P. 1
sistem saraf

sistem saraf

|Views: 116|Likes:
Dipublikasikan oleh serigala_menari23

More info:

Published by: serigala_menari23 on Nov 08, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/19/2013

pdf

text

original

Nervous system

M.Azhari

Introduction
Physiology is the study of the functions of the body, or how the body works Level of organization in the body various atoms and molecules make up the body -Cellular level -Tissue level -Organ level -Body system level -Organism level

HOMEOSTASIS homo & statis
Body systems maintain homeostasis, adynamic steady state in the internal environment. (Sherwood L) keadaan yang konstan dari cairan ekstra selular yang dipertahankan oleh proses Fisiologis yang kompleks dan terpadu, agar sel dapat berfungsi dengan optimal . (Cannon W B)

Misal : apabila suhu cairan interstisial tidak konstan / tinggi, maka sistem didalam tubuh akan berusaha menormalkannya kekeadaan semula. seperti : pembuangan panas melalui urine dan keringat. Kalau hal ini tidak bisa dilakukan tubuh, maka tubuh dikatakan dalam keadaan sakit ( pathofisiologi ). Jika semuanya dalam keadaan normal, maka tubuh dikatakan berada dalam keadaan sehat ( fisiologis ).

Control system
Sistem saraf, bersama sistem endokrin kompleks & terpadu mengatur fungsi tubuh keadaan yang fisiologis. ► Sistem saraf mengatur kegiatan tubuh secara cepat, seperti: -Kontraksi otot, postural,berpikir dan judgement. -Pengaturan organ viseral, instinctive dan tingkah laku -Sensorik organ, refleks, proprioseptik, cardiovascular and fluid system. -Pengaturan sekresi kelenjar endokrin metabolik tubuh tumbuh kembang.

Organization of nervous system Central nervous system & Peripheral nervous system .

Gbr . Susunan saraf .

100 miliar neuron & 1triliun sel pendukung ( glia ). ▪ spinal cord. . panjang 43-45 cm. berat : 35-40 gr.Susunan syaraf pusat ▪ otak ( brain ) → 3 pounds.

▪ susunan syaraf otonom.para simpatis & enteric n. .simpatis . . menerima informasi dari syaraf perifer ( afferent ) kesusunan syaraf pusat dan diproyeksikan (efferent) ketarget organ (otot rangka). system.Susunan syaraf perifer ▪ susunan syaraf somatik.

7. away from or motor : membawa informasi dari susunan syaraf pusat ke otot rangka.Fungsi susunan syaraf perifer 1. toward + ferre. 6. : menghubungkan organ dalam dgn susunan syaraf pusat. nuntius. 3. conector neuron L. 2. ad. ex. to bring: membawa informasi ke susunan syaraf pusat dari reseptor. Interneuron association neuron. : menghubungkan kulit atau otot dgn susunan syaraf pusat. ad. 5. 4. Motor (efferent ) L. messenger: terletak antara CNS dan peripheral nervous system membawa impuls dari sensorik neuron ke motor neuron . ad. Sensory ( afferent ) L. Syaraf spinal Somatic Visceral : menghubungkan spinal cord dgn sistim-sistim diperifer. Syaraf kranial : menghubungkan antara otak dgn sistim-sistim diperifer.

Terdiri dari 2 ( dua ) bahagian yaitu hemisphere Kiri & kanan yang dihubungkan oleh: corpus callosum. en + kephale. bisa dilihat pada gbr berikut. .Korteks serebral Berasal dari bahasa Latin " bark “ ( of a tree ) Tebalnya 2 – 6 mm. head Terdiri dari 4(empat) lobus (lobes). Ad. Nama lain korteks serebral encephalon Gr.

Brain lobes .

Fungsi umum lobus (lobes): Frontal lobe (lobus frontalis) berbicara. merencanakan. memori. emosi. berfikir dan keputusan Temporal lobe (lobus temporalis) Proses pendengaran. instinctive Parietal lobe (lobus parietalis) Proses sensori (body sensations) Occipital lobe (lobus occipitalis) Proses penglihatan (vision) dan interpretasi penglihatan . bahasa. motoris.

spt pemetaan bagian2 central cortex yang terlibat fungsi sensasi ( sensory receiving areas ). SI juga proyeksi ke S II. . .Area sensasi somatik I ( S I ) dipostcentral gyrus.Area sensasi somatik II didinding fissura silvii. neuron – neuron yg membawa informasi sensasi proyeksi secara specifik kedua area sensasi somatik dicerebral cortex yaitu : .Representasi sensasi dicerebral cortex : Dengan teknik 2 positron emission tomography (pet) dan magnetic resonance imaging ( MRI ) berbagai fungsi cerebral cortex dapat diketahui. Dari nukleus 2 sensory spesifik di thalamus.

2 dan 3. Hal ini ditunjukkan pada gbr. Luas daerah representasi punggung dan bagian belakang di postcentral gyrus adalah kecil manakala luas daerah representasi (cortical receiving areas) dari sensasi dijari tangan dan bagian mulut yang berhubungan dgn berbicara adalah besar. I sesuai degan area-area Brodmann 1. berikut. Organisasi topografis (spatial organization) dari serabut – serabut syaraf yg berasal dari berbagai bagian tubuh spt tungkai dan paha dibagian puncak dan kepala dikaki gyrus (lihat gbr homonkulus). .S. Luas daerah representasi (cortikal receiving areas) juga sebanding dgn jumlah reseptor didaerah itu .

