Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH ORAL BIOLOGI 4

GERIATRI DITINJAU DARI BIDANG PSIKOLOGI

Pembimbing : dr. Angela Inggrijani Disusun oleh : Kelas C Kelompok 3

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA) JAKARTA 2011

Nama Angggota :

Victor Christoper Trisaputra Sinta Caesar Narulita Sabrina Fauzan Sheila Destaria Shindy Mashita Sirtha Noor Suci Siti Atirah Siti Babay Rohmah Siti Nur Dwiyanthy Siti Uliyah Siti Wan Nor Mastura Sofia Annisa Sutan Indra kusuma Syarief Mahmud Makka Syazuwani binti Amran Syed Azlan bin Syed Omar

(2007-11-044) (2007-11-120) (2008-11-132) (2008-11-134) (2008-11-135) (2008-11-136) (2008-11-137) (2008-11-138) (2008-11-139) (2008-11-140) (2008-11-141) (2008-11-142) (2008-11-143) (2008-11-145) (2008-11-146) (2008-11-147)

Kata Pengantar

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kami mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. DR .Moestopo (Beragama) dapat menyelesaikan tugas makalah Oral Biologi 4 tentang Psikologi Geriatri. Kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing Kami, dr.Angela Inggrijani yang berada di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama) yang telah membimbing serta mengarahkan Kami dalam menyelesaikan makalah ini. Kemudian Kami ingin mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan sekelompok yang telah memberikan masukan terhadap materi di dalam makalah ini. Kami berharap makalah ini dapat memberikan informasi dan manfaat bagi kita semua. Tak ada gading yang tak retak oleh karena itu kritik dan saran kami harapkan untuk perbaikan makalah kami secara berkesinambungan.

Jakarta,September 2011

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

Masalah kesehatan jiwa lansia termasuk juga dalam masalah kesehatan yang dibahas pada pasien-pasien Geriatri dan Psikogeriatri yang merupakan bagian dari Gerontologi, yaitu ilmu yang mempelajari segala aspek dan masalah lansia, meliputi aspek fisiologis, psikologis, sosial, kultural, ekonomi dan lain-lain (Depkes.RI, 1992:6)1 Proses menua adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.1 Psikologi Geriatri berfokus pada perkembangan kognitif dan fisik kehidupan selanjutnya, serta kekhawatiran seperti depresi dan kecemasan yang timbul pada mereka yang mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai orang dewasa yang lebih tua. Melalui belajar normal, perubahan terkait usia seperti memori berkurang dan perubahan dalam kepribadian, serta perubahan abnormal seperti gangguan mental dan penyakit, psikologi geriatri membantu orang dewasa dalam menyesuaikan diri dengan tantangan menjadi semakin tua.2 Bidang Psikologi Geriatri adalah salah satu bidang yang paling cepat berkembang dalam psikologi karena populasi yang lebih tua berkembang. Mempelajari psikologi geriatri akan membuat wawasan kita bertambah dalam mengobati kekhawatiran psikologis lansia, dan memberikan masukan mengenai layanan-layanan yang dibutuhkan dalam tahun-tahun mendatang.2

BAB II ISI PSIKOLOGI GERIATRI

2.1 Definisi Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah kesehatan pada lansia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososial yang menyertai kehidupan lansia.1 Sementara Psikologi geriatri adalah cabang ilmu kedokteran jiwa yang mempelajari masalah kesehatan jiwa pada lansia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososial yang menyertai kehidupan lansia.1

2.2 Perspektif tentang penuaan Manusia berubah dari waktu ke waktu. Perubahan-perubahan tersebut dapat dipelajari pada aspek yang berbeda, seperti: 3
masa lalu dan lingkungan, individu dan psikologis; serta biologis dan organik.

