Anda di halaman 1dari 12

Tugas 13 Selasa 19 Mei 2009

Sistem Agribisnis
PERMASALAHAN DALAM KOMODITAS BAWANG MERAH YANG BERKAITAN DENGAN SISTEM AGRIBISNIS

Dosen pembimbing Wali Dosen

: :

Prof. Maman H. Karmana, Ir., MSC Eliana Wulandari, SP., MM

Disusun oleh : Kelompok 5 1. Febriyana D.K. 2. Anisah Astirani 3. Widawati 4. Arif Wibawa 5. Iwan Setiawan (150310080016) (150310080017) (150310080018) (150310080030) (150310080039)

Kelas Agribisnis A

Fakultas Pertanian

Universitas Padjadjaran 2009


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami selaku penulis dapat menyelesaikan laporan yang berjudul Permasalahan Dalam Komoditas Bawang Merah Yang Berkaitan Dengan Sistem Agribisnis. Laporan ini disusun berdasarkan penelusuran kepustakaan dari berbagai sumber dalam rangka memenuhi proses belajar mengajar Mata Kuliah Sistem Agribisnis. Tak lupa kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada dosen Mata Kuliah Sistem Agribisnis, dan atas bimbingannya. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan laporan ini. Untuk itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik demi penyempurnaannya. Akhir kata, kami ucapakn terima kasih.

Jatinangor, Mei 2009

Penulis

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Bawang merah merupakan salah satu komoditas utama di Indonesia. Namun dalam proses produksi maupun dalam proses pemasarannya masih banyak ditemukan beberapa kasus yang menghambat jalan proses-proses tersebut. Kasus-kasus yang terjadi dapat berasal dari dalam maupun dari luar proses produksi serta proses pemasaran itu sendiri. Dengan adanya kendala-kendala yang terjadi maka para petani dan konsumen bawang merah akan mengalami kerugian. Agar para petani dan konsumen tidak terus-menerus mengalami kerugian maka dalam kasus-kasus yang terjadi dalam komoditas bawang merah ini selalu dicari solusi untuk dapat mengatasi kasus-kasus tersebut. Dalam makalah ini kami akan menjelaskan kasus-kasus yang sering terjadi dalam komoditas bawang merah, kami juga memberikan beberapa solusi dalam setiap kasus tersebut sesuai dengan ilmu dan pengetahuan kami. Kasus-kasus yang akan kita bahas merupakan kasus-kasus yang sering terjadi dalam komoditas bawang merah. 1.2. Tujuan dan Manfaat Tujuan kelompok kami menyusun makalah tentang Kasus-Kasus dalam Komoditas Bawang Merah adalah untuk dapat mengetahui apa saja kasus-kasus yang telah dihadapi oleh petani bawang merah maupun oleh penyalur bawang merah serta solusi-solusinya untuk memajukan dan mengembangkan komoditas pertanian di Indonesia khusunya komoditas bawang merah.

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Kelangkaan Bibit Memasuki musim tanam, petani bawang merah di Kabupaten Brebes kesulitan dalam mendapatkan bibit bawang merah. Selain itu, harganya juga mahal. Oleh karena itu, saat ini sebagian petani memilih membeli bawang merah yang masih basah, dan mengeringkannya sendiri untuk dijadikan bibit. Berikut merupakan salah satu contoh kasus yang terjadi di Kabupaten Brebes tentang masalah sulitnya mendapatkan bibit bawang merah : Azis (45), petani bawang merah di Desa Banjaratma, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Minggu (22/6) mengatakan, saat ini bibit bawang merah sangat sulit diperoleh di pasaran. Harganya pun mahal, mencapai Rp 2 juta hingga Rp 2,4 juta per kwintal. Menurut dia, sedikitnya ketersediaan bibit di pasaran karena hampir semua hasil panen bawang merah pada musim panen lalu, dijual ke pasaran. Saat itu, harga bawang merah sangat tinggi, mencapai sekitar Rp 12.000 hingga Rp 15.000 per kilogram. Kondisi itu sangat membebani petani. Terlebih musim tanam akan segera berlangsung. Aziz mengaku berencana menanami lahannya seluas 4.000 meter persegi, bulan depan. Hingga saat ini, ia kesulitan mendapatkan bibit bawang merah. Oleh karena itu, ia terpaksa membeli tiga bawang merah basah kualitas super, seharga Rp 1,2 juta per kwintal. Bawang itu ia keringkan sendiri selama sekitar 40 hari. Dari satu kwintal bawang merah basah, dihasilkan 75 kilogram bawang merah kering siap tanam. Untuk itu, ia harus menyedikan tempat yang luas untuk pengeringan dan pengasapan. Hal serupa juga dilakukan Gito (40), petani di Desa Wangandalem, Kecamatan Brebes. Ia juga terpaksa membeli bawang merah basah untuk diolah menjadi bibit. Menurut dia, selain terkendala bibit, saat ini petani juga mulai terkendala ketersediaan air. Terbatasnya ketersediaan bibit saat ini juga sebagai dampak munculnya aturan mengenai impor bawang merah. Selama ini, sebagian petani masih mendapatkan bibit bawang merah dari bawang impor. Solusi dalam masalah sulitnya mendapatkan bibit bawang merah yaitu : Untuk membantu mengatasi kesulitan bibit, pemerintah harus menghidupkan kembali balai benih. Selama ini, izin balai benih sudah ada, namun karena kurangnya kepedulian pemerintah, balai benih tidak berfungsi.

Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Brebes, Masrukhi Bachro mengatakan, petani harus memapu menciptakan kemandirian dalam pengadaan bibit. Sebenarnya kesulitan bibit yang terjadi saat ini juga menjadi peluang bagi petani. Hasil panen yang diperoleh dapat diolah khusus menjadi bibit, dan dipasarkan ke petani di daerah lain. Hal itu juga akan mengurangi pasokan di pasaran, sehingga harga bawang merah untuk konsumsi ikut naik. 2.2. Tingginya Biaya Produksi dan BEP (Break Event Point) Komoditas Bawang Merah Biaya produksi dan BEP pada komoditas bawang merah cukup tinggi seperti kasus yang terjadi di daerah Kabupaten Berebes berikut ini : Biaya produksi dan BEP (Break Event Point) agribisnis bawang merah di Brebes sangat tinggi, karena: biaya benih umbi sekitar 10-15 Juta/ha, ketergantungan pada bahan kimiawi pertanian (agrochemical) dan penggunaannya yang boros, kepemilikan lahan rendah (hanya 0,25 ha/KK), sewa lahan pertanian cukup tinggi (7 9 juta/ha/Tahun), dan biaya air irigasi. Hal ini menyebabkan BEP bawang merah disini Rp.3.500/kg, tertinggi dibandingkan daerah sekitarnya maupun daerah lain (kuningan Rp.1.757, dan Cirebon Rp.1.874). Biaya produksi bawang merah sangat tinggi karena penggunaan pestisida yang terlalu tinggi, ketergantungan pada pupuk kimiawi dan biaya pengairan. Banyak perilaku petani dalam menggunakan pestisida yang salah kaprah, meskipun tidak ada hama mereka tetap menyemprotkannya ketanaman, sehingga penggunaan pestisida tinggi. Disamping itu biaya tenaga kerja juga tinggi, karena permintaan tenaga kerja dalam waktu bersamaan pada areal yang luas sehingga upah jadi meningkat (laki-laki Rp. 70.000-40.000/hari dan perempuan Rp. 18.000/hari). Solusi dalam masalah Tingginya Biaya Produksi dan BEP (Break Event Point) Komoditas Bawang Merah yaitu : Dalam masalah ini kami menyarankan agar pemerintah mengambil alih permasalahan ini dengan membuat perkebunan bawang merah yang dikelola oleh pemerintah agar tidak timbul permasalahan kepemilikan lahan yang dialami oleh petani bawang merah, selain itu agar dalam pengadaan bibit bawang merah dapat terjamin mutu dan kualitasnya.

