P. 1
Pasar Modern

Pasar Modern

|Views: 312|Likes:
Dipublikasikan oleh musthafelhamidi

More info:

Published by: musthafelhamidi on Nov 09, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/28/2014

pdf

text

original

1

No. 22: Apr- Jun/2007
No. 22: Apr-Jun/2007 Newsletter
M
any people believe that the presence of
modern markets, especially supermarkets
and hypermarkets, is pushing urban traditional
markets into a corner. There are 13,450
traditional markets with approximately 12.6
million small traders in Indonesia (Kompas
2006). The findings of a study by A.C. Nielsen
reveal that modern markets are growing by
31.4% a year, whereas traditional markets
are decreasing by 8% a year. If this situation
is allowed to continue, it is highly likely that
thousands and even millions of small traders
will lose their source of livelihood. With the
current trend towards expansion in the retail
world, which is dominated by modern markets,
traditional markets may vanish.
(Continued to page 3)
K
ehadiran pasar modern, terutama
supermarket dan hipermarket, dianggap
oleh berbagai kalangan telah menyudutkan
keberadaan pasar tradisional di perkotaan.
Di Indonesia, terdapat 13.450 pasar
tradisional dengan sekitar 12,6 juta pedagang
kecil(Kompas 2006). Berdasarkan hasil studi
A.C. Nielsen, pasar modern di Indonesia
tumbuh 31,4% per tahun, sedangkan pasar
tradisional menyusut 8% per tahun. Jika
kondisi ini tetap dibiarkan, ribuan bahkan
jutaan pedagang kecil akan kehilangan
mata pencahariannya. Pasar tradisional
mungkin akan tenggelam seiring dengan
tren perkembangan dunia ritel saat ini yang
didominasi oleh pasar modern.
(Bersambung ke halaman 3)
DARl EDl1CR 2
FRCM 1HE EDl1CR
FCKUS KA1lAN 3
FCCUS CN
Pasar Tradisional di Era Persaingan
Global
Traditional Markets in the Era of
Global Competition
DA1A BERKA1A 11
AND 1HE DA1A SAYS
Mengukur Dampak Keberadaan
Supermarket terhadap Pasar Tradisional
Measuring the Impact of Supermarkets on
Traditional Markets
DARl LAPANCAN 18
FRCM 1HE FlELD
- Pasar Tradisional dengan Struktur
Bangunan Bertingkat: Siapa yang
Diuntungkan?
Multi-Story Traditional Markets: Who
Benefts?
- Retribusi Pasar Tradisional: Kewajiban
Tanpa Pelayanan yang Memadai
Retribusi Payments in Traditional Markets:
ObligatoryPaymentswithInsuffcient
Service in Return
- Quo Vadis Pasar Tradisional?
Traditional Markets, Quo Vadis?

CPlNl 27
CPlNlCN
Regulasi Persaingan Usaha di Industri
Ritel
Business Competition Regulation in the
Retail Industry
KABAR DARl LSM 33
NEVS FRCM NCCs
Pemberdayaan Terpadu Perempuan
Pedagang Kecil dan Mikro
The Integrated Empowerment of Women
Micro- and Small-Scale Traders
S
M
E
R
U
Pasar Tradisional di Era PErsaingan global
TradiTional MarkeTs in The era of
Global CoMpeTiTion
2
Newsl et t er
SMERU is an independent institution for research and policy
studies which professionally and proactively provides accurate
and timely information as well as objective analysis on various
socioeconomic and poverty issues considered most urgent and
relevant for the people of Indonesia.
With the challenges facing Indonesian society in poverty reduction,
social protection, improvement in social sector, development
in democratization processes, and the implementation of
decentralization and regional autonomy, there continues to be a
pressing need for independent studies of the kind that SMERU
has been providing.
adalah sebuah lembaga penelitian independen
yang melakukan penelitian dan pengkajian kebijakan
publik secara profesional dan proaktif, serta menyediakan
informasi akurat, tepat waktu, dengan analisis yang
objektif mengenai berbagai masalah sosial-ekonomi dan
kemiskinan yang dianggap mendesak dan penting bagi
rakyat Indonesia.
Melihat tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia
dalam upaya penanggulangan kemiskinan, perlindungan
sosial, perbaikan sektor sosial, pengembangan demokrasi,
dan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah, maka
kajian independen sebagaimana yang dilakukan oleh
SMERU selama ini terus dibutuhkan.
The SMERU newsletter is published to share ideas and to
invite discussions on social, economic, and poverty issues in
Indonesia from a wide range of viewpoints. The findings, views,
and interpretations published in the articles are those of the
authors and should not be attributed to SMERU or any of the
agencies providing financial support to SMERU. Comments are
welcome. If you would like to be included on our mailing list,
please visit our website or send us an e-mail.
Jl. Pandeglang No. 30 Menteng,
Jakarta 10310 Indonesia
Phone: 62-21-3193 6336; Fax: 62-21-3193 0850
e-mail: smeru@smeru.or.id; website: www.smeru.or.id
Newsletter SMERU diterbitkan untuk berbagi gagasan
dan mengundang diskusi mengenai isu-isu sosial, ekonomi,
dan kemiskinan di Indonesia dari berbagai sudut pandang.
Temuan, pandangan, dan interpretasi yang dimuat dalam
Newsletter SMERU sepenuhnya menjadi tanggung jawab
penulis dan di luar tanggung jawab SMERU atau badan
penyandang dana SMERU. Silahkan mengirim komentar
Anda. Jika Anda ingin terdaftar dalam mailing list kami,
kunjungi website SMERU atau kirim e-mail Anda kepada
kami.
lEMbaga PEnEliTian sMErU
REDAKSI/EDITORIAL STAFF:
Editor/Editor: Liza Hadiz;
Asisten Editor/Assistant Editors: R. Justin Sodo, Budhi Adrianto
Penerjemah Bahasa Inggris/English Translators:
Joan Hardjono, Hannah Derwent
Editor Bahasa Inggris/English Editor: Kate Weatherley
Perancang Grafs/Graphic Designer: Novita Maizir
Distribusi/Distribution: Mona Sintia
DEWAN REDAKSI/EDITORIAL BOARD:
Sudarno Sumarto, Asep Suryahadi, Syaikhu Usman,
Sri Kusumastuti Rahayu, Nuning Akhmadi, Widjajanti I. Suharyo
Dear Readers,
The impact of supermarkets (including hypermarkets) on the existence of traditional
markets has recently become a topic of heated public debate. The 1998 liberalization of the
retail trade sector provided the impetus for the emergence of various foreign supermarket chains
in Indonesia. With the mushrooming of foreign supermarkets in many cities, several parties have
expressed the opinion that in the current globalization era, the traditional market is the main
victim of competition between traditional and modern markets. In fact, some have expressed the
need to limit the number of supermarkets, especially in locations near the vicinity of traditional
markets, so they do not compete for traditional market customers.
In the globalization era, are supermarkets indeed the main cause of the decline in the
business performance of traditional markets? To answer this question, at the end of 2006, The
SMERU Research Institute conducted a study that examined the impact of supermarkets on
traditional markets and retailers in urban Indonesia.
The results of our study form the basis of this edition of the SMERU Newsletter, which
presents a comprehensive discussion of the problems faced by traditional markets as a result
of the presence of supermarkets. It is enriched by the opinions of several observers, from both
the Commission for the Supervision of Business Competition (KPPU) and community
organizations. We also put forth several cases of problems experienced by traders in urban
traditional markets. Apart from making this small contribution to the debate, we hope that the
information presented here will become input for the formulation of policies that will strengthen
the capacity of traditional markets in the globalized market.
We hope you enjoy this edition.
Liza Hadiz
Editor
DAR I E DI T OR F R OM T HE E DI T OR
Pembaca yang Budiman,
Akhir-akhir ini dampak kehadiran supermarket (termasuk hipermarket) terhadap
keberadaan pasar tradisional menjadi topik yang menyulut perdebatan hangat di
kalangan masyarakat. Liberalisasi sektor perdagangan eceran pada 1998 telah mendorong
munculnya berbagai supermarket asing di Indonesia. Dengan semakin menjamurnya
supermarket asing ke berbagai kota, timbul pendapat dari beberapa kalangan bahwa di
era globalisasi pasar tradisional menjadi korban utama persaingan antara pasar tradisional
dan modern. Bahkan ada pihak-pihak yang menganggap perlu adanya pembatasan
keberadaan supermarket, terutama di lokasi yang berdekatan dengan pasar tradisional,
agar tidak merebut konsumen pasar tradisional.
Apakah benar supermarket merupakan sebab utama menurunnya kinerja pasar
tradisional di tengah-tengah era globalisasi ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut
dan melihat dampak kehadiran supermarket terhadap pasar tradisional dan pedagang
ritel di daerah perkotaan di Indonesia, Lembaga Penelitian SMERU pada akhir 2006
melakukan kajian terhadap masalah ini.
Berangkat dari hasil studi tersebut serta diperkaya dengan pandangan beberapa
pengamat, baik dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) maupun dari LSM,
Newsletter SMERU Edisi No. 22 ini menyajikan pembahasan komprehensif mengenai
permasalahan pasar tradisional berkaitan dengan kehadiran supermarket. Kami juga
menampilkan beberapa kasus menyangkut persoalan yang dihadapi para pedagang
pasar tradisional di perkotaan. Selain menyumbang kepada studi mengenai topik ini
yang jumlahnya masih sedikit, kami juga berharap bahwa apa yang kami sajikan di sini
dapat menjadi masukan bagi formulasi kebijakan yang akan memperkuat kapasitas pasar
tradisional dalam arus globalisasi pasar.
Selamat membaca.
Liza Hadiz
Editor
3
No. 22: Apr- Jun/2007
F OK U S K AJ I AN F OCU S ON
* Adri Poesoro adalah peneliti Lembaga Penelitian SMERU.
1
Untuk uraian lebih panjang tentang retribusi pasar lihat artikel: ‘Retribusi Pasar
Tradisional: Kewajiban Tanpa Pelayanan yang Memadai’ dalam edisi ini.
* Adri Poesoro is a researcher at The SMERU Research Institute.
1
For a more detailed discussion on market services fees (retribusi pasar), see article entitled:
‘Retribusi Payments in Traditional Markets: Obligatory Payments with Insufficient Service
in Return’ in this edition.
S
M
E
R
U
Adri Poesoro*
Pasar Tradisional di Era PErsaingan global
TradiTional MarkeTs in The era of
Global CoMpeTiTion
P
esatnya pembangunan pasar modern dirasakan oleh banyak
pihak berdampak terhadap keberadaan pasar tradisional. Di satu
sisi, pasar modern dikelola secara profesional dengan fasilitas yang
serba lengkap; di sisi lain, pasar tradisional masih berkutat dengan
permasalahan klasik seputar pengelolaan yang kurang profesional
dan ketidaknyamanan berbelanja. Pasar modern dan tradisional
bersaing dalam pasar yang sama, yaitu pasar ritel. Hampir semua
produk yang dijual di pasar tradisional seluruhnya dapat ditemui
di pasar modern, khususnya hipermarket. Semenjak kehadiran
hipermarket di Jakarta, pasar tradisional di kota tersebut disinyalir
merasakan penurunan pendapatan dan keuntungan yang drastis
(Kompas 2006).
Meskipun demikian, argumen yang mengatakan bahwa
kehadiran pasar modern merupakan penyebab utama tersingkirnya
pasar tradisional tidak seluruhnya benar. Hampir seluruh pasar
tradisional di Indonesia masih bergelut dengan masalah internal
pasar seperti buruknya manajemen pasar, sarana dan prasarana
pasar yang sangat minim, pasar tradisional sebagai sapi perah untuk
penerimaan retribusi,
1
menjamurnya pedagang kaki lima (PKL)
yang mengurangi pelanggan pedagang pasar, dan minimnya bantuan
permodalan yang tersedia bagi pedagang tradisional. Keadaan ini
secara tidak langsung menguntungkan pasar modern.
M
any people feel that the rapid establishment of modern markets has
had an impact on traditional markets. On the one hand, modern
markets are managed in a professional way and have excellent facilities,
while on the other hand, traditional markets still struggle with the classic
problems of unprofessional management and inconvenience for shoppers.
Modern and traditional markets compete in the retail sector. Almost all
products sold in traditional markets are also available in modern markets,
especially hypermarkets. Since the presence of hypermarkets in Jakarta,
there have been signs that traditional markets in this city are experiencing
a drastic decline in income and profits (Kompas 2006).
Nevertheless, the argument that the presence of modern markets is
the main cause of the decline of traditional markets is not entirely correct.
Almost all traditional markets in Indonesia are still struggling with
internal problems such as poor management, very limited facilities and
infrastructure, the attitude that traditional markets are cash cows for the
collection of market services fees (retribusi),
1
the constant increase in the
number of street vendors that reduces the number of customers buying
from market traders, and the minimum amount of capital assistance
available for traditional traders. This situation indirectly benefits modern
markets.
4
Newsl et t er

F OK U S K AJ I AN F OCU S ON
Grafk 1. Perkembangan Pasar Modern (1997 – 2003)/Graph 1. Growth of Modern Markets (1997–2003)
Sumber/Source: DRI, 2003, Visidata, 2003
J
u
m
l
a
h

P
a
s
a
r

M
o
d
e
r
n
/
N
u
m
b
e
r

o
f

M
o
d
e
r
n

M
a
r
k
e
t
s
Hipermarket/Hypermarket Supermarket Minimarket Expon. (Minimarket) Expon. (Supermarket)
Rata-rata pertumbuhan per tahun = 14,63%/Average growth per year = 14.63%
Pasar Tradisional vs. Pasar Modern

Pertumbuhan pasar modern di Jabodetabek (Jakarta, Bogor,
Depok, Tangerang, dan Bekasi) dalam beberapa tahun terakhir
cukup tinggi. Pada 1999–2004, terjadi peningkatan pangsa pasar
supermarket terhadap total pangsa pasar industri makanan yang
cukup tajam dari 11% menjadi 30%. Penjualan supermarket
pun tumbuh rata-rata 15% per tahun, sedangkan penjualan
pedagang tradisional turun 2% per tahunnya (Natawidjadja 2006).
Pricewaterhouse Coopers (2005) memprediksi bahwa penjualan
supermarket akan meningkat sebesar 50% dari periode 2004 hingga
2007, sedangkan penjualan hipermarket akan meningkat sebesar
70% untuk periode yang sama. Salah satu penyebab meningkatnya
jumlah dan penjualan pasar modern adalah urbanisasi yang
mendorong percepatan pertumbuhan penduduk di perkotaan
serta meningkatnya pendapatan per kapita. Dari 1998 hingga
2003, hipermarket di seluruh Indonesia tumbuh 27% per tahun,
dari delapan menjadi 49 gerai. Meskipun demikian, pertumbuhan
hipermarket terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek dengan proporsi
58% dari keseluruhan hipermarket.
Pedagang tradisional yang terkena imbas langsung dari
keberadaan supermarket atau hipermarket adalah pedagang yang
menjual produk yang sama dengan yang dijual di kedua tempat
tersebut. Meskipun demikian, pedagang yang menjual makanan
segar (daging, ayam, ikan, sayur-sayuran, buah-buahan, dan lain-
lain) masih bisa bersaing dengan supermarket dan hipermarket
mengingat banyak pembeli masih memilih untuk pergi ke pasar
tradisional untuk membeli produk tersebut. Keunggulan pasar
modern atas pasar tradisional adalah bahwa mereka dapat menjual
produk yang relatif sama dengan harga yang lebih murah, ditambah
dengan kenyamanan berbelanja dan beragam pilihan cara
pembayaran. Supermarket dan hipermarket juga menjalin kerja
sama dengan pemasok besar dan biasanya untuk jangka waktu yang
cukup lama. Hal ini yang menyebabkan mereka dapat melakukan
efisiensi dengan memanfaatkan skala ekonomi yang besar.
Traditional vs. Modern Markets
The growth of modern markets in Jabodetabek (Jakarta, Bogor,
Depok, Tangerang, and Bekasi) over the past few years has been quite
high. A sharp rise occurred in the market share of supermarkets as a
proportion of the total market share in the food industry, from 11%
in 1999 to 30% in 2004. Supermarket sales have risen by an annual
average of 15%, while the sales of traditional traders have fallen by 2%
a year (Natawidjaja 2006). Pricewaterhouse Coopers (2005) predicted
that supermarket sales will increase by 50% between 2004 and 2007,
while hypermarket sales will grow by 70% during the same period. One
reason for the increase in the number and sales of modern markets is
urbanization, which has encouraged accelerated population growth
in urban areas and a rise in per capita income. From 1998 to 2003,
hypermarkets in Indonesia grew by 27% a year from eight to 49 stores.
The growth of hypermarkets, however, is concentrated in the Jabodetabek
region, which has 58% of all hypermarkets.
Traditional traders who sell the same goods as modern markets suffer
the direct impact of the presence of supermarkets and hypermarkets.
Nevertheless, traders who sell fresh food (meat, fish, vegetables, fruit,
etc.) are able to compete with supermarkets and hypermarkets because
many customers still prefer to go to traditional markets to purchase these
products. The superiority of modern over traditional markets lies in
the fact that the former can sell the same products at lower prices, in
addition to the comfort and different payment options they offer shoppers.
Furthermore, the supermarkets and hypermarkets establish business links
with large suppliers, usually for an extended period of time. This enables
them to operate efficiently, benefitting from the economies of scale.
5
No. 22: Apr- Jun/2007
F OK U S K AJ I AN F OCU S ON
Grafk 2. Persentase Minimarket, Supermarket, dan Pasar Tradisional terhadap Total Keseluruhan Pasar/
Graph 2. Minimarkets, Supermarkets, and Traditional Markets as Percentages of All Markets
Minimarket Supermarket Pasar Tradisional/Traditional Markets
Sumber/Source: A.C. Nielsen, 2004
Supermarket melakukan beberapa strategi harga dan nonharga,
untuk menarik pembeli. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
SMERU (Suryadarma et al, akan diterbitkan), mereka melakukan
berbagai strategi harga seperti strategi limit harga, strategi pemangsaan
lewat pemangkasan harga (predatory pricing), dan diskriminasi harga
antarwaktu (inter-temporal price discrimination). Misalnya memberikan
diskon harga pada akhir minggu dan pada waktu tertentu. Sedangkan
strategi nonharga antara lain dalam bentuk iklan, membuka gerai
lebih lama, khususnya pada akhir minggu, bundling/tying (pembelian
secara gabungan), dan parkir gratis.
Beberapa kalangan memandang bahwa makin meluas pendirian
pasar modern di Indonesia, makin baik bagi pertumbuhan
ekonomi serta iklim persaingan usaha. Sementara itu, kalangan
lain berpendapat bahwa di era globalisasi pasar tradisional telah
menjadi korban dari kompetisi sengit antara sesama pasar modern,
baik lokal maupun asing. Pasar tradisional kehilangan pelanggan
akibat praktik usaha yang dilakukan oleh supermarket.
Kondisi Pasar Tradisional di Indonesia
Masalah infrastruktur yang hingga kini masih menjadi masalah
serius di pasar tradisional adalah bangunan dua lantai yang kurang
populer di kalangan pembeli, kebersihan dan tempat pembuangan
sampah yang kurang terpelihara, kurangnya lahan parkir, dan
buruknya sirkulasi udara. Belum lagi ditambah semakin menjamurnya
PKL yang otomatis merugikan pedagang yang berjualan di dalam
lingkungan pasar yang harus membayar penuh sewa dan retribusi.
1
PKL menjual barang dagangan yang hampir sama dengan seluruh
produk yang dijual di dalam pasar. Hanya daging segar saja yang
tidak dijual oleh PKL. Dengan demikian, kebanyakan pembeli
tidak perlu masuk ke dalam pasar untuk berbelanja karena mereka
bisa membeli dari PKL di luar pasar.
Kondisi pasar tradisional pada umumnya memprihatinkan.
Banyak pasar tradisional di Jabodetabek yang tidak terawat sehingga
dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh pasar modern
Supermarkets adopt a number of pricing and non-pricing strategies
to attract customers. Research carried out by SMERU (Suryadarma
et al, forthcoming) shows that supermarkets have a range of pricing
strategies such as price limits, predatory pricing, and inter-temporal price
discrimination, for example, discounts at the end of the week and at
certain other times. Their non-pricing strategies include advertising, longer
opening hours (especially on weekends), bundling or tying (combined
purchases), and free parking.
People in certain circles believe that economic growth and the
climate of business competition will improve in the line with the wide
establishment of modern markets in Indonesia. In contrast, others feel that
in the era of globalization, traditional markets have become the victims
of stiff competition among modern markets, both local and foreign. The
traditional markets have lost their customers due to the business practices
adopted by the supermarkets.
The Condition of Traditional Markets in Indonesia
Two-storied buildings unpopular with shoppers, poorly maintained
sanitation and garbage disposal areas, inadequate parking lots, and
lack of air circulation are all infrastructure issues that constitute serious
problems in traditional markets. The constant increase in the number of
street vendors adds to these problems, as they automatically take business
away from the traders selling inside the market, who have to pay full rent
and market services fees.
1
The street vendors sell almost the same goods
as those sold inside the market, with the exception of fresh meat. Thus,
most shoppers do not need to go into the market itself to do their shopping
because they can obtain whatever they need from street vendors outside
the market.
The state of traditional markets is generally cause for great concern.
Many traditional markets in the Jabodetabek region are unmaintained
and hence are now threatened by the establishment of modern markets
and the superior standards they offer. The records of PD Pasar Jaya show
ó
Newsl et t er
F OK U S K AJ I AN F OCU S ON
2
Judul kajian tersebut adalah ‘The Impact of Supermarkets on Traditional Markets
and Retailers in Indonesia’s Urban Centers.’
2
The title of this study is ‘The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers
in Indonesia’s Urban Centers.’
kini pasar tradisional terancam oleh keberadaan pasar modern. Di
Jakarta saja berdasarkan catatan PD Pasar Jaya, dari total 151 pasar,
hanya 27 pasar yang aspek fisik bangunannya masih baik. Sisanya,
111 pasar dalam kondisi fisik bangunan rusak sedang atau berat dan
hanya 13 pasar mengalami rusak ringan. Kepala APPSI (Asosiasi
Pedagang Pasar Seluruh Indonesia) cabang Jakarta, Hasan Basri,
mengatakan bahwa 151 pasar tradisional di Jakarta terancam oleh
keberadaan supermarket, sembilan di antaranya sudah tutup.
Faktor lain yang juga menjadi penyebab kurang berkembangnya
pasar tradisional adalah minimnya daya dukung karakteristik pedagang
tradisional, yakni strategi perencanaan yang kurang baik, terbatasnya
akses permodalan yang disebabkan jaminan (collateral) yang tidak
mencukupi, tidak adanya skala ekonomi (economies of scale), tidak
ada jalinan kerja sama dengan pemasok besar, buruknya manajemen
pengadaan, dan ketidakmampuan untuk menyesuaikan dengan
keinginan konsumen (Wiboonpongse dan Sriboonchitta 2006).
Dampak Pasar Modern terhadap Pasar Tradisional
Minimnya kajian tentang dampak yang dialami oleh pasar
tradisional akibat semakin menjamurnya pasar modern di daerah
perkotaan telah mendorong Lembaga Penelitian SMERU melakukan
kajian mengenai hal ini.
2
Penelitian yang utamanya menggunakan
metode analisis kuantitatif dan didukung dengan metode kualitatif
ini, dilakukan di Depok dan Bandung sebagai proksi (proxy) dari
kota besar di Indonesia. Hasil analisis kualitatif menemukan bahwa
supermarket berdampak terhadap kinerja usaha pedagang di pasar
tradisional. Para pedagang tradisional di dalam pasar mengeluhkan
keberadaan pasar modern, khususnya hipermarket di sekitar
mereka, yang memengaruhi keuntungan mereka.
Hasil analisis kuantitatif memperlihatkan adanya dampak yang
berbeda dari keberadaan supermarket terhadap beberapa aspek dari
kinerja usaha pedagang di pasar tradisional yang diukur melalui
variabel omzet, keuntungan, dan jumlah pegawai (penjelasan lebih
rinci akan diuraikan pada rubrik Data Berkata).
that in Jakarta alone, only 27 out of a total of 151 markets have buildings
that are still in good physical condition. Of the rest, 111 markets have
buildings that are somewhat damaged or seriously damaged, while only
13 are slightly damaged. Hasan Basri, head of the Jakarta branch of the
Indonesian Traditional Market Traders Association (APPSI), says that
the 151 traditional markets in Jakarta are under threat from the presence
of supermarkets and that nine of them have already closed.
Another factor that explains the lack of development among
traditional markets is the minimum of support offered to traditional
traders. Characteristically, their planning strategies are poor, their access
to capital is limited because they do not have sufficient collateral, they
have no economies of scale, there is no networking with large suppliers,
their procurement management is poor, and they are unable to cater to
the needs of the consumers (Wiboonpongse and Sriboonchitta 2006).
The Impact of Modern Markets on Traditional Markets
The limited number of studies on the impact experienced by traditional
markets as a result of the steady expansion of modern markets in urban
areas encouraged The SMERU Research Institute to undertake a study
on this subject.
2
The study, which mainly used quantitative methods of
analysis supported by qualitative methods, was carried out in Depok
and Bandung as proxies for the large cities of Indonesia. The results of
the qualitative analysis show that supermarkets have had an effect on
the business performance of traders in traditional markets. Traditional
traders in these markets complained about the presence of modern
markets, especially the hypermarkets in their vicinity, which have affected
their profits.
The results of the quantitative analysis show that the presence of
a supermarket has different impacts on several aspects of the business
performance of traders in traditional markets which was measured using
variables such as earnings, profit, and the number of employees (a more
detailed explanation is provided in And The Data Says section).
Apakah kehadiran pasar modern
merupakan penyebab utama
tersingkirnya pasar tradisional?
Is the presence of modern markets the
main cause of the decline of traditional
markets?
S
M
E
R
U
7
No. 22: Apr- Jun/2007
F OK U S K AJ I AN F OCU S ON
Temuan dari metode kualitatif menunjukkan bahwa penyebab
utama kalah bersaingnya pasar tradisional dengan supermarket
adalah lemahnya manajemen dan buruknya infrastruktur pasar
tradisional, bukan semata-mata karena keberadaan supermarket.
Supermarket sebenarnya mengambil keuntungan dari kondisi
buruk yang ada di pasar tradisional. Pedagang, kepala pasar, dan
semua pemangku kepentingan di pasar tradisional mengatakan
bahwa langkah utama yang harus dilakukan untuk menjaga
keberlangsungan pasar tradisional adalah dengan memperbaiki
sarana dan prasarana pasar tradisional, mengatasi masalah PKL di
sekitar pasar, dan memperbaiki sistem manajemen, baik di dinas
perpasaran maupun di pasar tradisional itu sendiri.

Meskipun dengan kondisi yang tidak menguntungkan, tetap
ditemukan adanya pasar tradisional yang mampu bertahan karena
dikelola dengan baik dan memperhatikan seluruh aspek seperti
kebersihan, kenyamanan, dan keamanan dalam berbelanja.
Kelebihan pasar tradisional adalah kekhasannya yang tidak dimiliki
oleh pasar modern, seperti jual-beli dengan tawar-menawar harga
dan suasana yang memungkinkan penjual dan pembeli menjalin
kedekatan.
Contoh dari sebuah pasar tradisional yang mampu bertahan
meski dikelilingi oleh sedikitnya lima peritel modern besar ditemukan
di kawasan perumahan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang.
Sejak dibuka pada Juli 2004, pasar tersebut hingga kini tetap ramai
dikunjungi para pelanggan setianya (Kompas 2006). Pasar ini juga
telah mendapat penghargaan dari APPSI dan menjadi salah satu
pasar percontohan untuk pasar-pasar tradisional lainnya.
Lemahnya Regulasi Pasar Ritel
Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai Penataan
dan Pembinaan Pasar Modern dan Toko Modern yang rencananya
akan disahkan pada 2007 memberi sedikit angin segar bagi pasar
tradisional bahwa pemerintah pusat akan mengatur pertumbuhan
pasar modern di perkotaan. Selama ini, pada tingkat nasional
peraturan yang mengatur pasar tradisional hanya dalam bentuk
Surat Keputusan Menperindag yang dikeluarkan pada 13 Oktober
1997 (lihat Tabel 1). Surat keputusan (SK) ini menjadi pedoman
penataan dan pembinaan pasar dan pertokoan, dan bertujuan
untuk memproteksi pedagang kecil dan menengah dari peritel
besar. Seiring dengan undang-undang tentang otonomi daerah yang
memberikan kewenangan yang luas pada daerah, maka peraturan
daerah yang dikeluarkan lebih mempunyai kekuatan hukum
daripada SK Menperindag tersebut.
Pada tingkat daerah, hanya DKI Jakarta yang mempunyai
peraturan daerah yang secara spesifik dan komprehensif mengatur
pasar modern. Kota Bandung dan Kota Depok telah menerbitkan
beberapa peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan pasar
tradisional, namun peraturan daerah yang khusus mengatur
masalah yang berkaitan dengan pasar modern hingga kini belum
terbentuk. Masalah lainnya adalah dari segi penegakan hukumnya.
Sebagai contoh untuk DKI Jakarta, walaupun perda yang mengatur
masalah ini sudah ada, namun dalam praktiknya penegakan
hukumnya masih lemah.
Qualitative findings reveal that the main reasons why traditional
markets cannot compete with supermarkets are their weak management
and inferior infrastructure, not because of the presence of supermarkets
alone. Supermarkets actually gain advantages from the unfavorable
conditions that prevail in traditional markets. Traders, market managers,
and all stakeholders involved in traditional markets say that the main steps
that must be taken to ensure the survival of traditional markets are the
improvements of market facilities and infrastructure, finding a solution to
the problem of street vendors around the markets, and the improvement
of management systems, both in the offices of market management and
in the traditional markets themselves.
Despite their unfavorable situation, some traditional markets have
been able to survive because they are well managed and attention is given
to such aspects as cleanliness, comfort, and security for shoppers. The
advantages of traditional markets lie in specific features that modern
markets do not have, such as a buying and selling process that allows
bargaining over prices and an environment that enable sellers and buyers
to become acquainted.
An example of a traditional market that has been able to survive
using these strategies, despite being surrounded by at least five big modern
retailers can be found in the residential area of Bumi Serpong Damai
(BSD) in Tangerang. Since it was opened in July 2004, this market
has been visited by many loyal customers (Kompas 2006). The market
has received an award from APPSI and has become a model for other
traditional markets.
Weak Retail Market Regulation
The Draft Presidential Regulation concerning the Spatial Planning
and Development of Modern Shops and Markets, which is planned to
be enacted in 2007, brings a breath of fresh air to traditional markets in
that the central government will regulate the growth of modern markets
in urban areas. So far, national level regulations dealing with traditional
markets exist only in the form of a ministerial decree issued by the
Minister of Industry and Trade on 13 October 1997 (see Table 1). The
ministerial decree is a guide to the structure and development of markets
and shops, which aims to protect small and medium traders from big
retailers. In accordance with regional autonomy law, which gives wide-
ranging authority to the regions, regional-level regulations have greater
legal strength than the ministerial decree.
At the regional level, only Jakarta has specific and comprehensive
regional regulations to handle modern markets. Bandung and Depok
have issued a number of regulations related to the management of
traditional markets, but regional regulations that deal specifically with
matters linked to modern markets have not yet been prepared. There are
other problems related to law enforcement. As an example, even though
Jakarta has regional regulations that deal with these matters, in practice
their enforcement is weak.
B
Newsl et t er
F OK U S K AJ I AN F OCU S ON
Rancangan peraturan presiden tentang pasar modern juga
mengatur kewenangan Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah
dalam pemberian izin usaha dan pendirian pasar modern. Secara
garis besar, pemerintah daerah diberikan kewenangan dalam
pemberian izin. Alasannya, pemerintah daerah adalah pihak
yang paling mengetahui kondisi setempat dan mampu melakukan
pemantauan secara berkala. Penerbitan perpres ini sebagai upaya
meminimalisasi dampak negatif dari maraknya hipermarket dan
bentuk-bentuk usaha ritel modern besar lainnya (Tempo 2005).
Rekomendasi
Sudah saatnya Pemerintah Pusat mempunyai peraturan atau
kebijakan yang secara khusus mengatur pasar modern. Rancangan
Perpres Pasar Modern yang akan disahkan dalam waktu dekat
seharusnya diikuti juga dengan pemikiran untuk membuat undang-
undang mengenai bisnis ritel sebagaimana telah diusulkan oleh
KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha).
Seiring dengan meningkatnya persaingan di bisnis ritel, ada
beberapa hal yang harus menjadi landasan bagi pembuat kebijakan
untuk menjaga kelangsungan hidup pasar tradisional. Pertama,
memperbaiki sarana dan prasarana pasar tradisional. Masalah
keterbatasan dana seyogianya dapat diatasi dengan melakukan
kerja sama dengan pihak swasta seperti pasar tradisional di Bumi
Serpong Damai. Konsep bangunan pasar pun ketika renovasi harus
diperhatikan sehingga permasalahan seperti konsep bangunan yang
tidak sesuai dengan keinginan penjual dan pembeli dan kurangnya
sirkulasi udara tidak terulang kembali. Kedua, melakukan
pembenahan total pada manajemen pasar. Sepatutnya, kepala pasar
yang ditunjuk memiliki kemampuan dan kepandaian manajerial.
Ketiga, mencari solusi jangka panjang mengenai PKL yang salah
satunya adalah menyediakan tempat bagi PKL di dalam lingkungan
pasar.
Pedagang tradisional selama ini selalu dihadapkan pada masalah
permodalan dan jaminan/asuransi atas barang
dagangannya. Oleh sebab itu, sudah saatnya pemda
dan lembaga keuangan setempat memerhatikan
hal ini. Strategi pengadaan barang yang kerap
menjadi strategi utama pedagang tradisional
adalah membeli barang dagangan dalam bentuk
tunai dengan menggunakan dana pribadinya.
Kondisi ini berdampak negatif terhadap usaha.
Mereka menjadi sangat rentan terhadap kerugian
yang disebabkan oleh rusaknya barang dagangan
dan fluktuasi harga.
The draft presidential regulation concerning modern markets will also
regulate the authority of the central government and regional governments
to issue business permits and permits for establishing modern markets.
In broad terms, regional governments are given the authority to issue
permits. The reasoning behind this change is that the regional government
has the best understanding of local conditions and is able to undertake
regular observations. This presidential regulation is intended to minimize
the negative effects of the spread of hypermarkets and other forms of large
modern retail business (Tempo 2005).
Recommendations
It is high time that the central government has a regulation or policy
dealing specifically with modern markets. The proposed Presidential
Regulation concerning Modern Markets, which will be ratified in the
near future, should be accompanied by consideration of making a law
concerning retail business, as suggested by the Commission for the
Supervision of Business Competition (KPPU).
As competition in the retail sector increases, several matters must
form the foundations for policy makers in order to protect the survival
of traditional markets. The first is infrastructure improvement. It should
be possible to overcome the problem of fund limitations by cooperating
with private parties, like the traditional market in Bumi Serpong Damai
has done. When markets are renovated, attention must be given to the
question of buildings that are not suited to the wishes of buyers and sellers
and of poor air circulation, so that these problems are not repeated.
Secondly, there should be a total reorganization of market management;
the person appointed as market manager should have managerial ability
and skill. Thirdly, a long-term solution to the problem of street vendors
must be sought, one approach of which is to provide a place for them
within the market.
Traditional traders have always faced the problems of capital and
guarantees or insurance for the goods that they sell. It is therefore time
for regional governments and local financial institutions to give attention
to these matters. In the procurement
of goods, the main strategy of
traditional sellers is often to pay cash
for stock using their personal funds,
which has a negative effect on their
business. They become vulnerable to
losses caused by damage to stock and
by price fluctuations.
Pasar Bumi Serpong Damai (BSD), adalah contoh pasar
tradisional yang mampu bertahan meski dikelilingi oleh
sedikitnya lima peritel modern besar.
Bumi Serpong Damai (BSD) market is an example of a
traditional market that has been able to survive although it is
surrounded by at least five big modern retailers.
9
No. 22: Apr- Jun/2007
F OK U S K AJ I AN F OCU S ON
Tabel 1. Regulasi Terkait dengan Pasar Ritel/Table 1. Regulations Related to Retail Markets
Jenjang Regulasi/
Level of Regulation
Nasional
National

1. Keputusan Presiden No. 118/2000 tentang Perubahan dari Keputusan Presiden No. 96/2000 tentang Sektor Usaha
yang Terbuka dan Tertutup dengan Beberapa Syarat untuk Investasi Asing Langsung
Presidential Decree No. 118/2000 on the Changes of Presidential Decree No. 96/2000 on Business Sectors that are
open or closed with some requirements to Foreign Direct Investment
2. SKB Menteri Perindustrian dan Perdagangan dan Menteri Dalam Negeri No. 145/MPP/Kep/5/97 dan No. 57/MPP/1997
tentang Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan
Joint Decree Letter (SKB) of Minister of Industry and Trade and Minister of Home Affairs No. 145/MPP/ Kep/1997 and No.
57/1997 on Spatial Planning and Development of Markets and Shops
3. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No: 261/MPP/Kep/7/1997 tentang Pembentukan Tim Penataan dan
Pembinaan Pasar dan Pertokoan Pusat
Decree of Minister of Industry and Trade No. 261/MPP/ Kep/7/1997 on Establishment of the Central Team for the Spatial
Planning and Development of Markets and Shops
4. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 402/MPP/Kep/11/1997 tentang Ketentuan Perizinan Usaha
Perwakilan Perusahaan Perdagangan Asing
Decree of Minister of Industry and Trade No. 402/MPP/ Kep/11/1997 on Stipulations on Business Licenses for Foreign
TradeRepresentativeOffces
5. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 420/MPP/Kep/10/1997 tentang Pedoman Penataan dan
Pembinaan Pasar dan Pertokoan
Decree of Minister of Industry and Trade No. 420/MPP/ Kep/10/1997 on the Guidance for Spatial Planning and
Development of Markets and Shops
6. Surat Edaran Dirjen PDN No. 300/DJPDN/IX/97 tentang Prosedur Perizinan Pasar Modern
Circular of Directorate General of Domestic Trade No. 300/DJPDN/IX/97 on Licensing Procedures for Modern Markets
7. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.23/MPP/Kep/1/1998 tentang Lembaga-lembaga Usaha
Perdagangan
Decree of Minister of Industry and Trade No. 23/MPP/Kep/1/1998 on Trading Corporations
8. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.107/MPP/Kep/2/1998 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Izin Usaha Pasar Modern
Decree of the Minister of Industry and Trade No. 107/ MPP/Kep/2/1998 on Stipulations on and Procedures for Giving
Permits to Modern Markets
9. Lampiran Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.107/MPP/Kep/2/1998 tentang Ketentuan dan Tata
Cara Pemberian Izin Usaha Pasar Modern
Appendix of Decree of Minister of Industry and Trade No. 107/MPP/Kep/2/1998 on Stipulations on and Procedures for
Giving Permits to Modern Markets
10. Peraturan Menteri Perdagangan No.10/M-DAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Izin
Usaha Perwakilan Perusahaan Perdagangan Asing
Minister of Trade’s Regulation No. 10/M-DAG/PER/3/ 2006 on Stipulations on and Procedures for Issuing Business
LicensesforForeignTradeRepresentativeOffces
11. Peraturan Menteri Perdagangan No.12/M-DAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda
Pendaftaran Usaha Waralaba
Ministry of Trade’s Regulation No. 12/M-DAG/PER/3 /2006 on Stipulations on and Procedures for Issuing Franchise
BusinessRegistrationCertifcates
12. Rancangan Peraturan Presiden tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Modern dan Toko Modern
Presidential Regulation on Spatial Planning and Development of Markets and Shops (draft)
Jenjang Regulasi/Level of Regulation
Provinsi (hanya Jakarta)
Provincial (only Jakarta)

