Anda di halaman 1dari 182

IMPLIKASI HAFALAN AL-QUR'AN DALAM PRESTASI BELAJAR

MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)


(Studi Kasus di Mahad Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

SKRIPSI


Oleh:
Ismi Arofah
05110027








PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Juli, 2009




IMPLIKASI HAFALAN AL-QUR'AN DALAM PRESTASI BELAJAR
MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
(Studi Kasus di Mahad Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)


SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana
Maulana Malik Ibrahim Malang untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna
Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh:
Ismi Arofah
05110027






JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Juli, 2009



LEMBAR PERSETUJUAN
IMPLIKASI HAFALAN AL-QURAN DALAM PRESTASI BELAJAR
MAHASISWA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
(Studi Kasus di Mahad Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)


SKRIPSI
Oleh:
Ismi Arofah
05110027

Telah Disetujui pada Tanggal: 16 Juli 2009

Oleh:
Dosen Pembimbing



Drs. H. Suaib H. Muhammad, M.Ag
NIP. 150 227 505


Mengetahui:
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam




Drs. H. Moh. Padil, M.Pd.I
NIP. 150 267 235



Drs. H. Suaib H. Muhammad, M.Ag
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang

NOTA DINAS PEMBIMBING
Hal : Skripsi Ismi Arofah Malang, 16 Juli 2009
Lamp : 6 (Enam) Eksemplar


Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang
di
Malang

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa
maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di
bawah ini:

Nama : Ismi Arofah
NIM : 05110027
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : Implikasi Hafalan Al-Quran Dalam Prestasi Belajar
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
(Studi Kasus di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana
Malik Ibrahim Malang)

Maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak
diajukan untuk diujikan.
Demikan, mohon dimaklumi adanya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.


Pembimbing,



Drs. H. Suaib H. Muhammad, M.Ag
NIP. 150 227 505




HALAMAN PENGESAHAN

IMPLIKASI HAFALAN AL-QURAN DALAM PRESTASI BELAJAR
MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
(Studi Kasus di Mahad Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

SKRIPSI
dipersiapkan dan disusun oleh
Ismi Arofah (05110027)
telah dipertahankan di depan dewan penguji
pada tanggal 04-Agustus-2009 dengan nilaiA
dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan
untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
pada tanggal: 04-Agustus-2009


Panitia Ujian Tanda Tangan

Ketua Sidang
Drs. H. Suaib. H. Muhammad, M.Ag :___________________
NIP. 150 227 505

Sekretaris Sidang
Istianah Abu Bakar, M.Ag :___________________
NIP.150 332 149

Penguji Utama
Prof. DR. H. Muhaimin, MA :___________________
NIP. 150 215 375

Pembimbing
Drs. H. Suaib H. Muhammad, M.Ag :___________________
NIP.150 227 505


Mengesahkan,

Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang




DR. M. Zainuddin, MA
NIP. 150 275 502



MOTTO


Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan
mengajarkannya (HR.Bukhori )


























PERSEMBAHAN

Dengan penuh cinta, kupersembahkan karya ini kepada:
Allah SWT yang Maha sempurna,, yang telah menggariskan jalan hidup pada
setiap makhluk-Nya.
Ayah & Ibuku tercinta, (H. Munawir Muslih & Hj. Aminah) yang luapan kasih
sayangnya bak mata air abadi. Terima kasih telah mengantarkan ananda sampai
pada tahap pendidikan ini.
Kakak & adikku tersayang (Yunia Rahmah S.Ag dan Ahmad Muzammil S.Pd.I),
serta (Anik Nihayah S.Pd.) yang selalu memberi uswah hasanah, menginspirasi
dan memotivasi aku.
Suamiku tercinta yangkoe Fata Zamroni, SH., terima kasih telah
mendampingiku menjalani pendidikan ini dengan Sabar. Tak lupa pula segenap
keluarga besar yang selalu memberikan kasih sayang, serta dukungan baik moril
maupun material, sehingga aku mampu menatap masa depan dengan ceria.
Semua Guruku, Ustadz/Ustadzahku di Pesantren dan Mahad, serta para Dosen
yang telah memberikan secercah pencerahan, sehingga aku dapat mewujudkan
harapan, angan dan cita-cita di masa depan.
Teman-teman mahasiswa di Jurusan Pendidikan Agama Islam (2005-2009), yang
memberikan motivasi dan pengalaman bermakna. Especially, semua gus & ning
JQH, semoga selalu bisa istiqomah berjuang di jalan-Nya dan dapat melestarikan
hafalan Al-Qurannya.
Teman-teman yang oke bangets,, evy, heni, nyatin, hikmah, ima, angga, indra,
niam, serta adik-adiku di kost pinky, ndok nisa, ira, atul, ria, fi2l, nani, hesy,
bib3h, dan semua sahabatku yang tidak dapat kusebutkan satu persatu. aku sadar
kalian telah menjadi tempat belajarku dalam mengarungi cuplikan kehidupan ini,
saling berbagi pengalaman hidup, serta banyak hal yang menginspirasi. Semoga
pertemuan dan persahabatan kita dalam kancah mencari ilmu ini, kelak dapat
menjadi perantara kita untuk bertemu dan berkumpul di bawah naungan-Nya.
Amin.



SURAT PERNYATAAN


Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan
tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar rujukan.


Malang, 16 Juli 2009



Ismi Arofah
























KATA PENGANTAR


Alhamdulillah, segala puji hanya patut dipanjatkan kehadirat Allah SWT, Dzat
yang Maha indah, Maha pengasih, dan Maha sempurna, yang telah memberikan
pertolongan berupa kejernihan fikir, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini dengan baik. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan
kita Rasulullah Muhammad SAW, pembimbing dan pemimpin umat Islam yang
berakhlak Al-Quran.
Penulisan skripsi ini, dilatarbelakangi oleh kecintaan dan apresiasi mendalam
penulis terhadap komunitas penghafal Al-Quran yang ada di lingkungan UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang. Para penghafal Al-Quran dari kalangan
mahasiswa ini bisa dikatakan berbeda dengan mahasiswa pada umumnya,
karena mereka mengemban 2 misi sekaligus. Misi yang di maksud oleh penulis
adalah misi untuk mengembangkan keilmuan yang diminati di perkuliahan, serta
misi untuk menghafalkan dan melestarikan hafalan Al-Quran.
Penelitian dalam skripsi ini secara lebih terfokus, dilakukan kepada para
mahasiswa penghafal Al-Quran dari jurusan Pendidikan Agama Islam, yang
bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana prosedur hafalan Al-Quran
mahasiswa di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,
Apakah hafalan Al-Quran Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam
berimplikasi dalam prestasi belajarnya, serta mendeskripsikan sikap keseharian
mahasiswa penghafal Al-Quran dari Jurusan Pendidikan Agama Islam tersebut.
Penulis menyadari dalam proses penulisan skripsi ini banyak memperoleh
bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, maka penulis menyampaikan ucapan
terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang.
2. Bapak Dr. M. Zainuddin, MA. , selaku Dekan Fakultas Tarbiyah, serta Bapak
Drs. H. Moh. Padil, M.Pd.I, selaku Kepala Jurusan pendidikan Agama Islam,
beserta segenap Dosen Fakultas Tarbiyah yang dengan ikhlas telah membantu
dan memberikan masukan untuk skripsi ini.


3. Bapak Drs. H. Suaib H. Muhammad, M.Ag, yang dengan ikhlas telah
memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis dalam proses penulisan
skripsi ini.
4. Bapak KH. Chamzawi, M.HI, selaku Mudir Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang, berserta para pengasuh dan pengurus
Mahad, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan
penelitian ini.
5. Para pembina, pengurus dan anggota Jamiyyatul Qurra wal huffazh Mahad
Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, khususnya
Mahasiswa penghafal Al-Quran dari jurusan Pendidikan Agama Islam, serta
informan yang telah membantu penulis dalam memperoleh data-data
penelitian.
6. Ayah dan ibuku tercinta, suamiku tercinta, saudara-saudaraku, serta segenap
keluargaku yang telah banyak memberikan bantuan dan pengorbanan baik
moril maupun materiil.
7. Teman-teman di Fakultas Tarbiyah/Jurusan Pendidikan Agama Islam tahun
akademik (2005-2009), yang telah memberikan berbagai pengalaman dan
interaksi akademik yang mengesankan.

Tiada yang pantas penulis ucapkan kecuali untaian kata terima kasih
Jazaakumullah Ahsanal Jazaa semoga amalnya diterima oleh Allah SWT,
dan dibalas dengan sebaik-baik balasan.
Akhirnya, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif
dari para pembaca, demi memperbaiki karya ini. Semoga karya yang masih jauh
dari kesempurnaan ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca, serta penulis.
Amin ya Mujibas Saailiin.

Malang, 16 Juli, 2009

Penulis



PEDOMAN TRANLITERASI ARAB LATIN

Penulisan transliterasi arab-latin dalam skripsi ini menggunakan pedoman
transliterasi berdasarkan keputusan bersama Menteri Agama RI dan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan RI no. 158 tahun 1987 dan no. 0543 b/U/1987 yang
secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:

A. Huruf
= a = z = q
= b = s = k
= t = sy = l
= ts = sh = m
= j = dl = n
= h = th = w
= kh = zh = h
= d = =
= dz = gh = y
= r = f

B. Vokal Panjang
Vokal (a) panjang =
Vokal (i) panjang =
Vokal (u) panjang =

C. Vokal Diftong
= aw
= ay
= u
= i





DAFTAR TABEL

1. Tabel 4.1 Jadwal Kegiatan Harian dan Mingguan JQH Mahad
Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang92
2. Tabel 4.2 Nama-Nama Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI)...98
3. Tabel 4.3 Jumlah Hafalan Mahasiswa Jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) Penghafal Al-Quran..102
4. Tabel 4.4 Awal mahasiswa mulai menghafal102
5. Tabel 4.5 Tempat menghafal Al-Quran...102
6. Tabel 4.6 Peran lingkungan Menghafal Al-Quran (Mahad)...105
7. Tabel 4.7 Kendala yang paling dominan dalam menghafal
dan melestarikan hafalan Al-Quran.107
8. Tabel 4.8 Usaha untuk memahami makna dan kandungan ayat
Al-Quran yang dihafal.109
9. Tabel 4.9 Rekapitulasi Nilai Rata-Rata Indeks Prestasi Komulatif
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Penghafal Al-Quran.113
10. Tabel 4.10 Nilai Matakuliah Keagamaan Islam yang Berhubungan
dengan Ayat-Ayat Al-Quran...114



















DAFTAR GAMBAR

1. Gambar 4.1 Grafik Anggota JQH Mulai Periode 2002-2009.................96






























DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Surat izin penelitian
Lampiran 2 : Surat keterangan telah melakukan penelitian dari instansi
Lampiran 3 : Bukti konsultasi
Lampiran 4 : Pedoman observasi
Lampiran 5 : Pedoman wawancara
Lampiran 6 : Pedoman dokumentasi
Lampiran 7 : Angket

Lampiran 8 : Struktur organisasi Jamiyyatul Qurra wal Huffazh Mahad
Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Lampiran 9 : Denah Kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang & Mahad
Sunan Ampel Al-Ali.
Lampiran 10 : Peta lokasi Kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Lampiran 11 : Foto-foto dokumentasi penelitian
Lampiran 12 : Kartu hasil studi (KHS) mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama
Islam penghafal Al-Quran
Lampiran 13 : Kliping tentang JQH UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari
berbagai sumber
















DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL........................................................................................i
HALAMAN JUDUL...........................................................................................ii
HALAMAN PERSETUJUAN...........................................................................iii
HALAMAN NOTA DINAS...............................................................................iv
HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................v
HALAMAN MOTTO.........................................................................................vi
HALAMAN PERSEMBAHAN.........................................................................vii
SURAT PERNYATAAN..................................................................................viii
KATA PENGANTAR.........................................................................................ix
PEDOMAN TRANSLITERASI.........................................................................xi
DAFTAR TABEL..............................................................................................xii
DAFTAR GAMBAR........................................................................................xiii
DAFTAR LAMPIRAN.....................................................................................xiv
DAFTAR ISI......xv
ABSTRAK........................................................................................................xix
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.1
B. Rumusan Masalah7
C. Tujuan Penelitian.7
D. Manfaat Penelitian...8
E. Definisi Operasional8


F. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian...9
G. Sistematika Pembahasan10
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Hafalan Al-Quran
1. Pengertian Menghafal Al-Quran12
2. Keutamaan Menghafal Al-Quran...14
3. Adab Menghafal Al-Quran....20
4. Metode Menghafal Al-Quran.23
5. Melestarikan Hafalan Al-Quran.27
6. Faktor-Faktor yang Mendukung
Keberhasilan Menghafal Al-Quran32
B. Prestasi Belajar Mahasiswa
1. Pengertian Prestasi Belajar..39
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar...47
3. Evaluasi Prestasi Kognitif, Afektif dan Psikomotorik.53
C. Implikasi Hafalan Al-Quran dalam Prestasi Belajar
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam...55
D. Sikap dan Kewajiban Intelektual Mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam Penghafal Al-Qur'an64
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode dan Strategi Penelitian..69
B. Kehadiran Peneliti.70
C. Lokasi Penelitian...71


D. Data dan Sumber Data...71
E. Prosedur Pengumpulan Data.73
F. Analisis Data.75
G. Pengecekan Keabsahan Data75
H. Tahapan Penelitian...78
BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Objek Penelitian
1. Sejarah Berdirinya Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH)
Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang...80
2. Visi, Misi, Tujuan dan Fungsi JQH
Mahad Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang..86
3. Struktur Kepengurusan JQH
Mahad Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang..88
4. Program Kerja JQH Mahad Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang...90
5. Kegiatan JQH Mahad Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.90
6. Prestasi Anggota JQH Mahad Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.93



7. Keadaan Anggota JQH Mahad Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.96
B. Paparan Hasil Penelitian
1. Deskripsi Pelaksanaan Hafalan Al-Quran di Mahad
Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang...98
2. Implikasi Hafalan Al-Quran dalam Prestasi Belajar
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
di UIN Maulana malik Ibrahim Malang...108
3. Sikap keseharian Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama
Islam Penghafal Al-Quran...............................................116
BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Pelaksanaan Hafalan Al-Quran di Mahad
Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang..120
B. Implikasi Hafalan Al-Quran dalam Prestasi Belajar
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang....125
C. Sikap keseharian Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam
Penghafal Al-Quran......................................................128
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan.131
B. Saran...134
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN


ABSTRAK

Arofah, Ismi. Implikasi Hafalan Al-Quran Dalam Prestasi Belajar
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) (Studi Kasus di Mahad
Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang). Skripsi, Jurusan
Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Maulana
Malik Ibrahim Malang. Drs. H. Suaib. H. Muhammad, M.Ag.

Dalam menjalankan fungsi edukasinya, dewasa ini perguruan tinggi dituntut
untuk dapat memerankan fungsinya secara optimal dalam mewujudkan lulusan
yang beriman dan bertaqwa, memiliki kepribadian yang utuh, memiliki keahlian
yang matang dan profesional dibidangnya masing-masing. Universitas Islam
Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan salah satu Perguruan
Tinggi Islam yang telah berhasil menggabungkan dua kekuatan dalam paradigma
pendidikannya, yaitu kekuatan akademik dan kultural. Kekuatan kultural tersebut,
diciptakan melalui keberadaan Mahad (pesantren mahasiswa yang kurikulum
pembelajarannya integral dengan kampus). Selain pembelajaran kitab dan bahasa,
di Mahad juga terdapat unit pengembangan tahfizh yang beranggotakan para
mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Kegiatan menghafal Al-Quran yang dilakukan oleh mahasiswa ini merupakan
suatu hal yang sangat memerlukan perhatian dan penanganan secara khusus,
mengingat menghafal Al-Quran merupakan pekerjaan yang tidak mudah untuk
dilakukan, apalagi oleh mahasiswa yang notabene memiliki jadwal kegiatan yang
padat. Dari sinilah timbul berbagai anggapan yang menyatakan bahwa dengan
banyaknya kegiatan yang dilakukan, maka mahasiswa penghafal Al-Quran tidak
bisa mendapatkan hasil belajar/akademik yang maksimal. Berawal dari latar
belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk membahasnya dalam skripsi yang
berjudul Implikasi Hafalan Al-Quran Dalam Prestasi belajar Mahasiswa Jurusan
Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang).
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
pelaksanaan hafalan Al-Quran di Mahad sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana
malik Ibrahim Malang, untuk mengetahui apakah hafalan Al-Quran mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam berimplikasi terhadap prestasi belajarnya, serta
untuk mengetahui bagaimana aspek sikap keseharian mahasiswa tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan strategi studi kasus.
Dalam proses pengumpulan data, peneliti menggunakan metode observasi, angket,
interview dan dokumentasi. Sedangkan untuk analisisnya, peneliti menggunakan
teknik analisis deskriptif kualitatif. Adapun untuk data yang berupa angka (data
kuantitatif), dianalisis menggunakan statistik deskriptif dengan cara menghitung
nilai rata-rata dan prosentase kemudian dideskripsikan.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa pelaksanaan
hafalan Al-Quran di Mahad Sunan Ampel Al-Ali sudah baik, kerena telah
memenuhi beberapa hal yang mendukung keberhasilan menghafal Al-Quran.
Diantaranya adalah: penciptaan lingkungan yang kondusif dengan


dikumpulkannya mahasiswa penghafal Al-Quran dalam satu unit asrama, adanya
instruktur hafalan yang membimbing mahasiswa tersebut, adanya waktu yang
digunakan mahasiswa untuk melestarikan hafalannya, serta adanya program
evaluasi seperti kegiatan khatm Al-Quran tiap sepekan, tes tahfizh tiap akhir
semester, serta wisuda tahfizh yang diawali dengan tes tahfizh. Dari proses
menghafal yang baik tersebut, maka hafalan yang dihasilkanpun menjadi baik.
Hafalan mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam berimplikasi dalam
prestasi belajarnya. Secara psikologis, aktivitas menghafal Al-Quran
menimbulkan efek ketenangan yang mendukung keberhasilan proses belajar.
Secara fisiologis, kebiasaan menghafal Al-Quran membuat indera penglihatan
dan pendengaran menjadi familiar terhadap ayat-ayat yang telah dihafal, serta
melatih sistem memori dalam otak untuk mengingat, sehingga memudahkan
siswa/mahasiswa untuk dapat menghafal pengetahuan lain selain Al-Quran.
Selain itu, hafalan Al-Quran mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam sangat
membantu penguasaan materi matakuliah keagamaan Islam yang berhubungan
dengan ayat-ayat Al-Quran, karena selain menghafalkan para mahasiswa tersebut
juga berusaha memahami ayat-ayat yang dihafal.
Dari rekapitulasi indeks prestasi komulatif mahasiswa tersebut, secara umum
diketahui bahwa nilai rata-ratanya mencapai 3.64 (dengan pujian), sedangkan
untuk matakuliah kegamaan Islam yang banyak berkaitan dengan ayat-ayat Al-
Quran, nilai mahasiswa tersebut juga baik. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa aktivitas menghafal Al-Quran mahasiswa tidak menyebabkan prestasi
belajarnya menurun, sebaliknya hafalan Al-Quran justru berimplikasi sangat baik
bagi prestasi belajar mahasiswa.
Selain berprestasi yang baik dalam akademiknya, aspek sikap keseharian
mahasiswa penghafal Al-Quran ini juga lebih mencerminkan mahasiswa muslim
dibandingkan mahasiswa lainnya. Mereka berkomitmen untuk selalu berusaha
memperbaiki tingkah lakunya, serta menjaga tatakrama yang baik kepada
lingkungan sosialnya. Selain itu, mereka juga selalu berusaha mengamalkan
ilmunya dengan mengajarkan ilmu tentang Al-Quran yang mereka miliki kepada
siapapun yang membutuhkannya, baik dalam lingkup mahad maupun masyarakat
sekitar kampus.


Kata Kunci: Hafalan Al-Quran, Prestasi Belajar









BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Perkembangan zaman yang semakin cepat berpengaruh pada segala aspek
kehidupan. Munculnya berbagai penemuan ilmiah di bidang sains dan teknologi
turut mengiringi revolusi zaman yang semakin modern ini.
Dewasa ini masyarakat banyak menyoroti masalah kerusakan moral yang
dialami oleh para remaja. Maraknya tawuran antar pelajar/mahasiswa, peredaran
dan pemakaian narkoba yang dilakukan oleh pelajar/mahasiswa, seks bebas, dan
penyimpangan-penyimpangan lain yang sangat ramai diberitakan oleh media
massa.
Terhadap realita tersebut muncul berbagai tanggapan dan sinyalemen dari
sebagian masyarakat yang mempermasalahkan pengembangan kepribadian
mahasiswa di luar lingkup pendidikan formal. Mereka berpendapat bahwa
sebenarnya sistem pendidikan di Indonesia sudah baik, namun ada beberapa faktor
yang menghambat keberhasilan sistem tersebut. Salah satu contohnya adalah
ketergantungan masyarakat terhadap produk-produk teknologi modern yang
semakin kuat. Hal ini merupakan indikasi adanya pergeseran nilai-nilai esensial
yang akan mengubah pola pikir dan pola hidup masyarakat menjadi konsumtif dan
memuja gaya hidup hedonistik, materialistik dan hura-hura.
Kondisi demikian ini sangat berpengaruh terhadap sistem dan proses
pendidikan di sekolah dan di perguruan tinggi. Pendidikan hanya difokuskan pada


bagaimana membentuk siswa/mahasiswa yang pandai dan memiliki keterampilan
tertentu. Hal ini berakibat terhadap fokus kepribadian siswa hanya dititikberatkan
pada aspek perkembangan intelektual saja, sementara aspek moralitas dan
kejiwaannya kurang memadai.
Dalam menjalankan fungsi edukasinya, dewasa ini perguruan tinggi
dihadapkan pada dua persoalan yang dilematis. Di satu sisi dituntut untuk
mengembangkan iptek dengan segala konsekuensinya dalam menghadapi era
globalisasi, namun di sisi lain perguruan tinggi harus memikul tanggung jawab
terhadap dampak negatif dari kemajuan iptek modern yaitu terjadinya dekadensi
moral yang mengarah pada demoralisasi, bahkan boleh jadi mengarah pada
dehumanisasi. Hal yang menjadi persoalan adalah bagaimana Perguruan Tinggi
dapat memerankan fungsinya secara optimal dalam mewujudkan lulusan yang
beriman dan bertaqwa, memiliki kepribadian yang utuh, memiliki keahlian yang
matang dan profesional dibidangnya masing-masing. Jawaban akan pertanyaan
tersebut adalah tantangan bagi perguruan tinggi untuk memberikan pendidikan
Agama Islam yang memadai bagi setiap mahasiswa sebagai pencerahan spiritual
dalam rangka membangun nurani bangsa.
1

Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan
salah satu Perguruan Tinggi Islam yang telah berhasil menggabungkan dua
kekuatan dalam paradigma pendidikannya, yaitu kekuatan akademik dan kultural.
Pengembangan ilmu akademik, khususnya yang bernafaskan Islam, akan berhasil
jika dikembangkan di atas kekuatan kultural. Kekuatan kultural yang dimaksud di


1
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam Upaya Pembentukan Pemikiran dan Kepribadian
Muslim (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2006), hlm. 1-3.


sini adalah berbagai komponen yang dapat mendukung terciptanya budaya
kondusif, baik dalam upaya pengembangan spiritual, akhlak, ilmu dan
profesionalitas.
2
Dalam paradigma pendidikannya Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki sebuah konsep tarbiyah Ulul Albab,
yaitu pendidikan yang diharapkan dapat membentuk kepribadian mahasiswa yang
mengedepankan tiga prinsip, yaitu dzikir, fikir dan Amal sholeh.
Tujuan luhur ini dikuatkan atau didukung dengan komponen-komponen
internal, yang mewadahi berbagai kegiatan pengembangan akademik dan spiritual
yang ada di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Diantara komponen internal
yang sangat penting adalah keberadaan Mahad Sunan Ampel Al-Ali, yaitu
pesantren mahasiswa yang semua kurikulum pembelajarannya integral dengan
kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Diantara program yang diadakan
oleh Mahad Sunan Ampel Al-Ali adalah pengembangan biah (lingkungan)
berbahasa, pembelajaran kitab dan pembelajaran Al-Quran.
Di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga
terdapat unit pengembangan Tahfizh Al-Quran, yang beranggotakan mahasiswa
dari berbagai tingkatan semester. Kegiatan menghafal Al-Quran yang dilakukan
oleh mahasiswa ini merupakan suatu hal yang sangat memerlukan perhatian dan
penanganan secara khusus, mengingat menghafal Al-Quran merupakan pekerjaan
yang tidak mudah untuk dilakukan, apalagi oleh mahasiswa yang memiliki
disiplin keilmuan yang berbeda-beda. Selain itu, dalam menjalankan aktivitas
menghafal Al-Quran dan kuliah memerlukan pengaturan waktu yang baik dan


2
Imam Suprayogo, Pendidikan Berparadigma Al-Quran (Malang: UIN Press, 2004), hlm. 79.


tepat, sehingga Al-Quran yang telah dihafal dapat dilestarikan dengan baik dalam
hati.
Al-Quran adalah kitab suci yang memiliki banyak keagungan dan
kemujizatan. Al-Quran juga memiliki banyak kelebihan, diantaranya adalah Al-
Quran merupakan kitab yag mudah dihafal dan difahami. Hal ini sesuai dengan
Firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Qamar (54:13):
)9r R b )9 . 9 @g `B . B
Artinya:Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran,
maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
3


Oleh karena itu, setiap untaian kalimat yang indah dalam Al-Quran telah
dijadikan Allah untuk mudah dihafal dan dipahami oleh para penghafalnya. Kita
sebagai umat Islam turut berbangga karena ada ribuan bahkan puluhan ribu umat
Islam yang telah hafal Al-Quran, dan sebagian dari mereka adalah anak-anak
kecil yang masih belum baligh. Hal ini sangat bertolak belakang dengan
karakteristik kitab suci Agama lain yang tidak mampu dihafal oleh pemeluknya.
4

Dengan hafalan Al-Quran yang ada di hati para umat Islam penghafal Al-
Quran inilah, sesungguhnya Allah menetapkan dan menjaga kemurnian Al-
Quran. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat Al-Hijr (15:9):
R ` U Z9 R . R r m9 bq :
Artinya: "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan
sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya"
5




3
Al-Quran dan Terjemahnya (Semarang: PT. Tanjung Mas, 1992), hlm. 879.

4
Achmad Yaman Syamsudin, Cara Mudah Menghafal Al-Quran (Jateng: Insan Kamil, 2007),
hlm. 7-8.

5
Al-Quran dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 391.


Mahasiswa merupakan calon-calon intelektual yang memiliki tugas untuk
mengembangkan keilmuan yang diminati, di sisi lain ada keinginan untuk
mempelajari, menghafalkan dan mendalami Al-Quran. Keberadaan mahasiswa
penghafal Al-Quran, seperti halnya hafizh-hafizhah yang lain, memberikan
penguatan kepada kita bahwa memang di sepanjang masa Al-Quran akan
senatiasa dijaga dan dipelihara kemurniannya oleh Allah SWT, sang pemilik
Kalam yang mulia.
Para penghafal Al-Quran di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, terdiri dari
berbagai kalangan mahasiswa pada tingkatan semester dan jurusan yang berbeda.
Diantara para mahasiswa/mahasiswi yang menghafal Al-Quran tersebut, ada
beberapa mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI).
Dalam proses menghafal Al-Quran, seorang penghafal tidak hanya membaca
dan berusaha menghafal di luar kepala, akan tetapi juga berusaha untuk
menghayati dan mentadabburi bacaan yang telah dibaca dan dihafalnya. Dalam
hal ini, seorang Penghafal Al-Quran secara tidak langsung akan dapat memahami
dan mengambil kandungan-kandungan ayat-ayat yang dibaca.
Dengan adanya proses menghafal tersebut, seseorang penghafal akan dapat
membaca dengan lancar dan benar ayat-ayat yang telah dihafalkannya. Setelah
dapat membaca dengan baik dan benar, ia akan tertarik untuk mengetahui arti dan
kandungan ayat-ayat Al-Quran yang dihafalnya.
Dalam perkuliahan Fakuktas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, terdapat dua jenis pengelompokan
matakuliah, yaitu matakuliah kependidikan dan matakuliah keagamaan Islam.


Pada matakuliah keagamaan Islam, banyak sekali materi yang bersentuhan secara
langsung dengan ayat-ayat Al-Quran, karena pada dasarnya Al-Quran
merupakan sumber dari hukum Islam yang utama.
Pendidikan Agama Islam memiliki beberapa pokok kajian yang meliputi
aqidah, akhlak, syariah dan muamalah. Diantara matakuliah keagamaan Islam
yang mengandung aspek-aspek tersebut adalah: studi Al-Quran, studi Fiqih,
Tafsir dan Hadits, Masail Fiqhiyah 1 & 2, serta Tafsir Hadits 1 & 2, serta Ushul
Fiqih.
Dalam proses pembelajaran matakuliah keagamaan Islam tersebut,
kemampuan membaca Al-Quran dengan baik dan benar merupakan kemampuan
dasar yang sangat penting, selain kemampuan memahami arti dan kandungan
ayat-ayat tertentu. Dalam hal ini hafalan Al-Quran yang dimiliki oleh mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam, memberi kontribusi yang sangat besar dalam
membantu pemahamannya tentang beberapa mata kuliah tersebut, sehingga
berimplikasi pada peningkatan prestasi belajarnya. Dengan demikian, ditemukan
adanya implikasi (keterlibatan) hafalan Al-Quran mahasiswa dalam prestasi
belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam.
Dari latar belakang yang telah dipaparkan, peneliti sangat tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul seperti tersebut di atas.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah tersebut, maka dapat dirumuskan beberapa
permasalahan sebagai berikut :


1. Bagaimana pelaksanaan hafalan Al-Quran di Mahad Sunan Ampel Al-
Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang?
2. Apakah hafalan Al-Quran mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI) di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berimplikasi terhadap
prestasi belajarnya?
3. Bagaimana aspek sikap keseharian mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI) penghafal Al-Quran tersebut?

C. TUJUAN PENELITIAN
1. Mendeskripsikan pelaksanaan hafalan Al-Quran di Mahad Sunan Ampel
Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
2. Mendeskripsikan implikasi hafalan Al-Quran dalam prestasi belajar
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang.
3. Mendeskripsikan sikap keseharian mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI) penghafal Al-Quran di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang,
penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan terutama
bagi mahasiswa Fakultas Tarbiyah.
2. Bagi peneliti, menambah wawasan tentang implikasi hafalan Al-Quran
dalam prestasi belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI),


sehingga menambah himmah untuk senantiasa melestarikan Kalamullah
dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal
Al-Quran, agar selalu termotivasi dan Istiqomah dalam melestarikan
hafalan Al-Qurannya, serta bagi Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang pada umumnya, agar timbul niat dan keinginan untuk menghafal
dan mendalami Al-Quran.
E. DEFINISI OPERASIONAL
1. Implikasi adalah keterlibatan atau keadaan terlibat; apa yang termasuk
atau tersimpul; sesuatu yang disugestikan tetapi tidak dinyatakan.
6

2. Hafalan Al-Quran, maksudnya adalah out put dari aktivitas menghafal
Al-Quran. Menghafal Al-Quran adalah proses mengingat Al-Quran di
luar kepala dengan cara meresapkan dalam hati, dengan berbagai strategi
dan metode tertentu.
3. Prestasi belajar mahasiswa adalah: hasil yang dicapai oleh mahasiswa
Jurusan pendidikan Agama Islam (PAI) dalam belajarnya. Adapun
prestasi belajar yang dimaksud adalah prestasi belajar matakuliah
keagamaan Islam yang berhubungan dengan ayat-ayat Al-Quran seperti
studi Al-Quran, studi Fiqih, Tafsir dan Hadits, Masail Fiqhiyah I & II,
Tafsir Hadits I & II, serta Ushul Fiqih. Prestasi ini meliputi aspek kognitif,
afektif (penghayatan) dan psikomotorik (sikap), karena itulah
penilaian/pengukuran prestasi ini tidak hanya dilihat dari indeks prestasi


6
WJS. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Penerbit Balai Pustaka,
1976), hlm. 377.


mahasiswa (IPK), akan tetapi juga dari aspek sikap keseharian mahasiswa
tersebut.