Gbr. Cortical receiving area .

Gbr. homonkulus .

Dengan elektroda perangsang yg lebih halus bisa diperoleh sensasi murni dari sentuhan .2 dan 3 = S I : Stimulasi pada SI. Sel – sel pada kolom tertentu semuanya diaktivasi. sensasi pergerakan. . Sel – sel didalam gyrus postcentralis tersusun dalam kolom vertikal. Serabut afferen yg berasal dari bagian tubuh tertentu dan semua sel-sel memberikan respon pada modalitas sensorik yg sama. titik demi titik pada SI. perasaan dicucuk. sensasi di proyeksikan ke permukaan tubuh yg sesuai ( lokalisasi yg jelas ). Sensasi kebas – kebas . panas dingin dan sakit .Fungsi area 1.

. Tapi tidak berpengaruh pd proses data sensorik di S I. Defisit proses sensorik di S II. Defisit sensasi posisi dan kemampuan diskriminasi ukuran dan bentuk. Pengaruh lesi cerebral cortex : Ablasi S I pada binatang percobaan menimbulkan : a. b. Ablasi S II: defisit dalam proses belajar yg berhubungan diskriminasi sentuhan dan tekanan. Representasi bagian bagian tubuh tdk serupa jelasnya spt di S I ( gyrus postcentralis ).Lokasi S II ( area sensasi somatik II ) didinding atas fissura sylvii. Kepala direpresentasikan pd ujung inferior dari gyrus postcentralis dan kaki pd bagian bawah fissura sylvii.

Proses sensorik di S I diikuti proses sensorik di S II . . sakit paling sedikit terpengaruh Pada masa recovery : sensasi pertama baik. Pada binatang percobaan dan manusia lesi cerebral cortex tidak meng hilangkan sensasi somatik: . diikuti suhu dan akhirnya propriosepsi dan sentuhan halus. -Sensasi suhu sedikit terpengaruh.Propriosepsi dan seething halus paling banyak terpengaruh.

lonjong. lembut. -Permukaan licin atau kasar. Data sensorik kompleks : -bentuk bulat. sedang dan kuat. -keras. -Lokalisasi dimana. dst. ditambah pengalaman memberikan “ identifikasi “.Proses sensorik ( sensory processing ) menghasilkan data sensorik. dst. hal ini terjadi disusunan syaraf pusat ( CNS ). . misalnya data sensorik sederhana : -Sentuhan lemah.

2 dan3 ( S I = gyrus postcentralis ) mempunyai pro – yeksi ( hubungan syaraf ) dengan : a.2 dan3 ) menimbulkan abnormalitas yang kompleks dari orientasi ruang pd bagian tubuh yg kontra lateral.S II = area somatik II. b. Area 1.Ablasi area 5-7 ( area assosiasi dari area 1. .Area 5-7.

Lintasan syarafnya adalah sistim Lemniscus dan anterolateral.Sensasi sentuhan.( tidak berselaput mielin ). Pacinian Corpuscle. lambat beradaptasi Merkel disk. informasi sen tuhan disalurkan ke SSP melaluiserabut syaraf gol.c. Meissner’s corpuscle. Ruffini’s ends. Serabut syaraf yg mengelilingi folicle rambut. Reseptors : cepat beradaptasi .

-Jlh area yg peka sentuhan dikulit berkurang. -Gangguan lokalisasi sedikit. -Lokalisasi terganggu. ambang atau threshold naik. . menuju thalamus melalui lemniscus medialis.Lesi pada daerah columna dorsalis : Sensasi vibrasi dan propriosepsi berkurang. lesi pada daerah tractus spinothalamicus anterior : -Defisit sensasi sentuhan sedikit. Propriosepsi: informasi propriosepsi ditransmisikan dari spinal cord: a.

spindel otot ( muscle spindle ). golgi tendon organ didalam dan sekitar persendian. .2 dan 3 = S I).Dari thalamus ke cerebral cortex ( area 1. Dan dari S I proyeksi ke S II dan area 5-7. b. informasi a dan b mencapai kesadaran. c.Pacinian corpuscles. . Menuju thalamus melalui sistem anterolateral ke S I. Menuju cerebellum melalui tractus spino cerebellaris anterior dan posterior informasi ini tdk mencapai kesadaran. . ujung – ujung syaraf. dst. Reseptor :.reseptor sentuh dikulit.

reseptor suhu dingin: ujung serabut syaraf A delta & serabut syaraf gol. C.C. . respons pd suhu 30 0 – 45 0 C.Informasi ini diproses di cerebral cortex memberikan gambaran lengkap dari posisi tubuh diruangan ( body image ). respons pd suhu 10 0 – 38 0 C. sensasi suhu. reseptor suhu panas: ujung serabut syaraf gol. lintasan syaraf untuk informasi suhu: tractus spino thalimikus ke gyrus postcentralis.