DKI Jakarta: Perda Provinsi No. 2/2002 tentang Pasar Swasta di DKI Jakarta; Keputusan
Gubernur No. 44/2003 mengenai Petunjuk Pelaksanaan Pasar Swasta di Jakarta
DKI Jakarta: Provincial Regulation No. 2/2002 on Private Markets in DKI Jakarta; Gubernatorial Decree No. 44/2003 on
Guidance on the Implementation of Private Markets in Jakarta
Kota (daerah sampel)
Kota (sample areas)
Kota Depok: Perda Kota Depok No. 49/2001 tentang Izin Gangguan; Perda Kota Depok No. 23/2003 mengenai Pasar di
Kota Depok
City of Depok: Mayoral Decree No. 49/2001 on Disturbamce Permit; Local Regulation No. 23/2003 on Market
Management in Depok
Kota Bandung: Perda Kabupaten Bandung No. 3/1994 tentang Pengelolaan Pasar di Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat
II Bandung; Perda Kabupaten Bandung No. 27/1996 tentang Dinas Pengelolaan Pasar Kabupaten Bandung; Keputusan
Walikota Bandung No. 382/2000 tentang Pengelompokan Kelas Pasar dan Standar Harga Jual Tempat Berjualan di Kota
Bandung; Perda No. 19/2001 tentang Manajemen Pasar di Kota Bandung; Keputusan Walikota No. 644/2002
tentang Tarif untuk Kebersihan di Kota Bandung; Rancangan Perda tentang Pasar Modern dan Toko Modern; Buku
Pedoman Pelayanan pada Unit Pelayanan Satu Atap
City of Bandung: Local Regulation No. 3/1994 on Market Management in the Districts of Bandung; Local Regulation
No.27/1996onOffceofMarketManagementofBandungDistrict;MayoralDecreeNo.382/2000onClassifcationof
Markets and Standard Selling Prices of Markets in Bandung; Local Regulation No. 19/2001 on Market Management in
Bandung; Mayoral Decree No. 644/2002 on Tariff for Cleaning Services in Bandung; Draft Regional Regulation on Modern
Markets and Shops; Service Guide for One-stop Service Units
1u
Newsl et t er
F OK U S K AJ I AN F OCU S ON
Untuk menghindari tenggelamnya pasar tradisional akibat
kehadiran pasar modern, diperlukan pendekatan yang terpadu
bagi ketiga permasalahan di atas, yakni adanya regulasi untuk
melindungi pasar tradisional, dukungan perbaikan infrastruktur,
penguatan manajemen dan modal pedagang di pasar tradisional. n
To prevent traditional markets from declining as a consequence of the
presence of modern markets, an integrated approach is needed to overcome
the three main problems traditional markets currently face. This approach
should include regulations to protect traditional markets, support in the
form of infrastructure improvements, the strengthening of management
practices and capital support for traders in traditional markets. n
Daftar Pustaka
A.C. Nielsen (2005) Asia Pacific Retail and Shopper Trends 2005 [Tren Pembeli
dan Ritel Asia Pasifik 2005]. [online] <http://www.acnielsen.de/
pubs/documents/RetailandShopperTrendsAsia2005.pdf>
Kompas (2006) ’Jangan Biarkan Pasar Bersaing dengan Hipermarket’
[online] <http://www.kompas.com/kompas-cetak/0606/02/metro/
2693747.htm> [2 Juni 2006]
Natawidjaja, Ronnie S. (2006) Modern Market Growth and the Changing
Map of the Retail Food Sector in Indonesia [Pertumbuhan Pasar Modern
dan Perubahan Peta Sektor Ritel Makanan di Indonesia]. Pacific Food
System Outlook 9th Annual Forecasters [online] <www.pecc.org/food/
papers/2005-2006/Indonesia/indonesia-paper. pdf> [6 July 2006]
Pricewaterhouse Coopers (2005) Global Retail and Consumer Study From
Beijing to Budapest [Kajian Ritel dan Konsumen dari Beijing sampai
Budapest]. PricewaterhouseCoopers [online] <www.pwc.com/gx/
eng/about/ind/retail /growth/indonesia.pdf> [6 July 2006]
Suryadarma, Daniel et al (akan diterbitkan) ’The Impact of Supermarkets
on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban
Centers’ [Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang
Ritel Tradisional di Pusat-pusat Perkotaan di Indonesia]. Research
Report. Jakarta: The SMERU Research Institute
Tempo (2005) ‘Pasar Modern Sebagian Besar Disinyalir Tak Berizin‘
[online] <http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2005/03/03/
brk,20050303-07,id.html> [3 Maret 2005]
Wiboonponse, Aree dan Songsak Sriboonchitta (2006) ’Securing Small
Producer Participation in Restructured National and Regional Agri-
Food Systems: The Case of Thailand’ [Mengamankan Partisipasi
Produsen Kecil dalam Sistim Agro-Makanan Nasional dan Regional
Yang Terrestrukturisasi: Kasus Thailand]. Regoverning Markets
[online] <http://www.regoverningmarkets.org/> [6 July 2006]
List of references
A.C. Nielsen (2005) Asia Pacific Retail and Shopper Trends 2005
[ onl i ne] <ht t p: / / www. acni el s en. de/ pubs / document s /
RetailandShopperTrendsAsia2005.pdf>
Kompas (2006) ‘Jangan Biarkan Pasar Bersaing dengan Hipermarket’
[Don’t Let Traditional Markets Compete with Hypermarkets]
[online] <http://www.kompas.com/kompas-cetak/0606/02/metro/
2693747.htm> [2 June 2006]
Natawidjaja, Ronnie S. (2006) ‘Modern Market Growth and the Changing
Map of the Retail Food Sector in Indonesia.’ Pacific Food System
Outlook 9th Annual Forecasters [online] <http://www.pecc.org/
food/papers/2005-2006/Indonesia /indonesia-paper. pdf> [6 July
2006]
Pricewaterhouse Coopers (2005) Global Retail and Consumer Study From
Beijing to Budapest [online] <http://www.pwc.com/gx/eng/about/
ind/retail/growth/ indonesia.pdf> [6 July 2006]
Suryadarma, Daniel et al (forthcoming) ‘The Impact of Supermarkets on
Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers.’
Research Report. Jakarta: The SMERU Research Institute
Tempo (2005) ‘Pasar Modern Sebagian Besar Disinyalir Tak Berizin’ [Most
Modern Markets are Suspected of Operating without a License]
[online] <http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2005/03/03/
brk,20050303-07,id.html> [3 Maret 2005]
Wiboonponse, Aree and Songsak Sriboonchitta (2006) ‘Securing Small
Producer Participation in Restructured National and Regional
Agri-Food Systems: The Case of Thailand.’ Regoverning Markets
[online] <http://www.regoverningmarkets.org/> [6 July 2006]
Diperlukan pendekatan yang terpadu agar
pasar tradisional tidak tenggelam akibat
kehadiran pasar modern.
An integrated approach is needed to prevent
traditional markets from declining as a
consequence of the presence of modern
markets.
S
M
E
R
U
11
No. 22: Apr- Jun/2007
DAT A B E R K AT A AND T HE DAT A S AY S
MEngUkUr daMPak kEbEradaan sUPErMarkET
TErhadaP Pasar Tradisional
MeasurinG The iMpaCT of superMarkeTs on
TradiTional MarkeTs
Meuthia Rosfadhila*
*Meuthia Rosfadhila adalah peneliti junior Lembaga Penelitian SMERU.
1
Judul kajian tersebut adalah ‘The Impact of Supermarkets on Traditional Markets
and Retailers in Indonesia’s Urban Centers.’
* Meuthia Rosfadhila is a junior researcher at The SMERU Research Institute.
1
The title of the study is ‘The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers
in Indonesia’s Urban Centers.’
M
enjamurnya supermarket di Indonesia saat ini berdampak
pada sektor perdagangan ritel. Semenjak diberlakukannya
liberalisasi sektor ritel pada 1998, kompetisi yang terjadi
antarsupermarket di pasar ritel Indonesia tidak hanya melibatkan
pemain lokal, tetapi juga pemain asing. Beberapa kalangan
menyatakan bahwa pasar tradisional adalah pihak yang paling
terkena dampak kompetisi supermarket ini. Untuk membuktikan
hal ini, Lembaga Penelitian SMERU melakukan kajian mengenai
dampak kehadiran supermarket terhadap pasar dan pedagang ritel
tradisional di daerah perkotaan di Indonesia.
1
Kesimpulan dari
analisis kuantitatif kajian tersebut akan diuraikan dalam tulisan ini.
Beberapa penelitian mengenai dampak supermarket yang pernah
dilakukan di negara berkembang, di antaranya oleh Reardon dan
Berdegué (2002), Reardon et al (2003), Traill (2006), dan Reardon
dan Hopkins (2006), menemukan adanya dampak negatif terhadap
pedagang ritel tradisional dengan menjamurnya supermarket.
Pedagang yang terlebih dahulu bangkrut biasanya adalah pedagang
T
he current rapid spread of supermarkets in Indonesia is impacting
the retail trade sector. Since the liberalization of the retail sector in
1998, the competition between supermarkets in Indonesian retailing has
involved not only local but also foreign players. According to a number
of circles, the traditional markets are the most affected by the impact
of competition from the supermarkets. To examine this, The SMERU
Research Institute carried out a study concerning the impact of the
presence of supermarkets on traditional markets and traditional traders
in urban areas in Indonesia.
1
The findings drawn from the quantitative
analysis in the study are described in this article.
Several studies have been carried out on the impact of supermarkets
in developing countries, including those by Reardon and Berdegué
(2002), Reardon et al (2003), Traill (2006), and Reardon and Hopkins
(2006). These studies have found that the rapid increase in supermarkets
has had a negative effect on traditional traders. The traders who are the
first to become bankrupt are usually those who sell broad lines, processed
S
M
E
R
U
12
Newsl et t er
DAT A B E R K AT A AND T HE DAT A S AY S
yang menjual aneka barang, makanan olahan, dan produk-produk
olahan susu, diikuti oleh toko-toko yang menjual bahan makanan
segar dan pasar tradisional. Mereka hanya dapat bertahan selama
beberapa tahun. Setelah itu, tinggal pedagang yang berdagang
produk-produk spesifik atau mereka yang berdagang di daerah
yang dilindungi dari keberadaan supermarket saja yang dapat tetap
bertahan.
Untuk mengukur dampak supermarket terhadap pasar
tradisional di daerah perkotaan di Indonesia, SMERU menggunakan
pendekatan kuantitatif dengan metode difference-in-difference
(DiD) dan model ekonometrik. Penghitungan dengan metode DiD
digunakan untuk melihat signifikansi perbedaan antara kelompok
perlakuan dan kelompok kontrol. Kelompok perlakuan adalah para
pedagang di pasar tradisional yang letaknya berdekatan dengan
supermarket, sedangkan kelompok kontrol adalah sebaliknya. Hal
ini dinyatakan dalam persamaan 1 berikut ini:
Dampak = (T2 – T1) – (C2 – C1) (1)
di mana T1 dan T2 adalah kondisi pedagang di pasar tradisional
sebelum dan sesudah adanya supermarket di daerah tersebut dan
C1 dan C2 adalah kondisi pedagang di pasar tradisional di mana
tidak ada supermarket di daerah tersebut untuk periode yang sama.
Penelitian ini menggunakan tahun 2003 sebagai tahun dasar untuk
memastikan bahwa pedagang masih dapat mengingat kondisi pada
saat itu dan akhir tahun 2003 merupakan tahun permulaan masuknya
hipermarket ke kota-kota lebih kecil, seperti Kota Depok. Sementara
itu, penggunaan model ekonometrik bertujuan untuk memasukkan
variabel-variabel kontrol yang mungkin berpengaruh terhadap hasil.
Kajian ini mengambil lokasi sampel di Bandung dan Depok,
daerah perkotaan yang memiliki tingkat kepadatan supermarket
yang cukup tinggi, dan memilih tujuh pasar tradisional secara
purposif. Kriteria yang digunakan adalah yang menjamin bahwa
terdapat kesamaan profil antara pasar kontrol dan perlakuan
selain keberadaan supermarket. Dengan satu pasar kontrol di
masing-masing daerah, secara total dipilih empat pasar tradisional
di Bandung dan tiga di Depok. Pemilihan lokasi kontrol
didasarkan pada kriteria bahwa di lokasi tersebut akan berdiri
sebuah supermarket pada 2007. Responden untuk
kajian ini, yaitu para pedagang pasar tradisional,
dipilih secara acak dengan menggunakan metode
penarikan sampel probabilitas-sesuai-ukuran
(probability-proportionate-to-size atau PPS).
food and dairy products, followed by shops that sell fresh produce and
traditional markets. They can survive for only a few years. After that, the
traders who continue to operate are those who deal in specific products
and those who carry out trade in areas where they are protected from the
presence of supermarkets.
To estimate the effect of supermarkets on traditional markets in
urban areas in Indonesia, SMERU used a quantitative approach with
the difference-in-difference (DiD) method and an econometric model.
Calculations with DiD method were used to ascertain the significance of
the difference between the treatment group and the control group. The
treatment group consists of traders in traditional markets located close to
supermarkets, while the control group is the opposite. This is stated in the
following equation:
Impact = (T2 – T1) – (C2 – C1) (1)
where T1 and T2 represent the situation of traders in a traditional market
before and after the establishment of a supermarket near the traditional
market and C1 and C2 are the situation of traders in a traditional market
where there is no supermarket in the vicinity for the same period of time.
The study used 2003 as the base year to ensure that the traders would
still be able to recall the situation at that time and because hypermarkets
began to enter smaller towns like Depok towards the end of 2003. An
econometric model was used to include control variables that might have
an influence on results.
Sample research locations were selected in Bandung and Depok,
which are urban areas with a fairly high density of supermarkets. Seven
traditional markets were selected purposively. The study used criteria
that guaranteed profile similarities between control and treatment
markets other than the existence of supermarkets. With the inclusion
of one control market in each area, in total four traditional markets in
Bandung and three in Depok were chosen. Selection of control locations
was based on the criterion that a supermarket would be established in
these locations in 2007. Respondents for the study, that is, traders in
the traditional markets, were chosen at random using the probability-
proportionate-to-size (PPS) method to obtain a sample.
Banyak kalangan berpandangan bahwa pasar tradisional
adalah pihak yang paling terkena dampak kompetisi
supermarket.
Many people believe that traditional markets are the most
affected by the impact of competition from supermarkets.
13
No. 22: Apr- Jun/2007
DAT A B E R K AT A AND T HE DAT A S AY S
Tabel 1. Komoditas dan Proporsi Pedagang (%)/Table 1. Commodities and Proportion of Traders (%)
Sayur-sayuran segar/ Daging (sapi, kambing, babi)/
Fresh vegetables Meat (beef, goat, pork)
Bahan makanan dan minuman/ Bumbu-bumbuan/
Food and beverages Spices
Buah-buahan segar/ Telor dan susu/
Fresh fruits Eggs and milk
Kebutuhan rumah tangga lainnya/ Minyak sayur/
Other household necessities Vegetable oil
Ikan/ Kacang-kacangan/
Fish Pulses
Ayam Umbi-umbian/
Poultry Root vegetables
Beras
Rice
Kondisi Persaingan di Pasar Tradisional
Berdasarkan analisis deskriptif, mayoritas komoditas yang
dijual di pasar tradisional adalah sayur-sayuran segar (lihat Tabel
1). Sebanyak 22,4% pedagang menjual sayur-sayuran segar sebagai
komoditas dagangan utama mereka. Artinya, ada persaingan
antarpedagang sayur-sayuran segar yang cukup ketat sehingga harga
komoditas sayur-sayuran segar berkualitas baik di pasar tradisional
menjadi lebih kompetitif daripada komoditas lainnya.
Tabel 2 menunjukkan pesaing-pesaing utama para pedagang di
pasar tradisional dalam berusaha di lokasi perlakuan dan kontrol
berdasarkan perspektif mereka. Terlihat perbedaan yang jelas
antara lokasi kontrol dan perlakuan. Mayoritas pedagang di lokasi
perlakuan menyatakan bahwa supermarket adalah pesaing utama
mereka. Akan tetapi jika proporsi pesaing-pesaing yang berasal dari
sesama pedagang di dalam dan sekitar pasar (pedagang kaki lima)
digabung, jumlahnya akan lebih tinggi dari proporsi supermarket. Di
lokasi kontrol, hanya terdapat 3,25% pedagang yang menyatakan
bahwa supermarket merupakan pesaing utama mereka dan mereka
juga menyatakan bahwa pesaing utama mereka adalah sesama
pedagang di dalam pasar. Hal yang menarik adalah bahwa terdapat
cukup banyak pedagang, baik di lokasi kontrol maupun perlakuan,
yang tidak dapat mengidentifikasi siapa pesaing utama mereka.
Competition in Traditional Markets
Based on a descriptif analysis, most of the commodities sold in
traditional markets are fresh vegetables (see Table 1). Some 22.4% of
vendors sell fresh vegetables as their main commercial commodity. This
means that there is fairly strong competition between traders of fresh
vegetables, which makes the prices of good quality fresh vegetables
in traditional markets more competitive than the prices of other
commodities.
Table 2 shows the main business competitors of traders in traditional
markets in the treatment and control locations, according to their
own perspectives. There is a clear difference between the control and
treatment locations. The majority of traders in the treatment locations
said that supermarkets are their main competitors. But if the proportions
of competitors who originate from fellow traders in and around the market
(street vendors) are combined, the number is higher than the proportion
of supermarkets. In the control locations, only 3.25% of traders said that
supermarkets constitute their main competition. They also said that their
main competitors are fellow traders in the market. It is interesting to note
that quite a lot of traders, in both control and treatment areas, could not
identify their main competitors.
Kinerja Usaha Pedagang di Pasar Tradisional
Dengan menggunakan indikator keuntungan, omzet, dan jumlah
pegawai, dapat dilihat perubahan kinerja usaha pedagang di pasar
tradisional selama periode 2003 hingga 2006. Tabel 3 menunjukkan
rata-rata proporsi perubahan masing-masing indikator itu. Baik
pedagang di lokasi perlakuan maupun kontrol mengalami penurunan
untuk masing-masing indikator dengan penurunan terbesar pada
indikator keuntungan. Hal ini mengindikasikan bahwa mayoritas
pedagang mengutamakan kelangsungan usaha dalam berdagang
daripada keuntungan yang mereka dapatkan. Sebagai catatan,
tanda negatif dalam tabel menyatakan bahwa terdapat penurunan
kinerja usaha, baik secara keseluruhan maupun di masing-masing
lokasi kontrol dan perlakuan dalam tiga tahun terakhir.
The Business Performance of Traders in Traditional Markets
The use of profit, income, and number of employees as indicators
highlights the changes in the business performance of traders in traditional
markets during the period from 2003 to 2006. Table 3 shows the average
proportion of change in each of these indicators. Traders in both treatment
and control locations experienced a drop for each indicator, with the
greatest drop in profits. This indicates that the majority of traders give
priority to continuous trade rather than the profit that they obtain. A
negative sign in the table indicates a decline has occurred in business
performance, both as a whole and in each control and treatment location
during the past three years.
22,4
17,2
8,9
7,9
7,4
6,9
6,9
6,4
5,9
4,4
2,7
2,2
1,0
Note: This table uses Indonesian numbering conventions, for example, 22,4 = 22.4.
14
Newsl et t er
DAT A B E R K AT A AND T HE DAT A S AY S
Tabel 2. Proporsi Pesaing Utama di Lokasi Perlakuan dan Kontrol (%)/
Table 2. Proportion of Main Competitors in Treatment and Control Locations (%)
Supermarket/Supermarkets
Sesama pedagang di dalam pasar/
Fellow market traders
Tidak tahu/Do not know
PKL di sekitar pasar/Street vendors
around the market
Pedagang keliling/Itinerant traders
Minimarket/Minimarkets
Warung/Food stalls
42,29
29,25
13,44
12,25
1,19
1,19
0,40
Sesama pedagang di dalam pasar/
Fellow market traders
PKL di sekitar pasar/Street vendors
around the market
Tidak tahu/Do not know
Minimarket/Minimarkets
Supermarket/Supermarkets
Pedagang keliling/Itinerant traders
38,96
27,27
25,32
4,55
3,25
0,65
Dampak Supermarket
Hasil DiD untuk mengukur dampak supermarket terhadap
kinerja pasar tradisional dapat dilihat pada Tabel 4. Perbedaan
masing-masing indikator di kelompok perlakuan dan kontrol tidak
ada yang secara signifikan berbeda dari nol, yang artinya dampak
dari keberadaan supermarket terhadap keuntungan, omzet, dan
jumlah pekerja pasar tradisional tidak nyata secara statistik.
Untuk analisis kuantitatif dengan menggunakan model
ekonometrik, dilakukan 12 estimasi untuk masing-masing variabel
dependen yang terdiri atas perubahan proporsi keuntungan, omzet,
dan jumlah pekerja dengan menggunakan tiga set data kontrol.
Ketiga set data kontrol tersebut terdiri dari variabel-variabel yang
mengontrol kondisi pedagang pada 2003, variabel-variabel yang
mengontrol perubahan kondisi antara 2003 sampai 2006, dan
variabel boneka (dummy) Depok. Sebagai indikator dari keberadaan
supermarket, digunakan dua variabel yang terdiri atas variabel
boneka untuk kelompok perlakuan dan jarak dari pasar tradisional
ke supermarket terdekat. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 5.
Hasil yang diperoleh dari estimasi secara keseluruhan menunjukkan
nilai koefisien determinasi yang berkisar dari hampir nol sampai dengan
0,4 seiring dengan penambahan variabel kontrol untuk ketiga variabel
dependen. Variabel boneka untuk kelompok perlakuan dan jarak pasar
tradisional ke supermarket terdekat memiliki tanda koefisien positif
dan negatif yang tidak secara signifikan berbeda dari nol untuk variabel
The Impact of Supermarkets
DiD results for measurement of the impact of supermarkets on the
business performance of traditional markets can be seen from Table 4.
Among the differences in each of the indicators in the treatment and
control groups, none differ significantly from zero, which indicates that
the effects of supermarkets on profit, earnings, and employee numbers in
traditional markets are not statistically significant.
The quantitative analysis using an econometric model performed
12 estimations for each dependent variable consisting of changes in
proportions of profit, earnings and number of employees. Three sets of
control data were used: the variables that controlled the situation of
traders in 2003, the variables that controlled changes in their situation
between 2003 and 2006, and the Depok dummy variable. As indicators
of the presence of a supermarket, two variables were used: the treatment
dummy variable and the distance from the traditional market to the
nearest supermarket. The results can be seen in Table 5.
The results obtained from overall estimations reveal coefficients of
determination ranging from almost zero to 0.4 together with increases in
the number of control variables for the three dependent variables. The
treatment dummy variable and the distance from a traditional market
to the nearest supermarket have positive and negative coefficients that
do not differ significantly from zero for the dependent variable of change
in the proportions of profit and earnings. The treatment dummy variable
Table 3. Rata-rata Proporsi Perubahan Keuntungan, Omzet,
dan Jumlah Pegawai Pedagang di Pasar Tradisional, 2003 - 2006 (%)/
Table 3. Average Proportion of Change in Traders’ Profts, Earnings, and Employee Numbers
in Traditional Markets, 2003–2006 (%)

Perlakuan/
Treatment
Kontrol/
Control
Keuntungan/Profit
Omzet/Earnings
Jumlah Pekerja/Number of
employees
-19,30
(57,71)
-8,98
(67,42)
-6,84
(33,13)
Keseluruhan/
Total
-24,10
(63,02)
-3,05
(223,42)
-3,87
(35,12)
-21,11
(59,74)
-6,72
(147,54)
-5,78
(33,8)
Catatan: Standar deviasi di dalam tanda kurung
Pesaing Utama/Main Competitor %
Kontrol/Control Perlakuan/Treatment
Pesaing Utama/Main Competitor %
Note: This table uses Indonesian numbering conventions, for example, 42,29 = 42.29.
Note: Standard deviations are shown in brackets.This table uses Indonesian numbering conventions, for example, -19,30 = -19.30.
15
No. 22: Apr- Jun/2007
DAT A B E R K AT A AND T HE DAT A S AY S
dependen perubahan proporsi keuntungan dan omzet. Sementara itu,
untuk variabel dependen perubahan proporsi jumlah pegawai, variabel
boneka untuk kelompok perlakuan memiliki tanda koefisien negatif
yang secara signifikan berbeda dari nol. Hal ini menunjukkan bahwa
pedagang di daerah perlakuan mempunyai jumlah pegawai yang
lebih sedikit daripada pedagang di daerah kontrol. Hasil estimasi
ini didukung pula oleh signifikannya variabel jarak dari pasar
tradisional ke supermarket terdekat untuk variabel dependen yang
sama. Tes tersebut menunjukkan bahwa semakin jauh jarak pasar
tradisional dari supermarket, semakin tinggi kemampuan pedagang
untuk mempekerjakan lebih banyak pegawai.
Kesimpulan
Kehadiran supermarket tidak terbukti secara langsung memberi
dampak terhadap kinerja usaha pedagang di pasar tradisional. Hasil
estimasi variabel boneka untuk kelompok perlakuan dan jarak pasar
tradisional ke supermarket tidak berdampak signifikan terhadap
dua indikator utama kinerja usaha, yaitu keuntungan dan omzet.
Sementara itu, untuk indikator jumlah pekerja, hasil estimasi
menunjukan bahwa pedagang di lokasi perlakuan mempunyai
jumlah pegawai yang lebih sedikit daripada pedagang di lokasi
kontrol. Pedagang di lokasi perlakuan akan mengurangi jumlah
pegawainya seiring dengan semakin dekatnya letak supermarket.
Dengan kata lain, kondisi pasar persaingan sempurna yang dihadapi
oleh para pedagang di pasar tradisional membuat mereka cenderung
untuk mengurangi biaya operasional, termasuk biaya pegawai,
untuk mempertahankan kelangsungan usaha. n
for the dependent variable of change in the proportion of employee
numbers has a negative coefficient that differs significantly from zero.
This indicates that traders in the treatment areas have fewer employees
than traders in the control areas. This estimation result is also supported
by the significance of the variable for distance from the traditional market
to the nearest supermarket for the same dependent variable. The test
demonstrates that the farther the distance of a traditional market to a
supermarket, the higher the ability of traders to hire more employees.
Conclusion

The presence of supermarkets has not been proven to directly impact
the business performance of traders in traditional markets. The estimation
results from the dummy variable for the treatment group and the distance
of traditional markets to supermarkets are insignificant for the two
main business performance indicators, profit and earnings. However,
the indicator for employee numbers shows that traders in the treatment
locations have fewer employees than traders in the control locations.
Traders in the treatment loactions will reduce their employee numbers in
line with decreasing distance from a supermarket. In other words, perfect
market competition faced by traders in the traditional markets causes
them to reduce their operational costs, including their employee costs, to
maintain business continuity. n
Tabel 4. Dampak Supermarket terhadap Pasar Tradisional Menggunakan Metode Difference-in-Difference/
Table 4. Impact of Supermarkets on Traditional Markets using the Difference-in-Difference Method
Perlakuan/
Treatment
Kontrol/
Control
Keuntungan/Profit
Omzet/Earnings
Jumlah Pekerja/Number of
employees
-19,30
(-33,3)
-8,98
(-25)
-6,84
(1)
Perbedaan/
Difference
-24,10
(-40)
-3,05
(-33)
-3,87
(1)
4,79
-5,93
-2,96
Catatan: Angka-angka tersebut adalah rata-rata perubahan proporsional dalam setiap kategori antara 2003 dan 2006. Median
dalam tanda kurung.
Note: These figures are the average proportional change in each category between 2003 and 2006. The median is shown in brackets.
This table uses Indonesian numbering conventions, for example, -19,30 = -19.30.
10 April 2007. Seminar Nasional Jalan Keluar dari Kemiskinan
Tim peneliti SMERU menyajikan hasil studi “Keluar dari Kemiskinan” yang
disponsori oleh Bank Dunia. Studi ini meliputi wilayah Maluku Utara, Jawa
Timur, Timor Barat, dan Timor Timur. Diselenggarakan di kantor SMERU,
Jakarta.
5 Juni 2007. FGD Visi Reformasi Pasar Tenaga Kerja dan Peningkatan
Produktivitas dalam Rangka Penyusunan Visi Indonesia 2030
FGD (diskusi kelompok terarah) ini diselanggarakan oleh SMERU bersama
dengan Lembaga Demografi FE-UI di kantor SMERU dan dihadiri oleh
antara lain Depnakertrans, Kementerian Koordinator Kesra, Apindo, serikat
pekerja, akademisi, ornop, ahli di bidang pekerja migran, dan ahli di bidang
ketenagakerjaan pertanian.
Mengintip Kegiatan SMERU/What’s up at SMERU
10 April 2007. National Seminar: Moving Out of Poverty
The SMERU research team presented the results of the World Bank-sponsored ”Moving
Out of Poverty” study. This study covers the regions of North Maluku, East Java, West
Timor, and East Timor. The seminar was held in the SMERU office, Jakarta.
5 June 2007. FGD for Labor Market Reforms and Increasing Productivity
in the Framework of Formulating Vision Indonesia 2030
The FGD (focus group discussion) was held by SMERU in conjunction with the
Demographics Institute, Faculty of Economics, University of Indonesia, at the
SMERU office, and attended by representatives from the Department of Labor and
Transmigration, the Coordinating Ministry for People’s Welfare (Menko Kesra), the
Employers’ Association of Indonesia (Apindo), workers’ unions, academia, NGOs,
and experts in the fields of migrant workers and agricultural labor.

Newsl et t er
DAT A B E R K AT A AND T HE DAT A S AY S
V
a
r
i
a
b
e
l

D
e
p
e
n
d
e
n
:

P
e
r
u
b
a
h
a
n

P
r
o
p
o
r
s
i

O
m
z
e
t
/
D
e
p
e
n
d
e
n
t

V
a
r
i
a
b
l
e
:

P
r
o
p
o
r
t
i
o
n
a
l

C
h
a
n
g
e

i
n

E
a
r
n
i
n
g
s
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2
B
o
n
e
k
a

p
e
r
l
a
k
u
a
n
/
T
r
e
a
t
m
e
n
t

d
u
m
m
y
J
a
r
a
k

k
e

s
u
p
e
r
m
a
r
k
e
t

(
k
i
l
o
m
e
t
e
r
)
/
D
i
s
t
a
n
c
e

t
o

s
u
p
e
r
m
a
r
k
e
t

(
k
i
l
o
m
e
t
e
r
s
)
V
a
r
i
a
b
e
l

k
o
n
t
r
o
l
:

t
a
h
u
n

2
0
0
3
/
C
o
n
t
r
o
l

v
a
r
i
a
b
l
e
s
:

2
0
0
3

l
e
v
e
l
V
a
r
i
a
b
e
l

k
o
n
t
r
o
l
:

p
e
r
u
b
a
h
a
n

2
0
0
3



2
0
0
6
/
C
o
n
t
r
o
l

v
a
r
i
a
b
l
e
s
:

c
h
a
n
g
e
s

2
0
0
3

2
0
0
6
B
o
n
e
k
a

D
e
p
o
k
/
D
e
p
o
k

d
u
m
m
y
R
-
k
u
a
d
r
a
t
/
R
-
s
q
u
a
r
e
d
-
0
,
0
6
[
0
,
1
8
]
-
-
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o

T
i
d
a
k
/
N
o

0
,
0
0
0
4
-
0
,
1
2
[
0
,
0
8
]
-
-
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
0
,
1
3
9
7
-
0
,
1
3
[
0
,
0
7
]
-
-
Y
a
/
Y
e
s
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
0
,
2
9
6
9
-
0
,
0
6
[
0
,
1
8
]
-
-
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
Y
a
/
Y
e
s
0
,
0
0
0
4
-
0
,
1
4
[
0
,
0
7
]
-
-
Y
a
/
Y
e
s
Y
a
/
Y
e
s
Y
a
/
Y
e
s
0
,
2
9
8
8
-
-
0
,
0
0
8
[
0
,
0
1
9
]
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
0
,
0
0
1
2
-
-
-
0
,
0
0
9
[
0
,
0
0
6
]
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
0
,
1
3
8
3
-
-
-
0
,
0
0
9
[
0
,
0
0
6
]
Y
a
/
Y
e
s
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
0
,
2
9
4
7
-
-
-
0
,
0
0
9
[
0
,
0
1
8
]
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
Y
a
/
Y
e
s
0
,
0
0
1
2
-
-
-
0
,
0
0
8
[
0
,
0
0
6
]
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
Y
a
/
Y
e
s
0
,
1
4
0
1
-
-
-
0
,
0
0
9
[
0
,
0
0
6
]
Y
a
/
Y
e
s

Y
a
/
Y
e
s
Y
a
/
Y
e
s
0
,
2
9
6
1
-
[
0
,
0
8
]
-
-
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
Y
a
/
Y
e
s
0
,
1
4
2
9
V
a
r
i
a
b
e
l

D
e
p
e
n
d
e
n
:

P
e
r
u
b
a
h
a
n

P
r
o
p
o
r
s
i

K
e
u
n
t
u
n
g
a
n
/
D
e
p
e
n
d
e
n
t

V
a
r
i
a
b
l
e
:

P
r
o
p
o
r
t
i
o
n
a
l

C
h
a
n
g
e

i
n

P
r
o
f
i
t
s
B
o
n
e
k
a

p
e
r
l
a
k
u
a
n
/
T
r
e
a
t
m
e
n
t

d
u
m
m
y
J
a
r
a
k

k
e

s
u
p
e
r
m
a
r
k
e
t

(
k
i
l
o
m
e
t
e
r
)
/
D
i
s
t
a
n
c
e

t
o

s
u
p
e
r
m
a
r
k
e
t
(
k
i
l
o
m
e
t
e
r
s
)
V
a
r
i
a
b
e
l

k
o
n
t
r
o
l
:

t
a
h
u
n

2
0
0
3
/
C
o
n
t
r
o
l

v
a
r
i
a
b
l
e
s
:

2
0
0
3

l
e
v
e
l
V
a
r
i
a
b
e
l

k
o
n
t
r
o
l
:

p
e
r
u
b
a
h
a
n

2
0
0
3



2
0
0
6
/
C
o
n
t
r
o
l

v
a
r
i
a
b
l
e
s
:

c
h
a
n
g
e
s

2
0
0
3

2
0
0
6
B
o
n
e
k
a

D
e
p
o
k
/
D
e
p
o
k

d
u
m
m
y
R
-
k
u
a
d
r
a
t
/
R
-
s
q
u
a
r
e
d
0
,
0
5
[
0
,
0
6
]
-
-
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o

T
i
d
a
k
/
N
o

0
,
0
0
1
5
0
,
0
5
[
0
,
0
8
]
-
-
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
0
,
1
7
0
5
0
,
0
7
[
0
,
0
7
]
-
-
Y
a
/
Y
e
s
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
0
,
3
6
0
7
0
,
0
5
[
0
,
0
6
]
-
-
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
Y
a
/
Y
e
s
0
,
0
0
2
9
0
,
0
7
[
0
,
0
7
]
-
-
Y
a
/
Y
e
s
Y
a
/
Y
e
s
Y
a
/
Y
e
s
0
,
3
6
8
2
-
-
-
0
,
0
0
5
[
0
,
0
0
5
]
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
0
,
0
0
2
5
-
-
-
0
,
0
0
7
[
0
,
0
0
6
]
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
0
,
1
7
3
0
-
-
-
0
,
0
0
7
[
0
,
0
0
5
]
Y
a
/
Y
e
s
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
0
,
3
6
2
6
-
-
-
0
,
0
0
4
[
0
,
0
0
5
]
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
Y
a
/
Y
e
s
0
,
0
0
3
2
-
-
-
0
,
0
0
6
[
0
,
0
0
6
]
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
Y
a
/
Y
e
s
0
,
1
8
0
4
-
-
-
0
,
0
0
6
[
0
,
0
0
5
]
Y
a
/
Y
e
s

Y
a
/
Y
e
s
Y
a
/
Y
e
s
0
,
3
6
8
0
0
,
0
6
[
0
,
0
7
]
-
-
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
Y
a
/
Y
e
s
0
,
1
8
0
1
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
2
2
2
3
2
4
C
a
t
a
t
a
n
:

G
a
l
a
t

s
t
a
n
d
a
r

d
i
k
o
r
e
k
s
i

d
i

d
a
l
a
m

t
a
n
d
a

k
u
r
u
n
g
/
N
o
t
e
:

R
o
b
u
s
t

s
t
a
n
d
a
r
d

e
r
r
o
r
s

i
n

p
a
r
e
n
t
h
e
s
e
s
V
a
r
i
a
b
e
l

D
e
p
e
n
d
e
n
:

P
e
r
u
b
a
h
a
n

J
u
m
l
a
h

P
e
k
e
r
j
a
/
D
e
p
e
n
d
e
n
t

V
a
r
i
a
b
l
e
:

P
r
o
p
o
r
t
i
o
n
a
l

C
h
a
n
g
e

i
n

N
u
m
b
e
r

o
f

E
m
p
l
o
y
e
e
s
2
5
2
6
2
7
2
8
2
9
3
0
3
1
3
2
3
3
3
4
3
5
3
6
B
o
n
e
k
a

p
e
r
l
a
k
u
a
n
/
T
r
e
a
t
m
e
n
t

d
u
m
m
y
J
a
r
a
k

k
e

s
u
p
e
r
m
a
r
k
e
t

(
k
i
l
o
m
e
t
e
r
)
/
D
i
s
t
a
n
c
e

t
o

s
u
p
e
r
m
a
r
k
e
t

(
k
i
l
o
m
e
t
e
r
s
)
V
a
r
i
a
b
e
l

k
o
n
t
r
o
l
:

t
a
h
u
n

2
0
0
3
/
C
o
n
t
r
o
l

v
a
r
i
a
b
l
e
s
:

2
0
0
3

l
e
v
e
l
V
a
r
i
a
b
e
l

k
o
n
t
r
o
l
:

p
e
r
u
b
a
h
a
n

2
0
0
3



2
0
0
6
/
C
o
n
t
r
o
l

v
a
r
i
a
b
l
e
s
:

c
h
a
n
g
e
s

2
0
0
3

2
0
0
6
B
o
n
e
k
a

D
e
p
o
k
/
D
e
p
o
k

d
u
m
m
y
R
-
k
u
a
d
r
a
t
/
R
-
s
q
u
a
r
e
d
-
0
,
0
3
[
0
,
0
5
]
-
-
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o

T
i
d
a
k
/
N
o

0
,
0
0
1
8
-
0
,
0
9
[
0
,
0
4
]
-
-
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
0
,
2
1
0
5
-
0
,
0
8
[
0
,
0
4
]
-
-
Y
a
/
Y
e
s
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
0
,
2
8
4
1
-
0
,
0
3
[
0
,
0
5
]
-
-
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
Y
a
/
Y
e
s
0
,
0
0
5
0
-
0
,
0
8
[
0
,
0
5
]
-
-
Y
a
/
Y
e
s
Y
a
/
Y
e
s
Y
a
/
Y
e
s
0
,
2
8
4
7
-
-
2
,
6
e
-
6
[
3
,
6
e
-
6
]
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
0
,
0
0
2
0
-
-
8
,
9
e
-
6
[
3
,
5
e
-
6
]
Y
a
/
Y
e
s
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
0
,
2
1
4
2
-
-
8
,
1
e
-
0
6
[
3
,
5
e
-
6
]
Y
a
/
Y
e
s
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
0
,
2
8
7
8
-
-
3
,
7
e
-
0
6
[
3
,
6
e
-
6
]
T
i
d
a
k
/
N
o
T
i
d
a
k
/
N
o
Y
a
/
Y
e
s
0
,
0
0
6
6
-
-
9
,
5
7
e
-
6
[
3
,
6
e
-
6
]
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
Y
a
/
Y
e
s
0
,
2
1
9
4
-
-
8
,
6
e
-
0
6
[
3
,
6
e
-
6
]
Y
a
/
Y
e
s

Y
a
/
Y
e
s
Y
a
/
Y
e
s
0
,
2
9
0
5
-
0
,
0
9
[
0
,
0
4
]
-
-
Y
a
/
Y
e
s
T
i
d
a
k
/
N
o
Y
a
/
Y
e
s
0
,
2
1
2
5
C
a
t
a
t
a
n
:

G
a
l
a
t

s
t
a
n
d
a
r

d
i
k
o
r
e
k
s
i

d
i

d
a
l
a
m

t
a
n
d
a

k
u
r
u
n
g
;

a
n
g
k
a

y
a
n
g

d
i
c
e
t
a
k

t
e
b
a
l

s
i
g
n
i
f
i
k
a
n

p
a
d
a

5
%
/
N
o
t
e
:

R
o
b
u
s
t

s
t
a
n
d
a
r
d

e
r
r
o
r
s

i
n

p
a
r
e
n
t
h
e
s
e
s
;

b
o
l
d

f
i
g
u
r
e
s

a
r
e

s
t
a
t
i
s
t
i
c
a
l
l
y

s
i
g
n
i
f
i
c
a
n
t

a
t

5
%
T
a
b
e
l

5
.

