DIREKTORAT PENGAIRAN DAN IRIGASI KEMENTERIAN NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

LAPORAN AKHIR
PRAKARSA STRATEGIS PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR UNTUK MENGATASI BANJIR DAN KEKERINGAN DI PULAU JAWA

BUKU 1
STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DESEMBER 2006

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan Kegiatan 1.3. Ruang Lingkup 1.4. Keluaran BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 2.1 Umum 2.1.1 2.1.2 2.2 Banten 2.3 DKI Jakarta 2.4 Jawa Barat 2.5 Jawa Tengah 2.6 Daerah Istimewa Yogyakarta 2.7 Jawa Timur 2.8 Identifikasi Masalah Banjir 2.9 Identifikasi Masalah Kekeringan Fisik Pola Pengelolaan 2-1 2-1 2-3 2-9 2-11 2-13 2-16 2-19 2-22 2-25 2-27 1-1 1-2 1-4 1-4

BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 3.1 Rumusan Kebijakan Prakarsa Strategis 3.2 Kebutuhan pengelolaan sumber daya air yang terpadu. 3.3 Program Prioritas 3.3.1 3.3.2 3.3.3 Program Jangka Pendek Program Jangka Menengah Program Jangka Panjang 3-1 3-3 3-4 3-4 3-5 3-7

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 4.1 Rumusan Strategi Implementasi 4-1

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

4.2 Strategi Kebijakan Non-struktural 4.2.1 4.2.2 Strategi Menurut Undang-undang Strategi Konservasi Sumberdaya Air

4-3 4-3 4-5 4-10 4-10 4-32 4-52 4-53 4-53 4-55 4-57 4-60 4-63 4-66 4-70 4-72 4-82

4.3 Strategi Kebijakan Struktural 4.3.1 4.3.2 4.3.3 4.4.1 4.4.2 4.4.3 4.4.4 4.4.5 Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang Sudah Ada Pengaturan Induk Wilayah Sungai Baru Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wewenang Tanggung Jawab Pemerintah Kebijakan Pembiayaan Peran-peran Lain Pemerintah Strategi Pendanaan dan Tujuan Studi Kelayakan Proyek Pengunaan Model Investasi

4.4 Strategi Pembiayaan

4.5 Strategi Kelembagaan dan Koordinasi 4.6 Pengelolaan Sumberdaya Air dalam Era Otonomi Daerah 4.6.1 4.6.2 Permasalahan dan Tantangan dalam Pengelolaan Sumberdaya Air Organisasi dalam Pengelolaan Sumber Daya Air

BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5.1 Indikator Pemantauan dan Evaluasi 5.1.1 5.1.2 5.1.3 Pemantauan Evaluasi Indikator dalam Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air 5-1 5-1 5-1 5-3 5-6 5-8 5-9 5-10 5-13

5.2 Ruang Lingkup Pengawasan dan Pemantauan 5.3 Ruang Lingkup Pengawasan dalam Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air 5.4 Ruang Lingkup Pengawasan Dalam Aspek Pembiayaan 5.5 Mekanisme Pemantauan 5.6 Mekanisme Evaluasi BAB 6 PENUTUP 6.1 Arahan Sosialisasi Prakarsa Strategis 6.1.1 Kekeringan dan banjir

6-1 6-1

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 6.3 6.1.1. 7 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pemali-Comal 4-21 4-17 4-14 4-14 4-12 4-10 2-13 2-14 2-17 2-21 2-23 2-5 . 8 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS SerayuBogowonto 4-23 Tabel 4. 1 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciujung Ciliman Tabel 4. 3 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CisadeaCikuningan Tabel 4. 6 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CitanduyCiwulan Tabel 4. 6 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Timur Tabel 4.2 Saran ANNEX Strategi Implementasi Pengalaman Negara Lain PEMBELAJARAN ANTARA PRAKTEK PRIVATISASI DAN PERKUATAN PERUSAHAAN UMUM LAYANAN AIR 6-3 6-4 6-5 DAFTAR TABEL Tabel 2. 3 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Barat Tabel 2. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk DKI Jakarta Tahun 2003 Tabel 2. 9 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Jratun-Seluna 4-25 4-18 Tabel 4.2 6. 4 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citarum Tabel 4. 5 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di DI Yogyakarta Tabel 2. 1 Daftar Pembagian Wilayah Sungai di Pulau Jawa-Madura Tabel 2. 4 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Tengah Tabel 2. 2 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CiliwungCisadane Tabel 4. 5 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CimanukCisanggarung Tabel 4. 2 Luas Wilayah.

10 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Progo-OpakOyo Tabel 4.16 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai 4-73 4-31 4-31 4-28 4-30 4-27 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. 15 Penyusunan Kembali Alternatif Intervensi Struktural menurut Wilayah Sungai yang Baru Tabel 4. 5 Peta Orientasi Lokasi Kegiatan di Pulau Jawa dan Madura Peta batas wilayah administrasi dan batas WS Pulau Jawa dan Madura. 14 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Madura Tabel 4. Perubahan persentase kabupaten defisit air.1 Gambar 2. 13 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS PekalenSampean Tabel 4. 1 Siklus Pengelolaan Terpadu SDA (IWRM) Gambar 5. 2 Rencana Wilayah Sungai baru Gambar 5. 1 Susunan Wilayah Sungai yang sudah ada Gambar 4. 4 Gambar 2. Gambar 4. Proyeksi Neraca Air Kabupaten/Kota di Pulau Jawa dan Madura. 2 2-31 4-9 4-33 5-3 2-1 2-3 2-28 1-4 Pemantauan dan Evaluasi dalam suatu siklus kegiatan 5-15 .17 Balai Besar Wilayah Sungai & Balai Wilayah Sungai di Pulau Jawa 4-87 4-34 Tabel 4. 2 Gambar 2. Curah hujan tahunan Pulau Jawa – Madura. 1 Gambar 2. 12 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Kali Brantas Tabel 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 4. 11 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Bengawan Solo Tabel 4.

dan pertanian.800 meter kubik per kapita per tahun. dengan tujuan penggunaannya terutama untuk air minum. Dengan penduduk sekitar 220 juta jiwa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1-1 1. Kalimantan. potensi ini setara dengan 8. Sulawesi. Defisit ini diperkirakan akan semakin tinggi pada tahun 2020 akibat peningkatan dimana jumlah penduduk dan aktifitas perekonomian secara signifikan. rumah tangga. di pihak lain pulau ini dihuni oleh sekitar 65 persen penduduk Indonesia. Dari data neraca air tahun 2003 dapat dilihat bahwa kebutuhan air pada musim kemarau di Pulau Jawa dan Bali yang sebesar 38. dan perkotaan.4 miliar meter kubik. perkotaan. Pulau Jawa yang luasnya sekitar 7 persen dari total wilayah daratan Indonesia hanya memiliki potensi sekitar 4. semuanya mengalami kondisi di bawah normal (pola kering) saat musim kemarau sehingga dilakukan penetapan prioritas pemanfaatan air waduk. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa potensi kelangkaan air yang sangat besar akan terjadi di Pulau Jawa karena daya dukung sumber daya air yang segera mencapai titik kritis. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan Papua. dan Nusa Tenggara. Namun kenyataannya ketersediaan air ini bervariasi antara wilayah dan waktu. total air yang tersedia di Indonesia mencapai 1. Prioritas pertama diberikan untuk air minum.5 persen dari total air tawar nasional.3 miliar kubik atau hanya sekitar 66 persen.957 miliar meter kubik per tahun.1 LATAR BELAKANG Secara nasional. Dari 14 waduk utama di Jawa. hanya terpenuhi sekitar 25. Lebih dari 83 persen aliran permukaan terkonsentrasi di Sumatera. Kebutuhan air nasional saat ini terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali. industri. 17 persen lainnya di Jawa-Bali. Upaya pemenuhan kebutuhan air di Pulau Jawa telah ditempuh melalui pembangunan sejumlah waduk besar dan sedang. air rumah tangga. Nilai ini masih di atas nilai ratarata dunia yang hanya 8.000 meter kubik per kapita per tahun.

2 TUJUAN KEGIATAN Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa bertujuan untuk: 1. Sebagai upaya mengatasi masalah banjir dan kekeringan di Pulau Jawa pada masa depan. dilakukanlah kajian Prakarsa Strategis .696 hektar . Mengidentifikasi dan menginventarisasi data kuantitatif banjir dan kekeringan di Pulau Jawa secara kuantitatif sesuai waktu dan spasial wilayah. 2. kesulitan lapangan kerja. Dalam kaitan itu. Pada Tahun 2003 kekeringan areal sawah mencapai 430. 4. yang diarahkan untuk merumuskan konsep pengelolaan SDA yang terintegrasi dan layak diimplementasikan. turunnya volume air di waduk mengakibatkan beberapa PLTA terpaksa beroperasi di bawah kapasitas normal. 3. kekurangan pangan. termasuk mengalami puso seluas 82. serta kesulitan memperoleh air bersih bagi wilayah perkotaan. Melakukan telaah/review atas studi-studi tentang sumber daya air yang telah dilakukan untuk Pulau Jawa serta perkembangan implementasinya.295 hektar.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN prioritas kedua untuk irigasi tanaman pangan. Di samping itu. 1-2 1. dan prioritas ketiga untuk industri dan kebutuhan lainnya. Rendahnya daya dukung waduk-waduk tersebut mengakibatkan terjadinya kekeringan pada areal sawah di daerah produksi beras. Merumuskan kebijakan strategis pembangunan prasarana dalam rangka mengatasi banjir dan kekeringan di Pulau Jawa secara holistik. analisis dilakukan terhadap kondisi pengelolaan sumber daya air pada saat ini serta faktor eksternal yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Menemukenali alternatif-alternatif intervensi pembangunan infrastruktur dalam rangka memecahkan masalah banjir dan kekeringan. termasuk kebutuhan dan ketersediaan air bersih. Kekeringan ini telah berdampak pada menurunnya pendapatan.

maupun kab/kota dalam pembangunan. inventarisasi alternatif intervensi infrastruktur. penyusunan perangkat lunak sistem basis data. Mengidentifikasi pemerintah. 10. dan sumber pembiayaan untuk baik dari pemerintah pemerintah kabupaten/kota. Menyusun prioritas program-program pembangunan prasarana penanganan banjir dan kekeringan di Pulau Jawa. 9. termasuk kebutuhan biaya serta tahapan pembangunannya.3 RUANG LINGKUP Arah dari prakarsa strategis ini adalah untuk melakukan analisis tinjauan dan formulasi kebijakan untuk wilayah sumber daya air di Pulau Jawa. Membuat sistem basis data banjir dan kekeringan termasuk konsep pengelolaan data yang berkelanjutan. 1. Merumuskan kebijakan dan strategi implementasi makro yang terintegrasi dengan berbagai sektor. perumusan konsep pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan. dan perumusan pedoman sosialisasi kebijakan. Merumuskan pembagian kewenangan dan tanggung jawab serta mekanisme koordinasi antara instansi dan sektor terkait di tingkat pusat. antara lain: identifikasi dan inventarisasi permasalahan. perumusan kebijakan pembiayaan. 1-3 6.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN 5. pembangunan. perumusan mekanisme koordinasi. maupunpartisipasi berbagai swasta alternatif propinsi. perumusan prioritas program pengelolaan sumber daya air. Terdapat beberapa tahapan kegiatan yang dilaksanakan pada proses penyusunan prakarsa strategis ini. maupun pemeliharaan prasarana. perumusan strategi implementasi. masyarakat pengoperasian dan pemeliharaan prasarana. pengoperasian. analisis terhadap kajian sumber daya air. 8. 7. provinsi. perumusan prakarsa strategis. perumusan kebijakan dan strategi implementasi makro. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Menyusun mekanisme pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan.

serta mekanisme pemantauan dan evaluasi. dan strategi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. Cilegon # # Tangerang Serang Y # U % # K. Semarang ## Tegal Batang # Pekalongan Pemalang Purbalingga Y # # # # # Rembang # # Blora Tuban # # Lamongan Gresik K. Pasuruan # # # Ngawi # Kebumen # Purworejo # # K. kebijakan. Blitar # Lumajang Malang Tulungagung Blitar # # Jember # Banyuwangi Gambar 1. Madiun # Sukoharjo # Jombang Mojokerto # # # Won ogiri # Ponorogo Kediri # K. yaitu: 1. identifikasi masalah banjir dan kekeringan dan Pulau Jawa. Salatiga Sragen # K. Kediri Pasuruan K. Magelang Boyolali # # K. Bandung Sukabumi Cianjur Bandung Y # Sumedang Majalengka Kuningan Brebes K. Bekasi K. Pekalongan Kudus Demak KendalK. Buku menyajikan ini kondisi. Buku ini memuat hasil. serta analisis kondisi defisit air di Pulau Jawa. BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA. Buku 2 merupakan rangkuman hasil kajian dan analisis terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa.4 KELUARAN Keluaran yang dihasilkan dari kegiatan penyusunan Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa adalah satu set yang terdiri atas tiga buku. BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA. Tegal ## # K. Sukabumi # K. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Yogyakarta # Kulonprogo Bantul # Y # # Madiun ## # Karanganyar Nganjuk # # Magetan K. Probolinggo # # Situbondo Bondowoso Probolinggo # Gunungkidul Pacitan # # Trenggalek # # # K. Mojokerto # Ban gkalan Sampang Pamekasan Sumenep # # Garut # Temanggung Semarang Grobogan # Bojonegoro # # # Tasikmalaya Ciamis # #Wonosobo # #Ban jarnegara Banyumas Cilacap K. Surakarta Magelang Sleman Klaten # # Y # # Sidoarjo K. 1 Peta Orientasi Lokasi Kegiatan di Pulau Jawa dan Madura 1. Buku ini merupakan laporan utama hasil kajian prakarsa strategis. 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN Kepulauan Seribu 1-4 Bekasi K. Malang K. Dep ok # # Pandeglang # # # Karawang Indramayu # Subang Purwakarta Lebak Bogor # # # Cirebo n Jepara Pati # # K.

Dalam buku 3 di rangkum hasil pengumpulan data selama proses penyusunan prakarsa strategis. BUKU 3 BASIS DATA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA. Selain menyajikan: metode penyusunan sistem basis data dan sistematika pengolahan data. pedoman penggunaan sistem basis data. 1-5 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN 3. sistematika pengolahan data buku ini juga memuat hasil pengumpulan data. ilustrasi pemanfaatan basis data.

1 Peta batas wilayah administrasi dan batas WS Pulau Jawa dan Madura. 7° 00' SWS 0203 Garut Central Java Province SWS 0207 Purbalingga # SWS 0209 # Grobogan # Blora # Lamongan # Gresik # Temanggung # # WonosoboSWS # Semarang # Bojonegoro K. Bandung Pelabuhan Ratu Bay Sukabumi Cianjur Bandung # # # SWS 0208 Tegal # # Batang Y # Demak SWS 0210 # Tuban # # Madura Is. it ra St a nd Su 105° 00' Krakatau K. Bekasi SWS 0204 Purwakarta # Indramayu # SWS 0202 # Bogor Subang Cirebon # Jepara # West Java Province # Pati K. Karl Peter Kucera GIS Operator : Sabdo Sumartono Date : September 2004 Gambar 2. Surakarta # # SWS 0212 Madiun # Magetan K. 14 WS yang tersebar di Pulau Jawa dan 1 WS dalam kawasan Pulau Madura. Kondisi ini memberi gambaran masalah daya dukung sumber daya air di Pulau Jawa-Madura sangat berpotensi untuk menjadi masalah yang paling kritis.Bakosurtanal. Saat ini Pulau Jawa-Madura dihuni oleh sekitar 65 persen dari total penduduk Indonesia. dengan luas sekitar 130 ribu km2 atau kurang lebih 7% dari luas daratan seluruh wilayah Indonesia. 6° 00' Tangerang Serang # Y # U % # # K. Malang # Ponorogo # # # # Bali Bondowoso Lumajang # Gunungkidul 8° 00' K. Magelang Boyolali # # Ngawi Sidoarjo K. Blitar Blitar Malang Yogyakarta Special Province Pacitan # Trenggalek Tulungagung SWS 0214# Jember Banyuwangi # St rai t In di an Ocean Nusa Barung Is.1 2. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Madiun # # Jombang Mojokerto Nusakambangan Is. Lake) Compiled by : Dr. Pekalongan Kudus # # SEMARANG # # # Rembang # Y # K. Depok Ja va Bekasi Karawang # # Sea TANGERANG K. Karanganyar Sleman Klaten # # # Sukoharjo K. 0210 0211 0212 0213 0214 0215 SWS Name Jratun Seluna Progo-Opak-Oyo BengawanSolo K. River. Kediri Pasuruan K. Salatiga Sragen # K.Brantas Pekalen-Sampean Madura U % Y # NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT Map No : Map Title : A5 CORRELATION BETWEEN AMINISTRATION AND WATERSHED (SWS) BOUNDARIES Source : . Pasuruan # Ma dura Str ai t SWS 0206 Ciamis Cilacap # Magelang Kebumen # # Purworejo K.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 2.1. Probolinggo # # Situbondo Probolinggo K.1 UMUM Fisik 2-1 Pulau Jawa-Madura adalah salah satu dari lima pulau besar di Indonesia. 9° 00' Legend: G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E S I A National Capital Provincial Capital Provincial Boundary District/ Municipality Boundary Watershed (SWS) Boundary SWS No. Tegal # # # K. 1 : 250 000 Scale (Coastline. 0201 0202 0203 0204 0205 0206 0207 0208 0209 SWS Name Ciujung-Ciliman Cisadane-Ciliwung Cisadeg-Cikuningan Citarum Cimanuk Ciwulan Citanduy Pemali-Comal Serayu SWS No. Bangkalan Pekalongan Pemalang Kendal K. Sukabumi # BANDUNG Sumedang SWS 0205 Majalengka Kuningan Brebes K. Mojokerto # # # Y # SURABAYA # Tasikmalaya Banyumas Banjarnegara 0211K. Semarang # SWS 0215 Sampang Pamekasan # # Sumenep # Sapudi Is. Yogyakarta Y #YOGYAKARTA # # Kulonprogo Bantul # Wonogiri # Nganjuk East Java Province SWS 0213 Kediri # K. Pulau Jawa-Madura memiliki 15 WS (Wilayah Sungai). SWS 0201 Pandeglang Lebak 106° 00' Kepulauan Seribu Jakarta Bay # # 107° 00' JAKARTA 108° 00' 109° 00' 110° 00' 111° 00' 112° 00' 113° 00' 114° 00' Bawean Is. Cilegon Banten # Province Panaitan Is.

Secara geografis Pulau Jawa-Madura terletak antara 5° 40’ LS sampai 8° 50’ LS dan 105° 10’ BT sampai 114° 40’ BT sehingga sangat dipengaruhi oleh posisi semu matahari yang berpindah antara 23. sehingga mengakibatkan musim penghujan. Sebaliknya pada bulan Desember sampai dengan Maret arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan Samudra Pasifik. di sebelah utara Pulau Jawa berbatasan dengan Laut Jawa. Pada bulan Juni sampai September arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air sehingga mengakibatkan musim kemarau.6 knot sampai 23.5° LU sampai ke 23. sedangkan suhu udara pada malam hari berkisar antara 15. Pulau Jawa-Madura mengalami dua musim dalam setahun yaitu musim kemarau dan penghujan. Suhu rata-rata pada siang hari berkisar antara 27. Keadaan seperti ini berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April-Mei dan Oktober-November. Sebagaimana wilayah Indonesia lainnya. Sepanjang sisi selatan pulau ini didominasi bentuk pegunungan dan penampakan fisiografis gunung gamping yang memanjang hingga ke Pulau Bali. berkisar antara 0 – 800 mm untuk masing-masing bulan kering dan bulan basah.2.3 knot. Di sisi utara didominasi bentukan tanah alluvial dan marine (daerah pantai) dengan kondisi kelerengan dari sedang hingga landai.5° LS sepanjang tahun yang mengakibatkan timbulnya aktivitas moonson (muson). Rata-rata curah hujan pada musim penghujan dan musim kemarau (tergantung pada bulan dan letak stasiun pengamat).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Secara geografis.30C sampai dengan 30’80C. sebelah barat dibatasi oleh Selat Sunda dan sebelah timur dibatasi oleh Selat Bali. sebelah selatan dengan Samudera Hindia. 2-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .70C sampai 34.60C. Untuk besarnya curah hujan tahunan di sepanjang Pulau Jawa-Madura bisa dilihat pada Gambar 2. Kecepatan angin berkisar antara 1.

Cacaban Y # SWS 0210 Lu SWS 0203 Province of West Java SWS 0207 si SWS 0215 SURABAYA Sapudi Is. Malahayu iri Cimand SWS 0208 L. Karl Peter Kucera GIS Operator : Sabdo Sumartono Date : September 2004 Gambar 2. River. Kesamben Res. Jatiluhur Res SWS 0204 SWS 0205 wan Banga Cirata Res Se ra ng Tun ta ng Ju an a Pema li Comal ri Bo d Solo Saguling Res BANDUNG Madura I. n Province of East Java W el an g i SWS 0213 Wlingi Res. Sa ro ka 7° 00' Province of Central Java Mrica Res L.Bakosurtanal.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-3 105° 00' 106° 00' Ciu jung 107° 00' a Cit 108° 00' 109° 00' 110° 00' 111° 00' 112° 00' 113° 00' 114° 00' Bawean Is. Pemerintah Daerah/Gubernur diberi kewenangan untuk mengelola 63 WS melalui tugas LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Ci sad Ciliman m ru Ciliwu a it ane tr S Krakatau TANGERANG 6° 00' k a nu Cim Cipu JAKARTA ng nd a Y # U % Ja v a Se a a nag Province of Banten SWS 0201 SWS 0202 g ggarun Cisan Su Panaitan Is. Darma L. Kates Res. Sam SWS 0206 SWS 0211 SWS 0212 Po ron g Ma dura Str ai t g pea n ed Sa ne n B ad u ng g un ali Cib Y # SEMARANG L.1. telah diterbitkan beberapa peraturan yang bersifat operasional. Rawapening Kedungombo Res Y # ng pa S am SWS 0209 o ol Bal i 8° 00' P Yogyakarta Special Province SWS 0214 Kr. Daftar wilayah sungai di Pulau Jawa-Madura dapat dilihat pada Tabel 2. S Cikaso Cib uni aw an Ci sa de g uy Seray u Cit and Cik aing an YOGYAKARTA L uk ul o Wa war /M edo no B og ow on to Ciw ulan ng Sermo Res go ak ro Op Cime da Br an Oyo ta s Y # Gajahmungkur Res. 1 : 250 000 Scale (Coastline. Lake) Compiled by : Dr. Pembagian wilayah sungai di Pulau Jawa-Madura dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) Nomor 39/PRT/1989 yang membagi wilayah Indonesia menjadi 90 WS (note: saat ini telah berkurang satu yaitu WS Timor-Timur mengingat daerah ini tidak lagi masuk dalam Wilayah Indonesia). 2. Mad un Wadaslintang Res Be Segara Anakn Lagoon Sempor Res.1. u Bar 9° 00' Legend: Rainfall: National Capital Provincial Capital Provincial Boundary Watershed (SWS) Boundary River Lake G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E S I A U % Y # 750 mm 1250 mm 1750 mm 2250 mm 2750 mm 3250 mm 3750 mm 4250 mm 4750 mm 5250 mm 5500 mm 6500 mm 7500 mm NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT Map No : Map Title : A23 RAINFALL AND WATERSHED (SWS) AREA Source : . Dalam peraturan tersebut. antara lain: 1. 2 Curah hujan tahunan Pulau Jawa – Madura. Strai t Indi an Ocean Nusa Barung I. Peraturan Menteri PU nomor 48 tahun 1990 tentang kewenangan pengelolaan dari 90 WS tersebut. Sebagai tindak lanjut dari Permen PU Nomor 39/PRT/1989.2 Pola Pengelolaan Wilayah Pulau Jawa-Madura dibagi dalam 15 wilayah sungai.

yaitu WS Brantas oleh Perum Jasa Tirta I dan WS Citarum oleh Jasa Tirta II (Jatiluhur). Pulau Jawa-Madura sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. kewenangan pengelolaannya masih tetap dilakukan oleh pemerintah pusat. pencemaran air yang semakin luas. pertumbuhan penduduk dan pusat pemerintahan Indonesia mengalami pembangunan yang pesat di berbagai sektor sehingga tuntutan masyarakat akan penggunaan sumber daya air juga terus berkembang. termasuk diantaranya Indonesia. pemakaian air yang tidak efisien dan fluktuasi debit antar musim yang semakin tinggi. industri dan irigasi) pun terjadi di berbagai wilayah administrasi maupun wilayah sungai. pola hidup dan pola perekonomian. Sejalan dengan dinamika pembangunan tersebut. lahan. Peraturan Menteri PU nomor 49 tahun 1990 tentang aspek-aspek pengelolaan sumber air termasuk prosedur perijinan pemakaian air. Peningkatan persaingan penggunaan air antar sektor (domestik. maka hal ini tidak luput dari masalah perubahan tata ruang. sedangkan dua WS dikelola bersama antara pemerintah dan BUMN. Hasil kajian global kondisi krisis air dunia yang disampaikan dalam World Water Forum II di Denhaag bulan Maret tahun 2000 lalu memperingatkan bahwa akan banyak negara yang mengalami krisis air pada tahun 2025. Krisis air ini lebih banyak disebabkan oleh kelemahan dalam hal kelembagaan terkait pengelolaan sumber daya air. khususnya Pulau Jawa-Madura. pengelolaan dan pengaturan sumber daya air yang mantap − diperkirakan semakin menurun yang terlihat dari bertambahnya kesenjangan antara ketersediaan air dan kebutuhan air untuk berbagai keperluan. Untuk 15 WS yang wilayahnya terletak pada lebih dari satu provinsi. peraturan perundang-undangan yang tidak memadai. perkotaan. Masalah-masalah tersebut akan semakin parah dan masalah-masalah lain akan timbul semakin banyak apabila tidak segera dilakukan perbaikan kebijakan dalam melaksanakan program strategis untuk 2-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pembantuan. Perubahan tersebut berpengaruh pula terhadap potensi sumber daya air yang − apabila tidak disertai dengan perencanaan.

Cikarang S. Cikuningan S.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengelola air secara lebih efisien dan adil serta mengutamakan azas konservasi. Ciasem S. Cibungur S. 1 No. Cibanten S.06 Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 1 Provinsi Jawa Barat Daftar Pembagian Wilayah Sungai di Pulau Jawa-Madura Kode WS 02. Ciliwung K. Cipunegara S. Cidanau S. Ciwaringin S. Bekasi S. Cidurian S. Cilangkap S. Cisokan S.05 Cimanuk 6 Jawa Barat 02. Cimanuk S. Citarum S. Cimanedu S. Citarik S. Ciangan K. Cibareng S. Lemahabang S. Cipanas S.04 Citarum 5 Jawa Barat Jawa Tengah 02. Cipucung K.02 Ciliwung-Cisadane 3 Jawa Barat 02. Cilamaya S. Babakan S.01 Nama Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai S. Cisekat S. Cilangkanan S. Ciliman S. Pengandungan K. Kasuncang S. Cikondang S. Cisadane S. Cipunegara S. Cilalanang S. Cikarang S. Cibeet K. Cimaragon 2-5 2 Jawa Barat DKI Jakarta 02. Cisadeg S.03 CisadeaCikuningan 4 Jawa Barat 02. Cibuni S. Tabel 2. Cisilih S. Ciujung S. Cisanggarung S. Cihara S. Ciletuh S.

Waluh S. Lorong S. Progo K. Serayu S. Bebek S. Bogowonto B.07 Citanduy 8 Jawa Tengah 02. Comal S. Sengkang S. Sambong S. Jragung S.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No. Brantas K.08 Pemali Comal 9 Jawa Tengah 02. Provinsi Kode WS Nama Wilayah Sungai 7 Jawa Barat Jawa Tengah 02. Semawun K. Semarang K. Lamong S. Cipungun S.10 Jratun Seluna 11 Jawa Tengah DIY 02. Code K. Cimeneng S. Lusi S. Sondang K. Cilaki S. Serang S. Cacaban S. Cisanggiri S. Punyu 2-6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Cihaur S. Lukulo S. Opak K. Cakrayasan K.13 K. Cikonde S.11 Progo-Opak-Oyo 12 Jawa Tengah Jawa Timur 02. Grindulu S. Anyar K. Semawon S. Randuguntini K. Klampok S. Pemali S.09 Serayu 10 Jawa Tengah 02. Solo S. Ciwulan S. Citanduy S. Oyo S. Ijo S. Garang K. Geneng S. Wungu S. Bengawan S. Cibeureum S. Tuntang S. Bodri K. Juana S. Brantas Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai S.12 Bengawan Solo 13 Jawa Timur 02. Santun K.

Provinsi Kode WS Nama Wilayah Sungai 14 Jawa Timur 02. Jatiroto K. Banyuputih K. Konto K. Baru K. pariwisata. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sampean K. Saropa K. Barigo K. industri. Sampang K. Penyediaan air baku untuk berbagai keperluan (pertanian. Rejoso K. Bondoyudo K. Balega K. Pengelolaan irigasi lintas kabupaten/kota 2. air minum.) sejak Tahun Anggaran1994/1995. dll). Urusan-urusan yang menjadi lingkup tugas dan tanggung jawab Balai PSDA adalah: 1. Rangko K. Putih K.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No. Tangkil K Deluwang K. Benca 2-7 Sumber: Departemen Pekerjan Umum Saat ini pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa-Madura dilakukan oleh beberapa Balai PSDA yang dibentuk melalui Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. sebagai salah satu komponen dari Java Irrigation and Water Management Project (JIWMP) yang didanai oleh Bank Dunia (Loan 3762-Ind.15 Madura Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai K.176/1996 tentang Pedoman Pembentukan UPTD/Balai PSDA. Rajak K. Tugas pokok dan fungsi Balai PSDA adalah melaksanakan sebagian fungsi Dinas di bidang pengelolaan sumberdaya air. Pacung K. Widas K. listrik tenaga air.14 Pekalen Sampean 15 Jawa Timur 02. Kegiatan Balai PSDA ini merupakan kelanjutan dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Satuan Tugas (SATGAS) PSDA yang dibentuk dibawah pekerjaan Basin Water Resources Management (BWRM). pelabuhan. Larus K. Pekalen K. Gembong K.

pengendalian kualitas air. Namun demikian kegiatan yang dilakukan oleh 19 balai tersebut sedikit berbeda. Perlindungan muara dan delta. Pada awalnya di Pulau Jawa Balai PSDA yang berupakan ex Satgas PSDA berjumlah 5 buah yakni : Balai Ciujung Ciliman. Untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut di atas. 3. kepegawaian. waduk. Pengelolaan Hidrologi 3. Balai Progo-Opak-Oyo dan Balai Sampean Baru. Pengendalian banjir dan penanggulangan kekeringan 6. Dalam perkembangannya. Pelaksanaan pelayanan teknis administrative ketatausahaan yang meliputi urusan keuangan. embung 5. perlengkapan. Balai Jratunseluna. Sebaran jumlah Balai PSDA tersebut menurut propinsinya adalah sebagai berikut: operasional pelayanan kepada masyarakat di bidang 2-8 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kelima Balai tersebut umumnya telah melakukan sebagian besar tugas-tugas pengelolaan sumberdaya air seperti yang telah diuraikan diatas. Balai Cimanuk Cisanggarung. pengelolaan banjir. Balai PSDA mempunyai 3 fungsi utama yakni : 1. situ. Pengelolaan rawa 7. 2. Perlindungan pantai 9. jumlah Balai PSDA di Pulau Jawa bertambah 19 buah menjadi 24 buah pada tahun 2001. Pengelolaan database/GIS (sebagian) 4. Pengendalian pencemaran air 8.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3. Pelaksanaan operasional konservasi/pelestarian air dan sumber air. Pelaksanaan pengairan. Pengelolaan danau. Pengelolaan sungai 4. Secara selektif beberapa Balai melakukan kegiatan alokasi air. Pada 19 Balai lainnya di Pulau Jawa kegiatan yang telah dilakukan antara lain : 1. Pengelolaan irigasi lintas Kabupaten 2. pemeliharaan sungai dan infrastrukturnya.

Dari angkatan kerja yang berjumlah 3. Propinsi Jawa Barat. diharapkan ke masa yang akan datang mampu melakukan pengelolaan unit yang mandiri. Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.858.651 km2. di provinsi ini kepadatan penduduk mencapai 1.563 jiwa. teknik maupun keuangan.2 BANTEN Provinsi Banten merupakan provinsi paling muda di Pulau Jawa yang baru terbentuk pada bulan Oktober 2000. 5 Balai PSDA 3.48 %. 5 Balai PSDA 4. 124 kecamatan dan 1. luas wilayah administrasi Banten hanya sekitar 0. Propinsi Banten.185. Jumlah rumah tangga dan penduduk menurut jenis kelamin di Banten tahun 2003 adalah sebagai berikut: Rumah tangga : 1. Laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2000-2003 adalah sebesar 3. 2 kota. Menurut data BPS. Propinsi Jawa Tengah. (3.324 jiwa) berada di Kota Cilegon.229 jiwa.46% dari luas total daratan Indonesia.392.987. Penduduk laki-laki : 4.89 (data BPS Provinsi Banten). dan Penduduk perempuan : 4.831 jiwa terdapat penduduk bekerja sebanyak 3.956. Sex ratio penduduk di Banten pada tahun 2003 adalah 103. Seperti halnya dengan provinsi lain yang berada di Pulau Jawa. Dahulu Banten merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat.481 desa. 1 Balai PSDA 2. 2 Balai PSDA 5. 9 Balai PSDA Balai PSDA sebagai unit yang diserahi tugas pelayanan di bidang sumber daya air dan konservasi sumber daya air.018 jiwa per km2 tersebar dalam 4 kabupaten. Propinsi Jawa Timur.563.666 jiwa. masalah yang dihadapi adalah kepadatan penduduk. 2-9 2.944 jiwa). jumlah penduduk di Provinsi Banten pada tahun 2003 adalah 8. Provinsi Banten mempunyai luas 8. Penduduk terbanyak di Provinsi Banten ada di Kabupaten Tangerang.185.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 1. Mandiri yang dimaksud disini diartikan merupakan unit yang mampu melakukan pengelolaan sumber daya air secara profesional baik secara administratif. Sedangkan jumlah penduduk terkecil (326.642 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .422 KK.

Balai PSDA CiujungCiliman adalah satu-satunya balai di Banten. Pengelolaan sumber daya air di provinsi Banten juga dilakukan melalui Proyek Pengelolaan Sumber Air Dan Pengendalian Banjir (PSAPB) Ciujung-Ciliman LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .5 m/dt 2-10 Provinsi Banten berada di ujung barat Pulau Jawa.189 jiwa sedangkan yang bukan angkatan kerja berjumlah 3. berlokasi di Serang. menghadap Laut Jawa dan Samudera Hindia sehingga sangat dipengaruhi oleh angin laut. Pengelolaan sumber daya air di Banten dilakukan oleh Balai PSDA CiujungCiliman. Tangerang dan Kota Cilegon.2 0C : 147.3 mm : 82.367 orang. Di Wilayah Provinsi Banten terdapat 3 Wilayah Sungai. yang dibentuk melalui Keputusan Mendagri No. Lebak. yaitu: WS CiujungCiliman.90C : 31. Dari ketiga WS tersebut yang paling besar wilayahnya di Provinsi Banten adalah WS CiujungCiliman yang sekaligus menjadi sumber daya air utama untuk Provinsi Banten. WS Ciliwung-Cisadane. Berdasarkan data di stasiun OBS (Observation Station) Badan Metereologi dan Geofisika Provinsi Banten.148. dengan wilayah kerja meliputi Kabupaten Serang. Hal tersebut mengakibatkan hampir sepanjang tahun wilayah Banten mengalami udara lembab dan memiliki curah hujan yang cenderung lebih tinggi daripada provinsiprovinsi lain di Pulau Jawa.2% : 2. diketahui kondisi iklim Provinsi Banten sebagai berikut: suhu udara rata-rata maksimum suhu udara rata-rata minimum Curah hujan rata-rata Kelembaban udara rata-rata Kecepatan angin rata-rata : 22. 176 tahun 1996 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA sudah ditindaklanjuti dengan terbitnya peraturan-peraturan daerah Provinsi Banten.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA jiwa orang dan yang mencari pekerjaan sebanyak 673. Pendeglang. dan WS Cisadea-Cikuningan.

70C pada siang hari dan suhu udara minimum berkisar 260C pada malam hari. merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata ± 7 m diatas permukaan laut. air minum. DKI Jakarta memiliki pantai di sebelah utara yang membentang dari barat sampai ke timur sepanjang ± 35 km yang menjadi tempat bermuaranya 9 buah sungai dan 2 buah kanal. Sementara itu curah hujan mencapai 2.3 DKI JAKARTA Kota Jakarta. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta yang berupa daratan seluas 661.5 Ha. terletak pada 6°12’ LS dan 106°48’ BT.5 km2. dan kecepatan angin rata-rata mencapai 3.977. Berdasarkan SK Gubernur Nomor 1227 Tahun 1989. 2-11 2. pariwisata maupun pengendalian banjir dan lain sebagainya.9 mm. air industri.4%.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Nomor : 19/KPTS/A/1994 tanggal 19 April 1994 Tentang Pembentukan Badan Pelaksana Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman. Sementara di sebelah selatan dan timur DKI Jakarta berbatasan dengan wilayah Provinsi Jawa Barat. tingkat kelembaban udara mencapai 76. sedangkan di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa. Pada tahun 2002 dibentuk Proyek Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai (PBPP) Ciujung-Ciliman sebagai pengganti Proyek PSAPB. Program pengembangan dalam proyek ini dimaksudkan untuk memanfaatkan secara maksimal sumber daya air guna meningkatkan taraf hidup masyarakat.5 m/det.288. Wilayah DKI memiliki sekitar 27 buah sungai dan ± 110 buah pulau yang tersebar di Kepulauan Seribu. sebelah barat dengan Provinsi Banten.52 km2 dan yang berupa lautan seluas 6. Kedua bagian wilayah ini cocok digunakan sebagai daerah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Daerah di bagian selatan dan timur Jakarta terdapat rawa/situ dengan total luas mencapai 96. baik penyediaan air untuk kebutuhan pertanian. Kota Jakarta secara umum beriklim panas dengan suhu udara maksimum berkisar 28. kota paling padat di Indonesia.

Keseluruhan sumber daya air dalam wilayah administrasi DKI Jakarta termasuk dalam wilayah kerja Balai PSDA Ciliwung-Cisadane (di bawah Provinsi Jawa Barat).2.5 km2.37 %) dan sebagai pekerja keluarga (3.58%.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA resapan air. Dengan iklimnya yang lebih sejuk bagian wilayah ini juga ideal dikembangkan sebagai wilayah pemukiman penduduk. Selanjutnya dari angkatan kerja tersebut terdapat penduduk bekerja sebanyak 3. kepadatan penduduknya mencapai 11. Akan tetapi dalam memenuhi kebutuhan sumber daya air. Dari jumlah tersebut penduduk laki-laki lebih banyak dari penduduk perempuan. Selebihnya berstatus sebagai pengusaha (29. dimana 319. DKI Jakarta lebih mengandalkan pada Kanal Tarum Barat yang menyediakan air baku dari sungai Citarum melalui Bendung Curug. tercatat sebanyak 7. Jumlah pencari kerja berdasarkan data Sakernas BPS DKI Jakarta tahun 2003 tercatat sebanyak 589. yang masing-masing berjumlah 3.85%.38 juta orang dan yang mencari pekerjaan sebanyak 589.46 juta jiwa. Dengan luas wilayah hanya 661.58 %) bekerja sebagai buruh. sebagian besar (67. terutama untuk air baku. masing-masing sebesar 36.7 ribu orang pencari kerja yang masih belum 2-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .45 juta jiwa dan WNA sebanyak 4. seperti yang tampak dari sex ratio yang lebih besar dari 100. 22.7 ribu orang. Kebanyakan dari mereka yang bekerja berkecimpung di sektor perdagangan. Sedangkan status kewarganegaraanya terdiri dari WNI sebanyak 7.71 ribu jiwa. sehingga menjadikan provinsi ini sebagai provinsi dengan wilayah terpadat penduduknya di Indonesia.59 juta orang.3 ribu jiwa per km2. Kegiatan penduduk usia 15 tahun keatas dapat dibedakan menjadi angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.05%). Pada tahun 2003 jumlah penduduk DKI Jakarta.97 juta orang dan 2.2 ribu orang.74% dan 19. Kepadatan penduduk Provinsi DKI Jakarta Tahun 2003 dapat dilihat pada Tabel 2. jasa dan industri.7 ribu orang. Berdasarkan status pekerjaannya. Sedangkan yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja 342.

serta dataran tinggi bergunung-gunung ada di kawasan tengah.157 18.931 Kepadatan Penduduk/(km2) 11.616 11.941 1.567.15 142. sekitar 1.456.555 2.73 187. Provinsi Banten.355 18. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk DKI Jakarta 2003 No 1 2 3 4 5 6 Kotamadya Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kepulauan Seribu TOTAL Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Luas (km2) 145.4 mm. Jawa Barat mempunyai iklim tropis dengan curah hujan rata-rata 156. sedangkan kawasan selatan berbukit-bukit dengan sedikit pantai.094.426 8.71 661.597 km2.73 47.83% dari luas Indonesia.676 11. Kawasan utara Jawa Barat merupakan daerah dataran rendah.571 1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ditempatkan. Provinsi Jawa Tengah.746 12. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .70 50’ Lintang Selatan dan 1040 48’-1080 48’ Bujur Timur.272 2.90 126. 2 Luas Wilayah.701. dengan batas-batas wilayahnya sebagai berikut: Sebelah utara Sebelah timur Sebelah selatan Sebelah barat : : : : Laut Jawa dan DKI Jakarta. sedangkan pencari kerja yang berhasil ditempatkan sebanyak 14.267 1.52 Penduduk 1.176.4 JAWA BARAT Provinsi Jawa Barat mempunyai luas wilayah 34. 2-13 Tabel 2.6 ribu orang. Samudera Hindia.30 11. Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 50 50’ . Posisi geografis Jawa Barat tersebut sangat strategis sehingga memberikan keuntungan bagi Jawa Barat terutama dari segi komunikasi dan perhubungan.586 897.923 7.

Subang. Tabel 2. Sumber daya air di Provinsi Jawa Barat dibagi dalam 7 (tujuh) satuan wilayah sungai. Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 5 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Barat Tabel 2. 3. Kota dan Kabupaten Bandung. dan sebagian Bandung. Garut. yaitu: 1. Citanduy-Ciwulan Tasikmalaya Kebijakan pemerintah provinsi Jawa Barat dalam pengelolaan sumber daya air.20C dengan tingkat kelembaban udara ratarata sebesar 76%. 4. Kota dan Kabupaten Bekasi. Purwakarta. Karawang. Jawa Barat memiliki lahan subur yang berasal dari endapan vulkanis serta banyak aliran sungai. WS Cisadane-Ciliwung.80C sampai 29. Balai PSDA Cimanuk-Cisanggarung Ciliwung-Cisadane Cisadea-Cikuningan Citarum Domisili Cirebon Bogor Sukabumi Bandung Wilayah Kerja Cirebon. Tasikmalaya. Kuningan. WS Citanduy. Subang. 5. Bandung dan Kota Sukabumi. 2. WS Citarum. Sukabumi. WS Ciwulan. Indramayu. Bogor. Bekasi dan Kota Depok. Ciamis. Perda tersebut berisi kebijakan untuk meningkatkan fungsi dan kualitas LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 3. Suhu udara berkisar antara 18. 3 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Barat No. Garut. Indramayu. DKI Jakarta. Selain itu.3 mb. 1. 2 Tahun 2003 tentang RTRW Propinsi Jawa Barat 2010. Kuningan dan kota Cirebon. Cianjur. 4. 7.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dengan jumlah hari hujan rata-rata tiap bulannya sekitar 15 hari. 6. Hal ini menyebabkan sebagian besar dari luas tanahnya cocok digunakan untuk pertanian. Cianjur. 2.3 menggambarkan pembagian wilayah kerja yang dicakup oleh kelima Balai PSDA. Cianjur. 2-14 5. serta tekanan udara rata-rata sebesar 922. Majalengka. sehingga Provinsi Jawa Barat ditetapkan sebagai lumbung pangan nasional. Bogor. dituangkan dalam Perda No. WS Ciujung-Ciliman. WS Cimanuk-Cisanggarung. Majalengka. WS Cisadea-Cikuningan.

53 orang per km2.324. Pengukuhan kawasan lindung agar tercapai target luasan kawasan lindung hutan dan non hutan untuk seluruh Jawa Barat sebesar 45%.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kawasan lindung di Jawa Barat. (4. 2. Dengan jumlah penduduk tersebut kepadatan penduduk Jawa Barat mencapai 1. partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan 2-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4.98 juta orang. termasuk kawasan lindung di Kawasan Bodebek dan Bopunjur. Wilayah kabupaten dengan penduduk terbanyak di Jawa Barat ada pada Kabupaten Bandung. pengamanan.57% dan industri 16.7 juta orang).978 desa. Jumlah penduduk Jawa Barat pada tahun 2003 mencapai 37. yaitu: 1.96%. dan pengaturan pemanfaatan sumber daya.23 orang per km2. Pengembangan Lindung. Pada tahun 2003 sektor pertanian tetap merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja yaitu 34. Pengawasan. serta. 9 Kota. 3.87% kemudian diikuti oleh perdagangan 22. Kebijakan dijabarkan dalam beberapa program. Proporsi pekerja menurut lapangan pekerjaan merupakan salah satu ukuran untuk melihat potensi sektor perekonomian dalam menyerap tenaga kerja.5 juta orang) dan Kabupaten Bogor (3. Kota Bandung merupakan kota terpadat .794 kelurahan dan 3. Sedangkan yang jumlah penduduknya terkecil adalah Kota Sukabumi (26 ribu orang). Rehabilitasi lahan konservasi termasuk rehabilitasi lahan-lahan kritis. 1.270. Secara administratif Provinsi Jawa Barat terdiri dari 16 Kabupaten. 561 kecamatan. Hal lain dapat pula mencerminkan struktur perekonomian suatu wilayah. yaitu sebesar 13.48 orang per km2. sedangkan yang terendah Kabupaten Cianjur hanya sebesar 685.