Di sampaikan juga bahwa sekarang sudah banyak petani yang menggunakan pupuk organik dan bahkan permintaan sudah banyak, karena harga yang lebih murah dibandingkan dengan agrochemical, melalui pengaruh yang lama pada lahan dan pertanaman, disamping harga yang murah. 2.3. Rendahnya Produktivitas dan Usahatani Bawang Merah Tingkat produktivitas budidaya dan usahatani bawang merah oleh petani Brebes masih rendah, penerapan teknologi budidaya maupun penggunaan input pertanian sesuai anjuran masih belum optimal. Upaya untuk merubah sikap dan perilaku petani dalam penerapan budidaya yang baik dan memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan masih belum optimal. Skala usaha yang kecil (rata-rata 0,25 Ha/KK) menyebabkan keuntungan petani menjadi sangat kecil sehingga sulit meningkatkan kesejahteraan mereka. Modal dalam budidaya sangat tinggi atau bersifat sangat modal, namun petani selalu berupaya untuk dapat panen karena modal yang dikeluarkan sudah sangat besar, sehingga apapun dilakukan untuk mempertahankan panen. Hal ini juga menyebabkan ketergantungan sangat besar kepada pemodal. Solusi dalam masalah Rendahnya Produktivitas dan Usahatani Bawang Merah yaitu : Menurut kelompok kami, sebaiknya petani bawang merah diberikan pelatihan budidaya bawang merah yang baik dan memperhatikan lingkungan. Selain itu petani yang kekurangan modal sebaiknya mengajukan proposal kepada Bank untuk mengajukan peminjaman modal, agar proses budidaya bawang merah lancar dan berjalan dengan baik dengan adanya modal yang mencukupi. Selain solusi yang telah kami jelaskan di atas ada beberapa solusi lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu :
Dalam mengatasi berbagai permasalahan dan memacu agribisnis bawang merah kedepan,

telah diarahkan dan disosilisasikan berbagai kegiatan,yaitu:1) Perkembangan Kawasan Pembinaan Intensif Hortikultura (KPI-Horti) dengan mengikutkan berbagai daerah sekitar (Brebes, Cirebon, Tegal = KPI-BWM-BTC), 2) pengenalan dan memperluas penggunaan benih dari biji (TSS) sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada benih umbi sekaligus menekan biaya produksi, 3) pengembangan pertanian organik dan ramah lingkungan dan air). sehingga mengurangi ketergantungan padaagrochemical , sekaligus pemanfaatanya sumberdaya lokal dan perbaikan kondisi sumberdaya alam (terutama lahan

Dalam

pengembangan

bawang

merah

harus

dilakukan

secara

fokus

dengan

memberdayakan masyarakat tani dan kelembagaanya, mengarahkan semua sumber pendanaan dan kegiatan untuk fasilitas pengembangan bawang merah, seperti: intervensi pasar, pengembangan kawasan, pemberdayaan LM3, PUAP, KKPE, KUR, bantuan benih dan berbagai kegiatan lainya. Peningkatan produksi bawang merah harus dilakukan melalui peningkatan produktifitas dan mutu produk, karena produktifitas sekarang masih rendah yaitu 11.000 Ton/ha, sementara daerah sekitarnya seperti di Cirebon 18.000 Ton /ha, bahkan dengan penggunaan TSS bisa mencapai 25 30 Ton/ha. Oleh karena itu sangat penting melakukan pembinaan budidaya, penerapan SL-GAP, SL-PHT, pelatihan dan pembinaan intensif kepada petani/kelompok Tani. 2.4. Suplai Bawang Merah di Pasaran Melimpah Akibat melimpahnya pasokan bawang mengakibatkan anjloknya harga bawang merah lokal. Bawang merah dapat melimpah di pasaran karena banyaknya jumlah bawang merah yang diimpor ke Indonesia. Sehingga harga bawang merah lokal kalah bersaing dengan bawang merah impor. hal ini membuat para petani bawang merah mengalami kerugian karena pendapatan yang diperoleh tidak mampu menutup biaya produksi yang telah dikeluarkan. Seperti yang dialami oleh petani bawang merah berikut ini, sebelum adanya bawang merah impor harga bawang local harganya mencapai Rp 3.500 hingga Rp 4.000 per kilogram. Namun sejak masuknya bawang impor ke Indonesia, harga bawang local hanya berkisar antara Rp 1.400 hingga Rp 2.000 perkilogram. Penurunan harga yang terjadi mencapai dua kali lipat dari harga normal. Sehingga para petani rata-rata akan mengalami kerugian hingga Rp 30 juta perhektar. Karena biaya produksi yang dikeluarkan oleh para petani untuk penanaman dan perawatan yaitu Rp 60 juta perhektar. Sedangkan bawang merah yang laku di pasaran yaitu Rp 30 juta. Melihat kerugian para petani yang cukup besar maka apabila keadaan tersebut terus menerus terjadi dapat di perkirakan para petani tersebut akan berhenti menanam bawang merah dan akan berpindah menanam yang lain yang dapat lebih menguntungjan. Sehingga akan mengakibatkan tidak ada lagi bawang merah local serta harga bawang merah akan naik karena Indonesia akan terus mengimpor bawang merah.

