DIREKTORAT PENGAIRAN DAN IRIGASI KEMENTERIAN NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

LAPORAN AKHIR
PRAKARSA STRATEGIS PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR UNTUK MENGATASI BANJIR DAN KEKERINGAN DI PULAU JAWA

BUKU 1
STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DESEMBER 2006

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan Kegiatan 1.3. Ruang Lingkup 1.4. Keluaran BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 2.1 Umum 2.1.1 2.1.2 2.2 Banten 2.3 DKI Jakarta 2.4 Jawa Barat 2.5 Jawa Tengah 2.6 Daerah Istimewa Yogyakarta 2.7 Jawa Timur 2.8 Identifikasi Masalah Banjir 2.9 Identifikasi Masalah Kekeringan Fisik Pola Pengelolaan 2-1 2-1 2-3 2-9 2-11 2-13 2-16 2-19 2-22 2-25 2-27 1-1 1-2 1-4 1-4

BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 3.1 Rumusan Kebijakan Prakarsa Strategis 3.2 Kebutuhan pengelolaan sumber daya air yang terpadu. 3.3 Program Prioritas 3.3.1 3.3.2 3.3.3 Program Jangka Pendek Program Jangka Menengah Program Jangka Panjang 3-1 3-3 3-4 3-4 3-5 3-7

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 4.1 Rumusan Strategi Implementasi 4-1

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

4.2 Strategi Kebijakan Non-struktural 4.2.1 4.2.2 Strategi Menurut Undang-undang Strategi Konservasi Sumberdaya Air

4-3 4-3 4-5 4-10 4-10 4-32 4-52 4-53 4-53 4-55 4-57 4-60 4-63 4-66 4-70 4-72 4-82

4.3 Strategi Kebijakan Struktural 4.3.1 4.3.2 4.3.3 4.4.1 4.4.2 4.4.3 4.4.4 4.4.5 Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang Sudah Ada Pengaturan Induk Wilayah Sungai Baru Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wewenang Tanggung Jawab Pemerintah Kebijakan Pembiayaan Peran-peran Lain Pemerintah Strategi Pendanaan dan Tujuan Studi Kelayakan Proyek Pengunaan Model Investasi

4.4 Strategi Pembiayaan

4.5 Strategi Kelembagaan dan Koordinasi 4.6 Pengelolaan Sumberdaya Air dalam Era Otonomi Daerah 4.6.1 4.6.2 Permasalahan dan Tantangan dalam Pengelolaan Sumberdaya Air Organisasi dalam Pengelolaan Sumber Daya Air

BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5.1 Indikator Pemantauan dan Evaluasi 5.1.1 5.1.2 5.1.3 Pemantauan Evaluasi Indikator dalam Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air 5-1 5-1 5-1 5-3 5-6 5-8 5-9 5-10 5-13

5.2 Ruang Lingkup Pengawasan dan Pemantauan 5.3 Ruang Lingkup Pengawasan dalam Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air 5.4 Ruang Lingkup Pengawasan Dalam Aspek Pembiayaan 5.5 Mekanisme Pemantauan 5.6 Mekanisme Evaluasi BAB 6 PENUTUP 6.1 Arahan Sosialisasi Prakarsa Strategis 6.1.1 Kekeringan dan banjir

6-1 6-1

5 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CimanukCisanggarung Tabel 4. 7 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pemali-Comal 4-21 4-17 4-14 4-14 4-12 4-10 2-13 2-14 2-17 2-21 2-23 2-5 .1.1. 6 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CitanduyCiwulan Tabel 4. 2 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CiliwungCisadane Tabel 4. 5 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di DI Yogyakarta Tabel 2. 6 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Timur Tabel 4.3 6.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 6. 4 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Tengah Tabel 2. 3 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Barat Tabel 2. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk DKI Jakarta Tahun 2003 Tabel 2. 1 Daftar Pembagian Wilayah Sungai di Pulau Jawa-Madura Tabel 2. 1 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciujung Ciliman Tabel 4.2 6. 8 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS SerayuBogowonto 4-23 Tabel 4.2 Saran ANNEX Strategi Implementasi Pengalaman Negara Lain PEMBELAJARAN ANTARA PRAKTEK PRIVATISASI DAN PERKUATAN PERUSAHAAN UMUM LAYANAN AIR 6-3 6-4 6-5 DAFTAR TABEL Tabel 2. 3 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CisadeaCikuningan Tabel 4. 4 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citarum Tabel 4. 2 Luas Wilayah. 9 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Jratun-Seluna 4-25 4-18 Tabel 4.

1 Siklus Pengelolaan Terpadu SDA (IWRM) Gambar 5.17 Balai Besar Wilayah Sungai & Balai Wilayah Sungai di Pulau Jawa 4-87 4-34 Tabel 4.1 Gambar 2. Curah hujan tahunan Pulau Jawa – Madura. 13 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS PekalenSampean Tabel 4. 1 Susunan Wilayah Sungai yang sudah ada Gambar 4. 4 Gambar 2. 15 Penyusunan Kembali Alternatif Intervensi Struktural menurut Wilayah Sungai yang Baru Tabel 4. Gambar 4. Proyeksi Neraca Air Kabupaten/Kota di Pulau Jawa dan Madura. 1 Gambar 2. 11 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Bengawan Solo Tabel 4. 2 Gambar 2. Perubahan persentase kabupaten defisit air. 14 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Madura Tabel 4. 2 Rencana Wilayah Sungai baru Gambar 5.16 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai 4-73 4-31 4-31 4-28 4-30 4-27 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. 2 2-31 4-9 4-33 5-3 2-1 2-3 2-28 1-4 Pemantauan dan Evaluasi dalam suatu siklus kegiatan 5-15 .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 4. 10 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Progo-OpakOyo Tabel 4. 12 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Kali Brantas Tabel 4. 5 Peta Orientasi Lokasi Kegiatan di Pulau Jawa dan Madura Peta batas wilayah administrasi dan batas WS Pulau Jawa dan Madura.

800 meter kubik per kapita per tahun. rumah tangga. Dengan penduduk sekitar 220 juta jiwa. industri. Sulawesi. air rumah tangga. total air yang tersedia di Indonesia mencapai 1. Dari 14 waduk utama di Jawa. di pihak lain pulau ini dihuni oleh sekitar 65 persen penduduk Indonesia. Lebih dari 83 persen aliran permukaan terkonsentrasi di Sumatera. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa potensi kelangkaan air yang sangat besar akan terjadi di Pulau Jawa karena daya dukung sumber daya air yang segera mencapai titik kritis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1-1 1. dan pertanian. dan Nusa Tenggara. Namun kenyataannya ketersediaan air ini bervariasi antara wilayah dan waktu.3 miliar kubik atau hanya sekitar 66 persen. semuanya mengalami kondisi di bawah normal (pola kering) saat musim kemarau sehingga dilakukan penetapan prioritas pemanfaatan air waduk. Dari data neraca air tahun 2003 dapat dilihat bahwa kebutuhan air pada musim kemarau di Pulau Jawa dan Bali yang sebesar 38.957 miliar meter kubik per tahun. dan Papua. dengan tujuan penggunaannya terutama untuk air minum. Kebutuhan air nasional saat ini terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali. Defisit ini diperkirakan akan semakin tinggi pada tahun 2020 akibat peningkatan dimana jumlah penduduk dan aktifitas perekonomian secara signifikan.4 miliar meter kubik. perkotaan. Kalimantan. potensi ini setara dengan 8. 17 persen lainnya di Jawa-Bali. Nilai ini masih di atas nilai ratarata dunia yang hanya 8.1 LATAR BELAKANG Secara nasional.5 persen dari total air tawar nasional. dan perkotaan. Upaya pemenuhan kebutuhan air di Pulau Jawa telah ditempuh melalui pembangunan sejumlah waduk besar dan sedang. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Prioritas pertama diberikan untuk air minum. hanya terpenuhi sekitar 25.000 meter kubik per kapita per tahun. Pulau Jawa yang luasnya sekitar 7 persen dari total wilayah daratan Indonesia hanya memiliki potensi sekitar 4.

Mengidentifikasi dan menginventarisasi data kuantitatif banjir dan kekeringan di Pulau Jawa secara kuantitatif sesuai waktu dan spasial wilayah. Rendahnya daya dukung waduk-waduk tersebut mengakibatkan terjadinya kekeringan pada areal sawah di daerah produksi beras.295 hektar. dan prioritas ketiga untuk industri dan kebutuhan lainnya.696 hektar . 1-2 1. 3. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4. Di samping itu. turunnya volume air di waduk mengakibatkan beberapa PLTA terpaksa beroperasi di bawah kapasitas normal. Melakukan telaah/review atas studi-studi tentang sumber daya air yang telah dilakukan untuk Pulau Jawa serta perkembangan implementasinya. 2. termasuk mengalami puso seluas 82. termasuk kebutuhan dan ketersediaan air bersih. Kekeringan ini telah berdampak pada menurunnya pendapatan. analisis dilakukan terhadap kondisi pengelolaan sumber daya air pada saat ini serta faktor eksternal yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. kesulitan lapangan kerja. dilakukanlah kajian Prakarsa Strategis . Merumuskan kebijakan strategis pembangunan prasarana dalam rangka mengatasi banjir dan kekeringan di Pulau Jawa secara holistik. Dalam kaitan itu. serta kesulitan memperoleh air bersih bagi wilayah perkotaan. Sebagai upaya mengatasi masalah banjir dan kekeringan di Pulau Jawa pada masa depan. Pada Tahun 2003 kekeringan areal sawah mencapai 430. Menemukenali alternatif-alternatif intervensi pembangunan infrastruktur dalam rangka memecahkan masalah banjir dan kekeringan. kekurangan pangan.2 TUJUAN KEGIATAN Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa bertujuan untuk: 1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN prioritas kedua untuk irigasi tanaman pangan. yang diarahkan untuk merumuskan konsep pengelolaan SDA yang terintegrasi dan layak diimplementasikan.

perumusan konsep pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan. pengoperasian. inventarisasi alternatif intervensi infrastruktur. perumusan mekanisme koordinasi. perumusan strategi implementasi. 10. provinsi. 7.3 RUANG LINGKUP Arah dari prakarsa strategis ini adalah untuk melakukan analisis tinjauan dan formulasi kebijakan untuk wilayah sumber daya air di Pulau Jawa. Menyusun mekanisme pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan. maupun kab/kota dalam pembangunan. maupun pemeliharaan prasarana. Membuat sistem basis data banjir dan kekeringan termasuk konsep pengelolaan data yang berkelanjutan. 9. dan sumber pembiayaan untuk baik dari pemerintah pemerintah kabupaten/kota. dan perumusan pedoman sosialisasi kebijakan. perumusan kebijakan dan strategi implementasi makro. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN 5. 1. penyusunan perangkat lunak sistem basis data. Merumuskan pembagian kewenangan dan tanggung jawab serta mekanisme koordinasi antara instansi dan sektor terkait di tingkat pusat. masyarakat pengoperasian dan pemeliharaan prasarana. perumusan prioritas program pengelolaan sumber daya air. perumusan kebijakan pembiayaan. antara lain: identifikasi dan inventarisasi permasalahan. maupunpartisipasi berbagai swasta alternatif propinsi. 8. termasuk kebutuhan biaya serta tahapan pembangunannya. Menyusun prioritas program-program pembangunan prasarana penanganan banjir dan kekeringan di Pulau Jawa. Merumuskan kebijakan dan strategi implementasi makro yang terintegrasi dengan berbagai sektor. Terdapat beberapa tahapan kegiatan yang dilaksanakan pada proses penyusunan prakarsa strategis ini. analisis terhadap kajian sumber daya air. Mengidentifikasi pemerintah. perumusan prakarsa strategis. 1-3 6. pembangunan.

Tegal ## # K. Semarang ## Tegal Batang # Pekalongan Pemalang Purbalingga Y # # # # # Rembang # # Blora Tuban # # Lamongan Gresik K. Salatiga Sragen # K. Pasuruan # # # Ngawi # Kebumen # Purworejo # # K. 1 Peta Orientasi Lokasi Kegiatan di Pulau Jawa dan Madura 1. Probolinggo # # Situbondo Bondowoso Probolinggo # Gunungkidul Pacitan # # Trenggalek # # # K.4 KELUARAN Keluaran yang dihasilkan dari kegiatan penyusunan Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa adalah satu set yang terdiri atas tiga buku. Buku menyajikan ini kondisi. Buku ini merupakan laporan utama hasil kajian prakarsa strategis. Buku ini memuat hasil. Magelang Boyolali # # K. Kediri Pasuruan K. Yogyakarta # Kulonprogo Bantul # Y # # Madiun ## # Karanganyar Nganjuk # # Magetan K. Sukabumi # K. BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA. dan strategi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. Bandung Sukabumi Cianjur Bandung Y # Sumedang Majalengka Kuningan Brebes K. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Malang K. serta analisis kondisi defisit air di Pulau Jawa. serta mekanisme pemantauan dan evaluasi. 2. Blitar # Lumajang Malang Tulungagung Blitar # # Jember # Banyuwangi Gambar 1. Buku 2 merupakan rangkuman hasil kajian dan analisis terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. Mojokerto # Ban gkalan Sampang Pamekasan Sumenep # # Garut # Temanggung Semarang Grobogan # Bojonegoro # # # Tasikmalaya Ciamis # #Wonosobo # #Ban jarnegara Banyumas Cilacap K. yaitu: 1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN Kepulauan Seribu 1-4 Bekasi K. Cilegon # # Tangerang Serang Y # U % # K. kebijakan. Dep ok # # Pandeglang # # # Karawang Indramayu # Subang Purwakarta Lebak Bogor # # # Cirebo n Jepara Pati # # K. identifikasi masalah banjir dan kekeringan dan Pulau Jawa. BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA. Pekalongan Kudus Demak KendalK. Madiun # Sukoharjo # Jombang Mojokerto # # # Won ogiri # Ponorogo Kediri # K. Surakarta Magelang Sleman Klaten # # Y # # Sidoarjo K. Bekasi K.

sistematika pengolahan data buku ini juga memuat hasil pengumpulan data.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN 3. ilustrasi pemanfaatan basis data. Dalam buku 3 di rangkum hasil pengumpulan data selama proses penyusunan prakarsa strategis. pedoman penggunaan sistem basis data. BUKU 3 BASIS DATA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA. 1-5 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Selain menyajikan: metode penyusunan sistem basis data dan sistematika pengolahan data.

Salatiga Sragen # K. dengan luas sekitar 130 ribu km2 atau kurang lebih 7% dari luas daratan seluruh wilayah Indonesia. Pulau Jawa-Madura memiliki 15 WS (Wilayah Sungai). Malang # Ponorogo # # # # Bali Bondowoso Lumajang # Gunungkidul 8° 00' K. Depok Ja va Bekasi Karawang # # Sea TANGERANG K. Saat ini Pulau Jawa-Madura dihuni oleh sekitar 65 persen dari total penduduk Indonesia. Kondisi ini memberi gambaran masalah daya dukung sumber daya air di Pulau Jawa-Madura sangat berpotensi untuk menjadi masalah yang paling kritis. Surakarta # # SWS 0212 Madiun # Magetan K. 1 Peta batas wilayah administrasi dan batas WS Pulau Jawa dan Madura. 1 : 250 000 Scale (Coastline. Semarang # SWS 0215 Sampang Pamekasan # # Sumenep # Sapudi Is. Bekasi SWS 0204 Purwakarta # Indramayu # SWS 0202 # Bogor Subang Cirebon # Jepara # West Java Province # Pati K.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 2. Tegal # # # K. 14 WS yang tersebar di Pulau Jawa dan 1 WS dalam kawasan Pulau Madura. Bangkalan Pekalongan Pemalang Kendal K.1 UMUM Fisik 2-1 Pulau Jawa-Madura adalah salah satu dari lima pulau besar di Indonesia. Karanganyar Sleman Klaten # # # Sukoharjo K. Bandung Pelabuhan Ratu Bay Sukabumi Cianjur Bandung # # # SWS 0208 Tegal # # Batang Y # Demak SWS 0210 # Tuban # # Madura Is. Yogyakarta Y #YOGYAKARTA # # Kulonprogo Bantul # Wonogiri # Nganjuk East Java Province SWS 0213 Kediri # K. Magelang Boyolali # # Ngawi Sidoarjo K. 6° 00' Tangerang Serang # Y # U % # # K. Lake) Compiled by : Dr. 9° 00' Legend: G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E S I A National Capital Provincial Capital Provincial Boundary District/ Municipality Boundary Watershed (SWS) Boundary SWS No.1 2. Sukabumi # BANDUNG Sumedang SWS 0205 Majalengka Kuningan Brebes K. 0201 0202 0203 0204 0205 0206 0207 0208 0209 SWS Name Ciujung-Ciliman Cisadane-Ciliwung Cisadeg-Cikuningan Citarum Cimanuk Ciwulan Citanduy Pemali-Comal Serayu SWS No. Probolinggo # # Situbondo Probolinggo K. River. Karl Peter Kucera GIS Operator : Sabdo Sumartono Date : September 2004 Gambar 2. 7° 00' SWS 0203 Garut Central Java Province SWS 0207 Purbalingga # SWS 0209 # Grobogan # Blora # Lamongan # Gresik # Temanggung # # WonosoboSWS # Semarang # Bojonegoro K. Blitar Blitar Malang Yogyakarta Special Province Pacitan # Trenggalek Tulungagung SWS 0214# Jember Banyuwangi # St rai t In di an Ocean Nusa Barung Is.Brantas Pekalen-Sampean Madura U % Y # NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT Map No : Map Title : A5 CORRELATION BETWEEN AMINISTRATION AND WATERSHED (SWS) BOUNDARIES Source : . Pekalongan Kudus # # SEMARANG # # # Rembang # Y # K. Mojokerto # # # Y # SURABAYA # Tasikmalaya Banyumas Banjarnegara 0211K. 0210 0211 0212 0213 0214 0215 SWS Name Jratun Seluna Progo-Opak-Oyo BengawanSolo K. Cilegon Banten # Province Panaitan Is. Kediri Pasuruan K. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pasuruan # Ma dura Str ai t SWS 0206 Ciamis Cilacap # Magelang Kebumen # # Purworejo K. SWS 0201 Pandeglang Lebak 106° 00' Kepulauan Seribu Jakarta Bay # # 107° 00' JAKARTA 108° 00' 109° 00' 110° 00' 111° 00' 112° 00' 113° 00' 114° 00' Bawean Is.Bakosurtanal.1. Madiun # # Jombang Mojokerto Nusakambangan Is. it ra St a nd Su 105° 00' Krakatau K.

Sebagaimana wilayah Indonesia lainnya.5° LU sampai ke 23. sebelah selatan dengan Samudera Hindia.30C sampai dengan 30’80C. sebelah barat dibatasi oleh Selat Sunda dan sebelah timur dibatasi oleh Selat Bali.70C sampai 34. di sebelah utara Pulau Jawa berbatasan dengan Laut Jawa. Untuk besarnya curah hujan tahunan di sepanjang Pulau Jawa-Madura bisa dilihat pada Gambar 2. berkisar antara 0 – 800 mm untuk masing-masing bulan kering dan bulan basah. Di sisi utara didominasi bentukan tanah alluvial dan marine (daerah pantai) dengan kondisi kelerengan dari sedang hingga landai. sedangkan suhu udara pada malam hari berkisar antara 15. Secara geografis Pulau Jawa-Madura terletak antara 5° 40’ LS sampai 8° 50’ LS dan 105° 10’ BT sampai 114° 40’ BT sehingga sangat dipengaruhi oleh posisi semu matahari yang berpindah antara 23. 2-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kecepatan angin berkisar antara 1.5° LS sepanjang tahun yang mengakibatkan timbulnya aktivitas moonson (muson). Sebaliknya pada bulan Desember sampai dengan Maret arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan Samudra Pasifik. Pulau Jawa-Madura mengalami dua musim dalam setahun yaitu musim kemarau dan penghujan.6 knot sampai 23.2.3 knot. Pada bulan Juni sampai September arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air sehingga mengakibatkan musim kemarau. Sepanjang sisi selatan pulau ini didominasi bentuk pegunungan dan penampakan fisiografis gunung gamping yang memanjang hingga ke Pulau Bali. sehingga mengakibatkan musim penghujan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Secara geografis. Suhu rata-rata pada siang hari berkisar antara 27. Rata-rata curah hujan pada musim penghujan dan musim kemarau (tergantung pada bulan dan letak stasiun pengamat). Keadaan seperti ini berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April-Mei dan Oktober-November.60C.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-3 105° 00' 106° 00' Ciu jung 107° 00' a Cit 108° 00' 109° 00' 110° 00' 111° 00' 112° 00' 113° 00' 114° 00' Bawean Is. Pemerintah Daerah/Gubernur diberi kewenangan untuk mengelola 63 WS melalui tugas LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sa ro ka 7° 00' Province of Central Java Mrica Res L. Sebagai tindak lanjut dari Permen PU Nomor 39/PRT/1989. Cacaban Y # SWS 0210 Lu SWS 0203 Province of West Java SWS 0207 si SWS 0215 SURABAYA Sapudi Is. Mad un Wadaslintang Res Be Segara Anakn Lagoon Sempor Res. Pembagian wilayah sungai di Pulau Jawa-Madura dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) Nomor 39/PRT/1989 yang membagi wilayah Indonesia menjadi 90 WS (note: saat ini telah berkurang satu yaitu WS Timor-Timur mengingat daerah ini tidak lagi masuk dalam Wilayah Indonesia). Kates Res.Bakosurtanal. Sam SWS 0206 SWS 0211 SWS 0212 Po ron g Ma dura Str ai t g pea n ed Sa ne n B ad u ng g un ali Cib Y # SEMARANG L. n Province of East Java W el an g i SWS 0213 Wlingi Res. Jatiluhur Res SWS 0204 SWS 0205 wan Banga Cirata Res Se ra ng Tun ta ng Ju an a Pema li Comal ri Bo d Solo Saguling Res BANDUNG Madura I. Peraturan Menteri PU nomor 48 tahun 1990 tentang kewenangan pengelolaan dari 90 WS tersebut. 2. 1 : 250 000 Scale (Coastline. Malahayu iri Cimand SWS 0208 L.1.1. Strai t Indi an Ocean Nusa Barung I. River. telah diterbitkan beberapa peraturan yang bersifat operasional. Rawapening Kedungombo Res Y # ng pa S am SWS 0209 o ol Bal i 8° 00' P Yogyakarta Special Province SWS 0214 Kr. 2 Curah hujan tahunan Pulau Jawa – Madura. Daftar wilayah sungai di Pulau Jawa-Madura dapat dilihat pada Tabel 2. u Bar 9° 00' Legend: Rainfall: National Capital Provincial Capital Provincial Boundary Watershed (SWS) Boundary River Lake G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E S I A U % Y # 750 mm 1250 mm 1750 mm 2250 mm 2750 mm 3250 mm 3750 mm 4250 mm 4750 mm 5250 mm 5500 mm 6500 mm 7500 mm NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT Map No : Map Title : A23 RAINFALL AND WATERSHED (SWS) AREA Source : . S Cikaso Cib uni aw an Ci sa de g uy Seray u Cit and Cik aing an YOGYAKARTA L uk ul o Wa war /M edo no B og ow on to Ciw ulan ng Sermo Res go ak ro Op Cime da Br an Oyo ta s Y # Gajahmungkur Res.2 Pola Pengelolaan Wilayah Pulau Jawa-Madura dibagi dalam 15 wilayah sungai. Kesamben Res. Darma L. antara lain: 1. Ci sad Ciliman m ru Ciliwu a it ane tr S Krakatau TANGERANG 6° 00' k a nu Cim Cipu JAKARTA ng nd a Y # U % Ja v a Se a a nag Province of Banten SWS 0201 SWS 0202 g ggarun Cisan Su Panaitan Is. Lake) Compiled by : Dr. Dalam peraturan tersebut. Karl Peter Kucera GIS Operator : Sabdo Sumartono Date : September 2004 Gambar 2.

lahan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pembantuan. pengelolaan dan pengaturan sumber daya air yang mantap − diperkirakan semakin menurun yang terlihat dari bertambahnya kesenjangan antara ketersediaan air dan kebutuhan air untuk berbagai keperluan. Sejalan dengan dinamika pembangunan tersebut. Hasil kajian global kondisi krisis air dunia yang disampaikan dalam World Water Forum II di Denhaag bulan Maret tahun 2000 lalu memperingatkan bahwa akan banyak negara yang mengalami krisis air pada tahun 2025. maka hal ini tidak luput dari masalah perubahan tata ruang. yaitu WS Brantas oleh Perum Jasa Tirta I dan WS Citarum oleh Jasa Tirta II (Jatiluhur). Pulau Jawa-Madura sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. 2. perkotaan. pertumbuhan penduduk dan pusat pemerintahan Indonesia mengalami pembangunan yang pesat di berbagai sektor sehingga tuntutan masyarakat akan penggunaan sumber daya air juga terus berkembang. Krisis air ini lebih banyak disebabkan oleh kelemahan dalam hal kelembagaan terkait pengelolaan sumber daya air. Masalah-masalah tersebut akan semakin parah dan masalah-masalah lain akan timbul semakin banyak apabila tidak segera dilakukan perbaikan kebijakan dalam melaksanakan program strategis untuk 2-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Untuk 15 WS yang wilayahnya terletak pada lebih dari satu provinsi. termasuk diantaranya Indonesia. Peningkatan persaingan penggunaan air antar sektor (domestik. pencemaran air yang semakin luas. pemakaian air yang tidak efisien dan fluktuasi debit antar musim yang semakin tinggi. sedangkan dua WS dikelola bersama antara pemerintah dan BUMN. kewenangan pengelolaannya masih tetap dilakukan oleh pemerintah pusat. Perubahan tersebut berpengaruh pula terhadap potensi sumber daya air yang − apabila tidak disertai dengan perencanaan. Peraturan Menteri PU nomor 49 tahun 1990 tentang aspek-aspek pengelolaan sumber air termasuk prosedur perijinan pemakaian air. pola hidup dan pola perekonomian. industri dan irigasi) pun terjadi di berbagai wilayah administrasi maupun wilayah sungai. khususnya Pulau Jawa-Madura. peraturan perundang-undangan yang tidak memadai.

Cipunegara S. Ciliwung K.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengelola air secara lebih efisien dan adil serta mengutamakan azas konservasi. Babakan S.06 Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Cilangkanan S. Bekasi S. Cibuni S. Cibareng S.05 Cimanuk 6 Jawa Barat 02. Cidanau S. Cisadane S. Cidurian S. Ciletuh S. Cibeet K. Ciujung S. Cipanas S. Cibungur S. Cisanggarung S. Cikuningan S. 1 Provinsi Jawa Barat Daftar Pembagian Wilayah Sungai di Pulau Jawa-Madura Kode WS 02. Cilalanang S. Cikondang S.03 CisadeaCikuningan 4 Jawa Barat 02. Cisadeg S.02 Ciliwung-Cisadane 3 Jawa Barat 02. Tabel 2.01 Nama Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai S. Cilangkap S. Cikarang S. Cimanedu S. Cilamaya S. Cihara S. Ciasem S. 1 No. Citarik S. Pengandungan K. Cipunegara S.04 Citarum 5 Jawa Barat Jawa Tengah 02. Kasuncang S. Cimaragon 2-5 2 Jawa Barat DKI Jakarta 02. Cisekat S. Cipucung K. Lemahabang S. Cimanuk S. Cikarang S. Cisilih S. Ciangan K. Citarum S. Cibanten S. Ciliman S. Cisokan S. Ciwaringin S.

Cipungun S. Bebek S. Ijo S.09 Serayu 10 Jawa Tengah 02. Punyu 2-6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Cakrayasan K. Ciwulan S. Serayu S. Garang K. Semarang K. Solo S. Provinsi Kode WS Nama Wilayah Sungai 7 Jawa Barat Jawa Tengah 02. Oyo S. Cihaur S. Wungu S. Lusi S. Semawun K. Juana S. Klampok S. Anyar K. Cibeureum S.10 Jratun Seluna 11 Jawa Tengah DIY 02. Bodri K. Sambong S.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No. Santun K. Geneng S. Tuntang S. Cacaban S. Bogowonto B. Lorong S.13 K. Bengawan S.11 Progo-Opak-Oyo 12 Jawa Tengah Jawa Timur 02. Grindulu S. Code K. Jragung S. Progo K. Brantas Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai S. Randuguntini K. Cikonde S. Sondang K. Cisanggiri S. Lamong S. Serang S. Lukulo S. Semawon S.07 Citanduy 8 Jawa Tengah 02.08 Pemali Comal 9 Jawa Tengah 02. Sengkang S.12 Bengawan Solo 13 Jawa Timur 02. Comal S. Pemali S. Citanduy S. Waluh S. Cimeneng S. Opak K. Cilaki S. Brantas K.

Tangkil K Deluwang K. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Penyediaan air baku untuk berbagai keperluan (pertanian. Bondoyudo K. Putih K. listrik tenaga air. Tugas pokok dan fungsi Balai PSDA adalah melaksanakan sebagian fungsi Dinas di bidang pengelolaan sumberdaya air. Gembong K. Baru K. air minum. Pengelolaan irigasi lintas kabupaten/kota 2. Kegiatan Balai PSDA ini merupakan kelanjutan dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Satuan Tugas (SATGAS) PSDA yang dibentuk dibawah pekerjaan Basin Water Resources Management (BWRM). pariwisata. dll).15 Madura Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai K. Pacung K. Jatiroto K. pelabuhan. Urusan-urusan yang menjadi lingkup tugas dan tanggung jawab Balai PSDA adalah: 1. Sampean K. Pekalen K.) sejak Tahun Anggaran1994/1995. Larus K.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No. Banyuputih K.176/1996 tentang Pedoman Pembentukan UPTD/Balai PSDA. Saropa K. Konto K. Balega K. Sampang K. sebagai salah satu komponen dari Java Irrigation and Water Management Project (JIWMP) yang didanai oleh Bank Dunia (Loan 3762-Ind. Widas K. Benca 2-7 Sumber: Departemen Pekerjan Umum Saat ini pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa-Madura dilakukan oleh beberapa Balai PSDA yang dibentuk melalui Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. Rejoso K. Rajak K. Barigo K. Provinsi Kode WS Nama Wilayah Sungai 14 Jawa Timur 02. industri.14 Pekalen Sampean 15 Jawa Timur 02. Rangko K.

Pengelolaan sungai 4. embung 5. 3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3. Pengelolaan rawa 7. situ. Pada awalnya di Pulau Jawa Balai PSDA yang berupakan ex Satgas PSDA berjumlah 5 buah yakni : Balai Ciujung Ciliman. Balai Cimanuk Cisanggarung. Balai Progo-Opak-Oyo dan Balai Sampean Baru. pengendalian kualitas air. Pelaksanaan operasional konservasi/pelestarian air dan sumber air. Kelima Balai tersebut umumnya telah melakukan sebagian besar tugas-tugas pengelolaan sumberdaya air seperti yang telah diuraikan diatas. Pengendalian pencemaran air 8. Dalam perkembangannya. Balai PSDA mempunyai 3 fungsi utama yakni : 1. waduk. Pengelolaan Hidrologi 3. Pelaksanaan pengairan. Untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut di atas. perlengkapan. Pengelolaan database/GIS (sebagian) 4. jumlah Balai PSDA di Pulau Jawa bertambah 19 buah menjadi 24 buah pada tahun 2001. Pelaksanaan pelayanan teknis administrative ketatausahaan yang meliputi urusan keuangan. 2. Pengendalian banjir dan penanggulangan kekeringan 6. Perlindungan muara dan delta. Pada 19 Balai lainnya di Pulau Jawa kegiatan yang telah dilakukan antara lain : 1. Secara selektif beberapa Balai melakukan kegiatan alokasi air. Pengelolaan irigasi lintas Kabupaten 2. Namun demikian kegiatan yang dilakukan oleh 19 balai tersebut sedikit berbeda. pemeliharaan sungai dan infrastrukturnya. Balai Jratunseluna. Pengelolaan danau. pengelolaan banjir. kepegawaian. Sebaran jumlah Balai PSDA tersebut menurut propinsinya adalah sebagai berikut: operasional pelayanan kepada masyarakat di bidang 2-8 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Perlindungan pantai 9.

Propinsi Jawa Timur. Sex ratio penduduk di Banten pada tahun 2003 adalah 103.422 KK.229 jiwa. 5 Balai PSDA 3. Jumlah rumah tangga dan penduduk menurut jenis kelamin di Banten tahun 2003 adalah sebagai berikut: Rumah tangga : 1.185. Penduduk terbanyak di Provinsi Banten ada di Kabupaten Tangerang. 2 kota.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 1. 2 Balai PSDA 5. diharapkan ke masa yang akan datang mampu melakukan pengelolaan unit yang mandiri.831 jiwa terdapat penduduk bekerja sebanyak 3.651 km2. Dari angkatan kerja yang berjumlah 3.481 desa.666 jiwa.563 jiwa. di provinsi ini kepadatan penduduk mencapai 1. Seperti halnya dengan provinsi lain yang berada di Pulau Jawa. 5 Balai PSDA 4. Propinsi Jawa Barat.324 jiwa) berada di Kota Cilegon. teknik maupun keuangan. masalah yang dihadapi adalah kepadatan penduduk. 1 Balai PSDA 2.48 %.956.018 jiwa per km2 tersebar dalam 4 kabupaten.89 (data BPS Provinsi Banten). Provinsi Banten mempunyai luas 8.46% dari luas total daratan Indonesia. Laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2000-2003 adalah sebesar 3. Propinsi Banten.185. dan Penduduk perempuan : 4.944 jiwa). luas wilayah administrasi Banten hanya sekitar 0.642 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . (3.987. 2-9 2. 9 Balai PSDA Balai PSDA sebagai unit yang diserahi tugas pelayanan di bidang sumber daya air dan konservasi sumber daya air.858.392.2 BANTEN Provinsi Banten merupakan provinsi paling muda di Pulau Jawa yang baru terbentuk pada bulan Oktober 2000. Propinsi Jawa Tengah. Sedangkan jumlah penduduk terkecil (326. Menurut data BPS. Dahulu Banten merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Penduduk laki-laki : 4. Mandiri yang dimaksud disini diartikan merupakan unit yang mampu melakukan pengelolaan sumber daya air secara profesional baik secara administratif. Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 124 kecamatan dan 1.563. jumlah penduduk di Provinsi Banten pada tahun 2003 adalah 8.

148. dan WS Cisadea-Cikuningan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA jiwa orang dan yang mencari pekerjaan sebanyak 673. Pendeglang. Pengelolaan sumber daya air di Banten dilakukan oleh Balai PSDA CiujungCiliman. diketahui kondisi iklim Provinsi Banten sebagai berikut: suhu udara rata-rata maksimum suhu udara rata-rata minimum Curah hujan rata-rata Kelembaban udara rata-rata Kecepatan angin rata-rata : 22. Pengelolaan sumber daya air di provinsi Banten juga dilakukan melalui Proyek Pengelolaan Sumber Air Dan Pengendalian Banjir (PSAPB) Ciujung-Ciliman LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hal tersebut mengakibatkan hampir sepanjang tahun wilayah Banten mengalami udara lembab dan memiliki curah hujan yang cenderung lebih tinggi daripada provinsiprovinsi lain di Pulau Jawa.5 m/dt 2-10 Provinsi Banten berada di ujung barat Pulau Jawa. WS Ciliwung-Cisadane. yang dibentuk melalui Keputusan Mendagri No. berlokasi di Serang.3 mm : 82. dengan wilayah kerja meliputi Kabupaten Serang. Dari ketiga WS tersebut yang paling besar wilayahnya di Provinsi Banten adalah WS CiujungCiliman yang sekaligus menjadi sumber daya air utama untuk Provinsi Banten. Balai PSDA CiujungCiliman adalah satu-satunya balai di Banten. 176 tahun 1996 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA sudah ditindaklanjuti dengan terbitnya peraturan-peraturan daerah Provinsi Banten. yaitu: WS CiujungCiliman.367 orang.90C : 31.2 0C : 147. Tangerang dan Kota Cilegon. Lebak.2% : 2. menghadap Laut Jawa dan Samudera Hindia sehingga sangat dipengaruhi oleh angin laut. Berdasarkan data di stasiun OBS (Observation Station) Badan Metereologi dan Geofisika Provinsi Banten. Di Wilayah Provinsi Banten terdapat 3 Wilayah Sungai.189 jiwa sedangkan yang bukan angkatan kerja berjumlah 3.

288. Kedua bagian wilayah ini cocok digunakan sebagai daerah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .4%.3 DKI JAKARTA Kota Jakarta.70C pada siang hari dan suhu udara minimum berkisar 260C pada malam hari. Wilayah DKI memiliki sekitar 27 buah sungai dan ± 110 buah pulau yang tersebar di Kepulauan Seribu. Pada tahun 2002 dibentuk Proyek Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai (PBPP) Ciujung-Ciliman sebagai pengganti Proyek PSAPB. Sementara di sebelah selatan dan timur DKI Jakarta berbatasan dengan wilayah Provinsi Jawa Barat. pariwisata maupun pengendalian banjir dan lain sebagainya. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta yang berupa daratan seluas 661. Kota Jakarta secara umum beriklim panas dengan suhu udara maksimum berkisar 28. Daerah di bagian selatan dan timur Jakarta terdapat rawa/situ dengan total luas mencapai 96.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Nomor : 19/KPTS/A/1994 tanggal 19 April 1994 Tentang Pembentukan Badan Pelaksana Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman. air minum. kota paling padat di Indonesia.9 mm. air industri.52 km2 dan yang berupa lautan seluas 6. sebelah barat dengan Provinsi Banten.5 km2. terletak pada 6°12’ LS dan 106°48’ BT.977. tingkat kelembaban udara mencapai 76. Berdasarkan SK Gubernur Nomor 1227 Tahun 1989. Program pengembangan dalam proyek ini dimaksudkan untuk memanfaatkan secara maksimal sumber daya air guna meningkatkan taraf hidup masyarakat.5 m/det. 2-11 2. sedangkan di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa. dan kecepatan angin rata-rata mencapai 3.5 Ha. Sementara itu curah hujan mencapai 2. merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata ± 7 m diatas permukaan laut. DKI Jakarta memiliki pantai di sebelah utara yang membentang dari barat sampai ke timur sepanjang ± 35 km yang menjadi tempat bermuaranya 9 buah sungai dan 2 buah kanal. baik penyediaan air untuk kebutuhan pertanian.

7 ribu orang.2.38 juta orang dan yang mencari pekerjaan sebanyak 589. Selanjutnya dari angkatan kerja tersebut terdapat penduduk bekerja sebanyak 3. sehingga menjadikan provinsi ini sebagai provinsi dengan wilayah terpadat penduduknya di Indonesia. Dengan luas wilayah hanya 661.7 ribu orang pencari kerja yang masih belum 2-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .3 ribu jiwa per km2. Dengan iklimnya yang lebih sejuk bagian wilayah ini juga ideal dikembangkan sebagai wilayah pemukiman penduduk. Kepadatan penduduk Provinsi DKI Jakarta Tahun 2003 dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan status pekerjaannya. masing-masing sebesar 36.74% dan 19. Keseluruhan sumber daya air dalam wilayah administrasi DKI Jakarta termasuk dalam wilayah kerja Balai PSDA Ciliwung-Cisadane (di bawah Provinsi Jawa Barat). Kegiatan penduduk usia 15 tahun keatas dapat dibedakan menjadi angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.85%. Pada tahun 2003 jumlah penduduk DKI Jakarta.45 juta jiwa dan WNA sebanyak 4. Kebanyakan dari mereka yang bekerja berkecimpung di sektor perdagangan.97 juta orang dan 2. kepadatan penduduknya mencapai 11.58 %) bekerja sebagai buruh. Dari jumlah tersebut penduduk laki-laki lebih banyak dari penduduk perempuan.5 km2. dimana 319. yang masing-masing berjumlah 3. seperti yang tampak dari sex ratio yang lebih besar dari 100.7 ribu orang. 22.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA resapan air. Akan tetapi dalam memenuhi kebutuhan sumber daya air.59 juta orang.05%). jasa dan industri.46 juta jiwa. Selebihnya berstatus sebagai pengusaha (29. terutama untuk air baku.37 %) dan sebagai pekerja keluarga (3. Jumlah pencari kerja berdasarkan data Sakernas BPS DKI Jakarta tahun 2003 tercatat sebanyak 589. sebagian besar (67. Sedangkan yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja 342.2 ribu orang.71 ribu jiwa. Sedangkan status kewarganegaraanya terdiri dari WNI sebanyak 7.58%. tercatat sebanyak 7. DKI Jakarta lebih mengandalkan pada Kanal Tarum Barat yang menyediakan air baku dari sungai Citarum melalui Bendung Curug.

30 11.555 2.456.71 661. sedangkan pencari kerja yang berhasil ditempatkan sebanyak 14. serta dataran tinggi bergunung-gunung ada di kawasan tengah.4 mm.355 18.4 JAWA BARAT Provinsi Jawa Barat mempunyai luas wilayah 34.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ditempatkan. Posisi geografis Jawa Barat tersebut sangat strategis sehingga memberikan keuntungan bagi Jawa Barat terutama dari segi komunikasi dan perhubungan.746 12.941 1.701.90 126.094.571 1.272 2. Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 50 50’ .616 11. sedangkan kawasan selatan berbukit-bukit dengan sedikit pantai. 2-13 Tabel 2. 2 Luas Wilayah. sekitar 1. Kawasan utara Jawa Barat merupakan daerah dataran rendah. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk DKI Jakarta 2003 No 1 2 3 4 5 6 Kotamadya Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kepulauan Seribu TOTAL Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Luas (km2) 145.52 Penduduk 1.931 Kepadatan Penduduk/(km2) 11. Jawa Barat mempunyai iklim tropis dengan curah hujan rata-rata 156.426 8.73 187. dengan batas-batas wilayahnya sebagai berikut: Sebelah utara Sebelah timur Sebelah selatan Sebelah barat : : : : Laut Jawa dan DKI Jakarta. Provinsi Banten.567. Provinsi Jawa Tengah. Samudera Hindia.597 km2.83% dari luas Indonesia.15 142. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .6 ribu orang.176.676 11.70 50’ Lintang Selatan dan 1040 48’-1080 48’ Bujur Timur.923 7.586 897.267 1.157 18.73 47.

Kota dan Kabupaten Bekasi. WS Ciujung-Ciliman. Majalengka. Kota dan Kabupaten Bandung. Citanduy-Ciwulan Tasikmalaya Kebijakan pemerintah provinsi Jawa Barat dalam pengelolaan sumber daya air. Bogor. Subang. Tabel 2. dituangkan dalam Perda No. 3 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Barat No. sehingga Provinsi Jawa Barat ditetapkan sebagai lumbung pangan nasional. 1. Cianjur. 2.3 mb. dan sebagian Bandung. Selain itu. serta tekanan udara rata-rata sebesar 922. Balai PSDA Cimanuk-Cisanggarung Ciliwung-Cisadane Cisadea-Cikuningan Citarum Domisili Cirebon Bogor Sukabumi Bandung Wilayah Kerja Cirebon. Jawa Barat memiliki lahan subur yang berasal dari endapan vulkanis serta banyak aliran sungai.3 menggambarkan pembagian wilayah kerja yang dicakup oleh kelima Balai PSDA. Kuningan. Purwakarta. Indramayu. 4.80C sampai 29. Subang. WS Ciwulan. Ciamis. Karawang. DKI Jakarta. Hal ini menyebabkan sebagian besar dari luas tanahnya cocok digunakan untuk pertanian. yaitu: 1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dengan jumlah hari hujan rata-rata tiap bulannya sekitar 15 hari. Bogor. 4. Perda tersebut berisi kebijakan untuk meningkatkan fungsi dan kualitas LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Cianjur. 3. Garut. Indramayu. WS Citanduy.20C dengan tingkat kelembaban udara ratarata sebesar 76%. Cianjur. 2-14 5. WS Cisadane-Ciliwung. Garut. 5. Bekasi dan Kota Depok. Sukabumi. 3. Suhu udara berkisar antara 18. Bandung dan Kota Sukabumi. 2 Tahun 2003 tentang RTRW Propinsi Jawa Barat 2010. WS Cimanuk-Cisanggarung. 7. Majalengka. Tasikmalaya. WS Citarum. 6. Kuningan dan kota Cirebon. Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 5 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Barat Tabel 2. WS Cisadea-Cikuningan. Sumber daya air di Provinsi Jawa Barat dibagi dalam 7 (tujuh) satuan wilayah sungai. 2.