JratunSeluna. Secara geografis Provinsi Jawa Tengah terletak antara 50 40’ dan 80 30’ LS dan antara 1080 30’ dan 1110 30’ BT (termasuk kepulauan Karimunjawa). maka pada tahun anggaran 1999/2000 telah dimulai pelaksanaan rasionalisasi Pos Hidrologi di WS Pemali-Comal. c. Kelembaban udara rata-rata bervariasi antara 77% sampai dengan 88%. Jarak terjauh dari batas barat ke timur adalah 263 km dan dari batas utara ke selatan 226 km (tidak termasuk kepulauan Karimunjawa). Untuk mendapatkan data yang lebih baik dari waktu ke waktu. Tempat-tempat yang letaknya berdekatan dengan pantai mempunyai suhu udara rata-rata relatif tinggi.25 juta hektar. Pos pengamat curah hujan sebanyak 964 buah. Secara administratif Provinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota. Menurut stasiun klimatologi kelas I Semarang. suhu udara rata-rata di Jawa Tengah tahun 2002 berkisar antara 170C sampai dengan 290C. Luas wilayah Provinsi Jawa Tengah adalah sebesar 3.04% dari luas Pulau Jawa atau sekitar 1. sekitar 25.5 JAWA TENGAH Posisi provinsi Jawa Tengah sebagai diapit oleh dua Provinsi besar lainnya. Pos pengamat hidrologi tersebut dibangun oleh Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah maupun departemen lain. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sampai saat ini pos pengamat hidrologi yang telah ada meliputi: a.70% dari luas Indonesia. yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Pos klimatologi sebanyak 72 buah. Bengawan Solo dan Serayu. Curah hujan tertinggi tercatat di SMPK (Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus) Bojongsari Purwokerto sebesar 2. b. Jaringan pos pengamatan hidrologi di wilayah Provinsi Jawa Tengah telah dikembangkan sejak tahun 1976 yang tersebar di seluruh daerah aliran sungai.837 mm dan hari hujan terbanyak tercatat di Stasiun Metereologi Cilacap sebesar 203 hari.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-16 2. Pos pengamat tinggi muka air (AWLR) sebanyak 176 buah.

WS Citanduy. Kabupaten Klaten. 5. Balai PSDA Jragung-Tuntang Domisili Semarang Wilayah Kerja Kota dan Kabupaten Semarang. Kabupaten Jepara. yaitu: 1. sebagian Kabupaten Pati dan sebagian Kabupaten Blora. WS Jratun-Seluna. 2. Kota Surakarta. Kabupaten Magelang. meliputi Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Karanganyar. Tabel 2. 7. 3. WS Progo-Opak-Oyo. Bengawan Solo Solo 5. WS Serayu. sebagian Kabupaten Sragen. sebagian Kabupaten Grobogan. sebagian 2. Pemali-Comal Tegal 3. sebagian Kabupaten Batang dan Pemalang. 4. Kabupaten Kudus. sebagian Kabupaten Boyolali. sebagian Kabupaten Demak dan Kota Salatiga. Kabupaten Brebes. WS Pemali-Comal. Kabupaten Sukoharjo. 1. Kabupaten Grobogan. Kota dan Kabupaten Tegal.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sumber daya air di Provinsi Jawa Tengah dibagi dalam 7 (tujuh) satuan wilayah sungai. 2-17 Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 6 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Tengah dengan pembagian wilayah kerja sebagaimana tercantum pada Tabel 2. sebagian Kabupaten Sragen. WS Bengawan Solo. sebagian Kabupaten Demak. sebagian Kabupaten Rembang. 6. WS Cimanuk. Kabupaten Purworejo. Progo-BogowontoLukulo Kutoarjo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Tengah No. Serang-Lusi Juwana Kudus 4. dan sebagian Kabupaten Blora. sebagian Kabupaten Kendal.4 berikut ini. Kota Magelang. sebagian Kabupaten Temanggung.

Ini menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi ketiga di Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak di samping Jawa Timur dan Jawa Barat. Serayu-Citanduy Purwokerto Kabupaten Banyumas. penduduk banyak yang bermukim di daerah perkotaan. jumlah penduduk Jawa Tengah tahun 2002 tercatat sebesar 31. Rata-rata kepadatan penduduk Jawa Tengah tercatat sebesar 974 jiwa setiap kilometer persegi. tingkat partisipasi angkatan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . merupakan potensi sumberdaya manusia yang sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan menyongsong era globalisasi. sebagian Kabupaten Kebumen. Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Cilacap Berdasarkan Data BPS. sebesar 99%. sebagian Kabupaten Wonosobo dan sebagian Kabupaten Kebumen. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Tenaga kerja yang terampil. Kabupaten Banjarnegara.58% dibanding tahun sebelumnya.42 juta jiwa. Wilayah terpadat adalah kota Surakarta dengan tingkat kepadatan sekitar 11 ribu orang setiap kilometer persegi. sebagian Kabupaten Wonosobo. jumlah penduduk Jawa Tengah diperkirakan meningkat mejadi sebanyak 32. Pertumbuhan penduduk tiap tahun akan berpengaruh terhadap pertumbuhan angkatan kerja. Hal ini ditunjukkan oleh rasio jenis kelamin (rasio jumlah pendududuk lakilaki terhadap jumlah penduduk perempuan). 2-18 6.69 juta jiwa atau sekitar 15% dari jumlah penduduk Indonesia. Dengan angka ini. Balai PSDA Domisili Wilayah Kerja Kabupaten Temanggung. Penduduk Jawa Tengah belum menyebar secara merata di seluruh wilayah Provinsi Jawa Tengah. Umumnya. angkatan kerja di Jawa Tengah tahun 2002 mencapai 15.74 juta orang atau naik sebesar 0.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No. Pada tahun 2003. Jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk lakilaki.

56%.15%. Daerah Istimewa Yogyakarta di bagian selatan dibatasi Samudra Hindia. Sebanyak 67% angkatan kerja adalah berpendidikan tidak/belum tamat Sekolah Dasar. Kabupaten Purworejo d. Sedangkan yang berusaha dengan dibantu anggota rumah tangga dan buruh tetap/tidak tetap tercatat sebesar 23. yaitu sebesar 6.52%. Secara geografis posisi Daerah Istimewa Yogyakarta terletak antara 70 33’ .36%. Kabupaten Klaten b.60%. di sebelah barat.6 DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salah satu provinsi dari enam provinsi di wilayah Indonesia dan terletak di Pulau Jawa bagian tengah.31% dan pekerja tak dibayar 17. Sektor lain yang cukup banyak menyerap pekerja adalah sektor perdagangan dan sektor industri. tenggara barat dan barat laut dibatasi oleh wilayah Provinsi Jawa Tengah yang meliputi : a.90%. pekerja bebas pertanian dan non pertanian sebesar 10. sebagian besar angkatan kerja bekerja sebagai buruh/karyawan. Sedangkan angka pengganguran terbuka di Jawa Tengah relatif kecil. Ditinjau menurut status pekerjaan utamanya. Kabupaten Wonogiri c.80 12’ LS dan 1100 00’ – 1100 50’ BT. Berdasarkan satuan fisiografis. Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari: LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . yakni 30. masing-masing tercatat sebesar 19. di sebelah barat laut. Sektor pertanian memiliki porsi 42% pekerja dan merupakan sektor terbanyak yang menyerap tenaga kerja. berusaha sendiri tanpa dibantu orang lain sebesar 18. di sebelah tenggara.07%. 2-19 2. sedangkan dibagian timur laut. Kabupaten Magelang : : : : di sebelah timur laut.35% dan 17.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kerja penduduk di Jawa Tengah tercatat sebesar 60.

Luas Ketinggian : ±1.36 574.8790. Kabupaten Sleman e.27 506. Menurut catatan Stasiun Metereologi Bandara Adisucipto. merupakan provinsi terkecil di Indonesia setelah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.81 km2. : ± 706.640C. Luas Ketinggian 3.40%) (15.656. : 80-2. Pegunungan Kulon Progo dan Dataran Rendah Selatan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 1.25 km2. Luas Ketinggian 4.94% merupakan jenis tanah Lithosol. dengan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .911 m.02%) c. 10.91%) (46. dari 3. Pegunungan Selatan.63%) (18.380 mm yang dipengaruhi oleh musim kemarau dan musim hujan.185.17% dari luas Indonesia (1. 35.25 km2. Gunung Berapi Merapi. dan 1. suhu udara rata-rata di Yogyakarta tahun 2003 adalah 26. Dataran rendah antara Pegunungan Selatan dan Pegunungan Kulon Progo. 2. 2-20 2.82 32.80 km2 atau 0. yang terdiri dari: a.45% jenis tanah Grumusol.185.50 km2 km2 km2 km2 km2 (18.485. : 0-80 m.I Yogyakarta terletak pada ketinggian antara 100 499 m dari permukaan laut.754 km2).24% jenis tanah Alluvial.85 1. : 0-572 m.42% jenis tanah Regosol. Kabupaten Kulon Progo b. Kabupaten Gunung Kidul : dengan luas Berdasarkan informasi dan BPN.04%) (1.340C. 27. : 150-700 m. lebih rendah dibandingkan rata-rata suhu udara pada tahun 2002 sebesar 27.74% adalah jenis tanah Rensina. Sebagian besar wilayah D. 11. : ± 582.I Yogyakarta. Luas Ketinggian DIY tercatat memiliki luas 3. Daerah Istimewa Yogyakarta beriklim tropis dengan curah hujan berkisar antara 7 . : ± 215. Kabupaten Bantul d.94% jenis tanah Lathosol.80 km2 luas D.27% jenis tanah Mediteran.62 km2. 10. Kota Yogyakarta : dengan luas : dengan luas : dengan luas : dengan luas 586.

015.1 knot sampai dengan 20 knot. yakni masing-masing sebesar 2. Kota Yogyakarta. 1.7 mb. Kelembaban udara berkisar antara 34-95%.48%. Sungai Progo 2. yaitu: 1. Sermo Yogyakarta Jumlah penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta tercatat 3. Kabupaten Bantul.26% dan persentase jumlah penduduk laki-laki sebesar 49. 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA suhu maksimum 34. Sungai Opak-Oyo 3. relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya. 2-21 Tabel 2. Sungai Serang Sungai-sungai tersebut dikelola oleh 2 Balai PSDA yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana dijelaskan pada Tabel 2. dengan persentase jumlah penduduk perempuan sebesar 50. dengan arah angin antara 195-205 derajat. tekanan udara berkisar antara 1. Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunung Kidul Kabupaten Kulon Progo. Pertumbuhan penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2003 adalah 1.005.9-1. Gunung Kidul dan Sleman terlihat memiliki angka pertumbuhan di atas angka rata-rata provinsi. 5 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di DI Yogyakarta No.48%.52% dan penduduk yang tinggal di daerah pedesaan mencapai 42.79%.600C dan suhu minimum 180C. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .74%. dan kecepatan angin antara 0.5 berikut ini. Balai PSDA Progo-Opak-Oyo Domisili Yogyakarta Wilayah Kerja Kabupaten Sleman. Sedangkan menurut daerah pemukiman. Sungai besar yang menjadi potensi sumber daya air di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berjumlah 3 buah. 1. persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan mencapai 57.385 jiwa.61%.207.82% dan 1.

26 % dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 106.48% bekerja di sektor-sektor lainnya.42% berpendidikan setingkat SLTA. serta 5.83% perempuan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dengan luas wilayah sekitar 3. berbatasan dengan Selat Bali.84%. Barat : : : : berbatasan dengan Laut Jawa.69%. Persentase angkatan kerja penduduk DIY adalah 63.20%.63% sudah bekerja dan sebesar 5.16% merupakan bukan angkatan kerja. berbatasan dengan Samudera Indonesia berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .27%. dan 4. 2-22 2.7 JAWA TIMUR Secara geografis Provinsi Jawa Timur terletak pada posisi 1110 0’ BT hingga 1140 4’ BT dan 70 12’ LS hingga 80 48’ LS. jumlah penduduk yang pekerjaannya bergerak pada sektor pertanian memiliki persentase 37. pada sektor jasa sebesar 17.17% berpendidikan SD. pada sektor industri sebesar 12.46% adalah SLTP dan sisanya 1.881 orang. adalah sebagai berikut. Berdasarkan lapangan usaha utama. Dari jumlah tersebut 58.18% dan sisanya sebesar 13. Gambaran tenaga kerja di sektor swasta berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.95% setingkat Diploma. Timur c.75%.007 jiwa per km2. Jumlah pendaftar pencari kerja pada tahun 2003 sebanyak 94. Mereka terdiri dari 52. pada sektor perdagangan sebesar 19. sedangkan wilayah yang tingkat kepadatan penduduknya terendah adalah Kabupaten Gunung Kidul yang dihuni rata-rata 462 jiwa per km2.80 km2. Utara b. Kepadatan penduduk tertinggi terjadi di Kota Yogyakarta yakni 12.17% laki-laki dan 47.21% sedang mencari pekerjaan. menurun sekitar 11. teriri dari mereka yang masih sekolah. 34.029 jiwa per km2. Selatan d. Sarjana Muda dan Sarjana.185. terdiri dari 58. mengurus rumah tangga dan lainnya dengan proporsi masing-masing sebesar 20. kepadatan penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta sekitar 1. Batas-batas daerah pada provinsi ini adalah sebagai berikut: a. 11.44%.15%.923 orang. Sisanya sebesar 36.

Sedangkan curah hujan yang cukup tinggi terjadi pada bulan Januari sampai dengan April. Wilayah provinsi Jawa Timur yang luasnya 46.10C). 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Secara umum. yaitu: 1. Suhu udara tertinggi di Jawa Timur pada tahun 2003 terjadi pada bulan November (35.428. sedangkan luas Kepulauan Madura hanya sekitar 10%. 2-23 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . WS Pekalen-Sampean. WS Brantas. Sumber daya air di Provinsi Jawa Timur terbagi dalam 4 (empat) satuan wilayah sungai. 2. dengan rata-rata lama penyinaran matahari 52% dan 41.6 berikut ini.60C) dan terendah pada bulan Juli (18. WS Madura.57 km2 secara administrasi terbagi ke dalam 29 Kabupaten dan 9 Kota. Mendung paling banyak terjadi di bulan Februari dan Desember. disamping sungai yang cukup besar. wilayah Jawa Timur dapat dibagi dalam 2 bagian besar. Provinsi Jawa Timur memiliki 11 (sebelas) gunung berapi yang aktif. yaitu Jawa Timur Daratan dan Kepulauan Madura. dengan anak-anaknya sebanyak 36 sungai. dengan kelembaban berkisar antara 32% sampai 98%. WS Bengawan Solo. 3. Sungai besar di Jawa Timur antara lain Kali Brantas yang panjangnya 98 km dan Bengawan Solo dengan panjang 273 km. Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 9 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Timur sebagaimana dijelaskan pada Tabel 2.6%. Luas wilayah Jawa Timur Daratan hampir mencakup 90% dari luas Provinsi Jawa Timur.

Balai PSDA Bango-Gedangan Domisili Malang Wilayah Kerja Kabupaten Malang. Ponorogo. Kota Batu dan Kota Blitar. Kota Surabaya mempunyai kepadatan penduduk tertinggi yaitu sebesar 8. Madura Pamekasan Berdasarkan data BPS. BuntungPaketingan Lamongan 4. Kepadatan penduduk Jawa Timur tahun 2003 adalah 780 sebesar jiwa per km2. sebagian Pasuruan. Pamekasan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 2. yaitu 2. Gembong-Pekalen Pasuruan 9. Kota Pasuruan dan Kota Probolinggo Sampang. Kabupaten Bojonegoro. Bondowoso 7. 2-24 2.66 juta jiwa. sebagian Malang. Kabupaten Lamongan. jumlah penduduk Provinsi Jawa Timur tahun 2003 sebesar 36. Probolinggo. Tuban. Lamongan dan Gresik.206 juta jiwa dengan pertumbuhan sebesar 1. Kabupaten Pasuruan. Pacitan. Kabupaten Madiun. Kabupaten Lumajang.07% per tahun. Kota Surabaya mempunyai jumlah penduduk yang paling besar. Sumenep dan Bangkalan. Banyuwangi dan Situbondo. Bondoyudo-Mayang Lumajang 8. Kota Mojokerto dan Kota Surabaya. Kepadatan penduduk di kota. Jombang dan Kota Kediri. Sidoarjo. Trenggalek. Nganjuk. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .152 jiwa per km2. Tulungagung. 6 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Timur No.23 juta jiwa. Bengawan Hilir Sampean Baru Solo Bojonegoro 6. Mojokerto. Blitar. Magetan. Madiun Madiun 5. Puncu-Selodono Kediri 3. Kota Malang. diikuti Kabupaten Malang dengan jumlah penduduk sebesar 2. Ngawi dan Kota Madiun. Kabupaten Bondowoso. 1. umumnya lebih tinggi dibanding dengan kepadatan penduduk di kabupaten.33 juta jiwa dan Kabupaten Jember dengan jumlah penduduk sebesar 2. Jember dan sebagian Malang. Kabupaten Kediri.

32% dibanding tahun 2002. 3 Lokasi rawan banjir di pulau jawa. 2-25 2. Gambar 2. Pendekatan infrastruktur untuk mengatasi banjir di sepanjang pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah telah diupayakan melalui proyekproyek besar berbantuan luar negeri.621 orang.9 ribu hektar wilayah permukiman dan pertanian. wilayah cekungan. Tenaga kerja yang sudah ditempatkan sebanyak 40. Pada tahun 2002.16 persen. terjadi 72 kejadian banjir yang menggenangi sekitar 81. Sebaran wilayah rawan banjir di Pulau Jawa dapat dilihat pada Gambar 2. antara lain North Java Flood Control 1 Laporan kejadian banjir dan tanah longsor musim hujan 2001/2002 dan 2002/2003. Jumlah ini meningkat menjadi 104 kejadian pada tahun 2003 yang menggenangi sekitar 91. sedangkan rasio pencari kerja dengan lowongan pekerjaan adalah 0. Sistem pengendalian bahaya banjir melalui pendekatan infrastruktur telah berlangsung lama. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .435 orang.1 ribu hektar1. serta kota-kota besar. meningkat 16.8 IDENTIFIKASI MASALAH BANJIR Banjir di Pulau Jawa sebagian besar terjadi di wilayah pantai utara dan pantai selatan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Jumlah pencari kerja pada tahun 2003 sebesar 379.3.

Faktor penyebab terjadinya banjir di Pulau Jawa berbeda-beda untuk setiap wilayah. Namun demikian. Tanggul-tanggul sungai di hulu dapat mengurangi banjir yang terjadi di daerah hulu. laju pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang membutuhkan biaya besar tersebut tidak mampu mengatasi peningkatan magnitude dan frekuensi banjir. diupayakan melalui proyek-proyek pengembangan perkotaan antara lain Bandung Urban Development Project (BUDP) dan Surabaya Urban Development Project (SUDP).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Project dan South Java Flood Control Project. Meluapnya aliran sungai ini mengakibatkan daerah-daerah yang relatif datar dan lahan-lahan pertanian di sekitarnya menjadi tergenang. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . untuk mengatasi banjir di wilayah perkotaan lainnya. kemiringan dasar sungai menjadi relatif datar akibat sedimentasi tersebut sehingga kapasitas tampungan sungai menjadi berkurang. Untuk pengendalian banjir wilayah Jakarta diupayakan melalui Ciliwung Cisadane River Flood Control Project dan pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) yang saat ini sedang berlangsung. Di daerah muara. terjadi luapan air sungai dari tanggul. Beberapa penyebab utama terjadinya banjir antara lain adalah: a) Pendangkalan/Agradasi Dasar Sungai (Sedimentasi) Hampir semua sungai di Jawa membawa sedimen dalam jumlah besar dari hulu dan mengikis lahan di sepanjang daerah aliran sampai ke muara. Upaya pengendalian banjir juga dilakukan di Bandung Selatan melalui proyek Upper Citarum Flood Control 2-26 Project. penambangan pasir terjadi di sungai-sangat besar sehingga pada beberapa tempat mengalami degradasi dasar sungai. b) Meluapnya Aliran Sungai melalui Tanggul Akibat debit yang besar pada musim hujan yang tidak dapat ditampung oleh badan-badan air di daerah pantai/muara. sehingga upaya pengendalian bersifat spesifik sesuai karakteristik wilayah yang bersangkutan. khususnya kota-kota besar di Pulau Jawa. tetapi justru menyebabkan bertambah luasnya area yang terkena banjir di daerah hilir. Selain itu. Di lain pihak.

Backwater juga terjadi pada pertemuan antara anak sungai dan sungai utamanya. sehingga laju pengaliran air melalui saluran drainase menurun. Analisis neraca air pada kabupaten/kota di luar wilayah Jabodetabek dilakukan dengan membandingkan hasil perhitungan ketersediaan air dengan kebutuhan air pada tiap-tiap bulan di masing-masing kabupaten/kota. dan lahan-lahan produksi di dataran rendah. dan Defisit Tinggi (DT). dan penyempitan pada jembatan dan bangunan-bangunan struktur lainnya. Defisit Rendah (DR). ada 4 klasifikasi: Normal (N). sehingga terjadi banjir di bagian hulu. Defisit Sedang (DS). 2.9 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN Masalah kekeringan dapat diidentifikasi dengan analsisi kondisi neraca air. seringkali pengamatan/pemeliharaan di lapangan jarang dilakukan. sedangkan jika jumlah bulan defisit mencapai 3 bulan diklasifikasi sebagai defisit rendah. empat hingga enam bulan diklasifikasi defisit sedang. 2-27 d) Efek Backwater Efek backwater terjadi di bagian hulu karena perubahan arus di hilir yang menyebabkan muka air di hulu meningkat. Karena bangunan beroperasi secara otomatis. Via analisis kondisi neraca air. terbendungnya alur sungai. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . kapasitas tampungan semakin berkurang. Neraca air tergolong normal apabila tidak terjadi defisit sepanjang tahun. e) Kurang Berfungsinya Pintu Pengendali Banjir pada Sungai Pintu air tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena tertutup oleh tanaman atau endapan pasir. Hal ini disebabkan oleh penyempitan badan sungai. dan lebih dari enam bulan diklasifikasi defisit tinggi. Hal ini terutama terjadi pada pintu air otomatis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA c) Kondisi Saluran Drainase yang Kurang Baik Saluran drainase tidak berfungsi dengan baik karena pintu-pintu air tidak beroperasi sebagaimana mestinya.

45 2-28 40 Persentase Jumlah Kabupaten/Kota (%) 35 30 25 20 15 10 5 2003 NORMAL 2005 2010 2015 DEFISIT SEDANG 2020 2025 DEFISIT TINGGI DEFISIT RENDAH Gambar 2. sesuai hasil Jabotabek Water Resources Management Study (1994).5 hingga 1 meter kubik perdetik diklasifikasi defisit sedang.4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Khusus untuk wilayah Jabotabek analisis dilakukan dengan perhitungan besarnya jumlah defisit air pada bulan paling kering. dan lebih dari 1 meter kubik perdetik diklasifikasi defisit tinggi. Perubahan persentase jumlah kabupaten di luar wilayah Jabotabek yang mengalami defisit air dari tahun 2003 hingga 2025 dapat dilihat pada Gambar 2. terdapat 38 kabupaten/kota atau sekitar 35 persen telah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hasil analisis neraca air menunjukkan bahwa. Metode ini digunakan karena ketersediaan air pada wilayah ini relatif konstan sepanjang tahun karena pasokan dari sistem yang ada. defisit lebih dari 0.5 meter kubik perdetik diklasifikasi sebagai defisit rendah. pada tahun 2003 sebagian besar (sekitar 77 persen) wilayah kabupaten di luar Jabodetabek telah memiliki satu hingga delapan bulan defisit air dalam setahun. sedangkan jika jumlah defisit mencapai 0. Kondisi normal menunjukkan bahwa tidak terjadi defisit sepanjang tahun. 4 Perubahan persentase kabupaten defisit air. Dari wilayah yang mengalami defisit tersebut.

Untuk wilayah Jabotabek. Di antara kabupaten/kota yang mengalami defisit air tersebut. Di samping itu. dan Madura. Dari proyeksi neraca air kabupaten/kota di Pulau Jawa di atas. atau defisit sepanjang tahun. Pada tahun-tahun berikutnya. Jratun Seluna bagian hulu. Progo-Opak-Oyo.5 pada tahuntahun 2015. Serayu bagian hulu. defisit tinggi juga terjadi pada kota besar seperti Bandung. Bengawan Solo.4 persen dengan defisit berkisar mulai dari satu hingga dua belas bulan. Pada tahun 2025 jumlah kabupaten defisit air meningkat hingga mencapai sekitar 78. Semarang. Brantas. dan Yogyakarta. defisit air tinggi akan terjadi pada tahun 2005 di beberapa kabupaten/kota di wilayah sungai Cimanuk-Cisanggarung. CitanduyCiwulan. Beberapa kabupaten/kota pada tahun 2010 diperkirakan akan mengalami defisit yang semakin membesar. Sementara itu. dan diperkirakan meningkat menjadi 100 persen pada 2025.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengalami defisit tinggi. dan 2025. 2020. Hasil analisis dan proyeksi neraca air kabupaten/kota JawaMadura yang mengalami defisit dapat dilihat pada Gambar 2. bahkan sejak tahun 2003 sekitar 12 kabupaten/kota telah mengalami defisit penyediaan air minum. ditemukan bahwa sekitar 50 persen kabupaten/kota mengalami defisit air pada tahun 2003. Citarum. defisit air di wilayah tersebut cenderung semakin tinggi. Brantas hilir. dan kabupaten/kota yang mengalami defisit akan semakin meluas sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 2. Jika tidak dilakukan intervensi infrastruktur maka kondisi neraca air akan mengalami defisit yang semakin tinggi pada tahun-tahun berikutnya. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian secara khusus dan perlu dilakukan upaya penanganan segera dalam jangka pendek.4. Pemali-Comal. dan sebagian Pekalen-Sampean belum mengalami defisit air. Jumlah ini diperkirakan semakin meningkat hingga mencapai sekitar 19 kabupaten/kota pada tahun 2025 apabila tidak dilakukan intervensi infrastruktur. kabupaten/kota di wilayah-wilayah sungai Cisadea-Cikuningan. antara lain Kabupaten Ngawi di WS Bengawan Solo dan Kota Surabaya di WS Brantas. 2-29 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

dan Bekasi serta Serang. Karawang. Alternatif tambahan pasokan untuk DKI Jakarta adalah sungai-sungai yang berada di barat dan selatan wilayah ini. Kabupaten Bogor.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Wilayah analisis neraca air untuk daerah Jabodetabek dan sekitarnya meliputi DKI Jakarta. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pasokan air baku utama ke DKI Jakarta bersumber dari Sungai Citarum yang dialirkan dari Waduk Jatiluhur. Hal ini diperparah dengan semakin langkanya air bersih sebagai akibat meningkatnya pencemaran air di sungai-sungai besar tersebut. DKI Jakarta sebagai ibukota negara memerlukan daya dukung sumber daya air untuk menunjang segala kegiatan di wilayah tersebut. Sungai Cidurian. dan Purwakarta dikelompokkan dalam satuan wilayah analisis. potensi konflik pemanfaatan air antarwilayah dan antarpengguna akan semakin meningkat. Sungai-sungai ini merupakan sumber air permukaan utama untuk daerah pertanian dan industri di Kota Tangerang. dan Purwakarta2. seperti Sungai Cisadane. Tangerang. dan Kota Depok. Karawang. Bogor. meskipun sungai utama yang melalui wilayah ini adalah Sungai Ciliwung. 2-30 2 Serang. Kabupaten Tangerang. dan Sungai Ciujung. sejalan dengan rencana pengembangan inter basin management dengan menambahkan WS Ciujung-Ciliman dan WS Citarum menjadi satuan wilayah analisis WS Ciliwung-Cisadane. Dengan demikian. Depok. Kota Bogor.

1 2 b u la n B a ta s K a b u p a t e n Sumber : Hasil Analisis Gambar 2.6 b u la n 7 .1 0 b u la n 1 1 .2 b u la n 3 .4 b u la n 5 .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-31 2005 L d 2010 L d 2015 Legenda : 2020 Legenda : 2025 Legenda : Legenda : B a ta s P r o p in s i J u m l a h B u l a n D e f is i t t a h u n 2 0 2 5 0 b u la n 1 .8 b u la n 9 . LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 5 Proyeksi Neraca Air Kabupaten/Kota di Pulau Jawa dan Madura.

daerah-daerah kritis dengan tingkat erosi yang tinggi perlu segera ditangani. dan saluran-saluran yang berakibat pada naiknya permukaan dasar sungai. telah terjadi eksploitasi air tanah secara berlebihan. terutama pada bagian hilir).0 m3/det. pasokan air permukaaan menjadi semakin penting untuk menggantikan penggunaan air tanah yang berlebihan tersebut. Depok dan Kabupaten Bogor berasal dari Sungai Ciliwung-Cisadane.0 m3/det di tahun 2025. Hal ini menyebabkan penurunan muka air tanah pada tingkat yang semakin kritis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-32 Di wilayah Jabodetabek bagian utara terutama di DKI Jakarta. terutama pada lahanlahan kritis di bagian hulu daerah aliran sungai. danau. Sebagai ilustrasi. Terjadinya erosi akibat kerusakan catchment area menyebabkan terjadinya peningkatan beban sedimen di dalam sistem sungai dan menghasilkan perubahan pada kondisi hidro-morfologi (pengendapan sedimen pada waduk. Oleh sebab itu. saat ini diperkirakan sekitar 65% kebutuhan domestik untuk wilayah DKI Jakarta masih bertumpu kepada sumber air tanah. Defisit tersebut diperkirakan mencapai 15. Sementara itu. Pada tahun 2003 terjadi defisit sebesar 2.3 m3/det apabila tidak dilakukan upaya intervensi infrastruktur. sumber utama pasokan air untuk Kota Bogor. Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang dengan sumber utama Sungai Cisadane mengalami kondisi yang hampir sama. Pada tahun 2003 defisit air telah mencapai 3.9 m3/det dan diperkirakan tahun 2025 mencapai 17. jika tidak dilakukan upaya intervensi infrastruktur dengan membangun waduk-waduk sumber air baku yang baru. Oleh karena itu. Defisit ini semakin membesar di masa yang akan datang. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . yaitu meningkatnya aliran permukaan dan menurunnya aliran dasar (base flow). Erosi yang berlangsung cepat akan memacu perubahan unsur hidrologi sungai.

Khusus wilayah Jabotabek yang pasokan airnya relatif terjamin.1 RUMUSAN KEBIJAKAN PRAKARSA STRATEGIS Dari hasil analisis. perkotaan. pada tahun 2003 sekitar 50 persen kabupaten/kota mengalami defisit air dan diperkirakan meningkat menjadi 100 persen pada tahun 2025. Wilayah sungai di Pulau Jawa sebagian besar mengalami permasalahan yang sama yaitu: (1) Kerusakan catchment area sehingga mengancam keberlanjutan daya dukung sumber daya air. Disamping itu jumlah bulan defisit maksimal juga meningkat dari 8 bulan menjadi 12 bulan pada tahun 2025 (defisit sepanjang tahun).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 3-1 3. bahkan sejak tahun 2003 terdapat 12 kabupaten/kota telah mengalami defisit penyediaan air minum. industri. namun disisi lain juga berdampak pada perubahan tata guna lahan yang mengakibatkan perubahan perilaku hidrologis. secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa kebutuhan air untuk rumah tangga. sekitar 77 persen kabupaten/kota di Pulau Jawa mengalami defisit air dan diperkirakan meningkat menjadi 78. Adanya perubahan perilaku hidrologis tersebut menyebabkan perubahan pola ketersediaan air.4 persen pada tahun 2025. Pertambahan penduduk dan aktifitas perekonomian di satu sisi berdampak pada peningkatan kebutuhan air. Jumlah ini diperkirakan semakin meningkat hingga mencapai 19 kabupaten/kota pada tahun 2025 apabila tidak dilakukan intervensi infrastruktur. Diantara kabupaten/kota yang mengalami defisit air tersebut. Pada tahun 2003. (2) Penurunan kinerja infrastruktur sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hasil analisis secara lengkap disajikan pada Buku 2 Identifikasi Masalah Pengelolaan Sumber Daya Air di Pulau Jawa. Kondisi ini semakin diperparah oleh menurunnya daya dukung lingkungan akibat kerusakan catchment area. Hal tersebut juga meningkatkan potensi banjir yang akan mengancam keberlanjutan infrastruktur di Pulau Jawa yang dibangun dengan investasi yang sangat besar. dan pertanian mengalami peningkatan yang signifikan.

(9) Rendahnya kualitas pengelolaan hidrologi. maka perlu dilakukan prakarsa strategis terkait dengan: (i) Penanganan kabupaten/kota yang telah mengalami krisis penyediaan air minum melalui intervensi infrastruktur dan kegiatan terkait. terutama realokasi atau perubahan alokasi untuk pemenuhan kebutuhan irigasi. (5) Kecenderungan bahwa sungai dan badan air lainnya sebagai tempat pembuangan limbah cair yang tidak terolah dan sampah menjadikan air permukaan yang terbatas tidak layak dipergunakan untuk air minum. Prakarsa strategis ini membutuhkan kajian mendalam dan spesifik lokasi untuk menemukan sumber-sumber penyediaan air baru maupun mengoptimalkan penggunaan sumber air yang ada bagi kabupaten/kota yang defisit air tinggi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air. 3-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan ketatalaksanaan. penurunan kapasitas pengaliran sungai. (11) Masih lemahnya pengelolaan database sumber daya air. kelembagaan. dan penurunan kinerja prasarana pengendali banjir. (4) Kualitas air yang rendah karena daya dukung sungai lebih rendah dibanding beban pencemaran. khususnya untuk irigasi di Pulau Jawa. (6) Banjir akibat perubahan tata lingkungan. keperluan adanya institusi untuk menjawab permasalahan yang berkembang. (3) Eksploitasi air tanah yang berlebihan mengakibatkan penurunan muka air tanah. Dengan kondisi defisit seperti ini maka diperlukan juga kajian mendalam tentang kemungkinan dilaksanakannya perubahan dan penyesuaian alokasi antar kebutuhan atau realokasi. (10) Belum semua wilayah sungai memiliki masterplan atau perlu diperbaharui. dan (ii) Penyesuaian kembali alokasi air antar jenis kebutuhan atau realokasi air. (12) Lemahnya koordinasi. dan intrusi air laut. (8) Kekeringan/defisit air di musim kemarau. (7) Meningkatnya kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan air. land subsidence. sehingga mengurangi secara signifikan ketersediaan air untuk kebutuhan air minum. Dengan adanya defisit air di sebagian besar kabupaten/kota dan bahkan tidak dapat memenuhi kebutuhan air minum. dan (13) Meningkatnya potensi konflik pemanfaatan air. baik melalui demand management maupun supply management serta peluang dilaksanakannya inter basin transfer.

3-3 3. Dalam hal ini masingmasing sektor berjalan sendiri tanpa mempertimbangkan akibatnya terhadap sektor yang lain. Disamping itu diperlukan diperlukan cara olah tanah dan tata tanam yang lebih hemat air. dari pengguna air ke pengelola air tingkat setempat/lokal ke struktur pengambilan keputusan tingkat wilayah sungai dan tingkat nasional. Permasalahan-permasalahan yang menimpa sumber daya air dan lingkungan pendukungnya seperti diatas disebabkan oleh penanganan yang terfragmentasi baik dalam perencanaannya maupun pelaksanaannya. serta antarsektor. antar wilayah. kelembagaan dan perangkat manajemen telah direkomendasikan para ahli SDA dalam World Water Forum (WWF) II dan WWF III sebagai pendekatan yang tepat dalam menghadapi tantangan dalam LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . antara hulu dengan hilir. Diperlukan komunikasi dan dialog antar berbagai tingkat pengambilan keputusan.2 KEBUTUHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR YANG TERPADU.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Konsekuensi logis perubahan alokasi tersebut adalah berkurangnya pasokan air untuk pemenuhan irigasi sehingga tanpa adanya perubahan teknologi maka akan mengurangi luas areal layanan (command area) dan produktifitas tanaman. Untuk itu diperlukan pendekatan terpadu yang memperhatikan keseimbangan antara pendayagunaan dan konservasi. berumur lebih pendek. Untuk itu diperlukan strategi kebijakan baru dalam pengembangan irigasi di Pulau Jawa yang mempertimbangkan fenomena defisit air dan kebutuhan bahan pangan serta infrastruktur irigasi yang telah dibangun. Dengan adanya penghematan air untuk irigasi (sebagai pengguna air yang terbesar) maka kelebihan air tersebut dapat direalokasikan untuk memenuhi kebutuhan lain misalnya untuk air minum dan air perkotaan yang permitaannya semakin meningkat. produktivitas lebih tinggi serta tetap mempunyai rasa yang enak. Prinsip dan proses ”Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air” (Integrated Water Resources Management) yang mencakup aspek kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Perubahan atau inovasi teknologi yang diharapkan adalah ditemukannya varietas padi unggul yang hanya memerlukan lebih sedikit air.

1 Program Jangka Pendek Program jangka pendek pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1. dilakukan integrasi program secara menyeluruh melalui perpaduan antara faktor internal dan eksternal. 3. Lembaga Pengelolaan Sungai. dan lainnya. tugas. termasuk strategi dalam melaksanakannya. Lembaga Pengelolaan Air Baku dan Air Minum.3 PROGRAM PRIORITAS Berdasarkan klasifikasi pada tahapan sebelumnya.3. Penataan kembali hubungan kerja sesuai wewenang. 4. RKP dan RKAKL Bidang Sumber Daya Air untuk Pemerintah Pusat dan Propinsi di Pulau Jawa. 3. Integrasi program ini sesuai dengan prioritas penanganan dalam jangka waktu yang ditentukan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pengelolaan SDA pada abad ke 21 yang diwarnai dengan peningkatan kebutuhan akan sumber daya air dan sumber daya alam lainnya. Secara lengkap hasil integrasi program tersebut dijelaskan pada uraian selanjutnya. meningkatnya kompetisi masyarakat penggunaan tentang air yang dominan serta meningkatnya tuntutan ”good akan reformasi institusi untuk pelaksanaan 3-4 governance”. Fasilitasi pembentukan lembaga pengelola air oleh masyarakat seperti P3A. Renstra. Sinkronisasi Kebijakan dan Program antara RPJM. Posko Swadaya Banjir. 2. dan fungsi instansi-instansi yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air di Pusat LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Lembaga Pengelolaan Sumber Air. 3.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Penyusunan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU No.

5. 3. Pelaksanaan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU Sumber Daya Air No. 6.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dan Daerah berlandaskan pada UU No. 5. RKP dan RKAKL Bidang Sum ber Daya Air untuk Pemerintah Pusat dan Propinsi di Pulau Jawa. Pembentukan lembaga koordinasi pengelolaan sumber daya air (Dewan Sumber Daya Air) dan penyempurnaan kelembagaan pengelola air di Pulau Jawa sesuai kewenangan pusat dan daerah. Penyusunan dan penyempurnaan pola dan rencana induk pengelolaan wilayah sungai sebagai dasar konservasi dan pendaya gunaan sumber daya air di wilayah sungai. Renstra. Pelaksanaan pembangunan infrastruktur skala besar. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sedang dan kecil untuk mengatasi banjir dan memenuhi kebutuhan air baku untuk berbagai keperluan di kota besar dan wilayah strategis serta daerah perdesaan di Pulau Jawa. Penertiban kawasan hulu dan wilayah bantaran sungai sesuai ketentuan penataan ruang oleh Pemerintah Daerah dengan dukungan dari Pemerintah. Melaksanakan ”kegiatan percontohan” kegiatan aksi swadaya masyarakat seperti Lembaga Pengelola Sungai untuk melaksanakan gerakan kebersihan sungai untuk mengembalikan sungai kepada fungsinya. 4. 3-5 3. 2.2 Program Jangka Menengah Program jangka menengah pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1.7/2004.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Sinkronisasi Kebijakan dan Program antara RPJM.3.

8. dan memulihkan dampak banjir secara mandiri. Lembaga Pengelolaan Air Baku dan Air Minum. Fasilitasi pembentukan lembaga pengelola air oleh masyarakat seperti P3A. Pengembangan varietas padi unggul yang lebih sedikit mengkonsumsi air. 11. mengingat irigasi untuk tanaman padi adalah pengguna air terbesar. 9. Penerapan teknologi olah tanah dan tanam yang lebih hemat air mengingat irigasi khususnya untuk tanaman padi masih menjadi pengguna air terbesar. penggunaan teknologi olah tanah dan tanam yang lebih hemat air dan diversifikasi tanaman kearah tanaman yang bernilai tinggi tetapi lebih hemat air seperti tanaman sayuran dan buahbuahan dan bunga. 14. Lembaga Pengelolaan Sumber Air. 10. 7. dan lainnya. permukiman (kebutuhan domestik). menanggulangi. 13. Mempromosikan gerakan hemat air disegala bidang penggunaan air termasuk penggunaan untuk pertanian. Melanjutkan upaya penertiban kawasan hulu dan wilayah bantaran sungai sesuai ketentuan penataan ruang oleh Pemerintah Daerah dengan dukungan dari Pemerintah. 3-6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pengembangan teknologi tepat guna pengelolaan sumber daya air melalui dukungan lembaga penelitian dan pengembangan teknologi di Pusat dan Daerah 12. Posko Swadaya Banjir. Pencegahan alih fungsi lahan beririgasi di Pulau Jawa melalui sistem insentif dan disinsentif bagi masyarakat pemilik dan pengelola lahan. berproduktivitas tinggi dan mempunyai rasa yang enak sebagai upaya penghematan air. Mengupayakan realokasi air secara terbatas misalnya misalnya mengadakan realokasi air untuk irigasi tanaman padi untuk kebutuhan air minum pada daerah perluasan permukiman/perkotaan melalui upaya-upaya penggunaan varietas padi yang lebih hemat air. industri dan lain sebagainya. Peningkatan kesiagaan masyarakat di daerah rawan banjir dalam mencegah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 6.

Penataan ruang di kawasan hulu dan hilir berdasarkan pola pengelolaan sumber daya air yang mengacu kepada kelestarian fungsi ekosistem. Penerapan sistem insentif dan disinsentif bagi badan usaha dan industri dalam penggunaan dan pengusahaan sumber daya air. 16. 3-7 3. 2. serta pengendalian pencemaran air. Penataan wilayah bantaran sungai melalui relokasi penduduk secara bijaksana oleh Pemerintah Daerah.3 Program Jangka Panjang Program jangka panjang pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1. Melaksanakan ”kegiatan percontohan” kegiatan aksi swadaya masyarakat seperti Lembaga Pengelola Sungai untuk melaksanakan gerakan kebersihan sungai untuk mengembalikan sungai kepada fungsinya.3. Penataan kembali eksploitasi bahan galian di badan air dan hulu sungai oleh Pemerintah Daerah bersama masyarakat. 20. pengawasan. Pengembangan kapasitas kelembagaan dan aparatur pemerintah di bidang pengelolaan terpadu sumber daya air dalam rangka meningkatkan profesionalisme dan kemampuan teknis dan manajerial. Melanjutkan penyusunan dan penyempurnaan rencana induk (master plan) pengelolaan wilayah sungai dan pengelolaan sumber daya air Popinsi dan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 17. Pengutamaan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air melalui pelibatan dari proses perencanaan. pengambilan keputusan. 3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 15. dan pelaksanaan kegiatan di lapangan. 18. 19.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Melanjutkan pelaksanaan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU No.

6. 10. 12. kabupaten/kota dan wilayah sungai. 9. Transformasi infrastruktur sumber daya air berdasarkan kondisi tata guna lahan terkini untuk mengatur alokasi air sesuai perkembangan kebutuhan penduduk dan industri serta dengan mempertimbangkan kontribusi sektor terhadap PDB. 11. Melanjutkan pelaksanaan pembangunan infrastruktur skala besar yang bersifat multi-guna.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Kabupaten/Kota untuk mengantisipasi kebutuhan air baku dan ancaman banjir serta konservasi ekosistem sumber daya air. 7. 3-8 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pengembangan sistem informasi pengelolaan sumber daya air di tingkat nasional dan daerah untuk menjamin ketersediaan dan kemutakhiran data dasar. Pengembangan kerjasama masyarakat hulu dan hilir dalam pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai berdasarkan prinsip ”hydro-solidarity”. 4. Pengembangan sumber air di tingkat lokal untuk memenuhi kebutuhan air baku penduduk perkotaan dan perdesaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dengan dukungan Propinsi dan Pusat. untuk mengatasi banjir dan pemenuhan kebutuhan air baku untuk berbagai keperluan di kota besar dan wilayah strategis di Pulau Jawa. propinsi. 8. Perencanaan pembiayaan bidang sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan operasi dan pemeliharaan dan investasi baru penyediaan infrastruktur bidang sumber daya air dengan dukungan badan usaha dan masyarakat dengan pola kemitraan antara pemerintah dengan swasta. Pengembangan kerjasama dan integrasi kegiatan antara lembaga koordinasi pengelolaan sumber daya air (Dewan Sumber Daya Air) di tingkat nasional. Pengembangan konservasi air di wilayah hulu dan gerakan hemat air di hilir bersama masyarakat dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan air. Pengembangan upaya-upaya peningkatan peresapan air dengan pengunaan teknik-teknik ”pemanenan air hujan” (rain water harvesting) diantarnya sumur dan waduk/embung resapan dan sebagainya. 5.

