harus dibangun pada suatu sistem produksi yang secara ekologi, ekonomi dan sosial mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan yang didukung dengan inforamsi ilmiah dan peraturan. Stratergi yang dilakukan pada budidaya ikan sistem KJA yang berkelanjutan yaitu meningkatkan kemampuan daya dukung lingkungan danau/waduk. Manajemen budidaya ikan sistem KJA dapat dilakukan dengan pemilihan lokasi, penentuan daya dukung, desain, tata letak, konstruksi KJA, manajemen pakan, pemilihan jenis ikan dan penebaran benih serta pola dan perizinan usaha. Berikut ini adalah saran yang perlu dilakukan dalam mendukung manajemen budidaya ikan sistem KJA yang berkelanjutan di Danau/Waduk, yaitu :

Perlu menerapkan budidaya ikan berbasis trophic level (aquaculture based trophic level) agar produktivitas perairan tetap optimal. Perlu pendekatan sosial budaya dan sosialisasi peraturan yang tepat pada strategi pengurangan jumlah KJA dan penataan kembali lokasi budidaya ikan sistem KJA. Perlu koordinasi antara pembudidaya, pengelola waduk, pemerintah, masyarakat sekitar waduk dalam memanfaatkan danau/waduk dan menjaga kelestariannya. Perlu dukungan sarana dan prasarana yang terkait budidaya KJA dalam upaya manajemen budidaya ikan sistem KJA yang lestari dan berkelanjutan. Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya

Budidaya Ikan Endemis Danau sebagai Ikan Hias, Alternatif Pemanfaatan Danau Matano yang Lestari
Alhamdulliahdiskusi mengenai Upaya Konservasi Danau Matano vs Pengembangan Usaha Produktif di Sektor Perikanan akhirnya terselenggara juga. Terima kasih kepada rekan-rekan Community Relations dan pemerintah kecamatan yang mau mendengarkan kegelisahan kami, sehingga sebelum program usaha perikanan air tawar di Danau Matano benar-benar mereka

diluncurkan, perlu sebuah diskusi untuk melihat berbagai sisi dari program tersebut, terutama dari aspek konservasi ikan endemis danau. Dan hari ini diskusi yang melibatkan multistakeholder ini terlaksana di Aula Pertemuan Kantor Camat Nuha. Forum yang dihadiri oleh Asosiasi Tani Nelayan Luwu Timur, masyarakat Sorowako, BKSDA, Dinas Perikanan dan Kelautan, Bappeda, staf kecamatan Nuha, peneliti, Sorowako Diving Club berlangsung seru. Masyarakat Sorowako bersama dengan Asosiasi Tani Nelayan melihat potensi Danau Matano harus memberikan manfaat ekonomi melalui budidaya ikan air tawar, seperti emas dan nila melalui sistem keramba di danau.

Presentasi Fadly Y Tantu di depan peserta diskusi Sementara itu, Fadly Y Tantu, dosen Fakultas Perikanan Universitas Tadulako Palu menuturkan pandangannya. Selama 10 tahun melakukan penelitian di dalam kompleks Danau Malili, ditemukan kurang lebih 20 jenis ikan introduksi. Masuknya ikan luar ini antara lain, emas, nila, mujair, louhan, dikhawatirkan akan mengancam keberadaan ikan-ikan asli danau, dengan terjadinya persaingan makanan, predasi, penyakit hingga adanya perubahan habitat. Akibatnya dalam jangka panjang ikan asli diprediksi akan hilang Hasil survey Pak Fadly menemukan adanya ikan eksotik Oreochromis mossambicus (mujair) yang melakukan aktivitas makan, kawin dan mengerami larva di habitat ikan- ikan endemik. Ada juga ikan lauhan dengan lambung penuh berisi larva ikan dan sisik ikan- diduga yang dimakan adalah larva ikan endemik. Demikian juga salah satu spesies ikan endemis Oryziaz matanensis yang terserang penyakit. Kenyataan ini adalah indikasi awal adanya dampak dari kehadiran ikan eksotik terhadap ikan endemik di Dalam kompleks danau ini. Hal lain menurut Pak Fadly yang perlu dipertimbangkan juga bahwa Danau Matano merupakan danau purba yang miskin makanan. Hanya sedikit organisme danau yang bisa jadi makanan ikan. Karena itu, jika membudidayakan ikan seperti emas, nila, mujair pemberian makanan harus terus-menerus. Padahal sisa pakan dan kotoran ikan akan tenggelam di dasar danau dan berpotensi mencemari air danau. Tentu kita tidak ingin kasus di Danau Toba terjadi di Danau Matano, dimana pada beberapa titik perairan tercium bau busuk yang berasal dari ikan keramba yang mati secara massal (sakit). Beberapa turis bahkan menghindari mandi di danau karena takut kulitnya gatal-gatal akibat pakan ikan yang mencemari air danau. Padahal berenang di danau menjadi salah satu jualan bagi wisatawan di Danau Toba.

Karena itu, Fadly menawarkan model pemanfaatan danau yang memberi nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar tanpa merusak ekosistem danau adalah, Pertama: Budidaya ikan dan udang endemis danau menjadi ikan/udang hias. Informasi yang diperoleh bahwa beberapa spesies ikan dan udang dari kompleks danau Malili ini memiliki nilai jual sekitar 200-an ribu rupiah per ekor untuk dijadikan penghuni akuarium hias di Jepang, Cina, dan Jerman. Tentu saja, jika program budidaya ikan hias ini berjalan, dibutuhkan regulasi dari pemerintah daerah agar nantinya tidak terjadi eksploitasi besar-besar terhadap ikan/udang danau. Kedua, perlu dipikirkan strategi pengembangan ekowisata Danau Matano. Kejernihan air Danau Matano masih menjadi daya tarik bagi pengunjung. Selain aktivitas water recreation, salah satu yang bisa dilakukan, misalnya membuat perahu fiber sebagai fasilitas wisatawan untuk melihat tarian kawin ikan jenis Telmatherina yang sangat menarik. Disamping itu ada pula wisata selam air tawar dan kegiatan underwater photography.

Beberapa spesies udang Danau Matano (foto: Boy) Sementara, dari Bappeda Luwu Timur menilai perlu segera ditetapkan zonasi peruntukan Danau Matano-kawasan mana yang boleh ada aktivitas dan mana yang menjadi suaka alias tidak boleh ada kegiatan. Ada banyak PR menunggu dan perlu kerja keras dalam upaya untuk terus mengkampanyekan pelestarian danau di kompleks danau Malili ini sehingga keberadaannya akan dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Like this:
Like Be the first to like this post. Posted in Matano Lake

Alternatif pemanfaatan danau bagi pengembangan wisata melalui konsep keberlanjutan sumberdaya perairan dan perikanan di Danau Singkarak, Sumatera Barat.
Show full item record Alternatif pemanfaatan danau bagi pengembangan wisata melalui konsep keberlanjutan sumberdaya perairan dan perikanan di Danau Singkarak, Sumatera Barat. Author: Emelia, Fitri Danau Singkarak merupakan danau terbesar kedua di Pulau Sumatera setelah Danau Toba, dengan luas 10 908.2 ha dan kedalaman rata-rata 178.68 m. Danau Singkarak memiliki potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang cukup besar. Potensi sumberdaya alam terdiri dari lingkungan fisik dan biologi (hayati). Lingkungan fisik yang menjadi daya tarik Danau Singkarak adalah pemandangan alamnya yang indah seperti hamparan danau yang luas, perbukitan, pegunungan dan sungai. Lingkungan biologi (hayati) yang menjadi potensi wisata bagi Danau Singkarak adalah adanya biota endemik ikan bilih (Mystacoleucus padangensis). Selain itu Danau Singkarak juga memiliki potensi sumberdaya manusia seperti potensi budaya dari masyarakat setempat. Potensi-potensi tersebut dapat menjadi objek yang menarik bagi wisatawan apabila dikelola dengan baik. Pemanfaatan wisata Danau Singkarak relatif masih terbatas dan belum dikembangkan secara optimal. Potensi sumberdaya wisata yang dimiliki Danau Singkarak meliputi perairan, ikan, dan pemandangan tersebut diperkirakan cukup tinggi, sehingga Danau Singkarak dapat dikembangkan sebagai suatu alternatif pemanfatan wisata yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan potensi sumberdaya Danau Singkarak, tingkat pemanfaatan wisata danau, dan untuk menyusun pemanfaatan wisata yang berkelanjutan sebagai salah satu alternatif pemanfaatan sumberdaya Danau Singkarak. Berbagai potensi Abstract: wisata yang sudah ada di Danau Singkarak pada saat ini adalah: pemandangan alam perbukitan, Tanjung Mutiara, olahraga paralayang, kereta wisata, festival Singkarak dan Danau Kembar, serta event balap sepeda internasional Tour de Singkarak. Akan tetapi pengelolaan dan pemanfaatannya belum optimal, seperti promosi yang sangat kurang sehingga wisatawan tidak/belum memperoleh banyak informasi mengenai kawasan wisata Danau Singkarak. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis kesesuaian wisata, analisis daya dukung kawasan (DDK), metode Scenic Beauty Estimation (SBE), serta analisis SWOT. Berdasarkan analisis kesesuaian diperoleh kegiatan wisata yang direkomendasikan di enam lokasi Danau Singkarak. Lokasi Tanjung Mutiara sesuai untuk kegiatan berenang (DDK = 1 963 org/hari) dan berkemah (DDK = 124 org/hari), lokasi Ombilin sesuai untuk kegiatan duduk santai (DDK = 428 org/hari ), lokasi Biteh sesuai untuk kegiatan memancing (DDK = 4 899 org /hari), lokasi Kacang sesuai untuk kegiatan berkemah (DDK = 74 org/hari), lokasi Taluak sesuai untuk kegiatan berperahu (DDK = 381 org/hari), dan lokasi Dermaga sesuai untuk kegiatan outbound (DDK = 150 org/hari). Total daya dukung kawasan yang dapat ditampung oleh kawasan wisata Danau Singkarak setiap harinya adalah 8 019 orang, tapi harus menyebar dalam kisaran waktu 8 jam/hari atau tidak terakumulasi pada jam-jam yang sama karena dapat menyebabkan over crawded. iv Tiga prioritas Title:

