Anda di halaman 1dari 9

W u l f r a m I.

E r v i a n t o

SPESIFIKASI DALAM PROYEK KONSTRUKSI


Wulfram I. Ervianto Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik ,Universitas Atma Jaya Yogyakarta Jl. Babarsari No. 44 Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 487711 Fax 0274) 487748 ervianto@mail.uajy.ac.id

Proses merupakan salah satu bagian penting dari model input-output pada industri manufaktur maupun industri jasa. Perbedaan mendasar dari keduanya adalah posisioningnya, dalam industri jasa proses dilaksanakan di kemudian hari atau setelah terjadinya transaksi sedangkan dalam manufaktur proses dilaksanakan sebelum terjadinya transaksi. Para pengguna jasa dalam industri manufaktur tidak perlu kawatir tentang kualitas yang diperolehnya sedangkan industri jasa masih bertanya-tanya tentang kualitas yang akan diperolehnya. Dengan kondisi seperti tersebut diatas sudah selayaknya dibutuhkan sebuah standar yang jelas sebagai alat bagi penyedia jasa dalam pemenuhan kualitas yang ditetapkan. Dokumen yang dapat mengakomodasi hal-hal tersebut diatas disebut dengan spesifikasi. Tujuan dalam tulisan ini adalah melihat kembali spesifikasi yang ada dan digunakan dalam berbagai proyek konstruksi serta mendapatkan perimbangan risiko bagi pengguna dan penyedia jasa. Informasi dalam pembentukan beserta implementasi spesifikasi di lapangan didapat dari berbagai sumber referensi, diantaranya adalah buku referensi, jurnal, majalah ilmiah popular, berbagai dokumen proyek konstruksi dan sumber lain dengan menggunakan media elektronik atau lainnya. Dari kajian diperoleh beberapa hal tentang fungsi spesifikasi dalam proyek konstruksi diantaranya adalah sebagai penterjemah antara kehendak pengguna jasa dengan penyedia jasa; sebagai salah satu dokumen penentu dalam penetapan penawaran pekerjaan; sebagai dokumen yang harus dipatuhi dalam proses realisasi pekerjaan; masih terdapat klausul yang dapat menimbulkan arti ganda dalam interpretasinya; perimbangan risiko kurang berimbang antara pengguna jasa dengan penyedia jasa. Kata kunci : spesifikasi; risiko; proyek konstruksi

PENDAHULUAN
Proyek dalam pandangan kebanyakan orang dikonotasikan negatif dalam arti sarat dengan permainan-permainan yang menguntungkan beberapa pihak saja. Sebagian orang beranggapan bahwa proyek bergelimang rupiah. Terlepas dari persepsi negatif tersebut hampir sebagian dari manusia pernah berurusan dengan proyek, entah untuk membangun rumah sendiri, fasilitas di kampung, bangunan infrastruktur pada tingkat kabupaten, kota madya, propinsi atau skala nasional. Terciptanya persepsi negatif lebih dikarenakan mekanisme yang terjadi dalam merealisasikan berbagai jenis bangunan ini tidak serupa dengan mekanisme dalam industri manufaktur.

W u l f r a m I. E r v i a n t o

Bagi pihak yang kurang memahami mekanisme dalam proyek konstruksi akan menjadi tidak proporsional jika kemudian menilai sebuah proyek yang didasarkan pada pemahaman yang dimilikinya. Pada umumnya timbulnya konotasi negatif ini dimulai dari terjadi perbedaan cara pandang terhadap proyek itu sendiri. Perbedaan yang secara fundamental membedakan antara proyek konstruksi dengan manufaktur terletak pada proses nya. Dalam industri jasa konstruksi proses dilaksanakan setelah terjadi kontrak/transaksi antara pengguna jasa dengan penyedia jasa, sedangkan dalam industri manufaktur proses dilaksanakan sebelum terjadinya transaksi antara penjual dengan pembeli. Melihat karakteristik industri jasa konstruksi dimana proses dilaksanakan kemudian setelah terjadinya kontrak sudah seharusnya mekanisme kontrolnya juga berbeda dengan industri manufaktur. Pengguna jasa wajib menyediakan dokumen yang dapat mengakomodasi semua harapan dari aspek dimensi, bentuk, dan kualitas, sedangkan bagi penyedia jasa dokumen tersebut merupakan pedoman yang harus dipenuhi. Dokumen yang berfungsi sebagai alat kontrol bagi kedua belah pihak tersebut dinamakan spesifikasi teknis. Peran spesifikasi teknis ini menjadi sangat penting bagi kedua belah pihak karenanya diperlukan kecermatan dalam penyusunannya sehingga tidak menjadikan salah satu pihak kurang diuntungkan. Berdasarkan hal tersebut, sepatutnya dokumen ini dikaji lebih mendalam tentang beberapa aspek yang mendasar, diantaranya adalah penggunaan kata/kalimat yang dapat merugikan salah satu pihak dalam arti implisit maupun eksplisit, perimbangan risiko yang ditimbulkan oleh klausula-klausula yang telah disepakati.

