DIREKTORAT PENGAIRAN DAN IRIGASI KEMENTERIAN NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

LAPORAN AKHIR
PRAKARSA STRATEGIS PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR UNTUK MENGATASI BANJIR DAN KEKERINGAN DI PULAU JAWA

BUKU 1
STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DESEMBER 2006

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan Kegiatan 1.3. Ruang Lingkup 1.4. Keluaran BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 2.1 Umum 2.1.1 2.1.2 2.2 Banten 2.3 DKI Jakarta 2.4 Jawa Barat 2.5 Jawa Tengah 2.6 Daerah Istimewa Yogyakarta 2.7 Jawa Timur 2.8 Identifikasi Masalah Banjir 2.9 Identifikasi Masalah Kekeringan Fisik Pola Pengelolaan 2-1 2-1 2-3 2-9 2-11 2-13 2-16 2-19 2-22 2-25 2-27 1-1 1-2 1-4 1-4

BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 3.1 Rumusan Kebijakan Prakarsa Strategis 3.2 Kebutuhan pengelolaan sumber daya air yang terpadu. 3.3 Program Prioritas 3.3.1 3.3.2 3.3.3 Program Jangka Pendek Program Jangka Menengah Program Jangka Panjang 3-1 3-3 3-4 3-4 3-5 3-7

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 4.1 Rumusan Strategi Implementasi 4-1

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

4.2 Strategi Kebijakan Non-struktural 4.2.1 4.2.2 Strategi Menurut Undang-undang Strategi Konservasi Sumberdaya Air

4-3 4-3 4-5 4-10 4-10 4-32 4-52 4-53 4-53 4-55 4-57 4-60 4-63 4-66 4-70 4-72 4-82

4.3 Strategi Kebijakan Struktural 4.3.1 4.3.2 4.3.3 4.4.1 4.4.2 4.4.3 4.4.4 4.4.5 Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang Sudah Ada Pengaturan Induk Wilayah Sungai Baru Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wewenang Tanggung Jawab Pemerintah Kebijakan Pembiayaan Peran-peran Lain Pemerintah Strategi Pendanaan dan Tujuan Studi Kelayakan Proyek Pengunaan Model Investasi

4.4 Strategi Pembiayaan

4.5 Strategi Kelembagaan dan Koordinasi 4.6 Pengelolaan Sumberdaya Air dalam Era Otonomi Daerah 4.6.1 4.6.2 Permasalahan dan Tantangan dalam Pengelolaan Sumberdaya Air Organisasi dalam Pengelolaan Sumber Daya Air

BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5.1 Indikator Pemantauan dan Evaluasi 5.1.1 5.1.2 5.1.3 Pemantauan Evaluasi Indikator dalam Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air 5-1 5-1 5-1 5-3 5-6 5-8 5-9 5-10 5-13

5.2 Ruang Lingkup Pengawasan dan Pemantauan 5.3 Ruang Lingkup Pengawasan dalam Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air 5.4 Ruang Lingkup Pengawasan Dalam Aspek Pembiayaan 5.5 Mekanisme Pemantauan 5.6 Mekanisme Evaluasi BAB 6 PENUTUP 6.1 Arahan Sosialisasi Prakarsa Strategis 6.1.1 Kekeringan dan banjir

6-1 6-1

2 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CiliwungCisadane Tabel 4. 6 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Timur Tabel 4. 5 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di DI Yogyakarta Tabel 2. 1 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciujung Ciliman Tabel 4. 7 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pemali-Comal 4-21 4-17 4-14 4-14 4-12 4-10 2-13 2-14 2-17 2-21 2-23 2-5 .1. 5 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CimanukCisanggarung Tabel 4.2 6. 3 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Barat Tabel 2.3 6. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk DKI Jakarta Tahun 2003 Tabel 2. 4 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Tengah Tabel 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 6. 4 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citarum Tabel 4. 8 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS SerayuBogowonto 4-23 Tabel 4. 3 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CisadeaCikuningan Tabel 4.1. 6 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CitanduyCiwulan Tabel 4. 2 Luas Wilayah. 9 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Jratun-Seluna 4-25 4-18 Tabel 4. 1 Daftar Pembagian Wilayah Sungai di Pulau Jawa-Madura Tabel 2.2 Saran ANNEX Strategi Implementasi Pengalaman Negara Lain PEMBELAJARAN ANTARA PRAKTEK PRIVATISASI DAN PERKUATAN PERUSAHAAN UMUM LAYANAN AIR 6-3 6-4 6-5 DAFTAR TABEL Tabel 2.

1 Gambar 2. Proyeksi Neraca Air Kabupaten/Kota di Pulau Jawa dan Madura. 15 Penyusunan Kembali Alternatif Intervensi Struktural menurut Wilayah Sungai yang Baru Tabel 4. 10 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Progo-OpakOyo Tabel 4. 1 Siklus Pengelolaan Terpadu SDA (IWRM) Gambar 5. Gambar 4. Perubahan persentase kabupaten defisit air. 1 Gambar 2. 14 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Madura Tabel 4. 11 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Bengawan Solo Tabel 4.17 Balai Besar Wilayah Sungai & Balai Wilayah Sungai di Pulau Jawa 4-87 4-34 Tabel 4. 5 Peta Orientasi Lokasi Kegiatan di Pulau Jawa dan Madura Peta batas wilayah administrasi dan batas WS Pulau Jawa dan Madura. 1 Susunan Wilayah Sungai yang sudah ada Gambar 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 4. 13 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS PekalenSampean Tabel 4.16 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai 4-73 4-31 4-31 4-28 4-30 4-27 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. 2 Rencana Wilayah Sungai baru Gambar 5. 4 Gambar 2. 2 2-31 4-9 4-33 5-3 2-1 2-3 2-28 1-4 Pemantauan dan Evaluasi dalam suatu siklus kegiatan 5-15 . 12 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Kali Brantas Tabel 4. Curah hujan tahunan Pulau Jawa – Madura. 2 Gambar 2.

Sulawesi.5 persen dari total air tawar nasional. Dari 14 waduk utama di Jawa. potensi ini setara dengan 8. Defisit ini diperkirakan akan semakin tinggi pada tahun 2020 akibat peningkatan dimana jumlah penduduk dan aktifitas perekonomian secara signifikan. hanya terpenuhi sekitar 25. Namun kenyataannya ketersediaan air ini bervariasi antara wilayah dan waktu. total air yang tersedia di Indonesia mencapai 1. Dari data neraca air tahun 2003 dapat dilihat bahwa kebutuhan air pada musim kemarau di Pulau Jawa dan Bali yang sebesar 38. 17 persen lainnya di Jawa-Bali. Upaya pemenuhan kebutuhan air di Pulau Jawa telah ditempuh melalui pembangunan sejumlah waduk besar dan sedang. dan perkotaan. dan pertanian. dan Nusa Tenggara. dengan tujuan penggunaannya terutama untuk air minum. perkotaan. dan Papua. Pulau Jawa yang luasnya sekitar 7 persen dari total wilayah daratan Indonesia hanya memiliki potensi sekitar 4. Kebutuhan air nasional saat ini terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali.000 meter kubik per kapita per tahun. air rumah tangga. semuanya mengalami kondisi di bawah normal (pola kering) saat musim kemarau sehingga dilakukan penetapan prioritas pemanfaatan air waduk. Nilai ini masih di atas nilai ratarata dunia yang hanya 8.3 miliar kubik atau hanya sekitar 66 persen. Prioritas pertama diberikan untuk air minum. Kalimantan. Lebih dari 83 persen aliran permukaan terkonsentrasi di Sumatera.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1-1 1.800 meter kubik per kapita per tahun. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa potensi kelangkaan air yang sangat besar akan terjadi di Pulau Jawa karena daya dukung sumber daya air yang segera mencapai titik kritis. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .4 miliar meter kubik. rumah tangga.957 miliar meter kubik per tahun. industri.1 LATAR BELAKANG Secara nasional. Dengan penduduk sekitar 220 juta jiwa. di pihak lain pulau ini dihuni oleh sekitar 65 persen penduduk Indonesia.

dilakukanlah kajian Prakarsa Strategis . yang diarahkan untuk merumuskan konsep pengelolaan SDA yang terintegrasi dan layak diimplementasikan. Di samping itu. 1-2 1. Mengidentifikasi dan menginventarisasi data kuantitatif banjir dan kekeringan di Pulau Jawa secara kuantitatif sesuai waktu dan spasial wilayah. Kekeringan ini telah berdampak pada menurunnya pendapatan. Dalam kaitan itu. Menemukenali alternatif-alternatif intervensi pembangunan infrastruktur dalam rangka memecahkan masalah banjir dan kekeringan. turunnya volume air di waduk mengakibatkan beberapa PLTA terpaksa beroperasi di bawah kapasitas normal. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Melakukan telaah/review atas studi-studi tentang sumber daya air yang telah dilakukan untuk Pulau Jawa serta perkembangan implementasinya. Sebagai upaya mengatasi masalah banjir dan kekeringan di Pulau Jawa pada masa depan. termasuk kebutuhan dan ketersediaan air bersih. kesulitan lapangan kerja. 4. Pada Tahun 2003 kekeringan areal sawah mencapai 430. Merumuskan kebijakan strategis pembangunan prasarana dalam rangka mengatasi banjir dan kekeringan di Pulau Jawa secara holistik.295 hektar. kekurangan pangan. dan prioritas ketiga untuk industri dan kebutuhan lainnya. Rendahnya daya dukung waduk-waduk tersebut mengakibatkan terjadinya kekeringan pada areal sawah di daerah produksi beras.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN prioritas kedua untuk irigasi tanaman pangan.696 hektar . termasuk mengalami puso seluas 82.2 TUJUAN KEGIATAN Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa bertujuan untuk: 1. serta kesulitan memperoleh air bersih bagi wilayah perkotaan. analisis dilakukan terhadap kondisi pengelolaan sumber daya air pada saat ini serta faktor eksternal yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. 2. 3.

Terdapat beberapa tahapan kegiatan yang dilaksanakan pada proses penyusunan prakarsa strategis ini. 10. inventarisasi alternatif intervensi infrastruktur. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . perumusan strategi implementasi. maupunpartisipasi berbagai swasta alternatif propinsi. 8. maupun pemeliharaan prasarana. Mengidentifikasi pemerintah. 1. perumusan mekanisme koordinasi.3 RUANG LINGKUP Arah dari prakarsa strategis ini adalah untuk melakukan analisis tinjauan dan formulasi kebijakan untuk wilayah sumber daya air di Pulau Jawa. penyusunan perangkat lunak sistem basis data. pengoperasian. Menyusun prioritas program-program pembangunan prasarana penanganan banjir dan kekeringan di Pulau Jawa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN 5. dan perumusan pedoman sosialisasi kebijakan. 9. 1-3 6. dan sumber pembiayaan untuk baik dari pemerintah pemerintah kabupaten/kota. perumusan kebijakan dan strategi implementasi makro. termasuk kebutuhan biaya serta tahapan pembangunannya. pembangunan. maupun kab/kota dalam pembangunan. Menyusun mekanisme pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan. Merumuskan pembagian kewenangan dan tanggung jawab serta mekanisme koordinasi antara instansi dan sektor terkait di tingkat pusat. antara lain: identifikasi dan inventarisasi permasalahan. Membuat sistem basis data banjir dan kekeringan termasuk konsep pengelolaan data yang berkelanjutan. perumusan prakarsa strategis. masyarakat pengoperasian dan pemeliharaan prasarana. perumusan prioritas program pengelolaan sumber daya air. provinsi. 7. perumusan konsep pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan. perumusan kebijakan pembiayaan. Merumuskan kebijakan dan strategi implementasi makro yang terintegrasi dengan berbagai sektor. analisis terhadap kajian sumber daya air.

Mojokerto # Ban gkalan Sampang Pamekasan Sumenep # # Garut # Temanggung Semarang Grobogan # Bojonegoro # # # Tasikmalaya Ciamis # #Wonosobo # #Ban jarnegara Banyumas Cilacap K. Kediri Pasuruan K. Yogyakarta # Kulonprogo Bantul # Y # # Madiun ## # Karanganyar Nganjuk # # Magetan K. Bekasi K. Probolinggo # # Situbondo Bondowoso Probolinggo # Gunungkidul Pacitan # # Trenggalek # # # K. Salatiga Sragen # K. Tegal ## # K. Malang K. Buku 2 merupakan rangkuman hasil kajian dan analisis terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. 1 Peta Orientasi Lokasi Kegiatan di Pulau Jawa dan Madura 1. Semarang ## Tegal Batang # Pekalongan Pemalang Purbalingga Y # # # # # Rembang # # Blora Tuban # # Lamongan Gresik K. Blitar # Lumajang Malang Tulungagung Blitar # # Jember # Banyuwangi Gambar 1. serta analisis kondisi defisit air di Pulau Jawa. Buku ini memuat hasil. Buku ini merupakan laporan utama hasil kajian prakarsa strategis. Surakarta Magelang Sleman Klaten # # Y # # Sidoarjo K. identifikasi masalah banjir dan kekeringan dan Pulau Jawa. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Buku menyajikan ini kondisi. serta mekanisme pemantauan dan evaluasi. BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA. Pasuruan # # # Ngawi # Kebumen # Purworejo # # K. Madiun # Sukoharjo # Jombang Mojokerto # # # Won ogiri # Ponorogo Kediri # K. Pekalongan Kudus Demak KendalK. dan strategi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa.4 KELUARAN Keluaran yang dihasilkan dari kegiatan penyusunan Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa adalah satu set yang terdiri atas tiga buku. kebijakan. 2. Bandung Sukabumi Cianjur Bandung Y # Sumedang Majalengka Kuningan Brebes K. Magelang Boyolali # # K. Cilegon # # Tangerang Serang Y # U % # K. yaitu: 1. Sukabumi # K.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN Kepulauan Seribu 1-4 Bekasi K. Dep ok # # Pandeglang # # # Karawang Indramayu # Subang Purwakarta Lebak Bogor # # # Cirebo n Jepara Pati # # K. BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN 3. Dalam buku 3 di rangkum hasil pengumpulan data selama proses penyusunan prakarsa strategis. Selain menyajikan: metode penyusunan sistem basis data dan sistematika pengolahan data. BUKU 3 BASIS DATA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA. 1-5 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pedoman penggunaan sistem basis data. sistematika pengolahan data buku ini juga memuat hasil pengumpulan data. ilustrasi pemanfaatan basis data.

1 Peta batas wilayah administrasi dan batas WS Pulau Jawa dan Madura. Malang # Ponorogo # # # # Bali Bondowoso Lumajang # Gunungkidul 8° 00' K. it ra St a nd Su 105° 00' Krakatau K. Bangkalan Pekalongan Pemalang Kendal K. 14 WS yang tersebar di Pulau Jawa dan 1 WS dalam kawasan Pulau Madura. Tegal # # # K.1 UMUM Fisik 2-1 Pulau Jawa-Madura adalah salah satu dari lima pulau besar di Indonesia. Karanganyar Sleman Klaten # # # Sukoharjo K. 6° 00' Tangerang Serang # Y # U % # # K. Kondisi ini memberi gambaran masalah daya dukung sumber daya air di Pulau Jawa-Madura sangat berpotensi untuk menjadi masalah yang paling kritis. Pulau Jawa-Madura memiliki 15 WS (Wilayah Sungai). Magelang Boyolali # # Ngawi Sidoarjo K. Semarang # SWS 0215 Sampang Pamekasan # # Sumenep # Sapudi Is. SWS 0201 Pandeglang Lebak 106° 00' Kepulauan Seribu Jakarta Bay # # 107° 00' JAKARTA 108° 00' 109° 00' 110° 00' 111° 00' 112° 00' 113° 00' 114° 00' Bawean Is. 0201 0202 0203 0204 0205 0206 0207 0208 0209 SWS Name Ciujung-Ciliman Cisadane-Ciliwung Cisadeg-Cikuningan Citarum Cimanuk Ciwulan Citanduy Pemali-Comal Serayu SWS No. Salatiga Sragen # K. Blitar Blitar Malang Yogyakarta Special Province Pacitan # Trenggalek Tulungagung SWS 0214# Jember Banyuwangi # St rai t In di an Ocean Nusa Barung Is. River. Pekalongan Kudus # # SEMARANG # # # Rembang # Y # K. Mojokerto # # # Y # SURABAYA # Tasikmalaya Banyumas Banjarnegara 0211K.1. Yogyakarta Y #YOGYAKARTA # # Kulonprogo Bantul # Wonogiri # Nganjuk East Java Province SWS 0213 Kediri # K. Probolinggo # # Situbondo Probolinggo K. Bandung Pelabuhan Ratu Bay Sukabumi Cianjur Bandung # # # SWS 0208 Tegal # # Batang Y # Demak SWS 0210 # Tuban # # Madura Is.Bakosurtanal. Pasuruan # Ma dura Str ai t SWS 0206 Ciamis Cilacap # Magelang Kebumen # # Purworejo K. 0210 0211 0212 0213 0214 0215 SWS Name Jratun Seluna Progo-Opak-Oyo BengawanSolo K. Saat ini Pulau Jawa-Madura dihuni oleh sekitar 65 persen dari total penduduk Indonesia.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 2. Cilegon Banten # Province Panaitan Is. Surakarta # # SWS 0212 Madiun # Magetan K. 9° 00' Legend: G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E S I A National Capital Provincial Capital Provincial Boundary District/ Municipality Boundary Watershed (SWS) Boundary SWS No. dengan luas sekitar 130 ribu km2 atau kurang lebih 7% dari luas daratan seluruh wilayah Indonesia.Brantas Pekalen-Sampean Madura U % Y # NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT Map No : Map Title : A5 CORRELATION BETWEEN AMINISTRATION AND WATERSHED (SWS) BOUNDARIES Source : . Depok Ja va Bekasi Karawang # # Sea TANGERANG K. Kediri Pasuruan K. Lake) Compiled by : Dr. 7° 00' SWS 0203 Garut Central Java Province SWS 0207 Purbalingga # SWS 0209 # Grobogan # Blora # Lamongan # Gresik # Temanggung # # WonosoboSWS # Semarang # Bojonegoro K. 1 : 250 000 Scale (Coastline. Madiun # # Jombang Mojokerto Nusakambangan Is. Bekasi SWS 0204 Purwakarta # Indramayu # SWS 0202 # Bogor Subang Cirebon # Jepara # West Java Province # Pati K. Sukabumi # BANDUNG Sumedang SWS 0205 Majalengka Kuningan Brebes K. Karl Peter Kucera GIS Operator : Sabdo Sumartono Date : September 2004 Gambar 2. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .1 2.

sehingga mengakibatkan musim penghujan.2. Rata-rata curah hujan pada musim penghujan dan musim kemarau (tergantung pada bulan dan letak stasiun pengamat).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Secara geografis. Di sisi utara didominasi bentukan tanah alluvial dan marine (daerah pantai) dengan kondisi kelerengan dari sedang hingga landai. Keadaan seperti ini berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April-Mei dan Oktober-November.30C sampai dengan 30’80C. Suhu rata-rata pada siang hari berkisar antara 27. di sebelah utara Pulau Jawa berbatasan dengan Laut Jawa.70C sampai 34. Secara geografis Pulau Jawa-Madura terletak antara 5° 40’ LS sampai 8° 50’ LS dan 105° 10’ BT sampai 114° 40’ BT sehingga sangat dipengaruhi oleh posisi semu matahari yang berpindah antara 23. Sebaliknya pada bulan Desember sampai dengan Maret arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan Samudra Pasifik. sebelah selatan dengan Samudera Hindia. sedangkan suhu udara pada malam hari berkisar antara 15.60C. Pada bulan Juni sampai September arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air sehingga mengakibatkan musim kemarau. Sepanjang sisi selatan pulau ini didominasi bentuk pegunungan dan penampakan fisiografis gunung gamping yang memanjang hingga ke Pulau Bali. Pulau Jawa-Madura mengalami dua musim dalam setahun yaitu musim kemarau dan penghujan. Sebagaimana wilayah Indonesia lainnya.3 knot. sebelah barat dibatasi oleh Selat Sunda dan sebelah timur dibatasi oleh Selat Bali. 2-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .5° LS sepanjang tahun yang mengakibatkan timbulnya aktivitas moonson (muson). Kecepatan angin berkisar antara 1.6 knot sampai 23. berkisar antara 0 – 800 mm untuk masing-masing bulan kering dan bulan basah.5° LU sampai ke 23. Untuk besarnya curah hujan tahunan di sepanjang Pulau Jawa-Madura bisa dilihat pada Gambar 2.

Malahayu iri Cimand SWS 0208 L. Kesamben Res. Strai t Indi an Ocean Nusa Barung I. Pembagian wilayah sungai di Pulau Jawa-Madura dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) Nomor 39/PRT/1989 yang membagi wilayah Indonesia menjadi 90 WS (note: saat ini telah berkurang satu yaitu WS Timor-Timur mengingat daerah ini tidak lagi masuk dalam Wilayah Indonesia). Mad un Wadaslintang Res Be Segara Anakn Lagoon Sempor Res. Dalam peraturan tersebut. River. Karl Peter Kucera GIS Operator : Sabdo Sumartono Date : September 2004 Gambar 2. 2 Curah hujan tahunan Pulau Jawa – Madura. Rawapening Kedungombo Res Y # ng pa S am SWS 0209 o ol Bal i 8° 00' P Yogyakarta Special Province SWS 0214 Kr. Jatiluhur Res SWS 0204 SWS 0205 wan Banga Cirata Res Se ra ng Tun ta ng Ju an a Pema li Comal ri Bo d Solo Saguling Res BANDUNG Madura I. Sam SWS 0206 SWS 0211 SWS 0212 Po ron g Ma dura Str ai t g pea n ed Sa ne n B ad u ng g un ali Cib Y # SEMARANG L. Lake) Compiled by : Dr. u Bar 9° 00' Legend: Rainfall: National Capital Provincial Capital Provincial Boundary Watershed (SWS) Boundary River Lake G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E S I A U % Y # 750 mm 1250 mm 1750 mm 2250 mm 2750 mm 3250 mm 3750 mm 4250 mm 4750 mm 5250 mm 5500 mm 6500 mm 7500 mm NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT Map No : Map Title : A23 RAINFALL AND WATERSHED (SWS) AREA Source : .Bakosurtanal.2 Pola Pengelolaan Wilayah Pulau Jawa-Madura dibagi dalam 15 wilayah sungai. Daftar wilayah sungai di Pulau Jawa-Madura dapat dilihat pada Tabel 2. Kates Res. Peraturan Menteri PU nomor 48 tahun 1990 tentang kewenangan pengelolaan dari 90 WS tersebut. 1 : 250 000 Scale (Coastline. Sebagai tindak lanjut dari Permen PU Nomor 39/PRT/1989.1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-3 105° 00' 106° 00' Ciu jung 107° 00' a Cit 108° 00' 109° 00' 110° 00' 111° 00' 112° 00' 113° 00' 114° 00' Bawean Is. Ci sad Ciliman m ru Ciliwu a it ane tr S Krakatau TANGERANG 6° 00' k a nu Cim Cipu JAKARTA ng nd a Y # U % Ja v a Se a a nag Province of Banten SWS 0201 SWS 0202 g ggarun Cisan Su Panaitan Is. telah diterbitkan beberapa peraturan yang bersifat operasional. Darma L. antara lain: 1.1. Pemerintah Daerah/Gubernur diberi kewenangan untuk mengelola 63 WS melalui tugas LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . S Cikaso Cib uni aw an Ci sa de g uy Seray u Cit and Cik aing an YOGYAKARTA L uk ul o Wa war /M edo no B og ow on to Ciw ulan ng Sermo Res go ak ro Op Cime da Br an Oyo ta s Y # Gajahmungkur Res. n Province of East Java W el an g i SWS 0213 Wlingi Res. Sa ro ka 7° 00' Province of Central Java Mrica Res L. Cacaban Y # SWS 0210 Lu SWS 0203 Province of West Java SWS 0207 si SWS 0215 SURABAYA Sapudi Is. 2.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pembantuan. pencemaran air yang semakin luas. Untuk 15 WS yang wilayahnya terletak pada lebih dari satu provinsi. sedangkan dua WS dikelola bersama antara pemerintah dan BUMN. termasuk diantaranya Indonesia. perkotaan. Masalah-masalah tersebut akan semakin parah dan masalah-masalah lain akan timbul semakin banyak apabila tidak segera dilakukan perbaikan kebijakan dalam melaksanakan program strategis untuk 2-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Peningkatan persaingan penggunaan air antar sektor (domestik. peraturan perundang-undangan yang tidak memadai. Hasil kajian global kondisi krisis air dunia yang disampaikan dalam World Water Forum II di Denhaag bulan Maret tahun 2000 lalu memperingatkan bahwa akan banyak negara yang mengalami krisis air pada tahun 2025. lahan. Sejalan dengan dinamika pembangunan tersebut. pola hidup dan pola perekonomian. 2. pengelolaan dan pengaturan sumber daya air yang mantap − diperkirakan semakin menurun yang terlihat dari bertambahnya kesenjangan antara ketersediaan air dan kebutuhan air untuk berbagai keperluan. maka hal ini tidak luput dari masalah perubahan tata ruang. kewenangan pengelolaannya masih tetap dilakukan oleh pemerintah pusat. khususnya Pulau Jawa-Madura. pemakaian air yang tidak efisien dan fluktuasi debit antar musim yang semakin tinggi. Krisis air ini lebih banyak disebabkan oleh kelemahan dalam hal kelembagaan terkait pengelolaan sumber daya air. industri dan irigasi) pun terjadi di berbagai wilayah administrasi maupun wilayah sungai. Pulau Jawa-Madura sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Peraturan Menteri PU nomor 49 tahun 1990 tentang aspek-aspek pengelolaan sumber air termasuk prosedur perijinan pemakaian air. pertumbuhan penduduk dan pusat pemerintahan Indonesia mengalami pembangunan yang pesat di berbagai sektor sehingga tuntutan masyarakat akan penggunaan sumber daya air juga terus berkembang. yaitu WS Brantas oleh Perum Jasa Tirta I dan WS Citarum oleh Jasa Tirta II (Jatiluhur). Perubahan tersebut berpengaruh pula terhadap potensi sumber daya air yang − apabila tidak disertai dengan perencanaan.

Ciangan K. Kasuncang S. Babakan S. Cisadeg S.06 Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Cipunegara S. Lemahabang S. Cibanten S.05 Cimanuk 6 Jawa Barat 02. Ciliwung K. Citarik S. Cisadane S. Cisekat S. Ciujung S.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengelola air secara lebih efisien dan adil serta mengutamakan azas konservasi. Cibeet K.04 Citarum 5 Jawa Barat Jawa Tengah 02. Cikuningan S. Cidanau S. Cisanggarung S. Cipanas S. Bekasi S. Cipucung K. Cihara S. Cimanuk S. Cikarang S. Ciasem S.02 Ciliwung-Cisadane 3 Jawa Barat 02. Cipunegara S.01 Nama Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai S. Ciwaringin S. 1 No. Cilamaya S.03 CisadeaCikuningan 4 Jawa Barat 02. Cimanedu S. Cibuni S. Cibareng S. Cilangkanan S. Cisilih S. Tabel 2. Citarum S. 1 Provinsi Jawa Barat Daftar Pembagian Wilayah Sungai di Pulau Jawa-Madura Kode WS 02. Pengandungan K. Cimaragon 2-5 2 Jawa Barat DKI Jakarta 02. Cilangkap S. Cidurian S. Ciletuh S. Ciliman S. Cikondang S. Cibungur S. Cilalanang S. Cikarang S. Cisokan S.

07 Citanduy 8 Jawa Tengah 02. Cihaur S.10 Jratun Seluna 11 Jawa Tengah DIY 02. Tuntang S. Cisanggiri S. Lusi S. Lorong S. Progo K. Citanduy S. Punyu 2-6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pemali S. Grindulu S.12 Bengawan Solo 13 Jawa Timur 02. Santun K. Serayu S. Bogowonto B. Waluh S. Oyo S. Ciwulan S. Solo S. Bodri K. Jragung S.11 Progo-Opak-Oyo 12 Jawa Tengah Jawa Timur 02. Sondang K. Cipungun S. Cacaban S. Randuguntini K. Cakrayasan K. Brantas K. Ijo S. Cimeneng S. Klampok S. Cibeureum S. Opak K.08 Pemali Comal 9 Jawa Tengah 02. Provinsi Kode WS Nama Wilayah Sungai 7 Jawa Barat Jawa Tengah 02. Cilaki S. Garang K. Wungu S. Code K.09 Serayu 10 Jawa Tengah 02. Geneng S. Brantas Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai S.13 K. Semarang K. Semawon S. Semawun K. Bebek S. Juana S. Serang S. Sengkang S. Cikonde S. Anyar K. Sambong S.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No. Bengawan S. Lamong S. Comal S. Lukulo S.

Barigo K. Rajak K. Bondoyudo K. Putih K. Widas K.14 Pekalen Sampean 15 Jawa Timur 02. listrik tenaga air.15 Madura Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai K. Benca 2-7 Sumber: Departemen Pekerjan Umum Saat ini pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa-Madura dilakukan oleh beberapa Balai PSDA yang dibentuk melalui Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. Pacung K. Banyuputih K. Penyediaan air baku untuk berbagai keperluan (pertanian. Saropa K. Baru K. Jatiroto K. Rangko K. Tugas pokok dan fungsi Balai PSDA adalah melaksanakan sebagian fungsi Dinas di bidang pengelolaan sumberdaya air. industri.) sejak Tahun Anggaran1994/1995. Tangkil K Deluwang K. pariwisata. Sampean K. Balega K. sebagai salah satu komponen dari Java Irrigation and Water Management Project (JIWMP) yang didanai oleh Bank Dunia (Loan 3762-Ind. air minum. Kegiatan Balai PSDA ini merupakan kelanjutan dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Satuan Tugas (SATGAS) PSDA yang dibentuk dibawah pekerjaan Basin Water Resources Management (BWRM). Pekalen K. Sampang K. Urusan-urusan yang menjadi lingkup tugas dan tanggung jawab Balai PSDA adalah: 1. dll). Konto K. Provinsi Kode WS Nama Wilayah Sungai 14 Jawa Timur 02. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pengelolaan irigasi lintas kabupaten/kota 2. Rejoso K. Gembong K.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No. Larus K.176/1996 tentang Pedoman Pembentukan UPTD/Balai PSDA. pelabuhan.

Pengendalian banjir dan penanggulangan kekeringan 6. 2. pemeliharaan sungai dan infrastrukturnya. Pengelolaan Hidrologi 3. Balai Progo-Opak-Oyo dan Balai Sampean Baru. Pelaksanaan operasional konservasi/pelestarian air dan sumber air. Namun demikian kegiatan yang dilakukan oleh 19 balai tersebut sedikit berbeda. perlengkapan. Dalam perkembangannya. Pada 19 Balai lainnya di Pulau Jawa kegiatan yang telah dilakukan antara lain : 1. Kelima Balai tersebut umumnya telah melakukan sebagian besar tugas-tugas pengelolaan sumberdaya air seperti yang telah diuraikan diatas. Pelaksanaan pelayanan teknis administrative ketatausahaan yang meliputi urusan keuangan. jumlah Balai PSDA di Pulau Jawa bertambah 19 buah menjadi 24 buah pada tahun 2001. waduk. Secara selektif beberapa Balai melakukan kegiatan alokasi air. Sebaran jumlah Balai PSDA tersebut menurut propinsinya adalah sebagai berikut: operasional pelayanan kepada masyarakat di bidang 2-8 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3. pengendalian kualitas air. Pengelolaan database/GIS (sebagian) 4. Untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut di atas. Balai Cimanuk Cisanggarung. Pengendalian pencemaran air 8. Pengelolaan irigasi lintas Kabupaten 2. 3. Perlindungan pantai 9. Balai PSDA mempunyai 3 fungsi utama yakni : 1. embung 5. Perlindungan muara dan delta. situ. Pengelolaan sungai 4. Pengelolaan danau. pengelolaan banjir. Pengelolaan rawa 7. Pada awalnya di Pulau Jawa Balai PSDA yang berupakan ex Satgas PSDA berjumlah 5 buah yakni : Balai Ciujung Ciliman. Balai Jratunseluna. kepegawaian. Pelaksanaan pengairan.

185.481 desa. Seperti halnya dengan provinsi lain yang berada di Pulau Jawa. Penduduk laki-laki : 4. 5 Balai PSDA 4. Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.987.46% dari luas total daratan Indonesia.666 jiwa. 1 Balai PSDA 2. Laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2000-2003 adalah sebesar 3. Penduduk terbanyak di Provinsi Banten ada di Kabupaten Tangerang. dan Penduduk perempuan : 4.2 BANTEN Provinsi Banten merupakan provinsi paling muda di Pulau Jawa yang baru terbentuk pada bulan Oktober 2000. 2-9 2. teknik maupun keuangan.642 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 2 kota. luas wilayah administrasi Banten hanya sekitar 0. jumlah penduduk di Provinsi Banten pada tahun 2003 adalah 8. Jumlah rumah tangga dan penduduk menurut jenis kelamin di Banten tahun 2003 adalah sebagai berikut: Rumah tangga : 1. Mandiri yang dimaksud disini diartikan merupakan unit yang mampu melakukan pengelolaan sumber daya air secara profesional baik secara administratif. Sedangkan jumlah penduduk terkecil (326.944 jiwa). Propinsi Banten.89 (data BPS Provinsi Banten).185. (3. Dari angkatan kerja yang berjumlah 3.563. Propinsi Jawa Timur. Sex ratio penduduk di Banten pada tahun 2003 adalah 103.563 jiwa. diharapkan ke masa yang akan datang mampu melakukan pengelolaan unit yang mandiri.651 km2. 5 Balai PSDA 3.229 jiwa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 1.858. masalah yang dihadapi adalah kepadatan penduduk. Menurut data BPS.392. Propinsi Jawa Tengah. di provinsi ini kepadatan penduduk mencapai 1.48 %.324 jiwa) berada di Kota Cilegon. 124 kecamatan dan 1. Provinsi Banten mempunyai luas 8. 2 Balai PSDA 5. Dahulu Banten merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Propinsi Jawa Barat.422 KK.831 jiwa terdapat penduduk bekerja sebanyak 3. 9 Balai PSDA Balai PSDA sebagai unit yang diserahi tugas pelayanan di bidang sumber daya air dan konservasi sumber daya air.956.018 jiwa per km2 tersebar dalam 4 kabupaten.

yaitu: WS CiujungCiliman.189 jiwa sedangkan yang bukan angkatan kerja berjumlah 3.3 mm : 82. Lebak. Di Wilayah Provinsi Banten terdapat 3 Wilayah Sungai. Balai PSDA CiujungCiliman adalah satu-satunya balai di Banten.148. WS Ciliwung-Cisadane.90C : 31.367 orang.2 0C : 147. Pendeglang. dengan wilayah kerja meliputi Kabupaten Serang. 176 tahun 1996 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA sudah ditindaklanjuti dengan terbitnya peraturan-peraturan daerah Provinsi Banten. Pengelolaan sumber daya air di provinsi Banten juga dilakukan melalui Proyek Pengelolaan Sumber Air Dan Pengendalian Banjir (PSAPB) Ciujung-Ciliman LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . yang dibentuk melalui Keputusan Mendagri No. menghadap Laut Jawa dan Samudera Hindia sehingga sangat dipengaruhi oleh angin laut.5 m/dt 2-10 Provinsi Banten berada di ujung barat Pulau Jawa. Tangerang dan Kota Cilegon. diketahui kondisi iklim Provinsi Banten sebagai berikut: suhu udara rata-rata maksimum suhu udara rata-rata minimum Curah hujan rata-rata Kelembaban udara rata-rata Kecepatan angin rata-rata : 22.2% : 2. Pengelolaan sumber daya air di Banten dilakukan oleh Balai PSDA CiujungCiliman. Berdasarkan data di stasiun OBS (Observation Station) Badan Metereologi dan Geofisika Provinsi Banten. Dari ketiga WS tersebut yang paling besar wilayahnya di Provinsi Banten adalah WS CiujungCiliman yang sekaligus menjadi sumber daya air utama untuk Provinsi Banten. dan WS Cisadea-Cikuningan. berlokasi di Serang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA jiwa orang dan yang mencari pekerjaan sebanyak 673. Hal tersebut mengakibatkan hampir sepanjang tahun wilayah Banten mengalami udara lembab dan memiliki curah hujan yang cenderung lebih tinggi daripada provinsiprovinsi lain di Pulau Jawa.

air industri. pariwisata maupun pengendalian banjir dan lain sebagainya. air minum.3 DKI JAKARTA Kota Jakarta.70C pada siang hari dan suhu udara minimum berkisar 260C pada malam hari. Program pengembangan dalam proyek ini dimaksudkan untuk memanfaatkan secara maksimal sumber daya air guna meningkatkan taraf hidup masyarakat. Wilayah DKI memiliki sekitar 27 buah sungai dan ± 110 buah pulau yang tersebar di Kepulauan Seribu. kota paling padat di Indonesia. baik penyediaan air untuk kebutuhan pertanian. 2-11 2. sedangkan di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Nomor : 19/KPTS/A/1994 tanggal 19 April 1994 Tentang Pembentukan Badan Pelaksana Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman.52 km2 dan yang berupa lautan seluas 6.5 m/det.9 mm. Pada tahun 2002 dibentuk Proyek Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai (PBPP) Ciujung-Ciliman sebagai pengganti Proyek PSAPB. Sementara di sebelah selatan dan timur DKI Jakarta berbatasan dengan wilayah Provinsi Jawa Barat. Kota Jakarta secara umum beriklim panas dengan suhu udara maksimum berkisar 28.4%. Daerah di bagian selatan dan timur Jakarta terdapat rawa/situ dengan total luas mencapai 96.288. Sementara itu curah hujan mencapai 2. sebelah barat dengan Provinsi Banten.5 km2.5 Ha. dan kecepatan angin rata-rata mencapai 3. Kedua bagian wilayah ini cocok digunakan sebagai daerah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . DKI Jakarta memiliki pantai di sebelah utara yang membentang dari barat sampai ke timur sepanjang ± 35 km yang menjadi tempat bermuaranya 9 buah sungai dan 2 buah kanal. tingkat kelembaban udara mencapai 76.977. Berdasarkan SK Gubernur Nomor 1227 Tahun 1989. terletak pada 6°12’ LS dan 106°48’ BT. merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata ± 7 m diatas permukaan laut. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta yang berupa daratan seluas 661.

Jumlah pencari kerja berdasarkan data Sakernas BPS DKI Jakarta tahun 2003 tercatat sebanyak 589. dimana 319. Sedangkan status kewarganegaraanya terdiri dari WNI sebanyak 7. 22.37 %) dan sebagai pekerja keluarga (3. sehingga menjadikan provinsi ini sebagai provinsi dengan wilayah terpadat penduduknya di Indonesia.3 ribu jiwa per km2. masing-masing sebesar 36.46 juta jiwa. Berdasarkan status pekerjaannya. Akan tetapi dalam memenuhi kebutuhan sumber daya air.97 juta orang dan 2. sebagian besar (67.71 ribu jiwa. Dari jumlah tersebut penduduk laki-laki lebih banyak dari penduduk perempuan. Selebihnya berstatus sebagai pengusaha (29. Kepadatan penduduk Provinsi DKI Jakarta Tahun 2003 dapat dilihat pada Tabel 2.59 juta orang.05%). jasa dan industri.74% dan 19. tercatat sebanyak 7. seperti yang tampak dari sex ratio yang lebih besar dari 100. Dengan iklimnya yang lebih sejuk bagian wilayah ini juga ideal dikembangkan sebagai wilayah pemukiman penduduk. Kegiatan penduduk usia 15 tahun keatas dapat dibedakan menjadi angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Keseluruhan sumber daya air dalam wilayah administrasi DKI Jakarta termasuk dalam wilayah kerja Balai PSDA Ciliwung-Cisadane (di bawah Provinsi Jawa Barat). terutama untuk air baku.45 juta jiwa dan WNA sebanyak 4. Pada tahun 2003 jumlah penduduk DKI Jakarta.2. kepadatan penduduknya mencapai 11. Sedangkan yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja 342.7 ribu orang. yang masing-masing berjumlah 3. DKI Jakarta lebih mengandalkan pada Kanal Tarum Barat yang menyediakan air baku dari sungai Citarum melalui Bendung Curug.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA resapan air. Kebanyakan dari mereka yang bekerja berkecimpung di sektor perdagangan. Dengan luas wilayah hanya 661.2 ribu orang.58%.38 juta orang dan yang mencari pekerjaan sebanyak 589.85%.58 %) bekerja sebagai buruh.7 ribu orang pencari kerja yang masih belum 2-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .5 km2. Selanjutnya dari angkatan kerja tersebut terdapat penduduk bekerja sebanyak 3.7 ribu orang.

555 2. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .52 Penduduk 1.426 8.616 11.71 661. sekitar 1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ditempatkan. Provinsi Banten.83% dari luas Indonesia.456.6 ribu orang.586 897.597 km2. sedangkan pencari kerja yang berhasil ditempatkan sebanyak 14.567.267 1.157 18. 2 Luas Wilayah.30 11.15 142. Provinsi Jawa Tengah.73 187.4 JAWA BARAT Provinsi Jawa Barat mempunyai luas wilayah 34.941 1. 2-13 Tabel 2.272 2.931 Kepadatan Penduduk/(km2) 11. serta dataran tinggi bergunung-gunung ada di kawasan tengah.676 11. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk DKI Jakarta 2003 No 1 2 3 4 5 6 Kotamadya Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kepulauan Seribu TOTAL Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Luas (km2) 145.70 50’ Lintang Selatan dan 1040 48’-1080 48’ Bujur Timur.355 18. Jawa Barat mempunyai iklim tropis dengan curah hujan rata-rata 156. sedangkan kawasan selatan berbukit-bukit dengan sedikit pantai.094.73 47. Posisi geografis Jawa Barat tersebut sangat strategis sehingga memberikan keuntungan bagi Jawa Barat terutama dari segi komunikasi dan perhubungan. Samudera Hindia.4 mm.571 1.746 12.701. Kawasan utara Jawa Barat merupakan daerah dataran rendah.923 7. dengan batas-batas wilayahnya sebagai berikut: Sebelah utara Sebelah timur Sebelah selatan Sebelah barat : : : : Laut Jawa dan DKI Jakarta.176.90 126. Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 50 50’ .

WS Ciujung-Ciliman. Sukabumi. Cianjur. Garut. Balai PSDA Cimanuk-Cisanggarung Ciliwung-Cisadane Cisadea-Cikuningan Citarum Domisili Cirebon Bogor Sukabumi Bandung Wilayah Kerja Cirebon. WS Citarum. Indramayu. Subang. Bandung dan Kota Sukabumi. dan sebagian Bandung. Purwakarta. Sumber daya air di Provinsi Jawa Barat dibagi dalam 7 (tujuh) satuan wilayah sungai. Selain itu. WS Ciwulan. Hal ini menyebabkan sebagian besar dari luas tanahnya cocok digunakan untuk pertanian.3 menggambarkan pembagian wilayah kerja yang dicakup oleh kelima Balai PSDA. Ciamis. Citanduy-Ciwulan Tasikmalaya Kebijakan pemerintah provinsi Jawa Barat dalam pengelolaan sumber daya air. 2 Tahun 2003 tentang RTRW Propinsi Jawa Barat 2010. Bogor. Majalengka. 3 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Barat No. dituangkan dalam Perda No. 3. WS Citanduy. yaitu: 1. Perda tersebut berisi kebijakan untuk meningkatkan fungsi dan kualitas LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kuningan dan kota Cirebon. serta tekanan udara rata-rata sebesar 922.3 mb. 6. Majalengka. Jawa Barat memiliki lahan subur yang berasal dari endapan vulkanis serta banyak aliran sungai. Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 5 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Barat Tabel 2. 7. 1. Cianjur. 2. 5. 2-14 5. Karawang. Bekasi dan Kota Depok. Subang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dengan jumlah hari hujan rata-rata tiap bulannya sekitar 15 hari. 3. 4. Kuningan. Bogor. Tabel 2. WS Cimanuk-Cisanggarung. Tasikmalaya. Kota dan Kabupaten Bandung.20C dengan tingkat kelembaban udara ratarata sebesar 76%.80C sampai 29. 4. Garut. WS Cisadea-Cikuningan. 2. Indramayu. WS Cisadane-Ciliwung. Cianjur. Kota dan Kabupaten Bekasi. DKI Jakarta. sehingga Provinsi Jawa Barat ditetapkan sebagai lumbung pangan nasional. Suhu udara berkisar antara 18.

Kota Bandung merupakan kota terpadat . partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan 2-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pengamanan.23 orang per km2. Pengembangan Lindung. Dengan jumlah penduduk tersebut kepadatan penduduk Jawa Barat mencapai 1. yaitu sebesar 13. termasuk kawasan lindung di Kawasan Bodebek dan Bopunjur.5 juta orang) dan Kabupaten Bogor (3.7 juta orang). Rehabilitasi lahan konservasi termasuk rehabilitasi lahan-lahan kritis. (4. 1. Sedangkan yang jumlah penduduknya terkecil adalah Kota Sukabumi (26 ribu orang). 9 Kota.96%. 561 kecamatan.48 orang per km2. Proporsi pekerja menurut lapangan pekerjaan merupakan salah satu ukuran untuk melihat potensi sektor perekonomian dalam menyerap tenaga kerja. 4.978 desa.794 kelurahan dan 3.57% dan industri 16.53 orang per km2.87% kemudian diikuti oleh perdagangan 22.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kawasan lindung di Jawa Barat. Hal lain dapat pula mencerminkan struktur perekonomian suatu wilayah. 2. sedangkan yang terendah Kabupaten Cianjur hanya sebesar 685. Secara administratif Provinsi Jawa Barat terdiri dari 16 Kabupaten.324. Pengukuhan kawasan lindung agar tercapai target luasan kawasan lindung hutan dan non hutan untuk seluruh Jawa Barat sebesar 45%. yaitu: 1. Pengawasan. Kebijakan dijabarkan dalam beberapa program. 3. Jumlah penduduk Jawa Barat pada tahun 2003 mencapai 37. Pada tahun 2003 sektor pertanian tetap merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja yaitu 34. dan pengaturan pemanfaatan sumber daya.98 juta orang. serta. Wilayah kabupaten dengan penduduk terbanyak di Jawa Barat ada pada Kabupaten Bandung.270.