15. Pengaturan kembali pemanfaatan kawasan hulu Daerah Aliran Sungai untuk hutan produksi dan perkebunan berdasarkan pola konservasi sumber daya air. Pelibatan badan usaha dalam pola kemitraan antara pemerintah dan swasta (public private partnership) dalam pengusahaan sumber daya air dan pengembangan investasi baru infrastruktur sumber daya air. 14. 17. 18. Penataan dataran banjir. 19. Pemulihan catchment area Daerah Aliran Sungai melalui reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis bersama masyarakat. 3-9 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 16. Pemulihan kualitas air dan pengendalian pencemaran air di sumber-sumber airdan badan air di wilayah perkotaan dan industri. Penataan ekstraksi air tanah oleh intansi yang berwenang dan masyarakat sesuai kemampuan pemulihan cadangan air tanah di wilayah rawan kekeringan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 13. dan kawasan green belt dalam rangka mencegah kerusakan dan penurunan kinerja infrastruktur sumber daya air. sempadan sungai. Penyadaran publik dan peningkatan kepedulian masyarakat terhadap pemulihan kondisi dan upaya mempertahankan kualitas air di sumber air dan badan sungai.

serta 5. Berkaitan dengan itu terdapat 5 strategi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. Diperlukan penyusunan ”Rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air” sebagai peta langkah (road map) dari rencana tindak yang mencakup aspekaspek kebijakan dan peraturan dan perundang-undangan. 2. pendayagunaan. memantau. yaitu: 1. Oleh karena itu strategi pengelolaannya pun harus mencakup seluruh aspek pengelolaan tersebut. Strategi kelembagaan dan koordinasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 4-1 Pengelolaan sumber daya air merupakan upaya untuk merencanakan. 4. dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi dan pendayagunaan sumber daya air. Strategi implementasi 2. melaksanakan. Secara lebih terinci rumusan strategi dimaksud diuraikan sebaga berikut.1 RUMUSAN STRATEGI IMPLEMENTASI Strategi implementasi merupakan panduan dan kaidah pokok dari pelaksanaan keempat strategi lainnya. Strategi struktur 4. dan pengendalian daya rusak air yang dapat menyeimbangkan laju pembangunan dan pemulihan kondisi lingkungan di LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Penetapan kebijakan terpadu lintas sektor yang mencakup aspek-aspek konservasi. Strategi pembiayaan.Strategi implementasi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa adalah sebagai berikut: 1. Strategi non-struktural 3. serta pengendalian daya rusak air. kelembagaan dan perangkat manajemen dalam pengkoordinasian pembangunan dan pengelolaan sumber daya air.

melalui sistem insentif dan disinsentif oleh Pemerintah Daerah. terutama pada kawasan industri dan perkotaan. Upaya mempertahankan Pulau Jawa sebagai lumbung pangan nasional melalui pencegahan laju konversi dan optimalisasi lahan beririgasi yang telah ada. Penghentian perusakan fungsi kawasan lindung dan daerah tangkapan air di bagian hulu Daerah Aliran Sungai dan melakukan rehabilitasi daerah tangkapan air dengan penghijauan. 7. 4. penataan dan penertiban dataran banjir. Kebijakan ini disertai upaya peningkatan kesadaran masyarakat dalam penghematan air dan pelestarian fungsi lingkungan. pengolahan tanah yang sesuai dengan upaya konservasi air dan tanah. pembuatan sumur dan waduk/embung resapan serta pelaksanaan upaya-upaya pemanenan air hujan dengan melibatkan para pelaku perusakan dan masyarakat yang terkena dampak. dan perdagangan serta penyediaan bangunan penampung air berskala kecil 4-2 untuk memenuhi kebutuhan air baku daerah perdesaan yang dikelola di tingkat lokal. Pengendalian pencemaran dan pengelolaan kualitas air pada sumber air dan badan air. 3. Kebijakan ini akan ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010 – 2015 serta peraturan perundangan terkait lainnya. 8. serta peningkatan efisiensi penggunaan air. Penanggulangan bencana banjir melalui intervensi infrastruktur (skala besar) guna melindungi kawasan yang telah berkembang terutama kota-kota besar.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Pulau Jawa. 5. Penyediaan air baku berskala besar di Pulau Jawa untuk kawasan-kawasan strategis seperti daerah perkotaan dan permukiman. serta dengan melibatkan para pelaku pencemaran dan masyarakat yang terkena dampaknya. terutama yang bersifat lintas sektor dan lintas wilayah. sesuai rencana induk pengelolaan wilayah sungai LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Upaya ini harus diiringi dengan pemulihan kondisi catchment area yang dilakukan bersama masyarakat. Pengelolaan terpadu daerah aliran sungai. dan pengendalian tata ruang di Pulau Jawa. 6. serta pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana drainase yang memadai. industri.

dan/atau LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . tanpa menitikberatkan pada pembuatan bangunan fisik secara signifikan. serta pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air 2. pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air.2.2 STRATEGI KEBIJAKAN NON-STRUKTURAL Strategi non-struktural sangat penting dalam kaitannya dengan kegiatan untuk menjaga keberadaan sumber daya air. 7 Tahun 2004. perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air. g. pengaturan prasarana dan sarana sanitasi. Konservasi dilakukan sesuai dengan pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. rehabilitasi hutan dan lahan. pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu. e. 5. pengawetan air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA terkait yang didukung oleh peraturan perundangan serta sistem pengawasan bersama masyarakat. pengaturan daerah sempadan sumber air. b. h. Upaya konservasi dilakukan melalui kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber air. 4. pengendalian pemanfaatan sumber air. c. f. Ketentuan konservasi sumber daya air dijadikan sebagai salah satu acuan penting dalam perencanaan tata ruang wilayah. 4. d. beberapa kebijakan/strategi non-struktural berkaitan dengan konteks konservasi SDA adalah: 1. 3. pengisian air pada sumber air. Perlindungan dan pelestarian sumber daya air dilakukan melalui: a. Tujuan perlindungan dan pelestarian sumber air adalah untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan keberadaannya. dari segi jumlah maupun kualitasnya.1 Strategi Menurut Undang-undang Sesuai dengan UU No. 4-3 4.

b. dan kawasan pelestarian alam. sistem irigasi. mengendalikan penggunaan air tanah. kawasan pelestarian alam. menghemat air dengan pemakaian yang efisien dan efektif. ekonomi. kawasan suaka alam. Konservasi sumber daya air dilaksanakan pada sungai. maka kebijakan nonstruktural di bidang pengelolaan sumber daya air perlu diintegrasikan ke dalam peraturan-peraturan yang bersifat lebih operasional dan rencana strategis yang didasarkan pada kebijakan masing-masing daerah. daerah tangkapan air. Muatan yang mendukung pengelolaan sumber daya air secara otomatis harus menjadi salah satu acuan dalam menyusun program dan kebijakan yang akan diterapkan. 10. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilaksanakan secara vegetatif dan/atau sipil teknis melalui pendekatan sosial. 6. Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air ditujukan untuk mempertahankan dan memulihkan kualitas air yang masuk dan yang ada pada sumber-sumber air. dan budaya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA i. pemerintah juga menyediakan sistem informasi sumber daya air yang pelaksanaannya dilakukan sesuai tingkat kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. 4-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pengawetan air dilakukan dengan cara: a. menyimpan air yang berlebihan di saat hujan untuk dapat dimanfaatkan pada waktu diperlukan. 8. rawa. Pengendalian pencemaran air dilakukan dengan cara mencegah masuknya pencemaran air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. dan kawasan pantai. pelestarian hutan lindung. kawasan suaka alam. danau. dan/atau c. 7. 9. waduk. Mengacu pada kebijakan yang telah digariskan di atas. Selain itu untuk mendukung pengelolaan yang terintegrasi. cekungan air tanah. kawasan hutan. Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan cara memperbaiki kualitas air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. 11.

Keberhasilan pengelolaan akan sangat ditentukan oleh hal ini mengingat kelancaran suatu proses untuk mencapai tujuan dari kebijakan akan membutuhkan kedisiplinan dalam pelaksanaan. Berberapa langkah ang dapat dilakukan untuk mendukung hal ini adalah dengan: a. 4-5 4. 50% di tahun 2025. Kriteria luas tutupan perlu dibuat oleh instansi yang berwenang d. perlu pula adanya dukungan dari perangkat hukum dan penegakannya. Menetapkan dan membina pengelolaan kawasan hutan di daerah tangkapan air hujan. Menetapkan air. dengan persentase tutupan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Pelaksanaan kebijakan tidak dapat terlaksana tanpa adanya perangkat hukum yang berwibawa dengan dukungan aparat penegak hukum. Mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi sumber daya air dengan target minimal 25% tiap 5 (lima) tahun. memulihkan dan mempertahankan daya dukung.2. b.1 Mempertahankan Daerah Aliran Sungai Konsepnya adaklah dengan meningkatkan.2 Strategi Konservasi Sumberdaya Air 4. dan fungsi daerah aliran sungai untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sebagai kelanjutan program dan kebijakan yang bersemangatkan pengelolaan sumber daya air. dengan target minimal 12. serta menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan. Merehabilitasi hutan dan lahan kritis seluas 43 juta ha dengan prioritas di 142 DAS kritis. Yang dimaksud dengan prasarana dan dan sarana konservasi sumber daya air LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa dan mengelola daerah resapan air dalam rangka mengupayakan peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak . daya tampung.2. karenanya jaminan dari perangkat hukum sangat dibutuhkan. 25% di tahun 2015. c.5% di tahun 2010.2.

daya tampung. Melakukan pengendalian pengambilan air tanah secara ketat dengan prioritas pada cekungan-cekungan air tanah yang sudah kritis dan kawasan karst dengan membatasi pengambilan hanya sebesar batas aman (safe yield). e. danau. embung. dll. c. b.2. d. situ. embung. rawa. memulihkan dan mempertahankan daya dukung. 41 tahun 1999 tentang kehutanan pasal 50 ayat (3) butir c. situ/embung dan mata air dengan aturan yang sesuai dengan penetapan kawasan sabuk hijau sesuai dengan undang-undang UU No. teknik pemanenan hujan. situ. guna kepentingan pelestarian lingkungan sekitar mata air. dan fungsi sumber daya air untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. waduk. ground sill. rawa ) dan pengawetan air berupa pembangunan antara lain: waduk dan embung. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pengembangan sabuk air di sekitar mata air antara lain dapat dilakukan dengan mengembangkan arboretum.2 Mempertahankan Sumber Daya Air Konsepnya adalah dengan meningkatkan. rawa. check dam.2. 4-6 4. teras bangku. waduk dengan prioritas daerah pemukiman dengan target 15% tiap 5 (lima) tahun.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA adalah small and medium pond. Sabuk hijau dikenal juga sebagai lajur pepohonan di sekeliling wadah air. Menetapkan dan mengelola kawasan danau. sumur resapan. Upaya penyediaan sebagai pengganti pengambilan air tanah dapat dilihat pada langkah penyediaan air. Aplikasi dari strategi ini dapat dilakukan dalam beberapa langkah konkret sebagai berikut: a. Meningkatkan upaya pemeliharaan sumber air (antara lain : danau. Menyempurnakan pedoman penetapan batas semadan sumber air Menetapkan daerah batas sempadan sungai.

4-7 f.2. Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air dan kegiatan penambangan lainnya. Untuk mengembalikannya perlu tindak pengolahan air yang membutuhkan sejumlah biaya yang pada akhirnya akan menambah biaya operasional. Menetapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya sebagai instrumen untuk mendorong pengendalian pencemaran air dan meningkatkan pengelolaan kualitas air kepada para pecemar. b.2. Menerapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya sebagai instrumen untuk mendorong pengendalian pencemaran air dan meningkatkan pengelolaan kualitas air kepada para pecemar. Menurunnya kualitas air mengakibatkan kesulitan karena berkurang atau hilangnya manfaat yang diharapkan dari air bersangkutan. Mendorong dan mengupayakan pembangunan sistem pengelolaan limbah cair komunal di kawasan pemukiman dan kawasan industri. Menetapkan baku mutu limbah cair yang diperkenankan dibuang kedalam sumber air/badan air. 4. Mempertahankan kualitas air dilakukan dengan menerapkan beberapa strategi berikut: a. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . c. Menetapkan kawasan reklamasi rawa dengan ketebalan lahan gambut lebih dari 3 meter sebagai kawasan rawa konservasi. Mengelola daerah sempadan sumber air sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh menteri yang membidangi sumber daya air. d. g.3 Mempertahankan Kualitas Air Konsepnya adalah dengan memulihkan dan mempertahankan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA e.

g. pengenceran. secara biologi.recycle) 4-8 f.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA e. reuse. Membangun sistem pemantauan kualitas air pada sumber air dan kualitas limbah cair secara berkelanjutan. Menegakkan hukum yang tegas bagi pelanggar ketentuan kualitas serta sistem penerapan insentif-disinsentif pengelolaan sumber daya air dan lingkungan dengan target minimal selesai tahun 2015. h. Memperbaiki kualitas air pada sumber air dengan cara antara lain: aerasi. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Membangun bangunan penahan intrusi air laut di kawasan pantai dan mengendalikan penggunaan air tanah guna menghindari intrusi air laut. Mendorong upaya pengawetan air melalui pembudayaan prinsip 3 (tiga) R (reduce. i.

Yogyakarta # K. 9 L nd: ege G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E SI A NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT M N : ap o M Title : ap Gambar 4. Semarang Y # Blora SWS 0210 SWS 0215 Lamongan # Sumenep Gresik # Sampang Pamekasan # # Sapudi Is. Sukabumi # BANDUNG Sumedang Majalengka Brebes Kuningan Pekalongan Pemalang # # SWS 0205 Kudus Rembang Tuban # # # Y # K. Cilegon # # 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' Bawean Is.it ra St nd a Su BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 0' Kepulauan Seribu K. River. Depok Panaitan Is.Bakosurtanal. Ba l i St r a i t # Mojokerto SWS 0212 Madiun Jom bang # # K. 1 : 250 000 Scale (Coastline. Salatiga # WonosoboSWS 0211 Sragen # Boyolali K. Bekasi # # # Krakatau Serang 6 Bekasi Karawang Ja va Se a Y # U % SWS 0204 Indramayu # # # Banten Province # # K. Bandung Tegal Grobogan Bojonegoro Ngawi # # # SWS 0208 Batang # # # SEMARANG # Madura Is. Magelang Banjarnegara # # K. Kediri # Bantul Probolinggo SWS 0213 Kulonprogo # # Wonogiri K. 1 Susunan Wilayah Sungai yang sudah ada. Madiun # East Java Province # Situbondo # Sukoharjo Purworejo K. Y # SURABAYA K. Lake) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa eptem 2004 ber :S BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4-9 . D ate A5 C piledb : om y G Operator: IS CORRELATION BETWEEN AMINISTRATION AND WATERSHED (SWS BOUNDARIES ) S rce : ou . Jakarta Bay Tangerang JAKARTA TANGERANG K. Blitar # Lumajang # Pacitan # SWS 0214# Malang Yogyakarta Special # # Trenggalek Tulungagung Blitar Province Jember Banyuwangi 8 I ndi an Oce an Nusa Barung Is. Malang Ponorogo # Bondowoso # Gunungkidul # K. Tegal K. Pekalongan # # # # K. Surakarta Magelang # Nusakambangan Is. Pasuruan # Karanganyar Nganjuk # # Sleman Klaten # Magetan K. Mojokerto # # # 7 SWS 0203 SWS 0207 Purbalingga # Central Java Province Temanggung Semarang Tasikmalaya Banyumas Ciamis Cilacap Kebumen # # # SWS 0209 # Garut Sidoarjo Ma du r a St r ai t SWS 0206 # K. Bangkalan # Pelabuhan Ratu Bay Sukabumi Cianjur Bandung # # # Demak Kendal K. Probolinggo Pasuruan # Kediri Y # YOGYAKARTA # # # K. SWS 0202 Purwakarta # # SWS 0201 Lebak Bogor Subang Jepara Cirebon # Pandeglang West Java Province # # Pati K.

3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Kab. Kabupaten Serang dan Kabupaten/Kota Tangerang. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Ciujung-Ciliman diuraikan pada Tabel 4.1 Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman Sungai-sungai yang mengalir di WS Ciujung-Ciliman berhulu di gunung karang dalam wilayah administratif Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang. Kab.000 Ha.1 STRATEGI KEBIJAKAN STRUKTURAL Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang Sudah Ada 4-10 4. Diantara DAS tersebut di atas yang menjadi prioritas adalah DAS Ciujung dan DAS Cidanau. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Ciujung-Ciliman adalah : DAS Ciujung.Lebak. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .Bogor. dan Kab.1. DAS Ciliman. DAS Cidanau merupakan salah satu sumber air yang vital bagi masyarakat Kabupaten dan Kota Cilegon dan diarahkan untuk mensuplai keberlangsungan Waduk Krenceng. Kab. Selain itu DAS Ciujung berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang akan diarahkan untuk mensuplai air bagi Waduk Karian. DAS Cidanau.1. DAS Cibante dan DAS Cibungur.Serang. serta bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Serang.3.Pandeglang. meliputi wilayah administratif: Kota Cilegon. Keutuhan dan kemantapan fungsi cathment area DAS Ciujung sangat penting sebagai sumber air bagi daerah-daerah seperti Kabupaten Lebak.3 4. Luas wilayah sungai Ciujung-Ciliman sekitar 473.

Jakarta Timur. Tangerang.Wiru dalam wilayah administratif Kabupaten Bogor. 1 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciujung Ciliman NO. penyedia air baku untuk daerah Tangerang dan DKI Jakarta dengan menggunakan saluran irigasi Cidurian atau dengan saluran lternative KarianTanjung-Serpong (KTS) menambah persediaan air rumah tangga. Jakarta Pusat.Kendeng dan G. Bekasi.1. Kab. DAS Cisadane.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Bekasi. DAS Sunter. Kab. Kab. Kota Bekasi. Sukabumi. Jakarta Selatan. Lebak. Cilemer kiri seluas 500 ha. Kab. Kota Tangerang. Bendung Karet Cisangkuy Long Storage Sungai Ciujung Bendung Tipe Gergaji di Sungai Cibama Bendung Karet Cibungur Bendung dan Bendung Karet Ciseukeut 4.2 Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Sungai-sungai yang mengalir di WS Ciliwung-Cisadane berhulu di G. Serang. DAS Ciliwung.3. DAS Pesanggrahan. perkotaan dan industri untuk wilayah Serang dan Jabotabek dengan menggunakan saluran Karian-Tanjung-Serpong (KTS). perkotaan dan industri untuk kebutuhan Tangerang lewat KSCS mengambil alih fungsi Waduk Karian untuk mensuplai air irigasi ke daerah irigasi Ciujung suplesi air irigasi DI. Kota Bogor. Kota depok. Kab. penyedia air baku untuk kecamatan Banjarsari dan sebagai waduk pengendali banjir pemenuhan kebutuhan air baku Jabotabek 4-11 2 Waduk Tanjung Sungai Cidurian 3 4 5 Waduk Cilawang Waduk Pasirkopo Waduk Cimalur Sungai Ciujung Sungai Ciujung Desa Cibatur Keusik Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak Sungai Cisemeut 6 7 8 9 10 11 12 13 Waduk Bojongmanik Bendung Anyer Bendung Karet Cikoneng. Bogor. dan DAS Cikarang/Cipamingkis. Luas wilayah sungai Ciliwung–Cisadane sekitar 4355 Km² dan meliputi wilayah administratif kabupaten / kota sbb : Jakarta Barat. 1 KEGIATAN Waduk Karian LOKASI Hulu Sungai Ciujung MANFAAT & PENJELASAN Penyedia air rumah tangga. Jakarta Utara. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kab. WS Ciliwung-Cisadane mencakup wilayah DAS Cidurian.

sehingga mempercepat aliran permukaan.Bekasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Meningkatnya puncak banjir dari DAS bagian hulu akibat meningkatnya urbanisasi dan hilangnya daerah resapan air Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Ciliwung-Cisadane diuraikan pada Tabel 4. dan relatif terkena dampak aliran balik dari laut. floodway.2. Untuk itu perlu meningkatkan kapasitas drainase yang saat ini belum memadai. sungai dan berbagai saluran utama telah mengalami pengurangan kapasitas akibat terjadinya agradasi dasar sungai. Meningkatnya proporsi luas permukaan tanah yang tidak lolos air yang berakibat pada infiltrasi yang semakin mengecil. Hal ini merupakan permasalahan yang cukup pelik di beberapa tahun terakhir ini. Kondisi ini merupakan kombinasi dari berbagai akibat yang ditimbulkan oleh : 1.000 ha terletak 2 m dibawah permukaan air laut). 2 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciliwung-Cisadane NO.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Saat ini banjir sering terjadi pada DAS Ciliwung. khususnya di wilayah Jakarta bagian hulu. Amblesan tanah khususnya di wilayah Jakarta bagian utara yang disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebih. Selain itu Waduk Ciawi juga dapat berfungsi sebagai penyedia air untuk Kota Bogor dan DKI Jakarta serta sebagai sumber air untuk penggelontoran Sungai Ciliwung di musim kering penyedia air baku ke daerah Bogor dengan cara gravitasi penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta memenuhi kebutuhan air di Kota dan Kabupaten Bogor mengalihkan debit banjir dari Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane guna pengendalian banjir di DKI Jakarta memenuhi kebutuhan air Jabotabek 4-12 2 3 4 5 6 7 Waduk Genteng Waduk Parung Badak Waduk Sodong Salak Contour Canal Ciliwung Floodway Tunnel Peningkatan Kanal Tarum Barat Sungai Cisadane tengah Sungai Cisadane hilir Sungai Cikaniki sekeliling Gunung Salak Kota Bogor Karawang . Terabaikannya pemeliharaan fasilitas drainase yang ada. khususnya pada saat pasang 2. wilayah ini terletak pada daerah yang rata dan rendah (kurang lebih 15. 1 KEGIATAN Waduk Ciawi LOKASI Hulu Sungai Ciliwung MANFAAT & PENJELASAN Mengurangi debit banjir Sungai Ciliwung di Kota Bogor. Tabel 4. 3. 4.

G. Luas wilayah SWS Cisadea – Cikuningan sekitar 37. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. DAS Cimangur dan DAS Cibareno. Tangerang DKI Jakarta Kota Bogor. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Cisadea-Cikuningan diuraikan pada Tabel 4. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Sunter. DAS Ciletuh. Normalisasi alur sungai 17 km. Mookervaart Banjir Kanal Barat/ Ciliwung Banjir Kanal Timur.Patuha. G.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.3. Sungai-sungai tersebut bermuara di Samudera Indonesia di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi. Normalisasi alur sungai 50 km. Jakarta DKI Jakarta Kab.327 Km² dan meliputi 4 wilayah administratif kabupaten/kota sbb: Kabupaten Cianjur. Kota Sukabumi. Kabupaten Bandung. Tangerang Kab. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Buaran. 8 KEGIATAN Pengembangan Cengkareng Floodway System Sungai Cidurian Sungai Cimanceuri Sungai Cirarab Sungai Cisadane Cengkareng drain. Cipinang. DAS Cipondok. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . G. Normalisasi alur sungai 38 km.3. Banjir. Bekasi LOKASI Cengkareng MANFAAT & PENJELASAN pencegahan banjir dan meningkatkan urban drainage. Pembuatan Sal. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Kali Angke. Normalisasi alur sungai 32 km. Kabupaten Sukabumi. Master Plan 1997 4-13 9 10 11 12 13 14 15 16 Kab. Master Plan 1997 pengendalian banjir. Normalisasi alur sungai 57 km. G. Terowongan 1 km.Pangkulahan. G. Normalisasi alur sungai 22 km. Bekasi DKI 4. DAS Cisadea.Kendeng. DAS Cikaso.Cikuningan adalah : DAS Cimaragang. DAS Cimandiri. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Cisadea . Normalisasi alur sungai 29 km. Cikarang.Talaga. Cakung Banjir Kanal CBL. 2 bh. DAS Cikarang. serta konstruksi Angke Floodway Pengendalian banjir. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Normalisasi alur sungai 22 km.Gede Pangrango serta G.Malabar. DAS Cibuni.Malang.1. Peningkatan fungsi sungai ke hilir dari daerah Angke dan Sungai Pesanggrahan dan Mookervaart Canal. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Tangerang Kab.3 Wilayah Sungai Cisadea-Cikuningan Sungai sungai yang ada di WS Cisadea – Cikuningan terutama berhulu dari beberapa mata air yang ada di G. Tangerang Kota/Kab.

DAS Pagadungan. dan DAS Kalisewo. Wilayah sungai Citarum meliputi 9 wilayah administrative.410. Berdasarkan data Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Propinsi Jawa Barat luas wilayah sungai Citarum adalah 11. yaitu: Kota Bandung.Cikapundung dan S. DAS Ciasem. Panjang sungai Citarum sekitar 315 km. Cibareno dan Sawarna Cikamayapan. Kabupaten Sumedang. Kota Cimahi. Kabupaten Bandung.4 Wilayah Sungai Citarum Sungai Citarum berhulu dari mata air Gunung Wayang. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .87 Km².3. DAS Cilamaya. Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Karawang. 3 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Cisadea-Cikuningan NO. Kabupaten Purwakarta. 1 KEGIATAN Bendung Cibareno Bendung Cihara Sungai LOKASI Pasir Bungur. dan memiliki tiga anak sungai utama yaitu S.Cisokan. Ciparahu. DAS Cipunagara.1.4. Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Bekasi. Kabupaten Karawang.Cisangkuy. S. Cilograng. Cikatomas.800 ha 4-14 2 Sungai mengairi sawah seluas 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4.000 ha 4. DAS Cinerang. dengan panjang sungai mencapai 315 Km DAS yang termasuk didalam Satuan Wilayah Sungai Citarum adalah : DAS Citarum. Mekarsari dan Karang Kamulyan MANFAAT & PENJELASAN mengairi sawah seluas 2. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Citarum diuraikan pada Tabel 4. Kabupaten Cianjur. Cikarang.

63% pengairan irigasi seluas 5.004 jiwa.67% Mengairi 20. maka Waduk Kadumalik dengan EL + 294 dapat menjadi lternative cadangan utama Potensi listrik sebesar 86.65 %). potensi listrik 6.000 MWh. 4 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citarum NO. potensi listrik sebesar 2. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung pengairan irigasi seluas 68. Nilai ekonomi proyek IRR 7.102.872 MWh dan penyediaan air baku untuk 22. nilai ekonomi proyek IRR 6. pengairan irigasi seluas 18. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air rumah tangga. Garut Kadipaten Majalengka Majalengka Kuningan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .639.280 ha. pengairan irigasi seluas 12.07% pengairan irigasi seluas 9. potensi listrik sebesar 1.960 ha. Bandung Kab. Volume tampungan sebesar 50 juta m3. Potensi paling baik untuk dikembangkan karena memiliki nilai EIRR lebih tinggi (17.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.400 MWh dan penyediaan air baku untuk 79.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5.126 jiwa. Volume tampungan sebesar 2.9 GWh dan potensi air baku 915 ha. 1 2 3 4 5 6 KEGIATAN Waduk Naragong Waduk Nameng Waduk Pasiranji Waduk Pangkalan Peninggian Dam Cirata Peningkatan Kanal Tarum Barat atau Pembangunan Kanal Tarum Jaya Waduk Talagaherang Waduk Maya Waduk Bodas Dam Sungai Cilame Dam Sungai Cipunagara Waduk Cipunagara dan bendungan pengatur di Sadawarna Waduk Cibeber Waduk Kandung Pengembangan Sungai Cisangkuy Waduk sungai Cikapundung Waduk Sukawana Sudetan sungai Cibeureum Waduk Bojong Jambu Waduk Jatigede Waduk Cipasang LOKASI Anak Sungai Cileungsi (DAS Bekasi) Sungai Cibeet Cipamingkis Sungai Cibeet Dam Cirata Karawang – Bekasi – DKI Jakarta Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur MANFAAT & PENJELASAN penyedia air baku ke daerah Bogor dengan menggunakan pompa penyedia air untuk areal tambak menampung air dari Sungai Cipamingkis atau dari saluran pembawa penyedia air utama untuk daerah hilir Kanal Tarum Barat secara gravitasi Penyediaan air baku dan tenaga listrik memindahkan air dari wilayah sungai Citarum ke Jakarta 4-15 7 8 9 10 11 12 mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Sungai Cisangkuy Sungai Cikapundung Cimahi Kab.000 Ha lahan irigasi. Garut mengairi sawah mengairi sawah mencukupi kebutuhan air rumah tangga. Nilai ekonomi proyek IRR 12% 22 23 24 25 26 Waduk Cipanas Waduk Ujungjaya Waduk Kadumalik Waduk Pasirkuda Waduk Ciniru Kab.148 ha.4 juta m3. Bandung Kab. Volume tampungan sebesar 395 juta m3. Jika pembuatan Waduk Jatigede di tunda.683 jiwa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Volume tampungan sebesar 71 juta m3. Garut Kab.835 jiwa. Nilai ekonomi proyek IRR 2.

Karawang Kab.405 ha.4 GWh dan potensi air baku 444 ha. potensi listrik 5. Volume tampungan sebesar 35 juta m3. potensi listrik 1.145 ha dan potensi listrik 17.439 ha. Peningkatan Kapasitas System Sungai Citarum Hulu Q5 menjadi Q20. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.275 ha. potensi listrik 8. Normalisasi sungai ± 10 km.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. pengairan irigasi seluas 2. pengairan irigasi seluas 4.56 %. Cikeruh LOKASI Kuningan Kuningan Kuningan Kuningan Garut Garut Cirebon Sumedang Kuningan Kuningan Cirebon Cirebon Cirebon Cirebon MANFAAT & PENJELASAN pengairan irigasi seluas 9. Penyediaan irigasi seluas 24.173 ha.355 ha.275 ha.40 GWh dan potensi air baku 915 ha. pemenuhan kebutuhan air baku dan keperluan irigasi dan perikanan tambak mendukung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Penyediaan irigasi seluas 6. pengendalian banjir dan pengamanan pantai 4-16 41 42 43 44 45 46 47 48 Indramayu Cirebon Kab. pengairan irigasi seluas 8. potensi listrik 1. pengairan irigasi seluas 8. Karawang Rehabilitasi Irigasi Kab. Subang Rehabilitasi Irigasi Kab.6 GWh dan potensi air baku 298 ha. Penyediaan irigasi seluas 12. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.439 ha.153 jiwa. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pengairan irigasi seluas 4. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. potensi listrik 0. Normalisasi sungai ± 5 km.982 ha. Nilai ekonomi proyek IRR 12.7 GWh dan potensi air baku 1. Bekasi Rehabilitasi Irigasi Kab.70 GWh dan potensi air baku. Cimande Pekerjaan Konstruksi S. Indramayu S. Citarik Hulu Pekerjaan Konstruksi S.000 ha.468 Ha sawah dan ± 750 Ha tambak). Penyediaan irigasi seluas 19. potensi listrik 3.16% pengairan irigasi seluas 9. pengairan irigasi seluas 600 ha.275 ha dan potensi air baku 828 ha. pengairan irigasi seluas 8. Sampai dengan Jalan Raya Bandung-Tasik ± 5 km. memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu-Cirebon (± 4. 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 KEGIATAN Waduk Cimulya Waduk Gunungkarung Waduk Manenteng Waduk Pecang Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk Seuseupan Waduk Cihirup Waduk Mangit Waduk Ciwaru Waduk Cihowe Waduk Dukuh Badag Waduk Cileuweung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Long Storage Indramayu Pengembangan 6 Embung Rehabilitasi Irigasi Kab. potensi listrik 10.2 GWh dan potensi air baku 444 ha. pengairan irigasi seluas 10. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.530 ha. potensi listrik 0.210 ha.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10.017 ha. Bekasi Kab.20 GWh. Citarik Hulu Pekerjaan Penyempurnaan Flood Warning System Peningkatan Kapasitas Sungai Pekerjaan Konstruksi S.1 GWh dan potensi air baku 60 ha. Indramayu 49 50 51 52 Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.7 GWh dan potensi air baku.3 GWh dan potensi air baku 828 ha. Nilai ekonomi proyek IRR sebesar 22.004 jiwa. Normalisasi sungai ± 5 km. Subang Kab. pengairan irigasi seluas 8. potensi listrik 11. pengairan irigasi seluas 12.145 ha. pengairan irigasi seluas 9.

dari mata air yang berasal dari G. Kabupaten Majalengka. 1 KEGIATAN Waduk Jatigede LOKASI Sumedang MANFAAT & PENJELASAN Irigasi seluas 90.126 jiwa. DAS yang termasuk kedalam WS CimanukCisanggarung adalah DAS Cimanuk.004 jiwa.3 jt m3. volume tampungan 2. Kabupaten Indramayu.1 juta m3 Irigasi seluas 4.1 GWh dan air baku 60 ha.2 GWh dan potensi air baku 444 ha.Malabar. potensi listrik terpasang187 MW dan penyediaan air baku untuk 22. G.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. DAS Cimanggung. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Cimanuk-Cisanggarung diuraikan pada Tabel 4.Jamblang Waduk Cipasang Waduk Cihowe Kuningan Majalengka Indramayu Cirebon Indramayu Kuningan Cirebon Garut Cirebon LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan DAS Kali Jurang Jero. 4-17 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waduk Cipanundan Waduk Cilutung Waduk Cipanas Waduk Sarwadadi Long Storage Indramayu Waduk Bojong Waduk Brahim Waduk Cimulya Long Storage K. DAS Bangkaderes. DAS Cisanggarung.468 ha.960 ha.000 ha. Memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4.5.Guntur dan G.27 juta m3 Irigasi seluas 9. DAS Cipanas. Irigasi seluas 600 ha. Luas wilayah WS Cimanuk – Cisanggarung adalah 6932. tambak 750 ha ).1.36 juta m3 Volume tampungan : 0. 5 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Cimanuk-Cisanggarung NO. DAS Ciwaringin.Cakrabuana dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon. Kabupaten Sumedang. Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon. volume tampungan sebesar 395 juta m3. meliputi 7 wilayah administrative.683 jiwa. potensi listrik 0. yaitu: Kabupaten Garut. Tabel 4.5 Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung Sungai Cimanuk berhulu di wilayah administratif Kabupaten Garut . maka Waduk Cilutung dengan El + 294 dapat menjadi alternatif cadangan utama Irigasi seluas 12. jika Waduk Jatigede ditunda. Volume tampungan sebesar 395 jiwa. Irigasi seluas 18.7 jt m3.Cirebon ( sawah 4. volume tampungan 1.Mandalawangi. potensi listrik 0. Harga tampungan per m3 rendah (Rp 650/m3) Volume tampungan netto 796. DAS Pangkalan. DAS Cilalanang. G. Irigasi seluas 20. Kabupaten Kuningan.145 ha.439 ha.76 Km².3. Irigasi seluas 500 ha dan penyediaan air baku 300 kk Pemenuhan kebutuhan air irigasi dan perikanan tambak Volume tampungan : 0. potensi listrik 4. potensi listrik terpasang 110 MW dan penyediaan air baku untuk 79. Kuista .5 GWh dan potensi air baku 915 ha dengan volume tampungan sebesar 35 juta m3.000 ha.

Kabupaten Tasikmalaya.000 ha dan penyediaan air baku 175 juta m3. Irigasi seluas 2.145 ha dan potensi listrik 17. Irigasi seluas 10.275 ha. dan Kabupaten Ciamis. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Citanduy-Ciwulan diuraikan pada Tabel 4.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5.7 GWh dan air baku 828 ha.3.173 ha potensi listrik 10.6. volume tampungan 78 jt m3.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.000 MWh dengan volume tampungan 2.996 Km² dan meliputi wilayah administratif Kabupaten Garut. DAS Cipatujah. DAS Ciwulan.7 GWh dan potensi air baku 1017 ha dengan volume tampungan 69 juta m3.835 jiwa dengan volume tampungan 71 juta m3. Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut. volume tampungan 32 jt m3.6 GWh dan potensi air baku 298 ha. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Citanduy-Ciwulan adalah : DAS Citanduy. 4-18 4. Galunggung dan G. Kota LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .275 ha.4 juta m3 .153 jiwa .6 Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan terdiri beberapa sungai yang berhulu terutama dari mata air yang berasal dari G. Karung Waduk Maneungteung Waduk Pecang Waduk Seuseupan Waduk Masigit Waduk Ciwaru Waduk Dukuh Badag LOKASI Kuningan Sumedang Majalengka Garut Garut Kuningan Kuningan Kuningan Cirebon Kuningan Kuningan Kuningan MANFAAT & PENJELASAN Irigasi seluas 8. DAS Cimedang.275 ha dan potensi air baku 828 ha. 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 KEGIATAN Waduk Cileuweung Waduk Ujungjaya Waduk Pasirkuda Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk G. Irigasi seluas 12. DAS Cisanggiri dan DAS Cilaki.20 GWh.3 GWh dan air baku 828 ha. Kota Tasikmalaya. Irigasi seluas 8. Irigasi seluas 8. DAS Cikondang. volume tampungan 20 jt m3. volume tampungan 50 juta m3. Irigasi seluas 8. Irigasi seluas 9. Potensi listrik sebesar 86.439 ha potensi listrik 3. potensi listrik 8. Irigasi seluas 4. Sawal.1.000 ha potensi listrik 11.Luas wilayah WS Citanduy–Ciwulan adalah Banjar.982 ha potensi listrik 1.70 GWh dan potensi air baku 915 ha. sekitar 7. Irigasi seluas 5. sungaisungai tersebut pada akhirnya bermuara ke Samudera Indonesia di wilayah Kabupaten Ciamis. Volume tampungan 53 juta m3. volume tampungan 12 jt m3. DAS Cijulang. Irigasi seluas 9.4 GWh dan potensi air baku 444 ha. potensi listrik 1. volume tampungan 86 juta m3.

Tasikmalaya. Pekalongan dan anak-anak sungainya Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Sidareja Cihaur Mengembalikan dan meningkatkan kapasitas bangunan klep fungsi dan Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Ciseel. Jagadenda. Ciamis dan Garut Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan lokasi chekdam 15 Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. Kab. 10 lokasi Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis 4 5 Kabupaten Ciamis. 6 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citanduy-Ciwulan NO. 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. 1 2 3 KEGIATAN LOKASI MANFAAT & PENJELASAN Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan 4-19 Penyusunan pola Wilayah sungai Citanduy pengelolaan SDA Wilayah Ciwulan (Propinsi Jabar & Sungai Citanduy Ciwulan Jateng) Rencana induk (Master Wilayah sungai Citanduy Plan) pengelolaan SDA Ciwulan (Propinsi Jabar & WS Citanduy Ciwulan Jateng) Lower Citanduy Flood Management: Pengerukan Plawangan Plawangan . Kabupaten Tasikmalaya. Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan c Normalisasi sungai-sungai DAS Citanduy Hilir Normalisasi sistem drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. 20 lokasi Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Memperlancar aliran sungai Citanduy menuju ke laut lepas Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Cibeureum. pertanian dan prasarana umum. 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. Citalahab dan Cikaso Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Mengembalikan dan meningkatkan fungsi bangunan Klep Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengamankan daerah permukiman. Plumpatan. Kawungatan. Cimeneng.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Tasikmalaya. Ciamis dan Garut Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Garut Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Kabupaten Cilacap. Cilacap Kota Banjar. Cikonde. Ciputrahaji.Segara Anakan (Kabupaten Cilacap & Ciamis) Normalisasi sungai-sungai Kabupaten Cilacap DAS Segara Anakan Normalisasi sistem drainasi Daerah Irigasi Sidareja Cihaur dan sekitarnya Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir.

Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. perkotaan dan industri serta irigasi. bak tampung 3 m dan bahan tubuh bendung adalah urugan tanah dengan inti clay tampungan aktif 27. dan prasarana umum/TPI/LAPAN/objek wisata Mengamankan daerah permukiman. luas areal 440 ha. perkotaan dan Industri serta irigasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Potensi listrik yang dihasilkan kecil. Tampungan total 120 juta m3 dan tampungan aktif 55 juta m3. Tampungan aktif (juta m3) : 154 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. luas areal 470 ha. Tampungan total 150 juta m3 dan tampungan aktif 18 juta m3 Meningkatkan kebutuhan air baku dan pengendali banjir serta sedimentasi. perkotaan dan industri Tasikmalaya 800 ltr/det.050 ha. panjang 40 m. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 48 M. Tampungan total 485 juta m3 dan tampungan aktif 220 juta m3. luas areal 440 ha. Mengalihkan muara sungai Citanduy langsung ke Laut (teluk Nusaware) Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. air minum kota sidareja dan pengendalian banjir Mengamankan daerah permukiman dan prasarana umum/obyek wisata Mengamankan daerah permukiman. dan prasarana umum Penanggulangan sedimentasi di Segara nakan dari sungai Citanduy. Elevasi terhadap MSL 180 m. Meskipun potensi listrik yang dihasilkan kecil. Elevasi puncak terhadap MSL 180 m. tinggi mercu bendung 80 m. perkotaan dan industri serta irigasi Potensi listrik yang dihasilkan kecil. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 80 m.330 . Diharapkan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan Elevasi puncak terhadap MSL 265 m. Tampung total 14 juta m3. Tinggi mercu bendung 60 m. Dapat menimbulkan dampak sosial ekonomi rakyat.08 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. tinggi mercu bendung 100 m.000 ha. luas arealnya 3. Elevasi puncak MSL : 55 . Dapat menimbulkan dapak sosial ekonomi rakyat. perkotaan dan industri serta irigasi. Tampungan Total (juta m3) : 270 .229 ha dan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan. Area (ha) : 1. Tinggi mercu bendung 28 m. 6 7 KEGIATAN Rehabilitasi Bendung Manganti Tahap II Pengamanan Pantai Pantai Pangandaran 3 km Pantai Bojongsalawe 3 km Pantai Cilaut Eureun 2 km Pantai Ranca Buaya 1 km Pantai Bagolo 1 km Pantai Cipatujah 2 km LOKASI Kabupaten Ciamis MANFAAT & PENJELASAN Penyediaan air Irigasi 27. perkotaan dan industri dan tenaga listrik sebesar 50 lt/det. Tinggi mercu bendung 7 m. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. dan prasarana umum Mengamankan daerah permukiman. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. Tampungan total 180 juta m3 dan tampungan aktif 78 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Irigasi 3. tinggi mercu bendung 70 m. Tinggi Mercu Bendung : 33 . panjang bendung 180 m. luas arealnya 4-20 Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Tasikmalaya Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Garut Sungai Citanduy Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap 8 9 Sudetan Citanduy Waduk Matenggang 10 Waduk Pasirangin Kabupaten Tasikmalaya 11 Waduk Binangun I Kabupaten Ciamis 12 13 Waduk Binangun II Waduk Ciamis / Leuwi Keris Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis 14 Waduk Cikembang Kabupaten Ciamis 15 Waduk Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya 16 Waduk Banjar Kabupaten Banjar LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

770 Ha. penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 2.534 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI. 7 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pemali-Comal NO. DAS Rambut.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Gung Kabupaten Tegal hulu sungai K. Peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 7. 4-21 4.7 Wilayah Sungai Pemali-Comal Wilayah Sungai Pemali-Comal meliputi wilayah administratif kabupaten / kota sbb : Kabupaten Brebes.3.93 juta m3. Kota Tegal. volume tampungan 30 juta m3. Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Batang. semi teknis dan sederhana) seluas 38. tinggi bendung 40 m. Kabupaten Batang. Nilai EIRR 12. volume tampungan 45. Selain itu untuk penyediaan air baku dengan suplai 2. yaitu : DAS Pemali.000 ha).905 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 8.482 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI ± 867. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Pemali-Comal terdiri dari 6(enam) Daerah Aliran Sungai(DAS). perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.. Informasi kelayakan proyek tidak tersedia. Keruh Kabupaten Pemalang hulu sungai K. Sengkarang Kabupaten Pekalongan desa Karanganyar Kabupaten Pemalang Sungai Tanjung MANFAAT & PENJELASAN pengendalian banjir (± 4. Kota Pekalongan. Babakan dan 6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Pemali-Comal diuraikan pada Tabel 4.730 ha.300 lt/dt.9%. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi (teknis. analisa kelayakan ekonomi menunjukkan nilai EIRR sebesar 17. Tampungan total 460 juta m3 dan tampungan aktif 250 juta m3. Kabupaten Pemalang. Penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 965. Tabel 4.620 ha. Kabupaten Tegal.1.35 lt/dt.6% pengendalian banjir (± 5. Pemali Kabupaten Brebes hulu K. untuk mereduksi daerah rawan banjir seluas 1. Kabupaten Pekalongan. DAS Comal. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 27. dengan tinggi bendung 95 m. potensi waduk 150 juta m3. Genteng dan K. KEGIATAN LOKASI MANFAAT & PENJELASAN 1.4 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 26. DAS Kupang dan DAS Lampir.718 Ha. 2 3 4 Gede 5 Waduk Karanganyar Pengendalian Banjir Sungai Tanjung. pembangunan/perbaikan tanggul.000 ha). 1 KEGIATAN Waduk Kawung Waduk Ki Sebayu Waduk Sipring Waduk Krandegan Bantar LOKASI hulu K.7.717 Ha. DAS Cacaban.

667 m.010 ha dan untuk mensupli waduk Cacaban dengan luas irigasi 1. Wilayah Sungai SerayuBogowonto meliputi wilayah administratif Kabupaten Cilacap. Kabupaten Banjarnegara.Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. pembangunan jalan dan jembatan baru.1% Pembangunan/perbaikan tanggul. pembangunan inlet drainase 11 buah.9% Pembangunan/perbaikan tanggul.3. dan Kabupaten Purworejo. Kabupaten Purbalingga. Usulan baru dan belum pernah dilakukan studi.1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. 10. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.1%. Kabupaten Banyumas.352. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. dengan nilai EIRR adalah sebesar 15. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12.529 ha. dengan nilai EIRR adalah sebesar 42. pembangunan/perbaikan tanggul.1 km. Jatinegara Jateng pembangunan/perbaikan tanggul. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. 231 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. 20. diharapkan dapat mereduksi daerah rawan banjir seluas 6. Kabupaten Wonosobo.2 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Purworejo. pembangunan jembatan kereta api baru 1 buah. yang pada akhirnya wilayah Kabupaten Banyumas.5% Pembangunan/perbaikan tanggul. normalisasi alur sungai 7. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. KEGIATAN Kabuyutan LOKASI MANFAAT & PENJELASAN 4-22 7 8 Pengendalian Banjir Sungai Sragi Pengendalian Banjir Sungai Kupang Sungai Sragi Sungai Kupang 9 Pengendalian Banjir Sungai Kluwut Pengendalian Banjir Sungai Sambong Kabupaten Brebes 10 kabupaten Batang dan kabupaten Pekalongan 11 Pengendalian Banjir Sungai Comal kabupaten Pemalang 12 Pengendalian Banjir Sungai Waluh Sungai Waluh 13 Pengendalian Banjir Sungai Rambut Waduk Jatinegara Sungai Rambut 14 Kec. 4. pembangunan bangunan pengukur debit sungai 1 buah.3 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.4% Pembangunan/perbaikan tanggul. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Kabupaten Kebumen. 822.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. dengan nilai EIRR adalah sebesar 26.130 ha Pelindung tebing pasangan batu kali 5. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .699. Meningkatkan intensitas tanam pada daerah irigasi Cipero seluas 8. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.8 Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto terdiri beberapa bermuara ke Samudera Indonesia di sungai yang berhulu terutama dari mata air yang berasal dari gunung Selamet. 287. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12.

persawahan transportasi. Tabel 4. DAS Bogowonto. Kab.Purbalingga dan Banyumas S Telomoyo. dari bahaya banjir.Cokroyasan Operasi dan Pemeliharaan Sungai LOKASI Anak S.Kebumen DAS Tipar dan Ijo. Kab.Klawing lanjutan Perkuatan tebing lokasi kritis dan penanggulangan banjir nopember 2004.Kebumen S Telomoyo & anak-anak sungainya. persawahan dan 4 5 6 . Kebumen.Kebumen S Telomoyo & anak-anak sungainya.Purworejo DAS Bogowonto. Sub-DAS Tulis.8.Bogowonto dan S. Kab. Target 15 . Muara-muara DAS Bogowonto. DAS Telomoyo. Kab. Normalisasi sungai dan bangunan pengatur air untuk mengatasi banjir daerah pemukiman dan budi daya perikanan. DAS Wawar. Kab. Wawar dan Telomoyo. Telomoyo dan Tipar. Purworejo. Sub-DAS Sapi. 8 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Serayu-Bogowonto NO. Mempertahankan kapasitas dan fungsi prasarana pengendalian banjir 8 9 10 Pembangunan bangunan Menahan pengaruh akibat intrusi air laut di 5 lokasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . DAS Bengawan. Cokroyasan dan Bogowonto. Kab. yang termasuk kedalam WS Serayu-Bogowonto adalah Sub-DAS Klawing. Sub-DAS Tajum.Lukulo & anak-anak sungainya.Cilacap. Banyumas dan Cilacap DAS Bogowonto dan DAS Cokroyasan Kab. Serayu. MANFAAT & PENJELASAN Pengamanan pemukiman dan persawahan Target 30km Pengamanan pemukiman . Target 16 km Pengamanan pemukiman transportasi. DAS Ijo. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Serayu-Bogowonto diuraikan pada Tabel 4.Serayu. Sub-DAS Serayu Hulu. 1 KEGIATAN Pengedalian banjir S. DAS Serayu Hilir. Normalisasi Kali Pantai antara S. Banyumas dan Kebumen.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. Peninggian jembatan melintang sungai-sungai di DAS Telomoyo Pembangunan pelimpah banjir DAS Telomoyo Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Rehabilitasi Jembatan KA melintang sungai di 7 lokasi. S.20 lokasi kritis dan 4-23 2 3 Mengatasi adanya halangan sungai yang dapat mengakibatkan banjir dan memperlancar transportasi antar pedesaan di 10 lokasi Mengatasi adanya kejadian banjir melebihi rencana. Sub-DAS Merawu dan DAS Padegolan. Banjarnegara dan Purbalingga. Kebumen dan Purworejo DAS Wawar. Kebumen. Kab. Target 6 km . DAS Pekacangan. Cokroyasan. Sub-DAS Begaluh. Sub-DAS Ciseel. persawahan dan 7 Pengamanan jalur transportasi KA Yogya -Jakarta. Kab. sehingga dapat mengurangi dampak yang lebih buruk Pengamanan pemukiman transportasi.