Dgn cara seperti itu diketahui berbagai daerah motorik di cerebral cortex sebagai berikut : a. . Gyrus precentralis ( area 4 = M I ).Area – area motorik di cerebral cortex : Jika pada stimulasi listrik memberikan pergerakan / kontraksi otot skelet maka daerah itu disebut area motorik. gambar berikut menunjukan aspek medial dan lateral dari cerebral cortex dimana area 4 dan area motorik lainnya dapat dilihat.

area motorik. .Gbr.

Jika gambar berbagai bagian tubuh dipetakan pada potongan korona dari gyrus precentralis akan diperoleh homunculus motoric. .

Tungkai / kaki direpresentasikan dipuncak gyrus dan muka di bagian bawah. vokalisasi dll ) representasinya di area 4 luas. bersama area 4 berperan pd pergerakan pelik dan perencanaan. Pergerakan halus / pelik ( jari tangan. Bagian – bagian tubuh sebelah kiri digerakan oleh area 4 sebelah kanan kecuali daerah muka yg representasinya bilateral. d. mimik.Lobus parietalis posterior ( area 5-7 ) proyeksi area premotorik .Cortex premotorik ( area 6 ) proyeksi ke area 4 dan batang otak yg berhubungan dgn postur. c. . fungsinya tidak begitu jelas. Area ini proyeksi ke area 4. b. pd bagian medial dari hemisphere diatas sulcus cingulum.Area motorik supplementer. Lesi area sensorik somatik akan menimbulkan gangguan pergerakan ( urutan pergerakan ).

Lesi tractus corticospinalis anterior : gangguan keseimbangan. .Peranan tractus corticospinalis pada manusia : Inisiasi pergerakan halus ( fine / skilled voluntary movement ). Lesi tractus corticospinalis lateralis : hilang kesanggupan meme gang benda diantara 2 ( dua ) jari – jari tangan ( hilang kontrol otot . berjalan. memanjat.otot distal ).

brachium pontis ( middle peduncle ) c. 1. brachium conjunctivum ( superior peduncle ) b. corpus restiforme ( inferior peduncle ) .Cerebellum dihubungkan dgn batang otak ( lihat gambar berikut ) a.Sistem koordinasi pergerakan ( oleh cerebellum ).

.

c.Lobus posterior. ) a. b.Lobus flocculo nodularis. Lobus anterior. Pembagian anatomis ( lihat pada gbr berikut. .2.

cerebellum .Gbr.

. . suatu koordinasi.hubungan vermis ke batang otak untuk kontrol otot –otot axial.menerima copy rencana pergerakan motorik dan membanding – kan rencana pergerakan dan pergerakan yg sedang berlang – sung.3. hubungan dgn aparat vestibuler untuk keseimbangan. r ).hubungan intermediate dgn batang otak untuk kontrol otot – otot distal. vestibulo ocular reflex ( v. . .menerima informasi propriosepsi. Pembagian fungsional (lihat gbr). a. Vestibulocerebellum = lobus flocculonodularis. o. . Spinocerebellum ( vermis + Intermediate ). b.

.

Selanjutnya. . pada gbr.c. Neocerebellum = cerebrocerebellum: Hubungan timbal balik dgn cerebral cortex ( cortex motorik ) untuk peRencanaan / program pergerakan yg disengaja dan bertujuan ( fine / skillled movements ). ada 2 masukan serabut afferen yg utama kecerebellum: a. menunjukan hubungan syaraf didalam cerebellum. berakhir pada dendrit dari sel Purkinje dan pengaruhnya adalah exitasi yg kuat. 4. masukan serabut “ climbing “yg berasal dari nukleus olivari inferior yg menerima masukan informasi propriosepsi dari seluruh – tubuh. Organisasi didalam cerebellum.

nukleus emboliformes dan nukleus fastigeus ) . Masukan dari serabut mossy ini adalah exitasi yg lemah pd banyak Sel – sel Purkinje melalui sel granul ( granul cells ). Masukan serabut afferen ( mossy fibres ) membawa informasi propriosepsi dari tubuh + masukan dari cerebral cortex. Pada gilirannya Sel – sel Purkinje ini menginhibisi sel – sel didalam deep nuclei ( nu Kleus – nukleus dibagian dalam yg terdiri dari nukleus dentatus. nu Kleus globosus.b.

hubungan saraf dalam cerebellum.Gbr. .

mis : .intention tremor ( tremor pd waktu bergerak ). .dysmetria ( past pointing ). . .adiadochokinesia ( tdk dapat melakukan pergerakan yg berten – tangan dgn cepat.jalan spt org mabuk. Lesi cerebellum ( Vermis ). Hemicerebellectomi menimbulkan gangguan ipsilateral : hypotoni.rebound phenomena ( tidak dapat menghentikan pergerakan dgn segera ).extensi – flexi.decomposition of movement. . .gagap bicara ( scanning speech ).5. dll. .pronasi – supinasi. . Ataxia : . .

