P. 1
00 Buku 1 Sda Jawa Final

00 Buku 1 Sda Jawa Final

|Views: 506|Likes:
Dipublikasikan oleh Fathur Rahman Rustan

More info:

Published by: Fathur Rahman Rustan on Nov 10, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/21/2013

pdf

text

original

DIREKTORAT PENGAIRAN DAN IRIGASI KEMENTERIAN NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

LAPORAN AKHIR
PRAKARSA STRATEGIS PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR UNTUK MENGATASI BANJIR DAN KEKERINGAN DI PULAU JAWA

BUKU 1
STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DESEMBER 2006

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan Kegiatan 1.3. Ruang Lingkup 1.4. Keluaran BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 2.1 Umum 2.1.1 2.1.2 2.2 Banten 2.3 DKI Jakarta 2.4 Jawa Barat 2.5 Jawa Tengah 2.6 Daerah Istimewa Yogyakarta 2.7 Jawa Timur 2.8 Identifikasi Masalah Banjir 2.9 Identifikasi Masalah Kekeringan Fisik Pola Pengelolaan 2-1 2-1 2-3 2-9 2-11 2-13 2-16 2-19 2-22 2-25 2-27 1-1 1-2 1-4 1-4

BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 3.1 Rumusan Kebijakan Prakarsa Strategis 3.2 Kebutuhan pengelolaan sumber daya air yang terpadu. 3.3 Program Prioritas 3.3.1 3.3.2 3.3.3 Program Jangka Pendek Program Jangka Menengah Program Jangka Panjang 3-1 3-3 3-4 3-4 3-5 3-7

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 4.1 Rumusan Strategi Implementasi 4-1

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

4.2 Strategi Kebijakan Non-struktural 4.2.1 4.2.2 Strategi Menurut Undang-undang Strategi Konservasi Sumberdaya Air

4-3 4-3 4-5 4-10 4-10 4-32 4-52 4-53 4-53 4-55 4-57 4-60 4-63 4-66 4-70 4-72 4-82

4.3 Strategi Kebijakan Struktural 4.3.1 4.3.2 4.3.3 4.4.1 4.4.2 4.4.3 4.4.4 4.4.5 Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang Sudah Ada Pengaturan Induk Wilayah Sungai Baru Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wewenang Tanggung Jawab Pemerintah Kebijakan Pembiayaan Peran-peran Lain Pemerintah Strategi Pendanaan dan Tujuan Studi Kelayakan Proyek Pengunaan Model Investasi

4.4 Strategi Pembiayaan

4.5 Strategi Kelembagaan dan Koordinasi 4.6 Pengelolaan Sumberdaya Air dalam Era Otonomi Daerah 4.6.1 4.6.2 Permasalahan dan Tantangan dalam Pengelolaan Sumberdaya Air Organisasi dalam Pengelolaan Sumber Daya Air

BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5.1 Indikator Pemantauan dan Evaluasi 5.1.1 5.1.2 5.1.3 Pemantauan Evaluasi Indikator dalam Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air 5-1 5-1 5-1 5-3 5-6 5-8 5-9 5-10 5-13

5.2 Ruang Lingkup Pengawasan dan Pemantauan 5.3 Ruang Lingkup Pengawasan dalam Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air 5.4 Ruang Lingkup Pengawasan Dalam Aspek Pembiayaan 5.5 Mekanisme Pemantauan 5.6 Mekanisme Evaluasi BAB 6 PENUTUP 6.1 Arahan Sosialisasi Prakarsa Strategis 6.1.1 Kekeringan dan banjir

6-1 6-1

3 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CisadeaCikuningan Tabel 4.2 Saran ANNEX Strategi Implementasi Pengalaman Negara Lain PEMBELAJARAN ANTARA PRAKTEK PRIVATISASI DAN PERKUATAN PERUSAHAAN UMUM LAYANAN AIR 6-3 6-4 6-5 DAFTAR TABEL Tabel 2. 8 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS SerayuBogowonto 4-23 Tabel 4. 3 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Barat Tabel 2.2 6.1. 9 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Jratun-Seluna 4-25 4-18 Tabel 4. 4 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Tengah Tabel 2. 7 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pemali-Comal 4-21 4-17 4-14 4-14 4-12 4-10 2-13 2-14 2-17 2-21 2-23 2-5 . 5 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CimanukCisanggarung Tabel 4.1. 6 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Timur Tabel 4. 1 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciujung Ciliman Tabel 4. 4 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citarum Tabel 4. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk DKI Jakarta Tahun 2003 Tabel 2. 2 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CiliwungCisadane Tabel 4. 1 Daftar Pembagian Wilayah Sungai di Pulau Jawa-Madura Tabel 2. 5 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di DI Yogyakarta Tabel 2. 2 Luas Wilayah. 6 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CitanduyCiwulan Tabel 4.3 6.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 6.

11 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Bengawan Solo Tabel 4. 1 Siklus Pengelolaan Terpadu SDA (IWRM) Gambar 5. Curah hujan tahunan Pulau Jawa – Madura. 15 Penyusunan Kembali Alternatif Intervensi Struktural menurut Wilayah Sungai yang Baru Tabel 4. 1 Gambar 2. 5 Peta Orientasi Lokasi Kegiatan di Pulau Jawa dan Madura Peta batas wilayah administrasi dan batas WS Pulau Jawa dan Madura. 2 2-31 4-9 4-33 5-3 2-1 2-3 2-28 1-4 Pemantauan dan Evaluasi dalam suatu siklus kegiatan 5-15 . 10 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Progo-OpakOyo Tabel 4. 1 Susunan Wilayah Sungai yang sudah ada Gambar 4.17 Balai Besar Wilayah Sungai & Balai Wilayah Sungai di Pulau Jawa 4-87 4-34 Tabel 4. 12 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Kali Brantas Tabel 4. 4 Gambar 2. Proyeksi Neraca Air Kabupaten/Kota di Pulau Jawa dan Madura. Perubahan persentase kabupaten defisit air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 4. 14 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Madura Tabel 4.16 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai 4-73 4-31 4-31 4-28 4-30 4-27 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. 2 Gambar 2. Gambar 4. 13 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS PekalenSampean Tabel 4.1 Gambar 2. 2 Rencana Wilayah Sungai baru Gambar 5.

1 LATAR BELAKANG Secara nasional. dengan tujuan penggunaannya terutama untuk air minum. Lebih dari 83 persen aliran permukaan terkonsentrasi di Sumatera. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . rumah tangga. Dengan penduduk sekitar 220 juta jiwa. industri. Kalimantan. Namun kenyataannya ketersediaan air ini bervariasi antara wilayah dan waktu. dan Nusa Tenggara. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa potensi kelangkaan air yang sangat besar akan terjadi di Pulau Jawa karena daya dukung sumber daya air yang segera mencapai titik kritis. Dari 14 waduk utama di Jawa. hanya terpenuhi sekitar 25. Prioritas pertama diberikan untuk air minum.800 meter kubik per kapita per tahun. Nilai ini masih di atas nilai ratarata dunia yang hanya 8. Dari data neraca air tahun 2003 dapat dilihat bahwa kebutuhan air pada musim kemarau di Pulau Jawa dan Bali yang sebesar 38. 17 persen lainnya di Jawa-Bali. Pulau Jawa yang luasnya sekitar 7 persen dari total wilayah daratan Indonesia hanya memiliki potensi sekitar 4. Defisit ini diperkirakan akan semakin tinggi pada tahun 2020 akibat peningkatan dimana jumlah penduduk dan aktifitas perekonomian secara signifikan. air rumah tangga. dan perkotaan. dan pertanian. potensi ini setara dengan 8. semuanya mengalami kondisi di bawah normal (pola kering) saat musim kemarau sehingga dilakukan penetapan prioritas pemanfaatan air waduk.000 meter kubik per kapita per tahun. perkotaan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1-1 1. dan Papua. di pihak lain pulau ini dihuni oleh sekitar 65 persen penduduk Indonesia.5 persen dari total air tawar nasional. Kebutuhan air nasional saat ini terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali. Sulawesi.4 miliar meter kubik.957 miliar meter kubik per tahun. total air yang tersedia di Indonesia mencapai 1. Upaya pemenuhan kebutuhan air di Pulau Jawa telah ditempuh melalui pembangunan sejumlah waduk besar dan sedang.3 miliar kubik atau hanya sekitar 66 persen.

analisis dilakukan terhadap kondisi pengelolaan sumber daya air pada saat ini serta faktor eksternal yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. serta kesulitan memperoleh air bersih bagi wilayah perkotaan. Merumuskan kebijakan strategis pembangunan prasarana dalam rangka mengatasi banjir dan kekeringan di Pulau Jawa secara holistik. Pada Tahun 2003 kekeringan areal sawah mencapai 430. Rendahnya daya dukung waduk-waduk tersebut mengakibatkan terjadinya kekeringan pada areal sawah di daerah produksi beras. 2. 3.295 hektar. turunnya volume air di waduk mengakibatkan beberapa PLTA terpaksa beroperasi di bawah kapasitas normal. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kekeringan ini telah berdampak pada menurunnya pendapatan. termasuk mengalami puso seluas 82. Di samping itu. kesulitan lapangan kerja.2 TUJUAN KEGIATAN Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa bertujuan untuk: 1. Sebagai upaya mengatasi masalah banjir dan kekeringan di Pulau Jawa pada masa depan. 1-2 1.696 hektar . kekurangan pangan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN prioritas kedua untuk irigasi tanaman pangan. Melakukan telaah/review atas studi-studi tentang sumber daya air yang telah dilakukan untuk Pulau Jawa serta perkembangan implementasinya. yang diarahkan untuk merumuskan konsep pengelolaan SDA yang terintegrasi dan layak diimplementasikan. dan prioritas ketiga untuk industri dan kebutuhan lainnya. termasuk kebutuhan dan ketersediaan air bersih. Dalam kaitan itu. dilakukanlah kajian Prakarsa Strategis . Mengidentifikasi dan menginventarisasi data kuantitatif banjir dan kekeringan di Pulau Jawa secara kuantitatif sesuai waktu dan spasial wilayah. 4. Menemukenali alternatif-alternatif intervensi pembangunan infrastruktur dalam rangka memecahkan masalah banjir dan kekeringan.

8. dan sumber pembiayaan untuk baik dari pemerintah pemerintah kabupaten/kota. 7. inventarisasi alternatif intervensi infrastruktur. provinsi. Mengidentifikasi pemerintah. pengoperasian. perumusan strategi implementasi. 1-3 6. 1. 10. perumusan mekanisme koordinasi. dan perumusan pedoman sosialisasi kebijakan. Merumuskan kebijakan dan strategi implementasi makro yang terintegrasi dengan berbagai sektor. perumusan konsep pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan. Membuat sistem basis data banjir dan kekeringan termasuk konsep pengelolaan data yang berkelanjutan. antara lain: identifikasi dan inventarisasi permasalahan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN 5. perumusan kebijakan pembiayaan. termasuk kebutuhan biaya serta tahapan pembangunannya. analisis terhadap kajian sumber daya air. Merumuskan pembagian kewenangan dan tanggung jawab serta mekanisme koordinasi antara instansi dan sektor terkait di tingkat pusat. Terdapat beberapa tahapan kegiatan yang dilaksanakan pada proses penyusunan prakarsa strategis ini. maupunpartisipasi berbagai swasta alternatif propinsi. Menyusun prioritas program-program pembangunan prasarana penanganan banjir dan kekeringan di Pulau Jawa. maupun pemeliharaan prasarana. masyarakat pengoperasian dan pemeliharaan prasarana. penyusunan perangkat lunak sistem basis data. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 9. maupun kab/kota dalam pembangunan. perumusan prakarsa strategis. perumusan kebijakan dan strategi implementasi makro. Menyusun mekanisme pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan. pembangunan.3 RUANG LINGKUP Arah dari prakarsa strategis ini adalah untuk melakukan analisis tinjauan dan formulasi kebijakan untuk wilayah sumber daya air di Pulau Jawa. perumusan prioritas program pengelolaan sumber daya air.

1 Peta Orientasi Lokasi Kegiatan di Pulau Jawa dan Madura 1. Dep ok # # Pandeglang # # # Karawang Indramayu # Subang Purwakarta Lebak Bogor # # # Cirebo n Jepara Pati # # K. yaitu: 1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN Kepulauan Seribu 1-4 Bekasi K. Bekasi K. identifikasi masalah banjir dan kekeringan dan Pulau Jawa. serta analisis kondisi defisit air di Pulau Jawa. dan strategi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. Buku menyajikan ini kondisi. Kediri Pasuruan K. Salatiga Sragen # K. Magelang Boyolali # # K. Buku ini merupakan laporan utama hasil kajian prakarsa strategis. BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA.4 KELUARAN Keluaran yang dihasilkan dari kegiatan penyusunan Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa adalah satu set yang terdiri atas tiga buku. Pekalongan Kudus Demak KendalK. serta mekanisme pemantauan dan evaluasi. Blitar # Lumajang Malang Tulungagung Blitar # # Jember # Banyuwangi Gambar 1. Pasuruan # # # Ngawi # Kebumen # Purworejo # # K. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Malang K. Probolinggo # # Situbondo Bondowoso Probolinggo # Gunungkidul Pacitan # # Trenggalek # # # K. Semarang ## Tegal Batang # Pekalongan Pemalang Purbalingga Y # # # # # Rembang # # Blora Tuban # # Lamongan Gresik K. Mojokerto # Ban gkalan Sampang Pamekasan Sumenep # # Garut # Temanggung Semarang Grobogan # Bojonegoro # # # Tasikmalaya Ciamis # #Wonosobo # #Ban jarnegara Banyumas Cilacap K. BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA. 2. Sukabumi # K. Tegal ## # K. Bandung Sukabumi Cianjur Bandung Y # Sumedang Majalengka Kuningan Brebes K. Buku 2 merupakan rangkuman hasil kajian dan analisis terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. Madiun # Sukoharjo # Jombang Mojokerto # # # Won ogiri # Ponorogo Kediri # K. Buku ini memuat hasil. Surakarta Magelang Sleman Klaten # # Y # # Sidoarjo K. Yogyakarta # Kulonprogo Bantul # Y # # Madiun ## # Karanganyar Nganjuk # # Magetan K. kebijakan. Cilegon # # Tangerang Serang Y # U % # K.

Dalam buku 3 di rangkum hasil pengumpulan data selama proses penyusunan prakarsa strategis. pedoman penggunaan sistem basis data. Selain menyajikan: metode penyusunan sistem basis data dan sistematika pengolahan data.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN 3. sistematika pengolahan data buku ini juga memuat hasil pengumpulan data. 1-5 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . BUKU 3 BASIS DATA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA. ilustrasi pemanfaatan basis data.

14 WS yang tersebar di Pulau Jawa dan 1 WS dalam kawasan Pulau Madura. Tegal # # # K.1 UMUM Fisik 2-1 Pulau Jawa-Madura adalah salah satu dari lima pulau besar di Indonesia. 1 : 250 000 Scale (Coastline. Depok Ja va Bekasi Karawang # # Sea TANGERANG K. Bandung Pelabuhan Ratu Bay Sukabumi Cianjur Bandung # # # SWS 0208 Tegal # # Batang Y # Demak SWS 0210 # Tuban # # Madura Is. Salatiga Sragen # K. 9° 00' Legend: G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E S I A National Capital Provincial Capital Provincial Boundary District/ Municipality Boundary Watershed (SWS) Boundary SWS No. SWS 0201 Pandeglang Lebak 106° 00' Kepulauan Seribu Jakarta Bay # # 107° 00' JAKARTA 108° 00' 109° 00' 110° 00' 111° 00' 112° 00' 113° 00' 114° 00' Bawean Is. Yogyakarta Y #YOGYAKARTA # # Kulonprogo Bantul # Wonogiri # Nganjuk East Java Province SWS 0213 Kediri # K. Pekalongan Kudus # # SEMARANG # # # Rembang # Y # K. Kediri Pasuruan K. 6° 00' Tangerang Serang # Y # U % # # K. Kondisi ini memberi gambaran masalah daya dukung sumber daya air di Pulau Jawa-Madura sangat berpotensi untuk menjadi masalah yang paling kritis. Probolinggo # # Situbondo Probolinggo K. Bangkalan Pekalongan Pemalang Kendal K. Karanganyar Sleman Klaten # # # Sukoharjo K. Karl Peter Kucera GIS Operator : Sabdo Sumartono Date : September 2004 Gambar 2. Saat ini Pulau Jawa-Madura dihuni oleh sekitar 65 persen dari total penduduk Indonesia. 0210 0211 0212 0213 0214 0215 SWS Name Jratun Seluna Progo-Opak-Oyo BengawanSolo K. Madiun # # Jombang Mojokerto Nusakambangan Is. Magelang Boyolali # # Ngawi Sidoarjo K. 0201 0202 0203 0204 0205 0206 0207 0208 0209 SWS Name Ciujung-Ciliman Cisadane-Ciliwung Cisadeg-Cikuningan Citarum Cimanuk Ciwulan Citanduy Pemali-Comal Serayu SWS No.Brantas Pekalen-Sampean Madura U % Y # NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT Map No : Map Title : A5 CORRELATION BETWEEN AMINISTRATION AND WATERSHED (SWS) BOUNDARIES Source : . Mojokerto # # # Y # SURABAYA # Tasikmalaya Banyumas Banjarnegara 0211K. River. Bekasi SWS 0204 Purwakarta # Indramayu # SWS 0202 # Bogor Subang Cirebon # Jepara # West Java Province # Pati K.Bakosurtanal. 1 Peta batas wilayah administrasi dan batas WS Pulau Jawa dan Madura.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 2. it ra St a nd Su 105° 00' Krakatau K. Cilegon Banten # Province Panaitan Is. Lake) Compiled by : Dr. Malang # Ponorogo # # # # Bali Bondowoso Lumajang # Gunungkidul 8° 00' K. Pasuruan # Ma dura Str ai t SWS 0206 Ciamis Cilacap # Magelang Kebumen # # Purworejo K. Pulau Jawa-Madura memiliki 15 WS (Wilayah Sungai).1 2. Sukabumi # BANDUNG Sumedang SWS 0205 Majalengka Kuningan Brebes K. Semarang # SWS 0215 Sampang Pamekasan # # Sumenep # Sapudi Is. 7° 00' SWS 0203 Garut Central Java Province SWS 0207 Purbalingga # SWS 0209 # Grobogan # Blora # Lamongan # Gresik # Temanggung # # WonosoboSWS # Semarang # Bojonegoro K. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Blitar Blitar Malang Yogyakarta Special Province Pacitan # Trenggalek Tulungagung SWS 0214# Jember Banyuwangi # St rai t In di an Ocean Nusa Barung Is. Surakarta # # SWS 0212 Madiun # Magetan K. dengan luas sekitar 130 ribu km2 atau kurang lebih 7% dari luas daratan seluruh wilayah Indonesia.1.

Untuk besarnya curah hujan tahunan di sepanjang Pulau Jawa-Madura bisa dilihat pada Gambar 2. Di sisi utara didominasi bentukan tanah alluvial dan marine (daerah pantai) dengan kondisi kelerengan dari sedang hingga landai. Keadaan seperti ini berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April-Mei dan Oktober-November. sebelah barat dibatasi oleh Selat Sunda dan sebelah timur dibatasi oleh Selat Bali. Secara geografis Pulau Jawa-Madura terletak antara 5° 40’ LS sampai 8° 50’ LS dan 105° 10’ BT sampai 114° 40’ BT sehingga sangat dipengaruhi oleh posisi semu matahari yang berpindah antara 23.60C. Pulau Jawa-Madura mengalami dua musim dalam setahun yaitu musim kemarau dan penghujan. berkisar antara 0 – 800 mm untuk masing-masing bulan kering dan bulan basah. Rata-rata curah hujan pada musim penghujan dan musim kemarau (tergantung pada bulan dan letak stasiun pengamat). sebelah selatan dengan Samudera Hindia. Suhu rata-rata pada siang hari berkisar antara 27. Sebaliknya pada bulan Desember sampai dengan Maret arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan Samudra Pasifik.2.5° LS sepanjang tahun yang mengakibatkan timbulnya aktivitas moonson (muson). di sebelah utara Pulau Jawa berbatasan dengan Laut Jawa. Sepanjang sisi selatan pulau ini didominasi bentuk pegunungan dan penampakan fisiografis gunung gamping yang memanjang hingga ke Pulau Bali.3 knot.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Secara geografis.6 knot sampai 23. Pada bulan Juni sampai September arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air sehingga mengakibatkan musim kemarau.30C sampai dengan 30’80C.5° LU sampai ke 23.70C sampai 34. sehingga mengakibatkan musim penghujan. Kecepatan angin berkisar antara 1. 2-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sebagaimana wilayah Indonesia lainnya. sedangkan suhu udara pada malam hari berkisar antara 15.

Ci sad Ciliman m ru Ciliwu a it ane tr S Krakatau TANGERANG 6° 00' k a nu Cim Cipu JAKARTA ng nd a Y # U % Ja v a Se a a nag Province of Banten SWS 0201 SWS 0202 g ggarun Cisan Su Panaitan Is. Cacaban Y # SWS 0210 Lu SWS 0203 Province of West Java SWS 0207 si SWS 0215 SURABAYA Sapudi Is. antara lain: 1. Malahayu iri Cimand SWS 0208 L.1. Jatiluhur Res SWS 0204 SWS 0205 wan Banga Cirata Res Se ra ng Tun ta ng Ju an a Pema li Comal ri Bo d Solo Saguling Res BANDUNG Madura I.2 Pola Pengelolaan Wilayah Pulau Jawa-Madura dibagi dalam 15 wilayah sungai. Kesamben Res. S Cikaso Cib uni aw an Ci sa de g uy Seray u Cit and Cik aing an YOGYAKARTA L uk ul o Wa war /M edo no B og ow on to Ciw ulan ng Sermo Res go ak ro Op Cime da Br an Oyo ta s Y # Gajahmungkur Res. Karl Peter Kucera GIS Operator : Sabdo Sumartono Date : September 2004 Gambar 2. n Province of East Java W el an g i SWS 0213 Wlingi Res. Peraturan Menteri PU nomor 48 tahun 1990 tentang kewenangan pengelolaan dari 90 WS tersebut. Sebagai tindak lanjut dari Permen PU Nomor 39/PRT/1989. Darma L. 2 Curah hujan tahunan Pulau Jawa – Madura. Daftar wilayah sungai di Pulau Jawa-Madura dapat dilihat pada Tabel 2. Dalam peraturan tersebut. Sam SWS 0206 SWS 0211 SWS 0212 Po ron g Ma dura Str ai t g pea n ed Sa ne n B ad u ng g un ali Cib Y # SEMARANG L. Strai t Indi an Ocean Nusa Barung I.1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-3 105° 00' 106° 00' Ciu jung 107° 00' a Cit 108° 00' 109° 00' 110° 00' 111° 00' 112° 00' 113° 00' 114° 00' Bawean Is. 2. Pembagian wilayah sungai di Pulau Jawa-Madura dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) Nomor 39/PRT/1989 yang membagi wilayah Indonesia menjadi 90 WS (note: saat ini telah berkurang satu yaitu WS Timor-Timur mengingat daerah ini tidak lagi masuk dalam Wilayah Indonesia). Lake) Compiled by : Dr. Rawapening Kedungombo Res Y # ng pa S am SWS 0209 o ol Bal i 8° 00' P Yogyakarta Special Province SWS 0214 Kr. Sa ro ka 7° 00' Province of Central Java Mrica Res L. Mad un Wadaslintang Res Be Segara Anakn Lagoon Sempor Res. 1 : 250 000 Scale (Coastline.Bakosurtanal. Pemerintah Daerah/Gubernur diberi kewenangan untuk mengelola 63 WS melalui tugas LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . telah diterbitkan beberapa peraturan yang bersifat operasional. River. Kates Res. u Bar 9° 00' Legend: Rainfall: National Capital Provincial Capital Provincial Boundary Watershed (SWS) Boundary River Lake G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E S I A U % Y # 750 mm 1250 mm 1750 mm 2250 mm 2750 mm 3250 mm 3750 mm 4250 mm 4750 mm 5250 mm 5500 mm 6500 mm 7500 mm NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT Map No : Map Title : A23 RAINFALL AND WATERSHED (SWS) AREA Source : .

khususnya Pulau Jawa-Madura. sedangkan dua WS dikelola bersama antara pemerintah dan BUMN. pertumbuhan penduduk dan pusat pemerintahan Indonesia mengalami pembangunan yang pesat di berbagai sektor sehingga tuntutan masyarakat akan penggunaan sumber daya air juga terus berkembang. pemakaian air yang tidak efisien dan fluktuasi debit antar musim yang semakin tinggi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pembantuan. Sejalan dengan dinamika pembangunan tersebut. Hasil kajian global kondisi krisis air dunia yang disampaikan dalam World Water Forum II di Denhaag bulan Maret tahun 2000 lalu memperingatkan bahwa akan banyak negara yang mengalami krisis air pada tahun 2025. termasuk diantaranya Indonesia. kewenangan pengelolaannya masih tetap dilakukan oleh pemerintah pusat. Krisis air ini lebih banyak disebabkan oleh kelemahan dalam hal kelembagaan terkait pengelolaan sumber daya air. Masalah-masalah tersebut akan semakin parah dan masalah-masalah lain akan timbul semakin banyak apabila tidak segera dilakukan perbaikan kebijakan dalam melaksanakan program strategis untuk 2-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . peraturan perundang-undangan yang tidak memadai. pencemaran air yang semakin luas. Peningkatan persaingan penggunaan air antar sektor (domestik. industri dan irigasi) pun terjadi di berbagai wilayah administrasi maupun wilayah sungai. lahan. yaitu WS Brantas oleh Perum Jasa Tirta I dan WS Citarum oleh Jasa Tirta II (Jatiluhur). pola hidup dan pola perekonomian. maka hal ini tidak luput dari masalah perubahan tata ruang. pengelolaan dan pengaturan sumber daya air yang mantap − diperkirakan semakin menurun yang terlihat dari bertambahnya kesenjangan antara ketersediaan air dan kebutuhan air untuk berbagai keperluan. 2. Perubahan tersebut berpengaruh pula terhadap potensi sumber daya air yang − apabila tidak disertai dengan perencanaan. Pulau Jawa-Madura sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Peraturan Menteri PU nomor 49 tahun 1990 tentang aspek-aspek pengelolaan sumber air termasuk prosedur perijinan pemakaian air. perkotaan. Untuk 15 WS yang wilayahnya terletak pada lebih dari satu provinsi.

Babakan S. Ciliwung K. Cimaragon 2-5 2 Jawa Barat DKI Jakarta 02. Lemahabang S. Cibareng S. Cisadeg S. Cisilih S.04 Citarum 5 Jawa Barat Jawa Tengah 02. Pengandungan K. Ciasem S.02 Ciliwung-Cisadane 3 Jawa Barat 02. Cilalanang S. Cilangkanan S. Cidurian S. Cidanau S.03 CisadeaCikuningan 4 Jawa Barat 02. Cikondang S. Cipunegara S. 1 No. Cipucung K.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengelola air secara lebih efisien dan adil serta mengutamakan azas konservasi. Citarum S. 1 Provinsi Jawa Barat Daftar Pembagian Wilayah Sungai di Pulau Jawa-Madura Kode WS 02. Cibungur S. Cibuni S. Cisanggarung S. Cikarang S. Kasuncang S. Bekasi S. Tabel 2. Cikarang S. Cibanten S. Cipanas S. Cilangkap S. Ciangan K. Ciletuh S.06 Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Cimanedu S. Cikuningan S. Cisekat S.05 Cimanuk 6 Jawa Barat 02. Cibeet K. Cilamaya S. Cimanuk S.01 Nama Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai S. Ciujung S. Cipunegara S. Cihara S. Cisokan S. Ciwaringin S. Ciliman S. Cisadane S. Citarik S.

Wungu S. Cimeneng S. Bebek S. Provinsi Kode WS Nama Wilayah Sungai 7 Jawa Barat Jawa Tengah 02. Lorong S.10 Jratun Seluna 11 Jawa Tengah DIY 02. Progo K. Cikonde S. Ciwulan S. Cibeureum S. Waluh S. Ijo S. Cakrayasan K. Citanduy S. Tuntang S. Cacaban S. Bogowonto B. Comal S. Pemali S. Cihaur S. Semawun K. Geneng S. Garang K. Oyo S. Lukulo S. Bengawan S. Serayu S. Sondang K. Bodri K. Klampok S. Brantas K. Opak K. Solo S. Jragung S. Cilaki S.12 Bengawan Solo 13 Jawa Timur 02. Juana S.08 Pemali Comal 9 Jawa Tengah 02.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No.11 Progo-Opak-Oyo 12 Jawa Tengah Jawa Timur 02. Lusi S.13 K. Punyu 2-6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Grindulu S. Cipungun S. Brantas Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai S. Randuguntini K. Sengkang S.09 Serayu 10 Jawa Tengah 02. Semarang K. Sambong S. Santun K. Anyar K.07 Citanduy 8 Jawa Tengah 02. Semawon S. Cisanggiri S. Serang S. Code K. Lamong S.

Urusan-urusan yang menjadi lingkup tugas dan tanggung jawab Balai PSDA adalah: 1.) sejak Tahun Anggaran1994/1995. Pengelolaan irigasi lintas kabupaten/kota 2. Widas K. Rajak K. Benca 2-7 Sumber: Departemen Pekerjan Umum Saat ini pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa-Madura dilakukan oleh beberapa Balai PSDA yang dibentuk melalui Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No.176/1996 tentang Pedoman Pembentukan UPTD/Balai PSDA. Banyuputih K. Bondoyudo K. air minum. Tangkil K Deluwang K. Sampang K. listrik tenaga air. Gembong K.15 Madura Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai K.14 Pekalen Sampean 15 Jawa Timur 02. sebagai salah satu komponen dari Java Irrigation and Water Management Project (JIWMP) yang didanai oleh Bank Dunia (Loan 3762-Ind. Jatiroto K. pelabuhan. Baru K. Pacung K. pariwisata. Sampean K. Putih K. dll). Rejoso K. Tugas pokok dan fungsi Balai PSDA adalah melaksanakan sebagian fungsi Dinas di bidang pengelolaan sumberdaya air. industri. Saropa K.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No. Penyediaan air baku untuk berbagai keperluan (pertanian. Rangko K. Konto K. Pekalen K. Larus K. Barigo K. Kegiatan Balai PSDA ini merupakan kelanjutan dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Satuan Tugas (SATGAS) PSDA yang dibentuk dibawah pekerjaan Basin Water Resources Management (BWRM). LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Balega K. Provinsi Kode WS Nama Wilayah Sungai 14 Jawa Timur 02.

Pengelolaan Hidrologi 3. Pengelolaan database/GIS (sebagian) 4. Pada 19 Balai lainnya di Pulau Jawa kegiatan yang telah dilakukan antara lain : 1. Pelaksanaan operasional konservasi/pelestarian air dan sumber air. Pengelolaan irigasi lintas Kabupaten 2. Pengelolaan sungai 4. Pengendalian banjir dan penanggulangan kekeringan 6. pengendalian kualitas air. Balai Jratunseluna. jumlah Balai PSDA di Pulau Jawa bertambah 19 buah menjadi 24 buah pada tahun 2001. 2. Pengendalian pencemaran air 8. situ. Sebaran jumlah Balai PSDA tersebut menurut propinsinya adalah sebagai berikut: operasional pelayanan kepada masyarakat di bidang 2-8 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . waduk. pemeliharaan sungai dan infrastrukturnya. Balai Cimanuk Cisanggarung. 3. Pengelolaan danau. Secara selektif beberapa Balai melakukan kegiatan alokasi air. Untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut di atas.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3. Namun demikian kegiatan yang dilakukan oleh 19 balai tersebut sedikit berbeda. Pengelolaan rawa 7. Pelaksanaan pengairan. Pelaksanaan pelayanan teknis administrative ketatausahaan yang meliputi urusan keuangan. Perlindungan muara dan delta. Balai PSDA mempunyai 3 fungsi utama yakni : 1. embung 5. pengelolaan banjir. kepegawaian. Balai Progo-Opak-Oyo dan Balai Sampean Baru. Dalam perkembangannya. Perlindungan pantai 9. perlengkapan. Kelima Balai tersebut umumnya telah melakukan sebagian besar tugas-tugas pengelolaan sumberdaya air seperti yang telah diuraikan diatas. Pada awalnya di Pulau Jawa Balai PSDA yang berupakan ex Satgas PSDA berjumlah 5 buah yakni : Balai Ciujung Ciliman.

Propinsi Banten. jumlah penduduk di Provinsi Banten pada tahun 2003 adalah 8.229 jiwa.481 desa. Menurut data BPS.392.956.185. (3. 1 Balai PSDA 2.422 KK.2 BANTEN Provinsi Banten merupakan provinsi paling muda di Pulau Jawa yang baru terbentuk pada bulan Oktober 2000. diharapkan ke masa yang akan datang mampu melakukan pengelolaan unit yang mandiri.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 1.46% dari luas total daratan Indonesia.324 jiwa) berada di Kota Cilegon. Penduduk laki-laki : 4. di provinsi ini kepadatan penduduk mencapai 1.89 (data BPS Provinsi Banten).858. Dari angkatan kerja yang berjumlah 3.651 km2. teknik maupun keuangan. Penduduk terbanyak di Provinsi Banten ada di Kabupaten Tangerang. Propinsi Jawa Barat. Propinsi Jawa Tengah. masalah yang dihadapi adalah kepadatan penduduk.185. 2-9 2.944 jiwa). Dahulu Banten merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Sex ratio penduduk di Banten pada tahun 2003 adalah 103. 5 Balai PSDA 4.563.563 jiwa.831 jiwa terdapat penduduk bekerja sebanyak 3. Propinsi Jawa Timur. Seperti halnya dengan provinsi lain yang berada di Pulau Jawa. 2 Balai PSDA 5.642 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . luas wilayah administrasi Banten hanya sekitar 0. 2 kota.987. Laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2000-2003 adalah sebesar 3. Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan jumlah penduduk terkecil (326. 124 kecamatan dan 1. 9 Balai PSDA Balai PSDA sebagai unit yang diserahi tugas pelayanan di bidang sumber daya air dan konservasi sumber daya air. Jumlah rumah tangga dan penduduk menurut jenis kelamin di Banten tahun 2003 adalah sebagai berikut: Rumah tangga : 1.666 jiwa. 5 Balai PSDA 3. dan Penduduk perempuan : 4. Provinsi Banten mempunyai luas 8. Mandiri yang dimaksud disini diartikan merupakan unit yang mampu melakukan pengelolaan sumber daya air secara profesional baik secara administratif.018 jiwa per km2 tersebar dalam 4 kabupaten.48 %.

189 jiwa sedangkan yang bukan angkatan kerja berjumlah 3.148.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA jiwa orang dan yang mencari pekerjaan sebanyak 673.5 m/dt 2-10 Provinsi Banten berada di ujung barat Pulau Jawa.3 mm : 82. yaitu: WS CiujungCiliman. berlokasi di Serang. Di Wilayah Provinsi Banten terdapat 3 Wilayah Sungai.90C : 31. 176 tahun 1996 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA sudah ditindaklanjuti dengan terbitnya peraturan-peraturan daerah Provinsi Banten. Dari ketiga WS tersebut yang paling besar wilayahnya di Provinsi Banten adalah WS CiujungCiliman yang sekaligus menjadi sumber daya air utama untuk Provinsi Banten. Berdasarkan data di stasiun OBS (Observation Station) Badan Metereologi dan Geofisika Provinsi Banten. dengan wilayah kerja meliputi Kabupaten Serang.2 0C : 147. Tangerang dan Kota Cilegon.2% : 2. yang dibentuk melalui Keputusan Mendagri No. WS Ciliwung-Cisadane. menghadap Laut Jawa dan Samudera Hindia sehingga sangat dipengaruhi oleh angin laut. Hal tersebut mengakibatkan hampir sepanjang tahun wilayah Banten mengalami udara lembab dan memiliki curah hujan yang cenderung lebih tinggi daripada provinsiprovinsi lain di Pulau Jawa. Lebak.367 orang. Pengelolaan sumber daya air di Banten dilakukan oleh Balai PSDA CiujungCiliman. Pendeglang. Balai PSDA CiujungCiliman adalah satu-satunya balai di Banten. diketahui kondisi iklim Provinsi Banten sebagai berikut: suhu udara rata-rata maksimum suhu udara rata-rata minimum Curah hujan rata-rata Kelembaban udara rata-rata Kecepatan angin rata-rata : 22. dan WS Cisadea-Cikuningan. Pengelolaan sumber daya air di provinsi Banten juga dilakukan melalui Proyek Pengelolaan Sumber Air Dan Pengendalian Banjir (PSAPB) Ciujung-Ciliman LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

baik penyediaan air untuk kebutuhan pertanian. tingkat kelembaban udara mencapai 76.977. Berdasarkan SK Gubernur Nomor 1227 Tahun 1989.52 km2 dan yang berupa lautan seluas 6.5 m/det. kota paling padat di Indonesia. Daerah di bagian selatan dan timur Jakarta terdapat rawa/situ dengan total luas mencapai 96. DKI Jakarta memiliki pantai di sebelah utara yang membentang dari barat sampai ke timur sepanjang ± 35 km yang menjadi tempat bermuaranya 9 buah sungai dan 2 buah kanal. Kota Jakarta secara umum beriklim panas dengan suhu udara maksimum berkisar 28. pariwisata maupun pengendalian banjir dan lain sebagainya. Pada tahun 2002 dibentuk Proyek Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai (PBPP) Ciujung-Ciliman sebagai pengganti Proyek PSAPB. Wilayah DKI memiliki sekitar 27 buah sungai dan ± 110 buah pulau yang tersebar di Kepulauan Seribu.70C pada siang hari dan suhu udara minimum berkisar 260C pada malam hari.3 DKI JAKARTA Kota Jakarta. sebelah barat dengan Provinsi Banten. dan kecepatan angin rata-rata mencapai 3.4%. terletak pada 6°12’ LS dan 106°48’ BT. merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata ± 7 m diatas permukaan laut. air industri.9 mm. Sementara di sebelah selatan dan timur DKI Jakarta berbatasan dengan wilayah Provinsi Jawa Barat. sedangkan di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa.5 Ha. air minum. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta yang berupa daratan seluas 661.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Nomor : 19/KPTS/A/1994 tanggal 19 April 1994 Tentang Pembentukan Badan Pelaksana Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman.5 km2. Kedua bagian wilayah ini cocok digunakan sebagai daerah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Program pengembangan dalam proyek ini dimaksudkan untuk memanfaatkan secara maksimal sumber daya air guna meningkatkan taraf hidup masyarakat.288. 2-11 2. Sementara itu curah hujan mencapai 2.

sehingga menjadikan provinsi ini sebagai provinsi dengan wilayah terpadat penduduknya di Indonesia.3 ribu jiwa per km2. DKI Jakarta lebih mengandalkan pada Kanal Tarum Barat yang menyediakan air baku dari sungai Citarum melalui Bendung Curug.38 juta orang dan yang mencari pekerjaan sebanyak 589.58%.05%).7 ribu orang pencari kerja yang masih belum 2-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Berdasarkan status pekerjaannya.5 km2. Pada tahun 2003 jumlah penduduk DKI Jakarta. Kebanyakan dari mereka yang bekerja berkecimpung di sektor perdagangan. Kepadatan penduduk Provinsi DKI Jakarta Tahun 2003 dapat dilihat pada Tabel 2. jasa dan industri.2.2 ribu orang. sebagian besar (67. Keseluruhan sumber daya air dalam wilayah administrasi DKI Jakarta termasuk dalam wilayah kerja Balai PSDA Ciliwung-Cisadane (di bawah Provinsi Jawa Barat). Dengan luas wilayah hanya 661. seperti yang tampak dari sex ratio yang lebih besar dari 100. Kegiatan penduduk usia 15 tahun keatas dapat dibedakan menjadi angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Jumlah pencari kerja berdasarkan data Sakernas BPS DKI Jakarta tahun 2003 tercatat sebanyak 589. masing-masing sebesar 36. Dari jumlah tersebut penduduk laki-laki lebih banyak dari penduduk perempuan. Selanjutnya dari angkatan kerja tersebut terdapat penduduk bekerja sebanyak 3.74% dan 19.37 %) dan sebagai pekerja keluarga (3.58 %) bekerja sebagai buruh. Dengan iklimnya yang lebih sejuk bagian wilayah ini juga ideal dikembangkan sebagai wilayah pemukiman penduduk.97 juta orang dan 2. tercatat sebanyak 7. Selebihnya berstatus sebagai pengusaha (29. Akan tetapi dalam memenuhi kebutuhan sumber daya air.85%. terutama untuk air baku. Sedangkan status kewarganegaraanya terdiri dari WNI sebanyak 7. Sedangkan yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja 342. 22.59 juta orang.46 juta jiwa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA resapan air.45 juta jiwa dan WNA sebanyak 4. dimana 319.7 ribu orang. yang masing-masing berjumlah 3.7 ribu orang. kepadatan penduduknya mencapai 11.71 ribu jiwa.

Posisi geografis Jawa Barat tersebut sangat strategis sehingga memberikan keuntungan bagi Jawa Barat terutama dari segi komunikasi dan perhubungan.70 50’ Lintang Selatan dan 1040 48’-1080 48’ Bujur Timur. Samudera Hindia.4 mm.586 897. 2-13 Tabel 2.267 1. serta dataran tinggi bergunung-gunung ada di kawasan tengah. Kawasan utara Jawa Barat merupakan daerah dataran rendah. Jawa Barat mempunyai iklim tropis dengan curah hujan rata-rata 156.701.90 126.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ditempatkan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .6 ribu orang.571 1. sedangkan pencari kerja yang berhasil ditempatkan sebanyak 14. dengan batas-batas wilayahnya sebagai berikut: Sebelah utara Sebelah timur Sebelah selatan Sebelah barat : : : : Laut Jawa dan DKI Jakarta.73 47.157 18.923 7.426 8.52 Penduduk 1.931 Kepadatan Penduduk/(km2) 11.567.15 142.176.73 187.941 1.355 18. 2 Luas Wilayah.616 11.4 JAWA BARAT Provinsi Jawa Barat mempunyai luas wilayah 34. Provinsi Banten. Provinsi Jawa Tengah. sedangkan kawasan selatan berbukit-bukit dengan sedikit pantai.597 km2.83% dari luas Indonesia.555 2. Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 50 50’ .094.746 12.272 2.71 661. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk DKI Jakarta 2003 No 1 2 3 4 5 6 Kotamadya Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kepulauan Seribu TOTAL Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Luas (km2) 145.676 11.30 11. sekitar 1.456.

5. Hal ini menyebabkan sebagian besar dari luas tanahnya cocok digunakan untuk pertanian. Garut. WS Cimanuk-Cisanggarung. 4. Balai PSDA Cimanuk-Cisanggarung Ciliwung-Cisadane Cisadea-Cikuningan Citarum Domisili Cirebon Bogor Sukabumi Bandung Wilayah Kerja Cirebon. Jawa Barat memiliki lahan subur yang berasal dari endapan vulkanis serta banyak aliran sungai. WS Citanduy. Majalengka. WS Ciujung-Ciliman. Selain itu.80C sampai 29. WS Cisadea-Cikuningan. Bekasi dan Kota Depok. 4.3 mb. Indramayu. yaitu: 1.3 menggambarkan pembagian wilayah kerja yang dicakup oleh kelima Balai PSDA. Bandung dan Kota Sukabumi. serta tekanan udara rata-rata sebesar 922. dituangkan dalam Perda No. Ciamis. Tasikmalaya. Kuningan dan kota Cirebon. Cianjur. Bogor. Subang. Kota dan Kabupaten Bekasi. dan sebagian Bandung. 2-14 5. WS Cisadane-Ciliwung. 3 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Barat No. Cianjur.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dengan jumlah hari hujan rata-rata tiap bulannya sekitar 15 hari. 6. 3. Sumber daya air di Provinsi Jawa Barat dibagi dalam 7 (tujuh) satuan wilayah sungai. Indramayu. Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 5 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Barat Tabel 2. 2. Suhu udara berkisar antara 18. 1. Sukabumi. Garut. Citanduy-Ciwulan Tasikmalaya Kebijakan pemerintah provinsi Jawa Barat dalam pengelolaan sumber daya air. Karawang. WS Citarum. 2. 3. sehingga Provinsi Jawa Barat ditetapkan sebagai lumbung pangan nasional. Tabel 2.20C dengan tingkat kelembaban udara ratarata sebesar 76%. Purwakarta. 7. DKI Jakarta. Bogor. 2 Tahun 2003 tentang RTRW Propinsi Jawa Barat 2010. Perda tersebut berisi kebijakan untuk meningkatkan fungsi dan kualitas LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Subang. Cianjur. Kota dan Kabupaten Bandung. WS Ciwulan. Kuningan. Majalengka.

partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan 2-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .53 orang per km2. Kota Bandung merupakan kota terpadat . 4. yaitu: 1. Pada tahun 2003 sektor pertanian tetap merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja yaitu 34.87% kemudian diikuti oleh perdagangan 22.324.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kawasan lindung di Jawa Barat.57% dan industri 16. yaitu sebesar 13.978 desa. Sedangkan yang jumlah penduduknya terkecil adalah Kota Sukabumi (26 ribu orang). pengamanan. Pengawasan. termasuk kawasan lindung di Kawasan Bodebek dan Bopunjur. Hal lain dapat pula mencerminkan struktur perekonomian suatu wilayah. 9 Kota. (4.98 juta orang.7 juta orang). Proporsi pekerja menurut lapangan pekerjaan merupakan salah satu ukuran untuk melihat potensi sektor perekonomian dalam menyerap tenaga kerja. Dengan jumlah penduduk tersebut kepadatan penduduk Jawa Barat mencapai 1. 561 kecamatan. dan pengaturan pemanfaatan sumber daya. Pengembangan Lindung. Jumlah penduduk Jawa Barat pada tahun 2003 mencapai 37. Rehabilitasi lahan konservasi termasuk rehabilitasi lahan-lahan kritis. serta.270. 2.794 kelurahan dan 3.48 orang per km2. Kebijakan dijabarkan dalam beberapa program.96%. sedangkan yang terendah Kabupaten Cianjur hanya sebesar 685.5 juta orang) dan Kabupaten Bogor (3.23 orang per km2. 1. 3. Secara administratif Provinsi Jawa Barat terdiri dari 16 Kabupaten. Wilayah kabupaten dengan penduduk terbanyak di Jawa Barat ada pada Kabupaten Bandung. Pengukuhan kawasan lindung agar tercapai target luasan kawasan lindung hutan dan non hutan untuk seluruh Jawa Barat sebesar 45%.