270. 1. 561 kecamatan. Secara administratif Provinsi Jawa Barat terdiri dari 16 Kabupaten. dan pengaturan pemanfaatan sumber daya. Wilayah kabupaten dengan penduduk terbanyak di Jawa Barat ada pada Kabupaten Bandung. (4.23 orang per km2.794 kelurahan dan 3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kawasan lindung di Jawa Barat.5 juta orang) dan Kabupaten Bogor (3.324.96%. Pengembangan Lindung. Kebijakan dijabarkan dalam beberapa program. 3. Pengukuhan kawasan lindung agar tercapai target luasan kawasan lindung hutan dan non hutan untuk seluruh Jawa Barat sebesar 45%.53 orang per km2. partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan 2-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kota Bandung merupakan kota terpadat . yaitu: 1.48 orang per km2. Pada tahun 2003 sektor pertanian tetap merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja yaitu 34. Rehabilitasi lahan konservasi termasuk rehabilitasi lahan-lahan kritis. Dengan jumlah penduduk tersebut kepadatan penduduk Jawa Barat mencapai 1. sedangkan yang terendah Kabupaten Cianjur hanya sebesar 685. 9 Kota. Sedangkan yang jumlah penduduknya terkecil adalah Kota Sukabumi (26 ribu orang). Pengawasan.7 juta orang).98 juta orang. yaitu sebesar 13. serta. Jumlah penduduk Jawa Barat pada tahun 2003 mencapai 37. pengamanan.87% kemudian diikuti oleh perdagangan 22.978 desa. Proporsi pekerja menurut lapangan pekerjaan merupakan salah satu ukuran untuk melihat potensi sektor perekonomian dalam menyerap tenaga kerja. termasuk kawasan lindung di Kawasan Bodebek dan Bopunjur.57% dan industri 16. 4. 2. Hal lain dapat pula mencerminkan struktur perekonomian suatu wilayah.

c. b.837 mm dan hari hujan terbanyak tercatat di Stasiun Metereologi Cilacap sebesar 203 hari.04% dari luas Pulau Jawa atau sekitar 1. Sampai saat ini pos pengamat hidrologi yang telah ada meliputi: a. JratunSeluna. Pos pengamat hidrologi tersebut dibangun oleh Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah maupun departemen lain. Pos pengamat curah hujan sebanyak 964 buah. Pos klimatologi sebanyak 72 buah. Untuk mendapatkan data yang lebih baik dari waktu ke waktu. Secara geografis Provinsi Jawa Tengah terletak antara 50 40’ dan 80 30’ LS dan antara 1080 30’ dan 1110 30’ BT (termasuk kepulauan Karimunjawa). suhu udara rata-rata di Jawa Tengah tahun 2002 berkisar antara 170C sampai dengan 290C.5 JAWA TENGAH Posisi provinsi Jawa Tengah sebagai diapit oleh dua Provinsi besar lainnya.70% dari luas Indonesia.25 juta hektar. yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Menurut stasiun klimatologi kelas I Semarang. Tempat-tempat yang letaknya berdekatan dengan pantai mempunyai suhu udara rata-rata relatif tinggi. Jarak terjauh dari batas barat ke timur adalah 263 km dan dari batas utara ke selatan 226 km (tidak termasuk kepulauan Karimunjawa). Jaringan pos pengamatan hidrologi di wilayah Provinsi Jawa Tengah telah dikembangkan sejak tahun 1976 yang tersebar di seluruh daerah aliran sungai. Bengawan Solo dan Serayu. Kelembaban udara rata-rata bervariasi antara 77% sampai dengan 88%. Pos pengamat tinggi muka air (AWLR) sebanyak 176 buah. Curah hujan tertinggi tercatat di SMPK (Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus) Bojongsari Purwokerto sebesar 2. Secara administratif Provinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota. Luas wilayah Provinsi Jawa Tengah adalah sebesar 3. sekitar 25.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-16 2. maka pada tahun anggaran 1999/2000 telah dimulai pelaksanaan rasionalisasi Pos Hidrologi di WS Pemali-Comal. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

Kabupaten Brebes. 5. sebagian Kabupaten Sragen. Balai PSDA Jragung-Tuntang Domisili Semarang Wilayah Kerja Kota dan Kabupaten Semarang.4 berikut ini. sebagian Kabupaten Grobogan. sebagian Kabupaten Kendal. Kota Magelang. Kabupaten Grobogan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sumber daya air di Provinsi Jawa Tengah dibagi dalam 7 (tujuh) satuan wilayah sungai. 1. sebagian Kabupaten Boyolali. sebagian Kabupaten Sragen. WS Pemali-Comal. 2. Kabupaten Jepara. 2-17 Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 6 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Tengah dengan pembagian wilayah kerja sebagaimana tercantum pada Tabel 2. sebagian Kabupaten Rembang. Kota Surakarta. Kabupaten Kudus. Kabupaten Purworejo. Pemali-Comal Tegal 3. Tabel 2. 7. WS Citanduy. sebagian Kabupaten Pati dan sebagian Kabupaten Blora. Kabupaten Klaten. Progo-BogowontoLukulo Kutoarjo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Magelang. sebagian Kabupaten Demak. 4 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Tengah No. sebagian Kabupaten Temanggung. yaitu: 1. WS Bengawan Solo. WS Jratun-Seluna. meliputi Kabupaten Wonogiri. Serang-Lusi Juwana Kudus 4. Kota dan Kabupaten Tegal. sebagian Kabupaten Demak dan Kota Salatiga. sebagian Kabupaten Batang dan Pemalang. Kabupaten Karanganyar. 4. 6. dan sebagian Kabupaten Blora. Kabupaten Sukoharjo. WS Progo-Opak-Oyo. sebagian 2. WS Serayu. 3. Bengawan Solo Solo 5. WS Cimanuk.

Umumnya. merupakan potensi sumberdaya manusia yang sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan menyongsong era globalisasi.42 juta jiwa. Serayu-Citanduy Purwokerto Kabupaten Banyumas. Wilayah terpadat adalah kota Surakarta dengan tingkat kepadatan sekitar 11 ribu orang setiap kilometer persegi. Pertumbuhan penduduk tiap tahun akan berpengaruh terhadap pertumbuhan angkatan kerja. sebesar 99%. Jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk lakilaki. tingkat partisipasi angkatan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Rata-rata kepadatan penduduk Jawa Tengah tercatat sebesar 974 jiwa setiap kilometer persegi. 2-18 6. Pada tahun 2003. jumlah penduduk Jawa Tengah tahun 2002 tercatat sebesar 31. Kabupaten Banjarnegara. Penduduk Jawa Tengah belum menyebar secara merata di seluruh wilayah Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).74 juta orang atau naik sebesar 0. penduduk banyak yang bermukim di daerah perkotaan. Hal ini ditunjukkan oleh rasio jenis kelamin (rasio jumlah pendududuk lakilaki terhadap jumlah penduduk perempuan). Ini menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi ketiga di Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak di samping Jawa Timur dan Jawa Barat. jumlah penduduk Jawa Tengah diperkirakan meningkat mejadi sebanyak 32.58% dibanding tahun sebelumnya. Tenaga kerja yang terampil. sebagian Kabupaten Wonosobo.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No. Dengan angka ini. angkatan kerja di Jawa Tengah tahun 2002 mencapai 15. Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Cilacap Berdasarkan Data BPS. Balai PSDA Domisili Wilayah Kerja Kabupaten Temanggung.69 juta jiwa atau sekitar 15% dari jumlah penduduk Indonesia. sebagian Kabupaten Wonosobo dan sebagian Kabupaten Kebumen. sebagian Kabupaten Kebumen.

80 12’ LS dan 1100 00’ – 1100 50’ BT.31% dan pekerja tak dibayar 17.56%. di sebelah barat. di sebelah barat laut. sebagian besar angkatan kerja bekerja sebagai buruh/karyawan. Kabupaten Purworejo d. Sektor lain yang cukup banyak menyerap pekerja adalah sektor perdagangan dan sektor industri. Sedangkan angka pengganguran terbuka di Jawa Tengah relatif kecil. berusaha sendiri tanpa dibantu orang lain sebesar 18. Kabupaten Wonogiri c.36%. Sebanyak 67% angkatan kerja adalah berpendidikan tidak/belum tamat Sekolah Dasar. tenggara barat dan barat laut dibatasi oleh wilayah Provinsi Jawa Tengah yang meliputi : a. masing-masing tercatat sebesar 19. 2-19 2.07%. Kabupaten Klaten b. yaitu sebesar 6. Kabupaten Magelang : : : : di sebelah timur laut.35% dan 17. Sedangkan yang berusaha dengan dibantu anggota rumah tangga dan buruh tetap/tidak tetap tercatat sebesar 23.90%. Ditinjau menurut status pekerjaan utamanya. pekerja bebas pertanian dan non pertanian sebesar 10. Daerah Istimewa Yogyakarta di bagian selatan dibatasi Samudra Hindia.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kerja penduduk di Jawa Tengah tercatat sebesar 60. Berdasarkan satuan fisiografis. Sektor pertanian memiliki porsi 42% pekerja dan merupakan sektor terbanyak yang menyerap tenaga kerja.15%. yakni 30.52%.60%. Secara geografis posisi Daerah Istimewa Yogyakarta terletak antara 70 33’ . sedangkan dibagian timur laut.6 DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salah satu provinsi dari enam provinsi di wilayah Indonesia dan terletak di Pulau Jawa bagian tengah. di sebelah tenggara. Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari: LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

Kabupaten Bantul d.380 mm yang dipengaruhi oleh musim kemarau dan musim hujan. dari 3.80 km2 luas D. Pegunungan Kulon Progo dan Dataran Rendah Selatan.911 m.I Yogyakarta terletak pada ketinggian antara 100 499 m dari permukaan laut. suhu udara rata-rata di Yogyakarta tahun 2003 adalah 26. 35. Sebagian besar wilayah D.42% jenis tanah Regosol.754 km2).50 km2 km2 km2 km2 km2 (18. : 80-2. : ± 215.04%) (1. 2. 27.25 km2.63%) (18.94% jenis tanah Lathosol. Daerah Istimewa Yogyakarta beriklim tropis dengan curah hujan berkisar antara 7 .8790.40%) (15. Luas Ketinggian 3. Gunung Berapi Merapi.24% jenis tanah Alluvial. 2-20 2.656.340C.82 32. 10. Kota Yogyakarta : dengan luas : dengan luas : dengan luas : dengan luas 586.81 km2. Luas Ketinggian 4. 10.94% merupakan jenis tanah Lithosol.185. : 150-700 m.485. Menurut catatan Stasiun Metereologi Bandara Adisucipto. : 0-80 m.80 km2 atau 0. : ± 706.36 574. lebih rendah dibandingkan rata-rata suhu udara pada tahun 2002 sebesar 27. Pegunungan Selatan. dengan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .185.91%) (46. yang terdiri dari: a.25 km2.45% jenis tanah Grumusol. Kabupaten Kulon Progo b.62 km2. : ± 582. Kabupaten Sleman e.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 1. 11. : 0-572 m.17% dari luas Indonesia (1. Dataran rendah antara Pegunungan Selatan dan Pegunungan Kulon Progo.I Yogyakarta. merupakan provinsi terkecil di Indonesia setelah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.27% jenis tanah Mediteran.74% adalah jenis tanah Rensina.27 506.85 1. Luas Ketinggian DIY tercatat memiliki luas 3. Kabupaten Gunung Kidul : dengan luas Berdasarkan informasi dan BPN.640C. Luas Ketinggian : ±1. dan 1.02%) c.

005. Kota Yogyakarta.26% dan persentase jumlah penduduk laki-laki sebesar 49. Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunung Kidul Kabupaten Kulon Progo. 2-21 Tabel 2.52% dan penduduk yang tinggal di daerah pedesaan mencapai 42.207.015.48%. relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya. 5 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di DI Yogyakarta No. Sermo Yogyakarta Jumlah penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta tercatat 3. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .7 mb. Balai PSDA Progo-Opak-Oyo Domisili Yogyakarta Wilayah Kerja Kabupaten Sleman.82% dan 1. 1.74%. dengan persentase jumlah penduduk perempuan sebesar 50. Kabupaten Bantul. Sungai Progo 2.61%. Kelembaban udara berkisar antara 34-95%. Pertumbuhan penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2003 adalah 1. yakni masing-masing sebesar 2. 2. Sungai Serang Sungai-sungai tersebut dikelola oleh 2 Balai PSDA yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana dijelaskan pada Tabel 2. Gunung Kidul dan Sleman terlihat memiliki angka pertumbuhan di atas angka rata-rata provinsi.79%.600C dan suhu minimum 180C. 1.9-1. Sedangkan menurut daerah pemukiman. yaitu: 1. Sungai Opak-Oyo 3.385 jiwa. dan kecepatan angin antara 0. tekanan udara berkisar antara 1. dengan arah angin antara 195-205 derajat.1 knot sampai dengan 20 knot.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA suhu maksimum 34.48%.5 berikut ini. persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan mencapai 57. Sungai besar yang menjadi potensi sumber daya air di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berjumlah 3 buah.

17% berpendidikan SD. 11. pada sektor perdagangan sebesar 19. serta 5. mengurus rumah tangga dan lainnya dengan proporsi masing-masing sebesar 20. Dari jumlah tersebut 58.20%. Timur c. Mereka terdiri dari 52.029 jiwa per km2. Gambaran tenaga kerja di sektor swasta berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Batas-batas daerah pada provinsi ini adalah sebagai berikut: a.95% setingkat Diploma. Kepadatan penduduk tertinggi terjadi di Kota Yogyakarta yakni 12.27%.923 orang. teriri dari mereka yang masih sekolah.84%. terdiri dari 58. sedangkan wilayah yang tingkat kepadatan penduduknya terendah adalah Kabupaten Gunung Kidul yang dihuni rata-rata 462 jiwa per km2. Jumlah pendaftar pencari kerja pada tahun 2003 sebanyak 94.21% sedang mencari pekerjaan.69%. Barat : : : : berbatasan dengan Laut Jawa. pada sektor jasa sebesar 17. Persentase angkatan kerja penduduk DIY adalah 63. Utara b.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dengan luas wilayah sekitar 3.42% berpendidikan setingkat SLTA. kepadatan penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta sekitar 1. menurun sekitar 11.46% adalah SLTP dan sisanya 1.18% dan sisanya sebesar 13. pada sektor industri sebesar 12.75%. Sarjana Muda dan Sarjana. berbatasan dengan Selat Bali. adalah sebagai berikut.80 km2.881 orang.7 JAWA TIMUR Secara geografis Provinsi Jawa Timur terletak pada posisi 1110 0’ BT hingga 1140 4’ BT dan 70 12’ LS hingga 80 48’ LS.44%. dan 4.007 jiwa per km2. berbatasan dengan Samudera Indonesia berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sisanya sebesar 36. Selatan d. 34.83% perempuan.16% merupakan bukan angkatan kerja. jumlah penduduk yang pekerjaannya bergerak pada sektor pertanian memiliki persentase 37.15%.17% laki-laki dan 47.185. Berdasarkan lapangan usaha utama.63% sudah bekerja dan sebesar 5.48% bekerja di sektor-sektor lainnya.26 % dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 106. 2-22 2.

WS Brantas. Mendung paling banyak terjadi di bulan Februari dan Desember. yaitu: 1. Suhu udara tertinggi di Jawa Timur pada tahun 2003 terjadi pada bulan November (35. 4. WS Pekalen-Sampean.6%. Provinsi Jawa Timur memiliki 11 (sebelas) gunung berapi yang aktif. 2-23 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Luas wilayah Jawa Timur Daratan hampir mencakup 90% dari luas Provinsi Jawa Timur. 2.428. sedangkan luas Kepulauan Madura hanya sekitar 10%.57 km2 secara administrasi terbagi ke dalam 29 Kabupaten dan 9 Kota. dengan kelembaban berkisar antara 32% sampai 98%. WS Bengawan Solo. WS Madura.10C). yaitu Jawa Timur Daratan dan Kepulauan Madura. Sumber daya air di Provinsi Jawa Timur terbagi dalam 4 (empat) satuan wilayah sungai. dengan anak-anaknya sebanyak 36 sungai. Sungai besar di Jawa Timur antara lain Kali Brantas yang panjangnya 98 km dan Bengawan Solo dengan panjang 273 km. Wilayah provinsi Jawa Timur yang luasnya 46. Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 9 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Timur sebagaimana dijelaskan pada Tabel 2.60C) dan terendah pada bulan Juli (18. 3.6 berikut ini. disamping sungai yang cukup besar. Sedangkan curah hujan yang cukup tinggi terjadi pada bulan Januari sampai dengan April. dengan rata-rata lama penyinaran matahari 52% dan 41. wilayah Jawa Timur dapat dibagi dalam 2 bagian besar.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Secara umum.

Kabupaten Madiun. 1. Kota Mojokerto dan Kota Surabaya. Magetan. Madiun Madiun 5. Tuban. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pamekasan. Lamongan dan Gresik. Banyuwangi dan Situbondo. Kabupaten Kediri. Nganjuk.07% per tahun. Kabupaten Lumajang. Jombang dan Kota Kediri. Blitar. Ponorogo. Sidoarjo. Kabupaten Lamongan. Trenggalek. Balai PSDA Bango-Gedangan Domisili Malang Wilayah Kerja Kabupaten Malang. Kepadatan penduduk Jawa Timur tahun 2003 adalah 780 sebesar jiwa per km2. Kota Surabaya mempunyai jumlah penduduk yang paling besar. Kepadatan penduduk di kota. Kota Batu dan Kota Blitar.33 juta jiwa dan Kabupaten Jember dengan jumlah penduduk sebesar 2. yaitu 2.152 jiwa per km2. Sumenep dan Bangkalan. umumnya lebih tinggi dibanding dengan kepadatan penduduk di kabupaten. Kabupaten Bondowoso. Madura Pamekasan Berdasarkan data BPS. Bondowoso 7. 2-24 2. diikuti Kabupaten Malang dengan jumlah penduduk sebesar 2.66 juta jiwa.206 juta jiwa dengan pertumbuhan sebesar 1. Tulungagung. Puncu-Selodono Kediri 3. Ngawi dan Kota Madiun. Gembong-Pekalen Pasuruan 9. Kabupaten Pasuruan. sebagian Malang. BuntungPaketingan Lamongan 4. Bondoyudo-Mayang Lumajang 8. jumlah penduduk Provinsi Jawa Timur tahun 2003 sebesar 36. Kota Surabaya mempunyai kepadatan penduduk tertinggi yaitu sebesar 8. Mojokerto. Kota Pasuruan dan Kota Probolinggo Sampang. Pacitan. sebagian Pasuruan. Bengawan Hilir Sampean Baru Solo Bojonegoro 6. 6 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Timur No. Probolinggo.23 juta jiwa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 2. Kabupaten Bojonegoro. Kota Malang. Jember dan sebagian Malang.

wilayah cekungan.1 ribu hektar1. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 3 Lokasi rawan banjir di pulau jawa. antara lain North Java Flood Control 1 Laporan kejadian banjir dan tanah longsor musim hujan 2001/2002 dan 2002/2003.16 persen. terjadi 72 kejadian banjir yang menggenangi sekitar 81. Gambar 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Jumlah pencari kerja pada tahun 2003 sebesar 379. meningkat 16. Pada tahun 2002. sedangkan rasio pencari kerja dengan lowongan pekerjaan adalah 0.3. Pendekatan infrastruktur untuk mengatasi banjir di sepanjang pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah telah diupayakan melalui proyekproyek besar berbantuan luar negeri.435 orang. Sebaran wilayah rawan banjir di Pulau Jawa dapat dilihat pada Gambar 2. Tenaga kerja yang sudah ditempatkan sebanyak 40. Sistem pengendalian bahaya banjir melalui pendekatan infrastruktur telah berlangsung lama.8 IDENTIFIKASI MASALAH BANJIR Banjir di Pulau Jawa sebagian besar terjadi di wilayah pantai utara dan pantai selatan.621 orang. 2-25 2.32% dibanding tahun 2002. Jumlah ini meningkat menjadi 104 kejadian pada tahun 2003 yang menggenangi sekitar 91. serta kota-kota besar.9 ribu hektar wilayah permukiman dan pertanian.

untuk mengatasi banjir di wilayah perkotaan lainnya. penambangan pasir terjadi di sungai-sangat besar sehingga pada beberapa tempat mengalami degradasi dasar sungai. laju pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang membutuhkan biaya besar tersebut tidak mampu mengatasi peningkatan magnitude dan frekuensi banjir. Beberapa penyebab utama terjadinya banjir antara lain adalah: a) Pendangkalan/Agradasi Dasar Sungai (Sedimentasi) Hampir semua sungai di Jawa membawa sedimen dalam jumlah besar dari hulu dan mengikis lahan di sepanjang daerah aliran sampai ke muara. Di daerah muara. terjadi luapan air sungai dari tanggul. kemiringan dasar sungai menjadi relatif datar akibat sedimentasi tersebut sehingga kapasitas tampungan sungai menjadi berkurang. Faktor penyebab terjadinya banjir di Pulau Jawa berbeda-beda untuk setiap wilayah. Untuk pengendalian banjir wilayah Jakarta diupayakan melalui Ciliwung Cisadane River Flood Control Project dan pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) yang saat ini sedang berlangsung. diupayakan melalui proyek-proyek pengembangan perkotaan antara lain Bandung Urban Development Project (BUDP) dan Surabaya Urban Development Project (SUDP). sehingga upaya pengendalian bersifat spesifik sesuai karakteristik wilayah yang bersangkutan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Project dan South Java Flood Control Project. Meluapnya aliran sungai ini mengakibatkan daerah-daerah yang relatif datar dan lahan-lahan pertanian di sekitarnya menjadi tergenang. Selain itu. Namun demikian. Di lain pihak. khususnya kota-kota besar di Pulau Jawa. b) Meluapnya Aliran Sungai melalui Tanggul Akibat debit yang besar pada musim hujan yang tidak dapat ditampung oleh badan-badan air di daerah pantai/muara. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tanggul-tanggul sungai di hulu dapat mengurangi banjir yang terjadi di daerah hulu. tetapi justru menyebabkan bertambah luasnya area yang terkena banjir di daerah hilir. Upaya pengendalian banjir juga dilakukan di Bandung Selatan melalui proyek Upper Citarum Flood Control 2-26 Project.

Defisit Rendah (DR). seringkali pengamatan/pemeliharaan di lapangan jarang dilakukan. sehingga laju pengaliran air melalui saluran drainase menurun. empat hingga enam bulan diklasifikasi defisit sedang. Neraca air tergolong normal apabila tidak terjadi defisit sepanjang tahun. Backwater juga terjadi pada pertemuan antara anak sungai dan sungai utamanya. 2-27 d) Efek Backwater Efek backwater terjadi di bagian hulu karena perubahan arus di hilir yang menyebabkan muka air di hulu meningkat. Hal ini disebabkan oleh penyempitan badan sungai. 2.9 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN Masalah kekeringan dapat diidentifikasi dengan analsisi kondisi neraca air. Karena bangunan beroperasi secara otomatis. kapasitas tampungan semakin berkurang. dan Defisit Tinggi (DT). dan lahan-lahan produksi di dataran rendah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA c) Kondisi Saluran Drainase yang Kurang Baik Saluran drainase tidak berfungsi dengan baik karena pintu-pintu air tidak beroperasi sebagaimana mestinya. Via analisis kondisi neraca air. sehingga terjadi banjir di bagian hulu. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . e) Kurang Berfungsinya Pintu Pengendali Banjir pada Sungai Pintu air tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena tertutup oleh tanaman atau endapan pasir. Hal ini terutama terjadi pada pintu air otomatis. sedangkan jika jumlah bulan defisit mencapai 3 bulan diklasifikasi sebagai defisit rendah. dan lebih dari enam bulan diklasifikasi defisit tinggi. Analisis neraca air pada kabupaten/kota di luar wilayah Jabodetabek dilakukan dengan membandingkan hasil perhitungan ketersediaan air dengan kebutuhan air pada tiap-tiap bulan di masing-masing kabupaten/kota. dan penyempitan pada jembatan dan bangunan-bangunan struktur lainnya. Defisit Sedang (DS). terbendungnya alur sungai. ada 4 klasifikasi: Normal (N).

4 Perubahan persentase kabupaten defisit air. sesuai hasil Jabotabek Water Resources Management Study (1994). sedangkan jika jumlah defisit mencapai 0. 45 2-28 40 Persentase Jumlah Kabupaten/Kota (%) 35 30 25 20 15 10 5 2003 NORMAL 2005 2010 2015 DEFISIT SEDANG 2020 2025 DEFISIT TINGGI DEFISIT RENDAH Gambar 2. Kondisi normal menunjukkan bahwa tidak terjadi defisit sepanjang tahun. terdapat 38 kabupaten/kota atau sekitar 35 persen telah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dari wilayah yang mengalami defisit tersebut.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Khusus untuk wilayah Jabotabek analisis dilakukan dengan perhitungan besarnya jumlah defisit air pada bulan paling kering. Hasil analisis neraca air menunjukkan bahwa. pada tahun 2003 sebagian besar (sekitar 77 persen) wilayah kabupaten di luar Jabodetabek telah memiliki satu hingga delapan bulan defisit air dalam setahun.5 meter kubik perdetik diklasifikasi sebagai defisit rendah.4. Perubahan persentase jumlah kabupaten di luar wilayah Jabotabek yang mengalami defisit air dari tahun 2003 hingga 2025 dapat dilihat pada Gambar 2.5 hingga 1 meter kubik perdetik diklasifikasi defisit sedang. dan lebih dari 1 meter kubik perdetik diklasifikasi defisit tinggi. Metode ini digunakan karena ketersediaan air pada wilayah ini relatif konstan sepanjang tahun karena pasokan dari sistem yang ada. defisit lebih dari 0.

4. Brantas. dan sebagian Pekalen-Sampean belum mengalami defisit air. 2-29 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . defisit tinggi juga terjadi pada kota besar seperti Bandung. Semarang. Citarum. dan Yogyakarta. ditemukan bahwa sekitar 50 persen kabupaten/kota mengalami defisit air pada tahun 2003. bahkan sejak tahun 2003 sekitar 12 kabupaten/kota telah mengalami defisit penyediaan air minum. atau defisit sepanjang tahun.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengalami defisit tinggi. Progo-Opak-Oyo.4 persen dengan defisit berkisar mulai dari satu hingga dua belas bulan. Brantas hilir. antara lain Kabupaten Ngawi di WS Bengawan Solo dan Kota Surabaya di WS Brantas. defisit air di wilayah tersebut cenderung semakin tinggi.5 pada tahuntahun 2015. CitanduyCiwulan. kabupaten/kota di wilayah-wilayah sungai Cisadea-Cikuningan. Pada tahun-tahun berikutnya. Bengawan Solo. Hasil analisis dan proyeksi neraca air kabupaten/kota JawaMadura yang mengalami defisit dapat dilihat pada Gambar 2. Beberapa kabupaten/kota pada tahun 2010 diperkirakan akan mengalami defisit yang semakin membesar. Di samping itu. Jratun Seluna bagian hulu. Jumlah ini diperkirakan semakin meningkat hingga mencapai sekitar 19 kabupaten/kota pada tahun 2025 apabila tidak dilakukan intervensi infrastruktur. dan 2025. dan diperkirakan meningkat menjadi 100 persen pada 2025. Pemali-Comal. Jika tidak dilakukan intervensi infrastruktur maka kondisi neraca air akan mengalami defisit yang semakin tinggi pada tahun-tahun berikutnya. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian secara khusus dan perlu dilakukan upaya penanganan segera dalam jangka pendek. dan kabupaten/kota yang mengalami defisit akan semakin meluas sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 2. Sementara itu. Serayu bagian hulu. dan Madura. Pada tahun 2025 jumlah kabupaten defisit air meningkat hingga mencapai sekitar 78. defisit air tinggi akan terjadi pada tahun 2005 di beberapa kabupaten/kota di wilayah sungai Cimanuk-Cisanggarung. Dari proyeksi neraca air kabupaten/kota di Pulau Jawa di atas. Di antara kabupaten/kota yang mengalami defisit air tersebut. Untuk wilayah Jabotabek. 2020.

Depok. Kabupaten Bogor. Kabupaten Tangerang. Tangerang. Karawang. dan Purwakarta dikelompokkan dalam satuan wilayah analisis. Pasokan air baku utama ke DKI Jakarta bersumber dari Sungai Citarum yang dialirkan dari Waduk Jatiluhur. 2-30 2 Serang. dan Kota Depok.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Wilayah analisis neraca air untuk daerah Jabodetabek dan sekitarnya meliputi DKI Jakarta. DKI Jakarta sebagai ibukota negara memerlukan daya dukung sumber daya air untuk menunjang segala kegiatan di wilayah tersebut. Alternatif tambahan pasokan untuk DKI Jakarta adalah sungai-sungai yang berada di barat dan selatan wilayah ini. Bogor. Dengan demikian. seperti Sungai Cisadane. dan Bekasi serta Serang. Hal ini diperparah dengan semakin langkanya air bersih sebagai akibat meningkatnya pencemaran air di sungai-sungai besar tersebut. dan Sungai Ciujung. Kota Bogor. potensi konflik pemanfaatan air antarwilayah dan antarpengguna akan semakin meningkat. sejalan dengan rencana pengembangan inter basin management dengan menambahkan WS Ciujung-Ciliman dan WS Citarum menjadi satuan wilayah analisis WS Ciliwung-Cisadane. Sungai-sungai ini merupakan sumber air permukaan utama untuk daerah pertanian dan industri di Kota Tangerang. dan Purwakarta2. meskipun sungai utama yang melalui wilayah ini adalah Sungai Ciliwung. Karawang. Sungai Cidurian. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

4 b u la n 5 .2 b u la n 3 .1 0 b u la n 1 1 . LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .6 b u la n 7 .8 b u la n 9 . 5 Proyeksi Neraca Air Kabupaten/Kota di Pulau Jawa dan Madura.1 2 b u la n B a ta s K a b u p a t e n Sumber : Hasil Analisis Gambar 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-31 2005 L d 2010 L d 2015 Legenda : 2020 Legenda : 2025 Legenda : Legenda : B a ta s P r o p in s i J u m l a h B u l a n D e f is i t t a h u n 2 0 2 5 0 b u la n 1 .

Sebagai ilustrasi. Pada tahun 2003 terjadi defisit sebesar 2. terutama pada bagian hilir).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-32 Di wilayah Jabodetabek bagian utara terutama di DKI Jakarta. Erosi yang berlangsung cepat akan memacu perubahan unsur hidrologi sungai. dan saluran-saluran yang berakibat pada naiknya permukaan dasar sungai.0 m3/det. saat ini diperkirakan sekitar 65% kebutuhan domestik untuk wilayah DKI Jakarta masih bertumpu kepada sumber air tanah. Oleh sebab itu.0 m3/det di tahun 2025. Pada tahun 2003 defisit air telah mencapai 3. pasokan air permukaaan menjadi semakin penting untuk menggantikan penggunaan air tanah yang berlebihan tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan muka air tanah pada tingkat yang semakin kritis. jika tidak dilakukan upaya intervensi infrastruktur dengan membangun waduk-waduk sumber air baku yang baru.3 m3/det apabila tidak dilakukan upaya intervensi infrastruktur. daerah-daerah kritis dengan tingkat erosi yang tinggi perlu segera ditangani. yaitu meningkatnya aliran permukaan dan menurunnya aliran dasar (base flow). Oleh karena itu. Sementara itu. Depok dan Kabupaten Bogor berasal dari Sungai Ciliwung-Cisadane. sumber utama pasokan air untuk Kota Bogor. danau.9 m3/det dan diperkirakan tahun 2025 mencapai 17. telah terjadi eksploitasi air tanah secara berlebihan. Defisit ini semakin membesar di masa yang akan datang. Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang dengan sumber utama Sungai Cisadane mengalami kondisi yang hampir sama. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . terutama pada lahanlahan kritis di bagian hulu daerah aliran sungai. Terjadinya erosi akibat kerusakan catchment area menyebabkan terjadinya peningkatan beban sedimen di dalam sistem sungai dan menghasilkan perubahan pada kondisi hidro-morfologi (pengendapan sedimen pada waduk. Defisit tersebut diperkirakan mencapai 15.

Hasil analisis secara lengkap disajikan pada Buku 2 Identifikasi Masalah Pengelolaan Sumber Daya Air di Pulau Jawa.4 persen pada tahun 2025. Diantara kabupaten/kota yang mengalami defisit air tersebut. namun disisi lain juga berdampak pada perubahan tata guna lahan yang mengakibatkan perubahan perilaku hidrologis. Wilayah sungai di Pulau Jawa sebagian besar mengalami permasalahan yang sama yaitu: (1) Kerusakan catchment area sehingga mengancam keberlanjutan daya dukung sumber daya air. dan pertanian mengalami peningkatan yang signifikan. Hal tersebut juga meningkatkan potensi banjir yang akan mengancam keberlanjutan infrastruktur di Pulau Jawa yang dibangun dengan investasi yang sangat besar. sekitar 77 persen kabupaten/kota di Pulau Jawa mengalami defisit air dan diperkirakan meningkat menjadi 78. Pada tahun 2003. Disamping itu jumlah bulan defisit maksimal juga meningkat dari 8 bulan menjadi 12 bulan pada tahun 2025 (defisit sepanjang tahun).1 RUMUSAN KEBIJAKAN PRAKARSA STRATEGIS Dari hasil analisis. secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa kebutuhan air untuk rumah tangga. perkotaan. pada tahun 2003 sekitar 50 persen kabupaten/kota mengalami defisit air dan diperkirakan meningkat menjadi 100 persen pada tahun 2025.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 3-1 3. (2) Penurunan kinerja infrastruktur sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Khusus wilayah Jabotabek yang pasokan airnya relatif terjamin. Jumlah ini diperkirakan semakin meningkat hingga mencapai 19 kabupaten/kota pada tahun 2025 apabila tidak dilakukan intervensi infrastruktur. Adanya perubahan perilaku hidrologis tersebut menyebabkan perubahan pola ketersediaan air. industri. Pertambahan penduduk dan aktifitas perekonomian di satu sisi berdampak pada peningkatan kebutuhan air. bahkan sejak tahun 2003 terdapat 12 kabupaten/kota telah mengalami defisit penyediaan air minum. Kondisi ini semakin diperparah oleh menurunnya daya dukung lingkungan akibat kerusakan catchment area.

kelembagaan. dan ketatalaksanaan. Dengan adanya defisit air di sebagian besar kabupaten/kota dan bahkan tidak dapat memenuhi kebutuhan air minum. dan (ii) Penyesuaian kembali alokasi air antar jenis kebutuhan atau realokasi air. Prakarsa strategis ini membutuhkan kajian mendalam dan spesifik lokasi untuk menemukan sumber-sumber penyediaan air baru maupun mengoptimalkan penggunaan sumber air yang ada bagi kabupaten/kota yang defisit air tinggi. (3) Eksploitasi air tanah yang berlebihan mengakibatkan penurunan muka air tanah. (6) Banjir akibat perubahan tata lingkungan. land subsidence. dan intrusi air laut. (5) Kecenderungan bahwa sungai dan badan air lainnya sebagai tempat pembuangan limbah cair yang tidak terolah dan sampah menjadikan air permukaan yang terbatas tidak layak dipergunakan untuk air minum. (9) Rendahnya kualitas pengelolaan hidrologi. dan (13) Meningkatnya potensi konflik pemanfaatan air. terutama realokasi atau perubahan alokasi untuk pemenuhan kebutuhan irigasi. penurunan kapasitas pengaliran sungai. (7) Meningkatnya kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan air. 3-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . keperluan adanya institusi untuk menjawab permasalahan yang berkembang. khususnya untuk irigasi di Pulau Jawa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air. maka perlu dilakukan prakarsa strategis terkait dengan: (i) Penanganan kabupaten/kota yang telah mengalami krisis penyediaan air minum melalui intervensi infrastruktur dan kegiatan terkait. (10) Belum semua wilayah sungai memiliki masterplan atau perlu diperbaharui. (12) Lemahnya koordinasi. baik melalui demand management maupun supply management serta peluang dilaksanakannya inter basin transfer. (8) Kekeringan/defisit air di musim kemarau. Dengan kondisi defisit seperti ini maka diperlukan juga kajian mendalam tentang kemungkinan dilaksanakannya perubahan dan penyesuaian alokasi antar kebutuhan atau realokasi. (11) Masih lemahnya pengelolaan database sumber daya air. (4) Kualitas air yang rendah karena daya dukung sungai lebih rendah dibanding beban pencemaran. dan penurunan kinerja prasarana pengendali banjir. sehingga mengurangi secara signifikan ketersediaan air untuk kebutuhan air minum.

2 KEBUTUHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR YANG TERPADU.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Konsekuensi logis perubahan alokasi tersebut adalah berkurangnya pasokan air untuk pemenuhan irigasi sehingga tanpa adanya perubahan teknologi maka akan mengurangi luas areal layanan (command area) dan produktifitas tanaman. Untuk itu diperlukan pendekatan terpadu yang memperhatikan keseimbangan antara pendayagunaan dan konservasi. antar wilayah. produktivitas lebih tinggi serta tetap mempunyai rasa yang enak. serta antarsektor. kelembagaan dan perangkat manajemen telah direkomendasikan para ahli SDA dalam World Water Forum (WWF) II dan WWF III sebagai pendekatan yang tepat dalam menghadapi tantangan dalam LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Permasalahan-permasalahan yang menimpa sumber daya air dan lingkungan pendukungnya seperti diatas disebabkan oleh penanganan yang terfragmentasi baik dalam perencanaannya maupun pelaksanaannya. Diperlukan komunikasi dan dialog antar berbagai tingkat pengambilan keputusan. Dengan adanya penghematan air untuk irigasi (sebagai pengguna air yang terbesar) maka kelebihan air tersebut dapat direalokasikan untuk memenuhi kebutuhan lain misalnya untuk air minum dan air perkotaan yang permitaannya semakin meningkat. berumur lebih pendek. Disamping itu diperlukan diperlukan cara olah tanah dan tata tanam yang lebih hemat air. dari pengguna air ke pengelola air tingkat setempat/lokal ke struktur pengambilan keputusan tingkat wilayah sungai dan tingkat nasional. 3-3 3. antara hulu dengan hilir. Untuk itu diperlukan strategi kebijakan baru dalam pengembangan irigasi di Pulau Jawa yang mempertimbangkan fenomena defisit air dan kebutuhan bahan pangan serta infrastruktur irigasi yang telah dibangun. Perubahan atau inovasi teknologi yang diharapkan adalah ditemukannya varietas padi unggul yang hanya memerlukan lebih sedikit air. Dalam hal ini masingmasing sektor berjalan sendiri tanpa mempertimbangkan akibatnya terhadap sektor yang lain. Prinsip dan proses ”Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air” (Integrated Water Resources Management) yang mencakup aspek kebijakan dan peraturan perundang-undangan.

3. Sinkronisasi Kebijakan dan Program antara RPJM.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pengelolaan SDA pada abad ke 21 yang diwarnai dengan peningkatan kebutuhan akan sumber daya air dan sumber daya alam lainnya. dilakukan integrasi program secara menyeluruh melalui perpaduan antara faktor internal dan eksternal. Renstra. Posko Swadaya Banjir. Fasilitasi pembentukan lembaga pengelola air oleh masyarakat seperti P3A. Lembaga Pengelolaan Air Baku dan Air Minum. Penyusunan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU No. Integrasi program ini sesuai dengan prioritas penanganan dalam jangka waktu yang ditentukan. 4.1 Program Jangka Pendek Program jangka pendek pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1. Lembaga Pengelolaan Sumber Air. Secara lengkap hasil integrasi program tersebut dijelaskan pada uraian selanjutnya. RKP dan RKAKL Bidang Sumber Daya Air untuk Pemerintah Pusat dan Propinsi di Pulau Jawa. tugas. termasuk strategi dalam melaksanakannya. dan fungsi instansi-instansi yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air di Pusat LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Penataan kembali hubungan kerja sesuai wewenang.3 PROGRAM PRIORITAS Berdasarkan klasifikasi pada tahapan sebelumnya. dan lainnya. 2. 3. 3. meningkatnya kompetisi masyarakat penggunaan tentang air yang dominan serta meningkatnya tuntutan ”good akan reformasi institusi untuk pelaksanaan 3-4 governance”. Lembaga Pengelolaan Sungai.

6. 3-5 3. Pelaksanaan pembangunan infrastruktur skala besar. Pelaksanaan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU Sumber Daya Air No. Renstra. 5.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dan Daerah berlandaskan pada UU No. 4. 3.7/2004. 5.2 Program Jangka Menengah Program jangka menengah pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1. Penertiban kawasan hulu dan wilayah bantaran sungai sesuai ketentuan penataan ruang oleh Pemerintah Daerah dengan dukungan dari Pemerintah. Melaksanakan ”kegiatan percontohan” kegiatan aksi swadaya masyarakat seperti Lembaga Pengelola Sungai untuk melaksanakan gerakan kebersihan sungai untuk mengembalikan sungai kepada fungsinya. sedang dan kecil untuk mengatasi banjir dan memenuhi kebutuhan air baku untuk berbagai keperluan di kota besar dan wilayah strategis serta daerah perdesaan di Pulau Jawa. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . RKP dan RKAKL Bidang Sum ber Daya Air untuk Pemerintah Pusat dan Propinsi di Pulau Jawa.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Sinkronisasi Kebijakan dan Program antara RPJM. 2. Penyusunan dan penyempurnaan pola dan rencana induk pengelolaan wilayah sungai sebagai dasar konservasi dan pendaya gunaan sumber daya air di wilayah sungai.3. Pembentukan lembaga koordinasi pengelolaan sumber daya air (Dewan Sumber Daya Air) dan penyempurnaan kelembagaan pengelola air di Pulau Jawa sesuai kewenangan pusat dan daerah.

Mengupayakan realokasi air secara terbatas misalnya misalnya mengadakan realokasi air untuk irigasi tanaman padi untuk kebutuhan air minum pada daerah perluasan permukiman/perkotaan melalui upaya-upaya penggunaan varietas padi yang lebih hemat air. 8. 14. 3-6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 13. 7. Lembaga Pengelolaan Air Baku dan Air Minum. permukiman (kebutuhan domestik). Pengembangan teknologi tepat guna pengelolaan sumber daya air melalui dukungan lembaga penelitian dan pengembangan teknologi di Pusat dan Daerah 12. Penerapan teknologi olah tanah dan tanam yang lebih hemat air mengingat irigasi khususnya untuk tanaman padi masih menjadi pengguna air terbesar. 9. Fasilitasi pembentukan lembaga pengelola air oleh masyarakat seperti P3A. Pencegahan alih fungsi lahan beririgasi di Pulau Jawa melalui sistem insentif dan disinsentif bagi masyarakat pemilik dan pengelola lahan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 6. 10. dan memulihkan dampak banjir secara mandiri. Melanjutkan upaya penertiban kawasan hulu dan wilayah bantaran sungai sesuai ketentuan penataan ruang oleh Pemerintah Daerah dengan dukungan dari Pemerintah. mengingat irigasi untuk tanaman padi adalah pengguna air terbesar. Posko Swadaya Banjir. industri dan lain sebagainya. penggunaan teknologi olah tanah dan tanam yang lebih hemat air dan diversifikasi tanaman kearah tanaman yang bernilai tinggi tetapi lebih hemat air seperti tanaman sayuran dan buahbuahan dan bunga. Pengembangan varietas padi unggul yang lebih sedikit mengkonsumsi air. berproduktivitas tinggi dan mempunyai rasa yang enak sebagai upaya penghematan air. 11. Mempromosikan gerakan hemat air disegala bidang penggunaan air termasuk penggunaan untuk pertanian. Peningkatan kesiagaan masyarakat di daerah rawan banjir dalam mencegah. dan lainnya. menanggulangi. Lembaga Pengelolaan Sumber Air.

20. serta pengendalian pencemaran air. Penerapan sistem insentif dan disinsentif bagi badan usaha dan industri dalam penggunaan dan pengusahaan sumber daya air. 17. Melaksanakan ”kegiatan percontohan” kegiatan aksi swadaya masyarakat seperti Lembaga Pengelola Sungai untuk melaksanakan gerakan kebersihan sungai untuk mengembalikan sungai kepada fungsinya. dan pelaksanaan kegiatan di lapangan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 15. 18. Melanjutkan penyusunan dan penyempurnaan rencana induk (master plan) pengelolaan wilayah sungai dan pengelolaan sumber daya air Popinsi dan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .3. Pengutamaan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air melalui pelibatan dari proses perencanaan. 3-7 3. Melanjutkan pelaksanaan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU No. pengawasan. 16. pengambilan keputusan.3 Program Jangka Panjang Program jangka panjang pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1. 2.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Penataan wilayah bantaran sungai melalui relokasi penduduk secara bijaksana oleh Pemerintah Daerah. 19. Pengembangan kapasitas kelembagaan dan aparatur pemerintah di bidang pengelolaan terpadu sumber daya air dalam rangka meningkatkan profesionalisme dan kemampuan teknis dan manajerial. Penataan kembali eksploitasi bahan galian di badan air dan hulu sungai oleh Pemerintah Daerah bersama masyarakat. 3. Penataan ruang di kawasan hulu dan hilir berdasarkan pola pengelolaan sumber daya air yang mengacu kepada kelestarian fungsi ekosistem.

Pengembangan konservasi air di wilayah hulu dan gerakan hemat air di hilir bersama masyarakat dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan air. Pengembangan upaya-upaya peningkatan peresapan air dengan pengunaan teknik-teknik ”pemanenan air hujan” (rain water harvesting) diantarnya sumur dan waduk/embung resapan dan sebagainya. 5. 6. 11. 8. Pengembangan kerjasama masyarakat hulu dan hilir dalam pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai berdasarkan prinsip ”hydro-solidarity”. 9. Perencanaan pembiayaan bidang sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan operasi dan pemeliharaan dan investasi baru penyediaan infrastruktur bidang sumber daya air dengan dukungan badan usaha dan masyarakat dengan pola kemitraan antara pemerintah dengan swasta.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Kabupaten/Kota untuk mengantisipasi kebutuhan air baku dan ancaman banjir serta konservasi ekosistem sumber daya air. Pengembangan kerjasama dan integrasi kegiatan antara lembaga koordinasi pengelolaan sumber daya air (Dewan Sumber Daya Air) di tingkat nasional. Pengembangan sistem informasi pengelolaan sumber daya air di tingkat nasional dan daerah untuk menjamin ketersediaan dan kemutakhiran data dasar. 12. 7. 3-8 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Melanjutkan pelaksanaan pembangunan infrastruktur skala besar yang bersifat multi-guna. Pengembangan sumber air di tingkat lokal untuk memenuhi kebutuhan air baku penduduk perkotaan dan perdesaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dengan dukungan Propinsi dan Pusat. kabupaten/kota dan wilayah sungai. 10. Transformasi infrastruktur sumber daya air berdasarkan kondisi tata guna lahan terkini untuk mengatur alokasi air sesuai perkembangan kebutuhan penduduk dan industri serta dengan mempertimbangkan kontribusi sektor terhadap PDB. propinsi. untuk mengatasi banjir dan pemenuhan kebutuhan air baku untuk berbagai keperluan di kota besar dan wilayah strategis di Pulau Jawa. 4.