D
a
m
p
a
k

S
u
p
e
r
m
a
r
k
e
t

t
e
r
h
a
d
a
p

P
a
s
a
r

T
r
a
d
i
s
i
o
n
a
l
:

H
a
s
i
l

P
e
r
h
i
t
u
n
g
a
n

E
k
o
n
o
m
e
t
r
i
k
/
T
a
b
l
e

5
.

T
h
e

I
m
p
a
c
t

o
f

S
u
p
e
r
m
a
r
k
e
t
s

o
n

T
r
a
d
i
t
i
o
n
a
l

M
a
r
k
e
t
s
:

E
c
o
n
o
m
e
t
r
i
c

E
s
t
i
m
a
t
i
o
n

R
e
s
u
l
t
s
N
o
t
e
:

T
h
i
s

t
a
b
l
e

u
s
e
s

I
n
d
o
n
e
s
i
a
n

n
u
m
b
e
r
i
n
g

c
o
n
v
e
n
t
i
o
n
s
,

f
o
r

e
x
a
m
p
l
e
,

-
0
,
0
6

=

-
0
.
0
6
.
17
No. 22: Apr- Jun/2007
DAT A B E R K AT A AND T HE DAT A S AY S

Daftar Pustaka
Reardon, Thomas and Rose Hopkins (2006) ‘The Supermarket Revolution
in Developing Countries: Policies to Address Emerging Tensions
among Supermarkets, Suppliers, and Traditional Retailers’
[Revolusi Supermarket di Negara-negara Berkembang: Kebijakan-
kebijakan untuk Menangani Ketegangan-ketegangan yang Muncul
di Antara Supermarket, Pemasok, dan Pedagang Ritel Tradisional].
Akan datang dalam European Journal of Development Research 18, (4)
Reardon, Thomas et al (2003) ‘The Rise of Supermarkets in Africa, Asia,
and Latin America’ [Perkembangan Supermarket di Afrika, Asia,
dan Amerika Latin]. American Journal of Agricultural Economics 85, (5)
Reardon, Thomas and Julio A. Berdegué (2002) ‘The Rapid Rise of
Supermarkets in Latin America: Challenges and Opportunities
for Development’ [Perkembangan Pesat Supermarket di Amerika
Latin: Tantangan dan Kesempatan Pembangunan]. Development
Policy Review 20, (4)
Suryadarma, Daniel et al (akan diterbitkan) ‘Impact of Supermarkets on
Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers’
[Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel
Tradisional di Pusat-pusat Perkotaan di Indonesia]. Research
Report. Jakarta: The SMERU Research Institute
Traill, W. Bruce (2006) ‘The Rapid Rise of Supermarkets?’ [Perkembangan
Pesat Supermarket?] Development Policy Review 24, (2)
List of RefeRences
Reardon, Thomas and Rose Hopkins (2006) ‘The Supermarket Revolution
in Developing Countries: Policies to Address Emerging Tensions
among Supermarkets, Suppliers, and Traditional Traders.’
Forthcoming in European Journal of Development Research 18, (4)
Reardon, Thomas et al (2003) ‘The Rise of Supermarkets in Africa, Asia,
and Latin America.’ American Journal of Agricultural Economics 85,
(5)
Reardon, Thomas and Julio A. Berdegué (2002) ‘The Rapid Rise of
Supermarkets in Latin America: Challenges and Opportunities for
Development.’ Development Policy Review 20, (4)
Suryadarma, Daniel et al (forthcoming) ‘The Impact of Supermarkets on
Traditional Markets and Traders in Indonesia’s Urban Centers.’
Research Report. Jakarta: The SMERU Research Institute
Trails, W. Bruce (2006) ‘The Rapid Rise of Supermarkets?’ Development
Policy Review 24, (2)
PuBlIKAsI TERBARu/
REcENT PublIcATIONS
PuBlIKAsI yANg AKAN DATANg/
fORTHcOmINg PublIcATIONS
Laporan Penelitian/Research Report
Pembelajaran dari Penghapusan OPSM
(Rizki Fillaili et al. Editor: Justin Sodo)/
OPSM Phase Out: Lessons Learned
(Rizki Fillaili et al. Editor: Kate Weatherley)
Dalam bahasa Indonesia dan Inggris/Available in Indonesian and
English

What Is To Be Done With Disasters? A Literature Survey on Disaster
Study and Response [Apa yang Dapat Dilakukan Bila Terjadi Bencana?
Survei Literatur mengenai Studi Bencana dan Penanganannya]
(Ruly Marianti. Editor: Chris Stewart)
Dalam bahasa Inggris/Available in English
Kerta Kerja/Working Paper
The Impact of Private Sector Growth on Poverty Reduction:
Evidence from Indonesia [Dampak Pertumbuhan Sektor Swasta pada
Penanggulangan Kemiskinan: Bukti dari Indonesia]
(Daniel Suryadarma & Asep Suryahadi. Editor: Budhi Adrianto)
Dalam Bahasa Inggris/Available in English
Laporan Penelitian/Research Report
The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in
Indonesia’s Urban Centers [Dampak Supermarket terhadap Pasar
dan Pedagang Ritel Tradisional di Pusat-pusat Perkotaan di
Indonesia]
(Daniel Suryadarma et al. Editor: Kate Weatherley)
Dalam Bahasa Inggris/Available in English
1B
Newsl et t er
DAR I l AP ANgAN F R OM T HE f I E l D
Pasar Tradisional dEngan sTrUkTUr
bangUnan bErTingkaT: siaPa yang diUnTUngkan?
MulTi-sTory TradiTional MarkeTs: Who benefiTs?
Sri Budiyati*
M
asalah utama yang dihadapi sebagian besar pasar tradisional
di kota-kota besar seperti Kota Bandung dan Depok adalah
kondisi pasar yang sempit, kotor, becek, pengap dan bau, serta
akses jalan yang macet. Pasar-pasar tradisional rata-rata sudah
beroperasi puluhan tahun dan telah direnovasi beberapa kali.
Kondisi pasar tradisional yang kurang layak telah mendorong
pemda memodernisasi dan merenovasi bangunan pasar dengan
struktur bangunan bertingkat demi efisiensi lahan sehingga
mampu menampung jumlah pedagang dan pembeli lebih banyak.
Tulisan ini akan menggambarkan dampak bangunan pasar renovasi
(bertingkat) terhadap pedagang dan pembeli di dua pasar tradisional
di Kota Bandung dan Kota Depok.
1
Untuk merehabilitasi bangunan pasar tradisional Pemda
Kota Bandung dan Kota Depok mengikutsertakan peran swasta.
Perjanjian kerja sama antara pemda dan swasta umumnya berkaitan
dengan perihal pengaturan jangka waktu penggunaan lahan dan
kesepakatan pengelolaan retribusi, termasuk pembagian keuntungan.
Di beberapa pasar di Kota Bandung, kerja sama pemda dan pihak
swasta berlangsung selama 20-30 tahun, namun ada pula yang
hanya lima tahun. Di kota Bandung maupun Depok, renovasi pasar
tradisional sudah mulai dilakukan dari 1997 hingga 2000.
A
major problem for a large number of traditional markets in big cities
like Bandung and Depok is that the markets are in poor condition—
they are narrow, dirty, muddy, musty and foul-smelling, and their access
roads are congested. These markets have generally been in operation
for decades and have undergone several renovations. The poor state of
these markets has pushed the regional governments to modernize and
renovate market buildings, transforming them into multi-story buildings,
which use land more efficiently and can therefore house more sellers and
provide more space for shoppers. This article will describe the impact of
multi-story market buildings on traders, looking at two sample traditional
markets in Bandung and Depok.
1

The regional governments of Bandung and Depok have joined forces
with the private sector to rehabilitate traditional market buildings. The
agreements made between both parties generally stipulate the period of
time that the land may be used for and how market services fees (retribusi)
will be managed, including how the revenue is to be divided. In several
markets in Bandung, cooperation between the regional government and
private enterprise has spanned 20–30 years, however some agreements
have only spanned five years. Renovations of traditional markets were
undertaken in both Bandung and Depok began between 1997 to 2000.
* Sri Budiyati adalah peneliti Lembaga Penelitian SMERU.
1
Artikel ini ditulis berdasarkan hasil penelitian Lembaga Penelitian SMERU: ‘The
Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban
Centers’ (Suryadarma et al, akan diterbitkan).
* Sri Budiyati is a researcher at The SMERU Research Institute.
1
This article was written based on research from The SMERU Research Institute: ‘The
Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban
Centers’ (Suryadarma et al, forthcoming).
S
M
E
R
U
19
No. 22: Apr- Jun/2007
DAR I l AP ANgAN F R OM T HE f I E l D
Di Pasar Leuwipanjang, Bandung,
sebagian besar kios di lantai atas
kosong karena struktur tangga yang
curam dan tinggi menyebabkan
pembeli enggan berbelanja ke lantai
atas.
At Leuwipanjang Market, Bandung,
most of the stalls on the top level are
empty due to the steep stairways that
make buyers reluctant to shop on the
top floor.
Hasil studi SMERU menemukan bahwa bangunan pasar
tradisional yang berubah menjadi gedung bertingkat ternyata
menciptakan sejumlah persoalan. Struktur bertingkat yang ada saat
ini dinilai mengganggu keamanan dan kenyamanan pedagang dan
pembeli. Sebut saja di antaranya konstruksi anak tangga ke lantai
atas atau bawah yang tinggi dan curam, ruang-ruang berdagang
yang sempit, kurang tersedianya tempat sampah, air bersih, saluran
air, pengaturan ruang udara/ventilasi, dan tempat parkir.
Dampak Struktur Bangunan Bertingkat terhadap Pedagang dan
Pembeli
Struktur tangga yang curam dan tinggi juga menyebabkan
pembeli enggan berbelanja ke lantai atas. Seorang informan
menjelaskan bahwa bentuk tangga yang curam dan sempit telah
menyulitkan pembeli saat membawa barang belanjaan. Begitu
pula bagi pedagang yang akan mengisi kios-kiosnya dengan barang
dagangan. Akibatnya sebagian pedagang di lantai atas pindah ke
lantai bawah atau beralih menjadi pedagang kaki lima (PKL).
Sebagian lagi bahkan tidak lagi bisa berdagang karena kurangmya
pembeli (lihat Kotak 1).
Sebagian besar kios di lantai atas di Pasar Sederhana, Pasar
Pamoyanan, dan Pasar Leuwipanjang di Kota Bandung yang masing-
masing direnovasi menjadi dua lantai pada 1997, 2000, dan 2002,
saat ini kosong. Demikian pula Pasar Cisalak dan Pasar Tugu di Kota
Depok yang dirombak menjadi pasar bertingkat sekitar 1996, kini
banyak ditinggalkan pedagang. Selain karena tinggi dan curamnya
tangga-tangga penghubung, faktor sempitnya lahan kios atau jongko
juga membuat tidak nyaman para pedagang.
Seorang pedagang di Pasar Cisalak menjelaskan bahwa hampir
tidak ada pembeli yang mau berbelanja ke lantai atas, khususnya
ibu-ibu yang berusia 30 tahun ke atas. Keengganan para pembeli
untuk berbelanja di kios lantai atas di beberapa pasar diperparah
oleh tidak adanya pengaturan penjualan jenis barang di masing-
masing tingkat. Semua jenis barang tersedia di lantai bawah.
Sementara di Pasar Tugu, hampir tidak
ada lagi pedagang yang menghuni lantai
atas. Sebagian besar pedagangnya pindah
ke lokasi lain yang tidak bertingkat atau
menggelar dagangan mereka di sekitar
pasar tersebut sebagai PKL. Para pedagang
di lantai atas tidak bisa lagi melunasi
cicilannya dan tidak membayar retribusi
kios.
The results of SMERU’s study indicate that the transformation of
traditional markets into multi-story markets creates a number of problems.
The current multi-story structures reduce the security and comfort of
both traders and buyers. Problems include stairways that are steep and
difficult to climb, narrow trading stalls, and a lack of trash facilities,
clean water, adequate guttering, ventilation, and parking space.
The Impact of Multi-Story Market Buildings on Traders and Buyers
The steep stairways and high stairs in the market also make buyers
reluctant to shop on the top floor of the market. One informant said that
it is difficult for buyers to carry their goods up and down the stairs with
such stairways. It is also difficult for the market traders to carry their
stock via such stairways. As a result, many traders from the top floors
have moved to lower floors or have become street vendors. Some have
even stopped trading as there simply are not enough buyers (see Box 1).
Most of the stalls on the top level of the Sederhana, Pamoyanan, and
Leuwipanjang markets in Bandung—converted to two-story markets in
2000, 1997, and 2002 respectively—are now empty. Similarly, many
of those formerly trading in the Cisalak and Tugu Markets in Depok—
which became multi-story markets in 1996—have now left. Apart from
the poorly designed stairways, the narrow stalls, or jongko, have also
caused discomfort among the sellers.
One trader at the Cisalak Market explained how almost no buyers
want to shop at the top floor, especially women of 30 years and older.
Furthermore, as the market is not arranged in a way that certain goods
are sold only on certain floors, all goods can be bought on the bottom
floor. This leaves no incentive for buyers to venture to the top floor. At the
Tugu Market there are almost no traders on the top floor. Most have since
moved to other locations or have become street vendors in the market
surrounds. Traders on the top floor of the market are now unable to meet
their installments and do not pay the retribusi for their stall.
2u
Newsl et t er
Ms. Ayun (name has been changed) began as a street vendor
selling vegetables at the Leuwipanjang Market in Bandung. After the
market was converted into a multi-story structure, Ms. Ayun began
selling from a stall on the top floor. In 2002, she bought her market
stall for Rp10 million. Initially, many people shopped on the top floor.
However, the number of buyers drastically declined after the first month
of trading. She could no longer afford to make the installments for her
stall, and had only made five monthly installments at Rp100,000 per
month. Ms. Ayun has returned to working as a street vendor outside the
market, however, she now earns less. Her current income is even lower
than when she was selling from a temporary stall during the market
renovations. According to Ms. Ayun, many other traders share her
fate—they have lost all their capital and have moved to smaller markets
or have closed and abandoned their stalls and become street vendors.
Ibu Ayun (bukan nama sebenarnya) awalnya adalah PKL sayur-
mayur di pasar Leuwipanjang, di Kota Bandung. Ia menjadi pedagang
yang menempati kios di pasar setelah pasar direnovasi menjadi gedung
bertingkat. Pada 2002 ia membeli jongko (kios) di lantai atas dengan
harga Rp10 juta. Awalnya masih banyak pembeli yang datang; namun
ini hanya berlangsung satu bulan sebelum akhirnya dagangannya
mulai sepi pembeli. Ia tidak sanggup lagi melunasi cicilan pembayaran
jongko yang baru berjalan lima bulan dengan cicilan biaya Rp100.000/
bulan. Sekarang ia menjadi PKL di sisi luar pasar dengan penghasilan
lebih kecil. Penghasilannya saat ini lebih rendah dibandingkan
ketika ia menempati tempat penampung sementara pada saat pasar
direnovasi. Menurutnya, banyak pedagang lain yang mengalami nasib
serupa. Karena kehabisan modal, banyak pedagang yang pindah ke
pasar lain yang lebih kecil. Tidak sedikit yang akhirnya menutup dan
meninggalkan kios dan beralih menjadi PKL.
Kasus Pedagang di Pasar yang Kembali Menjadi PKL/
The Case of a Market Trader who Returned to Street Vending
KOTAK /BOX 1
Struktur bangunan bertingkat tidak hanya merugikan para
pedagang yang menempati lantai atas, melainkan juga para
pedagang di lantai bawah. Para pedagang yang berada di lantai
bawah yang harus dihubungkan dengan anak tangga ke bawah
mengeluhkan keadaan pengap, bau akibat minimnya sirkulasi
udara dalam ruangan. Sistem ventilasi di lantai bawah tidak dapat
mengatur sirkulasi udara dengan leluasa karena letaknya di bawah
permukaan tanah. Pembeli tidak akan nyaman berlama-lama di
lantai bawah karena terasa panas dan lembab ditambah bau yang
kurang sedap itu. Situasi ini semakin tidak nyaman lagi dengan
banyaknya sampah di sana-sini.
Di Kota Bandung, rencana renovasi bangunan pasar seringkali
ditanggapi dengan berbagai aksi protes para pedagang. Mereka
beralasan bahwa bentuk bangunan bertingkat tidak akan memberikan
keuntungan dan bahkan justru merugikan. Misalnya di Pasar
Leuwipanjang, sejumlah pedagang sebenarnya sudah menolak rencana
renovasi pasar. Alasannya sama, yakni lantai atas akan sepi pembeli.
Mereka belajar dari kasus-kasus pasar lain seperti Pasar Kosambi dan
Pamoyanan. Namun, pemerintah bergeming terhadap aksi protes ini
dan tetap melanjutkan upaya renovasi menjadi pasar bertingkat dua.
Perlu Kerja Sama Berbagai Pihak
Terlihat bahwa pemda hanya mengutamakan pragmatisme dan
efisiensi dalam bidang perpasaran dengan cara mengembangkan
bangunan pasar tradisional yang bertingkat. Seharusnya, renovasi
pasar tradisional bertingkat tidak hanya didasarkan semata pada kedua
pertimbangan tersebut, tapi juga mempertimbangkan kenyamanan
berbelanja dan berdagang serta didukung oleh sarana dan prasarana
yang memadai. Oleh karena itu, perlu ada inovasi desain pasar yang
lebih baik. Penataan tangga penghubung yang pendek, nyaman,
dan praktis, tersedianya ventilasi udara yang cukup, tempat sampah
dan air bersih yang memadai, serta sistem penataan jenis dagangan
menurut tingkatan lantai pasar akan menciptakan kenyamanan
dan keamanan berdagang dan berbelanja. Potensi ini hanya dapat
tercapai bila ada kerja sama erat dan terus-menerus antara pemda,
pengelola pasar, pedagang, investor, dan juga pelanggan. n
Multi-story markets disadvantage not only traders on the top floor,
but also those trading on the lower floors. Those trading in the basement,
which is accessible via a stairway from the ground level, complain about
the mustiness and foul smell caused by inadequate ventilation. Air in
the basement cannot circulate properly because it is built below the
ground. Those shopping in the basement find it to be hot, humid, and
foul-smelling, and so do not shop for very long. This situation is worsened
when there are piles of garbage scattered around.
In Bandung, market renovations are often met with protest from
traders. They feel that the multi-story structures do not bring profit but
rather bring financial loss. At the Leuwipanjang Market, for example,
traders rejected the plans for renovation of the market on the basis that
buyers will not venture to the top levels, citing the experiences of other
markets such as Kosambi and Pamoyanan. Despite these protests, the
government remains firm in their stand on the matter and has continued
with efforts to transform the market into a multi-story structure.
The Need for Cooperation
It would appear that regional governments are being pragmatic
and prioritizing supposed efficiency in their management of markets by
building multi-story traditional markets. However, regional governments
should also consider the comfort level of the market for buyers and sellers
and provide appropriate facilities. There needs to be a re-assessment of
how markets are designed. Shorter staircases that are more comfortable
and practical, proper ventilation, the provision of garbage containers and
clean water as well as arranging the market so that different goods are
sold on different levels would create comfort and security in the markets
for both traders and shoppers. However, this can only be achieved if there
is close and continuing cooperation between regional government, market
management, sellers, investors, and customers. n
DAR I l AP ANgAN F R OM T HE f I E l D
21
No. 22: Apr- Jun/2007
DAR I l AP ANgAN F R OM T HE f I E l D
* Akhmadi adalah peneliti Lembaga Penelitian SMERU. * Akhmadi is a researcher at The SMERU Research Institute.
rETribUsi Pasar Tradisional:
kEwajiban TanPa PElayanan yang MEMadai
rETribUsi payMenTs in TradiTional MarkeTs:
obliGaTory payMenTs WiTh insuffiCienT
serviCe in reTurn
Akhmadi*
D
alam Kamus Besar Bahasa Indonesia, retribusi diartikan
sebagai pungutan uang oleh pemerintah (kota praja, dsb.)
sebagai balas jasa (Pusat Bahasa 2005: 953). Pengertian tersebut
mengandung arti dan konsekuensi logis, yakni pemerintah
seyogianya menyediakan dan memelihara infrastruktur layanan
yang memadai bagi para pengguna jasa sehingga penarikan retribusi
menjadi tanda telah terwujudnya pemenuhan hak pengguna jasa
oleh pemerintah terkait. Sudahkah hal ini terwujud? Pemungutan
retribusi pasar tradisional di Kota Bandung dan Depok, sebagaimana
diuraikan berikut ini, memberi gambaran empiris tentang kondisi
umum pelaksanaan retribusi, khususnya retribusi pelayanan pasar.
Jenis dan Mekanisme Pemungutan Retribusi
Retribusi perdagangan di pasar diatur dalam Peraturan Daerah
(Perda) No. 23/2003 untuk Kota Depok dan Perda No. 20/2001 untuk
Kota Bandung. Di Depok retribusi dibedakan menjadi retribusi jasa
umum, retribusi jasa usaha, dan retribusi pelayanan pasar. Retribusi
pelayanan pasar didasarkan atas kelas pasar, jenis fasilitas yang
I
n the Indonesian Dictionary, retribusi is defined as a government
(at all local levels) levy that is collected as a payment in return for a
service (Pusat Bahasa 2005: 953). This wording would suggest that the
government provides and maintains adequate service infrastructure in
return for the payment of retribusi from service users. Using this logic,
the payment of retribusi should be a sign that service users’ rights have
been fulfilled by the government. But is this really the case? The payment
of retribusi by those trading at the Bandung and Depok traditional
markets, as explained later, provides an empirical illustration of how
retribusi payments are generally executed in relation to market services.
Retribusi Payment Types and Mechanisms
Retribusi (services fees) payments collected at markets are regulated
by Local Regulation No. 23/2003 for Depok and Local Regulation No.
20/2001 for Bandung. In Depok, retribusi payments come in a number
of forms: public services retribusi, trading services retribusi, and market
services retribusi. The market services retribusi is based on the class of
market, the type of facilities that are provided in the market, and the size of
22
Newsl et t er
DAR I l AP ANgAN F R OM T HE f I E l D
ada di pasar, dan luas tempat usaha. Besarnya retribusi pelayanan
pasar ini berbeda antara satu pasar dengan pasar lain yang kelasnya
berbeda. Di Kota Bandung, retribusi dibedakan atas empat macam,
yaitu retribusi pasar, retribusi ketertiban, retribusi hewan di areal
pasar, dan retribusi kakus. Secara umum, pembayaran retribusi ada
yang dibayar secara harian atau atas dasar frekuensi penggunaan.
Baik di Kota Depok maupun Kota Bandung, pemungutan
retribusi dilakukan oleh petugas khusus seperti pemungut retribusi,
pemungut kebersihan, koordinator kebersihan, juru sapu, juru
parkir, dan petugas bongkar muat. Mereka umumnya bekerja
sebagai tenaga honorer yang mendapat bayaran dari hasil retribusi
atau sebagai pegawai honorer daerah. Retribusi yang dipungut
diserahkan kepada koordinator untuk diteruskan ke kepala Unit
Pengelola Teknis Dinas Pasar (UPTD), dan disetor ke Dinas Pasar,
yang selanjutnya disetor ke kas Pemerintah Daerah.
Retribusi Pelayanan Pasar
Di Depok, ada beberapa bentuk retribusi pelayanan pasar
yang dipungut. Pertama, berupa retribusi keamanan sebesar
Rp1.000 untuk pedagang sembako dan Rp1.500 untuk pedagang
pakaian; kedua, retribusi sampah masing-masing sebesar Rp1.000
per hari. Namun, retribusi seperti ini tidak diatur secara rinci
dan komprehensif dalam perda. Selain itu, besarnya retribusi
tidak dibedakan antara pedagang yang mempunyai satu kios atau
beberapa kios dalam pasar. Pada kasus seperti ini biasanya ada
kebijakan pengelola pasar bahwa pedagang yang memiliki dua kios
cukup membayar satu kali retribusi, dan untuk tiga kios membayar
1,5 kali retribusi. Kebijakan ini tidak adil. Seharusnya retribusi
didasarkan pada jumlah kios yang dimiliki. Selain membayar
retribusi, para pedagang masih dikenai pungutan tahunan yang
sifatnya “sukarela” antara Rp5.000 hingga Rp10.000 pada saat
menjelang hari raya untuk petugas kebersihan dan keamanan.
Dengan membayar berbagai retribusi, sudah sewajarnya apabila
para pedagang mendapatkan imbalan nyata, yakni kenyamanan
berdagang dan kebersihan lingkungan pasar. Seperti banyak
dinyatakan para pedagang, faktor kenyamanan dan kebersihan
masih menjadi kendala serius. Kasus pencurian barang dagangan di
kios dan kondisi pasar yang kotor dan becek merupakan kejadian dan
potret sehari-hari. Keadaan ini boleh jadi dipicu oleh minimnya dana
perangsang peningkatan pelayanan. Di Depok, misalnya, dari total
retribusi yang diterima dan disetor ke pemda, hanya 5% saja yang
dikembalikan untuk uang perangsang peningkatan pelayanan.
Kontribusi terhadap PAD dan Integrasi Pengelolaan Retribusi
Retribusi pelayanan pasar merupakan salah satu penyumbang
pendapatan asli daerah (PAD). Melalui Dinas Pasar, pemda
menargetkan jumlah tertentu dan dinas pasar pun menargetkan
jumlah tertentu pada setiap pasar yang ada di bawah pengelolaannya.
Misalnya Pasar Cisalak Depok memungut retribusi kebersihan
Rp1.000, keamanan Rp1.000, dan retribusi pasar antara Rp1.000
hingga Rp2.000 untuk setiap pedagang. Target pendapatan setiap
hari yang ingin dicapai di pasar tersebut sebesar Rp893.000 untuk
kebersihan dan Rp937.500 untuk retribusi pasar. Dalam setahun,
diperkirakan total target kontribusi retribusi Pasar Cisalak pada
the stalls. Therefore, the amount of market services retribusi varies from
market to market. In Bandung, there are four types of retribusi payments:
market retribusi, law and order retribusi, retribusi for animals traded in
the market area, and retribusi for toilet facilities. Retribusi payments are
generally paid on a daily basis or according to usage levels.
In both Depok and Bandung, retribusi payments are collected by
special officials such as retribusi collectors, cleaning fee collectors, cleaning
coordinators, the cleaners, parking attendants, and vehicle loading/
unloading attendants. These officials are usually non-permanent staff paid
from the retribusi payment collection or they are non-permanent staff of the
regional government. The collected retribusi payments are passed on to the
coordinator who then passes them on to the head of the Technical Management
Unit of the Market Agency (Unit Pengelola Teknis Dinas Pasar, UPTD).
The money is then transferred to the Office of Market Management, who
transfer the money to the regional government treasurer.
Market Services Retribusi
In Depok, market services retribusi is collected in a number of
forms: firstly, as a security payment of Rp1,000 per day for traders of
basic foodstuffs and Rp1,500 per day for clothing traders; secondly, as
a garbage service payment which is Rp1,000 per day for all traders.
However, the local regulations do not regulate these retribusi in a detailed
or comprehensive manner. Furthermore, the amount of retribusi charged
does not officially differ between traders who own one stall or traders
who own a number of stalls. In the case of those who own more than one
stall, however, the manager of the individual market usually creates a
system whereby those who own two stalls only pay the retribusi for one,
and those who own three stalls must pay 1.5 times the single amount.
This kind of system is unfair. The amount of retribusi paid should be
based strictly on the number of stalls owned. In addition to these retribusi
payments, market traders are also required to pay a “voluntary” annual
Lebaran fee of between Rp5,000 and Rp10,000 intended as a holiday
bonus for the cleaning and security staff at the market.
One would expect that traders receive something in return for the
many retribusi payments, that is, comfortable trading facilites and a clean
market environment. However, many traders explain that the markets
still do not provide a comfortable shopping environment and that the lack
of cleanliness is still a serious problem; daily concerns include the theft of
goods from stalls and the dirty, muddy state of the markets. This current
situation may be caused by the minimal incentive funds for improving
market services standards. In Depok, for example, only 5% of the total
collected retribusi funds transferred to the local government are allocated
for improving the standard of market services.
Contributions to PAD and Integration of Retribusi Management
Market service retribusi is one source of local revenue (PAD). The
regional government sets retribusi targets through the Office of Market
Management, which also sets individual targets to be acheived by each
market under its management. For example, the Cisalak Market in Depok
collects daily cleaning retribusi of Rp1,000, security retribusi of Rp1,000
and market retribusi of between Rp1,000 and Rp2,000 for each trader.
This market has a daily target cleaning retribusi income of Rp893,000,
and a market retribusi target of Rp937,500. Therefore, in one year the
estimated total amount of retribusi collected for Cisalak Market through
23
No. 22: Apr- Jun/2007
DAR I l AP ANgAN F R OM T HE f I E l D
PAD Kota Depok yang dapat diperoleh dari kedua jenis retribusi
di pasar ini mencapai Rp668.132.500. Jumlah ini belum termasuk
berbagai retribusi lainnya.
Di Kota Bandung, nilai retribusi pasar masih sangat rendah, yaitu
Rp100 untuk pasar kelas I, Rp 80 untuk pasar kelas II, dan Rp60 untuk
pasar kelas III. Retribusi pasar dari 36 pasar yang ada
di Bandung menyumbang PAD sebesar Rp4,2 miliar
pada 2005, meningkat menjadi Rp4,6 milyar pada
2006. Sampai saat ini, Dinas Pasar mengandalkan dana
APBD untuk mengelola pasar tradisional, akan tetapi
alokasi dananya tidak mencukupi. Demi pengelolaan
pasar yang lebih profesional, termasuk perbaikan
bangunannya, Dinas Pasar harus bermitra dengan
swasta dengan masa pengelolaan yang disepakati
berdasarkan sebuah nota kesepemahaman.
Pengelolaan retribusi tidak dapat berdiri
sendiri. Jumlah dana perangsang yang digunakan
untuk meningkatkan pelayanan kepada pedagang
seharusnya ditambah. Dana perangsang 5% yang
disediakan dari total retribusi yang dibayarkan
pedagang tidak memadai untuk peningkatan
pelayanan, termasuk perawatan infrastruktur pasar.
Perda yang menjadi acuan penting sistem pengelolaan
retribusi seyogianya tidak hanya mengatur jumlah
dan proses penarikan retribusi, tapi juga mengatur
secara tegas penyediaan layanan bagi para pedagang.
Dengan demikian, selain menjadi acuan hukum,
perda tersebut akan menjamin bahwa penanganan
retribusi menjadi bersifat integral dengan pengelolaan
infrastruktur pasar dan penyediaan layanan imbal
balik bagi pedagang. n
Daftar Bacaan
CPIS (1994) ’Perdagangan Eceran di Indonesia: Skala kecil vs Skala Besar
(Kasus Pasar Tradisional vs. Pasar Swalayan).’ Jakarta: CPIS
Keputusan Walikota Bandung No. 644/2002 tentang Tarif Jasa Kebersihan
di Kota Bandung
Keputusan Walikota Depok No. 33/2001 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Penyelenggaraan Izin Gangguan
Perda Kota Bandung No. 19/2001 tentang Pengelolaan Pasar
Perda Kota Bandung No. 20/2001 tentang Retribusi Pasar
Perda Kota Depok No. 23/2003 tentang Pengelolaan Pasar
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2005) Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI). Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
Suryadarma, Daniel et al (akan diterbitkan) ‘The Impact of Supermarkets
on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers’
[Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel Tradisional
di Pusat-pusat Perkotaan di Indonesia]. Research Report. Jakarta:
The SMERU Research Institute

cleaning and market retribusi for Depok’s PAD is Rp668,132,500. This
amount does not include the many other types of retribusi.
The amount of retribusi collected in Bandung is very low—as low
as Rp100 for class I markets, Rp80 for class II markets and Rp60 for
class III markets. Market retribusi from the 36 markets in Bandung
contributed Rp4.2 billion to Bandung’s PAD in 2005
and Rp4.6 billion in 2006. Despite this, the Office of
Market Managment still relies on funds from the Regional
Budget to manage traditional markets. However, the
funds allocated are insufficient. In order to enable more
professional market management practices, including
building renovations, the Office of Market Management
must work in partnership with private enterprise under a
Memorandum of Understanding (MoU) that specifies an
agreed upon time frame for the partnership.
Retribusi management cannot stand alone. The
proportion of funds collected from retribusi payments
which is used to provide services to traders should be
increased. The 5% of total retribusi payments currently
set aside for incentive funds used for improving services to
traders—including maintaing the market infrastructure—
is insufficient. The local regulation will become an
important reference for the retribusi management system.
In addition to regulating the amounts and processes of
retribusi collection, it should firmly regulate the provision
of services for all traders. As well as being a legal reference,
such a regulation would ensure that retribusi management
becomes integral to the infrastructure management system
and that traders are provided with services in return for
their payments. n
fuRtheR Reading
CPIS (1994) ‘Perdagangan Eceran di Indonesia: Skala kecil vs. Skala Besar
(Kasus Pasar Tradisional vs. Pasar Swalayan)’ [Retail Trade in
Indonesia: Small Scale vs. Large Scale (The Case of Traditional
Markets vs. Supermarkets)]. Jakarta: CPIS
Mayoral Decree of Bandung No. 644/2002 on Cleaning Service Fees in
Bandung
Mayoral Decree of Depok No. 33/2001 on Instruction on the Implementation
of Security Permits
Local Regulation of Bandung No. 19/2001 on Management of Markets
Local Regulation of Bandung No. 20/2001 on Market Retribusi
Local Regulation of Depok No.23/2003 on Management of Markets
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2005) Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) [Indonesian Dictionary]. Edisi Ketiga. Jakarta:
Balai Pustaka
Suryadarma, Daniel et al (forthcoming) ‘The Impact of Supermarkets on
Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers.’
Jakarta: The SMERU Research Institute
24
Newsl et t er
DAR I l AP ANgAN F R OM T HE f I E l D
S
M
E
R
U
Quo vadis Pasar Tradisional?
TradiTional MarkeTs, QUo Vadis?
Sri Budiyati*
* Sri Budiyati adalah peneliti Lembaga Penelitian SMERU.
1
Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian Lembaga Penelitian SMERU: ’The Impact
of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers’
(Suryadarma et al, akan diterbitkan).
* Sri Budiyati is a researcher at The SMERU Research Institute.
1
This article is written based on the research conducted by The SMERU Research
Institute: ’The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s
Urban Centers’ (Suryadarma et al, forthcoming).
M
eningkatnya jumlah pedagang kaki lima (PKL) di sisi luar
bangunan pasar merupakan salah satu masalah utama yang
dihadapi pasar tradisional. Kehadiran PKL menambah kesan
kumuh dan semrawut yang biasanya mewarnai pasar tradisional
dan mengancam keberadaan pedagang yang menyewa kios di
pasar tradisional. Menjamurnya PKL di sekitar pasar tradisional
berkaitan erat dengan masalah pengelolaan pasar. Oleh karena itu,
upaya mengatasi dampak kehadiran PKL di pasar tradisional tidak
dapat dilepaskan dari pengelolaan pasar yang baik. Masalah inilah
yang akan menjadi pokok bahasan tulisan ini.
1
Fenomena PKL
Keberadaan kumpulan PKL yang menjadi ”pasar saingan” bagi
pasar tradisional terdapat di hampir setiap lokasi pasar tradisional.
Para PKL yang menggelar dagangan di depan pasar sampai bahu
jalan seringkali menimbulkan kemacetan lalu lintas dan turut
menimbulkan kesemrawutan dan ketidaknyaman berbelanja di
pasar tradisional.
T
he increased number of street vendors setting up outside market
buildings is one of the many major problems faced by traditional
markets. The presence of street vendors makes the market seem dirty
and disorganised, which is a common sight in traditional markets. Their
presence also threatens the business of traders renting stalls inside the
market. The growing number of street vendors near markets is closely
linked to problems of market management, therefore, efforts to overcome
the effects of the presence of street vendors at markets must come from
good market management. This article will discuss this problem.
1

The Street Vendor Phenomena
At nearly every traditional market, street vendors trade around the
market forming a “rival market”. Street vendors are often spread along
the street, right to the sidewalks, and often cause traffic jams and general
disorder, adding to the general unpleasentness of shopping at traditional
markets.
25
No. 22: Apr- Jun/2007
DAR I l AP ANgAN F R OM T HE f I E l D
PKL cukup membayar sewa tempat berupa lahan kosong dan
retribusi Rp500-2000 per hari, tanpa perlu menyewa kios di dalam
pasar yang lebih tinggi biayanya. Di salah satu pasar di Bandung,
pedagang cukup membayar Rp10.000 per hari kepada ”penguasa
lokasi” untuk mendapat lahan berdagang. Sementara harga sewa
kios di dalam pasar mencapai Rp600-700 ribu per bulan (Rp20
ribu per hari).