Untuk mendapatkan data yang lebih baik dari waktu ke waktu. Menurut stasiun klimatologi kelas I Semarang. Secara administratif Provinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tempat-tempat yang letaknya berdekatan dengan pantai mempunyai suhu udara rata-rata relatif tinggi. c.04% dari luas Pulau Jawa atau sekitar 1. Bengawan Solo dan Serayu. JratunSeluna. b. sekitar 25.837 mm dan hari hujan terbanyak tercatat di Stasiun Metereologi Cilacap sebesar 203 hari. Pos pengamat curah hujan sebanyak 964 buah.25 juta hektar. Secara geografis Provinsi Jawa Tengah terletak antara 50 40’ dan 80 30’ LS dan antara 1080 30’ dan 1110 30’ BT (termasuk kepulauan Karimunjawa). Curah hujan tertinggi tercatat di SMPK (Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus) Bojongsari Purwokerto sebesar 2. yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Jaringan pos pengamatan hidrologi di wilayah Provinsi Jawa Tengah telah dikembangkan sejak tahun 1976 yang tersebar di seluruh daerah aliran sungai.70% dari luas Indonesia.5 JAWA TENGAH Posisi provinsi Jawa Tengah sebagai diapit oleh dua Provinsi besar lainnya. maka pada tahun anggaran 1999/2000 telah dimulai pelaksanaan rasionalisasi Pos Hidrologi di WS Pemali-Comal. Kelembaban udara rata-rata bervariasi antara 77% sampai dengan 88%. Jarak terjauh dari batas barat ke timur adalah 263 km dan dari batas utara ke selatan 226 km (tidak termasuk kepulauan Karimunjawa). Sampai saat ini pos pengamat hidrologi yang telah ada meliputi: a.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-16 2. Pos klimatologi sebanyak 72 buah. Luas wilayah Provinsi Jawa Tengah adalah sebesar 3. Pos pengamat tinggi muka air (AWLR) sebanyak 176 buah. suhu udara rata-rata di Jawa Tengah tahun 2002 berkisar antara 170C sampai dengan 290C. Pos pengamat hidrologi tersebut dibangun oleh Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah maupun departemen lain.

sebagian Kabupaten Pati dan sebagian Kabupaten Blora. Kabupaten Klaten.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sumber daya air di Provinsi Jawa Tengah dibagi dalam 7 (tujuh) satuan wilayah sungai. 4 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Tengah No. Progo-BogowontoLukulo Kutoarjo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Grobogan. Kota Surakarta. WS Progo-Opak-Oyo. 7. WS Jratun-Seluna. Kabupaten Kudus. Kota dan Kabupaten Tegal. Bengawan Solo Solo 5. Kabupaten Magelang. sebagian Kabupaten Temanggung. 3. yaitu: 1. WS Serayu. sebagian Kabupaten Demak dan Kota Salatiga. Tabel 2. WS Cimanuk. Balai PSDA Jragung-Tuntang Domisili Semarang Wilayah Kerja Kota dan Kabupaten Semarang. 4. Serang-Lusi Juwana Kudus 4. 5. 2. 1. WS Bengawan Solo. sebagian Kabupaten Demak. sebagian Kabupaten Boyolali. sebagian Kabupaten Kendal. 2-17 Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 6 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Tengah dengan pembagian wilayah kerja sebagaimana tercantum pada Tabel 2. Kabupaten Brebes. sebagian Kabupaten Rembang. Kota Magelang. Kabupaten Karanganyar. dan sebagian Kabupaten Blora.4 berikut ini. sebagian Kabupaten Batang dan Pemalang. Kabupaten Sukoharjo. sebagian Kabupaten Sragen. sebagian Kabupaten Grobogan. WS Citanduy. sebagian Kabupaten Sragen. sebagian 2. WS Pemali-Comal. 6. meliputi Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Jepara. Pemali-Comal Tegal 3. Kabupaten Purworejo.

74 juta orang atau naik sebesar 0. Rata-rata kepadatan penduduk Jawa Tengah tercatat sebesar 974 jiwa setiap kilometer persegi.58% dibanding tahun sebelumnya. sebesar 99%. Ini menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi ketiga di Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak di samping Jawa Timur dan Jawa Barat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No. Tenaga kerja yang terampil. jumlah penduduk Jawa Tengah diperkirakan meningkat mejadi sebanyak 32. angkatan kerja di Jawa Tengah tahun 2002 mencapai 15. Serayu-Citanduy Purwokerto Kabupaten Banyumas. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Balai PSDA Domisili Wilayah Kerja Kabupaten Temanggung.42 juta jiwa. Pertumbuhan penduduk tiap tahun akan berpengaruh terhadap pertumbuhan angkatan kerja.69 juta jiwa atau sekitar 15% dari jumlah penduduk Indonesia. Kabupaten Banjarnegara. Penduduk Jawa Tengah belum menyebar secara merata di seluruh wilayah Provinsi Jawa Tengah. tingkat partisipasi angkatan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sebagian Kabupaten Wonosobo dan sebagian Kabupaten Kebumen. Hal ini ditunjukkan oleh rasio jenis kelamin (rasio jumlah pendududuk lakilaki terhadap jumlah penduduk perempuan). Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Cilacap Berdasarkan Data BPS. sebagian Kabupaten Kebumen. 2-18 6. jumlah penduduk Jawa Tengah tahun 2002 tercatat sebesar 31. Dengan angka ini. sebagian Kabupaten Wonosobo. Wilayah terpadat adalah kota Surakarta dengan tingkat kepadatan sekitar 11 ribu orang setiap kilometer persegi. Umumnya. Jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk lakilaki. Pada tahun 2003. merupakan potensi sumberdaya manusia yang sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan menyongsong era globalisasi. penduduk banyak yang bermukim di daerah perkotaan.

Kabupaten Magelang : : : : di sebelah timur laut.80 12’ LS dan 1100 00’ – 1100 50’ BT. Sedangkan angka pengganguran terbuka di Jawa Tengah relatif kecil. Daerah Istimewa Yogyakarta di bagian selatan dibatasi Samudra Hindia. Sedangkan yang berusaha dengan dibantu anggota rumah tangga dan buruh tetap/tidak tetap tercatat sebesar 23. masing-masing tercatat sebesar 19. di sebelah barat. Sektor pertanian memiliki porsi 42% pekerja dan merupakan sektor terbanyak yang menyerap tenaga kerja.6 DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salah satu provinsi dari enam provinsi di wilayah Indonesia dan terletak di Pulau Jawa bagian tengah.52%. pekerja bebas pertanian dan non pertanian sebesar 10. Kabupaten Wonogiri c.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kerja penduduk di Jawa Tengah tercatat sebesar 60. Kabupaten Klaten b.90%.60%.56%. Sebanyak 67% angkatan kerja adalah berpendidikan tidak/belum tamat Sekolah Dasar. Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari: LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Secara geografis posisi Daerah Istimewa Yogyakarta terletak antara 70 33’ . Ditinjau menurut status pekerjaan utamanya. di sebelah tenggara. yaitu sebesar 6.07%.31% dan pekerja tak dibayar 17.36%. tenggara barat dan barat laut dibatasi oleh wilayah Provinsi Jawa Tengah yang meliputi : a. Sektor lain yang cukup banyak menyerap pekerja adalah sektor perdagangan dan sektor industri. berusaha sendiri tanpa dibantu orang lain sebesar 18.15%. Berdasarkan satuan fisiografis. sedangkan dibagian timur laut. 2-19 2. yakni 30.35% dan 17. sebagian besar angkatan kerja bekerja sebagai buruh/karyawan. di sebelah barat laut. Kabupaten Purworejo d.

656.485. dari 3.185.27 506. Sebagian besar wilayah D.25 km2.40%) (15.80 km2 atau 0.50 km2 km2 km2 km2 km2 (18.I Yogyakarta.94% merupakan jenis tanah Lithosol. 11. Dataran rendah antara Pegunungan Selatan dan Pegunungan Kulon Progo.45% jenis tanah Grumusol. Pegunungan Selatan. Luas Ketinggian 3. Luas Ketinggian DIY tercatat memiliki luas 3. merupakan provinsi terkecil di Indonesia setelah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.754 km2). Kota Yogyakarta : dengan luas : dengan luas : dengan luas : dengan luas 586. : ± 215. Kabupaten Bantul d. 35. Menurut catatan Stasiun Metereologi Bandara Adisucipto.42% jenis tanah Regosol. : ± 706. yang terdiri dari: a. Kabupaten Gunung Kidul : dengan luas Berdasarkan informasi dan BPN.74% adalah jenis tanah Rensina.24% jenis tanah Alluvial.62 km2. 10.185. dengan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . : 0-80 m.82 32. 2-20 2.36 574.02%) c. lebih rendah dibandingkan rata-rata suhu udara pada tahun 2002 sebesar 27.27% jenis tanah Mediteran. 27.I Yogyakarta terletak pada ketinggian antara 100 499 m dari permukaan laut.17% dari luas Indonesia (1. Kabupaten Sleman e. : 80-2. Pegunungan Kulon Progo dan Dataran Rendah Selatan.85 1.8790. suhu udara rata-rata di Yogyakarta tahun 2003 adalah 26. Luas Ketinggian 4.91%) (46.380 mm yang dipengaruhi oleh musim kemarau dan musim hujan.640C.911 m.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 1. Luas Ketinggian : ±1.80 km2 luas D. 2.94% jenis tanah Lathosol.25 km2.04%) (1.340C.63%) (18. : 150-700 m. Kabupaten Kulon Progo b.81 km2. Daerah Istimewa Yogyakarta beriklim tropis dengan curah hujan berkisar antara 7 . : 0-572 m. dan 1. Gunung Berapi Merapi. : ± 582. 10.

9-1.48%. 5 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di DI Yogyakarta No. Sungai Serang Sungai-sungai tersebut dikelola oleh 2 Balai PSDA yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana dijelaskan pada Tabel 2. 2-21 Tabel 2. tekanan udara berkisar antara 1. Sungai Opak-Oyo 3. Pertumbuhan penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2003 adalah 1. yaitu: 1.82% dan 1.005. dengan arah angin antara 195-205 derajat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA suhu maksimum 34.1 knot sampai dengan 20 knot. Kelembaban udara berkisar antara 34-95%. Sermo Yogyakarta Jumlah penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta tercatat 3.7 mb.5 berikut ini.48%.015.385 jiwa. Kota Yogyakarta.61%. Sedangkan menurut daerah pemukiman. relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya. Sungai besar yang menjadi potensi sumber daya air di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berjumlah 3 buah.600C dan suhu minimum 180C.26% dan persentase jumlah penduduk laki-laki sebesar 49. 2. 1. Gunung Kidul dan Sleman terlihat memiliki angka pertumbuhan di atas angka rata-rata provinsi. Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunung Kidul Kabupaten Kulon Progo. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan mencapai 57. Balai PSDA Progo-Opak-Oyo Domisili Yogyakarta Wilayah Kerja Kabupaten Sleman. Kabupaten Bantul.79%. 1. yakni masing-masing sebesar 2.207.52% dan penduduk yang tinggal di daerah pedesaan mencapai 42. dan kecepatan angin antara 0.74%. Sungai Progo 2. dengan persentase jumlah penduduk perempuan sebesar 50.

mengurus rumah tangga dan lainnya dengan proporsi masing-masing sebesar 20. Timur c. Sisanya sebesar 36.84%. dan 4.80 km2.69%. Dari jumlah tersebut 58.16% merupakan bukan angkatan kerja. berbatasan dengan Selat Bali.007 jiwa per km2.75%. Utara b.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dengan luas wilayah sekitar 3.46% adalah SLTP dan sisanya 1. Jumlah pendaftar pencari kerja pada tahun 2003 sebanyak 94.881 orang. Barat : : : : berbatasan dengan Laut Jawa.029 jiwa per km2.17% berpendidikan SD.44%. Persentase angkatan kerja penduduk DIY adalah 63.83% perempuan.923 orang.185. berbatasan dengan Samudera Indonesia berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . teriri dari mereka yang masih sekolah. adalah sebagai berikut.17% laki-laki dan 47. pada sektor perdagangan sebesar 19. 34. Kepadatan penduduk tertinggi terjadi di Kota Yogyakarta yakni 12.26 % dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 106.95% setingkat Diploma. kepadatan penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta sekitar 1.7 JAWA TIMUR Secara geografis Provinsi Jawa Timur terletak pada posisi 1110 0’ BT hingga 1140 4’ BT dan 70 12’ LS hingga 80 48’ LS. menurun sekitar 11.18% dan sisanya sebesar 13. Batas-batas daerah pada provinsi ini adalah sebagai berikut: a. terdiri dari 58. Gambaran tenaga kerja di sektor swasta berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. pada sektor jasa sebesar 17. serta 5. Sarjana Muda dan Sarjana.21% sedang mencari pekerjaan.48% bekerja di sektor-sektor lainnya. pada sektor industri sebesar 12. sedangkan wilayah yang tingkat kepadatan penduduknya terendah adalah Kabupaten Gunung Kidul yang dihuni rata-rata 462 jiwa per km2. 2-22 2. Selatan d.63% sudah bekerja dan sebesar 5.42% berpendidikan setingkat SLTA. jumlah penduduk yang pekerjaannya bergerak pada sektor pertanian memiliki persentase 37. 11. Berdasarkan lapangan usaha utama. Mereka terdiri dari 52.20%.15%.27%.

dengan rata-rata lama penyinaran matahari 52% dan 41. dengan anak-anaknya sebanyak 36 sungai. Mendung paling banyak terjadi di bulan Februari dan Desember. disamping sungai yang cukup besar. Sungai besar di Jawa Timur antara lain Kali Brantas yang panjangnya 98 km dan Bengawan Solo dengan panjang 273 km. 4. WS Bengawan Solo. WS Madura.6%.57 km2 secara administrasi terbagi ke dalam 29 Kabupaten dan 9 Kota. 3.60C) dan terendah pada bulan Juli (18. WS Pekalen-Sampean. yaitu Jawa Timur Daratan dan Kepulauan Madura.6 berikut ini.10C). sedangkan luas Kepulauan Madura hanya sekitar 10%. Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 9 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Timur sebagaimana dijelaskan pada Tabel 2. Sumber daya air di Provinsi Jawa Timur terbagi dalam 4 (empat) satuan wilayah sungai. 2-23 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sedangkan curah hujan yang cukup tinggi terjadi pada bulan Januari sampai dengan April. yaitu: 1. wilayah Jawa Timur dapat dibagi dalam 2 bagian besar. Luas wilayah Jawa Timur Daratan hampir mencakup 90% dari luas Provinsi Jawa Timur. Suhu udara tertinggi di Jawa Timur pada tahun 2003 terjadi pada bulan November (35. WS Brantas.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Secara umum. Wilayah provinsi Jawa Timur yang luasnya 46. Provinsi Jawa Timur memiliki 11 (sebelas) gunung berapi yang aktif. dengan kelembaban berkisar antara 32% sampai 98%. 2.428.

Ponorogo. 1. Kota Malang. Bengawan Hilir Sampean Baru Solo Bojonegoro 6. Jombang dan Kota Kediri. Kabupaten Bojonegoro. Gembong-Pekalen Pasuruan 9. Balai PSDA Bango-Gedangan Domisili Malang Wilayah Kerja Kabupaten Malang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 2. Kota Surabaya mempunyai kepadatan penduduk tertinggi yaitu sebesar 8. Sidoarjo. Lamongan dan Gresik. Sumenep dan Bangkalan. Blitar. Jember dan sebagian Malang.206 juta jiwa dengan pertumbuhan sebesar 1. diikuti Kabupaten Malang dengan jumlah penduduk sebesar 2.152 jiwa per km2. Kabupaten Bondowoso. Pamekasan. Mojokerto. Pacitan. Kabupaten Kediri. Puncu-Selodono Kediri 3. BuntungPaketingan Lamongan 4.66 juta jiwa. Magetan. Kota Surabaya mempunyai jumlah penduduk yang paling besar. Probolinggo.07% per tahun. Kabupaten Pasuruan. Tulungagung. 2-24 2. 6 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Timur No. Kepadatan penduduk di kota. sebagian Pasuruan. Kepadatan penduduk Jawa Timur tahun 2003 adalah 780 sebesar jiwa per km2. Kabupaten Madiun. Kota Pasuruan dan Kota Probolinggo Sampang.33 juta jiwa dan Kabupaten Jember dengan jumlah penduduk sebesar 2. Madiun Madiun 5. umumnya lebih tinggi dibanding dengan kepadatan penduduk di kabupaten. Kabupaten Lumajang. Bondoyudo-Mayang Lumajang 8. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Madura Pamekasan Berdasarkan data BPS. sebagian Malang. Nganjuk. Trenggalek. Kota Mojokerto dan Kota Surabaya. Banyuwangi dan Situbondo. Tuban. Ngawi dan Kota Madiun. Kabupaten Lamongan.23 juta jiwa. yaitu 2. jumlah penduduk Provinsi Jawa Timur tahun 2003 sebesar 36. Kota Batu dan Kota Blitar. Bondowoso 7.

435 orang.8 IDENTIFIKASI MASALAH BANJIR Banjir di Pulau Jawa sebagian besar terjadi di wilayah pantai utara dan pantai selatan.1 ribu hektar1. 3 Lokasi rawan banjir di pulau jawa. 2-25 2. sedangkan rasio pencari kerja dengan lowongan pekerjaan adalah 0.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Jumlah pencari kerja pada tahun 2003 sebesar 379. antara lain North Java Flood Control 1 Laporan kejadian banjir dan tanah longsor musim hujan 2001/2002 dan 2002/2003. Pendekatan infrastruktur untuk mengatasi banjir di sepanjang pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah telah diupayakan melalui proyekproyek besar berbantuan luar negeri.9 ribu hektar wilayah permukiman dan pertanian. Sebaran wilayah rawan banjir di Pulau Jawa dapat dilihat pada Gambar 2. Pada tahun 2002.16 persen. meningkat 16.32% dibanding tahun 2002.3. wilayah cekungan.621 orang. Gambar 2. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tenaga kerja yang sudah ditempatkan sebanyak 40. Jumlah ini meningkat menjadi 104 kejadian pada tahun 2003 yang menggenangi sekitar 91. serta kota-kota besar. terjadi 72 kejadian banjir yang menggenangi sekitar 81. Sistem pengendalian bahaya banjir melalui pendekatan infrastruktur telah berlangsung lama.

penambangan pasir terjadi di sungai-sangat besar sehingga pada beberapa tempat mengalami degradasi dasar sungai. diupayakan melalui proyek-proyek pengembangan perkotaan antara lain Bandung Urban Development Project (BUDP) dan Surabaya Urban Development Project (SUDP).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Project dan South Java Flood Control Project. terjadi luapan air sungai dari tanggul. Meluapnya aliran sungai ini mengakibatkan daerah-daerah yang relatif datar dan lahan-lahan pertanian di sekitarnya menjadi tergenang. Beberapa penyebab utama terjadinya banjir antara lain adalah: a) Pendangkalan/Agradasi Dasar Sungai (Sedimentasi) Hampir semua sungai di Jawa membawa sedimen dalam jumlah besar dari hulu dan mengikis lahan di sepanjang daerah aliran sampai ke muara. sehingga upaya pengendalian bersifat spesifik sesuai karakteristik wilayah yang bersangkutan. Selain itu. laju pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang membutuhkan biaya besar tersebut tidak mampu mengatasi peningkatan magnitude dan frekuensi banjir. kemiringan dasar sungai menjadi relatif datar akibat sedimentasi tersebut sehingga kapasitas tampungan sungai menjadi berkurang. khususnya kota-kota besar di Pulau Jawa. Untuk pengendalian banjir wilayah Jakarta diupayakan melalui Ciliwung Cisadane River Flood Control Project dan pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) yang saat ini sedang berlangsung. tetapi justru menyebabkan bertambah luasnya area yang terkena banjir di daerah hilir. untuk mengatasi banjir di wilayah perkotaan lainnya. Faktor penyebab terjadinya banjir di Pulau Jawa berbeda-beda untuk setiap wilayah. Namun demikian. Di daerah muara. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . b) Meluapnya Aliran Sungai melalui Tanggul Akibat debit yang besar pada musim hujan yang tidak dapat ditampung oleh badan-badan air di daerah pantai/muara. Di lain pihak. Upaya pengendalian banjir juga dilakukan di Bandung Selatan melalui proyek Upper Citarum Flood Control 2-26 Project. Tanggul-tanggul sungai di hulu dapat mengurangi banjir yang terjadi di daerah hulu.

Via analisis kondisi neraca air. dan penyempitan pada jembatan dan bangunan-bangunan struktur lainnya. seringkali pengamatan/pemeliharaan di lapangan jarang dilakukan. sehingga laju pengaliran air melalui saluran drainase menurun. Defisit Sedang (DS). Hal ini terutama terjadi pada pintu air otomatis. Karena bangunan beroperasi secara otomatis. sehingga terjadi banjir di bagian hulu. Neraca air tergolong normal apabila tidak terjadi defisit sepanjang tahun. 2. Backwater juga terjadi pada pertemuan antara anak sungai dan sungai utamanya. dan lebih dari enam bulan diklasifikasi defisit tinggi.9 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN Masalah kekeringan dapat diidentifikasi dengan analsisi kondisi neraca air. sedangkan jika jumlah bulan defisit mencapai 3 bulan diklasifikasi sebagai defisit rendah. Analisis neraca air pada kabupaten/kota di luar wilayah Jabodetabek dilakukan dengan membandingkan hasil perhitungan ketersediaan air dengan kebutuhan air pada tiap-tiap bulan di masing-masing kabupaten/kota. 2-27 d) Efek Backwater Efek backwater terjadi di bagian hulu karena perubahan arus di hilir yang menyebabkan muka air di hulu meningkat. dan Defisit Tinggi (DT).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA c) Kondisi Saluran Drainase yang Kurang Baik Saluran drainase tidak berfungsi dengan baik karena pintu-pintu air tidak beroperasi sebagaimana mestinya. e) Kurang Berfungsinya Pintu Pengendali Banjir pada Sungai Pintu air tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena tertutup oleh tanaman atau endapan pasir. ada 4 klasifikasi: Normal (N). terbendungnya alur sungai. empat hingga enam bulan diklasifikasi defisit sedang. kapasitas tampungan semakin berkurang. Hal ini disebabkan oleh penyempitan badan sungai. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan lahan-lahan produksi di dataran rendah. Defisit Rendah (DR).

Hasil analisis neraca air menunjukkan bahwa. terdapat 38 kabupaten/kota atau sekitar 35 persen telah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dari wilayah yang mengalami defisit tersebut. Kondisi normal menunjukkan bahwa tidak terjadi defisit sepanjang tahun. dan lebih dari 1 meter kubik perdetik diklasifikasi defisit tinggi. pada tahun 2003 sebagian besar (sekitar 77 persen) wilayah kabupaten di luar Jabodetabek telah memiliki satu hingga delapan bulan defisit air dalam setahun.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Khusus untuk wilayah Jabotabek analisis dilakukan dengan perhitungan besarnya jumlah defisit air pada bulan paling kering. sedangkan jika jumlah defisit mencapai 0. 45 2-28 40 Persentase Jumlah Kabupaten/Kota (%) 35 30 25 20 15 10 5 2003 NORMAL 2005 2010 2015 DEFISIT SEDANG 2020 2025 DEFISIT TINGGI DEFISIT RENDAH Gambar 2.5 meter kubik perdetik diklasifikasi sebagai defisit rendah.4.5 hingga 1 meter kubik perdetik diklasifikasi defisit sedang. 4 Perubahan persentase kabupaten defisit air. Metode ini digunakan karena ketersediaan air pada wilayah ini relatif konstan sepanjang tahun karena pasokan dari sistem yang ada. defisit lebih dari 0. Perubahan persentase jumlah kabupaten di luar wilayah Jabotabek yang mengalami defisit air dari tahun 2003 hingga 2025 dapat dilihat pada Gambar 2. sesuai hasil Jabotabek Water Resources Management Study (1994).

5 pada tahuntahun 2015. kabupaten/kota di wilayah-wilayah sungai Cisadea-Cikuningan. Jratun Seluna bagian hulu. dan Madura. Progo-Opak-Oyo. Jika tidak dilakukan intervensi infrastruktur maka kondisi neraca air akan mengalami defisit yang semakin tinggi pada tahun-tahun berikutnya. Semarang. Brantas hilir. ditemukan bahwa sekitar 50 persen kabupaten/kota mengalami defisit air pada tahun 2003. Dari proyeksi neraca air kabupaten/kota di Pulau Jawa di atas. Jumlah ini diperkirakan semakin meningkat hingga mencapai sekitar 19 kabupaten/kota pada tahun 2025 apabila tidak dilakukan intervensi infrastruktur.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengalami defisit tinggi. dan sebagian Pekalen-Sampean belum mengalami defisit air. 2020. defisit air tinggi akan terjadi pada tahun 2005 di beberapa kabupaten/kota di wilayah sungai Cimanuk-Cisanggarung. Bengawan Solo. Pemali-Comal. bahkan sejak tahun 2003 sekitar 12 kabupaten/kota telah mengalami defisit penyediaan air minum. dan diperkirakan meningkat menjadi 100 persen pada 2025. Pada tahun-tahun berikutnya. atau defisit sepanjang tahun. Citarum. defisit air di wilayah tersebut cenderung semakin tinggi. Sementara itu. Serayu bagian hulu.4. Di samping itu. CitanduyCiwulan. defisit tinggi juga terjadi pada kota besar seperti Bandung. Di antara kabupaten/kota yang mengalami defisit air tersebut. Untuk wilayah Jabotabek. antara lain Kabupaten Ngawi di WS Bengawan Solo dan Kota Surabaya di WS Brantas. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian secara khusus dan perlu dilakukan upaya penanganan segera dalam jangka pendek. dan kabupaten/kota yang mengalami defisit akan semakin meluas sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 2.4 persen dengan defisit berkisar mulai dari satu hingga dua belas bulan. Hasil analisis dan proyeksi neraca air kabupaten/kota JawaMadura yang mengalami defisit dapat dilihat pada Gambar 2. Beberapa kabupaten/kota pada tahun 2010 diperkirakan akan mengalami defisit yang semakin membesar. Brantas. dan Yogyakarta. 2-29 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pada tahun 2025 jumlah kabupaten defisit air meningkat hingga mencapai sekitar 78. dan 2025.

Kota Bogor. Hal ini diperparah dengan semakin langkanya air bersih sebagai akibat meningkatnya pencemaran air di sungai-sungai besar tersebut. dan Purwakarta dikelompokkan dalam satuan wilayah analisis. Kabupaten Bogor. Pasokan air baku utama ke DKI Jakarta bersumber dari Sungai Citarum yang dialirkan dari Waduk Jatiluhur. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan Purwakarta2. Karawang. Sungai Cidurian. DKI Jakarta sebagai ibukota negara memerlukan daya dukung sumber daya air untuk menunjang segala kegiatan di wilayah tersebut. Kabupaten Tangerang. Tangerang. dan Kota Depok. dan Bekasi serta Serang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Wilayah analisis neraca air untuk daerah Jabodetabek dan sekitarnya meliputi DKI Jakarta. Bogor. potensi konflik pemanfaatan air antarwilayah dan antarpengguna akan semakin meningkat. Karawang. Sungai-sungai ini merupakan sumber air permukaan utama untuk daerah pertanian dan industri di Kota Tangerang. Alternatif tambahan pasokan untuk DKI Jakarta adalah sungai-sungai yang berada di barat dan selatan wilayah ini. Dengan demikian. seperti Sungai Cisadane. dan Sungai Ciujung. meskipun sungai utama yang melalui wilayah ini adalah Sungai Ciliwung. sejalan dengan rencana pengembangan inter basin management dengan menambahkan WS Ciujung-Ciliman dan WS Citarum menjadi satuan wilayah analisis WS Ciliwung-Cisadane. 2-30 2 Serang. Depok.

5 Proyeksi Neraca Air Kabupaten/Kota di Pulau Jawa dan Madura.1 0 b u la n 1 1 .1 2 b u la n B a ta s K a b u p a t e n Sumber : Hasil Analisis Gambar 2.4 b u la n 5 .6 b u la n 7 . LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .8 b u la n 9 .2 b u la n 3 .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-31 2005 L d 2010 L d 2015 Legenda : 2020 Legenda : 2025 Legenda : Legenda : B a ta s P r o p in s i J u m l a h B u l a n D e f is i t t a h u n 2 0 2 5 0 b u la n 1 .

yaitu meningkatnya aliran permukaan dan menurunnya aliran dasar (base flow). LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang dengan sumber utama Sungai Cisadane mengalami kondisi yang hampir sama. Terjadinya erosi akibat kerusakan catchment area menyebabkan terjadinya peningkatan beban sedimen di dalam sistem sungai dan menghasilkan perubahan pada kondisi hidro-morfologi (pengendapan sedimen pada waduk. terutama pada lahanlahan kritis di bagian hulu daerah aliran sungai. telah terjadi eksploitasi air tanah secara berlebihan. pasokan air permukaaan menjadi semakin penting untuk menggantikan penggunaan air tanah yang berlebihan tersebut. Depok dan Kabupaten Bogor berasal dari Sungai Ciliwung-Cisadane. Pada tahun 2003 terjadi defisit sebesar 2. saat ini diperkirakan sekitar 65% kebutuhan domestik untuk wilayah DKI Jakarta masih bertumpu kepada sumber air tanah. Oleh sebab itu. Pada tahun 2003 defisit air telah mencapai 3. jika tidak dilakukan upaya intervensi infrastruktur dengan membangun waduk-waduk sumber air baku yang baru.0 m3/det. terutama pada bagian hilir).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-32 Di wilayah Jabodetabek bagian utara terutama di DKI Jakarta. Defisit ini semakin membesar di masa yang akan datang. Sementara itu. dan saluran-saluran yang berakibat pada naiknya permukaan dasar sungai. Defisit tersebut diperkirakan mencapai 15. Oleh karena itu. Sebagai ilustrasi. Erosi yang berlangsung cepat akan memacu perubahan unsur hidrologi sungai.9 m3/det dan diperkirakan tahun 2025 mencapai 17. danau.0 m3/det di tahun 2025. Hal ini menyebabkan penurunan muka air tanah pada tingkat yang semakin kritis. daerah-daerah kritis dengan tingkat erosi yang tinggi perlu segera ditangani. sumber utama pasokan air untuk Kota Bogor.3 m3/det apabila tidak dilakukan upaya intervensi infrastruktur.

sekitar 77 persen kabupaten/kota di Pulau Jawa mengalami defisit air dan diperkirakan meningkat menjadi 78. namun disisi lain juga berdampak pada perubahan tata guna lahan yang mengakibatkan perubahan perilaku hidrologis. Adanya perubahan perilaku hidrologis tersebut menyebabkan perubahan pola ketersediaan air. industri. (2) Penurunan kinerja infrastruktur sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .4 persen pada tahun 2025. Diantara kabupaten/kota yang mengalami defisit air tersebut. Khusus wilayah Jabotabek yang pasokan airnya relatif terjamin. Disamping itu jumlah bulan defisit maksimal juga meningkat dari 8 bulan menjadi 12 bulan pada tahun 2025 (defisit sepanjang tahun). Pada tahun 2003. Kondisi ini semakin diperparah oleh menurunnya daya dukung lingkungan akibat kerusakan catchment area.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 3-1 3. pada tahun 2003 sekitar 50 persen kabupaten/kota mengalami defisit air dan diperkirakan meningkat menjadi 100 persen pada tahun 2025. bahkan sejak tahun 2003 terdapat 12 kabupaten/kota telah mengalami defisit penyediaan air minum. Hasil analisis secara lengkap disajikan pada Buku 2 Identifikasi Masalah Pengelolaan Sumber Daya Air di Pulau Jawa. dan pertanian mengalami peningkatan yang signifikan. Pertambahan penduduk dan aktifitas perekonomian di satu sisi berdampak pada peningkatan kebutuhan air. perkotaan. Hal tersebut juga meningkatkan potensi banjir yang akan mengancam keberlanjutan infrastruktur di Pulau Jawa yang dibangun dengan investasi yang sangat besar. Wilayah sungai di Pulau Jawa sebagian besar mengalami permasalahan yang sama yaitu: (1) Kerusakan catchment area sehingga mengancam keberlanjutan daya dukung sumber daya air. Jumlah ini diperkirakan semakin meningkat hingga mencapai 19 kabupaten/kota pada tahun 2025 apabila tidak dilakukan intervensi infrastruktur. secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa kebutuhan air untuk rumah tangga.1 RUMUSAN KEBIJAKAN PRAKARSA STRATEGIS Dari hasil analisis.

terutama realokasi atau perubahan alokasi untuk pemenuhan kebutuhan irigasi. penurunan kapasitas pengaliran sungai. (8) Kekeringan/defisit air di musim kemarau. Dengan adanya defisit air di sebagian besar kabupaten/kota dan bahkan tidak dapat memenuhi kebutuhan air minum. maka perlu dilakukan prakarsa strategis terkait dengan: (i) Penanganan kabupaten/kota yang telah mengalami krisis penyediaan air minum melalui intervensi infrastruktur dan kegiatan terkait. (10) Belum semua wilayah sungai memiliki masterplan atau perlu diperbaharui. sehingga mengurangi secara signifikan ketersediaan air untuk kebutuhan air minum. khususnya untuk irigasi di Pulau Jawa. (5) Kecenderungan bahwa sungai dan badan air lainnya sebagai tempat pembuangan limbah cair yang tidak terolah dan sampah menjadikan air permukaan yang terbatas tidak layak dipergunakan untuk air minum. (7) Meningkatnya kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan air. dan penurunan kinerja prasarana pengendali banjir. (12) Lemahnya koordinasi. land subsidence. Prakarsa strategis ini membutuhkan kajian mendalam dan spesifik lokasi untuk menemukan sumber-sumber penyediaan air baru maupun mengoptimalkan penggunaan sumber air yang ada bagi kabupaten/kota yang defisit air tinggi. (4) Kualitas air yang rendah karena daya dukung sungai lebih rendah dibanding beban pencemaran. Dengan kondisi defisit seperti ini maka diperlukan juga kajian mendalam tentang kemungkinan dilaksanakannya perubahan dan penyesuaian alokasi antar kebutuhan atau realokasi. kelembagaan. (9) Rendahnya kualitas pengelolaan hidrologi. dan ketatalaksanaan. (11) Masih lemahnya pengelolaan database sumber daya air. dan (13) Meningkatnya potensi konflik pemanfaatan air. 3-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . (6) Banjir akibat perubahan tata lingkungan. dan (ii) Penyesuaian kembali alokasi air antar jenis kebutuhan atau realokasi air. dan intrusi air laut. keperluan adanya institusi untuk menjawab permasalahan yang berkembang. (3) Eksploitasi air tanah yang berlebihan mengakibatkan penurunan muka air tanah. baik melalui demand management maupun supply management serta peluang dilaksanakannya inter basin transfer.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air.

berumur lebih pendek. Perubahan atau inovasi teknologi yang diharapkan adalah ditemukannya varietas padi unggul yang hanya memerlukan lebih sedikit air. kelembagaan dan perangkat manajemen telah direkomendasikan para ahli SDA dalam World Water Forum (WWF) II dan WWF III sebagai pendekatan yang tepat dalam menghadapi tantangan dalam LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dalam hal ini masingmasing sektor berjalan sendiri tanpa mempertimbangkan akibatnya terhadap sektor yang lain. produktivitas lebih tinggi serta tetap mempunyai rasa yang enak. serta antarsektor. Disamping itu diperlukan diperlukan cara olah tanah dan tata tanam yang lebih hemat air. antar wilayah. Diperlukan komunikasi dan dialog antar berbagai tingkat pengambilan keputusan. Untuk itu diperlukan strategi kebijakan baru dalam pengembangan irigasi di Pulau Jawa yang mempertimbangkan fenomena defisit air dan kebutuhan bahan pangan serta infrastruktur irigasi yang telah dibangun. Dengan adanya penghematan air untuk irigasi (sebagai pengguna air yang terbesar) maka kelebihan air tersebut dapat direalokasikan untuk memenuhi kebutuhan lain misalnya untuk air minum dan air perkotaan yang permitaannya semakin meningkat. antara hulu dengan hilir. Untuk itu diperlukan pendekatan terpadu yang memperhatikan keseimbangan antara pendayagunaan dan konservasi.2 KEBUTUHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR YANG TERPADU. Prinsip dan proses ”Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air” (Integrated Water Resources Management) yang mencakup aspek kebijakan dan peraturan perundang-undangan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Konsekuensi logis perubahan alokasi tersebut adalah berkurangnya pasokan air untuk pemenuhan irigasi sehingga tanpa adanya perubahan teknologi maka akan mengurangi luas areal layanan (command area) dan produktifitas tanaman. 3-3 3. Permasalahan-permasalahan yang menimpa sumber daya air dan lingkungan pendukungnya seperti diatas disebabkan oleh penanganan yang terfragmentasi baik dalam perencanaannya maupun pelaksanaannya. dari pengguna air ke pengelola air tingkat setempat/lokal ke struktur pengambilan keputusan tingkat wilayah sungai dan tingkat nasional.

Integrasi program ini sesuai dengan prioritas penanganan dalam jangka waktu yang ditentukan. Secara lengkap hasil integrasi program tersebut dijelaskan pada uraian selanjutnya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pengelolaan SDA pada abad ke 21 yang diwarnai dengan peningkatan kebutuhan akan sumber daya air dan sumber daya alam lainnya. Lembaga Pengelolaan Sungai. Penyusunan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU No. RKP dan RKAKL Bidang Sumber Daya Air untuk Pemerintah Pusat dan Propinsi di Pulau Jawa. dan fungsi instansi-instansi yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air di Pusat LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Renstra. tugas. Lembaga Pengelolaan Sumber Air. Sinkronisasi Kebijakan dan Program antara RPJM. Penataan kembali hubungan kerja sesuai wewenang. dan lainnya. termasuk strategi dalam melaksanakannya. 3. meningkatnya kompetisi masyarakat penggunaan tentang air yang dominan serta meningkatnya tuntutan ”good akan reformasi institusi untuk pelaksanaan 3-4 governance”.3 PROGRAM PRIORITAS Berdasarkan klasifikasi pada tahapan sebelumnya.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Posko Swadaya Banjir. Fasilitasi pembentukan lembaga pengelola air oleh masyarakat seperti P3A.1 Program Jangka Pendek Program jangka pendek pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1.3. 4. 3. dilakukan integrasi program secara menyeluruh melalui perpaduan antara faktor internal dan eksternal. Lembaga Pengelolaan Air Baku dan Air Minum. 2. 3.

5. Pembentukan lembaga koordinasi pengelolaan sumber daya air (Dewan Sumber Daya Air) dan penyempurnaan kelembagaan pengelola air di Pulau Jawa sesuai kewenangan pusat dan daerah. Pelaksanaan pembangunan infrastruktur skala besar. 5. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 2. 4.3.2 Program Jangka Menengah Program jangka menengah pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1. sedang dan kecil untuk mengatasi banjir dan memenuhi kebutuhan air baku untuk berbagai keperluan di kota besar dan wilayah strategis serta daerah perdesaan di Pulau Jawa. Penertiban kawasan hulu dan wilayah bantaran sungai sesuai ketentuan penataan ruang oleh Pemerintah Daerah dengan dukungan dari Pemerintah. Sinkronisasi Kebijakan dan Program antara RPJM.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dan Daerah berlandaskan pada UU No. 3-5 3. Pelaksanaan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU Sumber Daya Air No. RKP dan RKAKL Bidang Sum ber Daya Air untuk Pemerintah Pusat dan Propinsi di Pulau Jawa.7/2004. 3. Penyusunan dan penyempurnaan pola dan rencana induk pengelolaan wilayah sungai sebagai dasar konservasi dan pendaya gunaan sumber daya air di wilayah sungai. Renstra. 6. Melaksanakan ”kegiatan percontohan” kegiatan aksi swadaya masyarakat seperti Lembaga Pengelola Sungai untuk melaksanakan gerakan kebersihan sungai untuk mengembalikan sungai kepada fungsinya.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

Mengupayakan realokasi air secara terbatas misalnya misalnya mengadakan realokasi air untuk irigasi tanaman padi untuk kebutuhan air minum pada daerah perluasan permukiman/perkotaan melalui upaya-upaya penggunaan varietas padi yang lebih hemat air. 14. 13. Lembaga Pengelolaan Sumber Air. permukiman (kebutuhan domestik). Penerapan teknologi olah tanah dan tanam yang lebih hemat air mengingat irigasi khususnya untuk tanaman padi masih menjadi pengguna air terbesar. industri dan lain sebagainya. Pengembangan teknologi tepat guna pengelolaan sumber daya air melalui dukungan lembaga penelitian dan pengembangan teknologi di Pusat dan Daerah 12. Pengembangan varietas padi unggul yang lebih sedikit mengkonsumsi air. berproduktivitas tinggi dan mempunyai rasa yang enak sebagai upaya penghematan air. Melanjutkan upaya penertiban kawasan hulu dan wilayah bantaran sungai sesuai ketentuan penataan ruang oleh Pemerintah Daerah dengan dukungan dari Pemerintah. 11. dan lainnya. 9. mengingat irigasi untuk tanaman padi adalah pengguna air terbesar. 3-6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Fasilitasi pembentukan lembaga pengelola air oleh masyarakat seperti P3A. penggunaan teknologi olah tanah dan tanam yang lebih hemat air dan diversifikasi tanaman kearah tanaman yang bernilai tinggi tetapi lebih hemat air seperti tanaman sayuran dan buahbuahan dan bunga. Mempromosikan gerakan hemat air disegala bidang penggunaan air termasuk penggunaan untuk pertanian. Lembaga Pengelolaan Air Baku dan Air Minum.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 6. menanggulangi. 10. Pencegahan alih fungsi lahan beririgasi di Pulau Jawa melalui sistem insentif dan disinsentif bagi masyarakat pemilik dan pengelola lahan. Posko Swadaya Banjir. Peningkatan kesiagaan masyarakat di daerah rawan banjir dalam mencegah. 8. 7. dan memulihkan dampak banjir secara mandiri.

Penerapan sistem insentif dan disinsentif bagi badan usaha dan industri dalam penggunaan dan pengusahaan sumber daya air. Pengembangan kapasitas kelembagaan dan aparatur pemerintah di bidang pengelolaan terpadu sumber daya air dalam rangka meningkatkan profesionalisme dan kemampuan teknis dan manajerial. pengawasan. Pengutamaan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air melalui pelibatan dari proses perencanaan. 16. Melanjutkan penyusunan dan penyempurnaan rencana induk (master plan) pengelolaan wilayah sungai dan pengelolaan sumber daya air Popinsi dan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . serta pengendalian pencemaran air. 19. 2.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. 3-7 3. pengambilan keputusan. 17. Penataan ruang di kawasan hulu dan hilir berdasarkan pola pengelolaan sumber daya air yang mengacu kepada kelestarian fungsi ekosistem. 20. Melanjutkan pelaksanaan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU No. Penataan wilayah bantaran sungai melalui relokasi penduduk secara bijaksana oleh Pemerintah Daerah. dan pelaksanaan kegiatan di lapangan.3 Program Jangka Panjang Program jangka panjang pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 15.3. 3. Melaksanakan ”kegiatan percontohan” kegiatan aksi swadaya masyarakat seperti Lembaga Pengelola Sungai untuk melaksanakan gerakan kebersihan sungai untuk mengembalikan sungai kepada fungsinya. Penataan kembali eksploitasi bahan galian di badan air dan hulu sungai oleh Pemerintah Daerah bersama masyarakat. 18.

Melanjutkan pelaksanaan pembangunan infrastruktur skala besar yang bersifat multi-guna. Pengembangan sumber air di tingkat lokal untuk memenuhi kebutuhan air baku penduduk perkotaan dan perdesaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dengan dukungan Propinsi dan Pusat. 8. Perencanaan pembiayaan bidang sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan operasi dan pemeliharaan dan investasi baru penyediaan infrastruktur bidang sumber daya air dengan dukungan badan usaha dan masyarakat dengan pola kemitraan antara pemerintah dengan swasta.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Kabupaten/Kota untuk mengantisipasi kebutuhan air baku dan ancaman banjir serta konservasi ekosistem sumber daya air. propinsi. kabupaten/kota dan wilayah sungai. Pengembangan kerjasama masyarakat hulu dan hilir dalam pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai berdasarkan prinsip ”hydro-solidarity”. 4. untuk mengatasi banjir dan pemenuhan kebutuhan air baku untuk berbagai keperluan di kota besar dan wilayah strategis di Pulau Jawa. 12. 3-8 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 10. Pengembangan sistem informasi pengelolaan sumber daya air di tingkat nasional dan daerah untuk menjamin ketersediaan dan kemutakhiran data dasar. 9. 5. 7. Pengembangan kerjasama dan integrasi kegiatan antara lembaga koordinasi pengelolaan sumber daya air (Dewan Sumber Daya Air) di tingkat nasional. Pengembangan konservasi air di wilayah hulu dan gerakan hemat air di hilir bersama masyarakat dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan air. Pengembangan upaya-upaya peningkatan peresapan air dengan pengunaan teknik-teknik ”pemanenan air hujan” (rain water harvesting) diantarnya sumur dan waduk/embung resapan dan sebagainya. Transformasi infrastruktur sumber daya air berdasarkan kondisi tata guna lahan terkini untuk mengatur alokasi air sesuai perkembangan kebutuhan penduduk dan industri serta dengan mempertimbangkan kontribusi sektor terhadap PDB. 6. 11.

dan kawasan green belt dalam rangka mencegah kerusakan dan penurunan kinerja infrastruktur sumber daya air. Penyadaran publik dan peningkatan kepedulian masyarakat terhadap pemulihan kondisi dan upaya mempertahankan kualitas air di sumber air dan badan sungai. Pemulihan catchment area Daerah Aliran Sungai melalui reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis bersama masyarakat. Pengaturan kembali pemanfaatan kawasan hulu Daerah Aliran Sungai untuk hutan produksi dan perkebunan berdasarkan pola konservasi sumber daya air. 14. 18. sempadan sungai. Pemulihan kualitas air dan pengendalian pencemaran air di sumber-sumber airdan badan air di wilayah perkotaan dan industri. 15. Penataan dataran banjir. 19. 17. 16. 3-9 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 13. Pelibatan badan usaha dalam pola kemitraan antara pemerintah dan swasta (public private partnership) dalam pengusahaan sumber daya air dan pengembangan investasi baru infrastruktur sumber daya air. Penataan ekstraksi air tanah oleh intansi yang berwenang dan masyarakat sesuai kemampuan pemulihan cadangan air tanah di wilayah rawan kekeringan.

Diperlukan penyusunan ”Rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air” sebagai peta langkah (road map) dari rencana tindak yang mencakup aspekaspek kebijakan dan peraturan dan perundang-undangan. Strategi struktur 4. Berkaitan dengan itu terdapat 5 strategi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. Strategi implementasi 2. pendayagunaan.Strategi implementasi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa adalah sebagai berikut: 1. Strategi pembiayaan. 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 4-1 Pengelolaan sumber daya air merupakan upaya untuk merencanakan. Strategi non-struktural 3. Secara lebih terinci rumusan strategi dimaksud diuraikan sebaga berikut.1 RUMUSAN STRATEGI IMPLEMENTASI Strategi implementasi merupakan panduan dan kaidah pokok dari pelaksanaan keempat strategi lainnya. serta 5. Strategi kelembagaan dan koordinasi. memantau. dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi dan pendayagunaan sumber daya air. Penetapan kebijakan terpadu lintas sektor yang mencakup aspek-aspek konservasi. Oleh karena itu strategi pengelolaannya pun harus mencakup seluruh aspek pengelolaan tersebut. yaitu: 1. serta pengendalian daya rusak air. dan pengendalian daya rusak air yang dapat menyeimbangkan laju pembangunan dan pemulihan kondisi lingkungan di LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . kelembagaan dan perangkat manajemen dalam pengkoordinasian pembangunan dan pengelolaan sumber daya air. melaksanakan. 4.

Pengendalian pencemaran dan pengelolaan kualitas air pada sumber air dan badan air. 7. sesuai rencana induk pengelolaan wilayah sungai LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan perdagangan serta penyediaan bangunan penampung air berskala kecil 4-2 untuk memenuhi kebutuhan air baku daerah perdesaan yang dikelola di tingkat lokal. 8. Kebijakan ini disertai upaya peningkatan kesadaran masyarakat dalam penghematan air dan pelestarian fungsi lingkungan. serta pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana drainase yang memadai. Penyediaan air baku berskala besar di Pulau Jawa untuk kawasan-kawasan strategis seperti daerah perkotaan dan permukiman. Kebijakan ini akan ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010 – 2015 serta peraturan perundangan terkait lainnya. Pengelolaan terpadu daerah aliran sungai. Penghentian perusakan fungsi kawasan lindung dan daerah tangkapan air di bagian hulu Daerah Aliran Sungai dan melakukan rehabilitasi daerah tangkapan air dengan penghijauan. dan pengendalian tata ruang di Pulau Jawa. terutama yang bersifat lintas sektor dan lintas wilayah. industri. serta peningkatan efisiensi penggunaan air. 6. 4. 5. Upaya mempertahankan Pulau Jawa sebagai lumbung pangan nasional melalui pencegahan laju konversi dan optimalisasi lahan beririgasi yang telah ada. serta dengan melibatkan para pelaku pencemaran dan masyarakat yang terkena dampaknya. terutama pada kawasan industri dan perkotaan. penataan dan penertiban dataran banjir. 3. melalui sistem insentif dan disinsentif oleh Pemerintah Daerah. pembuatan sumur dan waduk/embung resapan serta pelaksanaan upaya-upaya pemanenan air hujan dengan melibatkan para pelaku perusakan dan masyarakat yang terkena dampak. pengolahan tanah yang sesuai dengan upaya konservasi air dan tanah. Upaya ini harus diiringi dengan pemulihan kondisi catchment area yang dilakukan bersama masyarakat. Penanggulangan bencana banjir melalui intervensi infrastruktur (skala besar) guna melindungi kawasan yang telah berkembang terutama kota-kota besar.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Pulau Jawa.

rehabilitasi hutan dan lahan. pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA terkait yang didukung oleh peraturan perundangan serta sistem pengawasan bersama masyarakat. perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air.2. 7 Tahun 2004. pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air.1 Strategi Menurut Undang-undang Sesuai dengan UU No. 3. beberapa kebijakan/strategi non-struktural berkaitan dengan konteks konservasi SDA adalah: 1. 4. Ketentuan konservasi sumber daya air dijadikan sebagai salah satu acuan penting dalam perencanaan tata ruang wilayah. f. 4. dari segi jumlah maupun kualitasnya. Tujuan perlindungan dan pelestarian sumber air adalah untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan keberadaannya. Upaya konservasi dilakukan melalui kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber air. b. pengendalian pemanfaatan sumber air. pengaturan daerah sempadan sumber air. g. d. pengawetan air. e.2 STRATEGI KEBIJAKAN NON-STRUKTURAL Strategi non-struktural sangat penting dalam kaitannya dengan kegiatan untuk menjaga keberadaan sumber daya air. Konservasi dilakukan sesuai dengan pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. 5. c. dan/atau LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Perlindungan dan pelestarian sumber daya air dilakukan melalui: a. h. 4-3 4. tanpa menitikberatkan pada pembuatan bangunan fisik secara signifikan. serta pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air 2. pengisian air pada sumber air. pengaturan prasarana dan sarana sanitasi.

cekungan air tanah. kawasan suaka alam. daerah tangkapan air. kawasan hutan. 4-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Muatan yang mendukung pengelolaan sumber daya air secara otomatis harus menjadi salah satu acuan dalam menyusun program dan kebijakan yang akan diterapkan. 7. rawa. pelestarian hutan lindung. 8. ekonomi. danau. dan budaya. dan kawasan pelestarian alam. Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan cara memperbaiki kualitas air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. Selain itu untuk mendukung pengelolaan yang terintegrasi. mengendalikan penggunaan air tanah. pemerintah juga menyediakan sistem informasi sumber daya air yang pelaksanaannya dilakukan sesuai tingkat kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pengendalian pencemaran air dilakukan dengan cara mencegah masuknya pencemaran air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. maka kebijakan nonstruktural di bidang pengelolaan sumber daya air perlu diintegrasikan ke dalam peraturan-peraturan yang bersifat lebih operasional dan rencana strategis yang didasarkan pada kebijakan masing-masing daerah. Konservasi sumber daya air dilaksanakan pada sungai. b. dan kawasan pantai. kawasan pelestarian alam. 9. dan/atau c. 11. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilaksanakan secara vegetatif dan/atau sipil teknis melalui pendekatan sosial.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA i. sistem irigasi. 6. Pengawetan air dilakukan dengan cara: a. waduk. Mengacu pada kebijakan yang telah digariskan di atas. 10. Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air ditujukan untuk mempertahankan dan memulihkan kualitas air yang masuk dan yang ada pada sumber-sumber air. menyimpan air yang berlebihan di saat hujan untuk dapat dimanfaatkan pada waktu diperlukan. menghemat air dengan pemakaian yang efisien dan efektif. kawasan suaka alam.

50% di tahun 2025.2 Strategi Konservasi Sumberdaya Air 4. Kriteria luas tutupan perlu dibuat oleh instansi yang berwenang d. 25% di tahun 2015. Menetapkan dan membina pengelolaan kawasan hutan di daerah tangkapan air hujan. dengan persentase tutupan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang. dengan target minimal 12. memulihkan dan mempertahankan daya dukung.1 Mempertahankan Daerah Aliran Sungai Konsepnya adaklah dengan meningkatkan. Merehabilitasi hutan dan lahan kritis seluas 43 juta ha dengan prioritas di 142 DAS kritis. daya tampung.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sebagai kelanjutan program dan kebijakan yang bersemangatkan pengelolaan sumber daya air.2.2.2. serta menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan. dan fungsi daerah aliran sungai untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. karenanya jaminan dari perangkat hukum sangat dibutuhkan. 4-5 4. Menetapkan air. c. Keberhasilan pengelolaan akan sangat ditentukan oleh hal ini mengingat kelancaran suatu proses untuk mencapai tujuan dari kebijakan akan membutuhkan kedisiplinan dalam pelaksanaan. b. perlu pula adanya dukungan dari perangkat hukum dan penegakannya. Berberapa langkah ang dapat dilakukan untuk mendukung hal ini adalah dengan: a. Mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi sumber daya air dengan target minimal 25% tiap 5 (lima) tahun. Pelaksanaan kebijakan tidak dapat terlaksana tanpa adanya perangkat hukum yang berwibawa dengan dukungan aparat penegak hukum. Yang dimaksud dengan prasarana dan dan sarana konservasi sumber daya air LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa dan mengelola daerah resapan air dalam rangka mengupayakan peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak .5% di tahun 2010.

ground sill. situ. daya tampung. memulihkan dan mempertahankan daya dukung. rawa ) dan pengawetan air berupa pembangunan antara lain: waduk dan embung. waduk. rawa. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . b.2.2 Mempertahankan Sumber Daya Air Konsepnya adalah dengan meningkatkan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA adalah small and medium pond. Upaya penyediaan sebagai pengganti pengambilan air tanah dapat dilihat pada langkah penyediaan air. dan fungsi sumber daya air untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. check dam. dll. danau. waduk dengan prioritas daerah pemukiman dengan target 15% tiap 5 (lima) tahun. e. Sabuk hijau dikenal juga sebagai lajur pepohonan di sekeliling wadah air. Menetapkan dan mengelola kawasan danau. guna kepentingan pelestarian lingkungan sekitar mata air. Menyempurnakan pedoman penetapan batas semadan sumber air Menetapkan daerah batas sempadan sungai. Pengembangan sabuk air di sekitar mata air antara lain dapat dilakukan dengan mengembangkan arboretum.2. teras bangku. situ/embung dan mata air dengan aturan yang sesuai dengan penetapan kawasan sabuk hijau sesuai dengan undang-undang UU No. situ. 4-6 4. Meningkatkan upaya pemeliharaan sumber air (antara lain : danau. c. embung. sumur resapan. rawa. Melakukan pengendalian pengambilan air tanah secara ketat dengan prioritas pada cekungan-cekungan air tanah yang sudah kritis dan kawasan karst dengan membatasi pengambilan hanya sebesar batas aman (safe yield). d. Aplikasi dari strategi ini dapat dilakukan dalam beberapa langkah konkret sebagai berikut: a. 41 tahun 1999 tentang kehutanan pasal 50 ayat (3) butir c. teknik pemanenan hujan. embung.

c. Menerapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya sebagai instrumen untuk mendorong pengendalian pencemaran air dan meningkatkan pengelolaan kualitas air kepada para pecemar. Mempertahankan kualitas air dilakukan dengan menerapkan beberapa strategi berikut: a. 4. Mengelola daerah sempadan sumber air sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh menteri yang membidangi sumber daya air.2. Menetapkan kawasan reklamasi rawa dengan ketebalan lahan gambut lebih dari 3 meter sebagai kawasan rawa konservasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA e. Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air dan kegiatan penambangan lainnya. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Untuk mengembalikannya perlu tindak pengolahan air yang membutuhkan sejumlah biaya yang pada akhirnya akan menambah biaya operasional. Menetapkan baku mutu limbah cair yang diperkenankan dibuang kedalam sumber air/badan air. b.2. d. g. Menetapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya sebagai instrumen untuk mendorong pengendalian pencemaran air dan meningkatkan pengelolaan kualitas air kepada para pecemar.3 Mempertahankan Kualitas Air Konsepnya adalah dengan memulihkan dan mempertahankan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan. 4-7 f. Menurunnya kualitas air mengakibatkan kesulitan karena berkurang atau hilangnya manfaat yang diharapkan dari air bersangkutan. Mendorong dan mengupayakan pembangunan sistem pengelolaan limbah cair komunal di kawasan pemukiman dan kawasan industri.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA e. Menegakkan hukum yang tegas bagi pelanggar ketentuan kualitas serta sistem penerapan insentif-disinsentif pengelolaan sumber daya air dan lingkungan dengan target minimal selesai tahun 2015.recycle) 4-8 f. pengenceran. g. Memperbaiki kualitas air pada sumber air dengan cara antara lain: aerasi. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . reuse. Membangun bangunan penahan intrusi air laut di kawasan pantai dan mengendalikan penggunaan air tanah guna menghindari intrusi air laut. i. Mendorong upaya pengawetan air melalui pembudayaan prinsip 3 (tiga) R (reduce. Membangun sistem pemantauan kualitas air pada sumber air dan kualitas limbah cair secara berkelanjutan. h. secara biologi.

Bekasi # # # Krakatau Serang 6 Bekasi Karawang Ja va Se a Y # U % SWS 0204 Indramayu # # # Banten Province # # K. Y # SURABAYA K. River. Magelang Banjarnegara # # K. Pekalongan # # # # K. Madiun # East Java Province # Situbondo # Sukoharjo Purworejo K. SWS 0202 Purwakarta # # SWS 0201 Lebak Bogor Subang Jepara Cirebon # Pandeglang West Java Province # # Pati K. Pasuruan # Karanganyar Nganjuk # # Sleman Klaten # Magetan K. Depok Panaitan Is. Mojokerto # # # 7 SWS 0203 SWS 0207 Purbalingga # Central Java Province Temanggung Semarang Tasikmalaya Banyumas Ciamis Cilacap Kebumen # # # SWS 0209 # Garut Sidoarjo Ma du r a St r ai t SWS 0206 # K. Jakarta Bay Tangerang JAKARTA TANGERANG K. Malang Ponorogo # Bondowoso # Gunungkidul # K. Ba l i St r a i t # Mojokerto SWS 0212 Madiun Jom bang # # K. Yogyakarta # K. Salatiga # WonosoboSWS 0211 Sragen # Boyolali K. Probolinggo Pasuruan # Kediri Y # YOGYAKARTA # # # K.it ra St nd a Su BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 0' Kepulauan Seribu K. Tegal K. D ate A5 C piledb : om y G Operator: IS CORRELATION BETWEEN AMINISTRATION AND WATERSHED (SWS BOUNDARIES ) S rce : ou . Lake) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa eptem 2004 ber :S BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4-9 . Blitar # Lumajang # Pacitan # SWS 0214# Malang Yogyakarta Special # # Trenggalek Tulungagung Blitar Province Jember Banyuwangi 8 I ndi an Oce an Nusa Barung Is. Kediri # Bantul Probolinggo SWS 0213 Kulonprogo # # Wonogiri K. Bandung Tegal Grobogan Bojonegoro Ngawi # # # SWS 0208 Batang # # # SEMARANG # Madura Is. Bangkalan # Pelabuhan Ratu Bay Sukabumi Cianjur Bandung # # # Demak Kendal K. Cilegon # # 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' Bawean Is. 9 L nd: ege G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E SI A NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT M N : ap o M Title : ap Gambar 4. 1 : 250 000 Scale (Coastline. Semarang Y # Blora SWS 0210 SWS 0215 Lamongan # Sumenep Gresik # Sampang Pamekasan # # Sapudi Is. 1 Susunan Wilayah Sungai yang sudah ada. Surakarta Magelang # Nusakambangan Is. Sukabumi # BANDUNG Sumedang Majalengka Brebes Kuningan Pekalongan Pemalang # # SWS 0205 Kudus Rembang Tuban # # # Y # K.Bakosurtanal.

DAS Cidanau.3 4. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Ciujung-Ciliman adalah : DAS Ciujung.Bogor.1 STRATEGI KEBIJAKAN STRUKTURAL Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang Sudah Ada 4-10 4. Kab. Kab. Diantara DAS tersebut di atas yang menjadi prioritas adalah DAS Ciujung dan DAS Cidanau.000 Ha. Kabupaten Serang dan Kabupaten/Kota Tangerang.Serang. Keutuhan dan kemantapan fungsi cathment area DAS Ciujung sangat penting sebagai sumber air bagi daerah-daerah seperti Kabupaten Lebak. dan Kab.3. serta bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Serang. meliputi wilayah administratif: Kota Cilegon.Pandeglang.1.1. DAS Cidanau merupakan salah satu sumber air yang vital bagi masyarakat Kabupaten dan Kota Cilegon dan diarahkan untuk mensuplai keberlangsungan Waduk Krenceng.3. Kab. Selain itu DAS Ciujung berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang akan diarahkan untuk mensuplai air bagi Waduk Karian. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . DAS Cibante dan DAS Cibungur.1 Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman Sungai-sungai yang mengalir di WS Ciujung-Ciliman berhulu di gunung karang dalam wilayah administratif Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Ciujung-Ciliman diuraikan pada Tabel 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Luas wilayah sungai Ciujung-Ciliman sekitar 473.Lebak. DAS Ciliman.

Kab. Kab. Luas wilayah sungai Ciliwung–Cisadane sekitar 4355 Km² dan meliputi wilayah administratif kabupaten / kota sbb : Jakarta Barat. 1 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciujung Ciliman NO. Kab. Jakarta Timur. WS Ciliwung-Cisadane mencakup wilayah DAS Cidurian. Kota Bogor.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Jakarta Utara. Lebak. penyedia air baku untuk daerah Tangerang dan DKI Jakarta dengan menggunakan saluran irigasi Cidurian atau dengan saluran lternative KarianTanjung-Serpong (KTS) menambah persediaan air rumah tangga. Bogor. Kota depok. dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Bekasi. Sukabumi. DAS Cisadane.Wiru dalam wilayah administratif Kabupaten Bogor. penyedia air baku untuk kecamatan Banjarsari dan sebagai waduk pengendali banjir pemenuhan kebutuhan air baku Jabotabek 4-11 2 Waduk Tanjung Sungai Cidurian 3 4 5 Waduk Cilawang Waduk Pasirkopo Waduk Cimalur Sungai Ciujung Sungai Ciujung Desa Cibatur Keusik Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak Sungai Cisemeut 6 7 8 9 10 11 12 13 Waduk Bojongmanik Bendung Anyer Bendung Karet Cikoneng. Jakarta Selatan.Kendeng dan G. dan DAS Cikarang/Cipamingkis. perkotaan dan industri untuk wilayah Serang dan Jabotabek dengan menggunakan saluran Karian-Tanjung-Serpong (KTS). perkotaan dan industri untuk kebutuhan Tangerang lewat KSCS mengambil alih fungsi Waduk Karian untuk mensuplai air irigasi ke daerah irigasi Ciujung suplesi air irigasi DI. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .2 Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Sungai-sungai yang mengalir di WS Ciliwung-Cisadane berhulu di G. Kab. Kab. DAS Ciliwung. Bendung Karet Cisangkuy Long Storage Sungai Ciujung Bendung Tipe Gergaji di Sungai Cibama Bendung Karet Cibungur Bendung dan Bendung Karet Ciseukeut 4. Kab.1. DAS Pesanggrahan. DAS Sunter. Kota Tangerang. Bekasi. Kota Bekasi. Jakarta Pusat. Tangerang.3. Serang. 1 KEGIATAN Waduk Karian LOKASI Hulu Sungai Ciujung MANFAAT & PENJELASAN Penyedia air rumah tangga. Cilemer kiri seluas 500 ha.

Selain itu Waduk Ciawi juga dapat berfungsi sebagai penyedia air untuk Kota Bogor dan DKI Jakarta serta sebagai sumber air untuk penggelontoran Sungai Ciliwung di musim kering penyedia air baku ke daerah Bogor dengan cara gravitasi penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta memenuhi kebutuhan air di Kota dan Kabupaten Bogor mengalihkan debit banjir dari Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane guna pengendalian banjir di DKI Jakarta memenuhi kebutuhan air Jabotabek 4-12 2 3 4 5 6 7 Waduk Genteng Waduk Parung Badak Waduk Sodong Salak Contour Canal Ciliwung Floodway Tunnel Peningkatan Kanal Tarum Barat Sungai Cisadane tengah Sungai Cisadane hilir Sungai Cikaniki sekeliling Gunung Salak Kota Bogor Karawang . Tabel 4.000 ha terletak 2 m dibawah permukaan air laut). Untuk itu perlu meningkatkan kapasitas drainase yang saat ini belum memadai. Meningkatnya puncak banjir dari DAS bagian hulu akibat meningkatnya urbanisasi dan hilangnya daerah resapan air Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Ciliwung-Cisadane diuraikan pada Tabel 4. sungai dan berbagai saluran utama telah mengalami pengurangan kapasitas akibat terjadinya agradasi dasar sungai. floodway. khususnya di wilayah Jakarta bagian hulu. Meningkatnya proporsi luas permukaan tanah yang tidak lolos air yang berakibat pada infiltrasi yang semakin mengecil. Amblesan tanah khususnya di wilayah Jakarta bagian utara yang disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebih. 4.2. sehingga mempercepat aliran permukaan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Saat ini banjir sering terjadi pada DAS Ciliwung. 3. Terabaikannya pemeliharaan fasilitas drainase yang ada. 2 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciliwung-Cisadane NO. khususnya pada saat pasang 2. wilayah ini terletak pada daerah yang rata dan rendah (kurang lebih 15. dan relatif terkena dampak aliran balik dari laut. 1 KEGIATAN Waduk Ciawi LOKASI Hulu Sungai Ciliwung MANFAAT & PENJELASAN Mengurangi debit banjir Sungai Ciliwung di Kota Bogor.Bekasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hal ini merupakan permasalahan yang cukup pelik di beberapa tahun terakhir ini. Kondisi ini merupakan kombinasi dari berbagai akibat yang ditimbulkan oleh : 1.

Kendeng. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Cisadea . Sunter. Pembuatan Sal. serta konstruksi Angke Floodway Pengendalian banjir. Kabupaten Bandung.327 Km² dan meliputi 4 wilayah administratif kabupaten/kota sbb: Kabupaten Cianjur. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Jakarta DKI Jakarta Kab.Malabar. Normalisasi alur sungai 57 km. Kabupaten Sukabumi. Bekasi DKI 4. Kali Angke.Malang. DAS Cikarang. Master Plan 1997 Pengendalian banjir.Cikuningan adalah : DAS Cimaragang. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. DAS Cibuni.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Tangerang DKI Jakarta Kota Bogor.Gede Pangrango serta G. Normalisasi alur sungai 29 km.3 Wilayah Sungai Cisadea-Cikuningan Sungai sungai yang ada di WS Cisadea – Cikuningan terutama berhulu dari beberapa mata air yang ada di G. Normalisasi alur sungai 22 km. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. 2 bh. DAS Ciletuh.3. Normalisasi alur sungai 17 km. Bekasi LOKASI Cengkareng MANFAAT & PENJELASAN pencegahan banjir dan meningkatkan urban drainage. DAS Cipondok. Master Plan 1997 4-13 9 10 11 12 13 14 15 16 Kab. G. Sungai-sungai tersebut bermuara di Samudera Indonesia di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi. Buaran. DAS Cimangur dan DAS Cibareno. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. G. Master Plan 1997 pengendalian banjir. Luas wilayah SWS Cisadea – Cikuningan sekitar 37.1. 8 KEGIATAN Pengembangan Cengkareng Floodway System Sungai Cidurian Sungai Cimanceuri Sungai Cirarab Sungai Cisadane Cengkareng drain. G. Mookervaart Banjir Kanal Barat/ Ciliwung Banjir Kanal Timur. Normalisasi alur sungai 38 km. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Cisadea-Cikuningan diuraikan pada Tabel 4.Patuha. DAS Cisadea. Cakung Banjir Kanal CBL.3. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Peningkatan fungsi sungai ke hilir dari daerah Angke dan Sungai Pesanggrahan dan Mookervaart Canal. Tangerang Kab. G. Cikarang. Terowongan 1 km.Talaga. Normalisasi alur sungai 22 km. DAS Cimandiri. Tangerang Kota/Kab. Cipinang.Pangkulahan. Normalisasi alur sungai 50 km. Kota Sukabumi. DAS Cikaso. Tangerang Kab. Banjir. G. Normalisasi alur sungai 32 km.

Kota Cimahi. dan memiliki tiga anak sungai utama yaitu S.4. DAS Cipunagara. S. dengan panjang sungai mencapai 315 Km DAS yang termasuk didalam Satuan Wilayah Sungai Citarum adalah : DAS Citarum.3. DAS Cinerang. Kabupaten Purwakarta.Cisangkuy. Kabupaten Cianjur.87 Km². Kabupaten Bandung.000 ha 4. Cikatomas. yaitu: Kota Bandung. Cikarang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Ciparahu.Cisokan. DAS Pagadungan. Panjang sungai Citarum sekitar 315 km. Cilograng. 1 KEGIATAN Bendung Cibareno Bendung Cihara Sungai LOKASI Pasir Bungur. DAS Cilamaya. 3 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Cisadea-Cikuningan NO. Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Bekasi.4 Wilayah Sungai Citarum Sungai Citarum berhulu dari mata air Gunung Wayang. Mekarsari dan Karang Kamulyan MANFAAT & PENJELASAN mengairi sawah seluas 2. Cibareno dan Sawarna Cikamayapan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .1. Wilayah sungai Citarum meliputi 9 wilayah administrative. Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Karawang. Berdasarkan data Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Propinsi Jawa Barat luas wilayah sungai Citarum adalah 11. DAS Ciasem. dan DAS Kalisewo.800 ha 4-14 2 Sungai mengairi sawah seluas 2. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Citarum diuraikan pada Tabel 4.Cikapundung dan S. Kabupaten Sumedang.410. Kabupaten Karawang.

400 MWh dan penyediaan air baku untuk 79.000 Ha lahan irigasi.683 jiwa.004 jiwa.67% Mengairi 20.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. pengairan irigasi seluas 18.65 %).960 ha.835 jiwa.148 ha.9 GWh dan potensi air baku 915 ha.280 ha.63% pengairan irigasi seluas 5. pengairan irigasi seluas 12. Volume tampungan sebesar 50 juta m3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Nilai ekonomi proyek IRR 7. Volume tampungan sebesar 395 juta m3. Nilai ekonomi proyek IRR 2.872 MWh dan penyediaan air baku untuk 22. Volume tampungan sebesar 2.126 jiwa. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung pengairan irigasi seluas 68. Garut mengairi sawah mengairi sawah mencukupi kebutuhan air rumah tangga. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air rumah tangga. Bandung Kab. Volume tampungan sebesar 71 juta m3. Garut Kadipaten Majalengka Majalengka Kuningan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .4 juta m3. maka Waduk Kadumalik dengan EL + 294 dapat menjadi lternative cadangan utama Potensi listrik sebesar 86. Jika pembuatan Waduk Jatigede di tunda. Potensi paling baik untuk dikembangkan karena memiliki nilai EIRR lebih tinggi (17. Garut Kab.639. Bandung Kab. 1 2 3 4 5 6 KEGIATAN Waduk Naragong Waduk Nameng Waduk Pasiranji Waduk Pangkalan Peninggian Dam Cirata Peningkatan Kanal Tarum Barat atau Pembangunan Kanal Tarum Jaya Waduk Talagaherang Waduk Maya Waduk Bodas Dam Sungai Cilame Dam Sungai Cipunagara Waduk Cipunagara dan bendungan pengatur di Sadawarna Waduk Cibeber Waduk Kandung Pengembangan Sungai Cisangkuy Waduk sungai Cikapundung Waduk Sukawana Sudetan sungai Cibeureum Waduk Bojong Jambu Waduk Jatigede Waduk Cipasang LOKASI Anak Sungai Cileungsi (DAS Bekasi) Sungai Cibeet Cipamingkis Sungai Cibeet Dam Cirata Karawang – Bekasi – DKI Jakarta Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur MANFAAT & PENJELASAN penyedia air baku ke daerah Bogor dengan menggunakan pompa penyedia air untuk areal tambak menampung air dari Sungai Cipamingkis atau dari saluran pembawa penyedia air utama untuk daerah hilir Kanal Tarum Barat secara gravitasi Penyediaan air baku dan tenaga listrik memindahkan air dari wilayah sungai Citarum ke Jakarta 4-15 7 8 9 10 11 12 mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Sungai Cisangkuy Sungai Cikapundung Cimahi Kab.07% pengairan irigasi seluas 9. potensi listrik sebesar 1. potensi listrik 6.000 MWh. Nilai ekonomi proyek IRR 12% 22 23 24 25 26 Waduk Cipanas Waduk Ujungjaya Waduk Kadumalik Waduk Pasirkuda Waduk Ciniru Kab. potensi listrik sebesar 2. 4 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citarum NO. nilai ekonomi proyek IRR 6.102.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5.

potensi listrik 1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. potensi listrik 11. potensi listrik 8. Cikeruh LOKASI Kuningan Kuningan Kuningan Kuningan Garut Garut Cirebon Sumedang Kuningan Kuningan Cirebon Cirebon Cirebon Cirebon MANFAAT & PENJELASAN pengairan irigasi seluas 9. Indramayu S.4 GWh dan potensi air baku 444 ha. pengairan irigasi seluas 10.145 ha dan potensi listrik 17. Citarik Hulu Pekerjaan Konstruksi S. Nilai ekonomi proyek IRR 12.153 jiwa.004 jiwa.355 ha. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Sampai dengan Jalan Raya Bandung-Tasik ± 5 km.16% pengairan irigasi seluas 9.439 ha.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.210 ha.017 ha.7 GWh dan potensi air baku 1. Indramayu 49 50 51 52 Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.70 GWh dan potensi air baku.405 ha.982 ha. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Normalisasi sungai ± 5 km.20 GWh. Citarik Hulu Pekerjaan Penyempurnaan Flood Warning System Peningkatan Kapasitas Sungai Pekerjaan Konstruksi S. Volume tampungan sebesar 35 juta m3. pengendalian banjir dan pengamanan pantai 4-16 41 42 43 44 45 46 47 48 Indramayu Cirebon Kab.468 Ha sawah dan ± 750 Ha tambak). pengairan irigasi seluas 600 ha.56 %. Cimande Pekerjaan Konstruksi S.530 ha. potensi listrik 10. pengairan irigasi seluas 4. Subang Rehabilitasi Irigasi Kab.1 GWh dan potensi air baku 60 ha. potensi listrik 0. Karawang Rehabilitasi Irigasi Kab. pengairan irigasi seluas 8. Penyediaan irigasi seluas 12. pengairan irigasi seluas 9. potensi listrik 5. Subang Kab.7 GWh dan potensi air baku. Normalisasi sungai ± 10 km. Karawang Kab. memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu-Cirebon (± 4. pemenuhan kebutuhan air baku dan keperluan irigasi dan perikanan tambak mendukung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Penyediaan irigasi seluas 6. potensi listrik 0.275 ha. pengairan irigasi seluas 4. pengairan irigasi seluas 8. Bekasi Rehabilitasi Irigasi Kab. Nilai ekonomi proyek IRR sebesar 22. Peningkatan Kapasitas System Sungai Citarum Hulu Q5 menjadi Q20. Bekasi Kab.2 GWh dan potensi air baku 444 ha. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .40 GWh dan potensi air baku 915 ha. pengairan irigasi seluas 8. Penyediaan irigasi seluas 24. Penyediaan irigasi seluas 19. pengairan irigasi seluas 12.173 ha. 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 KEGIATAN Waduk Cimulya Waduk Gunungkarung Waduk Manenteng Waduk Pecang Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk Seuseupan Waduk Cihirup Waduk Mangit Waduk Ciwaru Waduk Cihowe Waduk Dukuh Badag Waduk Cileuweung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Long Storage Indramayu Pengembangan 6 Embung Rehabilitasi Irigasi Kab.3 GWh dan potensi air baku 828 ha.145 ha. Normalisasi sungai ± 5 km.439 ha. potensi listrik 3.000 ha.275 ha.275 ha dan potensi air baku 828 ha.6 GWh dan potensi air baku 298 ha. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. pengairan irigasi seluas 2. potensi listrik 1. pengairan irigasi seluas 8.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.

Memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu . G. Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon. Kabupaten Kuningan. Irigasi seluas 18. dan DAS Kali Jurang Jero. potensi listrik terpasang187 MW dan penyediaan air baku untuk 22. DAS Cisanggarung. Irigasi seluas 500 ha dan penyediaan air baku 300 kk Pemenuhan kebutuhan air irigasi dan perikanan tambak Volume tampungan : 0. DAS Cilalanang. Irigasi seluas 600 ha.Cirebon ( sawah 4. DAS Ciwaringin. Kabupaten Majalengka.3 jt m3.145 ha.000 ha. DAS yang termasuk kedalam WS CimanukCisanggarung adalah DAS Cimanuk.Cakrabuana dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon. DAS Bangkaderes. volume tampungan sebesar 395 juta m3. Kabupaten Sumedang.Jamblang Waduk Cipasang Waduk Cihowe Kuningan Majalengka Indramayu Cirebon Indramayu Kuningan Cirebon Garut Cirebon LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kuista . Irigasi seluas 20. DAS Cipanas.960 ha.439 ha. potensi listrik 0.004 jiwa. volume tampungan 1.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.5 Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung Sungai Cimanuk berhulu di wilayah administratif Kabupaten Garut .683 jiwa. Luas wilayah WS Cimanuk – Cisanggarung adalah 6932. potensi listrik terpasang 110 MW dan penyediaan air baku untuk 79. Harga tampungan per m3 rendah (Rp 650/m3) Volume tampungan netto 796.126 jiwa.Malabar.76 Km². 5 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Cimanuk-Cisanggarung NO. maka Waduk Cilutung dengan El + 294 dapat menjadi alternatif cadangan utama Irigasi seluas 12. 4-17 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waduk Cipanundan Waduk Cilutung Waduk Cipanas Waduk Sarwadadi Long Storage Indramayu Waduk Bojong Waduk Brahim Waduk Cimulya Long Storage K. meliputi 7 wilayah administrative. potensi listrik 4.36 juta m3 Volume tampungan : 0.2 GWh dan potensi air baku 444 ha.3.Mandalawangi. DAS Cimanggung. volume tampungan 2.1. 1 KEGIATAN Waduk Jatigede LOKASI Sumedang MANFAAT & PENJELASAN Irigasi seluas 90. DAS Pangkalan. tambak 750 ha ). yaitu: Kabupaten Garut.5 GWh dan potensi air baku 915 ha dengan volume tampungan sebesar 35 juta m3.1 GWh dan air baku 60 ha.5. Tabel 4.7 jt m3. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Cimanuk-Cisanggarung diuraikan pada Tabel 4. potensi listrik 0.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. jika Waduk Jatigede ditunda. dari mata air yang berasal dari G. Kabupaten Indramayu.1 juta m3 Irigasi seluas 4. G.468 ha. Volume tampungan sebesar 395 jiwa.000 ha.Guntur dan G.27 juta m3 Irigasi seluas 9.

153 jiwa .145 ha dan potensi listrik 17.275 ha. Irigasi seluas 2.6. 4-18 4.3. Sawal. DAS Ciwulan.1. 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 KEGIATAN Waduk Cileuweung Waduk Ujungjaya Waduk Pasirkuda Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk G. Karung Waduk Maneungteung Waduk Pecang Waduk Seuseupan Waduk Masigit Waduk Ciwaru Waduk Dukuh Badag LOKASI Kuningan Sumedang Majalengka Garut Garut Kuningan Kuningan Kuningan Cirebon Kuningan Kuningan Kuningan MANFAAT & PENJELASAN Irigasi seluas 8.3 GWh dan air baku 828 ha. Galunggung dan G. Volume tampungan 53 juta m3.835 jiwa dengan volume tampungan 71 juta m3. Kabupaten Tasikmalaya.6 Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan terdiri beberapa sungai yang berhulu terutama dari mata air yang berasal dari G. potensi listrik 8.000 ha potensi listrik 11. Irigasi seluas 8.275 ha dan potensi air baku 828 ha. DAS Cipatujah.70 GWh dan potensi air baku 915 ha.4 juta m3 .996 Km² dan meliputi wilayah administratif Kabupaten Garut. volume tampungan 20 jt m3. Irigasi seluas 4. Irigasi seluas 9. DAS Cimedang. volume tampungan 12 jt m3. DAS Cikondang. Irigasi seluas 8. sungaisungai tersebut pada akhirnya bermuara ke Samudera Indonesia di wilayah Kabupaten Ciamis.439 ha potensi listrik 3. sekitar 7. Irigasi seluas 10. Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut.6 GWh dan potensi air baku 298 ha.275 ha.000 MWh dengan volume tampungan 2. volume tampungan 50 juta m3. potensi listrik 1. dan Kabupaten Ciamis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.Luas wilayah WS Citanduy–Ciwulan adalah Banjar.982 ha potensi listrik 1.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5. DAS Cijulang. Irigasi seluas 9. Irigasi seluas 12.7 GWh dan potensi air baku 1017 ha dengan volume tampungan 69 juta m3. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Citanduy-Ciwulan adalah : DAS Citanduy. volume tampungan 78 jt m3. Kota LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .7 GWh dan air baku 828 ha. DAS Cisanggiri dan DAS Cilaki. Potensi listrik sebesar 86. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Citanduy-Ciwulan diuraikan pada Tabel 4.4 GWh dan potensi air baku 444 ha. Kota Tasikmalaya.20 GWh.173 ha potensi listrik 10.000 ha dan penyediaan air baku 175 juta m3. Irigasi seluas 5. volume tampungan 32 jt m3. volume tampungan 86 juta m3. Irigasi seluas 8.

Pekalongan dan anak-anak sungainya Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Sidareja Cihaur Mengembalikan dan meningkatkan kapasitas bangunan klep fungsi dan Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Ciseel. Jagadenda. Ciamis dan Garut Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan lokasi chekdam 15 Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. Citalahab dan Cikaso Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Mengembalikan dan meningkatkan fungsi bangunan Klep Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengamankan daerah permukiman. Kab. Plumpatan. 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. Ciputrahaji. Kawungatan. Tasikmalaya. Tasikmalaya. Ciamis dan Garut Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Tasikmalaya. 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. Cimeneng. Cikonde. 6 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citanduy-Ciwulan NO.Segara Anakan (Kabupaten Cilacap & Ciamis) Normalisasi sungai-sungai Kabupaten Cilacap DAS Segara Anakan Normalisasi sistem drainasi Daerah Irigasi Sidareja Cihaur dan sekitarnya Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. pertanian dan prasarana umum. 1 2 3 KEGIATAN LOKASI MANFAAT & PENJELASAN Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan 4-19 Penyusunan pola Wilayah sungai Citanduy pengelolaan SDA Wilayah Ciwulan (Propinsi Jabar & Sungai Citanduy Ciwulan Jateng) Rencana induk (Master Wilayah sungai Citanduy Plan) pengelolaan SDA Ciwulan (Propinsi Jabar & WS Citanduy Ciwulan Jateng) Lower Citanduy Flood Management: Pengerukan Plawangan Plawangan . Kabupaten Garut Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Kabupaten Cilacap. Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan c Normalisasi sungai-sungai DAS Citanduy Hilir Normalisasi sistem drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. 20 lokasi Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Memperlancar aliran sungai Citanduy menuju ke laut lepas Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Cibeureum. Cilacap Kota Banjar. 10 lokasi Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis 4 5 Kabupaten Ciamis.

229 ha dan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. Tampungan total 180 juta m3 dan tampungan aktif 78 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Mengalihkan muara sungai Citanduy langsung ke Laut (teluk Nusaware) Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Tampungan aktif (juta m3) : 154 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. perkotaan dan industri serta irigasi.000 ha. Tinggi mercu bendung 60 m. Dapat menimbulkan dampak sosial ekonomi rakyat. tinggi mercu bendung 100 m. tinggi mercu bendung 80 m. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 48 M. luas arealnya 3. Tampungan Total (juta m3) : 270 . Tampungan total 150 juta m3 dan tampungan aktif 18 juta m3 Meningkatkan kebutuhan air baku dan pengendali banjir serta sedimentasi. perkotaan dan industri Tasikmalaya 800 ltr/det. luas arealnya 4-20 Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Tasikmalaya Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Garut Sungai Citanduy Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap 8 9 Sudetan Citanduy Waduk Matenggang 10 Waduk Pasirangin Kabupaten Tasikmalaya 11 Waduk Binangun I Kabupaten Ciamis 12 13 Waduk Binangun II Waduk Ciamis / Leuwi Keris Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis 14 Waduk Cikembang Kabupaten Ciamis 15 Waduk Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya 16 Waduk Banjar Kabupaten Banjar LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . bak tampung 3 m dan bahan tubuh bendung adalah urugan tanah dengan inti clay tampungan aktif 27. air minum kota sidareja dan pengendalian banjir Mengamankan daerah permukiman dan prasarana umum/obyek wisata Mengamankan daerah permukiman. panjang 40 m. dan prasarana umum Mengamankan daerah permukiman. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. tinggi mercu bendung 70 m. Tinggi Mercu Bendung : 33 .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Meskipun potensi listrik yang dihasilkan kecil. perkotaan dan Industri serta irigasi. Elevasi puncak MSL : 55 . luas areal 470 ha.08 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. perkotaan dan industri serta irigasi Potensi listrik yang dihasilkan kecil. panjang bendung 180 m. Elevasi puncak terhadap MSL 180 m. luas areal 440 ha. Area (ha) : 1. dan prasarana umum Penanggulangan sedimentasi di Segara nakan dari sungai Citanduy. Irigasi 3. perkotaan dan industri dan tenaga listrik sebesar 50 lt/det. Tampungan total 485 juta m3 dan tampungan aktif 220 juta m3. Elevasi terhadap MSL 180 m. Tampung total 14 juta m3. Diharapkan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan Elevasi puncak terhadap MSL 265 m. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Tinggi mercu bendung 28 m. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.050 ha. Potensi listrik yang dihasilkan kecil. perkotaan dan industri serta irigasi. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 80 m. luas areal 440 ha. Tampungan total 120 juta m3 dan tampungan aktif 55 juta m3. Dapat menimbulkan dapak sosial ekonomi rakyat.330 . dan prasarana umum/TPI/LAPAN/objek wisata Mengamankan daerah permukiman. 6 7 KEGIATAN Rehabilitasi Bendung Manganti Tahap II Pengamanan Pantai Pantai Pangandaran 3 km Pantai Bojongsalawe 3 km Pantai Cilaut Eureun 2 km Pantai Ranca Buaya 1 km Pantai Bagolo 1 km Pantai Cipatujah 2 km LOKASI Kabupaten Ciamis MANFAAT & PENJELASAN Penyediaan air Irigasi 27. Tinggi mercu bendung 7 m.

untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi (teknis. Kota Tegal. Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Batang.4 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 26.1. DAS Cacaban. DAS Kupang dan DAS Lampir.6% pengendalian banjir (± 5. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 27.534 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI. untuk mereduksi daerah rawan banjir seluas 1.482 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI ± 867. Kabupaten Batang. Gung Kabupaten Tegal hulu sungai K.35 lt/dt. Pemali Kabupaten Brebes hulu K. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Pemali-Comal diuraikan pada Tabel 4. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.300 lt/dt. 2 3 4 Gede 5 Waduk Karanganyar Pengendalian Banjir Sungai Tanjung. volume tampungan 30 juta m3. Babakan dan 6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Tegal. potensi waduk 150 juta m3.3. Kabupaten Pekalongan. Selain itu untuk penyediaan air baku dengan suplai 2. Peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 7.730 ha.717 Ha.7 Wilayah Sungai Pemali-Comal Wilayah Sungai Pemali-Comal meliputi wilayah administratif kabupaten / kota sbb : Kabupaten Brebes.000 ha). analisa kelayakan ekonomi menunjukkan nilai EIRR sebesar 17. Sengkarang Kabupaten Pekalongan desa Karanganyar Kabupaten Pemalang Sungai Tanjung MANFAAT & PENJELASAN pengendalian banjir (± 4. 1 KEGIATAN Waduk Kawung Waduk Ki Sebayu Waduk Sipring Waduk Krandegan Bantar LOKASI hulu K. 7 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pemali-Comal NO.000 ha). KEGIATAN LOKASI MANFAAT & PENJELASAN 1. Keruh Kabupaten Pemalang hulu sungai K. Penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 965.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Nilai EIRR 12. pembangunan/perbaikan tanggul.9%. 4-21 4.770 Ha.620 ha. yaitu : DAS Pemali.93 juta m3. semi teknis dan sederhana) seluas 38. DAS Rambut. Genteng dan K.7. dengan tinggi bendung 95 m.. Kota Pekalongan.718 Ha. volume tampungan 45. tinggi bendung 40 m. Kabupaten Pemalang. Informasi kelayakan proyek tidak tersedia.905 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 8. Tampungan total 460 juta m3 dan tampungan aktif 250 juta m3. DAS Comal. Tabel 4. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Pemali-Comal terdiri dari 6(enam) Daerah Aliran Sungai(DAS). penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 2.

Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.9% Pembangunan/perbaikan tanggul. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.4% Pembangunan/perbaikan tanggul.010 ha dan untuk mensupli waduk Cacaban dengan luas irigasi 1. 20.1%. dan Kabupaten Purworejo. diharapkan dapat mereduksi daerah rawan banjir seluas 6.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. pembangunan jembatan kereta api baru 1 buah. 10. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. Wilayah Sungai SerayuBogowonto meliputi wilayah administratif Kabupaten Cilacap.8 Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto terdiri beberapa bermuara ke Samudera Indonesia di sungai yang berhulu terutama dari mata air yang berasal dari gunung Selamet. Kabupaten Wonosobo.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998.1 km. Kabupaten Banjarnegara.130 ha Pelindung tebing pasangan batu kali 5. Usulan baru dan belum pernah dilakukan studi. pembangunan/perbaikan tanggul. pembangunan bangunan pengukur debit sungai 1 buah.352. dengan nilai EIRR adalah sebesar 42. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Meningkatkan intensitas tanam pada daerah irigasi Cipero seluas 8.667 m.2 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. Kabupaten Banyumas. pembangunan jalan dan jembatan baru. dengan nilai EIRR adalah sebesar 15. normalisasi alur sungai 7.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. yang pada akhirnya wilayah Kabupaten Banyumas. 822.1. KEGIATAN Kabuyutan LOKASI MANFAAT & PENJELASAN 4-22 7 8 Pengendalian Banjir Sungai Sragi Pengendalian Banjir Sungai Kupang Sungai Sragi Sungai Kupang 9 Pengendalian Banjir Sungai Kluwut Pengendalian Banjir Sungai Sambong Kabupaten Brebes 10 kabupaten Batang dan kabupaten Pekalongan 11 Pengendalian Banjir Sungai Comal kabupaten Pemalang 12 Pengendalian Banjir Sungai Waluh Sungai Waluh 13 Pengendalian Banjir Sungai Rambut Waduk Jatinegara Sungai Rambut 14 Kec. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. dengan nilai EIRR adalah sebesar 26.5% Pembangunan/perbaikan tanggul. pembangunan inlet drainase 11 buah.529 ha. Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Purworejo.1% Pembangunan/perbaikan tanggul. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12. 4.Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. 231 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. 287. Kabupaten Kebumen.3. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Kabupaten Purbalingga.3 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998.699. Jatinegara Jateng pembangunan/perbaikan tanggul.

Sub-DAS Sapi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. Kab. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Serayu-Bogowonto diuraikan pada Tabel 4. Target 15 . Wawar dan Telomoyo. Muara-muara DAS Bogowonto. Sub-DAS Serayu Hulu. Normalisasi sungai dan bangunan pengatur air untuk mengatasi banjir daerah pemukiman dan budi daya perikanan. 8 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Serayu-Bogowonto NO. Sub-DAS Begaluh. Kab.Kebumen S Telomoyo & anak-anak sungainya.Kebumen S Telomoyo & anak-anak sungainya.Cokroyasan Operasi dan Pemeliharaan Sungai LOKASI Anak S. Kab. persawahan dan 7 Pengamanan jalur transportasi KA Yogya -Jakarta. persawahan transportasi. DAS Serayu Hilir. Banyumas dan Kebumen. DAS Bengawan. DAS Pekacangan. DAS Ijo. Normalisasi Kali Pantai antara S.Purworejo DAS Bogowonto. Sub-DAS Merawu dan DAS Padegolan. Target 16 km Pengamanan pemukiman transportasi. Tabel 4.Purbalingga dan Banyumas S Telomoyo. S. Kebumen. Kab. Kab.Bogowonto dan S.Klawing lanjutan Perkuatan tebing lokasi kritis dan penanggulangan banjir nopember 2004. Banjarnegara dan Purbalingga.20 lokasi kritis dan 4-23 2 3 Mengatasi adanya halangan sungai yang dapat mengakibatkan banjir dan memperlancar transportasi antar pedesaan di 10 lokasi Mengatasi adanya kejadian banjir melebihi rencana. Kab.8. Banyumas dan Cilacap DAS Bogowonto dan DAS Cokroyasan Kab. Kab. MANFAAT & PENJELASAN Pengamanan pemukiman dan persawahan Target 30km Pengamanan pemukiman . Sub-DAS Tulis. Purworejo. Sub-DAS Tajum. DAS Bogowonto. Kebumen dan Purworejo DAS Wawar.Serayu. dari bahaya banjir. Cokroyasan. Telomoyo dan Tipar. persawahan dan 4 5 6 .Kebumen DAS Tipar dan Ijo.Cilacap. Peninggian jembatan melintang sungai-sungai di DAS Telomoyo Pembangunan pelimpah banjir DAS Telomoyo Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Rehabilitasi Jembatan KA melintang sungai di 7 lokasi. Sub-DAS Ciseel. Kab. Cokroyasan dan Bogowonto. Kebumen. Mempertahankan kapasitas dan fungsi prasarana pengendalian banjir 8 9 10 Pembangunan bangunan Menahan pengaruh akibat intrusi air laut di 5 lokasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sehingga dapat mengurangi dampak yang lebih buruk Pengamanan pemukiman transportasi.Lukulo & anak-anak sungainya. Target 6 km . yang termasuk kedalam WS Serayu-Bogowonto adalah Sub-DAS Klawing. DAS Telomoyo. Serayu. 1 KEGIATAN Pengedalian banjir S. DAS Wawar.

Banjarnegara. KEGIATAN penahan intrusi air laut LOKASI Telomoyo.Banjarnegara Mengurangi sedimentasi waduk dan pemanfaatan untuk air baku. Kebumen dan Purworejo (15 lokasi). Purbalingga. Lukulo.Pekacangan Pembangunan Waduk Kesegeran di S. Lukulo dan Bogowonto.Jatinegara dan S.Banjarnegara DAS Serayu Kab. Banyumas. Banjarnegara dan Purbalingga. Cilacap. Wonosobo. Kebumen. DAS Bogowonto. Lukulo.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.Telomoyo hilir 13 DAS Bogowonto. Target 15 lokasi 14 Pembangunan Groundsill (Bangunan Penstabil dasar sungai). Purworejo. Telomoyo. Banyumas. Wonosobo. Kab. Banyumas. Air Baku dan PLTA) 22 Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) 23 Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kab. Kebumen dan Purworejo (200 lokasi) Kab. Wawar dan Bogowonto. Penyediaan air baku dari bendungan Wadaslintang Pembangunan bangunan konservasi terpadu di hulu sungai Mengatasi kekurangan air pada musim kering 17 18 Mengatasi kekurangan air pedesaan Kab.Jladri.kebumen Mengurangi sedimentasi sungai kota Kebumen dan 19 Penataan kawasan arboretum Pembangunan Waduk Bener Di S. Penyediaan air baku pedesaan dari mata air & sumber air Mengatasi degradasi sungai. Banjarnegara. DAS Serayu. DAS Serayu.Trenggulun Pembangunan Waduk Gintung di S.Gintung Konservasi lahan dan penelitian 20 21 Multi purpose ( Irigasi. Telomoyo . S. Kebumen dan Purworejo. Kab. Purbalingga. Purbalingga. Target 10 lokasi 15 Mengatasi kekurangan air pada musim kering 16 Penyediaan air baku pedesaan dari bangunan konservasi (groundsill).Purworejo DAS Serayu Kab.Banyumas DAS Serayu Kab. Kab. Serayu.Bogowonto Pembangunan Waduk Wanadadi di S. Wawar dan Telomoyo. Banyumas. Wawar dan Cokroyasan. Ijo dan Tipar MANFAAT & PENJELASAN 4-24 11 Pembangunan bangunan pemanfaatan daerah genangan banjir Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) dan Pengerukan hilir sungai Jladri Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) DAS Telomoyo. Kab. Kebumen dan Purworejo Kab. Wawar dan Ijo DAS Telomoyo Mendaya gunakan lahan depressi 12 Mengurangi sedimentasi di S. Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi. Cilacap.Kebumen DAS Serayu.

Kabupaten Semarang. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Jratun-Seluna yaitu : Sub DAS Serang Hilar. Grobogan 4 5 6 7 8 Jragung Barrage + Tunnel Waduk Dolok Waduk Bandung Harjo Waduk Ngemplak Waduk Coyo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Demak. DAS Jragung.6% (layak) pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. DAS Glagah. DAS Juwana. Grobogan Kab. Grobogan Kab. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Jratun-Seluna diuraikan pada Tabel 4. Nilai EIRR 16. DAS Randu Gunting.750 l/detik dan konservasi air tanah.5 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1.DAS Serang Hulu.1. Sub-DAS Lusi Tengah. DAS Tuntang. Kota Semarang. Kabupaten Boyolali. DAS Garang.9 Wilayah Sungai Jratun-Seluna Wilayah Sungai Jratun-Seluna meliputi wilayah administratif Kabupaten Kendal.8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.DAS Lusi Hulu. Kota Salatiga. DAS Gandu. Brangsong dan Kendal Semarang dan Demak Semarang dan Demak Kab. DAS Pandansari. DAS Bodri. 24 KEGIATAN Pembangunan Waduk Kemit di S. nilai EIRR 10. Semarang Kaliwungu. Nilai EIRR 14% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.Kemit LOKASI DAS Telomoyo Kab. Kabupaten Pati dan Kabupaten Jepara. DAS Kedung Tanu. 9 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Jratun-Seluna NO. Nilai EIRR 13. Konstruksi dam Jatibarang dimulai tahun 2002 (kegiatan yang masuk dalam jadwal biaya rendah). dan Sub. Kabupaten Temanggung. 2 3 Waduk Mundingan Waduk Suren Kedung Kab.5% (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1. 1 KEGIATAN Waduk Jatibarang LOKASI Kab. Nilai EIRR 11.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.700 l/detik (direncanakan memberikan 900 l/dt ke Semarang dan 800 l/detik ke Kendal) dan konservasi air tanah. Tabel 4.1% (layak ) Pengembangan suplai untuk RKI 1. Semarang MANFAAT & PENJELASAN Pengembangan suplai untuk RKI 920 l/detik dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 18.9.Kebumen MANFAAT & PENJELASAN Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) 4-25 4.3.020 l/detik dan konservasi air tanah. Kabupaten Kudus. Nilai EIRR 9. Sub. DAS Lasem.7 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 750 l/detik dan konservasi air tanah. Kabupaten Grobogan.

DAS Progo. Demak Kab. dan Sub-DAS Bedog. SubDAS Winango. Nilai EIRR 22. nilai EIRR 20. 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 KEGIATAN Waduk Tirto Embung Kedung Waru Embung Balong Pengendalian Banjir Sungai Blorong Pengendalian Banjir Sungai Garang Drainase Kota Semarang Tenggang + Sringin Drain Dombo-Sayung Floodway Kebon Batur Floodway Pengendalian Banjir Jragung/Tuntang Pengendalian Banjir Serang-WulanJuana LOKASI Kab. Sub-DAS Blongkeng.6% Pengendalian banjir seluas 6.028 ha. Sub-DAS Oyo.8% 4-26 4.13% Pengendalian banjir Pengendalian banjir seluas 21 ha.957 ha. Kudus dan Kab. Kabupaten Sleman.670 ha. Kabupaten Kulonprogo. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul.3.1% pengendalian banjir seluas 12.337 ha. Blora Kab. Grobogan Kab. Blora Kab. Kota Magelang. Layak secara ekonomi.DAS Progo Hulu. nilai EIRR 24% Pengendalian banjir seluas 1. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Progo-Opak-Oyo yaitu : Sub. Layak secara ekonomi. Layak secara ekonomi.DAS Tinggal. Layak secara ekonomi. nilai EIRR 17. Sub-DAS Kanci. Pati MANFAAT & PENJELASAN Nilai EIRR 18.10 Wilayah Sungai Progo-Opak-Oyo Wilayah Sungai Progo-Opak-Oyo meliputi wilayah administratif Kabupaten Temanggung. Sub-DAS Opak. Kendal Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kab. Kota Yogyakarta.9% pengendalian banjir seluas 10. Nilai EIRR 13. Sub. Kabupaten Magelang. nilai EIRR 15.1. Layak secara ekonomi. Sub-DAS Tinalah. Sub-DAS Elo.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. DAS Serang. Nilai EIRR 8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah Pengendalian banjir seluas 590 ha. Layak secara ekonomi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.4% pengendalian banjir seluas 13. nilai EIRR 18. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Progo-Opak-Oyo diuraikan pada Tabel 4.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.10.650 ha. Demak Kab. nilai EIRR 15.

500 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. Kulon Progo Kab. Kulon Progo Kab. Serang Sungai Progo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Gunung Kidul Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Tinggi embung adalah 13.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. Tinggi embung adalah 5 m dengan volume tampungan 250. Sleman Kab. Tinggi embung adalah 13. dengan tetap memanfaatkan air dari Kali Progo melalui intake Kalibawang.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku 73 lt/detik dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab.75 m dengan volume tampungan 35. Gunung Kidul Kab. Kulon Progo Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Untuk DAS Serang. 10 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Progo-Opak-Oyo NO. Tinggi embung adalah 11 m dengan volume tampungan 105. Volume tampungan embung adalah 1. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.5 m3/dt penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4.000. mengairi irigasi 450 ha dan penyedia air minum 75 lt/detik. dengan pembatasan pengambilan air sebesar 2. Gunung Kidul Kab.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 KEGIATAN Embung Tangkisan I Embung Tangkisan II Embung Ngroto Embung Kayangan Embung Dawetan Embung Penggung Embung Girinyono Embung Weden Embung Kebonromo Embung Kronggahan Embung Kedungranti Embung Sari Karang LOKASI Kab. Gunung Kidul Kali Progo MANFAAT & PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Belum tersedia data detail Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir 4-27 Embung Ngalang Embung Kedunggedeng Waduk Tinalah 16 17 18 19 20 21 Waduk Progo Magelang Waduk Elo Hilir Waduk Kaloran Waduk Elo Waduk Sambiroto Waduk Nanggulan I Kali Progo Kali Elo Kaloran Kali Elo Progo Hulu K.75 m dengan volume tampungan 7.000 m3 Berpotensi untuk mengendalikan banjir.

Sub-DAS Lamongan. Fase II Perbaikan Sungai Kali Madiun. Kabupaten Bojonegoro. Sub-DAS Bitung. Kota Surakarta. KabupatenBlora. Kabupaten Gunungkidul. Kabupaten Ngawi. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Bengawan solo diuraikan pada Tabel 4. SubDAS Madiun. Fase II Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hulu. Kabupaten Sragen. Kota Surabaya. 4-28 Tabel 4.3. Kabupaten Magetan dan Kabupaten Ponorogo.11 Wilayah Sungai Bengawan Solo Wilayah Sungai Bengawan solo meliputi wilayah administratif kabupaten/kota sebagai berikut : Kabupaten Rembang. Kabupaten Wonogiri. Sub-DAS Pepe. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 KEGIATAN Sedimentasi Waduk Wonogiri Penanganan Pengelolaan Kualitas Air Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hilir. Sub-DAS Samin. Sub-DAS Wate Tengah. Kabupaten Pacitan. Kabupaten Klaten. DAS Pagotan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Kabupaten Madiun.1. Kabupaten Sukoharjo. Kabupaten Karanganyar.11. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Bengawan solo yaitu : DAS Damas. Kabupaten Gresik. Fase II dan III Pembangunan check dam dan ground sill Pengembangan Bengawan Jero Bengawan Solo FFWS Long-channel Storage Bengawan Solo Hilir Penyediaan Air PDAM di Wilayah Surakarta LOKASI Wonogiri seluruh WS hilir WS hulu WS Kali Madiun Hulu Sungai Bengawan Solo dan Kali Madiun pengendalian banjir pengendalian banjir penyediaan air baku penyediaan air baku pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir MANFAAT & PENJELASAN LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Boyolali. Kabupaten Lamongan. 11 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Bengawan Solo NO.

Kota Malang. Kabupaten Kediri. Ngebel Rehabilitasi Waduk dan Pengelolaan DTA Waduk Wonogiri Rehabilitasi dan Pengelolaan Lahan Kritis di 6 Lokasi DTA LOKASI MANFAAT & PENJELASAN penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku konservasi sumber daya air konservasi sumber daya air 4-29 4. maka DAS yang termasuk kedalam WS Kali Brantas adaslah Sub-DAS Brangkal. DAS Penguluran. Kabupaten Sidoarjo. Kabupaten Nganjuk. Kabupaten Pasuruan. Kota Mojokerto. Kabupaten Jombang. Sub-DAS Brantas Hulu. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kota Kediri. DAS Panggul. Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek. Kabupaten Madiun.3.12 Wilayah Sungai Kali Brantas Wilayah Sungai Kali Brantas meliputi wilayah administratif Kota Surabaya. Kota Blitar. Kabupaten Mojokerto.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 KEGIATAN Penyediaan Air untuk Sstem Pengembangan PDAM Penyediaan Air untuk Daerah Rembang Solo Vallei Werken 9 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hulu 3 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Kali Madiun 16 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hilir Waduk Irigasi Kedung Bendo Rehabilitasi dan Peningkatan Sistem Irigasi Waduk Serbaguna Bendo Waduk Serbaguna Badegan Waduk Pidekso Rehabilitasi Tlg. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai.1. SubDAS Berantas Tengah. Kabupaten Malang. Sub-DAS Konto.

3. DAS Sebani-setail. DAS Baru. Kabupaten Lumajang. DAS Banyuputih. DAS Bajulmati. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .13 Wilayah Sungai Pekalen-Sampean Wilayah Sungai Pekalen-Sampean meliputi wilayah administratif Kota Pasuruan. Kabupaten Probolinggo. Kabupaten Situbondo. DAS Rejoso. DAS Bondoyudo.1. DAS Bedadung. dan Sub-DAS Lekso. Kota Probolinggo. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Pekalen-Sampean diuraikan pada Tabel 4.12. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Kali Brantas diuraikan pada Tabel 4. DAS Mayang. Data teknis yang direncanakan untuk volume tampungan efektif 147 milyar m3 MANFAAT & PENJELASAN 4-30 4. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. DASA Deluwang. Sebanyak 17 Sabo Dam telah direncanakan untuk daerah hulu DAS Sengguruh Dam. Sub-DAS Marmoyo. Pengembangan terhadap masalah pengendalian banjir di Sungai Widas sesuai dengan yang direncanakan dalam Master Plan tahun 1985 Pencegahan terhadap bencana yang dapat ditimbulkan oleh Gunung Kelud Irigasi. 1 2 3 4 5 KEGIATAN Sabo Gunung Kelud Sabo Brantas Hulu dan Sungai Lesti Pengendalian Banjir Sungai Widas Lodoyo Diversion Tunnel Beng Dam LOKASI Kali Konto Brantas Hulu dan Sungai Lesti Sungai Widas Ludoyo mengurangi transport sediment ke reservoir Dam Sengguruh dan Dam Sutami. DAS Kramat. water supply dan hydropower. Sub-DAS Ngrowo Ngasnan. Tabel 4. Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi. Sub-DAS Brantas Hilar. DAS Tangkail. DAS Pekalen.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA DAS Lorog.13. DAS Mujur. Kabupaten Pasuruan. Kabupaten Bondowoso. 12 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Kali Brantas NO. dan DAS Sumber Manjing. Sub-DAS Wadas. DAS yang termasuk kedalam WS Pekalen-Sampean adalah DAS Sampean. DAS Jatiroto. DAS Tempuran.

1. DAS Temburu. DAS Kemuning. 14 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Madura NO. DAS Budur. 1 2 3 4 5 KEGIATAN Penyediaan baku industri air LOKASI seluruh WS Pamekasan Bangkalan Pamekasan Sumenep MANFAAT&PENJELASAN sumber daya air yang terbatas berupa sungai-sungai kecil. dan DAS Kangkah. Kabupaten Sampang. DAS Pasengsengat. DAS Blega. sehingga harus ada solusi sumber daya air bila Madura hendak difungsikan pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 100 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 50 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 Pembangunan Waduk Nipah Pembangunan Waduk Blega Pembangunan Waduk Samiran Pembangunan Wa duk Tambak Agung LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . DAS Sodung. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai.3. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Madura diuraikan pada Tabel 4.14 Wilayah Sungai Madura Wilayah Sungai Madura meliputi wilayah administratif Kabupaten Bangkalan. DAS Brambang.14. 1 KEGIATAN Genteng I Dam LOKASI Sungai Genteng. Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep. Data teknis yang direncanakan adalah untuk volume tampungan efektifnya sebesar 54 milyar m3 4-31 4. DAS Jambangan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Lesti MANFAAT & PENJELASAN Irigasi. Tabel 4. 13 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pekalen-Sampean NO. water supply dan hydropower dan untuk sediment control. DAS Samajid. DAS Saroka. DAS yang termasuk kedalam WS Madura adalah DAS Patean.

dan belum banyak melibatkan pihak pemangku kepentingan (stakeholders) bidang SDA dalam penyusunannya. 7/2004. sebaiknya usulan terdiri dari lebih dari satu opsi yang merupakan alternatif-alternatif sehingga dapat dipilih alternatif yang paling layak untuk memenuhi kebutuhan prasarana SDA dengan investasi yang paling kecil atau hanya bersifat merehabilitasi prasarana yang sudah ada atau bahkan yang bersifat pendekatan non-fisik/non-struktural.1) tidak satupun yang secara lengkap mengikuti urutan dan proses pembangunan infrastruktur Semua SDA dalam suatu kerangka pengelolaan Wilayah Sungai induk pengelolaan wilayah sungai yang mendasari sebagaimana diatur dalam UU Sumber Daya Air No. Disamping itu infrastruktur yang diusulkan masih bersifat “satu” pilhan. Sehubungan dengan itu perlu dilakukan penyesuaian terhadap rencana induk pengelolaan WS.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Setelah Pola Pengelolaan diselesaikan semua rencana induk pengelolaan wilayah sungai yang telah ada perlu disesuaikan dengan Pola Pengelolaan tersebut. 7 tahun 2004. Alasan lain perlunya penyesuaian terhadap rencana induk yang adalah bahwa belum seluruh infrastruktur SDA yang diusulkan disetiap wilayah sungai telah lolos Studi kelayakan yang mencakup 3 (tiga) aspek analisis. Disamping itu proses penyesuaian Rencana Induk juga harus melibatkan pihak pemangku kepentingan SDA di wilayah sungai tersebut.7 tahun 2004.2 Pengaturan Induk Wilayah Sungai Baru 4-32 Dari daftar usulan proyek-proyek infrastruktur sumber daya air pada wilayahwilayah sungai di P. Langkah pertama dalam penyesuaian adalah membuat Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai yang dibuat berdasarkan prosedur dan proses sebagaimana diatur oleh UU SDA No. karena rencana pengembangan SDA Wilayah Sungai tersebut dibuat sebelum diterbitkannya UU No.3. yaitu teknis. Hal ini berarti pembuatan rencana induk tidak diawali dengan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai. dan Rencana Induk yang telah disesuaikan tersebut perlu mendapat persetujuan dari Dewan SDA yang terkait.3. Oleh sebab itu perlu dilaksanakan “quick assessment” untuk mengidentifikasi alternatif-alternatif prasarana yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . ekonomi dan sosial-lingkungan. Jawa yang diuraikan pada bagian terdahulu (Sub Bab 4.

2 Rencana Wilayah Sungai baru. 4-33 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa Gambar 4. ekonomi serta sosial dan lingkungan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA diusulkan pada setiap lokasi yang memerlukan intervensi serta mengkaji kelayakan alternatif-alternatif tadi dari aspek teknis. .

x menunjukkan secara spatial bentuk dari wilayah sungai yang baru. Cikarang. pemerintah telah menyiapkan suatu rancangan peraturan baru yang menetapkan perubahan susunan wilayah sungai ke dalam suatu komposisi bentuk wilayah yang baru.01. perlu suatu tindakan untuk menyusun kembali (regrouping) kebijakan yang ada pada masing-masing balai penanggungjawab wilayah sungai terdahulu untuk menjadi kebijakan baru mengikuti wilayah sungai yang akan ditetapkan dalam waktu dekat.A2 Mengurangi debit banjir Sungai Ciliwung di Kota Bogor.B WILAYAH SUNGAI Ciliman– Cibungur KEGIATAN Waduk Cimalur LOKASI Desa Cibatur Keusik Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak Cikamayapan. Cilemer kiri seluas 500 ha.B Cibaliung Cisawarna Kepulauan Seribu CidanauCiujungCidurianCisadaneCiliwungCitarum Bendung Karet Cibungur Bendung dan Bendung Karet Ciseukeut Bendung Karet Cikoneng. Bendung Karet Cisangkuy Bendung Tipe Gergaji di Sungai Cibama Bendung Sungai Cihara Waduk Ciawi 02. Oleh karena itu.000 ha ASAL WS/ PROGRAM WS Ciujung Ciliman Cisadea – Cikuningan CiliwungCisadane 4-34 02. 15 Penyusunan Kembali Alternatif Intervensi Struktural menurut Wilayah Sungai yang Baru KODE 02. penyedia air baku untuk kecamatan Banjarsari dan sebagai waduk pengendali banjir mengairi sawah seluas 2. Tabel 4. Mekarsari dan Karang Kamulyan Hulu Sungai Ciliwung MANFAAT&PENJELASAN suplesi air irigasi DI. Ciparahu.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sejalan dengan itu. Perubahan ini secara konsekwen harus ditanggapi dengan perubahan dalam strategi pengelolaan dan kebijakan untuk masing-masing wilayah sungai.A2 02.04.02. Berikut disajikan tabel yang dibuat untuk mengelompokkan kembali strategi kebijakan struktural pada masing-masing wilayah sungai sesuai dengan bentuknya yang baru. Gambar 4.03. Selain itu Waduk Ciawi juga dapat berfungsi sebagai penyedia air untuk Kota Bogor dan DKI Jakarta serta sebagai sumber air untuk penggelontoran Sungai Ciliwung di musim kering LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

perkotaan dan industri untuk wilayah Serang dan Jabotabek dengan menggunakan saluran KarianTanjung-Serpong (KTS). Master Plan 1997 pengendalian banjir. Normalisasi alur sungai 22 km. Normalisasi alur sungai 22 km. Normalisasi alur sungai 32 km. Cipinang. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Normalisasi alur sungai 17 km. Normalisasi alur sungai 50 km. Terowongan 1 km. Kali Angke. Bekasi Hulu Sungai Ciujung Waduk Cilawang Waduk Pasirkopo Long Storage Sungai Ciujung Waduk Bojongmanik Sungai Ciujung Sungai Ciujung Sungai Cisemeut WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Banjir. Normalisasi alur sungai 29 km. Peningkatan fungsi sungai ke hilir dari daerah Angke dan Sungai Pesanggrahan dan Mookervaart Canal. Tangerang Kab. DKI Jakarta DKI Jakarta CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane WS Ciujung Ciliman Kab.Bekasi Cengkareng MANFAAT&PENJELASAN penyedia air baku ke daerah Bogor dengan cara gravitasi penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta memenuhi kebutuhan air di Kota dan Kabupaten Bogor mengalihkan debit banjir dari Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane guna pengendalian banjir di DKI Jakarta memenuhi kebutuhan air Jabotabek pencegahan banjir dan meningkatkan urban drainage. Tangerang Kab. Buaran. Bekasi Waduk Karian Kab. Normalisasi alur sungai 38 km. Mookervaart Banjir Kanal Barat/ Ciliwung Banjir Kanal Timur. Tangerang Kota/Kab. Cikarang. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. serta konstruksi Angke Floodway Pengendalian banjir. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. 2 bh. Tangerang DKI Jakarta Kota Bogor. perkotaan dan industri untuk kebutuhan Tangerang lewat KSCS mengambil alih fungsi Waduk Karian untuk mensuplai air irigasi ke daerah irigasi Ciujung pemenuhan kebutuhan air baku Jabotabek ASAL WS/ PROGRAM CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane 4-35 Sungai Cidurian Sungai Cimanceuri Sungai Cirarab Sungai Cisadane Cengkareng drain. Normalisasi alur sungai 57 km. Cakung Banjir Kanal CBL. Pembuatan Sal. menambah persediaan air rumah tangga.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Genteng Waduk Parung Badak Waduk Sodong Salak Contour Canal Ciliwung Floodway Tunnel Peningkatan Kanal Tarum Barat Pengembangan Cengkareng Floodway System LOKASI Sungai Cisadane tengah Sungai Cisadane hilir Sungai Cikaniki sekeliling Gunung Salak Kota Bogor Karawang . Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Master Plan 1997 Penyedia air rumah tangga. Sunter.

Garut mengairi sawah mengairi sawah mencukupi kebutuhan air rumah tangga.400 MWh dan penyediaan air baku untuk 79. Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .102. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air rumah tangga. Bandung Kab.280 ha. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung pengairan irigasi seluas 68. potensi listrik sebesar 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Tanjung LOKASI Sungai Cidurian MANFAAT&PENJELASAN penyedia air baku untuk daerah Tangerang dan DKI Jakarta dengan menggunakan saluran irigasi Cidurian atau dengan saluran lternative Karian-Tanjung-Serpong (KTS) penyedia air baku ke daerah Bogor dengan menggunakan pompa penyedia air untuk areal tambak menampung air dari Sungai Cipamingkis atau dari saluran pembawa penyedia air utama untuk daerah hilir Kanal Tarum Barat secara gravitasi Penyediaan air baku dan tenaga listrik memindahkan air dari wilayah sungai Citarum ke Jakarta ASAL WS/ PROGRAM WS Ciujung Ciliman 4-36 Bendung Anyer Waduk Naragong Waduk Nameng Waduk Pasiranji Waduk Pangkalan Peninggian Dam Cirata Peningkatan Kanal Tarum Barat atau Pembangunan Kanal Tarum Jaya Waduk Talagaherang Waduk Maya Waduk Bodas Dam Sungai Cilame Dam Sungai Cipunagara Waduk Cipunagara dan bendungan pengatur di Sadawarna Waduk Cibeber Waduk Kandung Pengembangan Sungai Cisangkuy Waduk sungai Cikapundung Waduk Sukawana Sudetan sungai Cibeureum Waduk Bojong Jambu Waduk Jatigede Anak Sungai Cileungsi (DAS Bekasi) Sungai Cibeet Cipamingkis Sungai Cibeet Dam Cirata Karawang – Bekasi – DKI Jakarta WS Ciujung Ciliman Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Sungai Cisangkuy Sungai Cikapundung Cimahi Kab.683 jiwa. Bandung Kab.

4 GWh dan potensi air baku 444 ha. Nilai ekonomi proyek IRR 12. potensi listrik 5. potensi listrik 11.004 jiwa. pengairan irigasi seluas 4.153 jiwa. Jika pembuatan Waduk Jatigede di tunda. Nilai ekonomi proyek IRR 12% pengairan irigasi seluas 9.960 ha. pengairan irigasi seluas 12. Nilai ekonomi proyek IRR 7.67% Mengairi 20. ASAL WS/ PROGRAM Citarum 4-37 Waduk Cipanas Kab.000 ha. Garut MANFAAT&PENJELASAN pengairan irigasi seluas 18.126 jiwa.439 ha.70 GWh dan potensi air baku.65 %). pengairan irigasi seluas 2. Volume tampungan sebesar 50 juta m3. potensi listrik 0. potensi listrik 3.835 jiwa.982 ha.639.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.145 ha. Volume tampungan sebesar 71 juta m3.07% pengairan irigasi seluas 9.6 GWh dan potensi air baku 298 ha. Garut Citarum Waduk Ujungjaya Kadipaten Citarum Waduk Kadumalik Majalengka Citarum Waduk Pasirkuda Waduk Ciniru Majalengka Kuningan Citarum Citarum Waduk Cimulya Kuningan Citarum Waduk Gunungkarung Waduk Manenteng Waduk Pecang Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk Seuseupan Waduk Cihirup Waduk Mangit Kuningan Kuningan Kuningan Garut Garut Cirebon Sumedang Kuningan Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pengairan irigasi seluas 9. Potensi paling baik untuk dikembangkan karena memiliki nilai EIRR lebih tinggi (17.2 GWh dan potensi air baku 444 ha.63% pengairan irigasi seluas 5. nilai ekonomi proyek IRR 6.439 ha. pengairan irigasi seluas 12.20 GWh. Nilai ekonomi proyek IRR 2.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10. maka Waduk Kadumalik dengan EL + 294 dapat menjadi lternative cadangan utama Potensi listrik sebesar 86. Volume tampungan sebesar 35 juta m3.9 GWh dan potensi air baku 915 ha.148 ha. pengairan irigasi seluas 8.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5. potensi listrik 1. Volume tampungan sebesar 395 juta m3.4 juta m3.16% pengairan irigasi seluas 9.004 jiwa. pengairan irigasi seluas 8. potensi listrik sebesar 1.40 GWh dan potensi air baku 915 ha.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.145 ha dan potensi listrik 17. Volume tampungan sebesar 2.000 MWh.000 Ha lahan irigasi. potensi listrik 6.275 ha dan potensi air baku 828 ha.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Cipasang LOKASI Kab.872 MWh dan penyediaan air baku untuk 22. pengairan irigasi seluas 4.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Ciwaru Waduk Cihowe Waduk Dukuh Badag Waduk Cileuweung Long Storage Kumpul KuistaJamblang LOKASI Kuningan Cirebon Cirebon Cirebon Cirebon MANFAAT&PENJELASAN pengairan irigasi seluas 10. Karawang Rehabilitasi Irigasi Kab.800 ha ASAL WS/ PROGRAM Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum 4-38 Long Storage Indramayu Pengembangan 6 Embung Rehabilitasi Irigasi Kab. Indramayu S. pengairan irigasi seluas 8.7 GWh dan potensi air baku 1.1 GWh dan potensi air baku 60 ha.405 ha.275 ha.275 ha. potensi listrik 8. pengairan irigasi seluas 600 ha. Normalisasi sungai ± 10 km. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Cimande Pekerjaan Konstruksi S. Penyediaan irigasi seluas 24. potensi listrik 10. Penyediaan irigasi seluas 12. mengairi sawah seluas 2. Sampai dengan Jalan Raya Bandung-Tasik ± 5 km.530 ha.05.56 %. Karawang Kab. potensi listrik 0. pengairan irigasi seluas 8.355 ha. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Citarik Hulu Pekerjaan Konstruksi S. Peningkatan Kapasitas System Sungai Citarum Hulu Q5 menjadi Q20. Cikeruh Bendung Sungai Cibareno Indramayu Cirebon Kab. Nilai ekonomi proyek IRR sebesar 22. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.017 ha. pemenuhan kebutuhan air baku dan keperluan irigasi dan perikanan tambak mendukung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Penyediaan irigasi seluas 6.3 GWh dan potensi air baku 828 ha. pengendalian banjir dan pengamanan pantai Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan IndramayuCirebon (± 4. Penyediaan irigasi seluas 19.7 GWh dan potensi air baku. Bekasi Rehabilitasi Irigasi Kab. potensi listrik 1.B Cisadea Cibareno LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Cikatomas. Normalisasi sungai ± 5 km. Indramayu Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Cisadea Cikuningan Pasir Bungur. Bekasi Kab. Subang Kab. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Citarik Hulu Pekerjaan Penyempurnaan Flood Warning System Peningkatan Kapasitas Sungai Pekerjaan Konstruksi S. Subang Rehabilitasi Irigasi Kab. Normalisasi sungai ± 5 km.210 ha.468 Ha sawah dan ± 750 Ha tambak). Cilograng. Cibareno dan Sawarna 02.173 ha.

Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. dan prasarana umum/TPI/LAPAN/objek wisata Mengamankan daerah permukiman. Kabupaten Tasikmalaya. Cilacap Kota Banjar.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE 02.B WILAYAH SUNGAI Ciwulan Cilaki KEGIATAN Penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Rencana induk (Master Plan) pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan chekdam 15 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan chekdam 15 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi Pengamanan Pantai Pantai Pangandaran 3 km Pantai Bojongsalawe 3 km Pantai Cilaut Eureun 2 km Pantai Ranca Buaya 1 km Pantai Bagolo 1 km LOKASI Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Kabupaten Ciamis. Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. Tasikmalaya.06. Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Mengamankan daerah permukiman dan prasarana umum/obyek wisata Mengamankan daerah permukiman. Kabupaten Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Tasikmalaya Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis MANFAAT&PENJELASAN Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Mengamankan daerah permukiman. Cilacap Kota Banjar. Kabupaten Garut Kabupaten Cilacap. Tasikmalaya. dan prasarana umum ASAL WS/ PROGRAM Citanduy – Ciwulan Citanduy Ciwulan 4-39 Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tasikmalaya. Tasikmalaya. Kabupaten Ciamis dan Garut Kabupaten Cilacap. pertanian dan prasarana umum.

luas arealnya 1.Segara Plawangan Anakan (Kabupaten Cilacap & Ciamis) Kabupaten Cilacap Normalisasi sungai-sungai DAS Segara Anakan Normalisasi sistem drainasi Daerah Irigasi Sidareja Cihaur dan sekitarnya Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Pantai Cipatujah 2 km Waduk Pasirangin LOKASI Kabupaten Garut Kabupaten Tasikmalaya MANFAAT&PENJELASAN Mengamankan daerah permukiman. Cimeneng. Kawungatan. luas areal 470 ha. Irigasi 3. Tinggi mercu bendung 60 m. Tampungan total 120 juta m3 dan tampungan aktif 55 juta m3. Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan 4-40 Waduk Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya Citanduy Ciwulan Waduk Banjar Kabupaten Banjar Citanduy Ciwulan 02. Jagadenda. Meskipun potensi listrik yang dihasilkan kecil. perkotaan dan industri serta irigasi. Cikonde. Plumpatan.A2 Citanduy Penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Citanduy Ciwulan Wilayah sungai Rencana induk Citanduy Ciwulan (Master Plan) (Propinsi Jabar & pengelolaan SDA Jateng) Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Lower Citanduy Flood Management: Pengerukan Plawangan . Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Diharapkan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan Elevasi puncak terhadap MSL 265 m.229 ha dan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan.620 ha. Tampung total 14 juta m3. Kabupaten Cilacap Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Memperlancar aliran sungai Citanduy menuju ke laut lepas Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Cibeureum. dan prasarana umum Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 80 m. Dapat menimbulkan dapak sosial ekonomi rakyat. Meningkatkan kebutuhan air baku dan pengendali banjir serta sedimentasi. Tampungan total 460 juta m3 dan tampungan aktif 250 juta m3. tinggi mercu bendung 80 m.07. Pekalongan dan anakanak sungainya Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Sidareja Cihaur Mengembalikan dan meningkatkan fungsi dan kapasitas bangunan klep Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Kabupaten Cilacap Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . panjang bendung 180 m. perkotaan dan industri Tasikmalaya 800 ltr/det.

Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Waduk Matenggang Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap Waduk Binangun I Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Citalahab dan Cikaso Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Mengembalikan dan meningkatkan fungsi bangunan Klep Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 48 M. bak tampung 3 m dan bahan tubuh bendung adalah urugan tanah dengan inti clay tampungan aktif 27. air minum kota sidareja dan pengendalian banjir Penanggulangan sedimentasi di Segara nakan dari sungai Citanduy. Tinggi mercu bendung 28 m. Ciputrahaji. perkotaan dan industri dan tenaga listrik sebesar 50 lt/det. panjang 40 m. Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis Sungai Citanduy Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengamankan daerah permukiman. pertanian dan prasarana umum. 10 lokasi Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Rehabilitasi Bendung Manganti Tahap II Sudetan Citanduy LOKASI Kabupaten Cilacap MANFAAT&PENJELASAN Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan 4-41 Kabupaten Cilacap Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Ciseel.08 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Kabupaten Tasikmalaya.050 ha.000 ha. 20 lokasi Normalisasi sungai-sungai DAS Citanduy Hilir Normalisasi sistem drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. Tampungan total 485 juta m3 dan tampungan aktif 220 juta m3. luas arealnya 3. Tinggi mercu bendung 7 m. perkotaan dan Industri serta irigasi. Mengalihkan muara sungai Citanduy langsung ke Laut (teluk Nusaware) Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Penyediaan air Irigasi 27. Dapat menimbulkan dampak sosial ekonomi rakyat.

potensi listrik terpasang 110 MW dan penyediaan air baku untuk 79. Long Storage K.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.000 ha. luas areal 440 ha. tinggi mercu bendung 70 m. Elevasi puncak terhadap MSL 180 m. potensi listrik 0. volume tampungan 2. perkotaan dan industri serta irigasi Potensi listrik yang dihasilkan kecil. Kuista .683 jiwa.27 juta m3 ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan 4-42 Kabupaten Ciamis Waduk Cikembang Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan 02. jika Waduk Jatigede ditunda. potensi listrik 4. Potensi listrik yang dihasilkan kecil. perkotaan dan industri serta irigasi. maka Waduk Cilutung dengan El + 294 dapat menjadi alternatif cadangan utama Irigasi seluas 12. Tampungan total 150 juta m3 dan tampungan aktif 18 juta m3 Irigasi seluas 90. Irigasi seluas 20.439 ha. Memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu Cirebon ( sawah 4.004 jiwa. tinggi mercu bendung 100 m.5 GWh dan potensi air baku 915 ha dengan volume tampungan sebesar 35 juta m3. Tinggi Mercu Bendung : 33 . tambak 750 ha ).468 ha.330 . Area (ha) : 1.7 jt m3. Elevasi terhadap MSL 180 m.145 ha.1 juta m3 Irigasi seluas 4. Harga tampungan per m3 rendah (Rp 650/m3) Volume tampungan netto 796.2 GWh dan potensi air baku 444 ha.08. Tampungan aktif (juta m3) : 154 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.000 ha.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Binangun II Waduk Ciamis / Leuwi Keris LOKASI Kabupaten Ciamis MANFAAT&PENJELASAN Elevasi puncak MSL : 55 .36 juta m3 Volume tampungan : 0.A2 Cimanuk Cisanggaru ng Waduk Jatigede Sumedang Cimanuk Waduk Cipanundan Waduk Cilutung Kuningan Majalengka Cimanuk Cimanuk Waduk Cipanas Indramayu Cimanuk Waduk Sarwadadi Long Storage Indramayu Waduk Bojong Waduk Brahim Waduk Cimulya Cirebon Indramayu Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Kuningan Irigasi seluas 9. luas areal 440 ha. Irigasi seluas 500 ha dan penyediaan air baku 300 kk Pemenuhan kebutuhan air irigasi dan perikanan tambak Volume tampungan : 0. Tampungan Total (juta m3) : 270 .Jamblang Cirebon Cimanuk LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tampungan total 180 juta m3 dan tampungan aktif 78 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. volume tampungan sebesar 395 juta m3.

7 GWh dan air baku 828 ha.145 ha dan potensi listrik 17. Irigasi seluas 5. volume tampungan 32 jt m3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Cipasang Garut LOKASI MANFAAT&PENJELASAN Irigasi seluas 18.534 ha ASAL WS/ PROGRAM Cimanuk 4-43 Waduk Cihowe Waduk Cileuweung Waduk Ujungjaya Cirebon Kuningan Sumedang Cimanuk Cimanuk Cimanuk Waduk Pasirkuda Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk G. potensi listrik 0.960 ha. Irigasi seluas 10.20 GWh.A3 Pemali – Comal Waduk Bantar Kawung Kuningan hulu K. semi teknis dan sederhana) seluas 38. Irigasi seluas 8.4 juta m3 .000 ha dan penyediaan air baku 175 juta m3. Gung Kabupaten Tegal Pemali Comal LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .000 ha dan penyediaan air baku untuk 5.1 GWh dan air baku 60 ha.275 ha dan potensi air baku 828 ha.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10.6 GWh dan potensi air baku 298 ha. Karung Waduk Maneungteung Waduk Pecang Waduk Seuseupan Waduk Masigit Waduk Ciwaru Majalengka Garut Garut Kuningan Kuningan Kuningan Cirebon Kuningan Kuningan Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Waduk Dukuh Badag 02.126 jiwa. Irigasi seluas 9. potensi listrik 1.3 GWh dan air baku 828 ha. volume tampungan 86 juta m3. volume tampungan 50 juta m3. Irigasi seluas 12. Irigasi seluas 8.835 jiwa dengan volume tampungan 71 juta m3. Volume tampungan 53 juta m3.000 ha).000 ha potensi listrik 11. potensi waduk 150 juta m3. volume tampungan 78 jt m3. volume tampungan 20 jt m3. volume tampungan 12 jt m3. volume tampungan 1. Volume tampungan sebesar 395 jiwa. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 27. Nilai EIRR 12. potensi listrik 8.7 GWh dan potensi air baku 1017 ha dengan volume tampungan 69 juta m3. potensi listrik terpasang187 MW dan penyediaan air baku untuk 22.6% pengendalian banjir (± 5. Irigasi seluas 8.3 jt m3.70 GWh dan potensi air baku 915 ha.09. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi (teknis.173 ha potensi listrik 10.482 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI ± 867. Pemali Kabupaten Brebes Cimanuk Pemali Comal Waduk Ki Gede Sebayu hulu K. pengendalian banjir (± 4.275 ha.35 lt/dt. Potensi listrik sebesar 86.153 jiwa .982 ha potensi listrik 1. Irigasi seluas 9. Irigasi seluas 600 ha.000 MWh dengan volume tampungan 2. Irigasi seluas 8.275 ha.4 GWh dan potensi air baku 444 ha.439 ha potensi listrik 3. Irigasi seluas 2.000 ha). Irigasi seluas 4.

Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.5 juta/tahun pada harga ASAL WS/ PROGRAM 4-44 Waduk Sipring hulu sungai K. dengan tinggi bendung 95 m.. Selain itu untuk penyediaan air baku dengan suplai 2. 287.9%. penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 2. tinggi bendung 40 m. pembangunan/perbaikan tanggul.770 Ha. Penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 965. pembangunan/perbaikan tanggul. pembangunan jembatan kereta api baru 1 buah.718 Ha.4 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 26. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. volume tampungan 45.667 m. Babakan dan Kabuyutan Pengendalian Banjir Sungai Sragi Pengendalian Banjir Sungai Kupang Sungai Tanjung Pemali Comal Pemali Comal Pemali Comal Sungai Sragi Sungai Kupang Pengendalian Banjir Sungai Kluwut Kabupaten Brebes Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Sambong kabupaten Batang dan kabupaten Pekalongan Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Comal kabupaten Pemalang Pemali Comal LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .905 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 8. dengan nilai EIRR adalah sebesar 42.717 Ha.1 km. normalisasi alur sungai 7. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN LOKASI MANFAAT&PENJELASAN dan untuk penyediaan air baku bagi RKI. Keruh Kabupaten Pemalang hulu sungai K.93 juta m3.300 lt/dt. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. Informasi kelayakan proyek tidak tersedia. diharapkan dapat mereduksi daerah rawan banjir seluas 6. pembangunan bangunan pengukur debit sungai 1 buah. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. analisa kelayakan ekonomi menunjukkan nilai EIRR sebesar 17.130 ha Pelindung tebing pasangan batu kali 5.5% Pembangunan/perbaikan tanggul.9% Pembangunan/perbaikan tanggul. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.699. volume tampungan 30 juta m3. Peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 7. pembangunan inlet drainase 11 buah. pembangunan/perbaikan tanggul. 20. dengan nilai EIRR adalah sebesar 26. Sengkarang Kabupaten Pekalongan desa Karanganyar Kabupaten Pemalang Pemali Comal Waduk Krandegan Pemali Comal Waduk Karanganyar Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Tanjung. pembangunan jalan dan jembatan baru. 10. Genteng dan K. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. untuk mereduksi daerah rawan banjir seluas 1.352.730 ha.3 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998.

Meningkatkan intensitas tanam pada daerah irigasi Cipero seluas 8. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. nilai EIRR 10.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12. Pengembangan suplai untuk RKI 920 l/detik dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 18.529 ha. Grobogan Kab.10. Nilai EIRR 18.6% (layak) pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 14% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 8% (layak) ASAL WS/ PROGRAM 4-45 Pengendalian Banjir Sungai Waluh Sungai Waluh Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Rambut Sungai Rambut Pemali Comal Waduk Jatinegara Kec. Nilai EIRR 22.1% (layak ) pengembangan suplai untuk RKI 1. Nilai EIRR 11. Konstruksi dam Jatibarang dimulai tahun 2002 (kegiatan yang masuk dalam jadwal biaya rendah). 822. Grobogan Kab. dengan nilai EIRR adalah sebesar 15. Blora Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .2 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12. Semarang Jratun Seluna Waduk Mundingan Jragung Barrage + Tunnel Waduk Dolok Waduk Bandung Harjo Waduk Ngemplak Waduk Coyo Waduk Tirto Embung Kedung Waru Kab. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN LOKASI MANFAAT&PENJELASAN dasar tahun 1998.A3 Jratunseluna Waduk Jatibarang Kab. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.750 l/detik dan konservasi air tanah. Grobogan Kab.7 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 750 l/detik dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 13.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.4% Pembangunan/perbaikan tanggul.010 ha dan untuk mensupli waduk Cacaban dengan luas irigasi 1. Usulan baru dan belum pernah dilakukan studi.1%.1% Pembangunan/perbaikan tanggul. Semarang Semarang dan Demak Semarang dan Demak Kab. Grobogan Kab. Jatinegara Jateng Pemali – Comal 02.020 l/detik dan konservasi air tanah.8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.5% (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1. Nilai EIRR 16. 231 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998.

Cilacap.Gelis Kepulauan Karimunjawa Serayu – Bogowon-to Pengendalian Banjir Sungai Blorong Pengedalian banjir S. sehingga dapat mengurangi dampak yang lebih buruk Pengamanan pemukiman . Target ASAL WS/ PROGRAM Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna 4-46 02. Kab. Kab.337 ha. Peninggian jembatan melintang sungaisungai di DAS Telomoyo Pembangunan pelimpah banjir DAS Telomoyo Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Penyempurnaan Pengendalian Kab. Kab. Target 15 .957 ha.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Embung Balong Pengendalian Banjir Sungai Garang Drainase Kota Semarang Tenggang + Sringin Drain Dombo-Sayung Floodway Kebon Batur Floodway Pengendalian Banjir Jragung/Tuntang Pengendalian Banjir SerangWulan-Juana Waduk Kedung Suren LOKASI Kab.8% Pengembangan suplai untuk RKI 1.028 ha.670 ha. nilai EIRR 15.C 02.Serayu. nilai EIRR 20.13. Kudus dan Kab.700 l/detik (direncanakan memberikan 900 l/dt ke Semarang dan 800 l/detik ke Kendal) dan konservasi air tanah.Kebumen DAS Tipar dan Ijo. Nilai EIRR 13.B Bodri .12. Demak Kab. Cokroyasan dan Jratun Seluna Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kab. persawahan dan transportasi. Banyumas dan Kebumen.14.1% pengendalian banjir seluas 12.Klawing lanjutan Perkuatan tebing lokasi kritis dan penanggulangan banjir nopember 2004.C 02.6% Pengendalian banjir seluas 6.650 ha. Demak Kab.5 % (layak) Pengendalian banjir seluas 590 ha.20 lokasi kritis Mengatasi adanya halangan sungai yang dapat mengakibatkan banjir dan memperlancar transportasi antar pedesaan di 10 lokasi Mengatasi adanya kejadian banjir melebihi rencana. nilai EIRR 24% Pengamanan pemukiman dan persawahan Target 30km Pengamanan pemukiman . Pati Kaliwungu. persawahan dan transportasi. nilai EIRR 18. Layak secara ekonomi. Brangsong dan Kendal MANFAAT&PENJELASAN Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah Pengendalian banjir seluas 1.Purbalingga dan Banyumas S Telomoyo.11.13% Pengendalian banjir Pengendalian banjir seluas 21 ha.A3 Wiso . Kendal Anak S. DAS Wawar. Layak secara ekonomi.Kebumen S Telomoyo & anakanak sungainya. Layak secara ekonomi. nilai EIRR 17. Layak secara ekonomi.4% pengendalian banjir seluas 13. Blora Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kab. Nilai EIRR 9. nilai EIRR 15.Kuto 02. Layak secara ekonomi. Target 16 km Pengamanan pemukiman .Lukulo & anakanak sungainya. Layak secara ekonomi.Kebumen S Telomoyo & anakanak sungainya. persawahan dan transportasi.9% pengendalian banjir seluas 10. S. Kab.

Telomoyo dan Tipar.Cokroyasan Operasi dan Pemeliharaan Sungai LOKASI Bogowonto. Banjarnegara dan Purbalingga. Lukulo dan Bogowonto. Banyumas. Telomoyo. S. Wawar dan Ijo 6 km MANFAAT&PENJELASAN ASAL WS/ PROGRAM 4-47 Pengamanan jalur transportasi KA Yogya -Jakarta. Kebumen. Normalisasi Kali Pantai antara S.Purworejo DAS Bogowonto. Kebumen dan Purworejo Kab. Banjarnegara. Kebumen dan Purworejo DAS Wawar. Kebumen. Serayu Bogowonto Normalisasi sungai dan bangunan pengatur air untuk mengatasi banjir daerah pemukiman dan budi daya perikanan. Penyediaan air baku pedesaan dari mata air & sumber air DAS Bogowonto. Ijo dan Tipar DAS Telomoyo. DAS Serayu.Telomoyo hilir Serayu Bogowonto Pembangunan Groundsill (Bangunan Penstabil dasar sungai).Jladri. Banyumas dan Cilacap DAS Bogowonto dan DAS Cokroyasan Kab. Target 10 lokasi Serayu Bogowonto Mengatasi kekurangan air pada musim kering Serayu Bogowonto LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Purbalingga. Serayu. Purworejo.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Banjir dan Drainase Rehabilitasi Jembatan KA melintang sungai di 7 lokasi. Kab. Purbalingga. Wawar dan Telomoyo. Wawar dan Telomoyo. Banjarnegara dan Purbalingga. Cilacap. Purworejo. Kebumen dan Purworejo (200 lokasi) Mengurangi sedimentasi waduk dan pemanfaatan untuk air baku.Jatinegara dan S. Kab.Bogowonto dan S. Muara-muara DAS Bogowonto. Kab. Target 15 lokasi Serayu Bogowonto Mengatasi degradasi sungai. Kebumen. Mempertahankan kapasitas dan fungsi prasarana pengendalian banjir Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Pembangunan bangunan penahan intrusi air laut Pembangunan bangunan pemanfaatan daerah genangan banjir Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) dan Pengerukan hilir sungai Jladri Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) Menahan pengaruh akibat intrusi air laut di 5 lokasi Serayu Bogowonto Mendaya gunakan lahan depressi Serayu Bogowonto DAS Telomoyo Mengurangi sedimentasi di S. dari bahaya banjir. Serayu. Cokroyasan. Kab. Wonosobo. Banyumas. Kab.

Bogowonto Pembangunan Waduk Wanadadi di S.15.75 m dengan volume tampungan 7.Banjarnegara DAS Telomoyo Kab.Kebumen Kab.Pekacangan Pembangunan Waduk Kesegeran di S.kebumen Serayu Bogowonto Penataan kawasan arboretum Pembangunan Waduk Bener Di S. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 02.Banjarnegara DAS Serayu Kab. Kulon Progo Kab. Wawar dan Bogowonto. Kulon Progo Mengurangi sedimentasi sungai Serayu Bogowonto Konservasi lahan dan penelitian Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Multi purpose ( Irigasi. Kab. Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi.Kemit Embung Tangkisan I Embung Tangkisan II Embung Ngroto DAS Serayu. DAS Bogowonto. Kebumen dan Purworejo. Kab.75 m dengan volume tampungan 35. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Banjarnegara. Kulon Progo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .500 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Wawar dan Cokroyasan.Purworejo DAS Serayu Kab. Purbalingga.A2 Progo Opak Serang Kab. DAS Serayu. Tinggi embung adalah 13. Telomoyo. Banyumas.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Penyediaan air baku pedesaan dari bangunan konservasi (groundsill). Penyediaan air baku dari bendungan Wadaslintang Pembangunan bangunan konservasi terpadu di hulu sungai LOKASI Kab. Lukulo. Kebumen dan Purworejo (15 lokasi).Trenggulun Pembangunan Waduk Gintung di S.Banyumas DAS Serayu Kab. Wonosobo. Lukulo. Tinggi embung adalah 13. Kab. Cilacap. Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.Gintung Pembangunan Waduk Kemit di S. Telomoyo . Banyumas.Kebumen MANFAAT&PENJELASAN Mengatasi kekurangan air pada musim kering ASAL WS/ PROGRAM Serayu Bogowonto 4-48 Mengatasi kekurangan air kota Kebumen dan pedesaan Kab. Kulon Progo Embung Kayangan Kab.

Kulon Progo Embung Kebonromo Embung Kronggahan Embung Kedungranti Embung Karang Sari Kab.000 m3 Berpotensi untuk mengendalikan banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Embung Kedunggedeng Waduk Tinalah Kab. mengairi irigasi 450 ha dan penyedia air minum 75 lt/detik. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.5 m3/dt penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Volume tampungan embung adalah 1. Gunung Kidul Kab. dengan tetap memanfaatkan air dari Kali Progo melalui intake Kalibawang. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Sleman Kab. Tinggi embung adalah 5 m dengan volume tampungan 250. Belum tersedia data detail Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir ASAL WS/ PROGRAM Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo 4-49 Embung Penggung Embung Girinyono Kab. Kulon Progo Kab. Untuk DAS Serang. Gunung Kidul Kali Progo Waduk Progo Magelang Waduk Elo Hilir Waduk Kaloran Kali Progo Kali Elo Kaloran Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku 73 lt/detik dan potensi pengendalian banjir. dengan pembatasan pengambilan air sebesar 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Embung Dawetan LOKASI Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.000. Gunung Kidul Embung Ngalang Kab. Kulon Progo Embung Weden Kab. Kulon Progo MANFAAT&PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Tinggi embung adalah 11 m dengan volume tampungan 105. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.

16.A2 Bengawan Solo ASAL WS/ PROGRAM Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo 4-50 pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir penyediaan air baku Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Elo Waduk Sambiroto Waduk Nanggulan I Sedimentasi Waduk Wonogiri Penanganan Pengelolaan Kualitas Air Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hilir. Serang Sungai Progo Wonogiri seluruh WS hilir WS hulu WS Kali Madiun Hulu Sungai Bengawan Solo dan Kali Madiun MANFAAT&PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir - 02. Fase II Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hulu. Fase II dan III Pembangunan check dam dan ground sill Pengembangan Bengawan Jero Bengawan Solo FFWS Long-channel Storage Bengawan Solo Hilir Penyediaan Air PDAM di Wilayah Surakarta Penyediaan Air untuk Sstem Pengembangan PDAM Penyediaan Air untuk Daerah Rembang Solo Vallei Werken 9 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hulu 3 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Kali Madiun 16 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hilir Waduk Irigasi Kedung Bendo LOKASI Kali Elo Progo Hulu K. Fase II Perbaikan Sungai Kali Madiun.

Pengembangan terhadap masalah pengendalian banjir di Sungai Widas sesuai dengan yang direncanakan dalam Master Plan tahun 1985 Pencegahan terhadap bencana yang dapat ditimbulkan oleh Gunung Kelud Irigasi. Sebanyak 17 Sabo Dam telah direncanakan untuk daerah hulu DAS Sengguruh Dam. water supply dan hydropower. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 12 tahun 2006 yang akan mengurus pengelolaan wilayah sungai baru ini disajikan pada bagian 4.20.B 02.B Welang – Rejoso Pekalen Sampean Genteng I Dam Sungai Genteng.B 02.B Baru – Bajulmati Bondoyudo . Data teknis yang direncanakan untuk volume tampungan efektif 147 milyar m3 Irigasi. Data teknis yang direncanakan adalah untuk volume tampungan efektifnya sebesar 54 milyar m3 sumber daya air yang terbatas berupa sungai-sungai kecil.2 (Organiasasi dalam pengelolaan SDA). water supply dan hydropower dan untuk sediment control.21.Bedadung Kepulauan Madura Penyediaan air baku industri Pembangunan Waduk Nipah Pembangunan Waduk Blega Pembangunan Waduk Samiran Pembangunan Wa duk Tambak Agung seluruh WS Madura Pamekasan Bangkalan Pamekasan Sumenep Madura Madura Madura Madura Adapun beberapa balai baru yang dibentuk menurut Peraturan Menteri PU No.18.19.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Rehabilitasi dan Peningkatan Sistem Irigasi Waduk Serbaguna Bendo Sabo Gunung Kelud Sabo Brantas Hulu dan Sungai Lesti Pengendalian Banjir Sungai Widas Lodoyo Diversion Tunnel Beng Dam LOKASI MANFAAT&PENJELASAN penyediaan air baku penyediaan air baku ASAL WS/ PROGRAM Bengawan Solo Bengawan Solo Brantas Brantas 4-51 02.B 02.22.A3 Brantas Kali Konto Brantas Hulu dan Sungai Lesti mengurangi transport sediment ke reservoir Dam Sengguruh dan Dam Sutami. sehingga harus ada solusi sumber daya air bila Madura hendak difungsikan pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 100 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 50 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 Sungai Widas Brantas Ludoyo Brantas Brantas 02.6. Lesti Pekalen Sampean 02.17.

Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai ini disusun dengan melibatkan para pemangku kepentingan (stakeholders) SDA dan perlu mendapat persetujuan dari Dewan SDA Nasional untuk Wilayah Sungai Nasional. dalam Rencana Induk telah di identifikasi kebutuhan air untuk berbagai sektor yang ada dalam wilayah sungai tersebut diantaranya air baku untuk permukiman didaerah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . serta Dewan SDA Propinsi dan Kabupaten/Kota untuk Wilayah Sungai Propinsi dan Kabupaten/kota. disusun dengan mengacu pada Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai yang telah ditetapkan sebelumnya. industri. Bilamana pada bebarapa wilayah sungai telah mempunyai Rencana Induk (Master Plan) namun belum mempunyai Pola Pengelolaan SDA (karena Master Plan dibuat sebelum adanya UU No. Dalam pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai akan ditetapkan garis besar alokasi air untuk berbagai sektor diantaranya untuk permukiman dan perkotaan. Selanjutnya. dengan demikian pola alokasi air ini juga sekaligus mencerminkan pula garis besar penggunaan ruang dalam wilayah sungai dimaksud.7/2004 tentang SDA telah diatur bahwa Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai perlu ditetapkan terlebih dulu sebelum Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai disusun. Pembuatan Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai. pertanian dan sebagainya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4-52 4.3. Setelah Pola Pengelolaan SDA ditetapkan secara formal berdasarkan proses yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan maka Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai telah ada perlu disesuaikan dengan Pola Pengelolaan SDA. dan pendayagunaan SDA serta penanganan bencana yang terkait dengan air di wilayah sungai yang bersangkutan. 7/2004) maka penyusunan Pola Pengelolaan SDA perlu disusulkan.3 Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai: sebagaimana diamanatkan dalam UU No. Sedangkan untuk Wilayah Sungai yang belum mempunyai Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai. Rencana Induk (master plan) harus mampu mengidentifikasi isuisu yang terkait dengan pengelolaan SDA yang mencakup aspek-aspek konservasi. maka Pola dimaksud dapat menjadi arahan/pedoman penyusunan Rencana Induk.

Selain itu Rencana Induk juga harus mendapat persetujuan dari Dewan Sumber Daya Air Nasional untuk Wilayah Sungai Nasional. menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. dan strategis nasional. lingkungan. dan wilayah sungai strategis nasional.4 4. d. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. lintas negara. dan wilayah sungai strategis nasional. 4-53 4. menetapkan kebijakan nasional sumber daya air.4. b. dan wilayah sungai strategis nasional. menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. wilayah sungai lintas negara. wewenang dan tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan SDA meliputi: a. Dewan SDA Propinsi untuk Wilayah Sungai Propinsi dan Dewan SDA Kabupaten untuk Wilayah Sungai Kabupaten. pertambangan dan sebagainya yang telah mengantisipasi pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi dalam kurun waktu “planning horizon” minimal 30 tahun kedepan. pertanian.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA perkotaan (termasuk kawasan jasa & perdagangan) dan perdesaan. c. Proses pembuatan Rencana Induk juga harus melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) bidang sumber daya air pada wilayah sungai tersebut. UU No. menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas provinsi. wilayah sungai lintas negara. perikanan. wilayah sungai lintas negara.1 STRATEGI PEMBIAYAAN Wewenang Tanggung Jawab Pemerintah Berdasarkan pasal 14. industri. Demikian pula dalam Rencana Induk harus telah diidentifikasi jenis-jenis alternatif prasarana dan sarana yang mampu memenuhi kebutuhan air untuk berbagai sektor termasuk lingkungan yang telah memperhitungkan pertumbuhan penduduk dan ekonomi dalam kurun waktu 30 tahun kedepan serta mampu mengantisipasi dampak iklim yang berubah (terjadinya kejadian ekstrim kekeringan dan banjir). melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . e.

dan pedoman pengelolaan sumber daya air. menetapkan norma. standar. 2. memfasilitasi penyelesaian sengketa antar provinsi dalam pengelolaan sumber daya air. mengatur. j. dan wilayah sungai strategis nasional. 4-54 g. dan l. dan memberi izin atas penyediaan. iv) pemberdayaan masyarakat. dan wilayah sungai strategis nasional. Lingkup pengelolaan SDA mencakup: i) konservasi SDA. menetapkan dan memberi rekomendasi teknis atas penyediaan. standar. h. dewan sumber daya air wilayah sungai lintas propinsi. menetapkan. wilayah sungai lintas negara. pedoman dan manual pengelolaan SDA. penggunaan. dan dewan sumber daya air wilayah sungai strategis nasional. wilayah sungai lintas negara. iii) penanganan bencana yang terkait dengan air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA f. penggunaan dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas provinsi dan cekungan air tanah lintas negara. dan wilayah sungai strategis nasional. dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. memberikan bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Dari uraian wewenang dan tanggung jawab diatas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. efisiensi. dan iv) melaksanakan pengelolaan. Locus (lokasi) dari wewenang dan tanggung jawab Pemerintah (pusat) adalah pada wilayah sungai lintas propinsi. i. iii) norma. k. ii) kebijakan umum dan operasional pengelolaan SDA. wilayah sungai lintas negara. dan v) penyediaan sistem informasi SDA. kualitas. ii) pendayagunaan SDA. 3. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . mengatur. menjaga efektivitas. peruntukan. dan pengusahaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. peruntukan. kriteria. membentuk Dewan Nasional Sumber Daya Air. Lingkup wewenang dan tanggung jawab mencakup: i) membuat dan menetapkan peraturan dan perundang-undangan.

kecuali bangunan sadap.4. anggaran pemerintah. saluran sepanjang 50m dari bangunan sadap dan boks tersier serta bangunan pelengkap tersier LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . (3) a. (5) Pembiayaan pelaksanaan konstruksi dan Operasi dan Pemeliharaan sistem irigasi diatur sebagai berikut: a. biaya pemantauan. pemeliharaan. dan/atau hasil penerimaan jasa pengelolaan sumber daya air. biaya pelaksanaan konstruksi biaya operasi. dan c) koperasi. d.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. (4) biaya sistem informasi. biaya perencanaan. c. operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi primer dan sekunder menjadi tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya. Pembiayaan pelaksanaan konstruksi. e. 7/2004 pengaturan kebijakan pembiayaan pengelolaan Sumber Daya Air adalah sebagai berikut: (1) (2) Pembiayaan pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan kebutuhan nyata pengelolaan sumber daya air. c. b. evaluasi dan pemberdayaan masyarakat. Jenis pembiayaan pengelolaan sumber daya air meliputi: a. badan usaha lain. dibebankan kepada: a) Sumber dana untuk masing-masing jenis pembiayaan dapat berupa: Pembiayaan pengelolaan sumber daya air Pemerintah dan Pemerintah berdasarkan kewenangannya masing-masing dalam pengelolaan Sumber daya Air. Pembiayaan pelaksanaan konstruksi saluran tersier menjadi tanggung jawab petani dan dapat dibantu Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. b) badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah pengelola sumber daya air. dan dapat melibatkan peran serta masyarakat petani. b.2 Kebijakan Pembiayaan 4-55 Berdasarkan UU No. baik secara sendiri-sendiri maupun dalam bentuk kerja sama. b. anggaran swasta. dan perorangan.

(8) Untuk pelayanan sosial serta pelayanan yang ditujukan bagi kesejahteraan dan keselamatan umum. c. (7) Pembiayaan pengelolaan sumber daya air yang ditujukan untuk pengusahaan sumber daya air yang diselenggarakan oleh Koperasi. kecuali untuk penggunaan non usaha. (12) Pengelola sumber daya air berhak atas hasil penerimaan dana yang dipungut dari para pengguna sumber daya air. dan strategis nasional. lintas kabupaten/kota. Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam batasbatas (9) tertentu dapat memberikan bantuan pembiayaan kepada BUMN/BUMD Pengelola Sumber daya Air. (6) Dalam hal terdapat kepentingan mendesak untuk pendayagunaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. Pengguna sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk pertanian rakyat tidak dibebani biaya jasa pengelolaan sumber daya air. Pengguna sumber daya air lainnya menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air. BUMN/BUMD Pengelola Sumber daya Air. Badan Usaha lain dan perorangan ditanggung oleh masing-masing yang bersangkutan. Pembiayaan pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaan sistem irigasi tersier menjadi tanggung jawab petani dan dibantu Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah. (10) Penentuan besarnya biaya jasa pengelolaan sumber daya air didasarkan pada perhitungan ekonomi rasional yang dapat dipertanggung jawabkan. pembiayaan pengelolaannya ditetapkan bersama oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang bersangkutan melalui pola kerja sama.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA lainnya menjadi tanggung jawab Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. dari para pengguna sumber daya air Dana yang dipungut dipergunakan untuk mendukung 4-56 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . (11) Penentuan nilai satuan biaya jasa pengelolaan sumber daya air untuk setiap jenis penggunaan sumber daya air didasarkan pada pertimbangan kemampuan ekonomi kelompok pengguna dan volume penggunaan sumber daya air.

Dengan mengadopsi peran sebagai fasilitator dan arbitrase. perancangan (pembuatan rencana induk).3. 4. seperti sektor swasta. monitoring.4. Pemerintah perlu menciptakan kondisi dimana semua aktor/pelaku yang mempunyai kepentingan dalam permasalahan sumber daya air dapat terlibat dan dapat bernegosiasi diantara mereka untuk mencapai solusi yang dapat diterima semua pihak. Meskipun partisipasi masyarakat cukup tinggi tidak berarti pemerintah lepas dari tanggung jawab. mungkin dapat menyediakan jasa layanan air dengan monitoring dan pengendalian dari lembaga pengawas. bilamana memungkinkan. dan kurangnya transparansi dari manajemen tetapi juga didorong oleh bertambahnya berbagai kesulitan yang dihadapi oleh negara-negara di dalam pembiayaan yang diperlukan untuk investasi dibidang sumber daya air.4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA terselenggaranya kelangsungan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan.2 Pemerintah sebagai regulator dan pengendali Pembuatan kebijakan.3 Peran-peran Lain Pemerintah 4. 4-57 4. penindakan dan resolusi konflik final masih perlu menjadi tanggung jawab pemerintah.3.4. dan memenuhi prinsipprinsip pembangunan berkelanjutan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pelaku lainnya. konflik interest.1 Pemerintah sebagai pemberdaya (enabler) Dalam sektor sumber daya air ciri pemerintah sebagai pemberdaya ditunjukan dengan beralihnya pendekatan pembangunan yang ”prescriptive” dan terpusat menjadi kerangka sistem dan pendekatan partisipatif. beban dari pemerintah dapat dikurangi dan kinerja dalam fungsi publik dapat dicapai. dan BUMN/BUMD. alokasi air. hendaknya mengurangi perannya sebagai penyedia layanan dan lebih berkonsentrasi untuk menjadi regulator dan pengendali penyedia layanan jasa. Kecenderungan untuk tidak selalu bergantung kepada penyediaan layanan dari pemerintah telah didorong tidak saja oleh kepedulian atas ketidak-efisienan. Pada kondisi sekarang secara umum dikenal bahwa pemerintah.

Pemisahan ini akan membantu terciptanya transparansi dan akuntabilitas. 4-58 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4.3.3.3 Pemerintah sebagai Penyedia Layanan (Service Provider) Seluruh pemerintahan hendaknya berupaya untuk mengalihkan penyediaan jasa layanan air kepada stakeholders non-pemerintah. perlu dicatat bahwa dalam layanan dibidang air terdapat elemen-elemen yang bersifat layanan umum (diantaranya. Tugas akan berubah setelah fungsi operasional/pelaksanaan dialihkan ke aktor swasta. Disamping itu.4 Peran Pemerintah dalam ”keterlibatan dunia swasta” Yang dimaksud dengan sektor swasta disini adalah sektor perusahaan swasta dan orgnisasi-organisasi yang berbasis masyarakat. perlindungan terhadap banjir. Diperlukan pemisahan yang jelas diantara fungsi pengatur dan fungsi pelaksana. Tetapi hal ini tidak selalu demikian: yang terjadi adalah perubahan fungsi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. yaitu dalam layanan air minum dan sanitasi. Dapat disimpulkan bahwa dalam keterlibatan swasta peran pemrintah dalam pengaturan justru semakin bertambah dan tidak berkurang. pembuangan dan pengolahan limbah cair) dimana investasi publik masih sangat diperlukan. Demikian juga. prinsip terpenting yang perlu dilaksanakan adalah bahwa instansi-instansi pemerintah penyedia layanan tersebut hendaknya tidak mengatur untuk dirinya sendiri. keterlibatan masyarakat yang miskin dalam layanan air akan memerlukan katalist berupa dukungan dana dari pemerintah dan sumber dana dari luar lainnya.4. hal ini mungkin akan memerlukan waktu beberapa tahun kedepan yang cukup lama dibeberapa negara.4. Pemikiran kotemporer menunjukkan bahwa keterlibatan swasta dalam layanan air. namun tetap diperlukan suatu entitas publik dalam hal ini pemerintah yang mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk memantau dan mengatur penyediaan layanan yang memadai dan dalam harga yang terjangkau. Bilamana pemerintah masih memegang fungsifungsi layanan umum. akan berkontribusi dalam mengurangi peran dan beban pemerintah didalam pengelolaan sumber daya air.

Meskipun telah terjadi kecenderungan akan meningkatnya privatisasi dan pemerintah mempunyai peranan kunci dalam memfasilitasi partisipasi sektor swasta yang lebih besar. kebutuhankaum miskin kota.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4.1 Strategi Pendanaan Sebagaimana diatur dalam UU Sumber Daya Air No.4. operasi. telah dianggap sebagai indikasi umum penyediaan layanan oleh sektor publik dan telah mendorong pemerintah-pemerintah untuk berpaling ke sektor swasta.4. Oleh sebab itu. Peningkatan efesiensi utilitas baik yang ditangani oleh sektor publik atau sektor swasta harus diikuti oleh keputusan-keputusan pemerintah yang mengatasi permasalahan kunci. 7/2004 salah satu sumber pendanaan untuk pembangunan.3. dan penyediaan kerangka hukum dan institusi yang menjamin pelaksanaan partisipasi sektor swasta yang berhasil. masih melayani sebagian besar dari pengguna. kinerja yang semakin baik dari sektor publik. dan pemeliharaan prasarana dan sarana sumber daya air adalah anggaran pemerintah. kenyataan tetap menunjukkan bahwa penyedia layanan umum dari sektor publik (perusahaan milik pemerintah) akan.4 Strategi Pendanaan dan Tujuan Studi Kelayakan Proyek 4. jumlah pegawai yang terlalu banyak. 4-59 4. Partisipasi sektor swasta hendaknya tidak dianggap sebagai ”panacea” yang akan dengan segera mengatasi masalah-masalah kekurangan kapasitas dan investasi. seperti tarif air.4.5 Peningkatan Kinerja Sektor Publik Kenyataan bahwa seperlima dari penduduk dunia (pada umumnya masyarakat yang termiskin) adalah tanpa akses ke air minum yang aman dan hampir separuh dari penduduk dunia tanpa akses yang memadai atas sanitasi yang memadai (kondisi ini juga merefleksikan kondisi layanan air minum dan sanitasi di Indonesia).4. Dampak keterlibatan sektor swasta yang paling mungkin adalah mendorong adanya akuntabilitas dan kompetisi dan oleh sebab itu. termasuk yang bersumber LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dalam waktu kedepan. adalah sangat penting untuk memberi perhatian yang besar untuk upaya peningkatan kinerja sektor publik.

terdapat peluang untuk mendapatkan dana hibah melalui mekanisme ”khusus”. dan c) pendanaan program-program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim untuk negara-negara berkembang. Sedangkan dana hibah luar negeri bagi negara-negara berkembang.4. dan diutamakan untuk membiayai proyek-proyek yang mempunyai kelayakan eknomi yang tinggi termasuk peluang untuk pengembalian biaya (cost recovery). peluang untuk mendapatkannya semakin tinggi semenjak dicanangkannya ”Johannesburg Plan of Implementation (2002)” dana ini sebaiknya ditujukan untuk pencapaian sasaran ”Millenium Development Goals (MDGs)” diantaranya untuk pengentasan kemiskinan. diantaranya: a) debt swap yaitu penghapusan pinjaman luar negeri senilai biaya kegiatan yang kita laksanakan dengan persetujuan negara/institusi donor. Penggunaan dana pinjaman luar negeri untuk prasarana dan sarana publik khususnya sumber daya air hendaknya dipilih dari ”scheme” yang lunak (berbunga rendah dan tenggang waktu pembayaran yang panjang) dipakai secara selektif penuh dengan ke-hati-hatian.2 Tujuan Studi Kelayakan Proyek Pembuatan studi kelayakan untuk suatu konstruksi prasarana-sarana sumber daya air yang telak diidentifikasi dalam Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang memerlukan alokasi sumber daya yang cukup besar baik penggunaan ruang (lahan) maupun dana investasi wajib dilakukan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dari pinjaman dan atau hibah luar negeri. Selain dana pinjaman dan atau hibah luar negeri melalui mekanisme ”biasa” baik secara ”bi-lateral” maupun ”multi-lateral”. b) program ”Clean Development Mechanism (CDM)” yaitu imbalan pembiayaan kegiatan senilai pengurangan karbondioksida. 4. penyediaan akses kepada air minum yang sehat dan parasarana sanitasi bagi penduduk miskin dan pelestarian ekosistem penunjang kehidupan.4. Selain itu dana hibah luar negeri juga tepat digunakan untuk peningkatan kapasitas (capacity building) dalam hal implementasi 4-60 ”Integrated Water Resources Management” (Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air) yang juga merupakan salah satu sasaran MDGs. Studi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

dihitung biaya (temasuk biaya sosial dan lingkungan) serta manfaatnya/keuntungannya (termasuk manfaat langsung maupun tidak langsung). Dalam membuat altenatif-alternatif konstruksi kepentingan pendapatyang hendaknya baik mendengarkan manfaat pendapat maupun mapun dari yang pihak pemangku Pendapatmemerima dampaknya. dan c) pembuatan beberapa pompa pengambilan air sungai dengan jaringan irigasinya dengan luas total 3000 Ha. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan d) keperluan institusi dan aspek hukum pengelola proyek setelah proyek selesai. b) intensifikasi pertanian dengan rehabilitasi dan upgrading jaringan irigasi yang ada serta pembuatan beberapa sumur air tanah dangkal dimana peningkatan produksinya setara dengan pembangunan jaringan irigasi baru seluas 3000ha. manfaat dan ruang lingkup proyek serta mencakup aspek-aspek. 4-61 mendukung/menyetujui menolak/keberatan hendaknya dicatat untuk menjadi bahan pertimbnagan dalam pengmbilan keputusan. Kemudian masing-masing alternative konstruksi dimaksud dievaluasi kelayakan ekonominya dengan parameter-parameter Net Present Value of Benefit. Alternatif yang dipilih adalah alternatif yang layak dari aspek teknis. c) kriteria perencanaan. ekonomi serta sosial dan lingkungan. Dari aspek sosial-lingkungan dievaluasi dampaknya serta tingkat penerimaan masyarakat yang menerima manfaat maupun dampaknya. masingmasing alternatif konstruksi dievaluasi kelayakannya dari aspek teknis. b) manajemen konstruksi dan operasi proyek. Internal Rate of Return dan Benefi-Cost Ratio. misalnya untuk meningkatkan produksi padi disuatu wilayah alternative-nya adalah: a) pembuatan bendung untuk mengairi areal baru seluas 3000 Ha. ekonomi. dan yang dampak sosial dan lingkungannya paling kecil. Dari aspek teknis studi kelayakan mencakup antara lain kajian tentang alternatif-alternatif konstruksi (yang mencakup ruang lingkup konstruksi dan taksiran biayanya) untuk mencapai tujuan dan manfaat yang akan dicapai. Dari aspek ekonomi. Selanjutnya. memberikan nilai ekonomi yang paling baik.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kelayakan hendaknya memuat pernyataan tentang tujuan. teknis. Untuk proyek-proyek skala besar studi kelayakan selain 3 (tiga) kriteria dimaksud juga dapat mencakup: a) rencana pembiayaan pelaksanaan konstruksi. c) penjadwalan dan pembiayaan proyek. dan sosial-lingkungan.

yang dapat dilihat dari besaran/nilai: economic internal rate of return (EIRR) net present value of benefit pada tingkat suku bunga 12% (untuk proyek yang bersifat sosial dan pelestarian lingkungan dapat lebih rendah. menentukan dampak proyek atas distribusi/pemerataan pendapatan kepada keluarga miskin/tertinggal. Manfaat proyek bagi petani. Sedangkan tujuan sekunder dari studi kelayakan proyek dapat mencakup: a.4. misal 6-2%) 2. untuk mengevaluasi benefit/manfaat proyek terhadap masyarkat/ individu penerima manfaat c.3 Kriteria Evaluasi Kelayakan Proyek Kelayakan suatu proyek ditentukan berdasarkan hasil evaluasi atas indikatorindikator sebagai berikut: 1. Kontribusi proyek terhadap pendapatan nasional. menentukan tingkat pentingnya proyek dalam penambahan lapangan kerja b. misal 6-2%) benefit-cost (B/C) ratio pada tingkat suku bunga 12% (untuk proyek yang bersifat sosial dan pelestarian lingkungan dapat lebih rendah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tujuan utama dari studi kelayakan proyek prasarana dan sarana sumber daya air adalah: a. menentukan dampak proyek pada penghasilan devisa c. untuk mengevaluasi tingkat resiko pokok dan kendala serta memberi saran tentang jalan/langkah untuk mengurangi resiko dan meringankan kendala. yang dapat dilihat berdasarkan % (presentase) pertambahan pendapatan bersih usaha tani karena adanya proyek LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . untuk mengevaluasi biaya proyek dan kemungkinan tingkat pengembalian biaya (cost recovery) untuk instansi yang akan membiayai proyek d.4. untuk mengevaluasi benefit/manfaat proyek dalam lingkup nasional b. 4-62 4.

Dampak proyek terhadap anggaran pemerintah. mendorong program pembangunan daerah. dan menunjang program transmigrasi. Dampak proyek terhadap distribusi pendapatan kepada penduduk tertinggal Kriteria evaluasi: • • • % (presentase) perubahan pada Gini Coefficient % (presentase) perubahan pada Poverty Ratio % (presentase) dari “project incremantal benefits” yang mengalir kepada keluarga miskin 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3. misalnya mempertahankan kondisi swa-sembada produksi beras dengan intensifikasi sistem produksi melalui peningkatan jaringan irigasi yang ada maupun perluasan jaringan irigasi melalui perluasan areal sawah beririgasi di luar Jawa. kriteria-kriteria pemilihan proyek dengan mana tujuan-tujuan tesebut LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .5 Penggunaan Model Investasi Pembangunan prasarana dan sarana sumber daya air khususnya jaringan irigasi di Indonesia bersifat ganda-tujuan (multi-objective). yaitu yang berorientasi pada efisiensi ekonomi nasional maupun yang berorientasi non-ekonomis. Selain itu. Tujuan evaluasi: menentukan dampak proyek terhadap penciptaan lapangan kerja Kriteria evaluasi: Biaya untuk menciptakan 1000 oranghari (mandays) lapangan kerja 7.4. Hal ini dapat dilihat dari Cost Recovery Index (CRI) Tingkat resiko proyek Kriteria evaluasi: • • • 75% probability level untuk Economic Internal Rate of Return (EIRR) 75% probability level untuk Net Present Value of Benefit (NPVB) 75% probability level untuk Benefit-Cost Ratio 4-63 5. Dampak proyek terhadap “foreign exchange” Kriteria evaluasi: • • Net foreign exchange savings Domestic Resources Cost 6. 4.

Model Integer Goal Programming disarankan untuk dipakai dalam proses pemilihan proyek yang bersifat multi-objective dan multi-criteria. ketersediaan air. misalnya banyak proyek dibangun secara bersamaan tanpa menyadari terjadinya keterbatasan dana. dan faktor lingkungan: skore dampak lingkungan Penjadwalan proyek dalam kondisi keterbatasan dana: dengan digunakannya variabel 0 dan1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dievaluasi juga mencakup faktor-faktor sosio-teknis. sehingga proyek hanya dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang ditentukan. pengalaman dan kemampuan petani untuk memanfaatkan teknologi baru seperti jaringan irigasi teknis. pelaksanaan pembangunan/rehabilitasi jaringan irigasi mengalami permasalahan dalam penjadwalan. Disamping itu. sehingga diperlukan pendekatan yang bersifat multi-objective dan 4-64 multi-critiria dalam proses pemilihan/penyaringan proyek. dan tingkat keberadaan luas sawah yang sudah ada pada daerah sasaran. pengalaman dan kemampuan petani untuk memanfaatkan teknologi baru seperti jaringan irigasi teknis. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Oleh sebab itu pendekatan ekonomis semata seperti analisis Benefit-cost tidak lagi memadai. dan tingkat keberadaan luas sawah yang sudah ada pada daerah sasaran. seperti kesiapan penduduk untuk memanfaatkan areal pertanian yang baru dicetak. faktor sosiopolitis: jumlah transmigran yang didukung. maka jika proyek dipilih akan diselesaikan dengan tuntas sehingga dihindari penyelesaian proyek yang parsial. Model ini mampu menangani proses pemilihan proyek (irigasi) dengan karakteristik sebagai berikut: Multi-objective: economic/monetary objective seperti efisiensi ekonomi. dan menunjang program transmigrasi. faktor-faktor sosio-teknis: kesiapan penduduk untuk memanfaatkan areal pertanian yang baru dicetak. dan non-monetary objective seperti menunjang program swa-sembada beras. mendorong program pembangunan daerah. Multi-criteria. faktor teknis: kecocokan/kesuburan lahan. faktor sosio-ekonomis: jumlah luas areal sasaran.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dibandingkan dengan pendekatan tradisional Benefit-cost analysis. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . misal jika dipilih tujuan efisiensi ekonomi sebagai prioritas maka akan terpilih proyek-proyek irigasi yang terletak di Jawa saja (karena dengan investasi yang tidak terlalu besar misalnya untuk rehabilitasi dan atau lanjutan pembangunan jaringan irigasi akan diperoleh nilai net 4-65 present value of benefit yang cukup tinggi). Dapat digunakan untuk “parametric analysis” untuk berbagai skenario ketersediaan dana. sebaliknya jika pencapaian areal irigasi baru atau dukungan atas program transmigrasi dipilih sebagai tujuan prioritas maka akan terpilih proyek-proyek irigasi yang terletak di luar Jawa. jika tujuan penambahan areal irigasi baru di luar Jawa atau dukungan atas program transmigrasi diberi prioritas maka akan diketahui “skor”/posisi masing-masing calon daerah irigasi dalam hal kesiapan petani. Misalnya. Dapat digunakan untuk mengatasi masalah manajerial penjadwalan proyek. Dengan diketahuinya skor/posisi atas faktorfaktor sosio-teknis dapat diantisipasi uapaya penanganannya. kapasitas petani dan jumlah areal yang sudah berupa sawah pada daerah sasaran. Demikian halnya untuk tujuan/objective dan kriteria-kriteria lainnya akan menghasilkan pilihan proyek dan pencapaian sasaran yang berbeda tergantung dari tujuan dan kriteria yang diprioritaskan. skenario pemilihan prioritas tujuan dan skenario pemilihan prioritas penggunaan kriteria. Dapat digunakan sebagai perangkat untuk mengidentifikasi ketidak pastian faktor-faktor sosio-teknis sehingga dapat diantisipasi upaya-upaya untuk meminimalkan ketidak pastian. misalnya dalam penjadwalan yang optimal yaitu memilih proyek dengan bulat dapat diselesaikan sesuai periode konstruksi proyek ditengah kendala dana yang tersedia. manfaat dari penggunaan dari model multi-objective-multi-criteria diantarnya adalah: Dapat digunakan untuk membuat simulasi “trade-off” untuk berbagai pilihan kebijakan pemilihan proyek.

air dan lahan. maka perlu dikelola berdasarkan pendekatan peran serta (participatory approach) semua stakeholders dan segala keputusan publik tentang pengelolaan sumber daya air perlu didahului dengan konsultasi publik sebelum menjadi ketetapan. kapan jaringan irigasi dimulai dan diselesaikan pembangunannya. Model ini dengan berbagai modifikasi dapat digunakan untuk pemilihan prasarana dan sarana lainnya yang mempunyai karakter multi-objective – multi – citreria. 4-66 4. dan kapan dukungan sarana produksi padi dan pelatihan untuk petani harus dimulai dan kapan pula transmigran mulai didatangkan ke daerah sasaran. freshwater management and coastal zone management). air permukaan-air tanah. suatu pendekatan regional dalam perencanaan pengembangan sumber daya air telah diikuti untuk mengatasi konflik yang muncul dengan cepat pada penggunaan air dalam kaitannya dengan tata ruang wilayah. sosio-ekonomi dari daerah sasaran Misalnya. instream-offstream. fokus dan integrasi dari berbagai aspek serta sebagai saluran bagi umpan balik pengguna dan dalam pengembalian biaya. sosio-politis. dan pembangunan jaringan sumber daya air lainnya. Pendekatan ini telah mengarah pada LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . berkelanjutan (antar generasi). sosio-teknis. Pendekatan ini diperlukan untuk optimalisasi penggunaan sumber daya wilayah sungai karena dapat memberikan perhatian. sanitasi. Mengingat bahwa sumber daya air menyangkut berbagai sektor pembangunan (multi sector). Dalam tahun-tahun belakangan ini. kuantitas-kualitas.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dapat dipakai sebagai perangkat untuk koordinasi antar sektor dengan diketahuinya jadwal dan kondisi faktor-faktor teknis. menyeluruh (hulu-hilir.5 STRATEGI KELEMBAGAAN DAN KOORDINASI Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan secara terpadu (multi sektoral). berwawasan lingkungan (konservasi ekosistem) dengan wilayah sungai (satuan wilayah hidrologis) sebagai suatu kesatuan perencanaan dan pengelolaan. seperti penyediaan sarana air minum.

Hal ini juga diikuti dengan studi masalah. harus dilakukan analisis kebutuhan air baik untuk saat ini maupun proyeksinya dimasa mendatang. dan mengidentifikasi berbagai kegiatan untuk menghasilkan suatu pedoman pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Integrasi aspek kuantitas dan kualitas dalam pengelolaan sumber daya air. yang bertanggung jawab kepada Pemerintah Provinsi. Menjabarkan semua pihak yang terkait yang terlibat dalam manajemen sumber daya air dan menggunakan kerangka kerja pada tingkat WS. Mengadakan seminar informal dan diskusi bulanan antara pihak pemerintah. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back). Menjabarkan kerangka kerja institusi pemerintah pusat dalam kegiatan manajemen sumber daya air. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back) dalam Dewan Sumber Daya Air Nasional untuk menampung masukan dari instansi pemerintah dan lembaga non-pemerintah yang terkait dalam pengelolaan sumber daya air. 3. Dengan demikian perencanaan pengelolaan sumber daya air akan menjadi suatu program komprehensif pengembangan untuk jangka pendek dan jangka panjang. seperti seminar. untuk mensosialisasikan kegiatan proyek dan tujuannya. 4. juga dibutuhkan evaluasi terhadap alternatif kegiatan untuk memanfaatkan sumber daya air tersebut secara lebih baik. Integrasi manajemen lahan dan manajemen air. Definisi fungsi institusi di tingkat pemerintah pusat yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut: 1. 5.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA definisi batas wilayah sungai dan pembentukan Satuan Pengelola Teknis Wilayah Sungai. 2. 4-67 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Masukan-masukan dimaksud dapat dikelompokkan pada: • • • • Integrasi manajemen “freshwater/air tawar” dengan manajemen daerah pantai Integrasi manajemen air permukaan dan manajemen air tanah. Inggris atau Belanda) dan Asia Tenggara (Sarawak dan Malaysia) dan negara-negara lainnya. seperti dari Eropa (Republik Checz. Untuk merumuskan suatu perencanaan termasuk menyusun dokumentasi sumber daya air.

Daerah aliran air bagian tengah. Daerah pinggiran dataran banjir yang diatur (regulatory floodway fringe). Daerah banjir. Menghindarkan terjadinya “overlapping” dan “gaps” dalam pengaturan tanggung jawab dan kawasan kerja pada lembaga-lembaga yang terkait dengan pengelolaan air yang ada maka diperlukan pemetaan wilayah kerja berdasarkan pembagian wilayah sungai. Untuk keperluan ini. Daerah aliran air bagian hilir. Alur sungai. 7. 8. Daerah tangkapan air (catchment area). integrasi manajemen lahan dan air. Pembagian institusi yang bertanggung jawab adalah sebagai berikut: LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . maka daerah aliran sungai (DAS) perlu dibagi berdasarkan area sebagai berikut: • • • • • • • • • • • • • Daerah aliran air bagian hulu. kabupaten dan kecamatan serta batas kawasan kerja pihak-pihak yang terkait. manajemen. Daerah pantai.000 yang menggambarkan kondisi batas Wilayah Sungai yang terbaru berdasarkan Permen PU No:11/M/2006. penggunaan. propinsi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • Integrasi keperluan yang terkait dengan air didaerah hulu dan didaerah hilir Masalah-masalah yang terkait dengan koordinasi dan legislasi sumber daya air. perlu dipersiapkan peta Indonesia skala 1: 1. fungsi dan yurisdiksi untuk koordinasi sektor-sektor yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya air pada tingkat nasional.000. kontrol/pengendalian akses. Mengklarifikasi pembagian tugas. perencanaan. Pembuatan prinsip dan konsep peran institusi dan tanggung jawab mengenai: manajemen integrasi DAS dan daerah pantai. Dataran banjir yang diatur. 4-68 6. integrasi kepentingan daerah hulu dan hilir.

air industri. Merumuskan kekurangan infrastruktur pengolahan air limbah dan pengaturan aspek legal-nya untuk daerah perkotaan dan daerah urban. menurunnya daya dukung lingkungan serta meningkatnya kepedulian atas kelestarian lingkungan. menurunnya kuantitas dan kualitas pasokan air. 10. 11. Informasi diatas digunakan untuk mengkoordinasi secara fungsional dan spasial antara sektor berikut: penyediaan air minum. air perikanan. resolusi konflik. 4-69 9. dan air untuk lingkungan. air untuk wisata air. air untuk pembangkit listrik tenaga air. masalah institusi. inventarisasi pengguna dan permohonan alokasi air. pengendalian kualitas air. 13. Merumuskan kurangnya koordinasi antar institusi dalam hal penyediaan air untuk berbagai keperluan serta mengidentifikasi upaya-upaya untuk mengatasinya. evaluasi dan pengawasan. masalah legislasi. pengendalian alokasi keuangan dan pembiayaan. air irigasi/pertanian. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . mengendalikan alokasi sumber daya air. dan sebagainya. perencanaan pengembangan partisipasi publik. masalah hukum. Identifikasi tugas institusi dalam menghadapi tantangan dalam pengelolaan sumber daya air yaitu antara lain: meningkatnya kebutuhan air. pengembangan sumberdaya manusia. memperkirakan resiko yang mungkin terjadi. 12. penegakan hukum. Mengadakan studi banding mengenai permasalahan integrasi sub-sistem sosial dan sub-sistem alam dalam pengelolaan terpadu sumber daya air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • • • • • • • • • • • • • • pengendalian penggunaan sumber daya air. koordinasi pengembangan.

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 menempatkan otonomi daerah secara utuh pada daerah kabupaten dan daerah kota. 22/1999) dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000. meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. banjir serta kualitas air adalah termasuk upaya penanggulangan secara struktural dan non-struktural pengembangan sumber daya air dalam era otonomi daerah. Mengidentifikasi pilihan alternatif pemecahan masalah dengan pernyataan yang jelas tentang kelebihan dan kekurangannnya dari alternatif yang disiapkan. akan banyak memberikan perubahan-perubahan mendasar dalam sistem ketatanegaraan. Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 (sebagai pengganti UU No. 15. maka untuk saat ini kedua produk hukum tersebut digunakan sebagai acuan untuk pembagian kewenangan antara Pusat.6 PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DALAM ERA OTONOMI DAERAH Di dalam upaya penanggulangan masalah pengembangan sumber daya air. Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota dan semua produk hukum yang isinya bertentangan dengan Peraturan perundang-undangan tersebut perlu untuk direvisi. 4-70 4. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas. Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (sebagai pengganti UU No 22/1999) dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai otonomi daerah. Menyiapkan kerangka kerja tugas dan fungsi koordinasi institusi yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air pada lembaga pemerintah dan pihak non-pemerintah yang terkait. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 merupakan faktor pendorong untuk memberdayakan masyarakat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 14. yang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang PokokLAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . erosi dan sedimentasi. baik masalah kekurangan air.

ditetapkan sebagai berikut: Tabel 4. Penetapan Pola dan Pelaksanaan Pengelolaan SDA Bupati/Walikota Gubernur (konsultasi dengan Dewan Daerah Sumber daya air) Menteri (konsultasi dengan Dewan Nasional Sumber daya air) Pemerintah (dengan persetujuan dan dilakukan bersama Pemerintah Daerah) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . UU SDA ini menggantikan Undang-undang yang berlaku sebelumnya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pokok Pemerintah di Daerah. Berdasarkan prinsip keterpaduan tanpa mengurangi Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Sungai.16 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai Wilayah Sungai Dalam satu Kabupaten/kota Lintas Kabupaten/Kota dalam Propinsi Lintas Propinsi Sungai Strategis Sumber: UU No. 4. Pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan seluas-luasnya peran serta masyarakat. Berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air. 3. berkedudukan sebagai Kabupaten Daerah Tingkat II dan Kotamadya Daerah Tingkat II. 4-71 satu Wewenang Penetapan Wilayah Sungai. pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. Pelaksanaan otonomi daerah yang bertumpu pada otonomi daerah kabupaten dan daerah kota juga memberikan pengaruh yang besar terhadap pengelolaan sumber daya air. Pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan wilayah sungai. Dalam UU SDA Pasal 5 dan Pasal 6 Tentang Pengelolaan Sumber daya air. disebutkan bahwa: 1. yaitu UU Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. 7 Tahun 2004. Pemerintah dan DPR telah mengeluarkan Undang-undang (UU) Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber daya air. 2. Daerah kabupaten dan kota tersebut berkedudukan sebagai daerah otonomi dan mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat di daerahnya. Pengelolaan sumber daya air meliputi kegiatan konservasi.

Untuk itu diperlukan suatu terobosan berupa suatu kesepakatan operasional pelayanan sumber daya air yang mengikutsertakan para penanggung jawab operasional di lapangan. Suatu pengelolaan kuantitas air dan kualitas air yang memadai akan menjadi penting bagi pembangunan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Pengelolaan sumber daya air memerlukan dukungan penuh dan terus-menerus dari institusi jajaran pemerintah propinsi/kabupaten/kota dan stakeholders. dan kabupaten dalam manajemen sumber daya air maupun LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Masalah yang berkaitan dengan penggunaan air permukaan dan air tanah memperlihatkan perlunya pengelolaan bersama antara sumber air tanah dan air permukaan. Masalah dan tantangan yang perlu dikaji adalah sebagai berikut: a. Peningkatan manajemen sumber daya air permukaan dan air tanah harus dalam kerangka kerja yang sama pada masing-masing Wilayah Sungai yang bersangkutan. d.6. pemerintah harus menjalankan perencanaan dan koordinasi pengembangan sumber daya air dengan tegas.1 Permasalahan dan Tantangan dalam Pengelolaan Sumber daya air Masalah khusus yang mendesak untuk pengembangan wilayah sungai terdiri atas terlalu banyak air dimusim hujan. tapi penegakan hukum dan peraturan mengenai kuantitas air dan kualitas air sampai sekarang masih kurang. Pemantauan telah dilakukan. propinsi. Perencanaan harus menerapkan prinsip peningkatan fungsi dan daya dukung daerah aliran sungai sebagai sumber air dan manajemen daerah aliran sungai. b. air tanah dan kualitas air. termasuk para kelompok pengguna air di dalam pengelolaan sumber daya air. baik dari unsur pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah propinsi. c. terlalu sedikit air dimusim kemarau sedangkan air yang tersediapun sudah terlalu kotor yang menyangkut pengelolaan air permukaan. 4-72 4. Selama proses masa transisi. Hal ini juga harus diterapkan tingkat Wilayah Sungai. Kerangka kerja institusi harus mengatur koordinasi antara tingkat nasional.

Departemen pemerintah. Bappenas seharusnya memulai untuk mengatur koordinasi batasan kawasan kerja. Perencanaan dan koordinasi manajemen sumber daya air dan daerah aliran sungai pada wilayah sungai nasional dan wilayah sungai strategis dikoordinasikan oleh badan pemerintah pusat dengan partisipasi langsung pihak-pihak yang terkait (pengguna sumber daya air. g. e. Balai Pengelolaan SDA Propinsi • • • • • Sektor industri swasta. f. Bali Wilayah Sungai/BWS. provinsi dan wilayah sungai. yakni: 1) nasional (prioritas pada Wilayah Sungai nasional dan wilayah sungai strategis). lembaga. PJT II. PJT I. 4-73 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4) kecamatan/daerah tangkapan dan 5) desa/sub DAS yang kecil. 2) propinsi (prioritas pada wilayah sungai propinsi atau lintas kabupaten dalam satu propinsi). Organisasi non pemerintahan. Definisi pihak yang terkait atau pemangku kepentingan/stakeholders adalah: • • • • Lembaga pemerintah pusat yang terkait. Organisasi pengelola wilayah sungai yaitu Balai Besar Wilayah Sungai/BBWS. Kerangka kerja institusi yang terkait harus terdiri dari 5 tahap. 3) kabupaten. h. Asosiasi perusahaan air minum Asosiasi pengguna air. Terdapat juga definisi kawasan kerja yang tidak konsisten pada departemen pemerintah. Saat ini masih terdapat lembaga pemerintah yang mempunyai tugas yang sama pada perencanaan manajemen sumber daya air dan kawasan kerjanya. Asosiasi profesional. baik swasta maupun publik) pada setiap WS. dan tingkat administrasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengatur koordinasi antar anggota stakeholders pada tingkat yang sama pada berbagi tingkatan yaitu tingkat nasional. Sektor pengembang swasta.

pengembangan WS akan diuraikan oleh perencanaan strategi untuk WS. k. Perencananan pengembangan pada tingkat kecamatan dibuat oleh pemakai air dan LSM. Manajemen informasi sumber daya air akan didirikan dan berada dibawah sekretariat. dan koordinasi finansial. manajemen. kecamatan dan desa dalam hubungannya dengan daerah hulu. kabupaten. l. Petani dan asosiasinya. DAS dan kabupaten. hilir DAS dan daerah pantai yang ada. pembaharuan (update). 4-74 Prioritas identifikasi pengembangan wilayah sungai (WS) adalah pada WS tingkat nasional dan WS Strategis nasional. Nelayan dan asosiasinya. diawali dengan penetapan pola dan rencana induk pengelolaan sumber daya air yang disetujui oleh Dewan SDA Nasional. DAS. Insitusi ini juga akan bertanggung jawab dalam penyebaran informasi kepada publik dan pengembangan sistem monitor untuk propinsi. j. Dalam perumusan program sumber daya air dan irigasi. tengah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • i. Bappenas bertanggung jawab dalam reformasi kebijakan pengelolaan sumber daya air dan membantu Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber daya air. m. n. Lembaga-lembaga pada tingkat propinsi. baik dari segi pasokan maupun kebutuhan. Melengkapi strategi sumber daya air nasional dan menyelaraskan dengan ketentuan dan peraturan sektor dan sub sektor yang ada. diikutsertakan mengenai bidang pengawasan. Kabupaten harus menyiapkan bahan perencanaan pembangunan kabupaten dengan prioritas pada kecamatan. Manajemen sumber daya air pada wilayah sungai lintas propinsi dan wilayah sungai strategis nasional akan dikoordinasikan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional dengan sekretariatnya dan struktur transisinya. DAS dan kabupaten akan menggambarkan kondisi. Hal ini diperlukan untuk koordinasi antara tingkat pemerintah. Pengembangan ini adalah digunakan untuk sistem pengawasan kinerja pemerintah dan sistem koordinasi manajemen informasi. propinsi. o. propinsi. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan kabupaten.

Banjir disebabkan oleh perubahan tata lingkungan. Kualitas air buruk karena daya dukung sungai lebih rendah dibanding beban pencemaran. 4-75 4. Kebutuhan air baku untuk non-irigasi makin meningkat sejalan dengan perkembangan penduduk. Telah terjadi kekeringan/defisit air (di musim kemarau).6. Eksploitasi air tanah yang berlebihan mengakibatkan penurunan muka air tanah. Meningkatnya kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan. dan ketatalaksanaan. Lemahnya koordinasi. Pengaruh otonomi daerah dalam rangka pengelolaan sumber daya air LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA p. Dewan Sumber Daya Air Nasional bertanggung jawab dalam implementasi dan manajemen kebijakan pengelolaan sumber daya air nasional. kelembagaan. land subsidence.1. Regenerasi sumber daya manusia pengelola sumber daya air terancam tidak berlanjut. penurunan kapasitas pengaliran sungai dan penurunan kinerja prasarana pengendali banjir. Penurunan kinerja infrastruktur sumber daya air.1 Permasalahan dalam Pengelolaan Sumber daya air Wilayah Sungai di Pulau Jawa sebagian besar mengalami permasalahan yang sama yaitu: Kerusakan catchment area sehingga memberikan ancaman terhadap keberlanjutan daya dukung sumber daya air. diperlukan adanya institutusi yang bersifat komprehensif untuk menjawab permasalahan yang berkembang. Kelangkaan air juga diperparah dengan menurunnya kondisi lingkungan dan makin meluasnya lahan kritis. dan intrusi air laut. Belum semua wilayah sungai memiliki masterplan. permukiman dan industri. Masih lemahnya pengelolaan database sumberdaya alam. Meningkatnya potensi konflik pemanfaatan air. Rendahnya kualitas pengelolaan hidrologi.

pemerintah kabupaten/kota juga akan berupaya untuk lebih mensejahterakan dan meningkatkan derajat kehidupan masyarakatnya sebagai konsekuensi dari tuntutan masyarakat dan tuntutan jaman. industri. adanya otonomi daerah dapat menimbulkan permasalahanpermasalahan yang dapat menimbulkan konflik antar daerah dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air. pariwisata.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pada prinsipnya di satu sisi dapat memberikan dampak yang baik dan bermanfaat. Di sisi lain. Pengaruh yang baik dan bermanfaat dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air dalam era otonomi daerah adalah munculnya budaya kompetisi yang sehat antar daerah untuk berusaha memajukan daerahnya masing-masing dengan memanfaatkan potensi yang ada di masing-masing daerah. dan lain-lain). yang berarti bahwa kabupaten/kota dituntut dapat lebih intensif mendayagunakan segala potensi yang ada secara bertahap agar mampu membiayai urusan rumah tangganya sendiri dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. 4-76 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Berikut ini diberikan berapa permasalahan yang sering muncul dalam pengelolaan sumber daya air. Dengan diterapkannya otonomi daerah. Penguasaan atas sumber daya air ini didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut: 1) Sumber daya air merupakan unsur penting dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan sangat diperlukan untuk pemenuhan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. terkait dengan pelaksanaan otonomi daerah: a. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Kepentingan Kabupaten/Kota. Selain itu. ada kecenderungan kabupaten/kota akan menguasai dan mengelola sumber daya air yang terdapat di daerahnya. 2) Sumber daya air sebagai komoditi ekonomi dapat dikembangkan dan dikelola untuk andalan pendapatan daerah (sebagai air baku. namun di sisi lain juga tidak menutup kemungkinan akan dapat menimbulkan konflik yang sebelumnya mungkin tidak pernah terjadi.

Keuntungan yang timbul dari pemanfaatan air. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Banjir. Alokasi pemanfaatan air. perlu adanya pembagian dalam penataan ruang dari masingmasing kabupaten/kota untuk memperhatikan lokasi. Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pemanfaatan tersebut. fungsi dan sifat dimana daerah tersebut berada dalam wilayah sungai. 4-77 Pertimbangan-pertimbangan tersebut apabila dikembangkan secara positif akan memajukan daerah dan menumbuhkan kompetisi yang baik. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Masalah penanganan banjir secara komprehensif sangat tergantung oleh adanya keterpaduan pengelolaan daerah pengaliran sungai dalam satu wilayah sungai. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan Air Bersih. Lokasi. Oleh karena itu. Konflik pemanfaatan air bersih dapat terjadi apabila tidak ada kesepakatan yang baik pada pemanfaatan langsung maupun tidak langsung yang terkait dengan: 1) 2) 3) 4) 5) c. daerah ini berfungsi sebagai daerah konservasi tanah dan air. Pemilik sumber air (lokasi sumber). dengan catatan tidak didasari atas niat ingin menguasai dan hanya memikirkan daerah setempat saja. Jalur distribusi yang dilewati. Sebab dan akibat adanya banjir ini sangat dipengaruhi oleh kondisi tata ruang dalam wilayah sungai. b.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3) Dengan menguasai dan mengelola sumber daya air akan mengurangi ketergantungan pada daerah lain. fungsi dan wilayah sungai tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Daerah aliran sungai bagian atas (hulu). kawasan lindung dan resapan air serta pengendalian terhadap erosi. Konflik akan terjadi bilamana wilayah sungai terdiri dari beberapa wilayah administratif baik kabupaten/kota atau bilamana wilayah sungai melalui lebih dari satu propinsi.

pendistribusian serta pengendalian banjir. pengalokasian. lanjut. daerah ini berfungsi sebagai daerah pengendalian banjir dan drainase serta pencegahan intrusi air laut. dan direalisasikannya implementasi dengan menjamin insentip yang mencukupi dan disertai upayaupaya dibidang pendidikan. 4-78 3) Daerah aliran sungai bagian bawah (hilir). daerah ini berfungsi sebagai daerah untuk pengumpulan. migrasi-urban dan bertambahnya ekspektasi. penyimpanan. keterlambatan dalam merespon sungai yang dimukimi penduduk). masalah banjir juga terkait dengan ada tidaknya tindakan konservasi di daerah hulu dan untuk mengkoordinasikannya sangat sulit karena berhubungan dengan masalah tataguna lahan pada masing-masing daerah kabupaten/kota. komplikasi dapat timbul seperti perubahan yang terus berlanjut dalam hal perubahan-perubahan yang didorong oleh penggunaan tanah dan modifikasi penggunaan air. banjir pertumbuhan penduduk.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2) Daerah aliran sungai bagian tengah. Hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah kejadian-kejadian pemicu-pemicu yang memerlukan penanganan khusus seperti langkah-langkah intervensi pemerintah dalam LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dalam upaya-upaya ini. penyeimbangan/tradeoffs ini perlu diikuti upaya-upaya yang kondusif agar antara lain: penerimaan masyarakat atas hasil trade offs harus pelaksanaannya dimungkinkan dengan adanya institusi-institusi. Untuk itu diperlukan upaya-upaya khusus diantaranya dengan mengintegrasikan kepentingan hulu dan hilir serta diterapkannya prinsip ”hydrosolidarity”. Suatu daerah tangkapan air dapat dilihat sebagai socio-ecohydrological system dimana trade offs harus dibuat. kesemuanya itu harus diperhitungkan. peraturanperaturan dan pembiayaan yang siap melaksanakan. Lebih akan mempersulit pelaksanaan keterlambatan berdasarkan respon hidrologis dan upaya-upaya : keterlambatan dalam respon sosial (pembenahan bantaran (penentuan daerah rawan tingkat resiko) keterlambatan respon ekosistem (pembuatan daerah atau titik-titik/sumur resapan air). Langkah-langkah dijamin. Selain sangat dipengaruhi oleh curah hujan.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

memitigasi bencana yang terkait dengan air seperti kekeringan, tanah longsor dan pencemaran.

banjir,

4-79

Tiga arahan kunci menjiwai sistem manajemen yang diperlukan, yaitu: 1) menjamin layanan yang terkait dengan air kepada penduduk, 2) mencegah dan mengurangi degradasi ekosistem, dan 3) memperkirakan perubahan dan variabilitas iklim dan dampaknya. d. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan Air Irigasi. Guna memenuhi kebutuhan pangan, pemanfaatan air untuk irigasi saat ini masih sangat diperlukan dan masih dominan. Berkaitan dengan hal tersebut, peningkatan kebutuhan air non irigasi akan menyebabkan alokasi pemenuhan kebutuhan air irigasi menjadi berkurang, disisi lain, kebutuhan air irigasi juga cenderung berkurang seiring dengan pengurangan lahan irigasi karena adanya perubahan pemanfaatan lahan. Mengingat air yang terbatas, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan konflik antar pengguna air. Oleh karena itu, perlu adanya kesepakatan dalam hal alokasi air dan pola tanam yang diterapkan. e. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Kelembagaan. Berbagai instuisi selama ini telah melakukan pengelolaan sumber daya air. Pada waktu sumber daya air masih berupa uap air/embun, BMG merupakan instuisi yang berwenang dan bertanggung jawab dalam melakukan pengelolaan dan pencatatan. Sedangkan sumber daya air yang sudah berada pada badan air, yang berupa sungai atau danau sebagai air permukaan dikelola oleh Departemen Pekerjaan Umum/cq. Ditjen Sumber Daya Air. Selanjutnya, sumber daya air yang berupa air tanah yang berada di bawah permukaan tanah dikelola oleh Departemen Pertambangan dan Energi. Sementara itu, untuk air di laut instuisi pengelolanya adalah Departemen Kelautan dan Perikanan. Mengingat sifat kontinuitas sumber daya air, sementara institusi pengelolanya relatif terpisah, oleh karenanya diperlukan suatu koordinasi yang baik diantara para unsur pengelolaannya.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

Pengelolaan sumber daya air melibatkan banyak stakeholders yang seringkali 1) 2) 3) 4) 5) tidak mudah untuk mengkoordinasikannya dan ada kecenderungan sering terjadi egoisme sektoral dengan implikasi: Menitikberatkan pada kepentingan masing-masing sektor, Merencanakan dan melaksanakan pengelolaan sesuai kebutuhannya sendiri, Membuat peraturan sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan masingmasing sektor, Menyebabkan terjadinya tumpang tindih tanggung jawab dan wewenang instuisi, Menyebabkan kurang terintegrasinya tataguna ruang dan tata air. lembaga-lembaga

4-80

Dalam pelaksanaannya, instansi pemerintah termasuk

penelitian dan Perum yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air cukup banyak, yaitu Departemen-departemen Pertanian, Kehutanan, Perhubungan, ESDM, Pekerjaan Umum, Perindustrian, Dalam Negeri, Keuangan, Kelautan dan Perikanan, Kesehatan, Sosial, Kementerian Negara PPN/BAPPENAS, Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Kantor Menko Perekonomian, Kantor Menko KESRA, BPN, BMG, BAKORNAS PBP, BPPT, LAPAN, LIPI, BAKOSURTANAL, PT. PLN, PJT I, dan PJT II. Permasalahan yang sering timbul adalah mengenai batasan kewenangan antar lembaga pengelola SDA dalam pengelolaan sumber daya air masih belum jelas dan belum ada juklak dan juknis yang mengaturnya, terkait dengan Implementasi PP No. 25 Tahun 2000 atau peraturan pemerintah penggantinya.

4.6.1.2 Tantangan dalam Pengelolaan Sumber daya air a. Meningkatnya eksploitasi Sumber daya air demi mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sumber pendapatan daerah ketentuannya terdapat dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah yang menyatakan

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

bahwa salah satu sumber pendapatan daerah berasal dari Pendapatan Asli Daerah, yang meliputi: • • • • hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, lain-lain pendapatan daerah yang sah.

4-81

Sebagai daerah otonomi yang memiliki kewenangan sendiri untuk mengurus daerahnya, terkadang pemerintah daerah dalam mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) baik yang berupa pajak maupun retribusi daerah, seringkali tidak memperhatikan pengaruhnya terhadap daerah lain. b. Ego sektor berubah menjadi ego daerah Akibat dari pengelolaan sumber daya air menyangkut multi sektor, maka pengelolaan sumber daya air akan melibatkan banyak stakeholders yang tidak mudah untuk mengkoordinasikannya sehingga ada kecenderungan terjadinya egoisme sektoral dengan implikasi mengutamakan pada kepentingan masing-masing sektor. Dari ego sektor tadi kemudian berubah menjadi ego daerah dengan implikasi merencanakan dan melaksanakan pengelolaan sumber daya air sesuai kebutuhan daerahnya sendiri tanpa memikirkan daerah lain yang terkadang air sungai tersebut juga mengalir atau melewati daerah lain. c. Masalah Pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai tidak mengenal batas administratif Pembinaan maupun pengelolaan atas air dan atau sumber air pada suatu wilayah sungai batasannya adalah wilayah sungai (batasan hidrologis) bukan batasan administrasi. Sering terjadi permasalahan suatu sumber air terletak pada wilayah administrasi yang berbeda dengan pengguna sumber air tersebut. Permasalahan tersebut biasanya dapat diselesaikan antar instansi pemerintah namun sulit untuk level masyarakat. Sehingga diperlukan adanya koordinasi dan pengaturan atas sumber daya air yang

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

tanggal 17 Juli 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Wilayah Sungai. • • • • • Tujuan pengelolaan dari Adhoc (khusus) menjadi need driven. karena bagaimanapun juga masyarakat merupakan pihak yang terlibat langsung dalam pemanfaatan dan penggunaan air tersebut.2 Organisasi dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No:12/PRT/M/2006. dan PERMEN PU No:13/PRT/M/2006. Pola pengelolaan dari reaktif menjadi proaktif. Kerjasama dalam pemberian perijinan untuk kegiatan-kegiatan pemanfaatan SDA dan pemanfaatan ruang. tanggal 17 Juli 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Wilayah Sungai. Sehubungan dengan permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air seperti yang disampaikan diatas. kawasan konservasi dan pengendalian pencemaran.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA adil dan merata secara jelas dan tegas serta memberikan informasi yang transparan bagi masyarakat setempat.6. Sistem pengelolaan dari rigid menjadi fleksibel. 4-82 4. dengan mempertimbangkan: 1) Perubahan paradigma. 2) Pengembangan kerjasama antar lembaga dan daerah. Filosofi pengelolaan dari menghindari hukum menjadi melakukan sesuai hukum. pengembangan sumber daya air. pendayagunaan sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS)/Balai Wilayah Sungai (BWS) adalah unit pelaksana teknis di bidang konservasi sumber daya air. Lingkup pengelolaan dari orientasi proyek menjadi program terpadu. diperlukan upaya-upaya pengelolaan sumber daya air yang lebih terpadu. Kerjasama berbasis proyek untuk penanganan masalah sejenis yang dihadapi bersama. • • • Penanganan wilayah perbatasan.

Bidang Program dan Evaluasi. melaksanakan penyusunan pola dan rencana pengelolaan SDA pada wilayah sungai. melaksanakan fasilitasi kegiatan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air pada wilayah sungai. g. c. Bidang Operasi dan Pemeliharaan. Dalam melaksanakan tugasnya BBWS/BWS menyelenggarakan fungsi: a. melaksanakan pengelolaan sistem hidrologi. penggunaan dan pengusahaan SDA pada wilayah sungai. c. melaksanakan operasi dan pemeliharaan SDA pada wilayah sungai. yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Sumber Daya Air. f. pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. j. b. peruntukan. melaksanakan penyelenggaraan data dan informasi SDA. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pengembangan SDA. melaksanakan penyusunan rencana dan pelaksanaan pengelolaan kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai. Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. e. b. 4-83 Balai Besar Wilayah Sungai terdiri dari 2 (dua) tipe. melaksanakan pengelolaan SDA yang meliputi konservasi SDA. melaksanakan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan SDA. e. Bagian Tata Usaha. pengembangan SDA. melaksanakan penyiapan rekomendasi teknis dalam pemberian ijin atas penyediaan. d. operasi dan pemeliharaan dalam rangka konservasi SDA. d. i.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. melaksanakan ketatausahaan Balai Besar/Balai Wilayah Sungai. pelaksanaan konstruksi. yaitu: 1) BBWS Tipe A yang terdiri dari: a. h. BBWS/BWS mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan sumber daya air (SDA) yang meliputi perencanaan. pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai.

c.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA f. Kelompok Jabatan Fungsional. 4-84 3) BBWS Tipe B yang terdiri dari: a. II. yaitu: 1) Balai Wilayah Sungai Tipe A terdiri dari: a. Seksi Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. 3. 2. Bidang Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. Kelompok Jabatan Fungsional. e. Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. 2. b. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 1. d. c. - Cirebon Banjar Balai Wilayah Sungai Balai Wilayah Sungai terdiri dari 2(dua) tipe. 6. NAMA BALAI LOKASI WILAYAH KERJA Balai Besar Wilayah Sungai I. 3. 17 Balai Besar Wilayah Sungai & Balai Wilayah Sungai di Pulau Jawa NO. Subbagian Tata Usaha. II. Yogyakarta 5. TIPE A Balai Besar Wilayah Sungai Brantas Balai besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Balai Besar Wilayah Sungai pemali – Juana Balai Besar Wilayah Sungai Serayu – Opak Balai Besar Wilayah Sungai CimanukCisanggarung TIPE B Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy TIPE A BWS Cidanau – Ciujung – Cidurian BWS Ciliwung – Cisadane BWS Citarum TIPE B Serang Jakarta Bandung Wilayah Sungai Cidanau – Ciujung – Cidurian Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane Wilayah Sungai Kep. Seribu Wilayah Sungai Citarum Surabaya Surakarta Semarang Wilayah Sungai Brantas Wilayah Sungai Bengawan Solo Wilayah Sungai Pemali – Comal Wilayah Sungai Jratun Seluna Wilayah Sungai Serayu – Bogowonto Wilayah Sungai Progo– Opak– Serang Wilayah Sungai Cimanuk – Cisanggarung Wilayah Sungai Citanduy 4. Bagian Tata Usaha. Seksi Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. b. I. 1. Tabel 4.

waduk. 4. Seksi Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. Kelompok Jabatan Fungsional. Seksi Pelaksanaan Jaringan Sumber Air dan jaringan Pemanfaatan Air. c. situ dan embung. e. 3. 5. 6. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Tingkat Kabupaten/Kota berperan sebagai penanggung jawab pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai yang menjadi kewenangan Kabupaten/Kota yang bersangkutan (wilayah sungai Kabupaten/Kota) yang diwujudkan manifestasinya pada usaha-usaha pembinaan teknis dan pengawasan teknis maupuan pelaksanaan fisiknya. Tugas utama Balai PSDA Propinsi adalah melaksanakan sebagian fungsi dinas di bidang pengelolaan sumber daya air. 4-85 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Rawa. Danau. Penyediaan air baku untuk berbagai keperluan. yang meliputi 9 (sembilan) urusan yaitu: 1. Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air/Pengairan Tingkat Propinsi berperan sebagai penanggung jawab pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai yang menjadi kewenangan Propinsi yang bersangkutan (wilayah sungai propinsi) yang diwujudkan manifestasinya pada usaha-usaha pembinaan teknis dan pengawasan teknis maupuan pelaksanaan fisiknya. Kelompok Jabatan Fungsional. Urusan irigasi lintas kabupaten/kota. 2. Untuk membantu dinas tingkat propinsi dalam pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersifat lintas kabupaten/kota masih dalam satu propinsi (wilayah sungai propinsi) diperlukan Balai Pengelolaan Sumber daya air Propinsi (Balai PSDA Propinsi) yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 179/1997 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA. Seksi Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. Subbagian Tata Usaha. 2) Balai Wilayah Sungai Tipe B terdiri dari: a. b.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA d. Sungai. d. Pengendalian banjir dan penanggulangan kekeringan.

Perlindungan pantai. Balai PSDA mempunyai 3 fungsi utama sebagai berikut: 1. kepegawaian dan perlengkapan). 3. Pemeliharaan muara sungai dan delta. penanggulangan kekeringan. alokasi air. galian golongan C. pengendalian banjir. Pengendalian pencemaran air. waduk. Pelaksanaan pelayanan teknis administratif ketatausahaan (urusan keuangan. Dalam rangka melaksanakan tugas sembilan urusan seperti tersebut di atas. embung. pemeliharaan infrastruktur pengairan dll). 8. 9. Pelaksanaan operasional pelayanan kepada masyarakat di bidang pengairan (rekomendasi teknis perijinan pengambilan air. perlindungan pantai dan muara. dll). 4-86 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 7. kelestarian situ. delta. pengelolaan rawa. 2. Pelaksanaan operasional konservasi/pelestarian sumber (pengendalian pencemaran air. air dan irigasi lintas air kabupaten/kota.

1 5. Evaluasi dilakukan dengan maksud untuk dapat mengetahui dengan pasti apakah pencapaian hasil. pengawasan. kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan rencana pembangunan dapat dinilai dan dipelajari untuk perbaikan pelaksanaan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan korektif sedini mungkin. efektifitas.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-1 5.1 INDIKATOR PEMANTAUAN DAN EVALUASI Pemantauan Pemantauan adalah melihat kesesuaian pelaksanaan perencanaan dengan arah. Pengendalian dilakukan dengan maksud untuk dapat menjamin bahwa pelaksanaan rencana pembangunan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Serangkaian kegiatan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan melakukan pemantauan perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan dapat diikuti dengan bagik guna menjamin konsistensi antara pelaksanaan dengan rencana yang telah ditetapkan. dan kemanfaatan program serta keberlanjutan pembangunan. tujuan. dan tindakan lanjut.1. Kegiatan pengendalian meliputi kegiatan pemantauan. Pemantauan merupakan bagian dari kegiatan pengendalian untuk mengamati/meninjau kembali serta mempelajari dengan cermat yang dilakukan secara terus menerus atau berkala terhadap pelaksanaan rencana pembangunan yang sedang berjalan.1. 5. dan ruang lingkup yang menjadi pedoman dalam rangka menyusun perencanaan berikutnya.2 Evaluasi Evaluasi adalah kegiatan penilaian kinerja yang diukur dengan efisiensi. Evaluasi kinerja pelaksanaan rencana pembangunan dilaksanakan terhadap keluaran kegiatan yang dapat berupa barang dan jasa dan terhadap hasil (outcomes) program pembangunan yang berupa dampak dan manfaat.

manfaat (benefit) untuk dan dampak (impact). Kementrian/Lembaga. manfaat. Pada prinsipnya. (i) indikator masukan. dibuat perangkat evaluasi yang dapat diukur melalui penyusunan indikator dan sasaran kinerja pelaksanaan rencana yang meliputi. Fokus utama evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan diarahkan kepada hasil. Evaluasi ini dilakukan setelah program berakhir untuk menilai efisiensi (keluaran dan hasil dibandingkan masukan). berkewajiban melaksanakan pembangunan merupakan dan atau terkait dengan fungsi dan tanggungjawabnya. Dalam melaksanakan evaluasi kinerja proyek pembangunan. efektif. Evaluasi pelaksanaan rencana adalah bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran. dan (iii) indikator hasil/manfaat. Pada tahap perencanaan. setiap Kementerian/Lembaga. (ii) Evaluasi pada Tahap Pelaksanaan (ON-GOING). ataupun manfaat (dampak terhadap kebutuhan) dari suatu program. dan transparan. dan (iii) Evaluasi pada Tahap Pasca-Pelaksanaan (EX-POST). tujuan dan kinerja pembangunan. (ii) indikator keluaran. evaluasi Dalam kinerja rangka perencanaan yang pembangunan. keluaran (output). evaluasi sering digunakan untuk menunjukkan tahapan siklus pengelolaan rencana pembangunan yang mencakup: (i) Evaluasi pada Tahap Perencanaan (EX-ANTE).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI rencana pembangunan di masa yang akan datang. evaluasi digunakan untuk menentukan tingkat kemajuan pelaksanaan rencana dibandingkan dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang tercantum dalam dokumen rencana pembangunan. Evaluasi ini diarahkan untuk melihat apakah pencapaian (keluaran/hasil/dampak) program mampu mengatasi masalah pembangunan yang ingin dipecahkan. Pada tahap pelaksanaan. serta akuntabel. hasil (result). dan dampak dari rencana pembangunan. baik Pusat maupun Daerah. evaluasi sering digunakan untuk memilih dan menentukan skala prioritas dari berbagai alternatif dan kemungkinan cara mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. 5-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . efektivitas (hasil dan dampak terhadap sasaran). untuk menciptakan proses dan kegiatan perencanaan yang efisien. Indikator dan sasaran kinerja mencakup masukan (input). Di dalam opersionalnya.

arah pemantauan dan evaluasi yang dilakukan juga terkait dengan visi dan rencana yang ditetapkan.. 5.3 Indikator dalam Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air 5-3 Sejalan dengan pengelolaan sumber daya air terpadu yang dikenal dengan Integrated Water Resources Management (IWRM). Kerangka praktis untuk menyusun indikator-indikator untuk pemantauan dan hasilnya (outcomes) secara konseptual dapat dibagi dalam 4 (empat) kelompok yang berbeda1 setiap kelompok mewakili kemajuan dari beberapa tahapan/langkah dari siklus proses ini. 2006 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 1 Siklus Pengelolaan Terpadu SDA (IWRM).1. Adapun tahapan yang dimaksud sesuai dengan siklus tersebut adalah sebagai berikut: 1 Olsen. mengikuti pedoman dan petunjuk pelaksanaan evaluasi kinerja untuk menjamin keseragaman metode. Untuk itu diperlukan indikator sebagai perangkat dalam memantau proses pengelolaan yang dilakukan. materi. et al.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI baik Pusat maupun Daerah. Visi Pemantauan Assessment Implementasi Lingkungan yang Menunjang Kerangka Institusi Instrumen Managemen Strategi Rencana IWRM Gambar 5. dan ukuran yang sesuai untuk masing-masing jangka waktu sebuah rencana.

peraturan-peraturan. dalam hal terburuk. Tahap Kedua 3. Tahap ketiga mulai diselesaikan 4. : Kondisi yang menunjang untuk IWRM. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan sebagainya. Pada tahap ini kita membahas “kondisi-kondisi dasar untuk reformasi perubahan-perubahan telah ditetapkan”. Pendanaan yang diperlukan tersedia. maka selalu perlu pertimbangan kembali aspekaspek tahap awal. Indikator Outcome Tahap Pertama Kelompok indikator-indikator ini adalah pengukur kondisi yang menunjang (enabling conditions) yang telah dihasilkan suatu waktu tertentu yang ditentukan dalam pemantauan. perundangan. tetap merupakan dokumen-dokumen statis dan kehendak baik saja. Tahap Pertama 2. tetapi dapat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 1. standar-standar dan kemauan politis untuk melaksanakan rencana-rencana. Indikatorindikator pada Tahap Pertama dapat berupa. Namun berjhubung proses ini merupakan suatu siklus. A. Tahap ke Empat lingkungan. maka secara alamiah fokus reformasi akan bergerak dari tahapan yang pertama menuju ke tahapan yang berikutnya. Kondisi tersebut adalah landasan-landasan untuk kemajuan yang lebih lanjut dan reformasi dalam Pengelolaan Terpadu SDA. Adanya kebijakan. Kondisi-kondisi ini termasuk item-item seperti: • • • Kepedulian dan partisipasi pemangku kepentingan (stakeholders). “Peraturan-perundangan yang telah ditetapkan:. : Proses reformasi IWRM telah berdampak BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-4 : Isu/permasalahan kunci sumber daya air telah : didapatkannya penggunaan air yang adil dan dengan keseimbangan yang berlanjut pada aspek ekonomis dan Sepanjang proses reformasi kebijakan pengelolaan SDA mantap. misalnya “Kebijakan Pengelolaan SDA yang telah disepakati”.

proses harus beoperasi dalam system tata penyelenggaraan yang baik (good governance) diataranya transparan. konflik kebutuhan air. Pada tahap ini kita membahas tentang “perubahan pada system LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . terbuka. dimana perubahan-perubahan dalam cara para “pengelola SDA” pada setiap tingkatan melaksanakan pengelolaan SDA mulai berdampak. dan sebagainya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA B. bencana banjir dan kekeringan yang menimbulkan kerugian besar. social. geographis setempat. dan standarstandar serta peningkatan kapasitas telah mulai menunjukkan hasilnya dan staf dari instansi pengelola SDA semakin mengkoordinasikan penggunaan air secara lintas sector dan mulai menggunakan instrument managemen IWRM. Efisiensi dalam menangani isu/permasalahan kunci perlu mendapat perhatian. sedimentasi pada waduk-waduk yang mengurangi kapasitas tampung dan umur waduk. dan kerangka IWRM harus konsisten. Beberapa diantaranya adalah. dsb-nya. “pemberdayaan stakeholders untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan telah dimulai”. Instansiintansi pengelola SDA mulai bekerja berdasarkan prinsip-prinsip baru (IWRM). Indikator Outcome Tahap Kedua BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-5 Indikator-indikator ini akan menjadi pengukur pelaksanaan aktual proses reformasi. dan sebagainya. aliran sungai yang tercemar. Pada tahap ini kita membahas tentang “perubahan nyata dalam perilaku manajemen telah terjadi”. koheren dan diharmoniskan dengan konteks/kondisi hidrologis. ekonomi. C. komunikatif. degradasi fungsi hidrologi daerah tangkapan air Daerah Aliran Sungai. Hal ini dapat berupa misalnya. akuntabel. undang-undang baru (UU tentang Sumber Daya Air No 7/2004). penyedotan air tanah yang berlebihan. Indikator Outcome Tahap Ketiga Prinsip dan proses IWRM dilaksanakan dengan tujuan langsung menangani akar penyebab isu/ permasalahan kunci sumber daya air yang relevan kepada dan diidentifikasi sendiri oleh stakeholders sumber daya air setempat. inklusif. Indikatorindikator Tahap Kedua dapat diformulasikan sebagai “pengaturan alokasi air telah ditegakkan”. “assessment tentang kapasitas telah ditetapkan”. Indikator Tahap Ketiga ini akan mengukur kemajuan menuju diselesaikannya penyebab-penyebab isu/permasalahan kunci dan pengurangan dampak negatif-nya.

Untuk menjamin tercapainya tujuan pengelolaan sumber daya air diselenggarakan kegiatan pengawasan terhadap seluruh proses dan hasil pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di setiap wilayah sungai. Peran masyarakat dalam pengawasan dilakukan dengan menyampaikan laporan dan/atau pengaduan kepada pihak yang berwenang. Pemerintah menetapkan pedoman pelaporan dan pengaduan masyarakat dalam pengawasan pengelolaan sumber daya air. 5. pembentukan indicatorindikator pada tahap ini memerlukan tinjauan yang menyeluruh atas factor-faktor pembangunan dari aspek-aspek ekonomi. 7 Tahun 2004 lingkup kegiatan pengawasan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air diatur sebagai berikut: 1. 2. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Indikator Outcome Tahap Keempat 5-6 Pada akhirnya. 3. tujuan akhir dari implementasi reformasi IWRM adalah “pembangunan yang dari aspek ekonomis dan lingkungan berkelanjutan serta berkeadilan”. lingkungan dan sosial dalam rangka meng-isolasi dampak upaya-upaya pelaksanaan IWRM pada tahap ini dan kita pada tahap ini belum mampu memberikan daftar dari contoh-contoh yang memadai. beberapa pasang indikator-indikator (Tahap ke Empat) akan menambah dimensi tentang keseimbangan yang berkelanjutan. Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya melaksanakan pengawasan dengan melibatkan peran masyarakat. Sementara indikator-indikator Tahap ke Tiga melihat tingkat sejauh mana tujuan-tujuan pokok dicapai. yang memerlukan keseimbangan yang dinamis diantara kedua kualitas sosial dan lingkungan.” D. Dalam prakteknya.2 RUANG LINGKUP PENGAWASAN DAN PEMANTAUAN Dalam UU Sumber Daya Air No.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI pengelolaan dan perilaku telah menghasilkan perubahan positif pada alam dan masyarakat. 4.

pengaduan. Penyelenggaraan pengawasan yang dilakukan oleh pengelola sumber daya air. pemberian sanksi. 2. dan masyarakat. Laporan hasil pengawasan merupakan bahan/masukan bagi perbaikan. dan kesusaian dengan semua ketentuan yang berlaku termasuk ketentuan administratif dan keuangan. Pihak yang berwenang wajib menindaklanjuti laporan hasil pengawasan. Pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk laporan. instansi berwenang. Penyelenggaraan pengawasan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 4. 5-7 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . penyempurnaan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Lebih rinci lagi tentang kewenangan atas kegiatan pengawasan dalam pengelolaan sumber daya air dan pelibatan masyarakat diatur sebagai berikut: 1. 3. dalam bentuk peringatan. dan peningkatan penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air 6. atau gugatan kepada pihak yang berwenang dalam pengelolaan sumber daya air. Pengawasan atas penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air ditujukan untuk menjamin tercapainya kesesuaian dalam substansi pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. dan bentuk-bentuk tindakan lainnya dalam rangka memperbaiki dan menyempurnaan penyelengaraan pengelolaan sumber daya air. 5.

dan pengawasan. salah satu bagiannya adalah kegiatan pengawasan yang melibatkan instansi yang berwenang dan juga partisipasi masyarakat yang dapat didefinisikan sebagai berikut: 1. pengaturan prasarana dan sarana sanitasi. pengaturan daerah sempadan sumber air. sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air. g. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan melalui perizinan. dan kawasan pelestarian alam. 2. pengendalian pemanfaatan sumber air. rehabilitasi hutan dan lahan. e. kawasan suaka alam.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5. dan/atau pelestarian hutan lindung. b. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan melalui : a. d. Pemantauan dan pengawasan dilakukan tidak hanya pada kepatuhan terhadap syarat-syarat perizinan tetapi juga terhadap dampak yang terjadi setelah kegiatan yang diizinkan dilaksanakan. pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air.3 RUANG LINGKUP PENGAWASAN DALAM PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN SUMBER AIR 5-8 Perlindungan dan pelestarian sumber air terdiri dari beberapa komponen. Perlindungan dan pelestarian sumber air dapat dilakukan dengan kegiatan konstruksi dan non-konstruksi. Pemantauan dan pengawasan terhadap dampak ini dilakukan untuk mengevaluasi terhadap izin yang diberikan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan dengan mengutamakan kegiatan yang lebih bersifat non-konstruksi. pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu. pengisian air pada sumber air. pemantauan. 4. 3. perlindungan f. h. c.

4 Dalam RUANG LINGKUP PENGAWASAN DALAM ASPEK PEMBIAYAAN aspek pembiayaan juga terdapat pembiayaan untuk kegiatan pengawasan sebagaimana dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1. misalnya situ. Yang dimaksud dengan “tempat-tempat penampungan air”. 6. Pemerintah atau pemerintah daerah melibatkan peran masyarakat. dimaksud LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dana yang dibutuhkan dalam pengelolaan sumber daya air mencakup jenis pembiayaan untuk kegiatan: a. 8. Pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan pemantauan dan pengawasan. embung. biaya perencanaan. 5-9 5. biaya pelaksanaan konstruksi. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya mempertahankan keberadaan tempat-tempat penampungan air dan kearifan lokal. biaya sistem informasi. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. c. Pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya dalam rangka perizinan b. Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan perlindungan dan pelestairan sumber air dapat berupa: a.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5. 7. Dalam melaksanakan perlindungan dan pelestarian sumber air dimaksud . dan tempat-tempat yang mempunyai fungsi menampung air sementara (retarding basin). b. Dalam melaksanakan perlindungan dan pelestarian sumber air dimaksud. Pelaksanaan pemantauan dan pengawasan dimaksud dapat ditugaskan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya kepada pengelola sumber daya air.

2. biaya operasi dan pemeliharaan. Biaya pemantauan. misi. uraian tentang visi. dan pemberdayaan masyarakat. dan bertanggung jawab. 5. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . serta biaya untuk pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. Setiap instansi pemerintah sampai tingkat eselon II harus mempunyai Perencanaan Strategik tentang program-program utama yang akan dicapai selama 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahunan. 2. telah diterbitkan Instruksi Presiden RI No. misi dan tujuan organisasi. uraian tentang tujuan. Untuk melaksanakan pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah perlu dikembangkan sistem pelaporan akuntabilitas kinerja yang mencakup indicator. bersih. antara lain pelatihan untuk kelompok masyarakat pemakai air. 3. e. upaya-upaya peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. 7/1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. biaya pemantauan. strategidan factor-faktor kunci keberhasilan organisasi.5 MEKANISME PEMANTAUAN Dalam rangka lebih meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang berdaya guna. Yang dimaksud dengan biaya pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. dan pemberdayaan masyarakat merupakan biaya yang dibutuhkan untuk pemantauan BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-10 dimaksud. metode. evaluasi. evaluai dan pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. evaluasi. berhasil guna. Instruksi presiden ini memandang perlu adanya pelaporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah untuk mengetahui kemampuannya dalam pencapaian visi. sasaran dan aktivitas organisasi. uraian tentang cara mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Perencanaan strategic dimaksud mencakup: 1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA d. mekanisme dan tata cara pelaporan kinerja instansi pemerintah.

Menteri/Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya. pengawasan dimaksudkan untuk mengamati perkembangan pelaksanaan baik dari aspek substansi maupun aspek prosedural. yaitu. Dalam implementasinya. dan penilaian.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Sementara itu. Dalam konteks sumber daya air. Pengendalian rencana pelaksanaan rencana pembangunan koreksi dan dimaksudkan penyesuaian untuk selama masyarakat. Pengawasan melekat. Pengawasan masyarakat. pengawasan yang yang dilakukan tugas dan oleh fungsi 5-11 Lembaga/Badan/Unit organisasi mempunyai pengawasan melalui pemeriksaan. 1. pengawasan yang dilakukan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga/SKPD sesuai dengan tugas dan kewenangannya. yaitu. Pengelolaan sumber daya air mencakup kepentingan lintas sektoral dan lintas wilayah yang memerlukan keterpaduan tindak untuk menjaga kelangsungan fungsi dan manfaat air dan sumber air. Selanjutnya. 3. Pengelolaan ini dilakukan melalui LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kegiatan ini dilakukan oleh pemerintah bersama pemerintah daerah sesuai wewenang dan tanggung jawabnya dengan melibatkan masyarakat. kegiatan pengawasan dapat diklasifikasikan ke dalam 3(tiga) ketegori. diselenggarakan kegiatan pengawasan terhadap seluruh proses dan hasil pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada setiap wilayah sungai. 2. Masyarakat akan berperan untuk menyampaikan laporan dan pengaduan kepada pihak yang berwenang dimana cara penyampaian laporan dan pengaduan ini ditetapkan oleh pemerintah melalui suatu pedoman. pengawasan yang dilakukan oleh menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam melalui kegiatan-kegiatan pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah. untuk menjamin tercapainya tujuan pengelolaan sumber daya air. pengujian. Pengawasan fungsional.

Koordinasi yang disebut di atas dilakukan oleh Dewan SDA atau nama lain sebagai suatu wadah koordinasi dengan tugas pokoknya menyusun dan merumuskan kebijakan serta strategi pengelolaan sumber daya air. Setiap kegiatan atau program yang dilaksanakan oleh masing-masing balai atau instansi maupun pihak yang berkepentingan (stakeholder) di satu wilayah sungai harus dilengkapi dengan laporan pengawasan yang formatnya ditentukan menggunakan suatu pedoman bersama yang dibuat oleh pemerintah. sementara untuk tingkat kabupaten/kota dapat dilakukan oleh Dewan SDA kabupaten/kota oleh pemerintah kabupaten/kota. pada tingkat propinsi oleh Dewan SDA Provinsi yang dibentuk oleh pemerintah provinsi. Hubungan antar wadah yang disebutkan di atas bersifat konsultatif dan koordinatif. Pembentukan wadah di atas semua diatur melalui surat keputusan menteri yang membidangi sumber daya air. Pengawasan dilakukan oleh Menteri yang pelaksanaannya ditugaskan kepada pejabat pengairan yang ditunjuk. Laporan ini akan didampingi oleh laporan pengawasan dan pengaduan yang dibuat oleh masyarakat. Pejabat diberi wewenang mengadakan pengamatan dan penyelidikan untuk memperoleh data dalam hubungannya 5-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . maka mekanisme pemantauan perlu diatur agar tercapai sinergi yang baik antar sektor. dan untuk wadah koordinasi pada wilayah dapat dibentuk sesuai kebutuhan pengelolaan di wilayah sungai bersangkutan. Laporan yang dibuat ditembuskan ke pemerintah dan pemerintah daerah beserta wadah koordinasi di masing-masing tingkatan dan wilayah kerja. Dewan ini sendiri beranggotakan unsur pemerintah dan unsur nonpemerintah dalam jumlah yang seimbang atas dasar prinsip keterwakilan yang susunan organisasinya diatur melalui keputusan presiden.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI koordinasi dengan mengintegrasikan kepentingan berbagai sektor. Menimbang pengelolaan sumber daya air melibatkan kepentingan lintas sektoral dan wilayah. Koordinasi pada tingkat nasional dilakukan oleh Dewan SDA Nasional yang dibentuk pemerintah. wilayah dan para pemilik kepentingan (stakeholder).

Pelaksanaan evaluasi kinerja dengan cara pertama dan kedua saling mendukung.6 MEKANISME EVALUASI Evaluasi kinerja dapat dilakukan dengan 2 cara. sedangkan cara kedua dapat membantu dalam mengidentifikasikan indikator-indikator baru yang lebih relevan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Cara pertama dapat dilaksanakan tanpa melakukan analisis yang mendalam. pengusutannya diserahkan kepada pejabat penyidik yang berwenang. Kedua cara tersebut dibutuhkan dalam pelaksanaan evaluasi kinerja dan keduanya akan memberikan informasi kinerja yang bermanfaat untuk kepentingan perencanaan dan pengendalian pelaksanaan proyek. Penanggung jawab atas bangunan pengairan diwajibkan memberikan 5-13 keterangan yang benar mengenai hal-hal yang diperlukan dan untuk menyertai pejabat dalam pengamatan dan penyelidikan apabila diminta. Pejabat dimaksud harus membuat berita acara mengenai pengamatan dan penyelidikannya sesuai dengan kenyataan dan kebenaran dan ditandatangani olehnya dan disampaikan kepada Menteri. Apabila hasil pengamatan dan penyelidikan terdapat atau diduga terdapat unsurunsur pidana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyusunan indikator dan sasaran kinerja proyek pembangunan. 5. sedangkan untuk melaksanakan cara kedua diperlukan penyusunan indikator dan sasaran kinerja sebagaimana dilakukan pada cara pertama. Ketersediaan indikator dan sasaran kinerja dari hasil pelaksanaan cara pertama akan memudahkan pelaksanaan studi evaluasi kinerja..BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI dengan kelangsungan fungsi tata pengairan pada tempat-tempat yang diperlukan. Pelaksanaan studi evaluasi kinerja proyek pembangunan. 2. yaitu: 1.

dan indikator manfaat (benefits) serta dampak (impacts). yang mencakup indikator masukan (inputs). untuk dijadikan bahan pertimbangan dan masukan bagi pengambil keputusan dalam merencanakan proyek pembangunan selanjutnya. dan dampak dari proyek tertentu yang telah selesai dilaksanakan atau pun telah beberapa tahun berfungsi. Indikator dan sasaran kinerja diklasifikasikan dalam enam kategori. budaya. 5-14 INDIKATOR SASARAN/ KINERJA Sasaran n Rencana Pemanatauan dan pengendalian Outcome/ Manfaat/ Hasil Input/ Masukan Proses Output/ Keluaran Sumber Dana Kesimpulan Rekomendasi Tindak Lanjut Evaluasi Gambar 5. manfaat. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . productivitas dan lain-lain. Indikator tersebut dijabarkan dalam: waktu yang diperlukan. dana yang diperlukan. hasil (results/outcomes). yaitu: teknis atau operasional. lingkungan. jumlah unit yang dihasilkan. 2 Pemantauan dan Evaluasi dalam suatu siklus kegiatan. keluaran (outputs). Studi evaluasi kinerja adalah suatu upaya yang sistematis untuk mengumpulkan data dan informasi yang bersifat obyektif terhadap hasil. institusional. tingkat kualitas.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Indikator dan sasaran kinerja adalah ukuran kuantitatif atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. ekonomi. atau kombinasi dua kategori atau lebih.

tepat waktu. 6. 5. dan dilaporkan. mempersiapkan dan menyusun perencanaan strategik. menjadi isu nasional dan vital bagi pencapaian visi dan misi instansi Pemerintah. dapat diandalkan. d. membuat pembobotan (rating) keberhasilan pencapaian program. Berdasarkan INPRES No. menganalisis hasil pengukuran kinerja. c. membandingkan pencapaian program dengan visi dan misi instansi pemerintah. melakukan evaluasi kinerja dengan: a. relevan. 7/1999 pelaksanaan penyusunan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dilakukan dengan: 1. sasaran dan strategi instansi Pemerintah. b. perbandingan kinerja aktual dengan rencana atau target. 3. Informasi studi evaluasi kinerja bersifat independen. mengukur pencapaian kinerja dengan: a. misi. 2. memantau dan mengamati pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dengan seksama. 4. faktor-faktor kunci keberhasilan. serta memakai metode pengumpulan dan analisis data yang tepat dan transparan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Hal penting dari studi evaluasi kinerja adalah mengenai informasi yang dihasilkan dan bagaimana informasi itu diperoleh. 5-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dapat dipercaya. perbandingan kinerja aktual dengan tahun-tahun sebelumnya. merumuskan indikator kinerja instansi Pemeritah dengan berpedoman pada kegiatan yang dominan. merumuskan visi. b. dianalisis. tujuan. obyektif. perbandingan kinerja aktual dengan kinerja di negara-negara lain. dapat diverifikasi. c. menginterpretasikan data yang diperoleh. atau dengan standar internasional.

6. Secara umum perlu dijelaskan siklus hidrologi yang terjadi yang dapat membantu pemahaman bagaimana air dapat tersimpan dengan baik di dalam tanah dan syarat-syarat agar mekanisme penyimpanan air ini dapat bekerja secara alamiah. Persepsi yang benar mengenai potensi terjadinya kekeringan di satu sisi dan banjir di sisi yang lain perlu mendapat perhatian dalam menyusun sosialisasi kepada masyarakat luas.1 Kekeringan dan banjir Ide awal dari dilaksanakannya prakarsa strategis ini adalah karena adanya suatu kesadaran akan potensi terjadinya dua hal ekstrim yaitu kekeringan dan banjir. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Latar belakang ini menjadi suatu gagasan untuk membentuk suatu pemikiran yang dapat dilakukan untuk saat ini dengan visi ke masa depan untuk menjaga kesinambungan sumber daya air di Pulau Jawa. Hal ini patut diperkenalkan sebagai kondisi natural yang ideal dan sangat diperlukan untuk menjaga kesinambungan sumber daya air guna menunjang kehidupan masyarakat dan negara.1 ARAHAN SOSIALISASI PRAKARSA STRATEGIS Prakarsa strategis yang diuraikan dalam buku ini dapat diberdayakan secara efektif bila dilakukan tindak sosialisasi yang bersifat komprehensif. Pemahaman masyarakat dan daya tangkap masyarakat degan latar belakang yang berbedabeda akan sangat bervariasi terhadap apa yang dijelaskan dalam kebijakan yang tertuang dalam buku prakarsa ini.1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 6 PENUTUP BAB 6 PENUTUP 6-1 6. Oleh karena itu dipandang perlu adanya suatu arahan untuk membangun persepsi yang benar sesuai dengan harapan yang terkandung dalam butir-butir strategi yang telah disusun. Sebagai kontradiktif perlu dijelaskan pula bagaimana mekanisme sehingga dapat terjadi banjir dan mengapa semakin banyak kejadian banjir yang terlansir belakangan ini di Indonesia.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

Dampak kekeringan sangat nyata bagi kehidupan dimana kebutuhan akan air tidak dapat digantikan dengan material lain karena air merupakan substansi dasar bagi kehidupan manusia. Kekeringan yang terjadi karena fenomena alam yang sudah ada sejak dahulu tidak terhindarkan dan perlu disikapi secara bijaksana. Namun lain halnya dengan kekeringan kesalahan dalam mengelola sumber daya alam ataupun pemanfaatan sumber daya yang tidak memperhatikan keseimbangan dan daya dukung alam itu sendiri. Kesalahan yang disebut terakhir ini akan sangat disesalkan karena akan berdampak pada masyarakat luas dan pada tingkat nasional dapat mengganggu stabilitas nasional karena kurangnya bahan pangan, meningkatnya angka kasus kesehatan karena sanitasi yang buruk, hilangnya sumber pencarian bagi sebagian masyarakat dan hal lain yang menjadi dampak lanjutan dari kekeringan. Secara khusus banjir memiliki tingkat fatalitas yang lebih tinggi sebagai suatu bencana karena diakibatkan oleh daya rusak air yang besarannya tidak terduga. Perlu diperjelas bahwa kerusakan dan kerugian yang diakibatkan oleh banjir umumnya lebih besar dibandingkan kerugian yang disebabkan oleh kekeringan. Banjir yang terjadi secara cepat dan genangan air yang meluas menyebabkan kehilangan nyawa juga kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan serta bangunan lainnya karena besarnya daya rusak air yang mengalir, terlebih lagi bila masa air terkumpul dan menjadi besar. Genangan yang terjadi membawa dampak rusaknya bangunan dan harta benda termasuk didalamnya adalah tanaman pangan dan ini semua adalah kerugian yang harus ditanggung. Oleh karenanya banjir harus dapat disikapi secara bijaksana. Sosialisasi yang dilakukan harus mampu menempatkan pemikiran mengenai butuhnya kesadaran akan sindrom ini. Disamping itu perlu dijelaskan pula bahwa ada keterkaitan antara banjir dan kekeringan, dimana banjir merupakan suatu ekstrim dan kekeringan sebagai ekstrim di sisi yang berseberangan. Diantara kedua ekstrim ini ada suatu keseimbangan yang menjadi kondisi ideal. Kondisi inilah yang menjadi tujuan dari pengelolaan sumber daya air yang digariskan dalam strategi ini.

6-2

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

6.1.2

Strategi Implementasi

6-3

Untuk mewujudkan semangat yang ada dalam kebijakan strategi, maka pola implementasi kebijakan ini sudah diatur sedemikian rupa. Penjelasan mengenai latar belakang pembagian ini perlu disajikan pula terkait guna membangun pemikiran mengenai konsep pengelolaan dan komponen-komponen yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan sumber daya air. Ada strategi implementasi ini, yaitu: 1. Lembaga 2. Koordinasi 3. Pembiayaan 4. Monitoring & Evaluasi Pada komponen lembaga perlu dijelaskan mengenai fungsi-fungsi lembaga negara dan keterkaitannya dalam memberikan kontribusi untuk masalah sumber daya air. Materi sosialisasi harus dapat menjelaskan dengan jelas tugas dan fungsi masing-masing lembaga yang terkait. Sebagai kelanjutannya, terkait dengan strategi pengelolaan sumber dasya air, perlu pula diterangkan kerangka kerja yang melibatkan lembaga-lembaga bersangkutan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dengan demikian dapat diketahui posisi setiap lembaga yang berkontribusi dalam pengelolaan sumber daya air. Koordinasi merupakan komponen lain yang tidak kalah penting untuk diatur secara lugas dalam strategi untuk pengelolaan sumber daya air. Perlu ditanamkan pemahaman yang baik bahwa pengelolaan yang dilakukan mengharuskan pelaksanaan yang terpadu antar sektor (multi sektoral) dan menyeluruh. Bagian ini merupakan sisi yang jarang sekali dapat dilakukan dengan baik karena terikat pada kebijakan-kebijakan yang dibuat pada masingmasing sektor dan terkait dengan kepentingan rumah tangganya. Jelas hal ini merupakan suatu kendala yang harus dijembatani dengan membuat suatu mekanisme koordinasi dengan tugas dan tanggung jawab yang jelas. Upaya yang dilakukan dapat dimulai dengan pembuatan matriks koordinasi antar lembaga yang menjadi model awal untuk dibicarakan lebih lanjut. Beberapa 4 komponen dalam

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

contoh dari negara-negara lain yang dikemukakan dalam seminar-seminar terkait kegiatan ini dapat pula diungkapkan untuk menjadi sumber inspirasi dan pemahaman akan pentingnya koordinasi. Pembiayaan merupakan komponen yang tidak mungkin ditinggalkan mengingat setiap program dan kegiatan membutuhkan pembiayaan. Dalam upaya pengelolaan sumber daya air, sejalan dengan semangat transparansi manajemen, melalui sosialisasi perlu dijelaskan pula mengenai sumber-sumber pembiayaan yang digunakan, prinsip tanggungan dan jenis pembiayaan yang ditanggung oleh sumber dana yang ada. Hal-hal ini sebagian telah diatur pula dalam undang-undang dan menjadi dasar penyusunan sumber pembiayaan yang dapat dianggarkan untuk kegiatan pengelolaan. Bagian terakhir dari komponen strategi implementasi yang perlu disosialisasikan adalah yang berkaitan dengan monitoring dan evaluasi (monev) atau juga dalam dokumen disebut sebagai pemantauan dan evaluasi. Perlu ditanamkan pemikiran bahwa suatu program kegiatan yang dibangun ataupun manajemen/pengelolaan tidak akan berkesinambungana tanpa adanya kegiatan pemantauan dan evaluasi. Minimal tanpa adanya komponen ini upaya pengelolaan tidak akan mengalami kemajuan yang diharapkan karena tidak ada umpan balik dari apa yang telah diterapkan.

6-4

6.1.3

Pengalaman Negara Lain

Selain konsep dan aturan perundang-undangan yang telah kita miliki didalam negeri, pengalaman-pengalaman negara lain dalam mengelola sumber daya airnya juga menjadi suatu informasi yang berharga. Proses belajar yang efisien adalah dengan melihat bagaimana permasalahan serupa dapat diselesaikan di negara-negara lain dengan memperhatikan potensi, kendalanya, serta solusi yang dipilih. Mempelajari bagaimana suatu masalah yang sama diselesaikan oleh negera lain akan memberikan inspirasi bagi peserta dan juga keyakinan bahwa masalah
LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

tersebut memang dapat diatasi. Dengan mempelajari strategi yang diterapkan diharapkan akan ada suatu dorongan pemikiran dan semangat berdasarkan keyakinan bahwa dengan konsekwensi yang terukur hal serupa dapat pula diterapkan dengan peluang keberhasilan yang menjanjikan. Model-model yang diterapkan di negara-negara lain sangat bervariasi. Pengambilan keputusan dan keberhasilan yang telah dicapai memberikan gambaran tingkat keberhasilan dari pola yang dipilih. Perlu kehati-hatian dalam memberikan gambaran pengalaman negara lain karena kondisi latar belakang, fisik lingkungan dan solusi yang dipilih memberikan kombinasi yang sangat beragam. Oleh karenanya penjelasan harus dilakukan secara rinci. Selanjutnya, bila pengalaman dari negara lain ingin diaplikasikan, perlu dipelajari dulu kondisikondisi di atas secara bijaksana untuk menentukan pilihan; solusi mana yang paling tepat untuk diterapkan di negara ini berdasarkan data dan fakta.

6-5

6.2

SARAN

Beberapa saran terkait pada strategi yang diulas dalam buku ini : 1. Pengelolaan sumber daya air melibatkan tidak saja penanganan secara struktural tapi juga penanganan dengan cara non-struktural. Kebijakan strategis pengelolaan perlu kiranya menempatkan kebijakan non-struktural sebagai strategi utama untuk diwujudkan dalam kegiataan riil mengingat saat ini yang paling dibutuhkan untuk menjamin perlindungan potensi sumber daya air utamanya adalah adalah terkait dengan konservasi lingkungan. Perangkat perencanaan tata guna lahan dan perlindungan hukum yang berwibawa hingga kini masih jauh tertinggal dibanding pembangunan infrastruktur karena penilaian terhadap pertanggungjawaban pekerjaan fisik infrastruktur lebih jelas. 2. Pelaksanaan kebijakan perlu dimulai dengan pendekatan non-struktural dan disusul kemudian dengan pendekatan struktural. Program dimulai dengan pendekatan awal terhadap masyarakat, pemeliharaan lingkungan dan

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

seterusnya hingga pembangunan infrastruktur SDA pada lokasi-lokasi strategis yang memberikan keuntungan luas bagi masyarakat. 3. Strategi struktural yang disajikan dalam dokumen ini merupakan kebijakan struktural wilayah sungai di Pulau Jawa yang dikelola oleh beberapa balai sumber daya air. Adanya perubahan wilayah sungai yang digariskan dalam Permen PU No. 11/PRT/M/2006 secara otomatis mengubah lingkup kebijakan di beberapa wilayah sungai yang dibentuk ulang. Pola wilayah yang baru mengindikasikan kemungkinan adanya transfer inter basin. Proses

6-6

regrouping kebijakan dilakukan dalam buku ini atas kegiatan yang sudah
ada ke dalam wilayah baru. Perlu adanya tindak lanjut untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan baru pada masing-masing wilayah sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya sehingga penanganan masalah sumber daya air dilakukan lebih merata. 4. Bentuk wilayah baru yang digariskan dalam Peraturan menteri pada poin (3) di atas selanjutnya menjadi bahan dalam rancangan Peraturan Presiden. Peraturan presedien yang tengah direncanakan ini nantinya akan menjadi dasar hukum yang kuat untuk melaksanakan pengelolaan wilayah sungai yang baru. Demikian pula halnya untuk memulai kegiatan balai-balai sumber daya air baru yang diatur oleh peraturan menteri Permen PU No. 1213/PRT/M/2006 peraturan tersebut sangat berperan. Sebagai langkah konkret disarankan adanya koordinasi terpusat untuk melakukan restrukturisasi keterkaitan tugas-tanggung balai baru dengan balai-balai yang sudah ada selama ini. 5. Untuk mendapatkan strategi yang aplikatif perlu ada masukan dari masingmasing balai berdasarkan pengalaman dan penilaian terhadap kondisi fisik wilayah sungai yang dikelola. Contoh yang diperoleh dari pengelolaan sumber daya air di luar negeri perlu disikapi dengan bijaksana mengingat kondisi alam dan kultur yang berbeda. Untuk itu dalam pengambilan keputusan di masa yang akan datang perlu mengikutsertakan balai-balai yang sudah operasional sejak lama untuk mendapatkan pertimbangan spesifik sesuai lokasi kerjanya.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber daya air. 2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 11A/PRT/M/2006 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayahg Sungai. 3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 12/PRT/M/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Wilayah Sungai. 4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 13/PRT/M/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Wilayah Sungai. 5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 tahun 2005 tentang Kerjasama Infrastruktur. 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 38/PRT/1989 tentang Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan

DP-1

Pembagian Wilayah Sungai 7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 48/PRT/1990 tentang

Pengelolaan Atas Air dan Atau Sumber Air pada Wilayah Sungai. 8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 49/PRT/1989 tentang Tatacara dan Persyaratan Izin Penggunaan Air dan atau Sumber Air 9. Keputusan Mendagri No. 176 tahun 1996 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA. 10. Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Nomor : 19/KPTS/A/1994 tanggal 19 April 1994 tentang Pembentukan Badan Pelaksana Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman 11. Reclaiming Public Water-Achievements, Struggles and Visions from Around the World, 2005.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

2001. 20. David R. Directorate General Of Water Resources Development.. Maidment. 1984. Semarang. 1985. The Netherlands. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah. 1988. 18. Jakarta. Ven Te. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto. Jakarta. 2000. 2000. Bureau Icim. Banjar. 1979. Directorate General Of Water Resources Development. Preliminary Study On Ciliwung-Cisadane River Flood Control Project. Directorate General DP-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. 17. The Citanduy River Basin Development Project. Applied Hydrology. DUFLOW: A micro-computer package for the simulation of one-dimensional unsteady flow and water quality in open channel system. Cimanuk River Basin Development Project West Java. Cibinong.. Chow. Instruksi Presiden Nomor 7/1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Jratunseluna. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah. 15. 13. McGraw-Hill. Bidang Neraca Sumberdaya Alam Pusat Survei Sumberdaya Alam Darat Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. 14. and Mays. 16. Feasibility Studi On Karian Multipurpose Dam Construction Project. Neraca Sumberdaya Air Spasial Nasional. 1992. 19. Bureau Icim. Larry W. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Ministry Of Settlement And Regional Infrastructure Republic Of Indonesia.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 12. Semarang. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan. 21. Directorate General Of Water Resources Development. Ciliwung Cisadane River Basin Development Project. Bakosurtanal. 2001.

22.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. Jakarta. Jakarta Flood Control Halim Retention Basin Pilot Project. Directorate General Of Water Resources Development. The Study On Comprehensive Management Plan For The Water Resources Of The Brantas River Basin In The Republic Of Indonesia. Jakarta. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development. 24. Directorate General Of Water Resources Development. CisadaneCimanuk Intergrated Water Resources Development (BTA-155). Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Jakarta. Jabotabek Water Resources Management Study. Directorate General Of Water Resources Development. Jakarta. 1998. The Study On Comprehensive River Water Management Plan In Jabotabek. Directorate General Of Water Resources Development. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. 25. Ministry Public Works Republic Of Indonesia. 1999. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. 28. Jakarta. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Jakarta. Jatiluhur Water Resources Management Project Preparation Study (JWRMP). 23. The CiujungCidurian Intergrated Water Resources In Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development. 26. 1994. 27. DP-3 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 1989. 1998. Jakarta. Directorate General Of Water Resources Development. 1997. Jakarta. 1995.

1975. Mock. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Basic study prepared for FAO/UNDP Land Capability Appraisal Project. Directorate Of Management And Conservation Of Water Resources.J. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum. Ditjen Pengairan PU. 32. 1998. The Citanduy River Basin Development Project. Direktorat Jenderal Sumberdaya Yogyakarta. Jakarta. F. Water Availability Appraisal. 2003. Jakarta. 34. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 1999. 1999. 37. 30. 31. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Standar Perencanaan Irigasi: Kriteria DP-4 Perencanaan Bagian Bangunan Utama. Jakarta. Inventarisasi/Penataan Situ/Rawa/Danau Di Wilayah SWS CiujungCiliman. Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 1999. 1986. Jabotabek Water Resources Management Study. 33. Directorate Of Rivers And Swamps. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Citarum. Penyusunan Program Rencana Pengembangan Sumberdaya Air DIY Pada SWS Progo Opak Oyo Daereah Istimewa Yogyakarta. 36. 1996. Jakarta.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 29. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Jakarta. Ditjen Pengairan PU. Proyek Pengembangan dan Konservasi Sumberdaya Air Ciujung-Ciliman.. Jakarta. Ditjen Pengairan PU. Pedoman Pengendalian Banjir. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of The Republic Indonesia. Directorate General of Water Resources Development Ministry Of Public Works And Electric Power. Serang. Proyek Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Air Yogyakarta. 35. Bogor. Ditjen Pengairan PU. 1973.

Jakarta. Bandung. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum. 2003. 41. Jakarta. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumberdaya Air dan Ketatalaksanaan Pembangunan Pengairan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 38. 2004. 42. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumberdaya Air dan Ketatalaksanaan Pembangunan Pengairan. 40. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana. Proyek PPSA Citanduy-Ciwulan. Proyek Penyediaan Air Baku Cimanuk – Cisanggarung. 2003. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Jakarta. Perencanaan Pengembangan Pemanfaatan Air dan Sumber Air (Paket . Penyusunan Neraca Air Nasional (Tahap . 2001. 43. Identifikasi Potensi SDA Di Wilayah Proyek Penyediaan Air Baku Cimanuk – Cisanggarung.1). 2003.1) Bagian DPS Cisadane dan DPS Ciliwung. Proyek Induk Pengembangan WS Cimanuk-Cisanggarung Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Studi Potensi dan Pengembangan Sumberdaya Air Tersebar di Propinsi Banten. Proyek Perencanaan Pengembangan Pemanfaatan Sumberdaya Air Di Jawa Barat. Proyek Studi Potensi dan Pengembangan Sumberdaya Air. DP-5 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 2000. Indramayu. 1999. Serang. Perencanaan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Pemali-Comal. Serang. Proyek Pengembangan dan Konservasi Sumberdaya Air Ciujung-Ciliman. 44. Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Propinsi Banten. 39. 2002. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai di Pulau Jawa. Penyusunan/Pembuatan Buku Sungai Ciujung Dan Sungai Cidurian. Studi Identifikasi Potensi Air Baku Di Wilayah Sungai Citanduy – Ciwulan. Pekerjaan Penyiapan Bahan Penyusunan Neraca Air Nasional. 45. Banjar.

. Penerapan Metoda Mock untuk Menghitung Debit Andalan di Sub Daerah Pengaliran Sungai Citarum Hulu. New York. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 46. Jurusan Teknik Sipil. 1999. and Eaglin. 1997. John Wiley and Sons. M. R. 47. R. Kersten. Diding. Sudirman..P. Tugas Akhir Sarjana. Wanielista.. Hydrology: Water DP-6 Quantity and Quality Control. Institut Teknologi Bandung.

1 Latar Belakang Akibat adanya gelombang yang membawa ideologi privatisasi. di sisi lain perusahaan publik yang ”status quo” dan sering bertindak birokratis dan tidak efektif − yang ada pada sebagian besar negara-negara berkembang − juga gagal untuk memberi layanan 1 ”Reclaiming Public Water-Achievements. sebaliknya malah menaikkan tarif airnya jauh diluar jangkauan keluarga miskin.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ANNEX PEMBELAJARAN ANTARA PRAKTEK PRIVATISASI DAN PERKUATAN PERUSAHAAN UMUM LAYANAN AIR A-1 A. perusahaan-perusahaan layanan air global terbukti telah gagal memenuhi janji-janjinya untuk memperbaiki layananannya. Saatnya telah tiba untuk mem-fokuskan kembali wacana (debate) global mengenai layanan air pada pertanyaan kunci: bagaimana meningkatkan/memperbaiki dan memperluas layanan air oleh perusahaan umum diseluruh dunia? Sementara privatisasi adalah bukan solusi. Hampir tanpa perkecualian. pelayanan air di dekade 1990-an yang pada intinya merupakan masa perjuangan untuk mewujudkan air bersih bagi semua orang akhirnya mengalami kemunduran. Struggles and Visions from Around the World” (2005) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Meningkatnya kampanye anti privatisasi melalui gerakan LSM di tingkat akar rumput (grassroot) di negara-negara seluruh dunia telah mengukuhkan jejaring ditingkat regional dan global yang kemudian memulai gelombang balik melawan “fee-market fundamentalism”. Kegagalan privatisasi yang bercirikan “high-profile” di kota-kota besar di belahan bumi selatan menjadi bukti yang kuat bahwa pemenuhan kebutuhan air untuk rakyat miskin tidak tepat bila dipercayakan pada pengelolaan perusahaan layanan penyedia air trans-nasional yang berorientasi pada keuntungan1.

Malaysia. menarik dan meningkatkan volume investasi (khususnya di negaranegara berkembang) dan memperluas sambungan layanan jaringan air minum dan sanitasi kepada keluarga miskin. Privatisasi memasuki negara-negara dalam proses transisi seperti Eropa Timur dengan gelombang konsesi-nya. Namun seperti yang kita alami. Privatisasi pada mulanya diharapkan akan membawa efisiensi yang lebih besar dan tarif yang lebih rendah. Mulai dari Asosiasi Pekerja Air sampai koperasi pekerja kini telah mempunyai peran kunci dalam pelayanan air di kota-kota di Argentina dan Bangladesh. dan di Afrika. dimana beberapa seri kota-kota besar telah diprivatisasi.2 Kegagalan Privatisasi Tahun 1990-an adalah dekade privatisasi air dimana telah terbukti dalam pelaksanaannya konsep ini mengalami kegagalan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pelajaran penting dapat digali dari model-model yang mengedepankan pendekatan yang berfokus pada manusia (people centered) dan partisipasi publik. Di Olavanna (Kerala. menjadi negara dengan ekonomi yang berorientasikan kepada pasar yang terbuka. masyarakat setempat telah mengambil kendali dalam perbaikan layanan air. memobilisasi kapasitas sendiri dan sumber daya setempat. Dikota lain seperti Penang. A-2 A. dalam republik Czech dan Hungary. India) dan Savelugu (Ghana). pengalaman menunjukkan fakta yang berlainan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air bersih pada mereka yang membutuhkan. di Amerika latin. termasuk ”flagship”: konsesi di Aguas Argentinas di Buenos Aires. sebagai contoh adalah yang tengah dilaksanakan di Porto Alegre dan Recife (Brazil) dan kini dalam tahap pengembangan1. penemuan kembali ethos layanan umum telah membawa pada peningkatan yang signifikan atas kinerja layanan utilitas umum. di Asia. Perluasan perusahaan air dalam dasawarsa 1990-an didukung oleh the World Bank dan institusi international lainnya sebagai bagian dari kebijakan untuk transformasi negara berkembang dan negara dalam proses transisi. khususnya Argentina. Manila dan Jakarta. termasuk privatisasi di 2 kota besar. Di kota-kota ini. layanan air umum sedang ditingkatkan melalui peningkatan partisipasi masyarakat dan pengguna serta reformasi-reformasi demokratis lainnya.

Meskipun demikian. namun dibanyak tempat bentuk privatisasi dipromosikan berdasarkan bentuk konsesi. Ketidak populeran konsep privatisasi sebagian apa yang telah dijanjikan. dan beberapa bentuk kontrol yang perlu dikendalikan oleh partner swasta. tetapi ada elemen yang bersifat konstan. Variasi dari bentuk ini termasuk kerjasama/”joint venture” dengan pemerintah atau perusahaan pemerintah. penyewaan. konsesi adalah bentuk privatisasi yang paling favorit. Penjualan secara lengkap/ tuntas sistem air kepada perusahaan swasta telah diperkenalkan di Inggris.operate and transfer) schemes. tetapi sejak tahun 2000. dan juga beberapa kota kecil di Afrika Selatan. misalnya Cote d’Ivore. Bentuk-bentuk yang lebih tepat telah dipilih oleh perusahaan-perusahaan swasta pada awal tahun 1990-an . dimana bentuk kerjasama tersebut harus distrukturkan untuk memberikan keleluasaan bagi mitra swasta untuk memperoleh ”return”/keuntungan. yaitu memindahkan pengendalian dan manajemen operasi kepada perusahaan swasta. Harga-harga yang naik merefleksikan berkurangnya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dimana konsensi didapat dari sistem koloni Perancis. Privatisasi dari layanan pasokan air dan sanitasi telah mengambil berbagai bentuk. perusahaan-perusahaan lebih memilih pilihanpilihan yang kurang berisiko yaitu penyewaan atau kontrak manajemen. dan kontrak manajemen (atau bentuk khusus dari konsesi untuk pembangunan ”water treatment” atau waduk. dan dikenal sebagai BOTs (build. Kalimat-kalimat lain yang biasa dipakai adalah-termasuk ”public- A-3 private partnership” (PPPs) dan ”private sector participation” (PSP) – dimana penggunaan kata ”privatisasi” saja yang merupakan konsep yang menjadi kurang populer dicoba untuk tidak digunakan. yang hasilnya berbeda dengan Perusahaan-perusahaan telah berinvestasi sebanyak yang diharapkan. besar disebabkan gagal oleh untuk mereka masih mengacu kepada bentuk yang sama dari konsep hubungan kontraktual pengalaman berdasarkan hasil nyata operasi. investasi swasta dalam infrastruktur telah menurun pada akhir 1990-an dan investasi oleh bank pembangunan juga mengalami penurunan. dengan sektor swasta. sedemikian hingga membuat mereka sumber keuntungan untuk modal/kapital swasta.

Ketiga-tiganya menggunakan tindakan politis dan hukum untuk mendapatkan kembali kerugiankerugian yang pernah dialami dan tetap meng-klaim/ menuntut keuntungankeuntungan yang diantisipasi. perusahaan-perusahaan air multinasional telah memutuskan untuk mengambil tindakan guna memotong kerugiannya. civil society groups (masyarakat madani) dan dari kalangan partai-partai politik. dua kota besar di Asia yang menggunakan jasa operator swasta. Akhirnya. mempunyai tingkat kehilangan air yang lebih tinggi dari mayoritas kota besar dimana pelayanan air dilaksanakan oleh perusahaan umum. resiko-resiko yang tidak diharapkan. kinerja mereka ternyata tidak menjadi lebih baik dari pada operator yang perusahaan umum dalam hal perluasan layanan kepada kaum miskin. pencinta lingkungan. Meski seluruh perhatian dan dukungan telah diberikan kepada konsesi privatisasi air di Amerika Latin. dapat disaksikan bahwa terdapat perlawanan keras yang sedang berkembang atas privatisasi air di negara-negara berkembang. Bila target-target yang dispesifikasikan dalam kontrak tidak dapat dipenuhi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pengembalian modal yang diperlukan oleh banyak perusahaan. mengumumkan akan menarik sepertiga dari invetasi yang ada di negara-negara berkembang. Dihadapkan dengan pengembalian investasi yang jelek. dari konsumen. dan oposisi politis. Kontradiksi-kontradiksi dimaksud diperparah oleh pergerakan nilai tukar mata uang dan krisis-krisis ekonomi. operasi pelayanan air yang di”swastakan” di Argentina sekarang mengalami kebangkrutan. Regulator telah menjadi kekurangan kekuasaan dan kompetensinya untuk mengendalikan perilaku kontraktor-kontraktor. perusahaan multinasional bidang air. pekerja. Telah ditetapkan instrumen baru untuk memberikan jaminan yang lebih kuat kepada perusahaan swasta dan sedang dicari bentuk-bentuk lain dari kesempatan berusaha (business) di sektor ini. seperti ”franchising” vendor-vendor air di daerah-daerah A-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pada bulan Januari 2003. dan Veolia dan Thames Water juga menarik dari kontrak-kontrak. Manila dan Jakarta. justru kontraknya-lah yang dirubah dibanding harus memenuhi apa yang disyaratkan sebelumnya. Bank Dunia telah mengakui kegagalan privatisasi yang dulu diharapkan dapat membawa investasi-investasi dalam perluasan layanan air. Suez.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ”peri-urban”. masalah-masalah ekonomi dan politisnya serta kegagalan dalam mengadakan perluasan layanan kepada masyarakat miskin. privatisasi utilitas Casablanca diatur dengan dekrit Raja Hassan.2. Pengembangan dari pendekatan–pendekatan baru dalam pengelolaan layanan air datang dari mereka-mereka yang berkampanye menentang privatisasi. Selama tahun 1980-an khususnya. Tidak bijaksana untuk menilai bahwa kegagalan-kegagalan yang terjadi disebabkan karena kepemilikan air yang dikuasi oleh perusahaan umum. mereka hanya mengerjakan hal-hal yang kecil untuk orang-orang yang membutuhkan tingkat layanan yang terjangkau dalam layanan air dan sanitasi. layanan pada kaum miskin selalu dikorbankan sementara regim yang korup mengambil keuntungan untuk mereka sendiri dari pinjaman yang ditujukan untuk air. meskipun hal ini menjadi tanggung jawab dari lebih 90% badan layanan air dan sanitasi dunia. Awal berkembangnya privatisasi justru terjadi pada regim-regim yang tidak demokratis seperti. Tanpa akuntabilitas. dan sama sekali meninggalkan transparansi. struktur tersebut telah mengalami kegagalan dalam menyediakan perluasan layanan air − bahkan ketika bank-bank pembangunan menyediakan pinjaman-pinjaman yang dibutuhkan − dan kegagalan-kegagalan ini dijadikan alasan untuk men-justifikasi kebijakan privatisasi diawal tahun 1990-an. Banyak negara-negara pada periode 1980-an barada didalam cengkeraman rejim yang diktator dan korup dengan pelecehan atas hak azasi manusia dan proses demokratis. privatisasi air untuk Jakarta diatur secara korup di era kediktatoran Suharto. Tetapi Bank Dunia. khususnya dinegara-negara berkembang pada tahun-tahun sebelumnya. Suez aktif di Afrika Selatan yang sedang dibawah regim apartheid. A.1 Kegagalan Dalam Regim Yang Tidak Demokratis A-5 Isu bersama dari kampanye-kampanye adalah kritik atas privatisasi itu sendiri. Hal-hal ini adalah respon dari perusahaanperusahaan dan Bank Dunia dalam menangani masalah-masalah mereka. bank-bank pembangunan lain dan organisasiorganisasi donor tetap menolak untuk menyediakan dukungan bagi perusahaan publik di sektor air. Tetapi kampanye-kampanye juga harus mengakui kegagalan dan keterbatasan praktek-praktek dari operator perusahaan umum. tidak LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

Analisis yang sama dapat diterapkan atas keluhan oleh bank-bank A-6 pembangunan dan lembaga donor. Pemerintah tidak dapat memberikan prioritas yang memadai kepada kebijakan sektor air dibandingkan dengan kebijakan di sektor lain. ia mendorong dilaksanakannya kebijakan ”piecemeal” privatisasi yang mana sesuai dengan kehendak IMF untuk membatasi hutang pemerintah. sebagaimana pemerintah dan masyarakat di negara-negara berkembang mempunyai perhatian yang kurang atas air dan sanitasi dibandingkan dengan birokrat-birokrat yang sudah dicerahkan oleh institusi internasional. ada kampanye yang luas untuk suatu kebijakan sanitasi nasional yang secara kasar ditolak oleh Cardoso. calon presiden favorit bagi International Financial Institutions (IFIs). Di Latvia ada LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dari pada sebagai masalah dalam sektor publik itu sendiri. Masalah pada tahun 1980-an dimana sektor publik mengalami kegagalan dapat dilihat sebagai kurangnya proses demokratis dalam sektor publik. menunjukkan adanya kebutuhan tentang pendekatan baru yang berdasar kepada proses demokrasi dan tingkat partisipasi masyarakat yang menjamin akuntabilitas. kesempatan untuk mempraktekkan prinsip baru demokrasi ditangkap dalam berbagai bentuk. adalah bukan pada kurang populernya kebutuhan layanan air dan sanitasi. dibanding privatisasi yang dipilih oleh regim diktator. sebagaimana diakui IMF sendiri saat ini. Hal ini telah menyebabkan jauh berkurangnya investasi di bidang air (dan infrastruktur lainnya seperti listrik). termasuk pengembangan pendekatan baru untuk memperluas layanan penyediaan air bersih dan sanitasi ke daerah baru. Kontrak-kontrak yang mereka dapatkan dipegang dengan rahasia bahkan terhadap anggota dewan kota—khususnya dikota yang ironis seperti Gdansk (Polandia) dan Budapest (Hongaria) dimana mereka sedang mengalami proses transisi dari regim tidak demokratis komunis menjadi regim yang diharapkan lebih akuntabel. Pengalaman negara Brasil setelah berakhirnya diktator militer mendukung hal-hal ini. Masalahnya. dan sistem yang demokratis. tetapi pada kegagalan pemerintah merespon tuntutan ini. Inisiatif-inisiatif ini. Di Brazil pada awal 1990-an. Waktu ia menjadi presiden di tahun 1995.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA oleh tender kompetitif yang dilaksanakan oleh dewan kota.

tidak ada satupun negara diluar Perancis. yang mempunyai pengalaman atau dengan serius mempertimbangkan privatisasi air dalam kurun waktu hampir satu abad terakhir. Sebelum 1990. masyarakat telah mendemonstrasikan kemauannya dengan menggunakan tenaga kerja mereka sendiri dan dana tabungannya untuk membuat sistem air bersih dan sanitasi.2 A-7 ”Northern Past Dan Southern Future” Dalam pengembangan kebijakan alternatif dan struktur. Dengan demikian pemerintah-pemerintah yang tidak efektif dapat dilihat sebagai bukti kegagalan proses-proses politik. yang kadang diperberat oleh kebijakankebijakan yang dibuat oleh IFIs sendiri. Diketahui bahwa lingkup dan era privatisasi dibidang air ternyata sangat sempit. masih baru dan sangat pendek. Salah satunya adalah sejarah keberhasilan sektor publik di negara-negara maju pada abad 19 dan yang terbanyak di abad 20 − sebagai ”the northern past”. Di permukiman peri-urban dimana pemerintah gagal menyediakan layanan pokok. A. Dibalik perhatian yang ”misleading” kepada privatisasi. ditemukan kembali pelajaran dari pengalaman negara-negara di belahan utara. karena perusahaan milik kota dapat menyediakan perluasan pelayanan dengan lebih efisien dan lebih efektif. khususnya demokrasi partisipatif di Brazil dan India − the ”southern future”.2. Dan satu sumber lagi adalah munculnya bentuk baru dari struktur demokratis di selatan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kampanye publik untuk pembangunan instalasi pengolah air limbah meski masih dibawah Uni Soviet pada waktu itu. kecuali beberapa kota di Spanyol dan Italia dan beberapa kota bekas koloni Perancis. kampanye-kampanye telah mendasarkan argumen-argumennya atas dua sumber inspirasi pokok. Masalahnya adalah kurangnya proses yang demokratis. seperti di Orangi di Pakistan. Hanya Perancis lah yang berhasil menyelamatkan kontraktor abad 19 dan mengkonsolidasikannya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pengalaman kebanyakan negara-negara di Eropa dan Amerika Utara adalah mengganti kontraktor-kontraktor swasta dari pertengahan abad 19 dengan perusahaan pelayanan air milik kota.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

menjadi

oligopoli

swasta,

yang

menjadi

alasan

bagi

Perancis

untuk

A-8

mempromosikan ideologi privatisasi air dan utilitas lainnya oleh pemerintahan Perdana Menteri Thatcher di Inggris. Negara-negara komunis dan negara-negara yang merdeka setelah pascakolonial berakhir, juga membangun layanan air melalui sektor publik, melalui kepemilikan di tingkat kota, wilayah, atau tingkat nasional. Secara historis, perusahaan utilitas sektor publik adalah model yang cukup berhasil dalam mengembangkan layanan perluasan atas air dan sanitasi untuk seluruh penduduk perkotaan dan bahkan pedesaan. Lebih dari 80% penduduk di Uni Eropa dan Amerika Serikat tetap dilayani operator publik, meskipun mengalami advokasi untuk diprivatisasi pada tahun-tahun belakangan. Di negara-negara belahan selatan, bentuk-bentuk demokratis baru telah muncul dengan mengedepankan partisipasi dan sentralisasi. India mempunyai sistem dewan desa yang dipilih yang disebut ”panchayats”, dan di negara bagian Kerala pemerintahan kiri meng-inisiasi peluncuran program desentralisasi dan partisipasi − hampir 40% dari anggaran negara bagian telah disalurkan melalui panchayat, warga mempunyai hak untuk melihat setiap dokumen dan prioritas anggaran ditetapkan melalui bebarapa tahapan pertemuan-pertemuan umum. Di Brazil, pemerintahan Partai Pekerja telah mengadopsi kebijakan-kebijakan yang membangun sistem devolutif dan partisipasi pada tingkat pemeritahan kota dimana kekuasaan terletak, melalui sistem yang dikenal sebagai ”participatory-

budgeting”.
A.3 Pemberdayaan Perusahaan Umum Pelayanan Air −Langkah Kedepan

Diketaui ada dua pilihan yang layak dalam merencanakan pelayanan air, baik menggunakan privatisasi layanan air maupun menggunakan layanan air yang pernah diselenggarakan oleh pemerintah dan kenyataannya tidak mencukupi. Keberadaaan pilihan ini tidak menjadi masalah bila layanan air dari pemerintah dapat dilakukan secara efektif, namun pertanyaannya adalah bagaimana membuat layanan air dari sektor publik ini menjadi efisien dan efektif. Obsesi

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

ideologi yang baru dibarengi dengan promosi sektor swasta dalam sepuluh tahun terakhir ini telah mengakibatkan pertanyaan di atas belum mendapatkan perhatian yang semestinya dalam penyusunan kebijakan dan proses pengambilan keputusan. Dari uraian pada bagian sebelumnya dijelaskan bahwa sekarang ini mulai muncul situasi baru yang bersifat fundamental akibat adanya beberapa kegagalan privatisasi yang besar, penarikan diri oleh sektor swasta multinasional bidang air dari negara-negara sedang berkembang, dan kenyataan yang dihadapi oleh para pembela privatisasi meski jelas bahwa inestasi sektor swasta tidak akan sampai ke kaum miskin. Oleh karena itu upaya untuk memfokuskan kembali pada perbaikan kinerja dan cakupan utilitas umum sangat dibutuhkan. Beberapa kasus yang disinggung disini menunjukkan bagaimana perbaikan yang signifikan dibidang akses atas air bersih dan sanitasi dapat dicapai dengan berbagai pola manajemen air publik. Solusi atas masalah air publik yang bertitik berat pada masyarakat telah terjadi pada berbagai kondisi lingkungan sosialekonomi, budaya dan politis. Sebagai contoh, termasuk pencapaian utilitas publik dan koperasi di Porto Alegre (Brazil), Santa Cruz (Bolivia) dan Penang (Malaysia); pencapaian perbaikan dengan manajemen model penyediaan publik yang inovatif di Caracas (Venezuela), Harrismith (South Africa) dan provinsi di Buenos Aries (Argentina); dan pencapaian dari pendekatan air yang dikelola masyarakat (community-managed water) di Olavanna (Kerala, India) dan Savelugu (Ghana). Berbagai macam pendekatan publik dimaksud telah membuktikan potensinya sebagai upaya untuk memperbaiki layanan air, dan sudah barang tentu termasuk untuk kaum miskin. Hampir disemua kasus, pencapaian-pencapaian dimaksud telah terjadi ditengah kondisi terjadinya perlawanan terhadap keanehan dan rintangan untuk perbaikan penyediaan air yang dikendalikan oleh publik dan masyarakat. Diantaranya yang terburuk adalah sistematis bias terhadap upaya perbaikan air publik dari

A-9

International Financial Institution (IFI’s) dan privatisasi dengan persyaratanpersyaratan tertentu yang dikaitkan dengan upaya untuk mengurangi jumlah dana bantuan pembangunan yang ditawarkan oleh pemerintahan di negara-

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

negara di kawasan utara. Hambatan-hambatan yang bersifat politis dan finansial dan hambatan lainnya yang mencegah manajemen air publik mencapai potensi penuhnya tidak dapat diatasi. Pada prinsipnya apa yang diperlukan adalah sikap politis untuk menciptakan lingkungan yang lebih kondusif. Hal ini menggarisbesari kisaran yang luas dari pilihan-pilihan kebijakan yang progresif. Dapat juga disimpulkan bahwa perkuatan demokratis, karakter publik dari layanan air pada prinsipnya tidak sejalan dengan model globalisasi neoliberal yang sedang dominan diwaktu kini, yang mana telah mempengaruhi beberapa aspek kehidupan kedalam kerasnya pemikiran dari pasar global. Menarik beberapa pengalaman dari seluruh dunia beberapa isu kunci yang perlu diwacanakan (debat) secara lebih intensif diwaktu mendatang adalah: • Pilihan-pilihan apa yang diperlukan untuk memperbaiki dan memperluas layanan air dan sanitasi publik untuk menghadapi tantangan keberlanjutan, keadilan dan akses untuk semua? • • • • Apa potensi dari partispasi masyarakat/pengguna dan bentuk-bentuk lain dari demokratisasi? Kondisi-kondisi apa saja yang diperlukan agar membuat reformasi utilitas publik yang berfokus pada penduduk dapat berjalan? Masalah-masalah apa saja yang menghinggapi komersialisasi operasi air sektor publik? Pelajaran-pelajaran apa yang dapat dipetik pada bagaimana caranya untuk mengatasi hambatan-hambatan kenaikan biaya yang diperlukan untuk perbaikan-perbaikan? • • Proses-proses politik macam apa yang terlibat dalam pengembangan air publik yang berhasil? Apa yang diperlukan untuk merealisasikan, dari tingkat lokal ke global, untuk menyebarkan, memperkuat dan melaksanakan layanan air dan sanitasi publik untuk daerah urban?