Wawar dan Telomoyo. Telomoyo .kebumen Mengurangi sedimentasi sungai kota Kebumen dan 19 Penataan kawasan arboretum Pembangunan Waduk Bener Di S. Wawar dan Bogowonto. Banjarnegara. Target 15 lokasi 14 Pembangunan Groundsill (Bangunan Penstabil dasar sungai).Gintung Konservasi lahan dan penelitian 20 21 Multi purpose ( Irigasi. Penyediaan air baku dari bendungan Wadaslintang Pembangunan bangunan konservasi terpadu di hulu sungai Mengatasi kekurangan air pada musim kering 17 18 Mengatasi kekurangan air pedesaan Kab. Lukulo. Lukulo. Kab. Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi. Banjarnegara. DAS Bogowonto.Jladri. Air Baku dan PLTA) 22 Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) 23 Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Banyumas. Wawar dan Ijo DAS Telomoyo Mendaya gunakan lahan depressi 12 Mengurangi sedimentasi di S.Banyumas DAS Serayu Kab. Kebumen. Penyediaan air baku pedesaan dari mata air & sumber air Mengatasi degradasi sungai. Purbalingga. Banyumas. Cilacap.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. DAS Serayu.Pekacangan Pembangunan Waduk Kesegeran di S. Banyumas. Kab. Cilacap. Banyumas.Telomoyo hilir 13 DAS Bogowonto. Kebumen dan Purworejo (200 lokasi) Kab. Telomoyo. S. Kab.Jatinegara dan S. KEGIATAN penahan intrusi air laut LOKASI Telomoyo. Purworejo.Kebumen DAS Serayu. Target 10 lokasi 15 Mengatasi kekurangan air pada musim kering 16 Penyediaan air baku pedesaan dari bangunan konservasi (groundsill). Lukulo dan Bogowonto. Wawar dan Cokroyasan. Kab. Kebumen dan Purworejo (15 lokasi). Purbalingga. Purbalingga.Banjarnegara DAS Serayu Kab. Serayu. Kab. Kebumen dan Purworejo Kab.Banjarnegara Mengurangi sedimentasi waduk dan pemanfaatan untuk air baku.Purworejo DAS Serayu Kab. DAS Serayu. Wonosobo. Banjarnegara dan Purbalingga.Bogowonto Pembangunan Waduk Wanadadi di S.Trenggulun Pembangunan Waduk Gintung di S. Kebumen dan Purworejo. Ijo dan Tipar MANFAAT & PENJELASAN 4-24 11 Pembangunan bangunan pemanfaatan daerah genangan banjir Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) dan Pengerukan hilir sungai Jladri Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) DAS Telomoyo. Wonosobo.

Sub-DAS Lusi Tengah.DAS Lusi Hulu. nilai EIRR 10. DAS Glagah. Nilai EIRR 13.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Kabupaten Semarang.9 Wilayah Sungai Jratun-Seluna Wilayah Sungai Jratun-Seluna meliputi wilayah administratif Kabupaten Kendal. DAS Randu Gunting. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Jratun-Seluna yaitu : Sub DAS Serang Hilar. Konstruksi dam Jatibarang dimulai tahun 2002 (kegiatan yang masuk dalam jadwal biaya rendah). 24 KEGIATAN Pembangunan Waduk Kemit di S. Kabupaten Demak.7 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 750 l/detik dan konservasi air tanah.8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. DAS Pandansari. Semarang MANFAAT & PENJELASAN Pengembangan suplai untuk RKI 920 l/detik dan konservasi air tanah. DAS Gandu.5 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1. Kabupaten Boyolali. DAS Lasem. Kabupaten Temanggung.3. Tabel 4.700 l/detik (direncanakan memberikan 900 l/dt ke Semarang dan 800 l/detik ke Kendal) dan konservasi air tanah.1% (layak ) Pengembangan suplai untuk RKI 1. 2 3 Waduk Mundingan Waduk Suren Kedung Kab. DAS Kedung Tanu. DAS Juwana.020 l/detik dan konservasi air tanah. dan Sub. 1 KEGIATAN Waduk Jatibarang LOKASI Kab. Kota Salatiga. Nilai EIRR 18. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Jratun-Seluna diuraikan pada Tabel 4. Nilai EIRR 11. Sub. 9 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Jratun-Seluna NO. Semarang Kaliwungu. Kabupaten Pati dan Kabupaten Jepara. DAS Tuntang. Kota Semarang. DAS Garang. Grobogan Kab.DAS Serang Hulu.750 l/detik dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 16. Grobogan 4 5 6 7 8 Jragung Barrage + Tunnel Waduk Dolok Waduk Bandung Harjo Waduk Ngemplak Waduk Coyo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .Kebumen MANFAAT & PENJELASAN Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) 4-25 4. Kabupaten Kudus. Nilai EIRR 14% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.5% (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1. Nilai EIRR 9. DAS Bodri.1. Kabupaten Grobogan.9.Kemit LOKASI DAS Telomoyo Kab.6% (layak) pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Brangsong dan Kendal Semarang dan Demak Semarang dan Demak Kab. Grobogan Kab. DAS Jragung.

3.10.DAS Tinggal.650 ha. nilai EIRR 15. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Nilai EIRR 8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah Pengendalian banjir seluas 590 ha.DAS Progo Hulu. Layak secara ekonomi. nilai EIRR 18. nilai EIRR 24% Pengendalian banjir seluas 1. Sub-DAS Elo.6% Pengendalian banjir seluas 6. Sub-DAS Kanci. 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 KEGIATAN Waduk Tirto Embung Kedung Waru Embung Balong Pengendalian Banjir Sungai Blorong Pengendalian Banjir Sungai Garang Drainase Kota Semarang Tenggang + Sringin Drain Dombo-Sayung Floodway Kebon Batur Floodway Pengendalian Banjir Jragung/Tuntang Pengendalian Banjir Serang-WulanJuana LOKASI Kab.028 ha.8% 4-26 4.4% pengendalian banjir seluas 13. Kudus dan Kab. Layak secara ekonomi. Kabupaten Sleman.1% pengendalian banjir seluas 12. DAS Progo. Layak secara ekonomi. nilai EIRR 20. SubDAS Winango.670 ha. Kota Yogyakarta. Kabupaten Magelang.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.9% pengendalian banjir seluas 10. Nilai EIRR 13.337 ha. Sub-DAS Blongkeng. Layak secara ekonomi. Layak secara ekonomi.10 Wilayah Sungai Progo-Opak-Oyo Wilayah Sungai Progo-Opak-Oyo meliputi wilayah administratif Kabupaten Temanggung. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Progo-Opak-Oyo diuraikan pada Tabel 4. Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul. Blora Kab. Kabupaten Kulonprogo. Sub-DAS Tinalah. Sub-DAS Opak. Pati MANFAAT & PENJELASAN Nilai EIRR 18. Nilai EIRR 22. dan Sub-DAS Bedog. Blora Kab. Grobogan Kab.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Demak Kab. Layak secara ekonomi.1. Sub-DAS Oyo.13% Pengendalian banjir Pengendalian banjir seluas 21 ha. Kendal Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kab. nilai EIRR 15. Kota Magelang. nilai EIRR 17. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Progo-Opak-Oyo yaitu : Sub. Sub. DAS Serang. Demak Kab.957 ha.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.

Kulon Progo Kab. Untuk DAS Serang. Belum tersedia data detail Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir 4-27 Embung Ngalang Embung Kedunggedeng Waduk Tinalah 16 17 18 19 20 21 Waduk Progo Magelang Waduk Elo Hilir Waduk Kaloran Waduk Elo Waduk Sambiroto Waduk Nanggulan I Kali Progo Kali Elo Kaloran Kali Elo Progo Hulu K. Gunung Kidul Kab. Gunung Kidul Kali Progo MANFAAT & PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. dengan pembatasan pengambilan air sebesar 2. 10 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Progo-Opak-Oyo NO. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 KEGIATAN Embung Tangkisan I Embung Tangkisan II Embung Ngroto Embung Kayangan Embung Dawetan Embung Penggung Embung Girinyono Embung Weden Embung Kebonromo Embung Kronggahan Embung Kedungranti Embung Sari Karang LOKASI Kab. Sleman Kab. Gunung Kidul Kab.000 m3 Berpotensi untuk mengendalikan banjir. dengan tetap memanfaatkan air dari Kali Progo melalui intake Kalibawang. Tinggi embung adalah 5 m dengan volume tampungan 250. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku 73 lt/detik dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Serang Sungai Progo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kulon Progo Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.75 m dengan volume tampungan 35. mengairi irigasi 450 ha dan penyedia air minum 75 lt/detik.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. Kulon Progo Kab. Kulon Progo Kab.500 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Volume tampungan embung adalah 1. Tinggi embung adalah 11 m dengan volume tampungan 105. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.75 m dengan volume tampungan 7.000. Kulon Progo Kab. Kulon Progo Kab. Tinggi embung adalah 13. Kulon Progo Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Kab.5 m3/dt penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Tinggi embung adalah 13.

Sub-DAS Wate Tengah. Kabupaten Bojonegoro.1. Fase II Perbaikan Sungai Kali Madiun. 11 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Bengawan Solo NO. Kabupaten Sukoharjo. Fase II Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hulu.11. SubDAS Madiun. Kabupaten Klaten. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 KEGIATAN Sedimentasi Waduk Wonogiri Penanganan Pengelolaan Kualitas Air Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hilir. KabupatenBlora. Sub-DAS Bitung. Kabupaten Madiun. Kota Surakarta. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Bengawan solo diuraikan pada Tabel 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Kabupaten Karanganyar. Kabupaten Gunungkidul. Kabupaten Pacitan. Kabupaten Sragen. Fase II dan III Pembangunan check dam dan ground sill Pengembangan Bengawan Jero Bengawan Solo FFWS Long-channel Storage Bengawan Solo Hilir Penyediaan Air PDAM di Wilayah Surakarta LOKASI Wonogiri seluruh WS hilir WS hulu WS Kali Madiun Hulu Sungai Bengawan Solo dan Kali Madiun pengendalian banjir pengendalian banjir penyediaan air baku penyediaan air baku pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir MANFAAT & PENJELASAN LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kota Surabaya. Kabupaten Gresik. DAS Pagotan. 4-28 Tabel 4. Sub-DAS Pepe. Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Boyolali.11 Wilayah Sungai Bengawan Solo Wilayah Sungai Bengawan solo meliputi wilayah administratif kabupaten/kota sebagai berikut : Kabupaten Rembang. Kabupaten Magetan dan Kabupaten Ponorogo. Sub-DAS Lamongan.3. Kabupaten Lamongan. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Bengawan solo yaitu : DAS Damas. Kabupaten Ngawi. Sub-DAS Samin.

Kabupaten Mojokerto. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Sidoarjo. Kabupaten Nganjuk.1. Kota Kediri. Kabupaten Kediri. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. maka DAS yang termasuk kedalam WS Kali Brantas adaslah Sub-DAS Brangkal. Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek. Kabupaten Pasuruan. Kota Mojokerto.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Kabupaten Malang. Kabupaten Madiun. Ngebel Rehabilitasi Waduk dan Pengelolaan DTA Waduk Wonogiri Rehabilitasi dan Pengelolaan Lahan Kritis di 6 Lokasi DTA LOKASI MANFAAT & PENJELASAN penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku konservasi sumber daya air konservasi sumber daya air 4-29 4.3. Kota Blitar. 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 KEGIATAN Penyediaan Air untuk Sstem Pengembangan PDAM Penyediaan Air untuk Daerah Rembang Solo Vallei Werken 9 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hulu 3 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Kali Madiun 16 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hilir Waduk Irigasi Kedung Bendo Rehabilitasi dan Peningkatan Sistem Irigasi Waduk Serbaguna Bendo Waduk Serbaguna Badegan Waduk Pidekso Rehabilitasi Tlg. DAS Panggul. Kota Malang. SubDAS Berantas Tengah. DAS Penguluran. Sub-DAS Brantas Hulu. Kabupaten Jombang.12 Wilayah Sungai Kali Brantas Wilayah Sungai Kali Brantas meliputi wilayah administratif Kota Surabaya. Sub-DAS Konto.

DAS Jatiroto. Pengembangan terhadap masalah pengendalian banjir di Sungai Widas sesuai dengan yang direncanakan dalam Master Plan tahun 1985 Pencegahan terhadap bencana yang dapat ditimbulkan oleh Gunung Kelud Irigasi. DAS Banyuputih.13.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA DAS Lorog. water supply dan hydropower. DASA Deluwang. 1 2 3 4 5 KEGIATAN Sabo Gunung Kelud Sabo Brantas Hulu dan Sungai Lesti Pengendalian Banjir Sungai Widas Lodoyo Diversion Tunnel Beng Dam LOKASI Kali Konto Brantas Hulu dan Sungai Lesti Sungai Widas Ludoyo mengurangi transport sediment ke reservoir Dam Sengguruh dan Dam Sutami. Sub-DAS Wadas. DAS Baru. Sub-DAS Brantas Hilar.3. DAS yang termasuk kedalam WS Pekalen-Sampean adalah DAS Sampean. DAS Rejoso. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Pekalen-Sampean diuraikan pada Tabel 4. Tabel 4. DAS Mayang. 12 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Kali Brantas NO. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. DAS Mujur. Sub-DAS Ngrowo Ngasnan.1. DAS Sebani-setail. DAS Bajulmati. DAS Bondoyudo. Kabupaten Pasuruan. Sebanyak 17 Sabo Dam telah direncanakan untuk daerah hulu DAS Sengguruh Dam. DAS Bedadung.12. Kabupaten Probolinggo. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Kali Brantas diuraikan pada Tabel 4. Kabupaten Lumajang. dan DAS Sumber Manjing.13 Wilayah Sungai Pekalen-Sampean Wilayah Sungai Pekalen-Sampean meliputi wilayah administratif Kota Pasuruan. DAS Pekalen. Sub-DAS Marmoyo. dan Sub-DAS Lekso. DAS Tempuran. DAS Kramat. Kota Probolinggo. Kabupaten Bondowoso. DAS Tangkail. Kabupaten Situbondo. Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi. Data teknis yang direncanakan untuk volume tampungan efektif 147 milyar m3 MANFAAT & PENJELASAN 4-30 4. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

DAS Temburu. DAS Pasengsengat. 14 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Madura NO. Lesti MANFAAT & PENJELASAN Irigasi.14 Wilayah Sungai Madura Wilayah Sungai Madura meliputi wilayah administratif Kabupaten Bangkalan.14. DAS Budur. 13 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pekalen-Sampean NO. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Madura diuraikan pada Tabel 4. sehingga harus ada solusi sumber daya air bila Madura hendak difungsikan pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 100 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 50 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 Pembangunan Waduk Nipah Pembangunan Waduk Blega Pembangunan Waduk Samiran Pembangunan Wa duk Tambak Agung LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 1 KEGIATAN Genteng I Dam LOKASI Sungai Genteng.1. DAS Saroka. DAS yang termasuk kedalam WS Madura adalah DAS Patean. DAS Brambang.3. DAS Samajid. DAS Blega. Kabupaten Sampang. 1 2 3 4 5 KEGIATAN Penyediaan baku industri air LOKASI seluruh WS Pamekasan Bangkalan Pamekasan Sumenep MANFAAT&PENJELASAN sumber daya air yang terbatas berupa sungai-sungai kecil. water supply dan hydropower dan untuk sediment control. dan DAS Kangkah. Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep. Tabel 4. DAS Sodung. DAS Kemuning. Data teknis yang direncanakan adalah untuk volume tampungan efektifnya sebesar 54 milyar m3 4-31 4. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. DAS Jambangan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4.

Hal ini berarti pembuatan rencana induk tidak diawali dengan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai. dan belum banyak melibatkan pihak pemangku kepentingan (stakeholders) bidang SDA dalam penyusunannya. Alasan lain perlunya penyesuaian terhadap rencana induk yang adalah bahwa belum seluruh infrastruktur SDA yang diusulkan disetiap wilayah sungai telah lolos Studi kelayakan yang mencakup 3 (tiga) aspek analisis. Langkah pertama dalam penyesuaian adalah membuat Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai yang dibuat berdasarkan prosedur dan proses sebagaimana diatur oleh UU SDA No. Jawa yang diuraikan pada bagian terdahulu (Sub Bab 4. ekonomi dan sosial-lingkungan. 7/2004.3. Disamping itu proses penyesuaian Rencana Induk juga harus melibatkan pihak pemangku kepentingan SDA di wilayah sungai tersebut. sebaiknya usulan terdiri dari lebih dari satu opsi yang merupakan alternatif-alternatif sehingga dapat dipilih alternatif yang paling layak untuk memenuhi kebutuhan prasarana SDA dengan investasi yang paling kecil atau hanya bersifat merehabilitasi prasarana yang sudah ada atau bahkan yang bersifat pendekatan non-fisik/non-struktural.1) tidak satupun yang secara lengkap mengikuti urutan dan proses pembangunan infrastruktur Semua SDA dalam suatu kerangka pengelolaan Wilayah Sungai induk pengelolaan wilayah sungai yang mendasari sebagaimana diatur dalam UU Sumber Daya Air No. Disamping itu infrastruktur yang diusulkan masih bersifat “satu” pilhan.2 Pengaturan Induk Wilayah Sungai Baru 4-32 Dari daftar usulan proyek-proyek infrastruktur sumber daya air pada wilayahwilayah sungai di P. karena rencana pengembangan SDA Wilayah Sungai tersebut dibuat sebelum diterbitkannya UU No. Sehubungan dengan itu perlu dilakukan penyesuaian terhadap rencana induk pengelolaan WS. 7 tahun 2004. yaitu teknis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Setelah Pola Pengelolaan diselesaikan semua rencana induk pengelolaan wilayah sungai yang telah ada perlu disesuaikan dengan Pola Pengelolaan tersebut.3. Oleh sebab itu perlu dilaksanakan “quick assessment” untuk mengidentifikasi alternatif-alternatif prasarana yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan Rencana Induk yang telah disesuaikan tersebut perlu mendapat persetujuan dari Dewan SDA yang terkait.7 tahun 2004.

. ekonomi serta sosial dan lingkungan. 2 Rencana Wilayah Sungai baru. 4-33 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa Gambar 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA diusulkan pada setiap lokasi yang memerlukan intervensi serta mengkaji kelayakan alternatif-alternatif tadi dari aspek teknis.

penyedia air baku untuk kecamatan Banjarsari dan sebagai waduk pengendali banjir mengairi sawah seluas 2.04. Mekarsari dan Karang Kamulyan Hulu Sungai Ciliwung MANFAAT&PENJELASAN suplesi air irigasi DI. 15 Penyusunan Kembali Alternatif Intervensi Struktural menurut Wilayah Sungai yang Baru KODE 02.A2 Mengurangi debit banjir Sungai Ciliwung di Kota Bogor. Selain itu Waduk Ciawi juga dapat berfungsi sebagai penyedia air untuk Kota Bogor dan DKI Jakarta serta sebagai sumber air untuk penggelontoran Sungai Ciliwung di musim kering LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tabel 4. Oleh karena itu.x menunjukkan secara spatial bentuk dari wilayah sungai yang baru. Ciparahu. Bendung Karet Cisangkuy Bendung Tipe Gergaji di Sungai Cibama Bendung Sungai Cihara Waduk Ciawi 02.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sejalan dengan itu.000 ha ASAL WS/ PROGRAM WS Ciujung Ciliman Cisadea – Cikuningan CiliwungCisadane 4-34 02.B WILAYAH SUNGAI Ciliman– Cibungur KEGIATAN Waduk Cimalur LOKASI Desa Cibatur Keusik Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak Cikamayapan. Gambar 4. Cilemer kiri seluas 500 ha. pemerintah telah menyiapkan suatu rancangan peraturan baru yang menetapkan perubahan susunan wilayah sungai ke dalam suatu komposisi bentuk wilayah yang baru.02.A2 02.01. perlu suatu tindakan untuk menyusun kembali (regrouping) kebijakan yang ada pada masing-masing balai penanggungjawab wilayah sungai terdahulu untuk menjadi kebijakan baru mengikuti wilayah sungai yang akan ditetapkan dalam waktu dekat. Perubahan ini secara konsekwen harus ditanggapi dengan perubahan dalam strategi pengelolaan dan kebijakan untuk masing-masing wilayah sungai.B Cibaliung Cisawarna Kepulauan Seribu CidanauCiujungCidurianCisadaneCiliwungCitarum Bendung Karet Cibungur Bendung dan Bendung Karet Ciseukeut Bendung Karet Cikoneng. Berikut disajikan tabel yang dibuat untuk mengelompokkan kembali strategi kebijakan struktural pada masing-masing wilayah sungai sesuai dengan bentuknya yang baru. Cikarang.03.

Normalisasi alur sungai 22 km. DKI Jakarta DKI Jakarta CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane WS Ciujung Ciliman Kab. Normalisasi alur sungai 57 km. Sunter. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Buaran. perkotaan dan industri untuk kebutuhan Tangerang lewat KSCS mengambil alih fungsi Waduk Karian untuk mensuplai air irigasi ke daerah irigasi Ciujung pemenuhan kebutuhan air baku Jabotabek ASAL WS/ PROGRAM CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane 4-35 Sungai Cidurian Sungai Cimanceuri Sungai Cirarab Sungai Cisadane Cengkareng drain. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Kali Angke.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Genteng Waduk Parung Badak Waduk Sodong Salak Contour Canal Ciliwung Floodway Tunnel Peningkatan Kanal Tarum Barat Pengembangan Cengkareng Floodway System LOKASI Sungai Cisadane tengah Sungai Cisadane hilir Sungai Cikaniki sekeliling Gunung Salak Kota Bogor Karawang . Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Mookervaart Banjir Kanal Barat/ Ciliwung Banjir Kanal Timur. menambah persediaan air rumah tangga. Tangerang DKI Jakarta Kota Bogor.Bekasi Cengkareng MANFAAT&PENJELASAN penyedia air baku ke daerah Bogor dengan cara gravitasi penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta memenuhi kebutuhan air di Kota dan Kabupaten Bogor mengalihkan debit banjir dari Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane guna pengendalian banjir di DKI Jakarta memenuhi kebutuhan air Jabotabek pencegahan banjir dan meningkatkan urban drainage. 2 bh. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Banjir. Cipinang. Tangerang Kab. Normalisasi alur sungai 32 km. Tangerang Kota/Kab. Peningkatan fungsi sungai ke hilir dari daerah Angke dan Sungai Pesanggrahan dan Mookervaart Canal. Master Plan 1997 pengendalian banjir. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Bekasi Hulu Sungai Ciujung Waduk Cilawang Waduk Pasirkopo Long Storage Sungai Ciujung Waduk Bojongmanik Sungai Ciujung Sungai Ciujung Sungai Cisemeut WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pembuatan Sal. Terowongan 1 km. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. serta konstruksi Angke Floodway Pengendalian banjir. Normalisasi alur sungai 22 km. Cakung Banjir Kanal CBL. Master Plan 1997 Penyedia air rumah tangga. Tangerang Kab. Normalisasi alur sungai 50 km. Bekasi Waduk Karian Kab. Normalisasi alur sungai 17 km. Normalisasi alur sungai 38 km. perkotaan dan industri untuk wilayah Serang dan Jabotabek dengan menggunakan saluran KarianTanjung-Serpong (KTS). Normalisasi alur sungai 29 km. Cikarang.

280 ha.400 MWh dan penyediaan air baku untuk 79.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Tanjung LOKASI Sungai Cidurian MANFAAT&PENJELASAN penyedia air baku untuk daerah Tangerang dan DKI Jakarta dengan menggunakan saluran irigasi Cidurian atau dengan saluran lternative Karian-Tanjung-Serpong (KTS) penyedia air baku ke daerah Bogor dengan menggunakan pompa penyedia air untuk areal tambak menampung air dari Sungai Cipamingkis atau dari saluran pembawa penyedia air utama untuk daerah hilir Kanal Tarum Barat secara gravitasi Penyediaan air baku dan tenaga listrik memindahkan air dari wilayah sungai Citarum ke Jakarta ASAL WS/ PROGRAM WS Ciujung Ciliman 4-36 Bendung Anyer Waduk Naragong Waduk Nameng Waduk Pasiranji Waduk Pangkalan Peninggian Dam Cirata Peningkatan Kanal Tarum Barat atau Pembangunan Kanal Tarum Jaya Waduk Talagaherang Waduk Maya Waduk Bodas Dam Sungai Cilame Dam Sungai Cipunagara Waduk Cipunagara dan bendungan pengatur di Sadawarna Waduk Cibeber Waduk Kandung Pengembangan Sungai Cisangkuy Waduk sungai Cikapundung Waduk Sukawana Sudetan sungai Cibeureum Waduk Bojong Jambu Waduk Jatigede Anak Sungai Cileungsi (DAS Bekasi) Sungai Cibeet Cipamingkis Sungai Cibeet Dam Cirata Karawang – Bekasi – DKI Jakarta WS Ciujung Ciliman Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Sungai Cisangkuy Sungai Cikapundung Cimahi Kab.102. potensi listrik sebesar 2. Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Bandung Kab. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung pengairan irigasi seluas 68.683 jiwa. Bandung Kab. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air rumah tangga. Garut mengairi sawah mengairi sawah mencukupi kebutuhan air rumah tangga.

pengairan irigasi seluas 8.20 GWh. Garut Citarum Waduk Ujungjaya Kadipaten Citarum Waduk Kadumalik Majalengka Citarum Waduk Pasirkuda Waduk Ciniru Majalengka Kuningan Citarum Citarum Waduk Cimulya Kuningan Citarum Waduk Gunungkarung Waduk Manenteng Waduk Pecang Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk Seuseupan Waduk Cihirup Waduk Mangit Kuningan Kuningan Kuningan Garut Garut Cirebon Sumedang Kuningan Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .40 GWh dan potensi air baku 915 ha. pengairan irigasi seluas 9. pengairan irigasi seluas 2. potensi listrik 1.16% pengairan irigasi seluas 9.6 GWh dan potensi air baku 298 ha.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.000 MWh.145 ha. pengairan irigasi seluas 12. Volume tampungan sebesar 50 juta m3.67% Mengairi 20.2 GWh dan potensi air baku 444 ha. Potensi paling baik untuk dikembangkan karena memiliki nilai EIRR lebih tinggi (17.960 ha.439 ha. Volume tampungan sebesar 35 juta m3.872 MWh dan penyediaan air baku untuk 22. pengairan irigasi seluas 8. nilai ekonomi proyek IRR 6.275 ha dan potensi air baku 828 ha.004 jiwa. Nilai ekonomi proyek IRR 12% pengairan irigasi seluas 9. Nilai ekonomi proyek IRR 2.4 juta m3. ASAL WS/ PROGRAM Citarum 4-37 Waduk Cipanas Kab. potensi listrik sebesar 1. maka Waduk Kadumalik dengan EL + 294 dapat menjadi lternative cadangan utama Potensi listrik sebesar 86.63% pengairan irigasi seluas 5. pengairan irigasi seluas 4. Volume tampungan sebesar 395 juta m3. potensi listrik 0. Garut MANFAAT&PENJELASAN pengairan irigasi seluas 18.153 jiwa.148 ha.9 GWh dan potensi air baku 915 ha. Volume tampungan sebesar 2. potensi listrik 3.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.439 ha.000 ha.000 Ha lahan irigasi.835 jiwa.145 ha dan potensi listrik 17.126 jiwa. Jika pembuatan Waduk Jatigede di tunda.07% pengairan irigasi seluas 9.4 GWh dan potensi air baku 444 ha. Volume tampungan sebesar 71 juta m3. potensi listrik 11.004 jiwa. pengairan irigasi seluas 4. Nilai ekonomi proyek IRR 7.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5. potensi listrik 6.70 GWh dan potensi air baku.982 ha.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Cipasang LOKASI Kab.639. Nilai ekonomi proyek IRR 12.65 %). potensi listrik 5. pengairan irigasi seluas 12.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10.

Karawang Rehabilitasi Irigasi Kab. pengendalian banjir dan pengamanan pantai Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.468 Ha sawah dan ± 750 Ha tambak). Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. pemenuhan kebutuhan air baku dan keperluan irigasi dan perikanan tambak mendukung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Penyediaan irigasi seluas 6. Subang Rehabilitasi Irigasi Kab.355 ha.800 ha ASAL WS/ PROGRAM Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum 4-38 Long Storage Indramayu Pengembangan 6 Embung Rehabilitasi Irigasi Kab. Penyediaan irigasi seluas 19. pengairan irigasi seluas 8.530 ha. Normalisasi sungai ± 5 km. Citarik Hulu Pekerjaan Konstruksi S. pengairan irigasi seluas 600 ha.7 GWh dan potensi air baku 1. potensi listrik 1.405 ha.173 ha. Indramayu Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Cisadea Cikuningan Pasir Bungur. Cikatomas. Indramayu S. Cimande Pekerjaan Konstruksi S. pengairan irigasi seluas 8.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Ciwaru Waduk Cihowe Waduk Dukuh Badag Waduk Cileuweung Long Storage Kumpul KuistaJamblang LOKASI Kuningan Cirebon Cirebon Cirebon Cirebon MANFAAT&PENJELASAN pengairan irigasi seluas 10. Cilograng. Penyediaan irigasi seluas 12. Nilai ekonomi proyek IRR sebesar 22. mengairi sawah seluas 2.1 GWh dan potensi air baku 60 ha. Bekasi Rehabilitasi Irigasi Kab.210 ha. Normalisasi sungai ± 5 km.B Cisadea Cibareno LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . potensi listrik 8.275 ha. Cikeruh Bendung Sungai Cibareno Indramayu Cirebon Kab. Citarik Hulu Pekerjaan Penyempurnaan Flood Warning System Peningkatan Kapasitas Sungai Pekerjaan Konstruksi S. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.017 ha. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.3 GWh dan potensi air baku 828 ha. memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan IndramayuCirebon (± 4. Bekasi Kab.05. Sampai dengan Jalan Raya Bandung-Tasik ± 5 km. Penyediaan irigasi seluas 24. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Subang Kab. potensi listrik 0.275 ha. Peningkatan Kapasitas System Sungai Citarum Hulu Q5 menjadi Q20. Normalisasi sungai ± 10 km. Cibareno dan Sawarna 02. potensi listrik 10.7 GWh dan potensi air baku. Karawang Kab.56 %.

Kabupaten Tasikmalaya. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. Tasikmalaya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE 02. pertanian dan prasarana umum. Cilacap Kota Banjar. Cilacap Kota Banjar. Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Mengamankan daerah permukiman dan prasarana umum/obyek wisata Mengamankan daerah permukiman.B WILAYAH SUNGAI Ciwulan Cilaki KEGIATAN Penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Rencana induk (Master Plan) pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan chekdam 15 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan chekdam 15 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi Pengamanan Pantai Pantai Pangandaran 3 km Pantai Bojongsalawe 3 km Pantai Cilaut Eureun 2 km Pantai Ranca Buaya 1 km Pantai Bagolo 1 km LOKASI Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Kabupaten Ciamis. dan prasarana umum ASAL WS/ PROGRAM Citanduy – Ciwulan Citanduy Ciwulan 4-39 Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Tasikmalaya Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis MANFAAT&PENJELASAN Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Mengamankan daerah permukiman.06. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. Tasikmalaya. dan prasarana umum/TPI/LAPAN/objek wisata Mengamankan daerah permukiman. Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. Tasikmalaya. Kabupaten Ciamis dan Garut Kabupaten Cilacap. Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. Tasikmalaya. Kabupaten Garut Kabupaten Cilacap.

perkotaan dan industri Tasikmalaya 800 ltr/det. panjang bendung 180 m. tinggi mercu bendung 80 m.07.A2 Citanduy Penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Citanduy Ciwulan Wilayah sungai Rencana induk Citanduy Ciwulan (Master Plan) (Propinsi Jabar & pengelolaan SDA Jateng) Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Lower Citanduy Flood Management: Pengerukan Plawangan . Elevasi puncak terhadap MSL adalah 80 m. Meningkatkan kebutuhan air baku dan pengendali banjir serta sedimentasi. Kawungatan. Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan 4-40 Waduk Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya Citanduy Ciwulan Waduk Banjar Kabupaten Banjar Citanduy Ciwulan 02. Irigasi 3. Meskipun potensi listrik yang dihasilkan kecil. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Pantai Cipatujah 2 km Waduk Pasirangin LOKASI Kabupaten Garut Kabupaten Tasikmalaya MANFAAT&PENJELASAN Mengamankan daerah permukiman. luas arealnya 1. Tampung total 14 juta m3. Diharapkan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan Elevasi puncak terhadap MSL 265 m. Tampungan total 120 juta m3 dan tampungan aktif 55 juta m3. Plumpatan. perkotaan dan industri serta irigasi. dan prasarana umum Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Jagadenda. Cikonde.Segara Plawangan Anakan (Kabupaten Cilacap & Ciamis) Kabupaten Cilacap Normalisasi sungai-sungai DAS Segara Anakan Normalisasi sistem drainasi Daerah Irigasi Sidareja Cihaur dan sekitarnya Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. Dapat menimbulkan dapak sosial ekonomi rakyat. luas areal 470 ha. Tampungan total 460 juta m3 dan tampungan aktif 250 juta m3.620 ha.229 ha dan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan. Tinggi mercu bendung 60 m. Kabupaten Cilacap Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Memperlancar aliran sungai Citanduy menuju ke laut lepas Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Cibeureum. Pekalongan dan anakanak sungainya Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Sidareja Cihaur Mengembalikan dan meningkatkan fungsi dan kapasitas bangunan klep Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Kabupaten Cilacap Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Cimeneng.

air minum kota sidareja dan pengendalian banjir Penanggulangan sedimentasi di Segara nakan dari sungai Citanduy.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. Ciputrahaji. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 48 M.000 ha. Kabupaten Tasikmalaya. Citalahab dan Cikaso Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Mengembalikan dan meningkatkan fungsi bangunan Klep Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. Dapat menimbulkan dampak sosial ekonomi rakyat. perkotaan dan Industri serta irigasi. 20 lokasi Normalisasi sungai-sungai DAS Citanduy Hilir Normalisasi sistem drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. Tinggi mercu bendung 28 m.050 ha. perkotaan dan industri dan tenaga listrik sebesar 50 lt/det. panjang 40 m. Mengalihkan muara sungai Citanduy langsung ke Laut (teluk Nusaware) Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. pertanian dan prasarana umum. Tampungan total 485 juta m3 dan tampungan aktif 220 juta m3. Tinggi mercu bendung 7 m. 10 lokasi Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Rehabilitasi Bendung Manganti Tahap II Sudetan Citanduy LOKASI Kabupaten Cilacap MANFAAT&PENJELASAN Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan 4-41 Kabupaten Cilacap Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Ciseel.08 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. luas arealnya 3. Penyediaan air Irigasi 27. Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Waduk Matenggang Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap Waduk Binangun I Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis Sungai Citanduy Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengamankan daerah permukiman. bak tampung 3 m dan bahan tubuh bendung adalah urugan tanah dengan inti clay tampungan aktif 27.

perkotaan dan industri serta irigasi. tambak 750 ha ). Irigasi seluas 500 ha dan penyediaan air baku 300 kk Pemenuhan kebutuhan air irigasi dan perikanan tambak Volume tampungan : 0.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Binangun II Waduk Ciamis / Leuwi Keris LOKASI Kabupaten Ciamis MANFAAT&PENJELASAN Elevasi puncak MSL : 55 . tinggi mercu bendung 70 m.000 ha.439 ha. Irigasi seluas 20. perkotaan dan industri serta irigasi Potensi listrik yang dihasilkan kecil.08.A2 Cimanuk Cisanggaru ng Waduk Jatigede Sumedang Cimanuk Waduk Cipanundan Waduk Cilutung Kuningan Majalengka Cimanuk Cimanuk Waduk Cipanas Indramayu Cimanuk Waduk Sarwadadi Long Storage Indramayu Waduk Bojong Waduk Brahim Waduk Cimulya Cirebon Indramayu Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Kuningan Irigasi seluas 9. volume tampungan 2. Tampungan total 150 juta m3 dan tampungan aktif 18 juta m3 Irigasi seluas 90. Harga tampungan per m3 rendah (Rp 650/m3) Volume tampungan netto 796. Memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu Cirebon ( sawah 4. maka Waduk Cilutung dengan El + 294 dapat menjadi alternatif cadangan utama Irigasi seluas 12.683 jiwa. luas areal 440 ha. volume tampungan sebesar 395 juta m3. tinggi mercu bendung 100 m. potensi listrik terpasang 110 MW dan penyediaan air baku untuk 79.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.5 GWh dan potensi air baku 915 ha dengan volume tampungan sebesar 35 juta m3. Tampungan Total (juta m3) : 270 .004 jiwa.36 juta m3 Volume tampungan : 0. Tinggi Mercu Bendung : 33 .330 . Area (ha) : 1. Elevasi terhadap MSL 180 m. Tampungan total 180 juta m3 dan tampungan aktif 78 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.468 ha. luas areal 440 ha. potensi listrik 0. Kuista .000 ha. Long Storage K. potensi listrik 4. Tampungan aktif (juta m3) : 154 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. jika Waduk Jatigede ditunda. Potensi listrik yang dihasilkan kecil.2 GWh dan potensi air baku 444 ha. Elevasi puncak terhadap MSL 180 m.145 ha.27 juta m3 ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan 4-42 Kabupaten Ciamis Waduk Cikembang Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan 02.1 juta m3 Irigasi seluas 4.7 jt m3.Jamblang Cirebon Cimanuk LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

Irigasi seluas 10.534 ha ASAL WS/ PROGRAM Cimanuk 4-43 Waduk Cihowe Waduk Cileuweung Waduk Ujungjaya Cirebon Kuningan Sumedang Cimanuk Cimanuk Cimanuk Waduk Pasirkuda Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk G.000 ha). volume tampungan 78 jt m3.126 jiwa. volume tampungan 50 juta m3.000 ha).3 GWh dan air baku 828 ha. volume tampungan 20 jt m3.145 ha dan potensi listrik 17.7 GWh dan air baku 828 ha.482 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI ± 867.20 GWh. Karung Waduk Maneungteung Waduk Pecang Waduk Seuseupan Waduk Masigit Waduk Ciwaru Majalengka Garut Garut Kuningan Kuningan Kuningan Cirebon Kuningan Kuningan Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Waduk Dukuh Badag 02. potensi listrik 8. Potensi listrik sebesar 86.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5. potensi waduk 150 juta m3. Irigasi seluas 600 ha. volume tampungan 86 juta m3.173 ha potensi listrik 10. Irigasi seluas 9.275 ha. semi teknis dan sederhana) seluas 38.4 GWh dan potensi air baku 444 ha.153 jiwa .1 GWh dan air baku 60 ha. volume tampungan 32 jt m3.439 ha potensi listrik 3. Irigasi seluas 8. Volume tampungan 53 juta m3.A3 Pemali – Comal Waduk Bantar Kawung Kuningan hulu K. pengendalian banjir (± 4. potensi listrik 0. Irigasi seluas 2. Irigasi seluas 8. Nilai EIRR 12.70 GWh dan potensi air baku 915 ha.7 GWh dan potensi air baku 1017 ha dengan volume tampungan 69 juta m3. Irigasi seluas 12.000 ha dan penyediaan air baku 175 juta m3. Irigasi seluas 9. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 27.35 lt/dt.6% pengendalian banjir (± 5.000 MWh dengan volume tampungan 2.275 ha dan potensi air baku 828 ha.835 jiwa dengan volume tampungan 71 juta m3.275 ha. Gung Kabupaten Tegal Pemali Comal LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .960 ha.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Cipasang Garut LOKASI MANFAAT&PENJELASAN Irigasi seluas 18. Volume tampungan sebesar 395 jiwa.982 ha potensi listrik 1.4 juta m3 . Irigasi seluas 4. potensi listrik terpasang187 MW dan penyediaan air baku untuk 22.09. potensi listrik 1. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi (teknis. Pemali Kabupaten Brebes Cimanuk Pemali Comal Waduk Ki Gede Sebayu hulu K. volume tampungan 1. Irigasi seluas 8. volume tampungan 12 jt m3. Irigasi seluas 8.3 jt m3.000 ha potensi listrik 11. Irigasi seluas 5.6 GWh dan potensi air baku 298 ha.

9% Pembangunan/perbaikan tanggul. 10. dengan nilai EIRR adalah sebesar 26. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. 287.730 ha. pembangunan/perbaikan tanggul.5% Pembangunan/perbaikan tanggul. pembangunan inlet drainase 11 buah.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. pembangunan jembatan kereta api baru 1 buah. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.. Sengkarang Kabupaten Pekalongan desa Karanganyar Kabupaten Pemalang Pemali Comal Waduk Krandegan Pemali Comal Waduk Karanganyar Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Tanjung.905 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 8.4 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 26. Keruh Kabupaten Pemalang hulu sungai K. Peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 7. pembangunan/perbaikan tanggul. pembangunan/perbaikan tanggul. untuk mereduksi daerah rawan banjir seluas 1. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. analisa kelayakan ekonomi menunjukkan nilai EIRR sebesar 17.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN LOKASI MANFAAT&PENJELASAN dan untuk penyediaan air baku bagi RKI.770 Ha. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.130 ha Pelindung tebing pasangan batu kali 5.9%. pembangunan bangunan pengukur debit sungai 1 buah. dengan tinggi bendung 95 m. dengan nilai EIRR adalah sebesar 42.717 Ha. normalisasi alur sungai 7. Penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 965. Informasi kelayakan proyek tidak tersedia. Babakan dan Kabuyutan Pengendalian Banjir Sungai Sragi Pengendalian Banjir Sungai Kupang Sungai Tanjung Pemali Comal Pemali Comal Pemali Comal Sungai Sragi Sungai Kupang Pengendalian Banjir Sungai Kluwut Kabupaten Brebes Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Sambong kabupaten Batang dan kabupaten Pekalongan Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Comal kabupaten Pemalang Pemali Comal LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .300 lt/dt. volume tampungan 45. Selain itu untuk penyediaan air baku dengan suplai 2. Genteng dan K.93 juta m3.667 m.352. tinggi bendung 40 m.3 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. 20. penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 2. diharapkan dapat mereduksi daerah rawan banjir seluas 6.718 Ha.699. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. pembangunan jalan dan jembatan baru.1 km. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. volume tampungan 30 juta m3.Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.5 juta/tahun pada harga ASAL WS/ PROGRAM 4-44 Waduk Sipring hulu sungai K.

Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. Semarang Semarang dan Demak Semarang dan Demak Kab. dengan nilai EIRR adalah sebesar 15. Konstruksi dam Jatibarang dimulai tahun 2002 (kegiatan yang masuk dalam jadwal biaya rendah).7 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 750 l/detik dan konservasi air tanah. Jatinegara Jateng Pemali – Comal 02.1% (layak ) pengembangan suplai untuk RKI 1. Grobogan Kab.4% Pembangunan/perbaikan tanggul.5% (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1. Nilai EIRR 11. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12.529 ha. Grobogan Kab. Semarang Jratun Seluna Waduk Mundingan Jragung Barrage + Tunnel Waduk Dolok Waduk Bandung Harjo Waduk Ngemplak Waduk Coyo Waduk Tirto Embung Kedung Waru Kab.6% (layak) pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 18. Grobogan Kab.010 ha dan untuk mensupli waduk Cacaban dengan luas irigasi 1. Usulan baru dan belum pernah dilakukan studi.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. nilai EIRR 10. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. 822. Meningkatkan intensitas tanam pada daerah irigasi Cipero seluas 8.750 l/detik dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 18.A3 Jratunseluna Waduk Jatibarang Kab.1% Pembangunan/perbaikan tanggul. Nilai EIRR 13.020 l/detik dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 16.1%. Pengembangan suplai untuk RKI 920 l/detik dan konservasi air tanah. 231 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. Nilai EIRR 22. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12. Nilai EIRR 14% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.2 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. Blora Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Nilai EIRR 8% (layak) ASAL WS/ PROGRAM 4-45 Pengendalian Banjir Sungai Waluh Sungai Waluh Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Rambut Sungai Rambut Pemali Comal Waduk Jatinegara Kec. Grobogan Kab.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN LOKASI MANFAAT&PENJELASAN dasar tahun 1998. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.10.

