Anda di halaman 1dari 6

Inocculation Theory ( Teori Inokulasi )

Teori Inokulasi atau teori suntikan pada mulanya pertama kali ditampilkan oleh Mc Guire yang dimana ia mengambil analogi dari peristiwa medis. Teori ini dicontohkan seperti orang yang secara fisik tidak siap untuk menahan penyakit infeksi seperti cacar dan polio, memerlukan inokulasi (suntikan) vaksin untuk merangsang mekanisme daya tahan tubuhnya supaya dapat melawan penyakit tersebut.

Demikian pula halnya dengan orang yang tidak memiliki informasi mengenai suatu hal atau tidak menyadari posisi mengenai hal tersebut, maka ia akan lebih mudah untuk dipersuai atau dibujuk. Oleh karena itu ia tidak siap untuk menolak argumentasi si persuader atau pembujuk. Suatu cara membuatnya agar membuatnya tidak mudah kena pengaruh adalah menyuntiknya dengan argumentasi balasan (counterarguments). Dengan kata lain lebih baik mempersenjatai diri dengan argument sehingga tidak mudah terbujuk. Menurut Mc Guire (1964) orang dapat di inokulasi untuk melawan persuasi, dan para politikus sering kali melakukanya. Mereka memperingatkan khalayaknya bahwa lawan politiknya munkin akan mencoba mempersuasi mereka dengan beberapa pandangan. Mereka memberitahu pada khalayaknya apa yang mungkin dikatakan oleh lawanpolitiknya seraya memberikan alasan mengapa lawannya itu salah. Dengan demikian para politisi berharap dapat menyuntik para pengikutnya dengan argumentasi balasan agar kemudian dapat digunakan untuk menyangkal argumentasi lawan.

percakapan dibawah ini merupakan contoh bagaimana seseorang menggunakan inokulasi dalam

persuasi antarpribadi (Reardor, 1987)

Andre : maukah anda makan bersama saya nanti malam? Jane : apakah anda tidak pergi dengan Diana? Andre : tidak, saya dan diana sudah tidak berhubungan lagi. Apakah anda kenal dia? Jane : ya, kami sama sama tinggal di asrama. Andre : oh mungkin dian mengatakan kepada anda bahwa saya bukan tipe anda. Saya harap anda punya penilaian sendiri tentang hal itu. Setelah putus hubungan biasanya orang cenderung mempunyai perasaan buruk. Nampaknya sekarang ini dian pun demikian. Jane :saya mengerti, maukah anda menelpon saya nanti malam. Nanti saya akan beritahu anda tentang ajakan anda makan malam itu.

**dari dialog tersebut nampak bahwa Andre mencoba mempersiapkan Jane dengan ucapan ucapan yang mungkin didengarnya dari dian yang dapat membuatnya enggan bertemu denganya**

Dalam teori inokulasi seseorang memberikan argument untuk menyerang argument lawan dengan tujuan agar dapat saling memengaruhi lawan bicara. Hal ini disebut juga sebagai komunikasi persuasif, dimana pengertian komunikasi persuasif itu sendiri adalah bentuk komunikasi yang mempunyai tujuan khusus dan terarah untuk mengubah perilaku komunikan sebagai sasaran komunikasi. Istilah persuasi bersumber dari perkataan Latin, persuasio, yang

berarti membujuk, mengajak atau merayu. Pengetahuan tentang komunikasi persuasi itu sendiri perlu diketahui oleh mahasiswa dan mereka yang berminat untuk mendalami bidang komunikasi. Pengetahuan ini memberikan dasar-dasar untuk pengetahuan lebih lanjut di bidang ilmu komunikasi yang memiliki tujuan tertentu, lebih mendalam untuk mengubah perilaku komunikan dan lebih terarah dibandingkan dengan komunikasi umum. Persuasi bisa dilakukan secara rasional dan secara emosional. Dengan cara rasional, komponen

kognitif pada diri seseorang dapat dipengaruhi. Aspek yang dipengaruhi berupa ide ataupun konsep. Persuasi yang dilakukan secara emosional, biasanya menyentuh aspek afeksi, yaitu hal yang berkaitan dengan kehidupan emosional seseorang. Melalui cara emosional, aspek simpati dan empati seseorang dapat digugah. Dari beberapa definisi komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli, tampak bahwa persuasi merupakan proses komunikasi yang bertujuan untuk mempengaruhi sikap, pendapat dan perilaku seseorang, baik secara verbal maupun nonverbal. Komponen-komponen dalam persuasi meliputi bentuk dari proses komunikasi yang dapat menimbulkan perubahan, dilakukan secara sadar ataupun tidak sadar, dilakukan secara verbal maupun nonverbal. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam komunikasi persuasi meliputi kejelasan tujuan, memikirkan secara cermat orang-orang yang dihadapi, serta memilih strategi yang tepat. Ruang lingkup kajian ilmu komunikasi persuasif meliputi sumber, pesan, saluran/media, penerima, efek, umpan balik, dan konteks situasional. Pendekatan yang digunakan dalam komunikasi persuasif adalah pendekatan psikologis. Tiga fungsi utama komunikasi persuasif adalah control function, consumer protection function, dan knowledge function.