Pemulihan catchment area Daerah Aliran Sungai melalui reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis bersama masyarakat. Penataan ekstraksi air tanah oleh intansi yang berwenang dan masyarakat sesuai kemampuan pemulihan cadangan air tanah di wilayah rawan kekeringan. 15. 17. Penyadaran publik dan peningkatan kepedulian masyarakat terhadap pemulihan kondisi dan upaya mempertahankan kualitas air di sumber air dan badan sungai. 19. Penataan dataran banjir. 16.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 13. dan kawasan green belt dalam rangka mencegah kerusakan dan penurunan kinerja infrastruktur sumber daya air. Pemulihan kualitas air dan pengendalian pencemaran air di sumber-sumber airdan badan air di wilayah perkotaan dan industri. 14. Pelibatan badan usaha dalam pola kemitraan antara pemerintah dan swasta (public private partnership) dalam pengusahaan sumber daya air dan pengembangan investasi baru infrastruktur sumber daya air. 18. Pengaturan kembali pemanfaatan kawasan hulu Daerah Aliran Sungai untuk hutan produksi dan perkebunan berdasarkan pola konservasi sumber daya air. 3-9 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sempadan sungai.

serta 5.Strategi implementasi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa adalah sebagai berikut: 1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 4-1 Pengelolaan sumber daya air merupakan upaya untuk merencanakan. serta pengendalian daya rusak air. Strategi kelembagaan dan koordinasi. 2.1 RUMUSAN STRATEGI IMPLEMENTASI Strategi implementasi merupakan panduan dan kaidah pokok dari pelaksanaan keempat strategi lainnya. Strategi pembiayaan. Strategi non-struktural 3. dan pengendalian daya rusak air yang dapat menyeimbangkan laju pembangunan dan pemulihan kondisi lingkungan di LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Strategi struktur 4. memantau. Berkaitan dengan itu terdapat 5 strategi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi dan pendayagunaan sumber daya air. yaitu: 1. Penetapan kebijakan terpadu lintas sektor yang mencakup aspek-aspek konservasi. Oleh karena itu strategi pengelolaannya pun harus mencakup seluruh aspek pengelolaan tersebut. melaksanakan. kelembagaan dan perangkat manajemen dalam pengkoordinasian pembangunan dan pengelolaan sumber daya air. pendayagunaan. Secara lebih terinci rumusan strategi dimaksud diuraikan sebaga berikut. 4. Strategi implementasi 2. Diperlukan penyusunan ”Rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air” sebagai peta langkah (road map) dari rencana tindak yang mencakup aspekaspek kebijakan dan peraturan dan perundang-undangan.

pengolahan tanah yang sesuai dengan upaya konservasi air dan tanah. melalui sistem insentif dan disinsentif oleh Pemerintah Daerah. Pengendalian pencemaran dan pengelolaan kualitas air pada sumber air dan badan air. industri. penataan dan penertiban dataran banjir. 7. 3. Pengelolaan terpadu daerah aliran sungai.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Pulau Jawa. serta pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana drainase yang memadai. pembuatan sumur dan waduk/embung resapan serta pelaksanaan upaya-upaya pemanenan air hujan dengan melibatkan para pelaku perusakan dan masyarakat yang terkena dampak. 5. dan perdagangan serta penyediaan bangunan penampung air berskala kecil 4-2 untuk memenuhi kebutuhan air baku daerah perdesaan yang dikelola di tingkat lokal. terutama yang bersifat lintas sektor dan lintas wilayah. Penanggulangan bencana banjir melalui intervensi infrastruktur (skala besar) guna melindungi kawasan yang telah berkembang terutama kota-kota besar. sesuai rencana induk pengelolaan wilayah sungai LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Penyediaan air baku berskala besar di Pulau Jawa untuk kawasan-kawasan strategis seperti daerah perkotaan dan permukiman. Kebijakan ini disertai upaya peningkatan kesadaran masyarakat dalam penghematan air dan pelestarian fungsi lingkungan. Upaya ini harus diiringi dengan pemulihan kondisi catchment area yang dilakukan bersama masyarakat. 4. Penghentian perusakan fungsi kawasan lindung dan daerah tangkapan air di bagian hulu Daerah Aliran Sungai dan melakukan rehabilitasi daerah tangkapan air dengan penghijauan. 8. Upaya mempertahankan Pulau Jawa sebagai lumbung pangan nasional melalui pencegahan laju konversi dan optimalisasi lahan beririgasi yang telah ada. 6. terutama pada kawasan industri dan perkotaan. dan pengendalian tata ruang di Pulau Jawa. Kebijakan ini akan ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010 – 2015 serta peraturan perundangan terkait lainnya. serta peningkatan efisiensi penggunaan air. serta dengan melibatkan para pelaku pencemaran dan masyarakat yang terkena dampaknya.

pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu. Ketentuan konservasi sumber daya air dijadikan sebagai salah satu acuan penting dalam perencanaan tata ruang wilayah. g. 7 Tahun 2004. h. pengisian air pada sumber air. 4. Konservasi dilakukan sesuai dengan pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air. f.2. Perlindungan dan pelestarian sumber daya air dilakukan melalui: a. e. 4. c. b. tanpa menitikberatkan pada pembuatan bangunan fisik secara signifikan. pengaturan daerah sempadan sumber air. serta pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air 2. rehabilitasi hutan dan lahan. 4-3 4. beberapa kebijakan/strategi non-struktural berkaitan dengan konteks konservasi SDA adalah: 1. Tujuan perlindungan dan pelestarian sumber air adalah untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan keberadaannya. perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air. d. pengendalian pemanfaatan sumber air. dan/atau LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 5.1 Strategi Menurut Undang-undang Sesuai dengan UU No. pengaturan prasarana dan sarana sanitasi. 3. Upaya konservasi dilakukan melalui kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber air. dari segi jumlah maupun kualitasnya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA terkait yang didukung oleh peraturan perundangan serta sistem pengawasan bersama masyarakat.2 STRATEGI KEBIJAKAN NON-STRUKTURAL Strategi non-struktural sangat penting dalam kaitannya dengan kegiatan untuk menjaga keberadaan sumber daya air. pengawetan air.

Muatan yang mendukung pengelolaan sumber daya air secara otomatis harus menjadi salah satu acuan dalam menyusun program dan kebijakan yang akan diterapkan. Pengawetan air dilakukan dengan cara: a. rawa. 8. dan budaya. pelestarian hutan lindung. daerah tangkapan air. 10. dan kawasan pelestarian alam. 9. kawasan hutan. maka kebijakan nonstruktural di bidang pengelolaan sumber daya air perlu diintegrasikan ke dalam peraturan-peraturan yang bersifat lebih operasional dan rencana strategis yang didasarkan pada kebijakan masing-masing daerah. 4-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Mengacu pada kebijakan yang telah digariskan di atas. menghemat air dengan pemakaian yang efisien dan efektif. 6. Konservasi sumber daya air dilaksanakan pada sungai. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilaksanakan secara vegetatif dan/atau sipil teknis melalui pendekatan sosial. kawasan suaka alam. 7. Selain itu untuk mendukung pengelolaan yang terintegrasi. dan kawasan pantai. danau. sistem irigasi. pemerintah juga menyediakan sistem informasi sumber daya air yang pelaksanaannya dilakukan sesuai tingkat kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. mengendalikan penggunaan air tanah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA i. kawasan pelestarian alam. waduk. kawasan suaka alam. Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan cara memperbaiki kualitas air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. dan/atau c. Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air ditujukan untuk mempertahankan dan memulihkan kualitas air yang masuk dan yang ada pada sumber-sumber air. Pengendalian pencemaran air dilakukan dengan cara mencegah masuknya pencemaran air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. menyimpan air yang berlebihan di saat hujan untuk dapat dimanfaatkan pada waktu diperlukan. cekungan air tanah. 11. b. ekonomi.

serta menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan. Menetapkan dan membina pengelolaan kawasan hutan di daerah tangkapan air hujan.1 Mempertahankan Daerah Aliran Sungai Konsepnya adaklah dengan meningkatkan. 4-5 4. memulihkan dan mempertahankan daya dukung. Yang dimaksud dengan prasarana dan dan sarana konservasi sumber daya air LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa dan mengelola daerah resapan air dalam rangka mengupayakan peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak . 25% di tahun 2015. daya tampung. Mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi sumber daya air dengan target minimal 25% tiap 5 (lima) tahun. c. Berberapa langkah ang dapat dilakukan untuk mendukung hal ini adalah dengan: a.2.2 Strategi Konservasi Sumberdaya Air 4.2.5% di tahun 2010. Merehabilitasi hutan dan lahan kritis seluas 43 juta ha dengan prioritas di 142 DAS kritis. Keberhasilan pengelolaan akan sangat ditentukan oleh hal ini mengingat kelancaran suatu proses untuk mencapai tujuan dari kebijakan akan membutuhkan kedisiplinan dalam pelaksanaan. Menetapkan air. dengan target minimal 12.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sebagai kelanjutan program dan kebijakan yang bersemangatkan pengelolaan sumber daya air. 50% di tahun 2025. Pelaksanaan kebijakan tidak dapat terlaksana tanpa adanya perangkat hukum yang berwibawa dengan dukungan aparat penegak hukum. Kriteria luas tutupan perlu dibuat oleh instansi yang berwenang d.2. dengan persentase tutupan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang. b. perlu pula adanya dukungan dari perangkat hukum dan penegakannya. dan fungsi daerah aliran sungai untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. karenanya jaminan dari perangkat hukum sangat dibutuhkan.

situ/embung dan mata air dengan aturan yang sesuai dengan penetapan kawasan sabuk hijau sesuai dengan undang-undang UU No. embung. Pengembangan sabuk air di sekitar mata air antara lain dapat dilakukan dengan mengembangkan arboretum. teknik pemanenan hujan. dll. 4-6 4. Menyempurnakan pedoman penetapan batas semadan sumber air Menetapkan daerah batas sempadan sungai. danau. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . d. c. rawa ) dan pengawetan air berupa pembangunan antara lain: waduk dan embung. dan fungsi sumber daya air untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. check dam. Aplikasi dari strategi ini dapat dilakukan dalam beberapa langkah konkret sebagai berikut: a.2. waduk dengan prioritas daerah pemukiman dengan target 15% tiap 5 (lima) tahun. embung. teras bangku. memulihkan dan mempertahankan daya dukung. Upaya penyediaan sebagai pengganti pengambilan air tanah dapat dilihat pada langkah penyediaan air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA adalah small and medium pond. waduk. rawa. 41 tahun 1999 tentang kehutanan pasal 50 ayat (3) butir c. ground sill.2 Mempertahankan Sumber Daya Air Konsepnya adalah dengan meningkatkan. guna kepentingan pelestarian lingkungan sekitar mata air. Menetapkan dan mengelola kawasan danau.2. situ. sumur resapan. b. situ. Meningkatkan upaya pemeliharaan sumber air (antara lain : danau. rawa. Sabuk hijau dikenal juga sebagai lajur pepohonan di sekeliling wadah air. daya tampung. e. Melakukan pengendalian pengambilan air tanah secara ketat dengan prioritas pada cekungan-cekungan air tanah yang sudah kritis dan kawasan karst dengan membatasi pengambilan hanya sebesar batas aman (safe yield).

Mengelola daerah sempadan sumber air sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh menteri yang membidangi sumber daya air. Menerapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya sebagai instrumen untuk mendorong pengendalian pencemaran air dan meningkatkan pengelolaan kualitas air kepada para pecemar.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA e.2.3 Mempertahankan Kualitas Air Konsepnya adalah dengan memulihkan dan mempertahankan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan. Menetapkan kawasan reklamasi rawa dengan ketebalan lahan gambut lebih dari 3 meter sebagai kawasan rawa konservasi. b. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . g. d. Mempertahankan kualitas air dilakukan dengan menerapkan beberapa strategi berikut: a. Menetapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya sebagai instrumen untuk mendorong pengendalian pencemaran air dan meningkatkan pengelolaan kualitas air kepada para pecemar. Untuk mengembalikannya perlu tindak pengolahan air yang membutuhkan sejumlah biaya yang pada akhirnya akan menambah biaya operasional. Menetapkan baku mutu limbah cair yang diperkenankan dibuang kedalam sumber air/badan air. 4-7 f. c. 4. Mendorong dan mengupayakan pembangunan sistem pengelolaan limbah cair komunal di kawasan pemukiman dan kawasan industri. Menurunnya kualitas air mengakibatkan kesulitan karena berkurang atau hilangnya manfaat yang diharapkan dari air bersangkutan. Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air dan kegiatan penambangan lainnya.2.

g. Mendorong upaya pengawetan air melalui pembudayaan prinsip 3 (tiga) R (reduce. reuse. pengenceran.recycle) 4-8 f. h. Membangun sistem pemantauan kualitas air pada sumber air dan kualitas limbah cair secara berkelanjutan. Memperbaiki kualitas air pada sumber air dengan cara antara lain: aerasi. i. Menegakkan hukum yang tegas bagi pelanggar ketentuan kualitas serta sistem penerapan insentif-disinsentif pengelolaan sumber daya air dan lingkungan dengan target minimal selesai tahun 2015. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA e. Membangun bangunan penahan intrusi air laut di kawasan pantai dan mengendalikan penggunaan air tanah guna menghindari intrusi air laut. secara biologi.

Madiun # East Java Province # Situbondo # Sukoharjo Purworejo K. Semarang Y # Blora SWS 0210 SWS 0215 Lamongan # Sumenep Gresik # Sampang Pamekasan # # Sapudi Is. Yogyakarta # K. Tegal K. Mojokerto # # # 7 SWS 0203 SWS 0207 Purbalingga # Central Java Province Temanggung Semarang Tasikmalaya Banyumas Ciamis Cilacap Kebumen # # # SWS 0209 # Garut Sidoarjo Ma du r a St r ai t SWS 0206 # K. Bekasi # # # Krakatau Serang 6 Bekasi Karawang Ja va Se a Y # U % SWS 0204 Indramayu # # # Banten Province # # K. Magelang Banjarnegara # # K. D ate A5 C piledb : om y G Operator: IS CORRELATION BETWEEN AMINISTRATION AND WATERSHED (SWS BOUNDARIES ) S rce : ou . Malang Ponorogo # Bondowoso # Gunungkidul # K. Lake) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa eptem 2004 ber :S BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4-9 . Cilegon # # 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' Bawean Is. Ba l i St r a i t # Mojokerto SWS 0212 Madiun Jom bang # # K. SWS 0202 Purwakarta # # SWS 0201 Lebak Bogor Subang Jepara Cirebon # Pandeglang West Java Province # # Pati K. Surakarta Magelang # Nusakambangan Is. River. Jakarta Bay Tangerang JAKARTA TANGERANG K. Sukabumi # BANDUNG Sumedang Majalengka Brebes Kuningan Pekalongan Pemalang # # SWS 0205 Kudus Rembang Tuban # # # Y # K. Probolinggo Pasuruan # Kediri Y # YOGYAKARTA # # # K. 1 Susunan Wilayah Sungai yang sudah ada. Pasuruan # Karanganyar Nganjuk # # Sleman Klaten # Magetan K.it ra St nd a Su BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 0' Kepulauan Seribu K. 9 L nd: ege G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E SI A NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT M N : ap o M Title : ap Gambar 4. Pekalongan # # # # K. Bandung Tegal Grobogan Bojonegoro Ngawi # # # SWS 0208 Batang # # # SEMARANG # Madura Is. 1 : 250 000 Scale (Coastline. Depok Panaitan Is.Bakosurtanal. Kediri # Bantul Probolinggo SWS 0213 Kulonprogo # # Wonogiri K. Salatiga # WonosoboSWS 0211 Sragen # Boyolali K. Y # SURABAYA K. Bangkalan # Pelabuhan Ratu Bay Sukabumi Cianjur Bandung # # # Demak Kendal K. Blitar # Lumajang # Pacitan # SWS 0214# Malang Yogyakarta Special # # Trenggalek Tulungagung Blitar Province Jember Banyuwangi 8 I ndi an Oce an Nusa Barung Is.

1 STRATEGI KEBIJAKAN STRUKTURAL Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang Sudah Ada 4-10 4. Kabupaten Serang dan Kabupaten/Kota Tangerang.3 4. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Ciujung-Ciliman adalah : DAS Ciujung. Luas wilayah sungai Ciujung-Ciliman sekitar 473.Bogor. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Keutuhan dan kemantapan fungsi cathment area DAS Ciujung sangat penting sebagai sumber air bagi daerah-daerah seperti Kabupaten Lebak.3. Kab. Kab. DAS Cidanau. Kab. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Ciujung-Ciliman diuraikan pada Tabel 4. DAS Ciliman.3.Lebak.1 Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman Sungai-sungai yang mengalir di WS Ciujung-Ciliman berhulu di gunung karang dalam wilayah administratif Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang.1.Pandeglang. serta bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Serang.1. Selain itu DAS Ciujung berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang akan diarahkan untuk mensuplai air bagi Waduk Karian. DAS Cidanau merupakan salah satu sumber air yang vital bagi masyarakat Kabupaten dan Kota Cilegon dan diarahkan untuk mensuplai keberlangsungan Waduk Krenceng. DAS Cibante dan DAS Cibungur. meliputi wilayah administratif: Kota Cilegon. Diantara DAS tersebut di atas yang menjadi prioritas adalah DAS Ciujung dan DAS Cidanau.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4.000 Ha.Serang. dan Kab.

2 Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Sungai-sungai yang mengalir di WS Ciliwung-Cisadane berhulu di G. Jakarta Utara. penyedia air baku untuk kecamatan Banjarsari dan sebagai waduk pengendali banjir pemenuhan kebutuhan air baku Jabotabek 4-11 2 Waduk Tanjung Sungai Cidurian 3 4 5 Waduk Cilawang Waduk Pasirkopo Waduk Cimalur Sungai Ciujung Sungai Ciujung Desa Cibatur Keusik Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak Sungai Cisemeut 6 7 8 9 10 11 12 13 Waduk Bojongmanik Bendung Anyer Bendung Karet Cikoneng. Jakarta Selatan. 1 KEGIATAN Waduk Karian LOKASI Hulu Sungai Ciujung MANFAAT & PENJELASAN Penyedia air rumah tangga. DAS Pesanggrahan. dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Bekasi. DAS Sunter.3. Kota Tangerang. Jakarta Pusat. Sukabumi. Kota Bogor. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Jakarta Timur.Kendeng dan G. WS Ciliwung-Cisadane mencakup wilayah DAS Cidurian. Bekasi. Kab. perkotaan dan industri untuk kebutuhan Tangerang lewat KSCS mengambil alih fungsi Waduk Karian untuk mensuplai air irigasi ke daerah irigasi Ciujung suplesi air irigasi DI. Kota Bekasi. Kota depok.1.Wiru dalam wilayah administratif Kabupaten Bogor. Cilemer kiri seluas 500 ha. Kab. Bogor. Tangerang. Serang. Kab. Kab. Kab. Bendung Karet Cisangkuy Long Storage Sungai Ciujung Bendung Tipe Gergaji di Sungai Cibama Bendung Karet Cibungur Bendung dan Bendung Karet Ciseukeut 4. DAS Cisadane. Lebak. dan DAS Cikarang/Cipamingkis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Luas wilayah sungai Ciliwung–Cisadane sekitar 4355 Km² dan meliputi wilayah administratif kabupaten / kota sbb : Jakarta Barat. perkotaan dan industri untuk wilayah Serang dan Jabotabek dengan menggunakan saluran Karian-Tanjung-Serpong (KTS). DAS Ciliwung. Kab. penyedia air baku untuk daerah Tangerang dan DKI Jakarta dengan menggunakan saluran irigasi Cidurian atau dengan saluran lternative KarianTanjung-Serpong (KTS) menambah persediaan air rumah tangga. 1 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciujung Ciliman NO.

Tabel 4. sungai dan berbagai saluran utama telah mengalami pengurangan kapasitas akibat terjadinya agradasi dasar sungai. khususnya pada saat pasang 2. Selain itu Waduk Ciawi juga dapat berfungsi sebagai penyedia air untuk Kota Bogor dan DKI Jakarta serta sebagai sumber air untuk penggelontoran Sungai Ciliwung di musim kering penyedia air baku ke daerah Bogor dengan cara gravitasi penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta memenuhi kebutuhan air di Kota dan Kabupaten Bogor mengalihkan debit banjir dari Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane guna pengendalian banjir di DKI Jakarta memenuhi kebutuhan air Jabotabek 4-12 2 3 4 5 6 7 Waduk Genteng Waduk Parung Badak Waduk Sodong Salak Contour Canal Ciliwung Floodway Tunnel Peningkatan Kanal Tarum Barat Sungai Cisadane tengah Sungai Cisadane hilir Sungai Cikaniki sekeliling Gunung Salak Kota Bogor Karawang . wilayah ini terletak pada daerah yang rata dan rendah (kurang lebih 15. 3. Meningkatnya proporsi luas permukaan tanah yang tidak lolos air yang berakibat pada infiltrasi yang semakin mengecil. floodway. khususnya di wilayah Jakarta bagian hulu. sehingga mempercepat aliran permukaan. 1 KEGIATAN Waduk Ciawi LOKASI Hulu Sungai Ciliwung MANFAAT & PENJELASAN Mengurangi debit banjir Sungai Ciliwung di Kota Bogor. Untuk itu perlu meningkatkan kapasitas drainase yang saat ini belum memadai. Kondisi ini merupakan kombinasi dari berbagai akibat yang ditimbulkan oleh : 1. 2 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciliwung-Cisadane NO. Hal ini merupakan permasalahan yang cukup pelik di beberapa tahun terakhir ini. Meningkatnya puncak banjir dari DAS bagian hulu akibat meningkatnya urbanisasi dan hilangnya daerah resapan air Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Ciliwung-Cisadane diuraikan pada Tabel 4.000 ha terletak 2 m dibawah permukaan air laut).2. dan relatif terkena dampak aliran balik dari laut.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Saat ini banjir sering terjadi pada DAS Ciliwung. 4. Amblesan tanah khususnya di wilayah Jakarta bagian utara yang disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebih. Terabaikannya pemeliharaan fasilitas drainase yang ada.Bekasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

Bekasi LOKASI Cengkareng MANFAAT & PENJELASAN pencegahan banjir dan meningkatkan urban drainage. Master Plan 1997 pengendalian banjir. DAS Cisadea. Buaran. Tangerang Kota/Kab.3 Wilayah Sungai Cisadea-Cikuningan Sungai sungai yang ada di WS Cisadea – Cikuningan terutama berhulu dari beberapa mata air yang ada di G. DAS Cibuni. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Cisadea-Cikuningan diuraikan pada Tabel 4. Kabupaten Bandung. Master Plan 1997 Pengendalian banjir.Malabar. Normalisasi alur sungai 22 km. G. Kabupaten Sukabumi. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Tangerang Kab. Cikarang. Bekasi DKI 4. 8 KEGIATAN Pengembangan Cengkareng Floodway System Sungai Cidurian Sungai Cimanceuri Sungai Cirarab Sungai Cisadane Cengkareng drain. Pembuatan Sal.327 Km² dan meliputi 4 wilayah administratif kabupaten/kota sbb: Kabupaten Cianjur.Patuha.Gede Pangrango serta G. Peningkatan fungsi sungai ke hilir dari daerah Angke dan Sungai Pesanggrahan dan Mookervaart Canal.Talaga. DAS Cimangur dan DAS Cibareno. Master Plan 1997 4-13 9 10 11 12 13 14 15 16 Kab.3. 2 bh. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Jakarta DKI Jakarta Kab. DAS Ciletuh.Cikuningan adalah : DAS Cimaragang. Normalisasi alur sungai 22 km. DAS Cipondok.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.Malang. Tangerang Kab. Normalisasi alur sungai 32 km. Cakung Banjir Kanal CBL. Normalisasi alur sungai 17 km. Banjir. DAS Cikarang. DAS Cimandiri. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Sungai-sungai tersebut bermuara di Samudera Indonesia di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi. Terowongan 1 km. G. Cipinang. Normalisasi alur sungai 38 km. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. G. Normalisasi alur sungai 50 km. Luas wilayah SWS Cisadea – Cikuningan sekitar 37. Kali Angke. Sunter. Kota Sukabumi. Mookervaart Banjir Kanal Barat/ Ciliwung Banjir Kanal Timur. G.Pangkulahan.Kendeng.1. Normalisasi alur sungai 29 km. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Cisadea . Normalisasi alur sungai 57 km. G.3. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tangerang DKI Jakarta Kota Bogor. DAS Cikaso. serta konstruksi Angke Floodway Pengendalian banjir. Master Plan 1997 Pengendalian banjir.

87 Km². LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Cibareno dan Sawarna Cikamayapan. Ciparahu.1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4.Cikapundung dan S. Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Bekasi.Cisokan. Panjang sungai Citarum sekitar 315 km.000 ha 4. DAS Cinerang.4 Wilayah Sungai Citarum Sungai Citarum berhulu dari mata air Gunung Wayang. DAS Cipunagara. Kabupaten Cianjur. Cikarang. Wilayah sungai Citarum meliputi 9 wilayah administrative. S. 3 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Cisadea-Cikuningan NO. Kabupaten Bandung. dan DAS Kalisewo. Kabupaten Purwakarta. DAS Pagadungan. Cilograng. dan memiliki tiga anak sungai utama yaitu S. Kota Cimahi.Cisangkuy. 1 KEGIATAN Bendung Cibareno Bendung Cihara Sungai LOKASI Pasir Bungur. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Citarum diuraikan pada Tabel 4.410. DAS Ciasem.3. DAS Cilamaya. Kabupaten Sumedang. yaitu: Kota Bandung. Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Karawang. dengan panjang sungai mencapai 315 Km DAS yang termasuk didalam Satuan Wilayah Sungai Citarum adalah : DAS Citarum.800 ha 4-14 2 Sungai mengairi sawah seluas 2. Berdasarkan data Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Propinsi Jawa Barat luas wilayah sungai Citarum adalah 11. Mekarsari dan Karang Kamulyan MANFAAT & PENJELASAN mengairi sawah seluas 2. Kabupaten Karawang. Cikatomas.4.

126 jiwa.000 Ha lahan irigasi.102.400 MWh dan penyediaan air baku untuk 79. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung pengairan irigasi seluas 68.000 MWh.148 ha. Bandung Kab.07% pengairan irigasi seluas 9. Nilai ekonomi proyek IRR 2.67% Mengairi 20. Volume tampungan sebesar 2.960 ha.683 jiwa.872 MWh dan penyediaan air baku untuk 22.63% pengairan irigasi seluas 5.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5. Nilai ekonomi proyek IRR 7. 1 2 3 4 5 6 KEGIATAN Waduk Naragong Waduk Nameng Waduk Pasiranji Waduk Pangkalan Peninggian Dam Cirata Peningkatan Kanal Tarum Barat atau Pembangunan Kanal Tarum Jaya Waduk Talagaherang Waduk Maya Waduk Bodas Dam Sungai Cilame Dam Sungai Cipunagara Waduk Cipunagara dan bendungan pengatur di Sadawarna Waduk Cibeber Waduk Kandung Pengembangan Sungai Cisangkuy Waduk sungai Cikapundung Waduk Sukawana Sudetan sungai Cibeureum Waduk Bojong Jambu Waduk Jatigede Waduk Cipasang LOKASI Anak Sungai Cileungsi (DAS Bekasi) Sungai Cibeet Cipamingkis Sungai Cibeet Dam Cirata Karawang – Bekasi – DKI Jakarta Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur MANFAAT & PENJELASAN penyedia air baku ke daerah Bogor dengan menggunakan pompa penyedia air untuk areal tambak menampung air dari Sungai Cipamingkis atau dari saluran pembawa penyedia air utama untuk daerah hilir Kanal Tarum Barat secara gravitasi Penyediaan air baku dan tenaga listrik memindahkan air dari wilayah sungai Citarum ke Jakarta 4-15 7 8 9 10 11 12 mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Sungai Cisangkuy Sungai Cikapundung Cimahi Kab. maka Waduk Kadumalik dengan EL + 294 dapat menjadi lternative cadangan utama Potensi listrik sebesar 86.9 GWh dan potensi air baku 915 ha.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Bandung Kab. pengairan irigasi seluas 12. Potensi paling baik untuk dikembangkan karena memiliki nilai EIRR lebih tinggi (17.4 juta m3.65 %).835 jiwa. potensi listrik sebesar 2. pengairan irigasi seluas 18. Volume tampungan sebesar 71 juta m3. potensi listrik 6. Volume tampungan sebesar 395 juta m3. Garut mengairi sawah mengairi sawah mencukupi kebutuhan air rumah tangga. potensi listrik sebesar 1. Volume tampungan sebesar 50 juta m3. Garut Kab.639. Jika pembuatan Waduk Jatigede di tunda. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air rumah tangga. nilai ekonomi proyek IRR 6.280 ha. 4 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citarum NO.004 jiwa.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. Nilai ekonomi proyek IRR 12% 22 23 24 25 26 Waduk Cipanas Waduk Ujungjaya Waduk Kadumalik Waduk Pasirkuda Waduk Ciniru Kab. Garut Kadipaten Majalengka Majalengka Kuningan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

Karawang Kab. Bekasi Kab.70 GWh dan potensi air baku.2 GWh dan potensi air baku 444 ha. pengairan irigasi seluas 8.6 GWh dan potensi air baku 298 ha.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. potensi listrik 3. Subang Kab.3 GWh dan potensi air baku 828 ha. Penyediaan irigasi seluas 12. Volume tampungan sebesar 35 juta m3.275 ha. Sampai dengan Jalan Raya Bandung-Tasik ± 5 km.7 GWh dan potensi air baku 1. Penyediaan irigasi seluas 19.405 ha. Bekasi Rehabilitasi Irigasi Kab. potensi listrik 1. potensi listrik 0. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Penyediaan irigasi seluas 24.1 GWh dan potensi air baku 60 ha.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10. Indramayu S.439 ha. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.145 ha. pengairan irigasi seluas 10. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.20 GWh. potensi listrik 11. Nilai ekonomi proyek IRR sebesar 22.7 GWh dan potensi air baku. potensi listrik 8. potensi listrik 0. pengairan irigasi seluas 9. pengairan irigasi seluas 8. Peningkatan Kapasitas System Sungai Citarum Hulu Q5 menjadi Q20. pengairan irigasi seluas 4.439 ha. Subang Rehabilitasi Irigasi Kab.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.017 ha. Normalisasi sungai ± 5 km. pengairan irigasi seluas 2. Karawang Rehabilitasi Irigasi Kab. Cimande Pekerjaan Konstruksi S. pemenuhan kebutuhan air baku dan keperluan irigasi dan perikanan tambak mendukung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Penyediaan irigasi seluas 6. Citarik Hulu Pekerjaan Konstruksi S. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pengairan irigasi seluas 4. potensi listrik 5.153 jiwa. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.530 ha.56 %. potensi listrik 1.275 ha dan potensi air baku 828 ha.210 ha.275 ha. 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 KEGIATAN Waduk Cimulya Waduk Gunungkarung Waduk Manenteng Waduk Pecang Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk Seuseupan Waduk Cihirup Waduk Mangit Waduk Ciwaru Waduk Cihowe Waduk Dukuh Badag Waduk Cileuweung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Long Storage Indramayu Pengembangan 6 Embung Rehabilitasi Irigasi Kab. pengairan irigasi seluas 8. pengendalian banjir dan pengamanan pantai 4-16 41 42 43 44 45 46 47 48 Indramayu Cirebon Kab. potensi listrik 10.004 jiwa.16% pengairan irigasi seluas 9.173 ha.468 Ha sawah dan ± 750 Ha tambak).355 ha. Normalisasi sungai ± 10 km. Nilai ekonomi proyek IRR 12. pengairan irigasi seluas 8. Cikeruh LOKASI Kuningan Kuningan Kuningan Kuningan Garut Garut Cirebon Sumedang Kuningan Kuningan Cirebon Cirebon Cirebon Cirebon MANFAAT & PENJELASAN pengairan irigasi seluas 9.982 ha. pengairan irigasi seluas 600 ha.000 ha. Citarik Hulu Pekerjaan Penyempurnaan Flood Warning System Peningkatan Kapasitas Sungai Pekerjaan Konstruksi S.4 GWh dan potensi air baku 444 ha.145 ha dan potensi listrik 17. Normalisasi sungai ± 5 km. Indramayu 49 50 51 52 Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. pengairan irigasi seluas 12.40 GWh dan potensi air baku 915 ha. memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu-Cirebon (± 4.

DAS yang termasuk kedalam WS CimanukCisanggarung adalah DAS Cimanuk. Kabupaten Sumedang.5.Cakrabuana dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon. DAS Cipanas.439 ha.Guntur dan G. tambak 750 ha ). DAS Pangkalan. DAS Bangkaderes. yaitu: Kabupaten Garut.36 juta m3 Volume tampungan : 0.76 Km².Jamblang Waduk Cipasang Waduk Cihowe Kuningan Majalengka Indramayu Cirebon Indramayu Kuningan Cirebon Garut Cirebon LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Indramayu.2 GWh dan potensi air baku 444 ha. potensi listrik terpasang 110 MW dan penyediaan air baku untuk 79.3. 4-17 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waduk Cipanundan Waduk Cilutung Waduk Cipanas Waduk Sarwadadi Long Storage Indramayu Waduk Bojong Waduk Brahim Waduk Cimulya Long Storage K.000 ha. 1 KEGIATAN Waduk Jatigede LOKASI Sumedang MANFAAT & PENJELASAN Irigasi seluas 90. Kabupaten Majalengka.7 jt m3.004 jiwa. DAS Ciwaringin.1.683 jiwa.126 jiwa. maka Waduk Cilutung dengan El + 294 dapat menjadi alternatif cadangan utama Irigasi seluas 12.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. G. Tabel 4.468 ha. Luas wilayah WS Cimanuk – Cisanggarung adalah 6932. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Cimanuk-Cisanggarung diuraikan pada Tabel 4. Irigasi seluas 20.1 juta m3 Irigasi seluas 4.Mandalawangi. Irigasi seluas 500 ha dan penyediaan air baku 300 kk Pemenuhan kebutuhan air irigasi dan perikanan tambak Volume tampungan : 0. Irigasi seluas 18. DAS Cisanggarung. Irigasi seluas 600 ha. volume tampungan 2. Kabupaten Kuningan. volume tampungan 1. potensi listrik 0. dari mata air yang berasal dari G.5 GWh dan potensi air baku 915 ha dengan volume tampungan sebesar 35 juta m3. DAS Cilalanang.3 jt m3.27 juta m3 Irigasi seluas 9. Harga tampungan per m3 rendah (Rp 650/m3) Volume tampungan netto 796. dan DAS Kali Jurang Jero. G.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. potensi listrik 4. DAS Cimanggung.Cirebon ( sawah 4. Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon. potensi listrik 0.Malabar.000 ha.960 ha. volume tampungan sebesar 395 juta m3. Volume tampungan sebesar 395 jiwa. potensi listrik terpasang187 MW dan penyediaan air baku untuk 22.5 Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung Sungai Cimanuk berhulu di wilayah administratif Kabupaten Garut . Kuista . Memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu . meliputi 7 wilayah administrative. 5 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Cimanuk-Cisanggarung NO.1 GWh dan air baku 60 ha. jika Waduk Jatigede ditunda.145 ha.

982 ha potensi listrik 1.000 MWh dengan volume tampungan 2.20 GWh. Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut.4 GWh dan potensi air baku 444 ha.145 ha dan potensi listrik 17.275 ha.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10. DAS Ciwulan. Galunggung dan G.275 ha.Luas wilayah WS Citanduy–Ciwulan adalah Banjar. sekitar 7.6. Irigasi seluas 2. volume tampungan 50 juta m3.000 ha dan penyediaan air baku 175 juta m3. DAS Cijulang. Kabupaten Tasikmalaya.996 Km² dan meliputi wilayah administratif Kabupaten Garut. sungaisungai tersebut pada akhirnya bermuara ke Samudera Indonesia di wilayah Kabupaten Ciamis. Potensi listrik sebesar 86.153 jiwa . Irigasi seluas 8. DAS Cipatujah.173 ha potensi listrik 10. Irigasi seluas 4. volume tampungan 20 jt m3. Irigasi seluas 8. volume tampungan 78 jt m3.835 jiwa dengan volume tampungan 71 juta m3.6 Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan terdiri beberapa sungai yang berhulu terutama dari mata air yang berasal dari G. Irigasi seluas 8.3 GWh dan air baku 828 ha.70 GWh dan potensi air baku 915 ha.3.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5.275 ha dan potensi air baku 828 ha.7 GWh dan potensi air baku 1017 ha dengan volume tampungan 69 juta m3. Kota Tasikmalaya. Irigasi seluas 10. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Citanduy-Ciwulan adalah : DAS Citanduy. Sawal. volume tampungan 86 juta m3. DAS Cisanggiri dan DAS Cilaki. Karung Waduk Maneungteung Waduk Pecang Waduk Seuseupan Waduk Masigit Waduk Ciwaru Waduk Dukuh Badag LOKASI Kuningan Sumedang Majalengka Garut Garut Kuningan Kuningan Kuningan Cirebon Kuningan Kuningan Kuningan MANFAAT & PENJELASAN Irigasi seluas 8.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Irigasi seluas 9. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Citanduy-Ciwulan diuraikan pada Tabel 4. volume tampungan 32 jt m3.000 ha potensi listrik 11.7 GWh dan air baku 828 ha.439 ha potensi listrik 3. potensi listrik 1.6 GWh dan potensi air baku 298 ha.4 juta m3 . volume tampungan 12 jt m3. Volume tampungan 53 juta m3. Kota LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 KEGIATAN Waduk Cileuweung Waduk Ujungjaya Waduk Pasirkuda Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk G. 4-18 4. potensi listrik 8. Irigasi seluas 9. dan Kabupaten Ciamis. DAS Cimedang. Irigasi seluas 5. Irigasi seluas 12. DAS Cikondang.1.

Tasikmalaya. 10 lokasi Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis 4 5 Kabupaten Ciamis. 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. Jagadenda. 20 lokasi Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Memperlancar aliran sungai Citanduy menuju ke laut lepas Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Cibeureum. 6 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citanduy-Ciwulan NO. Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan c Normalisasi sungai-sungai DAS Citanduy Hilir Normalisasi sistem drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. pertanian dan prasarana umum. Citalahab dan Cikaso Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Mengembalikan dan meningkatkan fungsi bangunan Klep Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengamankan daerah permukiman. Cilacap Kota Banjar. Ciamis dan Garut Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan lokasi chekdam 15 Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. Plumpatan. Pekalongan dan anak-anak sungainya Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Sidareja Cihaur Mengembalikan dan meningkatkan kapasitas bangunan klep fungsi dan Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Ciseel. Kabupaten Tasikmalaya. Kabupaten Garut Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Kabupaten Cilacap. Tasikmalaya. 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. Kawungatan.Segara Anakan (Kabupaten Cilacap & Ciamis) Normalisasi sungai-sungai Kabupaten Cilacap DAS Segara Anakan Normalisasi sistem drainasi Daerah Irigasi Sidareja Cihaur dan sekitarnya Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. Kab. 1 2 3 KEGIATAN LOKASI MANFAAT & PENJELASAN Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan 4-19 Penyusunan pola Wilayah sungai Citanduy pengelolaan SDA Wilayah Ciwulan (Propinsi Jabar & Sungai Citanduy Ciwulan Jateng) Rencana induk (Master Wilayah sungai Citanduy Plan) pengelolaan SDA Ciwulan (Propinsi Jabar & WS Citanduy Ciwulan Jateng) Lower Citanduy Flood Management: Pengerukan Plawangan Plawangan . Ciputrahaji. Cikonde. Ciamis dan Garut Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Cimeneng.

tinggi mercu bendung 70 m. dan prasarana umum/TPI/LAPAN/objek wisata Mengamankan daerah permukiman. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. perkotaan dan Industri serta irigasi. Tinggi mercu bendung 7 m. Tinggi mercu bendung 28 m. 6 7 KEGIATAN Rehabilitasi Bendung Manganti Tahap II Pengamanan Pantai Pantai Pangandaran 3 km Pantai Bojongsalawe 3 km Pantai Cilaut Eureun 2 km Pantai Ranca Buaya 1 km Pantai Bagolo 1 km Pantai Cipatujah 2 km LOKASI Kabupaten Ciamis MANFAAT & PENJELASAN Penyediaan air Irigasi 27. Tampungan total 150 juta m3 dan tampungan aktif 18 juta m3 Meningkatkan kebutuhan air baku dan pengendali banjir serta sedimentasi. dan prasarana umum Penanggulangan sedimentasi di Segara nakan dari sungai Citanduy.08 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. dan prasarana umum Mengamankan daerah permukiman. perkotaan dan industri serta irigasi. perkotaan dan industri serta irigasi Potensi listrik yang dihasilkan kecil. Tampungan total 120 juta m3 dan tampungan aktif 55 juta m3. Mengalihkan muara sungai Citanduy langsung ke Laut (teluk Nusaware) Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. luas areal 440 ha. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 48 M.050 ha. Irigasi 3. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.229 ha dan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan. Diharapkan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan Elevasi puncak terhadap MSL 265 m. Tampung total 14 juta m3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Tampungan total 485 juta m3 dan tampungan aktif 220 juta m3. Potensi listrik yang dihasilkan kecil. tinggi mercu bendung 100 m. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. Tampungan aktif (juta m3) : 154 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. perkotaan dan industri serta irigasi. Area (ha) : 1. Tampungan Total (juta m3) : 270 . panjang 40 m. bak tampung 3 m dan bahan tubuh bendung adalah urugan tanah dengan inti clay tampungan aktif 27. perkotaan dan industri Tasikmalaya 800 ltr/det. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Elevasi puncak terhadap MSL 180 m. Tampungan total 180 juta m3 dan tampungan aktif 78 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. air minum kota sidareja dan pengendalian banjir Mengamankan daerah permukiman dan prasarana umum/obyek wisata Mengamankan daerah permukiman. Dapat menimbulkan dampak sosial ekonomi rakyat. luas areal 440 ha. Dapat menimbulkan dapak sosial ekonomi rakyat. luas arealnya 4-20 Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Tasikmalaya Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Garut Sungai Citanduy Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap 8 9 Sudetan Citanduy Waduk Matenggang 10 Waduk Pasirangin Kabupaten Tasikmalaya 11 Waduk Binangun I Kabupaten Ciamis 12 13 Waduk Binangun II Waduk Ciamis / Leuwi Keris Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis 14 Waduk Cikembang Kabupaten Ciamis 15 Waduk Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya 16 Waduk Banjar Kabupaten Banjar LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . luas arealnya 3. perkotaan dan industri dan tenaga listrik sebesar 50 lt/det. panjang bendung 180 m. luas areal 470 ha.330 .000 ha. Elevasi puncak MSL : 55 . Tinggi mercu bendung 60 m. tinggi mercu bendung 80 m. Elevasi terhadap MSL 180 m. Tinggi Mercu Bendung : 33 . Elevasi puncak terhadap MSL adalah 80 m. Meskipun potensi listrik yang dihasilkan kecil.

9%. DAS Comal. Informasi kelayakan proyek tidak tersedia. Sengkarang Kabupaten Pekalongan desa Karanganyar Kabupaten Pemalang Sungai Tanjung MANFAAT & PENJELASAN pengendalian banjir (± 4. DAS Cacaban. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi (teknis. Selain itu untuk penyediaan air baku dengan suplai 2.000 ha). Nilai EIRR 12. volume tampungan 45.000 ha).905 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 8.300 lt/dt. 2 3 4 Gede 5 Waduk Karanganyar Pengendalian Banjir Sungai Tanjung. Kabupaten Batang. Pemali Kabupaten Brebes hulu K. pembangunan/perbaikan tanggul.7 Wilayah Sungai Pemali-Comal Wilayah Sungai Pemali-Comal meliputi wilayah administratif kabupaten / kota sbb : Kabupaten Brebes.35 lt/dt. Tabel 4.534 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI. Tampungan total 460 juta m3 dan tampungan aktif 250 juta m3.770 Ha. 4-21 4. analisa kelayakan ekonomi menunjukkan nilai EIRR sebesar 17. Peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 7. Babakan dan 6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .1.718 Ha. semi teknis dan sederhana) seluas 38. Kabupaten Pekalongan. Kabupaten Tegal. Gung Kabupaten Tegal hulu sungai K. Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Batang. 1 KEGIATAN Waduk Kawung Waduk Ki Sebayu Waduk Sipring Waduk Krandegan Bantar LOKASI hulu K.730 ha. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Keruh Kabupaten Pemalang hulu sungai K. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 27. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Pemali-Comal diuraikan pada Tabel 4. untuk mereduksi daerah rawan banjir seluas 1. tinggi bendung 40 m.93 juta m3. potensi waduk 150 juta m3.4 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 26.620 ha.. volume tampungan 30 juta m3. Kota Pekalongan.717 Ha. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Pemali-Comal terdiri dari 6(enam) Daerah Aliran Sungai(DAS). DAS Rambut.482 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI ± 867. DAS Kupang dan DAS Lampir. 7 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pemali-Comal NO.3. Kabupaten Pemalang. Penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 965. Genteng dan K. yaitu : DAS Pemali.7. KEGIATAN LOKASI MANFAAT & PENJELASAN 1. penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 2. dengan tinggi bendung 95 m. Kota Tegal.6% pengendalian banjir (± 5.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.

10.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Purworejo. Kabupaten Banjarnegara. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. normalisasi alur sungai 7.2 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Usulan baru dan belum pernah dilakukan studi. 822. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. yang pada akhirnya wilayah Kabupaten Banyumas.3 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. dengan nilai EIRR adalah sebesar 42.8 Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto terdiri beberapa bermuara ke Samudera Indonesia di sungai yang berhulu terutama dari mata air yang berasal dari gunung Selamet. dan Kabupaten Purworejo.667 m. dengan nilai EIRR adalah sebesar 26. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12. pembangunan jembatan kereta api baru 1 buah.352. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. pembangunan jalan dan jembatan baru.9% Pembangunan/perbaikan tanggul. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Kabupaten Banyumas. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.699. Kabupaten Kebumen.130 ha Pelindung tebing pasangan batu kali 5.010 ha dan untuk mensupli waduk Cacaban dengan luas irigasi 1. Kabupaten Purbalingga. Jatinegara Jateng pembangunan/perbaikan tanggul. 231 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998.1% Pembangunan/perbaikan tanggul.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998.3.1. pembangunan inlet drainase 11 buah. 20.Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. diharapkan dapat mereduksi daerah rawan banjir seluas 6. pembangunan/perbaikan tanggul.1%. 287. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Meningkatkan intensitas tanam pada daerah irigasi Cipero seluas 8. KEGIATAN Kabuyutan LOKASI MANFAAT & PENJELASAN 4-22 7 8 Pengendalian Banjir Sungai Sragi Pengendalian Banjir Sungai Kupang Sungai Sragi Sungai Kupang 9 Pengendalian Banjir Sungai Kluwut Pengendalian Banjir Sungai Sambong Kabupaten Brebes 10 kabupaten Batang dan kabupaten Pekalongan 11 Pengendalian Banjir Sungai Comal kabupaten Pemalang 12 Pengendalian Banjir Sungai Waluh Sungai Waluh 13 Pengendalian Banjir Sungai Rambut Waduk Jatinegara Sungai Rambut 14 Kec. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.4% Pembangunan/perbaikan tanggul. 4. Kabupaten Wonosobo.5% Pembangunan/perbaikan tanggul.529 ha. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Wilayah Sungai SerayuBogowonto meliputi wilayah administratif Kabupaten Cilacap.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. pembangunan bangunan pengukur debit sungai 1 buah. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. dengan nilai EIRR adalah sebesar 15.1 km.