837 mm dan hari hujan terbanyak tercatat di Stasiun Metereologi Cilacap sebesar 203 hari. Curah hujan tertinggi tercatat di SMPK (Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus) Bojongsari Purwokerto sebesar 2. Pos klimatologi sebanyak 72 buah. Pos pengamat tinggi muka air (AWLR) sebanyak 176 buah.04% dari luas Pulau Jawa atau sekitar 1. Bengawan Solo dan Serayu. Kelembaban udara rata-rata bervariasi antara 77% sampai dengan 88%. c. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sekitar 25. yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Tempat-tempat yang letaknya berdekatan dengan pantai mempunyai suhu udara rata-rata relatif tinggi. Untuk mendapatkan data yang lebih baik dari waktu ke waktu.25 juta hektar. Jarak terjauh dari batas barat ke timur adalah 263 km dan dari batas utara ke selatan 226 km (tidak termasuk kepulauan Karimunjawa). Menurut stasiun klimatologi kelas I Semarang. b. JratunSeluna. Pos pengamat hidrologi tersebut dibangun oleh Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah maupun departemen lain. Pos pengamat curah hujan sebanyak 964 buah. Sampai saat ini pos pengamat hidrologi yang telah ada meliputi: a.5 JAWA TENGAH Posisi provinsi Jawa Tengah sebagai diapit oleh dua Provinsi besar lainnya. Luas wilayah Provinsi Jawa Tengah adalah sebesar 3. suhu udara rata-rata di Jawa Tengah tahun 2002 berkisar antara 170C sampai dengan 290C. Secara geografis Provinsi Jawa Tengah terletak antara 50 40’ dan 80 30’ LS dan antara 1080 30’ dan 1110 30’ BT (termasuk kepulauan Karimunjawa).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-16 2. Jaringan pos pengamatan hidrologi di wilayah Provinsi Jawa Tengah telah dikembangkan sejak tahun 1976 yang tersebar di seluruh daerah aliran sungai. Secara administratif Provinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota. maka pada tahun anggaran 1999/2000 telah dimulai pelaksanaan rasionalisasi Pos Hidrologi di WS Pemali-Comal.70% dari luas Indonesia.

dan sebagian Kabupaten Blora. 7. 3. yaitu: 1. Kabupaten Purworejo. Kabupaten Karanganyar. 2. Balai PSDA Jragung-Tuntang Domisili Semarang Wilayah Kerja Kota dan Kabupaten Semarang. 6. WS Jratun-Seluna. Kabupaten Sukoharjo. 5. meliputi Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Kudus. 1. WS Serayu.4 berikut ini. sebagian Kabupaten Kendal. sebagian 2. 2-17 Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 6 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Tengah dengan pembagian wilayah kerja sebagaimana tercantum pada Tabel 2. Kota Magelang. sebagian Kabupaten Batang dan Pemalang. sebagian Kabupaten Sragen. Tabel 2. sebagian Kabupaten Demak. Kabupaten Brebes. sebagian Kabupaten Temanggung. sebagian Kabupaten Rembang. Kabupaten Grobogan. Pemali-Comal Tegal 3. sebagian Kabupaten Demak dan Kota Salatiga. Kota Surakarta. 4. WS Cimanuk. sebagian Kabupaten Pati dan sebagian Kabupaten Blora. WS Progo-Opak-Oyo. Kabupaten Magelang. WS Citanduy.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sumber daya air di Provinsi Jawa Tengah dibagi dalam 7 (tujuh) satuan wilayah sungai. sebagian Kabupaten Boyolali. sebagian Kabupaten Grobogan. Kota dan Kabupaten Tegal. Progo-BogowontoLukulo Kutoarjo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . WS Pemali-Comal. Serang-Lusi Juwana Kudus 4. Kabupaten Jepara. Kabupaten Klaten. WS Bengawan Solo. 4 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Tengah No. Bengawan Solo Solo 5. sebagian Kabupaten Sragen.

Pada tahun 2003.58% dibanding tahun sebelumnya.74 juta orang atau naik sebesar 0. angkatan kerja di Jawa Tengah tahun 2002 mencapai 15. sebagian Kabupaten Wonosobo dan sebagian Kabupaten Kebumen. jumlah penduduk Jawa Tengah tahun 2002 tercatat sebesar 31.42 juta jiwa. Pertumbuhan penduduk tiap tahun akan berpengaruh terhadap pertumbuhan angkatan kerja. penduduk banyak yang bermukim di daerah perkotaan. Balai PSDA Domisili Wilayah Kerja Kabupaten Temanggung. Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Cilacap Berdasarkan Data BPS. sebagian Kabupaten Wonosobo. sebesar 99%. sebagian Kabupaten Kebumen. Dengan angka ini. Penduduk Jawa Tengah belum menyebar secara merata di seluruh wilayah Provinsi Jawa Tengah. merupakan potensi sumberdaya manusia yang sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan menyongsong era globalisasi. tingkat partisipasi angkatan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tenaga kerja yang terampil. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No.69 juta jiwa atau sekitar 15% dari jumlah penduduk Indonesia. Kabupaten Banjarnegara. Hal ini ditunjukkan oleh rasio jenis kelamin (rasio jumlah pendududuk lakilaki terhadap jumlah penduduk perempuan). Rata-rata kepadatan penduduk Jawa Tengah tercatat sebesar 974 jiwa setiap kilometer persegi. 2-18 6. jumlah penduduk Jawa Tengah diperkirakan meningkat mejadi sebanyak 32. Jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk lakilaki. Umumnya. Ini menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi ketiga di Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak di samping Jawa Timur dan Jawa Barat. Serayu-Citanduy Purwokerto Kabupaten Banyumas. Wilayah terpadat adalah kota Surakarta dengan tingkat kepadatan sekitar 11 ribu orang setiap kilometer persegi.

36%. Kabupaten Magelang : : : : di sebelah timur laut. di sebelah tenggara. di sebelah barat laut. sedangkan dibagian timur laut.35% dan 17.90%.60%. yakni 30. Kabupaten Wonogiri c.52%. 2-19 2.6 DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salah satu provinsi dari enam provinsi di wilayah Indonesia dan terletak di Pulau Jawa bagian tengah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kerja penduduk di Jawa Tengah tercatat sebesar 60. Kabupaten Purworejo d.15%. Sektor lain yang cukup banyak menyerap pekerja adalah sektor perdagangan dan sektor industri. sebagian besar angkatan kerja bekerja sebagai buruh/karyawan. tenggara barat dan barat laut dibatasi oleh wilayah Provinsi Jawa Tengah yang meliputi : a. Sebanyak 67% angkatan kerja adalah berpendidikan tidak/belum tamat Sekolah Dasar. Secara geografis posisi Daerah Istimewa Yogyakarta terletak antara 70 33’ . di sebelah barat. pekerja bebas pertanian dan non pertanian sebesar 10. Kabupaten Klaten b.56%. Sektor pertanian memiliki porsi 42% pekerja dan merupakan sektor terbanyak yang menyerap tenaga kerja. Sedangkan angka pengganguran terbuka di Jawa Tengah relatif kecil. masing-masing tercatat sebesar 19. berusaha sendiri tanpa dibantu orang lain sebesar 18. Berdasarkan satuan fisiografis.31% dan pekerja tak dibayar 17. yaitu sebesar 6. Ditinjau menurut status pekerjaan utamanya. Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari: LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .07%. Sedangkan yang berusaha dengan dibantu anggota rumah tangga dan buruh tetap/tidak tetap tercatat sebesar 23.80 12’ LS dan 1100 00’ – 1100 50’ BT. Daerah Istimewa Yogyakarta di bagian selatan dibatasi Samudra Hindia.

10. Dataran rendah antara Pegunungan Selatan dan Pegunungan Kulon Progo. 11.640C.80 km2 luas D. dan 1. Sebagian besar wilayah D.04%) (1. merupakan provinsi terkecil di Indonesia setelah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. dari 3. 35. : 0-80 m.25 km2.81 km2. 27.340C.94% jenis tanah Lathosol.185. Luas Ketinggian DIY tercatat memiliki luas 3.94% merupakan jenis tanah Lithosol.656. Pegunungan Kulon Progo dan Dataran Rendah Selatan. : 150-700 m. Luas Ketinggian 4.27% jenis tanah Mediteran.42% jenis tanah Regosol. Menurut catatan Stasiun Metereologi Bandara Adisucipto.I Yogyakarta. Pegunungan Selatan. 2. suhu udara rata-rata di Yogyakarta tahun 2003 adalah 26. Kabupaten Gunung Kidul : dengan luas Berdasarkan informasi dan BPN. : ± 582.25 km2.82 32.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 1.I Yogyakarta terletak pada ketinggian antara 100 499 m dari permukaan laut. Kabupaten Bantul d. Luas Ketinggian 3. Gunung Berapi Merapi. dengan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Sleman e. 10. : ± 706.8790. : 0-572 m. Kabupaten Kulon Progo b. 2-20 2.185.40%) (15.85 1. yang terdiri dari: a. Kota Yogyakarta : dengan luas : dengan luas : dengan luas : dengan luas 586.80 km2 atau 0. : 80-2.27 506.45% jenis tanah Grumusol.24% jenis tanah Alluvial. Daerah Istimewa Yogyakarta beriklim tropis dengan curah hujan berkisar antara 7 .62 km2.91%) (46. : ± 215.754 km2).74% adalah jenis tanah Rensina.50 km2 km2 km2 km2 km2 (18.911 m.17% dari luas Indonesia (1. Luas Ketinggian : ±1.36 574.02%) c.380 mm yang dipengaruhi oleh musim kemarau dan musim hujan.63%) (18.485. lebih rendah dibandingkan rata-rata suhu udara pada tahun 2002 sebesar 27.

61%. yakni masing-masing sebesar 2. tekanan udara berkisar antara 1.385 jiwa. 2. Sungai Serang Sungai-sungai tersebut dikelola oleh 2 Balai PSDA yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana dijelaskan pada Tabel 2.7 mb. dan kecepatan angin antara 0. Pertumbuhan penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2003 adalah 1. Kelembaban udara berkisar antara 34-95%.82% dan 1. Sungai Opak-Oyo 3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA suhu maksimum 34.48%. relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya.26% dan persentase jumlah penduduk laki-laki sebesar 49. dengan persentase jumlah penduduk perempuan sebesar 50.79%. Sermo Yogyakarta Jumlah penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta tercatat 3.015.74%.9-1.52% dan penduduk yang tinggal di daerah pedesaan mencapai 42. Gunung Kidul dan Sleman terlihat memiliki angka pertumbuhan di atas angka rata-rata provinsi. Kabupaten Bantul. Balai PSDA Progo-Opak-Oyo Domisili Yogyakarta Wilayah Kerja Kabupaten Sleman. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 1.5 berikut ini. 2-21 Tabel 2. 1.48%. Sungai Progo 2.1 knot sampai dengan 20 knot.207. Sungai besar yang menjadi potensi sumber daya air di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berjumlah 3 buah. 5 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di DI Yogyakarta No.005. yaitu: 1. Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunung Kidul Kabupaten Kulon Progo. persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan mencapai 57. Kota Yogyakarta.600C dan suhu minimum 180C. dengan arah angin antara 195-205 derajat. Sedangkan menurut daerah pemukiman.

17% laki-laki dan 47. Timur c. Berdasarkan lapangan usaha utama.75%. sedangkan wilayah yang tingkat kepadatan penduduknya terendah adalah Kabupaten Gunung Kidul yang dihuni rata-rata 462 jiwa per km2.20%. serta 5.029 jiwa per km2. Selatan d.007 jiwa per km2.44%.95% setingkat Diploma.46% adalah SLTP dan sisanya 1.84%. Sarjana Muda dan Sarjana.27%. Kepadatan penduduk tertinggi terjadi di Kota Yogyakarta yakni 12. berbatasan dengan Samudera Indonesia berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . adalah sebagai berikut. Utara b.16% merupakan bukan angkatan kerja.80 km2.18% dan sisanya sebesar 13. Sisanya sebesar 36. Mereka terdiri dari 52. teriri dari mereka yang masih sekolah. pada sektor industri sebesar 12. jumlah penduduk yang pekerjaannya bergerak pada sektor pertanian memiliki persentase 37.26 % dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 106. berbatasan dengan Selat Bali.923 orang.185.881 orang. Dari jumlah tersebut 58. 2-22 2. Batas-batas daerah pada provinsi ini adalah sebagai berikut: a.69%. 34.15%.42% berpendidikan setingkat SLTA.17% berpendidikan SD. 11. pada sektor perdagangan sebesar 19. mengurus rumah tangga dan lainnya dengan proporsi masing-masing sebesar 20. Gambaran tenaga kerja di sektor swasta berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. kepadatan penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta sekitar 1.63% sudah bekerja dan sebesar 5. terdiri dari 58.7 JAWA TIMUR Secara geografis Provinsi Jawa Timur terletak pada posisi 1110 0’ BT hingga 1140 4’ BT dan 70 12’ LS hingga 80 48’ LS.83% perempuan. Barat : : : : berbatasan dengan Laut Jawa. menurun sekitar 11.21% sedang mencari pekerjaan. Persentase angkatan kerja penduduk DIY adalah 63.48% bekerja di sektor-sektor lainnya. Jumlah pendaftar pencari kerja pada tahun 2003 sebanyak 94. pada sektor jasa sebesar 17. dan 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dengan luas wilayah sekitar 3.

6%. dengan kelembaban berkisar antara 32% sampai 98%. Sungai besar di Jawa Timur antara lain Kali Brantas yang panjangnya 98 km dan Bengawan Solo dengan panjang 273 km. 4.10C). WS Madura. yaitu: 1. WS Brantas. Suhu udara tertinggi di Jawa Timur pada tahun 2003 terjadi pada bulan November (35. WS Pekalen-Sampean.428. Luas wilayah Jawa Timur Daratan hampir mencakup 90% dari luas Provinsi Jawa Timur. 3. yaitu Jawa Timur Daratan dan Kepulauan Madura. Provinsi Jawa Timur memiliki 11 (sebelas) gunung berapi yang aktif. Wilayah provinsi Jawa Timur yang luasnya 46. dengan rata-rata lama penyinaran matahari 52% dan 41. Sumber daya air di Provinsi Jawa Timur terbagi dalam 4 (empat) satuan wilayah sungai.60C) dan terendah pada bulan Juli (18. WS Bengawan Solo. 2. sedangkan luas Kepulauan Madura hanya sekitar 10%.57 km2 secara administrasi terbagi ke dalam 29 Kabupaten dan 9 Kota. Mendung paling banyak terjadi di bulan Februari dan Desember. 2-23 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .6 berikut ini. Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 9 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Timur sebagaimana dijelaskan pada Tabel 2. wilayah Jawa Timur dapat dibagi dalam 2 bagian besar. Sedangkan curah hujan yang cukup tinggi terjadi pada bulan Januari sampai dengan April. disamping sungai yang cukup besar.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Secara umum. dengan anak-anaknya sebanyak 36 sungai.

Tuban. BuntungPaketingan Lamongan 4. Bondowoso 7. Sidoarjo. jumlah penduduk Provinsi Jawa Timur tahun 2003 sebesar 36. sebagian Malang. Mojokerto. Pacitan. Blitar. Lamongan dan Gresik. 6 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Timur No.206 juta jiwa dengan pertumbuhan sebesar 1. Jember dan sebagian Malang. Kabupaten Kediri. Magetan. Ponorogo. Ngawi dan Kota Madiun. Kota Pasuruan dan Kota Probolinggo Sampang. Bengawan Hilir Sampean Baru Solo Bojonegoro 6. Sumenep dan Bangkalan.152 jiwa per km2. Kabupaten Bojonegoro. Kota Mojokerto dan Kota Surabaya. diikuti Kabupaten Malang dengan jumlah penduduk sebesar 2. Kota Malang. Kabupaten Madiun.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 2. Gembong-Pekalen Pasuruan 9. Puncu-Selodono Kediri 3. Pamekasan.07% per tahun.33 juta jiwa dan Kabupaten Jember dengan jumlah penduduk sebesar 2. Nganjuk. Trenggalek. sebagian Pasuruan. Kepadatan penduduk di kota. Jombang dan Kota Kediri. Kepadatan penduduk Jawa Timur tahun 2003 adalah 780 sebesar jiwa per km2. Probolinggo. 2-24 2. yaitu 2. Madura Pamekasan Berdasarkan data BPS. Kabupaten Lumajang. Balai PSDA Bango-Gedangan Domisili Malang Wilayah Kerja Kabupaten Malang. 1. Kota Batu dan Kota Blitar. Madiun Madiun 5. Banyuwangi dan Situbondo. Kota Surabaya mempunyai kepadatan penduduk tertinggi yaitu sebesar 8. Kota Surabaya mempunyai jumlah penduduk yang paling besar.23 juta jiwa. Bondoyudo-Mayang Lumajang 8. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .66 juta jiwa. Kabupaten Bondowoso. Kabupaten Pasuruan. Tulungagung. umumnya lebih tinggi dibanding dengan kepadatan penduduk di kabupaten. Kabupaten Lamongan.

1 ribu hektar1. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .621 orang.3.435 orang. terjadi 72 kejadian banjir yang menggenangi sekitar 81. wilayah cekungan. Pada tahun 2002.9 ribu hektar wilayah permukiman dan pertanian. Tenaga kerja yang sudah ditempatkan sebanyak 40.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Jumlah pencari kerja pada tahun 2003 sebesar 379.16 persen. Jumlah ini meningkat menjadi 104 kejadian pada tahun 2003 yang menggenangi sekitar 91. 3 Lokasi rawan banjir di pulau jawa. antara lain North Java Flood Control 1 Laporan kejadian banjir dan tanah longsor musim hujan 2001/2002 dan 2002/2003.32% dibanding tahun 2002.8 IDENTIFIKASI MASALAH BANJIR Banjir di Pulau Jawa sebagian besar terjadi di wilayah pantai utara dan pantai selatan. Sistem pengendalian bahaya banjir melalui pendekatan infrastruktur telah berlangsung lama. meningkat 16. Sebaran wilayah rawan banjir di Pulau Jawa dapat dilihat pada Gambar 2. sedangkan rasio pencari kerja dengan lowongan pekerjaan adalah 0. serta kota-kota besar. Pendekatan infrastruktur untuk mengatasi banjir di sepanjang pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah telah diupayakan melalui proyekproyek besar berbantuan luar negeri. 2-25 2. Gambar 2.

Faktor penyebab terjadinya banjir di Pulau Jawa berbeda-beda untuk setiap wilayah. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . khususnya kota-kota besar di Pulau Jawa. tetapi justru menyebabkan bertambah luasnya area yang terkena banjir di daerah hilir. Untuk pengendalian banjir wilayah Jakarta diupayakan melalui Ciliwung Cisadane River Flood Control Project dan pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) yang saat ini sedang berlangsung. terjadi luapan air sungai dari tanggul. penambangan pasir terjadi di sungai-sangat besar sehingga pada beberapa tempat mengalami degradasi dasar sungai. Meluapnya aliran sungai ini mengakibatkan daerah-daerah yang relatif datar dan lahan-lahan pertanian di sekitarnya menjadi tergenang. untuk mengatasi banjir di wilayah perkotaan lainnya. Di lain pihak.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Project dan South Java Flood Control Project. Tanggul-tanggul sungai di hulu dapat mengurangi banjir yang terjadi di daerah hulu. Di daerah muara. Beberapa penyebab utama terjadinya banjir antara lain adalah: a) Pendangkalan/Agradasi Dasar Sungai (Sedimentasi) Hampir semua sungai di Jawa membawa sedimen dalam jumlah besar dari hulu dan mengikis lahan di sepanjang daerah aliran sampai ke muara. Upaya pengendalian banjir juga dilakukan di Bandung Selatan melalui proyek Upper Citarum Flood Control 2-26 Project. diupayakan melalui proyek-proyek pengembangan perkotaan antara lain Bandung Urban Development Project (BUDP) dan Surabaya Urban Development Project (SUDP). laju pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang membutuhkan biaya besar tersebut tidak mampu mengatasi peningkatan magnitude dan frekuensi banjir. sehingga upaya pengendalian bersifat spesifik sesuai karakteristik wilayah yang bersangkutan. Selain itu. kemiringan dasar sungai menjadi relatif datar akibat sedimentasi tersebut sehingga kapasitas tampungan sungai menjadi berkurang. Namun demikian. b) Meluapnya Aliran Sungai melalui Tanggul Akibat debit yang besar pada musim hujan yang tidak dapat ditampung oleh badan-badan air di daerah pantai/muara.

ada 4 klasifikasi: Normal (N). 2. e) Kurang Berfungsinya Pintu Pengendali Banjir pada Sungai Pintu air tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena tertutup oleh tanaman atau endapan pasir. 2-27 d) Efek Backwater Efek backwater terjadi di bagian hulu karena perubahan arus di hilir yang menyebabkan muka air di hulu meningkat. dan lahan-lahan produksi di dataran rendah. sehingga laju pengaliran air melalui saluran drainase menurun. sehingga terjadi banjir di bagian hulu. dan lebih dari enam bulan diklasifikasi defisit tinggi. dan penyempitan pada jembatan dan bangunan-bangunan struktur lainnya. empat hingga enam bulan diklasifikasi defisit sedang. kapasitas tampungan semakin berkurang. sedangkan jika jumlah bulan defisit mencapai 3 bulan diklasifikasi sebagai defisit rendah. dan Defisit Tinggi (DT). Analisis neraca air pada kabupaten/kota di luar wilayah Jabodetabek dilakukan dengan membandingkan hasil perhitungan ketersediaan air dengan kebutuhan air pada tiap-tiap bulan di masing-masing kabupaten/kota. Defisit Sedang (DS). Karena bangunan beroperasi secara otomatis. Hal ini disebabkan oleh penyempitan badan sungai.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA c) Kondisi Saluran Drainase yang Kurang Baik Saluran drainase tidak berfungsi dengan baik karena pintu-pintu air tidak beroperasi sebagaimana mestinya. Hal ini terutama terjadi pada pintu air otomatis. Defisit Rendah (DR). Neraca air tergolong normal apabila tidak terjadi defisit sepanjang tahun. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Backwater juga terjadi pada pertemuan antara anak sungai dan sungai utamanya. terbendungnya alur sungai. seringkali pengamatan/pemeliharaan di lapangan jarang dilakukan.9 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN Masalah kekeringan dapat diidentifikasi dengan analsisi kondisi neraca air. Via analisis kondisi neraca air.

45 2-28 40 Persentase Jumlah Kabupaten/Kota (%) 35 30 25 20 15 10 5 2003 NORMAL 2005 2010 2015 DEFISIT SEDANG 2020 2025 DEFISIT TINGGI DEFISIT RENDAH Gambar 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Khusus untuk wilayah Jabotabek analisis dilakukan dengan perhitungan besarnya jumlah defisit air pada bulan paling kering. Hasil analisis neraca air menunjukkan bahwa.5 meter kubik perdetik diklasifikasi sebagai defisit rendah. dan lebih dari 1 meter kubik perdetik diklasifikasi defisit tinggi. terdapat 38 kabupaten/kota atau sekitar 35 persen telah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kondisi normal menunjukkan bahwa tidak terjadi defisit sepanjang tahun. pada tahun 2003 sebagian besar (sekitar 77 persen) wilayah kabupaten di luar Jabodetabek telah memiliki satu hingga delapan bulan defisit air dalam setahun.5 hingga 1 meter kubik perdetik diklasifikasi defisit sedang. Metode ini digunakan karena ketersediaan air pada wilayah ini relatif konstan sepanjang tahun karena pasokan dari sistem yang ada. defisit lebih dari 0. sedangkan jika jumlah defisit mencapai 0. sesuai hasil Jabotabek Water Resources Management Study (1994). Perubahan persentase jumlah kabupaten di luar wilayah Jabotabek yang mengalami defisit air dari tahun 2003 hingga 2025 dapat dilihat pada Gambar 2. Dari wilayah yang mengalami defisit tersebut. 4 Perubahan persentase kabupaten defisit air.4.

ditemukan bahwa sekitar 50 persen kabupaten/kota mengalami defisit air pada tahun 2003. dan sebagian Pekalen-Sampean belum mengalami defisit air. Jumlah ini diperkirakan semakin meningkat hingga mencapai sekitar 19 kabupaten/kota pada tahun 2025 apabila tidak dilakukan intervensi infrastruktur. Pada tahun 2025 jumlah kabupaten defisit air meningkat hingga mencapai sekitar 78. defisit tinggi juga terjadi pada kota besar seperti Bandung. antara lain Kabupaten Ngawi di WS Bengawan Solo dan Kota Surabaya di WS Brantas. Di samping itu. Brantas. Untuk wilayah Jabotabek. Beberapa kabupaten/kota pada tahun 2010 diperkirakan akan mengalami defisit yang semakin membesar. dan diperkirakan meningkat menjadi 100 persen pada 2025. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian secara khusus dan perlu dilakukan upaya penanganan segera dalam jangka pendek. Dari proyeksi neraca air kabupaten/kota di Pulau Jawa di atas. dan Yogyakarta. Di antara kabupaten/kota yang mengalami defisit air tersebut. Brantas hilir. 2020.5 pada tahuntahun 2015. Pemali-Comal. Sementara itu. defisit air tinggi akan terjadi pada tahun 2005 di beberapa kabupaten/kota di wilayah sungai Cimanuk-Cisanggarung. atau defisit sepanjang tahun. Hasil analisis dan proyeksi neraca air kabupaten/kota JawaMadura yang mengalami defisit dapat dilihat pada Gambar 2. kabupaten/kota di wilayah-wilayah sungai Cisadea-Cikuningan.4 persen dengan defisit berkisar mulai dari satu hingga dua belas bulan. Jratun Seluna bagian hulu. Bengawan Solo. Progo-Opak-Oyo. Serayu bagian hulu. Citarum. 2-29 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Jika tidak dilakukan intervensi infrastruktur maka kondisi neraca air akan mengalami defisit yang semakin tinggi pada tahun-tahun berikutnya. defisit air di wilayah tersebut cenderung semakin tinggi. dan Madura. bahkan sejak tahun 2003 sekitar 12 kabupaten/kota telah mengalami defisit penyediaan air minum. Semarang. dan kabupaten/kota yang mengalami defisit akan semakin meluas sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 2. Pada tahun-tahun berikutnya. CitanduyCiwulan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengalami defisit tinggi.4. dan 2025.

dan Purwakarta dikelompokkan dalam satuan wilayah analisis. potensi konflik pemanfaatan air antarwilayah dan antarpengguna akan semakin meningkat. Bogor. Karawang. Hal ini diperparah dengan semakin langkanya air bersih sebagai akibat meningkatnya pencemaran air di sungai-sungai besar tersebut. dan Bekasi serta Serang. dan Sungai Ciujung. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan Kota Depok. Tangerang. 2-30 2 Serang. Depok. Dengan demikian. Kabupaten Tangerang. Sungai Cidurian. seperti Sungai Cisadane. dan Purwakarta2. meskipun sungai utama yang melalui wilayah ini adalah Sungai Ciliwung.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Wilayah analisis neraca air untuk daerah Jabodetabek dan sekitarnya meliputi DKI Jakarta. Kota Bogor. DKI Jakarta sebagai ibukota negara memerlukan daya dukung sumber daya air untuk menunjang segala kegiatan di wilayah tersebut. Pasokan air baku utama ke DKI Jakarta bersumber dari Sungai Citarum yang dialirkan dari Waduk Jatiluhur. Sungai-sungai ini merupakan sumber air permukaan utama untuk daerah pertanian dan industri di Kota Tangerang. Kabupaten Bogor. Alternatif tambahan pasokan untuk DKI Jakarta adalah sungai-sungai yang berada di barat dan selatan wilayah ini. Karawang. sejalan dengan rencana pengembangan inter basin management dengan menambahkan WS Ciujung-Ciliman dan WS Citarum menjadi satuan wilayah analisis WS Ciliwung-Cisadane.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .1 2 b u la n B a ta s K a b u p a t e n Sumber : Hasil Analisis Gambar 2.2 b u la n 3 .4 b u la n 5 .8 b u la n 9 .6 b u la n 7 .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-31 2005 L d 2010 L d 2015 Legenda : 2020 Legenda : 2025 Legenda : Legenda : B a ta s P r o p in s i J u m l a h B u l a n D e f is i t t a h u n 2 0 2 5 0 b u la n 1 . 5 Proyeksi Neraca Air Kabupaten/Kota di Pulau Jawa dan Madura.1 0 b u la n 1 1 .

3 m3/det apabila tidak dilakukan upaya intervensi infrastruktur. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Oleh sebab itu. pasokan air permukaaan menjadi semakin penting untuk menggantikan penggunaan air tanah yang berlebihan tersebut. sumber utama pasokan air untuk Kota Bogor. jika tidak dilakukan upaya intervensi infrastruktur dengan membangun waduk-waduk sumber air baku yang baru.9 m3/det dan diperkirakan tahun 2025 mencapai 17.0 m3/det. dan saluran-saluran yang berakibat pada naiknya permukaan dasar sungai.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-32 Di wilayah Jabodetabek bagian utara terutama di DKI Jakarta. Depok dan Kabupaten Bogor berasal dari Sungai Ciliwung-Cisadane. Hal ini menyebabkan penurunan muka air tanah pada tingkat yang semakin kritis. Oleh karena itu. Defisit tersebut diperkirakan mencapai 15. Sementara itu. telah terjadi eksploitasi air tanah secara berlebihan. Defisit ini semakin membesar di masa yang akan datang.0 m3/det di tahun 2025. Pada tahun 2003 terjadi defisit sebesar 2. yaitu meningkatnya aliran permukaan dan menurunnya aliran dasar (base flow). Erosi yang berlangsung cepat akan memacu perubahan unsur hidrologi sungai. terutama pada lahanlahan kritis di bagian hulu daerah aliran sungai. saat ini diperkirakan sekitar 65% kebutuhan domestik untuk wilayah DKI Jakarta masih bertumpu kepada sumber air tanah. daerah-daerah kritis dengan tingkat erosi yang tinggi perlu segera ditangani. danau. terutama pada bagian hilir). Pada tahun 2003 defisit air telah mencapai 3. Terjadinya erosi akibat kerusakan catchment area menyebabkan terjadinya peningkatan beban sedimen di dalam sistem sungai dan menghasilkan perubahan pada kondisi hidro-morfologi (pengendapan sedimen pada waduk. Sebagai ilustrasi. Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang dengan sumber utama Sungai Cisadane mengalami kondisi yang hampir sama.

Hasil analisis secara lengkap disajikan pada Buku 2 Identifikasi Masalah Pengelolaan Sumber Daya Air di Pulau Jawa. Adanya perubahan perilaku hidrologis tersebut menyebabkan perubahan pola ketersediaan air. industri. (2) Penurunan kinerja infrastruktur sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Disamping itu jumlah bulan defisit maksimal juga meningkat dari 8 bulan menjadi 12 bulan pada tahun 2025 (defisit sepanjang tahun).4 persen pada tahun 2025. dan pertanian mengalami peningkatan yang signifikan. bahkan sejak tahun 2003 terdapat 12 kabupaten/kota telah mengalami defisit penyediaan air minum. Pada tahun 2003.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 3-1 3. Wilayah sungai di Pulau Jawa sebagian besar mengalami permasalahan yang sama yaitu: (1) Kerusakan catchment area sehingga mengancam keberlanjutan daya dukung sumber daya air.1 RUMUSAN KEBIJAKAN PRAKARSA STRATEGIS Dari hasil analisis. namun disisi lain juga berdampak pada perubahan tata guna lahan yang mengakibatkan perubahan perilaku hidrologis. Diantara kabupaten/kota yang mengalami defisit air tersebut. Hal tersebut juga meningkatkan potensi banjir yang akan mengancam keberlanjutan infrastruktur di Pulau Jawa yang dibangun dengan investasi yang sangat besar. sekitar 77 persen kabupaten/kota di Pulau Jawa mengalami defisit air dan diperkirakan meningkat menjadi 78. perkotaan. secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa kebutuhan air untuk rumah tangga. Kondisi ini semakin diperparah oleh menurunnya daya dukung lingkungan akibat kerusakan catchment area. Jumlah ini diperkirakan semakin meningkat hingga mencapai 19 kabupaten/kota pada tahun 2025 apabila tidak dilakukan intervensi infrastruktur. Khusus wilayah Jabotabek yang pasokan airnya relatif terjamin. pada tahun 2003 sekitar 50 persen kabupaten/kota mengalami defisit air dan diperkirakan meningkat menjadi 100 persen pada tahun 2025. Pertambahan penduduk dan aktifitas perekonomian di satu sisi berdampak pada peningkatan kebutuhan air.

dan intrusi air laut. dan penurunan kinerja prasarana pengendali banjir. (5) Kecenderungan bahwa sungai dan badan air lainnya sebagai tempat pembuangan limbah cair yang tidak terolah dan sampah menjadikan air permukaan yang terbatas tidak layak dipergunakan untuk air minum. 3-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . (7) Meningkatnya kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan air. (8) Kekeringan/defisit air di musim kemarau. sehingga mengurangi secara signifikan ketersediaan air untuk kebutuhan air minum. keperluan adanya institusi untuk menjawab permasalahan yang berkembang. Dengan adanya defisit air di sebagian besar kabupaten/kota dan bahkan tidak dapat memenuhi kebutuhan air minum. dan (13) Meningkatnya potensi konflik pemanfaatan air. (12) Lemahnya koordinasi. khususnya untuk irigasi di Pulau Jawa. Prakarsa strategis ini membutuhkan kajian mendalam dan spesifik lokasi untuk menemukan sumber-sumber penyediaan air baru maupun mengoptimalkan penggunaan sumber air yang ada bagi kabupaten/kota yang defisit air tinggi. terutama realokasi atau perubahan alokasi untuk pemenuhan kebutuhan irigasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air. dan ketatalaksanaan. (3) Eksploitasi air tanah yang berlebihan mengakibatkan penurunan muka air tanah. (11) Masih lemahnya pengelolaan database sumber daya air. dan (ii) Penyesuaian kembali alokasi air antar jenis kebutuhan atau realokasi air. land subsidence. (10) Belum semua wilayah sungai memiliki masterplan atau perlu diperbaharui. maka perlu dilakukan prakarsa strategis terkait dengan: (i) Penanganan kabupaten/kota yang telah mengalami krisis penyediaan air minum melalui intervensi infrastruktur dan kegiatan terkait. kelembagaan. (4) Kualitas air yang rendah karena daya dukung sungai lebih rendah dibanding beban pencemaran. (9) Rendahnya kualitas pengelolaan hidrologi. Dengan kondisi defisit seperti ini maka diperlukan juga kajian mendalam tentang kemungkinan dilaksanakannya perubahan dan penyesuaian alokasi antar kebutuhan atau realokasi. (6) Banjir akibat perubahan tata lingkungan. penurunan kapasitas pengaliran sungai. baik melalui demand management maupun supply management serta peluang dilaksanakannya inter basin transfer.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Konsekuensi logis perubahan alokasi tersebut adalah berkurangnya pasokan air untuk pemenuhan irigasi sehingga tanpa adanya perubahan teknologi maka akan mengurangi luas areal layanan (command area) dan produktifitas tanaman. Dalam hal ini masingmasing sektor berjalan sendiri tanpa mempertimbangkan akibatnya terhadap sektor yang lain. antara hulu dengan hilir. Diperlukan komunikasi dan dialog antar berbagai tingkat pengambilan keputusan. Perubahan atau inovasi teknologi yang diharapkan adalah ditemukannya varietas padi unggul yang hanya memerlukan lebih sedikit air. Untuk itu diperlukan strategi kebijakan baru dalam pengembangan irigasi di Pulau Jawa yang mempertimbangkan fenomena defisit air dan kebutuhan bahan pangan serta infrastruktur irigasi yang telah dibangun. kelembagaan dan perangkat manajemen telah direkomendasikan para ahli SDA dalam World Water Forum (WWF) II dan WWF III sebagai pendekatan yang tepat dalam menghadapi tantangan dalam LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . berumur lebih pendek. Untuk itu diperlukan pendekatan terpadu yang memperhatikan keseimbangan antara pendayagunaan dan konservasi. Prinsip dan proses ”Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air” (Integrated Water Resources Management) yang mencakup aspek kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Permasalahan-permasalahan yang menimpa sumber daya air dan lingkungan pendukungnya seperti diatas disebabkan oleh penanganan yang terfragmentasi baik dalam perencanaannya maupun pelaksanaannya. antar wilayah. dari pengguna air ke pengelola air tingkat setempat/lokal ke struktur pengambilan keputusan tingkat wilayah sungai dan tingkat nasional. 3-3 3.2 KEBUTUHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR YANG TERPADU. produktivitas lebih tinggi serta tetap mempunyai rasa yang enak. serta antarsektor. Dengan adanya penghematan air untuk irigasi (sebagai pengguna air yang terbesar) maka kelebihan air tersebut dapat direalokasikan untuk memenuhi kebutuhan lain misalnya untuk air minum dan air perkotaan yang permitaannya semakin meningkat. Disamping itu diperlukan diperlukan cara olah tanah dan tata tanam yang lebih hemat air.

Penataan kembali hubungan kerja sesuai wewenang. dan lainnya. tugas. Posko Swadaya Banjir. meningkatnya kompetisi masyarakat penggunaan tentang air yang dominan serta meningkatnya tuntutan ”good akan reformasi institusi untuk pelaksanaan 3-4 governance”. 3. Lembaga Pengelolaan Sumber Air. RKP dan RKAKL Bidang Sumber Daya Air untuk Pemerintah Pusat dan Propinsi di Pulau Jawa. Lembaga Pengelolaan Air Baku dan Air Minum.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Secara lengkap hasil integrasi program tersebut dijelaskan pada uraian selanjutnya.1 Program Jangka Pendek Program jangka pendek pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1. Penyusunan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU No.3.3 PROGRAM PRIORITAS Berdasarkan klasifikasi pada tahapan sebelumnya. Integrasi program ini sesuai dengan prioritas penanganan dalam jangka waktu yang ditentukan. Lembaga Pengelolaan Sungai. 4. dilakukan integrasi program secara menyeluruh melalui perpaduan antara faktor internal dan eksternal. 2. dan fungsi instansi-instansi yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air di Pusat LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Renstra. 3. Sinkronisasi Kebijakan dan Program antara RPJM. Fasilitasi pembentukan lembaga pengelola air oleh masyarakat seperti P3A. termasuk strategi dalam melaksanakannya. 3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pengelolaan SDA pada abad ke 21 yang diwarnai dengan peningkatan kebutuhan akan sumber daya air dan sumber daya alam lainnya.

Penyusunan dan penyempurnaan pola dan rencana induk pengelolaan wilayah sungai sebagai dasar konservasi dan pendaya gunaan sumber daya air di wilayah sungai. Pelaksanaan pembangunan infrastruktur skala besar.7/2004. Penertiban kawasan hulu dan wilayah bantaran sungai sesuai ketentuan penataan ruang oleh Pemerintah Daerah dengan dukungan dari Pemerintah.3. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sinkronisasi Kebijakan dan Program antara RPJM.2 Program Jangka Menengah Program jangka menengah pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1. 3-5 3. RKP dan RKAKL Bidang Sum ber Daya Air untuk Pemerintah Pusat dan Propinsi di Pulau Jawa. 5.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Pelaksanaan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU Sumber Daya Air No. Renstra.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dan Daerah berlandaskan pada UU No. Pembentukan lembaga koordinasi pengelolaan sumber daya air (Dewan Sumber Daya Air) dan penyempurnaan kelembagaan pengelola air di Pulau Jawa sesuai kewenangan pusat dan daerah. 3. 5. Melaksanakan ”kegiatan percontohan” kegiatan aksi swadaya masyarakat seperti Lembaga Pengelola Sungai untuk melaksanakan gerakan kebersihan sungai untuk mengembalikan sungai kepada fungsinya. sedang dan kecil untuk mengatasi banjir dan memenuhi kebutuhan air baku untuk berbagai keperluan di kota besar dan wilayah strategis serta daerah perdesaan di Pulau Jawa. 6. 2. 4.

Posko Swadaya Banjir. Pencegahan alih fungsi lahan beririgasi di Pulau Jawa melalui sistem insentif dan disinsentif bagi masyarakat pemilik dan pengelola lahan. Pengembangan teknologi tepat guna pengelolaan sumber daya air melalui dukungan lembaga penelitian dan pengembangan teknologi di Pusat dan Daerah 12. menanggulangi. 14. Mengupayakan realokasi air secara terbatas misalnya misalnya mengadakan realokasi air untuk irigasi tanaman padi untuk kebutuhan air minum pada daerah perluasan permukiman/perkotaan melalui upaya-upaya penggunaan varietas padi yang lebih hemat air. dan memulihkan dampak banjir secara mandiri. Penerapan teknologi olah tanah dan tanam yang lebih hemat air mengingat irigasi khususnya untuk tanaman padi masih menjadi pengguna air terbesar. 10. Melanjutkan upaya penertiban kawasan hulu dan wilayah bantaran sungai sesuai ketentuan penataan ruang oleh Pemerintah Daerah dengan dukungan dari Pemerintah. 8. penggunaan teknologi olah tanah dan tanam yang lebih hemat air dan diversifikasi tanaman kearah tanaman yang bernilai tinggi tetapi lebih hemat air seperti tanaman sayuran dan buahbuahan dan bunga. Lembaga Pengelolaan Air Baku dan Air Minum. 9. dan lainnya. 7. 13. Peningkatan kesiagaan masyarakat di daerah rawan banjir dalam mencegah. industri dan lain sebagainya. 11. 3-6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Mempromosikan gerakan hemat air disegala bidang penggunaan air termasuk penggunaan untuk pertanian. Fasilitasi pembentukan lembaga pengelola air oleh masyarakat seperti P3A. permukiman (kebutuhan domestik). mengingat irigasi untuk tanaman padi adalah pengguna air terbesar.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 6. Pengembangan varietas padi unggul yang lebih sedikit mengkonsumsi air. Lembaga Pengelolaan Sumber Air. berproduktivitas tinggi dan mempunyai rasa yang enak sebagai upaya penghematan air.

pengambilan keputusan. Penataan ruang di kawasan hulu dan hilir berdasarkan pola pengelolaan sumber daya air yang mengacu kepada kelestarian fungsi ekosistem. pengawasan. 2. serta pengendalian pencemaran air. Melaksanakan ”kegiatan percontohan” kegiatan aksi swadaya masyarakat seperti Lembaga Pengelola Sungai untuk melaksanakan gerakan kebersihan sungai untuk mengembalikan sungai kepada fungsinya. 3-7 3. Pengutamaan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air melalui pelibatan dari proses perencanaan.3. 20. Penerapan sistem insentif dan disinsentif bagi badan usaha dan industri dalam penggunaan dan pengusahaan sumber daya air. Melanjutkan pelaksanaan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU No. Melanjutkan penyusunan dan penyempurnaan rencana induk (master plan) pengelolaan wilayah sungai dan pengelolaan sumber daya air Popinsi dan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan pelaksanaan kegiatan di lapangan. 16.3 Program Jangka Panjang Program jangka panjang pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1. 17.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 15. Penataan kembali eksploitasi bahan galian di badan air dan hulu sungai oleh Pemerintah Daerah bersama masyarakat. 3. Pengembangan kapasitas kelembagaan dan aparatur pemerintah di bidang pengelolaan terpadu sumber daya air dalam rangka meningkatkan profesionalisme dan kemampuan teknis dan manajerial. 18. Penataan wilayah bantaran sungai melalui relokasi penduduk secara bijaksana oleh Pemerintah Daerah. 19.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

Pengembangan sistem informasi pengelolaan sumber daya air di tingkat nasional dan daerah untuk menjamin ketersediaan dan kemutakhiran data dasar. 8. kabupaten/kota dan wilayah sungai. 7.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Kabupaten/Kota untuk mengantisipasi kebutuhan air baku dan ancaman banjir serta konservasi ekosistem sumber daya air. 9. Pengembangan kerjasama dan integrasi kegiatan antara lembaga koordinasi pengelolaan sumber daya air (Dewan Sumber Daya Air) di tingkat nasional. 10. 5. Pengembangan kerjasama masyarakat hulu dan hilir dalam pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai berdasarkan prinsip ”hydro-solidarity”. 12. 11. Transformasi infrastruktur sumber daya air berdasarkan kondisi tata guna lahan terkini untuk mengatur alokasi air sesuai perkembangan kebutuhan penduduk dan industri serta dengan mempertimbangkan kontribusi sektor terhadap PDB. 4. 3-8 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . untuk mengatasi banjir dan pemenuhan kebutuhan air baku untuk berbagai keperluan di kota besar dan wilayah strategis di Pulau Jawa. Melanjutkan pelaksanaan pembangunan infrastruktur skala besar yang bersifat multi-guna. propinsi. Pengembangan sumber air di tingkat lokal untuk memenuhi kebutuhan air baku penduduk perkotaan dan perdesaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dengan dukungan Propinsi dan Pusat. Pengembangan upaya-upaya peningkatan peresapan air dengan pengunaan teknik-teknik ”pemanenan air hujan” (rain water harvesting) diantarnya sumur dan waduk/embung resapan dan sebagainya. Pengembangan konservasi air di wilayah hulu dan gerakan hemat air di hilir bersama masyarakat dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan air. 6. Perencanaan pembiayaan bidang sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan operasi dan pemeliharaan dan investasi baru penyediaan infrastruktur bidang sumber daya air dengan dukungan badan usaha dan masyarakat dengan pola kemitraan antara pemerintah dengan swasta.

Penataan dataran banjir. 17. Penataan ekstraksi air tanah oleh intansi yang berwenang dan masyarakat sesuai kemampuan pemulihan cadangan air tanah di wilayah rawan kekeringan. Pemulihan kualitas air dan pengendalian pencemaran air di sumber-sumber airdan badan air di wilayah perkotaan dan industri. dan kawasan green belt dalam rangka mencegah kerusakan dan penurunan kinerja infrastruktur sumber daya air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 13. Pemulihan catchment area Daerah Aliran Sungai melalui reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis bersama masyarakat. 18. Pengaturan kembali pemanfaatan kawasan hulu Daerah Aliran Sungai untuk hutan produksi dan perkebunan berdasarkan pola konservasi sumber daya air. Penyadaran publik dan peningkatan kepedulian masyarakat terhadap pemulihan kondisi dan upaya mempertahankan kualitas air di sumber air dan badan sungai. 15. 19. sempadan sungai. 16. 14. Pelibatan badan usaha dalam pola kemitraan antara pemerintah dan swasta (public private partnership) dalam pengusahaan sumber daya air dan pengembangan investasi baru infrastruktur sumber daya air. 3-9 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

Diperlukan penyusunan ”Rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air” sebagai peta langkah (road map) dari rencana tindak yang mencakup aspekaspek kebijakan dan peraturan dan perundang-undangan. dan pengendalian daya rusak air yang dapat menyeimbangkan laju pembangunan dan pemulihan kondisi lingkungan di LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Berkaitan dengan itu terdapat 5 strategi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi dan pendayagunaan sumber daya air. Strategi non-struktural 3. Penetapan kebijakan terpadu lintas sektor yang mencakup aspek-aspek konservasi. pendayagunaan. serta pengendalian daya rusak air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 4-1 Pengelolaan sumber daya air merupakan upaya untuk merencanakan. Secara lebih terinci rumusan strategi dimaksud diuraikan sebaga berikut.1 RUMUSAN STRATEGI IMPLEMENTASI Strategi implementasi merupakan panduan dan kaidah pokok dari pelaksanaan keempat strategi lainnya. serta 5. Strategi struktur 4.Strategi implementasi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa adalah sebagai berikut: 1. 4. yaitu: 1. kelembagaan dan perangkat manajemen dalam pengkoordinasian pembangunan dan pengelolaan sumber daya air. Strategi implementasi 2. Strategi kelembagaan dan koordinasi. Oleh karena itu strategi pengelolaannya pun harus mencakup seluruh aspek pengelolaan tersebut. 2. memantau. Strategi pembiayaan. melaksanakan.