F. RUANG LINGKUP DAN KETERBATASAN PENELITIAN
Untuk menghindari pembahasan yang melebar dalam skripsi ini, maka penulis
membatasi permasalahan pada implikasi hafalan Al-Quran dalam prestasi belajar
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang.
Hafalan Al-Quran yang baik ditentukan dari proses menghafal Al-Quran
yang baik pula, karena itulah perlu diketahui tentang bagaimana pelaksanaan
hafalan Al-Quran tersebut. Kegiatan menghafal di UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang dilakukan oleh para mahasiswa dari berbagai tingkatan semester, dalam
hal ini penelitian dikhususkan pada mahasiswa penghafal Al-Quran dari Jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berada di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang.
G. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan menyeluruh, sistematika
pembahasan dalam skripsi ini dibagi dalam enam bab, yaitu:
Bab pertama adalah pendahuluan. Dalam bab ini dijelaskan tentang latar
belakang permasalahan yang menimbulkan keinginan peneliti untuk mengadakan
penelitian tentang implikasi hafalan Al-Quran dalam prestasi belajar mahasiswa
jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang. Dari latar belakang tersebut, kemudian


ditentukan rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi
operasional penelitian, ruang lingkup dan keterbatasan penelitian, serta
sistematika pembahasan.
Bab kedua adalah kajian pustaka. Dalam bab ini peneliti menguraikan berbagai
teori tentang hafalan Al-Quran, yang meliputi: pengertian menghafal Al-Quran,
keutamaan menghafal Al-Quran, adab membaca dan menghafal Al-Quran,
metode menghafal Al-Quran, melestarikan hafalan Al-Quran, serta tentang
faktor-faktor yang mendukung keberhasilan menghafal Al-Quran.
Prestasi belajar mahasiswa, yang meliputi: pengertian tentang prestasi belajar,
faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, evaluasi prestasi kognitif, afektif dan
psikomotorik.
Pembahasan tentang implikasi hafalan Al-Quran dalam prestasi belajar
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang.
Serta deskripsi tentang sikap keseharian mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI) penghafal Al-Quran di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Bab ketiga adalah metodologi penelitian, yang mengemukakan tentang metode
dan strategi penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, metode
pengumpulan data, analisis data, dan pengecekan keabsahan data, sehingga dapat
diketahui bagaimana proses dan cara penelitian.
Bab keempat adalah laporan hasil penelitian, dalam hal ini peneliti menyajikan
berbagai data yang telah diperoleh dari penelitian. Bab ini meliputi deskripsi
objek penelitian dan paparan hasil data penelitian.


Bab kelima adalah pembahasan hasil penelitian, yaitu dengan cara membahas
hasil penelitian yang telah diperoleh dengan berbagai teori yang relevan dengan
kajian penelitian. Dalam hal ini peneliti akan mengungkapkan bagaimana
prosedur pelaksanaan hafalan Al-Quran di Mahad sunan Ampel Al-Ali UIN
Malang, apakah hafalan Al-Quran berimplikasi terhadap prestasi belajar
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Quran, serta
deskripsi tentang sikap mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
penghafal Al-Quran tersebut.
Bab keenam adalah penutup, dalam bab ini kan dipaparkan tentang kesimpulan
hasil penelitian dan saran.















BAB II
KAJIAN TEORI

A. Tinjauan Tentang Hafalan Al-Quran
1. Pengertian Menghafal Al-Quran
Menghafal Al-Quran terdiri dari dua kata, yaitu kata menghafal dan Al-
Quran. Dalam kamus besar bahasa indonesia, pengertian menghafal adalah
berusaha meresapkan kedalam fikiran agar selalu ingat.
7

Menurut Zuhairini dan Ghofir, menghafal adalah suatu metode yang
digunakan untuk mengingat kembali sesuatu yang pernah dibaca secara benar
seperti apa adanya. Metode tersebut banyak digunakan dalam usaha untuk
menghafal Al-Quran dan Al-Hadits. Ada empat langkah yang perlu dilakukan
dalam menggunakan metode ini, antara lain:
a. merefleksi, yakni memperhatikan bahan yang sedang dipelajari, baik dari
segi tulisan, tanda bacannya dan syakalnya;
b. mengulang, yaitu membaca dan atau mengikuti berulang-ulang apa yang
diucapkan oleh pengajar;
c. meresitasi, yaitu mengulang secara individual guna menunjukkan
perolehan hasil belajar tentang apa yang telah dipelajari;
d. retensi, yaitu ingatan yang telah dimiliki mengenai apa yang telah
dipelajari yang bersifat permanen.
8


Menurut Suryabrata, istilah menghafal disebut juga mencamkan dengan
sengaja dan dikehendaki, artinya dengan sadar dan sungguh-sungguh mencamkan
sesuatu. Dikatakan dengan sadar dan sungguh-sungguh, karena ada pula


7
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia
(Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 291.

8
Zuhairini dan Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Malang:
UM PRESS, 2004), hlm. 76.


mencamkan yang tidak disengaja dalam memperoleh suatu pengetahuan. menurut
beliau, hal-hal yang dapat membantu menghafal atau mencamkan antara lain:
a. Menyuarakan dalam menghafal. Dalam proses menghafal akan lebih
efektif bila seseorang menyuarakan bacaannya, artinya tidak membaca
dalam hati saja;
b. Pembagian waktu yang tepat dalam menambah hafalan, yaitu menambah
hafalan sedikit demi sedikit akan tetapi dilakukan secara kontinu;
c. Menggunakan metode yang tepat dalam menghafal, antara lain:
1) Metode keseluruhan/metode G (Ganzlern methode), yaitu metode
menghafal dengan mengulang berkali-kali dari awal sampai akhir,
2) Metode bagian/metode T (Teilern methode), yaitu menghafal bagian
demi bagian sesuatu yang dihafalkan, dan
3) Metode campuran/metode V (vermittelendelern), yaitu menghafal
bagian-bagian yang sukar terlebih dahulu selanjutnya dipelajari
dengan metode keseluruhan.
9


Setelah menyebutkan tentang beberapa definisi menghafal, perlu disebutkan
pula tentang beberapa definisi Al-Quran. Al-Quran menurut bahasa ialah bacaan
atau yang dibaca. Kata Al-Quran diambil dari isim mashdar yang diartikan
dengan arti isim maful, yaitu: maqru (yang dibaca). Menurut istilah ahli agama
Islam, Al-Quran ialah nama bagi kalamullah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW, yang ditulis dalam mushaf,
10

Definisi Al-Quran menurut sebagian Ulama ahli ushul adalah: firman Allah
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang bersifat mukjizat
(melemahkan) dengan sebuah surat dari padanya, dan beribadat bagi yang
membacanya.
Sebagian ahli ushul juga mendefinisikan:
Al-Kitab (Al-Quran) adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad dengan bahasa Arab untuk diperhatikan dan diambil pelajaran
oleh manusia, yang dinukilkan (dipindahkan) kepada kita dengan khabar


9
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2002), hlm. 45.

10
T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah & Pengantar Ilmu Al-Quran dan Tafsir (Semarang: PT
Pustaka Rizki Putra, 2002 Cet-2), hlm. 3.


mutawatir, yang ditulis dalam mushaf, dimulai dengan surat Al-Fatihah dan
disudahi dengan surat An-N s.
11


Dalam Tafsir Al-Munir, Wahbah Al-Zuhaili mendefinisikan pengertian Al-
Quran sebagai berikut:
Al-Quran adalah kitab Allah yang melemahkan, yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW dengan lafad bahasa Arab, yang tertulis dalam
lembaran-lembaran, membacanya dianggap Ibadah, yang dipindahkan dengan
mutawatir, dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-
N s
12


Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa menghafal Al-
Quran merupakan usaha dengan sadar dan sungguh-sungguh yang dilakukan ,
untuk mengingat-ingat dan meresapkan bacaan kitab suci Al-Quran yang
mengandung mukjizat kedalam fikiran agar selalu ingat, dengan menggunakan
metode dan strategi tertentu.
2. Keutamaan Menghafal Al-Quran.
Al-Quran adalah kitab suci Agama Islam yang abadi, petunjuk bagi seluruh
umat manusia. Barangsiapa yang berkata dengannya (Al-Quran), maka ia
berbicara dengan benar; barangsiapa yang mengamalkannya, maka ia akan
mendapat pahala, barangsiapa yang menyeru padanya maka ia telah ditunjukkan
pada jalan yang lurus, barangsiapa yang berpegang teguh padanya, maka ia telah
berpegang pada tali Agama yang kokoh, dan barangsiapa yang berpaling darinya


11
Moenawar Chalil. Kembali Kepada Al-Quran dan Al-Sunnah (Jakarta: Bulan Bintang,
Tanpa Tahun), hlm. 179.

12
Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir Al-Munir Fil Aqidah Wa Syariah Wal Minhaj (Damaskus: Darul
Fikr, 2007 ), hlm. 15.


dan mencari petunjuk selainnya, maka ia sangatlah sesat.
13
Allah SWT berfirman
dalam Al-Quran, surat Ibrahim (14:1):
9 2 mY9 R 79 9 Z9 `B J= 9 < qY9 b Og < 9
J :
Artinya: Alif, laam raa (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu
supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang
benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha
perkasa lagi Maha terpuji
14


Menghafal Al-Quran merupakan suatu perbuatan yang sangat terpuji dan
mulia. Banyak sekali hadits-hadits Rasulullah yang menerangkan tentang hal
tersebut. Orang-orang yang mempelajari, membaca dan menghafal Al-Quran
merupakan orang-orang pilihan yang memang dipilih oleh Allah untuk menerima
warisan kitab suci Al-Quran.
15
Allah berfirman dalam Al-Quran surat Fathir
(35:32):
N Z r 39 Z `B R OgYJ O9 m Z9 Nk]Br )B Nk]Br
, 9 b 9 qd @ 9 69
Artinya: kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang kami
pilih diantara hamba-hamba kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya
diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara
mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Hal
yang demikian itu adalah karunia yang amat besar
16


Banyak Hadits Rasulullah SAW yang mendorong untuk menghafal Al-
Quran atau membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang muslim tidak


13
Ahmad Salim Badwilan. Panduan Cepat Menghafal Al-Quran (Jogjakarta: Diva Press,
2009), hlm. 264.

14
Al-Quran dan Terjemahnya. Op. Cit., hlm. 379.

15
Ahsin W. Al-Hafizh. Bimbingan Praktis Menghafal Al-Quran (Jakarta: PT Bumi Aksara,
2005), hlm. 26.

16
Al-Quran dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 700-701.


kosong dari ayat-ayat Al-Quran dan mengingat Allah SWT. Hal ini sebagaima
tersebut dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu:
17

Artinya: Dan dari Ibnu Abbas RA berkata, Rasulullah SAW telah bersabda:
"Sesungguhnya orang yang tidak mempunyai hafalan Al-Quran sedikitpun
adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh
18


Rasulullah SAW memberikan penghormatan kepada orang yang mempunyai
keahlian dalam membaca Al-Quran dan menghafalkannya. Beliau
memberitahukan kedudukan mereka dan mengedepankan mereka dibandingkan
orang lain. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh,
diceritakan bahwa suatu hari Rasulullah mengutus satu utusan yang terdiri dari
beberapa orang. Rasulullah mengecek kemampuan membaca Al-Quran dan
hafalan mereka, kemudian orang yang paling banyak hafalannya ditugaskan oleh
beliau untuk menjadi ketua rombongan (pemimpin). Mengetahui keadaan
tersebut, salah seorang sahabat berkata: Demi Allah, aku tidak mempelajari dan
menghafal surat Al-Baqoroh semata-mata karena aku takut tidak dapat
mengamalkan isinya, mendengar komentar tersebut, Rasulullah SAW bersabda:

Rasulullah SAW bersabda:Pelajarilah Al-Quran dan bacalah, sesungguhnya
perumpamaan orang yang mempelajari Al-Quran dan membacanya adalah


17
Global Islamic Software Compani, Sunan Tirmidzi (Mausuat Al-Hadits Al-Syarif: 2000), no.
2837.

18
Yusuf Qardhawi, Berinteraksi dengan Al-Quran, Terj. Abdul Hayiee Al-Kattani (Jakarta:
Gema Insani Press, 1999), hlm. 191.

19
Global Islamic Software Compani, Op. Cit., Sunan Ibnu Majah: 213.


seperti tempat air yang penuh dengan minyak wangi misik, harumnya
menyebar kemana-mana, dan barangsiapa yang mempelajarinya kemudian ia
tidur dan di dalam hatinya terdapat hafalan Al-Quran, adalah seperti tempat
air yang tertutup dan berisi minyak misik
20


Kemuliaaan penghafal Al-Quran tidak hanya terbatas di dunia saja, di akhirat
kelak seorang penghafal Al-Quran mendapatkan beberapa kemuliaan dari Allah
SWT. Dalam hadits disebutkan, dari Abu Hurairah RA. bahwa Rasulullah SAW
bersabda:

Dari Nabi SAW:Al-Quran akan datang pada hari qiamat, kemudian Al-
Quran akan berkata, wahai Tuhanku pakaikanlah pakaian untuknya,
kemudian orang itu dipakaikan mahkota karomah (kehormatan). Al-Quran
kembali meminta, wahai Tuhanku tambahkanlah. lalu orang itu dipakaikan
jubah karomah, kemudian Al-Quran memohon lagi, wahai Tuhanku, ridoilah
dia, Allah SWT pun meridoinya, maka diperintahkan kepada orang itu,
bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga). Allah menambahkan pada
setiap ayat yang dibacanya nikmat dan kebaikan
22


Balasan Allah SWT di akhirat tidak hanya bagi para penghafal dan ahli Al-
Quran saja, namun cahaya kemuliaannya juga menyentuh kedua orang tuanya,
dan ia dapat memberikan sebagian cahaya itu kepadanya dengan berkah Al-
Quran. Dalam Hadits disebutkan:




20
Yusuf Qardhawi, Op. Cit., hlm. 192.

21
Global Islamic Software Compani,Op. Cit., Sunan Tirmidzi: 2839

22
Yusuf Qardhawi, Op. Cit., hlm. 193

23
Global Islamic Software Compani, Op. Cit., Sunan Abu Daud: 1241.


Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:Barangsiapa yang membaca Al-
Quran, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan kepada
orang tuanya mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti
cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan)
yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduaanya lalu bertanya, mengapa
kami dipakaikan jubah ini?, dijawab, karena kalian memerintahkan anak
kalian untuk mempelajari Al-Quran
24


Mengenai keutamaan menghafal Al-Quran ini, Imam Nawawi dalam kitabnya
Al-Tibyan Fi Adabi Hamalati Al-Quran menyebutkan ada beberapa keutamaan,
antara lain:
1) Al-Quran sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat bagi yang membaca,
memahami dan mengamalkannya. Dalam Hadits disebutkan:

Abu Umamah Al-Bahili berkata kepadaku, saya mendengar Rasulullah SAW
bersabda, bacalah Al-Quran, maka sesungguhnya ia akan datang pada hari
kiamat nanti sebagai pemberi syafaat kepada pemiliknya (pembacanya)
26


2) Para penghafal Al-Quran telah dijanjikan derajat yang tinggi di sisi Allah
SWT, pahala yang besar serta penghormatan diantara sesama manusia.
Al-Quran menjadi Hujjah atau pembela bagi pembacanya dan sebagai
pelindung dari adzab api neraka.
Pembaca Al-Quran khususnya penghafal Al-Quran yang kualitas dan
kuantitas bacaannya lebih tinggi, akan bersama malaikat yang selalu
melindunginya dan mengajak kepada kebaikan.
Penghafal Al-Quran akan mendapatkan fasilitas khusus dari Allah, yaitu
terkabulnya segala harapan tanpa harus memohon/berdoa.


24
Yusuf Qardhawi, Op. Cit., hlm. 193.

25
Global Islamic Software Compani, Op. Cit., Shohih Muslim:1337.

26
Yusuf Qardhawi, Op. Cit., hlm. 226.


Penghafal Al-Quran berpotensi untuk mendapatkan pahala yang banyak
karena seringnya membaca dan mengkaji Al-Quran. Dalam hadits
disebutkan:

Rasulullah SAW bersabda:barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-
Quran, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan, lalu satu kebaikan itu akan
dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan satu huruf, tetapi satu
huruf dan satu huruf satu huruf
28


Para penghafal Al-Quran diprioritaskan untuk menjadi imam dalam sholat
8) Penghafal Al-Quran menghabiskan sebagaian besar waktunya untuk
mempelajari dan mengajarkan sesuatu yang bermanfaat dan bernilai
ibadah, hal ini menjadikan hidupnya penuh barokah dan memposisikannya
sebagai insan kamil.
29

Selain beberapa keutamaan menghafal Al-Quran yang telah diuraikan di atas,
menurut Syamsudin, ada beberapa keutamaan dalam menghafal Al-Quran antara
lain:
1). Hafalan Al-Quran membuat orang dapat berbicara dengan fasih dan
benar, serta dapat membantunya dalam mengeluarkan dalil-dalil dari ayat-
ayat Al-Quran dengan cepat, ketika menjelaskan atau membuktikan suatu
permasalahan.


27
Global Islamic Software Compani , Op. Cit., Sunan Tirmidzi. 2912.

28
Yusuf Qardhawi, Op. Cit., hlm. 226.

29
Abi Zakariya Yahya An-Nawawi, Op. Cit., hlm. 11-16.


2). Menguatkan daya nalar dan ingatan. Dengan hafalan yang terlatih, maka
akan menjadikan seseorang mudah dalam menghafal hal-hal lain di luar
Al-Quran.
3). Dengan izin Allah, seorang siswa menjadi lebih unggul dari teman-
temannya yang lain di kelas, karena Allah memberikan karunia Nya
lantaran ia mau menjaga kalam Allah dan mencintai Nya.
30

Dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa kemuliaan menghafal Al-Quran
tidak hanya sebatas di dunia, sampai di akhiratpun kemuliaan itu akan terus
terpancar pada para penghafal Al-Quran serta kedua orang tuanya. Keutamaan
dan kemuliaan itu merupakan karunia Allah yang akan diberikan kepada hamba-
hamba yang dikehendaki-Nya. Dengan adanya Hadits-Hadits tersebut seorang
pembaca dan penghafal Al-Quran seharusnya bisa lebih termotivasi dalam
mengkaji, memahami dan melestarikan hafalannya.
3. Adab Menghafal Al-Quran
Aktivitas menghafal Al-Quran diawali dengan membaca secara berulang-
ulang ayat-ayat yang akan dihafalkan, sampai mendapatkan gambaran dalam
fikiran tentang ayat-ayat yang dihafalkan tersebut.
Membaca Al-Quran merupakan salah satu bentuk komunikasi manusia
kepada Allah, oleh karena itu dalam membaca Al-Quran harus menggunakan
beberapa tata krama, baik batin maupun zhahir.
Menurut Imam Nawawi ada tatakrama batin yang harus diperhatikan oleh
pembaca Al-Quran, diantaranya adalah sebelum membaca Al-Quran seseorang


30
Achmad Yaman Syamsudin. Op. Cit., hlm. 35-36.


harus menanamkan dalam hatinya niat yang ikhlas karena Allah, yaitu dengan
menghadirkan perasaan bermunajat kepada Allah, serta hendaklah ia membaca
Al-Quran seakan-akan ia melihat Allah, (walaupun ia tidak melihat Allah) maka
sesungguhnya Allah melihatnya.
31

Selain tatakrama batin, menurut Al-Maliki ada beberapa tatakrama zhahir
dalam membaca Al-Quran yang juga harus diperhatikan, diantaranya:
1). Disunnahkan untuk mensucikan diri dari hadast besar dan kecil terlebih
dahulu, karena membaca Al-Quran merupakan dzikrull h yang paling
utama;
2). Disunnahkan membaca Al-Quran di tempat yang bersih, adapun tempat
yang paling utama adalah di masjid;
3). Disunnahkan menggosok gigi terlebih dahulu sebelum memulai
membaca Al-Quran, agar mulut menjadi suci dan bersih.
4). Disunnahkan duduk dengan menghadap kiblat dalam keadaan khusyu,
tenang serta menundukkan kepala;
5). Disunnahkan membaca isti dzah (taawudz) sebelum memulai membaca
Al-Quran.
6). Hendaknya membaca basmalah pada setiap permulaan surat kecuali
permulaan surat At-Taubah;
7). Disunnahkan membaca Al-Quran dengan tartil, agar dapat mengangan-
angankan ayat-ayat yang sedang dibaca.

31
Abi Zakariya Yahya An-Nawawi, Op. Cit., hlm. 57.


8). Disunnahkan membaca Al-Quran dengan memikirkan maksud ayat dan
berusaha memahaminya, karena itulah tujuan yang agung dan penting
dalam membaca Al-Quran.
9). Disunnahkan membaca Al-Quran itu disertai dengan menangis apabila
ada ayat yang menerangkan tentang pedihnya adzab, apabila tidak bisa
maka hendaknya diusahakan untuk menangis;
10). Disunnahkan memperindah suara dalam membaca Al-Quran, apabila
tidak bisa maka hendaknya tetap menjaga bacaan itu sesuai dengan ilmu
tajwid;
11). Disunnahkan membaca Al-Quran dengan suara yang jelas (keras),
karena membaca dengan suara yang keras lebih utama dan dapat
menimbulkan semangat bagi pembacanya.
32

Dalam redaksi yang lain, An-Nawawi menambahkan ada beberapa adab dalam
membaca Al-Quran, antara lain:
1). Dalam membaca Al-Quran tidak boleh menggunakan bahasa selain Arab,
baik di dalam sholat maupun di luar sholat. Misalnya apabila seseorang
membaca surat Al-Fatihah di dalam sholat, tetapi dengan bahasa
indonesia (terjemah), maka sholatnya tidak sah. Demikian pula apabila
membaca di luar shalat dengan bahasa selain arab (terjemah), maka
seseorang tidak mendapatkan pahala membaca Al-Quran. Hal ini karena
mengingat pahala membaca Al-Quran adalah dari melafadkan huruf-huruf
arab yang terangkai dalam ayat-ayat Al-Quran.


32
Muhammad Bin Alwi Al-Maliki, Zubdatul Itqan Fi Ulumil Quran (Jeddah: Dar Al-Syuruq,
1986), hlm. 43-49.


2). Diperbolehkan membaca Al-Quran dengan menggunakan Qiraat tujuh
(qir at al-sabah) yang telah disepakati oleh para Ulama ahli Qiraah.
33

4. Metode Menghafal Al-Quran
Metode merupakan cara untuk mencapai maksud yang diinginkan. Dalam
proses menghafal Al-Quran, peran metode meghafal sangat besar untuk
mendukung keberhasilan hafalan. Penggunaan metode yang tepat, akan membantu
seorang penghafal Al-Quran untuk dapat menghafal Al-Quran dengan baik dan
cepat.
Menurut Zen, secara umum metode yang dipakai dalam menghafal Al-Quran
ada dua macam, yaitu metode tahfizh dan takrir. Kedua metode ini pada dasarnya
tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Metode tahfizh adalah menghafal
materi baru yang belum pernah dihafal, sedangkan metode takrir adalah
mengulang hafalan yang sudah diperdengarkan pada instruktur.
34

Dalam proses menghafal Al-Quran, umumnya para penghafal Al-Quran
menggunakan perpaduan antara metode tahfizh (menambah hafalan) dan metode
takrir (mengulang hafalan), karena dengan menyeimbangkan keduanya, kuantitas
dan kualitas hafalan akan dapat terjaga dengan baik. Adapun secara lebih spesifik,
metode menghafal dalam prakteknya, akan lebih terperinci dijelaskan selanjutnya.
Menurut Al-Hafizh, ada beberapa metode yang dapat membantu para
penghafal mengurangi kepayahan dalam menghafal Al-Quran. Diantara metode
itu adalah:


33
Abi Zakariya Yahya An-Nawawi, Op. Cit., hlm. 75.

34
Muhaimin Zen, Tata Cara Problematika Menghafal Al-Quran dan Petunjuk-Petunjuknya,
Sebagaimana dikutip Oleh Ainul Aisiyah, Pengaruh Program Menghafal Al-Quran Terhadap
Prestasi Belajar Siswa (Skripsi: Fakultas tarbiyah UIN Malang, 2002), hlm. 16.


1. Metode Wahdah, yaitu menghafal satu persatu ayat yang akan dihafal.
Untuk mencapai hafalan awal, setiap ayat hendaknya dibaca sebanyak
sepuluh kali atau lebih hingga proses ini mampu membentuk pola dalam
bayangan, untuk kemudian membentuk gerak reflek dari lisan. Setelah
benar-benar hafal barulah dilanjutkan pada ayat seterusnya hingga
mencapai satu halaman. Setelah ayat-ayat dalam satu halaman dihafal,
tahap berikutnya adalah menghafal urutan-urutan ayat dalam satu halaman
tersebut, kemudian diulang-ulang sampai benar-benar hafal.
2. Metode Kit bah (menulis).
Metode ini memberikan alternatif lain dari metode yang pertama. Pada
metode ini, penghafal lebih dulu menulis ayat dalam secarik kertas,
kemudian dibaca dengan baik dan mulai dihafal. Adapun menghafalnya
bisa dengan metode wahdah, atau dengan berkali-kali menulisnya. Dengan
begitu seorang akan dapat menghafal karena ia dapat memahami bentuk-
bentuk huruf dengan baik dan mengingatnya dalam hati.
35

3. Metode Sim i (mendengar)
Perbedaan metode ini dengan metode yang lain adalah pada pemaksimalan
fungsi indera pendengar. Pada metode ini penghafal mendengarkan lebih
dulu ayat-ayat yang akan dihafalkannya untuk kemudian berusaha diingat-
ingat. Metode ini sangat cocok untuk anak tunanetra dan anak kecil yang
belum mengenal baca tulis. Metode ini bisa dilakukan dengan mendengar


35
Ahsin W. Al-Hafizh. Op. Cit., hlm. 63-64.


bacaan dari guru, atau dari rekaman bacaan Al-Quran (murattal Al-
Quran).
4. Metode Gabungan.
Metode ini merupakan gabungan antara metode pertama dengan metode
yang kedua, yaitu wahdah dan kitabah. Akan tetapi pada metode gabungan
ini, penghafal berusaha untuk menghafalkan dahulu baru kemudian
menuliskan apa yang telah ia hafal dalam kertas.
5. Metode Jama (kolektif).
Metode ini menggunakan pendekatan menghafal Al-Quran secara
kolektif, yaitu: membaca ayat-ayat yang telah dihafal secara bersama-
sama, dipimpin oleh seorang instruktur.
36

Dalam redaksi yang lain, Ulum menyebutkan ada beberapa metode yang
digunakan untuk menghafal Al-Quran:
1. Thar qatu takr ru al-qir atu al-juzi, yaitu: membaca ayat-ayat yang
akan dihafal secara berulang-ulang sampai penghafal menemukan
bayangan dalam fikiran mengenai ayat tersebut, kemudian diulang-ulang
mulai ayat pertama sampai seterusnya.
2. Thar qatu takr ru al-qir atu al-kulli, yaitu: dalam hal ini seorang
penghafal Al-Quran sebelumnya membaca Al-Quran secara binnadzar
(melihat) dengan bimbingan seorang instruktur, kemudian sampai ia
khatam beberapa kali barulah ia memulai untuk menghafal.


36
Ahsin W. Al-Hafizh, Op. Cit., hlm. 64-66.


3. Thar qatu al-jumlah, yaitu: menghafal rangkaian-rangkaian kalimat yang
terdapat dalam setiap ayat Al-Quran. Seorang penghafal memulai
hafalannya dengan menghafal perkalimat untuk kemudian dirangkaikan
menjadi satu ayat yang utuh.
4. Thar qatu al-tadr jy, yaitu metode bertahap. Pada metode ini, seorang
penghafal dalam menargetkan hafalannya tidak secara sekaligus, akan
tetapi sedikit-demi sedikit dalam waktu yang berbeda. Misalnya: subuh
menghafal seperempat juz, dzuhur menghafal seperempat juz berikutnya
dan seterusnya.
5. Thar qatu al-tadabburi, yaitu metode mengangan-angankan makna.
Dalam metode ini, seorang penghafal Al-Quran menghafal dengan cara
memperhatikan makna lafad/kalimat, sehingga diharapkan ketika
membaca ayat-ayat Al-Quran dapat tergambar makna-makna lafdiah yang
terucap (terbaca). Metode ini sangat efektif bagi seseorang yang telah
memiliki kemampuan bahasa arab yang baik, namun dapat juga digunakan
bagi orang sedikit mengetahui bahasa arab dengan bantuan kitab terjemah
Al-Quran.
37

Dari beberapa metode menghafal yang telah dijelaskan, para penghafal Al-
Quran bisa memilih dan menggunakan salah satunya, ataupun menggabungkan
beberapa metode yang dianggap sesuai untuk mencapai keberhasilan menghafal
Al-Quran. Penggunaan metode menghafal tersebut bisa diterapkan pada proses


37
M. Samsul Ulum, Menangkap Cahaya Al-Quran (Malang: UIN Malang Press, 2007), hlm.
136-139.


menghafal Al-Quran, baik pada tahfizh (menambah hafalan) dan takrir
(mengulang hafalan).
Berdasarkan pemaparan tersebut diketahui bahwa metode yang ditawarkan
amat beragam, dengan demikian diharapkan aktivitas menghafal Al-Quran
menjadi tidak membosankan, karena banyak alternatif metode yang bisa dipilih
oleh para penghafal Al-Quran.
5. Melestarikan Hafalan Al-Quran
Al-Quran yang telah berusaha dihafal oleh kaum muslimin harus tetap dijaga
dan dilestarikan dengan baik dalam ingatannya. Menghafal Al-Quran pada
dasarnya berlangsung sejalan dengan psikologi proses mengingat, dimana terjadi
sebuah proses penerimaan informasi melalui indera penglihatan atau pendengaran
siswa. Informasi ini kemudian masuk kedalam memori jangka pendek (short term
memory/working memory) siswa dan dikodekan (encoding). Setelah selesai proses
pengkodean tersebut, informasi kemudian masuk dan tersimpan dalam memori
jangka panjang/permanen (long term memory permanent memory).
38

Apabila proses penerimaan informasi berlangsung dengan sempurna, maka
item informasi yang tersimpan pun baik. Akan tetapi apabila item informasi yang
diserap rusak sebelum masuk ke memori permanen siswa, maka item yang rusak
tersebut tidak hilang dan tetap diproses dalam memori siswa tersebut, tetapi
terlalu lemah untuk dipanggil kembali (lupa). Kerusakan item informasi tersebut
mungkin disebabkan karena tenggang waktu antara saat diserapnya informasi


38
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 67.


dengan saat pengkodean dan transformasi dalam memori jangka panjang siswa
tersebut.
39

Menurut Muhibbin Syah dengan menghimpun pendapat dari berbagai sumber
dalam bukunya, ada beberapa faktor penyebab lupa antara lain:
a. lupa yang terjadi karena gangguan konflik antara item informasi atau
materi yang ada dalam sistem memori siswa.
Dalam interference theory (teori mengenai gangguan), gangguan konflik
terbagi menjadi dua, yaitu (1) proaktive interverence, dan (2) retroactive
interverence.
Seorang siswa akan mengalami gangguan proaktif apabila materi
pelajaran lama yang sudah tersimpan dalam subsistem akal permanennya
mengganggu masuknya materi pelajaran baru. Peristiwa ini bisa terjadi
apabila siswa tersebut mempelajari sebuah materi pelajaran yang sangat
mirip dengan materi pelajaran yang telah dikuasainya dalam tenggang
waktu yang pendek. Dalam hal ini, materi yang baru saja dipelajari akan
sangat sulit diingat atau diproduksi kembali.
Sebaliknya, seorang siswa mengalami gangguan retroaktif apabila materi
pelajaran baru membawa konflik dan gangguan terhadap pemanggilan
kembali materi pelajaran lama yang telah lebih dulu tersimpan dalam
subsistem akal permanen siswa tersebut. Dalam hal ini, materi pelajaran
lama akan sangat sulit diingat oleh siswa (siswa lupa terhadap materi
yang lama tersebut).


39
Ibid., hlm. 154.


b. lupa yang terjadi karena adanya tekanan terhadap item informasi yang
telah ada, baik disengaja maupun tidak. Contohnya, apabila item informasi
yang diterima oleh siswa kurang menyenangkan, sehingga siswa akan
dengan sengaja melupakan dan menekannya kedalam alam bawah sadar.
Selain itu, karena sistem informasi itu tertekan kedalam alam bawah sadar
dengan sendirinya (lupa dengan sendirinya) karena tidak pernah
dipergunakan.
c. lupa karena perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan
waktu mengingat kembali.
d. lupa karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi
belajar tertentu.
e. lupa karena materi pelajaran yang telah dikuasi tidak pernah digunakan
atau dihafalkan oleh siswa.
f. lupa karena terjadi perubahan urat syaraf otak.
40

Dalam proses menghafal Al-Quran, ayat-ayat yang dihafalkan oleh para
penghafal bisa tersimpan dalam memori jangka pendek maupun memori jangka
panjang, atau bisa juga tidak tersimpan. Hal ini tergantung pada intensitas
pengulangan yang dilakukan, serta keseimbangan antara tahfizh (penambahan
hafalan) dan takrir (pengulangan hafalan). Oleh karena itulah, perlu adanya upaya
untuk melestarikan hafalan yang telah dimiliki oleh seorang penghafal Al-Quran.