Aktifitas ini yg mempengaruhi ( tonus / kontraksi ) otot skelet dan seterusnya menentukan sikap tubuh dan pergerakan.Sebagian lagi melalui interneuron. Kegiatan / aktifitas neuron – neuron motorik spinal di cornu anterior dan neuron – neuron motorik di nukleus – nukleus syaraf otak (cranial nerve) III. b. cerebellum.Sebagian langsung pd neuron motorik. dan XII dipengaruhi oleh aktifitas centra yg lebih tinggi yg berada di cerebral cortex. VI.Sebagian melalui sistem efferen gamma. mesencephalon. IV. c. X. XI. Pengaruh ini : a. V. VII.PENGATURAN SIKAP TUBUH DAN PERGERAKAN ( Control of posture and movement ). IX. medulla oblongata dan spinal cord. .

Pergerakan yg disengaja dan bertujuan ( fine voluntary movement ) fungsi ini diselenggarakan oleh sistem corticospinalis dan sistem cortico bulbaris.Penyesuaian sikap tubuh ( posture ) supaya pegerakan baik dilakukan oleh sistem regulasi postur. b.Masukan – masukan pd neuron motorik menyelenggarakan 3 fungsi utama a. Perencanaan dan pelaksanaan pergerakan dapat dilihat pada Gbr berikut. .Pergerakan persis dan terkoordinasi cerebellum. c.

.1.Gbr. 12.

Informasi / perintah dikirim serentak ke premotor / motor cortex. dihasilkan diarea associasi cerebral cortex. ganglia basalis ( basal ganglia ) dan neocerebellum ( lateral ).a. . b. Pelaksana pergerakan perintah dikirim oleh premotor / motor cortex serentak ke neuron motorik spinal / homolog dan spinocerebellum untuk menggerakan otot skelet . Dijumpai hubungan dua arah antara spinocerebellum dan pergerakan serta antara premotor / motor cortex dan pergerakan. Hubungan timbal balik ( dua arah ) antara premotor / motor cortex dan ganglia basalis / neocerebellum terjadi untuk menetapkan perintah. Perencanaan pergerakan Ide pergerakan.

Pergerakan yg terjadi memberikan perobahan masukan sensorik dari otot. Misal pada manusia . untuk memperoleh gambaran yg lebih jelas tentang fungsi motorik SSP manusia lebih berguna dilakukan : . persendian dan kulit dikirim ke premotor / motor cortex dan spinocerebellum. Encephalisasi : Peran cerebral cortex relatif besar pada berbagai fungsi SSP. tendon. Spinocerebellum proyeksi ke batang otak dan dari batang otak memPengaruhi pergerakan ( postur dan koordinasi pergerakan ). Proyeksi kebatang otak ke neuron motorik spinal melalui : Tractus rubro spinalis Tractus reticulo spinalis Tractus tecto spinalis Tractus vestibulo spinalis.

diutamakan pengaturan 0tot-otot Distal: . tractus vestibulospinalis. . tractus corticospinalis anterior / ventralis dan tractus tectospinalis.Sistem corticospinalis dan corticobulbaris.otot – otot bagian proximal dari anggota gerak. Otot – otot bagian distal berfungsi untuk pergerakan yg disengaja dan Bertujuan ( fine skilled voluntary movements ) 1. Otot – otot ini terutama berfungsi untuk postur / penyesuaian postur. a. Otot – otot distal terdiri dari : otot – otot bagian distal dari anggota gerak.-Observasi pathologis / klinis -percobaan laboratorium dari primata. mengatur otot – otot axial ( postur dan pergerakan kasar ). tractus reticulospinalis.otot – otot badan ( trunk ) .

Sistem corticospinalis dan corticobulbaris ini ditunjukkan pada Gbr Berikutnya. .b. Tractus corticospinalis lateralis dan tractus rubrospinalis mengatur otot –otot distal ( fine / skilled voluntary movements ).

.

Area – area motorik di cerebral cortex : Jika pada stimulasi listrik memberikan pergerakan / kontraksi otot skelet maka daerah itu disebut area motorik. Dgn cara seperti itu diketahui berbagai daerah motorik di cerebral cortex sebagai berikut : Gyrus precentralis ( area 4 = M I ). gambar berikut menunjukan aspek medial dan lateral dari cerebral cortex dimana area 4 dan area motorik lainnya dapat dilihat.

Gbr.area motorik.

Jika gambar berbagai bagian tubuh dipetakan pada potongan korona dari gyrus precentralis akan diperoleh homunculus motorik. Hal ini bisa dilihat pada gbr berikut.

Homokulus motorik .

mimik.Tungkai / kaki direpresentasikan dipuncak gyrus dan muka di bagian bawah.7 ) proyeksi area premotorik. fungsinya tidak begitu jelas. Pergerakan halus / pelik ( jari tangan. Bagian – bagian tubuh sebelah kiri digerakan oleh area 4 sebelah kanan kecuali daerah muka yg representasinya bilateral. Area ini proyeksi ke area 4. d. C. Area motorik supplementer.Cortex premotorik ( area 6 ) proyeksi ke area 4 dan batang otak yg berhubungan dgn postur. . bersama area 4 berperan pd pergerakan pelik dan perencanaan. Lesi area sensorik somatik akan menimbulkan gangguan – pergerakan ( urutan pergerakan ). vokalisasi dll ) representasinya di area 4yang luas. b. pd bagian medial dari hemisphere dia tas sulcus cingulum. Lobus parietalis posterior ( area 5.

