DIREKTORAT PENGAIRAN DAN IRIGASI KEMENTERIAN NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

LAPORAN AKHIR
PRAKARSA STRATEGIS PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR UNTUK MENGATASI BANJIR DAN KEKERINGAN DI PULAU JAWA

BUKU 1
STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DESEMBER 2006

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan Kegiatan 1.3. Ruang Lingkup 1.4. Keluaran BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 2.1 Umum 2.1.1 2.1.2 2.2 Banten 2.3 DKI Jakarta 2.4 Jawa Barat 2.5 Jawa Tengah 2.6 Daerah Istimewa Yogyakarta 2.7 Jawa Timur 2.8 Identifikasi Masalah Banjir 2.9 Identifikasi Masalah Kekeringan Fisik Pola Pengelolaan 2-1 2-1 2-3 2-9 2-11 2-13 2-16 2-19 2-22 2-25 2-27 1-1 1-2 1-4 1-4

BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 3.1 Rumusan Kebijakan Prakarsa Strategis 3.2 Kebutuhan pengelolaan sumber daya air yang terpadu. 3.3 Program Prioritas 3.3.1 3.3.2 3.3.3 Program Jangka Pendek Program Jangka Menengah Program Jangka Panjang 3-1 3-3 3-4 3-4 3-5 3-7

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 4.1 Rumusan Strategi Implementasi 4-1

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

4.2 Strategi Kebijakan Non-struktural 4.2.1 4.2.2 Strategi Menurut Undang-undang Strategi Konservasi Sumberdaya Air

4-3 4-3 4-5 4-10 4-10 4-32 4-52 4-53 4-53 4-55 4-57 4-60 4-63 4-66 4-70 4-72 4-82

4.3 Strategi Kebijakan Struktural 4.3.1 4.3.2 4.3.3 4.4.1 4.4.2 4.4.3 4.4.4 4.4.5 Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang Sudah Ada Pengaturan Induk Wilayah Sungai Baru Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wewenang Tanggung Jawab Pemerintah Kebijakan Pembiayaan Peran-peran Lain Pemerintah Strategi Pendanaan dan Tujuan Studi Kelayakan Proyek Pengunaan Model Investasi

4.4 Strategi Pembiayaan

4.5 Strategi Kelembagaan dan Koordinasi 4.6 Pengelolaan Sumberdaya Air dalam Era Otonomi Daerah 4.6.1 4.6.2 Permasalahan dan Tantangan dalam Pengelolaan Sumberdaya Air Organisasi dalam Pengelolaan Sumber Daya Air

BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5.1 Indikator Pemantauan dan Evaluasi 5.1.1 5.1.2 5.1.3 Pemantauan Evaluasi Indikator dalam Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air 5-1 5-1 5-1 5-3 5-6 5-8 5-9 5-10 5-13

5.2 Ruang Lingkup Pengawasan dan Pemantauan 5.3 Ruang Lingkup Pengawasan dalam Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air 5.4 Ruang Lingkup Pengawasan Dalam Aspek Pembiayaan 5.5 Mekanisme Pemantauan 5.6 Mekanisme Evaluasi BAB 6 PENUTUP 6.1 Arahan Sosialisasi Prakarsa Strategis 6.1.1 Kekeringan dan banjir

6-1 6-1

Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk DKI Jakarta Tahun 2003 Tabel 2.1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 6. 2 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CiliwungCisadane Tabel 4.2 6. 5 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CimanukCisanggarung Tabel 4. 6 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CitanduyCiwulan Tabel 4. 8 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS SerayuBogowonto 4-23 Tabel 4. 7 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pemali-Comal 4-21 4-17 4-14 4-14 4-12 4-10 2-13 2-14 2-17 2-21 2-23 2-5 . 4 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Tengah Tabel 2. 1 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciujung Ciliman Tabel 4.3 6. 1 Daftar Pembagian Wilayah Sungai di Pulau Jawa-Madura Tabel 2. 3 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CisadeaCikuningan Tabel 4. 3 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Barat Tabel 2. 4 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citarum Tabel 4.1. 2 Luas Wilayah. 6 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Timur Tabel 4. 5 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di DI Yogyakarta Tabel 2.2 Saran ANNEX Strategi Implementasi Pengalaman Negara Lain PEMBELAJARAN ANTARA PRAKTEK PRIVATISASI DAN PERKUATAN PERUSAHAAN UMUM LAYANAN AIR 6-3 6-4 6-5 DAFTAR TABEL Tabel 2. 9 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Jratun-Seluna 4-25 4-18 Tabel 4.

10 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Progo-OpakOyo Tabel 4. 15 Penyusunan Kembali Alternatif Intervensi Struktural menurut Wilayah Sungai yang Baru Tabel 4. 1 Gambar 2. 2 Gambar 2.1 Gambar 2. 2 Rencana Wilayah Sungai baru Gambar 5.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 4.16 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai 4-73 4-31 4-31 4-28 4-30 4-27 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. 1 Susunan Wilayah Sungai yang sudah ada Gambar 4. Proyeksi Neraca Air Kabupaten/Kota di Pulau Jawa dan Madura. 2 2-31 4-9 4-33 5-3 2-1 2-3 2-28 1-4 Pemantauan dan Evaluasi dalam suatu siklus kegiatan 5-15 . Curah hujan tahunan Pulau Jawa – Madura. 13 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS PekalenSampean Tabel 4. 14 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Madura Tabel 4. 12 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Kali Brantas Tabel 4. 11 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Bengawan Solo Tabel 4. 5 Peta Orientasi Lokasi Kegiatan di Pulau Jawa dan Madura Peta batas wilayah administrasi dan batas WS Pulau Jawa dan Madura. 4 Gambar 2. 1 Siklus Pengelolaan Terpadu SDA (IWRM) Gambar 5. Perubahan persentase kabupaten defisit air.17 Balai Besar Wilayah Sungai & Balai Wilayah Sungai di Pulau Jawa 4-87 4-34 Tabel 4. Gambar 4.

Namun kenyataannya ketersediaan air ini bervariasi antara wilayah dan waktu. rumah tangga. dan pertanian. Kalimantan.000 meter kubik per kapita per tahun. Dengan penduduk sekitar 220 juta jiwa. Dari 14 waduk utama di Jawa. dengan tujuan penggunaannya terutama untuk air minum. Kebutuhan air nasional saat ini terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali. Prioritas pertama diberikan untuk air minum.1 LATAR BELAKANG Secara nasional. dan Nusa Tenggara.800 meter kubik per kapita per tahun. hanya terpenuhi sekitar 25. industri.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1-1 1. dan Papua. air rumah tangga.3 miliar kubik atau hanya sekitar 66 persen. Lebih dari 83 persen aliran permukaan terkonsentrasi di Sumatera.4 miliar meter kubik. 17 persen lainnya di Jawa-Bali. di pihak lain pulau ini dihuni oleh sekitar 65 persen penduduk Indonesia. Nilai ini masih di atas nilai ratarata dunia yang hanya 8. total air yang tersedia di Indonesia mencapai 1. Pulau Jawa yang luasnya sekitar 7 persen dari total wilayah daratan Indonesia hanya memiliki potensi sekitar 4. semuanya mengalami kondisi di bawah normal (pola kering) saat musim kemarau sehingga dilakukan penetapan prioritas pemanfaatan air waduk. potensi ini setara dengan 8. Dari data neraca air tahun 2003 dapat dilihat bahwa kebutuhan air pada musim kemarau di Pulau Jawa dan Bali yang sebesar 38. perkotaan. Upaya pemenuhan kebutuhan air di Pulau Jawa telah ditempuh melalui pembangunan sejumlah waduk besar dan sedang.957 miliar meter kubik per tahun. Defisit ini diperkirakan akan semakin tinggi pada tahun 2020 akibat peningkatan dimana jumlah penduduk dan aktifitas perekonomian secara signifikan. dan perkotaan. Sulawesi. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa potensi kelangkaan air yang sangat besar akan terjadi di Pulau Jawa karena daya dukung sumber daya air yang segera mencapai titik kritis. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .5 persen dari total air tawar nasional.

2. Merumuskan kebijakan strategis pembangunan prasarana dalam rangka mengatasi banjir dan kekeringan di Pulau Jawa secara holistik. 4. Menemukenali alternatif-alternatif intervensi pembangunan infrastruktur dalam rangka memecahkan masalah banjir dan kekeringan. kekurangan pangan. Mengidentifikasi dan menginventarisasi data kuantitatif banjir dan kekeringan di Pulau Jawa secara kuantitatif sesuai waktu dan spasial wilayah. analisis dilakukan terhadap kondisi pengelolaan sumber daya air pada saat ini serta faktor eksternal yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN prioritas kedua untuk irigasi tanaman pangan. yang diarahkan untuk merumuskan konsep pengelolaan SDA yang terintegrasi dan layak diimplementasikan. Kekeringan ini telah berdampak pada menurunnya pendapatan. turunnya volume air di waduk mengakibatkan beberapa PLTA terpaksa beroperasi di bawah kapasitas normal.696 hektar . 3. termasuk mengalami puso seluas 82. dilakukanlah kajian Prakarsa Strategis . 1-2 1.2 TUJUAN KEGIATAN Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa bertujuan untuk: 1. serta kesulitan memperoleh air bersih bagi wilayah perkotaan. Melakukan telaah/review atas studi-studi tentang sumber daya air yang telah dilakukan untuk Pulau Jawa serta perkembangan implementasinya. kesulitan lapangan kerja. Sebagai upaya mengatasi masalah banjir dan kekeringan di Pulau Jawa pada masa depan. dan prioritas ketiga untuk industri dan kebutuhan lainnya. Pada Tahun 2003 kekeringan areal sawah mencapai 430.295 hektar. Rendahnya daya dukung waduk-waduk tersebut mengakibatkan terjadinya kekeringan pada areal sawah di daerah produksi beras. termasuk kebutuhan dan ketersediaan air bersih. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Di samping itu. Dalam kaitan itu.

1-3 6. perumusan strategi implementasi. maupun kab/kota dalam pembangunan. Merumuskan kebijakan dan strategi implementasi makro yang terintegrasi dengan berbagai sektor. Menyusun mekanisme pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan. maupun pemeliharaan prasarana. 7. Merumuskan pembagian kewenangan dan tanggung jawab serta mekanisme koordinasi antara instansi dan sektor terkait di tingkat pusat. perumusan konsep pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan. Membuat sistem basis data banjir dan kekeringan termasuk konsep pengelolaan data yang berkelanjutan. inventarisasi alternatif intervensi infrastruktur. 10. penyusunan perangkat lunak sistem basis data. dan sumber pembiayaan untuk baik dari pemerintah pemerintah kabupaten/kota. 1. dan perumusan pedoman sosialisasi kebijakan. perumusan prioritas program pengelolaan sumber daya air. antara lain: identifikasi dan inventarisasi permasalahan. Mengidentifikasi pemerintah. pengoperasian. maupunpartisipasi berbagai swasta alternatif propinsi. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . provinsi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN 5. perumusan kebijakan pembiayaan. 9. pembangunan. perumusan kebijakan dan strategi implementasi makro. analisis terhadap kajian sumber daya air. Terdapat beberapa tahapan kegiatan yang dilaksanakan pada proses penyusunan prakarsa strategis ini. 8. Menyusun prioritas program-program pembangunan prasarana penanganan banjir dan kekeringan di Pulau Jawa. perumusan mekanisme koordinasi. termasuk kebutuhan biaya serta tahapan pembangunannya. perumusan prakarsa strategis. masyarakat pengoperasian dan pemeliharaan prasarana.3 RUANG LINGKUP Arah dari prakarsa strategis ini adalah untuk melakukan analisis tinjauan dan formulasi kebijakan untuk wilayah sumber daya air di Pulau Jawa.

Dep ok # # Pandeglang # # # Karawang Indramayu # Subang Purwakarta Lebak Bogor # # # Cirebo n Jepara Pati # # K. Surakarta Magelang Sleman Klaten # # Y # # Sidoarjo K. Bekasi K. identifikasi masalah banjir dan kekeringan dan Pulau Jawa. 2. 1 Peta Orientasi Lokasi Kegiatan di Pulau Jawa dan Madura 1. Madiun # Sukoharjo # Jombang Mojokerto # # # Won ogiri # Ponorogo Kediri # K. Tegal ## # K. Yogyakarta # Kulonprogo Bantul # Y # # Madiun ## # Karanganyar Nganjuk # # Magetan K. Pekalongan Kudus Demak KendalK.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN Kepulauan Seribu 1-4 Bekasi K. dan strategi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA. Buku ini memuat hasil. Semarang ## Tegal Batang # Pekalongan Pemalang Purbalingga Y # # # # # Rembang # # Blora Tuban # # Lamongan Gresik K. kebijakan. Buku menyajikan ini kondisi. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Mojokerto # Ban gkalan Sampang Pamekasan Sumenep # # Garut # Temanggung Semarang Grobogan # Bojonegoro # # # Tasikmalaya Ciamis # #Wonosobo # #Ban jarnegara Banyumas Cilacap K. Buku ini merupakan laporan utama hasil kajian prakarsa strategis. serta analisis kondisi defisit air di Pulau Jawa. BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA. Malang K. Kediri Pasuruan K. yaitu: 1. Cilegon # # Tangerang Serang Y # U % # K.4 KELUARAN Keluaran yang dihasilkan dari kegiatan penyusunan Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa adalah satu set yang terdiri atas tiga buku. Blitar # Lumajang Malang Tulungagung Blitar # # Jember # Banyuwangi Gambar 1. Pasuruan # # # Ngawi # Kebumen # Purworejo # # K. Sukabumi # K. Salatiga Sragen # K. Bandung Sukabumi Cianjur Bandung Y # Sumedang Majalengka Kuningan Brebes K. serta mekanisme pemantauan dan evaluasi. Buku 2 merupakan rangkuman hasil kajian dan analisis terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. Magelang Boyolali # # K. Probolinggo # # Situbondo Bondowoso Probolinggo # Gunungkidul Pacitan # # Trenggalek # # # K.

BUKU 3 BASIS DATA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA. ilustrasi pemanfaatan basis data. Selain menyajikan: metode penyusunan sistem basis data dan sistematika pengolahan data. sistematika pengolahan data buku ini juga memuat hasil pengumpulan data. Dalam buku 3 di rangkum hasil pengumpulan data selama proses penyusunan prakarsa strategis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN 3. 1-5 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pedoman penggunaan sistem basis data.

Bekasi SWS 0204 Purwakarta # Indramayu # SWS 0202 # Bogor Subang Cirebon # Jepara # West Java Province # Pati K. 0201 0202 0203 0204 0205 0206 0207 0208 0209 SWS Name Ciujung-Ciliman Cisadane-Ciliwung Cisadeg-Cikuningan Citarum Cimanuk Ciwulan Citanduy Pemali-Comal Serayu SWS No. dengan luas sekitar 130 ribu km2 atau kurang lebih 7% dari luas daratan seluruh wilayah Indonesia.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 2. 1 : 250 000 Scale (Coastline. Salatiga Sragen # K. Bandung Pelabuhan Ratu Bay Sukabumi Cianjur Bandung # # # SWS 0208 Tegal # # Batang Y # Demak SWS 0210 # Tuban # # Madura Is.1. Yogyakarta Y #YOGYAKARTA # # Kulonprogo Bantul # Wonogiri # Nganjuk East Java Province SWS 0213 Kediri # K. Blitar Blitar Malang Yogyakarta Special Province Pacitan # Trenggalek Tulungagung SWS 0214# Jember Banyuwangi # St rai t In di an Ocean Nusa Barung Is. Lake) Compiled by : Dr. Magelang Boyolali # # Ngawi Sidoarjo K. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . SWS 0201 Pandeglang Lebak 106° 00' Kepulauan Seribu Jakarta Bay # # 107° 00' JAKARTA 108° 00' 109° 00' 110° 00' 111° 00' 112° 00' 113° 00' 114° 00' Bawean Is.Brantas Pekalen-Sampean Madura U % Y # NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT Map No : Map Title : A5 CORRELATION BETWEEN AMINISTRATION AND WATERSHED (SWS) BOUNDARIES Source : . Sukabumi # BANDUNG Sumedang SWS 0205 Majalengka Kuningan Brebes K. 7° 00' SWS 0203 Garut Central Java Province SWS 0207 Purbalingga # SWS 0209 # Grobogan # Blora # Lamongan # Gresik # Temanggung # # WonosoboSWS # Semarang # Bojonegoro K. 14 WS yang tersebar di Pulau Jawa dan 1 WS dalam kawasan Pulau Madura. Pasuruan # Ma dura Str ai t SWS 0206 Ciamis Cilacap # Magelang Kebumen # # Purworejo K. Depok Ja va Bekasi Karawang # # Sea TANGERANG K. Kediri Pasuruan K. it ra St a nd Su 105° 00' Krakatau K.1 UMUM Fisik 2-1 Pulau Jawa-Madura adalah salah satu dari lima pulau besar di Indonesia. Karanganyar Sleman Klaten # # # Sukoharjo K.1 2. Bangkalan Pekalongan Pemalang Kendal K. Saat ini Pulau Jawa-Madura dihuni oleh sekitar 65 persen dari total penduduk Indonesia. 9° 00' Legend: G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E S I A National Capital Provincial Capital Provincial Boundary District/ Municipality Boundary Watershed (SWS) Boundary SWS No. Madiun # # Jombang Mojokerto Nusakambangan Is. 1 Peta batas wilayah administrasi dan batas WS Pulau Jawa dan Madura. 6° 00' Tangerang Serang # Y # U % # # K. Malang # Ponorogo # # # # Bali Bondowoso Lumajang # Gunungkidul 8° 00' K. Semarang # SWS 0215 Sampang Pamekasan # # Sumenep # Sapudi Is. River. Kondisi ini memberi gambaran masalah daya dukung sumber daya air di Pulau Jawa-Madura sangat berpotensi untuk menjadi masalah yang paling kritis. Surakarta # # SWS 0212 Madiun # Magetan K. Karl Peter Kucera GIS Operator : Sabdo Sumartono Date : September 2004 Gambar 2. 0210 0211 0212 0213 0214 0215 SWS Name Jratun Seluna Progo-Opak-Oyo BengawanSolo K. Tegal # # # K. Pekalongan Kudus # # SEMARANG # # # Rembang # Y # K. Pulau Jawa-Madura memiliki 15 WS (Wilayah Sungai). Cilegon Banten # Province Panaitan Is. Probolinggo # # Situbondo Probolinggo K. Mojokerto # # # Y # SURABAYA # Tasikmalaya Banyumas Banjarnegara 0211K.Bakosurtanal.

sebelah selatan dengan Samudera Hindia. Keadaan seperti ini berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April-Mei dan Oktober-November. Rata-rata curah hujan pada musim penghujan dan musim kemarau (tergantung pada bulan dan letak stasiun pengamat). sehingga mengakibatkan musim penghujan.5° LU sampai ke 23. Pulau Jawa-Madura mengalami dua musim dalam setahun yaitu musim kemarau dan penghujan. Di sisi utara didominasi bentukan tanah alluvial dan marine (daerah pantai) dengan kondisi kelerengan dari sedang hingga landai.2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Secara geografis. Sepanjang sisi selatan pulau ini didominasi bentuk pegunungan dan penampakan fisiografis gunung gamping yang memanjang hingga ke Pulau Bali. 2-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sebaliknya pada bulan Desember sampai dengan Maret arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan Samudra Pasifik. sedangkan suhu udara pada malam hari berkisar antara 15. sebelah barat dibatasi oleh Selat Sunda dan sebelah timur dibatasi oleh Selat Bali.3 knot. Kecepatan angin berkisar antara 1.5° LS sepanjang tahun yang mengakibatkan timbulnya aktivitas moonson (muson). Pada bulan Juni sampai September arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air sehingga mengakibatkan musim kemarau.30C sampai dengan 30’80C. Untuk besarnya curah hujan tahunan di sepanjang Pulau Jawa-Madura bisa dilihat pada Gambar 2. di sebelah utara Pulau Jawa berbatasan dengan Laut Jawa. Suhu rata-rata pada siang hari berkisar antara 27. Sebagaimana wilayah Indonesia lainnya.70C sampai 34.60C. berkisar antara 0 – 800 mm untuk masing-masing bulan kering dan bulan basah. Secara geografis Pulau Jawa-Madura terletak antara 5° 40’ LS sampai 8° 50’ LS dan 105° 10’ BT sampai 114° 40’ BT sehingga sangat dipengaruhi oleh posisi semu matahari yang berpindah antara 23.6 knot sampai 23.

antara lain: 1. Rawapening Kedungombo Res Y # ng pa S am SWS 0209 o ol Bal i 8° 00' P Yogyakarta Special Province SWS 0214 Kr. Lake) Compiled by : Dr. River. Kates Res. Karl Peter Kucera GIS Operator : Sabdo Sumartono Date : September 2004 Gambar 2. u Bar 9° 00' Legend: Rainfall: National Capital Provincial Capital Provincial Boundary Watershed (SWS) Boundary River Lake G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E S I A U % Y # 750 mm 1250 mm 1750 mm 2250 mm 2750 mm 3250 mm 3750 mm 4250 mm 4750 mm 5250 mm 5500 mm 6500 mm 7500 mm NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT Map No : Map Title : A23 RAINFALL AND WATERSHED (SWS) AREA Source : . Strai t Indi an Ocean Nusa Barung I. Peraturan Menteri PU nomor 48 tahun 1990 tentang kewenangan pengelolaan dari 90 WS tersebut.1. Daftar wilayah sungai di Pulau Jawa-Madura dapat dilihat pada Tabel 2.1. Sebagai tindak lanjut dari Permen PU Nomor 39/PRT/1989. Ci sad Ciliman m ru Ciliwu a it ane tr S Krakatau TANGERANG 6° 00' k a nu Cim Cipu JAKARTA ng nd a Y # U % Ja v a Se a a nag Province of Banten SWS 0201 SWS 0202 g ggarun Cisan Su Panaitan Is. Darma L. telah diterbitkan beberapa peraturan yang bersifat operasional. S Cikaso Cib uni aw an Ci sa de g uy Seray u Cit and Cik aing an YOGYAKARTA L uk ul o Wa war /M edo no B og ow on to Ciw ulan ng Sermo Res go ak ro Op Cime da Br an Oyo ta s Y # Gajahmungkur Res. 1 : 250 000 Scale (Coastline.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-3 105° 00' 106° 00' Ciu jung 107° 00' a Cit 108° 00' 109° 00' 110° 00' 111° 00' 112° 00' 113° 00' 114° 00' Bawean Is.2 Pola Pengelolaan Wilayah Pulau Jawa-Madura dibagi dalam 15 wilayah sungai. 2. Malahayu iri Cimand SWS 0208 L. Dalam peraturan tersebut. Pemerintah Daerah/Gubernur diberi kewenangan untuk mengelola 63 WS melalui tugas LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sam SWS 0206 SWS 0211 SWS 0212 Po ron g Ma dura Str ai t g pea n ed Sa ne n B ad u ng g un ali Cib Y # SEMARANG L. Cacaban Y # SWS 0210 Lu SWS 0203 Province of West Java SWS 0207 si SWS 0215 SURABAYA Sapudi Is. Jatiluhur Res SWS 0204 SWS 0205 wan Banga Cirata Res Se ra ng Tun ta ng Ju an a Pema li Comal ri Bo d Solo Saguling Res BANDUNG Madura I. n Province of East Java W el an g i SWS 0213 Wlingi Res. Pembagian wilayah sungai di Pulau Jawa-Madura dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) Nomor 39/PRT/1989 yang membagi wilayah Indonesia menjadi 90 WS (note: saat ini telah berkurang satu yaitu WS Timor-Timur mengingat daerah ini tidak lagi masuk dalam Wilayah Indonesia). Mad un Wadaslintang Res Be Segara Anakn Lagoon Sempor Res.Bakosurtanal. 2 Curah hujan tahunan Pulau Jawa – Madura. Sa ro ka 7° 00' Province of Central Java Mrica Res L. Kesamben Res.

pengelolaan dan pengaturan sumber daya air yang mantap − diperkirakan semakin menurun yang terlihat dari bertambahnya kesenjangan antara ketersediaan air dan kebutuhan air untuk berbagai keperluan. termasuk diantaranya Indonesia. Peraturan Menteri PU nomor 49 tahun 1990 tentang aspek-aspek pengelolaan sumber air termasuk prosedur perijinan pemakaian air. pertumbuhan penduduk dan pusat pemerintahan Indonesia mengalami pembangunan yang pesat di berbagai sektor sehingga tuntutan masyarakat akan penggunaan sumber daya air juga terus berkembang. khususnya Pulau Jawa-Madura. Perubahan tersebut berpengaruh pula terhadap potensi sumber daya air yang − apabila tidak disertai dengan perencanaan. Sejalan dengan dinamika pembangunan tersebut. sedangkan dua WS dikelola bersama antara pemerintah dan BUMN. peraturan perundang-undangan yang tidak memadai. Untuk 15 WS yang wilayahnya terletak pada lebih dari satu provinsi. 2. kewenangan pengelolaannya masih tetap dilakukan oleh pemerintah pusat. lahan. Pulau Jawa-Madura sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. pola hidup dan pola perekonomian. Peningkatan persaingan penggunaan air antar sektor (domestik. perkotaan. maka hal ini tidak luput dari masalah perubahan tata ruang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pembantuan. pemakaian air yang tidak efisien dan fluktuasi debit antar musim yang semakin tinggi. industri dan irigasi) pun terjadi di berbagai wilayah administrasi maupun wilayah sungai. yaitu WS Brantas oleh Perum Jasa Tirta I dan WS Citarum oleh Jasa Tirta II (Jatiluhur). Masalah-masalah tersebut akan semakin parah dan masalah-masalah lain akan timbul semakin banyak apabila tidak segera dilakukan perbaikan kebijakan dalam melaksanakan program strategis untuk 2-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hasil kajian global kondisi krisis air dunia yang disampaikan dalam World Water Forum II di Denhaag bulan Maret tahun 2000 lalu memperingatkan bahwa akan banyak negara yang mengalami krisis air pada tahun 2025. Krisis air ini lebih banyak disebabkan oleh kelemahan dalam hal kelembagaan terkait pengelolaan sumber daya air. pencemaran air yang semakin luas.

Cibareng S. Citarum S. Cipucung K. Babakan S. Cikarang S. Citarik S. Cidanau S. Cilamaya S.01 Nama Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai S. Cilangkanan S. Cidurian S.02 Ciliwung-Cisadane 3 Jawa Barat 02. Cisokan S. Cipunegara S. Cisilih S. Ciwaringin S. Cisadane S. Cibeet K. Cihara S. Cimaragon 2-5 2 Jawa Barat DKI Jakarta 02. Kasuncang S. Cilangkap S. Cikuningan S. Ciujung S. Tabel 2. Cimanuk S. Pengandungan K. Cisanggarung S. Cipunegara S. Lemahabang S. Cikarang S. Ciasem S. 1 No.05 Cimanuk 6 Jawa Barat 02.06 Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Cimanedu S.03 CisadeaCikuningan 4 Jawa Barat 02. Cilalanang S. Cibanten S. Cibungur S. Cikondang S. 1 Provinsi Jawa Barat Daftar Pembagian Wilayah Sungai di Pulau Jawa-Madura Kode WS 02. Cipanas S. Ciliman S. Cisadeg S. Bekasi S. Cibuni S.04 Citarum 5 Jawa Barat Jawa Tengah 02. Cisekat S. Ciliwung K.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengelola air secara lebih efisien dan adil serta mengutamakan azas konservasi. Ciletuh S. Ciangan K.

Cakrayasan K. Citanduy S.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No. Brantas K. Semawon S. Cihaur S. Sambong S. Semarang K. Progo K. Lusi S. Sengkang S. Garang K. Comal S.08 Pemali Comal 9 Jawa Tengah 02. Ijo S. Bebek S. Cibeureum S. Bogowonto B.10 Jratun Seluna 11 Jawa Tengah DIY 02. Cacaban S. Sondang K. Jragung S. Cilaki S. Santun K. Geneng S. Waluh S. Bengawan S. Serang S. Pemali S. Cisanggiri S. Oyo S. Bodri K. Serayu S. Cimeneng S. Klampok S. Wungu S. Semawun K. Juana S. Tuntang S. Lukulo S. Randuguntini K. Cipungun S.12 Bengawan Solo 13 Jawa Timur 02. Grindulu S. Anyar K. Code K. Lorong S. Punyu 2-6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Provinsi Kode WS Nama Wilayah Sungai 7 Jawa Barat Jawa Tengah 02.13 K. Solo S. Ciwulan S.09 Serayu 10 Jawa Tengah 02. Opak K.07 Citanduy 8 Jawa Tengah 02. Lamong S. Cikonde S. Brantas Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai S.11 Progo-Opak-Oyo 12 Jawa Tengah Jawa Timur 02.

Pacung K. pariwisata. Sampean K. Tugas pokok dan fungsi Balai PSDA adalah melaksanakan sebagian fungsi Dinas di bidang pengelolaan sumberdaya air. Baru K. Rejoso K. Rangko K.176/1996 tentang Pedoman Pembentukan UPTD/Balai PSDA. industri.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No. Penyediaan air baku untuk berbagai keperluan (pertanian. Pekalen K. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pengelolaan irigasi lintas kabupaten/kota 2. listrik tenaga air. Urusan-urusan yang menjadi lingkup tugas dan tanggung jawab Balai PSDA adalah: 1. Jatiroto K. Banyuputih K. air minum.14 Pekalen Sampean 15 Jawa Timur 02. Gembong K. Balega K. Sampang K.) sejak Tahun Anggaran1994/1995. Tangkil K Deluwang K. Widas K. Saropa K. Kegiatan Balai PSDA ini merupakan kelanjutan dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Satuan Tugas (SATGAS) PSDA yang dibentuk dibawah pekerjaan Basin Water Resources Management (BWRM). Putih K. Bondoyudo K. Provinsi Kode WS Nama Wilayah Sungai 14 Jawa Timur 02. sebagai salah satu komponen dari Java Irrigation and Water Management Project (JIWMP) yang didanai oleh Bank Dunia (Loan 3762-Ind. Barigo K.15 Madura Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai K. Rajak K. pelabuhan. Konto K. Larus K. dll). Benca 2-7 Sumber: Departemen Pekerjan Umum Saat ini pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa-Madura dilakukan oleh beberapa Balai PSDA yang dibentuk melalui Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No.

Secara selektif beberapa Balai melakukan kegiatan alokasi air. Perlindungan muara dan delta. waduk. Pengelolaan irigasi lintas Kabupaten 2. Balai Cimanuk Cisanggarung. Pelaksanaan operasional konservasi/pelestarian air dan sumber air. situ. Dalam perkembangannya. Namun demikian kegiatan yang dilakukan oleh 19 balai tersebut sedikit berbeda. Pengelolaan Hidrologi 3. pengendalian kualitas air. Pengelolaan rawa 7. 3. Kelima Balai tersebut umumnya telah melakukan sebagian besar tugas-tugas pengelolaan sumberdaya air seperti yang telah diuraikan diatas. kepegawaian. Pada 19 Balai lainnya di Pulau Jawa kegiatan yang telah dilakukan antara lain : 1. Pengendalian pencemaran air 8. Pengelolaan database/GIS (sebagian) 4. embung 5. Pada awalnya di Pulau Jawa Balai PSDA yang berupakan ex Satgas PSDA berjumlah 5 buah yakni : Balai Ciujung Ciliman. Perlindungan pantai 9. Balai PSDA mempunyai 3 fungsi utama yakni : 1. Balai Jratunseluna. Sebaran jumlah Balai PSDA tersebut menurut propinsinya adalah sebagai berikut: operasional pelayanan kepada masyarakat di bidang 2-8 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . jumlah Balai PSDA di Pulau Jawa bertambah 19 buah menjadi 24 buah pada tahun 2001. pengelolaan banjir. Pelaksanaan pelayanan teknis administrative ketatausahaan yang meliputi urusan keuangan. Pengelolaan danau. Balai Progo-Opak-Oyo dan Balai Sampean Baru. 2. perlengkapan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3. Pengelolaan sungai 4. Pengendalian banjir dan penanggulangan kekeringan 6. pemeliharaan sungai dan infrastrukturnya. Untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut di atas. Pelaksanaan pengairan.

Jumlah rumah tangga dan penduduk menurut jenis kelamin di Banten tahun 2003 adalah sebagai berikut: Rumah tangga : 1. Menurut data BPS. Sedangkan jumlah penduduk terkecil (326.48 %. Provinsi Banten mempunyai luas 8.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 1. masalah yang dihadapi adalah kepadatan penduduk. Propinsi Jawa Timur.651 km2. 2 kota. Propinsi Banten.563.2 BANTEN Provinsi Banten merupakan provinsi paling muda di Pulau Jawa yang baru terbentuk pada bulan Oktober 2000.987.185.642 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dari angkatan kerja yang berjumlah 3.89 (data BPS Provinsi Banten). Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.481 desa. teknik maupun keuangan. Dahulu Banten merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Seperti halnya dengan provinsi lain yang berada di Pulau Jawa. 2-9 2. Mandiri yang dimaksud disini diartikan merupakan unit yang mampu melakukan pengelolaan sumber daya air secara profesional baik secara administratif.831 jiwa terdapat penduduk bekerja sebanyak 3.944 jiwa). jumlah penduduk di Provinsi Banten pada tahun 2003 adalah 8.018 jiwa per km2 tersebar dalam 4 kabupaten. 9 Balai PSDA Balai PSDA sebagai unit yang diserahi tugas pelayanan di bidang sumber daya air dan konservasi sumber daya air.229 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2000-2003 adalah sebesar 3. di provinsi ini kepadatan penduduk mencapai 1. diharapkan ke masa yang akan datang mampu melakukan pengelolaan unit yang mandiri. 124 kecamatan dan 1. Penduduk terbanyak di Provinsi Banten ada di Kabupaten Tangerang.422 KK. Propinsi Jawa Barat. dan Penduduk perempuan : 4. 5 Balai PSDA 3.392.666 jiwa. 1 Balai PSDA 2. Sex ratio penduduk di Banten pada tahun 2003 adalah 103.185. (3.858. Penduduk laki-laki : 4.956.324 jiwa) berada di Kota Cilegon. Propinsi Jawa Tengah. luas wilayah administrasi Banten hanya sekitar 0. 2 Balai PSDA 5.563 jiwa.46% dari luas total daratan Indonesia. 5 Balai PSDA 4.

yang dibentuk melalui Keputusan Mendagri No. berlokasi di Serang.2 0C : 147. diketahui kondisi iklim Provinsi Banten sebagai berikut: suhu udara rata-rata maksimum suhu udara rata-rata minimum Curah hujan rata-rata Kelembaban udara rata-rata Kecepatan angin rata-rata : 22. Berdasarkan data di stasiun OBS (Observation Station) Badan Metereologi dan Geofisika Provinsi Banten.3 mm : 82.90C : 31.2% : 2.148. Hal tersebut mengakibatkan hampir sepanjang tahun wilayah Banten mengalami udara lembab dan memiliki curah hujan yang cenderung lebih tinggi daripada provinsiprovinsi lain di Pulau Jawa. Balai PSDA CiujungCiliman adalah satu-satunya balai di Banten. Dari ketiga WS tersebut yang paling besar wilayahnya di Provinsi Banten adalah WS CiujungCiliman yang sekaligus menjadi sumber daya air utama untuk Provinsi Banten. 176 tahun 1996 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA sudah ditindaklanjuti dengan terbitnya peraturan-peraturan daerah Provinsi Banten. dan WS Cisadea-Cikuningan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA jiwa orang dan yang mencari pekerjaan sebanyak 673. yaitu: WS CiujungCiliman. WS Ciliwung-Cisadane.5 m/dt 2-10 Provinsi Banten berada di ujung barat Pulau Jawa.367 orang. Di Wilayah Provinsi Banten terdapat 3 Wilayah Sungai. dengan wilayah kerja meliputi Kabupaten Serang. Pengelolaan sumber daya air di Banten dilakukan oleh Balai PSDA CiujungCiliman. Tangerang dan Kota Cilegon. Lebak. Pendeglang. menghadap Laut Jawa dan Samudera Hindia sehingga sangat dipengaruhi oleh angin laut. Pengelolaan sumber daya air di provinsi Banten juga dilakukan melalui Proyek Pengelolaan Sumber Air Dan Pengendalian Banjir (PSAPB) Ciujung-Ciliman LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .189 jiwa sedangkan yang bukan angkatan kerja berjumlah 3.

288. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta yang berupa daratan seluas 661. dan kecepatan angin rata-rata mencapai 3.4%.70C pada siang hari dan suhu udara minimum berkisar 260C pada malam hari. air minum. Sementara di sebelah selatan dan timur DKI Jakarta berbatasan dengan wilayah Provinsi Jawa Barat. Kota Jakarta secara umum beriklim panas dengan suhu udara maksimum berkisar 28.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Nomor : 19/KPTS/A/1994 tanggal 19 April 1994 Tentang Pembentukan Badan Pelaksana Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman. Pada tahun 2002 dibentuk Proyek Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai (PBPP) Ciujung-Ciliman sebagai pengganti Proyek PSAPB.9 mm. Sementara itu curah hujan mencapai 2. air industri. pariwisata maupun pengendalian banjir dan lain sebagainya. Program pengembangan dalam proyek ini dimaksudkan untuk memanfaatkan secara maksimal sumber daya air guna meningkatkan taraf hidup masyarakat. DKI Jakarta memiliki pantai di sebelah utara yang membentang dari barat sampai ke timur sepanjang ± 35 km yang menjadi tempat bermuaranya 9 buah sungai dan 2 buah kanal. Wilayah DKI memiliki sekitar 27 buah sungai dan ± 110 buah pulau yang tersebar di Kepulauan Seribu. baik penyediaan air untuk kebutuhan pertanian.5 m/det. kota paling padat di Indonesia. sedangkan di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa. Kedua bagian wilayah ini cocok digunakan sebagai daerah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sebelah barat dengan Provinsi Banten.3 DKI JAKARTA Kota Jakarta. merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata ± 7 m diatas permukaan laut.5 Ha. terletak pada 6°12’ LS dan 106°48’ BT. Berdasarkan SK Gubernur Nomor 1227 Tahun 1989.52 km2 dan yang berupa lautan seluas 6.5 km2. 2-11 2. Daerah di bagian selatan dan timur Jakarta terdapat rawa/situ dengan total luas mencapai 96.977. tingkat kelembaban udara mencapai 76.

Selebihnya berstatus sebagai pengusaha (29.7 ribu orang. terutama untuk air baku.05%). kepadatan penduduknya mencapai 11. Berdasarkan status pekerjaannya. Selanjutnya dari angkatan kerja tersebut terdapat penduduk bekerja sebanyak 3. Dengan luas wilayah hanya 661.58 %) bekerja sebagai buruh. yang masing-masing berjumlah 3. seperti yang tampak dari sex ratio yang lebih besar dari 100. 22. masing-masing sebesar 36.7 ribu orang.46 juta jiwa. DKI Jakarta lebih mengandalkan pada Kanal Tarum Barat yang menyediakan air baku dari sungai Citarum melalui Bendung Curug. Sedangkan status kewarganegaraanya terdiri dari WNI sebanyak 7.85%. jasa dan industri. tercatat sebanyak 7. Sedangkan yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja 342. sebagian besar (67.2.7 ribu orang pencari kerja yang masih belum 2-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dimana 319.71 ribu jiwa.59 juta orang.97 juta orang dan 2.37 %) dan sebagai pekerja keluarga (3. Pada tahun 2003 jumlah penduduk DKI Jakarta. Kepadatan penduduk Provinsi DKI Jakarta Tahun 2003 dapat dilihat pada Tabel 2. Akan tetapi dalam memenuhi kebutuhan sumber daya air.38 juta orang dan yang mencari pekerjaan sebanyak 589.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA resapan air. sehingga menjadikan provinsi ini sebagai provinsi dengan wilayah terpadat penduduknya di Indonesia.58%.74% dan 19.2 ribu orang. Keseluruhan sumber daya air dalam wilayah administrasi DKI Jakarta termasuk dalam wilayah kerja Balai PSDA Ciliwung-Cisadane (di bawah Provinsi Jawa Barat). Dari jumlah tersebut penduduk laki-laki lebih banyak dari penduduk perempuan. Dengan iklimnya yang lebih sejuk bagian wilayah ini juga ideal dikembangkan sebagai wilayah pemukiman penduduk.5 km2. Kegiatan penduduk usia 15 tahun keatas dapat dibedakan menjadi angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.45 juta jiwa dan WNA sebanyak 4. Kebanyakan dari mereka yang bekerja berkecimpung di sektor perdagangan.3 ribu jiwa per km2. Jumlah pencari kerja berdasarkan data Sakernas BPS DKI Jakarta tahun 2003 tercatat sebanyak 589.

456.701.83% dari luas Indonesia.176.71 661. Provinsi Banten.094. serta dataran tinggi bergunung-gunung ada di kawasan tengah.426 8.267 1.586 897.571 1.941 1.157 18.73 187. Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 50 50’ . Samudera Hindia.272 2.355 18. Jawa Barat mempunyai iklim tropis dengan curah hujan rata-rata 156.597 km2. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dengan batas-batas wilayahnya sebagai berikut: Sebelah utara Sebelah timur Sebelah selatan Sebelah barat : : : : Laut Jawa dan DKI Jakarta.70 50’ Lintang Selatan dan 1040 48’-1080 48’ Bujur Timur.616 11.931 Kepadatan Penduduk/(km2) 11.90 126.746 12. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk DKI Jakarta 2003 No 1 2 3 4 5 6 Kotamadya Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kepulauan Seribu TOTAL Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Luas (km2) 145. Provinsi Jawa Tengah.52 Penduduk 1. Kawasan utara Jawa Barat merupakan daerah dataran rendah.923 7.567. 2 Luas Wilayah. sedangkan pencari kerja yang berhasil ditempatkan sebanyak 14.676 11. sedangkan kawasan selatan berbukit-bukit dengan sedikit pantai.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ditempatkan. sekitar 1.555 2.6 ribu orang. 2-13 Tabel 2.4 JAWA BARAT Provinsi Jawa Barat mempunyai luas wilayah 34.73 47. Posisi geografis Jawa Barat tersebut sangat strategis sehingga memberikan keuntungan bagi Jawa Barat terutama dari segi komunikasi dan perhubungan.4 mm.15 142.30 11.

7. Garut. 2 Tahun 2003 tentang RTRW Propinsi Jawa Barat 2010. 3. Jawa Barat memiliki lahan subur yang berasal dari endapan vulkanis serta banyak aliran sungai. Majalengka. Sukabumi. WS Cisadea-Cikuningan. Perda tersebut berisi kebijakan untuk meningkatkan fungsi dan kualitas LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Cianjur. WS Cimanuk-Cisanggarung. 4. Indramayu. Majalengka. Tabel 2. sehingga Provinsi Jawa Barat ditetapkan sebagai lumbung pangan nasional. Balai PSDA Cimanuk-Cisanggarung Ciliwung-Cisadane Cisadea-Cikuningan Citarum Domisili Cirebon Bogor Sukabumi Bandung Wilayah Kerja Cirebon. Bandung dan Kota Sukabumi. 3 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Barat No. dan sebagian Bandung. Kota dan Kabupaten Bekasi. Tasikmalaya. Kota dan Kabupaten Bandung. 6. Bogor. Hal ini menyebabkan sebagian besar dari luas tanahnya cocok digunakan untuk pertanian. serta tekanan udara rata-rata sebesar 922. DKI Jakarta. Selain itu. WS Cisadane-Ciliwung. 3.3 menggambarkan pembagian wilayah kerja yang dicakup oleh kelima Balai PSDA. Kuningan dan kota Cirebon. Ciamis. 5. Cianjur. Garut. dituangkan dalam Perda No.20C dengan tingkat kelembaban udara ratarata sebesar 76%. Sumber daya air di Provinsi Jawa Barat dibagi dalam 7 (tujuh) satuan wilayah sungai. Karawang. Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 5 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Barat Tabel 2.3 mb. Citanduy-Ciwulan Tasikmalaya Kebijakan pemerintah provinsi Jawa Barat dalam pengelolaan sumber daya air. WS Citarum. 1. 2-14 5. Bogor. 4. Suhu udara berkisar antara 18. Cianjur. WS Citanduy. 2. Subang. WS Ciwulan. 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dengan jumlah hari hujan rata-rata tiap bulannya sekitar 15 hari. Indramayu. yaitu: 1. Kuningan.80C sampai 29. Purwakarta. Bekasi dan Kota Depok. WS Ciujung-Ciliman. Subang.

termasuk kawasan lindung di Kawasan Bodebek dan Bopunjur. Pengembangan Lindung. serta.324. Sedangkan yang jumlah penduduknya terkecil adalah Kota Sukabumi (26 ribu orang). 561 kecamatan. Pengawasan.57% dan industri 16. Hal lain dapat pula mencerminkan struktur perekonomian suatu wilayah.7 juta orang).270. Kebijakan dijabarkan dalam beberapa program. pengamanan. sedangkan yang terendah Kabupaten Cianjur hanya sebesar 685.98 juta orang.87% kemudian diikuti oleh perdagangan 22. dan pengaturan pemanfaatan sumber daya.794 kelurahan dan 3. Wilayah kabupaten dengan penduduk terbanyak di Jawa Barat ada pada Kabupaten Bandung.978 desa. 1. Pada tahun 2003 sektor pertanian tetap merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja yaitu 34. Rehabilitasi lahan konservasi termasuk rehabilitasi lahan-lahan kritis. Proporsi pekerja menurut lapangan pekerjaan merupakan salah satu ukuran untuk melihat potensi sektor perekonomian dalam menyerap tenaga kerja. Kota Bandung merupakan kota terpadat . Jumlah penduduk Jawa Barat pada tahun 2003 mencapai 37.23 orang per km2.53 orang per km2.5 juta orang) dan Kabupaten Bogor (3. Secara administratif Provinsi Jawa Barat terdiri dari 16 Kabupaten. 9 Kota. 2. yaitu sebesar 13. (4. yaitu: 1. 3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kawasan lindung di Jawa Barat.48 orang per km2. Dengan jumlah penduduk tersebut kepadatan penduduk Jawa Barat mencapai 1. Pengukuhan kawasan lindung agar tercapai target luasan kawasan lindung hutan dan non hutan untuk seluruh Jawa Barat sebesar 45%. partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan 2-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4.96%.