Aspek-aspek tersebut memberikan perspektif yang berbeda namun saling terkait dalam proses penuaan.3 Orang tua tentu berbeda dari mereka yang masih remaja dalam banyak hal karena pengalaman kehidupan mereka yang lebih lama dan banyak. Mereka telah hidup lebih lama dengan kemungkinan dipengaruhi oleh segmen yang lebih besar dari rentetan peristiwa yang berkelanjutan, beberapa di antaranya mungkin agak berbeda dari pengalaman generasi selanjutnya. Seberapa besar dan bagaimana pengalaman hidup sebelumnya mempengaruhi kepribadiannya adalah suatu pertanyaan menarik dan penting - tidak hanya berkaitan dengan sikap, kebiasaan dan komitmen, tetapi juga dalam kaitannya dengan isu-

isu seperti potensi intelektual dan strategi, reaksi emosional dan kemampuan untuk mengatasinya.3 Hal ini jelas bahwa bukan hanya masa lalu tetapi juga kondisi para lansia saat ini, dan bahkan impian mereka tentang masa depan, harus dipertimbangkan ketika kita mencoba untuk memahami penuaan manusia. Ada variasi yang besar dalam lingkungan dan kondisi psikologis yang dialami oleh para lansia. Hal-hal tersebut dapat berupa rangsangan atau hambatan, dukungan atau kesedihan, miskin atau kaya. Kondisi hidup merupakan faktor yang signifikan untuk kesejahteraan kehidupan dalam usia tua.3

2.3 Kategori Pasien Geriatri dan Psikogeriatri Ada 4 ciri yang dapat dikategorikan sebagai pasien Geriatri dan Psikogeriatri, yaitu : 1. 2.
3.

Keterbatasan fungsi tubuh yang berhubungan dengan makin meningkatnya usia Adanya akumulasi dari penyakit-penyakit degenerative Lanjut usia secara psikososial yang dinyatakan krisis bila:

a) Ketergantungan pada orang lain (sangat memerlukan pelayanan orang lain), b) Mengisolasi diri atau menarik diri dari kegiatan kemasyarakatan karena berbagai sebab, diantaranya setelah menajalani masa pensiun, setelah sakit cukup berat dan lama, setelah kematian pasangan hidup dan lain-lain.
4.

Hal-hal yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan (homeostasis)

sehingga membawa lansia kearah kerusakan / kemerosotan (deteriorisasi) yang progresif terutama aspek psikologis yang mendadak, misalnya bingung, panik, depresif, apatis, dan sebagainya. Hal itu biasanya bersumber dari munculnya stressor psikososial yang paling berat, misalnya kematian pasangan hidup, kematian sanak keluarga dekat, atau trauma psikis.1

2.4 ASPEK PSIKOLOGI PENUAAN: IMPLIKASI UNTUK PERAWATAN GIGI PASIEN LANSIA

Perubahan Sensorik Ada keyakinan bahwa, seiring bertambahnya usia, kita tidak dapat melihat, mendengar,

menyentuh, merasa, atau menghirup seperti yang kita lakukan ketika masih muda. Penurunan di semua reseptor sensorik seiring dengan penuaan adalah normal, bahkan dimulai relatif dini. Beberapa fungsi sensorik, seperti pendengaran, mungkin menunjukkan penurunan awal. Namun orang lain, seperti rasa dan sentuhan, menunjukan sedikit perubahan hingga memasuki usia lanjut. Seiring waktu, bagaimanapun, perubahan sensorik mempengaruhi kemampuan orang tua untuk menjalani kehidupan sosial dan fisik.4

Pengelihatan Meskipun secara signifikan ukuran orang buta di usia tua lebih tinggi daripada usia muda, gangguan yang mempengaruhi beberapa aspek fungsi visual meningkat seiring usia. Orang tua kemungkinan besar mengalami masalah dengan tugas sehari-hari yang memerlukan keterampilan visual yang baik, seperti membaca huruf atau tanda kecil pada kendaraan bergerak, menempatkan tanda, atau beradaptasi dengan perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam tingkat ringan akan menjadi sangat sulit. Kebanyakan masalah yang berkaitan dengan usia dalam penglihatan disebabkan oleh perubahan pada bagian mata. Namun, terdapat perkembangan bahwa masalah ini diperburuk oleh perubahan dalam sistem saraf pusat yang menghambat transmisi rangsangan dari organ sensorik. Perubahan pada jalur visual dari otak dan korteks visual dapat menjadi sumber kemungkinan beberapa perubahan yang terjadi dalam sensasi visual dan persepsi seiring usia. Hal ini juga menimbulkan kewaspadaan lebih besar pada praktek dokter gigi yang menggunakan lampu gigi. Penting untuk dihindari cahaya yang mengarah ke mata pasien tua tersebut. Posisi juga penting bagi pasien lansia sehingga mereka tidak melihat langsung ke arah jendela saat berada di dental chair, khususnya saat hari-hari terang dan cerah.4 Pendengaran