40
Ibid., hlm. 152-154.


Menurut As-Sirjani dan Abdul Kholiq, ada beberapa strategi untuk
melestarikan (memelihara) hafalan Al-Quran, antara lain:
1) Menjauhi perbuatan maksiat.
Seorang penghafal Al-Quran harus berusaha untuk menjauhi segala bentuk
kemaksiatan dan dosa serta menjaga dirinya dari agar tidak terjerumus
kedalamnya. Selain menjauhi perbuatan dosa, seorang penghafal Al-Quran harus
menghindari segala hal yang syubhat (meragukan).
Sejarah telah mencatat ketika Imam Syafii yang terkenal kuat hafalannya
mengadukan kepada gurunya Waqi perihal hafalannya yang agak tersendat, maka
sang Guru memberikan nasehat kepada Imam Syafii agar melakukan intropeksi
diri dan mengingat-ingat dosa yang pernah dilakukan.
41

2) Mengulang-ulang dengan teratur.
Seorang penghafal Al-Quran harus memiliki waktu khusus untuk mengulang
hafalannya, sehingga ia bisa rutin melakukan pengulangan hafalan. Seorang
penghafal Al-Quran hendaknya berusaha untuk bisa mengkhatamkan bacaannya
dalam jangka sebulan, atau apabila kurang dari sebulan itu lebih baik. Dengan
mengulang-ulang secara teratur dan istiqomah, diharapkan hafalan yang mulanya
berada dalam memori jangka pendek bisa menetap dalam memori jangka
panjang/permanen.
Cara mengulang-ulang hafalan Al-Quran tidak harus dilakukan monoton
dengan duduk. Pengulangan yang paling efektif dilakukan dalam sholat, baik
sholat fardhu maupun sholat sunah, karena saat itu konsentrasi bisa difokuskan


41
Raghib As-Sirjani dan Abdurrahman Abdul Kholiq, Cara Cerdas Hafal Al-Quran, terj.
Sarwedi M. Amin Hasibuan (Solo: Aqwam, 2007), hlm. 71.


dengan baik. Hal ini berbeda dengan kondisi menghafal yang hanya dengan
duduk, biasanya ada saja hal-hal yang dapat membuyarkan konsentrasi.
Selain mengulang-ulang hafalan dengan membacanya secara teratur,
penghafal Al-Quran juga dapat mengulang hafalannya dengan cara
mendengarkan bacaan/hafalan penghafal lain. Mendengarkan bacaan Al-Quran
dengan rutin dan sering, bisa membantu menguatkan daya ingat.
42

Mendengarkan bacaan Al-Quran dari orang lain/penghafal lain tidak hanya
bisa dilakukan di rumah atau di majlis talim saja, akan tetapi bisa di manapun.
Sebagaimana diketahui bahwa pada zaman sekarang ini teknologi informasi telah
maju, sehingga siapapun dapat mendengarkan bacaan tartil Al-Quran (murattal)
dari imam-imam Qiroah yang masyhur seperti Syeikh Abdurrahman As-Sudais,
As-Syuraim, Syeikh Hani Ar-Rifai dan lain sebagainya melalui kaset atau MP3
player. Selain itu, sekarang ini mulai banyak bermunculan Radio dakwah Islam
yang program/acaranya didominasi oleh bacaan Al-Quran dari imam-imam
Qiroah yang masyhur. Dengan demikian kapanpun dan di manapun para pengafal
bisa saja mengulang-ulang hafalannya dengan batuan berbagai media elektronik
tersebut.
3) Memahami makna yang terkandung dalam Al-Quran
Memahami makna yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Quran, akan
membantu penghafal dalam melekatkan hafalannya dalam pikiran. Seorang
penghafal yang memahami makna dan kandungan ayat yang akan dihafal, akan
lebih mudah dan cepat menghafalnya.


42
Ibid., hlm. 79-84.


Contohnya ketika menghafal surat/ayat-ayat yang mengandung kisah dan
memiliki asbabun nuzul (sebab turunnya ayat). Begitu pula apabila menghafal
ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum fikih, seperti berwudhu, kafarat sumpah,
zhihar, puasa, haji, dan sebagainya.
Seorang penghafal Al-Quran juga bisa mempergunakan/memanfaatkan kitab
tafsir yang ringkas, seperti Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, Mukhtashar Tafsir
Ath-Thobari, Tafsir Jalalain dan lainnya.
4) Sering memperdengarkan bacaan/hafalan kepada orang lain
Seorang penghafal hendaknya tidak menyandarkan hafalannya pada dirinya
sendiri, akan tetapi ia harus memperdengarkan hafalannya kepada penghafal Al-
Quran yang lain, terutama yang lebih senior. Hal ini bertujuan untuk mengetahui
letak kesalahan bacaan, bacaan yang terlupakan dan diulang-ulang secara tidak
sadar. Kesalahan bacaan biasanya terjadi karena penghafal tersebut membaca
sendiri (tidak diperdengarkan), kemudian saat melakukan kesalahan bacaan ia
tidak menyadarinya. Hal ini akan berkelanjutan jika penghafal Al-Quran tidak
pernah memperdengarkan hafalannya kepada orang lain.
43

6. Faktor-Faktor Yang Mendukung Keberhasilan Menghafal Al-Quran
Dalam pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa menghafal Al-Quran
merupakan sebuah proses mengingat Al-Quran di luar kepala dengan berbagai
strategi dan metode tertentu. Sejalan dengan proses belajar, menghafal Al-Quran
juga memiliki beberapa faktor pendukung untuk mencapai hafalan yang
sempurna.

43
Ibid., 75 & 122


Dalam rangka mencapai suatu keberhasilan untuk menghafal Al-Quran, ada
beberapa faktor penunjang, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Adapun
penjelasan dari kedua faktor tersebut adalah sebagai berikut:
a. Faktor Internal
Faktor Internal adalah keadaan jasmani dan rohani individu (siswa).
44
Faktor
ini berasal dari dalam individu yang merupakan pembawaan masing-masing
individu dan sangat menunjang keberhasilan menghafal Al-Quran, antara lain:
1) Bakat
Secara umum bakat (aptitude) adalah komponen potensial seseorang siswa
untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.
45
Dalam hal ini
seorang penghafal Al-Quran yang memiliki ketajaman intelegensi dan potensi
ingatan yang bagus akan lebih mudah untuk menghafal Al-Quran. Intelegensi dan
potensi kecerdasan pada dasarnya merupakan faktor-faktor psikologis. Dengan
bakat intelegensi dan ingatan yang baik, seorang penghafal Al-Quran akan dapat
memaksimalkan efektifitas metode menghafal yang ada.
46

2) Minat
Minat secara sederhana berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau
keinginan yang besar terhadap sesuatu. Mahasiswa yang memiliki minat untuk
menghafal Al-Quran akan secara sadar dan bersungguh-sungguh berusaha
menghafal Al-Quran dan melestarikannya. Minat yang kuat akan mempercepat
keberhasilan dalam usaha menghafal Al-Quran. Menurut Al-Hafizh, ada


44
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja Rosda
Karya, 2000), hlm. 132.

45
Muhibbin Syah, Ibid , hlm. 135.

46
Ahmad Yaman Syamsudin, Op. Cit., hlm. 49.


beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat menghafal Al-
Quran, antara lain:
a) Menanamkan sedalam-dalamnya tentang nilai keagungan Al-Quran dalam
jiwa penghafal Al-Quran, ini adalah salah satu tugas seorang instruktur selain
motivasi intern seseorang penghafal.
b) Memahami keutamaan membaca, mempelajari dan menghafal Al-Quran. Hal
ini dilakukan dengan dengan berbagai kajian yang berkaitan dengan ke Al-
Quran-an.
c) Menciptakan kondisi lingkungan yang benar-benar mencerminkan ke-al-
Quran-an, serta kondusif untuk menghafal Al-Quran.
d) Mengembangkan objek perlunya menghafal Al-Quran, atau mempromosikan
idealisme suatu lembaga pendidikan yang bercirikan Al-Quran, sehingga
animo untuk menghafal Al-Quran selalu muncul dengan perspektif yang
baru.
e) Mengadakan musabaqah (lomba-lomba), semaan Al-Quran dan lainnya.
f) Mengadakan studi banding dengan mengunjungi lembaga-lembaga pendidikan
atau pondok pesantren Al-Quran, sehingga bisa mendapat masukan yang
berguna dari studi banding tersebut, sekaligus menyegarkan kembali minat
menghafal Al-Quran sehingga tidak berhenti di tengah jalan.
g) Mengembangkan berbagai metode menghafal yang bervariasi untuk
menghilangkan kejenuhan dari suatu metode yang terkesan monoton.
47




47
Ahsin W. Al-Hafizh, Op. Cit., hlm. 42-43.


3) Motivasi Individu
Dalam konteks menghafal Al-Quran, motivasi individu adalah adanya niat
ikhlas dan azam (kemauan) yang kuat. Langkah pertama yang harus dimiliki
seorang penghafal Al-Quran adalah menanamkan rasa keikhlasan tanpa ada
sedikitpun riya atau pamer hanya karena ingin disebut hafizh-hafizhah dan
sebagainya. Niat menghafal Al-Quran haruslah didasarkan untuk mencari ridho
Allah dan beribadah kepada-Nya. Niat yang ikhlas akan membedakan tujuan
seseorang dalam menghafal Al-Quran. Hal ini karena pijakan awal yang berbeda
akan berbeda pula hasil yang dicapai.
Selain niat, azam/kemauan yang kuat juga memegang peranan penting dalam
proses menghafal dan melestarikan hafalan Al-Quran. Hal ini karena dalam
proses menghafal Al-Quran seseorang akan mengalami rasa jenuh, bosan,
lingkungan yang tidak kondusif, gangguan batin karena sulitnya yat-ayat yang
dihafal dan lain sebagainya. Oleh karena itu, untuk senantiasa dapat melestarikan
hafalan perlu adanya keinginan dan tekad yang kuat.
48

4) Usia yang cocok
Sebenarnya tidak ada batasan usia tertentu secara mutlak untuk menghafal Al-
Quran, namun tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat usia seseorang memang
berpengaruh terhadap keberhasilan menghafal Al-Quran. Seorang penghafal Al-
Quran yang relatif masih muda akan lebih mudah menghafal karena pikirannya
masih murni dan belum tercampuri oleh urusan keduniaan dan berbagai problem
kehidupan yang memberatkannya. Usia yang ideal untuk menghafal adalah


48
Ahsin W. Al-Hafizh. Ibid, hlm. 49-50.


berkisar antara usia 6-21 tahun, namun demikian bagi anak-anak usia dini
hendaknya tidak dipaksakan melebihi batas kemampuan psikologisnya.
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah kondisi atau lingkungan di sekitar siswa/mahasiswa
penghafal Al-Quran. Hal ini berarti bahwa faktor-faktor yang berasal dari luar
diri siswa juga ada yang bisa menunjang keberhasilan menghafal dan melestarikan
hafalan Al-Quran. Adapun beberapa faktor eksternal ini antara lain:
1). adanya guru Qiraah (instruktur)
Keberadaan seorang instruktur dalam memberikan bimbingan kepada siswa
(anak bimbingannya) sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam
menghafalkan Al-Quran. Faktor ini sangat menunjang kelancaran mereka dalam
proses menghafal. Sebagaimana diketahui Al-Quran diturunkan secara mutawatir
(bersambung) kepada malaikat Jibril dan Nabi Muhammad SAW, demikian
seterusnya beliau mengajarkannya kepada para sahabat hingga sampai pada masa
sekarang ini. Sehubungan dengan inilah, maka menurut As-Suyuti dalam belajar
Al-Quran harus dengan guru yang memiliki sanad sahih, yaitu guru yang jelas,
tertib sanadnya dan bersambung kepada Nabi.
49

2). pengaturan waktu untuk menghafal Al-Quran.
Tingkat kemampuan seorang penghafal berbeda antara satu dengan lainnya,
begitu pula kesempatan yang dipergunakan seseorang penghafal Al-Quran.
Dalam kesehariannya, seorang penghafal harus memiliki waktu khusus untuk
menambah dan mengulangi hafalannya.


49
Ahsin W. Al-Hafizh, Op. Cit., hlm. 74.


Bagi penghafal Al-Quran yang khusus menjalani program menghafal saja,
dapat mengoptimalkan seluruh kemampuan dan memaksimalkan seluruh kapasitas
waktunya untuk menghafal sehingga bisa lebih cepat menyelesaikan hafalan Al-
Qurannya, namun jika penghafal Al-Quran tersebut juga memiliki kegiatan
selain menghafal Al-Quran seperti sekolah, kuliah, kursus dan lainnya, maka ia
harus pandai-pandai memanfaatkan waktu yang ada.
Alokasi waktu yang ideal untuk ukuran sedang dengan target satu halaman
adalah empat jam, dengan rincian untuk menghafal ayat-ayat baru dan dua jam
untuk mengulang hafalan. Penggunaan waktu tersebut dapat disesuaikan dengan
manajemen waktu yang diperlukan masing-masing individu. Umpamanya satu
jam di pagi hari dan satu jam di sore harinya, malam hari dan seterusnya. Adapun
waktu-waktu yang dianggap sesuai dan baik untuk menghafal dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
a). waktu sebelum terbit fajar.
Waktu sebelum terbit fajar adalah waktu yang sangat baik untuk menghafal
ayat-ayat suci Al-Quran, karena waktunya tenang dan memiliki banyak
keutamaan. Waktu malam (setelah bangun dari tidur) adalah waktu yang
sangat baik untuk membaca dan mengulangi hafalan Al-Quran, karena
bacaan lebih menyatu dan khusyu serta lebih mudah untuk dapat
memahami bacaan dari pada waktu siang. Hal ini karena waktu siang
merupakan waktu yang banyak berbagai aktifitas dan penuh dengan suara-


suara bising dari lingkungan sekitar.
50
Sebagaimana firman Allah dalam
Al- Quran surat Al-Muzammil (73:6):
b p R @9 d r Pq% r x%
Artinya: Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk
khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan
51


b). setelah fajar hingga terbit matahari
Waktu pagi juga sangat baik untuk menghafal, karena saat itu umumnya
seseorang belum terlibat dalam berbagai kesibukan kerja. Menurut kebiasaan,
seseorang telah beristirahat pada malam harinya, sehingga jiwanya masih
bersih dan terbebas dari segala beban mental dan pikiran yang memberatkan.
c). setelah bangun dari tidur siang
Faktor psikis dari tidur siang adalah untuk mengembalikan kesegaran
jasmani dan menetralisir otak dari kejenuhan dan kelesuan setelah seharian
bekerja keras. Oleh karena itulah, setelah bangun dari tidur siang hendaklah
dimanfaatkan untuk menambah hafalan walaupun sedikit, atau sekedar
mengulang hafalan saja.
d). setelah shalat
Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah bersabda bahwa diantara waktu
yang mustajab adalah setelah mengerjakan shalat fardhu, terutama bagi
orang-orang yang dapat mengerjakannya dengan khusyu dan sungguh-
sungguh, sehingga ia dapat menetralisir jiwanya dari kekalutan. Dengan


50
Ahmad Yaman Syamsudin, Op. Cit, hlm. 88.

51
Al-Quran dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 788.


demikian, setelah sholat merupakan waktu yang baik pula untuk menghafal
Al-Quran.
e). waktu diantara maghrib dan Isya
Kesempatan ini sudah sangat lazim digunakan oleh kaum muslimin untuk
membaca Al-Quran, atau bagi para penghafal Al-Quran waktu ini juga
baik untuk dimanfaatkan untuk menambah hafalan atau untuk mengulang
hafalan. Beberapa waktu yang telah disebutkan di atas bukanlah sebuah
kemutlakan, karena setiap orang memiliki waktu senggang yang berbeda
dan disesuaikan dengan kegiatannya masing-masing.
52


B. Prestasi Belajar
1. Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar terdiri dari dua kata, yaitu prestasi dan belajar. Sebelum
mendefinisikan prestasi belajar terlebih dahulu perlu memahami pengertian
belajar. Belajar selalu dikaitkan dengan suatu aktifitas yang membawa perubahan
pada setiap individu. Perubahan ini berkaitan dengan perubahan kebiasaan,
pengetahuan, keterampilan dan sikap, juga menyangkut beberapa aspek dan
kebiasaan manusia yang tidak terlepas dari kepribadiannya.
Menurut Slameto, pengertian belajar adalah: suatu proses usaha yang
dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang


52
Ahsin W. Al-Hafizh, Op. Cit., hlm. 58-59.


baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi
dengan lingkungan.
53

Belajar juga diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu
berkat adanya interkasi antara individu dengan individu dan individu dengan
lingkungan, sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya.
Dalam hal ini perubahan berarti bahwa seorang yang telah mengalami proses
belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik dalam aspek pengetahuan,
keterampilan, maupun sikapnya.
Perubahan tingkah laku dalam aspek pengetahuan adalah dari tidak mengerti
menjadi mengerti, dalam aspek keterampilan adalah dari tidak bisa menjadi bisa,
dari tidak terampil menjadi terampil, dalam aspek sikap adalah dari ragu-ragu
menjadi yakin, dari tidak sopan menjadi sopan. Hal ini merupakan salah satu
kriteria keberhasilan belajar yang diantaranya ditandai oleh terjadinya perubahan
tingkah laku pada diri individu yang belajar. Tanpa adanya perubahan tingkah
laku, belajar dapat dikatakan gagal.
54

Perubahan yang terjadi pada individu merupakan hasil dari pengalamannya
sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya, yaitu interaksi edukatif. Dalam
prakteknya tidak selamanya belajar itu dari interaksi edukatif atau interaksi belajar
mengajar, tetapi bisa juga terjadi di luar proses belajar mengajar. Misalnya anak
yang belajar sendiri di rumah, itu juga merupakan usaha yang dilakukan individu


53
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta: Bina Aksara, 1988),
hlm. 2.

54
Moh. Uzer Usman & Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar
(Bandung: Remaja Rosda Karya, 1993), hlm. 2.


untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalamannya dalam
berinteraksi dengan lingkungan.
Dari beberapa pengertian di atas seseorang dapat dikatakan belajar apabila
adanya perubahan tingkah laku karena terjadinya pengalaman dan latihan. Dengan
demikian, tidak semua perubahan diartikan belajar. Perubahan yang terjadi dalam
aspek-aspek kematangan, pertumbuhan dan perkembangan tidak termasuk dalam
arti belajar. Agar lebih jelas, ada beberapa ciri perubahan tingkah laku dalam
pengertian belajar, yaitu:
a. perubahan yang terjadi secara sadar. Hal ini berarti bahwa individu yang
belajar menyadari akan adanya perubahan yang dialami, atau setidaknya ia
merasakan adanya perubahan dalam dirinya, seperti bertambahnya
pengetahuan, kebiasaan, sikap dan pandangan terhadap sesuatu, serta
keterampilan,
b. perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional. Sebagai hasil belajar,
perubahan yang terjadi pada individu berlangsung terus menerus dan tidak
stasis. Fungsional artinya perubahan dalam belajar akan berguna dalam hidup.
Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan ataupun proses
belajar berikutnya.
c. perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif. Perubahan itu senantiasa
bertambah dan bertujuan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari
sebelumnya, dengan demikian semakin banyak usaha belajar dilakukan, maka
akan semakin banyak dan baik pula perubahan yang yang diperoleh seseorang.


Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan
sendirinya melainkan karena usaha dari individu sendiri.
d. perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, maksudnya perubahan
yang yang bersifat sementara atau temporer terjadi hanya untuk beberapa saat
saja. Adapun perubahan yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap.
e. perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah.
f. perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku, seseorang yang belajar akan
mengalami perubahan tingkah laku secara keseluruhan baik dalam sikap,
keterampilan, pengetahuan dan sebagainya.
55

Menurut Muhibbin Syah, manifestasi atau perwujudan perilaku belajar
biasanya lebih sering tampak dalam perubahan-perubahan sebagai berikut:
1). Kebiasaan. Setiap siswa yang telah mengalami proses belajar, kebiasaannya
akan tampak berubah. Menurut Burghardt (1973) dalam Muhibbin, kebiasaan
itu timbul karena proses penyusutan kecenderungan respon dengan
menggunakan stimulasi yang berulang-ulang. Dalam proses belajar,
pembiasaan juga meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlukan. Karena
proses penyusutan/pengurangan inilah, muncul suatu pola bertingkah laku
baru yang relatif menetap dan otomatis.
2). Keterampilan. Keterampilan ialah kegiatan yang berhubungan dengan urat-
urat syaraf dan otot-otot yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah
seperti menulis, olah raga dan sebagainya. Meskipun sifatnya motorik, namun
keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang


55
Slameto, Op. Cit., hlm. 3-4.


tinggi. Dengan demikian, siswa yang melakukan gerak motorik dengan
koordinasi dan kesadaran yang rendah dapat dianggap kurang atau tidak
terampil.
3). Pengamatan. Artinya proses menerima, menafsirkan dan memberi arti
rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti mata dan telinga. Berkat
pengalaman belajar, seorang siswa akan akan mampu mencapai pengamatan
yang benar-benar obyektif sebelum mencapai pengertian. Pengamatan yang
salah akan menimbulkan pengertian yang salah pula.
4). Berfikir asosiatif dan daya ingat. Berfikir asosiatif adalah berfikir dengan
mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya. ini merupakan proses pembentukan
hubungan antara rangsangan dengan respon yang sangat dipengaruhi oleh
tingkat pengertian atau pengetahuan yang diperoleh siswa dari hasil belajar.
Jadi, siswa yang telah mengalami proses belajar akan ditandai dengan
bertambahnya simpanan materi (pengetahuan dan pengertian) dalam memori,
serta kemampuan menghubungkan materi tersebut dengan situasi dan stimulus
yang sedang ia hadapi.
5). Berfikir rasional dan kritis, adalah perwujudan perilaku belajar terutama yang
berhubungan dengan pemecahan masalah. siswa dituntut menggunakan rasio
(akal sehat) untuk menentukan sebab akibat, menganalisis, menarik
kesimpulan-kesimpulan dan bahkan menciptakan hukum-hukum. dalam hal
berpikir kritis, siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang
tepat untuk menguji kehandalan gagasan pemecahan masalah dan mengatasi
kesalahan atau kekurangan.


6). Sikap. Dalam arti yang sempit, sikap adalah pandangan atau kecenderungan
mental. Menurut Bruno (1987) dalam Muhibbin, sikap (attitude) adalah
kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau
buruk terhadap orang atau barang tertentu. Dengan demikian pada prinsipnya
sikap itu dapat kita anggap sebagai kecenderungan siswa untuk bertindak
dengan cara tertentu. Dalam hal ini, perwujuan perilaku belajar siswa akan
ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang telah
berubah (lebih maju dan lugas) terhadap suatu objek, tata nilai, peristiwa dan
sebagainya.
7). Inhibisi. Secara ringkas inhibisi adalah upaya pengurangan atau pencegahan
timbulnya suatu respon tertentu karena adanya proses respon lain yang sedang
berlangsung. Dalam hal belajar, yang dimaksud dengan inhibisi adalah
kesanggupan siswa untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak
perlu, lalu memilih atau melakukan tindakan lainnya yang lebih baik ketika ia
berinteraksi dengan lingkungannya.
8). Apresiasi. Pada dasarnya apresiasi berarti suatu pertimbangan yang mengenai
arti penting atau nilai sesuatu. Dalam penerapannya, apresiasi sering diartikan
sebagai penghargaan atau penilaian terhadap benda-benda yang memiliki nilai
luhur. Apresiasi adalah gejala ranah afektif yang pada umumnya ditujukan
pada karya-karya seni budaya seperti seni sastra, seni musik, seni lukis dan
sebagainya. Tingkatan apresiasi siswa terhadap nilai sebuah karya sangat
bergantung pada tingkat pengalaman belajarnya.


9). Tingkah laku afektif, adalah tingkah laku yang menyangkut keanekaragaman
perasaan seperti: takut, marah, gembira, was-was dan sebagainya. Tingkah
laku seperti ini tidak terlepas dari pengalaman belajar, karena itu ia dapat
dianggap sebagai perwujudan perilaku belajar.
56

Istilah prestasi pada umumnya dihubungkan dengan hasil yang dicapai
seseorang, baik dalam bidang pekerjaan maupun pendidikan. Seseorang dikatakan
berprestasi baik apabila hasil usaha yang dicapai mendekati apa yang diharapkan.
Akan tetapi sebaliknya, prestasi dikatakan menurun bila hasil usaha tidak sesuai
dengan tujuan yang diharapkan.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, prestasi belajar adalah penguasaan
pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran lazimnya
ditunjukkan dengan nilai/angka yang diberikan oleh guru.
57

Menurut Harahap dalam Djamarah, prestasi didefinisikan sebagai suatu
penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan
dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai
yang terdapat dalam kurikulum.
58

Sedangkan menurut Abdul Qohar, prestasi adalah apa yang telah dapat
diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan
jalan keuletan kerja. Prestasi juga diartikan sebagai hasil dari suatu kegiatan yang
telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok.
59



56
Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 118.

57
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Op. Cit, hlm. 700.

58
Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru (Surabaya: Usaha Nasional,
1994), hlm. 21.

59
Ibid, hlm. 20.


Dari beberapa pengertian di atas, dapat dipahami bahwa prestasi adalah hasil
dari sesuatu yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati, yang
diperoleh dengan jalan keuletan kerja baik secara individual maupu kelompok
dalam bidang kegiatan tertentu.
Prestasi pada dasarnya adalah sesuatu yang diperoleh dari suatu aktivitas,
sedangkan belajar adalah suatu proses yang mengakibatkan perubahan tingkah
laku. Jadi pengertian prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-
kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil aktivitas
dalam belajar.
Indikator dari hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang
berubah sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar siswa/mahasiswa,
namun pengungkapan perubahan itu sangat sulit. Hal ini karena perubahan hasil
belajar itu ada yang bersifat tidak dapat diraba. Oleh karena itu, yang dapat
dilakukan guru dalam hal ini adalah hanya mengambil cuplikan perubahan
tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan
perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa/mahasiswa, baik yang
berdimensi cipta rasa dan karsa.
60

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan seseorang dalam proses belajar, perlu
dilakukan pengukuran seberapa jauh pengalaman belajar telah tertanam pada diri
seseorang. Dengan kata lain harus dilakukan evaluasi terhadap proses belajar.
Evaluasi dapat dilakukan secara kuatitatif maupun kuantitatif. Dalam dunia


60
Muhibbin syah, Op. Cit., hlm. 150.


pendidikan, pengukuran biasanya dilakukan secara kuantitafif dan diwujudkan
dalam bentuk prestasi belajar.
Banyak cara yang dilakukan untuk mengukur prestasi belajar/akademik.
Pengajar dapat melakukan dengan mengajukan pertanyaan lisan, memberikan
pekerjaan rumah/tugas tertulis atau melihat penampilan aktual dari tugas
keterampilan dan tes tertulis.
Menurut kebiasaan, prestasi belajar/akademik mahasiswa biasanya
diwujudkan dalam KHS (Kartu Hasil Studi). Kartu hasil studi ini diberikan
kepada mahasiswa setelah melewati tahap ujian tengah semester dan ujian akhir
semester. Apabila nilai KHS baik, maka prestasinya dikatakan baik, begitu pula
sebaliknya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa prestasi belajar adalah
penilaian pendidikan tentang kemajuan mahasiswa dalam segala hal yang
dipelajari di kampus yang berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, yang
dinyatakan sesudah hasil penilaian.
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Menurut Muhibbin Syah, prestasi belajar siswa/mahasiswa dapat dipengaruhi
oleh berbagai faktor. Secara garis besar, faktor-faktor tersebut dapat
dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu
a. faktor internal (faktor dari dalam diri siswa), yaitu keadaan/kondisi
jasmani dan rohani siswa;
b. faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa), yaitu kondisi lingkungan
sekitar siswa;


c. faktor pendekatan belajar (approach to learning), yaitu jenis upaya belajar
yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan
kegiatan pembelajaran.
61

a. Faktor internal siswa
Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi dua aspek, yaitu: 1)
aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah); 2). aspek psikologis (yang bersifat
rohaniah)
1). Aspek fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat
kebugaran organ-organ tubuh, dapat mempengaruhi siswa dalam mengikuti
pelajaran. Kondisi fisik atau jasmani yang sehat akan membantu aktifitas belajar
siswa, sebaliknya kondisi organ tubuh yang lemah akan dapat menurunkan
kualitas belajar.
Untuk mendukung kondisi fisik agar selalu sehat antara lain dengan menjaga
asupan makanan yang bergizi, cukup istirahat, serta memperbanyak melakukan
olah raga. Hal ini karena, keadaan jasmani seperti kelainan pada anggota tubuh,
kelelahan, dan sebagainya dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Senada dengan pendapat tersebut, menurut Suryabrata keadaan jasmani pada
umumnya dapat melatarbelakangi aktivitas belajar. Dalam mengikuti kegiatan
belajar mengajar, kondisi fisik yang sehat dapat melancarkan proses belajar
mengajar. Menurutnya, keadaan fungsi panca indera yang baik, khususnya indera
penglihatan dan pendengaran adalah sangat penting. Oleh karena itu, bagi para


61
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 131.


pendidik hendaknya juga membantu menjaga indera tersebut dengan baik, seperti
dengan melakukan beberapa usaha yang bersifat kuratif dan preventif. Hal ini
dapat diwujudkan misalnya dengan adanya pemeriksaan dokter secara periodik,
serta dengan menyediakan media pembelajaran yang memenuhi syarat dan
penempatan siswa secara baik di kelas.
62

2). Aspek Psikologis
Menurut Muhibbin Syah, banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang
dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan belajar siswa, namun
faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial adalah
sebagai berikut:
a). Intelegensi siswa
Intelegensi merupakan suatu faktor yang besar pengaruhnya terhadap prestasi
belajar siswa/mahasiswa. Menurut Reber dalam Muhibbin syah, intelegensi pada
umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi
rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat.
Tingkat kecerdasan atau intelegensi seorang siswa sangat menentukan tingkat
keberhasilan belajar siswa. Hal ini berarti, semakin tinggi tingkat intelegensi
siswa, maka semakin besar peluangnya untuk meraih kesuksesan dan demikian
pula sebaliknya.
63

Menurut Abu Ahmadi, faktor intelegensi adalah faktor indogen yang sangat
besar pengaruhnya terhadap kemajuan anak. Bila pembawaan intelegensi anak
memang rendah, maka anak tersebut akan sukar mengerti terhadap apa yang


62
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), hlm.
235-236.

63
Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 133.


dipelajarinya sehingga perlu bantuan ekstra dari pendidik atau orang tua untuk
berhasil dalam belajarnya.
64

Dibandingkan individu dengan kecerdasan rendah, individu dengan
kecerdasan yang lebih tinggi lebih mudah memahami materi pelajaran. Dalam
prakteknya, tingkat intelegensi yang tinggi belum dapat dijadikan standar mutlak
keberhasilan siswa bila tidak diimbangi dengan kemauan untuk belajar.
b). Sikap siswa
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif, berupa kecenderungan
untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek
orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Sikap siswa
yang positif terhadap guru dan mata pelajaran yang dipelajari, merupakan awal
yang baik bagi proses belajar siswa/mahasiswa.
c). Bakat siswa
Bakat adalah kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa
banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Bakat dapat
mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar siswa dalam matapelajaran
tertentu.
65

d). Motivasi Berprestasi
Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak
melakukan sesuatu. Motivasi berperilaku merupakan daya penggerak psikis dalam
diri seseorang yang menimbulkan semangat belajar, menjamin kelangsungan


64
Abu Ahmadi, Teknik Belajar Dengan Sistem SKS (Surabaya, PT Bina Ilmu, 1986), hlm. 46.

65
Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 135.


kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar demi terciptanya
tujuan belajar.
Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: motivasi instrinsik dan
motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari
dalam diri siswa itu sendiri, yang dapat mendorongnya melakukan kegiatan
belajar. Adapun motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar
individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar,
misalnya pujian, hadiah, tata tertib sekolah, suri teladan dari orang tua dan guru
dan sebagainya. Dalam perspektif kognitif, motivasi yang lebih signifikan bagi
siswa adalah motivasi intrinsik, karena lebih murni dan permanen.
e). Minat
Minat merupakan kecenderungan pada individu yang menyangkut perasaan
suka atau tidak suka terhadap hal tertentu. Minat mendorong individu untuk
melakukan, menaruh perhatian pada sesuatu yang disukainya, sehingga minat
dalam belajar akan memiliki peluang berprestasi yang lebih besar.
66

Dalam redaksi yang lain, Usman & Setiawati menambahkan, bahwa yang juga
termasuk dalam aspek psikologis adalah keadaan emosi siswa. Keadaan emosi
siswa seperti rasa takut, cemas, dan khawatir, dapat mempengaruhi prestasi
belajar. Hingga pada kadar tertentu, perasaan semacam itu dapat menjadi
pendorong seseorang dalam belajar, namun jika terlalu berlebihan akan


66
Ibid., hlm. 136-137.


menghambat proses berfikir siswa sehingga menyebabkan rendahnya prestasi
akademik siswa tersebut.
67

b. Faktor eksternal siswa
Faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa/mahasiswa, terdiri
dari faktor sosial dan faktor non sosial. Faktor sosial adalah yang banyak
berhubungan dengan sesama manusia, seperti guru, orang tua dan teman-teman di
sekolah. Adapun faktor non sosial antara lain berupa sarana prasarana yang
mendukung proses belajar mengajar, tempat tinggal yang kondusif dan
sebagainya.
68

Senada dengan keterangan di atas, Usman & setiawati menyebutkan ada
beberapa faktor sosial antara lain: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah
masyarakat,dan lingkungan kelompok. Selain itu, ada juga faktor budaya seperti
adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian, serta faktor lingkungan
spiritual keagamaan yang juga mempengaruhi prestasi belajar siswa/mahasiswa.
69

Menurut Slameto, faktor sosial ekonomi dan sosio kultural sangat
mempengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor-faktor tersebut antara lain:
1). Cara mendidik orang tua. Pendidikan orang tua kepada anak sangat besar
pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa. Hal ini ditegaskan oleh
Slameto yang mengutip pernyataan Sucipto Wirowijoyo, bahwa keluarga
adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama.