APAKAH SPESIFIKASI ITU ?


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia spesifikasi adalah perincian tentang rencana [1], jika dikaitkan dengan sebuah produk maka dapat diartikan sebagai perincian tentang rencana dari sebuah produk. Dalam industri jasa konstruksi produk yang dihasilkan adalah bangunan fisik, yang terdiri dari berbagai komponen utama bangunan (fondasi, sloof, kolom, balok, plat) dan komponen arsitekturalnya (dinding, kusen, plafon, lampu, penutup lantai dan lainnya). Komponen bangunan utama maupun arsitektural proses produksi dilakukan setelah terjadi kesepakatan antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam batasan biaya, waktu dan mutu yang telah ditetapkan. Tiga batasan inilah yang kemudian dikenal dengan triple constrain dalam proyek konstruksi. Tindakan nyata dari penyedia jasa sebagai usaha pemenuhan triple constrain ini umumnya dibutuhkan sumberdaya dan organisasi. Sumberdaya minimum dalam proyek konstruksi adalah : (a) material, (b) alat, (c) pekerja, (d) metoda, (e) uang. Material sebagai bahan utama pembentuk fisik bangunan membutuhkan dana berkisar 60 % dari biaya proyek, sehingga pengadaannya perlu diberikan sebuah pedoman agar kualitasnya sesuai dengan harapan dari pengguna jasa. Dokumen inilah yang selanjutnya disebut dengan spesifikasi. Sebuah pertanyaan sederhana yang perlu dijawab adalah mengapa perlu mempelajari spesifikasi ? .

DEFINISI SPESIFIKASI
Spesifikasi dapat didefinisikan sebagai deskripsi secara tertulis dari sebuah produk (dalam industri jasa berupa bangunan fisik) atau metoda secara lengkap sehingga dapat digunakan sebagai acuan oleh penyedia jasa untuk memenuhi semua keinginan pengguna jasa. Spesifikasi dapat berupa sebuah gambar, sebuah model, atau paparan secara tertulis [3]. 2

W u l f r a m I. E r v i a n t o

Ketiga hal tersebut diatas dapat terpisah satu sama lain atau saling melengkapi. Apabila sebuah keinginan dapat diekspresikan menggunakan sebuah gambar dan pihak lain yang akan memenuhi harapan tersebut dapat memahaminya maka gambar tersebut merupakan spesifikasi. Pada umumnya kombinasi antara gambar dan paparan tertulis lebih dapat memberikan informasi yang akurat dalam pemenuhan harapan pihak pengguna jasa.

TUJUAN ADANYA SPESIFIKASI


Spesifikasi merupakan dokumen legal yang harus dipenuhi dan merupakan bagian dari sebuah kontrak antara pengguna jasa dengan penyedia jasa/kontraktor. Tujuan utama adanya spesifikasi adalah menyamakan persepsi antara pengguna jasa dengan penyedia jasa, hal ini menjadi sangat penting mengingat karakteristik proyek konstruksi berbeda dengan industri manufaktur [4]. Bagi penyedia jasa, spesifikasi merupakan pedoman dalam pemenuhan harapan/keinginan dari pengguna jasa melalui proses pelaksanaan kegiatan di lokasi pekerjaan yang didasarkan pada gambar-gambar rencana dan spesifikasi. Gambar rencana sebagai pedoman untuk mewujudkan aspek bentuk, dimensi bangunan sedangkan spesifikasi sebagai pedoman untuk mewujudkan aspek kualitas bangunan. Bagi estimator, spesifikasi menjadi hal yang sangat penting dikarenakan hal tersebut menyatakan kualitas dari material yang akan digunakan. Notasi untuk material tertentu dituliskan/digambarkan sama meskipun dari aspek kualitasnya berbeda, hal ini akan menjadi sumber konflik apabila tidak ada penjelasan tertulis yang merepresentasikan tentang kualitas material tersebut. Misalnya cat yang akan digunakan untuk sebuah dinding, dalam gambar hanya dituliskan warna catnya saja sedangkan penjelasan tentang kualitas cat yang akan digunakan dituangkan dalam spesifikasi. Implikasi dari hal ini tentu saja pada masalah harga material itu sendiri yang secara keseluruhan akan mempengaruhi harga bangunan.