utama alternatif strategi pengelolaan kawasan wisata Danau Singkarak yang berkelanjutan meliputi: pertama, mengadakan kerjasama dalam promosi wisata Danau Singkarak sebagai kawasan yang terjaga kealamian dan kelestarian sumberdayanya; kedua, menarik investor untuk pengembangan wisata Danau Singkarak dengan tetap memperhatikan kelestarian sumberdayanya; ketiga, melakukan koordinasi dalam mengatasi permasalahan dan ancaman yang terdapat di Danau Singkarak. Melalui alternatif strategi ini diharapkan Danau Singkarak akan menjadi kawasan wisata dengan konsep keberlanjutan, sehingga dapat menarik banyak wisatawan dan pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. I. PENDAHULUAN

Indonesia memiliki lebih dari 500 danau dengan luas keseluruhan lebih

dari 5.000 km2 atau sekitar 0,25% dari luas daratan Indonesia (Davies et al.,1995),

namun status kondisi sebagian besar danau tersebut akhir-akhir ini sudah sangat

memprihatinkan. Pada saat ini fungsi dan manfaat danau dirasakan sudah semakin

berkurang. Fenomena ini disebabkan oleh terjadinya pencemaran dan kerusakan

lingkungan perairan danau serta koordinasi antar sektoral dalam pengelolaannya

yang sangat lemah atau hampir tidak ada sama sekali (Sumarwoto et al., 2004).

Pencemaran yang terjadi di perairan danau, merupakan masalah penting

yang perlu memperoleh perhatian dari berbagai pihak. Hal ini disebabkan

beragamnya sumber bahan pencemar yang masuk dan terakumulasi di danau.

Sumber-sumber bahan pencemar tersebut antara lain berasal dari kegiatan

produktif dan non-produktif di upland (lahan atas), dari permukiman dan dari

kegiatan yang berlangsung di badan perairan danau itu sendiri, dan sebagainya.

Jenis bahan pencemar utama yang masuk ke perairan danau terdiri dari beberapa

macam, antara lain limbah organik dan anorganik, residu pestisida, sedimen dan

Keberadaan bahan pencemar tersebut dapat menyebabkan terjadinya

penurunan kualitas perairan danau, sehingga tidak sesuai lagi dengan jenis

peruntukannya sebagai sumber air baku air minum, perikanan, pariwisata dan

sebagainya. Selain itu, pencemaran juga dapat menyebabkan hilangnya

keanekaragaman hayati, khususnya spesies endemik (asli) danau tersebut (Khosla

et al., 1995; Kumurur, 2002). Dampak negatif lain dari pencemaran perairan

danau tidak hanya dapat menimbulkan kerugian secara ekonomis dan ekologis

berupa penurunan produktivitas hayati perairan, tetapi juga dapat membahayakan

kesehatan bahkan dapat menyebabkan kematian manusia yang memanfaatkan

perairan danau untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Fakhrudin et al., 2001).

Danau Maninjau merupakan salah satu danau terpenting di Sumatera

Barat, tepatnya di Kabupaten Agam. Bagi masyarakat yang berdomisili di sekitar

danau, danau merupakan sumber kehidupan dan penghidupan. Masyarakat

memanfaatkannya untuk memenuhi berbagai kebutuhan domestik seperti sumber

air baku air minum, mandi, dan mencuci (MCK). Pemanfaatan penting lainnya

adalah untuk perikanan (perikanan budidaya dan perikanan tangkap), sumber air

untuk irigasi, sebagai obyek wisata serta sebagai sumber pembangkit listrik tenaga

air (PLTA) yang mengaliri sebagian besar kebutuhan listrik untuk wilayah

Nilai penting lainnya dari keberadaan Danau Maninjau adalah adanya jenis

ikan endemik, yakni ikan bada (Rasbora argyrotaenia) yang mempunyai nilai

ekonomis yang tinggi. Bahkan ikan bada yang sudah dikeringkan (ikan bada

masiak) harganya mencapai Rp 120.000,- per kg (Diliarosta, 2002). Keberadaan

ikan-ikan tersebut sudah semakin terancam akibat semakin meningkatnya beban

pencemaran yang masuk ke badan air danau, sehingga menyebabkan kualitas

perairan danau semakin menurun (Syandri, 2002a).

Meningkatnya beban pencemaran yang masuk ke perairan danau juga

disebabkan oleh kebiasaan masyarakat yang berdomisili di sekitar danau.

Umumnya masyarakat sekitar danau membuang limbah domestik, baik limbah

cair maupun limbah padatnya langsung ke perairan danau (Fahkruddin et al.,

2001; Haryani, 2001). Hal ini akan memberikan tekanan terhadap ekosistem

Berbagai aktivitas penduduk yang ada di sempadan danau, seperti

permukiman, perhotelan, pertanian dan peternakan merupakan sumber bahan

pencemar yang masuk ke perairan danau. Kegiatan di badan perairan danau,

berupa pembudidayaan ikan dengan teknik keramba jaring apung (KJA) juga

merupakan sumber limbah yang potensial mencemari perairan danau. Bapedalda

Sumbar (2001) melaporkan bahwa penyebab utama penurunan kualitas perairan

Danau Maninjau adalah akibat dari kegiatan perikanan KJA yang sudah

melampaui daya dukung perairan danau. Fakta lain juga mengungkapkan bahwa

kualitas perairan Danau Maninjau cenderung terus menurun dari waktu ke waktu,

akibat semakin tingginya tingkat pencemaran karena buangan limbah domestik

dan pertanian (LPP UMJ, 2006).

Saat ini, kepedulian terhadap ekosistem perairan Danau Maninjau semakin

kurang diperhatikan oleh hampir seluruh pengguna ekosistem perairan danau

tersebut. Prinsip-prinsip ekologis bahwa perairan danau memiliki carrying

capacity (daya dukung) dan daya asimilasi terhadap limbah yang terbatas tidak

dipahami oleh sebagian besar masyarakat pengguna danau. Seperti contoh

pemanfaatan danau untuk kegiatan budidaya perikanan dengan teknik KJA selalu

mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sampai akhir tahun 2006, terdapat 8.955

unit KJA yang beroperasi di perairan Danau Maninjau. Jumlah ini sudah sangat

melebihi daya dukung perairan danau untuk kegiatan KJA (Syandri, 2006). Hal ini

akan memberikan tekanan terhadap perairan danau semakin meningkat.

Di satu sisi, pengembangan usaha budidaya ikan dalam KJA akan

memberikan dampak positif berupa penciptaan lapangan kerja baru dan

peningkatan pendapatan masyarakat setempat, namun di sisi lain usaha ini juga

akan membawa dampak negatif terhadap ekosistem perairan danau. Dalam hal ini,

kegiatan budidaya ikan dengan KJA secara langsung akan mempengaruhi

(menurunkan) kualitas perairan danau (Bappeda Agam, 2002). Pengaruh tersebut

diakibatkan oleh limbah pakan dan zat pemberantas hama perikanan. Bila

konsentrasinya melebihi ambang batas, dapat mencemari dan meracuni biota di

perairan danau tersebut. Kematian masal ikan dalam KJA sebanyak 950 ton yang

terjadi pada tahun 1997 dan 2000 yang menelan kerugian milyaran rupiah,

mengindikasikan telah terjadi penurunan kualitas perairan di Danau Maninjau

Masuknya limbah pakan (nutrien) ke perairan danau dalam jumlah yang

berlebih dapat menyebabkan perairan menjadi lewat subur, sehingga akan

menstimulir blooming (ledakan) populasi fitoplankton dan mikroba air yang

bersifat patogen. Limbah zat hara dan organik baik dalam bentuk terlarut maupun

partikel, berasal dari pakan yang tidak dimakan dan eksresi ikan, yang umumnya

dikarakterisasi oleh peningkatan total padatan tersuspensi (TSS), BOD5, COD,

dan kandungan C, N dan P. Secara potensial penyebaran dampak buangan limbah

yang kaya zat hara dan bahan organik tersebut dapat meningkatkan sedimentasi,

siltasi, hipoksia, hipernutrifikasi, dan perubahan produktivitas serta struktur

komunitas bentik (Barg, 1992).

