Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sesuai hakekat manusia yang membedakannya dengan mahluk hidup lainnya, sudah menjadi
kodrat alam sejak dilahirkan manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya didalam
suatu pergaulan hidup. Hidup bersama manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
baik yang bersiIat jasmani maupun bersiIat rohani.
Pada umumnya, pada suatu masa tertentu bagi seorang pria maupun sorang wanita timbul
kebutuhan untuk hidup bersama dengan manusia lainnya yang berlainan jenis kelaminnya. Hidup
bersama antara seorang pria dengan seorang wanita yang telah memenuhi syarat-syarat terentu
disebut perkawinan.
Perkawinan ini disamping merupakan sumber kelahiran yang berarti obat penawar
musnahnya manusia karena kematian juga merupakan tali ikatan yang melahirkan keluarga
sebagai dasar kehidupan masyarakat dan negara. Hidup bersama antara seorang pria dan seorang
wanita tersebut mempunyai akibat yang sangat penting dalam masyarakat, baik terhadap kedua
belah pihak maupun terhadap keturunannya serta anggota masyarakat lainnya. Oleh karena itu
dibutuhkan suatu peraturan yang mengatur tentang hidup bersama itu.
Perkawinan beda agama merupakan suatu tren yang seringkali terjadi di tengah masyarakat
saat ini. Mulai dari kalangan yang sering mendapat sorotan, seperti selebritis sampai ke
masyarakat biasa, bahkan pernikahan beda agama pun telah menjadi Ienomena sejak zaman
Rasulullah SAW. Tak jarang Ienomena ini kerapkali menjadi kontroversi, ada yang setuju dan
tentu saja yang menentang.
Dalam ajaran agama Islam sendiri, pernikahan berbeda keyakinan tentu saja sangat tidak
dianjurkan, dikarenakan menurut Al Quran Surat Al Baqarah ayat 221 menjelaskan bahwa, 'Dan
fanganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya
wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan
fanganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum
mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun
dia menarik hatimu. mereka mengafak ke neraka, sedang Allah mengafak ke surga dan ampunan
dengan i:in-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada
manusia supaya mereka mengambil pelafaran`. Dalam surat diatas dijelaskan betapa pentingnya
sebuah aqidah diatas hal-hal lainnya yang bersiIat duniawi seperti kecantikan, harta, tahta dan
hal-hal duniawi lainnya.
Tetapi banyak juga ulama yang berpendapat bahwa pernikahan beda agama
diperbolehkan asalkan berdasarkan syarat-syarat tertentu, yaitu wanita yang akan dinikahi oleh
seorang muslim merupakan wanita ahli kitab dan bukan wanita musyrik. Pendapat para ulama ini
berdasarkan dari Iirman Allah SWT dalam surat Al Maa`idah ayat 5 yang berbunyi!ada hari
ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Alkitab
itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini)
wanita-wanita yang menfaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-
wanita yang menfaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Alkitab sebelum kamu, bila
kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud
ber:inah dan tidak (pula) menfadikannya gundik-gundik...`
Sedangkan di Indonesia sendiri, Undang undang perkawinan di Indonesia pada dasarnya
tidak melarang pernikahan beda agama. Pada pasal 2 UU Perkawinan No.1 Tahun 1974
menyebutkan bahwa, Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing
agamanya dan kepercayaannya itu. Dengan ini berarti, bahwa setiap Warga Negara Indonesia
(WNI) yang akan menikah haruslah melewati lembaga agamanya masing masing dan tunduk
kepada aturan pernikahan agamanya. Lalu apabila keduanya memiliki agama yang berlainan,
maka lembaga agama tidak dapat menikahkan mereka kecuali salah satunya mengikuti agama
lain. Tetapi Undang-undang Indonesia tidak diatur tentang perkawinan beda agama. Dalam pasal
1 UU Perkawinan No.1 Tahun 1974 memberikan pengertian tentang perkawinan yaitu Ikatan
lahir batin antara pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk
keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa.
Dalam pernikahan beda agama tentu saja banyak dampak negatiI dan dampak positiI yang
akan terjadi. Tapi pada dasarnya tujuan dua orang mengikat janji suci dalam sebuah mahligai
pernikahan adalah untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat, membentuk sebuah keluarga yang
harmonis, bahagia, sakinah, mawadah dan warohmah, serta melanjutkan keturunan yang soleh
dan solehah. Dalam banyak kejadian, pernikahan beda agama seringkali menimbulkan beberapa
masalah, khususnya masalah keyakinan yang akan di anut oleh anak-anak mereka kelak dan
seringkali hal ini menjadi sumber ketidakharmonisan dalam membina rumah tangga. Tetapi pada
sebagian pasangan berbeda agama lainnya justru mengambil sisi positiI, dimana mereka tetap
bisa menjalankan rumah tangga yang harmonis di tengah perbedaan keyakinan yang mereka anut
masing-masing. Hal ini secara tidak langsung mengajarkan tentang toleransi beragama terhadap
anak-anak mereka. Dan satu hal yang pasti mengenai pernikahan beda agama adalah tergantung
dari sudut mana kita melihatnya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian pernikahan dalam Islam.