14. Kab. Kudus dan Kab.13. Peninggian jembatan melintang sungaisungai di DAS Telomoyo Pembangunan pelimpah banjir DAS Telomoyo Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Penyempurnaan Pengendalian Kab. Kab.8% Pengembangan suplai untuk RKI 1. Layak secara ekonomi. nilai EIRR 15.5 % (layak) Pengendalian banjir seluas 590 ha. Blora Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kab. Pati Kaliwungu.1% pengendalian banjir seluas 12.13% Pengendalian banjir Pengendalian banjir seluas 21 ha. nilai EIRR 15. persawahan dan transportasi.028 ha.C 02. Kab. Kab.650 ha. Banyumas dan Kebumen.Kebumen S Telomoyo & anakanak sungainya.957 ha. DAS Wawar.Lukulo & anakanak sungainya.6% Pengendalian banjir seluas 6. Target 16 km Pengamanan pemukiman . Demak Kab.20 lokasi kritis Mengatasi adanya halangan sungai yang dapat mengakibatkan banjir dan memperlancar transportasi antar pedesaan di 10 lokasi Mengatasi adanya kejadian banjir melebihi rencana. Cokroyasan dan Jratun Seluna Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .700 l/detik (direncanakan memberikan 900 l/dt ke Semarang dan 800 l/detik ke Kendal) dan konservasi air tanah.Purbalingga dan Banyumas S Telomoyo. persawahan dan transportasi. Nilai EIRR 13. nilai EIRR 20. Kab. nilai EIRR 24% Pengamanan pemukiman dan persawahan Target 30km Pengamanan pemukiman .Serayu.4% pengendalian banjir seluas 13.9% pengendalian banjir seluas 10.11. Layak secara ekonomi. nilai EIRR 17. Layak secara ekonomi.12. sehingga dapat mengurangi dampak yang lebih buruk Pengamanan pemukiman . Layak secara ekonomi. Kendal Anak S. persawahan dan transportasi.A3 Wiso . Layak secara ekonomi.Kebumen DAS Tipar dan Ijo.670 ha.Kebumen S Telomoyo & anakanak sungainya.Cilacap.C 02. Nilai EIRR 9.Kuto 02. Brangsong dan Kendal MANFAAT&PENJELASAN Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah Pengendalian banjir seluas 1.Klawing lanjutan Perkuatan tebing lokasi kritis dan penanggulangan banjir nopember 2004.Gelis Kepulauan Karimunjawa Serayu – Bogowon-to Pengendalian Banjir Sungai Blorong Pengedalian banjir S.B Bodri . S. Target ASAL WS/ PROGRAM Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna 4-46 02.337 ha. nilai EIRR 18.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Embung Balong Pengendalian Banjir Sungai Garang Drainase Kota Semarang Tenggang + Sringin Drain Dombo-Sayung Floodway Kebon Batur Floodway Pengendalian Banjir Jragung/Tuntang Pengendalian Banjir SerangWulan-Juana Waduk Kedung Suren LOKASI Kab. Demak Kab. Target 15 . Layak secara ekonomi.

Serayu. Kab. Purbalingga. DAS Serayu. Wonosobo. Telomoyo.Bogowonto dan S. Target 10 lokasi Serayu Bogowonto Mengatasi kekurangan air pada musim kering Serayu Bogowonto LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . S.Telomoyo hilir Serayu Bogowonto Pembangunan Groundsill (Bangunan Penstabil dasar sungai). Ijo dan Tipar DAS Telomoyo.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Banjir dan Drainase Rehabilitasi Jembatan KA melintang sungai di 7 lokasi. Purbalingga. Kebumen dan Purworejo (200 lokasi) Mengurangi sedimentasi waduk dan pemanfaatan untuk air baku. Kebumen. Lukulo dan Bogowonto. dari bahaya banjir. Kebumen dan Purworejo Kab. Banjarnegara. Kab. Mempertahankan kapasitas dan fungsi prasarana pengendalian banjir Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Pembangunan bangunan penahan intrusi air laut Pembangunan bangunan pemanfaatan daerah genangan banjir Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) dan Pengerukan hilir sungai Jladri Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) Menahan pengaruh akibat intrusi air laut di 5 lokasi Serayu Bogowonto Mendaya gunakan lahan depressi Serayu Bogowonto DAS Telomoyo Mengurangi sedimentasi di S. Kab. Kebumen dan Purworejo DAS Wawar. Purworejo. Cilacap. Kab.Jladri. Muara-muara DAS Bogowonto. Kab. Serayu. Wawar dan Telomoyo. Banyumas. Cokroyasan. Wawar dan Telomoyo. Kebumen. Banjarnegara dan Purbalingga. Target 15 lokasi Serayu Bogowonto Mengatasi degradasi sungai. Banyumas. Normalisasi Kali Pantai antara S. Banyumas dan Cilacap DAS Bogowonto dan DAS Cokroyasan Kab.Cokroyasan Operasi dan Pemeliharaan Sungai LOKASI Bogowonto. Telomoyo dan Tipar.Purworejo DAS Bogowonto. Serayu Bogowonto Normalisasi sungai dan bangunan pengatur air untuk mengatasi banjir daerah pemukiman dan budi daya perikanan. Purworejo.Jatinegara dan S. Penyediaan air baku pedesaan dari mata air & sumber air DAS Bogowonto. Kebumen. Banjarnegara dan Purbalingga. Wawar dan Ijo 6 km MANFAAT&PENJELASAN ASAL WS/ PROGRAM 4-47 Pengamanan jalur transportasi KA Yogya -Jakarta.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Penyediaan air baku pedesaan dari bangunan konservasi (groundsill).Banjarnegara DAS Telomoyo Kab.15. Kab. Penyediaan air baku dari bendungan Wadaslintang Pembangunan bangunan konservasi terpadu di hulu sungai LOKASI Kab. Telomoyo .Kebumen Kab. Kulon Progo Kab. Telomoyo. Kebumen dan Purworejo (15 lokasi).Purworejo DAS Serayu Kab.500 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kebumen dan Purworejo.A2 Progo Opak Serang Kab. Wawar dan Cokroyasan. Banyumas. Kulon Progo Mengurangi sedimentasi sungai Serayu Bogowonto Konservasi lahan dan penelitian Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Multi purpose ( Irigasi. Tinggi embung adalah 13. Wonosobo. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 02. Tinggi embung adalah 13. DAS Serayu.Kemit Embung Tangkisan I Embung Tangkisan II Embung Ngroto DAS Serayu.75 m dengan volume tampungan 7. Kulon Progo Embung Kayangan Kab.Gintung Pembangunan Waduk Kemit di S. Cilacap.Banyumas DAS Serayu Kab. Kab.Trenggulun Pembangunan Waduk Gintung di S. Lukulo. Wawar dan Bogowonto. Kulon Progo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .kebumen Serayu Bogowonto Penataan kawasan arboretum Pembangunan Waduk Bener Di S. Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.Banjarnegara DAS Serayu Kab. Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi. Banyumas.Kebumen MANFAAT&PENJELASAN Mengatasi kekurangan air pada musim kering ASAL WS/ PROGRAM Serayu Bogowonto 4-48 Mengatasi kekurangan air kota Kebumen dan pedesaan Kab.Pekacangan Pembangunan Waduk Kesegeran di S. Banjarnegara. DAS Bogowonto.Bogowonto Pembangunan Waduk Wanadadi di S. Purbalingga.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.75 m dengan volume tampungan 35. Lukulo. Kab.

Kulon Progo Embung Weden Kab.000 m3 Berpotensi untuk mengendalikan banjir. Kulon Progo Embung Kebonromo Embung Kronggahan Embung Kedungranti Embung Karang Sari Kab. Untuk DAS Serang. Gunung Kidul Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Embung Kedunggedeng Waduk Tinalah Kab.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. dengan pembatasan pengambilan air sebesar 2. Kulon Progo MANFAAT&PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Belum tersedia data detail Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir ASAL WS/ PROGRAM Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo 4-49 Embung Penggung Embung Girinyono Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Embung Ngalang Kab.5 m3/dt penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. mengairi irigasi 450 ha dan penyedia air minum 75 lt/detik. Kulon Progo Kab. Tinggi embung adalah 11 m dengan volume tampungan 105.000. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku 73 lt/detik dan potensi pengendalian banjir.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Kab. Kulon Progo Kab. Gunung Kidul Kali Progo Waduk Progo Magelang Waduk Elo Hilir Waduk Kaloran Kali Progo Kali Elo Kaloran Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Volume tampungan embung adalah 1. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. dengan tetap memanfaatkan air dari Kali Progo melalui intake Kalibawang. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Sleman Kab.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Embung Dawetan LOKASI Kab. Tinggi embung adalah 5 m dengan volume tampungan 250.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Elo Waduk Sambiroto Waduk Nanggulan I Sedimentasi Waduk Wonogiri Penanganan Pengelolaan Kualitas Air Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hilir. Fase II dan III Pembangunan check dam dan ground sill Pengembangan Bengawan Jero Bengawan Solo FFWS Long-channel Storage Bengawan Solo Hilir Penyediaan Air PDAM di Wilayah Surakarta Penyediaan Air untuk Sstem Pengembangan PDAM Penyediaan Air untuk Daerah Rembang Solo Vallei Werken 9 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hulu 3 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Kali Madiun 16 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hilir Waduk Irigasi Kedung Bendo LOKASI Kali Elo Progo Hulu K.A2 Bengawan Solo ASAL WS/ PROGRAM Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo 4-50 pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir penyediaan air baku Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Fase II Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hulu. Fase II Perbaikan Sungai Kali Madiun.16. Serang Sungai Progo Wonogiri seluruh WS hilir WS hulu WS Kali Madiun Hulu Sungai Bengawan Solo dan Kali Madiun MANFAAT&PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir - 02.

water supply dan hydropower dan untuk sediment control. water supply dan hydropower.B Baru – Bajulmati Bondoyudo . Data teknis yang direncanakan adalah untuk volume tampungan efektifnya sebesar 54 milyar m3 sumber daya air yang terbatas berupa sungai-sungai kecil.20. Data teknis yang direncanakan untuk volume tampungan efektif 147 milyar m3 Irigasi.19.Bedadung Kepulauan Madura Penyediaan air baku industri Pembangunan Waduk Nipah Pembangunan Waduk Blega Pembangunan Waduk Samiran Pembangunan Wa duk Tambak Agung seluruh WS Madura Pamekasan Bangkalan Pamekasan Sumenep Madura Madura Madura Madura Adapun beberapa balai baru yang dibentuk menurut Peraturan Menteri PU No.2 (Organiasasi dalam pengelolaan SDA). 12 tahun 2006 yang akan mengurus pengelolaan wilayah sungai baru ini disajikan pada bagian 4. sehingga harus ada solusi sumber daya air bila Madura hendak difungsikan pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 100 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 50 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 Sungai Widas Brantas Ludoyo Brantas Brantas 02.22.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Rehabilitasi dan Peningkatan Sistem Irigasi Waduk Serbaguna Bendo Sabo Gunung Kelud Sabo Brantas Hulu dan Sungai Lesti Pengendalian Banjir Sungai Widas Lodoyo Diversion Tunnel Beng Dam LOKASI MANFAAT&PENJELASAN penyediaan air baku penyediaan air baku ASAL WS/ PROGRAM Bengawan Solo Bengawan Solo Brantas Brantas 4-51 02.B Welang – Rejoso Pekalen Sampean Genteng I Dam Sungai Genteng.B 02.6.B 02. Pengembangan terhadap masalah pengendalian banjir di Sungai Widas sesuai dengan yang direncanakan dalam Master Plan tahun 1985 Pencegahan terhadap bencana yang dapat ditimbulkan oleh Gunung Kelud Irigasi.21.A3 Brantas Kali Konto Brantas Hulu dan Sungai Lesti mengurangi transport sediment ke reservoir Dam Sengguruh dan Dam Sutami. Lesti Pekalen Sampean 02.17.B 02. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sebanyak 17 Sabo Dam telah direncanakan untuk daerah hulu DAS Sengguruh Dam.18.

disusun dengan mengacu pada Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai yang telah ditetapkan sebelumnya.7/2004 tentang SDA telah diatur bahwa Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai perlu ditetapkan terlebih dulu sebelum Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai disusun. dalam Rencana Induk telah di identifikasi kebutuhan air untuk berbagai sektor yang ada dalam wilayah sungai tersebut diantaranya air baku untuk permukiman didaerah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4-52 4.3. industri. dengan demikian pola alokasi air ini juga sekaligus mencerminkan pula garis besar penggunaan ruang dalam wilayah sungai dimaksud. maka Pola dimaksud dapat menjadi arahan/pedoman penyusunan Rencana Induk. pertanian dan sebagainya. Sedangkan untuk Wilayah Sungai yang belum mempunyai Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai. Rencana Induk (master plan) harus mampu mengidentifikasi isuisu yang terkait dengan pengelolaan SDA yang mencakup aspek-aspek konservasi. Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai ini disusun dengan melibatkan para pemangku kepentingan (stakeholders) SDA dan perlu mendapat persetujuan dari Dewan SDA Nasional untuk Wilayah Sungai Nasional. 7/2004) maka penyusunan Pola Pengelolaan SDA perlu disusulkan. Bilamana pada bebarapa wilayah sungai telah mempunyai Rencana Induk (Master Plan) namun belum mempunyai Pola Pengelolaan SDA (karena Master Plan dibuat sebelum adanya UU No. Dalam pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai akan ditetapkan garis besar alokasi air untuk berbagai sektor diantaranya untuk permukiman dan perkotaan. Selanjutnya.3 Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai: sebagaimana diamanatkan dalam UU No. Pembuatan Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai. dan pendayagunaan SDA serta penanganan bencana yang terkait dengan air di wilayah sungai yang bersangkutan. Setelah Pola Pengelolaan SDA ditetapkan secara formal berdasarkan proses yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan maka Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai telah ada perlu disesuaikan dengan Pola Pengelolaan SDA. serta Dewan SDA Propinsi dan Kabupaten/Kota untuk Wilayah Sungai Propinsi dan Kabupaten/kota.

d. Proses pembuatan Rencana Induk juga harus melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) bidang sumber daya air pada wilayah sungai tersebut.4 4. dan wilayah sungai strategis nasional.4. industri. dan strategis nasional. melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. c. menetapkan kebijakan nasional sumber daya air. menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. b. perikanan. pertambangan dan sebagainya yang telah mengantisipasi pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi dalam kurun waktu “planning horizon” minimal 30 tahun kedepan. e. wilayah sungai lintas negara.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA perkotaan (termasuk kawasan jasa & perdagangan) dan perdesaan. wilayah sungai lintas negara. menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. pertanian. Dewan SDA Propinsi untuk Wilayah Sungai Propinsi dan Dewan SDA Kabupaten untuk Wilayah Sungai Kabupaten. dan wilayah sungai strategis nasional. 4-53 4. wilayah sungai lintas negara. menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas provinsi. wewenang dan tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan SDA meliputi: a. UU No. lingkungan.1 STRATEGI PEMBIAYAAN Wewenang Tanggung Jawab Pemerintah Berdasarkan pasal 14. lintas negara. Selain itu Rencana Induk juga harus mendapat persetujuan dari Dewan Sumber Daya Air Nasional untuk Wilayah Sungai Nasional. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan wilayah sungai strategis nasional. Demikian pula dalam Rencana Induk harus telah diidentifikasi jenis-jenis alternatif prasarana dan sarana yang mampu memenuhi kebutuhan air untuk berbagai sektor termasuk lingkungan yang telah memperhitungkan pertumbuhan penduduk dan ekonomi dalam kurun waktu 30 tahun kedepan serta mampu mengantisipasi dampak iklim yang berubah (terjadinya kejadian ekstrim kekeringan dan banjir).

dewan sumber daya air wilayah sungai lintas propinsi. wilayah sungai lintas negara. membentuk Dewan Nasional Sumber Daya Air. mengatur. dan pengusahaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. iii) norma. Locus (lokasi) dari wewenang dan tanggung jawab Pemerintah (pusat) adalah pada wilayah sungai lintas propinsi. menetapkan dan memberi rekomendasi teknis atas penyediaan. penggunaan dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas provinsi dan cekungan air tanah lintas negara. peruntukan. Lingkup wewenang dan tanggung jawab mencakup: i) membuat dan menetapkan peraturan dan perundang-undangan. dan pedoman pengelolaan sumber daya air. 3. dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. memfasilitasi penyelesaian sengketa antar provinsi dalam pengelolaan sumber daya air. menetapkan norma. mengatur. dan wilayah sungai strategis nasional. iii) penanganan bencana yang terkait dengan air. 4-54 g. efisiensi. penggunaan. ii) pendayagunaan SDA. menetapkan. Lingkup pengelolaan SDA mencakup: i) konservasi SDA. 2. standar. dan l. k. pedoman dan manual pengelolaan SDA. iv) pemberdayaan masyarakat. ii) kebijakan umum dan operasional pengelolaan SDA. peruntukan. dan dewan sumber daya air wilayah sungai strategis nasional. menjaga efektivitas. dan wilayah sungai strategis nasional. wilayah sungai lintas negara. dan wilayah sungai strategis nasional. h. dan v) penyediaan sistem informasi SDA. Dari uraian wewenang dan tanggung jawab diatas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. wilayah sungai lintas negara. i.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA f. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . kriteria. standar. memberikan bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. j. dan iv) melaksanakan pengelolaan. kualitas. dan memberi izin atas penyediaan.

Pembiayaan pelaksanaan konstruksi. b. anggaran swasta. dan/atau hasil penerimaan jasa pengelolaan sumber daya air. (3) a. b. evaluasi dan pemberdayaan masyarakat. dan dapat melibatkan peran serta masyarakat petani. badan usaha lain. biaya perencanaan. dan c) koperasi. kecuali bangunan sadap. c. b) badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah pengelola sumber daya air. pemeliharaan. (5) Pembiayaan pelaksanaan konstruksi dan Operasi dan Pemeliharaan sistem irigasi diatur sebagai berikut: a. e. anggaran pemerintah. saluran sepanjang 50m dari bangunan sadap dan boks tersier serta bangunan pelengkap tersier LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . baik secara sendiri-sendiri maupun dalam bentuk kerja sama.2 Kebijakan Pembiayaan 4-55 Berdasarkan UU No. Jenis pembiayaan pengelolaan sumber daya air meliputi: a. d. (4) biaya sistem informasi. dan perorangan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. b. dibebankan kepada: a) Sumber dana untuk masing-masing jenis pembiayaan dapat berupa: Pembiayaan pengelolaan sumber daya air Pemerintah dan Pemerintah berdasarkan kewenangannya masing-masing dalam pengelolaan Sumber daya Air.4. biaya pemantauan. c. operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi primer dan sekunder menjadi tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya. biaya pelaksanaan konstruksi biaya operasi. Pembiayaan pelaksanaan konstruksi saluran tersier menjadi tanggung jawab petani dan dapat dibantu Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. 7/2004 pengaturan kebijakan pembiayaan pengelolaan Sumber Daya Air adalah sebagai berikut: (1) (2) Pembiayaan pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan kebutuhan nyata pengelolaan sumber daya air.

(8) Untuk pelayanan sosial serta pelayanan yang ditujukan bagi kesejahteraan dan keselamatan umum. Pengguna sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk pertanian rakyat tidak dibebani biaya jasa pengelolaan sumber daya air. Pembiayaan pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaan sistem irigasi tersier menjadi tanggung jawab petani dan dibantu Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah. Badan Usaha lain dan perorangan ditanggung oleh masing-masing yang bersangkutan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA lainnya menjadi tanggung jawab Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. BUMN/BUMD Pengelola Sumber daya Air. dari para pengguna sumber daya air Dana yang dipungut dipergunakan untuk mendukung 4-56 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pembiayaan pengelolaannya ditetapkan bersama oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang bersangkutan melalui pola kerja sama. lintas kabupaten/kota. Pengguna sumber daya air lainnya menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air. dan strategis nasional. (7) Pembiayaan pengelolaan sumber daya air yang ditujukan untuk pengusahaan sumber daya air yang diselenggarakan oleh Koperasi. (6) Dalam hal terdapat kepentingan mendesak untuk pendayagunaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam batasbatas (9) tertentu dapat memberikan bantuan pembiayaan kepada BUMN/BUMD Pengelola Sumber daya Air. (10) Penentuan besarnya biaya jasa pengelolaan sumber daya air didasarkan pada perhitungan ekonomi rasional yang dapat dipertanggung jawabkan. c. (11) Penentuan nilai satuan biaya jasa pengelolaan sumber daya air untuk setiap jenis penggunaan sumber daya air didasarkan pada pertimbangan kemampuan ekonomi kelompok pengguna dan volume penggunaan sumber daya air. kecuali untuk penggunaan non usaha. (12) Pengelola sumber daya air berhak atas hasil penerimaan dana yang dipungut dari para pengguna sumber daya air.

Pada kondisi sekarang secara umum dikenal bahwa pemerintah.1 Pemerintah sebagai pemberdaya (enabler) Dalam sektor sumber daya air ciri pemerintah sebagai pemberdaya ditunjukan dengan beralihnya pendekatan pembangunan yang ”prescriptive” dan terpusat menjadi kerangka sistem dan pendekatan partisipatif. dan BUMN/BUMD. beban dari pemerintah dapat dikurangi dan kinerja dalam fungsi publik dapat dicapai. hendaknya mengurangi perannya sebagai penyedia layanan dan lebih berkonsentrasi untuk menjadi regulator dan pengendali penyedia layanan jasa. perancangan (pembuatan rencana induk).3 Peran-peran Lain Pemerintah 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA terselenggaranya kelangsungan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan.2 Pemerintah sebagai regulator dan pengendali Pembuatan kebijakan.3. 4-57 4. dan kurangnya transparansi dari manajemen tetapi juga didorong oleh bertambahnya berbagai kesulitan yang dihadapi oleh negara-negara di dalam pembiayaan yang diperlukan untuk investasi dibidang sumber daya air. seperti sektor swasta. konflik interest. Pelaku lainnya. penindakan dan resolusi konflik final masih perlu menjadi tanggung jawab pemerintah.4.4.Dengan mengadopsi peran sebagai fasilitator dan arbitrase. Meskipun partisipasi masyarakat cukup tinggi tidak berarti pemerintah lepas dari tanggung jawab. monitoring. 4. mungkin dapat menyediakan jasa layanan air dengan monitoring dan pengendalian dari lembaga pengawas. dan memenuhi prinsipprinsip pembangunan berkelanjutan. Kecenderungan untuk tidak selalu bergantung kepada penyediaan layanan dari pemerintah telah didorong tidak saja oleh kepedulian atas ketidak-efisienan. alokasi air.3. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .4. Pemerintah perlu menciptakan kondisi dimana semua aktor/pelaku yang mempunyai kepentingan dalam permasalahan sumber daya air dapat terlibat dan dapat bernegosiasi diantara mereka untuk mencapai solusi yang dapat diterima semua pihak. bilamana memungkinkan.

akan berkontribusi dalam mengurangi peran dan beban pemerintah didalam pengelolaan sumber daya air. Tetapi hal ini tidak selalu demikian: yang terjadi adalah perubahan fungsi.3. Bilamana pemerintah masih memegang fungsifungsi layanan umum. perlindungan terhadap banjir. keterlibatan masyarakat yang miskin dalam layanan air akan memerlukan katalist berupa dukungan dana dari pemerintah dan sumber dana dari luar lainnya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4.4. Disamping itu. pembuangan dan pengolahan limbah cair) dimana investasi publik masih sangat diperlukan.3. namun tetap diperlukan suatu entitas publik dalam hal ini pemerintah yang mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk memantau dan mengatur penyediaan layanan yang memadai dan dalam harga yang terjangkau. Dapat disimpulkan bahwa dalam keterlibatan swasta peran pemrintah dalam pengaturan justru semakin bertambah dan tidak berkurang. Demikian juga. hal ini mungkin akan memerlukan waktu beberapa tahun kedepan yang cukup lama dibeberapa negara. Pemisahan ini akan membantu terciptanya transparansi dan akuntabilitas. 4-58 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .4 Peran Pemerintah dalam ”keterlibatan dunia swasta” Yang dimaksud dengan sektor swasta disini adalah sektor perusahaan swasta dan orgnisasi-organisasi yang berbasis masyarakat. prinsip terpenting yang perlu dilaksanakan adalah bahwa instansi-instansi pemerintah penyedia layanan tersebut hendaknya tidak mengatur untuk dirinya sendiri.3 Pemerintah sebagai Penyedia Layanan (Service Provider) Seluruh pemerintahan hendaknya berupaya untuk mengalihkan penyediaan jasa layanan air kepada stakeholders non-pemerintah. perlu dicatat bahwa dalam layanan dibidang air terdapat elemen-elemen yang bersifat layanan umum (diantaranya. Diperlukan pemisahan yang jelas diantara fungsi pengatur dan fungsi pelaksana. yaitu dalam layanan air minum dan sanitasi. Pemikiran kotemporer menunjukkan bahwa keterlibatan swasta dalam layanan air.4. 4. Tugas akan berubah setelah fungsi operasional/pelaksanaan dialihkan ke aktor swasta.

dalam waktu kedepan.4 Strategi Pendanaan dan Tujuan Studi Kelayakan Proyek 4. operasi. kenyataan tetap menunjukkan bahwa penyedia layanan umum dari sektor publik (perusahaan milik pemerintah) akan. dan penyediaan kerangka hukum dan institusi yang menjamin pelaksanaan partisipasi sektor swasta yang berhasil. seperti tarif air.4. Meskipun telah terjadi kecenderungan akan meningkatnya privatisasi dan pemerintah mempunyai peranan kunci dalam memfasilitasi partisipasi sektor swasta yang lebih besar.4.3.5 Peningkatan Kinerja Sektor Publik Kenyataan bahwa seperlima dari penduduk dunia (pada umumnya masyarakat yang termiskin) adalah tanpa akses ke air minum yang aman dan hampir separuh dari penduduk dunia tanpa akses yang memadai atas sanitasi yang memadai (kondisi ini juga merefleksikan kondisi layanan air minum dan sanitasi di Indonesia). masih melayani sebagian besar dari pengguna. adalah sangat penting untuk memberi perhatian yang besar untuk upaya peningkatan kinerja sektor publik.4. telah dianggap sebagai indikasi umum penyediaan layanan oleh sektor publik dan telah mendorong pemerintah-pemerintah untuk berpaling ke sektor swasta. 4-59 4.1 Strategi Pendanaan Sebagaimana diatur dalam UU Sumber Daya Air No. 7/2004 salah satu sumber pendanaan untuk pembangunan. kebutuhankaum miskin kota.4. jumlah pegawai yang terlalu banyak. Oleh sebab itu.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. termasuk yang bersumber LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Partisipasi sektor swasta hendaknya tidak dianggap sebagai ”panacea” yang akan dengan segera mengatasi masalah-masalah kekurangan kapasitas dan investasi. dan pemeliharaan prasarana dan sarana sumber daya air adalah anggaran pemerintah. Dampak keterlibatan sektor swasta yang paling mungkin adalah mendorong adanya akuntabilitas dan kompetisi dan oleh sebab itu. kinerja yang semakin baik dari sektor publik. Peningkatan efesiensi utilitas baik yang ditangani oleh sektor publik atau sektor swasta harus diikuti oleh keputusan-keputusan pemerintah yang mengatasi permasalahan kunci.

diantaranya: a) debt swap yaitu penghapusan pinjaman luar negeri senilai biaya kegiatan yang kita laksanakan dengan persetujuan negara/institusi donor. dan c) pendanaan program-program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim untuk negara-negara berkembang.4. Sedangkan dana hibah luar negeri bagi negara-negara berkembang. penyediaan akses kepada air minum yang sehat dan parasarana sanitasi bagi penduduk miskin dan pelestarian ekosistem penunjang kehidupan. b) program ”Clean Development Mechanism (CDM)” yaitu imbalan pembiayaan kegiatan senilai pengurangan karbondioksida. Selain dana pinjaman dan atau hibah luar negeri melalui mekanisme ”biasa” baik secara ”bi-lateral” maupun ”multi-lateral”. Selain itu dana hibah luar negeri juga tepat digunakan untuk peningkatan kapasitas (capacity building) dalam hal implementasi 4-60 ”Integrated Water Resources Management” (Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air) yang juga merupakan salah satu sasaran MDGs. dan diutamakan untuk membiayai proyek-proyek yang mempunyai kelayakan eknomi yang tinggi termasuk peluang untuk pengembalian biaya (cost recovery). Penggunaan dana pinjaman luar negeri untuk prasarana dan sarana publik khususnya sumber daya air hendaknya dipilih dari ”scheme” yang lunak (berbunga rendah dan tenggang waktu pembayaran yang panjang) dipakai secara selektif penuh dengan ke-hati-hatian. terdapat peluang untuk mendapatkan dana hibah melalui mekanisme ”khusus”.4. Studi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .2 Tujuan Studi Kelayakan Proyek Pembuatan studi kelayakan untuk suatu konstruksi prasarana-sarana sumber daya air yang telak diidentifikasi dalam Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang memerlukan alokasi sumber daya yang cukup besar baik penggunaan ruang (lahan) maupun dana investasi wajib dilakukan. peluang untuk mendapatkannya semakin tinggi semenjak dicanangkannya ”Johannesburg Plan of Implementation (2002)” dana ini sebaiknya ditujukan untuk pencapaian sasaran ”Millenium Development Goals (MDGs)” diantaranya untuk pengentasan kemiskinan. 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dari pinjaman dan atau hibah luar negeri.

memberikan nilai ekonomi yang paling baik. dan c) pembuatan beberapa pompa pengambilan air sungai dengan jaringan irigasinya dengan luas total 3000 Ha. dihitung biaya (temasuk biaya sosial dan lingkungan) serta manfaatnya/keuntungannya (termasuk manfaat langsung maupun tidak langsung). Kemudian masing-masing alternative konstruksi dimaksud dievaluasi kelayakan ekonominya dengan parameter-parameter Net Present Value of Benefit. Dalam membuat altenatif-alternatif konstruksi kepentingan pendapatyang hendaknya baik mendengarkan manfaat pendapat maupun mapun dari yang pihak pemangku Pendapatmemerima dampaknya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kelayakan hendaknya memuat pernyataan tentang tujuan. b) intensifikasi pertanian dengan rehabilitasi dan upgrading jaringan irigasi yang ada serta pembuatan beberapa sumur air tanah dangkal dimana peningkatan produksinya setara dengan pembangunan jaringan irigasi baru seluas 3000ha. dan sosial-lingkungan. dan yang dampak sosial dan lingkungannya paling kecil. Dari aspek sosial-lingkungan dievaluasi dampaknya serta tingkat penerimaan masyarakat yang menerima manfaat maupun dampaknya. dan d) keperluan institusi dan aspek hukum pengelola proyek setelah proyek selesai. c) kriteria perencanaan. teknis. masingmasing alternatif konstruksi dievaluasi kelayakannya dari aspek teknis. c) penjadwalan dan pembiayaan proyek. b) manajemen konstruksi dan operasi proyek. ekonomi serta sosial dan lingkungan. Untuk proyek-proyek skala besar studi kelayakan selain 3 (tiga) kriteria dimaksud juga dapat mencakup: a) rencana pembiayaan pelaksanaan konstruksi. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . misalnya untuk meningkatkan produksi padi disuatu wilayah alternative-nya adalah: a) pembuatan bendung untuk mengairi areal baru seluas 3000 Ha. ekonomi. manfaat dan ruang lingkup proyek serta mencakup aspek-aspek. Alternatif yang dipilih adalah alternatif yang layak dari aspek teknis. 4-61 mendukung/menyetujui menolak/keberatan hendaknya dicatat untuk menjadi bahan pertimbnagan dalam pengmbilan keputusan. Dari aspek teknis studi kelayakan mencakup antara lain kajian tentang alternatif-alternatif konstruksi (yang mencakup ruang lingkup konstruksi dan taksiran biayanya) untuk mencapai tujuan dan manfaat yang akan dicapai. Internal Rate of Return dan Benefi-Cost Ratio. Dari aspek ekonomi. Selanjutnya.

Manfaat proyek bagi petani. menentukan dampak proyek atas distribusi/pemerataan pendapatan kepada keluarga miskin/tertinggal. menentukan dampak proyek pada penghasilan devisa c. yang dapat dilihat berdasarkan % (presentase) pertambahan pendapatan bersih usaha tani karena adanya proyek LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . misal 6-2%) benefit-cost (B/C) ratio pada tingkat suku bunga 12% (untuk proyek yang bersifat sosial dan pelestarian lingkungan dapat lebih rendah. menentukan tingkat pentingnya proyek dalam penambahan lapangan kerja b. untuk mengevaluasi tingkat resiko pokok dan kendala serta memberi saran tentang jalan/langkah untuk mengurangi resiko dan meringankan kendala.4. 4-62 4. untuk mengevaluasi benefit/manfaat proyek dalam lingkup nasional b. Sedangkan tujuan sekunder dari studi kelayakan proyek dapat mencakup: a. untuk mengevaluasi benefit/manfaat proyek terhadap masyarkat/ individu penerima manfaat c.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tujuan utama dari studi kelayakan proyek prasarana dan sarana sumber daya air adalah: a. untuk mengevaluasi biaya proyek dan kemungkinan tingkat pengembalian biaya (cost recovery) untuk instansi yang akan membiayai proyek d.4.3 Kriteria Evaluasi Kelayakan Proyek Kelayakan suatu proyek ditentukan berdasarkan hasil evaluasi atas indikatorindikator sebagai berikut: 1. misal 6-2%) 2. Kontribusi proyek terhadap pendapatan nasional. yang dapat dilihat dari besaran/nilai: economic internal rate of return (EIRR) net present value of benefit pada tingkat suku bunga 12% (untuk proyek yang bersifat sosial dan pelestarian lingkungan dapat lebih rendah.

mendorong program pembangunan daerah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3. yaitu yang berorientasi pada efisiensi ekonomi nasional maupun yang berorientasi non-ekonomis. Hal ini dapat dilihat dari Cost Recovery Index (CRI) Tingkat resiko proyek Kriteria evaluasi: • • • 75% probability level untuk Economic Internal Rate of Return (EIRR) 75% probability level untuk Net Present Value of Benefit (NPVB) 75% probability level untuk Benefit-Cost Ratio 4-63 5. Tujuan evaluasi: menentukan dampak proyek terhadap penciptaan lapangan kerja Kriteria evaluasi: Biaya untuk menciptakan 1000 oranghari (mandays) lapangan kerja 7.4. kriteria-kriteria pemilihan proyek dengan mana tujuan-tujuan tesebut LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dampak proyek terhadap “foreign exchange” Kriteria evaluasi: • • Net foreign exchange savings Domestic Resources Cost 6. Dampak proyek terhadap anggaran pemerintah. 4. misalnya mempertahankan kondisi swa-sembada produksi beras dengan intensifikasi sistem produksi melalui peningkatan jaringan irigasi yang ada maupun perluasan jaringan irigasi melalui perluasan areal sawah beririgasi di luar Jawa. dan menunjang program transmigrasi. Dampak proyek terhadap distribusi pendapatan kepada penduduk tertinggal Kriteria evaluasi: • • • % (presentase) perubahan pada Gini Coefficient % (presentase) perubahan pada Poverty Ratio % (presentase) dari “project incremantal benefits” yang mengalir kepada keluarga miskin 4. Selain itu.5 Penggunaan Model Investasi Pembangunan prasarana dan sarana sumber daya air khususnya jaringan irigasi di Indonesia bersifat ganda-tujuan (multi-objective).

sehingga proyek hanya dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang ditentukan. faktor sosiopolitis: jumlah transmigran yang didukung. sehingga diperlukan pendekatan yang bersifat multi-objective dan 4-64 multi-critiria dalam proses pemilihan/penyaringan proyek. faktor sosio-ekonomis: jumlah luas areal sasaran. dan non-monetary objective seperti menunjang program swa-sembada beras. faktor-faktor sosio-teknis: kesiapan penduduk untuk memanfaatkan areal pertanian yang baru dicetak. Disamping itu. seperti kesiapan penduduk untuk memanfaatkan areal pertanian yang baru dicetak. dan faktor lingkungan: skore dampak lingkungan Penjadwalan proyek dalam kondisi keterbatasan dana: dengan digunakannya variabel 0 dan1. pelaksanaan pembangunan/rehabilitasi jaringan irigasi mengalami permasalahan dalam penjadwalan. dan tingkat keberadaan luas sawah yang sudah ada pada daerah sasaran. Multi-criteria.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dievaluasi juga mencakup faktor-faktor sosio-teknis. Model ini mampu menangani proses pemilihan proyek (irigasi) dengan karakteristik sebagai berikut: Multi-objective: economic/monetary objective seperti efisiensi ekonomi. mendorong program pembangunan daerah. maka jika proyek dipilih akan diselesaikan dengan tuntas sehingga dihindari penyelesaian proyek yang parsial. faktor teknis: kecocokan/kesuburan lahan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pengalaman dan kemampuan petani untuk memanfaatkan teknologi baru seperti jaringan irigasi teknis. pengalaman dan kemampuan petani untuk memanfaatkan teknologi baru seperti jaringan irigasi teknis. Oleh sebab itu pendekatan ekonomis semata seperti analisis Benefit-cost tidak lagi memadai. dan menunjang program transmigrasi. misalnya banyak proyek dibangun secara bersamaan tanpa menyadari terjadinya keterbatasan dana. ketersediaan air. Model Integer Goal Programming disarankan untuk dipakai dalam proses pemilihan proyek yang bersifat multi-objective dan multi-criteria. dan tingkat keberadaan luas sawah yang sudah ada pada daerah sasaran.

Dapat digunakan sebagai perangkat untuk mengidentifikasi ketidak pastian faktor-faktor sosio-teknis sehingga dapat diantisipasi upaya-upaya untuk meminimalkan ketidak pastian. Dengan diketahuinya skor/posisi atas faktorfaktor sosio-teknis dapat diantisipasi uapaya penanganannya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dibandingkan dengan pendekatan tradisional Benefit-cost analysis. misalnya dalam penjadwalan yang optimal yaitu memilih proyek dengan bulat dapat diselesaikan sesuai periode konstruksi proyek ditengah kendala dana yang tersedia. manfaat dari penggunaan dari model multi-objective-multi-criteria diantarnya adalah: Dapat digunakan untuk membuat simulasi “trade-off” untuk berbagai pilihan kebijakan pemilihan proyek. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . jika tujuan penambahan areal irigasi baru di luar Jawa atau dukungan atas program transmigrasi diberi prioritas maka akan diketahui “skor”/posisi masing-masing calon daerah irigasi dalam hal kesiapan petani. Demikian halnya untuk tujuan/objective dan kriteria-kriteria lainnya akan menghasilkan pilihan proyek dan pencapaian sasaran yang berbeda tergantung dari tujuan dan kriteria yang diprioritaskan. skenario pemilihan prioritas tujuan dan skenario pemilihan prioritas penggunaan kriteria. sebaliknya jika pencapaian areal irigasi baru atau dukungan atas program transmigrasi dipilih sebagai tujuan prioritas maka akan terpilih proyek-proyek irigasi yang terletak di luar Jawa. misal jika dipilih tujuan efisiensi ekonomi sebagai prioritas maka akan terpilih proyek-proyek irigasi yang terletak di Jawa saja (karena dengan investasi yang tidak terlalu besar misalnya untuk rehabilitasi dan atau lanjutan pembangunan jaringan irigasi akan diperoleh nilai net 4-65 present value of benefit yang cukup tinggi). kapasitas petani dan jumlah areal yang sudah berupa sawah pada daerah sasaran. Dapat digunakan untuk mengatasi masalah manajerial penjadwalan proyek. Dapat digunakan untuk “parametric analysis” untuk berbagai skenario ketersediaan dana. Misalnya.

berkelanjutan (antar generasi).5 STRATEGI KELEMBAGAAN DAN KOORDINASI Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan secara terpadu (multi sektoral). kuantitas-kualitas. menyeluruh (hulu-hilir. sanitasi. dan kapan dukungan sarana produksi padi dan pelatihan untuk petani harus dimulai dan kapan pula transmigran mulai didatangkan ke daerah sasaran. instream-offstream. air dan lahan. freshwater management and coastal zone management). 4-66 4. dan pembangunan jaringan sumber daya air lainnya. kapan jaringan irigasi dimulai dan diselesaikan pembangunannya. air permukaan-air tanah. Dalam tahun-tahun belakangan ini. Pendekatan ini telah mengarah pada LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dapat dipakai sebagai perangkat untuk koordinasi antar sektor dengan diketahuinya jadwal dan kondisi faktor-faktor teknis. sosio-ekonomi dari daerah sasaran Misalnya. Model ini dengan berbagai modifikasi dapat digunakan untuk pemilihan prasarana dan sarana lainnya yang mempunyai karakter multi-objective – multi – citreria. berwawasan lingkungan (konservasi ekosistem) dengan wilayah sungai (satuan wilayah hidrologis) sebagai suatu kesatuan perencanaan dan pengelolaan. sosio-politis. suatu pendekatan regional dalam perencanaan pengembangan sumber daya air telah diikuti untuk mengatasi konflik yang muncul dengan cepat pada penggunaan air dalam kaitannya dengan tata ruang wilayah. sosio-teknis. Pendekatan ini diperlukan untuk optimalisasi penggunaan sumber daya wilayah sungai karena dapat memberikan perhatian. maka perlu dikelola berdasarkan pendekatan peran serta (participatory approach) semua stakeholders dan segala keputusan publik tentang pengelolaan sumber daya air perlu didahului dengan konsultasi publik sebelum menjadi ketetapan. fokus dan integrasi dari berbagai aspek serta sebagai saluran bagi umpan balik pengguna dan dalam pengembalian biaya. seperti penyediaan sarana air minum. Mengingat bahwa sumber daya air menyangkut berbagai sektor pembangunan (multi sector).

Mengadakan seminar informal dan diskusi bulanan antara pihak pemerintah. 4. 5. seperti dari Eropa (Republik Checz. Menjabarkan semua pihak yang terkait yang terlibat dalam manajemen sumber daya air dan menggunakan kerangka kerja pada tingkat WS. Definisi fungsi institusi di tingkat pemerintah pusat yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut: 1. Inggris atau Belanda) dan Asia Tenggara (Sarawak dan Malaysia) dan negara-negara lainnya. untuk mensosialisasikan kegiatan proyek dan tujuannya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA definisi batas wilayah sungai dan pembentukan Satuan Pengelola Teknis Wilayah Sungai. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back). Untuk merumuskan suatu perencanaan termasuk menyusun dokumentasi sumber daya air. Dengan demikian perencanaan pengelolaan sumber daya air akan menjadi suatu program komprehensif pengembangan untuk jangka pendek dan jangka panjang. Masukan-masukan dimaksud dapat dikelompokkan pada: • • • • Integrasi manajemen “freshwater/air tawar” dengan manajemen daerah pantai Integrasi manajemen air permukaan dan manajemen air tanah. harus dilakukan analisis kebutuhan air baik untuk saat ini maupun proyeksinya dimasa mendatang. Integrasi manajemen lahan dan manajemen air. yang bertanggung jawab kepada Pemerintah Provinsi. juga dibutuhkan evaluasi terhadap alternatif kegiatan untuk memanfaatkan sumber daya air tersebut secara lebih baik. Hal ini juga diikuti dengan studi masalah. dan mengidentifikasi berbagai kegiatan untuk menghasilkan suatu pedoman pengelolaan sumber daya air di Indonesia. 3. seperti seminar. 2. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back) dalam Dewan Sumber Daya Air Nasional untuk menampung masukan dari instansi pemerintah dan lembaga non-pemerintah yang terkait dalam pengelolaan sumber daya air. 4-67 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Integrasi aspek kuantitas dan kualitas dalam pengelolaan sumber daya air. Menjabarkan kerangka kerja institusi pemerintah pusat dalam kegiatan manajemen sumber daya air.

penggunaan. Menghindarkan terjadinya “overlapping” dan “gaps” dalam pengaturan tanggung jawab dan kawasan kerja pada lembaga-lembaga yang terkait dengan pengelolaan air yang ada maka diperlukan pemetaan wilayah kerja berdasarkan pembagian wilayah sungai. perlu dipersiapkan peta Indonesia skala 1: 1. 7. Dataran banjir yang diatur. propinsi. 4-68 6. integrasi kepentingan daerah hulu dan hilir. fungsi dan yurisdiksi untuk koordinasi sektor-sektor yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya air pada tingkat nasional. manajemen.000. Pembagian institusi yang bertanggung jawab adalah sebagai berikut: LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . kontrol/pengendalian akses. Untuk keperluan ini. Daerah aliran air bagian hilir. Daerah tangkapan air (catchment area). Pembuatan prinsip dan konsep peran institusi dan tanggung jawab mengenai: manajemen integrasi DAS dan daerah pantai. Alur sungai. integrasi manajemen lahan dan air. Daerah pinggiran dataran banjir yang diatur (regulatory floodway fringe).000 yang menggambarkan kondisi batas Wilayah Sungai yang terbaru berdasarkan Permen PU No:11/M/2006. kabupaten dan kecamatan serta batas kawasan kerja pihak-pihak yang terkait. Mengklarifikasi pembagian tugas. maka daerah aliran sungai (DAS) perlu dibagi berdasarkan area sebagai berikut: • • • • • • • • • • • • • Daerah aliran air bagian hulu. Daerah banjir. Daerah pantai. 8. perencanaan. Daerah aliran air bagian tengah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • Integrasi keperluan yang terkait dengan air didaerah hulu dan didaerah hilir Masalah-masalah yang terkait dengan koordinasi dan legislasi sumber daya air.

masalah institusi. resolusi konflik. air industri. 4-69 9. pengendalian kualitas air. memperkirakan resiko yang mungkin terjadi. 10. pengembangan sumberdaya manusia. inventarisasi pengguna dan permohonan alokasi air. air untuk wisata air. Informasi diatas digunakan untuk mengkoordinasi secara fungsional dan spasial antara sektor berikut: penyediaan air minum. evaluasi dan pengawasan. masalah hukum. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . menurunnya kuantitas dan kualitas pasokan air. 13. mengendalikan alokasi sumber daya air. air untuk pembangkit listrik tenaga air. masalah legislasi. 12. koordinasi pengembangan. Mengadakan studi banding mengenai permasalahan integrasi sub-sistem sosial dan sub-sistem alam dalam pengelolaan terpadu sumber daya air. dan air untuk lingkungan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • • • • • • • • • • • • • • pengendalian penggunaan sumber daya air. dan sebagainya. 11. perencanaan pengembangan partisipasi publik. air perikanan. menurunnya daya dukung lingkungan serta meningkatnya kepedulian atas kelestarian lingkungan. Merumuskan kurangnya koordinasi antar institusi dalam hal penyediaan air untuk berbagai keperluan serta mengidentifikasi upaya-upaya untuk mengatasinya. Merumuskan kekurangan infrastruktur pengolahan air limbah dan pengaturan aspek legal-nya untuk daerah perkotaan dan daerah urban. Identifikasi tugas institusi dalam menghadapi tantangan dalam pengelolaan sumber daya air yaitu antara lain: meningkatnya kebutuhan air. air irigasi/pertanian. pengendalian alokasi keuangan dan pembiayaan. penegakan hukum.

yang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang PokokLAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . akan banyak memberikan perubahan-perubahan mendasar dalam sistem ketatanegaraan. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas. Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota dan semua produk hukum yang isinya bertentangan dengan Peraturan perundang-undangan tersebut perlu untuk direvisi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 14. 15. Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (sebagai pengganti UU No 22/1999) dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai otonomi daerah. 4-70 4. erosi dan sedimentasi. Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 (sebagai pengganti UU No. 22/1999) dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000. meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. baik masalah kekurangan air. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 merupakan faktor pendorong untuk memberdayakan masyarakat. maka untuk saat ini kedua produk hukum tersebut digunakan sebagai acuan untuk pembagian kewenangan antara Pusat. Mengidentifikasi pilihan alternatif pemecahan masalah dengan pernyataan yang jelas tentang kelebihan dan kekurangannnya dari alternatif yang disiapkan. banjir serta kualitas air adalah termasuk upaya penanggulangan secara struktural dan non-struktural pengembangan sumber daya air dalam era otonomi daerah. Menyiapkan kerangka kerja tugas dan fungsi koordinasi institusi yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air pada lembaga pemerintah dan pihak non-pemerintah yang terkait. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 menempatkan otonomi daerah secara utuh pada daerah kabupaten dan daerah kota.6 PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DALAM ERA OTONOMI DAERAH Di dalam upaya penanggulangan masalah pengembangan sumber daya air.

