Anda di halaman 1dari 13

AIR SEBAGAI PELARUT UNIVERSAL

Disusun oleh : AGUNG MUHAROM 230110100073 KELAS A

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

KATA PENGANTAR
Bismilahirohmanirohim Penulis memanjatkan Puji dan Syukur kehadirat Alloh SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Makalah Limnologi tentang Air Sebagai Pelarut Universal. Penulis menyeadari sepenuhnya bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kata sempurna baik dari segi penyajian tulisan maupun bahasa yang digunakan, tetapi ini merupakan usaha yang maksimal dari penulis. Akhirnya penulis berharap semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah wawasan dari meningkatkan kualitas pendidikan yang relevan dengan perkembangan di masa sekarang, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca.

Penulis

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.........................................................................................i DAFTAR ISI.......................................................................................................ii BAB I (Latar Belakang)...............................................................................1 BAB II (Landasan Teori).............................................................................2 2.1.Pembahasan.........................................................................................2 2.2.Hubungan dipol air dengan kemampuannya sebagai pelarut universal....................................................................................................8 BAB III (Kesimpulan)..................................................................................12 DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................13

BAB I LATAR BELAKANG


Air memiliki manfaat penting bagi kesehatan seperti meningkatkan kemampuan kognitif, pencegahan batu dan infeksi kandung kemih hingga mencegah obesitas. Cegah gangguan kesehatan dengan minur air yang cukup. Air adalah komponen terbesar di dalam tubuh manusia. Kandungannya bervariasi sesuai usia, misalnya pada bayi terdapat 80 persen air, pada orang dewasa sebesar 60 persen dan pada usia lanjut atau di atas 65 tahun sebesar 50 persen. Air juga merupakan zat gizi penting bagi kesehatan tubuh karena berperan sebagai pelarut, katalisator, pelumas, pengatur suhu tubuh serta penyedia mineral dan elektrolit Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar lebih mengetahui manfaat air sebagai pelarut universal, salah satu senyawa paling esensial, mudah ditemukan, tidak beracun, tidak terbakar, dan ramah lingkungan. Bahkan di bumi ini, hampir seluruh proses pembentukan ikatan untuk penciptaan material biologi terjadi dalam medium air

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Pembahasan Air (H2O) dikenal sebagai pelarut universal dan dipertimbangkan sebagai kandidat utama medium reaksi dalam wacana kimia hijau. Tapi, perlu diingat bahwa reaksi kimia dalam air dianggaphijau (green) jika dan hanya jika jalannya reaksi, proses daur ulang, dan pembuangan pelarut tidak memerlukan kerja tambahan yang rumit, tidak mengkonsumsi energi berlebihan atau tidak menimbulkan pencemaran. Reaksi kimia organik dimasa lampau dianggap hanya cocok dilakukan dalam pelarut organik karena masalah kepolaran yang mempengaruhi proses pencampuran reaktan (miscibility). Padahal, diluar kenyataan tersebut, air (maupun campuran air dengan pelarut lain) seringkali dapat berperan dalammeningkatkan kecepatan reaksi dan selektifitas. Hal demikian bisa terjadi karena dampak dari sifat hidrofobik senyawa organik yang dipaksa oleh lingkungan air (hidrofilik) untuk berada dalam keadaan transisi menuju senyawa produk. Pada kesempatan ini akan dijabarkan secara ringkas reaksi pembentukan ikatan CC maupun C-N dan reaksi transfer gugus fungsional. Pembentukan ikatan C-C atau C-N misalnya adisi nukleofil dan katalisis menggunakan logam transisi. Sedangkan transfer (pengubahan) gugus fungsional misalnya reaksi reduksi dan etherifikasi.

Pembentukan ikatan C-C dan C-N dalam air Adisi nukleofilik

Sintesis metil trans-4-methoksisinnamat via reaksi Wittig-Horner Pada contoh di atas (klik gambar untuk memperbesar), ester phosphonat sebagai sumber karbanion bereaksi dengan senyawa aromatik aldehid dalam pelarut air. Reaksi satu tahap ini dikatalisis oleh potassium karbonat (katalis alkali murah meriah dan ramah lingkungan) menghasilkan metil trans-4methoksisinnamat, sebuah senyawa turunan untuk tabir surya (sunscreens). Produk yang diperoleh bisa dimurnikan menggunakan metanol atau campuran air/etanol.