2. Bagaimana pengertian pernikahan beda agama.
3. Bagaimana pandangan mengenai membangun keluarga bahagia dan harmonis diantara
perbedaan agama, yang meliputi dampak negatiI dan positiInya.

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian pernikahan dalam Islam
2. Mengetahui pengertian pernikahan beda agama
3. Mengetahui pandangan mengenai membangun keluarga bahagia dan harmonis diantara
perbedaan agama, yang meliputi dampak negatiI dan positiInya.






BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pernikahan Dalam Islam
Pernikahan merupakan ikatan diantara dua insan yang mempunyai banyak perbedaan,
baik dari segi Iisik, asuhan keluarga, pergaulan, cara berIikir (mental), pendidikan dan lain hal.
Dalam pandangan Islam, pernikahan merupakan ikatan yang amat suci dimana dua insan yang
berlainan jenis dapat hidup bersama dengan direstui agama, kerabat, dan masyarakat.
Aqad nikah dalam Islam berlangsung sangat sederhana, terdiri dari dua kalimat "ijab dan
qabul". Tapi dengan dua kalimat ini telah dapat menaikkan hubungan dua makhluk Allah dari
bumi yang rendah ke langit yang tinggi. Dengan dua kalimat ini berubahlah kekotoran menjadi
kesucian, maksiat menjadi ibadah, maupun dosa menjadi amal sholeh. Aqad nikah bukan hanya
perjanjian antara dua insan. Aqad nikah juga merupakan perjanjian antara makhluk Allah dengan
Al-Khaliq. Ketika dua tangan diulurkan (antara wali nikah dengan mempelai pria), untuk
mengucapkan kalimat baik itu, diatasnya ada tangan Allah SWT, "Yadullahi Iawqa aydihim".
Begitu sakralnya aqad nikah, sehingga Allah menyebutnya "Mitsaqon gholizho" atau
perjanjian Allah yang berat. Juga seperti perjanjian Allah dengan Bani Israil dan juga Perjanjian
Allah dengan para Nabi adalah perjanjian yang berat (Q.S Al-Ahzab : 7), Allah juga
menyebutkan aqad nikah antara dua orang anak manusia sebagai "Mitsaqon gholizho". Karena
janganlah pasangan suami istri dengan begitu mudahnya mengucapkan kata cerai
Allah SWT menegur suami-suami yang melanggar perjanjian, berbuat dzalim dan
merampas hak istrinya dengan Iirmannya :
agaimana kalian akan mengambilnya kembali padahal kalian sudah berhubungan
satu sama lain sebagai suami istri. Dan para istri kalian sudah melakukan dengan kalian
perfanfian yang berat "Mitsaqon gholi:ho` ".S An-Nisaa : 21).
Aqad nikah dapat menjadi sunnah, wajib, makruh ataupun haram, hal ini disebabkan
karena:
1. Sunnah, untuk menikah bila yang bersangkutan :
a. Siap dan mampu menjalankan keinginan biologi,
b. Siap dan mampu melaksanakan tanggung jawab berumah tangga.
2. Wajib menikah, apabila yang bersangkutan mempunyai keinginan biologi yang kuat, untuk
menghindarkan dari hal-hal yang diharamkan untuk berbuat maksiat, juga yang bersangkutan
telah mampu dan siap menjalankan tanggung jawab dalam rumah tangga.
Hal ini sesuai dengan Iirman Allah Q.S An-Nur : 33
3. Makruh, apabila yang bersangkutan tidak mempunyai kesanggupan menyalurkan biologi,
walo seseorang tersebut sanggup melaksanakan tanggung jawab naIkah, dll. Atau sebaliknya dia
mampu menyalurkan biologi, tetapi tidak mampu bertanggung jawab dalam memenuhi
kewajiban dalam berumah tangga.
4. Haram menikah, apabila dia mempunyai penyakit kelamin yang akan menular kepada
pasangannya juga keturunannya.
Bila suatu pernikahan dilandasi mencari keridhaan Allah SWT dan menjalankan sunnah
Rosul, bukan semata-mata karena kecantikan Iisik atau memenuhi hasrat hawa naIsunya, maka
Allah akan menjamin kehidupan rumah tangga keduanya yang harmonis, penuh cinta, dan kasih
sayang, seperti Iirman Allah dalam Q.S Ar-Rum : 21, sebagaimana yang sering kita dengar.
'Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari
fenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan difadikanNya
diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. ".S Ar-Ruum : 21)
Keterangan dari surat ini adalah :
- Istri-istri dari jenismu sendiri (berpasang pasangan), yaitu mempunyai ukuran yang sama,
ukuran dalam bidang tujuan, ilmu, rohani, dll. Serta masing-masing dapat dengan baik
memahami Iungsinya, serta menjalankan kewajiban dan haknya dengan baik. Suami sebagai
imam dalam rumah tangga, dan istri sebagai wakilnya. Masa awal berumah tangga, dimana kita
harus dapat menyamakan pandangan dengan cara beradaptasi dengan pasangan masing-masing,
serta meningggalkan siIat individual.
- Tentram, yaitu suatu masa berumah tangga dimana kita sudah saling memahami siIat pasangan
masing-masing, serta mulai timbul perasaan tentram, seiring dan sejalan dalam mewujudkan
tujuan berumah tangga.
- Cinta, hal ini adalah tahap selanjutnya yang kita rasakan pada pasangan kita, dimana kita
mencintai tidak hanya didasarkan atas keadaan Iisik atau ekonomi semata, ataupun keadaan luar
saja, tetapi telah timbul perasaan mencintai yang dalam, karena Allah SWT, yang tidak
tergoyahkan oleh godaan-godaan yang ada.
- Rahmah, adalah tahap akhir yang merupakan buah Iinal dari semua perasaan, dimana pada
tahap ini, kita benar-benar menjalankan pernikahan tanpa adanya halangan yang mengganggu,
dan dapat terus berpasangan menuju ridho Allah SWT.
Selain itu pernikahan yang disyariatkan agama Islam mempunyai beberapa segi, diantaranya
ialah :
O Segi ibadah
Pernikahan menurut agama islam mempunyai unsur-unsur ibadah. Melaksanakan perkawinan
berarti melaksanakan sebahagian dari ibadahnya dan berarti pula telah menyempurnakan
sebagian dari agamanya.
Sabda Rasulullah SAW :
arang siapa yang telah dianugerahi Allah isteri yang saleh, maka sesungguhnya ia telah
mengusahakan sebahagian agamanya. Maka bertakwalah kepada Allah pada bahagian yang
lain` (H.R. Thabrani dan Al Hakim dan dinyatakan shaheh sunatnya)
O Segi hukum
Pernikahann yang menurut disyariatkan agama Islam merupakan suatu perjanjian yang kuat,
sebagaimana Firman Allah SWT :
agaimana kamu akan mengambil harta yang telah kamu berikan kepada bekas isterimu,
padahal sebagian kamu telah bercampur (bergaul) dengan yang lain sebagi suami isteri. Dan
mereka (isteri-isteri) telah mengambil dari kamu fanfi yang kuat. (Q.S An-Nisa . 21)

Sebagai perjanjian, pernikahan mempunyai beberapa siIat :
1. Pernikahan tidak dapat dilangsungkan tanpa persetujuan dari pihak-pihak yang
berkepentingan dengan perkawinan itu.
2. Akibat pernikahan, masing-masing pihak yang berkepentingan dengan perkawinan itu
terikat oleh hak-hak dan kewajiban-kewajiban dan ditentukan persyaratan berpoligami
bagi suami-suami yang hendak melakukannya.
3. Ketentuan-ketentuan dalam perjanjian itu dapat dirobah sesuai dengan persetujuan
masing-masing pihak dan tidak melanggar batas-batas yang ditentukan agama.
Pernikahan bukan semacam jual beli. Dalam jual beli ada keseimbangan antar nilai jumlah
uang yang ditentukan bagi sipembeli dengan barang yang diserahkan oleh penjual
O Segi sosial
Hukum Islam memberikan kedudukan sosial yang tinggi kepada wanita (isteri) setelah
dilakukan pernikahan, ialah dengan adanya persyarat bagi seorang suami untuk kawin lagi
dengan isterinya yang lain, tidak boleh suami mempunyai isteri lebih dari empat, adanya
ketentuan hak dan kewajiban suami dan isteri dalam rumah tangga, dan sebagainya. Pernikahan
dilakukan untuk membentuk keluarga yang diliputi rasa saling cinta mencitai dan rasa kasih
sayang antara sesama anggota keluarga. Keluarga-keluarga yang seperti inilah yang akan
merupakan batu bata, semen, pasir, kapur dan sebagainya dari hubungan umat yang dicita-
citakan oleh agama Islam. Karena itu Rasulullah SAW melarang kerahiban, hidup menyendiri
dengan tidak kawin yang menyebabkan hilangnya keturunan, keluarga dan melenyapkan umat.
Agama Islam memandang dan menjadikan pernikahan itu sebagai basis suatu masyarakat yang
baik dan teratur sebab pernikahan tidak hanya dipertalikan oleh ikatan lahir saja tetapi di ikat
juga dengan ikatan batin dan jiwa. Menurut ajaran Islam pernikahan itu tidaklah hanya sebagai
suatu persetujuan biasa melainkan merupakan suatu persetujuan suci, dimana kedua belah pihak
dihubungkan menjadi pasangan suami isteri atau saling meminta menjadi pasangan hidupnya
dengan mempergunakan nama Allah.


2.2 Pernikahan Beda Agama
Seperti yang kita ketahui, dalam ajaran agama Islam, tidak dianjurkan untuk melakukan
pernikahan beda agama. Tetapi saat ini seringkali kita menemukan banyaknya persoalan
mengenai pernikahan berbeda agama, dimana pasangan tersebut salah satunya beragama Islam.
Pernikahan ini makin mendapat dukungan seiring dengan berkembangnya paham
pluralisme dan liberalisme. Berbagai 'cendekiawan muslim mengeluarkan Iatwa tentang
bolehnya wanita muslimah menikah dengan pria non-muslim. Fatwa tersebut dikeluarkan
menurut mereka untuk mencari solusi bagi pemuda-pemudi beda agama yang mau menikah.lalu
dicarilah dalil-dalil yang terasa dipaksakan untuk melegitimasi Iatwanya itu (MiItah Faridl,
2005:78). Pernikahan beda agama ini dalam Iiqih dikenal dengan istilah maklumun minnaddinni
biddharury atau sesuatu yang orang kebanyakan sudah tahu hukumnya.
Masalah nikah beda agama memang tidak banyak muncul ke permukaan sebelum tahun
70-an. Setelah ditetapkannya Undang-undang Perkawinan No.1 Tahun 1974 yang menyatakan
bahwa perkawinan di anggap sah apabila dilakukan menurut hukum agama masing-masing,
masalah baru muncul. Sehingga pada tanggal 11 Agustus 1975 Majelis Ulama Daerah Jakarta
mengeluarkan suatu pernyataan mengenai larangan bagi seorang laki-laki muslim untuk
menikahi seorang wanita bukan muslim, sekalipun dianggap dari ahli kitab. Pada tanggal 1 Juni
1980 Majelis Ulama Indonesia saat dipimpin ProI. Dr. Hamka mengeluarkan Iatwa yang
melarang wanita muslimah untuk menikah dengan pria non-muslim dan pria non-muslim tidak
diijinkan menikah dengan wanita bukan Islam.
Mengenai hukum pernikahan beda agama dimana mempelai wanita seorang muslimah
sudah tegas dinyatakan dalam Al-Quran haram hukumnya. Secara akal pun dapat diterima bahwa
pertimbangan keharaman tersebut adalah kekuasaan istri berada di tangan suami. Menurut kaidah
dan budaya manapun, suami adalah pemimpin dan kepala rumah tangga yang berhak dihormati,
dipatuhi dan ditaati oleh seluruh anggota keluarga termasuk istri. Dalam keluarga suami
berkuasa terhadap istri. Sementara itu Islam tidak mengkhendaki orang kaIir menguasai orang
Islam, apalagi pria kaIir menguasai wanita muslimah. Allah berIirman,
'Dan Allah tidak akan memberikan falan kepada orang-orang kafir untuk menguasai
orang-orang mukmin.".S An-Nisaa:141)
Dengan suami non-muslim yang menjadi kepala keluarga maka ia bisa saja memaksa istri
dan anak-anaknya, baik secara halus maupun kasar untuk berpindah agama. Kalaupun tidak bisa,
maka ia akan mengintimidasi atau membuat istri dan anak-anaknya tidak taat terhadap
agamanya. Banyak kasus terjadi seorang wanita muslimah yang dinikahi pria Kristen akhirnya
hatinya luluh memeluk agama suaminya juga.
Demikian pula,pernikahan pria muslim dengan wanita kaIir. Orang kaIir di dalam Al-
Quran dibagi menjadi dua sebagaimana Iirman Allah SWT,
'Sesungguhnya orang-orang kafir itu dari golongan ahli kitab dan golongan orang-
orang musyrik berada di dalam neraka...` ".S Al-Bayyinah:6)
Pria muslim menikah dengan wanita musyrik jelas hukumnya, yaitu haram. Agama Islam
telah melarang seorang pria muslim menikah dengan wanita musyrik. Yaitu wanita yang
menyekutukan Allah dengan yang lain seperti penyembah berhala, dewa-dewa, ataupun roh-roh
(animisme). Al-Quran menyatakan haram untuk mengawini mereka seperti ayat berikut ini:
Dan fanganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman.
Sesungguhnya wanita budak yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia
menarik hatimu...` ".S Al-Baqarah:221)
Dalil ini diperkuat dengan adanya Iirman Allah SWT dalam surat Al-Mumtahanah ayat
10, yang berbunyi:
...dan fanganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan wanita-wanita
kafir...` ".S Al-Mumtahanah:10)
Sementarat itu, pernikahan pria muslim dengan wanita ahli kitab memang ada dua
pendapat. Ada yang membolehkan dengan berbagai macam syarat dan ada pula yang
melarangnya. Tetapi Al-Quran masih mengijinkan pria muslim untuk menikah dengan wanita
non-muslimat, asal wanita itu memeluk suatu agama yang memiliki kitab suci. Hal ini tampak
dalam surat Al Maa`idah ayat 5 yang berbunyi:
!ada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang
yang diberi Alkitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan
dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menfaga kehormatan di antara wanita-wanita yang
beriman dan wanita-wanita yang menfaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi
Alkitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud
menikahinya, tidak dengan maksud ber:inah dan tidak (pula) menfadikannya gundik-gundik...`
".S Al-Maa`idah:5)
Tetapi dalam hal ini juga ada pengecualian, yaitu apabila wanita ahli kitab tersebut
menjaga kehormatannya.
Apabila dikaitkan dengan surat Al-Baqarah ayat 221 tentang keharaman mengawini
wanita musyrik dan surat Al-Mumtahanah ayat 10 tentang keharaman menikahi wanta kaIir,
surat Al-Maa`idah ayat 5 ini merupakan tahsis (pengkhususan) dan bukan nasakh (penghapus)
kedua ayat sebelumnya. Ayat dalam Al-Baqarah dan Al-Mumtahanah bersiIat umum dan Al-
Maa`idah bersiIat khusus. Sehingga hukumnya menjadi jelas, yaitu mengawini wanita kaIir yang
tergolong musyrik itu haram sedangkan mengawini wanita kaIir yang tergolong Ahli Kitab itu
diperbolehkan.
Kebolehan pria muslim menikah dengan wanita Ahli Kitab ini apabila telah terpenuhi
syarat-syaratnya, yaitu wanita Ahli Kitab tersebut diyakini betul-betul Ahli Kitab yaitu mereka
yang beriman kepada Yahudi dan Nasrani. Artinya, secara garis besar dia beriman kepada Allah,
beriman kepada kerasulan dan beriman kepada hari akhir, bukan orang atheis atau murtad dari
agamnaya dan bukan pula orang yang beriman kepada suatu agama yang tidak mempunyai
hubungan dengan langit. Kedua, wanita ahli kitab tersebut adalah wanita yang menjaga
kehormatannya (muhshanat). (MiItah Faridl, 2005:91)
2.3 Membangun Keluarga Harmonis dan Bahagia dalam Pernikahan Beda Agama
Cinta seharusnya menjadi penyatu antara dua insan yang berbeda. Namun terkadang
dalam sebuah perkawinan beda agama, tak cukup hanya dengan cinta yang menjadi perekatnya.
Banyak orang yang berpikir membina biduk rumah tangga dengan keyakinan yang berbeda akan
menemukan banyak kesulitan. Mulai bagaimana mereka akan mendidik dan mengarahkan anak-
anak sampai bagaimana harus berjiwa besar kala pasangan merayakan dan menunaikan
ibadahnya. Tentu bukan sebuah perjuangan yang tidak mudah, lantaran siIat manusia yang
memang terkadang mementingkan egonya. Bila menilik, tentu ada dampak positiI dan negatiI
dari pasangan yang beda agama.
2.3.1 Dampak Negatif Pernikahan Beda Agama
Menikah merupakan sebuah kebutuhan pokok setiap mahluk yang bernyawa (hidup).
Bukan hanya manusia, jin, iblis, dan syetan juga perlu melestarikan keturunan dengan cara
menikah. Hewan dan tumbuh-tumbuhan yang dikenal mahluk tak ber-akal, ternyata juga perlu
menikah. Esensi dari sebuah penikahan itu, sebenarnya bukan hanya sekedar melampiaskan
kebutuhan biologis belaka, tetapi melestarikan keturunan. Dalam ajaran Islam, Nabi Saw sebagai
panutan memberikan penjelasan panjang lebar seputar tujuan serta manIaat pernikahan. Bahkan,
Nabi SAW juga memberikan teladan bagaimana cara memilih kriteria pasangan sejati, agar
supaya bahtera rumah tangga benar-benar sesuai dengan manIaat dan tujuan menikah.
Terkait dengan tujuan pernikahan, hendaknya memilih kriteria calon pasangan yang
sesuai dengan ajaran agama dan keyakinan. Sudah menjadi sebuah kewajiban bagi setiap orang
yang ber-imam supaya memilih pasangan yang se-iman. Wajar, jika al-Qur`an dan hadis, banyak
memberikan penjelasan seputar wanita atau lekaki yang akan menjadi pasangan hidup. Allah
SWT menegaskan bahwa ke-imanan (tauhid), merupakan syarat mutlaq untuk menjadi pasangan
hidup seseorang. Sebab, pernikahan itu sebenarnya tidak hanya berlangsung di alam Iana`, tetapi
hingga sampai pada kehidupan abadi (surga). QS Yasin (36:56) yang artinya:
` Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas
dipan-dipan.` ".S Yasin:56)
Namun, jika pasangan itu tidak se-iman, maka pasangan itu cukup semasa hidup didunia.
Terkait dengan memilih pasangan, Rasulullah mewanti-wanti kepada pengikutnya agar jangan
sampai salah pilih. Karena dampakanya kurang baik di dalam membangun generasi unggulan,
dan akan berbuntut dikemudian hari. Diriwayatkan dari Aisyah r.a Rasulullah menuturkan:
!ilihlah tempat yang paling benar wanita yang akan mengandung anakmu.#
Oleh karena itu, orang tua hendaknya selektiI di dalam menentukan pilihan menantunya.
Belum tentu lelaki atau pemilik (benih) yang akan tertanam di dalam rahim putrinya adalah
benih yang bagus, sehingga membawa kebaikan bagi banyak orang, khususnya keluarganya.
Atau sebaliknya, wanita pemilik (ladang) itu banyak hama, kuman dan virus, sehingga benihnya
tidak bisa tumbuh dengan baik dan sempurna.
Secara gamblang, Rasulullah melarang menikahi wanita (pasangan) berbeda agama dan
keyakinan. Sebagian ulama`, sepakat bahwa menikah beda agama itu hukumnya haram,
walaupun ada juga yang berpendapat bahwa menikah dengan beda agama itu sekedar boleh.
Dengan catatan, wanita yang akan dinikahi itu termasuk bukan wanita yang menyekutukan tuhan
(syirik). Akan tetapi, lebih amannya ialah menikah dengan sesama agama dan keyakinan. Allah
SWT berIirman:
'Dan fanganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.
Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia
menarik hatimu. dan fanganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita
mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang
musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengafak ke neraka, sedang Allah mengafak ke
surga dan ampunan dengan i:in-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-
Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelafaran` ".S Al Baqarah:221)
Asbabun al-Nu:ul ayat ini turun pada seorang sahabat yang beranama Abi Marsad al-
Ganawi. Ia datang kepada Nabi agar supaya di zinikan menikah dengan seorang wanita yang
sangat cantik dan menarik, akan tetapi wanita itu seorang yang menyekutukan Allah SWT.
Lantas ia bertanya` Wahai Rosulullah, sesungguhnya wanita sangat cantik dan memikat hatiku`
Kemudian, turunlah ayat ini sebagai bukti larangan menikahi wanita musyrik.
Ayat ini mengisaratkan betapa pentingnya pernikahan atas dasar keyakinan dan agama.
Bukan berarti, kecantikan atau ketampanan tidak penting, akan tetapi, jika kecantikan itu jutru
membawa petaka dan pidana. Maka, apa artinya sebuah pernikahan. Oleh karena itu, Rasulullah
menjelaskan secara terperinci, menikah itu hendaknya juga memperhatikan (penampilan (cantik/
ganteng), materi (cukup), nasab (keturunan) dan moral (agama). Masing-masing yang disebutkan
di atas akan saling menyempurnakan dan melengkapi menuju rumah tangga yang bahagia dan
sejahtera lahir dan batin.
Apalagi, pernikahan itu dengan tidak seiman, justru banyak juga yang menyisakan duka
lara. Walaupun ada orang yang menikah beda agama dan keyakinan tidak masalah, tetapi
realitasnya banyak yang menikah berahir dengan perpisahan, serta masalah, bahkan sampai
memperebutkan hak asuh anak-anak agar mengikuti agama salah satu dari orangtuanya. Secara
tegas, Islam melarang pemeluknya menikah dengan orang yang menyekutukan Allah SWT,
seperti menyembah berhala (batu, kayu, patung), kecuali mereka beragama samawi (langit),
seperti Nasrani, Yahudi.
Contoh kasus mengenai salah satu dampak negatiI pernikahan beda agama terhadap
upaya membangun keluarga harmonis yang pernah dimuat di Koran Seputar Indonesia, Jumat 1
Mei 2009, adalah artikel mengenai memudarnya rumah tangga yang telah dibina belasan tahun,
namun semakin hari serasa semakin kering, akibat perbedaan agama. Pada mulanya, terutama
sewaktu masih pacaran, perbedaan itu dianggap sepele, bisa diatasi oleh cinta. Tetapi lama-
kelamaan ternyata jarak itu tetap saja menganga. Bayangkan saja, ketika seorang suami (yang
beragama Islam) pergi umrah atau haji, adalah suatu kebahagiaan jika istri dan anakanaknya bisa
ikut bersamanya. Tetapi alangkah sedihnya ketika istri dan anak-anaknya lebih memilih pergi ke
gereja. Salah satu kebahagiaan seorang ayah muslim adalah menjadi imam salat berjamaah
bersama anak istri. Begitu pun ketika Ramadhan tiba,suasana ibadah puasa menjadi perekat batin
kehidupan keluarga. Tetapi keinginan itu sulit terpenuhi ketika pasangannya berbeda agama. Di
sisi istrinya, yang kebetulan beragama Kristen misalnya, pasti akan merasakan hal yang
sama,betapa indahnya melakukan kebaktikan di gereja bersanding dengan suami. Namun itu
hanya keinginan belaka.
Ada seorang ibu yang merasa beruntung karena anak-anaknya ikut agama ibunya.Kondisi
ini membuat ayahnya merasa kesepian ketika ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman
beragama. Di zaman yang semakin plural ini pernikahan beda agama kelihatannya semakin
bertambah. Terlepas dari persoalan teologis dan keyakinan agama, perlu diingat bahwa tujuan
berumah tangga itu untuk meraih kebahagiaan. Untuk itu kecocokan dan saling pengertian sangat
penting terpelihara dan tumbuh.
Bahwa karakter suami dan istri masing-masing berbeda, itu suatu keniscayaan.Misalnya
saja perbedaan usia, perbedaan kelas sosial, perbedaan pendidikan, semuanya itu hal yang wajar
selama keduanya saling menerima dan saling melengkapi. Namun, untuk kehidupan keluarga di
Indonesia, perbedaan agama menjadi krusial karena peristiwa akad nikah tidak saja
mempertemukan suami-istri, melainkan juga keluarga besarnya. Jadi perlu dipikirkan matang
matang ketika perbedaan itu mengenai keyakinan agama.Problem itu semakin terasa terutama
ketika sebuah pasangan beda agama telah memiliki anak.
Orang tua biasanya berebut pengaruh agar anaknya mengikuti agama yang diyakininya.
Kalau ayahnya Islam, dia ingin anaknya menjadi muslim. Kalau ibunya Kristen dia ingin
anaknya memeluk Kristen.Anak yang mestinya menjadi perekat orang tua sebagai suami-isteri,
kadang kala menjadi sumber perselisihan. Orang tua saling berebut menanamkan pengaruh
masing-masing.
Mengapa agama menjadi persoalan. Karena agama ibarat pakaian yang digunakan
seumur hidup. Spirit, keyakinan, dan tradisi agama senantiasa melekat pada setiap individu yang
beragama, termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Di sana terdapat ritual-ritual keagamaan
yang idealnya dijaga dan dilaksanakan secara kolektiI dalam kehidupan rumah tangga.
Contohnya pelaksanaan salat berjamaah dalam keluarga muslim, atau ritual berpuasa. Semua ini
akan terasa indah dan nyaman ketika dilakukan secara kompak oleh seluruh keluarga. Setelah
salat berjamaah, seorang ayah yang bertindak sebagai imam lalu menyampaikan kultum dan
dialog, tukar-menukar pengalaman untuk memaknai hidup. Suasana yang begitu indah dan
religius itu sulit diwujudkan ketika pasangan hidupnya berbeda agama. Kenikmatan berkeluarga
ada yang hilang. Secara psikologis pernikahan beda agama menyimpan masalah yang bisa
menggerogoti kebahagiaan. Ini tidak berarti pernikahan satu agama akan terbebas dari masalah.