Permasalahan ini sebenarnya dapat segera diatasi apabila seluruh pihak tanggap dan tidak mementingkan kepentingan pribadi. Sebenarnya pemerintah sudah menetapkan peraturan tentang impor namun pengawasan impor bawang merah konsumsi melalui penerapan PP 18/2008 belum efektif, karena kenyataan masih masuknya bawang merah yang belum didevitalisasi (tanpa protolan) ke pasar lokal (termasuk sentra produksi) secara ilegal. Masuknya bawang impor ke sentra produksi pada saat musim panen yang sangat mempengaruhi atau menekan harga di tingkat petani, sehingga marjin yang diterima petani sangat kecil. Beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tesebut :
Petani meminta pemerintah untuk melarang impor bawang ke Kabupaten Brebes. Mereka meminta agar petani bawang merah di Brebes bisa mendapatkan alokasi

pupuk urea dari PT Kujang sebab selama ini mereka lebih cocok menggunakan jenis pupuk itu.
Menurut kami Pemerintah harus bisa menempuh kebijakan tarif seperti peningkatan

tarif pajak, tarif uji kualitas, dan lain-lain. Dari segi non tarif, Pemerintah dapat memberlakukan aturan masuk seperti kualitas dan spesifikasi barang, sertifikasi bebas hama dan penyakit, sertifikasi pro lingkungan, dan berbagai aturan lainnya.
Selain itu yang bisa diterapkan adalah penerbitan Peraturan Daerah. Hal tersebut bisa

dilakukan dengan alasan untuk melindungi dan menjamin keberlangsungan produksi lokal. Dengan luas lahan produksi yang mencapai 20 ribu hektar dan dengan asumsi kerugian rata-rata sebesar Rp. 30 juta per hektar akibat impor - maka Pemerintah Daerah dapat menyelamatkan uang dan potensi ekonomi rakyat sebesar Rp. 600 miliar. Suatu angka yang sangat besar dan fantastis bagi satu wilayah administrasi Kabupaten. Pengaturan bawang merah impor melalui penerapan Permentan No. 18/2008 secara konsisten oleh BARANTAN dan didukung oleh Pemda untuk mengawasi dan menindak masuk bawang mewrah illegal ke sentra produksi khususnya Brebes terutama pada saat panen raya. Sosilisasi dan penegakan hukum terhadap penerapan aturan ini harus lebih intensif, sehingga memberikan efek jera bagi importir dan manfaaat positif bagi petani.
Menurut kami Pemerintah Daerah dan DPRD harus segera merintis usaha yang ekstra

keras untuk melahirkan Perda (Peraturan Daerah) yang dapat memberikan perlindungan (proteksi) terhadap bawang merah lokal. Hal tersebut dapat berupa regulasi tata niaga bawang merah impor yang menyangkut persyaratan kualitas, induk, jaminan hama dan

penyakit, dan hal-hal lain. Di sisi lain juga harus ditegaskan adanya larangan masuk bagi bawang merah daerah lain (impor maupun lintas wilayah) ke wilayah Brebes pada saat musim panen.
Menurut kami sebaiknya Pemerintah harus segera memberikan pendampingan dalam

aktivitas on farm (budidaya). Kegiatan budidaya diarahkan kepada peningkatan hasil produksi melalui penerapan teknologi, sistem budidaya yang efektif dan efisien, serta usaha pembatasan biaya produksi yang selama ini cukup tinggi.
Menurut kami seharusnya Pemerintah Daerah dalam waktu dekat harus berani

meminta kepada para importir bawang merah untuk segera menghentikan aktivitasnya pada musim panen kali ini. Hal ini sebagai langkah terdekat apabila Perda tidak dapat segera diterbitkan akibat kendala pembahasan dan aturan yang harus dilalui. Dengan mempertimbangan kemungkinan gejolak sosial atau yang lebih parah lagi adalah konflik sosial yang dapat terjadi di masyarakat, Pemda dapat menekan pihak importir untuk menghentikan langkah distribusi bawang merah impor dari Jakarta dan beberapa pelabuhan lain ke wilayah Brebes. Pemerintah dapat membina petani lokal dalam kelompok-kelompok tani yang dapat meningkatkan kemampuan dan kapasitas mereka, khususnya dalam hal permodalan.