Di Pasar Tugu, Kota Depok, lahan milik instansi Bina Marga
yang sebelumnya sebagai tempat parkir kini telah disewa para
PKL, bahkan los-los yang dibangun sudah dilengkapi tenda seperti
tempat berdagang permanen. Kondisi ini menghalangi akses masuk
pembeli ke dalam pasar. Lokasi ini mirip pasar bayangan bagi Pasar
Tugu, bahkan jumlah PKLnya lebih banyak dari pedagang di dalam
pasar.
Demikian pula yang terjadi di Pasar Leuwipanjang, Bandung.
Para pedagang lantai atas sudah beralih menjadi PKL dan menggelar
dagangan di sisi luar bangunan pasar yang dilengkapi dengan lampu
listrik dan terpal plastik sebagai atapnya. Bahkan, pada dini hari
juga beroperasi “pasar tumpah” yang merupakan kumpulan PKL
yang berdagang mulai jam 02.00 hingga 06.00. Pembeli cenderung
memanfaatkan posisi para PKL di luar pasar ini untuk menghemat
waktu berbelanja. Akibatnya, pada jam 09.00 saja pedagang dalam
pasar sudah sepi pembeli.
Rute jalan angkutan umum ikut terpengaruh dengan keberadaan
PKL. Rutenya terpaksa dialihkan melalui jalur lain atau berhenti
jauh dari bangunan pasar. Hal
ini terjadi di Pasar Cisalak, Kota
Depok, di mana tiga ruas jalan yang
merupakan akses menuju pasar tidak
bisa dilewati angkot. Dua ruas jalan
telah dipenuhi oleh PKL sepanjang
hari sehingga angkot hanya sampai di
depan los-los tempat PKL menggelar
dagangannya. Akibatnya, semakin
banyak orang yang enggan berbelanja
ke dalam pasar.
Street vendors are only required to pay rent for using the vacant space
outside the market and pay market services fees (retribusi) of roughly
Rp500–2,000/day, avoiding the expensive advance rental for stalls
inside the market. In one market in Bandung, a street vendor only pays
Rp10,000 per day to rent a space outside the market to the person who
controls that space. Meanwhile, the price of renting a stall inside the
market can be Rp600,000–700,000 per month (Rp20,000 per day).
At the Tugu Market in Depok, many street vendors rent land owned
by the Bina Marga office which was previously used as a car park and
use it as a trading space. The stalls constructed outside the market are
equipped with tent-like coverings and are like permanent stalls, obstructing
access to the market. Indeed, the Tugu Market looks like it has a shadow
market around it, as there are more street vendors trading outside than
there are traders operating in the market building.
The situation is similar at the Leuwipanjang Market in Bandung.
Traders from the top floor of the market have moved and become street
vendors outside the market. The outside area is complete with lights
and large tarpaulins are used as roofs for street stalls. Also, a “spill-
over market” is now operating. The street vendors start trading before
the market opens, from 02:00 to 06:00. Shoppers are inclined to take
advantage of the fact that street vendors are outside the market to save
time shopping. As a result, few shoppers are left inside the market from
as early as 09:00.
The public transport routes are also being affected by the presence of
street vendors. Public transport drivers are often forced to take alternative
routes or set passengers down a
fair distance from the market.
This is happening at the Cisalak
Market in Depok, where three
roads accessing the market can no
longer be used by public transport
vehicles. Two of these roads are
congested by street vendors, and
so vehicles can only reach as
far as the outer rim of the street
vendors. As a result of these
access difficulties, more and more
people are disinclined to shop in
the market.

Newsl et t er
DAR I l AP ANgAN F R OM T HE f I E l D
Walaupun berbagai peraturan daerah telah dikeluarkan untuk
menertibkan PKL, bahkan di Kota Bandung telah dibentuk Tim
Penertib Pedagang Kakilima (SK Walikota Bandung tahun 2001),
tetap saja keberadaan PKL tidak bisa dihilangkan. Masalah ini
memang tidak bisa dipisahkan dari masalah pengelolaan pasar
itu sendiri, karena pada kenyataannya kehadiran PKL di pasar
tradisional meningkatkan pencapaian dana retribusi.
Kelemahan Manajemen Pengelola Pasar

Sebenarnya, permasalahan pasar tradisional sangat kompleks,
tidak hanya menyangkut keberadaan PKL yang merugikan
pedagang pasar dan memengaruhi keteraturan pasar tradisional.
Persoalan-persoalan lain yang dihadapi pasar tradisional, seperti
bangunan pasar yang kurang terawat, bocor, sempit, gelap, pengap,
di samping lingkungan yang becek dan kotor, merupakan hal yang
belum terselesaikan hingga kini. Semua permasalahan ini bermuara
pada lemahnya pengelolaan pasar tradisional.
Selama ini, pengelolaan pasar tradisional berada di bawah
wewenang pemerintah daerah,

yaitu Dinas Pengelolaan Pasar.
2

Dinas Pengelolaan Pasar menempatkan seorang kepala pasar yang
biasanya berstatus PNS yang bertugas mengelola administrasi pasar
dan sekaligus memelihara pasar. Dalam Keputusan Kepala Dinas
Pengelolaan Pasar Kota Bandung No. 22 Tahun 2003 tentang
Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Kepala Pasar disebutkan
bahwa selain mengumpulkan retribusi, tugas kepala pasar adalah
mengkoordinasi pelayanan pasar, ketertiban, dan kebersihan pasar
sesuai wilayah kerjanya. Dalam menjalankan tugasnya sehari-hari,
kepala pasar dibantu oleh beberapa orang staf yang umumnya
pegawai honorer.
Pada praktiknya, seorang kepala pasar lebih digiring untuk
mengutamakan pengumpulan dana retribusi pasar karena kinerjanya
ditentukan oleh tingkat pencapaian retribusi sesuai dengan jumlah
yang telah ditargetkan Dinas Pasar. Target pencapaian retribusi
menjadi tolok ukur diperpanjang atau tidaknya kedudukan
kepala pasar. Kenyataan inilah yang antara lain membuat masalah
kehadiran PKL di pasar tradisional sulit dipecahkan mengingat PKL
bisa menjadi subjek pembayar retribusi. Di samping itu, penarikan
retribrusi merupakan sumber penghasilan tambahan bagi para staf
pengelola pasar.
Pengelolaan pasar yang hanya berorientasi pada pencapaian
target retribusi tentunya akan memperburuk citra dan keberadaan
pasar. Oleh karena itu, selain memperhatikan aspek target retribusi,
pengelolaan pasar tradisional tidak boleh mengabaikan aspek
kenyamanan dan ketertiban berdagang dan berbelanja. Terwujudnya
kondisi tersebut, tentunya dengan dukungan semua pemangku
kepentingan, akan mendorong keberlanjutan pasar tradisional. n
There are many regional regulations intended to regulate and control
street vendors. In Bandung, a street vendor control team was formed
under the Mayoral Decree of Bandung in 2001. However, despite these
efforts, the problem of street vendors remains. The problem is actually
linked to the management of the individual market because, in reality,
the presence of street vendors has increased the amount of retribusi
collected.
Weak Market Management
The problems faced by traditional markets are rather complex and
are not limited to the presence of street vendors, which causes financial
loss to other traders and disturbing market order. Other problems that
remain unresolved include the fact that traditional markets are generally
not well looked after, that the buildings often leak and are narrow, dark
and musty, and that the surroundings are muddy and dirty. All of these
problems come down to weak market management.
The role of market management lies with the regional government
through the Office of Market Management.
2
The Office of Market
Management appoints someone from the agency (a civil servant) to be
the head of the market administration and to look after the market. The
Decree of the Head of the Office of Market Management of Bandung No.
22/2003 on Formation of the Organization and the Work Arrangements
of Market Heads states that apart from collecting market services fees
(retribusi), the market head must also coordinate all services within the
market, and maintain the orderliness and cleanliness of the market. In
carrying out these daily taks, the market head is assisted by several other
non-permanent staff.
In practice, however, the market heads are inclined to prioritize
the collection of retribusi because the Office of Market Management
has retribusi targets that must be met, and the market head’s tenure is
dependant on meeting these targets. This makes the problem of street
vendors around markets even more difficult to overcome as they represent
an important source of retribusi. Furthermore, the collection of retribusi
is an extra form of income for the staff managing the market.
This method of market management, which is oriented towards
reaching retribusi targets, can only make matters worse for traditional
markets. Therefore, apart from paying retribusi collection, the comfort
and orderliness of the market for both shoppers and traders must not
be disregarded. The realization of these goals and support from all
stakeholders will ensure the sustainability of traditional markets. n
2
Khusus untuk Jakarta, pengelolaannya di bawah PD Pasar Jaya.
2
Jakarta is an exception to this, where PD Pasar Jaya is responsible for market
management.
27
No. 22: Apr- Jun/2007
OP I NI OP I NI ON
S
M
E
R
U
Taufik Ahmad*
rEgUlasi PErsaingan Usaha di indUsTri riTEl
business CoMpeTiTion reGulaTion in The reTail
S
ejak ritel modern menjadi bagian dari tatanan industri ritel
Indonesia, muncul persaingan yang ketat antarpelaku usaha.
Paling tidak, ada dua sisi negatif dari keberadaan ritel modern.
Pertama, tersingkirnya pelaku usaha ritel kecil dari pasar akibat
ketidakmampuan bersaing dengan ritel modern. Kedua, munculnya
fenomena menguatnya kekuatan pasar (market power) ritel modern
ketika berhadapan dengan pemasok barang, yang berujung pada
munculnya eksploitasi pemasok oleh pelaku usaha ritel modern.
Dalam beberapa aspek, gejolak persaingan di industri ritel sering
diidentikkan dengan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana
diatur dalam Undang-undang (UU) No. 5 Tahun 1999 tentang
Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
sehingga banyak harapan yang ditujukan kepada Komisi Pengawas
Persaingan Usaha (KPPU) untuk menanganinya. Memperhatikan
kondisi tersebut, tulisan ini mencoba memaparkan gambaran
industri ritel dalam perspektif persaingan usaha, khususnya
sebagaimana diatur dalam UU No. 5 Tahun 1999, dengan KPPU
sebagai pelaksananya.
Perkembangan Pesat Industri Ritel di Indonesia
Ada banyak faktor yang mendorong pesatnya pertumbuhan
industri ritel. Salah satu di antaranya adalah kebijakan liberalisasi
T
here has been tough competition in the retail sector since modern
retailers started to play a part in the Indonesian retail industry.
There are at least two negative aspects of the presence of modern retailers
in Indonesia. Firstly, small retailers are marginalized from the market
because they cannot compete with larger modern retailers. Secondly,
the increasing market power of modern retailers has resulted in the
exploitation of their suppliers.
In some aspects, tough competition of this kind in the retail industry
is often associated with unhealthy competition, which is regulated by
Law No. 5/1999 on the Prohibition of Monopolistic Practices and
Unfair Business Competition, and it is hoped that the Commission
for the Supervision of Business Competition (KPPU) will enforce
the regulation. This article attempts to illustrate the Indonesian retail
industry from a business competition perspective, in particular looking at
how it is regulated according to Law No. 5/1999, and how the KPPU
oversees the regulation.
The Rapid Growth of the Retail Industry in Indonesia
Many factors have contributed to the rapid growth of the retail
industry. Among them was the retail liberalization policy which removed
* Taufik Ahmad adalah Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Kebijakan Persaingan, Komisi
Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).
* Taufik Ahmad is the Acting Director of Competition Policy at the Commission for the
Supervision of Business Competition (KPPU).
2B
Newsl et t er
OP I NI OP I NI ON
ritel yang mengeluarkan bisnis ritel dari daftar terlarang (negative list)
penanaman modal asing (PMA). Hal ini tertuang dalam Keputusan
Presiden No. 96/2000 tentang Bidang Usaha yang Tertutup dan
Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan Tertentu bagi
Penanaman Modal serta Keputusan Presiden No. 118/2000 tentang
Perubahan atas Keputusan Presiden No. 96/2000. Kedua peraturan
tersebut mengatur bidang jasa perdagangan dan jasa penunjang
perdagangan yang tertutup untuk investasi bagi perusahaan yang
dalam modalnya ada kepemilikan warga negara asing dan/atau badan
hukum asing, kecuali perdagangan ritel skala besar (mal, supermarket,
department store, pusat pertokoan/perbelanjaan) dan perdagangan besar
(distributor/wholesaler, perdagangan ekspor dan impor).
1
Kebijakan ini ditunjang oleh kebijakan lainnya, yakni Keputusan
Menkeu No. 455/KMK.01/1997 tentang Pembelian Saham oleh
Pemodal Asing Melalui Pasar Modal, yang di dalamnya antara lain
mencabut ketentuan pembatasan pembelian saham oleh pemodal
asing melalui pasar modal dan bursa efek, sebagaimana dimaksud dalam
Keputusan Menkeu No. 1055/KMK.013/1989. Melalui kebijakan ini,
maka seluruh saham perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta,
termasuk perusahaan ritel, boleh dimiliki oleh pihak asing. Kebijakan
tersebut telah menyebabkan tidak adanya pembatasan kepemilikan
dalam ritel skala besar oleh perusahaan asing.
Industri ritel memiliki posisi strategis dalam ekonomi Indonesia.
Ritel merupakan salah satu tulang punggung ekonomi nasional.
Pada tahun 2003 saja, potensi pasar bisnis ritel mencapai Rp600
triliun. Kontribusi sektor ritel terhadap produk domestik bruto
the retail industry from the list of industries closed to foreign investment.
This policy was encapsulated in Presidential Decree No. 96/2000 on
Business Fields that are Closed to Investments and Business Fields that
are Conditionally Open for Investment, and in Presidential Decree No.
118/2000 on the Amendments to Presidential Decree No. 96/2000.
These regulations regulate the trading services sectors and the supporting
sectors that are closed to investment from companies supported by foreign
capital or foreign legal bodies. The decrees exempt large-scale retail trade
(malls, supermarkets, department stores, and shopping centers) and
other large-scale trade (distributors and wholesalers, and export and
import trade).
1
Retail liberalization is also supported by the Decree of the Minister of
Finance No. 455/KMK.01/1997 on the Purchase of Shares by Foreign
Investors through Capital Markets. This policy removed the limit on
share buying for foreign investors through capital markets and the stock
exchange, as was previously stipulated in Decree of the Minister of Finance
No. 1055/KMK.013/1989. With this revised policy, all companies listed
on the Jakarta Stock Exchange, including retail companies, can now be
owned by foreign parties. As a result, there is now no limit to foreign
ownership in the large-scale Indonesian retail industry.
The retail industry holds a strategic position in Indonesia’s economy,
and is part of the backbone of the national economy. In 2003, retail
business potential reached Rp600 trillion and it contributed 20% to gross
domestic product. Furthermore, as many as 10.3 million (45%) of the
Sektor/Sector 2004 2005
Perubahan(%)/
Change(%)
Toko tradisional/Traditional stores
Convenience store
Supermarket
• Subsupermarket/Sub-Supermarket
• Minimarket
Toko berformat besar/Large format store
• Hipermarket/Hypermarket
• Pusat grosir/Warehouse clubs
Total toko ritel/Total number of retail stores
Toko obat/Medicine retailers
Toko obat tradisional/Traditional drugstore
Jaringan apotek/Chain drugstore
Total toko obat/Total medicine retailers
1.745.589
154
6.560
956
5.604
90
68
22
1.752.393
17.699
218
17.917
1.787.897
115
7.606
1.141
6.456
107
83
24
1.795.725
16.663
245
16.908
2,42
-25,32
15,95
19,35
15,20
18,89
22,06
9,09
2,47
-5,85
12,39
-5,63
Tabel 1. Struktur Pengecer di Indonesia/Table 1. Retail Structure in Indonesia
Sumber/Source: A.C. Nielsen 2006
Note: This table uses Indonesian numbering conventions, for example, 6.560 = 6,560; 2,42 = 2.42.
1
Pada Juli 2007, Keputusan Presiden No. 96 Tahun 2000 sebagaimana telah diubah
dengan Keputusan Presiden No.118 Tahun 2000 telah diganti dengan Peraturan
Presiden No. 77 Tahun 2007 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan
Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. Di
bawah peraturan yang baru ini, pengecualian atas industri ritel tidak berubah.
1
In July 2007, Presidential Decree No. 96/2000, as amended by Presidential Decree No.
118/2000, was superseded by Presidential Regulation No.77/2007 Concerning Lists of
Business Fields that are Closed to Investments and Business Fields that are Conditionally
Open for Investments. Under the new regulation, the exemption status of the retail industry
has not changed.
29
No. 22: Apr- Jun/2007
OP I NI OP I NI ON
Salah satu akar persoalan industri ritel
Indonesia terletak pada ketidakmampuan
pelaku usaha ritel kecil untuk bersaing secara
langsung dengan para pelaku usaha ritel
modern.
One of the main problems in the Indonesian retail
industry is that small-scale retailers cannot directly
compete with large-scale modern retailers.
(PDB) mencapai 20%. Demikian juga, dari 22,7 juta jumlah usaha
di Indonesia, sebanyak 10,3 juta atau sekitar 45% merupakan usaha
ritel, baik besar maupun kecil.
Berdasarkan survei yang dilakukan A.C. Nielsen pada 2006,
komposisi industri ritel Indonesia dapat digambarkan sebagaimana
terlihat dalam Tabel 1. Data ini memperlihatkan bahwa secara
kuantitas, ritel modern sesungguhnya tidak memiliki makna apa-
apa dibandingkan dengan ritel tradisional. Jumlah pelaku usaha di
ritel tradisional jauh di atas jumlah pelaku usaha di ritel modern.
Namun, apabila omzet ritel modern, yang berada pada kisaran
approximately 22.7 million businesses in Indonesia are retail businesses—
both small- and large-scale.
The composition of the Indonesian retail industry based on a 2006
A.C. Nielsen survey is shown in Table 1. This data shows that in terms of
quantity, modern retail comprises a far smaller portion of the market than
traditional retail. There are far more traditional retailers than modern
retailers. However, annual earnings for the modern retail sector stands
at about Rp50–60 trillion for approximately 15,000 traders, whereas
earnings for the traditional retail sector is approximately Rp500 trillion
Rp50-60 triliun dengan jumlah pelaku usaha sekitar 15.000,
dibandingkan dengan omzet ritel kecil dan tradisional, yang sekitar
Rp500 triliun dengan jumlah pelaku usaha di atas 1,5 juta, maka
sangat jelas omzet per unit usaha ritel modern jauh berada di atas
omzet ritel tradisional.
Pertumbuhan pesat ritel modern saat ini terus mendorong
terjadinya perubahan penguasaan pangsa pasar ritel dari pasar tradisional
ke pasar modern. Secara pelan tapi pasti, pangsa pasar ritel dikuasai oleh
ritel modern. Tabel 2 memperlihatkan perkembangan tersebut.
Usaha Kecil Ritel vs. Usaha Besar Ritel
Persaingan sengit dalam industri ritel di satu sisi dipandang
positif dan menguntungkan konsumen karena konsumen memiliki
banyak pilihan. Keragaman produk dengan variasi harga dan
kualitas yang bervariasi, serta tingkat keamanan, kenyamanan, dan
kebersihan yang berbeda, mudah diwujudkan oleh pelaku usaha
dengan kemampuan modal besar. Mereka memiliki kemampuan
yang tidak terbatas untuk penciptaan nilai (value creation) yang
akan membuat mereka unggul dalam persaingan industri ritel. Di
sisi lain, kondisi ini membawa dampak negatif, yakni tersingkirnya
pelaku usaha ritel tradisional dan kecil. Tanpa bantuan pemerintah,
pelaku usaha kecil yang tidak memiliki kemampuan finansial dan
manajemen yang baik akan terpuruk.
for more than 1.5 million traders—making it very clear that earnings
for individual modern retailers is far higher than earnings for individual
traditional retailers.
The rapid growth of the modern retail industry is currently causing
a shift in the retail market share, where modern retail is eating more and
more into the traditional retail share. Slowly but surely, modern retail is
controlling retail market share. Table 2 illustrates this development.
Small-Scale Retail vs. Large-Scale Retail
On one hand, sharp competition in the retail industry can be positive
for consumers as it results in increased choices for consumers. Retailers
with large amounts of capital behind them can easily provide consumers
with a variety of products with different prices and quality, safety,
comfort, and cleanliness. They have a virtually unlimited capacity for
value creation, which gives them more power in the retail industry. On
the other hand, a negative impact of this can be the marginalization
of traditional and small-scale retailers. Without any assistance from
the government, small-scale retailers with their limited financial and
management capacity will suffer.
3u
Newsl et t er
OP I NI OP I NI ON
Salah satu akar persoalan industri ritel Indonesia terletak pada
ketidakmampuan pelaku usaha ritel kecil untuk bersaing secara
langsung dengan para pelaku usaha ritel modern. Hal tersebut
semata-mata terjadi karena ketidaksebandingan kemampuan modal
di antara keduanya. Ketidaksebandingan ini seringkali dikonotasikan
sebagai persaingan usaha tidak sehat. Definisi persaingan usaha tidak
sehat ini biasanya ditujukan pada tidak adanya kesetaraan kemampuan
(equal playing field) antara usaha ritel kecil dan modern sehingga pelaku
usaha kecil harus berhadapan secara “tidak sehat” dengan pelaku
usaha besar yang tidak berada dalam kelas yang sama.
Pemahaman tersebut kemudian dikaitkan dengan keberadaan
UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat. Akibatnya muncul tuntutan
kepada KPPU untuk terlibat dalam penataan persaingan yang
didefinisikan sebagai persaingan usaha tidak sehat tersebut. Tetapi
apabila dicermati, hal tersebut tidaklah tepat karena persaingan
usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam UU No. 5 tahun
1999 tidak mengatur peran KPPU untuk menengahi persaingan
tidak sehat yang diakibatkan oleh ketidaksebandingan. Dengan
demikian, permasalahan persaingan tidak sebanding yang terjadi
antara ritel kecil dan modern sebagaimana didefinisikan dalam UU
No. 5 Tahun 1999 tidak menjadi tanggung jawab KPPU.
Peritel Besar vs. Pemasok
Persoalan berikutnya dari industri ritel terkait dengan
ketidakseimbangan posisi antara pemasok dengan pelaku usaha
ritel. Kekuatan pelaku usaha ritel modern telah mengubah situasi
di industri ritel. Ritel modern telah menjelma menjadi kekuatan
yang luar biasa. Dalam manajemen rantai pasokan produk sampai
ke konsumen, ritel modern kini menjadi bagian yang sangat
menentukan. Ritel modern kini telah menjadi favorit dalam
pendistribusian produk karena kemampuannya mendatangkan
konsumen sangat besar.
Pemasok kini sangat bergantung kepada usaha ritel modern.
Kekuatan pemasok semakin bertambah lemah karena persaingan
antarmereka juga terjadi dengan sangat ketat, sementara peritel
modern di satu wilayah tidak memiliki banyak pesaing. Akibatnya,
peritel modern dapat dengan sangat leluasa menggunakan kekuatan
pasarnya. Mulailah mereka menerapkan berbagai persyaratan
One of the main problems in the Indonesian retail industry is that
small-scale retailers cannot directly compete with large-scale modern
retailers. This inability is a result of unequal access to capital. Such
inequality often implies unhealthy competition. In this case, unhealthy
competition is defined by the presence of an unequal playing field among
small-scale retailers and modern retailers. This means that small-scale
retailers have to compete head to head with large scale retailers who are
in a different class altogether.
This commonly held understanding of unhealthy competition is
mistakenly associated with Law No. 5 of 1999 on the Prohibition of
Monopolistic Practices and Unfair Business Competition. As a result,
KPPU was pressured to be involved in regulating such competition.
However, if we look closely, this is not appropriate, as the law does
not actually stipulate that KPPU may intervene in cases of unhealthy
competition caused by unequal power. Therefore, as defined in Law No.
5 of 1999, the problem of unequal competition between small retailers
and modern retailers is not the responsibility of KPPU.
Large-scale Retailers vs. Suppliers
A further problem in the retail industry is the imbalance of power
between retailers and suppliers. The market power of modern retailers
has already changed the retail industry. Modern retailers have assumed
an extraordinary amount of market control. By controlling the product
supply chain from the supplier right through to the consumer, modern
retailers have become a deciding force in the market. Modern retail is
now favored by manufacturers for product distribution as they have the
capacity to attract large numbers of consumers.
Suppliers are now heavily reliant on modern retailers. The position
of suppliers continues to weaken as the competition among them becomes
fierce, while modern retailers find that they have few competitors in one
area. One consequence of this is that modern retailers are free to exploit
2001
2002
2003
2004
2005
2006*
Tahun/Year
Pasar Tradisional/Traditional Market Pasar Modern/Modern Market
75,2
74,8
73,7
69,6
67,6
65,6
24,8
25,1
26,3
30,4
32,4
34,4
Tabel 2. Persentase Kontribusi Omzet 51 Kebutuhan Sehari-hari/
Table 2. Percentage of Earnings Contribution from 51 Basic Daily Needs
Sumber/Source: A.C. Nielsen 2006
*) Januari-Juni 2006/ January-June 2006
Note: This table uses Indonesian numbering conventions, for example, 75,2 = 75.2.
31
No. 22: Apr- Jun/2007
OP I NI OP I NI ON
2003
No.
TAhUN/YEAR
2004 2005
Rabat Tetap/Fixed Rebate
Rabat Bersyarat/Conditional Rebate
Diskon Promosi/Promotion Discount
Anggaran Promosi/Promotion Budget
Diskon Biasa/Regular Discount
Biaya Jaminan Semua Produk yang
Dipamerkan/Common Assortment Cost
Rabat Tetap/Fixed Rebate
Rabat Bersyarat/Conditional Rebate
Diskon Promosi/Promotion Discount
Anggaran Promosi/Promotion Budget
Diskon Biasa/Regular Discount
Biaya Jaminan Semua Produk yang
Dipamerkan/Common Assortment Cost
Potongan Harga Beli/Reduced Purchase Price
Marjin Minus/Minus Margin*
Penalti untuk Keterlambatan Pengiriman
Barang/Penalty Delay Delivery for Event
Penalti atas Kekurangan Stok/Penalty on Short
Level
Biaya Pembukaan/Opening Cost
Diskon untuk Pembukaan Toko Baru/Opening
Discount for New Store
Diskon Tambahan/Additional Discount for Other
Diskon Ulang Tahun/Anniversary Discount
Diskon Penataan Toko/Store Remodelling Discount
Rabat Tetap/Fixed Rebate
Rabat Bersyarat/Conditional Rebate
Diskon Promosi/Promotion Discount
Anggaran Promosi/Promotion Budget
Diskon Biasa/Regular Discount
Biaya Jaminan Semua Produk yang
Dipamerkan/Common Assortment Cost
Potongan Harga Beli/Reduced Purchase Price
Marjin Minus/Minus Margin*
Penalti untuk Keterlambatan Pengiriman
Barang/Penalty Delay Delivery for Event
Penalti atas Kekurangan Stok/Penalty on
Short Level
Biaya Pembukaan/Opening Cost
Diskon untuk Pembukaan Toko Baru/
Opening Discount for New Store
Diskon Tambahan/Additional Discount for Other
Diskon Ulang Tahun/Anniversary Discount
Biaya Pasok Produk Baru/Opening Listing Fee
Diskon Lebaran/Lebaran Discount
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
perdagangan (trading terms). Tabel 3 memperlihatkan perkembangan
persyaratan perdagangan di industri ritel Indonesia.
Dalam kondisi hubungan pemasok-ritel modern seperti itulah,
pemasok berpotensi menjadi lahan eksploitasi bagi ritel modern.
Hal ini juga dikonotasikan sebagai bentuk persaingan usaha tidak
sehat sehingga KPPU diminta keterlibatannya dalam penanganan
persoalan ini. Sama dengan permasalahan ritel kecil dan modern,
permasalahan ini terjadi sebagai akibat dari ketidaksebandingan
posisi tawar antara peritel besar dan pemasok. Semua persyaratan
perdagangan sesungguhnya diberlakukan secara sama (equal
treatment). Tetapi biaya yang secara bertubi-tubi harus dipenuhi
oleh pelaku usaha pemasok jelas memengaruhi bisnis mereka secara
keseluruhan.
Dalam perkembangannya, terdapat banyak persyaratan
perdagangan yang terkesan dipaksakan. Karena posisi pemasok
lemah, maka mereka tidak memiliki kemampuan untuk menolak.
Dalam perpektif persaingan usaha, selama persyaratan perdagangan
diberlakukan sama terhadap semua pelaku usaha pemasok (tidak
diskriminatif), tidak berdampak terhadap pelaku usaha ritel
modern pesaing yang dipasok, dan tidak mengganggu mekanisme
pasar (mendistorsi pasar) secara keseluruhan, maka persyaratan
perdagangan tidak bertentangan dengan prinsip persaingan usaha
their market power, and have created a number of trading terms. Table
3 illustrates the development of trading terms in the Indonesian retail
industry.
With the relationship between modern retailers and suppliers being as
it is, there is potential for modern retailers to exploit suppliers. This is also
considered to be a form of unhealthy competition requiring the KPPU’s
intervention. In the same vein as small retailers and modern retailers, this
problem results from the unequal bargaining power between large-scale
retailers and suppliers. All of these trading terms are actually applied
equally—that is, all suppliers are treated equally—however, the recurring
fees suppliers must pay no doubt affect their overall businesses.
Many trading terms seem to be forced upon suppliers. Because
suppliers are in a weak position, they do not have the power to oppose such
trading terms. From a trade competition perspective, as long as all trading
terms are applied equally to all suppliers (that is, in a non-discriminative
manner), they do not have any effect on the modern retail competitors
being supplied, and they do not create market distortions, the trading
Tabel 3. Perkembangan Persyaratan Perdagangan dalam Bisnis Ritel Modern Indonesia/
Table 3. The Development of Trading Terms in the Indonesian Modern Retail Sector
Sumber/Source: Putusan KPPU No. 02/KPPU – L/2005/Decree of the KPPU No. 02/KPPU – L/2005
* Larangan bagi pemasok untuk menjual barangnya ke pesaing lain dengan harga yang lebih murah/Contractual stipulation that suppliers are not to sell their goods to other
retailers at a lower price
32
Newsl et t er
OP I NI OP I NI ON
Persaingan sengit dalam industri ritel bisa
menguntungkan konsumen karena konsumen
memiliki banyak pilihan.
Sharp competition in the retail industry can be
positive for consumers as it results in increased
choices for consumers.
yang sehat sebagaimana diatur dalam UU No. 5 tahun 1999.
Dari gambaran ini, maka sekali lagi tampak bahwa permasalahan
hubungan pemasok-ritel modern lebih menyangkut kepada
munculnya ketidaksebandingan kekuatan pasar antara pemasok
dan peritel modern.
Sinergi Peran KPPU dan Pemerintah
Salah satu permasalahan industri ritel yang krusial saat
ini terletak pada munculnya ketidaksebandingan kemampuan
antarpelaku usaha. Hal ini sesungguhnya lebih merupakan
wilayah kerja pemerintah yang biasanya ditangani melalui konsep
pengaturan perlindungan. Paling tidak, ada dua tugas utama yang
harus dilakukan pemerintah. Pertama, memberikan perlindungan
kepada pelaku usaha kecil/tradisional dari ancaman ketersingkiran
akibat ketidakmampuan bersaing, misalnya melalui pengaturan
zonasi, waktu buka, kewajiban melakukan kemitraan, dan
sebagainya. Hal inilah yang saat ini dicoba untuk diadopsi oleh
pemerintah melalui Rencana Peraturan Presiden tentang Pembinaan
Usaha Pasar Modern dan Usaha Toko Modern. Kedua, melakukan
pemberdayaan usaha kecil/tradisional untuk memperkuat daya
saing mereka sehingga mereka mampu mengakomodasi tuntutan
masyarakat terhadap aspek-aspek yang lebih berkaitan dengan
psikologi konsumen, seperti kenyamanan, rasa aman, dan
sebagainya. Berbagai bantuan pelatihan manajemen ritel dapat
menjadi salah satu alternatif proses pemberdayaan tersebut.
Mencermati perkembangan yang terjadi serta nilai strategis
peran KPPU dan pemerintah dalam industri ritel Indonesia, maka
sinergi peran antara keduanya sangat diperlukan. Peran KPPU
adalah melakukan penegakan hukum persaingan dan memberikan
koreksi terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai akan mendistorsi
pasar ritel Indonesia. Sementara itu, peran pemerintah lebih tertuju
pada pengaturan-pengaturan agar industri ritel berkembang secara
optimal.
Mengamati kondisi yang terjadi, maka kunci kesuksesan regulasi
di sektor ritel akan terletak pada upaya penegakan peraturan
perundangan yang telah ada, baik menyangkut
tugas KPPU, pemerintah, maupun instansi
lain yang terlibat dalam pengaturan industri
ritel Indonesia. Tidak tegaknya regulasi
dapat menjadi akar dari semakin kusutnya
permasalahan. n
terms do not conflict with the principles of healthy competition stipulated
in Law No. 5 of 1999. This again demonstrates that the problems
between modern retailers and suppliers are linked to the emergence of
unequal market power.
Synergy between the Roles of KPPU and the Government
One of the crucial problems in the retail industry is this unequal
trading power between business players. Such a problem should really be
the responsibility of the government and be tackled by the establishment
of protection regulation. The government is required to do at least two
things. Firstly, the government must provide small/traditional retailers
with protection from marginalization due to their inability to compete, for
example by the regulation of zoning, trading hours, obligatory partnerships,
and so on. The government is currently attempting to adopt this method
with the Draft Presidential Regulation on the Development of Modern
Markets and Modern Stores. Secondly, the government needs to empower
small/traditional retailers to increase their competitive advantage so that
they have the capacity to meet consumer demand related to consumer
psychology, such as comfort and safety. Retail management training
could be one method to achieve this empowerment process.
Looking at current developments in the Indonesian retail industry
and the strategic value of the role of the KPPU and the government, it
becomes clear that synergy between the roles of both parties is urgently
needed. The KPPU’s role is to enforce competition law and suggest
amendments to government policies that lead to market distortions in
the retail industry; whereas the government’s role lies more towards the
creation of regulations to optimally develop the retail industry.
After examining the current situation of the retail industry, it is clear
that the key to successful regulation of the retail sector is to enforce the
existing regulations—including those regulating the duties of the KPPU,
the government, and other bodies involved in the management of the
Indonesian retail industry. Without the enforcement of regulations, the
current problems will become even more complex. n
33
No. 22: Apr- Jun/2007
B E R I T A DAR I l s M NE WS F R OM NgOs
M. Firdaus*
P
asar tradisional yang dibangun pemerintah daerah pada
umumnya belum memperhatikan kepentingan para pedagang,
misalnya lokasi pasar yang seringkali jauh dari permukiman warga
dan harga sewa kios pasar yang tinggi serta memberatkan para
pedagang. Hal ini ditambah lagi dengan adanya minimarket yang
kini menjamur di kecamatan-kecamatan dan lokasinya berdekatan
dengan pasar tradisional sehingga berdampak pada usaha para
pedagang kecil di pasar tradisional.
ASPPUK (Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil)
merupakan sebuah LSM yang bergerak dalam bidang pemberdayaan
perempuan pengusaha kecil, termasuk perempuan pedagang kecil
(PPK)-mikro. Pemberdayaan ini dilakukan antara lain melalui
pengorganisasian dan advokasi, termasuk advokasi kebijakan.
Tulisan ini akan memberi gambaran mengenai masalah yang selama
ini dihadapi PPK-mikro di pasar tradisional, terutama di Klaten
dan Solo, berdasarkan pengalaman pendampingan ASPPUK
terhadap kelompok ini, dan juga menguraikan kegiatan-kegiatan
pemberdayaan PPK-mikro yang selama ini dilaksanakan ASPPUK.
T
raditional markets established by regional governments generally do
not take the interests of those trading in the market into account. For
example, often the market’s location is far from where communities live,
and the high rent charged for a stall in the market is prohibitive for the
traders. The mushrooming of minimarkets near traditional markets in
the subdistricts negatively affects the small traders in traditional markets,
which further compounds these issues.
The Association of Facilitators for Women Small-Scale Entrepreneurs
(ASPPUK) is an NGO working for the empowerment of women small-
scale entrepreneurs; including women micro- and small-scale traders.
Empowerment activites concentrate on organizing and advocacy,
including advocacy on policy matters. This article will provide an
illustration of the kind of problems faced by women micro- and small-
scale traders in traditional markets, mainly in Klaten and Solo, based on
ASPPUK’s experiences of supporting these women. It will also discuss
the empowerment activities implemented by ASPPUK.
PEMbErdayaan TErPadU PErEMPUan
PEdagang kEcil dan Mikro
The inTeGraTed eMpoWerMenT of WoMen
MiCro- and sMall-sCale Traders
* M. Firdaus adalah Koordinator Program Sekretariat Nasional Asosiasi Pendamping
Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK).
* M. Firdaus is Program Coordinator for the National Secretariat of the Association of
Facilitators for Women Small-Scale Entrepreneurs (ASPPUK).
34
Newsl et t er
B E R I T A DAR I l s M NE WS F R OM NgOs
Bergelut dengan Modal
PPK-mikro di pasar tradisional, seperti pengusaha mikro-
kecil umumnya, masih bergulat dengan permasalahan modal.
Sebagaimana halnya dengan usaha mikro lainnya, bank-bank formal
biasanya tidak bisa melayani kegiatan PPK-mikro: pertama, karena
rata-rata penghasilan PPK-mikro tidak menentu; kedua, standar
pembukuan usaha PPK-mikro dinilai tidak memenuhi standar
atau tidak bankable; ketiga, pada umumnya PPK-mikro, seperti
pengusaha mikro-kecil lainnya, mempunyai keterbatasan dalam
kepemilikan aset yang bisa dijadikan jaminan kredit (kolateral)
menurut standar yang telah ditetapkan bank.
PPK-mikro juga menemui kesulitan dalam mencari sumber
modal di sekitar pasar. Sumber modal yang berkembang di sekitar
pasar tradisional sebagian besar berasal dari “Bank Plecit” (bank
harian) yang bunganya amat tinggi (bahkan ada yang harus
membayar empat kali lipat dari pinjaman pokok). Pelaku bank
harian ini kebanyakan laki-laki dan ada kasus-kasus di mana mereka
melakukan kekerasan verbal dan pelecehan seksual terhadap PPK-
mikro yang meminjam.
Kesulitan PPK-mikro menjadi semakin berat dengan
didirikannya pasar-pasar dengan bangunan modern di mana mereka
harus membayar sewa kios yang tinggi, retribusi, dan ongkos-
ongkos lain di luar ongkos resmi. Di samping itu, PPK-mikro kerap
menjadi sasaran “pemerasan” para preman yang beroperasi secara
berkelompok dan independen. Karena PPK-mikro cenderung tidak
berani melawan, para preman bisa dengan lebih mudah memungut
uang keamanan (di luar yang sudah dipungut dinas pasar) setiap
harinya dan tunjangan hari raya (THR) menjelang Lebaran.
Namun, di luar persoalan yang sudah disebutkan di atas, ada
hal lain yang secara khusus menjadi kendala perempuan pengusaha
kecil-mikro, termasuk PPK-mikro, untuk berusaha, yakni izin
suami atau keluarga. Survei ASPPUK pada 2003 terhadap
perempuan usaha kecil (PUK) di 15 kabupaten di delapan provinsi
menunjukkan bahwa kendala terbesar PUK dalam berusaha adalah
tidak adanya izin dari pihak keluarga (khususnya suami).
Struggling with Capital
Women micro- and small-scale traders in traditional markets, like
micro- and small-scale entrepreneurs in general, are still struggling with
problems surrounding access to capital. Formal banks will often not assist
the activities of women micro- and small-scale traders for a number of
reasons. Firstly, the income of these women is uncertain; secondly, the
accounting systems they use do not meet bank standards or are said to be
not ‘bankable’; and thirdly, they generally do not have sufficient assets to
use as a loan guarantee (collateral) in accordance with bank standards.
It is also difficult for women micro- and small-scale traders to find
sources of capital close to the market. Informal banks (or daily banks)
are one main source of capital. They operate close to most markets and
charge very high interest rates (some as high as four times the principal).
Most of these daily banks are run by men, and there have been cases
of these men verbally abusing and sexually harassing their women
borrowers.
Women micro- and small-scale traders face further difficulties when
markets are built as modern complexes, because the rental rates for the
individual stalls are high, and such markets also collect market services
fees (retribusi) and other unofficial “fees”. The women traders also tend
to become targets for intimidation from thugs who operate in independent
groups. These women are generally afraid to challenge such thugs, who
then can more easily demand daily “security money” (outside of the usual
official fee) as well as “religious holiday allowances” in the lead-up to
Lebaran.
Apart from all the problems stated above, another obstacle faced by
many women working as small-scale entrepreneurs—including women
micro- and small-scale traders—is the need to obtain permission from
their husbands or families. The 2003 ASPPUK survey of women small-
scale entrepreneurs in 15 districts in eight provinces found that the biggest
obstacle for women working and selling in the markets was obtaining
permission from their families (especially from their husbands).
PPK-mikro di pasar tradisional masih bergulat dengan
permasalahan modal.
Women micro- and small-scale traders in traditional
markets are still struggling with problems surrounding
capital availability.
S
M
E
R
U
35
No. 22: Apr- Jun/2007
B E R I T A DAR I l s M NE WS F R OM NgOs
Pemberdayaan PPK-mikro
Dengan kondisi seperti itu, upaya LSM dalam memberdayakan
perempuan pedagang kecil di pasar harus dilakukan secara terpadu.
Upaya ini harus membangun strategi pengembangan ekonomi
perempuan yang komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai
aspek dan mengintegrasikan berbagai pendekatan. Kegiatan-
kegiatan pemberdayaan PPK-mikro yang selama ini dilakukan
oleh ASSPUK mencakup pengorganisasian, pelayanan informasi,
pelayanan modal, dan advokasi.
Pengorganisasian
Pengorganisasian PPK-mikro bertujuan untuk menghimpun
kekuatan mereka. Hal ini terbukti ketika PPK-mikro berkelompok,
para preman bersikap lebih hati-hati dalam menghadapi mereka.
Dalam pengorganisasian dilakukan kegiatan berupa fasilitasi
pembentukan kelompok PPK-mikro yang diikuti antara 10-25
orang, konsultansi melalui pendampingan secara kelompok dan
individual (atau kunjungan individu ke rumah anggota dengan
melibatkan keluarga), dan pelatihan. Pelatihan dikelompokkan
dalam tiga bentuk: pertama, pelatihan peningkatan pemahaman,
di antaranya tentang motivasi usaha yang menekankan pada aspek
pengembangan keterampilan perempuan dalam berusaha, diikuti
dengan pelatihan kesadaran gender dan pemahaman hak-hak
perempuan sebagai warga negara; kedua, pelatihan keterampilan
perencanaan usaha, manajemen keuangan, pemasaran, produksi,
dan manajemen kelompok; ketiga, pelatihan penguatan sikap
seperti kepemimpinan perempuan, kemampuan advokasi, dan
sikap tegas.
Pelayanan Informasi
Pelayanan informasi dimaksudkan untuk memberikan wawasan
melalui selebaran, brosur, dan buku saku tentang usaha, kesehatan,
maupun masalah aktual yang disertai norma agama yang
menekankan pentingnya usaha bagi kelangsungan hidup.
The Empowerment of Women Micro- and Small-Scale Traders
In light of the above conditions, there needs to be an integrated NGO
effort to empower women micro- and small-scale traders. Any such effort
must create a comprehensive economic development strategy for women
that takes all aspects into account and integrates different approaches.
ASPPUK has implemented activities aimed at empowering women
micro- and small-scale traders, such as organizing, providing information
services, capital provision, and advocacy.
Collective Organization
The aim of organizing women micro- and small-scale traders in
traditional markets is to increase their collective strength. The benefit
of such collective strength has been proven; when these women traders
are collectivised, thugs are less likely to intimidate them. When forming
such collectives, groups of 10-25 people are created, and support and
consultation on a group and individual level (or through individual
visits to members’ homes, also involving their family) is provided.
ASPPUK also provides three types of training: firstly, awareness-raising
training aimed at motivating women and helping them to develop their
entrepeneurial abilities, followed by training on gender awareness and
women’s rights as Indonesian citizens; secondly, training in entrepeneurial
development skills, financial management, marketing, production, and
group management; and thirdly, training in attitude development, which
includes female leadership, the capacity to advocate, and assertiveness.
Information Services
Information services are aimed at raising awareness through the
distribution of leaflets, brochures, and pocket books. These materials
address matters such as work and health, and cite current issues
accompanied by religious norms that state the importance of work for
one’s life.
Upaya terpadu LSM dalam
memberdayakan perempuan pedagang
kecil di pasar tradisional harus
membangun strategi pengembangan
ekonomi perempuan yang
komprehensif.
Integrated NGO efforts to empower
women micro- and small-scale traders
in traditional markets must include a
comprehensive economic development
strategy.
D
o
k
.