Pengelolaan terpadu daerah aliran sungai. 8. Upaya ini harus diiringi dengan pemulihan kondisi catchment area yang dilakukan bersama masyarakat. Penyediaan air baku berskala besar di Pulau Jawa untuk kawasan-kawasan strategis seperti daerah perkotaan dan permukiman. dan pengendalian tata ruang di Pulau Jawa. melalui sistem insentif dan disinsentif oleh Pemerintah Daerah. 7. terutama pada kawasan industri dan perkotaan. 4. serta peningkatan efisiensi penggunaan air. 5. Penanggulangan bencana banjir melalui intervensi infrastruktur (skala besar) guna melindungi kawasan yang telah berkembang terutama kota-kota besar. pembuatan sumur dan waduk/embung resapan serta pelaksanaan upaya-upaya pemanenan air hujan dengan melibatkan para pelaku perusakan dan masyarakat yang terkena dampak. 6. penataan dan penertiban dataran banjir. dan perdagangan serta penyediaan bangunan penampung air berskala kecil 4-2 untuk memenuhi kebutuhan air baku daerah perdesaan yang dikelola di tingkat lokal. Kebijakan ini akan ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010 – 2015 serta peraturan perundangan terkait lainnya. Upaya mempertahankan Pulau Jawa sebagai lumbung pangan nasional melalui pencegahan laju konversi dan optimalisasi lahan beririgasi yang telah ada. industri. sesuai rencana induk pengelolaan wilayah sungai LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . serta dengan melibatkan para pelaku pencemaran dan masyarakat yang terkena dampaknya. pengolahan tanah yang sesuai dengan upaya konservasi air dan tanah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Pulau Jawa. Pengendalian pencemaran dan pengelolaan kualitas air pada sumber air dan badan air. Kebijakan ini disertai upaya peningkatan kesadaran masyarakat dalam penghematan air dan pelestarian fungsi lingkungan. serta pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana drainase yang memadai. Penghentian perusakan fungsi kawasan lindung dan daerah tangkapan air di bagian hulu Daerah Aliran Sungai dan melakukan rehabilitasi daerah tangkapan air dengan penghijauan. 3. terutama yang bersifat lintas sektor dan lintas wilayah.

d. perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air. rehabilitasi hutan dan lahan.2. Perlindungan dan pelestarian sumber daya air dilakukan melalui: a. pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu. pengendalian pemanfaatan sumber air. pengisian air pada sumber air. 7 Tahun 2004.2 STRATEGI KEBIJAKAN NON-STRUKTURAL Strategi non-struktural sangat penting dalam kaitannya dengan kegiatan untuk menjaga keberadaan sumber daya air. 4. c. pengaturan prasarana dan sarana sanitasi.1 Strategi Menurut Undang-undang Sesuai dengan UU No. 4-3 4. serta pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air 2. e. pengawetan air. Tujuan perlindungan dan pelestarian sumber air adalah untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan keberadaannya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA terkait yang didukung oleh peraturan perundangan serta sistem pengawasan bersama masyarakat. Konservasi dilakukan sesuai dengan pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. h. 4. pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air. beberapa kebijakan/strategi non-struktural berkaitan dengan konteks konservasi SDA adalah: 1. dari segi jumlah maupun kualitasnya. tanpa menitikberatkan pada pembuatan bangunan fisik secara signifikan. dan/atau LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 5. Upaya konservasi dilakukan melalui kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber air. b. f. 3. g. pengaturan daerah sempadan sumber air. Ketentuan konservasi sumber daya air dijadikan sebagai salah satu acuan penting dalam perencanaan tata ruang wilayah.

Muatan yang mendukung pengelolaan sumber daya air secara otomatis harus menjadi salah satu acuan dalam menyusun program dan kebijakan yang akan diterapkan. 4-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . menghemat air dengan pemakaian yang efisien dan efektif. maka kebijakan nonstruktural di bidang pengelolaan sumber daya air perlu diintegrasikan ke dalam peraturan-peraturan yang bersifat lebih operasional dan rencana strategis yang didasarkan pada kebijakan masing-masing daerah. waduk. dan kawasan pelestarian alam. danau. pelestarian hutan lindung. 10. dan budaya. Selain itu untuk mendukung pengelolaan yang terintegrasi. dan kawasan pantai. menyimpan air yang berlebihan di saat hujan untuk dapat dimanfaatkan pada waktu diperlukan. rawa. cekungan air tanah. kawasan pelestarian alam. Pengendalian pencemaran air dilakukan dengan cara mencegah masuknya pencemaran air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan cara memperbaiki kualitas air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. Mengacu pada kebijakan yang telah digariskan di atas. daerah tangkapan air. ekonomi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA i. kawasan suaka alam. Konservasi sumber daya air dilaksanakan pada sungai. kawasan hutan. 11. 8. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilaksanakan secara vegetatif dan/atau sipil teknis melalui pendekatan sosial. 6. kawasan suaka alam. 9. Pengawetan air dilakukan dengan cara: a. sistem irigasi. mengendalikan penggunaan air tanah. dan/atau c. b. Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air ditujukan untuk mempertahankan dan memulihkan kualitas air yang masuk dan yang ada pada sumber-sumber air. 7. pemerintah juga menyediakan sistem informasi sumber daya air yang pelaksanaannya dilakukan sesuai tingkat kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

25% di tahun 2015. dengan target minimal 12. Menetapkan air. Pelaksanaan kebijakan tidak dapat terlaksana tanpa adanya perangkat hukum yang berwibawa dengan dukungan aparat penegak hukum. memulihkan dan mempertahankan daya dukung. serta menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan. daya tampung. dengan persentase tutupan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang.5% di tahun 2010. Yang dimaksud dengan prasarana dan dan sarana konservasi sumber daya air LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa dan mengelola daerah resapan air dalam rangka mengupayakan peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak . 4-5 4. dan fungsi daerah aliran sungai untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan.2 Strategi Konservasi Sumberdaya Air 4.2. Keberhasilan pengelolaan akan sangat ditentukan oleh hal ini mengingat kelancaran suatu proses untuk mencapai tujuan dari kebijakan akan membutuhkan kedisiplinan dalam pelaksanaan. Menetapkan dan membina pengelolaan kawasan hutan di daerah tangkapan air hujan.1 Mempertahankan Daerah Aliran Sungai Konsepnya adaklah dengan meningkatkan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sebagai kelanjutan program dan kebijakan yang bersemangatkan pengelolaan sumber daya air. Berberapa langkah ang dapat dilakukan untuk mendukung hal ini adalah dengan: a. karenanya jaminan dari perangkat hukum sangat dibutuhkan. 50% di tahun 2025. c.2. Kriteria luas tutupan perlu dibuat oleh instansi yang berwenang d. perlu pula adanya dukungan dari perangkat hukum dan penegakannya. Merehabilitasi hutan dan lahan kritis seluas 43 juta ha dengan prioritas di 142 DAS kritis. b.2. Mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi sumber daya air dengan target minimal 25% tiap 5 (lima) tahun.

2 Mempertahankan Sumber Daya Air Konsepnya adalah dengan meningkatkan. situ. d. Pengembangan sabuk air di sekitar mata air antara lain dapat dilakukan dengan mengembangkan arboretum. situ/embung dan mata air dengan aturan yang sesuai dengan penetapan kawasan sabuk hijau sesuai dengan undang-undang UU No.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA adalah small and medium pond. waduk dengan prioritas daerah pemukiman dengan target 15% tiap 5 (lima) tahun.2. check dam. memulihkan dan mempertahankan daya dukung. situ. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . ground sill. Menyempurnakan pedoman penetapan batas semadan sumber air Menetapkan daerah batas sempadan sungai. dll. c. Sabuk hijau dikenal juga sebagai lajur pepohonan di sekeliling wadah air. waduk. 41 tahun 1999 tentang kehutanan pasal 50 ayat (3) butir c. rawa. 4-6 4. Melakukan pengendalian pengambilan air tanah secara ketat dengan prioritas pada cekungan-cekungan air tanah yang sudah kritis dan kawasan karst dengan membatasi pengambilan hanya sebesar batas aman (safe yield).2. Aplikasi dari strategi ini dapat dilakukan dalam beberapa langkah konkret sebagai berikut: a. Menetapkan dan mengelola kawasan danau. rawa. rawa ) dan pengawetan air berupa pembangunan antara lain: waduk dan embung. e. danau. dan fungsi sumber daya air untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. embung. teras bangku. teknik pemanenan hujan. sumur resapan. guna kepentingan pelestarian lingkungan sekitar mata air. b. embung. daya tampung. Upaya penyediaan sebagai pengganti pengambilan air tanah dapat dilihat pada langkah penyediaan air. Meningkatkan upaya pemeliharaan sumber air (antara lain : danau.

c. Mendorong dan mengupayakan pembangunan sistem pengelolaan limbah cair komunal di kawasan pemukiman dan kawasan industri. Untuk mengembalikannya perlu tindak pengolahan air yang membutuhkan sejumlah biaya yang pada akhirnya akan menambah biaya operasional. Menetapkan baku mutu limbah cair yang diperkenankan dibuang kedalam sumber air/badan air. 4-7 f. Mempertahankan kualitas air dilakukan dengan menerapkan beberapa strategi berikut: a. Menerapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya sebagai instrumen untuk mendorong pengendalian pencemaran air dan meningkatkan pengelolaan kualitas air kepada para pecemar. Menetapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya sebagai instrumen untuk mendorong pengendalian pencemaran air dan meningkatkan pengelolaan kualitas air kepada para pecemar.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA e.2. Menetapkan kawasan reklamasi rawa dengan ketebalan lahan gambut lebih dari 3 meter sebagai kawasan rawa konservasi. g.2. b.3 Mempertahankan Kualitas Air Konsepnya adalah dengan memulihkan dan mempertahankan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan. Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air dan kegiatan penambangan lainnya. Menurunnya kualitas air mengakibatkan kesulitan karena berkurang atau hilangnya manfaat yang diharapkan dari air bersangkutan. d. Mengelola daerah sempadan sumber air sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh menteri yang membidangi sumber daya air. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4.

Memperbaiki kualitas air pada sumber air dengan cara antara lain: aerasi. Mendorong upaya pengawetan air melalui pembudayaan prinsip 3 (tiga) R (reduce.recycle) 4-8 f. reuse. secara biologi. Membangun bangunan penahan intrusi air laut di kawasan pantai dan mengendalikan penggunaan air tanah guna menghindari intrusi air laut. Membangun sistem pemantauan kualitas air pada sumber air dan kualitas limbah cair secara berkelanjutan. h. g. i.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA e. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pengenceran. Menegakkan hukum yang tegas bagi pelanggar ketentuan kualitas serta sistem penerapan insentif-disinsentif pengelolaan sumber daya air dan lingkungan dengan target minimal selesai tahun 2015.

Mojokerto # # # 7 SWS 0203 SWS 0207 Purbalingga # Central Java Province Temanggung Semarang Tasikmalaya Banyumas Ciamis Cilacap Kebumen # # # SWS 0209 # Garut Sidoarjo Ma du r a St r ai t SWS 0206 # K. Surakarta Magelang # Nusakambangan Is. Yogyakarta # K. Depok Panaitan Is. Bandung Tegal Grobogan Bojonegoro Ngawi # # # SWS 0208 Batang # # # SEMARANG # Madura Is. 1 Susunan Wilayah Sungai yang sudah ada. D ate A5 C piledb : om y G Operator: IS CORRELATION BETWEEN AMINISTRATION AND WATERSHED (SWS BOUNDARIES ) S rce : ou . 9 L nd: ege G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E SI A NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT M N : ap o M Title : ap Gambar 4. Kediri # Bantul Probolinggo SWS 0213 Kulonprogo # # Wonogiri K. 1 : 250 000 Scale (Coastline. Salatiga # WonosoboSWS 0211 Sragen # Boyolali K. Pasuruan # Karanganyar Nganjuk # # Sleman Klaten # Magetan K.Bakosurtanal. River. Y # SURABAYA K. SWS 0202 Purwakarta # # SWS 0201 Lebak Bogor Subang Jepara Cirebon # Pandeglang West Java Province # # Pati K. Ba l i St r a i t # Mojokerto SWS 0212 Madiun Jom bang # # K. Cilegon # # 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' Bawean Is. Bekasi # # # Krakatau Serang 6 Bekasi Karawang Ja va Se a Y # U % SWS 0204 Indramayu # # # Banten Province # # K. Lake) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa eptem 2004 ber :S BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4-9 . Tegal K. Pekalongan # # # # K. Probolinggo Pasuruan # Kediri Y # YOGYAKARTA # # # K. Semarang Y # Blora SWS 0210 SWS 0215 Lamongan # Sumenep Gresik # Sampang Pamekasan # # Sapudi Is. Malang Ponorogo # Bondowoso # Gunungkidul # K. Blitar # Lumajang # Pacitan # SWS 0214# Malang Yogyakarta Special # # Trenggalek Tulungagung Blitar Province Jember Banyuwangi 8 I ndi an Oce an Nusa Barung Is. Sukabumi # BANDUNG Sumedang Majalengka Brebes Kuningan Pekalongan Pemalang # # SWS 0205 Kudus Rembang Tuban # # # Y # K. Jakarta Bay Tangerang JAKARTA TANGERANG K.it ra St nd a Su BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 0' Kepulauan Seribu K. Magelang Banjarnegara # # K. Madiun # East Java Province # Situbondo # Sukoharjo Purworejo K. Bangkalan # Pelabuhan Ratu Bay Sukabumi Cianjur Bandung # # # Demak Kendal K.

Kab.3. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . DAS Cidanau. serta bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Serang. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Ciujung-Ciliman adalah : DAS Ciujung.1.1 STRATEGI KEBIJAKAN STRUKTURAL Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang Sudah Ada 4-10 4.3. Kab.3 4.000 Ha. Keutuhan dan kemantapan fungsi cathment area DAS Ciujung sangat penting sebagai sumber air bagi daerah-daerah seperti Kabupaten Lebak.1. Diantara DAS tersebut di atas yang menjadi prioritas adalah DAS Ciujung dan DAS Cidanau. DAS Ciliman.Lebak.Bogor. Selain itu DAS Ciujung berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang akan diarahkan untuk mensuplai air bagi Waduk Karian. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Ciujung-Ciliman diuraikan pada Tabel 4. meliputi wilayah administratif: Kota Cilegon.Serang. Kabupaten Serang dan Kabupaten/Kota Tangerang. DAS Cidanau merupakan salah satu sumber air yang vital bagi masyarakat Kabupaten dan Kota Cilegon dan diarahkan untuk mensuplai keberlangsungan Waduk Krenceng. Kab.1 Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman Sungai-sungai yang mengalir di WS Ciujung-Ciliman berhulu di gunung karang dalam wilayah administratif Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang.Pandeglang. Luas wilayah sungai Ciujung-Ciliman sekitar 473.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. dan Kab. DAS Cibante dan DAS Cibungur.

DAS Cisadane.Wiru dalam wilayah administratif Kabupaten Bogor. dan DAS Cikarang/Cipamingkis. Kab. Bendung Karet Cisangkuy Long Storage Sungai Ciujung Bendung Tipe Gergaji di Sungai Cibama Bendung Karet Cibungur Bendung dan Bendung Karet Ciseukeut 4. Kota Bekasi. Kota Bogor. Cilemer kiri seluas 500 ha. Kab. Kota depok. DAS Pesanggrahan. 1 KEGIATAN Waduk Karian LOKASI Hulu Sungai Ciujung MANFAAT & PENJELASAN Penyedia air rumah tangga.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Kota Tangerang.2 Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Sungai-sungai yang mengalir di WS Ciliwung-Cisadane berhulu di G. Kab. Kab. dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Bekasi. Bekasi. 1 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciujung Ciliman NO. DAS Sunter. Sukabumi. Kab. Luas wilayah sungai Ciliwung–Cisadane sekitar 4355 Km² dan meliputi wilayah administratif kabupaten / kota sbb : Jakarta Barat. Lebak. Tangerang. Kab. Jakarta Pusat.Kendeng dan G. WS Ciliwung-Cisadane mencakup wilayah DAS Cidurian.3. penyedia air baku untuk daerah Tangerang dan DKI Jakarta dengan menggunakan saluran irigasi Cidurian atau dengan saluran lternative KarianTanjung-Serpong (KTS) menambah persediaan air rumah tangga. Serang. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .1. Jakarta Timur. perkotaan dan industri untuk kebutuhan Tangerang lewat KSCS mengambil alih fungsi Waduk Karian untuk mensuplai air irigasi ke daerah irigasi Ciujung suplesi air irigasi DI. perkotaan dan industri untuk wilayah Serang dan Jabotabek dengan menggunakan saluran Karian-Tanjung-Serpong (KTS). penyedia air baku untuk kecamatan Banjarsari dan sebagai waduk pengendali banjir pemenuhan kebutuhan air baku Jabotabek 4-11 2 Waduk Tanjung Sungai Cidurian 3 4 5 Waduk Cilawang Waduk Pasirkopo Waduk Cimalur Sungai Ciujung Sungai Ciujung Desa Cibatur Keusik Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak Sungai Cisemeut 6 7 8 9 10 11 12 13 Waduk Bojongmanik Bendung Anyer Bendung Karet Cikoneng. Bogor. Jakarta Selatan. DAS Ciliwung. Jakarta Utara.

Kondisi ini merupakan kombinasi dari berbagai akibat yang ditimbulkan oleh : 1. sehingga mempercepat aliran permukaan. 4. 2 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciliwung-Cisadane NO. Untuk itu perlu meningkatkan kapasitas drainase yang saat ini belum memadai. Terabaikannya pemeliharaan fasilitas drainase yang ada. Selain itu Waduk Ciawi juga dapat berfungsi sebagai penyedia air untuk Kota Bogor dan DKI Jakarta serta sebagai sumber air untuk penggelontoran Sungai Ciliwung di musim kering penyedia air baku ke daerah Bogor dengan cara gravitasi penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta memenuhi kebutuhan air di Kota dan Kabupaten Bogor mengalihkan debit banjir dari Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane guna pengendalian banjir di DKI Jakarta memenuhi kebutuhan air Jabotabek 4-12 2 3 4 5 6 7 Waduk Genteng Waduk Parung Badak Waduk Sodong Salak Contour Canal Ciliwung Floodway Tunnel Peningkatan Kanal Tarum Barat Sungai Cisadane tengah Sungai Cisadane hilir Sungai Cikaniki sekeliling Gunung Salak Kota Bogor Karawang . Amblesan tanah khususnya di wilayah Jakarta bagian utara yang disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebih.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Saat ini banjir sering terjadi pada DAS Ciliwung. khususnya di wilayah Jakarta bagian hulu. floodway. khususnya pada saat pasang 2. Tabel 4. wilayah ini terletak pada daerah yang rata dan rendah (kurang lebih 15. 1 KEGIATAN Waduk Ciawi LOKASI Hulu Sungai Ciliwung MANFAAT & PENJELASAN Mengurangi debit banjir Sungai Ciliwung di Kota Bogor. Meningkatnya puncak banjir dari DAS bagian hulu akibat meningkatnya urbanisasi dan hilangnya daerah resapan air Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Ciliwung-Cisadane diuraikan pada Tabel 4.Bekasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan relatif terkena dampak aliran balik dari laut.000 ha terletak 2 m dibawah permukaan air laut). 3. Meningkatnya proporsi luas permukaan tanah yang tidak lolos air yang berakibat pada infiltrasi yang semakin mengecil. sungai dan berbagai saluran utama telah mengalami pengurangan kapasitas akibat terjadinya agradasi dasar sungai. Hal ini merupakan permasalahan yang cukup pelik di beberapa tahun terakhir ini.2.

DAS Cikarang.3. DAS Cikaso. Normalisasi alur sungai 32 km.Kendeng. Luas wilayah SWS Cisadea – Cikuningan sekitar 37. G. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. DAS Ciletuh.1.Patuha. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Bandung. Kali Angke. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Cisadea-Cikuningan diuraikan pada Tabel 4. Mookervaart Banjir Kanal Barat/ Ciliwung Banjir Kanal Timur. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. G. Kabupaten Sukabumi. Tangerang Kota/Kab. Pembuatan Sal. Tangerang Kab. Cikarang. Bekasi LOKASI Cengkareng MANFAAT & PENJELASAN pencegahan banjir dan meningkatkan urban drainage. Sunter. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. DAS Cisadea. Normalisasi alur sungai 38 km.Pangkulahan. Master Plan 1997 pengendalian banjir. Normalisasi alur sungai 50 km. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Cisadea . Tangerang DKI Jakarta Kota Bogor. Jakarta DKI Jakarta Kab. Normalisasi alur sungai 57 km. G. Cipinang. Normalisasi alur sungai 22 km.3. 8 KEGIATAN Pengembangan Cengkareng Floodway System Sungai Cidurian Sungai Cimanceuri Sungai Cirarab Sungai Cisadane Cengkareng drain.Cikuningan adalah : DAS Cimaragang. Buaran.327 Km² dan meliputi 4 wilayah administratif kabupaten/kota sbb: Kabupaten Cianjur. Cakung Banjir Kanal CBL.3 Wilayah Sungai Cisadea-Cikuningan Sungai sungai yang ada di WS Cisadea – Cikuningan terutama berhulu dari beberapa mata air yang ada di G. serta konstruksi Angke Floodway Pengendalian banjir. Normalisasi alur sungai 29 km. Peningkatan fungsi sungai ke hilir dari daerah Angke dan Sungai Pesanggrahan dan Mookervaart Canal. Bekasi DKI 4. DAS Cipondok. DAS Cimangur dan DAS Cibareno. DAS Cibuni.Gede Pangrango serta G.Malang.Talaga.Malabar. DAS Cimandiri.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Normalisasi alur sungai 22 km. G. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Terowongan 1 km. Tangerang Kab. 2 bh. G. Master Plan 1997 4-13 9 10 11 12 13 14 15 16 Kab. Normalisasi alur sungai 17 km. Banjir. Sungai-sungai tersebut bermuara di Samudera Indonesia di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi. Kota Sukabumi.

1 KEGIATAN Bendung Cibareno Bendung Cihara Sungai LOKASI Pasir Bungur. DAS Cipunagara.Cisangkuy.800 ha 4-14 2 Sungai mengairi sawah seluas 2.1. dan memiliki tiga anak sungai utama yaitu S. Berdasarkan data Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Propinsi Jawa Barat luas wilayah sungai Citarum adalah 11. Cikarang. DAS Cinerang. Kota Cimahi.4 Wilayah Sungai Citarum Sungai Citarum berhulu dari mata air Gunung Wayang. Cikatomas. Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Karawang.87 Km². Panjang sungai Citarum sekitar 315 km. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Citarum diuraikan pada Tabel 4.410. S. Kabupaten Purwakarta. Kabupaten Bandung. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dengan panjang sungai mencapai 315 Km DAS yang termasuk didalam Satuan Wilayah Sungai Citarum adalah : DAS Citarum.Cisokan.3. Cibareno dan Sawarna Cikamayapan. Cilograng. Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Bekasi.4. Kabupaten Cianjur.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Kabupaten Karawang. dan DAS Kalisewo. Wilayah sungai Citarum meliputi 9 wilayah administrative.Cikapundung dan S. DAS Pagadungan.000 ha 4. yaitu: Kota Bandung. 3 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Cisadea-Cikuningan NO. DAS Cilamaya. DAS Ciasem. Kabupaten Sumedang. Ciparahu. Mekarsari dan Karang Kamulyan MANFAAT & PENJELASAN mengairi sawah seluas 2.

Nilai ekonomi proyek IRR 7. maka Waduk Kadumalik dengan EL + 294 dapat menjadi lternative cadangan utama Potensi listrik sebesar 86.000 Ha lahan irigasi. 1 2 3 4 5 6 KEGIATAN Waduk Naragong Waduk Nameng Waduk Pasiranji Waduk Pangkalan Peninggian Dam Cirata Peningkatan Kanal Tarum Barat atau Pembangunan Kanal Tarum Jaya Waduk Talagaherang Waduk Maya Waduk Bodas Dam Sungai Cilame Dam Sungai Cipunagara Waduk Cipunagara dan bendungan pengatur di Sadawarna Waduk Cibeber Waduk Kandung Pengembangan Sungai Cisangkuy Waduk sungai Cikapundung Waduk Sukawana Sudetan sungai Cibeureum Waduk Bojong Jambu Waduk Jatigede Waduk Cipasang LOKASI Anak Sungai Cileungsi (DAS Bekasi) Sungai Cibeet Cipamingkis Sungai Cibeet Dam Cirata Karawang – Bekasi – DKI Jakarta Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur MANFAAT & PENJELASAN penyedia air baku ke daerah Bogor dengan menggunakan pompa penyedia air untuk areal tambak menampung air dari Sungai Cipamingkis atau dari saluran pembawa penyedia air utama untuk daerah hilir Kanal Tarum Barat secara gravitasi Penyediaan air baku dan tenaga listrik memindahkan air dari wilayah sungai Citarum ke Jakarta 4-15 7 8 9 10 11 12 mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Sungai Cisangkuy Sungai Cikapundung Cimahi Kab. Garut Kab. Volume tampungan sebesar 71 juta m3. Garut Kadipaten Majalengka Majalengka Kuningan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .280 ha.004 jiwa. pengairan irigasi seluas 12. Potensi paling baik untuk dikembangkan karena memiliki nilai EIRR lebih tinggi (17.960 ha.9 GWh dan potensi air baku 915 ha.102. Bandung Kab. Volume tampungan sebesar 50 juta m3.639. Volume tampungan sebesar 395 juta m3. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air rumah tangga. potensi listrik sebesar 2.683 jiwa.67% Mengairi 20.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5. Nilai ekonomi proyek IRR 2.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. Nilai ekonomi proyek IRR 12% 22 23 24 25 26 Waduk Cipanas Waduk Ujungjaya Waduk Kadumalik Waduk Pasirkuda Waduk Ciniru Kab. nilai ekonomi proyek IRR 6.148 ha. potensi listrik 6.400 MWh dan penyediaan air baku untuk 79. Bandung Kab. Jika pembuatan Waduk Jatigede di tunda.000 MWh.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. potensi listrik sebesar 1. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung pengairan irigasi seluas 68.835 jiwa. Volume tampungan sebesar 2.126 jiwa.07% pengairan irigasi seluas 9.65 %).63% pengairan irigasi seluas 5. Garut mengairi sawah mengairi sawah mencukupi kebutuhan air rumah tangga. 4 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citarum NO.4 juta m3.872 MWh dan penyediaan air baku untuk 22. pengairan irigasi seluas 18.

Volume tampungan sebesar 35 juta m3. Karawang Rehabilitasi Irigasi Kab.6 GWh dan potensi air baku 298 ha.439 ha. pengairan irigasi seluas 10. pengairan irigasi seluas 12. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .7 GWh dan potensi air baku 1. Citarik Hulu Pekerjaan Konstruksi S. pengairan irigasi seluas 9. pengairan irigasi seluas 4. potensi listrik 5.16% pengairan irigasi seluas 9. potensi listrik 10. potensi listrik 3.530 ha. pengairan irigasi seluas 600 ha. pengairan irigasi seluas 8. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Nilai ekonomi proyek IRR sebesar 22.56 %.70 GWh dan potensi air baku. pemenuhan kebutuhan air baku dan keperluan irigasi dan perikanan tambak mendukung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Penyediaan irigasi seluas 6.7 GWh dan potensi air baku. Karawang Kab. Normalisasi sungai ± 5 km. potensi listrik 0. potensi listrik 8. Cikeruh LOKASI Kuningan Kuningan Kuningan Kuningan Garut Garut Cirebon Sumedang Kuningan Kuningan Cirebon Cirebon Cirebon Cirebon MANFAAT & PENJELASAN pengairan irigasi seluas 9.145 ha.2 GWh dan potensi air baku 444 ha. Nilai ekonomi proyek IRR 12. Normalisasi sungai ± 10 km. Subang Rehabilitasi Irigasi Kab. Citarik Hulu Pekerjaan Penyempurnaan Flood Warning System Peningkatan Kapasitas Sungai Pekerjaan Konstruksi S.3 GWh dan potensi air baku 828 ha.153 jiwa.405 ha. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. potensi listrik 1. pengairan irigasi seluas 2. pengairan irigasi seluas 8. pengairan irigasi seluas 4.275 ha dan potensi air baku 828 ha.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10.355 ha. pengendalian banjir dan pengamanan pantai 4-16 41 42 43 44 45 46 47 48 Indramayu Cirebon Kab.20 GWh.173 ha. potensi listrik 0. Penyediaan irigasi seluas 19.982 ha.275 ha. pengairan irigasi seluas 8.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. potensi listrik 11. Bekasi Rehabilitasi Irigasi Kab. Indramayu 49 50 51 52 Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.4 GWh dan potensi air baku 444 ha. Indramayu S. Subang Kab.1 GWh dan potensi air baku 60 ha. Bekasi Kab. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. potensi listrik 1. Penyediaan irigasi seluas 12.439 ha.017 ha.468 Ha sawah dan ± 750 Ha tambak).275 ha.210 ha.145 ha dan potensi listrik 17.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. Sampai dengan Jalan Raya Bandung-Tasik ± 5 km.000 ha. 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 KEGIATAN Waduk Cimulya Waduk Gunungkarung Waduk Manenteng Waduk Pecang Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk Seuseupan Waduk Cihirup Waduk Mangit Waduk Ciwaru Waduk Cihowe Waduk Dukuh Badag Waduk Cileuweung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Long Storage Indramayu Pengembangan 6 Embung Rehabilitasi Irigasi Kab. Cimande Pekerjaan Konstruksi S. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.40 GWh dan potensi air baku 915 ha. Normalisasi sungai ± 5 km. pengairan irigasi seluas 8.004 jiwa. Penyediaan irigasi seluas 24. Peningkatan Kapasitas System Sungai Citarum Hulu Q5 menjadi Q20. memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu-Cirebon (± 4.

Mandalawangi. Kabupaten Majalengka.126 jiwa. potensi listrik 0. DAS Cipanas. 4-17 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waduk Cipanundan Waduk Cilutung Waduk Cipanas Waduk Sarwadadi Long Storage Indramayu Waduk Bojong Waduk Brahim Waduk Cimulya Long Storage K. 5 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Cimanuk-Cisanggarung NO. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Cimanuk-Cisanggarung diuraikan pada Tabel 4.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. volume tampungan 2. Memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu . Kabupaten Kuningan. Irigasi seluas 600 ha. DAS Pangkalan. potensi listrik terpasang 110 MW dan penyediaan air baku untuk 79.1 GWh dan air baku 60 ha.3 jt m3. potensi listrik terpasang187 MW dan penyediaan air baku untuk 22.439 ha. meliputi 7 wilayah administrative. yaitu: Kabupaten Garut. jika Waduk Jatigede ditunda.468 ha. G.Cakrabuana dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon. Volume tampungan sebesar 395 jiwa.Jamblang Waduk Cipasang Waduk Cihowe Kuningan Majalengka Indramayu Cirebon Indramayu Kuningan Cirebon Garut Cirebon LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . G. DAS Cilalanang. Kabupaten Sumedang.27 juta m3 Irigasi seluas 9. Irigasi seluas 500 ha dan penyediaan air baku 300 kk Pemenuhan kebutuhan air irigasi dan perikanan tambak Volume tampungan : 0. dari mata air yang berasal dari G. Luas wilayah WS Cimanuk – Cisanggarung adalah 6932.1 juta m3 Irigasi seluas 4.3. volume tampungan 1. Kuista . potensi listrik 4. Irigasi seluas 20.7 jt m3. potensi listrik 0.Malabar. 1 KEGIATAN Waduk Jatigede LOKASI Sumedang MANFAAT & PENJELASAN Irigasi seluas 90.36 juta m3 Volume tampungan : 0.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4.004 jiwa. Tabel 4. maka Waduk Cilutung dengan El + 294 dapat menjadi alternatif cadangan utama Irigasi seluas 12. Kabupaten Indramayu. DAS yang termasuk kedalam WS CimanukCisanggarung adalah DAS Cimanuk.145 ha. Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon.5.2 GWh dan potensi air baku 444 ha. DAS Bangkaderes.960 ha.000 ha. Harga tampungan per m3 rendah (Rp 650/m3) Volume tampungan netto 796. DAS Cimanggung.76 Km².Guntur dan G.1.Cirebon ( sawah 4.5 GWh dan potensi air baku 915 ha dengan volume tampungan sebesar 35 juta m3. volume tampungan sebesar 395 juta m3.000 ha. tambak 750 ha ). DAS Cisanggarung. Irigasi seluas 18. dan DAS Kali Jurang Jero.5 Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung Sungai Cimanuk berhulu di wilayah administratif Kabupaten Garut . DAS Ciwaringin.683 jiwa.

volume tampungan 32 jt m3. Potensi listrik sebesar 86. Karung Waduk Maneungteung Waduk Pecang Waduk Seuseupan Waduk Masigit Waduk Ciwaru Waduk Dukuh Badag LOKASI Kuningan Sumedang Majalengka Garut Garut Kuningan Kuningan Kuningan Cirebon Kuningan Kuningan Kuningan MANFAAT & PENJELASAN Irigasi seluas 8. volume tampungan 20 jt m3. DAS Ciwulan. Irigasi seluas 4. volume tampungan 78 jt m3.6 Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan terdiri beberapa sungai yang berhulu terutama dari mata air yang berasal dari G.000 MWh dengan volume tampungan 2.4 GWh dan potensi air baku 444 ha. Sawal. Irigasi seluas 12. DAS Cipatujah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.982 ha potensi listrik 1. Volume tampungan 53 juta m3. volume tampungan 50 juta m3. volume tampungan 86 juta m3.70 GWh dan potensi air baku 915 ha. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Citanduy-Ciwulan adalah : DAS Citanduy. DAS Cikondang. Kota LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .439 ha potensi listrik 3.3. Irigasi seluas 9. Kabupaten Tasikmalaya. Kota Tasikmalaya.Luas wilayah WS Citanduy–Ciwulan adalah Banjar. DAS Cimedang. potensi listrik 1.4 juta m3 . Irigasi seluas 8. Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut.6 GWh dan potensi air baku 298 ha. Irigasi seluas 5.7 GWh dan air baku 828 ha. DAS Cisanggiri dan DAS Cilaki.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10.835 jiwa dengan volume tampungan 71 juta m3.000 ha potensi listrik 11.996 Km² dan meliputi wilayah administratif Kabupaten Garut. Galunggung dan G. Irigasi seluas 2.6.145 ha dan potensi listrik 17. 4-18 4.275 ha. sekitar 7.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5. Irigasi seluas 9.000 ha dan penyediaan air baku 175 juta m3. potensi listrik 8.153 jiwa .3 GWh dan air baku 828 ha. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Citanduy-Ciwulan diuraikan pada Tabel 4. volume tampungan 12 jt m3.20 GWh. DAS Cijulang.275 ha. Irigasi seluas 8. Irigasi seluas 10.1. 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 KEGIATAN Waduk Cileuweung Waduk Ujungjaya Waduk Pasirkuda Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk G.7 GWh dan potensi air baku 1017 ha dengan volume tampungan 69 juta m3. dan Kabupaten Ciamis. Irigasi seluas 8.275 ha dan potensi air baku 828 ha. sungaisungai tersebut pada akhirnya bermuara ke Samudera Indonesia di wilayah Kabupaten Ciamis.173 ha potensi listrik 10.

Pekalongan dan anak-anak sungainya Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Sidareja Cihaur Mengembalikan dan meningkatkan kapasitas bangunan klep fungsi dan Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Ciseel. pertanian dan prasarana umum. Cimeneng.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. 1 2 3 KEGIATAN LOKASI MANFAAT & PENJELASAN Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan 4-19 Penyusunan pola Wilayah sungai Citanduy pengelolaan SDA Wilayah Ciwulan (Propinsi Jabar & Sungai Citanduy Ciwulan Jateng) Rencana induk (Master Wilayah sungai Citanduy Plan) pengelolaan SDA Ciwulan (Propinsi Jabar & WS Citanduy Ciwulan Jateng) Lower Citanduy Flood Management: Pengerukan Plawangan Plawangan . Cikonde. 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. Tasikmalaya. Jagadenda. Cilacap Kota Banjar. Kawungatan. 10 lokasi Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis 4 5 Kabupaten Ciamis. Kabupaten Garut Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Kabupaten Cilacap. Tasikmalaya. Ciamis dan Garut Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan lokasi chekdam 15 Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. Ciputrahaji. 6 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citanduy-Ciwulan NO. 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. 20 lokasi Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Memperlancar aliran sungai Citanduy menuju ke laut lepas Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Cibeureum. Kab. Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan c Normalisasi sungai-sungai DAS Citanduy Hilir Normalisasi sistem drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. Citalahab dan Cikaso Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Mengembalikan dan meningkatkan fungsi bangunan Klep Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengamankan daerah permukiman.Segara Anakan (Kabupaten Cilacap & Ciamis) Normalisasi sungai-sungai Kabupaten Cilacap DAS Segara Anakan Normalisasi sistem drainasi Daerah Irigasi Sidareja Cihaur dan sekitarnya Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. Plumpatan. Kabupaten Tasikmalaya. Ciamis dan Garut Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

perkotaan dan industri serta irigasi Potensi listrik yang dihasilkan kecil. Elevasi puncak terhadap MSL 180 m. Irigasi 3.08 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Mengalihkan muara sungai Citanduy langsung ke Laut (teluk Nusaware) Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. Elevasi puncak MSL : 55 .330 . Tampungan total 150 juta m3 dan tampungan aktif 18 juta m3 Meningkatkan kebutuhan air baku dan pengendali banjir serta sedimentasi. Tampung total 14 juta m3. Tinggi mercu bendung 7 m. air minum kota sidareja dan pengendalian banjir Mengamankan daerah permukiman dan prasarana umum/obyek wisata Mengamankan daerah permukiman. panjang 40 m. tinggi mercu bendung 80 m. Diharapkan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan Elevasi puncak terhadap MSL 265 m. Tampungan aktif (juta m3) : 154 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. dan prasarana umum/TPI/LAPAN/objek wisata Mengamankan daerah permukiman. Elevasi terhadap MSL 180 m. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. bak tampung 3 m dan bahan tubuh bendung adalah urugan tanah dengan inti clay tampungan aktif 27. Dapat menimbulkan dapak sosial ekonomi rakyat. Tinggi Mercu Bendung : 33 . perkotaan dan Industri serta irigasi. perkotaan dan industri dan tenaga listrik sebesar 50 lt/det. Tampungan total 120 juta m3 dan tampungan aktif 55 juta m3. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 80 m.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. perkotaan dan industri Tasikmalaya 800 ltr/det. luas areal 440 ha. perkotaan dan industri serta irigasi. Potensi listrik yang dihasilkan kecil. 6 7 KEGIATAN Rehabilitasi Bendung Manganti Tahap II Pengamanan Pantai Pantai Pangandaran 3 km Pantai Bojongsalawe 3 km Pantai Cilaut Eureun 2 km Pantai Ranca Buaya 1 km Pantai Bagolo 1 km Pantai Cipatujah 2 km LOKASI Kabupaten Ciamis MANFAAT & PENJELASAN Penyediaan air Irigasi 27. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. luas areal 470 ha.229 ha dan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan. Tampungan total 485 juta m3 dan tampungan aktif 220 juta m3. Meskipun potensi listrik yang dihasilkan kecil. Tinggi mercu bendung 28 m. dan prasarana umum Mengamankan daerah permukiman. perkotaan dan industri serta irigasi. Tampungan Total (juta m3) : 270 .000 ha. luas arealnya 4-20 Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Tasikmalaya Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Garut Sungai Citanduy Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap 8 9 Sudetan Citanduy Waduk Matenggang 10 Waduk Pasirangin Kabupaten Tasikmalaya 11 Waduk Binangun I Kabupaten Ciamis 12 13 Waduk Binangun II Waduk Ciamis / Leuwi Keris Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis 14 Waduk Cikembang Kabupaten Ciamis 15 Waduk Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya 16 Waduk Banjar Kabupaten Banjar LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tampungan total 180 juta m3 dan tampungan aktif 78 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Tinggi mercu bendung 60 m. luas arealnya 3.050 ha. tinggi mercu bendung 100 m. tinggi mercu bendung 70 m. dan prasarana umum Penanggulangan sedimentasi di Segara nakan dari sungai Citanduy. Dapat menimbulkan dampak sosial ekonomi rakyat. Area (ha) : 1. luas areal 440 ha. panjang bendung 180 m. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 48 M.

DAS Cacaban. 4-21 4.000 ha). Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Pemali-Comal terdiri dari 6(enam) Daerah Aliran Sungai(DAS). semi teknis dan sederhana) seluas 38.4 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 26. pembangunan/perbaikan tanggul. Babakan dan 6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . analisa kelayakan ekonomi menunjukkan nilai EIRR sebesar 17. Kota Tegal.93 juta m3. Kabupaten Pemalang. Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Batang. Genteng dan K.9%. Sengkarang Kabupaten Pekalongan desa Karanganyar Kabupaten Pemalang Sungai Tanjung MANFAAT & PENJELASAN pengendalian banjir (± 4. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi (teknis.000 ha). Kabupaten Pekalongan..300 lt/dt.620 ha. 1 KEGIATAN Waduk Kawung Waduk Ki Sebayu Waduk Sipring Waduk Krandegan Bantar LOKASI hulu K.7. DAS Comal. Nilai EIRR 12. 7 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pemali-Comal NO. Kabupaten Tegal. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Pemali-Comal diuraikan pada Tabel 4.730 ha. Tabel 4.6% pengendalian banjir (± 5. tinggi bendung 40 m. Tampungan total 460 juta m3 dan tampungan aktif 250 juta m3.482 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI ± 867. Keruh Kabupaten Pemalang hulu sungai K. DAS Rambut.3. 2 3 4 Gede 5 Waduk Karanganyar Pengendalian Banjir Sungai Tanjung. Pemali Kabupaten Brebes hulu K. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 27. Informasi kelayakan proyek tidak tersedia. Selain itu untuk penyediaan air baku dengan suplai 2.718 Ha. Gung Kabupaten Tegal hulu sungai K.534 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI.1. volume tampungan 30 juta m3.770 Ha. Kota Pekalongan. volume tampungan 45. yaitu : DAS Pemali. Penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 965. potensi waduk 150 juta m3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. untuk mereduksi daerah rawan banjir seluas 1. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.35 lt/dt. dengan tinggi bendung 95 m. Kabupaten Batang.7 Wilayah Sungai Pemali-Comal Wilayah Sungai Pemali-Comal meliputi wilayah administratif kabupaten / kota sbb : Kabupaten Brebes. Peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 7.717 Ha.905 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 8. DAS Kupang dan DAS Lampir. KEGIATAN LOKASI MANFAAT & PENJELASAN 1. penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 2.

perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. dengan nilai EIRR adalah sebesar 15. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Kebumen.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998.1%. dan Kabupaten Purworejo. Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Purworejo. yang pada akhirnya wilayah Kabupaten Banyumas. 287.1 km. dengan nilai EIRR adalah sebesar 26. 10. 4.352.4% Pembangunan/perbaikan tanggul. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12.3 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. Kabupaten Wonosobo.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. pembangunan jembatan kereta api baru 1 buah.529 ha. dengan nilai EIRR adalah sebesar 42.9% Pembangunan/perbaikan tanggul. KEGIATAN Kabuyutan LOKASI MANFAAT & PENJELASAN 4-22 7 8 Pengendalian Banjir Sungai Sragi Pengendalian Banjir Sungai Kupang Sungai Sragi Sungai Kupang 9 Pengendalian Banjir Sungai Kluwut Pengendalian Banjir Sungai Sambong Kabupaten Brebes 10 kabupaten Batang dan kabupaten Pekalongan 11 Pengendalian Banjir Sungai Comal kabupaten Pemalang 12 Pengendalian Banjir Sungai Waluh Sungai Waluh 13 Pengendalian Banjir Sungai Rambut Waduk Jatinegara Sungai Rambut 14 Kec. 231 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. 20. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. normalisasi alur sungai 7. Wilayah Sungai SerayuBogowonto meliputi wilayah administratif Kabupaten Cilacap. pembangunan inlet drainase 11 buah.5% Pembangunan/perbaikan tanggul. diharapkan dapat mereduksi daerah rawan banjir seluas 6.1. Usulan baru dan belum pernah dilakukan studi. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12. pembangunan bangunan pengukur debit sungai 1 buah. Kabupaten Banjarnegara.3. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Kabupaten Banyumas.2 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. Kabupaten Purbalingga.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.1% Pembangunan/perbaikan tanggul. pembangunan jalan dan jembatan baru. Meningkatkan intensitas tanam pada daerah irigasi Cipero seluas 8.130 ha Pelindung tebing pasangan batu kali 5.699. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Jatinegara Jateng pembangunan/perbaikan tanggul. pembangunan/perbaikan tanggul.667 m.010 ha dan untuk mensupli waduk Cacaban dengan luas irigasi 1. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. 822.8 Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto terdiri beberapa bermuara ke Samudera Indonesia di sungai yang berhulu terutama dari mata air yang berasal dari gunung Selamet. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.