Fenomena-fenomena tersebut menunjukkan bahwa pencemaran yang

terjadi di perairan Danau Maninjau semakin mengkhawatirkan karena dapat

mengancam kelestarian fungsi danau. Hal ini merupakan masalah yang perlu

segera ditangani secara serius agar tidak meluas dan semakin parah di kemudian

Ekosistem danau merupakan suatu sistem, terdiri dari komponen biotik

dan abiotik yang saling berinteraksi dengan lingkungannya. Fenomena tentang

penurunan kualitas perairan (pencemaran) yang terjadi di perairan Danau

Maninjau, menunjukkan permasalahan yang kompleks dan sulit dipahami jika

hanya menggunakan satu disiplin keilmuan. Konsep sistem yang berlandaskan

pada unit keragaman dan selalu mencari keterpaduan antar komponen melalui

pemahaman secara holistik (menyeluruh) dan utuh, merupakan suatu alternatif

pendekatan baru dalam memahami dunia nyata (Forester, 1971). Pendekatan

sistem merupakan cara penyelesaian persoalan yang dimulai dengan dilakukannya

identifikasi terhadap sejumlah kebutuhan, sehingga dapat menghasilkan suatu

operasi sistem yang efektif (Eriyatno, 2007). Oleh karena itu, kajian tentang

pencemaran yang terjadi di perairan Danau Maninjau dapat dilakukan dengan

pendekatan sistem dalam membangun model pengendalian pencemarannya dalam

upaya mewujudkan perairan danau yang bersih dan lestari, sehingga pemanfaatan

fungsi danau dapat berkesinambungan.

Tujuan utama penelitian ini adalah membangun model pengendalian

pencemaran perairan di Danau Maninjau; untuk mencapai tujuan tersebut, maka

pada penelitian ini akan dilakukan kegiatan-kegiatan:

1. Menganalisis kualitas perairan dan tingkat pencemaran perairan di Danau

2. Membangun model yang menggambarkan sistem pengendalian pencemaran

perairan di Danau Maninjau

3. Merumuskan alternatif atau rancangan kebijakan pengendalian pencemaran

perairan di Danau Maninjau.

Permasalahan utama yang dihadapi oleh perairan lentik (tergenang),

terutama danau dan waduk adalah masalah penurunan kualitas dan kuantitas

perairan. Permasalahan penurunan kualitas perairan umumya disebabkan oleh

adanya bahan pencemar baik organik maupun anorganik yang masuk ke badan

perairan tersebut. Sementara itu, permasalahan kekurangan air disebabkan oleh

terbatasnya presipitasi air dan penggunaan air yang berlebihan.

Danau Maninjau merupakan sumberdaya alam yang memberikan manfaat

besar bagi masyarakat baik dari aspek ekonomi, sosial maupun dari aspek ekologi.

Oleh karena itu, salah satu program penting pemerintahan Kabupaten Agam yang

tertuang dalam Renstra dan Propeda Kabupaten Agam tahun 20052010 tentang

pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan adalah menjadikan kawasan

perairan danau sebagai kawasan yang bersih, sehat dan indah yang bebas dari

pencemaran (Bappeda Agam, 2005).

Danau Maninjau mempunyai banyak potensi yang menunjang secara

finansial, sehingga menyebabkan pertumbuhan penduduk dan pelayanan jasa di

sekitar danau menjadi semakin meningkat. Perkembangan penduduk di sekitar

perairan danau dengan berbagai aktivitasnya, merupakan sumber utama bahan

pencemar (limbah) yang masuk ke perairan danau, sehingga menyebabkan

terjadinya penurunan kualitas perairan danau.

Pada kawasan perairan danau terdapat beberapa faktor lingkungan yang

saling berkaitan satu dengan yang lainnya, yaitu lingkungan permukiman,

lingkungan pariwisata, lingkungan pertanian dan peternakan, serta lingkungan

sosial ekonomi masyarakat baik berupa pasar, rumah sakit dan sarana sosial

lainnya. Semua hasil buangan dari kegiatan di lingkungan tersebut akan bermuara

ke perairan danau. Kenyataan yang ada dan langsung dapat dirasakan adalah

turunnya fungsi lingkungan perairan danau sebagai sumber kehidupan masyarakat

sehari-hari. Meskipun berbagai upaya penanggulangan pencemaran telah

dilakukan oleh pemerintah, seperti program pengendalian pencemaran perairan

secara biologi ingkongbudo, program kalibersih (prokasih) dan program

lainnya, namun pencemaran perairan tetap terjadi.

Upaya dalam menanggulangi makin menurunnya kualitas perairan danau

akibat berbagai kegiatan masyarakat yang berada di sekitar perairan danau dan di

badan air danau, perlu dilakukan suatu kajian model pengendalian yang

menyentuh semua aspek kehidupan masyarakat di sekitar perairan danau sebagai

penghasil limbah. Menurut Jorgensen dan Vollenweider (1989), penggunaan

pemodelan dalam pengelolaan danau atau waduk merupakan suatu hal yang

bermanfaat. Hal ini disebabkan model dapat mensintesis pengetahuan dari sistem

Pendekatan studi untuk mewujudkan pengendalian pencemaran perairan

danau yang holistik, memerlukan kajian yang mendalam mengenai permasalahan

yang terdapat di perairan danau. Permasalahan tersebut berkaitan dengan potensi

dan ancaman dalam pemanfaatan danau oleh masyarakat sekitar perairan danau.

Potensi dan ancaman tersebut diidentifikasi baik secara fisika, kimia dan

mikrobiologi maupun secara ekonomi-sosial dan budaya berdasarkan kebutuhan

stakeholder (pelaku) yang terlibat dalam pemanfaatan perairan danau. Tahap

selanjutnya adalah menyusun alternatif skenario model pengendalian pencemaran

perairan danau dan akhirnya menyusun rancangan model pengendalian

pencemaran di perairan danau yang komprehensif yang dapat mengakomodasi

Model pengendalian yang dibangun dilakukan dengan cara identifikasi

secara mendalam tentang isu atau permasalahan yang terjadi di perairan danau

serta membangun sistem dan kontrol untuk mencegah atau meminimisasi dampak

atau kerugian lingkungan. Model pengendalian yang dibangun didasarkan pada

beban limbah dari berbagai kegiatan di sekitar danau dan di badan air danau serta

karakteristik dari danau itu sendiri. Model yang dibangun juga diharapkan sebagai

dasar dalam memformulasi kebijakan oleh pengelola dan para pengambil

keputusan dalam pemanfaatan dan pengelolaan pencemaran perairan danau.

Secara skematis kerangka pemikiran penelitian pengendalian pencemaran perairan

di Danau Maninjau diilustrasikan seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Kerangka pemikiran penelitian.

Danau Maninjau, seperti halnya danau-danau di Indonesia pada umumnya

juga mengalami masalah yang hampir sama yaitu masalah pencemaran perairan,

penurunan kualitas perairan, penurunan debit air dan pendangkalan danau.

Apabila tidak ada usaha-usaha pencegahan dan pengendalian dikhawatirkan

pencemaran dan sedimentasi akan terus-menerus berlangsung, yang selanjutnya

akan berpengaruh pada menurunnya nilai atau fungsi dari danau serta berdampak

pada kelangsungan fungsi danau. Perubahan yang terjadi pada sumberdaya alam

tersebut akan berdampak terhadap pemenuhan kebutuhan hidup penduduk

setempat. Penurunan kualitas perairan danau juga dapat berdampak buruk

terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar perairan danau pada

khususnya dan masyarkat Sumatera Barat pada umumnya.

Pencemaran yang terjadi di perairan Danau Maninjau diduga berasal dari

aliran (masukan) beban limbah dari kegiatan masyarakat yang berlangsung di

indogenous (badan air danau) dan di exogenous (luar danau). Limbah yang berasal

dari kegiatan yang berlangsung di badan air bersumber dari kegiatan KJA. Beban

limbah organik yang bersumber dari KJA berupa sisa pakan dan feses ikan dapat

menurunkan kualitas perairan danau. Selain itu, penurunan kualitas perairan juga

disebabkan oleh limbah yang berasal dari luar danau berupa limbah domestik,

limbah dari kegiatan pertanian dan peternakan yang berada di sekitar perairan

Penumpukan unsur hara hasil dekomposisi bahan organik yang berlebihan

di perairan danau, akan menimbulkan permasalahan karena, unsur hara yang

berlebihan akan menyebabkan perairan mengalami pengkayaan oleh unsur hara

bahan

organik

yang

berlebihan

juga

akan

menyebabkan perairan mengalami kekurangan oksigen (anoxia). Proses

dekomposisi tanpa adanya oksigen akan menyebabkan terbentuknya senyawa-

senyawa toksik (beracun), sehingga berdampak buruk terhadap organisme akuatik

dan manusia yang memanfaatkan perairan danau tersebut.

Pendangkalan yang terjadi di danau diduga dari erosi yang berasal dari

daerah tangkapan air (DTA) dan sempadan danau. Erosi yang tinggi pada daerah

tersebut akan terbawa oleh aliran sungai yang pada akhirnya akan mengendap

sebagai sedimen di dasar danau. Akumulasi dari erosi yang terjadi terus-menerus

akan mengarah pada terjadinya pendangkalan danau, penurunan kuantitas dan

kualitas air serta dapat merusak habitat di badan perairan danau. Oleh karena itu

diperlukan upaya-upaya pengendalian sumber pencemaran yang masuk ke

perairan danau melalui pendekatan kesisteman dan kebijakan yang dapat diterima

Menurut Jorgensen (1989), penggunaan model sangat cocok untuk

memecahkan permasalahan lingkungan yang kompleks. Jorgensen (1994) juga

mengemukakan bahwa penggunaan model dalam permasalahan ekologi adalah

suatu keharusan jika ingin memahami tentang fungsi sistem yang kompleks

seperti dalam ekosistem. Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah

tersebut terlihat bahwa ada keterkaitan fungsi danau dengan dampak dari

pencemaran yang terjadi di perairan danau. Oleh karena itu, maka dalam konteks

pengendalian pencemaran perairan di Danau Maninjau, diajukan beberapa

1. Bagaimana kualitas perairan dan tingkat pencemaran perairan di Danau

2. Model seperti apa yang dapat menggambarkan sistem pengendalian

pencemaran perairan di Danau Maninjau?