P
P
S
W
/
P
P
S
W

D
o
c
.

Newsl et t er
B E R I T A DAR I l s M NE WS F R OM NgOs
Capital Provision
Capital is provided in the form of micro-credit. It is provided
to supplement revolving loan funds, and is to be used for enterprise
development. The ASPPUK micro-credit system has two schemes: credit
for enterprise, and credit for women’s general needs (with no interest or
very low interest rates), such as education (for children and women),
health, housing, and the ownership of productive assets held in the names
of the women themselves.
Advocacy
ASPPUK also provides advocacy for the problems faced by women
micro- and small-scale traders. These advocacy activities deal with issues
of culture, gender, and government policy. This support strengthens
women’s capacity to lobby and negotiate with parties involved in policy
making, particularly concerning government policies associated with
trade and economic development at the grassroots level, especially for
women.
Policy Advocacy

NGOs and women micro- and small-scale traders are currently
pressing for local and central governments to create concrete regulatory
policies to ensure that:
1. traditional markets are built close to existing communities;
2. the rehabilitation of traditional markets does not further burden
women micro- and small-scale traders with an increase in rental
fees, and that if markets are relocated they are placed in strategic
locations;
3. the development of traditional markets established by community
initiatives should be supported, not hampered by over-regulation
which is detrimental to traders, such as the collection of high market
services fees;
4. minimarkets—which have mushroomed in many subdistricts—are
not built in close proximity to traditional markets, as this impacts on
the economic viability of existing traders;
5. regional governments in cooperation with NGOs provide integrated
capacity building for women micro- and small-scale traders using the
funds allocated in the Regional Government Budget. n
Pelayanan Modal
Pelayanan modal dilakukan melalui kredit mikro. Bantuan modal
akan dipergunakan untuk tambahan modal bergulir (revolving loan
fund) untuk pengembangan usaha. Adapun penyaluran kredit mikro
bagi PPK-mikro mempunyai dua skema, yaitu jenis kredit untuk
usaha dan kredit untuk kebutuhan perempuan (tanpa bunga atau
berbunga ringan) seperti untuk pendidikan (anak dan perempuan),
biaya kesehatan, perumahan, dan kepemilikan aset produktif atas
nama perempuan.
Advokasi
ASPPUK melakukan advokasi atas persoalan yang dihadapi PPK-
mikro, baik yang terkait dengan budaya, gender, maupun kebijakan
pemerintah. Melalui pendampingan, PPK-mikro dikuatkan agar
mampu melakukan lobi kepada dan negosiasi dengan pihak-pihak
yang terkait dengan kebijakan, khususnya kebijakan pemerintah
yang menyangkut usaha dan pengembangan ekonomi rakyat kecil,
termasuk perempuan.
Advokasi Kebijakan
LSM dan PPK-mikro di pasar tradisional selama ini berupaya
mendorong terciptanya berbagai kebijakan konkret pemerintah
daerah dan Pemerintah Pusat yang antara lain mengatur agar:
1. pasar tradisional ditempatkan pada lokasi yang berdekatan
dengan tempat tinggal masyarakat;
2. rehabilitasi pasar-pasar tradisional yang kini marak tidak justru
membebani PPK-mikro dengan kenaikan ongkos sewa lokasi
usaha dan penempatan pasar yang tidak strategis;
3. pasar tradisional yang berdiri atas prakarsa masyarakat
difasilitasi untuk bisa berkembang, bukan malahan dihambat
dengan dibuatnya peraturan yang merugikan pedagang, seperti
pemungutan retribusi yang tinggi;
4. lokasi minimarket yang sekarang menjamur di kecamatan-
kecamatan tidak berdekatan dengan pasar tradisional karena hal
ini akan berdampak terhadap usaha ekonomi yang sudah ada;
5. pemda bekerja sama dengan LSM dalam memberikan penguatan
kapasitas yang terpadu kepada PPK-mikro dengan dana yang
sudah ditetapkan dalam APBD. n
S
M
E
R
U
Dengan didirikannya pasar-pasar dengan bangunan
modern, perempuan pedagang kecil mikro mengalami
kesulitan membayar sewa kios yang tinggi, retribusi,
dan ongkos-ongkos lain di luar ongkos resmi.
When markets are built as modern complexes, it is
difficult for women micro- and small-scale traders to pay
high rental rates for the individual stalls, market services
fees, and other unofficial “fees”.

DARI EDITOR
adalah sebuah lembaga penelitian independen yang melakukan penelitian dan pengkajian kebijakan publik secara profesional dan proaktif, serta menyediakan informasi akurat, tepat waktu, dengan analisis yang objektif mengenai berbagai masalah sosial-ekonomi dan kemiskinan yang dianggap mendesak dan penting bagi rakyat Indonesia. Melihat tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia dalam upaya penanggulangan kemiskinan, perlindungan sosial, perbaikan sektor sosial, pengembangan demokrasi, dan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah, maka kajian independen sebagaimana yang dilakukan oleh SMERU selama ini terus dibutuhkan. SMERU is an independent institution for research and policy studies which professionally and proactively provides accurate and timely information as well as objective analysis on various socioeconomic and poverty issues considered most urgent and relevant for the people of Indonesia. With the challenges facing Indonesian society in poverty reduction, social protection, improvement in social sector, development in democratization processes, and the implementation of decentralization and regional autonomy, there continues to be a pressing need for independent studies of the kind that SMERU has been providing.

FROM THE EDITOR

Pembaca yang Budiman,
Akhir-akhir ini dampak kehadiran supermarket (termasuk hipermarket) terhadap keberadaan pasar tradisional menjadi topik yang menyulut perdebatan hangat di kalangan masyarakat. Liberalisasi sektor perdagangan eceran pada 1998 telah mendorong munculnya berbagai supermarket asing di Indonesia. Dengan semakin menjamurnya supermarket asing ke berbagai kota, timbul pendapat dari beberapa kalangan bahwa di era globalisasi pasar tradisional menjadi korban utama persaingan antara pasar tradisional dan modern. Bahkan ada pihak-pihak yang menganggap perlu adanya pembatasan keberadaan supermarket, terutama di lokasi yang berdekatan dengan pasar tradisional, agar tidak merebut konsumen pasar tradisional. Apakah benar supermarket merupakan sebab utama menurunnya kinerja pasar tradisional di tengah-tengah era globalisasi ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut dan melihat dampak kehadiran supermarket terhadap pasar tradisional dan pedagang ritel di daerah perkotaan di Indonesia, Lembaga Penelitian SMERU pada akhir 2006 melakukan kajian terhadap masalah ini. Berangkat dari hasil studi tersebut serta diperkaya dengan pandangan beberapa pengamat, baik dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) maupun dari LSM, Newsletter SMERU Edisi No. 22 ini menyajikan pembahasan komprehensif mengenai permasalahan pasar tradisional berkaitan dengan kehadiran supermarket. Kami juga menampilkan beberapa kasus menyangkut persoalan yang dihadapi para pedagang pasar tradisional di perkotaan. Selain menyumbang kepada studi mengenai topik ini yang jumlahnya masih sedikit, kami juga berharap bahwa apa yang kami sajikan di sini dapat menjadi masukan bagi formulasi kebijakan yang akan memperkuat kapasitas pasar tradisional dalam arus globalisasi pasar. Selamat membaca. Liza Hadiz Editor

DEWAN REDAKSI/EDITORIAL BOARD: Sudarno Sumarto, Asep Suryahadi, Syaikhu Usman, Sri Kusumastuti Rahayu, Nuning Akhmadi, Widjajanti I. Suharyo REDAKSI/EDITORIAL STAFF: Editor/Editor: Liza Hadiz; AsistenEditor/Assistant Editors: R. Justin Sodo, Budhi Adrianto Penerjemah Bahasa Inggris/English Translators: Joan Hardjono, Hannah Derwent Editor Bahasa Inggris/English Editor: Kate Weatherley Perancang Grafis/Graphic Designer: Novita Maizir Distribusi/Distribution: Mona Sintia Newsletter SMERU diterbitkan untuk berbagi gagasan dan mengundang diskusi mengenai isu-isu sosial, ekonomi, dan kemiskinan di Indonesia dari berbagai sudut pandang. Temuan, pandangan, dan interpretasi yang dimuat dalam Newsletter SMERU sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan di luar tanggung jawab SMERU atau badan penyandang dana SMERU. Silahkan mengirim komentar Anda. Jika Anda ingin terdaftar dalam mailing list kami, kunjungi website SMERU atau kirim e-mail Anda kepada kami. The SMERU newsletter is published to share ideas and to invite discussions on social, economic, and poverty issues in Indonesia from a wide range of viewpoints. The findings, views, and interpretations published in the articles are those of the authors and should not be attributed to SMERU or any of the agencies providing financial support to SMERU. Comments are welcome. If you would like to be included on our mailing list, please visit our website or send us an e-mail.

Dear Readers,
The impact of supermarkets (including hypermarkets) on the existence of traditional markets has recently become a topic of heated public debate. The 1998 liberalization of the retail trade sector provided the impetus for the emergence of various foreign supermarket chains in Indonesia. With the mushrooming of foreign supermarkets in many cities, several parties have expressed the opinion that in the current globalization era, the traditional market is the main victim of competition between traditional and modern markets. In fact, some have expressed the need to limit the number of supermarkets, especially in locations near the vicinity of traditional markets, so they do not compete for traditional market customers. In the globalization era, are supermarkets indeed the main cause of the decline in the business performance of traditional markets? To answer this question, at the end of 2006, The SMERU Research Institute conducted a study that examined the impact of supermarkets on traditional markets and retailers in urban Indonesia. The results of our study form the basis of this edition of the SMERU Newsletter, which presents a comprehensive discussion of the problems faced by traditional markets as a result of the presence of supermarkets. It is enriched by the opinions of several observers, from both the Commission for the Supervision of Business Competition (KPPU) and community organizations. We also put forth several cases of problems experienced by traders in urban traditional markets. Apart from making this small contribution to the debate, we hope that the information presented here will become input for the formulation of policies that will strengthen the capacity of traditional markets in the globalized market. We hope you enjoy this edition. Liza Hadiz Editor

lEMbaga PEnEliTian sMErU
Jl. Pandeglang No. 30 Menteng, Jakarta 10310 Indonesia Phone: 62-21-3193 6336; Fax: 62-21-3193 0850 e-mail: smeru@smeru.or.id; website: www.smeru.or.id 

Newsletter

FOKUS KAJIAN

FOCUS ON

Pasar Tradisional di Era PErsaingan global TradiTional MarkeTs in The era of Global CoMpeTiTion
Adri Poesoro*

P

esatnya pembangunan pasar modern dirasakan oleh banyak pihak berdampak terhadap keberadaan pasar tradisional. Di satu sisi, pasar modern dikelola secara profesional dengan fasilitas yang serba lengkap; di sisi lain, pasar tradisional masih berkutat dengan permasalahan klasik seputar pengelolaan yang kurang profesional dan ketidaknyamanan berbelanja. Pasar modern dan tradisional bersaing dalam pasar yang sama, yaitu pasar ritel. Hampir semua produk yang dijual di pasar tradisional seluruhnya dapat ditemui di pasar modern, khususnya hipermarket. Semenjak kehadiran hipermarket di Jakarta, pasar tradisional di kota tersebut disinyalir merasakan penurunan pendapatan dan keuntungan yang drastis (Kompas 2006). Meskipun demikian, argumen yang mengatakan bahwa kehadiran pasar modern merupakan penyebab utama tersingkirnya pasar tradisional tidak seluruhnya benar. Hampir seluruh pasar tradisional di Indonesia masih bergelut dengan masalah internal pasar seperti buruknya manajemen pasar, sarana dan prasarana pasar yang sangat minim, pasar tradisional sebagai sapi perah untuk penerimaan retribusi,1 menjamurnya pedagang kaki lima (PKL) yang mengurangi pelanggan pedagang pasar, dan minimnya bantuan permodalan yang tersedia bagi pedagang tradisional. Keadaan ini secara tidak langsung menguntungkan pasar modern.
* Adri Poesoro adalah peneliti Lembaga Penelitian SMERU. 1 Untuk uraian lebih panjang tentang retribusi pasar lihat artikel: ‘Retribusi Pasar Tradisional: Kewajiban Tanpa Pelayanan yang Memadai’ dalam edisi ini.

M

any people feel that the rapid establishment of modern markets has had an impact on traditional markets. On the one hand, modern markets are managed in a professional way and have excellent facilities, while on the other hand, traditional markets still struggle with the classic problems of unprofessional management and inconvenience for shoppers. Modern and traditional markets compete in the retail sector. Almost all products sold in traditional markets are also available in modern markets, especially hypermarkets. Since the presence of hypermarkets in Jakarta, there have been signs that traditional markets in this city are experiencing a drastic decline in income and profits (Kompas 2006). Nevertheless, the argument that the presence of modern markets is the main cause of the decline of traditional markets is not entirely correct. Almost all traditional markets in Indonesia are still struggling with internal problems such as poor management, very limited facilities and infrastructure, the attitude that traditional markets are cash cows for the collection of market services fees (retribusi),1 the constant increase in the number of street vendors that reduces the number of customers buying from market traders, and the minimum amount of capital assistance available for traditional traders. This situation indirectly benefits modern markets.

* Adri Poesoro is a researcher at The SMERU Research Institute. 1 For a more detailed discussion on market services fees (retribusi pasar), see article entitled: ‘Retribusi Payments in Traditional Markets: Obligatory Payments with Insufficient Service in Return’ in this edition.

SMERU

No. 22: Apr- Jun/2007 

Keunggulan pasar modern atas pasar tradisional adalah bahwa mereka dapat menjual produk yang relatif sama dengan harga yang lebih murah. Meskipun demikian. buah-buahan. Bogor. which has 58% of all hypermarkets. dari delapan menjadi 49 gerai. The superiority of modern over traditional markets lies in the fact that the former can sell the same products at lower prices. however. usually for an extended period of time. pertumbuhan hipermarket terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek dengan proporsi 58% dari keseluruhan hipermarket. Pasar Modern Pertumbuhan pasar modern di Jabodetabek (Jakarta. sedangkan penjualan hipermarket akan meningkat sebesar 70% untuk periode yang sama. Salah satu penyebab meningkatnya jumlah dan penjualan pasar modern adalah urbanisasi yang mendorong percepatan pertumbuhan penduduk di perkotaan serta meningkatnya pendapatan per kapita. Modern Markets The growth of modern markets in Jabodetabek (Jakarta. The growth of hypermarkets.) are able to compete with supermarkets and hypermarkets because many customers still prefer to go to traditional markets to purchase these products. while hypermarket sales will grow by 70% during the same period. Depok. Pada 1999–2004. ayam. traders who sell fresh food (meat. A sharp rise occurred in the market share of supermarkets as a proportion of the total market share in the food industry. (Supermarket) Rata-rata pertumbuhan per tahun = 14.FOKUS KAJIAN FOCUS ON Grafik 1. 2003. fish. from 11% in 1999 to 30% in 2004. Pricewaterhouse Coopers (2005) memprediksi bahwa penjualan supermarket akan meningkat sebesar 50% dari periode 2004 hingga 2007. the supermarkets and hypermarkets establish business links with large suppliers. (Minimarket) Expon. Perkembangan Pasar Modern (1997 – 2003)/Graph 1. Penjualan supermarket pun tumbuh rata-rata 15% per tahun. in addition to the comfort and different payment options they offer shoppers. Supermarket dan hipermarket juga menjalin kerja sama dengan pemasok besar dan biasanya untuk jangka waktu yang cukup lama. while the sales of traditional traders have fallen by 2% a year (Natawidjaja 2006). Pricewaterhouse Coopers (2005) predicted that supermarket sales will increase by 50% between 2004 and 2007. Tangerang. Meskipun demikian. terjadi peningkatan pangsa pasar supermarket terhadap total pangsa pasar industri makanan yang cukup tajam dari 11% menjadi 30%. Furthermore. hypermarkets in Indonesia grew by 27% a year from eight to 49 stores. hipermarket di seluruh Indonesia tumbuh 27% per tahun. ikan. Growth of Modern Markets (1997–2003) Jumlah Pasar Modern/Number of Modern Markets Hipermarket/Hypermarket Supermarket Minimarket Expon. benefitting from the economies of scale. One reason for the increase in the number and sales of modern markets is urbanization. Supermarket sales have risen by an annual average of 15%.63%/Average growth per year = 14. Pedagang tradisional yang terkena imbas langsung dari keberadaan supermarket atau hipermarket adalah pedagang yang menjual produk yang sama dengan yang dijual di kedua tempat tersebut. sedangkan penjualan pedagang tradisional turun 2% per tahunnya (Natawidjadja 2006). which has encouraged accelerated population growth in urban areas and a rise in per capita income. 2003 Pasar Tradisional vs.63% Sumber/Source: DRI. Depok. ditambah dengan kenyamanan berbelanja dan beragam pilihan cara pembayaran. etc. dan lainlain) masih bisa bersaing dengan supermarket dan hipermarket mengingat banyak pembeli masih memilih untuk pergi ke pasar tradisional untuk membeli produk tersebut. Nevertheless. dan Bekasi) dalam beberapa tahun terakhir cukup tinggi. and Bekasi) over the past few years has been quite high. is concentrated in the Jabodetabek region. fruit. This enables them to operate efficiently. vegetables. Bogor. Traditional vs. Dari 1998 hingga 2003.  Newsletter . Traditional traders who sell the same goods as modern markets suffer the direct impact of the presence of supermarkets and hypermarkets. pedagang yang menjual makanan segar (daging. sayur-sayuran. From 1998 to 2003. Tangerang. Visidata. Hal ini yang menyebabkan mereka dapat melakukan efisiensi dengan memanfaatkan skala ekonomi yang besar.

predatory pricing. Thus. kalangan lain berpendapat bahwa di era globalisasi pasar tradisional telah menjadi korban dari kompetisi sengit antara sesama pasar modern. dan buruknya sirkulasi udara. khususnya pada akhir minggu. Pasar tradisional kehilangan pelanggan akibat praktik usaha yang dilakukan oleh supermarket. poorly maintained sanitation and garbage disposal areas.FOKUS KAJIAN Supermarket melakukan beberapa strategi harga dan nonharga. kebanyakan pembeli tidak perlu masuk ke dalam pasar untuk berbelanja karena mereka bisa membeli dari PKL di luar pasar. Dengan demikian. and Traditional Markets as Percentages of All Markets Minimarket Supermarket Pasar Tradisional/Traditional Markets Sumber/Source: A. Supermarket. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh SMERU (Suryadarma et al. longer opening hours (especially on weekends). dan parkir gratis. inadequate parking lots. dan diskriminasi harga antarwaktu (inter-temporal price discrimination). Hanya daging segar saja yang tidak dijual oleh PKL. Nielsen. and free parking. and lack of air circulation are all infrastructure issues that constitute serious problems in traditional markets. for example. The Condition of Traditional Markets in Indonesia Two-storied buildings unpopular with shoppers.Jun/2007  . The constant increase in the number of street vendors adds to these problems. 22: Apr.1 The street vendors sell almost the same goods as those sold inside the market. with the exception of fresh meat.1 PKL menjual barang dagangan yang hampir sama dengan seluruh produk yang dijual di dalam pasar. In contrast. Misalnya memberikan diskon harga pada akhir minggu dan pada waktu tertentu. untuk menarik pembeli. The state of traditional markets is generally cause for great concern. kurangnya lahan parkir. and inter-temporal price discrimination.C. Sedangkan strategi nonharga antara lain dalam bentuk iklan. Supermarkets. makin baik bagi pertumbuhan ekonomi serta iklim persaingan usaha. Persentase Minimarket. Research carried out by SMERU (Suryadarma et al. Banyak pasar tradisional di Jabodetabek yang tidak terawat sehingga dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh pasar modern FOCUS ON Supermarkets adopt a number of pricing and non-pricing strategies to attract customers. Kondisi pasar tradisional pada umumnya memprihatinkan. Sementara itu. Kondisi Pasar Tradisional di Indonesia Masalah infrastruktur yang hingga kini masih menjadi masalah serius di pasar tradisional adalah bangunan dua lantai yang kurang populer di kalangan pembeli. Many traditional markets in the Jabodetabek region are unmaintained and hence are now threatened by the establishment of modern markets and the superior standards they offer. Their non-pricing strategies include advertising. Belum lagi ditambah semakin menjamurnya PKL yang otomatis merugikan pedagang yang berjualan di dalam lingkungan pasar yang harus membayar penuh sewa dan retribusi. both local and foreign. The traditional markets have lost their customers due to the business practices adopted by the supermarkets. discounts at the end of the week and at certain other times. most shoppers do not need to go into the market itself to do their shopping because they can obtain whatever they need from street vendors outside the market. bundling/tying (pembelian secara gabungan). bundling or tying (combined purchases). Beberapa kalangan memandang bahwa makin meluas pendirian pasar modern di Indonesia. akan diterbitkan). strategi pemangsaan lewat pemangkasan harga (predatory pricing). who have to pay full rent and market services fees. Minimarkets. traditional markets have become the victims of stiff competition among modern markets. membuka gerai lebih lama. The records of PD Pasar Jaya show Grafik 2. People in certain circles believe that economic growth and the climate of business competition will improve in the line with the wide establishment of modern markets in Indonesia. baik lokal maupun asing. others feel that in the era of globalization. as they automatically take business away from the traders selling inside the market. dan Pasar Tradisional terhadap Total Keseluruhan Pasar/ Graph 2. 2004 No. kebersihan dan tempat pembuangan sampah yang kurang terpelihara. mereka melakukan berbagai strategi harga seperti strategi limit harga. forthcoming) shows that supermarkets have a range of pricing strategies such as price limits.

while only 13 are slightly damaged. dan ketidakmampuan untuk menyesuaikan dengan keinginan konsumen (Wiboonpongse dan Sriboonchitta 2006). Kepala APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia) cabang Jakarta. yang memengaruhi keuntungan mereka. The results of the quantitative analysis show that the presence of a supermarket has different impacts on several aspects of the business performance of traders in traditional markets which was measured using variables such as earnings. Dampak Pasar Modern terhadap Pasar Tradisional Minimnya kajian tentang dampak yang dialami oleh pasar tradisional akibat semakin menjamurnya pasar modern di daerah perkotaan telah mendorong Lembaga Penelitian SMERU melakukan kajian mengenai hal ini. khususnya hipermarket di sekitar mereka. and they are unable to cater to the needs of the consumers (Wiboonpongse and Sriboonchitta 2006). Di Jakarta saja berdasarkan catatan PD Pasar Jaya.FOKUS KAJIAN kini pasar tradisional terancam oleh keberadaan pasar modern. buruknya manajemen pengadaan. Characteristically. FOCUS ON that in Jakarta alone. only 27 out of a total of 151 markets have buildings that are still in good physical condition. mengatakan bahwa 151 pasar tradisional di Jakarta terancam oleh keberadaan supermarket. terbatasnya akses permodalan yang disebabkan jaminan (collateral) yang tidak mencukupi. tidak adanya skala ekonomi (economies of scale). was carried out in Depok and Bandung as proxies for the large cities of Indonesia. dilakukan di Depok dan Bandung sebagai proksi (proxy) dari kota besar di Indonesia.2 The study. they have no economies of scale. their access to capital is limited because they do not have sufficient collateral. Another factor that explains the lack of development among traditional markets is the minimum of support offered to traditional traders.’ 2 The title of this study is ‘The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers. The Impact of Modern Markets on Traditional Markets The limited number of studies on the impact experienced by traditional markets as a result of the steady expansion of modern markets in urban areas encouraged The SMERU Research Institute to undertake a study on this subject. 111 markets have buildings that are somewhat damaged or seriously damaged. Apakah kehadiran pasar modern merupakan penyebab utama tersingkirnya pasar tradisional? Is the presence of modern markets the main cause of the decline of traditional markets? SMERU Judul kajian tersebut adalah ‘The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers. profit. Traditional traders in these markets complained about the presence of modern markets. Sisanya. head of the Jakarta branch of the Indonesian Traditional Market Traders Association (APPSI). yakni strategi perencanaan yang kurang baik. The results of the qualitative analysis show that supermarkets have had an effect on the business performance of traders in traditional markets.2 Penelitian yang utamanya menggunakan metode analisis kuantitatif dan didukung dengan metode kualitatif ini. there is no networking with large suppliers. hanya 27 pasar yang aspek fisik bangunannya masih baik. sembilan di antaranya sudah tutup. Of the rest. which have affected their profits. Hasan Basri. keuntungan.’ 2  Newsletter . says that the 151 traditional markets in Jakarta are under threat from the presence of supermarkets and that nine of them have already closed. Para pedagang tradisional di dalam pasar mengeluhkan keberadaan pasar modern. dari total 151 pasar. their procurement management is poor. their planning strategies are poor. 111 pasar dalam kondisi fisik bangunan rusak sedang atau berat dan hanya 13 pasar mengalami rusak ringan. especially the hypermarkets in their vicinity. and the number of employees (a more detailed explanation is provided in And The Data Says section). dan jumlah pegawai (penjelasan lebih rinci akan diuraikan pada rubrik Data Berkata). Hasil analisis kuantitatif memperlihatkan adanya dampak yang berbeda dari keberadaan supermarket terhadap beberapa aspek dari kinerja usaha pedagang di pasar tradisional yang diukur melalui variabel omzet. Hasil analisis kualitatif menemukan bahwa supermarket berdampak terhadap kinerja usaha pedagang di pasar tradisional. which mainly used quantitative methods of analysis supported by qualitative methods. Faktor lain yang juga menjadi penyebab kurang berkembangnya pasar tradisional adalah minimnya daya dukung karakteristik pedagang tradisional. Hasan Basri. tidak ada jalinan kerja sama dengan pemasok besar.

Sejak dibuka pada Juli 2004. The ministerial decree is a guide to the structure and development of markets and shops.Jun/2007  . Kota Bandung dan Kota Depok telah menerbitkan beberapa peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan pasar tradisional. Traders. kepala pasar. which is planned to be enacted in 2007. such as a buying and selling process that allows bargaining over prices and an environment that enable sellers and buyers to become acquainted. finding a solution to the problem of street vendors around the markets. In accordance with regional autonomy law. hanya DKI Jakarta yang mempunyai peraturan daerah yang secara spesifik dan komprehensif mengatur pasar modern. but regional regulations that deal specifically with matters linked to modern markets have not yet been prepared. which aims to protect small and medium traders from big retailers. Weak Retail Market Regulation The Draft Presidential Regulation concerning the Spatial Planning and Development of Modern Shops and Markets. and all stakeholders involved in traditional markets say that the main steps that must be taken to ensure the survival of traditional markets are the improvements of market facilities and infrastructure. Contoh dari sebuah pasar tradisional yang mampu bertahan meski dikelilingi oleh sedikitnya lima peritel modern besar ditemukan di kawasan perumahan Bumi Serpong Damai (BSD). tetap ditemukan adanya pasar tradisional yang mampu bertahan karena dikelola dengan baik dan memperhatikan seluruh aspek seperti kebersihan. Bandung and Depok have issued a number of regulations related to the management of traditional markets. So far. and security for shoppers. At the regional level. Pedagang. The market has received an award from APPSI and has become a model for other traditional markets. comfort. Supermarket sebenarnya mengambil keuntungan dari kondisi buruk yang ada di pasar tradisional. Lemahnya Regulasi Pasar Ritel Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai Penataan dan Pembinaan Pasar Modern dan Toko Modern yang rencananya akan disahkan pada 2007 memberi sedikit angin segar bagi pasar tradisional bahwa pemerintah pusat akan mengatur pertumbuhan pasar modern di perkotaan. Kelebihan pasar tradisional adalah kekhasannya yang tidak dimiliki oleh pasar modern. FOCUS ON Qualitative findings reveal that the main reasons why traditional markets cannot compete with supermarkets are their weak management and inferior infrastructure. Supermarkets actually gain advantages from the unfavorable conditions that prevail in traditional markets. 22: Apr.FOKUS KAJIAN Temuan dari metode kualitatif menunjukkan bahwa penyebab utama kalah bersaingnya pasar tradisional dengan supermarket adalah lemahnya manajemen dan buruknya infrastruktur pasar tradisional. not because of the presence of supermarkets alone. this market has been visited by many loyal customers (Kompas 2006). namun dalam praktiknya penegakan hukumnya masih lemah. despite being surrounded by at least five big modern retailers can be found in the residential area of Bumi Serpong Damai (BSD) in Tangerang. Sebagai contoh untuk DKI Jakarta. Masalah lainnya adalah dari segi penegakan hukumnya. dan semua pemangku kepentingan di pasar tradisional mengatakan bahwa langkah utama yang harus dilakukan untuk menjaga keberlangsungan pasar tradisional adalah dengan memperbaiki sarana dan prasarana pasar tradisional. Pada tingkat daerah. mengatasi masalah PKL di sekitar pasar. As an example. maka peraturan daerah yang dikeluarkan lebih mempunyai kekuatan hukum daripada SK Menperindag tersebut. Tangerang. namun peraturan daerah yang khusus mengatur masalah yang berkaitan dengan pasar modern hingga kini belum terbentuk. Despite their unfavorable situation. baik di dinas perpasaran maupun di pasar tradisional itu sendiri. in practice their enforcement is weak. The advantages of traditional markets lie in specific features that modern markets do not have. some traditional markets have been able to survive because they are well managed and attention is given to such aspects as cleanliness. Selama ini. regional-level regulations have greater legal strength than the ministerial decree. kenyamanan. brings a breath of fresh air to traditional markets in that the central government will regulate the growth of modern markets in urban areas. dan bertujuan untuk memproteksi pedagang kecil dan menengah dari peritel besar. only Jakarta has specific and comprehensive regional regulations to handle modern markets. There are other problems related to law enforcement. pada tingkat nasional peraturan yang mengatur pasar tradisional hanya dalam bentuk Surat Keputusan Menperindag yang dikeluarkan pada 13 Oktober 1997 (lihat Tabel 1). which gives wideranging authority to the regions. pasar tersebut hingga kini tetap ramai dikunjungi para pelanggan setianya (Kompas 2006). national level regulations dealing with traditional markets exist only in the form of a ministerial decree issued by the Minister of Industry and Trade on 13 October 1997 (see Table 1). Seiring dengan undang-undang tentang otonomi daerah yang memberikan kewenangan yang luas pada daerah. Meskipun dengan kondisi yang tidak menguntungkan. walaupun perda yang mengatur masalah ini sudah ada. seperti jual-beli dengan tawar-menawar harga dan suasana yang memungkinkan penjual dan pembeli menjalin kedekatan. even though Jakarta has regional regulations that deal with these matters. both in the offices of market management and in the traditional markets themselves. market managers. An example of a traditional market that has been able to survive using these strategies. Surat keputusan (SK) ini menjadi pedoman penataan dan pembinaan pasar dan pertokoan. dan memperbaiki sistem manajemen. Pasar ini juga telah mendapat penghargaan dari APPSI dan menjadi salah satu pasar percontohan untuk pasar-pasar tradisional lainnya. dan keamanan dalam berbelanja. No. Since it was opened in July 2004. bukan semata-mata karena keberadaan supermarket. and the improvement of management systems.

Mereka menjadi sangat rentan terhadap kerugian yang disebabkan oleh rusaknya barang dagangan dan fluktuasi harga. sudah saatnya pemda dan lembaga keuangan setempat memerhatikan hal ini. ada beberapa hal yang harus menjadi landasan bagi pembuat kebijakan untuk menjaga kelangsungan hidup pasar tradisional. Kedua. as suggested by the Commission for the Supervision of Business Competition (KPPU). The proposed Presidential Regulation concerning Modern Markets. there should be a total reorganization of market management. In the procurement of goods. Sepatutnya. which has a negative effect on their business. mencari solusi jangka panjang mengenai PKL yang salah satunya adalah menyediakan tempat bagi PKL di dalam lingkungan pasar. pemerintah daerah diberikan kewenangan dalam pemberian izin. Rancangan Perpres Pasar Modern yang akan disahkan dalam waktu dekat seharusnya diikuti juga dengan pemikiran untuk membuat undangundang mengenai bisnis ritel sebagaimana telah diusulkan oleh KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha). Pedagang tradisional selama ini selalu dihadapkan pada masalah permodalan dan jaminan/asuransi atas barang dagangannya. Rekomendasi Sudah saatnya Pemerintah Pusat mempunyai peraturan atau kebijakan yang secara khusus mengatur pasar modern. several matters must form the foundations for policy makers in order to protect the survival of traditional markets. In broad terms. Alasannya. Konsep bangunan pasar pun ketika renovasi harus diperhatikan sehingga permasalahan seperti konsep bangunan yang tidak sesuai dengan keinginan penjual dan pembeli dan kurangnya sirkulasi udara tidak terulang kembali. memperbaiki sarana dan prasarana pasar tradisional. It should be possible to overcome the problem of fund limitations by cooperating with private parties. should be accompanied by consideration of making a law concerning retail business. The reasoning behind this change is that the regional government has the best understanding of local conditions and is able to undertake regular observations. pemerintah daerah adalah pihak yang paling mengetahui kondisi setempat dan mampu melakukan pemantauan secara berkala. Penerbitan perpres ini sebagai upaya meminimalisasi dampak negatif dari maraknya hipermarket dan bentuk-bentuk usaha ritel modern besar lainnya (Tempo 2005). When markets are renovated. Ketiga. Pertama. This presidential regulation is intended to minimize the negative effects of the spread of hypermarkets and other forms of large modern retail business (Tempo 2005). the person appointed as market manager should have managerial ability and skill. attention must be given to the question of buildings that are not suited to the wishes of buyers and sellers and of poor air circulation. Masalah keterbatasan dana seyogianya dapat diatasi dengan melakukan kerja sama dengan pihak swasta seperti pasar tradisional di Bumi Serpong Damai. It is therefore time for regional governments and local financial institutions to give attention to these matters. The first is infrastructure improvement. kepala pasar yang ditunjuk memiliki kemampuan dan kepandaian manajerial. Recommendations It is high time that the central government has a regulation or policy dealing specifically with modern markets. melakukan pembenahan total pada manajemen pasar. which will be ratified in the near future. Strategi pengadaan barang yang kerap menjadi strategi utama pedagang tradisional adalah membeli barang dagangan dalam bentuk tunai dengan menggunakan dana pribadinya. regional governments are given the authority to issue permits. one approach of which is to provide a place for them within the market. so that these problems are not repeated. As competition in the retail sector increases. Oleh sebab itu. Secondly.FOKUS KAJIAN Rancangan peraturan presiden tentang pasar modern juga mengatur kewenangan Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah dalam pemberian izin usaha dan pendirian pasar modern. Traditional traders have always faced the problems of capital and guarantees or insurance for the goods that they sell. adalah contoh pasar tradisional yang mampu bertahan meski dikelilingi oleh sedikitnya lima peritel modern besar. the main strategy of traditional sellers is often to pay cash for stock using their personal funds. They become vulnerable to losses caused by damage to stock and by price fluctuations. Kondisi ini berdampak negatif terhadap usaha. like the traditional market in Bumi Serpong Damai has done.  Newsletter . a long-term solution to the problem of street vendors must be sought. Bumi Serpong Damai (BSD) market is an example of a traditional market that has been able to survive although it is surrounded by at least five big modern retailers. FOCUS ON The draft presidential regulation concerning modern markets will also regulate the authority of the central government and regional governments to issue business permits and permits for establishing modern markets. Seiring dengan meningkatnya persaingan di bisnis ritel. Thirdly. Secara garis besar. Pasar Bumi Serpong Damai (BSD).