JENIS SPESIFIKASI
Menuangkan dalam sebuah spesifikasi para pembuat spesifikasi yang mempunyai latar belakang dan pengalaman berbeda akan menghasilkan paparan yang berbeda, selain itu metoda untuk mewujudkannya juga akan berbeda. Berbagai cara penyedia jasa/konsultan menuliskan spesifikasi dari seluruh komponen bangunan sebuah proyek. Berbagai jenis spesifikasi yang dapat dimanfaatkan untuk merepresentasikannya diantaranya adalah [2] : (a) performance specification, (b) descriptive specification, (c) brand-name specification, (d) closed specification, (e) open specification, (f) reference specification, (g) combination specification, (h) procedure specification, (i) end result specification.

Performance specification, spesifikasi jenis ini berupa paparan kinerja dari produk itu

sendiri, tidak mensyaratkan proses pembuatan produknya melainkan hanya difokuskan pada pemenuhan kriteria yang disyaratkan oleh pengguna jasa. Descriptive specification, spesifikasi jenis ini berupa paparan secara rinci dan lengkap terhadap suatu produk, difokuskan pada pemenuhan aspek teknis dan aspek estetika. Brand-name specification, spesifikasi jenis ini digunakan dengan cara menyebut nama produk yang diberikan oleh pabrik atau menyebutkan nama pabrik dan nomor kode yang yang diberikan oleh pabrik. Closed specification, spesifikasi jenis ini dibedakan menjadi dua yaitu : (a) spesifikasi tunggal dan (b) spesifikasi ganda. Open specification, spesifikasi ini merupakan kebalikan 3

W u l f r a m I. E r v i a n t o

dari closed specification, disebut dengan open karena semua pabrik yang memproduksi barang dengan jenis yang sama dapat digunakan. Performance specification dan descriptive specification termasuk dalam open specification. Reference specification, spesifikasi jenis ini menunjuk pada nomor/kode dari spesifikasi yang telah dipublikasikan. Combination specification, sangat memungkinkan digunakan kombinasi dari beberapa jenis spesifikasi secara bersamaan. Hal yang jelas tidak mungkin melakukan kombinasi antara spesifikasi terbuka dengan tertutup, tetapi memungkinkan menggabungkan spesifikasi kinerja, deskripsi dan referensi. Misalnya saja sebuah produk yang disyaratkan secara spesifik bentuk fisiknya namun juga mengenai kinerjanya.

INTERPRETASI SPESIFIKASI
Bagian terpenting setelah spesifikasi selesai disusun adalah terciptanya pemahaman yang sama antara pembuat spesifikasi dengan pengguna spesifikasi, dalam hal ini adalah penyedia jasa. Tidak jarang spesifikasi menjadi sumber perselisihan antar pihak di lapangan, hal ini terjadi dikarenakan terganggunya proses komunikasi antar pihak. Pembuat spesifikasi sudah seharusnya memaparkan seluruh keinginan pengguna jasa melalui bahasa tulis sedemikian rupa sehingga dapat menunjuk pada sesuatu yang spesifik. Harus dihindari dalam penyusunan spesifikasi adalah terciptanya arti samar, arti ganda, atau bahkan tidak ada artinya. Spesifikasi yang memuat arti ganda sebaiknya dihindari, kondisi demikian ini yang menyebabkan timbulnya perselisihan antar pihak dan apabila tidak dapat diselesaikan secara musyawarah maka akan dilanjutkan dengan proses tuntut menuntut yang tentunya akan merugikan kedua belah pihak. Spesifikasi adalah sesuatu yang sangat berarti bagi berbagai pihak yang berkepentingan, apabila tidak terdefinisi dengan baik maka akan terjadi distorsi dari keinginan pengguna jasa pada setiap tahapan proyek.