3. Bagaimana skenario strategi pengendalian pencemaran perairan di Danau

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada

1. Bagi pemerintah daerah, informasi ini dapat digunakan sebagai bahan

pertimbangan atau acuan dalam memformulasi kebijakan dalam pengendalian

pencemaran yang terjadi di perairan Danau Maninjau.

2. Bagi masyarakat sebagai informasi dalam pemanfaatan dan pelestarian

sumberdaya perairan Danau Maninjau.

3. Sebagai sumber informasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dalam

menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan perairan, khususnya di Danau

1.6. Novelty (Kebaruan) Penelitian

Penelitian-penelitian yang dilakukan di perairan Danau Maninjau selama

ini masih bersifat sporadik dan bersifat parsial, sedangkan dalam penelitian ini

sifat dasarnya adalah bersandarkan pada metode pendekatan sistem dengan

mengintegrasikan secara menyeluruh kepentingan para pelaku yang terlibat dalam

sistem pengendalian pencemaran. Metode ini digunakan sebagai tolok ukur dalam

merancang atau membangun pemodelannya. Oleh karena itu, kebaruan utama

dalam penelitian ini terdapat pada konsep penggunaan model dalam pengendalian

pencemaran perairan danau yang dibangun dengan pendekatan sistem untuk

memecahkan isu global yang terkait dengan degradasi lingkungan perairan.

Erosi & Eutrofikasi Mengancam Ekosistem Perairan Danau Tondano


OPINI | 31 August 2011 | 17:52 98 0 Nihil Danau Tondano, hingga kini masih saja dilingkupi persoalan yang mengancam keberlanjutan ekosistemnya. Padahal, fungsi lingkungan perairan danau Tondano masih sangat penting bagi kehidupan masyarakat kabupaten Minahasa dan kota Manado. Danau Tondano sebagai penyedia air tanah masyarakat sekitarnya serta sebagai sumber air minum bagi Kabupaten Minahasa, Kota Manado dan ke depan direncanakan untuk mensuplai air minum ke kota Bitung. Juga, menjadi penggerak turbin pembangkit listrik tenaga air untuk menghasilkan listrik bagi masyarakat Minahasa dan Kota Manado (PLTA Tonsea Lama, Tanggari I, Tanggari II dan rencana PLTA Sawangan). Sedangkan secara ekonomi, perairan Danau berfungsi sebagai lokasi budidaya perikanan karamba jaring apung/KJA (floating net cages) dan karamba tancap (pen culture) dengan produksi sekitar 5000 ton ikan per tahun. Sebagai sumber irigasi bagi 3000 ha sawah di Kabupaten Minahasa. Secara alami, Danau Tondano dan sekitarnya merupakan suatu rangkaian landscape yang indah dan secara sosial memberikan jasa keindahannya bagi siapa saja yang datang menikmatinya. Namun permasalahan yang mengancam keberadaan ekosistem perairan ini terus saja meningkat. Pendangkalan, penurunan debit air serta penurunan kualitas air menjadi persoalan utama ekosistem perairan Danau Tondano. Kondisi ini berakibat pada kelangsungan danau dan makhluk hidup di danau dan di sekitar danau. Faktor utama penyebab rusak dan terancamnya keberadaan ekosistem Danau Tondano, yaitu: erosi dan pengkayaan unsur hara (eutrofikasi). Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami, yaitu air atau angin. Pada peristiwa erosi, tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat terkikis dan terangkut yang kemudian diendapkan pada suatu tempat lain. Erosi sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: (a)erosivitas; dan (b)erodibilitas. Di mana erosivitas sangat dipengaruhi oleh iklim, sedangkan erodibilitas dipengaruhi oleh sifat fisik tanah (tanah) dan pengelolaan tanah dan tanaman (topografi, vegetasi dan manusia). Menurut Hasil penelitian Gunawan & Kusminingrum (diunduh 16 Agustus 2010) bahwa tingkat erosi permukaan tanah yang sangat tergantung pada tingkat kemiringan lereng, kepadatan tanah dan tingkat kerimbunan tanaman penutup. Danau Tondano merupakan danau ketegori kecil dan dangkal (10-50 meter). Danau ini merupakan bagian dari DAS Tondano (watershed), yang menampung air dari area tangkapan air yang terbuka dengan luas water body (badan air danau) 4.396 ha. Dari hasil survei citra Landsat 2009, diperoleh: total luasan DTA yaitu 25.925 ha, di mana kondisi tutupan lahan di Daerah Tangkapan Air (DTA) di dominasi oleh kawasan budidaya yang terdiri atas: 5% perumahan (1.197ha), 12% sawah (3.188 ha), 28% perkebunan campuran (7.326 ha), dan 23% hortikultura (5.983 ha). Sedangkan kawasan lindung yang berbentuk hutan hanya sekitar 28% atau 7.345ha.

Dari data tutupan lahan di kawasan sekitar badan air Danau Tondano yang didominasi oleh kawasan budidaya yang cenderung meningkat luasnya, dapat diprediksi akan semakin tinggi erosi yang bakal terjadi. Berkurangnya penutupan lahan oleh vegetasi terutama di lahan-lahan miring sering mengakibatkan laju aliran permukaan dan erosi meningkat. Laju aliran permukaan dan erosi dipengaruhi oleh derajat keterbukaan dan cara-cara pengolahan tanahnya. Partikelpertikel tanah yang terbawa melalui proses erosi, selain memindahkan tanah dari satu tempat ke perairan danau Tondano dan akhirnya menjadi sedimen, juga mengakibatkan peningkatan unsur hara pada badan air. Unsur hara ini telah mempercepat proses eutrofikasi di perairan danau Tondano. Eutrofikasi adalah suatu rangkaian proses dari sebuah danau yang bersih menjadi berlumpur akibat pengkayaan unsur hara tanaman dan meningkatnya pertumbuhan tanaman. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) telah mencirikan eutrofikasi sebagai pengkayaan unsur hara (nutrien) pada badan air yang menyebabkan rangsangan suatu susunan perubahan simptotik yang meningkatkan produksi ganggang dan makrofit, memburuknya perikanan, memburuknya kualitas air serta menganggu penggunaan air. Proses pengkayaan (eutrofikasi) danau dapat terjadi secara alamiah maupun secara kultural. Menurut Connell & Miller, 1995 dalam bukunya Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran, bahwa proses eutrofikasi alamiah terjadi akibat adanya aliran masukan yang membawa detritus tanaman, garam-garam, pasir dan disimpan dalam badan air selama waktu geologis. Sedangkan eutrofikasi kultural diakibatkan oleh peningkatan kegiatan manusia yang terjadi di sepanjang daerah aliran sungai masuk (inlet) ke perairan danau misalnya; pengolahan tanah pertanian secara intensif, penggunaan pupuk dan pembuangan limbah rumah tangga. Proses ini akan menjadi sebuah masalah jika tidak dikendalikan. Seperti yang terjadi pada perairan Danau Tondano, di mana tidak saja eutrofikasi alamiah yang terjadi, tetapi juga eutrofikasi kultural, seperti dimanfaatkannya badan air sebagai lahan budidaya ikan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar danau Tondano. Dari hasil penelitian Suryadiputra dkk (2010), diperoleh bahwa Keramba Jaring Apung (KJA) dan Karamba tancap pada tahun 2001, total sekitar 2500 unit; dan tersebar di Desa Eris (2078 unit), di Desa Kakas (350 unit) dan di Desa Remboken (40 unit). Selain itu pula pengalihfungsian lahan dari lahan lindung menjadi lahan budidaya sangat memberikan kontribusi peningkatan konsentrasi fosfor melalui penggunaan pupuk di lahan pertanian seluas 53% yang terdiari atas: sawah, perkebunan campuran, dan hortikultura. Sebagai contoh: dari hasil penelitian Kumurur (1998) yang dilakukan di Kawasan Sekitar Danau Mooat, diperoleh bahwa akibat pengalihan fungsi kawasan lindung menjadi kawasan budidaya di kawasan sekitar Danau Mooat, telah terjadi peningkatan konsentrasi fosfor 163 kali lebih besar dalam lima tahun terakhir (periode 1993-1998) dibandingkan pengukuran pada periode enam tahun sebelumnya (1987-1993). Fosfor tersebut banyak dihasilkan dari lahan pertanian akibat penggunaan pupuk. Unsur kimia inilah yang paling bertanggungjawab dalam proses eutrofikasi (pengkayaan unsur hara) pada badan air danau, seperti danau Mooat dan danau Tondano saat ini. Pengkayaan unsur hara dan peningkatan eutrofikasi akan mengakibatkan terganggunya dan terancam keberadaan ekosistem perairan danau Tondano. Pengaruh utama dari peningkatan eutrofikasi adalah berkurangnya oksigen yang terlarut. Unsur hara (nutrien) ini akan terus meningkat melalui erosi serta melalui pemberian makanan pada

ikan-ikan (jaring apung). Hal seperti inilah yang mempercepat terganggunya keseimbangan alami perairan. Semakin kaya unsur hara (nutrien) pada badan air, maka tanaman air akan semakin subur, padat dan menutupi permukaan perairan danau. Perairan danau semakin keruh akibat padatnya tanaman-tanaman air tersebut, yang akhirnya menyulitkan sinar matahari menembus perairan danau. Pada akhirnya pembusukan tanaman air semakin meningkat dan akan meningkatkan sedimentasi yang secara pasti menjadi penyebab pendangkalan perairan Danau Tondano. Jadi erosi dan eutrofikasi (khususnya eutrofikasi kultural) adalah dua hal penting yang menyebabkan ekosistem perairan danau Tondano semakin kritis. Perlu penataan wilayah daerah tangkapan air (DTA) serta pengendalian kegiatan manusia. Jika tidak ditata kembali wilayah kawasan sekitar Danau Tondano, serta mengendalikan pemanfaatan badan air danau, maka suatu waktu Danau Tondano akan mencapai suksesi, dari perairan menjadi daratan.