Peranan tractus corticospinalis pada manusia : Inisiasi pergerakan halus ( fine / skilled voluntary movement ). . berjalan. Lesi tractus corticospinalis anterior : gangguan keseimbangan. Lesi tractus corticospinalis lateralis : hilang kesanggupan meme gang benda diantara 2 ( dua ) jari – jari tangan ( hilang kontrol otot otot distal ). memanjat.

Postur normal : berdiri tegak. b. .Batang otak ( brain stem ).Spinal cord ( medulla spinalis ).Cerbral cortex. dan transient / sebentar + pergerakan sebentar ).2. Manusia bekerja ( voluntary activity ) memerlukan latar belakang postur yg stabil. c. setimbang. Mekanik – mekanik regulasi postur diintegrasikan pd berbagai tinggkatan : a. tungkai / lengan kebawah. Sistem-sistem regulasi postur (poture regulating systems). Diperlukan penyesuaian postur melalui reflex postur statis Kontraksi otot terus menerus dan reflex postur phasic ( dinamic. kepala keatas.

Penyesuaian postur ini melibatkan tractus – tractus motorik spt : Tractus tectospinalis. dan variasi pd ambang perangsangan “ refleks regang “ yg dipe Ngaruhi oleh : Excitabilitas neuron motorik. Perobahan letupan / kegiatan efferen gamma. tractus vestibulospinalis. Integrasi motorik terjadi pd berbagai tingkatan ( level ) spt dapat dilihat pada tabel . dll. tractus reticulospinalis. berikut. .

.

Potensial membran istirahat dari neuron motorik spinal naik 2 – 6 mv. Berhenti impuls – impuls excitasi dari centra yg lebih tinggi. manusia 2 mgg s / d 3 bln. .Integrasi spinal. Durasi shock spinal : kodok 2 – 6 menit. monyet beberapa hari. kucing 1 – 2 jam. Transeksi as neural ( neural axis ) pada spinal cord ( medulla spinalis ) spinal shock : Semua reflex spinal hilang.

stimulus yg Adekwat. Tabel berikut memberikan gambaran reflex – reflex postur yg utama. . pusat reflex ( pusat integrasi ) dan effector yg memberikanRespons.Pusat integrasi reflex – reflex postur Reflex postur seperti reflex lainnya mempunyai receptor.

.

. Transeksi ( pemotongan poros syaraf / neural axis ) menyebabkan bagian SSP dibawah pemotongan bebas dari pengaruh centra yg lebih tinggi.Integrasi didalam medulla oblongata / pons ( komponen medulla oblongata dan pons dalam postur ). Mekanisme: tonus otot skelet ditentukan oleh kegiatan / aktivitas reflex regang ( stretch reflex ). Transeksi poros syaraf ( neural axis diantara colliculus superior dan colliculus inferior menimbulkan “ rigiditas decerebrasi “ ( pada kucing ): rigiditas / spasticitas otot – otot terutama extensors ( otot – otot anti gravity ) tdk dijumpai shock spinal.

Daerah – daerah di otak yang memfasilitasi dan menginhibisi reflex regang ditunjukan pada gambar berikutnya . Kegiatan reflex regang bertambah menyebabkan hipertoni otot skelet.Kegiatan reflex regang berkurang menyebabkan hipotoni otot skelet.

.

Pada rigiditas decerebrasi transeksi as neural dilakukan diantara : Colliculum superior dan inferior yang menyebabkan 2 (dua) dari 3 (tiga) daerah inhibisi reflex regang hilang. Akibatnya aktifitas reflex regang berlebihan dan menyebabkan rigiditas. .

Tidak dijumpai respons memperbaiki posisi tubuh ( rightting reflexes ).Decerebrasi menyebabkan masih tertinggal mekanisme – mekanisme reflex postur statis yg tonik untuk menopang kucing melawan gravitasi ( keempat extremitas extensi ). Reflex – reflex labyrinthin tonik ( tonic labyrinthin reflexes ). pada binatang yg mengalami rigiditas decerebasi ( decerebrate animal) pola rigiditas pd anggota gerak bervariasi dgn posisi binatang tersebut. Selain reflex postur yang menimbulkan Postur berdiri yg normal yg diatur oleh medulla / pons dijumpai 2 reflex. .reflex lainnya yg diatur oleh medulla / pons : a.