ISI RENCANA KERJA DAN SYARAT


Rencana Kerja dan Syarat (RKS) ditempatkan sebagai dokumen penting selain gambar rencana sebagai kelengkapan dari dokumen tender. Keberadaannya sangat menentukan kepentingan dari berbagai pihak yang akan terlibat dalam realisasi pekerjaan, dimulai sejak tahap awal dari proses realisasi ide dari pemilik proyek. RKS ini diperlukan tidak hanya pada pekerjaan baru saja, namun juga diperlukan untuk pekerjaan perbaikan dan renovasi bangunan, pekerjaan pemeliharaan dan pekerjaan-pekerjaan lain yang spesifik (listrik, pemipaan, gas, mesin). Umumnya, isi dari RKS terdiri dari lima bagian, yaitu : (1) keterangan, dalam bagian ini dipaparkan mengenai pihak-pihak yang terlibat didalamnya, yaitu pemberi tugas, konsultan perencana, konsultan pengawas, kontraktor. Termasuk juga hak dan kewajiban dari setiap pihak yang terlibat. Hal yang kedua dituliskan lampiran-lampiran yang disertakan, dengan menyebutkan macam-macam gambar dan jumlah selengkapnya. Hal ini harus disampaikan sebagai tindakan antisipasi apabila dalam dokumen tender terdapat ketidaklengkapan gambar (2) penjelasan umum, hal-hal yang dipaparkan dalam bagian ini antara lain adalah : (a) jenis pekerjaan, informasi tentang pekerjaan yang akan dikerjakan apakah itu bangunan gedung, bangunan jalan, bangunan jembatan atau yang lain perlu disampaikan disini, (b) peraturan-peraturan yang digunakan baik yang bersifat nasional maupun lokal/setempat; penjelasan mengenai berita acara penjelasan pekerjaan dan keputusan akhir yang digunakan, (c) status dan batas-batas lokasi pekerjaan beserta patok duga yang 4

W u l f r a m I. E r v i a n t o

digunakan, hal ini bagian terpenting pada saat kontraktor akan memulai pekerjaannya dikarenakan implikasinya sangat besar terhadap perencanaan pelaksanaan. (3) peraturan teknis, rincian dari setiap bagian pekerjaan yang akan dilaksanakan dimulai pekerjaan persiapan sampai dengan pekerjaan penyelesaian. Kadangkala disebutkan pula metoda kerja pelaksanaan pekerjaan, bahan-bahan yang akan digunakan beserta persyaratannya. (4) syarat pelaksanaan, penjelasan lengkap mengenai (a) rencana pelaksanaan pekerjaan, misalnya pembuatan time schedule, perlengkapan kantor, ketersediaan obatobatan, peralatan pemadam kebakaran, perlengkapan di lapangan sesuai dengan peraturan kesehatan dan keselamatan kerja. (b) persyaratan dan pemeriksaan bahan yang akan digunakan, baik secara visual maupun laboratorium beserta jumlah sample yang harus diuji. (c) rencana pengaturan pelaksanaan di tempat pekerjaan, misalnya letak dan besar kantor proyek dan direksi, system aliran barang di lokasi pekerjaan, letak peralatan konstruksi, lokasi bedeng pekerja, bengkel kerja, tempat-tempat penyimpanan material beserta sistemnya. (5) peraturan administrasi, dijelaskan tentang teknik dan tata cara administrasi yang harus dilakukan selama pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan instansi pemilik proyek. Ketentuan administrasi antara proyek swasta dengan proyek pemerintah tentunya akan berbeda, esensinya adalah bagaimana cara mempertanggungjawabkan kepada pihak lain. Dalam peraturan administrasi dibedakan pula antara peraturan administrasi keuangan dan teknis. Administrasi keuangan mencakup hal-hal sebagai berikut : harga penawaran termasuk didalamnya biaya pelelangan, ketentuan apabila terjadi pekerjaan tambah kurang, persyaratan yang harus dipenuhi dari setiap jenis jaminan yang digunakan (tender bond, performance bond), ketentuan mengenai denda yang disebabkan karena keterlambatan, kelalaian pekerjaan, pemutusan kontrak, pengaturan pembayaran kepada kontraktor, resiko akibat naiknya harga upah dan bahan. Administrasi teknis memuat hal-hal sebagai berikut : ketentuan apabila terjadi perselisihan beserta cara-cara penyelesaiannya, syarat-syarat penawaran dan pelulusan pekerjaan, tata cara pelelangan (kelengkapan surat penawaran, ketentuan penyampaian dokumen penawaran dan sampul penawaran, syarat peserta lelang dan sangsi yang harus diberikan apabila melakukan pelanggaran, hak sanggah dan kegagalan pelelangan, persyaratan pengadaan subkontraktor dan kualifikasinya. Hal lain yang dijelaskan adalah peraturan penyelenggaraan, misalnya pembuatan laporan kemajuan pekerjaan (baik format maupun isi pelaporan), cara penyelenggaraan penyerahan pekerjaan, cara pembuatan time schedule.