contoh studi kasus tentang teori ini : [ Senin, 05 Juli 2010 ] Jalan Masih Mulus, Diaspal Lagi SIDOARJO - Anggapan bahwa Pemkab Sidoarjo lebih memperhatikan kawasan kota ketimbang

pinggiran sudah menjadi rahasia umum. Buktinya, beberapa ruas jalan di sekitar Alun-Alun Sidoarjo yang masih mulus diaspal lagi sehingga lebih tinggi. Ironisnya, banyak jalan di kawasan pinggiran yang dibiarkan rusak. Berdasar pantauan Jawa Pos, beberapa ruas jalan yang ditinggikan adalah Jalan dr Soetomo dan Untung Suropati. Dua jalan tersebut relatif masih mulus. Tidak terlihat lubang besar seperti yang ada di jalan di kawasan pinggiran. Bahkan, nyaris semua badan jalan tidak rusak. Meski demikian, jalan itu dimuluskan lagi. Pemkab melapisinya dengan aspal hotmix. Proyek tersebut dikerjakan siang hari. Hal yang sama dilakukan terhadap jalan di depan gedung DPRD Sidoarjo. Kepala Dinas PU Bina Marga Sidoarjo Sigit Setiawan mengatakan, proyek pengaspalan tersebut hanyalah pemeliharaan, bukan peningkatan status. Menurut dia, sepintas Jalan dr Soetomo dan Untung Suropati terlihat bagus. "Tapi, permukaannya sebenarnya sudah retak-retak," ungkap Sigit. Dia menjelaskan, jika lapisannya hotmix dan rusaknya merata, jalan tidak bisa ditambal sebagian dan harus diperbaiki seluruhnya. Di jalan tersebut, pemkab juga sekaligus mengukur tinggi permukaaan jalan. Terkait dengan penambalan sejumlah ruas jalan di kawasan pinggiran, mantan kepala dinas kebersihan dan pertamanan itu mengatakan, hal tersebut hanya bersifat untuk sementara waktu. Seharusnya, terang dia, jalan itu sudah saatnya ditinggikan. Namun, karena anggarannya tidak cukup, yang dilakukan hanya pemeliharaan rutin. (eko/c9/ib)

Analisis : Dari contoh kasus di atas dapat dilihat bahwa terdapat pola pandang masyarakat yang menganggap Pemkab Sidoarjo lebih memperhatikan kawasan kota ketimbang desa dengan dilakukanya nya perbaikan ruas jalan di sekitar alun-alun sidoarjo, yang dinilai tidak terlalu perlu itu untuk dilakukan karena jalan masih terlihat dalam kondisi bagus. Dalam hal ini pandangan masyarakat ini

termasuk argument publik. Tetapi dari keterangan kepala Dinas PU Bina Marga Sidoarjo Sigit Setiawan, yang menyatakan beberapa alasan-alasan tetap dilakukanya perbaikan jalan tersebut. Adalah jelas disini sdr Sigit melakukan apa yang disebut dengan teori inokulasi atau mempersenjatai diri dengan argument agar tindakan tersebut dapat dibenarkan oleh publik. ia mencoba meyakinkan masyarakat dengan argument argumentnya tersebut bahwa pengerjaan jalan tersebut hanya merupakan perawatan, sehingga diharapkan pandangan masyarakat bahwa Pemkab Sidoarjo lebih mengutamakan kawasan kota daripada kawasan desa dapat terbantahkan dengan argumentnya. usaha ini adalah untuk membantah argument publik dan melawan dengan argumentnya sehingga antara dia dan masyarakat tercipta suatu kegiatan saling memengaruhi atau disebut pesuasi terkait posisinya yang sebagai kepala PU Bina Marga dan mewakili pemkab Sidoarjo. Dari kasus di atas terlihat bahwa dalam komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh sdr Sigit dengan pihak wartawan sebagai media menjadikan komunikasi ini tidak hanya antar pribadi tetapi juga menjadi untuk konsumsi publik, karena argument dari sdr Sigit nantinya digunakan untuk menyerang atau melawan pendapat publik atau masyarakat mengenai pandangan yang dianggapnya tidak benar tersebut melalu wartawan sebagai media.

Daftar Pustaka
http://imron46.wordpress.com/2008/09/24/model-model-komunikasi/ A.S. Achmad. (1990). Manusia dan Informasi. Ujung Pandang: Hasanuddin University Press. Effendi, O.U. (1986). Dinamika Komunikasi. Bandung: Remadja Karya. http://file.upi.edu/Direktori/A - FIP/JUR. KURIKULUM DAN TEK. PENDIDIKAN/

http://komunikasi-indonesia.org/?p=372