10/M-DAG/PER/3/ 2006 on Stipulations on and Procedures for Issuing Business Licenses for Foreign Trade Representative Offices 11. Service Guide for One-stop Service Units Kota (daerah sampel) Kota (sample areas) No. Local Regulation No. Draft Regional Regulation on Modern Markets and Shops. 57/MPP/1997 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan Joint Decree Letter (SKB) of Minister of Industry and Trade and Minister of Home Affairs No. 145/MPP/ Kep/1997 and No. 402/MPP/ Kep/11/1997 on Stipulations on Business Licenses for Foreign Trade Representative Offices 5. 23/2003 on Market Management in Depok Kota Bandung: Perda Kabupaten Bandung No.107/MPP/Kep/2/1998 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Usaha Pasar Modern Appendix of Decree of Minister of Industry and Trade No. 382/2000 on Classification of Markets and Standard Selling Prices of Markets in Bandung. Regulasi Terkait dengan Pasar Ritel/Table 1. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. Rancangan Peraturan Presiden tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Modern dan Toko Modern Presidential Regulation on Spatial Planning and Development of Markets and Shops (draft) Provinsi (hanya Jakarta) Provincial (only Jakarta) DKI Jakarta: Perda Provinsi No. 23/2003 mengenai Pasar di Kota Depok City of Depok: Mayoral Decree No. Gubernatorial Decree No. 402/MPP/Kep/11/1997 tentang Ketentuan Perizinan Usaha Perwakilan Perusahaan Perdagangan Asing Decree of Minister of Industry and Trade No. Peraturan Menteri Perdagangan No. 107/ MPP/Kep/2/1998 on Stipulations on and Procedures for Giving Permits to Modern Markets 9. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 118/2000 tentang Perubahan dari Keputusan Presiden No. 44/2003 mengenai Petunjuk Pelaksanaan Pasar Swasta di Jakarta DKI Jakarta: Provincial Regulation No. Local Regulation No. Rancangan Perda tentang Pasar Modern dan Toko Modern. Keputusan Gubernur No. Surat Edaran Dirjen PDN No. 420/MPP/ Kep/10/1997 on the Guidance for Spatial Planning and Development of Markets and Shops 6. Mayoral Decree No. Mayoral Decree No. Buku Pedoman Pelayanan pada Unit Pelayanan Satu Atap City of Bandung: Local Regulation No. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.FOKUS KAJIAN Jenjang Regulasi/ Level of Regulation Nasional National Jenjang Regulasi/Level of Regulation FOCUS ON Tabel 1. Keputusan Walikota Bandung No. 44/2003 on Guidance on the Implementation of Private Markets in Jakarta Kota Depok: Perda Kota Depok No. 3/1994 tentang Pengelolaan Pasar di Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bandung. SKB Menteri Perindustrian dan Perdagangan dan Menteri Dalam Negeri No. Keputusan Presiden No. 27/1996 tentang Dinas Pengelolaan Pasar Kabupaten Bandung. 2/2002 on Private Markets in DKI Jakarta. Perda No. 300/DJPDN/IX/97 tentang Prosedur Perizinan Pasar Modern Circular of Directorate General of Domestic Trade No. 3/1994 on Market Management in the Districts of Bandung. 22: Apr.23/MPP/Kep/1/1998 tentang Lembaga-lembaga Usaha Perdagangan Decree of Minister of Industry and Trade No. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 2/2002 tentang Pasar Swasta di DKI Jakarta. 96/2000 on Business Sectors that are open or closed with some requirements to Foreign Direct Investment 2. 300/DJPDN/IX/97 on Licensing Procedures for Modern Markets 7.107/MPP/Kep/2/1998 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Usaha Pasar Modern Decree of the Minister of Industry and Trade No. 12/M-DAG/PER/3 /2006 on Stipulations on and Procedures for Issuing Franchise Business Registration Certificates 12. 57/1997 on Spatial Planning and Development of Markets and Shops 3. 382/2000 tentang Pengelompokan Kelas Pasar dan Standar Harga Jual Tempat Berjualan di Kota Bandung. 644/2002 tentang Tarif untuk Kebersihan di Kota Bandung. 96/2000 tentang Sektor Usaha yang Terbuka dan Tertutup dengan Beberapa Syarat untuk Investasi Asing Langsung Presidential Decree No. 23/MPP/Kep/1/1998 on Trading Corporations 8. 145/MPP/Kep/5/97 dan No.12/M-DAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Usaha Waralaba Ministry of Trade’s Regulation No. Perda Kota Depok No. Lampiran Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 27/1996 on Office of Market Management of Bandung District. Local Regulation No. 19/2001 on Market Management in Bandung.Jun/2007  . 261/MPP/ Kep/7/1997 on Establishment of the Central Team for the Spatial Planning and Development of Markets and Shops 4. Perda Kabupaten Bandung No. 644/2002 on Tariff for Cleaning Services in Bandung. 118/2000 on the Changes of Presidential Decree No. Regulations Related to Retail Markets 1. 19/2001 tentang Manajemen Pasar di Kota Bandung. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No: 261/MPP/Kep/7/1997 tentang Pembentukan Tim Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan Pusat Decree of Minister of Industry and Trade No. 420/MPP/Kep/10/1997 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan Decree of Minister of Industry and Trade No. Keputusan Walikota No. 107/MPP/Kep/2/1998 on Stipulations on and Procedures for Giving Permits to Modern Markets 10. 49/2001 tentang Izin Gangguan. 49/2001 on Disturbamce Permit.10/M-DAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Izin Usaha Perwakilan Perusahaan Perdagangan Asing Minister of Trade’s Regulation No. Peraturan Menteri Perdagangan No.

tempointeraktif.com/gx/eng/about/ ind/retail/growth/ indonesia. Aree dan Songsak Sriboonchitta (2006) ’Securing Small Producer Participation in Restructured National and Regional AgriFood Systems: The Case of Thailand’ [Mengamankan Partisipasi Produsen Kecil dalam Sistim Agro-Makanan Nasional dan Regional Yang Terrestrukturisasi: Kasus Thailand]. penguatan manajemen dan modal pedagang di pasar tradisional.pwc.regoverningmarkets. Daniel et al (forthcoming) ‘The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers.pdf> Kompas (2006) ’Jangan Biarkan Pasar Bersaing dengan Hipermarket’ [online] <http://www. Nielsen (2005) Asia Pacific Retail and Shopper Trends 2005 [ o n l i n e ] < h t t p : / / w w w. n FOCUS ON To prevent traditional markets from declining as a consequence of the presence of modern markets.kompas.’ Research Report. PricewaterhouseCoopers [online] <www.’ Regoverning Markets [online] <http://www.org/> [6 July 2006] List of references A.com/hg/ekbis/2005/03/03/ brk. pdf> [6 July 2006] Pricewaterhouse Coopers (2005) Global Retail and Consumer Study From Beijing to Budapest [Kajian Ritel dan Konsumen dari Beijing sampai Budapest]. Daniel et al (akan diterbitkan) ’The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers’ [Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel Tradisional di Pusat-pusat Perkotaan di Indonesia]. Ronnie S.’ Pacific Food System Outlook 9th Annual Forecasters [online] <http://www. Jakarta: The SMERU Research Institute Tempo (2005) ‘Pasar Modern Sebagian Besar Disinyalir Tak Berizin‘ [online] <http://www. the strengthening of management practices and capital support for traders in traditional markets.20050303-07. a c n i e l s e n .htm> [2 Juni 2006] Natawidjaja.com/kompas-cetak/0606/02/metro/ 2693747. dukungan perbaikan infrastruktur. (2006) ‘Modern Market Growth and the Changing Map of the Retail Food Sector in Indonesia.id. n Diperlukan pendekatan yang terpadu agar pasar tradisional tidak tenggelam akibat kehadiran pasar modern.tempointeraktif.org/> [6 July 2006] 0 Newsletter .de/ pubs/documents/RetailandShopperTrendsAsia2005. support in the form of infrastructure improvements.id. an integrated approach is needed to overcome the three main problems traditional markets currently face. Pacific Food System Outlook 9th Annual Forecasters [online] <www.FOKUS KAJIAN Untuk menghindari tenggelamnya pasar tradisional akibat kehadiran pasar modern.C. SMERU Daftar Pustaka A.pdf> Kompas (2006) ‘Jangan Biarkan Pasar Bersaing dengan Hipermarket’ [Don’t Let Traditional Markets Compete with Hypermarkets] [online] <http://www.pdf> [6 July 2006] Suryadarma.20050303-07. [online] <http://www.pwc. An integrated approach is needed to prevent traditional markets from declining as a consequence of the presence of modern markets. Jakarta: The SMERU Research Institute Tempo (2005) ‘Pasar Modern Sebagian Besar Disinyalir Tak Berizin’ [Most Modern Markets are Suspected of Operating without a License] [online] <http://www. pdf> [6 July 2006] Pricewaterhouse Coopers (2005) Global Retail and Consumer Study From Beijing to Budapest [online] <http://www. Aree and Songsak Sriboonchitta (2006) ‘Securing Small Producer Participation in Restructured National and Regional Agri-Food Systems: The Case of Thailand. diperlukan pendekatan yang terpadu bagi ketiga permasalahan di atas.regoverningmarkets. Research Report. yakni adanya regulasi untuk melindungi pasar tradisional.org/food/ papers/2005-2006/Indonesia/indonesia-paper. This approach should include regulations to protect traditional markets. (2006) Modern Market Growth and the Changing Map of the Retail Food Sector in Indonesia [Pertumbuhan Pasar Modern dan Perubahan Peta Sektor Ritel Makanan di Indonesia]. Regoverning Markets [online] <http://www.pecc.htm> [2 June 2006] Natawidjaja.org/ food/papers/2005-2006/Indonesia /indonesia-paper.com/kompas-cetak/0606/02/metro/ 2693747.kompas.C.pecc.pdf> [6 July 2006] Suryadarma. Nielsen (2005) Asia Pacific Retail and Shopper Trends 2005 [Tren Pembeli dan Ritel Asia Pasifik 2005]. d e / p u b s / d o c u m e n t s / RetailandShopperTrendsAsia2005.html> [3 Maret 2005] Wiboonponse.html> [3 Maret 2005] Wiboonponse. Ronnie S.com/gx/ eng/about/ind/retail /growth/indonesia.com/hg/ekbis/2005/03/03/ brk.acnielsen.

Untuk membuktikan hal ini. tetapi juga pemain asing. including those by Reardon and Berdegué (2002). The SMERU Research Institute carried out a study concerning the impact of the presence of supermarkets on traditional markets and traditional traders in urban areas in Indonesia. dan Reardon dan Hopkins (2006). 1 The title of the study is ‘The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers. Traill (2006). 22: Apr. Pedagang yang terlebih dahulu bangkrut biasanya adalah pedagang T he current rapid spread of supermarkets in Indonesia is impacting the retail trade sector.1 Kesimpulan dari analisis kuantitatif kajian tersebut akan diuraikan dalam tulisan ini. Reardon et al (2003). Since the liberalization of the retail sector in 1998. 1 Judul kajian tersebut adalah ‘The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers.Jun/2007  . Beberapa kalangan menyatakan bahwa pasar tradisional adalah pihak yang paling terkena dampak kompetisi supermarket ini. menemukan adanya dampak negatif terhadap pedagang ritel tradisional dengan menjamurnya supermarket. the competition between supermarkets in Indonesian retailing has involved not only local but also foreign players.’ SMERU No. Several studies have been carried out on the impact of supermarkets in developing countries. kompetisi yang terjadi antarsupermarket di pasar ritel Indonesia tidak hanya melibatkan pemain lokal. Lembaga Penelitian SMERU melakukan kajian mengenai dampak kehadiran supermarket terhadap pasar dan pedagang ritel tradisional di daerah perkotaan di Indonesia. and Reardon and Hopkins (2006). According to a number of circles. processed *Meuthia Rosfadhila adalah peneliti junior Lembaga Penelitian SMERU. These studies have found that the rapid increase in supermarkets has had a negative effect on traditional traders.’ * Meuthia Rosfadhila is a junior researcher at The SMERU Research Institute. Reardon et al (2003).DATA BERKATA AND THE DATA SAYS MEngUkUr daMPak kEbEradaan sUPErMarkET TErhadaP Pasar Tradisional MeasurinG The iMpaCT of superMarkeTs on TradiTional MarkeTs Meuthia Rosfadhila* M enjamurnya supermarket di Indonesia saat ini berdampak pada sektor perdagangan ritel. Semenjak diberlakukannya liberalisasi sektor ritel pada 1998. di antaranya oleh Reardon dan Berdegué (2002). Beberapa penelitian mengenai dampak supermarket yang pernah dilakukan di negara berkembang. To examine this. Traill (2006). The traders who are the first to become bankrupt are usually those who sell broad lines. the traditional markets are the most affected by the impact of competition from the supermarkets.1 The findings drawn from the quantitative analysis in the study are described in this article.

DATA BERKATA yang menjual aneka barang. Kajian ini mengambil lokasi sampel di Bandung dan Depok. Calculations with DiD method were used to ascertain the significance of the difference between the treatment group and the control group. makanan olahan. Sample research locations were selected in Bandung and Depok. yaitu para pedagang pasar tradisional. Seven traditional markets were selected purposively. Sementara itu. were chosen at random using the probabilityproportionate-to-size (PPS) method to obtain a sample. To estimate the effect of supermarkets on traditional markets in urban areas in Indonesia. traders in the traditional markets. the traders who continue to operate are those who deal in specific products and those who carry out trade in areas where they are protected from the presence of supermarkets. penggunaan model ekonometrik bertujuan untuk memasukkan variabel-variabel kontrol yang mungkin berpengaruh terhadap hasil. Many people believe that traditional markets are the most affected by the impact of competition from supermarkets. With the inclusion of one control market in each area. SMERU used a quantitative approach with the difference-in-difference (DiD) method and an econometric model. sedangkan kelompok kontrol adalah sebaliknya. followed by shops that sell fresh produce and traditional markets. Respondents for the study. The study used 2003 as the base year to ensure that the traders would still be able to recall the situation at that time and because hypermarkets began to enter smaller towns like Depok towards the end of 2003. Penelitian ini menggunakan tahun 2003 sebagai tahun dasar untuk memastikan bahwa pedagang masih dapat mengingat kondisi pada saat itu dan akhir tahun 2003 merupakan tahun permulaan masuknya hipermarket ke kota-kota lebih kecil. secara total dipilih empat pasar tradisional di Bandung dan tiga di Depok. Kelompok perlakuan adalah para pedagang di pasar tradisional yang letaknya berdekatan dengan supermarket. The study used criteria that guaranteed profile similarities between control and treatment markets other than the existence of supermarkets. Kriteria yang digunakan adalah yang menjamin bahwa terdapat kesamaan profil antara pasar kontrol dan perlakuan selain keberadaan supermarket. where T1 and T2 represent the situation of traders in a traditional market before and after the establishment of a supermarket near the traditional market and C1 and C2 are the situation of traders in a traditional market where there is no supermarket in the vicinity for the same period of time.  Newsletter . Untuk mengukur dampak supermarket terhadap pasar tradisional di daerah perkotaan di Indonesia. They can survive for only a few years. Dengan satu pasar kontrol di masing-masing daerah. dipilih secara acak dengan menggunakan metode penarikan sampel probabilitas-sesuai-ukuran (probability-proportionate-to-size atau PPS). Responden untuk kajian ini. daerah perkotaan yang memiliki tingkat kepadatan supermarket yang cukup tinggi. The treatment group consists of traders in traditional markets located close to supermarkets. tinggal pedagang yang berdagang produk-produk spesifik atau mereka yang berdagang di daerah yang dilindungi dari keberadaan supermarket saja yang dapat tetap bertahan. diikuti oleh toko-toko yang menjual bahan makanan segar dan pasar tradisional. Banyak kalangan berpandangan bahwa pasar tradisional adalah pihak yang paling terkena dampak kompetisi supermarket. Setelah itu. dan memilih tujuh pasar tradisional secara purposif. Hal ini dinyatakan dalam persamaan 1 berikut ini: Dampak = (T2 – T1) – (C2 – C1) (1) AND THE DATA SAYS food and dairy products. This is stated in the following equation: Impact = (T2 – T1) – (C2 – C1) (1) di mana T1 dan T2 adalah kondisi pedagang di pasar tradisional sebelum dan sesudah adanya supermarket di daerah tersebut dan C1 dan C2 adalah kondisi pedagang di pasar tradisional di mana tidak ada supermarket di daerah tersebut untuk periode yang sama. dan produk-produk olahan susu. Selection of control locations was based on the criterion that a supermarket would be established in these locations in 2007. After that. which are urban areas with a fairly high density of supermarkets. SMERU menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode difference-in-difference (DiD) dan model ekonometrik. Mereka hanya dapat bertahan selama beberapa tahun. Penghitungan dengan metode DiD digunakan untuk melihat signifikansi perbedaan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. seperti Kota Depok. in total four traditional markets in Bandung and three in Depok were chosen. Pemilihan lokasi kontrol didasarkan pada kriteria bahwa di lokasi tersebut akan berdiri sebuah supermarket pada 2007. An econometric model was used to include control variables that might have an influence on results. while the control group is the opposite. that is.

This means that there is fairly strong competition between traders of fresh vegetables. Artinya. Kinerja Usaha Pedagang di Pasar Tradisional Dengan menggunakan indikator keuntungan. Mayoritas pedagang di lokasi perlakuan menyatakan bahwa supermarket adalah pesaing utama mereka. The Business Performance of Traders in Traditional Markets The use of profit. The majority of traders in the treatment locations said that supermarkets are their main competitors. A negative sign in the table indicates a decline has occurred in business performance. yang tidak dapat mengidentifikasi siapa pesaing utama mereka.4% pedagang menjual sayur-sayuran segar sebagai komoditas dagangan utama mereka.Jun/2007  .9 7.9 4. Tabel 1. Tabel 3 menunjukkan rata-rata proporsi perubahan masing-masing indikator itu. tanda negatif dalam tabel menyatakan bahwa terdapat penurunan kinerja usaha. ada persaingan antarpedagang sayur-sayuran segar yang cukup ketat sehingga harga komoditas sayur-sayuran segar berkualitas baik di pasar tradisional menjadi lebih kompetitif daripada komoditas lainnya. baik di lokasi kontrol maupun perlakuan. Di lokasi kontrol. according to their own perspectives.25% pedagang yang menyatakan bahwa supermarket merupakan pesaing utama mereka dan mereka juga menyatakan bahwa pesaing utama mereka adalah sesama pedagang di dalam pasar. Komoditas dan Proporsi Pedagang (%)/Table 1. income.0 Note: This table uses Indonesian numbering conventions. 22. Some 22.4 5.7 2. goat. for example.25% of traders said that supermarkets constitute their main competition. Sebagai catatan.2 1. with the greatest drop in profits. jumlahnya akan lebih tinggi dari proporsi supermarket. Akan tetapi jika proporsi pesaing-pesaing yang berasal dari sesama pedagang di dalam dan sekitar pasar (pedagang kaki lima) digabung.9 7. Traders in both treatment and control locations experienced a drop for each indicator. This indicates that the majority of traders give priority to continuous trade rather than the profit that they obtain. Baik pedagang di lokasi perlakuan maupun kontrol mengalami penurunan untuk masing-masing indikator dengan penurunan terbesar pada indikator keuntungan. Hal yang menarik adalah bahwa terdapat cukup banyak pedagang.4. Commodities and Proportion of Traders (%) Sayur-sayuran segar/ Fresh vegetables Bahan makanan dan minuman/ Food and beverages Buah-buahan segar/ Fresh fruits Kebutuhan rumah tangga lainnya/ Other household necessities Ikan/ Fish Ayam Poultry Beras Rice 22.4% of vendors sell fresh vegetables as their main commercial commodity. No. dan jumlah pegawai. Terlihat perbedaan yang jelas antara lokasi kontrol dan perlakuan. There is a clear difference between the control and treatment locations. in both control and treatment areas.4 2. baik secara keseluruhan maupun di masing-masing lokasi kontrol dan perlakuan dalam tiga tahun terakhir. only 3. Sebanyak 22. could not identify their main competitors. But if the proportions of competitors who originate from fellow traders in and around the market (street vendors) are combined. AND THE DATA SAYS Competition in Traditional Markets Based on a descriptif analysis. In the control locations. which makes the prices of good quality fresh vegetables in traditional markets more competitive than the prices of other commodities. pork) Bumbu-bumbuan/ Spices Telor dan susu/ Eggs and milk Minyak sayur/ Vegetable oil Kacang-kacangan/ Pulses Umbi-umbian/ Root vegetables 6. both as a whole and in each control and treatment location during the past three years.2 8.4 6. It is interesting to note that quite a lot of traders. They also said that their main competitors are fellow traders in the market. and number of employees as indicators highlights the changes in the business performance of traders in traditional markets during the period from 2003 to 2006.DATA BERKATA Kondisi Persaingan di Pasar Tradisional Berdasarkan analisis deskriptif. Table 3 shows the average proportion of change in each of these indicators. 22: Apr. babi)/ Meat (beef.9 Daging (sapi. Table 2 shows the main business competitors of traders in traditional markets in the treatment and control locations.4 = 22.4 17. Tabel 2 menunjukkan pesaing-pesaing utama para pedagang di pasar tradisional dalam berusaha di lokasi perlakuan dan kontrol berdasarkan perspektif mereka. dapat dilihat perubahan kinerja usaha pedagang di pasar tradisional selama periode 2003 hingga 2006.9 6. mayoritas komoditas yang dijual di pasar tradisional adalah sayur-sayuran segar (lihat Tabel 1). Hal ini mengindikasikan bahwa mayoritas pedagang mengutamakan kelangsungan usaha dalam berdagang daripada keuntungan yang mereka dapatkan. most of the commodities sold in traditional markets are fresh vegetables (see Table 1). kambing. the number is higher than the proportion of supermarkets. omzet. hanya terdapat 3.

65 Note: This table uses Indonesian numbering conventions. and the Depok dummy variable. variabel-variabel yang mengontrol perubahan kondisi antara 2003 sampai 2006.25 0. Variabel boneka untuk kelompok perlakuan dan jarak pasar tradisional ke supermarket terdekat memiliki tanda koefisien positif dan negatif yang tidak secara signifikan berbeda dari nol untuk variabel % 42. which indicates that the effects of supermarkets on profit. The treatment dummy variable Table 3.12) Keseluruhan/ Total -21. dan variabel boneka (dummy) Depok.54) -5.25 1. Rata-rata Proporsi Perubahan Keuntungan. none differ significantly from zero.DATA BERKATA AND THE DATA SAYS Tabel 2. Earnings.42) -3. 2003 . Hasil yang diperoleh dari estimasi secara keseluruhan menunjukkan nilai koefisien determinasi yang berkisar dari hampir nol sampai dengan 0.30 = -19.4 together with increases in the number of control variables for the three dependent variables.32 4. -19.8)  Catatan: Standar deviasi di dalam tanda kurung Note: Standard deviations are shown in brackets. dan jumlah pekerja dengan menggunakan tiga set data kontrol. Perbedaan masing-masing indikator di kelompok perlakuan dan kontrol tidak ada yang secara signifikan berbeda dari nol. Proporsi Pesaing Utama di Lokasi Perlakuan dan Kontrol (%)/ Table 2. 42.13) Kontrol/ Control -24.42) -6.78 (33. The Impact of Supermarkets DiD results for measurement of the impact of supermarkets on the business performance of traditional markets can be seen from Table 4.44 12.27 25. Omzet.11 (59. The treatment dummy variable and the distance from a traditional market to the nearest supermarket have positive and negative coefficients that do not differ significantly from zero for the dependent variable of change in the proportions of profit and earnings. Ketiga set data kontrol tersebut terdiri dari variabel-variabel yang mengontrol kondisi pedagang pada 2003. for example.71) -8.55 3. yang artinya dampak dari keberadaan supermarket terhadap keuntungan. earnings. for example.74) -6. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 5.30 (57.29 = 42. 2003–2006 (%) Perlakuan/ Treatment Keuntungan/Profit Omzet/Earnings Jumlah Pekerja/Number of employees -19.96 27.29 29.10 (63. The results can be seen in Table 5.25 13. Sebagai indikator dari keberadaan supermarket.19 1.87 (35.40 Kontrol/Control Pesaing Utama/Main Competitor Sesama pedagang di dalam pasar/ Fellow market traders PKL di sekitar pasar/Street vendors around the market Tidak tahu/Do not know Minimarket/Minimarkets Supermarket/Supermarkets Pedagang keliling/Itinerant traders % 38.30.72 (147.84 (33. As indicators of the presence of a supermarket.98 (67. The quantitative analysis using an econometric model performed 12 estimations for each dependent variable consisting of changes in proportions of profit. Untuk analisis kuantitatif dengan menggunakan model ekonometrik. Proportion of Main Competitors in Treatment and Control Locations (%) Perlakuan/Treatment Pesaing Utama/Main Competitor Supermarket/Supermarkets Sesama pedagang di dalam pasar/ Fellow market traders Tidak tahu/Do not know PKL di sekitar pasar/Street vendors around the market Pedagang keliling/Itinerant traders Minimarket/Minimarkets Warung/Food stalls Dampak Supermarket Hasil DiD untuk mengukur dampak supermarket terhadap kinerja pasar tradisional dapat dilihat pada Tabel 4.This table uses Indonesian numbering conventions. earnings and number of employees. the variables that controlled changes in their situation between 2003 and 2006.2006 (%)/ Table 3.05 (223. omzet. dilakukan 12 estimasi untuk masing-masing variabel dependen yang terdiri atas perubahan proporsi keuntungan. and Employee Numbers in Traditional Markets. dan jumlah pekerja pasar tradisional tidak nyata secara statistik. Newsletter . Among the differences in each of the indicators in the treatment and control groups. dan Jumlah Pegawai Pedagang di Pasar Tradisional. digunakan dua variabel yang terdiri atas variabel boneka untuk kelompok perlakuan dan jarak dari pasar tradisional ke supermarket terdekat. The results obtained from overall estimations reveal coefficients of determination ranging from almost zero to 0. and employee numbers in traditional markets are not statistically significant. two variables were used: the treatment dummy variable and the distance from the traditional market to the nearest supermarket.4 seiring dengan penambahan variabel kontrol untuk ketiga variabel dependen.29. omzet.02) -3. Three sets of control data were used: the variables that controlled the situation of traders in 2003.19 0. Average Proportion of Change in Traders’ Profits.

at the SMERU office.30 (-33. dan Timor Timur. This study covers the regions of North Maluku. akademisi. the Employers’ Association of Indonesia (Apindo). The seminar was held in the SMERU office.30. In other words. Pedagang di lokasi perlakuan akan mengurangi jumlah pegawainya seiring dengan semakin dekatnya letak supermarket. Studi ini meliputi wilayah Maluku Utara.96 Catatan: Angka-angka tersebut adalah rata-rata perubahan proporsional dalam setiap kategori antara 2003 dan 2006. Sementara itu. yaitu keuntungan dan omzet. Dampak Supermarket terhadap Pasar Tradisional Menggunakan Metode Difference-in-Difference/ Table 4.DATA BERKATA AND THE DATA SAYS Tabel 4. The estimation results from the dummy variable for the treatment group and the distance of traditional markets to supermarkets are insignificant for the two main business performance indicators. kondisi pasar persaingan sempurna yang dihadapi oleh para pedagang di pasar tradisional membuat mereka cenderung untuk mengurangi biaya operasional.84 (1) Kontrol/ Control -24. and East Timor. ahli di bidang pekerja migran. dan ahli di bidang ketenagakerjaan pertanian. Hasil estimasi ini didukung pula oleh signifikannya variabel jarak dari pasar tradisional ke supermarket terdekat untuk variabel dependen yang sama. This estimation result is also supported by the significance of the variable for distance from the traditional market to the nearest supermarket for the same dependent variable.30 = -19. The median is shown in brackets. and attended by representatives from the Department of Labor and Transmigration. for example.3) -8. Sementara itu. National Seminar: Moving Out of Poverty The SMERU research team presented the results of the World Bank-sponsored ”Moving Out of Poverty” study. hasil estimasi menunjukan bahwa pedagang di lokasi perlakuan mempunyai jumlah pegawai yang lebih sedikit daripada pedagang di lokasi kontrol.93 -2.Jun/2007  . FGD Visi Reformasi Pasar Tenaga Kerja dan Peningkatan Produktivitas dalam Rangka Penyusunan Visi Indonesia 2030 FGD (diskusi kelompok terarah) ini diselanggarakan oleh SMERU bersama dengan Lembaga Demografi FE-UI di kantor SMERU dan dihadiri oleh antara lain Depnakertrans. Faculty of Economics. Jakarta. and experts in the fields of migrant workers and agricultural labor. Apindo. the Coordinating Ministry for People’s Welfare (Menko Kesra). Kementerian Koordinator Kesra. 5 June 2007. Median dalam tanda kurung. 10 April 2007. untuk mempertahankan kelangsungan usaha. 22: Apr. Impact of Supermarkets on Traditional Markets using the Difference-in-Difference Method Perlakuan/ Treatment Keuntungan/Profit Omzet/Earnings Jumlah Pekerja/Number of employees -19.79 -5. Traders in the treatment loactions will reduce their employee numbers in line with decreasing distance from a supermarket. to maintain business continuity. Dengan kata lain. untuk variabel dependen perubahan proporsi jumlah pegawai. termasuk biaya pegawai. However. No. Hasil estimasi variabel boneka untuk kelompok perlakuan dan jarak pasar tradisional ke supermarket tidak berdampak signifikan terhadap dua indikator utama kinerja usaha.05 (-33) -3. FGD for Labor Market Reforms and Increasing Productivity in the Framework of Formulating Vision Indonesia 2030 The FGD (focus group discussion) was held by SMERU in conjunction with the Demographics Institute. Jawa Timur. University of Indonesia. including their employee costs. n for the dependent variable of change in the proportion of employee numbers has a negative coefficient that differs significantly from zero. This table uses Indonesian numbering conventions. academia. Note: These figures are the average proportional change in each category between 2003 and 2006. semakin tinggi kemampuan pedagang untuk mempekerjakan lebih banyak pegawai. perfect market competition faced by traders in the traditional markets causes them to reduce their operational costs. NGOs. untuk indikator jumlah pekerja. The test demonstrates that the farther the distance of a traditional market to a supermarket. variabel boneka untuk kelompok perlakuan memiliki tanda koefisien negatif yang secara signifikan berbeda dari nol. West Timor. Seminar Nasional Jalan Keluar dari Kemiskinan Tim peneliti SMERU menyajikan hasil studi “Keluar dari Kemiskinan” yang disponsori oleh Bank Dunia. workers’ unions. Hal ini menunjukkan bahwa pedagang di daerah perlakuan mempunyai jumlah pegawai yang lebih sedikit daripada pedagang di daerah kontrol. This indicates that traders in the treatment areas have fewer employees than traders in the control areas. profit and earnings. dependen perubahan proporsi keuntungan dan omzet. Diselenggarakan di kantor SMERU. Conclusion The presence of supermarkets has not been proven to directly impact the business performance of traders in traditional markets. 5 Juni 2007.10 (-40) -3. n Mengintip Kegiatan SMERU/What’s up at SMERU 10 April 2007.87 (1) Perbedaan/ Difference 4. the higher the ability of traders to hire more employees. Tes tersebut menunjukkan bahwa semakin jauh jarak pasar tradisional dari supermarket. ornop. Timor Barat. Jakarta. East Java. the indicator for employee numbers shows that traders in the treatment locations have fewer employees than traders in the control locations.98 (-25) -6. serikat pekerja. Kesimpulan Kehadiran supermarket tidak terbukti secara langsung memberi dampak terhadap kinerja usaha pedagang di pasar tradisional. -19.

0015 0. .2841 0.019] [0.005] Ya/Yes Ya/Yes Ya/Yes 0.7e-06 Jarak ke supermarket (kilometer)/Distance to supermarket [3.6e-06 [3.2194 36 -8.04] [0.0025 0.0012 0. angka yang dicetak tebal signifikan pada 5%/Note: Robust standard errors in parentheses.005] [0.6e-6] Ya/Yes Tidak/No Ya/Yes 0.0004 0.006] Ya/Yes Tidak/No Ya/Yes 0.004 Jarak ke supermarket (kilometer)/Distance to supermarket [0.03 -0.5e-6] [3.3626 0.07] -4 -0.0032 R-kuadrat/R-squared Catatan: Galat standar dikoreksi di dalam tanda kurung/Note: Robust standard errors in parentheses Variabel Dependen: Perubahan Jumlah Pekerja/Dependent Variable: Proportional Change in Number of Employees 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 --0.2847 0.06 [0. The Impact of Supermarkets on Traditional Markets: Econometric Estimation Results Variabel Dependen: Perubahan Proporsi Omzet/Dependent Variable: Proportional Change in Earnings 1 -0.09 -0. Dampak Supermarket terhadap Pasar Tradisional: Hasil Perhitungan Ekonometrik/ Table 5.009 Jarak ke supermarket (kilometer)/Distance to supermarket 0.1383 0.0029 0.07] [0.006] Ya/Yes Tidak/No Ya/Yes 0.14 [0.0050 0.04] [0.006] [0.006] Ya/Yes Ya/Yes Ya/Yes 0.2969 0.18] -5 [0.08] [0.2947 0.018] Ya/Yes Tidak/No Variabel kontrol: tahun 2003/Control variables: 2003 level Tidak/No Ya/Yes Ya/Yes Tidak/No Ya/Yes Ya/Yes Tidak/No Ya/Yes Variabel kontrol: perubahan 2003 – 2006/Control variables: Tidak/No Tidak/No Ya/Yes Tidak/No Tidak/No Ya/Yes Tidak/No Tidak/No Ya/Yes Tidak/No changes 2003–2006 Boneka Depok/Depok dummy Tidak/No Tidak/No Tidak/No Ya/Yes Ya/Yes Ya/Yes Tidak/No Tidak/No Tidak/No Ya/Yes R-kuadrat/R-squared 0.5e-6] [3.009 (kilometers) [0.3680 35 -9.08] -6 -0.05 0.18] -2 -0.2961 24 --0.1397 0.008 -0.1705 0. -0.3682 0.2142 0.1730 0. bold figures are statistically significant at 5% AND THE DATA SAYS Note: This table uses Indonesian numbering conventions.06 0.1401 23 --0.007 -0.0018 0.05 0.2988 0.1801 0.07] [0.1429 0.07 0.08 ---Boneka perlakuan/Treatment dummy [0.05] [0.006] [0.0012 Variabel Dependen: Perubahan Proporsi Keuntungan/Dependent Variable: Proportional Change in Profits 13 14 15 16 17 18 19 20 22 21 -0. Tabel 5.07] -7 -8 -9 -10 -11 --0.09 -0.05] [0.006 [0.06] [0.06 [0.6e-6] [3.2878 0.06 = -0.06] [0.6e-6] Ya/Yes Ya/Yes Ya/Yes 0.3607 0.12 [0.0004 0.04] [0.005] [0.2905 DATA BERKATA Newsletter Boneka perlakuan/Treatment dummy -0.005] (kilometers) Ya/Yes Tidak/No Tidak/No Ya/Yes Ya/Yes Tidak/No Ya/Yes Ya/Yes Tidak/No Ya/Yes Variabel kontrol: tahun 2003/Control variables: 2003 level Tidak/No Tidak/No Ya/Yes Tidak/No Tidak/No Ya/Yes Tidak/No Tidak/No Ya/Yes Tidak/No Variabel kontrol: perubahan 2003 – 2006/Control variables: changes 2003–2006 Tidak/No Tidak/No Tidak/No Ya/Yes Ya/Yes Ya/Yes Tidak/No Tidak/No Tidak/No Ya/Yes Boneka Depok/Depok dummy 0.2125 0.009 [0.06.006 [0.0066 R-kuadrat/R-squared Catatan: Galat standar dikoreksi di dalam tanda kurung.07 ---Boneka perlakuan/Treatment dummy [0.1e-06 3. for example.08] -3 -0.05 0.07] -0.6e-6 8.009 -0.08 -0.03 -0.6e-6] (kilometers) Ya/Yes Tidak/No Tidak/No Ya/Yes Ya/Yes Tidak/No Ya/Yes Ya/Yes Tidak/No Ya/Yes Variabel kontrol: tahun 2003/Control variables: 2003 level Ya/Yes Tidak/No Tidak/No Tidak/No Ya/Yes Tidak/No Tidak/No Ya/Yes Tidak/No Ya/Yes Variabel kontrol: perubahan 2003 – 2006/Control variables: changes 2003–2006 Tidak/No Tidak/No Tidak/No Ya/Yes Ya/Yes Ya/Yes Tidak/No Tidak/No Tidak/No Ya/Yes Boneka Depok/Depok dummy 0.005 -0.2105 0.05] ------2.0020 0.9e-6 8.007 -------0.1804 12 --0.008 [0.57e-6 [3.006] [0.13 [0.