Respon ini distimula si oleh receptor proprioceptor di bagian atas leher. jika kucing mengalami decerebrasi.3. Reflex – reflex leher tonic ( tonic neck reflexes ).Perobahan rigiditas pd reflex – reflex tonic labyrinthin distimulasi oleh gravitas pd ogan – organ otolith dan pengaruhnya disalurkan melalui Tractus vestibulospinalis. .Integrasi postur dimesencephalon ( mid brain animal ). berjalan dan memperbaiki posisi tubuh. rigiditas extensor. jika kepala digerakkan keatas maka tungkai belakang flexi dan jika kepala digerakkan kebawah kaki depan flexi. kucing dapat berdiri. transeksi poros syaraf ( neural axis ) pada batas atas mesencephalon ( mid brain animal ) pd kucing. b. kepalanya digerakkan kesamping maka anggota gerak mengalami extensi dipihak kepala. 2.

berdiri dan kepala keatas / kedepan. . . 2.hopping reaction. cerebellum dan spinal cord intact ( utuh ) rigiditas dekortikasi sebab area cerebral cortex yg melakukan inhibisi pada letupan gamma – efferen hilang . reflex –reflex postur yg pusat integrasinya di cerebral cortex terdiri dari :. rigiditas dekortikasi ditunjukkan gbr berikut. Hal ini menyebabkan fasilitasi reflex – reflex regang yg akan menimbulkan rigiditas otot –otot skelet. ganglia basalis.4.placing reaction. .Reflex – reflex memperbaiki posisi tubuh ( righting reflexes ).optical righting reflex. batang otak. Integrasi postur di cerebral cortex . gunanya untuk mempertahankan posisi normal. pada binatang yg mengalami decortikasi ( removal of cerebral cortex ) thalamus / hypothalamus.

gbr rigiditas dekortikasi .

. frontal section ) dapat dilihat bagian – bagian dari ganglia basalis. horizontal section.3. Ganglia basalis ( the basal ganglia ). gambar ( lateral view.

Pada tabel berikut ditunjukkan bagian – bagian ganglia basalis yang membentuk striatum dan nukleus lenticularis. .

Striatum gabaergic dopaminergic Substantia nigra .Hubungan timbal balik striatum – substantia nigra.Hubungan antar bagian ganglia basalis: .1. b. a.3. Hubungan syaraf.Cerebral cortex striatum globus pallidus thalamus Hubungan syaraf ini adalah satu lingkaran tertutup.

.chorea dan penyakit huntington.athetosis. . 3. c. hubungan nukleus subthalamikus dan globus pallidus.Ballism / hemiballism. dyskinesia tdd : . hyperkinetik tdd : . . penyakit – penyakit pd manusia yg disebabkan kerusakan ganglia basalis.2. lesi ganglia basalis dyskinesia..hypokinetik.Hubungan Striatum dan Globus pallidus. Hubungan globus pallidus dan thalamus dan thalamus ke cerebral cortex. .hyperkinetik. - Hubungan globus pallidus dan nukleus subthalamikus.

Hypokinetik + hyperkinetik Paralysis agitans ( Parkinson’s disease ): Akinesis / bradykinesis. 3. b. a. studi laboratorium : sebelum suatu pergerakan terjadi letupan – ( discharges ) ganglia basalis.Wajah tanpa ekspresi. Rigiditas / tremor ( resting tremor ). . Fungsi ganglia basalis perencanaan / program pergerakan. .3. lesi ganglia basalis menimbulkan penyakit ( paling nyata pada – daerah subtansia nigra ).Fungsi ganglia basalis.

hubungan syaraf – effector ( effector = otot. b.REFLEKS (REFLEX) Kegiatan syaraf terintergrasi / proses yg berlangsung pada lengkung refleks ( reflex arc ). Adalah suatu respon motorik yang terjadi tanpa disadari terhadap suatu rangsang sensorik. e. reseptor ( afferent). neuron afferent sebagai lintasan afferent. neuron efferent sebagai lintasan efferent. c. Lengkung refleks ( reflex arc ) terdiri dari : a. berikut Definisi : . kelenjar eksokrin. pusat refleks ( sinaps didalam susunan syaraf pusat ) CNS (medulla spinalis) d. dll). bagian – bagian dari lengkung refleks dapat dilihat pada Gbr.

. Lengkung refleks.Gbr.

Refleks polysinaptik ( dipusat refleks dijumpai lebih dari satu sinaps.Berdasarkan jumlah sinaps didalam pusat refleks . contoh : refleks fleksi = withdrawal reflex. jaw jerk. ankle jerk. b. contoh: refleks regang ( stretch reflex ). dll. reflex – reflex visceral / autonom seperti refleks pupil . . contoh klinis spt : knee jerk. maka refleks dibagi atas: a. refleks salivasi.dll. Refleks monosinaptik ( hanya 1 sinaps ).

peka pd regangan ( perobahan panjang ) peristiwa biolistrik pd ujung syaraf yg menginervasi reseptor adalah timbulnya potensial reseptor = potensial generator.2. Refleks monosinaptik Contoh : refleks regang ( stretch reflex ) lengkung refleks ter diri dari : a. lintasan afferent ( afferent pathway ) axon dari neuron afferent yg berada didalam dorsal root ganglion ( DRG ). . b. reseptor : muscle spindle didalam otot.

berikut .Potensial generator menimbulkan beberapa ( lebih dari satu ) potensial aksi ( impulses ) didalam axon / serabut syaraf. Hal ini bisa dilihat pada gbr.

.