67
Moh. Uzer Usman & Lilis Setiawati, Op. Cit., hlm. 10

68
Sumadi Suryabrata, Op. Cit., hlm. 233.

69
Moh. Uzer Usman & Lilis Setiawati, Op. Cit., hlm. 10.


2). Keadaan ekonomi/pekerjaan orang tua. Keadaan ekonomi keluarga erat
hubungannya dengan pemenuhan keluarga, baik kebutuhan pokok maupun
kebutuhan lain yang termasuk fasilitas belajar siswa.
3). Keadaan atau suasana keluarga. Suasana keluarga yang gaduh tidak akan
memberikan ketenangan kepada anak yang sedang belajar, sehingga
belajar menjadi kacau. Sebaliknya suasana rumah yang tenang dan tentram
akan membuat anak betah di rumah dan anak juga dapat belajar dengan
tenang.
70

c. Faktor Pendekatan Belajar
Pendekatan belajar dapat dipahami sebagai segala cara yang digunakan untuk
menunjang efektivitas dan efisiensi dalam proses pembelajaran. Selain pendekatan
belajar, kebiasaan belajar, strategi belajar, dan gaya belajar yang efektif juga
mendukung siswa/mahasiswa untuk dapat mencapai prestasi yang baik.
71

3. Evaluasi Prestasi Kognitif, Afektif dan Psikomotorik
a. evalusi prestasi kognitif
Sebagaimana yang dikutip oleh Muhibbin syah, Reber (1998) mengatakan,
mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dilakukan
dengan berbagai cara, baik tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan. Dalam
keadaan siswa yang jumlahnya banyak, menggunakan tes lisan dianggap tidak
efektif, sebagai gantinya guru bisa memanfaatkan tes tulis sebaik-baiknya.
Dianjurkan untuk memilih tes pencocokan, tes isian, serta tes essai. Khusus
untuk mengukur kemampuan analisis dan sintesis siswa, guru dianjurkan untuk


70
Slameto, Op. Cit., hlm. 62.

71
Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 140.


mengunakan tes essai, karena tes ini adalah satu-satunya ragam instrumen
evaluasi yang paling tepat untuk mengevaluasi dua jenis kemampuan tersebut.
b. Evalusi Prestasi afektif
Dalam merencanakan peyusunan instrumen tes prestasi belajar siswa yang
berdimensi afektif (ranah rasa), jenis-jenis prestasi internalisasi dan karaterisasi
hendaknya mendapatkan perhatian khusus. Sebab kedua jenis prestasi ranah rasa
itulah yang lebih banyak mengendalikan sikap dan perbuatan siswa.
Selanjutnya Reber (1988) dalam Syah menjelaskan, salah satu bentuk tes
ranah rasa yang populer adalah skala likert yang tujuannya untuk
mengidentifikasi kecenderungan sikap seseorang. Bentuk skala ini menampung
pendapat yang mencerminkan sikap sangat setuju, ragu-ragu, tidak setuju dan
sangat tidak setuju. Rentang skala ini beri skor 1-5 atau 1-7, bergantung
kebutuhan dengan catatan skor-skor itu dapat mencerminkan sikap-sikap mulai
sangat ya sampai sangat tidak.
Untuk memudahkan identifikasi jenis kecenderungan afektif siswa yang
representatif, item-item skala sikap sebaiknya dilengkapi dengan indentitas sikap
yang meliputi doktrin, komitmen, penghayatan, dan wawasan.
c. Evaluasi Prestasi Psikomotor
Reber juga mengatakan bahwa cara yang dipandang tepat untuk mengevaluasi
keberhasilan belajar yang berdimensi ranah psikomotor (ranah karsa) adalah
observasi. Observasi dalam hal ini, dapat diartikan sebagai sejenis tes mengenai
peristiwa, tingkah laku atau fenomena lain, dengan pengamatan langsung. Dalam


hal ini observasi harus dibedakan dengan eksperimen, karena eksperimen pada
umumnya dipandang sebagai salah satu cara observasi.
72


C. Implikasi Hafalan Al-Quran Dalam Prestasi Belajar Mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa prestasi adalah hasil
dari suatu kegiatan yang telah ditetapkan atau menjadi tujuan, baik secara individu
maupun kelompok.
Dalam pembahasan pada skripsi ini, prestasi belajar yang dimaksud adalah
prestasi belajar mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya
dalam matakuliah ke-Agamaan Islam yang sering berhubungan dengan dalil-dalil
Al-Quran. Adapun matakuliah tersebut antara lain, studi Al-Quran, studi Fiqih,
Masail Fiqhiyah I dan II, Tafsir dan Hadits, Ushul Fiqih, Tafsir dan Hadits
Tarbawi I dan II, Ushul Fiqih.
Perlu diketahui, bahwa secara umum tujuan pendidikan pada Jurusan
Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:
1. Menghasilkan pendidik Agama Islam yang memiliki pengetahuan, sikap,
keterampilan dan nilai yang diperlukan untuk menjadi pendidik Agama
Islam serta pembimbing dan penggerak kegiatan ke-Agamaan Islam di
sekolah/madrasah.


72
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja Rosda
Karya, 2000), hlm. 154.


2. Menghasilkan pendidik Agama Islam yang memiliki pengetahuan sikap,
keterampilan dan nilai yang diperlukan untuk menjadi pendidik Agama
Islam pada jenis pendidikan keagamaan Islam.
3. Menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan tambahan dalam
membentuk, mengelola, mengorganisir, merencanakan, melaksanakan
program pendidikan, melakukan supervisi, monitoring, evaluasi program,
dan mengembangkan inovasi-inovasi program satuan pendidikan Agama
Islam.
Sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka dalam standar
kompetensi lulusan jurusan Pendidikan Agama Islam disebutkan bahwa selain
menguasai tentang aspek-aspek kependidikan, seorang mahasiswa lulusan jurusan
pendidikan Agama Islam diharapkan dapat memiliki penguasaan terhadap
subtansi kajian pendidikan Agama Islam yang meliputi: penguasaan subtansi
ilmu-ilmu keislaman, isi dan bahan ajar pendidikan Agama Islam, serta
penguasaan cara pengembangan bahan ajar pendidikan Agama Islam.
73

Sebagai calon pendidik dalam bidang Agama Islam, seorang mahasiswa
jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) harus dapat menguasai kompetensi
tersebut dengan baik. Adapun cara untuk menguasai kompetensi tersebut adalah
dengan melakukan proses belajar dan pembelajaran, baik di perkuliahan maupun
di luar perkuliahan. Dengan adanya penguasaan terhadap kompetensi tersebut,
mahasiswa dapat dikatakan telah mencapai prestasi dalam belajarnya.


73
Universitas Islam Negeri Malang, Pedoman Pendidikan (Malang: UIN Press, 2005), hlm. 75.


Dalam mencapai suatu prestasi belajar matakuliah ke-Agamaan Islam, seorang
mahasiswa tentunya tidak terlepas dari suatu proses belajar. Berhasil atau tidaknya
mata kuliah tersebut ditentukan oleh proses dalam belajar mahasiswa.
Aktivitas belajar merupakan proses yang tidak lepas dari berbagai pengaruh
yang berasal dari dalam maupun luar siswa. Faktor dari dalam diri siswa besar
sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Menurut Sudjana, hasil
belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30%
dipengaruhi oleh lingkungannya.
74

Menurut Suryabrata, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa
dalam belajar ada dua macam, yaitu:
a. faktor yang berasal dari luar siswa (eksternal siswa)
b. faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal siswa)


Faktor eksternal yang mempengaruhi prsetasi belajar siswa/ mahasiswa, terdiri
dari faktor sosial dan faktor non sosial. faktor sosial adalah yang banyak
berhubungan dengan sesama manusia, seperti guru, orang tua dan teman-teman di
sekolah. Sedangkan faktor non sosial antara lain berupa sarana prasarana yang
mendukung proses belajar mengajar, tempat tinggal yang kondusif dan
sebagainya.
Adapun faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal siswa) dibagi
menjadi dua macam, yaitu: 1). faktor fisiologis, 2). faktor psikologis
Faktor fisiologi terbagi lagi menjadi dua, yaitu keadaan jasmani dan fungsi
panca indera. Apabila keadaan jasmani secara umum sehat, maka proses belajar


74
Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru Al-Gesindo,
2008), hlm. 39.


akan dapat berjalan lancar, demikian pula apabila fungsi panca indera normal dan
sehat. Panca indera khususnya indera penglihatan dan pendengaran, berperan
sangat penting dalam proses belajar siswa. Dengan memaksimalkan fungsi panca
indera dalam belajar, siswa/mahasiswa akan dapat menyerap materi pelajaran
dengan sempurna.
75

Menghafal Al-Quran merupakan suatu kegiatan menghayati dan berusaha
meresapkan bacaan-bacaan Al-Quran ke dalam hati, sampai dapat dihafal dan
melekat dengan baik dalam ingatan. Dalam menghafal Al-Quran seorang
penghafal Al-Quran terlebih dahulu membaca dan mengulang-ulang bacaannya
dengan baik sebelum dihafalkan. Dengan sering menggunakan indera penglihat
dan pendengar secara maksimal untuk menghafal Al-Quran, maka akan melatih
kepekaan indera tersebut terhadap ayat-ayat Al-Quran. Dengan demikian, ayat-
ayat yang pernah dihafalkan akan menjadi sangat familiar, sehingga siswa/
mahasiswa penghafal Al-Quran dengan mudah bisa mengetahui ayat tersebut
untuk kemudian menelaah dan mempelajarinya.
Selain itu, proses menghafal Al-Quran pada dasarnya sejalan dengan
psikologi proses mengingat, di mana terjadi sebuah proses penerimaan informasi
melalui indera penglihatan atau pendengaran siswa untuk kemudian masuk ke
dalam memori jangka pendek, dikodekan, dan masuk kedalam memori jangka
panjang.
76
Dengan terbiasa melakukan aktivitas menghafal Al-Quran, maka
sistem memori di dalam otak akan terlatih untuk mengingat sesuatu dengan
mudah, termasuk mengingat pengetahuan selain Al-Quran.


75
Sumadi Suryabrata, Op. Cit., hlm. 233.

76
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 67.


Menghafal Al-Quran merupakan sebuah proses untuk memperoleh
pengetahuan dasar bagi siswa/mahasiswa dalam belajarnya. Dengan adanya
seorang mahaiswa menghafal Al-Quran, maka ia akan mendapatkan kontribusi
yang sangat besar dari hafalan yang dimilikinya. Mahasiswa yang hafal Al-Quran
akan sangat terbantu ketika membutuhkan dalil-dalil Al-Quran yang berkaitan
dengan ilmu yang ia pelajari. Apalagi Al-Quran adalah sumber ilmu,
sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Masud yang artinya:
kalau kalian menginginkan ilmu, bukalah lembaran-lembaran Al-Quran,
karena Al-Quran mengandung ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang di
masa mendatang.
77

Dalam menghafal Al-Quran, seorang penghafal menggunakan berbagai
metode yang dianggap sesuai dengan kemampuannya. Ada metode sederhana
yang hanya membaca berulang-ulang per-ayat lalu menghafalkannya, ada pula
yang berusaha untuk mengerti arti dan memahami maksud ayat sebelum
kemudian dihafalkan. Dengan menggunakan metode menghafal yang sederhana
tersebut, minimal seorang penghafal dapat mereview atau mengulang hafalannya
dengan benar.
Lain halnya bila metode yang digunakan dalam menghafal adalah metode
tadabbur (memahami arti dan maksud yang terkandung dalam ayat), maka akan
semakin besar kemungkinan untuk dapat memahami arti dan kandungan ayat-ayat
Al-Quran melalui proses menghafal tersebut. Hal ini akan sangat membantu
mahasiswa dalam matakuliah keagamaan Islam yang banyak bersentuhan


77
Haya Ar-Rasyid, Menggapai Kemuliaan Menjadi Ahlul Quran, Sebagaimana dikutip Oleh
Syaifun Nuri, Efektivitas Hifzhul Quran Melalui Metode Sorogan (Skripsi Fakultas Tarbiyah UIN
Malang, 2007), hlm. 25.


langsung dengan Al-Quran seperti studi Al-Quran, studi fiqih, masail fiqhiyah I
dan II, tafsir dan hadits, ushul fiqih, tafsir dan hadits tarbawi I dan II, dan ushul
fiqih. Dengan demikian hafalan Al-Quran yang dimiliki oleh mahasiswa jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) berimplikasi dalam prestasi belajarnya.
Selanjutnya, faktor kedua yang ada dalam diri siswa/mahasiswa adalah Faktor
psikologis. Menurut Usman & Setiawati, faktor psikologis ada yang bersifat
bawaan dan ada yang diperoleh dari luar, antara lain:
1) faktor intelektif yang meliputi faktor potensial, yaitu kecerdasan dan bakat
serta kecerdasan nyata, yaitu prestasi yang dimiliki.
2) faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap,
kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi dan penyesuaian diri.
3) faktor kematangan fisik maupun psikis.
78

Faktor psikologis yang ada dalam diri siswa sangat besar pengaruhnya
terhadap kuantitas dan kualitas belajar siswa, walaupun faktor ini tidak dapat
dilihat (abstrak). Salah satu faktor psikologis yang banyak mempengaruhi adalah
keadaan emosi siswa/mahasiswa.
Membaca Al-Quran merupakan salah satu cara untuk membuat hati dan jiwa
menjadi tenang, menghibur perasaan sedih dan melunakkan hati yang keras, serta
mendatangkan petunjuk. Hal ini merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada
orang yang mendengarkan bacaan Al-Quran dengan baik, sebagaimana Firman
Nya dalam Al-Quran surat Al-Araf (7:204):
r % b )9 q J m9 q R r N3= 9 bqH


78
Moh. Uzer Usman & Lilis Setiawati, Op., Cit, hlm. 2.


Artinya: dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik,
dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat
79


Menurut madzhab yang sahih, membaca Al-Quran merupakan dzikir yang
paling utama dibandingkan dzikir dengan selain membaca Al-Quran.
80
Dengan
membaca Al-Quran berarti seorang hamba sedang mengingat Allah dan
berkomunikasi dengan-Nya. Dengan selalu mengingat Allah inilah suasana hati
akan senantiasa tenang, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran surat Ar-rad
(13:28):
qZB K r Og q=% . w 2 J q=)9
Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-
lah hati menjadi tenteram
81


Dalam proses belajar, seorang siswa/mahasiswa akan memperoleh hasil yang
baik jika mengoptimalkan seluruh potensi dalam dirinya. Dengan adanya
ketenangan batin/psikis, seorang siswa/mahasiswa akan dengan mudah bisa
mengoptimalkan seluruh potensi dalam dirinya.
Dr. Al-Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di klinik besar
Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan
bacaan ayat-ayat Al-Quran, seorang muslim dapat merasakan perubahan
psikologis yang sangat besar, baik mereka yang berbahasa arab ataupun tidak.
Perubahan itu seperti penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa,
serta menangkal berbagai macam penyakit.


79
Al-Quran dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 256

80
An-Nawawi, Op., Cit, hlm. 17.

81
Al-Quran dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 373.


Penemuan sang dokter ahli jiwa ini ditunjang dengan bantuan peralatan
elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot,
dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia
berkesimpulan, bacaan Al-Quran berpengaruh besar hingga 97% dalam
menghasilkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.
Penelitian Dr. Al-Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang
dilakukan oleh dokter berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang
disampaikan dalam konferensi kedokteran Islam Amerika utara pada tahun 1984,
disebutkan, Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97%
bagi mereka yang mendengarkannya.
Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad
Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5
orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut
sama sekali tidak mengerti bahasa arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa
yang akan diperdengarkannya adalah Al-Quran. Penelitian yang dilakukan
sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Quran dengan tartil
dan membacakan bahasa arab yang bukan dari Al-Quran. Kesimpulannya,
responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan
Al-Quran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa
Arab yang bukan dari Al-Quran.
Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita
memiliki kitab suci Al-Quran. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaan
Al-Quran memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita.


Jika mendengarkan musik klasik dapat mempengaruhi kecerdasan intelektual (IQ)
dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Al-Quran lebih dari itu. Selain
memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Quran mempengaruhi kecerdasan spiritual
(SQ).
82

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa aktifitas menghafal Al-Quran,
memiliki keterlibatan terhadap prestasi belajar dalam 2 aspek:
1. proses menghafal
a) Dalam proses menghafal seorang siswa/mahasiswa terbiasa membaca dan
mendengar ayat-ayat Al-Quran, hal ini akan melatih ketajaman indera
penglihatan dan pendengarannya terhadap ayat-ayat Al-Quran tersebut.
Selain itu, dengan terbiasa menghafal Al-Quran, sistem memori dalam
otak akan terlatih untuk mengingat. Hal ini akan memudahkan
siswa/mahasiswa untuk dapat menghafal pengetahuan lain selain Al-
Quran.
b) Dengan membaca Al-Quran secara terus-menerus, hati akan menjadi
tenang, emosi terkendali, dan keadaan psikologis menjadi baik.
2. hafalan Al-Quran (out put dari aktifitas menghafal)
a) Dengan hafalan Al-Quran yang telah dimiliki, mahasiswa akan bisa
dengan mudah mengambil ayat-ayat Al-Quran dari memorinya, untuk
kemudian dipelajari, dikaji dan dikembangkan lebih lanjut menurut
keilmuan yang sedang ditekuninya. Khususnya pada mahasiswa jurusan
pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal Al-Quran, hafalan yang


82
http://musiconlinecairo.multiply.com/journal/item/34. Diakses pada 15-4-2009.


dimiliki akan sangat membantu dalam penguasaan matakuliah keagamaan
Islam yang banyak bersentuhan langsung dengan ayat-ayat Al-Quran.
Dengan demikian, membaca Al-Quran secara tidak langsung berpengaruh
terhadap pencapaian prestasi belajar mahasiswa pada matakuliah umum karena
efek psikologis yang ditimbulkannya, dan secara langsung berimplikasi terhadap
matakuliah keislaman karena faktor fisiologis dan hasil dari aktivitas menghafal.
Dengan adanya hafalan Al-Quran yang dimiliki oleh mahasiswa jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) tentunya akan dapat membantu dalam mencapai
prestasi belajarnya, terutama dalam matakuliah yang berhubungan dengan ayat-
ayat Al-Quran seperti studi Al-Quran, studi fiqih, masail fiqhiyah I dan II, tafsir
dan hadits, tafsir dan hadits tarbawi I dan II, dan ushul fiqih.

D. Sikap Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Penghafal
Al-Quran
Dalam pembahasan sebelumnya tentang belajar, telah dijelaskan bahwa
belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk
memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan. Perubahan ini berkaitan
dengan perubahan kebiasaan, pengetahuan, keterampilan dan sikap, juga
menyangkut beberapa aspek dan kebiasaan manusia yang tidak terlepas dari
kepribadiannya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hal yang esensial
dalam belajar adalah agar siswa/mahasiswa dapat memiliki pengetahuan,
keterampilan, sikap dan kebiasaan yang lebih baik dari sebelum ia belajar.


Sikap dapat diartikan sebagai kecenderungan siswa/mahasiswa untuk
bertindak dengan cara tertentu. Dalam hubungannya dengan Pendidikan Agama
Islam, maka hasil dari proses belajar Agama Islam adalah terwujudnya sikap
religius dalam diri siswa/mahasiswa. Menurut Alim, ada beberapa ciri sikap
religius antara lain:
1. Komitmen terhadap perintah dan larangan agama
2. Bersemangat mengkaji ajaran agama;
3. Aktif dalam kegiatana keagamaan;
4. Menghargai simbol keagamaan;
5. Akrab dengan kitab suci;
6. Menggunakan pendekatan agama dalam menentukan pilihan;
7. Ajaran agama dijadikan sumber pengembangan ide.

Ketujuh sikap religius di atas dapat dijadikan acuan untuk mengukur berhasil
tidaknya pelaksanaan pendidikan Agama Islam. Hal ini karena tujuan utama
pendidikan Agama Islam adalah untuk membina kepribadian mahasiswa agar
menjadi orang yang taat dalam melaksanakan ajaran agama, bukan hanya
menjadikan seseorang menjadi ahli agama.
83

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), merupakan calon
pendidik yang akan mengajarkan nilai-nilai Islam kepada pada peserta didiknya,
karena itulah sikap dan kebiasaan yang baik harus benar-benar diterapkan dalam
kehidupannya, agar dia dapat menjadi suri teladan yang baik bagi para peserta
didiknya.
Di sisi lain, seorang mahasiswa penghafal Al-Quran memiliki beberapa sikap
yang harus selalu ia lakukan. Menurut Qardhawi, bagi para penghafal Al-Quran


83
Muhammad Alim, Op. Cit., hlm. 12.


ada beberapa sikap yang harus diperhatikan agar hafalan Al-Quran dapat terus
dilestarikan dan menjadi ilmu yang bermanfaat, diantaranya adalah:
1. Ikhlas dalam mempelajari Al-Quran
Seorang penghafal Al-Quran harus memiliki niat yang ikhlas dalam
mempelajari Al-Quran. Hendaknya ia memurnikan niatnya hanya karena Allah,
bukan karena ingin pamer atau menginginkan pujian dari manusia.
2. Selalu bersama Al-Quran
Diantara etika penghafal Al-Quran adalah selalu bersama Al-Quran,
maksudnya adalah hendaknya penghafal Al-Quran senantiasa menjadikan Al-
Quran sebagai teman dalam situasi apapun. Ketika ia sedang dalam kesendirian,
kesusahan dan dalam kegembiraan. Dalam hal ini memang telah menjadi
kewajiban bagi para penghafal Al-Quran untuk senantiasa melestarikan
hafalannya, baik dengan membacanya, mendengarkan dari orang lain, maupun
mengkaji ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya.
3. Berakhlak dengan akhlak Al-Quran
Penghafal Al-Quran hendaknya mampu menjadi suri teladan bagi orang lain
dengan selalu berakhlak dan bertingkah laku sebagaimana yang diajarkan oleh Al-
Quran. Dengan demikian, seorang penghafal Al-Quran seharusnya tidak hanya
membaca berulang-ulang ayat-ayat Al-Quran, akan tetapi ia hendaknya
mengembangakan pengetahuannya dengan cara mengkaji, memahami dan
mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.
84



84
Yusuf Qardhawi, Berinteraksi dengan Al-Quran, Terj. Abdul Hayiee Al-Kattani (Jakarta:
Gema Insani Press, 1999), hlm. 201-208.


Dalam kehidupan sosial, mahasiswa merupakan tumpuan dan harapan
masyarakat yang akan berperan menjadi pemimpin di masa mendatang. Oleh
karena itu, seorang mahaiswa harus dapat menghadapi problematika internal
dirinya juga problematika yang ada di masyarakat. Dengan demikian dibutuhkan
kemampuan khusus mahasiswa dalam mengatasi problematika tersebut, yaitu:
Pertama, mampu mengidentifikasi secara tepat dan cepat masalah-masalah baru
yang dihadapi di masyarakat, kemudian menganalisisnya.
kedua, berdasarkan analisis yang dilakukan, mengisi manusia modern tersebut
dengan spiritualisme keagamaan.
Dalam melakukan fungsi analisis dan pengisiannya, diperlukan tiga syarat
mutlak bagi mahasiswa. Pertama, pengetahuan Agama yang mendalam, rasional,
dan menyejukkan. Kedua, membangun spiritualisme dalam dirinya, dan ketiga
membangun spiritualisme dalam masyarakat.
85

Dari sinilah dapat diketahui bahwa selain mengidentifikasi masalah yang ada
di masyarakat, adanya pengetahuan Agama yang mendalam, rasional dan
menyejukkan, serta membangun spiritualisme mutlak diperlukan oleh mahasiswa
untuk menyelesaikan problematika masyarakat.
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Quran,
memiliki potensi yang besar untuk membantu dalam menyelesaikan problematika
di masyarakat, karena telah dibekali dengan pengetahuan Agama yang mendalam.
Selain itu, ia juga berkesempatan untuk membangun spiritualisme dan religiusitas
di masyarakat dengan cara menanamkan nilai-nilai moral yang luhur. Salah satu


85
Syahrin Harahap, Penegakan Moral Akademik di Dalam dan di Luar Kampus (Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 13.


cara menanamkan nilai-nilai tersebut, adalah dengan mengajarkan Al-Quran yang
telah dipelajari. Adapun yang dimaksud dengan mengajarkan Al-Quran disini,
bukan hanya mengajarkan lafadnya untuk dihafal saja, akan tetapi juga
mengajarkan pemahaman dan maknanya, ibrah yang dikandungnya, hukum-
hukum, dan etika yang ada di dalamnya.
Dari uraian di atas dapat diketahui, bahwa mahasiswa jurusan Pendidikan
Agama Islam yang menghafal Al-Quran memiliki kesempatan untuk
mengajarkan dan mensyiarkan nilai-nilai ajaran Islam secara luas di masyarakat,
karena selain telah dibekali pengetahuan Agama yang mendalam dan
menyejukkan, ia juga memiliki kemampuan menghafal Al-Quran. Dengan
demikian, mereka diharapkan dapat membantu penyelesaian masalah di
masyarakat khususnya yang berhubungan dengan penanaman moral dan spiritual
keagamaan.












BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode dan Strategi Penelitian
Untuk menemukan pemahaman yang holistik tentang implikasi (keterlibatan)
hafalan Al-Quran dalam prestasi belajar mahasiswa pendidikan Agama Islam,
dengan unsur-unsur pokok yang harus ditemukan sesuai dengan rumusan masalah,
tujuan dan manfaat penelitian, maka digunakan metode penelitian kualitatif
dengan strategi studi kasus tunggal.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami
fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, seperti perilaku,
persepsi, motivasi tindakan, secara holistik, dengan cara mendeskripsikan dalam
bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah, serta
dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
86

Adapun strategi studi kasus merupakan suatu inkuiri empiris yang menyelidiki
fenomena di dalam konteks kehidupan nyata, apabila batas-batas antara fenomena
tidak tampak dengan tegas, dan ada berbagai multisumber yang dapat
dimanfaatkan.
87

Melalui penelitian tentang implikasi hafalan Al-Quran dalam prestasi belajar
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) ini, peneliti bermaksud
memahami realitas empirik dari fenomena-fenomena yang muncul dalam proses


86
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006),
hlm. 6.

87
Robert K. Yin, Studi Kasus Desain dan Metode, Terj., M. Djauzi Mudzakir (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2006), hlm. 18.


pengamatan. Dalam penelitian ini yang akan diamati adalah aktivitas mahasiswa
penghafal Al-Quran, khususnya dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
yang berada di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang. Fokus dari pengamatan adalah bagaimana prosedur menghafal Al-Quran
yang ada di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,
Apakah hafalan yang dimiliki mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
berimplikasi dalam prestasi belajarnya, serta bagaimana sikap keseharian
mahasiswa tersebut. Dalam meneliti dan menginterpretasikan informasi dan data,
penulis menggunakan referensi untuk dijadikan acuan atau dasar penguat data
yang ditemukan.
Dengan menggunakan metode kualitatif, maka data yang didapat akan lebih
lengkap, lebih mendalam, kredibel dan bermakna, sehingga tujuan penelitian
dapat dicapai. Selain itu, dengan menggunakan metode kualitatif dapat ditemukan
data yang berupa proses kerja, deskripsi yang luas dan mendalam, perasaan,
norma, keyakinan, sikap mental dan budaya yang dianut seseorang maupun
sekelompok orang dalam lingkungan sosialnya.
B. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian ini, kehadiran peneliti bertindak sebagai instrumen utama
sekaligus pengumpul data. Sebagaimana salah satu ciri penelitian kualitatif dalam
pengumpulan data dilakukan sendiri oleh peneliti. Apabila fokus penelitian telah
jelas, maka instrumen sederhana dapat pula digunakan, seperti pedoman


wawancara, observasi dan dokumentasi, namun fungsinya hanya sebatas sebagai
pendukung dan pembantu dalam penelitian.
88

Menurut Moleong, bahwa kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif
sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis, penafsir
data dan pada akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian, karena itu penelitian
harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin, bersikap selektif, hati-hati dan
bersungguh-sungguh dalam menjaring data sesuai dengan kenyataan di lapangan,
sehingga data yang terkumpul benar-benar relevan dan terjamin keabsahannya.
89

C. Lokasi Penelitian
Adapun lokasi yang dijadikan situs penelitian ini adalah Mahad Sunan Ampel
Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang beralamat di Jl. Gajayana no.
50 kelurahan Dinoyo, kecamatan Lowokwaru kota Malang.
Peneliti memilih Lokasi di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang ini, karena di dalamnya terdapat satu unit pengembangan tahfizh
Al-Quran yang disebut Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH) Mahad Sunan
Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
D. Data dan Sumber Data
Data yang cari dalam penelitian ini adalah berupa data-data deskriptif, yang
berupa kata-kata, tingkah laku serta dokumen-dokumen pendukung lainnya.
Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data dapat diperoleh.
Adapun sumber data yang digali dalam penelitian yang terdiri dari sumber
utama yang berupa kata-kata dan tindakan, serta sumber data tambahan yang


88
Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: CV. Alfabeta, 2008), hlm. 61.