Kab. DAS Wawar. Kebumen dan Purworejo DAS Wawar. Target 6 km . Banyumas dan Cilacap DAS Bogowonto dan DAS Cokroyasan Kab. Target 16 km Pengamanan pemukiman transportasi. Tabel 4. yang termasuk kedalam WS Serayu-Bogowonto adalah Sub-DAS Klawing.Cilacap. Sub-DAS Begaluh.Cokroyasan Operasi dan Pemeliharaan Sungai LOKASI Anak S. Sub-DAS Ciseel. DAS Bengawan. Kebumen. dari bahaya banjir. 1 KEGIATAN Pengedalian banjir S. Kab. Wawar dan Telomoyo. Muara-muara DAS Bogowonto. Kab.Serayu.20 lokasi kritis dan 4-23 2 3 Mengatasi adanya halangan sungai yang dapat mengakibatkan banjir dan memperlancar transportasi antar pedesaan di 10 lokasi Mengatasi adanya kejadian banjir melebihi rencana. DAS Pekacangan. Normalisasi Kali Pantai antara S. 8 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Serayu-Bogowonto NO. Sub-DAS Serayu Hulu. persawahan transportasi. Banyumas dan Kebumen. Telomoyo dan Tipar. DAS Bogowonto.Lukulo & anak-anak sungainya. Sub-DAS Tulis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. persawahan dan 7 Pengamanan jalur transportasi KA Yogya -Jakarta. Serayu. S. Sub-DAS Merawu dan DAS Padegolan.Kebumen S Telomoyo & anak-anak sungainya.Purbalingga dan Banyumas S Telomoyo.Kebumen S Telomoyo & anak-anak sungainya. Peninggian jembatan melintang sungai-sungai di DAS Telomoyo Pembangunan pelimpah banjir DAS Telomoyo Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Rehabilitasi Jembatan KA melintang sungai di 7 lokasi. Target 15 .Klawing lanjutan Perkuatan tebing lokasi kritis dan penanggulangan banjir nopember 2004. Kab. Kab. Mempertahankan kapasitas dan fungsi prasarana pengendalian banjir 8 9 10 Pembangunan bangunan Menahan pengaruh akibat intrusi air laut di 5 lokasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kab.8. DAS Ijo. Cokroyasan dan Bogowonto. Purworejo.Kebumen DAS Tipar dan Ijo. persawahan dan 4 5 6 . Kab.Bogowonto dan S. Sub-DAS Sapi.Purworejo DAS Bogowonto. Sub-DAS Tajum. sehingga dapat mengurangi dampak yang lebih buruk Pengamanan pemukiman transportasi. Banjarnegara dan Purbalingga. Cokroyasan. Kab. DAS Serayu Hilir. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Serayu-Bogowonto diuraikan pada Tabel 4. Kebumen. Normalisasi sungai dan bangunan pengatur air untuk mengatasi banjir daerah pemukiman dan budi daya perikanan. MANFAAT & PENJELASAN Pengamanan pemukiman dan persawahan Target 30km Pengamanan pemukiman . DAS Telomoyo.

Wonosobo. Lukulo. Cilacap.Pekacangan Pembangunan Waduk Kesegeran di S. DAS Serayu.Banyumas DAS Serayu Kab.Gintung Konservasi lahan dan penelitian 20 21 Multi purpose ( Irigasi. S.Kebumen DAS Serayu. Kebumen dan Purworejo Kab. Target 10 lokasi 15 Mengatasi kekurangan air pada musim kering 16 Penyediaan air baku pedesaan dari bangunan konservasi (groundsill). Banyumas. Penyediaan air baku pedesaan dari mata air & sumber air Mengatasi degradasi sungai. Kab. Ijo dan Tipar MANFAAT & PENJELASAN 4-24 11 Pembangunan bangunan pemanfaatan daerah genangan banjir Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) dan Pengerukan hilir sungai Jladri Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) DAS Telomoyo. Wawar dan Ijo DAS Telomoyo Mendaya gunakan lahan depressi 12 Mengurangi sedimentasi di S. DAS Bogowonto. Banjarnegara. Serayu. Wawar dan Bogowonto. Banyumas. Kab. Telomoyo . Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi. Air Baku dan PLTA) 22 Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) 23 Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Wawar dan Telomoyo. Purbalingga. Banjarnegara dan Purbalingga.Banjarnegara DAS Serayu Kab. Kebumen dan Purworejo. Banyumas. Kab. Kab. Wawar dan Cokroyasan.Jladri. Kebumen dan Purworejo (15 lokasi).Jatinegara dan S. Purbalingga. Telomoyo. DAS Serayu. Lukulo.Banjarnegara Mengurangi sedimentasi waduk dan pemanfaatan untuk air baku. Purworejo.Bogowonto Pembangunan Waduk Wanadadi di S.Purworejo DAS Serayu Kab.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. KEGIATAN penahan intrusi air laut LOKASI Telomoyo. Target 15 lokasi 14 Pembangunan Groundsill (Bangunan Penstabil dasar sungai). Kebumen.Telomoyo hilir 13 DAS Bogowonto. Kab. Cilacap. Banjarnegara.Trenggulun Pembangunan Waduk Gintung di S.kebumen Mengurangi sedimentasi sungai kota Kebumen dan 19 Penataan kawasan arboretum Pembangunan Waduk Bener Di S. Penyediaan air baku dari bendungan Wadaslintang Pembangunan bangunan konservasi terpadu di hulu sungai Mengatasi kekurangan air pada musim kering 17 18 Mengatasi kekurangan air pedesaan Kab. Banyumas. Wonosobo. Lukulo dan Bogowonto. Kebumen dan Purworejo (200 lokasi) Kab. Purbalingga.

5 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1. Brangsong dan Kendal Semarang dan Demak Semarang dan Demak Kab.DAS Lusi Hulu. 9 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Jratun-Seluna NO. Semarang Kaliwungu. Kabupaten Boyolali. Grobogan Kab. Nilai EIRR 18.Kemit LOKASI DAS Telomoyo Kab. Nilai EIRR 9. Nilai EIRR 14% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 13. Kota Salatiga. DAS Lasem. DAS Garang.3. DAS Randu Gunting. DAS Tuntang.9. DAS Glagah. Tabel 4.9 Wilayah Sungai Jratun-Seluna Wilayah Sungai Jratun-Seluna meliputi wilayah administratif Kabupaten Kendal. 1 KEGIATAN Waduk Jatibarang LOKASI Kab. Grobogan Kab.8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.Kebumen MANFAAT & PENJELASAN Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) 4-25 4. DAS Pandansari. Kabupaten Kudus.1% (layak ) Pengembangan suplai untuk RKI 1. Sub. Kabupaten Semarang.700 l/detik (direncanakan memberikan 900 l/dt ke Semarang dan 800 l/detik ke Kendal) dan konservasi air tanah. Kabupaten Demak.7 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 750 l/detik dan konservasi air tanah. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Jratun-Seluna diuraikan pada Tabel 4. Nilai EIRR 16. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Jratun-Seluna yaitu : Sub DAS Serang Hilar. Kabupaten Grobogan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Konstruksi dam Jatibarang dimulai tahun 2002 (kegiatan yang masuk dalam jadwal biaya rendah). DAS Bodri. Kota Semarang. dan Sub. Kabupaten Temanggung. Grobogan 4 5 6 7 8 Jragung Barrage + Tunnel Waduk Dolok Waduk Bandung Harjo Waduk Ngemplak Waduk Coyo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . DAS Juwana. Sub-DAS Lusi Tengah. 2 3 Waduk Mundingan Waduk Suren Kedung Kab.5% (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1.DAS Serang Hulu.1. Kabupaten Pati dan Kabupaten Jepara. nilai EIRR 10. DAS Jragung.750 l/detik dan konservasi air tanah. 24 KEGIATAN Pembangunan Waduk Kemit di S. DAS Kedung Tanu. DAS Gandu. Semarang MANFAAT & PENJELASAN Pengembangan suplai untuk RKI 920 l/detik dan konservasi air tanah.6% (layak) pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 11.020 l/detik dan konservasi air tanah.

9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Kabupaten Kulonprogo. Kabupaten Magelang. DAS Progo. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .10. SubDAS Winango.1% pengendalian banjir seluas 12. DAS Serang.DAS Progo Hulu.1. Layak secara ekonomi. Nilai EIRR 22. Layak secara ekonomi. Layak secara ekonomi. Layak secara ekonomi.6% Pengendalian banjir seluas 6. Grobogan Kab. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Progo-Opak-Oyo yaitu : Sub. 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 KEGIATAN Waduk Tirto Embung Kedung Waru Embung Balong Pengendalian Banjir Sungai Blorong Pengendalian Banjir Sungai Garang Drainase Kota Semarang Tenggang + Sringin Drain Dombo-Sayung Floodway Kebon Batur Floodway Pengendalian Banjir Jragung/Tuntang Pengendalian Banjir Serang-WulanJuana LOKASI Kab. Sub-DAS Kanci.3.670 ha. Sub-DAS Blongkeng. Layak secara ekonomi. nilai EIRR 15. nilai EIRR 17.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Kendal Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kab. Demak Kab. Nilai EIRR 8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah Pengendalian banjir seluas 590 ha.10 Wilayah Sungai Progo-Opak-Oyo Wilayah Sungai Progo-Opak-Oyo meliputi wilayah administratif Kabupaten Temanggung. Sub-DAS Elo. Layak secara ekonomi. nilai EIRR 24% Pengendalian banjir seluas 1. Sub-DAS Opak.DAS Tinggal. Blora Kab. nilai EIRR 20. Pati MANFAAT & PENJELASAN Nilai EIRR 18. Nilai EIRR 13. Kota Yogyakarta. Kabupaten Sleman.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.650 ha.957 ha.028 ha.337 ha. Sub-DAS Oyo. dan Sub-DAS Bedog. Demak Kab. Kota Magelang. Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul.4% pengendalian banjir seluas 13.13% Pengendalian banjir Pengendalian banjir seluas 21 ha. nilai EIRR 18. nilai EIRR 15. Kudus dan Kab. Sub-DAS Tinalah.9% pengendalian banjir seluas 10. Blora Kab.8% 4-26 4. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Progo-Opak-Oyo diuraikan pada Tabel 4. Sub.

Kulon Progo Kab. Gunung Kidul Kab.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.000 m3 Berpotensi untuk mengendalikan banjir. dengan tetap memanfaatkan air dari Kali Progo melalui intake Kalibawang.000. Volume tampungan embung adalah 1. Tinggi embung adalah 13. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 KEGIATAN Embung Tangkisan I Embung Tangkisan II Embung Ngroto Embung Kayangan Embung Dawetan Embung Penggung Embung Girinyono Embung Weden Embung Kebonromo Embung Kronggahan Embung Kedungranti Embung Sari Karang LOKASI Kab.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Untuk DAS Serang. Serang Sungai Progo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Gunung Kidul Kab.5 m3/dt penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Tinggi embung adalah 11 m dengan volume tampungan 105. Belum tersedia data detail Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir 4-27 Embung Ngalang Embung Kedunggedeng Waduk Tinalah 16 17 18 19 20 21 Waduk Progo Magelang Waduk Elo Hilir Waduk Kaloran Waduk Elo Waduk Sambiroto Waduk Nanggulan I Kali Progo Kali Elo Kaloran Kali Elo Progo Hulu K. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.500 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. mengairi irigasi 450 ha dan penyedia air minum 75 lt/detik. Gunung Kidul Kali Progo MANFAAT & PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Tinggi embung adalah 13. Kulon Progo Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. 10 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Progo-Opak-Oyo NO. Kulon Progo Kab. Sleman Kab. Tinggi embung adalah 5 m dengan volume tampungan 250. Kulon Progo Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.75 m dengan volume tampungan 35. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. dengan pembatasan pengambilan air sebesar 2. Kulon Progo Kab.75 m dengan volume tampungan 7. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku 73 lt/detik dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Kab.

Kabupaten Lamongan. Kabupaten Wonogiri. Sub-DAS Samin. Kota Surakarta. Fase II Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hulu. KabupatenBlora. Fase II Perbaikan Sungai Kali Madiun. Sub-DAS Bitung. Kabupaten Karanganyar. Kota Surabaya. Kabupaten Gresik. Fase II dan III Pembangunan check dam dan ground sill Pengembangan Bengawan Jero Bengawan Solo FFWS Long-channel Storage Bengawan Solo Hilir Penyediaan Air PDAM di Wilayah Surakarta LOKASI Wonogiri seluruh WS hilir WS hulu WS Kali Madiun Hulu Sungai Bengawan Solo dan Kali Madiun pengendalian banjir pengendalian banjir penyediaan air baku penyediaan air baku pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir MANFAAT & PENJELASAN LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 KEGIATAN Sedimentasi Waduk Wonogiri Penanganan Pengelolaan Kualitas Air Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hilir. Sub-DAS Lamongan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Kabupaten Madiun. Sub-DAS Pepe.3. Kabupaten Boyolali. Kabupaten Bojonegoro. Sub-DAS Wate Tengah. Kabupaten Pacitan. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Bengawan solo yaitu : DAS Damas. Kabupaten Ngawi. Kabupaten Magetan dan Kabupaten Ponorogo. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Bengawan solo diuraikan pada Tabel 4.11 Wilayah Sungai Bengawan Solo Wilayah Sungai Bengawan solo meliputi wilayah administratif kabupaten/kota sebagai berikut : Kabupaten Rembang. 11 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Bengawan Solo NO. SubDAS Madiun. Kabupaten Klaten. 4-28 Tabel 4. Kabupaten Sukoharjo.11. DAS Pagotan. Kabupaten Sragen. Kabupaten Gunungkidul.1.

Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. Kabupaten Jombang. DAS Panggul. DAS Penguluran. Kota Malang. Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek. Sub-DAS Konto. Kota Blitar. Kabupaten Malang. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 KEGIATAN Penyediaan Air untuk Sstem Pengembangan PDAM Penyediaan Air untuk Daerah Rembang Solo Vallei Werken 9 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hulu 3 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Kali Madiun 16 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hilir Waduk Irigasi Kedung Bendo Rehabilitasi dan Peningkatan Sistem Irigasi Waduk Serbaguna Bendo Waduk Serbaguna Badegan Waduk Pidekso Rehabilitasi Tlg. Kabupaten Kediri. Ngebel Rehabilitasi Waduk dan Pengelolaan DTA Waduk Wonogiri Rehabilitasi dan Pengelolaan Lahan Kritis di 6 Lokasi DTA LOKASI MANFAAT & PENJELASAN penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku konservasi sumber daya air konservasi sumber daya air 4-29 4.3. Kabupaten Nganjuk. Kabupaten Madiun. Kota Kediri. SubDAS Berantas Tengah. Sub-DAS Brantas Hulu.1. Kabupaten Sidoarjo. maka DAS yang termasuk kedalam WS Kali Brantas adaslah Sub-DAS Brangkal.12 Wilayah Sungai Kali Brantas Wilayah Sungai Kali Brantas meliputi wilayah administratif Kota Surabaya. Kabupaten Mojokerto.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Kota Mojokerto.

DAS Banyuputih. DAS Bedadung. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Pasuruan. Sub-DAS Wadas. dan Sub-DAS Lekso.1. DAS Rejoso. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Kali Brantas diuraikan pada Tabel 4. DAS Jatiroto. DAS Kramat. dan DAS Sumber Manjing.12. Kabupaten Lumajang.3.13 Wilayah Sungai Pekalen-Sampean Wilayah Sungai Pekalen-Sampean meliputi wilayah administratif Kota Pasuruan. Kota Probolinggo. Tabel 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA DAS Lorog. DAS Mayang. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. DASA Deluwang. 1 2 3 4 5 KEGIATAN Sabo Gunung Kelud Sabo Brantas Hulu dan Sungai Lesti Pengendalian Banjir Sungai Widas Lodoyo Diversion Tunnel Beng Dam LOKASI Kali Konto Brantas Hulu dan Sungai Lesti Sungai Widas Ludoyo mengurangi transport sediment ke reservoir Dam Sengguruh dan Dam Sutami. Kabupaten Situbondo. Sub-DAS Brantas Hilar. DAS Mujur. DAS Baru. DAS Pekalen. Sub-DAS Ngrowo Ngasnan. Kabupaten Bondowoso. DAS yang termasuk kedalam WS Pekalen-Sampean adalah DAS Sampean. Data teknis yang direncanakan untuk volume tampungan efektif 147 milyar m3 MANFAAT & PENJELASAN 4-30 4. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Pekalen-Sampean diuraikan pada Tabel 4. DAS Bondoyudo. DAS Tangkail. water supply dan hydropower. Sebanyak 17 Sabo Dam telah direncanakan untuk daerah hulu DAS Sengguruh Dam. DAS Tempuran. 12 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Kali Brantas NO. DAS Sebani-setail. Pengembangan terhadap masalah pengendalian banjir di Sungai Widas sesuai dengan yang direncanakan dalam Master Plan tahun 1985 Pencegahan terhadap bencana yang dapat ditimbulkan oleh Gunung Kelud Irigasi.13. Kabupaten Probolinggo. Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi. DAS Bajulmati. Sub-DAS Marmoyo.

DAS Kemuning. 13 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pekalen-Sampean NO. Kabupaten Sampang.3. DAS Pasengsengat. DAS Brambang. DAS Jambangan. 14 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Madura NO. Lesti MANFAAT & PENJELASAN Irigasi. water supply dan hydropower dan untuk sediment control. 1 2 3 4 5 KEGIATAN Penyediaan baku industri air LOKASI seluruh WS Pamekasan Bangkalan Pamekasan Sumenep MANFAAT&PENJELASAN sumber daya air yang terbatas berupa sungai-sungai kecil.14. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Madura diuraikan pada Tabel 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. DAS Budur. 1 KEGIATAN Genteng I Dam LOKASI Sungai Genteng. Data teknis yang direncanakan adalah untuk volume tampungan efektifnya sebesar 54 milyar m3 4-31 4.14 Wilayah Sungai Madura Wilayah Sungai Madura meliputi wilayah administratif Kabupaten Bangkalan. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. DAS Blega. DAS yang termasuk kedalam WS Madura adalah DAS Patean. sehingga harus ada solusi sumber daya air bila Madura hendak difungsikan pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 100 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 50 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 Pembangunan Waduk Nipah Pembangunan Waduk Blega Pembangunan Waduk Samiran Pembangunan Wa duk Tambak Agung LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan DAS Kangkah.1. DAS Samajid. Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep. DAS Saroka. Tabel 4. DAS Sodung. DAS Temburu.

karena rencana pengembangan SDA Wilayah Sungai tersebut dibuat sebelum diterbitkannya UU No.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Jawa yang diuraikan pada bagian terdahulu (Sub Bab 4. Alasan lain perlunya penyesuaian terhadap rencana induk yang adalah bahwa belum seluruh infrastruktur SDA yang diusulkan disetiap wilayah sungai telah lolos Studi kelayakan yang mencakup 3 (tiga) aspek analisis. Langkah pertama dalam penyesuaian adalah membuat Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai yang dibuat berdasarkan prosedur dan proses sebagaimana diatur oleh UU SDA No. Sehubungan dengan itu perlu dilakukan penyesuaian terhadap rencana induk pengelolaan WS. Hal ini berarti pembuatan rencana induk tidak diawali dengan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai.7 tahun 2004. Disamping itu proses penyesuaian Rencana Induk juga harus melibatkan pihak pemangku kepentingan SDA di wilayah sungai tersebut. yaitu teknis. Setelah Pola Pengelolaan diselesaikan semua rencana induk pengelolaan wilayah sungai yang telah ada perlu disesuaikan dengan Pola Pengelolaan tersebut. Oleh sebab itu perlu dilaksanakan “quick assessment” untuk mengidentifikasi alternatif-alternatif prasarana yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 7 tahun 2004. dan belum banyak melibatkan pihak pemangku kepentingan (stakeholders) bidang SDA dalam penyusunannya.3. sebaiknya usulan terdiri dari lebih dari satu opsi yang merupakan alternatif-alternatif sehingga dapat dipilih alternatif yang paling layak untuk memenuhi kebutuhan prasarana SDA dengan investasi yang paling kecil atau hanya bersifat merehabilitasi prasarana yang sudah ada atau bahkan yang bersifat pendekatan non-fisik/non-struktural.2 Pengaturan Induk Wilayah Sungai Baru 4-32 Dari daftar usulan proyek-proyek infrastruktur sumber daya air pada wilayahwilayah sungai di P.1) tidak satupun yang secara lengkap mengikuti urutan dan proses pembangunan infrastruktur Semua SDA dalam suatu kerangka pengelolaan Wilayah Sungai induk pengelolaan wilayah sungai yang mendasari sebagaimana diatur dalam UU Sumber Daya Air No. dan Rencana Induk yang telah disesuaikan tersebut perlu mendapat persetujuan dari Dewan SDA yang terkait. 7/2004. Disamping itu infrastruktur yang diusulkan masih bersifat “satu” pilhan.3. ekonomi dan sosial-lingkungan.

.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA diusulkan pada setiap lokasi yang memerlukan intervensi serta mengkaji kelayakan alternatif-alternatif tadi dari aspek teknis. 4-33 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa Gambar 4. ekonomi serta sosial dan lingkungan. 2 Rencana Wilayah Sungai baru.

perlu suatu tindakan untuk menyusun kembali (regrouping) kebijakan yang ada pada masing-masing balai penanggungjawab wilayah sungai terdahulu untuk menjadi kebijakan baru mengikuti wilayah sungai yang akan ditetapkan dalam waktu dekat.A2 Mengurangi debit banjir Sungai Ciliwung di Kota Bogor. 15 Penyusunan Kembali Alternatif Intervensi Struktural menurut Wilayah Sungai yang Baru KODE 02. Perubahan ini secara konsekwen harus ditanggapi dengan perubahan dalam strategi pengelolaan dan kebijakan untuk masing-masing wilayah sungai.B Cibaliung Cisawarna Kepulauan Seribu CidanauCiujungCidurianCisadaneCiliwungCitarum Bendung Karet Cibungur Bendung dan Bendung Karet Ciseukeut Bendung Karet Cikoneng.x menunjukkan secara spatial bentuk dari wilayah sungai yang baru. Mekarsari dan Karang Kamulyan Hulu Sungai Ciliwung MANFAAT&PENJELASAN suplesi air irigasi DI. penyedia air baku untuk kecamatan Banjarsari dan sebagai waduk pengendali banjir mengairi sawah seluas 2. Tabel 4. Cikarang.B WILAYAH SUNGAI Ciliman– Cibungur KEGIATAN Waduk Cimalur LOKASI Desa Cibatur Keusik Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak Cikamayapan.02.01.000 ha ASAL WS/ PROGRAM WS Ciujung Ciliman Cisadea – Cikuningan CiliwungCisadane 4-34 02. pemerintah telah menyiapkan suatu rancangan peraturan baru yang menetapkan perubahan susunan wilayah sungai ke dalam suatu komposisi bentuk wilayah yang baru. Selain itu Waduk Ciawi juga dapat berfungsi sebagai penyedia air untuk Kota Bogor dan DKI Jakarta serta sebagai sumber air untuk penggelontoran Sungai Ciliwung di musim kering LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Bendung Karet Cisangkuy Bendung Tipe Gergaji di Sungai Cibama Bendung Sungai Cihara Waduk Ciawi 02. Oleh karena itu.03.04. Ciparahu.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sejalan dengan itu. Berikut disajikan tabel yang dibuat untuk mengelompokkan kembali strategi kebijakan struktural pada masing-masing wilayah sungai sesuai dengan bentuknya yang baru.A2 02. Cilemer kiri seluas 500 ha. Gambar 4.

Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Tangerang Kab. Sunter.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Genteng Waduk Parung Badak Waduk Sodong Salak Contour Canal Ciliwung Floodway Tunnel Peningkatan Kanal Tarum Barat Pengembangan Cengkareng Floodway System LOKASI Sungai Cisadane tengah Sungai Cisadane hilir Sungai Cikaniki sekeliling Gunung Salak Kota Bogor Karawang . DKI Jakarta DKI Jakarta CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane WS Ciujung Ciliman Kab. Buaran. Normalisasi alur sungai 50 km. Bekasi Hulu Sungai Ciujung Waduk Cilawang Waduk Pasirkopo Long Storage Sungai Ciujung Waduk Bojongmanik Sungai Ciujung Sungai Ciujung Sungai Cisemeut WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tangerang Kab. perkotaan dan industri untuk kebutuhan Tangerang lewat KSCS mengambil alih fungsi Waduk Karian untuk mensuplai air irigasi ke daerah irigasi Ciujung pemenuhan kebutuhan air baku Jabotabek ASAL WS/ PROGRAM CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane 4-35 Sungai Cidurian Sungai Cimanceuri Sungai Cirarab Sungai Cisadane Cengkareng drain. Cikarang. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Master Plan 1997 Penyedia air rumah tangga.Bekasi Cengkareng MANFAAT&PENJELASAN penyedia air baku ke daerah Bogor dengan cara gravitasi penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta memenuhi kebutuhan air di Kota dan Kabupaten Bogor mengalihkan debit banjir dari Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane guna pengendalian banjir di DKI Jakarta memenuhi kebutuhan air Jabotabek pencegahan banjir dan meningkatkan urban drainage. Normalisasi alur sungai 57 km. Cipinang. Pembuatan Sal. Normalisasi alur sungai 38 km. Normalisasi alur sungai 22 km. Cakung Banjir Kanal CBL. Bekasi Waduk Karian Kab. Banjir. Tangerang Kota/Kab. Master Plan 1997 pengendalian banjir. perkotaan dan industri untuk wilayah Serang dan Jabotabek dengan menggunakan saluran KarianTanjung-Serpong (KTS). 2 bh. Normalisasi alur sungai 32 km. serta konstruksi Angke Floodway Pengendalian banjir. Peningkatan fungsi sungai ke hilir dari daerah Angke dan Sungai Pesanggrahan dan Mookervaart Canal. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Kali Angke. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Mookervaart Banjir Kanal Barat/ Ciliwung Banjir Kanal Timur. Normalisasi alur sungai 17 km. Terowongan 1 km. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Tangerang DKI Jakarta Kota Bogor. Normalisasi alur sungai 22 km. Normalisasi alur sungai 29 km. menambah persediaan air rumah tangga.

400 MWh dan penyediaan air baku untuk 79. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung pengairan irigasi seluas 68. Bandung Kab. potensi listrik sebesar 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Tanjung LOKASI Sungai Cidurian MANFAAT&PENJELASAN penyedia air baku untuk daerah Tangerang dan DKI Jakarta dengan menggunakan saluran irigasi Cidurian atau dengan saluran lternative Karian-Tanjung-Serpong (KTS) penyedia air baku ke daerah Bogor dengan menggunakan pompa penyedia air untuk areal tambak menampung air dari Sungai Cipamingkis atau dari saluran pembawa penyedia air utama untuk daerah hilir Kanal Tarum Barat secara gravitasi Penyediaan air baku dan tenaga listrik memindahkan air dari wilayah sungai Citarum ke Jakarta ASAL WS/ PROGRAM WS Ciujung Ciliman 4-36 Bendung Anyer Waduk Naragong Waduk Nameng Waduk Pasiranji Waduk Pangkalan Peninggian Dam Cirata Peningkatan Kanal Tarum Barat atau Pembangunan Kanal Tarum Jaya Waduk Talagaherang Waduk Maya Waduk Bodas Dam Sungai Cilame Dam Sungai Cipunagara Waduk Cipunagara dan bendungan pengatur di Sadawarna Waduk Cibeber Waduk Kandung Pengembangan Sungai Cisangkuy Waduk sungai Cikapundung Waduk Sukawana Sudetan sungai Cibeureum Waduk Bojong Jambu Waduk Jatigede Anak Sungai Cileungsi (DAS Bekasi) Sungai Cibeet Cipamingkis Sungai Cibeet Dam Cirata Karawang – Bekasi – DKI Jakarta WS Ciujung Ciliman Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Sungai Cisangkuy Sungai Cikapundung Cimahi Kab.102. Garut mengairi sawah mengairi sawah mencukupi kebutuhan air rumah tangga. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air rumah tangga.683 jiwa. Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .280 ha. Bandung Kab.

145 ha. Nilai ekonomi proyek IRR 12. potensi listrik 5.835 jiwa.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5. pengairan irigasi seluas 8.40 GWh dan potensi air baku 915 ha.16% pengairan irigasi seluas 9. Volume tampungan sebesar 35 juta m3.000 Ha lahan irigasi.982 ha.145 ha dan potensi listrik 17. pengairan irigasi seluas 2. Garut Citarum Waduk Ujungjaya Kadipaten Citarum Waduk Kadumalik Majalengka Citarum Waduk Pasirkuda Waduk Ciniru Majalengka Kuningan Citarum Citarum Waduk Cimulya Kuningan Citarum Waduk Gunungkarung Waduk Manenteng Waduk Pecang Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk Seuseupan Waduk Cihirup Waduk Mangit Kuningan Kuningan Kuningan Garut Garut Cirebon Sumedang Kuningan Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Nilai ekonomi proyek IRR 12% pengairan irigasi seluas 9. Volume tampungan sebesar 395 juta m3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Cipasang LOKASI Kab. Potensi paling baik untuk dikembangkan karena memiliki nilai EIRR lebih tinggi (17.000 ha. Jika pembuatan Waduk Jatigede di tunda.4 juta m3. potensi listrik 3. pengairan irigasi seluas 12. Volume tampungan sebesar 71 juta m3. potensi listrik 1.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10. Garut MANFAAT&PENJELASAN pengairan irigasi seluas 18. nilai ekonomi proyek IRR 6.63% pengairan irigasi seluas 5.004 jiwa.20 GWh.872 MWh dan penyediaan air baku untuk 22.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. pengairan irigasi seluas 9.960 ha. pengairan irigasi seluas 8.439 ha. potensi listrik 0.000 MWh.67% Mengairi 20.07% pengairan irigasi seluas 9. potensi listrik 11. potensi listrik 6. Volume tampungan sebesar 50 juta m3.004 jiwa.70 GWh dan potensi air baku.153 jiwa.6 GWh dan potensi air baku 298 ha.439 ha.2 GWh dan potensi air baku 444 ha.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.4 GWh dan potensi air baku 444 ha.65 %). ASAL WS/ PROGRAM Citarum 4-37 Waduk Cipanas Kab.148 ha. pengairan irigasi seluas 12. Volume tampungan sebesar 2. potensi listrik sebesar 1.126 jiwa. pengairan irigasi seluas 4.275 ha dan potensi air baku 828 ha. Nilai ekonomi proyek IRR 2. Nilai ekonomi proyek IRR 7. maka Waduk Kadumalik dengan EL + 294 dapat menjadi lternative cadangan utama Potensi listrik sebesar 86.9 GWh dan potensi air baku 915 ha. pengairan irigasi seluas 4.639.

800 ha ASAL WS/ PROGRAM Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum 4-38 Long Storage Indramayu Pengembangan 6 Embung Rehabilitasi Irigasi Kab.210 ha. pengairan irigasi seluas 8.355 ha.468 Ha sawah dan ± 750 Ha tambak).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Ciwaru Waduk Cihowe Waduk Dukuh Badag Waduk Cileuweung Long Storage Kumpul KuistaJamblang LOKASI Kuningan Cirebon Cirebon Cirebon Cirebon MANFAAT&PENJELASAN pengairan irigasi seluas 10. Normalisasi sungai ± 5 km. potensi listrik 1.173 ha. Penyediaan irigasi seluas 12.275 ha. potensi listrik 10. Sampai dengan Jalan Raya Bandung-Tasik ± 5 km. Subang Kab.275 ha.530 ha. Cikeruh Bendung Sungai Cibareno Indramayu Cirebon Kab.7 GWh dan potensi air baku. potensi listrik 8. Penyediaan irigasi seluas 24. Bekasi Kab.B Cisadea Cibareno LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . potensi listrik 0. pengairan irigasi seluas 600 ha. Karawang Kab. pemenuhan kebutuhan air baku dan keperluan irigasi dan perikanan tambak mendukung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Penyediaan irigasi seluas 6. Indramayu Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Cisadea Cikuningan Pasir Bungur. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Peningkatan Kapasitas System Sungai Citarum Hulu Q5 menjadi Q20. Cibareno dan Sawarna 02. Cimande Pekerjaan Konstruksi S. Penyediaan irigasi seluas 19. Cikatomas.7 GWh dan potensi air baku 1.05. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Karawang Rehabilitasi Irigasi Kab.1 GWh dan potensi air baku 60 ha. memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan IndramayuCirebon (± 4. Bekasi Rehabilitasi Irigasi Kab. Subang Rehabilitasi Irigasi Kab. mengairi sawah seluas 2. Citarik Hulu Pekerjaan Konstruksi S. Nilai ekonomi proyek IRR sebesar 22.017 ha. pengendalian banjir dan pengamanan pantai Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Indramayu S.56 %. Cilograng. Normalisasi sungai ± 10 km. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Citarik Hulu Pekerjaan Penyempurnaan Flood Warning System Peningkatan Kapasitas Sungai Pekerjaan Konstruksi S. Normalisasi sungai ± 5 km.405 ha.3 GWh dan potensi air baku 828 ha. pengairan irigasi seluas 8. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.

Tasikmalaya. pertanian dan prasarana umum. dan prasarana umum ASAL WS/ PROGRAM Citanduy – Ciwulan Citanduy Ciwulan 4-39 Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tasikmalaya. Kabupaten Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Tasikmalaya Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis MANFAAT&PENJELASAN Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Mengamankan daerah permukiman. Tasikmalaya. Cilacap Kota Banjar. Kabupaten Ciamis dan Garut Kabupaten Cilacap.06.B WILAYAH SUNGAI Ciwulan Cilaki KEGIATAN Penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Rencana induk (Master Plan) pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan chekdam 15 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan chekdam 15 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi Pengamanan Pantai Pantai Pangandaran 3 km Pantai Bojongsalawe 3 km Pantai Cilaut Eureun 2 km Pantai Ranca Buaya 1 km Pantai Bagolo 1 km LOKASI Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Kabupaten Ciamis. Cilacap Kota Banjar.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE 02. Kabupaten Garut Kabupaten Cilacap. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. Tasikmalaya. Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. dan prasarana umum/TPI/LAPAN/objek wisata Mengamankan daerah permukiman. Kabupaten Tasikmalaya. Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Mengamankan daerah permukiman dan prasarana umum/obyek wisata Mengamankan daerah permukiman.

Jagadenda.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Pantai Cipatujah 2 km Waduk Pasirangin LOKASI Kabupaten Garut Kabupaten Tasikmalaya MANFAAT&PENJELASAN Mengamankan daerah permukiman. Meningkatkan kebutuhan air baku dan pengendali banjir serta sedimentasi. Kabupaten Cilacap Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Memperlancar aliran sungai Citanduy menuju ke laut lepas Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Cibeureum. Tampung total 14 juta m3. Plumpatan. panjang bendung 180 m. Cikonde. perkotaan dan industri serta irigasi. Pekalongan dan anakanak sungainya Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Sidareja Cihaur Mengembalikan dan meningkatkan fungsi dan kapasitas bangunan klep Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Kabupaten Cilacap Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . tinggi mercu bendung 80 m. Irigasi 3. perkotaan dan industri Tasikmalaya 800 ltr/det. Diharapkan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan Elevasi puncak terhadap MSL 265 m. Dapat menimbulkan dapak sosial ekonomi rakyat. dan prasarana umum Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.07.Segara Plawangan Anakan (Kabupaten Cilacap & Ciamis) Kabupaten Cilacap Normalisasi sungai-sungai DAS Segara Anakan Normalisasi sistem drainasi Daerah Irigasi Sidareja Cihaur dan sekitarnya Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. Tinggi mercu bendung 60 m.620 ha. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. luas areal 470 ha. Meskipun potensi listrik yang dihasilkan kecil. Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan 4-40 Waduk Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya Citanduy Ciwulan Waduk Banjar Kabupaten Banjar Citanduy Ciwulan 02. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 80 m. Tampungan total 120 juta m3 dan tampungan aktif 55 juta m3. Kawungatan. luas arealnya 1. Tampungan total 460 juta m3 dan tampungan aktif 250 juta m3.A2 Citanduy Penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Citanduy Ciwulan Wilayah sungai Rencana induk Citanduy Ciwulan (Master Plan) (Propinsi Jabar & pengelolaan SDA Jateng) Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Lower Citanduy Flood Management: Pengerukan Plawangan .229 ha dan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan. Cimeneng.

pertanian dan prasarana umum. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 48 M. luas arealnya 3. panjang 40 m. Penyediaan air Irigasi 27. Tampungan total 485 juta m3 dan tampungan aktif 220 juta m3. 20 lokasi Normalisasi sungai-sungai DAS Citanduy Hilir Normalisasi sistem drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. Kabupaten Tasikmalaya. perkotaan dan industri dan tenaga listrik sebesar 50 lt/det. Ciputrahaji.050 ha. 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. 10 lokasi Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Rehabilitasi Bendung Manganti Tahap II Sudetan Citanduy LOKASI Kabupaten Cilacap MANFAAT&PENJELASAN Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan 4-41 Kabupaten Cilacap Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Ciseel. Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis Sungai Citanduy Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengamankan daerah permukiman.08 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. perkotaan dan Industri serta irigasi. Tinggi mercu bendung 28 m. bak tampung 3 m dan bahan tubuh bendung adalah urugan tanah dengan inti clay tampungan aktif 27. Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Waduk Matenggang Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap Waduk Binangun I Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .000 ha. Dapat menimbulkan dampak sosial ekonomi rakyat. Mengalihkan muara sungai Citanduy langsung ke Laut (teluk Nusaware) Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Citalahab dan Cikaso Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Mengembalikan dan meningkatkan fungsi bangunan Klep Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. air minum kota sidareja dan pengendalian banjir Penanggulangan sedimentasi di Segara nakan dari sungai Citanduy. Tinggi mercu bendung 7 m.

000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. Tampungan total 180 juta m3 dan tampungan aktif 78 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.08. Tampungan total 150 juta m3 dan tampungan aktif 18 juta m3 Irigasi seluas 90.7 jt m3. Tampungan Total (juta m3) : 270 .5 GWh dan potensi air baku 915 ha dengan volume tampungan sebesar 35 juta m3. volume tampungan 2. volume tampungan sebesar 395 juta m3. luas areal 440 ha.468 ha. Elevasi puncak terhadap MSL 180 m.683 jiwa. Irigasi seluas 20. Irigasi seluas 500 ha dan penyediaan air baku 300 kk Pemenuhan kebutuhan air irigasi dan perikanan tambak Volume tampungan : 0. jika Waduk Jatigede ditunda. Long Storage K.27 juta m3 ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan 4-42 Kabupaten Ciamis Waduk Cikembang Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan 02.36 juta m3 Volume tampungan : 0. Potensi listrik yang dihasilkan kecil.2 GWh dan potensi air baku 444 ha. tinggi mercu bendung 70 m. tinggi mercu bendung 100 m. Kuista .A2 Cimanuk Cisanggaru ng Waduk Jatigede Sumedang Cimanuk Waduk Cipanundan Waduk Cilutung Kuningan Majalengka Cimanuk Cimanuk Waduk Cipanas Indramayu Cimanuk Waduk Sarwadadi Long Storage Indramayu Waduk Bojong Waduk Brahim Waduk Cimulya Cirebon Indramayu Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Kuningan Irigasi seluas 9. perkotaan dan industri serta irigasi Potensi listrik yang dihasilkan kecil. tambak 750 ha ). luas areal 440 ha.004 jiwa.Jamblang Cirebon Cimanuk LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .000 ha.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Binangun II Waduk Ciamis / Leuwi Keris LOKASI Kabupaten Ciamis MANFAAT&PENJELASAN Elevasi puncak MSL : 55 . Tinggi Mercu Bendung : 33 . perkotaan dan industri serta irigasi.330 .1 juta m3 Irigasi seluas 4. Elevasi terhadap MSL 180 m. potensi listrik 4. Harga tampungan per m3 rendah (Rp 650/m3) Volume tampungan netto 796.145 ha.000 ha. potensi listrik 0. Memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu Cirebon ( sawah 4. maka Waduk Cilutung dengan El + 294 dapat menjadi alternatif cadangan utama Irigasi seluas 12. Area (ha) : 1.439 ha. Tampungan aktif (juta m3) : 154 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. potensi listrik terpasang 110 MW dan penyediaan air baku untuk 79.

Irigasi seluas 9. volume tampungan 20 jt m3.960 ha.126 jiwa.145 ha dan potensi listrik 17.000 ha). Nilai EIRR 12.7 GWh dan potensi air baku 1017 ha dengan volume tampungan 69 juta m3.153 jiwa . potensi listrik 0.439 ha potensi listrik 3.275 ha. volume tampungan 78 jt m3.000 MWh dengan volume tampungan 2.3 jt m3. Irigasi seluas 5.982 ha potensi listrik 1.1 GWh dan air baku 60 ha. Pemali Kabupaten Brebes Cimanuk Pemali Comal Waduk Ki Gede Sebayu hulu K. Irigasi seluas 10. Volume tampungan 53 juta m3.3 GWh dan air baku 828 ha.275 ha dan potensi air baku 828 ha.A3 Pemali – Comal Waduk Bantar Kawung Kuningan hulu K. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 27. potensi waduk 150 juta m3.6% pengendalian banjir (± 5.000 ha potensi listrik 11. volume tampungan 12 jt m3.4 GWh dan potensi air baku 444 ha. potensi listrik 8. volume tampungan 1.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10.000 ha dan penyediaan air baku 175 juta m3. Potensi listrik sebesar 86.835 jiwa dengan volume tampungan 71 juta m3. potensi listrik 1. Gung Kabupaten Tegal Pemali Comal LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Irigasi seluas 12.35 lt/dt.534 ha ASAL WS/ PROGRAM Cimanuk 4-43 Waduk Cihowe Waduk Cileuweung Waduk Ujungjaya Cirebon Kuningan Sumedang Cimanuk Cimanuk Cimanuk Waduk Pasirkuda Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk G. Irigasi seluas 9. semi teknis dan sederhana) seluas 38. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi (teknis. Irigasi seluas 4. Irigasi seluas 8. Volume tampungan sebesar 395 jiwa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Cipasang Garut LOKASI MANFAAT&PENJELASAN Irigasi seluas 18.6 GWh dan potensi air baku 298 ha.482 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI ± 867. pengendalian banjir (± 4. Irigasi seluas 8. potensi listrik terpasang187 MW dan penyediaan air baku untuk 22. Karung Waduk Maneungteung Waduk Pecang Waduk Seuseupan Waduk Masigit Waduk Ciwaru Majalengka Garut Garut Kuningan Kuningan Kuningan Cirebon Kuningan Kuningan Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Waduk Dukuh Badag 02. Irigasi seluas 2.4 juta m3 .173 ha potensi listrik 10.275 ha. volume tampungan 86 juta m3.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5. volume tampungan 50 juta m3. Irigasi seluas 8.000 ha).20 GWh. Irigasi seluas 8.7 GWh dan air baku 828 ha. Irigasi seluas 600 ha.70 GWh dan potensi air baku 915 ha.09. volume tampungan 32 jt m3.

dengan nilai EIRR adalah sebesar 42.730 ha. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.352. 287. Sengkarang Kabupaten Pekalongan desa Karanganyar Kabupaten Pemalang Pemali Comal Waduk Krandegan Pemali Comal Waduk Karanganyar Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Tanjung. dengan tinggi bendung 95 m.93 juta m3. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.9%. Informasi kelayakan proyek tidak tersedia. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.4 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 26.770 Ha.718 Ha. pembangunan jalan dan jembatan baru. pembangunan/perbaikan tanggul. Keruh Kabupaten Pemalang hulu sungai K. Selain itu untuk penyediaan air baku dengan suplai 2. penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 2.905 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 8. 20. pembangunan/perbaikan tanggul.699.5% Pembangunan/perbaikan tanggul.5 juta/tahun pada harga ASAL WS/ PROGRAM 4-44 Waduk Sipring hulu sungai K.1 km. volume tampungan 30 juta m3. Penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 965.667 m.Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.717 Ha.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN LOKASI MANFAAT&PENJELASAN dan untuk penyediaan air baku bagi RKI. Genteng dan K.. dengan nilai EIRR adalah sebesar 26. volume tampungan 45.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. pembangunan/perbaikan tanggul. normalisasi alur sungai 7.300 lt/dt. Babakan dan Kabuyutan Pengendalian Banjir Sungai Sragi Pengendalian Banjir Sungai Kupang Sungai Tanjung Pemali Comal Pemali Comal Pemali Comal Sungai Sragi Sungai Kupang Pengendalian Banjir Sungai Kluwut Kabupaten Brebes Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Sambong kabupaten Batang dan kabupaten Pekalongan Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Comal kabupaten Pemalang Pemali Comal LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .3 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 7. pembangunan jembatan kereta api baru 1 buah.9% Pembangunan/perbaikan tanggul. tinggi bendung 40 m. untuk mereduksi daerah rawan banjir seluas 1. analisa kelayakan ekonomi menunjukkan nilai EIRR sebesar 17. 10. pembangunan inlet drainase 11 buah.130 ha Pelindung tebing pasangan batu kali 5. diharapkan dapat mereduksi daerah rawan banjir seluas 6. pembangunan bangunan pengukur debit sungai 1 buah. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.

Semarang Jratun Seluna Waduk Mundingan Jragung Barrage + Tunnel Waduk Dolok Waduk Bandung Harjo Waduk Ngemplak Waduk Coyo Waduk Tirto Embung Kedung Waru Kab.1%. Meningkatkan intensitas tanam pada daerah irigasi Cipero seluas 8.6% (layak) pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. nilai EIRR 10. Semarang Semarang dan Demak Semarang dan Demak Kab.4% Pembangunan/perbaikan tanggul.2 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. Nilai EIRR 11. Nilai EIRR 18.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 16. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.020 l/detik dan konservasi air tanah. Pengembangan suplai untuk RKI 920 l/detik dan konservasi air tanah. dengan nilai EIRR adalah sebesar 15.750 l/detik dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 13. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12.1% (layak ) pengembangan suplai untuk RKI 1. Grobogan Kab. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.5% (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1. Nilai EIRR 8% (layak) ASAL WS/ PROGRAM 4-45 Pengendalian Banjir Sungai Waluh Sungai Waluh Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Rambut Sungai Rambut Pemali Comal Waduk Jatinegara Kec. Blora Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Jatinegara Jateng Pemali – Comal 02.529 ha. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. Nilai EIRR 18.010 ha dan untuk mensupli waduk Cacaban dengan luas irigasi 1.8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.A3 Jratunseluna Waduk Jatibarang Kab. Grobogan Kab.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN LOKASI MANFAAT&PENJELASAN dasar tahun 1998. Grobogan Kab.7 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 750 l/detik dan konservasi air tanah. 231 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998.10. Konstruksi dam Jatibarang dimulai tahun 2002 (kegiatan yang masuk dalam jadwal biaya rendah). Nilai EIRR 14% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 22. 822. Grobogan Kab.1% Pembangunan/perbaikan tanggul. Usulan baru dan belum pernah dilakukan studi. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.