3. 4-71 satu Wewenang Penetapan Wilayah Sungai.16 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai Wilayah Sungai Dalam satu Kabupaten/kota Lintas Kabupaten/Kota dalam Propinsi Lintas Propinsi Sungai Strategis Sumber: UU No. Dalam UU SDA Pasal 5 dan Pasal 6 Tentang Pengelolaan Sumber daya air. Pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan seluas-luasnya peran serta masyarakat. ditetapkan sebagai berikut: Tabel 4. Pelaksanaan otonomi daerah yang bertumpu pada otonomi daerah kabupaten dan daerah kota juga memberikan pengaruh yang besar terhadap pengelolaan sumber daya air. Berdasarkan prinsip keterpaduan tanpa mengurangi Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Sungai. 2. 4. Daerah kabupaten dan kota tersebut berkedudukan sebagai daerah otonomi dan mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat di daerahnya. Pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan wilayah sungai. Penetapan Pola dan Pelaksanaan Pengelolaan SDA Bupati/Walikota Gubernur (konsultasi dengan Dewan Daerah Sumber daya air) Menteri (konsultasi dengan Dewan Nasional Sumber daya air) Pemerintah (dengan persetujuan dan dilakukan bersama Pemerintah Daerah) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pokok Pemerintah di Daerah. 7 Tahun 2004. pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. Pemerintah dan DPR telah mengeluarkan Undang-undang (UU) Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber daya air. disebutkan bahwa: 1. UU SDA ini menggantikan Undang-undang yang berlaku sebelumnya. yaitu UU Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. berkedudukan sebagai Kabupaten Daerah Tingkat II dan Kotamadya Daerah Tingkat II. Berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air. Pengelolaan sumber daya air meliputi kegiatan konservasi.

termasuk para kelompok pengguna air di dalam pengelolaan sumber daya air. Masalah yang berkaitan dengan penggunaan air permukaan dan air tanah memperlihatkan perlunya pengelolaan bersama antara sumber air tanah dan air permukaan. d. Selama proses masa transisi. air tanah dan kualitas air. Masalah dan tantangan yang perlu dikaji adalah sebagai berikut: a. Perencanaan harus menerapkan prinsip peningkatan fungsi dan daya dukung daerah aliran sungai sebagai sumber air dan manajemen daerah aliran sungai. tapi penegakan hukum dan peraturan mengenai kuantitas air dan kualitas air sampai sekarang masih kurang.1 Permasalahan dan Tantangan dalam Pengelolaan Sumber daya air Masalah khusus yang mendesak untuk pengembangan wilayah sungai terdiri atas terlalu banyak air dimusim hujan. Hal ini juga harus diterapkan tingkat Wilayah Sungai. Pemantauan telah dilakukan. 4-72 4. terlalu sedikit air dimusim kemarau sedangkan air yang tersediapun sudah terlalu kotor yang menyangkut pengelolaan air permukaan. Untuk itu diperlukan suatu terobosan berupa suatu kesepakatan operasional pelayanan sumber daya air yang mengikutsertakan para penanggung jawab operasional di lapangan. baik dari unsur pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah propinsi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Pengelolaan sumber daya air memerlukan dukungan penuh dan terus-menerus dari institusi jajaran pemerintah propinsi/kabupaten/kota dan stakeholders. Peningkatan manajemen sumber daya air permukaan dan air tanah harus dalam kerangka kerja yang sama pada masing-masing Wilayah Sungai yang bersangkutan. c.6. Suatu pengelolaan kuantitas air dan kualitas air yang memadai akan menjadi penting bagi pembangunan. dan kabupaten dalam manajemen sumber daya air maupun LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . propinsi. b. pemerintah harus menjalankan perencanaan dan koordinasi pengembangan sumber daya air dengan tegas. Kerangka kerja institusi harus mengatur koordinasi antara tingkat nasional.

provinsi dan wilayah sungai. 2) propinsi (prioritas pada wilayah sungai propinsi atau lintas kabupaten dalam satu propinsi). yakni: 1) nasional (prioritas pada Wilayah Sungai nasional dan wilayah sungai strategis). 4-73 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Perencanaan dan koordinasi manajemen sumber daya air dan daerah aliran sungai pada wilayah sungai nasional dan wilayah sungai strategis dikoordinasikan oleh badan pemerintah pusat dengan partisipasi langsung pihak-pihak yang terkait (pengguna sumber daya air. g. Terdapat juga definisi kawasan kerja yang tidak konsisten pada departemen pemerintah. Departemen pemerintah. Asosiasi perusahaan air minum Asosiasi pengguna air. baik swasta maupun publik) pada setiap WS. Sektor pengembang swasta. Asosiasi profesional. lembaga. Organisasi non pemerintahan. Definisi pihak yang terkait atau pemangku kepentingan/stakeholders adalah: • • • • Lembaga pemerintah pusat yang terkait. e. 3) kabupaten. Bappenas seharusnya memulai untuk mengatur koordinasi batasan kawasan kerja. Bali Wilayah Sungai/BWS. f. dan tingkat administrasi. h. Organisasi pengelola wilayah sungai yaitu Balai Besar Wilayah Sungai/BBWS.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengatur koordinasi antar anggota stakeholders pada tingkat yang sama pada berbagi tingkatan yaitu tingkat nasional. Balai Pengelolaan SDA Propinsi • • • • • Sektor industri swasta. PJT II. Saat ini masih terdapat lembaga pemerintah yang mempunyai tugas yang sama pada perencanaan manajemen sumber daya air dan kawasan kerjanya. 4) kecamatan/daerah tangkapan dan 5) desa/sub DAS yang kecil. PJT I. Kerangka kerja institusi yang terkait harus terdiri dari 5 tahap.

k. Lembaga-lembaga pada tingkat propinsi. pengembangan WS akan diuraikan oleh perencanaan strategi untuk WS. propinsi. n. Perencananan pengembangan pada tingkat kecamatan dibuat oleh pemakai air dan LSM. l. dan kabupaten. Bappenas bertanggung jawab dalam reformasi kebijakan pengelolaan sumber daya air dan membantu Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber daya air. Hal ini diperlukan untuk koordinasi antara tingkat pemerintah. 4-74 Prioritas identifikasi pengembangan wilayah sungai (WS) adalah pada WS tingkat nasional dan WS Strategis nasional. DAS. m. DAS dan kabupaten. o. Kabupaten harus menyiapkan bahan perencanaan pembangunan kabupaten dengan prioritas pada kecamatan. pembaharuan (update). tengah. baik dari segi pasokan maupun kebutuhan. kabupaten. DAS dan kabupaten akan menggambarkan kondisi. Dalam perumusan program sumber daya air dan irigasi. kecamatan dan desa dalam hubungannya dengan daerah hulu. Melengkapi strategi sumber daya air nasional dan menyelaraskan dengan ketentuan dan peraturan sektor dan sub sektor yang ada. dan koordinasi finansial. propinsi. diikutsertakan mengenai bidang pengawasan. Manajemen sumber daya air pada wilayah sungai lintas propinsi dan wilayah sungai strategis nasional akan dikoordinasikan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional dengan sekretariatnya dan struktur transisinya. Manajemen informasi sumber daya air akan didirikan dan berada dibawah sekretariat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • i. diawali dengan penetapan pola dan rencana induk pengelolaan sumber daya air yang disetujui oleh Dewan SDA Nasional. Petani dan asosiasinya. Nelayan dan asosiasinya. j. manajemen. Insitusi ini juga akan bertanggung jawab dalam penyebaran informasi kepada publik dan pengembangan sistem monitor untuk propinsi. Pengembangan ini adalah digunakan untuk sistem pengawasan kinerja pemerintah dan sistem koordinasi manajemen informasi. hilir DAS dan daerah pantai yang ada. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

Kelangkaan air juga diperparah dengan menurunnya kondisi lingkungan dan makin meluasnya lahan kritis. diperlukan adanya institutusi yang bersifat komprehensif untuk menjawab permasalahan yang berkembang.1. Eksploitasi air tanah yang berlebihan mengakibatkan penurunan muka air tanah. Dewan Sumber Daya Air Nasional bertanggung jawab dalam implementasi dan manajemen kebijakan pengelolaan sumber daya air nasional. permukiman dan industri.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA p. Penurunan kinerja infrastruktur sumber daya air. Meningkatnya potensi konflik pemanfaatan air. Meningkatnya kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan. kelembagaan. Regenerasi sumber daya manusia pengelola sumber daya air terancam tidak berlanjut. penurunan kapasitas pengaliran sungai dan penurunan kinerja prasarana pengendali banjir. Rendahnya kualitas pengelolaan hidrologi. Banjir disebabkan oleh perubahan tata lingkungan. Lemahnya koordinasi. land subsidence. Kualitas air buruk karena daya dukung sungai lebih rendah dibanding beban pencemaran. Pengaruh otonomi daerah dalam rangka pengelolaan sumber daya air LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan ketatalaksanaan. dan intrusi air laut. Kebutuhan air baku untuk non-irigasi makin meningkat sejalan dengan perkembangan penduduk. Telah terjadi kekeringan/defisit air (di musim kemarau).1 Permasalahan dalam Pengelolaan Sumber daya air Wilayah Sungai di Pulau Jawa sebagian besar mengalami permasalahan yang sama yaitu: Kerusakan catchment area sehingga memberikan ancaman terhadap keberlanjutan daya dukung sumber daya air. Masih lemahnya pengelolaan database sumberdaya alam. Belum semua wilayah sungai memiliki masterplan. 4-75 4.6.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pada prinsipnya di satu sisi dapat memberikan dampak yang baik dan bermanfaat. ada kecenderungan kabupaten/kota akan menguasai dan mengelola sumber daya air yang terdapat di daerahnya. Pengaruh yang baik dan bermanfaat dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air dalam era otonomi daerah adalah munculnya budaya kompetisi yang sehat antar daerah untuk berusaha memajukan daerahnya masing-masing dengan memanfaatkan potensi yang ada di masing-masing daerah. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Kepentingan Kabupaten/Kota. Selain itu. adanya otonomi daerah dapat menimbulkan permasalahanpermasalahan yang dapat menimbulkan konflik antar daerah dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air. namun di sisi lain juga tidak menutup kemungkinan akan dapat menimbulkan konflik yang sebelumnya mungkin tidak pernah terjadi. 2) Sumber daya air sebagai komoditi ekonomi dapat dikembangkan dan dikelola untuk andalan pendapatan daerah (sebagai air baku. Berikut ini diberikan berapa permasalahan yang sering muncul dalam pengelolaan sumber daya air. yang berarti bahwa kabupaten/kota dituntut dapat lebih intensif mendayagunakan segala potensi yang ada secara bertahap agar mampu membiayai urusan rumah tangganya sendiri dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Dengan diterapkannya otonomi daerah. pariwisata. terkait dengan pelaksanaan otonomi daerah: a. pemerintah kabupaten/kota juga akan berupaya untuk lebih mensejahterakan dan meningkatkan derajat kehidupan masyarakatnya sebagai konsekuensi dari tuntutan masyarakat dan tuntutan jaman. industri. Penguasaan atas sumber daya air ini didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut: 1) Sumber daya air merupakan unsur penting dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan sangat diperlukan untuk pemenuhan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. 4-76 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan lain-lain). Di sisi lain.

perlu adanya pembagian dalam penataan ruang dari masingmasing kabupaten/kota untuk memperhatikan lokasi. fungsi dan sifat dimana daerah tersebut berada dalam wilayah sungai. Pemilik sumber air (lokasi sumber). Alokasi pemanfaatan air. b. Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pemanfaatan tersebut. Masalah penanganan banjir secara komprehensif sangat tergantung oleh adanya keterpaduan pengelolaan daerah pengaliran sungai dalam satu wilayah sungai. Konflik pemanfaatan air bersih dapat terjadi apabila tidak ada kesepakatan yang baik pada pemanfaatan langsung maupun tidak langsung yang terkait dengan: 1) 2) 3) 4) 5) c. dengan catatan tidak didasari atas niat ingin menguasai dan hanya memikirkan daerah setempat saja. Konflik akan terjadi bilamana wilayah sungai terdiri dari beberapa wilayah administratif baik kabupaten/kota atau bilamana wilayah sungai melalui lebih dari satu propinsi. fungsi dan wilayah sungai tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Daerah aliran sungai bagian atas (hulu). Sebab dan akibat adanya banjir ini sangat dipengaruhi oleh kondisi tata ruang dalam wilayah sungai. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan Air Bersih.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3) Dengan menguasai dan mengelola sumber daya air akan mengurangi ketergantungan pada daerah lain. Keuntungan yang timbul dari pemanfaatan air. 4-77 Pertimbangan-pertimbangan tersebut apabila dikembangkan secara positif akan memajukan daerah dan menumbuhkan kompetisi yang baik. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Banjir. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Lokasi. Jalur distribusi yang dilewati. daerah ini berfungsi sebagai daerah konservasi tanah dan air. kawasan lindung dan resapan air serta pengendalian terhadap erosi. Oleh karena itu.

Lebih akan mempersulit pelaksanaan keterlambatan berdasarkan respon hidrologis dan upaya-upaya : keterlambatan dalam respon sosial (pembenahan bantaran (penentuan daerah rawan tingkat resiko) keterlambatan respon ekosistem (pembuatan daerah atau titik-titik/sumur resapan air). keterlambatan dalam merespon sungai yang dimukimi penduduk). penyimpanan. masalah banjir juga terkait dengan ada tidaknya tindakan konservasi di daerah hulu dan untuk mengkoordinasikannya sangat sulit karena berhubungan dengan masalah tataguna lahan pada masing-masing daerah kabupaten/kota.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2) Daerah aliran sungai bagian tengah. daerah ini berfungsi sebagai daerah pengendalian banjir dan drainase serta pencegahan intrusi air laut. 4-78 3) Daerah aliran sungai bagian bawah (hilir). Hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah kejadian-kejadian pemicu-pemicu yang memerlukan penanganan khusus seperti langkah-langkah intervensi pemerintah dalam LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dalam upaya-upaya ini. daerah ini berfungsi sebagai daerah untuk pengumpulan. pengalokasian. komplikasi dapat timbul seperti perubahan yang terus berlanjut dalam hal perubahan-perubahan yang didorong oleh penggunaan tanah dan modifikasi penggunaan air. kesemuanya itu harus diperhitungkan. Untuk itu diperlukan upaya-upaya khusus diantaranya dengan mengintegrasikan kepentingan hulu dan hilir serta diterapkannya prinsip ”hydrosolidarity”. Selain sangat dipengaruhi oleh curah hujan. banjir pertumbuhan penduduk. migrasi-urban dan bertambahnya ekspektasi. Suatu daerah tangkapan air dapat dilihat sebagai socio-ecohydrological system dimana trade offs harus dibuat. peraturanperaturan dan pembiayaan yang siap melaksanakan. dan direalisasikannya implementasi dengan menjamin insentip yang mencukupi dan disertai upayaupaya dibidang pendidikan. penyeimbangan/tradeoffs ini perlu diikuti upaya-upaya yang kondusif agar antara lain: penerimaan masyarakat atas hasil trade offs harus pelaksanaannya dimungkinkan dengan adanya institusi-institusi. pendistribusian serta pengendalian banjir. lanjut. Langkah-langkah dijamin.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

memitigasi bencana yang terkait dengan air seperti kekeringan, tanah longsor dan pencemaran.

banjir,

4-79

Tiga arahan kunci menjiwai sistem manajemen yang diperlukan, yaitu: 1) menjamin layanan yang terkait dengan air kepada penduduk, 2) mencegah dan mengurangi degradasi ekosistem, dan 3) memperkirakan perubahan dan variabilitas iklim dan dampaknya. d. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan Air Irigasi. Guna memenuhi kebutuhan pangan, pemanfaatan air untuk irigasi saat ini masih sangat diperlukan dan masih dominan. Berkaitan dengan hal tersebut, peningkatan kebutuhan air non irigasi akan menyebabkan alokasi pemenuhan kebutuhan air irigasi menjadi berkurang, disisi lain, kebutuhan air irigasi juga cenderung berkurang seiring dengan pengurangan lahan irigasi karena adanya perubahan pemanfaatan lahan. Mengingat air yang terbatas, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan konflik antar pengguna air. Oleh karena itu, perlu adanya kesepakatan dalam hal alokasi air dan pola tanam yang diterapkan. e. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Kelembagaan. Berbagai instuisi selama ini telah melakukan pengelolaan sumber daya air. Pada waktu sumber daya air masih berupa uap air/embun, BMG merupakan instuisi yang berwenang dan bertanggung jawab dalam melakukan pengelolaan dan pencatatan. Sedangkan sumber daya air yang sudah berada pada badan air, yang berupa sungai atau danau sebagai air permukaan dikelola oleh Departemen Pekerjaan Umum/cq. Ditjen Sumber Daya Air. Selanjutnya, sumber daya air yang berupa air tanah yang berada di bawah permukaan tanah dikelola oleh Departemen Pertambangan dan Energi. Sementara itu, untuk air di laut instuisi pengelolanya adalah Departemen Kelautan dan Perikanan. Mengingat sifat kontinuitas sumber daya air, sementara institusi pengelolanya relatif terpisah, oleh karenanya diperlukan suatu koordinasi yang baik diantara para unsur pengelolaannya.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

Pengelolaan sumber daya air melibatkan banyak stakeholders yang seringkali 1) 2) 3) 4) 5) tidak mudah untuk mengkoordinasikannya dan ada kecenderungan sering terjadi egoisme sektoral dengan implikasi: Menitikberatkan pada kepentingan masing-masing sektor, Merencanakan dan melaksanakan pengelolaan sesuai kebutuhannya sendiri, Membuat peraturan sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan masingmasing sektor, Menyebabkan terjadinya tumpang tindih tanggung jawab dan wewenang instuisi, Menyebabkan kurang terintegrasinya tataguna ruang dan tata air. lembaga-lembaga

4-80

Dalam pelaksanaannya, instansi pemerintah termasuk

penelitian dan Perum yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air cukup banyak, yaitu Departemen-departemen Pertanian, Kehutanan, Perhubungan, ESDM, Pekerjaan Umum, Perindustrian, Dalam Negeri, Keuangan, Kelautan dan Perikanan, Kesehatan, Sosial, Kementerian Negara PPN/BAPPENAS, Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Kantor Menko Perekonomian, Kantor Menko KESRA, BPN, BMG, BAKORNAS PBP, BPPT, LAPAN, LIPI, BAKOSURTANAL, PT. PLN, PJT I, dan PJT II. Permasalahan yang sering timbul adalah mengenai batasan kewenangan antar lembaga pengelola SDA dalam pengelolaan sumber daya air masih belum jelas dan belum ada juklak dan juknis yang mengaturnya, terkait dengan Implementasi PP No. 25 Tahun 2000 atau peraturan pemerintah penggantinya.

4.6.1.2 Tantangan dalam Pengelolaan Sumber daya air a. Meningkatnya eksploitasi Sumber daya air demi mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sumber pendapatan daerah ketentuannya terdapat dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah yang menyatakan

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

bahwa salah satu sumber pendapatan daerah berasal dari Pendapatan Asli Daerah, yang meliputi: • • • • hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, lain-lain pendapatan daerah yang sah.

4-81

Sebagai daerah otonomi yang memiliki kewenangan sendiri untuk mengurus daerahnya, terkadang pemerintah daerah dalam mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) baik yang berupa pajak maupun retribusi daerah, seringkali tidak memperhatikan pengaruhnya terhadap daerah lain. b. Ego sektor berubah menjadi ego daerah Akibat dari pengelolaan sumber daya air menyangkut multi sektor, maka pengelolaan sumber daya air akan melibatkan banyak stakeholders yang tidak mudah untuk mengkoordinasikannya sehingga ada kecenderungan terjadinya egoisme sektoral dengan implikasi mengutamakan pada kepentingan masing-masing sektor. Dari ego sektor tadi kemudian berubah menjadi ego daerah dengan implikasi merencanakan dan melaksanakan pengelolaan sumber daya air sesuai kebutuhan daerahnya sendiri tanpa memikirkan daerah lain yang terkadang air sungai tersebut juga mengalir atau melewati daerah lain. c. Masalah Pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai tidak mengenal batas administratif Pembinaan maupun pengelolaan atas air dan atau sumber air pada suatu wilayah sungai batasannya adalah wilayah sungai (batasan hidrologis) bukan batasan administrasi. Sering terjadi permasalahan suatu sumber air terletak pada wilayah administrasi yang berbeda dengan pengguna sumber air tersebut. Permasalahan tersebut biasanya dapat diselesaikan antar instansi pemerintah namun sulit untuk level masyarakat. Sehingga diperlukan adanya koordinasi dan pengaturan atas sumber daya air yang

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

2) Pengembangan kerjasama antar lembaga dan daerah. Pola pengelolaan dari reaktif menjadi proaktif. 4-82 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA adil dan merata secara jelas dan tegas serta memberikan informasi yang transparan bagi masyarakat setempat. karena bagaimanapun juga masyarakat merupakan pihak yang terlibat langsung dalam pemanfaatan dan penggunaan air tersebut. dan PERMEN PU No:13/PRT/M/2006. Kerjasama dalam pemberian perijinan untuk kegiatan-kegiatan pemanfaatan SDA dan pemanfaatan ruang. pendayagunaan sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Lingkup pengelolaan dari orientasi proyek menjadi program terpadu. tanggal 17 Juli 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Wilayah Sungai. kawasan konservasi dan pengendalian pencemaran. diperlukan upaya-upaya pengelolaan sumber daya air yang lebih terpadu. • • • Penanganan wilayah perbatasan. Filosofi pengelolaan dari menghindari hukum menjadi melakukan sesuai hukum. tanggal 17 Juli 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Wilayah Sungai. dengan mempertimbangkan: 1) Perubahan paradigma. Sistem pengelolaan dari rigid menjadi fleksibel. Kerjasama berbasis proyek untuk penanganan masalah sejenis yang dihadapi bersama. pengembangan sumber daya air. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS)/Balai Wilayah Sungai (BWS) adalah unit pelaksana teknis di bidang konservasi sumber daya air.2 Organisasi dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No:12/PRT/M/2006.6. • • • • • Tujuan pengelolaan dari Adhoc (khusus) menjadi need driven. Sehubungan dengan permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air seperti yang disampaikan diatas.

melaksanakan fasilitasi kegiatan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air pada wilayah sungai. melaksanakan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan SDA. melaksanakan pengelolaan sistem hidrologi. melaksanakan penyusunan rencana dan pelaksanaan pengelolaan kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai. melaksanakan ketatausahaan Balai Besar/Balai Wilayah Sungai. peruntukan. Bidang Operasi dan Pemeliharaan. d. d. h. Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. c. e. e. g. yaitu: 1) BBWS Tipe A yang terdiri dari: a. pelaksanaan konstruksi. BBWS/BWS mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan sumber daya air (SDA) yang meliputi perencanaan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . operasi dan pemeliharaan dalam rangka konservasi SDA. melaksanakan penyusunan pola dan rencana pengelolaan SDA pada wilayah sungai. Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. c. f. penggunaan dan pengusahaan SDA pada wilayah sungai. melaksanakan penyiapan rekomendasi teknis dalam pemberian ijin atas penyediaan. Bagian Tata Usaha. melaksanakan operasi dan pemeliharaan SDA pada wilayah sungai. pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. melaksanakan penyelenggaraan data dan informasi SDA. pengembangan SDA.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Sumber Daya Air. j. b. b. Bidang Program dan Evaluasi. 4-83 Balai Besar Wilayah Sungai terdiri dari 2 (dua) tipe. pengembangan SDA. melaksanakan pengelolaan SDA yang meliputi konservasi SDA. pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. Dalam melaksanakan tugasnya BBWS/BWS menyelenggarakan fungsi: a. i.

Yogyakarta 5. - Cirebon Banjar Balai Wilayah Sungai Balai Wilayah Sungai terdiri dari 2(dua) tipe. Seribu Wilayah Sungai Citarum Surabaya Surakarta Semarang Wilayah Sungai Brantas Wilayah Sungai Bengawan Solo Wilayah Sungai Pemali – Comal Wilayah Sungai Jratun Seluna Wilayah Sungai Serayu – Bogowonto Wilayah Sungai Progo– Opak– Serang Wilayah Sungai Cimanuk – Cisanggarung Wilayah Sungai Citanduy 4. c. Seksi Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. e. Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. Bidang Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. Kelompok Jabatan Fungsional. I. TIPE A Balai Besar Wilayah Sungai Brantas Balai besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Balai Besar Wilayah Sungai pemali – Juana Balai Besar Wilayah Sungai Serayu – Opak Balai Besar Wilayah Sungai CimanukCisanggarung TIPE B Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy TIPE A BWS Cidanau – Ciujung – Cidurian BWS Ciliwung – Cisadane BWS Citarum TIPE B Serang Jakarta Bandung Wilayah Sungai Cidanau – Ciujung – Cidurian Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane Wilayah Sungai Kep. 1. b. c. 3. Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. d. Subbagian Tata Usaha.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA f. NAMA BALAI LOKASI WILAYAH KERJA Balai Besar Wilayah Sungai I. II. 1. yaitu: 1) Balai Wilayah Sungai Tipe A terdiri dari: a. 2. Tabel 4. b. Kelompok Jabatan Fungsional. II. 6. Seksi Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. Bagian Tata Usaha. 4-84 3) BBWS Tipe B yang terdiri dari: a. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 17 Balai Besar Wilayah Sungai & Balai Wilayah Sungai di Pulau Jawa NO. 3. 2.

4-85 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 2) Balai Wilayah Sungai Tipe B terdiri dari: a. Penyediaan air baku untuk berbagai keperluan. b. d. Seksi Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. c. e. Kelompok Jabatan Fungsional. Seksi Pelaksanaan Jaringan Sumber Air dan jaringan Pemanfaatan Air. Untuk membantu dinas tingkat propinsi dalam pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersifat lintas kabupaten/kota masih dalam satu propinsi (wilayah sungai propinsi) diperlukan Balai Pengelolaan Sumber daya air Propinsi (Balai PSDA Propinsi) yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 179/1997 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA. 4. Kelompok Jabatan Fungsional.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA d. 5. waduk. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Tingkat Kabupaten/Kota berperan sebagai penanggung jawab pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai yang menjadi kewenangan Kabupaten/Kota yang bersangkutan (wilayah sungai Kabupaten/Kota) yang diwujudkan manifestasinya pada usaha-usaha pembinaan teknis dan pengawasan teknis maupuan pelaksanaan fisiknya. Sungai. Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air/Pengairan Tingkat Propinsi berperan sebagai penanggung jawab pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai yang menjadi kewenangan Propinsi yang bersangkutan (wilayah sungai propinsi) yang diwujudkan manifestasinya pada usaha-usaha pembinaan teknis dan pengawasan teknis maupuan pelaksanaan fisiknya. 3. yang meliputi 9 (sembilan) urusan yaitu: 1. situ dan embung. 2. Seksi Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. Tugas utama Balai PSDA Propinsi adalah melaksanakan sebagian fungsi dinas di bidang pengelolaan sumber daya air. Pengendalian banjir dan penanggulangan kekeringan. Urusan irigasi lintas kabupaten/kota. Danau. 6. Rawa. Subbagian Tata Usaha.

2. Balai PSDA mempunyai 3 fungsi utama sebagai berikut: 1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 7. air dan irigasi lintas air kabupaten/kota. pengendalian banjir. embung. Perlindungan pantai. kepegawaian dan perlengkapan). penanggulangan kekeringan. Pelaksanaan operasional konservasi/pelestarian sumber (pengendalian pencemaran air. perlindungan pantai dan muara. waduk. 9. galian golongan C. Dalam rangka melaksanakan tugas sembilan urusan seperti tersebut di atas. kelestarian situ. pengelolaan rawa. pemeliharaan infrastruktur pengairan dll). Pelaksanaan pelayanan teknis administratif ketatausahaan (urusan keuangan. 4-86 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dll). Pelaksanaan operasional pelayanan kepada masyarakat di bidang pengairan (rekomendasi teknis perijinan pengambilan air. alokasi air. Pengendalian pencemaran air. 8. Pemeliharaan muara sungai dan delta. 3. delta.

Pengendalian dilakukan dengan maksud untuk dapat menjamin bahwa pelaksanaan rencana pembangunan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Evaluasi kinerja pelaksanaan rencana pembangunan dilaksanakan terhadap keluaran kegiatan yang dapat berupa barang dan jasa dan terhadap hasil (outcomes) program pembangunan yang berupa dampak dan manfaat. dan ruang lingkup yang menjadi pedoman dalam rangka menyusun perencanaan berikutnya. Kegiatan pengendalian meliputi kegiatan pemantauan. Pemantauan merupakan bagian dari kegiatan pengendalian untuk mengamati/meninjau kembali serta mempelajari dengan cermat yang dilakukan secara terus menerus atau berkala terhadap pelaksanaan rencana pembangunan yang sedang berjalan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-1 5.1 5. efektifitas. Serangkaian kegiatan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.1. 5. pengawasan. Dengan melakukan pemantauan perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan dapat diikuti dengan bagik guna menjamin konsistensi antara pelaksanaan dengan rencana yang telah ditetapkan. dan tindakan lanjut.1. mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan korektif sedini mungkin. dan kemanfaatan program serta keberlanjutan pembangunan. Evaluasi dilakukan dengan maksud untuk dapat mengetahui dengan pasti apakah pencapaian hasil. tujuan.2 Evaluasi Evaluasi adalah kegiatan penilaian kinerja yang diukur dengan efisiensi. kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan rencana pembangunan dapat dinilai dan dipelajari untuk perbaikan pelaksanaan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .1 INDIKATOR PEMANTAUAN DAN EVALUASI Pemantauan Pemantauan adalah melihat kesesuaian pelaksanaan perencanaan dengan arah.

Dalam melaksanakan evaluasi kinerja proyek pembangunan. manfaat (benefit) untuk dan dampak (impact). Fokus utama evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan diarahkan kepada hasil. manfaat. tujuan dan kinerja pembangunan. hasil (result). efektif. efektivitas (hasil dan dampak terhadap sasaran). Evaluasi ini diarahkan untuk melihat apakah pencapaian (keluaran/hasil/dampak) program mampu mengatasi masalah pembangunan yang ingin dipecahkan. evaluasi sering digunakan untuk memilih dan menentukan skala prioritas dari berbagai alternatif dan kemungkinan cara mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. keluaran (output). Di dalam opersionalnya. Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang tercantum dalam dokumen rencana pembangunan. evaluasi Dalam kinerja rangka perencanaan yang pembangunan. Evaluasi ini dilakukan setelah program berakhir untuk menilai efisiensi (keluaran dan hasil dibandingkan masukan). untuk menciptakan proses dan kegiatan perencanaan yang efisien. (ii) indikator keluaran. dan transparan. (i) indikator masukan. serta akuntabel. Pada tahap pelaksanaan. berkewajiban melaksanakan pembangunan merupakan dan atau terkait dengan fungsi dan tanggungjawabnya. (ii) Evaluasi pada Tahap Pelaksanaan (ON-GOING). Evaluasi pelaksanaan rencana adalah bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran. evaluasi digunakan untuk menentukan tingkat kemajuan pelaksanaan rencana dibandingkan dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. setiap Kementerian/Lembaga. baik Pusat maupun Daerah. Indikator dan sasaran kinerja mencakup masukan (input). dan (iii) indikator hasil/manfaat. Kementrian/Lembaga. dan (iii) Evaluasi pada Tahap Pasca-Pelaksanaan (EX-POST). Pada tahap perencanaan. ataupun manfaat (dampak terhadap kebutuhan) dari suatu program. evaluasi sering digunakan untuk menunjukkan tahapan siklus pengelolaan rencana pembangunan yang mencakup: (i) Evaluasi pada Tahap Perencanaan (EX-ANTE). dibuat perangkat evaluasi yang dapat diukur melalui penyusunan indikator dan sasaran kinerja pelaksanaan rencana yang meliputi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI rencana pembangunan di masa yang akan datang. 5-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan dampak dari rencana pembangunan. Pada prinsipnya.

arah pemantauan dan evaluasi yang dilakukan juga terkait dengan visi dan rencana yang ditetapkan..1. Visi Pemantauan Assessment Implementasi Lingkungan yang Menunjang Kerangka Institusi Instrumen Managemen Strategi Rencana IWRM Gambar 5. Adapun tahapan yang dimaksud sesuai dengan siklus tersebut adalah sebagai berikut: 1 Olsen. materi. mengikuti pedoman dan petunjuk pelaksanaan evaluasi kinerja untuk menjamin keseragaman metode. Untuk itu diperlukan indikator sebagai perangkat dalam memantau proses pengelolaan yang dilakukan. et al. dan ukuran yang sesuai untuk masing-masing jangka waktu sebuah rencana. 5. 2006 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .3 Indikator dalam Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air 5-3 Sejalan dengan pengelolaan sumber daya air terpadu yang dikenal dengan Integrated Water Resources Management (IWRM). 1 Siklus Pengelolaan Terpadu SDA (IWRM).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI baik Pusat maupun Daerah. Kerangka praktis untuk menyusun indikator-indikator untuk pemantauan dan hasilnya (outcomes) secara konseptual dapat dibagi dalam 4 (empat) kelompok yang berbeda1 setiap kelompok mewakili kemajuan dari beberapa tahapan/langkah dari siklus proses ini.

tetapi dapat. Kondisi tersebut adalah landasan-landasan untuk kemajuan yang lebih lanjut dan reformasi dalam Pengelolaan Terpadu SDA. Pendanaan yang diperlukan tersedia. maka secara alamiah fokus reformasi akan bergerak dari tahapan yang pertama menuju ke tahapan yang berikutnya. A. Tahap Pertama 2. Kondisi-kondisi ini termasuk item-item seperti: • • • Kepedulian dan partisipasi pemangku kepentingan (stakeholders). “Peraturan-perundangan yang telah ditetapkan:. : Proses reformasi IWRM telah berdampak BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-4 : Isu/permasalahan kunci sumber daya air telah : didapatkannya penggunaan air yang adil dan dengan keseimbangan yang berlanjut pada aspek ekonomis dan Sepanjang proses reformasi kebijakan pengelolaan SDA mantap. Tahap Kedua 3. maka selalu perlu pertimbangan kembali aspekaspek tahap awal. Namun berjhubung proses ini merupakan suatu siklus. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . standar-standar dan kemauan politis untuk melaksanakan rencana-rencana. Pada tahap ini kita membahas “kondisi-kondisi dasar untuk reformasi perubahan-perubahan telah ditetapkan”. peraturan-peraturan. tetap merupakan dokumen-dokumen statis dan kehendak baik saja. misalnya “Kebijakan Pengelolaan SDA yang telah disepakati”. Indikatorindikator pada Tahap Pertama dapat berupa. Tahap ke Empat lingkungan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 1. perundangan. dan sebagainya. : Kondisi yang menunjang untuk IWRM. Adanya kebijakan. Indikator Outcome Tahap Pertama Kelompok indikator-indikator ini adalah pengukur kondisi yang menunjang (enabling conditions) yang telah dihasilkan suatu waktu tertentu yang ditentukan dalam pemantauan. dalam hal terburuk. Tahap ketiga mulai diselesaikan 4.

“assessment tentang kapasitas telah ditetapkan”. dan sebagainya. C. terbuka. akuntabel.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA B. undang-undang baru (UU tentang Sumber Daya Air No 7/2004). aliran sungai yang tercemar. komunikatif. Indikator Outcome Tahap Kedua BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-5 Indikator-indikator ini akan menjadi pengukur pelaksanaan aktual proses reformasi. dan standarstandar serta peningkatan kapasitas telah mulai menunjukkan hasilnya dan staf dari instansi pengelola SDA semakin mengkoordinasikan penggunaan air secara lintas sector dan mulai menggunakan instrument managemen IWRM. inklusif. ekonomi. Instansiintansi pengelola SDA mulai bekerja berdasarkan prinsip-prinsip baru (IWRM). dimana perubahan-perubahan dalam cara para “pengelola SDA” pada setiap tingkatan melaksanakan pengelolaan SDA mulai berdampak. Pada tahap ini kita membahas tentang “perubahan nyata dalam perilaku manajemen telah terjadi”. sedimentasi pada waduk-waduk yang mengurangi kapasitas tampung dan umur waduk. social. proses harus beoperasi dalam system tata penyelenggaraan yang baik (good governance) diataranya transparan. geographis setempat. “pemberdayaan stakeholders untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan telah dimulai”. dan kerangka IWRM harus konsisten. Efisiensi dalam menangani isu/permasalahan kunci perlu mendapat perhatian. dsb-nya. Hal ini dapat berupa misalnya. Indikatorindikator Tahap Kedua dapat diformulasikan sebagai “pengaturan alokasi air telah ditegakkan”. Pada tahap ini kita membahas tentang “perubahan pada system LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Indikator Outcome Tahap Ketiga Prinsip dan proses IWRM dilaksanakan dengan tujuan langsung menangani akar penyebab isu/ permasalahan kunci sumber daya air yang relevan kepada dan diidentifikasi sendiri oleh stakeholders sumber daya air setempat. penyedotan air tanah yang berlebihan. koheren dan diharmoniskan dengan konteks/kondisi hidrologis. Indikator Tahap Ketiga ini akan mengukur kemajuan menuju diselesaikannya penyebab-penyebab isu/permasalahan kunci dan pengurangan dampak negatif-nya. degradasi fungsi hidrologi daerah tangkapan air Daerah Aliran Sungai. konflik kebutuhan air. bencana banjir dan kekeringan yang menimbulkan kerugian besar. Beberapa diantaranya adalah. dan sebagainya.

beberapa pasang indikator-indikator (Tahap ke Empat) akan menambah dimensi tentang keseimbangan yang berkelanjutan. Indikator Outcome Tahap Keempat 5-6 Pada akhirnya. Peran masyarakat dalam pengawasan dilakukan dengan menyampaikan laporan dan/atau pengaduan kepada pihak yang berwenang. tujuan akhir dari implementasi reformasi IWRM adalah “pembangunan yang dari aspek ekonomis dan lingkungan berkelanjutan serta berkeadilan”. 5. 3. 4. pembentukan indicatorindikator pada tahap ini memerlukan tinjauan yang menyeluruh atas factor-faktor pembangunan dari aspek-aspek ekonomi. lingkungan dan sosial dalam rangka meng-isolasi dampak upaya-upaya pelaksanaan IWRM pada tahap ini dan kita pada tahap ini belum mampu memberikan daftar dari contoh-contoh yang memadai. Sementara indikator-indikator Tahap ke Tiga melihat tingkat sejauh mana tujuan-tujuan pokok dicapai. 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI pengelolaan dan perilaku telah menghasilkan perubahan positif pada alam dan masyarakat.” D.2 RUANG LINGKUP PENGAWASAN DAN PEMANTAUAN Dalam UU Sumber Daya Air No. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Untuk menjamin tercapainya tujuan pengelolaan sumber daya air diselenggarakan kegiatan pengawasan terhadap seluruh proses dan hasil pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di setiap wilayah sungai. Dalam prakteknya. Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya melaksanakan pengawasan dengan melibatkan peran masyarakat. 7 Tahun 2004 lingkup kegiatan pengawasan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air diatur sebagai berikut: 1. yang memerlukan keseimbangan yang dinamis diantara kedua kualitas sosial dan lingkungan. Pemerintah menetapkan pedoman pelaporan dan pengaduan masyarakat dalam pengawasan pengelolaan sumber daya air.

dan masyarakat. penyempurnaan. 5-7 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan kesusaian dengan semua ketentuan yang berlaku termasuk ketentuan administratif dan keuangan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Lebih rinci lagi tentang kewenangan atas kegiatan pengawasan dalam pengelolaan sumber daya air dan pelibatan masyarakat diatur sebagai berikut: 1. Laporan hasil pengawasan merupakan bahan/masukan bagi perbaikan. pengaduan. Pengawasan atas penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air ditujukan untuk menjamin tercapainya kesesuaian dalam substansi pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. instansi berwenang. atau gugatan kepada pihak yang berwenang dalam pengelolaan sumber daya air. Penyelenggaraan pengawasan yang dilakukan oleh pengelola sumber daya air. dan bentuk-bentuk tindakan lainnya dalam rangka memperbaiki dan menyempurnaan penyelengaraan pengelolaan sumber daya air. dan peningkatan penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air 6. Pihak yang berwenang wajib menindaklanjuti laporan hasil pengawasan. pemberian sanksi. 3. dalam bentuk peringatan. Penyelenggaraan pengawasan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 5. 2. 4. Pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk laporan.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5. pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu. dan kawasan pelestarian alam. pengisian air pada sumber air. Perlindungan dan pelestarian sumber air dapat dilakukan dengan kegiatan konstruksi dan non-konstruksi. 4. pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 2. pemantauan. dan/atau pelestarian hutan lindung. pengaturan daerah sempadan sumber air. pengendalian pemanfaatan sumber air. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan melalui : a. Kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan dengan mengutamakan kegiatan yang lebih bersifat non-konstruksi. sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air.3 RUANG LINGKUP PENGAWASAN DALAM PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN SUMBER AIR 5-8 Perlindungan dan pelestarian sumber air terdiri dari beberapa komponen. b. dan pengawasan. c. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan melalui perizinan. Pemantauan dan pengawasan dilakukan tidak hanya pada kepatuhan terhadap syarat-syarat perizinan tetapi juga terhadap dampak yang terjadi setelah kegiatan yang diizinkan dilaksanakan. h. Pemantauan dan pengawasan terhadap dampak ini dilakukan untuk mengevaluasi terhadap izin yang diberikan. perlindungan f. 3. d. rehabilitasi hutan dan lahan. salah satu bagiannya adalah kegiatan pengawasan yang melibatkan instansi yang berwenang dan juga partisipasi masyarakat yang dapat didefinisikan sebagai berikut: 1. kawasan suaka alam. pengaturan prasarana dan sarana sanitasi. e. g.

Pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan pemantauan dan pengawasan. biaya sistem informasi. Dana yang dibutuhkan dalam pengelolaan sumber daya air mencakup jenis pembiayaan untuk kegiatan: a. 5-9 5. Pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya dalam rangka perizinan b. Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan perlindungan dan pelestairan sumber air dapat berupa: a.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5.4 Dalam RUANG LINGKUP PENGAWASAN DALAM ASPEK PEMBIAYAAN aspek pembiayaan juga terdapat pembiayaan untuk kegiatan pengawasan sebagaimana dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. misalnya situ. Dalam melaksanakan perlindungan dan pelestarian sumber air dimaksud . 7. Yang dimaksud dengan “tempat-tempat penampungan air”. Pelaksanaan pemantauan dan pengawasan dimaksud dapat ditugaskan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya kepada pengelola sumber daya air. Pemerintah atau pemerintah daerah melibatkan peran masyarakat. biaya pelaksanaan konstruksi. dan tempat-tempat yang mempunyai fungsi menampung air sementara (retarding basin). Dalam melaksanakan perlindungan dan pelestarian sumber air dimaksud. dimaksud LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 8. biaya perencanaan. b. 6. embung. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya mempertahankan keberadaan tempat-tempat penampungan air dan kearifan lokal. c.

bersih. uraian tentang visi. misi. 2. telah diterbitkan Instruksi Presiden RI No. evaluasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA d. evaluai dan pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. 5. biaya pemantauan. antara lain pelatihan untuk kelompok masyarakat pemakai air. evaluasi. 7/1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. upaya-upaya peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. uraian tentang tujuan. sasaran dan aktivitas organisasi. Instruksi presiden ini memandang perlu adanya pelaporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah untuk mengetahui kemampuannya dalam pencapaian visi. biaya operasi dan pemeliharaan. strategidan factor-faktor kunci keberhasilan organisasi.5 MEKANISME PEMANTAUAN Dalam rangka lebih meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang berdaya guna. Setiap instansi pemerintah sampai tingkat eselon II harus mempunyai Perencanaan Strategik tentang program-program utama yang akan dicapai selama 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahunan. dan pemberdayaan masyarakat merupakan biaya yang dibutuhkan untuk pemantauan BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-10 dimaksud. uraian tentang cara mencapai tujuan dan sasaran tersebut. dan bertanggung jawab. 2. e. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . mekanisme dan tata cara pelaporan kinerja instansi pemerintah. Yang dimaksud dengan biaya pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. misi dan tujuan organisasi. metode. 3. dan pemberdayaan masyarakat. serta biaya untuk pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. berhasil guna. Biaya pemantauan. Untuk melaksanakan pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah perlu dikembangkan sistem pelaporan akuntabilitas kinerja yang mencakup indicator. Perencanaan strategic dimaksud mencakup: 1.

Masyarakat akan berperan untuk menyampaikan laporan dan pengaduan kepada pihak yang berwenang dimana cara penyampaian laporan dan pengaduan ini ditetapkan oleh pemerintah melalui suatu pedoman. dan penilaian. pengujian. yaitu. pengawasan yang dilakukan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga/SKPD sesuai dengan tugas dan kewenangannya. untuk menjamin tercapainya tujuan pengelolaan sumber daya air. pengawasan yang yang dilakukan tugas dan oleh fungsi 5-11 Lembaga/Badan/Unit organisasi mempunyai pengawasan melalui pemeriksaan. Dalam konteks sumber daya air. Dalam implementasinya. Kegiatan ini dilakukan oleh pemerintah bersama pemerintah daerah sesuai wewenang dan tanggung jawabnya dengan melibatkan masyarakat. Pengelolaan sumber daya air mencakup kepentingan lintas sektoral dan lintas wilayah yang memerlukan keterpaduan tindak untuk menjaga kelangsungan fungsi dan manfaat air dan sumber air. Selanjutnya. diselenggarakan kegiatan pengawasan terhadap seluruh proses dan hasil pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada setiap wilayah sungai. 3. Menteri/Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya. 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Sementara itu. yaitu. Pengawasan fungsional. Pengawasan melekat. 1. Pengawasan masyarakat. Pengelolaan ini dilakukan melalui LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pengawasan dimaksudkan untuk mengamati perkembangan pelaksanaan baik dari aspek substansi maupun aspek prosedural. Pengendalian rencana pelaksanaan rencana pembangunan koreksi dan dimaksudkan penyesuaian untuk selama masyarakat. kegiatan pengawasan dapat diklasifikasikan ke dalam 3(tiga) ketegori. pengawasan yang dilakukan oleh menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam melalui kegiatan-kegiatan pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah.

pada tingkat propinsi oleh Dewan SDA Provinsi yang dibentuk oleh pemerintah provinsi. Laporan ini akan didampingi oleh laporan pengawasan dan pengaduan yang dibuat oleh masyarakat. Setiap kegiatan atau program yang dilaksanakan oleh masing-masing balai atau instansi maupun pihak yang berkepentingan (stakeholder) di satu wilayah sungai harus dilengkapi dengan laporan pengawasan yang formatnya ditentukan menggunakan suatu pedoman bersama yang dibuat oleh pemerintah. Pejabat diberi wewenang mengadakan pengamatan dan penyelidikan untuk memperoleh data dalam hubungannya 5-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Menimbang pengelolaan sumber daya air melibatkan kepentingan lintas sektoral dan wilayah. dan untuk wadah koordinasi pada wilayah dapat dibentuk sesuai kebutuhan pengelolaan di wilayah sungai bersangkutan. Pembentukan wadah di atas semua diatur melalui surat keputusan menteri yang membidangi sumber daya air. Hubungan antar wadah yang disebutkan di atas bersifat konsultatif dan koordinatif. Laporan yang dibuat ditembuskan ke pemerintah dan pemerintah daerah beserta wadah koordinasi di masing-masing tingkatan dan wilayah kerja. maka mekanisme pemantauan perlu diatur agar tercapai sinergi yang baik antar sektor. Dewan ini sendiri beranggotakan unsur pemerintah dan unsur nonpemerintah dalam jumlah yang seimbang atas dasar prinsip keterwakilan yang susunan organisasinya diatur melalui keputusan presiden. sementara untuk tingkat kabupaten/kota dapat dilakukan oleh Dewan SDA kabupaten/kota oleh pemerintah kabupaten/kota. Koordinasi pada tingkat nasional dilakukan oleh Dewan SDA Nasional yang dibentuk pemerintah. Pengawasan dilakukan oleh Menteri yang pelaksanaannya ditugaskan kepada pejabat pengairan yang ditunjuk.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI koordinasi dengan mengintegrasikan kepentingan berbagai sektor. Koordinasi yang disebut di atas dilakukan oleh Dewan SDA atau nama lain sebagai suatu wadah koordinasi dengan tugas pokoknya menyusun dan merumuskan kebijakan serta strategi pengelolaan sumber daya air. wilayah dan para pemilik kepentingan (stakeholder).