89
Lexy, J. Moelong, Op. Cit., hlm. 168.


berupa dokumen-dokumen. Sumber dan jenis terdiri dari data dan tindakan,
sumber data tertulis, foto, dan data statistik.
90

Menurut Sugiono, apabila dilihat dari sumber datanya pengumpulan data
dapat menggunakan 2 macam sumber, yaitu:
a. Sumber data utama (Primer) adalah sumber data yang langsung
memberikan data kepada pengumpul data. Jenis sumber data ini biasanya
diambil peneliti melalui wawancara, observasi dan angket.
Dalam penelitian ini, sumber data utama dari wawancara diperoleh dari
beberapa informan seperti: mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI) penghafal Al-Quran, pembina/instruktur yang membimbing
mahasiswa dalam proses menghafal dan mengulang hafalan, serta teman-
teman sejawat mahasiswa baik di Mahad maupun di kampus. Sedangkan
untuk data angket, diperoleh dari mahasiswa Jurusan pendidikan Agama
Islam penghafal Al-Quran.
b. Sumber data tambahan (sekunder) adalah sumber yang secara tidak
langsung memberikan data kepada pengumpul data. Jenis sumber data
misalnya dari buku dan majalah ilmiah, koran, sumber data arsip,
dokumentasi organisasi, dokumentasi pribadi, artikel dari media massa dan
internet yang digunakan penulis dalam penelitian.
91






90
Lexy, J. Moelong, Op., Cit, hlm. 157.

91
Sugiono, Op., Cit, hlm. 62.


E. Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa
metode, antara lain:
a. Metode Wawancara Mendalam (In depth interview)
Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang
yang ingin memperoleh informasi dari seorang lainnya, dengan mengajukan
pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu.
92

Metode ini penulis aplikasikan dengan jalan mewawancarai secara langsung
dan mendalam para mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang
menghafal Al-Quran, tentang bagaimana cara mereka menghafal dan
melestarikan hafalanya, serta bagaimana implikasi hafalan yang mereka miliki
dalam peningkatan prestasi belajar matakuliah yang berhubungan dengan Al-
Quran. Selain itu, metode ini juga dipergnakan untuk mencari informasi dari para
pembimbing yang mengarahkan secara langsung proses menghafal mahasiswa,
serta teman sejawat mahasiswa penghafal Al-Quran baik yang ada di Mahad
maupun yang ada di kampus. Hal ini penulis lakukan guna memperoleh data-data
lengkap mengenai proses pelaksanaan kegiatan menghafal Al-Quran, serta untuk
memperoleh keterangan yang sebenarnya tentang sikap keseharian mahasiswa
penghafal Al-Quran di Mahad maupun di kampus.
b. Angket
Metode angket adalah dengan memberikan beberapa pertanyaan tertulis
dengan alternatif jawaban multiple choice kepada informan. metode ini digunakan


92
Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualiatatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan
Ilmu Sosial Lainnya (PT.Remaja Rosda Karya, 2003), hlm. 180.


untuk mencari data yang berhubungan dengan riwayat pendidikan mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Quran, jumlah hafalan
yang dimiliki, waktu menghafal perhari, kendala dalam menghafal dan
melestarikan hafalan, serta bagaimana dukungan lingkungan mahad terhadap
hafalan mereka.
c. Metode Observasi
Metode observasi atau pengamatan ada beberapa macam. Peneliti
menggunakan jenis observasi partisipasi moderat, yaitu peneliti terlibat dalam
kegiatan sehari-hari orang sedang diamati, sambil melakukan pengamatan peneliti
ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data dalam beberapa kegiatan,
akan tetapi tidak semuanya.
93

Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data-data dengan mengamati
secara langsung terhadap objek yang diteliti dengan cara mendatangi lokasi
penelitian yaitu di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang. Adapun kegiatan yang diobservasi adalah proses kegiatan menghafal Al-
Quran yang dilakukan mahasiswa di rumah para pembina, kegiatan mengulang
hafalan bersama yang dilaksanakan bada Isya, khatmil Al-Quran tiap minggu,
serta sikap dan tingkah laku mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
penghafal Al-Quran tersebut, baik di Mahad maupun di kampus.
d. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan
data dari: berbagai jenis informasi dapat juga diperoleh melalui dokumentasi


93
Sugiono, Op., Cit, hlm. 66.


organisasi, seperti surat-surat resmi, catatan rapat, laporan-laporan, artikel, media,
kliping, proposal, agenda, memorandum, foto-foto kegiatan khatmil Al-Quran
mingguan, kartu hasil studi mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
yang menghafal Al-Quran, laporan perkembangan yang dipandang relevan
dengan penelitian yang dikerjakan dan sebagainya.
F. Analisis Data
Tehnik analisis yang digunakan dalam penlitian ini adalah analisis data
kualitatif, mengikuti konsep Bodgan dan Biklen.
Menurut Bodgan dan Biklen dalam Moleong, analisis data kualitatif adalah
proses menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari wawancara, catatan
lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga mudah dipahami. Analisis data
dilakukan dengan mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan
data yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola,
menemukan apa yang penting dan yang dapat dipelajari, dan membuat kesimpulan
yang dapat diceritakan kepada orang lain.
94

G. Pengecekan Keabsahan Data
Data yang telah dikumpulkan oleh peneliti kemudian dikelompokkan
berdasarkan jenisnya dan dilengkapi. Pada tahap penyaringan data inilah
pengecekan keabsahan data dilakukan. Jika terdapat data yang tidak relevan dan
kurang memadai maka akan dilakukan penyaringan data sekali lagi dilapangan,
sehingga data tersebut memiliki kadar validitas yang tinggi.


94
Lexy J. Moleong, Op., Cit, hlm. 248.


Peninjauan keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi: (1). uji
kredibilitas data (2). uji transferabilitas (3). uji dependebilitas, dan (4). uji
konfirmabilitas.
Menurut Kanto (dalam Bungin, 2003) uji kredibilitas data atau kepercayaan
kepada data hasil penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan tehnik sebagai
berikut:
1. Memperpanjang keikutsertaan peneliti dalam proses pengumpulan data di
lapangan. dengan semakin lamanya peneliti terlibat dalam pengumpulan
data, akan semakin memungkinkan meningkatnya derajat kepercayaan
data yang dikumpulkan.
2. Melakukan observasi secara terus menerus dan sungguh-sungguh terhadap
objek penelitian guna memahami gejala lebih mendalam terhadap
berbagai aktivitas yang sedang berlangsung di lokasi penelitian. dengan
demikian peneliti akan semakin mendalami fenomena sosial yang sedang
diteliti seperti apa adanya.
3. Melakukan triangulasi yaitu pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan
atau pembanding terhadap data. Triangulasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah triangulasi metode (menggunakan lintas metode
pengumpulan data), triangulasi sumber data (memilih berbagai sumber
data yang sesuai), serta triangulasi pengumpul data. Penggunaan tehnik
triangulasi ini memungkinkan diperoleh variasi informasi yang seluas-
luasnya atau selengkap-lengkapnya.


4. Melibatkan teman sejawat (yang tidak mengikuti penelitian) untuk
berdiskusi, memberikan masukan, bahkan kritikan mulai awal kegiatan
proses penelitian sampai tersusunnya hasil penelitian.
5. Melakukan analisis atau kajian kasus negatif, yang dimanfaatkan sebagai
kasus pembanding atau bahkan sanggahan terhadap hasil penelitian.
Dalam beberapa hal, kasus negatif ini akan semakin mempertajam temuan
penelitian.
6. Melacak kesesuaian dan kelengkapan hasil analisis data.
95

Dalam redaksi yang lain Sugiono menambahkan, dalam uji kredibilitas data
juga dibutuhkan adanya bahan referensi. Adapun yang dimaksud dengan bahan
referensi di sini adalah pendukung untuk membuktikan data yang telah diperoleh
peneliti. Contohnya, hasil wawancara harus didukung dengan adanya rekaman,
data tentang interaksi manusia atau gambaran tentang suatu keadaan perlu
didukung dengan foto-foto, data tentang dokumen juga sebaiknya dicantumkan
dalam laporan penelitian.
96

Uji standar transferabilitas menujukkan derajat ketepatan atau dapat
diterapkannya hasil penelitian pada populasi di mana sampel tersebut diambil.
Sebuah penelitian kualitatif dapat dikatakan memiliki standar transferabilitas yang
tinggi apabila para pembaca laporan penelitian dapat memperoleh gambaran dan
pemahaman yang jelas tentang konteks dan fokus penelitian.


95
Burhan Bungin (ed), Analisis Data Penelitian Kualitatif Pemahaman Filosofis dan
Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003),
hlm. 60-61.

96
Sugiono, Op., Cit, hlm. 128.


Uji dependebilitas dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan melakukan
audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Suatu penelitian dikatakan memiliki
dependebilitas apabila orang lain dapat mengulangi/mereplikasi proses penelitian
tersebut.
Uji Konfirmabilitas hampir mirip dengan uji dependebilitas, sehingga
pengujian dapat dilakukan secara bersama-sama. Konfirmabilitas dalam penelitian
kuantitati adalah uji obyektivitas penelitian. Sebuah penelitian dikatakan obyektif
apabila hasil penelitian dapat disepakati oleh banyak orang.
97

H. Tahapan Penelitian
1. Tahap Pra Lapangan
Adapun yang dilaksanakan oleh peneliti pada tahap ini adalah menyusun
proposal penelitian. Proposal penelitian digunakan untuk meminta izin kepada
lembaga yang terkait sesuai dengan sumber data yang diperlukan.
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian
a. Pengumpulan data
Pada tahap ini yang dilakukan peneliti adalah mengumpulkan data
dengan menggunakan berbagai tehnik pengumpulan data seperti
observasi, wawancara mendalam, dan mengumpulkan berbagai dokumen
yang relevan dengan penelitian.





97
Sugiono, Op., Cit, hlm. 130-131.


b. Mengidentifikasi data
Data yang sudah terkumpul dari hasil wawancara, observasi,
dokumentasi dan angket kemudian diidentifikasikan agar memudahkan
peneliti dalam menganalisa sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
3. Tahap Akhir Penelitian
a. Menyajikan data dalam bentuk deskripsi.
b. Menganalisa data sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
c. Membuat laporan penelitian.

















BAB IV
LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Objek Penelitian
1. Sejarah Berdirinya Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH) Mahad
Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH) Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang adalah sebuah organisasi yang berorientasi pada
pengembangan pembelajaran dan pengajaran Al-Quran, terutama tahfizh Al-
Quran. Organisasi ini berada di bawah naungan Mahad Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai unit pengembangan tahfizh dan
pembelajaran Al-Quran.
Cikal bakal berdirinya Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH) Mahad
Ssunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang adalah pada tahun
2000. Pada saat itu Ustadz Samsul Ulum, MA dan Ustadzah Ismatud Diniyah
(Istri H. Isyraqun Najah, M.Ag) telah memulai kegiatan menyimak bacaan Al-
Quran beberapa mahasiswa yang mempunyai keinginan menghafal Al-Quran.
Beberapa mahasiswa yang yang aktif mentashihkan hafalannya mulai
mensosialisasikan dan mempublikasikan adanya kegiatan pentashihan ini kepada
mahasantri Mahad Sunan Ampel Al-Ali yang lain. Adanya sosialisasi ini
dimaksudkan untuk mengajak mahasantri yang berminat untuk menghafalkan Al-
Quran, terlebih bagi bagi mahasiswa yang telah mempunyai hafalan Al-Quran


sebelumnya (baik yang baru beberapa juz maupun yang telah khatam 30 juz), agar
hafalannya tetap dapat dilestarikan dan tidak sampai lupa.
98

Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh awalnya dirintis menjadi sebuah organisasi
pada tahun 2001. Berawal dari kenyataan bahwa ada beberapa mahasiswa yang
Hafizh Al-Quran (baik 30 juz maupun dalam tahap menghafal), yang
mengadakan tadarus di Masjid At-Tarbiyah Universitas Islam Indonesia Sudan
(UIIS) Malang (nama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada saat itu). Dengan
mengacu pada cita-cita luhur kampus UIIS Malang yang ingin mencetak Insan
Ulul Albab, pada hari Jumat, 23 November 2001 M/08 Ramadhan 1422 H,
komunitas mahasiswa/mahasiswi penghafal Al-Quran, menyepakati untuk
membentuk organisasi yang berorientasi pada pengembangan pembelajaran dan
pengajaran Al-Quran, terutama yang dititik beratkan pada bidang hafalan Al-
Quran.
Pada periode awal berdirinya JQH di UIIS Malang, ada beberapa nama yang
diusulkan untuk menjadi nama organisasi ini, diantara nama-nama tersebut
adalah: Jamiyyah Talim Al-Quran (JTQ), Jamiyyah Huffazh Wal Qurra (JHQ)
kata Huffazh didahulukan dari kata Qurra dengan alasan penekanan bahwa
jamiyyah ini menitik beratkan pada bidang hafalan Al-Quran dan agar tidak
terjadi kesamaan nama dengan Jamiyyatul Qurra wal Huffazh yang merupakan
badan otonom Nahdhatul Ulama di bidang tahfizh dan Qiroah. Nama JHQ ini
sempat digunakan untuk beberapa bulan.


98
Wawancara dengan Ismatud Diniyah, Instruktur Hafalan Al-Quran di Mahad Sunan Ampel
Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 21 Mei 2009.


Melalui beberapa pembahasan dan pertimbangan, akhirnya disepakati sebuah
nama Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh Universitas Islam Indonesia Sudan
Malang (JQH UIIS Malang). Hal ini dimaksudkan untuk membedakan dengan
Jamiyyah Qurra wal Huffazh yang ada di luar UIIS Malang.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan masih sangat sederhana, diantaranya yaitu
mengadakan tadarus dan saling meyimak bacaan Al-Quran di masjid At-Tarbiyah
UIIS Malang setiap selesai sholat Jumat, mengadakan kajian tafsir setiap Rabu
malam, dan mengadakan khatm Al-Quran setiap minggunya. Pada saat itu, JQH
masih bersifat swadaya, artinya seluruh biaya operasional dan biaya administrai
surat menyurat diambil dari iuran wajib anggota. Dengan dukungan dana yang
sangat minim, beberapa kegiatan sudah mulai berjalan. Hal ini tiada lain karena
semangat dan niat yang ikhlas para pengurus dan anggotanya.
Setelah kegiatan ini berjalan, ibarat gayung bersambut, Rektor UIIS Malang
(nama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ketika itu), Bapak Prof. DR. Imam
Suprayogo yang sangat cinta dan antusias terhadap mahasiswa yang menghafal
Al-Quran, memberikan apresiasi berupa pemberian beasiswa. Melalui pembantu
Rektor III saat itu, yaitu Bapak Drs. H. Muhtadi Ridlwan, MA, beliau menyatakan
ingin membentuk suatu wadah yang menampung mahasiswa yang mempunyai
hafalan Al-Quran, dengan harapan wadah ini menjadi penyeimbang warga
kampus yang terlihat sudah agak menjauh dari nilai-nilai Qurani, serta menjadi
wadah bagi mahasiswa untuk menghafal, mengkaji dan mendalami Al-Quran.
Dalam Pertemuan pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan saat itu
(tanggal tidak diketahui) dihadiri oleh para pembina JQH, yaitu : Ustadz H.


Isyroqunnajah, M.Ag, Ustadz M. Samsul ulum, M.Ag, Ustadz Syafaat, M.Ag,
Ustadz Abdul Hadi, Lc, dan Ustadzah Ismatud Dinniyah, Ah. Inti pertemuan itu
adalah pematangan rencana peresmian Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh UIN
Malang oleh ibu Hj. Faiqoh, M. Hum, dari Departemen Agama RI.
Dalam pertemuan tersebut Pembantu Rektor III memberikan sambutan
sebagai berikut:
Anda semua yang sekarang berada di Masjid ini, adalah orang-orang yang
mempunyai tugas/amanah untuk menjaga Al-Quran (hafizh/hafizhah), maka
kampus ini juga mempunyai kewajiban untuk memfasilitasi anda. Di
kampus ini, seluruh kegiatan mahasiswa seperti fotografi, teater musik,
pramuka dan lain sebagainya mendapat fasilitas dari kampus, apalagi anda
yang sudah jelas berhubungan langsung dengan Al-Quran, kitab suci umat
Islam. Kami merasa berdosa jika ada mahasiswa yang masuk Universitas
Islam Indonesia Sudan (UIIS) Malang ini dengan membawa hafalan, lalu
ketika lulus hafalannya banyak yang hilang atau lupa, dengan alasan tidak ada
wadah (organisasi) yang memfasilitasi penjagaan hafalannya. Dengan adanya
jamiyyah ini, kampus UIIS Malang telah memberikan wadah/fasilitas,
kalaupun masih ada mahasiswa yang ketika lulus hafalannya banyak hilang
atau lupa, maka itu sudah merupakan tanggung jawab dirinya sendiri.

Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa apresiasi para petinggi kampus
Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS) Malang pada saat itu, sangat baik
terhadap adanya komunitas penghafal Al-Quran. Oleh karena itulah kampus
kemudian menyediakan sarana dan wadah untuk pengembangan kualitas hafalan
dan keilmuan yang berkaitan dengan Al-Quran.
Tanggal 21 November 2002 M/17 Ramadhan 1423 H, jamiyyah ini
diresmikan oleh Ibu Hj. faiqoh, M.Hum. (Direktur ponpes dan Perguruan tinggi
Islam DEPAG RI.), dengan nama Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh Universitas
Islam Indonesia Sudan (UIIS) Malang. Selanjutnya dengan merujuk pada surat
tugas No. E III/Kp.01.1/368/2003 tanggal 01 April 2003 Rektor UIIS Malang,


keberadaan Jamiyyatul Qurrawal Huffazh Universitas Islam Indonesia Sudan
(UIIS) Malang resmi berada di bawah bimbingan lembaga kajian Al-Quran dan
Sains (LKQS) Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS) Malang, yang secara
fungsional tetap berada di bawah naungan pembantu rektor III bidang
kemahasiswaan.
99

Periode pertama sejak terbentuk, tahun 2001-2003, JQH diketuai oleh Khoirul
Alim, wakil ketua Muhammad Hasyim, sekretaris Erryk Kusbandono. Pada
periode ini, bisa dikatakan organisasi JQH masih mencari format, sehingga
kegiatan JQH masih meliputi kegiatan yang sifatnya penguatan sumber daya
manusia dan sosialisasi JQH. Diantara kegiatan-kegiatan yang berjalan pada saat
itu adalah setoran Al-Quran, baik binnazhri maupun bil ghaibi/bil hifzhi,
mudarosah (saling menyimak hafalan), khatm Al-Quran (dilakukan di masjid
tarbiyah setiap minggu dan sebulan sekali diadakan di luar kampus), mengadakan
diskusi rutin tentang tafsir, mengadakan pelatihan untuk menjadi trainer
pembelajaran Al-Quran yang saat itu terbuka anggota dan dalam lingkup kecil.
Adapun devisi yang ada hanya devisi mudarosah dan devisi munaqosyah.
Periode kedua tahun 2003-2004, JQH diketuai oleh Gus A. Khoshi Bahrowi,
wakil ketua Muhammad Asad, sektretaris Muhammad Hasyim. Pada periode ini
ada perubahan status kelembagaan JQH, yaitu JQH masuk sebagai devisi semi
otonom di bawah lembaga kajian Al-Quran dan Sains (LKQS). Pada periode ini
format taaruf Qurani mulai digunakan untuk perekrutan anggota baru. Kegiatan
yang telah berjalan tinggal meneruskan. Pada periode ini ada penambahan


99
Muhammad Hasyim, Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH) Dalam Lintasan Sejarah,
Makalah disampaikan Dalam Acara Taaruf Qurani VI JQH UIN Malang, 1-2 November 2008,
hlm. 1-3.


kegiatan, yaitu kajian teks tafsir oleh KH. Drs. Marzuki Mustamar, kajian Qiroah
Sabah serta kajian kitab Shafahat fi ulumil Qiraat oleh Ustadz Syafaat, M.Ag.
Pada periode ini ditambahkan devisi humas dan dakwah yang berfungsi untuk
menerbitkan buletin JQH.
Pada periode ke-dua ini, JQH UIIS Malang mulai dikenal masyarakat Malang
dan sekitarnya. hal ini karena JQH mulai bersosialisai dan turut aktif dalam
kegiatan-kegiatan di luar kampus yang berkaitan dengan Al-Quran. Diantara
kegiatan tersebut adalah menjalin kerjasama dengan forum silaturrahim Qurra
dan Huffazh (FSQH) se-Malang raya yang ketika itu diketuai oleh KH. Munim
Syadzili, serta turut aktif dalam kegiatan-kegiatan MTQ baik tingkat kabupaten,
kotamadya, propinsi maupun nasional.
Periode ketiga tahun 2004-2005, JQH tetap diketuai oleh Khoshi Bahrowi,
ketua I M. Asad, Ketua II Rois Umar, sekretaris umum oleh M. Chamim. Dalam
periode ini kegiatan JQH yang sudah berjalan tetap dilanjutkan. Devisi yang ada
di JQH ditambah yaitu: devisi funun Islamiyah yang membidangi seni islamiyah
seperti Qiroah, dan seni kaligrafi. Pada periode ini, devisi mudarosah dan humas
menjalin kerjasama dengan radio Simfoni FM dalam acara yang bertema
menyapa senja dengan Al-Quran. Acara ini disiarkan secara on air, diisi
dengan pembacaan murottal oleh anggota JQH dilanjutkan dengan materi ilmu
tajwid dengan sesi tanya jawab.
Periode ke-empat tahun 2005-2006, ketua JQH UIN Malang dipegang oleh M.
Chamim, sekretaris umum A. Faishol. Pada perode ini JQH tetap menjalin
kerjasama dengan Radio Simfoni FM dalam kegiatan kajian Tafsir tematik yang


diadakan tiap minggunya, serta semua kegiatan yang telah diprogramkan pada
periode sebelumnya juga tetap dijalankan.
Peride ke-lima tahun 2006-2007, ketua Umum JQH adalah M. Iksan, ketua I
khoirul Amin, ketua II Imam Wahyudi Karimullah, dan A. Faishol sebagai
sekretaris umum.
Periode ke-enam tahun 2007-2008, ketua umum JQH adalah Munjiyat, ketua I
A. Faishol, Ketua II Alfan Suluh, sekretaris Ali Kadarisman. Pada periode ini
untuk kedua kalinya JQH mengalami perubahan status kelembagaan, yaitu
sebagai salah satu unit di bawah naungan Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN
Malang.
Periode ketujuh tahun 2008-2009 (kepengurusan sekarang), Ketua JQH adalah
Sholihin, wakil ketua Mustain, sekretaris adalah Muhlisin.
100

2. Visi, Misi, Tujuan, dan Fungsi Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH)
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Visi
Terwujudnya kampus yang bernuansa Al-Quran, bercirikan
intelektualitas, spiritualitas dan moralitas.
Misi
Membentuk ahli Al-Quran yang mampu membaca, menghafal,
memahami dan mengamalkan isi kandungan Al-Quran dalam
kehidupan sehari-hari.


100
Ibid., hlm. 4-5.


Membangun semangat akdemik yang Qurani di kalangan civitas
akdemika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Tujuan
Membentuk mahasiswa yang berkepribadian tinggi, berwawasan ke-
Al-Quranan dan mampu mentransformasikan nilai-nilai Al-Quran
dalam kehidupan masyarakat.
Membina kader huffazh dan pecinta Al-Quran menjadi berilmu dan
dan konsisten serta bertanggung jawab kepada hafalan, pemahaman,
dan pengamalan isi ajaran Al-Quran.
Membantu dan mendukung program mahad Sunan Ampel Al-Ali
(MSAA) dalam bidang ke-Al-Quranan, serta untuk mengantarkan
mahasiswa menjadi Ulama profesional yang intelek dan intelek
profesional yang ulama.
Fungsi
Wadah peningkatan kualitas dan kuantitas bacaan dan hafalan Al-
Quran.
Wadah pengkajian dan pengembangan keilmuan Al-Quran.
Wadah ukhuwah Islamiyah.
Wadah pengabdian masyarakat.






3. Struktur Kepengurusan
Pada periode 2008-2009, struktur kepengurusan Jamiyyatul Qurra Wal
Huffazh (JQH) Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang adalah sebagai berikut:
Pelindung : - Prof. Dr. H. Imam Suprayogo
- KH. Chamzawi, M.HI
Pembina : 1. Syamsul Ulum, MA
2. Syafaat, M.Ag
3. M. Hasyim, S.Hum
4. Isyroqun Najah, M.Ag
5. Ismatud Diniyah, Ah
Pengurus Harian:
Ketua Umum : Sholihin
Wakil Ketua : Mustaen
Sekretaris I : Mukhlisin
Sekretaris II Nur Azizah
Bendahara I : Rifqiyatuz Zuhriyah
Bendahara II : Supardi
Devisi-Devisi:
Dev. Mudarosah Putra:
Penasehat: Alfan Suluh
1. Ibnu Arobi (Co)
2. M. Imamul Muttaqin
Dev. Mudarosah Putri:
Penasehat: Hikmatus Sa'diyah
1. ZakiyatulUmami (Co)
2. Khilfatin Nabawiyah


3. Arif Nugroho
4. Agus Rinjani
3. Khodijah al-Kubro
4. Ismiyatur Rofi'ah
Dev. Munaqosyah:
Penasehat: M. Faisol
1. Agus Faizin (Co)
2. Qurroti A'yunin N.
3. Arba'in Nurdin
4. Nury Firdausiyah
5. Adib Mawardi
6. Khoirun Nashokhah
Dev. Funun Islamiyah:
Penasehat: Uswatun Hasanah
1. Ika Chusniah Anggraeni (Co)
2. Mahbub Ainur Rofiq
3. Laily Rizki Amalia
4. Uuz Hafizh Nawawi
5. Alfiyatus Syarofah
6. Manzilur Rohman R.
Dev. Humasy dan Dakwah:
Penasehat: Aminah
1. Babur Rohman (Co)
2. Lina Mariya Ulfa
3. Budi Fairul
4. Nely Ilmi Qoth'iyah
5. M. Hafizh Mubarok
6. Rizkiana Mahardika

Dev. Inventaris:
Penasehat: Hilyatu Millati
1. Didik Wahyudi (Co)
2. Sihatul Badriyah
3. M. Yalis Shokhib
4. Siti Mutholi'ah
5. Handoko
6. Lutfiyah Inayati






4. Program Kerja Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH) Mahad Sunan
Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Ada beberapa program kerja yang diusung oleh JQH sebagai berikut:
1). Meningkatkan dan mengembangkan ilmu-ilmu ke-Al-Quran-an yang
dititikberatkan pada bidang tahfizh, bagi seluruh anggota dengan sistem
intensif.
2). Meningkatkan kualitas intelektual seluruh aggota dalam pemahaman,
penghayatan, penafsiran dan pengamalan isi kandungan Al-Quran.
3). Membangun jaringan dan kerjasama dengan institusi lain guna mendukung
program kerja JQH UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
5. Kegiatan Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH) Mahad Sunan Ampel
Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2008-2009
Dalam setiap periode kepengurusan, JQH memiliki program kerja tahunan dan
juga kegiatan untuk setiap minggunya. Diantara kegiatan tahunan yang
dilaksanakan pada periode 2008-2009 adalah sebagai berikut:
Nama:
Waktu:
Tempat:

Peserta:
Karantina tahfizh dan sekolah tafsir
Tanggal 1-22 Februari 2009 dan 23-28 februari 2009.
Mabna Al-Farabi, mabna Al-Ghozali, masjid At-tarbiyah dan
halaqoh lantai 1
Anggota, pengurus JQH, dan partisipan luar.


Nama:
Waktu:
Tempat:
Peserta:
Olimpiade Al-Quran
Tanggal 23-24 Mei 2009
Halaqoh, depan mabna Al-Ghozali, masjid.
SMA/MA sederajat, Pesantren se-Jatim, dan Mahasantri Mahad
Sunan Ampel Al-Ali (2008-2009)
Nama:
Waktu:
Tempat:

Peserta:
Rihlah Qurani
Tanggal 5-7 juli 2009
Wonosobo (PP. Sunan Pandan Aran Jogjakarta, Pondok Pesantren
Al-Quran di Univesitas Al-Quran Jateng).
Anggota, Pengurus, dan Pembina JQH
Nama:
Waktu:


Tempat:
Peserta:
Wisuda Tahfizh
Pada setiap bulan Agustus, bertepatan dengan temu wali mahasantri
baru Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang
Gedung SC UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Seluruh anggota JQH UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang
mengikuti tes wisuda dengan klasifikasi (5,10,15,20,25,dan 30 Juz).
Selain kegiatan yang diadakan sekali dalam satu periode, JQH juga
mempunyai kegiatan yang diadakan setiap minggunya, sebagaimana tertera dalam
tabel berikut:





Tabel 4.1
Jadwal Kegiatan Harian dan Mingguan JQH Mahad Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Devisi Funun Islamiyah
No Program Hari Jam Tempat
1 Latihan Qiroah Rabu malam 20.00 WIB Masjid Tarbiyah
2 Olah Vokal Ahad pagi 05.30 WIB Masjid Tarbiyah
3 Latihan Kaligrafi Kamis malam 20.00 WIB Masjid Tarbiyah
Devisi Munaqosyah
No Program Waktu Jam Tempat
1 Kajian Tafsir
ayat al-ahkam
Ahad sore 16.00 WIB Masjid Tarbiyah
2 Kajian ulum al-
Quran
Kondisional - Masjid tarbiyah
Divisi Mudarosah Putra
No Program Waktu Jam Tempat
1 Setoran hafalan
kepada pembina
(instruktur)
Sabtu
Selasa
Rabu
05.00 WIB
12.00 WIB
12.00 WIB
Mabna Al-Ghozali
lantai 3
2 Khatm Al-
Quran
Ahad 06.00 WIB Masjid Tarbiyah
3 Setoran kepada
pendamping
Sesuai
kelompok
- Mabna Al-GhozAli
lt.3
Devisi Mudarosah Putri


No Program Waktu Jam Tempat
1 Setoran hafalan
kepada pembina
(instruktur)
Senin s/d
Sabtu
09.00-13.00
WIB
Ndalem Ning Isma
(rumah dinas No.
2)
2 Khatm Al-
Quran bil ghaib
Ahad 06.00 WIB di tiap Mabna
3 Khatm Al-
Quran Bin
Nazhar
Ahad 06.00 WIB di tiap Mabna
4 Setoran kepada
Pendamping
Sesuai
kelompok
19.30 WIB Mabna Khodijah
Al- Kubro
Divisi Mudarosah putra dan putrid
No Program Waktu Jam Tempat
1 Qiroah sabah Sabtu (2
minggu 1x)
16.00 wib Masjid Tarbiyah
Sumber: Data dokumentasi Organisasi
6. Prestasi Anggota Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh Mahad Sunan Ampel
Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Adapun prestasi yang dicapai oleh JQH Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang adalah sebagai berikut:
Tahun 2003
Pada Musabaqah Tilawatil Quran forum silaturahim Qurra Wal Huffazh
(FSQH) se-Malang Raya, Maret 2004.


Juara I cabang Musabaqah Hifzhil Quran 5 juz tilawah
Juara I cabang Musabaqah Hifzhil Quran 10 juz
Juara III cabang Musabaqah Hifzhil Quran 5 juz tilawah
Juara III cabang Musabaqah Hifzhil Quran 30 juz
Juara III cabang Tilawatil Quran remaja putri
Pada Seleksi Tilawatil Quran XVIII (STQ XVIII) tingkat Nasional di
Bengkulu, Juli 2004
Juara III cabang Tafsir Bahasa Inggris dan MHQ 30 juz
Tahun 2004
Pada Musabaqah Tilawatil Quran XXI tingkat Kotamadya Malang
Juara I cabang Musabaqah Hifzhil Quran 5 juz tilawah
Juara I cabang Musabaqah Hifzhil Quran 10 juz
Juara I cabang Tafsir bahasa Indonesia
Juara II cabang Musabaqah Tilawatil Quran remaja putra
Juara II cabang Musabaqah Hifzhil Quran 20 juz
Juara III cabang Musabaqah Tilawatil Quran remaja putri
Juara III cabang Musabaqah Hifzhil Quran 10 juz
Tahun 2005
Juara III cabang Musabaqah Fahmil Quran tingkat Prov. Jawa Timur di
Sumenep-Madura
Juara I cabang Tafsir bahasa inggris putri
Juara I cabang Musabaqah Khoththil Quran putri



Tahun 2006
Juara III cabang Tafsir bahasa inggris tingkat Nasional di Kendari-
Sulawesi
Seleksi Musabaqah Hifzhil Quran dan Hadits tingkat Nasional di
KEDUBES Saudi Arabia setiap tahun di Jakarta
Mendapat kepercayaan sebagai muallim al-Quran Mahad Sunan Ampel
Al-Ali UIN Malang
Tahun 2007
Juara Harapan I MTQ 2007 Se-Jawa Timur cabang Musabaqah Syarhil
Quran di Blitar
Juara Harapan I dan II MTQ 2007 Se-Jawa Timur
Juara III MTQ 2007 Se-Jawa Timur cabang Tafsir Bahasa Inggris di Blitar
Tahun 2008
Pada Musabaqah Tilawatil Quran Se-Malang Raya di Kepanjen, 20 Maret
2008.
Juara II cabang Musabaqah Hifzhil Quran 5 juz tilawah putra
Juara III cabang Musabaqah Hifzhil Quran 5 juz tilawah putra
Juara I cabang Musabaqah Hifzhil Quran 5 juz tilawah putri
Juara I cabang Khitobah Quran
Juara II cabang Puitisasi Quran
Juara I cabang MTQ remaja putra
Juara III cabang Musabaqah Kaligrafi Al-Quran naskah
Juara I cabang Musabaqah Fahmil Quran (tim I putra)


0
50
100
150
200
2002-
2003
2003-
2004
2004-
2005
2005-
2006
2006-
2007
2007-
2008
2008-
2009
Periode Kepengurusan
J
u
m
l
a
h

A
n
g
g
o
t
a
Juara III cabang Musabaqah Fahmil Quran (tim II putri).
7. Kedaaan Anggota Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH) Mahad
Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Sebagai sebuah unit pengembangan Tahfizh Al-Quran di Mahad Sunan
Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, JQH juga merupakan
organisasi yang setiap tahunnya mengadakan rekruitmen anggota yang terdiri dari
mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Anggota JQH dari tahun ke
tahun selalu mengalami peningkatan. Hal ini dapat diamati dalam grafik berikut:


Gambar 4.1
Grafik Anggota JQH Mulai Periode 2002-2009
Sumber Data: Dokumentasi
Grafik di atas menunjukkan perkembangan jumlah anggota yang signifikan.
Mulai periode awal berdirinya (2002-2003), JQH hanya mempunyai anggota
sebanyak 11 orang mahasiswa. Pada periode kedua (2003-2004) meningkat
menjadi 91 orang anggota. Pada periode ke-tiga (2004-2005), jumlah anggota
semakin meningkat menjadi 115 orang mahasiswa.


