DIREKTORAT PENGAIRAN DAN IRIGASI KEMENTERIAN NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

LAPORAN AKHIR
PRAKARSA STRATEGIS PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR UNTUK MENGATASI BANJIR DAN KEKERINGAN DI PULAU JAWA

BUKU 1
STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DESEMBER 2006

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan Kegiatan 1.3. Ruang Lingkup 1.4. Keluaran BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 2.1 Umum 2.1.1 2.1.2 2.2 Banten 2.3 DKI Jakarta 2.4 Jawa Barat 2.5 Jawa Tengah 2.6 Daerah Istimewa Yogyakarta 2.7 Jawa Timur 2.8 Identifikasi Masalah Banjir 2.9 Identifikasi Masalah Kekeringan Fisik Pola Pengelolaan 2-1 2-1 2-3 2-9 2-11 2-13 2-16 2-19 2-22 2-25 2-27 1-1 1-2 1-4 1-4

BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 3.1 Rumusan Kebijakan Prakarsa Strategis 3.2 Kebutuhan pengelolaan sumber daya air yang terpadu. 3.3 Program Prioritas 3.3.1 3.3.2 3.3.3 Program Jangka Pendek Program Jangka Menengah Program Jangka Panjang 3-1 3-3 3-4 3-4 3-5 3-7

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 4.1 Rumusan Strategi Implementasi 4-1

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

4.2 Strategi Kebijakan Non-struktural 4.2.1 4.2.2 Strategi Menurut Undang-undang Strategi Konservasi Sumberdaya Air

4-3 4-3 4-5 4-10 4-10 4-32 4-52 4-53 4-53 4-55 4-57 4-60 4-63 4-66 4-70 4-72 4-82

4.3 Strategi Kebijakan Struktural 4.3.1 4.3.2 4.3.3 4.4.1 4.4.2 4.4.3 4.4.4 4.4.5 Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang Sudah Ada Pengaturan Induk Wilayah Sungai Baru Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Wewenang Tanggung Jawab Pemerintah Kebijakan Pembiayaan Peran-peran Lain Pemerintah Strategi Pendanaan dan Tujuan Studi Kelayakan Proyek Pengunaan Model Investasi

4.4 Strategi Pembiayaan

4.5 Strategi Kelembagaan dan Koordinasi 4.6 Pengelolaan Sumberdaya Air dalam Era Otonomi Daerah 4.6.1 4.6.2 Permasalahan dan Tantangan dalam Pengelolaan Sumberdaya Air Organisasi dalam Pengelolaan Sumber Daya Air

BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5.1 Indikator Pemantauan dan Evaluasi 5.1.1 5.1.2 5.1.3 Pemantauan Evaluasi Indikator dalam Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air 5-1 5-1 5-1 5-3 5-6 5-8 5-9 5-10 5-13

5.2 Ruang Lingkup Pengawasan dan Pemantauan 5.3 Ruang Lingkup Pengawasan dalam Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air 5.4 Ruang Lingkup Pengawasan Dalam Aspek Pembiayaan 5.5 Mekanisme Pemantauan 5.6 Mekanisme Evaluasi BAB 6 PENUTUP 6.1 Arahan Sosialisasi Prakarsa Strategis 6.1.1 Kekeringan dan banjir

6-1 6-1

1. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk DKI Jakarta Tahun 2003 Tabel 2. 1 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciujung Ciliman Tabel 4. 6 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Timur Tabel 4. 3 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CisadeaCikuningan Tabel 4. 2 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CiliwungCisadane Tabel 4. 1 Daftar Pembagian Wilayah Sungai di Pulau Jawa-Madura Tabel 2.1. 6 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CitanduyCiwulan Tabel 4. 9 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Jratun-Seluna 4-25 4-18 Tabel 4.3 6. 2 Luas Wilayah. 4 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Tengah Tabel 2. 5 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di DI Yogyakarta Tabel 2. 8 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS SerayuBogowonto 4-23 Tabel 4.2 6. 4 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citarum Tabel 4.2 Saran ANNEX Strategi Implementasi Pengalaman Negara Lain PEMBELAJARAN ANTARA PRAKTEK PRIVATISASI DAN PERKUATAN PERUSAHAAN UMUM LAYANAN AIR 6-3 6-4 6-5 DAFTAR TABEL Tabel 2. 5 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS CimanukCisanggarung Tabel 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 6. 7 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pemali-Comal 4-21 4-17 4-14 4-14 4-12 4-10 2-13 2-14 2-17 2-21 2-23 2-5 . 3 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Barat Tabel 2.

1 Gambar 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 4. Perubahan persentase kabupaten defisit air. 15 Penyusunan Kembali Alternatif Intervensi Struktural menurut Wilayah Sungai yang Baru Tabel 4. 12 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Kali Brantas Tabel 4. Curah hujan tahunan Pulau Jawa – Madura. 2 Gambar 2. Proyeksi Neraca Air Kabupaten/Kota di Pulau Jawa dan Madura. 1 Siklus Pengelolaan Terpadu SDA (IWRM) Gambar 5. 5 Peta Orientasi Lokasi Kegiatan di Pulau Jawa dan Madura Peta batas wilayah administrasi dan batas WS Pulau Jawa dan Madura. 2 Rencana Wilayah Sungai baru Gambar 5. 2 2-31 4-9 4-33 5-3 2-1 2-3 2-28 1-4 Pemantauan dan Evaluasi dalam suatu siklus kegiatan 5-15 . 4 Gambar 2.16 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai 4-73 4-31 4-31 4-28 4-30 4-27 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Gambar 4. 10 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Progo-OpakOyo Tabel 4.17 Balai Besar Wilayah Sungai & Balai Wilayah Sungai di Pulau Jawa 4-87 4-34 Tabel 4. 13 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS PekalenSampean Tabel 4.1 Gambar 2. 14 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Madura Tabel 4. 11 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Bengawan Solo Tabel 4. 1 Susunan Wilayah Sungai yang sudah ada Gambar 4.

rumah tangga. Kebutuhan air nasional saat ini terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali. Dari data neraca air tahun 2003 dapat dilihat bahwa kebutuhan air pada musim kemarau di Pulau Jawa dan Bali yang sebesar 38. Kalimantan. Nilai ini masih di atas nilai ratarata dunia yang hanya 8. semuanya mengalami kondisi di bawah normal (pola kering) saat musim kemarau sehingga dilakukan penetapan prioritas pemanfaatan air waduk. potensi ini setara dengan 8.800 meter kubik per kapita per tahun.957 miliar meter kubik per tahun.000 meter kubik per kapita per tahun.1 LATAR BELAKANG Secara nasional. Dari 14 waduk utama di Jawa.5 persen dari total air tawar nasional. dan Papua. industri. Pulau Jawa yang luasnya sekitar 7 persen dari total wilayah daratan Indonesia hanya memiliki potensi sekitar 4. dan pertanian. Upaya pemenuhan kebutuhan air di Pulau Jawa telah ditempuh melalui pembangunan sejumlah waduk besar dan sedang.3 miliar kubik atau hanya sekitar 66 persen. Sulawesi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1-1 1. 17 persen lainnya di Jawa-Bali. total air yang tersedia di Indonesia mencapai 1.4 miliar meter kubik. di pihak lain pulau ini dihuni oleh sekitar 65 persen penduduk Indonesia. dan perkotaan. Lebih dari 83 persen aliran permukaan terkonsentrasi di Sumatera. Defisit ini diperkirakan akan semakin tinggi pada tahun 2020 akibat peningkatan dimana jumlah penduduk dan aktifitas perekonomian secara signifikan. Namun kenyataannya ketersediaan air ini bervariasi antara wilayah dan waktu. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa potensi kelangkaan air yang sangat besar akan terjadi di Pulau Jawa karena daya dukung sumber daya air yang segera mencapai titik kritis. Prioritas pertama diberikan untuk air minum. perkotaan. dengan tujuan penggunaannya terutama untuk air minum. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dengan penduduk sekitar 220 juta jiwa. dan Nusa Tenggara. hanya terpenuhi sekitar 25. air rumah tangga.

Menemukenali alternatif-alternatif intervensi pembangunan infrastruktur dalam rangka memecahkan masalah banjir dan kekeringan. 3. Mengidentifikasi dan menginventarisasi data kuantitatif banjir dan kekeringan di Pulau Jawa secara kuantitatif sesuai waktu dan spasial wilayah. dan prioritas ketiga untuk industri dan kebutuhan lainnya. yang diarahkan untuk merumuskan konsep pengelolaan SDA yang terintegrasi dan layak diimplementasikan. kekurangan pangan. 1-2 1. analisis dilakukan terhadap kondisi pengelolaan sumber daya air pada saat ini serta faktor eksternal yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. turunnya volume air di waduk mengakibatkan beberapa PLTA terpaksa beroperasi di bawah kapasitas normal. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kekeringan ini telah berdampak pada menurunnya pendapatan.295 hektar.696 hektar . Dalam kaitan itu. Di samping itu. Sebagai upaya mengatasi masalah banjir dan kekeringan di Pulau Jawa pada masa depan. Pada Tahun 2003 kekeringan areal sawah mencapai 430. termasuk mengalami puso seluas 82. 2. serta kesulitan memperoleh air bersih bagi wilayah perkotaan. kesulitan lapangan kerja. termasuk kebutuhan dan ketersediaan air bersih. 4. Melakukan telaah/review atas studi-studi tentang sumber daya air yang telah dilakukan untuk Pulau Jawa serta perkembangan implementasinya. dilakukanlah kajian Prakarsa Strategis .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN prioritas kedua untuk irigasi tanaman pangan. Merumuskan kebijakan strategis pembangunan prasarana dalam rangka mengatasi banjir dan kekeringan di Pulau Jawa secara holistik.2 TUJUAN KEGIATAN Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa bertujuan untuk: 1. Rendahnya daya dukung waduk-waduk tersebut mengakibatkan terjadinya kekeringan pada areal sawah di daerah produksi beras.

7. Membuat sistem basis data banjir dan kekeringan termasuk konsep pengelolaan data yang berkelanjutan. Terdapat beberapa tahapan kegiatan yang dilaksanakan pada proses penyusunan prakarsa strategis ini. 10. Merumuskan kebijakan dan strategi implementasi makro yang terintegrasi dengan berbagai sektor. analisis terhadap kajian sumber daya air. penyusunan perangkat lunak sistem basis data. dan perumusan pedoman sosialisasi kebijakan. maupunpartisipasi berbagai swasta alternatif propinsi. perumusan prioritas program pengelolaan sumber daya air. termasuk kebutuhan biaya serta tahapan pembangunannya. perumusan mekanisme koordinasi. inventarisasi alternatif intervensi infrastruktur. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pengoperasian. antara lain: identifikasi dan inventarisasi permasalahan. masyarakat pengoperasian dan pemeliharaan prasarana. perumusan strategi implementasi. 8. maupun kab/kota dalam pembangunan. Menyusun mekanisme pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan. 1. pembangunan. Mengidentifikasi pemerintah. perumusan prakarsa strategis. perumusan kebijakan pembiayaan. Merumuskan pembagian kewenangan dan tanggung jawab serta mekanisme koordinasi antara instansi dan sektor terkait di tingkat pusat. 9. maupun pemeliharaan prasarana.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN 5. Menyusun prioritas program-program pembangunan prasarana penanganan banjir dan kekeringan di Pulau Jawa. provinsi. dan sumber pembiayaan untuk baik dari pemerintah pemerintah kabupaten/kota.3 RUANG LINGKUP Arah dari prakarsa strategis ini adalah untuk melakukan analisis tinjauan dan formulasi kebijakan untuk wilayah sumber daya air di Pulau Jawa. 1-3 6. perumusan konsep pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan. perumusan kebijakan dan strategi implementasi makro.

4 KELUARAN Keluaran yang dihasilkan dari kegiatan penyusunan Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa adalah satu set yang terdiri atas tiga buku. serta analisis kondisi defisit air di Pulau Jawa. Tegal ## # K. Surakarta Magelang Sleman Klaten # # Y # # Sidoarjo K. Kediri Pasuruan K. Buku 2 merupakan rangkuman hasil kajian dan analisis terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. Cilegon # # Tangerang Serang Y # U % # K. Blitar # Lumajang Malang Tulungagung Blitar # # Jember # Banyuwangi Gambar 1. Madiun # Sukoharjo # Jombang Mojokerto # # # Won ogiri # Ponorogo Kediri # K. 1 Peta Orientasi Lokasi Kegiatan di Pulau Jawa dan Madura 1. BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA. Probolinggo # # Situbondo Bondowoso Probolinggo # Gunungkidul Pacitan # # Trenggalek # # # K. Sukabumi # K. Salatiga Sragen # K. Buku menyajikan ini kondisi. 2. Yogyakarta # Kulonprogo Bantul # Y # # Madiun ## # Karanganyar Nganjuk # # Magetan K. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . identifikasi masalah banjir dan kekeringan dan Pulau Jawa. serta mekanisme pemantauan dan evaluasi. kebijakan. Semarang ## Tegal Batang # Pekalongan Pemalang Purbalingga Y # # # # # Rembang # # Blora Tuban # # Lamongan Gresik K. Bandung Sukabumi Cianjur Bandung Y # Sumedang Majalengka Kuningan Brebes K. Buku ini memuat hasil. Bekasi K. Magelang Boyolali # # K. Pekalongan Kudus Demak KendalK. Malang K. Pasuruan # # # Ngawi # Kebumen # Purworejo # # K. Mojokerto # Ban gkalan Sampang Pamekasan Sumenep # # Garut # Temanggung Semarang Grobogan # Bojonegoro # # # Tasikmalaya Ciamis # #Wonosobo # #Ban jarnegara Banyumas Cilacap K. dan strategi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA. Buku ini merupakan laporan utama hasil kajian prakarsa strategis. yaitu: 1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN Kepulauan Seribu 1-4 Bekasi K. Dep ok # # Pandeglang # # # Karawang Indramayu # Subang Purwakarta Lebak Bogor # # # Cirebo n Jepara Pati # # K.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 1 PENDAHULUAN 3. ilustrasi pemanfaatan basis data. Dalam buku 3 di rangkum hasil pengumpulan data selama proses penyusunan prakarsa strategis. Selain menyajikan: metode penyusunan sistem basis data dan sistematika pengolahan data. 1-5 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . BUKU 3 BASIS DATA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA. sistematika pengolahan data buku ini juga memuat hasil pengumpulan data. pedoman penggunaan sistem basis data.

14 WS yang tersebar di Pulau Jawa dan 1 WS dalam kawasan Pulau Madura. 7° 00' SWS 0203 Garut Central Java Province SWS 0207 Purbalingga # SWS 0209 # Grobogan # Blora # Lamongan # Gresik # Temanggung # # WonosoboSWS # Semarang # Bojonegoro K. Kondisi ini memberi gambaran masalah daya dukung sumber daya air di Pulau Jawa-Madura sangat berpotensi untuk menjadi masalah yang paling kritis. Pulau Jawa-Madura memiliki 15 WS (Wilayah Sungai). Bandung Pelabuhan Ratu Bay Sukabumi Cianjur Bandung # # # SWS 0208 Tegal # # Batang Y # Demak SWS 0210 # Tuban # # Madura Is. Cilegon Banten # Province Panaitan Is. Karl Peter Kucera GIS Operator : Sabdo Sumartono Date : September 2004 Gambar 2. Depok Ja va Bekasi Karawang # # Sea TANGERANG K. Probolinggo # # Situbondo Probolinggo K. Karanganyar Sleman Klaten # # # Sukoharjo K. Saat ini Pulau Jawa-Madura dihuni oleh sekitar 65 persen dari total penduduk Indonesia. Semarang # SWS 0215 Sampang Pamekasan # # Sumenep # Sapudi Is. SWS 0201 Pandeglang Lebak 106° 00' Kepulauan Seribu Jakarta Bay # # 107° 00' JAKARTA 108° 00' 109° 00' 110° 00' 111° 00' 112° 00' 113° 00' 114° 00' Bawean Is. Madiun # # Jombang Mojokerto Nusakambangan Is. Yogyakarta Y #YOGYAKARTA # # Kulonprogo Bantul # Wonogiri # Nganjuk East Java Province SWS 0213 Kediri # K. Blitar Blitar Malang Yogyakarta Special Province Pacitan # Trenggalek Tulungagung SWS 0214# Jember Banyuwangi # St rai t In di an Ocean Nusa Barung Is. Bekasi SWS 0204 Purwakarta # Indramayu # SWS 0202 # Bogor Subang Cirebon # Jepara # West Java Province # Pati K. Tegal # # # K. Kediri Pasuruan K. 1 Peta batas wilayah administrasi dan batas WS Pulau Jawa dan Madura. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Surakarta # # SWS 0212 Madiun # Magetan K. 6° 00' Tangerang Serang # Y # U % # # K. 9° 00' Legend: G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E S I A National Capital Provincial Capital Provincial Boundary District/ Municipality Boundary Watershed (SWS) Boundary SWS No. 0210 0211 0212 0213 0214 0215 SWS Name Jratun Seluna Progo-Opak-Oyo BengawanSolo K. River.1 2. 1 : 250 000 Scale (Coastline. Pasuruan # Ma dura Str ai t SWS 0206 Ciamis Cilacap # Magelang Kebumen # # Purworejo K. it ra St a nd Su 105° 00' Krakatau K. Magelang Boyolali # # Ngawi Sidoarjo K. Salatiga Sragen # K. Pekalongan Kudus # # SEMARANG # # # Rembang # Y # K. Mojokerto # # # Y # SURABAYA # Tasikmalaya Banyumas Banjarnegara 0211K.1 UMUM Fisik 2-1 Pulau Jawa-Madura adalah salah satu dari lima pulau besar di Indonesia.1. 0201 0202 0203 0204 0205 0206 0207 0208 0209 SWS Name Ciujung-Ciliman Cisadane-Ciliwung Cisadeg-Cikuningan Citarum Cimanuk Ciwulan Citanduy Pemali-Comal Serayu SWS No.Bakosurtanal. Malang # Ponorogo # # # # Bali Bondowoso Lumajang # Gunungkidul 8° 00' K.Brantas Pekalen-Sampean Madura U % Y # NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT Map No : Map Title : A5 CORRELATION BETWEEN AMINISTRATION AND WATERSHED (SWS) BOUNDARIES Source : . Bangkalan Pekalongan Pemalang Kendal K. dengan luas sekitar 130 ribu km2 atau kurang lebih 7% dari luas daratan seluruh wilayah Indonesia. Sukabumi # BANDUNG Sumedang SWS 0205 Majalengka Kuningan Brebes K. Lake) Compiled by : Dr.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 2.

30C sampai dengan 30’80C.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Secara geografis. Untuk besarnya curah hujan tahunan di sepanjang Pulau Jawa-Madura bisa dilihat pada Gambar 2.5° LS sepanjang tahun yang mengakibatkan timbulnya aktivitas moonson (muson). Rata-rata curah hujan pada musim penghujan dan musim kemarau (tergantung pada bulan dan letak stasiun pengamat).70C sampai 34.5° LU sampai ke 23. Secara geografis Pulau Jawa-Madura terletak antara 5° 40’ LS sampai 8° 50’ LS dan 105° 10’ BT sampai 114° 40’ BT sehingga sangat dipengaruhi oleh posisi semu matahari yang berpindah antara 23. Suhu rata-rata pada siang hari berkisar antara 27. Pada bulan Juni sampai September arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air sehingga mengakibatkan musim kemarau. Sebagaimana wilayah Indonesia lainnya. Kecepatan angin berkisar antara 1.2. berkisar antara 0 – 800 mm untuk masing-masing bulan kering dan bulan basah. Sepanjang sisi selatan pulau ini didominasi bentuk pegunungan dan penampakan fisiografis gunung gamping yang memanjang hingga ke Pulau Bali.6 knot sampai 23. sedangkan suhu udara pada malam hari berkisar antara 15. 2-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .60C. Keadaan seperti ini berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April-Mei dan Oktober-November. Di sisi utara didominasi bentukan tanah alluvial dan marine (daerah pantai) dengan kondisi kelerengan dari sedang hingga landai. sehingga mengakibatkan musim penghujan.3 knot. Sebaliknya pada bulan Desember sampai dengan Maret arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan Samudra Pasifik. Pulau Jawa-Madura mengalami dua musim dalam setahun yaitu musim kemarau dan penghujan. di sebelah utara Pulau Jawa berbatasan dengan Laut Jawa. sebelah barat dibatasi oleh Selat Sunda dan sebelah timur dibatasi oleh Selat Bali. sebelah selatan dengan Samudera Hindia.