Target 6 km .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai.Lukulo & anak-anak sungainya. Tabel 4. Target 15 .Kebumen S Telomoyo & anak-anak sungainya. DAS Pekacangan.Cokroyasan Operasi dan Pemeliharaan Sungai LOKASI Anak S. Kebumen dan Purworejo DAS Wawar.Kebumen S Telomoyo & anak-anak sungainya. Kab. DAS Serayu Hilir. DAS Ijo. DAS Telomoyo. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Serayu-Bogowonto diuraikan pada Tabel 4. Kab.Cilacap. sehingga dapat mengurangi dampak yang lebih buruk Pengamanan pemukiman transportasi. DAS Bengawan. S. 1 KEGIATAN Pengedalian banjir S. Banyumas dan Cilacap DAS Bogowonto dan DAS Cokroyasan Kab. Serayu. persawahan transportasi. Peninggian jembatan melintang sungai-sungai di DAS Telomoyo Pembangunan pelimpah banjir DAS Telomoyo Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Rehabilitasi Jembatan KA melintang sungai di 7 lokasi. Cokroyasan. Kab. Banyumas dan Kebumen. Kab. Banjarnegara dan Purbalingga. DAS Bogowonto. Telomoyo dan Tipar. Normalisasi sungai dan bangunan pengatur air untuk mengatasi banjir daerah pemukiman dan budi daya perikanan. Sub-DAS Tajum. Kebumen. Kab. yang termasuk kedalam WS Serayu-Bogowonto adalah Sub-DAS Klawing.20 lokasi kritis dan 4-23 2 3 Mengatasi adanya halangan sungai yang dapat mengakibatkan banjir dan memperlancar transportasi antar pedesaan di 10 lokasi Mengatasi adanya kejadian banjir melebihi rencana. Kab. Normalisasi Kali Pantai antara S. Sub-DAS Sapi. persawahan dan 4 5 6 . Sub-DAS Merawu dan DAS Padegolan. Sub-DAS Begaluh.Bogowonto dan S.Klawing lanjutan Perkuatan tebing lokasi kritis dan penanggulangan banjir nopember 2004. Kab. Target 16 km Pengamanan pemukiman transportasi.Purbalingga dan Banyumas S Telomoyo. Mempertahankan kapasitas dan fungsi prasarana pengendalian banjir 8 9 10 Pembangunan bangunan Menahan pengaruh akibat intrusi air laut di 5 lokasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kebumen. Purworejo. 8 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Serayu-Bogowonto NO. Wawar dan Telomoyo. MANFAAT & PENJELASAN Pengamanan pemukiman dan persawahan Target 30km Pengamanan pemukiman . dari bahaya banjir.8. Kab. Muara-muara DAS Bogowonto.Serayu.Kebumen DAS Tipar dan Ijo. DAS Wawar.Purworejo DAS Bogowonto. Sub-DAS Serayu Hulu. Sub-DAS Tulis. Cokroyasan dan Bogowonto. persawahan dan 7 Pengamanan jalur transportasi KA Yogya -Jakarta. Sub-DAS Ciseel.

Telomoyo . Purworejo. Serayu.Telomoyo hilir 13 DAS Bogowonto. Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi.Trenggulun Pembangunan Waduk Gintung di S. Kab.Banjarnegara DAS Serayu Kab. Kebumen. Banyumas. Kab. KEGIATAN penahan intrusi air laut LOKASI Telomoyo. Cilacap. Telomoyo.Purworejo DAS Serayu Kab.Gintung Konservasi lahan dan penelitian 20 21 Multi purpose ( Irigasi. Kebumen dan Purworejo Kab. Lukulo dan Bogowonto. Purbalingga.Pekacangan Pembangunan Waduk Kesegeran di S.Banyumas DAS Serayu Kab. Lukulo. Kab. DAS Bogowonto.Jladri. Banyumas. Kab. DAS Serayu. Kebumen dan Purworejo. Banjarnegara. Wonosobo. Ijo dan Tipar MANFAAT & PENJELASAN 4-24 11 Pembangunan bangunan pemanfaatan daerah genangan banjir Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) dan Pengerukan hilir sungai Jladri Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) DAS Telomoyo. Penyediaan air baku dari bendungan Wadaslintang Pembangunan bangunan konservasi terpadu di hulu sungai Mengatasi kekurangan air pada musim kering 17 18 Mengatasi kekurangan air pedesaan Kab. Kebumen dan Purworejo (200 lokasi) Kab. Lukulo. Wawar dan Bogowonto. Target 10 lokasi 15 Mengatasi kekurangan air pada musim kering 16 Penyediaan air baku pedesaan dari bangunan konservasi (groundsill). Penyediaan air baku pedesaan dari mata air & sumber air Mengatasi degradasi sungai.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Banyumas. Wawar dan Telomoyo. Cilacap.Banjarnegara Mengurangi sedimentasi waduk dan pemanfaatan untuk air baku. Wonosobo.Kebumen DAS Serayu. Kebumen dan Purworejo (15 lokasi). Purbalingga. S. Banjarnegara. Banyumas. Kab. DAS Serayu. Target 15 lokasi 14 Pembangunan Groundsill (Bangunan Penstabil dasar sungai). Air Baku dan PLTA) 22 Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) 23 Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Wawar dan Cokroyasan. Banjarnegara dan Purbalingga.kebumen Mengurangi sedimentasi sungai kota Kebumen dan 19 Penataan kawasan arboretum Pembangunan Waduk Bener Di S. Wawar dan Ijo DAS Telomoyo Mendaya gunakan lahan depressi 12 Mengurangi sedimentasi di S.Bogowonto Pembangunan Waduk Wanadadi di S. Purbalingga.Jatinegara dan S.

9 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Jratun-Seluna NO.DAS Serang Hulu. Kota Salatiga. Grobogan Kab. Kabupaten Semarang. dan Sub. DAS Glagah. nilai EIRR 10. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Jratun-Seluna diuraikan pada Tabel 4. 1 KEGIATAN Waduk Jatibarang LOKASI Kab.1% (layak ) Pengembangan suplai untuk RKI 1. Nilai EIRR 14% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Kabupaten Grobogan. Konstruksi dam Jatibarang dimulai tahun 2002 (kegiatan yang masuk dalam jadwal biaya rendah).5 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1. Nilai EIRR 18. DAS Pandansari.6% (layak) pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Kabupaten Pati dan Kabupaten Jepara. Kabupaten Boyolali. Sub-DAS Lusi Tengah. Kabupaten Demak.700 l/detik (direncanakan memberikan 900 l/dt ke Semarang dan 800 l/detik ke Kendal) dan konservasi air tanah. DAS Bodri. Kabupaten Temanggung.Kebumen MANFAAT & PENJELASAN Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) 4-25 4. Grobogan 4 5 6 7 8 Jragung Barrage + Tunnel Waduk Dolok Waduk Bandung Harjo Waduk Ngemplak Waduk Coyo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . DAS Tuntang. 24 KEGIATAN Pembangunan Waduk Kemit di S. Nilai EIRR 11. Kota Semarang. DAS Lasem.3.9 Wilayah Sungai Jratun-Seluna Wilayah Sungai Jratun-Seluna meliputi wilayah administratif Kabupaten Kendal. Brangsong dan Kendal Semarang dan Demak Semarang dan Demak Kab.5% (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1. Nilai EIRR 9.7 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 750 l/detik dan konservasi air tanah.8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Semarang Kaliwungu.020 l/detik dan konservasi air tanah. DAS Garang. DAS Juwana. DAS Jragung. DAS Kedung Tanu.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Jratun-Seluna yaitu : Sub DAS Serang Hilar.1. DAS Randu Gunting.DAS Lusi Hulu. Nilai EIRR 13.9. Tabel 4. Nilai EIRR 16. Semarang MANFAAT & PENJELASAN Pengembangan suplai untuk RKI 920 l/detik dan konservasi air tanah. Kabupaten Kudus.750 l/detik dan konservasi air tanah. DAS Gandu. Grobogan Kab.Kemit LOKASI DAS Telomoyo Kab. Sub. 2 3 Waduk Mundingan Waduk Suren Kedung Kab.

957 ha. Nilai EIRR 8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah Pengendalian banjir seluas 590 ha.1.3. Layak secara ekonomi. nilai EIRR 17.650 ha.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Layak secara ekonomi. Sub-DAS Blongkeng.4% pengendalian banjir seluas 13. Nilai EIRR 22. nilai EIRR 24% Pengendalian banjir seluas 1. Kabupaten Magelang.337 ha. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Progo-Opak-Oyo yaitu : Sub.6% Pengendalian banjir seluas 6. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . nilai EIRR 20. DAS Progo. Sub-DAS Oyo. nilai EIRR 15. Blora Kab.10 Wilayah Sungai Progo-Opak-Oyo Wilayah Sungai Progo-Opak-Oyo meliputi wilayah administratif Kabupaten Temanggung.8% 4-26 4. SubDAS Winango.670 ha.DAS Progo Hulu.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.10. Kota Yogyakarta. Kabupaten Kulonprogo. Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul. Sub. Kota Magelang. Layak secara ekonomi. Kendal Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kab. Layak secara ekonomi. Layak secara ekonomi.028 ha. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Progo-Opak-Oyo diuraikan pada Tabel 4. Sub-DAS Opak.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Layak secara ekonomi. nilai EIRR 15. Pati MANFAAT & PENJELASAN Nilai EIRR 18. Sub-DAS Kanci. dan Sub-DAS Bedog. 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 KEGIATAN Waduk Tirto Embung Kedung Waru Embung Balong Pengendalian Banjir Sungai Blorong Pengendalian Banjir Sungai Garang Drainase Kota Semarang Tenggang + Sringin Drain Dombo-Sayung Floodway Kebon Batur Floodway Pengendalian Banjir Jragung/Tuntang Pengendalian Banjir Serang-WulanJuana LOKASI Kab. Grobogan Kab. DAS Serang.1% pengendalian banjir seluas 12. Sub-DAS Elo. Demak Kab. Kudus dan Kab.9% pengendalian banjir seluas 10. Demak Kab. nilai EIRR 18. Blora Kab.DAS Tinggal. Nilai EIRR 13.13% Pengendalian banjir Pengendalian banjir seluas 21 ha. Kabupaten Sleman. Sub-DAS Tinalah.

10 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Progo-Opak-Oyo NO. Tinggi embung adalah 13.000 m3 Berpotensi untuk mengendalikan banjir. Kulon Progo Kab. Kulon Progo Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku 73 lt/detik dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Kali Progo MANFAAT & PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Belum tersedia data detail Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir 4-27 Embung Ngalang Embung Kedunggedeng Waduk Tinalah 16 17 18 19 20 21 Waduk Progo Magelang Waduk Elo Hilir Waduk Kaloran Waduk Elo Waduk Sambiroto Waduk Nanggulan I Kali Progo Kali Elo Kaloran Kali Elo Progo Hulu K. Kulon Progo Kab. Gunung Kidul Kab. dengan tetap memanfaatkan air dari Kali Progo melalui intake Kalibawang. Untuk DAS Serang. Kulon Progo Kab.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. mengairi irigasi 450 ha dan penyedia air minum 75 lt/detik.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. Tinggi embung adalah 13. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.500 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. dengan pembatasan pengambilan air sebesar 2. Kulon Progo Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Kab. Tinggi embung adalah 5 m dengan volume tampungan 250. Gunung Kidul Kab. Kulon Progo Kab. Sleman Kab.000. Volume tampungan embung adalah 1.5 m3/dt penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Tinggi embung adalah 11 m dengan volume tampungan 105. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab.75 m dengan volume tampungan 35. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 KEGIATAN Embung Tangkisan I Embung Tangkisan II Embung Ngroto Embung Kayangan Embung Dawetan Embung Penggung Embung Girinyono Embung Weden Embung Kebonromo Embung Kronggahan Embung Kedungranti Embung Sari Karang LOKASI Kab. Serang Sungai Progo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.75 m dengan volume tampungan 7.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4.

11 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Bengawan Solo NO. KabupatenBlora. Kabupaten Madiun. Kabupaten Magetan dan Kabupaten Ponorogo. Kabupaten Gunungkidul. Fase II dan III Pembangunan check dam dan ground sill Pengembangan Bengawan Jero Bengawan Solo FFWS Long-channel Storage Bengawan Solo Hilir Penyediaan Air PDAM di Wilayah Surakarta LOKASI Wonogiri seluruh WS hilir WS hulu WS Kali Madiun Hulu Sungai Bengawan Solo dan Kali Madiun pengendalian banjir pengendalian banjir penyediaan air baku penyediaan air baku pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir MANFAAT & PENJELASAN LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Klaten. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Bengawan solo yaitu : DAS Damas. Kabupaten Sragen. Kabupaten Sukoharjo. Sub-DAS Bitung.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4.11. Kabupaten Boyolali. 4-28 Tabel 4. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Bengawan solo diuraikan pada Tabel 4. Sub-DAS Wate Tengah. Kota Surabaya. Sub-DAS Samin. Kabupaten Lamongan. Kabupaten Gresik. SubDAS Madiun. Kota Surakarta. Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Ngawi.1. Sub-DAS Lamongan. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 KEGIATAN Sedimentasi Waduk Wonogiri Penanganan Pengelolaan Kualitas Air Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hilir. Fase II Perbaikan Sungai Kali Madiun. Kabupaten Karanganyar. Fase II Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hulu. Kabupaten Pacitan.11 Wilayah Sungai Bengawan Solo Wilayah Sungai Bengawan solo meliputi wilayah administratif kabupaten/kota sebagai berikut : Kabupaten Rembang. Sub-DAS Pepe.3. Kabupaten Bojonegoro. DAS Pagotan.

Kabupaten Mojokerto. Kota Malang. Kota Kediri. maka DAS yang termasuk kedalam WS Kali Brantas adaslah Sub-DAS Brangkal. SubDAS Berantas Tengah. Sub-DAS Konto. Kabupaten Madiun. Kabupaten Pasuruan. Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek. Kota Mojokerto. Kabupaten Nganjuk.3. Kabupaten Jombang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 KEGIATAN Penyediaan Air untuk Sstem Pengembangan PDAM Penyediaan Air untuk Daerah Rembang Solo Vallei Werken 9 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hulu 3 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Kali Madiun 16 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hilir Waduk Irigasi Kedung Bendo Rehabilitasi dan Peningkatan Sistem Irigasi Waduk Serbaguna Bendo Waduk Serbaguna Badegan Waduk Pidekso Rehabilitasi Tlg. DAS Penguluran. Kota Blitar. DAS Panggul.1.12 Wilayah Sungai Kali Brantas Wilayah Sungai Kali Brantas meliputi wilayah administratif Kota Surabaya. Kabupaten Kediri. Kabupaten Malang. Sub-DAS Brantas Hulu. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Ngebel Rehabilitasi Waduk dan Pengelolaan DTA Waduk Wonogiri Rehabilitasi dan Pengelolaan Lahan Kritis di 6 Lokasi DTA LOKASI MANFAAT & PENJELASAN penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku konservasi sumber daya air konservasi sumber daya air 4-29 4. Kabupaten Sidoarjo. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai.

12. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Kali Brantas diuraikan pada Tabel 4. water supply dan hydropower. Kabupaten Lumajang. Kabupaten Bondowoso. DAS Baru. Tabel 4. Sub-DAS Marmoyo.13. DASA Deluwang. Kabupaten Pasuruan. Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi. DAS Bondoyudo. Kabupaten Probolinggo. Pengembangan terhadap masalah pengendalian banjir di Sungai Widas sesuai dengan yang direncanakan dalam Master Plan tahun 1985 Pencegahan terhadap bencana yang dapat ditimbulkan oleh Gunung Kelud Irigasi. 1 2 3 4 5 KEGIATAN Sabo Gunung Kelud Sabo Brantas Hulu dan Sungai Lesti Pengendalian Banjir Sungai Widas Lodoyo Diversion Tunnel Beng Dam LOKASI Kali Konto Brantas Hulu dan Sungai Lesti Sungai Widas Ludoyo mengurangi transport sediment ke reservoir Dam Sengguruh dan Dam Sutami. DAS Jatiroto. Sub-DAS Ngrowo Ngasnan. Data teknis yang direncanakan untuk volume tampungan efektif 147 milyar m3 MANFAAT & PENJELASAN 4-30 4. 12 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Kali Brantas NO. DAS Rejoso. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Pekalen-Sampean diuraikan pada Tabel 4. DAS Mayang.3. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. Kabupaten Situbondo. dan Sub-DAS Lekso. DAS Bajulmati. Sebanyak 17 Sabo Dam telah direncanakan untuk daerah hulu DAS Sengguruh Dam. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . DAS Kramat. DAS Mujur. DAS Banyuputih. dan DAS Sumber Manjing.1. DAS Sebani-setail. DAS Tangkail. DAS Pekalen. DAS yang termasuk kedalam WS Pekalen-Sampean adalah DAS Sampean.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA DAS Lorog. Kota Probolinggo.13 Wilayah Sungai Pekalen-Sampean Wilayah Sungai Pekalen-Sampean meliputi wilayah administratif Kota Pasuruan. Sub-DAS Wadas. DAS Bedadung. Sub-DAS Brantas Hilar. DAS Tempuran.

sehingga harus ada solusi sumber daya air bila Madura hendak difungsikan pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 100 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 50 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 Pembangunan Waduk Nipah Pembangunan Waduk Blega Pembangunan Waduk Samiran Pembangunan Wa duk Tambak Agung LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 13 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pekalen-Sampean NO. 1 KEGIATAN Genteng I Dam LOKASI Sungai Genteng. DAS Kemuning.3. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Madura diuraikan pada Tabel 4. 14 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Madura NO. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. DAS Blega. DAS Jambangan. DAS Saroka. Kabupaten Sampang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. DAS Samajid. Data teknis yang direncanakan adalah untuk volume tampungan efektifnya sebesar 54 milyar m3 4-31 4. dan DAS Kangkah. DAS Pasengsengat. Lesti MANFAAT & PENJELASAN Irigasi.14. 1 2 3 4 5 KEGIATAN Penyediaan baku industri air LOKASI seluruh WS Pamekasan Bangkalan Pamekasan Sumenep MANFAAT&PENJELASAN sumber daya air yang terbatas berupa sungai-sungai kecil. water supply dan hydropower dan untuk sediment control.14 Wilayah Sungai Madura Wilayah Sungai Madura meliputi wilayah administratif Kabupaten Bangkalan. DAS Brambang. DAS Temburu. Tabel 4.1. DAS Budur. DAS yang termasuk kedalam WS Madura adalah DAS Patean. DAS Sodung. Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep.

Oleh sebab itu perlu dilaksanakan “quick assessment” untuk mengidentifikasi alternatif-alternatif prasarana yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Jawa yang diuraikan pada bagian terdahulu (Sub Bab 4. ekonomi dan sosial-lingkungan. Alasan lain perlunya penyesuaian terhadap rencana induk yang adalah bahwa belum seluruh infrastruktur SDA yang diusulkan disetiap wilayah sungai telah lolos Studi kelayakan yang mencakup 3 (tiga) aspek analisis. Hal ini berarti pembuatan rencana induk tidak diawali dengan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai. 7/2004. Setelah Pola Pengelolaan diselesaikan semua rencana induk pengelolaan wilayah sungai yang telah ada perlu disesuaikan dengan Pola Pengelolaan tersebut. dan belum banyak melibatkan pihak pemangku kepentingan (stakeholders) bidang SDA dalam penyusunannya. karena rencana pengembangan SDA Wilayah Sungai tersebut dibuat sebelum diterbitkannya UU No.2 Pengaturan Induk Wilayah Sungai Baru 4-32 Dari daftar usulan proyek-proyek infrastruktur sumber daya air pada wilayahwilayah sungai di P.3. sebaiknya usulan terdiri dari lebih dari satu opsi yang merupakan alternatif-alternatif sehingga dapat dipilih alternatif yang paling layak untuk memenuhi kebutuhan prasarana SDA dengan investasi yang paling kecil atau hanya bersifat merehabilitasi prasarana yang sudah ada atau bahkan yang bersifat pendekatan non-fisik/non-struktural. yaitu teknis. Langkah pertama dalam penyesuaian adalah membuat Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai yang dibuat berdasarkan prosedur dan proses sebagaimana diatur oleh UU SDA No.7 tahun 2004. dan Rencana Induk yang telah disesuaikan tersebut perlu mendapat persetujuan dari Dewan SDA yang terkait.1) tidak satupun yang secara lengkap mengikuti urutan dan proses pembangunan infrastruktur Semua SDA dalam suatu kerangka pengelolaan Wilayah Sungai induk pengelolaan wilayah sungai yang mendasari sebagaimana diatur dalam UU Sumber Daya Air No.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. 7 tahun 2004.3. Sehubungan dengan itu perlu dilakukan penyesuaian terhadap rencana induk pengelolaan WS. Disamping itu proses penyesuaian Rencana Induk juga harus melibatkan pihak pemangku kepentingan SDA di wilayah sungai tersebut. Disamping itu infrastruktur yang diusulkan masih bersifat “satu” pilhan.

. 2 Rencana Wilayah Sungai baru.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA diusulkan pada setiap lokasi yang memerlukan intervensi serta mengkaji kelayakan alternatif-alternatif tadi dari aspek teknis. 4-33 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa Gambar 4. ekonomi serta sosial dan lingkungan.

B WILAYAH SUNGAI Ciliman– Cibungur KEGIATAN Waduk Cimalur LOKASI Desa Cibatur Keusik Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak Cikamayapan. Cilemer kiri seluas 500 ha.01. Cikarang. penyedia air baku untuk kecamatan Banjarsari dan sebagai waduk pengendali banjir mengairi sawah seluas 2. Perubahan ini secara konsekwen harus ditanggapi dengan perubahan dalam strategi pengelolaan dan kebijakan untuk masing-masing wilayah sungai.A2 02. Tabel 4. Berikut disajikan tabel yang dibuat untuk mengelompokkan kembali strategi kebijakan struktural pada masing-masing wilayah sungai sesuai dengan bentuknya yang baru.x menunjukkan secara spatial bentuk dari wilayah sungai yang baru. Mekarsari dan Karang Kamulyan Hulu Sungai Ciliwung MANFAAT&PENJELASAN suplesi air irigasi DI. 15 Penyusunan Kembali Alternatif Intervensi Struktural menurut Wilayah Sungai yang Baru KODE 02.000 ha ASAL WS/ PROGRAM WS Ciujung Ciliman Cisadea – Cikuningan CiliwungCisadane 4-34 02.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sejalan dengan itu.A2 Mengurangi debit banjir Sungai Ciliwung di Kota Bogor.03. Gambar 4. Oleh karena itu. perlu suatu tindakan untuk menyusun kembali (regrouping) kebijakan yang ada pada masing-masing balai penanggungjawab wilayah sungai terdahulu untuk menjadi kebijakan baru mengikuti wilayah sungai yang akan ditetapkan dalam waktu dekat.B Cibaliung Cisawarna Kepulauan Seribu CidanauCiujungCidurianCisadaneCiliwungCitarum Bendung Karet Cibungur Bendung dan Bendung Karet Ciseukeut Bendung Karet Cikoneng. Ciparahu. Bendung Karet Cisangkuy Bendung Tipe Gergaji di Sungai Cibama Bendung Sungai Cihara Waduk Ciawi 02. pemerintah telah menyiapkan suatu rancangan peraturan baru yang menetapkan perubahan susunan wilayah sungai ke dalam suatu komposisi bentuk wilayah yang baru.02. Selain itu Waduk Ciawi juga dapat berfungsi sebagai penyedia air untuk Kota Bogor dan DKI Jakarta serta sebagai sumber air untuk penggelontoran Sungai Ciliwung di musim kering LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .04.

Normalisasi alur sungai 38 km. Normalisasi alur sungai 29 km.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Genteng Waduk Parung Badak Waduk Sodong Salak Contour Canal Ciliwung Floodway Tunnel Peningkatan Kanal Tarum Barat Pengembangan Cengkareng Floodway System LOKASI Sungai Cisadane tengah Sungai Cisadane hilir Sungai Cikaniki sekeliling Gunung Salak Kota Bogor Karawang . Kali Angke. Cakung Banjir Kanal CBL. perkotaan dan industri untuk wilayah Serang dan Jabotabek dengan menggunakan saluran KarianTanjung-Serpong (KTS). Tangerang Kab. Master Plan 1997 Penyedia air rumah tangga. Normalisasi alur sungai 50 km. perkotaan dan industri untuk kebutuhan Tangerang lewat KSCS mengambil alih fungsi Waduk Karian untuk mensuplai air irigasi ke daerah irigasi Ciujung pemenuhan kebutuhan air baku Jabotabek ASAL WS/ PROGRAM CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane 4-35 Sungai Cidurian Sungai Cimanceuri Sungai Cirarab Sungai Cisadane Cengkareng drain. Normalisasi alur sungai 22 km. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Bekasi Waduk Karian Kab. Sunter. Tangerang Kota/Kab. Master Plan 1997 Pengendalian banjir.Bekasi Cengkareng MANFAAT&PENJELASAN penyedia air baku ke daerah Bogor dengan cara gravitasi penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta memenuhi kebutuhan air di Kota dan Kabupaten Bogor mengalihkan debit banjir dari Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane guna pengendalian banjir di DKI Jakarta memenuhi kebutuhan air Jabotabek pencegahan banjir dan meningkatkan urban drainage. Bekasi Hulu Sungai Ciujung Waduk Cilawang Waduk Pasirkopo Long Storage Sungai Ciujung Waduk Bojongmanik Sungai Ciujung Sungai Ciujung Sungai Cisemeut WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Normalisasi alur sungai 17 km. Normalisasi alur sungai 22 km. Master Plan 1997 pengendalian banjir. Mookervaart Banjir Kanal Barat/ Ciliwung Banjir Kanal Timur. Tangerang Kab. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Normalisasi alur sungai 32 km. Cikarang. Normalisasi alur sungai 57 km. Tangerang DKI Jakarta Kota Bogor. Cipinang. Banjir. menambah persediaan air rumah tangga. Pembuatan Sal. serta konstruksi Angke Floodway Pengendalian banjir. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. 2 bh. Peningkatan fungsi sungai ke hilir dari daerah Angke dan Sungai Pesanggrahan dan Mookervaart Canal. DKI Jakarta DKI Jakarta CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane WS Ciujung Ciliman Kab. Buaran. Terowongan 1 km.

400 MWh dan penyediaan air baku untuk 79.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Tanjung LOKASI Sungai Cidurian MANFAAT&PENJELASAN penyedia air baku untuk daerah Tangerang dan DKI Jakarta dengan menggunakan saluran irigasi Cidurian atau dengan saluran lternative Karian-Tanjung-Serpong (KTS) penyedia air baku ke daerah Bogor dengan menggunakan pompa penyedia air untuk areal tambak menampung air dari Sungai Cipamingkis atau dari saluran pembawa penyedia air utama untuk daerah hilir Kanal Tarum Barat secara gravitasi Penyediaan air baku dan tenaga listrik memindahkan air dari wilayah sungai Citarum ke Jakarta ASAL WS/ PROGRAM WS Ciujung Ciliman 4-36 Bendung Anyer Waduk Naragong Waduk Nameng Waduk Pasiranji Waduk Pangkalan Peninggian Dam Cirata Peningkatan Kanal Tarum Barat atau Pembangunan Kanal Tarum Jaya Waduk Talagaherang Waduk Maya Waduk Bodas Dam Sungai Cilame Dam Sungai Cipunagara Waduk Cipunagara dan bendungan pengatur di Sadawarna Waduk Cibeber Waduk Kandung Pengembangan Sungai Cisangkuy Waduk sungai Cikapundung Waduk Sukawana Sudetan sungai Cibeureum Waduk Bojong Jambu Waduk Jatigede Anak Sungai Cileungsi (DAS Bekasi) Sungai Cibeet Cipamingkis Sungai Cibeet Dam Cirata Karawang – Bekasi – DKI Jakarta WS Ciujung Ciliman Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Sungai Cisangkuy Sungai Cikapundung Cimahi Kab. Bandung Kab. Bandung Kab.102. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air rumah tangga. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung pengairan irigasi seluas 68.683 jiwa. potensi listrik sebesar 2. Garut mengairi sawah mengairi sawah mencukupi kebutuhan air rumah tangga. Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .280 ha.

000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.9 GWh dan potensi air baku 915 ha. pengairan irigasi seluas 4.07% pengairan irigasi seluas 9. maka Waduk Kadumalik dengan EL + 294 dapat menjadi lternative cadangan utama Potensi listrik sebesar 86.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. Nilai ekonomi proyek IRR 12% pengairan irigasi seluas 9.145 ha.439 ha. pengairan irigasi seluas 9. Nilai ekonomi proyek IRR 2. Garut Citarum Waduk Ujungjaya Kadipaten Citarum Waduk Kadumalik Majalengka Citarum Waduk Pasirkuda Waduk Ciniru Majalengka Kuningan Citarum Citarum Waduk Cimulya Kuningan Citarum Waduk Gunungkarung Waduk Manenteng Waduk Pecang Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk Seuseupan Waduk Cihirup Waduk Mangit Kuningan Kuningan Kuningan Garut Garut Cirebon Sumedang Kuningan Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Nilai ekonomi proyek IRR 12.145 ha dan potensi listrik 17.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Cipasang LOKASI Kab. Volume tampungan sebesar 50 juta m3. pengairan irigasi seluas 12. Jika pembuatan Waduk Jatigede di tunda.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5.000 MWh.65 %).835 jiwa. Volume tampungan sebesar 71 juta m3.439 ha. potensi listrik 3.982 ha.004 jiwa. Volume tampungan sebesar 35 juta m3. ASAL WS/ PROGRAM Citarum 4-37 Waduk Cipanas Kab. potensi listrik 11. pengairan irigasi seluas 4.126 jiwa. potensi listrik 6. pengairan irigasi seluas 8. potensi listrik 0.6 GWh dan potensi air baku 298 ha.40 GWh dan potensi air baku 915 ha. pengairan irigasi seluas 2. Volume tampungan sebesar 2.20 GWh. Nilai ekonomi proyek IRR 7.004 jiwa. potensi listrik 5.000 ha. pengairan irigasi seluas 8.67% Mengairi 20.960 ha.4 juta m3.16% pengairan irigasi seluas 9. pengairan irigasi seluas 12.000 Ha lahan irigasi.872 MWh dan penyediaan air baku untuk 22. Volume tampungan sebesar 395 juta m3.275 ha dan potensi air baku 828 ha.148 ha. potensi listrik 1.4 GWh dan potensi air baku 444 ha. nilai ekonomi proyek IRR 6.2 GWh dan potensi air baku 444 ha.153 jiwa. Garut MANFAAT&PENJELASAN pengairan irigasi seluas 18. potensi listrik sebesar 1. Potensi paling baik untuk dikembangkan karena memiliki nilai EIRR lebih tinggi (17.70 GWh dan potensi air baku.639.63% pengairan irigasi seluas 5.

Karawang Rehabilitasi Irigasi Kab. pemenuhan kebutuhan air baku dan keperluan irigasi dan perikanan tambak mendukung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Penyediaan irigasi seluas 6. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.275 ha. Penyediaan irigasi seluas 24. Penyediaan irigasi seluas 19.800 ha ASAL WS/ PROGRAM Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum 4-38 Long Storage Indramayu Pengembangan 6 Embung Rehabilitasi Irigasi Kab.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Ciwaru Waduk Cihowe Waduk Dukuh Badag Waduk Cileuweung Long Storage Kumpul KuistaJamblang LOKASI Kuningan Cirebon Cirebon Cirebon Cirebon MANFAAT&PENJELASAN pengairan irigasi seluas 10. Karawang Kab. pengairan irigasi seluas 600 ha. pengairan irigasi seluas 8. Citarik Hulu Pekerjaan Konstruksi S.56 %. Peningkatan Kapasitas System Sungai Citarum Hulu Q5 menjadi Q20.530 ha.275 ha.173 ha.7 GWh dan potensi air baku.B Cisadea Cibareno LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Penyediaan irigasi seluas 12. Cikatomas. Normalisasi sungai ± 5 km. Subang Kab. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Indramayu Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Cisadea Cikuningan Pasir Bungur. Cibareno dan Sawarna 02.405 ha. potensi listrik 10.468 Ha sawah dan ± 750 Ha tambak).210 ha. Bekasi Kab.05. Indramayu S. Bekasi Rehabilitasi Irigasi Kab. Cimande Pekerjaan Konstruksi S. Nilai ekonomi proyek IRR sebesar 22.3 GWh dan potensi air baku 828 ha. Subang Rehabilitasi Irigasi Kab. memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan IndramayuCirebon (± 4. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. potensi listrik 8.017 ha. potensi listrik 1. Sampai dengan Jalan Raya Bandung-Tasik ± 5 km. pengendalian banjir dan pengamanan pantai Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Cilograng. Cikeruh Bendung Sungai Cibareno Indramayu Cirebon Kab.355 ha. Normalisasi sungai ± 5 km. Normalisasi sungai ± 10 km.7 GWh dan potensi air baku 1. mengairi sawah seluas 2. Citarik Hulu Pekerjaan Penyempurnaan Flood Warning System Peningkatan Kapasitas Sungai Pekerjaan Konstruksi S. pengairan irigasi seluas 8.1 GWh dan potensi air baku 60 ha. potensi listrik 0.

Kabupaten Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Tasikmalaya Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis MANFAAT&PENJELASAN Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Mengamankan daerah permukiman. Tasikmalaya. Cilacap Kota Banjar.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE 02. pertanian dan prasarana umum.B WILAYAH SUNGAI Ciwulan Cilaki KEGIATAN Penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Rencana induk (Master Plan) pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan chekdam 15 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan chekdam 15 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi Pengamanan Pantai Pantai Pangandaran 3 km Pantai Bojongsalawe 3 km Pantai Cilaut Eureun 2 km Pantai Ranca Buaya 1 km Pantai Bagolo 1 km LOKASI Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Kabupaten Ciamis. dan prasarana umum/TPI/LAPAN/objek wisata Mengamankan daerah permukiman. Kabupaten Tasikmalaya. Cilacap Kota Banjar.06. dan prasarana umum ASAL WS/ PROGRAM Citanduy – Ciwulan Citanduy Ciwulan 4-39 Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. Kabupaten Ciamis dan Garut Kabupaten Cilacap. Tasikmalaya. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. Kabupaten Garut Kabupaten Cilacap. Tasikmalaya. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Mengamankan daerah permukiman dan prasarana umum/obyek wisata Mengamankan daerah permukiman. Tasikmalaya. Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Pantai Cipatujah 2 km Waduk Pasirangin LOKASI Kabupaten Garut Kabupaten Tasikmalaya MANFAAT&PENJELASAN Mengamankan daerah permukiman. Plumpatan. Cikonde. Tinggi mercu bendung 60 m. Tampung total 14 juta m3. Pekalongan dan anakanak sungainya Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Sidareja Cihaur Mengembalikan dan meningkatkan fungsi dan kapasitas bangunan klep Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Kabupaten Cilacap Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kawungatan. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.Segara Plawangan Anakan (Kabupaten Cilacap & Ciamis) Kabupaten Cilacap Normalisasi sungai-sungai DAS Segara Anakan Normalisasi sistem drainasi Daerah Irigasi Sidareja Cihaur dan sekitarnya Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir.07. panjang bendung 180 m.620 ha. Tampungan total 120 juta m3 dan tampungan aktif 55 juta m3.A2 Citanduy Penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Citanduy Ciwulan Wilayah sungai Rencana induk Citanduy Ciwulan (Master Plan) (Propinsi Jabar & pengelolaan SDA Jateng) Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Lower Citanduy Flood Management: Pengerukan Plawangan . luas areal 470 ha. Meningkatkan kebutuhan air baku dan pengendali banjir serta sedimentasi. tinggi mercu bendung 80 m. Irigasi 3. dan prasarana umum Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. luas arealnya 1.229 ha dan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan. perkotaan dan industri serta irigasi. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 80 m. Diharapkan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan Elevasi puncak terhadap MSL 265 m. Meskipun potensi listrik yang dihasilkan kecil. Dapat menimbulkan dapak sosial ekonomi rakyat. Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan 4-40 Waduk Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya Citanduy Ciwulan Waduk Banjar Kabupaten Banjar Citanduy Ciwulan 02. Jagadenda. Tampungan total 460 juta m3 dan tampungan aktif 250 juta m3. Cimeneng. perkotaan dan industri Tasikmalaya 800 ltr/det. Kabupaten Cilacap Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Memperlancar aliran sungai Citanduy menuju ke laut lepas Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Cibeureum.

Ciputrahaji.08 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 48 M. perkotaan dan Industri serta irigasi.050 ha. 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. bak tampung 3 m dan bahan tubuh bendung adalah urugan tanah dengan inti clay tampungan aktif 27. luas arealnya 3. Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis Sungai Citanduy Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengamankan daerah permukiman. Tinggi mercu bendung 28 m. pertanian dan prasarana umum.000 ha. 20 lokasi Normalisasi sungai-sungai DAS Citanduy Hilir Normalisasi sistem drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. Kabupaten Tasikmalaya. air minum kota sidareja dan pengendalian banjir Penanggulangan sedimentasi di Segara nakan dari sungai Citanduy. Tampungan total 485 juta m3 dan tampungan aktif 220 juta m3. perkotaan dan industri dan tenaga listrik sebesar 50 lt/det. Tinggi mercu bendung 7 m. Penyediaan air Irigasi 27. Dapat menimbulkan dampak sosial ekonomi rakyat. panjang 40 m. Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Waduk Matenggang Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap Waduk Binangun I Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 10 lokasi Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Rehabilitasi Bendung Manganti Tahap II Sudetan Citanduy LOKASI Kabupaten Cilacap MANFAAT&PENJELASAN Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan 4-41 Kabupaten Cilacap Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Ciseel.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. Citalahab dan Cikaso Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Mengembalikan dan meningkatkan fungsi bangunan Klep Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. Mengalihkan muara sungai Citanduy langsung ke Laut (teluk Nusaware) Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.

tinggi mercu bendung 100 m. luas areal 440 ha. potensi listrik terpasang 110 MW dan penyediaan air baku untuk 79.145 ha. Irigasi seluas 500 ha dan penyediaan air baku 300 kk Pemenuhan kebutuhan air irigasi dan perikanan tambak Volume tampungan : 0.330 . potensi listrik 0.27 juta m3 ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan 4-42 Kabupaten Ciamis Waduk Cikembang Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan 02.468 ha. maka Waduk Cilutung dengan El + 294 dapat menjadi alternatif cadangan utama Irigasi seluas 12.1 juta m3 Irigasi seluas 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Binangun II Waduk Ciamis / Leuwi Keris LOKASI Kabupaten Ciamis MANFAAT&PENJELASAN Elevasi puncak MSL : 55 .000 ha. Elevasi puncak terhadap MSL 180 m. Tampungan aktif (juta m3) : 154 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. volume tampungan 2. volume tampungan sebesar 395 juta m3.36 juta m3 Volume tampungan : 0.004 jiwa. Harga tampungan per m3 rendah (Rp 650/m3) Volume tampungan netto 796. Tampungan total 180 juta m3 dan tampungan aktif 78 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. Long Storage K. Area (ha) : 1. luas areal 440 ha. perkotaan dan industri serta irigasi.Jamblang Cirebon Cimanuk LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Irigasi seluas 20. Tampungan Total (juta m3) : 270 . Potensi listrik yang dihasilkan kecil. Kuista . Tinggi Mercu Bendung : 33 .7 jt m3. Memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu Cirebon ( sawah 4.A2 Cimanuk Cisanggaru ng Waduk Jatigede Sumedang Cimanuk Waduk Cipanundan Waduk Cilutung Kuningan Majalengka Cimanuk Cimanuk Waduk Cipanas Indramayu Cimanuk Waduk Sarwadadi Long Storage Indramayu Waduk Bojong Waduk Brahim Waduk Cimulya Cirebon Indramayu Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Kuningan Irigasi seluas 9. tinggi mercu bendung 70 m.2 GWh dan potensi air baku 444 ha. potensi listrik 4. perkotaan dan industri serta irigasi Potensi listrik yang dihasilkan kecil.439 ha. Tampungan total 150 juta m3 dan tampungan aktif 18 juta m3 Irigasi seluas 90.5 GWh dan potensi air baku 915 ha dengan volume tampungan sebesar 35 juta m3.000 ha. jika Waduk Jatigede ditunda.683 jiwa. Elevasi terhadap MSL 180 m.08. tambak 750 ha ).

275 ha dan potensi air baku 828 ha.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10. Irigasi seluas 8.35 lt/dt.982 ha potensi listrik 1.1 GWh dan air baku 60 ha. Nilai EIRR 12. potensi listrik 1. potensi listrik terpasang187 MW dan penyediaan air baku untuk 22. Volume tampungan sebesar 395 jiwa.126 jiwa.145 ha dan potensi listrik 17.7 GWh dan potensi air baku 1017 ha dengan volume tampungan 69 juta m3.275 ha. volume tampungan 1. Irigasi seluas 600 ha.6% pengendalian banjir (± 5. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 27. Irigasi seluas 2. volume tampungan 20 jt m3. Irigasi seluas 5. Irigasi seluas 8. volume tampungan 78 jt m3. potensi waduk 150 juta m3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Cipasang Garut LOKASI MANFAAT&PENJELASAN Irigasi seluas 18. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi (teknis.000 ha). volume tampungan 12 jt m3.000 ha potensi listrik 11.000 MWh dengan volume tampungan 2.3 GWh dan air baku 828 ha.20 GWh. volume tampungan 86 juta m3. semi teknis dan sederhana) seluas 38.7 GWh dan air baku 828 ha. potensi listrik 0. pengendalian banjir (± 4. potensi listrik 8.4 juta m3 . Potensi listrik sebesar 86. Irigasi seluas 8. Karung Waduk Maneungteung Waduk Pecang Waduk Seuseupan Waduk Masigit Waduk Ciwaru Majalengka Garut Garut Kuningan Kuningan Kuningan Cirebon Kuningan Kuningan Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Waduk Dukuh Badag 02.835 jiwa dengan volume tampungan 71 juta m3. Irigasi seluas 4.153 jiwa .6 GWh dan potensi air baku 298 ha. Irigasi seluas 9. Gung Kabupaten Tegal Pemali Comal LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Irigasi seluas 9.275 ha.A3 Pemali – Comal Waduk Bantar Kawung Kuningan hulu K. Irigasi seluas 12.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5. Irigasi seluas 8.173 ha potensi listrik 10. Volume tampungan 53 juta m3. Pemali Kabupaten Brebes Cimanuk Pemali Comal Waduk Ki Gede Sebayu hulu K.4 GWh dan potensi air baku 444 ha.482 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI ± 867.439 ha potensi listrik 3.000 ha).000 ha dan penyediaan air baku 175 juta m3.09.3 jt m3. Irigasi seluas 10. volume tampungan 50 juta m3.70 GWh dan potensi air baku 915 ha.960 ha. volume tampungan 32 jt m3.534 ha ASAL WS/ PROGRAM Cimanuk 4-43 Waduk Cihowe Waduk Cileuweung Waduk Ujungjaya Cirebon Kuningan Sumedang Cimanuk Cimanuk Cimanuk Waduk Pasirkuda Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk G.

pembangunan inlet drainase 11 buah.905 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 8. pembangunan/perbaikan tanggul.130 ha Pelindung tebing pasangan batu kali 5. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. dengan tinggi bendung 95 m.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN LOKASI MANFAAT&PENJELASAN dan untuk penyediaan air baku bagi RKI.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. Sengkarang Kabupaten Pekalongan desa Karanganyar Kabupaten Pemalang Pemali Comal Waduk Krandegan Pemali Comal Waduk Karanganyar Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Tanjung. Informasi kelayakan proyek tidak tersedia.717 Ha. pembangunan jembatan kereta api baru 1 buah.9%.300 lt/dt. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. dengan nilai EIRR adalah sebesar 42. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. pembangunan bangunan pengukur debit sungai 1 buah.352. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. 10.718 Ha. analisa kelayakan ekonomi menunjukkan nilai EIRR sebesar 17. diharapkan dapat mereduksi daerah rawan banjir seluas 6. normalisasi alur sungai 7.1 km. 20. dengan nilai EIRR adalah sebesar 26. pembangunan/perbaikan tanggul. Peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 7. Babakan dan Kabuyutan Pengendalian Banjir Sungai Sragi Pengendalian Banjir Sungai Kupang Sungai Tanjung Pemali Comal Pemali Comal Pemali Comal Sungai Sragi Sungai Kupang Pengendalian Banjir Sungai Kluwut Kabupaten Brebes Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Sambong kabupaten Batang dan kabupaten Pekalongan Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Comal kabupaten Pemalang Pemali Comal LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 2. volume tampungan 30 juta m3.9% Pembangunan/perbaikan tanggul.4 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 26.5% Pembangunan/perbaikan tanggul.770 Ha. tinggi bendung 40 m.. pembangunan/perbaikan tanggul. pembangunan jalan dan jembatan baru. Genteng dan K.93 juta m3. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. 287.3 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998.Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. volume tampungan 45.667 m.5 juta/tahun pada harga ASAL WS/ PROGRAM 4-44 Waduk Sipring hulu sungai K. Penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 965. untuk mereduksi daerah rawan banjir seluas 1. Selain itu untuk penyediaan air baku dengan suplai 2.699. Keruh Kabupaten Pemalang hulu sungai K.730 ha.

529 ha. Usulan baru dan belum pernah dilakukan studi. Nilai EIRR 22. Grobogan Kab. Blora Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dengan nilai EIRR adalah sebesar 15.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 16. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Nilai EIRR 18.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN LOKASI MANFAAT&PENJELASAN dasar tahun 1998. Nilai EIRR 8% (layak) ASAL WS/ PROGRAM 4-45 Pengendalian Banjir Sungai Waluh Sungai Waluh Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Rambut Sungai Rambut Pemali Comal Waduk Jatinegara Kec.5% (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1.2 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.4% Pembangunan/perbaikan tanggul. Semarang Semarang dan Demak Semarang dan Demak Kab. Grobogan Kab.10. Jatinegara Jateng Pemali – Comal 02.750 l/detik dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 11. 231 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998.A3 Jratunseluna Waduk Jatibarang Kab.8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 13.1% (layak ) pengembangan suplai untuk RKI 1. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. nilai EIRR 10. 822. Pengembangan suplai untuk RKI 920 l/detik dan konservasi air tanah.010 ha dan untuk mensupli waduk Cacaban dengan luas irigasi 1. Semarang Jratun Seluna Waduk Mundingan Jragung Barrage + Tunnel Waduk Dolok Waduk Bandung Harjo Waduk Ngemplak Waduk Coyo Waduk Tirto Embung Kedung Waru Kab. Konstruksi dam Jatibarang dimulai tahun 2002 (kegiatan yang masuk dalam jadwal biaya rendah).6% (layak) pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.020 l/detik dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 14% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Grobogan Kab.7 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 750 l/detik dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 18. Grobogan Kab. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12.1%. Meningkatkan intensitas tanam pada daerah irigasi Cipero seluas 8.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.1% Pembangunan/perbaikan tanggul.

Kebumen DAS Tipar dan Ijo.Serayu.650 ha.13% Pengendalian banjir Pengendalian banjir seluas 21 ha.5 % (layak) Pengendalian banjir seluas 590 ha. Target 15 .700 l/detik (direncanakan memberikan 900 l/dt ke Semarang dan 800 l/detik ke Kendal) dan konservasi air tanah. Brangsong dan Kendal MANFAAT&PENJELASAN Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah Pengendalian banjir seluas 1. Kendal Anak S. nilai EIRR 20. Nilai EIRR 9.6% Pengendalian banjir seluas 6. Demak Kab. Blora Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kab.Kebumen S Telomoyo & anakanak sungainya.Lukulo & anakanak sungainya. nilai EIRR 15.Cilacap. Layak secara ekonomi. Layak secara ekonomi. persawahan dan transportasi. nilai EIRR 24% Pengamanan pemukiman dan persawahan Target 30km Pengamanan pemukiman .B Bodri .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Embung Balong Pengendalian Banjir Sungai Garang Drainase Kota Semarang Tenggang + Sringin Drain Dombo-Sayung Floodway Kebon Batur Floodway Pengendalian Banjir Jragung/Tuntang Pengendalian Banjir SerangWulan-Juana Waduk Kedung Suren LOKASI Kab. Cokroyasan dan Jratun Seluna Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Layak secara ekonomi. Banyumas dan Kebumen. Nilai EIRR 13.8% Pengembangan suplai untuk RKI 1.4% pengendalian banjir seluas 13. nilai EIRR 17. persawahan dan transportasi. Layak secara ekonomi. Kab. sehingga dapat mengurangi dampak yang lebih buruk Pengamanan pemukiman .9% pengendalian banjir seluas 10.14.C 02. Kudus dan Kab. persawahan dan transportasi.028 ha.Klawing lanjutan Perkuatan tebing lokasi kritis dan penanggulangan banjir nopember 2004. DAS Wawar.957 ha. Peninggian jembatan melintang sungaisungai di DAS Telomoyo Pembangunan pelimpah banjir DAS Telomoyo Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Penyempurnaan Pengendalian Kab.337 ha. S. Kab.Purbalingga dan Banyumas S Telomoyo. Demak Kab. Target 16 km Pengamanan pemukiman . nilai EIRR 15.A3 Wiso . Kab. Pati Kaliwungu. Target ASAL WS/ PROGRAM Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna 4-46 02.12.Kebumen S Telomoyo & anakanak sungainya. Layak secara ekonomi.1% pengendalian banjir seluas 12.Gelis Kepulauan Karimunjawa Serayu – Bogowon-to Pengendalian Banjir Sungai Blorong Pengedalian banjir S.670 ha.Kuto 02. Kab. Layak secara ekonomi.13.20 lokasi kritis Mengatasi adanya halangan sungai yang dapat mengakibatkan banjir dan memperlancar transportasi antar pedesaan di 10 lokasi Mengatasi adanya kejadian banjir melebihi rencana. Kab.11. nilai EIRR 18.C 02.

Kebumen dan Purworejo DAS Wawar. Target 15 lokasi Serayu Bogowonto Mengatasi degradasi sungai. Mempertahankan kapasitas dan fungsi prasarana pengendalian banjir Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Pembangunan bangunan penahan intrusi air laut Pembangunan bangunan pemanfaatan daerah genangan banjir Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) dan Pengerukan hilir sungai Jladri Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) Menahan pengaruh akibat intrusi air laut di 5 lokasi Serayu Bogowonto Mendaya gunakan lahan depressi Serayu Bogowonto DAS Telomoyo Mengurangi sedimentasi di S. Target 10 lokasi Serayu Bogowonto Mengatasi kekurangan air pada musim kering Serayu Bogowonto LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .Telomoyo hilir Serayu Bogowonto Pembangunan Groundsill (Bangunan Penstabil dasar sungai). Cokroyasan.Jladri. Telomoyo dan Tipar. Kebumen dan Purworejo Kab. Telomoyo. Banjarnegara. Normalisasi Kali Pantai antara S. DAS Serayu. Wonosobo.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Banjir dan Drainase Rehabilitasi Jembatan KA melintang sungai di 7 lokasi. Kab. Purworejo. Purbalingga. Serayu Bogowonto Normalisasi sungai dan bangunan pengatur air untuk mengatasi banjir daerah pemukiman dan budi daya perikanan.Purworejo DAS Bogowonto. S. Ijo dan Tipar DAS Telomoyo. Wawar dan Telomoyo.Jatinegara dan S. Wawar dan Telomoyo. Lukulo dan Bogowonto. Kebumen. Kab. dari bahaya banjir. Muara-muara DAS Bogowonto. Wawar dan Ijo 6 km MANFAAT&PENJELASAN ASAL WS/ PROGRAM 4-47 Pengamanan jalur transportasi KA Yogya -Jakarta. Kebumen dan Purworejo (200 lokasi) Mengurangi sedimentasi waduk dan pemanfaatan untuk air baku. Kab. Banjarnegara dan Purbalingga. Banyumas.Bogowonto dan S. Serayu. Banjarnegara dan Purbalingga. Kebumen.Cokroyasan Operasi dan Pemeliharaan Sungai LOKASI Bogowonto. Cilacap. Serayu. Banyumas. Purbalingga. Penyediaan air baku pedesaan dari mata air & sumber air DAS Bogowonto. Kab. Purworejo. Kab. Kebumen. Banyumas dan Cilacap DAS Bogowonto dan DAS Cokroyasan Kab.

Kebumen Kab.75 m dengan volume tampungan 35. Kulon Progo Kab.75 m dengan volume tampungan 7. Kab. Wawar dan Bogowonto.Kemit Embung Tangkisan I Embung Tangkisan II Embung Ngroto DAS Serayu. Lukulo. Penyediaan air baku dari bendungan Wadaslintang Pembangunan bangunan konservasi terpadu di hulu sungai LOKASI Kab. Kulon Progo Mengurangi sedimentasi sungai Serayu Bogowonto Konservasi lahan dan penelitian Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Multi purpose ( Irigasi.Trenggulun Pembangunan Waduk Gintung di S. DAS Bogowonto. Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.Banjarnegara DAS Telomoyo Kab.Banyumas DAS Serayu Kab.Bogowonto Pembangunan Waduk Wanadadi di S.Kebumen MANFAAT&PENJELASAN Mengatasi kekurangan air pada musim kering ASAL WS/ PROGRAM Serayu Bogowonto 4-48 Mengatasi kekurangan air kota Kebumen dan pedesaan Kab. Banjarnegara. Banyumas.kebumen Serayu Bogowonto Penataan kawasan arboretum Pembangunan Waduk Bener Di S. Purbalingga.15. Lukulo. DAS Serayu.Gintung Pembangunan Waduk Kemit di S. Telomoyo . Kulon Progo Embung Kayangan Kab.500 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kab.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Penyediaan air baku pedesaan dari bangunan konservasi (groundsill). Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 02. Tinggi embung adalah 13. Wawar dan Cokroyasan.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Tinggi embung adalah 13. Banyumas. Kulon Progo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kebumen dan Purworejo. Wonosobo. Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi. Kebumen dan Purworejo (15 lokasi). Telomoyo.A2 Progo Opak Serang Kab.Purworejo DAS Serayu Kab.Pekacangan Pembangunan Waduk Kesegeran di S. Cilacap.Banjarnegara DAS Serayu Kab.

Sleman Kab. Kulon Progo Kab.000 m3 Berpotensi untuk mengendalikan banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.000. dengan tetap memanfaatkan air dari Kali Progo melalui intake Kalibawang. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Embung Dawetan LOKASI Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.5 m3/dt penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Embung Kebonromo Embung Kronggahan Embung Kedungranti Embung Karang Sari Kab. Tinggi embung adalah 5 m dengan volume tampungan 250. Gunung Kidul Kali Progo Waduk Progo Magelang Waduk Elo Hilir Waduk Kaloran Kali Progo Kali Elo Kaloran Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Gunung Kidul Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Embung Kedunggedeng Waduk Tinalah Kab. mengairi irigasi 450 ha dan penyedia air minum 75 lt/detik.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. dengan pembatasan pengambilan air sebesar 2. Kulon Progo MANFAAT&PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Kab. Kulon Progo Embung Weden Kab. Tinggi embung adalah 11 m dengan volume tampungan 105. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku 73 lt/detik dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Embung Ngalang Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. Untuk DAS Serang. Volume tampungan embung adalah 1. Belum tersedia data detail Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir ASAL WS/ PROGRAM Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo 4-49 Embung Penggung Embung Girinyono Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.

16. Serang Sungai Progo Wonogiri seluruh WS hilir WS hulu WS Kali Madiun Hulu Sungai Bengawan Solo dan Kali Madiun MANFAAT&PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir - 02.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Elo Waduk Sambiroto Waduk Nanggulan I Sedimentasi Waduk Wonogiri Penanganan Pengelolaan Kualitas Air Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hilir. Fase II Perbaikan Sungai Kali Madiun. Fase II dan III Pembangunan check dam dan ground sill Pengembangan Bengawan Jero Bengawan Solo FFWS Long-channel Storage Bengawan Solo Hilir Penyediaan Air PDAM di Wilayah Surakarta Penyediaan Air untuk Sstem Pengembangan PDAM Penyediaan Air untuk Daerah Rembang Solo Vallei Werken 9 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hulu 3 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Kali Madiun 16 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hilir Waduk Irigasi Kedung Bendo LOKASI Kali Elo Progo Hulu K.A2 Bengawan Solo ASAL WS/ PROGRAM Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo 4-50 pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir penyediaan air baku Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Fase II Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hulu.

water supply dan hydropower dan untuk sediment control.22.6.Bedadung Kepulauan Madura Penyediaan air baku industri Pembangunan Waduk Nipah Pembangunan Waduk Blega Pembangunan Waduk Samiran Pembangunan Wa duk Tambak Agung seluruh WS Madura Pamekasan Bangkalan Pamekasan Sumenep Madura Madura Madura Madura Adapun beberapa balai baru yang dibentuk menurut Peraturan Menteri PU No.17. water supply dan hydropower. Pengembangan terhadap masalah pengendalian banjir di Sungai Widas sesuai dengan yang direncanakan dalam Master Plan tahun 1985 Pencegahan terhadap bencana yang dapat ditimbulkan oleh Gunung Kelud Irigasi.2 (Organiasasi dalam pengelolaan SDA). Sebanyak 17 Sabo Dam telah direncanakan untuk daerah hulu DAS Sengguruh Dam.19.B 02.20. Data teknis yang direncanakan untuk volume tampungan efektif 147 milyar m3 Irigasi.18. Data teknis yang direncanakan adalah untuk volume tampungan efektifnya sebesar 54 milyar m3 sumber daya air yang terbatas berupa sungai-sungai kecil. 12 tahun 2006 yang akan mengurus pengelolaan wilayah sungai baru ini disajikan pada bagian 4. sehingga harus ada solusi sumber daya air bila Madura hendak difungsikan pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 100 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 50 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 Sungai Widas Brantas Ludoyo Brantas Brantas 02. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .B Welang – Rejoso Pekalen Sampean Genteng I Dam Sungai Genteng.21.B 02.A3 Brantas Kali Konto Brantas Hulu dan Sungai Lesti mengurangi transport sediment ke reservoir Dam Sengguruh dan Dam Sutami. Lesti Pekalen Sampean 02.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Rehabilitasi dan Peningkatan Sistem Irigasi Waduk Serbaguna Bendo Sabo Gunung Kelud Sabo Brantas Hulu dan Sungai Lesti Pengendalian Banjir Sungai Widas Lodoyo Diversion Tunnel Beng Dam LOKASI MANFAAT&PENJELASAN penyediaan air baku penyediaan air baku ASAL WS/ PROGRAM Bengawan Solo Bengawan Solo Brantas Brantas 4-51 02.B 02.B Baru – Bajulmati Bondoyudo .

dan pendayagunaan SDA serta penanganan bencana yang terkait dengan air di wilayah sungai yang bersangkutan. dalam Rencana Induk telah di identifikasi kebutuhan air untuk berbagai sektor yang ada dalam wilayah sungai tersebut diantaranya air baku untuk permukiman didaerah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . disusun dengan mengacu pada Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai yang telah ditetapkan sebelumnya. Bilamana pada bebarapa wilayah sungai telah mempunyai Rencana Induk (Master Plan) namun belum mempunyai Pola Pengelolaan SDA (karena Master Plan dibuat sebelum adanya UU No. serta Dewan SDA Propinsi dan Kabupaten/Kota untuk Wilayah Sungai Propinsi dan Kabupaten/kota. 7/2004) maka penyusunan Pola Pengelolaan SDA perlu disusulkan.3. Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai ini disusun dengan melibatkan para pemangku kepentingan (stakeholders) SDA dan perlu mendapat persetujuan dari Dewan SDA Nasional untuk Wilayah Sungai Nasional. Sedangkan untuk Wilayah Sungai yang belum mempunyai Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai. pertanian dan sebagainya. Rencana Induk (master plan) harus mampu mengidentifikasi isuisu yang terkait dengan pengelolaan SDA yang mencakup aspek-aspek konservasi. dengan demikian pola alokasi air ini juga sekaligus mencerminkan pula garis besar penggunaan ruang dalam wilayah sungai dimaksud.3 Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai: sebagaimana diamanatkan dalam UU No. Pembuatan Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai. Selanjutnya. industri. Dalam pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai akan ditetapkan garis besar alokasi air untuk berbagai sektor diantaranya untuk permukiman dan perkotaan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4-52 4. maka Pola dimaksud dapat menjadi arahan/pedoman penyusunan Rencana Induk. Setelah Pola Pengelolaan SDA ditetapkan secara formal berdasarkan proses yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan maka Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai telah ada perlu disesuaikan dengan Pola Pengelolaan SDA.7/2004 tentang SDA telah diatur bahwa Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai perlu ditetapkan terlebih dulu sebelum Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai disusun.

pertambangan dan sebagainya yang telah mengantisipasi pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi dalam kurun waktu “planning horizon” minimal 30 tahun kedepan. dan wilayah sungai strategis nasional. pertanian. Demikian pula dalam Rencana Induk harus telah diidentifikasi jenis-jenis alternatif prasarana dan sarana yang mampu memenuhi kebutuhan air untuk berbagai sektor termasuk lingkungan yang telah memperhitungkan pertumbuhan penduduk dan ekonomi dalam kurun waktu 30 tahun kedepan serta mampu mengantisipasi dampak iklim yang berubah (terjadinya kejadian ekstrim kekeringan dan banjir). d. menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas provinsi. Dewan SDA Propinsi untuk Wilayah Sungai Propinsi dan Dewan SDA Kabupaten untuk Wilayah Sungai Kabupaten. dan strategis nasional. Selain itu Rencana Induk juga harus mendapat persetujuan dari Dewan Sumber Daya Air Nasional untuk Wilayah Sungai Nasional. wewenang dan tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan SDA meliputi: a. 7/2004 tentang Sumber Daya Air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA perkotaan (termasuk kawasan jasa & perdagangan) dan perdesaan. UU No. e. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. industri. lingkungan. perikanan. menetapkan kebijakan nasional sumber daya air. wilayah sungai lintas negara.1 STRATEGI PEMBIAYAAN Wewenang Tanggung Jawab Pemerintah Berdasarkan pasal 14. menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. c. dan wilayah sungai strategis nasional. b. wilayah sungai lintas negara. lintas negara. melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. wilayah sungai lintas negara.4 4.4. dan wilayah sungai strategis nasional. 4-53 4. Proses pembuatan Rencana Induk juga harus melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) bidang sumber daya air pada wilayah sungai tersebut.

wilayah sungai lintas negara. 2. ii) pendayagunaan SDA.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA f. ii) kebijakan umum dan operasional pengelolaan SDA. dan wilayah sungai strategis nasional. pedoman dan manual pengelolaan SDA. dan memberi izin atas penyediaan. wilayah sungai lintas negara. iii) penanganan bencana yang terkait dengan air. iii) norma. dan dewan sumber daya air wilayah sungai strategis nasional. dan v) penyediaan sistem informasi SDA. h. dan wilayah sungai strategis nasional. menetapkan norma. Locus (lokasi) dari wewenang dan tanggung jawab Pemerintah (pusat) adalah pada wilayah sungai lintas propinsi. peruntukan. Lingkup wewenang dan tanggung jawab mencakup: i) membuat dan menetapkan peraturan dan perundang-undangan. dan iv) melaksanakan pengelolaan. dan wilayah sungai strategis nasional. mengatur. standar. Dari uraian wewenang dan tanggung jawab diatas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. standar. menjaga efektivitas. Lingkup pengelolaan SDA mencakup: i) konservasi SDA. peruntukan. kriteria. iv) pemberdayaan masyarakat. memberikan bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. j. dan pedoman pengelolaan sumber daya air. 4-54 g. kualitas. 3. membentuk Dewan Nasional Sumber Daya Air. wilayah sungai lintas negara. penggunaan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dewan sumber daya air wilayah sungai lintas propinsi. mengatur. efisiensi. menetapkan dan memberi rekomendasi teknis atas penyediaan. k. memfasilitasi penyelesaian sengketa antar provinsi dalam pengelolaan sumber daya air. dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. dan pengusahaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. i. menetapkan. penggunaan dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas provinsi dan cekungan air tanah lintas negara. dan l.

baik secara sendiri-sendiri maupun dalam bentuk kerja sama. b) badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah pengelola sumber daya air. c. saluran sepanjang 50m dari bangunan sadap dan boks tersier serta bangunan pelengkap tersier LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .2 Kebijakan Pembiayaan 4-55 Berdasarkan UU No. operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi primer dan sekunder menjadi tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya. dan/atau hasil penerimaan jasa pengelolaan sumber daya air. dan dapat melibatkan peran serta masyarakat petani. (3) a. kecuali bangunan sadap. (5) Pembiayaan pelaksanaan konstruksi dan Operasi dan Pemeliharaan sistem irigasi diatur sebagai berikut: a. b. b. anggaran pemerintah. biaya pelaksanaan konstruksi biaya operasi. b. e. dan c) koperasi. dibebankan kepada: a) Sumber dana untuk masing-masing jenis pembiayaan dapat berupa: Pembiayaan pengelolaan sumber daya air Pemerintah dan Pemerintah berdasarkan kewenangannya masing-masing dalam pengelolaan Sumber daya Air.4. badan usaha lain. Jenis pembiayaan pengelolaan sumber daya air meliputi: a. c. dan perorangan. 7/2004 pengaturan kebijakan pembiayaan pengelolaan Sumber Daya Air adalah sebagai berikut: (1) (2) Pembiayaan pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan kebutuhan nyata pengelolaan sumber daya air. anggaran swasta. Pembiayaan pelaksanaan konstruksi. d.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. biaya perencanaan. Pembiayaan pelaksanaan konstruksi saluran tersier menjadi tanggung jawab petani dan dapat dibantu Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. pemeliharaan. biaya pemantauan. evaluasi dan pemberdayaan masyarakat. (4) biaya sistem informasi.

Badan Usaha lain dan perorangan ditanggung oleh masing-masing yang bersangkutan. dan strategis nasional. (11) Penentuan nilai satuan biaya jasa pengelolaan sumber daya air untuk setiap jenis penggunaan sumber daya air didasarkan pada pertimbangan kemampuan ekonomi kelompok pengguna dan volume penggunaan sumber daya air. BUMN/BUMD Pengelola Sumber daya Air. lintas kabupaten/kota. (8) Untuk pelayanan sosial serta pelayanan yang ditujukan bagi kesejahteraan dan keselamatan umum. (6) Dalam hal terdapat kepentingan mendesak untuk pendayagunaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. dari para pengguna sumber daya air Dana yang dipungut dipergunakan untuk mendukung 4-56 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam batasbatas (9) tertentu dapat memberikan bantuan pembiayaan kepada BUMN/BUMD Pengelola Sumber daya Air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA lainnya menjadi tanggung jawab Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. Pengguna sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk pertanian rakyat tidak dibebani biaya jasa pengelolaan sumber daya air. c. Pengguna sumber daya air lainnya menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air. (10) Penentuan besarnya biaya jasa pengelolaan sumber daya air didasarkan pada perhitungan ekonomi rasional yang dapat dipertanggung jawabkan. (7) Pembiayaan pengelolaan sumber daya air yang ditujukan untuk pengusahaan sumber daya air yang diselenggarakan oleh Koperasi. (12) Pengelola sumber daya air berhak atas hasil penerimaan dana yang dipungut dari para pengguna sumber daya air. pembiayaan pengelolaannya ditetapkan bersama oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang bersangkutan melalui pola kerja sama. kecuali untuk penggunaan non usaha. Pembiayaan pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaan sistem irigasi tersier menjadi tanggung jawab petani dan dibantu Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah.

3.3. 4. Pelaku lainnya.Dengan mengadopsi peran sebagai fasilitator dan arbitrase. dan memenuhi prinsipprinsip pembangunan berkelanjutan. Meskipun partisipasi masyarakat cukup tinggi tidak berarti pemerintah lepas dari tanggung jawab. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pada kondisi sekarang secara umum dikenal bahwa pemerintah. monitoring.3 Peran-peran Lain Pemerintah 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA terselenggaranya kelangsungan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. konflik interest.4. dan BUMN/BUMD. dan kurangnya transparansi dari manajemen tetapi juga didorong oleh bertambahnya berbagai kesulitan yang dihadapi oleh negara-negara di dalam pembiayaan yang diperlukan untuk investasi dibidang sumber daya air. Pemerintah perlu menciptakan kondisi dimana semua aktor/pelaku yang mempunyai kepentingan dalam permasalahan sumber daya air dapat terlibat dan dapat bernegosiasi diantara mereka untuk mencapai solusi yang dapat diterima semua pihak. beban dari pemerintah dapat dikurangi dan kinerja dalam fungsi publik dapat dicapai.4. Kecenderungan untuk tidak selalu bergantung kepada penyediaan layanan dari pemerintah telah didorong tidak saja oleh kepedulian atas ketidak-efisienan. 4-57 4. perancangan (pembuatan rencana induk). hendaknya mengurangi perannya sebagai penyedia layanan dan lebih berkonsentrasi untuk menjadi regulator dan pengendali penyedia layanan jasa. alokasi air.4. seperti sektor swasta. mungkin dapat menyediakan jasa layanan air dengan monitoring dan pengendalian dari lembaga pengawas.2 Pemerintah sebagai regulator dan pengendali Pembuatan kebijakan. penindakan dan resolusi konflik final masih perlu menjadi tanggung jawab pemerintah. bilamana memungkinkan.1 Pemerintah sebagai pemberdaya (enabler) Dalam sektor sumber daya air ciri pemerintah sebagai pemberdaya ditunjukan dengan beralihnya pendekatan pembangunan yang ”prescriptive” dan terpusat menjadi kerangka sistem dan pendekatan partisipatif.

4-58 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .3 Pemerintah sebagai Penyedia Layanan (Service Provider) Seluruh pemerintahan hendaknya berupaya untuk mengalihkan penyediaan jasa layanan air kepada stakeholders non-pemerintah. Pemikiran kotemporer menunjukkan bahwa keterlibatan swasta dalam layanan air. Disamping itu. akan berkontribusi dalam mengurangi peran dan beban pemerintah didalam pengelolaan sumber daya air. perlu dicatat bahwa dalam layanan dibidang air terdapat elemen-elemen yang bersifat layanan umum (diantaranya. Dapat disimpulkan bahwa dalam keterlibatan swasta peran pemrintah dalam pengaturan justru semakin bertambah dan tidak berkurang.3.4 Peran Pemerintah dalam ”keterlibatan dunia swasta” Yang dimaksud dengan sektor swasta disini adalah sektor perusahaan swasta dan orgnisasi-organisasi yang berbasis masyarakat.4. Tugas akan berubah setelah fungsi operasional/pelaksanaan dialihkan ke aktor swasta. Pemisahan ini akan membantu terciptanya transparansi dan akuntabilitas. prinsip terpenting yang perlu dilaksanakan adalah bahwa instansi-instansi pemerintah penyedia layanan tersebut hendaknya tidak mengatur untuk dirinya sendiri.4. Diperlukan pemisahan yang jelas diantara fungsi pengatur dan fungsi pelaksana. Tetapi hal ini tidak selalu demikian: yang terjadi adalah perubahan fungsi. keterlibatan masyarakat yang miskin dalam layanan air akan memerlukan katalist berupa dukungan dana dari pemerintah dan sumber dana dari luar lainnya. perlindungan terhadap banjir. 4. Demikian juga.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Bilamana pemerintah masih memegang fungsifungsi layanan umum. pembuangan dan pengolahan limbah cair) dimana investasi publik masih sangat diperlukan. hal ini mungkin akan memerlukan waktu beberapa tahun kedepan yang cukup lama dibeberapa negara.3. namun tetap diperlukan suatu entitas publik dalam hal ini pemerintah yang mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk memantau dan mengatur penyediaan layanan yang memadai dan dalam harga yang terjangkau. yaitu dalam layanan air minum dan sanitasi.

5 Peningkatan Kinerja Sektor Publik Kenyataan bahwa seperlima dari penduduk dunia (pada umumnya masyarakat yang termiskin) adalah tanpa akses ke air minum yang aman dan hampir separuh dari penduduk dunia tanpa akses yang memadai atas sanitasi yang memadai (kondisi ini juga merefleksikan kondisi layanan air minum dan sanitasi di Indonesia).4.4.3.4. dalam waktu kedepan. dan penyediaan kerangka hukum dan institusi yang menjamin pelaksanaan partisipasi sektor swasta yang berhasil. kinerja yang semakin baik dari sektor publik. 7/2004 salah satu sumber pendanaan untuk pembangunan.4 Strategi Pendanaan dan Tujuan Studi Kelayakan Proyek 4. 4-59 4. kebutuhankaum miskin kota. adalah sangat penting untuk memberi perhatian yang besar untuk upaya peningkatan kinerja sektor publik.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Dampak keterlibatan sektor swasta yang paling mungkin adalah mendorong adanya akuntabilitas dan kompetisi dan oleh sebab itu. Partisipasi sektor swasta hendaknya tidak dianggap sebagai ”panacea” yang akan dengan segera mengatasi masalah-masalah kekurangan kapasitas dan investasi. Meskipun telah terjadi kecenderungan akan meningkatnya privatisasi dan pemerintah mempunyai peranan kunci dalam memfasilitasi partisipasi sektor swasta yang lebih besar. termasuk yang bersumber LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . jumlah pegawai yang terlalu banyak. Peningkatan efesiensi utilitas baik yang ditangani oleh sektor publik atau sektor swasta harus diikuti oleh keputusan-keputusan pemerintah yang mengatasi permasalahan kunci. dan pemeliharaan prasarana dan sarana sumber daya air adalah anggaran pemerintah. telah dianggap sebagai indikasi umum penyediaan layanan oleh sektor publik dan telah mendorong pemerintah-pemerintah untuk berpaling ke sektor swasta.1 Strategi Pendanaan Sebagaimana diatur dalam UU Sumber Daya Air No. kenyataan tetap menunjukkan bahwa penyedia layanan umum dari sektor publik (perusahaan milik pemerintah) akan. Oleh sebab itu. operasi. seperti tarif air. masih melayani sebagian besar dari pengguna.4.

peluang untuk mendapatkannya semakin tinggi semenjak dicanangkannya ”Johannesburg Plan of Implementation (2002)” dana ini sebaiknya ditujukan untuk pencapaian sasaran ”Millenium Development Goals (MDGs)” diantaranya untuk pengentasan kemiskinan. b) program ”Clean Development Mechanism (CDM)” yaitu imbalan pembiayaan kegiatan senilai pengurangan karbondioksida. 4. Selain dana pinjaman dan atau hibah luar negeri melalui mekanisme ”biasa” baik secara ”bi-lateral” maupun ”multi-lateral”. Selain itu dana hibah luar negeri juga tepat digunakan untuk peningkatan kapasitas (capacity building) dalam hal implementasi 4-60 ”Integrated Water Resources Management” (Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air) yang juga merupakan salah satu sasaran MDGs.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dari pinjaman dan atau hibah luar negeri. diantaranya: a) debt swap yaitu penghapusan pinjaman luar negeri senilai biaya kegiatan yang kita laksanakan dengan persetujuan negara/institusi donor. Penggunaan dana pinjaman luar negeri untuk prasarana dan sarana publik khususnya sumber daya air hendaknya dipilih dari ”scheme” yang lunak (berbunga rendah dan tenggang waktu pembayaran yang panjang) dipakai secara selektif penuh dengan ke-hati-hatian.2 Tujuan Studi Kelayakan Proyek Pembuatan studi kelayakan untuk suatu konstruksi prasarana-sarana sumber daya air yang telak diidentifikasi dalam Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang memerlukan alokasi sumber daya yang cukup besar baik penggunaan ruang (lahan) maupun dana investasi wajib dilakukan.4. dan diutamakan untuk membiayai proyek-proyek yang mempunyai kelayakan eknomi yang tinggi termasuk peluang untuk pengembalian biaya (cost recovery). Studi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sedangkan dana hibah luar negeri bagi negara-negara berkembang.4. penyediaan akses kepada air minum yang sehat dan parasarana sanitasi bagi penduduk miskin dan pelestarian ekosistem penunjang kehidupan. terdapat peluang untuk mendapatkan dana hibah melalui mekanisme ”khusus”. dan c) pendanaan program-program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim untuk negara-negara berkembang.

c) kriteria perencanaan. ekonomi. dan d) keperluan institusi dan aspek hukum pengelola proyek setelah proyek selesai. masingmasing alternatif konstruksi dievaluasi kelayakannya dari aspek teknis. dihitung biaya (temasuk biaya sosial dan lingkungan) serta manfaatnya/keuntungannya (termasuk manfaat langsung maupun tidak langsung). memberikan nilai ekonomi yang paling baik. manfaat dan ruang lingkup proyek serta mencakup aspek-aspek. Internal Rate of Return dan Benefi-Cost Ratio. dan sosial-lingkungan. b) manajemen konstruksi dan operasi proyek. Dari aspek teknis studi kelayakan mencakup antara lain kajian tentang alternatif-alternatif konstruksi (yang mencakup ruang lingkup konstruksi dan taksiran biayanya) untuk mencapai tujuan dan manfaat yang akan dicapai. dan c) pembuatan beberapa pompa pengambilan air sungai dengan jaringan irigasinya dengan luas total 3000 Ha. Dalam membuat altenatif-alternatif konstruksi kepentingan pendapatyang hendaknya baik mendengarkan manfaat pendapat maupun mapun dari yang pihak pemangku Pendapatmemerima dampaknya. Untuk proyek-proyek skala besar studi kelayakan selain 3 (tiga) kriteria dimaksud juga dapat mencakup: a) rencana pembiayaan pelaksanaan konstruksi. c) penjadwalan dan pembiayaan proyek.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kelayakan hendaknya memuat pernyataan tentang tujuan. Selanjutnya. Dari aspek ekonomi. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4-61 mendukung/menyetujui menolak/keberatan hendaknya dicatat untuk menjadi bahan pertimbnagan dalam pengmbilan keputusan. Kemudian masing-masing alternative konstruksi dimaksud dievaluasi kelayakan ekonominya dengan parameter-parameter Net Present Value of Benefit. teknis. b) intensifikasi pertanian dengan rehabilitasi dan upgrading jaringan irigasi yang ada serta pembuatan beberapa sumur air tanah dangkal dimana peningkatan produksinya setara dengan pembangunan jaringan irigasi baru seluas 3000ha. dan yang dampak sosial dan lingkungannya paling kecil. Alternatif yang dipilih adalah alternatif yang layak dari aspek teknis. Dari aspek sosial-lingkungan dievaluasi dampaknya serta tingkat penerimaan masyarakat yang menerima manfaat maupun dampaknya. misalnya untuk meningkatkan produksi padi disuatu wilayah alternative-nya adalah: a) pembuatan bendung untuk mengairi areal baru seluas 3000 Ha. ekonomi serta sosial dan lingkungan.

Manfaat proyek bagi petani. untuk mengevaluasi benefit/manfaat proyek terhadap masyarkat/ individu penerima manfaat c.4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tujuan utama dari studi kelayakan proyek prasarana dan sarana sumber daya air adalah: a. yang dapat dilihat berdasarkan % (presentase) pertambahan pendapatan bersih usaha tani karena adanya proyek LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4-62 4. menentukan dampak proyek atas distribusi/pemerataan pendapatan kepada keluarga miskin/tertinggal. misal 6-2%) benefit-cost (B/C) ratio pada tingkat suku bunga 12% (untuk proyek yang bersifat sosial dan pelestarian lingkungan dapat lebih rendah. yang dapat dilihat dari besaran/nilai: economic internal rate of return (EIRR) net present value of benefit pada tingkat suku bunga 12% (untuk proyek yang bersifat sosial dan pelestarian lingkungan dapat lebih rendah. untuk mengevaluasi benefit/manfaat proyek dalam lingkup nasional b. menentukan dampak proyek pada penghasilan devisa c. menentukan tingkat pentingnya proyek dalam penambahan lapangan kerja b.3 Kriteria Evaluasi Kelayakan Proyek Kelayakan suatu proyek ditentukan berdasarkan hasil evaluasi atas indikatorindikator sebagai berikut: 1. Kontribusi proyek terhadap pendapatan nasional.4. Sedangkan tujuan sekunder dari studi kelayakan proyek dapat mencakup: a. misal 6-2%) 2. untuk mengevaluasi tingkat resiko pokok dan kendala serta memberi saran tentang jalan/langkah untuk mengurangi resiko dan meringankan kendala. untuk mengevaluasi biaya proyek dan kemungkinan tingkat pengembalian biaya (cost recovery) untuk instansi yang akan membiayai proyek d.

4. Dampak proyek terhadap anggaran pemerintah. misalnya mempertahankan kondisi swa-sembada produksi beras dengan intensifikasi sistem produksi melalui peningkatan jaringan irigasi yang ada maupun perluasan jaringan irigasi melalui perluasan areal sawah beririgasi di luar Jawa. Tujuan evaluasi: menentukan dampak proyek terhadap penciptaan lapangan kerja Kriteria evaluasi: Biaya untuk menciptakan 1000 oranghari (mandays) lapangan kerja 7. mendorong program pembangunan daerah. Selain itu.5 Penggunaan Model Investasi Pembangunan prasarana dan sarana sumber daya air khususnya jaringan irigasi di Indonesia bersifat ganda-tujuan (multi-objective). kriteria-kriteria pemilihan proyek dengan mana tujuan-tujuan tesebut LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hal ini dapat dilihat dari Cost Recovery Index (CRI) Tingkat resiko proyek Kriteria evaluasi: • • • 75% probability level untuk Economic Internal Rate of Return (EIRR) 75% probability level untuk Net Present Value of Benefit (NPVB) 75% probability level untuk Benefit-Cost Ratio 4-63 5. yaitu yang berorientasi pada efisiensi ekonomi nasional maupun yang berorientasi non-ekonomis. Dampak proyek terhadap “foreign exchange” Kriteria evaluasi: • • Net foreign exchange savings Domestic Resources Cost 6.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3. dan menunjang program transmigrasi. Dampak proyek terhadap distribusi pendapatan kepada penduduk tertinggal Kriteria evaluasi: • • • % (presentase) perubahan pada Gini Coefficient % (presentase) perubahan pada Poverty Ratio % (presentase) dari “project incremantal benefits” yang mengalir kepada keluarga miskin 4. 4.

Model ini mampu menangani proses pemilihan proyek (irigasi) dengan karakteristik sebagai berikut: Multi-objective: economic/monetary objective seperti efisiensi ekonomi. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sehingga diperlukan pendekatan yang bersifat multi-objective dan 4-64 multi-critiria dalam proses pemilihan/penyaringan proyek. dan tingkat keberadaan luas sawah yang sudah ada pada daerah sasaran. ketersediaan air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dievaluasi juga mencakup faktor-faktor sosio-teknis. Disamping itu. faktor sosio-ekonomis: jumlah luas areal sasaran. faktor-faktor sosio-teknis: kesiapan penduduk untuk memanfaatkan areal pertanian yang baru dicetak. dan tingkat keberadaan luas sawah yang sudah ada pada daerah sasaran. dan menunjang program transmigrasi. faktor teknis: kecocokan/kesuburan lahan. sehingga proyek hanya dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang ditentukan. Oleh sebab itu pendekatan ekonomis semata seperti analisis Benefit-cost tidak lagi memadai. dan non-monetary objective seperti menunjang program swa-sembada beras. seperti kesiapan penduduk untuk memanfaatkan areal pertanian yang baru dicetak. maka jika proyek dipilih akan diselesaikan dengan tuntas sehingga dihindari penyelesaian proyek yang parsial. faktor sosiopolitis: jumlah transmigran yang didukung. pengalaman dan kemampuan petani untuk memanfaatkan teknologi baru seperti jaringan irigasi teknis. pelaksanaan pembangunan/rehabilitasi jaringan irigasi mengalami permasalahan dalam penjadwalan. mendorong program pembangunan daerah. pengalaman dan kemampuan petani untuk memanfaatkan teknologi baru seperti jaringan irigasi teknis. misalnya banyak proyek dibangun secara bersamaan tanpa menyadari terjadinya keterbatasan dana. Multi-criteria. Model Integer Goal Programming disarankan untuk dipakai dalam proses pemilihan proyek yang bersifat multi-objective dan multi-criteria. dan faktor lingkungan: skore dampak lingkungan Penjadwalan proyek dalam kondisi keterbatasan dana: dengan digunakannya variabel 0 dan1.

jika tujuan penambahan areal irigasi baru di luar Jawa atau dukungan atas program transmigrasi diberi prioritas maka akan diketahui “skor”/posisi masing-masing calon daerah irigasi dalam hal kesiapan petani. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . kapasitas petani dan jumlah areal yang sudah berupa sawah pada daerah sasaran. Dapat digunakan sebagai perangkat untuk mengidentifikasi ketidak pastian faktor-faktor sosio-teknis sehingga dapat diantisipasi upaya-upaya untuk meminimalkan ketidak pastian. misalnya dalam penjadwalan yang optimal yaitu memilih proyek dengan bulat dapat diselesaikan sesuai periode konstruksi proyek ditengah kendala dana yang tersedia. Demikian halnya untuk tujuan/objective dan kriteria-kriteria lainnya akan menghasilkan pilihan proyek dan pencapaian sasaran yang berbeda tergantung dari tujuan dan kriteria yang diprioritaskan. Dengan diketahuinya skor/posisi atas faktorfaktor sosio-teknis dapat diantisipasi uapaya penanganannya. misal jika dipilih tujuan efisiensi ekonomi sebagai prioritas maka akan terpilih proyek-proyek irigasi yang terletak di Jawa saja (karena dengan investasi yang tidak terlalu besar misalnya untuk rehabilitasi dan atau lanjutan pembangunan jaringan irigasi akan diperoleh nilai net 4-65 present value of benefit yang cukup tinggi). sebaliknya jika pencapaian areal irigasi baru atau dukungan atas program transmigrasi dipilih sebagai tujuan prioritas maka akan terpilih proyek-proyek irigasi yang terletak di luar Jawa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dibandingkan dengan pendekatan tradisional Benefit-cost analysis. Dapat digunakan untuk mengatasi masalah manajerial penjadwalan proyek. Dapat digunakan untuk “parametric analysis” untuk berbagai skenario ketersediaan dana. Misalnya. manfaat dari penggunaan dari model multi-objective-multi-criteria diantarnya adalah: Dapat digunakan untuk membuat simulasi “trade-off” untuk berbagai pilihan kebijakan pemilihan proyek. skenario pemilihan prioritas tujuan dan skenario pemilihan prioritas penggunaan kriteria.

instream-offstream. kapan jaringan irigasi dimulai dan diselesaikan pembangunannya. dan kapan dukungan sarana produksi padi dan pelatihan untuk petani harus dimulai dan kapan pula transmigran mulai didatangkan ke daerah sasaran. suatu pendekatan regional dalam perencanaan pengembangan sumber daya air telah diikuti untuk mengatasi konflik yang muncul dengan cepat pada penggunaan air dalam kaitannya dengan tata ruang wilayah. sosio-politis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dapat dipakai sebagai perangkat untuk koordinasi antar sektor dengan diketahuinya jadwal dan kondisi faktor-faktor teknis. Mengingat bahwa sumber daya air menyangkut berbagai sektor pembangunan (multi sector). menyeluruh (hulu-hilir. dan pembangunan jaringan sumber daya air lainnya. sosio-teknis. Dalam tahun-tahun belakangan ini. sanitasi. fokus dan integrasi dari berbagai aspek serta sebagai saluran bagi umpan balik pengguna dan dalam pengembalian biaya. Pendekatan ini diperlukan untuk optimalisasi penggunaan sumber daya wilayah sungai karena dapat memberikan perhatian. maka perlu dikelola berdasarkan pendekatan peran serta (participatory approach) semua stakeholders dan segala keputusan publik tentang pengelolaan sumber daya air perlu didahului dengan konsultasi publik sebelum menjadi ketetapan. air permukaan-air tanah. sosio-ekonomi dari daerah sasaran Misalnya.5 STRATEGI KELEMBAGAAN DAN KOORDINASI Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan secara terpadu (multi sektoral). berwawasan lingkungan (konservasi ekosistem) dengan wilayah sungai (satuan wilayah hidrologis) sebagai suatu kesatuan perencanaan dan pengelolaan. berkelanjutan (antar generasi). Pendekatan ini telah mengarah pada LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . air dan lahan. 4-66 4. freshwater management and coastal zone management). seperti penyediaan sarana air minum. kuantitas-kualitas. Model ini dengan berbagai modifikasi dapat digunakan untuk pemilihan prasarana dan sarana lainnya yang mempunyai karakter multi-objective – multi – citreria.

untuk mensosialisasikan kegiatan proyek dan tujuannya. 4-67 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Integrasi aspek kuantitas dan kualitas dalam pengelolaan sumber daya air. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back) dalam Dewan Sumber Daya Air Nasional untuk menampung masukan dari instansi pemerintah dan lembaga non-pemerintah yang terkait dalam pengelolaan sumber daya air. Masukan-masukan dimaksud dapat dikelompokkan pada: • • • • Integrasi manajemen “freshwater/air tawar” dengan manajemen daerah pantai Integrasi manajemen air permukaan dan manajemen air tanah. Mengadakan seminar informal dan diskusi bulanan antara pihak pemerintah. yang bertanggung jawab kepada Pemerintah Provinsi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA definisi batas wilayah sungai dan pembentukan Satuan Pengelola Teknis Wilayah Sungai. Menjabarkan kerangka kerja institusi pemerintah pusat dalam kegiatan manajemen sumber daya air. Menjabarkan semua pihak yang terkait yang terlibat dalam manajemen sumber daya air dan menggunakan kerangka kerja pada tingkat WS. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back). 2. Inggris atau Belanda) dan Asia Tenggara (Sarawak dan Malaysia) dan negara-negara lainnya. seperti dari Eropa (Republik Checz. Dengan demikian perencanaan pengelolaan sumber daya air akan menjadi suatu program komprehensif pengembangan untuk jangka pendek dan jangka panjang. 3. 5. dan mengidentifikasi berbagai kegiatan untuk menghasilkan suatu pedoman pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Definisi fungsi institusi di tingkat pemerintah pusat yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut: 1. 4. Hal ini juga diikuti dengan studi masalah. Untuk merumuskan suatu perencanaan termasuk menyusun dokumentasi sumber daya air. seperti seminar. juga dibutuhkan evaluasi terhadap alternatif kegiatan untuk memanfaatkan sumber daya air tersebut secara lebih baik. harus dilakukan analisis kebutuhan air baik untuk saat ini maupun proyeksinya dimasa mendatang. Integrasi manajemen lahan dan manajemen air.

perencanaan. Untuk keperluan ini. Daerah tangkapan air (catchment area). kontrol/pengendalian akses. 8. Dataran banjir yang diatur. penggunaan.000 yang menggambarkan kondisi batas Wilayah Sungai yang terbaru berdasarkan Permen PU No:11/M/2006. 4-68 6. Daerah pantai.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • Integrasi keperluan yang terkait dengan air didaerah hulu dan didaerah hilir Masalah-masalah yang terkait dengan koordinasi dan legislasi sumber daya air. perlu dipersiapkan peta Indonesia skala 1: 1. manajemen. Alur sungai. propinsi. Daerah aliran air bagian hilir. integrasi kepentingan daerah hulu dan hilir. integrasi manajemen lahan dan air. Pembagian institusi yang bertanggung jawab adalah sebagai berikut: LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Daerah aliran air bagian tengah. Pembuatan prinsip dan konsep peran institusi dan tanggung jawab mengenai: manajemen integrasi DAS dan daerah pantai. Menghindarkan terjadinya “overlapping” dan “gaps” dalam pengaturan tanggung jawab dan kawasan kerja pada lembaga-lembaga yang terkait dengan pengelolaan air yang ada maka diperlukan pemetaan wilayah kerja berdasarkan pembagian wilayah sungai. kabupaten dan kecamatan serta batas kawasan kerja pihak-pihak yang terkait. Mengklarifikasi pembagian tugas. maka daerah aliran sungai (DAS) perlu dibagi berdasarkan area sebagai berikut: • • • • • • • • • • • • • Daerah aliran air bagian hulu. fungsi dan yurisdiksi untuk koordinasi sektor-sektor yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya air pada tingkat nasional. 7. Daerah banjir.000. Daerah pinggiran dataran banjir yang diatur (regulatory floodway fringe).

Mengadakan studi banding mengenai permasalahan integrasi sub-sistem sosial dan sub-sistem alam dalam pengelolaan terpadu sumber daya air. 4-69 9. air untuk pembangkit listrik tenaga air. masalah legislasi. masalah hukum. memperkirakan resiko yang mungkin terjadi. evaluasi dan pengawasan. menurunnya kuantitas dan kualitas pasokan air. dan sebagainya. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . inventarisasi pengguna dan permohonan alokasi air. Merumuskan kurangnya koordinasi antar institusi dalam hal penyediaan air untuk berbagai keperluan serta mengidentifikasi upaya-upaya untuk mengatasinya. masalah institusi. air industri. 11. koordinasi pengembangan. 12. air perikanan. 10. perencanaan pengembangan partisipasi publik. pengendalian alokasi keuangan dan pembiayaan. penegakan hukum. air untuk wisata air. mengendalikan alokasi sumber daya air. Identifikasi tugas institusi dalam menghadapi tantangan dalam pengelolaan sumber daya air yaitu antara lain: meningkatnya kebutuhan air. dan air untuk lingkungan. pengendalian kualitas air. menurunnya daya dukung lingkungan serta meningkatnya kepedulian atas kelestarian lingkungan. resolusi konflik. pengembangan sumberdaya manusia. Informasi diatas digunakan untuk mengkoordinasi secara fungsional dan spasial antara sektor berikut: penyediaan air minum. 13. air irigasi/pertanian.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • • • • • • • • • • • • • • pengendalian penggunaan sumber daya air. Merumuskan kekurangan infrastruktur pengolahan air limbah dan pengaturan aspek legal-nya untuk daerah perkotaan dan daerah urban.

Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (sebagai pengganti UU No 22/1999) dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai otonomi daerah. Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota dan semua produk hukum yang isinya bertentangan dengan Peraturan perundang-undangan tersebut perlu untuk direvisi. banjir serta kualitas air adalah termasuk upaya penanggulangan secara struktural dan non-struktural pengembangan sumber daya air dalam era otonomi daerah. 22/1999) dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000. baik masalah kekurangan air. 4-70 4. Menyiapkan kerangka kerja tugas dan fungsi koordinasi institusi yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air pada lembaga pemerintah dan pihak non-pemerintah yang terkait. yang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang PokokLAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . akan banyak memberikan perubahan-perubahan mendasar dalam sistem ketatanegaraan. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 menempatkan otonomi daerah secara utuh pada daerah kabupaten dan daerah kota. meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 14. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 merupakan faktor pendorong untuk memberdayakan masyarakat. 15. Mengidentifikasi pilihan alternatif pemecahan masalah dengan pernyataan yang jelas tentang kelebihan dan kekurangannnya dari alternatif yang disiapkan.6 PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DALAM ERA OTONOMI DAERAH Di dalam upaya penanggulangan masalah pengembangan sumber daya air. Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 (sebagai pengganti UU No. maka untuk saat ini kedua produk hukum tersebut digunakan sebagai acuan untuk pembagian kewenangan antara Pusat. erosi dan sedimentasi.

4-71 satu Wewenang Penetapan Wilayah Sungai. berkedudukan sebagai Kabupaten Daerah Tingkat II dan Kotamadya Daerah Tingkat II. Pelaksanaan otonomi daerah yang bertumpu pada otonomi daerah kabupaten dan daerah kota juga memberikan pengaruh yang besar terhadap pengelolaan sumber daya air. Pengelolaan sumber daya air meliputi kegiatan konservasi.16 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai Wilayah Sungai Dalam satu Kabupaten/kota Lintas Kabupaten/Kota dalam Propinsi Lintas Propinsi Sungai Strategis Sumber: UU No. Berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air. 7 Tahun 2004. Pemerintah dan DPR telah mengeluarkan Undang-undang (UU) Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber daya air. Penetapan Pola dan Pelaksanaan Pengelolaan SDA Bupati/Walikota Gubernur (konsultasi dengan Dewan Daerah Sumber daya air) Menteri (konsultasi dengan Dewan Nasional Sumber daya air) Pemerintah (dengan persetujuan dan dilakukan bersama Pemerintah Daerah) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 3. UU SDA ini menggantikan Undang-undang yang berlaku sebelumnya. disebutkan bahwa: 1. Pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan wilayah sungai. yaitu UU Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. 2. Berdasarkan prinsip keterpaduan tanpa mengurangi Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Sungai.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pokok Pemerintah di Daerah. Pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan seluas-luasnya peran serta masyarakat. 4. pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. ditetapkan sebagai berikut: Tabel 4. Dalam UU SDA Pasal 5 dan Pasal 6 Tentang Pengelolaan Sumber daya air. Daerah kabupaten dan kota tersebut berkedudukan sebagai daerah otonomi dan mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat di daerahnya.

Peningkatan manajemen sumber daya air permukaan dan air tanah harus dalam kerangka kerja yang sama pada masing-masing Wilayah Sungai yang bersangkutan. Pemantauan telah dilakukan. pemerintah harus menjalankan perencanaan dan koordinasi pengembangan sumber daya air dengan tegas. Selama proses masa transisi.6. propinsi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Pengelolaan sumber daya air memerlukan dukungan penuh dan terus-menerus dari institusi jajaran pemerintah propinsi/kabupaten/kota dan stakeholders. air tanah dan kualitas air.1 Permasalahan dan Tantangan dalam Pengelolaan Sumber daya air Masalah khusus yang mendesak untuk pengembangan wilayah sungai terdiri atas terlalu banyak air dimusim hujan. termasuk para kelompok pengguna air di dalam pengelolaan sumber daya air. tapi penegakan hukum dan peraturan mengenai kuantitas air dan kualitas air sampai sekarang masih kurang. Perencanaan harus menerapkan prinsip peningkatan fungsi dan daya dukung daerah aliran sungai sebagai sumber air dan manajemen daerah aliran sungai. dan kabupaten dalam manajemen sumber daya air maupun LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Masalah dan tantangan yang perlu dikaji adalah sebagai berikut: a. Hal ini juga harus diterapkan tingkat Wilayah Sungai. 4-72 4. Masalah yang berkaitan dengan penggunaan air permukaan dan air tanah memperlihatkan perlunya pengelolaan bersama antara sumber air tanah dan air permukaan. Suatu pengelolaan kuantitas air dan kualitas air yang memadai akan menjadi penting bagi pembangunan. b. c. Untuk itu diperlukan suatu terobosan berupa suatu kesepakatan operasional pelayanan sumber daya air yang mengikutsertakan para penanggung jawab operasional di lapangan. d. terlalu sedikit air dimusim kemarau sedangkan air yang tersediapun sudah terlalu kotor yang menyangkut pengelolaan air permukaan. Kerangka kerja institusi harus mengatur koordinasi antara tingkat nasional. baik dari unsur pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah propinsi.

Organisasi non pemerintahan. e. baik swasta maupun publik) pada setiap WS. dan tingkat administrasi. Bappenas seharusnya memulai untuk mengatur koordinasi batasan kawasan kerja. 4) kecamatan/daerah tangkapan dan 5) desa/sub DAS yang kecil. PJT I. Balai Pengelolaan SDA Propinsi • • • • • Sektor industri swasta. Asosiasi perusahaan air minum Asosiasi pengguna air. 2) propinsi (prioritas pada wilayah sungai propinsi atau lintas kabupaten dalam satu propinsi). yakni: 1) nasional (prioritas pada Wilayah Sungai nasional dan wilayah sungai strategis). Bali Wilayah Sungai/BWS. Asosiasi profesional. 3) kabupaten. Definisi pihak yang terkait atau pemangku kepentingan/stakeholders adalah: • • • • Lembaga pemerintah pusat yang terkait. Sektor pengembang swasta. Departemen pemerintah. Perencanaan dan koordinasi manajemen sumber daya air dan daerah aliran sungai pada wilayah sungai nasional dan wilayah sungai strategis dikoordinasikan oleh badan pemerintah pusat dengan partisipasi langsung pihak-pihak yang terkait (pengguna sumber daya air. Kerangka kerja institusi yang terkait harus terdiri dari 5 tahap. h. provinsi dan wilayah sungai.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengatur koordinasi antar anggota stakeholders pada tingkat yang sama pada berbagi tingkatan yaitu tingkat nasional. PJT II. Organisasi pengelola wilayah sungai yaitu Balai Besar Wilayah Sungai/BBWS. 4-73 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Saat ini masih terdapat lembaga pemerintah yang mempunyai tugas yang sama pada perencanaan manajemen sumber daya air dan kawasan kerjanya. Terdapat juga definisi kawasan kerja yang tidak konsisten pada departemen pemerintah. g. lembaga. f.

manajemen. Insitusi ini juga akan bertanggung jawab dalam penyebaran informasi kepada publik dan pengembangan sistem monitor untuk propinsi. k. diawali dengan penetapan pola dan rencana induk pengelolaan sumber daya air yang disetujui oleh Dewan SDA Nasional. m. propinsi. Pengembangan ini adalah digunakan untuk sistem pengawasan kinerja pemerintah dan sistem koordinasi manajemen informasi. Perencananan pengembangan pada tingkat kecamatan dibuat oleh pemakai air dan LSM. Manajemen sumber daya air pada wilayah sungai lintas propinsi dan wilayah sungai strategis nasional akan dikoordinasikan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional dengan sekretariatnya dan struktur transisinya. propinsi. hilir DAS dan daerah pantai yang ada. dan koordinasi finansial. DAS dan kabupaten. Petani dan asosiasinya. kabupaten. DAS dan kabupaten akan menggambarkan kondisi. Kabupaten harus menyiapkan bahan perencanaan pembangunan kabupaten dengan prioritas pada kecamatan. Lembaga-lembaga pada tingkat propinsi. pengembangan WS akan diuraikan oleh perencanaan strategi untuk WS. tengah. kecamatan dan desa dalam hubungannya dengan daerah hulu. n. baik dari segi pasokan maupun kebutuhan. Hal ini diperlukan untuk koordinasi antara tingkat pemerintah. pembaharuan (update). 4-74 Prioritas identifikasi pengembangan wilayah sungai (WS) adalah pada WS tingkat nasional dan WS Strategis nasional. diikutsertakan mengenai bidang pengawasan. dan kabupaten. Nelayan dan asosiasinya. Bappenas bertanggung jawab dalam reformasi kebijakan pengelolaan sumber daya air dan membantu Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber daya air. Manajemen informasi sumber daya air akan didirikan dan berada dibawah sekretariat. j. l. Melengkapi strategi sumber daya air nasional dan menyelaraskan dengan ketentuan dan peraturan sektor dan sub sektor yang ada. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • i. Dalam perumusan program sumber daya air dan irigasi. o. DAS.

Eksploitasi air tanah yang berlebihan mengakibatkan penurunan muka air tanah.1 Permasalahan dalam Pengelolaan Sumber daya air Wilayah Sungai di Pulau Jawa sebagian besar mengalami permasalahan yang sama yaitu: Kerusakan catchment area sehingga memberikan ancaman terhadap keberlanjutan daya dukung sumber daya air. Belum semua wilayah sungai memiliki masterplan. Lemahnya koordinasi.1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA p. Meningkatnya potensi konflik pemanfaatan air. Kelangkaan air juga diperparah dengan menurunnya kondisi lingkungan dan makin meluasnya lahan kritis. Banjir disebabkan oleh perubahan tata lingkungan. Kualitas air buruk karena daya dukung sungai lebih rendah dibanding beban pencemaran. Pengaruh otonomi daerah dalam rangka pengelolaan sumber daya air LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Telah terjadi kekeringan/defisit air (di musim kemarau). Dewan Sumber Daya Air Nasional bertanggung jawab dalam implementasi dan manajemen kebijakan pengelolaan sumber daya air nasional. 4-75 4. land subsidence.6. dan ketatalaksanaan. permukiman dan industri. kelembagaan. diperlukan adanya institutusi yang bersifat komprehensif untuk menjawab permasalahan yang berkembang. Meningkatnya kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan. dan intrusi air laut. Masih lemahnya pengelolaan database sumberdaya alam. penurunan kapasitas pengaliran sungai dan penurunan kinerja prasarana pengendali banjir. Regenerasi sumber daya manusia pengelola sumber daya air terancam tidak berlanjut. Penurunan kinerja infrastruktur sumber daya air. Kebutuhan air baku untuk non-irigasi makin meningkat sejalan dengan perkembangan penduduk. Rendahnya kualitas pengelolaan hidrologi.

dan lain-lain). Dengan diterapkannya otonomi daerah. yang berarti bahwa kabupaten/kota dituntut dapat lebih intensif mendayagunakan segala potensi yang ada secara bertahap agar mampu membiayai urusan rumah tangganya sendiri dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. adanya otonomi daerah dapat menimbulkan permasalahanpermasalahan yang dapat menimbulkan konflik antar daerah dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Kepentingan Kabupaten/Kota. Pengaruh yang baik dan bermanfaat dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air dalam era otonomi daerah adalah munculnya budaya kompetisi yang sehat antar daerah untuk berusaha memajukan daerahnya masing-masing dengan memanfaatkan potensi yang ada di masing-masing daerah. pariwisata. 2) Sumber daya air sebagai komoditi ekonomi dapat dikembangkan dan dikelola untuk andalan pendapatan daerah (sebagai air baku. terkait dengan pelaksanaan otonomi daerah: a. ada kecenderungan kabupaten/kota akan menguasai dan mengelola sumber daya air yang terdapat di daerahnya. Penguasaan atas sumber daya air ini didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut: 1) Sumber daya air merupakan unsur penting dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan sangat diperlukan untuk pemenuhan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Berikut ini diberikan berapa permasalahan yang sering muncul dalam pengelolaan sumber daya air. pemerintah kabupaten/kota juga akan berupaya untuk lebih mensejahterakan dan meningkatkan derajat kehidupan masyarakatnya sebagai konsekuensi dari tuntutan masyarakat dan tuntutan jaman. Selain itu.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pada prinsipnya di satu sisi dapat memberikan dampak yang baik dan bermanfaat. Di sisi lain. industri. namun di sisi lain juga tidak menutup kemungkinan akan dapat menimbulkan konflik yang sebelumnya mungkin tidak pernah terjadi. 4-76 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

Konflik akan terjadi bilamana wilayah sungai terdiri dari beberapa wilayah administratif baik kabupaten/kota atau bilamana wilayah sungai melalui lebih dari satu propinsi. perlu adanya pembagian dalam penataan ruang dari masingmasing kabupaten/kota untuk memperhatikan lokasi. Lokasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3) Dengan menguasai dan mengelola sumber daya air akan mengurangi ketergantungan pada daerah lain. kawasan lindung dan resapan air serta pengendalian terhadap erosi. Alokasi pemanfaatan air. Sebab dan akibat adanya banjir ini sangat dipengaruhi oleh kondisi tata ruang dalam wilayah sungai. Konflik pemanfaatan air bersih dapat terjadi apabila tidak ada kesepakatan yang baik pada pemanfaatan langsung maupun tidak langsung yang terkait dengan: 1) 2) 3) 4) 5) c. fungsi dan sifat dimana daerah tersebut berada dalam wilayah sungai. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan Air Bersih. b. daerah ini berfungsi sebagai daerah konservasi tanah dan air. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Banjir. Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pemanfaatan tersebut. 4-77 Pertimbangan-pertimbangan tersebut apabila dikembangkan secara positif akan memajukan daerah dan menumbuhkan kompetisi yang baik. fungsi dan wilayah sungai tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Daerah aliran sungai bagian atas (hulu). Keuntungan yang timbul dari pemanfaatan air. Masalah penanganan banjir secara komprehensif sangat tergantung oleh adanya keterpaduan pengelolaan daerah pengaliran sungai dalam satu wilayah sungai. Oleh karena itu. Pemilik sumber air (lokasi sumber). dengan catatan tidak didasari atas niat ingin menguasai dan hanya memikirkan daerah setempat saja. Jalur distribusi yang dilewati. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

Selain sangat dipengaruhi oleh curah hujan. Lebih akan mempersulit pelaksanaan keterlambatan berdasarkan respon hidrologis dan upaya-upaya : keterlambatan dalam respon sosial (pembenahan bantaran (penentuan daerah rawan tingkat resiko) keterlambatan respon ekosistem (pembuatan daerah atau titik-titik/sumur resapan air). masalah banjir juga terkait dengan ada tidaknya tindakan konservasi di daerah hulu dan untuk mengkoordinasikannya sangat sulit karena berhubungan dengan masalah tataguna lahan pada masing-masing daerah kabupaten/kota. lanjut. daerah ini berfungsi sebagai daerah pengendalian banjir dan drainase serta pencegahan intrusi air laut.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2) Daerah aliran sungai bagian tengah. Langkah-langkah dijamin. banjir pertumbuhan penduduk. pengalokasian. penyeimbangan/tradeoffs ini perlu diikuti upaya-upaya yang kondusif agar antara lain: penerimaan masyarakat atas hasil trade offs harus pelaksanaannya dimungkinkan dengan adanya institusi-institusi. kesemuanya itu harus diperhitungkan. Untuk itu diperlukan upaya-upaya khusus diantaranya dengan mengintegrasikan kepentingan hulu dan hilir serta diterapkannya prinsip ”hydrosolidarity”. pendistribusian serta pengendalian banjir. komplikasi dapat timbul seperti perubahan yang terus berlanjut dalam hal perubahan-perubahan yang didorong oleh penggunaan tanah dan modifikasi penggunaan air. peraturanperaturan dan pembiayaan yang siap melaksanakan. Hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah kejadian-kejadian pemicu-pemicu yang memerlukan penanganan khusus seperti langkah-langkah intervensi pemerintah dalam LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . penyimpanan. 4-78 3) Daerah aliran sungai bagian bawah (hilir). Dalam upaya-upaya ini. migrasi-urban dan bertambahnya ekspektasi. daerah ini berfungsi sebagai daerah untuk pengumpulan. dan direalisasikannya implementasi dengan menjamin insentip yang mencukupi dan disertai upayaupaya dibidang pendidikan. Suatu daerah tangkapan air dapat dilihat sebagai socio-ecohydrological system dimana trade offs harus dibuat. keterlambatan dalam merespon sungai yang dimukimi penduduk).

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

memitigasi bencana yang terkait dengan air seperti kekeringan, tanah longsor dan pencemaran.

banjir,

4-79

Tiga arahan kunci menjiwai sistem manajemen yang diperlukan, yaitu: 1) menjamin layanan yang terkait dengan air kepada penduduk, 2) mencegah dan mengurangi degradasi ekosistem, dan 3) memperkirakan perubahan dan variabilitas iklim dan dampaknya. d. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan Air Irigasi. Guna memenuhi kebutuhan pangan, pemanfaatan air untuk irigasi saat ini masih sangat diperlukan dan masih dominan. Berkaitan dengan hal tersebut, peningkatan kebutuhan air non irigasi akan menyebabkan alokasi pemenuhan kebutuhan air irigasi menjadi berkurang, disisi lain, kebutuhan air irigasi juga cenderung berkurang seiring dengan pengurangan lahan irigasi karena adanya perubahan pemanfaatan lahan. Mengingat air yang terbatas, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan konflik antar pengguna air. Oleh karena itu, perlu adanya kesepakatan dalam hal alokasi air dan pola tanam yang diterapkan. e. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Kelembagaan. Berbagai instuisi selama ini telah melakukan pengelolaan sumber daya air. Pada waktu sumber daya air masih berupa uap air/embun, BMG merupakan instuisi yang berwenang dan bertanggung jawab dalam melakukan pengelolaan dan pencatatan. Sedangkan sumber daya air yang sudah berada pada badan air, yang berupa sungai atau danau sebagai air permukaan dikelola oleh Departemen Pekerjaan Umum/cq. Ditjen Sumber Daya Air. Selanjutnya, sumber daya air yang berupa air tanah yang berada di bawah permukaan tanah dikelola oleh Departemen Pertambangan dan Energi. Sementara itu, untuk air di laut instuisi pengelolanya adalah Departemen Kelautan dan Perikanan. Mengingat sifat kontinuitas sumber daya air, sementara institusi pengelolanya relatif terpisah, oleh karenanya diperlukan suatu koordinasi yang baik diantara para unsur pengelolaannya.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

Pengelolaan sumber daya air melibatkan banyak stakeholders yang seringkali 1) 2) 3) 4) 5) tidak mudah untuk mengkoordinasikannya dan ada kecenderungan sering terjadi egoisme sektoral dengan implikasi: Menitikberatkan pada kepentingan masing-masing sektor, Merencanakan dan melaksanakan pengelolaan sesuai kebutuhannya sendiri, Membuat peraturan sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan masingmasing sektor, Menyebabkan terjadinya tumpang tindih tanggung jawab dan wewenang instuisi, Menyebabkan kurang terintegrasinya tataguna ruang dan tata air. lembaga-lembaga

4-80

Dalam pelaksanaannya, instansi pemerintah termasuk

penelitian dan Perum yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air cukup banyak, yaitu Departemen-departemen Pertanian, Kehutanan, Perhubungan, ESDM, Pekerjaan Umum, Perindustrian, Dalam Negeri, Keuangan, Kelautan dan Perikanan, Kesehatan, Sosial, Kementerian Negara PPN/BAPPENAS, Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Kantor Menko Perekonomian, Kantor Menko KESRA, BPN, BMG, BAKORNAS PBP, BPPT, LAPAN, LIPI, BAKOSURTANAL, PT. PLN, PJT I, dan PJT II. Permasalahan yang sering timbul adalah mengenai batasan kewenangan antar lembaga pengelola SDA dalam pengelolaan sumber daya air masih belum jelas dan belum ada juklak dan juknis yang mengaturnya, terkait dengan Implementasi PP No. 25 Tahun 2000 atau peraturan pemerintah penggantinya.

4.6.1.2 Tantangan dalam Pengelolaan Sumber daya air a. Meningkatnya eksploitasi Sumber daya air demi mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sumber pendapatan daerah ketentuannya terdapat dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah yang menyatakan

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

bahwa salah satu sumber pendapatan daerah berasal dari Pendapatan Asli Daerah, yang meliputi: • • • • hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, lain-lain pendapatan daerah yang sah.

4-81

Sebagai daerah otonomi yang memiliki kewenangan sendiri untuk mengurus daerahnya, terkadang pemerintah daerah dalam mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) baik yang berupa pajak maupun retribusi daerah, seringkali tidak memperhatikan pengaruhnya terhadap daerah lain. b. Ego sektor berubah menjadi ego daerah Akibat dari pengelolaan sumber daya air menyangkut multi sektor, maka pengelolaan sumber daya air akan melibatkan banyak stakeholders yang tidak mudah untuk mengkoordinasikannya sehingga ada kecenderungan terjadinya egoisme sektoral dengan implikasi mengutamakan pada kepentingan masing-masing sektor. Dari ego sektor tadi kemudian berubah menjadi ego daerah dengan implikasi merencanakan dan melaksanakan pengelolaan sumber daya air sesuai kebutuhan daerahnya sendiri tanpa memikirkan daerah lain yang terkadang air sungai tersebut juga mengalir atau melewati daerah lain. c. Masalah Pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai tidak mengenal batas administratif Pembinaan maupun pengelolaan atas air dan atau sumber air pada suatu wilayah sungai batasannya adalah wilayah sungai (batasan hidrologis) bukan batasan administrasi. Sering terjadi permasalahan suatu sumber air terletak pada wilayah administrasi yang berbeda dengan pengguna sumber air tersebut. Permasalahan tersebut biasanya dapat diselesaikan antar instansi pemerintah namun sulit untuk level masyarakat. Sehingga diperlukan adanya koordinasi dan pengaturan atas sumber daya air yang

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

tanggal 17 Juli 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Wilayah Sungai. kawasan konservasi dan pengendalian pencemaran. Lingkup pengelolaan dari orientasi proyek menjadi program terpadu. Kerjasama berbasis proyek untuk penanganan masalah sejenis yang dihadapi bersama. 4-82 4. pendayagunaan sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . karena bagaimanapun juga masyarakat merupakan pihak yang terlibat langsung dalam pemanfaatan dan penggunaan air tersebut. Pola pengelolaan dari reaktif menjadi proaktif. diperlukan upaya-upaya pengelolaan sumber daya air yang lebih terpadu. tanggal 17 Juli 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Wilayah Sungai.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA adil dan merata secara jelas dan tegas serta memberikan informasi yang transparan bagi masyarakat setempat.2 Organisasi dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No:12/PRT/M/2006. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS)/Balai Wilayah Sungai (BWS) adalah unit pelaksana teknis di bidang konservasi sumber daya air.6. Filosofi pengelolaan dari menghindari hukum menjadi melakukan sesuai hukum. • • • Penanganan wilayah perbatasan. pengembangan sumber daya air. 2) Pengembangan kerjasama antar lembaga dan daerah. Kerjasama dalam pemberian perijinan untuk kegiatan-kegiatan pemanfaatan SDA dan pemanfaatan ruang. • • • • • Tujuan pengelolaan dari Adhoc (khusus) menjadi need driven. dengan mempertimbangkan: 1) Perubahan paradigma. dan PERMEN PU No:13/PRT/M/2006. Sistem pengelolaan dari rigid menjadi fleksibel. Sehubungan dengan permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air seperti yang disampaikan diatas.

melaksanakan penyusunan pola dan rencana pengelolaan SDA pada wilayah sungai. 4-83 Balai Besar Wilayah Sungai terdiri dari 2 (dua) tipe. melaksanakan pengelolaan sistem hidrologi. melaksanakan penyiapan rekomendasi teknis dalam pemberian ijin atas penyediaan. BBWS/BWS mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan sumber daya air (SDA) yang meliputi perencanaan. yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Sumber Daya Air. pelaksanaan konstruksi. pengembangan SDA. b. c. d. j. Bidang Operasi dan Pemeliharaan. Bagian Tata Usaha. melaksanakan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan SDA. d. melaksanakan penyusunan rencana dan pelaksanaan pengelolaan kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai. yaitu: 1) BBWS Tipe A yang terdiri dari: a. melaksanakan ketatausahaan Balai Besar/Balai Wilayah Sungai. Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. operasi dan pemeliharaan dalam rangka konservasi SDA. Bidang Program dan Evaluasi. pengembangan SDA. f. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . g.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. c. melaksanakan pengelolaan SDA yang meliputi konservasi SDA. Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. b. pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. e. melaksanakan penyelenggaraan data dan informasi SDA. penggunaan dan pengusahaan SDA pada wilayah sungai. i. Dalam melaksanakan tugasnya BBWS/BWS menyelenggarakan fungsi: a. h. peruntukan. melaksanakan fasilitasi kegiatan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air pada wilayah sungai. e. melaksanakan operasi dan pemeliharaan SDA pada wilayah sungai. pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai.

Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. NAMA BALAI LOKASI WILAYAH KERJA Balai Besar Wilayah Sungai I. yaitu: 1) Balai Wilayah Sungai Tipe A terdiri dari: a.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA f. 17 Balai Besar Wilayah Sungai & Balai Wilayah Sungai di Pulau Jawa NO. Subbagian Tata Usaha. b. d. c. 1. II. Yogyakarta 5. Kelompok Jabatan Fungsional. 1. I. Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. Kelompok Jabatan Fungsional. Seksi Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. Tabel 4. c. - Cirebon Banjar Balai Wilayah Sungai Balai Wilayah Sungai terdiri dari 2(dua) tipe. 6. b. II. e. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Bagian Tata Usaha. 3. Bidang Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. 2. 3. Seksi Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. Seribu Wilayah Sungai Citarum Surabaya Surakarta Semarang Wilayah Sungai Brantas Wilayah Sungai Bengawan Solo Wilayah Sungai Pemali – Comal Wilayah Sungai Jratun Seluna Wilayah Sungai Serayu – Bogowonto Wilayah Sungai Progo– Opak– Serang Wilayah Sungai Cimanuk – Cisanggarung Wilayah Sungai Citanduy 4. 4-84 3) BBWS Tipe B yang terdiri dari: a. TIPE A Balai Besar Wilayah Sungai Brantas Balai besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Balai Besar Wilayah Sungai pemali – Juana Balai Besar Wilayah Sungai Serayu – Opak Balai Besar Wilayah Sungai CimanukCisanggarung TIPE B Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy TIPE A BWS Cidanau – Ciujung – Cidurian BWS Ciliwung – Cisadane BWS Citarum TIPE B Serang Jakarta Bandung Wilayah Sungai Cidanau – Ciujung – Cidurian Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane Wilayah Sungai Kep. 2.

2) Balai Wilayah Sungai Tipe B terdiri dari: a.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA d. 6. c. Untuk membantu dinas tingkat propinsi dalam pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersifat lintas kabupaten/kota masih dalam satu propinsi (wilayah sungai propinsi) diperlukan Balai Pengelolaan Sumber daya air Propinsi (Balai PSDA Propinsi) yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 179/1997 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA. d. Danau. Rawa. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Tingkat Kabupaten/Kota berperan sebagai penanggung jawab pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai yang menjadi kewenangan Kabupaten/Kota yang bersangkutan (wilayah sungai Kabupaten/Kota) yang diwujudkan manifestasinya pada usaha-usaha pembinaan teknis dan pengawasan teknis maupuan pelaksanaan fisiknya. waduk. yang meliputi 9 (sembilan) urusan yaitu: 1. Kelompok Jabatan Fungsional. Seksi Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. 4. 4-85 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 5. Sungai. Seksi Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. e. Subbagian Tata Usaha. Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air/Pengairan Tingkat Propinsi berperan sebagai penanggung jawab pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai yang menjadi kewenangan Propinsi yang bersangkutan (wilayah sungai propinsi) yang diwujudkan manifestasinya pada usaha-usaha pembinaan teknis dan pengawasan teknis maupuan pelaksanaan fisiknya. Tugas utama Balai PSDA Propinsi adalah melaksanakan sebagian fungsi dinas di bidang pengelolaan sumber daya air. 3. Pengendalian banjir dan penanggulangan kekeringan. Seksi Pelaksanaan Jaringan Sumber Air dan jaringan Pemanfaatan Air. Urusan irigasi lintas kabupaten/kota. situ dan embung. Kelompok Jabatan Fungsional. 2. b. Penyediaan air baku untuk berbagai keperluan.

perlindungan pantai dan muara. 4-86 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pemeliharaan muara sungai dan delta. pemeliharaan infrastruktur pengairan dll). 9. 2. air dan irigasi lintas air kabupaten/kota. penanggulangan kekeringan. waduk. pengelolaan rawa. dll). Pelaksanaan operasional konservasi/pelestarian sumber (pengendalian pencemaran air. 8. kelestarian situ. delta. Perlindungan pantai. Pengendalian pencemaran air. 3. galian golongan C. alokasi air. Pelaksanaan operasional pelayanan kepada masyarakat di bidang pengairan (rekomendasi teknis perijinan pengambilan air. kepegawaian dan perlengkapan). embung. pengendalian banjir.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 7. Dalam rangka melaksanakan tugas sembilan urusan seperti tersebut di atas. Pelaksanaan pelayanan teknis administratif ketatausahaan (urusan keuangan. Balai PSDA mempunyai 3 fungsi utama sebagai berikut: 1.

mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan korektif sedini mungkin. Evaluasi dilakukan dengan maksud untuk dapat mengetahui dengan pasti apakah pencapaian hasil.2 Evaluasi Evaluasi adalah kegiatan penilaian kinerja yang diukur dengan efisiensi. Evaluasi kinerja pelaksanaan rencana pembangunan dilaksanakan terhadap keluaran kegiatan yang dapat berupa barang dan jasa dan terhadap hasil (outcomes) program pembangunan yang berupa dampak dan manfaat.1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-1 5. pengawasan. Serangkaian kegiatan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. tujuan. Kegiatan pengendalian meliputi kegiatan pemantauan.1. Dengan melakukan pemantauan perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan dapat diikuti dengan bagik guna menjamin konsistensi antara pelaksanaan dengan rencana yang telah ditetapkan. kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan rencana pembangunan dapat dinilai dan dipelajari untuk perbaikan pelaksanaan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan kemanfaatan program serta keberlanjutan pembangunan. Pengendalian dilakukan dengan maksud untuk dapat menjamin bahwa pelaksanaan rencana pembangunan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.1 5. dan ruang lingkup yang menjadi pedoman dalam rangka menyusun perencanaan berikutnya.1 INDIKATOR PEMANTAUAN DAN EVALUASI Pemantauan Pemantauan adalah melihat kesesuaian pelaksanaan perencanaan dengan arah. Pemantauan merupakan bagian dari kegiatan pengendalian untuk mengamati/meninjau kembali serta mempelajari dengan cermat yang dilakukan secara terus menerus atau berkala terhadap pelaksanaan rencana pembangunan yang sedang berjalan. dan tindakan lanjut. efektifitas. 5.

efektif. Pada tahap pelaksanaan. Evaluasi pelaksanaan rencana adalah bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran. manfaat (benefit) untuk dan dampak (impact). setiap Kementerian/Lembaga. untuk menciptakan proses dan kegiatan perencanaan yang efisien. Indikator dan sasaran kinerja mencakup masukan (input). Evaluasi ini diarahkan untuk melihat apakah pencapaian (keluaran/hasil/dampak) program mampu mengatasi masalah pembangunan yang ingin dipecahkan. evaluasi digunakan untuk menentukan tingkat kemajuan pelaksanaan rencana dibandingkan dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. dan transparan. Pada tahap perencanaan. Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang tercantum dalam dokumen rencana pembangunan. dan (iii) indikator hasil/manfaat. manfaat. Dalam melaksanakan evaluasi kinerja proyek pembangunan. tujuan dan kinerja pembangunan. ataupun manfaat (dampak terhadap kebutuhan) dari suatu program. Evaluasi ini dilakukan setelah program berakhir untuk menilai efisiensi (keluaran dan hasil dibandingkan masukan). dan dampak dari rencana pembangunan. (ii) indikator keluaran. evaluasi Dalam kinerja rangka perencanaan yang pembangunan. dan (iii) Evaluasi pada Tahap Pasca-Pelaksanaan (EX-POST). 5-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kementrian/Lembaga. evaluasi sering digunakan untuk memilih dan menentukan skala prioritas dari berbagai alternatif dan kemungkinan cara mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Pada prinsipnya. serta akuntabel. keluaran (output). baik Pusat maupun Daerah. dibuat perangkat evaluasi yang dapat diukur melalui penyusunan indikator dan sasaran kinerja pelaksanaan rencana yang meliputi. Di dalam opersionalnya. berkewajiban melaksanakan pembangunan merupakan dan atau terkait dengan fungsi dan tanggungjawabnya. Fokus utama evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan diarahkan kepada hasil. (i) indikator masukan. evaluasi sering digunakan untuk menunjukkan tahapan siklus pengelolaan rencana pembangunan yang mencakup: (i) Evaluasi pada Tahap Perencanaan (EX-ANTE). hasil (result). efektivitas (hasil dan dampak terhadap sasaran).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI rencana pembangunan di masa yang akan datang. (ii) Evaluasi pada Tahap Pelaksanaan (ON-GOING).

materi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI baik Pusat maupun Daerah. 2006 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . et al. dan ukuran yang sesuai untuk masing-masing jangka waktu sebuah rencana.1. mengikuti pedoman dan petunjuk pelaksanaan evaluasi kinerja untuk menjamin keseragaman metode. Visi Pemantauan Assessment Implementasi Lingkungan yang Menunjang Kerangka Institusi Instrumen Managemen Strategi Rencana IWRM Gambar 5. Adapun tahapan yang dimaksud sesuai dengan siklus tersebut adalah sebagai berikut: 1 Olsen.3 Indikator dalam Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air 5-3 Sejalan dengan pengelolaan sumber daya air terpadu yang dikenal dengan Integrated Water Resources Management (IWRM). 1 Siklus Pengelolaan Terpadu SDA (IWRM). arah pemantauan dan evaluasi yang dilakukan juga terkait dengan visi dan rencana yang ditetapkan. 5. Kerangka praktis untuk menyusun indikator-indikator untuk pemantauan dan hasilnya (outcomes) secara konseptual dapat dibagi dalam 4 (empat) kelompok yang berbeda1 setiap kelompok mewakili kemajuan dari beberapa tahapan/langkah dari siklus proses ini. Untuk itu diperlukan indikator sebagai perangkat dalam memantau proses pengelolaan yang dilakukan..

Pada tahap ini kita membahas “kondisi-kondisi dasar untuk reformasi perubahan-perubahan telah ditetapkan”. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . : Proses reformasi IWRM telah berdampak BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-4 : Isu/permasalahan kunci sumber daya air telah : didapatkannya penggunaan air yang adil dan dengan keseimbangan yang berlanjut pada aspek ekonomis dan Sepanjang proses reformasi kebijakan pengelolaan SDA mantap. maka secara alamiah fokus reformasi akan bergerak dari tahapan yang pertama menuju ke tahapan yang berikutnya. peraturan-peraturan. misalnya “Kebijakan Pengelolaan SDA yang telah disepakati”. Tahap ke Empat lingkungan. Namun berjhubung proses ini merupakan suatu siklus. maka selalu perlu pertimbangan kembali aspekaspek tahap awal. Kondisi tersebut adalah landasan-landasan untuk kemajuan yang lebih lanjut dan reformasi dalam Pengelolaan Terpadu SDA. dalam hal terburuk. Indikator Outcome Tahap Pertama Kelompok indikator-indikator ini adalah pengukur kondisi yang menunjang (enabling conditions) yang telah dihasilkan suatu waktu tertentu yang ditentukan dalam pemantauan. Indikatorindikator pada Tahap Pertama dapat berupa. A. Tahap ketiga mulai diselesaikan 4. Pendanaan yang diperlukan tersedia. perundangan. Kondisi-kondisi ini termasuk item-item seperti: • • • Kepedulian dan partisipasi pemangku kepentingan (stakeholders).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 1. dan sebagainya. standar-standar dan kemauan politis untuk melaksanakan rencana-rencana. “Peraturan-perundangan yang telah ditetapkan:. Tahap Pertama 2. Tahap Kedua 3. : Kondisi yang menunjang untuk IWRM. tetap merupakan dokumen-dokumen statis dan kehendak baik saja. tetapi dapat. Adanya kebijakan.

koheren dan diharmoniskan dengan konteks/kondisi hidrologis. terbuka. aliran sungai yang tercemar. Indikator Tahap Ketiga ini akan mengukur kemajuan menuju diselesaikannya penyebab-penyebab isu/permasalahan kunci dan pengurangan dampak negatif-nya. social. penyedotan air tanah yang berlebihan. Instansiintansi pengelola SDA mulai bekerja berdasarkan prinsip-prinsip baru (IWRM). Indikatorindikator Tahap Kedua dapat diformulasikan sebagai “pengaturan alokasi air telah ditegakkan”.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA B. C. dan standarstandar serta peningkatan kapasitas telah mulai menunjukkan hasilnya dan staf dari instansi pengelola SDA semakin mengkoordinasikan penggunaan air secara lintas sector dan mulai menggunakan instrument managemen IWRM. Efisiensi dalam menangani isu/permasalahan kunci perlu mendapat perhatian. geographis setempat. bencana banjir dan kekeringan yang menimbulkan kerugian besar. dimana perubahan-perubahan dalam cara para “pengelola SDA” pada setiap tingkatan melaksanakan pengelolaan SDA mulai berdampak. inklusif. Hal ini dapat berupa misalnya. undang-undang baru (UU tentang Sumber Daya Air No 7/2004). Pada tahap ini kita membahas tentang “perubahan nyata dalam perilaku manajemen telah terjadi”. dsb-nya. degradasi fungsi hidrologi daerah tangkapan air Daerah Aliran Sungai. ekonomi. akuntabel. sedimentasi pada waduk-waduk yang mengurangi kapasitas tampung dan umur waduk. konflik kebutuhan air. proses harus beoperasi dalam system tata penyelenggaraan yang baik (good governance) diataranya transparan. “assessment tentang kapasitas telah ditetapkan”. Beberapa diantaranya adalah. Pada tahap ini kita membahas tentang “perubahan pada system LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Indikator Outcome Tahap Ketiga Prinsip dan proses IWRM dilaksanakan dengan tujuan langsung menangani akar penyebab isu/ permasalahan kunci sumber daya air yang relevan kepada dan diidentifikasi sendiri oleh stakeholders sumber daya air setempat. dan sebagainya. komunikatif. Indikator Outcome Tahap Kedua BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-5 Indikator-indikator ini akan menjadi pengukur pelaksanaan aktual proses reformasi. dan kerangka IWRM harus konsisten. dan sebagainya. “pemberdayaan stakeholders untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan telah dimulai”.

2.” D. pembentukan indicatorindikator pada tahap ini memerlukan tinjauan yang menyeluruh atas factor-faktor pembangunan dari aspek-aspek ekonomi. 3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI pengelolaan dan perilaku telah menghasilkan perubahan positif pada alam dan masyarakat. 5. Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya melaksanakan pengawasan dengan melibatkan peran masyarakat. 7 Tahun 2004 lingkup kegiatan pengawasan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air diatur sebagai berikut: 1. beberapa pasang indikator-indikator (Tahap ke Empat) akan menambah dimensi tentang keseimbangan yang berkelanjutan. Peran masyarakat dalam pengawasan dilakukan dengan menyampaikan laporan dan/atau pengaduan kepada pihak yang berwenang. tujuan akhir dari implementasi reformasi IWRM adalah “pembangunan yang dari aspek ekonomis dan lingkungan berkelanjutan serta berkeadilan”. Untuk menjamin tercapainya tujuan pengelolaan sumber daya air diselenggarakan kegiatan pengawasan terhadap seluruh proses dan hasil pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di setiap wilayah sungai. yang memerlukan keseimbangan yang dinamis diantara kedua kualitas sosial dan lingkungan. lingkungan dan sosial dalam rangka meng-isolasi dampak upaya-upaya pelaksanaan IWRM pada tahap ini dan kita pada tahap ini belum mampu memberikan daftar dari contoh-contoh yang memadai. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .2 RUANG LINGKUP PENGAWASAN DAN PEMANTAUAN Dalam UU Sumber Daya Air No. 4. Dalam prakteknya. Sementara indikator-indikator Tahap ke Tiga melihat tingkat sejauh mana tujuan-tujuan pokok dicapai. Indikator Outcome Tahap Keempat 5-6 Pada akhirnya. Pemerintah menetapkan pedoman pelaporan dan pengaduan masyarakat dalam pengawasan pengelolaan sumber daya air.

penyempurnaan. 5. Pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk laporan. pengaduan. Laporan hasil pengawasan merupakan bahan/masukan bagi perbaikan. 2. 4. Penyelenggaraan pengawasan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Lebih rinci lagi tentang kewenangan atas kegiatan pengawasan dalam pengelolaan sumber daya air dan pelibatan masyarakat diatur sebagai berikut: 1. instansi berwenang. pemberian sanksi. dan bentuk-bentuk tindakan lainnya dalam rangka memperbaiki dan menyempurnaan penyelengaraan pengelolaan sumber daya air. dalam bentuk peringatan. dan peningkatan penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air 6. Pengawasan atas penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air ditujukan untuk menjamin tercapainya kesesuaian dalam substansi pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. Penyelenggaraan pengawasan yang dilakukan oleh pengelola sumber daya air. 5-7 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pihak yang berwenang wajib menindaklanjuti laporan hasil pengawasan. 3. dan masyarakat. atau gugatan kepada pihak yang berwenang dalam pengelolaan sumber daya air. dan kesusaian dengan semua ketentuan yang berlaku termasuk ketentuan administratif dan keuangan.

dan/atau pelestarian hutan lindung. pengendalian pemanfaatan sumber air. salah satu bagiannya adalah kegiatan pengawasan yang melibatkan instansi yang berwenang dan juga partisipasi masyarakat yang dapat didefinisikan sebagai berikut: 1. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan melalui : a. perlindungan f.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5. b. 3. kawasan suaka alam. h. pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu. 2. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . rehabilitasi hutan dan lahan. pengaturan prasarana dan sarana sanitasi. d. Pemantauan dan pengawasan terhadap dampak ini dilakukan untuk mengevaluasi terhadap izin yang diberikan. 4. Kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan dengan mengutamakan kegiatan yang lebih bersifat non-konstruksi. e. pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air.3 RUANG LINGKUP PENGAWASAN DALAM PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN SUMBER AIR 5-8 Perlindungan dan pelestarian sumber air terdiri dari beberapa komponen. c. sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air. dan kawasan pelestarian alam. Pemantauan dan pengawasan dilakukan tidak hanya pada kepatuhan terhadap syarat-syarat perizinan tetapi juga terhadap dampak yang terjadi setelah kegiatan yang diizinkan dilaksanakan. pengisian air pada sumber air. g. pemantauan. Perlindungan dan pelestarian sumber air dapat dilakukan dengan kegiatan konstruksi dan non-konstruksi. pengaturan daerah sempadan sumber air. dan pengawasan. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan melalui perizinan.

7. dan tempat-tempat yang mempunyai fungsi menampung air sementara (retarding basin). Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan perlindungan dan pelestairan sumber air dapat berupa: a. Pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya dalam rangka perizinan b. biaya sistem informasi. Dalam melaksanakan perlindungan dan pelestarian sumber air dimaksud . Dana yang dibutuhkan dalam pengelolaan sumber daya air mencakup jenis pembiayaan untuk kegiatan: a. b.4 Dalam RUANG LINGKUP PENGAWASAN DALAM ASPEK PEMBIAYAAN aspek pembiayaan juga terdapat pembiayaan untuk kegiatan pengawasan sebagaimana dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1. misalnya situ. c. Pemerintah atau pemerintah daerah melibatkan peran masyarakat. Dalam melaksanakan perlindungan dan pelestarian sumber air dimaksud. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya mempertahankan keberadaan tempat-tempat penampungan air dan kearifan lokal. Pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan pemantauan dan pengawasan. embung. Pelaksanaan pemantauan dan pengawasan dimaksud dapat ditugaskan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya kepada pengelola sumber daya air. dimaksud LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Yang dimaksud dengan “tempat-tempat penampungan air”. 5-9 5. 8. biaya pelaksanaan konstruksi. biaya perencanaan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5. 6.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA d. biaya pemantauan. Biaya pemantauan. uraian tentang tujuan. misi dan tujuan organisasi. evaluasi. strategidan factor-faktor kunci keberhasilan organisasi. Yang dimaksud dengan biaya pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. 2. misi. mekanisme dan tata cara pelaporan kinerja instansi pemerintah. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . e.5 MEKANISME PEMANTAUAN Dalam rangka lebih meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang berdaya guna. dan bertanggung jawab. berhasil guna. serta biaya untuk pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. 2. Instruksi presiden ini memandang perlu adanya pelaporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah untuk mengetahui kemampuannya dalam pencapaian visi. dan pemberdayaan masyarakat merupakan biaya yang dibutuhkan untuk pemantauan BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-10 dimaksud. Perencanaan strategic dimaksud mencakup: 1. metode. uraian tentang visi. upaya-upaya peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. uraian tentang cara mencapai tujuan dan sasaran tersebut. antara lain pelatihan untuk kelompok masyarakat pemakai air. 5. evaluasi. Untuk melaksanakan pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah perlu dikembangkan sistem pelaporan akuntabilitas kinerja yang mencakup indicator. 3. sasaran dan aktivitas organisasi. dan pemberdayaan masyarakat. telah diterbitkan Instruksi Presiden RI No. biaya operasi dan pemeliharaan. bersih. 7/1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. evaluai dan pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. Setiap instansi pemerintah sampai tingkat eselon II harus mempunyai Perencanaan Strategik tentang program-program utama yang akan dicapai selama 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahunan.

2. Masyarakat akan berperan untuk menyampaikan laporan dan pengaduan kepada pihak yang berwenang dimana cara penyampaian laporan dan pengaduan ini ditetapkan oleh pemerintah melalui suatu pedoman. Pengawasan masyarakat. pengujian. 3. Pengelolaan ini dilakukan melalui LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dalam implementasinya. untuk menjamin tercapainya tujuan pengelolaan sumber daya air. dan penilaian. kegiatan pengawasan dapat diklasifikasikan ke dalam 3(tiga) ketegori. pengawasan yang dilakukan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga/SKPD sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Pengawasan fungsional. Kegiatan ini dilakukan oleh pemerintah bersama pemerintah daerah sesuai wewenang dan tanggung jawabnya dengan melibatkan masyarakat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Sementara itu. Pengendalian rencana pelaksanaan rencana pembangunan koreksi dan dimaksudkan penyesuaian untuk selama masyarakat. Pengawasan melekat. pengawasan dimaksudkan untuk mengamati perkembangan pelaksanaan baik dari aspek substansi maupun aspek prosedural. yaitu. Dalam konteks sumber daya air. yaitu. pengawasan yang yang dilakukan tugas dan oleh fungsi 5-11 Lembaga/Badan/Unit organisasi mempunyai pengawasan melalui pemeriksaan. Pengelolaan sumber daya air mencakup kepentingan lintas sektoral dan lintas wilayah yang memerlukan keterpaduan tindak untuk menjaga kelangsungan fungsi dan manfaat air dan sumber air. Menteri/Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya. diselenggarakan kegiatan pengawasan terhadap seluruh proses dan hasil pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada setiap wilayah sungai. Selanjutnya. pengawasan yang dilakukan oleh menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam melalui kegiatan-kegiatan pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah. 1.

Pejabat diberi wewenang mengadakan pengamatan dan penyelidikan untuk memperoleh data dalam hubungannya 5-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sementara untuk tingkat kabupaten/kota dapat dilakukan oleh Dewan SDA kabupaten/kota oleh pemerintah kabupaten/kota. Setiap kegiatan atau program yang dilaksanakan oleh masing-masing balai atau instansi maupun pihak yang berkepentingan (stakeholder) di satu wilayah sungai harus dilengkapi dengan laporan pengawasan yang formatnya ditentukan menggunakan suatu pedoman bersama yang dibuat oleh pemerintah. pada tingkat propinsi oleh Dewan SDA Provinsi yang dibentuk oleh pemerintah provinsi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI koordinasi dengan mengintegrasikan kepentingan berbagai sektor. Laporan yang dibuat ditembuskan ke pemerintah dan pemerintah daerah beserta wadah koordinasi di masing-masing tingkatan dan wilayah kerja. Pembentukan wadah di atas semua diatur melalui surat keputusan menteri yang membidangi sumber daya air. dan untuk wadah koordinasi pada wilayah dapat dibentuk sesuai kebutuhan pengelolaan di wilayah sungai bersangkutan. Menimbang pengelolaan sumber daya air melibatkan kepentingan lintas sektoral dan wilayah. maka mekanisme pemantauan perlu diatur agar tercapai sinergi yang baik antar sektor. Pengawasan dilakukan oleh Menteri yang pelaksanaannya ditugaskan kepada pejabat pengairan yang ditunjuk. Koordinasi pada tingkat nasional dilakukan oleh Dewan SDA Nasional yang dibentuk pemerintah. Hubungan antar wadah yang disebutkan di atas bersifat konsultatif dan koordinatif. wilayah dan para pemilik kepentingan (stakeholder). Koordinasi yang disebut di atas dilakukan oleh Dewan SDA atau nama lain sebagai suatu wadah koordinasi dengan tugas pokoknya menyusun dan merumuskan kebijakan serta strategi pengelolaan sumber daya air. Laporan ini akan didampingi oleh laporan pengawasan dan pengaduan yang dibuat oleh masyarakat. Dewan ini sendiri beranggotakan unsur pemerintah dan unsur nonpemerintah dalam jumlah yang seimbang atas dasar prinsip keterwakilan yang susunan organisasinya diatur melalui keputusan presiden.

6 MEKANISME EVALUASI Evaluasi kinerja dapat dilakukan dengan 2 cara. 2. 5.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI dengan kelangsungan fungsi tata pengairan pada tempat-tempat yang diperlukan. Penyusunan indikator dan sasaran kinerja proyek pembangunan. Kedua cara tersebut dibutuhkan dalam pelaksanaan evaluasi kinerja dan keduanya akan memberikan informasi kinerja yang bermanfaat untuk kepentingan perencanaan dan pengendalian pelaksanaan proyek. Ketersediaan indikator dan sasaran kinerja dari hasil pelaksanaan cara pertama akan memudahkan pelaksanaan studi evaluasi kinerja. Penanggung jawab atas bangunan pengairan diwajibkan memberikan 5-13 keterangan yang benar mengenai hal-hal yang diperlukan dan untuk menyertai pejabat dalam pengamatan dan penyelidikan apabila diminta. sedangkan untuk melaksanakan cara kedua diperlukan penyusunan indikator dan sasaran kinerja sebagaimana dilakukan pada cara pertama.. Cara pertama dapat dilaksanakan tanpa melakukan analisis yang mendalam. Pelaksanaan studi evaluasi kinerja proyek pembangunan. Pelaksanaan evaluasi kinerja dengan cara pertama dan kedua saling mendukung. sedangkan cara kedua dapat membantu dalam mengidentifikasikan indikator-indikator baru yang lebih relevan. yaitu: 1. Pejabat dimaksud harus membuat berita acara mengenai pengamatan dan penyelidikannya sesuai dengan kenyataan dan kebenaran dan ditandatangani olehnya dan disampaikan kepada Menteri. pengusutannya diserahkan kepada pejabat penyidik yang berwenang. Apabila hasil pengamatan dan penyelidikan terdapat atau diduga terdapat unsurunsur pidana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

dana yang diperlukan. keluaran (outputs). 2 Pemantauan dan Evaluasi dalam suatu siklus kegiatan. manfaat. untuk dijadikan bahan pertimbangan dan masukan bagi pengambil keputusan dalam merencanakan proyek pembangunan selanjutnya. dan indikator manfaat (benefits) serta dampak (impacts). tingkat kualitas. lingkungan. productivitas dan lain-lain. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . ekonomi. Studi evaluasi kinerja adalah suatu upaya yang sistematis untuk mengumpulkan data dan informasi yang bersifat obyektif terhadap hasil. yaitu: teknis atau operasional. Indikator dan sasaran kinerja diklasifikasikan dalam enam kategori. atau kombinasi dua kategori atau lebih. Indikator tersebut dijabarkan dalam: waktu yang diperlukan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Indikator dan sasaran kinerja adalah ukuran kuantitatif atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. dan dampak dari proyek tertentu yang telah selesai dilaksanakan atau pun telah beberapa tahun berfungsi. budaya. hasil (results/outcomes). 5-14 INDIKATOR SASARAN/ KINERJA Sasaran n Rencana Pemanatauan dan pengendalian Outcome/ Manfaat/ Hasil Input/ Masukan Proses Output/ Keluaran Sumber Dana Kesimpulan Rekomendasi Tindak Lanjut Evaluasi Gambar 5. institusional. yang mencakup indikator masukan (inputs). jumlah unit yang dihasilkan.

membandingkan pencapaian program dengan visi dan misi instansi pemerintah. tepat waktu. 5. perbandingan kinerja aktual dengan kinerja di negara-negara lain. mempersiapkan dan menyusun perencanaan strategik. tujuan. menjadi isu nasional dan vital bagi pencapaian visi dan misi instansi Pemerintah. b. 6. memantau dan mengamati pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dengan seksama. b. 2. c. dapat dipercaya. relevan. 3. mengukur pencapaian kinerja dengan: a.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Hal penting dari studi evaluasi kinerja adalah mengenai informasi yang dihasilkan dan bagaimana informasi itu diperoleh. membuat pembobotan (rating) keberhasilan pencapaian program. 7/1999 pelaksanaan penyusunan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dilakukan dengan: 1. dapat diandalkan. misi. menganalisis hasil pengukuran kinerja. melakukan evaluasi kinerja dengan: a. d. dapat diverifikasi. merumuskan visi. 5-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . obyektif. Informasi studi evaluasi kinerja bersifat independen. merumuskan indikator kinerja instansi Pemeritah dengan berpedoman pada kegiatan yang dominan. c. dan dilaporkan. perbandingan kinerja aktual dengan rencana atau target. Berdasarkan INPRES No. atau dengan standar internasional. perbandingan kinerja aktual dengan tahun-tahun sebelumnya. dianalisis. serta memakai metode pengumpulan dan analisis data yang tepat dan transparan. menginterpretasikan data yang diperoleh. sasaran dan strategi instansi Pemerintah. faktor-faktor kunci keberhasilan. 4.

Oleh karena itu dipandang perlu adanya suatu arahan untuk membangun persepsi yang benar sesuai dengan harapan yang terkandung dalam butir-butir strategi yang telah disusun. Secara umum perlu dijelaskan siklus hidrologi yang terjadi yang dapat membantu pemahaman bagaimana air dapat tersimpan dengan baik di dalam tanah dan syarat-syarat agar mekanisme penyimpanan air ini dapat bekerja secara alamiah.1. Sebagai kontradiktif perlu dijelaskan pula bagaimana mekanisme sehingga dapat terjadi banjir dan mengapa semakin banyak kejadian banjir yang terlansir belakangan ini di Indonesia. 6. Latar belakang ini menjadi suatu gagasan untuk membentuk suatu pemikiran yang dapat dilakukan untuk saat ini dengan visi ke masa depan untuk menjaga kesinambungan sumber daya air di Pulau Jawa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 6 PENUTUP BAB 6 PENUTUP 6-1 6. Hal ini patut diperkenalkan sebagai kondisi natural yang ideal dan sangat diperlukan untuk menjaga kesinambungan sumber daya air guna menunjang kehidupan masyarakat dan negara. Persepsi yang benar mengenai potensi terjadinya kekeringan di satu sisi dan banjir di sisi yang lain perlu mendapat perhatian dalam menyusun sosialisasi kepada masyarakat luas. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .1 Kekeringan dan banjir Ide awal dari dilaksanakannya prakarsa strategis ini adalah karena adanya suatu kesadaran akan potensi terjadinya dua hal ekstrim yaitu kekeringan dan banjir.1 ARAHAN SOSIALISASI PRAKARSA STRATEGIS Prakarsa strategis yang diuraikan dalam buku ini dapat diberdayakan secara efektif bila dilakukan tindak sosialisasi yang bersifat komprehensif. Pemahaman masyarakat dan daya tangkap masyarakat degan latar belakang yang berbedabeda akan sangat bervariasi terhadap apa yang dijelaskan dalam kebijakan yang tertuang dalam buku prakarsa ini.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

Dampak kekeringan sangat nyata bagi kehidupan dimana kebutuhan akan air tidak dapat digantikan dengan material lain karena air merupakan substansi dasar bagi kehidupan manusia. Kekeringan yang terjadi karena fenomena alam yang sudah ada sejak dahulu tidak terhindarkan dan perlu disikapi secara bijaksana. Namun lain halnya dengan kekeringan kesalahan dalam mengelola sumber daya alam ataupun pemanfaatan sumber daya yang tidak memperhatikan keseimbangan dan daya dukung alam itu sendiri. Kesalahan yang disebut terakhir ini akan sangat disesalkan karena akan berdampak pada masyarakat luas dan pada tingkat nasional dapat mengganggu stabilitas nasional karena kurangnya bahan pangan, meningkatnya angka kasus kesehatan karena sanitasi yang buruk, hilangnya sumber pencarian bagi sebagian masyarakat dan hal lain yang menjadi dampak lanjutan dari kekeringan. Secara khusus banjir memiliki tingkat fatalitas yang lebih tinggi sebagai suatu bencana karena diakibatkan oleh daya rusak air yang besarannya tidak terduga. Perlu diperjelas bahwa kerusakan dan kerugian yang diakibatkan oleh banjir umumnya lebih besar dibandingkan kerugian yang disebabkan oleh kekeringan. Banjir yang terjadi secara cepat dan genangan air yang meluas menyebabkan kehilangan nyawa juga kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan serta bangunan lainnya karena besarnya daya rusak air yang mengalir, terlebih lagi bila masa air terkumpul dan menjadi besar. Genangan yang terjadi membawa dampak rusaknya bangunan dan harta benda termasuk didalamnya adalah tanaman pangan dan ini semua adalah kerugian yang harus ditanggung. Oleh karenanya banjir harus dapat disikapi secara bijaksana. Sosialisasi yang dilakukan harus mampu menempatkan pemikiran mengenai butuhnya kesadaran akan sindrom ini. Disamping itu perlu dijelaskan pula bahwa ada keterkaitan antara banjir dan kekeringan, dimana banjir merupakan suatu ekstrim dan kekeringan sebagai ekstrim di sisi yang berseberangan. Diantara kedua ekstrim ini ada suatu keseimbangan yang menjadi kondisi ideal. Kondisi inilah yang menjadi tujuan dari pengelolaan sumber daya air yang digariskan dalam strategi ini.

6-2

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

6.1.2

Strategi Implementasi

6-3

Untuk mewujudkan semangat yang ada dalam kebijakan strategi, maka pola implementasi kebijakan ini sudah diatur sedemikian rupa. Penjelasan mengenai latar belakang pembagian ini perlu disajikan pula terkait guna membangun pemikiran mengenai konsep pengelolaan dan komponen-komponen yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan sumber daya air. Ada strategi implementasi ini, yaitu: 1. Lembaga 2. Koordinasi 3. Pembiayaan 4. Monitoring & Evaluasi Pada komponen lembaga perlu dijelaskan mengenai fungsi-fungsi lembaga negara dan keterkaitannya dalam memberikan kontribusi untuk masalah sumber daya air. Materi sosialisasi harus dapat menjelaskan dengan jelas tugas dan fungsi masing-masing lembaga yang terkait. Sebagai kelanjutannya, terkait dengan strategi pengelolaan sumber dasya air, perlu pula diterangkan kerangka kerja yang melibatkan lembaga-lembaga bersangkutan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dengan demikian dapat diketahui posisi setiap lembaga yang berkontribusi dalam pengelolaan sumber daya air. Koordinasi merupakan komponen lain yang tidak kalah penting untuk diatur secara lugas dalam strategi untuk pengelolaan sumber daya air. Perlu ditanamkan pemahaman yang baik bahwa pengelolaan yang dilakukan mengharuskan pelaksanaan yang terpadu antar sektor (multi sektoral) dan menyeluruh. Bagian ini merupakan sisi yang jarang sekali dapat dilakukan dengan baik karena terikat pada kebijakan-kebijakan yang dibuat pada masingmasing sektor dan terkait dengan kepentingan rumah tangganya. Jelas hal ini merupakan suatu kendala yang harus dijembatani dengan membuat suatu mekanisme koordinasi dengan tugas dan tanggung jawab yang jelas. Upaya yang dilakukan dapat dimulai dengan pembuatan matriks koordinasi antar lembaga yang menjadi model awal untuk dibicarakan lebih lanjut. Beberapa 4 komponen dalam

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

contoh dari negara-negara lain yang dikemukakan dalam seminar-seminar terkait kegiatan ini dapat pula diungkapkan untuk menjadi sumber inspirasi dan pemahaman akan pentingnya koordinasi. Pembiayaan merupakan komponen yang tidak mungkin ditinggalkan mengingat setiap program dan kegiatan membutuhkan pembiayaan. Dalam upaya pengelolaan sumber daya air, sejalan dengan semangat transparansi manajemen, melalui sosialisasi perlu dijelaskan pula mengenai sumber-sumber pembiayaan yang digunakan, prinsip tanggungan dan jenis pembiayaan yang ditanggung oleh sumber dana yang ada. Hal-hal ini sebagian telah diatur pula dalam undang-undang dan menjadi dasar penyusunan sumber pembiayaan yang dapat dianggarkan untuk kegiatan pengelolaan. Bagian terakhir dari komponen strategi implementasi yang perlu disosialisasikan adalah yang berkaitan dengan monitoring dan evaluasi (monev) atau juga dalam dokumen disebut sebagai pemantauan dan evaluasi. Perlu ditanamkan pemikiran bahwa suatu program kegiatan yang dibangun ataupun manajemen/pengelolaan tidak akan berkesinambungana tanpa adanya kegiatan pemantauan dan evaluasi. Minimal tanpa adanya komponen ini upaya pengelolaan tidak akan mengalami kemajuan yang diharapkan karena tidak ada umpan balik dari apa yang telah diterapkan.

6-4

6.1.3

Pengalaman Negara Lain

Selain konsep dan aturan perundang-undangan yang telah kita miliki didalam negeri, pengalaman-pengalaman negara lain dalam mengelola sumber daya airnya juga menjadi suatu informasi yang berharga. Proses belajar yang efisien adalah dengan melihat bagaimana permasalahan serupa dapat diselesaikan di negara-negara lain dengan memperhatikan potensi, kendalanya, serta solusi yang dipilih. Mempelajari bagaimana suatu masalah yang sama diselesaikan oleh negera lain akan memberikan inspirasi bagi peserta dan juga keyakinan bahwa masalah
LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

tersebut memang dapat diatasi. Dengan mempelajari strategi yang diterapkan diharapkan akan ada suatu dorongan pemikiran dan semangat berdasarkan keyakinan bahwa dengan konsekwensi yang terukur hal serupa dapat pula diterapkan dengan peluang keberhasilan yang menjanjikan. Model-model yang diterapkan di negara-negara lain sangat bervariasi. Pengambilan keputusan dan keberhasilan yang telah dicapai memberikan gambaran tingkat keberhasilan dari pola yang dipilih. Perlu kehati-hatian dalam memberikan gambaran pengalaman negara lain karena kondisi latar belakang, fisik lingkungan dan solusi yang dipilih memberikan kombinasi yang sangat beragam. Oleh karenanya penjelasan harus dilakukan secara rinci. Selanjutnya, bila pengalaman dari negara lain ingin diaplikasikan, perlu dipelajari dulu kondisikondisi di atas secara bijaksana untuk menentukan pilihan; solusi mana yang paling tepat untuk diterapkan di negara ini berdasarkan data dan fakta.

6-5

6.2

SARAN

Beberapa saran terkait pada strategi yang diulas dalam buku ini : 1. Pengelolaan sumber daya air melibatkan tidak saja penanganan secara struktural tapi juga penanganan dengan cara non-struktural. Kebijakan strategis pengelolaan perlu kiranya menempatkan kebijakan non-struktural sebagai strategi utama untuk diwujudkan dalam kegiataan riil mengingat saat ini yang paling dibutuhkan untuk menjamin perlindungan potensi sumber daya air utamanya adalah adalah terkait dengan konservasi lingkungan. Perangkat perencanaan tata guna lahan dan perlindungan hukum yang berwibawa hingga kini masih jauh tertinggal dibanding pembangunan infrastruktur karena penilaian terhadap pertanggungjawaban pekerjaan fisik infrastruktur lebih jelas. 2. Pelaksanaan kebijakan perlu dimulai dengan pendekatan non-struktural dan disusul kemudian dengan pendekatan struktural. Program dimulai dengan pendekatan awal terhadap masyarakat, pemeliharaan lingkungan dan

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

seterusnya hingga pembangunan infrastruktur SDA pada lokasi-lokasi strategis yang memberikan keuntungan luas bagi masyarakat. 3. Strategi struktural yang disajikan dalam dokumen ini merupakan kebijakan struktural wilayah sungai di Pulau Jawa yang dikelola oleh beberapa balai sumber daya air. Adanya perubahan wilayah sungai yang digariskan dalam Permen PU No. 11/PRT/M/2006 secara otomatis mengubah lingkup kebijakan di beberapa wilayah sungai yang dibentuk ulang. Pola wilayah yang baru mengindikasikan kemungkinan adanya transfer inter basin. Proses

6-6

regrouping kebijakan dilakukan dalam buku ini atas kegiatan yang sudah
ada ke dalam wilayah baru. Perlu adanya tindak lanjut untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan baru pada masing-masing wilayah sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya sehingga penanganan masalah sumber daya air dilakukan lebih merata. 4. Bentuk wilayah baru yang digariskan dalam Peraturan menteri pada poin (3) di atas selanjutnya menjadi bahan dalam rancangan Peraturan Presiden. Peraturan presedien yang tengah direncanakan ini nantinya akan menjadi dasar hukum yang kuat untuk melaksanakan pengelolaan wilayah sungai yang baru. Demikian pula halnya untuk memulai kegiatan balai-balai sumber daya air baru yang diatur oleh peraturan menteri Permen PU No. 1213/PRT/M/2006 peraturan tersebut sangat berperan. Sebagai langkah konkret disarankan adanya koordinasi terpusat untuk melakukan restrukturisasi keterkaitan tugas-tanggung balai baru dengan balai-balai yang sudah ada selama ini. 5. Untuk mendapatkan strategi yang aplikatif perlu ada masukan dari masingmasing balai berdasarkan pengalaman dan penilaian terhadap kondisi fisik wilayah sungai yang dikelola. Contoh yang diperoleh dari pengelolaan sumber daya air di luar negeri perlu disikapi dengan bijaksana mengingat kondisi alam dan kultur yang berbeda. Untuk itu dalam pengambilan keputusan di masa yang akan datang perlu mengikutsertakan balai-balai yang sudah operasional sejak lama untuk mendapatkan pertimbangan spesifik sesuai lokasi kerjanya.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber daya air. 2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 11A/PRT/M/2006 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayahg Sungai. 3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 12/PRT/M/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Wilayah Sungai. 4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 13/PRT/M/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Wilayah Sungai. 5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 tahun 2005 tentang Kerjasama Infrastruktur. 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 38/PRT/1989 tentang Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan

DP-1

Pembagian Wilayah Sungai 7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 48/PRT/1990 tentang

Pengelolaan Atas Air dan Atau Sumber Air pada Wilayah Sungai. 8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 49/PRT/1989 tentang Tatacara dan Persyaratan Izin Penggunaan Air dan atau Sumber Air 9. Keputusan Mendagri No. 176 tahun 1996 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA. 10. Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Nomor : 19/KPTS/A/1994 tanggal 19 April 1994 tentang Pembentukan Badan Pelaksana Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman 11. Reclaiming Public Water-Achievements, Struggles and Visions from Around the World, 2005.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

Semarang. Larry W. Cimanuk River Basin Development Project West Java. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan.. Feasibility Studi On Karian Multipurpose Dam Construction Project. David R. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah. Instruksi Presiden Nomor 7/1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. 19. and Mays. Directorate General Of Water Resources Ministry Of Settlement And Regional Infrastructure Republic Of Indonesia. 15. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. 20. Semarang. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah. 1988. 17. McGraw-Hill. Chow. Jakarta. Applied Hydrology. 2001. 1979.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 12. 1985. Cibinong. Banjar. Directorate General Of Water Resources Development. The Netherlands. Preliminary Study On Ciliwung-Cisadane River Flood Control Project. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Jratunseluna. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. 14. 21. Maidment. 2000.. The Citanduy River Basin Development Project. Bureau Icim. Directorate General DP-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 16. 1992. 2001. 1984. Ven Te. Neraca Sumberdaya Air Spasial Nasional. 2000. 13. Jakarta. Bureau Icim. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan. Bakosurtanal. Bidang Neraca Sumberdaya Alam Pusat Survei Sumberdaya Alam Darat Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. Directorate General Of Water Resources Development. Ciliwung Cisadane River Basin Development Project. DUFLOW: A micro-computer package for the simulation of one-dimensional unsteady flow and water quality in open channel system. 18. Directorate General Of Water Resources Development.

Directorate General Of Water Resources Development. The CiujungCidurian Intergrated Water Resources In Indonesia. Jakarta.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. 1995. 1998. 26. 1994. Jakarta. 28. DP-3 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Jakarta. Directorate General Of Water Resources Development. Directorate General Of Water Resources Development. Jakarta. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. 22. 27. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Jakarta. The Study On Comprehensive Management Plan For The Water Resources Of The Brantas River Basin In The Republic Of Indonesia. 1999. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. 24. 1998. Jakarta. 25. Jabotabek Water Resources Management Study. 1989. CisadaneCimanuk Intergrated Water Resources Development (BTA-155). Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Ministry Public Works Republic Of Indonesia. Jakarta. Jakarta. The Study On Comprehensive River Water Management Plan In Jabotabek. 1997. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Jakarta Flood Control Halim Retention Basin Pilot Project. Directorate General Of Water Resources Development. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development. Directorate General Of Water Resources Development. Directorate General Of Water Resources Development. Jatiluhur Water Resources Management Project Preparation Study (JWRMP). 23.

Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Directorate Of Rivers And Swamps. 1973. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Citarum.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 29. Proyek Pengembangan dan Konservasi Sumberdaya Air Ciujung-Ciliman. Water Availability Appraisal. Ditjen Pengairan PU. Directorate Of Management And Conservation Of Water Resources. 1999. 1975. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Jakarta. 1986. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Jakarta. Jakarta. 1998. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum. Mock. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Jakarta. 1996. 33. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of The Republic Indonesia. Ditjen Pengairan PU. 1999. 31. 37. 36.J. 34. 30. Directorate General of Water Resources Development Ministry Of Public Works And Electric Power. F. Ditjen Pengairan PU. 1999.. Pedoman Pengendalian Banjir. Jabotabek Water Resources Management Study. Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Direktorat Jenderal Sumberdaya Yogyakarta. Ditjen Pengairan PU. Penyusunan Program Rencana Pengembangan Sumberdaya Air DIY Pada SWS Progo Opak Oyo Daereah Istimewa Yogyakarta. Standar Perencanaan Irigasi: Kriteria DP-4 Perencanaan Bagian Bangunan Utama. Serang. 35. Basic study prepared for FAO/UNDP Land Capability Appraisal Project. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman. The Citanduy River Basin Development Project. Jakarta. 32. Bogor. Proyek Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Air Yogyakarta. 2003. Jakarta. Inventarisasi/Penataan Situ/Rawa/Danau Di Wilayah SWS CiujungCiliman.

Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Pekerjaan Penyiapan Bahan Penyusunan Neraca Air Nasional. Bandung. Jakarta. 2000. Proyek Penyediaan Air Baku Cimanuk – Cisanggarung. Identifikasi Potensi SDA Di Wilayah Proyek Penyediaan Air Baku Cimanuk – Cisanggarung. Proyek Pengembangan dan Konservasi Sumberdaya Air Ciujung-Ciliman. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumberdaya Air dan Ketatalaksanaan Pembangunan Pengairan. 1999. Indramayu. Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Propinsi Banten. 39. Serang. Studi Identifikasi Potensi Air Baku Di Wilayah Sungai Citanduy – Ciwulan. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana.1). Proyek Perencanaan Pengembangan Pemanfaatan Sumberdaya Air Di Jawa Barat. 2002. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumberdaya Air dan Ketatalaksanaan Pembangunan Pengairan. Serang. Penyusunan/Pembuatan Buku Sungai Ciujung Dan Sungai Cidurian. 44. Proyek Studi Potensi dan Pengembangan Sumberdaya Air. 2003. Jakarta. DP-5 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Jakarta. 41. Studi Potensi dan Pengembangan Sumberdaya Air Tersebar di Propinsi Banten. Perencanaan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Pemali-Comal. 2004. Banjar. 2001. 43. Penyusunan Neraca Air Nasional (Tahap .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 38. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. Perencanaan Pengembangan Pemanfaatan Air dan Sumber Air (Paket . 45.1) Bagian DPS Cisadane dan DPS Ciliwung. 42. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai di Pulau Jawa. Proyek PPSA Citanduy-Ciwulan. 2003. 40. 2003. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Proyek Induk Pengembangan WS Cimanuk-Cisanggarung Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah.

R. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .. Sudirman.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 46. Diding. 1997. Hydrology: Water DP-6 Quantity and Quality Control.. Tugas Akhir Sarjana.. M. John Wiley and Sons.P. Institut Teknologi Bandung. and Eaglin. 1999. Penerapan Metoda Mock untuk Menghitung Debit Andalan di Sub Daerah Pengaliran Sungai Citarum Hulu. Kersten. 47. Jurusan Teknik Sipil. R. New York. Wanielista.

Saatnya telah tiba untuk mem-fokuskan kembali wacana (debate) global mengenai layanan air pada pertanyaan kunci: bagaimana meningkatkan/memperbaiki dan memperluas layanan air oleh perusahaan umum diseluruh dunia? Sementara privatisasi adalah bukan solusi. perusahaan-perusahaan layanan air global terbukti telah gagal memenuhi janji-janjinya untuk memperbaiki layananannya. Kegagalan privatisasi yang bercirikan “high-profile” di kota-kota besar di belahan bumi selatan menjadi bukti yang kuat bahwa pemenuhan kebutuhan air untuk rakyat miskin tidak tepat bila dipercayakan pada pengelolaan perusahaan layanan penyedia air trans-nasional yang berorientasi pada keuntungan1. Hampir tanpa perkecualian. sebaliknya malah menaikkan tarif airnya jauh diluar jangkauan keluarga miskin.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ANNEX PEMBELAJARAN ANTARA PRAKTEK PRIVATISASI DAN PERKUATAN PERUSAHAAN UMUM LAYANAN AIR A-1 A. pelayanan air di dekade 1990-an yang pada intinya merupakan masa perjuangan untuk mewujudkan air bersih bagi semua orang akhirnya mengalami kemunduran. Meningkatnya kampanye anti privatisasi melalui gerakan LSM di tingkat akar rumput (grassroot) di negara-negara seluruh dunia telah mengukuhkan jejaring ditingkat regional dan global yang kemudian memulai gelombang balik melawan “fee-market fundamentalism”. di sisi lain perusahaan publik yang ”status quo” dan sering bertindak birokratis dan tidak efektif − yang ada pada sebagian besar negara-negara berkembang − juga gagal untuk memberi layanan 1 ”Reclaiming Public Water-Achievements.1 Latar Belakang Akibat adanya gelombang yang membawa ideologi privatisasi. Struggles and Visions from Around the World” (2005) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

memobilisasi kapasitas sendiri dan sumber daya setempat. Mulai dari Asosiasi Pekerja Air sampai koperasi pekerja kini telah mempunyai peran kunci dalam pelayanan air di kota-kota di Argentina dan Bangladesh. penemuan kembali ethos layanan umum telah membawa pada peningkatan yang signifikan atas kinerja layanan utilitas umum. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . masyarakat setempat telah mengambil kendali dalam perbaikan layanan air. termasuk ”flagship”: konsesi di Aguas Argentinas di Buenos Aires. di Asia. Di kota-kota ini. India) dan Savelugu (Ghana). Perluasan perusahaan air dalam dasawarsa 1990-an didukung oleh the World Bank dan institusi international lainnya sebagai bagian dari kebijakan untuk transformasi negara berkembang dan negara dalam proses transisi. Privatisasi pada mulanya diharapkan akan membawa efisiensi yang lebih besar dan tarif yang lebih rendah. Di Olavanna (Kerala. Manila dan Jakarta. di Amerika latin. menarik dan meningkatkan volume investasi (khususnya di negaranegara berkembang) dan memperluas sambungan layanan jaringan air minum dan sanitasi kepada keluarga miskin. layanan air umum sedang ditingkatkan melalui peningkatan partisipasi masyarakat dan pengguna serta reformasi-reformasi demokratis lainnya. sebagai contoh adalah yang tengah dilaksanakan di Porto Alegre dan Recife (Brazil) dan kini dalam tahap pengembangan1. Pelajaran penting dapat digali dari model-model yang mengedepankan pendekatan yang berfokus pada manusia (people centered) dan partisipasi publik. dan di Afrika.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air bersih pada mereka yang membutuhkan. menjadi negara dengan ekonomi yang berorientasikan kepada pasar yang terbuka. khususnya Argentina. Dikota lain seperti Penang. dalam republik Czech dan Hungary. pengalaman menunjukkan fakta yang berlainan. Privatisasi memasuki negara-negara dalam proses transisi seperti Eropa Timur dengan gelombang konsesi-nya. A-2 A. Namun seperti yang kita alami. dimana beberapa seri kota-kota besar telah diprivatisasi. Malaysia.2 Kegagalan Privatisasi Tahun 1990-an adalah dekade privatisasi air dimana telah terbukti dalam pelaksanaannya konsep ini mengalami kegagalan. termasuk privatisasi di 2 kota besar.

dan dikenal sebagai BOTs (build. penyewaan. Bentuk-bentuk yang lebih tepat telah dipilih oleh perusahaan-perusahaan swasta pada awal tahun 1990-an .operate and transfer) schemes. Penjualan secara lengkap/ tuntas sistem air kepada perusahaan swasta telah diperkenalkan di Inggris. Kalimat-kalimat lain yang biasa dipakai adalah-termasuk ”public- A-3 private partnership” (PPPs) dan ”private sector participation” (PSP) – dimana penggunaan kata ”privatisasi” saja yang merupakan konsep yang menjadi kurang populer dicoba untuk tidak digunakan. dan beberapa bentuk kontrol yang perlu dikendalikan oleh partner swasta. Harga-harga yang naik merefleksikan berkurangnya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dengan sektor swasta. tetapi ada elemen yang bersifat konstan. Variasi dari bentuk ini termasuk kerjasama/”joint venture” dengan pemerintah atau perusahaan pemerintah. investasi swasta dalam infrastruktur telah menurun pada akhir 1990-an dan investasi oleh bank pembangunan juga mengalami penurunan. Ketidak populeran konsep privatisasi sebagian apa yang telah dijanjikan. dan juga beberapa kota kecil di Afrika Selatan. dan kontrak manajemen (atau bentuk khusus dari konsesi untuk pembangunan ”water treatment” atau waduk. dimana bentuk kerjasama tersebut harus distrukturkan untuk memberikan keleluasaan bagi mitra swasta untuk memperoleh ”return”/keuntungan. tetapi sejak tahun 2000. sedemikian hingga membuat mereka sumber keuntungan untuk modal/kapital swasta. besar disebabkan gagal oleh untuk mereka masih mengacu kepada bentuk yang sama dari konsep hubungan kontraktual pengalaman berdasarkan hasil nyata operasi. Meskipun demikian. perusahaan-perusahaan lebih memilih pilihanpilihan yang kurang berisiko yaitu penyewaan atau kontrak manajemen. yang hasilnya berbeda dengan Perusahaan-perusahaan telah berinvestasi sebanyak yang diharapkan. namun dibanyak tempat bentuk privatisasi dipromosikan berdasarkan bentuk konsesi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dimana konsensi didapat dari sistem koloni Perancis. yaitu memindahkan pengendalian dan manajemen operasi kepada perusahaan swasta. misalnya Cote d’Ivore. Privatisasi dari layanan pasokan air dan sanitasi telah mengambil berbagai bentuk. konsesi adalah bentuk privatisasi yang paling favorit.

civil society groups (masyarakat madani) dan dari kalangan partai-partai politik. Bank Dunia telah mengakui kegagalan privatisasi yang dulu diharapkan dapat membawa investasi-investasi dalam perluasan layanan air. Pada bulan Januari 2003. Regulator telah menjadi kekurangan kekuasaan dan kompetensinya untuk mengendalikan perilaku kontraktor-kontraktor. dan oposisi politis. Meski seluruh perhatian dan dukungan telah diberikan kepada konsesi privatisasi air di Amerika Latin. justru kontraknya-lah yang dirubah dibanding harus memenuhi apa yang disyaratkan sebelumnya. perusahaan multinasional bidang air. Bila target-target yang dispesifikasikan dalam kontrak tidak dapat dipenuhi. dari konsumen. Ketiga-tiganya menggunakan tindakan politis dan hukum untuk mendapatkan kembali kerugiankerugian yang pernah dialami dan tetap meng-klaim/ menuntut keuntungankeuntungan yang diantisipasi. dapat disaksikan bahwa terdapat perlawanan keras yang sedang berkembang atas privatisasi air di negara-negara berkembang. resiko-resiko yang tidak diharapkan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pengembalian modal yang diperlukan oleh banyak perusahaan. Suez. Akhirnya. seperti ”franchising” vendor-vendor air di daerah-daerah A-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pekerja. mempunyai tingkat kehilangan air yang lebih tinggi dari mayoritas kota besar dimana pelayanan air dilaksanakan oleh perusahaan umum. Kontradiksi-kontradiksi dimaksud diperparah oleh pergerakan nilai tukar mata uang dan krisis-krisis ekonomi. dan Veolia dan Thames Water juga menarik dari kontrak-kontrak. Telah ditetapkan instrumen baru untuk memberikan jaminan yang lebih kuat kepada perusahaan swasta dan sedang dicari bentuk-bentuk lain dari kesempatan berusaha (business) di sektor ini. mengumumkan akan menarik sepertiga dari invetasi yang ada di negara-negara berkembang. dua kota besar di Asia yang menggunakan jasa operator swasta. pencinta lingkungan. kinerja mereka ternyata tidak menjadi lebih baik dari pada operator yang perusahaan umum dalam hal perluasan layanan kepada kaum miskin. operasi pelayanan air yang di”swastakan” di Argentina sekarang mengalami kebangkrutan. perusahaan-perusahaan air multinasional telah memutuskan untuk mengambil tindakan guna memotong kerugiannya. Manila dan Jakarta. Dihadapkan dengan pengembalian investasi yang jelek.

masalah-masalah ekonomi dan politisnya serta kegagalan dalam mengadakan perluasan layanan kepada masyarakat miskin. Awal berkembangnya privatisasi justru terjadi pada regim-regim yang tidak demokratis seperti. privatisasi air untuk Jakarta diatur secara korup di era kediktatoran Suharto. Tetapi Bank Dunia. mereka hanya mengerjakan hal-hal yang kecil untuk orang-orang yang membutuhkan tingkat layanan yang terjangkau dalam layanan air dan sanitasi. Selama tahun 1980-an khususnya. khususnya dinegara-negara berkembang pada tahun-tahun sebelumnya. Banyak negara-negara pada periode 1980-an barada didalam cengkeraman rejim yang diktator dan korup dengan pelecehan atas hak azasi manusia dan proses demokratis. Hal-hal ini adalah respon dari perusahaanperusahaan dan Bank Dunia dalam menangani masalah-masalah mereka. dan sama sekali meninggalkan transparansi.1 Kegagalan Dalam Regim Yang Tidak Demokratis A-5 Isu bersama dari kampanye-kampanye adalah kritik atas privatisasi itu sendiri.2. layanan pada kaum miskin selalu dikorbankan sementara regim yang korup mengambil keuntungan untuk mereka sendiri dari pinjaman yang ditujukan untuk air. Pengembangan dari pendekatan–pendekatan baru dalam pengelolaan layanan air datang dari mereka-mereka yang berkampanye menentang privatisasi. Tanpa akuntabilitas. Tidak bijaksana untuk menilai bahwa kegagalan-kegagalan yang terjadi disebabkan karena kepemilikan air yang dikuasi oleh perusahaan umum. privatisasi utilitas Casablanca diatur dengan dekrit Raja Hassan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ”peri-urban”. struktur tersebut telah mengalami kegagalan dalam menyediakan perluasan layanan air − bahkan ketika bank-bank pembangunan menyediakan pinjaman-pinjaman yang dibutuhkan − dan kegagalan-kegagalan ini dijadikan alasan untuk men-justifikasi kebijakan privatisasi diawal tahun 1990-an. meskipun hal ini menjadi tanggung jawab dari lebih 90% badan layanan air dan sanitasi dunia. Suez aktif di Afrika Selatan yang sedang dibawah regim apartheid. Tetapi kampanye-kampanye juga harus mengakui kegagalan dan keterbatasan praktek-praktek dari operator perusahaan umum. bank-bank pembangunan lain dan organisasiorganisasi donor tetap menolak untuk menyediakan dukungan bagi perusahaan publik di sektor air. A. tidak LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

kesempatan untuk mempraktekkan prinsip baru demokrasi ditangkap dalam berbagai bentuk. sebagaimana pemerintah dan masyarakat di negara-negara berkembang mempunyai perhatian yang kurang atas air dan sanitasi dibandingkan dengan birokrat-birokrat yang sudah dicerahkan oleh institusi internasional. Waktu ia menjadi presiden di tahun 1995. termasuk pengembangan pendekatan baru untuk memperluas layanan penyediaan air bersih dan sanitasi ke daerah baru. Hal ini telah menyebabkan jauh berkurangnya investasi di bidang air (dan infrastruktur lainnya seperti listrik). adalah bukan pada kurang populernya kebutuhan layanan air dan sanitasi. Pemerintah tidak dapat memberikan prioritas yang memadai kepada kebijakan sektor air dibandingkan dengan kebijakan di sektor lain. Di Latvia ada LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Inisiatif-inisiatif ini. sebagaimana diakui IMF sendiri saat ini. dari pada sebagai masalah dalam sektor publik itu sendiri. ia mendorong dilaksanakannya kebijakan ”piecemeal” privatisasi yang mana sesuai dengan kehendak IMF untuk membatasi hutang pemerintah. menunjukkan adanya kebutuhan tentang pendekatan baru yang berdasar kepada proses demokrasi dan tingkat partisipasi masyarakat yang menjamin akuntabilitas. tetapi pada kegagalan pemerintah merespon tuntutan ini. Masalahnya. calon presiden favorit bagi International Financial Institutions (IFIs). Masalah pada tahun 1980-an dimana sektor publik mengalami kegagalan dapat dilihat sebagai kurangnya proses demokratis dalam sektor publik. dan sistem yang demokratis. Kontrak-kontrak yang mereka dapatkan dipegang dengan rahasia bahkan terhadap anggota dewan kota—khususnya dikota yang ironis seperti Gdansk (Polandia) dan Budapest (Hongaria) dimana mereka sedang mengalami proses transisi dari regim tidak demokratis komunis menjadi regim yang diharapkan lebih akuntabel. Pengalaman negara Brasil setelah berakhirnya diktator militer mendukung hal-hal ini. dibanding privatisasi yang dipilih oleh regim diktator. ada kampanye yang luas untuk suatu kebijakan sanitasi nasional yang secara kasar ditolak oleh Cardoso. Analisis yang sama dapat diterapkan atas keluhan oleh bank-bank A-6 pembangunan dan lembaga donor. Di Brazil pada awal 1990-an.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA oleh tender kompetitif yang dilaksanakan oleh dewan kota.

Pengalaman kebanyakan negara-negara di Eropa dan Amerika Utara adalah mengganti kontraktor-kontraktor swasta dari pertengahan abad 19 dengan perusahaan pelayanan air milik kota. Dan satu sumber lagi adalah munculnya bentuk baru dari struktur demokratis di selatan. Sebelum 1990. Masalahnya adalah kurangnya proses yang demokratis. Salah satunya adalah sejarah keberhasilan sektor publik di negara-negara maju pada abad 19 dan yang terbanyak di abad 20 − sebagai ”the northern past”. yang kadang diperberat oleh kebijakankebijakan yang dibuat oleh IFIs sendiri. masyarakat telah mendemonstrasikan kemauannya dengan menggunakan tenaga kerja mereka sendiri dan dana tabungannya untuk membuat sistem air bersih dan sanitasi. ditemukan kembali pelajaran dari pengalaman negara-negara di belahan utara. khususnya demokrasi partisipatif di Brazil dan India − the ”southern future”.2 A-7 ”Northern Past Dan Southern Future” Dalam pengembangan kebijakan alternatif dan struktur. kampanye-kampanye telah mendasarkan argumen-argumennya atas dua sumber inspirasi pokok. kecuali beberapa kota di Spanyol dan Italia dan beberapa kota bekas koloni Perancis. seperti di Orangi di Pakistan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kampanye publik untuk pembangunan instalasi pengolah air limbah meski masih dibawah Uni Soviet pada waktu itu. tidak ada satupun negara diluar Perancis. Dibalik perhatian yang ”misleading” kepada privatisasi.2. karena perusahaan milik kota dapat menyediakan perluasan pelayanan dengan lebih efisien dan lebih efektif. Di permukiman peri-urban dimana pemerintah gagal menyediakan layanan pokok. Diketahui bahwa lingkup dan era privatisasi dibidang air ternyata sangat sempit. Dengan demikian pemerintah-pemerintah yang tidak efektif dapat dilihat sebagai bukti kegagalan proses-proses politik. yang mempunyai pengalaman atau dengan serius mempertimbangkan privatisasi air dalam kurun waktu hampir satu abad terakhir. masih baru dan sangat pendek. Hanya Perancis lah yang berhasil menyelamatkan kontraktor abad 19 dan mengkonsolidasikannya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . A.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

menjadi

oligopoli

swasta,

yang

menjadi

alasan

bagi

Perancis

untuk

A-8

mempromosikan ideologi privatisasi air dan utilitas lainnya oleh pemerintahan Perdana Menteri Thatcher di Inggris. Negara-negara komunis dan negara-negara yang merdeka setelah pascakolonial berakhir, juga membangun layanan air melalui sektor publik, melalui kepemilikan di tingkat kota, wilayah, atau tingkat nasional. Secara historis, perusahaan utilitas sektor publik adalah model yang cukup berhasil dalam mengembangkan layanan perluasan atas air dan sanitasi untuk seluruh penduduk perkotaan dan bahkan pedesaan. Lebih dari 80% penduduk di Uni Eropa dan Amerika Serikat tetap dilayani operator publik, meskipun mengalami advokasi untuk diprivatisasi pada tahun-tahun belakangan. Di negara-negara belahan selatan, bentuk-bentuk demokratis baru telah muncul dengan mengedepankan partisipasi dan sentralisasi. India mempunyai sistem dewan desa yang dipilih yang disebut ”panchayats”, dan di negara bagian Kerala pemerintahan kiri meng-inisiasi peluncuran program desentralisasi dan partisipasi − hampir 40% dari anggaran negara bagian telah disalurkan melalui panchayat, warga mempunyai hak untuk melihat setiap dokumen dan prioritas anggaran ditetapkan melalui bebarapa tahapan pertemuan-pertemuan umum. Di Brazil, pemerintahan Partai Pekerja telah mengadopsi kebijakan-kebijakan yang membangun sistem devolutif dan partisipasi pada tingkat pemeritahan kota dimana kekuasaan terletak, melalui sistem yang dikenal sebagai ”participatory-

budgeting”.
A.3 Pemberdayaan Perusahaan Umum Pelayanan Air −Langkah Kedepan

Diketaui ada dua pilihan yang layak dalam merencanakan pelayanan air, baik menggunakan privatisasi layanan air maupun menggunakan layanan air yang pernah diselenggarakan oleh pemerintah dan kenyataannya tidak mencukupi. Keberadaaan pilihan ini tidak menjadi masalah bila layanan air dari pemerintah dapat dilakukan secara efektif, namun pertanyaannya adalah bagaimana membuat layanan air dari sektor publik ini menjadi efisien dan efektif. Obsesi

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

ideologi yang baru dibarengi dengan promosi sektor swasta dalam sepuluh tahun terakhir ini telah mengakibatkan pertanyaan di atas belum mendapatkan perhatian yang semestinya dalam penyusunan kebijakan dan proses pengambilan keputusan. Dari uraian pada bagian sebelumnya dijelaskan bahwa sekarang ini mulai muncul situasi baru yang bersifat fundamental akibat adanya beberapa kegagalan privatisasi yang besar, penarikan diri oleh sektor swasta multinasional bidang air dari negara-negara sedang berkembang, dan kenyataan yang dihadapi oleh para pembela privatisasi meski jelas bahwa inestasi sektor swasta tidak akan sampai ke kaum miskin. Oleh karena itu upaya untuk memfokuskan kembali pada perbaikan kinerja dan cakupan utilitas umum sangat dibutuhkan. Beberapa kasus yang disinggung disini menunjukkan bagaimana perbaikan yang signifikan dibidang akses atas air bersih dan sanitasi dapat dicapai dengan berbagai pola manajemen air publik. Solusi atas masalah air publik yang bertitik berat pada masyarakat telah terjadi pada berbagai kondisi lingkungan sosialekonomi, budaya dan politis. Sebagai contoh, termasuk pencapaian utilitas publik dan koperasi di Porto Alegre (Brazil), Santa Cruz (Bolivia) dan Penang (Malaysia); pencapaian perbaikan dengan manajemen model penyediaan publik yang inovatif di Caracas (Venezuela), Harrismith (South Africa) dan provinsi di Buenos Aries (Argentina); dan pencapaian dari pendekatan air yang dikelola masyarakat (community-managed water) di Olavanna (Kerala, India) dan Savelugu (Ghana). Berbagai macam pendekatan publik dimaksud telah membuktikan potensinya sebagai upaya untuk memperbaiki layanan air, dan sudah barang tentu termasuk untuk kaum miskin. Hampir disemua kasus, pencapaian-pencapaian dimaksud telah terjadi ditengah kondisi terjadinya perlawanan terhadap keanehan dan rintangan untuk perbaikan penyediaan air yang dikendalikan oleh publik dan masyarakat. Diantaranya yang terburuk adalah sistematis bias terhadap upaya perbaikan air publik dari

A-9

International Financial Institution (IFI’s) dan privatisasi dengan persyaratanpersyaratan tertentu yang dikaitkan dengan upaya untuk mengurangi jumlah dana bantuan pembangunan yang ditawarkan oleh pemerintahan di negara-

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

negara di kawasan utara. Hambatan-hambatan yang bersifat politis dan finansial dan hambatan lainnya yang mencegah manajemen air publik mencapai potensi penuhnya tidak dapat diatasi. Pada prinsipnya apa yang diperlukan adalah sikap politis untuk menciptakan lingkungan yang lebih kondusif. Hal ini menggarisbesari kisaran yang luas dari pilihan-pilihan kebijakan yang progresif. Dapat juga disimpulkan bahwa perkuatan demokratis, karakter publik dari layanan air pada prinsipnya tidak sejalan dengan model globalisasi neoliberal yang sedang dominan diwaktu kini, yang mana telah mempengaruhi beberapa aspek kehidupan kedalam kerasnya pemikiran dari pasar global. Menarik beberapa pengalaman dari seluruh dunia beberapa isu kunci yang perlu diwacanakan (debat) secara lebih intensif diwaktu mendatang adalah: • Pilihan-pilihan apa yang diperlukan untuk memperbaiki dan memperluas layanan air dan sanitasi publik untuk menghadapi tantangan keberlanjutan, keadilan dan akses untuk semua? • • • • Apa potensi dari partispasi masyarakat/pengguna dan bentuk-bentuk lain dari demokratisasi? Kondisi-kondisi apa saja yang diperlukan agar membuat reformasi utilitas publik yang berfokus pada penduduk dapat berjalan? Masalah-masalah apa saja yang menghinggapi komersialisasi operasi air sektor publik? Pelajaran-pelajaran apa yang dapat dipetik pada bagaimana caranya untuk mengatasi hambatan-hambatan kenaikan biaya yang diperlukan untuk perbaikan-perbaikan? • • Proses-proses politik macam apa yang terlibat dalam pengembangan air publik yang berhasil? Apa yang diperlukan untuk merealisasikan, dari tingkat lokal ke global, untuk menyebarkan, memperkuat dan melaksanakan layanan air dan sanitasi publik untuk daerah urban?