2.5.

Serangan Hama dan Jamur Ulat Doreng Ulat doreng merupakan salah satu hama yang menyerang tumbuhan bawang merah. Bawang merah akan mengalami kekeringan akibat dimakan ulat doreng ini. Nama Doreng adalah istilah yang biasa di sebut oleh para petani karena kulit ulat tersebut yang berwarna hijau loreng-loreng. Hama ini sebagian besar menyerang bawang merah sejak umur tanaman manginjak 20 hari. Sementara bawang merah baru bisa dipanen hasilnya apabila sudah berumur antara 70 sampai 75 hari. Sehingga apabila hama ini sudah menyerang lahan petani maka bawang merah tidak bisa di panen. Seperti yang dialami oleh Bapak Diyo. Lahan garapannya yang seluas 70 m2 habis dimakan ulat doreng. Sekarang lahan tersebut dibiarkan terbengkalai karena sudah pasti tidak bisa dipanen. Hama ini sangat merugikan para petani bawang merah. Karena hama ini mampu menyerang samapai mencapai ratusan hektar.

Solusi dalam masalah serangan Ulat Doreng yaitu : Menurut kami dalam mengatasi masalah serangan Ulat Doreng yaitu Pemerintah Daerah sebaiknya mengadakan penyuluhan terhadap para petani dengan mendatangkan ahli hama dan penyakit tanaman untuk mengetahui masalah yang terjadi dan mengetahui solusi dari serangan Ulat Doreng tersebut dan mensosialisasikannya pada para petani bawang merah. Antraknosa Sp. Antranoksa Sp. merupakan jamur yang menyerang bawang merah baik musim hujan maupun musim kemarau. Solusi dalam masalah serangan Antraknosa Sp. yaitu : Kami meyarankan kepada para petani yang mengalami serangan Antraknosa Sp. untuk menggunakan produk NASA yang dipakai adalah GLIO,POP SUPERNASA,POC NASA,HORMONIK,PESTONA dan AERO 810.GLIO diberikan dengan dicampur dengan pupuk dasar,disebarkan merata ke lahan.Per-1000 m2, petani cukup memberikan 1 boks (100 gr) GLIO.POP SUPERNASA disemprotkan ke tanah sebelum ditanami,dosis yang diberikan 4 sdm per-tangki.Untuk penyemprotan menggunakan 2 tutup POC NASA,1 tutup HORMONIK,2 tutup PESTONA dan 1 tutup AERO 810,disemprotkan 10 hari sekali.Dosis itu diberikan sampai umur tanaman 30 hari.Setelah itu penyemprotan POC NASA ditingkatkan dosisnya,yaitu 5 tutup POC NASA, sementara HORMONIK,PESTONA dan AERO 810 tetap. Dengan menggunakan produk NASA bawang merah akan relatif aman dari serangan jamur, sehingga panen tetap terjaga dan malah cenderung meningkat.

BAB III PENUTUPAN


3.1. Kesimpulan Dalam komoditas bawang merah masih banyak terdapat permasalahan-permasalahan yang dapat merugikan berbagai pihak yang terlibat dalam budidaya maupun pemasaran bawang merah. Permasalahan yang sering terjadi dalam komoditas bawang merah yaitu kelangkaan bibit, bawang merah lokal kalah bersaing dengan bawang merah impor serta serangan hama dan jamur. Sehingga, dalam setiap permasalahan tersebut, kami mencoba untuk memberikan solusi agar dapat diatasi atau sekurangnya permasalahan tersebut dapat diminimalisir. 3.2. Saran Saran dari kelompok kami yaitu agar dalam berlangsungnya pembudidayaan serta pemasaran produk komoditas bawang merah harus melibatkan lebih banyak pihak lagi, dari pihak pemerintah maupun dari pihak swasta. Serta diperlukannya peran aktif dari seluruh pihak dari para petani bawang merah hingga pemerintah untuk dapat memperbaiki serta membenahi permasalahan yang terjadi dalam komoditas bawang merah.

Daftar Pustaka