Ci sad Ciliman m ru Ciliwu a it ane tr S Krakatau TANGERANG 6° 00' k a nu Cim Cipu JAKARTA ng nd a Y # U % Ja v a Se a a nag Province of Banten SWS 0201 SWS 0202 g ggarun Cisan Su Panaitan Is. Sebagai tindak lanjut dari Permen PU Nomor 39/PRT/1989. u Bar 9° 00' Legend: Rainfall: National Capital Provincial Capital Provincial Boundary Watershed (SWS) Boundary River Lake G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E S I A U % Y # 750 mm 1250 mm 1750 mm 2250 mm 2750 mm 3250 mm 3750 mm 4250 mm 4750 mm 5250 mm 5500 mm 6500 mm 7500 mm NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT Map No : Map Title : A23 RAINFALL AND WATERSHED (SWS) AREA Source : . telah diterbitkan beberapa peraturan yang bersifat operasional. Strai t Indi an Ocean Nusa Barung I. S Cikaso Cib uni aw an Ci sa de g uy Seray u Cit and Cik aing an YOGYAKARTA L uk ul o Wa war /M edo no B og ow on to Ciw ulan ng Sermo Res go ak ro Op Cime da Br an Oyo ta s Y # Gajahmungkur Res. Daftar wilayah sungai di Pulau Jawa-Madura dapat dilihat pada Tabel 2. Pemerintah Daerah/Gubernur diberi kewenangan untuk mengelola 63 WS melalui tugas LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 2 Curah hujan tahunan Pulau Jawa – Madura. Jatiluhur Res SWS 0204 SWS 0205 wan Banga Cirata Res Se ra ng Tun ta ng Ju an a Pema li Comal ri Bo d Solo Saguling Res BANDUNG Madura I.1. antara lain: 1. n Province of East Java W el an g i SWS 0213 Wlingi Res. River. Sam SWS 0206 SWS 0211 SWS 0212 Po ron g Ma dura Str ai t g pea n ed Sa ne n B ad u ng g un ali Cib Y # SEMARANG L. Kesamben Res. Pembagian wilayah sungai di Pulau Jawa-Madura dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) Nomor 39/PRT/1989 yang membagi wilayah Indonesia menjadi 90 WS (note: saat ini telah berkurang satu yaitu WS Timor-Timur mengingat daerah ini tidak lagi masuk dalam Wilayah Indonesia). 2. Mad un Wadaslintang Res Be Segara Anakn Lagoon Sempor Res. Dalam peraturan tersebut. Kates Res. Sa ro ka 7° 00' Province of Central Java Mrica Res L. Malahayu iri Cimand SWS 0208 L.2 Pola Pengelolaan Wilayah Pulau Jawa-Madura dibagi dalam 15 wilayah sungai. Cacaban Y # SWS 0210 Lu SWS 0203 Province of West Java SWS 0207 si SWS 0215 SURABAYA Sapudi Is. Lake) Compiled by : Dr. Darma L. Peraturan Menteri PU nomor 48 tahun 1990 tentang kewenangan pengelolaan dari 90 WS tersebut. Karl Peter Kucera GIS Operator : Sabdo Sumartono Date : September 2004 Gambar 2. 1 : 250 000 Scale (Coastline.Bakosurtanal. Rawapening Kedungombo Res Y # ng pa S am SWS 0209 o ol Bal i 8° 00' P Yogyakarta Special Province SWS 0214 Kr.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-3 105° 00' 106° 00' Ciu jung 107° 00' a Cit 108° 00' 109° 00' 110° 00' 111° 00' 112° 00' 113° 00' 114° 00' Bawean Is.1.

khususnya Pulau Jawa-Madura. pengelolaan dan pengaturan sumber daya air yang mantap − diperkirakan semakin menurun yang terlihat dari bertambahnya kesenjangan antara ketersediaan air dan kebutuhan air untuk berbagai keperluan. Hasil kajian global kondisi krisis air dunia yang disampaikan dalam World Water Forum II di Denhaag bulan Maret tahun 2000 lalu memperingatkan bahwa akan banyak negara yang mengalami krisis air pada tahun 2025. Pulau Jawa-Madura sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. maka hal ini tidak luput dari masalah perubahan tata ruang. peraturan perundang-undangan yang tidak memadai. termasuk diantaranya Indonesia. yaitu WS Brantas oleh Perum Jasa Tirta I dan WS Citarum oleh Jasa Tirta II (Jatiluhur). pemakaian air yang tidak efisien dan fluktuasi debit antar musim yang semakin tinggi. Peningkatan persaingan penggunaan air antar sektor (domestik. Perubahan tersebut berpengaruh pula terhadap potensi sumber daya air yang − apabila tidak disertai dengan perencanaan. pola hidup dan pola perekonomian. lahan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pembantuan. Peraturan Menteri PU nomor 49 tahun 1990 tentang aspek-aspek pengelolaan sumber air termasuk prosedur perijinan pemakaian air. Masalah-masalah tersebut akan semakin parah dan masalah-masalah lain akan timbul semakin banyak apabila tidak segera dilakukan perbaikan kebijakan dalam melaksanakan program strategis untuk 2-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sedangkan dua WS dikelola bersama antara pemerintah dan BUMN. Krisis air ini lebih banyak disebabkan oleh kelemahan dalam hal kelembagaan terkait pengelolaan sumber daya air. Untuk 15 WS yang wilayahnya terletak pada lebih dari satu provinsi. pencemaran air yang semakin luas. 2. Sejalan dengan dinamika pembangunan tersebut. perkotaan. kewenangan pengelolaannya masih tetap dilakukan oleh pemerintah pusat. pertumbuhan penduduk dan pusat pemerintahan Indonesia mengalami pembangunan yang pesat di berbagai sektor sehingga tuntutan masyarakat akan penggunaan sumber daya air juga terus berkembang. industri dan irigasi) pun terjadi di berbagai wilayah administrasi maupun wilayah sungai.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengelola air secara lebih efisien dan adil serta mengutamakan azas konservasi.04 Citarum 5 Jawa Barat Jawa Tengah 02. Cipunegara S. Cilamaya S. Ciliwung K. Cikuningan S. Cisekat S. 1 No. Cikarang S. Ciletuh S. Tabel 2. Citarum S. Cimaragon 2-5 2 Jawa Barat DKI Jakarta 02. Cibeet K. 1 Provinsi Jawa Barat Daftar Pembagian Wilayah Sungai di Pulau Jawa-Madura Kode WS 02. Cilangkanan S. Ciujung S. Cidurian S. Citarik S. Cihara S. Babakan S. Cidanau S. Ciliman S. Cibareng S. Cisanggarung S. Cisokan S.01 Nama Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai S. Cipucung K. Cipunegara S. Cibuni S. Cipanas S. Ciasem S. Cibanten S. Ciwaringin S.02 Ciliwung-Cisadane 3 Jawa Barat 02. Cisilih S.03 CisadeaCikuningan 4 Jawa Barat 02. Cimanedu S. Cilalanang S. Kasuncang S. Cikondang S.06 Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pengandungan K. Cilangkap S. Ciangan K. Cisadane S.05 Cimanuk 6 Jawa Barat 02. Cikarang S. Cimanuk S. Bekasi S. Lemahabang S. Cibungur S. Cisadeg S.

Sengkang S. Cakrayasan K. Code K.11 Progo-Opak-Oyo 12 Jawa Tengah Jawa Timur 02. Bogowonto B. Lamong S. Comal S. Lorong S. Ciwulan S.10 Jratun Seluna 11 Jawa Tengah DIY 02. Cikonde S. Oyo S.07 Citanduy 8 Jawa Tengah 02. Sambong S. Cacaban S. Waluh S.13 K.12 Bengawan Solo 13 Jawa Timur 02. Bebek S. Anyar K. Semawun K. Garang K. Lusi S. Cilaki S. Brantas Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai S. Jragung S. Pemali S. Juana S.09 Serayu 10 Jawa Tengah 02. Brantas K. Tuntang S.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No. Provinsi Kode WS Nama Wilayah Sungai 7 Jawa Barat Jawa Tengah 02. Solo S. Cimeneng S. Klampok S.08 Pemali Comal 9 Jawa Tengah 02. Cisanggiri S. Cibeureum S. Ijo S. Randuguntini K. Wungu S. Bodri K. Cihaur S. Serang S. Cipungun S. Semarang K. Serayu S. Santun K. Opak K. Citanduy S. Grindulu S. Punyu 2-6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sondang K. Progo K. Lukulo S. Semawon S. Bengawan S. Geneng S.

Barigo K. Rejoso K.15 Madura Nama Sungai yang Termasuk Wilayah Sungai K. pelabuhan. Sampean K. Pacung K. Pengelolaan irigasi lintas kabupaten/kota 2. Rajak K.14 Pekalen Sampean 15 Jawa Timur 02. Balega K. Benca 2-7 Sumber: Departemen Pekerjan Umum Saat ini pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa-Madura dilakukan oleh beberapa Balai PSDA yang dibentuk melalui Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. Widas K. listrik tenaga air. air minum. industri. Putih K.176/1996 tentang Pedoman Pembentukan UPTD/Balai PSDA.) sejak Tahun Anggaran1994/1995. Bondoyudo K. Larus K. sebagai salah satu komponen dari Java Irrigation and Water Management Project (JIWMP) yang didanai oleh Bank Dunia (Loan 3762-Ind. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sampang K. Baru K. dll). pariwisata. Banyuputih K. Pekalen K. Saropa K. Provinsi Kode WS Nama Wilayah Sungai 14 Jawa Timur 02. Rangko K. Konto K. Urusan-urusan yang menjadi lingkup tugas dan tanggung jawab Balai PSDA adalah: 1.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No. Kegiatan Balai PSDA ini merupakan kelanjutan dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Satuan Tugas (SATGAS) PSDA yang dibentuk dibawah pekerjaan Basin Water Resources Management (BWRM). Tangkil K Deluwang K. Jatiroto K. Penyediaan air baku untuk berbagai keperluan (pertanian. Tugas pokok dan fungsi Balai PSDA adalah melaksanakan sebagian fungsi Dinas di bidang pengelolaan sumberdaya air. Gembong K.

Pengelolaan danau.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3. Pengelolaan sungai 4. Pengelolaan database/GIS (sebagian) 4. Pengelolaan rawa 7. pemeliharaan sungai dan infrastrukturnya. Pada awalnya di Pulau Jawa Balai PSDA yang berupakan ex Satgas PSDA berjumlah 5 buah yakni : Balai Ciujung Ciliman. Perlindungan pantai 9. Sebaran jumlah Balai PSDA tersebut menurut propinsinya adalah sebagai berikut: operasional pelayanan kepada masyarakat di bidang 2-8 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . jumlah Balai PSDA di Pulau Jawa bertambah 19 buah menjadi 24 buah pada tahun 2001. pengelolaan banjir. Namun demikian kegiatan yang dilakukan oleh 19 balai tersebut sedikit berbeda. pengendalian kualitas air. Untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut di atas. Pada 19 Balai lainnya di Pulau Jawa kegiatan yang telah dilakukan antara lain : 1. Pelaksanaan pelayanan teknis administrative ketatausahaan yang meliputi urusan keuangan. Perlindungan muara dan delta. Pelaksanaan pengairan. perlengkapan. waduk. kepegawaian. Pengendalian banjir dan penanggulangan kekeringan 6. Pengendalian pencemaran air 8. embung 5. Balai Progo-Opak-Oyo dan Balai Sampean Baru. Balai Jratunseluna. Pengelolaan Hidrologi 3. situ. 3. Pengelolaan irigasi lintas Kabupaten 2. Balai Cimanuk Cisanggarung. Pelaksanaan operasional konservasi/pelestarian air dan sumber air. Dalam perkembangannya. Kelima Balai tersebut umumnya telah melakukan sebagian besar tugas-tugas pengelolaan sumberdaya air seperti yang telah diuraikan diatas. Secara selektif beberapa Balai melakukan kegiatan alokasi air. Balai PSDA mempunyai 3 fungsi utama yakni : 1. 2.

124 kecamatan dan 1.831 jiwa terdapat penduduk bekerja sebanyak 3. teknik maupun keuangan. 5 Balai PSDA 4. masalah yang dihadapi adalah kepadatan penduduk. Provinsi Banten mempunyai luas 8. diharapkan ke masa yang akan datang mampu melakukan pengelolaan unit yang mandiri.229 jiwa.392. Penduduk laki-laki : 4. 2-9 2.185.481 desa. Jumlah rumah tangga dan penduduk menurut jenis kelamin di Banten tahun 2003 adalah sebagai berikut: Rumah tangga : 1. Propinsi Jawa Tengah. di provinsi ini kepadatan penduduk mencapai 1. Dari angkatan kerja yang berjumlah 3. Sex ratio penduduk di Banten pada tahun 2003 adalah 103.987.185.2 BANTEN Provinsi Banten merupakan provinsi paling muda di Pulau Jawa yang baru terbentuk pada bulan Oktober 2000. 1 Balai PSDA 2.666 jiwa. Propinsi Banten. dan Penduduk perempuan : 4.651 km2. Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.48 %. 2 Balai PSDA 5. 2 kota.944 jiwa). Mandiri yang dimaksud disini diartikan merupakan unit yang mampu melakukan pengelolaan sumber daya air secara profesional baik secara administratif. Propinsi Jawa Timur. Penduduk terbanyak di Provinsi Banten ada di Kabupaten Tangerang.46% dari luas total daratan Indonesia.956.89 (data BPS Provinsi Banten). Menurut data BPS. Propinsi Jawa Barat. (3.642 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .563 jiwa. 9 Balai PSDA Balai PSDA sebagai unit yang diserahi tugas pelayanan di bidang sumber daya air dan konservasi sumber daya air. luas wilayah administrasi Banten hanya sekitar 0.018 jiwa per km2 tersebar dalam 4 kabupaten. jumlah penduduk di Provinsi Banten pada tahun 2003 adalah 8. Seperti halnya dengan provinsi lain yang berada di Pulau Jawa.563. Dahulu Banten merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat.324 jiwa) berada di Kota Cilegon.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 1.858.422 KK. Sedangkan jumlah penduduk terkecil (326. Laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2000-2003 adalah sebesar 3. 5 Balai PSDA 3.

3 mm : 82. Balai PSDA CiujungCiliman adalah satu-satunya balai di Banten.2% : 2. Berdasarkan data di stasiun OBS (Observation Station) Badan Metereologi dan Geofisika Provinsi Banten. Pengelolaan sumber daya air di Banten dilakukan oleh Balai PSDA CiujungCiliman. Pengelolaan sumber daya air di provinsi Banten juga dilakukan melalui Proyek Pengelolaan Sumber Air Dan Pengendalian Banjir (PSAPB) Ciujung-Ciliman LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .148.90C : 31. Di Wilayah Provinsi Banten terdapat 3 Wilayah Sungai. Hal tersebut mengakibatkan hampir sepanjang tahun wilayah Banten mengalami udara lembab dan memiliki curah hujan yang cenderung lebih tinggi daripada provinsiprovinsi lain di Pulau Jawa. Dari ketiga WS tersebut yang paling besar wilayahnya di Provinsi Banten adalah WS CiujungCiliman yang sekaligus menjadi sumber daya air utama untuk Provinsi Banten.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA jiwa orang dan yang mencari pekerjaan sebanyak 673. Tangerang dan Kota Cilegon. dengan wilayah kerja meliputi Kabupaten Serang. Pendeglang. Lebak. berlokasi di Serang. 176 tahun 1996 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA sudah ditindaklanjuti dengan terbitnya peraturan-peraturan daerah Provinsi Banten.367 orang. yang dibentuk melalui Keputusan Mendagri No.189 jiwa sedangkan yang bukan angkatan kerja berjumlah 3. menghadap Laut Jawa dan Samudera Hindia sehingga sangat dipengaruhi oleh angin laut. yaitu: WS CiujungCiliman. WS Ciliwung-Cisadane. diketahui kondisi iklim Provinsi Banten sebagai berikut: suhu udara rata-rata maksimum suhu udara rata-rata minimum Curah hujan rata-rata Kelembaban udara rata-rata Kecepatan angin rata-rata : 22.2 0C : 147.5 m/dt 2-10 Provinsi Banten berada di ujung barat Pulau Jawa. dan WS Cisadea-Cikuningan.

terletak pada 6°12’ LS dan 106°48’ BT.52 km2 dan yang berupa lautan seluas 6.70C pada siang hari dan suhu udara minimum berkisar 260C pada malam hari.4%.5 Ha. Program pengembangan dalam proyek ini dimaksudkan untuk memanfaatkan secara maksimal sumber daya air guna meningkatkan taraf hidup masyarakat. Berdasarkan SK Gubernur Nomor 1227 Tahun 1989. Daerah di bagian selatan dan timur Jakarta terdapat rawa/situ dengan total luas mencapai 96.977. Pada tahun 2002 dibentuk Proyek Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai (PBPP) Ciujung-Ciliman sebagai pengganti Proyek PSAPB. dan kecepatan angin rata-rata mencapai 3.3 DKI JAKARTA Kota Jakarta. sedangkan di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa. sebelah barat dengan Provinsi Banten. baik penyediaan air untuk kebutuhan pertanian.5 m/det. DKI Jakarta memiliki pantai di sebelah utara yang membentang dari barat sampai ke timur sepanjang ± 35 km yang menjadi tempat bermuaranya 9 buah sungai dan 2 buah kanal. pariwisata maupun pengendalian banjir dan lain sebagainya. merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata ± 7 m diatas permukaan laut. Kedua bagian wilayah ini cocok digunakan sebagai daerah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kota Jakarta secara umum beriklim panas dengan suhu udara maksimum berkisar 28.5 km2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Nomor : 19/KPTS/A/1994 tanggal 19 April 1994 Tentang Pembentukan Badan Pelaksana Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta yang berupa daratan seluas 661. air minum. kota paling padat di Indonesia. tingkat kelembaban udara mencapai 76. air industri. Sementara di sebelah selatan dan timur DKI Jakarta berbatasan dengan wilayah Provinsi Jawa Barat.288. Sementara itu curah hujan mencapai 2. Wilayah DKI memiliki sekitar 27 buah sungai dan ± 110 buah pulau yang tersebar di Kepulauan Seribu.9 mm. 2-11 2.

dimana 319. Akan tetapi dalam memenuhi kebutuhan sumber daya air. yang masing-masing berjumlah 3. kepadatan penduduknya mencapai 11.71 ribu jiwa.7 ribu orang. DKI Jakarta lebih mengandalkan pada Kanal Tarum Barat yang menyediakan air baku dari sungai Citarum melalui Bendung Curug. Selebihnya berstatus sebagai pengusaha (29. Jumlah pencari kerja berdasarkan data Sakernas BPS DKI Jakarta tahun 2003 tercatat sebanyak 589.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA resapan air.97 juta orang dan 2. masing-masing sebesar 36. Pada tahun 2003 jumlah penduduk DKI Jakarta.2 ribu orang. terutama untuk air baku. Kegiatan penduduk usia 15 tahun keatas dapat dibedakan menjadi angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Dari jumlah tersebut penduduk laki-laki lebih banyak dari penduduk perempuan. jasa dan industri.7 ribu orang.37 %) dan sebagai pekerja keluarga (3.58 %) bekerja sebagai buruh. sebagian besar (67. Keseluruhan sumber daya air dalam wilayah administrasi DKI Jakarta termasuk dalam wilayah kerja Balai PSDA Ciliwung-Cisadane (di bawah Provinsi Jawa Barat).2. Sedangkan status kewarganegaraanya terdiri dari WNI sebanyak 7. Sedangkan yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja 342. Dengan iklimnya yang lebih sejuk bagian wilayah ini juga ideal dikembangkan sebagai wilayah pemukiman penduduk.05%).59 juta orang. Kepadatan penduduk Provinsi DKI Jakarta Tahun 2003 dapat dilihat pada Tabel 2.46 juta jiwa.5 km2. 22. Kebanyakan dari mereka yang bekerja berkecimpung di sektor perdagangan. tercatat sebanyak 7.3 ribu jiwa per km2. Dengan luas wilayah hanya 661. sehingga menjadikan provinsi ini sebagai provinsi dengan wilayah terpadat penduduknya di Indonesia.58%. seperti yang tampak dari sex ratio yang lebih besar dari 100.7 ribu orang pencari kerja yang masih belum 2-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Selanjutnya dari angkatan kerja tersebut terdapat penduduk bekerja sebanyak 3. Berdasarkan status pekerjaannya.74% dan 19.45 juta jiwa dan WNA sebanyak 4.85%.38 juta orang dan yang mencari pekerjaan sebanyak 589.

Posisi geografis Jawa Barat tersebut sangat strategis sehingga memberikan keuntungan bagi Jawa Barat terutama dari segi komunikasi dan perhubungan.571 1.586 897.746 12.426 8. Provinsi Banten.676 11.267 1. sedangkan kawasan selatan berbukit-bukit dengan sedikit pantai.701.157 18.73 187. 2-13 Tabel 2.70 50’ Lintang Selatan dan 1040 48’-1080 48’ Bujur Timur.71 661. Samudera Hindia.567.456. Jawa Barat mempunyai iklim tropis dengan curah hujan rata-rata 156.4 JAWA BARAT Provinsi Jawa Barat mempunyai luas wilayah 34. serta dataran tinggi bergunung-gunung ada di kawasan tengah.555 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ditempatkan.73 47.941 1.931 Kepadatan Penduduk/(km2) 11.30 11. Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 50 50’ .923 7. 2 Luas Wilayah.355 18. Provinsi Jawa Tengah.4 mm. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kawasan utara Jawa Barat merupakan daerah dataran rendah.83% dari luas Indonesia.15 142.616 11. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk DKI Jakarta 2003 No 1 2 3 4 5 6 Kotamadya Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kepulauan Seribu TOTAL Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Luas (km2) 145.094. dengan batas-batas wilayahnya sebagai berikut: Sebelah utara Sebelah timur Sebelah selatan Sebelah barat : : : : Laut Jawa dan DKI Jakarta.597 km2. sekitar 1.272 2.176.52 Penduduk 1.90 126.6 ribu orang. sedangkan pencari kerja yang berhasil ditempatkan sebanyak 14.

Cianjur. 7.3 mb. Subang. 6. WS Cimanuk-Cisanggarung. Suhu udara berkisar antara 18. DKI Jakarta. dan sebagian Bandung. 2. WS Citarum. WS Citanduy. yaitu: 1. 4. Kuningan dan kota Cirebon. WS Cisadea-Cikuningan. Garut. 3 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Barat No. WS Ciujung-Ciliman. 5. Kota dan Kabupaten Bandung. 2-14 5. Hal ini menyebabkan sebagian besar dari luas tanahnya cocok digunakan untuk pertanian. Majalengka. Selain itu. 2.3 menggambarkan pembagian wilayah kerja yang dicakup oleh kelima Balai PSDA. dituangkan dalam Perda No. Bogor. Tasikmalaya. Garut.20C dengan tingkat kelembaban udara ratarata sebesar 76%. Majalengka. WS Ciwulan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dengan jumlah hari hujan rata-rata tiap bulannya sekitar 15 hari. Subang. 1. 2 Tahun 2003 tentang RTRW Propinsi Jawa Barat 2010. Citanduy-Ciwulan Tasikmalaya Kebijakan pemerintah provinsi Jawa Barat dalam pengelolaan sumber daya air. Sukabumi. Kuningan. Jawa Barat memiliki lahan subur yang berasal dari endapan vulkanis serta banyak aliran sungai. Balai PSDA Cimanuk-Cisanggarung Ciliwung-Cisadane Cisadea-Cikuningan Citarum Domisili Cirebon Bogor Sukabumi Bandung Wilayah Kerja Cirebon. 4. Indramayu. Tabel 2. Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 5 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Barat Tabel 2. serta tekanan udara rata-rata sebesar 922. Cianjur. Cianjur. Kota dan Kabupaten Bekasi. Sumber daya air di Provinsi Jawa Barat dibagi dalam 7 (tujuh) satuan wilayah sungai. Bekasi dan Kota Depok. Perda tersebut berisi kebijakan untuk meningkatkan fungsi dan kualitas LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Bandung dan Kota Sukabumi. WS Cisadane-Ciliwung. 3. Ciamis. Karawang. sehingga Provinsi Jawa Barat ditetapkan sebagai lumbung pangan nasional.80C sampai 29. 3. Indramayu. Purwakarta. Bogor.

Secara administratif Provinsi Jawa Barat terdiri dari 16 Kabupaten.7 juta orang). Pengembangan Lindung. Pengawasan. Dengan jumlah penduduk tersebut kepadatan penduduk Jawa Barat mencapai 1. Wilayah kabupaten dengan penduduk terbanyak di Jawa Barat ada pada Kabupaten Bandung. 9 Kota. Rehabilitasi lahan konservasi termasuk rehabilitasi lahan-lahan kritis. Sedangkan yang jumlah penduduknya terkecil adalah Kota Sukabumi (26 ribu orang).5 juta orang) dan Kabupaten Bogor (3.23 orang per km2.57% dan industri 16. pengamanan. (4. yaitu sebesar 13. Kota Bandung merupakan kota terpadat .96%. Proporsi pekerja menurut lapangan pekerjaan merupakan salah satu ukuran untuk melihat potensi sektor perekonomian dalam menyerap tenaga kerja.98 juta orang. termasuk kawasan lindung di Kawasan Bodebek dan Bopunjur. 4.87% kemudian diikuti oleh perdagangan 22. dan pengaturan pemanfaatan sumber daya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kawasan lindung di Jawa Barat. Jumlah penduduk Jawa Barat pada tahun 2003 mencapai 37.978 desa. Pada tahun 2003 sektor pertanian tetap merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja yaitu 34. Kebijakan dijabarkan dalam beberapa program. partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan 2-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .324.270.794 kelurahan dan 3. Hal lain dapat pula mencerminkan struktur perekonomian suatu wilayah. serta. 1.48 orang per km2. yaitu: 1.53 orang per km2. sedangkan yang terendah Kabupaten Cianjur hanya sebesar 685. 3. 2. 561 kecamatan. Pengukuhan kawasan lindung agar tercapai target luasan kawasan lindung hutan dan non hutan untuk seluruh Jawa Barat sebesar 45%.

Jarak terjauh dari batas barat ke timur adalah 263 km dan dari batas utara ke selatan 226 km (tidak termasuk kepulauan Karimunjawa). suhu udara rata-rata di Jawa Tengah tahun 2002 berkisar antara 170C sampai dengan 290C. c. b. yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Kelembaban udara rata-rata bervariasi antara 77% sampai dengan 88%. Pos pengamat hidrologi tersebut dibangun oleh Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah maupun departemen lain. Sampai saat ini pos pengamat hidrologi yang telah ada meliputi: a.837 mm dan hari hujan terbanyak tercatat di Stasiun Metereologi Cilacap sebesar 203 hari.25 juta hektar.04% dari luas Pulau Jawa atau sekitar 1. Untuk mendapatkan data yang lebih baik dari waktu ke waktu. Tempat-tempat yang letaknya berdekatan dengan pantai mempunyai suhu udara rata-rata relatif tinggi. sekitar 25. Secara administratif Provinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota. Pos pengamat tinggi muka air (AWLR) sebanyak 176 buah. Menurut stasiun klimatologi kelas I Semarang. Secara geografis Provinsi Jawa Tengah terletak antara 50 40’ dan 80 30’ LS dan antara 1080 30’ dan 1110 30’ BT (termasuk kepulauan Karimunjawa). Luas wilayah Provinsi Jawa Tengah adalah sebesar 3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-16 2. Pos pengamat curah hujan sebanyak 964 buah.5 JAWA TENGAH Posisi provinsi Jawa Tengah sebagai diapit oleh dua Provinsi besar lainnya. maka pada tahun anggaran 1999/2000 telah dimulai pelaksanaan rasionalisasi Pos Hidrologi di WS Pemali-Comal. Curah hujan tertinggi tercatat di SMPK (Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus) Bojongsari Purwokerto sebesar 2.70% dari luas Indonesia. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Bengawan Solo dan Serayu. JratunSeluna. Pos klimatologi sebanyak 72 buah. Jaringan pos pengamatan hidrologi di wilayah Provinsi Jawa Tengah telah dikembangkan sejak tahun 1976 yang tersebar di seluruh daerah aliran sungai.

WS Progo-Opak-Oyo. Pemali-Comal Tegal 3. Tabel 2. sebagian Kabupaten Batang dan Pemalang. Kabupaten Jepara. Kota dan Kabupaten Tegal. sebagian Kabupaten Pati dan sebagian Kabupaten Blora. WS Citanduy. Kabupaten Kudus.4 berikut ini. sebagian Kabupaten Demak dan Kota Salatiga. Kabupaten Purworejo. Balai PSDA Jragung-Tuntang Domisili Semarang Wilayah Kerja Kota dan Kabupaten Semarang. sebagian Kabupaten Boyolali. Kabupaten Brebes. Kabupaten Grobogan. sebagian Kabupaten Kendal. 3. Progo-BogowontoLukulo Kutoarjo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . WS Bengawan Solo. Kabupaten Magelang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sumber daya air di Provinsi Jawa Tengah dibagi dalam 7 (tujuh) satuan wilayah sungai. Kabupaten Sukoharjo. Kota Magelang. sebagian Kabupaten Demak. meliputi Kabupaten Wonogiri. 4 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Tengah No. WS Cimanuk. 4. 1. sebagian Kabupaten Sragen. sebagian Kabupaten Temanggung. 6. 2-17 Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 6 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Tengah dengan pembagian wilayah kerja sebagaimana tercantum pada Tabel 2. WS Pemali-Comal. sebagian Kabupaten Rembang. Serang-Lusi Juwana Kudus 4. Bengawan Solo Solo 5. sebagian 2. 2. Kabupaten Klaten. Kabupaten Karanganyar. yaitu: 1. Kota Surakarta. WS Serayu. 5. sebagian Kabupaten Sragen. 7. WS Jratun-Seluna. sebagian Kabupaten Grobogan. dan sebagian Kabupaten Blora.

Tenaga kerja yang terampil.58% dibanding tahun sebelumnya. sebagian Kabupaten Wonosobo. Kabupaten Banjarnegara.42 juta jiwa. Pada tahun 2003. jumlah penduduk Jawa Tengah diperkirakan meningkat mejadi sebanyak 32. Balai PSDA Domisili Wilayah Kerja Kabupaten Temanggung. merupakan potensi sumberdaya manusia yang sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan menyongsong era globalisasi. Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Cilacap Berdasarkan Data BPS.69 juta jiwa atau sekitar 15% dari jumlah penduduk Indonesia. jumlah penduduk Jawa Tengah tahun 2002 tercatat sebesar 31. sebagian Kabupaten Wonosobo dan sebagian Kabupaten Kebumen. Serayu-Citanduy Purwokerto Kabupaten Banyumas. Dengan angka ini. Pertumbuhan penduduk tiap tahun akan berpengaruh terhadap pertumbuhan angkatan kerja. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA No. 2-18 6. Ini menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi ketiga di Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak di samping Jawa Timur dan Jawa Barat. penduduk banyak yang bermukim di daerah perkotaan. Rata-rata kepadatan penduduk Jawa Tengah tercatat sebesar 974 jiwa setiap kilometer persegi. Wilayah terpadat adalah kota Surakarta dengan tingkat kepadatan sekitar 11 ribu orang setiap kilometer persegi. Penduduk Jawa Tengah belum menyebar secara merata di seluruh wilayah Provinsi Jawa Tengah. Jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk lakilaki. sebagian Kabupaten Kebumen. angkatan kerja di Jawa Tengah tahun 2002 mencapai 15.74 juta orang atau naik sebesar 0. Umumnya. tingkat partisipasi angkatan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hal ini ditunjukkan oleh rasio jenis kelamin (rasio jumlah pendududuk lakilaki terhadap jumlah penduduk perempuan). sebesar 99%.

Secara geografis posisi Daerah Istimewa Yogyakarta terletak antara 70 33’ . Sebanyak 67% angkatan kerja adalah berpendidikan tidak/belum tamat Sekolah Dasar.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kerja penduduk di Jawa Tengah tercatat sebesar 60. di sebelah barat laut.07%.90%. sedangkan dibagian timur laut.56%. Sektor pertanian memiliki porsi 42% pekerja dan merupakan sektor terbanyak yang menyerap tenaga kerja. Sektor lain yang cukup banyak menyerap pekerja adalah sektor perdagangan dan sektor industri.31% dan pekerja tak dibayar 17. Berdasarkan satuan fisiografis.80 12’ LS dan 1100 00’ – 1100 50’ BT. Kabupaten Magelang : : : : di sebelah timur laut. berusaha sendiri tanpa dibantu orang lain sebesar 18. Kabupaten Wonogiri c. Daerah Istimewa Yogyakarta di bagian selatan dibatasi Samudra Hindia. tenggara barat dan barat laut dibatasi oleh wilayah Provinsi Jawa Tengah yang meliputi : a.6 DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salah satu provinsi dari enam provinsi di wilayah Indonesia dan terletak di Pulau Jawa bagian tengah. masing-masing tercatat sebesar 19.52%.15%. Sedangkan yang berusaha dengan dibantu anggota rumah tangga dan buruh tetap/tidak tetap tercatat sebesar 23. sebagian besar angkatan kerja bekerja sebagai buruh/karyawan. 2-19 2. Kabupaten Klaten b. pekerja bebas pertanian dan non pertanian sebesar 10. yaitu sebesar 6.60%. di sebelah barat. yakni 30. Kabupaten Purworejo d. Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari: LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sedangkan angka pengganguran terbuka di Jawa Tengah relatif kecil. Ditinjau menurut status pekerjaan utamanya. di sebelah tenggara.35% dan 17.36%.

Gunung Berapi Merapi. : 0-80 m.82 32. dari 3. lebih rendah dibandingkan rata-rata suhu udara pada tahun 2002 sebesar 27.25 km2. Pegunungan Kulon Progo dan Dataran Rendah Selatan.85 1.185. : 150-700 m. 35. suhu udara rata-rata di Yogyakarta tahun 2003 adalah 26. 2-20 2.42% jenis tanah Regosol.40%) (15.340C.8790.80 km2 atau 0.24% jenis tanah Alluvial.63%) (18. Luas Ketinggian : ±1.25 km2. dengan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .81 km2. : ± 582. : ± 215.04%) (1. : 80-2. 11.02%) c. 2.94% merupakan jenis tanah Lithosol. Kabupaten Kulon Progo b. Luas Ketinggian 4. Kabupaten Gunung Kidul : dengan luas Berdasarkan informasi dan BPN. Kabupaten Sleman e. : 0-572 m.27% jenis tanah Mediteran. Menurut catatan Stasiun Metereologi Bandara Adisucipto. Kabupaten Bantul d.911 m. Dataran rendah antara Pegunungan Selatan dan Pegunungan Kulon Progo.50 km2 km2 km2 km2 km2 (18. Sebagian besar wilayah D. : ± 706.185. Daerah Istimewa Yogyakarta beriklim tropis dengan curah hujan berkisar antara 7 .80 km2 luas D.17% dari luas Indonesia (1.754 km2). 10.62 km2. Pegunungan Selatan.45% jenis tanah Grumusol. 27. Luas Ketinggian 3.91%) (46. 10.485.36 574.656. merupakan provinsi terkecil di Indonesia setelah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 1.94% jenis tanah Lathosol.I Yogyakarta.27 506.380 mm yang dipengaruhi oleh musim kemarau dan musim hujan. yang terdiri dari: a.640C. Luas Ketinggian DIY tercatat memiliki luas 3.I Yogyakarta terletak pada ketinggian antara 100 499 m dari permukaan laut. dan 1. Kota Yogyakarta : dengan luas : dengan luas : dengan luas : dengan luas 586.74% adalah jenis tanah Rensina.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sedangkan menurut daerah pemukiman.5 berikut ini.207. 1. yakni masing-masing sebesar 2.005. Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunung Kidul Kabupaten Kulon Progo.52% dan penduduk yang tinggal di daerah pedesaan mencapai 42. 1. tekanan udara berkisar antara 1. Sungai Opak-Oyo 3. 2-21 Tabel 2. Gunung Kidul dan Sleman terlihat memiliki angka pertumbuhan di atas angka rata-rata provinsi.385 jiwa. Sermo Yogyakarta Jumlah penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta tercatat 3.48%. 5 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di DI Yogyakarta No. Sungai Progo 2. Kelembaban udara berkisar antara 34-95%. persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan mencapai 57. Balai PSDA Progo-Opak-Oyo Domisili Yogyakarta Wilayah Kerja Kabupaten Sleman. Pertumbuhan penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2003 adalah 1.79%. yaitu: 1.9-1.7 mb. dan kecepatan angin antara 0.1 knot sampai dengan 20 knot. Sungai Serang Sungai-sungai tersebut dikelola oleh 2 Balai PSDA yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana dijelaskan pada Tabel 2. dengan arah angin antara 195-205 derajat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA suhu maksimum 34.74%.26% dan persentase jumlah penduduk laki-laki sebesar 49. Kota Yogyakarta. 2.82% dan 1. Kabupaten Bantul. relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya.48%. dengan persentase jumlah penduduk perempuan sebesar 50.600C dan suhu minimum 180C.015.61%. Sungai besar yang menjadi potensi sumber daya air di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berjumlah 3 buah.

Mereka terdiri dari 52. terdiri dari 58. Sarjana Muda dan Sarjana.029 jiwa per km2. Utara b.83% perempuan.16% merupakan bukan angkatan kerja.80 km2.95% setingkat Diploma. jumlah penduduk yang pekerjaannya bergerak pada sektor pertanian memiliki persentase 37. pada sektor perdagangan sebesar 19.42% berpendidikan setingkat SLTA.69%.44%. adalah sebagai berikut. pada sektor industri sebesar 12.185. Berdasarkan lapangan usaha utama. Dari jumlah tersebut 58. 2-22 2.26 % dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 106.27%.21% sedang mencari pekerjaan.84%.20%. berbatasan dengan Samudera Indonesia berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Barat : : : : berbatasan dengan Laut Jawa. kepadatan penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta sekitar 1. mengurus rumah tangga dan lainnya dengan proporsi masing-masing sebesar 20. Sisanya sebesar 36.923 orang. Batas-batas daerah pada provinsi ini adalah sebagai berikut: a. menurun sekitar 11.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dengan luas wilayah sekitar 3.15%. teriri dari mereka yang masih sekolah. Selatan d.17% berpendidikan SD.881 orang. dan 4.18% dan sisanya sebesar 13.17% laki-laki dan 47. Kepadatan penduduk tertinggi terjadi di Kota Yogyakarta yakni 12. 34. pada sektor jasa sebesar 17. Persentase angkatan kerja penduduk DIY adalah 63.63% sudah bekerja dan sebesar 5. sedangkan wilayah yang tingkat kepadatan penduduknya terendah adalah Kabupaten Gunung Kidul yang dihuni rata-rata 462 jiwa per km2. berbatasan dengan Selat Bali.48% bekerja di sektor-sektor lainnya.75%. Gambaran tenaga kerja di sektor swasta berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Jumlah pendaftar pencari kerja pada tahun 2003 sebanyak 94.46% adalah SLTP dan sisanya 1. Timur c.007 jiwa per km2. serta 5. 11.7 JAWA TIMUR Secara geografis Provinsi Jawa Timur terletak pada posisi 1110 0’ BT hingga 1140 4’ BT dan 70 12’ LS hingga 80 48’ LS.

Provinsi Jawa Timur memiliki 11 (sebelas) gunung berapi yang aktif. disamping sungai yang cukup besar.10C). Mendung paling banyak terjadi di bulan Februari dan Desember. Sumber daya air di Provinsi Jawa Timur terbagi dalam 4 (empat) satuan wilayah sungai.60C) dan terendah pada bulan Juli (18. Sedangkan curah hujan yang cukup tinggi terjadi pada bulan Januari sampai dengan April. WS Pekalen-Sampean. dengan anak-anaknya sebanyak 36 sungai. Sungai besar di Jawa Timur antara lain Kali Brantas yang panjangnya 98 km dan Bengawan Solo dengan panjang 273 km. WS Bengawan Solo. wilayah Jawa Timur dapat dibagi dalam 2 bagian besar. WS Brantas. yaitu Jawa Timur Daratan dan Kepulauan Madura. Wilayah-wilayah sungai tersebut dikelola oleh 9 Balai PSDA yang ada di Provinsi Jawa Timur sebagaimana dijelaskan pada Tabel 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Secara umum. WS Madura. Luas wilayah Jawa Timur Daratan hampir mencakup 90% dari luas Provinsi Jawa Timur. 2-23 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .6%. dengan rata-rata lama penyinaran matahari 52% dan 41.6 berikut ini. 4. 3.428. Suhu udara tertinggi di Jawa Timur pada tahun 2003 terjadi pada bulan November (35. sedangkan luas Kepulauan Madura hanya sekitar 10%. dengan kelembaban berkisar antara 32% sampai 98%. Wilayah provinsi Jawa Timur yang luasnya 46. 2.57 km2 secara administrasi terbagi ke dalam 29 Kabupaten dan 9 Kota. yaitu: 1.

Jombang dan Kota Kediri. jumlah penduduk Provinsi Jawa Timur tahun 2003 sebesar 36. Pamekasan. Kepadatan penduduk di kota.206 juta jiwa dengan pertumbuhan sebesar 1. Kota Surabaya mempunyai kepadatan penduduk tertinggi yaitu sebesar 8. Bondoyudo-Mayang Lumajang 8.07% per tahun. Magetan. Blitar. Kabupaten Lamongan. Balai PSDA Bango-Gedangan Domisili Malang Wilayah Kerja Kabupaten Malang. Tuban. 1. Madura Pamekasan Berdasarkan data BPS.152 jiwa per km2. Bengawan Hilir Sampean Baru Solo Bojonegoro 6. Banyuwangi dan Situbondo. Ponorogo. sebagian Pasuruan. Ngawi dan Kota Madiun. Sumenep dan Bangkalan. Kabupaten Bojonegoro. Nganjuk. Kota Batu dan Kota Blitar. Kota Pasuruan dan Kota Probolinggo Sampang. Sidoarjo. Kabupaten Lumajang. 2-24 2. Kabupaten Kediri. Kabupaten Madiun. Puncu-Selodono Kediri 3.23 juta jiwa. diikuti Kabupaten Malang dengan jumlah penduduk sebesar 2. Kepadatan penduduk Jawa Timur tahun 2003 adalah 780 sebesar jiwa per km2. yaitu 2. Kota Malang. Mojokerto. BuntungPaketingan Lamongan 4.33 juta jiwa dan Kabupaten Jember dengan jumlah penduduk sebesar 2. Kabupaten Bondowoso. Pacitan. Madiun Madiun 5. sebagian Malang. Tulungagung. Trenggalek. Kota Mojokerto dan Kota Surabaya.66 juta jiwa. Lamongan dan Gresik. Jember dan sebagian Malang. umumnya lebih tinggi dibanding dengan kepadatan penduduk di kabupaten. Bondowoso 7. Gembong-Pekalen Pasuruan 9. Kabupaten Pasuruan. 6 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air di Jawa Timur No. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Probolinggo. Kota Surabaya mempunyai jumlah penduduk yang paling besar.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 2.

sedangkan rasio pencari kerja dengan lowongan pekerjaan adalah 0. meningkat 16.435 orang. Pada tahun 2002. terjadi 72 kejadian banjir yang menggenangi sekitar 81. serta kota-kota besar.32% dibanding tahun 2002. Jumlah ini meningkat menjadi 104 kejadian pada tahun 2003 yang menggenangi sekitar 91.8 IDENTIFIKASI MASALAH BANJIR Banjir di Pulau Jawa sebagian besar terjadi di wilayah pantai utara dan pantai selatan. Gambar 2. 2-25 2.9 ribu hektar wilayah permukiman dan pertanian. wilayah cekungan.1 ribu hektar1. Sebaran wilayah rawan banjir di Pulau Jawa dapat dilihat pada Gambar 2. 3 Lokasi rawan banjir di pulau jawa.16 persen.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Jumlah pencari kerja pada tahun 2003 sebesar 379.621 orang. Tenaga kerja yang sudah ditempatkan sebanyak 40. Sistem pengendalian bahaya banjir melalui pendekatan infrastruktur telah berlangsung lama. Pendekatan infrastruktur untuk mengatasi banjir di sepanjang pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah telah diupayakan melalui proyekproyek besar berbantuan luar negeri. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .3. antara lain North Java Flood Control 1 Laporan kejadian banjir dan tanah longsor musim hujan 2001/2002 dan 2002/2003.

sehingga upaya pengendalian bersifat spesifik sesuai karakteristik wilayah yang bersangkutan. b) Meluapnya Aliran Sungai melalui Tanggul Akibat debit yang besar pada musim hujan yang tidak dapat ditampung oleh badan-badan air di daerah pantai/muara. tetapi justru menyebabkan bertambah luasnya area yang terkena banjir di daerah hilir. laju pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang membutuhkan biaya besar tersebut tidak mampu mengatasi peningkatan magnitude dan frekuensi banjir. Namun demikian. Tanggul-tanggul sungai di hulu dapat mengurangi banjir yang terjadi di daerah hulu. penambangan pasir terjadi di sungai-sangat besar sehingga pada beberapa tempat mengalami degradasi dasar sungai. Meluapnya aliran sungai ini mengakibatkan daerah-daerah yang relatif datar dan lahan-lahan pertanian di sekitarnya menjadi tergenang. Faktor penyebab terjadinya banjir di Pulau Jawa berbeda-beda untuk setiap wilayah. kemiringan dasar sungai menjadi relatif datar akibat sedimentasi tersebut sehingga kapasitas tampungan sungai menjadi berkurang. Beberapa penyebab utama terjadinya banjir antara lain adalah: a) Pendangkalan/Agradasi Dasar Sungai (Sedimentasi) Hampir semua sungai di Jawa membawa sedimen dalam jumlah besar dari hulu dan mengikis lahan di sepanjang daerah aliran sampai ke muara. Di lain pihak. Selain itu. Untuk pengendalian banjir wilayah Jakarta diupayakan melalui Ciliwung Cisadane River Flood Control Project dan pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) yang saat ini sedang berlangsung.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Project dan South Java Flood Control Project. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . diupayakan melalui proyek-proyek pengembangan perkotaan antara lain Bandung Urban Development Project (BUDP) dan Surabaya Urban Development Project (SUDP). Di daerah muara. khususnya kota-kota besar di Pulau Jawa. untuk mengatasi banjir di wilayah perkotaan lainnya. terjadi luapan air sungai dari tanggul. Upaya pengendalian banjir juga dilakukan di Bandung Selatan melalui proyek Upper Citarum Flood Control 2-26 Project.

9 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN Masalah kekeringan dapat diidentifikasi dengan analsisi kondisi neraca air. terbendungnya alur sungai. Defisit Sedang (DS). seringkali pengamatan/pemeliharaan di lapangan jarang dilakukan. Neraca air tergolong normal apabila tidak terjadi defisit sepanjang tahun. Hal ini disebabkan oleh penyempitan badan sungai. dan lebih dari enam bulan diklasifikasi defisit tinggi. e) Kurang Berfungsinya Pintu Pengendali Banjir pada Sungai Pintu air tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena tertutup oleh tanaman atau endapan pasir. Analisis neraca air pada kabupaten/kota di luar wilayah Jabodetabek dilakukan dengan membandingkan hasil perhitungan ketersediaan air dengan kebutuhan air pada tiap-tiap bulan di masing-masing kabupaten/kota. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 2. Karena bangunan beroperasi secara otomatis. Hal ini terutama terjadi pada pintu air otomatis. sehingga laju pengaliran air melalui saluran drainase menurun.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA c) Kondisi Saluran Drainase yang Kurang Baik Saluran drainase tidak berfungsi dengan baik karena pintu-pintu air tidak beroperasi sebagaimana mestinya. ada 4 klasifikasi: Normal (N). dan penyempitan pada jembatan dan bangunan-bangunan struktur lainnya. empat hingga enam bulan diklasifikasi defisit sedang. dan Defisit Tinggi (DT). Backwater juga terjadi pada pertemuan antara anak sungai dan sungai utamanya. Defisit Rendah (DR). Via analisis kondisi neraca air. dan lahan-lahan produksi di dataran rendah. kapasitas tampungan semakin berkurang. sedangkan jika jumlah bulan defisit mencapai 3 bulan diklasifikasi sebagai defisit rendah. 2-27 d) Efek Backwater Efek backwater terjadi di bagian hulu karena perubahan arus di hilir yang menyebabkan muka air di hulu meningkat. sehingga terjadi banjir di bagian hulu.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Khusus untuk wilayah Jabotabek analisis dilakukan dengan perhitungan besarnya jumlah defisit air pada bulan paling kering.5 meter kubik perdetik diklasifikasi sebagai defisit rendah. Hasil analisis neraca air menunjukkan bahwa.5 hingga 1 meter kubik perdetik diklasifikasi defisit sedang.4. Perubahan persentase jumlah kabupaten di luar wilayah Jabotabek yang mengalami defisit air dari tahun 2003 hingga 2025 dapat dilihat pada Gambar 2. 45 2-28 40 Persentase Jumlah Kabupaten/Kota (%) 35 30 25 20 15 10 5 2003 NORMAL 2005 2010 2015 DEFISIT SEDANG 2020 2025 DEFISIT TINGGI DEFISIT RENDAH Gambar 2. 4 Perubahan persentase kabupaten defisit air. Metode ini digunakan karena ketersediaan air pada wilayah ini relatif konstan sepanjang tahun karena pasokan dari sistem yang ada. defisit lebih dari 0. Dari wilayah yang mengalami defisit tersebut. sedangkan jika jumlah defisit mencapai 0. pada tahun 2003 sebagian besar (sekitar 77 persen) wilayah kabupaten di luar Jabodetabek telah memiliki satu hingga delapan bulan defisit air dalam setahun. sesuai hasil Jabotabek Water Resources Management Study (1994). Kondisi normal menunjukkan bahwa tidak terjadi defisit sepanjang tahun. dan lebih dari 1 meter kubik perdetik diklasifikasi defisit tinggi. terdapat 38 kabupaten/kota atau sekitar 35 persen telah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

defisit air tinggi akan terjadi pada tahun 2005 di beberapa kabupaten/kota di wilayah sungai Cimanuk-Cisanggarung. Semarang. defisit tinggi juga terjadi pada kota besar seperti Bandung. Citarum.5 pada tahuntahun 2015.4. Progo-Opak-Oyo. antara lain Kabupaten Ngawi di WS Bengawan Solo dan Kota Surabaya di WS Brantas. dan Madura. Beberapa kabupaten/kota pada tahun 2010 diperkirakan akan mengalami defisit yang semakin membesar. defisit air di wilayah tersebut cenderung semakin tinggi. dan diperkirakan meningkat menjadi 100 persen pada 2025. atau defisit sepanjang tahun. Sementara itu. dan sebagian Pekalen-Sampean belum mengalami defisit air. Jratun Seluna bagian hulu. Dari proyeksi neraca air kabupaten/kota di Pulau Jawa di atas. Jika tidak dilakukan intervensi infrastruktur maka kondisi neraca air akan mengalami defisit yang semakin tinggi pada tahun-tahun berikutnya. Hasil analisis dan proyeksi neraca air kabupaten/kota JawaMadura yang mengalami defisit dapat dilihat pada Gambar 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengalami defisit tinggi. Pada tahun-tahun berikutnya. ditemukan bahwa sekitar 50 persen kabupaten/kota mengalami defisit air pada tahun 2003. Serayu bagian hulu. Bengawan Solo. Di samping itu. dan kabupaten/kota yang mengalami defisit akan semakin meluas sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 2. Pemali-Comal. dan Yogyakarta. Pada tahun 2025 jumlah kabupaten defisit air meningkat hingga mencapai sekitar 78. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian secara khusus dan perlu dilakukan upaya penanganan segera dalam jangka pendek. kabupaten/kota di wilayah-wilayah sungai Cisadea-Cikuningan. 2020. bahkan sejak tahun 2003 sekitar 12 kabupaten/kota telah mengalami defisit penyediaan air minum. CitanduyCiwulan. 2-29 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .4 persen dengan defisit berkisar mulai dari satu hingga dua belas bulan. Brantas hilir. Untuk wilayah Jabotabek. Jumlah ini diperkirakan semakin meningkat hingga mencapai sekitar 19 kabupaten/kota pada tahun 2025 apabila tidak dilakukan intervensi infrastruktur. Brantas. Di antara kabupaten/kota yang mengalami defisit air tersebut. dan 2025.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tangerang. seperti Sungai Cisadane. Hal ini diperparah dengan semakin langkanya air bersih sebagai akibat meningkatnya pencemaran air di sungai-sungai besar tersebut. Karawang. 2-30 2 Serang. DKI Jakarta sebagai ibukota negara memerlukan daya dukung sumber daya air untuk menunjang segala kegiatan di wilayah tersebut. Sungai Cidurian. Kabupaten Bogor. Depok. Karawang. dan Bekasi serta Serang. Sungai-sungai ini merupakan sumber air permukaan utama untuk daerah pertanian dan industri di Kota Tangerang. Kota Bogor. Bogor. Alternatif tambahan pasokan untuk DKI Jakarta adalah sungai-sungai yang berada di barat dan selatan wilayah ini. potensi konflik pemanfaatan air antarwilayah dan antarpengguna akan semakin meningkat. Kabupaten Tangerang. dan Purwakarta dikelompokkan dalam satuan wilayah analisis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Wilayah analisis neraca air untuk daerah Jabodetabek dan sekitarnya meliputi DKI Jakarta. dan Purwakarta2. dan Sungai Ciujung. Dengan demikian. Pasokan air baku utama ke DKI Jakarta bersumber dari Sungai Citarum yang dialirkan dari Waduk Jatiluhur. sejalan dengan rencana pengembangan inter basin management dengan menambahkan WS Ciujung-Ciliman dan WS Citarum menjadi satuan wilayah analisis WS Ciliwung-Cisadane. meskipun sungai utama yang melalui wilayah ini adalah Sungai Ciliwung. dan Kota Depok.

2 b u la n 3 .4 b u la n 5 .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-31 2005 L d 2010 L d 2015 Legenda : 2020 Legenda : 2025 Legenda : Legenda : B a ta s P r o p in s i J u m l a h B u l a n D e f is i t t a h u n 2 0 2 5 0 b u la n 1 .8 b u la n 9 . 5 Proyeksi Neraca Air Kabupaten/Kota di Pulau Jawa dan Madura.6 b u la n 7 . LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .1 2 b u la n B a ta s K a b u p a t e n Sumber : Hasil Analisis Gambar 2.1 0 b u la n 1 1 .

0 m3/det. saat ini diperkirakan sekitar 65% kebutuhan domestik untuk wilayah DKI Jakarta masih bertumpu kepada sumber air tanah. dan saluran-saluran yang berakibat pada naiknya permukaan dasar sungai. jika tidak dilakukan upaya intervensi infrastruktur dengan membangun waduk-waduk sumber air baku yang baru. danau. Terjadinya erosi akibat kerusakan catchment area menyebabkan terjadinya peningkatan beban sedimen di dalam sistem sungai dan menghasilkan perubahan pada kondisi hidro-morfologi (pengendapan sedimen pada waduk. yaitu meningkatnya aliran permukaan dan menurunnya aliran dasar (base flow). Defisit tersebut diperkirakan mencapai 15. telah terjadi eksploitasi air tanah secara berlebihan. Pada tahun 2003 defisit air telah mencapai 3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 2 KONDISI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2-32 Di wilayah Jabodetabek bagian utara terutama di DKI Jakarta.3 m3/det apabila tidak dilakukan upaya intervensi infrastruktur. Hal ini menyebabkan penurunan muka air tanah pada tingkat yang semakin kritis. terutama pada bagian hilir).0 m3/det di tahun 2025. Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang dengan sumber utama Sungai Cisadane mengalami kondisi yang hampir sama. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Erosi yang berlangsung cepat akan memacu perubahan unsur hidrologi sungai. Sementara itu. Depok dan Kabupaten Bogor berasal dari Sungai Ciliwung-Cisadane. pasokan air permukaaan menjadi semakin penting untuk menggantikan penggunaan air tanah yang berlebihan tersebut. terutama pada lahanlahan kritis di bagian hulu daerah aliran sungai. Pada tahun 2003 terjadi defisit sebesar 2. daerah-daerah kritis dengan tingkat erosi yang tinggi perlu segera ditangani. sumber utama pasokan air untuk Kota Bogor. Oleh sebab itu. Sebagai ilustrasi. Defisit ini semakin membesar di masa yang akan datang.9 m3/det dan diperkirakan tahun 2025 mencapai 17. Oleh karena itu.

industri. Diantara kabupaten/kota yang mengalami defisit air tersebut. Khusus wilayah Jabotabek yang pasokan airnya relatif terjamin. pada tahun 2003 sekitar 50 persen kabupaten/kota mengalami defisit air dan diperkirakan meningkat menjadi 100 persen pada tahun 2025. Kondisi ini semakin diperparah oleh menurunnya daya dukung lingkungan akibat kerusakan catchment area. Jumlah ini diperkirakan semakin meningkat hingga mencapai 19 kabupaten/kota pada tahun 2025 apabila tidak dilakukan intervensi infrastruktur. Wilayah sungai di Pulau Jawa sebagian besar mengalami permasalahan yang sama yaitu: (1) Kerusakan catchment area sehingga mengancam keberlanjutan daya dukung sumber daya air. Disamping itu jumlah bulan defisit maksimal juga meningkat dari 8 bulan menjadi 12 bulan pada tahun 2025 (defisit sepanjang tahun). (2) Penurunan kinerja infrastruktur sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan pertanian mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2003. bahkan sejak tahun 2003 terdapat 12 kabupaten/kota telah mengalami defisit penyediaan air minum. Pertambahan penduduk dan aktifitas perekonomian di satu sisi berdampak pada peningkatan kebutuhan air. namun disisi lain juga berdampak pada perubahan tata guna lahan yang mengakibatkan perubahan perilaku hidrologis. secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa kebutuhan air untuk rumah tangga. sekitar 77 persen kabupaten/kota di Pulau Jawa mengalami defisit air dan diperkirakan meningkat menjadi 78. Hasil analisis secara lengkap disajikan pada Buku 2 Identifikasi Masalah Pengelolaan Sumber Daya Air di Pulau Jawa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 3-1 3. Hal tersebut juga meningkatkan potensi banjir yang akan mengancam keberlanjutan infrastruktur di Pulau Jawa yang dibangun dengan investasi yang sangat besar. perkotaan. Adanya perubahan perilaku hidrologis tersebut menyebabkan perubahan pola ketersediaan air.1 RUMUSAN KEBIJAKAN PRAKARSA STRATEGIS Dari hasil analisis.4 persen pada tahun 2025.

(3) Eksploitasi air tanah yang berlebihan mengakibatkan penurunan muka air tanah. (9) Rendahnya kualitas pengelolaan hidrologi. land subsidence. khususnya untuk irigasi di Pulau Jawa. dan (ii) Penyesuaian kembali alokasi air antar jenis kebutuhan atau realokasi air. (10) Belum semua wilayah sungai memiliki masterplan atau perlu diperbaharui. dan (13) Meningkatnya potensi konflik pemanfaatan air. dan ketatalaksanaan. (7) Meningkatnya kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan air. dan penurunan kinerja prasarana pengendali banjir. Dengan kondisi defisit seperti ini maka diperlukan juga kajian mendalam tentang kemungkinan dilaksanakannya perubahan dan penyesuaian alokasi antar kebutuhan atau realokasi. keperluan adanya institusi untuk menjawab permasalahan yang berkembang. penurunan kapasitas pengaliran sungai. maka perlu dilakukan prakarsa strategis terkait dengan: (i) Penanganan kabupaten/kota yang telah mengalami krisis penyediaan air minum melalui intervensi infrastruktur dan kegiatan terkait. (11) Masih lemahnya pengelolaan database sumber daya air. dan intrusi air laut. (4) Kualitas air yang rendah karena daya dukung sungai lebih rendah dibanding beban pencemaran. (6) Banjir akibat perubahan tata lingkungan. kelembagaan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air. baik melalui demand management maupun supply management serta peluang dilaksanakannya inter basin transfer. 3-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sehingga mengurangi secara signifikan ketersediaan air untuk kebutuhan air minum. (8) Kekeringan/defisit air di musim kemarau. terutama realokasi atau perubahan alokasi untuk pemenuhan kebutuhan irigasi. (5) Kecenderungan bahwa sungai dan badan air lainnya sebagai tempat pembuangan limbah cair yang tidak terolah dan sampah menjadikan air permukaan yang terbatas tidak layak dipergunakan untuk air minum. (12) Lemahnya koordinasi. Prakarsa strategis ini membutuhkan kajian mendalam dan spesifik lokasi untuk menemukan sumber-sumber penyediaan air baru maupun mengoptimalkan penggunaan sumber air yang ada bagi kabupaten/kota yang defisit air tinggi. Dengan adanya defisit air di sebagian besar kabupaten/kota dan bahkan tidak dapat memenuhi kebutuhan air minum.

Untuk itu diperlukan pendekatan terpadu yang memperhatikan keseimbangan antara pendayagunaan dan konservasi. produktivitas lebih tinggi serta tetap mempunyai rasa yang enak. Prinsip dan proses ”Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air” (Integrated Water Resources Management) yang mencakup aspek kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Untuk itu diperlukan strategi kebijakan baru dalam pengembangan irigasi di Pulau Jawa yang mempertimbangkan fenomena defisit air dan kebutuhan bahan pangan serta infrastruktur irigasi yang telah dibangun.2 KEBUTUHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR YANG TERPADU. berumur lebih pendek. dari pengguna air ke pengelola air tingkat setempat/lokal ke struktur pengambilan keputusan tingkat wilayah sungai dan tingkat nasional. kelembagaan dan perangkat manajemen telah direkomendasikan para ahli SDA dalam World Water Forum (WWF) II dan WWF III sebagai pendekatan yang tepat dalam menghadapi tantangan dalam LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dengan adanya penghematan air untuk irigasi (sebagai pengguna air yang terbesar) maka kelebihan air tersebut dapat direalokasikan untuk memenuhi kebutuhan lain misalnya untuk air minum dan air perkotaan yang permitaannya semakin meningkat. 3-3 3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Konsekuensi logis perubahan alokasi tersebut adalah berkurangnya pasokan air untuk pemenuhan irigasi sehingga tanpa adanya perubahan teknologi maka akan mengurangi luas areal layanan (command area) dan produktifitas tanaman. Disamping itu diperlukan diperlukan cara olah tanah dan tata tanam yang lebih hemat air. antara hulu dengan hilir. Permasalahan-permasalahan yang menimpa sumber daya air dan lingkungan pendukungnya seperti diatas disebabkan oleh penanganan yang terfragmentasi baik dalam perencanaannya maupun pelaksanaannya. Diperlukan komunikasi dan dialog antar berbagai tingkat pengambilan keputusan. antar wilayah. serta antarsektor. Perubahan atau inovasi teknologi yang diharapkan adalah ditemukannya varietas padi unggul yang hanya memerlukan lebih sedikit air. Dalam hal ini masingmasing sektor berjalan sendiri tanpa mempertimbangkan akibatnya terhadap sektor yang lain.

termasuk strategi dalam melaksanakannya. dan lainnya. Renstra. dan fungsi instansi-instansi yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air di Pusat LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Integrasi program ini sesuai dengan prioritas penanganan dalam jangka waktu yang ditentukan. 3. 4. 3. Sinkronisasi Kebijakan dan Program antara RPJM. Posko Swadaya Banjir. Secara lengkap hasil integrasi program tersebut dijelaskan pada uraian selanjutnya. Lembaga Pengelolaan Sungai. meningkatnya kompetisi masyarakat penggunaan tentang air yang dominan serta meningkatnya tuntutan ”good akan reformasi institusi untuk pelaksanaan 3-4 governance”. dilakukan integrasi program secara menyeluruh melalui perpaduan antara faktor internal dan eksternal. 3.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.3. Fasilitasi pembentukan lembaga pengelola air oleh masyarakat seperti P3A. Lembaga Pengelolaan Air Baku dan Air Minum. tugas.1 Program Jangka Pendek Program jangka pendek pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1. RKP dan RKAKL Bidang Sumber Daya Air untuk Pemerintah Pusat dan Propinsi di Pulau Jawa.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pengelolaan SDA pada abad ke 21 yang diwarnai dengan peningkatan kebutuhan akan sumber daya air dan sumber daya alam lainnya. Penataan kembali hubungan kerja sesuai wewenang. 2. Penyusunan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU No.3 PROGRAM PRIORITAS Berdasarkan klasifikasi pada tahapan sebelumnya. Lembaga Pengelolaan Sumber Air.

sedang dan kecil untuk mengatasi banjir dan memenuhi kebutuhan air baku untuk berbagai keperluan di kota besar dan wilayah strategis serta daerah perdesaan di Pulau Jawa. Pembentukan lembaga koordinasi pengelolaan sumber daya air (Dewan Sumber Daya Air) dan penyempurnaan kelembagaan pengelola air di Pulau Jawa sesuai kewenangan pusat dan daerah. Pelaksanaan pembangunan infrastruktur skala besar. Sinkronisasi Kebijakan dan Program antara RPJM. 3-5 3.3. Penyusunan dan penyempurnaan pola dan rencana induk pengelolaan wilayah sungai sebagai dasar konservasi dan pendaya gunaan sumber daya air di wilayah sungai. RKP dan RKAKL Bidang Sum ber Daya Air untuk Pemerintah Pusat dan Propinsi di Pulau Jawa. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Melaksanakan ”kegiatan percontohan” kegiatan aksi swadaya masyarakat seperti Lembaga Pengelola Sungai untuk melaksanakan gerakan kebersihan sungai untuk mengembalikan sungai kepada fungsinya. 2. 4.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dan Daerah berlandaskan pada UU No. 5. Renstra. Pelaksanaan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU Sumber Daya Air No. 6.2 Program Jangka Menengah Program jangka menengah pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1.7/2004. Penertiban kawasan hulu dan wilayah bantaran sungai sesuai ketentuan penataan ruang oleh Pemerintah Daerah dengan dukungan dari Pemerintah. 3. 5.

menanggulangi. Penerapan teknologi olah tanah dan tanam yang lebih hemat air mengingat irigasi khususnya untuk tanaman padi masih menjadi pengguna air terbesar. Mempromosikan gerakan hemat air disegala bidang penggunaan air termasuk penggunaan untuk pertanian. permukiman (kebutuhan domestik). Melanjutkan upaya penertiban kawasan hulu dan wilayah bantaran sungai sesuai ketentuan penataan ruang oleh Pemerintah Daerah dengan dukungan dari Pemerintah. 13. Pengembangan teknologi tepat guna pengelolaan sumber daya air melalui dukungan lembaga penelitian dan pengembangan teknologi di Pusat dan Daerah 12. dan memulihkan dampak banjir secara mandiri. Mengupayakan realokasi air secara terbatas misalnya misalnya mengadakan realokasi air untuk irigasi tanaman padi untuk kebutuhan air minum pada daerah perluasan permukiman/perkotaan melalui upaya-upaya penggunaan varietas padi yang lebih hemat air. Peningkatan kesiagaan masyarakat di daerah rawan banjir dalam mencegah. dan lainnya. Posko Swadaya Banjir. 11. Lembaga Pengelolaan Air Baku dan Air Minum. 9. 8. Fasilitasi pembentukan lembaga pengelola air oleh masyarakat seperti P3A. berproduktivitas tinggi dan mempunyai rasa yang enak sebagai upaya penghematan air. 10. 3-6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 6. industri dan lain sebagainya. Pengembangan varietas padi unggul yang lebih sedikit mengkonsumsi air. mengingat irigasi untuk tanaman padi adalah pengguna air terbesar. 7. Pencegahan alih fungsi lahan beririgasi di Pulau Jawa melalui sistem insentif dan disinsentif bagi masyarakat pemilik dan pengelola lahan. Lembaga Pengelolaan Sumber Air. 14. penggunaan teknologi olah tanah dan tanam yang lebih hemat air dan diversifikasi tanaman kearah tanaman yang bernilai tinggi tetapi lebih hemat air seperti tanaman sayuran dan buahbuahan dan bunga.

2. 20. Penataan kembali eksploitasi bahan galian di badan air dan hulu sungai oleh Pemerintah Daerah bersama masyarakat. Melanjutkan pelaksanaan rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air (Integrated Water Resources Management) sebagai road map pelaksanaan prinsip dan proses pengelolaan terpadu sumber daya air berdasarkan UU No. Pengutamaan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air melalui pelibatan dari proses perencanaan. Melaksanakan ”kegiatan percontohan” kegiatan aksi swadaya masyarakat seperti Lembaga Pengelola Sungai untuk melaksanakan gerakan kebersihan sungai untuk mengembalikan sungai kepada fungsinya. Melanjutkan penyusunan dan penyempurnaan rencana induk (master plan) pengelolaan wilayah sungai dan pengelolaan sumber daya air Popinsi dan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 3-7 3.3 Program Jangka Panjang Program jangka panjang pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa ditetapkan sebagai berikut: 1. dan pelaksanaan kegiatan di lapangan. pengambilan keputusan. 18.3. Penataan ruang di kawasan hulu dan hilir berdasarkan pola pengelolaan sumber daya air yang mengacu kepada kelestarian fungsi ekosistem. Penerapan sistem insentif dan disinsentif bagi badan usaha dan industri dalam penggunaan dan pengusahaan sumber daya air.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. pengawasan. 19. 16.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 15. 17. 3. Pengembangan kapasitas kelembagaan dan aparatur pemerintah di bidang pengelolaan terpadu sumber daya air dalam rangka meningkatkan profesionalisme dan kemampuan teknis dan manajerial. Penataan wilayah bantaran sungai melalui relokasi penduduk secara bijaksana oleh Pemerintah Daerah. serta pengendalian pencemaran air.

Melanjutkan pelaksanaan pembangunan infrastruktur skala besar yang bersifat multi-guna. propinsi. Pengembangan upaya-upaya peningkatan peresapan air dengan pengunaan teknik-teknik ”pemanenan air hujan” (rain water harvesting) diantarnya sumur dan waduk/embung resapan dan sebagainya. 7. Transformasi infrastruktur sumber daya air berdasarkan kondisi tata guna lahan terkini untuk mengatur alokasi air sesuai perkembangan kebutuhan penduduk dan industri serta dengan mempertimbangkan kontribusi sektor terhadap PDB. 5. 4. Pengembangan sumber air di tingkat lokal untuk memenuhi kebutuhan air baku penduduk perkotaan dan perdesaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dengan dukungan Propinsi dan Pusat. 10. Perencanaan pembiayaan bidang sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan operasi dan pemeliharaan dan investasi baru penyediaan infrastruktur bidang sumber daya air dengan dukungan badan usaha dan masyarakat dengan pola kemitraan antara pemerintah dengan swasta. 12. 9. 8. untuk mengatasi banjir dan pemenuhan kebutuhan air baku untuk berbagai keperluan di kota besar dan wilayah strategis di Pulau Jawa. Pengembangan sistem informasi pengelolaan sumber daya air di tingkat nasional dan daerah untuk menjamin ketersediaan dan kemutakhiran data dasar. 11. 3-8 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pengembangan kerjasama masyarakat hulu dan hilir dalam pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai berdasarkan prinsip ”hydro-solidarity”.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Kabupaten/Kota untuk mengantisipasi kebutuhan air baku dan ancaman banjir serta konservasi ekosistem sumber daya air. kabupaten/kota dan wilayah sungai. 6. Pengembangan kerjasama dan integrasi kegiatan antara lembaga koordinasi pengelolaan sumber daya air (Dewan Sumber Daya Air) di tingkat nasional. Pengembangan konservasi air di wilayah hulu dan gerakan hemat air di hilir bersama masyarakat dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan air.

sempadan sungai. dan kawasan green belt dalam rangka mencegah kerusakan dan penurunan kinerja infrastruktur sumber daya air. 14. 15. Pemulihan catchment area Daerah Aliran Sungai melalui reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis bersama masyarakat. Penyadaran publik dan peningkatan kepedulian masyarakat terhadap pemulihan kondisi dan upaya mempertahankan kualitas air di sumber air dan badan sungai. 3-9 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Penataan ekstraksi air tanah oleh intansi yang berwenang dan masyarakat sesuai kemampuan pemulihan cadangan air tanah di wilayah rawan kekeringan. 19. Pengaturan kembali pemanfaatan kawasan hulu Daerah Aliran Sungai untuk hutan produksi dan perkebunan berdasarkan pola konservasi sumber daya air. 18. Pelibatan badan usaha dalam pola kemitraan antara pemerintah dan swasta (public private partnership) dalam pengusahaan sumber daya air dan pengembangan investasi baru infrastruktur sumber daya air. Pemulihan kualitas air dan pengendalian pencemaran air di sumber-sumber airdan badan air di wilayah perkotaan dan industri. 16. 17. Penataan dataran banjir.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 13.

serta pengendalian daya rusak air. Diperlukan penyusunan ”Rencana Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air” sebagai peta langkah (road map) dari rencana tindak yang mencakup aspekaspek kebijakan dan peraturan dan perundang-undangan. dan pengendalian daya rusak air yang dapat menyeimbangkan laju pembangunan dan pemulihan kondisi lingkungan di LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .Strategi implementasi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa adalah sebagai berikut: 1. memantau. yaitu: 1. Strategi kelembagaan dan koordinasi. dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi dan pendayagunaan sumber daya air. pendayagunaan. Strategi struktur 4. Secara lebih terinci rumusan strategi dimaksud diuraikan sebaga berikut. melaksanakan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 4-1 Pengelolaan sumber daya air merupakan upaya untuk merencanakan. Oleh karena itu strategi pengelolaannya pun harus mencakup seluruh aspek pengelolaan tersebut. Berkaitan dengan itu terdapat 5 strategi pengelolaan sumber daya air di Pulau Jawa. 2. Penetapan kebijakan terpadu lintas sektor yang mencakup aspek-aspek konservasi.1 RUMUSAN STRATEGI IMPLEMENTASI Strategi implementasi merupakan panduan dan kaidah pokok dari pelaksanaan keempat strategi lainnya. 4. serta 5. kelembagaan dan perangkat manajemen dalam pengkoordinasian pembangunan dan pengelolaan sumber daya air. Strategi pembiayaan. Strategi implementasi 2. Strategi non-struktural 3.

8. 7. serta peningkatan efisiensi penggunaan air. Upaya mempertahankan Pulau Jawa sebagai lumbung pangan nasional melalui pencegahan laju konversi dan optimalisasi lahan beririgasi yang telah ada. 3. penataan dan penertiban dataran banjir. 6. melalui sistem insentif dan disinsentif oleh Pemerintah Daerah. industri.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Pulau Jawa. Pengelolaan terpadu daerah aliran sungai. 4. Penyediaan air baku berskala besar di Pulau Jawa untuk kawasan-kawasan strategis seperti daerah perkotaan dan permukiman. Penghentian perusakan fungsi kawasan lindung dan daerah tangkapan air di bagian hulu Daerah Aliran Sungai dan melakukan rehabilitasi daerah tangkapan air dengan penghijauan. terutama pada kawasan industri dan perkotaan. Kebijakan ini disertai upaya peningkatan kesadaran masyarakat dalam penghematan air dan pelestarian fungsi lingkungan. dan perdagangan serta penyediaan bangunan penampung air berskala kecil 4-2 untuk memenuhi kebutuhan air baku daerah perdesaan yang dikelola di tingkat lokal. pengolahan tanah yang sesuai dengan upaya konservasi air dan tanah. Upaya ini harus diiringi dengan pemulihan kondisi catchment area yang dilakukan bersama masyarakat. sesuai rencana induk pengelolaan wilayah sungai LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kebijakan ini akan ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010 – 2015 serta peraturan perundangan terkait lainnya. serta dengan melibatkan para pelaku pencemaran dan masyarakat yang terkena dampaknya. Pengendalian pencemaran dan pengelolaan kualitas air pada sumber air dan badan air. 5. dan pengendalian tata ruang di Pulau Jawa. pembuatan sumur dan waduk/embung resapan serta pelaksanaan upaya-upaya pemanenan air hujan dengan melibatkan para pelaku perusakan dan masyarakat yang terkena dampak. terutama yang bersifat lintas sektor dan lintas wilayah. serta pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana drainase yang memadai. Penanggulangan bencana banjir melalui intervensi infrastruktur (skala besar) guna melindungi kawasan yang telah berkembang terutama kota-kota besar.

Tujuan perlindungan dan pelestarian sumber air adalah untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan keberadaannya.2. tanpa menitikberatkan pada pembuatan bangunan fisik secara signifikan. d. pengaturan daerah sempadan sumber air. pengisian air pada sumber air. 3. 4. g.2 STRATEGI KEBIJAKAN NON-STRUKTURAL Strategi non-struktural sangat penting dalam kaitannya dengan kegiatan untuk menjaga keberadaan sumber daya air. c. 4-3 4. 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA terkait yang didukung oleh peraturan perundangan serta sistem pengawasan bersama masyarakat. 5. pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air.1 Strategi Menurut Undang-undang Sesuai dengan UU No. serta pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air 2. pengaturan prasarana dan sarana sanitasi. dan/atau LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pengendalian pemanfaatan sumber air. dari segi jumlah maupun kualitasnya. Upaya konservasi dilakukan melalui kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber air. pengawetan air. e. h. Konservasi dilakukan sesuai dengan pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air. Ketentuan konservasi sumber daya air dijadikan sebagai salah satu acuan penting dalam perencanaan tata ruang wilayah. beberapa kebijakan/strategi non-struktural berkaitan dengan konteks konservasi SDA adalah: 1. b. Perlindungan dan pelestarian sumber daya air dilakukan melalui: a. pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu. f. rehabilitasi hutan dan lahan. 7 Tahun 2004.

waduk. sistem irigasi. Konservasi sumber daya air dilaksanakan pada sungai. Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan cara memperbaiki kualitas air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. kawasan hutan. ekonomi. menyimpan air yang berlebihan di saat hujan untuk dapat dimanfaatkan pada waktu diperlukan. dan/atau c. Pengawetan air dilakukan dengan cara: a. kawasan suaka alam.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA i. 9. Muatan yang mendukung pengelolaan sumber daya air secara otomatis harus menjadi salah satu acuan dalam menyusun program dan kebijakan yang akan diterapkan. 11. Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air ditujukan untuk mempertahankan dan memulihkan kualitas air yang masuk dan yang ada pada sumber-sumber air. 4-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan budaya. kawasan pelestarian alam. menghemat air dengan pemakaian yang efisien dan efektif. pelestarian hutan lindung. dan kawasan pelestarian alam. rawa. cekungan air tanah. Selain itu untuk mendukung pengelolaan yang terintegrasi. 6. daerah tangkapan air. b. Pengendalian pencemaran air dilakukan dengan cara mencegah masuknya pencemaran air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. pemerintah juga menyediakan sistem informasi sumber daya air yang pelaksanaannya dilakukan sesuai tingkat kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. 8. maka kebijakan nonstruktural di bidang pengelolaan sumber daya air perlu diintegrasikan ke dalam peraturan-peraturan yang bersifat lebih operasional dan rencana strategis yang didasarkan pada kebijakan masing-masing daerah. 7. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilaksanakan secara vegetatif dan/atau sipil teknis melalui pendekatan sosial. danau. mengendalikan penggunaan air tanah. 10. kawasan suaka alam. dan kawasan pantai. Mengacu pada kebijakan yang telah digariskan di atas.

2. memulihkan dan mempertahankan daya dukung. Menetapkan dan membina pengelolaan kawasan hutan di daerah tangkapan air hujan. Yang dimaksud dengan prasarana dan dan sarana konservasi sumber daya air LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa dan mengelola daerah resapan air dalam rangka mengupayakan peningkatan ketersediaan air dan pengurangan daya rusak .2 Strategi Konservasi Sumberdaya Air 4. c. perlu pula adanya dukungan dari perangkat hukum dan penegakannya. serta menghambat laju penebangan liar dan degradasi hutan dan lahan.2.5% di tahun 2010. Pelaksanaan kebijakan tidak dapat terlaksana tanpa adanya perangkat hukum yang berwibawa dengan dukungan aparat penegak hukum.1 Mempertahankan Daerah Aliran Sungai Konsepnya adaklah dengan meningkatkan. dengan target minimal 12. dengan persentase tutupan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Berberapa langkah ang dapat dilakukan untuk mendukung hal ini adalah dengan: a. Merehabilitasi hutan dan lahan kritis seluas 43 juta ha dengan prioritas di 142 DAS kritis. daya tampung. Keberhasilan pengelolaan akan sangat ditentukan oleh hal ini mengingat kelancaran suatu proses untuk mencapai tujuan dari kebijakan akan membutuhkan kedisiplinan dalam pelaksanaan. 25% di tahun 2015. Menetapkan air. Mengembangkan dan merehabilitasi prasarana dan sarana konservasi sumber daya air dengan target minimal 25% tiap 5 (lima) tahun. 50% di tahun 2025.2. dan fungsi daerah aliran sungai untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan. b. 4-5 4. karenanya jaminan dari perangkat hukum sangat dibutuhkan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sebagai kelanjutan program dan kebijakan yang bersemangatkan pengelolaan sumber daya air. Kriteria luas tutupan perlu dibuat oleh instansi yang berwenang d.

teras bangku. memulihkan dan mempertahankan daya dukung. sumur resapan. e. Sabuk hijau dikenal juga sebagai lajur pepohonan di sekeliling wadah air. Melakukan pengendalian pengambilan air tanah secara ketat dengan prioritas pada cekungan-cekungan air tanah yang sudah kritis dan kawasan karst dengan membatasi pengambilan hanya sebesar batas aman (safe yield). Aplikasi dari strategi ini dapat dilakukan dalam beberapa langkah konkret sebagai berikut: a. rawa. Meningkatkan upaya pemeliharaan sumber air (antara lain : danau. ground sill.2. dll. rawa. embung. Menetapkan dan mengelola kawasan danau. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Upaya penyediaan sebagai pengganti pengambilan air tanah dapat dilihat pada langkah penyediaan air. danau. c. dan fungsi sumber daya air untuk menjamin ketersediaan air guna memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan.2 Mempertahankan Sumber Daya Air Konsepnya adalah dengan meningkatkan. guna kepentingan pelestarian lingkungan sekitar mata air. rawa ) dan pengawetan air berupa pembangunan antara lain: waduk dan embung. Pengembangan sabuk air di sekitar mata air antara lain dapat dilakukan dengan mengembangkan arboretum. 4-6 4. teknik pemanenan hujan. check dam. waduk dengan prioritas daerah pemukiman dengan target 15% tiap 5 (lima) tahun. waduk. 41 tahun 1999 tentang kehutanan pasal 50 ayat (3) butir c. d. embung. daya tampung. situ.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA adalah small and medium pond. b. situ. situ/embung dan mata air dengan aturan yang sesuai dengan penetapan kawasan sabuk hijau sesuai dengan undang-undang UU No.2. Menyempurnakan pedoman penetapan batas semadan sumber air Menetapkan daerah batas sempadan sungai.

Menetapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya sebagai instrumen untuk mendorong pengendalian pencemaran air dan meningkatkan pengelolaan kualitas air kepada para pecemar. 4-7 f. Menerapkan pedoman perhitungan biaya pemulihan dan pengelolaan kualitas air serta metode pembebanannya sebagai instrumen untuk mendorong pengendalian pencemaran air dan meningkatkan pengelolaan kualitas air kepada para pecemar. g. Meningkatkan upaya pengamanan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan penambangan bahan galian C pada sumber air dan kegiatan penambangan lainnya. d. Mempertahankan kualitas air dilakukan dengan menerapkan beberapa strategi berikut: a.2. b. Untuk mengembalikannya perlu tindak pengolahan air yang membutuhkan sejumlah biaya yang pada akhirnya akan menambah biaya operasional. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Menetapkan kawasan reklamasi rawa dengan ketebalan lahan gambut lebih dari 3 meter sebagai kawasan rawa konservasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA e. c.2. 4. Mendorong dan mengupayakan pembangunan sistem pengelolaan limbah cair komunal di kawasan pemukiman dan kawasan industri.3 Mempertahankan Kualitas Air Konsepnya adalah dengan memulihkan dan mempertahankan kualitas air untuk memenuhi kebutuhan air yang berkelanjutan. Menurunnya kualitas air mengakibatkan kesulitan karena berkurang atau hilangnya manfaat yang diharapkan dari air bersangkutan. Menetapkan baku mutu limbah cair yang diperkenankan dibuang kedalam sumber air/badan air. Mengelola daerah sempadan sumber air sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh menteri yang membidangi sumber daya air.

recycle) 4-8 f. pengenceran. i. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Membangun bangunan penahan intrusi air laut di kawasan pantai dan mengendalikan penggunaan air tanah guna menghindari intrusi air laut. Memperbaiki kualitas air pada sumber air dengan cara antara lain: aerasi. g.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA e. Membangun sistem pemantauan kualitas air pada sumber air dan kualitas limbah cair secara berkelanjutan. h. Mendorong upaya pengawetan air melalui pembudayaan prinsip 3 (tiga) R (reduce. reuse. secara biologi. Menegakkan hukum yang tegas bagi pelanggar ketentuan kualitas serta sistem penerapan insentif-disinsentif pengelolaan sumber daya air dan lingkungan dengan target minimal selesai tahun 2015.

Magelang Banjarnegara # # K.Bakosurtanal. Kediri # Bantul Probolinggo SWS 0213 Kulonprogo # # Wonogiri K. D ate A5 C piledb : om y G Operator: IS CORRELATION BETWEEN AMINISTRATION AND WATERSHED (SWS BOUNDARIES ) S rce : ou . Pekalongan # # # # K. Tegal K. Y # SURABAYA K. Depok Panaitan Is. Semarang Y # Blora SWS 0210 SWS 0215 Lamongan # Sumenep Gresik # Sampang Pamekasan # # Sapudi Is.it ra St nd a Su BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 0' Kepulauan Seribu K. 1 Susunan Wilayah Sungai yang sudah ada. Cilegon # # 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' 0' Bawean Is. Bandung Tegal Grobogan Bojonegoro Ngawi # # # SWS 0208 Batang # # # SEMARANG # Madura Is. Bekasi # # # Krakatau Serang 6 Bekasi Karawang Ja va Se a Y # U % SWS 0204 Indramayu # # # Banten Province # # K. SWS 0202 Purwakarta # # SWS 0201 Lebak Bogor Subang Jepara Cirebon # Pandeglang West Java Province # # Pati K. Yogyakarta # K. 9 L nd: ege G O V E R N M E N T OF R E P U B L I C I N D O N E SI A NATIONAL PLANNING DEVELOPMENT AGENCY (BAPPENAS) FORMULATION OF A BLUEPRINT NATIONAL POLICY ON FLOOD CONTROL AND MANAGEMENT M N : ap o M Title : ap Gambar 4. Ba l i St r a i t # Mojokerto SWS 0212 Madiun Jom bang # # K. Surakarta Magelang # Nusakambangan Is. Bangkalan # Pelabuhan Ratu Bay Sukabumi Cianjur Bandung # # # Demak Kendal K. Jakarta Bay Tangerang JAKARTA TANGERANG K. Blitar # Lumajang # Pacitan # SWS 0214# Malang Yogyakarta Special # # Trenggalek Tulungagung Blitar Province Jember Banyuwangi 8 I ndi an Oce an Nusa Barung Is. Madiun # East Java Province # Situbondo # Sukoharjo Purworejo K. Pasuruan # Karanganyar Nganjuk # # Sleman Klaten # Magetan K. Sukabumi # BANDUNG Sumedang Majalengka Brebes Kuningan Pekalongan Pemalang # # SWS 0205 Kudus Rembang Tuban # # # Y # K. Probolinggo Pasuruan # Kediri Y # YOGYAKARTA # # # K. 1 : 250 000 Scale (Coastline. River. Malang Ponorogo # Bondowoso # Gunungkidul # K. Lake) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa eptem 2004 ber :S BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4-9 . Mojokerto # # # 7 SWS 0203 SWS 0207 Purbalingga # Central Java Province Temanggung Semarang Tasikmalaya Banyumas Ciamis Cilacap Kebumen # # # SWS 0209 # Garut Sidoarjo Ma du r a St r ai t SWS 0206 # K. Salatiga # WonosoboSWS 0211 Sragen # Boyolali K.

Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Ciujung-Ciliman diuraikan pada Tabel 4.3.3 4. Kab. serta bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Serang.1.Serang.Pandeglang. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Ciujung-Ciliman adalah : DAS Ciujung. dan Kab. DAS Cidanau merupakan salah satu sumber air yang vital bagi masyarakat Kabupaten dan Kota Cilegon dan diarahkan untuk mensuplai keberlangsungan Waduk Krenceng.1 STRATEGI KEBIJAKAN STRUKTURAL Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang Sudah Ada 4-10 4. Selain itu DAS Ciujung berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang akan diarahkan untuk mensuplai air bagi Waduk Karian. Kab. meliputi wilayah administratif: Kota Cilegon. Kabupaten Serang dan Kabupaten/Kota Tangerang. DAS Cibante dan DAS Cibungur.Lebak. Luas wilayah sungai Ciujung-Ciliman sekitar 473. Diantara DAS tersebut di atas yang menjadi prioritas adalah DAS Ciujung dan DAS Cidanau.Bogor. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . DAS Ciliman.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Keutuhan dan kemantapan fungsi cathment area DAS Ciujung sangat penting sebagai sumber air bagi daerah-daerah seperti Kabupaten Lebak. DAS Cidanau.1. Kab.3.000 Ha.1 Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman Sungai-sungai yang mengalir di WS Ciujung-Ciliman berhulu di gunung karang dalam wilayah administratif Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang.

Bekasi. Kab. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 1 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciujung Ciliman NO. Luas wilayah sungai Ciliwung–Cisadane sekitar 4355 Km² dan meliputi wilayah administratif kabupaten / kota sbb : Jakarta Barat. Kota Tangerang. Kab.2 Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Sungai-sungai yang mengalir di WS Ciliwung-Cisadane berhulu di G. Kab. Cilemer kiri seluas 500 ha. perkotaan dan industri untuk wilayah Serang dan Jabotabek dengan menggunakan saluran Karian-Tanjung-Serpong (KTS). DAS Ciliwung.Wiru dalam wilayah administratif Kabupaten Bogor. Kota Bogor. Tangerang. Jakarta Timur. Kota Bekasi. Bogor. DAS Cisadane. DAS Sunter.3. Jakarta Pusat. 1 KEGIATAN Waduk Karian LOKASI Hulu Sungai Ciujung MANFAAT & PENJELASAN Penyedia air rumah tangga.Kendeng dan G. Sukabumi. Kab. Kota depok. WS Ciliwung-Cisadane mencakup wilayah DAS Cidurian. perkotaan dan industri untuk kebutuhan Tangerang lewat KSCS mengambil alih fungsi Waduk Karian untuk mensuplai air irigasi ke daerah irigasi Ciujung suplesi air irigasi DI. Kab. penyedia air baku untuk kecamatan Banjarsari dan sebagai waduk pengendali banjir pemenuhan kebutuhan air baku Jabotabek 4-11 2 Waduk Tanjung Sungai Cidurian 3 4 5 Waduk Cilawang Waduk Pasirkopo Waduk Cimalur Sungai Ciujung Sungai Ciujung Desa Cibatur Keusik Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak Sungai Cisemeut 6 7 8 9 10 11 12 13 Waduk Bojongmanik Bendung Anyer Bendung Karet Cikoneng. DAS Pesanggrahan. dan DAS Cikarang/Cipamingkis. dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Bekasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Lebak. Serang.1. Bendung Karet Cisangkuy Long Storage Sungai Ciujung Bendung Tipe Gergaji di Sungai Cibama Bendung Karet Cibungur Bendung dan Bendung Karet Ciseukeut 4. penyedia air baku untuk daerah Tangerang dan DKI Jakarta dengan menggunakan saluran irigasi Cidurian atau dengan saluran lternative KarianTanjung-Serpong (KTS) menambah persediaan air rumah tangga. Kab. Jakarta Selatan. Jakarta Utara.

4. Untuk itu perlu meningkatkan kapasitas drainase yang saat ini belum memadai. khususnya di wilayah Jakarta bagian hulu. khususnya pada saat pasang 2. floodway. Amblesan tanah khususnya di wilayah Jakarta bagian utara yang disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebih. sungai dan berbagai saluran utama telah mengalami pengurangan kapasitas akibat terjadinya agradasi dasar sungai. sehingga mempercepat aliran permukaan. Hal ini merupakan permasalahan yang cukup pelik di beberapa tahun terakhir ini. Terabaikannya pemeliharaan fasilitas drainase yang ada. 2 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Ciliwung-Cisadane NO.000 ha terletak 2 m dibawah permukaan air laut). 3. Meningkatnya proporsi luas permukaan tanah yang tidak lolos air yang berakibat pada infiltrasi yang semakin mengecil.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Saat ini banjir sering terjadi pada DAS Ciliwung. 1 KEGIATAN Waduk Ciawi LOKASI Hulu Sungai Ciliwung MANFAAT & PENJELASAN Mengurangi debit banjir Sungai Ciliwung di Kota Bogor. Kondisi ini merupakan kombinasi dari berbagai akibat yang ditimbulkan oleh : 1.2. Tabel 4. Meningkatnya puncak banjir dari DAS bagian hulu akibat meningkatnya urbanisasi dan hilangnya daerah resapan air Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Ciliwung-Cisadane diuraikan pada Tabel 4. wilayah ini terletak pada daerah yang rata dan rendah (kurang lebih 15. dan relatif terkena dampak aliran balik dari laut. Selain itu Waduk Ciawi juga dapat berfungsi sebagai penyedia air untuk Kota Bogor dan DKI Jakarta serta sebagai sumber air untuk penggelontoran Sungai Ciliwung di musim kering penyedia air baku ke daerah Bogor dengan cara gravitasi penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta memenuhi kebutuhan air di Kota dan Kabupaten Bogor mengalihkan debit banjir dari Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane guna pengendalian banjir di DKI Jakarta memenuhi kebutuhan air Jabotabek 4-12 2 3 4 5 6 7 Waduk Genteng Waduk Parung Badak Waduk Sodong Salak Contour Canal Ciliwung Floodway Tunnel Peningkatan Kanal Tarum Barat Sungai Cisadane tengah Sungai Cisadane hilir Sungai Cikaniki sekeliling Gunung Salak Kota Bogor Karawang .Bekasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

Master Plan 1997 Pengendalian banjir. G. DAS Cimangur dan DAS Cibareno. Kabupaten Bandung. DAS Cipondok. G. G. Buaran. Normalisasi alur sungai 50 km. Cikarang. Tangerang Kab. Jakarta DKI Jakarta Kab. Peningkatan fungsi sungai ke hilir dari daerah Angke dan Sungai Pesanggrahan dan Mookervaart Canal. Luas wilayah SWS Cisadea – Cikuningan sekitar 37. DAS Cikaso. Normalisasi alur sungai 29 km. Tangerang Kota/Kab. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Kali Angke. DAS Cimandiri. G.Malang. Bekasi DKI 4. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. 8 KEGIATAN Pengembangan Cengkareng Floodway System Sungai Cidurian Sungai Cimanceuri Sungai Cirarab Sungai Cisadane Cengkareng drain. Banjir. Cipinang.Kendeng. Sunter. Normalisasi alur sungai 22 km.Pangkulahan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Normalisasi alur sungai 38 km. Bekasi LOKASI Cengkareng MANFAAT & PENJELASAN pencegahan banjir dan meningkatkan urban drainage. Terowongan 1 km. Tangerang DKI Jakarta Kota Bogor.3. DAS Cikarang. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Cisadea-Cikuningan diuraikan pada Tabel 4. Cakung Banjir Kanal CBL. G. Master Plan 1997 4-13 9 10 11 12 13 14 15 16 Kab.3 Wilayah Sungai Cisadea-Cikuningan Sungai sungai yang ada di WS Cisadea – Cikuningan terutama berhulu dari beberapa mata air yang ada di G.Talaga. Mookervaart Banjir Kanal Barat/ Ciliwung Banjir Kanal Timur.327 Km² dan meliputi 4 wilayah administratif kabupaten/kota sbb: Kabupaten Cianjur. Kota Sukabumi. 2 bh. Pembuatan Sal. DAS Cisadea. Sungai-sungai tersebut bermuara di Samudera Indonesia di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi. Normalisasi alur sungai 22 km. Normalisasi alur sungai 57 km. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .Malabar. Master Plan 1997 Pengendalian banjir.Gede Pangrango serta G. DAS Cibuni.3. Normalisasi alur sungai 32 km. Normalisasi alur sungai 17 km. serta konstruksi Angke Floodway Pengendalian banjir. Tangerang Kab.Patuha. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Cisadea .1. Kabupaten Sukabumi.Cikuningan adalah : DAS Cimaragang. Master Plan 1997 pengendalian banjir. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. DAS Ciletuh.

DAS Cipunagara. Kabupaten Karawang. yaitu: Kota Bandung. Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Karawang. dengan panjang sungai mencapai 315 Km DAS yang termasuk didalam Satuan Wilayah Sungai Citarum adalah : DAS Citarum. Kabupaten Cianjur.Cisangkuy. Mekarsari dan Karang Kamulyan MANFAAT & PENJELASAN mengairi sawah seluas 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Cikatomas. Cibareno dan Sawarna Cikamayapan.4 Wilayah Sungai Citarum Sungai Citarum berhulu dari mata air Gunung Wayang. 3 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Cisadea-Cikuningan NO. 1 KEGIATAN Bendung Cibareno Bendung Cihara Sungai LOKASI Pasir Bungur.3.Cikapundung dan S. Kabupaten Bandung.800 ha 4-14 2 Sungai mengairi sawah seluas 2.4. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .Cisokan. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Citarum diuraikan pada Tabel 4.410. Kabupaten Sumedang. dan DAS Kalisewo. Cikarang. Cilograng. DAS Cilamaya. Kota Cimahi.87 Km². Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Bekasi. Wilayah sungai Citarum meliputi 9 wilayah administrative. Kabupaten Purwakarta. Panjang sungai Citarum sekitar 315 km. DAS Cinerang. DAS Ciasem.000 ha 4.1. Berdasarkan data Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Propinsi Jawa Barat luas wilayah sungai Citarum adalah 11. S. dan memiliki tiga anak sungai utama yaitu S. Ciparahu. DAS Pagadungan.

Garut Kadipaten Majalengka Majalengka Kuningan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .65 %). Garut Kab. Nilai ekonomi proyek IRR 12% 22 23 24 25 26 Waduk Cipanas Waduk Ujungjaya Waduk Kadumalik Waduk Pasirkuda Waduk Ciniru Kab.67% Mengairi 20. Garut mengairi sawah mengairi sawah mencukupi kebutuhan air rumah tangga. Volume tampungan sebesar 71 juta m3.835 jiwa. maka Waduk Kadumalik dengan EL + 294 dapat menjadi lternative cadangan utama Potensi listrik sebesar 86. Potensi paling baik untuk dikembangkan karena memiliki nilai EIRR lebih tinggi (17.63% pengairan irigasi seluas 5. potensi listrik sebesar 2.683 jiwa.07% pengairan irigasi seluas 9.280 ha.000 Ha lahan irigasi. Volume tampungan sebesar 50 juta m3.400 MWh dan penyediaan air baku untuk 79.126 jiwa. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air rumah tangga.9 GWh dan potensi air baku 915 ha.000 MWh. pengairan irigasi seluas 18. Volume tampungan sebesar 2. potensi listrik sebesar 1.872 MWh dan penyediaan air baku untuk 22. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung pengairan irigasi seluas 68. Nilai ekonomi proyek IRR 7. nilai ekonomi proyek IRR 6.960 ha.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5.004 jiwa. Bandung Kab.102.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Bandung Kab.4 juta m3. potensi listrik 6.148 ha. 1 2 3 4 5 6 KEGIATAN Waduk Naragong Waduk Nameng Waduk Pasiranji Waduk Pangkalan Peninggian Dam Cirata Peningkatan Kanal Tarum Barat atau Pembangunan Kanal Tarum Jaya Waduk Talagaherang Waduk Maya Waduk Bodas Dam Sungai Cilame Dam Sungai Cipunagara Waduk Cipunagara dan bendungan pengatur di Sadawarna Waduk Cibeber Waduk Kandung Pengembangan Sungai Cisangkuy Waduk sungai Cikapundung Waduk Sukawana Sudetan sungai Cibeureum Waduk Bojong Jambu Waduk Jatigede Waduk Cipasang LOKASI Anak Sungai Cileungsi (DAS Bekasi) Sungai Cibeet Cipamingkis Sungai Cibeet Dam Cirata Karawang – Bekasi – DKI Jakarta Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur MANFAAT & PENJELASAN penyedia air baku ke daerah Bogor dengan menggunakan pompa penyedia air untuk areal tambak menampung air dari Sungai Cipamingkis atau dari saluran pembawa penyedia air utama untuk daerah hilir Kanal Tarum Barat secara gravitasi Penyediaan air baku dan tenaga listrik memindahkan air dari wilayah sungai Citarum ke Jakarta 4-15 7 8 9 10 11 12 mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Sungai Cisangkuy Sungai Cikapundung Cimahi Kab. Volume tampungan sebesar 395 juta m3. pengairan irigasi seluas 12. 4 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citarum NO. Nilai ekonomi proyek IRR 2.639. Jika pembuatan Waduk Jatigede di tunda.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.

pengairan irigasi seluas 4.20 GWh. Volume tampungan sebesar 35 juta m3. Citarik Hulu Pekerjaan Penyempurnaan Flood Warning System Peningkatan Kapasitas Sungai Pekerjaan Konstruksi S. Penyediaan irigasi seluas 24. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .982 ha. potensi listrik 1. pengairan irigasi seluas 600 ha. Cikeruh LOKASI Kuningan Kuningan Kuningan Kuningan Garut Garut Cirebon Sumedang Kuningan Kuningan Cirebon Cirebon Cirebon Cirebon MANFAAT & PENJELASAN pengairan irigasi seluas 9. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.355 ha. pengairan irigasi seluas 8.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.468 Ha sawah dan ± 750 Ha tambak). pemenuhan kebutuhan air baku dan keperluan irigasi dan perikanan tambak mendukung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Penyediaan irigasi seluas 6.70 GWh dan potensi air baku. Normalisasi sungai ± 5 km. Indramayu 49 50 51 52 Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. potensi listrik 0.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10. pengairan irigasi seluas 2. pengairan irigasi seluas 4. memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu-Cirebon (± 4. pengairan irigasi seluas 10.145 ha. Indramayu S.439 ha. pengairan irigasi seluas 9.2 GWh dan potensi air baku 444 ha. Bekasi Rehabilitasi Irigasi Kab.153 jiwa. Sampai dengan Jalan Raya Bandung-Tasik ± 5 km.145 ha dan potensi listrik 17.405 ha.7 GWh dan potensi air baku 1. 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 KEGIATAN Waduk Cimulya Waduk Gunungkarung Waduk Manenteng Waduk Pecang Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk Seuseupan Waduk Cihirup Waduk Mangit Waduk Ciwaru Waduk Cihowe Waduk Dukuh Badag Waduk Cileuweung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Long Storage Indramayu Pengembangan 6 Embung Rehabilitasi Irigasi Kab. potensi listrik 0. Citarik Hulu Pekerjaan Konstruksi S.275 ha.210 ha. potensi listrik 1. pengairan irigasi seluas 8.530 ha.4 GWh dan potensi air baku 444 ha. Nilai ekonomi proyek IRR 12. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. potensi listrik 8. Subang Rehabilitasi Irigasi Kab. potensi listrik 10. pengendalian banjir dan pengamanan pantai 4-16 41 42 43 44 45 46 47 48 Indramayu Cirebon Kab. Penyediaan irigasi seluas 12. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. pengairan irigasi seluas 8. Cimande Pekerjaan Konstruksi S. Peningkatan Kapasitas System Sungai Citarum Hulu Q5 menjadi Q20. Normalisasi sungai ± 5 km.40 GWh dan potensi air baku 915 ha. Normalisasi sungai ± 10 km.275 ha dan potensi air baku 828 ha.56 %.000 ha.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.173 ha. Nilai ekonomi proyek IRR sebesar 22. pengairan irigasi seluas 12.439 ha. Bekasi Kab.3 GWh dan potensi air baku 828 ha.004 jiwa. Karawang Kab.017 ha. Karawang Rehabilitasi Irigasi Kab.275 ha. pengairan irigasi seluas 8. potensi listrik 5.1 GWh dan potensi air baku 60 ha.7 GWh dan potensi air baku.16% pengairan irigasi seluas 9. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Subang Kab. potensi listrik 3.6 GWh dan potensi air baku 298 ha. Penyediaan irigasi seluas 19. potensi listrik 11.

Kabupaten Kuningan.1.Malabar. meliputi 7 wilayah administrative. volume tampungan sebesar 395 juta m3. DAS Cilalanang. Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon. DAS yang termasuk kedalam WS CimanukCisanggarung adalah DAS Cimanuk.7 jt m3. Kabupaten Sumedang.000 ha. Memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu .439 ha. potensi listrik 0. Volume tampungan sebesar 395 jiwa.36 juta m3 Volume tampungan : 0. Irigasi seluas 500 ha dan penyediaan air baku 300 kk Pemenuhan kebutuhan air irigasi dan perikanan tambak Volume tampungan : 0.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. DAS Cisanggarung.76 Km². Kabupaten Indramayu. Irigasi seluas 18.5. maka Waduk Cilutung dengan El + 294 dapat menjadi alternatif cadangan utama Irigasi seluas 12. jika Waduk Jatigede ditunda. volume tampungan 1.960 ha. dari mata air yang berasal dari G. Tabel 4. DAS Bangkaderes. potensi listrik 4. Irigasi seluas 600 ha. Kuista .145 ha.683 jiwa.27 juta m3 Irigasi seluas 9. DAS Pangkalan. Irigasi seluas 20.3.Guntur dan G. yaitu: Kabupaten Garut. volume tampungan 2. potensi listrik terpasang 110 MW dan penyediaan air baku untuk 79. 5 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Cimanuk-Cisanggarung NO. dan DAS Kali Jurang Jero. Luas wilayah WS Cimanuk – Cisanggarung adalah 6932.2 GWh dan potensi air baku 444 ha.1 GWh dan air baku 60 ha.126 jiwa.1 juta m3 Irigasi seluas 4. tambak 750 ha ).5 GWh dan potensi air baku 915 ha dengan volume tampungan sebesar 35 juta m3. DAS Cipanas. Harga tampungan per m3 rendah (Rp 650/m3) Volume tampungan netto 796. DAS Ciwaringin.000 ha. 1 KEGIATAN Waduk Jatigede LOKASI Sumedang MANFAAT & PENJELASAN Irigasi seluas 90.Mandalawangi. potensi listrik 0.468 ha. G. 4-17 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waduk Cipanundan Waduk Cilutung Waduk Cipanas Waduk Sarwadadi Long Storage Indramayu Waduk Bojong Waduk Brahim Waduk Cimulya Long Storage K.004 jiwa. G. DAS Cimanggung.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4.3 jt m3.Cakrabuana dan bermuara di Laut Jawa wilayah Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon.5 Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung Sungai Cimanuk berhulu di wilayah administratif Kabupaten Garut . Kabupaten Majalengka.Cirebon ( sawah 4.Jamblang Waduk Cipasang Waduk Cihowe Kuningan Majalengka Indramayu Cirebon Indramayu Kuningan Cirebon Garut Cirebon LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . potensi listrik terpasang187 MW dan penyediaan air baku untuk 22. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Cimanuk-Cisanggarung diuraikan pada Tabel 4.

275 ha.000 MWh dengan volume tampungan 2.3 GWh dan air baku 828 ha.Luas wilayah WS Citanduy–Ciwulan adalah Banjar.6. potensi listrik 8. DAS Cikondang.982 ha potensi listrik 1. volume tampungan 32 jt m3. sekitar 7. DAS Cisanggiri dan DAS Cilaki.173 ha potensi listrik 10.4 juta m3 .20 GWh.275 ha dan potensi air baku 828 ha.7 GWh dan potensi air baku 1017 ha dengan volume tampungan 69 juta m3.835 jiwa dengan volume tampungan 71 juta m3. 4-18 4. Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut. potensi listrik 1.6 Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan terdiri beberapa sungai yang berhulu terutama dari mata air yang berasal dari G.145 ha dan potensi listrik 17.439 ha potensi listrik 3. Kota Tasikmalaya. Irigasi seluas 9. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Citanduy-Ciwulan diuraikan pada Tabel 4. Kota LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .996 Km² dan meliputi wilayah administratif Kabupaten Garut. Irigasi seluas 8. DAS Cimedang. 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 KEGIATAN Waduk Cileuweung Waduk Ujungjaya Waduk Pasirkuda Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk G. Karung Waduk Maneungteung Waduk Pecang Waduk Seuseupan Waduk Masigit Waduk Ciwaru Waduk Dukuh Badag LOKASI Kuningan Sumedang Majalengka Garut Garut Kuningan Kuningan Kuningan Cirebon Kuningan Kuningan Kuningan MANFAAT & PENJELASAN Irigasi seluas 8. Potensi listrik sebesar 86.000 ha potensi listrik 11.70 GWh dan potensi air baku 915 ha. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Citanduy-Ciwulan adalah : DAS Citanduy.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10. Volume tampungan 53 juta m3.7 GWh dan air baku 828 ha. Sawal. Kabupaten Tasikmalaya. Irigasi seluas 5. Galunggung dan G. Irigasi seluas 12. volume tampungan 86 juta m3.000 ha dan penyediaan air baku 175 juta m3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Irigasi seluas 10.275 ha. Irigasi seluas 2. Irigasi seluas 9. Irigasi seluas 4. sungaisungai tersebut pada akhirnya bermuara ke Samudera Indonesia di wilayah Kabupaten Ciamis. Irigasi seluas 8. DAS Cijulang. DAS Cipatujah. Irigasi seluas 8. volume tampungan 78 jt m3. volume tampungan 50 juta m3.1.3. DAS Ciwulan.153 jiwa . volume tampungan 20 jt m3.4 GWh dan potensi air baku 444 ha. dan Kabupaten Ciamis.6 GWh dan potensi air baku 298 ha. volume tampungan 12 jt m3.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5.

Kawungatan. Plumpatan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. 20 lokasi Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Memperlancar aliran sungai Citanduy menuju ke laut lepas Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Cibeureum. 1 2 3 KEGIATAN LOKASI MANFAAT & PENJELASAN Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan 4-19 Penyusunan pola Wilayah sungai Citanduy pengelolaan SDA Wilayah Ciwulan (Propinsi Jabar & Sungai Citanduy Ciwulan Jateng) Rencana induk (Master Wilayah sungai Citanduy Plan) pengelolaan SDA Ciwulan (Propinsi Jabar & WS Citanduy Ciwulan Jateng) Lower Citanduy Flood Management: Pengerukan Plawangan Plawangan . 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. Cimeneng. Kabupaten Tasikmalaya. Pekalongan dan anak-anak sungainya Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Sidareja Cihaur Mengembalikan dan meningkatkan kapasitas bangunan klep fungsi dan Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Ciseel. pertanian dan prasarana umum. Cikonde. Citalahab dan Cikaso Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Mengembalikan dan meningkatkan fungsi bangunan Klep Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengamankan daerah permukiman. Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan c Normalisasi sungai-sungai DAS Citanduy Hilir Normalisasi sistem drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. Ciamis dan Garut Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan lokasi chekdam 15 Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. 6 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Citanduy-Ciwulan NO. Tasikmalaya. Ciamis dan Garut Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tasikmalaya. Cilacap Kota Banjar. 10 lokasi Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis 4 5 Kabupaten Ciamis.Segara Anakan (Kabupaten Cilacap & Ciamis) Normalisasi sungai-sungai Kabupaten Cilacap DAS Segara Anakan Normalisasi sistem drainasi Daerah Irigasi Sidareja Cihaur dan sekitarnya Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. Jagadenda. Kab. 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. Kabupaten Garut Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Kabupaten Cilacap. Ciputrahaji.

panjang bendung 180 m. Area (ha) : 1. Diharapkan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan Elevasi puncak terhadap MSL 265 m. Mengalihkan muara sungai Citanduy langsung ke Laut (teluk Nusaware) Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.229 ha dan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan. perkotaan dan industri serta irigasi Potensi listrik yang dihasilkan kecil. perkotaan dan Industri serta irigasi. Dapat menimbulkan dampak sosial ekonomi rakyat. air minum kota sidareja dan pengendalian banjir Mengamankan daerah permukiman dan prasarana umum/obyek wisata Mengamankan daerah permukiman.000 ha. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. Tampungan total 485 juta m3 dan tampungan aktif 220 juta m3. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. luas areal 440 ha. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. luas areal 470 ha. 6 7 KEGIATAN Rehabilitasi Bendung Manganti Tahap II Pengamanan Pantai Pantai Pangandaran 3 km Pantai Bojongsalawe 3 km Pantai Cilaut Eureun 2 km Pantai Ranca Buaya 1 km Pantai Bagolo 1 km Pantai Cipatujah 2 km LOKASI Kabupaten Ciamis MANFAAT & PENJELASAN Penyediaan air Irigasi 27. perkotaan dan industri dan tenaga listrik sebesar 50 lt/det. Tinggi mercu bendung 60 m.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Potensi listrik yang dihasilkan kecil. Tampungan total 120 juta m3 dan tampungan aktif 55 juta m3. luas areal 440 ha.330 . Meskipun potensi listrik yang dihasilkan kecil. Dapat menimbulkan dapak sosial ekonomi rakyat. tinggi mercu bendung 70 m. Tampung total 14 juta m3. Elevasi puncak terhadap MSL 180 m.050 ha. Tampungan Total (juta m3) : 270 .08 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. perkotaan dan industri serta irigasi. Elevasi terhadap MSL 180 m. perkotaan dan industri serta irigasi. perkotaan dan industri Tasikmalaya 800 ltr/det. panjang 40 m. dan prasarana umum/TPI/LAPAN/objek wisata Mengamankan daerah permukiman. luas arealnya 4-20 Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Tasikmalaya Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Garut Sungai Citanduy Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap 8 9 Sudetan Citanduy Waduk Matenggang 10 Waduk Pasirangin Kabupaten Tasikmalaya 11 Waduk Binangun I Kabupaten Ciamis 12 13 Waduk Binangun II Waduk Ciamis / Leuwi Keris Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis 14 Waduk Cikembang Kabupaten Ciamis 15 Waduk Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya 16 Waduk Banjar Kabupaten Banjar LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tampungan aktif (juta m3) : 154 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Irigasi 3. dan prasarana umum Penanggulangan sedimentasi di Segara nakan dari sungai Citanduy. Tinggi mercu bendung 28 m. Tinggi mercu bendung 7 m. luas arealnya 3. tinggi mercu bendung 100 m. bak tampung 3 m dan bahan tubuh bendung adalah urugan tanah dengan inti clay tampungan aktif 27. dan prasarana umum Mengamankan daerah permukiman. Tampungan total 150 juta m3 dan tampungan aktif 18 juta m3 Meningkatkan kebutuhan air baku dan pengendali banjir serta sedimentasi. Tinggi Mercu Bendung : 33 . Tampungan total 180 juta m3 dan tampungan aktif 78 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 48 M. Elevasi puncak MSL : 55 . Elevasi puncak terhadap MSL adalah 80 m. tinggi mercu bendung 80 m.

534 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI.717 Ha. Pemali Kabupaten Brebes hulu K.730 ha.482 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI ± 867. 4-21 4. volume tampungan 30 juta m3. KEGIATAN LOKASI MANFAAT & PENJELASAN 1.7. Nilai EIRR 12. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 27. Informasi kelayakan proyek tidak tersedia. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Pemali-Comal terdiri dari 6(enam) Daerah Aliran Sungai(DAS).. Selain itu untuk penyediaan air baku dengan suplai 2. Genteng dan K. Sengkarang Kabupaten Pekalongan desa Karanganyar Kabupaten Pemalang Sungai Tanjung MANFAAT & PENJELASAN pengendalian banjir (± 4. Kabupaten Pemalang.718 Ha.000 ha). potensi waduk 150 juta m3.1.4 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 26. Babakan dan 6 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tampungan total 460 juta m3 dan tampungan aktif 250 juta m3.9%.93 juta m3. DAS Comal.620 ha.7 Wilayah Sungai Pemali-Comal Wilayah Sungai Pemali-Comal meliputi wilayah administratif kabupaten / kota sbb : Kabupaten Brebes. yaitu : DAS Pemali. analisa kelayakan ekonomi menunjukkan nilai EIRR sebesar 17. DAS Cacaban.905 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 8. Penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 965. Kabupaten Batang.770 Ha.000 ha). 2 3 4 Gede 5 Waduk Karanganyar Pengendalian Banjir Sungai Tanjung. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi (teknis. DAS Kupang dan DAS Lampir. untuk mereduksi daerah rawan banjir seluas 1. DAS Rambut. 7 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pemali-Comal NO. Kabupaten Pekalongan. Peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 7. tinggi bendung 40 m. semi teknis dan sederhana) seluas 38. Kabupaten Tegal.3. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.6% pengendalian banjir (± 5. Tabel 4. Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Batang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.300 lt/dt. volume tampungan 45.35 lt/dt. Kota Pekalongan. 1 KEGIATAN Waduk Kawung Waduk Ki Sebayu Waduk Sipring Waduk Krandegan Bantar LOKASI hulu K. Kota Tegal. Keruh Kabupaten Pemalang hulu sungai K. dengan tinggi bendung 95 m. pembangunan/perbaikan tanggul. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Pemali-Comal diuraikan pada Tabel 4. penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 2. Gung Kabupaten Tegal hulu sungai K.

dan Kabupaten Purworejo.3.3 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Meningkatkan intensitas tanam pada daerah irigasi Cipero seluas 8. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12.1%. dengan nilai EIRR adalah sebesar 15.667 m. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.130 ha Pelindung tebing pasangan batu kali 5. Kabupaten Kebumen. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. 287.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. Usulan baru dan belum pernah dilakukan studi.9% Pembangunan/perbaikan tanggul. 10. Kabupaten Purbalingga. Jatinegara Jateng pembangunan/perbaikan tanggul. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.010 ha dan untuk mensupli waduk Cacaban dengan luas irigasi 1. 822.1% Pembangunan/perbaikan tanggul. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.5% Pembangunan/perbaikan tanggul. Kabupaten Banyumas.699.1 km.2 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. diharapkan dapat mereduksi daerah rawan banjir seluas 6. pembangunan/perbaikan tanggul.4% Pembangunan/perbaikan tanggul. pembangunan bangunan pengukur debit sungai 1 buah.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. Wilayah Sungai SerayuBogowonto meliputi wilayah administratif Kabupaten Cilacap.1. yang pada akhirnya wilayah Kabupaten Banyumas. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. pembangunan jalan dan jembatan baru. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.8 Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto terdiri beberapa bermuara ke Samudera Indonesia di sungai yang berhulu terutama dari mata air yang berasal dari gunung Selamet. 20. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12.529 ha. normalisasi alur sungai 7. Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Purworejo. pembangunan inlet drainase 11 buah.352. dengan nilai EIRR adalah sebesar 26. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. dengan nilai EIRR adalah sebesar 42. KEGIATAN Kabuyutan LOKASI MANFAAT & PENJELASAN 4-22 7 8 Pengendalian Banjir Sungai Sragi Pengendalian Banjir Sungai Kupang Sungai Sragi Sungai Kupang 9 Pengendalian Banjir Sungai Kluwut Pengendalian Banjir Sungai Sambong Kabupaten Brebes 10 kabupaten Batang dan kabupaten Pekalongan 11 Pengendalian Banjir Sungai Comal kabupaten Pemalang 12 Pengendalian Banjir Sungai Waluh Sungai Waluh 13 Pengendalian Banjir Sungai Rambut Waduk Jatinegara Sungai Rambut 14 Kec. 231 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. Kabupaten Wonosobo. pembangunan jembatan kereta api baru 1 buah.Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. 4. Kabupaten Banjarnegara. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

DAS Serayu Hilir. Kab. Kab. Normalisasi Kali Pantai antara S. Tabel 4. Kebumen dan Purworejo DAS Wawar. DAS Bengawan. MANFAAT & PENJELASAN Pengamanan pemukiman dan persawahan Target 30km Pengamanan pemukiman . sehingga dapat mengurangi dampak yang lebih buruk Pengamanan pemukiman transportasi. Sub-DAS Merawu dan DAS Padegolan. Muara-muara DAS Bogowonto. Banyumas dan Kebumen. Kab. Banyumas dan Cilacap DAS Bogowonto dan DAS Cokroyasan Kab.Purbalingga dan Banyumas S Telomoyo.Kebumen S Telomoyo & anak-anak sungainya.Bogowonto dan S.Kebumen S Telomoyo & anak-anak sungainya. dari bahaya banjir. Kebumen. Sub-DAS Ciseel. Sub-DAS Tajum. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Serayu-Bogowonto diuraikan pada Tabel 4. Kab. Mempertahankan kapasitas dan fungsi prasarana pengendalian banjir 8 9 10 Pembangunan bangunan Menahan pengaruh akibat intrusi air laut di 5 lokasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .Serayu.20 lokasi kritis dan 4-23 2 3 Mengatasi adanya halangan sungai yang dapat mengakibatkan banjir dan memperlancar transportasi antar pedesaan di 10 lokasi Mengatasi adanya kejadian banjir melebihi rencana. DAS Wawar.Cokroyasan Operasi dan Pemeliharaan Sungai LOKASI Anak S. Peninggian jembatan melintang sungai-sungai di DAS Telomoyo Pembangunan pelimpah banjir DAS Telomoyo Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Rehabilitasi Jembatan KA melintang sungai di 7 lokasi. Sub-DAS Serayu Hulu. persawahan dan 4 5 6 . Kab. Kab. DAS Telomoyo. persawahan transportasi. Cokroyasan dan Bogowonto.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. Kab. Purworejo. 1 KEGIATAN Pengedalian banjir S. Cokroyasan. Banjarnegara dan Purbalingga. Serayu. Sub-DAS Sapi.Klawing lanjutan Perkuatan tebing lokasi kritis dan penanggulangan banjir nopember 2004. Target 16 km Pengamanan pemukiman transportasi.Kebumen DAS Tipar dan Ijo. S. Kebumen. yang termasuk kedalam WS Serayu-Bogowonto adalah Sub-DAS Klawing. Target 15 . Sub-DAS Tulis. DAS Ijo.Purworejo DAS Bogowonto. Normalisasi sungai dan bangunan pengatur air untuk mengatasi banjir daerah pemukiman dan budi daya perikanan.8. DAS Bogowonto. persawahan dan 7 Pengamanan jalur transportasi KA Yogya -Jakarta. 8 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Serayu-Bogowonto NO. Sub-DAS Begaluh. Wawar dan Telomoyo. Kab. Target 6 km . DAS Pekacangan.Lukulo & anak-anak sungainya.Cilacap. Telomoyo dan Tipar.