Jarak terjauh dari batas barat ke timur adalah 263 km dan dari batas utara ke selatan 226 km (tidak termasuk kepulauan Karimunjawa). suhu udara rata-rata di Jawa Tengah tahun 2002 berkisar antara 170C sampai dengan 290C. Secara administratif Provinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota. Pos pengamat tinggi muka air (AWLR) sebanyak 176 buah. JratunSeluna. yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Secara geografis Provinsi Jawa Tengah terletak antara 50 40’ dan 80 30’ LS dan antara 1080 30’ dan 1110 30’ BT (termasuk kepulauan Karimunjawa). Tempat-tempat yang letaknya berdekatan dengan pantai mempunyai suhu udara rata-rata relatif tinggi. Pos pengamat curah hujan sebanyak 964 buah. Bengawan Solo dan Serayu. Pos pengamat hidrologi tersebut dibangun oleh Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah maupun departemen lain. Jaringan pos pengamatan hidrologi di wilayah Provinsi Jawa Tengah telah dikembangkan sejak tahun 1976 yang tersebar di seluruh daerah aliran sungai.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-16 2. Sampai saat ini pos pengamat hidrologi yang telah ada meliputi: a. Untuk mendapatkan data yang lebih baik dari waktu ke waktu. b. c. Curah hujan tertinggi tercatat di SMPK (Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus) Bojongsari Purwokerto sebesar 2. sekitar 25. Menurut stasiun klimatologi kelas I Semarang. maka pada tahun anggaran 1999/2000 telah dimulai pelaksanaan rasionalisasi Pos Hidrologi di WS Pemali-Comal.70% dari luas Indonesia.25 juta hektar. Pos klimatologi sebanyak 72 buah.04% dari luas Pulau Jawa atau sekitar 1. Kelembaban udara rata-rata bervariasi antara 77% sampai dengan 88%. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Luas wilayah Provinsi Jawa Tengah adalah sebesar 3.5 JAWA TENGAH Posisi provinsi Jawa Tengah sebagai diapit oleh dua Provinsi besar lainnya.837 mm dan hari hujan terbanyak tercatat di Stasiun Metereologi Cilacap sebesar 203 hari.

Serang-Lusi Juwana Kudus 4. sebagian Kabupaten Pati dan sebagian Kabupaten Blora. WS Cimanuk. sebagian Kabupaten Boyolali. 4. sebagian Kabupaten Sragen. WS Pemali-Comal. Kabupaten Sukoharjo. Pemali-Comal Tegal 3. sebagian Kabupaten Batang dan Pemalang. Progo-BogowontoLukulo Kutoarjo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . meliputi Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Klaten. Kota Surakarta. WS Jratun-Seluna. Kabupaten Kudus. sebagian Kabupaten Sragen. WS Bengawan Solo. Kota dan Kabupaten Tegal. 4 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Tengah No. WS Citanduy. Kabupaten Karanganyar. Kota Magelang. sebagian Kabupaten Kendal. Kabupaten Brebes. 5. WS Serayu.4 berikut ini. 2. 7. Kabupaten Jepara. dan sebagian Kabupaten Blora. 6. WS Progo-Opak-Oyo.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sumber daya air di Provinsi Jawa Tengah dibagi dalam 7 (tujuh) satuan wilayah sungai. Kabupaten Purworejo. yaitu: 1. sebagian Kabupaten Temanggung. Bengawan Solo Solo 5. 1. sebagian Kabupaten Demak dan Kota Salatiga. sebagian 2. sebagian Kabupaten Rembang. 3. Tabel 2. sebagian Kabupaten Demak. 2-17 Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 6 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Tengah dengan pembagian wilayah kerja sebagaimana tercantum pada Tabel 2. Kabupaten Magelang. Kabupaten Grobogan. sebagian Kabupaten Grobogan. Balai PSDA Jragung-Tuntang Domisili Semarang Wilayah Kerja Kota dan Kabupaten Semarang.

Kabupaten Banjarnegara. tingkat partisipasi angkatan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . merupakan potensi sumberdaya manusia yang sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan menyongsong era globalisasi. Serayu-Citanduy Purwokerto Kabupaten Banyumas. angkatan kerja di Jawa Tengah tahun 2002 mencapai 15. Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Cilacap Berdasarkan Data BPS. Balai PSDA Domisili Wilayah Kerja Kabupaten Temanggung. Ini menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi ketiga di Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak di samping Jawa Timur dan Jawa Barat. Pada tahun 2003. jumlah penduduk Jawa Tengah diperkirakan meningkat mejadi sebanyak 32. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).58% dibanding tahun sebelumnya. sebagian Kabupaten Wonosobo. Wilayah terpadat adalah kota Surakarta dengan tingkat kepadatan sekitar 11 ribu orang setiap kilometer persegi. Tenaga kerja yang terampil. Rata-rata kepadatan penduduk Jawa Tengah tercatat sebesar 974 jiwa setiap kilometer persegi. sebesar 99%. Dengan angka ini. 2-18 6. jumlah penduduk Jawa Tengah tahun 2002 tercatat sebesar 31. Umumnya.74 juta orang atau naik sebesar 0. sebagian Kabupaten Kebumen. sebagian Kabupaten Wonosobo dan sebagian Kabupaten Kebumen.42 juta jiwa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No. Hal ini ditunjukkan oleh rasio jenis kelamin (rasio jumlah pendududuk lakilaki terhadap jumlah penduduk perempuan). Penduduk Jawa Tengah belum menyebar secara merata di seluruh wilayah Provinsi Jawa Tengah. Jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk lakilaki.69 juta jiwa atau sekitar 15% dari jumlah penduduk Indonesia. Pertumbuhan penduduk tiap tahun akan berpengaruh terhadap pertumbuhan angkatan kerja. penduduk banyak yang bermukim di daerah perkotaan.

sedangkan dibagian timur laut.6 DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salah satu provinsi dari enam provinsi di wilayah Indonesia dan terletak di Pulau Jawa bagian tengah.80 12’ LS dan 1100 00’ – 1100 50’ BT. Daerah Istimewa Yogyakarta di bagian selatan dibatasi Samudra Hindia. pekerja bebas pertanian dan non pertanian sebesar 10.56%. Kabupaten Wonogiri c. Secara geografis posisi Daerah Istimewa Yogyakarta terletak antara 70 33’ .15%.60%. 2-19 2. di sebelah barat laut. Sebanyak 67% angkatan kerja adalah berpendidikan tidak/belum tamat Sekolah Dasar. tenggara barat dan barat laut dibatasi oleh wilayah Provinsi Jawa Tengah yang meliputi : a. di sebelah barat. Sektor pertanian memiliki porsi 42% pekerja dan merupakan sektor terbanyak yang menyerap tenaga kerja. berusaha sendiri tanpa dibantu orang lain sebesar 18. Kabupaten Magelang : : : : di sebelah timur laut. Kabupaten Klaten b. yaitu sebesar 6.07%. Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari: LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sebagian besar angkatan kerja bekerja sebagai buruh/karyawan.90%. Sektor lain yang cukup banyak menyerap pekerja adalah sektor perdagangan dan sektor industri. Ditinjau menurut status pekerjaan utamanya. Sedangkan yang berusaha dengan dibantu anggota rumah tangga dan buruh tetap/tidak tetap tercatat sebesar 23. di sebelah tenggara.31% dan pekerja tak dibayar 17.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kerja penduduk di Jawa Tengah tercatat sebesar 60.35% dan 17. masing-masing tercatat sebesar 19. Kabupaten Purworejo d. Sedangkan angka pengganguran terbuka di Jawa Tengah relatif kecil.36%. Berdasarkan satuan fisiografis.52%. yakni 30.

: 0-80 m.I Yogyakarta terletak pada ketinggian antara 100 499 m dari permukaan laut.911 m.17% dari luas Indonesia (1. dengan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . suhu udara rata-rata di Yogyakarta tahun 2003 adalah 26. dari 3.63%) (18. Luas Ketinggian 3.485. Kota Yogyakarta : dengan luas : dengan luas : dengan luas : dengan luas 586.185.24% jenis tanah Alluvial.02%) c.I Yogyakarta. Gunung Berapi Merapi.185. : 150-700 m.340C. 10.754 km2).8790. Pegunungan Selatan. 11. : 80-2.94% jenis tanah Lathosol. 2-20 2.91%) (46. dan 1. : ± 582.640C.25 km2.27 506. Luas Ketinggian 4.27% jenis tanah Mediteran. lebih rendah dibandingkan rata-rata suhu udara pada tahun 2002 sebesar 27.80 km2 luas D.80 km2 atau 0.85 1. : ± 215. 2.40%) (15.04%) (1. Kabupaten Bantul d.656. Daerah Istimewa Yogyakarta beriklim tropis dengan curah hujan berkisar antara 7 .74% adalah jenis tanah Rensina. Luas Ketinggian DIY tercatat memiliki luas 3. : 0-572 m. 10.25 km2. Menurut catatan Stasiun Metereologi Bandara Adisucipto.82 32. Sebagian besar wilayah D. 27.380 mm yang dipengaruhi oleh musim kemarau dan musim hujan.36 574. yang terdiri dari: a. Kabupaten Gunung Kidul : dengan luas Berdasarkan informasi dan BPN. merupakan provinsi terkecil di Indonesia setelah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.94% merupakan jenis tanah Lithosol. : ± 706.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 1.50 km2 km2 km2 km2 km2 (18. Kabupaten Sleman e. Luas Ketinggian : ±1. Pegunungan Kulon Progo dan Dataran Rendah Selatan. 35.81 km2. Dataran rendah antara Pegunungan Selatan dan Pegunungan Kulon Progo. Kabupaten Kulon Progo b.42% jenis tanah Regosol.62 km2.45% jenis tanah Grumusol.

persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan mencapai 57. dengan persentase jumlah penduduk perempuan sebesar 50. Kelembaban udara berkisar antara 34-95%.79%. Pertumbuhan penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2003 adalah 1.600C dan suhu minimum 180C.74%. Kota Yogyakarta.82% dan 1.385 jiwa. yakni masing-masing sebesar 2.7 mb. dan kecepatan angin antara 0. dengan arah angin antara 195-205 derajat.52% dan penduduk yang tinggal di daerah pedesaan mencapai 42. 2-21 Tabel 2.48%.207. Sungai besar yang menjadi potensi sumber daya air di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berjumlah 3 buah. 1. relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya.5 berikut ini.61%. Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunung Kidul Kabupaten Kulon Progo. Sungai Opak-Oyo 3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA suhu maksimum 34.005.015. yaitu: 1.26% dan persentase jumlah penduduk laki-laki sebesar 49.1 knot sampai dengan 20 knot. 1. Sungai Serang Sungai-sungai tersebut dikelola oleh 2 Balai PSDA yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana dijelaskan pada Tabel 2. Sermo Yogyakarta Jumlah penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta tercatat 3. tekanan udara berkisar antara 1. Sedangkan menurut daerah pemukiman. 5 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di DI Yogyakarta No. 2. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sungai Progo 2.48%. Gunung Kidul dan Sleman terlihat memiliki angka pertumbuhan di atas angka rata-rata provinsi. Kabupaten Bantul. Balai PSDA Progo-Opak-Oyo Domisili Yogyakarta Wilayah Kerja Kabupaten Sleman.9-1.

Sisanya sebesar 36. adalah sebagai berikut. terdiri dari 58.48% bekerja di sektor-sektor lainnya. berbatasan dengan Selat Bali.26 % dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 106.46% adalah SLTP dan sisanya 1. pada sektor perdagangan sebesar 19.27%. Mereka terdiri dari 52.95% setingkat Diploma.15%.18% dan sisanya sebesar 13.75%.881 orang. mengurus rumah tangga dan lainnya dengan proporsi masing-masing sebesar 20. 2-22 2.029 jiwa per km2. Selatan d. Barat : : : : berbatasan dengan Laut Jawa.7 JAWA TIMUR Secara geografis Provinsi Jawa Timur terletak pada posisi 1110 0’ BT hingga 1140 4’ BT dan 70 12’ LS hingga 80 48’ LS.20%. Jumlah pendaftar pencari kerja pada tahun 2003 sebanyak 94. 11. Kepadatan penduduk tertinggi terjadi di Kota Yogyakarta yakni 12. Batas-batas daerah pada provinsi ini adalah sebagai berikut: a. pada sektor jasa sebesar 17.007 jiwa per km2.84%.21% sedang mencari pekerjaan.42% berpendidikan setingkat SLTA. dan 4. teriri dari mereka yang masih sekolah. 34.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dengan luas wilayah sekitar 3.16% merupakan bukan angkatan kerja. jumlah penduduk yang pekerjaannya bergerak pada sektor pertanian memiliki persentase 37.17% berpendidikan SD. menurun sekitar 11. Gambaran tenaga kerja di sektor swasta berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Berdasarkan lapangan usaha utama.17% laki-laki dan 47. Timur c. Utara b. Sarjana Muda dan Sarjana. berbatasan dengan Samudera Indonesia berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .63% sudah bekerja dan sebesar 5.69%. kepadatan penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta sekitar 1.923 orang. pada sektor industri sebesar 12.44%. sedangkan wilayah yang tingkat kepadatan penduduknya terendah adalah Kabupaten Gunung Kidul yang dihuni rata-rata 462 jiwa per km2. serta 5. Dari jumlah tersebut 58. Persentase angkatan kerja penduduk DIY adalah 63.83% perempuan.80 km2.185.

disamping sungai yang cukup besar.57 km2 secara administrasi terbagi ke dalam 29 Kabupaten dan 9 Kota. Suhu udara tertinggi di Jawa Timur pada tahun 2003 terjadi pada bulan November (35. dengan anak-anaknya sebanyak 36 sungai.10C).60C) dan terendah pada bulan Juli (18. yaitu: 1.6 berikut ini. WS Pekalen-Sampean. Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 9 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Timur sebagaimana dijelaskan pada Tabel 2. Sumber daya air di Provinsi Jawa Timur terbagi dalam 4 (empat) satuan wilayah sungai. WS Bengawan Solo.6%. 4. Luas wilayah Jawa Timur Daratan hampir mencakup 90% dari luas Provinsi Jawa Timur.428. 2. WS Brantas.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Secara umum. dengan kelembaban berkisar antara 32% sampai 98%. Sedangkan curah hujan yang cukup tinggi terjadi pada bulan Januari sampai dengan April. Sungai besar di Jawa Timur antara lain Kali Brantas yang panjangnya 98 km dan Bengawan Solo dengan panjang 273 km. sedangkan luas Kepulauan Madura hanya sekitar 10%. yaitu Jawa Timur Daratan dan Kepulauan Madura. 3. wilayah Jawa Timur dapat dibagi dalam 2 bagian besar. Wilayah provinsi Jawa Timur yang luasnya 46. Provinsi Jawa Timur memiliki 11 (sebelas) gunung berapi yang aktif. Mendung paling banyak terjadi di bulan Februari dan Desember. 2-23 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . WS Madura. dengan rata-rata lama penyinaran matahari 52% dan 41.

yaitu 2. 1. 2-24 2. Madura Pamekasan Berdasarkan data BPS.152 jiwa per km2. Pacitan. BuntungPaketingan Lamongan 4.33 juta jiwa dan Kabupaten Jember dengan jumlah penduduk sebesar 2. jumlah penduduk Provinsi Jawa Timur tahun 2003 sebesar 36. Kota Surabaya mempunyai jumlah penduduk yang paling besar.66 juta jiwa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 2. Gembong-Pekalen Pasuruan 9. Sidoarjo. Kota Pasuruan dan Kota Probolinggo Sampang. Kabupaten Bojonegoro. Kabupaten Lumajang. Kabupaten Lamongan. Kota Malang. Ngawi dan Kota Madiun. sebagian Malang. Lamongan dan Gresik. 6 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Timur No. umumnya lebih tinggi dibanding dengan kepadatan penduduk di kabupaten. Probolinggo. Kabupaten Madiun. Tuban. Balai PSDA Bango-Gedangan Domisili Malang Wilayah Kerja Kabupaten Malang.23 juta jiwa. Magetan. Pamekasan. Kepadatan penduduk di kota. Jember dan sebagian Malang. Kota Surabaya mempunyai kepadatan penduduk tertinggi yaitu sebesar 8. Bondoyudo-Mayang Lumajang 8. Kota Mojokerto dan Kota Surabaya. sebagian Pasuruan. Kabupaten Pasuruan. Kota Batu dan Kota Blitar. Puncu-Selodono Kediri 3. Bengawan Hilir Sampean Baru Solo Bojonegoro 6. diikuti Kabupaten Malang dengan jumlah penduduk sebesar 2. Nganjuk. Mojokerto.07% per tahun. Tulungagung. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Jombang dan Kota Kediri. Kepadatan penduduk Jawa Timur tahun 2003 adalah 780 sebesar jiwa per km2. Trenggalek. Banyuwangi dan Situbondo. Kabupaten Bondowoso. Ponorogo. Kabupaten Kediri. Madiun Madiun 5.206 juta jiwa dengan pertumbuhan sebesar 1. Bondowoso 7. Blitar. Sumenep dan Bangkalan.

sedangkan rasio pencari kerja dengan lowongan pekerjaan adalah 0. Tenaga kerja yang sudah ditempatkan sebanyak 40. Gambar 2.9 ribu hektar wilayah permukiman dan pertanian. Pada tahun 2002. Sebaran wilayah rawan banjir di Pulau Jawa dapat dilihat pada Gambar 2. 3 Lokasi rawan banjir di pulau jawa.32% dibanding tahun 2002. wilayah cekungan. Pendekatan infrastruktur untuk mengatasi banjir di sepanjang pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah telah diupayakan melalui proyekproyek besar berbantuan luar negeri. antara lain North Java Flood Control 1 Laporan kejadian banjir dan tanah longsor musim hujan 2001/2002 dan 2002/2003. Sistem pengendalian bahaya banjir melalui pendekatan infrastruktur telah berlangsung lama. Jumlah ini meningkat menjadi 104 kejadian pada tahun 2003 yang menggenangi sekitar 91.435 orang. serta kota-kota besar.8 IDENTIFIKASI MASALAH BANJIR Banjir di Pulau Jawa sebagian besar terjadi di wilayah pantai utara dan pantai selatan.621 orang.16 persen. terjadi 72 kejadian banjir yang menggenangi sekitar 81. meningkat 16.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Jumlah pencari kerja pada tahun 2003 sebesar 379.3.1 ribu hektar1. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 2-25 2.

penambangan pasir terjadi di sungai-sangat besar sehingga pada beberapa tempat mengalami degradasi dasar sungai.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Project dan South Java Flood Control Project. terjadi luapan air sungai dari tanggul. laju pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang membutuhkan biaya besar tersebut tidak mampu mengatasi peningkatan magnitude dan frekuensi banjir. Faktor penyebab terjadinya banjir di Pulau Jawa berbeda-beda untuk setiap wilayah. Selain itu. b) Meluapnya Aliran Sungai melalui Tanggul Akibat debit yang besar pada musim hujan yang tidak dapat ditampung oleh badan-badan air di daerah pantai/muara. diupayakan melalui proyek-proyek pengembangan perkotaan antara lain Bandung Urban Development Project (BUDP) dan Surabaya Urban Development Project (SUDP). Untuk pengendalian banjir wilayah Jakarta diupayakan melalui Ciliwung Cisadane River Flood Control Project dan pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) yang saat ini sedang berlangsung. Di daerah muara. Beberapa penyebab utama terjadinya banjir antara lain adalah: a) Pendangkalan/Agradasi Dasar Sungai (Sedimentasi) Hampir semua sungai di Jawa membawa sedimen dalam jumlah besar dari hulu dan mengikis lahan di sepanjang daerah aliran sampai ke muara. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . kemiringan dasar sungai menjadi relatif datar akibat sedimentasi tersebut sehingga kapasitas tampungan sungai menjadi berkurang. Di lain pihak. khususnya kota-kota besar di Pulau Jawa. Namun demikian. Meluapnya aliran sungai ini mengakibatkan daerah-daerah yang relatif datar dan lahan-lahan pertanian di sekitarnya menjadi tergenang. untuk mengatasi banjir di wilayah perkotaan lainnya. Tanggul-tanggul sungai di hulu dapat mengurangi banjir yang terjadi di daerah hulu. Upaya pengendalian banjir juga dilakukan di Bandung Selatan melalui proyek Upper Citarum Flood Control 2-26 Project. tetapi justru menyebabkan bertambah luasnya area yang terkena banjir di daerah hilir. sehingga upaya pengendalian bersifat spesifik sesuai karakteristik wilayah yang bersangkutan.

2-27 d) Efek Backwater Efek backwater terjadi di bagian hulu karena perubahan arus di hilir yang menyebabkan muka air di hulu meningkat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA c) Kondisi Saluran Drainase yang Kurang Baik Saluran drainase tidak berfungsi dengan baik karena pintu-pintu air tidak beroperasi sebagaimana mestinya. e) Kurang Berfungsinya Pintu Pengendali Banjir pada Sungai Pintu air tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena tertutup oleh tanaman atau endapan pasir. 2. Hal ini terutama terjadi pada pintu air otomatis. Neraca air tergolong normal apabila tidak terjadi defisit sepanjang tahun. sehingga terjadi banjir di bagian hulu. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .9 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN Masalah kekeringan dapat diidentifikasi dengan analsisi kondisi neraca air. Karena bangunan beroperasi secara otomatis. Backwater juga terjadi pada pertemuan antara anak sungai dan sungai utamanya. Analisis neraca air pada kabupaten/kota di luar wilayah Jabodetabek dilakukan dengan membandingkan hasil perhitungan ketersediaan air dengan kebutuhan air pada tiap-tiap bulan di masing-masing kabupaten/kota. Defisit Sedang (DS). terbendungnya alur sungai. Defisit Rendah (DR). sehingga laju pengaliran air melalui saluran drainase menurun. sedangkan jika jumlah bulan defisit mencapai 3 bulan diklasifikasi sebagai defisit rendah. dan lahan-lahan produksi di dataran rendah. Hal ini disebabkan oleh penyempitan badan sungai. empat hingga enam bulan diklasifikasi defisit sedang. dan Defisit Tinggi (DT). kapasitas tampungan semakin berkurang. dan lebih dari enam bulan diklasifikasi defisit tinggi. dan penyempitan pada jembatan dan bangunan-bangunan struktur lainnya. seringkali pengamatan/pemeliharaan di lapangan jarang dilakukan. Via analisis kondisi neraca air. ada 4 klasifikasi: Normal (N).

Perubahan persentase jumlah kabupaten di luar wilayah Jabotabek yang mengalami defisit air dari tahun 2003 hingga 2025 dapat dilihat pada Gambar 2. dan lebih dari 1 meter kubik perdetik diklasifikasi defisit tinggi. terdapat 38 kabupaten/kota atau sekitar 35 persen telah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hasil analisis neraca air menunjukkan bahwa. sesuai hasil Jabotabek Water Resources Management Study (1994). Metode ini digunakan karena ketersediaan air pada wilayah ini relatif konstan sepanjang tahun karena pasokan dari sistem yang ada. Dari wilayah yang mengalami defisit tersebut. 4 Perubahan persentase kabupaten defisit air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Khusus untuk wilayah Jabotabek analisis dilakukan dengan perhitungan besarnya jumlah defisit air pada bulan paling kering. pada tahun 2003 sebagian besar (sekitar 77 persen) wilayah kabupaten di luar Jabodetabek telah memiliki satu hingga delapan bulan defisit air dalam setahun. sedangkan jika jumlah defisit mencapai 0. Kondisi normal menunjukkan bahwa tidak terjadi defisit sepanjang tahun. 45 2-28 40 Persentase Jumlah Kabupaten/Kota (%) 35 30 25 20 15 10 5 2003 NORMAL 2005 2010 2015 DEFISIT SEDANG 2020 2025 DEFISIT TINGGI DEFISIT RENDAH Gambar 2. defisit lebih dari 0.5 hingga 1 meter kubik perdetik diklasifikasi defisit sedang.4.5 meter kubik perdetik diklasifikasi sebagai defisit rendah.

Progo-Opak-Oyo. dan 2025.5 pada tahuntahun 2015. Hasil analisis dan proyeksi neraca air kabupaten/kota JawaMadura yang mengalami defisit dapat dilihat pada Gambar 2. kabupaten/kota di wilayah-wilayah sungai Cisadea-Cikuningan. 2020. defisit air di wilayah tersebut cenderung semakin tinggi. Untuk wilayah Jabotabek. dan Madura. antara lain Kabupaten Ngawi di WS Bengawan Solo dan Kota Surabaya di WS Brantas. Di samping itu. Bengawan Solo. 2-29 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Serayu bagian hulu. dan kabupaten/kota yang mengalami defisit akan semakin meluas sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 2. atau defisit sepanjang tahun. dan Yogyakarta. Pemali-Comal. Sementara itu. Beberapa kabupaten/kota pada tahun 2010 diperkirakan akan mengalami defisit yang semakin membesar. dan diperkirakan meningkat menjadi 100 persen pada 2025. Jumlah ini diperkirakan semakin meningkat hingga mencapai sekitar 19 kabupaten/kota pada tahun 2025 apabila tidak dilakukan intervensi infrastruktur. Citarum. Brantas hilir.4 persen dengan defisit berkisar mulai dari satu hingga dua belas bulan. bahkan sejak tahun 2003 sekitar 12 kabupaten/kota telah mengalami defisit penyediaan air minum. Jratun Seluna bagian hulu. Pada tahun 2025 jumlah kabupaten defisit air meningkat hingga mencapai sekitar 78. Pada tahun-tahun berikutnya. dan sebagian Pekalen-Sampean belum mengalami defisit air. Jika tidak dilakukan intervensi infrastruktur maka kondisi neraca air akan mengalami defisit yang semakin tinggi pada tahun-tahun berikutnya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengalami defisit tinggi. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian secara khusus dan perlu dilakukan upaya penanganan segera dalam jangka pendek. ditemukan bahwa sekitar 50 persen kabupaten/kota mengalami defisit air pada tahun 2003. defisit tinggi juga terjadi pada kota besar seperti Bandung.4. defisit air tinggi akan terjadi pada tahun 2005 di beberapa kabupaten/kota di wilayah sungai Cimanuk-Cisanggarung. CitanduyCiwulan. Di antara kabupaten/kota yang mengalami defisit air tersebut. Semarang. Brantas. Dari proyeksi neraca air kabupaten/kota di Pulau Jawa di atas.

Sungai-sungai ini merupakan sumber air permukaan utama untuk daerah pertanian dan industri di Kota Tangerang. Hal ini diperparah dengan semakin langkanya air bersih sebagai akibat meningkatnya pencemaran air di sungai-sungai besar tersebut. seperti Sungai Cisadane.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Wilayah analisis neraca air untuk daerah Jabodetabek dan sekitarnya meliputi DKI Jakarta. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sungai Cidurian. Kabupaten Tangerang. Dengan demikian. Karawang. 2-30 2 Serang. sejalan dengan rencana pengembangan inter basin management dengan menambahkan WS Ciujung-Ciliman dan WS Citarum menjadi satuan wilayah analisis WS Ciliwung-Cisadane. Alternatif tambahan pasokan untuk DKI Jakarta adalah sungai-sungai yang berada di barat dan selatan wilayah ini. Kota Bogor. dan Bekasi serta Serang. Bogor. Kabupaten Bogor. Pasokan air baku utama ke DKI Jakarta bersumber dari Sungai Citarum yang dialirkan dari Waduk Jatiluhur. Karawang. Depok. meskipun sungai utama yang melalui wilayah ini adalah Sungai Ciliwung. potensi konflik pemanfaatan air antarwilayah dan antarpengguna akan semakin meningkat. DKI Jakarta sebagai ibukota negara memerlukan daya dukung sumber daya air untuk menunjang segala kegiatan di wilayah tersebut. dan Sungai Ciujung. dan Purwakarta2. Tangerang. dan Purwakarta dikelompokkan dalam satuan wilayah analisis. dan Kota Depok.

6 b u la n 7 .1 0 b u la n 1 1 .8 b u la n 9 . 5 Proyeksi Neraca Air Kabupaten/Kota di Pulau Jawa dan Madura.2 b u la n 3 .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-31 2005 L d 2010 L d 2015 Legenda : 2020 Legenda : 2025 Legenda : Legenda : B a ta s P r o p in s i J u m l a h B u l a n D e f is i t t a h u n 2 0 2 5 0 b u la n 1 .4 b u la n 5 .1 2 b u la n B a ta s K a b u p a t e n Sumber : Hasil Analisis Gambar 2. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

telah terjadi eksploitasi air tanah secara berlebihan. Oleh sebab itu. danau. Pada tahun 2003 terjadi defisit sebesar 2. Sebagai ilustrasi. Depok dan Kabupaten Bogor berasal dari Sungai Ciliwung-Cisadane. saat ini diperkirakan sekitar 65% kebutuhan domestik untuk wilayah DKI Jakarta masih bertumpu kepada sumber air tanah. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sementara itu. sumber utama pasokan air untuk Kota Bogor. Defisit tersebut diperkirakan mencapai 15. jika tidak dilakukan upaya intervensi infrastruktur dengan membangun waduk-waduk sumber air baku yang baru. Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang dengan sumber utama Sungai Cisadane mengalami kondisi yang hampir sama. yaitu meningkatnya aliran permukaan dan menurunnya aliran dasar (base flow). Defisit ini semakin membesar di masa yang akan datang. pasokan air permukaaan menjadi semakin penting untuk menggantikan penggunaan air tanah yang berlebihan tersebut. Terjadinya erosi akibat kerusakan catchment area menyebabkan terjadinya peningkatan beban sedimen di dalam sistem sungai dan menghasilkan perubahan pada kondisi hidro-morfologi (pengendapan sedimen pada waduk. terutama pada bagian hilir). Hal ini menyebabkan penurunan muka air tanah pada tingkat yang semakin kritis. daerah-daerah kritis dengan tingkat erosi yang tinggi perlu segera ditangani. terutama pada lahanlahan kritis di bagian hulu daerah aliran sungai. dan saluran-saluran yang berakibat pada naiknya permukaan dasar sungai.9 m3/det dan diperkirakan tahun 2025 mencapai 17.0 m3/det. Erosi yang berlangsung cepat akan memacu perubahan unsur hidrologi sungai. Oleh karena itu.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-32 Di wilayah Jabodetabek bagian utara terutama di DKI Jakarta.0 m3/det di tahun 2025.3 m3/det apabila tidak dilakukan upaya intervensi infrastruktur. Pada tahun 2003 defisit air telah mencapai 3.

dan pertanian mengalami peningkatan yang signifikan. (2) Penurunan kinerja infrastruktur sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pada tahun 2003. bahkan sejak tahun 2003 terdapat 12 kabupaten/kota telah mengalami defisit penyediaan air minum.4 persen pada tahun 2025. Disamping itu jumlah bulan defisit maksimal juga meningkat dari 8 bulan menjadi 12 bulan pada tahun 2025 (defisit sepanjang tahun). Pertambahan penduduk dan aktifitas perekonomian di satu sisi berdampak pada peningkatan kebutuhan air. Wilayah sungai di Pulau Jawa sebagian besar mengalami permasalahan yang sama yaitu: (1) Kerusakan catchment area sehingga mengancam keberlanjutan daya dukung sumber daya air. secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa kebutuhan air untuk rumah tangga. Khusus wilayah Jabotabek yang pasokan airnya relatif terjamin. Diantara kabupaten/kota yang mengalami defisit air tersebut. Jumlah ini diperkirakan semakin meningkat hingga mencapai 19 kabupaten/kota pada tahun 2025 apabila tidak dilakukan intervensi infrastruktur. Hal tersebut juga meningkatkan potensi banjir yang akan mengancam keberlanjutan infrastruktur di Pulau Jawa yang dibangun dengan investasi yang sangat besar. sekitar 77 persen kabupaten/kota di Pulau Jawa mengalami defisit air dan diperkirakan meningkat menjadi 78. perkotaan.1 RUMUSAN KEBIJAKAN PRAKARSA STRATEGIS Dari hasil analisis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 3-1 3. namun disisi lain juga berdampak pada perubahan tata guna lahan yang mengakibatkan perubahan perilaku hidrologis. Hasil analisis secara lengkap disajikan pada Buku 2 Identifikasi Masalah Pengelolaan Sumber Daya Air di Pulau Jawa. pada tahun 2003 sekitar 50 persen kabupaten/kota mengalami defisit air dan diperkirakan meningkat menjadi 100 persen pada tahun 2025. industri. Kondisi ini semakin diperparah oleh menurunnya daya dukung lingkungan akibat kerusakan catchment area. Adanya perubahan perilaku hidrologis tersebut menyebabkan perubahan pola ketersediaan air.

khususnya untuk irigasi di Pulau Jawa. dan intrusi air laut. dan ketatalaksanaan. (11) Masih lemahnya pengelolaan database sumber daya air. (9) Rendahnya kualitas pengelolaan hidrologi. dan (13) Meningkatnya potensi konflik pemanfaatan air. (10) Belum semua wilayah sungai memiliki masterplan atau perlu diperbaharui. penurunan kapasitas pengaliran sungai.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air. (12) Lemahnya koordinasi. (5) Kecenderungan bahwa sungai dan badan air lainnya sebagai tempat pembuangan limbah cair yang tidak terolah dan sampah menjadikan air permukaan yang terbatas tidak layak dipergunakan untuk air minum. land subsidence. maka perlu dilakukan prakarsa strategis terkait dengan: (i) Penanganan kabupaten/kota yang telah mengalami krisis penyediaan air minum melalui intervensi infrastruktur dan kegiatan terkait. (4) Kualitas air yang rendah karena daya dukung sungai lebih rendah dibanding beban pencemaran. (8) Kekeringan/defisit air di musim kemarau. (6) Banjir akibat perubahan tata lingkungan. kelembagaan. baik melalui demand management maupun supply management serta peluang dilaksanakannya inter basin transfer. dan (ii) Penyesuaian kembali alokasi air antar jenis kebutuhan atau realokasi air. (7) Meningkatnya kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan air. terutama realokasi atau perubahan alokasi untuk pemenuhan kebutuhan irigasi. dan penurunan kinerja prasarana pengendali banjir. Dengan adanya defisit air di sebagian besar kabupaten/kota dan bahkan tidak dapat memenuhi kebutuhan air minum. 3-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sehingga mengurangi secara signifikan ketersediaan air untuk kebutuhan air minum. keperluan adanya institusi untuk menjawab permasalahan yang berkembang. (3) Eksploitasi air tanah yang berlebihan mengakibatkan penurunan muka air tanah. Dengan kondisi defisit seperti ini maka diperlukan juga kajian mendalam tentang kemungkinan dilaksanakannya perubahan dan penyesuaian alokasi antar kebutuhan atau realokasi. Prakarsa strategis ini membutuhkan kajian mendalam dan spesifik lokasi untuk menemukan sumber-sumber penyediaan air baru maupun mengoptimalkan penggunaan sumber air yang ada bagi kabupaten/kota yang defisit air tinggi.

Disamping itu diperlukan diperlukan cara olah tanah dan tata tanam yang lebih hemat air. 3-3 3. kelembagaan dan perangkat manajemen telah direkomendasikan para ahli SDA dalam World Water Forum (WWF) II dan WWF III sebagai pendekatan yang tepat dalam menghadapi tantangan dalam LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . produktivitas lebih tinggi serta tetap mempunyai rasa yang enak. berumur lebih pendek. Perubahan atau inovasi teknologi yang diharapkan adalah ditemukannya varietas padi unggul yang hanya memerlukan lebih sedikit air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Konsekuensi logis perubahan alokasi tersebut adalah berkurangnya pasokan air untuk pemenuhan irigasi sehingga tanpa adanya perubahan teknologi maka akan mengurangi luas areal layanan (command area) dan produktifitas tanaman. Diperlukan komunikasi dan dialog antar berbagai tingkat pengambilan keputusan. Dalam hal ini masingmasing sektor berjalan sendiri tanpa mempertimbangkan akibatnya terhadap sektor yang lain. Dengan adanya penghematan air untuk irigasi (sebagai pengguna air yang terbesar) maka kelebihan air tersebut dapat direalokasikan untuk memenuhi kebutuhan lain misalnya untuk air minum dan air perkotaan yang permitaannya semakin meningkat.2 KEBUTUHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR YANG TERPADU. antar wilayah. Permasalahan-permasalahan yang menimpa sumber daya air dan lingkungan pendukungnya seperti diatas disebabkan oleh penanganan yang terfragmentasi baik dalam perencanaannya maupun pelaksanaannya. serta antarsektor. antara hulu dengan hilir. Untuk itu diperlukan pendekatan terpadu yang memperhatikan keseimbangan antara pendayagunaan dan konservasi. dari pengguna air ke pengelola air tingkat setempat/lokal ke struktur pengambilan keputusan tingkat wilayah sungai dan tingkat nasional. Untuk itu diperlukan strategi kebijakan baru dalam pengembangan irigasi di Pulau Jawa yang mempertimbangkan fenomena defisit air dan kebutuhan bahan pangan serta infrastruktur irigasi yang telah dibangun. Prinsip dan proses ”Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air” (Integrated Water Resources Management) yang mencakup aspek kebijakan dan peraturan perundang-undangan.

dilakukan integrasi program secara menyeluruh melalui perpaduan antara faktor internal dan eksternal. Posko Swadaya Banjir.3. dan lainnya. 3. Sinkronisasi Kebijakan dan Program antara RPJM. meningkatnya kompetisi masyarakat penggunaan tentang air yang dominan serta meningkatnya tuntutan ”good akan reformasi institusi untuk pelaksanaan 3-4 governance”.3 PROGRAM PRIORITAS Berdasarkan klasifikasi pada tahapan sebelumnya.1 Program Jangka Pendek Program jangka pendek pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1. termasuk strategi dalam melaksanakannya. 3. 4. RKP dan RKAKL Bidang Sumber Daya Air untuk Pemerintah Pusat dan Propinsi di Pulau Jawa.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Secara lengkap hasil integrasi program tersebut dijelaskan pada uraian selanjutnya. Penyusunan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU No. Lembaga Pengelolaan Sungai. Lembaga Pengelolaan Air Baku dan Air Minum. 2. Integrasi program ini sesuai dengan prioritas penanganan dalam jangka waktu yang ditentukan. tugas. dan fungsi instansi-instansi yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air di Pusat LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Lembaga Pengelolaan Sumber Air. Penataan kembali hubungan kerja sesuai wewenang. Fasilitasi pembentukan lembaga pengelola air oleh masyarakat seperti P3A. 3. Renstra.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pengelolaan SDA pada abad ke 21 yang diwarnai dengan peningkatan kebutuhan akan sumber daya air dan sumber daya alam lainnya.

7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dan Daerah berlandaskan pada UU No.3. 3-5 3. Pelaksanaan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU Sumber Daya Air No. 5. 4. RKP dan RKAKL Bidang Sum ber Daya Air untuk Pemerintah Pusat dan Propinsi di Pulau Jawa. 2. Melaksanakan ”kegiatan percontohan” kegiatan aksi swadaya masyarakat seperti Lembaga Pengelola Sungai untuk melaksanakan gerakan kebersihan sungai untuk mengembalikan sungai kepada fungsinya. Sinkronisasi Kebijakan dan Program antara RPJM.2 Program Jangka Menengah Program jangka menengah pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1. Penyusunan dan penyempurnaan pola dan rencana induk pengelolaan wilayah sungai sebagai dasar konservasi dan pendaya gunaan sumber daya air di wilayah sungai. 6. Pembentukan lembaga koordinasi pengelolaan sumber daya air (Dewan Sumber Daya Air) dan penyempurnaan kelembagaan pengelola air di Pulau Jawa sesuai kewenangan pusat dan daerah. Pelaksanaan pembangunan infrastruktur skala besar. Penertiban kawasan hulu dan wilayah bantaran sungai sesuai ketentuan penataan ruang oleh Pemerintah Daerah dengan dukungan dari Pemerintah. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sedang dan kecil untuk mengatasi banjir dan memenuhi kebutuhan air baku untuk berbagai keperluan di kota besar dan wilayah strategis serta daerah perdesaan di Pulau Jawa. Renstra.7/2004. 3. 5.

9. mengingat irigasi untuk tanaman padi adalah pengguna air terbesar. berproduktivitas tinggi dan mempunyai rasa yang enak sebagai upaya penghematan air. Fasilitasi pembentukan lembaga pengelola air oleh masyarakat seperti P3A. 3-6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 8. Posko Swadaya Banjir. 13. Melanjutkan upaya penertiban kawasan hulu dan wilayah bantaran sungai sesuai ketentuan penataan ruang oleh Pemerintah Daerah dengan dukungan dari Pemerintah. 11. 10. permukiman (kebutuhan domestik). dan lainnya. Pengembangan teknologi tepat guna pengelolaan sumber daya air melalui dukungan lembaga penelitian dan pengembangan teknologi di Pusat dan Daerah 12. Penerapan teknologi olah tanah dan tanam yang lebih hemat air mengingat irigasi khususnya untuk tanaman padi masih menjadi pengguna air terbesar. Pencegahan alih fungsi lahan beririgasi di Pulau Jawa melalui sistem insentif dan disinsentif bagi masyarakat pemilik dan pengelola lahan. Pengembangan varietas padi unggul yang lebih sedikit mengkonsumsi air. Lembaga Pengelolaan Air Baku dan Air Minum. Mengupayakan realokasi air secara terbatas misalnya misalnya mengadakan realokasi air untuk irigasi tanaman padi untuk kebutuhan air minum pada daerah perluasan permukiman/perkotaan melalui upaya-upaya penggunaan varietas padi yang lebih hemat air. Lembaga Pengelolaan Sumber Air. Mempromosikan gerakan hemat air disegala bidang penggunaan air termasuk penggunaan untuk pertanian. 14. 7. menanggulangi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 6. dan memulihkan dampak banjir secara mandiri. penggunaan teknologi olah tanah dan tanam yang lebih hemat air dan diversifikasi tanaman kearah tanaman yang bernilai tinggi tetapi lebih hemat air seperti tanaman sayuran dan buahbuahan dan bunga. industri dan lain sebagainya. Peningkatan kesiagaan masyarakat di daerah rawan banjir dalam mencegah.

18. dan pelaksanaan kegiatan di lapangan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 15. 16. serta pengendalian pencemaran air.3 Program Jangka Panjang Program jangka panjang pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1. Melaksanakan ”kegiatan percontohan” kegiatan aksi swadaya masyarakat seperti Lembaga Pengelola Sungai untuk melaksanakan gerakan kebersihan sungai untuk mengembalikan sungai kepada fungsinya. 3-7 3. 19. Melanjutkan pelaksanaan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU No. 3. Penerapan sistem insentif dan disinsentif bagi badan usaha dan industri dalam penggunaan dan pengusahaan sumber daya air. Pengutamaan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air melalui pelibatan dari proses perencanaan. Penataan kembali eksploitasi bahan galian di badan air dan hulu sungai oleh Pemerintah Daerah bersama masyarakat. Melanjutkan penyusunan dan penyempurnaan rencana induk (master plan) pengelolaan wilayah sungai dan pengelolaan sumber daya air Popinsi dan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 20.3. 17. Pengembangan kapasitas kelembagaan dan aparatur pemerintah di bidang pengelolaan terpadu sumber daya air dalam rangka meningkatkan profesionalisme dan kemampuan teknis dan manajerial. Penataan wilayah bantaran sungai melalui relokasi penduduk secara bijaksana oleh Pemerintah Daerah. 2. Penataan ruang di kawasan hulu dan hilir berdasarkan pola pengelolaan sumber daya air yang mengacu kepada kelestarian fungsi ekosistem. pengawasan.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. pengambilan keputusan.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Kabupaten/Kota untuk mengantisipasi kebutuhan air baku dan ancaman banjir serta konservasi ekosistem sumber daya air. 3-8 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 11. propinsi. Pengembangan upaya-upaya peningkatan peresapan air dengan pengunaan teknik-teknik ”pemanenan air hujan” (rain water harvesting) diantarnya sumur dan waduk/embung resapan dan sebagainya. Pengembangan sistem informasi pengelolaan sumber daya air di tingkat nasional dan daerah untuk menjamin ketersediaan dan kemutakhiran data dasar. 9. Melanjutkan pelaksanaan pembangunan infrastruktur skala besar yang bersifat multi-guna. 12. 7. 5. 8. Pengembangan kerjasama masyarakat hulu dan hilir dalam pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai berdasarkan prinsip ”hydro-solidarity”. Transformasi infrastruktur sumber daya air berdasarkan kondisi tata guna lahan terkini untuk mengatur alokasi air sesuai perkembangan kebutuhan penduduk dan industri serta dengan mempertimbangkan kontribusi sektor terhadap PDB. Pengembangan kerjasama dan integrasi kegiatan antara lembaga koordinasi pengelolaan sumber daya air (Dewan Sumber Daya Air) di tingkat nasional. 10. 6. untuk mengatasi banjir dan pemenuhan kebutuhan air baku untuk berbagai keperluan di kota besar dan wilayah strategis di Pulau Jawa. 4. Pengembangan sumber air di tingkat lokal untuk memenuhi kebutuhan air baku penduduk perkotaan dan perdesaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dengan dukungan Propinsi dan Pusat. Perencanaan pembiayaan bidang sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan operasi dan pemeliharaan dan investasi baru penyediaan infrastruktur bidang sumber daya air dengan dukungan badan usaha dan masyarakat dengan pola kemitraan antara pemerintah dengan swasta. kabupaten/kota dan wilayah sungai. Pengembangan konservasi air di wilayah hulu dan gerakan hemat air di hilir bersama masyarakat dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan air.

3-9 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pengaturan kembali pemanfaatan kawasan hulu Daerah Aliran Sungai untuk hutan produksi dan perkebunan berdasarkan pola konservasi sumber daya air. Penataan ekstraksi air tanah oleh intansi yang berwenang dan masyarakat sesuai kemampuan pemulihan cadangan air tanah di wilayah rawan kekeringan. 17. Pelibatan badan usaha dalam pola kemitraan antara pemerintah dan swasta (public private partnership) dalam pengusahaan sumber daya air dan pengembangan investasi baru infrastruktur sumber daya air. Pemulihan kualitas air dan pengendalian pencemaran air di sumber-sumber airdan badan air di wilayah perkotaan dan industri. 16. 14. Pemulihan catchment area Daerah Aliran Sungai melalui reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis bersama masyarakat. 18. sempadan sungai. 19. 15. dan kawasan green belt dalam rangka mencegah kerusakan dan penurunan kinerja infrastruktur sumber daya air. Penyadaran publik dan peningkatan kepedulian masyarakat terhadap pemulihan kondisi dan upaya mempertahankan kualitas air di sumber air dan badan sungai.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 13. Penataan dataran banjir.

serta 5.Strategi implementasi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa adalah sebagai berikut: 1. dan pengendalian daya rusak air yang dapat menyeimbangkan laju pembangunan dan pemulihan kondisi lingkungan di LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . melaksanakan.1 RUMUSAN STRATEGI IMPLEMENTASI Strategi implementasi merupakan panduan dan kaidah pokok dari pelaksanaan keempat strategi lainnya. 2. serta pengendalian daya rusak air. Oleh karena itu strategi pengelolaannya pun harus mencakup seluruh aspek pengelolaan tersebut. Secara lebih terinci rumusan strategi dimaksud diuraikan sebaga berikut.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 4-1 Pengelolaan sumber daya air merupakan upaya untuk merencanakan. Strategi struktur 4. Strategi pembiayaan. pendayagunaan. Strategi implementasi 2. Penetapan kebijakan terpadu lintas sektor yang mencakup aspek-aspek konservasi. memantau. Strategi non-struktural 3. kelembagaan dan perangkat manajemen dalam pengkoordinasian pembangunan dan pengelolaan sumber daya air. Strategi kelembagaan dan koordinasi. 4. Berkaitan dengan itu terdapat 5 strategi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. Diperlukan penyusunan ”Rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air” sebagai peta langkah (road map) dari rencana tindak yang mencakup aspekaspek kebijakan dan peraturan dan perundang-undangan. yaitu: 1. dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi dan pendayagunaan sumber daya air.