Development Policy Review 20. Asia. and Traditional Traders. Editor: Justin Sodo)/ OPSM Phase Out: Lessons Learned (Rizki Fillaili et al. Editor: Budhi Adrianto) Dalam Bahasa Inggris/Available in English Laporan Penelitian/Research Report The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers [Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel Tradisional di Pusat-pusat Perkotaan di Indonesia] (Daniel Suryadarma et al. Akan datang dalam European Journal of Development Research 18. Asia. Thomas and Julio A. Thomas et al (2003) ‘The Rise of Supermarkets in Africa. dan Amerika Latin]. Editor: Kate Weatherley) Dalam bahasa Indonesia dan Inggris/Available in Indonesian and English Kerta Kerja/Working Paper The Impact of Private Sector Growth on Poverty Reduction: Evidence from Indonesia [Dampak Pertumbuhan Sektor Swasta pada Penanggulangan Kemiskinan: Bukti dari Indonesia] (Daniel Suryadarma & Asep Suryahadi.’ Development Policy Review 20.Jun/2007  . Editor: Kate Weatherley) Dalam Bahasa Inggris/Available in English PuBlIKAsI TERBARu/ REcENT PublIcATIONS What Is To Be Done With Disasters? A Literature Survey on Disaster Study and Response [Apa yang Dapat Dilakukan Bila Terjadi Bencana? Survei Literatur mengenai Studi Bencana dan Penanganannya] (Ruly Marianti. W. Thomas and Julio A. and Latin America. (5) Reardon. (2) PuBlIKAsI yANg AKAN DATANg/ fORTHcOmINg PublIcATIONS Laporan Penelitian/Research Report Pembelajaran dari Penghapusan OPSM (Rizki Fillaili et al. American Journal of Agricultural Economics 85. Bruce (2006) ‘The Rapid Rise of Supermarkets?’ [Perkembangan Pesat Supermarket?] Development Policy Review 24. Suppliers. Editor: Chris Stewart) Dalam bahasa Inggris/Available in English No. 22: Apr. Bruce (2006) ‘The Rapid Rise of Supermarkets?’ Development Policy Review 24. (4) Reardon.’ Research Report. Thomas et al (2003) ‘The Rise of Supermarkets in Africa. (2) AND THE DATA SAYS List of RefeRences Reardon. Daniel et al (forthcoming) ‘The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Traders in Indonesia’s Urban Centers. Jakarta: The SMERU Research Institute Trails. (4) Suryadarma. Thomas and Rose Hopkins (2006) ‘The Supermarket Revolution in Developing Countries: Policies to Address Emerging Tensions among Supermarkets.DATA BERKATA Daftar Pustaka Reardon. Daniel et al (akan diterbitkan) ‘Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers’ [Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel Tradisional di Pusat-pusat Perkotaan di Indonesia]. Pemasok. (4) Reardon. dan Pedagang Ritel Tradisional]. Research Report. Thomas and Rose Hopkins (2006) ‘The Supermarket Revolution in Developing Countries: Policies to Address Emerging Tensions among Supermarkets. W. and Traditional Retailers’ [Revolusi Supermarket di Negara-negara Berkembang: Kebijakankebijakan untuk Menangani Ketegangan-ketegangan yang Muncul di Antara Supermarket. Berdegué (2002) ‘The Rapid Rise of Supermarkets in Latin America: Challenges and Opportunities for Development’ [Perkembangan Pesat Supermarket di Amerika Latin: Tantangan dan Kesempatan Pembangunan]. Jakarta: The SMERU Research Institute Traill. Asia.’ American Journal of Agricultural Economics 85. (5) Reardon. (4) Suryadarma. Berdegué (2002) ‘The Rapid Rise of Supermarkets in Latin America: Challenges and Opportunities for Development.’ Forthcoming in European Journal of Development Research 18. Suppliers. and Latin America’ [Perkembangan Supermarket di Afrika.

transforming them into multi-story buildings.  Newsletter SMERU . The poor state of these markets has pushed the regional governments to modernize and renovate market buildings. Pasar-pasar tradisional rata-rata sudah beroperasi puluhan tahun dan telah direnovasi beberapa kali. kotor. serta akses jalan yang macet. This article will describe the impact of multi-story market buildings on traders. Kondisi pasar tradisional yang kurang layak telah mendorong pemda memodernisasi dan merenovasi bangunan pasar dengan struktur bangunan bertingkat demi efisiensi lahan sehingga mampu menampung jumlah pedagang dan pembeli lebih banyak.DARI lAPANgAN FROM THE fIElD Pasar Tradisional dEngan sTrUkTUr bangUnan bErTingkaT: siaPa yang diUnTUngkan? MulTi-sTory TradiTional MarkeTs: Who benefiTs? Sri Budiyati* M asalah utama yang dihadapi sebagian besar pasar tradisional di kota-kota besar seperti Kota Bandung dan Depok adalah kondisi pasar yang sempit. akan diterbitkan). Tulisan ini akan menggambarkan dampak bangunan pasar renovasi (bertingkat) terhadap pedagang dan pembeli di dua pasar tradisional di Kota Bandung dan Kota Depok. dirty. muddy.1 The regional governments of Bandung and Depok have joined forces with the private sector to rehabilitate traditional market buildings. Di beberapa pasar di Kota Bandung. musty and foul-smelling. * Sri Budiyati adalah peneliti Lembaga Penelitian SMERU. A major problem for a large number of traditional markets in big cities like Bandung and Depok is that the markets are in poor condition— they are narrow. These markets have generally been in operation for decades and have undergone several renovations. 1 This article was written based on research from The SMERU Research Institute: ‘The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers’ (Suryadarma et al. termasuk pembagian keuntungan. looking at two sample traditional markets in Bandung and Depok. Perjanjian kerja sama antara pemda dan swasta umumnya berkaitan dengan perihal pengaturan jangka waktu penggunaan lahan dan kesepakatan pengelolaan retribusi. * Sri Budiyati is a researcher at The SMERU Research Institute. kerja sama pemda dan pihak swasta berlangsung selama 20-30 tahun. In several markets in Bandung. renovasi pasar tradisional sudah mulai dilakukan dari 1997 hingga 2000. Renovations of traditional markets were undertaken in both Bandung and Depok began between 1997 to 2000. becek. and their access roads are congested. which use land more efficiently and can therefore house more sellers and provide more space for shoppers. Di kota Bandung maupun Depok.1 Untuk merehabilitasi bangunan pasar tradisional Pemda Kota Bandung dan Kota Depok mengikutsertakan peran swasta. namun ada pula yang hanya lima tahun. including how the revenue is to be divided. pengap dan bau. cooperation between the regional government and private enterprise has spanned 20–30 years. 1 Artikel ini ditulis berdasarkan hasil penelitian Lembaga Penelitian SMERU: ‘The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers’ (Suryadarma et al. The agreements made between both parties generally stipulate the period of time that the land may be used for and how market services fees (retribusi) will be managed. however some agreements have only spanned five years. forthcoming).

Some have even stopped trading as there simply are not enough buyers (see Box 1). Selain karena tinggi dan curamnya tangga-tangga penghubung. have also caused discomfort among the sellers. Furthermore. Akibatnya sebagian pedagang di lantai atas pindah ke lantai bawah atau beralih menjadi pedagang kaki lima (PKL). hampir tidak ada lagi pedagang yang menghuni lantai atas. kurang tersedianya tempat sampah. It is also difficult for the market traders to carry their stock via such stairways. as the market is not arranged in a way that certain goods are sold only on certain floors. Begitu pula bagi pedagang yang akan mengisi kios-kiosnya dengan barang dagangan. Seorang pedagang di Pasar Cisalak menjelaskan bahwa hampir tidak ada pembeli yang mau berbelanja ke lantai atas. dan Pasar Leuwipanjang di Kota Bandung yang masingmasing direnovasi menjadi dua lantai pada 1997. At the Tugu Market there are almost no traders on the top floor. The current multi-story structures reduce the security and comfort of both traders and buyers. One informant said that it is difficult for buyers to carry their goods up and down the stairs with such stairways. One trader at the Cisalak Market explained how almost no buyers want to shop at the top floor. dan 2002. narrow trading stalls. Sebagian lagi bahkan tidak lagi bisa berdagang karena kurangmya pembeli (lihat Kotak 1). Demikian pula Pasar Cisalak dan Pasar Tugu di Kota Depok yang dirombak menjadi pasar bertingkat sekitar 1996. 22: Apr. Bandung. At Leuwipanjang Market. khususnya ibu-ibu yang berusia 30 tahun ke atas. sebagian besar kios di lantai atas kosong karena struktur tangga yang curam dan tinggi menyebabkan pembeli enggan berbelanja ke lantai atas. ruang-ruang berdagang yang sempit. all goods can be bought on the bottom floor. pengaturan ruang udara/ventilasi. saat ini kosong. Pamoyanan. most of the stalls on the top level are empty due to the steep stairways that make buyers reluctant to shop on the top floor. Seorang informan menjelaskan bahwa bentuk tangga yang curam dan sempit telah menyulitkan pembeli saat membawa barang belanjaan. Dampak Struktur Bangunan Bertingkat terhadap Pedagang dan Pembeli Struktur tangga yang curam dan tinggi juga menyebabkan pembeli enggan berbelanja ke lantai atas. Similarly. and a lack of trash facilities. kini banyak ditinggalkan pedagang. and parking space. Most have since moved to other locations or have become street vendors in the market surrounds. FROM THE fIElD The results of SMERU’s study indicate that the transformation of traditional markets into multi-story markets creates a number of problems. air bersih. Sebagian besar pedagangnya pindah ke lokasi lain yang tidak bertingkat atau menggelar dagangan mereka di sekitar pasar tersebut sebagai PKL. Traders on the top floor of the market are now unable to meet their installments and do not pay the retribusi for their stall. Struktur bertingkat yang ada saat ini dinilai mengganggu keamanan dan kenyamanan pedagang dan pembeli. Sebagian besar kios di lantai atas di Pasar Sederhana. 1997. saluran air. faktor sempitnya lahan kios atau jongko juga membuat tidak nyaman para pedagang. Di Pasar Leuwipanjang. As a result. No. Bandung. dan tempat parkir. This leaves no incentive for buyers to venture to the top floor. Problems include stairways that are steep and difficult to climb. Most of the stalls on the top level of the Sederhana. and Leuwipanjang markets in Bandung—converted to two-story markets in 2000. ventilation. the narrow stalls.DARI lAPANgAN Hasil studi SMERU menemukan bahwa bangunan pasar tradisional yang berubah menjadi gedung bertingkat ternyata menciptakan sejumlah persoalan. Keengganan para pembeli untuk berbelanja di kios lantai atas di beberapa pasar diperparah oleh tidak adanya pengaturan penjualan jenis barang di masingmasing tingkat. Semua jenis barang tersedia di lantai bawah. and 2002 respectively—are now empty. The Impact of Multi-Story Market Buildings on Traders and Buyers The steep stairways and high stairs in the market also make buyers reluctant to shop on the top floor of the market. especially women of 30 years and older. Pasar Pamoyanan. 2000. Apart from the poorly designed stairways. many traders from the top floors have moved to lower floors or have become street vendors.Jun/2007  . adequate guttering. Sementara di Pasar Tugu. Sebut saja di antaranya konstruksi anak tangga ke lantai atas atau bawah yang tinggi dan curam. clean water. many of those formerly trading in the Cisalak and Tugu Markets in Depok— which became multi-story markets in 1996—have now left. or jongko. Para pedagang di lantai atas tidak bisa lagi melunasi cicilannya dan tidak membayar retribusi kios.

Potensi ini hanya dapat tercapai bila ada kerja sama erat dan terus-menerus antara pemda. She could no longer afford to make the installments for her stall. Perlu Kerja Sama Berbagai Pihak Terlihat bahwa pemda hanya mengutamakan pragmatisme dan efisiensi dalam bidang perpasaran dengan cara mengembangkan bangunan pasar tradisional yang bertingkat. regional governments should also consider the comfort level of the market for buyers and sellers and provide appropriate facilities. for example. Ayun (name has been changed) began as a street vendor selling vegetables at the Leuwipanjang Market in Bandung. Menurutnya. In 2002. nyaman. market renovations are often met with protest from traders. Penghasilannya saat ini lebih rendah dibandingkan ketika ia menempati tempat penampung sementara pada saat pasar direnovasi. dan praktis. Struktur bangunan bertingkat tidak hanya merugikan para pedagang yang menempati lantai atas. citing the experiences of other markets such as Kosambi and Pamoyanan. market management. Seharusnya. However. Initially. renovasi pasar tradisional bertingkat tidak hanya didasarkan semata pada kedua pertimbangan tersebut. Pada 2002 ia membeli jongko (kios) di lantai atas dengan harga Rp10 juta. proper ventilation. The Need for Cooperation It would appear that regional governments are being pragmatic and prioritizing supposed efficiency in their management of markets by building multi-story traditional markets. n FROM THE fIElD Ms. Her current income is even lower than when she was selling from a temporary stall during the market renovations. but also those trading on the lower floors. Ayun has returned to working as a street vendor outside the market. Multi-story markets disadvantage not only traders on the top floor. Shorter staircases that are more comfortable and practical. Ayun began selling from a stall on the top floor. Awalnya masih banyak pembeli yang datang. According to Ms. she now earns less. Misalnya di Pasar Leuwipanjang. Para pedagang yang berada di lantai bawah yang harus dihubungkan dengan anak tangga ke bawah mengeluhkan keadaan pengap. serta sistem penataan jenis dagangan menurut tingkatan lantai pasar akan menciptakan kenyamanan dan keamanan berdagang dan berbelanja. bau akibat minimnya sirkulasi udara dalam ruangan. Those trading in the basement. Tidak sedikit yang akhirnya menutup dan meninggalkan kios dan beralih menjadi PKL. Air in the basement cannot circulate properly because it is built below the ground. This situation is worsened when there are piles of garbage scattered around. many people shopped on the top floor. many other traders share her fate—they have lost all their capital and have moved to smaller markets or have closed and abandoned their stalls and become street vendors. There needs to be a re-assessment of how markets are designed. Those shopping in the basement find it to be hot. tempat sampah dan air bersih yang memadai. tersedianya ventilasi udara yang cukup. the government remains firm in their stand on the matter and has continued with efforts to transform the market into a multi-story structure. pengelola pasar. which is accessible via a stairway from the ground level. and customers. Ms. complain about the mustiness and foul smell caused by inadequate ventilation. Alasannya sama. yakni lantai atas akan sepi pembeli. Pembeli tidak akan nyaman berlama-lama di lantai bawah karena terasa panas dan lembab ditambah bau yang kurang sedap itu. the provision of garbage containers and clean water as well as arranging the market so that different goods are sold on different levels would create comfort and security in the markets for both traders and shoppers. banyak pedagang yang pindah ke pasar lain yang lebih kecil. investor. this can only be achieved if there is close and continuing cooperation between regional government. Ia tidak sanggup lagi melunasi cicilan pembayaran jongko yang baru berjalan lima bulan dengan cicilan biaya Rp100. Situasi ini semakin tidak nyaman lagi dengan banyaknya sampah di sana-sini. rencana renovasi bangunan pasar seringkali ditanggapi dengan berbagai aksi protes para pedagang. sellers.000 per month. Mereka belajar dari kasus-kasus pasar lain seperti Pasar Kosambi dan Pamoyanan. Di Kota Bandung. Despite these protests. Oleh karena itu.000/ bulan. melainkan juga para pedagang di lantai bawah. pemerintah bergeming terhadap aksi protes ini dan tetap melanjutkan upaya renovasi menjadi pasar bertingkat dua. tapi juga mempertimbangkan kenyamanan berbelanja dan berdagang serta didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. banyak pedagang lain yang mengalami nasib serupa. They feel that the multi-story structures do not bring profit but rather bring financial loss. In Bandung. Namun. however. Penataan tangga penghubung yang pendek. At the Leuwipanjang Market. the number of buyers drastically declined after the first month of trading. dan juga pelanggan. humid. However. she bought her market stall for Rp10 million. Ayun. traders rejected the plans for renovation of the market on the basis that buyers will not venture to the top levels. namun ini hanya berlangsung satu bulan sebelum akhirnya dagangannya mulai sepi pembeli. Sistem ventilasi di lantai bawah tidak dapat mengatur sirkulasi udara dengan leluasa karena letaknya di bawah permukaan tanah. investors. and so do not shop for very long. Ia menjadi pedagang yang menempati kios di pasar setelah pasar direnovasi menjadi gedung bertingkat. di Kota Bandung. perlu ada inovasi desain pasar yang lebih baik. However.DARI lAPANgAN KOTAK /BOX 1 Kasus Pedagang di Pasar yang Kembali Menjadi PKL/ The Case of a Market Trader who Returned to Street Vending Ibu Ayun (bukan nama sebenarnya) awalnya adalah PKL sayurmayur di pasar Leuwipanjang. After the market was converted into a multi-story structure. sejumlah pedagang sebenarnya sudah menolak rencana renovasi pasar. Sekarang ia menjadi PKL di sisi luar pasar dengan penghasilan lebih kecil. Mereka beralasan bahwa bentuk bangunan bertingkat tidak akan memberikan keuntungan dan bahkan justru merugikan. and foul-smelling. pedagang. Ms. Karena kehabisan modal. and had only made five monthly installments at Rp100. n 0 Newsletter .

In Depok. Retribusi Payment Types and Mechanisms Retribusi (services fees) payments collected at markets are regulated by Local Regulation No. No. retribusi diartikan sebagai pungutan uang oleh pemerintah (kota praja. and market services retribusi. * Akhmadi is a researcher at The SMERU Research Institute. dsb. Sudahkah hal ini terwujud? Pemungutan retribusi pasar tradisional di Kota Bandung dan Depok. 23/2003 for Depok and Local Regulation No. the payment of retribusi should be a sign that service users’ rights have been fulfilled by the government. dan retribusi pelayanan pasar.) sebagai balas jasa (Pusat Bahasa 2005: 953). khususnya retribusi pelayanan pasar. memberi gambaran empiris tentang kondisi umum pelaksanaan retribusi. jenis fasilitas yang I n the Indonesian Dictionary. Jenis dan Mekanisme Pemungutan Retribusi Retribusi perdagangan di pasar diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) No. The market services retribusi is based on the class of market. Di Depok retribusi dibedakan menjadi retribusi jasa umum. 20/2001 untuk Kota Bandung. But is this really the case? The payment of retribusi by those trading at the Bandung and Depok traditional markets. 22: Apr. retribusi jasa usaha.DARI lAPANgAN FROM THE fIElD rETribUsi Pasar Tradisional: kEwajiban TanPa PElayanan yang MEMadai rETribUsi payMenTs in TradiTional MarkeTs: obliGaTory payMenTs WiTh insuffiCienT serviCe in reTurn Akhmadi* D alam Kamus Besar Bahasa Indonesia. retribusi payments come in a number of forms: public services retribusi. retribusi is defined as a government (at all local levels) levy that is collected as a payment in return for a service (Pusat Bahasa 2005: 953). sebagaimana diuraikan berikut ini. 23/2003 untuk Kota Depok dan Perda No. This wording would suggest that the government provides and maintains adequate service infrastructure in return for the payment of retribusi from service users. as explained later. the type of facilities that are provided in the market. Using this logic. 20/2001 for Bandung. provides an empirical illustration of how retribusi payments are generally executed in relation to market services. yakni pemerintah seyogianya menyediakan dan memelihara infrastruktur layanan yang memadai bagi para pengguna jasa sehingga penarikan retribusi menjadi tanda telah terwujudnya pemenuhan hak pengguna jasa oleh pemerintah terkait. and the size of * Akhmadi adalah peneliti Lembaga Penelitian SMERU. Pengertian tersebut mengandung arti dan konsekuensi logis. trading services retribusi.Jun/2007  . Retribusi pelayanan pasar didasarkan atas kelas pasar.

security retribusi of Rp1. However. the amount of retribusi charged does not officially differ between traders who own one stall or traders who own a number of stalls. Therefore.000 per day for all traders.000 untuk setiap pedagang.000 and Rp10. who transfer the money to the regional government treasurer.000 untuk pedagang sembako dan Rp1. retribusi seperti ini tidak diatur secara rinci dan komprehensif dalam perda. the cleaners. Baik di Kota Depok maupun Kota Bandung. and vehicle loading/ unloading attendants. misalnya. juru sapu. Di Depok.DARI lAPANgAN ada di pasar. pembayaran retribusi ada yang dibayar secara harian atau atas dasar frekuensi penggunaan. Seharusnya retribusi didasarkan pada jumlah kios yang dimiliki. there are four types of retribusi payments: market retribusi. Retribusi payments are generally paid on a daily basis or according to usage levels. secondly. This kind of system is unfair.000. market services retribusi is collected in a number of forms: firstly.5 times the single amount. diperkirakan total target kontribusi retribusi Pasar Cisalak pada Market service retribusi is one source of local revenue (PAD). in one year the estimated total amount of retribusi collected for Cisalak Market through  Newsletter . pemungut kebersihan.000 pada saat menjelang hari raya untuk petugas kebersihan dan keamanan. Market Services Retribusi In Depok. Seperti banyak dinyatakan para pedagang. the amount of market services retribusi varies from market to market. These officials are usually non-permanent staff paid from the retribusi payment collection or they are non-permanent staff of the regional government. and a market retribusi target of Rp937. Retribusi Pelayanan Pasar Di Depok. parking attendants.5 kali retribusi. Pada kasus seperti ini biasanya ada kebijakan pengelola pasar bahwa pedagang yang memiliki dua kios cukup membayar satu kali retribusi.000. This current situation may be caused by the minimal incentive funds for improving market services standards. only 5% of the total collected retribusi funds transferred to the local government are allocated for improving the standard of market services. cleaning fee collectors.000 and Rp2.000 intended as a holiday bonus for the cleaning and security staff at the market. dan luas tempat usaha. Keadaan ini boleh jadi dipicu oleh minimnya dana perangsang peningkatan pelayanan. retribusi ketertiban. retribusi dibedakan atas empat macam.000 and market retribusi of between Rp1. UPTD). Melalui Dinas Pasar. that is. hanya 5% saja yang dikembalikan untuk uang perangsang peningkatan pelayanan. Selain itu. many traders explain that the markets still do not provide a comfortable shopping environment and that the lack of cleanliness is still a serious problem. The money is then transferred to the Office of Market Management. yang selanjutnya disetor ke kas Pemerintah Daerah. Di Kota Bandung. One would expect that traders receive something in return for the many retribusi payments. faktor kenyamanan dan kebersihan masih menjadi kendala serius. law and order retribusi. Therefore. besarnya retribusi tidak dibedakan antara pedagang yang mempunyai satu kios atau beberapa kios dalam pasar. yaitu retribusi pasar. ada beberapa bentuk retribusi pelayanan pasar yang dipungut.000 untuk kebersihan dan Rp937. market traders are also required to pay a “voluntary” annual Lebaran fee of between Rp5.500 per day for clothing traders. retribusi hewan di areal pasar.000 for each trader.000. Pertama. dan retribusi pasar antara Rp1.500 untuk retribusi pasar. juru parkir. The amount of retribusi paid should be based strictly on the number of stalls owned. Dengan membayar berbagai retribusi. In addition to these retribusi payments.000 hingga Rp2. The regional government sets retribusi targets through the Office of Market Management. pemda menargetkan jumlah tertentu dan dinas pasar pun menargetkan jumlah tertentu pada setiap pasar yang ada di bawah pengelolaannya. The collected retribusi payments are passed on to the coordinator who then passes them on to the head of the Technical Management Unit of the Market Agency (Unit Pengelola Teknis Dinas Pasar. the local regulations do not regulate these retribusi in a detailed or comprehensive manner. for example. dan disetor ke Dinas Pasar. as a security payment of Rp1.000 per day for traders of basic foodstuffs and Rp1.500. retribusi for animals traded in the market area.500 untuk pedagang pakaian. Kasus pencurian barang dagangan di kios dan kondisi pasar yang kotor dan becek merupakan kejadian dan potret sehari-hari. para pedagang masih dikenai pungutan tahunan yang sifatnya “sukarela” antara Rp5. Mereka umumnya bekerja sebagai tenaga honorer yang mendapat bayaran dari hasil retribusi atau sebagai pegawai honorer daerah. In Depok. In the case of those who own more than one stall. cleaning coordinators. Namun.000 hingga Rp10. In Bandung. Furthermore. the manager of the individual market usually creates a system whereby those who own two stalls only pay the retribusi for one. Retribusi yang dipungut diserahkan kepada koordinator untuk diteruskan ke kepala Unit Pengelola Teknis Dinas Pasar (UPTD). berupa retribusi keamanan sebesar Rp1. koordinator kebersihan. keamanan Rp1. and retribusi for toilet facilities. comfortable trading facilites and a clean market environment. dan retribusi kakus. This market has a daily target cleaning retribusi income of Rp893. muddy state of the markets. and those who own three stalls must pay 1. retribusi sampah masing-masing sebesar Rp1. however. Besarnya retribusi pelayanan pasar ini berbeda antara satu pasar dengan pasar lain yang kelasnya berbeda. daily concerns include the theft of goods from stalls and the dirty. For example. Kebijakan ini tidak adil. Contributions to PAD and Integration of Retribusi Management Retribusi pelayanan pasar merupakan salah satu penyumbang pendapatan asli daerah (PAD). retribusi payments are collected by special officials such as retribusi collectors. which also sets individual targets to be acheived by each market under its management. yakni kenyamanan berdagang dan kebersihan lingkungan pasar. In both Depok and Bandung. Kontribusi terhadap PAD dan Integrasi Pengelolaan Retribusi FROM THE fIElD the stalls. sudah sewajarnya apabila para pedagang mendapatkan imbalan nyata. Secara umum. Selain membayar retribusi.000. pemungutan retribusi dilakukan oleh petugas khusus seperti pemungut retribusi. dari total retribusi yang diterima dan disetor ke pemda. dan petugas bongkar muat. Target pendapatan setiap hari yang ingin dicapai di pasar tersebut sebesar Rp893.000 per hari. the Cisalak Market in Depok collects daily cleaning retribusi of Rp1. Misalnya Pasar Cisalak Depok memungut retribusi kebersihan Rp1. However. as a garbage service payment which is Rp1. dan untuk tiga kios membayar 1. kedua. Dalam setahun.

The amount of retribusi collected in Bandung is very low—as low as Rp100 for class I markets. including building renovations. Daniel et al (akan diterbitkan) ‘The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers’ [Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel Tradisional di Pusat-pusat Perkotaan di Indonesia]. Market retribusi from the 36 markets in Bandung contributed Rp4. 20/2001 tentang Retribusi Pasar Perda Kota Depok No. Supermarkets)].2 billion to Bandung’s PAD in 2005 and Rp4. Dinas Pasar harus bermitra dengan swasta dengan masa pengelolaan yang disepakati berdasarkan sebuah nota kesepemahaman. nilai retribusi pasar masih sangat rendah. Pasar Swalayan)’ [Retail Trade in Indonesia: Small Scale vs. However. Sampai saat ini. the Office of Market Management must work in partnership with private enterprise under a Memorandum of Understanding (MoU) that specifies an agreed upon time frame for the partnership.’ Jakarta: The SMERU Research Institute No.’ Jakarta: CPIS Keputusan Walikota Bandung No.500. 644/2002 tentang Tarif Jasa Kebersihan di Kota Bandung Keputusan Walikota Depok No. The 5% of total retribusi payments currently set aside for incentive funds used for improving services to traders—including maintaing the market infrastructure— is insufficient. akan tetapi alokasi dananya tidak mencukupi. Daniel et al (forthcoming) ‘The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers. Large Scale (The Case of Traditional Markets vs. Jakarta: Balai Pustaka Suryadarma. Edisi Ketiga. termasuk perbaikan bangunannya. Jumlah dana perangsang yang digunakan untuk meningkatkan pelayanan kepada pedagang seharusnya ditambah. it should firmly regulate the provision of services for all traders. termasuk perawatan infrastruktur pasar. Jumlah ini belum termasuk berbagai retribusi lainnya. 22: Apr. 33/2001 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Izin Gangguan Perda Kota Bandung No. dan Rp60 untuk pasar kelas III. perda tersebut akan menjamin bahwa penanganan retribusi menjadi bersifat integral dengan pengelolaan infrastruktur pasar dan penyediaan layanan imbal balik bagi pedagang. Dinas Pasar mengandalkan dana APBD untuk mengelola pasar tradisional. Dengan demikian. Dana perangsang 5% yang disediakan dari total retribusi yang dibayarkan pedagang tidak memadai untuk peningkatan pelayanan. the Office of Market Managment still relies on funds from the Regional Budget to manage traditional markets. Edisi Ketiga. 644/2002 on Cleaning Service Fees in Bandung Mayoral Decree of Depok No. selain menjadi acuan hukum.DARI lAPANgAN PAD Kota Depok yang dapat diperoleh dari kedua jenis retribusi di pasar ini mencapai Rp668. In addition to regulating the amounts and processes of retribusi collection.132.6 billion in 2006. Perda yang menjadi acuan penting sistem pengelolaan retribusi seyogianya tidak hanya mengatur jumlah dan proses penarikan retribusi. Pengelolaan retribusi tidak dapat berdiri sendiri. Research Report. tapi juga mengatur secara tegas penyediaan layanan bagi para pedagang. The local regulation will become an important reference for the retribusi management system. This amount does not include the many other types of retribusi. 19/2001 tentang Pengelolaan Pasar Perda Kota Bandung No.23/2003 on Management of Markets Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2005) Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) [Indonesian Dictionary]. 33/2001 on Instruction on the Implementation of Security Permits Local Regulation of Bandung No. Skala Besar (Kasus Pasar Tradisional vs. Despite this. n Daftar Bacaan CPIS (1994) ’Perdagangan Eceran di Indonesia: Skala kecil vs Skala Besar (Kasus Pasar Tradisional vs. Jakarta: The SMERU Research Institute FROM THE fIElD cleaning and market retribusi for Depok’s PAD is Rp668. meningkat menjadi Rp4. 23/2003 tentang Pengelolaan Pasar Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2005) Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).Jun/2007  . 20/2001 on Market Retribusi Local Regulation of Depok No. Pasar Swalayan). Rp 80 untuk pasar kelas II. yaitu Rp100 untuk pasar kelas I. Retribusi pasar dari 36 pasar yang ada di Bandung menyumbang PAD sebesar Rp4. Demi pengelolaan pasar yang lebih profesional.500. In order to enable more professional market management practices.132.6 milyar pada 2006. Rp80 for class II markets and Rp60 for class III markets. As well as being a legal reference. The proportion of funds collected from retribusi payments which is used to provide services to traders should be increased. Jakarta: CPIS Mayoral Decree of Bandung No. the funds allocated are insufficient. Jakarta: Balai Pustaka Suryadarma. Retribusi management cannot stand alone. 19/2001 on Management of Markets Local Regulation of Bandung No. such a regulation would ensure that retribusi management becomes integral to the infrastructure management system and that traders are provided with services in return for their payments.2 miliar pada 2005. Di Kota Bandung. n fuRtheR Reading CPIS (1994) ‘Perdagangan Eceran di Indonesia: Skala kecil vs.

Street vendors are often spread along the street. Kehadiran PKL menambah kesan kumuh dan semrawut yang biasanya mewarnai pasar tradisional dan mengancam keberadaan pedagang yang menyewa kios di pasar tradisional. forthcoming). right to the sidewalks. upaya mengatasi dampak kehadiran PKL di pasar tradisional tidak dapat dilepaskan dari pengelolaan pasar yang baik. * Sri Budiyati is a researcher at The SMERU Research Institute. QUo Vadis? Sri Budiyati* M eningkatnya jumlah pedagang kaki lima (PKL) di sisi luar bangunan pasar merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi pasar tradisional. The presence of street vendors makes the market seem dirty and disorganised. 1 Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian Lembaga Penelitian SMERU: ’The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers’ (Suryadarma et al. Their presence also threatens the business of traders renting stalls inside the market.DARI lAPANgAN FROM THE fIElD Quo vadis Pasar Tradisional? TradiTional MarkeTs.  Newsletter SMERU . street vendors trade around the market forming a “rival market”. akan diterbitkan). Oleh karena itu. and often cause traffic jams and general disorder. efforts to overcome the effects of the presence of street vendors at markets must come from good market management. adding to the general unpleasentness of shopping at traditional markets.1 The Street Vendor Phenomena At nearly every traditional market.1 Fenomena PKL Keberadaan kumpulan PKL yang menjadi ”pasar saingan” bagi pasar tradisional terdapat di hampir setiap lokasi pasar tradisional. This article will discuss this problem. Menjamurnya PKL di sekitar pasar tradisional berkaitan erat dengan masalah pengelolaan pasar. * Sri Budiyati adalah peneliti Lembaga Penelitian SMERU. which is a common sight in traditional markets. therefore. Masalah inilah yang akan menjadi pokok bahasan tulisan ini. The growing number of street vendors near markets is closely linked to problems of market management. Para PKL yang menggelar dagangan di depan pasar sampai bahu jalan seringkali menimbulkan kemacetan lalu lintas dan turut menimbulkan kesemrawutan dan ketidaknyaman berbelanja di pasar tradisional. T he increased number of street vendors setting up outside market buildings is one of the many major problems faced by traditional markets. 1 This article is written based on the research conducted by The SMERU Research Institute: ’The Impact of Supermarkets on Traditional Markets and Retailers in Indonesia’s Urban Centers’ (Suryadarma et al.

and so vehicles can only reach as far as the outer rim of the street vendors. obstructing access to the market. Kota Depok. few shoppers are left inside the market from as early as 09:00. As a result. semakin banyak orang yang enggan berbelanja ke dalam pasar. Kota Depok.000/day. Pembeli cenderung memanfaatkan posisi para PKL di luar pasar ini untuk menghemat waktu berbelanja. The outside area is complete with lights and large tarpaulins are used as roofs for street stalls. lahan milik instansi Bina Marga yang sebelumnya sebagai tempat parkir kini telah disewa para PKL. more and more people are disinclined to shop in the market. di mana tiga ruas jalan yang merupakan akses menuju pasar tidak bisa dilewati angkot. Akibatnya. a “spillover market” is now operating.000 per day). Public transport drivers are often forced to take alternative routes or set passengers down a fair distance from the market. Bahkan. Shoppers are inclined to take advantage of the fact that street vendors are outside the market to save time shopping. The situation is similar at the Leuwipanjang Market in Bandung. In one market in Bandung.DARI lAPANgAN PKL cukup membayar sewa tempat berupa lahan kosong dan retribusi Rp500-2000 per hari. Kondisi ini menghalangi akses masuk pembeli ke dalam pasar.00. bahkan los-los yang dibangun sudah dilengkapi tenda seperti tempat berdagang permanen. Akibatnya. Lokasi ini mirip pasar bayangan bagi Pasar Tugu. pada dini hari juga beroperasi “pasar tumpah” yang merupakan kumpulan PKL yang berdagang mulai jam 02.000 per day to rent a space outside the market to the person who controls that space. 22: Apr. The stalls constructed outside the market are equipped with tent-like coverings and are like permanent stalls. Traders from the top floor of the market have moved and become street vendors outside the market. This is happening at the Cisalak Market in Depok. Hal ini terjadi di Pasar Cisalak.000–700. where three roads accessing the market can no longer be used by public transport vehicles. Sementara harga sewa kios di dalam pasar mencapai Rp600-700 ribu per bulan (Rp20 ribu per hari). Dua ruas jalan telah dipenuhi oleh PKL sepanjang hari sehingga angkot hanya sampai di depan los-los tempat PKL menggelar dagangannya. Two of these roads are congested by street vendors. from 02:00 to 06:00. The street vendors start trading before the market opens. pedagang cukup membayar Rp10.000 per hari kepada ”penguasa lokasi” untuk mendapat lahan berdagang. as there are more street vendors trading outside than there are traders operating in the market building.000 per month (Rp20.00 saja pedagang dalam pasar sudah sepi pembeli. At the Tugu Market in Depok. As a result of these access difficulties. No.00 hingga 06. Rutenya terpaksa dialihkan melalui jalur lain atau berhenti jauh dari bangunan pasar. Bandung. tanpa perlu menyewa kios di dalam pasar yang lebih tinggi biayanya. many street vendors rent land owned by the Bina Marga office which was previously used as a car park and use it as a trading space. pada jam 09. Di Pasar Tugu.Jun/2007  . the price of renting a stall inside the market can be Rp600. Indeed. bahkan jumlah PKLnya lebih banyak dari pedagang di dalam pasar. avoiding the expensive advance rental for stalls inside the market. Rute jalan angkutan umum ikut terpengaruh dengan keberadaan PKL. the Tugu Market looks like it has a shadow market around it. Para pedagang lantai atas sudah beralih menjadi PKL dan menggelar dagangan di sisi luar bangunan pasar yang dilengkapi dengan lampu listrik dan terpal plastik sebagai atapnya. FROM THE fIElD Street vendors are only required to pay rent for using the vacant space outside the market and pay market services fees (retribusi) of roughly Rp500–2. a street vendor only pays Rp10. Di salah satu pasar di Bandung. Meanwhile. The public transport routes are also being affected by the presence of street vendors. Demikian pula yang terjadi di Pasar Leuwipanjang. Also.

Persoalan-persoalan lain yang dihadapi pasar tradisional. pengap. the market heads are inclined to prioritize the collection of retribusi because the Office of Market Management has retribusi targets that must be met. Dalam Keputusan Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Kota Bandung No. In practice. kepala pasar dibantu oleh beberapa orang staf yang umumnya pegawai honorer. In Bandung. yaitu Dinas Pengelolaan Pasar. Furthermore. The Decree of the Head of the Office of Market Management of Bandung No. Terwujudnya kondisi tersebut. which causes financial loss to other traders and disturbing market order. Pada praktiknya. and that the surroundings are muddy and dirty. Other problems that remain unresolved include the fact that traditional markets are generally not well looked after. bahkan di Kota Bandung telah dibentuk Tim Penertib Pedagang Kakilima (SK Walikota Bandung tahun 2001). pengelolaannya di bawah PD Pasar Jaya. The realization of these goals and support from all stakeholders will ensure the sustainability of traditional markets. Oleh karena itu. gelap. In carrying out these daily taks. permasalahan pasar tradisional sangat kompleks. The problem is actually linked to the management of the individual market because. which is oriented towards reaching retribusi targets. tugas kepala pasar adalah mengkoordinasi pelayanan pasar.2 Dinas Pengelolaan Pasar menempatkan seorang kepala pasar yang biasanya berstatus PNS yang bertugas mengelola administrasi pasar dan sekaligus memelihara pasar. This makes the problem of street vendors around markets even more difficult to overcome as they represent an important source of retribusi. despite these efforts. Di samping itu. and the market head’s tenure is dependant on meeting these targets. Masalah ini memang tidak bisa dipisahkan dari masalah pengelolaan pasar itu sendiri. Dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. karena pada kenyataannya kehadiran PKL di pasar tradisional meningkatkan pencapaian dana retribusi. tidak hanya menyangkut keberadaan PKL yang merugikan pedagang pasar dan memengaruhi keteraturan pasar tradisional. ketertiban.  Newsletter . akan mendorong keberlanjutan pasar tradisional. can only make matters worse for traditional markets. Selama ini. n 2 Khusus untuk Jakarta. tentunya dengan dukungan semua pemangku kepentingan. tetap saja keberadaan PKL tidak bisa dihilangkan. All of these problems come down to weak market management. n FROM THE fIElD There are many regional regulations intended to regulate and control street vendors. Weak Market Management The problems faced by traditional markets are rather complex and are not limited to the presence of street vendors. Target pencapaian retribusi menjadi tolok ukur diperpanjang atau tidaknya kedudukan kepala pasar. seperti bangunan pasar yang kurang terawat.DARI lAPANgAN Walaupun berbagai peraturan daerah telah dikeluarkan untuk menertibkan PKL. that the buildings often leak and are narrow. apart from paying retribusi collection. sempit. Kelemahan Manajemen Pengelola Pasar Sebenarnya. bocor. penarikan retribrusi merupakan sumber penghasilan tambahan bagi para staf pengelola pasar. pengelolaan pasar tradisional berada di bawah wewenang pemerintah daerah. Kenyataan inilah yang antara lain membuat masalah kehadiran PKL di pasar tradisional sulit dipecahkan mengingat PKL bisa menjadi subjek pembayar retribusi. the presence of street vendors has increased the amount of retribusi collected. 2 Jakarta is an exception to this. selain memperhatikan aspek target retribusi. merupakan hal yang belum terselesaikan hingga kini. the comfort and orderliness of the market for both shoppers and traders must not be disregarded. the collection of retribusi is an extra form of income for the staff managing the market. a street vendor control team was formed under the Mayoral Decree of Bandung in 2001. where PD Pasar Jaya is responsible for market management. The role of market management lies with the regional government through the Office of Market Management. dark and musty. Semua permasalahan ini bermuara pada lemahnya pengelolaan pasar tradisional. however. the market head must also coordinate all services within the market. 22 Tahun 2003 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Kepala Pasar disebutkan bahwa selain mengumpulkan retribusi. Therefore. and maintain the orderliness and cleanliness of the market. pengelolaan pasar tradisional tidak boleh mengabaikan aspek kenyamanan dan ketertiban berdagang dan berbelanja. the problem of street vendors remains. However. dan kebersihan pasar sesuai wilayah kerjanya. the market head is assisted by several other non-permanent staff. 22/2003 on Formation of the Organization and the Work Arrangements of Market Heads states that apart from collecting market services fees (retribusi). seorang kepala pasar lebih digiring untuk mengutamakan pengumpulan dana retribusi pasar karena kinerjanya ditentukan oleh tingkat pencapaian retribusi sesuai dengan jumlah yang telah ditargetkan Dinas Pasar.2 The Office of Market Management appoints someone from the agency (a civil servant) to be the head of the market administration and to look after the market. This method of market management. di samping lingkungan yang becek dan kotor. in reality. Pengelolaan pasar yang hanya berorientasi pada pencapaian target retribusi tentunya akan memperburuk citra dan keberadaan pasar.