670 ha. Kudus dan Kab.6% Pengendalian banjir seluas 6. DAS Wawar.B Bodri . S. Peninggian jembatan melintang sungaisungai di DAS Telomoyo Pembangunan pelimpah banjir DAS Telomoyo Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Penyempurnaan Pengendalian Kab.12. nilai EIRR 20. nilai EIRR 15.700 l/detik (direncanakan memberikan 900 l/dt ke Semarang dan 800 l/detik ke Kendal) dan konservasi air tanah.14. Pati Kaliwungu.20 lokasi kritis Mengatasi adanya halangan sungai yang dapat mengakibatkan banjir dan memperlancar transportasi antar pedesaan di 10 lokasi Mengatasi adanya kejadian banjir melebihi rencana.Kebumen S Telomoyo & anakanak sungainya. Kab. nilai EIRR 18.C 02.650 ha. persawahan dan transportasi.Kuto 02. Target 15 .13.1% pengendalian banjir seluas 12. Demak Kab. persawahan dan transportasi. Cokroyasan dan Jratun Seluna Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . persawahan dan transportasi. Kab.C 02. Layak secara ekonomi.Cilacap. Brangsong dan Kendal MANFAAT&PENJELASAN Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah Pengendalian banjir seluas 1. Target 16 km Pengamanan pemukiman . Layak secara ekonomi.9% pengendalian banjir seluas 10. Nilai EIRR 13. Nilai EIRR 9.8% Pengembangan suplai untuk RKI 1. Layak secara ekonomi. Banyumas dan Kebumen. Demak Kab. Layak secara ekonomi. nilai EIRR 24% Pengamanan pemukiman dan persawahan Target 30km Pengamanan pemukiman . sehingga dapat mengurangi dampak yang lebih buruk Pengamanan pemukiman .A3 Wiso . Kendal Anak S. Layak secara ekonomi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Embung Balong Pengendalian Banjir Sungai Garang Drainase Kota Semarang Tenggang + Sringin Drain Dombo-Sayung Floodway Kebon Batur Floodway Pengendalian Banjir Jragung/Tuntang Pengendalian Banjir SerangWulan-Juana Waduk Kedung Suren LOKASI Kab.028 ha. nilai EIRR 15. Kab. Kab. Target ASAL WS/ PROGRAM Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna 4-46 02. Kab.957 ha.Gelis Kepulauan Karimunjawa Serayu – Bogowon-to Pengendalian Banjir Sungai Blorong Pengedalian banjir S.Kebumen S Telomoyo & anakanak sungainya.13% Pengendalian banjir Pengendalian banjir seluas 21 ha.Purbalingga dan Banyumas S Telomoyo.Serayu.5 % (layak) Pengendalian banjir seluas 590 ha. Layak secara ekonomi.4% pengendalian banjir seluas 13.Klawing lanjutan Perkuatan tebing lokasi kritis dan penanggulangan banjir nopember 2004.Kebumen DAS Tipar dan Ijo.11. Blora Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kab. nilai EIRR 17.Lukulo & anakanak sungainya.337 ha.

Kebumen dan Purworejo (200 lokasi) Mengurangi sedimentasi waduk dan pemanfaatan untuk air baku. Serayu Bogowonto Normalisasi sungai dan bangunan pengatur air untuk mengatasi banjir daerah pemukiman dan budi daya perikanan. DAS Serayu.Jatinegara dan S. Kab.Bogowonto dan S. Telomoyo dan Tipar.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Banjir dan Drainase Rehabilitasi Jembatan KA melintang sungai di 7 lokasi. Kab. Telomoyo. Kebumen dan Purworejo Kab.Cokroyasan Operasi dan Pemeliharaan Sungai LOKASI Bogowonto. Kebumen. Kab.Purworejo DAS Bogowonto. Kebumen dan Purworejo DAS Wawar. Banjarnegara dan Purbalingga. Target 10 lokasi Serayu Bogowonto Mengatasi kekurangan air pada musim kering Serayu Bogowonto LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kab. Banyumas. Purbalingga. Kebumen. Banjarnegara dan Purbalingga. Cokroyasan. Serayu. Mempertahankan kapasitas dan fungsi prasarana pengendalian banjir Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Pembangunan bangunan penahan intrusi air laut Pembangunan bangunan pemanfaatan daerah genangan banjir Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) dan Pengerukan hilir sungai Jladri Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) Menahan pengaruh akibat intrusi air laut di 5 lokasi Serayu Bogowonto Mendaya gunakan lahan depressi Serayu Bogowonto DAS Telomoyo Mengurangi sedimentasi di S. Purworejo. Wonosobo. Purworejo. Serayu. Banjarnegara. Kab.Jladri.Telomoyo hilir Serayu Bogowonto Pembangunan Groundsill (Bangunan Penstabil dasar sungai). Banyumas dan Cilacap DAS Bogowonto dan DAS Cokroyasan Kab. Cilacap. S. dari bahaya banjir. Banyumas. Normalisasi Kali Pantai antara S. Wawar dan Ijo 6 km MANFAAT&PENJELASAN ASAL WS/ PROGRAM 4-47 Pengamanan jalur transportasi KA Yogya -Jakarta. Purbalingga. Muara-muara DAS Bogowonto. Target 15 lokasi Serayu Bogowonto Mengatasi degradasi sungai. Wawar dan Telomoyo. Penyediaan air baku pedesaan dari mata air & sumber air DAS Bogowonto. Wawar dan Telomoyo. Ijo dan Tipar DAS Telomoyo. Lukulo dan Bogowonto. Kebumen.

kebumen Serayu Bogowonto Penataan kawasan arboretum Pembangunan Waduk Bener Di S. DAS Serayu. Tinggi embung adalah 13. Banjarnegara. Tinggi embung adalah 13. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Banyumas. Cilacap. Lukulo. Lukulo. Kab. Penyediaan air baku dari bendungan Wadaslintang Pembangunan bangunan konservasi terpadu di hulu sungai LOKASI Kab.Trenggulun Pembangunan Waduk Gintung di S. Kebumen dan Purworejo (15 lokasi).Purworejo DAS Serayu Kab.500 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .Banjarnegara DAS Serayu Kab.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.15. Kab. Purbalingga. Kulon Progo Kab. Kab.Kemit Embung Tangkisan I Embung Tangkisan II Embung Ngroto DAS Serayu.Banyumas DAS Serayu Kab. Kulon Progo Embung Kayangan Kab.Bogowonto Pembangunan Waduk Wanadadi di S. Banyumas.Kebumen Kab.75 m dengan volume tampungan 35.Kebumen MANFAAT&PENJELASAN Mengatasi kekurangan air pada musim kering ASAL WS/ PROGRAM Serayu Bogowonto 4-48 Mengatasi kekurangan air kota Kebumen dan pedesaan Kab.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Penyediaan air baku pedesaan dari bangunan konservasi (groundsill). Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Telomoyo . Kulon Progo Mengurangi sedimentasi sungai Serayu Bogowonto Konservasi lahan dan penelitian Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Multi purpose ( Irigasi.75 m dengan volume tampungan 7. Telomoyo. Wawar dan Cokroyasan.Pekacangan Pembangunan Waduk Kesegeran di S. DAS Bogowonto. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 02.Gintung Pembangunan Waduk Kemit di S. Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi.A2 Progo Opak Serang Kab. Kebumen dan Purworejo.Banjarnegara DAS Telomoyo Kab. Wonosobo. Wawar dan Bogowonto.

Kulon Progo Embung Weden Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Tinggi embung adalah 5 m dengan volume tampungan 250. Gunung Kidul Embung Ngalang Kab. Gunung Kidul Kali Progo Waduk Progo Magelang Waduk Elo Hilir Waduk Kaloran Kali Progo Kali Elo Kaloran Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Untuk DAS Serang.5 m3/dt penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Embung Kedunggedeng Waduk Tinalah Kab.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Embung Dawetan LOKASI Kab.000 m3 Berpotensi untuk mengendalikan banjir. Gunung Kidul Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo MANFAAT&PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. mengairi irigasi 450 ha dan penyedia air minum 75 lt/detik.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Belum tersedia data detail Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir ASAL WS/ PROGRAM Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo 4-49 Embung Penggung Embung Girinyono Kab. Sleman Kab. Kulon Progo Kab.000. Kulon Progo Embung Kebonromo Embung Kronggahan Embung Kedungranti Embung Karang Sari Kab.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Volume tampungan embung adalah 1. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku 73 lt/detik dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. dengan tetap memanfaatkan air dari Kali Progo melalui intake Kalibawang. Tinggi embung adalah 11 m dengan volume tampungan 105. dengan pembatasan pengambilan air sebesar 2.

Fase II Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hulu.A2 Bengawan Solo ASAL WS/ PROGRAM Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo 4-50 pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir penyediaan air baku Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Fase II Perbaikan Sungai Kali Madiun.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Elo Waduk Sambiroto Waduk Nanggulan I Sedimentasi Waduk Wonogiri Penanganan Pengelolaan Kualitas Air Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hilir.16. Fase II dan III Pembangunan check dam dan ground sill Pengembangan Bengawan Jero Bengawan Solo FFWS Long-channel Storage Bengawan Solo Hilir Penyediaan Air PDAM di Wilayah Surakarta Penyediaan Air untuk Sstem Pengembangan PDAM Penyediaan Air untuk Daerah Rembang Solo Vallei Werken 9 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hulu 3 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Kali Madiun 16 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hilir Waduk Irigasi Kedung Bendo LOKASI Kali Elo Progo Hulu K. Serang Sungai Progo Wonogiri seluruh WS hilir WS hulu WS Kali Madiun Hulu Sungai Bengawan Solo dan Kali Madiun MANFAAT&PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir - 02.

A3 Brantas Kali Konto Brantas Hulu dan Sungai Lesti mengurangi transport sediment ke reservoir Dam Sengguruh dan Dam Sutami.17.22.21.B 02.2 (Organiasasi dalam pengelolaan SDA).18.B Baru – Bajulmati Bondoyudo . Data teknis yang direncanakan adalah untuk volume tampungan efektifnya sebesar 54 milyar m3 sumber daya air yang terbatas berupa sungai-sungai kecil. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .B 02.19.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Rehabilitasi dan Peningkatan Sistem Irigasi Waduk Serbaguna Bendo Sabo Gunung Kelud Sabo Brantas Hulu dan Sungai Lesti Pengendalian Banjir Sungai Widas Lodoyo Diversion Tunnel Beng Dam LOKASI MANFAAT&PENJELASAN penyediaan air baku penyediaan air baku ASAL WS/ PROGRAM Bengawan Solo Bengawan Solo Brantas Brantas 4-51 02. Lesti Pekalen Sampean 02. Pengembangan terhadap masalah pengendalian banjir di Sungai Widas sesuai dengan yang direncanakan dalam Master Plan tahun 1985 Pencegahan terhadap bencana yang dapat ditimbulkan oleh Gunung Kelud Irigasi. Sebanyak 17 Sabo Dam telah direncanakan untuk daerah hulu DAS Sengguruh Dam. water supply dan hydropower.20.B Welang – Rejoso Pekalen Sampean Genteng I Dam Sungai Genteng. sehingga harus ada solusi sumber daya air bila Madura hendak difungsikan pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 100 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 50 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 Sungai Widas Brantas Ludoyo Brantas Brantas 02. 12 tahun 2006 yang akan mengurus pengelolaan wilayah sungai baru ini disajikan pada bagian 4.Bedadung Kepulauan Madura Penyediaan air baku industri Pembangunan Waduk Nipah Pembangunan Waduk Blega Pembangunan Waduk Samiran Pembangunan Wa duk Tambak Agung seluruh WS Madura Pamekasan Bangkalan Pamekasan Sumenep Madura Madura Madura Madura Adapun beberapa balai baru yang dibentuk menurut Peraturan Menteri PU No.6. water supply dan hydropower dan untuk sediment control. Data teknis yang direncanakan untuk volume tampungan efektif 147 milyar m3 Irigasi.B 02.

Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai ini disusun dengan melibatkan para pemangku kepentingan (stakeholders) SDA dan perlu mendapat persetujuan dari Dewan SDA Nasional untuk Wilayah Sungai Nasional. disusun dengan mengacu pada Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai yang telah ditetapkan sebelumnya. serta Dewan SDA Propinsi dan Kabupaten/Kota untuk Wilayah Sungai Propinsi dan Kabupaten/kota. 7/2004) maka penyusunan Pola Pengelolaan SDA perlu disusulkan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4-52 4.7/2004 tentang SDA telah diatur bahwa Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai perlu ditetapkan terlebih dulu sebelum Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai disusun. Dalam pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai akan ditetapkan garis besar alokasi air untuk berbagai sektor diantaranya untuk permukiman dan perkotaan. dengan demikian pola alokasi air ini juga sekaligus mencerminkan pula garis besar penggunaan ruang dalam wilayah sungai dimaksud. Sedangkan untuk Wilayah Sungai yang belum mempunyai Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai. maka Pola dimaksud dapat menjadi arahan/pedoman penyusunan Rencana Induk. Setelah Pola Pengelolaan SDA ditetapkan secara formal berdasarkan proses yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan maka Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai telah ada perlu disesuaikan dengan Pola Pengelolaan SDA. Selanjutnya. dan pendayagunaan SDA serta penanganan bencana yang terkait dengan air di wilayah sungai yang bersangkutan. Pembuatan Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai. pertanian dan sebagainya. industri.3 Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai: sebagaimana diamanatkan dalam UU No. Rencana Induk (master plan) harus mampu mengidentifikasi isuisu yang terkait dengan pengelolaan SDA yang mencakup aspek-aspek konservasi. Bilamana pada bebarapa wilayah sungai telah mempunyai Rencana Induk (Master Plan) namun belum mempunyai Pola Pengelolaan SDA (karena Master Plan dibuat sebelum adanya UU No. dalam Rencana Induk telah di identifikasi kebutuhan air untuk berbagai sektor yang ada dalam wilayah sungai tersebut diantaranya air baku untuk permukiman didaerah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .3.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA perkotaan (termasuk kawasan jasa & perdagangan) dan perdesaan. menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. perikanan. melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi.1 STRATEGI PEMBIAYAAN Wewenang Tanggung Jawab Pemerintah Berdasarkan pasal 14. dan strategis nasional. d. industri. b. Proses pembuatan Rencana Induk juga harus melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) bidang sumber daya air pada wilayah sungai tersebut. dan wilayah sungai strategis nasional. c. wilayah sungai lintas negara. menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi.4 4. Demikian pula dalam Rencana Induk harus telah diidentifikasi jenis-jenis alternatif prasarana dan sarana yang mampu memenuhi kebutuhan air untuk berbagai sektor termasuk lingkungan yang telah memperhitungkan pertumbuhan penduduk dan ekonomi dalam kurun waktu 30 tahun kedepan serta mampu mengantisipasi dampak iklim yang berubah (terjadinya kejadian ekstrim kekeringan dan banjir). menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas provinsi. Dewan SDA Propinsi untuk Wilayah Sungai Propinsi dan Dewan SDA Kabupaten untuk Wilayah Sungai Kabupaten. Selain itu Rencana Induk juga harus mendapat persetujuan dari Dewan Sumber Daya Air Nasional untuk Wilayah Sungai Nasional. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. menetapkan kebijakan nasional sumber daya air. wilayah sungai lintas negara. wilayah sungai lintas negara. dan wilayah sungai strategis nasional. UU No. wewenang dan tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan SDA meliputi: a.4. lintas negara. dan wilayah sungai strategis nasional. lingkungan. pertanian. e. 4-53 4. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pertambangan dan sebagainya yang telah mengantisipasi pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi dalam kurun waktu “planning horizon” minimal 30 tahun kedepan.

kualitas. memberikan bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. wilayah sungai lintas negara. Dari uraian wewenang dan tanggung jawab diatas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. dan pedoman pengelolaan sumber daya air. wilayah sungai lintas negara. menetapkan dan memberi rekomendasi teknis atas penyediaan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA f. 3. j. k. ii) pendayagunaan SDA. penggunaan dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas provinsi dan cekungan air tanah lintas negara. dan memberi izin atas penyediaan. dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. dan v) penyediaan sistem informasi SDA. efisiensi. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan wilayah sungai strategis nasional. ii) kebijakan umum dan operasional pengelolaan SDA. i. peruntukan. dewan sumber daya air wilayah sungai lintas propinsi. dan dewan sumber daya air wilayah sungai strategis nasional. iv) pemberdayaan masyarakat. membentuk Dewan Nasional Sumber Daya Air. iii) penanganan bencana yang terkait dengan air. mengatur. menetapkan norma. h. mengatur. standar. memfasilitasi penyelesaian sengketa antar provinsi dalam pengelolaan sumber daya air. dan l. menetapkan. dan iv) melaksanakan pengelolaan. 4-54 g. dan wilayah sungai strategis nasional. dan wilayah sungai strategis nasional. standar. 2. Locus (lokasi) dari wewenang dan tanggung jawab Pemerintah (pusat) adalah pada wilayah sungai lintas propinsi. dan pengusahaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. wilayah sungai lintas negara. peruntukan. penggunaan. Lingkup pengelolaan SDA mencakup: i) konservasi SDA. Lingkup wewenang dan tanggung jawab mencakup: i) membuat dan menetapkan peraturan dan perundang-undangan. kriteria. menjaga efektivitas. iii) norma. pedoman dan manual pengelolaan SDA.

Pembiayaan pelaksanaan konstruksi saluran tersier menjadi tanggung jawab petani dan dapat dibantu Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. c. dan/atau hasil penerimaan jasa pengelolaan sumber daya air.2 Kebijakan Pembiayaan 4-55 Berdasarkan UU No. pemeliharaan. e. anggaran swasta. b) badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah pengelola sumber daya air. dibebankan kepada: a) Sumber dana untuk masing-masing jenis pembiayaan dapat berupa: Pembiayaan pengelolaan sumber daya air Pemerintah dan Pemerintah berdasarkan kewenangannya masing-masing dalam pengelolaan Sumber daya Air. operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi primer dan sekunder menjadi tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya. biaya perencanaan. biaya pelaksanaan konstruksi biaya operasi. c. d. anggaran pemerintah. dan dapat melibatkan peran serta masyarakat petani. Jenis pembiayaan pengelolaan sumber daya air meliputi: a. dan perorangan. evaluasi dan pemberdayaan masyarakat. dan c) koperasi. (4) biaya sistem informasi. b.4. badan usaha lain. b. (5) Pembiayaan pelaksanaan konstruksi dan Operasi dan Pemeliharaan sistem irigasi diatur sebagai berikut: a. (3) a. b.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. biaya pemantauan. saluran sepanjang 50m dari bangunan sadap dan boks tersier serta bangunan pelengkap tersier LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 7/2004 pengaturan kebijakan pembiayaan pengelolaan Sumber Daya Air adalah sebagai berikut: (1) (2) Pembiayaan pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan kebutuhan nyata pengelolaan sumber daya air. kecuali bangunan sadap. Pembiayaan pelaksanaan konstruksi. baik secara sendiri-sendiri maupun dalam bentuk kerja sama.

kecuali untuk penggunaan non usaha. Pengguna sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk pertanian rakyat tidak dibebani biaya jasa pengelolaan sumber daya air. Badan Usaha lain dan perorangan ditanggung oleh masing-masing yang bersangkutan. c.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA lainnya menjadi tanggung jawab Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. (12) Pengelola sumber daya air berhak atas hasil penerimaan dana yang dipungut dari para pengguna sumber daya air. Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam batasbatas (9) tertentu dapat memberikan bantuan pembiayaan kepada BUMN/BUMD Pengelola Sumber daya Air. (10) Penentuan besarnya biaya jasa pengelolaan sumber daya air didasarkan pada perhitungan ekonomi rasional yang dapat dipertanggung jawabkan. (11) Penentuan nilai satuan biaya jasa pengelolaan sumber daya air untuk setiap jenis penggunaan sumber daya air didasarkan pada pertimbangan kemampuan ekonomi kelompok pengguna dan volume penggunaan sumber daya air. (7) Pembiayaan pengelolaan sumber daya air yang ditujukan untuk pengusahaan sumber daya air yang diselenggarakan oleh Koperasi. dan strategis nasional. BUMN/BUMD Pengelola Sumber daya Air. (6) Dalam hal terdapat kepentingan mendesak untuk pendayagunaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. (8) Untuk pelayanan sosial serta pelayanan yang ditujukan bagi kesejahteraan dan keselamatan umum. lintas kabupaten/kota. dari para pengguna sumber daya air Dana yang dipungut dipergunakan untuk mendukung 4-56 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pembiayaan pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaan sistem irigasi tersier menjadi tanggung jawab petani dan dibantu Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah. Pengguna sumber daya air lainnya menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air. pembiayaan pengelolaannya ditetapkan bersama oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang bersangkutan melalui pola kerja sama.

3 Peran-peran Lain Pemerintah 4. Pelaku lainnya. beban dari pemerintah dapat dikurangi dan kinerja dalam fungsi publik dapat dicapai.4. seperti sektor swasta. konflik interest. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . penindakan dan resolusi konflik final masih perlu menjadi tanggung jawab pemerintah. alokasi air. dan BUMN/BUMD. perancangan (pembuatan rencana induk). Pemerintah perlu menciptakan kondisi dimana semua aktor/pelaku yang mempunyai kepentingan dalam permasalahan sumber daya air dapat terlibat dan dapat bernegosiasi diantara mereka untuk mencapai solusi yang dapat diterima semua pihak. dan kurangnya transparansi dari manajemen tetapi juga didorong oleh bertambahnya berbagai kesulitan yang dihadapi oleh negara-negara di dalam pembiayaan yang diperlukan untuk investasi dibidang sumber daya air.2 Pemerintah sebagai regulator dan pengendali Pembuatan kebijakan.3. Pada kondisi sekarang secara umum dikenal bahwa pemerintah. 4-57 4. 4.3.4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA terselenggaranya kelangsungan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. Kecenderungan untuk tidak selalu bergantung kepada penyediaan layanan dari pemerintah telah didorong tidak saja oleh kepedulian atas ketidak-efisienan. dan memenuhi prinsipprinsip pembangunan berkelanjutan. Meskipun partisipasi masyarakat cukup tinggi tidak berarti pemerintah lepas dari tanggung jawab. hendaknya mengurangi perannya sebagai penyedia layanan dan lebih berkonsentrasi untuk menjadi regulator dan pengendali penyedia layanan jasa.Dengan mengadopsi peran sebagai fasilitator dan arbitrase. bilamana memungkinkan. monitoring. mungkin dapat menyediakan jasa layanan air dengan monitoring dan pengendalian dari lembaga pengawas.1 Pemerintah sebagai pemberdaya (enabler) Dalam sektor sumber daya air ciri pemerintah sebagai pemberdaya ditunjukan dengan beralihnya pendekatan pembangunan yang ”prescriptive” dan terpusat menjadi kerangka sistem dan pendekatan partisipatif.4.

pembuangan dan pengolahan limbah cair) dimana investasi publik masih sangat diperlukan. 4-58 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pemikiran kotemporer menunjukkan bahwa keterlibatan swasta dalam layanan air. hal ini mungkin akan memerlukan waktu beberapa tahun kedepan yang cukup lama dibeberapa negara. keterlibatan masyarakat yang miskin dalam layanan air akan memerlukan katalist berupa dukungan dana dari pemerintah dan sumber dana dari luar lainnya. Demikian juga. Pemisahan ini akan membantu terciptanya transparansi dan akuntabilitas. Tetapi hal ini tidak selalu demikian: yang terjadi adalah perubahan fungsi. 4. akan berkontribusi dalam mengurangi peran dan beban pemerintah didalam pengelolaan sumber daya air. yaitu dalam layanan air minum dan sanitasi. Tugas akan berubah setelah fungsi operasional/pelaksanaan dialihkan ke aktor swasta.3. prinsip terpenting yang perlu dilaksanakan adalah bahwa instansi-instansi pemerintah penyedia layanan tersebut hendaknya tidak mengatur untuk dirinya sendiri. Bilamana pemerintah masih memegang fungsifungsi layanan umum. Diperlukan pemisahan yang jelas diantara fungsi pengatur dan fungsi pelaksana. Dapat disimpulkan bahwa dalam keterlibatan swasta peran pemrintah dalam pengaturan justru semakin bertambah dan tidak berkurang. perlindungan terhadap banjir.4.3 Pemerintah sebagai Penyedia Layanan (Service Provider) Seluruh pemerintahan hendaknya berupaya untuk mengalihkan penyediaan jasa layanan air kepada stakeholders non-pemerintah. namun tetap diperlukan suatu entitas publik dalam hal ini pemerintah yang mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk memantau dan mengatur penyediaan layanan yang memadai dan dalam harga yang terjangkau. perlu dicatat bahwa dalam layanan dibidang air terdapat elemen-elemen yang bersifat layanan umum (diantaranya.4 Peran Pemerintah dalam ”keterlibatan dunia swasta” Yang dimaksud dengan sektor swasta disini adalah sektor perusahaan swasta dan orgnisasi-organisasi yang berbasis masyarakat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Disamping itu.4.3.

kenyataan tetap menunjukkan bahwa penyedia layanan umum dari sektor publik (perusahaan milik pemerintah) akan.4. kinerja yang semakin baik dari sektor publik. masih melayani sebagian besar dari pengguna.1 Strategi Pendanaan Sebagaimana diatur dalam UU Sumber Daya Air No. dan pemeliharaan prasarana dan sarana sumber daya air adalah anggaran pemerintah.3.4. adalah sangat penting untuk memberi perhatian yang besar untuk upaya peningkatan kinerja sektor publik. operasi.4 Strategi Pendanaan dan Tujuan Studi Kelayakan Proyek 4. Dampak keterlibatan sektor swasta yang paling mungkin adalah mendorong adanya akuntabilitas dan kompetisi dan oleh sebab itu. telah dianggap sebagai indikasi umum penyediaan layanan oleh sektor publik dan telah mendorong pemerintah-pemerintah untuk berpaling ke sektor swasta.5 Peningkatan Kinerja Sektor Publik Kenyataan bahwa seperlima dari penduduk dunia (pada umumnya masyarakat yang termiskin) adalah tanpa akses ke air minum yang aman dan hampir separuh dari penduduk dunia tanpa akses yang memadai atas sanitasi yang memadai (kondisi ini juga merefleksikan kondisi layanan air minum dan sanitasi di Indonesia).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Meskipun telah terjadi kecenderungan akan meningkatnya privatisasi dan pemerintah mempunyai peranan kunci dalam memfasilitasi partisipasi sektor swasta yang lebih besar. dalam waktu kedepan. 4-59 4. seperti tarif air. dan penyediaan kerangka hukum dan institusi yang menjamin pelaksanaan partisipasi sektor swasta yang berhasil.4. 7/2004 salah satu sumber pendanaan untuk pembangunan. Oleh sebab itu. Partisipasi sektor swasta hendaknya tidak dianggap sebagai ”panacea” yang akan dengan segera mengatasi masalah-masalah kekurangan kapasitas dan investasi. termasuk yang bersumber LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . kebutuhankaum miskin kota. Peningkatan efesiensi utilitas baik yang ditangani oleh sektor publik atau sektor swasta harus diikuti oleh keputusan-keputusan pemerintah yang mengatasi permasalahan kunci. jumlah pegawai yang terlalu banyak.4.

4. diantaranya: a) debt swap yaitu penghapusan pinjaman luar negeri senilai biaya kegiatan yang kita laksanakan dengan persetujuan negara/institusi donor.4. 4. b) program ”Clean Development Mechanism (CDM)” yaitu imbalan pembiayaan kegiatan senilai pengurangan karbondioksida. dan c) pendanaan program-program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim untuk negara-negara berkembang. dan diutamakan untuk membiayai proyek-proyek yang mempunyai kelayakan eknomi yang tinggi termasuk peluang untuk pengembalian biaya (cost recovery). Selain itu dana hibah luar negeri juga tepat digunakan untuk peningkatan kapasitas (capacity building) dalam hal implementasi 4-60 ”Integrated Water Resources Management” (Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air) yang juga merupakan salah satu sasaran MDGs. Studi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . penyediaan akses kepada air minum yang sehat dan parasarana sanitasi bagi penduduk miskin dan pelestarian ekosistem penunjang kehidupan. Selain dana pinjaman dan atau hibah luar negeri melalui mekanisme ”biasa” baik secara ”bi-lateral” maupun ”multi-lateral”. peluang untuk mendapatkannya semakin tinggi semenjak dicanangkannya ”Johannesburg Plan of Implementation (2002)” dana ini sebaiknya ditujukan untuk pencapaian sasaran ”Millenium Development Goals (MDGs)” diantaranya untuk pengentasan kemiskinan. Sedangkan dana hibah luar negeri bagi negara-negara berkembang.2 Tujuan Studi Kelayakan Proyek Pembuatan studi kelayakan untuk suatu konstruksi prasarana-sarana sumber daya air yang telak diidentifikasi dalam Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang memerlukan alokasi sumber daya yang cukup besar baik penggunaan ruang (lahan) maupun dana investasi wajib dilakukan. terdapat peluang untuk mendapatkan dana hibah melalui mekanisme ”khusus”. Penggunaan dana pinjaman luar negeri untuk prasarana dan sarana publik khususnya sumber daya air hendaknya dipilih dari ”scheme” yang lunak (berbunga rendah dan tenggang waktu pembayaran yang panjang) dipakai secara selektif penuh dengan ke-hati-hatian.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dari pinjaman dan atau hibah luar negeri.

Dari aspek teknis studi kelayakan mencakup antara lain kajian tentang alternatif-alternatif konstruksi (yang mencakup ruang lingkup konstruksi dan taksiran biayanya) untuk mencapai tujuan dan manfaat yang akan dicapai. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4-61 mendukung/menyetujui menolak/keberatan hendaknya dicatat untuk menjadi bahan pertimbnagan dalam pengmbilan keputusan. c) penjadwalan dan pembiayaan proyek. dan yang dampak sosial dan lingkungannya paling kecil. b) intensifikasi pertanian dengan rehabilitasi dan upgrading jaringan irigasi yang ada serta pembuatan beberapa sumur air tanah dangkal dimana peningkatan produksinya setara dengan pembangunan jaringan irigasi baru seluas 3000ha. dan sosial-lingkungan. Untuk proyek-proyek skala besar studi kelayakan selain 3 (tiga) kriteria dimaksud juga dapat mencakup: a) rencana pembiayaan pelaksanaan konstruksi. ekonomi serta sosial dan lingkungan. misalnya untuk meningkatkan produksi padi disuatu wilayah alternative-nya adalah: a) pembuatan bendung untuk mengairi areal baru seluas 3000 Ha. Selanjutnya. dihitung biaya (temasuk biaya sosial dan lingkungan) serta manfaatnya/keuntungannya (termasuk manfaat langsung maupun tidak langsung). Dari aspek sosial-lingkungan dievaluasi dampaknya serta tingkat penerimaan masyarakat yang menerima manfaat maupun dampaknya. dan d) keperluan institusi dan aspek hukum pengelola proyek setelah proyek selesai. Dari aspek ekonomi. manfaat dan ruang lingkup proyek serta mencakup aspek-aspek. teknis. dan c) pembuatan beberapa pompa pengambilan air sungai dengan jaringan irigasinya dengan luas total 3000 Ha. ekonomi. Internal Rate of Return dan Benefi-Cost Ratio. c) kriteria perencanaan. masingmasing alternatif konstruksi dievaluasi kelayakannya dari aspek teknis. memberikan nilai ekonomi yang paling baik. Dalam membuat altenatif-alternatif konstruksi kepentingan pendapatyang hendaknya baik mendengarkan manfaat pendapat maupun mapun dari yang pihak pemangku Pendapatmemerima dampaknya. Kemudian masing-masing alternative konstruksi dimaksud dievaluasi kelayakan ekonominya dengan parameter-parameter Net Present Value of Benefit. b) manajemen konstruksi dan operasi proyek. Alternatif yang dipilih adalah alternatif yang layak dari aspek teknis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kelayakan hendaknya memuat pernyataan tentang tujuan.

yang dapat dilihat berdasarkan % (presentase) pertambahan pendapatan bersih usaha tani karena adanya proyek LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . menentukan dampak proyek atas distribusi/pemerataan pendapatan kepada keluarga miskin/tertinggal. 4-62 4. Sedangkan tujuan sekunder dari studi kelayakan proyek dapat mencakup: a. menentukan dampak proyek pada penghasilan devisa c.3 Kriteria Evaluasi Kelayakan Proyek Kelayakan suatu proyek ditentukan berdasarkan hasil evaluasi atas indikatorindikator sebagai berikut: 1. misal 6-2%) benefit-cost (B/C) ratio pada tingkat suku bunga 12% (untuk proyek yang bersifat sosial dan pelestarian lingkungan dapat lebih rendah.4. untuk mengevaluasi benefit/manfaat proyek dalam lingkup nasional b.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tujuan utama dari studi kelayakan proyek prasarana dan sarana sumber daya air adalah: a. yang dapat dilihat dari besaran/nilai: economic internal rate of return (EIRR) net present value of benefit pada tingkat suku bunga 12% (untuk proyek yang bersifat sosial dan pelestarian lingkungan dapat lebih rendah. misal 6-2%) 2. untuk mengevaluasi benefit/manfaat proyek terhadap masyarkat/ individu penerima manfaat c. Kontribusi proyek terhadap pendapatan nasional.4. menentukan tingkat pentingnya proyek dalam penambahan lapangan kerja b. untuk mengevaluasi biaya proyek dan kemungkinan tingkat pengembalian biaya (cost recovery) untuk instansi yang akan membiayai proyek d. untuk mengevaluasi tingkat resiko pokok dan kendala serta memberi saran tentang jalan/langkah untuk mengurangi resiko dan meringankan kendala. Manfaat proyek bagi petani.

Hal ini dapat dilihat dari Cost Recovery Index (CRI) Tingkat resiko proyek Kriteria evaluasi: • • • 75% probability level untuk Economic Internal Rate of Return (EIRR) 75% probability level untuk Net Present Value of Benefit (NPVB) 75% probability level untuk Benefit-Cost Ratio 4-63 5. Dampak proyek terhadap distribusi pendapatan kepada penduduk tertinggal Kriteria evaluasi: • • • % (presentase) perubahan pada Gini Coefficient % (presentase) perubahan pada Poverty Ratio % (presentase) dari “project incremantal benefits” yang mengalir kepada keluarga miskin 4. misalnya mempertahankan kondisi swa-sembada produksi beras dengan intensifikasi sistem produksi melalui peningkatan jaringan irigasi yang ada maupun perluasan jaringan irigasi melalui perluasan areal sawah beririgasi di luar Jawa.5 Penggunaan Model Investasi Pembangunan prasarana dan sarana sumber daya air khususnya jaringan irigasi di Indonesia bersifat ganda-tujuan (multi-objective). mendorong program pembangunan daerah. Dampak proyek terhadap “foreign exchange” Kriteria evaluasi: • • Net foreign exchange savings Domestic Resources Cost 6. Selain itu.4. Tujuan evaluasi: menentukan dampak proyek terhadap penciptaan lapangan kerja Kriteria evaluasi: Biaya untuk menciptakan 1000 oranghari (mandays) lapangan kerja 7. dan menunjang program transmigrasi. 4. Dampak proyek terhadap anggaran pemerintah. yaitu yang berorientasi pada efisiensi ekonomi nasional maupun yang berorientasi non-ekonomis. kriteria-kriteria pemilihan proyek dengan mana tujuan-tujuan tesebut LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3.

Disamping itu. misalnya banyak proyek dibangun secara bersamaan tanpa menyadari terjadinya keterbatasan dana. Multi-criteria. faktor-faktor sosio-teknis: kesiapan penduduk untuk memanfaatkan areal pertanian yang baru dicetak. sehingga proyek hanya dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang ditentukan. maka jika proyek dipilih akan diselesaikan dengan tuntas sehingga dihindari penyelesaian proyek yang parsial. Model ini mampu menangani proses pemilihan proyek (irigasi) dengan karakteristik sebagai berikut: Multi-objective: economic/monetary objective seperti efisiensi ekonomi. ketersediaan air. faktor sosio-ekonomis: jumlah luas areal sasaran. sehingga diperlukan pendekatan yang bersifat multi-objective dan 4-64 multi-critiria dalam proses pemilihan/penyaringan proyek. Oleh sebab itu pendekatan ekonomis semata seperti analisis Benefit-cost tidak lagi memadai. dan non-monetary objective seperti menunjang program swa-sembada beras. dan faktor lingkungan: skore dampak lingkungan Penjadwalan proyek dalam kondisi keterbatasan dana: dengan digunakannya variabel 0 dan1. pelaksanaan pembangunan/rehabilitasi jaringan irigasi mengalami permasalahan dalam penjadwalan. mendorong program pembangunan daerah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dievaluasi juga mencakup faktor-faktor sosio-teknis. dan tingkat keberadaan luas sawah yang sudah ada pada daerah sasaran. faktor sosiopolitis: jumlah transmigran yang didukung. seperti kesiapan penduduk untuk memanfaatkan areal pertanian yang baru dicetak. pengalaman dan kemampuan petani untuk memanfaatkan teknologi baru seperti jaringan irigasi teknis. dan tingkat keberadaan luas sawah yang sudah ada pada daerah sasaran. Model Integer Goal Programming disarankan untuk dipakai dalam proses pemilihan proyek yang bersifat multi-objective dan multi-criteria. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . faktor teknis: kecocokan/kesuburan lahan. dan menunjang program transmigrasi. pengalaman dan kemampuan petani untuk memanfaatkan teknologi baru seperti jaringan irigasi teknis.

Misalnya. Dapat digunakan untuk “parametric analysis” untuk berbagai skenario ketersediaan dana. skenario pemilihan prioritas tujuan dan skenario pemilihan prioritas penggunaan kriteria. Dapat digunakan untuk mengatasi masalah manajerial penjadwalan proyek. jika tujuan penambahan areal irigasi baru di luar Jawa atau dukungan atas program transmigrasi diberi prioritas maka akan diketahui “skor”/posisi masing-masing calon daerah irigasi dalam hal kesiapan petani. Dapat digunakan sebagai perangkat untuk mengidentifikasi ketidak pastian faktor-faktor sosio-teknis sehingga dapat diantisipasi upaya-upaya untuk meminimalkan ketidak pastian. Demikian halnya untuk tujuan/objective dan kriteria-kriteria lainnya akan menghasilkan pilihan proyek dan pencapaian sasaran yang berbeda tergantung dari tujuan dan kriteria yang diprioritaskan. Dengan diketahuinya skor/posisi atas faktorfaktor sosio-teknis dapat diantisipasi uapaya penanganannya. misalnya dalam penjadwalan yang optimal yaitu memilih proyek dengan bulat dapat diselesaikan sesuai periode konstruksi proyek ditengah kendala dana yang tersedia.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dibandingkan dengan pendekatan tradisional Benefit-cost analysis. manfaat dari penggunaan dari model multi-objective-multi-criteria diantarnya adalah: Dapat digunakan untuk membuat simulasi “trade-off” untuk berbagai pilihan kebijakan pemilihan proyek. kapasitas petani dan jumlah areal yang sudah berupa sawah pada daerah sasaran. misal jika dipilih tujuan efisiensi ekonomi sebagai prioritas maka akan terpilih proyek-proyek irigasi yang terletak di Jawa saja (karena dengan investasi yang tidak terlalu besar misalnya untuk rehabilitasi dan atau lanjutan pembangunan jaringan irigasi akan diperoleh nilai net 4-65 present value of benefit yang cukup tinggi). LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sebaliknya jika pencapaian areal irigasi baru atau dukungan atas program transmigrasi dipilih sebagai tujuan prioritas maka akan terpilih proyek-proyek irigasi yang terletak di luar Jawa.

air permukaan-air tanah. 4-66 4. Model ini dengan berbagai modifikasi dapat digunakan untuk pemilihan prasarana dan sarana lainnya yang mempunyai karakter multi-objective – multi – citreria.5 STRATEGI KELEMBAGAAN DAN KOORDINASI Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan secara terpadu (multi sektoral). berwawasan lingkungan (konservasi ekosistem) dengan wilayah sungai (satuan wilayah hidrologis) sebagai suatu kesatuan perencanaan dan pengelolaan. Pendekatan ini telah mengarah pada LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pendekatan ini diperlukan untuk optimalisasi penggunaan sumber daya wilayah sungai karena dapat memberikan perhatian.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dapat dipakai sebagai perangkat untuk koordinasi antar sektor dengan diketahuinya jadwal dan kondisi faktor-faktor teknis. air dan lahan. instream-offstream. kuantitas-kualitas. Mengingat bahwa sumber daya air menyangkut berbagai sektor pembangunan (multi sector). seperti penyediaan sarana air minum. dan kapan dukungan sarana produksi padi dan pelatihan untuk petani harus dimulai dan kapan pula transmigran mulai didatangkan ke daerah sasaran. fokus dan integrasi dari berbagai aspek serta sebagai saluran bagi umpan balik pengguna dan dalam pengembalian biaya. dan pembangunan jaringan sumber daya air lainnya. sosio-politis. sanitasi. berkelanjutan (antar generasi). maka perlu dikelola berdasarkan pendekatan peran serta (participatory approach) semua stakeholders dan segala keputusan publik tentang pengelolaan sumber daya air perlu didahului dengan konsultasi publik sebelum menjadi ketetapan. sosio-teknis. suatu pendekatan regional dalam perencanaan pengembangan sumber daya air telah diikuti untuk mengatasi konflik yang muncul dengan cepat pada penggunaan air dalam kaitannya dengan tata ruang wilayah. sosio-ekonomi dari daerah sasaran Misalnya. freshwater management and coastal zone management). menyeluruh (hulu-hilir. kapan jaringan irigasi dimulai dan diselesaikan pembangunannya. Dalam tahun-tahun belakangan ini.

Integrasi aspek kuantitas dan kualitas dalam pengelolaan sumber daya air. Dengan demikian perencanaan pengelolaan sumber daya air akan menjadi suatu program komprehensif pengembangan untuk jangka pendek dan jangka panjang. 5. seperti seminar. Hal ini juga diikuti dengan studi masalah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA definisi batas wilayah sungai dan pembentukan Satuan Pengelola Teknis Wilayah Sungai. harus dilakukan analisis kebutuhan air baik untuk saat ini maupun proyeksinya dimasa mendatang. 3. 2. 4. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back) dalam Dewan Sumber Daya Air Nasional untuk menampung masukan dari instansi pemerintah dan lembaga non-pemerintah yang terkait dalam pengelolaan sumber daya air. 4-67 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Menjabarkan semua pihak yang terkait yang terlibat dalam manajemen sumber daya air dan menggunakan kerangka kerja pada tingkat WS. dan mengidentifikasi berbagai kegiatan untuk menghasilkan suatu pedoman pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Inggris atau Belanda) dan Asia Tenggara (Sarawak dan Malaysia) dan negara-negara lainnya. Menjabarkan kerangka kerja institusi pemerintah pusat dalam kegiatan manajemen sumber daya air. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back). seperti dari Eropa (Republik Checz. Integrasi manajemen lahan dan manajemen air. untuk mensosialisasikan kegiatan proyek dan tujuannya. Mengadakan seminar informal dan diskusi bulanan antara pihak pemerintah. juga dibutuhkan evaluasi terhadap alternatif kegiatan untuk memanfaatkan sumber daya air tersebut secara lebih baik. yang bertanggung jawab kepada Pemerintah Provinsi. Untuk merumuskan suatu perencanaan termasuk menyusun dokumentasi sumber daya air. Masukan-masukan dimaksud dapat dikelompokkan pada: • • • • Integrasi manajemen “freshwater/air tawar” dengan manajemen daerah pantai Integrasi manajemen air permukaan dan manajemen air tanah. Definisi fungsi institusi di tingkat pemerintah pusat yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut: 1.

kabupaten dan kecamatan serta batas kawasan kerja pihak-pihak yang terkait. perencanaan. 4-68 6. Daerah pinggiran dataran banjir yang diatur (regulatory floodway fringe). manajemen. Dataran banjir yang diatur. integrasi kepentingan daerah hulu dan hilir. integrasi manajemen lahan dan air. penggunaan.000. maka daerah aliran sungai (DAS) perlu dibagi berdasarkan area sebagai berikut: • • • • • • • • • • • • • Daerah aliran air bagian hulu.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • Integrasi keperluan yang terkait dengan air didaerah hulu dan didaerah hilir Masalah-masalah yang terkait dengan koordinasi dan legislasi sumber daya air. Mengklarifikasi pembagian tugas. 7. 8. perlu dipersiapkan peta Indonesia skala 1: 1. Alur sungai. Daerah aliran air bagian hilir. Daerah banjir. Menghindarkan terjadinya “overlapping” dan “gaps” dalam pengaturan tanggung jawab dan kawasan kerja pada lembaga-lembaga yang terkait dengan pengelolaan air yang ada maka diperlukan pemetaan wilayah kerja berdasarkan pembagian wilayah sungai. kontrol/pengendalian akses.000 yang menggambarkan kondisi batas Wilayah Sungai yang terbaru berdasarkan Permen PU No:11/M/2006. Daerah tangkapan air (catchment area). propinsi. Daerah pantai. Daerah aliran air bagian tengah. Untuk keperluan ini. Pembuatan prinsip dan konsep peran institusi dan tanggung jawab mengenai: manajemen integrasi DAS dan daerah pantai. fungsi dan yurisdiksi untuk koordinasi sektor-sektor yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya air pada tingkat nasional. Pembagian institusi yang bertanggung jawab adalah sebagai berikut: LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

menurunnya daya dukung lingkungan serta meningkatnya kepedulian atas kelestarian lingkungan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . masalah hukum. dan air untuk lingkungan. koordinasi pengembangan. mengendalikan alokasi sumber daya air. 10. pengendalian kualitas air. air perikanan. inventarisasi pengguna dan permohonan alokasi air. evaluasi dan pengawasan. Mengadakan studi banding mengenai permasalahan integrasi sub-sistem sosial dan sub-sistem alam dalam pengelolaan terpadu sumber daya air. masalah legislasi. pengendalian alokasi keuangan dan pembiayaan. perencanaan pengembangan partisipasi publik.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • • • • • • • • • • • • • • pengendalian penggunaan sumber daya air. menurunnya kuantitas dan kualitas pasokan air. air industri. memperkirakan resiko yang mungkin terjadi. Informasi diatas digunakan untuk mengkoordinasi secara fungsional dan spasial antara sektor berikut: penyediaan air minum. dan sebagainya. 4-69 9. air irigasi/pertanian. 11. Merumuskan kurangnya koordinasi antar institusi dalam hal penyediaan air untuk berbagai keperluan serta mengidentifikasi upaya-upaya untuk mengatasinya. Merumuskan kekurangan infrastruktur pengolahan air limbah dan pengaturan aspek legal-nya untuk daerah perkotaan dan daerah urban. air untuk pembangkit listrik tenaga air. pengembangan sumberdaya manusia. penegakan hukum. 12. 13. Identifikasi tugas institusi dalam menghadapi tantangan dalam pengelolaan sumber daya air yaitu antara lain: meningkatnya kebutuhan air. resolusi konflik. air untuk wisata air. masalah institusi.

baik masalah kekurangan air. yang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang PokokLAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 14. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 menempatkan otonomi daerah secara utuh pada daerah kabupaten dan daerah kota. Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota dan semua produk hukum yang isinya bertentangan dengan Peraturan perundang-undangan tersebut perlu untuk direvisi. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 merupakan faktor pendorong untuk memberdayakan masyarakat. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas. akan banyak memberikan perubahan-perubahan mendasar dalam sistem ketatanegaraan. 4-70 4.6 PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DALAM ERA OTONOMI DAERAH Di dalam upaya penanggulangan masalah pengembangan sumber daya air. erosi dan sedimentasi. maka untuk saat ini kedua produk hukum tersebut digunakan sebagai acuan untuk pembagian kewenangan antara Pusat. meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 22/1999) dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000. Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (sebagai pengganti UU No 22/1999) dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai otonomi daerah. Menyiapkan kerangka kerja tugas dan fungsi koordinasi institusi yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air pada lembaga pemerintah dan pihak non-pemerintah yang terkait. banjir serta kualitas air adalah termasuk upaya penanggulangan secara struktural dan non-struktural pengembangan sumber daya air dalam era otonomi daerah. 15. Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 (sebagai pengganti UU No. Mengidentifikasi pilihan alternatif pemecahan masalah dengan pernyataan yang jelas tentang kelebihan dan kekurangannnya dari alternatif yang disiapkan.

Berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air. Pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan wilayah sungai. Pengelolaan sumber daya air meliputi kegiatan konservasi. UU SDA ini menggantikan Undang-undang yang berlaku sebelumnya. 7 Tahun 2004. yaitu UU Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air.16 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai Wilayah Sungai Dalam satu Kabupaten/kota Lintas Kabupaten/Kota dalam Propinsi Lintas Propinsi Sungai Strategis Sumber: UU No. Pemerintah dan DPR telah mengeluarkan Undang-undang (UU) Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber daya air. Penetapan Pola dan Pelaksanaan Pengelolaan SDA Bupati/Walikota Gubernur (konsultasi dengan Dewan Daerah Sumber daya air) Menteri (konsultasi dengan Dewan Nasional Sumber daya air) Pemerintah (dengan persetujuan dan dilakukan bersama Pemerintah Daerah) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4. Pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan seluas-luasnya peran serta masyarakat. ditetapkan sebagai berikut: Tabel 4. Dalam UU SDA Pasal 5 dan Pasal 6 Tentang Pengelolaan Sumber daya air. Daerah kabupaten dan kota tersebut berkedudukan sebagai daerah otonomi dan mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat di daerahnya. disebutkan bahwa: 1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pokok Pemerintah di Daerah. Pelaksanaan otonomi daerah yang bertumpu pada otonomi daerah kabupaten dan daerah kota juga memberikan pengaruh yang besar terhadap pengelolaan sumber daya air. 4-71 satu Wewenang Penetapan Wilayah Sungai. Berdasarkan prinsip keterpaduan tanpa mengurangi Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Sungai. berkedudukan sebagai Kabupaten Daerah Tingkat II dan Kotamadya Daerah Tingkat II. 3. 2.

Perencanaan harus menerapkan prinsip peningkatan fungsi dan daya dukung daerah aliran sungai sebagai sumber air dan manajemen daerah aliran sungai. air tanah dan kualitas air.1 Permasalahan dan Tantangan dalam Pengelolaan Sumber daya air Masalah khusus yang mendesak untuk pengembangan wilayah sungai terdiri atas terlalu banyak air dimusim hujan. Selama proses masa transisi. b. baik dari unsur pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah propinsi.6. d. Kerangka kerja institusi harus mengatur koordinasi antara tingkat nasional. propinsi. pemerintah harus menjalankan perencanaan dan koordinasi pengembangan sumber daya air dengan tegas. Untuk itu diperlukan suatu terobosan berupa suatu kesepakatan operasional pelayanan sumber daya air yang mengikutsertakan para penanggung jawab operasional di lapangan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Pengelolaan sumber daya air memerlukan dukungan penuh dan terus-menerus dari institusi jajaran pemerintah propinsi/kabupaten/kota dan stakeholders. termasuk para kelompok pengguna air di dalam pengelolaan sumber daya air. Masalah yang berkaitan dengan penggunaan air permukaan dan air tanah memperlihatkan perlunya pengelolaan bersama antara sumber air tanah dan air permukaan. tapi penegakan hukum dan peraturan mengenai kuantitas air dan kualitas air sampai sekarang masih kurang. Pemantauan telah dilakukan. Suatu pengelolaan kuantitas air dan kualitas air yang memadai akan menjadi penting bagi pembangunan. Peningkatan manajemen sumber daya air permukaan dan air tanah harus dalam kerangka kerja yang sama pada masing-masing Wilayah Sungai yang bersangkutan. dan kabupaten dalam manajemen sumber daya air maupun LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hal ini juga harus diterapkan tingkat Wilayah Sungai. c. Masalah dan tantangan yang perlu dikaji adalah sebagai berikut: a. 4-72 4. terlalu sedikit air dimusim kemarau sedangkan air yang tersediapun sudah terlalu kotor yang menyangkut pengelolaan air permukaan.

4) kecamatan/daerah tangkapan dan 5) desa/sub DAS yang kecil. provinsi dan wilayah sungai. PJT II. 4-73 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . f. Bali Wilayah Sungai/BWS. Bappenas seharusnya memulai untuk mengatur koordinasi batasan kawasan kerja. Organisasi pengelola wilayah sungai yaitu Balai Besar Wilayah Sungai/BBWS. Departemen pemerintah. e. Organisasi non pemerintahan. g. Perencanaan dan koordinasi manajemen sumber daya air dan daerah aliran sungai pada wilayah sungai nasional dan wilayah sungai strategis dikoordinasikan oleh badan pemerintah pusat dengan partisipasi langsung pihak-pihak yang terkait (pengguna sumber daya air. baik swasta maupun publik) pada setiap WS. 2) propinsi (prioritas pada wilayah sungai propinsi atau lintas kabupaten dalam satu propinsi). Asosiasi profesional. Saat ini masih terdapat lembaga pemerintah yang mempunyai tugas yang sama pada perencanaan manajemen sumber daya air dan kawasan kerjanya. h. Asosiasi perusahaan air minum Asosiasi pengguna air. Kerangka kerja institusi yang terkait harus terdiri dari 5 tahap. lembaga.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengatur koordinasi antar anggota stakeholders pada tingkat yang sama pada berbagi tingkatan yaitu tingkat nasional. PJT I. 3) kabupaten. dan tingkat administrasi. Balai Pengelolaan SDA Propinsi • • • • • Sektor industri swasta. Definisi pihak yang terkait atau pemangku kepentingan/stakeholders adalah: • • • • Lembaga pemerintah pusat yang terkait. yakni: 1) nasional (prioritas pada Wilayah Sungai nasional dan wilayah sungai strategis). Sektor pengembang swasta. Terdapat juga definisi kawasan kerja yang tidak konsisten pada departemen pemerintah.

propinsi. diikutsertakan mengenai bidang pengawasan. j. diawali dengan penetapan pola dan rencana induk pengelolaan sumber daya air yang disetujui oleh Dewan SDA Nasional. propinsi. manajemen. pembaharuan (update). Lembaga-lembaga pada tingkat propinsi. baik dari segi pasokan maupun kebutuhan. Pengembangan ini adalah digunakan untuk sistem pengawasan kinerja pemerintah dan sistem koordinasi manajemen informasi. Hal ini diperlukan untuk koordinasi antara tingkat pemerintah. Kabupaten harus menyiapkan bahan perencanaan pembangunan kabupaten dengan prioritas pada kecamatan. m. hilir DAS dan daerah pantai yang ada. Manajemen informasi sumber daya air akan didirikan dan berada dibawah sekretariat. n. kabupaten. k. dan kabupaten. Bappenas bertanggung jawab dalam reformasi kebijakan pengelolaan sumber daya air dan membantu Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber daya air. o. DAS. Dalam perumusan program sumber daya air dan irigasi. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Insitusi ini juga akan bertanggung jawab dalam penyebaran informasi kepada publik dan pengembangan sistem monitor untuk propinsi. DAS dan kabupaten akan menggambarkan kondisi. tengah. DAS dan kabupaten. dan koordinasi finansial. Melengkapi strategi sumber daya air nasional dan menyelaraskan dengan ketentuan dan peraturan sektor dan sub sektor yang ada. Manajemen sumber daya air pada wilayah sungai lintas propinsi dan wilayah sungai strategis nasional akan dikoordinasikan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional dengan sekretariatnya dan struktur transisinya. 4-74 Prioritas identifikasi pengembangan wilayah sungai (WS) adalah pada WS tingkat nasional dan WS Strategis nasional. kecamatan dan desa dalam hubungannya dengan daerah hulu. Petani dan asosiasinya. l. Perencananan pengembangan pada tingkat kecamatan dibuat oleh pemakai air dan LSM. pengembangan WS akan diuraikan oleh perencanaan strategi untuk WS.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • i. Nelayan dan asosiasinya.

Lemahnya koordinasi. penurunan kapasitas pengaliran sungai dan penurunan kinerja prasarana pengendali banjir.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA p. Penurunan kinerja infrastruktur sumber daya air. Meningkatnya kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan. dan ketatalaksanaan. Kebutuhan air baku untuk non-irigasi makin meningkat sejalan dengan perkembangan penduduk. Meningkatnya potensi konflik pemanfaatan air. Masih lemahnya pengelolaan database sumberdaya alam. Regenerasi sumber daya manusia pengelola sumber daya air terancam tidak berlanjut. Rendahnya kualitas pengelolaan hidrologi. Kelangkaan air juga diperparah dengan menurunnya kondisi lingkungan dan makin meluasnya lahan kritis.6. Banjir disebabkan oleh perubahan tata lingkungan.1. 4-75 4. Belum semua wilayah sungai memiliki masterplan. diperlukan adanya institutusi yang bersifat komprehensif untuk menjawab permasalahan yang berkembang. Telah terjadi kekeringan/defisit air (di musim kemarau). dan intrusi air laut. Pengaruh otonomi daerah dalam rangka pengelolaan sumber daya air LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .1 Permasalahan dalam Pengelolaan Sumber daya air Wilayah Sungai di Pulau Jawa sebagian besar mengalami permasalahan yang sama yaitu: Kerusakan catchment area sehingga memberikan ancaman terhadap keberlanjutan daya dukung sumber daya air. land subsidence. permukiman dan industri. Kualitas air buruk karena daya dukung sungai lebih rendah dibanding beban pencemaran. Dewan Sumber Daya Air Nasional bertanggung jawab dalam implementasi dan manajemen kebijakan pengelolaan sumber daya air nasional. kelembagaan. Eksploitasi air tanah yang berlebihan mengakibatkan penurunan muka air tanah.

namun di sisi lain juga tidak menutup kemungkinan akan dapat menimbulkan konflik yang sebelumnya mungkin tidak pernah terjadi. Berikut ini diberikan berapa permasalahan yang sering muncul dalam pengelolaan sumber daya air. Di sisi lain. Dengan diterapkannya otonomi daerah. Selain itu. dan lain-lain).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pada prinsipnya di satu sisi dapat memberikan dampak yang baik dan bermanfaat. 2) Sumber daya air sebagai komoditi ekonomi dapat dikembangkan dan dikelola untuk andalan pendapatan daerah (sebagai air baku. pariwisata. Pengaruh yang baik dan bermanfaat dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air dalam era otonomi daerah adalah munculnya budaya kompetisi yang sehat antar daerah untuk berusaha memajukan daerahnya masing-masing dengan memanfaatkan potensi yang ada di masing-masing daerah. industri. yang berarti bahwa kabupaten/kota dituntut dapat lebih intensif mendayagunakan segala potensi yang ada secara bertahap agar mampu membiayai urusan rumah tangganya sendiri dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Penguasaan atas sumber daya air ini didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut: 1) Sumber daya air merupakan unsur penting dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan sangat diperlukan untuk pemenuhan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. ada kecenderungan kabupaten/kota akan menguasai dan mengelola sumber daya air yang terdapat di daerahnya. adanya otonomi daerah dapat menimbulkan permasalahanpermasalahan yang dapat menimbulkan konflik antar daerah dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air. 4-76 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pemerintah kabupaten/kota juga akan berupaya untuk lebih mensejahterakan dan meningkatkan derajat kehidupan masyarakatnya sebagai konsekuensi dari tuntutan masyarakat dan tuntutan jaman. terkait dengan pelaksanaan otonomi daerah: a. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Kepentingan Kabupaten/Kota.

Keuntungan yang timbul dari pemanfaatan air. Alokasi pemanfaatan air. b. Konflik pemanfaatan air bersih dapat terjadi apabila tidak ada kesepakatan yang baik pada pemanfaatan langsung maupun tidak langsung yang terkait dengan: 1) 2) 3) 4) 5) c. Jalur distribusi yang dilewati. Lokasi. daerah ini berfungsi sebagai daerah konservasi tanah dan air. fungsi dan sifat dimana daerah tersebut berada dalam wilayah sungai. dengan catatan tidak didasari atas niat ingin menguasai dan hanya memikirkan daerah setempat saja. perlu adanya pembagian dalam penataan ruang dari masingmasing kabupaten/kota untuk memperhatikan lokasi. Sebab dan akibat adanya banjir ini sangat dipengaruhi oleh kondisi tata ruang dalam wilayah sungai. Oleh karena itu. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Masalah penanganan banjir secara komprehensif sangat tergantung oleh adanya keterpaduan pengelolaan daerah pengaliran sungai dalam satu wilayah sungai. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Banjir. kawasan lindung dan resapan air serta pengendalian terhadap erosi. Pemilik sumber air (lokasi sumber). Permasalahan dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan Air Bersih. Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pemanfaatan tersebut. 4-77 Pertimbangan-pertimbangan tersebut apabila dikembangkan secara positif akan memajukan daerah dan menumbuhkan kompetisi yang baik. Konflik akan terjadi bilamana wilayah sungai terdiri dari beberapa wilayah administratif baik kabupaten/kota atau bilamana wilayah sungai melalui lebih dari satu propinsi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3) Dengan menguasai dan mengelola sumber daya air akan mengurangi ketergantungan pada daerah lain. fungsi dan wilayah sungai tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Daerah aliran sungai bagian atas (hulu).

Lebih akan mempersulit pelaksanaan keterlambatan berdasarkan respon hidrologis dan upaya-upaya : keterlambatan dalam respon sosial (pembenahan bantaran (penentuan daerah rawan tingkat resiko) keterlambatan respon ekosistem (pembuatan daerah atau titik-titik/sumur resapan air). pengalokasian. pendistribusian serta pengendalian banjir. Untuk itu diperlukan upaya-upaya khusus diantaranya dengan mengintegrasikan kepentingan hulu dan hilir serta diterapkannya prinsip ”hydrosolidarity”. 4-78 3) Daerah aliran sungai bagian bawah (hilir). peraturanperaturan dan pembiayaan yang siap melaksanakan. kesemuanya itu harus diperhitungkan. lanjut. migrasi-urban dan bertambahnya ekspektasi. Dalam upaya-upaya ini.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2) Daerah aliran sungai bagian tengah. penyeimbangan/tradeoffs ini perlu diikuti upaya-upaya yang kondusif agar antara lain: penerimaan masyarakat atas hasil trade offs harus pelaksanaannya dimungkinkan dengan adanya institusi-institusi. penyimpanan. Hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah kejadian-kejadian pemicu-pemicu yang memerlukan penanganan khusus seperti langkah-langkah intervensi pemerintah dalam LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . daerah ini berfungsi sebagai daerah untuk pengumpulan. Langkah-langkah dijamin. Suatu daerah tangkapan air dapat dilihat sebagai socio-ecohydrological system dimana trade offs harus dibuat. dan direalisasikannya implementasi dengan menjamin insentip yang mencukupi dan disertai upayaupaya dibidang pendidikan. keterlambatan dalam merespon sungai yang dimukimi penduduk). banjir pertumbuhan penduduk. masalah banjir juga terkait dengan ada tidaknya tindakan konservasi di daerah hulu dan untuk mengkoordinasikannya sangat sulit karena berhubungan dengan masalah tataguna lahan pada masing-masing daerah kabupaten/kota. komplikasi dapat timbul seperti perubahan yang terus berlanjut dalam hal perubahan-perubahan yang didorong oleh penggunaan tanah dan modifikasi penggunaan air. Selain sangat dipengaruhi oleh curah hujan. daerah ini berfungsi sebagai daerah pengendalian banjir dan drainase serta pencegahan intrusi air laut.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

memitigasi bencana yang terkait dengan air seperti kekeringan, tanah longsor dan pencemaran.

banjir,

4-79

Tiga arahan kunci menjiwai sistem manajemen yang diperlukan, yaitu: 1) menjamin layanan yang terkait dengan air kepada penduduk, 2) mencegah dan mengurangi degradasi ekosistem, dan 3) memperkirakan perubahan dan variabilitas iklim dan dampaknya. d. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan Air Irigasi. Guna memenuhi kebutuhan pangan, pemanfaatan air untuk irigasi saat ini masih sangat diperlukan dan masih dominan. Berkaitan dengan hal tersebut, peningkatan kebutuhan air non irigasi akan menyebabkan alokasi pemenuhan kebutuhan air irigasi menjadi berkurang, disisi lain, kebutuhan air irigasi juga cenderung berkurang seiring dengan pengurangan lahan irigasi karena adanya perubahan pemanfaatan lahan. Mengingat air yang terbatas, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan konflik antar pengguna air. Oleh karena itu, perlu adanya kesepakatan dalam hal alokasi air dan pola tanam yang diterapkan. e. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Kelembagaan. Berbagai instuisi selama ini telah melakukan pengelolaan sumber daya air. Pada waktu sumber daya air masih berupa uap air/embun, BMG merupakan instuisi yang berwenang dan bertanggung jawab dalam melakukan pengelolaan dan pencatatan. Sedangkan sumber daya air yang sudah berada pada badan air, yang berupa sungai atau danau sebagai air permukaan dikelola oleh Departemen Pekerjaan Umum/cq. Ditjen Sumber Daya Air. Selanjutnya, sumber daya air yang berupa air tanah yang berada di bawah permukaan tanah dikelola oleh Departemen Pertambangan dan Energi. Sementara itu, untuk air di laut instuisi pengelolanya adalah Departemen Kelautan dan Perikanan. Mengingat sifat kontinuitas sumber daya air, sementara institusi pengelolanya relatif terpisah, oleh karenanya diperlukan suatu koordinasi yang baik diantara para unsur pengelolaannya.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

Pengelolaan sumber daya air melibatkan banyak stakeholders yang seringkali 1) 2) 3) 4) 5) tidak mudah untuk mengkoordinasikannya dan ada kecenderungan sering terjadi egoisme sektoral dengan implikasi: Menitikberatkan pada kepentingan masing-masing sektor, Merencanakan dan melaksanakan pengelolaan sesuai kebutuhannya sendiri, Membuat peraturan sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan masingmasing sektor, Menyebabkan terjadinya tumpang tindih tanggung jawab dan wewenang instuisi, Menyebabkan kurang terintegrasinya tataguna ruang dan tata air. lembaga-lembaga

4-80

Dalam pelaksanaannya, instansi pemerintah termasuk

penelitian dan Perum yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air cukup banyak, yaitu Departemen-departemen Pertanian, Kehutanan, Perhubungan, ESDM, Pekerjaan Umum, Perindustrian, Dalam Negeri, Keuangan, Kelautan dan Perikanan, Kesehatan, Sosial, Kementerian Negara PPN/BAPPENAS, Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Kantor Menko Perekonomian, Kantor Menko KESRA, BPN, BMG, BAKORNAS PBP, BPPT, LAPAN, LIPI, BAKOSURTANAL, PT. PLN, PJT I, dan PJT II. Permasalahan yang sering timbul adalah mengenai batasan kewenangan antar lembaga pengelola SDA dalam pengelolaan sumber daya air masih belum jelas dan belum ada juklak dan juknis yang mengaturnya, terkait dengan Implementasi PP No. 25 Tahun 2000 atau peraturan pemerintah penggantinya.

4.6.1.2 Tantangan dalam Pengelolaan Sumber daya air a. Meningkatnya eksploitasi Sumber daya air demi mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sumber pendapatan daerah ketentuannya terdapat dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah yang menyatakan

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

bahwa salah satu sumber pendapatan daerah berasal dari Pendapatan Asli Daerah, yang meliputi: • • • • hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, lain-lain pendapatan daerah yang sah.

4-81

Sebagai daerah otonomi yang memiliki kewenangan sendiri untuk mengurus daerahnya, terkadang pemerintah daerah dalam mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) baik yang berupa pajak maupun retribusi daerah, seringkali tidak memperhatikan pengaruhnya terhadap daerah lain. b. Ego sektor berubah menjadi ego daerah Akibat dari pengelolaan sumber daya air menyangkut multi sektor, maka pengelolaan sumber daya air akan melibatkan banyak stakeholders yang tidak mudah untuk mengkoordinasikannya sehingga ada kecenderungan terjadinya egoisme sektoral dengan implikasi mengutamakan pada kepentingan masing-masing sektor. Dari ego sektor tadi kemudian berubah menjadi ego daerah dengan implikasi merencanakan dan melaksanakan pengelolaan sumber daya air sesuai kebutuhan daerahnya sendiri tanpa memikirkan daerah lain yang terkadang air sungai tersebut juga mengalir atau melewati daerah lain. c. Masalah Pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai tidak mengenal batas administratif Pembinaan maupun pengelolaan atas air dan atau sumber air pada suatu wilayah sungai batasannya adalah wilayah sungai (batasan hidrologis) bukan batasan administrasi. Sering terjadi permasalahan suatu sumber air terletak pada wilayah administrasi yang berbeda dengan pengguna sumber air tersebut. Permasalahan tersebut biasanya dapat diselesaikan antar instansi pemerintah namun sulit untuk level masyarakat. Sehingga diperlukan adanya koordinasi dan pengaturan atas sumber daya air yang

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

kawasan konservasi dan pengendalian pencemaran.2 Organisasi dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No:12/PRT/M/2006.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA adil dan merata secara jelas dan tegas serta memberikan informasi yang transparan bagi masyarakat setempat. Sistem pengelolaan dari rigid menjadi fleksibel. tanggal 17 Juli 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Wilayah Sungai. dengan mempertimbangkan: 1) Perubahan paradigma. Sehubungan dengan permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air seperti yang disampaikan diatas.6. Filosofi pengelolaan dari menghindari hukum menjadi melakukan sesuai hukum. 4-82 4. pengembangan sumber daya air. 2) Pengembangan kerjasama antar lembaga dan daerah. Pola pengelolaan dari reaktif menjadi proaktif. karena bagaimanapun juga masyarakat merupakan pihak yang terlibat langsung dalam pemanfaatan dan penggunaan air tersebut. diperlukan upaya-upaya pengelolaan sumber daya air yang lebih terpadu. tanggal 17 Juli 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Wilayah Sungai. • • • • • Tujuan pengelolaan dari Adhoc (khusus) menjadi need driven. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS)/Balai Wilayah Sungai (BWS) adalah unit pelaksana teknis di bidang konservasi sumber daya air. pendayagunaan sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kerjasama berbasis proyek untuk penanganan masalah sejenis yang dihadapi bersama. • • • Penanganan wilayah perbatasan. dan PERMEN PU No:13/PRT/M/2006. Lingkup pengelolaan dari orientasi proyek menjadi program terpadu. Kerjasama dalam pemberian perijinan untuk kegiatan-kegiatan pemanfaatan SDA dan pemanfaatan ruang.

melaksanakan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan SDA. Dalam melaksanakan tugasnya BBWS/BWS menyelenggarakan fungsi: a. b. j. g. pelaksanaan konstruksi. pengembangan SDA. penggunaan dan pengusahaan SDA pada wilayah sungai. yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Sumber Daya Air. melaksanakan penyusunan pola dan rencana pengelolaan SDA pada wilayah sungai. melaksanakan ketatausahaan Balai Besar/Balai Wilayah Sungai. c.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. 4-83 Balai Besar Wilayah Sungai terdiri dari 2 (dua) tipe. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . yaitu: 1) BBWS Tipe A yang terdiri dari: a. b. melaksanakan operasi dan pemeliharaan SDA pada wilayah sungai. h. melaksanakan pengelolaan sistem hidrologi. Bidang Program dan Evaluasi. Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. d. i. peruntukan. melaksanakan penyelenggaraan data dan informasi SDA. pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. Bidang Operasi dan Pemeliharaan. BBWS/BWS mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan sumber daya air (SDA) yang meliputi perencanaan. melaksanakan penyusunan rencana dan pelaksanaan pengelolaan kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai. c. Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. melaksanakan fasilitasi kegiatan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air pada wilayah sungai. operasi dan pemeliharaan dalam rangka konservasi SDA. e. d. melaksanakan penyiapan rekomendasi teknis dalam pemberian ijin atas penyediaan. Bagian Tata Usaha. melaksanakan pengelolaan SDA yang meliputi konservasi SDA. e. f. pengembangan SDA.

II. Tabel 4. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . NAMA BALAI LOKASI WILAYAH KERJA Balai Besar Wilayah Sungai I. Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA f. I. 2. 2. Subbagian Tata Usaha. 3. Kelompok Jabatan Fungsional. e. c. Seribu Wilayah Sungai Citarum Surabaya Surakarta Semarang Wilayah Sungai Brantas Wilayah Sungai Bengawan Solo Wilayah Sungai Pemali – Comal Wilayah Sungai Jratun Seluna Wilayah Sungai Serayu – Bogowonto Wilayah Sungai Progo– Opak– Serang Wilayah Sungai Cimanuk – Cisanggarung Wilayah Sungai Citanduy 4. 1. Seksi Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. Kelompok Jabatan Fungsional. Bidang Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. b. 17 Balai Besar Wilayah Sungai & Balai Wilayah Sungai di Pulau Jawa NO. Seksi Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. 4-84 3) BBWS Tipe B yang terdiri dari: a. 6. - Cirebon Banjar Balai Wilayah Sungai Balai Wilayah Sungai terdiri dari 2(dua) tipe. Yogyakarta 5. Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. II. TIPE A Balai Besar Wilayah Sungai Brantas Balai besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Balai Besar Wilayah Sungai pemali – Juana Balai Besar Wilayah Sungai Serayu – Opak Balai Besar Wilayah Sungai CimanukCisanggarung TIPE B Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy TIPE A BWS Cidanau – Ciujung – Cidurian BWS Ciliwung – Cisadane BWS Citarum TIPE B Serang Jakarta Bandung Wilayah Sungai Cidanau – Ciujung – Cidurian Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane Wilayah Sungai Kep. 3. d. 1. c. yaitu: 1) Balai Wilayah Sungai Tipe A terdiri dari: a. b. Bagian Tata Usaha.

Sungai. 5. b. waduk. 4. Pengendalian banjir dan penanggulangan kekeringan. Seksi Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. 4-85 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Rawa. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Tingkat Kabupaten/Kota berperan sebagai penanggung jawab pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai yang menjadi kewenangan Kabupaten/Kota yang bersangkutan (wilayah sungai Kabupaten/Kota) yang diwujudkan manifestasinya pada usaha-usaha pembinaan teknis dan pengawasan teknis maupuan pelaksanaan fisiknya. Kelompok Jabatan Fungsional. Penyediaan air baku untuk berbagai keperluan. Subbagian Tata Usaha. Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air/Pengairan Tingkat Propinsi berperan sebagai penanggung jawab pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai yang menjadi kewenangan Propinsi yang bersangkutan (wilayah sungai propinsi) yang diwujudkan manifestasinya pada usaha-usaha pembinaan teknis dan pengawasan teknis maupuan pelaksanaan fisiknya. situ dan embung. c. Untuk membantu dinas tingkat propinsi dalam pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersifat lintas kabupaten/kota masih dalam satu propinsi (wilayah sungai propinsi) diperlukan Balai Pengelolaan Sumber daya air Propinsi (Balai PSDA Propinsi) yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 179/1997 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA. Urusan irigasi lintas kabupaten/kota. Seksi Pelaksanaan Jaringan Sumber Air dan jaringan Pemanfaatan Air. e.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA d. Danau. 2) Balai Wilayah Sungai Tipe B terdiri dari: a. Kelompok Jabatan Fungsional. yang meliputi 9 (sembilan) urusan yaitu: 1. d. Tugas utama Balai PSDA Propinsi adalah melaksanakan sebagian fungsi dinas di bidang pengelolaan sumber daya air. Seksi Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. 2. 6. 3.

galian golongan C. Perlindungan pantai. Pemeliharaan muara sungai dan delta. dll). pengelolaan rawa. Dalam rangka melaksanakan tugas sembilan urusan seperti tersebut di atas. Pengendalian pencemaran air. waduk. embung. Balai PSDA mempunyai 3 fungsi utama sebagai berikut: 1. 8. pengendalian banjir. penanggulangan kekeringan. Pelaksanaan operasional pelayanan kepada masyarakat di bidang pengairan (rekomendasi teknis perijinan pengambilan air. kelestarian situ. pemeliharaan infrastruktur pengairan dll).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 7. air dan irigasi lintas air kabupaten/kota. delta. 9. kepegawaian dan perlengkapan). perlindungan pantai dan muara. 3. alokasi air. 2. Pelaksanaan pelayanan teknis administratif ketatausahaan (urusan keuangan. 4-86 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pelaksanaan operasional konservasi/pelestarian sumber (pengendalian pencemaran air.

Dengan melakukan pemantauan perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan dapat diikuti dengan bagik guna menjamin konsistensi antara pelaksanaan dengan rencana yang telah ditetapkan. Evaluasi kinerja pelaksanaan rencana pembangunan dilaksanakan terhadap keluaran kegiatan yang dapat berupa barang dan jasa dan terhadap hasil (outcomes) program pembangunan yang berupa dampak dan manfaat. Serangkaian kegiatan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. efektifitas. mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan korektif sedini mungkin. dan kemanfaatan program serta keberlanjutan pembangunan. Kegiatan pengendalian meliputi kegiatan pemantauan. 5. Pemantauan merupakan bagian dari kegiatan pengendalian untuk mengamati/meninjau kembali serta mempelajari dengan cermat yang dilakukan secara terus menerus atau berkala terhadap pelaksanaan rencana pembangunan yang sedang berjalan. dan tindakan lanjut.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-1 5. pengawasan.1. Evaluasi dilakukan dengan maksud untuk dapat mengetahui dengan pasti apakah pencapaian hasil. dan ruang lingkup yang menjadi pedoman dalam rangka menyusun perencanaan berikutnya.1 INDIKATOR PEMANTAUAN DAN EVALUASI Pemantauan Pemantauan adalah melihat kesesuaian pelaksanaan perencanaan dengan arah. tujuan. kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan rencana pembangunan dapat dinilai dan dipelajari untuk perbaikan pelaksanaan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .2 Evaluasi Evaluasi adalah kegiatan penilaian kinerja yang diukur dengan efisiensi. Pengendalian dilakukan dengan maksud untuk dapat menjamin bahwa pelaksanaan rencana pembangunan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.1 5.1.

Evaluasi ini diarahkan untuk melihat apakah pencapaian (keluaran/hasil/dampak) program mampu mengatasi masalah pembangunan yang ingin dipecahkan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI rencana pembangunan di masa yang akan datang. serta akuntabel. Evaluasi ini dilakukan setelah program berakhir untuk menilai efisiensi (keluaran dan hasil dibandingkan masukan). (ii) indikator keluaran. Pada tahap pelaksanaan. ataupun manfaat (dampak terhadap kebutuhan) dari suatu program. evaluasi digunakan untuk menentukan tingkat kemajuan pelaksanaan rencana dibandingkan dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. baik Pusat maupun Daerah. manfaat (benefit) untuk dan dampak (impact). dan transparan. dan (iii) indikator hasil/manfaat. (i) indikator masukan. Evaluasi pelaksanaan rencana adalah bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran. dibuat perangkat evaluasi yang dapat diukur melalui penyusunan indikator dan sasaran kinerja pelaksanaan rencana yang meliputi. untuk menciptakan proses dan kegiatan perencanaan yang efisien. evaluasi Dalam kinerja rangka perencanaan yang pembangunan. keluaran (output). 5-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan dampak dari rencana pembangunan. Di dalam opersionalnya. berkewajiban melaksanakan pembangunan merupakan dan atau terkait dengan fungsi dan tanggungjawabnya. (ii) Evaluasi pada Tahap Pelaksanaan (ON-GOING). Indikator dan sasaran kinerja mencakup masukan (input). Kementrian/Lembaga. evaluasi sering digunakan untuk menunjukkan tahapan siklus pengelolaan rencana pembangunan yang mencakup: (i) Evaluasi pada Tahap Perencanaan (EX-ANTE). evaluasi sering digunakan untuk memilih dan menentukan skala prioritas dari berbagai alternatif dan kemungkinan cara mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang tercantum dalam dokumen rencana pembangunan. Pada tahap perencanaan. efektif. dan (iii) Evaluasi pada Tahap Pasca-Pelaksanaan (EX-POST). Dalam melaksanakan evaluasi kinerja proyek pembangunan. Pada prinsipnya. setiap Kementerian/Lembaga. manfaat. tujuan dan kinerja pembangunan. Fokus utama evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan diarahkan kepada hasil. hasil (result). efektivitas (hasil dan dampak terhadap sasaran).

Kerangka praktis untuk menyusun indikator-indikator untuk pemantauan dan hasilnya (outcomes) secara konseptual dapat dibagi dalam 4 (empat) kelompok yang berbeda1 setiap kelompok mewakili kemajuan dari beberapa tahapan/langkah dari siklus proses ini. 1 Siklus Pengelolaan Terpadu SDA (IWRM).1. 5.. et al. mengikuti pedoman dan petunjuk pelaksanaan evaluasi kinerja untuk menjamin keseragaman metode. 2006 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . materi. Untuk itu diperlukan indikator sebagai perangkat dalam memantau proses pengelolaan yang dilakukan.3 Indikator dalam Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air 5-3 Sejalan dengan pengelolaan sumber daya air terpadu yang dikenal dengan Integrated Water Resources Management (IWRM).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI baik Pusat maupun Daerah. Adapun tahapan yang dimaksud sesuai dengan siklus tersebut adalah sebagai berikut: 1 Olsen. dan ukuran yang sesuai untuk masing-masing jangka waktu sebuah rencana. arah pemantauan dan evaluasi yang dilakukan juga terkait dengan visi dan rencana yang ditetapkan. Visi Pemantauan Assessment Implementasi Lingkungan yang Menunjang Kerangka Institusi Instrumen Managemen Strategi Rencana IWRM Gambar 5.

Tahap ketiga mulai diselesaikan 4. tetapi dapat. : Kondisi yang menunjang untuk IWRM. Tahap Kedua 3. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Namun berjhubung proses ini merupakan suatu siklus. maka secara alamiah fokus reformasi akan bergerak dari tahapan yang pertama menuju ke tahapan yang berikutnya. peraturan-peraturan. A. Tahap ke Empat lingkungan. perundangan. maka selalu perlu pertimbangan kembali aspekaspek tahap awal. Tahap Pertama 2. Adanya kebijakan. Pendanaan yang diperlukan tersedia. Indikator Outcome Tahap Pertama Kelompok indikator-indikator ini adalah pengukur kondisi yang menunjang (enabling conditions) yang telah dihasilkan suatu waktu tertentu yang ditentukan dalam pemantauan. Kondisi-kondisi ini termasuk item-item seperti: • • • Kepedulian dan partisipasi pemangku kepentingan (stakeholders). dalam hal terburuk.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 1. Indikatorindikator pada Tahap Pertama dapat berupa. Kondisi tersebut adalah landasan-landasan untuk kemajuan yang lebih lanjut dan reformasi dalam Pengelolaan Terpadu SDA. “Peraturan-perundangan yang telah ditetapkan:. dan sebagainya. : Proses reformasi IWRM telah berdampak BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-4 : Isu/permasalahan kunci sumber daya air telah : didapatkannya penggunaan air yang adil dan dengan keseimbangan yang berlanjut pada aspek ekonomis dan Sepanjang proses reformasi kebijakan pengelolaan SDA mantap. tetap merupakan dokumen-dokumen statis dan kehendak baik saja. misalnya “Kebijakan Pengelolaan SDA yang telah disepakati”. standar-standar dan kemauan politis untuk melaksanakan rencana-rencana. Pada tahap ini kita membahas “kondisi-kondisi dasar untuk reformasi perubahan-perubahan telah ditetapkan”.

akuntabel. “pemberdayaan stakeholders untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan telah dimulai”. undang-undang baru (UU tentang Sumber Daya Air No 7/2004). degradasi fungsi hidrologi daerah tangkapan air Daerah Aliran Sungai. ekonomi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA B. C. social. Pada tahap ini kita membahas tentang “perubahan nyata dalam perilaku manajemen telah terjadi”. dan sebagainya. dan kerangka IWRM harus konsisten. Pada tahap ini kita membahas tentang “perubahan pada system LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Indikator Tahap Ketiga ini akan mengukur kemajuan menuju diselesaikannya penyebab-penyebab isu/permasalahan kunci dan pengurangan dampak negatif-nya. dan standarstandar serta peningkatan kapasitas telah mulai menunjukkan hasilnya dan staf dari instansi pengelola SDA semakin mengkoordinasikan penggunaan air secara lintas sector dan mulai menggunakan instrument managemen IWRM. sedimentasi pada waduk-waduk yang mengurangi kapasitas tampung dan umur waduk. Efisiensi dalam menangani isu/permasalahan kunci perlu mendapat perhatian. aliran sungai yang tercemar. komunikatif. terbuka. Beberapa diantaranya adalah. dimana perubahan-perubahan dalam cara para “pengelola SDA” pada setiap tingkatan melaksanakan pengelolaan SDA mulai berdampak. dan sebagainya. inklusif. Indikator Outcome Tahap Kedua BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-5 Indikator-indikator ini akan menjadi pengukur pelaksanaan aktual proses reformasi. konflik kebutuhan air. dsb-nya. geographis setempat. Indikator Outcome Tahap Ketiga Prinsip dan proses IWRM dilaksanakan dengan tujuan langsung menangani akar penyebab isu/ permasalahan kunci sumber daya air yang relevan kepada dan diidentifikasi sendiri oleh stakeholders sumber daya air setempat. penyedotan air tanah yang berlebihan. Hal ini dapat berupa misalnya. Indikatorindikator Tahap Kedua dapat diformulasikan sebagai “pengaturan alokasi air telah ditegakkan”. Instansiintansi pengelola SDA mulai bekerja berdasarkan prinsip-prinsip baru (IWRM). proses harus beoperasi dalam system tata penyelenggaraan yang baik (good governance) diataranya transparan. koheren dan diharmoniskan dengan konteks/kondisi hidrologis. “assessment tentang kapasitas telah ditetapkan”. bencana banjir dan kekeringan yang menimbulkan kerugian besar.

” D.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI pengelolaan dan perilaku telah menghasilkan perubahan positif pada alam dan masyarakat. yang memerlukan keseimbangan yang dinamis diantara kedua kualitas sosial dan lingkungan. Pemerintah menetapkan pedoman pelaporan dan pengaduan masyarakat dalam pengawasan pengelolaan sumber daya air. 5. Sementara indikator-indikator Tahap ke Tiga melihat tingkat sejauh mana tujuan-tujuan pokok dicapai. Untuk menjamin tercapainya tujuan pengelolaan sumber daya air diselenggarakan kegiatan pengawasan terhadap seluruh proses dan hasil pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di setiap wilayah sungai. pembentukan indicatorindikator pada tahap ini memerlukan tinjauan yang menyeluruh atas factor-faktor pembangunan dari aspek-aspek ekonomi. lingkungan dan sosial dalam rangka meng-isolasi dampak upaya-upaya pelaksanaan IWRM pada tahap ini dan kita pada tahap ini belum mampu memberikan daftar dari contoh-contoh yang memadai.2 RUANG LINGKUP PENGAWASAN DAN PEMANTAUAN Dalam UU Sumber Daya Air No. 7 Tahun 2004 lingkup kegiatan pengawasan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air diatur sebagai berikut: 1. 4. Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya melaksanakan pengawasan dengan melibatkan peran masyarakat. Indikator Outcome Tahap Keempat 5-6 Pada akhirnya. 2. 3. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . tujuan akhir dari implementasi reformasi IWRM adalah “pembangunan yang dari aspek ekonomis dan lingkungan berkelanjutan serta berkeadilan”. Dalam prakteknya. beberapa pasang indikator-indikator (Tahap ke Empat) akan menambah dimensi tentang keseimbangan yang berkelanjutan. Peran masyarakat dalam pengawasan dilakukan dengan menyampaikan laporan dan/atau pengaduan kepada pihak yang berwenang.

Pengawasan atas penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air ditujukan untuk menjamin tercapainya kesesuaian dalam substansi pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. instansi berwenang. Pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk laporan. Laporan hasil pengawasan merupakan bahan/masukan bagi perbaikan. dan peningkatan penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air 6. dan masyarakat. dan bentuk-bentuk tindakan lainnya dalam rangka memperbaiki dan menyempurnaan penyelengaraan pengelolaan sumber daya air. Penyelenggaraan pengawasan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Lebih rinci lagi tentang kewenangan atas kegiatan pengawasan dalam pengelolaan sumber daya air dan pelibatan masyarakat diatur sebagai berikut: 1. 5. Penyelenggaraan pengawasan yang dilakukan oleh pengelola sumber daya air. 2. dan kesusaian dengan semua ketentuan yang berlaku termasuk ketentuan administratif dan keuangan. 5-7 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pihak yang berwenang wajib menindaklanjuti laporan hasil pengawasan. 4. atau gugatan kepada pihak yang berwenang dalam pengelolaan sumber daya air. penyempurnaan. dalam bentuk peringatan. pengaduan. pemberian sanksi. 3.

b. perlindungan f. c. pemantauan. h. Pemantauan dan pengawasan terhadap dampak ini dilakukan untuk mengevaluasi terhadap izin yang diberikan. pengisian air pada sumber air. kawasan suaka alam. d. dan pengawasan. rehabilitasi hutan dan lahan. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan melalui perizinan. dan/atau pelestarian hutan lindung. 4. 3. pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air. dan kawasan pelestarian alam. Pemantauan dan pengawasan dilakukan tidak hanya pada kepatuhan terhadap syarat-syarat perizinan tetapi juga terhadap dampak yang terjadi setelah kegiatan yang diizinkan dilaksanakan. pengendalian pemanfaatan sumber air. sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5. g. pengaturan prasarana dan sarana sanitasi. salah satu bagiannya adalah kegiatan pengawasan yang melibatkan instansi yang berwenang dan juga partisipasi masyarakat yang dapat didefinisikan sebagai berikut: 1. Perlindungan dan pelestarian sumber air dapat dilakukan dengan kegiatan konstruksi dan non-konstruksi. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .3 RUANG LINGKUP PENGAWASAN DALAM PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN SUMBER AIR 5-8 Perlindungan dan pelestarian sumber air terdiri dari beberapa komponen. Kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan dengan mengutamakan kegiatan yang lebih bersifat non-konstruksi. pengaturan daerah sempadan sumber air. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan melalui : a. e. pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu. 2.

Pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya dalam rangka perizinan b. 7. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya mempertahankan keberadaan tempat-tempat penampungan air dan kearifan lokal. Dana yang dibutuhkan dalam pengelolaan sumber daya air mencakup jenis pembiayaan untuk kegiatan: a. Dalam melaksanakan perlindungan dan pelestarian sumber air dimaksud. 5-9 5. Dalam melaksanakan perlindungan dan pelestarian sumber air dimaksud . biaya perencanaan. biaya sistem informasi. b. dimaksud LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pelaksanaan pemantauan dan pengawasan dimaksud dapat ditugaskan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya kepada pengelola sumber daya air. 8. c. Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan perlindungan dan pelestairan sumber air dapat berupa: a. embung.4 Dalam RUANG LINGKUP PENGAWASAN DALAM ASPEK PEMBIAYAAN aspek pembiayaan juga terdapat pembiayaan untuk kegiatan pengawasan sebagaimana dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1. misalnya situ. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. Pemerintah atau pemerintah daerah melibatkan peran masyarakat. biaya pelaksanaan konstruksi. Pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan pemantauan dan pengawasan. 6. dan tempat-tempat yang mempunyai fungsi menampung air sementara (retarding basin). Yang dimaksud dengan “tempat-tempat penampungan air”.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5.

e. biaya pemantauan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . evaluai dan pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. 3. berhasil guna.5 MEKANISME PEMANTAUAN Dalam rangka lebih meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang berdaya guna. dan pemberdayaan masyarakat merupakan biaya yang dibutuhkan untuk pemantauan BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-10 dimaksud. sasaran dan aktivitas organisasi. uraian tentang visi. Setiap instansi pemerintah sampai tingkat eselon II harus mempunyai Perencanaan Strategik tentang program-program utama yang akan dicapai selama 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahunan. 2. bersih. mekanisme dan tata cara pelaporan kinerja instansi pemerintah. Untuk melaksanakan pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah perlu dikembangkan sistem pelaporan akuntabilitas kinerja yang mencakup indicator. Perencanaan strategic dimaksud mencakup: 1. uraian tentang tujuan. serta biaya untuk pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. 2. 5. evaluasi. uraian tentang cara mencapai tujuan dan sasaran tersebut. metode. Yang dimaksud dengan biaya pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. misi dan tujuan organisasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA d. evaluasi. dan pemberdayaan masyarakat. biaya operasi dan pemeliharaan. 7/1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. misi. Instruksi presiden ini memandang perlu adanya pelaporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah untuk mengetahui kemampuannya dalam pencapaian visi. Biaya pemantauan. dan bertanggung jawab. strategidan factor-faktor kunci keberhasilan organisasi. telah diterbitkan Instruksi Presiden RI No. antara lain pelatihan untuk kelompok masyarakat pemakai air. upaya-upaya peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air.

Masyarakat akan berperan untuk menyampaikan laporan dan pengaduan kepada pihak yang berwenang dimana cara penyampaian laporan dan pengaduan ini ditetapkan oleh pemerintah melalui suatu pedoman. 3. Menteri/Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya. yaitu. Pengawasan melekat. Dalam konteks sumber daya air. pengawasan yang dilakukan oleh menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam melalui kegiatan-kegiatan pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah. Dalam implementasinya. pengawasan yang yang dilakukan tugas dan oleh fungsi 5-11 Lembaga/Badan/Unit organisasi mempunyai pengawasan melalui pemeriksaan. Selanjutnya. 2. Pengawasan masyarakat. 1. dan penilaian. pengujian. Pengendalian rencana pelaksanaan rencana pembangunan koreksi dan dimaksudkan penyesuaian untuk selama masyarakat. Pengelolaan sumber daya air mencakup kepentingan lintas sektoral dan lintas wilayah yang memerlukan keterpaduan tindak untuk menjaga kelangsungan fungsi dan manfaat air dan sumber air. Pengelolaan ini dilakukan melalui LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pengawasan fungsional. yaitu. untuk menjamin tercapainya tujuan pengelolaan sumber daya air. pengawasan yang dilakukan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga/SKPD sesuai dengan tugas dan kewenangannya. diselenggarakan kegiatan pengawasan terhadap seluruh proses dan hasil pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada setiap wilayah sungai.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Sementara itu. pengawasan dimaksudkan untuk mengamati perkembangan pelaksanaan baik dari aspek substansi maupun aspek prosedural. kegiatan pengawasan dapat diklasifikasikan ke dalam 3(tiga) ketegori. Kegiatan ini dilakukan oleh pemerintah bersama pemerintah daerah sesuai wewenang dan tanggung jawabnya dengan melibatkan masyarakat.