Pengendalian pencemaran dan pengelolaan kualitas air pada sumber air dan badan air. Penanggulangan bencana banjir melalui intervensi infrastruktur (skala besar) guna melindungi kawasan yang telah berkembang terutama kota-kota besar. Upaya ini harus diiringi dengan pemulihan kondisi catchment area yang dilakukan bersama masyarakat. 6. 8. penataan dan penertiban dataran banjir. industri. pembuatan sumur dan waduk/embung resapan serta pelaksanaan upaya-upaya pemanenan air hujan dengan melibatkan para pelaku perusakan dan masyarakat yang terkena dampak.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Pulau Jawa. 4. terutama pada kawasan industri dan perkotaan. melalui sistem insentif dan disinsentif oleh Pemerintah Daerah. dan perdagangan serta penyediaan bangunan penampung air berskala kecil 4-2 untuk memenuhi kebutuhan air baku daerah perdesaan yang dikelola di tingkat lokal. terutama yang bersifat lintas sektor dan lintas wilayah. pengolahan tanah yang sesuai dengan upaya konservasi air dan tanah. serta dengan melibatkan para pelaku pencemaran dan masyarakat yang terkena dampaknya. Kebijakan ini disertai upaya peningkatan kesadaran masyarakat dalam penghematan air dan pelestarian fungsi lingkungan. Upaya mempertahankan Pulau Jawa sebagai lumbung pangan nasional melalui pencegahan laju konversi dan optimalisasi lahan beririgasi yang telah ada. sesuai rencana induk pengelolaan wilayah sungai LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pengelolaan terpadu daerah aliran sungai. 5. 3. dan pengendalian tata ruang di Pulau Jawa. 7. serta peningkatan efisiensi penggunaan air. Penghentian perusakan fungsi kawasan lindung dan daerah tangkapan air di bagian hulu Daerah Aliran Sungai dan melakukan rehabilitasi daerah tangkapan air dengan penghijauan. Penyediaan air baku berskala besar di Pulau Jawa untuk kawasan-kawasan strategis seperti daerah perkotaan dan permukiman. serta pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana drainase yang memadai. Kebijakan ini akan ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010 – 2015 serta peraturan perundangan terkait lainnya.

Perlindungan dan pelestarian sumber daya air dilakukan melalui: a. pengendalian pemanfaatan sumber air. d.1 Strategi Menurut Undang-undang Sesuai dengan UU No. Upaya konservasi dilakukan melalui kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber air. g. e. Konservasi dilakukan sesuai dengan pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air. f. dan/atau LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . b. rehabilitasi hutan dan lahan. c. pengisian air pada sumber air. 4. 3. 4-3 4. 5. 7 Tahun 2004. Tujuan perlindungan dan pelestarian sumber air adalah untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan keberadaannya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA terkait yang didukung oleh peraturan perundangan serta sistem pengawasan bersama masyarakat.2. pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu. dari segi jumlah maupun kualitasnya. 4. pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air. beberapa kebijakan/strategi non-struktural berkaitan dengan konteks konservasi SDA adalah: 1. h. serta pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air 2. pengaturan daerah sempadan sumber air. pengawetan air. tanpa menitikberatkan pada pembuatan bangunan fisik secara signifikan. Ketentuan konservasi sumber daya air dijadikan sebagai salah satu acuan penting dalam perencanaan tata ruang wilayah. pengaturan prasarana dan sarana sanitasi.2 STRATEGI KEBIJAKAN NON-STRUKTURAL Strategi non-struktural sangat penting dalam kaitannya dengan kegiatan untuk menjaga keberadaan sumber daya air.

Pengendalian pencemaran air dilakukan dengan cara mencegah masuknya pencemaran air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. menghemat air dengan pemakaian yang efisien dan efektif. kawasan pelestarian alam. Mengacu pada kebijakan yang telah digariskan di atas. b. danau. pemerintah juga menyediakan sistem informasi sumber daya air yang pelaksanaannya dilakukan sesuai tingkat kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. dan budaya. Pengawetan air dilakukan dengan cara: a. dan/atau c. kawasan hutan. Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air ditujukan untuk mempertahankan dan memulihkan kualitas air yang masuk dan yang ada pada sumber-sumber air. 8. 10. Selain itu untuk mendukung pengelolaan yang terintegrasi. pelestarian hutan lindung. 9. menyimpan air yang berlebihan di saat hujan untuk dapat dimanfaatkan pada waktu diperlukan. mengendalikan penggunaan air tanah. kawasan suaka alam. 6. Konservasi sumber daya air dilaksanakan pada sungai. waduk. ekonomi. maka kebijakan nonstruktural di bidang pengelolaan sumber daya air perlu diintegrasikan ke dalam peraturan-peraturan yang bersifat lebih operasional dan rencana strategis yang didasarkan pada kebijakan masing-masing daerah. daerah tangkapan air. cekungan air tanah. kawasan suaka alam. 7. 4-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Perlindungan dan pelestarian sumber air dilaksanakan secara vegetatif dan/atau sipil teknis melalui pendekatan sosial. dan kawasan pantai. rawa. Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan cara memperbaiki kualitas air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. 11.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA i. sistem irigasi. Muatan yang mendukung pengelolaan sumber daya air secara otomatis harus menjadi salah satu acuan dalam menyusun program dan kebijakan yang akan diterapkan. dan kawasan pelestarian alam.

2 Strategi Konservasi Sumberdaya Air 4. Berberapa langkah ang dapat dilakukan untuk mendukung hal ini adalah dengan: a. Mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi sumber daya air dengan target minimal 25% tiap 5 (lima) tahun. Keberhasilan pengelolaan akan sangat ditentukan oleh hal ini mengingat kelancaran suatu proses untuk mencapai tujuan dari kebijakan akan membutuhkan kedisiplinan dalam pelaksanaan. 25% di tahun 2015. karenanya jaminan dari perangkat hukum sangat dibutuhkan. c.2. daya tampung. Menetapkan air. 50% di tahun 2025. dengan persentase tutupan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sebagai kelanjutan program dan kebijakan yang bersemangatkan pengelolaan sumber daya air. Kriteria luas tutupan perlu dibuat oleh instansi yang berwenang d.5% di tahun 2010. Merehabilitasi hutan dan lahan kritis seluas 43 juta ha dengan prioritas di 142 DAS kritis. dengan target minimal 12. dan fungsi daerah aliran sungai untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. memulihkan dan mempertahankan daya dukung. serta menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan. Yang dimaksud dengan prasarana dan dan sarana konservasi sumber daya air LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa dan mengelola daerah resapan air dalam rangka mengupayakan peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak . 4-5 4. Pelaksanaan kebijakan tidak dapat terlaksana tanpa adanya perangkat hukum yang berwibawa dengan dukungan aparat penegak hukum.2.2. Menetapkan dan membina pengelolaan kawasan hutan di daerah tangkapan air hujan. perlu pula adanya dukungan dari perangkat hukum dan penegakannya. b.1 Mempertahankan Daerah Aliran Sungai Konsepnya adaklah dengan meningkatkan.

embung. danau.2. Upaya penyediaan sebagai pengganti pengambilan air tanah dapat dilihat pada langkah penyediaan air. e. c. check dam. d. sumur resapan. waduk. situ. Melakukan pengendalian pengambilan air tanah secara ketat dengan prioritas pada cekungan-cekungan air tanah yang sudah kritis dan kawasan karst dengan membatasi pengambilan hanya sebesar batas aman (safe yield). situ/embung dan mata air dengan aturan yang sesuai dengan penetapan kawasan sabuk hijau sesuai dengan undang-undang UU No. guna kepentingan pelestarian lingkungan sekitar mata air. ground sill. waduk dengan prioritas daerah pemukiman dengan target 15% tiap 5 (lima) tahun. Aplikasi dari strategi ini dapat dilakukan dalam beberapa langkah konkret sebagai berikut: a. Meningkatkan upaya pemeliharaan sumber air (antara lain : danau. 4-6 4. Menyempurnakan pedoman penetapan batas semadan sumber air Menetapkan daerah batas sempadan sungai. situ.2. Menetapkan dan mengelola kawasan danau. rawa ) dan pengawetan air berupa pembangunan antara lain: waduk dan embung.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA adalah small and medium pond. Pengembangan sabuk air di sekitar mata air antara lain dapat dilakukan dengan mengembangkan arboretum. 41 tahun 1999 tentang kehutanan pasal 50 ayat (3) butir c. daya tampung. rawa. rawa. memulihkan dan mempertahankan daya dukung. embung. teknik pemanenan hujan. teras bangku. dan fungsi sumber daya air untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan.2 Mempertahankan Sumber Daya Air Konsepnya adalah dengan meningkatkan. dll. b. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sabuk hijau dikenal juga sebagai lajur pepohonan di sekeliling wadah air.

Untuk mengembalikannya perlu tindak pengolahan air yang membutuhkan sejumlah biaya yang pada akhirnya akan menambah biaya operasional. Mempertahankan kualitas air dilakukan dengan menerapkan beberapa strategi berikut: a. 4-7 f. Menetapkan kawasan reklamasi rawa dengan ketebalan lahan gambut lebih dari 3 meter sebagai kawasan rawa konservasi.2. b.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA e. Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air dan kegiatan penambangan lainnya. g. c. Menerapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya sebagai instrumen untuk mendorong pengendalian pencemaran air dan meningkatkan pengelolaan kualitas air kepada para pecemar. Menetapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya sebagai instrumen untuk mendorong pengendalian pencemaran air dan meningkatkan pengelolaan kualitas air kepada para pecemar.3 Mempertahankan Kualitas Air Konsepnya adalah dengan memulihkan dan mempertahankan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan. 4. Menurunnya kualitas air mengakibatkan kesulitan karena berkurang atau hilangnya manfaat yang diharapkan dari air bersangkutan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . d. Mendorong dan mengupayakan pembangunan sistem pengelolaan limbah cair komunal di kawasan pemukiman dan kawasan industri.2. Menetapkan baku mutu limbah cair yang diperkenankan dibuang kedalam sumber air/badan air. Mengelola daerah sempadan sumber air sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh menteri yang membidangi sumber daya air.

i. Membangun sistem pemantauan kualitas air pada sumber air dan kualitas limbah cair secara berkelanjutan. Membangun bangunan penahan intrusi air laut di kawasan pantai dan mengendalikan penggunaan air tanah guna menghindari intrusi air laut. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .recycle) 4-8 f. reuse. Menegakkan hukum yang tegas bagi pelanggar ketentuan kualitas serta sistem penerapan insentif-disinsentif pengelolaan sumber daya air dan lingkungan dengan target minimal selesai tahun 2015. Mendorong upaya pengawetan air melalui pembudayaan prinsip 3 (tiga) R (reduce. h. pengenceran. g. secara biologi. Memperbaiki kualitas air pada sumber air dengan cara antara lain: aerasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA e.

Sukabumi # BANDUNG Sumedang Majalengka Brebes Kuningan Pekalongan Pemalang # # SWS 0205 Kudus Rembang Tuban # # # Y # K. Bandung Tegal Grobogan Bojonegoro Ngawi # # # SWS 0208 Batang # # # SEMARANG # Madura Is. Blitar # Lumajang # Pacitan # SWS 0214# Malang Yogyakarta Special # # Trenggalek Tulungagung Blitar Province Jember Banyuwangi 8 I ndi an Oce an Nusa Barung Is. Cilegon # # 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' Bawean Is. Malang Ponorogo # Bondowoso # Gunungkidul # K. D ate A5 C piledb : om y G Operator: IS CORRELATION BETWEEN AMINISTRATION AND WATERSHED (SWS BOUNDARIES ) S rce : ou . 1 Susunan Wilayah Sungai yang sudah ada. Depok Panaitan Is. Pekalongan # # # # K. Mojokerto # # # 7 SWS 0203 SWS 0207 Purbalingga # Central Java Province Temanggung Semarang Tasikmalaya Banyumas Ciamis Cilacap Kebumen # # # SWS 0209 # Garut Sidoarjo Ma du r a St r ai t SWS 0206 # K. Magelang Banjarnegara # # K. Surakarta Magelang # Nusakambangan Is. Lake) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa eptem 2004 ber :S BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4-9 . Yogyakarta # K. Bekasi # # # Krakatau Serang 6 Bekasi Karawang Ja va Se a Y # U % SWS 0204 Indramayu # # # Banten Province # # K. Bangkalan # Pelabuhan Ratu Bay Sukabumi Cianjur Bandung # # # Demak Kendal K. Y # SURABAYA K. Salatiga # WonosoboSWS 0211 Sragen # Boyolali K. Kediri # Bantul Probolinggo SWS 0213 Kulonprogo # # Wonogiri K.Bakosurtanal. Ba l i St r a i t # Mojokerto SWS 0212 Madiun Jom bang # # K. 9 L nd: ege G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E SI A NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT M N : ap o M Title : ap Gambar 4. Semarang Y # Blora SWS 0210 SWS 0215 Lamongan # Sumenep Gresik # Sampang Pamekasan # # Sapudi Is. Tegal K. Pasuruan # Karanganyar Nganjuk # # Sleman Klaten # Magetan K. SWS 0202 Purwakarta # # SWS 0201 Lebak Bogor Subang Jepara Cirebon # Pandeglang West Java Province # # Pati K.it ra St nd a Su BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 0' Kepulauan Seribu K. Madiun # East Java Province # Situbondo # Sukoharjo Purworejo K. Probolinggo Pasuruan # Kediri Y # YOGYAKARTA # # # K. 1 : 250 000 Scale (Coastline. River. Jakarta Bay Tangerang JAKARTA TANGERANG K.

serta bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Serang.Serang. DAS Cidanau. DAS Cibante dan DAS Cibungur. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .Lebak.Pandeglang. Kab.3.1. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Ciujung-Ciliman adalah : DAS Ciujung.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. meliputi wilayah administratif: Kota Cilegon.1 Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman Sungai-sungai yang mengalir di WS Ciujung-Ciliman berhulu di gunung karang dalam wilayah administratif Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang. Kab.3 4. Keutuhan dan kemantapan fungsi cathment area DAS Ciujung sangat penting sebagai sumber air bagi daerah-daerah seperti Kabupaten Lebak. Luas wilayah sungai Ciujung-Ciliman sekitar 473. Kabupaten Serang dan Kabupaten/Kota Tangerang. DAS Ciliman.1.3. Selain itu DAS Ciujung berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang akan diarahkan untuk mensuplai air bagi Waduk Karian. dan Kab.Bogor.000 Ha.1 STRATEGI KEBIJAKAN STRUKTURAL Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang Sudah Ada 4-10 4. DAS Cidanau merupakan salah satu sumber air yang vital bagi masyarakat Kabupaten dan Kota Cilegon dan diarahkan untuk mensuplai keberlangsungan Waduk Krenceng. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Ciujung-Ciliman diuraikan pada Tabel 4. Diantara DAS tersebut di atas yang menjadi prioritas adalah DAS Ciujung dan DAS Cidanau. Kab.

DAS Pesanggrahan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Bekasi. DAS Ciliwung.3. Jakarta Selatan.2 Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Sungai-sungai yang mengalir di WS Ciliwung-Cisadane berhulu di G. perkotaan dan industri untuk kebutuhan Tangerang lewat KSCS mengambil alih fungsi Waduk Karian untuk mensuplai air irigasi ke daerah irigasi Ciujung suplesi air irigasi DI. Tangerang. dan DAS Cikarang/Cipamingkis. Kab. Cilemer kiri seluas 500 ha. DAS Cisadane. Kota Bekasi. Kab. Sukabumi. Jakarta Utara. Kota depok.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Kab. Luas wilayah sungai Ciliwung–Cisadane sekitar 4355 Km² dan meliputi wilayah administratif kabupaten / kota sbb : Jakarta Barat.Kendeng dan G. Lebak. Bogor. 1 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciujung Ciliman NO. penyedia air baku untuk kecamatan Banjarsari dan sebagai waduk pengendali banjir pemenuhan kebutuhan air baku Jabotabek 4-11 2 Waduk Tanjung Sungai Cidurian 3 4 5 Waduk Cilawang Waduk Pasirkopo Waduk Cimalur Sungai Ciujung Sungai Ciujung Desa Cibatur Keusik Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak Sungai Cisemeut 6 7 8 9 10 11 12 13 Waduk Bojongmanik Bendung Anyer Bendung Karet Cikoneng. DAS Sunter. dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Bekasi. Kab. Bendung Karet Cisangkuy Long Storage Sungai Ciujung Bendung Tipe Gergaji di Sungai Cibama Bendung Karet Cibungur Bendung dan Bendung Karet Ciseukeut 4. Kota Tangerang.Wiru dalam wilayah administratif Kabupaten Bogor. 1 KEGIATAN Waduk Karian LOKASI Hulu Sungai Ciujung MANFAAT & PENJELASAN Penyedia air rumah tangga. Kota Bogor. WS Ciliwung-Cisadane mencakup wilayah DAS Cidurian. Jakarta Pusat. Jakarta Timur. penyedia air baku untuk daerah Tangerang dan DKI Jakarta dengan menggunakan saluran irigasi Cidurian atau dengan saluran lternative KarianTanjung-Serpong (KTS) menambah persediaan air rumah tangga. Kab. perkotaan dan industri untuk wilayah Serang dan Jabotabek dengan menggunakan saluran Karian-Tanjung-Serpong (KTS). Kab.1. Serang.

2. Untuk itu perlu meningkatkan kapasitas drainase yang saat ini belum memadai. 4. Selain itu Waduk Ciawi juga dapat berfungsi sebagai penyedia air untuk Kota Bogor dan DKI Jakarta serta sebagai sumber air untuk penggelontoran Sungai Ciliwung di musim kering penyedia air baku ke daerah Bogor dengan cara gravitasi penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta memenuhi kebutuhan air di Kota dan Kabupaten Bogor mengalihkan debit banjir dari Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane guna pengendalian banjir di DKI Jakarta memenuhi kebutuhan air Jabotabek 4-12 2 3 4 5 6 7 Waduk Genteng Waduk Parung Badak Waduk Sodong Salak Contour Canal Ciliwung Floodway Tunnel Peningkatan Kanal Tarum Barat Sungai Cisadane tengah Sungai Cisadane hilir Sungai Cikaniki sekeliling Gunung Salak Kota Bogor Karawang . sehingga mempercepat aliran permukaan. Meningkatnya puncak banjir dari DAS bagian hulu akibat meningkatnya urbanisasi dan hilangnya daerah resapan air Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Ciliwung-Cisadane diuraikan pada Tabel 4. Terabaikannya pemeliharaan fasilitas drainase yang ada. Tabel 4. 2 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciliwung-Cisadane NO. 3. Hal ini merupakan permasalahan yang cukup pelik di beberapa tahun terakhir ini. wilayah ini terletak pada daerah yang rata dan rendah (kurang lebih 15. dan relatif terkena dampak aliran balik dari laut. floodway. 1 KEGIATAN Waduk Ciawi LOKASI Hulu Sungai Ciliwung MANFAAT & PENJELASAN Mengurangi debit banjir Sungai Ciliwung di Kota Bogor.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Saat ini banjir sering terjadi pada DAS Ciliwung. Kondisi ini merupakan kombinasi dari berbagai akibat yang ditimbulkan oleh : 1. Meningkatnya proporsi luas permukaan tanah yang tidak lolos air yang berakibat pada infiltrasi yang semakin mengecil.000 ha terletak 2 m dibawah permukaan air laut). khususnya pada saat pasang 2.Bekasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sungai dan berbagai saluran utama telah mengalami pengurangan kapasitas akibat terjadinya agradasi dasar sungai. Amblesan tanah khususnya di wilayah Jakarta bagian utara yang disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebih. khususnya di wilayah Jakarta bagian hulu.

Gede Pangrango serta G. Normalisasi alur sungai 57 km. Tangerang DKI Jakarta Kota Bogor. Tangerang Kab.3. G. Peningkatan fungsi sungai ke hilir dari daerah Angke dan Sungai Pesanggrahan dan Mookervaart Canal. Master Plan 1997 Pengendalian banjir.Cikuningan adalah : DAS Cimaragang. Normalisasi alur sungai 32 km. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. 2 bh.Patuha. DAS Cibuni. serta konstruksi Angke Floodway Pengendalian banjir. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Cisadea-Cikuningan diuraikan pada Tabel 4.Malabar.3. Normalisasi alur sungai 22 km. Cakung Banjir Kanal CBL. DAS Cikarang. Buaran. Kali Angke. G. Bekasi DKI 4. Normalisasi alur sungai 50 km. DAS Cisadea.1.Pangkulahan. Kabupaten Sukabumi. Tangerang Kota/Kab. Kota Sukabumi. Tangerang Kab. G. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Normalisasi alur sungai 29 km. Terowongan 1 km. Kabupaten Bandung. Cipinang. Sunter. Normalisasi alur sungai 17 km. G. Master Plan 1997 4-13 9 10 11 12 13 14 15 16 Kab. Pembuatan Sal.Kendeng. Banjir. 8 KEGIATAN Pengembangan Cengkareng Floodway System Sungai Cidurian Sungai Cimanceuri Sungai Cirarab Sungai Cisadane Cengkareng drain. Luas wilayah SWS Cisadea – Cikuningan sekitar 37. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Mookervaart Banjir Kanal Barat/ Ciliwung Banjir Kanal Timur. DAS Cikaso.Malang.3 Wilayah Sungai Cisadea-Cikuningan Sungai sungai yang ada di WS Cisadea – Cikuningan terutama berhulu dari beberapa mata air yang ada di G. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . DAS Cimandiri.327 Km² dan meliputi 4 wilayah administratif kabupaten/kota sbb: Kabupaten Cianjur.Talaga. Normalisasi alur sungai 22 km. Cikarang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. G. DAS Cimangur dan DAS Cibareno. Normalisasi alur sungai 38 km. Master Plan 1997 pengendalian banjir. DAS Ciletuh. Sungai-sungai tersebut bermuara di Samudera Indonesia di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Cisadea . Jakarta DKI Jakarta Kab. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. DAS Cipondok. Bekasi LOKASI Cengkareng MANFAAT & PENJELASAN pencegahan banjir dan meningkatkan urban drainage.

Cibareno dan Sawarna Cikamayapan.4 Wilayah Sungai Citarum Sungai Citarum berhulu dari mata air Gunung Wayang. yaitu: Kota Bandung.Cisokan.800 ha 4-14 2 Sungai mengairi sawah seluas 2.000 ha 4. Cikatomas. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Citarum diuraikan pada Tabel 4. Kabupaten Karawang.3. Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Bekasi. S. Wilayah sungai Citarum meliputi 9 wilayah administrative.1. Kabupaten Cianjur.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. 1 KEGIATAN Bendung Cibareno Bendung Cihara Sungai LOKASI Pasir Bungur. Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Karawang. Kabupaten Bandung. Cikarang. dengan panjang sungai mencapai 315 Km DAS yang termasuk didalam Satuan Wilayah Sungai Citarum adalah : DAS Citarum. Kota Cimahi. 3 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Cisadea-Cikuningan NO. Mekarsari dan Karang Kamulyan MANFAAT & PENJELASAN mengairi sawah seluas 2. DAS Cipunagara.Cisangkuy. DAS Ciasem. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Sumedang. dan memiliki tiga anak sungai utama yaitu S.410. DAS Cilamaya. DAS Pagadungan.87 Km². Ciparahu. Berdasarkan data Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Propinsi Jawa Barat luas wilayah sungai Citarum adalah 11.4. Panjang sungai Citarum sekitar 315 km. Cilograng. dan DAS Kalisewo.Cikapundung dan S. Kabupaten Purwakarta. DAS Cinerang.

Potensi paling baik untuk dikembangkan karena memiliki nilai EIRR lebih tinggi (17. Garut Kadipaten Majalengka Majalengka Kuningan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Nilai ekonomi proyek IRR 7.004 jiwa.102. pengairan irigasi seluas 18. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air rumah tangga.4 juta m3.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.835 jiwa.07% pengairan irigasi seluas 9. pengairan irigasi seluas 12.126 jiwa. Garut Kab.000 Ha lahan irigasi.148 ha.000 MWh. potensi listrik sebesar 1. Volume tampungan sebesar 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4.400 MWh dan penyediaan air baku untuk 79.960 ha.683 jiwa. potensi listrik 6.639. Nilai ekonomi proyek IRR 2. Bandung Kab. nilai ekonomi proyek IRR 6. Volume tampungan sebesar 50 juta m3.280 ha. potensi listrik sebesar 2. Bandung Kab. maka Waduk Kadumalik dengan EL + 294 dapat menjadi lternative cadangan utama Potensi listrik sebesar 86. Nilai ekonomi proyek IRR 12% 22 23 24 25 26 Waduk Cipanas Waduk Ujungjaya Waduk Kadumalik Waduk Pasirkuda Waduk Ciniru Kab. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung pengairan irigasi seluas 68.872 MWh dan penyediaan air baku untuk 22. 4 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citarum NO.67% Mengairi 20. Garut mengairi sawah mengairi sawah mencukupi kebutuhan air rumah tangga. Volume tampungan sebesar 71 juta m3. Volume tampungan sebesar 395 juta m3.63% pengairan irigasi seluas 5.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5. 1 2 3 4 5 6 KEGIATAN Waduk Naragong Waduk Nameng Waduk Pasiranji Waduk Pangkalan Peninggian Dam Cirata Peningkatan Kanal Tarum Barat atau Pembangunan Kanal Tarum Jaya Waduk Talagaherang Waduk Maya Waduk Bodas Dam Sungai Cilame Dam Sungai Cipunagara Waduk Cipunagara dan bendungan pengatur di Sadawarna Waduk Cibeber Waduk Kandung Pengembangan Sungai Cisangkuy Waduk sungai Cikapundung Waduk Sukawana Sudetan sungai Cibeureum Waduk Bojong Jambu Waduk Jatigede Waduk Cipasang LOKASI Anak Sungai Cileungsi (DAS Bekasi) Sungai Cibeet Cipamingkis Sungai Cibeet Dam Cirata Karawang – Bekasi – DKI Jakarta Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur MANFAAT & PENJELASAN penyedia air baku ke daerah Bogor dengan menggunakan pompa penyedia air untuk areal tambak menampung air dari Sungai Cipamingkis atau dari saluran pembawa penyedia air utama untuk daerah hilir Kanal Tarum Barat secara gravitasi Penyediaan air baku dan tenaga listrik memindahkan air dari wilayah sungai Citarum ke Jakarta 4-15 7 8 9 10 11 12 mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Sungai Cisangkuy Sungai Cikapundung Cimahi Kab.9 GWh dan potensi air baku 915 ha. Jika pembuatan Waduk Jatigede di tunda.65 %).

Normalisasi sungai ± 10 km. Cimande Pekerjaan Konstruksi S.145 ha dan potensi listrik 17. Subang Rehabilitasi Irigasi Kab. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .017 ha.004 jiwa. pengairan irigasi seluas 4.7 GWh dan potensi air baku 1. Indramayu 49 50 51 52 Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.355 ha. memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu-Cirebon (± 4.40 GWh dan potensi air baku 915 ha. potensi listrik 0.16% pengairan irigasi seluas 9. pengairan irigasi seluas 600 ha.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.275 ha dan potensi air baku 828 ha. Citarik Hulu Pekerjaan Penyempurnaan Flood Warning System Peningkatan Kapasitas Sungai Pekerjaan Konstruksi S. pengairan irigasi seluas 2. potensi listrik 1. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. pengairan irigasi seluas 8. potensi listrik 3.173 ha. Sampai dengan Jalan Raya Bandung-Tasik ± 5 km.530 ha. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Penyediaan irigasi seluas 19. Subang Kab. Indramayu S. Karawang Kab. potensi listrik 5.439 ha. Citarik Hulu Pekerjaan Konstruksi S. 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 KEGIATAN Waduk Cimulya Waduk Gunungkarung Waduk Manenteng Waduk Pecang Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk Seuseupan Waduk Cihirup Waduk Mangit Waduk Ciwaru Waduk Cihowe Waduk Dukuh Badag Waduk Cileuweung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Long Storage Indramayu Pengembangan 6 Embung Rehabilitasi Irigasi Kab. pengairan irigasi seluas 4.2 GWh dan potensi air baku 444 ha.439 ha.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10.275 ha.982 ha. potensi listrik 8. pengairan irigasi seluas 8.3 GWh dan potensi air baku 828 ha. Nilai ekonomi proyek IRR sebesar 22.20 GWh. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. pengairan irigasi seluas 12.210 ha.405 ha. Penyediaan irigasi seluas 12.6 GWh dan potensi air baku 298 ha.145 ha. potensi listrik 11. pengairan irigasi seluas 8.4 GWh dan potensi air baku 444 ha. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.275 ha. potensi listrik 0. Nilai ekonomi proyek IRR 12.1 GWh dan potensi air baku 60 ha.153 jiwa. pemenuhan kebutuhan air baku dan keperluan irigasi dan perikanan tambak mendukung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Penyediaan irigasi seluas 6. pengendalian banjir dan pengamanan pantai 4-16 41 42 43 44 45 46 47 48 Indramayu Cirebon Kab. Bekasi Kab. potensi listrik 10. Penyediaan irigasi seluas 24. pengairan irigasi seluas 9. Karawang Rehabilitasi Irigasi Kab. Normalisasi sungai ± 5 km. Peningkatan Kapasitas System Sungai Citarum Hulu Q5 menjadi Q20.70 GWh dan potensi air baku.56 %.468 Ha sawah dan ± 750 Ha tambak). Normalisasi sungai ± 5 km. pengairan irigasi seluas 8. Bekasi Rehabilitasi Irigasi Kab. Volume tampungan sebesar 35 juta m3. Cikeruh LOKASI Kuningan Kuningan Kuningan Kuningan Garut Garut Cirebon Sumedang Kuningan Kuningan Cirebon Cirebon Cirebon Cirebon MANFAAT & PENJELASAN pengairan irigasi seluas 9. potensi listrik 1.7 GWh dan potensi air baku.000 ha.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. pengairan irigasi seluas 10.

36 juta m3 Volume tampungan : 0.145 ha.Jamblang Waduk Cipasang Waduk Cihowe Kuningan Majalengka Indramayu Cirebon Indramayu Kuningan Cirebon Garut Cirebon LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . volume tampungan 2. Luas wilayah WS Cimanuk – Cisanggarung adalah 6932.439 ha.1 GWh dan air baku 60 ha. volume tampungan sebesar 395 juta m3. volume tampungan 1.3. 5 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Cimanuk-Cisanggarung NO. Irigasi seluas 20.3 jt m3. DAS Pangkalan. potensi listrik 0. Irigasi seluas 600 ha. DAS yang termasuk kedalam WS CimanukCisanggarung adalah DAS Cimanuk. dari mata air yang berasal dari G. DAS Cimanggung. Volume tampungan sebesar 395 jiwa. meliputi 7 wilayah administrative.000 ha.2 GWh dan potensi air baku 444 ha.Guntur dan G. 1 KEGIATAN Waduk Jatigede LOKASI Sumedang MANFAAT & PENJELASAN Irigasi seluas 90. Harga tampungan per m3 rendah (Rp 650/m3) Volume tampungan netto 796.468 ha.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. jika Waduk Jatigede ditunda. DAS Ciwaringin. G.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.7 jt m3.1 juta m3 Irigasi seluas 4. potensi listrik 0.000 ha. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Cimanuk-Cisanggarung diuraikan pada Tabel 4.Cirebon ( sawah 4.1. Irigasi seluas 500 ha dan penyediaan air baku 300 kk Pemenuhan kebutuhan air irigasi dan perikanan tambak Volume tampungan : 0. DAS Cisanggarung. DAS Cilalanang. Irigasi seluas 18. potensi listrik 4. Kabupaten Majalengka. maka Waduk Cilutung dengan El + 294 dapat menjadi alternatif cadangan utama Irigasi seluas 12. Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon. DAS Cipanas. DAS Bangkaderes.27 juta m3 Irigasi seluas 9. Kabupaten Sumedang.960 ha.126 jiwa. 4-17 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waduk Cipanundan Waduk Cilutung Waduk Cipanas Waduk Sarwadadi Long Storage Indramayu Waduk Bojong Waduk Brahim Waduk Cimulya Long Storage K. Memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu .5. Kuista .Cakrabuana dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon.5 Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung Sungai Cimanuk berhulu di wilayah administratif Kabupaten Garut . potensi listrik terpasang187 MW dan penyediaan air baku untuk 22. Kabupaten Indramayu.004 jiwa.Malabar. tambak 750 ha ).76 Km². G.683 jiwa. dan DAS Kali Jurang Jero. Kabupaten Kuningan. potensi listrik terpasang 110 MW dan penyediaan air baku untuk 79. Tabel 4.Mandalawangi.5 GWh dan potensi air baku 915 ha dengan volume tampungan sebesar 35 juta m3. yaitu: Kabupaten Garut.

sungaisungai tersebut pada akhirnya bermuara ke Samudera Indonesia di wilayah Kabupaten Ciamis. DAS Ciwulan. sekitar 7. 4-18 4. Irigasi seluas 8. DAS Cipatujah.4 GWh dan potensi air baku 444 ha.439 ha potensi listrik 3. DAS Cijulang.7 GWh dan potensi air baku 1017 ha dengan volume tampungan 69 juta m3. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Citanduy-Ciwulan diuraikan pada Tabel 4.275 ha. Irigasi seluas 12. dan Kabupaten Ciamis.835 jiwa dengan volume tampungan 71 juta m3. DAS Cikondang.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10. Karung Waduk Maneungteung Waduk Pecang Waduk Seuseupan Waduk Masigit Waduk Ciwaru Waduk Dukuh Badag LOKASI Kuningan Sumedang Majalengka Garut Garut Kuningan Kuningan Kuningan Cirebon Kuningan Kuningan Kuningan MANFAAT & PENJELASAN Irigasi seluas 8. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Citanduy-Ciwulan adalah : DAS Citanduy. DAS Cimedang. Irigasi seluas 2.3. 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 KEGIATAN Waduk Cileuweung Waduk Ujungjaya Waduk Pasirkuda Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk G.982 ha potensi listrik 1. volume tampungan 32 jt m3.6. Irigasi seluas 8.Luas wilayah WS Citanduy–Ciwulan adalah Banjar. Galunggung dan G.4 juta m3 . Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut. Kota LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .000 ha potensi listrik 11. potensi listrik 1. Potensi listrik sebesar 86. potensi listrik 8. Irigasi seluas 4. Kabupaten Tasikmalaya. volume tampungan 12 jt m3. Kota Tasikmalaya.173 ha potensi listrik 10.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Irigasi seluas 8.275 ha dan potensi air baku 828 ha. Irigasi seluas 9. Volume tampungan 53 juta m3. Irigasi seluas 9.000 MWh dengan volume tampungan 2. volume tampungan 50 juta m3.7 GWh dan air baku 828 ha. volume tampungan 86 juta m3. Irigasi seluas 10. Irigasi seluas 5.20 GWh.145 ha dan potensi listrik 17.996 Km² dan meliputi wilayah administratif Kabupaten Garut. Sawal.3 GWh dan air baku 828 ha.70 GWh dan potensi air baku 915 ha. DAS Cisanggiri dan DAS Cilaki.275 ha.000 ha dan penyediaan air baku 175 juta m3. volume tampungan 20 jt m3.6 Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan terdiri beberapa sungai yang berhulu terutama dari mata air yang berasal dari G.6 GWh dan potensi air baku 298 ha.1. volume tampungan 78 jt m3.153 jiwa .

20 lokasi Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Memperlancar aliran sungai Citanduy menuju ke laut lepas Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Cibeureum. Pekalongan dan anak-anak sungainya Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Sidareja Cihaur Mengembalikan dan meningkatkan kapasitas bangunan klep fungsi dan Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Ciseel. 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. Plumpatan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. Kab. Cilacap Kota Banjar. Jagadenda. Ciputrahaji. Tasikmalaya. Tasikmalaya. 6 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citanduy-Ciwulan NO. 1 2 3 KEGIATAN LOKASI MANFAAT & PENJELASAN Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan 4-19 Penyusunan pola Wilayah sungai Citanduy pengelolaan SDA Wilayah Ciwulan (Propinsi Jabar & Sungai Citanduy Ciwulan Jateng) Rencana induk (Master Wilayah sungai Citanduy Plan) pengelolaan SDA Ciwulan (Propinsi Jabar & WS Citanduy Ciwulan Jateng) Lower Citanduy Flood Management: Pengerukan Plawangan Plawangan . 10 lokasi Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis 4 5 Kabupaten Ciamis. Citalahab dan Cikaso Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Mengembalikan dan meningkatkan fungsi bangunan Klep Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengamankan daerah permukiman. Kabupaten Garut Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Kabupaten Cilacap. pertanian dan prasarana umum. Cimeneng. Cikonde. Kawungatan.Segara Anakan (Kabupaten Cilacap & Ciamis) Normalisasi sungai-sungai Kabupaten Cilacap DAS Segara Anakan Normalisasi sistem drainasi Daerah Irigasi Sidareja Cihaur dan sekitarnya Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. Kabupaten Tasikmalaya. Ciamis dan Garut Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan c Normalisasi sungai-sungai DAS Citanduy Hilir Normalisasi sistem drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. Ciamis dan Garut Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan lokasi chekdam 15 Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis.

luas arealnya 3.000 ha. tinggi mercu bendung 100 m. Dapat menimbulkan dampak sosial ekonomi rakyat. Area (ha) : 1. Tampung total 14 juta m3. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. Tinggi mercu bendung 7 m. Tampungan Total (juta m3) : 270 . dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. Elevasi puncak terhadap MSL 180 m. perkotaan dan industri dan tenaga listrik sebesar 50 lt/det. panjang bendung 180 m. perkotaan dan Industri serta irigasi. perkotaan dan industri serta irigasi.229 ha dan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan. air minum kota sidareja dan pengendalian banjir Mengamankan daerah permukiman dan prasarana umum/obyek wisata Mengamankan daerah permukiman. Potensi listrik yang dihasilkan kecil. dan prasarana umum/TPI/LAPAN/objek wisata Mengamankan daerah permukiman. luas areal 440 ha. Tampungan total 485 juta m3 dan tampungan aktif 220 juta m3. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. perkotaan dan industri serta irigasi Potensi listrik yang dihasilkan kecil. Elevasi puncak MSL : 55 . perkotaan dan industri Tasikmalaya 800 ltr/det. dan prasarana umum Penanggulangan sedimentasi di Segara nakan dari sungai Citanduy. Meskipun potensi listrik yang dihasilkan kecil. luas areal 440 ha. Tinggi Mercu Bendung : 33 . Tinggi mercu bendung 60 m. tinggi mercu bendung 80 m. Elevasi terhadap MSL 180 m. Mengalihkan muara sungai Citanduy langsung ke Laut (teluk Nusaware) Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.050 ha. Irigasi 3. Tampungan total 150 juta m3 dan tampungan aktif 18 juta m3 Meningkatkan kebutuhan air baku dan pengendali banjir serta sedimentasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Tampungan aktif (juta m3) : 154 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.08 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Tampungan total 180 juta m3 dan tampungan aktif 78 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Tinggi mercu bendung 28 m. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Diharapkan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan Elevasi puncak terhadap MSL 265 m. bak tampung 3 m dan bahan tubuh bendung adalah urugan tanah dengan inti clay tampungan aktif 27. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 48 M. panjang 40 m. Tampungan total 120 juta m3 dan tampungan aktif 55 juta m3. dan prasarana umum Mengamankan daerah permukiman. perkotaan dan industri serta irigasi. luas areal 470 ha. luas arealnya 4-20 Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Tasikmalaya Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Garut Sungai Citanduy Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap 8 9 Sudetan Citanduy Waduk Matenggang 10 Waduk Pasirangin Kabupaten Tasikmalaya 11 Waduk Binangun I Kabupaten Ciamis 12 13 Waduk Binangun II Waduk Ciamis / Leuwi Keris Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis 14 Waduk Cikembang Kabupaten Ciamis 15 Waduk Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya 16 Waduk Banjar Kabupaten Banjar LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . tinggi mercu bendung 70 m. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 80 m. 6 7 KEGIATAN Rehabilitasi Bendung Manganti Tahap II Pengamanan Pantai Pantai Pangandaran 3 km Pantai Bojongsalawe 3 km Pantai Cilaut Eureun 2 km Pantai Ranca Buaya 1 km Pantai Bagolo 1 km Pantai Cipatujah 2 km LOKASI Kabupaten Ciamis MANFAAT & PENJELASAN Penyediaan air Irigasi 27. Dapat menimbulkan dapak sosial ekonomi rakyat.330 .

untuk mereduksi daerah rawan banjir seluas 1.7 Wilayah Sungai Pemali-Comal Wilayah Sungai Pemali-Comal meliputi wilayah administratif kabupaten / kota sbb : Kabupaten Brebes.35 lt/dt.482 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI ± 867. Keruh Kabupaten Pemalang hulu sungai K.000 ha). analisa kelayakan ekonomi menunjukkan nilai EIRR sebesar 17. Pemali Kabupaten Brebes hulu K. Peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 7.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. DAS Comal. pembangunan/perbaikan tanggul.1.9%.620 ha. Kabupaten Tegal. Kabupaten Batang. Kota Pekalongan. Babakan dan 6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . KEGIATAN LOKASI MANFAAT & PENJELASAN 1.300 lt/dt. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Pemali-Comal terdiri dari 6(enam) Daerah Aliran Sungai(DAS).717 Ha. tinggi bendung 40 m. Penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 965. semi teknis dan sederhana) seluas 38.6% pengendalian banjir (± 5.905 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 8. Tabel 4. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Pemali-Comal diuraikan pada Tabel 4.. Kota Tegal.93 juta m3. 4-21 4. DAS Cacaban. Kabupaten Pemalang.770 Ha. Genteng dan K. potensi waduk 150 juta m3. Selain itu untuk penyediaan air baku dengan suplai 2. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. 1 KEGIATAN Waduk Kawung Waduk Ki Sebayu Waduk Sipring Waduk Krandegan Bantar LOKASI hulu K. Tampungan total 460 juta m3 dan tampungan aktif 250 juta m3. Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Batang. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 27.4 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 26. DAS Kupang dan DAS Lampir. DAS Rambut.000 ha). 2 3 4 Gede 5 Waduk Karanganyar Pengendalian Banjir Sungai Tanjung. volume tampungan 45. Kabupaten Pekalongan. Informasi kelayakan proyek tidak tersedia. penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 2. volume tampungan 30 juta m3.534 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI.3. Gung Kabupaten Tegal hulu sungai K.7.730 ha. Nilai EIRR 12. yaitu : DAS Pemali.718 Ha. dengan tinggi bendung 95 m. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi (teknis. Sengkarang Kabupaten Pekalongan desa Karanganyar Kabupaten Pemalang Sungai Tanjung MANFAAT & PENJELASAN pengendalian banjir (± 4. 7 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pemali-Comal NO.

perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. dan Kabupaten Purworejo.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.010 ha dan untuk mensupli waduk Cacaban dengan luas irigasi 1. Kabupaten Banjarnegara.Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. Kabupaten Kebumen. 822. 4. Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Purworejo.1% Pembangunan/perbaikan tanggul. Meningkatkan intensitas tanam pada daerah irigasi Cipero seluas 8. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. yang pada akhirnya wilayah Kabupaten Banyumas. pembangunan jembatan kereta api baru 1 buah.2 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. normalisasi alur sungai 7. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.1%.130 ha Pelindung tebing pasangan batu kali 5. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.699. 20. pembangunan inlet drainase 11 buah. Wilayah Sungai SerayuBogowonto meliputi wilayah administratif Kabupaten Cilacap.5% Pembangunan/perbaikan tanggul. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12. pembangunan/perbaikan tanggul. Kabupaten Wonosobo. pembangunan bangunan pengukur debit sungai 1 buah. Kabupaten Purbalingga. dengan nilai EIRR adalah sebesar 42. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Usulan baru dan belum pernah dilakukan studi.352. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12.3.529 ha. Kabupaten Banyumas. diharapkan dapat mereduksi daerah rawan banjir seluas 6. dengan nilai EIRR adalah sebesar 15.667 m.3 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998.1. Jatinegara Jateng pembangunan/perbaikan tanggul. 287. 10. dengan nilai EIRR adalah sebesar 26.9% Pembangunan/perbaikan tanggul. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. pembangunan jalan dan jembatan baru.8 Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto terdiri beberapa bermuara ke Samudera Indonesia di sungai yang berhulu terutama dari mata air yang berasal dari gunung Selamet. KEGIATAN Kabuyutan LOKASI MANFAAT & PENJELASAN 4-22 7 8 Pengendalian Banjir Sungai Sragi Pengendalian Banjir Sungai Kupang Sungai Sragi Sungai Kupang 9 Pengendalian Banjir Sungai Kluwut Pengendalian Banjir Sungai Sambong Kabupaten Brebes 10 kabupaten Batang dan kabupaten Pekalongan 11 Pengendalian Banjir Sungai Comal kabupaten Pemalang 12 Pengendalian Banjir Sungai Waluh Sungai Waluh 13 Pengendalian Banjir Sungai Rambut Waduk Jatinegara Sungai Rambut 14 Kec.1 km.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.4% Pembangunan/perbaikan tanggul. 231 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998.

persawahan transportasi. Kab.Kebumen DAS Tipar dan Ijo.Bogowonto dan S. Kab.Purworejo DAS Bogowonto. persawahan dan 4 5 6 . DAS Pekacangan. Sub-DAS Tulis. Sub-DAS Sapi. Cokroyasan. Sub-DAS Merawu dan DAS Padegolan. DAS Bogowonto. Telomoyo dan Tipar. Kab. MANFAAT & PENJELASAN Pengamanan pemukiman dan persawahan Target 30km Pengamanan pemukiman . DAS Wawar.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai.20 lokasi kritis dan 4-23 2 3 Mengatasi adanya halangan sungai yang dapat mengakibatkan banjir dan memperlancar transportasi antar pedesaan di 10 lokasi Mengatasi adanya kejadian banjir melebihi rencana. Sub-DAS Ciseel. Serayu. Peninggian jembatan melintang sungai-sungai di DAS Telomoyo Pembangunan pelimpah banjir DAS Telomoyo Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Rehabilitasi Jembatan KA melintang sungai di 7 lokasi. Kab. DAS Telomoyo. Kab. dari bahaya banjir. yang termasuk kedalam WS Serayu-Bogowonto adalah Sub-DAS Klawing.Cokroyasan Operasi dan Pemeliharaan Sungai LOKASI Anak S. Purworejo. sehingga dapat mengurangi dampak yang lebih buruk Pengamanan pemukiman transportasi.Klawing lanjutan Perkuatan tebing lokasi kritis dan penanggulangan banjir nopember 2004.Purbalingga dan Banyumas S Telomoyo. Normalisasi sungai dan bangunan pengatur air untuk mengatasi banjir daerah pemukiman dan budi daya perikanan. persawahan dan 7 Pengamanan jalur transportasi KA Yogya -Jakarta. Kebumen. Tabel 4.Lukulo & anak-anak sungainya. 8 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Serayu-Bogowonto NO.Kebumen S Telomoyo & anak-anak sungainya. DAS Serayu Hilir. Sub-DAS Begaluh. DAS Bengawan. Kebumen dan Purworejo DAS Wawar. Banyumas dan Cilacap DAS Bogowonto dan DAS Cokroyasan Kab.8.Cilacap. Target 15 . Sub-DAS Tajum. Kab. Kab. Mempertahankan kapasitas dan fungsi prasarana pengendalian banjir 8 9 10 Pembangunan bangunan Menahan pengaruh akibat intrusi air laut di 5 lokasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kab. DAS Ijo. Normalisasi Kali Pantai antara S. Wawar dan Telomoyo. 1 KEGIATAN Pengedalian banjir S. Banjarnegara dan Purbalingga. Banyumas dan Kebumen. Cokroyasan dan Bogowonto. Muara-muara DAS Bogowonto. Target 16 km Pengamanan pemukiman transportasi.Serayu. Target 6 km . Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Serayu-Bogowonto diuraikan pada Tabel 4. Kebumen. S.Kebumen S Telomoyo & anak-anak sungainya. Sub-DAS Serayu Hulu.