Orang tua yang mengalami gangguan pendengaran harus belajar untuk beradaptasi dan membuat perubahan dalam perilaku dan interaksi sosial, sehingga dapat mengurangi dampak sosial yang merugikan dari gangguan pendengaran tersebut. Penurunan terbesar terjadi di koklea, dimana perubahan struktural mengakibatkan presbikusis, atau gangguan pendengaran yang berhubungan dengan usia. Perubahan ambang batas pendengaran dapat dideteksi pada usia 30 tahun bahkan pada usia yang lebih muda, tapi degenerasi sel-sel rambut di koklea dan membran belum dapat diamati. Kedua perubahan struktural dalam sistem pendengaran tampaknya bertanggung jawab pada penurunan fungsi pendengaran. Meskipun alat bantu dengar dapat sangat membantu para lansia yang mengalami gangguan pendengaran, alat bantu dengar tidak dapat sepenuhnya menghilangkan masalah presbikusis. Bahkan, mereka sering mengakibatkan masalah seperti adaptasi pada pertama kali pemakaian sehingga banyak lansia berhenti memakainya setelah beberapa bulan karena frustrasi untuk beradaptasi dengan perangkat tersebut. Oleh karena itu dokter gigi tidak boleh berasumsi bahwa lansia memiliki ketajaman pendengaran yang baik jika ia tidak menggunakan alat bantu dengar. Ada anggapan bahwa gangguan pendengaran pada lansia cenderung menjadi lebih terisolasi dan paranoid.4

Implikasi untuk berkomunikasi dengan pasien usia lanjut Komunikasi adalah proses transmisi, memahami dan mengambil informasi secara verbal maupun non verbal. Kita telah melihat bahwa bagaimanapun orang tua dengan pendengaran dan penglihatan menurun mungkin tidak dapat menerima pesan verbal secara akurat, sehingga mengorbankan komunikasi antara dokter gigi dan pasien. Dibawah ini ada beberapa rekomendasi bagi dokter gigi untuk meningkatkan keterampilan komunikasi mereka sehingga setidaknya kemampuan berkomunikasi mereka semakin baik:
1. Ketika menulis pesan, gunakan huruf cetak tebal. Ini adalah cara yang sederhana

namun sangat efektif untuk membantu fungsi visual orang tua itu.
2. Gunakan warna kontras ketika mempersiapkan pesan tertulis.

3. Ketika berbicara dengan pasien lansia, sebaiknya menggunakan mekanisme

kompensasi yaitu menghadapi pasien secara langsung dan mempertahankan kontak mata. Ini akan memudahkan mereka yang memiliki gangguan pendengaran yang parah untuk membaca bibir jika mereka memiliki keterampilan itu.
4. Berdiri dekat dengan pasien lansia dapat membantu penerimaan informasi bagi

mereka melalui pendengaran dan visual.


5. Sentuhan dapat menjadi bentuk yang berharga dalam berkomunikasi dengan orang

tua pada umumnya tetapi terutama dengan orang-orang yang mengalami penurunan pendengaran dan visual secara signifikan.
6. Pola dan volume berbicara juga harus dipertimbangkan. Dengan demikian akan

membantu pemahaman orang tua jika dokter gigi dan staf berbicara lebih lambat dan jelas.
7. Berdiskusi dengan pasien lansia harus dilakukan dalam keadaan tenang dan tidak

terburu-buru. Misalnya di ruang kerja praktik dokter gigi memiliki suasana yang lebih baik untuk memperoleh riwayat kesehatan pasien, untuk mendengarkan keluhan gigi dan mendiskusikan rencana pengobatan dibandingkan ruang tunggu atau ruang operasi gigi. Sebuah ruang praktik dokter gigi umumnya memiliki tingkat kebisingan suara yang lebih sedikit. 4

Sensitivitas Perabaan Orang tua cenderung kurang mampu membedakan antara tingkat rasa sakit yang dirasakan dibanding pada usia muda. Di sisi lain beberapa orang mungkin mencoba untuk meminimalkan rasa sakit mereka. Faktanya sebagian besar lansia mungkin mengabaikan rasa nyeri yang sebenarnya dialami. Di antara pasien gigi usia tua, mereka cenderung untuk mentolerir prosedur perawatan gigi yang menyakitkan dibanding pasien yang lebih muda, kadang-kadang bahkan memilih untuk tidak menggunakan anestesi lokal. Mungkin orang tua memiliki ambang yang sama untuk rasa sakit dengan usia muda, tetapi mereka dapat mentolerir tingkat yang lebih tinggi dari rasa sakit Sistem kinestetik memungkinkan orang-orang yang mengetahui posisinya dalam penyesuaian ruang dalam posisi tubuh menjadi dikenal melalui isyarat kinestetik. Karena

usia perubahan yang terkait dalam sistem saraf pusat, yang mengontrol mekanisme kinestetik, serta dalam otot, orang tua menunjukkan penurunan kemampuan tubuh yang mengarahkan mereka dalam ruang dan mendeteksi perubahan eksternal pada posisi tubuh. Hal ini penting bagi dokter gigi untuk mencari tanda-tanda gangguan dalam sistem kinestetik pada pasien lansia dan untuk membantu pasien merasa nyaman saat duduk di dental chair. Karena perubahan posisi tubuh yang mendadak dapat menghasilkan hipotensi ortostatik, dokter gigi harus juga berhati hati saat menaikkan atau merendahkan dental chair.4 Perubahan kognitif (kemampuan belajar dan daya ingat) Salah satu aspek dan yang paling penting dari penuaan adalah fungsi kognitif, yaitu kemampuan belajar, daya ingat dan kecerdasan. Lansia yang mempunyai masalah dalam fungsi kognitif pada akhirnya akan mengalami stress dalam hal ini. Terjadi peningkatan yang tidak sesuai antara tingkat kompetensi mereka dengan tuntutan dari lingkungan sekitar. Belajar adalah proses dimana informasi baru (verbal atau non-verbal) masuk ke dalam ingatan. Ingatan, sebaliknya adalah proses mengambil atau mengingat informasi yang disimpan di otak saat kita membutuhkannya. Ingatan juga mengacu pada satu bagian otak yang menyimpan apa yang telah di pelajari pada seluruh kehidupan seseorang. Perbedaan usia dalam ingatan sekunder terlihat lebih jelas daripada ingatan primer dan sering membuat para lansia dan keluarga mereka frustasi. Dan itu mungkin bisa mengakibatkan depresi. Kekhawatiran ini sering berasal dari ketakutan akan demensia, termasuk penyakit Alzheimer yang secara dramatis merusak fungsi kognitif. Dalam kehidupan sehari-hari fungsi kognitif kita dipengaruhi oleh serangkaian faktor kompleks. Kejadian sehari-hari dalam diri mereka sendiri kompleks dan saling terkait; pengalaman baru menambah atau menggantikan pengetahuan sebelumnya dan diatur ke dalam sistem memori individu. Selanjutnya, kondisi emosional dan pengalaman pribadi akan mempengaruhi cara mengingat suatu peristiwa, sehingga dapat mengakibatkan seorang individu lupa. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Lachmann (1980), individu yang sehat sampai setidaknya 70 tahun tidak boleh ada penurunan dalam pengetahuan.4

Penelitian dari proses perubahan ingatan terkait usia ini berfokus pada dua tipe dari penerimaan:
Pengingatan adalah proses dalam mencari tempat penyimpanan informasi pada

ingatan sekunder, mungkin dengan tanda atau dengan pertanyaan yang spesifik (contoh: tuliskan semua obat yang sedang anda konsumsi atau jelaskan apa yang anda lakukan untuk menjaga kebersihan mulut?).
Pengakuan membutuhkan lebih sedikit pencarian. Informasi pada ingatan sekunder

harus cocok dengan rangsangan informasi dalam lingkungan (contoh: yang mana dari tiga obat untuk depresi ini yang anda konsumsi?).4 Pendekatan yang bisa digunakan untuk berbicara dengan pasien lanjut usia Perubahan normal yang berhubungan dengan bertambahnya usia pada kemampuan belajar dan ingatan memberi kesan pada komunikasi dan perawatan gigi pasien. Untuk mengatasai masalah ini, dokter gigi bisa membantu dalam memberi perhatian lebih dalam pelayanan kesehatan gigi dan sebisa mungkin menghindari terjadinya kesalahpahaman dengan pasien. Metode yang dapat dilakukan adalah seperti (bisa untuk pasien lanjut usia, pasien Alzheimer tahap awal dan demensia):
1) Instruksi yang diberikan kepada pasien harus dalam bentuk yang mudah di pahami