DATA DAN ANALISIS DATA


Penelusuran data dilakukan terhadap beberapa spesifikasi untuk jenis proyek bangunan gedung. Pertimbangan utama dalam pengumpulan data adalah mendapatkan pernyataan yang mempunyai arti ganda atau arti samar. Media internet dan data cetak pada proyekproyek yang telah selesai dilaksanakan merupakan sarana dalam melakukan pengumpulan data. Dari penelusuran ditemukan pernyataan-pernyatan seperti pada tabel 1. Tabel 1 : Temuan arti samar dan arti ganda pada bangunan gedung
BAB 1 2 3 JENIS PEKERJAAN Lingkup Pekerjaan Pembersihan Lapangan Pengamanan Lapangan dan SUB BAB 3 1 15 KLAUSULA 17 5 15 ARTI SAMAR 1 % 5.88 0.00 0.00 RISIKO Kontraktor -

W u l f r a m I. E r v i a n t o

BAB 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

JENIS PEKERJAAN Pengadaan Sarana Penentuan Peil dan Ukuran Tanah Pondasi Konstruksi Beton Rangka Atap, Penutup Atap dan Talang Batu Bata Finishing Batuan Plesteran Kayu Rangka dan Penutup Plafond Lantai dan Tile Penggantung dan Pengunci Partisi, Besi dan Aluminium Cat dan Kaca Jaringan Pipa dan Sanitary Fixtures Saluran Drainasi Penangkal Petir Listrik Fire Alarm Fire Hydrant dan Fire Extinguisher Lain-lain

SUB BAB 3 4 4 2 4 4 3 8 2 7 3 6 6 7 17 4 6 7 4 2 1 123

KLAUSULA 3 11 13 20 21 19 4 12 10 7 3 6 6 7 29 4 6 22 4 2 1 247

ARTI SAMAR 2 2 1

% 0.00 18.18 15.38 5.00 0.00

RISIKO Kontraktor Kontraktor Kontraktor Kontraktor Kontraktor Kontraktor Kontraktor Kontraktor Kontraktor Kontraktor Kontraktor Kontraktor -

2 1 1 2 1 2 3 1 2 21

10.53 25.00 8.33 20.00 14.29 66.67 50.00 0.00 14.29 6.90 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10.85

Tabel 2 : Pernyataan yang berpotensi menimbulkan konflik


No 1 PERNYATAAN PEKERJAAN ASESORIS Slot pintu digunakan setara merk kuda Terbang, harus dengan INTERPRETASI Pernyataan Setara merk tidak jelas ukuran kesetaraannya (kualitas atau harga) Tidak jelas yang dimasud setara, dalam hal kualitas atau harga Ukuran pengupasan permukaan tanah tidak jelas. RISIKO Risiko lebih besar berada pada pihak penyedia jasa

persetujuan konsultan pengawas.

Slot tanam untuk daun pintu selain pintu KM/WC, menggunakan merk SESS dengan handel yang menyatu dari jenis yang setara dengan yang terpasang pada bangunan yang sudah ada. PEKERJAAN TANAH Semua permukaan lapangan dikupas, agar bebas dari unsur-unsur perusak (akar-akar tanaman atau rumputrumputan). Bahan galian dari daerah pembangunan dapat dipergunakan, bila memadai untuk urugan dan

Risiko lebih besar berada pada pihak penyedia jasa.