Pelaksanaan studi evaluasi kinerja proyek pembangunan. Pelaksanaan evaluasi kinerja dengan cara pertama dan kedua saling mendukung. Apabila hasil pengamatan dan penyelidikan terdapat atau diduga terdapat unsurunsur pidana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kedua cara tersebut dibutuhkan dalam pelaksanaan evaluasi kinerja dan keduanya akan memberikan informasi kinerja yang bermanfaat untuk kepentingan perencanaan dan pengendalian pelaksanaan proyek.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI dengan kelangsungan fungsi tata pengairan pada tempat-tempat yang diperlukan.. pengusutannya diserahkan kepada pejabat penyidik yang berwenang. sedangkan untuk melaksanakan cara kedua diperlukan penyusunan indikator dan sasaran kinerja sebagaimana dilakukan pada cara pertama. Cara pertama dapat dilaksanakan tanpa melakukan analisis yang mendalam. sedangkan cara kedua dapat membantu dalam mengidentifikasikan indikator-indikator baru yang lebih relevan. Pejabat dimaksud harus membuat berita acara mengenai pengamatan dan penyelidikannya sesuai dengan kenyataan dan kebenaran dan ditandatangani olehnya dan disampaikan kepada Menteri. 5. Penyusunan indikator dan sasaran kinerja proyek pembangunan. 2. Penanggung jawab atas bangunan pengairan diwajibkan memberikan 5-13 keterangan yang benar mengenai hal-hal yang diperlukan dan untuk menyertai pejabat dalam pengamatan dan penyelidikan apabila diminta. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .6 MEKANISME EVALUASI Evaluasi kinerja dapat dilakukan dengan 2 cara. Ketersediaan indikator dan sasaran kinerja dari hasil pelaksanaan cara pertama akan memudahkan pelaksanaan studi evaluasi kinerja. yaitu: 1.

keluaran (outputs). 2 Pemantauan dan Evaluasi dalam suatu siklus kegiatan. budaya. yang mencakup indikator masukan (inputs). hasil (results/outcomes).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Indikator dan sasaran kinerja adalah ukuran kuantitatif atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Indikator tersebut dijabarkan dalam: waktu yang diperlukan. yaitu: teknis atau operasional. institusional. tingkat kualitas. dan indikator manfaat (benefits) serta dampak (impacts). dan dampak dari proyek tertentu yang telah selesai dilaksanakan atau pun telah beberapa tahun berfungsi. 5-14 INDIKATOR SASARAN/ KINERJA Sasaran n Rencana Pemanatauan dan pengendalian Outcome/ Manfaat/ Hasil Input/ Masukan Proses Output/ Keluaran Sumber Dana Kesimpulan Rekomendasi Tindak Lanjut Evaluasi Gambar 5. productivitas dan lain-lain. dana yang diperlukan. Indikator dan sasaran kinerja diklasifikasikan dalam enam kategori. atau kombinasi dua kategori atau lebih. manfaat. lingkungan. ekonomi. untuk dijadikan bahan pertimbangan dan masukan bagi pengambil keputusan dalam merencanakan proyek pembangunan selanjutnya. Studi evaluasi kinerja adalah suatu upaya yang sistematis untuk mengumpulkan data dan informasi yang bersifat obyektif terhadap hasil. jumlah unit yang dihasilkan.

relevan. c. perbandingan kinerja aktual dengan kinerja di negara-negara lain. dapat diverifikasi. c. serta memakai metode pengumpulan dan analisis data yang tepat dan transparan. perbandingan kinerja aktual dengan tahun-tahun sebelumnya. 4. b. menganalisis hasil pengukuran kinerja. faktor-faktor kunci keberhasilan. membuat pembobotan (rating) keberhasilan pencapaian program. tepat waktu. perbandingan kinerja aktual dengan rencana atau target. dan dilaporkan. mempersiapkan dan menyusun perencanaan strategik. b. mengukur pencapaian kinerja dengan: a. obyektif. memantau dan mengamati pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dengan seksama. dapat dipercaya. 3. merumuskan indikator kinerja instansi Pemeritah dengan berpedoman pada kegiatan yang dominan. d. melakukan evaluasi kinerja dengan: a. misi. menjadi isu nasional dan vital bagi pencapaian visi dan misi instansi Pemerintah. dapat diandalkan. Informasi studi evaluasi kinerja bersifat independen. 5. 7/1999 pelaksanaan penyusunan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dilakukan dengan: 1. menginterpretasikan data yang diperoleh. atau dengan standar internasional.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Hal penting dari studi evaluasi kinerja adalah mengenai informasi yang dihasilkan dan bagaimana informasi itu diperoleh. tujuan. 6. Berdasarkan INPRES No. sasaran dan strategi instansi Pemerintah. membandingkan pencapaian program dengan visi dan misi instansi pemerintah. 2. dianalisis. 5-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . merumuskan visi.

Persepsi yang benar mengenai potensi terjadinya kekeringan di satu sisi dan banjir di sisi yang lain perlu mendapat perhatian dalam menyusun sosialisasi kepada masyarakat luas. Latar belakang ini menjadi suatu gagasan untuk membentuk suatu pemikiran yang dapat dilakukan untuk saat ini dengan visi ke masa depan untuk menjaga kesinambungan sumber daya air di Pulau Jawa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 6 PENUTUP BAB 6 PENUTUP 6-1 6. Oleh karena itu dipandang perlu adanya suatu arahan untuk membangun persepsi yang benar sesuai dengan harapan yang terkandung dalam butir-butir strategi yang telah disusun. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 6. Sebagai kontradiktif perlu dijelaskan pula bagaimana mekanisme sehingga dapat terjadi banjir dan mengapa semakin banyak kejadian banjir yang terlansir belakangan ini di Indonesia.1. Secara umum perlu dijelaskan siklus hidrologi yang terjadi yang dapat membantu pemahaman bagaimana air dapat tersimpan dengan baik di dalam tanah dan syarat-syarat agar mekanisme penyimpanan air ini dapat bekerja secara alamiah.1 ARAHAN SOSIALISASI PRAKARSA STRATEGIS Prakarsa strategis yang diuraikan dalam buku ini dapat diberdayakan secara efektif bila dilakukan tindak sosialisasi yang bersifat komprehensif. Pemahaman masyarakat dan daya tangkap masyarakat degan latar belakang yang berbedabeda akan sangat bervariasi terhadap apa yang dijelaskan dalam kebijakan yang tertuang dalam buku prakarsa ini. Hal ini patut diperkenalkan sebagai kondisi natural yang ideal dan sangat diperlukan untuk menjaga kesinambungan sumber daya air guna menunjang kehidupan masyarakat dan negara.1 Kekeringan dan banjir Ide awal dari dilaksanakannya prakarsa strategis ini adalah karena adanya suatu kesadaran akan potensi terjadinya dua hal ekstrim yaitu kekeringan dan banjir.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

Dampak kekeringan sangat nyata bagi kehidupan dimana kebutuhan akan air tidak dapat digantikan dengan material lain karena air merupakan substansi dasar bagi kehidupan manusia. Kekeringan yang terjadi karena fenomena alam yang sudah ada sejak dahulu tidak terhindarkan dan perlu disikapi secara bijaksana. Namun lain halnya dengan kekeringan kesalahan dalam mengelola sumber daya alam ataupun pemanfaatan sumber daya yang tidak memperhatikan keseimbangan dan daya dukung alam itu sendiri. Kesalahan yang disebut terakhir ini akan sangat disesalkan karena akan berdampak pada masyarakat luas dan pada tingkat nasional dapat mengganggu stabilitas nasional karena kurangnya bahan pangan, meningkatnya angka kasus kesehatan karena sanitasi yang buruk, hilangnya sumber pencarian bagi sebagian masyarakat dan hal lain yang menjadi dampak lanjutan dari kekeringan. Secara khusus banjir memiliki tingkat fatalitas yang lebih tinggi sebagai suatu bencana karena diakibatkan oleh daya rusak air yang besarannya tidak terduga. Perlu diperjelas bahwa kerusakan dan kerugian yang diakibatkan oleh banjir umumnya lebih besar dibandingkan kerugian yang disebabkan oleh kekeringan. Banjir yang terjadi secara cepat dan genangan air yang meluas menyebabkan kehilangan nyawa juga kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan serta bangunan lainnya karena besarnya daya rusak air yang mengalir, terlebih lagi bila masa air terkumpul dan menjadi besar. Genangan yang terjadi membawa dampak rusaknya bangunan dan harta benda termasuk didalamnya adalah tanaman pangan dan ini semua adalah kerugian yang harus ditanggung. Oleh karenanya banjir harus dapat disikapi secara bijaksana. Sosialisasi yang dilakukan harus mampu menempatkan pemikiran mengenai butuhnya kesadaran akan sindrom ini. Disamping itu perlu dijelaskan pula bahwa ada keterkaitan antara banjir dan kekeringan, dimana banjir merupakan suatu ekstrim dan kekeringan sebagai ekstrim di sisi yang berseberangan. Diantara kedua ekstrim ini ada suatu keseimbangan yang menjadi kondisi ideal. Kondisi inilah yang menjadi tujuan dari pengelolaan sumber daya air yang digariskan dalam strategi ini.

6-2

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

6.1.2

Strategi Implementasi

6-3

Untuk mewujudkan semangat yang ada dalam kebijakan strategi, maka pola implementasi kebijakan ini sudah diatur sedemikian rupa. Penjelasan mengenai latar belakang pembagian ini perlu disajikan pula terkait guna membangun pemikiran mengenai konsep pengelolaan dan komponen-komponen yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan sumber daya air. Ada strategi implementasi ini, yaitu: 1. Lembaga 2. Koordinasi 3. Pembiayaan 4. Monitoring & Evaluasi Pada komponen lembaga perlu dijelaskan mengenai fungsi-fungsi lembaga negara dan keterkaitannya dalam memberikan kontribusi untuk masalah sumber daya air. Materi sosialisasi harus dapat menjelaskan dengan jelas tugas dan fungsi masing-masing lembaga yang terkait. Sebagai kelanjutannya, terkait dengan strategi pengelolaan sumber dasya air, perlu pula diterangkan kerangka kerja yang melibatkan lembaga-lembaga bersangkutan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dengan demikian dapat diketahui posisi setiap lembaga yang berkontribusi dalam pengelolaan sumber daya air. Koordinasi merupakan komponen lain yang tidak kalah penting untuk diatur secara lugas dalam strategi untuk pengelolaan sumber daya air. Perlu ditanamkan pemahaman yang baik bahwa pengelolaan yang dilakukan mengharuskan pelaksanaan yang terpadu antar sektor (multi sektoral) dan menyeluruh. Bagian ini merupakan sisi yang jarang sekali dapat dilakukan dengan baik karena terikat pada kebijakan-kebijakan yang dibuat pada masingmasing sektor dan terkait dengan kepentingan rumah tangganya. Jelas hal ini merupakan suatu kendala yang harus dijembatani dengan membuat suatu mekanisme koordinasi dengan tugas dan tanggung jawab yang jelas. Upaya yang dilakukan dapat dimulai dengan pembuatan matriks koordinasi antar lembaga yang menjadi model awal untuk dibicarakan lebih lanjut. Beberapa 4 komponen dalam

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

contoh dari negara-negara lain yang dikemukakan dalam seminar-seminar terkait kegiatan ini dapat pula diungkapkan untuk menjadi sumber inspirasi dan pemahaman akan pentingnya koordinasi. Pembiayaan merupakan komponen yang tidak mungkin ditinggalkan mengingat setiap program dan kegiatan membutuhkan pembiayaan. Dalam upaya pengelolaan sumber daya air, sejalan dengan semangat transparansi manajemen, melalui sosialisasi perlu dijelaskan pula mengenai sumber-sumber pembiayaan yang digunakan, prinsip tanggungan dan jenis pembiayaan yang ditanggung oleh sumber dana yang ada. Hal-hal ini sebagian telah diatur pula dalam undang-undang dan menjadi dasar penyusunan sumber pembiayaan yang dapat dianggarkan untuk kegiatan pengelolaan. Bagian terakhir dari komponen strategi implementasi yang perlu disosialisasikan adalah yang berkaitan dengan monitoring dan evaluasi (monev) atau juga dalam dokumen disebut sebagai pemantauan dan evaluasi. Perlu ditanamkan pemikiran bahwa suatu program kegiatan yang dibangun ataupun manajemen/pengelolaan tidak akan berkesinambungana tanpa adanya kegiatan pemantauan dan evaluasi. Minimal tanpa adanya komponen ini upaya pengelolaan tidak akan mengalami kemajuan yang diharapkan karena tidak ada umpan balik dari apa yang telah diterapkan.

6-4

6.1.3

Pengalaman Negara Lain

Selain konsep dan aturan perundang-undangan yang telah kita miliki didalam negeri, pengalaman-pengalaman negara lain dalam mengelola sumber daya airnya juga menjadi suatu informasi yang berharga. Proses belajar yang efisien adalah dengan melihat bagaimana permasalahan serupa dapat diselesaikan di negara-negara lain dengan memperhatikan potensi, kendalanya, serta solusi yang dipilih. Mempelajari bagaimana suatu masalah yang sama diselesaikan oleh negera lain akan memberikan inspirasi bagi peserta dan juga keyakinan bahwa masalah
LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

tersebut memang dapat diatasi. Dengan mempelajari strategi yang diterapkan diharapkan akan ada suatu dorongan pemikiran dan semangat berdasarkan keyakinan bahwa dengan konsekwensi yang terukur hal serupa dapat pula diterapkan dengan peluang keberhasilan yang menjanjikan. Model-model yang diterapkan di negara-negara lain sangat bervariasi. Pengambilan keputusan dan keberhasilan yang telah dicapai memberikan gambaran tingkat keberhasilan dari pola yang dipilih. Perlu kehati-hatian dalam memberikan gambaran pengalaman negara lain karena kondisi latar belakang, fisik lingkungan dan solusi yang dipilih memberikan kombinasi yang sangat beragam. Oleh karenanya penjelasan harus dilakukan secara rinci. Selanjutnya, bila pengalaman dari negara lain ingin diaplikasikan, perlu dipelajari dulu kondisikondisi di atas secara bijaksana untuk menentukan pilihan; solusi mana yang paling tepat untuk diterapkan di negara ini berdasarkan data dan fakta.

6-5

6.2

SARAN

Beberapa saran terkait pada strategi yang diulas dalam buku ini : 1. Pengelolaan sumber daya air melibatkan tidak saja penanganan secara struktural tapi juga penanganan dengan cara non-struktural. Kebijakan strategis pengelolaan perlu kiranya menempatkan kebijakan non-struktural sebagai strategi utama untuk diwujudkan dalam kegiataan riil mengingat saat ini yang paling dibutuhkan untuk menjamin perlindungan potensi sumber daya air utamanya adalah adalah terkait dengan konservasi lingkungan. Perangkat perencanaan tata guna lahan dan perlindungan hukum yang berwibawa hingga kini masih jauh tertinggal dibanding pembangunan infrastruktur karena penilaian terhadap pertanggungjawaban pekerjaan fisik infrastruktur lebih jelas. 2. Pelaksanaan kebijakan perlu dimulai dengan pendekatan non-struktural dan disusul kemudian dengan pendekatan struktural. Program dimulai dengan pendekatan awal terhadap masyarakat, pemeliharaan lingkungan dan

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

seterusnya hingga pembangunan infrastruktur SDA pada lokasi-lokasi strategis yang memberikan keuntungan luas bagi masyarakat. 3. Strategi struktural yang disajikan dalam dokumen ini merupakan kebijakan struktural wilayah sungai di Pulau Jawa yang dikelola oleh beberapa balai sumber daya air. Adanya perubahan wilayah sungai yang digariskan dalam Permen PU No. 11/PRT/M/2006 secara otomatis mengubah lingkup kebijakan di beberapa wilayah sungai yang dibentuk ulang. Pola wilayah yang baru mengindikasikan kemungkinan adanya transfer inter basin. Proses

6-6

regrouping kebijakan dilakukan dalam buku ini atas kegiatan yang sudah
ada ke dalam wilayah baru. Perlu adanya tindak lanjut untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan baru pada masing-masing wilayah sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya sehingga penanganan masalah sumber daya air dilakukan lebih merata. 4. Bentuk wilayah baru yang digariskan dalam Peraturan menteri pada poin (3) di atas selanjutnya menjadi bahan dalam rancangan Peraturan Presiden. Peraturan presedien yang tengah direncanakan ini nantinya akan menjadi dasar hukum yang kuat untuk melaksanakan pengelolaan wilayah sungai yang baru. Demikian pula halnya untuk memulai kegiatan balai-balai sumber daya air baru yang diatur oleh peraturan menteri Permen PU No. 1213/PRT/M/2006 peraturan tersebut sangat berperan. Sebagai langkah konkret disarankan adanya koordinasi terpusat untuk melakukan restrukturisasi keterkaitan tugas-tanggung balai baru dengan balai-balai yang sudah ada selama ini. 5. Untuk mendapatkan strategi yang aplikatif perlu ada masukan dari masingmasing balai berdasarkan pengalaman dan penilaian terhadap kondisi fisik wilayah sungai yang dikelola. Contoh yang diperoleh dari pengelolaan sumber daya air di luar negeri perlu disikapi dengan bijaksana mengingat kondisi alam dan kultur yang berbeda. Untuk itu dalam pengambilan keputusan di masa yang akan datang perlu mengikutsertakan balai-balai yang sudah operasional sejak lama untuk mendapatkan pertimbangan spesifik sesuai lokasi kerjanya.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber daya air. 2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 11A/PRT/M/2006 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayahg Sungai. 3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 12/PRT/M/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Wilayah Sungai. 4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 13/PRT/M/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Wilayah Sungai. 5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 tahun 2005 tentang Kerjasama Infrastruktur. 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 38/PRT/1989 tentang Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan

DP-1

Pembagian Wilayah Sungai 7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 48/PRT/1990 tentang

Pengelolaan Atas Air dan Atau Sumber Air pada Wilayah Sungai. 8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 49/PRT/1989 tentang Tatacara dan Persyaratan Izin Penggunaan Air dan atau Sumber Air 9. Keputusan Mendagri No. 176 tahun 1996 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA. 10. Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Nomor : 19/KPTS/A/1994 tanggal 19 April 1994 tentang Pembentukan Badan Pelaksana Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman 11. Reclaiming Public Water-Achievements, Struggles and Visions from Around the World, 2005.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

Jakarta. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development. Applied Hydrology. 1985. Cibinong. 16. 19. 1979. and Mays. Semarang. 15. 21.. 2000. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto. David R. DUFLOW: A micro-computer package for the simulation of one-dimensional unsteady flow and water quality in open channel system. 13. 20. Preliminary Study On Ciliwung-Cisadane River Flood Control Project. Feasibility Studi On Karian Multipurpose Dam Construction Project. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Jratunseluna. 1988. Cimanuk River Basin Development Project West Java. McGraw-Hill. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development. 1984. 2001. Semarang. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah. 2001. Maidment. 1992. The Citanduy River Basin Development Project. Directorate General Of Water Resources Ministry Of Settlement And Regional Infrastructure Republic Of Indonesia. Bureau Icim. 17. 14. Chow. Bakosurtanal. The Netherlands. Instruksi Presiden Nomor 7/1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. 2000.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 12. Neraca Sumberdaya Air Spasial Nasional. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan. Bureau Icim. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan. Larry W. Ven Te.. Directorate General Of Water Resources Development. Bidang Neraca Sumberdaya Alam Pusat Survei Sumberdaya Alam Darat Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. Jakarta. Banjar. Directorate General DP-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah. 18. Ciliwung Cisadane River Basin Development Project.

DP-3 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Jakarta. Jakarta Flood Control Halim Retention Basin Pilot Project. Jakarta. 1997. 1998. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Jakarta. The CiujungCidurian Intergrated Water Resources In Indonesia. 1989. Directorate General Of Water Resources Development. 22. 1998. CisadaneCimanuk Intergrated Water Resources Development (BTA-155). 28. Directorate General Of Water Resources Development. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. 1999. Ministry Public Works Republic Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development. Jatiluhur Water Resources Management Project Preparation Study (JWRMP). Directorate General Of Water Resources Development. Directorate General Of Water Resources Development. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Jakarta. 1994. Jakarta. Jabotabek Water Resources Management Study. The Study On Comprehensive Management Plan For The Water Resources Of The Brantas River Basin In The Republic Of Indonesia. 27. The Study On Comprehensive River Water Management Plan In Jabotabek. Jakarta. Directorate General Of Water Resources Development. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Jakarta. 26. 1995. Jakarta. 24. 23. Directorate General Of Water Resources Development.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. 25.

Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2003. Proyek Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Air Yogyakarta. 1986.. 1975. The Citanduy River Basin Development Project. Proyek Pengembangan dan Konservasi Sumberdaya Air Ciujung-Ciliman. Ditjen Pengairan PU. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Citarum. Ditjen Pengairan PU. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Inventarisasi/Penataan Situ/Rawa/Danau Di Wilayah SWS CiujungCiliman. 32. Ditjen Pengairan PU. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. 1973. 35. 1999. Serang. 34. Jakarta. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of The Republic Indonesia. Pedoman Pengendalian Banjir. 37. Jakarta.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 29. 31. Jakarta. Directorate General of Water Resources Development Ministry Of Public Works And Electric Power. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum. Bogor. F. 1999. 1996. 33.J. 36. Jakarta. Directorate Of Rivers And Swamps. Penyusunan Program Rencana Pengembangan Sumberdaya Air DIY Pada SWS Progo Opak Oyo Daereah Istimewa Yogyakarta. 1998. 1999. Jakarta. Standar Perencanaan Irigasi: Kriteria DP-4 Perencanaan Bagian Bangunan Utama. Mock. 30. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Direktorat Jenderal Sumberdaya Yogyakarta. Ditjen Pengairan PU. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Basic study prepared for FAO/UNDP Land Capability Appraisal Project. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Jakarta. Water Availability Appraisal. Directorate Of Management And Conservation Of Water Resources. Jabotabek Water Resources Management Study. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman.

DP-5 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 2003. 2000. Pekerjaan Penyiapan Bahan Penyusunan Neraca Air Nasional. 39. 42. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. 41. 40. Proyek Pengembangan dan Konservasi Sumberdaya Air Ciujung-Ciliman. Jakarta. Proyek PPSA Citanduy-Ciwulan. Identifikasi Potensi SDA Di Wilayah Proyek Penyediaan Air Baku Cimanuk – Cisanggarung. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2001. 1999. Indramayu.1). Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumberdaya Air dan Ketatalaksanaan Pembangunan Pengairan. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 38. Proyek Induk Pengembangan WS Cimanuk-Cisanggarung Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Perencanaan Pengembangan Pemanfaatan Air dan Sumber Air (Paket . 45. Bandung. 43. Proyek Perencanaan Pengembangan Pemanfaatan Sumberdaya Air Di Jawa Barat. 2003. Banjar. 2004. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum. Serang. Proyek Penyediaan Air Baku Cimanuk – Cisanggarung. 2003. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai di Pulau Jawa. Jakarta. Penyusunan Neraca Air Nasional (Tahap .1) Bagian DPS Cisadane dan DPS Ciliwung. Penyusunan/Pembuatan Buku Sungai Ciujung Dan Sungai Cidurian. Studi Potensi dan Pengembangan Sumberdaya Air Tersebar di Propinsi Banten. Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Propinsi Banten. 2002. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana. Proyek Studi Potensi dan Pengembangan Sumberdaya Air. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana. Perencanaan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Pemali-Comal. Jakarta. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumberdaya Air dan Ketatalaksanaan Pembangunan Pengairan. Serang. Studi Identifikasi Potensi Air Baku Di Wilayah Sungai Citanduy – Ciwulan. 44.

. Tugas Akhir Sarjana.. Penerapan Metoda Mock untuk Menghitung Debit Andalan di Sub Daerah Pengaliran Sungai Citarum Hulu. 47. 1997.P. 1999. Institut Teknologi Bandung. Diding. and Eaglin. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sudirman. John Wiley and Sons. Hydrology: Water DP-6 Quantity and Quality Control.. M. R. Jurusan Teknik Sipil. New York.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 46. R. Kersten. Wanielista.

1 Latar Belakang Akibat adanya gelombang yang membawa ideologi privatisasi. pelayanan air di dekade 1990-an yang pada intinya merupakan masa perjuangan untuk mewujudkan air bersih bagi semua orang akhirnya mengalami kemunduran. Kegagalan privatisasi yang bercirikan “high-profile” di kota-kota besar di belahan bumi selatan menjadi bukti yang kuat bahwa pemenuhan kebutuhan air untuk rakyat miskin tidak tepat bila dipercayakan pada pengelolaan perusahaan layanan penyedia air trans-nasional yang berorientasi pada keuntungan1. Struggles and Visions from Around the World” (2005) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Meningkatnya kampanye anti privatisasi melalui gerakan LSM di tingkat akar rumput (grassroot) di negara-negara seluruh dunia telah mengukuhkan jejaring ditingkat regional dan global yang kemudian memulai gelombang balik melawan “fee-market fundamentalism”.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ANNEX PEMBELAJARAN ANTARA PRAKTEK PRIVATISASI DAN PERKUATAN PERUSAHAAN UMUM LAYANAN AIR A-1 A. perusahaan-perusahaan layanan air global terbukti telah gagal memenuhi janji-janjinya untuk memperbaiki layananannya. di sisi lain perusahaan publik yang ”status quo” dan sering bertindak birokratis dan tidak efektif − yang ada pada sebagian besar negara-negara berkembang − juga gagal untuk memberi layanan 1 ”Reclaiming Public Water-Achievements. Saatnya telah tiba untuk mem-fokuskan kembali wacana (debate) global mengenai layanan air pada pertanyaan kunci: bagaimana meningkatkan/memperbaiki dan memperluas layanan air oleh perusahaan umum diseluruh dunia? Sementara privatisasi adalah bukan solusi. Hampir tanpa perkecualian. sebaliknya malah menaikkan tarif airnya jauh diluar jangkauan keluarga miskin.

Dikota lain seperti Penang. menjadi negara dengan ekonomi yang berorientasikan kepada pasar yang terbuka. Di kota-kota ini. Privatisasi memasuki negara-negara dalam proses transisi seperti Eropa Timur dengan gelombang konsesi-nya. penemuan kembali ethos layanan umum telah membawa pada peningkatan yang signifikan atas kinerja layanan utilitas umum. sebagai contoh adalah yang tengah dilaksanakan di Porto Alegre dan Recife (Brazil) dan kini dalam tahap pengembangan1. Pelajaran penting dapat digali dari model-model yang mengedepankan pendekatan yang berfokus pada manusia (people centered) dan partisipasi publik.2 Kegagalan Privatisasi Tahun 1990-an adalah dekade privatisasi air dimana telah terbukti dalam pelaksanaannya konsep ini mengalami kegagalan. menarik dan meningkatkan volume investasi (khususnya di negaranegara berkembang) dan memperluas sambungan layanan jaringan air minum dan sanitasi kepada keluarga miskin. Namun seperti yang kita alami. Mulai dari Asosiasi Pekerja Air sampai koperasi pekerja kini telah mempunyai peran kunci dalam pelayanan air di kota-kota di Argentina dan Bangladesh. Malaysia. memobilisasi kapasitas sendiri dan sumber daya setempat. dimana beberapa seri kota-kota besar telah diprivatisasi. Di Olavanna (Kerala. khususnya Argentina. Privatisasi pada mulanya diharapkan akan membawa efisiensi yang lebih besar dan tarif yang lebih rendah. di Asia. termasuk privatisasi di 2 kota besar. India) dan Savelugu (Ghana). A-2 A. termasuk ”flagship”: konsesi di Aguas Argentinas di Buenos Aires. dalam republik Czech dan Hungary. Perluasan perusahaan air dalam dasawarsa 1990-an didukung oleh the World Bank dan institusi international lainnya sebagai bagian dari kebijakan untuk transformasi negara berkembang dan negara dalam proses transisi. di Amerika latin.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air bersih pada mereka yang membutuhkan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . layanan air umum sedang ditingkatkan melalui peningkatan partisipasi masyarakat dan pengguna serta reformasi-reformasi demokratis lainnya. masyarakat setempat telah mengambil kendali dalam perbaikan layanan air. pengalaman menunjukkan fakta yang berlainan. dan di Afrika. Manila dan Jakarta.

Penjualan secara lengkap/ tuntas sistem air kepada perusahaan swasta telah diperkenalkan di Inggris. penyewaan. investasi swasta dalam infrastruktur telah menurun pada akhir 1990-an dan investasi oleh bank pembangunan juga mengalami penurunan. Bentuk-bentuk yang lebih tepat telah dipilih oleh perusahaan-perusahaan swasta pada awal tahun 1990-an . perusahaan-perusahaan lebih memilih pilihanpilihan yang kurang berisiko yaitu penyewaan atau kontrak manajemen.operate and transfer) schemes. Meskipun demikian. besar disebabkan gagal oleh untuk mereka masih mengacu kepada bentuk yang sama dari konsep hubungan kontraktual pengalaman berdasarkan hasil nyata operasi. dimana bentuk kerjasama tersebut harus distrukturkan untuk memberikan keleluasaan bagi mitra swasta untuk memperoleh ”return”/keuntungan. sedemikian hingga membuat mereka sumber keuntungan untuk modal/kapital swasta. yang hasilnya berbeda dengan Perusahaan-perusahaan telah berinvestasi sebanyak yang diharapkan. Privatisasi dari layanan pasokan air dan sanitasi telah mengambil berbagai bentuk. tetapi sejak tahun 2000. namun dibanyak tempat bentuk privatisasi dipromosikan berdasarkan bentuk konsesi. misalnya Cote d’Ivore. Kalimat-kalimat lain yang biasa dipakai adalah-termasuk ”public- A-3 private partnership” (PPPs) dan ”private sector participation” (PSP) – dimana penggunaan kata ”privatisasi” saja yang merupakan konsep yang menjadi kurang populer dicoba untuk tidak digunakan. dan beberapa bentuk kontrol yang perlu dikendalikan oleh partner swasta. dengan sektor swasta. Variasi dari bentuk ini termasuk kerjasama/”joint venture” dengan pemerintah atau perusahaan pemerintah. dan kontrak manajemen (atau bentuk khusus dari konsesi untuk pembangunan ”water treatment” atau waduk. konsesi adalah bentuk privatisasi yang paling favorit. Harga-harga yang naik merefleksikan berkurangnya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan dikenal sebagai BOTs (build. Ketidak populeran konsep privatisasi sebagian apa yang telah dijanjikan. dan juga beberapa kota kecil di Afrika Selatan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dimana konsensi didapat dari sistem koloni Perancis. yaitu memindahkan pengendalian dan manajemen operasi kepada perusahaan swasta. tetapi ada elemen yang bersifat konstan.

justru kontraknya-lah yang dirubah dibanding harus memenuhi apa yang disyaratkan sebelumnya. seperti ”franchising” vendor-vendor air di daerah-daerah A-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . resiko-resiko yang tidak diharapkan. Bank Dunia telah mengakui kegagalan privatisasi yang dulu diharapkan dapat membawa investasi-investasi dalam perluasan layanan air. dua kota besar di Asia yang menggunakan jasa operator swasta. Dihadapkan dengan pengembalian investasi yang jelek. Bila target-target yang dispesifikasikan dalam kontrak tidak dapat dipenuhi. pekerja. Pada bulan Januari 2003. Ketiga-tiganya menggunakan tindakan politis dan hukum untuk mendapatkan kembali kerugiankerugian yang pernah dialami dan tetap meng-klaim/ menuntut keuntungankeuntungan yang diantisipasi. mengumumkan akan menarik sepertiga dari invetasi yang ada di negara-negara berkembang. Manila dan Jakarta. perusahaan multinasional bidang air. Suez. civil society groups (masyarakat madani) dan dari kalangan partai-partai politik. dapat disaksikan bahwa terdapat perlawanan keras yang sedang berkembang atas privatisasi air di negara-negara berkembang. Kontradiksi-kontradiksi dimaksud diperparah oleh pergerakan nilai tukar mata uang dan krisis-krisis ekonomi. dari konsumen. Akhirnya. kinerja mereka ternyata tidak menjadi lebih baik dari pada operator yang perusahaan umum dalam hal perluasan layanan kepada kaum miskin.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pengembalian modal yang diperlukan oleh banyak perusahaan. Meski seluruh perhatian dan dukungan telah diberikan kepada konsesi privatisasi air di Amerika Latin. Telah ditetapkan instrumen baru untuk memberikan jaminan yang lebih kuat kepada perusahaan swasta dan sedang dicari bentuk-bentuk lain dari kesempatan berusaha (business) di sektor ini. mempunyai tingkat kehilangan air yang lebih tinggi dari mayoritas kota besar dimana pelayanan air dilaksanakan oleh perusahaan umum. perusahaan-perusahaan air multinasional telah memutuskan untuk mengambil tindakan guna memotong kerugiannya. pencinta lingkungan. dan Veolia dan Thames Water juga menarik dari kontrak-kontrak. Regulator telah menjadi kekurangan kekuasaan dan kompetensinya untuk mengendalikan perilaku kontraktor-kontraktor. operasi pelayanan air yang di”swastakan” di Argentina sekarang mengalami kebangkrutan. dan oposisi politis.

Suez aktif di Afrika Selatan yang sedang dibawah regim apartheid. khususnya dinegara-negara berkembang pada tahun-tahun sebelumnya. Banyak negara-negara pada periode 1980-an barada didalam cengkeraman rejim yang diktator dan korup dengan pelecehan atas hak azasi manusia dan proses demokratis. Awal berkembangnya privatisasi justru terjadi pada regim-regim yang tidak demokratis seperti. mereka hanya mengerjakan hal-hal yang kecil untuk orang-orang yang membutuhkan tingkat layanan yang terjangkau dalam layanan air dan sanitasi. dan sama sekali meninggalkan transparansi.1 Kegagalan Dalam Regim Yang Tidak Demokratis A-5 Isu bersama dari kampanye-kampanye adalah kritik atas privatisasi itu sendiri. A. privatisasi utilitas Casablanca diatur dengan dekrit Raja Hassan. Tetapi kampanye-kampanye juga harus mengakui kegagalan dan keterbatasan praktek-praktek dari operator perusahaan umum. Tetapi Bank Dunia. masalah-masalah ekonomi dan politisnya serta kegagalan dalam mengadakan perluasan layanan kepada masyarakat miskin. struktur tersebut telah mengalami kegagalan dalam menyediakan perluasan layanan air − bahkan ketika bank-bank pembangunan menyediakan pinjaman-pinjaman yang dibutuhkan − dan kegagalan-kegagalan ini dijadikan alasan untuk men-justifikasi kebijakan privatisasi diawal tahun 1990-an. layanan pada kaum miskin selalu dikorbankan sementara regim yang korup mengambil keuntungan untuk mereka sendiri dari pinjaman yang ditujukan untuk air. Tidak bijaksana untuk menilai bahwa kegagalan-kegagalan yang terjadi disebabkan karena kepemilikan air yang dikuasi oleh perusahaan umum.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ”peri-urban”. Selama tahun 1980-an khususnya. Hal-hal ini adalah respon dari perusahaanperusahaan dan Bank Dunia dalam menangani masalah-masalah mereka. meskipun hal ini menjadi tanggung jawab dari lebih 90% badan layanan air dan sanitasi dunia. bank-bank pembangunan lain dan organisasiorganisasi donor tetap menolak untuk menyediakan dukungan bagi perusahaan publik di sektor air.2. Tanpa akuntabilitas. privatisasi air untuk Jakarta diatur secara korup di era kediktatoran Suharto. tidak LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pengembangan dari pendekatan–pendekatan baru dalam pengelolaan layanan air datang dari mereka-mereka yang berkampanye menentang privatisasi.

Pemerintah tidak dapat memberikan prioritas yang memadai kepada kebijakan sektor air dibandingkan dengan kebijakan di sektor lain. sebagaimana pemerintah dan masyarakat di negara-negara berkembang mempunyai perhatian yang kurang atas air dan sanitasi dibandingkan dengan birokrat-birokrat yang sudah dicerahkan oleh institusi internasional. ia mendorong dilaksanakannya kebijakan ”piecemeal” privatisasi yang mana sesuai dengan kehendak IMF untuk membatasi hutang pemerintah. Di Brazil pada awal 1990-an. ada kampanye yang luas untuk suatu kebijakan sanitasi nasional yang secara kasar ditolak oleh Cardoso. dari pada sebagai masalah dalam sektor publik itu sendiri. kesempatan untuk mempraktekkan prinsip baru demokrasi ditangkap dalam berbagai bentuk.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA oleh tender kompetitif yang dilaksanakan oleh dewan kota. menunjukkan adanya kebutuhan tentang pendekatan baru yang berdasar kepada proses demokrasi dan tingkat partisipasi masyarakat yang menjamin akuntabilitas. Masalahnya. Analisis yang sama dapat diterapkan atas keluhan oleh bank-bank A-6 pembangunan dan lembaga donor. Hal ini telah menyebabkan jauh berkurangnya investasi di bidang air (dan infrastruktur lainnya seperti listrik). adalah bukan pada kurang populernya kebutuhan layanan air dan sanitasi. dan sistem yang demokratis. dibanding privatisasi yang dipilih oleh regim diktator. Di Latvia ada LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Masalah pada tahun 1980-an dimana sektor publik mengalami kegagalan dapat dilihat sebagai kurangnya proses demokratis dalam sektor publik. Pengalaman negara Brasil setelah berakhirnya diktator militer mendukung hal-hal ini. Inisiatif-inisiatif ini. calon presiden favorit bagi International Financial Institutions (IFIs). termasuk pengembangan pendekatan baru untuk memperluas layanan penyediaan air bersih dan sanitasi ke daerah baru. Waktu ia menjadi presiden di tahun 1995. sebagaimana diakui IMF sendiri saat ini. Kontrak-kontrak yang mereka dapatkan dipegang dengan rahasia bahkan terhadap anggota dewan kota—khususnya dikota yang ironis seperti Gdansk (Polandia) dan Budapest (Hongaria) dimana mereka sedang mengalami proses transisi dari regim tidak demokratis komunis menjadi regim yang diharapkan lebih akuntabel. tetapi pada kegagalan pemerintah merespon tuntutan ini.

Di permukiman peri-urban dimana pemerintah gagal menyediakan layanan pokok. khususnya demokrasi partisipatif di Brazil dan India − the ”southern future”. Diketahui bahwa lingkup dan era privatisasi dibidang air ternyata sangat sempit. yang mempunyai pengalaman atau dengan serius mempertimbangkan privatisasi air dalam kurun waktu hampir satu abad terakhir. Dan satu sumber lagi adalah munculnya bentuk baru dari struktur demokratis di selatan. ditemukan kembali pelajaran dari pengalaman negara-negara di belahan utara.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kampanye publik untuk pembangunan instalasi pengolah air limbah meski masih dibawah Uni Soviet pada waktu itu. Salah satunya adalah sejarah keberhasilan sektor publik di negara-negara maju pada abad 19 dan yang terbanyak di abad 20 − sebagai ”the northern past”. masih baru dan sangat pendek. tidak ada satupun negara diluar Perancis. yang kadang diperberat oleh kebijakankebijakan yang dibuat oleh IFIs sendiri. Masalahnya adalah kurangnya proses yang demokratis. Pengalaman kebanyakan negara-negara di Eropa dan Amerika Utara adalah mengganti kontraktor-kontraktor swasta dari pertengahan abad 19 dengan perusahaan pelayanan air milik kota. Dengan demikian pemerintah-pemerintah yang tidak efektif dapat dilihat sebagai bukti kegagalan proses-proses politik. Sebelum 1990. Hanya Perancis lah yang berhasil menyelamatkan kontraktor abad 19 dan mengkonsolidasikannya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . masyarakat telah mendemonstrasikan kemauannya dengan menggunakan tenaga kerja mereka sendiri dan dana tabungannya untuk membuat sistem air bersih dan sanitasi. seperti di Orangi di Pakistan. kecuali beberapa kota di Spanyol dan Italia dan beberapa kota bekas koloni Perancis. Dibalik perhatian yang ”misleading” kepada privatisasi. karena perusahaan milik kota dapat menyediakan perluasan pelayanan dengan lebih efisien dan lebih efektif.2 A-7 ”Northern Past Dan Southern Future” Dalam pengembangan kebijakan alternatif dan struktur. A. kampanye-kampanye telah mendasarkan argumen-argumennya atas dua sumber inspirasi pokok.2.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

menjadi

oligopoli

swasta,

yang

menjadi

alasan

bagi

Perancis

untuk

A-8

mempromosikan ideologi privatisasi air dan utilitas lainnya oleh pemerintahan Perdana Menteri Thatcher di Inggris. Negara-negara komunis dan negara-negara yang merdeka setelah pascakolonial berakhir, juga membangun layanan air melalui sektor publik, melalui kepemilikan di tingkat kota, wilayah, atau tingkat nasional. Secara historis, perusahaan utilitas sektor publik adalah model yang cukup berhasil dalam mengembangkan layanan perluasan atas air dan sanitasi untuk seluruh penduduk perkotaan dan bahkan pedesaan. Lebih dari 80% penduduk di Uni Eropa dan Amerika Serikat tetap dilayani operator publik, meskipun mengalami advokasi untuk diprivatisasi pada tahun-tahun belakangan. Di negara-negara belahan selatan, bentuk-bentuk demokratis baru telah muncul dengan mengedepankan partisipasi dan sentralisasi. India mempunyai sistem dewan desa yang dipilih yang disebut ”panchayats”, dan di negara bagian Kerala pemerintahan kiri meng-inisiasi peluncuran program desentralisasi dan partisipasi − hampir 40% dari anggaran negara bagian telah disalurkan melalui panchayat, warga mempunyai hak untuk melihat setiap dokumen dan prioritas anggaran ditetapkan melalui bebarapa tahapan pertemuan-pertemuan umum. Di Brazil, pemerintahan Partai Pekerja telah mengadopsi kebijakan-kebijakan yang membangun sistem devolutif dan partisipasi pada tingkat pemeritahan kota dimana kekuasaan terletak, melalui sistem yang dikenal sebagai ”participatory-

budgeting”.
A.3 Pemberdayaan Perusahaan Umum Pelayanan Air −Langkah Kedepan

Diketaui ada dua pilihan yang layak dalam merencanakan pelayanan air, baik menggunakan privatisasi layanan air maupun menggunakan layanan air yang pernah diselenggarakan oleh pemerintah dan kenyataannya tidak mencukupi. Keberadaaan pilihan ini tidak menjadi masalah bila layanan air dari pemerintah dapat dilakukan secara efektif, namun pertanyaannya adalah bagaimana membuat layanan air dari sektor publik ini menjadi efisien dan efektif. Obsesi

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

ideologi yang baru dibarengi dengan promosi sektor swasta dalam sepuluh tahun terakhir ini telah mengakibatkan pertanyaan di atas belum mendapatkan perhatian yang semestinya dalam penyusunan kebijakan dan proses pengambilan keputusan. Dari uraian pada bagian sebelumnya dijelaskan bahwa sekarang ini mulai muncul situasi baru yang bersifat fundamental akibat adanya beberapa kegagalan privatisasi yang besar, penarikan diri oleh sektor swasta multinasional bidang air dari negara-negara sedang berkembang, dan kenyataan yang dihadapi oleh para pembela privatisasi meski jelas bahwa inestasi sektor swasta tidak akan sampai ke kaum miskin. Oleh karena itu upaya untuk memfokuskan kembali pada perbaikan kinerja dan cakupan utilitas umum sangat dibutuhkan. Beberapa kasus yang disinggung disini menunjukkan bagaimana perbaikan yang signifikan dibidang akses atas air bersih dan sanitasi dapat dicapai dengan berbagai pola manajemen air publik. Solusi atas masalah air publik yang bertitik berat pada masyarakat telah terjadi pada berbagai kondisi lingkungan sosialekonomi, budaya dan politis. Sebagai contoh, termasuk pencapaian utilitas publik dan koperasi di Porto Alegre (Brazil), Santa Cruz (Bolivia) dan Penang (Malaysia); pencapaian perbaikan dengan manajemen model penyediaan publik yang inovatif di Caracas (Venezuela), Harrismith (South Africa) dan provinsi di Buenos Aries (Argentina); dan pencapaian dari pendekatan air yang dikelola masyarakat (community-managed water) di Olavanna (Kerala, India) dan Savelugu (Ghana). Berbagai macam pendekatan publik dimaksud telah membuktikan potensinya sebagai upaya untuk memperbaiki layanan air, dan sudah barang tentu termasuk untuk kaum miskin. Hampir disemua kasus, pencapaian-pencapaian dimaksud telah terjadi ditengah kondisi terjadinya perlawanan terhadap keanehan dan rintangan untuk perbaikan penyediaan air yang dikendalikan oleh publik dan masyarakat. Diantaranya yang terburuk adalah sistematis bias terhadap upaya perbaikan air publik dari

A-9

International Financial Institution (IFI’s) dan privatisasi dengan persyaratanpersyaratan tertentu yang dikaitkan dengan upaya untuk mengurangi jumlah dana bantuan pembangunan yang ditawarkan oleh pemerintahan di negara-

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

negara di kawasan utara. Hambatan-hambatan yang bersifat politis dan finansial dan hambatan lainnya yang mencegah manajemen air publik mencapai potensi penuhnya tidak dapat diatasi. Pada prinsipnya apa yang diperlukan adalah sikap politis untuk menciptakan lingkungan yang lebih kondusif. Hal ini menggarisbesari kisaran yang luas dari pilihan-pilihan kebijakan yang progresif. Dapat juga disimpulkan bahwa perkuatan demokratis, karakter publik dari layanan air pada prinsipnya tidak sejalan dengan model globalisasi neoliberal yang sedang dominan diwaktu kini, yang mana telah mempengaruhi beberapa aspek kehidupan kedalam kerasnya pemikiran dari pasar global. Menarik beberapa pengalaman dari seluruh dunia beberapa isu kunci yang perlu diwacanakan (debat) secara lebih intensif diwaktu mendatang adalah: • Pilihan-pilihan apa yang diperlukan untuk memperbaiki dan memperluas layanan air dan sanitasi publik untuk menghadapi tantangan keberlanjutan, keadilan dan akses untuk semua? • • • • Apa potensi dari partispasi masyarakat/pengguna dan bentuk-bentuk lain dari demokratisasi? Kondisi-kondisi apa saja yang diperlukan agar membuat reformasi utilitas publik yang berfokus pada penduduk dapat berjalan? Masalah-masalah apa saja yang menghinggapi komersialisasi operasi air sektor publik? Pelajaran-pelajaran apa yang dapat dipetik pada bagaimana caranya untuk mengatasi hambatan-hambatan kenaikan biaya yang diperlukan untuk perbaikan-perbaikan? • • Proses-proses politik macam apa yang terlibat dalam pengembangan air publik yang berhasil? Apa yang diperlukan untuk merealisasikan, dari tingkat lokal ke global, untuk menyebarkan, memperkuat dan melaksanakan layanan air dan sanitasi publik untuk daerah urban?