Wawar dan Telomoyo. KEGIATAN penahan intrusi air laut LOKASI Telomoyo.Telomoyo hilir 13 DAS Bogowonto.Bogowonto Pembangunan Waduk Wanadadi di S. Wonosobo. Ijo dan Tipar MANFAAT & PENJELASAN 4-24 11 Pembangunan bangunan pemanfaatan daerah genangan banjir Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) dan Pengerukan hilir sungai Jladri Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) DAS Telomoyo.Banjarnegara Mengurangi sedimentasi waduk dan pemanfaatan untuk air baku. Air Baku dan PLTA) 22 Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) 23 Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Wawar dan Bogowonto. Cilacap. Wonosobo. Wawar dan Ijo DAS Telomoyo Mendaya gunakan lahan depressi 12 Mengurangi sedimentasi di S. Lukulo. Banyumas. Kab. Kebumen dan Purworejo.Gintung Konservasi lahan dan penelitian 20 21 Multi purpose ( Irigasi. Kebumen dan Purworejo (200 lokasi) Kab. Kab. Purbalingga. Penyediaan air baku pedesaan dari mata air & sumber air Mengatasi degradasi sungai. S.kebumen Mengurangi sedimentasi sungai kota Kebumen dan 19 Penataan kawasan arboretum Pembangunan Waduk Bener Di S.Banyumas DAS Serayu Kab. Telomoyo . Banjarnegara.Kebumen DAS Serayu. Purbalingga. Banyumas. Kab.Pekacangan Pembangunan Waduk Kesegeran di S. Serayu.Banjarnegara DAS Serayu Kab.Jladri. Wawar dan Cokroyasan.Purworejo DAS Serayu Kab. Penyediaan air baku dari bendungan Wadaslintang Pembangunan bangunan konservasi terpadu di hulu sungai Mengatasi kekurangan air pada musim kering 17 18 Mengatasi kekurangan air pedesaan Kab. DAS Serayu. Lukulo. Target 15 lokasi 14 Pembangunan Groundsill (Bangunan Penstabil dasar sungai). Kebumen dan Purworejo (15 lokasi). Banjarnegara dan Purbalingga. Lukulo dan Bogowonto.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.Trenggulun Pembangunan Waduk Gintung di S. Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi. Banyumas. DAS Serayu. Kebumen dan Purworejo Kab. Purbalingga. Kab. Telomoyo. Banyumas. Kab. Purworejo. Target 10 lokasi 15 Mengatasi kekurangan air pada musim kering 16 Penyediaan air baku pedesaan dari bangunan konservasi (groundsill). DAS Bogowonto.Jatinegara dan S. Cilacap. Banjarnegara. Kebumen.

Nilai EIRR 13.020 l/detik dan konservasi air tanah. Grobogan 4 5 6 7 8 Jragung Barrage + Tunnel Waduk Dolok Waduk Bandung Harjo Waduk Ngemplak Waduk Coyo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Brangsong dan Kendal Semarang dan Demak Semarang dan Demak Kab. Tabel 4. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Jratun-Seluna diuraikan pada Tabel 4. DAS Garang. Grobogan Kab. Kota Salatiga.9 Wilayah Sungai Jratun-Seluna Wilayah Sungai Jratun-Seluna meliputi wilayah administratif Kabupaten Kendal. Nilai EIRR 18. Kabupaten Pati dan Kabupaten Jepara.1. 1 KEGIATAN Waduk Jatibarang LOKASI Kab. Nilai EIRR 16.DAS Lusi Hulu. DAS Tuntang.8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. 9 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Jratun-Seluna NO. DAS Glagah.1% (layak ) Pengembangan suplai untuk RKI 1. Kota Semarang. DAS Juwana. DAS Gandu. DAS Pandansari.Kemit LOKASI DAS Telomoyo Kab. Kabupaten Kudus.9. Sub.6% (layak) pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Jratun-Seluna yaitu : Sub DAS Serang Hilar. DAS Randu Gunting. Nilai EIRR 9.5 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1.DAS Serang Hulu.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. DAS Kedung Tanu.Kebumen MANFAAT & PENJELASAN Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) 4-25 4.5% (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1. Semarang MANFAAT & PENJELASAN Pengembangan suplai untuk RKI 920 l/detik dan konservasi air tanah. Kabupaten Semarang.7 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 750 l/detik dan konservasi air tanah. DAS Lasem. DAS Bodri.700 l/detik (direncanakan memberikan 900 l/dt ke Semarang dan 800 l/detik ke Kendal) dan konservasi air tanah. Konstruksi dam Jatibarang dimulai tahun 2002 (kegiatan yang masuk dalam jadwal biaya rendah). DAS Jragung. Nilai EIRR 11. Semarang Kaliwungu. Kabupaten Temanggung. Kabupaten Demak. 24 KEGIATAN Pembangunan Waduk Kemit di S.750 l/detik dan konservasi air tanah. 2 3 Waduk Mundingan Waduk Suren Kedung Kab. dan Sub. Grobogan Kab. Kabupaten Grobogan. Sub-DAS Lusi Tengah.3. Nilai EIRR 14% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Kabupaten Boyolali. nilai EIRR 10.

Nilai EIRR 13. Layak secara ekonomi. nilai EIRR 20. DAS Serang.337 ha. Kota Magelang. nilai EIRR 18.6% Pengendalian banjir seluas 6.650 ha. Blora Kab. Sub-DAS Opak. Demak Kab.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Layak secara ekonomi. Sub-DAS Blongkeng. nilai EIRR 17.DAS Progo Hulu. Sub-DAS Kanci.DAS Tinggal. Sub-DAS Tinalah. nilai EIRR 15.957 ha.10 Wilayah Sungai Progo-Opak-Oyo Wilayah Sungai Progo-Opak-Oyo meliputi wilayah administratif Kabupaten Temanggung.1. Sub-DAS Oyo. Layak secara ekonomi. Layak secara ekonomi. nilai EIRR 15. Demak Kab. Pati MANFAAT & PENJELASAN Nilai EIRR 18. Kabupaten Kulonprogo. dan Sub-DAS Bedog. SubDAS Winango. Kabupaten Magelang. Sub.3.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.13% Pengendalian banjir Pengendalian banjir seluas 21 ha. Nilai EIRR 8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah Pengendalian banjir seluas 590 ha.1% pengendalian banjir seluas 12. Blora Kab. nilai EIRR 24% Pengendalian banjir seluas 1. 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 KEGIATAN Waduk Tirto Embung Kedung Waru Embung Balong Pengendalian Banjir Sungai Blorong Pengendalian Banjir Sungai Garang Drainase Kota Semarang Tenggang + Sringin Drain Dombo-Sayung Floodway Kebon Batur Floodway Pengendalian Banjir Jragung/Tuntang Pengendalian Banjir Serang-WulanJuana LOKASI Kab. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Progo-Opak-Oyo diuraikan pada Tabel 4. Kota Yogyakarta.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Nilai EIRR 22. Layak secara ekonomi.028 ha.8% 4-26 4. Grobogan Kab.10. Sub-DAS Elo. Kendal Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kab.9% pengendalian banjir seluas 10. Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul. Kudus dan Kab. Kabupaten Sleman. DAS Progo.4% pengendalian banjir seluas 13. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Progo-Opak-Oyo yaitu : Sub. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .670 ha. Layak secara ekonomi.

Volume tampungan embung adalah 1. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. Kulon Progo Kab. Tinggi embung adalah 11 m dengan volume tampungan 105.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Kab.75 m dengan volume tampungan 7. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku 73 lt/detik dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Kab.500 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. dengan pembatasan pengambilan air sebesar 2. Kulon Progo Kab. Tinggi embung adalah 13.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Kulon Progo Kab. Tinggi embung adalah 13. Kulon Progo Kab. Kulon Progo Kab.000. Tinggi embung adalah 5 m dengan volume tampungan 250. mengairi irigasi 450 ha dan penyedia air minum 75 lt/detik. Gunung Kidul Kali Progo MANFAAT & PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Kab. Belum tersedia data detail Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir 4-27 Embung Ngalang Embung Kedunggedeng Waduk Tinalah 16 17 18 19 20 21 Waduk Progo Magelang Waduk Elo Hilir Waduk Kaloran Waduk Elo Waduk Sambiroto Waduk Nanggulan I Kali Progo Kali Elo Kaloran Kali Elo Progo Hulu K. dengan tetap memanfaatkan air dari Kali Progo melalui intake Kalibawang. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 KEGIATAN Embung Tangkisan I Embung Tangkisan II Embung Ngroto Embung Kayangan Embung Dawetan Embung Penggung Embung Girinyono Embung Weden Embung Kebonromo Embung Kronggahan Embung Kedungranti Embung Sari Karang LOKASI Kab. Sleman Kab.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Untuk DAS Serang.000 m3 Berpotensi untuk mengendalikan banjir.5 m3/dt penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Serang Sungai Progo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 10 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Progo-Opak-Oyo NO. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.75 m dengan volume tampungan 35.

Fase II dan III Pembangunan check dam dan ground sill Pengembangan Bengawan Jero Bengawan Solo FFWS Long-channel Storage Bengawan Solo Hilir Penyediaan Air PDAM di Wilayah Surakarta LOKASI Wonogiri seluruh WS hilir WS hulu WS Kali Madiun Hulu Sungai Bengawan Solo dan Kali Madiun pengendalian banjir pengendalian banjir penyediaan air baku penyediaan air baku pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir MANFAAT & PENJELASAN LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kota Surakarta. KabupatenBlora. Kabupaten Sukoharjo. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Bengawan solo diuraikan pada Tabel 4. Kabupaten Wonogiri. 4-28 Tabel 4.1. SubDAS Madiun. DAS Pagotan. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Bengawan solo yaitu : DAS Damas. Sub-DAS Lamongan. 11 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Bengawan Solo NO.11. Kabupaten Gunungkidul. Sub-DAS Wate Tengah. Kabupaten Pacitan. Kabupaten Boyolali. Kota Surabaya. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 KEGIATAN Sedimentasi Waduk Wonogiri Penanganan Pengelolaan Kualitas Air Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hilir. Sub-DAS Pepe. Kabupaten Ngawi. Sub-DAS Bitung. Kabupaten Karanganyar. Kabupaten Lamongan. Kabupaten Bojonegoro.3. Kabupaten Gresik.11 Wilayah Sungai Bengawan Solo Wilayah Sungai Bengawan solo meliputi wilayah administratif kabupaten/kota sebagai berikut : Kabupaten Rembang. Kabupaten Klaten. Fase II Perbaikan Sungai Kali Madiun.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Kabupaten Madiun. Fase II Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hulu. Sub-DAS Samin. Kabupaten Sragen. Kabupaten Magetan dan Kabupaten Ponorogo.

1. 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 KEGIATAN Penyediaan Air untuk Sstem Pengembangan PDAM Penyediaan Air untuk Daerah Rembang Solo Vallei Werken 9 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hulu 3 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Kali Madiun 16 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hilir Waduk Irigasi Kedung Bendo Rehabilitasi dan Peningkatan Sistem Irigasi Waduk Serbaguna Bendo Waduk Serbaguna Badegan Waduk Pidekso Rehabilitasi Tlg. Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek. Sub-DAS Konto. Kabupaten Madiun. Kota Mojokerto. SubDAS Berantas Tengah. maka DAS yang termasuk kedalam WS Kali Brantas adaslah Sub-DAS Brangkal. Kabupaten Kediri. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kota Blitar.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Kabupaten Pasuruan. Kabupaten Jombang. Kabupaten Mojokerto. Kabupaten Nganjuk.12 Wilayah Sungai Kali Brantas Wilayah Sungai Kali Brantas meliputi wilayah administratif Kota Surabaya. Kota Malang. DAS Penguluran. Kabupaten Sidoarjo. Kabupaten Malang. Sub-DAS Brantas Hulu. Ngebel Rehabilitasi Waduk dan Pengelolaan DTA Waduk Wonogiri Rehabilitasi dan Pengelolaan Lahan Kritis di 6 Lokasi DTA LOKASI MANFAAT & PENJELASAN penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku konservasi sumber daya air konservasi sumber daya air 4-29 4.3. DAS Panggul. Kota Kediri.

DAS Rejoso. DAS Baru. Data teknis yang direncanakan untuk volume tampungan efektif 147 milyar m3 MANFAAT & PENJELASAN 4-30 4. Sub-DAS Ngrowo Ngasnan. Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi. Sub-DAS Marmoyo. DAS Bedadung.3. DAS Sebani-setail. Kota Probolinggo. Sub-DAS Wadas. 1 2 3 4 5 KEGIATAN Sabo Gunung Kelud Sabo Brantas Hulu dan Sungai Lesti Pengendalian Banjir Sungai Widas Lodoyo Diversion Tunnel Beng Dam LOKASI Kali Konto Brantas Hulu dan Sungai Lesti Sungai Widas Ludoyo mengurangi transport sediment ke reservoir Dam Sengguruh dan Dam Sutami. DAS Bondoyudo. DAS Mayang. DAS Tempuran. DAS Banyuputih. Sebanyak 17 Sabo Dam telah direncanakan untuk daerah hulu DAS Sengguruh Dam. Pengembangan terhadap masalah pengendalian banjir di Sungai Widas sesuai dengan yang direncanakan dalam Master Plan tahun 1985 Pencegahan terhadap bencana yang dapat ditimbulkan oleh Gunung Kelud Irigasi. Kabupaten Situbondo. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. DAS Jatiroto. 12 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Kali Brantas NO. DAS Mujur. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Pekalen-Sampean diuraikan pada Tabel 4. Kabupaten Lumajang.13 Wilayah Sungai Pekalen-Sampean Wilayah Sungai Pekalen-Sampean meliputi wilayah administratif Kota Pasuruan.12.1. DAS Pekalen.13. DAS yang termasuk kedalam WS Pekalen-Sampean adalah DAS Sampean. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Kali Brantas diuraikan pada Tabel 4. DASA Deluwang. DAS Kramat. Kabupaten Bondowoso. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . water supply dan hydropower.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA DAS Lorog. dan DAS Sumber Manjing. Kabupaten Probolinggo. Kabupaten Pasuruan. Tabel 4. dan Sub-DAS Lekso. Sub-DAS Brantas Hilar. DAS Tangkail. DAS Bajulmati.

Lesti MANFAAT & PENJELASAN Irigasi. DAS Sodung. sehingga harus ada solusi sumber daya air bila Madura hendak difungsikan pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 100 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 50 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 Pembangunan Waduk Nipah Pembangunan Waduk Blega Pembangunan Waduk Samiran Pembangunan Wa duk Tambak Agung LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .14 Wilayah Sungai Madura Wilayah Sungai Madura meliputi wilayah administratif Kabupaten Bangkalan. Kabupaten Sampang. DAS Pasengsengat.1. Tabel 4. DAS Budur.14. DAS Jambangan. 13 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pekalen-Sampean NO. Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep. 1 2 3 4 5 KEGIATAN Penyediaan baku industri air LOKASI seluruh WS Pamekasan Bangkalan Pamekasan Sumenep MANFAAT&PENJELASAN sumber daya air yang terbatas berupa sungai-sungai kecil. DAS Brambang. DAS Blega. DAS Saroka.3. 14 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Madura NO. DAS Temburu. dan DAS Kangkah. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Madura diuraikan pada Tabel 4. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. DAS Kemuning. 1 KEGIATAN Genteng I Dam LOKASI Sungai Genteng. Data teknis yang direncanakan adalah untuk volume tampungan efektifnya sebesar 54 milyar m3 4-31 4. DAS yang termasuk kedalam WS Madura adalah DAS Patean. water supply dan hydropower dan untuk sediment control. DAS Samajid.

7 tahun 2004. dan belum banyak melibatkan pihak pemangku kepentingan (stakeholders) bidang SDA dalam penyusunannya. sebaiknya usulan terdiri dari lebih dari satu opsi yang merupakan alternatif-alternatif sehingga dapat dipilih alternatif yang paling layak untuk memenuhi kebutuhan prasarana SDA dengan investasi yang paling kecil atau hanya bersifat merehabilitasi prasarana yang sudah ada atau bahkan yang bersifat pendekatan non-fisik/non-struktural. Setelah Pola Pengelolaan diselesaikan semua rencana induk pengelolaan wilayah sungai yang telah ada perlu disesuaikan dengan Pola Pengelolaan tersebut.1) tidak satupun yang secara lengkap mengikuti urutan dan proses pembangunan infrastruktur Semua SDA dalam suatu kerangka pengelolaan Wilayah Sungai induk pengelolaan wilayah sungai yang mendasari sebagaimana diatur dalam UU Sumber Daya Air No. dan Rencana Induk yang telah disesuaikan tersebut perlu mendapat persetujuan dari Dewan SDA yang terkait. ekonomi dan sosial-lingkungan. Hal ini berarti pembuatan rencana induk tidak diawali dengan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai. Sehubungan dengan itu perlu dilakukan penyesuaian terhadap rencana induk pengelolaan WS. Disamping itu infrastruktur yang diusulkan masih bersifat “satu” pilhan.3. yaitu teknis. karena rencana pengembangan SDA Wilayah Sungai tersebut dibuat sebelum diterbitkannya UU No. Langkah pertama dalam penyesuaian adalah membuat Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai yang dibuat berdasarkan prosedur dan proses sebagaimana diatur oleh UU SDA No. 7/2004. Disamping itu proses penyesuaian Rencana Induk juga harus melibatkan pihak pemangku kepentingan SDA di wilayah sungai tersebut. Alasan lain perlunya penyesuaian terhadap rencana induk yang adalah bahwa belum seluruh infrastruktur SDA yang diusulkan disetiap wilayah sungai telah lolos Studi kelayakan yang mencakup 3 (tiga) aspek analisis.2 Pengaturan Induk Wilayah Sungai Baru 4-32 Dari daftar usulan proyek-proyek infrastruktur sumber daya air pada wilayahwilayah sungai di P.3. 7 tahun 2004. Oleh sebab itu perlu dilaksanakan “quick assessment” untuk mengidentifikasi alternatif-alternatif prasarana yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Jawa yang diuraikan pada bagian terdahulu (Sub Bab 4.

. 4-33 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa Gambar 4. 2 Rencana Wilayah Sungai baru.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA diusulkan pada setiap lokasi yang memerlukan intervensi serta mengkaji kelayakan alternatif-alternatif tadi dari aspek teknis. ekonomi serta sosial dan lingkungan.

15 Penyusunan Kembali Alternatif Intervensi Struktural menurut Wilayah Sungai yang Baru KODE 02.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sejalan dengan itu. Oleh karena itu. Gambar 4.A2 02.B WILAYAH SUNGAI Ciliman– Cibungur KEGIATAN Waduk Cimalur LOKASI Desa Cibatur Keusik Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak Cikamayapan. Berikut disajikan tabel yang dibuat untuk mengelompokkan kembali strategi kebijakan struktural pada masing-masing wilayah sungai sesuai dengan bentuknya yang baru. Cilemer kiri seluas 500 ha. perlu suatu tindakan untuk menyusun kembali (regrouping) kebijakan yang ada pada masing-masing balai penanggungjawab wilayah sungai terdahulu untuk menjadi kebijakan baru mengikuti wilayah sungai yang akan ditetapkan dalam waktu dekat. Mekarsari dan Karang Kamulyan Hulu Sungai Ciliwung MANFAAT&PENJELASAN suplesi air irigasi DI. Ciparahu.000 ha ASAL WS/ PROGRAM WS Ciujung Ciliman Cisadea – Cikuningan CiliwungCisadane 4-34 02.B Cibaliung Cisawarna Kepulauan Seribu CidanauCiujungCidurianCisadaneCiliwungCitarum Bendung Karet Cibungur Bendung dan Bendung Karet Ciseukeut Bendung Karet Cikoneng. pemerintah telah menyiapkan suatu rancangan peraturan baru yang menetapkan perubahan susunan wilayah sungai ke dalam suatu komposisi bentuk wilayah yang baru.03. penyedia air baku untuk kecamatan Banjarsari dan sebagai waduk pengendali banjir mengairi sawah seluas 2. Cikarang. Bendung Karet Cisangkuy Bendung Tipe Gergaji di Sungai Cibama Bendung Sungai Cihara Waduk Ciawi 02.x menunjukkan secara spatial bentuk dari wilayah sungai yang baru.A2 Mengurangi debit banjir Sungai Ciliwung di Kota Bogor.04. Tabel 4. Selain itu Waduk Ciawi juga dapat berfungsi sebagai penyedia air untuk Kota Bogor dan DKI Jakarta serta sebagai sumber air untuk penggelontoran Sungai Ciliwung di musim kering LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Perubahan ini secara konsekwen harus ditanggapi dengan perubahan dalam strategi pengelolaan dan kebijakan untuk masing-masing wilayah sungai.01.02.

Master Plan 1997 Pengendalian banjir. serta konstruksi Angke Floodway Pengendalian banjir. Bekasi Waduk Karian Kab. Tangerang Kota/Kab. Cikarang. Cipinang. Sunter.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Genteng Waduk Parung Badak Waduk Sodong Salak Contour Canal Ciliwung Floodway Tunnel Peningkatan Kanal Tarum Barat Pengembangan Cengkareng Floodway System LOKASI Sungai Cisadane tengah Sungai Cisadane hilir Sungai Cikaniki sekeliling Gunung Salak Kota Bogor Karawang . perkotaan dan industri untuk wilayah Serang dan Jabotabek dengan menggunakan saluran KarianTanjung-Serpong (KTS). Normalisasi alur sungai 22 km. Buaran. Kali Angke. Cakung Banjir Kanal CBL. Normalisasi alur sungai 22 km. Normalisasi alur sungai 17 km. Master Plan 1997 pengendalian banjir. menambah persediaan air rumah tangga. Normalisasi alur sungai 29 km. perkotaan dan industri untuk kebutuhan Tangerang lewat KSCS mengambil alih fungsi Waduk Karian untuk mensuplai air irigasi ke daerah irigasi Ciujung pemenuhan kebutuhan air baku Jabotabek ASAL WS/ PROGRAM CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane 4-35 Sungai Cidurian Sungai Cimanceuri Sungai Cirarab Sungai Cisadane Cengkareng drain. Banjir. Normalisasi alur sungai 38 km. Normalisasi alur sungai 50 km. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Master Plan 1997 Penyedia air rumah tangga. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Pembuatan Sal. DKI Jakarta DKI Jakarta CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane WS Ciujung Ciliman Kab. Tangerang Kab. Peningkatan fungsi sungai ke hilir dari daerah Angke dan Sungai Pesanggrahan dan Mookervaart Canal. Tangerang Kab. Bekasi Hulu Sungai Ciujung Waduk Cilawang Waduk Pasirkopo Long Storage Sungai Ciujung Waduk Bojongmanik Sungai Ciujung Sungai Ciujung Sungai Cisemeut WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .Bekasi Cengkareng MANFAAT&PENJELASAN penyedia air baku ke daerah Bogor dengan cara gravitasi penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta memenuhi kebutuhan air di Kota dan Kabupaten Bogor mengalihkan debit banjir dari Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane guna pengendalian banjir di DKI Jakarta memenuhi kebutuhan air Jabotabek pencegahan banjir dan meningkatkan urban drainage. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. 2 bh. Normalisasi alur sungai 57 km. Terowongan 1 km. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Tangerang DKI Jakarta Kota Bogor. Normalisasi alur sungai 32 km. Mookervaart Banjir Kanal Barat/ Ciliwung Banjir Kanal Timur.

Bandung Kab. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air rumah tangga.683 jiwa. Bandung Kab.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Tanjung LOKASI Sungai Cidurian MANFAAT&PENJELASAN penyedia air baku untuk daerah Tangerang dan DKI Jakarta dengan menggunakan saluran irigasi Cidurian atau dengan saluran lternative Karian-Tanjung-Serpong (KTS) penyedia air baku ke daerah Bogor dengan menggunakan pompa penyedia air untuk areal tambak menampung air dari Sungai Cipamingkis atau dari saluran pembawa penyedia air utama untuk daerah hilir Kanal Tarum Barat secara gravitasi Penyediaan air baku dan tenaga listrik memindahkan air dari wilayah sungai Citarum ke Jakarta ASAL WS/ PROGRAM WS Ciujung Ciliman 4-36 Bendung Anyer Waduk Naragong Waduk Nameng Waduk Pasiranji Waduk Pangkalan Peninggian Dam Cirata Peningkatan Kanal Tarum Barat atau Pembangunan Kanal Tarum Jaya Waduk Talagaherang Waduk Maya Waduk Bodas Dam Sungai Cilame Dam Sungai Cipunagara Waduk Cipunagara dan bendungan pengatur di Sadawarna Waduk Cibeber Waduk Kandung Pengembangan Sungai Cisangkuy Waduk sungai Cikapundung Waduk Sukawana Sudetan sungai Cibeureum Waduk Bojong Jambu Waduk Jatigede Anak Sungai Cileungsi (DAS Bekasi) Sungai Cibeet Cipamingkis Sungai Cibeet Dam Cirata Karawang – Bekasi – DKI Jakarta WS Ciujung Ciliman Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Sungai Cisangkuy Sungai Cikapundung Cimahi Kab. potensi listrik sebesar 2. Garut mengairi sawah mengairi sawah mencukupi kebutuhan air rumah tangga.102. Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .400 MWh dan penyediaan air baku untuk 79.280 ha. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung pengairan irigasi seluas 68.

4 GWh dan potensi air baku 444 ha. maka Waduk Kadumalik dengan EL + 294 dapat menjadi lternative cadangan utama Potensi listrik sebesar 86.145 ha dan potensi listrik 17.20 GWh.40 GWh dan potensi air baku 915 ha. Nilai ekonomi proyek IRR 12. pengairan irigasi seluas 8.982 ha. Garut Citarum Waduk Ujungjaya Kadipaten Citarum Waduk Kadumalik Majalengka Citarum Waduk Pasirkuda Waduk Ciniru Majalengka Kuningan Citarum Citarum Waduk Cimulya Kuningan Citarum Waduk Gunungkarung Waduk Manenteng Waduk Pecang Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk Seuseupan Waduk Cihirup Waduk Mangit Kuningan Kuningan Kuningan Garut Garut Cirebon Sumedang Kuningan Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .9 GWh dan potensi air baku 915 ha.275 ha dan potensi air baku 828 ha.6 GWh dan potensi air baku 298 ha.000 Ha lahan irigasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Cipasang LOKASI Kab.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5. potensi listrik 5.148 ha. pengairan irigasi seluas 2.145 ha. pengairan irigasi seluas 12. Jika pembuatan Waduk Jatigede di tunda. Nilai ekonomi proyek IRR 2. potensi listrik 3.000 ha.4 juta m3. pengairan irigasi seluas 9.65 %). Garut MANFAAT&PENJELASAN pengairan irigasi seluas 18.639. nilai ekonomi proyek IRR 6. pengairan irigasi seluas 12.2 GWh dan potensi air baku 444 ha.67% Mengairi 20.004 jiwa.439 ha.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. Volume tampungan sebesar 71 juta m3. Volume tampungan sebesar 50 juta m3.07% pengairan irigasi seluas 9.439 ha.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.872 MWh dan penyediaan air baku untuk 22. pengairan irigasi seluas 4.16% pengairan irigasi seluas 9.153 jiwa. potensi listrik 1.000 MWh. Volume tampungan sebesar 395 juta m3.960 ha. Potensi paling baik untuk dikembangkan karena memiliki nilai EIRR lebih tinggi (17.004 jiwa. Nilai ekonomi proyek IRR 7. potensi listrik 0.63% pengairan irigasi seluas 5. potensi listrik 11.835 jiwa. Volume tampungan sebesar 35 juta m3. potensi listrik sebesar 1.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10.70 GWh dan potensi air baku. potensi listrik 6.126 jiwa. Volume tampungan sebesar 2. pengairan irigasi seluas 8. Nilai ekonomi proyek IRR 12% pengairan irigasi seluas 9. ASAL WS/ PROGRAM Citarum 4-37 Waduk Cipanas Kab. pengairan irigasi seluas 4.

Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Penyediaan irigasi seluas 12.800 ha ASAL WS/ PROGRAM Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum 4-38 Long Storage Indramayu Pengembangan 6 Embung Rehabilitasi Irigasi Kab. Cikeruh Bendung Sungai Cibareno Indramayu Cirebon Kab. Citarik Hulu Pekerjaan Konstruksi S.275 ha. Indramayu S.275 ha. Penyediaan irigasi seluas 19. pengendalian banjir dan pengamanan pantai Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.173 ha. Normalisasi sungai ± 10 km. Cilograng. Normalisasi sungai ± 5 km. Bekasi Rehabilitasi Irigasi Kab. Normalisasi sungai ± 5 km.3 GWh dan potensi air baku 828 ha.017 ha.56 %. Cikatomas. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Cibareno dan Sawarna 02. pengairan irigasi seluas 8. pemenuhan kebutuhan air baku dan keperluan irigasi dan perikanan tambak mendukung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Penyediaan irigasi seluas 6. Penyediaan irigasi seluas 24. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Cimande Pekerjaan Konstruksi S. pengairan irigasi seluas 8. Peningkatan Kapasitas System Sungai Citarum Hulu Q5 menjadi Q20.355 ha. Bekasi Kab.530 ha. potensi listrik 1. memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan IndramayuCirebon (± 4. Subang Rehabilitasi Irigasi Kab. Indramayu Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Cisadea Cikuningan Pasir Bungur. Subang Kab.210 ha.468 Ha sawah dan ± 750 Ha tambak).7 GWh dan potensi air baku 1.7 GWh dan potensi air baku. mengairi sawah seluas 2. pengairan irigasi seluas 600 ha. Karawang Rehabilitasi Irigasi Kab. potensi listrik 10. Citarik Hulu Pekerjaan Penyempurnaan Flood Warning System Peningkatan Kapasitas Sungai Pekerjaan Konstruksi S.405 ha.1 GWh dan potensi air baku 60 ha.B Cisadea Cibareno LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . potensi listrik 8. Sampai dengan Jalan Raya Bandung-Tasik ± 5 km.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Ciwaru Waduk Cihowe Waduk Dukuh Badag Waduk Cileuweung Long Storage Kumpul KuistaJamblang LOKASI Kuningan Cirebon Cirebon Cirebon Cirebon MANFAAT&PENJELASAN pengairan irigasi seluas 10.05. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. potensi listrik 0. Karawang Kab. Nilai ekonomi proyek IRR sebesar 22.

pertanian dan prasarana umum. Kabupaten Ciamis dan Garut Kabupaten Cilacap. dan prasarana umum ASAL WS/ PROGRAM Citanduy – Ciwulan Citanduy Ciwulan 4-39 Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tasikmalaya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE 02. Tasikmalaya. Tasikmalaya.B WILAYAH SUNGAI Ciwulan Cilaki KEGIATAN Penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Rencana induk (Master Plan) pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan chekdam 15 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan chekdam 15 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi Pengamanan Pantai Pantai Pangandaran 3 km Pantai Bojongsalawe 3 km Pantai Cilaut Eureun 2 km Pantai Ranca Buaya 1 km Pantai Bagolo 1 km LOKASI Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Kabupaten Ciamis. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Mengamankan daerah permukiman dan prasarana umum/obyek wisata Mengamankan daerah permukiman. Kabupaten Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Tasikmalaya Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis MANFAAT&PENJELASAN Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Mengamankan daerah permukiman. Tasikmalaya.06. dan prasarana umum/TPI/LAPAN/objek wisata Mengamankan daerah permukiman. Cilacap Kota Banjar. Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. Cilacap Kota Banjar. Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. Kabupaten Tasikmalaya. Kabupaten Garut Kabupaten Cilacap.

229 ha dan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan. Dapat menimbulkan dapak sosial ekonomi rakyat. dan prasarana umum Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.A2 Citanduy Penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Citanduy Ciwulan Wilayah sungai Rencana induk Citanduy Ciwulan (Master Plan) (Propinsi Jabar & pengelolaan SDA Jateng) Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Lower Citanduy Flood Management: Pengerukan Plawangan . Jagadenda. tinggi mercu bendung 80 m. perkotaan dan industri Tasikmalaya 800 ltr/det. panjang bendung 180 m. Tampungan total 460 juta m3 dan tampungan aktif 250 juta m3. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Kabupaten Cilacap Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Memperlancar aliran sungai Citanduy menuju ke laut lepas Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Cibeureum. perkotaan dan industri serta irigasi. Tinggi mercu bendung 60 m. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 80 m. Plumpatan. Pekalongan dan anakanak sungainya Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Sidareja Cihaur Mengembalikan dan meningkatkan fungsi dan kapasitas bangunan klep Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Kabupaten Cilacap Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Irigasi 3.620 ha.Segara Plawangan Anakan (Kabupaten Cilacap & Ciamis) Kabupaten Cilacap Normalisasi sungai-sungai DAS Segara Anakan Normalisasi sistem drainasi Daerah Irigasi Sidareja Cihaur dan sekitarnya Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. luas arealnya 1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Pantai Cipatujah 2 km Waduk Pasirangin LOKASI Kabupaten Garut Kabupaten Tasikmalaya MANFAAT&PENJELASAN Mengamankan daerah permukiman.07. Cikonde. luas areal 470 ha. Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan 4-40 Waduk Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya Citanduy Ciwulan Waduk Banjar Kabupaten Banjar Citanduy Ciwulan 02. Kawungatan. Cimeneng. Meskipun potensi listrik yang dihasilkan kecil. Tampungan total 120 juta m3 dan tampungan aktif 55 juta m3. Meningkatkan kebutuhan air baku dan pengendali banjir serta sedimentasi. Tampung total 14 juta m3. Diharapkan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan Elevasi puncak terhadap MSL 265 m.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. Tinggi mercu bendung 7 m.050 ha. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 48 M. 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. panjang 40 m. Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis Sungai Citanduy Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengamankan daerah permukiman. Tinggi mercu bendung 28 m. Tampungan total 485 juta m3 dan tampungan aktif 220 juta m3. pertanian dan prasarana umum. luas arealnya 3. perkotaan dan Industri serta irigasi. Penyediaan air Irigasi 27. Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Waduk Matenggang Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap Waduk Binangun I Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Mengalihkan muara sungai Citanduy langsung ke Laut (teluk Nusaware) Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Ciputrahaji.08 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. 10 lokasi Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Rehabilitasi Bendung Manganti Tahap II Sudetan Citanduy LOKASI Kabupaten Cilacap MANFAAT&PENJELASAN Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan 4-41 Kabupaten Cilacap Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Ciseel. Kabupaten Tasikmalaya.000 ha. air minum kota sidareja dan pengendalian banjir Penanggulangan sedimentasi di Segara nakan dari sungai Citanduy. perkotaan dan industri dan tenaga listrik sebesar 50 lt/det. Dapat menimbulkan dampak sosial ekonomi rakyat. bak tampung 3 m dan bahan tubuh bendung adalah urugan tanah dengan inti clay tampungan aktif 27. 20 lokasi Normalisasi sungai-sungai DAS Citanduy Hilir Normalisasi sistem drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. Citalahab dan Cikaso Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Mengembalikan dan meningkatkan fungsi bangunan Klep Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis.

maka Waduk Cilutung dengan El + 294 dapat menjadi alternatif cadangan utama Irigasi seluas 12.2 GWh dan potensi air baku 444 ha. Memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu Cirebon ( sawah 4. Area (ha) : 1. perkotaan dan industri serta irigasi Potensi listrik yang dihasilkan kecil.439 ha. potensi listrik terpasang 110 MW dan penyediaan air baku untuk 79. tinggi mercu bendung 100 m.145 ha.468 ha. luas areal 440 ha. volume tampungan sebesar 395 juta m3.004 jiwa. Irigasi seluas 20. potensi listrik 0.1 juta m3 Irigasi seluas 4.A2 Cimanuk Cisanggaru ng Waduk Jatigede Sumedang Cimanuk Waduk Cipanundan Waduk Cilutung Kuningan Majalengka Cimanuk Cimanuk Waduk Cipanas Indramayu Cimanuk Waduk Sarwadadi Long Storage Indramayu Waduk Bojong Waduk Brahim Waduk Cimulya Cirebon Indramayu Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Kuningan Irigasi seluas 9. perkotaan dan industri serta irigasi.000 ha. Tampungan total 180 juta m3 dan tampungan aktif 78 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. Tampungan aktif (juta m3) : 154 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. luas areal 440 ha. Harga tampungan per m3 rendah (Rp 650/m3) Volume tampungan netto 796. Tampungan Total (juta m3) : 270 .330 .36 juta m3 Volume tampungan : 0.5 GWh dan potensi air baku 915 ha dengan volume tampungan sebesar 35 juta m3. Elevasi terhadap MSL 180 m. volume tampungan 2. Tinggi Mercu Bendung : 33 .7 jt m3. Elevasi puncak terhadap MSL 180 m.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Binangun II Waduk Ciamis / Leuwi Keris LOKASI Kabupaten Ciamis MANFAAT&PENJELASAN Elevasi puncak MSL : 55 .000 ha. jika Waduk Jatigede ditunda.08.683 jiwa.27 juta m3 ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan 4-42 Kabupaten Ciamis Waduk Cikembang Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan 02. Long Storage K.Jamblang Cirebon Cimanuk LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . tambak 750 ha ). Potensi listrik yang dihasilkan kecil. Kuista . Tampungan total 150 juta m3 dan tampungan aktif 18 juta m3 Irigasi seluas 90. Irigasi seluas 500 ha dan penyediaan air baku 300 kk Pemenuhan kebutuhan air irigasi dan perikanan tambak Volume tampungan : 0. potensi listrik 4. tinggi mercu bendung 70 m.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Cipasang Garut LOKASI MANFAAT&PENJELASAN Irigasi seluas 18. Irigasi seluas 5.3 GWh dan air baku 828 ha.153 jiwa .4 GWh dan potensi air baku 444 ha. Nilai EIRR 12. volume tampungan 86 juta m3.482 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI ± 867.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5. volume tampungan 1. potensi waduk 150 juta m3.000 ha potensi listrik 11. volume tampungan 12 jt m3. potensi listrik 8.275 ha. Irigasi seluas 9. volume tampungan 20 jt m3.145 ha dan potensi listrik 17.4 juta m3 .6 GWh dan potensi air baku 298 ha.6% pengendalian banjir (± 5.835 jiwa dengan volume tampungan 71 juta m3. Irigasi seluas 10. Volume tampungan 53 juta m3.70 GWh dan potensi air baku 915 ha.000 MWh dengan volume tampungan 2. potensi listrik terpasang187 MW dan penyediaan air baku untuk 22. Irigasi seluas 600 ha. Irigasi seluas 4.1 GWh dan air baku 60 ha.275 ha. volume tampungan 50 juta m3.7 GWh dan air baku 828 ha.000 ha dan penyediaan air baku 175 juta m3. Irigasi seluas 8.35 lt/dt. Irigasi seluas 8. potensi listrik 1.000 ha). Irigasi seluas 2. volume tampungan 32 jt m3. potensi listrik 0.982 ha potensi listrik 1.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10.A3 Pemali – Comal Waduk Bantar Kawung Kuningan hulu K.20 GWh. Irigasi seluas 8.534 ha ASAL WS/ PROGRAM Cimanuk 4-43 Waduk Cihowe Waduk Cileuweung Waduk Ujungjaya Cirebon Kuningan Sumedang Cimanuk Cimanuk Cimanuk Waduk Pasirkuda Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk G.275 ha dan potensi air baku 828 ha. Karung Waduk Maneungteung Waduk Pecang Waduk Seuseupan Waduk Masigit Waduk Ciwaru Majalengka Garut Garut Kuningan Kuningan Kuningan Cirebon Kuningan Kuningan Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Waduk Dukuh Badag 02. Irigasi seluas 9.7 GWh dan potensi air baku 1017 ha dengan volume tampungan 69 juta m3.000 ha).960 ha. pengendalian banjir (± 4.3 jt m3.09. Irigasi seluas 12. Pemali Kabupaten Brebes Cimanuk Pemali Comal Waduk Ki Gede Sebayu hulu K. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi (teknis.173 ha potensi listrik 10. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 27. volume tampungan 78 jt m3. Volume tampungan sebesar 395 jiwa.439 ha potensi listrik 3. Gung Kabupaten Tegal Pemali Comal LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Potensi listrik sebesar 86. Irigasi seluas 8.126 jiwa. semi teknis dan sederhana) seluas 38.

9%. Sengkarang Kabupaten Pekalongan desa Karanganyar Kabupaten Pemalang Pemali Comal Waduk Krandegan Pemali Comal Waduk Karanganyar Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Tanjung.Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 965.3 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. 20. pembangunan jalan dan jembatan baru.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN LOKASI MANFAAT&PENJELASAN dan untuk penyediaan air baku bagi RKI. pembangunan/perbaikan tanggul. normalisasi alur sungai 7. pembangunan jembatan kereta api baru 1 buah.717 Ha.905 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 8. tinggi bendung 40 m.300 lt/dt. pembangunan bangunan pengukur debit sungai 1 buah. Genteng dan K.718 Ha. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.93 juta m3. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. pembangunan inlet drainase 11 buah. Peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 7. dengan tinggi bendung 95 m.730 ha. dengan nilai EIRR adalah sebesar 26.4 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 26. dengan nilai EIRR adalah sebesar 42. Babakan dan Kabuyutan Pengendalian Banjir Sungai Sragi Pengendalian Banjir Sungai Kupang Sungai Tanjung Pemali Comal Pemali Comal Pemali Comal Sungai Sragi Sungai Kupang Pengendalian Banjir Sungai Kluwut Kabupaten Brebes Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Sambong kabupaten Batang dan kabupaten Pekalongan Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Comal kabupaten Pemalang Pemali Comal LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 2. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. pembangunan/perbaikan tanggul.699. pembangunan/perbaikan tanggul.130 ha Pelindung tebing pasangan batu kali 5.9% Pembangunan/perbaikan tanggul.1 km. Keruh Kabupaten Pemalang hulu sungai K. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. diharapkan dapat mereduksi daerah rawan banjir seluas 6. 287. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. volume tampungan 30 juta m3. 10. Informasi kelayakan proyek tidak tersedia. volume tampungan 45.352.5% Pembangunan/perbaikan tanggul.770 Ha. untuk mereduksi daerah rawan banjir seluas 1.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998.667 m. analisa kelayakan ekonomi menunjukkan nilai EIRR sebesar 17. Selain itu untuk penyediaan air baku dengan suplai 2.5 juta/tahun pada harga ASAL WS/ PROGRAM 4-44 Waduk Sipring hulu sungai K.

Usulan baru dan belum pernah dilakukan studi. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.1% Pembangunan/perbaikan tanggul. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.A3 Jratunseluna Waduk Jatibarang Kab.6% (layak) pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.10. Meningkatkan intensitas tanam pada daerah irigasi Cipero seluas 8. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN LOKASI MANFAAT&PENJELASAN dasar tahun 1998. Pengembangan suplai untuk RKI 920 l/detik dan konservasi air tanah.529 ha. Nilai EIRR 14% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Semarang Semarang dan Demak Semarang dan Demak Kab. Blora Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Grobogan Kab.1%.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.020 l/detik dan konservasi air tanah.1% (layak ) pengembangan suplai untuk RKI 1. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. Nilai EIRR 18. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12.7 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 750 l/detik dan konservasi air tanah.8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.750 l/detik dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 11. Nilai EIRR 8% (layak) ASAL WS/ PROGRAM 4-45 Pengendalian Banjir Sungai Waluh Sungai Waluh Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Rambut Sungai Rambut Pemali Comal Waduk Jatinegara Kec. 822. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12. Jatinegara Jateng Pemali – Comal 02. nilai EIRR 10. Nilai EIRR 18. Nilai EIRR 13.2 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. Grobogan Kab. Konstruksi dam Jatibarang dimulai tahun 2002 (kegiatan yang masuk dalam jadwal biaya rendah). Grobogan Kab. 231 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Semarang Jratun Seluna Waduk Mundingan Jragung Barrage + Tunnel Waduk Dolok Waduk Bandung Harjo Waduk Ngemplak Waduk Coyo Waduk Tirto Embung Kedung Waru Kab. Nilai EIRR 22.4% Pembangunan/perbaikan tanggul. Nilai EIRR 16.5% (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1.010 ha dan untuk mensupli waduk Cacaban dengan luas irigasi 1. dengan nilai EIRR adalah sebesar 15. Grobogan Kab.