Pengawasan dilakukan oleh Menteri yang pelaksanaannya ditugaskan kepada pejabat pengairan yang ditunjuk. maka mekanisme pemantauan perlu diatur agar tercapai sinergi yang baik antar sektor. Pembentukan wadah di atas semua diatur melalui surat keputusan menteri yang membidangi sumber daya air. Laporan ini akan didampingi oleh laporan pengawasan dan pengaduan yang dibuat oleh masyarakat. Hubungan antar wadah yang disebutkan di atas bersifat konsultatif dan koordinatif. Menimbang pengelolaan sumber daya air melibatkan kepentingan lintas sektoral dan wilayah. dan untuk wadah koordinasi pada wilayah dapat dibentuk sesuai kebutuhan pengelolaan di wilayah sungai bersangkutan. pada tingkat propinsi oleh Dewan SDA Provinsi yang dibentuk oleh pemerintah provinsi. wilayah dan para pemilik kepentingan (stakeholder). Setiap kegiatan atau program yang dilaksanakan oleh masing-masing balai atau instansi maupun pihak yang berkepentingan (stakeholder) di satu wilayah sungai harus dilengkapi dengan laporan pengawasan yang formatnya ditentukan menggunakan suatu pedoman bersama yang dibuat oleh pemerintah. sementara untuk tingkat kabupaten/kota dapat dilakukan oleh Dewan SDA kabupaten/kota oleh pemerintah kabupaten/kota. Koordinasi yang disebut di atas dilakukan oleh Dewan SDA atau nama lain sebagai suatu wadah koordinasi dengan tugas pokoknya menyusun dan merumuskan kebijakan serta strategi pengelolaan sumber daya air. Dewan ini sendiri beranggotakan unsur pemerintah dan unsur nonpemerintah dalam jumlah yang seimbang atas dasar prinsip keterwakilan yang susunan organisasinya diatur melalui keputusan presiden. Laporan yang dibuat ditembuskan ke pemerintah dan pemerintah daerah beserta wadah koordinasi di masing-masing tingkatan dan wilayah kerja. Pejabat diberi wewenang mengadakan pengamatan dan penyelidikan untuk memperoleh data dalam hubungannya 5-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Koordinasi pada tingkat nasional dilakukan oleh Dewan SDA Nasional yang dibentuk pemerintah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI koordinasi dengan mengintegrasikan kepentingan berbagai sektor.

yaitu: 1. Penanggung jawab atas bangunan pengairan diwajibkan memberikan 5-13 keterangan yang benar mengenai hal-hal yang diperlukan dan untuk menyertai pejabat dalam pengamatan dan penyelidikan apabila diminta. pengusutannya diserahkan kepada pejabat penyidik yang berwenang. 5. Cara pertama dapat dilaksanakan tanpa melakukan analisis yang mendalam. Apabila hasil pengamatan dan penyelidikan terdapat atau diduga terdapat unsurunsur pidana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pejabat dimaksud harus membuat berita acara mengenai pengamatan dan penyelidikannya sesuai dengan kenyataan dan kebenaran dan ditandatangani olehnya dan disampaikan kepada Menteri. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .6 MEKANISME EVALUASI Evaluasi kinerja dapat dilakukan dengan 2 cara. sedangkan untuk melaksanakan cara kedua diperlukan penyusunan indikator dan sasaran kinerja sebagaimana dilakukan pada cara pertama. Pelaksanaan studi evaluasi kinerja proyek pembangunan. Kedua cara tersebut dibutuhkan dalam pelaksanaan evaluasi kinerja dan keduanya akan memberikan informasi kinerja yang bermanfaat untuk kepentingan perencanaan dan pengendalian pelaksanaan proyek.. Ketersediaan indikator dan sasaran kinerja dari hasil pelaksanaan cara pertama akan memudahkan pelaksanaan studi evaluasi kinerja. 2. Penyusunan indikator dan sasaran kinerja proyek pembangunan. Pelaksanaan evaluasi kinerja dengan cara pertama dan kedua saling mendukung. sedangkan cara kedua dapat membantu dalam mengidentifikasikan indikator-indikator baru yang lebih relevan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI dengan kelangsungan fungsi tata pengairan pada tempat-tempat yang diperlukan.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Indikator dan sasaran kinerja adalah ukuran kuantitatif atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. 2 Pemantauan dan Evaluasi dalam suatu siklus kegiatan. institusional. budaya. Indikator dan sasaran kinerja diklasifikasikan dalam enam kategori. dan indikator manfaat (benefits) serta dampak (impacts). lingkungan. manfaat. ekonomi. 5-14 INDIKATOR SASARAN/ KINERJA Sasaran n Rencana Pemanatauan dan pengendalian Outcome/ Manfaat/ Hasil Input/ Masukan Proses Output/ Keluaran Sumber Dana Kesimpulan Rekomendasi Tindak Lanjut Evaluasi Gambar 5. Indikator tersebut dijabarkan dalam: waktu yang diperlukan. untuk dijadikan bahan pertimbangan dan masukan bagi pengambil keputusan dalam merencanakan proyek pembangunan selanjutnya. dana yang diperlukan. atau kombinasi dua kategori atau lebih. tingkat kualitas. jumlah unit yang dihasilkan. yaitu: teknis atau operasional. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . keluaran (outputs). Studi evaluasi kinerja adalah suatu upaya yang sistematis untuk mengumpulkan data dan informasi yang bersifat obyektif terhadap hasil. yang mencakup indikator masukan (inputs). productivitas dan lain-lain. hasil (results/outcomes). dan dampak dari proyek tertentu yang telah selesai dilaksanakan atau pun telah beberapa tahun berfungsi.

serta memakai metode pengumpulan dan analisis data yang tepat dan transparan. Berdasarkan INPRES No. mempersiapkan dan menyusun perencanaan strategik.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Hal penting dari studi evaluasi kinerja adalah mengenai informasi yang dihasilkan dan bagaimana informasi itu diperoleh. merumuskan indikator kinerja instansi Pemeritah dengan berpedoman pada kegiatan yang dominan. dapat diandalkan. perbandingan kinerja aktual dengan kinerja di negara-negara lain. dan dilaporkan. perbandingan kinerja aktual dengan rencana atau target. perbandingan kinerja aktual dengan tahun-tahun sebelumnya. Informasi studi evaluasi kinerja bersifat independen. c. tujuan. relevan. membuat pembobotan (rating) keberhasilan pencapaian program. 5-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4. merumuskan visi. atau dengan standar internasional. 2. sasaran dan strategi instansi Pemerintah. obyektif. tepat waktu. 7/1999 pelaksanaan penyusunan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dilakukan dengan: 1. menginterpretasikan data yang diperoleh. 6. menjadi isu nasional dan vital bagi pencapaian visi dan misi instansi Pemerintah. mengukur pencapaian kinerja dengan: a. dapat diverifikasi. c. dapat dipercaya. b. membandingkan pencapaian program dengan visi dan misi instansi pemerintah. dianalisis. memantau dan mengamati pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dengan seksama. menganalisis hasil pengukuran kinerja. faktor-faktor kunci keberhasilan. misi. 3. d. melakukan evaluasi kinerja dengan: a. b. 5.

Hal ini patut diperkenalkan sebagai kondisi natural yang ideal dan sangat diperlukan untuk menjaga kesinambungan sumber daya air guna menunjang kehidupan masyarakat dan negara. Persepsi yang benar mengenai potensi terjadinya kekeringan di satu sisi dan banjir di sisi yang lain perlu mendapat perhatian dalam menyusun sosialisasi kepada masyarakat luas. Secara umum perlu dijelaskan siklus hidrologi yang terjadi yang dapat membantu pemahaman bagaimana air dapat tersimpan dengan baik di dalam tanah dan syarat-syarat agar mekanisme penyimpanan air ini dapat bekerja secara alamiah. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Oleh karena itu dipandang perlu adanya suatu arahan untuk membangun persepsi yang benar sesuai dengan harapan yang terkandung dalam butir-butir strategi yang telah disusun.1. Latar belakang ini menjadi suatu gagasan untuk membentuk suatu pemikiran yang dapat dilakukan untuk saat ini dengan visi ke masa depan untuk menjaga kesinambungan sumber daya air di Pulau Jawa.1 Kekeringan dan banjir Ide awal dari dilaksanakannya prakarsa strategis ini adalah karena adanya suatu kesadaran akan potensi terjadinya dua hal ekstrim yaitu kekeringan dan banjir. 6. Sebagai kontradiktif perlu dijelaskan pula bagaimana mekanisme sehingga dapat terjadi banjir dan mengapa semakin banyak kejadian banjir yang terlansir belakangan ini di Indonesia.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 6 PENUTUP BAB 6 PENUTUP 6-1 6. Pemahaman masyarakat dan daya tangkap masyarakat degan latar belakang yang berbedabeda akan sangat bervariasi terhadap apa yang dijelaskan dalam kebijakan yang tertuang dalam buku prakarsa ini.1 ARAHAN SOSIALISASI PRAKARSA STRATEGIS Prakarsa strategis yang diuraikan dalam buku ini dapat diberdayakan secara efektif bila dilakukan tindak sosialisasi yang bersifat komprehensif.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

Dampak kekeringan sangat nyata bagi kehidupan dimana kebutuhan akan air tidak dapat digantikan dengan material lain karena air merupakan substansi dasar bagi kehidupan manusia. Kekeringan yang terjadi karena fenomena alam yang sudah ada sejak dahulu tidak terhindarkan dan perlu disikapi secara bijaksana. Namun lain halnya dengan kekeringan kesalahan dalam mengelola sumber daya alam ataupun pemanfaatan sumber daya yang tidak memperhatikan keseimbangan dan daya dukung alam itu sendiri. Kesalahan yang disebut terakhir ini akan sangat disesalkan karena akan berdampak pada masyarakat luas dan pada tingkat nasional dapat mengganggu stabilitas nasional karena kurangnya bahan pangan, meningkatnya angka kasus kesehatan karena sanitasi yang buruk, hilangnya sumber pencarian bagi sebagian masyarakat dan hal lain yang menjadi dampak lanjutan dari kekeringan. Secara khusus banjir memiliki tingkat fatalitas yang lebih tinggi sebagai suatu bencana karena diakibatkan oleh daya rusak air yang besarannya tidak terduga. Perlu diperjelas bahwa kerusakan dan kerugian yang diakibatkan oleh banjir umumnya lebih besar dibandingkan kerugian yang disebabkan oleh kekeringan. Banjir yang terjadi secara cepat dan genangan air yang meluas menyebabkan kehilangan nyawa juga kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan serta bangunan lainnya karena besarnya daya rusak air yang mengalir, terlebih lagi bila masa air terkumpul dan menjadi besar. Genangan yang terjadi membawa dampak rusaknya bangunan dan harta benda termasuk didalamnya adalah tanaman pangan dan ini semua adalah kerugian yang harus ditanggung. Oleh karenanya banjir harus dapat disikapi secara bijaksana. Sosialisasi yang dilakukan harus mampu menempatkan pemikiran mengenai butuhnya kesadaran akan sindrom ini. Disamping itu perlu dijelaskan pula bahwa ada keterkaitan antara banjir dan kekeringan, dimana banjir merupakan suatu ekstrim dan kekeringan sebagai ekstrim di sisi yang berseberangan. Diantara kedua ekstrim ini ada suatu keseimbangan yang menjadi kondisi ideal. Kondisi inilah yang menjadi tujuan dari pengelolaan sumber daya air yang digariskan dalam strategi ini.

6-2

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

6.1.2

Strategi Implementasi

6-3

Untuk mewujudkan semangat yang ada dalam kebijakan strategi, maka pola implementasi kebijakan ini sudah diatur sedemikian rupa. Penjelasan mengenai latar belakang pembagian ini perlu disajikan pula terkait guna membangun pemikiran mengenai konsep pengelolaan dan komponen-komponen yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan sumber daya air. Ada strategi implementasi ini, yaitu: 1. Lembaga 2. Koordinasi 3. Pembiayaan 4. Monitoring & Evaluasi Pada komponen lembaga perlu dijelaskan mengenai fungsi-fungsi lembaga negara dan keterkaitannya dalam memberikan kontribusi untuk masalah sumber daya air. Materi sosialisasi harus dapat menjelaskan dengan jelas tugas dan fungsi masing-masing lembaga yang terkait. Sebagai kelanjutannya, terkait dengan strategi pengelolaan sumber dasya air, perlu pula diterangkan kerangka kerja yang melibatkan lembaga-lembaga bersangkutan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dengan demikian dapat diketahui posisi setiap lembaga yang berkontribusi dalam pengelolaan sumber daya air. Koordinasi merupakan komponen lain yang tidak kalah penting untuk diatur secara lugas dalam strategi untuk pengelolaan sumber daya air. Perlu ditanamkan pemahaman yang baik bahwa pengelolaan yang dilakukan mengharuskan pelaksanaan yang terpadu antar sektor (multi sektoral) dan menyeluruh. Bagian ini merupakan sisi yang jarang sekali dapat dilakukan dengan baik karena terikat pada kebijakan-kebijakan yang dibuat pada masingmasing sektor dan terkait dengan kepentingan rumah tangganya. Jelas hal ini merupakan suatu kendala yang harus dijembatani dengan membuat suatu mekanisme koordinasi dengan tugas dan tanggung jawab yang jelas. Upaya yang dilakukan dapat dimulai dengan pembuatan matriks koordinasi antar lembaga yang menjadi model awal untuk dibicarakan lebih lanjut. Beberapa 4 komponen dalam

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

contoh dari negara-negara lain yang dikemukakan dalam seminar-seminar terkait kegiatan ini dapat pula diungkapkan untuk menjadi sumber inspirasi dan pemahaman akan pentingnya koordinasi. Pembiayaan merupakan komponen yang tidak mungkin ditinggalkan mengingat setiap program dan kegiatan membutuhkan pembiayaan. Dalam upaya pengelolaan sumber daya air, sejalan dengan semangat transparansi manajemen, melalui sosialisasi perlu dijelaskan pula mengenai sumber-sumber pembiayaan yang digunakan, prinsip tanggungan dan jenis pembiayaan yang ditanggung oleh sumber dana yang ada. Hal-hal ini sebagian telah diatur pula dalam undang-undang dan menjadi dasar penyusunan sumber pembiayaan yang dapat dianggarkan untuk kegiatan pengelolaan. Bagian terakhir dari komponen strategi implementasi yang perlu disosialisasikan adalah yang berkaitan dengan monitoring dan evaluasi (monev) atau juga dalam dokumen disebut sebagai pemantauan dan evaluasi. Perlu ditanamkan pemikiran bahwa suatu program kegiatan yang dibangun ataupun manajemen/pengelolaan tidak akan berkesinambungana tanpa adanya kegiatan pemantauan dan evaluasi. Minimal tanpa adanya komponen ini upaya pengelolaan tidak akan mengalami kemajuan yang diharapkan karena tidak ada umpan balik dari apa yang telah diterapkan.

6-4

6.1.3

Pengalaman Negara Lain

Selain konsep dan aturan perundang-undangan yang telah kita miliki didalam negeri, pengalaman-pengalaman negara lain dalam mengelola sumber daya airnya juga menjadi suatu informasi yang berharga. Proses belajar yang efisien adalah dengan melihat bagaimana permasalahan serupa dapat diselesaikan di negara-negara lain dengan memperhatikan potensi, kendalanya, serta solusi yang dipilih. Mempelajari bagaimana suatu masalah yang sama diselesaikan oleh negera lain akan memberikan inspirasi bagi peserta dan juga keyakinan bahwa masalah
LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

tersebut memang dapat diatasi. Dengan mempelajari strategi yang diterapkan diharapkan akan ada suatu dorongan pemikiran dan semangat berdasarkan keyakinan bahwa dengan konsekwensi yang terukur hal serupa dapat pula diterapkan dengan peluang keberhasilan yang menjanjikan. Model-model yang diterapkan di negara-negara lain sangat bervariasi. Pengambilan keputusan dan keberhasilan yang telah dicapai memberikan gambaran tingkat keberhasilan dari pola yang dipilih. Perlu kehati-hatian dalam memberikan gambaran pengalaman negara lain karena kondisi latar belakang, fisik lingkungan dan solusi yang dipilih memberikan kombinasi yang sangat beragam. Oleh karenanya penjelasan harus dilakukan secara rinci. Selanjutnya, bila pengalaman dari negara lain ingin diaplikasikan, perlu dipelajari dulu kondisikondisi di atas secara bijaksana untuk menentukan pilihan; solusi mana yang paling tepat untuk diterapkan di negara ini berdasarkan data dan fakta.

6-5

6.2

SARAN

Beberapa saran terkait pada strategi yang diulas dalam buku ini : 1. Pengelolaan sumber daya air melibatkan tidak saja penanganan secara struktural tapi juga penanganan dengan cara non-struktural. Kebijakan strategis pengelolaan perlu kiranya menempatkan kebijakan non-struktural sebagai strategi utama untuk diwujudkan dalam kegiataan riil mengingat saat ini yang paling dibutuhkan untuk menjamin perlindungan potensi sumber daya air utamanya adalah adalah terkait dengan konservasi lingkungan. Perangkat perencanaan tata guna lahan dan perlindungan hukum yang berwibawa hingga kini masih jauh tertinggal dibanding pembangunan infrastruktur karena penilaian terhadap pertanggungjawaban pekerjaan fisik infrastruktur lebih jelas. 2. Pelaksanaan kebijakan perlu dimulai dengan pendekatan non-struktural dan disusul kemudian dengan pendekatan struktural. Program dimulai dengan pendekatan awal terhadap masyarakat, pemeliharaan lingkungan dan

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

seterusnya hingga pembangunan infrastruktur SDA pada lokasi-lokasi strategis yang memberikan keuntungan luas bagi masyarakat. 3. Strategi struktural yang disajikan dalam dokumen ini merupakan kebijakan struktural wilayah sungai di Pulau Jawa yang dikelola oleh beberapa balai sumber daya air. Adanya perubahan wilayah sungai yang digariskan dalam Permen PU No. 11/PRT/M/2006 secara otomatis mengubah lingkup kebijakan di beberapa wilayah sungai yang dibentuk ulang. Pola wilayah yang baru mengindikasikan kemungkinan adanya transfer inter basin. Proses

6-6

regrouping kebijakan dilakukan dalam buku ini atas kegiatan yang sudah
ada ke dalam wilayah baru. Perlu adanya tindak lanjut untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan baru pada masing-masing wilayah sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya sehingga penanganan masalah sumber daya air dilakukan lebih merata. 4. Bentuk wilayah baru yang digariskan dalam Peraturan menteri pada poin (3) di atas selanjutnya menjadi bahan dalam rancangan Peraturan Presiden. Peraturan presedien yang tengah direncanakan ini nantinya akan menjadi dasar hukum yang kuat untuk melaksanakan pengelolaan wilayah sungai yang baru. Demikian pula halnya untuk memulai kegiatan balai-balai sumber daya air baru yang diatur oleh peraturan menteri Permen PU No. 1213/PRT/M/2006 peraturan tersebut sangat berperan. Sebagai langkah konkret disarankan adanya koordinasi terpusat untuk melakukan restrukturisasi keterkaitan tugas-tanggung balai baru dengan balai-balai yang sudah ada selama ini. 5. Untuk mendapatkan strategi yang aplikatif perlu ada masukan dari masingmasing balai berdasarkan pengalaman dan penilaian terhadap kondisi fisik wilayah sungai yang dikelola. Contoh yang diperoleh dari pengelolaan sumber daya air di luar negeri perlu disikapi dengan bijaksana mengingat kondisi alam dan kultur yang berbeda. Untuk itu dalam pengambilan keputusan di masa yang akan datang perlu mengikutsertakan balai-balai yang sudah operasional sejak lama untuk mendapatkan pertimbangan spesifik sesuai lokasi kerjanya.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber daya air. 2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 11A/PRT/M/2006 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayahg Sungai. 3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 12/PRT/M/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Wilayah Sungai. 4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 13/PRT/M/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Wilayah Sungai. 5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 tahun 2005 tentang Kerjasama Infrastruktur. 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 38/PRT/1989 tentang Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan

DP-1

Pembagian Wilayah Sungai 7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 48/PRT/1990 tentang

Pengelolaan Atas Air dan Atau Sumber Air pada Wilayah Sungai. 8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 49/PRT/1989 tentang Tatacara dan Persyaratan Izin Penggunaan Air dan atau Sumber Air 9. Keputusan Mendagri No. 176 tahun 1996 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA. 10. Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Nomor : 19/KPTS/A/1994 tanggal 19 April 1994 tentang Pembentukan Badan Pelaksana Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman 11. Reclaiming Public Water-Achievements, Struggles and Visions from Around the World, 2005.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

16. 20. 2000. Directorate General Of Water Resources Development. Cimanuk River Basin Development Project West Java. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah. Semarang. Semarang. 1992. and Mays. Instruksi Presiden Nomor 7/1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Bureau Icim. 1979. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Jratunseluna. Cibinong. 1988. David R. McGraw-Hill. The Citanduy River Basin Development Project. Jakarta. 17. 2000. 2001. Bureau Icim. Maidment. 21. 19. 2001. Ciliwung Cisadane River Basin Development Project. 1985. Directorate General Of Water Resources Development. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. Bakosurtanal.. 1984. Neraca Sumberdaya Air Spasial Nasional. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto. Ven Te. Larry W. 13. 15. Directorate General DP-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . The Netherlands. Feasibility Studi On Karian Multipurpose Dam Construction Project. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan. Preliminary Study On Ciliwung-Cisadane River Flood Control Project.. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah. Banjar. Directorate General Of Water Resources Development. 18. DUFLOW: A micro-computer package for the simulation of one-dimensional unsteady flow and water quality in open channel system. Directorate General Of Water Resources Ministry Of Settlement And Regional Infrastructure Republic Of Indonesia. 14.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 12. Applied Hydrology. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. Chow. Bidang Neraca Sumberdaya Alam Pusat Survei Sumberdaya Alam Darat Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. Jakarta.

1998. Jakarta. Jakarta. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development. Jakarta. Directorate General Of Water Resources Development. Jakarta.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. The Study On Comprehensive River Water Management Plan In Jabotabek. Jakarta. CisadaneCimanuk Intergrated Water Resources Development (BTA-155). Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. 1998. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. DP-3 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Directorate General Of Water Resources Development. 22. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development. The Study On Comprehensive Management Plan For The Water Resources Of The Brantas River Basin In The Republic Of Indonesia. 27. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. 25. 1999. Jakarta. Jakarta Flood Control Halim Retention Basin Pilot Project. Jakarta. 26. 1995. Directorate General Of Water Resources Development. 1994. 1997. Directorate General Of Water Resources Development. Ministry Public Works Republic Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development. The CiujungCidurian Intergrated Water Resources In Indonesia. Jakarta. 1989. Jabotabek Water Resources Management Study. 23. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. 24. Jatiluhur Water Resources Management Project Preparation Study (JWRMP). 28.

1975. Ditjen Pengairan PU. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum. 2003. Proyek Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Air Yogyakarta. Directorate Of Management And Conservation Of Water Resources. 33. 32. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. 1973. Jabotabek Water Resources Management Study. 30. Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Jakarta. 1996. Ditjen Pengairan PU. Inventarisasi/Penataan Situ/Rawa/Danau Di Wilayah SWS CiujungCiliman.J. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . The Citanduy River Basin Development Project. Pedoman Pengendalian Banjir. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Ditjen Pengairan PU. 1986. Ditjen Pengairan PU. 1999. Directorate Of Rivers And Swamps. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Direktorat Jenderal Sumberdaya Yogyakarta. 1999. Mock. Water Availability Appraisal. Jakarta. Directorate General of Water Resources Development Ministry Of Public Works And Electric Power. Penyusunan Program Rencana Pengembangan Sumberdaya Air DIY Pada SWS Progo Opak Oyo Daereah Istimewa Yogyakarta. 34. 1998. Jakarta.. Basic study prepared for FAO/UNDP Land Capability Appraisal Project. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of The Republic Indonesia. 1999. Jakarta. F. 35. Jakarta. Standar Perencanaan Irigasi: Kriteria DP-4 Perencanaan Bagian Bangunan Utama. 31. Jakarta. Serang. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Proyek Pengembangan dan Konservasi Sumberdaya Air Ciujung-Ciliman.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 29. 36. 37. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Citarum. Bogor.

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2003. Proyek PPSA Citanduy-Ciwulan. Serang.1) Bagian DPS Cisadane dan DPS Ciliwung. Studi Identifikasi Potensi Air Baku Di Wilayah Sungai Citanduy – Ciwulan. Studi Potensi dan Pengembangan Sumberdaya Air Tersebar di Propinsi Banten. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. 1999. Identifikasi Potensi SDA Di Wilayah Proyek Penyediaan Air Baku Cimanuk – Cisanggarung. DP-5 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 2003. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana. 40. Pekerjaan Penyiapan Bahan Penyusunan Neraca Air Nasional. Perencanaan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Pemali-Comal. 2004. 2003. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumberdaya Air dan Ketatalaksanaan Pembangunan Pengairan. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumberdaya Air dan Ketatalaksanaan Pembangunan Pengairan. Serang. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai di Pulau Jawa. Proyek Pengembangan dan Konservasi Sumberdaya Air Ciujung-Ciliman. Proyek Induk Pengembangan WS Cimanuk-Cisanggarung Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Proyek Perencanaan Pengembangan Pemanfaatan Sumberdaya Air Di Jawa Barat. Penyusunan/Pembuatan Buku Sungai Ciujung Dan Sungai Cidurian. Proyek Studi Potensi dan Pengembangan Sumberdaya Air. Penyusunan Neraca Air Nasional (Tahap . 45. 2000. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2002. 41. 43. Indramayu. Bandung. 39. Perencanaan Pengembangan Pemanfaatan Air dan Sumber Air (Paket . Proyek Penyediaan Air Baku Cimanuk – Cisanggarung.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 38. Jakarta. Jakarta. Jakarta. 44. 42. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum. 2001. Banjar.1). Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Propinsi Banten.

and Eaglin..BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 46. Diding. Penerapan Metoda Mock untuk Menghitung Debit Andalan di Sub Daerah Pengaliran Sungai Citarum Hulu. Sudirman. Wanielista. John Wiley and Sons. Jurusan Teknik Sipil. 1997. Institut Teknologi Bandung. Hydrology: Water DP-6 Quantity and Quality Control. 47. R. Tugas Akhir Sarjana. Kersten. M. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .. New York..P. R. 1999.

Kegagalan privatisasi yang bercirikan “high-profile” di kota-kota besar di belahan bumi selatan menjadi bukti yang kuat bahwa pemenuhan kebutuhan air untuk rakyat miskin tidak tepat bila dipercayakan pada pengelolaan perusahaan layanan penyedia air trans-nasional yang berorientasi pada keuntungan1. Struggles and Visions from Around the World” (2005) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sebaliknya malah menaikkan tarif airnya jauh diluar jangkauan keluarga miskin.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ANNEX PEMBELAJARAN ANTARA PRAKTEK PRIVATISASI DAN PERKUATAN PERUSAHAAN UMUM LAYANAN AIR A-1 A. pelayanan air di dekade 1990-an yang pada intinya merupakan masa perjuangan untuk mewujudkan air bersih bagi semua orang akhirnya mengalami kemunduran. perusahaan-perusahaan layanan air global terbukti telah gagal memenuhi janji-janjinya untuk memperbaiki layananannya. di sisi lain perusahaan publik yang ”status quo” dan sering bertindak birokratis dan tidak efektif − yang ada pada sebagian besar negara-negara berkembang − juga gagal untuk memberi layanan 1 ”Reclaiming Public Water-Achievements.1 Latar Belakang Akibat adanya gelombang yang membawa ideologi privatisasi. Meningkatnya kampanye anti privatisasi melalui gerakan LSM di tingkat akar rumput (grassroot) di negara-negara seluruh dunia telah mengukuhkan jejaring ditingkat regional dan global yang kemudian memulai gelombang balik melawan “fee-market fundamentalism”. Hampir tanpa perkecualian. Saatnya telah tiba untuk mem-fokuskan kembali wacana (debate) global mengenai layanan air pada pertanyaan kunci: bagaimana meningkatkan/memperbaiki dan memperluas layanan air oleh perusahaan umum diseluruh dunia? Sementara privatisasi adalah bukan solusi.

penemuan kembali ethos layanan umum telah membawa pada peningkatan yang signifikan atas kinerja layanan utilitas umum. Di kota-kota ini. khususnya Argentina. di Amerika latin. di Asia. Dikota lain seperti Penang. pengalaman menunjukkan fakta yang berlainan. Mulai dari Asosiasi Pekerja Air sampai koperasi pekerja kini telah mempunyai peran kunci dalam pelayanan air di kota-kota di Argentina dan Bangladesh. dan di Afrika. menarik dan meningkatkan volume investasi (khususnya di negaranegara berkembang) dan memperluas sambungan layanan jaringan air minum dan sanitasi kepada keluarga miskin. Di Olavanna (Kerala. Pelajaran penting dapat digali dari model-model yang mengedepankan pendekatan yang berfokus pada manusia (people centered) dan partisipasi publik. masyarakat setempat telah mengambil kendali dalam perbaikan layanan air. menjadi negara dengan ekonomi yang berorientasikan kepada pasar yang terbuka. termasuk privatisasi di 2 kota besar. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Manila dan Jakarta. Privatisasi memasuki negara-negara dalam proses transisi seperti Eropa Timur dengan gelombang konsesi-nya. dimana beberapa seri kota-kota besar telah diprivatisasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air bersih pada mereka yang membutuhkan. Perluasan perusahaan air dalam dasawarsa 1990-an didukung oleh the World Bank dan institusi international lainnya sebagai bagian dari kebijakan untuk transformasi negara berkembang dan negara dalam proses transisi. sebagai contoh adalah yang tengah dilaksanakan di Porto Alegre dan Recife (Brazil) dan kini dalam tahap pengembangan1. Malaysia. termasuk ”flagship”: konsesi di Aguas Argentinas di Buenos Aires. dalam republik Czech dan Hungary. A-2 A. Privatisasi pada mulanya diharapkan akan membawa efisiensi yang lebih besar dan tarif yang lebih rendah. Namun seperti yang kita alami. layanan air umum sedang ditingkatkan melalui peningkatan partisipasi masyarakat dan pengguna serta reformasi-reformasi demokratis lainnya. India) dan Savelugu (Ghana).2 Kegagalan Privatisasi Tahun 1990-an adalah dekade privatisasi air dimana telah terbukti dalam pelaksanaannya konsep ini mengalami kegagalan. memobilisasi kapasitas sendiri dan sumber daya setempat.

Ketidak populeran konsep privatisasi sebagian apa yang telah dijanjikan. dengan sektor swasta. yang hasilnya berbeda dengan Perusahaan-perusahaan telah berinvestasi sebanyak yang diharapkan. dan kontrak manajemen (atau bentuk khusus dari konsesi untuk pembangunan ”water treatment” atau waduk. dan beberapa bentuk kontrol yang perlu dikendalikan oleh partner swasta.operate and transfer) schemes. dan dikenal sebagai BOTs (build. investasi swasta dalam infrastruktur telah menurun pada akhir 1990-an dan investasi oleh bank pembangunan juga mengalami penurunan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dimana konsensi didapat dari sistem koloni Perancis. Variasi dari bentuk ini termasuk kerjasama/”joint venture” dengan pemerintah atau perusahaan pemerintah. yaitu memindahkan pengendalian dan manajemen operasi kepada perusahaan swasta. tetapi sejak tahun 2000. perusahaan-perusahaan lebih memilih pilihanpilihan yang kurang berisiko yaitu penyewaan atau kontrak manajemen. konsesi adalah bentuk privatisasi yang paling favorit. Kalimat-kalimat lain yang biasa dipakai adalah-termasuk ”public- A-3 private partnership” (PPPs) dan ”private sector participation” (PSP) – dimana penggunaan kata ”privatisasi” saja yang merupakan konsep yang menjadi kurang populer dicoba untuk tidak digunakan. Bentuk-bentuk yang lebih tepat telah dipilih oleh perusahaan-perusahaan swasta pada awal tahun 1990-an . Privatisasi dari layanan pasokan air dan sanitasi telah mengambil berbagai bentuk. Penjualan secara lengkap/ tuntas sistem air kepada perusahaan swasta telah diperkenalkan di Inggris. Meskipun demikian. misalnya Cote d’Ivore. dan juga beberapa kota kecil di Afrika Selatan. penyewaan. dimana bentuk kerjasama tersebut harus distrukturkan untuk memberikan keleluasaan bagi mitra swasta untuk memperoleh ”return”/keuntungan. Harga-harga yang naik merefleksikan berkurangnya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . besar disebabkan gagal oleh untuk mereka masih mengacu kepada bentuk yang sama dari konsep hubungan kontraktual pengalaman berdasarkan hasil nyata operasi. tetapi ada elemen yang bersifat konstan. sedemikian hingga membuat mereka sumber keuntungan untuk modal/kapital swasta. namun dibanyak tempat bentuk privatisasi dipromosikan berdasarkan bentuk konsesi.

seperti ”franchising” vendor-vendor air di daerah-daerah A-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Telah ditetapkan instrumen baru untuk memberikan jaminan yang lebih kuat kepada perusahaan swasta dan sedang dicari bentuk-bentuk lain dari kesempatan berusaha (business) di sektor ini. dapat disaksikan bahwa terdapat perlawanan keras yang sedang berkembang atas privatisasi air di negara-negara berkembang. Bank Dunia telah mengakui kegagalan privatisasi yang dulu diharapkan dapat membawa investasi-investasi dalam perluasan layanan air. Manila dan Jakarta. Ketiga-tiganya menggunakan tindakan politis dan hukum untuk mendapatkan kembali kerugiankerugian yang pernah dialami dan tetap meng-klaim/ menuntut keuntungankeuntungan yang diantisipasi. pencinta lingkungan. Regulator telah menjadi kekurangan kekuasaan dan kompetensinya untuk mengendalikan perilaku kontraktor-kontraktor.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pengembalian modal yang diperlukan oleh banyak perusahaan. dan oposisi politis. operasi pelayanan air yang di”swastakan” di Argentina sekarang mengalami kebangkrutan. dan Veolia dan Thames Water juga menarik dari kontrak-kontrak. mengumumkan akan menarik sepertiga dari invetasi yang ada di negara-negara berkembang. Akhirnya. dua kota besar di Asia yang menggunakan jasa operator swasta. Meski seluruh perhatian dan dukungan telah diberikan kepada konsesi privatisasi air di Amerika Latin. resiko-resiko yang tidak diharapkan. Pada bulan Januari 2003. kinerja mereka ternyata tidak menjadi lebih baik dari pada operator yang perusahaan umum dalam hal perluasan layanan kepada kaum miskin. pekerja. perusahaan-perusahaan air multinasional telah memutuskan untuk mengambil tindakan guna memotong kerugiannya. justru kontraknya-lah yang dirubah dibanding harus memenuhi apa yang disyaratkan sebelumnya. perusahaan multinasional bidang air. Kontradiksi-kontradiksi dimaksud diperparah oleh pergerakan nilai tukar mata uang dan krisis-krisis ekonomi. Bila target-target yang dispesifikasikan dalam kontrak tidak dapat dipenuhi. Suez. civil society groups (masyarakat madani) dan dari kalangan partai-partai politik. dari konsumen. mempunyai tingkat kehilangan air yang lebih tinggi dari mayoritas kota besar dimana pelayanan air dilaksanakan oleh perusahaan umum. Dihadapkan dengan pengembalian investasi yang jelek.

Tanpa akuntabilitas. masalah-masalah ekonomi dan politisnya serta kegagalan dalam mengadakan perluasan layanan kepada masyarakat miskin. Hal-hal ini adalah respon dari perusahaanperusahaan dan Bank Dunia dalam menangani masalah-masalah mereka. privatisasi utilitas Casablanca diatur dengan dekrit Raja Hassan. Awal berkembangnya privatisasi justru terjadi pada regim-regim yang tidak demokratis seperti. Banyak negara-negara pada periode 1980-an barada didalam cengkeraman rejim yang diktator dan korup dengan pelecehan atas hak azasi manusia dan proses demokratis. Pengembangan dari pendekatan–pendekatan baru dalam pengelolaan layanan air datang dari mereka-mereka yang berkampanye menentang privatisasi. Suez aktif di Afrika Selatan yang sedang dibawah regim apartheid. Tetapi Bank Dunia.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ”peri-urban”. tidak LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . struktur tersebut telah mengalami kegagalan dalam menyediakan perluasan layanan air − bahkan ketika bank-bank pembangunan menyediakan pinjaman-pinjaman yang dibutuhkan − dan kegagalan-kegagalan ini dijadikan alasan untuk men-justifikasi kebijakan privatisasi diawal tahun 1990-an. bank-bank pembangunan lain dan organisasiorganisasi donor tetap menolak untuk menyediakan dukungan bagi perusahaan publik di sektor air.2. mereka hanya mengerjakan hal-hal yang kecil untuk orang-orang yang membutuhkan tingkat layanan yang terjangkau dalam layanan air dan sanitasi. A. privatisasi air untuk Jakarta diatur secara korup di era kediktatoran Suharto. Tidak bijaksana untuk menilai bahwa kegagalan-kegagalan yang terjadi disebabkan karena kepemilikan air yang dikuasi oleh perusahaan umum. Tetapi kampanye-kampanye juga harus mengakui kegagalan dan keterbatasan praktek-praktek dari operator perusahaan umum. dan sama sekali meninggalkan transparansi. khususnya dinegara-negara berkembang pada tahun-tahun sebelumnya. Selama tahun 1980-an khususnya. meskipun hal ini menjadi tanggung jawab dari lebih 90% badan layanan air dan sanitasi dunia.1 Kegagalan Dalam Regim Yang Tidak Demokratis A-5 Isu bersama dari kampanye-kampanye adalah kritik atas privatisasi itu sendiri. layanan pada kaum miskin selalu dikorbankan sementara regim yang korup mengambil keuntungan untuk mereka sendiri dari pinjaman yang ditujukan untuk air.

Di Brazil pada awal 1990-an. Waktu ia menjadi presiden di tahun 1995. Di Latvia ada LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pengalaman negara Brasil setelah berakhirnya diktator militer mendukung hal-hal ini. dibanding privatisasi yang dipilih oleh regim diktator. dan sistem yang demokratis. Pemerintah tidak dapat memberikan prioritas yang memadai kepada kebijakan sektor air dibandingkan dengan kebijakan di sektor lain. Masalah pada tahun 1980-an dimana sektor publik mengalami kegagalan dapat dilihat sebagai kurangnya proses demokratis dalam sektor publik. adalah bukan pada kurang populernya kebutuhan layanan air dan sanitasi. tetapi pada kegagalan pemerintah merespon tuntutan ini. menunjukkan adanya kebutuhan tentang pendekatan baru yang berdasar kepada proses demokrasi dan tingkat partisipasi masyarakat yang menjamin akuntabilitas. sebagaimana diakui IMF sendiri saat ini. ada kampanye yang luas untuk suatu kebijakan sanitasi nasional yang secara kasar ditolak oleh Cardoso. Kontrak-kontrak yang mereka dapatkan dipegang dengan rahasia bahkan terhadap anggota dewan kota—khususnya dikota yang ironis seperti Gdansk (Polandia) dan Budapest (Hongaria) dimana mereka sedang mengalami proses transisi dari regim tidak demokratis komunis menjadi regim yang diharapkan lebih akuntabel. Hal ini telah menyebabkan jauh berkurangnya investasi di bidang air (dan infrastruktur lainnya seperti listrik). ia mendorong dilaksanakannya kebijakan ”piecemeal” privatisasi yang mana sesuai dengan kehendak IMF untuk membatasi hutang pemerintah. calon presiden favorit bagi International Financial Institutions (IFIs). Masalahnya. dari pada sebagai masalah dalam sektor publik itu sendiri. kesempatan untuk mempraktekkan prinsip baru demokrasi ditangkap dalam berbagai bentuk. Inisiatif-inisiatif ini. termasuk pengembangan pendekatan baru untuk memperluas layanan penyediaan air bersih dan sanitasi ke daerah baru. sebagaimana pemerintah dan masyarakat di negara-negara berkembang mempunyai perhatian yang kurang atas air dan sanitasi dibandingkan dengan birokrat-birokrat yang sudah dicerahkan oleh institusi internasional. Analisis yang sama dapat diterapkan atas keluhan oleh bank-bank A-6 pembangunan dan lembaga donor.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA oleh tender kompetitif yang dilaksanakan oleh dewan kota.

Sebelum 1990. Diketahui bahwa lingkup dan era privatisasi dibidang air ternyata sangat sempit. kampanye-kampanye telah mendasarkan argumen-argumennya atas dua sumber inspirasi pokok. Masalahnya adalah kurangnya proses yang demokratis. ditemukan kembali pelajaran dari pengalaman negara-negara di belahan utara. Pengalaman kebanyakan negara-negara di Eropa dan Amerika Utara adalah mengganti kontraktor-kontraktor swasta dari pertengahan abad 19 dengan perusahaan pelayanan air milik kota. karena perusahaan milik kota dapat menyediakan perluasan pelayanan dengan lebih efisien dan lebih efektif.2 A-7 ”Northern Past Dan Southern Future” Dalam pengembangan kebijakan alternatif dan struktur. seperti di Orangi di Pakistan. masyarakat telah mendemonstrasikan kemauannya dengan menggunakan tenaga kerja mereka sendiri dan dana tabungannya untuk membuat sistem air bersih dan sanitasi. yang mempunyai pengalaman atau dengan serius mempertimbangkan privatisasi air dalam kurun waktu hampir satu abad terakhir. kecuali beberapa kota di Spanyol dan Italia dan beberapa kota bekas koloni Perancis. yang kadang diperberat oleh kebijakankebijakan yang dibuat oleh IFIs sendiri.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kampanye publik untuk pembangunan instalasi pengolah air limbah meski masih dibawah Uni Soviet pada waktu itu. Dengan demikian pemerintah-pemerintah yang tidak efektif dapat dilihat sebagai bukti kegagalan proses-proses politik. Hanya Perancis lah yang berhasil menyelamatkan kontraktor abad 19 dan mengkonsolidasikannya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Salah satunya adalah sejarah keberhasilan sektor publik di negara-negara maju pada abad 19 dan yang terbanyak di abad 20 − sebagai ”the northern past”. masih baru dan sangat pendek. Dibalik perhatian yang ”misleading” kepada privatisasi. A.2. khususnya demokrasi partisipatif di Brazil dan India − the ”southern future”. tidak ada satupun negara diluar Perancis. Dan satu sumber lagi adalah munculnya bentuk baru dari struktur demokratis di selatan. Di permukiman peri-urban dimana pemerintah gagal menyediakan layanan pokok.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

menjadi

oligopoli

swasta,

yang

menjadi

alasan

bagi

Perancis

untuk

A-8

mempromosikan ideologi privatisasi air dan utilitas lainnya oleh pemerintahan Perdana Menteri Thatcher di Inggris. Negara-negara komunis dan negara-negara yang merdeka setelah pascakolonial berakhir, juga membangun layanan air melalui sektor publik, melalui kepemilikan di tingkat kota, wilayah, atau tingkat nasional. Secara historis, perusahaan utilitas sektor publik adalah model yang cukup berhasil dalam mengembangkan layanan perluasan atas air dan sanitasi untuk seluruh penduduk perkotaan dan bahkan pedesaan. Lebih dari 80% penduduk di Uni Eropa dan Amerika Serikat tetap dilayani operator publik, meskipun mengalami advokasi untuk diprivatisasi pada tahun-tahun belakangan. Di negara-negara belahan selatan, bentuk-bentuk demokratis baru telah muncul dengan mengedepankan partisipasi dan sentralisasi. India mempunyai sistem dewan desa yang dipilih yang disebut ”panchayats”, dan di negara bagian Kerala pemerintahan kiri meng-inisiasi peluncuran program desentralisasi dan partisipasi − hampir 40% dari anggaran negara bagian telah disalurkan melalui panchayat, warga mempunyai hak untuk melihat setiap dokumen dan prioritas anggaran ditetapkan melalui bebarapa tahapan pertemuan-pertemuan umum. Di Brazil, pemerintahan Partai Pekerja telah mengadopsi kebijakan-kebijakan yang membangun sistem devolutif dan partisipasi pada tingkat pemeritahan kota dimana kekuasaan terletak, melalui sistem yang dikenal sebagai ”participatory-

budgeting”.
A.3 Pemberdayaan Perusahaan Umum Pelayanan Air −Langkah Kedepan

Diketaui ada dua pilihan yang layak dalam merencanakan pelayanan air, baik menggunakan privatisasi layanan air maupun menggunakan layanan air yang pernah diselenggarakan oleh pemerintah dan kenyataannya tidak mencukupi. Keberadaaan pilihan ini tidak menjadi masalah bila layanan air dari pemerintah dapat dilakukan secara efektif, namun pertanyaannya adalah bagaimana membuat layanan air dari sektor publik ini menjadi efisien dan efektif. Obsesi

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

ideologi yang baru dibarengi dengan promosi sektor swasta dalam sepuluh tahun terakhir ini telah mengakibatkan pertanyaan di atas belum mendapatkan perhatian yang semestinya dalam penyusunan kebijakan dan proses pengambilan keputusan. Dari uraian pada bagian sebelumnya dijelaskan bahwa sekarang ini mulai muncul situasi baru yang bersifat fundamental akibat adanya beberapa kegagalan privatisasi yang besar, penarikan diri oleh sektor swasta multinasional bidang air dari negara-negara sedang berkembang, dan kenyataan yang dihadapi oleh para pembela privatisasi meski jelas bahwa inestasi sektor swasta tidak akan sampai ke kaum miskin. Oleh karena itu upaya untuk memfokuskan kembali pada perbaikan kinerja dan cakupan utilitas umum sangat dibutuhkan. Beberapa kasus yang disinggung disini menunjukkan bagaimana perbaikan yang signifikan dibidang akses atas air bersih dan sanitasi dapat dicapai dengan berbagai pola manajemen air publik. Solusi atas masalah air publik yang bertitik berat pada masyarakat telah terjadi pada berbagai kondisi lingkungan sosialekonomi, budaya dan politis. Sebagai contoh, termasuk pencapaian utilitas publik dan koperasi di Porto Alegre (Brazil), Santa Cruz (Bolivia) dan Penang (Malaysia); pencapaian perbaikan dengan manajemen model penyediaan publik yang inovatif di Caracas (Venezuela), Harrismith (South Africa) dan provinsi di Buenos Aries (Argentina); dan pencapaian dari pendekatan air yang dikelola masyarakat (community-managed water) di Olavanna (Kerala, India) dan Savelugu (Ghana). Berbagai macam pendekatan publik dimaksud telah membuktikan potensinya sebagai upaya untuk memperbaiki layanan air, dan sudah barang tentu termasuk untuk kaum miskin. Hampir disemua kasus, pencapaian-pencapaian dimaksud telah terjadi ditengah kondisi terjadinya perlawanan terhadap keanehan dan rintangan untuk perbaikan penyediaan air yang dikendalikan oleh publik dan masyarakat. Diantaranya yang terburuk adalah sistematis bias terhadap upaya perbaikan air publik dari

A-9

International Financial Institution (IFI’s) dan privatisasi dengan persyaratanpersyaratan tertentu yang dikaitkan dengan upaya untuk mengurangi jumlah dana bantuan pembangunan yang ditawarkan oleh pemerintahan di negara-

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

negara di kawasan utara. Hambatan-hambatan yang bersifat politis dan finansial dan hambatan lainnya yang mencegah manajemen air publik mencapai potensi penuhnya tidak dapat diatasi. Pada prinsipnya apa yang diperlukan adalah sikap politis untuk menciptakan lingkungan yang lebih kondusif. Hal ini menggarisbesari kisaran yang luas dari pilihan-pilihan kebijakan yang progresif. Dapat juga disimpulkan bahwa perkuatan demokratis, karakter publik dari layanan air pada prinsipnya tidak sejalan dengan model globalisasi neoliberal yang sedang dominan diwaktu kini, yang mana telah mempengaruhi beberapa aspek kehidupan kedalam kerasnya pemikiran dari pasar global. Menarik beberapa pengalaman dari seluruh dunia beberapa isu kunci yang perlu diwacanakan (debat) secara lebih intensif diwaktu mendatang adalah: • Pilihan-pilihan apa yang diperlukan untuk memperbaiki dan memperluas layanan air dan sanitasi publik untuk menghadapi tantangan keberlanjutan, keadilan dan akses untuk semua? • • • • Apa potensi dari partispasi masyarakat/pengguna dan bentuk-bentuk lain dari demokratisasi? Kondisi-kondisi apa saja yang diperlukan agar membuat reformasi utilitas publik yang berfokus pada penduduk dapat berjalan? Masalah-masalah apa saja yang menghinggapi komersialisasi operasi air sektor publik? Pelajaran-pelajaran apa yang dapat dipetik pada bagaimana caranya untuk mengatasi hambatan-hambatan kenaikan biaya yang diperlukan untuk perbaikan-perbaikan? • • Proses-proses politik macam apa yang terlibat dalam pengembangan air publik yang berhasil? Apa yang diperlukan untuk merealisasikan, dari tingkat lokal ke global, untuk menyebarkan, memperkuat dan melaksanakan layanan air dan sanitasi publik untuk daerah urban?