Multi-langkah kondensasi reaksi dalam air menggunakan etanol sebagai ko- pelarut menghasilkan anti-oksidan diludine Reaksi di atas merupakan sintesis senyawa anti-oksidan diludine yang berlangsung melalui mekanisme kondensasi multi-langkah di dalam air. Etil asetoasetat, ammonia, dan formaldehid direaksikan dalam bejana yang dilengkapi sistem pendingin (reflux) menghasilkan diludine yang dapat dimurnikan secara rekristalisasi dalam etanol.

Katalisis logam transisi

Sintesis 4-fenilfenol, senyawa penting obat tanpa steroid anti-inflamasi (NSAIDs) Ternyata banyak reaksi kopling menggunakan katalis logam transisi yang bisa dilakukan dalam medium air. Salah satu contohya adalah reaksi organik dikatalisis logam palladium(0) (Palladium(0) disini berarti bilangan oksidasinya nol). Sebuah jenis reaksi yang dikenal dengan sebutan reaksi kopling Zusuki menggabungkan aril atau vinil halida dengan asam borat atau ester borat dalam keadaan basa dan dikatalisis oleh Pd(0). 4-Fenifenol, sebuah komponen penting obat anti-inflamasi yang tak mengandung steroid (NSAID) disintesis via reaksi kros-kopling Zusuki. Reaksi tersebut hanya menggunakan air sebagai pelarut dan dikatalisis oleh palladium yang diemban karbon. Produk dan air disaring dari katalis dan direkristalisasi dalam pelarut metanol/air untuk pemurniannya.

Pengubahan gugus fungsional Reduksi Salah satu contoh reaksi reduksi yang berguna untuk mengubah gugus fungsional digambarkan di bawah ini.

Sintesis 2-etoksi-4-(hidroksimetil) fenol sebagai senyawa antara (intermediate) bahan tambahan sampo dan pewangi Reduksi etil vanilin (4-hidroksi-3-etoksibenzaldehid) menggunakan NaBH4dalam 1 molar larutan NaOH menghasilkan senyawa vanillil alkohol. Etil vanillil alkohol ini dapat diubah menjadi metil diantilis (3-etoksi-4-hidroksibenzil metil ether) yang merupakan bahan baku tambahan (aditif) sampo maupun pewangi. Etherifikasi Etherifikasi adalah contoh reaksi yang bisa dilakukan dalam pelarut air. Gambar di bawah ini menyatakan sintesis benzil butil ether menurut cara Williamson.

Sintesis ether menurut Williamson dalam larutan basa

Sintesis senyawa ether benzil butil ether menurut Williamson bisa dilakukan dengan hasil cukup tinggi dalam larutan basa NaOH dan dikatalisis oleh garam tetrabutilammonium. Garam ammonium tersebut berfungsi sebagai katalis antarmuka fasa organik dan air. Reaksi-reaksi di atas hanyalah sedikit contoh dari banyak kemungkinan sintesis organik yang bisa dilakukan dalam pelarut air. Penting untuk diingat bahwa salah satu hakikat kimia hijau adalah meminimalkan sampah sisa reaksi sehingga tidak mencemari lingkungan. Idealnya, dalam tahap sintesis dan pemurnian produk, air sebagai pelarut dapat didaur ulang atau dibuang ke lingkungan dalam keadaan bebas zat sisa reaksi.

2.1 Hubungan dipol air dengan kemampuannya sebagai pelarut universal

Gambar disamping menunjukkan proses pelarutan garam dapur, NaCl(s) dalam air, H2O(l).

Molekul air terdiri atas 2 atom H yang mengelilingi 1 atom O. Di sekitar atom pusat O terdapat 4 pasang elektron (PE) 2 pasang elektron ikatan (PEI) O - H dan 2 pasang elektron bebas (PEB) dalam kedudukan 3 dimensi (ruang). Menurut teori tolakan pasangan elektron (VSEPR: Valence Shell Electron Pair Repulsion), gaya