A-10

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

Melalui suatu proses pertemuanpertemuan publik.5% dari penduduk termasuk yang tinggal dikawasan kumuh dan miskin di penggiran. Hal ini memberi kewenangan bagi para pengguna untuk memegang kendali atas akuntabilitas perusahaan dalam menjalankan pelayanannya dengan misinya yang bersifat not-for-profit. Di Porto Alegre. Koperasi air di Bolivia dan Argentina memperbolehkan para pengguna (yang semuanya adalah anggota dengan hak suara/voting) berpengaruh langsung dalam pengambilan keputusan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA A. mendapatkan masukan berdasar pengetahuan yang unik dari masyarakat dengan sendirinya merupakan suatu aset. Seperti halnya pada beberapa wilayah kehidupan publik lainnya di Porto Alegre. respon dan pencapaian tujuan sosial Partisipasi dan demokratisasi yang efektif dimaksud dapat tampil dalam berbagai bentuk. sekarang ini mempunyai akses terhadap air bersih. partisipasi warga masyarakat dan pengguna air dalam berbagai dari layanan air yang dikelola publik. Bertambahnya rasa memiliki berkontribusi terhadap bertambahnya kemauan untuk membayar dan dengan demikian memungkinkan untuk membuat investasi baru serta LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . penggabungan keterlibatan masyarakat madani (civil society) dengan upaya reformasi demokratis yang inovatif seperti ”participatory budgeting/Anggaran Partisipatif”. ”anggaran partisipatif” telah memainkan peran penting yang menjamin bahwa 99. telah menjadi suatu model yang sering dideskripsikan sebagai ”social control (kontrol sosial)”. setiap warga dapat menyuarakan pendapatnya misalnya menyatakan dimana suatu investasi dapat pertama-tama dapat dilaksanakan.4 Partisipasi dan Bentuk-bentuk Demokratisasi Lainnya A-11 Di beberapa kota yang diulas dalam tulisan ini. bentuk adalah faktor penting dibelakang peningkatan-peningkatan dalam efektivitas. Di Porto Alegre dan beberapa kota lainnya yang sedang tumbuh di Brasil. masyarakat langsung menetapkan prioritas anggaran dari perusahaan-layanan-airnya. Untuk perusahaan utilitas. misalnya melalui pemilihan badan pengarah perusahaan utilitas (dalam hal ini layanan air dan sanitasi).

Pengalaman Brasil menunjukkan bahwa skala tidak mesti sesuatu yang menghambat untuk melaksanakan pengelolaan air yang bersifat partisipatif. dan sebelum memulai reformasi demokratis sebagian besar penduduk mengalami kekurangan akses pada air bersih.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA meningkatkan pemeliharaan. Contoh lain dari Porto Alegre-style pengelolaan air yang partisipatif di Brasil dapat ditemukan di kota-kota seperti Caxias do Sul di negara bagian Rio Grade de Sul. Recife. yang juga akan sangat mungkin mengurangi resiko terjadinya korupsi. Lebih dari 400 orang wakil terpilih pada pertemuanpertemuan (tingkat lingkungan) tersebut telah berpastisipasi dalam suatu konferensi dimana tidak kurang dari 160 keputusan telah diambil berkenaan dengan masalah air dan sanitasi di Recife untuk masa depan. Transparansi dengan sendirinya juga akan meningkat. Tetapi hal ini tidak akan mengurangi nilai dari pencapaian yang bisa didapatkan melalui proses partisipasi demokrasi. Jacarel and Piracicaba. bagian tenggara kota yang mempunyai jumlah penduduk berpenghasilan rendah yang sangat besar. Hal ini telah dicanangkan di tahun 2001 dengan proses konsultasi partisipatif selama tujuh bulan. Tingkat kemakmuran kota ini sebenarnya merupakan salah satu faktor yang menguntungkan dalam menyiapkan upaya peningkatan akses air bersih. telah melaksanakan pengelolaan air yang demokratis dan partisipatif serta bertujuan untuk lebih banyak meningkatkan akses air bersih dalam jumlah besar didasawarsa mendatang. dan Santo Andre. A-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . kota ini mempunyai kesenjangan yang besar antara kaum yang kaya dan kaum yang miskin. dimulai dengan pertemuan-pertemuan seri tingkat lingkungan. Konferensi ini menentang privatisasi dan menetapkan tujuan institusi untuk meningkatkan dan memperluas layanan penyaluran air. dan semua negara bagian dari Sao Paulo. dengan prioritas untuk bagian-bagian kota yang miskin. Porto Alegre dan Recife keduanya memiliki penduduk lebih dari satu juta dan model-model yang sejenis telah terbukti berhasil dibeberapa kota-kota besar lainnya. Porto Alegre adalah salah satu kota yang makmur di Brasil. Seperti ditemui di tempat lainnya di Brasil.

misalnya dengan mengendalikan akuntabilitas untuk pelaksanaan rencanarencana kerja.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Model pengelolaan air yang partisipatif yang sedang dalam proses A-13 pengembangan di Caracas. Di Olavanna dan komunitas-komunitas lain di Kerala. baik pada proses pengambilan keputusan maupun pekerjaan konstruksi dan pemeliharaan. Dengan menggunakan teknologi yang tepat guna dan menghindari ketergantungan pada kontraktor dan konsultan luar negeri akan mengurangi biaya. perusahaan air dan petugas-petugas yang dipilih bekerja sama dalam dewan air komunal untuk mengidentifikasi kebutuhan dan prioritas untuk perbaikan-perbaikan. Masyarakat setempat. melibatkan penduduk secara sangat intensif pada bidang-bidang yang memerlukan perbaikan dan peningkatan dalam layanan air. Sebagai hasil dari kebijakan People’s Plan (Rencana Masyarakat) dari pemerintah negara bagian Kerala (yang me-desentralisasikan pengambilan keputusan hampir sebagian besar dari pembiayaan publik). Pengelolaan air yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Venezuela. Penggunapengguna melaksanakan pengendalian demokratis atas pengelola utilitas. alokasi dana-dana yang tersedia dan penyusunan rencana kerja bersama. Penduduk setempat tidak hanya berpartisipasi dalam perencanaan. dengan demikian akan menjamin keberlanjutan dari peningkatan dan perluasan layanan air dan sanitasi. penduduk setempat mampu memutuskan mengalokasikan dana publik untuk peningkatan akses atas air minum. tetapi juga dalam konstruksi. Ghana. India. Dana-dana publik ini kemudian mendapat tambahan dari dana kontribusi masyarakat sendiri. Keadaan yang hampir sama terjadi di Savelugu. Rasa memiliki yang timbul dalam masyarakat berkontribusi terhadap upaya monitoring dan pemeliharaan dari masyarakat sendiri. pengelolaan dan pemeliharaan. Peningkatan-peningkatan yang pokok atas akses terhadap penyediaan air sistem perpipaan telah dicapai dalam lima tahun terakhir melalui pelibatan dan pemberdayaan masyarakat. pelibatan dan pemberdayaan masyarakat setempat secara demokratis telah mengurangi biaya dan membantu mengendalikan kebocoran. dengan cara berkontribusi untuk mengadakan air bersih yang dapat dijangkau oleh semua. pengelolaan air secara partisipatif telah dilakukan dengan baik juga.

SEMAPA bekerja sama dengan komisi air didaerah tersebut. dan pembuatan sambungan baru. yang selanjutnya masyarakat yang akan mengurus semua hal yang berkaitan dengan sistem distribusi air-nya. khususnya penduduk yang miskin. model Savelugu dibangun tanpa dukungan aktif pemerintah. Perusahaan utilitas air SEMAPA sekarang sedang di-restrukturisasi untuk melayani penduduk. Untuk mengembangkan akses ke sistem perpipaan untuk dari daerah peri-urban. Di Cochabamba. Badan air masyarakat kota (the city’s community board) menetapkan tarif yang direncanakan untuk menjamin akses bagi semua. Hal yang penting dari sistem dengan tingkat desentralisasi yang tinggi ini adalah bahwa pada tiap lingkungan (setingkat kelurahan) mempunyai komisi pengelolaan air. istilah ”public-collective partnership”/kemitraan kolektif publik dipakai untuk menjelaskan model baru dari kepemilikan utilitas skala perkotaan. Bolivia. Pada waktu yang sama. menggunakan kemampuannya untuk mengelola layanan distribusi air diwilayahnya sementara SEMAPA menyediakan layanan air partai besar (bulk water). Hal ini mengacu kepada kenyataan bahwa perusahaan umum nasional menyalurkan air dalam jumlah besar (bulk water) kepada masyarakat. termasuk penagihan kepada pengguna-pengguna. pusat dan selatan dari daerah kota. SEMAPA sedang memasuki model co-management dengan komisi air yang telah ada yang melayani penduduk tanpa sambungan di bagian selatan kota.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dikendalikan oleh masyarakat di Savelugu disebut sebagai ”public-community A-14 partnership/kemitraan sektor publik dan masyarakat”. partisipasi dan kontrol yang demokratis yang muncul setelah privatisasi yang merusak dari Betchel diakhiri pada bulan April 2000 ”perang air”. sebanyak 3 dari 7 anggota badan dipilih oleh penduduk-penduduk dari bagian selatan. namun peningkatan hanya dimungkinkan dengan bantuan dana dari UNICEF dan beberapa LSM dari belahan buni utara. Berlainan dengan yang terjadi di Caracas dan Olavanna. kemitraan kolektif publik adalah format yang baik dan demokratis yang dapat mengatasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dimana hal ini adalah salah satu alasan bahwa kebocoran telah dapat dikurangi sampai tingkat yang paling minimum. Meskipun sejumlah faktor masih mengancam kesuksesan dari hasil dari kerjasama ini. Pada pemilihan bulan April 2002. pemeliharaan.

Efisiensi. Faktor kunci dibelakang pencapaian PBA adalah komitmen yang kuat diantara manajemen dan para pekerja atas layanan publik dan pelayanan masyarakat yang prima. pada sisi yang lain. yaitu Azurix (anah perusahaan Enron). yaitu Phnom Phen. yang menarik diri setelah pemerintah propinsi menolak pertambahan harga dari layanan yang memuaskan yang dijalankan perusahaan dari Amerika Serikat. Perusahaan utilitas dioperasikan bebas dari pengaruh pemerintah negara bagian. yang sejak tahun 2002 telah dikelola oleh pekerja-pekerja air dan ”trade-unionnya”. Serikat pekerja mengambil alih dalam situasi darurat yang timbul dari sektor swasta pemegang konsesi. Koperasi para pekerja yang sejenis juga telah dengan sukses mengelola suatu konsesi air di dua bagian kota Dhaka. menyediakan air untuk lebih dari 3 juta penduduk. Dengan bekerja sama dengan wakil-wakil pengguna yang berpartisipasi dalam dan mengawasi pengelola. Disamping contoh-contoh diatas. A-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kecenderungan sentralisasi dalam pengelolaan utilitas dan dapat menyelesaikan masalah-masalah akses pada wilayah peri-urban. ibukota negara Bangladesh. untuk mencegah interferensi/ pengaruh-pengaruh yang tidak diperlukan. para pekerja telah berhasil membawa kembali perusahaan utiltas kembali ke ”track-nya” setelah bertahuntahun dikelola secara buruk oleh Azurix. Pilihan untuk meninggalkannya. dan akuntabilitas dari pengelola utilitas. Bentuk lain dari pengelolaan partisipatif adalah pada pengelola utilitas air di propinsi Buenos Aires. Ada juga kasus-kasus dimana pengelolaan air publik yang efektif dan setara dapat dicapai tanpa partisipasi pengguna memainkan peran yang penting. seperti utilitas air PBA di Penang. ada beberapa kasus keberhasilan dari belahan bumi selatan yang cukup menarik untuk dikaji. Argentina. transparansi. termasuk pemeriksaan kritis yang menerus dari pihak partai-partai politik yang sedang berkompetisi. akan didorong dengan cepat oleh aktivitas politik di negara bagian. Cambodia dimana jumlah dari rumah tangga yang dilayani dan memdapat air telah meningkat dengan cepat dari 25% menjadi hampir 80% dalam 10 tahun terakhir. ini perlu dicatat. adalah karena perbedaan prinsip antara sektor swasta pemegang konsesi dan pengelola utilitas air setempat. Malaysia.

partisipasi dan demokratisasi dalam berbagai bentuknya dapat digunakan sebagai piranti yang kuat untuk perubahan positif pada berbagai kondisi lingkungan. kapasitas dari pemerintah setempat dalam memberikan layanan. Sementara itu terdapat alasan yang baik untuk mengharapkan bahwa koperasi dapat memberikan layanan air di beberapa kota besar secara lebih efektif dan lebih betanggung jawab dari aspek sosial dibandingkan perusahaan air swasta. tetapi elite politik neo-liberal tidak berkeinginan untuk mengijinkan pilihan ini dikembangkan lebih lanjut. reformasi perusahaan publik utilitas tidak dipertimbangkan sebagai alternatif atas program privatisasi yang diusung oleh Bank Dunia dan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . nasional dan internasional) dimana berbagai pendekatan yang berfokus pada orang mempunyai peluang untuk sukses? Diantara faktor-faktor yang paling penting adalah ketersediaan sumber daya air setempat. Sejak tahun 1990-an di Argentina. Ada potensi umum untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan manajemen. dan faktor penting lainnya adalah dukungan politis dari pemerintah setempat. hal ini jangan dianggap sebagai ”panacea” yang dapat dilaksanakan di setiap situasi dan pada lingkungan/kondisi tertentu mungkin juga tidak layak. efektivitas dan responsif dan dengan sendirinya akan berkontribusi pada penyediaan jasa layanan yang lebih baik. untuk alasan ideologis.5 Lingkungan yang Menunjang (Enabling Environment) Hal-hal apa yang membentuk lingkungan-lingkungan yang menunjang (lokal. institusi internasional. A-16 A. pemerintah pusat dan daerah telah. secara aktif menghambat pengembangan lebih lanjut dari koperasi dan pengelolaan umum utilitas publik.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sementara itu. Hal yang sama. pemerintah-pemerintah dan partai-partai politik. meski badan usaha ini sering berkinerja sangat baik. Pengambilan keputusan pada pelayanan air di daerah kota-kota di belahan Selatan kadang-kadang dapat menjadi ”medan perang” politis yang sangat intensif atas kepentingan-kepentingan politis dan ekonomi para elite yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat miskin.

Peningkatan pengelolaan sumber daya air untuk A-17 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . faktor penting dibelakang keberhasilan koperasi air adalah kebebasannya dari partai politik dan kenyataan bahwa kota dan utilitas airnya telah diabaikan. pemerintah setempat dan pemerintah pusat mengambil sikap untuk tidak mendukung upaya untuk berpindah pada pengelolaan air yang bersifat publik dan partisipatif. dan akuntabilitas dari pada yang dikehendaki masyarakat madani. Santa Cruz. Di kota Bolivia lainnya. Suatu masalah yang sedang tumbuh di berbagai belahan bumi. konflik atas sumber daya air semakin meningkat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA International Monetary Fund (IMF). Sementara visi dibelakang ”public-popular partnership” di Cochabamba dapat dibanding dengan sistem planning partisipatif di Porto Allgre atau Kerala. Hal ini berarti menciptakan lingkungan yang sulit dan membatasi ruang politis untuk mempromosikan pengendalian secara demokratis di Cochabamba. pertumbuhan yang cepat dari pertanian intensif (kadang untuk tujuan ekspor). Utilitas telah ditransfomasikan menjadi suatu koperasi di tahun 1979. kurangnya sumber daya menghalangi partisipasi yang aktif. Status koperasi (dan realitas kurang terpolitisasinya dari pada Cochabamba setelah ”perang air” dan ”deprivatisasi) telah memberikan otonomi yang diperlukan untuk mengendalikan utilitas bebas dari pengaruh politis. Model pengelolaan air yang sekarang muncul masih kurang demokratis. Di Cochabamba. merefleksikan perjuangan perebutan kekuatan yang berlanjut. Cochabamba sedang menghadapi kelangkaan air. pada waktu ideologi neo-liberalisme belum muncul sebagai faktor hambatan terhadap pendekatan air berpusat kepada masyarakat. Reformasi dan peningkatan yang dicapai adalah sebagai hasil dari kekuatan yang dibangun oleh gerakan air ditingkat akar rumput. dan yang lebih akhir. urbanisasi. di Cochabamba hampir tidak ada uang agar penduduk dapat membuat keputusannya. Demikian juga. Malangnya. Bolivia. kroni-isme dan korupsi tipikal di kota-kota lain di Bolivia. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan karena industrialisasi. tetapi tidak dihalangi oleh pemerintah pusat. transparan. birokrasi. Santa Cruz. hal ini adalah pola umum di beberapa negara di seluruh dunia. dan kecenderungan lain terkait dengan globalisasi ekonomi.

akan semakin berat tantangan yang dihadapi untuk dapat secara efektif mengelola suatu utilitas publik. Sebagai perbandingan. Setiap model penyaluran air bagi daerah perkotaan yang progresif perlu memasukkan pendekatan yang berkelanjutan atas sumber daya air dan membuat neraca antara kebutuhan air untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Untuk itu guna mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi dalam perbaikan penyediaan air di Cochabamba. Perancis. yang terbukti bukan merupakan solusi yang tepat. sangat diperlukan solidaritas internasional. Dengan berbagai alasan. sektor publik khususnya di negara-negara berkembang seringkali diurus oleh tenaga-tenaga yang kurang mampu dalam menangani urusan pelayanan umum yang terkait dengan jaringan infrastruktur yang besar serta memerlukan kemampuan (”softskill”) yang responsif terhadap tuntutan kebutuhan. Hal ini berarti upaya peningkatan kinerja layanan umum harus dimulai dari awal. tidak meluasnya kemiskinan. Keberhasilan tidak selamanya dapat dijamin. Pengalaman Di Cochabamba menunjukkan bahwa butuh waktu lama untuk mengubah utilitas yang tidak berfungsi. atau jika tidak. sudah tentu dimulai dari kondisi awal yang paling sulit. keberadaan pemeritahan kota yang efektif.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA menjamin keberlanjutan akan keberadaannya adalah tantangan pokok untuk daerah perkotaan di seluruh dunia. Di Grenoble. dapat dikatakan sebagai hal yang berlawanan dengan kebiasaan. serta ketersediaan sumber daya air dari pegunungan Alpen memberikan lingkungan yang kondusif bagi keberhasilan penyediaan layanan air publik. khususnya bila elite politisi setempat menghalangi perubahan yang diperlukan. A-18 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Semakin banyak kemampuan yang tidak dimiliki oleh pemerintah kota/daerah. Kapasitas administrasi dari sektor layanan umum pemerintahan dalam memberikan pelayanan umum adalah faktor yang sangat penting. adalah kesulitan yang dihadapi dalam mengembalikan pengelolaan utilitas air menjadi pengelolaan oleh publik dengan situasi di kota Grenoble. khususnya jika penduduk setempat kehilangan kesabaran jika perbaikan layanan air tidak terjamin secara nyata. Kenyataan ini sering disalah gunakan menjadi alasan diperlukannya privatisasi layanan umum. Pencapaian di Cochacamba.

Jelaslah bahwa kapasitas untuk memberikan layanan umum oleh pemerintah kota/daerah setempat adalah komponen kunci dari masyarakat demokratis dan merupakan suatu keharusan guna diberlakukannya hak atas air bagi penduduk. Harrismith tidak mengalami kerugian dari tingginya tingkat pelanggan yang tidak membayar—tipikal masalah pada konsesi yang diprivatisasikan di Afrika Selatan. Salah satu jalan untuk mengatasi kelemahan kapasitas pelayanan umum pemerintah setempat adalah melalui ”public-public partnership” (kemitraan antara instansi-instansi pemerintah). Tanpa kebijakan yang lebih bersifat ambisius adalah sulit untuk mencapai kondisi dimana air dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat untuk memerangi kemiskinan dan redistribusi kemakmuran dalam lingkup lokal dan nasional. yang telah dikelola dengan baik melalui kemitraan. pendekatan tarif sosial dan dukungan dari masyarakat. Percobaan selama 3 tahun menunjukkan bahwa ”sharing” dan transfer pola pengelolaan dan ketrampilan teknis dapat berkontribusi (sebagian pada peningkatan pelayanan air masyarakat secara cepat. Berkat pembelajaran dari konsultasi. Proyek ”Public-public partnership” telah membawa peningkatan yang nyata. Di Afrika Selatan. kemajuan yang dibuat oleh kemitraan publik dan masyarakat di Savelugu sekarang terancam oleh kenyataan bahwa Ghana Water Company (GWC) tidak mampu untuk menyalurkan layanan air bersih yang mencukupi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . public-public partnership antara pemerintah setempat di kota Harrismith dan perusahaan besar utilitas publik bidang air dari kota lain telah mencapai hasil yang baik. Eksprimen ini hanya mungkin dapat berjalan dengan subsidi kepada kaum miskin yang didanai oleh pemerintah. Di Ghana. tetapi tidak dikelola untuk mengatasi menumpuknya kebutuhan akses air bersih dalam jumlah yang besar yang ada dikawasan komunitas perkotaan di Harrismith. Partisipasi dan konsultasi intensif pada tingkat ”ward” dari wilayah pemerintah kota/kabupaten) adalah juga faktor kunci disamping faktor lainnya yaitu finansial untuk mencapai sukses public-public partnership.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA khususnya untuk kota-kota dengan penduduk yang sebagian besar A-19 berpendapatan rendah.

penganggaran yang bersifat partisipatif dan di-desentralisasikan dimulai dan dikonsolidasikan oleh pemerintah negara bagian . dan juga oleh partai-partai politik. Hal ini menggaris bawahi pentingnya kebijakan nasional dan internasional yang lebih bersifat memfasilitasi dari pada mengahalangi partisipasi dan solusi lainnya atas layanan air untuk publik. Di Brasilia. yang dikendalikan oleh Front Demokratis Kiri. Krisis yang semakin mendalam GWC sebagaian besar disebabkan oleh kurangnya pembiayaan dan hal-hal yang terkait dengan upaya bersama pemerintah pusat dan Bank Dunia yang sedang menyiapkan suatu perusahaan yang akan menangani privatisasi. beberapa upaya-upaya telah dilaksanakan untuk mempercepat peningkatan kapasitas dalam layanan umum. A-20 A. atau pekerja.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA untuk masyarakat. Di kota-kota di Brasilia seperti Porto Alegre dan Recife. Hampir semua utilitas yang berhasil yang dijadikan contoh telah meningkatkan layanan air dan sanitasi melalui penyusunan visi layanan umum yang melayani tujuan-tujuan sosial yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . kota-kota seperti Recife dan Porto Alegre. India dan Caracas di Venezuela. Di Kerala. dan juga di Kerala. sebagaimana telah dijelaskan di bagian sebelumnya dari tulisan ini. upaya-upaya ini dipelopori oleh pemerintah setempat. peningkatan-peningkatan dicapai karena komitmen yang sangat kuat dari walikota dan anggota dewan kota yang berasal dari partai Pekerja. Penganggaran partisipatif diperkenalkan dan di-institusionalkan setelah partai Pekerja memenangi pemilu dan memperoleh kendali politik. Upaya ini mencakup redefinisi dan ”re-invention” yang radikal tentang pelayanan umum dan arti dari ”ke-umum-an”/publicness (kualitas menjadi umum/publik dan menjadi milik masyarakat). peningkatan-peningkatan yang telah terjadi disebabkan oleh peran fasilitasi dan pemberdayaan dari pemerintah-pemerintah pusat dan daerah. atau masyarakat madani/LSM.6 Ethos Baru Layanan Umum Sementara adalah suatu kenyataan bahwa beberapa perusahaan utilitas air dibelahan bumi selatan mengalami hambatan dari birokrasi dan seringkali gagal memberikan layanan kepada warga yang miskin.

Pengenalan busines neo-liberal dan model-model pengelolaan (sering disebut sebagai New Public Management-NPM) mengarah pada bentuk- LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pertama. Pengalaman yang diperoleh dari reformasi di bidang utilitas air umum adalah pengembangan ethos baru di bidang pelayanan umum. dan keamanan masyarakat (human security). Dalam banyak kasus. termasuk demokrasi. tetapi juga perusahaan utilitas yang dikendalikan oleh umum. Malaysia. pada umumnya. telah mengembangkan ethos layanan umum yang berkualitas tinggi yang memungkinkan menyediakan air berkualitas tinggi untuk semua pada harga yang masih dapat dijangkau. dimiliki oleh kelompok pekerja dan kelompok pengguna-pengguna. dapat mengambil bentuk mulai dari koperasi sampai ke pelayanan utilitas yang dikelola pemerintah kota. ”Ke-umuman/publicness” di –redefinisikan sebagai sesuatu yang jauh diluar sekadar kepemilikan oleh umum atau pengelolaan oleh pegawai (negeri/badan usaha milik negara/daerah). Pengertian ”ke-umum-an” yang progresif ini faktor yang sangat penting untuk memenuhi tantangan-tantangan seperti penyediaan air bersih untuk warga miskin yang ter-marginal-kan di pinggiran kota dan. Utilitas air di Penang. dimana sahamnya. dicapainya manajemen sumber daya yang berkelanjutan untuk kota-kota yang selalu berkembang. A-21 A. sebagian.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA lebih luas. internalisasi dan konsolidasi dari philopi dari melayani kebutuhan umum adalah fasilitasi dengan partisipasi warga secara langsung dan bentuk-bentuk lain dari interaksi dengan penggunapengguna. Ethos baru pelayanan umum yang sedang muncul dengan berbagai bentuk pengelolaan air yang tidak mencari keuntungan. pengaruh ideologi neo-liberal menghasilkan permasalahan yang rumit dalam praktek pengelolaan layanan air diantara pilihan dikelola oleh publik atau privatisasi.7 Catatan Tentang Komersialisasi Beberapa kasus tentang upaya peningkatan pelayanan air untuk umum menunjukkan adanya kecenderungan yang saling bertentangan. keberlanjutan sosial.

Kecenderungan ini terlihat nyata. Outsourcing tugastugas kunci kepada kontraktor swasta dan pengenalan kondisi perburuhan yang ”fleksibel” adalah contoh-contoh peng-adopsian dari model busines korporasi. sedang berekspansi untuk beroperasi keluar negeri. biaya dari pinjaman biasanya dikenai pajak. memerlukan investasi-investasi awal yang cukup besar. Beberapa utilitas publik air telah mengkombinasikan perluasan layanan air dengan struktur tarif sosial. A-22 A.8 Pembiayaan Air Publik Pembiayaan adalah tantangan kunci untuk setiap komunitas yang menghendaki terjaminnya air untuk semua. praktek operasi dari EAAB di Bogota. Columbia. dan juga Rand Water di Afrika Selatan dan PBA di Malaysia. dengan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Jika pemerintah atau pemerintah kota meminjam uang atau menerbitkan bonds/surat berharga untuk membiayai investasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA bentuk komersialisasi yang akan bertentangan dengan prinsip-prinsip ethos pelayanan umum yang dijelaskan sebelumnya. Pada prinsipnya ada cara untuk membayar penyediaan air untuk publik: pajak-pajak atau iuran (biaya jasa pengelolaan) dari pengguna. Pajak biasanya dipakai untuk membiayai perluasan dan pembangunan sistem. misalnya. dan juga menyediakan subsidi untuk mengurangi beban yang harus ditanggung oleh pengguna melalui tarif air. dalam hal ini konsumen membayar sebanding dengan air yang digunakan (memakai lebih banyak air akan membayar lebih banyak). Pelayanan air sehari-hari dari utilitas air memerlukan biaya dan perluasan akses atas air. air seluruhnya dibayar dengan iuran pengguna (full cost recovery). Kedua. dan juga melalui subsidi silang melalui ”stepped tariffs/tarif progresif”. perusahaan-perusahaan ini bermaksud untuk beroperasi sebagai penyedia layanan air komersial di luar negeri. kecenderungan yang terkait dengan utilitas publik seperti EAAB. Di beberapa negara—seperti Irlandia—layanan air dibayar hampir seluruhnya melalui pajak pemerintah pusat. Sementara mereka berpedoman pada ethos pelayanan umum jika beroperasi di dalam negeri. Di beberapa kota-kota yang mempunyai keberhasilan dalam penyediaan air publik.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA demikian memungkinkan seluruh warga. privatisasi kelihatannya menjadi satu-satunya pilihan untuk pemerintah kota yang kehausan modal untuk investasi perluasan layanan air untuk mengikuti pertumbuhan penduduk yang cepat.000 liter air gratis per keluarga terbukti ternyata tidak mencukupi untuk satu keluarga besar penduduk miskin. menyalurkan kelebihan (surplus) atas iuran yang lebih tinggi yang mampu dibayar oleh pengguna yang kaya kedalam dana investasi yang membiayai air baru dan infrasruktur untuk air dan infrastruktur sanitasi bagi semua yang memerlukannya Di Afrika Selatan dan beberapa kota lainnya diseluruh dunia. Sementara undang-undang di Afrika Selatan menjamin pemberian 6. ekspansi/perluasan layanan air dapat juga dikerjakan dengan pengurangan biaya operasi dan meningkatkan efisiensi air.000 liter bebas biaya untuk setiap keluarga. Meteran air pra-bayar yang telah dipasang di beberapa komunitas miskin di Afrika Selatan secara nyata merupakan pelanggaran atas hak azasi manusia atas air. Untuk menjamin keterjangkauan air untuk semua. mengurangi jumlah pelanggan yang tidak membayar dan perbaikan dari kelayakan pembiayaan utilitas dapat dicapai. kondisi tingkat pelanggan air tidak membayar sangat rendah. Di kota Matao. Setelah proses konsultasi publik. Hal ini meningkatkan kesehatan aspek finansial dari utilitas dan menyelesaikan masalah sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Malaysia. Brasil. Untuk mengatasi rintangan pembiayaan. utilitas kemudian di-reorganisasi dengan struktur tarif yang berbeda dan insentif untuk mengurangi kebocoran dan limbah. misalnya. termasuk yang paling miskin A-23 mempunyai akses terhadap air yang terjangkau. Beberapa cara lainnya adalah mengatasi kebocoran dan meningkatkan penagihan-penagihan. Di Penang. hak atas air tidak secara efektif dilaksanakan. memungkinkan utilitas mempunyai tarif air yang paling rendah di negerinya. dan 6. DMAE di Porto Alegre. kebijakan neo- liberal cost recovery (tanpa subsidi silang) telah menyebabkan problem afordabilitas dan beberapa juta penduduk mengalami pemutusan layanan air. paling tidak diperlukan untuk men-duakali-kan jumlah air gratis yang dijamin konstitusi dan ditambah dengan subsidi silang untuk tarif rendah bagi penduduk berpenghasilan rendah.

Untuk masyarakat miskin. sebagaimana kasus di Porto Alegre. diperlukan dana dari luar untuk membiayai investasi awal yang besar. Kesulitan akses untuk pembiayaan investasi-investasi dalam pengembangan dan peningkatan penyediaan air merupakan hambatan di banyak kota-kota di belahan bumi selatan. Keadaan yang sangat kontras dengan pemberdayaan demokratis dari desentralisasi pengambilan keputusan atas dana pemerintah didapati di Kerala. Hal ini berarti pengawasan yang menerus atas utilitas air dan pengawasan terhadap kontraktor. Banyak hal-hal yang dapat diperbaiki untuk pendekatan negara-negara dibelahan bumi selatan dalam penyediaan air. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . mereka juga dilibatkan dalam monitoring pelaksanaan keputusan-keputusan dan proyek-proyek.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air. Mengikuti saran-saran IFI. yang mana telah membantu pengurangan biaya dari proyek konstruksi baru. Dengan jelas. hal ini juga merupakan upaya keberlanjutan sumber daya air: pengurangan kebocoran dapat juga membantu mengatasi ancaman atas kekurangan air dan bahkan membuat investasi pokok pembangunan bendungan baru tidak diperlukan lagi. Model Savelugu di Ghana utara hanya mungkin terrealisasi berkat pendanaan dari UNESCO dan LSM internasional. tetapi untuk kelompok masyarakat lain yang berminat melaksanakan model-model yang sama tidak dapat bergantung pada ”philantrophy”. akses atas air untuk bagian masyarakat yang miskin tetap ditempatkan pada prioritas yang rendah dan seringkali pendekatan-pendekatan neo-liberal mendominasi para A-24 elite setempat dalam proses politik. Partisipasi warga dapat membantu kesehatan finansial utilitas air. India. juga bentuk-bentuk yang sangat berbeda dari proses desentralisasi telah terjadi di beberapa negara yang terletak di belahan bumi selatan dalam sepuluh tahun terakhir. Warga tidak hanya diberdayakan oleh pemerintah untuk mampu memprioritaskan alokasi anggaran publik. Di titik inilah peranan dari pemerintah pusat dan institusi pendanaan internasional untuk menjamin akses untuk memperoleh pinjaman (loans) mutlak diperlukan. Dibanyak negara. Masyarakat pada area dimana pembangunan infrastruktur air terjadi berpartisipasi dalam komisi-komisi yang mengawasi kontraktor-kontraktor menjalankan pekerjaannya.

konteks kini dari globalisasi neo-liberal adalah sangat berlawanan dengan kondisi lingkungan yang diinginkan untuk meningkatkan dan memperluas sistem air publik yang berfokus pelayanan penduduk. Pemerintah-pemerintah mengalami penurunan anggaran disebabkan karena penurunan pajak pendapatan. kelihatannya layak jika model pembangunan diganti dengan model globaliasi yang lain. Pemerintah-pemerintah di belahan bumi utara dan IFIs terus-menerus menggunakan pembiayaan sebagai sebagai alat politik untuk A-25 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Untuk sebagian besar penduduk di belahan selatan. Hal ini masih ditambah dengan kenyataan adanya tekanan untuk me-liberalisasi dan privatisasi dari IFIs. Solusi jangka panjang. nyatanya kadang hal ini mempersempit alternatif pilihan yang lain dari privatisasi. Hal ini telah menjadi konsekuensi yang dapat diramalkan atas penyediaan layanan publik yang vital. pinjaman-pinjaman dari IFIs adalah satu dan hanya satu-satunya jalan dimana para pemerintah dan pemerintah kota bisa mendapatkan dana-dana untuk investasi guna pengembangan akses terhadap air. Dengan keadaan bahwa banyak pemerintah-pemerintah di belahan bumi selatan menderita karena sistem ekonomi global yang tidak adil dan hutang luar negeri yang semakin membesar. juga bagi negara-negara di Eropa Tengah dan Timur. Kenyataan yang sangat mengganggu adalah sebagain besar IFIs tetap berkeras memihak kepada privatisasi dan menggunakan berbagai jenis tekanan baik secara nyata atau secara halus untuk memaksakan hal tersebut (privatisasi) kepada pihak peminjam. Kumulatif dampak/impacts dari kebijakan neo-liberal adalah hambatan dasar bagi pengembangan penyediaan oleh publik untuk layanan-layanan penting. yaitu yang mem-fasilitasi solusi publik yang progresif dari pada menyembunyikannya. institusi bantuan untuk pembangunan dan team negosiasi perdagangan. hal ini sering digabungkan dengan tingginya angka pembayaran pinjaman luar negeri. sementara itu pada saat yang bersamaan utilitas setempat kekurangan dana untuk memenuhi kewajiban baru mereka. perdagangan bebas dan reformasi neo-liberal lainnya telah menghasilkan meningkatnya angka pengangguran dan marginalisasi ekonomi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pemerintah-pemerintah telah mengalihkan tanggung jawab kepada pengelola utilitas setempat. Pada waktu yang sama.

Penting untuk diketahui bahwa dana yang hanya ”sepersekian” dari dana yang dipergunakan untuk keperluan militer sudah mencukupi untuk membiayai penyediaan air bersih untuk semua orang dibumi ini. terdapat berbagai jenis pilihan pendanaan yang berskala lokal dan nasional. pajak kecil yang dikenakan pada botol kemasan air mineral dan menghasilkan miliaran euro (triliunan rupiah) pun masih jauh lebih kecil dari jumlah yang sangat besar yang A-26 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . seperti pinjaman IBRD untuk koperasi-koperasi di Argentina dan Bolivia. Disamping pilihan pendanaan yang bersifat redistribusi dengan pengaturan perpajakan dan tarif air yang bersifat subsidi silang. Porto Alegre dan Recife mendapat pinjaman dari IFI setelah negosiasi yang sangat berat dimana Bank Dunia tetap ”ngotot” mendorong kearah privatisasi. sedang menghadapi pembatasan-pembatasan untuk mendapatkan pinjaman yang lebih besar bukan karena keadaan keuangannya sendiri. Koperasi di Santa Cruz. tetapi karena kondisi keuangan pemerintah pusat yang menyebabkannya. Kehendak untuk membiayai pilhan sektor non-swasta tetap jauh dan terlalu terbatas. termasuk ”floating municipal bonds”. Masyarakat Eropa dan beberapa pemerintahan di Eropa secara pro-aktif mendorong dilakukannya privatisasi. Untuk mendorong aliran pembiayaan internasional untuk memperluas akses atas air kepada kaum miskin. Bolivia. Legitimasi demokratis dari pengelola utilitas publik dan dukungan dari walikota-walikota telah membantu ditahannya tekanan-tekanan dan berhasil mendapat pinjaman tanpa kondisi yang dapat menggerus hakikat dari model-model partisipatif. Ada kebutuhan mendesak akan mekanisme pembiayaan tanpa kondisi politis dengan tujuan yang berorientasi pada pelayanan masyarakat dan bukan bertujuan ekonomis dan ideologis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA menekan pemerintah-pemerintah di belahan bumi selatan untuk bergabung dalam upaya melaksanakan reformasi neo-liberal. menambah dana bantuan pembangunan dari negara-negara maju di belahan utara adalah pilihan yang langsung. Ada beberapa perkecualian. tentunya digabungkan dengan penghilangan atas tekanan-tekanan yang terkait dengan kondisi privatisasi. yang sesungguhnya sangat sehat. Di Eropa.

seringkali telah mengelaborasi visi dan usulan yang konkrit tentang alternatif-alternatif untuk pelayanan sektor publik. Keadilan sosial dan demokratisasi pengambilan keputusan pengelolaan air juga perlu diintegrasikan dalam upaya tersebut.9 Gerakan. menunjukkan bahwa gerakan sosial secara aktif berkontribusi dalam mempertahankan dan meningkatkan karakter publik dari layanan air dan sanitasi di seluruh dunia. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . kelompok-kelompok perempuan dan para aktivis akar rumput sampai ke serikat buruh.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dapat dikumpulkan melalui ”pajak Tobin” yang dapat dikenakan pada transaksi keuangan internasional. A-27 A. Hal ini terjadi pada kasus Urugay dimana. dari para environmentalist. partai-partai politik dan para manajer utilitas publik. pergerakan sosial memobiliasi kekuatan untuk mendukung keinginan kaum yang terpinggirkan melawan kebijakan-kebijakan neo-liberal yang dipromosikan oleh elite politik dan ekonomi. Proses politis dalam mengupayakan reformasi utilitas publik dan alternatif untuk privatisasi menentukan karakter dari pendekatan pengelolaan air publik. Kampanye anti-privatisasi di beberapa negara didunia. Di banyak negara. mayoritas yang besar mendukung perubahan konstitusi yang akan menetapkan air sebagai hak azasi manusia dan melarang privatisasi. Contoh dari Cochabamba dan beberapa kota lainnya menunjukkan bagaimana model-model penyediaan air oleh publik adalah. dibentuk oleh perjuangan politik yang mendahuluinya. Tekanan publik kepada pemerintah dan pengelola utilitas umum untuk merubah dan meningkatkan akses atas air bersih mempunyai peran penting dalam upaya dicapainya pemenuhan air untuk semua secara berkelanjutan. dalam referendum nasional di bulan Oktober 2004. begerak lebih dari sekadar hanya bertahan. mempersatukan berbagai jenis pelaku yang luas. Perjuangan politik ini adalah elemen penting didalam memahami proses penyediaan air ke masa depan. Perjuangan dan Solusi-Solusi Air Publik Kasus-kasus yang secara singkat diulas. Gerakan-gerakan ini. sebagian besarnya.

kelompok-kelompok masyarakat madani di Argentina juga telah mencanangkan kampanye untuk referendum untuk menentukan bahwa akses atas air dianggap sebagai hal yang mendasar dalam hak azasi manusia dan menyatakan bahwa air untuk publik yang merupakan milik bersama dikecualikan dari privatisasi. Di inspirasi dari kemenangan di Urugay. perlu ditetapkan lingkup dari perbaikan. Kampanye anti privatisasi menghadapi tantangan untuk meyakinkan operator air publik bahwa partisipasi masyarakat dan pengendalian/kontrol yang demokratis dapat membantu memperbaiki efektivitas pelayanan publik. Potensi transparansi adalah keuntungan yang esential dari utilitas publik atas privatisasi penyediaan air. A-28 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Partipasi publik yang efektif diyakini akan mempebaiki pengelolaan utilitas air publik. Disamping itu. Koalisi global LSM yang sedang berkembang menuntut agar pemerintah-pemerintah bersepakat untuk membuat konvensi internasional tentang hak atas air. Pergulatan untuk transparansi dan akses publik atas informasi adalah tema yang diulang-ulang di banyak kampanye. Para manajer utilitas publik dan karyawan pemerintah kota sering menganggap pelibatan masyarakat sebagai hal yang mengganggu. serikat buruh. Di negara pasca komunis seperti Slovakia.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Perubahan konstitusi yang dipromosikan oleh koalisi gerakan-gerakan yang menetapkan bahwa partisipasi konsumen. transparansi dan partisipasi warga adalah pergulatan yang pokok. seperti menghentikan praktek tercela dari politisi yang gagal menyalahkan gunakan utilitas juga pilihan pensiun dengan mendapat pesangon. transparansi adalah karakteristik dasar yang perlu dimiliki hampir untuk semua utilitas publik yang berfokus pada pelayanan masyarakat. Konvensi yang dimaksud hendaknya menyediakan instrumen hukum yang kuat untuk menjamin hak atas air bersih untuk semua dan menjaga agar air tidak diperlakukan sebagai komoditi. dimana informasi kunci adalah ditetapkan sebagai diluar jangkauan karena alasan kerahasiaan komersial dari privatisasi. Sementara hal-hal ini dapat berjalan dengan baik. masyarakat dan masyarakat madani (LSM-LSM) adalah memegang peran pokok pada setiap tahapan pengelolaan air dan dalam institusi-institusi. dalam kerangka PBB.

bentuk-bentuk partisipasi warga yang baru di bidang pengelolaan air telah mulai diperkenalkan. aman dan banyak. dimana air yang murah. Untungnya telah banyak hal-hal yang dapat kita pelajari. Dengan demikian hal ini berarti justru merupakan tantangan bagi masyarakat madani di belahan bumi utara. terutama untuk utilitas listrik. Sejauh mana partisipasi masyarakat akan dapat dilibatkan akan menjadi agenda dari upaya perbaikan penyediaan air publik di belahan bumi Utara yang masih akan dilihat perkembangannya. Di Itali. tetapi hal ini dapat diperluas untuk sektor air. Juga di bagian Utara. Pelajaran yang dapat kita petik dari pengalaman-pengalaman dari kampanye untuk air publik diseluruh dunia. untuk seterusnya. berbagai jenis mekanisme yang partisipatif dan demokratis yang telah disusun untuk mengatur dan memperbaiki kinerja utilitas. gerakan air berhasil pada saat terjadinya perubahanperubahan politis yang besar dan dalam hal ini politis bergeser ”kekiri”. Kanada. Perjuangan untuk air. tekanan sekarang bertambah pada negara-negara Amerika Serikat. nilai-nilai universalnya telah melewati batas negara dan bahkan benua. tetapi juga dari berbagai bentuk pengelolaan air yang inovatif yang telah melahirkan kembali berbagai jenis layanan publik di kota-kota di belahan bumi selatan selama 10 tahun terakhir. akan selalu tergantung kepada keluasan lingkungan politis. Kampanye melawan privatisasi dan perbaikan layanan publik di negara seperti Jerman. Di Amerika Serikat (dimana 85% penduduk dilayani oleh utilitas publik). A-29 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sebagai contoh di Urugay.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Strategi kampanye dibentuk oleh konteks lokal dan nasional termasuk diantaranya intensitas masalah dan kesempatan politis. tentu akan berbeda dari pada untuk tempattempat seperti Ghana atau Afrika Selatan dimana akses terhadap air adalah perjuangan sehari-hari bagi sebagian besar penduduknya. Jepang dan Eropa khususnya bagian Barat dimana penyediaan utilitas air publik masih sangat banyak dilaksanakan oleh sektor air yang dikendalikan oleh publik. Sebagaimana gelombang privatisasi melanda belahan bumi bagian selatan pada tahun 1990-an. perjuangan melawan privatisasi tidak hanya sekedar mempertahankan kondisi ”status quo”. tidak hanya dari kampanye gerakan anti privatisasi yang telah tumbuh dengan kuat di belahan bumi selatan.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->