Kebumen DAS Tipar dan Ijo.5 % (layak) Pengendalian banjir seluas 590 ha. nilai EIRR 17.028 ha.337 ha.9% pengendalian banjir seluas 10.Gelis Kepulauan Karimunjawa Serayu – Bogowon-to Pengendalian Banjir Sungai Blorong Pengedalian banjir S.C 02. Kab. Kab. Kab.670 ha. Blora Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kab.Purbalingga dan Banyumas S Telomoyo. Layak secara ekonomi. Kab. persawahan dan transportasi. persawahan dan transportasi. Layak secara ekonomi. Kendal Anak S.650 ha.Serayu. Layak secara ekonomi.700 l/detik (direncanakan memberikan 900 l/dt ke Semarang dan 800 l/detik ke Kendal) dan konservasi air tanah.957 ha. nilai EIRR 15.Cilacap.A3 Wiso . nilai EIRR 24% Pengamanan pemukiman dan persawahan Target 30km Pengamanan pemukiman . Cokroyasan dan Jratun Seluna Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Nilai EIRR 9.13. Banyumas dan Kebumen. sehingga dapat mengurangi dampak yang lebih buruk Pengamanan pemukiman .1% pengendalian banjir seluas 12. DAS Wawar. Demak Kab. persawahan dan transportasi.C 02. Kab. Target 16 km Pengamanan pemukiman . Target 15 .B Bodri . Layak secara ekonomi.Kebumen S Telomoyo & anakanak sungainya. Target ASAL WS/ PROGRAM Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna 4-46 02. Layak secara ekonomi. Kudus dan Kab.4% pengendalian banjir seluas 13. Demak Kab. nilai EIRR 20.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Embung Balong Pengendalian Banjir Sungai Garang Drainase Kota Semarang Tenggang + Sringin Drain Dombo-Sayung Floodway Kebon Batur Floodway Pengendalian Banjir Jragung/Tuntang Pengendalian Banjir SerangWulan-Juana Waduk Kedung Suren LOKASI Kab.6% Pengendalian banjir seluas 6.Klawing lanjutan Perkuatan tebing lokasi kritis dan penanggulangan banjir nopember 2004.11.8% Pengembangan suplai untuk RKI 1. Pati Kaliwungu.20 lokasi kritis Mengatasi adanya halangan sungai yang dapat mengakibatkan banjir dan memperlancar transportasi antar pedesaan di 10 lokasi Mengatasi adanya kejadian banjir melebihi rencana. nilai EIRR 18.Lukulo & anakanak sungainya. Brangsong dan Kendal MANFAAT&PENJELASAN Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah Pengendalian banjir seluas 1. Nilai EIRR 13.Kebumen S Telomoyo & anakanak sungainya. S. Peninggian jembatan melintang sungaisungai di DAS Telomoyo Pembangunan pelimpah banjir DAS Telomoyo Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Penyempurnaan Pengendalian Kab.14.12. nilai EIRR 15.Kuto 02. Layak secara ekonomi.13% Pengendalian banjir Pengendalian banjir seluas 21 ha.

Wawar dan Ijo 6 km MANFAAT&PENJELASAN ASAL WS/ PROGRAM 4-47 Pengamanan jalur transportasi KA Yogya -Jakarta. Telomoyo dan Tipar. Banjarnegara. Banyumas. dari bahaya banjir. Kab. Purworejo. Kebumen. Muara-muara DAS Bogowonto. Penyediaan air baku pedesaan dari mata air & sumber air DAS Bogowonto. Target 15 lokasi Serayu Bogowonto Mengatasi degradasi sungai. Wawar dan Telomoyo. Lukulo dan Bogowonto. Cokroyasan. Serayu.Purworejo DAS Bogowonto.Telomoyo hilir Serayu Bogowonto Pembangunan Groundsill (Bangunan Penstabil dasar sungai). Kab.Cokroyasan Operasi dan Pemeliharaan Sungai LOKASI Bogowonto. DAS Serayu.Jladri. Serayu. Serayu Bogowonto Normalisasi sungai dan bangunan pengatur air untuk mengatasi banjir daerah pemukiman dan budi daya perikanan. Mempertahankan kapasitas dan fungsi prasarana pengendalian banjir Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Pembangunan bangunan penahan intrusi air laut Pembangunan bangunan pemanfaatan daerah genangan banjir Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) dan Pengerukan hilir sungai Jladri Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) Menahan pengaruh akibat intrusi air laut di 5 lokasi Serayu Bogowonto Mendaya gunakan lahan depressi Serayu Bogowonto DAS Telomoyo Mengurangi sedimentasi di S. Kab. Kebumen dan Purworejo DAS Wawar.Jatinegara dan S. S. Purbalingga.Bogowonto dan S. Kebumen dan Purworejo (200 lokasi) Mengurangi sedimentasi waduk dan pemanfaatan untuk air baku. Normalisasi Kali Pantai antara S. Wonosobo. Wawar dan Telomoyo. Banjarnegara dan Purbalingga.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Banjir dan Drainase Rehabilitasi Jembatan KA melintang sungai di 7 lokasi. Banjarnegara dan Purbalingga. Kab. Kebumen dan Purworejo Kab. Kebumen. Purbalingga. Cilacap. Target 10 lokasi Serayu Bogowonto Mengatasi kekurangan air pada musim kering Serayu Bogowonto LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kebumen. Purworejo. Telomoyo. Banyumas dan Cilacap DAS Bogowonto dan DAS Cokroyasan Kab. Ijo dan Tipar DAS Telomoyo. Kab. Banyumas.

A2 Progo Opak Serang Kab. Kebumen dan Purworejo.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Penyediaan air baku pedesaan dari bangunan konservasi (groundsill).75 m dengan volume tampungan 35. Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kab. Tinggi embung adalah 13.Banjarnegara DAS Telomoyo Kab.Pekacangan Pembangunan Waduk Kesegeran di S. Lukulo. Kab.Kebumen MANFAAT&PENJELASAN Mengatasi kekurangan air pada musim kering ASAL WS/ PROGRAM Serayu Bogowonto 4-48 Mengatasi kekurangan air kota Kebumen dan pedesaan Kab.Kebumen Kab. Tinggi embung adalah 13. Kebumen dan Purworejo (15 lokasi). Banyumas.Banjarnegara DAS Serayu Kab. Kulon Progo Mengurangi sedimentasi sungai Serayu Bogowonto Konservasi lahan dan penelitian Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Multi purpose ( Irigasi. Wawar dan Cokroyasan.Kemit Embung Tangkisan I Embung Tangkisan II Embung Ngroto DAS Serayu. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 02. DAS Bogowonto.Trenggulun Pembangunan Waduk Gintung di S.Gintung Pembangunan Waduk Kemit di S.75 m dengan volume tampungan 7. DAS Serayu.500 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Banyumas. Wonosobo. Kab.Purworejo DAS Serayu Kab. Cilacap. Kulon Progo Kab. Telomoyo.15. Lukulo. Penyediaan air baku dari bendungan Wadaslintang Pembangunan bangunan konservasi terpadu di hulu sungai LOKASI Kab. Wawar dan Bogowonto.kebumen Serayu Bogowonto Penataan kawasan arboretum Pembangunan Waduk Bener Di S.Banyumas DAS Serayu Kab. Kulon Progo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Telomoyo . Purbalingga. Kulon Progo Embung Kayangan Kab. Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Banjarnegara.Bogowonto Pembangunan Waduk Wanadadi di S.

Kulon Progo Kab. Tinggi embung adalah 5 m dengan volume tampungan 250. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku 73 lt/detik dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Embung Kebonromo Embung Kronggahan Embung Kedungranti Embung Karang Sari Kab.5 m3/dt penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Sleman Kab.000 m3 Berpotensi untuk mengendalikan banjir.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Tinggi embung adalah 11 m dengan volume tampungan 105. dengan tetap memanfaatkan air dari Kali Progo melalui intake Kalibawang. Gunung Kidul Kali Progo Waduk Progo Magelang Waduk Elo Hilir Waduk Kaloran Kali Progo Kali Elo Kaloran Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Untuk DAS Serang. mengairi irigasi 450 ha dan penyedia air minum 75 lt/detik.000.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Embung Weden Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Embung Dawetan LOKASI Kab. Kulon Progo MANFAAT&PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Belum tersedia data detail Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir ASAL WS/ PROGRAM Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo 4-49 Embung Penggung Embung Girinyono Kab. Kulon Progo Kab. dengan pembatasan pengambilan air sebesar 2. Gunung Kidul Kab. Gunung Kidul Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Embung Kedunggedeng Waduk Tinalah Kab. Volume tampungan embung adalah 1. Gunung Kidul Embung Ngalang Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Elo Waduk Sambiroto Waduk Nanggulan I Sedimentasi Waduk Wonogiri Penanganan Pengelolaan Kualitas Air Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hilir. Serang Sungai Progo Wonogiri seluruh WS hilir WS hulu WS Kali Madiun Hulu Sungai Bengawan Solo dan Kali Madiun MANFAAT&PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir - 02. Fase II dan III Pembangunan check dam dan ground sill Pengembangan Bengawan Jero Bengawan Solo FFWS Long-channel Storage Bengawan Solo Hilir Penyediaan Air PDAM di Wilayah Surakarta Penyediaan Air untuk Sstem Pengembangan PDAM Penyediaan Air untuk Daerah Rembang Solo Vallei Werken 9 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hulu 3 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Kali Madiun 16 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hilir Waduk Irigasi Kedung Bendo LOKASI Kali Elo Progo Hulu K.A2 Bengawan Solo ASAL WS/ PROGRAM Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo 4-50 pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir penyediaan air baku Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Fase II Perbaikan Sungai Kali Madiun.16. Fase II Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hulu.

Data teknis yang direncanakan untuk volume tampungan efektif 147 milyar m3 Irigasi. 12 tahun 2006 yang akan mengurus pengelolaan wilayah sungai baru ini disajikan pada bagian 4.20. Sebanyak 17 Sabo Dam telah direncanakan untuk daerah hulu DAS Sengguruh Dam. Pengembangan terhadap masalah pengendalian banjir di Sungai Widas sesuai dengan yang direncanakan dalam Master Plan tahun 1985 Pencegahan terhadap bencana yang dapat ditimbulkan oleh Gunung Kelud Irigasi. Data teknis yang direncanakan adalah untuk volume tampungan efektifnya sebesar 54 milyar m3 sumber daya air yang terbatas berupa sungai-sungai kecil. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .B 02.B Welang – Rejoso Pekalen Sampean Genteng I Dam Sungai Genteng.Bedadung Kepulauan Madura Penyediaan air baku industri Pembangunan Waduk Nipah Pembangunan Waduk Blega Pembangunan Waduk Samiran Pembangunan Wa duk Tambak Agung seluruh WS Madura Pamekasan Bangkalan Pamekasan Sumenep Madura Madura Madura Madura Adapun beberapa balai baru yang dibentuk menurut Peraturan Menteri PU No. sehingga harus ada solusi sumber daya air bila Madura hendak difungsikan pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 100 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 50 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 Sungai Widas Brantas Ludoyo Brantas Brantas 02. water supply dan hydropower dan untuk sediment control.6. water supply dan hydropower.18.2 (Organiasasi dalam pengelolaan SDA).21.19.B 02.22.17.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Rehabilitasi dan Peningkatan Sistem Irigasi Waduk Serbaguna Bendo Sabo Gunung Kelud Sabo Brantas Hulu dan Sungai Lesti Pengendalian Banjir Sungai Widas Lodoyo Diversion Tunnel Beng Dam LOKASI MANFAAT&PENJELASAN penyediaan air baku penyediaan air baku ASAL WS/ PROGRAM Bengawan Solo Bengawan Solo Brantas Brantas 4-51 02.A3 Brantas Kali Konto Brantas Hulu dan Sungai Lesti mengurangi transport sediment ke reservoir Dam Sengguruh dan Dam Sutami.B Baru – Bajulmati Bondoyudo .B 02. Lesti Pekalen Sampean 02.

3. industri. 7/2004) maka penyusunan Pola Pengelolaan SDA perlu disusulkan.7/2004 tentang SDA telah diatur bahwa Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai perlu ditetapkan terlebih dulu sebelum Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai disusun. disusun dengan mengacu pada Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai akan ditetapkan garis besar alokasi air untuk berbagai sektor diantaranya untuk permukiman dan perkotaan. serta Dewan SDA Propinsi dan Kabupaten/Kota untuk Wilayah Sungai Propinsi dan Kabupaten/kota. dalam Rencana Induk telah di identifikasi kebutuhan air untuk berbagai sektor yang ada dalam wilayah sungai tersebut diantaranya air baku untuk permukiman didaerah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Selanjutnya. Bilamana pada bebarapa wilayah sungai telah mempunyai Rencana Induk (Master Plan) namun belum mempunyai Pola Pengelolaan SDA (karena Master Plan dibuat sebelum adanya UU No. dengan demikian pola alokasi air ini juga sekaligus mencerminkan pula garis besar penggunaan ruang dalam wilayah sungai dimaksud.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4-52 4. Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai ini disusun dengan melibatkan para pemangku kepentingan (stakeholders) SDA dan perlu mendapat persetujuan dari Dewan SDA Nasional untuk Wilayah Sungai Nasional. Sedangkan untuk Wilayah Sungai yang belum mempunyai Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai. Pembuatan Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai. dan pendayagunaan SDA serta penanganan bencana yang terkait dengan air di wilayah sungai yang bersangkutan. pertanian dan sebagainya.3 Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai: sebagaimana diamanatkan dalam UU No. Setelah Pola Pengelolaan SDA ditetapkan secara formal berdasarkan proses yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan maka Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai telah ada perlu disesuaikan dengan Pola Pengelolaan SDA. Rencana Induk (master plan) harus mampu mengidentifikasi isuisu yang terkait dengan pengelolaan SDA yang mencakup aspek-aspek konservasi. maka Pola dimaksud dapat menjadi arahan/pedoman penyusunan Rencana Induk.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . wilayah sungai lintas negara. Demikian pula dalam Rencana Induk harus telah diidentifikasi jenis-jenis alternatif prasarana dan sarana yang mampu memenuhi kebutuhan air untuk berbagai sektor termasuk lingkungan yang telah memperhitungkan pertumbuhan penduduk dan ekonomi dalam kurun waktu 30 tahun kedepan serta mampu mengantisipasi dampak iklim yang berubah (terjadinya kejadian ekstrim kekeringan dan banjir). menetapkan kebijakan nasional sumber daya air. c. lintas negara. pertanian.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA perkotaan (termasuk kawasan jasa & perdagangan) dan perdesaan. pertambangan dan sebagainya yang telah mengantisipasi pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi dalam kurun waktu “planning horizon” minimal 30 tahun kedepan. dan strategis nasional. Dewan SDA Propinsi untuk Wilayah Sungai Propinsi dan Dewan SDA Kabupaten untuk Wilayah Sungai Kabupaten. melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. dan wilayah sungai strategis nasional. dan wilayah sungai strategis nasional. menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi.1 STRATEGI PEMBIAYAAN Wewenang Tanggung Jawab Pemerintah Berdasarkan pasal 14. wilayah sungai lintas negara. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. lingkungan. 4-53 4. d. UU No.4 4. Proses pembuatan Rencana Induk juga harus melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) bidang sumber daya air pada wilayah sungai tersebut. menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas provinsi. b.4. e. perikanan. dan wilayah sungai strategis nasional. Selain itu Rencana Induk juga harus mendapat persetujuan dari Dewan Sumber Daya Air Nasional untuk Wilayah Sungai Nasional. wewenang dan tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan SDA meliputi: a. menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. industri. wilayah sungai lintas negara.

iii) penanganan bencana yang terkait dengan air. dan v) penyediaan sistem informasi SDA. Lingkup pengelolaan SDA mencakup: i) konservasi SDA. menetapkan dan memberi rekomendasi teknis atas penyediaan. i. wilayah sungai lintas negara. peruntukan. memberikan bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. standar. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . memfasilitasi penyelesaian sengketa antar provinsi dalam pengelolaan sumber daya air. Locus (lokasi) dari wewenang dan tanggung jawab Pemerintah (pusat) adalah pada wilayah sungai lintas propinsi. standar. Lingkup wewenang dan tanggung jawab mencakup: i) membuat dan menetapkan peraturan dan perundang-undangan. dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. menetapkan. ii) kebijakan umum dan operasional pengelolaan SDA. dan memberi izin atas penyediaan. penggunaan dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas provinsi dan cekungan air tanah lintas negara. dan pengusahaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. kualitas. mengatur. j. dan wilayah sungai strategis nasional. k. dan wilayah sungai strategis nasional. efisiensi. dan pedoman pengelolaan sumber daya air. dan wilayah sungai strategis nasional. dan dewan sumber daya air wilayah sungai strategis nasional. ii) pendayagunaan SDA. mengatur. dan iv) melaksanakan pengelolaan. menetapkan norma. 2. 4-54 g.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA f. membentuk Dewan Nasional Sumber Daya Air. penggunaan. iv) pemberdayaan masyarakat. iii) norma. wilayah sungai lintas negara. pedoman dan manual pengelolaan SDA. dan l. Dari uraian wewenang dan tanggung jawab diatas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. 3. peruntukan. h. menjaga efektivitas. dewan sumber daya air wilayah sungai lintas propinsi. kriteria. wilayah sungai lintas negara.

c.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. biaya perencanaan. (3) a. badan usaha lain. (4) biaya sistem informasi. b. saluran sepanjang 50m dari bangunan sadap dan boks tersier serta bangunan pelengkap tersier LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . (5) Pembiayaan pelaksanaan konstruksi dan Operasi dan Pemeliharaan sistem irigasi diatur sebagai berikut: a. dan dapat melibatkan peran serta masyarakat petani.2 Kebijakan Pembiayaan 4-55 Berdasarkan UU No. dan/atau hasil penerimaan jasa pengelolaan sumber daya air. c. anggaran swasta. b. Pembiayaan pelaksanaan konstruksi saluran tersier menjadi tanggung jawab petani dan dapat dibantu Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. dan perorangan. biaya pelaksanaan konstruksi biaya operasi. b) badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah pengelola sumber daya air. evaluasi dan pemberdayaan masyarakat. Pembiayaan pelaksanaan konstruksi. biaya pemantauan. d. kecuali bangunan sadap. operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi primer dan sekunder menjadi tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya. e. pemeliharaan. anggaran pemerintah. dan c) koperasi. Jenis pembiayaan pengelolaan sumber daya air meliputi: a. 7/2004 pengaturan kebijakan pembiayaan pengelolaan Sumber Daya Air adalah sebagai berikut: (1) (2) Pembiayaan pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan kebutuhan nyata pengelolaan sumber daya air. baik secara sendiri-sendiri maupun dalam bentuk kerja sama.4. dibebankan kepada: a) Sumber dana untuk masing-masing jenis pembiayaan dapat berupa: Pembiayaan pengelolaan sumber daya air Pemerintah dan Pemerintah berdasarkan kewenangannya masing-masing dalam pengelolaan Sumber daya Air. b.

Pembiayaan pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaan sistem irigasi tersier menjadi tanggung jawab petani dan dibantu Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah. lintas kabupaten/kota. Pengguna sumber daya air lainnya menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air. Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam batasbatas (9) tertentu dapat memberikan bantuan pembiayaan kepada BUMN/BUMD Pengelola Sumber daya Air. dan strategis nasional. (10) Penentuan besarnya biaya jasa pengelolaan sumber daya air didasarkan pada perhitungan ekonomi rasional yang dapat dipertanggung jawabkan. pembiayaan pengelolaannya ditetapkan bersama oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang bersangkutan melalui pola kerja sama. Pengguna sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk pertanian rakyat tidak dibebani biaya jasa pengelolaan sumber daya air. (7) Pembiayaan pengelolaan sumber daya air yang ditujukan untuk pengusahaan sumber daya air yang diselenggarakan oleh Koperasi. (11) Penentuan nilai satuan biaya jasa pengelolaan sumber daya air untuk setiap jenis penggunaan sumber daya air didasarkan pada pertimbangan kemampuan ekonomi kelompok pengguna dan volume penggunaan sumber daya air. c.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA lainnya menjadi tanggung jawab Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. (12) Pengelola sumber daya air berhak atas hasil penerimaan dana yang dipungut dari para pengguna sumber daya air. (6) Dalam hal terdapat kepentingan mendesak untuk pendayagunaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. (8) Untuk pelayanan sosial serta pelayanan yang ditujukan bagi kesejahteraan dan keselamatan umum. kecuali untuk penggunaan non usaha. BUMN/BUMD Pengelola Sumber daya Air. dari para pengguna sumber daya air Dana yang dipungut dipergunakan untuk mendukung 4-56 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Badan Usaha lain dan perorangan ditanggung oleh masing-masing yang bersangkutan.

monitoring. 4-57 4. Pemerintah perlu menciptakan kondisi dimana semua aktor/pelaku yang mempunyai kepentingan dalam permasalahan sumber daya air dapat terlibat dan dapat bernegosiasi diantara mereka untuk mencapai solusi yang dapat diterima semua pihak. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pelaku lainnya. 4.4. hendaknya mengurangi perannya sebagai penyedia layanan dan lebih berkonsentrasi untuk menjadi regulator dan pengendali penyedia layanan jasa.4.2 Pemerintah sebagai regulator dan pengendali Pembuatan kebijakan. dan kurangnya transparansi dari manajemen tetapi juga didorong oleh bertambahnya berbagai kesulitan yang dihadapi oleh negara-negara di dalam pembiayaan yang diperlukan untuk investasi dibidang sumber daya air. Meskipun partisipasi masyarakat cukup tinggi tidak berarti pemerintah lepas dari tanggung jawab. mungkin dapat menyediakan jasa layanan air dengan monitoring dan pengendalian dari lembaga pengawas.3 Peran-peran Lain Pemerintah 4. alokasi air. konflik interest.3. penindakan dan resolusi konflik final masih perlu menjadi tanggung jawab pemerintah. beban dari pemerintah dapat dikurangi dan kinerja dalam fungsi publik dapat dicapai.3.4. Kecenderungan untuk tidak selalu bergantung kepada penyediaan layanan dari pemerintah telah didorong tidak saja oleh kepedulian atas ketidak-efisienan. bilamana memungkinkan. dan BUMN/BUMD. dan memenuhi prinsipprinsip pembangunan berkelanjutan.1 Pemerintah sebagai pemberdaya (enabler) Dalam sektor sumber daya air ciri pemerintah sebagai pemberdaya ditunjukan dengan beralihnya pendekatan pembangunan yang ”prescriptive” dan terpusat menjadi kerangka sistem dan pendekatan partisipatif.Dengan mengadopsi peran sebagai fasilitator dan arbitrase. Pada kondisi sekarang secara umum dikenal bahwa pemerintah. seperti sektor swasta.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA terselenggaranya kelangsungan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. perancangan (pembuatan rencana induk).

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4.4 Peran Pemerintah dalam ”keterlibatan dunia swasta” Yang dimaksud dengan sektor swasta disini adalah sektor perusahaan swasta dan orgnisasi-organisasi yang berbasis masyarakat. namun tetap diperlukan suatu entitas publik dalam hal ini pemerintah yang mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk memantau dan mengatur penyediaan layanan yang memadai dan dalam harga yang terjangkau. Demikian juga. Disamping itu. perlu dicatat bahwa dalam layanan dibidang air terdapat elemen-elemen yang bersifat layanan umum (diantaranya. Bilamana pemerintah masih memegang fungsifungsi layanan umum. Diperlukan pemisahan yang jelas diantara fungsi pengatur dan fungsi pelaksana. Tetapi hal ini tidak selalu demikian: yang terjadi adalah perubahan fungsi. Pemisahan ini akan membantu terciptanya transparansi dan akuntabilitas. keterlibatan masyarakat yang miskin dalam layanan air akan memerlukan katalist berupa dukungan dana dari pemerintah dan sumber dana dari luar lainnya.3 Pemerintah sebagai Penyedia Layanan (Service Provider) Seluruh pemerintahan hendaknya berupaya untuk mengalihkan penyediaan jasa layanan air kepada stakeholders non-pemerintah. akan berkontribusi dalam mengurangi peran dan beban pemerintah didalam pengelolaan sumber daya air.4. 4-58 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4.4.3. hal ini mungkin akan memerlukan waktu beberapa tahun kedepan yang cukup lama dibeberapa negara.3. Pemikiran kotemporer menunjukkan bahwa keterlibatan swasta dalam layanan air. prinsip terpenting yang perlu dilaksanakan adalah bahwa instansi-instansi pemerintah penyedia layanan tersebut hendaknya tidak mengatur untuk dirinya sendiri. pembuangan dan pengolahan limbah cair) dimana investasi publik masih sangat diperlukan. perlindungan terhadap banjir. Dapat disimpulkan bahwa dalam keterlibatan swasta peran pemrintah dalam pengaturan justru semakin bertambah dan tidak berkurang. Tugas akan berubah setelah fungsi operasional/pelaksanaan dialihkan ke aktor swasta. yaitu dalam layanan air minum dan sanitasi.

kenyataan tetap menunjukkan bahwa penyedia layanan umum dari sektor publik (perusahaan milik pemerintah) akan. kebutuhankaum miskin kota.4. Peningkatan efesiensi utilitas baik yang ditangani oleh sektor publik atau sektor swasta harus diikuti oleh keputusan-keputusan pemerintah yang mengatasi permasalahan kunci. dan pemeliharaan prasarana dan sarana sumber daya air adalah anggaran pemerintah. Oleh sebab itu.1 Strategi Pendanaan Sebagaimana diatur dalam UU Sumber Daya Air No. Meskipun telah terjadi kecenderungan akan meningkatnya privatisasi dan pemerintah mempunyai peranan kunci dalam memfasilitasi partisipasi sektor swasta yang lebih besar.4.4 Strategi Pendanaan dan Tujuan Studi Kelayakan Proyek 4. adalah sangat penting untuk memberi perhatian yang besar untuk upaya peningkatan kinerja sektor publik. kinerja yang semakin baik dari sektor publik. dalam waktu kedepan.4.5 Peningkatan Kinerja Sektor Publik Kenyataan bahwa seperlima dari penduduk dunia (pada umumnya masyarakat yang termiskin) adalah tanpa akses ke air minum yang aman dan hampir separuh dari penduduk dunia tanpa akses yang memadai atas sanitasi yang memadai (kondisi ini juga merefleksikan kondisi layanan air minum dan sanitasi di Indonesia). dan penyediaan kerangka hukum dan institusi yang menjamin pelaksanaan partisipasi sektor swasta yang berhasil. operasi. 7/2004 salah satu sumber pendanaan untuk pembangunan. telah dianggap sebagai indikasi umum penyediaan layanan oleh sektor publik dan telah mendorong pemerintah-pemerintah untuk berpaling ke sektor swasta. termasuk yang bersumber LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dampak keterlibatan sektor swasta yang paling mungkin adalah mendorong adanya akuntabilitas dan kompetisi dan oleh sebab itu.4.3. Partisipasi sektor swasta hendaknya tidak dianggap sebagai ”panacea” yang akan dengan segera mengatasi masalah-masalah kekurangan kapasitas dan investasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. 4-59 4. seperti tarif air. masih melayani sebagian besar dari pengguna. jumlah pegawai yang terlalu banyak.

Sedangkan dana hibah luar negeri bagi negara-negara berkembang. terdapat peluang untuk mendapatkan dana hibah melalui mekanisme ”khusus”. Selain itu dana hibah luar negeri juga tepat digunakan untuk peningkatan kapasitas (capacity building) dalam hal implementasi 4-60 ”Integrated Water Resources Management” (Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air) yang juga merupakan salah satu sasaran MDGs. Penggunaan dana pinjaman luar negeri untuk prasarana dan sarana publik khususnya sumber daya air hendaknya dipilih dari ”scheme” yang lunak (berbunga rendah dan tenggang waktu pembayaran yang panjang) dipakai secara selektif penuh dengan ke-hati-hatian.4. Studi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .4.2 Tujuan Studi Kelayakan Proyek Pembuatan studi kelayakan untuk suatu konstruksi prasarana-sarana sumber daya air yang telak diidentifikasi dalam Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang memerlukan alokasi sumber daya yang cukup besar baik penggunaan ruang (lahan) maupun dana investasi wajib dilakukan. peluang untuk mendapatkannya semakin tinggi semenjak dicanangkannya ”Johannesburg Plan of Implementation (2002)” dana ini sebaiknya ditujukan untuk pencapaian sasaran ”Millenium Development Goals (MDGs)” diantaranya untuk pengentasan kemiskinan. Selain dana pinjaman dan atau hibah luar negeri melalui mekanisme ”biasa” baik secara ”bi-lateral” maupun ”multi-lateral”. dan diutamakan untuk membiayai proyek-proyek yang mempunyai kelayakan eknomi yang tinggi termasuk peluang untuk pengembalian biaya (cost recovery). b) program ”Clean Development Mechanism (CDM)” yaitu imbalan pembiayaan kegiatan senilai pengurangan karbondioksida. diantaranya: a) debt swap yaitu penghapusan pinjaman luar negeri senilai biaya kegiatan yang kita laksanakan dengan persetujuan negara/institusi donor. dan c) pendanaan program-program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim untuk negara-negara berkembang. 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dari pinjaman dan atau hibah luar negeri. penyediaan akses kepada air minum yang sehat dan parasarana sanitasi bagi penduduk miskin dan pelestarian ekosistem penunjang kehidupan.

Internal Rate of Return dan Benefi-Cost Ratio. memberikan nilai ekonomi yang paling baik. c) penjadwalan dan pembiayaan proyek.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kelayakan hendaknya memuat pernyataan tentang tujuan. dan c) pembuatan beberapa pompa pengambilan air sungai dengan jaringan irigasinya dengan luas total 3000 Ha. dan yang dampak sosial dan lingkungannya paling kecil. Selanjutnya. masingmasing alternatif konstruksi dievaluasi kelayakannya dari aspek teknis. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . b) manajemen konstruksi dan operasi proyek. Alternatif yang dipilih adalah alternatif yang layak dari aspek teknis. Dari aspek teknis studi kelayakan mencakup antara lain kajian tentang alternatif-alternatif konstruksi (yang mencakup ruang lingkup konstruksi dan taksiran biayanya) untuk mencapai tujuan dan manfaat yang akan dicapai. c) kriteria perencanaan. b) intensifikasi pertanian dengan rehabilitasi dan upgrading jaringan irigasi yang ada serta pembuatan beberapa sumur air tanah dangkal dimana peningkatan produksinya setara dengan pembangunan jaringan irigasi baru seluas 3000ha. Dalam membuat altenatif-alternatif konstruksi kepentingan pendapatyang hendaknya baik mendengarkan manfaat pendapat maupun mapun dari yang pihak pemangku Pendapatmemerima dampaknya. Dari aspek ekonomi. Untuk proyek-proyek skala besar studi kelayakan selain 3 (tiga) kriteria dimaksud juga dapat mencakup: a) rencana pembiayaan pelaksanaan konstruksi. manfaat dan ruang lingkup proyek serta mencakup aspek-aspek. Dari aspek sosial-lingkungan dievaluasi dampaknya serta tingkat penerimaan masyarakat yang menerima manfaat maupun dampaknya. Kemudian masing-masing alternative konstruksi dimaksud dievaluasi kelayakan ekonominya dengan parameter-parameter Net Present Value of Benefit. misalnya untuk meningkatkan produksi padi disuatu wilayah alternative-nya adalah: a) pembuatan bendung untuk mengairi areal baru seluas 3000 Ha. dan d) keperluan institusi dan aspek hukum pengelola proyek setelah proyek selesai. ekonomi. dihitung biaya (temasuk biaya sosial dan lingkungan) serta manfaatnya/keuntungannya (termasuk manfaat langsung maupun tidak langsung). 4-61 mendukung/menyetujui menolak/keberatan hendaknya dicatat untuk menjadi bahan pertimbnagan dalam pengmbilan keputusan. ekonomi serta sosial dan lingkungan. teknis. dan sosial-lingkungan.

untuk mengevaluasi tingkat resiko pokok dan kendala serta memberi saran tentang jalan/langkah untuk mengurangi resiko dan meringankan kendala. yang dapat dilihat dari besaran/nilai: economic internal rate of return (EIRR) net present value of benefit pada tingkat suku bunga 12% (untuk proyek yang bersifat sosial dan pelestarian lingkungan dapat lebih rendah. yang dapat dilihat berdasarkan % (presentase) pertambahan pendapatan bersih usaha tani karena adanya proyek LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . untuk mengevaluasi biaya proyek dan kemungkinan tingkat pengembalian biaya (cost recovery) untuk instansi yang akan membiayai proyek d.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tujuan utama dari studi kelayakan proyek prasarana dan sarana sumber daya air adalah: a. 4-62 4.4. misal 6-2%) 2. menentukan tingkat pentingnya proyek dalam penambahan lapangan kerja b. misal 6-2%) benefit-cost (B/C) ratio pada tingkat suku bunga 12% (untuk proyek yang bersifat sosial dan pelestarian lingkungan dapat lebih rendah.3 Kriteria Evaluasi Kelayakan Proyek Kelayakan suatu proyek ditentukan berdasarkan hasil evaluasi atas indikatorindikator sebagai berikut: 1. Sedangkan tujuan sekunder dari studi kelayakan proyek dapat mencakup: a. Manfaat proyek bagi petani.4. untuk mengevaluasi benefit/manfaat proyek dalam lingkup nasional b. menentukan dampak proyek pada penghasilan devisa c. Kontribusi proyek terhadap pendapatan nasional. menentukan dampak proyek atas distribusi/pemerataan pendapatan kepada keluarga miskin/tertinggal. untuk mengevaluasi benefit/manfaat proyek terhadap masyarkat/ individu penerima manfaat c.

5 Penggunaan Model Investasi Pembangunan prasarana dan sarana sumber daya air khususnya jaringan irigasi di Indonesia bersifat ganda-tujuan (multi-objective).4. yaitu yang berorientasi pada efisiensi ekonomi nasional maupun yang berorientasi non-ekonomis. kriteria-kriteria pemilihan proyek dengan mana tujuan-tujuan tesebut LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dampak proyek terhadap anggaran pemerintah. misalnya mempertahankan kondisi swa-sembada produksi beras dengan intensifikasi sistem produksi melalui peningkatan jaringan irigasi yang ada maupun perluasan jaringan irigasi melalui perluasan areal sawah beririgasi di luar Jawa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3. Tujuan evaluasi: menentukan dampak proyek terhadap penciptaan lapangan kerja Kriteria evaluasi: Biaya untuk menciptakan 1000 oranghari (mandays) lapangan kerja 7. Dampak proyek terhadap distribusi pendapatan kepada penduduk tertinggal Kriteria evaluasi: • • • % (presentase) perubahan pada Gini Coefficient % (presentase) perubahan pada Poverty Ratio % (presentase) dari “project incremantal benefits” yang mengalir kepada keluarga miskin 4. Dampak proyek terhadap “foreign exchange” Kriteria evaluasi: • • Net foreign exchange savings Domestic Resources Cost 6. dan menunjang program transmigrasi. Hal ini dapat dilihat dari Cost Recovery Index (CRI) Tingkat resiko proyek Kriteria evaluasi: • • • 75% probability level untuk Economic Internal Rate of Return (EIRR) 75% probability level untuk Net Present Value of Benefit (NPVB) 75% probability level untuk Benefit-Cost Ratio 4-63 5. Selain itu. 4. mendorong program pembangunan daerah.

faktor teknis: kecocokan/kesuburan lahan. maka jika proyek dipilih akan diselesaikan dengan tuntas sehingga dihindari penyelesaian proyek yang parsial. dan menunjang program transmigrasi. dan faktor lingkungan: skore dampak lingkungan Penjadwalan proyek dalam kondisi keterbatasan dana: dengan digunakannya variabel 0 dan1. sehingga diperlukan pendekatan yang bersifat multi-objective dan 4-64 multi-critiria dalam proses pemilihan/penyaringan proyek. faktor-faktor sosio-teknis: kesiapan penduduk untuk memanfaatkan areal pertanian yang baru dicetak. pelaksanaan pembangunan/rehabilitasi jaringan irigasi mengalami permasalahan dalam penjadwalan. faktor sosio-ekonomis: jumlah luas areal sasaran. Multi-criteria. Model ini mampu menangani proses pemilihan proyek (irigasi) dengan karakteristik sebagai berikut: Multi-objective: economic/monetary objective seperti efisiensi ekonomi. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pengalaman dan kemampuan petani untuk memanfaatkan teknologi baru seperti jaringan irigasi teknis. faktor sosiopolitis: jumlah transmigran yang didukung. misalnya banyak proyek dibangun secara bersamaan tanpa menyadari terjadinya keterbatasan dana. dan tingkat keberadaan luas sawah yang sudah ada pada daerah sasaran. sehingga proyek hanya dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang ditentukan. dan tingkat keberadaan luas sawah yang sudah ada pada daerah sasaran. pengalaman dan kemampuan petani untuk memanfaatkan teknologi baru seperti jaringan irigasi teknis. Oleh sebab itu pendekatan ekonomis semata seperti analisis Benefit-cost tidak lagi memadai. Disamping itu. seperti kesiapan penduduk untuk memanfaatkan areal pertanian yang baru dicetak. Model Integer Goal Programming disarankan untuk dipakai dalam proses pemilihan proyek yang bersifat multi-objective dan multi-criteria.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dievaluasi juga mencakup faktor-faktor sosio-teknis. dan non-monetary objective seperti menunjang program swa-sembada beras. mendorong program pembangunan daerah. ketersediaan air.

Dapat digunakan untuk mengatasi masalah manajerial penjadwalan proyek. skenario pemilihan prioritas tujuan dan skenario pemilihan prioritas penggunaan kriteria. Dapat digunakan sebagai perangkat untuk mengidentifikasi ketidak pastian faktor-faktor sosio-teknis sehingga dapat diantisipasi upaya-upaya untuk meminimalkan ketidak pastian. Misalnya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dibandingkan dengan pendekatan tradisional Benefit-cost analysis. misal jika dipilih tujuan efisiensi ekonomi sebagai prioritas maka akan terpilih proyek-proyek irigasi yang terletak di Jawa saja (karena dengan investasi yang tidak terlalu besar misalnya untuk rehabilitasi dan atau lanjutan pembangunan jaringan irigasi akan diperoleh nilai net 4-65 present value of benefit yang cukup tinggi). misalnya dalam penjadwalan yang optimal yaitu memilih proyek dengan bulat dapat diselesaikan sesuai periode konstruksi proyek ditengah kendala dana yang tersedia. sebaliknya jika pencapaian areal irigasi baru atau dukungan atas program transmigrasi dipilih sebagai tujuan prioritas maka akan terpilih proyek-proyek irigasi yang terletak di luar Jawa. Demikian halnya untuk tujuan/objective dan kriteria-kriteria lainnya akan menghasilkan pilihan proyek dan pencapaian sasaran yang berbeda tergantung dari tujuan dan kriteria yang diprioritaskan. jika tujuan penambahan areal irigasi baru di luar Jawa atau dukungan atas program transmigrasi diberi prioritas maka akan diketahui “skor”/posisi masing-masing calon daerah irigasi dalam hal kesiapan petani. Dapat digunakan untuk “parametric analysis” untuk berbagai skenario ketersediaan dana. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dengan diketahuinya skor/posisi atas faktorfaktor sosio-teknis dapat diantisipasi uapaya penanganannya. manfaat dari penggunaan dari model multi-objective-multi-criteria diantarnya adalah: Dapat digunakan untuk membuat simulasi “trade-off” untuk berbagai pilihan kebijakan pemilihan proyek. kapasitas petani dan jumlah areal yang sudah berupa sawah pada daerah sasaran.

fokus dan integrasi dari berbagai aspek serta sebagai saluran bagi umpan balik pengguna dan dalam pengembalian biaya. Dalam tahun-tahun belakangan ini. air dan lahan. berkelanjutan (antar generasi). Model ini dengan berbagai modifikasi dapat digunakan untuk pemilihan prasarana dan sarana lainnya yang mempunyai karakter multi-objective – multi – citreria. freshwater management and coastal zone management). menyeluruh (hulu-hilir. dan kapan dukungan sarana produksi padi dan pelatihan untuk petani harus dimulai dan kapan pula transmigran mulai didatangkan ke daerah sasaran. suatu pendekatan regional dalam perencanaan pengembangan sumber daya air telah diikuti untuk mengatasi konflik yang muncul dengan cepat pada penggunaan air dalam kaitannya dengan tata ruang wilayah. sosio-ekonomi dari daerah sasaran Misalnya. sosio-teknis. kuantitas-kualitas. air permukaan-air tanah. Pendekatan ini telah mengarah pada LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4-66 4. instream-offstream. sosio-politis. berwawasan lingkungan (konservasi ekosistem) dengan wilayah sungai (satuan wilayah hidrologis) sebagai suatu kesatuan perencanaan dan pengelolaan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dapat dipakai sebagai perangkat untuk koordinasi antar sektor dengan diketahuinya jadwal dan kondisi faktor-faktor teknis. Mengingat bahwa sumber daya air menyangkut berbagai sektor pembangunan (multi sector). dan pembangunan jaringan sumber daya air lainnya. Pendekatan ini diperlukan untuk optimalisasi penggunaan sumber daya wilayah sungai karena dapat memberikan perhatian. maka perlu dikelola berdasarkan pendekatan peran serta (participatory approach) semua stakeholders dan segala keputusan publik tentang pengelolaan sumber daya air perlu didahului dengan konsultasi publik sebelum menjadi ketetapan. seperti penyediaan sarana air minum. kapan jaringan irigasi dimulai dan diselesaikan pembangunannya. sanitasi.5 STRATEGI KELEMBAGAAN DAN KOORDINASI Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan secara terpadu (multi sektoral).

juga dibutuhkan evaluasi terhadap alternatif kegiatan untuk memanfaatkan sumber daya air tersebut secara lebih baik. Integrasi manajemen lahan dan manajemen air. Inggris atau Belanda) dan Asia Tenggara (Sarawak dan Malaysia) dan negara-negara lainnya. untuk mensosialisasikan kegiatan proyek dan tujuannya. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back) dalam Dewan Sumber Daya Air Nasional untuk menampung masukan dari instansi pemerintah dan lembaga non-pemerintah yang terkait dalam pengelolaan sumber daya air. Integrasi aspek kuantitas dan kualitas dalam pengelolaan sumber daya air. dan mengidentifikasi berbagai kegiatan untuk menghasilkan suatu pedoman pengelolaan sumber daya air di Indonesia. 5.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA definisi batas wilayah sungai dan pembentukan Satuan Pengelola Teknis Wilayah Sungai. Dengan demikian perencanaan pengelolaan sumber daya air akan menjadi suatu program komprehensif pengembangan untuk jangka pendek dan jangka panjang. 2. Hal ini juga diikuti dengan studi masalah. seperti dari Eropa (Republik Checz. Masukan-masukan dimaksud dapat dikelompokkan pada: • • • • Integrasi manajemen “freshwater/air tawar” dengan manajemen daerah pantai Integrasi manajemen air permukaan dan manajemen air tanah. 4-67 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . seperti seminar. Untuk merumuskan suatu perencanaan termasuk menyusun dokumentasi sumber daya air. Menjabarkan semua pihak yang terkait yang terlibat dalam manajemen sumber daya air dan menggunakan kerangka kerja pada tingkat WS. 4. harus dilakukan analisis kebutuhan air baik untuk saat ini maupun proyeksinya dimasa mendatang. 3. Definisi fungsi institusi di tingkat pemerintah pusat yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut: 1. Menjabarkan kerangka kerja institusi pemerintah pusat dalam kegiatan manajemen sumber daya air. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back). Mengadakan seminar informal dan diskusi bulanan antara pihak pemerintah. yang bertanggung jawab kepada Pemerintah Provinsi.

perlu dipersiapkan peta Indonesia skala 1: 1. Pembagian institusi yang bertanggung jawab adalah sebagai berikut: LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dataran banjir yang diatur. Daerah tangkapan air (catchment area). 8. Pembuatan prinsip dan konsep peran institusi dan tanggung jawab mengenai: manajemen integrasi DAS dan daerah pantai. integrasi manajemen lahan dan air. fungsi dan yurisdiksi untuk koordinasi sektor-sektor yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya air pada tingkat nasional. kabupaten dan kecamatan serta batas kawasan kerja pihak-pihak yang terkait. Alur sungai. Daerah aliran air bagian tengah. Daerah pinggiran dataran banjir yang diatur (regulatory floodway fringe).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • Integrasi keperluan yang terkait dengan air didaerah hulu dan didaerah hilir Masalah-masalah yang terkait dengan koordinasi dan legislasi sumber daya air. 4-68 6.000 yang menggambarkan kondisi batas Wilayah Sungai yang terbaru berdasarkan Permen PU No:11/M/2006. maka daerah aliran sungai (DAS) perlu dibagi berdasarkan area sebagai berikut: • • • • • • • • • • • • • Daerah aliran air bagian hulu.000. Menghindarkan terjadinya “overlapping” dan “gaps” dalam pengaturan tanggung jawab dan kawasan kerja pada lembaga-lembaga yang terkait dengan pengelolaan air yang ada maka diperlukan pemetaan wilayah kerja berdasarkan pembagian wilayah sungai. Mengklarifikasi pembagian tugas. Daerah banjir. 7. Daerah pantai. Daerah aliran air bagian hilir. propinsi. penggunaan. integrasi kepentingan daerah hulu dan hilir. manajemen. Untuk keperluan ini. perencanaan. kontrol/pengendalian akses.

pengendalian kualitas air. mengendalikan alokasi sumber daya air. 11. 4-69 9. perencanaan pengembangan partisipasi publik. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . memperkirakan resiko yang mungkin terjadi. inventarisasi pengguna dan permohonan alokasi air. dan sebagainya. pengendalian alokasi keuangan dan pembiayaan. Merumuskan kekurangan infrastruktur pengolahan air limbah dan pengaturan aspek legal-nya untuk daerah perkotaan dan daerah urban. menurunnya kuantitas dan kualitas pasokan air. resolusi konflik. Mengadakan studi banding mengenai permasalahan integrasi sub-sistem sosial dan sub-sistem alam dalam pengelolaan terpadu sumber daya air. air irigasi/pertanian. penegakan hukum.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • • • • • • • • • • • • • • pengendalian penggunaan sumber daya air. masalah legislasi. air untuk pembangkit listrik tenaga air. pengembangan sumberdaya manusia. Merumuskan kurangnya koordinasi antar institusi dalam hal penyediaan air untuk berbagai keperluan serta mengidentifikasi upaya-upaya untuk mengatasinya. evaluasi dan pengawasan. dan air untuk lingkungan. masalah institusi. Informasi diatas digunakan untuk mengkoordinasi secara fungsional dan spasial antara sektor berikut: penyediaan air minum. menurunnya daya dukung lingkungan serta meningkatnya kepedulian atas kelestarian lingkungan. Identifikasi tugas institusi dalam menghadapi tantangan dalam pengelolaan sumber daya air yaitu antara lain: meningkatnya kebutuhan air. koordinasi pengembangan. air untuk wisata air. masalah hukum. air perikanan. 10. 13. air industri. 12.

meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Mengidentifikasi pilihan alternatif pemecahan masalah dengan pernyataan yang jelas tentang kelebihan dan kekurangannnya dari alternatif yang disiapkan. Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota dan semua produk hukum yang isinya bertentangan dengan Peraturan perundang-undangan tersebut perlu untuk direvisi. 22/1999) dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 menempatkan otonomi daerah secara utuh pada daerah kabupaten dan daerah kota. erosi dan sedimentasi. Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (sebagai pengganti UU No 22/1999) dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai otonomi daerah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 14.6 PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DALAM ERA OTONOMI DAERAH Di dalam upaya penanggulangan masalah pengembangan sumber daya air. banjir serta kualitas air adalah termasuk upaya penanggulangan secara struktural dan non-struktural pengembangan sumber daya air dalam era otonomi daerah. 15. Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 (sebagai pengganti UU No. akan banyak memberikan perubahan-perubahan mendasar dalam sistem ketatanegaraan. baik masalah kekurangan air. Menyiapkan kerangka kerja tugas dan fungsi koordinasi institusi yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air pada lembaga pemerintah dan pihak non-pemerintah yang terkait. 4-70 4. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 merupakan faktor pendorong untuk memberdayakan masyarakat. yang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang PokokLAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . maka untuk saat ini kedua produk hukum tersebut digunakan sebagai acuan untuk pembagian kewenangan antara Pusat. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas.