W u l f r a m I. E r v i a n t o

No

PERNYATAAN penanggulan. Bahan urugan harus bersih dari unsur-unsur perusak dan harus disetujui Tim Pengawas. PEKERJAAN FONDASI BATU KALI Bahan batu kali memenuhi syaratsyarat : 1. Bahan batu adalah sejenis batu yang keras, berat dan berwarna kehitam-hitaman dan mempunyai muka lebih dari 3 (tiga) muka. 2. Tidak ringan dan porous. 3. Bahan asal adalah batu besar yang kemudian dibelah/dipecah-pecah menjadi ukuran normal menurut tata cara pekerjaan yang bersangkutan. 4. Memenuhi Peraturan Umum Pemeriksaan Bahan Bangunan (NI.3-1970). PASANGAN BATA Bahan batu bata harus memenuhi syarat-syarat : a. Berkualitas baik terlihat dari warna pembakaran dan kematangan pada bagian tengah serta persentase yang pecah sampai ke lokasi proyek maksimal 5 %. PENUTUP LANTAI Lantai basement, I, II, III, dan IV menggunakan tegel keramik kualitas satu, ukuran 30x30 cm2 merk Roman atau yang sekualitas. PEKERJAAN PARTISI Partisi ruang kayu terbuat dari rangka kayu kamper ukuran 5/7 cm, ditutup panel dobel triplex 9 mm, dan diisi dengan glasswool. KAWAT BRONJONG a) Haruslah baja berlapis seng yang memenuhi AASHTO M279 Kelas 1, dan ASTM A239. Lapisan galvanisasi minimum haruslah 0,26 kg/m2. b) Karakteristik kawat bronjong adalah : Tulangan tepi, diameter : 5,0 mm, 6 SWG Jaringan, diameter4,0 mm, 8 SWG Pengikat, diameter2,1 mm, 14 SWG Kuat Tarik4200 kg/cm2 Perpanjangan diameter10% (minimum) c) Anyaman : Anyaman haruslah merata

INTERPRETASI

RISIKO

Kekerasan batu kali tidak ada parameter yang pasti Berat batu kali tidak ada parameter yang pasti. Porousitas tidak terukur dengan baik

Risiko lebih besar berada pada pihak penyedia jasa

Tidak jelas definisi berkualitas baik Warna pembakaran yang seperti apa?

Tidak jelas maksud dari sekualitas. Tidak jelas mengenai corak dan tekstur keramik. Tidak ada spesifikasi yang jelas dari glasswool Jelas

Risiko lebih besar berada pada pihak penyedia jasa

Risiko lebih besar berada pada pihak penyedia jasa Risiko berimbang

W u l f r a m I. E r v i a n t o

No

PERNYATAAN berbentuk segi enam yang teranyam dengan tiga lilitan dengan lubang kira-kira 80 mm x 60 mm yang dibuat sedemikian rupa hingga tidak lepaslepas dan dirancang untuk diperoleh kelenturan dan kekuatan yang diperlukan. Keliling tepi dari anyaman kawat harus diikat pada kerangka bronjong sehingga sambungansambungan yang diikatkan pada kerangka harus sama kuatnya seperti pada badan anyaman. d) Keranjang haruslah merupakan unit tunggal dan disediakan dengan dimensi yang disyaratkan dalam gambar dan dibuat sedemikian sehingga dapat dikirim ke lapangan sebelum diisi dengan batu. BATU Batu untuk pasangan batu kosong dan bronjong harus terdiri dari batu yang keras dan awet dengan sifat sebagai berikut : a) Keausan agregat dengan mesin Los Angeles harus kurang dari 35 %. b) Berat isi kering oven lebih besar dari 2,3. c) Peyerapan Air tidak lebih besar dari 4 %. d) Kekekalan bentuk agregat terhadap natrium sulfat atau magnesium sulfat dalam pengujian 5 siklus (daur) kehilangannya harus kurang dari 10 %. Batu untuk pasangan batu kosong haruslah bersudut tajam, berat tidak kurang dari 40 kg dan memiliki dimensi minimum 300 mm. Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan batu yang ukurannya lebih besar jika kecepatan aliran sungai cukup tinggi. LAIN-LAIN Hal-hal yang belum diatur atau belum tercantum dalam persyaratan Teknis Bangunan, tetapi ada pada gambar, tetap dianggap mengikat. Sedang jika dalam hal ini belum tercantum sama sekali, sedang dalam pelaksanaan pekerjaan diperlukan, maka peraturan atau gambar dimaksud akan disusulkan dan ditentukan kemudian oleh Tim Perencana dan atas persetujuan Tim Pengawas