A-10

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

Koperasi air di Bolivia dan Argentina memperbolehkan para pengguna (yang semuanya adalah anggota dengan hak suara/voting) berpengaruh langsung dalam pengambilan keputusan. Untuk perusahaan utilitas. penggabungan keterlibatan masyarakat madani (civil society) dengan upaya reformasi demokratis yang inovatif seperti ”participatory budgeting/Anggaran Partisipatif”.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA A. mendapatkan masukan berdasar pengetahuan yang unik dari masyarakat dengan sendirinya merupakan suatu aset. Hal ini memberi kewenangan bagi para pengguna untuk memegang kendali atas akuntabilitas perusahaan dalam menjalankan pelayanannya dengan misinya yang bersifat not-for-profit. setiap warga dapat menyuarakan pendapatnya misalnya menyatakan dimana suatu investasi dapat pertama-tama dapat dilaksanakan.5% dari penduduk termasuk yang tinggal dikawasan kumuh dan miskin di penggiran. telah menjadi suatu model yang sering dideskripsikan sebagai ”social control (kontrol sosial)”. bentuk adalah faktor penting dibelakang peningkatan-peningkatan dalam efektivitas.4 Partisipasi dan Bentuk-bentuk Demokratisasi Lainnya A-11 Di beberapa kota yang diulas dalam tulisan ini. partisipasi warga masyarakat dan pengguna air dalam berbagai dari layanan air yang dikelola publik. masyarakat langsung menetapkan prioritas anggaran dari perusahaan-layanan-airnya. ”anggaran partisipatif” telah memainkan peran penting yang menjamin bahwa 99. Di Porto Alegre. sekarang ini mempunyai akses terhadap air bersih. Bertambahnya rasa memiliki berkontribusi terhadap bertambahnya kemauan untuk membayar dan dengan demikian memungkinkan untuk membuat investasi baru serta LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Melalui suatu proses pertemuanpertemuan publik. Seperti halnya pada beberapa wilayah kehidupan publik lainnya di Porto Alegre. respon dan pencapaian tujuan sosial Partisipasi dan demokratisasi yang efektif dimaksud dapat tampil dalam berbagai bentuk. Di Porto Alegre dan beberapa kota lainnya yang sedang tumbuh di Brasil. misalnya melalui pemilihan badan pengarah perusahaan utilitas (dalam hal ini layanan air dan sanitasi).

Recife. dan semua negara bagian dari Sao Paulo. A-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . bagian tenggara kota yang mempunyai jumlah penduduk berpenghasilan rendah yang sangat besar. Contoh lain dari Porto Alegre-style pengelolaan air yang partisipatif di Brasil dapat ditemukan di kota-kota seperti Caxias do Sul di negara bagian Rio Grade de Sul. Tetapi hal ini tidak akan mengurangi nilai dari pencapaian yang bisa didapatkan melalui proses partisipasi demokrasi. Pengalaman Brasil menunjukkan bahwa skala tidak mesti sesuatu yang menghambat untuk melaksanakan pengelolaan air yang bersifat partisipatif. Porto Alegre adalah salah satu kota yang makmur di Brasil. Porto Alegre dan Recife keduanya memiliki penduduk lebih dari satu juta dan model-model yang sejenis telah terbukti berhasil dibeberapa kota-kota besar lainnya. dan Santo Andre. telah melaksanakan pengelolaan air yang demokratis dan partisipatif serta bertujuan untuk lebih banyak meningkatkan akses air bersih dalam jumlah besar didasawarsa mendatang. kota ini mempunyai kesenjangan yang besar antara kaum yang kaya dan kaum yang miskin. Konferensi ini menentang privatisasi dan menetapkan tujuan institusi untuk meningkatkan dan memperluas layanan penyaluran air. Tingkat kemakmuran kota ini sebenarnya merupakan salah satu faktor yang menguntungkan dalam menyiapkan upaya peningkatan akses air bersih. Transparansi dengan sendirinya juga akan meningkat. Hal ini telah dicanangkan di tahun 2001 dengan proses konsultasi partisipatif selama tujuh bulan. yang juga akan sangat mungkin mengurangi resiko terjadinya korupsi. dengan prioritas untuk bagian-bagian kota yang miskin. Jacarel and Piracicaba. dan sebelum memulai reformasi demokratis sebagian besar penduduk mengalami kekurangan akses pada air bersih. Seperti ditemui di tempat lainnya di Brasil.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA meningkatkan pemeliharaan. Lebih dari 400 orang wakil terpilih pada pertemuanpertemuan (tingkat lingkungan) tersebut telah berpastisipasi dalam suatu konferensi dimana tidak kurang dari 160 keputusan telah diambil berkenaan dengan masalah air dan sanitasi di Recife untuk masa depan. dimulai dengan pertemuan-pertemuan seri tingkat lingkungan.

baik pada proses pengambilan keputusan maupun pekerjaan konstruksi dan pemeliharaan. dengan demikian akan menjamin keberlanjutan dari peningkatan dan perluasan layanan air dan sanitasi. Pengelolaan air yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . alokasi dana-dana yang tersedia dan penyusunan rencana kerja bersama. Peningkatan-peningkatan yang pokok atas akses terhadap penyediaan air sistem perpipaan telah dicapai dalam lima tahun terakhir melalui pelibatan dan pemberdayaan masyarakat. Rasa memiliki yang timbul dalam masyarakat berkontribusi terhadap upaya monitoring dan pemeliharaan dari masyarakat sendiri. Dana-dana publik ini kemudian mendapat tambahan dari dana kontribusi masyarakat sendiri. Masyarakat setempat. perusahaan air dan petugas-petugas yang dipilih bekerja sama dalam dewan air komunal untuk mengidentifikasi kebutuhan dan prioritas untuk perbaikan-perbaikan. melibatkan penduduk secara sangat intensif pada bidang-bidang yang memerlukan perbaikan dan peningkatan dalam layanan air. Ghana. dengan cara berkontribusi untuk mengadakan air bersih yang dapat dijangkau oleh semua. Di Olavanna dan komunitas-komunitas lain di Kerala.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Model pengelolaan air yang partisipatif yang sedang dalam proses A-13 pengembangan di Caracas. pelibatan dan pemberdayaan masyarakat setempat secara demokratis telah mengurangi biaya dan membantu mengendalikan kebocoran. Dengan menggunakan teknologi yang tepat guna dan menghindari ketergantungan pada kontraktor dan konsultan luar negeri akan mengurangi biaya. Penduduk setempat tidak hanya berpartisipasi dalam perencanaan. Venezuela. Penggunapengguna melaksanakan pengendalian demokratis atas pengelola utilitas. Keadaan yang hampir sama terjadi di Savelugu. tetapi juga dalam konstruksi. pengelolaan dan pemeliharaan. Sebagai hasil dari kebijakan People’s Plan (Rencana Masyarakat) dari pemerintah negara bagian Kerala (yang me-desentralisasikan pengambilan keputusan hampir sebagian besar dari pembiayaan publik). India. penduduk setempat mampu memutuskan mengalokasikan dana publik untuk peningkatan akses atas air minum. pengelolaan air secara partisipatif telah dilakukan dengan baik juga. misalnya dengan mengendalikan akuntabilitas untuk pelaksanaan rencanarencana kerja.

pemeliharaan. Berlainan dengan yang terjadi di Caracas dan Olavanna. kemitraan kolektif publik adalah format yang baik dan demokratis yang dapat mengatasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Untuk mengembangkan akses ke sistem perpipaan untuk dari daerah peri-urban. dimana hal ini adalah salah satu alasan bahwa kebocoran telah dapat dikurangi sampai tingkat yang paling minimum. Di Cochabamba. Badan air masyarakat kota (the city’s community board) menetapkan tarif yang direncanakan untuk menjamin akses bagi semua. termasuk penagihan kepada pengguna-pengguna. yang selanjutnya masyarakat yang akan mengurus semua hal yang berkaitan dengan sistem distribusi air-nya. namun peningkatan hanya dimungkinkan dengan bantuan dana dari UNICEF dan beberapa LSM dari belahan buni utara.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dikendalikan oleh masyarakat di Savelugu disebut sebagai ”public-community A-14 partnership/kemitraan sektor publik dan masyarakat”. partisipasi dan kontrol yang demokratis yang muncul setelah privatisasi yang merusak dari Betchel diakhiri pada bulan April 2000 ”perang air”. Hal yang penting dari sistem dengan tingkat desentralisasi yang tinggi ini adalah bahwa pada tiap lingkungan (setingkat kelurahan) mempunyai komisi pengelolaan air. Pada pemilihan bulan April 2002. Pada waktu yang sama. menggunakan kemampuannya untuk mengelola layanan distribusi air diwilayahnya sementara SEMAPA menyediakan layanan air partai besar (bulk water). sebanyak 3 dari 7 anggota badan dipilih oleh penduduk-penduduk dari bagian selatan. SEMAPA sedang memasuki model co-management dengan komisi air yang telah ada yang melayani penduduk tanpa sambungan di bagian selatan kota. Meskipun sejumlah faktor masih mengancam kesuksesan dari hasil dari kerjasama ini. khususnya penduduk yang miskin. Perusahaan utilitas air SEMAPA sekarang sedang di-restrukturisasi untuk melayani penduduk. SEMAPA bekerja sama dengan komisi air didaerah tersebut. model Savelugu dibangun tanpa dukungan aktif pemerintah. Hal ini mengacu kepada kenyataan bahwa perusahaan umum nasional menyalurkan air dalam jumlah besar (bulk water) kepada masyarakat. Bolivia. dan pembuatan sambungan baru. pusat dan selatan dari daerah kota. istilah ”public-collective partnership”/kemitraan kolektif publik dipakai untuk menjelaskan model baru dari kepemilikan utilitas skala perkotaan.

yang sejak tahun 2002 telah dikelola oleh pekerja-pekerja air dan ”trade-unionnya”. yaitu Azurix (anah perusahaan Enron). adalah karena perbedaan prinsip antara sektor swasta pemegang konsesi dan pengelola utilitas air setempat. Dengan bekerja sama dengan wakil-wakil pengguna yang berpartisipasi dalam dan mengawasi pengelola. menyediakan air untuk lebih dari 3 juta penduduk. seperti utilitas air PBA di Penang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kecenderungan sentralisasi dalam pengelolaan utilitas dan dapat menyelesaikan masalah-masalah akses pada wilayah peri-urban. Koperasi para pekerja yang sejenis juga telah dengan sukses mengelola suatu konsesi air di dua bagian kota Dhaka. Bentuk lain dari pengelolaan partisipatif adalah pada pengelola utilitas air di propinsi Buenos Aires. Serikat pekerja mengambil alih dalam situasi darurat yang timbul dari sektor swasta pemegang konsesi. dan akuntabilitas dari pengelola utilitas. Faktor kunci dibelakang pencapaian PBA adalah komitmen yang kuat diantara manajemen dan para pekerja atas layanan publik dan pelayanan masyarakat yang prima. akan didorong dengan cepat oleh aktivitas politik di negara bagian. yaitu Phnom Phen. termasuk pemeriksaan kritis yang menerus dari pihak partai-partai politik yang sedang berkompetisi. Perusahaan utilitas dioperasikan bebas dari pengaruh pemerintah negara bagian. transparansi. Malaysia. Ada juga kasus-kasus dimana pengelolaan air publik yang efektif dan setara dapat dicapai tanpa partisipasi pengguna memainkan peran yang penting. para pekerja telah berhasil membawa kembali perusahaan utiltas kembali ke ”track-nya” setelah bertahuntahun dikelola secara buruk oleh Azurix. Argentina. ini perlu dicatat. yang menarik diri setelah pemerintah propinsi menolak pertambahan harga dari layanan yang memuaskan yang dijalankan perusahaan dari Amerika Serikat. Efisiensi. ibukota negara Bangladesh. ada beberapa kasus keberhasilan dari belahan bumi selatan yang cukup menarik untuk dikaji. pada sisi yang lain. Cambodia dimana jumlah dari rumah tangga yang dilayani dan memdapat air telah meningkat dengan cepat dari 25% menjadi hampir 80% dalam 10 tahun terakhir. untuk mencegah interferensi/ pengaruh-pengaruh yang tidak diperlukan. Disamping contoh-contoh diatas. A-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pilihan untuk meninggalkannya.

5 Lingkungan yang Menunjang (Enabling Environment) Hal-hal apa yang membentuk lingkungan-lingkungan yang menunjang (lokal. institusi internasional. Ada potensi umum untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan manajemen. Hal yang sama. tetapi elite politik neo-liberal tidak berkeinginan untuk mengijinkan pilihan ini dikembangkan lebih lanjut. reformasi perusahaan publik utilitas tidak dipertimbangkan sebagai alternatif atas program privatisasi yang diusung oleh Bank Dunia dan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pemerintah-pemerintah dan partai-partai politik. secara aktif menghambat pengembangan lebih lanjut dari koperasi dan pengelolaan umum utilitas publik. hal ini jangan dianggap sebagai ”panacea” yang dapat dilaksanakan di setiap situasi dan pada lingkungan/kondisi tertentu mungkin juga tidak layak. efektivitas dan responsif dan dengan sendirinya akan berkontribusi pada penyediaan jasa layanan yang lebih baik. meski badan usaha ini sering berkinerja sangat baik. nasional dan internasional) dimana berbagai pendekatan yang berfokus pada orang mempunyai peluang untuk sukses? Diantara faktor-faktor yang paling penting adalah ketersediaan sumber daya air setempat. A-16 A. Sementara itu terdapat alasan yang baik untuk mengharapkan bahwa koperasi dapat memberikan layanan air di beberapa kota besar secara lebih efektif dan lebih betanggung jawab dari aspek sosial dibandingkan perusahaan air swasta. untuk alasan ideologis. dan faktor penting lainnya adalah dukungan politis dari pemerintah setempat. Pengambilan keputusan pada pelayanan air di daerah kota-kota di belahan Selatan kadang-kadang dapat menjadi ”medan perang” politis yang sangat intensif atas kepentingan-kepentingan politis dan ekonomi para elite yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat miskin.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sementara itu. partisipasi dan demokratisasi dalam berbagai bentuknya dapat digunakan sebagai piranti yang kuat untuk perubahan positif pada berbagai kondisi lingkungan. Sejak tahun 1990-an di Argentina. pemerintah pusat dan daerah telah. kapasitas dari pemerintah setempat dalam memberikan layanan.

Model pengelolaan air yang sekarang muncul masih kurang demokratis. Sementara visi dibelakang ”public-popular partnership” di Cochabamba dapat dibanding dengan sistem planning partisipatif di Porto Allgre atau Kerala. Suatu masalah yang sedang tumbuh di berbagai belahan bumi. Santa Cruz. tetapi tidak dihalangi oleh pemerintah pusat. Utilitas telah ditransfomasikan menjadi suatu koperasi di tahun 1979. Hal ini berarti menciptakan lingkungan yang sulit dan membatasi ruang politis untuk mempromosikan pengendalian secara demokratis di Cochabamba. merefleksikan perjuangan perebutan kekuatan yang berlanjut. Peningkatan pengelolaan sumber daya air untuk A-17 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA International Monetary Fund (IMF). faktor penting dibelakang keberhasilan koperasi air adalah kebebasannya dari partai politik dan kenyataan bahwa kota dan utilitas airnya telah diabaikan. birokrasi. dan yang lebih akhir. Demikian juga. Reformasi dan peningkatan yang dicapai adalah sebagai hasil dari kekuatan yang dibangun oleh gerakan air ditingkat akar rumput. kurangnya sumber daya menghalangi partisipasi yang aktif. pada waktu ideologi neo-liberalisme belum muncul sebagai faktor hambatan terhadap pendekatan air berpusat kepada masyarakat. hal ini adalah pola umum di beberapa negara di seluruh dunia. dan akuntabilitas dari pada yang dikehendaki masyarakat madani. Santa Cruz. dan kecenderungan lain terkait dengan globalisasi ekonomi. Di Cochabamba. pertumbuhan yang cepat dari pertanian intensif (kadang untuk tujuan ekspor). pemerintah setempat dan pemerintah pusat mengambil sikap untuk tidak mendukung upaya untuk berpindah pada pengelolaan air yang bersifat publik dan partisipatif. Cochabamba sedang menghadapi kelangkaan air. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan karena industrialisasi. urbanisasi. Malangnya. Status koperasi (dan realitas kurang terpolitisasinya dari pada Cochabamba setelah ”perang air” dan ”deprivatisasi) telah memberikan otonomi yang diperlukan untuk mengendalikan utilitas bebas dari pengaruh politis. konflik atas sumber daya air semakin meningkat. Bolivia. Di kota Bolivia lainnya. kroni-isme dan korupsi tipikal di kota-kota lain di Bolivia. di Cochabamba hampir tidak ada uang agar penduduk dapat membuat keputusannya. transparan.

sudah tentu dimulai dari kondisi awal yang paling sulit. Pengalaman Di Cochabamba menunjukkan bahwa butuh waktu lama untuk mengubah utilitas yang tidak berfungsi. Sebagai perbandingan. A-18 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Setiap model penyaluran air bagi daerah perkotaan yang progresif perlu memasukkan pendekatan yang berkelanjutan atas sumber daya air dan membuat neraca antara kebutuhan air untuk daerah perkotaan dan perdesaan. yang terbukti bukan merupakan solusi yang tepat. adalah kesulitan yang dihadapi dalam mengembalikan pengelolaan utilitas air menjadi pengelolaan oleh publik dengan situasi di kota Grenoble. tidak meluasnya kemiskinan. Hal ini berarti upaya peningkatan kinerja layanan umum harus dimulai dari awal. Untuk itu guna mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi dalam perbaikan penyediaan air di Cochabamba. Kapasitas administrasi dari sektor layanan umum pemerintahan dalam memberikan pelayanan umum adalah faktor yang sangat penting. Semakin banyak kemampuan yang tidak dimiliki oleh pemerintah kota/daerah. khususnya jika penduduk setempat kehilangan kesabaran jika perbaikan layanan air tidak terjamin secara nyata. Di Grenoble. serta ketersediaan sumber daya air dari pegunungan Alpen memberikan lingkungan yang kondusif bagi keberhasilan penyediaan layanan air publik. sangat diperlukan solidaritas internasional. dapat dikatakan sebagai hal yang berlawanan dengan kebiasaan. Kenyataan ini sering disalah gunakan menjadi alasan diperlukannya privatisasi layanan umum. Pencapaian di Cochacamba. khususnya bila elite politisi setempat menghalangi perubahan yang diperlukan. Dengan berbagai alasan. akan semakin berat tantangan yang dihadapi untuk dapat secara efektif mengelola suatu utilitas publik. Keberhasilan tidak selamanya dapat dijamin. Perancis. atau jika tidak. sektor publik khususnya di negara-negara berkembang seringkali diurus oleh tenaga-tenaga yang kurang mampu dalam menangani urusan pelayanan umum yang terkait dengan jaringan infrastruktur yang besar serta memerlukan kemampuan (”softskill”) yang responsif terhadap tuntutan kebutuhan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA menjamin keberlanjutan akan keberadaannya adalah tantangan pokok untuk daerah perkotaan di seluruh dunia. keberadaan pemeritahan kota yang efektif.

Percobaan selama 3 tahun menunjukkan bahwa ”sharing” dan transfer pola pengelolaan dan ketrampilan teknis dapat berkontribusi (sebagian pada peningkatan pelayanan air masyarakat secara cepat. Eksprimen ini hanya mungkin dapat berjalan dengan subsidi kepada kaum miskin yang didanai oleh pemerintah. yang telah dikelola dengan baik melalui kemitraan. kemajuan yang dibuat oleh kemitraan publik dan masyarakat di Savelugu sekarang terancam oleh kenyataan bahwa Ghana Water Company (GWC) tidak mampu untuk menyalurkan layanan air bersih yang mencukupi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Harrismith tidak mengalami kerugian dari tingginya tingkat pelanggan yang tidak membayar—tipikal masalah pada konsesi yang diprivatisasikan di Afrika Selatan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA khususnya untuk kota-kota dengan penduduk yang sebagian besar A-19 berpendapatan rendah. tetapi tidak dikelola untuk mengatasi menumpuknya kebutuhan akses air bersih dalam jumlah yang besar yang ada dikawasan komunitas perkotaan di Harrismith. Jelaslah bahwa kapasitas untuk memberikan layanan umum oleh pemerintah kota/daerah setempat adalah komponen kunci dari masyarakat demokratis dan merupakan suatu keharusan guna diberlakukannya hak atas air bagi penduduk. Partisipasi dan konsultasi intensif pada tingkat ”ward” dari wilayah pemerintah kota/kabupaten) adalah juga faktor kunci disamping faktor lainnya yaitu finansial untuk mencapai sukses public-public partnership. Berkat pembelajaran dari konsultasi. Tanpa kebijakan yang lebih bersifat ambisius adalah sulit untuk mencapai kondisi dimana air dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat untuk memerangi kemiskinan dan redistribusi kemakmuran dalam lingkup lokal dan nasional. Proyek ”Public-public partnership” telah membawa peningkatan yang nyata. pendekatan tarif sosial dan dukungan dari masyarakat. public-public partnership antara pemerintah setempat di kota Harrismith dan perusahaan besar utilitas publik bidang air dari kota lain telah mencapai hasil yang baik. Di Ghana. Di Afrika Selatan. Salah satu jalan untuk mengatasi kelemahan kapasitas pelayanan umum pemerintah setempat adalah melalui ”public-public partnership” (kemitraan antara instansi-instansi pemerintah).

Penganggaran partisipatif diperkenalkan dan di-institusionalkan setelah partai Pekerja memenangi pemilu dan memperoleh kendali politik. yang dikendalikan oleh Front Demokratis Kiri. India dan Caracas di Venezuela. Di Brasilia.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA untuk masyarakat. Krisis yang semakin mendalam GWC sebagaian besar disebabkan oleh kurangnya pembiayaan dan hal-hal yang terkait dengan upaya bersama pemerintah pusat dan Bank Dunia yang sedang menyiapkan suatu perusahaan yang akan menangani privatisasi. A-20 A. sebagaimana telah dijelaskan di bagian sebelumnya dari tulisan ini. upaya-upaya ini dipelopori oleh pemerintah setempat. Upaya ini mencakup redefinisi dan ”re-invention” yang radikal tentang pelayanan umum dan arti dari ”ke-umum-an”/publicness (kualitas menjadi umum/publik dan menjadi milik masyarakat). dan juga oleh partai-partai politik. peningkatan-peningkatan yang telah terjadi disebabkan oleh peran fasilitasi dan pemberdayaan dari pemerintah-pemerintah pusat dan daerah. beberapa upaya-upaya telah dilaksanakan untuk mempercepat peningkatan kapasitas dalam layanan umum.6 Ethos Baru Layanan Umum Sementara adalah suatu kenyataan bahwa beberapa perusahaan utilitas air dibelahan bumi selatan mengalami hambatan dari birokrasi dan seringkali gagal memberikan layanan kepada warga yang miskin. atau pekerja. dan juga di Kerala. Hal ini menggaris bawahi pentingnya kebijakan nasional dan internasional yang lebih bersifat memfasilitasi dari pada mengahalangi partisipasi dan solusi lainnya atas layanan air untuk publik. penganggaran yang bersifat partisipatif dan di-desentralisasikan dimulai dan dikonsolidasikan oleh pemerintah negara bagian . peningkatan-peningkatan dicapai karena komitmen yang sangat kuat dari walikota dan anggota dewan kota yang berasal dari partai Pekerja. Di kota-kota di Brasilia seperti Porto Alegre dan Recife. Hampir semua utilitas yang berhasil yang dijadikan contoh telah meningkatkan layanan air dan sanitasi melalui penyusunan visi layanan umum yang melayani tujuan-tujuan sosial yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Di Kerala. kota-kota seperti Recife dan Porto Alegre. atau masyarakat madani/LSM.

Ethos baru pelayanan umum yang sedang muncul dengan berbagai bentuk pengelolaan air yang tidak mencari keuntungan. A-21 A. Utilitas air di Penang. keberlanjutan sosial. pada umumnya. ”Ke-umuman/publicness” di –redefinisikan sebagai sesuatu yang jauh diluar sekadar kepemilikan oleh umum atau pengelolaan oleh pegawai (negeri/badan usaha milik negara/daerah). Pengertian ”ke-umum-an” yang progresif ini faktor yang sangat penting untuk memenuhi tantangan-tantangan seperti penyediaan air bersih untuk warga miskin yang ter-marginal-kan di pinggiran kota dan. dimiliki oleh kelompok pekerja dan kelompok pengguna-pengguna. dicapainya manajemen sumber daya yang berkelanjutan untuk kota-kota yang selalu berkembang. sebagian. termasuk demokrasi. dan keamanan masyarakat (human security). dapat mengambil bentuk mulai dari koperasi sampai ke pelayanan utilitas yang dikelola pemerintah kota.7 Catatan Tentang Komersialisasi Beberapa kasus tentang upaya peningkatan pelayanan air untuk umum menunjukkan adanya kecenderungan yang saling bertentangan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA lebih luas. Dalam banyak kasus. tetapi juga perusahaan utilitas yang dikendalikan oleh umum. Pengenalan busines neo-liberal dan model-model pengelolaan (sering disebut sebagai New Public Management-NPM) mengarah pada bentuk- LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Malaysia. Pertama. Pengalaman yang diperoleh dari reformasi di bidang utilitas air umum adalah pengembangan ethos baru di bidang pelayanan umum. dimana sahamnya. internalisasi dan konsolidasi dari philopi dari melayani kebutuhan umum adalah fasilitasi dengan partisipasi warga secara langsung dan bentuk-bentuk lain dari interaksi dengan penggunapengguna. telah mengembangkan ethos layanan umum yang berkualitas tinggi yang memungkinkan menyediakan air berkualitas tinggi untuk semua pada harga yang masih dapat dijangkau. pengaruh ideologi neo-liberal menghasilkan permasalahan yang rumit dalam praktek pengelolaan layanan air diantara pilihan dikelola oleh publik atau privatisasi.

Beberapa utilitas publik air telah mengkombinasikan perluasan layanan air dengan struktur tarif sosial. Columbia. memerlukan investasi-investasi awal yang cukup besar. Kedua. praktek operasi dari EAAB di Bogota. misalnya. dan juga menyediakan subsidi untuk mengurangi beban yang harus ditanggung oleh pengguna melalui tarif air. Pajak biasanya dipakai untuk membiayai perluasan dan pembangunan sistem. Di beberapa kota-kota yang mempunyai keberhasilan dalam penyediaan air publik. dan juga melalui subsidi silang melalui ”stepped tariffs/tarif progresif”. Di beberapa negara—seperti Irlandia—layanan air dibayar hampir seluruhnya melalui pajak pemerintah pusat. biaya dari pinjaman biasanya dikenai pajak. Jika pemerintah atau pemerintah kota meminjam uang atau menerbitkan bonds/surat berharga untuk membiayai investasi. sedang berekspansi untuk beroperasi keluar negeri. A-22 A. Pada prinsipnya ada cara untuk membayar penyediaan air untuk publik: pajak-pajak atau iuran (biaya jasa pengelolaan) dari pengguna. dalam hal ini konsumen membayar sebanding dengan air yang digunakan (memakai lebih banyak air akan membayar lebih banyak).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA bentuk komersialisasi yang akan bertentangan dengan prinsip-prinsip ethos pelayanan umum yang dijelaskan sebelumnya. perusahaan-perusahaan ini bermaksud untuk beroperasi sebagai penyedia layanan air komersial di luar negeri.8 Pembiayaan Air Publik Pembiayaan adalah tantangan kunci untuk setiap komunitas yang menghendaki terjaminnya air untuk semua. Sementara mereka berpedoman pada ethos pelayanan umum jika beroperasi di dalam negeri. dan juga Rand Water di Afrika Selatan dan PBA di Malaysia. Outsourcing tugastugas kunci kepada kontraktor swasta dan pengenalan kondisi perburuhan yang ”fleksibel” adalah contoh-contoh peng-adopsian dari model busines korporasi. kecenderungan yang terkait dengan utilitas publik seperti EAAB. Kecenderungan ini terlihat nyata. air seluruhnya dibayar dengan iuran pengguna (full cost recovery). Pelayanan air sehari-hari dari utilitas air memerlukan biaya dan perluasan akses atas air. dengan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

ekspansi/perluasan layanan air dapat juga dikerjakan dengan pengurangan biaya operasi dan meningkatkan efisiensi air. misalnya. menyalurkan kelebihan (surplus) atas iuran yang lebih tinggi yang mampu dibayar oleh pengguna yang kaya kedalam dana investasi yang membiayai air baru dan infrasruktur untuk air dan infrastruktur sanitasi bagi semua yang memerlukannya Di Afrika Selatan dan beberapa kota lainnya diseluruh dunia. Meteran air pra-bayar yang telah dipasang di beberapa komunitas miskin di Afrika Selatan secara nyata merupakan pelanggaran atas hak azasi manusia atas air. kondisi tingkat pelanggan air tidak membayar sangat rendah. Beberapa cara lainnya adalah mengatasi kebocoran dan meningkatkan penagihan-penagihan. kebijakan neo- liberal cost recovery (tanpa subsidi silang) telah menyebabkan problem afordabilitas dan beberapa juta penduduk mengalami pemutusan layanan air. utilitas kemudian di-reorganisasi dengan struktur tarif yang berbeda dan insentif untuk mengurangi kebocoran dan limbah. termasuk yang paling miskin A-23 mempunyai akses terhadap air yang terjangkau. Untuk menjamin keterjangkauan air untuk semua. hak atas air tidak secara efektif dilaksanakan. memungkinkan utilitas mempunyai tarif air yang paling rendah di negerinya. Di Penang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA demikian memungkinkan seluruh warga. Sementara undang-undang di Afrika Selatan menjamin pemberian 6.000 liter bebas biaya untuk setiap keluarga. Setelah proses konsultasi publik. Untuk mengatasi rintangan pembiayaan. Hal ini meningkatkan kesehatan aspek finansial dari utilitas dan menyelesaikan masalah sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . paling tidak diperlukan untuk men-duakali-kan jumlah air gratis yang dijamin konstitusi dan ditambah dengan subsidi silang untuk tarif rendah bagi penduduk berpenghasilan rendah. Brasil. Malaysia. dan 6. mengurangi jumlah pelanggan yang tidak membayar dan perbaikan dari kelayakan pembiayaan utilitas dapat dicapai.000 liter air gratis per keluarga terbukti ternyata tidak mencukupi untuk satu keluarga besar penduduk miskin. Di kota Matao. DMAE di Porto Alegre. privatisasi kelihatannya menjadi satu-satunya pilihan untuk pemerintah kota yang kehausan modal untuk investasi perluasan layanan air untuk mengikuti pertumbuhan penduduk yang cepat.

Untuk masyarakat miskin. hal ini juga merupakan upaya keberlanjutan sumber daya air: pengurangan kebocoran dapat juga membantu mengatasi ancaman atas kekurangan air dan bahkan membuat investasi pokok pembangunan bendungan baru tidak diperlukan lagi. India. Dibanyak negara. Keadaan yang sangat kontras dengan pemberdayaan demokratis dari desentralisasi pengambilan keputusan atas dana pemerintah didapati di Kerala. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kesulitan akses untuk pembiayaan investasi-investasi dalam pengembangan dan peningkatan penyediaan air merupakan hambatan di banyak kota-kota di belahan bumi selatan. Partisipasi warga dapat membantu kesehatan finansial utilitas air. Dengan jelas. Warga tidak hanya diberdayakan oleh pemerintah untuk mampu memprioritaskan alokasi anggaran publik. diperlukan dana dari luar untuk membiayai investasi awal yang besar. sebagaimana kasus di Porto Alegre. tetapi untuk kelompok masyarakat lain yang berminat melaksanakan model-model yang sama tidak dapat bergantung pada ”philantrophy”. Masyarakat pada area dimana pembangunan infrastruktur air terjadi berpartisipasi dalam komisi-komisi yang mengawasi kontraktor-kontraktor menjalankan pekerjaannya. yang mana telah membantu pengurangan biaya dari proyek konstruksi baru.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air. akses atas air untuk bagian masyarakat yang miskin tetap ditempatkan pada prioritas yang rendah dan seringkali pendekatan-pendekatan neo-liberal mendominasi para A-24 elite setempat dalam proses politik. Mengikuti saran-saran IFI. mereka juga dilibatkan dalam monitoring pelaksanaan keputusan-keputusan dan proyek-proyek. juga bentuk-bentuk yang sangat berbeda dari proses desentralisasi telah terjadi di beberapa negara yang terletak di belahan bumi selatan dalam sepuluh tahun terakhir. Model Savelugu di Ghana utara hanya mungkin terrealisasi berkat pendanaan dari UNESCO dan LSM internasional. Hal ini berarti pengawasan yang menerus atas utilitas air dan pengawasan terhadap kontraktor. Di titik inilah peranan dari pemerintah pusat dan institusi pendanaan internasional untuk menjamin akses untuk memperoleh pinjaman (loans) mutlak diperlukan. Banyak hal-hal yang dapat diperbaiki untuk pendekatan negara-negara dibelahan bumi selatan dalam penyediaan air.

Pemerintah-pemerintah mengalami penurunan anggaran disebabkan karena penurunan pajak pendapatan. perdagangan bebas dan reformasi neo-liberal lainnya telah menghasilkan meningkatnya angka pengangguran dan marginalisasi ekonomi. kelihatannya layak jika model pembangunan diganti dengan model globaliasi yang lain. juga bagi negara-negara di Eropa Tengah dan Timur. Pemerintah-pemerintah di belahan bumi utara dan IFIs terus-menerus menggunakan pembiayaan sebagai sebagai alat politik untuk A-25 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . yaitu yang mem-fasilitasi solusi publik yang progresif dari pada menyembunyikannya. hal ini sering digabungkan dengan tingginya angka pembayaran pinjaman luar negeri.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pemerintah-pemerintah telah mengalihkan tanggung jawab kepada pengelola utilitas setempat. Untuk sebagian besar penduduk di belahan selatan. Kumulatif dampak/impacts dari kebijakan neo-liberal adalah hambatan dasar bagi pengembangan penyediaan oleh publik untuk layanan-layanan penting. Hal ini masih ditambah dengan kenyataan adanya tekanan untuk me-liberalisasi dan privatisasi dari IFIs. Kenyataan yang sangat mengganggu adalah sebagain besar IFIs tetap berkeras memihak kepada privatisasi dan menggunakan berbagai jenis tekanan baik secara nyata atau secara halus untuk memaksakan hal tersebut (privatisasi) kepada pihak peminjam. pinjaman-pinjaman dari IFIs adalah satu dan hanya satu-satunya jalan dimana para pemerintah dan pemerintah kota bisa mendapatkan dana-dana untuk investasi guna pengembangan akses terhadap air. Dengan keadaan bahwa banyak pemerintah-pemerintah di belahan bumi selatan menderita karena sistem ekonomi global yang tidak adil dan hutang luar negeri yang semakin membesar. Solusi jangka panjang. institusi bantuan untuk pembangunan dan team negosiasi perdagangan. konteks kini dari globalisasi neo-liberal adalah sangat berlawanan dengan kondisi lingkungan yang diinginkan untuk meningkatkan dan memperluas sistem air publik yang berfokus pelayanan penduduk. sementara itu pada saat yang bersamaan utilitas setempat kekurangan dana untuk memenuhi kewajiban baru mereka. Hal ini telah menjadi konsekuensi yang dapat diramalkan atas penyediaan layanan publik yang vital. Pada waktu yang sama. nyatanya kadang hal ini mempersempit alternatif pilihan yang lain dari privatisasi.

Penting untuk diketahui bahwa dana yang hanya ”sepersekian” dari dana yang dipergunakan untuk keperluan militer sudah mencukupi untuk membiayai penyediaan air bersih untuk semua orang dibumi ini. tentunya digabungkan dengan penghilangan atas tekanan-tekanan yang terkait dengan kondisi privatisasi. Legitimasi demokratis dari pengelola utilitas publik dan dukungan dari walikota-walikota telah membantu ditahannya tekanan-tekanan dan berhasil mendapat pinjaman tanpa kondisi yang dapat menggerus hakikat dari model-model partisipatif. Ada kebutuhan mendesak akan mekanisme pembiayaan tanpa kondisi politis dengan tujuan yang berorientasi pada pelayanan masyarakat dan bukan bertujuan ekonomis dan ideologis. Untuk mendorong aliran pembiayaan internasional untuk memperluas akses atas air kepada kaum miskin. Ada beberapa perkecualian. Porto Alegre dan Recife mendapat pinjaman dari IFI setelah negosiasi yang sangat berat dimana Bank Dunia tetap ”ngotot” mendorong kearah privatisasi. Kehendak untuk membiayai pilhan sektor non-swasta tetap jauh dan terlalu terbatas. menambah dana bantuan pembangunan dari negara-negara maju di belahan utara adalah pilihan yang langsung. yang sesungguhnya sangat sehat. Masyarakat Eropa dan beberapa pemerintahan di Eropa secara pro-aktif mendorong dilakukannya privatisasi. Disamping pilihan pendanaan yang bersifat redistribusi dengan pengaturan perpajakan dan tarif air yang bersifat subsidi silang. terdapat berbagai jenis pilihan pendanaan yang berskala lokal dan nasional. Bolivia. Koperasi di Santa Cruz.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA menekan pemerintah-pemerintah di belahan bumi selatan untuk bergabung dalam upaya melaksanakan reformasi neo-liberal. seperti pinjaman IBRD untuk koperasi-koperasi di Argentina dan Bolivia. sedang menghadapi pembatasan-pembatasan untuk mendapatkan pinjaman yang lebih besar bukan karena keadaan keuangannya sendiri. Di Eropa. tetapi karena kondisi keuangan pemerintah pusat yang menyebabkannya. termasuk ”floating municipal bonds”. pajak kecil yang dikenakan pada botol kemasan air mineral dan menghasilkan miliaran euro (triliunan rupiah) pun masih jauh lebih kecil dari jumlah yang sangat besar yang A-26 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

Proses politis dalam mengupayakan reformasi utilitas publik dan alternatif untuk privatisasi menentukan karakter dari pendekatan pengelolaan air publik. mempersatukan berbagai jenis pelaku yang luas. Perjuangan politik ini adalah elemen penting didalam memahami proses penyediaan air ke masa depan. dalam referendum nasional di bulan Oktober 2004. kelompok-kelompok perempuan dan para aktivis akar rumput sampai ke serikat buruh. pergerakan sosial memobiliasi kekuatan untuk mendukung keinginan kaum yang terpinggirkan melawan kebijakan-kebijakan neo-liberal yang dipromosikan oleh elite politik dan ekonomi. menunjukkan bahwa gerakan sosial secara aktif berkontribusi dalam mempertahankan dan meningkatkan karakter publik dari layanan air dan sanitasi di seluruh dunia. dibentuk oleh perjuangan politik yang mendahuluinya. mayoritas yang besar mendukung perubahan konstitusi yang akan menetapkan air sebagai hak azasi manusia dan melarang privatisasi. partai-partai politik dan para manajer utilitas publik. Keadilan sosial dan demokratisasi pengambilan keputusan pengelolaan air juga perlu diintegrasikan dalam upaya tersebut.9 Gerakan. Contoh dari Cochabamba dan beberapa kota lainnya menunjukkan bagaimana model-model penyediaan air oleh publik adalah. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Di banyak negara. Perjuangan dan Solusi-Solusi Air Publik Kasus-kasus yang secara singkat diulas. Hal ini terjadi pada kasus Urugay dimana. Tekanan publik kepada pemerintah dan pengelola utilitas umum untuk merubah dan meningkatkan akses atas air bersih mempunyai peran penting dalam upaya dicapainya pemenuhan air untuk semua secara berkelanjutan. Gerakan-gerakan ini. dari para environmentalist. begerak lebih dari sekadar hanya bertahan. sebagian besarnya. seringkali telah mengelaborasi visi dan usulan yang konkrit tentang alternatif-alternatif untuk pelayanan sektor publik. Kampanye anti-privatisasi di beberapa negara didunia.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dapat dikumpulkan melalui ”pajak Tobin” yang dapat dikenakan pada transaksi keuangan internasional. A-27 A.

Konvensi yang dimaksud hendaknya menyediakan instrumen hukum yang kuat untuk menjamin hak atas air bersih untuk semua dan menjaga agar air tidak diperlakukan sebagai komoditi. Di negara pasca komunis seperti Slovakia. dalam kerangka PBB. perlu ditetapkan lingkup dari perbaikan. seperti menghentikan praktek tercela dari politisi yang gagal menyalahkan gunakan utilitas juga pilihan pensiun dengan mendapat pesangon. dimana informasi kunci adalah ditetapkan sebagai diluar jangkauan karena alasan kerahasiaan komersial dari privatisasi. Di inspirasi dari kemenangan di Urugay. kelompok-kelompok masyarakat madani di Argentina juga telah mencanangkan kampanye untuk referendum untuk menentukan bahwa akses atas air dianggap sebagai hal yang mendasar dalam hak azasi manusia dan menyatakan bahwa air untuk publik yang merupakan milik bersama dikecualikan dari privatisasi. Disamping itu. A-28 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Partipasi publik yang efektif diyakini akan mempebaiki pengelolaan utilitas air publik. transparansi dan partisipasi warga adalah pergulatan yang pokok. serikat buruh. Kampanye anti privatisasi menghadapi tantangan untuk meyakinkan operator air publik bahwa partisipasi masyarakat dan pengendalian/kontrol yang demokratis dapat membantu memperbaiki efektivitas pelayanan publik. Sementara hal-hal ini dapat berjalan dengan baik. Para manajer utilitas publik dan karyawan pemerintah kota sering menganggap pelibatan masyarakat sebagai hal yang mengganggu. masyarakat dan masyarakat madani (LSM-LSM) adalah memegang peran pokok pada setiap tahapan pengelolaan air dan dalam institusi-institusi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Perubahan konstitusi yang dipromosikan oleh koalisi gerakan-gerakan yang menetapkan bahwa partisipasi konsumen. Pergulatan untuk transparansi dan akses publik atas informasi adalah tema yang diulang-ulang di banyak kampanye. Koalisi global LSM yang sedang berkembang menuntut agar pemerintah-pemerintah bersepakat untuk membuat konvensi internasional tentang hak atas air. Potensi transparansi adalah keuntungan yang esential dari utilitas publik atas privatisasi penyediaan air. transparansi adalah karakteristik dasar yang perlu dimiliki hampir untuk semua utilitas publik yang berfokus pada pelayanan masyarakat.

Untungnya telah banyak hal-hal yang dapat kita pelajari. Di Amerika Serikat (dimana 85% penduduk dilayani oleh utilitas publik). terutama untuk utilitas listrik. Dengan demikian hal ini berarti justru merupakan tantangan bagi masyarakat madani di belahan bumi utara. Kampanye melawan privatisasi dan perbaikan layanan publik di negara seperti Jerman. nilai-nilai universalnya telah melewati batas negara dan bahkan benua. aman dan banyak. untuk seterusnya. Pelajaran yang dapat kita petik dari pengalaman-pengalaman dari kampanye untuk air publik diseluruh dunia. tidak hanya dari kampanye gerakan anti privatisasi yang telah tumbuh dengan kuat di belahan bumi selatan. Di Itali. perjuangan melawan privatisasi tidak hanya sekedar mempertahankan kondisi ”status quo”.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Strategi kampanye dibentuk oleh konteks lokal dan nasional termasuk diantaranya intensitas masalah dan kesempatan politis. A-29 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sejauh mana partisipasi masyarakat akan dapat dilibatkan akan menjadi agenda dari upaya perbaikan penyediaan air publik di belahan bumi Utara yang masih akan dilihat perkembangannya. Sebagai contoh di Urugay. Kanada. tekanan sekarang bertambah pada negara-negara Amerika Serikat. akan selalu tergantung kepada keluasan lingkungan politis. Jepang dan Eropa khususnya bagian Barat dimana penyediaan utilitas air publik masih sangat banyak dilaksanakan oleh sektor air yang dikendalikan oleh publik. tetapi juga dari berbagai bentuk pengelolaan air yang inovatif yang telah melahirkan kembali berbagai jenis layanan publik di kota-kota di belahan bumi selatan selama 10 tahun terakhir. Perjuangan untuk air. dimana air yang murah. Juga di bagian Utara. berbagai jenis mekanisme yang partisipatif dan demokratis yang telah disusun untuk mengatur dan memperbaiki kinerja utilitas. gerakan air berhasil pada saat terjadinya perubahanperubahan politis yang besar dan dalam hal ini politis bergeser ”kekiri”. Sebagaimana gelombang privatisasi melanda belahan bumi bagian selatan pada tahun 1990-an. tetapi hal ini dapat diperluas untuk sektor air. tentu akan berbeda dari pada untuk tempattempat seperti Ghana atau Afrika Selatan dimana akses terhadap air adalah perjuangan sehari-hari bagi sebagian besar penduduknya. bentuk-bentuk partisipasi warga yang baru di bidang pengelolaan air telah mulai diperkenalkan.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.