Anda di halaman 1dari 3

PERAN PROSTAGLANDIN MEMANIPULASI IMUN DAN RESPON INFLAMASI I.

Pendahuluan Prostaglandin dan senyawa agonis lainnya dapat digunakan untuk terminasi kehamilan dan induksi persalinan. Prostaglandin dihasilkan oleh plasenta dan jaringan fetus. Pemeriksaan kadar prostaglandin dapat diperiksa melalui kadar Prostaglandin dehydrogenase (PGDH). Pada uterus yang sedang hamil, dapat ditemukan kadar jumlah enzim PGDH yang sangat banyak. Pada jaringan organ reproduksi, aktivitas PGDH dikontrol oleh hormon progesteron. II. Prostaglandin dan induksi persalinan A. kontribusi amnion ; kontribusi janin untuk inisiasi kelahiran dapat melibatkan suatu senyawa yang disekresi ke dalam cairan ketuban, yang bekerja pada membran janin untuk menstimulasi produksi PG. B. Produksi PG di desidua ; Aktivasi desidua dihasilkan oleh beberapa stimulasi sinyal yang terdiri dari PG dan sitokin, yang dapat menstimulasi miometrium atau menyebabkan masuknya leukosit ke jaringan. C. PG sebagai efektor induksi ; 1. pengaruh antiprogestins: kontrol melalui dehidrogenase PG, PGDH berada di bawah kendali progesteron dalam jaringan reproduksi. Antiprogestin digunakan sebagai metode medis untuk aborsi. 2. kontrol oleh COX, telah dilaporkan bahwa COX (COX-2) pada amnion meningkat dengan cepat (30 menit) setelah pengobatan sel amnion dengan cara di kultur dengan IL-1. D. Interaksi PG-kemokin: hipotesis dua mediator revisited ; Efek obat non steroid inflamasi pada percobaan in vivo efeknya lebih nyata dibandingkan secara in vitro yaitu menghambat PG synthase. E. Progesteron sabagai pengontrol inflamasi ; Progesteron dapat menurunkan kadar IL-8, sehingga dapat menghambat inflamasi, namun pada saat persalinan kadar progesteron menurun sehingga efeknya menghambat inflamasi tidak ada. F. Kontribusi leukocyte untuk mengaktivasi desiuda ; Platelelet Activating Factor (PAF) muncul sebagai agen yang kuat untuk kontraksi miometruium. G. Pematangan cervix ; Dermatan sulfat mengikat erat serat kolagen. Kandungan asam hialuronat meningkat ketika dermatan sulfat turun, yang mengakibatkan retensi air sehingga cervix menjadi bengkak. H. Inisiasi pesalinan ; Peningkatan pengeluaran ACTH dari pituitary memodulasi aktifitas dari hipotalamus CRF dan arginin vasopresin (AVP) yang terlihat pada beberapa minggu akhir kehamilan. I. Infeksi dan persalinan preterm ; Kejadian infeksi intrauterin dapat meningkatkan PG dan cytokin yang dapat mempercepat persalinan. J. Kesamaan antara menstruasi dan melahirkan ; Persamaan yang paling menyolok antara menstruasi dan parturition adalah dimana parturition digambarkan sebagai menstruasi yang tertunda. Sedangkan perbedaan antara menstruasi dan parturition yaitu pada saat menstruasi progesterone di pembuluh darah periperal turun, sedangkan pada parturition tidak.
III.

PG dalam Mempertahankan Kehamilan.


a. Perlunya PGE di dalam Desidua ; Sel-sel desidua dapat memproduksi PGE dan

produksinya di dalam stroma sama dengan yang terlihat pada fase sekresi endometrium.

b. Efek imunosupresan/antiinflamasi Prostaglandin ; PGE2 menghambat fungsi banyak

sel imun, seperti sel T, sel NK, sel LAK, sel B, netrofil dan makrofag.
c. PGs dan Limfosit Granular Besar ; PGE2 diketahui untuk menurunkan sitotoksik dalam

sel NK tapi bukti bahwa PGE2 itu mungkin menginduksi karakteristik granular dan menurunkan toksisitas pada sel NK.
d. Teori PGE dan Th2 ; Sebuah respon inflamasi, Th1 dan Th2 ditentukan oleh antibody

presenting sel (APC) dan mediator yang diduga adalah PGE2 e. PGE dan kelas pengalihan Aksi yang lebih jauh dari PGE yang mungkin menurunkan efek sistem imun humoral maternal yang mampu menginduksi pengalihan kelas globulin.
f. Lokus sebagai Kontrol Spesifik Jumlah PGE2 di desidua

Sistem Endokrin Pada Proses Persalinan


Terjadi 2 perubahan pada sistem reproduksi wanita. Pertama, berubahnya kondisi uterus dari struktur yang tenang menjadi organ yang berkontraksi aktif dan terkoordinasi. Perubahan kedua adalah jaringan penyambung serviks dan otot polos harus mampu berdilatasi untuk memungkinkan lewatnya janin dari uterus. ESTROGEN ; Estrogen merupakan hormon yang bertanggung jawab untuk memproduksi protein kontraktil dan enzim regulator yang dibutuhkan untuk kontraksi uterus. Estrogen juga mengendalikan pematangan serviks. PROGESTERON ; Plasenta merupakan sumber utama progesteron pada tahap akhir kehamilan. Progesteron invitro menurunkan kotraksi miometrium dan menghambat formasi gap junction miometrium. Aktivitas progesteron menstimulasi sintesis nitrit oxide yang merupakan faktor utama agar uterus tetap tenang. Jadi sangat jelas bahwa progesteron merupakan faktor utama untuk ketenangan uterus dan integritas serviks. OXITOCIN ; Oksitoksin menginduksi kontraksi uterus dengan 2 cara. Oksitoksi menstimulasi pelepasan PGE2 dan prostaglandin F2 pada membran janin. Oksitoksi juga menginduksi kontraksi miometrium melalui PLC. Dimana terjadi aktivasi kalsium channel dan pelepasan kalsium dari intraseluler. Oksitoksin dihasilkan di uterus. PROSTAGLANDIN ; Prostaglandin berpengaruh pada saat kontraksi uterus pada proses persalinan. Prostacyclins, terdapat selama awal kehamilan sebagai prostaglandin inhibitor yang juga bertanggung jawab terhadap tenangnya uterus selama kehamilan. Prostaglandin meningkat sebelum dan selama persalinan di uterus dan membran. Peningkatan konsentrasi prostaglandin ditemukaan pada tahap awal persalinan. PGE1 dan PGE2 digunakan secra klinis untuk menginduksi pematangan serviks. CRH ; CRH merupakan hormon hipotalamus yang bertanggung jawab tehapa pengendalian ACTH. Pada kehamilan, saat trimester kedua, plasenta merupakan sumber utama sekresi CRH. CRH meningkat pada serum ibu kira-kira saat uia gestasi 16 mingg. Jumlah CRH yang tinggi dapat digunakan sebagai tanda pada wanita yang mempunyai resiko melahirkan bayi prematur. RELAXIN

Relaxin merupakan hormon peptida yang termasuk golongan insulin. Pada wanita, sirkulasi relaxin dihasilkan oleh korpus luteum saat kehamilan. Relaxin juga dihubungkan pada proses pelemasan serviks. Reseptor relaxin terdapat di serviks. Relaxin juga mampu menghambat kontraksi pada wanita yang tidak hamil. Namun, relaxin tidak menghambat kontraksi uterus pada wanita hamil.