Anda di halaman 1dari 7

Tugas Seminar Akuntansi Manajemen Bridgeton Industries Automotive Component And Fabrication Plant

Oleh : Ancillya Ichaputri 2008130146 Kelas : A

Universitas Katolik Parahyangan Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Bandung 2011

Bridgeton Industries Automotive Component And Fabrication Plant

Pendahuluan Automotif Component and Fabrication Plant (ACF) adalah lokasi pabrik Bridgeton Industries yang merupakan pemasok domestik terbesar dari komponen automotif. Semua produknya dijual ke Big Three manufaktur domestik, namun kenaikan harga bensin dan persaingan dengan pasar internasional memberi tantangan yang cukup berat bagi ACF. Bridgeton sendiri memiliki dua pabrik manufaktur mesin diesel hemat bahan bakar yang salah satunya berada di fasilitas ACF, jika perkembangan mobil dengan tenaga diesel tidak dapat diteruskan lagi salah satu operasi harus ditutup. Bridgeton kemudian menyewa konsultan strategi untuk memeriksa semua produk Bridgeton dan menglasifikasikannya. Biaya produk diklasifikasikan ke dalam tiga kelas. Kelas I untuk produk kelas dunia, kelas II untuk produk yang memiliki potensi untuk menjadi kelas dunia dan produk kelas III yang tidak memiliki harapan untuk menjadi kelas dunia dimana sebaiknya produk tersebut outsource saja. Untuk tetap bertahan pada akhir tahun 1987 dilakukan outsource atas oil pans dan muffler-exhaust systems. Beberapa program lain juga dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk dan produktivitas, tetapi bukannya meningkatkan produksi programprogram yang diaplikasikan malahan membuat produk manifold yang tadinya berada di kelas II turun ke kelas III dan perusahaan tidak dapat melakukan apa-apa untuk mempertahankan bisnisnya.

Identifikasi Masalah Permasalahan utama yang ditemui di kasus Bridgetone adalah ketidakmampuan Bridgetone untuk bersaing harga produk dengan kompetitor lain baik kompetitor lokal maupun internasional. Hal tersebut tercermin dari perkataan Mike Lewis selaku plant manager perusahaan, This doesnt make sense. I know we are more competitive. We have made all kinds of improvements, but our cost keep going up and were still losing business. What more can we do? Selain itu Ronald Peter, seorang pegawai di fasilitas mesin lama, mengatakan, Management told us we were not cost competitive. We worked ourselves into the ground and lowered the unit cost, and still lost the business. Dari perkataan tersebut dapat terlihat bahwa meskipun ACF telah berusaha semaksimal mungkin dalam menurunkan biaya unit produk nyatanya usaha tersebut tidak memberikan hasil yang positif dan perusahaan tetap tidak bisa bersaing dengan para kompetitor lainnya. Masalah lainnya yang timbul adalah kenaikan harga produk di pasar akan memungkinkan terjadinya death spiral yaitu keadaan dimana harga yang ditawarkan oleh perusahaan tidak dapat mengimbangi atau mengungguli kompetitornya sehingga akan terjadi penurunan permintaan dan berimbas juga pada penurunan penjualan dan pendapatan perusahaan. Masalah ketiga yang muncul di Bridgetone adalah jatuhnya level produk manifolds yang sebelumnya berada di kelas II ke kelas III padahal Bridgetone telah berusaha mengembangkan produksinya dan melakukan efisiensi dan penurunan biaya unit produk. Masalah tersebut ditegaskan dalam kalimat yang tercantum di kasus, In spite of these improvements in the production process, manifolds, designated Class II in the initial study, were downgraded to Class III in the 1989/90 model year budget and identified as candidates for outsourcing.

Analisa Masalah
Penyebab utama dari kekalahan Bridgetone dalam persaingan harga produk dengan para kompetitor yang menyebabkan perusahaan sedikit demi sedikit kehilangan bisnisnya adalah adanya kesalahan penghitungan biaya overhead yang dibebankan ke produk, dimana biaya overhead sangatlah tinggi mencapai 435% biaya direct labor. Terlalu besarnya biaya overhead ini disebabkan oleh perusahaan yang masih menggunakan traditional costing atau activity-based management system, dimana pada traditional costing biaya produksi tidak langsung dibebankan ke production cost center, lalu dibebankan kembali ke cost drive. Cost pool yang digunakan juga biasanya hanya terdiri dari 1-2 macam costpool. Jika kita menghitung biaya produksi tidak langsung dibandingkan dengan biaya langsung tenaga kerja pada tahun 1986/87 1989/90 maka hasil yang didapatkan adalah peningkatan persentase perbandingan kedua biaya tersebut dari tahun ke tahun. Hal itu disebabkan oleh penurunan biaya tenaga kerja langsung, sebagai imbas dari outsource yang dilakukan perusahaan dimulai tahun 1988/99, namun tidak diimbangi dengan penurunan indirect cost yang signifikan. Tahun 1986 / 87 1987 / 88 1988 / 89 1989 / 90 Direct Labor Cost 24.682 25.294 13.537 14.102 Overhead Cost 107.954 109.890 78.157 79.393 Overhead Rate 437,37% 434,45% 577,36% 562,99%

Dengan penggunaan traditional costing yang jauh lebih mudah dan hemat biaya pembebanan indirect cost menjadi tidak tepat, karena pada sistem traditional costing yang diterapkan di perusahaan penghitungan indirect cost menggunakan ukuran tenaga kerja langsung. Dapat dilihat di tahun 1988/89 biaya direct labor mengalami penurunan tetapi presentase indirect cost terhadap direct labor sebaliknya menunjukkan kenaikan. Hal tersebut memacu permasalahan kedua yaitu kemungkinan terjadinya death spiral atau downward demand spiral dimana outsourcing yang dilakukan perusahaan menyebabkan biaya produk lain yang diproduksi sendiri meningkat karena beberapa biaya overhead terkait dengan produk outsource tetap ada. Kenaikan biaya produksi produk non-outsource menyebabkan harga produk di pasar terus meningkat dan tidak dapat bersaing dengan kompetitor lain sehingga terjadi penurunan permintaan atau yang kita sebut dengan death spiral.
Penurunan permintaan membawa dampak negatif pada pendapatan dan keuntungan perusahaan.

Expected Selling Price Standard Material Cost Standard Labor Cost Overhead Allocation Rate (OAR) Overhead (OAR*DL Cost) Gross Margin on sale of one unit (Price - DM - DL - Overhead) Gross Margin Percentage

Product I 1987/88 1989/90 62 62 16 16 6 6 434% 563% 26.1 33.8 13.9 22% 6.2 10%

Product II 1989/90 1989/90 54 54 27 27 3 3 434% 563% 13 16.9 11 20% 7.1 13%

Dari tabel di atas dapat dilihat penurunan gross margin perusahaan dari tahun 1987/88 atau tahun sebelum perusahaan melakukan outsource dengan tahun 1889/90 dimana perusahaan telah melakukan outsource. Walaupun perusahaan telah melakukan pengembangan proses produksi agar efisien, perusahaan tidak dapat lari dari kenyataan bahwa produk manifolds yang sebelumnya berada di kelas II harus turun peringkat menjadi produk kelas III dimana untuk produk kelas III konsultan yang disewa oleh perusahaan menyarankan agar perusahaan melakukan outsourcing pada produk tersebut.

Solusi
Untuk mengatasi permasalahan kesalahan penghitungan biaya perlu diterapkan sistem baru yaitu ABC (Activity-Based Cost) system disamping penggunaan sistem lama yakni traditional costing yang selama ini dipakai oleh Bridgetone. ABC digunakan untuk memberikan cara yang lebih tepat dalam mengukur biaya indirect cost untuk selanjutnya dilakukan pembebanan atas resource dari indirect cost kepada aktivitas indirect cost tersebut sesuai dengan resources drivernya. Langkah-langkah yang harus dilakukan oleh Bridgetone dalam sistem ABC adalah sebagai berikut :

1. Tentukan aktivitas pendukung (overhead) 2. Bebankan resource expense ke aktivitas 3. Identifikasi cost driver masingmasing aktivitas

4. Hitung activity cost driver rate

5. Bebankan biaya ke produk dengan menggunakan cost driver rate

Penggunaan sistem ABC akan membuat perusahaan membebankan indirect cost ke produk dengan jumlah yang lebih akurat penetapan harga jual pun akan semakin akurat. Selain itu sistem ABC dapat digunakan untuk mengawasi konsumsi sumber daya dan membantu mengatur consumption dan spending dalam perusahaan. Dengan sistem ABC manajer dapat berusaha melakukan aktivitas dengan lebih efisien, membuat perhitungan ulang atas harga produk atau memperbaiki product mix perusahaan ( Cooper, pp. B1-9). Bridgetone sendiri sebaiknya menggunakan ABC berdampingan dengan traditional costing agar produktivitas meningkat dan efisiensi tetap terjaga atau bahkan dapat meningkat juga. Dengan penggunaan sistem traditional costing berdampingan dengan sistem ABC diharapkan

Bridgetone dapat mengklasifikasikan aktivitas produksinya mulai dari yang paling menguntungkan hingga pada produk yang tidak dapat memberikan profit yang maksimal kemudian membuat strategi untuk melakukan pengefisienan produk yang kurang menguntungkan. Dalam kasus Bridgetone disebutkan bahwa produk manifolds jatuh ke kelas III atau sebagai produk yang perlu dipertimbangkan untuk dilakukan outsourcing. Sebelum Bridgeton menghentikan produksi manifolds yang notabene adalah produk unggulan karena memiliki omset penjualan tinggi dengan keuntungan yang cukup besar dan memilih untuk melakukan outsource dari tempat lain ada baiknya Bridgetone mengusahakan pengefisienan produksi manifolds dan tidak melakukan outsource terhadap manifolds karena hal tersebut akan mengurangi penjualan dan pendapatan Bridgetone.