tolak PEB - PEB > PEB - PEI > PEI - PEI. Oleh karena itu, sudut H-O-H tidak 180 oC dan bentuk molekul ini tidak linier, melainkan berbentuk huruf V atau bengkok (bent). Kedudukan ini tidak simetri dan momen dipolnya > 0. Berarti terjadi pemisahan muatan, di sekitar atom O terdapat kutub negatif dan di sekitar atom H timbul kutub positif. Dikatakan molekul air memiliki dipol permanen. Air begitu berlimpah dan peranannya sangat penting bagi makhluk hidup. Tubuh kita, 75% terdiri atas molekul-molekul air. Salah satu peranan air yang sedang kita bahas ini adalah kemampuannya sebagai pelarut. Pelarut sendiri dapat dibedakan menjadi 2, pelarut polar dan non polar. Pelarut non polar melarutkan zat-zat yang bersifat non polar, sedang pelarut polar mampu melarutkan senyawa-senyawa polar dan senyawa-senyawa ion. Maka sebagai pelarut polar, air dapat melarutkan lebih banyak zat dibanding pelarut non polar. Mengapa pelarut dan zat terlarut harus sejenis, non polar dengan non polar misalnya? Mengapa zat yang non polar tidak dapat larut dalam pelarut polar atau sebaliknya? Sebagai contoh I2(s) yang non polar larut baik dalam CCl4(l) non polar dan sukar larut dalam air. Contoh lain, minyak yang non polar tidak larut dalam air. Jika kedua jenis molekul yang dicampur sama-sama non polar, maka mereka sama-sama netral, tidak memiliki dipol. Sehingga keduanya dapat bercampur secara homogen. Demikian pula jika molekul pelarut dan terlarut sama-sama polar, keduanya saling memiliki dipol permanen, maka kutub positif akan tarik menarik dengan kutub negatif dan sebaliknya, sehingga keduanya dapat bercampur homogen. Mengapa senyawa ion dapat larut dalam air? Karena molekul air polar, berarti memiliki muatan, yaitu kutub positif dan kutub negatif. Senyawa ion, terdiri atas kation (ion positif) dan anion (ion negatif). Karena air dan senyawa ion keduanya memiliki muatan, maka mereka dapat saling tarik menarik hingga keduanya dapat bercampur homogen. Kutub positif molekul air menarik ion

negatif senyawa ion dan kutub negatif molekul air menarik ion positif senyawa ion. Gambar di atas menunjukkan bahwa molekul air yang menarik ion Clternyata mengelilingi ion itu hingga muatan negatifnya tidak mampu lagi mempengaruhi ion Na+ untuk mendekat dan tarik menarik. Molekul air yang mengelilingi ion Cl- menghalangi ion ini agar tidak bertemu lagi dengan ion Na+. Demikian pula dengan ion Na+. Molekul-molekul air yang menarik ion Na+ juga mengelilingi ion Na+ sehingga ion Na+ tidak lagi tarik menarik dengan ion Cl-. Oleh karena itu ion-ion Na+ dan Cl- yang masing-masing telah diselimuti oleh molekul air dapat tersebar merata (homogen) dan dapat bergerak bebas. Apabila jumlah NaCl yang dilarutkan tidak terlalu banyak, sebatas larutan encer, pada daya hantar listrik, lampu akan menyala terang. Namun, jika jumlah NaCl terlalu banyak walaupun semuanya masih dapat larut, nyala lampu redup atau bahkan tidak menyala. Hal ini disebabkan oleh jumlah molekul air yang mengelilingi ion-ion tidak cukup, sehingga selimut air tidak dapat menutupi seluruh permukaan ion dan terjadilah gaya tarik antara ion-ion Na+ dan Cl-. Gaya tarik ini mengakibatkan ion-ion itu tidak dapat bergerak bebas, seh ingga tidak mampu menghantarkan listrik. Dikatakan bahwa solvasi (solvation) tidak sempurna sehingga ion-ion mengalami polarisasi.

BAB III KESIMPULAN

Dapat disimpulkan bahwa air sebagai pelarut polar, mampu menarik zat terlarut hingga mencapai homogenitas yang optimal dengan adanya pembentukan selimut air. Oleh karena itu, senyawa NaCl yang telah larut dalam air, ditulis sebagai Na+(aq) dan Cl-(aq) atau disingkat NaCl(aq). Tanda (aq) menyatakan bahwa terjadi solvasi.

DAFTAR PUSTAKA

www.chemistry.about.com/water chemistry

www.freedownloadbooks.net/upaya pemantauan lingkungan www.wikipedia.com/air