Namun perbedaan agama bagi kehidupan rumah tangga di Indonesia selalu dipandang serius.
Ada suatu kompetisi antara ayah dan ibu untuk memengaruhi anak-anak sehingga anak jadi
bingung. Namun ada juga yang malah menjadi lebih dewasa dan kritis.
Pasangan yang berbeda agama masing-masing akan berharap dan yakin suatu saat
pasangannya akan berpindah agama. Seorang teman bercerita, ada seorang suami yang rajin
salat, puasa, dan senantiasa berdoa agar istrinya yang beragama Katolik mendapat hidayah
sehingga menjadi muslim. Dengan segala kesabarannya sampai dikaruniai dua anak, istrinya
masih tetap kokoh dengan keyakinan agamanya.Tapi harapannya belum juga terwujud dan
bahkan perselisihan demi perselisihan muncul. Akhirnya suami dan istri tadi masing-masing
merasa kesepian di tengah keluarga. Ada suatu kehangatan dan keintiman yang kian redup dan
perlahan menghilang. Ketika semakin menapaki usia lanjut, kebahagiaan yang dicari tidak lagi
materi, melainkan bersiIat psikologis-spiritual yang sumbernya dari keharmonisan keluarga yang
diikat oleh iman dan tradisi keagamaan. Ketika itu tak ada, maka rasa sepi kian terasa. Cerita di
atas tentu saja merupakan kasus, tidak bijak dibuat generalisasi. Namun pantas menjadi
pelajaran.
Ketika masih berpacaran lalu menikah dan belum punya anak, cinta mungkin diyakini
bisa mengatasi semua perbedaan. Tetapi setelah punya anak berbagai masalah baru akan
bermunculan. Memang ada satu dua pernikahan pasangan berbeda agama yang kelihatannya
baik-baik saja. Tetapi bayangkan, bagi seorang muslim, ketika usia semakin lanjut, tak ada yang
diharapkan kecuali untaian doa dari anaknya. Dan mereka yakin doa yang dikabulkan adalah
yang datang dari keluarga yang seiman. Dampak psikologis orang tua yang berbeda agama juga
akan sangat dirasakan oleh anak-anaknya. Mereka bingung siapa yang harus diikuti
keyakinannya. Terlebih Iase anak yang tengah memasuki masa pembentukan dan perkembangan
kepribadian di mana nilai-nilai agama sangat berperan. Kalau agama malah menjadi sumber
konIlik, tentulah kurang bagus bagi perkembangan anak.
2.3.2 Dampak Positif Pernikahan Beda Agama
Tapi ternyata tidak hanya ada dampak negatiInya dari pernikahan beda agama, kalau
pasangan suami-istri memang bisa menempatkan dan menjaga segalanya sesudah dengan tugas
dan kewajibannya. Dari pasangan orangtua beda agama yang memberi kebebasan seluas-luasnya
kepada anak-anaknya, ini tentu akan menumbuhkan sikap toleransi yang tinggi. Dimana anak-
anak diberikan kebebasan untuk menghias pohon Natal tampa diberi larangan. Ataupun
berkunjung ke mesjid untuk belajar mengaji dan sholat. Dengan menanamkan agama sejak kecil,
mereka didik untuk bisa bersikap dan berahlak yang baik. Kedepannya, beri mereka kebebasan
untuk menganut agama apa yang ingin mereka peluk tanpa terkesan ada paksaan. Mereka juga
akan lebih memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap teman-teman dan lingkungannya
dibanding yang lainnya. Kerjasama antar kedua pasangan dalam mengarahkan bahtera rumah
tangga tak kalah pentingnya. Dengan demikian pasangan tersebut akan merasakan hidup yang
lebih "berwarna" dengan pernikahan beda keyakinan. Hal lain yang juga didapatkan yakni
menambah pengetahuan. Belajar dapat diperoleh di manapun, begitu juga pengetahuan tentang
keyakinan yang berbeda. Tentu akan banyak hal yang mendorong kita untuk membaca buku
demi menambah pengetahuan tentang beragam kehidupan keyakinan baik yang ada di Indonesia
aupun dunia. Dengan demikian ini semakin bisa menyakinkan agama apa yang kita anut kini.
Toh tak selamanya pasangan beda agama akan berdampak buruk. Juga bukan tidak mungkin ada
pihak yang akhirnya mengikuti keyakinan pasangannya, meski harus butuh waktu lama. Dan
yang pasti pernikahan beda agama, tergantung dari sudut melihatnya.



















BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

















DAFTAR PUSTAKA