A-10

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA A. respon dan pencapaian tujuan sosial Partisipasi dan demokratisasi yang efektif dimaksud dapat tampil dalam berbagai bentuk. bentuk adalah faktor penting dibelakang peningkatan-peningkatan dalam efektivitas. telah menjadi suatu model yang sering dideskripsikan sebagai ”social control (kontrol sosial)”. setiap warga dapat menyuarakan pendapatnya misalnya menyatakan dimana suatu investasi dapat pertama-tama dapat dilaksanakan. sekarang ini mempunyai akses terhadap air bersih. ”anggaran partisipatif” telah memainkan peran penting yang menjamin bahwa 99. Koperasi air di Bolivia dan Argentina memperbolehkan para pengguna (yang semuanya adalah anggota dengan hak suara/voting) berpengaruh langsung dalam pengambilan keputusan. Untuk perusahaan utilitas. masyarakat langsung menetapkan prioritas anggaran dari perusahaan-layanan-airnya. Melalui suatu proses pertemuanpertemuan publik. Di Porto Alegre. partisipasi warga masyarakat dan pengguna air dalam berbagai dari layanan air yang dikelola publik. misalnya melalui pemilihan badan pengarah perusahaan utilitas (dalam hal ini layanan air dan sanitasi). penggabungan keterlibatan masyarakat madani (civil society) dengan upaya reformasi demokratis yang inovatif seperti ”participatory budgeting/Anggaran Partisipatif”.4 Partisipasi dan Bentuk-bentuk Demokratisasi Lainnya A-11 Di beberapa kota yang diulas dalam tulisan ini.5% dari penduduk termasuk yang tinggal dikawasan kumuh dan miskin di penggiran. Bertambahnya rasa memiliki berkontribusi terhadap bertambahnya kemauan untuk membayar dan dengan demikian memungkinkan untuk membuat investasi baru serta LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . mendapatkan masukan berdasar pengetahuan yang unik dari masyarakat dengan sendirinya merupakan suatu aset. Hal ini memberi kewenangan bagi para pengguna untuk memegang kendali atas akuntabilitas perusahaan dalam menjalankan pelayanannya dengan misinya yang bersifat not-for-profit. Seperti halnya pada beberapa wilayah kehidupan publik lainnya di Porto Alegre. Di Porto Alegre dan beberapa kota lainnya yang sedang tumbuh di Brasil.

dan Santo Andre. Konferensi ini menentang privatisasi dan menetapkan tujuan institusi untuk meningkatkan dan memperluas layanan penyaluran air. Jacarel and Piracicaba. Tetapi hal ini tidak akan mengurangi nilai dari pencapaian yang bisa didapatkan melalui proses partisipasi demokrasi. A-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Seperti ditemui di tempat lainnya di Brasil. Transparansi dengan sendirinya juga akan meningkat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA meningkatkan pemeliharaan. bagian tenggara kota yang mempunyai jumlah penduduk berpenghasilan rendah yang sangat besar. Contoh lain dari Porto Alegre-style pengelolaan air yang partisipatif di Brasil dapat ditemukan di kota-kota seperti Caxias do Sul di negara bagian Rio Grade de Sul. kota ini mempunyai kesenjangan yang besar antara kaum yang kaya dan kaum yang miskin. Porto Alegre dan Recife keduanya memiliki penduduk lebih dari satu juta dan model-model yang sejenis telah terbukti berhasil dibeberapa kota-kota besar lainnya. yang juga akan sangat mungkin mengurangi resiko terjadinya korupsi. Recife. dan semua negara bagian dari Sao Paulo. Lebih dari 400 orang wakil terpilih pada pertemuanpertemuan (tingkat lingkungan) tersebut telah berpastisipasi dalam suatu konferensi dimana tidak kurang dari 160 keputusan telah diambil berkenaan dengan masalah air dan sanitasi di Recife untuk masa depan. Porto Alegre adalah salah satu kota yang makmur di Brasil. telah melaksanakan pengelolaan air yang demokratis dan partisipatif serta bertujuan untuk lebih banyak meningkatkan akses air bersih dalam jumlah besar didasawarsa mendatang. dimulai dengan pertemuan-pertemuan seri tingkat lingkungan. Hal ini telah dicanangkan di tahun 2001 dengan proses konsultasi partisipatif selama tujuh bulan. Tingkat kemakmuran kota ini sebenarnya merupakan salah satu faktor yang menguntungkan dalam menyiapkan upaya peningkatan akses air bersih. dan sebelum memulai reformasi demokratis sebagian besar penduduk mengalami kekurangan akses pada air bersih. dengan prioritas untuk bagian-bagian kota yang miskin. Pengalaman Brasil menunjukkan bahwa skala tidak mesti sesuatu yang menghambat untuk melaksanakan pengelolaan air yang bersifat partisipatif.

India. misalnya dengan mengendalikan akuntabilitas untuk pelaksanaan rencanarencana kerja. Venezuela. alokasi dana-dana yang tersedia dan penyusunan rencana kerja bersama. Pengelolaan air yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Peningkatan-peningkatan yang pokok atas akses terhadap penyediaan air sistem perpipaan telah dicapai dalam lima tahun terakhir melalui pelibatan dan pemberdayaan masyarakat. pengelolaan air secara partisipatif telah dilakukan dengan baik juga. dengan cara berkontribusi untuk mengadakan air bersih yang dapat dijangkau oleh semua. Penduduk setempat tidak hanya berpartisipasi dalam perencanaan. dengan demikian akan menjamin keberlanjutan dari peningkatan dan perluasan layanan air dan sanitasi. Di Olavanna dan komunitas-komunitas lain di Kerala. Dengan menggunakan teknologi yang tepat guna dan menghindari ketergantungan pada kontraktor dan konsultan luar negeri akan mengurangi biaya. Sebagai hasil dari kebijakan People’s Plan (Rencana Masyarakat) dari pemerintah negara bagian Kerala (yang me-desentralisasikan pengambilan keputusan hampir sebagian besar dari pembiayaan publik).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Model pengelolaan air yang partisipatif yang sedang dalam proses A-13 pengembangan di Caracas. Masyarakat setempat. pelibatan dan pemberdayaan masyarakat setempat secara demokratis telah mengurangi biaya dan membantu mengendalikan kebocoran. Rasa memiliki yang timbul dalam masyarakat berkontribusi terhadap upaya monitoring dan pemeliharaan dari masyarakat sendiri. perusahaan air dan petugas-petugas yang dipilih bekerja sama dalam dewan air komunal untuk mengidentifikasi kebutuhan dan prioritas untuk perbaikan-perbaikan. Dana-dana publik ini kemudian mendapat tambahan dari dana kontribusi masyarakat sendiri. Penggunapengguna melaksanakan pengendalian demokratis atas pengelola utilitas. Keadaan yang hampir sama terjadi di Savelugu. penduduk setempat mampu memutuskan mengalokasikan dana publik untuk peningkatan akses atas air minum. melibatkan penduduk secara sangat intensif pada bidang-bidang yang memerlukan perbaikan dan peningkatan dalam layanan air. tetapi juga dalam konstruksi. pengelolaan dan pemeliharaan. Ghana. baik pada proses pengambilan keputusan maupun pekerjaan konstruksi dan pemeliharaan.

Hal ini mengacu kepada kenyataan bahwa perusahaan umum nasional menyalurkan air dalam jumlah besar (bulk water) kepada masyarakat. Di Cochabamba. Perusahaan utilitas air SEMAPA sekarang sedang di-restrukturisasi untuk melayani penduduk. Berlainan dengan yang terjadi di Caracas dan Olavanna.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dikendalikan oleh masyarakat di Savelugu disebut sebagai ”public-community A-14 partnership/kemitraan sektor publik dan masyarakat”. sebanyak 3 dari 7 anggota badan dipilih oleh penduduk-penduduk dari bagian selatan. SEMAPA sedang memasuki model co-management dengan komisi air yang telah ada yang melayani penduduk tanpa sambungan di bagian selatan kota. namun peningkatan hanya dimungkinkan dengan bantuan dana dari UNICEF dan beberapa LSM dari belahan buni utara. kemitraan kolektif publik adalah format yang baik dan demokratis yang dapat mengatasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hal yang penting dari sistem dengan tingkat desentralisasi yang tinggi ini adalah bahwa pada tiap lingkungan (setingkat kelurahan) mempunyai komisi pengelolaan air. pusat dan selatan dari daerah kota. SEMAPA bekerja sama dengan komisi air didaerah tersebut. dimana hal ini adalah salah satu alasan bahwa kebocoran telah dapat dikurangi sampai tingkat yang paling minimum. Bolivia. menggunakan kemampuannya untuk mengelola layanan distribusi air diwilayahnya sementara SEMAPA menyediakan layanan air partai besar (bulk water). model Savelugu dibangun tanpa dukungan aktif pemerintah. khususnya penduduk yang miskin. pemeliharaan. Badan air masyarakat kota (the city’s community board) menetapkan tarif yang direncanakan untuk menjamin akses bagi semua. Untuk mengembangkan akses ke sistem perpipaan untuk dari daerah peri-urban. dan pembuatan sambungan baru. termasuk penagihan kepada pengguna-pengguna. Meskipun sejumlah faktor masih mengancam kesuksesan dari hasil dari kerjasama ini. Pada pemilihan bulan April 2002. istilah ”public-collective partnership”/kemitraan kolektif publik dipakai untuk menjelaskan model baru dari kepemilikan utilitas skala perkotaan. partisipasi dan kontrol yang demokratis yang muncul setelah privatisasi yang merusak dari Betchel diakhiri pada bulan April 2000 ”perang air”. Pada waktu yang sama. yang selanjutnya masyarakat yang akan mengurus semua hal yang berkaitan dengan sistem distribusi air-nya.

adalah karena perbedaan prinsip antara sektor swasta pemegang konsesi dan pengelola utilitas air setempat. pada sisi yang lain. seperti utilitas air PBA di Penang. Bentuk lain dari pengelolaan partisipatif adalah pada pengelola utilitas air di propinsi Buenos Aires. Faktor kunci dibelakang pencapaian PBA adalah komitmen yang kuat diantara manajemen dan para pekerja atas layanan publik dan pelayanan masyarakat yang prima. termasuk pemeriksaan kritis yang menerus dari pihak partai-partai politik yang sedang berkompetisi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kecenderungan sentralisasi dalam pengelolaan utilitas dan dapat menyelesaikan masalah-masalah akses pada wilayah peri-urban. menyediakan air untuk lebih dari 3 juta penduduk. Disamping contoh-contoh diatas. Dengan bekerja sama dengan wakil-wakil pengguna yang berpartisipasi dalam dan mengawasi pengelola. akan didorong dengan cepat oleh aktivitas politik di negara bagian. transparansi. Ada juga kasus-kasus dimana pengelolaan air publik yang efektif dan setara dapat dicapai tanpa partisipasi pengguna memainkan peran yang penting. Malaysia. Perusahaan utilitas dioperasikan bebas dari pengaruh pemerintah negara bagian. dan akuntabilitas dari pengelola utilitas. yang menarik diri setelah pemerintah propinsi menolak pertambahan harga dari layanan yang memuaskan yang dijalankan perusahaan dari Amerika Serikat. Serikat pekerja mengambil alih dalam situasi darurat yang timbul dari sektor swasta pemegang konsesi. Koperasi para pekerja yang sejenis juga telah dengan sukses mengelola suatu konsesi air di dua bagian kota Dhaka. Argentina. untuk mencegah interferensi/ pengaruh-pengaruh yang tidak diperlukan. Cambodia dimana jumlah dari rumah tangga yang dilayani dan memdapat air telah meningkat dengan cepat dari 25% menjadi hampir 80% dalam 10 tahun terakhir. ada beberapa kasus keberhasilan dari belahan bumi selatan yang cukup menarik untuk dikaji. ibukota negara Bangladesh. yang sejak tahun 2002 telah dikelola oleh pekerja-pekerja air dan ”trade-unionnya”. yaitu Phnom Phen. para pekerja telah berhasil membawa kembali perusahaan utiltas kembali ke ”track-nya” setelah bertahuntahun dikelola secara buruk oleh Azurix. ini perlu dicatat. Efisiensi. A-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . yaitu Azurix (anah perusahaan Enron). Pilihan untuk meninggalkannya.

institusi internasional. untuk alasan ideologis. pemerintah-pemerintah dan partai-partai politik. meski badan usaha ini sering berkinerja sangat baik. reformasi perusahaan publik utilitas tidak dipertimbangkan sebagai alternatif atas program privatisasi yang diusung oleh Bank Dunia dan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan faktor penting lainnya adalah dukungan politis dari pemerintah setempat. Sejak tahun 1990-an di Argentina.5 Lingkungan yang Menunjang (Enabling Environment) Hal-hal apa yang membentuk lingkungan-lingkungan yang menunjang (lokal. partisipasi dan demokratisasi dalam berbagai bentuknya dapat digunakan sebagai piranti yang kuat untuk perubahan positif pada berbagai kondisi lingkungan. efektivitas dan responsif dan dengan sendirinya akan berkontribusi pada penyediaan jasa layanan yang lebih baik.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sementara itu. Pengambilan keputusan pada pelayanan air di daerah kota-kota di belahan Selatan kadang-kadang dapat menjadi ”medan perang” politis yang sangat intensif atas kepentingan-kepentingan politis dan ekonomi para elite yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat miskin. secara aktif menghambat pengembangan lebih lanjut dari koperasi dan pengelolaan umum utilitas publik. Hal yang sama. Ada potensi umum untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan manajemen. hal ini jangan dianggap sebagai ”panacea” yang dapat dilaksanakan di setiap situasi dan pada lingkungan/kondisi tertentu mungkin juga tidak layak. kapasitas dari pemerintah setempat dalam memberikan layanan. A-16 A. Sementara itu terdapat alasan yang baik untuk mengharapkan bahwa koperasi dapat memberikan layanan air di beberapa kota besar secara lebih efektif dan lebih betanggung jawab dari aspek sosial dibandingkan perusahaan air swasta. nasional dan internasional) dimana berbagai pendekatan yang berfokus pada orang mempunyai peluang untuk sukses? Diantara faktor-faktor yang paling penting adalah ketersediaan sumber daya air setempat. pemerintah pusat dan daerah telah. tetapi elite politik neo-liberal tidak berkeinginan untuk mengijinkan pilihan ini dikembangkan lebih lanjut.

Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan karena industrialisasi. Cochabamba sedang menghadapi kelangkaan air. pertumbuhan yang cepat dari pertanian intensif (kadang untuk tujuan ekspor). birokrasi. urbanisasi. Santa Cruz. di Cochabamba hampir tidak ada uang agar penduduk dapat membuat keputusannya. Di Cochabamba. dan akuntabilitas dari pada yang dikehendaki masyarakat madani. transparan. tetapi tidak dihalangi oleh pemerintah pusat. Suatu masalah yang sedang tumbuh di berbagai belahan bumi. Sementara visi dibelakang ”public-popular partnership” di Cochabamba dapat dibanding dengan sistem planning partisipatif di Porto Allgre atau Kerala. kroni-isme dan korupsi tipikal di kota-kota lain di Bolivia. merefleksikan perjuangan perebutan kekuatan yang berlanjut. Reformasi dan peningkatan yang dicapai adalah sebagai hasil dari kekuatan yang dibangun oleh gerakan air ditingkat akar rumput. dan yang lebih akhir. Model pengelolaan air yang sekarang muncul masih kurang demokratis. Peningkatan pengelolaan sumber daya air untuk A-17 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pemerintah setempat dan pemerintah pusat mengambil sikap untuk tidak mendukung upaya untuk berpindah pada pengelolaan air yang bersifat publik dan partisipatif. Demikian juga. Di kota Bolivia lainnya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA International Monetary Fund (IMF). Bolivia. Status koperasi (dan realitas kurang terpolitisasinya dari pada Cochabamba setelah ”perang air” dan ”deprivatisasi) telah memberikan otonomi yang diperlukan untuk mengendalikan utilitas bebas dari pengaruh politis. Malangnya. pada waktu ideologi neo-liberalisme belum muncul sebagai faktor hambatan terhadap pendekatan air berpusat kepada masyarakat. Utilitas telah ditransfomasikan menjadi suatu koperasi di tahun 1979. dan kecenderungan lain terkait dengan globalisasi ekonomi. hal ini adalah pola umum di beberapa negara di seluruh dunia. faktor penting dibelakang keberhasilan koperasi air adalah kebebasannya dari partai politik dan kenyataan bahwa kota dan utilitas airnya telah diabaikan. konflik atas sumber daya air semakin meningkat. Hal ini berarti menciptakan lingkungan yang sulit dan membatasi ruang politis untuk mempromosikan pengendalian secara demokratis di Cochabamba. kurangnya sumber daya menghalangi partisipasi yang aktif. Santa Cruz.

Pencapaian di Cochacamba. Kenyataan ini sering disalah gunakan menjadi alasan diperlukannya privatisasi layanan umum. serta ketersediaan sumber daya air dari pegunungan Alpen memberikan lingkungan yang kondusif bagi keberhasilan penyediaan layanan air publik. sektor publik khususnya di negara-negara berkembang seringkali diurus oleh tenaga-tenaga yang kurang mampu dalam menangani urusan pelayanan umum yang terkait dengan jaringan infrastruktur yang besar serta memerlukan kemampuan (”softskill”) yang responsif terhadap tuntutan kebutuhan. Di Grenoble. khususnya bila elite politisi setempat menghalangi perubahan yang diperlukan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA menjamin keberlanjutan akan keberadaannya adalah tantangan pokok untuk daerah perkotaan di seluruh dunia. Sebagai perbandingan. Hal ini berarti upaya peningkatan kinerja layanan umum harus dimulai dari awal. sudah tentu dimulai dari kondisi awal yang paling sulit. yang terbukti bukan merupakan solusi yang tepat. Semakin banyak kemampuan yang tidak dimiliki oleh pemerintah kota/daerah. tidak meluasnya kemiskinan. Dengan berbagai alasan. Untuk itu guna mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi dalam perbaikan penyediaan air di Cochabamba. sangat diperlukan solidaritas internasional. khususnya jika penduduk setempat kehilangan kesabaran jika perbaikan layanan air tidak terjamin secara nyata. A-18 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Keberhasilan tidak selamanya dapat dijamin. keberadaan pemeritahan kota yang efektif. atau jika tidak. dapat dikatakan sebagai hal yang berlawanan dengan kebiasaan. Kapasitas administrasi dari sektor layanan umum pemerintahan dalam memberikan pelayanan umum adalah faktor yang sangat penting. Perancis. Setiap model penyaluran air bagi daerah perkotaan yang progresif perlu memasukkan pendekatan yang berkelanjutan atas sumber daya air dan membuat neraca antara kebutuhan air untuk daerah perkotaan dan perdesaan. adalah kesulitan yang dihadapi dalam mengembalikan pengelolaan utilitas air menjadi pengelolaan oleh publik dengan situasi di kota Grenoble. Pengalaman Di Cochabamba menunjukkan bahwa butuh waktu lama untuk mengubah utilitas yang tidak berfungsi. akan semakin berat tantangan yang dihadapi untuk dapat secara efektif mengelola suatu utilitas publik.

tetapi tidak dikelola untuk mengatasi menumpuknya kebutuhan akses air bersih dalam jumlah yang besar yang ada dikawasan komunitas perkotaan di Harrismith. Berkat pembelajaran dari konsultasi. Di Ghana. Salah satu jalan untuk mengatasi kelemahan kapasitas pelayanan umum pemerintah setempat adalah melalui ”public-public partnership” (kemitraan antara instansi-instansi pemerintah). Proyek ”Public-public partnership” telah membawa peningkatan yang nyata. Partisipasi dan konsultasi intensif pada tingkat ”ward” dari wilayah pemerintah kota/kabupaten) adalah juga faktor kunci disamping faktor lainnya yaitu finansial untuk mencapai sukses public-public partnership. Tanpa kebijakan yang lebih bersifat ambisius adalah sulit untuk mencapai kondisi dimana air dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat untuk memerangi kemiskinan dan redistribusi kemakmuran dalam lingkup lokal dan nasional. Harrismith tidak mengalami kerugian dari tingginya tingkat pelanggan yang tidak membayar—tipikal masalah pada konsesi yang diprivatisasikan di Afrika Selatan. pendekatan tarif sosial dan dukungan dari masyarakat. Eksprimen ini hanya mungkin dapat berjalan dengan subsidi kepada kaum miskin yang didanai oleh pemerintah. Percobaan selama 3 tahun menunjukkan bahwa ”sharing” dan transfer pola pengelolaan dan ketrampilan teknis dapat berkontribusi (sebagian pada peningkatan pelayanan air masyarakat secara cepat. Di Afrika Selatan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA khususnya untuk kota-kota dengan penduduk yang sebagian besar A-19 berpendapatan rendah. kemajuan yang dibuat oleh kemitraan publik dan masyarakat di Savelugu sekarang terancam oleh kenyataan bahwa Ghana Water Company (GWC) tidak mampu untuk menyalurkan layanan air bersih yang mencukupi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . public-public partnership antara pemerintah setempat di kota Harrismith dan perusahaan besar utilitas publik bidang air dari kota lain telah mencapai hasil yang baik. Jelaslah bahwa kapasitas untuk memberikan layanan umum oleh pemerintah kota/daerah setempat adalah komponen kunci dari masyarakat demokratis dan merupakan suatu keharusan guna diberlakukannya hak atas air bagi penduduk. yang telah dikelola dengan baik melalui kemitraan.

atau pekerja. dan juga oleh partai-partai politik. upaya-upaya ini dipelopori oleh pemerintah setempat. Hampir semua utilitas yang berhasil yang dijadikan contoh telah meningkatkan layanan air dan sanitasi melalui penyusunan visi layanan umum yang melayani tujuan-tujuan sosial yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . yang dikendalikan oleh Front Demokratis Kiri. peningkatan-peningkatan dicapai karena komitmen yang sangat kuat dari walikota dan anggota dewan kota yang berasal dari partai Pekerja. dan juga di Kerala. Krisis yang semakin mendalam GWC sebagaian besar disebabkan oleh kurangnya pembiayaan dan hal-hal yang terkait dengan upaya bersama pemerintah pusat dan Bank Dunia yang sedang menyiapkan suatu perusahaan yang akan menangani privatisasi. penganggaran yang bersifat partisipatif dan di-desentralisasikan dimulai dan dikonsolidasikan oleh pemerintah negara bagian . beberapa upaya-upaya telah dilaksanakan untuk mempercepat peningkatan kapasitas dalam layanan umum. sebagaimana telah dijelaskan di bagian sebelumnya dari tulisan ini. Di Brasilia. Di Kerala. Penganggaran partisipatif diperkenalkan dan di-institusionalkan setelah partai Pekerja memenangi pemilu dan memperoleh kendali politik. atau masyarakat madani/LSM. Di kota-kota di Brasilia seperti Porto Alegre dan Recife. India dan Caracas di Venezuela.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA untuk masyarakat. Hal ini menggaris bawahi pentingnya kebijakan nasional dan internasional yang lebih bersifat memfasilitasi dari pada mengahalangi partisipasi dan solusi lainnya atas layanan air untuk publik. kota-kota seperti Recife dan Porto Alegre.6 Ethos Baru Layanan Umum Sementara adalah suatu kenyataan bahwa beberapa perusahaan utilitas air dibelahan bumi selatan mengalami hambatan dari birokrasi dan seringkali gagal memberikan layanan kepada warga yang miskin. Upaya ini mencakup redefinisi dan ”re-invention” yang radikal tentang pelayanan umum dan arti dari ”ke-umum-an”/publicness (kualitas menjadi umum/publik dan menjadi milik masyarakat). peningkatan-peningkatan yang telah terjadi disebabkan oleh peran fasilitasi dan pemberdayaan dari pemerintah-pemerintah pusat dan daerah. A-20 A.

Pengertian ”ke-umum-an” yang progresif ini faktor yang sangat penting untuk memenuhi tantangan-tantangan seperti penyediaan air bersih untuk warga miskin yang ter-marginal-kan di pinggiran kota dan. dicapainya manajemen sumber daya yang berkelanjutan untuk kota-kota yang selalu berkembang. keberlanjutan sosial. internalisasi dan konsolidasi dari philopi dari melayani kebutuhan umum adalah fasilitasi dengan partisipasi warga secara langsung dan bentuk-bentuk lain dari interaksi dengan penggunapengguna.7 Catatan Tentang Komersialisasi Beberapa kasus tentang upaya peningkatan pelayanan air untuk umum menunjukkan adanya kecenderungan yang saling bertentangan. Ethos baru pelayanan umum yang sedang muncul dengan berbagai bentuk pengelolaan air yang tidak mencari keuntungan. Dalam banyak kasus.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA lebih luas. dimiliki oleh kelompok pekerja dan kelompok pengguna-pengguna. A-21 A. dimana sahamnya. pada umumnya. pengaruh ideologi neo-liberal menghasilkan permasalahan yang rumit dalam praktek pengelolaan layanan air diantara pilihan dikelola oleh publik atau privatisasi. sebagian. tetapi juga perusahaan utilitas yang dikendalikan oleh umum. Utilitas air di Penang. Pengenalan busines neo-liberal dan model-model pengelolaan (sering disebut sebagai New Public Management-NPM) mengarah pada bentuk- LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . ”Ke-umuman/publicness” di –redefinisikan sebagai sesuatu yang jauh diluar sekadar kepemilikan oleh umum atau pengelolaan oleh pegawai (negeri/badan usaha milik negara/daerah). Pengalaman yang diperoleh dari reformasi di bidang utilitas air umum adalah pengembangan ethos baru di bidang pelayanan umum. termasuk demokrasi. Malaysia. Pertama. dan keamanan masyarakat (human security). dapat mengambil bentuk mulai dari koperasi sampai ke pelayanan utilitas yang dikelola pemerintah kota. telah mengembangkan ethos layanan umum yang berkualitas tinggi yang memungkinkan menyediakan air berkualitas tinggi untuk semua pada harga yang masih dapat dijangkau.

biaya dari pinjaman biasanya dikenai pajak. Pada prinsipnya ada cara untuk membayar penyediaan air untuk publik: pajak-pajak atau iuran (biaya jasa pengelolaan) dari pengguna. sedang berekspansi untuk beroperasi keluar negeri. Kecenderungan ini terlihat nyata. Sementara mereka berpedoman pada ethos pelayanan umum jika beroperasi di dalam negeri. Jika pemerintah atau pemerintah kota meminjam uang atau menerbitkan bonds/surat berharga untuk membiayai investasi. misalnya. perusahaan-perusahaan ini bermaksud untuk beroperasi sebagai penyedia layanan air komersial di luar negeri. Columbia. dan juga menyediakan subsidi untuk mengurangi beban yang harus ditanggung oleh pengguna melalui tarif air. dan juga melalui subsidi silang melalui ”stepped tariffs/tarif progresif”. Di beberapa negara—seperti Irlandia—layanan air dibayar hampir seluruhnya melalui pajak pemerintah pusat. air seluruhnya dibayar dengan iuran pengguna (full cost recovery). Pajak biasanya dipakai untuk membiayai perluasan dan pembangunan sistem. Pelayanan air sehari-hari dari utilitas air memerlukan biaya dan perluasan akses atas air. Kedua.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA bentuk komersialisasi yang akan bertentangan dengan prinsip-prinsip ethos pelayanan umum yang dijelaskan sebelumnya. memerlukan investasi-investasi awal yang cukup besar. praktek operasi dari EAAB di Bogota. dan juga Rand Water di Afrika Selatan dan PBA di Malaysia. A-22 A. Beberapa utilitas publik air telah mengkombinasikan perluasan layanan air dengan struktur tarif sosial.8 Pembiayaan Air Publik Pembiayaan adalah tantangan kunci untuk setiap komunitas yang menghendaki terjaminnya air untuk semua. Di beberapa kota-kota yang mempunyai keberhasilan dalam penyediaan air publik. dengan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Outsourcing tugastugas kunci kepada kontraktor swasta dan pengenalan kondisi perburuhan yang ”fleksibel” adalah contoh-contoh peng-adopsian dari model busines korporasi. kecenderungan yang terkait dengan utilitas publik seperti EAAB. dalam hal ini konsumen membayar sebanding dengan air yang digunakan (memakai lebih banyak air akan membayar lebih banyak).

mengurangi jumlah pelanggan yang tidak membayar dan perbaikan dari kelayakan pembiayaan utilitas dapat dicapai. Sementara undang-undang di Afrika Selatan menjamin pemberian 6. Untuk mengatasi rintangan pembiayaan. Di kota Matao. DMAE di Porto Alegre. hak atas air tidak secara efektif dilaksanakan. Meteran air pra-bayar yang telah dipasang di beberapa komunitas miskin di Afrika Selatan secara nyata merupakan pelanggaran atas hak azasi manusia atas air. Brasil.000 liter air gratis per keluarga terbukti ternyata tidak mencukupi untuk satu keluarga besar penduduk miskin. menyalurkan kelebihan (surplus) atas iuran yang lebih tinggi yang mampu dibayar oleh pengguna yang kaya kedalam dana investasi yang membiayai air baru dan infrasruktur untuk air dan infrastruktur sanitasi bagi semua yang memerlukannya Di Afrika Selatan dan beberapa kota lainnya diseluruh dunia. misalnya.000 liter bebas biaya untuk setiap keluarga. Untuk menjamin keterjangkauan air untuk semua. Malaysia. kebijakan neo- liberal cost recovery (tanpa subsidi silang) telah menyebabkan problem afordabilitas dan beberapa juta penduduk mengalami pemutusan layanan air. ekspansi/perluasan layanan air dapat juga dikerjakan dengan pengurangan biaya operasi dan meningkatkan efisiensi air. paling tidak diperlukan untuk men-duakali-kan jumlah air gratis yang dijamin konstitusi dan ditambah dengan subsidi silang untuk tarif rendah bagi penduduk berpenghasilan rendah. kondisi tingkat pelanggan air tidak membayar sangat rendah. utilitas kemudian di-reorganisasi dengan struktur tarif yang berbeda dan insentif untuk mengurangi kebocoran dan limbah. privatisasi kelihatannya menjadi satu-satunya pilihan untuk pemerintah kota yang kehausan modal untuk investasi perluasan layanan air untuk mengikuti pertumbuhan penduduk yang cepat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA demikian memungkinkan seluruh warga. Hal ini meningkatkan kesehatan aspek finansial dari utilitas dan menyelesaikan masalah sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . memungkinkan utilitas mempunyai tarif air yang paling rendah di negerinya. Setelah proses konsultasi publik. Beberapa cara lainnya adalah mengatasi kebocoran dan meningkatkan penagihan-penagihan. termasuk yang paling miskin A-23 mempunyai akses terhadap air yang terjangkau. Di Penang. dan 6.

Banyak hal-hal yang dapat diperbaiki untuk pendekatan negara-negara dibelahan bumi selatan dalam penyediaan air. Dengan jelas. Hal ini berarti pengawasan yang menerus atas utilitas air dan pengawasan terhadap kontraktor. tetapi untuk kelompok masyarakat lain yang berminat melaksanakan model-model yang sama tidak dapat bergantung pada ”philantrophy”. akses atas air untuk bagian masyarakat yang miskin tetap ditempatkan pada prioritas yang rendah dan seringkali pendekatan-pendekatan neo-liberal mendominasi para A-24 elite setempat dalam proses politik. Model Savelugu di Ghana utara hanya mungkin terrealisasi berkat pendanaan dari UNESCO dan LSM internasional. Keadaan yang sangat kontras dengan pemberdayaan demokratis dari desentralisasi pengambilan keputusan atas dana pemerintah didapati di Kerala. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . mereka juga dilibatkan dalam monitoring pelaksanaan keputusan-keputusan dan proyek-proyek. yang mana telah membantu pengurangan biaya dari proyek konstruksi baru. diperlukan dana dari luar untuk membiayai investasi awal yang besar. Untuk masyarakat miskin. Warga tidak hanya diberdayakan oleh pemerintah untuk mampu memprioritaskan alokasi anggaran publik. Kesulitan akses untuk pembiayaan investasi-investasi dalam pengembangan dan peningkatan penyediaan air merupakan hambatan di banyak kota-kota di belahan bumi selatan. India. juga bentuk-bentuk yang sangat berbeda dari proses desentralisasi telah terjadi di beberapa negara yang terletak di belahan bumi selatan dalam sepuluh tahun terakhir. hal ini juga merupakan upaya keberlanjutan sumber daya air: pengurangan kebocoran dapat juga membantu mengatasi ancaman atas kekurangan air dan bahkan membuat investasi pokok pembangunan bendungan baru tidak diperlukan lagi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air. Mengikuti saran-saran IFI. Dibanyak negara. Di titik inilah peranan dari pemerintah pusat dan institusi pendanaan internasional untuk menjamin akses untuk memperoleh pinjaman (loans) mutlak diperlukan. Partisipasi warga dapat membantu kesehatan finansial utilitas air. sebagaimana kasus di Porto Alegre. Masyarakat pada area dimana pembangunan infrastruktur air terjadi berpartisipasi dalam komisi-komisi yang mengawasi kontraktor-kontraktor menjalankan pekerjaannya.

konteks kini dari globalisasi neo-liberal adalah sangat berlawanan dengan kondisi lingkungan yang diinginkan untuk meningkatkan dan memperluas sistem air publik yang berfokus pelayanan penduduk. perdagangan bebas dan reformasi neo-liberal lainnya telah menghasilkan meningkatnya angka pengangguran dan marginalisasi ekonomi. hal ini sering digabungkan dengan tingginya angka pembayaran pinjaman luar negeri. kelihatannya layak jika model pembangunan diganti dengan model globaliasi yang lain. sementara itu pada saat yang bersamaan utilitas setempat kekurangan dana untuk memenuhi kewajiban baru mereka. yaitu yang mem-fasilitasi solusi publik yang progresif dari pada menyembunyikannya. Pada waktu yang sama. pinjaman-pinjaman dari IFIs adalah satu dan hanya satu-satunya jalan dimana para pemerintah dan pemerintah kota bisa mendapatkan dana-dana untuk investasi guna pengembangan akses terhadap air. Hal ini telah menjadi konsekuensi yang dapat diramalkan atas penyediaan layanan publik yang vital. Untuk sebagian besar penduduk di belahan selatan. juga bagi negara-negara di Eropa Tengah dan Timur. institusi bantuan untuk pembangunan dan team negosiasi perdagangan. Kumulatif dampak/impacts dari kebijakan neo-liberal adalah hambatan dasar bagi pengembangan penyediaan oleh publik untuk layanan-layanan penting. Kenyataan yang sangat mengganggu adalah sebagain besar IFIs tetap berkeras memihak kepada privatisasi dan menggunakan berbagai jenis tekanan baik secara nyata atau secara halus untuk memaksakan hal tersebut (privatisasi) kepada pihak peminjam.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pemerintah-pemerintah telah mengalihkan tanggung jawab kepada pengelola utilitas setempat. Hal ini masih ditambah dengan kenyataan adanya tekanan untuk me-liberalisasi dan privatisasi dari IFIs. nyatanya kadang hal ini mempersempit alternatif pilihan yang lain dari privatisasi. Pemerintah-pemerintah di belahan bumi utara dan IFIs terus-menerus menggunakan pembiayaan sebagai sebagai alat politik untuk A-25 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pemerintah-pemerintah mengalami penurunan anggaran disebabkan karena penurunan pajak pendapatan. Dengan keadaan bahwa banyak pemerintah-pemerintah di belahan bumi selatan menderita karena sistem ekonomi global yang tidak adil dan hutang luar negeri yang semakin membesar. Solusi jangka panjang.

pajak kecil yang dikenakan pada botol kemasan air mineral dan menghasilkan miliaran euro (triliunan rupiah) pun masih jauh lebih kecil dari jumlah yang sangat besar yang A-26 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kehendak untuk membiayai pilhan sektor non-swasta tetap jauh dan terlalu terbatas. Porto Alegre dan Recife mendapat pinjaman dari IFI setelah negosiasi yang sangat berat dimana Bank Dunia tetap ”ngotot” mendorong kearah privatisasi. Legitimasi demokratis dari pengelola utilitas publik dan dukungan dari walikota-walikota telah membantu ditahannya tekanan-tekanan dan berhasil mendapat pinjaman tanpa kondisi yang dapat menggerus hakikat dari model-model partisipatif. Bolivia. tentunya digabungkan dengan penghilangan atas tekanan-tekanan yang terkait dengan kondisi privatisasi. yang sesungguhnya sangat sehat. sedang menghadapi pembatasan-pembatasan untuk mendapatkan pinjaman yang lebih besar bukan karena keadaan keuangannya sendiri. Untuk mendorong aliran pembiayaan internasional untuk memperluas akses atas air kepada kaum miskin. Disamping pilihan pendanaan yang bersifat redistribusi dengan pengaturan perpajakan dan tarif air yang bersifat subsidi silang. seperti pinjaman IBRD untuk koperasi-koperasi di Argentina dan Bolivia. Koperasi di Santa Cruz. Masyarakat Eropa dan beberapa pemerintahan di Eropa secara pro-aktif mendorong dilakukannya privatisasi. terdapat berbagai jenis pilihan pendanaan yang berskala lokal dan nasional. Ada beberapa perkecualian. menambah dana bantuan pembangunan dari negara-negara maju di belahan utara adalah pilihan yang langsung. tetapi karena kondisi keuangan pemerintah pusat yang menyebabkannya. Di Eropa. Penting untuk diketahui bahwa dana yang hanya ”sepersekian” dari dana yang dipergunakan untuk keperluan militer sudah mencukupi untuk membiayai penyediaan air bersih untuk semua orang dibumi ini. termasuk ”floating municipal bonds”. Ada kebutuhan mendesak akan mekanisme pembiayaan tanpa kondisi politis dengan tujuan yang berorientasi pada pelayanan masyarakat dan bukan bertujuan ekonomis dan ideologis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA menekan pemerintah-pemerintah di belahan bumi selatan untuk bergabung dalam upaya melaksanakan reformasi neo-liberal.

Contoh dari Cochabamba dan beberapa kota lainnya menunjukkan bagaimana model-model penyediaan air oleh publik adalah. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . A-27 A. menunjukkan bahwa gerakan sosial secara aktif berkontribusi dalam mempertahankan dan meningkatkan karakter publik dari layanan air dan sanitasi di seluruh dunia. Kampanye anti-privatisasi di beberapa negara didunia.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dapat dikumpulkan melalui ”pajak Tobin” yang dapat dikenakan pada transaksi keuangan internasional. partai-partai politik dan para manajer utilitas publik. seringkali telah mengelaborasi visi dan usulan yang konkrit tentang alternatif-alternatif untuk pelayanan sektor publik. pergerakan sosial memobiliasi kekuatan untuk mendukung keinginan kaum yang terpinggirkan melawan kebijakan-kebijakan neo-liberal yang dipromosikan oleh elite politik dan ekonomi. dalam referendum nasional di bulan Oktober 2004. begerak lebih dari sekadar hanya bertahan. dari para environmentalist. Proses politis dalam mengupayakan reformasi utilitas publik dan alternatif untuk privatisasi menentukan karakter dari pendekatan pengelolaan air publik. Keadilan sosial dan demokratisasi pengambilan keputusan pengelolaan air juga perlu diintegrasikan dalam upaya tersebut. mayoritas yang besar mendukung perubahan konstitusi yang akan menetapkan air sebagai hak azasi manusia dan melarang privatisasi. Perjuangan politik ini adalah elemen penting didalam memahami proses penyediaan air ke masa depan. Di banyak negara. Perjuangan dan Solusi-Solusi Air Publik Kasus-kasus yang secara singkat diulas. Gerakan-gerakan ini.9 Gerakan. Hal ini terjadi pada kasus Urugay dimana. dibentuk oleh perjuangan politik yang mendahuluinya. mempersatukan berbagai jenis pelaku yang luas. kelompok-kelompok perempuan dan para aktivis akar rumput sampai ke serikat buruh. Tekanan publik kepada pemerintah dan pengelola utilitas umum untuk merubah dan meningkatkan akses atas air bersih mempunyai peran penting dalam upaya dicapainya pemenuhan air untuk semua secara berkelanjutan. sebagian besarnya.

kelompok-kelompok masyarakat madani di Argentina juga telah mencanangkan kampanye untuk referendum untuk menentukan bahwa akses atas air dianggap sebagai hal yang mendasar dalam hak azasi manusia dan menyatakan bahwa air untuk publik yang merupakan milik bersama dikecualikan dari privatisasi. transparansi dan partisipasi warga adalah pergulatan yang pokok. Koalisi global LSM yang sedang berkembang menuntut agar pemerintah-pemerintah bersepakat untuk membuat konvensi internasional tentang hak atas air. Konvensi yang dimaksud hendaknya menyediakan instrumen hukum yang kuat untuk menjamin hak atas air bersih untuk semua dan menjaga agar air tidak diperlakukan sebagai komoditi. dalam kerangka PBB.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Perubahan konstitusi yang dipromosikan oleh koalisi gerakan-gerakan yang menetapkan bahwa partisipasi konsumen. Sementara hal-hal ini dapat berjalan dengan baik. Disamping itu. perlu ditetapkan lingkup dari perbaikan. Kampanye anti privatisasi menghadapi tantangan untuk meyakinkan operator air publik bahwa partisipasi masyarakat dan pengendalian/kontrol yang demokratis dapat membantu memperbaiki efektivitas pelayanan publik. serikat buruh. transparansi adalah karakteristik dasar yang perlu dimiliki hampir untuk semua utilitas publik yang berfokus pada pelayanan masyarakat. dimana informasi kunci adalah ditetapkan sebagai diluar jangkauan karena alasan kerahasiaan komersial dari privatisasi. A-28 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pergulatan untuk transparansi dan akses publik atas informasi adalah tema yang diulang-ulang di banyak kampanye. Potensi transparansi adalah keuntungan yang esential dari utilitas publik atas privatisasi penyediaan air. Para manajer utilitas publik dan karyawan pemerintah kota sering menganggap pelibatan masyarakat sebagai hal yang mengganggu. Di negara pasca komunis seperti Slovakia. masyarakat dan masyarakat madani (LSM-LSM) adalah memegang peran pokok pada setiap tahapan pengelolaan air dan dalam institusi-institusi. Di inspirasi dari kemenangan di Urugay. Partipasi publik yang efektif diyakini akan mempebaiki pengelolaan utilitas air publik. seperti menghentikan praktek tercela dari politisi yang gagal menyalahkan gunakan utilitas juga pilihan pensiun dengan mendapat pesangon.

tetapi juga dari berbagai bentuk pengelolaan air yang inovatif yang telah melahirkan kembali berbagai jenis layanan publik di kota-kota di belahan bumi selatan selama 10 tahun terakhir. tidak hanya dari kampanye gerakan anti privatisasi yang telah tumbuh dengan kuat di belahan bumi selatan. terutama untuk utilitas listrik. A-29 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dengan demikian hal ini berarti justru merupakan tantangan bagi masyarakat madani di belahan bumi utara. aman dan banyak. Juga di bagian Utara. Pelajaran yang dapat kita petik dari pengalaman-pengalaman dari kampanye untuk air publik diseluruh dunia. Sebagaimana gelombang privatisasi melanda belahan bumi bagian selatan pada tahun 1990-an. tekanan sekarang bertambah pada negara-negara Amerika Serikat. Kampanye melawan privatisasi dan perbaikan layanan publik di negara seperti Jerman. untuk seterusnya. Jepang dan Eropa khususnya bagian Barat dimana penyediaan utilitas air publik masih sangat banyak dilaksanakan oleh sektor air yang dikendalikan oleh publik. Di Amerika Serikat (dimana 85% penduduk dilayani oleh utilitas publik). dimana air yang murah. perjuangan melawan privatisasi tidak hanya sekedar mempertahankan kondisi ”status quo”. Sejauh mana partisipasi masyarakat akan dapat dilibatkan akan menjadi agenda dari upaya perbaikan penyediaan air publik di belahan bumi Utara yang masih akan dilihat perkembangannya. tentu akan berbeda dari pada untuk tempattempat seperti Ghana atau Afrika Selatan dimana akses terhadap air adalah perjuangan sehari-hari bagi sebagian besar penduduknya. bentuk-bentuk partisipasi warga yang baru di bidang pengelolaan air telah mulai diperkenalkan. Untungnya telah banyak hal-hal yang dapat kita pelajari. Sebagai contoh di Urugay. Perjuangan untuk air. tetapi hal ini dapat diperluas untuk sektor air. Di Itali. akan selalu tergantung kepada keluasan lingkungan politis. gerakan air berhasil pada saat terjadinya perubahanperubahan politis yang besar dan dalam hal ini politis bergeser ”kekiri”. Kanada. berbagai jenis mekanisme yang partisipatif dan demokratis yang telah disusun untuk mengatur dan memperbaiki kinerja utilitas. nilai-nilai universalnya telah melewati batas negara dan bahkan benua.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Strategi kampanye dibentuk oleh konteks lokal dan nasional termasuk diantaranya intensitas masalah dan kesempatan politis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.