dan bertahap. Contohnya, gigi palsu ini di lepas pada malam hari, kemudian dibasuh dengan sikat lembut dan pasta gigi, rendam gigi palsu dalam air dan basuh mulut.
2) Jangan memberi pengarahan yang terlalu banyak dalam sekali pertemuan. 3) Berikan waktu lebih banyak untuk mendengar keluhan pasien dan berbincang

dengan pasien serta dokter diharapkan untuk terus mengulang instruksi yang ingin di sampaikan. Kesempatan ini juga bisa digunakan oleh dokter untuk menjelaskan istilah-istilah kedokteran gigi yang mudah dimengerti oleh pasien pasien.
4) Mengunakan metode penjelasan yang lain pada pasien, contoh dengan menulis

pengarahan pada kertas untuk rujukan pasien.4

Implikasi bagi dokter gigi Para dokter dan perawat setuju bahwa kesehatan gigi mempunyai peran yang besar dalam kehidupan karena ia mencerminkan nilai pribadi dan estetika seseorang. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab sebagai seorang dokter untuk membantu pasien dari golongan lansia untuk meningkatkan taraf kesehatan gigi mereka seperti melakukan restorasi, membuatkan protesa bagi pasien yang sudah kehilangan gigi dan sebagainya. Dengan melakukan hal ini, dokter gigi dapat membantu pasien untuk meningkatkan rasa percaya diri walaupun mereka sudah berusia lanjut. Hal yang sering menjadi masalah bagi dokter gigi ketika merawat pasien lansia adalah untuk meyakinkan mereka tentang perlunya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Biasanya, pasien yang mempunyai rasa percaya diri rendah akan menjadi kurang termotivasi untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut mereka. Dengan melakukan observasi terhadap kondisi kesehatan dan kebersihan mulut pasien, dokter gigi dapat memprediksi tingkat rasa percaya diri pasien. Kondisi kebersihan mulut yang jelek bisa memberi informasi bahwa pasien mempunyai tingkat percaya diri yang rendah bahkan hilang rasa percaya diri karena depresi atau pasien mengalami demensia. Seseorang yang jarang mendapatkan perawatan gigi lebih dari 20 tahun akan mengalami stress yang hebat saat bertemu dengan dokter gigi untuk pertama kalinya. Stress timbul karena rasa takut terhadap perawatan kedokteran gigi, dan rasa takut terhadap alatalat yang ada di ruang praktek dokter gigi.4 KESEHATAN MENTAL PADA USIA LANJUT Emotional disorder pada usia senja akan menyebabkan depresi dan hal ini dapat memicu kasus bunuh diri. Penyakit Alzheimer dan demensia merupakan kognitif disorder yang sering terjadi pada golongan lansia. Depresi Jenis depresi yang sering terjadi kepada lansia adalah bersifat unipolar. Manic depresif sangat jarang terjadi. Selain itu ada kasus dimana lansia mengalami reaktive

depresif karena tidak bisa beradaptasi dengan perubahan yang berlaku disekitarnya. Jadi ,tim dental harus sensatif terhadap tanda dan gejala depresif yang ditunjukkan oleh pasien lansia. Terdapat 9 gejala yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Associatation yang bisa menjadi patokan bagi kita untuk mendiagnosa bahwa seseorang itu mengalami depresi jika mereka mengalami sekurang-kurangnya 5 gejala-gejala dibawah ini:
1. Mood depresi 2. Hilang keinginan untuk melakukan aktivitas 3. Perubahan yang jelas dalam kebilangan berat badan atau menambahan berat badan

atau berubahnya selera makan


4. Gangguan waktu tidur 5. Kurang beraktivitas 6. Penurunan tingkat energi atau sering berasa lelah 7. Menyalahkan diri sendiri, rasa bersalah, dan rasa tidak berguna 8. Kurang memberi perhatian, 9. Sering berpikir untuk membunuh diri