Effector pd serabut otot timbul potensial aksi dan selanjutnya terjadi excitation contraction coupling. pd lempeng ujung motorik (motor end plate potensial).c. pada segmen inisial tjd potensial aksi ( impuls ) yg dikonduksikan sepanjang serabut menuju otot skelet. Peristiwa biolistrik dipusat refleks berupa timbulnya potensial eksitasi postsinaps / potensial inhibisi post sinaptic ( excitatory post sinaptic potential / inhibitory post synaptic potential ) d. Hubungan syaraf dan otot skelet. . Pusat refleks di susunan syaraf pusat ( CNS ). Lintasan efferent axon / serabut neuron . e. f.

. . . Serabut keranjang inti ( nuclear bag fiber.bersiat embrional ( striation sangat kurang ).Struktur reseptor muscle spindle ( spindel otot ) dan inervasinya : Serabut otot intrafusal yg membentuk reseptor muscle spindle terdiri dari : 10 serabut otot . dibungkus dlm kapsul jaringan ikat. bag 1 dan bag 2 ) dgn banyak nuclei dibagian equator ( 1/3 bagian tengah ) dan kedua bagian pole melekat pd serabut extrafusal melalui jaringan ikat.sejajar dgn serabut otot skelet extrafusal ( jika serabut extrafusal diregang maka serabut intrafusal juga teregang ).

Untuk serabut rantai inti ( nuclear chain fibre ). α. untuk serabut keranjang inti ( nuclear bag fibre ) dan serabut afferent gol. berikut. Motorik : gamma afferent system dan beta afferent neuron struktur dan innervasi muscle spindle dapat dilihat pada Gbr. Innervasi : sensorik ujung – ujung serabut syaraf afferent gol. . II. melekat pd serabut keranjang inti .Serabut rantai inti ( nuclear chain fibres ) empat atau lebih dgn satu baris nuclei dibagian equator. I.

. Innervasi bertentangan dan refleks regang terbalik ditunjukan pada Gbr. melalui interneuron yg inhibitory menimbulkan inhibisi pd otot protagonist ( autogenic inhibition ) untuk melindungi ( proteksi ) supaya otot protagonist yg bersangkutan tidak robek.Ib .Pada refleks regang terbalik (inversed stretch reflex) Kejadiannya sebagai berikut : jika regangan otot kuat sekali maka reseptor yg terangsang adalah “ golgi tendon organ “dan impulses sensorik dihantar melalui serabut syaraf gol. berikut ini.

Gbr. Refleks regang terbalik .

The Autonomic Nervous System .

the reticular formation.Levels of ANS Control The hypothalamus is the main integration center of ANS activity Subconscious cerebral input via limbic lobe connections influences hypothalamic function Other controls come from the cerebral cortex. and the spinal cord .

ANS vs. Somatic Nervous System (SNS) Three major differences in the ANS and SNS: Effectors Efferent pathways Target organ responses .

and glands .Effectors The effectors of the SNS are skeletal muscles The effectors of the ANS are cardiac muscle. smooth muscle.

Efferent Pathways Heavily myelinated axons of the somatic motor neurons extend from the CNS to the effector. The ganglionic (second) unmyelinated neuron extends to an effector organ via the postganglionic axon. Pathways in the ANS are a two-neuron chain The preganglionic (first) neuron has a lightly myelinated axon. .

Ach always has an excitatory effect In the ANS: Preganglionic fibers release ACh Postganglionic fibers release norepinephrine (most sympathetic) or ACh (parasympathetic) and the effect is either stimulatory or inhibitory ANS effect on the target organ is dependent upon the neurotransmitter released and the receptor type of the effector .Neurotransmitter Effects All somatic motor neurons release Acetylcholine at their synapses.

Comparison of Somatic and Autonomic Systems .

Through dual innervation the two divisions counterbalance each other’s activity The sympathetic mobilizes the body during extreme situations The parasympathetic performs maintenance activities and conserves body energy .Divisions of the ANS The two divisions of the ANS are the sympathetic and parasympathetic. but cause opposite effects. Generally they serve the same visceral organs.

and respiratory rates are low -gastrointestinal tract activity is high . directs “housekeeping” activities Involves the D activities diuresis digestion. defecation. heart rate.Role of the Parasympathetic Division Keeps body energy use low.the skin is warm and the pupils are constricted . and Its activity is illustrated in a person who relaxes after a meal: blood pressure.

the skin is cold and sweaty.Role of the Sympathetic Division The sympathetic division is the “fight-or-flight” system – response to threat Involves E activities : exercise. and the pupils dilate .excitement.emergency. breathing is rapid and deep.and embarrassment Promotes adjustments during exercise – blood flow to organs is reduced. flow to muscles is increased Its activity is illustrated by a person who is threatened: heart rate increases.

Anatomy of ANS Division Origin of Fibers Thoracolumbar region of the spinal cord Length of Fibers Short preganglionic and long postganglionic Long preganglionic and short postganglionic Location of Ganglia Close to the spinal cord In the visceral effector organs Sympathetic Brain and sacral Parasympathe spinal cord tic (craniosacral) .

.

ureters. and reproductive organs S2.Parasympathetic Division Outflow Nerve Occulomotor (III) Cranial Outflow Glossopharyngeal (IX) N. nasal. and most visceral organs Large intestine. lungs. Vagus (X) Sacral Outflow Facial (VII) Ganglion Ciliary Effector Organ(s) Eye Pterygopalatin Salivary. and Submandibular lacrimal glands Otic Within the walls of target organs Within the walls of target organs Parotid salivary glands Heart.S4 . urinary bladder.

Parasympathetic Division Outflow .

Sympathetic Outflow Arises from spinal cord segments T1 through L2 Sympathetic neurons produce the lateral horns of the spinal cord Preganglionic fibers pass through the white rami communicantes and enter the sympathetic chain (paravertebral) ganglia Postganglionic fibers innervate the numerous organs of the body .

Sympathetic Trunks and Pathways .

Sympathetic Trunks and Pathways A preganglionic fiber follows one of three pathways upon entering the paravertebral ganglia: Synapses with the ganglionic neuron within the same ganglion Ascends or descends the sympathetic chain to synapse in another chain ganglion Passes through the chain ganglion and emerges without synapsing .

Sympathetic Trunks and Pathways A preganglionic fiber follows one of three pathways upon entering the paravertebral ganglia: Synapses with the ganglionic neuron within the same ganglion Ascends or descends the sympathetic chain to synapse in another chain ganglion Passes through the chain ganglion and emerges without synapsing .

Neurotransmitters and Receptors Acetylcholine (ACh) and norepinephrine (NE) are the two major neurotransmitters of the ANS ACh is released by all ANS preganglionic axons and all parasympathetic postganglionic axons Cholinergic fibers – ACh-releasing fibers Adrenergic fibers – sympathetic postganglionic axons that release NE .

Cholinergic Receptors The two types of receptors that bind ACh are nicotinic and muscarinic (named after drugs that bind to them and mimic ACh effects) .

Nicotinic Receptors Found on: Motor end plates (somatic targets) All ganglionic neurons of both sympathetic and parasympathetic divisions The hormone-producing cells of the adrenal medulla The effect of ACh binding to nicotinic receptors is always stimulatory .

Muscarinic Receptors Muscarinic receptors occur on all effector cells stimulated by postganglionic cholinergic fibers The effect of ACh binding: Can be either inhibitory or excitatory Depends on the receptor type of the target organ .

alpha and beta Each type has two or three subclasses (α1. α2.Adrenergic Receptors Two types of adrenergic receptors . β2 . β3) Effects of NE of epinephrine binding to: α receptors is generally stimulatory β receptors is generally inhibitory A notable exception – NE binding to β receptors of the heart is stimulatory . β1.

presurgery drug to block salivation and respiratory system secretions Neostigmine – inhibits acetylcholinesterase and is used to treat myasthenia gravis Tricyclic antidepressants – prolong the activity of NE on postsynaptic membranes Over-the-counter drugs for colds. allergies.Effects of Drugs Atropine – (anticholinergic) blocks parasympathetic effects. and nasal congestion – stimulate α-adrenergic receptors Beta-blockers – attach mainly to β1 receptors and reduce heart rate and prevent arrhythmias .

Sympathetic Tone The sympathetic division has the major control over blood pressure and keeps the blood vessels in a continual state of partial constriction called sympathetic tone (or vasomotor tone) Constricts blood vessels and causes blood pressure to rise as needed. Prompts vessels to dilate if blood pressure is to be decreased Alpha-blocker drugs interfere with vasomotor fibers and are used to treat hypertension .

Parasympathetic Tone The parasympathetic division normally dominates the heart and activity levels of the digestive and urinary systems – these organs exhibit parasympathetic tone Parasympathetic division Slows the heart The sympathetic division can override these effects during times of stress Drugs that block parasympathetic responses increase heart rate and cause fecal and urinary retention .

Unique Roles of the Sympathetic Division Regulates many functions/activities not subject to parasympathetic influence . arrector pili muscles. kidneys.the adrenal medulla. sweat glands. and most blood vessels receive only sympathetic innervation The sympathetic division controls: Thermoregulatory responses to heat Release of renin from the kidneys Metabolic effects .

sympathetic nerves cause dilation of blood vessels This dilation brings warm blood to the surface and activates sweat glands to cool the body When temperature falls.Thermoregulatory Responses to Heat Applying heat to the skin causes reflex dilation of blood vessels When systemic body temperature is elevated. blood vessels constrict and blood is retained in deeper vital organs .

Release of Renin from the Kidneys Sympathetic impulses activate the kidneys to release renin Renin is an enzyme that promotes increased blood pressure and is involved in the renin-angiotensin mechanism .

increasing mental alertness .Metabolic Effects The sympathetic division promotes metabolic effects that are not reversed by the parasympathetic division Increases the metabolic rate of body cells Raises blood glucose levels Mobilizes fat as a food source Stimulates the reticular activating system (RAS) of the brain.

Effects of Sympathetic Activation Sympathetic activation is long-lasting because: NE is inactivated more slowly than ACh (must be taken back up into the presynaptic ending) NE is indirectly acting neurotransmitter. using a second-messenger system (effects exerted more slowly) NE and epinephrine are secreted into the blood by the adrenal medulla and remain there until destroyed by the liver .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->