In some aspects. SMERU No. tulisan ini mencoba memaparkan gambaran industri ritel dalam perspektif persaingan usaha. which is regulated by Law No. the increasing market power of modern retailers has resulted in the exploitation of their suppliers. 5/1999 on the Prohibition of Monopolistic Practices and Unfair Business Competition. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat sehingga banyak harapan yang ditujukan kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk menanganinya.OPINI OPINION rEgUlasi PErsaingan Usaha di indUsTri riTEl business CoMpeTiTion reGulaTion in The reTail Taufik Ahmad* S ejak ritel modern menjadi bagian dari tatanan industri ritel Indonesia. munculnya fenomena menguatnya kekuatan pasar (market power) ritel modern ketika berhadapan dengan pemasok barang. and it is hoped that the Commission for the Supervision of Business Competition (KPPU) will enforce the regulation. tersingkirnya pelaku usaha ritel kecil dari pasar akibat ketidakmampuan bersaing dengan ritel modern. Dalam beberapa aspek. Paling tidak. Pertama. Perkembangan Pesat Industri Ritel di Indonesia Ada banyak faktor yang mendorong pesatnya pertumbuhan industri ritel. yang berujung pada munculnya eksploitasi pemasok oleh pelaku usaha ritel modern. small retailers are marginalized from the market because they cannot compete with larger modern retailers. muncul persaingan yang ketat antarpelaku usaha. Secondly. and how the KPPU oversees the regulation. The Rapid Growth of the Retail Industry in Indonesia Many factors have contributed to the rapid growth of the retail industry. Among them was the retail liberalization policy which removed * Taufik Ahmad is the Acting Director of Competition Policy at the Commission for the Supervision of Business Competition (KPPU). Salah satu di antaranya adalah kebijakan liberalisasi * Taufik Ahmad adalah Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Kebijakan Persaingan. 5/1999. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). dengan KPPU sebagai pelaksananya. T here has been tough competition in the retail sector since modern retailers started to play a part in the Indonesian retail industry. gejolak persaingan di industri ritel sering diidentikkan dengan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Undang-undang (UU) No.Jun/2007  . khususnya sebagaimana diatur dalam UU No. Firstly. There are at least two negative aspects of the presence of modern retailers in Indonesia. ada dua sisi negatif dari keberadaan ritel modern. This article attempts to illustrate the Indonesian retail industry from a business competition perspective. tough competition of this kind in the retail industry is often associated with unhealthy competition. 22: Apr. in particular looking at how it is regulated according to Law No. Memperhatikan kondisi tersebut. 5 Tahun 1999. Kedua.

boleh dimiliki oleh pihak asing. pusat pertokoan/perbelanjaan) dan perdagangan besar (distributor/wholesaler.787. as many as 10.89 22. and shopping centers) and other large-scale trade (distributors and wholesalers.95 19. 6.141 6. 118/2000 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden No. 96/2000.06 9. including retail companies. 1055/KMK.63 Sumber/Source: A. Furthermore. retail business potential reached Rp600 trillion and it contributed 20% to gross domestic product. kecuali perdagangan ritel skala besar (mal. 96/2000 on Business Fields that are Closed to Investments and Business Fields that are Conditionally Open for Investment.01/1997 tentang Pembelian Saham oleh Pemodal Asing Melalui Pasar Modal. as was previously stipulated in Decree of the Minister of Finance No.745. and export and import trade). potensi pasar bisnis ritel mencapai Rp600 triliun.917 2005 1.09 2. Kedua peraturan tersebut mengatur bidang jasa perdagangan dan jasa penunjang perdagangan yang tertutup untuk investasi bagi perusahaan yang dalam modalnya ada kepemilikan warga negara asing dan/atau badan hukum asing. Presidential Decree No.47 -5. Kontribusi sektor ritel terhadap produk domestik bruto OPINION the retail industry from the list of industries closed to foreign investment.1 Kebijakan ini ditunjang oleh kebijakan lainnya. 1  Newsletter . maka seluruh saham perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta. 2. department store. sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menkeu No. 96/2000 tentang Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan Tertentu bagi Penanaman Modal serta Keputusan Presiden No. The decrees exempt large-scale retail trade (malls. for example. 118/2000 on the Amendments to Presidential Decree No. the exemption status of the retail industry has not changed.1 Retail liberalization is also supported by the Decree of the Minister of Finance No. pengecualian atas industri ritel tidak berubah.699 218 17. 455/KMK. 118/2000. Di bawah peraturan yang baru ini. This policy was encapsulated in Presidential Decree No. Industri ritel memiliki posisi strategis dalam ekonomi Indonesia. 1055/KMK. yang di dalamnya antara lain mencabut ketentuan pembatasan pembelian saham oleh pemodal asing melalui pasar modal dan bursa efek.35 15.393 17.118 Tahun 2000 telah diganti dengan Peraturan Presiden No.560 = 6. Pada tahun 2003 saja. Pada Juli 2007.20 18.77/2007 Concerning Lists of Business Fields that are Closed to Investments and Business Fields that are Conditionally Open for Investments.663 245 16.32 15. Nielsen 2006 Note: This table uses Indonesian numbering conventions. The retail industry holds a strategic position in Indonesia’s economy. Struktur Pengecer di Indonesia/Table 1. 96/2000. supermarket. With this revised policy.560. In 2003.OPINI ritel yang mengeluarkan bisnis ritel dari daftar terlarang (negative list) penanaman modal asing (PMA).39 -5.85 12. yakni Keputusan Menkeu No. 1 In July 2007.01/1997 on the Purchase of Shares by Foreign Investors through Capital Markets.42 -25. and in Presidential Decree No.606 1.013/1989. as amended by Presidential Decree No.3 million (45%) of the Tabel 1.795. Hal ini tertuang dalam Keputusan Presiden No. was superseded by Presidential Regulation No.604 90 68 22 1. termasuk perusahaan ritel. These regulations regulate the trading services sectors and the supporting sectors that are closed to investment from companies supported by foreign capital or foreign legal bodies. Melalui kebijakan ini. 96/2000. supermarkets. 455/KMK. 96 Tahun 2000 sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden No. Keputusan Presiden No.560 956 5. Under the new regulation.589 154 6.456 107 83 24 1. Ritel merupakan salah satu tulang punggung ekonomi nasional. there is now no limit to foreign ownership in the large-scale Indonesian retail industry. Retail Structure in Indonesia Sektor/Sector Toko tradisional/Traditional stores Convenience store Supermarket • Subsupermarket/Sub-Supermarket • Minimarket Toko berformat besar/Large format store • Hipermarket/Hypermarket • Pusat grosir/Warehouse clubs Total toko ritel/Total number of retail stores Toko obat/Medicine retailers Toko obat tradisional/Traditional drugstore Jaringan apotek/Chain drugstore Total toko obat/Total medicine retailers 2004 1.897 115 7. perdagangan ekspor dan impor). department stores. This policy removed the limit on share buying for foreign investors through capital markets and the stock exchange. Kebijakan tersebut telah menyebabkan tidak adanya pembatasan kepemilikan dalam ritel skala besar oleh perusahaan asing.C. all companies listed on the Jakarta Stock Exchange. and is part of the backbone of the national economy. 77 Tahun 2007 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.725 16.42 = 2. can now be owned by foreign parties.908 Perubahan(%)/ Change(%) 2.013/1989.42.752. As a result.

This data shows that in terms of quantity. Data ini memperlihatkan bahwa secara kuantitas.7 juta jumlah usaha di Indonesia. Rp50-60 triliun dengan jumlah pelaku usaha sekitar 15. Tabel 2 memperlihatkan perkembangan tersebut. Retailers with large amounts of capital behind them can easily provide consumers with a variety of products with different prices and quality. sebanyak 10.3 juta atau sekitar 45% merupakan usaha ritel. kondisi ini membawa dampak negatif. pangsa pasar ritel dikuasai oleh ritel modern.000. for more than 1. serta tingkat keamanan. yakni tersingkirnya pelaku usaha ritel tradisional dan kecil.C. sharp competition in the retail industry can be positive for consumers as it results in increased choices for consumers. whereas earnings for the traditional retail sector is approximately Rp500 trillion Salah satu akar persoalan industri ritel Indonesia terletak pada ketidakmampuan pelaku usaha ritel kecil untuk bersaing secara langsung dengan para pelaku usaha ritel modern. apabila omzet ritel modern.000 traders. Usaha Besar Ritel Persaingan sengit dalam industri ritel di satu sisi dipandang positif dan menguntungkan konsumen karena konsumen memiliki banyak pilihan. Pertumbuhan pesat ritel modern saat ini terus mendorong terjadinya perubahan penguasaan pangsa pasar ritel dari pasar tradisional ke pasar modern. where modern retail is eating more and more into the traditional retail share. dibandingkan dengan omzet ritel kecil dan tradisional. One of the main problems in the Indonesian retail industry is that small-scale retailers cannot directly compete with large-scale modern retailers. dan kebersihan yang berbeda. The composition of the Indonesian retail industry based on a 2006 A. They have a virtually unlimited capacity for value creation. which gives them more power in the retail industry. No. small-scale retailers with their limited financial and management capacity will suffer. ritel modern sesungguhnya tidak memiliki makna apaapa dibandingkan dengan ritel tradisional. Keragaman produk dengan variasi harga dan kualitas yang bervariasi. Jumlah pelaku usaha di ritel tradisional jauh di atas jumlah pelaku usaha di ritel modern. modern retail is controlling retail market share. Slowly but surely. yang berada pada kisaran OPINION approximately 22.5 million traders—making it very clear that earnings for individual modern retailers is far higher than earnings for individual traditional retailers.and large-scale. Small-Scale Retail vs. Namun.7 million businesses in Indonesia are retail businesses— both small. Usaha Kecil Ritel vs. komposisi industri ritel Indonesia dapat digambarkan sebagaimana terlihat dalam Tabel 1.C. pelaku usaha kecil yang tidak memiliki kemampuan finansial dan manajemen yang baik akan terpuruk. Mereka memiliki kemampuan yang tidak terbatas untuk penciptaan nilai (value creation) yang akan membuat mereka unggul dalam persaingan industri ritel. The rapid growth of the modern retail industry is currently causing a shift in the retail market share.Jun/2007  . mudah diwujudkan oleh pelaku usaha dengan kemampuan modal besar. comfort. dari 22. annual earnings for the modern retail sector stands at about Rp50–60 trillion for approximately 15. Demikian juga. However. Secara pelan tapi pasti. a negative impact of this can be the marginalization of traditional and small-scale retailers. yang sekitar Rp500 triliun dengan jumlah pelaku usaha di atas 1. Tanpa bantuan pemerintah. maka sangat jelas omzet per unit usaha ritel modern jauh berada di atas omzet ritel tradisional. Nielsen pada 2006. There are far more traditional retailers than modern retailers.5 juta. baik besar maupun kecil. Table 2 illustrates this development. Nielsen survey is shown in Table 1. On the other hand. modern retail comprises a far smaller portion of the market than traditional retail. Without any assistance from the government. and cleanliness. kenyamanan. 22: Apr. Large-Scale Retail On one hand. safety.OPINI (PDB) mencapai 20%. Berdasarkan survei yang dilakukan A. Di sisi lain.

Salah satu akar persoalan industri ritel Indonesia terletak pada ketidakmampuan pelaku usaha ritel kecil untuk bersaing secara langsung dengan para pelaku usaha ritel modern.8 73. Suppliers are now heavily reliant on modern retailers. 5 of 1999 on the Prohibition of Monopolistic Practices and Unfair Business Competition. Akibatnya.6 Pasar Modern/Modern Market 24. In this case. while modern retailers find that they have few competitors in one area. Hal tersebut semata-mata terjadi karena ketidaksebandingan kemampuan modal di antara keduanya. Tetapi apabila dicermati. Akibatnya muncul tuntutan kepada KPPU untuk terlibat dalam penataan persaingan yang didefinisikan sebagai persaingan usaha tidak sehat tersebut. Large-scale Retailers vs. for example. Peritel Besar vs. One consequence of this is that modern retailers are free to exploit 0 Newsletter . sementara peritel modern di satu wilayah tidak memiliki banyak pesaing.6 65.4 32.7 69. Ketidaksebandingan ini seringkali dikonotasikan sebagai persaingan usaha tidak sehat. the problem of unequal competition between small retailers and modern retailers is not the responsibility of KPPU. Persentase Kontribusi Omzet 51 Kebutuhan Sehari-hari/ Table 2. This commonly held understanding of unhealthy competition is mistakenly associated with Law No. The market power of modern retailers has already changed the retail industry. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. This means that small-scale retailers have to compete head to head with large scale retailers who are in a different class altogether. Pemasok kini sangat bergantung kepada usaha ritel modern. Dengan demikian.2 74. permasalahan persaingan tidak sebanding yang terjadi antara ritel kecil dan modern sebagaimana didefinisikan dalam UU No. Definisi persaingan usaha tidak sehat ini biasanya ditujukan pada tidak adanya kesetaraan kemampuan (equal playing field) antara usaha ritel kecil dan modern sehingga pelaku usaha kecil harus berhadapan secara “tidak sehat” dengan pelaku usaha besar yang tidak berada dalam kelas yang sama. as the law does not actually stipulate that KPPU may intervene in cases of unhealthy competition caused by unequal power. Modern retail is now favored by manufacturers for product distribution as they have the capacity to attract large numbers of consumers. 5 Tahun 1999 tidak menjadi tanggung jawab KPPU. if we look closely.OPINI Tabel 2. As a result. Pemasok Persoalan berikutnya dari industri ritel terkait dengan ketidakseimbangan posisi antara pemasok dengan pelaku usaha ritel.2. Mulailah mereka menerapkan berbagai persyaratan One of the main problems in the Indonesian retail industry is that small-scale retailers cannot directly compete with large-scale modern retailers. Dalam manajemen rantai pasokan produk sampai ke konsumen. The position of suppliers continues to weaken as the competition among them becomes fierce. hal tersebut tidaklah tepat karena persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam UU No. Such inequality often implies unhealthy competition. Ritel modern telah menjelma menjadi kekuatan yang luar biasa. Pemahaman tersebut kemudian dikaitkan dengan keberadaan UU No.3 30. Ritel modern kini telah menjadi favorit dalam pendistribusian produk karena kemampuannya mendatangkan konsumen sangat besar. This inability is a result of unequal access to capital. Nielsen 2006 *) Januari-Juni 2006/ January-June 2006 Note: This table uses Indonesian numbering conventions.C. 5 of 1999. unhealthy competition is defined by the presence of an unequal playing field among small-scale retailers and modern retailers. Suppliers A further problem in the retail industry is the imbalance of power between retailers and suppliers.8 25. Percentage of Earnings Contribution from 51 Basic Daily Needs OPINION Tahun/Year 2001 2002 2003 2004 2005 2006* Pasar Tradisional/Traditional Market 75. modern retailers have become a deciding force in the market. as defined in Law No.4 Sumber/Source: A. KPPU was pressured to be involved in regulating such competition. Modern retailers have assumed an extraordinary amount of market control. Therefore.1 26. By controlling the product supply chain from the supplier right through to the consumer. However. Kekuatan pelaku usaha ritel modern telah mengubah situasi di industri ritel. 5 tahun 1999 tidak mengatur peran KPPU untuk menengahi persaingan tidak sehat yang diakibatkan oleh ketidaksebandingan. 75.6 67. peritel modern dapat dengan sangat leluasa menggunakan kekuatan pasarnya.2 = 75. Kekuatan pemasok semakin bertambah lemah karena persaingan antarmereka juga terjadi dengan sangat ketat. this is not appropriate. ritel modern kini menjadi bagian yang sangat menentukan.4 34.

02/KPPU – L/2005/Decree of the KPPU No. in a non-discriminative manner). This is also considered to be a form of unhealthy competition requiring the KPPU’s intervention.OPINI perdagangan (trading terms). and they do not create market distortions. they do not have any effect on the modern retail competitors being supplied. Semua persyaratan perdagangan sesungguhnya diberlakukan secara sama (equal treatment). Dalam perkembangannya. Tabel 3 memperlihatkan perkembangan persyaratan perdagangan di industri ritel Indonesia. maka persyaratan perdagangan tidak bertentangan dengan prinsip persaingan usaha OPINION their market power. the recurring fees suppliers must pay no doubt affect their overall businesses. maka mereka tidak memiliki kemampuan untuk menolak. Karena posisi pemasok lemah. pemasok berpotensi menjadi lahan eksploitasi bagi ritel modern. Many trading terms seem to be forced upon suppliers. 02/KPPU – L/2005 * Larangan bagi pemasok untuk menjual barangnya ke pesaing lain dengan harga yang lebih murah/Contractual stipulation that suppliers are not to sell their goods to other retailers at a lower price No. Table 3 illustrates the development of trading terms in the Indonesian retail industry. there is potential for modern retailers to exploit suppliers. tidak berdampak terhadap pelaku usaha ritel modern pesaing yang dipasok. terdapat banyak persyaratan perdagangan yang terkesan dipaksakan. Tetapi biaya yang secara bertubi-tubi harus dipenuhi oleh pelaku usaha pemasok jelas memengaruhi bisnis mereka secara keseluruhan. 22: Apr. Hal ini juga dikonotasikan sebagai bentuk persaingan usaha tidak sehat sehingga KPPU diminta keterlibatannya dalam penanganan persoalan ini.Jun/2007  . they do not have the power to oppose such trading terms. selama persyaratan perdagangan diberlakukan sama terhadap semua pelaku usaha pemasok (tidak diskriminatif). Sama dengan permasalahan ritel kecil dan modern. Because suppliers are in a weak position. Dalam perpektif persaingan usaha. and have created a number of trading terms. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 2003 Rabat Tetap/Fixed Rebate Rabat Bersyarat/Conditional Rebate Diskon Promosi/Promotion Discount Anggaran Promosi/Promotion Budget Diskon Biasa/Regular Discount Biaya Jaminan Semua Produk yang Dipamerkan/Common Assortment Cost TAhUN/YEAR 2004 Rabat Tetap/Fixed Rebate Rabat Bersyarat/Conditional Rebate Diskon Promosi/Promotion Discount Anggaran Promosi/Promotion Budget Diskon Biasa/Regular Discount Biaya Jaminan Semua Produk yang Dipamerkan/Common Assortment Cost Potongan Harga Beli/Reduced Purchase Price Marjin Minus/Minus Margin* Penalti untuk Keterlambatan Pengiriman Barang/Penalty Delay Delivery for Event Penalti atas Kekurangan Stok/Penalty on Short Level Biaya Pembukaan/Opening Cost Diskon untuk Pembukaan Toko Baru/Opening Discount for New Store Diskon Tambahan/Additional Discount for Other Diskon Ulang Tahun/Anniversary Discount Diskon Penataan Toko/Store Remodelling Discount 2005 Rabat Tetap/Fixed Rebate Rabat Bersyarat/Conditional Rebate Diskon Promosi/Promotion Discount Anggaran Promosi/Promotion Budget Diskon Biasa/Regular Discount Biaya Jaminan Semua Produk yang Dipamerkan/Common Assortment Cost Potongan Harga Beli/Reduced Purchase Price Marjin Minus/Minus Margin* Penalti untuk Keterlambatan Pengiriman Barang/Penalty Delay Delivery for Event Penalti atas Kekurangan Stok/Penalty on Short Level Biaya Pembukaan/Opening Cost Diskon untuk Pembukaan Toko Baru/ Opening Discount for New Store Diskon Tambahan/Additional Discount for Other Diskon Ulang Tahun/Anniversary Discount Biaya Pasok Produk Baru/Opening Listing Fee Diskon Lebaran/Lebaran Discount Sumber/Source: Putusan KPPU No. this problem results from the unequal bargaining power between large-scale retailers and suppliers. all suppliers are treated equally—however. Dalam kondisi hubungan pemasok-ritel modern seperti itulah. With the relationship between modern retailers and suppliers being as it is. permasalahan ini terjadi sebagai akibat dari ketidaksebandingan posisi tawar antara peritel besar dan pemasok. Perkembangan Persyaratan Perdagangan dalam Bisnis Ritel Modern Indonesia/ Table 3. All of these trading terms are actually applied equally—that is. dan tidak mengganggu mekanisme pasar (mendistorsi pasar) secara keseluruhan. From a trade competition perspective. as long as all trading terms are applied equally to all suppliers (that is. the trading Tabel 3. In the same vein as small retailers and modern retailers. The Development of Trading Terms in the Indonesian Modern Retail Sector No.

the government needs to empower small/traditional retailers to increase their competitive advantage so that they have the capacity to meet consumer demand related to consumer psychology. and other bodies involved in the management of the Indonesian retail industry. Sinergi Peran KPPU dan Pemerintah Salah satu permasalahan industri ritel yang krusial saat ini terletak pada munculnya ketidaksebandingan kemampuan antarpelaku usaha. Dari gambaran ini. ada dua tugas utama yang harus dilakukan pemerintah. baik menyangkut tugas KPPU. Secondly. 5 tahun 1999. Berbagai bantuan pelatihan manajemen ritel dapat menjadi salah satu alternatif proses pemberdayaan tersebut. Such a problem should really be the responsibility of the government and be tackled by the establishment of protection regulation. and so on. misalnya melalui pengaturan zonasi. Firstly. Hal ini sesungguhnya lebih merupakan wilayah kerja pemerintah yang biasanya ditangani melalui konsep pengaturan perlindungan. rasa aman. Peran KPPU adalah melakukan penegakan hukum persaingan dan memberikan koreksi terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai akan mendistorsi pasar ritel Indonesia. Synergy between the Roles of KPPU and the Government One of the crucial problems in the retail industry is this unequal trading power between business players. pemerintah. Without the enforcement of regulations. This again demonstrates that the problems between modern retailers and suppliers are linked to the emergence of unequal market power. 5 of 1999. The KPPU’s role is to enforce competition law and suggest amendments to government policies that lead to market distortions in the retail industry. Sharp competition in the retail industry can be positive for consumers as it results in increased choices for consumers. Mencermati perkembangan yang terjadi serta nilai strategis peran KPPU dan pemerintah dalam industri ritel Indonesia. Kedua. trading hours. seperti kenyamanan. it becomes clear that synergy between the roles of both parties is urgently needed. dan sebagainya.OPINI yang sehat sebagaimana diatur dalam UU No. melakukan pemberdayaan usaha kecil/tradisional untuk memperkuat daya saing mereka sehingga mereka mampu mengakomodasi tuntutan masyarakat terhadap aspek-aspek yang lebih berkaitan dengan psikologi konsumen. Sementara itu.  Newsletter . maka sinergi peran antara keduanya sangat diperlukan. Pertama. maupun instansi lain yang terlibat dalam pengaturan industri ritel Indonesia. Tidak tegaknya regulasi dapat menjadi akar dari semakin kusutnya permasalahan. Hal inilah yang saat ini dicoba untuk diadopsi oleh pemerintah melalui Rencana Peraturan Presiden tentang Pembinaan Usaha Pasar Modern dan Usaha Toko Modern. obligatory partnerships. for example by the regulation of zoning. n Persaingan sengit dalam industri ritel bisa menguntungkan konsumen karena konsumen memiliki banyak pilihan. it is clear that the key to successful regulation of the retail sector is to enforce the existing regulations—including those regulating the duties of the KPPU. such as comfort and safety. the government must provide small/traditional retailers with protection from marginalization due to their inability to compete. peran pemerintah lebih tertuju pada pengaturan-pengaturan agar industri ritel berkembang secara optimal. Paling tidak. The government is required to do at least two things. waktu buka. Looking at current developments in the Indonesian retail industry and the strategic value of the role of the KPPU and the government. the current problems will become even more complex. maka sekali lagi tampak bahwa permasalahan hubungan pemasok-ritel modern lebih menyangkut kepada munculnya ketidaksebandingan kekuatan pasar antara pemasok dan peritel modern. kewajiban melakukan kemitraan. n OPINION terms do not conflict with the principles of healthy competition stipulated in Law No. the government. The government is currently attempting to adopt this method with the Draft Presidential Regulation on the Development of Modern Markets and Modern Stores. maka kunci kesuksesan regulasi di sektor ritel akan terletak pada upaya penegakan peraturan perundangan yang telah ada. whereas the government’s role lies more towards the creation of regulations to optimally develop the retail industry. dan sebagainya. Mengamati kondisi yang terjadi. memberikan perlindungan kepada pelaku usaha kecil/tradisional dari ancaman ketersingkiran akibat ketidakmampuan bersaing. Retail management training could be one method to achieve this empowerment process. After examining the current situation of the retail industry.

* M. including women micro. and the high rent charged for a stall in the market is prohibitive for the traders. For example. Pemberdayaan ini dilakukan antara lain melalui pengorganisasian dan advokasi. often the market’s location is far from where communities live. Firdaus adalah Koordinator Program Sekretariat Nasional Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK). T raditional markets established by regional governments generally do not take the interests of those trading in the market into account. 22: Apr.Jun/2007  .and sMall-sCale Traders M. Firdaus* P asar tradisional yang dibangun pemerintah daerah pada umumnya belum memperhatikan kepentingan para pedagang. It will also discuss the empowerment activities implemented by ASPPUK. The mushrooming of minimarkets near traditional markets in the subdistricts negatively affects the small traders in traditional markets. terutama di Klaten dan Solo. misalnya lokasi pasar yang seringkali jauh dari permukiman warga dan harga sewa kios pasar yang tinggi serta memberatkan para pedagang.and smallscale traders in traditional markets. Hal ini ditambah lagi dengan adanya minimarket yang kini menjamur di kecamatan-kecamatan dan lokasinya berdekatan dengan pasar tradisional sehingga berdampak pada usaha para pedagang kecil di pasar tradisional. * M. including advocacy on policy matters. mainly in Klaten and Solo.and small-scale traders. The Association of Facilitators for Women Small-Scale Entrepreneurs (ASPPUK) is an NGO working for the empowerment of women smallscale entrepreneurs. dan juga menguraikan kegiatan-kegiatan pemberdayaan PPK-mikro yang selama ini dilaksanakan ASPPUK. which further compounds these issues. berdasarkan pengalaman pendampingan ASPPUK terhadap kelompok ini.BERITA DARI lsM NEWS FROM NgOs PEMbErdayaan TErPadU PErEMPUan PEdagang kEcil dan Mikro The inTeGraTed eMpoWerMenT of WoMen MiCro. ASPPUK (Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil) merupakan sebuah LSM yang bergerak dalam bidang pemberdayaan perempuan pengusaha kecil. No. Firdaus is Program Coordinator for the National Secretariat of the Association of Facilitators for Women Small-Scale Entrepreneurs (ASPPUK). termasuk advokasi kebijakan. Tulisan ini akan memberi gambaran mengenai masalah yang selama ini dihadapi PPK-mikro di pasar tradisional. termasuk perempuan pedagang kecil (PPK)-mikro. Empowerment activites concentrate on organizing and advocacy. based on ASPPUK’s experiences of supporting these women. This article will provide an illustration of the kind of problems faced by women micro.

Sumber modal yang berkembang di sekitar pasar tradisional sebagian besar berasal dari “Bank Plecit” (bank harian) yang bunganya amat tinggi (bahkan ada yang harus membayar empat kali lipat dari pinjaman pokok). Women micro. karena rata-rata penghasilan PPK-mikro tidak menentu. yakni izin suami atau keluarga. untuk berusaha. di luar persoalan yang sudah disebutkan di atas. They operate close to most markets and charge very high interest rates (some as high as four times the principal). It is also difficult for women micro. masih bergulat dengan permasalahan modal. standar pembukuan usaha PPK-mikro dinilai tidak memenuhi standar atau tidak bankable.and small-scale traders to find sources of capital close to the market. are still struggling with problems surrounding access to capital. and such markets also collect market services fees (retribusi) and other unofficial “fees”. Kesulitan PPK-mikro menjadi semakin berat dengan didirikannya pasar-pasar dengan bangunan modern di mana mereka harus membayar sewa kios yang tinggi. mempunyai keterbatasan dalam kepemilikan aset yang bisa dijadikan jaminan kredit (kolateral) menurut standar yang telah ditetapkan bank. PPK-mikro kerap menjadi sasaran “pemerasan” para preman yang beroperasi secara berkelompok dan independen. who then can more easily demand daily “security money” (outside of the usual official fee) as well as “religious holiday allowances” in the lead-up to Lebaran. ada hal lain yang secara khusus menjadi kendala perempuan pengusaha kecil-mikro. the accounting systems they use do not meet bank standards or are said to be not ‘bankable’. ketiga. Survei ASPPUK pada 2003 terhadap perempuan usaha kecil (PUK) di 15 kabupaten di delapan provinsi menunjukkan bahwa kendala terbesar PUK dalam berusaha adalah tidak adanya izin dari pihak keluarga (khususnya suami). and there have been cases of these men verbally abusing and sexually harassing their women borrowers. secondly.and small-scale traders face further difficulties when markets are built as modern complexes. the income of these women is uncertain. dan ongkosongkos lain di luar ongkos resmi.and small-scale traders in traditional markets. Apart from all the problems stated above.and small-scale traders for a number of reasons. bank-bank formal biasanya tidak bisa melayani kegiatan PPK-mikro: pertama. Firstly. The 2003 ASPPUK survey of women smallscale entrepreneurs in 15 districts in eight provinces found that the biggest obstacle for women working and selling in the markets was obtaining permission from their families (especially from their husbands). Struggling with Capital NEWS FROM NgOs Women micro. because the rental rates for the individual stalls are high. seperti pengusaha mikro-kecil lainnya. they generally do not have sufficient assets to use as a loan guarantee (collateral) in accordance with bank standards. and thirdly. PPK-mikro di pasar tradisional masih bergulat dengan permasalahan modal. PPK-mikro juga menemui kesulitan dalam mencari sumber modal di sekitar pasar.BERITA DARI lsM Bergelut dengan Modal PPK-mikro di pasar tradisional. retribusi. Formal banks will often not assist the activities of women micro. Di samping itu. like micro. These women are generally afraid to challenge such thugs. termasuk PPK-mikro. Women micro. Informal banks (or daily banks) are one main source of capital. seperti pengusaha mikrokecil umumnya.  Newsletter SMERU .and small-scale traders in traditional markets are still struggling with problems surrounding capital availability. para preman bisa dengan lebih mudah memungut uang keamanan (di luar yang sudah dipungut dinas pasar) setiap harinya dan tunjangan hari raya (THR) menjelang Lebaran. Pelaku bank harian ini kebanyakan laki-laki dan ada kasus-kasus di mana mereka melakukan kekerasan verbal dan pelecehan seksual terhadap PPKmikro yang meminjam. Namun. Sebagaimana halnya dengan usaha mikro lainnya. The women traders also tend to become targets for intimidation from thugs who operate in independent groups. Most of these daily banks are run by men. Karena PPK-mikro cenderung tidak berani melawan.and small-scale entrepreneurs in general. another obstacle faced by many women working as small-scale entrepreneurs—including women micro. kedua.and small-scale traders—is the need to obtain permission from their husbands or families. pada umumnya PPK-mikro.

. Integrated NGO efforts to empower women micro. and group management. followed by training on gender awareness and women’s rights as Indonesian citizens. Pemberdayaan PPK-mikro Dengan kondisi seperti itu.and small-scale traders in traditional markets is to increase their collective strength. training in entrepeneurial development skills. PPSW/PPSW Doc.and small-scale traders. capital provision. marketing. Any such effort must create a comprehensive economic development strategy for women that takes all aspects into account and integrates different approaches. kemampuan advokasi.and small-scale traders in traditional markets must include a comprehensive economic development strategy. ASPPUK also provides three types of training: firstly. pelatihan penguatan sikap seperti kepemimpinan perempuan. pelatihan keterampilan perencanaan usaha. which includes female leadership. ketiga. Collective Organization The aim of organizing women micro. also involving their family) is provided. The Empowerment of Women Micro. Information Services Information services are aimed at raising awareness through the distribution of leaflets. Upaya ini harus membangun strategi pengembangan ekonomi perempuan yang komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai aspek dan mengintegrasikan berbagai pendekatan. Pelatihan dikelompokkan dalam tiga bentuk: pertama. dan sikap tegas. and thirdly. Kegiatankegiatan pemberdayaan PPK-mikro yang selama ini dilakukan oleh ASSPUK mencakup pengorganisasian. training in attitude development. and assertiveness. thugs are less likely to intimidate them. No. diikuti dengan pelatihan kesadaran gender dan pemahaman hak-hak perempuan sebagai warga negara. 22: Apr. awareness-raising training aimed at motivating women and helping them to develop their entrepeneurial abilities. and support and consultation on a group and individual level (or through individual visits to members’ homes. pemasaran. brochures. dan buku saku tentang usaha. di antaranya tentang motivasi usaha yang menekankan pada aspek pengembangan keterampilan perempuan dalam berusaha. kedua.Jun/2007  Dok. there needs to be an integrated NGO effort to empower women micro. when these women traders are collectivised. upaya LSM dalam memberdayakan perempuan pedagang kecil di pasar harus dilakukan secara terpadu. The benefit of such collective strength has been proven. secondly. dan advokasi. groups of 10-25 people are created. pelayanan modal. Dalam pengorganisasian dilakukan kegiatan berupa fasilitasi pembentukan kelompok PPK-mikro yang diikuti antara 10-25 orang. and advocacy. These materials address matters such as work and health. dan manajemen kelompok. and cite current issues accompanied by religious norms that state the importance of work for one’s life. the capacity to advocate. pelatihan peningkatan pemahaman. dan pelatihan. financial management.and small-scale traders. produksi. kesehatan. manajemen keuangan.and Small-Scale Traders In light of the above conditions. Pengorganisasian Pengorganisasian PPK-mikro bertujuan untuk menghimpun kekuatan mereka. such as organizing. production. Pelayanan Informasi Pelayanan informasi dimaksudkan untuk memberikan wawasan melalui selebaran. and pocket books. Hal ini terbukti ketika PPK-mikro berkelompok. pelayanan informasi. brosur. When forming such collectives. para preman bersikap lebih hati-hati dalam menghadapi mereka. ASPPUK has implemented activities aimed at empowering women micro. konsultansi melalui pendampingan secara kelompok dan individual (atau kunjungan individu ke rumah anggota dengan melibatkan keluarga).BERITA DARI lsM NEWS FROM NgOs Upaya terpadu LSM dalam memberdayakan perempuan pedagang kecil di pasar tradisional harus membangun strategi pengembangan ekonomi perempuan yang komprehensif. providing information services. maupun masalah aktual yang disertai norma agama yang menekankan pentingnya usaha bagi kelangsungan hidup.

and small-scale traders to pay high rental rates for the individual stalls. bukan malahan dihambat dengan dibuatnya peraturan yang merugikan pedagang.and small-scale traders with an increase in rental fees. market services fees. it is difficult for women micro. perempuan pedagang kecil mikro mengalami kesulitan membayar sewa kios yang tinggi. 4. pasar tradisional ditempatkan pada lokasi yang berdekatan dengan tempat tinggal masyarakat. When markets are built as modern complexes. yaitu jenis kredit untuk usaha dan kredit untuk kebutuhan perempuan (tanpa bunga atau berbunga ringan) seperti untuk pendidikan (anak dan perempuan). Melalui pendampingan. particularly concerning government policies associated with trade and economic development at the grassroots level. Policy Advocacy NGOs and women micro. 5.BERITA DARI lsM Pelayanan Modal Pelayanan modal dilakukan melalui kredit mikro. and is to be used for enterprise development. Advokasi Kebijakan LSM dan PPK-mikro di pasar tradisional selama ini berupaya mendorong terciptanya berbagai kebijakan konkret pemerintah daerah dan Pemerintah Pusat yang antara lain mengatur agar: 1. 4. and that if markets are relocated they are placed in strategic locations. Adapun penyaluran kredit mikro bagi PPK-mikro mempunyai dua skema. as this impacts on the economic viability of existing traders. the rehabilitation of traditional markets does not further burden women micro. The ASPPUK micro-credit system has two schemes: credit for enterprise. Advokasi ASPPUK melakukan advokasi atas persoalan yang dihadapi PPKmikro. retribusi. SMERU  Newsletter . traditional markets are built close to existing communities. These advocacy activities deal with issues of culture. maupun kebijakan pemerintah.and small-scale traders using the funds allocated in the Regional Government Budget. gender. lokasi minimarket yang sekarang menjamur di kecamatankecamatan tidak berdekatan dengan pasar tradisional karena hal ini akan berdampak terhadap usaha ekonomi yang sudah ada. the development of traditional markets established by community initiatives should be supported. Advocacy ASPPUK also provides advocacy for the problems faced by women micro. rehabilitasi pasar-pasar tradisional yang kini marak tidak justru membebani PPK-mikro dengan kenaikan ongkos sewa lokasi usaha dan penempatan pasar yang tidak strategis. not hampered by over-regulation which is detrimental to traders. perumahan. 2. and other unofficial “fees”. dan ongkos-ongkos lain di luar ongkos resmi. seperti pemungutan retribusi yang tinggi. biaya kesehatan. health. Bantuan modal akan dipergunakan untuk tambahan modal bergulir (revolving loan fund) untuk pengembangan usaha. gender. such as education (for children and women).and small-scale traders are currently pressing for local and central governments to create concrete regulatory policies to ensure that: 1. and government policy. minimarkets—which have mushroomed in many subdistricts—are not built in close proximity to traditional markets. 3. termasuk perempuan. n NEWS FROM NgOs Capital Provision Capital is provided in the form of micro-credit. baik yang terkait dengan budaya. pasar tradisional yang berdiri atas prakarsa masyarakat difasilitasi untuk bisa berkembang. khususnya kebijakan pemerintah yang menyangkut usaha dan pengembangan ekonomi rakyat kecil. regional governments in cooperation with NGOs provide integrated capacity building for women micro. This support strengthens women’s capacity to lobby and negotiate with parties involved in policy making. especially for women. and the ownership of productive assets held in the names of the women themselves. and credit for women’s general needs (with no interest or very low interest rates). housing. pemda bekerja sama dengan LSM dalam memberikan penguatan kapasitas yang terpadu kepada PPK-mikro dengan dana yang sudah ditetapkan dalam APBD. n Dengan didirikannya pasar-pasar dengan bangunan modern. 2. PPK-mikro dikuatkan agar mampu melakukan lobi kepada dan negosiasi dengan pihak-pihak yang terkait dengan kebijakan. 3. 5.and small-scale traders. dan kepemilikan aset produktif atas nama perempuan. such as the collection of high market services fees. It is provided to supplement revolving loan funds.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->