Gejala depresif yang paling jelas adalah sering merasa sedih dan jiwa terasa hampa. Dan juga sering merasa cemas tanpa sebab yang jelas, hilangnya ketertarikan terhadap objek yang ada di sekitarnya dan sering mengabaikan penjagaan dirinya sendiri. Pasien yang mengalami depresi sering mengeluh tentang ingatan dan juga kesulitan menyelesaikan masalah. Apabila hal ini terjadi, pasien harus dirujuk kepada pakar geriatric untuk pemeriksaan fisik dan laboratotium untuk mengetahui apakah seseorang itu mengalami depresi atau kelainan fisik atau merupakan simptom demensia. Terdapat beberapa obat yang bisa menyebabkan depresif seperti obat antihipertensi, corticosteroid dan juga estrogen. Jadi pemeriksaan harus dilakukan dengan hati-hati.4

Demensia Gangguan ringan tidak selalu menandakan kehilangan besar tetapi sering dikenali sebagai salah satu bentuk ringan disfungsi memori. Penyakit ini dikenal sebagai dimensia atau penyakit otak organik atau senile demensia. Pada orang lanjut usia yang mengalami hal seperti ini sering mempunyai riwayat hipertensi serta stroke. Ada juga kasus lain demensia yang dikenal sebagai penyakit Alzheimers. Senile demensia tipe Alzheimer adalah tipe demensia irreversible yang sering terjadi pada orang lanjut usia. Karakteristik dari Penyakit Alzheimers ini adalah penurunan dari segi perhatian, belajar, daya ingat dan bahasa. Pada awal penyakit ini, pasien akan merasa sukar dalam memberi perhatian, orientasi terhadap lingkungan, peningkatan kecemasan dan perubahan mood yang tidak dapat diprediksi. Cara mendiagnosis penyakit ini adalah dengan autopsi.4 Alkoholisme dan penyalahgunaan obat Beberapa lansia yang didiagnosis sebagai pecandu alkohol memiliki masalah ini sejak usia muda, namun bertambahnya usia dapat memperburuk kondisi karena dua alasan. Pertama, seorang dokter dapat mengabaikan kemungkinan bahwa alkohol adalah puncak masalah kesehatan bagi lansia karena efek samping dari alkohol menyerupai beberapa penyakit fisik atau gangguan kejiwaan dan kognitif yang berkaitan dengan usia tua. Pecandu alkohol yang lebih tua mungkin mengeluh kebingungan, disorientasi, palpitasi jantung, atau batuk kering. Secara khusus, lansia lebih sering menggunakan obat penenang, sedatif, dan hipnotik yang semuanya memiliki efek samping yang berbahaya dibandingkan orang muda. Para lansia juga sering mnyelahgunakan penggunaan senyawa aspirin, obat pencahar, dan obat tidur karena informasi yang salah tentang efek samping dari dosis yang terlalu tinggi atau terlalu banyak pil. Hal ini tidak aneh untuk mendengarkan bahwa pasien lanjut usia mengambil dua atau tiga kali lipat dosis aspirin yang ditentukan karena mereka tidak merasakan efeknya dengan dosis yang lebih rendah. Namun, karena perubahan dalam komposisi tubuh dan fungsi ginjal dan hati seiring usia, dikombinasikan dengan penggunaan beberapa obat, orang tua lebih mungkin mengalami reaksi obat yang merugikan.4

Paranoid dan skizofrenia Paranoia didefinisikan sebagai kecurigaan orang lain yang tidak rasional. Pada lansia, paranoia mungkin disebabkan isolasi sosial, rasa ketidakberdayaan, penurunan sensorik progresif, dan masalah pertimbangan dalam kehidupan sehari-hari. Seiring dengan perubahan lain dalam diri lansia, seperti masalah dengan memori, dapat mengakibatkan reaksi paranoid.4