INTERPRETASI

RISIKO

Jelas

Risiko berimbang

10

Tidak jelas status tambahan gambar yang dimasud, apakah dianggap termasuk dalam kontrak atau tambahan pekerjaan ?

W u l f r a m I. E r v i a n t o

Dari paparan data dalam tabel 1 terdapat 123 BAB dengan 247 klausula, sebanyak 21 klausula mengandung arti samar/tidak jelas. Hal ini menyebabkan penyedia jasa/kontraktor harus menanggung risiko yang besar finansialnya belum dketahui. Dari semua klausula yang ada tidak nampak risiko yang harus ditanggung oleh pengguna jasa selain tidak dapat dipenuhinya kualitas hasil pekerjaan dari penyedia jasa. Jika terjadi sesuatu yang diluar prediksi dari penyedia jasa/kontraktor, salah satu jalan keluar dalam menyelesaikannya adalah dengan mengurangi kualitas pada beberapa pekerjaan yang memungkinkan (tidak mudah terdeteksi secara visual). Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan aspek finansial antara rencana anggaran biaya dengan rencana anggaran pelaksanaannya. Posibilitas untuk mengurangi kualitas produk ini tidak mungkin dilakukan dalam industri manufaktur yang disebabkan proses dilaksanakan sebelum transaksi terjadi, sedangkan dalam industri jasa konstruksi jasa proses terjadi kemudian setelah transaksi. Ditinjau dari besarnya prosentasenya (10,85%) kiranya tidak terlalu banyak klausula yang tidak jelas, namun jika dilihat dari aspek finansialnya tidak serta merta dapat dijelaskan dengan besarnya prosentasi ini. Misalnya saja satu klausula yang tidak jelas dan berisiko besar pada aspek pembiayaannya yang disebabkan karena volume pekerjaannya cukup besar (seperti dalam Bill of Quantity). Salah satu klausula yang mempunyai arti samar adalah Lantai basement, I, II, III, dan IV menggunakan tegel keramik kualitas satu, ukuran 30x30 cm 2 merk Roman atau yang sekualitas.. Dalam hal ini, timbulnya ketidak jelasan akibat pernyataan sekualitas, apakah sekualitas dalam harga keramik atau sekualitas dalam hal mutu keramik. Sebagai ilustrasi, seandainya luas lantai setiap tingkat adalah 1000 m 2, akibat klausula tersebut penyedia jasa/kontraktor menanggung selisih harga Rp.1000; (karena lebih mahal jika dibandingkan dengan rencana anggaran biaya) maka total biaya yang ditanggung akibat satu klausula tersebut adalah 1000 m 2 x 5 x Rp.1.000; = Rp.5.000.000;.

KESIMPULAN
Berdasarkan kajian dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : (1) Pernyataan yang mengandung arti samar pada item : (a) pekerjaan lantai dan tile sebesar 66,67%; (b) penggantung dan pengunci sebesar 50%; (c) pekerjaan finishing batuan sebesar 25% dan (d) pekerjaan kayu sebesar 20%. (2) Dari semua klausula yang tidak jelas seluruh risiko ditanggung oleh penyedia jasa/kontraktor. (3) Klausula yang mengandung arti samar ditimbulkan oleh kalimat dengan menggunakan kata setara dan disetujui oleh pengawas.

DAFTAR PUSTAKA
1. .., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gitamedia Press, 2. Ayers C., 1975, Specification for Architecture Engineering and Construction , McGrawHill, Inc. 3. Ervianto W.I., 2005, Manajemen Proyek Konstruksi Edisi Revisi, Penerbit ANDI, Yogyakarta. 4. Fisk E.R., 1992, Construction Project Administration, Fourth Edition, Prentice Hall,New Jersey.