Pada periode ke-empat (2005-2006), jumlah anggota kembali menurun
menjadi 46 anggota saja. Pada periode ke-lima (2006-2007), jumlah anggota agak
maningkat menjadi 70 orang.
Pada periode ke-enam (2007-2008), jumlah anggota JQH mengalami
peningkatan yang paling tinggi, yaitu 182 anggota. Kemudian, pada peride saat ini
(2008-2009), jumlah anggota adalah 136 orang mahasiswa.
Pada periode ini, anggota JQH terdiri atas mahasiswa dari berbagai jurusan,
diantaranya: PAI (31 orang), B.Arab (20 orang), Syariah (9 orang), PBA (16
orang), B. Inggris (15 orang), serta 45 orang dari berbagai jurusan lainnya.
Mahasiswa anggota JQH Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang, tidak semuanya memiliki hafalan Al-Quran. Hal ini karena
untuk menjadi anggota JQH, persyaratan yang mutlak adalah adanya kecintaan
dan kemauan untuk memperdalam ilmu-ilmu ke-Al-Quran-an. Baru setelah
masuk ke organisasi ini, ditumbuhkan motivasi serta pengembangan minat untuk
menghafal Al-Quran.
Dari data yang ada, diantara 31 orang mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI) yang menjadi anggota JQH pada periode 2008-2009, yang memiliki
hafalan/sedang tahap menghafal ada 15 orang saja, sebagaimana tertera dalam
tabel berikut:






Tabel 4. 2.
Nama-Nama Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Penghafal Al-Quran

No. Nama Mahasiswa Semester Jumlah Hafalan
1. Agus Faizin 6 12 Juz
2. Arif Nugroho 4 30 Juz
3. Imamul Muttaqin 4 30 Juz
4. Misbahuddin Aziz 2 30 Juz
5. Uuz Hafizh Nawawi 4 7 Juz
6. Aminah 8 7 Juz
7. Amirotun Nahdhiyah 6 30 Juz
8. Halimah Sadiyah 2 30 Juz
9. Hikmatus Sadiyah 8 20 Juz
10. Ismiyatur Rofiah 4 30 Juz
11. Nur Azizah 4 30 Juz
12. Nurul fadhilah 4 30 Juz
13. Risa Sulhiana 4 5 Juz
14. Siti Lailiyah 2 5 Juz
15. Qurroti Ayunin. N. 6 5 Juz

B. Paparan Hasil Penelitian
1. Deskripsi Pelaksanaan Hafalan Al-Quran di Mahad Sunan Ampel Al-
Ali (MSAA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Kegiatan menghafal Al-Quran di Mahad Sunan Ampel Al-Ali diikuti oleh
mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari berbagai Fakultas dan
Jurusan, termasuk diantaranya 15 orang mahasiswa dari Jurusan Pendidikan
Agama Islam (PAI), yang nama-namanya telah dijelaskan sebelumnya.


Sebagaimana para penghafal Al-Quran lainnya, para mahasiswa ini memiliki
kewajiban untuk selalu melestarikan dan meningkatkan kuantitas serta kualitas
hafalannya. Hal ini diupayakan oleh mahasiswa dengan senantiasa tekun untuk
menambah hafalan di bawah bimbingan instruktur, serta mengulangi hafalannya
baik sendiri maupun dengan teman sejawat. Pelaksanaan hafalan Al-Quran yang
dilakukan oleh mahasiswa di Mahad Sunan Ampel Al-Ali terdiri dari 3 tahapan,
yaitu:
a. Tahap Persiapan
Tahap persiapan yang dimaksud adalah sebuah tahapan yang dilakukan oleh
seorang penghafal Al-Quran sebelum ia mentashihkan hafalannya kepada
instruktur. Pada tahap ini, para mahasiswa penghafal Al-Quran dari jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI), terutama yang sedang dalam taraf menghafal
beberapa juz, mempersiapkan tambahan hafalan yang akan ditashihkan pada
instruktur yang ada.
Dalam usaha untuk menambah hafalan baru, para mahasiswa penghafal Al-
Quran dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) menggunakan metode yang
berbeda satu sama lain. Ada yang menggunakan metode pengulangan ayat
sebelum dihafal, ada juga yang menggunakan metode memahami ayat sebelum
membaca berulang-ulang dan dihafal. Hal ini sesuai dengan beberapa pernyataan
berikut:
Metode yang saya gunakan dalam menghafal biasanya, sebelum menghafal
saya baca dulu tiga kali per-ayat, setelah ada gambaran baru lanjut pada ayat


seterusnya. Kalau misalnya ada ayat-ayat yang agak sulit, saya biasanya
lihat artinya di Al-Quran terjemah, itu saya rasa bisa lebih memudahkan.
101


Kalau metode menambah hafalan, biasanya sebelum saya baca berulang-ulang
saya fahami dulu mbak maksud ayatnya. Saya biasanya pakai Al-Quran tafsir
yang kecil itu lho mbak, saya nggak memakai terjemah. ya.. saya lebih suka
pake tafsirnya saja.
102


Kalau saya biasanya baca terjemahnya dulu, saya fahami, baru kemudian saya
baca berulang-ulang dan dihafalkan, karena saya biasanya menghafalkan
dengan membaca terjemahnya dulu. Kalau menghafalkan ayat-ayat yang
berisi cerita biasanya lebih cepat mbak.
103

Dari wawancara tersebut dapat diketahui bahwa, metode yang digunakan oleh
mahasiswa penghafal Al-Quran untuk menambah hafalan baru ada beberapa
macam, diantaranya dengan membaca berulang-ulang ayat-ayat yang akan di
hafal, ada juga yang memahami ayat terlebih dahulu sebelum dibaca berulang-
ulang dan dihafal.
b. Tahap Pentashihan Hafalan
Pada tahap ini, para mahasiswa penghafal Al-Quran mentashihkan hafalannya
kepada instruktur. Aktivitas menghafal dan mengulang hafalan Al-Quran di
bawah bimbingan instruktur ini, menggunakan metode sorogan. Metode Sorogan
adalah cara dalam proses belajar membaca atau menghafal Al-Quran, dimana
seorang murid memperdengarkan bacaan atau hafalannya kepada instruktur
dengan berhadapan secara langsung (face to face). Mengenai penggunaan metode
ini, sebagaimana dijelaskan dalam pernyataan berikut:
Metode yang digunakan untuk setoran (menambah) dan nderes (mengulang)
ya dengan metode sorogan itu mbak,, menurut saya metode ini merupakan


101
Wawancara dengan Agus Faizin, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009.

102
Wawancara dengan Aminah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI Fakultas
Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.

103
Wawancara dengan Hikmatus Sadiyah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.


cara yang paling efektif digunakan dalam menghafal Al-Quran, karena
segala bentuk kesalahan bacaan akan dapat terlihat dengan jelas dan segera
mendapat pembenahan dari saya.
104


Walaupun metode dalam menghafal dan mengulang hafalan di bawah
bimbingan instruktur diseragamkan, akan tetapi dalam hal kuantitas hafalan setiap
pertemuan, mahasiswa memiliki kemampuan yag berbeda. oleh karena itu,
instruktur tidak langsung menentukan berapa halaman yang harus disetorkan
(tambahan hafalan) perharinya. Hal ini sebagaimana penjelasan dari instruktur
sebagai berikut:
Kalau mengenai kuantitas hafalan setiap pertemuan, itu tergantung dari
kemampuan mahasiswanya mbak, biasanya sebelum memulai hafalan
mahasiswa itu saya tanya terlebih dahulu, dia sudah pernah khatam atau
belum, kalau belum pernah khatam, biasanya setoran (menambah
hafalan) nya ya 1 sampai 2 halaman. Tapi kalau misalnya dia sudah pernah
khatam, biasanya per pertemuan itu dia nderes (mengulang) juz. Untuk
yang belum pernah khatam, biasanya saya beri toleransi, kalau tidak bisa
menambah ya harus tetap nderes (mengulang) hafalan sebelumnya. ya..
saya itu maklum, karena memang yang dihadapi di sini kan mahasiswa mbak,
mereka banyak kesibukan dan kadang kuliahnya full.
105


Dari Wawancara di atas dapat diketahui bahwa kuantitas hafalan setiap
mahasiswa berbeda-beda, ada yang sedang dalam tahap menghafal beberapa juz
dari Al-Quran, ada pula yang sudah pernah khatam 30 juz. Adapun untuk
mahasiswa penghafal Al-Quran dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI),
kuantitas hafalannya dapat dilihat dari tabel berikut:





104
Wawancara dengan Ismatud Diniyah, Instruktur Hafalan Al-Quran Mahad Sunan Ampel
Al- Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 21 Mei 2009.

105
Ibid..


Tabel 4. 3.
Jumlah Hafalan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)

No Alternatif Jawaban N F %
1
2
3
4
<10 juz
>10 juz
20 juz
30 juz
15




5
1
1
8
33 %
7 %
7 %
53 %
Jumlah 15 100%
Sumber: Data Angket

Dari data di atas dapat diketahui bahwa diantara 15 orang informan mahasiswa
penghafal Al-Quran dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), ada 5 orang
yang hafal <10 juz, 1 orang hafal >10 juz, 1 orang hafal 20 juz, dan 8 orang telah
hafal 30 juz.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak semua mahasiswa penghafal
Al-Quran dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), memulai hafalan Al-
Qurannya di Mahad UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Hal ini dapat
ditunjukkan dari data berikut:
Tabel 4. 4.
Awal mahasiswa mulai menghafal

No Alternatif Jawaban N F %
1
2
3
4
SD / MI
SMP / MTs
SMA / MA
Pasca SMA
15 2
3
4
6
13 %
20 %
27 %
40 %
Jumlah 15 100%
Sumber: Data Angket




Tabel 4. 5.
Tempat Menghafal

No Alternatif Jawaban N F %
1
2
3
Pesantren tahfizh
Pesantren non tahfizh
di UIN (Mahad)
15

9
2
4
67 %
13 %
20 %
Jumlah 15 100%
Sumber: Data Angket
Data di atas menunjukkan bahwa 11 mahasiswa penghafal Al-Quran dari
Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) telah mulai menghafal Al-Quran sejak
sebelum kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sedangkan 4 yang lain
baru memulai hafalannya di mahad UIN.
c. Tahap Pelestarian Hafalan
Selain menambah kuantitas hafalan, hal yang lebih penting dari proses
menghafal Al-Quran adalah menjaga kualitas hafalan agar senantiasa baik dan
benar. Untuk mendapatkan kualitas hafalan yang baik, seorang penghafal Al-
Quran harus berusaha menyisihkan waktu untuk mengulang hafalannya.
berdasarkan data dari angket, diketahui bahwa 94% mahasiswa Jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Quran menggunakan waktu sekitar
2-3 jam per-harinya untuk menambah atau mengulang hafalan, sedangkan sisanya
menyisihkan waktu sedikitnya 5 jam per-hari.
Para mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Quran
ini ada yang mengulang hafalan di bawah bimbingan instruktur, ada yang disimak
oleh sesama teman penghafal, ada juga yang mengulang hafalan sendiri. Hal ini
sebagaimana dipaparkan dalam beberapa pernyataan berikut:


Alhamdulillah mbak, saya selalu menyempatkan untuk setoran (menambah
hafalan) dan nderes (mengulang hafalan) kepada neng Isma (instruktur).
Seandainya pun saya nggak nambah saya tetap setor deresan saja. Saya
mengusahakan untuk bisa istiqomah. Selain itu di sini juga ada deresan
bersama dengan teman-teman di lantai 2 mbak, waktunya bada sholat Isya.
terus ada juga khataman tiap minggu mbak.
106


Kalau nderesnya pada instruktur ya alhamdulillah saya rutin mbak, di putra
sekarang yang menyimak pak Hasyim, setiap selasa dan rabu jam 1-2. kalau
selain itu biasanya saya nderes sendiri mbak, soalnya teman-teman jarang ada
yang mau diajak nderes sama-sama, kecuali kalau ada kegiatan khatmil
Quran.
107


Kalau saya Alhamdulillah sudah khatam mbak, jadi biasanya saya nderes
sendiri, tapi kadang juga dengan teman-teman. Terus biasanya saya juga ikut
khataman mingguan.
108


Beberapa penyataan tersebut, pada dasarnya juga mengindikasikan adanya
peran teman sejawat dan situasi sosial yang mendukung dalam proses
melestarikan hafalan Al-Quran. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya,
bahwa para mahasiswa penghafal Al-Quran dari jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI) ini tinggal di Mahad Sunan Ampel Al-Ali dan berkumpul dengan
sesama penghafal lain dari berbagai fakultas dan jurusan. Dengan berkumpulnya
para penghafal Al-Quran ini dalam situasi sosial yang sama, maka
memungkinkan adanya kerjasama yang baik dalam hal mengulang hafalan, serta
saling memberi motivasi. Hal ini sebagaimana pernyataan dari para informan
berikut:
Menurut saya kondusif banget tinggal di mahad ini, banyak teman yang bisa
memotivasi, meskipun kadang banyak hiruk-pikuk teman-teman mahad
lainnya. Tapi masih ada celah tempat dan waktu untuk menghafal.menurut


106
Wawancara dengan Hikmatus Sadiyah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.

107
Wawancara dengan Imamul Muttaqin, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009.

108
Wawancara dengan Arif Nugroho, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009.


saya serame-ramenya mahad tetap bisa nderes, tapi sesepi-sepinya kost, tetap
aja nggak kondusif dan nggak ada yang memotivasi.
109


Ya mbak, dengan tinggal di mahad seperti ini apalagi satu kamar dengan
penghafal al-Quran yang lain itu sangat kondusif, ada motivasi tersendiri
yang muncul. kalau ada teman sekamar yang rajin nderesnya, pasti dalam hati
saya ini ada greget, kok saya nggak bisa kayak dia, jadinya ya setelah
itu semangat lagi deh nderesnya.
110


Peran lingkungan sosial sangat besar dalam proses menghafal Al-Quran.
karena itulah, apabila lingkungan tempat menghafal terbilang kondusif, maka
seorang penghafal akan merasa terbantu dengan lingkungan tersebut. Dalam hasil
angket diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4. 6.
Peran lingkungan Menghafal Al-Quran (Mahad)

No Alternatif Jawaban N F %
1
2
3
4
Sangat terbantu
Terbantu
Agak terbantu
Tidak terbantu
15 8
4
2
1
53 %
13 %
27 %
7 %
Jumlah 15 100%
Sumber: Data Angket

Dalam proses menghafal, ada beberapa kendala yang dialami oleh mahasiswa
penghafal Al-Quran Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), diantaranya seperti
yang dipaparkan dalam wawancara berikut:
Kalau kendala saya masalah waktu mbak, biasanya jadwal kuliah itu bentrok
dengan jadwal setoran kepada instruktur. Soalnya jam setorannya dibatasi dari


109
Wawancara dengan Nur Azizah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI Fakultas
Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009.

110
Wawancara dengan Qurroti Ayunin Nasihah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan
PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 16-04-2009.


jam 9-13.00, itukan waktu kuliah full mbak. Terus, ada juga mbak kadang
rasa jenuh, nah itu yang membuat malas mbak.
111


Kalau kendalanya, pengaturan waktunya agak sulit mbak, terus, teman-teman
di kamar itu agak sulit untuk diajak kompakan nderes bersama, jadinya ya
nderes sendiri-sendiri.
112


Kalau kendala saya dalam menghafal ya waktu mbak, saya agak sulit untuk
mengatur waktu, apalagi sekarang sedang mengerjakan tugas akhir. Tapi ya
tetap saya usahakan untuk nderes walaupun tidak nambah. Kalau kesulitan
dalam hafalannya sendiri, biasanya terletak pada ayat-ayat yang pendek
dan artinya langka.
113


Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam menghafal
Mahasiswa penghafal Al-Quran dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
menemui berbagai macam kendala, diantaranya adalah banyaknya kesibukan yang
harus dilakukan, sehingga perlu pengaturan waktu yang ketat. Selain itu ada juga
kendala yang disebabkan oleh kejenuhan menghafal, sehingga menyebabkan rasa
malas. Kemudian ada juga kendala kesulitan dalam menghafal ayat-ayat tertentu.
Hal ini biasanya terjadi pada saat menghafal ayat-ayat yang kalimatnya pendek,
serta kata-katanya langka.
Dari beberapa faktor tersebut, ada yang paling dominan dan sering dialami
oleh mahasiswa, sebagaimana yang diketahui dari data angket berikut ini:






111
Wawancara dengan Amirotun Nahdliyah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 16-04-2009

112
Wawancara dengan Imamul Muttaqin, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009

113
Wawancara dengan Hikmatus Sadiyah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.


Tabel 4. 7.
Kendala yang paling dominan dalam menghafal dan melestarikan hafalan

No Alternatif Jawaban N F %
1
2
3
Pengaturan waktu
Lingkungan
Malas
15 11
3
1
73 %
20 %
7 %
Jumlah 15 100%
Sumber: Data Angket

Data di atas menunjukkan bahwa 11 orang (73%) mahasiswa penghafal dari
Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) mengalami kendala dalam pengaturan
waktu, 3 orang (20%) mengalami kendala lingkungan yang kurang mendukung,
dan 1 orang (7%) lainnya mengalami kejenuhan dalam hafalan yang
mengakibatkan rasa malas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kendala
yang paling dominan adalah pengaturan waktu.
Beberapa kendala menghafal Al-Quran yang dialami oleh para mahasiswa
jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan hal yang wajar terjadi
mengingat padatnya kegiatan mahasiswa tersebut, akan tetapi beberapa kendala
tersebut dapat diantisipasi dengan menciptakan lingkungan yang kondusif serta
waktu khusus untuk menghafal dalam seharinya, hal ini sebagaimana dipaparkan
dalam wawancara sebelumnya.
Berdasarkan pemaparan temuan data tentang pelaksanaan hafalan Al-Quran
di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dapat
disimpulkan bahwa pelaksanaan hafalan di Mahad sudah baik. Hal ini karena
lingkungan (situasi sosial) yang mendukung dengan dikumpulkannya para
penghafal Al-Quran dalam satu mabna/unit asrama, adanya bimbingan instruktur


hafalan yang juga Hafizh/hafizhah, serta adanya program evaluasi hafalan yang
dilakukan oleh organisasi setiap akhir pekan, akhir semester dan akhir periode
kepengurusan. Program evaluasi yang dimaksud adalah khatm Al-Quran bil
ghaib tiap minggu, tes tahfizh tiap akhir semester, serta wisuda tahfizh yang
didahului oleh tes pentashihan tahfizh oleh pembina.
2. Implikasi Hafalan Al-Quran Dalam Peningkatan Prestasi Belajar
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Dari sebuah proses menghafal Al-Quran yang baik, artinya memenuhi
beberapa persyaratan seperti adanya instruktur yang membimbing hafalan,
penggunaan metode yang tepat, tersedianya waktu, serta lingkungan yang
mendukung, seorang penghafal Al-Quran minimal akan memiliki kemampuan
untuk membaca ayat-ayat Al-Quran dengan benar dan dapat mengulang bacaan
yang telah ia hafalkan.
Lain halnya apabila seorang penghafal Al-Quran tidak hanya menghafalkan
Al-Quran dari lafadnya, akan tetapi juga mempelajari kandungan isinya, maka ia
akan memiliki pemahaman yang komprehensif tentang Al-Quran. dan
sebagaimana diketahui, bahwa Al-Quran merupakan sumber hukum syariat dan
ilmu pengetahuan.
Menurut para mahasiswa penghafal Al-Quran Jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI), selain menghafalkan secara lafdiyah. mereka juga berusaha untuk
mengembangkan pengetahuan tentang Al-Quran yang mereka hafalkan. Mereka
memiliki cara tertentu dalam mempelajari dan memahami kandungan ayat yang


sedang dihafalkan, salah satunya adalah dengan membaca arti dan memahami ayat
yang hendak dihafal. Hal ini sesuai dengan pernyataan berikut:
Membaca berulang-ulang mbak, lalu saya fahami terjemahnya dan dihafalkan.
Kalau ayat yang berisi tentang hukum itu bisa lebih cepat hafal mbak, karena
sering dengar sejak di MA dulu.kemudian di JQH juga ada kajian kitab tafsir
Ayatul Ahkam mbak,,
114


Saya baca terjemahnya dulu, saya fahami, baru kemudian saya baca berulang
ulang dan dihafalkan. Kalau menghafalkan ayat-ayat yang berisi cerita
biasanya lebih cepat mbak.
115


Biasanya saya fahami isi ayatnya dulu mbak, tapi saya pakai Al-Quran tafsir
yang kecil itu lho mbak, saya nggak memakai terjemah. ya.. saya lebih suka
pake tafsirnya saja. untuk pengembangan yang lebih dalam lagi ya.. saya
dapatkan di perkuliahan mbak..
116


Dari pernyataan di atas, dapat diketahui bahwa ada beberapa usaha untuk
memahami ayat yang akan dihafalkan, antara lain dengan mengetahui arti ayat
dan memahaminya. pernyataan di atas juga didukung oleh data angket berikut:
Tabel 4. 8.
Usaha untuk Memahami Makna dan Kandungan Ayat Yang dihafal

No Alternatif Jawaban N F %
1
2
3
Ya
Kadang-kadang
Tidak
15 12
1
2
80 %
7 %
13 %
Jumlah 15 100%
Sumber: Data Angket

Data angket di atas menujukkan bahwa 87% (13 orang) mahasiswa penghafal
Al-Quran dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), memiliki usaha untuk


114
Wawancara dengan Qurroti Ayunin Nasihah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan
PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 16-04-2009.

115
Wawancara dengan Hikmatus Sadiyah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.

116
Wawancara dengan Aminah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI Fakultas
Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.


memahami makna dan kandungan ayat-ayat Al-Quran yang dihafalnya,
sedangkan 2 orang lainnya mengaku belum ada usaha yang sungguh-sungguh.
Dalam perkuliahan mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI),
banyak sekali dijumpai ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan tema
perkuliahan yang ada. Khususnya dalam matakuliah kegamaan Islam seperti Studi
Al-Quran, studi Fiqih, Tafsir dan Hadits, Tafsir hadits Tarbawi 1&2, Masail
Fiqih 1&2, Qowaid Fiqih dan ushul fiqih, ayat-ayat Al-Quran sering bersentuhan
langsung dengan tema-tema yang dibahas. Dalam konteks inilah, seorang
mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang hafal Al-Quran akan
sangat terbantu dengan kemampuannya menghafal dan memamahami ayat yang
telah ia hafal.
Para mahasiswa penghafal Al-Quran dari jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI) di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini, menghafalkan Al-Quran
berdasarkan urutan mushaf, artinya tidak berdasarkan tema-tema tertentu saja
(tematik). Walaupun demikian, mereka mengaku merasa terbantu dengan adanya
hafalan Al-Quran yang dimiliki. Menurut mereka, hafalan Al-Quran telah
memberikan kontribusi yang sangat besar dalam prestasi akademik, khususnya
dalam matakuliah keagamaan Islam yang sering berhubungan dengan ayat-ayat
Al-Quran. Hal ini dapat dicermati dalam pernyataan berikut:
Oh iya mbak, walaupun kadang ada ayat yang belum nyampek,, tapi kan di
juz awal-awal itu banyak sekali yang berhubungan dengan hukum syariat, ada
juga yang tentang pendidikan. Contohnya saja pada surat Al-Baqoroh mbak
ada ayat waallamal aadamal asmaaa kullahaaal ayat (interviewer
membaca dengan sangat fasih dan baik). Tapi kebetulan yang selama ini
sering muncul diperkuliahan saya bisa menghafalnya dengan baik, karena
meliputi juz-juz awal mbak. Kalau ada ayat yang pas saya belum hafal ya


dihafalkan saja lah mbak, toh nggak sulit, karena kebanyakan ayat-ayat nya
kita sudah pernah mendengar dan masyhur.
117


Kalau saya merasa terbantu sekali dengan hafalan yang saya miliki mbak, kan
dengan kita sudah sudah hafal ayat nanti tinggal pengembangannya gimana.
Tapi karena saya ini masih juz 5, biasanya ada kan yang belum hafal, lah itu
kalau ayat-ayat tertentu yang dulu pernah ada di materi pelajaran Aliyah saya
masih ingat mbak, tapi kalau memang saya belum pernah hafal sama sekali ya
saya hafalkan dulu mbak, Alhamdulillah karena sudah sering dibaca bin
nadzor jadi mudah menghafalnya.
118


Kalau menurut saya hafalan ini sangat membantu, dulu waktu ada matakuliah
masail fiqih misalnya, itukan banyak sekali menggali hukum dari asbabun
nuzul dan tafsirnya. kan di JQH selain menghafalkan Al-Quran juga
dipelajari mbak tafsir ayatul ahkamnya, jadi menurut saya sejauh ini
membantu sekali mbak. lah karena saya belum khatam, kalau misalnya ada
ayat yang belum anda hafal dan muncul dalam perkuliahan, ya saya hafalkan
dulu mbak, toh nantinya saya juga akan terbantu juga dalam proses
meneruskan hafalan saya sampai 30 juz, amin.
119


Oh ya jelas mbak, saya merasa sangat terbantu, contoh saja dalam studi Al-
Quran, fiqh dan lainnya, itu sangat banyak ayat yang dibahas. Ayat-ayat yang
dibahas diperkuliahan itu menjadi familiar, ya nanti tinggal bagaimana
pengembangannya saja kan mbak. Oh ya mbak, ada satu lagi hal yang saya
rasakan sejak saya menghafal Al-Quran, dalam menghafalkan materi
pelajaran apa saja menjadi sangat mudah.
120


Dari wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa hafalan yang dimiliki oleh
mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Quran, memiliki
kontribusi yang baik dalam matakuliah keagamaan Islam, khususnya yang banyak
berhubungan dengan ayat-ayat Al-Quran.
Selain memberikan kontribusi yang besar dalam membantu penguasaan materi
perkuliahan keagamaan Islam mahasiswa, menghafal Al-Quran juga memiliki


117
Wawancara dengan Hikmatus Sadiyah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.

118
Wawancara dengan Qurroti Ayunin Nasihah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan
PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 16-04-2009

119
Wawancara dengan Agus Faizin, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009.

120
Wawancara dengan Ismiyatur Rofiah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009


pengaruh yang baik pada keadaan psikologis mahasiswa. Aktivitas menghafal Al-
Quran dimulai dengan membaca berulang-ulang ayat-ayat yang akan dihafalkan.
Dalam keadaan inilah seorang penghafal Al-Quran akan merasakan adanya
ketenangan batin yang luar biasa.
Dari data angket yang dihimpun oleh peneliti, para mahasiswa Jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal Al-Quran 100% mengaku
merasakan adanya ketenagan ketika melakukan aktivitas menghafal Al-Quran.
Dengan kondisi psikologis yang baik inilah, segala potensi akal akan dapat
dimaksimalkan dengan sebaik-baiknya untuk belajar. Hal ini, sesuai dengan
beberapa pernyataan berikut:
Kalau saya merasa tenang banget mbak, pokoknya beda deh antara keadaan
jiwa setelah membaca Al-Quran dengan sebelumnya.
121


Oh ya mbak, bahkan ketika saya banyak tugas kuliah yang menumpuk,
biasanya saya tinggal untuk nderes dulu mbak, al-hamdulillah setelah nderes
saya tenang dan mendapatkan pencerahan.
122


Oh, kalau itu ya bangeet mbak, terus terang nih kalau saya nderesnya
semakin rajin, tugas-tugas kuliah akan terasa sangat mudah dan cepat selesai.
Tapi kalau pas malas nderesnya, tugas-tugas kuliah itu malah jadi terbengkalai
semua.
123


Beberapa pernyataan di atas menunjukkan bahwa aktivitas menghafal Al-
Quran berpengaruh sangat baik bagi kondisi kejiwaan para mahasiswa tersebut.
Selain itu hafalan yang dimiliki oleh mahasiswa juga sangat membantu dalam


121
Wawancara dengan Arif Nugroho, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 22-04-2009.

122
Wawancara dengan Hikmatus Sadiyah , Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.

123
Wawancara dengan Nur Azizah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI Fakultas
Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009.


penguasaan materi perkuliahan keagamaan Islam, sehingga mendukung pada
peningkatan prestasi belajar mereka.
Prestasi belajar/akademik mahasiswa, merupakan hasil akhir penilaian pada
tiap semester yang dibuat oleh dosen. Penilaian ini meliputi ranah kognitif, afektif
dan psikomotorik mahasiswa. Bentuk penilaian akhir semester ini berupa kartu
hasil studi (KHS).
Prestasi belajar mahasiswa penghafal Al-Quran dari Jurusan Pendidikan
Agama Islam (PAI) dalam perkuliahan, secara umum dapat digambarkan melalui
perolehan nilai indeks prestasi komulatif yang tertera dalam kartu hasil studi
(KHS) tiap semesternya, sebagai berikut:
Tabel 4. 9.
Rekapitulasi Nilai Rata-Rata Indeks Prestasi Komulatif
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Penghafal Al-Quran

IP semester No Nama Thn /
Angkatan 1 2 3 4 5 6
Nilai
IPK
1. Halimah Sadiyah 3.92 3.92
2. Siti Lailiyah 4.00 4.00
3. Misbahuddin Aziz
2008/2009
3.72 3.72
4. Imamul Muttaqin 3.31 3.38 3.54 3.41
5. Arif Nugroho 3.67 3.35 3.46 3.49
6. Nur Azizah 4.00 3.60 3.85 3.81
7. Ismiyatur Rofiah 3.78 3.35 3.62 3.58
8. Nurul Fadhilah 3.31 3.23 3.38 3.30
9. Risa Sulhiana 3.78 3.50 3.94 3.74
10 Uuz Hafizh N.
2007/2008
3.03 3.23 3.23 3.16
11 Agus Faizin 3.71 3.65 3.63 3.77 3.52 3.65
12 Qurroti Ayun N. 3.88 3.79 3.61 3.71 3.78 3.75
13 Amirotun N.
2006/2007
3.60 3.60 3.35 3.71 3.89 3.63
14 Aminah 3.69 3.97 3.62 3.88 3.91 3.79 3.81
15 Hikmatus S.
2005/2006
3.62 3.77 3.50 3.60 3.91 3.96 3.72

IPK rata-rata = jumlah nilai IPK/jumlah mahasiswa = 54.69/15 = 3.64

Sumber: Data Dokumentasi Pribadi Mahasiswa


Dari data tersebut dapat diketahui, bahwa secara umum nilai rata-rata indeks
prestasi komulatif (IPK) mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) yang
menghafal Al-Quran adalah baik. Dalam buku pedoman pendidikan UIN
Maulana malik Ibrahim Malang tahun 2005/2006, perolehan nilai IPK 3.64
termasuk dalam kategori predikat cumlaude (dengan pujian). Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa secara umum, nilai IPK rata-rata mahasiswa Jurusan
Pendidikan Agama Islam penghafal Al-Quran adalah sangat baik.
Adapun untuk matakuliah keagamaan Islam yang banyak berhubungan
dengan ayat-ayat Al-Quran, nilai mahasiswa Jurusan pendidikan Agama Islam
penghafal Al-Quran adalah sebagaimana tertera dalam tabel berikut:
Tabel 4. 10.
Nilai Matakuliah Keagamaan Islam
yang Berhubungan dengan Ayat-Ayat Al-Quran

Nilai Matakuliah Keterangan No Nama
1 2 3 4 5 6 7 8 1.Studi Al-Quran
1 Imam Muttaqin A A 2.Studi Fiqh
2 Arif Nugroho B+ A 3. Tafsir & Hadits
3 Nur Azizah B A 4. Masail Fiqhiyah I
4 Ismiyatur Rofiah B A 5. Tafsir Hadits Tarbawi I
5 Nurul Fadhilah B B+ 6. Masail Fiqhiyah II
6 Risa Sulhiana A A 7. Tafsir Hadits Tarbawi II
7 Uuz Hafizh N. A B 8. Ushul Fiqh
8 Agus Faizin B+ A B+ A B+ C
9 Qurroti Ayun N A A A B+ B+ A
10 Amirotun. N. B+ B+ A A A A
11 Aminah B+ A A A A A A A
12 Hikmatus. S. B+ B+ A B A A A A
Sumber: Data Dokumentasi Pribadi Mahasiswa
Pada tabel di atas tidak dicantumkan nilai 3 orang mahasiswa yang berada
pada semester 2 (nama dapat dilihat pada tabel 4.9), karena matakuliah ke-
agamaan Islam yang dimaksud belum dipasarkan pada semester itu. Dari data


tersebut dapat diketahui bahwa, nilai mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI) penghafal Al-Quran pada matakuliah keagamaan Islam, khususnya yang
banyak berhubungan dengan ayat-ayat Al-Quran adalah baik, sebagaimana
prosentase berikut:
pada matakuliah studi Al-Quran, 4 orang mahasiswa (33%) mendapat
nilai A, 5 orang (42%) mendapat nilai B+ , dan 3 orang (25%) mendapat
nilai B.
pada matakuliah studi Fiqih, 8 orang mahasiswa (67%) mendapat nilai A,
3 orang (25%) mendapat B+, dan 1 orang (8%) mendapat nilai B.
pada matakuliah tafsir dan hadits, 4 orang mahasiswa (80%) mendapat
nilai A, dan 1 orang (20%) lainnya mendapat nilai B+.
pada matakuliah masail fiqhiyah I, 3 orang mahasiswa (60%) mendapat
nilai A, 1 orang (20 %) mendapat nilai B+, dan 1 orang (20%) lainnya
mendapat nilai B.
pada matakuliah tafsir hadits tarbawi I, 3 orang mahasiswa (60%)
mendapat nilai A, dan 2 orang (40%) lainnya mendapat nilai B+.
pada matakuliah masail fiqhiyah II, 4 orang mahasiswa (80%) mendapat
nilai A, dan 1 orang (20%) mendapat nilai C.
pada matakuliah tafsir hadits tarbawi II dan ushul fiqih, 2 orang
mahasiswa (100%) mendapat nilai A.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa hafalan Al-Quran berimplikasi
terhadap pencapaian prestasi belajar mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam.