Pelaksanaan otonomi daerah yang bertumpu pada otonomi daerah kabupaten dan daerah kota juga memberikan pengaruh yang besar terhadap pengelolaan sumber daya air. disebutkan bahwa: 1. Berdasarkan prinsip keterpaduan tanpa mengurangi Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Sungai.16 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai Wilayah Sungai Dalam satu Kabupaten/kota Lintas Kabupaten/Kota dalam Propinsi Lintas Propinsi Sungai Strategis Sumber: UU No. 4-71 satu Wewenang Penetapan Wilayah Sungai. 4. Dalam UU SDA Pasal 5 dan Pasal 6 Tentang Pengelolaan Sumber daya air. Pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan seluas-luasnya peran serta masyarakat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pokok Pemerintah di Daerah. Berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air. Penetapan Pola dan Pelaksanaan Pengelolaan SDA Bupati/Walikota Gubernur (konsultasi dengan Dewan Daerah Sumber daya air) Menteri (konsultasi dengan Dewan Nasional Sumber daya air) Pemerintah (dengan persetujuan dan dilakukan bersama Pemerintah Daerah) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Daerah kabupaten dan kota tersebut berkedudukan sebagai daerah otonomi dan mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat di daerahnya. ditetapkan sebagai berikut: Tabel 4. 3. 2. pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. Pemerintah dan DPR telah mengeluarkan Undang-undang (UU) Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber daya air. berkedudukan sebagai Kabupaten Daerah Tingkat II dan Kotamadya Daerah Tingkat II. Pengelolaan sumber daya air meliputi kegiatan konservasi. Pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan wilayah sungai. 7 Tahun 2004. yaitu UU Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. UU SDA ini menggantikan Undang-undang yang berlaku sebelumnya.

Masalah dan tantangan yang perlu dikaji adalah sebagai berikut: a. Masalah yang berkaitan dengan penggunaan air permukaan dan air tanah memperlihatkan perlunya pengelolaan bersama antara sumber air tanah dan air permukaan. b. tapi penegakan hukum dan peraturan mengenai kuantitas air dan kualitas air sampai sekarang masih kurang. baik dari unsur pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah propinsi. termasuk para kelompok pengguna air di dalam pengelolaan sumber daya air. Untuk itu diperlukan suatu terobosan berupa suatu kesepakatan operasional pelayanan sumber daya air yang mengikutsertakan para penanggung jawab operasional di lapangan. Suatu pengelolaan kuantitas air dan kualitas air yang memadai akan menjadi penting bagi pembangunan. Kerangka kerja institusi harus mengatur koordinasi antara tingkat nasional. Peningkatan manajemen sumber daya air permukaan dan air tanah harus dalam kerangka kerja yang sama pada masing-masing Wilayah Sungai yang bersangkutan. 4-72 4. Pemantauan telah dilakukan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Pengelolaan sumber daya air memerlukan dukungan penuh dan terus-menerus dari institusi jajaran pemerintah propinsi/kabupaten/kota dan stakeholders.6. Hal ini juga harus diterapkan tingkat Wilayah Sungai.1 Permasalahan dan Tantangan dalam Pengelolaan Sumber daya air Masalah khusus yang mendesak untuk pengembangan wilayah sungai terdiri atas terlalu banyak air dimusim hujan. dan kabupaten dalam manajemen sumber daya air maupun LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . air tanah dan kualitas air. terlalu sedikit air dimusim kemarau sedangkan air yang tersediapun sudah terlalu kotor yang menyangkut pengelolaan air permukaan. d. c. Perencanaan harus menerapkan prinsip peningkatan fungsi dan daya dukung daerah aliran sungai sebagai sumber air dan manajemen daerah aliran sungai. pemerintah harus menjalankan perencanaan dan koordinasi pengembangan sumber daya air dengan tegas. propinsi. Selama proses masa transisi.

4-73 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4) kecamatan/daerah tangkapan dan 5) desa/sub DAS yang kecil. yakni: 1) nasional (prioritas pada Wilayah Sungai nasional dan wilayah sungai strategis). Kerangka kerja institusi yang terkait harus terdiri dari 5 tahap. Sektor pengembang swasta. e. Perencanaan dan koordinasi manajemen sumber daya air dan daerah aliran sungai pada wilayah sungai nasional dan wilayah sungai strategis dikoordinasikan oleh badan pemerintah pusat dengan partisipasi langsung pihak-pihak yang terkait (pengguna sumber daya air. g. Organisasi pengelola wilayah sungai yaitu Balai Besar Wilayah Sungai/BBWS. provinsi dan wilayah sungai. Departemen pemerintah. Asosiasi profesional. lembaga. 2) propinsi (prioritas pada wilayah sungai propinsi atau lintas kabupaten dalam satu propinsi). Saat ini masih terdapat lembaga pemerintah yang mempunyai tugas yang sama pada perencanaan manajemen sumber daya air dan kawasan kerjanya. Bali Wilayah Sungai/BWS. Organisasi non pemerintahan. Bappenas seharusnya memulai untuk mengatur koordinasi batasan kawasan kerja. Terdapat juga definisi kawasan kerja yang tidak konsisten pada departemen pemerintah. baik swasta maupun publik) pada setiap WS. dan tingkat administrasi. Definisi pihak yang terkait atau pemangku kepentingan/stakeholders adalah: • • • • Lembaga pemerintah pusat yang terkait. Asosiasi perusahaan air minum Asosiasi pengguna air. 3) kabupaten. f. PJT II. PJT I.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengatur koordinasi antar anggota stakeholders pada tingkat yang sama pada berbagi tingkatan yaitu tingkat nasional. Balai Pengelolaan SDA Propinsi • • • • • Sektor industri swasta. h.

Melengkapi strategi sumber daya air nasional dan menyelaraskan dengan ketentuan dan peraturan sektor dan sub sektor yang ada. hilir DAS dan daerah pantai yang ada. Manajemen sumber daya air pada wilayah sungai lintas propinsi dan wilayah sungai strategis nasional akan dikoordinasikan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional dengan sekretariatnya dan struktur transisinya. kabupaten. tengah. DAS. l. DAS dan kabupaten. Manajemen informasi sumber daya air akan didirikan dan berada dibawah sekretariat. n. Pengembangan ini adalah digunakan untuk sistem pengawasan kinerja pemerintah dan sistem koordinasi manajemen informasi. Kabupaten harus menyiapkan bahan perencanaan pembangunan kabupaten dengan prioritas pada kecamatan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . k. Insitusi ini juga akan bertanggung jawab dalam penyebaran informasi kepada publik dan pengembangan sistem monitor untuk propinsi. manajemen. Hal ini diperlukan untuk koordinasi antara tingkat pemerintah. Petani dan asosiasinya. dan kabupaten. pembaharuan (update). dan koordinasi finansial. Nelayan dan asosiasinya. diawali dengan penetapan pola dan rencana induk pengelolaan sumber daya air yang disetujui oleh Dewan SDA Nasional. diikutsertakan mengenai bidang pengawasan. baik dari segi pasokan maupun kebutuhan. propinsi. j. Lembaga-lembaga pada tingkat propinsi. 4-74 Prioritas identifikasi pengembangan wilayah sungai (WS) adalah pada WS tingkat nasional dan WS Strategis nasional. Dalam perumusan program sumber daya air dan irigasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • i. m. pengembangan WS akan diuraikan oleh perencanaan strategi untuk WS. Bappenas bertanggung jawab dalam reformasi kebijakan pengelolaan sumber daya air dan membantu Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber daya air. kecamatan dan desa dalam hubungannya dengan daerah hulu. o. Perencananan pengembangan pada tingkat kecamatan dibuat oleh pemakai air dan LSM. propinsi. DAS dan kabupaten akan menggambarkan kondisi.

Eksploitasi air tanah yang berlebihan mengakibatkan penurunan muka air tanah. Kualitas air buruk karena daya dukung sungai lebih rendah dibanding beban pencemaran.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA p. Belum semua wilayah sungai memiliki masterplan. permukiman dan industri. penurunan kapasitas pengaliran sungai dan penurunan kinerja prasarana pengendali banjir. Telah terjadi kekeringan/defisit air (di musim kemarau). Penurunan kinerja infrastruktur sumber daya air. dan ketatalaksanaan.1. Lemahnya koordinasi. land subsidence. Dewan Sumber Daya Air Nasional bertanggung jawab dalam implementasi dan manajemen kebijakan pengelolaan sumber daya air nasional. kelembagaan. Banjir disebabkan oleh perubahan tata lingkungan. Meningkatnya kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan. dan intrusi air laut. 4-75 4. Kebutuhan air baku untuk non-irigasi makin meningkat sejalan dengan perkembangan penduduk. Kelangkaan air juga diperparah dengan menurunnya kondisi lingkungan dan makin meluasnya lahan kritis. Meningkatnya potensi konflik pemanfaatan air. Pengaruh otonomi daerah dalam rangka pengelolaan sumber daya air LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . diperlukan adanya institutusi yang bersifat komprehensif untuk menjawab permasalahan yang berkembang. Rendahnya kualitas pengelolaan hidrologi.6. Regenerasi sumber daya manusia pengelola sumber daya air terancam tidak berlanjut. Masih lemahnya pengelolaan database sumberdaya alam.1 Permasalahan dalam Pengelolaan Sumber daya air Wilayah Sungai di Pulau Jawa sebagian besar mengalami permasalahan yang sama yaitu: Kerusakan catchment area sehingga memberikan ancaman terhadap keberlanjutan daya dukung sumber daya air.

yang berarti bahwa kabupaten/kota dituntut dapat lebih intensif mendayagunakan segala potensi yang ada secara bertahap agar mampu membiayai urusan rumah tangganya sendiri dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Penguasaan atas sumber daya air ini didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut: 1) Sumber daya air merupakan unsur penting dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan sangat diperlukan untuk pemenuhan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Berikut ini diberikan berapa permasalahan yang sering muncul dalam pengelolaan sumber daya air. namun di sisi lain juga tidak menutup kemungkinan akan dapat menimbulkan konflik yang sebelumnya mungkin tidak pernah terjadi. ada kecenderungan kabupaten/kota akan menguasai dan mengelola sumber daya air yang terdapat di daerahnya. Di sisi lain. Selain itu. Pengaruh yang baik dan bermanfaat dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air dalam era otonomi daerah adalah munculnya budaya kompetisi yang sehat antar daerah untuk berusaha memajukan daerahnya masing-masing dengan memanfaatkan potensi yang ada di masing-masing daerah. terkait dengan pelaksanaan otonomi daerah: a. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Kepentingan Kabupaten/Kota. 4-76 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 2) Sumber daya air sebagai komoditi ekonomi dapat dikembangkan dan dikelola untuk andalan pendapatan daerah (sebagai air baku. dan lain-lain). pariwisata. pemerintah kabupaten/kota juga akan berupaya untuk lebih mensejahterakan dan meningkatkan derajat kehidupan masyarakatnya sebagai konsekuensi dari tuntutan masyarakat dan tuntutan jaman. industri. adanya otonomi daerah dapat menimbulkan permasalahanpermasalahan yang dapat menimbulkan konflik antar daerah dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pada prinsipnya di satu sisi dapat memberikan dampak yang baik dan bermanfaat. Dengan diterapkannya otonomi daerah.

Jalur distribusi yang dilewati. Konflik akan terjadi bilamana wilayah sungai terdiri dari beberapa wilayah administratif baik kabupaten/kota atau bilamana wilayah sungai melalui lebih dari satu propinsi. dengan catatan tidak didasari atas niat ingin menguasai dan hanya memikirkan daerah setempat saja. Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pemanfaatan tersebut. Keuntungan yang timbul dari pemanfaatan air. Alokasi pemanfaatan air. kawasan lindung dan resapan air serta pengendalian terhadap erosi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3) Dengan menguasai dan mengelola sumber daya air akan mengurangi ketergantungan pada daerah lain. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pemilik sumber air (lokasi sumber). perlu adanya pembagian dalam penataan ruang dari masingmasing kabupaten/kota untuk memperhatikan lokasi. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Banjir. fungsi dan wilayah sungai tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Daerah aliran sungai bagian atas (hulu). Lokasi. Oleh karena itu. daerah ini berfungsi sebagai daerah konservasi tanah dan air. Konflik pemanfaatan air bersih dapat terjadi apabila tidak ada kesepakatan yang baik pada pemanfaatan langsung maupun tidak langsung yang terkait dengan: 1) 2) 3) 4) 5) c. b. fungsi dan sifat dimana daerah tersebut berada dalam wilayah sungai. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan Air Bersih. Sebab dan akibat adanya banjir ini sangat dipengaruhi oleh kondisi tata ruang dalam wilayah sungai. 4-77 Pertimbangan-pertimbangan tersebut apabila dikembangkan secara positif akan memajukan daerah dan menumbuhkan kompetisi yang baik. Masalah penanganan banjir secara komprehensif sangat tergantung oleh adanya keterpaduan pengelolaan daerah pengaliran sungai dalam satu wilayah sungai.

Untuk itu diperlukan upaya-upaya khusus diantaranya dengan mengintegrasikan kepentingan hulu dan hilir serta diterapkannya prinsip ”hydrosolidarity”. pendistribusian serta pengendalian banjir. daerah ini berfungsi sebagai daerah pengendalian banjir dan drainase serta pencegahan intrusi air laut. Dalam upaya-upaya ini. pengalokasian. keterlambatan dalam merespon sungai yang dimukimi penduduk). penyimpanan. 4-78 3) Daerah aliran sungai bagian bawah (hilir). Langkah-langkah dijamin. Hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah kejadian-kejadian pemicu-pemicu yang memerlukan penanganan khusus seperti langkah-langkah intervensi pemerintah dalam LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2) Daerah aliran sungai bagian tengah. Suatu daerah tangkapan air dapat dilihat sebagai socio-ecohydrological system dimana trade offs harus dibuat. Selain sangat dipengaruhi oleh curah hujan. peraturanperaturan dan pembiayaan yang siap melaksanakan. lanjut. daerah ini berfungsi sebagai daerah untuk pengumpulan. penyeimbangan/tradeoffs ini perlu diikuti upaya-upaya yang kondusif agar antara lain: penerimaan masyarakat atas hasil trade offs harus pelaksanaannya dimungkinkan dengan adanya institusi-institusi. Lebih akan mempersulit pelaksanaan keterlambatan berdasarkan respon hidrologis dan upaya-upaya : keterlambatan dalam respon sosial (pembenahan bantaran (penentuan daerah rawan tingkat resiko) keterlambatan respon ekosistem (pembuatan daerah atau titik-titik/sumur resapan air). kesemuanya itu harus diperhitungkan. banjir pertumbuhan penduduk. dan direalisasikannya implementasi dengan menjamin insentip yang mencukupi dan disertai upayaupaya dibidang pendidikan. migrasi-urban dan bertambahnya ekspektasi. komplikasi dapat timbul seperti perubahan yang terus berlanjut dalam hal perubahan-perubahan yang didorong oleh penggunaan tanah dan modifikasi penggunaan air. masalah banjir juga terkait dengan ada tidaknya tindakan konservasi di daerah hulu dan untuk mengkoordinasikannya sangat sulit karena berhubungan dengan masalah tataguna lahan pada masing-masing daerah kabupaten/kota.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

memitigasi bencana yang terkait dengan air seperti kekeringan, tanah longsor dan pencemaran.

banjir,

4-79

Tiga arahan kunci menjiwai sistem manajemen yang diperlukan, yaitu: 1) menjamin layanan yang terkait dengan air kepada penduduk, 2) mencegah dan mengurangi degradasi ekosistem, dan 3) memperkirakan perubahan dan variabilitas iklim dan dampaknya. d. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan Air Irigasi. Guna memenuhi kebutuhan pangan, pemanfaatan air untuk irigasi saat ini masih sangat diperlukan dan masih dominan. Berkaitan dengan hal tersebut, peningkatan kebutuhan air non irigasi akan menyebabkan alokasi pemenuhan kebutuhan air irigasi menjadi berkurang, disisi lain, kebutuhan air irigasi juga cenderung berkurang seiring dengan pengurangan lahan irigasi karena adanya perubahan pemanfaatan lahan. Mengingat air yang terbatas, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan konflik antar pengguna air. Oleh karena itu, perlu adanya kesepakatan dalam hal alokasi air dan pola tanam yang diterapkan. e. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Kelembagaan. Berbagai instuisi selama ini telah melakukan pengelolaan sumber daya air. Pada waktu sumber daya air masih berupa uap air/embun, BMG merupakan instuisi yang berwenang dan bertanggung jawab dalam melakukan pengelolaan dan pencatatan. Sedangkan sumber daya air yang sudah berada pada badan air, yang berupa sungai atau danau sebagai air permukaan dikelola oleh Departemen Pekerjaan Umum/cq. Ditjen Sumber Daya Air. Selanjutnya, sumber daya air yang berupa air tanah yang berada di bawah permukaan tanah dikelola oleh Departemen Pertambangan dan Energi. Sementara itu, untuk air di laut instuisi pengelolanya adalah Departemen Kelautan dan Perikanan. Mengingat sifat kontinuitas sumber daya air, sementara institusi pengelolanya relatif terpisah, oleh karenanya diperlukan suatu koordinasi yang baik diantara para unsur pengelolaannya.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

Pengelolaan sumber daya air melibatkan banyak stakeholders yang seringkali 1) 2) 3) 4) 5) tidak mudah untuk mengkoordinasikannya dan ada kecenderungan sering terjadi egoisme sektoral dengan implikasi: Menitikberatkan pada kepentingan masing-masing sektor, Merencanakan dan melaksanakan pengelolaan sesuai kebutuhannya sendiri, Membuat peraturan sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan masingmasing sektor, Menyebabkan terjadinya tumpang tindih tanggung jawab dan wewenang instuisi, Menyebabkan kurang terintegrasinya tataguna ruang dan tata air. lembaga-lembaga

4-80

Dalam pelaksanaannya, instansi pemerintah termasuk

penelitian dan Perum yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air cukup banyak, yaitu Departemen-departemen Pertanian, Kehutanan, Perhubungan, ESDM, Pekerjaan Umum, Perindustrian, Dalam Negeri, Keuangan, Kelautan dan Perikanan, Kesehatan, Sosial, Kementerian Negara PPN/BAPPENAS, Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Kantor Menko Perekonomian, Kantor Menko KESRA, BPN, BMG, BAKORNAS PBP, BPPT, LAPAN, LIPI, BAKOSURTANAL, PT. PLN, PJT I, dan PJT II. Permasalahan yang sering timbul adalah mengenai batasan kewenangan antar lembaga pengelola SDA dalam pengelolaan sumber daya air masih belum jelas dan belum ada juklak dan juknis yang mengaturnya, terkait dengan Implementasi PP No. 25 Tahun 2000 atau peraturan pemerintah penggantinya.

4.6.1.2 Tantangan dalam Pengelolaan Sumber daya air a. Meningkatnya eksploitasi Sumber daya air demi mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sumber pendapatan daerah ketentuannya terdapat dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah yang menyatakan

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

bahwa salah satu sumber pendapatan daerah berasal dari Pendapatan Asli Daerah, yang meliputi: • • • • hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, lain-lain pendapatan daerah yang sah.

4-81

Sebagai daerah otonomi yang memiliki kewenangan sendiri untuk mengurus daerahnya, terkadang pemerintah daerah dalam mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) baik yang berupa pajak maupun retribusi daerah, seringkali tidak memperhatikan pengaruhnya terhadap daerah lain. b. Ego sektor berubah menjadi ego daerah Akibat dari pengelolaan sumber daya air menyangkut multi sektor, maka pengelolaan sumber daya air akan melibatkan banyak stakeholders yang tidak mudah untuk mengkoordinasikannya sehingga ada kecenderungan terjadinya egoisme sektoral dengan implikasi mengutamakan pada kepentingan masing-masing sektor. Dari ego sektor tadi kemudian berubah menjadi ego daerah dengan implikasi merencanakan dan melaksanakan pengelolaan sumber daya air sesuai kebutuhan daerahnya sendiri tanpa memikirkan daerah lain yang terkadang air sungai tersebut juga mengalir atau melewati daerah lain. c. Masalah Pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai tidak mengenal batas administratif Pembinaan maupun pengelolaan atas air dan atau sumber air pada suatu wilayah sungai batasannya adalah wilayah sungai (batasan hidrologis) bukan batasan administrasi. Sering terjadi permasalahan suatu sumber air terletak pada wilayah administrasi yang berbeda dengan pengguna sumber air tersebut. Permasalahan tersebut biasanya dapat diselesaikan antar instansi pemerintah namun sulit untuk level masyarakat. Sehingga diperlukan adanya koordinasi dan pengaturan atas sumber daya air yang

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

Lingkup pengelolaan dari orientasi proyek menjadi program terpadu. Filosofi pengelolaan dari menghindari hukum menjadi melakukan sesuai hukum. dan PERMEN PU No:13/PRT/M/2006. pendayagunaan sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS)/Balai Wilayah Sungai (BWS) adalah unit pelaksana teknis di bidang konservasi sumber daya air. tanggal 17 Juli 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Wilayah Sungai. Kerjasama berbasis proyek untuk penanganan masalah sejenis yang dihadapi bersama. Kerjasama dalam pemberian perijinan untuk kegiatan-kegiatan pemanfaatan SDA dan pemanfaatan ruang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA adil dan merata secara jelas dan tegas serta memberikan informasi yang transparan bagi masyarakat setempat. diperlukan upaya-upaya pengelolaan sumber daya air yang lebih terpadu. 4-82 4.6. kawasan konservasi dan pengendalian pencemaran. • • • Penanganan wilayah perbatasan. karena bagaimanapun juga masyarakat merupakan pihak yang terlibat langsung dalam pemanfaatan dan penggunaan air tersebut. pengembangan sumber daya air. 2) Pengembangan kerjasama antar lembaga dan daerah. Pola pengelolaan dari reaktif menjadi proaktif. Sehubungan dengan permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air seperti yang disampaikan diatas. Sistem pengelolaan dari rigid menjadi fleksibel. tanggal 17 Juli 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Wilayah Sungai. • • • • • Tujuan pengelolaan dari Adhoc (khusus) menjadi need driven. dengan mempertimbangkan: 1) Perubahan paradigma.2 Organisasi dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No:12/PRT/M/2006.

d. Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. melaksanakan fasilitasi kegiatan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air pada wilayah sungai. penggunaan dan pengusahaan SDA pada wilayah sungai. BBWS/BWS mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan sumber daya air (SDA) yang meliputi perencanaan. melaksanakan penyiapan rekomendasi teknis dalam pemberian ijin atas penyediaan. e. pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. melaksanakan operasi dan pemeliharaan SDA pada wilayah sungai. c. Dalam melaksanakan tugasnya BBWS/BWS menyelenggarakan fungsi: a. i. pelaksanaan konstruksi. melaksanakan ketatausahaan Balai Besar/Balai Wilayah Sungai. Bidang Program dan Evaluasi. melaksanakan penyusunan rencana dan pelaksanaan pengelolaan kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai. 4-83 Balai Besar Wilayah Sungai terdiri dari 2 (dua) tipe. e. j. h. Bidang Operasi dan Pemeliharaan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. Bagian Tata Usaha. peruntukan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Sumber Daya Air. c. Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. melaksanakan pengelolaan sistem hidrologi. melaksanakan pengelolaan SDA yang meliputi konservasi SDA. melaksanakan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan SDA. melaksanakan penyelenggaraan data dan informasi SDA. d. pengembangan SDA. b. g. yaitu: 1) BBWS Tipe A yang terdiri dari: a. b. pengembangan SDA. melaksanakan penyusunan pola dan rencana pengelolaan SDA pada wilayah sungai. operasi dan pemeliharaan dalam rangka konservasi SDA. f.

4-84 3) BBWS Tipe B yang terdiri dari: a. 2. c. 2. NAMA BALAI LOKASI WILAYAH KERJA Balai Besar Wilayah Sungai I. 1. TIPE A Balai Besar Wilayah Sungai Brantas Balai besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Balai Besar Wilayah Sungai pemali – Juana Balai Besar Wilayah Sungai Serayu – Opak Balai Besar Wilayah Sungai CimanukCisanggarung TIPE B Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy TIPE A BWS Cidanau – Ciujung – Cidurian BWS Ciliwung – Cisadane BWS Citarum TIPE B Serang Jakarta Bandung Wilayah Sungai Cidanau – Ciujung – Cidurian Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane Wilayah Sungai Kep. Tabel 4. I. 3. II. b. e. 17 Balai Besar Wilayah Sungai & Balai Wilayah Sungai di Pulau Jawa NO. Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. Subbagian Tata Usaha. d.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA f. II. yaitu: 1) Balai Wilayah Sungai Tipe A terdiri dari: a. 1. Bagian Tata Usaha. Kelompok Jabatan Fungsional. - Cirebon Banjar Balai Wilayah Sungai Balai Wilayah Sungai terdiri dari 2(dua) tipe. 3. Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. 6. Seksi Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. Bidang Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. Kelompok Jabatan Fungsional. Yogyakarta 5. Seksi Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . b. c. Seribu Wilayah Sungai Citarum Surabaya Surakarta Semarang Wilayah Sungai Brantas Wilayah Sungai Bengawan Solo Wilayah Sungai Pemali – Comal Wilayah Sungai Jratun Seluna Wilayah Sungai Serayu – Bogowonto Wilayah Sungai Progo– Opak– Serang Wilayah Sungai Cimanuk – Cisanggarung Wilayah Sungai Citanduy 4.

3. Danau. b.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA d. situ dan embung. Seksi Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. Sungai. 6. 2. Urusan irigasi lintas kabupaten/kota. 4-85 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Seksi Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Tingkat Kabupaten/Kota berperan sebagai penanggung jawab pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai yang menjadi kewenangan Kabupaten/Kota yang bersangkutan (wilayah sungai Kabupaten/Kota) yang diwujudkan manifestasinya pada usaha-usaha pembinaan teknis dan pengawasan teknis maupuan pelaksanaan fisiknya. 5. Penyediaan air baku untuk berbagai keperluan. 4. yang meliputi 9 (sembilan) urusan yaitu: 1. Rawa. 2) Balai Wilayah Sungai Tipe B terdiri dari: a. Pengendalian banjir dan penanggulangan kekeringan. Kelompok Jabatan Fungsional. Tugas utama Balai PSDA Propinsi adalah melaksanakan sebagian fungsi dinas di bidang pengelolaan sumber daya air. d. e. Untuk membantu dinas tingkat propinsi dalam pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersifat lintas kabupaten/kota masih dalam satu propinsi (wilayah sungai propinsi) diperlukan Balai Pengelolaan Sumber daya air Propinsi (Balai PSDA Propinsi) yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 179/1997 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA. Seksi Pelaksanaan Jaringan Sumber Air dan jaringan Pemanfaatan Air. c. waduk. Kelompok Jabatan Fungsional. Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air/Pengairan Tingkat Propinsi berperan sebagai penanggung jawab pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai yang menjadi kewenangan Propinsi yang bersangkutan (wilayah sungai propinsi) yang diwujudkan manifestasinya pada usaha-usaha pembinaan teknis dan pengawasan teknis maupuan pelaksanaan fisiknya. Subbagian Tata Usaha.

galian golongan C.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 7. Pengendalian pencemaran air. kelestarian situ. delta. air dan irigasi lintas air kabupaten/kota. 8. Pemeliharaan muara sungai dan delta. Balai PSDA mempunyai 3 fungsi utama sebagai berikut: 1. pengelolaan rawa. 2. penanggulangan kekeringan. perlindungan pantai dan muara. pengendalian banjir. waduk. pemeliharaan infrastruktur pengairan dll). Perlindungan pantai. alokasi air. embung. Dalam rangka melaksanakan tugas sembilan urusan seperti tersebut di atas. kepegawaian dan perlengkapan). Pelaksanaan operasional konservasi/pelestarian sumber (pengendalian pencemaran air. dll). Pelaksanaan operasional pelayanan kepada masyarakat di bidang pengairan (rekomendasi teknis perijinan pengambilan air. Pelaksanaan pelayanan teknis administratif ketatausahaan (urusan keuangan. 3. 9. 4-86 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

2 Evaluasi Evaluasi adalah kegiatan penilaian kinerja yang diukur dengan efisiensi. Dengan melakukan pemantauan perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan dapat diikuti dengan bagik guna menjamin konsistensi antara pelaksanaan dengan rencana yang telah ditetapkan. dan tindakan lanjut. dan ruang lingkup yang menjadi pedoman dalam rangka menyusun perencanaan berikutnya. Evaluasi dilakukan dengan maksud untuk dapat mengetahui dengan pasti apakah pencapaian hasil. tujuan.1 INDIKATOR PEMANTAUAN DAN EVALUASI Pemantauan Pemantauan adalah melihat kesesuaian pelaksanaan perencanaan dengan arah. Pemantauan merupakan bagian dari kegiatan pengendalian untuk mengamati/meninjau kembali serta mempelajari dengan cermat yang dilakukan secara terus menerus atau berkala terhadap pelaksanaan rencana pembangunan yang sedang berjalan. 5.1 5.1. Evaluasi kinerja pelaksanaan rencana pembangunan dilaksanakan terhadap keluaran kegiatan yang dapat berupa barang dan jasa dan terhadap hasil (outcomes) program pembangunan yang berupa dampak dan manfaat. dan kemanfaatan program serta keberlanjutan pembangunan. mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan korektif sedini mungkin. Serangkaian kegiatan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pengendalian dilakukan dengan maksud untuk dapat menjamin bahwa pelaksanaan rencana pembangunan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-1 5.1. efektifitas. kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan rencana pembangunan dapat dinilai dan dipelajari untuk perbaikan pelaksanaan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kegiatan pengendalian meliputi kegiatan pemantauan. pengawasan.

dan (iii) indikator hasil/manfaat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI rencana pembangunan di masa yang akan datang. Pada tahap pelaksanaan. (ii) indikator keluaran. (ii) Evaluasi pada Tahap Pelaksanaan (ON-GOING). keluaran (output). Kementrian/Lembaga. efektivitas (hasil dan dampak terhadap sasaran). Evaluasi ini diarahkan untuk melihat apakah pencapaian (keluaran/hasil/dampak) program mampu mengatasi masalah pembangunan yang ingin dipecahkan. manfaat (benefit) untuk dan dampak (impact). Indikator dan sasaran kinerja mencakup masukan (input). serta akuntabel. tujuan dan kinerja pembangunan. evaluasi sering digunakan untuk menunjukkan tahapan siklus pengelolaan rencana pembangunan yang mencakup: (i) Evaluasi pada Tahap Perencanaan (EX-ANTE). Pada prinsipnya. hasil (result). setiap Kementerian/Lembaga. Pada tahap perencanaan. untuk menciptakan proses dan kegiatan perencanaan yang efisien. Dalam melaksanakan evaluasi kinerja proyek pembangunan. evaluasi sering digunakan untuk memilih dan menentukan skala prioritas dari berbagai alternatif dan kemungkinan cara mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. dan (iii) Evaluasi pada Tahap Pasca-Pelaksanaan (EX-POST). dan dampak dari rencana pembangunan. berkewajiban melaksanakan pembangunan merupakan dan atau terkait dengan fungsi dan tanggungjawabnya. evaluasi Dalam kinerja rangka perencanaan yang pembangunan. Fokus utama evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan diarahkan kepada hasil. ataupun manfaat (dampak terhadap kebutuhan) dari suatu program. manfaat. Evaluasi ini dilakukan setelah program berakhir untuk menilai efisiensi (keluaran dan hasil dibandingkan masukan). Evaluasi pelaksanaan rencana adalah bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran. (i) indikator masukan. 5-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dibuat perangkat evaluasi yang dapat diukur melalui penyusunan indikator dan sasaran kinerja pelaksanaan rencana yang meliputi. baik Pusat maupun Daerah. efektif. evaluasi digunakan untuk menentukan tingkat kemajuan pelaksanaan rencana dibandingkan dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang tercantum dalam dokumen rencana pembangunan. Di dalam opersionalnya. dan transparan.

Visi Pemantauan Assessment Implementasi Lingkungan yang Menunjang Kerangka Institusi Instrumen Managemen Strategi Rencana IWRM Gambar 5. 1 Siklus Pengelolaan Terpadu SDA (IWRM). Untuk itu diperlukan indikator sebagai perangkat dalam memantau proses pengelolaan yang dilakukan. mengikuti pedoman dan petunjuk pelaksanaan evaluasi kinerja untuk menjamin keseragaman metode. dan ukuran yang sesuai untuk masing-masing jangka waktu sebuah rencana. 5.1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI baik Pusat maupun Daerah.. materi. Adapun tahapan yang dimaksud sesuai dengan siklus tersebut adalah sebagai berikut: 1 Olsen. Kerangka praktis untuk menyusun indikator-indikator untuk pemantauan dan hasilnya (outcomes) secara konseptual dapat dibagi dalam 4 (empat) kelompok yang berbeda1 setiap kelompok mewakili kemajuan dari beberapa tahapan/langkah dari siklus proses ini. et al. arah pemantauan dan evaluasi yang dilakukan juga terkait dengan visi dan rencana yang ditetapkan.3 Indikator dalam Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air 5-3 Sejalan dengan pengelolaan sumber daya air terpadu yang dikenal dengan Integrated Water Resources Management (IWRM). 2006 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

standar-standar dan kemauan politis untuk melaksanakan rencana-rencana. “Peraturan-perundangan yang telah ditetapkan:. Tahap ketiga mulai diselesaikan 4. misalnya “Kebijakan Pengelolaan SDA yang telah disepakati”. Namun berjhubung proses ini merupakan suatu siklus. Tahap Pertama 2. A. Tahap ke Empat lingkungan. tetap merupakan dokumen-dokumen statis dan kehendak baik saja. : Proses reformasi IWRM telah berdampak BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-4 : Isu/permasalahan kunci sumber daya air telah : didapatkannya penggunaan air yang adil dan dengan keseimbangan yang berlanjut pada aspek ekonomis dan Sepanjang proses reformasi kebijakan pengelolaan SDA mantap. maka secara alamiah fokus reformasi akan bergerak dari tahapan yang pertama menuju ke tahapan yang berikutnya. Pada tahap ini kita membahas “kondisi-kondisi dasar untuk reformasi perubahan-perubahan telah ditetapkan”. dalam hal terburuk. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Indikatorindikator pada Tahap Pertama dapat berupa. perundangan. tetapi dapat. Kondisi-kondisi ini termasuk item-item seperti: • • • Kepedulian dan partisipasi pemangku kepentingan (stakeholders). : Kondisi yang menunjang untuk IWRM.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 1. peraturan-peraturan. Kondisi tersebut adalah landasan-landasan untuk kemajuan yang lebih lanjut dan reformasi dalam Pengelolaan Terpadu SDA. Pendanaan yang diperlukan tersedia. Tahap Kedua 3. Indikator Outcome Tahap Pertama Kelompok indikator-indikator ini adalah pengukur kondisi yang menunjang (enabling conditions) yang telah dihasilkan suatu waktu tertentu yang ditentukan dalam pemantauan. dan sebagainya. maka selalu perlu pertimbangan kembali aspekaspek tahap awal. Adanya kebijakan.

dan sebagainya. terbuka. penyedotan air tanah yang berlebihan. Indikator Outcome Tahap Kedua BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-5 Indikator-indikator ini akan menjadi pengukur pelaksanaan aktual proses reformasi. dimana perubahan-perubahan dalam cara para “pengelola SDA” pada setiap tingkatan melaksanakan pengelolaan SDA mulai berdampak. Indikator Outcome Tahap Ketiga Prinsip dan proses IWRM dilaksanakan dengan tujuan langsung menangani akar penyebab isu/ permasalahan kunci sumber daya air yang relevan kepada dan diidentifikasi sendiri oleh stakeholders sumber daya air setempat. dan kerangka IWRM harus konsisten. aliran sungai yang tercemar. bencana banjir dan kekeringan yang menimbulkan kerugian besar. Beberapa diantaranya adalah. degradasi fungsi hidrologi daerah tangkapan air Daerah Aliran Sungai. konflik kebutuhan air. ekonomi. akuntabel. Instansiintansi pengelola SDA mulai bekerja berdasarkan prinsip-prinsip baru (IWRM). social. dsb-nya. sedimentasi pada waduk-waduk yang mengurangi kapasitas tampung dan umur waduk. komunikatif. inklusif. koheren dan diharmoniskan dengan konteks/kondisi hidrologis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA B. Indikatorindikator Tahap Kedua dapat diformulasikan sebagai “pengaturan alokasi air telah ditegakkan”. Indikator Tahap Ketiga ini akan mengukur kemajuan menuju diselesaikannya penyebab-penyebab isu/permasalahan kunci dan pengurangan dampak negatif-nya. “pemberdayaan stakeholders untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan telah dimulai”. “assessment tentang kapasitas telah ditetapkan”. Pada tahap ini kita membahas tentang “perubahan nyata dalam perilaku manajemen telah terjadi”. geographis setempat. Pada tahap ini kita membahas tentang “perubahan pada system LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Efisiensi dalam menangani isu/permasalahan kunci perlu mendapat perhatian. undang-undang baru (UU tentang Sumber Daya Air No 7/2004). dan standarstandar serta peningkatan kapasitas telah mulai menunjukkan hasilnya dan staf dari instansi pengelola SDA semakin mengkoordinasikan penggunaan air secara lintas sector dan mulai menggunakan instrument managemen IWRM. proses harus beoperasi dalam system tata penyelenggaraan yang baik (good governance) diataranya transparan. Hal ini dapat berupa misalnya. C. dan sebagainya.

7 Tahun 2004 lingkup kegiatan pengawasan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air diatur sebagai berikut: 1.” D. yang memerlukan keseimbangan yang dinamis diantara kedua kualitas sosial dan lingkungan. Sementara indikator-indikator Tahap ke Tiga melihat tingkat sejauh mana tujuan-tujuan pokok dicapai. 5. 3. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . lingkungan dan sosial dalam rangka meng-isolasi dampak upaya-upaya pelaksanaan IWRM pada tahap ini dan kita pada tahap ini belum mampu memberikan daftar dari contoh-contoh yang memadai. Peran masyarakat dalam pengawasan dilakukan dengan menyampaikan laporan dan/atau pengaduan kepada pihak yang berwenang. Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya melaksanakan pengawasan dengan melibatkan peran masyarakat. beberapa pasang indikator-indikator (Tahap ke Empat) akan menambah dimensi tentang keseimbangan yang berkelanjutan. 2.2 RUANG LINGKUP PENGAWASAN DAN PEMANTAUAN Dalam UU Sumber Daya Air No. Indikator Outcome Tahap Keempat 5-6 Pada akhirnya. Pemerintah menetapkan pedoman pelaporan dan pengaduan masyarakat dalam pengawasan pengelolaan sumber daya air. pembentukan indicatorindikator pada tahap ini memerlukan tinjauan yang menyeluruh atas factor-faktor pembangunan dari aspek-aspek ekonomi. tujuan akhir dari implementasi reformasi IWRM adalah “pembangunan yang dari aspek ekonomis dan lingkungan berkelanjutan serta berkeadilan”. Dalam prakteknya. 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI pengelolaan dan perilaku telah menghasilkan perubahan positif pada alam dan masyarakat. Untuk menjamin tercapainya tujuan pengelolaan sumber daya air diselenggarakan kegiatan pengawasan terhadap seluruh proses dan hasil pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di setiap wilayah sungai.

Pengawasan atas penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air ditujukan untuk menjamin tercapainya kesesuaian dalam substansi pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. 2. pengaduan. dan peningkatan penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air 6. dalam bentuk peringatan. pemberian sanksi. 3. Penyelenggaraan pengawasan yang dilakukan oleh pengelola sumber daya air. 5-7 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pihak yang berwenang wajib menindaklanjuti laporan hasil pengawasan. dan masyarakat. atau gugatan kepada pihak yang berwenang dalam pengelolaan sumber daya air. Penyelenggaraan pengawasan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 5. 4. Laporan hasil pengawasan merupakan bahan/masukan bagi perbaikan. dan bentuk-bentuk tindakan lainnya dalam rangka memperbaiki dan menyempurnaan penyelengaraan pengelolaan sumber daya air. penyempurnaan. instansi berwenang. dan kesusaian dengan semua ketentuan yang berlaku termasuk ketentuan administratif dan keuangan. Pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk laporan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Lebih rinci lagi tentang kewenangan atas kegiatan pengawasan dalam pengelolaan sumber daya air dan pelibatan masyarakat diatur sebagai berikut: 1.

Pemantauan dan pengawasan terhadap dampak ini dilakukan untuk mengevaluasi terhadap izin yang diberikan. pengisian air pada sumber air. b.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5. salah satu bagiannya adalah kegiatan pengawasan yang melibatkan instansi yang berwenang dan juga partisipasi masyarakat yang dapat didefinisikan sebagai berikut: 1. pengendalian pemanfaatan sumber air. 4. pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air. dan pengawasan. perlindungan f. 3. sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan melalui : a. Perlindungan dan pelestarian sumber air dapat dilakukan dengan kegiatan konstruksi dan non-konstruksi. Pemantauan dan pengawasan dilakukan tidak hanya pada kepatuhan terhadap syarat-syarat perizinan tetapi juga terhadap dampak yang terjadi setelah kegiatan yang diizinkan dilaksanakan. h. rehabilitasi hutan dan lahan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan melalui perizinan. d. kawasan suaka alam. dan/atau pelestarian hutan lindung. Kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan dengan mengutamakan kegiatan yang lebih bersifat non-konstruksi. c. 2. g. e. pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu. pemantauan. pengaturan daerah sempadan sumber air.3 RUANG LINGKUP PENGAWASAN DALAM PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN SUMBER AIR 5-8 Perlindungan dan pelestarian sumber air terdiri dari beberapa komponen. pengaturan prasarana dan sarana sanitasi. dan kawasan pelestarian alam.

Dana yang dibutuhkan dalam pengelolaan sumber daya air mencakup jenis pembiayaan untuk kegiatan: a. 6. embung. Pemerintah atau pemerintah daerah melibatkan peran masyarakat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5. dan tempat-tempat yang mempunyai fungsi menampung air sementara (retarding basin). 5-9 5. Dalam melaksanakan perlindungan dan pelestarian sumber air dimaksud . dimaksud LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Yang dimaksud dengan “tempat-tempat penampungan air”. Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan perlindungan dan pelestairan sumber air dapat berupa: a. Pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan pemantauan dan pengawasan. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya mempertahankan keberadaan tempat-tempat penampungan air dan kearifan lokal. biaya sistem informasi. 7. biaya perencanaan. b. c. Dalam melaksanakan perlindungan dan pelestarian sumber air dimaksud. Pelaksanaan pemantauan dan pengawasan dimaksud dapat ditugaskan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya kepada pengelola sumber daya air. biaya pelaksanaan konstruksi. misalnya situ. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.4 Dalam RUANG LINGKUP PENGAWASAN DALAM ASPEK PEMBIAYAAN aspek pembiayaan juga terdapat pembiayaan untuk kegiatan pengawasan sebagaimana dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1. 8. Pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya dalam rangka perizinan b.

Perencanaan strategic dimaksud mencakup: 1. evaluasi. 5. biaya operasi dan pemeliharaan. mekanisme dan tata cara pelaporan kinerja instansi pemerintah. e. uraian tentang visi. Setiap instansi pemerintah sampai tingkat eselon II harus mempunyai Perencanaan Strategik tentang program-program utama yang akan dicapai selama 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahunan. strategidan factor-faktor kunci keberhasilan organisasi. Biaya pemantauan. dan pemberdayaan masyarakat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA d. uraian tentang cara mencapai tujuan dan sasaran tersebut. antara lain pelatihan untuk kelompok masyarakat pemakai air. dan pemberdayaan masyarakat merupakan biaya yang dibutuhkan untuk pemantauan BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-10 dimaksud. serta biaya untuk pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. 2.5 MEKANISME PEMANTAUAN Dalam rangka lebih meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang berdaya guna. 3. misi dan tujuan organisasi. biaya pemantauan. telah diterbitkan Instruksi Presiden RI No. berhasil guna. uraian tentang tujuan. Yang dimaksud dengan biaya pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. 2. evaluai dan pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. bersih. 7/1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. evaluasi. upaya-upaya peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sasaran dan aktivitas organisasi. dan bertanggung jawab. misi. Untuk melaksanakan pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah perlu dikembangkan sistem pelaporan akuntabilitas kinerja yang mencakup indicator. metode. Instruksi presiden ini memandang perlu adanya pelaporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah untuk mengetahui kemampuannya dalam pencapaian visi.

pengawasan yang dilakukan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga/SKPD sesuai dengan tugas dan kewenangannya. yaitu. Dalam implementasinya. diselenggarakan kegiatan pengawasan terhadap seluruh proses dan hasil pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada setiap wilayah sungai. Kegiatan ini dilakukan oleh pemerintah bersama pemerintah daerah sesuai wewenang dan tanggung jawabnya dengan melibatkan masyarakat. Dalam konteks sumber daya air. pengawasan dimaksudkan untuk mengamati perkembangan pelaksanaan baik dari aspek substansi maupun aspek prosedural. untuk menjamin tercapainya tujuan pengelolaan sumber daya air. Pengawasan masyarakat. Pengelolaan ini dilakukan melalui LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . kegiatan pengawasan dapat diklasifikasikan ke dalam 3(tiga) ketegori. Menteri/Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Selanjutnya. Pengawasan fungsional. pengawasan yang yang dilakukan tugas dan oleh fungsi 5-11 Lembaga/Badan/Unit organisasi mempunyai pengawasan melalui pemeriksaan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Sementara itu. Pengawasan melekat. pengawasan yang dilakukan oleh menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam melalui kegiatan-kegiatan pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah. 1. Pengelolaan sumber daya air mencakup kepentingan lintas sektoral dan lintas wilayah yang memerlukan keterpaduan tindak untuk menjaga kelangsungan fungsi dan manfaat air dan sumber air. dan penilaian. pengujian. 2. Pengendalian rencana pelaksanaan rencana pembangunan koreksi dan dimaksudkan penyesuaian untuk selama masyarakat. Masyarakat akan berperan untuk menyampaikan laporan dan pengaduan kepada pihak yang berwenang dimana cara penyampaian laporan dan pengaduan ini ditetapkan oleh pemerintah melalui suatu pedoman. yaitu. 3.