Akumulasi Surplus Kegiatan Ekonomi Danau Semayang Capai Rp 43 M per tahun 57 Persen Dari Hasil Perikanan Tangkap

Potensi Danau Semayang (2)


Dikirim Senin, 27 Desember 2010 Oleh Andi | Pariwisata

SELAIN potensi perikanan, Danau Semeyang juga sangat bermanfat bagi kehidupan warga sekitarnya. Hasil survey dan wanwancara dengan masyarakat yang tinggal disekitar danau menginformasikan bahwa Danau Semayang memliki nilai guna yang cukup besar dan kompleks,.Yaitu selain untuk usaha perikanan, Danau Semayang juga berfungsi sebagai sarana transportasi, ekologi, pendidikan, dan bahkan rekreasi.Berbagai manfaat langsung dari Danau Semayang adalah sebagai jalan pintas transportasi dari Kecamatan Kota Bangun ke Kahala,. dan tentu saja sebagai daerah penangkapan ikan serta tempat budidaya dengan karamba. Sedangkan guna tidak langsungnya yaitu sebagai penyimpan air yang berguna dalam pengendalian banjirDari hasil penelitian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kukar bekerjasama dengan Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univerisitas Mulawarman (Unmul), didapatkan bahwa Nilai Guna Langsung ( Direct Use Value) Danau Semayang melalui Pendekatan valuasi ekonomi sumberdaya alam dengan menggunakan dan menghitung nilai guna langsung. Indikasi besarnya pendaptan yang cukup tinggi diperoleh masyarakat yang tinggal disekitar danau memberikan pemahaman bahwa sumberdaya dan keberdaan Danau Semayang

memberikan kontribusi secara ekologis dan ekonomi kepada masyarakat.Nilai guna langsung sumberdaya alam Danau Semayang dari Akumulasi Surplus kegiatan ekonomi yang meliputi kegiatan penangkapan ikan, budidaya keramba, dan kegiatan transportasi adalah sebesar Rp.43.360.055.729 (43,3 Miliar lebih) per tahun. Kontribusi dari nilai langsung sumberdaya alam Danau Semayang diperoleh dari kegiatan penangkapan ikan dengan presentase kontribusi sebesar 57%, kegiatan budidaya keramba sebesar 32%,dan kegiatan transportasi sebesar 11%.Tingginya kontribusi dari nilai guna langsung kegiatan penangkapan ikan di Danau Semayang mengindikasikan bahwa sumberdaya perikanan yang masih potensial.Kontribusi dari kegiatan budidaya keramba menduduki peringkat kedua setelah kegiatan penangkapan ikan. Adapun rendahnya kontribusi disektor kegiatan transportasi lebih disebabkan karena telah banyak sarana dan prasarana jalan yang dibangun pemerintah sehingga banyak penumpang yang menggunakan jalan darat sebagai alternative. Sedangkan Nilai Guna Tak Langsung ( Indirect Use Value ) sumberdaya alam Danau Semayang diidentifikasi dengan pendekatan biaya yang dikeluarkan untuk membuat waduk /danau yang berfungsi sebagai penampung air pada waktu curah hujan tinggi yang dapat menyebabkan banjir.Proses sedimentasi yang semakin mengkhwatirkan bisa berdampak pada berlangsungnya proses suksesi danau. Apabila suksesi danau semayang menjadi daratan terjadi, maka fungsi sebagai penampung air akan hilang. Hal ini akan menimbulkan kerugian dan kompleks, baik kerugian imateri maupun materi. Untuk itu sebaiknya dilakukan upaya-upaya untuk mencegah terjadinya pendangkalan, yaitu dengan pengerukan. (yn/hmp03)

Potensi Perikanan Danau Laut Tawar Diteliti


Senin, 28 Juni 2010 | 03:29 WIB

Ilustrasi Foto: (Perikanan Danau Laut Tawar) Banda Aceh - Potensi perikanan keramba di Danau Laut Tawar, Aceh Tengah, kini sedang diteliti oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Dengan demikian, akan segera diketahui kapasitas keramba yang bisa dikembangkan di danau tersebut. Penelitian itu dilakukan berdasarkan surat yang diajukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh kepada Badan Riset Kelautan dan Perikanan.

"Ini penting dilakukan untuk menjaga ekosistem Danau Laut Tawar. Budidaya ikan keramba bagus dilakukan, tapi harus diperkirakan daya tampungnya," kata Razali, hari Sabtu 26 Juni 2010. Dia menjelaskan, tujuan penelitian adalah untuk melihat kapasitas keramba yang bisa dikembangkan di Danau Laut Lawar, sehingga ekosistemnya akan terus terjaga untuk kelanjutan perekonomian masyarakat sekitar danau. Budidaya ikan mujair dengan keramba yang dilakukan di dataran tinggi Gayo itu merupakan salah satu upaya peningkatkan produktivitas usaha tani dan upaya menyejahterakan masyarakat setempat. "Kita mendukung keberadaan keramba sebagai upaya meningkatkan produktivitas ikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat yang jauh dari laut tersebut," katanya. Upaya pendataan terhadap daya tampung usaha tersebut juga penting dilakukan untuk keberlangsungan ikan depik yang merupakan ikan khas Danau Laut Tawar. Jika tidak dilakukan penelitian, Danau Laut Tawar yang juga menjadi objek wisata akan tercemar karena banyaknya penggunaan pestisida dan pakan ternak para petani nelayan. Keberadaan keramba dalam jumlah besar memiliki banyak kelemahan, salah satunya air danau kotor karena sisa pakan jatuh ke dasar danau yang lambat laun akan mengendap, tidak akan mungkin terurai biota laut dan berdampak pada kualitas air. "Kita tidak ingin hal tersebut menjadi persoalan di Danau Laut Tawar, apalagi wilayah sekeliling danau dikembangkan sebagai wisata andalan di Aceh Tengah," katanya. (lis/anta/sri)

Kawasan Konservasi Perairan Danau Lut Tawar Akan Ditetapkan


Published on April 10, 2011 by Lovegayo 1 Comment :: 488 Views Laporan : Munawardi* Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melalui Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Aceh Tengah dan Muspika di Kecamatan Lut Tawar serta Kecamatan Kebayakan beserta dengan masyarakat nelayan di kedua Kecamatan tersebut telah mengadakan pertemuan yang bertujuan membahas penentuan lokasi kawasan konservasi perairan atau akan dijadikan suaka perikanan nantinya di Danau Lut Tawar. Sementara di wilayah Kecamatan Bintang akan segera diadakan kegiatan serupa guna mengadakan diskusi dan jajak pendapat dengan masyarakat terutama para nelayan. Penentuan kawasan konservasi perairan ini atau nantinya bisa dijadikan sebagai kawasan suaka perikanan berpedoman kepada UU Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan, Peraturan Menteri Kelautan Perikanan Nomor PER.02/MEN/2009 tentang Tata Cara Penetapan Kawasan Konservasi Perairan dan Peraturan Menteri Kelautan Perikanan Nomor : PER.02/MEN/2010 tentang Tata Cara Penetapan Status Perlindungan Jenis Ikan.

Sesuai arahan Bupati Aceh Tengah agar segera menentukan kawasan lindung perikanan atau dulu disebut dengan istilah Reservat di wilayah Danau Lut Tawar, maka Dinas Peternakan dan Perikanan akan segera melakukan identifikasi dan verifikasi terhadap beberapa calon lokasi dengan mengacu kepada ketentuan teknis sebagaimana disebutkan diatas sebagai pedoman, yang nantinya akan menentukan lokasi yang dapat dijadikan kawasan konservasi perairan. Konsep perlindungan atau yang dulu sering disebut dengan istilah Reservat pada saat sekarang ini sudah tidak digunakan lagi, karena sekarang konsep konservasi perairan selain mengutamakan pendekatan ekologis juga pendekatan sosial ekonomi yang pada akhirnya berdampak kepada kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan terutama masyarakat nelayan. Berdasarkan hasil pertemuan dengan perwakilan masyarakat nelayan dan unsur muspika di Kecamatan Lut Tawar pada tanggal 31 Maret 2011 dan perwakilan masyarakat nelayan dan unsur muspika Kecamatan Kebayakan yang diadakan pada tanggal 09 April 2011 di Aula Dinas Peternakan dan Perikanan, mendapatkan beberapa point kesimpulan dan kesepakatan, antara lain : 1. Pada dasarnya masyarakat, terutama masyarakat nelayan sangat mendukung program konservasi perairan yang akan dikembangkan di Danau Lut Tawar. 2. Seluruh pemangku kepentingan di Danau Lut Tawar harus bertanggung jawab terhadap kelestarian Danau Lut Tawar. 3. Perlu adanya aturan yang jelas tentang penjagaan dan pemeliharaan kawasan konservasi perairan danau Lut Tawar. 4. Calon Lokasi yang diusulkan di wilayah Kecamatan Lut Tawar menjadi kawasan konservasi perairan antara lain : Kawasan Ujung Baro atau Hotel Renggali dan Ujung Batu Atas sampai dengan Ujung Noang Kampung Rawe. 5. Calon Lokasi yang diusulkan di wilayah Kecamatan Kebayakan menjadi kawasan konservasi perairan antara lain : Ujung Mepar, Utung-utung, Ujung Taris sampai Kelaping. 6. Calon lokasi yang telah diusulkan akan ditinjau ulang untuk diidentifikasi dan diadakan studi kelayakan secara teknis oleh tim teknis perikanan dengan didampingi oleh muspika kecamatan dan masyarakat. 7. Ukuran mata jaring (mesh size) alat tangkap jaring (gillnet) atau doran yang diperbolehkan beroperasi hendaknya : untuk ikan Depik berukuran minimal 5/9 inchi dan untuk doran ikan mujahir minimal 1 inchi. 8. Razia persuasif perlu dilakukan terhadap nelayan, pedagang peralatan serta pedagang ikan. Khusus untuk pedagang peralatan perikanan akan dijadikan syarat dalam pengeluaran izin perdagangan. 9. Kaitan dengan kegiatan/usaha pariwisata diharapkan jangan sampai membeton atau merubah morfologi pinggiran perairan (zona rivarian), karena zona ini merupakan daerah asuhan (nursery ground), dan tempat pemijahan (spawning ground) maupun tempat mencari makan (feeding ground) beberapa jenis ikan di Danau Lut Tawar. selanjutnya perlu kesepakan bersama antara pemerintah dan seluruh masyarakat tentang sanksi ataupun tindakan yang dapat diberikan terhadap kegiatan/usaha tersebut, karena hal tersebut sangat merusak tatanan ekosistem perairan dan merugikan banyak pihak terutama nelayan.

10. Memohon agar kegiatan penurapan atau pembetonan pinggiran danau atau zona rivarian agar segera dihentikan dan ditertibkan. 11. Masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan terhadap Danau Lut Tawar di setiap Kecamatan bersama Camat dan unsur Muspika serta Mukim perlu duduk bersama untuk membahas serta segera membuat peraturan lokal sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang mendukung upaya pelestarian dan konservasi perairan danau Lut Tawar. 12. Perlu segera adanya penyusunan regulasi tentang upaya konservasi perairan danau Lut Tawar ini, sehingga ada payung hukum untuk membuat kebijakan dan program pelestarian danau Lut Tawar. 13. Program Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Aceh Tengah pada tahun 2011 ini adalah pembangunan pos pengawas perikanan di lokasi konservasi perairan yang telah ditentukan nantinya, program ini diharapkan sebagai langkah awal dalam mewujudkan kawasan konservasi perairan di Danau Lut Tawar. 14. Hasil rapat ini akan di sampaikan sebagai telaahan kepada Bupati dan akan disosialisasikan kepada masyarakat. Semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini merasa senang dan sangat mendukung diadakannya acara pertemuan ini sekaligus merupakan sosialisasi terhadap masyarakat tentang pentingnya konservasi perairan untuk masa depan. Kadis Peternakan dan Perikanan Ir. Absardi. AR, MM beserta staf akan segera menindak lanjuti kesepakatan ini, terutama melaksanakan program tahun ini yaitu membangun pos pengawas perikanan sejumlah tiga titik di lokasi konservasi yang akan ditentukan nantinya di tiga Kecamatan di kawasan Danau Lut Tawar. Begitu juga dengan pihak muspika dari Kecamatan mulai dari Camat Lut Tawar Subhandhy, M.Si, Camat Kebayakan Marguh, SE dan mukim dari kedua kecamatan berserta masyarakat berkomitmen akan membantu upaya pengembangan kawasan konservasi di Danau Lut Tawar tersebut. Kapolsek Kebayakan juga memberikan tanggapan positif terhadap kegiatan ini dan akan bersedia bekerja sama dengan semua pihak guna mewujudkan konservasi perairan di Danau Lut Tawar. *Ketua Divisi Bioekologi Forum Danau Lut Tawar (FDLT)

Kawasan Konservasi Perairan Danau Lut Tawar Akan Ditetapkan


Published on April 10, 2011 by Lovegayo 1 Comment :: 488 Views Laporan : Munawardi* Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melalui Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Aceh Tengah dan Muspika di Kecamatan Lut Tawar serta Kecamatan Kebayakan beserta dengan masyarakat nelayan di kedua Kecamatan tersebut telah mengadakan pertemuan yang bertujuan membahas penentuan lokasi kawasan konservasi perairan atau akan dijadikan suaka perikanan nantinya di Danau Lut Tawar. Sementara di wilayah Kecamatan Bintang akan segera diadakan

kegiatan serupa guna mengadakan diskusi dan jajak pendapat dengan masyarakat terutama para nelayan. Penentuan kawasan konservasi perairan ini atau nantinya bisa dijadikan sebagai kawasan suaka perikanan berpedoman kepada UU Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan, Peraturan Menteri Kelautan Perikanan Nomor PER.02/MEN/2009 tentang Tata Cara Penetapan Kawasan Konservasi Perairan dan Peraturan Menteri Kelautan Perikanan Nomor : PER.02/MEN/2010 tentang Tata Cara Penetapan Status Perlindungan Jenis Ikan. Sesuai arahan Bupati Aceh Tengah agar segera menentukan kawasan lindung perikanan atau dulu disebut dengan istilah Reservat di wilayah Danau Lut Tawar, maka Dinas Peternakan dan Perikanan akan segera melakukan identifikasi dan verifikasi terhadap beberapa calon lokasi dengan mengacu kepada ketentuan teknis sebagaimana disebutkan diatas sebagai pedoman, yang nantinya akan menentukan lokasi yang dapat dijadikan kawasan konservasi perairan. Konsep perlindungan atau yang dulu sering disebut dengan istilah Reservat pada saat sekarang ini sudah tidak digunakan lagi, karena sekarang konsep konservasi perairan selain mengutamakan pendekatan ekologis juga pendekatan sosial ekonomi yang pada akhirnya berdampak kepada kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan terutama masyarakat nelayan. Berdasarkan hasil pertemuan dengan perwakilan masyarakat nelayan dan unsur muspika di Kecamatan Lut Tawar pada tanggal 31 Maret 2011 dan perwakilan masyarakat nelayan dan unsur muspika Kecamatan Kebayakan yang diadakan pada tanggal 09 April 2011 di Aula Dinas Peternakan dan Perikanan, mendapatkan beberapa point kesimpulan dan kesepakatan, antara lain : 1. Pada dasarnya masyarakat, terutama masyarakat nelayan sangat mendukung program konservasi perairan yang akan dikembangkan di Danau Lut Tawar. 2. Seluruh pemangku kepentingan di Danau Lut Tawar harus bertanggung jawab terhadap kelestarian Danau Lut Tawar. 3. Perlu adanya aturan yang jelas tentang penjagaan dan pemeliharaan kawasan konservasi perairan danau Lut Tawar. 4. Calon Lokasi yang diusulkan di wilayah Kecamatan Lut Tawar menjadi kawasan konservasi perairan antara lain : Kawasan Ujung Baro atau Hotel Renggali dan Ujung Batu Atas sampai dengan Ujung Noang Kampung Rawe. 5. Calon Lokasi yang diusulkan di wilayah Kecamatan Kebayakan menjadi kawasan konservasi perairan antara lain : Ujung Mepar, Utung-utung, Ujung Taris sampai Kelaping. 6. Calon lokasi yang telah diusulkan akan ditinjau ulang untuk diidentifikasi dan diadakan studi kelayakan secara teknis oleh tim teknis perikanan dengan didampingi oleh muspika kecamatan dan masyarakat. 7. Ukuran mata jaring (mesh size) alat tangkap jaring (gillnet) atau doran yang diperbolehkan beroperasi hendaknya : untuk ikan Depik berukuran minimal 5/9 inchi dan untuk doran ikan mujahir minimal 1 inchi.

8. Razia persuasif perlu dilakukan terhadap nelayan, pedagang peralatan serta pedagang ikan. Khusus untuk pedagang peralatan perikanan akan dijadikan syarat dalam pengeluaran izin perdagangan. 9. Kaitan dengan kegiatan/usaha pariwisata diharapkan jangan sampai membeton atau merubah morfologi pinggiran perairan (zona rivarian), karena zona ini merupakan daerah asuhan (nursery ground), dan tempat pemijahan (spawning ground) maupun tempat mencari makan (feeding ground) beberapa jenis ikan di Danau Lut Tawar. selanjutnya perlu kesepakan bersama antara pemerintah dan seluruh masyarakat tentang sanksi ataupun tindakan yang dapat diberikan terhadap kegiatan/usaha tersebut, karena hal tersebut sangat merusak tatanan ekosistem perairan dan merugikan banyak pihak terutama nelayan. 10. Memohon agar kegiatan penurapan atau pembetonan pinggiran danau atau zona rivarian agar segera dihentikan dan ditertibkan. 11. Masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan terhadap Danau Lut Tawar di setiap Kecamatan bersama Camat dan unsur Muspika serta Mukim perlu duduk bersama untuk membahas serta segera membuat peraturan lokal sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang mendukung upaya pelestarian dan konservasi perairan danau Lut Tawar. 12. Perlu segera adanya penyusunan regulasi tentang upaya konservasi perairan danau Lut Tawar ini, sehingga ada payung hukum untuk membuat kebijakan dan program pelestarian danau Lut Tawar. 13. Program Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Aceh Tengah pada tahun 2011 ini adalah pembangunan pos pengawas perikanan di lokasi konservasi perairan yang telah ditentukan nantinya, program ini diharapkan sebagai langkah awal dalam mewujudkan kawasan konservasi perairan di Danau Lut Tawar. 14. Hasil rapat ini akan di sampaikan sebagai telaahan kepada Bupati dan akan disosialisasikan kepada masyarakat. Semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini merasa senang dan sangat mendukung diadakannya acara pertemuan ini sekaligus merupakan sosialisasi terhadap masyarakat tentang pentingnya konservasi perairan untuk masa depan. Kadis Peternakan dan Perikanan Ir. Absardi. AR, MM beserta staf akan segera menindak lanjuti kesepakatan ini, terutama melaksanakan program tahun ini yaitu membangun pos pengawas perikanan sejumlah tiga titik di lokasi konservasi yang akan ditentukan nantinya di tiga Kecamatan di kawasan Danau Lut Tawar. Begitu juga dengan pihak muspika dari Kecamatan mulai dari Camat Lut Tawar Subhandhy, M.Si, Camat Kebayakan Marguh, SE dan mukim dari kedua kecamatan berserta masyarakat berkomitmen akan membantu upaya pengembangan kawasan konservasi di Danau Lut Tawar tersebut. Kapolsek Kebayakan juga memberikan tanggapan positif terhadap kegiatan ini dan akan bersedia bekerja sama dengan semua pihak guna mewujudkan konservasi perairan di Danau Lut Tawar. *Ketua Divisi Bioekologi Forum Danau Lut Tawar (FDLT) ENGELOLA DANAU LINDU SECARA BIJAK Monday, 27 September 2010

Oleh : Mukhlis Abu Baedah*) Sekitar 97 % air di bumi adalah air laut dan samudra yang berasa asin, sisanya 3 % berupa air tawar dimana hanya 1 % dari air tawar yang benar-benar dimanfaatkan, salah satunya yang terdapat di danau. Oleh karena itu pemanfaatan potensi sumberdaya air danau juga harus memperhatikan aspek geografis dan kelestariannya. Pada saat ini, hampir 10 % danau yang ada di Indonesia terancam karena masalah sedimentasi, (berkurangnya kedalaman), berkurangnya volume, berkurangnya luas, terjadinya pencemaran organik, berkurangnya populasi ikan bahkan beberapa jenis ikan endemik hampir hilang. Di Indonesia ada 10 danau yang dinyatakan dalam kondisi rusak termasuk salah satunya adalah danau poso (Kompas, 15 Nov 2008) yang merupakan danau terbesar di Sulawesi Tengah. Selain danau poso, Sulawesi Tengah punya salah satu danau yang sangat potensial yaitu danau lindu yang juga dapat bernasib sama dengan danau poso jika tidak dikelola dengan baik dan hati-hati, danau ini sudah sangat dikenal bahkan hingga ke mancanegara. Di danau Lindu hidup berbagai jenis ikan seperti mujair, ikan mas, lele, gabus, sidat dan lain-lain. Danau Lindu berada di dalam Taman Nasional Lore Lindu, sehingga pengelolaannya harus memenuhi kriteria kriteria yang dipersyaratkan sebuah taman nasional, undang-undang menggariskan Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (pasal 1 butir 14 UU No. 5 Tahun 1990). Danau ini terbentuk selama era Pliocene merupakan danau terbesar kedelapan di Sulawesi dengan luas 3.448 ha dan terbesar kedua di Sulawesi Tengah setelah Danau Poso, terletak pada ketinggian sekitar 1.000 m DPL termasuk dalam kelas danau tektonik, danau yang terjadi akibat adanya aktivitas/peristiwa tektonik yang mengakibatkan permukaan tanah pada lapisan kulit bumi turun ke bawah membentuk cekung dan akhirnya terisi air, dikelilingi oleh punggung pegunungan, disekitarnya ada beberapa desa antara lain desa Puroo, Desa Langko, desa Tomado, Anca, desa - desa ini terletak di tepi danau Lindu. Kehidupan masyarakat Lindu masih sarat dengan acara adat yang merupakan kearifan lokal. Danau lindu merupakan salah satu sumberdaya perairan yang potensial dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan protein dan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat lindu, karena selain berkebun dan berladang warga sekitar danau menggantungkan hidupnya di danau ini sebagai nelayan, dimana ada sekitar 300 lebih nelayan yang mencari ikan di danau ini. Stok ikan di danau lindu dapat mengalami tekanan dari berbagai faktor yaitu pencemaran, sedimentasi, penangkapan ikan secara berlebihan, introduksi jenis baru yang tidak dilakukan secara bijaksana dan akibat lainnya. Berbagai bentuk tekanan tersebut secara kumulatif dapat menyebabkan berkurangnya kelimpahan stok ikan dan menurunnya mutu lingkungan danau. Oleh karena itu, pengelolaan danau lindu sebagai upaya memanfaatkan sumberdaya ikan danau secara berkelanjutan perlu dilakukan secara bijaksana. Tindak lanjut dari itu perlu di susun sebuah Rencana Aksi Tata Kelola Danau Lindu. Tulisan ini akan mencoba membahas beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan dalam rencana aksi tata kelola tersebut yaitu : Identifikasi dan Penghitungan Daya Dukung Lingkungan Sumberdaya Danau Identifikasi sumberdaya dilakukan pada tahap awal untuk menentukan kondisi danau baik jumlah dan jenis ikan yang ada, kualitas perairan, dan ketersediaan pakan alami apakah kondisinya berada di bawah tingkat produksi optimumnya atau kuantitas stok ikan tersebut masih dapat ditingkatkan. Untuk itu perlu pengkajian status stok ikan, penilaian kondisi danau dan

faktor-faktor lain yang mungkin membatasi produksi. Karena danau bersifat terbuka (dapat dimanfaatkan oleh siapa saja) menyebabkan permasalahan yang mungkin timbul akan sangat komplek karena menyangkut kepentingan berbagai pemanfaat danau, sehingga pengelolaanya bersifat spesifik, sesuai dengan karakteristik dan permasalahan di badan air tersebut. Identifikasi sumberdaya danau sebaiknya dilakukan oleh tim teknis yang berasal dari berbagai institusi baik dari pusat, daerah, pakar perguruan tinggi, LSM dan lain sebagainya. Identifikasi dilakukan untuk mengetahui potensi dan pemanfaatan sumberdaya danau; morfologi badan air dan kondisi fisik lainnya; kualitas air perairan umum yang terdiri dari parameter fisika kimiawi air; biologi perairan danau yang terdiri dari tumbuhan air, struktur komunitas ikan, populasi ikan, plankton, benthos; habitat tempat ikan memijah (spawning ground), mencari makan (feeding ground), tempat berlindung dari kondisi buruk (refuge site), maupun tempat asuh anak (nursery ground); serta faktor-faktor yang mengganggu terhadap sumberdaya danau. Penebaran Ikan (stocking dan restocking) Teknik pengelolaan populasi untuk meningkatkan hasil tangkapan dapat dilakukan melalui peningkatan stok (stok enhancement) melalui penebaran ikan (stocking dan restocking), dilakukan jika produksi ikan masih dibawah potensi danau. Identifikasi penyebab produksi ikan yang rendah dan upaya menemukan penyebab tersebut perlu dilakukan, sebelum penebaran ikan dilaksanakan. Penebaran ikan tidak akan berguna jika kegiatan tersebut tidak memberikan dampak positif (peningkatan) terhadap hasil tangkapan ikan dan menopang populasi ikan secara berkelanjutan. Penebaran ikan sebaiknya dilakukan, jika telah ada perbaikan habitat ikan bersangkutan terlebih dahulu, sehingga ikan yang ditebar dapat berkembang dengan baik untuk kemudian meningkatkan stok ikan. Disamping penebaran dengan ikan asli (restocking), perlu dilakukan penebaran ikan baru (stocking) untuk mengisi relung yang masih kosong.

Pembenihan Ikan Yang Sesuai Untuk Ditebar Untuk kesinambungan budidaya dan penebaran ikan diperlukan adanya ketersediaan benih ikan, menjamin ketersediaan benih ikan dapat memberdayakan balai benih ikan (BBI) yang sudah ada atau dengan membangun mini hatchery baru yang pengelolaannya dilakukan oleh masyarakat setempat atau dapat juga dengan mengembangkan unit pembenihan rakyat (UPR) yang ada di masyarakat. Penetapan Daerah Larangan/Pemanfaatan Terbatas. Dimaksudkan sebagai kawasan danau yang mempunyai bagian tertentu yang ikannya tidak boleh ditangkap oleh siapapun, dengan cara apapun pada waktu kapanpun, serta dikelola dengan tujuan untuk mensejahterakan nelayan melalui peningkatan dan pelestarian produksi ikan, bertujuan untuk memperkecil porsi stok yang mengalami kematian sebagai akibat tidak langsung kegiatan penangkapan, menjamin ketersediaan induk dan bibit ikan yang tumbuh alamiah, mempertahankan keanekaragaman hayati sumberdaya ikan dan meningkatkan serta melestarikan produksi. Bagian danau yang karena fungsinya perlu dilindungi dari kegiatan lainnya, misalnya daerah yang berdasarkan data dan informasi aspek bio-ekologi merupakan habitat pemijahan ikan, habitat pengasuh anakan ikan, dan habitat lainnya perlu ditetapkan sebagai daerah larangan atau dimanfaatkan secara terbatas, harus dilindungi karena fungsinya sebagai pemasok benih ikan secara alami dan diatur dalam Perda dengan menyebutkan lokasi dan sangsi hukum terhadap

pelanggaran yang terjadi. Secara fisik daerah terpilih harus jelas batasnya, misalnya dengan pemasangan rambu-rambu dan papan pemberitahuan tentang sangsi hukumnya. Kewenangan pengelolaan dan pengawasan daerah larangan (pemanfaatan terbatas) maupun daerah pemijahan tersebut sebaiknya didelegasikan kepada masyarakat lindu, melalui ketua kelompok nelayan atau pemuka masyarakat/adat setempat. Cara ini secara tidak langsung sebagai upaya pemerintah dalam menumbuhkan rasa memiliki dan peduli masyarakat terhadap kelestarian sumberdaya ikan. Pemerintah dan stakeholders lainnya diharapkan hanya bertindak sebagai Pembina dan evaluator. Regulasi Antara lain mencakup (1) Pengaturan alat dan cara penangkapan ikan, misalnya penentuan ukuran mata jaring minimal yang boleh dipakai. Pengelolaan dilakukan secara kemitraan antara pemerintah dan kelompok masyarakat, penggaturannya direncanakan secara bersama-sama, (2) Penetapan daerah dan musim larangan penangkapan ikan, yang bertujuan untuk memberi kesempatan ikan tumbuh dan berkembang biak. Penetapan ini secara berkala perlu ditinjau ketepatannya sebab hal ini ada kaitan antara faktor biologi dan lingkungan danau, (3) Larangan penggunaan alat tangkap yang bisa mengancam kelestarian sumberdaya ikan, misalnya penggunaan racun, bahan peledak dan aliran listrik (strum) dan sebagainya. Cara penangkapan semacam ini harus diawasi secara ketat, dan bagi yang menggunakannya harus diberi sangsi yang berat agar jera. Pengawasan melibatkan semua pemuka adat/masyarakat setempat, (4) Pengaturan kegiatan penangkapan (jumlah nelayan dan unit alat tangkap), dilakukan secara hatihati karena terkait dengan kebutuhan hidup. Apabila pemerintah bermaksud mengendalikan upaya penangkapan maka sebaiknya diciptakan kegiatan usaha baru dan membina nelayan agar mau beralih menjadi pembudidaya melalui sistem budidaya ikan, misalnya keramba jaring apung (KJA). Penerapan regulasi sudah tidak terlalu sulit karena melalui kearifan lokal yaitu nelayan yang menangkap di danau lindu diatur oleh aturan adat, seperti tidak boleh menangkap ikan yang masih kecil, dan hanya diperbolehkan menebarkan paling banyak 10 jala. Masyarakat lindu sudah sangat arif menjaga agar ikan di danau tidak habis, misalnya jika hasil tangkapan ikan menurun, diberlakukan aturan yang disebut ombo yaitu berhenti menangkap ikan sementara, hingga stok ikan kembali bertambah. Tradisi aombo biasanya diberlakukan dua kali dalam setahun (bulan Mei dan Oktober). Aturan adat yang tegas ini bertujuan untuk menjaga kelestarian danau beserta kekayaan alamnya. Siapapun yang melanggar akan disanksi sesuai kesepakatan atau didenda satu ekor kerbau. Kearifan lokal lain yang ada ditatanan kehidupan masyarakat lindu yaitu kegiatan adat Kapotia Nulibu Ada atau permusyawaratan adat yang menghadirkan para tetua adat, pokok bahasannya adalah bagaimana menjaga lingkungan dengan menegakkan hukum adat yang telah berlaku turun-temurun. Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat Lokal Melalui Kelembagaan Kelompok Pengelolaan danau memerlukan masukan unsur iptek, sehingga masyarakat lindu harus bersikap terbuka terhadap input iptek, sedangkan dari aspek penggunaan sumberdaya danau yang ada, maka pengelolaannya sebaiknya dilaksanakan secara bersama atau co-manajemen karena warga di sekitar danau sangat menggantungkan hidupnya dari potensi danau baik sebagai nelayan, pembudidaya maupun untuk kepentingan lainnya. Peningkatan partisipasi masyarakat sebaiknya dilakukan dengan cara co-management yaitu salah satu bentuk pengelolaan yang terbukti efektif untuk sumberdaya yang bersifat common proverty yang pemanfaatannya open acces. Co-management dimungkinkan secara adaptif (adaptif co-

management) untuk dapat menyeimbangkan kepentingan masyarakat sebagai pengguna dengan pemerintah dan atau lembaga lain sebagai pengelola. Pengelolaan adaptif adalah suatu sistem pengelolaan yang selalu mengalami perubahan/perbaikan dan bersifat fleksibel terhadap perbaikan-perbaikan berdasarkan pengalaman pengelolaan yang telah dilakukan sebelumnya. Prinsip co-management adalah suatu sistem pengelolaan yang dilakukan secara bersama-sama oleh segenap stekeholders (pemerintah, pengusaha, dan masyarakat terkait) dalam pemanfaatan sumberdaya danau lindu agar bersama-sama mendapatkan manfaat maksimal dengan tetap melestarikan keberadaan danau. Upaya pelestarian sumberdaya danau lindu harus dilaksanakan dengan pola kerjasama antara masyarakat. Balai Benih Ikan (BBI)/Unit Pembenihan Rakyat (UPR), perguruan tinggi, LSM, maupun pihak terkait lainnya sehingga terbentuk suatu kelembagaan pengelola danau secara terpadu, harmonis, dan lestari. Dalam pembentukan kelembagaan tersebut perlu ditetapkan secara jelas peran aktif dari masingmasing pelaku/pemanfaat (stakeholders). Partisifasi aktif nelayan, pembudidya, masyarakat harus terus ditumbuh kembangkan sebagai upaya mendidik agar ada kesungguhan dalam mentaati peraturan yang telah ditetapkan, mempunyai rasa memiliki dan kesadaran mengenai pentingnya memelihara kelestarian lingkungan dan sumberdaya danau. Monitoring dan Evaluasi (Monev) Untuk menilai suatu kegiatan perlu dilakukan monitoring dan mengevaluasinya, pelaksanaannya harus melibatkan masyarakat/nelayan setempat, evaluasi harus mengkaji efisiensi dan keuntungan jangka panjang serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memberikan konstribusi terhadap keberhasilan dan kegagalan kegiatan pengelolaan. Misalnya untuk mengetahui dampak penebaran ikan terhadap perkembangan populasi, produksi dan hasil tangkapan dievaluasi pada 4 5 tahun kedepan, sedangkan monitoring perkembangannya dapat dilakukan setiap tahun. Kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengetahui jenis ikan, ukuran ikan dan berapa banyak hasil tangkapan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, diharapkan ikan yang ditebar dapat diketahui pertumbuhan dan perkembangannya, sedangkan penebaran ikan dengan tujuan menghilangkan gulma, maka dampak penebaran harus dapat dilihat dengan berkurangnya gulma di danau tersebut. Penutup Desember 2009 festival danau lindu sudah dimulakan, bertujuan memperkenalkan berbagai kebudayaan dan keindahan danau lindu, menarik pundi pundi PAD dari wisatawan serta menggerakkan ekonomi masyarakat lindu. Kegiatan festival diikuti dengan penebaran benih nila YY supermale 50 ribu ekor, sebelumnya telah ditebar ikan mas dan nila gift masing masing 50 ribu ekor. Rencana aksi lain juga akan dilakukan yaitu pembangunan balai benih ikan (BBI), pembangunan tempat pendaratan ikan (TPI), selanjutnya budidaya dengan KJA akan menyusul. Danau Lindu harus dikelola secara bijak agar dapat menjadi investasi masyarakat lindu dimasa depan, untuk itu perlu disusun Rencana Aksi Tata Kelola Danau Lindu. Tentu banyak hal yang harus diperhatikan untuk menyempurnakan penyusunan rencana tersebut, tulisan ini hanya sebagian kecil dari banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Misalnya dukungan dari sektor pertanian, penanganan limbah domestik, penetapan batas zonasi kawasan wisata yang boleh dibangun, mungkin juga pembuatan tanggul pinggir danau, zona green belt atau ecotourism, pengerukan sedimen danau untuk pembuatan batu bata atau pupuk organik, prasarana jalan menuju kawasan lindu. Semuanya untuk pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lindu dan sekitarnya.

*) Penulis adalah Kasie Kesehatan Ikan dan Lingkungan Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Tengah