Implikasi bagi dokter gigi Hal yang paling penting bagi seorang dokter gigi dalam merawat pasien golongan lansia dengan penyakit Alzheimer adalah pasien dan keluarga harus mengenali bahwa penyakit Alzheimer akan memburuk secara bertahap dalam fungsi kognitif dan keterampilan perawatan diri. Hal ini penting dari perspektif perawatan gigi karena prosedur perawatan gigi yang diperlukan oleh pasien harus diselesaikan pada tahap awal penyakit ini. Selain itu, penting juga untuk menghindari situasi baru seperti dokter gigi baru, karena pasien mungkin memiliki masalah menyesuaikan diri dengan keadaan baru itu. Setiap kali tim dokter gigi bertemu pasien meskipun hanya 2 atau 3 hari yang lalu, mereka harus memperkenalkan diri dan peran mereka semula kepada pasien tersebut. Tahap kebisingan dan tingkat aktivitas di ruangan dokter gigi juga harus seminimal mungkin. Hindarkan kedatangan pasien pada waktu sore menjelang senja karena mereka umumnya lebih lelah dan mungkin menunjukkan tanda-tanda sundowning. Keluarga memiliki peran penting dalam perawatan gigi pasien. Penting untuk mereka menemani pasien ke dokter gigi dan terutama ke ruangan perawatan untuk mengurangi stres dan kecemasan yang dialami oleh pasien. Pengasuh keluarga juga penting dalam menyediakan kebersihan mulut setiap hari untuk pasien lansia Alzheimer. Sehingga ketika berkomunikasi dengan pasien, perawat dan keluarga pasien harus selalu ada. Dokter gigi jauh lebih kecil kemungkinannya untuk memiliki kontak dengan pasien skizofrenia lansia dibandingkan dengan pasien paranoid lansia, kecuali mereka memiliki

kontak signifikan dengan pusat penjagaan lansia. Lansia penderita skizofrenia umumnya tidak sulit untuk dilakukan perawatan gigi, meskipun penggunaan jangka panjang obat psikotropika pada pasien ini dapat mengakibatkan tardive dyskinesia, yaitu suatu kondisi yang membuatnya sulit untuk menjaga rahangnya stabil selama prosedur perawatan. Namun demikian, pasien dapat dan harus terus diobati. Oleh karena itu penting untuk segera menjelaskan kepada pasien-pasien ini seberapa luas kebutuhan perawatan gigi mereka, untuk menawarkan mereka dengan semua rencana pengobatan alternatif dengan berbagai variasi biaya dan untuk menggambarkan kekurangan dan kelebihan dari masing-masing perawatan.4

BAB III KESIMPULAN

Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah kesehatan pada lansia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososial yang menyertai kehidupan lansia.1 Sementara Psikologi geriatri adalah cabang ilmu kedokteran jiwa yang mempelajari masalah kesehatan jiwa pada lansia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososial yang menyertai kehidupan lansia.1 Ada 4 ciri yang dapat dikategorikan sebagai pasien Geriatri dan Psikogeriatri, yaitu : 1. 2.
3.

Keterbatasan fungsi tubuh yang berhubungan dengan makin meningkatnya usia Adanya akumulasi dari penyakit-penyakit degenerative Lanjut usia secara psikososial yang dinyatakan krisis bila:

a) Ketergantungan pada orang lain (sangat memerlukan pelayanan orang lain),

b) Mengisolasi diri atau menarik diri dari kegiatan kemasyarakatan karena berbagai sebab, diantaranya setelah menajalani masa pensiun, setelah sakit cukup berat dan lama, setelah kematian pasangan hidup dan lain-lain.
4. Hal-hal yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan (homeostasis) sehingga

membawa lansia kearah kerusakan / kemerosotan (deteriorisasi) yang progresif terutama aspek psikologis yang mendadak, misalnya bingung, panik dan sebagainya. Hal itu biasanya bersumber dari munculnya stressor psikososial yang paling berat, misalnya kematian pasangan hidup, kematian sanak keluarga dekat, atau trauma psikis.1 Penuaan berdasarkan aspek psikologi: Perubahan sensorik: a) Pendengaran b) Penglihatan c) Sensitivitas perabaan
Perubahan kognitif: perubahan kemapuan belajar dan daya ingat

Masalah kesehatan mental pada usia lanjutn dapat berupa: Penyakit alzheimer Depresi Demensia Alkoholisme dan penyalahgunaan obat Paranoid dan skizofrenia

DAFTAR PUSTAKA

1.

http://www.lenterabiru.com/2010/01/masalah-kesehatan-jiwa-pada-

lanjut-usia.htm 2.

http://www.allpsychologycareers.com/topcs-psychology.html Poul Holm-Pedersen & Harald Loe.1987. Geriatric Dentistry. Textbook of Oral

3.

Gerontology P125-136,Munksgaard 4. Athena S.PAPAS,D.M.D.(1997). Geriatric Dentistry (Aging and Oral Health)

P14-39, Mosby Year Book, Boston