Pejabat diberi wewenang mengadakan pengamatan dan penyelidikan untuk memperoleh data dalam hubungannya 5-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dewan ini sendiri beranggotakan unsur pemerintah dan unsur nonpemerintah dalam jumlah yang seimbang atas dasar prinsip keterwakilan yang susunan organisasinya diatur melalui keputusan presiden. Laporan yang dibuat ditembuskan ke pemerintah dan pemerintah daerah beserta wadah koordinasi di masing-masing tingkatan dan wilayah kerja. Koordinasi pada tingkat nasional dilakukan oleh Dewan SDA Nasional yang dibentuk pemerintah. Koordinasi yang disebut di atas dilakukan oleh Dewan SDA atau nama lain sebagai suatu wadah koordinasi dengan tugas pokoknya menyusun dan merumuskan kebijakan serta strategi pengelolaan sumber daya air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI koordinasi dengan mengintegrasikan kepentingan berbagai sektor. Pembentukan wadah di atas semua diatur melalui surat keputusan menteri yang membidangi sumber daya air. sementara untuk tingkat kabupaten/kota dapat dilakukan oleh Dewan SDA kabupaten/kota oleh pemerintah kabupaten/kota. pada tingkat propinsi oleh Dewan SDA Provinsi yang dibentuk oleh pemerintah provinsi. dan untuk wadah koordinasi pada wilayah dapat dibentuk sesuai kebutuhan pengelolaan di wilayah sungai bersangkutan. Setiap kegiatan atau program yang dilaksanakan oleh masing-masing balai atau instansi maupun pihak yang berkepentingan (stakeholder) di satu wilayah sungai harus dilengkapi dengan laporan pengawasan yang formatnya ditentukan menggunakan suatu pedoman bersama yang dibuat oleh pemerintah. maka mekanisme pemantauan perlu diatur agar tercapai sinergi yang baik antar sektor. Pengawasan dilakukan oleh Menteri yang pelaksanaannya ditugaskan kepada pejabat pengairan yang ditunjuk. Hubungan antar wadah yang disebutkan di atas bersifat konsultatif dan koordinatif. Menimbang pengelolaan sumber daya air melibatkan kepentingan lintas sektoral dan wilayah. Laporan ini akan didampingi oleh laporan pengawasan dan pengaduan yang dibuat oleh masyarakat. wilayah dan para pemilik kepentingan (stakeholder).

Pelaksanaan evaluasi kinerja dengan cara pertama dan kedua saling mendukung. pengusutannya diserahkan kepada pejabat penyidik yang berwenang. Pelaksanaan studi evaluasi kinerja proyek pembangunan. sedangkan cara kedua dapat membantu dalam mengidentifikasikan indikator-indikator baru yang lebih relevan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Ketersediaan indikator dan sasaran kinerja dari hasil pelaksanaan cara pertama akan memudahkan pelaksanaan studi evaluasi kinerja. Penyusunan indikator dan sasaran kinerja proyek pembangunan. sedangkan untuk melaksanakan cara kedua diperlukan penyusunan indikator dan sasaran kinerja sebagaimana dilakukan pada cara pertama.. 5. 2. Kedua cara tersebut dibutuhkan dalam pelaksanaan evaluasi kinerja dan keduanya akan memberikan informasi kinerja yang bermanfaat untuk kepentingan perencanaan dan pengendalian pelaksanaan proyek.6 MEKANISME EVALUASI Evaluasi kinerja dapat dilakukan dengan 2 cara. Cara pertama dapat dilaksanakan tanpa melakukan analisis yang mendalam. Apabila hasil pengamatan dan penyelidikan terdapat atau diduga terdapat unsurunsur pidana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI dengan kelangsungan fungsi tata pengairan pada tempat-tempat yang diperlukan. Pejabat dimaksud harus membuat berita acara mengenai pengamatan dan penyelidikannya sesuai dengan kenyataan dan kebenaran dan ditandatangani olehnya dan disampaikan kepada Menteri. yaitu: 1. Penanggung jawab atas bangunan pengairan diwajibkan memberikan 5-13 keterangan yang benar mengenai hal-hal yang diperlukan dan untuk menyertai pejabat dalam pengamatan dan penyelidikan apabila diminta.

dana yang diperlukan. yaitu: teknis atau operasional. productivitas dan lain-lain. lingkungan. 2 Pemantauan dan Evaluasi dalam suatu siklus kegiatan. manfaat. hasil (results/outcomes). tingkat kualitas.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Indikator dan sasaran kinerja adalah ukuran kuantitatif atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . atau kombinasi dua kategori atau lebih. untuk dijadikan bahan pertimbangan dan masukan bagi pengambil keputusan dalam merencanakan proyek pembangunan selanjutnya. Indikator dan sasaran kinerja diklasifikasikan dalam enam kategori. ekonomi. keluaran (outputs). 5-14 INDIKATOR SASARAN/ KINERJA Sasaran n Rencana Pemanatauan dan pengendalian Outcome/ Manfaat/ Hasil Input/ Masukan Proses Output/ Keluaran Sumber Dana Kesimpulan Rekomendasi Tindak Lanjut Evaluasi Gambar 5. Indikator tersebut dijabarkan dalam: waktu yang diperlukan. Studi evaluasi kinerja adalah suatu upaya yang sistematis untuk mengumpulkan data dan informasi yang bersifat obyektif terhadap hasil. dan indikator manfaat (benefits) serta dampak (impacts). dan dampak dari proyek tertentu yang telah selesai dilaksanakan atau pun telah beberapa tahun berfungsi. budaya. institusional. jumlah unit yang dihasilkan. yang mencakup indikator masukan (inputs).

7/1999 pelaksanaan penyusunan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dilakukan dengan: 1. dapat diverifikasi. faktor-faktor kunci keberhasilan. c. b. perbandingan kinerja aktual dengan kinerja di negara-negara lain. Berdasarkan INPRES No.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Hal penting dari studi evaluasi kinerja adalah mengenai informasi yang dihasilkan dan bagaimana informasi itu diperoleh. 4. 2. sasaran dan strategi instansi Pemerintah. perbandingan kinerja aktual dengan tahun-tahun sebelumnya. 5. tepat waktu. dianalisis. relevan. obyektif. merumuskan visi. atau dengan standar internasional. c. menginterpretasikan data yang diperoleh. mengukur pencapaian kinerja dengan: a. misi. mempersiapkan dan menyusun perencanaan strategik. merumuskan indikator kinerja instansi Pemeritah dengan berpedoman pada kegiatan yang dominan. Informasi studi evaluasi kinerja bersifat independen. menganalisis hasil pengukuran kinerja. perbandingan kinerja aktual dengan rencana atau target. 6. menjadi isu nasional dan vital bagi pencapaian visi dan misi instansi Pemerintah. membandingkan pencapaian program dengan visi dan misi instansi pemerintah. tujuan. 3. dapat diandalkan. memantau dan mengamati pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dengan seksama. d. membuat pembobotan (rating) keberhasilan pencapaian program. b. dan dilaporkan. melakukan evaluasi kinerja dengan: a. serta memakai metode pengumpulan dan analisis data yang tepat dan transparan. 5-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dapat dipercaya.

Hal ini patut diperkenalkan sebagai kondisi natural yang ideal dan sangat diperlukan untuk menjaga kesinambungan sumber daya air guna menunjang kehidupan masyarakat dan negara. 6. Oleh karena itu dipandang perlu adanya suatu arahan untuk membangun persepsi yang benar sesuai dengan harapan yang terkandung dalam butir-butir strategi yang telah disusun.1 Kekeringan dan banjir Ide awal dari dilaksanakannya prakarsa strategis ini adalah karena adanya suatu kesadaran akan potensi terjadinya dua hal ekstrim yaitu kekeringan dan banjir.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 6 PENUTUP BAB 6 PENUTUP 6-1 6. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .1 ARAHAN SOSIALISASI PRAKARSA STRATEGIS Prakarsa strategis yang diuraikan dalam buku ini dapat diberdayakan secara efektif bila dilakukan tindak sosialisasi yang bersifat komprehensif. Latar belakang ini menjadi suatu gagasan untuk membentuk suatu pemikiran yang dapat dilakukan untuk saat ini dengan visi ke masa depan untuk menjaga kesinambungan sumber daya air di Pulau Jawa. Pemahaman masyarakat dan daya tangkap masyarakat degan latar belakang yang berbedabeda akan sangat bervariasi terhadap apa yang dijelaskan dalam kebijakan yang tertuang dalam buku prakarsa ini. Secara umum perlu dijelaskan siklus hidrologi yang terjadi yang dapat membantu pemahaman bagaimana air dapat tersimpan dengan baik di dalam tanah dan syarat-syarat agar mekanisme penyimpanan air ini dapat bekerja secara alamiah. Sebagai kontradiktif perlu dijelaskan pula bagaimana mekanisme sehingga dapat terjadi banjir dan mengapa semakin banyak kejadian banjir yang terlansir belakangan ini di Indonesia.1. Persepsi yang benar mengenai potensi terjadinya kekeringan di satu sisi dan banjir di sisi yang lain perlu mendapat perhatian dalam menyusun sosialisasi kepada masyarakat luas.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

Dampak kekeringan sangat nyata bagi kehidupan dimana kebutuhan akan air tidak dapat digantikan dengan material lain karena air merupakan substansi dasar bagi kehidupan manusia. Kekeringan yang terjadi karena fenomena alam yang sudah ada sejak dahulu tidak terhindarkan dan perlu disikapi secara bijaksana. Namun lain halnya dengan kekeringan kesalahan dalam mengelola sumber daya alam ataupun pemanfaatan sumber daya yang tidak memperhatikan keseimbangan dan daya dukung alam itu sendiri. Kesalahan yang disebut terakhir ini akan sangat disesalkan karena akan berdampak pada masyarakat luas dan pada tingkat nasional dapat mengganggu stabilitas nasional karena kurangnya bahan pangan, meningkatnya angka kasus kesehatan karena sanitasi yang buruk, hilangnya sumber pencarian bagi sebagian masyarakat dan hal lain yang menjadi dampak lanjutan dari kekeringan. Secara khusus banjir memiliki tingkat fatalitas yang lebih tinggi sebagai suatu bencana karena diakibatkan oleh daya rusak air yang besarannya tidak terduga. Perlu diperjelas bahwa kerusakan dan kerugian yang diakibatkan oleh banjir umumnya lebih besar dibandingkan kerugian yang disebabkan oleh kekeringan. Banjir yang terjadi secara cepat dan genangan air yang meluas menyebabkan kehilangan nyawa juga kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan serta bangunan lainnya karena besarnya daya rusak air yang mengalir, terlebih lagi bila masa air terkumpul dan menjadi besar. Genangan yang terjadi membawa dampak rusaknya bangunan dan harta benda termasuk didalamnya adalah tanaman pangan dan ini semua adalah kerugian yang harus ditanggung. Oleh karenanya banjir harus dapat disikapi secara bijaksana. Sosialisasi yang dilakukan harus mampu menempatkan pemikiran mengenai butuhnya kesadaran akan sindrom ini. Disamping itu perlu dijelaskan pula bahwa ada keterkaitan antara banjir dan kekeringan, dimana banjir merupakan suatu ekstrim dan kekeringan sebagai ekstrim di sisi yang berseberangan. Diantara kedua ekstrim ini ada suatu keseimbangan yang menjadi kondisi ideal. Kondisi inilah yang menjadi tujuan dari pengelolaan sumber daya air yang digariskan dalam strategi ini.

6-2

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

6.1.2

Strategi Implementasi

6-3

Untuk mewujudkan semangat yang ada dalam kebijakan strategi, maka pola implementasi kebijakan ini sudah diatur sedemikian rupa. Penjelasan mengenai latar belakang pembagian ini perlu disajikan pula terkait guna membangun pemikiran mengenai konsep pengelolaan dan komponen-komponen yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan sumber daya air. Ada strategi implementasi ini, yaitu: 1. Lembaga 2. Koordinasi 3. Pembiayaan 4. Monitoring & Evaluasi Pada komponen lembaga perlu dijelaskan mengenai fungsi-fungsi lembaga negara dan keterkaitannya dalam memberikan kontribusi untuk masalah sumber daya air. Materi sosialisasi harus dapat menjelaskan dengan jelas tugas dan fungsi masing-masing lembaga yang terkait. Sebagai kelanjutannya, terkait dengan strategi pengelolaan sumber dasya air, perlu pula diterangkan kerangka kerja yang melibatkan lembaga-lembaga bersangkutan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dengan demikian dapat diketahui posisi setiap lembaga yang berkontribusi dalam pengelolaan sumber daya air. Koordinasi merupakan komponen lain yang tidak kalah penting untuk diatur secara lugas dalam strategi untuk pengelolaan sumber daya air. Perlu ditanamkan pemahaman yang baik bahwa pengelolaan yang dilakukan mengharuskan pelaksanaan yang terpadu antar sektor (multi sektoral) dan menyeluruh. Bagian ini merupakan sisi yang jarang sekali dapat dilakukan dengan baik karena terikat pada kebijakan-kebijakan yang dibuat pada masingmasing sektor dan terkait dengan kepentingan rumah tangganya. Jelas hal ini merupakan suatu kendala yang harus dijembatani dengan membuat suatu mekanisme koordinasi dengan tugas dan tanggung jawab yang jelas. Upaya yang dilakukan dapat dimulai dengan pembuatan matriks koordinasi antar lembaga yang menjadi model awal untuk dibicarakan lebih lanjut. Beberapa 4 komponen dalam

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

contoh dari negara-negara lain yang dikemukakan dalam seminar-seminar terkait kegiatan ini dapat pula diungkapkan untuk menjadi sumber inspirasi dan pemahaman akan pentingnya koordinasi. Pembiayaan merupakan komponen yang tidak mungkin ditinggalkan mengingat setiap program dan kegiatan membutuhkan pembiayaan. Dalam upaya pengelolaan sumber daya air, sejalan dengan semangat transparansi manajemen, melalui sosialisasi perlu dijelaskan pula mengenai sumber-sumber pembiayaan yang digunakan, prinsip tanggungan dan jenis pembiayaan yang ditanggung oleh sumber dana yang ada. Hal-hal ini sebagian telah diatur pula dalam undang-undang dan menjadi dasar penyusunan sumber pembiayaan yang dapat dianggarkan untuk kegiatan pengelolaan. Bagian terakhir dari komponen strategi implementasi yang perlu disosialisasikan adalah yang berkaitan dengan monitoring dan evaluasi (monev) atau juga dalam dokumen disebut sebagai pemantauan dan evaluasi. Perlu ditanamkan pemikiran bahwa suatu program kegiatan yang dibangun ataupun manajemen/pengelolaan tidak akan berkesinambungana tanpa adanya kegiatan pemantauan dan evaluasi. Minimal tanpa adanya komponen ini upaya pengelolaan tidak akan mengalami kemajuan yang diharapkan karena tidak ada umpan balik dari apa yang telah diterapkan.

6-4

6.1.3

Pengalaman Negara Lain

Selain konsep dan aturan perundang-undangan yang telah kita miliki didalam negeri, pengalaman-pengalaman negara lain dalam mengelola sumber daya airnya juga menjadi suatu informasi yang berharga. Proses belajar yang efisien adalah dengan melihat bagaimana permasalahan serupa dapat diselesaikan di negara-negara lain dengan memperhatikan potensi, kendalanya, serta solusi yang dipilih. Mempelajari bagaimana suatu masalah yang sama diselesaikan oleh negera lain akan memberikan inspirasi bagi peserta dan juga keyakinan bahwa masalah
LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

tersebut memang dapat diatasi. Dengan mempelajari strategi yang diterapkan diharapkan akan ada suatu dorongan pemikiran dan semangat berdasarkan keyakinan bahwa dengan konsekwensi yang terukur hal serupa dapat pula diterapkan dengan peluang keberhasilan yang menjanjikan. Model-model yang diterapkan di negara-negara lain sangat bervariasi. Pengambilan keputusan dan keberhasilan yang telah dicapai memberikan gambaran tingkat keberhasilan dari pola yang dipilih. Perlu kehati-hatian dalam memberikan gambaran pengalaman negara lain karena kondisi latar belakang, fisik lingkungan dan solusi yang dipilih memberikan kombinasi yang sangat beragam. Oleh karenanya penjelasan harus dilakukan secara rinci. Selanjutnya, bila pengalaman dari negara lain ingin diaplikasikan, perlu dipelajari dulu kondisikondisi di atas secara bijaksana untuk menentukan pilihan; solusi mana yang paling tepat untuk diterapkan di negara ini berdasarkan data dan fakta.

6-5

6.2

SARAN

Beberapa saran terkait pada strategi yang diulas dalam buku ini : 1. Pengelolaan sumber daya air melibatkan tidak saja penanganan secara struktural tapi juga penanganan dengan cara non-struktural. Kebijakan strategis pengelolaan perlu kiranya menempatkan kebijakan non-struktural sebagai strategi utama untuk diwujudkan dalam kegiataan riil mengingat saat ini yang paling dibutuhkan untuk menjamin perlindungan potensi sumber daya air utamanya adalah adalah terkait dengan konservasi lingkungan. Perangkat perencanaan tata guna lahan dan perlindungan hukum yang berwibawa hingga kini masih jauh tertinggal dibanding pembangunan infrastruktur karena penilaian terhadap pertanggungjawaban pekerjaan fisik infrastruktur lebih jelas. 2. Pelaksanaan kebijakan perlu dimulai dengan pendekatan non-struktural dan disusul kemudian dengan pendekatan struktural. Program dimulai dengan pendekatan awal terhadap masyarakat, pemeliharaan lingkungan dan

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

seterusnya hingga pembangunan infrastruktur SDA pada lokasi-lokasi strategis yang memberikan keuntungan luas bagi masyarakat. 3. Strategi struktural yang disajikan dalam dokumen ini merupakan kebijakan struktural wilayah sungai di Pulau Jawa yang dikelola oleh beberapa balai sumber daya air. Adanya perubahan wilayah sungai yang digariskan dalam Permen PU No. 11/PRT/M/2006 secara otomatis mengubah lingkup kebijakan di beberapa wilayah sungai yang dibentuk ulang. Pola wilayah yang baru mengindikasikan kemungkinan adanya transfer inter basin. Proses

6-6

regrouping kebijakan dilakukan dalam buku ini atas kegiatan yang sudah
ada ke dalam wilayah baru. Perlu adanya tindak lanjut untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan baru pada masing-masing wilayah sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya sehingga penanganan masalah sumber daya air dilakukan lebih merata. 4. Bentuk wilayah baru yang digariskan dalam Peraturan menteri pada poin (3) di atas selanjutnya menjadi bahan dalam rancangan Peraturan Presiden. Peraturan presedien yang tengah direncanakan ini nantinya akan menjadi dasar hukum yang kuat untuk melaksanakan pengelolaan wilayah sungai yang baru. Demikian pula halnya untuk memulai kegiatan balai-balai sumber daya air baru yang diatur oleh peraturan menteri Permen PU No. 1213/PRT/M/2006 peraturan tersebut sangat berperan. Sebagai langkah konkret disarankan adanya koordinasi terpusat untuk melakukan restrukturisasi keterkaitan tugas-tanggung balai baru dengan balai-balai yang sudah ada selama ini. 5. Untuk mendapatkan strategi yang aplikatif perlu ada masukan dari masingmasing balai berdasarkan pengalaman dan penilaian terhadap kondisi fisik wilayah sungai yang dikelola. Contoh yang diperoleh dari pengelolaan sumber daya air di luar negeri perlu disikapi dengan bijaksana mengingat kondisi alam dan kultur yang berbeda. Untuk itu dalam pengambilan keputusan di masa yang akan datang perlu mengikutsertakan balai-balai yang sudah operasional sejak lama untuk mendapatkan pertimbangan spesifik sesuai lokasi kerjanya.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber daya air. 2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 11A/PRT/M/2006 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayahg Sungai. 3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 12/PRT/M/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Wilayah Sungai. 4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 13/PRT/M/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Wilayah Sungai. 5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 tahun 2005 tentang Kerjasama Infrastruktur. 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 38/PRT/1989 tentang Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan

DP-1

Pembagian Wilayah Sungai 7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 48/PRT/1990 tentang

Pengelolaan Atas Air dan Atau Sumber Air pada Wilayah Sungai. 8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 49/PRT/1989 tentang Tatacara dan Persyaratan Izin Penggunaan Air dan atau Sumber Air 9. Keputusan Mendagri No. 176 tahun 1996 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA. 10. Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Nomor : 19/KPTS/A/1994 tanggal 19 April 1994 tentang Pembentukan Badan Pelaksana Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman 11. Reclaiming Public Water-Achievements, Struggles and Visions from Around the World, 2005.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

Cimanuk River Basin Development Project West Java. Preliminary Study On Ciliwung-Cisadane River Flood Control Project. Jakarta.. Applied Hydrology. 1984. 1985. 16. Semarang. The Netherlands. Bidang Neraca Sumberdaya Alam Pusat Survei Sumberdaya Alam Darat Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. 2000. Banjar. Neraca Sumberdaya Air Spasial Nasional. 19. Directorate General Of Water Resources Development. 2000. 21. Ven Te. Bureau Icim. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto. 1979.. Chow. Semarang. 13. 15. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah. Larry W. Instruksi Presiden Nomor 7/1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan. Bureau Icim. and Mays. David R. Cibinong. The Citanduy River Basin Development Project. 20. 1992. Directorate General Of Water Resources Development. McGraw-Hill. Feasibility Studi On Karian Multipurpose Dam Construction Project. Directorate General Of Water Resources Ministry Of Settlement And Regional Infrastructure Republic Of Indonesia. 1988. Directorate General Of Water Resources Development. DUFLOW: A micro-computer package for the simulation of one-dimensional unsteady flow and water quality in open channel system. 17. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah. Bakosurtanal. 2001. Ciliwung Cisadane River Basin Development Project. Directorate General DP-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 2001. Jakarta. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan. Maidment.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 12. 18. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Jratunseluna. 14.

Directorate General Of Water Resources Development. 1998. Jakarta. 25. CisadaneCimanuk Intergrated Water Resources Development (BTA-155). 1994. The Study On Comprehensive River Water Management Plan In Jabotabek. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development. Directorate General Of Water Resources Development. DP-3 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Jatiluhur Water Resources Management Project Preparation Study (JWRMP). 28. Jakarta. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development. 1999. 26. The CiujungCidurian Intergrated Water Resources In Indonesia. 22. Directorate General Of Water Resources Development. Ministry Public Works Republic Of Indonesia. Jakarta Flood Control Halim Retention Basin Pilot Project. Jakarta. 27. Jakarta. Jakarta.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. 1995. 1998. 24. Jabotabek Water Resources Management Study. 1989. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. The Study On Comprehensive Management Plan For The Water Resources Of The Brantas River Basin In The Republic Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development. Jakarta. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Jakarta. 23. 1997. Jakarta.

37. Proyek Pengembangan dan Konservasi Sumberdaya Air Ciujung-Ciliman.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 29. Standar Perencanaan Irigasi: Kriteria DP-4 Perencanaan Bagian Bangunan Utama. Pedoman Pengendalian Banjir. 32. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman. Basic study prepared for FAO/UNDP Land Capability Appraisal Project. Directorate Of Management And Conservation Of Water Resources. F. 1999. Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Citarum. Proyek Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Air Yogyakarta. Directorate Of Rivers And Swamps. Jakarta. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. 34. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of The Republic Indonesia. 1986. Water Availability Appraisal. Jakarta. 35. Bogor. 31. Jakarta. 36. Ditjen Pengairan PU. 1975. 33. Mock. Inventarisasi/Penataan Situ/Rawa/Danau Di Wilayah SWS CiujungCiliman. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum. Jabotabek Water Resources Management Study. 1998. Serang. The Citanduy River Basin Development Project. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. 1996.J. Penyusunan Program Rencana Pengembangan Sumberdaya Air DIY Pada SWS Progo Opak Oyo Daereah Istimewa Yogyakarta. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Jakarta. Ditjen Pengairan PU. Direktorat Jenderal Sumberdaya Yogyakarta. Jakarta. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia.. 1999. Ditjen Pengairan PU. 1973. 30. Directorate General of Water Resources Development Ministry Of Public Works And Electric Power. 2003. Ditjen Pengairan PU. 1999. Jakarta.

Proyek Induk Pengembangan WS Cimanuk-Cisanggarung Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 1999. Serang. Jakarta. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumberdaya Air dan Ketatalaksanaan Pembangunan Pengairan. 2002. Indramayu.1). 2003. 2003. Perencanaan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Pemali-Comal. 42. Proyek Perencanaan Pengembangan Pemanfaatan Sumberdaya Air Di Jawa Barat. 41. Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Propinsi Banten. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Penyusunan/Pembuatan Buku Sungai Ciujung Dan Sungai Cidurian. Jakarta. 44.1) Bagian DPS Cisadane dan DPS Ciliwung. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana. Proyek PPSA Citanduy-Ciwulan. Banjar. Bandung. Jakarta. 40. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumberdaya Air dan Ketatalaksanaan Pembangunan Pengairan. DP-5 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Studi Potensi dan Pengembangan Sumberdaya Air Tersebar di Propinsi Banten. Studi Identifikasi Potensi Air Baku Di Wilayah Sungai Citanduy – Ciwulan. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana. 43. Proyek Pengembangan dan Konservasi Sumberdaya Air Ciujung-Ciliman. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum. Pekerjaan Penyiapan Bahan Penyusunan Neraca Air Nasional. Proyek Penyediaan Air Baku Cimanuk – Cisanggarung. 45. Perencanaan Pengembangan Pemanfaatan Air dan Sumber Air (Paket . 2004. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Identifikasi Potensi SDA Di Wilayah Proyek Penyediaan Air Baku Cimanuk – Cisanggarung. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai di Pulau Jawa. Penyusunan Neraca Air Nasional (Tahap . 2003. 39. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. 2000. 2001. Serang. Proyek Studi Potensi dan Pengembangan Sumberdaya Air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 38.

Jurusan Teknik Sipil. R. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hydrology: Water DP-6 Quantity and Quality Control.. R. Diding.P. 47.. Institut Teknologi Bandung. 1997.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 46. John Wiley and Sons. and Eaglin. 1999. Wanielista. Sudirman. M. New York.. Kersten. Tugas Akhir Sarjana. Penerapan Metoda Mock untuk Menghitung Debit Andalan di Sub Daerah Pengaliran Sungai Citarum Hulu.

Saatnya telah tiba untuk mem-fokuskan kembali wacana (debate) global mengenai layanan air pada pertanyaan kunci: bagaimana meningkatkan/memperbaiki dan memperluas layanan air oleh perusahaan umum diseluruh dunia? Sementara privatisasi adalah bukan solusi.1 Latar Belakang Akibat adanya gelombang yang membawa ideologi privatisasi. perusahaan-perusahaan layanan air global terbukti telah gagal memenuhi janji-janjinya untuk memperbaiki layananannya. Hampir tanpa perkecualian. sebaliknya malah menaikkan tarif airnya jauh diluar jangkauan keluarga miskin. Kegagalan privatisasi yang bercirikan “high-profile” di kota-kota besar di belahan bumi selatan menjadi bukti yang kuat bahwa pemenuhan kebutuhan air untuk rakyat miskin tidak tepat bila dipercayakan pada pengelolaan perusahaan layanan penyedia air trans-nasional yang berorientasi pada keuntungan1. Meningkatnya kampanye anti privatisasi melalui gerakan LSM di tingkat akar rumput (grassroot) di negara-negara seluruh dunia telah mengukuhkan jejaring ditingkat regional dan global yang kemudian memulai gelombang balik melawan “fee-market fundamentalism”. Struggles and Visions from Around the World” (2005) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pelayanan air di dekade 1990-an yang pada intinya merupakan masa perjuangan untuk mewujudkan air bersih bagi semua orang akhirnya mengalami kemunduran.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ANNEX PEMBELAJARAN ANTARA PRAKTEK PRIVATISASI DAN PERKUATAN PERUSAHAAN UMUM LAYANAN AIR A-1 A. di sisi lain perusahaan publik yang ”status quo” dan sering bertindak birokratis dan tidak efektif − yang ada pada sebagian besar negara-negara berkembang − juga gagal untuk memberi layanan 1 ”Reclaiming Public Water-Achievements.

Pelajaran penting dapat digali dari model-model yang mengedepankan pendekatan yang berfokus pada manusia (people centered) dan partisipasi publik. Mulai dari Asosiasi Pekerja Air sampai koperasi pekerja kini telah mempunyai peran kunci dalam pelayanan air di kota-kota di Argentina dan Bangladesh.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air bersih pada mereka yang membutuhkan. India) dan Savelugu (Ghana). khususnya Argentina. dan di Afrika. menjadi negara dengan ekonomi yang berorientasikan kepada pasar yang terbuka. Privatisasi memasuki negara-negara dalam proses transisi seperti Eropa Timur dengan gelombang konsesi-nya. layanan air umum sedang ditingkatkan melalui peningkatan partisipasi masyarakat dan pengguna serta reformasi-reformasi demokratis lainnya. A-2 A. Manila dan Jakarta.2 Kegagalan Privatisasi Tahun 1990-an adalah dekade privatisasi air dimana telah terbukti dalam pelaksanaannya konsep ini mengalami kegagalan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . di Asia. memobilisasi kapasitas sendiri dan sumber daya setempat. sebagai contoh adalah yang tengah dilaksanakan di Porto Alegre dan Recife (Brazil) dan kini dalam tahap pengembangan1. Di Olavanna (Kerala. Perluasan perusahaan air dalam dasawarsa 1990-an didukung oleh the World Bank dan institusi international lainnya sebagai bagian dari kebijakan untuk transformasi negara berkembang dan negara dalam proses transisi. dimana beberapa seri kota-kota besar telah diprivatisasi. Privatisasi pada mulanya diharapkan akan membawa efisiensi yang lebih besar dan tarif yang lebih rendah. Dikota lain seperti Penang. di Amerika latin. Namun seperti yang kita alami. termasuk privatisasi di 2 kota besar. menarik dan meningkatkan volume investasi (khususnya di negaranegara berkembang) dan memperluas sambungan layanan jaringan air minum dan sanitasi kepada keluarga miskin. Di kota-kota ini. masyarakat setempat telah mengambil kendali dalam perbaikan layanan air. termasuk ”flagship”: konsesi di Aguas Argentinas di Buenos Aires. Malaysia. penemuan kembali ethos layanan umum telah membawa pada peningkatan yang signifikan atas kinerja layanan utilitas umum. pengalaman menunjukkan fakta yang berlainan. dalam republik Czech dan Hungary.

operate and transfer) schemes. perusahaan-perusahaan lebih memilih pilihanpilihan yang kurang berisiko yaitu penyewaan atau kontrak manajemen. dan dikenal sebagai BOTs (build. misalnya Cote d’Ivore. dimana bentuk kerjasama tersebut harus distrukturkan untuk memberikan keleluasaan bagi mitra swasta untuk memperoleh ”return”/keuntungan. tetapi sejak tahun 2000. Variasi dari bentuk ini termasuk kerjasama/”joint venture” dengan pemerintah atau perusahaan pemerintah. Ketidak populeran konsep privatisasi sebagian apa yang telah dijanjikan. namun dibanyak tempat bentuk privatisasi dipromosikan berdasarkan bentuk konsesi. Bentuk-bentuk yang lebih tepat telah dipilih oleh perusahaan-perusahaan swasta pada awal tahun 1990-an . dan kontrak manajemen (atau bentuk khusus dari konsesi untuk pembangunan ”water treatment” atau waduk. dan beberapa bentuk kontrol yang perlu dikendalikan oleh partner swasta. dan juga beberapa kota kecil di Afrika Selatan. Privatisasi dari layanan pasokan air dan sanitasi telah mengambil berbagai bentuk. dengan sektor swasta. Penjualan secara lengkap/ tuntas sistem air kepada perusahaan swasta telah diperkenalkan di Inggris.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dimana konsensi didapat dari sistem koloni Perancis. Harga-harga yang naik merefleksikan berkurangnya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sedemikian hingga membuat mereka sumber keuntungan untuk modal/kapital swasta. investasi swasta dalam infrastruktur telah menurun pada akhir 1990-an dan investasi oleh bank pembangunan juga mengalami penurunan. konsesi adalah bentuk privatisasi yang paling favorit. yang hasilnya berbeda dengan Perusahaan-perusahaan telah berinvestasi sebanyak yang diharapkan. besar disebabkan gagal oleh untuk mereka masih mengacu kepada bentuk yang sama dari konsep hubungan kontraktual pengalaman berdasarkan hasil nyata operasi. tetapi ada elemen yang bersifat konstan. yaitu memindahkan pengendalian dan manajemen operasi kepada perusahaan swasta. penyewaan. Meskipun demikian. Kalimat-kalimat lain yang biasa dipakai adalah-termasuk ”public- A-3 private partnership” (PPPs) dan ”private sector participation” (PSP) – dimana penggunaan kata ”privatisasi” saja yang merupakan konsep yang menjadi kurang populer dicoba untuk tidak digunakan.

Dihadapkan dengan pengembalian investasi yang jelek. Suez.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pengembalian modal yang diperlukan oleh banyak perusahaan. dapat disaksikan bahwa terdapat perlawanan keras yang sedang berkembang atas privatisasi air di negara-negara berkembang. Regulator telah menjadi kekurangan kekuasaan dan kompetensinya untuk mengendalikan perilaku kontraktor-kontraktor. Akhirnya. pekerja. civil society groups (masyarakat madani) dan dari kalangan partai-partai politik. Manila dan Jakarta. kinerja mereka ternyata tidak menjadi lebih baik dari pada operator yang perusahaan umum dalam hal perluasan layanan kepada kaum miskin. dari konsumen. Bank Dunia telah mengakui kegagalan privatisasi yang dulu diharapkan dapat membawa investasi-investasi dalam perluasan layanan air. Pada bulan Januari 2003. Meski seluruh perhatian dan dukungan telah diberikan kepada konsesi privatisasi air di Amerika Latin. mengumumkan akan menarik sepertiga dari invetasi yang ada di negara-negara berkembang. operasi pelayanan air yang di”swastakan” di Argentina sekarang mengalami kebangkrutan. dan Veolia dan Thames Water juga menarik dari kontrak-kontrak. Telah ditetapkan instrumen baru untuk memberikan jaminan yang lebih kuat kepada perusahaan swasta dan sedang dicari bentuk-bentuk lain dari kesempatan berusaha (business) di sektor ini. perusahaan multinasional bidang air. seperti ”franchising” vendor-vendor air di daerah-daerah A-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan oposisi politis. perusahaan-perusahaan air multinasional telah memutuskan untuk mengambil tindakan guna memotong kerugiannya. Bila target-target yang dispesifikasikan dalam kontrak tidak dapat dipenuhi. mempunyai tingkat kehilangan air yang lebih tinggi dari mayoritas kota besar dimana pelayanan air dilaksanakan oleh perusahaan umum. justru kontraknya-lah yang dirubah dibanding harus memenuhi apa yang disyaratkan sebelumnya. Ketiga-tiganya menggunakan tindakan politis dan hukum untuk mendapatkan kembali kerugiankerugian yang pernah dialami dan tetap meng-klaim/ menuntut keuntungankeuntungan yang diantisipasi. pencinta lingkungan. resiko-resiko yang tidak diharapkan. Kontradiksi-kontradiksi dimaksud diperparah oleh pergerakan nilai tukar mata uang dan krisis-krisis ekonomi. dua kota besar di Asia yang menggunakan jasa operator swasta.

Tetapi Bank Dunia. A. Selama tahun 1980-an khususnya. dan sama sekali meninggalkan transparansi. layanan pada kaum miskin selalu dikorbankan sementara regim yang korup mengambil keuntungan untuk mereka sendiri dari pinjaman yang ditujukan untuk air. Pengembangan dari pendekatan–pendekatan baru dalam pengelolaan layanan air datang dari mereka-mereka yang berkampanye menentang privatisasi. Awal berkembangnya privatisasi justru terjadi pada regim-regim yang tidak demokratis seperti. tidak LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .2. Hal-hal ini adalah respon dari perusahaanperusahaan dan Bank Dunia dalam menangani masalah-masalah mereka. masalah-masalah ekonomi dan politisnya serta kegagalan dalam mengadakan perluasan layanan kepada masyarakat miskin. khususnya dinegara-negara berkembang pada tahun-tahun sebelumnya. Tanpa akuntabilitas. bank-bank pembangunan lain dan organisasiorganisasi donor tetap menolak untuk menyediakan dukungan bagi perusahaan publik di sektor air. Tidak bijaksana untuk menilai bahwa kegagalan-kegagalan yang terjadi disebabkan karena kepemilikan air yang dikuasi oleh perusahaan umum. privatisasi utilitas Casablanca diatur dengan dekrit Raja Hassan. meskipun hal ini menjadi tanggung jawab dari lebih 90% badan layanan air dan sanitasi dunia. Banyak negara-negara pada periode 1980-an barada didalam cengkeraman rejim yang diktator dan korup dengan pelecehan atas hak azasi manusia dan proses demokratis.1 Kegagalan Dalam Regim Yang Tidak Demokratis A-5 Isu bersama dari kampanye-kampanye adalah kritik atas privatisasi itu sendiri. struktur tersebut telah mengalami kegagalan dalam menyediakan perluasan layanan air − bahkan ketika bank-bank pembangunan menyediakan pinjaman-pinjaman yang dibutuhkan − dan kegagalan-kegagalan ini dijadikan alasan untuk men-justifikasi kebijakan privatisasi diawal tahun 1990-an. Suez aktif di Afrika Selatan yang sedang dibawah regim apartheid. Tetapi kampanye-kampanye juga harus mengakui kegagalan dan keterbatasan praktek-praktek dari operator perusahaan umum. privatisasi air untuk Jakarta diatur secara korup di era kediktatoran Suharto. mereka hanya mengerjakan hal-hal yang kecil untuk orang-orang yang membutuhkan tingkat layanan yang terjangkau dalam layanan air dan sanitasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ”peri-urban”.

kesempatan untuk mempraktekkan prinsip baru demokrasi ditangkap dalam berbagai bentuk. sebagaimana diakui IMF sendiri saat ini. Pemerintah tidak dapat memberikan prioritas yang memadai kepada kebijakan sektor air dibandingkan dengan kebijakan di sektor lain. dibanding privatisasi yang dipilih oleh regim diktator. termasuk pengembangan pendekatan baru untuk memperluas layanan penyediaan air bersih dan sanitasi ke daerah baru. Masalah pada tahun 1980-an dimana sektor publik mengalami kegagalan dapat dilihat sebagai kurangnya proses demokratis dalam sektor publik. calon presiden favorit bagi International Financial Institutions (IFIs). Di Brazil pada awal 1990-an. Analisis yang sama dapat diterapkan atas keluhan oleh bank-bank A-6 pembangunan dan lembaga donor. Hal ini telah menyebabkan jauh berkurangnya investasi di bidang air (dan infrastruktur lainnya seperti listrik). dan sistem yang demokratis. sebagaimana pemerintah dan masyarakat di negara-negara berkembang mempunyai perhatian yang kurang atas air dan sanitasi dibandingkan dengan birokrat-birokrat yang sudah dicerahkan oleh institusi internasional. menunjukkan adanya kebutuhan tentang pendekatan baru yang berdasar kepada proses demokrasi dan tingkat partisipasi masyarakat yang menjamin akuntabilitas. Kontrak-kontrak yang mereka dapatkan dipegang dengan rahasia bahkan terhadap anggota dewan kota—khususnya dikota yang ironis seperti Gdansk (Polandia) dan Budapest (Hongaria) dimana mereka sedang mengalami proses transisi dari regim tidak demokratis komunis menjadi regim yang diharapkan lebih akuntabel. tetapi pada kegagalan pemerintah merespon tuntutan ini. Waktu ia menjadi presiden di tahun 1995. Pengalaman negara Brasil setelah berakhirnya diktator militer mendukung hal-hal ini. Inisiatif-inisiatif ini. dari pada sebagai masalah dalam sektor publik itu sendiri. Masalahnya. Di Latvia ada LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . ada kampanye yang luas untuk suatu kebijakan sanitasi nasional yang secara kasar ditolak oleh Cardoso.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA oleh tender kompetitif yang dilaksanakan oleh dewan kota. ia mendorong dilaksanakannya kebijakan ”piecemeal” privatisasi yang mana sesuai dengan kehendak IMF untuk membatasi hutang pemerintah. adalah bukan pada kurang populernya kebutuhan layanan air dan sanitasi.

kampanye-kampanye telah mendasarkan argumen-argumennya atas dua sumber inspirasi pokok.2. Dan satu sumber lagi adalah munculnya bentuk baru dari struktur demokratis di selatan. kecuali beberapa kota di Spanyol dan Italia dan beberapa kota bekas koloni Perancis. ditemukan kembali pelajaran dari pengalaman negara-negara di belahan utara. Diketahui bahwa lingkup dan era privatisasi dibidang air ternyata sangat sempit. Dibalik perhatian yang ”misleading” kepada privatisasi. seperti di Orangi di Pakistan. Pengalaman kebanyakan negara-negara di Eropa dan Amerika Utara adalah mengganti kontraktor-kontraktor swasta dari pertengahan abad 19 dengan perusahaan pelayanan air milik kota. Hanya Perancis lah yang berhasil menyelamatkan kontraktor abad 19 dan mengkonsolidasikannya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dengan demikian pemerintah-pemerintah yang tidak efektif dapat dilihat sebagai bukti kegagalan proses-proses politik. Di permukiman peri-urban dimana pemerintah gagal menyediakan layanan pokok. Sebelum 1990. yang mempunyai pengalaman atau dengan serius mempertimbangkan privatisasi air dalam kurun waktu hampir satu abad terakhir. Masalahnya adalah kurangnya proses yang demokratis. masyarakat telah mendemonstrasikan kemauannya dengan menggunakan tenaga kerja mereka sendiri dan dana tabungannya untuk membuat sistem air bersih dan sanitasi. khususnya demokrasi partisipatif di Brazil dan India − the ”southern future”. yang kadang diperberat oleh kebijakankebijakan yang dibuat oleh IFIs sendiri. A. masih baru dan sangat pendek. tidak ada satupun negara diluar Perancis. karena perusahaan milik kota dapat menyediakan perluasan pelayanan dengan lebih efisien dan lebih efektif.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kampanye publik untuk pembangunan instalasi pengolah air limbah meski masih dibawah Uni Soviet pada waktu itu.2 A-7 ”Northern Past Dan Southern Future” Dalam pengembangan kebijakan alternatif dan struktur. Salah satunya adalah sejarah keberhasilan sektor publik di negara-negara maju pada abad 19 dan yang terbanyak di abad 20 − sebagai ”the northern past”.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

menjadi

oligopoli

swasta,

yang

menjadi

alasan

bagi

Perancis

untuk

A-8

mempromosikan ideologi privatisasi air dan utilitas lainnya oleh pemerintahan Perdana Menteri Thatcher di Inggris. Negara-negara komunis dan negara-negara yang merdeka setelah pascakolonial berakhir, juga membangun layanan air melalui sektor publik, melalui kepemilikan di tingkat kota, wilayah, atau tingkat nasional. Secara historis, perusahaan utilitas sektor publik adalah model yang cukup berhasil dalam mengembangkan layanan perluasan atas air dan sanitasi untuk seluruh penduduk perkotaan dan bahkan pedesaan. Lebih dari 80% penduduk di Uni Eropa dan Amerika Serikat tetap dilayani operator publik, meskipun mengalami advokasi untuk diprivatisasi pada tahun-tahun belakangan. Di negara-negara belahan selatan, bentuk-bentuk demokratis baru telah muncul dengan mengedepankan partisipasi dan sentralisasi. India mempunyai sistem dewan desa yang dipilih yang disebut ”panchayats”, dan di negara bagian Kerala pemerintahan kiri meng-inisiasi peluncuran program desentralisasi dan partisipasi − hampir 40% dari anggaran negara bagian telah disalurkan melalui panchayat, warga mempunyai hak untuk melihat setiap dokumen dan prioritas anggaran ditetapkan melalui bebarapa tahapan pertemuan-pertemuan umum. Di Brazil, pemerintahan Partai Pekerja telah mengadopsi kebijakan-kebijakan yang membangun sistem devolutif dan partisipasi pada tingkat pemeritahan kota dimana kekuasaan terletak, melalui sistem yang dikenal sebagai ”participatory-

budgeting”.
A.3 Pemberdayaan Perusahaan Umum Pelayanan Air −Langkah Kedepan

Diketaui ada dua pilihan yang layak dalam merencanakan pelayanan air, baik menggunakan privatisasi layanan air maupun menggunakan layanan air yang pernah diselenggarakan oleh pemerintah dan kenyataannya tidak mencukupi. Keberadaaan pilihan ini tidak menjadi masalah bila layanan air dari pemerintah dapat dilakukan secara efektif, namun pertanyaannya adalah bagaimana membuat layanan air dari sektor publik ini menjadi efisien dan efektif. Obsesi

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

ideologi yang baru dibarengi dengan promosi sektor swasta dalam sepuluh tahun terakhir ini telah mengakibatkan pertanyaan di atas belum mendapatkan perhatian yang semestinya dalam penyusunan kebijakan dan proses pengambilan keputusan. Dari uraian pada bagian sebelumnya dijelaskan bahwa sekarang ini mulai muncul situasi baru yang bersifat fundamental akibat adanya beberapa kegagalan privatisasi yang besar, penarikan diri oleh sektor swasta multinasional bidang air dari negara-negara sedang berkembang, dan kenyataan yang dihadapi oleh para pembela privatisasi meski jelas bahwa inestasi sektor swasta tidak akan sampai ke kaum miskin. Oleh karena itu upaya untuk memfokuskan kembali pada perbaikan kinerja dan cakupan utilitas umum sangat dibutuhkan. Beberapa kasus yang disinggung disini menunjukkan bagaimana perbaikan yang signifikan dibidang akses atas air bersih dan sanitasi dapat dicapai dengan berbagai pola manajemen air publik. Solusi atas masalah air publik yang bertitik berat pada masyarakat telah terjadi pada berbagai kondisi lingkungan sosialekonomi, budaya dan politis. Sebagai contoh, termasuk pencapaian utilitas publik dan koperasi di Porto Alegre (Brazil), Santa Cruz (Bolivia) dan Penang (Malaysia); pencapaian perbaikan dengan manajemen model penyediaan publik yang inovatif di Caracas (Venezuela), Harrismith (South Africa) dan provinsi di Buenos Aries (Argentina); dan pencapaian dari pendekatan air yang dikelola masyarakat (community-managed water) di Olavanna (Kerala, India) dan Savelugu (Ghana). Berbagai macam pendekatan publik dimaksud telah membuktikan potensinya sebagai upaya untuk memperbaiki layanan air, dan sudah barang tentu termasuk untuk kaum miskin. Hampir disemua kasus, pencapaian-pencapaian dimaksud telah terjadi ditengah kondisi terjadinya perlawanan terhadap keanehan dan rintangan untuk perbaikan penyediaan air yang dikendalikan oleh publik dan masyarakat. Diantaranya yang terburuk adalah sistematis bias terhadap upaya perbaikan air publik dari

A-9

International Financial Institution (IFI’s) dan privatisasi dengan persyaratanpersyaratan tertentu yang dikaitkan dengan upaya untuk mengurangi jumlah dana bantuan pembangunan yang ditawarkan oleh pemerintahan di negara-

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

negara di kawasan utara. Hambatan-hambatan yang bersifat politis dan finansial dan hambatan lainnya yang mencegah manajemen air publik mencapai potensi penuhnya tidak dapat diatasi. Pada prinsipnya apa yang diperlukan adalah sikap politis untuk menciptakan lingkungan yang lebih kondusif. Hal ini menggarisbesari kisaran yang luas dari pilihan-pilihan kebijakan yang progresif. Dapat juga disimpulkan bahwa perkuatan demokratis, karakter publik dari layanan air pada prinsipnya tidak sejalan dengan model globalisasi neoliberal yang sedang dominan diwaktu kini, yang mana telah mempengaruhi beberapa aspek kehidupan kedalam kerasnya pemikiran dari pasar global. Menarik beberapa pengalaman dari seluruh dunia beberapa isu kunci yang perlu diwacanakan (debat) secara lebih intensif diwaktu mendatang adalah: • Pilihan-pilihan apa yang diperlukan untuk memperbaiki dan memperluas layanan air dan sanitasi publik untuk menghadapi tantangan keberlanjutan, keadilan dan akses untuk semua? • • • • Apa potensi dari partispasi masyarakat/pengguna dan bentuk-bentuk lain dari demokratisasi? Kondisi-kondisi apa saja yang diperlukan agar membuat reformasi utilitas publik yang berfokus pada penduduk dapat berjalan? Masalah-masalah apa saja yang menghinggapi komersialisasi operasi air sektor publik? Pelajaran-pelajaran apa yang dapat dipetik pada bagaimana caranya untuk mengatasi hambatan-hambatan kenaikan biaya yang diperlukan untuk perbaikan-perbaikan? • • Proses-proses politik macam apa yang terlibat dalam pengembangan air publik yang berhasil? Apa yang diperlukan untuk merealisasikan, dari tingkat lokal ke global, untuk menyebarkan, memperkuat dan melaksanakan layanan air dan sanitasi publik untuk daerah urban?