3. Sikap Keseharian Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Penghafal Al-Quran
Para mahasiswa penghafal Al-Quran dari jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI), bertempat tinggal di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang dengan mahasiswa penghafal Al-Quran dari berbagai jurusan
lainnya. Untuk mahasiswa penghafal Al-Quran putra, bertempat di unit Al-
Ghozali lantai 3 no. 36. Adapun mahasiswi penghafal Al-Quran putri bertempat
di unit Khodijah Al-Kubro pada setiap lantai, dengan nomor kamar 3, 28 dan 45.
Pola hidup keseharian mahasiswa penghafal Al-Quran ini tidak berbeda jauh
dengan mahasiswa lainnya, mereka menjalankan aktivitas perkuliahan di kampus,
mengikuti organisasi yang diminati dan menjalankan hobi yang dimiliki. Namun
demikian, ada hal yang sedikit membedakan para mahasiswi penghafal ini dengan
mahasiswa pada umumnya. Mereka memiliki kemauan yang kuat untuk
menghafalkan Al-Quran dan berusaha keras untuk melestarikan hafalannya,
karena itulah mereka memiliki pengaturan waktu yang sangat ketat dalam
aktivitas sehari-harinya.
Dengan padatnya aktivitas yang dijalani, para mahasiswa ini mengaku tidak
merasa berat dan terbebani, bahkan mereka tetap berusaha untuk dapat
menjalankan aktivitasnya sebaik mungkin, hal ini sesuai dengan beberapa
pernyataan berikut:
Waduh, gimana ya kalau saya sih menjalaninya dengan enjoy saja mbak,
walaupun kadang juga ada rasa capek, waktu teman-teman istirahat saya
masih harus menghafal Al-Quran untuk tambahan besok. Tapi ya..


Alhamdulillah masih bisa menjalani dengan baik, dan memang harus selalu
berusaha menjalaninya dengan baik, he
124


Kalau saya mbak, ditengah berbagai kesibukan di kampus, saya merasa tetap
mempunyai kewajiban untuk menjaga hafalan yang saya miliki, dalam sehari
tetap saya sempatkan untuk nderes mbak.
125


Para mahasiswa penghafal Al-Quran dari berbagai jurusan ini, dihimpun dan
ditempatkan di Mahad dengan pertimbangan khusus. Selain untuk menciptakan
lingkungan yang kondusif dan mendukung aktivitas menghafal, mereka juga di
percaya oleh pengasuh mahad untuk menjadi pengajar dalam kegiatan
pembelajaran Al-Quran di mahad yang disebut dengan talim Al-Quran.
Pada kegiatan talim Al-Quran tersebut, para mahasiswa penghafal Al-Quran
dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) mengaku selalu aktif mengajar pada
setiap pertemuan. Adapun materi yang diajarkan memiliki tingkatan yang
berbeda, sehingga mereka juga ditempatkan pada kelas yang berbeda-beda. Ada
yang ditempatkan pada kelas qiroah, dan ada juga yang ditepatkan pada kelas
terjemah.
Khusus bagi mahasiswa pengafal Al-Quran putri, mereka juga diberi
tanggung jawab penuh untuk mengontrol kemampuan membaca Al-Quran
mahasiswa semester 3-6 yang bertempat tinggal di unit Khodijah Al-Kubro. Hal
ini sesuai dengan penyataan berikut:
Pada mahasiswa semester 3-6 ini, kegiatan pembelajaran Al-Quran tidak
hanya dilaksanakan pada hari senin dan rabu saja (seperti maba), namun
dilaksanakan setiap hari sesudah sholat subuh. Fokus pengajaran pada mereka


124
Wawancara dengan Agus Faizin, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009.

125
Wawancara dengan Ismiyatur Rofiah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009


adalah pada aspek bacaan, dan hafalan surat surat pilihan seperti juz Amma,
surat Yasin, Waqiah, Ar-Rahman, Al-Mulk dan lainnya.
126


Peran para penghafal Al-Quran ini sangat penting bagi para mahasantri
semester 3-6, sesuai dengan pernyataan berikut:
Adanya mbak-mbak JQH itu menurut saya seperti halnya mbak-mbak
musrifah, tapi kalau mbak-mbak JQH kan spesialis pada mengajarkan Al-
Quran. Menurut saya peran mereka itu penting banget bagi kami.
127


Tidak hanya mengajarkan Al-Quran di lingkup mahad saja, para mahasiswi
penghafal Al-Quran dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) juga ada yang
mendapat kepercayaan untuk menjadi tentor/pembimbing pembelajaran membaca
Al-Quran bagi para siswa MAN 3 Malang.
Peran dan tugas yang diemban mahasiswa penghafal Al-Quran dari jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) ini, memposisikan mereka sebagai seorang yang
dijadikan contoh (suri teladan) bagi mahasiswa lain, khususnya para mahasiswa
yng diajar. Sikap keseharian dan tatakrama mereka selalu menjadi sorotan dan
contoh bagi orang lain. Menyadari hal ini, para mahasiswa penghafal Al-Quran
ini memiliki komitmen untuk selalu berusaha menjaga sikap dan memperbaiki
tingkah lakunya sehari-hari. hal ini sesuai dengan pernyataan berikut:
Kalau saya biasa saja mbak,, bergaul dengan sesama teman sekelas, dalam
batasan yang wajar. Dengan adik-adik di mahad ya juga biasa aja, ya,, saya
berusaha untuk selalu menjaga sikap dan bertingkah laku baik, itu saja kok,,
128


Saya selalu berusaha untuk bersikap wajar, harmonis, nggak membuat jarak
dengan teman-teman. Biasanya saya mengakrabi mereka dengan bahasa


126
Wawancara dengan Qurroti Ayunin N. , Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 16-04-2009

127
Wawancara dengan Nurmalia, Mahasiswa Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang, Tanggal 23-04-2009.

128
Wawancara dengan Hikmatus Sadiyah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.


verbal, misalnya dengan tegur sapa dan sebagainya,, tapi pergaulan itu ya
dalam batasan yang baik lah ya mbak,,
129


Kalau sikap kepada teman-teman biasa saja mbak,, cuma saya selalu berusaha
untuk tidak mengikuti arus pergaulan yang macam-macam. Kalau
misalnya teman-teman itu ada yang suka keluar malam dan balik ke mahad
malam banget, nggak tahu habis dugem dari mana,, he.. ya,, sejauh ini
Alhamdulillah saya nggak pernah keluar-keluar malam seperti mereka.

Sikap keseharian mahasiswa penghafal Al-Quran di UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang ini, rupanya juga tidak luput dari para Dosen dan para petinggi
kampus. Hal ini terbukti, dalam pernyataan Rektor saat memberikan sambutan
pada acara temu wali mahasiswa baru, sebagai berikut:
.para mahasiswa penghafal Al-Quran ini tidak pernah berbuat ulah saat
kuliah. Mereka semua adalah mahasiswa yang patut dicontoh dan diteladani.
Sebab, selain mereka adalah orang-orang yang pandai dan cerdas, mereka juga
telah mengharumkan nama kampus dan tidak pernah mengacaukan kampus.
Mahasiswa semacam ini jauh lebih dibutuhkan banyak orang daripada
mereka yang tidak menghafal, tapi suka membuat kekacauan di kampus
130


Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam sikap kesehariannya,
para mahasiswa penghafal Al-Quran dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
ini memiliki komitmen untuk selalu berusaha memperbaiki tingkah lakunya, dan
selalu menjaga tatakrama yang baik kepada lingkungan sosialnya. Selain itu,
mereka juga selalu berusaha mengamalkan ilmunya dengan mengajarkan ilmu
tentang Al-Quran yang mereka miliki kepada siapapun yang membutuhkannya,
baik dalam lingkup mahad maupun di luar mahad.






129
Wawancara dengan Ismiyatur Rofiah, Mahasiswa Penghafal Al-Quran dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009.

130
57 Mahasiswa Penghafal Al-Quran Meriahkan Temu Wali Mahasiswa baru, GEMA
UN Malang, Edisi: 36. Juli-Agustus 2008, hlm.2.


BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Berdasarkan penjelasan dalam paparan hasil penelitian, peneliti akan
menjelaskan secara lebih ringkas hasil penelitian tersebut, disertai dengan
memadukan beberapa teori dalam kajian pustaka yang relevan.
A. Deskripsi Pelaksanaan Hafalan Al-Quran di Mahad Sunan Ampel Al-
Ali (MSAA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Para mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Quran
yang ada di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,
berjumlah 15 orang yang terdiri dari 5 orang mahasiswa dan 10 orang mahasiswi.
Dari 15 orang mahasiswa penghafal Al-Quran tersebut, ada 5 orang yang
hafal <10 juz, 1 orang hafal >10 juz, 1 orang hafal 20 juz, dan 8 orang telah hafal
30 juz. Berdasarkan data angket, diketahui bahwa 11 mahasiswa penghafal Al-
Quran dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) telah mulai menghafal Al-
Quran sejak sebelum kuliah, sedangkan 4 yang lain baru memulai menghafal
sejak kuliah dan tinggal di mahad UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pada pelaksanaan menghafal Al-Quran di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang ini, ada 3 tahapan yaitu:
a. tahap persiapan
Pada tahap persiapan ini para mahasiswa penghafal Al-Quran di mahad UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang, mulai mempersiapakan tambahan hafalan Al-
Quran yang akan ditashihkan kepada instruktur. Dalam usaha menambah
hafalannya ini, para mahasiswa penghafal Al-Quran dari jurusan Pendidikan


Agama Islam menggunakan metode menghafal yang berbeda-beda. Dari hasil
wawancara diketahui bahwa metode yang digunakan oleh mahasiswa penghafal
Al-Quran untuk menambah hafalan baru ada beberapa macam, diantaranya
dengan membaca berulang-ulang ayat-ayat yang akan di hafal, ada juga yang
memahami ayat terlebih dahulu sebelum dibaca berulang-ulang dan dihafal.
Pemilihan metode dalam menghafal Al-Quran tergantung pada orang yang
menggunakannya. Sebagaimana pendapat dari Al-Hafizh, ada beberapa pilihan
metode yang ditawarkan dalam menghafal Al-Quran, antara lain metode wahdah
(menghafal perayat dengan diulang-ulang sampai satu halaman, kemudian sampai
mendapat bayangan ayat dan reflek lisan untuk mengucapkan), kitabah
(menghafal dengan menggunakan media tulisan/menulis), sim i (menghafal
dengan menggunakan media pendengaran), gabungan (menggunakan
penggabungan metode wahdah dengan kitabah) dan jama (menghafal secara
kolektif dengan bimbingan instruktur).
131

Sedangkan menurut Ulum, ada beberapa metode menghafal Al-Quran antara
lain: thar qatu takr ru al-qir atu al-juzi (menghafal ayat-ayat berulang-ulang
sampai ada bayangan), thar qatu al-jumlah (menghafal perkalimat sampai
membentuk rangkaian-rangkaian ayat), thar qatu takr ru al-qir atu al-kulli
(mengkhtamkan membaca secara bin nazhar/melihat sebelum mulai menghafal),
thar qatu al-tadrijy (menghafal dengan pengaturan waktu bertahap), thar qatu al-
tadabburi (metode menghafal dengan mengangan-angankan makna ayat).
132



131
Ahsin W. Al-Hafizh. Bimbingan Praktis Menghafal Al-Quran (Jakarta: PT Bumi Aksara,
2005), hlm. 64-66.

132
M. Samsul Ulum, Menangkap Cahaya Al-Quran (Malang: UIN Malang Press, 2007), hlm.
136-139.


Berdasarkan temuan di lapangan, dapat disimpulkan bahwa para mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Quran di Mahad Sunan
Ampel Al-Ali UIN Maulana malik Ibrahim Malang, mayoritas menggunakan
metode wahdah/ thar qatu takr ru al-qir atu al-juzi, yaitu menghafal satu
persatu ayat dengan diulang-ulang sampai membentuk pola dalam pikiran, serta
menimbulkan reflek dari lisan. Setelah benar-benar hafal baru kemudian
dilanjutkan pada ayat-ayat selanjutnya. Selain metode tersebut, para penghafal
tersebut juga menggunakan metode al-tadabburi, yaitu menghafal Al-Quran
dengan memperhatikan aspek makna ayat (mengangan-angankan makna ayat).
b. tahap pentashihan hafalan
Pada tahap ini para mahasiswa penghafal Al-Quran mentashihkan hafalannya
kepada instruktur. Aktifitas menghafal dan mengulang hafalan Al-Quran di
bawah bimbingan instruktur ini, menggunakan metode sorogan. Metode Sorogan
adalah cara dalam proses belajar membaca atau menghafal Al-Quran, dimana
seorang murid memperdengarkan bacaan atau hafalannya kepada instruktur
dengan berhadapan secara langsung (face to face).
Berdasarkan wawancara dengan instruktur hafalan Al-Quran di Mahad UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang, diketahui bahwa metode sorogan ini efektif
digunakan dalam pentashihan hafalan Al-Quran, karena segala bentuk kesalahan
yang dilakukan oleh penghafal Al-Quran, baik aspek makh rijul hur f, panjang
dan pendek bacaan, serta waqaf dan ibtidanya dapat segera dibenahi oleh
instruktur.


Adanya bimbingan instruktur hafalan merupakan faktor pendukung eksternal
utama yang mempengaruhi keberhasilan menghafal Al-Quran. Hal ini karena, Al-
Quran diturunkan secara mutawatir (bersambung) dari malaikat Jibril kepada
Nabi Muhammad SAW, demikian juga seterusnya beliau mengajarkannya kepada
para sahabat hingga sampai pada masa sekarang ini. Sehubungan dengan inilah,
maka menurut As-Suyuti dalam belajar Al-Quran harus dengan guru yang
memiliki sanad sahih, yaitu guru yang jelas, tertib sanadnya dan bersambung
kepada Nabi.
133

c. tahap pelestarian hafalan
Pada dasarnya, tahapan yang paling penting dalam proses menghafal Al-
Quran adalah bagaimana hafalan yang telah ditashihkan kepada instruktur dapat
tetap dijaga atau dilestarikan dengan baik dalam memori penghafal hingga akhir
hayatnya. Dalam usaha untuk selalu melestarikan hafalannya, seorang penghafal
Al-Quran harus mempunyai cukup waktu untuk mengulang hafalannya.
Mengenai waktu yang digunakan untuk menghafal dan mengulang hafalan,
berdasarkan data yang diperoleh dari angket, diketahui bahwa 14 orang (94%)
mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Quran,
menggunakan waktu sekitar 2-3 jam per-harinya untuk menambah dan mengulang
hafalan, sedangkan 1 orang (6%) sisanya menyisihkan waktu 5 jam per-hari.
Dalam mengulangi hafalannya, para mahasiswa penghafal Al-Quran dari
jurusan Pendidikan Agama Islam ini ada yang mengulang hafalan di bawah
bimbingan instruktur hafalan, ada yang disimak oleh sesama teman penghafal


133
Ahsin W. Al-Hafizh, Op. Cit., hlm. 74.


dalam acara khatmil Al-Quran ataupun dalam kegiatan deresan bersama setiap
harinya, serta ada juga yang mengulang hafalannya sendiri.
Dalam proses menghafal Al-Quran, ayat-ayat yang dihafalkan oleh para
penghafal bisa tersimpan dalam memori jangka pendek maupun memori jangka
panjang atau bisa juga lupa, tergantung pada intensitas pengulangan yang
dilakukan, serta keseimbangan antara tahfizh (penambahan hafalan) dan takrir
(pengulangan hafalan). Oleh karena itulah, perlu adanya upaya untuk melestarikan
hafalan yang telah dimiliki oleh seorang penghafal Al-Quran.
Mengenai hal ini, menurut As-Sirjani dan Abdul Kholiq ada beberapa strategi
untuk melestarikan (memelihara) hafalan Al-Quran, antara lain:
5) Menjauhi perbuatan maksiat.
6) Mengulang-ulang dengan teratur, baik dengan membaca maupun
mendengarkan bacaan orang lain.
7) Memahami makna yang terkandung dalam Al-Quran
8) Sering memperdengarkan bacaan/hafalan kepada orang lain.
134

Berdasarkan pemaparan temuan data tentang pelaksanaan hafalan Al-Quran
di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dapat
disimpulkan bahwa pelaksanaan hafalan di Mahad sudah baik. Hal ini karena
lingkungan (situasi sosial) yang mendukung dengan dikumpulkannya para
penghafal Al-Quran dalam satu mabna/unit asrama, adanya bimbingan instruktur
hafalan yang juga Hafizh/hafizhah, serta adanya program evaluasi hafalan yang
dilakukan oleh organisasi setiap akhir pekan, akhir semester dan akhir periode


134
Raghib As-Sirjani dan Abdurrahman Abdul Kholiq, Cara Cerdas Hafal Al-Quran, terj.
Sarwedi M. Amin Hasibuan (Solo: Aqwam, 2007), hlm. 71-84.


kepengurusan. Program evaluasi yang dimaksud adalah khatm Al-Quran bil
ghaib tiap minggu, tes tahfizh tiap akhir semester, serta wisuda tahfizh yang
didahului oleh tes pentashihan tahfizh oleh pembina.
B. Implikasi Hafalan Al-Quran Dalam Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan
Pendidikan Agama Islam
Hafalan Al-Quran yang dimiliki oleh mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI), memiliki keterlibatan (implikasi) yang besar dalam prestasi
belajarnya. Dalam perkuliahan mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI), banyak sekali dijumpai ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan tema
perkuliahan yang ada. Khususnya dalam matakuliah kegamaan Islam seperti Studi
Al-Quran, studi Fiqih, Tafsir dan Hadits, Tafsir Hadits Tarbawi I&II, Masail
Fiqih I&II, Qowaid Fiqih dan ushul fiqih, ayat-ayat Al-Quran sering bersentuhan
langsung dengan tema-tema yang dibahas. Dalam konteks inilah, seorang
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang hafal Al-Quran, akan
sangat terbantu untuk menguasai materi dalam matakuliah tersebut dengan
kemampuannya menghafal dan memahami ayat yang telah ia hafalkan.
Berdasarkan wawancara dengan para mahasiswa penghafal Al-Quran Jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI), diketahui bahwa selain menghafalkan secara
lafdiyah, mereka juga berusaha untuk mempelajari dan memahami kandungan
ayat yang sedang dihafalkan, salah satunya adalah dengan membaca arti dan
memahami ayat yang hendak dihafal. Dari data angket juga diketahui bahwa 13
orang (87%) mahasiswa penghafal Al-Quran dari jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI), berusaha untuk memahami makna dan kandungan ayat-ayat Al-


Quran yang dihafalnya, sedangkan 2 orang lainnya mengaku belum ada usaha
yang sungguh-sungguh.
Para mahasiswa penghafal Al-Quran dari jurusan Pendidikan Agama Islam
ini menyatakan bahwa hafalan Al-Quran yang dimiliki telah memberikan
kontribusi yang sangat besar dalam peningkatan prestasi akademik, khususnya
dalam matakuliah keagamaan Islam yang sering berhubungan dengan ayat-ayat
Al-Quran.
Selain memberikan kontribusi yang besar dalam membantu penguasaan materi
perkuliahan keagamaan Islam mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam,
menghafal Al-Quran juga memiliki pengaruh yang baik terhadap keadaan
psikologis mahasiswa. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa, ketika dan
setelah menghafalkan Al-Quran, mereka merasakan adanya ketenangan batin
yang luar biasa. Dari data angket yang dihimpun oleh peneliti juga diketahui
bahwa, para mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal
Al-Quran, 100% mengaku merasakan adanya ketenangan ketika dan setelah
melakukan aktivitas menghafal Al-Quran. Dalam kondisi psikologis yang baik
inilah, segala potensi akal akan dapat dimaksimalkan dengan sebaik-baiknya
untuk belajar.
Dengan demikian, selain hafalan yang dimiliki oleh mahasiswa sangat
membantu dalam penguasaan materi perkuliahan keagamaan Islam, aktivitas
menghafal Al-Quran juga memberikan pengaruh psikologis yang baik terhadap
para mahasiswa penghafal Al-Quran tersebut. Hal inilah yang mendukung pada
peningkatan prestasi belajar mereka.


Secara akademik, prestasi belajar mahasiswa dapat dilihat melalui hasil
pencapaian nilai pada setiap semester. Penilaian ini meliputi ranah kognitif,
afektif dan psikomotorik mahasiswa. Hasil penilaian akhir semester biasanya
tertera dalam kartu hasil studi (KHS). Prestasi belajar mahasiswa penghafal Al-
Quran dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam perkuliahan, secara
umum dapat digambarkan melalui perolehan nilai indeks prestasi komulatif yang
tertera dalam kartu hasil studi (KHS) tiap semesternya.
Dari data rekapitulasi nilai rata-rata indeks prestasi komulatif (IPK), dapat
diketahui bahwa secara umum rata-rata IPK mahasiswa Pendidikan Agama Islam
(PAI) yang menghafal Al-Quran adalah sangat baik. Perolehan IPK rata-rata
mahasiswa tersebut mencapai 3.64 (dengan pujian).
Sedangkan untuk matakuliah keagamaan Islam yang banyak berhubungan
dengan ayat-ayat Al-Quran, nilai mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI) penghafal Al-Quran juga baik, sebagaimana prosentase berikut:
1. pada matakuliah studi Al-Quran, 4 orang mahasiswa (33%) mendapat nilai A,
5 orang (42%) mendapat nilai B+ , dan 3 orang (25%) mendapat nilai B.
2. pada matakuliah studi Fiqih, 8 orang mahasiswa (67%) mendapat nilai A, 3
orang (25%) mendapat B+, dan 1 orang (8%) mendapat nilai B.
3. pada matakuliah tafsir dan hadits, 4 orang mahasiswa (80%) mendapat nilai A,
dan 1 orang (20%) lainnya mendapat nilai B+.
4. pada matakuliah masail fiqhiyah I, 3 orang mahasiswa (60%) mendapat nilai
A, 1 orang (20 %) mendapat nilai B+, dan 1 orang (20%) lainnya mendapat
nilai B.


5. pada matakuliah tafsir hadits tarbawi I, 3 orang mahasiswa (60%) mendapat
nilai A, dan 2 orang (40%) lainnya mendapat nilai B+.
6. pada matakuliah masail fiqhiyah II, 4 orang mahasiswa (80%) mendapat nilai
A, dan 1 orang (20%) mendapat nilai C.
7. pada matakuliah tafsir hadits tarbawi II dan ushul fiqih, 2 orang mahasiswa
(100%) mendapat nilai A.
Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa hafalan Al-Quran
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) berimplikasi besar terhadap
prestasi belajarnya.
C. Aspek Sikap Keseharian Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI) Penghafal Al-Quran
Pola hidup keseharian mahasiswa penghafal Al-Quran tidak berbeda jauh
dengan mahasiswa lainnya. Mereka menjalankan aktivitas perkuliahan di kampus,
mengikuti organisasi yang diminati dan menjalankan hobi yang dimiliki. Namun
ada hal yang sedikit membedakan para mahasiswi penghafal ini dengan
mahasiswa pada umumnya. Mereka memiliki kemauan yang kuat untuk
menghafalkan Al-Quran dan berusaha keras untuk melestarikan hafalannya,
karena itulah mereka memiliki pengaturan waktu yang sangat ketat dalam
aktivitas sehari-harinya.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada beberapa mahasiswa
jurusan Pendidikan Agama Islam penghafal Al-Quran, diketahui bahwa dengan
padatnya aktivitas yang dijalani, para mahasiswa ini mengaku tidak merasa berat


dan terbebani, bahkan mereka tetap berusaha untuk dapat menjalankan
aktivitasnya sebaik mungkin.
Para mahasiswa penghafal Al-Quran dari berbagai jurusan ini, dihimpun dan
ditempatkan di Mahad dengan pertimbangan khusus. Selain untuk menciptakan
lingkungan yang kondusif dan mendukung aktivitas menghafal, mereka juga di
percaya oleh pengasuh mahad untuk menjadi pengajar dalam kegiatan
pembelajaran Al-Quran di mahad yang disebut dengan talim Al-Quran.
Tidak hanya mengajarkan Al-Quran di lingkup mahad saja, para mahasiswi
penghafal Al-Quran dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) juga ada yang
mendapat kepercayaan untuk menjadi tentor/pembimbing pembelajaran membaca
Al-Quran di sekitar kampus.
Peran dan tugas yang diemban mahasiswa penghafal Al-Quran dari jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) ini, memposisikan mereka sebagai seorang yang
dijadikan contoh (suri teladan) bagi mahasiswa lain, khususnya para mahasiswa
yng diajar. Sikap dan tatakrama mereka selalu menjadi sorotan dan contoh bagi
orang lain. Menyadari hal ini, para mahasiswa penghafal Al-Quran ini memiliki
komitmen untuk selalu berusaha menjaga sikap dan memperbaiki tingkah lakunya
sehari-hari. Hal ini juga dikuatkan dengan penyataan Rektor UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang yang menilai bahwa mahasiswa penghafal Al-Quran dalam
kehidupan sosialnya selalu bersikap sopan terhadap dosen, rajin berjamaah, dan
dalam berpenampilan lebih mencerminkan sebagai mahasiswa muslim.
135



135
Imam Suprayogo, Wisuda dan Hafal Al-Quran
(http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=908:0405-
2009&catid=25:artikel-rektor) diakses 20 Juni-2009.


Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam sikap kesehariannya,
para mahasiswa penghafal Al-Quran dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
ini memiliki komitmen untuk selalu berusaha memperbaiki tingkah lakunya, dan
selalu menjaga tatakrama yang baik kepada lingkungan sosialnya. Selain itu,
mereka juga selalu berusaha mengamalkan ilmunya dengan mengajarkan ilmu
tentang Al-Quran yang mereka miliki kepada siapapun yang membutuhkannya,
baik dalam lingkup mahad maupun masyarakat sekitar kampus.



















DAFTAR RUJUKAN

Ahmadi, Abu. 1982. Teknik Belajar yang Tepat. Semarang: Mutiara Permata
Widya.
Aisyiyah, Ainul. 2002. Pengaruh Kegiatan Menghafal Al-Quran Terhadap
Prestasi Belajar Siswa. Skripsi: Fakultas Tarbiyah UIN Malang.
Alim, Muhammad. 2006. Pendidikan Agama Islam, Upaya Pembentukan
Pemikiran Kepribadian Muslim. Bandung: PT Remaja Rosda
Karya.
Al-Hafizh, Ahsin W. 2005. Bimbingan Praktis Menghafal Al-Quran. Jakarta: PT
Bumi Aksara.
Al-Maliki, Muhammad Bin Alwi. 1986. Zubdatul itqan Fi ulumil Quran. Jeddah
Dar Al-Syuruq.
Al-Zuhaili, Wahbah. 2007. Tafsir Al-Munir, Fil Aqidah Wa Syariah Wal Minhaj.
Damaskus: Dar Al-Fikr.
As-Shiddiqie, TM. Hasbi. 2002. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran.
As-Sirjani, Raghib dan Abdul Khaliq, Abdur Rahman. 2007. Cara Cerdas Hafal
Al-Quran, terj. Sarwedi M.Amin Nasution. Solo: Aqwam.
Badwilan, Ahmad Salim. 2009. Panduan Cepat menghafal Al-Quran. Jogjakarta:
Diva press.
Bungin, Burhan (ed). 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif Pemahaman
Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.


Chalil, Moenawar. Tanpa Tahun. Kembali Kepada Al-Quran dan Sunnah.
Jakarta: Bulan Bintang.
Djamarah, Syaiful Bahri. 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya:
Usaha Nasional.
GEMA UIN Malang, Edisi: 36. Juli-Agustus 2008.
Global Islamic Software Compani. 2000. Mausuat Hadits Al-Syarif.
Harahap, Syahrin. 2005. Penegakan Moral Akademik di Dalam dan di Luar
Kampus. Jakarta: PT Raja Grafindo persada.
Hasyim, muhammad. 2008. Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH) Dalam
Lintasan Sejarah, Makalah Disampaikan Dalam Acara Taaruf
Qurani VI JQH UIN Malang.
http://musiconline.multiply.com/journal/item/34
Moleong, Lexy. j. 2006. Metodologi Penelitian Kualiatatif. Bandung: Remaja
Rosda Karya.
Mulyana, Deddy. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu
Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. PT Remaja.
Nuri, Syaifun. 2007. Efektivitas Hifzhul Quran Melalui Metode Sorogan. Skripsi
Fakultas Tarbiyah UIN Malang.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. 1989. Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Qardhawi, Yususf. 1999. Berinteraksi dengan Al-Quran, Terj. Abd. Hayyie Al-
Kattani. Jakarta: Gema Insani Press.


Rossidy Imron, dkk. 2005. Hubungan Minat Baca dan Kebiasaan Membaca
Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa UIN Malang. LEMLIT
UIN Malang.
Suprayogo, Imam. Pendidikan Berparadigma Al-Quran. Malang: UIN Press.
-------------------------- 2009. Wisuda dan Hafal Al-Quran
http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view
=article&id=908:0405-2009&catid=25:artikel-rektor
Surya Brata, Sumadi. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
------------------------. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Sudjana, Nana. 2000. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar
Baru Algesindo.
Sugiono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Alfabeta.
Slameto. 1988. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Bina
Aksara.
Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu.
---------------------- 2000. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.
Bandung: Remaja Rosda Karya.
Syamsuddin, Achmad Yaman. 2007. Cara Mudah Menghafal Al-Quran. Jateng:
Insan Kamil.
Ulum, M. Samsul. 2007. Menangkap Cahaya Al-Quran. Malang: UIM Malang
Press.


Universitas Islam Negeri Malang. 2005. Pedoman Pendidikan. Malang: UIN
Press.
Usman, Moch. Uzer & Setiowati, Lilis. 1993. Upaya Optimalisasi kegiatan
Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Yahya Annawawi, Abi Zakariya. Tanpa Tahun, Al-Tibyan fi Adabi Hamalati Al-
Quran. Surabaya: Penerbit Hidayah.
Yin, Robert K. 2006. Studi Kasus Desain dan Metode, Terj., M. Djauzi
Mudzakkir. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Zuhairini dan Abdul Ghofir. 2004. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam. Malang: UM Press.















BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pelaksanaan hafalan Al-Quran mahasiswa/mahasiswi UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang di Mahad Sunan Ampel Al-Ali, terdiri dari 3 tahapan yaitu:
a. tahap persiapan.
Pada tahap ini para mahasiswa penghafal Al-Quran mulai mempersiapakan
tambahan hafalan Al-Quran yang akan ditashihkan kepada instruktur, dengan
menggunakan metode menghafal tertentu. Adapun metode yang sering
digunakan oleh mahasiswa penghafal Al-Quran tersebut, adalah mengulangi
ayat dan memahami ayat.
b. tahap pentashihan hafalan
Pada tahap ini para mahasiswa penghafal Al-Quran mentashihkan hafalannya
kepada instruktur dengan menggunakan metode sorogan (face to face).
Penggunaan metode ini dinilai sangat efektif, karena segala bentuk kesalahan
bacaan dapat diketahui dan langsung dibenahi.
c. tahap pelestarian hafalan
Pelestarian hafalan Al-Quran para mahasiswa dilakukan dengan melakukan
pengulangan secara kontinu, baik secara berkelompok maupun perorangan.
waktu yang digunakan untuk mengulangi hafalan ini antara 2-5 jam
perharinya.
Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan hafalan Al-Quran di Mahad Sunan
Ampel Al-Ali sudah baik, karena lingkungan (situasi sosial) yang mendukung


dengan dikumpulkannya para penghafal Al-Quran dalam satu mabna/unit
asrama, adanya bimbingan instruktur hafalan yang juga Hafizh/hafizhah, serta
adanya program evaluasi hafalan yang dilakukan oleh organisasi setiap akhir
pekan, akhir semester dan akhir periode kepengurusan. Program evaluasi
tersebut adalah khatm Al-Quran bil ghaib tiap minggu, tes tahfizh tiap akhir
semester, serta wisuda tahfizh yang didahului oleh tes pentashihan tahfizh
oleh pembina. Dengan demikian hafalan Al-Quran mahasiswa dapat selalu
dilestarikan dengan baik.
2. Hafalan Al-Quran mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI),
memiliki keterlibatan (implikasi) yang besar dalam prestasi belajarnya. Secara
psikologis, aktivitas menghafal Al-Quran menimbulkan efek ketenangan
yang mendukung keberhasilan proses belajar. Secara fisiologis, kebiasaan
menghafal Al-Quran membuat indera penglihatan dan pendengaran menjadi
familiar terhadap ayat-ayat yang telah dihafal, serta melatih sistem memori
dalam otak untuk mengingat, sehingga memudahkan siswa/mahasiswa untuk
dapat menghafal pengetahuan lain selain Al-Quran. Hafalan Al-Quran
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam sangat membantu penguasaan
materi matakuliah keagamaan Islam yang berhubungan dengan ayat-ayat Al-
Quran, karena selain menghafalkan para mahasiswa tersebut juga berusaha
memahami ayat-ayat yang dihafal.
Dari data rekapitulasi nilai rata-rata indeks prestasi komulatif (IPK),
diketahui bahwa secara umum IPK mahasiswa Pendidikan Agama Islam
(PAI) yang menghafal Al-Quran adalah sangat baik, yaitu mencapai 3.64


(dengan pujian). Dalam matakuliah keagamaan Islam yang banyak
berhubungan dengan ayat-ayat Al-Quran, nilai mahasiswa tersebut juga baik,
sebagaimana prosentase berikut:
a. pada matakuliah studi Al-Quran, 4 orang mahasiswa (33%) mendapat
nilai A, 5 orang (42%) mendapat nilai B+ , dan 3 orang (25%) mendapat
nilai B.
b. pada matakuliah studi Fiqih, 8 orang mahasiswa (67%) mendapat nilai
A, 3 orang (25%) mendapat B+, dan 1 orang (8%) mendapat nilai B.
c. pada matakuliah tafsir dan hadits, 4 orang mahasiswa (80%) mendapat
nilai A, dan 1 orang (20%) lainnya mendapat nilai B+.
d. pada matakuliah masail fiqhiyah I, 3 orang mahasiswa (60%) mendapat
nilai A, 1 orang (20 %) mendapat nilai B+, dan 1 orang (20%) lainnya
mendapat nilai B.
e. pada matakuliah tafsir hadits tarbawi I, 3 orang mahasiswa (60%)
mendapat nilai A, dan 2 orang (40%) lainnya mendapat nilai B+.
f. pada matakuliah masail fiqhiyah II, 4 orang mahasiswa (80%) mendapat
nilai A, dan 1 orang (20%) mendapat nilai C.
g. pada matakuliah tafsir hadits tarbawi II dan ushul fiqih, 2 orang
mahasiswa (100%) mendapat nilai A.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hafalan Al-Quran mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam berimplikasi sangat besar dalam prestasi
belajarnya.


3. Dalam sikap kesehariannya, para mahasiswa penghafal Al-Quran dari jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) ini memiliki komitmen untuk selalu berusaha
memperbaiki tingkah lakunya, serta selalu menjaga tatakrama yang baik
kepada lingkungan sosialnya. Selain itu, mereka juga selalu berusaha
mengamalkan ilmunya dengan mengajarkan ilmu tentang Al-Quran yang
mereka miliki kepada siapapun yang membutuhkannya, baik dalam lingkup
mahad maupun masyarakat sekitar kampus.

B. Saran
1. Pelaksanaan hafalan Al-Quran di Mahad Sunan Ampel Al-Ali sudah baik,
akan tetapi perlu lebih diperhatikan kekondusifan lingkungan Mahad
sehingga para mahasiswa penghafal Al-Quran bisa terdukung dalam proses
menghafal Al-Quran dan belajarnya. Oleh karena itu, bagi pengurus mahad
dan kampus hendaknya lebih memperhatikan komunitas mahasiswa penghafal
Al-Quran tersebut. Selain itu, para mahasiswa penghafal Al-Quran
hendaknya membuat pengaturan waktu harian yang efektif dan efisien, baik
itu dalam menghafal Al-Quran, menjalankan aktivitas perkuliahan, maupun
dalam aktivitas lainnya. Dengan demikian diharapkan hafalan Al-Qurannya
dapat terus dilestarikan, prestasi akademik tidak dinomorduakan, dan aktivitas
lainnya tidak berantakan. Tetap semangat.
2. Berdasarkan penelitian ini, diketahui bahwa hafalan Al-Quran ternyata
berimplikasi sangat baik dalam prestasi belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan
Agama Islam. Hal ini tidak lain, karena kontinuitas membaca Al-Quran yang


berpengaruh pada psikologis mahasiswa, serta usaha untuk memahami ayat-
ayat yang telah dihafalkan. Oleh karena itu, bagi para mahasiswa penghafal
Al-Quran hendaknya terus berusaha memahami dan mengkaji ayat-ayat yang
telah dihafalnya, serta mengkaji dan mengembangkan lebih lanjut sesuai
dengan bidang keilmuannya masing-masing.
3. Bagi organisasi/Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH), perlu membantu dan
memfasilitasi para anggotanya untuk dapat mengajarkan pengetahuannya
tentang Al-Quran di masyarakat sekitar kampus dan lembaga-lembaga
pendidikan formal/informal yang membutuhkan, sehingga diharapkan dengan
pengalaman yang dimiliki dapat bermanfaat di kehidupan masyarakat kelak.
4. Bagi peneliti selanjutnya agar mengembangkan penelitian ini pada objek lain
yang berbeda, serta pada lingkup yang lebih luas.














DEPARTEMEN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
FAKULTAS TARBIYAH
Jalan Gajayana No. 50 Telepon (0341) 552398 Faksimile (0341) 552398

Nomor : Un. 3.1/TL.00/269/2009 Malang, 19-03-2009
Lampiran : 1 berkas
Perihal : Penelitian
Kepada
Yth. Mudir Mahad Aly UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
di-Malang

Assalamualaikum Wr. Wb.
Dengan ini kami mengharap dengan hormat agar mahasiswa di
bawah ini:
Nama : Ismi Arofah
NIM : 05110027
Semester/ Th. Ak : VIII (Delapan)
Judul Skripsi : Implikasi Hafalan Al Quran Dalam
peningkatan Prestasi Belajar Mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
(Studi Kasus di Mahad Aly UIN Maulana
Malik Ibrahim Malang )
Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir/menyusun skripsinya,
yang bersangkutan mohon diberikan izin /kesempatan untuk
mengadakan penelitian di lembaga/instansi yang menjadi
wewenang Bapak.
Demikian atas perkenan dan kerjasama Bapak disampaikan terima
kasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Dekan


Prof. Dr. HM. Djunaidi Ghony
NIP. 150042031



DEPARTEMEN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
FAKULTAS TARBIYAH
JL. Gajayana 50 Malang, Telp. (0341) 553991,
Fax. (0341) 572533

BUKTI KONSULTASI

1. Nama Mahasiswa : Ismi Arofah
2. NIM : 05110027
3. Fakultas/Jurusan : Tarbiyah/Pendidikan Agama Islam
4. Pembimbing : Drs. H. Suaib H. Muhammad, M.Ag
5. Judul Skripsi : Implikasi Hafalan Al-Quran Dalam Prestasi
Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama
Islam (Studi Kasus di Mahad Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang).

NO TANGGAL
HAL YANG
DIKONSULTASIKAN
TANDA
TANGAN
1. 11 Februari 2009 Proposal dan judul skripsi

2.
7 Maret 2009

BAB I,II,III

3. 28 Maret 2009 Revisi BAB I, II, III

4.
5 Juni 2009

BAB IV, V, VI

5.
19 Juni 2009

Revisi BAB IV, V, VI

6. 15 Juli 2009 Revisi keseluruhan

7. 16 Juli 2009 ACC

Malang, 16 Juli 2009
Mengetahui,
Dekan




Dr. M. Zainuddin, MA
NIP. 150 275 502




LAMPIRAN 4
PEDOMAN OBSERVASI

Untuk memperoleh data yang akurat, maka peneliti mengadakan observasi
pada objek penelitian, guna memperoleh data-data tentang:
1. Letak geografis kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, serta denah
Mahad Sunan Ampel Al-Ali.
2. Pelaksanaan hafalan Al-Quran mahasiswa di bawah bimbingan instruktur,
khatm al-Quran setiap sepekan, serta kegaiatan mengulang hafalan
bersama di mahad.
3. Sikap keseharian mahasiswa penghafal Al-Quran dari Jurusan Pendidikan
Agama Islam.














LAMPIRAN 5

PEDOMAN WAWANCARA

A. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam penghafal Al-Quran

1. Sejak kapan anda menghafal Al-Quran, berapa banyak yang anda hafal
sekarang?
2. Apakah anda rutin memperdengarkan hafalan anda kepada instruktur?
3. Apakah anda menghafal dengan tema-tema tertentu, ataukah berdasarkan
urutan mushaf?
4. Dengan menghafal berdasarkan urutan mushaf apakah memberikan
kontibusi yang baik dalam matakuliah ke-Agama anda?
5. Kapan waktu anda menghafal dan mengulang hafalan?
6. Apakah anda merasa tenang saat dan setelah menghfal Al-Quran?
7. Apa metode yang anda gunakan dalam menghafal?
8. Dengan tinggal bersama penghafal Al-Quran apakah anda merasa terbantu
dalam proses menghafal?
9. Apakah kendala anda dalam menghafal?
10. Bagaiman sikap sosial anda?

B. Instruktur hafalan

1. Sejak kapan kegiatan pentashihan hafalan Al-Quran di Mahad ini dimulai?
2. Metode apa yang yang digunakan dalam pentashihan?
3. Apakah anda memberikan motivasi tertentu kepada para mahasiswa
penghafal Al-Quran?
4. Apakah ada ketentuan kuantitas menghafal dalam setiap pentashihan?

C. Teman mahasiswa penghafal Al-Quran di Mahad maupun di kampus
1. Bagaimana sikap mahasiswa penghafal Al-Quran dari jurusan PAI terhadap
lingkungan sosialnya?
2. Apakah mereka bertingkah laku yang baik?



LAMPIRAN 6
PEDOMAN DOKUMENTASI
Untuk melengkapi data-data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka
peneliti kiga menggunakan data dokumentasi organiasi maupun dokumentasi
pribadi sebagai berikut:
1. Dokumentasi tentang kronologis berdirinya unit pengembangan hafalan
Al-Quran di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang.
2. Visi dan misi, tujuan, program kerja, kegiatan, struktur organisasi dan
prestasi Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH) Mahad Sunan Ampel Al-
Ali UIN Maulana Malik Ibrahim malang.
3. Data anggota Jamiyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH) Mahad Sunan
Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim malang.
4. Kartu hasil studi (KHS) mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam
penghafal Al-Quran.










LAMPIRAN 7

ANGKET

Nama:
Semester:

1. Apa pendidikan terakhir anda sebelum di UIN MMI Malang?
a. SMA/SMK c. MAK
b. MA/MAN d. lainnya,..
2. Sejak kapan anda mulai menghafal Al-Quran (disetorkan kepada Pembina)?
a. pra SD c. SMP/MTs e. pasca SMA
b. SD/MI d. SMA/MA
3. Dimana Anda menghafal?
a. pesantren non tahfizh c. di UIN
b. pesantren tahfizh d. di rumah
4. Berapa banyak yang anda hafal sekarang?
a. <10 juz b. 20 juz d. lainnya,
b. 10 juz c. 30 juz
5. Apakah anda menyimakkan hafalan anda kepada pembina / teman sesama
penghafal?
a. ya (selalu) c. jarang
b. kadang-kadang d. tidak pernah
6. Apakah anda mengulang hafalan di dalam sholat?
a. ya c. kadang-kadang
b. jarang d. tidak
7. Berapa jam anda menghabiskan waktu untuk menghafal/nderes dalam sehari?
a. 2 jam c. 5 jam e. >6 jam
b. 3 jam d. 6 jam
8. Kapan waktu anda menghafal dan mengulang hafalan (nderes)?
a. pagi dan malam c. sore
b. siang d. kondisional
9. Apakah anda merasakan ketenangan jiwa ketika dan setelah membaca Al-
Quran?
a. ya c. agak tenang
b. biasa saja d. tidak


10. Apakah anda berusaha memahami arti dan kandungan makna ayat yang anda
hafal?
a. ya c. lainnya,..
b. tidak
11. Apakah kendala anda yang paling dominan dalam menghafal/nderes?
b. malas c. kesulitan menghafal
c. lingkungan yang tidak mendukung d. pengaturan waktu (sibuk)
12. Apakah dengan tinggal bersama penghafal Al-Quran lainnya (di mahad)
anda merasa terbantu dalam proses menghafal/nderes?
a. sangat terbantu c. tidak
b. terbantu d. agak terbantu
13. Apa motivasi anda menghafal Al-Quran dan melestarikan hafalan anda?

....................................................................................................
Jazaakallah khairan..




























LAMPIRAN 8
STRUKTUR KEPENGURUSAN JAMIYYATUL QURRA WAL
HUFFAZH (JQH) MAHAD SUNAN AMPEL AL-ALI UIN MAULANA
MALIK IBRAHIM MALANG PERIODE 2008-2009









































PEMBINA
Syamsul Ulum, MA
Syafaat, M.Ag
M. Hasyim, S.Hum
Isyroqun Najah, M.Ag
Ismatud Diniyah, Ah

PELINDUNG
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo
KH. Chamzawi, M.HI

Sekretaris I
Mukhlisin

Ketua Umum
Sholihin

Wakil Ketua
Mustaen

Dev. Mudarosah
Putra

Bendahara II
Supardi

Bendahara I
Rifqiyatuz. Z

Sekretaris II
Nur Azizah

Dev.Mudarosah
Putri
Dev. Munaqosyah

Dev. Funun Islamiyah

Dev. Humasy dan
Dakwah

Dev. Inventaris














































LAMPIRAN 9.
DENAH KAMPUS UIN MALANG DAN MAHAD SUNAN AMPEL AL-
ALI
ANGGOTA
















































gerbang
utara
gerbang
selatan
Perpust
akaan
pusat
Fakultas
Saintek
Gedung
rektorat
Fakultas
tarbiyah
Fakultas
ekonomi
Fakultas
psikologi

Gedung
perkulia
han A

Gedung
perkulia
han B
Gedung sport center

Lapangan
olah raga


Gedung
pasca
sarjana
Masjid
akbar
Unit
Ummu
Salama
h
Unit
Fatim
ah
zahro
Unit
Asma

Unit
khodi
jah
Kantin
putri
masuk
keluar
Fakultas
syariah
Taman
kampus
Unit Al-Ghozali
Unit ibn. kholdun
Gedung
Lp3i
Fak.
humbud
Pusat
informasi
Masjid
Parkir
Unit ibn sina
Unit ibn Rusyd
Unit Al-Farabi
Kantin
mahad
putra
Taman
Area mahad
putri
Area
maha
d putra
RD 3,4,5
RD 2
RD 1
Gedung
halaqah
R. tamu
Gerb
ang
barat


LAMPIRAN 10

PETA LOKASI KAMPUS UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG






Jln. Soekarno.H




































Jln. Sumber sari
Jln. Bendungan Sutami
Kampus
UIN
Malang
Kampus
ITN
Kampus
UNIBRA
Ke
kota
Batu
Ke
arah
Kota
Ke
arjo
sari


LAMPIRAN 11

Foto-foto pelaksanaan hafalan Al-Quran di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kegiatan Khatm
Al-Quran bil ghaib tiap hari Ahad di Masjid At Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim malang,
diikuti oleh anggota JQH, termasuk Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI).


Aktivitas pentashihan hafalan Al-Quran mahasiswa oleh instruktur hafalan (ustadzah Ismatud
diniyah) di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (rumah dinas no.2)









Wawancara peneliti dengan Instruktur hafalan Al-Quran (Ustadzah Ismatud Diniyah Ah.) tentang
sejarah JQH dan pelaksanaan hafalan Al-Quran di Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana
Malik Ibrahim Malang

































LAMPIRAN 12
KLIPING TENTANG JQH UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

GEMA Edisi: 36 Juli -Agustus 2008
page 2
57 Penghaf al Al -Qur an
Meri ahkan Temu Wal i Maba
Barangkali hati ribuan wali m a h a s i s w a baru yang hadir di aula gedung
Sport Center terharu saat melihat wisudawan/wisudawati tahfizh Al-Quran naik
ke atas panggung. Apresiasi dan penghargaan yang tinggi disampaikan oleh
Rektor saat memberikan sambutan di depan hadirin Temu Wali. Sungguh suatu
kebanggaan besar bagi UIN Malang, di jaman yang cenderung hedonis ini masih
bisa menghasilkan anak didik yang mampu menjaga Al-Quran, kitab suci dan
pedoman hidup umat Islam.
Pertemuan wali mahasiswa (temu wali) baru memang biasa dilakukan seiring
penerimaan mahasiswa baru setiap tahunnya. Namun, kali ini (23/08) ada yang
berbeda dari temu wali mahasiswa baru tahun sebelumnya. Sebab, sebanyak
57 mahasiswa yang juga mahasantri Mahad Sunan Ampel Al-Ali UIN Malang
diwisuda/dikukuhkan bersamaan dengan acara besar itu.
Para hafizh yang di wisuda kali ini tidak ujuk ujuk begitu saja. Tetapi telah
mengikuti ujian tahfizhul Quran. Ujian untuk calon wisuda penghafal Al-Quran itu
sudah dilaksanakan tanggal 14-29 Juni yang lalu. Ini jadi menarik karena kali
pertama dilakukan di Jamiyyatul Qurra wal Huffadz (JQH) UIN Malang.
Selama ini, para hafizh dan hafizhah tidak mendapatkan penghargaan atau
apresiasi secara simbolik dari civitas akademik. Untuk itulah Munjiyat, ketua
JQH, mengusahakan agar para penghafal Al-Quran selalu mendapatkan
penghargaan simbolik dari kampus. Sehingga bisa menjadi motivasi bagi para
mahasiswa lain, baik yang sudah hafal atau masih akan menghafal Al-Quran.
Solihin, ketua pelaksanaan Ujian dan Wisuda mengungkapkan bahwa untuk
anggota yang diuji disyaratkan menghafal secara lengkap di depan dewan
penguji. Mereka yang berhasil menempuh ujian akan mendapat syahadah dari
Rektor UIN Malang dan Dewan Pengasuh Mahad AlAly.
Sebagaimana disampaikan Rektor UIN Malang dalam sambutannya, prestasi


mahasiswa tahfizh ini patut diacungi jempol. Sebab, menghafal Al-Quran bukan
hal yang mudah. Perlu ketekunan dan upaya penjagaan secara maksimal,
apalagi, untuk kalangan mahasiswa, yang notabene memiliki kegiatan sangat
padat dan dituntut belajar setiap saat, terangnya bangga. Menurutnya para ma-
hasiswa penghafal Al-Quran ini tidak pernah berbuat ulah saat kuliah. Mereka
semua adalah mahasiswa yang patut dicontoh dan diteladani. Sebab, selain me-
reka adalah orang-orang yang pandai dan cerdas, mereka juga telah mengha-
rumkan nama kampus dan tidak pernah mengacaukan kampus. Mahasiswa
semacam ini jauh lebih dibutuhkan banyak orang daripada mereka yang tidak
menghafal, tapi suka membuat kekacauan di kampus, tambahnya. (aj/hef).























Ta aruf Qur ani Khi dmat Sekal i gus Menyenangkan


Sabtu, 13 Desember 2008 13:41
JQH memang tak kenal lelah
mensosialisasikan Al-Quran di kampus ini.
Berbagai kegiatan dilakukan agar anggota
JQH terus aktif. Tengok saja kegiatan
Taaruf Qurani (1-2/11) yang diadakan di
gedung halaqoh. Baburrahman, ketua
panitia, mengaku kegiatan Taaruf Qurani
ketiga ini berlangsung khidmat sekaligus menyenangkan.
Taaruf Qurani yang bertema Potensi Autentik ke-Al-Quranan ini diikuti oleh
120 anggota baru. Jumlah ini, menurut Baburrahman, sangat di luar dugaan.
Alhamdulillah, banyak yang gabung ke JQH, tutur mahasiswa semester II
jurusan ekonomi tersebut.Menurut keterangan Baburrahman, acara Taaruf
Qurani ini terdiri dari dua macam, yaitu acara formal dan out-bond. Dalam sesi
formal, didatangkan empat pembicara, antara lain Syamsul Ulum, Dosen
Tarbiyyah, dengan tema Menghafal Al-Quran, Agus Mulyono, Dosen Saintek,
dengan tema Al-Quran dan Sains, M. Hasyim, Dosen PKPBA, dengan tema
Sejarah JQH, dan Syafaat, Dosen PKPBA, dengan tema Motivasi Menghafal Al-
Quran. Sedangkan acara out-bond diadakan pada pagi hari di hari kedua,
tepatnya di halaman Gedung Al-Ghozali. Semuanya semangat, semuanya
khidmat! Aku Mustain, sekretaris umum JQH.
Selain itu, untuk menutup acara, digelar juga pentas seni. Para peserta
ternyata banyak yang memiliki bakat seni, terbukti dengan tampilan-tampilan
kreatif mereka. Ada pertunjukan parade nyanyian, musik, yale-yale berirama,
sampai pada pantomim. Pentas seninya sangat menghibur para peserta, terang
Mustain lagi.

Baburrahman mengaku, bahwa selama ia jadi mahasiswa UIN malang, maka


ia akan berupaya keras untuk mensosialisasikan Al-Quran. Melalui JQH,
diharapkan mahasiswa UIN Malang mampu menjadi mahasiswa yang qurani.
Belajar Al-Quran tidak terbatas tempat, lanjutnya. Di manapun, kapanpun, dan
sampai kapanpun, Al-Quran harus terus dipelajari. Al-Quran itu multidisiplin
ilmu, sayang kalau tidak dipelajari, kata Baburrahman serius. (hef)
http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=347:taaru
f&catid=27:gema-edisi-37

























JQH: Isi Li buran dengan Karant i na Tahf i zh


Jumat, 20 Maret 2009 08:52
GEMA-Liburan semester gasal selama bulan
Februari ini disambut positif oleh pengurus
JQH (Jamiyatul Qurro wal Huffadz). Mereka
mengadakan kegiatan karantina Tahfizh
selama liburan (2-22/2). Kegiatan tersebut
mewajibkan peserta untuk tinggal di mahad
selama liburan dan tidak diperkenankan
pulang ke rumah.
Tujuan karantina tahfidz sendiri adalah untuk memberikan sarana bagi para
hafidz untuk menambah setoran bagi pemula ataupun memperlancar hafalan
bagi yang sudah selesai, tutur Zakiyah Umami, salah satu teamwork yang juga
pengurus JQH tersebut.
Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang Imam Suprayogo(2/2) itu diikuti sekitar 60 peserta putra dan putri.
Saya sangat memuliakan orang yang hafal al-Quran, karena saya bisa
mengembangkan UIN sampai sebesar ini karena terinspirasi dari Al-Quran, kata
dosen asal Trenggalek dalam sambutannya.
KH. Chamzawi yang juga berkesempatan memberikan sambutan dalam
pembukaan tersebut juga mengungkapkan kebanggaannya pada antusiasme
peserta yang mengikuti kegiatan karantina tahfizh Al-Quran tersebut. Andai
saya mempunyai banyak jempol pasti sudah saya acungkan semuanya, namun
karena saya hanya punya empat maka keempat jempol saya saya acungkan
buat kalian semua, gurau dewan pengasuh MSAA mengungkapkan
kebanggaannya.
Acara tersebut memang patut mendapat apresiasi. Di saat para mahasiswa
lain menikmati liburan di rumah, para peserta karantina sangat antusias
mengikuti setiap kegiatan yang diprogramkan seperti shalat tahajud setiap
malam, mengaji/menghafal al-Quran empat kali sehari, serta fasohah & tajwid
yang diadakan tiap Jumat.
Khairunnisa, salah satu peserta karantina mengungkapkan kesannya
mengikuti kegiatan tersebut, Saya sangat senang dengan kegitan ini karena
membuat liburan saya lebih bermanfaat dengan memperdalam ilmu al-Quran,
tutur mahasiswi jurusan Fisika asal Bima tersebut sambil tersenyum. (ct)


http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=801:jqh&catid=29
:gema-edisi-39






























Senin, 04 Mei 2009 07:56


Wi suda dan Haf al Al -Qur an
Tiga kali berturut-turut wisuda di Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dirasakan ada
yang istimewa. Mereka yang mendapatkan prestasi
akademik unggul ternyata beberapa di antaranya
adalah hafal Al-Quran genap tiga puluh juz.
Prestasi akademik unggul pada wisuda tiga
semester yang lalu, diraih oleh mahasiswa jurusan
fisika, kemudian dua semester lalu, diraih mahasiswa
matematika dan psikologi dan pada wisuda hari Sabtu
tanggal 2 Mei 2009 yang lalu diraih oleh mahasiswa fakultas Syariah. Semua
lulusan terbaik tersebut hafal Al-Quran 30 juz. Selain itu, sekalipun tidak
termasuk berprestasi akademik unggul, pada wisuda terakhir ini, masih ada tiga
mahasiswa yang hafal Al-Quran, dua di antaranya adalah lulus jurusan Bahasa
dan Sastra Arab, sedang seorang lagi jurusan matematika.
Untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang hafal Al-Quran 30 juz
itu, maka mereka diberikan peluang untuk meneruskan studi lanjut di program S2
dengan biaya dari kampus. Tiga penghafal Al-Quran 30 juz, diberi peluang
masuk pascasarjana kampus ini. Sedang seorang lagi dari jurusan matematika,
dipersilahkan mencari sendiri perguruan tinggi yang diminati, karena UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang belum menyelenggarakan program itu.
Terus terang, saya pernah beranggapan salah terhadap para penghafal Al-
Quran ini. Saya mengira bahwa mahasiswa penghafal Al-Quran akan tidak bisa
maksimal mengikuti kuliah bidang studi pilihannya. Saya menganggap menghafal
Al-Quran dan sekaligus belajar bidang ilmu yang geluti tidak akan berhasil
kedua-duanya. Sekalipun saya tidak pernah berkomentar secara terbuka tentang
itu, tetapi pandangan saya mengatakan demikian. Pikiran saya mengatakan
bahwa bagaimana seseorang pada saat yang sama memikul beban sedemikian
berat. Pandangan pesimis itu, saya dasarkan pada kenyataan bahwa mahasiswa
yang mengambil kuliah dengan bobot 24 sks saja sudah dirasa terlalu berat.
Sehingga, tidak semua mahasiswa sanggup menjalaninya dengan baik. Pikiran
saya mengatakan bahwa setiap orang memiliki kapasitas tertentu, dan jika
seseorang menanggung beban melebihi kapasitasnya, maka tidak akan mampu


dan jika dipaksakan tidak akan mendapatkan hasil maksimal.
Pandangan saya itu ternyata sangat keliru. Setelah saya amati dalam waktu
lama, ternyata mahasiswa yang menghafal al Quran, prestasi akademik mereka
tidak kalah bilamana dibandingkan dengan mereka yang tidak mengikuti kegiatan
itu. Para mahasiswa penghafal Al-Quran yang tergabung dalam organisasi JQH
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ternyata memiliki banyak keunggulan. Melalui
organisasi itu mereka dibimbing oleh para seniornya dan juga beberapa dosen
pembimbing yang kebetulan juga hafizh. Mahasiswa yang masuk dalam
organisasi ini, justru menyandang banyak kelebihan, misalnya, dalam hal
kegiatan spiritual mereka lebih aktif berjamaah di masjid, dalam hal sosial
tampak hubungan mereka dengan para dosen dan penampilan sebagai
mahasiswa lebih mencerminkan sebagai mahasiswa muslim.
Atas dasar penglihatan saya seperti itulah kemudian, sebagai pimpinan
kampus, tergerak untuk memberikan penghargaan kepada mereka itu.
Penghargaan yang selama ini bisa saya berikan ialah mereka yang hafal Al-
Quran minimal 10 juz saya bebaskan dari seluruh biaya pendidikan di kampus
ini. Jumlah mereka yang masuk kategori ini cukup banyak. Namun demikian,
ternyata tidak semua dari mereka yang hafal Al-Quran itu mau menerimanya.
Ada beberapa mahasiswa penghafal Al-Quran yang tidak diijinkan oleh orang
tuanya menerima pembebasan biaya pendidikan itu, dengan alasan khawatir
mengganggu keikhlasannya, yakni menghafal Al-Quran hanya agar
mendapatkan penghargaan dari kampus.
Melihat kenyataan bahwa semakin lama ternyata prestasi akademik para
penghafal Al-Quran justru lebih baik, beberapa mahasiswa fisika, matematika,
psikologi, syariah, tarbiyah, bahasa dan sastra dan lain-lain, maka saya
menyimpulan sementara bahwa antara kekuatan fisik seseorang tidak sama
dengan kekuatan nalar atau otak mereka. Kekuatan fisik hanya bisa bertahan
pada usia tertentu dan juga memiliki kemampuan menanggung beban tertentu
pula. Jika hal itu ditambah, maka tidak akan mampu lagi. Ada batas-batas
maksimal yang mampu dilakukan. Seseorang yang memiliki kemampuan
memikul beban maksimal 60 kg misalnya, ia tidak akan mampu jika beban itu
ditambah 10 kg lagi.
Hal itu berbeda dengan kemampuan nalar atau otak. Beban itu bisa
ditambah, dan ternyata penambahan beban tersebut tidak akan selalu


menganggu kemampuan ciptaan Allah yang sangat berharga, berupa otak itu.
Bahkan sebaliknya, jika beban itu semakin sedikit, maka kemampuan otak tidak
bertambah lebih baik. Para pemikir karena beban tugasnya sehari-hari, ternyata
tidak kelihatan capek dan bahkan kemampuan otaknya jika selalu digunakan
akan semakin kuat. Berbeda dengan orang yang tidak pernah berpikir, karena
tidak mendapatkan tantangan apa-apa, maka pikiran mereka tidak tampak
tangkas jika suatu ketika menghadapi persoalan. Berangkat dari kenyataan itu
sekalipun masih terbatas dan perlu penelitian lanjut, melakukan pembatasan
beban belajar terhadap siswa/mahasiswa tidak selalu tepat. Orang-orang
tertentu, tatkala diberi beban lebih banyak, justru tampak lebih cepat
perkembangan pikirannya dan begitu juga sebaliknya.
Kembali pada kegiatan menghafal Al-Quran. Saya pernah melihat kegiatan
menghafal Al-Quran, yang diikuti oleh sejumlah besar anak di Iran. Tidak kurang
dari 300 an lembaga pendidikan tempat penghafal Al-Quran di Iran. Masing-
masing diikuti oleh ratusan anak. Anak-anak pada umur 4 tahun biasa dikirim
oleh orang tua mereka ke lembaga pendidikan penghafal Al-Quran itu. Melalui
lembaga ini kemudian banyak sekali anak-anak Iran yang baru berumur 7, 8 atau
9 tahun sudah hafal Al-Quran 30 juz. Dahulu ketika guru mengaji saya
menceritakan bahwa Imam al-Ghazali dan juga Imam Syafii baru berusia 7 tahun
sudah hafal Al-Quran, saya merasa terheran-heran. Akan tetapi, setelah saya
datang sendiri ke Thus, tempat kelahiran Imam al-Ghazali pengarang kitab ihya
Ulumuddin, ternyata di sana memang banyak anak-anak seusia itu sudah hafal
Al-Quran 30 juz. Sehingga sesungguhnya, prestasi Imam al Ghazali itu di tempat
kelahirannya, yakni di Thus sampai saat inipun bukan merupakan hal aneh.
Banyak sekali anak-anak di sana yang umurnya belum genap 10 tahun sudah
hafal Al-Quran secara lengkap.
Anak-anak Iran yang hafal Al-Quran tersebut, sesuai dengan perkembangan
umurnya memasuki lembaga pendidikan pada umumnya di negeri itu. Pada usia
perguruan tinggi, mereka masuk menjadi mahasiswa, mengambil program studi
yang mereka minati, seperti kedokteran, teknik, ekonomi, psikologi, fisika, kimia,
biologi dan seterusnya. Dengan demikian, banyak sekali mahasiswa kedokteran,
fisika, kimia, biologi dan seterusnya hafal Al-Quran. Dan ternyata dengan hafal
Al-Quran itu tidak menjadikan prestasi akademik mereka tertinggal dari
mahasiswa lain yang tidak hafal kitab suci itu. Hal yang sama terjadi di


Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, sekalipun mahasiswa di kampus
ini jumlah penghafal Al-Quran belum sebanyak di Iran, tidak sedikit yang prestasi
akademiknya justru lebih unggul.
Melihat kenyataan tersebut, maka dalam rangka melahirkan generasai
unggul di masa depan, saya berpendapat bahwa, setidak-tidaknya di kampus-
kampus perguruan tinggi Islam, para mahasiswanya seharusnya didorong
melakukan kegiatan menghafal Al-Quran. Tidak perlu lagi dikhawatirkan bahwa
para penghafal Al-Quran akan lemah prestasi akademiknya. Pada
kenyataannya, dalam banyak kasus ternyata para penghafal Al-Quran justru
memiliki keunggulan, baik dalam kehidupan intelektual, sosial maupun
spiritualnya. Calon pemimpin umat seperti inilah sesungguhnya yang diperlukan
di masa depan. Wallahu alam.
http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=908:0405-
2009&catid=25:artikel-rektor