A-10

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

telah menjadi suatu model yang sering dideskripsikan sebagai ”social control (kontrol sosial)”. masyarakat langsung menetapkan prioritas anggaran dari perusahaan-layanan-airnya. ”anggaran partisipatif” telah memainkan peran penting yang menjamin bahwa 99. Di Porto Alegre. Koperasi air di Bolivia dan Argentina memperbolehkan para pengguna (yang semuanya adalah anggota dengan hak suara/voting) berpengaruh langsung dalam pengambilan keputusan. respon dan pencapaian tujuan sosial Partisipasi dan demokratisasi yang efektif dimaksud dapat tampil dalam berbagai bentuk. Bertambahnya rasa memiliki berkontribusi terhadap bertambahnya kemauan untuk membayar dan dengan demikian memungkinkan untuk membuat investasi baru serta LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .4 Partisipasi dan Bentuk-bentuk Demokratisasi Lainnya A-11 Di beberapa kota yang diulas dalam tulisan ini. partisipasi warga masyarakat dan pengguna air dalam berbagai dari layanan air yang dikelola publik. setiap warga dapat menyuarakan pendapatnya misalnya menyatakan dimana suatu investasi dapat pertama-tama dapat dilaksanakan. Melalui suatu proses pertemuanpertemuan publik. Di Porto Alegre dan beberapa kota lainnya yang sedang tumbuh di Brasil. Seperti halnya pada beberapa wilayah kehidupan publik lainnya di Porto Alegre. Untuk perusahaan utilitas. penggabungan keterlibatan masyarakat madani (civil society) dengan upaya reformasi demokratis yang inovatif seperti ”participatory budgeting/Anggaran Partisipatif”. bentuk adalah faktor penting dibelakang peningkatan-peningkatan dalam efektivitas. sekarang ini mempunyai akses terhadap air bersih. mendapatkan masukan berdasar pengetahuan yang unik dari masyarakat dengan sendirinya merupakan suatu aset.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA A. Hal ini memberi kewenangan bagi para pengguna untuk memegang kendali atas akuntabilitas perusahaan dalam menjalankan pelayanannya dengan misinya yang bersifat not-for-profit. misalnya melalui pemilihan badan pengarah perusahaan utilitas (dalam hal ini layanan air dan sanitasi).5% dari penduduk termasuk yang tinggal dikawasan kumuh dan miskin di penggiran.

dan semua negara bagian dari Sao Paulo. dan Santo Andre. Porto Alegre dan Recife keduanya memiliki penduduk lebih dari satu juta dan model-model yang sejenis telah terbukti berhasil dibeberapa kota-kota besar lainnya. kota ini mempunyai kesenjangan yang besar antara kaum yang kaya dan kaum yang miskin. dengan prioritas untuk bagian-bagian kota yang miskin. Recife. dan sebelum memulai reformasi demokratis sebagian besar penduduk mengalami kekurangan akses pada air bersih. Lebih dari 400 orang wakil terpilih pada pertemuanpertemuan (tingkat lingkungan) tersebut telah berpastisipasi dalam suatu konferensi dimana tidak kurang dari 160 keputusan telah diambil berkenaan dengan masalah air dan sanitasi di Recife untuk masa depan. yang juga akan sangat mungkin mengurangi resiko terjadinya korupsi. Konferensi ini menentang privatisasi dan menetapkan tujuan institusi untuk meningkatkan dan memperluas layanan penyaluran air. Porto Alegre adalah salah satu kota yang makmur di Brasil. Tetapi hal ini tidak akan mengurangi nilai dari pencapaian yang bisa didapatkan melalui proses partisipasi demokrasi. Hal ini telah dicanangkan di tahun 2001 dengan proses konsultasi partisipatif selama tujuh bulan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA meningkatkan pemeliharaan. Pengalaman Brasil menunjukkan bahwa skala tidak mesti sesuatu yang menghambat untuk melaksanakan pengelolaan air yang bersifat partisipatif. Contoh lain dari Porto Alegre-style pengelolaan air yang partisipatif di Brasil dapat ditemukan di kota-kota seperti Caxias do Sul di negara bagian Rio Grade de Sul. Seperti ditemui di tempat lainnya di Brasil. Jacarel and Piracicaba. bagian tenggara kota yang mempunyai jumlah penduduk berpenghasilan rendah yang sangat besar. Transparansi dengan sendirinya juga akan meningkat. telah melaksanakan pengelolaan air yang demokratis dan partisipatif serta bertujuan untuk lebih banyak meningkatkan akses air bersih dalam jumlah besar didasawarsa mendatang. Tingkat kemakmuran kota ini sebenarnya merupakan salah satu faktor yang menguntungkan dalam menyiapkan upaya peningkatan akses air bersih. A-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dimulai dengan pertemuan-pertemuan seri tingkat lingkungan.

dengan demikian akan menjamin keberlanjutan dari peningkatan dan perluasan layanan air dan sanitasi. pengelolaan dan pemeliharaan. Sebagai hasil dari kebijakan People’s Plan (Rencana Masyarakat) dari pemerintah negara bagian Kerala (yang me-desentralisasikan pengambilan keputusan hampir sebagian besar dari pembiayaan publik). tetapi juga dalam konstruksi. pelibatan dan pemberdayaan masyarakat setempat secara demokratis telah mengurangi biaya dan membantu mengendalikan kebocoran. Ghana. pengelolaan air secara partisipatif telah dilakukan dengan baik juga. Keadaan yang hampir sama terjadi di Savelugu. baik pada proses pengambilan keputusan maupun pekerjaan konstruksi dan pemeliharaan. penduduk setempat mampu memutuskan mengalokasikan dana publik untuk peningkatan akses atas air minum. Masyarakat setempat. perusahaan air dan petugas-petugas yang dipilih bekerja sama dalam dewan air komunal untuk mengidentifikasi kebutuhan dan prioritas untuk perbaikan-perbaikan. melibatkan penduduk secara sangat intensif pada bidang-bidang yang memerlukan perbaikan dan peningkatan dalam layanan air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Model pengelolaan air yang partisipatif yang sedang dalam proses A-13 pengembangan di Caracas. Di Olavanna dan komunitas-komunitas lain di Kerala. Penduduk setempat tidak hanya berpartisipasi dalam perencanaan. Penggunapengguna melaksanakan pengendalian demokratis atas pengelola utilitas. Dengan menggunakan teknologi yang tepat guna dan menghindari ketergantungan pada kontraktor dan konsultan luar negeri akan mengurangi biaya. Pengelolaan air yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . alokasi dana-dana yang tersedia dan penyusunan rencana kerja bersama. misalnya dengan mengendalikan akuntabilitas untuk pelaksanaan rencanarencana kerja. India. Rasa memiliki yang timbul dalam masyarakat berkontribusi terhadap upaya monitoring dan pemeliharaan dari masyarakat sendiri. dengan cara berkontribusi untuk mengadakan air bersih yang dapat dijangkau oleh semua. Venezuela. Peningkatan-peningkatan yang pokok atas akses terhadap penyediaan air sistem perpipaan telah dicapai dalam lima tahun terakhir melalui pelibatan dan pemberdayaan masyarakat. Dana-dana publik ini kemudian mendapat tambahan dari dana kontribusi masyarakat sendiri.

SEMAPA sedang memasuki model co-management dengan komisi air yang telah ada yang melayani penduduk tanpa sambungan di bagian selatan kota. model Savelugu dibangun tanpa dukungan aktif pemerintah. Pada pemilihan bulan April 2002. SEMAPA bekerja sama dengan komisi air didaerah tersebut. Meskipun sejumlah faktor masih mengancam kesuksesan dari hasil dari kerjasama ini. sebanyak 3 dari 7 anggota badan dipilih oleh penduduk-penduduk dari bagian selatan. Di Cochabamba. menggunakan kemampuannya untuk mengelola layanan distribusi air diwilayahnya sementara SEMAPA menyediakan layanan air partai besar (bulk water). partisipasi dan kontrol yang demokratis yang muncul setelah privatisasi yang merusak dari Betchel diakhiri pada bulan April 2000 ”perang air”. khususnya penduduk yang miskin. Pada waktu yang sama.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dikendalikan oleh masyarakat di Savelugu disebut sebagai ”public-community A-14 partnership/kemitraan sektor publik dan masyarakat”. Bolivia. Badan air masyarakat kota (the city’s community board) menetapkan tarif yang direncanakan untuk menjamin akses bagi semua. dan pembuatan sambungan baru. Hal ini mengacu kepada kenyataan bahwa perusahaan umum nasional menyalurkan air dalam jumlah besar (bulk water) kepada masyarakat. yang selanjutnya masyarakat yang akan mengurus semua hal yang berkaitan dengan sistem distribusi air-nya. Untuk mengembangkan akses ke sistem perpipaan untuk dari daerah peri-urban. namun peningkatan hanya dimungkinkan dengan bantuan dana dari UNICEF dan beberapa LSM dari belahan buni utara. Perusahaan utilitas air SEMAPA sekarang sedang di-restrukturisasi untuk melayani penduduk. termasuk penagihan kepada pengguna-pengguna. kemitraan kolektif publik adalah format yang baik dan demokratis yang dapat mengatasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pemeliharaan. pusat dan selatan dari daerah kota. Hal yang penting dari sistem dengan tingkat desentralisasi yang tinggi ini adalah bahwa pada tiap lingkungan (setingkat kelurahan) mempunyai komisi pengelolaan air. Berlainan dengan yang terjadi di Caracas dan Olavanna. istilah ”public-collective partnership”/kemitraan kolektif publik dipakai untuk menjelaskan model baru dari kepemilikan utilitas skala perkotaan. dimana hal ini adalah salah satu alasan bahwa kebocoran telah dapat dikurangi sampai tingkat yang paling minimum.

Ada juga kasus-kasus dimana pengelolaan air publik yang efektif dan setara dapat dicapai tanpa partisipasi pengguna memainkan peran yang penting. yang menarik diri setelah pemerintah propinsi menolak pertambahan harga dari layanan yang memuaskan yang dijalankan perusahaan dari Amerika Serikat. Koperasi para pekerja yang sejenis juga telah dengan sukses mengelola suatu konsesi air di dua bagian kota Dhaka. Cambodia dimana jumlah dari rumah tangga yang dilayani dan memdapat air telah meningkat dengan cepat dari 25% menjadi hampir 80% dalam 10 tahun terakhir. ibukota negara Bangladesh. Argentina. para pekerja telah berhasil membawa kembali perusahaan utiltas kembali ke ”track-nya” setelah bertahuntahun dikelola secara buruk oleh Azurix. Pilihan untuk meninggalkannya. yaitu Azurix (anah perusahaan Enron). A-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Efisiensi. akan didorong dengan cepat oleh aktivitas politik di negara bagian. untuk mencegah interferensi/ pengaruh-pengaruh yang tidak diperlukan. Bentuk lain dari pengelolaan partisipatif adalah pada pengelola utilitas air di propinsi Buenos Aires.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kecenderungan sentralisasi dalam pengelolaan utilitas dan dapat menyelesaikan masalah-masalah akses pada wilayah peri-urban. seperti utilitas air PBA di Penang. transparansi. Faktor kunci dibelakang pencapaian PBA adalah komitmen yang kuat diantara manajemen dan para pekerja atas layanan publik dan pelayanan masyarakat yang prima. dan akuntabilitas dari pengelola utilitas. Malaysia. adalah karena perbedaan prinsip antara sektor swasta pemegang konsesi dan pengelola utilitas air setempat. ada beberapa kasus keberhasilan dari belahan bumi selatan yang cukup menarik untuk dikaji. menyediakan air untuk lebih dari 3 juta penduduk. termasuk pemeriksaan kritis yang menerus dari pihak partai-partai politik yang sedang berkompetisi. yaitu Phnom Phen. ini perlu dicatat. yang sejak tahun 2002 telah dikelola oleh pekerja-pekerja air dan ”trade-unionnya”. Serikat pekerja mengambil alih dalam situasi darurat yang timbul dari sektor swasta pemegang konsesi. Disamping contoh-contoh diatas. Perusahaan utilitas dioperasikan bebas dari pengaruh pemerintah negara bagian. Dengan bekerja sama dengan wakil-wakil pengguna yang berpartisipasi dalam dan mengawasi pengelola. pada sisi yang lain.

kapasitas dari pemerintah setempat dalam memberikan layanan. partisipasi dan demokratisasi dalam berbagai bentuknya dapat digunakan sebagai piranti yang kuat untuk perubahan positif pada berbagai kondisi lingkungan. untuk alasan ideologis. dan faktor penting lainnya adalah dukungan politis dari pemerintah setempat. meski badan usaha ini sering berkinerja sangat baik. efektivitas dan responsif dan dengan sendirinya akan berkontribusi pada penyediaan jasa layanan yang lebih baik. Pengambilan keputusan pada pelayanan air di daerah kota-kota di belahan Selatan kadang-kadang dapat menjadi ”medan perang” politis yang sangat intensif atas kepentingan-kepentingan politis dan ekonomi para elite yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat miskin. hal ini jangan dianggap sebagai ”panacea” yang dapat dilaksanakan di setiap situasi dan pada lingkungan/kondisi tertentu mungkin juga tidak layak.5 Lingkungan yang Menunjang (Enabling Environment) Hal-hal apa yang membentuk lingkungan-lingkungan yang menunjang (lokal. secara aktif menghambat pengembangan lebih lanjut dari koperasi dan pengelolaan umum utilitas publik. Sejak tahun 1990-an di Argentina.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sementara itu. A-16 A. Ada potensi umum untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan manajemen. pemerintah pusat dan daerah telah. tetapi elite politik neo-liberal tidak berkeinginan untuk mengijinkan pilihan ini dikembangkan lebih lanjut. Hal yang sama. institusi internasional. reformasi perusahaan publik utilitas tidak dipertimbangkan sebagai alternatif atas program privatisasi yang diusung oleh Bank Dunia dan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . nasional dan internasional) dimana berbagai pendekatan yang berfokus pada orang mempunyai peluang untuk sukses? Diantara faktor-faktor yang paling penting adalah ketersediaan sumber daya air setempat. Sementara itu terdapat alasan yang baik untuk mengharapkan bahwa koperasi dapat memberikan layanan air di beberapa kota besar secara lebih efektif dan lebih betanggung jawab dari aspek sosial dibandingkan perusahaan air swasta. pemerintah-pemerintah dan partai-partai politik.

Hal ini berarti menciptakan lingkungan yang sulit dan membatasi ruang politis untuk mempromosikan pengendalian secara demokratis di Cochabamba. Santa Cruz. birokrasi. dan kecenderungan lain terkait dengan globalisasi ekonomi. kroni-isme dan korupsi tipikal di kota-kota lain di Bolivia. di Cochabamba hampir tidak ada uang agar penduduk dapat membuat keputusannya. merefleksikan perjuangan perebutan kekuatan yang berlanjut. transparan. Cochabamba sedang menghadapi kelangkaan air. kurangnya sumber daya menghalangi partisipasi yang aktif. pada waktu ideologi neo-liberalisme belum muncul sebagai faktor hambatan terhadap pendekatan air berpusat kepada masyarakat. Model pengelolaan air yang sekarang muncul masih kurang demokratis. Utilitas telah ditransfomasikan menjadi suatu koperasi di tahun 1979. tetapi tidak dihalangi oleh pemerintah pusat. pertumbuhan yang cepat dari pertanian intensif (kadang untuk tujuan ekspor). Malangnya. Di kota Bolivia lainnya. Status koperasi (dan realitas kurang terpolitisasinya dari pada Cochabamba setelah ”perang air” dan ”deprivatisasi) telah memberikan otonomi yang diperlukan untuk mengendalikan utilitas bebas dari pengaruh politis. dan akuntabilitas dari pada yang dikehendaki masyarakat madani. pemerintah setempat dan pemerintah pusat mengambil sikap untuk tidak mendukung upaya untuk berpindah pada pengelolaan air yang bersifat publik dan partisipatif. Sementara visi dibelakang ”public-popular partnership” di Cochabamba dapat dibanding dengan sistem planning partisipatif di Porto Allgre atau Kerala. Reformasi dan peningkatan yang dicapai adalah sebagai hasil dari kekuatan yang dibangun oleh gerakan air ditingkat akar rumput. Di Cochabamba. urbanisasi. Bolivia. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan karena industrialisasi. konflik atas sumber daya air semakin meningkat. dan yang lebih akhir. Demikian juga. Santa Cruz. Peningkatan pengelolaan sumber daya air untuk A-17 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . hal ini adalah pola umum di beberapa negara di seluruh dunia.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA International Monetary Fund (IMF). Suatu masalah yang sedang tumbuh di berbagai belahan bumi. faktor penting dibelakang keberhasilan koperasi air adalah kebebasannya dari partai politik dan kenyataan bahwa kota dan utilitas airnya telah diabaikan.

tidak meluasnya kemiskinan. Sebagai perbandingan. Untuk itu guna mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi dalam perbaikan penyediaan air di Cochabamba. Dengan berbagai alasan. dapat dikatakan sebagai hal yang berlawanan dengan kebiasaan. Pencapaian di Cochacamba. Keberhasilan tidak selamanya dapat dijamin. adalah kesulitan yang dihadapi dalam mengembalikan pengelolaan utilitas air menjadi pengelolaan oleh publik dengan situasi di kota Grenoble. atau jika tidak. sudah tentu dimulai dari kondisi awal yang paling sulit. Semakin banyak kemampuan yang tidak dimiliki oleh pemerintah kota/daerah. sangat diperlukan solidaritas internasional. Di Grenoble.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA menjamin keberlanjutan akan keberadaannya adalah tantangan pokok untuk daerah perkotaan di seluruh dunia. yang terbukti bukan merupakan solusi yang tepat. Hal ini berarti upaya peningkatan kinerja layanan umum harus dimulai dari awal. serta ketersediaan sumber daya air dari pegunungan Alpen memberikan lingkungan yang kondusif bagi keberhasilan penyediaan layanan air publik. Pengalaman Di Cochabamba menunjukkan bahwa butuh waktu lama untuk mengubah utilitas yang tidak berfungsi. khususnya jika penduduk setempat kehilangan kesabaran jika perbaikan layanan air tidak terjamin secara nyata. Perancis. akan semakin berat tantangan yang dihadapi untuk dapat secara efektif mengelola suatu utilitas publik. sektor publik khususnya di negara-negara berkembang seringkali diurus oleh tenaga-tenaga yang kurang mampu dalam menangani urusan pelayanan umum yang terkait dengan jaringan infrastruktur yang besar serta memerlukan kemampuan (”softskill”) yang responsif terhadap tuntutan kebutuhan. Kenyataan ini sering disalah gunakan menjadi alasan diperlukannya privatisasi layanan umum. Setiap model penyaluran air bagi daerah perkotaan yang progresif perlu memasukkan pendekatan yang berkelanjutan atas sumber daya air dan membuat neraca antara kebutuhan air untuk daerah perkotaan dan perdesaan. keberadaan pemeritahan kota yang efektif. khususnya bila elite politisi setempat menghalangi perubahan yang diperlukan. A-18 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kapasitas administrasi dari sektor layanan umum pemerintahan dalam memberikan pelayanan umum adalah faktor yang sangat penting.

kemajuan yang dibuat oleh kemitraan publik dan masyarakat di Savelugu sekarang terancam oleh kenyataan bahwa Ghana Water Company (GWC) tidak mampu untuk menyalurkan layanan air bersih yang mencukupi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Percobaan selama 3 tahun menunjukkan bahwa ”sharing” dan transfer pola pengelolaan dan ketrampilan teknis dapat berkontribusi (sebagian pada peningkatan pelayanan air masyarakat secara cepat. yang telah dikelola dengan baik melalui kemitraan. Salah satu jalan untuk mengatasi kelemahan kapasitas pelayanan umum pemerintah setempat adalah melalui ”public-public partnership” (kemitraan antara instansi-instansi pemerintah). Di Afrika Selatan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA khususnya untuk kota-kota dengan penduduk yang sebagian besar A-19 berpendapatan rendah. tetapi tidak dikelola untuk mengatasi menumpuknya kebutuhan akses air bersih dalam jumlah yang besar yang ada dikawasan komunitas perkotaan di Harrismith. Berkat pembelajaran dari konsultasi. Partisipasi dan konsultasi intensif pada tingkat ”ward” dari wilayah pemerintah kota/kabupaten) adalah juga faktor kunci disamping faktor lainnya yaitu finansial untuk mencapai sukses public-public partnership. Harrismith tidak mengalami kerugian dari tingginya tingkat pelanggan yang tidak membayar—tipikal masalah pada konsesi yang diprivatisasikan di Afrika Selatan. Tanpa kebijakan yang lebih bersifat ambisius adalah sulit untuk mencapai kondisi dimana air dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat untuk memerangi kemiskinan dan redistribusi kemakmuran dalam lingkup lokal dan nasional. Di Ghana. public-public partnership antara pemerintah setempat di kota Harrismith dan perusahaan besar utilitas publik bidang air dari kota lain telah mencapai hasil yang baik. Eksprimen ini hanya mungkin dapat berjalan dengan subsidi kepada kaum miskin yang didanai oleh pemerintah. pendekatan tarif sosial dan dukungan dari masyarakat. Proyek ”Public-public partnership” telah membawa peningkatan yang nyata. Jelaslah bahwa kapasitas untuk memberikan layanan umum oleh pemerintah kota/daerah setempat adalah komponen kunci dari masyarakat demokratis dan merupakan suatu keharusan guna diberlakukannya hak atas air bagi penduduk.

atau masyarakat madani/LSM. penganggaran yang bersifat partisipatif dan di-desentralisasikan dimulai dan dikonsolidasikan oleh pemerintah negara bagian . Hampir semua utilitas yang berhasil yang dijadikan contoh telah meningkatkan layanan air dan sanitasi melalui penyusunan visi layanan umum yang melayani tujuan-tujuan sosial yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Penganggaran partisipatif diperkenalkan dan di-institusionalkan setelah partai Pekerja memenangi pemilu dan memperoleh kendali politik. dan juga oleh partai-partai politik. yang dikendalikan oleh Front Demokratis Kiri.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA untuk masyarakat.6 Ethos Baru Layanan Umum Sementara adalah suatu kenyataan bahwa beberapa perusahaan utilitas air dibelahan bumi selatan mengalami hambatan dari birokrasi dan seringkali gagal memberikan layanan kepada warga yang miskin. A-20 A. upaya-upaya ini dipelopori oleh pemerintah setempat. India dan Caracas di Venezuela. Upaya ini mencakup redefinisi dan ”re-invention” yang radikal tentang pelayanan umum dan arti dari ”ke-umum-an”/publicness (kualitas menjadi umum/publik dan menjadi milik masyarakat). Di kota-kota di Brasilia seperti Porto Alegre dan Recife. peningkatan-peningkatan dicapai karena komitmen yang sangat kuat dari walikota dan anggota dewan kota yang berasal dari partai Pekerja. Di Brasilia. sebagaimana telah dijelaskan di bagian sebelumnya dari tulisan ini. kota-kota seperti Recife dan Porto Alegre. dan juga di Kerala. atau pekerja. Hal ini menggaris bawahi pentingnya kebijakan nasional dan internasional yang lebih bersifat memfasilitasi dari pada mengahalangi partisipasi dan solusi lainnya atas layanan air untuk publik. beberapa upaya-upaya telah dilaksanakan untuk mempercepat peningkatan kapasitas dalam layanan umum. Krisis yang semakin mendalam GWC sebagaian besar disebabkan oleh kurangnya pembiayaan dan hal-hal yang terkait dengan upaya bersama pemerintah pusat dan Bank Dunia yang sedang menyiapkan suatu perusahaan yang akan menangani privatisasi. Di Kerala. peningkatan-peningkatan yang telah terjadi disebabkan oleh peran fasilitasi dan pemberdayaan dari pemerintah-pemerintah pusat dan daerah.

sebagian. keberlanjutan sosial.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA lebih luas. dimiliki oleh kelompok pekerja dan kelompok pengguna-pengguna. termasuk demokrasi. Malaysia. dimana sahamnya. Pengalaman yang diperoleh dari reformasi di bidang utilitas air umum adalah pengembangan ethos baru di bidang pelayanan umum. internalisasi dan konsolidasi dari philopi dari melayani kebutuhan umum adalah fasilitasi dengan partisipasi warga secara langsung dan bentuk-bentuk lain dari interaksi dengan penggunapengguna. ”Ke-umuman/publicness” di –redefinisikan sebagai sesuatu yang jauh diluar sekadar kepemilikan oleh umum atau pengelolaan oleh pegawai (negeri/badan usaha milik negara/daerah). Utilitas air di Penang.7 Catatan Tentang Komersialisasi Beberapa kasus tentang upaya peningkatan pelayanan air untuk umum menunjukkan adanya kecenderungan yang saling bertentangan. dan keamanan masyarakat (human security). Dalam banyak kasus. dicapainya manajemen sumber daya yang berkelanjutan untuk kota-kota yang selalu berkembang. tetapi juga perusahaan utilitas yang dikendalikan oleh umum. telah mengembangkan ethos layanan umum yang berkualitas tinggi yang memungkinkan menyediakan air berkualitas tinggi untuk semua pada harga yang masih dapat dijangkau. Pengenalan busines neo-liberal dan model-model pengelolaan (sering disebut sebagai New Public Management-NPM) mengarah pada bentuk- LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dapat mengambil bentuk mulai dari koperasi sampai ke pelayanan utilitas yang dikelola pemerintah kota. Ethos baru pelayanan umum yang sedang muncul dengan berbagai bentuk pengelolaan air yang tidak mencari keuntungan. Pertama. Pengertian ”ke-umum-an” yang progresif ini faktor yang sangat penting untuk memenuhi tantangan-tantangan seperti penyediaan air bersih untuk warga miskin yang ter-marginal-kan di pinggiran kota dan. pengaruh ideologi neo-liberal menghasilkan permasalahan yang rumit dalam praktek pengelolaan layanan air diantara pilihan dikelola oleh publik atau privatisasi. A-21 A. pada umumnya.

Pada prinsipnya ada cara untuk membayar penyediaan air untuk publik: pajak-pajak atau iuran (biaya jasa pengelolaan) dari pengguna. dalam hal ini konsumen membayar sebanding dengan air yang digunakan (memakai lebih banyak air akan membayar lebih banyak).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA bentuk komersialisasi yang akan bertentangan dengan prinsip-prinsip ethos pelayanan umum yang dijelaskan sebelumnya. sedang berekspansi untuk beroperasi keluar negeri. Jika pemerintah atau pemerintah kota meminjam uang atau menerbitkan bonds/surat berharga untuk membiayai investasi. Beberapa utilitas publik air telah mengkombinasikan perluasan layanan air dengan struktur tarif sosial. Sementara mereka berpedoman pada ethos pelayanan umum jika beroperasi di dalam negeri. Outsourcing tugastugas kunci kepada kontraktor swasta dan pengenalan kondisi perburuhan yang ”fleksibel” adalah contoh-contoh peng-adopsian dari model busines korporasi. kecenderungan yang terkait dengan utilitas publik seperti EAAB. dan juga Rand Water di Afrika Selatan dan PBA di Malaysia. biaya dari pinjaman biasanya dikenai pajak.8 Pembiayaan Air Publik Pembiayaan adalah tantangan kunci untuk setiap komunitas yang menghendaki terjaminnya air untuk semua. perusahaan-perusahaan ini bermaksud untuk beroperasi sebagai penyedia layanan air komersial di luar negeri. air seluruhnya dibayar dengan iuran pengguna (full cost recovery). Pajak biasanya dipakai untuk membiayai perluasan dan pembangunan sistem. memerlukan investasi-investasi awal yang cukup besar. Pelayanan air sehari-hari dari utilitas air memerlukan biaya dan perluasan akses atas air. A-22 A. Di beberapa kota-kota yang mempunyai keberhasilan dalam penyediaan air publik. Columbia. Di beberapa negara—seperti Irlandia—layanan air dibayar hampir seluruhnya melalui pajak pemerintah pusat. praktek operasi dari EAAB di Bogota. dengan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kedua. Kecenderungan ini terlihat nyata. dan juga menyediakan subsidi untuk mengurangi beban yang harus ditanggung oleh pengguna melalui tarif air. dan juga melalui subsidi silang melalui ”stepped tariffs/tarif progresif”. misalnya.

paling tidak diperlukan untuk men-duakali-kan jumlah air gratis yang dijamin konstitusi dan ditambah dengan subsidi silang untuk tarif rendah bagi penduduk berpenghasilan rendah. menyalurkan kelebihan (surplus) atas iuran yang lebih tinggi yang mampu dibayar oleh pengguna yang kaya kedalam dana investasi yang membiayai air baru dan infrasruktur untuk air dan infrastruktur sanitasi bagi semua yang memerlukannya Di Afrika Selatan dan beberapa kota lainnya diseluruh dunia. mengurangi jumlah pelanggan yang tidak membayar dan perbaikan dari kelayakan pembiayaan utilitas dapat dicapai. Setelah proses konsultasi publik.000 liter air gratis per keluarga terbukti ternyata tidak mencukupi untuk satu keluarga besar penduduk miskin. Meteran air pra-bayar yang telah dipasang di beberapa komunitas miskin di Afrika Selatan secara nyata merupakan pelanggaran atas hak azasi manusia atas air. DMAE di Porto Alegre. hak atas air tidak secara efektif dilaksanakan. Hal ini meningkatkan kesehatan aspek finansial dari utilitas dan menyelesaikan masalah sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Malaysia. Brasil. privatisasi kelihatannya menjadi satu-satunya pilihan untuk pemerintah kota yang kehausan modal untuk investasi perluasan layanan air untuk mengikuti pertumbuhan penduduk yang cepat. kondisi tingkat pelanggan air tidak membayar sangat rendah. ekspansi/perluasan layanan air dapat juga dikerjakan dengan pengurangan biaya operasi dan meningkatkan efisiensi air. misalnya. Untuk menjamin keterjangkauan air untuk semua. Untuk mengatasi rintangan pembiayaan. termasuk yang paling miskin A-23 mempunyai akses terhadap air yang terjangkau.000 liter bebas biaya untuk setiap keluarga. memungkinkan utilitas mempunyai tarif air yang paling rendah di negerinya. Di kota Matao.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA demikian memungkinkan seluruh warga. kebijakan neo- liberal cost recovery (tanpa subsidi silang) telah menyebabkan problem afordabilitas dan beberapa juta penduduk mengalami pemutusan layanan air. utilitas kemudian di-reorganisasi dengan struktur tarif yang berbeda dan insentif untuk mengurangi kebocoran dan limbah. dan 6. Sementara undang-undang di Afrika Selatan menjamin pemberian 6. Di Penang. Beberapa cara lainnya adalah mengatasi kebocoran dan meningkatkan penagihan-penagihan.

Warga tidak hanya diberdayakan oleh pemerintah untuk mampu memprioritaskan alokasi anggaran publik. Kesulitan akses untuk pembiayaan investasi-investasi dalam pengembangan dan peningkatan penyediaan air merupakan hambatan di banyak kota-kota di belahan bumi selatan. hal ini juga merupakan upaya keberlanjutan sumber daya air: pengurangan kebocoran dapat juga membantu mengatasi ancaman atas kekurangan air dan bahkan membuat investasi pokok pembangunan bendungan baru tidak diperlukan lagi. Hal ini berarti pengawasan yang menerus atas utilitas air dan pengawasan terhadap kontraktor. sebagaimana kasus di Porto Alegre. Model Savelugu di Ghana utara hanya mungkin terrealisasi berkat pendanaan dari UNESCO dan LSM internasional. akses atas air untuk bagian masyarakat yang miskin tetap ditempatkan pada prioritas yang rendah dan seringkali pendekatan-pendekatan neo-liberal mendominasi para A-24 elite setempat dalam proses politik.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air. Banyak hal-hal yang dapat diperbaiki untuk pendekatan negara-negara dibelahan bumi selatan dalam penyediaan air. tetapi untuk kelompok masyarakat lain yang berminat melaksanakan model-model yang sama tidak dapat bergantung pada ”philantrophy”. Keadaan yang sangat kontras dengan pemberdayaan demokratis dari desentralisasi pengambilan keputusan atas dana pemerintah didapati di Kerala. Masyarakat pada area dimana pembangunan infrastruktur air terjadi berpartisipasi dalam komisi-komisi yang mengawasi kontraktor-kontraktor menjalankan pekerjaannya. Partisipasi warga dapat membantu kesehatan finansial utilitas air. yang mana telah membantu pengurangan biaya dari proyek konstruksi baru. mereka juga dilibatkan dalam monitoring pelaksanaan keputusan-keputusan dan proyek-proyek. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dibanyak negara. diperlukan dana dari luar untuk membiayai investasi awal yang besar. India. juga bentuk-bentuk yang sangat berbeda dari proses desentralisasi telah terjadi di beberapa negara yang terletak di belahan bumi selatan dalam sepuluh tahun terakhir. Mengikuti saran-saran IFI. Dengan jelas. Di titik inilah peranan dari pemerintah pusat dan institusi pendanaan internasional untuk menjamin akses untuk memperoleh pinjaman (loans) mutlak diperlukan. Untuk masyarakat miskin.

Kumulatif dampak/impacts dari kebijakan neo-liberal adalah hambatan dasar bagi pengembangan penyediaan oleh publik untuk layanan-layanan penting. kelihatannya layak jika model pembangunan diganti dengan model globaliasi yang lain. Untuk sebagian besar penduduk di belahan selatan. konteks kini dari globalisasi neo-liberal adalah sangat berlawanan dengan kondisi lingkungan yang diinginkan untuk meningkatkan dan memperluas sistem air publik yang berfokus pelayanan penduduk. Dengan keadaan bahwa banyak pemerintah-pemerintah di belahan bumi selatan menderita karena sistem ekonomi global yang tidak adil dan hutang luar negeri yang semakin membesar. Hal ini masih ditambah dengan kenyataan adanya tekanan untuk me-liberalisasi dan privatisasi dari IFIs. yaitu yang mem-fasilitasi solusi publik yang progresif dari pada menyembunyikannya. pinjaman-pinjaman dari IFIs adalah satu dan hanya satu-satunya jalan dimana para pemerintah dan pemerintah kota bisa mendapatkan dana-dana untuk investasi guna pengembangan akses terhadap air. hal ini sering digabungkan dengan tingginya angka pembayaran pinjaman luar negeri. juga bagi negara-negara di Eropa Tengah dan Timur. Pemerintah-pemerintah di belahan bumi utara dan IFIs terus-menerus menggunakan pembiayaan sebagai sebagai alat politik untuk A-25 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . perdagangan bebas dan reformasi neo-liberal lainnya telah menghasilkan meningkatnya angka pengangguran dan marginalisasi ekonomi. Pada waktu yang sama. sementara itu pada saat yang bersamaan utilitas setempat kekurangan dana untuk memenuhi kewajiban baru mereka. Hal ini telah menjadi konsekuensi yang dapat diramalkan atas penyediaan layanan publik yang vital. Pemerintah-pemerintah mengalami penurunan anggaran disebabkan karena penurunan pajak pendapatan. Kenyataan yang sangat mengganggu adalah sebagain besar IFIs tetap berkeras memihak kepada privatisasi dan menggunakan berbagai jenis tekanan baik secara nyata atau secara halus untuk memaksakan hal tersebut (privatisasi) kepada pihak peminjam. institusi bantuan untuk pembangunan dan team negosiasi perdagangan. Solusi jangka panjang. nyatanya kadang hal ini mempersempit alternatif pilihan yang lain dari privatisasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pemerintah-pemerintah telah mengalihkan tanggung jawab kepada pengelola utilitas setempat.

Untuk mendorong aliran pembiayaan internasional untuk memperluas akses atas air kepada kaum miskin. pajak kecil yang dikenakan pada botol kemasan air mineral dan menghasilkan miliaran euro (triliunan rupiah) pun masih jauh lebih kecil dari jumlah yang sangat besar yang A-26 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . termasuk ”floating municipal bonds”. Porto Alegre dan Recife mendapat pinjaman dari IFI setelah negosiasi yang sangat berat dimana Bank Dunia tetap ”ngotot” mendorong kearah privatisasi. yang sesungguhnya sangat sehat. Di Eropa. menambah dana bantuan pembangunan dari negara-negara maju di belahan utara adalah pilihan yang langsung. Koperasi di Santa Cruz. tentunya digabungkan dengan penghilangan atas tekanan-tekanan yang terkait dengan kondisi privatisasi. terdapat berbagai jenis pilihan pendanaan yang berskala lokal dan nasional. tetapi karena kondisi keuangan pemerintah pusat yang menyebabkannya. Disamping pilihan pendanaan yang bersifat redistribusi dengan pengaturan perpajakan dan tarif air yang bersifat subsidi silang. Masyarakat Eropa dan beberapa pemerintahan di Eropa secara pro-aktif mendorong dilakukannya privatisasi. Legitimasi demokratis dari pengelola utilitas publik dan dukungan dari walikota-walikota telah membantu ditahannya tekanan-tekanan dan berhasil mendapat pinjaman tanpa kondisi yang dapat menggerus hakikat dari model-model partisipatif. seperti pinjaman IBRD untuk koperasi-koperasi di Argentina dan Bolivia. Penting untuk diketahui bahwa dana yang hanya ”sepersekian” dari dana yang dipergunakan untuk keperluan militer sudah mencukupi untuk membiayai penyediaan air bersih untuk semua orang dibumi ini. Bolivia.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA menekan pemerintah-pemerintah di belahan bumi selatan untuk bergabung dalam upaya melaksanakan reformasi neo-liberal. sedang menghadapi pembatasan-pembatasan untuk mendapatkan pinjaman yang lebih besar bukan karena keadaan keuangannya sendiri. Ada beberapa perkecualian. Ada kebutuhan mendesak akan mekanisme pembiayaan tanpa kondisi politis dengan tujuan yang berorientasi pada pelayanan masyarakat dan bukan bertujuan ekonomis dan ideologis. Kehendak untuk membiayai pilhan sektor non-swasta tetap jauh dan terlalu terbatas.

menunjukkan bahwa gerakan sosial secara aktif berkontribusi dalam mempertahankan dan meningkatkan karakter publik dari layanan air dan sanitasi di seluruh dunia. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . partai-partai politik dan para manajer utilitas publik.9 Gerakan. Perjuangan dan Solusi-Solusi Air Publik Kasus-kasus yang secara singkat diulas. mayoritas yang besar mendukung perubahan konstitusi yang akan menetapkan air sebagai hak azasi manusia dan melarang privatisasi. Perjuangan politik ini adalah elemen penting didalam memahami proses penyediaan air ke masa depan. Keadilan sosial dan demokratisasi pengambilan keputusan pengelolaan air juga perlu diintegrasikan dalam upaya tersebut. Gerakan-gerakan ini. dibentuk oleh perjuangan politik yang mendahuluinya. Di banyak negara. seringkali telah mengelaborasi visi dan usulan yang konkrit tentang alternatif-alternatif untuk pelayanan sektor publik. dari para environmentalist. kelompok-kelompok perempuan dan para aktivis akar rumput sampai ke serikat buruh. Proses politis dalam mengupayakan reformasi utilitas publik dan alternatif untuk privatisasi menentukan karakter dari pendekatan pengelolaan air publik. Hal ini terjadi pada kasus Urugay dimana. sebagian besarnya. dalam referendum nasional di bulan Oktober 2004. mempersatukan berbagai jenis pelaku yang luas. Kampanye anti-privatisasi di beberapa negara didunia. Tekanan publik kepada pemerintah dan pengelola utilitas umum untuk merubah dan meningkatkan akses atas air bersih mempunyai peran penting dalam upaya dicapainya pemenuhan air untuk semua secara berkelanjutan. begerak lebih dari sekadar hanya bertahan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dapat dikumpulkan melalui ”pajak Tobin” yang dapat dikenakan pada transaksi keuangan internasional. A-27 A. pergerakan sosial memobiliasi kekuatan untuk mendukung keinginan kaum yang terpinggirkan melawan kebijakan-kebijakan neo-liberal yang dipromosikan oleh elite politik dan ekonomi. Contoh dari Cochabamba dan beberapa kota lainnya menunjukkan bagaimana model-model penyediaan air oleh publik adalah.

dalam kerangka PBB. Partipasi publik yang efektif diyakini akan mempebaiki pengelolaan utilitas air publik. transparansi adalah karakteristik dasar yang perlu dimiliki hampir untuk semua utilitas publik yang berfokus pada pelayanan masyarakat. seperti menghentikan praktek tercela dari politisi yang gagal menyalahkan gunakan utilitas juga pilihan pensiun dengan mendapat pesangon. Potensi transparansi adalah keuntungan yang esential dari utilitas publik atas privatisasi penyediaan air. Di inspirasi dari kemenangan di Urugay. Koalisi global LSM yang sedang berkembang menuntut agar pemerintah-pemerintah bersepakat untuk membuat konvensi internasional tentang hak atas air. Di negara pasca komunis seperti Slovakia. serikat buruh. dimana informasi kunci adalah ditetapkan sebagai diluar jangkauan karena alasan kerahasiaan komersial dari privatisasi. A-28 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Para manajer utilitas publik dan karyawan pemerintah kota sering menganggap pelibatan masyarakat sebagai hal yang mengganggu. kelompok-kelompok masyarakat madani di Argentina juga telah mencanangkan kampanye untuk referendum untuk menentukan bahwa akses atas air dianggap sebagai hal yang mendasar dalam hak azasi manusia dan menyatakan bahwa air untuk publik yang merupakan milik bersama dikecualikan dari privatisasi. transparansi dan partisipasi warga adalah pergulatan yang pokok.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Perubahan konstitusi yang dipromosikan oleh koalisi gerakan-gerakan yang menetapkan bahwa partisipasi konsumen. Kampanye anti privatisasi menghadapi tantangan untuk meyakinkan operator air publik bahwa partisipasi masyarakat dan pengendalian/kontrol yang demokratis dapat membantu memperbaiki efektivitas pelayanan publik. Konvensi yang dimaksud hendaknya menyediakan instrumen hukum yang kuat untuk menjamin hak atas air bersih untuk semua dan menjaga agar air tidak diperlakukan sebagai komoditi. Sementara hal-hal ini dapat berjalan dengan baik. perlu ditetapkan lingkup dari perbaikan. Pergulatan untuk transparansi dan akses publik atas informasi adalah tema yang diulang-ulang di banyak kampanye. masyarakat dan masyarakat madani (LSM-LSM) adalah memegang peran pokok pada setiap tahapan pengelolaan air dan dalam institusi-institusi. Disamping itu.

Dengan demikian hal ini berarti justru merupakan tantangan bagi masyarakat madani di belahan bumi utara. akan selalu tergantung kepada keluasan lingkungan politis. Di Amerika Serikat (dimana 85% penduduk dilayani oleh utilitas publik). A-29 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dimana air yang murah. Sejauh mana partisipasi masyarakat akan dapat dilibatkan akan menjadi agenda dari upaya perbaikan penyediaan air publik di belahan bumi Utara yang masih akan dilihat perkembangannya. tetapi hal ini dapat diperluas untuk sektor air. Juga di bagian Utara. Kampanye melawan privatisasi dan perbaikan layanan publik di negara seperti Jerman. perjuangan melawan privatisasi tidak hanya sekedar mempertahankan kondisi ”status quo”. tentu akan berbeda dari pada untuk tempattempat seperti Ghana atau Afrika Selatan dimana akses terhadap air adalah perjuangan sehari-hari bagi sebagian besar penduduknya. Sebagaimana gelombang privatisasi melanda belahan bumi bagian selatan pada tahun 1990-an. tidak hanya dari kampanye gerakan anti privatisasi yang telah tumbuh dengan kuat di belahan bumi selatan. Di Itali. Untungnya telah banyak hal-hal yang dapat kita pelajari. Pelajaran yang dapat kita petik dari pengalaman-pengalaman dari kampanye untuk air publik diseluruh dunia. Perjuangan untuk air. Kanada. Sebagai contoh di Urugay. tekanan sekarang bertambah pada negara-negara Amerika Serikat. tetapi juga dari berbagai bentuk pengelolaan air yang inovatif yang telah melahirkan kembali berbagai jenis layanan publik di kota-kota di belahan bumi selatan selama 10 tahun terakhir. Jepang dan Eropa khususnya bagian Barat dimana penyediaan utilitas air publik masih sangat banyak dilaksanakan oleh sektor air yang dikendalikan oleh publik. bentuk-bentuk partisipasi warga yang baru di bidang pengelolaan air telah mulai diperkenalkan. gerakan air berhasil pada saat terjadinya perubahanperubahan politis yang besar dan dalam hal ini politis bergeser ”kekiri”. untuk seterusnya. nilai-nilai universalnya telah melewati batas negara dan bahkan benua. aman dan banyak.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Strategi kampanye dibentuk oleh konteks lokal dan nasional termasuk diantaranya intensitas masalah dan kesempatan politis. terutama untuk utilitas listrik. berbagai jenis mekanisme yang partisipatif dan demokratis yang telah disusun untuk mengatur dan memperbaiki kinerja utilitas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful