Anda di halaman 1dari 4

GERAKAN KEBUDAYAAN UNTUK MEMBASMI KORUPSI

Oleh Emeraldy Chatra Pola Pikir Korup Ada dua elemen yang penting dalam kebudayaan yang umum dipahami orang, yaitu 1) pola berpikir dan 2) pola prilaku dan tindakan. Dalam suatu sistem budaya keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Dengan sendirinya, prilaku korup dan tindakan korupsi yang subur dalam masyarakat kita saat ini terkait dengan pola berpikir masyarakat. Bila kedua pola tadi telah saling menunjang, pada saat itulah korupsi dapat dikatakan telah membudaya: ia telah menjadi bagian dari sistem budaya. Jadi untuk melihat apakah korupsi sudah jadi budaya kita atau tidak, mari kita tinjau pola pikir masyarakat yang berhampiran dengan tindakan korupsi. Pola pikir apa yang ada dibalik korupsi? Pertama, pola pikir yang mengaburkan batasbatas dalam ruang abstrak maupun ruang kongkret. Pada pola ini orang tidak dapat lagi melihat garis batas antara yang wajar dengan yang tidak wajar, antara patut dengan tidak patut menurut ukuran umum (ruang abstrak), serta batas antara tempat buruk dengan tempat baik, tempat suci dan tempat kotor, tempat terlarang dengan tempat yang boleh dimasuki (ruang kongkret). Kedua, pola pikir yang tidak membedakan status pemilikan: orang tidak dapat lagi membedakan antara milik sendiri dengan milik orang lain, antara milik pribadi dengan milik publik. Ketiga, pola pikir yang tidak membedakan keabsahan sebuah tindakan di depan hukum, etika, dan norma agama: orang tidak lagi peduli status sebuah tindakan menurut hukum, etika dan norma agama. Semua tindakan dianggap absah, tidak memiliki konsekuensi sosial, psikis, maupun hukum. Keempat pola pikir yang menempatkan kepentingan individu atau kelompok lebih tinggi dibandingkan kepentingan masyarakat. Dalam pola ini orang tidak lagi mempedulikan kepentingan masyarakat karena diri sendiri maupun kelompoknya dianggap lebih penting. Sejauhmana keempat pola pikir ini ada dalam masyarakat dapat dilihat dari 1) ekspresi bahasa dan 2) tindakan-tindakan sosial sederhana yang seringkali tidak dianggap
1

bernilai penting. Baik dalam mengekspresikan pikiran dengan bahasa maupun dalam tindakan-tindakan sosial sederhana proses berpikir yang kompleks tidak terjadi, dan orang lebih menyandarkan diri kepada kebiasaan atau pikiran-pikiran yang sudah terpola dan mengkristal dikepalanya. Orang muda yang berbicara tidak sopan di depan orang tua, misalnya, boleh jadi melakukan hal yang tidak sepenuhnya disadari. Ia berbicara seperti itu mungkin karena tidak tahu batas antara pantas dengan tidak pantas menurut etika dan nilai-nilai budaya. Apakah tindakannya berangkat dari sebuah pola pikir atau tidak akan terungkap setelah motif tindakannya diketahui. Tindakan yang menunjukkan pola pikir biasanya sulit dijelaskan alasan normatifnya oleh si pelaku, karena umumnya orang jarang mempersoalkan secara kritis jalan pikirannya sendiri. Dalam mengekspresikan diri melalui bahasa dan melakukan tindakan sosial sederhana, faktor sosialisasi memegang peranan penting. Pergaulan intensif dengan orang-orang yang menggunakan bahasa kasar, atau bahasa spesifik-akademik dapat membuat orang terbiasa pula menggunakan bahasa-bahasa demikian. Begitu juga pergaulan dalam waktu panjang, apalagi sejak kecil dengan orang-orang yang tidak terlalu mempedulikan peraturan, tidak mementingkan disiplin, kejujuran, norma-norma agama, dan sebagainya. Pergaulan itu pada akhirnya membentuk kesadaran dan pola pikir yang tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di lingkungan pergaulan. Hanya sebagian kecil individu yang dapat menyimpang dari pengaruh lingkungannya. Dalam pola-pola pikir yang korup, kewajaran dan kepatutan tindakan tidak menggunakan ukuran umum, tapi ukuran spesifik yang berlaku di kalangan pelaku korupsi. Misalnya, si A mengatakan ia wajar atau patut dapat lebih banyak dari si B, padahal mereka sedang membicarakan hasil korupsi. Sementara menurut ukuran umum, si A maupun si B sama-sama telah melakukan tindakan yang tidak wajar dan tidak patut karena merugikan kepentingan umum. Pikiran yang berkembang di kalangan koruptor biasanya juga tidak mempersoalkan apakah benda-benda tertentu milik pribadinya atau milik negara. Manipulasi status barang inventaris pemerintah seperti mobil, rumah atau benda-benda lain untuk kepentingan pribadi maupun kelompok dianggap sebagai perbuatan yang wajar-wajar saja. Rujukan nilai yang digunakannya bukan hukum, etika dan moral, atau ajaran agama tapi kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dikalangan sesama koruptor. Mereka akan mengatakan, Dari dulu sudah seperti itu, Bapak Anu juga begitu, Orang lain juga melakukan hal yang sama, Itu kan hanya masalah kecil. Masih banyak masalah besar yang perlu dipecahkan atau Bukan untuk saya sendiri (tapi kawankawan saya juga)!.

Tindakan sosial yang dapat mengungkap pola pikir korup di tengah masyarakat adalah tindakan yang sering ditemukan, tapi jarang dipersoalkan, terlalu kecil dilihat dari kacamata hukum. Meskipun demikian tindakan tersebut tetap tidak dapat dibenarkan karena mengandung unsur penipuan, perampasan hak dan merugikan pihak lain. Tindakan seperti ini mungkin merugikan orang perorangan, bahkan negara, namun sering dimaafkan saja. Misalnya, mengurangi pengembalian uang agak seratus rupiah tanpa alasan yang jelas, melakukan kegaduhan yang menyebabkan tetangga tidak dapat tidur, menitip tanda tangan pada lembaran absensi, menggunakan mobil dinas untuk kepentingan non-dinas, menggunakan telepon kantor untuk urusan keluarga, merubah data untuk menyenangkan atasan, merubah nilai mahasiswa karena alasan yang sangat subyektif, memarkir mobil di tempat-tempat yang membahayakan pengendara lain, dan sebagainya. Semua tindakan yang dicontohkan di atas pada dasarnya mengaburkan batas antara wajar dan tidak wajar, patut-tidak patut dalam ukuran umum, merugikanmenguntungkan orang lain, hak pribadi-hak publik, halal-haram, melanggar hukumtidak melanggar hukum, dan sebagainya. Semakin banyak tindakan-tindakan sosial sederhana seperti itu ditemukan di tengah masyarakat, semakin tampak bahwa pola pikir korup mengalami perkembangan. Tapi peningkatan intensitasnya sering tidak menarik dipersoalkan karena makin meningkat jumlah orang melakukan hal yang sama. Artinya, semakin banyak pula orang yang melangkahkan kakinya ke lumpur korupsi, tapi mereka tidak sungguh-sungguh menyadarinya. Gerakan Kebudayaan Merubah pola pikir masyarakat memerlukan sosialisasi yang luas dan memakan waktu. Dalam hal pemberantasan korupsi, sosialisasi pola pikir yang mempedulikan batasbatas tadi sangat penting dilaksanakan. Dengan sosialiasi diharapkan kemudian masyarakat: 1) dapat mengatakan dengan penuh kesadaran tentang tindakan mana yang tidak wajar atau patut dalam ukuran umum, mana yang milik pribadi dan hak negara atau publik, mana yang haram dan mana yang halal; 2) membatasi diri untuk tidak melanggar batas-batas kewajaran dan kepatutan, menggunakan milik negara seperti milik pribadi, dan tidak melakukan tindakan yang haram lainnya; 3) menunjukkan sikap yang tegas terhadap praktek-praktek yang merugikan orang lain dan negara, dan 4) mengajarkan kepada anak-anak, anggota keluarga dan anggota komunitasnya pola pikir yang mengenal batas tadi. Sosialisasi seperti ini hanya akan menunjukkan hasilnya apabila dikemas dalam sebuah gerakan kebudayaan yang dilangsungkan secara konsisten, tidak sporadis. Semua komponen strategis dalam masyarakat seperti institusi keluarga, media komunikasi,
3

institusi pendidikan dasar sampai tinggi, organisasi sosial dan keagamaan, kelompokkelompok remaja, seniman, pelaku bisnis, asosiasi-asosiasi profesi, lembaga peradilan sampai partai-partai politik harus dilibatkan dan bergerak ke arah yang sama. Isyu-isyu yang dilontarkan ke tengah masyarakat melalui komponen-komponen strategis ini dirancang untuk selalu mengacu kepada keempat pola pikir korup di atas. Bagian yang sangat penting dari gerakan ini adalah adanya motor penggerak berupa kelompok kecil beranggotakan orang perorangan yang mempunyai komitmen tinggi menghabisi korupsi, tidak mempunyai pola pikir korup, dan bersikap konsisten. Mereka adalah creative minority, meminjam istilah Toynbee. Dalam masyarakat yang sudah sangat korup mungkin tidak mudah menemukan individu yang memiliki kriteria demikian. Kesalahan rekrutmen mungkin saja terjadi. Karena itulah kelompok motor penggerak harus berusaha mensucikan dirinya terus menerus dari anggota yang ingin mendapatkan keuntungan pribadi dari gerakan tersebut. Kelompok motor penggerak harus mempunyai aturan yang ketat dan tegas. Akan lebih baik apabila pemukapemuka agama yang dikenal bersih berada di barisan ini. Bagian penting lainnya adalah penggunaan manajemen informasi yang memungkinkan perkembangan hasil gerakan terpantau dan terukur secara obyektif. Dengan informasi yang akurat dan jujur, efisiensi dan efektivitas gerakan dapat dievaluasi dan ditingkatkan dari waktu ke waktu. Informasi demikian juga menyediakan petunjuk apakah strategi gerakan yang digunakan masih relevan atau sudah harus dirubah. 09 November 2011