A-10

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

Di Porto Alegre. Koperasi air di Bolivia dan Argentina memperbolehkan para pengguna (yang semuanya adalah anggota dengan hak suara/voting) berpengaruh langsung dalam pengambilan keputusan. Melalui suatu proses pertemuanpertemuan publik. sekarang ini mempunyai akses terhadap air bersih. partisipasi warga masyarakat dan pengguna air dalam berbagai dari layanan air yang dikelola publik. masyarakat langsung menetapkan prioritas anggaran dari perusahaan-layanan-airnya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA A. Hal ini memberi kewenangan bagi para pengguna untuk memegang kendali atas akuntabilitas perusahaan dalam menjalankan pelayanannya dengan misinya yang bersifat not-for-profit. misalnya melalui pemilihan badan pengarah perusahaan utilitas (dalam hal ini layanan air dan sanitasi). respon dan pencapaian tujuan sosial Partisipasi dan demokratisasi yang efektif dimaksud dapat tampil dalam berbagai bentuk. Seperti halnya pada beberapa wilayah kehidupan publik lainnya di Porto Alegre. setiap warga dapat menyuarakan pendapatnya misalnya menyatakan dimana suatu investasi dapat pertama-tama dapat dilaksanakan. ”anggaran partisipatif” telah memainkan peran penting yang menjamin bahwa 99. penggabungan keterlibatan masyarakat madani (civil society) dengan upaya reformasi demokratis yang inovatif seperti ”participatory budgeting/Anggaran Partisipatif”. Di Porto Alegre dan beberapa kota lainnya yang sedang tumbuh di Brasil. telah menjadi suatu model yang sering dideskripsikan sebagai ”social control (kontrol sosial)”.5% dari penduduk termasuk yang tinggal dikawasan kumuh dan miskin di penggiran.4 Partisipasi dan Bentuk-bentuk Demokratisasi Lainnya A-11 Di beberapa kota yang diulas dalam tulisan ini. Untuk perusahaan utilitas. bentuk adalah faktor penting dibelakang peningkatan-peningkatan dalam efektivitas. mendapatkan masukan berdasar pengetahuan yang unik dari masyarakat dengan sendirinya merupakan suatu aset. Bertambahnya rasa memiliki berkontribusi terhadap bertambahnya kemauan untuk membayar dan dengan demikian memungkinkan untuk membuat investasi baru serta LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

dan sebelum memulai reformasi demokratis sebagian besar penduduk mengalami kekurangan akses pada air bersih. Seperti ditemui di tempat lainnya di Brasil. Lebih dari 400 orang wakil terpilih pada pertemuanpertemuan (tingkat lingkungan) tersebut telah berpastisipasi dalam suatu konferensi dimana tidak kurang dari 160 keputusan telah diambil berkenaan dengan masalah air dan sanitasi di Recife untuk masa depan. dimulai dengan pertemuan-pertemuan seri tingkat lingkungan. Transparansi dengan sendirinya juga akan meningkat. Porto Alegre dan Recife keduanya memiliki penduduk lebih dari satu juta dan model-model yang sejenis telah terbukti berhasil dibeberapa kota-kota besar lainnya. Tingkat kemakmuran kota ini sebenarnya merupakan salah satu faktor yang menguntungkan dalam menyiapkan upaya peningkatan akses air bersih. Pengalaman Brasil menunjukkan bahwa skala tidak mesti sesuatu yang menghambat untuk melaksanakan pengelolaan air yang bersifat partisipatif. bagian tenggara kota yang mempunyai jumlah penduduk berpenghasilan rendah yang sangat besar. Hal ini telah dicanangkan di tahun 2001 dengan proses konsultasi partisipatif selama tujuh bulan. Jacarel and Piracicaba. kota ini mempunyai kesenjangan yang besar antara kaum yang kaya dan kaum yang miskin. Recife. telah melaksanakan pengelolaan air yang demokratis dan partisipatif serta bertujuan untuk lebih banyak meningkatkan akses air bersih dalam jumlah besar didasawarsa mendatang. A-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Contoh lain dari Porto Alegre-style pengelolaan air yang partisipatif di Brasil dapat ditemukan di kota-kota seperti Caxias do Sul di negara bagian Rio Grade de Sul. yang juga akan sangat mungkin mengurangi resiko terjadinya korupsi. Konferensi ini menentang privatisasi dan menetapkan tujuan institusi untuk meningkatkan dan memperluas layanan penyaluran air. dan semua negara bagian dari Sao Paulo. Tetapi hal ini tidak akan mengurangi nilai dari pencapaian yang bisa didapatkan melalui proses partisipasi demokrasi. Porto Alegre adalah salah satu kota yang makmur di Brasil. dan Santo Andre.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA meningkatkan pemeliharaan. dengan prioritas untuk bagian-bagian kota yang miskin.

Penduduk setempat tidak hanya berpartisipasi dalam perencanaan. dengan demikian akan menjamin keberlanjutan dari peningkatan dan perluasan layanan air dan sanitasi. pengelolaan dan pemeliharaan. penduduk setempat mampu memutuskan mengalokasikan dana publik untuk peningkatan akses atas air minum. Dana-dana publik ini kemudian mendapat tambahan dari dana kontribusi masyarakat sendiri. Peningkatan-peningkatan yang pokok atas akses terhadap penyediaan air sistem perpipaan telah dicapai dalam lima tahun terakhir melalui pelibatan dan pemberdayaan masyarakat. perusahaan air dan petugas-petugas yang dipilih bekerja sama dalam dewan air komunal untuk mengidentifikasi kebutuhan dan prioritas untuk perbaikan-perbaikan. dengan cara berkontribusi untuk mengadakan air bersih yang dapat dijangkau oleh semua. Rasa memiliki yang timbul dalam masyarakat berkontribusi terhadap upaya monitoring dan pemeliharaan dari masyarakat sendiri. misalnya dengan mengendalikan akuntabilitas untuk pelaksanaan rencanarencana kerja. Keadaan yang hampir sama terjadi di Savelugu. alokasi dana-dana yang tersedia dan penyusunan rencana kerja bersama. Ghana. Venezuela. India. Penggunapengguna melaksanakan pengendalian demokratis atas pengelola utilitas. Dengan menggunakan teknologi yang tepat guna dan menghindari ketergantungan pada kontraktor dan konsultan luar negeri akan mengurangi biaya. pengelolaan air secara partisipatif telah dilakukan dengan baik juga. pelibatan dan pemberdayaan masyarakat setempat secara demokratis telah mengurangi biaya dan membantu mengendalikan kebocoran. Pengelolaan air yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sebagai hasil dari kebijakan People’s Plan (Rencana Masyarakat) dari pemerintah negara bagian Kerala (yang me-desentralisasikan pengambilan keputusan hampir sebagian besar dari pembiayaan publik). Masyarakat setempat. melibatkan penduduk secara sangat intensif pada bidang-bidang yang memerlukan perbaikan dan peningkatan dalam layanan air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Model pengelolaan air yang partisipatif yang sedang dalam proses A-13 pengembangan di Caracas. baik pada proses pengambilan keputusan maupun pekerjaan konstruksi dan pemeliharaan. tetapi juga dalam konstruksi. Di Olavanna dan komunitas-komunitas lain di Kerala.

dimana hal ini adalah salah satu alasan bahwa kebocoran telah dapat dikurangi sampai tingkat yang paling minimum. Di Cochabamba. yang selanjutnya masyarakat yang akan mengurus semua hal yang berkaitan dengan sistem distribusi air-nya. Untuk mengembangkan akses ke sistem perpipaan untuk dari daerah peri-urban. Bolivia. Berlainan dengan yang terjadi di Caracas dan Olavanna. partisipasi dan kontrol yang demokratis yang muncul setelah privatisasi yang merusak dari Betchel diakhiri pada bulan April 2000 ”perang air”. istilah ”public-collective partnership”/kemitraan kolektif publik dipakai untuk menjelaskan model baru dari kepemilikan utilitas skala perkotaan. menggunakan kemampuannya untuk mengelola layanan distribusi air diwilayahnya sementara SEMAPA menyediakan layanan air partai besar (bulk water). Pada waktu yang sama. sebanyak 3 dari 7 anggota badan dipilih oleh penduduk-penduduk dari bagian selatan. model Savelugu dibangun tanpa dukungan aktif pemerintah. namun peningkatan hanya dimungkinkan dengan bantuan dana dari UNICEF dan beberapa LSM dari belahan buni utara. dan pembuatan sambungan baru. khususnya penduduk yang miskin. Perusahaan utilitas air SEMAPA sekarang sedang di-restrukturisasi untuk melayani penduduk. pusat dan selatan dari daerah kota. Hal yang penting dari sistem dengan tingkat desentralisasi yang tinggi ini adalah bahwa pada tiap lingkungan (setingkat kelurahan) mempunyai komisi pengelolaan air. Badan air masyarakat kota (the city’s community board) menetapkan tarif yang direncanakan untuk menjamin akses bagi semua. Pada pemilihan bulan April 2002. pemeliharaan. kemitraan kolektif publik adalah format yang baik dan demokratis yang dapat mengatasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dikendalikan oleh masyarakat di Savelugu disebut sebagai ”public-community A-14 partnership/kemitraan sektor publik dan masyarakat”. Hal ini mengacu kepada kenyataan bahwa perusahaan umum nasional menyalurkan air dalam jumlah besar (bulk water) kepada masyarakat. SEMAPA bekerja sama dengan komisi air didaerah tersebut. Meskipun sejumlah faktor masih mengancam kesuksesan dari hasil dari kerjasama ini. SEMAPA sedang memasuki model co-management dengan komisi air yang telah ada yang melayani penduduk tanpa sambungan di bagian selatan kota. termasuk penagihan kepada pengguna-pengguna.

menyediakan air untuk lebih dari 3 juta penduduk. Dengan bekerja sama dengan wakil-wakil pengguna yang berpartisipasi dalam dan mengawasi pengelola. Efisiensi. Faktor kunci dibelakang pencapaian PBA adalah komitmen yang kuat diantara manajemen dan para pekerja atas layanan publik dan pelayanan masyarakat yang prima. adalah karena perbedaan prinsip antara sektor swasta pemegang konsesi dan pengelola utilitas air setempat. ini perlu dicatat. Disamping contoh-contoh diatas. para pekerja telah berhasil membawa kembali perusahaan utiltas kembali ke ”track-nya” setelah bertahuntahun dikelola secara buruk oleh Azurix. ada beberapa kasus keberhasilan dari belahan bumi selatan yang cukup menarik untuk dikaji. transparansi. akan didorong dengan cepat oleh aktivitas politik di negara bagian.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kecenderungan sentralisasi dalam pengelolaan utilitas dan dapat menyelesaikan masalah-masalah akses pada wilayah peri-urban. yaitu Phnom Phen. pada sisi yang lain. yaitu Azurix (anah perusahaan Enron). Pilihan untuk meninggalkannya. yang menarik diri setelah pemerintah propinsi menolak pertambahan harga dari layanan yang memuaskan yang dijalankan perusahaan dari Amerika Serikat. A-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . seperti utilitas air PBA di Penang. Malaysia. Ada juga kasus-kasus dimana pengelolaan air publik yang efektif dan setara dapat dicapai tanpa partisipasi pengguna memainkan peran yang penting. Koperasi para pekerja yang sejenis juga telah dengan sukses mengelola suatu konsesi air di dua bagian kota Dhaka. dan akuntabilitas dari pengelola utilitas. termasuk pemeriksaan kritis yang menerus dari pihak partai-partai politik yang sedang berkompetisi. ibukota negara Bangladesh. Serikat pekerja mengambil alih dalam situasi darurat yang timbul dari sektor swasta pemegang konsesi. Cambodia dimana jumlah dari rumah tangga yang dilayani dan memdapat air telah meningkat dengan cepat dari 25% menjadi hampir 80% dalam 10 tahun terakhir. Bentuk lain dari pengelolaan partisipatif adalah pada pengelola utilitas air di propinsi Buenos Aires. Perusahaan utilitas dioperasikan bebas dari pengaruh pemerintah negara bagian. untuk mencegah interferensi/ pengaruh-pengaruh yang tidak diperlukan. Argentina. yang sejak tahun 2002 telah dikelola oleh pekerja-pekerja air dan ”trade-unionnya”.

reformasi perusahaan publik utilitas tidak dipertimbangkan sebagai alternatif atas program privatisasi yang diusung oleh Bank Dunia dan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . untuk alasan ideologis. kapasitas dari pemerintah setempat dalam memberikan layanan. Sementara itu terdapat alasan yang baik untuk mengharapkan bahwa koperasi dapat memberikan layanan air di beberapa kota besar secara lebih efektif dan lebih betanggung jawab dari aspek sosial dibandingkan perusahaan air swasta. pemerintah-pemerintah dan partai-partai politik. secara aktif menghambat pengembangan lebih lanjut dari koperasi dan pengelolaan umum utilitas publik. Pengambilan keputusan pada pelayanan air di daerah kota-kota di belahan Selatan kadang-kadang dapat menjadi ”medan perang” politis yang sangat intensif atas kepentingan-kepentingan politis dan ekonomi para elite yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat miskin. meski badan usaha ini sering berkinerja sangat baik. A-16 A. dan faktor penting lainnya adalah dukungan politis dari pemerintah setempat. pemerintah pusat dan daerah telah. partisipasi dan demokratisasi dalam berbagai bentuknya dapat digunakan sebagai piranti yang kuat untuk perubahan positif pada berbagai kondisi lingkungan. efektivitas dan responsif dan dengan sendirinya akan berkontribusi pada penyediaan jasa layanan yang lebih baik.5 Lingkungan yang Menunjang (Enabling Environment) Hal-hal apa yang membentuk lingkungan-lingkungan yang menunjang (lokal. Hal yang sama. institusi internasional. nasional dan internasional) dimana berbagai pendekatan yang berfokus pada orang mempunyai peluang untuk sukses? Diantara faktor-faktor yang paling penting adalah ketersediaan sumber daya air setempat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sementara itu. tetapi elite politik neo-liberal tidak berkeinginan untuk mengijinkan pilihan ini dikembangkan lebih lanjut. Ada potensi umum untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan manajemen. Sejak tahun 1990-an di Argentina. hal ini jangan dianggap sebagai ”panacea” yang dapat dilaksanakan di setiap situasi dan pada lingkungan/kondisi tertentu mungkin juga tidak layak.

Model pengelolaan air yang sekarang muncul masih kurang demokratis. urbanisasi. birokrasi. Demikian juga. Di kota Bolivia lainnya. dan kecenderungan lain terkait dengan globalisasi ekonomi. Santa Cruz. tetapi tidak dihalangi oleh pemerintah pusat. konflik atas sumber daya air semakin meningkat. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan karena industrialisasi. Reformasi dan peningkatan yang dicapai adalah sebagai hasil dari kekuatan yang dibangun oleh gerakan air ditingkat akar rumput. Suatu masalah yang sedang tumbuh di berbagai belahan bumi. Cochabamba sedang menghadapi kelangkaan air. Sementara visi dibelakang ”public-popular partnership” di Cochabamba dapat dibanding dengan sistem planning partisipatif di Porto Allgre atau Kerala. Peningkatan pengelolaan sumber daya air untuk A-17 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . hal ini adalah pola umum di beberapa negara di seluruh dunia. pertumbuhan yang cepat dari pertanian intensif (kadang untuk tujuan ekspor). Santa Cruz. dan akuntabilitas dari pada yang dikehendaki masyarakat madani. Status koperasi (dan realitas kurang terpolitisasinya dari pada Cochabamba setelah ”perang air” dan ”deprivatisasi) telah memberikan otonomi yang diperlukan untuk mengendalikan utilitas bebas dari pengaruh politis. dan yang lebih akhir. di Cochabamba hampir tidak ada uang agar penduduk dapat membuat keputusannya. Malangnya. pada waktu ideologi neo-liberalisme belum muncul sebagai faktor hambatan terhadap pendekatan air berpusat kepada masyarakat. faktor penting dibelakang keberhasilan koperasi air adalah kebebasannya dari partai politik dan kenyataan bahwa kota dan utilitas airnya telah diabaikan. Hal ini berarti menciptakan lingkungan yang sulit dan membatasi ruang politis untuk mempromosikan pengendalian secara demokratis di Cochabamba. merefleksikan perjuangan perebutan kekuatan yang berlanjut.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA International Monetary Fund (IMF). Utilitas telah ditransfomasikan menjadi suatu koperasi di tahun 1979. pemerintah setempat dan pemerintah pusat mengambil sikap untuk tidak mendukung upaya untuk berpindah pada pengelolaan air yang bersifat publik dan partisipatif. Bolivia. Di Cochabamba. kroni-isme dan korupsi tipikal di kota-kota lain di Bolivia. transparan. kurangnya sumber daya menghalangi partisipasi yang aktif.

keberadaan pemeritahan kota yang efektif. Kenyataan ini sering disalah gunakan menjadi alasan diperlukannya privatisasi layanan umum. Di Grenoble. Hal ini berarti upaya peningkatan kinerja layanan umum harus dimulai dari awal. adalah kesulitan yang dihadapi dalam mengembalikan pengelolaan utilitas air menjadi pengelolaan oleh publik dengan situasi di kota Grenoble. Sebagai perbandingan. Pengalaman Di Cochabamba menunjukkan bahwa butuh waktu lama untuk mengubah utilitas yang tidak berfungsi. akan semakin berat tantangan yang dihadapi untuk dapat secara efektif mengelola suatu utilitas publik. sudah tentu dimulai dari kondisi awal yang paling sulit. Untuk itu guna mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi dalam perbaikan penyediaan air di Cochabamba.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA menjamin keberlanjutan akan keberadaannya adalah tantangan pokok untuk daerah perkotaan di seluruh dunia. tidak meluasnya kemiskinan. Setiap model penyaluran air bagi daerah perkotaan yang progresif perlu memasukkan pendekatan yang berkelanjutan atas sumber daya air dan membuat neraca antara kebutuhan air untuk daerah perkotaan dan perdesaan. atau jika tidak. Perancis. khususnya jika penduduk setempat kehilangan kesabaran jika perbaikan layanan air tidak terjamin secara nyata. sektor publik khususnya di negara-negara berkembang seringkali diurus oleh tenaga-tenaga yang kurang mampu dalam menangani urusan pelayanan umum yang terkait dengan jaringan infrastruktur yang besar serta memerlukan kemampuan (”softskill”) yang responsif terhadap tuntutan kebutuhan. khususnya bila elite politisi setempat menghalangi perubahan yang diperlukan. Keberhasilan tidak selamanya dapat dijamin. dapat dikatakan sebagai hal yang berlawanan dengan kebiasaan. A-18 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kapasitas administrasi dari sektor layanan umum pemerintahan dalam memberikan pelayanan umum adalah faktor yang sangat penting. serta ketersediaan sumber daya air dari pegunungan Alpen memberikan lingkungan yang kondusif bagi keberhasilan penyediaan layanan air publik. yang terbukti bukan merupakan solusi yang tepat. Semakin banyak kemampuan yang tidak dimiliki oleh pemerintah kota/daerah. Dengan berbagai alasan. sangat diperlukan solidaritas internasional. Pencapaian di Cochacamba.

Berkat pembelajaran dari konsultasi. Jelaslah bahwa kapasitas untuk memberikan layanan umum oleh pemerintah kota/daerah setempat adalah komponen kunci dari masyarakat demokratis dan merupakan suatu keharusan guna diberlakukannya hak atas air bagi penduduk. yang telah dikelola dengan baik melalui kemitraan. public-public partnership antara pemerintah setempat di kota Harrismith dan perusahaan besar utilitas publik bidang air dari kota lain telah mencapai hasil yang baik. Salah satu jalan untuk mengatasi kelemahan kapasitas pelayanan umum pemerintah setempat adalah melalui ”public-public partnership” (kemitraan antara instansi-instansi pemerintah). Harrismith tidak mengalami kerugian dari tingginya tingkat pelanggan yang tidak membayar—tipikal masalah pada konsesi yang diprivatisasikan di Afrika Selatan. Proyek ”Public-public partnership” telah membawa peningkatan yang nyata. Di Afrika Selatan. Partisipasi dan konsultasi intensif pada tingkat ”ward” dari wilayah pemerintah kota/kabupaten) adalah juga faktor kunci disamping faktor lainnya yaitu finansial untuk mencapai sukses public-public partnership.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA khususnya untuk kota-kota dengan penduduk yang sebagian besar A-19 berpendapatan rendah. kemajuan yang dibuat oleh kemitraan publik dan masyarakat di Savelugu sekarang terancam oleh kenyataan bahwa Ghana Water Company (GWC) tidak mampu untuk menyalurkan layanan air bersih yang mencukupi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tanpa kebijakan yang lebih bersifat ambisius adalah sulit untuk mencapai kondisi dimana air dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat untuk memerangi kemiskinan dan redistribusi kemakmuran dalam lingkup lokal dan nasional. tetapi tidak dikelola untuk mengatasi menumpuknya kebutuhan akses air bersih dalam jumlah yang besar yang ada dikawasan komunitas perkotaan di Harrismith. pendekatan tarif sosial dan dukungan dari masyarakat. Percobaan selama 3 tahun menunjukkan bahwa ”sharing” dan transfer pola pengelolaan dan ketrampilan teknis dapat berkontribusi (sebagian pada peningkatan pelayanan air masyarakat secara cepat. Di Ghana. Eksprimen ini hanya mungkin dapat berjalan dengan subsidi kepada kaum miskin yang didanai oleh pemerintah.

A-20 A. atau pekerja. penganggaran yang bersifat partisipatif dan di-desentralisasikan dimulai dan dikonsolidasikan oleh pemerintah negara bagian .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA untuk masyarakat.6 Ethos Baru Layanan Umum Sementara adalah suatu kenyataan bahwa beberapa perusahaan utilitas air dibelahan bumi selatan mengalami hambatan dari birokrasi dan seringkali gagal memberikan layanan kepada warga yang miskin. Hal ini menggaris bawahi pentingnya kebijakan nasional dan internasional yang lebih bersifat memfasilitasi dari pada mengahalangi partisipasi dan solusi lainnya atas layanan air untuk publik. yang dikendalikan oleh Front Demokratis Kiri. upaya-upaya ini dipelopori oleh pemerintah setempat. kota-kota seperti Recife dan Porto Alegre. India dan Caracas di Venezuela. Upaya ini mencakup redefinisi dan ”re-invention” yang radikal tentang pelayanan umum dan arti dari ”ke-umum-an”/publicness (kualitas menjadi umum/publik dan menjadi milik masyarakat). dan juga oleh partai-partai politik. atau masyarakat madani/LSM. Hampir semua utilitas yang berhasil yang dijadikan contoh telah meningkatkan layanan air dan sanitasi melalui penyusunan visi layanan umum yang melayani tujuan-tujuan sosial yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Krisis yang semakin mendalam GWC sebagaian besar disebabkan oleh kurangnya pembiayaan dan hal-hal yang terkait dengan upaya bersama pemerintah pusat dan Bank Dunia yang sedang menyiapkan suatu perusahaan yang akan menangani privatisasi. Di Kerala. sebagaimana telah dijelaskan di bagian sebelumnya dari tulisan ini. peningkatan-peningkatan yang telah terjadi disebabkan oleh peran fasilitasi dan pemberdayaan dari pemerintah-pemerintah pusat dan daerah. peningkatan-peningkatan dicapai karena komitmen yang sangat kuat dari walikota dan anggota dewan kota yang berasal dari partai Pekerja. dan juga di Kerala. beberapa upaya-upaya telah dilaksanakan untuk mempercepat peningkatan kapasitas dalam layanan umum. Di Brasilia. Penganggaran partisipatif diperkenalkan dan di-institusionalkan setelah partai Pekerja memenangi pemilu dan memperoleh kendali politik. Di kota-kota di Brasilia seperti Porto Alegre dan Recife.

dan keamanan masyarakat (human security). Pertama. dicapainya manajemen sumber daya yang berkelanjutan untuk kota-kota yang selalu berkembang. dapat mengambil bentuk mulai dari koperasi sampai ke pelayanan utilitas yang dikelola pemerintah kota.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA lebih luas. keberlanjutan sosial. Dalam banyak kasus. termasuk demokrasi. Ethos baru pelayanan umum yang sedang muncul dengan berbagai bentuk pengelolaan air yang tidak mencari keuntungan. ”Ke-umuman/publicness” di –redefinisikan sebagai sesuatu yang jauh diluar sekadar kepemilikan oleh umum atau pengelolaan oleh pegawai (negeri/badan usaha milik negara/daerah). Pengenalan busines neo-liberal dan model-model pengelolaan (sering disebut sebagai New Public Management-NPM) mengarah pada bentuk- LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Malaysia. pada umumnya. pengaruh ideologi neo-liberal menghasilkan permasalahan yang rumit dalam praktek pengelolaan layanan air diantara pilihan dikelola oleh publik atau privatisasi. internalisasi dan konsolidasi dari philopi dari melayani kebutuhan umum adalah fasilitasi dengan partisipasi warga secara langsung dan bentuk-bentuk lain dari interaksi dengan penggunapengguna. telah mengembangkan ethos layanan umum yang berkualitas tinggi yang memungkinkan menyediakan air berkualitas tinggi untuk semua pada harga yang masih dapat dijangkau. Pengertian ”ke-umum-an” yang progresif ini faktor yang sangat penting untuk memenuhi tantangan-tantangan seperti penyediaan air bersih untuk warga miskin yang ter-marginal-kan di pinggiran kota dan. Pengalaman yang diperoleh dari reformasi di bidang utilitas air umum adalah pengembangan ethos baru di bidang pelayanan umum. A-21 A.7 Catatan Tentang Komersialisasi Beberapa kasus tentang upaya peningkatan pelayanan air untuk umum menunjukkan adanya kecenderungan yang saling bertentangan. dimana sahamnya. dimiliki oleh kelompok pekerja dan kelompok pengguna-pengguna. sebagian. Utilitas air di Penang. tetapi juga perusahaan utilitas yang dikendalikan oleh umum.

memerlukan investasi-investasi awal yang cukup besar. dan juga Rand Water di Afrika Selatan dan PBA di Malaysia. biaya dari pinjaman biasanya dikenai pajak. praktek operasi dari EAAB di Bogota. sedang berekspansi untuk beroperasi keluar negeri. kecenderungan yang terkait dengan utilitas publik seperti EAAB. Columbia. Di beberapa negara—seperti Irlandia—layanan air dibayar hampir seluruhnya melalui pajak pemerintah pusat. A-22 A. Pada prinsipnya ada cara untuk membayar penyediaan air untuk publik: pajak-pajak atau iuran (biaya jasa pengelolaan) dari pengguna.8 Pembiayaan Air Publik Pembiayaan adalah tantangan kunci untuk setiap komunitas yang menghendaki terjaminnya air untuk semua. perusahaan-perusahaan ini bermaksud untuk beroperasi sebagai penyedia layanan air komersial di luar negeri. dan juga menyediakan subsidi untuk mengurangi beban yang harus ditanggung oleh pengguna melalui tarif air. Pelayanan air sehari-hari dari utilitas air memerlukan biaya dan perluasan akses atas air. air seluruhnya dibayar dengan iuran pengguna (full cost recovery). dan juga melalui subsidi silang melalui ”stepped tariffs/tarif progresif”.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA bentuk komersialisasi yang akan bertentangan dengan prinsip-prinsip ethos pelayanan umum yang dijelaskan sebelumnya. Sementara mereka berpedoman pada ethos pelayanan umum jika beroperasi di dalam negeri. misalnya. Kecenderungan ini terlihat nyata. dengan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Di beberapa kota-kota yang mempunyai keberhasilan dalam penyediaan air publik. Beberapa utilitas publik air telah mengkombinasikan perluasan layanan air dengan struktur tarif sosial. Pajak biasanya dipakai untuk membiayai perluasan dan pembangunan sistem. dalam hal ini konsumen membayar sebanding dengan air yang digunakan (memakai lebih banyak air akan membayar lebih banyak). Outsourcing tugastugas kunci kepada kontraktor swasta dan pengenalan kondisi perburuhan yang ”fleksibel” adalah contoh-contoh peng-adopsian dari model busines korporasi. Jika pemerintah atau pemerintah kota meminjam uang atau menerbitkan bonds/surat berharga untuk membiayai investasi. Kedua.

Beberapa cara lainnya adalah mengatasi kebocoran dan meningkatkan penagihan-penagihan.000 liter bebas biaya untuk setiap keluarga. hak atas air tidak secara efektif dilaksanakan. utilitas kemudian di-reorganisasi dengan struktur tarif yang berbeda dan insentif untuk mengurangi kebocoran dan limbah. mengurangi jumlah pelanggan yang tidak membayar dan perbaikan dari kelayakan pembiayaan utilitas dapat dicapai. Brasil. Untuk menjamin keterjangkauan air untuk semua. memungkinkan utilitas mempunyai tarif air yang paling rendah di negerinya. kondisi tingkat pelanggan air tidak membayar sangat rendah.000 liter air gratis per keluarga terbukti ternyata tidak mencukupi untuk satu keluarga besar penduduk miskin. menyalurkan kelebihan (surplus) atas iuran yang lebih tinggi yang mampu dibayar oleh pengguna yang kaya kedalam dana investasi yang membiayai air baru dan infrasruktur untuk air dan infrastruktur sanitasi bagi semua yang memerlukannya Di Afrika Selatan dan beberapa kota lainnya diseluruh dunia. dan 6. Untuk mengatasi rintangan pembiayaan. Di kota Matao. Malaysia. misalnya. paling tidak diperlukan untuk men-duakali-kan jumlah air gratis yang dijamin konstitusi dan ditambah dengan subsidi silang untuk tarif rendah bagi penduduk berpenghasilan rendah. Meteran air pra-bayar yang telah dipasang di beberapa komunitas miskin di Afrika Selatan secara nyata merupakan pelanggaran atas hak azasi manusia atas air. Di Penang. Hal ini meningkatkan kesehatan aspek finansial dari utilitas dan menyelesaikan masalah sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . privatisasi kelihatannya menjadi satu-satunya pilihan untuk pemerintah kota yang kehausan modal untuk investasi perluasan layanan air untuk mengikuti pertumbuhan penduduk yang cepat. Setelah proses konsultasi publik. DMAE di Porto Alegre.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA demikian memungkinkan seluruh warga. ekspansi/perluasan layanan air dapat juga dikerjakan dengan pengurangan biaya operasi dan meningkatkan efisiensi air. Sementara undang-undang di Afrika Selatan menjamin pemberian 6. termasuk yang paling miskin A-23 mempunyai akses terhadap air yang terjangkau. kebijakan neo- liberal cost recovery (tanpa subsidi silang) telah menyebabkan problem afordabilitas dan beberapa juta penduduk mengalami pemutusan layanan air.

Model Savelugu di Ghana utara hanya mungkin terrealisasi berkat pendanaan dari UNESCO dan LSM internasional. sebagaimana kasus di Porto Alegre. akses atas air untuk bagian masyarakat yang miskin tetap ditempatkan pada prioritas yang rendah dan seringkali pendekatan-pendekatan neo-liberal mendominasi para A-24 elite setempat dalam proses politik. hal ini juga merupakan upaya keberlanjutan sumber daya air: pengurangan kebocoran dapat juga membantu mengatasi ancaman atas kekurangan air dan bahkan membuat investasi pokok pembangunan bendungan baru tidak diperlukan lagi. Di titik inilah peranan dari pemerintah pusat dan institusi pendanaan internasional untuk menjamin akses untuk memperoleh pinjaman (loans) mutlak diperlukan. Dengan jelas. India. juga bentuk-bentuk yang sangat berbeda dari proses desentralisasi telah terjadi di beberapa negara yang terletak di belahan bumi selatan dalam sepuluh tahun terakhir. yang mana telah membantu pengurangan biaya dari proyek konstruksi baru. Dibanyak negara. Banyak hal-hal yang dapat diperbaiki untuk pendekatan negara-negara dibelahan bumi selatan dalam penyediaan air. mereka juga dilibatkan dalam monitoring pelaksanaan keputusan-keputusan dan proyek-proyek. Untuk masyarakat miskin. tetapi untuk kelompok masyarakat lain yang berminat melaksanakan model-model yang sama tidak dapat bergantung pada ”philantrophy”. Mengikuti saran-saran IFI. diperlukan dana dari luar untuk membiayai investasi awal yang besar. Warga tidak hanya diberdayakan oleh pemerintah untuk mampu memprioritaskan alokasi anggaran publik. Masyarakat pada area dimana pembangunan infrastruktur air terjadi berpartisipasi dalam komisi-komisi yang mengawasi kontraktor-kontraktor menjalankan pekerjaannya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air. Kesulitan akses untuk pembiayaan investasi-investasi dalam pengembangan dan peningkatan penyediaan air merupakan hambatan di banyak kota-kota di belahan bumi selatan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hal ini berarti pengawasan yang menerus atas utilitas air dan pengawasan terhadap kontraktor. Keadaan yang sangat kontras dengan pemberdayaan demokratis dari desentralisasi pengambilan keputusan atas dana pemerintah didapati di Kerala. Partisipasi warga dapat membantu kesehatan finansial utilitas air.

konteks kini dari globalisasi neo-liberal adalah sangat berlawanan dengan kondisi lingkungan yang diinginkan untuk meningkatkan dan memperluas sistem air publik yang berfokus pelayanan penduduk. hal ini sering digabungkan dengan tingginya angka pembayaran pinjaman luar negeri. Pada waktu yang sama. Kumulatif dampak/impacts dari kebijakan neo-liberal adalah hambatan dasar bagi pengembangan penyediaan oleh publik untuk layanan-layanan penting. Pemerintah-pemerintah di belahan bumi utara dan IFIs terus-menerus menggunakan pembiayaan sebagai sebagai alat politik untuk A-25 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pinjaman-pinjaman dari IFIs adalah satu dan hanya satu-satunya jalan dimana para pemerintah dan pemerintah kota bisa mendapatkan dana-dana untuk investasi guna pengembangan akses terhadap air. kelihatannya layak jika model pembangunan diganti dengan model globaliasi yang lain. Dengan keadaan bahwa banyak pemerintah-pemerintah di belahan bumi selatan menderita karena sistem ekonomi global yang tidak adil dan hutang luar negeri yang semakin membesar. institusi bantuan untuk pembangunan dan team negosiasi perdagangan. sementara itu pada saat yang bersamaan utilitas setempat kekurangan dana untuk memenuhi kewajiban baru mereka. juga bagi negara-negara di Eropa Tengah dan Timur. perdagangan bebas dan reformasi neo-liberal lainnya telah menghasilkan meningkatnya angka pengangguran dan marginalisasi ekonomi. Pemerintah-pemerintah mengalami penurunan anggaran disebabkan karena penurunan pajak pendapatan. nyatanya kadang hal ini mempersempit alternatif pilihan yang lain dari privatisasi. Solusi jangka panjang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pemerintah-pemerintah telah mengalihkan tanggung jawab kepada pengelola utilitas setempat. yaitu yang mem-fasilitasi solusi publik yang progresif dari pada menyembunyikannya. Untuk sebagian besar penduduk di belahan selatan. Hal ini masih ditambah dengan kenyataan adanya tekanan untuk me-liberalisasi dan privatisasi dari IFIs. Kenyataan yang sangat mengganggu adalah sebagain besar IFIs tetap berkeras memihak kepada privatisasi dan menggunakan berbagai jenis tekanan baik secara nyata atau secara halus untuk memaksakan hal tersebut (privatisasi) kepada pihak peminjam. Hal ini telah menjadi konsekuensi yang dapat diramalkan atas penyediaan layanan publik yang vital.

Untuk mendorong aliran pembiayaan internasional untuk memperluas akses atas air kepada kaum miskin. tentunya digabungkan dengan penghilangan atas tekanan-tekanan yang terkait dengan kondisi privatisasi. seperti pinjaman IBRD untuk koperasi-koperasi di Argentina dan Bolivia. Ada beberapa perkecualian. Porto Alegre dan Recife mendapat pinjaman dari IFI setelah negosiasi yang sangat berat dimana Bank Dunia tetap ”ngotot” mendorong kearah privatisasi. tetapi karena kondisi keuangan pemerintah pusat yang menyebabkannya. Legitimasi demokratis dari pengelola utilitas publik dan dukungan dari walikota-walikota telah membantu ditahannya tekanan-tekanan dan berhasil mendapat pinjaman tanpa kondisi yang dapat menggerus hakikat dari model-model partisipatif. Disamping pilihan pendanaan yang bersifat redistribusi dengan pengaturan perpajakan dan tarif air yang bersifat subsidi silang. Koperasi di Santa Cruz. termasuk ”floating municipal bonds”. Penting untuk diketahui bahwa dana yang hanya ”sepersekian” dari dana yang dipergunakan untuk keperluan militer sudah mencukupi untuk membiayai penyediaan air bersih untuk semua orang dibumi ini. menambah dana bantuan pembangunan dari negara-negara maju di belahan utara adalah pilihan yang langsung. pajak kecil yang dikenakan pada botol kemasan air mineral dan menghasilkan miliaran euro (triliunan rupiah) pun masih jauh lebih kecil dari jumlah yang sangat besar yang A-26 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Di Eropa. terdapat berbagai jenis pilihan pendanaan yang berskala lokal dan nasional. yang sesungguhnya sangat sehat. Kehendak untuk membiayai pilhan sektor non-swasta tetap jauh dan terlalu terbatas. Masyarakat Eropa dan beberapa pemerintahan di Eropa secara pro-aktif mendorong dilakukannya privatisasi. sedang menghadapi pembatasan-pembatasan untuk mendapatkan pinjaman yang lebih besar bukan karena keadaan keuangannya sendiri. Ada kebutuhan mendesak akan mekanisme pembiayaan tanpa kondisi politis dengan tujuan yang berorientasi pada pelayanan masyarakat dan bukan bertujuan ekonomis dan ideologis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA menekan pemerintah-pemerintah di belahan bumi selatan untuk bergabung dalam upaya melaksanakan reformasi neo-liberal. Bolivia.

Proses politis dalam mengupayakan reformasi utilitas publik dan alternatif untuk privatisasi menentukan karakter dari pendekatan pengelolaan air publik. kelompok-kelompok perempuan dan para aktivis akar rumput sampai ke serikat buruh.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dapat dikumpulkan melalui ”pajak Tobin” yang dapat dikenakan pada transaksi keuangan internasional.9 Gerakan. A-27 A. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . seringkali telah mengelaborasi visi dan usulan yang konkrit tentang alternatif-alternatif untuk pelayanan sektor publik. Perjuangan dan Solusi-Solusi Air Publik Kasus-kasus yang secara singkat diulas. Keadilan sosial dan demokratisasi pengambilan keputusan pengelolaan air juga perlu diintegrasikan dalam upaya tersebut. Gerakan-gerakan ini. pergerakan sosial memobiliasi kekuatan untuk mendukung keinginan kaum yang terpinggirkan melawan kebijakan-kebijakan neo-liberal yang dipromosikan oleh elite politik dan ekonomi. Di banyak negara. mempersatukan berbagai jenis pelaku yang luas. sebagian besarnya. dari para environmentalist. partai-partai politik dan para manajer utilitas publik. begerak lebih dari sekadar hanya bertahan. mayoritas yang besar mendukung perubahan konstitusi yang akan menetapkan air sebagai hak azasi manusia dan melarang privatisasi. dibentuk oleh perjuangan politik yang mendahuluinya. Tekanan publik kepada pemerintah dan pengelola utilitas umum untuk merubah dan meningkatkan akses atas air bersih mempunyai peran penting dalam upaya dicapainya pemenuhan air untuk semua secara berkelanjutan. Contoh dari Cochabamba dan beberapa kota lainnya menunjukkan bagaimana model-model penyediaan air oleh publik adalah. Kampanye anti-privatisasi di beberapa negara didunia. Hal ini terjadi pada kasus Urugay dimana. dalam referendum nasional di bulan Oktober 2004. menunjukkan bahwa gerakan sosial secara aktif berkontribusi dalam mempertahankan dan meningkatkan karakter publik dari layanan air dan sanitasi di seluruh dunia. Perjuangan politik ini adalah elemen penting didalam memahami proses penyediaan air ke masa depan.

Konvensi yang dimaksud hendaknya menyediakan instrumen hukum yang kuat untuk menjamin hak atas air bersih untuk semua dan menjaga agar air tidak diperlakukan sebagai komoditi. Sementara hal-hal ini dapat berjalan dengan baik. Potensi transparansi adalah keuntungan yang esential dari utilitas publik atas privatisasi penyediaan air. Koalisi global LSM yang sedang berkembang menuntut agar pemerintah-pemerintah bersepakat untuk membuat konvensi internasional tentang hak atas air. perlu ditetapkan lingkup dari perbaikan. Di inspirasi dari kemenangan di Urugay.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Perubahan konstitusi yang dipromosikan oleh koalisi gerakan-gerakan yang menetapkan bahwa partisipasi konsumen. kelompok-kelompok masyarakat madani di Argentina juga telah mencanangkan kampanye untuk referendum untuk menentukan bahwa akses atas air dianggap sebagai hal yang mendasar dalam hak azasi manusia dan menyatakan bahwa air untuk publik yang merupakan milik bersama dikecualikan dari privatisasi. seperti menghentikan praktek tercela dari politisi yang gagal menyalahkan gunakan utilitas juga pilihan pensiun dengan mendapat pesangon. serikat buruh. A-28 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . transparansi adalah karakteristik dasar yang perlu dimiliki hampir untuk semua utilitas publik yang berfokus pada pelayanan masyarakat. Kampanye anti privatisasi menghadapi tantangan untuk meyakinkan operator air publik bahwa partisipasi masyarakat dan pengendalian/kontrol yang demokratis dapat membantu memperbaiki efektivitas pelayanan publik. masyarakat dan masyarakat madani (LSM-LSM) adalah memegang peran pokok pada setiap tahapan pengelolaan air dan dalam institusi-institusi. dimana informasi kunci adalah ditetapkan sebagai diluar jangkauan karena alasan kerahasiaan komersial dari privatisasi. dalam kerangka PBB. Partipasi publik yang efektif diyakini akan mempebaiki pengelolaan utilitas air publik. Pergulatan untuk transparansi dan akses publik atas informasi adalah tema yang diulang-ulang di banyak kampanye. Para manajer utilitas publik dan karyawan pemerintah kota sering menganggap pelibatan masyarakat sebagai hal yang mengganggu. transparansi dan partisipasi warga adalah pergulatan yang pokok. Di negara pasca komunis seperti Slovakia. Disamping itu.

tidak hanya dari kampanye gerakan anti privatisasi yang telah tumbuh dengan kuat di belahan bumi selatan. tetapi hal ini dapat diperluas untuk sektor air. nilai-nilai universalnya telah melewati batas negara dan bahkan benua. terutama untuk utilitas listrik. Dengan demikian hal ini berarti justru merupakan tantangan bagi masyarakat madani di belahan bumi utara. Kampanye melawan privatisasi dan perbaikan layanan publik di negara seperti Jerman. Sebagai contoh di Urugay. dimana air yang murah. Sebagaimana gelombang privatisasi melanda belahan bumi bagian selatan pada tahun 1990-an. Di Amerika Serikat (dimana 85% penduduk dilayani oleh utilitas publik).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Strategi kampanye dibentuk oleh konteks lokal dan nasional termasuk diantaranya intensitas masalah dan kesempatan politis. berbagai jenis mekanisme yang partisipatif dan demokratis yang telah disusun untuk mengatur dan memperbaiki kinerja utilitas. untuk seterusnya. bentuk-bentuk partisipasi warga yang baru di bidang pengelolaan air telah mulai diperkenalkan. Perjuangan untuk air. gerakan air berhasil pada saat terjadinya perubahanperubahan politis yang besar dan dalam hal ini politis bergeser ”kekiri”. tekanan sekarang bertambah pada negara-negara Amerika Serikat. tetapi juga dari berbagai bentuk pengelolaan air yang inovatif yang telah melahirkan kembali berbagai jenis layanan publik di kota-kota di belahan bumi selatan selama 10 tahun terakhir. Pelajaran yang dapat kita petik dari pengalaman-pengalaman dari kampanye untuk air publik diseluruh dunia. Untungnya telah banyak hal-hal yang dapat kita pelajari. tentu akan berbeda dari pada untuk tempattempat seperti Ghana atau Afrika Selatan dimana akses terhadap air adalah perjuangan sehari-hari bagi sebagian besar penduduknya. aman dan banyak. Jepang dan Eropa khususnya bagian Barat dimana penyediaan utilitas air publik masih sangat banyak dilaksanakan oleh sektor air yang dikendalikan oleh publik. perjuangan melawan privatisasi tidak hanya sekedar mempertahankan kondisi ”status quo”. A-29 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sejauh mana partisipasi masyarakat akan dapat dilibatkan akan menjadi agenda dari upaya perbaikan penyediaan air publik di belahan bumi Utara yang masih akan dilihat perkembangannya. akan selalu tergantung kepada keluasan lingkungan politis. Kanada. Di Itali. Juga di bagian Utara.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful