P. 1
Asma

Asma

|Views: 120|Likes:

More info:

Published by: leo randa sebaztian simangunsong on Nov 09, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2012

pdf

text

original

Asma

Sebaztian'7

2011
[Type the abstract of the document here. The abstract is typically a short summary of the contents of the document. Type the abstract of the document here. The abstract is typically a short summary of the contents of the document.]

Kelompok 3 [Type the company address] [Type the phone number] [Type the fax number]

Laporan Tutorial Kelompok 3

Disusun Oleh
Ketua Sekretaris Anggota

:
: Leo Randa S. Simangunsong : Lidya Valentari D. Hutagalung : 1. Karina Agustin 2. Sudomo C. Situmorang 3. Yohani Aprillia Tambunan 4. Melva Anggreini Situmorang 5. Cici Elystia Sihombing 6. Desi Friska Sitorus 7. Katrin M. Sihombing 8. Enjelinawati Sibarani

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 2

Pemicu

:

Seorang anak laki-laki datang ke puskesmas dengan keluhan sesak napas dan batuk. Anamese sesak napas sudah berulang ulang dialaminya terutama bila ada perubahan cuaca dan menderita pilek. Serangan napas rata-rata 2 kali per bulan, sehingga dia tidak dapat masuk sekolah atau mengerjakan pekerjaannya sehari-hari. Riwayat famili ibu anak sewaktu masa anak-anak menderita sakit yang serupa. Pemeriksaan nampak seorang anak laki-laki umur 8 tahun sesak napas, denyut jantung 120 x/menit, pernapasan 24x/menit, ekspirasi lebih panjang dari inspirasi. Pada auskultasi terdengar wheezing pada seluruh lapangan paru. Ibu ingin tahu penyakit anaknya.

More Info :
Laboratorium darah: WBC: 7,900/mm3, RBC: 4,380 juta/mm3 HGB 12,5g/dl HCT 38% MCV 87 µm3, MCH 28,5 pg, MCHC 32,8 g/dl, RDW 14,4% PLT 372000/mm3, MPV 6,5 µm3 Differential telling: LYM 37,7% MON 7,8% NEU 50,5% EOS 3% BAS 1% X-foto thorax : gambaran paru lebih gelap atau lebih hitam (air trapping)

Masalah :
• Sesak napas dan batuk,sesak nafas sudah berulang-ulang yang dialami terutama bila ada perubahan cuaca dan menderita pilek • Serangan nafas rata-rata 2 x per bulan dan menganggu aktivitas sehari-hari • Riwayat penyakit keturunan : ibu anak suatu massa kanak-kanak mengalami penyakit asma • Pemeriksaan Fisik: -Auskultasi :terdengar wheezing pada seluruh lapangan paru -P.Radiologi : gambaran paru lebih gelap atau lebih hitam (air trapping)

Analisa Masalah

:

• SeSak nafas dan batuk  adanya alergi(asma),infeksi,gangguan emosi • Sesak nafas berulang-ulang yang dialami terutama bila ada perubahan cuaca dan

menderita pilek  adanya alergi (asma), infeksi • Riwayat penyakit keturunan ibu mengalami penyakit yang sama  adanya alergi • Auskultasi :terdengar wheezing pada seluruh lapangan paru  Karena adanya sumbatan pada jalan nafas • Gambaran paru lebih gelap atau lebih hitam pada foto thorax  adanya sumbatan di jalan napas  penumpukan udara di paru-paru

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 3

Hipotesa :
Asma

Learning Issue :
1. 2. 3. 4. Anatomi Trachea dan Bronkus Histologi Trachea dan Bronkus Fisiologi All About Asthma • Defenisi dan Klasifikasi Asthma • Etiologi, Sign and Symtoms Asthma • Patofisiology Asthma • Penegakan Diagnosa Asthma • Diagnosa Banding • Penatalaksanaan Asthma • Prognosis dan Komplikasi Asthma

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 4

Anatomi Trachea dan Bronkus

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 5

TRAKEA Letak : antara larynx dan pinggir cranial VTh 5 Panjang : ± 11 cm Diameter : 2 – 2,5 cm Merupakan cincin terbuka bentuk U ± 20 cincin Perdarahan : arteri vena thyroidea inferior Aliran getah bening : Lymphonodi pretracheale dan para tracheale

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 6

Depan Leher : • Isthmus gld.Thyroidea • V. Thyroidea inferior • A. Thyroidea ima • M. Sternothyroideus • M. Sternohyoideus • Fascia Cervicalis • Anastomis V. Jugularis anterior Depan Thorax : • Manubrium sterni • Thymus • V. Brachiocephalica • Arcus Aorta • A. Carotis comm kiri • Plexus cardiacus profundus Dorsal : Oesophagus Lateral Leher : • A. Carotis communis • Gld. Thyroidea lobus sinistra dan dekstra • Thyroidea • N. Recurrens Lateral Thorax : • Mediastinum superior • Pleura • N. Vagus Trakea tertekan pada : • Gld. Thyroidea • Arcus aorta • A. Anonyma BRONCHUS Cabang : • Bronchus lobaris • Bronchus segmentalis • Bronchus lobaris • Conducting bronchiolus Tkt. 1 • Conducting bronchiolus Tkt. 2 • Bronchiolus terminalis • Bronchiolus respiratorius

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 7

• • •

Ductus alveolaris Saccus alveolaris Alveolus

Perdarahan : arteri vena bronchialis Aliran getah bening : lymphonodi tracheo bronchiales Persarafan : serabut otonom plexus pulmonalis

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 8

Histologi Trachea dan Bronkus
Trachea

Gambar 1-1. Sediaan trakea yang memperlihatkan epitel respirasi dengan sel goblet dan sel silindris bersilia. Juga tampak kelenjar serosa di dalam lamina propria dan tulang rawan hialin. Cairan mukosa yang dihasilkan sel goblet dan sel kelenjar membentuk lapisan yang memungkinkan pergerakan silia untuk mendorong partikel asing keluar sistem pernafasan.

Trakea adalah saluran pendek (10-12 cm panjangnya) dengan diameter sekir 2 cm. Trakea dilapisi oleh epitel respirasi. Sejumlah sel-sel goblet terdapat di antara sel-sel epitelnya, dan jumlah tergantung ada tidaknya iritasi kimia atau fisika dari epitelium ( yang dapat meningkatkan jumlah sel goblet). Iritasi yang berlangsung dalam waktu yang lama dapat mengubah tipe sel dari tipe sel epitel berlapis pipih menjadi metaplasia. Pada lapisan epitel terdapat sel brush, sel endokrin (sel granul kecil ), sel klara (sel penghasil surfaktan) dan sel serous.

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 9

Lapisan-lapisan pada trakea meliputi lapisan mukosa,

lapisan submukosa dan

lapisan tulang rawan trakeal dan lapisan adventitia. Lapisan mukosa meliputi lapisan sel-sel epitel respirasi dan lamina propria. Lamina proprianya banyak mengandung jaringan ikat longgar dengan banyak serabut elastik, yang selanjutnya membentuk membran elastik yang menghubungkan lapisan mukosa dan submukosa. Pada submukosa terdapat kelenjar mukoserous yang mensekresikan sekretnya menuju sel-sel epitel.

Tulang rawan pada trakea berbentuk huruf C yang terdiri dari tulang rawan hialin. Ujung-ujung dorsal dari huruf C dihubungkan oleh otot polos dan ligamentum fibroelastin. Ligamentum mencegah peregangan lumen berlebihan, dan rawan trakea dapat mengalami osifikasi dengan bertambahnya umur. Lapisan adventitia terdiri dari jaringan ikat fibrous. Trakea bercabang dua yaitu dua bronkus utama kontraksi otot polos menyebabkan tulang rawan saling berdekatan. Hal ini digunakan untuk respon batuk. Tulang

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 10

Bronkus

Gambar 1-2. Struktur sebuah bronkus. Otot polos terdapat disepanjang percabangan bronkioli, termasuk bronkiolus respiratorius.

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 11

Gambar 1-3. Sediaan dinding bronkus yang memperlihatkan epitel respirasi dengan sel goblet dan sel-sel silindris bersilia. Jaringan ikat lamina propria mengandung kelenjar serosa dan otot polos (SM). Dibagian bawah gambar terlihat jelas potongan besar tulang rawan hialin.

Bronkus primer kiri dan kanan bercabang membentuk 3 bronkus pada paru-paru kanan dan 2 bronkus pada paru-paru kiri. Bronkus-bronkus ini bercabang berulang-ulang membentuk bronkus-bronkus yang lebih kecil, dan cabang-cabang terminalnya dinamakan bronkiolus. Masing-masing bronkiolus bercabang-cabang lagi membentuk 5 – 7 bronkiolus terminalis. Tiap-tiap bronkiolus terminalis bercabang menjadi 2 bronkiolus respiratorius atau lebih. Histologi bronkus terdiri dari lapisan mukosa, submukosa, dan lapisan adventitia. Lapisan mukosa terdiri dari lapisan sel-sel epitel silindris berlapis semu bersilia dengan lamina propria yang tipis (dengan banyak serabut elastin), limfosit yang tersebar dan berkas otot polos yang silang menyilang tersusun seperti spiral. Limfosit dapat berupa nodulus limfatikus terutama pada percabangan bronkus. Lapisan submukosa terdiri dari alveoli dari kelenjar mukosa dan seromukosa. Pada lapisan adventitia terdapat tulang rawan berupa lempeng-lempeng tulang rawan dan jaringan ikat longgar dengan serabut elastin.

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 12

Fisiologi
Inspirasi merupakan proses yang aktif yang melibatkan beberapa otot pernafasan yaitu otot diafragma yang dipersarafi oleh saraf frenikus dan otot intercostalis yang dipersarafi oleh saraf intercostalis.

otot-otot pernafasan terangsang untuk berkontraksi

diafragma bergerak kebawah volume rongga thorax meningkat

otot intercostalis eksternal iga terangkat keatas dan keluar rongga toraks meningkat

rongga torax mengembang paru mengembang tekanan intraalveolus menurun (lebih rendah dari tek. Atm) Sehingga udara mengalir masuk paru

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 13

Ekspirasi : pasif dan aktif Pasif Otot-otot inspirasi melemas relaksasi otot intercostalis eksternal dan diafragma penciutan paru tekanan intraalveolus meningkat (lebih tinggi dari tek. Atm) Udara dihembuskan keluar Aktif : untuk mengosongkan paru lebih sempurna dan lebih cepat Kontraksi otot-otot ekspirasi
Otot abdomen Mendorong diafragma Keatas Diafragma terangkat Kerongga thorax Ukuran rongga thorax Vertikal dinding dada rata dan ukuran rongga torax otot intercostalis internal menarik iga kebawah dan kedalam

Volume rongga torax Volume paru Tekanan intraalveolus (lebih besar dibanding pasif) Udara lebih banyak dihembuskan

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 14

Fisiologi batuk
Iritan(benda-benda asing) Merangsang serabut aferen Medula oblongata Serabut eferen (Fase Insiprasi) Terjadi inspirasi singkat 200-3500 mL (Fase kompresi) Epiglotis dan pita suara tertutup Kontraksi otot-otot abdomen dan intercostalis internus Tekanan paru-paru (Fase ekspirasi) Pita suara dan epiglotis terbuka aktif Udara keluar,getarkan jaringan saluran napas dan udara yang ada Suara batuk

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 15

All About Asthma
1. Defenisi dan Klasifikasi Asthma
a. Defenisi Asma
Menurut Simposium CIBA Pada Tahun 1950 : Asma adalah penyakit yang ditandai oleh obstrusi saluran napas yang reversibel, yang dapat teratasi secara spontan atau dengan pengobatan. Menurut WHO Pada Tahun 1975 : Asma adalah suatu keadaan kronik yang ditandai oleh bronkospasme rekuren akibat penyempitan lumen saluran napas sebagai respon terhadap suatu stimuli yang tidak menyebabkan penyempitan serupa pada kebanyakan orang Menurut Pedoman Nasional Asma Anak ( PNAA) 2004 : Asma adalah mengi berulang dan/atau batuk persisten dengan kharakteristik sebagai berikut: timbul secara episodik, cendrung pada malam/dini hari (nokturnal), musiman, setelah aktifitas fisik, serta terdapat riwayat asma atau atopi lain pada pasien/keluarganya. Menurut Global Initiative For Asthma (GINA) 2006 : Asma adalah gangguan inflamasi kronis saluran nafas yang disertai oleh peranan berbagai sel, khususnya sel Mast, Eosinofil, dan Limfosit T..

b. Klasifikasi Asma
Menurut GINA 2006 asma diklasifikasikan berdasarkan etiologi, derajat penyakit asma, serta pola obstruktif aliran udara di saluran napas. Pembagian derajat Asma menurut GINA adalah sebagai berikut : 1. Intermiten Gejala kurang dari 1 kali/minggu Serangan singkat Gejala nokturnal tidak lebih dari 2 kali/bulan (≤2kali)

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 16

2. Persisten Ringan

Gejala lebih dari 1 kali/minggu tapi kurang dari 1 kali/hari Serangan dapat mengganggu aktivitas dan tidur Gejala nokturnal > 2 kali/bulan 3. Persisten Sedang Gejala terjadi setiap hari Serangan dapat mengganggu aktivitas dan tidur Gejala nokturnal > 1 kali/minggu 4. Persisten Berat Gejala terjadi setiap hari Serangan sering terjadi Gejala asma nokturnal sering terjadi Menurut Pedoman Nasional Asma Anak Indonesia membagi asma menjadi 3 derajat penyakit : Tabel 1.1 Pembagian derajat penyakit asma pada anak menurut PNAA 2004.
No Parameter klinis, kebutuhan obat, dan faal 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. paru Frekuensi Serangan Lama Serangan Di antara serangan Tidur dan aktivitas Pemeriksaan Fisik diluar serangan Obat pengendali (Anti inflamasi) Uji faal paru ( diluar serangan) Variabilitas faal paru ( bila ada serangan) Asma Episodik Jarang (Asma ringan) < 1 x/bulan < 1 minggu Tanpa gejala Tidak terganggu Normal (tidak ada kelainan) Tidak perlu PEF/FEV1 > 80% Variabilitas > 15% Asma Episodik Sering (Asma Sedang) > 1 x/bulan ≥ 1 minggu Sering ada gejala Sering terganggu Mungkin terganggu ( ada kelainan) Nonsteroid/steroid hirupan dosis rendah PEF/FEV1 60-80% Variabilitas > 30% Asma Persisten (Asma Berat) sering Hampir sepanjang tahun, tidak ada remisi Gejala siang dan malam Sangat terganggu Tidak pernah normal Steroid hirupan/oral PEF/FEV1 <60% Variabilitas 20-30% Variabilitas > 50%

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 17

2.Etiologi, Sign and Symtoms
a. Etiologi
Faktor Resiko dan Faktor Pencetus Asma :  Faktor Resiko : ● Endogen Factor 1. Faktor Genetik 2. Atopy 3. Jenis Kelamin 4. Etnis ● Faktor Lingkungan 1. Asap rokok 2. Infeksi respiratorik 3. Indoor allergens 4. Polusi udara
 Faktor Pencetus(Triggers)

:

b. Sign and Symtoms
 Mengi pada saan menghirup nafas

 Riwayat batuk yang memburuk pada malam hari, dada sesak yang terjadi berulang, dan nafas tersengal-sengal  Hambatan pernafasan yang reversible secara bervariasi pada siang hari
 Adanya peningkatan gejala pada saat olahraga, infeksi virus, pemaparan

alergen, dan perubahan musim.  Terbangun pada malam hari dengan gejala seperti diatas

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 18

3Patofisiologi asma
Serangan yang sudah tersensitisasi Menghirup alergen/antigen Antigen + antibodi(IgE yang berikatan dengan sel mast) Pelepasan mediator kimia oleh sel mast Histamin zat anafilaksis Yang bereaksi lambat (Leukotrien) faktor kemotaktik eosinofilik bradikinin

Vasodilatasi kapiler

spasme otot polos Bronkiolus

diameter bronkiolus

inspirasi & ekspirasi

Permeabilitas kapiler Tahanan saluran napas Edema lokal sekresi mukus dispnea obstruksi CO2

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 19

4.Penegakan Diagnosa
 Anamnesis
• • • • Awal mula serangan, frekwensi serangan Faktor pencetus Riwayat atopi pada keluarga Jenis obat yang biasa diminum

 Pemeriksaan fisik
• • • • Tanda sesak nafas Wheezing expiratoir, experium memanjang Kadang didapatkan ronkhi Tanda-tanda infeksi saluran nafas

Pemeriksaan Penunjang
• • •
• •

Pemeriksaan darah tepi (hitung jenis, hitung eosinofil, kadar IgE total) Pemeriksaan sputum (peningkatan sel-sel radang eosinofil, netrofil, spiral Krushman, Creola bodies) Foto thorak (normal atau peningkatan bronchovascular pattern) Pemeriksaan faal paru (tanda obstruksi, PEFR, FEV1) Uji reversibilitas (pengukuran PEFR, FEV1 sebelum dan sesudah inhalasi agonis β 2)

• •

Uji kulit (Skin prick test terhadap beberapa alergen inhalasi, dan lain-lain) Uji provokasi bronkus (methacholine, histamine, udara dingin)

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 20

5.Differential diagnose (DD)
 Asma  Bronkopneumonisdialveolusparu-paru basah  TBC primer

6.Penanganan Asma

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 21

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 22

Penatalaksanaan : Non farmakology menghindari kontak dengan faktor-faktor pencetus Farmakology
a. Bronkodilator i. Simpatomimetik 1. Adrenalin 2. Efedrin 3. Orciprenalin(alupent) 4. Terbutalin(bricasma) 5. Salbutamol (Ventolin) β2 6. Fenoterol(berotec) 7. Clenbuterol(spirolpent) ii. Xanthine 1. Theophyllin(Quibron) 2. Aminophyllin iii. Antikolinergik 1. Iptropium bromide(Atrovent) b. Cortikosteroid i. Prednison ii. Hidrokortison iii. Kenacort iv. Oradexon v. Pulmicort vi. Aldexine c. Mukolitik i. OBP ii. OBH iii. Bisolvon iv. Mucopect v. Fluimucil vi. Banyak minum air

β2 selektif-agonis

Kelompok 3 Blok Respirology FK UHN Page 23

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->