DAS Bogowonto. Kab.Jladri. Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi. Penyediaan air baku pedesaan dari mata air & sumber air Mengatasi degradasi sungai. Banyumas. Wawar dan Telomoyo. Kebumen dan Purworejo Kab. Kebumen. Wonosobo.Gintung Konservasi lahan dan penelitian 20 21 Multi purpose ( Irigasi. Banyumas.Pekacangan Pembangunan Waduk Kesegeran di S.Banjarnegara Mengurangi sedimentasi waduk dan pemanfaatan untuk air baku. Telomoyo. Banjarnegara. Kebumen dan Purworejo (200 lokasi) Kab.Telomoyo hilir 13 DAS Bogowonto. Banyumas. DAS Serayu.Jatinegara dan S. Lukulo. Ijo dan Tipar MANFAAT & PENJELASAN 4-24 11 Pembangunan bangunan pemanfaatan daerah genangan banjir Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) dan Pengerukan hilir sungai Jladri Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) DAS Telomoyo. Penyediaan air baku dari bendungan Wadaslintang Pembangunan bangunan konservasi terpadu di hulu sungai Mengatasi kekurangan air pada musim kering 17 18 Mengatasi kekurangan air pedesaan Kab.Trenggulun Pembangunan Waduk Gintung di S. Purbalingga. Kebumen dan Purworejo (15 lokasi). Purbalingga. Lukulo dan Bogowonto. S. Wawar dan Ijo DAS Telomoyo Mendaya gunakan lahan depressi 12 Mengurangi sedimentasi di S.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO.Banjarnegara DAS Serayu Kab.Bogowonto Pembangunan Waduk Wanadadi di S. Kab. Banjarnegara. Wawar dan Cokroyasan. Kab.kebumen Mengurangi sedimentasi sungai kota Kebumen dan 19 Penataan kawasan arboretum Pembangunan Waduk Bener Di S. Target 10 lokasi 15 Mengatasi kekurangan air pada musim kering 16 Penyediaan air baku pedesaan dari bangunan konservasi (groundsill).Purworejo DAS Serayu Kab. Lukulo. Cilacap. Purbalingga. Purworejo. Banyumas. KEGIATAN penahan intrusi air laut LOKASI Telomoyo. Banjarnegara dan Purbalingga. Wawar dan Bogowonto. Kebumen dan Purworejo. Serayu. Wonosobo. Kab. Cilacap. Air Baku dan PLTA) 22 Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) 23 Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Target 15 lokasi 14 Pembangunan Groundsill (Bangunan Penstabil dasar sungai). Kab. DAS Serayu.Kebumen DAS Serayu.Banyumas DAS Serayu Kab. Telomoyo .

7 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 750 l/detik dan konservasi air tanah. DAS Glagah. DAS Pandansari. Kabupaten Grobogan. DAS Bodri. DAS Jragung. Grobogan 4 5 6 7 8 Jragung Barrage + Tunnel Waduk Dolok Waduk Bandung Harjo Waduk Ngemplak Waduk Coyo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .9 Wilayah Sungai Jratun-Seluna Wilayah Sungai Jratun-Seluna meliputi wilayah administratif Kabupaten Kendal. Kabupaten Boyolali. 9 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Jratun-Seluna NO.700 l/detik (direncanakan memberikan 900 l/dt ke Semarang dan 800 l/detik ke Kendal) dan konservasi air tanah.5 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1. DAS Gandu. Nilai EIRR 18. DAS Tuntang. Semarang Kaliwungu. Kabupaten Kudus. DAS Lasem. Nilai EIRR 13. Kabupaten Pati dan Kabupaten Jepara.6% (layak) pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.DAS Serang Hulu.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. Konstruksi dam Jatibarang dimulai tahun 2002 (kegiatan yang masuk dalam jadwal biaya rendah).1. Grobogan Kab. Nilai EIRR 11. 2 3 Waduk Mundingan Waduk Suren Kedung Kab. DAS Kedung Tanu. Sub-DAS Lusi Tengah. nilai EIRR 10.1% (layak ) Pengembangan suplai untuk RKI 1. Kota Salatiga. DAS Garang. Nilai EIRR 9. Kabupaten Semarang.5% (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1. Kabupaten Demak.020 l/detik dan konservasi air tanah. DAS Juwana. Tabel 4. Brangsong dan Kendal Semarang dan Demak Semarang dan Demak Kab. Grobogan Kab. Kota Semarang.8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. 1 KEGIATAN Waduk Jatibarang LOKASI Kab. Kabupaten Temanggung.750 l/detik dan konservasi air tanah.9.3.DAS Lusi Hulu. Nilai EIRR 14% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 16. Semarang MANFAAT & PENJELASAN Pengembangan suplai untuk RKI 920 l/detik dan konservasi air tanah.Kebumen MANFAAT & PENJELASAN Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) 4-25 4. dan Sub. DAS Randu Gunting. 24 KEGIATAN Pembangunan Waduk Kemit di S. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Jratun-Seluna diuraikan pada Tabel 4. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Jratun-Seluna yaitu : Sub DAS Serang Hilar. Sub.Kemit LOKASI DAS Telomoyo Kab.

DAS Tinggal. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .1% pengendalian banjir seluas 12. Kota Magelang. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Progo-Opak-Oyo yaitu : Sub. Nilai EIRR 8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah Pengendalian banjir seluas 590 ha. nilai EIRR 20. DAS Progo.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Sub-DAS Oyo.670 ha. nilai EIRR 15. Blora Kab.1. Kabupaten Kulonprogo.13% Pengendalian banjir Pengendalian banjir seluas 21 ha.957 ha. Layak secara ekonomi. nilai EIRR 15.650 ha. Demak Kab. Blora Kab. Sub-DAS Opak. Nilai EIRR 22. Sub-DAS Elo. 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 KEGIATAN Waduk Tirto Embung Kedung Waru Embung Balong Pengendalian Banjir Sungai Blorong Pengendalian Banjir Sungai Garang Drainase Kota Semarang Tenggang + Sringin Drain Dombo-Sayung Floodway Kebon Batur Floodway Pengendalian Banjir Jragung/Tuntang Pengendalian Banjir Serang-WulanJuana LOKASI Kab.4% pengendalian banjir seluas 13. Layak secara ekonomi. Nilai EIRR 13. SubDAS Winango.DAS Progo Hulu.3. Layak secara ekonomi. nilai EIRR 24% Pengendalian banjir seluas 1. Sub.10.9% pengendalian banjir seluas 10.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. nilai EIRR 17.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Grobogan Kab. Kabupaten Magelang. DAS Serang. Kota Yogyakarta.6% Pengendalian banjir seluas 6. Demak Kab. Kendal Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kab. Sub-DAS Tinalah. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Progo-Opak-Oyo diuraikan pada Tabel 4. Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul. Sub-DAS Blongkeng. Layak secara ekonomi.337 ha. Pati MANFAAT & PENJELASAN Nilai EIRR 18. dan Sub-DAS Bedog. Sub-DAS Kanci.10 Wilayah Sungai Progo-Opak-Oyo Wilayah Sungai Progo-Opak-Oyo meliputi wilayah administratif Kabupaten Temanggung. Kabupaten Sleman.8% 4-26 4. nilai EIRR 18. Layak secara ekonomi. Kudus dan Kab.028 ha. Layak secara ekonomi.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 KEGIATAN Embung Tangkisan I Embung Tangkisan II Embung Ngroto Embung Kayangan Embung Dawetan Embung Penggung Embung Girinyono Embung Weden Embung Kebonromo Embung Kronggahan Embung Kedungranti Embung Sari Karang LOKASI Kab.75 m dengan volume tampungan 35. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab.75 m dengan volume tampungan 7. dengan pembatasan pengambilan air sebesar 2. Belum tersedia data detail Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir 4-27 Embung Ngalang Embung Kedunggedeng Waduk Tinalah 16 17 18 19 20 21 Waduk Progo Magelang Waduk Elo Hilir Waduk Kaloran Waduk Elo Waduk Sambiroto Waduk Nanggulan I Kali Progo Kali Elo Kaloran Kali Elo Progo Hulu K. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. dengan tetap memanfaatkan air dari Kali Progo melalui intake Kalibawang. Kulon Progo Kab. Untuk DAS Serang. mengairi irigasi 450 ha dan penyedia air minum 75 lt/detik. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku 73 lt/detik dan potensi pengendalian banjir. Tinggi embung adalah 13. Kulon Progo Kab. Tinggi embung adalah 5 m dengan volume tampungan 250. Kulon Progo Kab. 10 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Progo-Opak-Oyo NO.000. Gunung Kidul Kab. Volume tampungan embung adalah 1. Kulon Progo Kab.5 m3/dt penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Tinggi embung adalah 11 m dengan volume tampungan 105. Tinggi embung adalah 13.000 m3 Berpotensi untuk mengendalikan banjir. Kulon Progo Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. Sleman Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.500 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Kab. Gunung Kidul Kali Progo MANFAAT & PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Serang Sungai Progo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. Gunung Kidul Kab.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4.

Kabupaten Madiun.3. SubDAS Madiun. Kabupaten Klaten.11.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Kota Surakarta. DAS Pagotan. Sub-DAS Wate Tengah. Kabupaten Karanganyar. Kabupaten Lamongan. Sub-DAS Lamongan. Kabupaten Pacitan. 11 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Bengawan Solo NO. Sub-DAS Pepe. Fase II dan III Pembangunan check dam dan ground sill Pengembangan Bengawan Jero Bengawan Solo FFWS Long-channel Storage Bengawan Solo Hilir Penyediaan Air PDAM di Wilayah Surakarta LOKASI Wonogiri seluruh WS hilir WS hulu WS Kali Madiun Hulu Sungai Bengawan Solo dan Kali Madiun pengendalian banjir pengendalian banjir penyediaan air baku penyediaan air baku pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir MANFAAT & PENJELASAN LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4-28 Tabel 4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 KEGIATAN Sedimentasi Waduk Wonogiri Penanganan Pengelolaan Kualitas Air Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hilir. Kabupaten Wonogiri. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Bengawan solo diuraikan pada Tabel 4. Kabupaten Boyolali. Sub-DAS Bitung. Fase II Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hulu. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai maka DAS yang termasuk kedalam WS Bengawan solo yaitu : DAS Damas.1. Kabupaten Gresik. Kabupaten Sragen. Kabupaten Magetan dan Kabupaten Ponorogo. Kabupaten Sukoharjo. Sub-DAS Samin. Kota Surabaya. Kabupaten Bojonegoro. Fase II Perbaikan Sungai Kali Madiun. Kabupaten Gunungkidul. KabupatenBlora. Kabupaten Ngawi.11 Wilayah Sungai Bengawan Solo Wilayah Sungai Bengawan solo meliputi wilayah administratif kabupaten/kota sebagai berikut : Kabupaten Rembang.

1. Kota Mojokerto. Kota Malang. Kota Blitar. Kabupaten Pasuruan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek. Ngebel Rehabilitasi Waduk dan Pengelolaan DTA Waduk Wonogiri Rehabilitasi dan Pengelolaan Lahan Kritis di 6 Lokasi DTA LOKASI MANFAAT & PENJELASAN penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku konservasi sumber daya air konservasi sumber daya air 4-29 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA NO. 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 KEGIATAN Penyediaan Air untuk Sstem Pengembangan PDAM Penyediaan Air untuk Daerah Rembang Solo Vallei Werken 9 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hulu 3 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Kali Madiun 16 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hilir Waduk Irigasi Kedung Bendo Rehabilitasi dan Peningkatan Sistem Irigasi Waduk Serbaguna Bendo Waduk Serbaguna Badegan Waduk Pidekso Rehabilitasi Tlg. Kabupaten Sidoarjo.12 Wilayah Sungai Kali Brantas Wilayah Sungai Kali Brantas meliputi wilayah administratif Kota Surabaya. maka DAS yang termasuk kedalam WS Kali Brantas adaslah Sub-DAS Brangkal. Kabupaten Malang. Kabupaten Madiun. Sub-DAS Konto. Kabupaten Kediri. Kota Kediri. Kabupaten Jombang. Kabupaten Mojokerto.3. DAS Penguluran. Kabupaten Nganjuk. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. Sub-DAS Brantas Hulu. SubDAS Berantas Tengah. DAS Panggul.

Kabupaten Bondowoso. Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. Kabupaten Lumajang. DAS Mayang. Kabupaten Situbondo. DAS Tangkail. DAS Bondoyudo.12.1. DASA Deluwang. Sub-DAS Wadas. dan Sub-DAS Lekso. Sub-DAS Ngrowo Ngasnan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA DAS Lorog. DAS Baru. Kabupaten Pasuruan. 1 2 3 4 5 KEGIATAN Sabo Gunung Kelud Sabo Brantas Hulu dan Sungai Lesti Pengendalian Banjir Sungai Widas Lodoyo Diversion Tunnel Beng Dam LOKASI Kali Konto Brantas Hulu dan Sungai Lesti Sungai Widas Ludoyo mengurangi transport sediment ke reservoir Dam Sengguruh dan Dam Sutami. DAS yang termasuk kedalam WS Pekalen-Sampean adalah DAS Sampean. water supply dan hydropower.3. DAS Sebani-setail. Sebanyak 17 Sabo Dam telah direncanakan untuk daerah hulu DAS Sengguruh Dam. 12 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Kali Brantas NO. Kabupaten Probolinggo. DAS Kramat. DAS Pekalen.13 Wilayah Sungai Pekalen-Sampean Wilayah Sungai Pekalen-Sampean meliputi wilayah administratif Kota Pasuruan. Pengembangan terhadap masalah pengendalian banjir di Sungai Widas sesuai dengan yang direncanakan dalam Master Plan tahun 1985 Pencegahan terhadap bencana yang dapat ditimbulkan oleh Gunung Kelud Irigasi. Data teknis yang direncanakan untuk volume tampungan efektif 147 milyar m3 MANFAAT & PENJELASAN 4-30 4. Tabel 4. DAS Bedadung.13. DAS Jatiroto. DAS Banyuputih. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Kali Brantas diuraikan pada Tabel 4. DAS Bajulmati. DAS Tempuran. Sub-DAS Marmoyo. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Pekalen-Sampean diuraikan pada Tabel 4. Kota Probolinggo. DAS Mujur. dan DAS Sumber Manjing. Sub-DAS Brantas Hilar. DAS Rejoso.

14. Hasil identifikasi alternatif intervensi struktural untuk mengatasi masalah banjir dan kekeringan wilayah sungai Madura diuraikan pada Tabel 4.1. Tabel 4. Lesti MANFAAT & PENJELASAN Irigasi. Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep. 14 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Madura NO. DAS Samajid. 1 KEGIATAN Genteng I Dam LOKASI Sungai Genteng. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai. DAS Blega. dan DAS Kangkah. water supply dan hydropower dan untuk sediment control. DAS Budur. Kabupaten Sampang. DAS Temburu. DAS Sodung. DAS Pasengsengat. 13 Identifikasi Alternatif Intervensi Struktural WS Pekalen-Sampean NO. DAS Jambangan. DAS yang termasuk kedalam WS Madura adalah DAS Patean. 1 2 3 4 5 KEGIATAN Penyediaan baku industri air LOKASI seluruh WS Pamekasan Bangkalan Pamekasan Sumenep MANFAAT&PENJELASAN sumber daya air yang terbatas berupa sungai-sungai kecil.14 Wilayah Sungai Madura Wilayah Sungai Madura meliputi wilayah administratif Kabupaten Bangkalan. DAS Brambang. DAS Kemuning.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tabel 4. Data teknis yang direncanakan adalah untuk volume tampungan efektifnya sebesar 54 milyar m3 4-31 4. sehingga harus ada solusi sumber daya air bila Madura hendak difungsikan pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 100 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 50 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 Pembangunan Waduk Nipah Pembangunan Waduk Blega Pembangunan Waduk Samiran Pembangunan Wa duk Tambak Agung LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . DAS Saroka.3.

Langkah pertama dalam penyesuaian adalah membuat Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai yang dibuat berdasarkan prosedur dan proses sebagaimana diatur oleh UU SDA No. Disamping itu infrastruktur yang diusulkan masih bersifat “satu” pilhan.2 Pengaturan Induk Wilayah Sungai Baru 4-32 Dari daftar usulan proyek-proyek infrastruktur sumber daya air pada wilayahwilayah sungai di P. Oleh sebab itu perlu dilaksanakan “quick assessment” untuk mengidentifikasi alternatif-alternatif prasarana yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hal ini berarti pembuatan rencana induk tidak diawali dengan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai. karena rencana pengembangan SDA Wilayah Sungai tersebut dibuat sebelum diterbitkannya UU No. Sehubungan dengan itu perlu dilakukan penyesuaian terhadap rencana induk pengelolaan WS. Jawa yang diuraikan pada bagian terdahulu (Sub Bab 4. Alasan lain perlunya penyesuaian terhadap rencana induk yang adalah bahwa belum seluruh infrastruktur SDA yang diusulkan disetiap wilayah sungai telah lolos Studi kelayakan yang mencakup 3 (tiga) aspek analisis. yaitu teknis.3. Setelah Pola Pengelolaan diselesaikan semua rencana induk pengelolaan wilayah sungai yang telah ada perlu disesuaikan dengan Pola Pengelolaan tersebut.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. ekonomi dan sosial-lingkungan. 7/2004.3.1) tidak satupun yang secara lengkap mengikuti urutan dan proses pembangunan infrastruktur Semua SDA dalam suatu kerangka pengelolaan Wilayah Sungai induk pengelolaan wilayah sungai yang mendasari sebagaimana diatur dalam UU Sumber Daya Air No. sebaiknya usulan terdiri dari lebih dari satu opsi yang merupakan alternatif-alternatif sehingga dapat dipilih alternatif yang paling layak untuk memenuhi kebutuhan prasarana SDA dengan investasi yang paling kecil atau hanya bersifat merehabilitasi prasarana yang sudah ada atau bahkan yang bersifat pendekatan non-fisik/non-struktural. dan belum banyak melibatkan pihak pemangku kepentingan (stakeholders) bidang SDA dalam penyusunannya. dan Rencana Induk yang telah disesuaikan tersebut perlu mendapat persetujuan dari Dewan SDA yang terkait. 7 tahun 2004.7 tahun 2004. Disamping itu proses penyesuaian Rencana Induk juga harus melibatkan pihak pemangku kepentingan SDA di wilayah sungai tersebut.

. 4-33 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa Gambar 4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA diusulkan pada setiap lokasi yang memerlukan intervensi serta mengkaji kelayakan alternatif-alternatif tadi dari aspek teknis. ekonomi serta sosial dan lingkungan. 2 Rencana Wilayah Sungai baru.

A2 Mengurangi debit banjir Sungai Ciliwung di Kota Bogor.B WILAYAH SUNGAI Ciliman– Cibungur KEGIATAN Waduk Cimalur LOKASI Desa Cibatur Keusik Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak Cikamayapan. Bendung Karet Cisangkuy Bendung Tipe Gergaji di Sungai Cibama Bendung Sungai Cihara Waduk Ciawi 02. Perubahan ini secara konsekwen harus ditanggapi dengan perubahan dalam strategi pengelolaan dan kebijakan untuk masing-masing wilayah sungai. Gambar 4.A2 02. Tabel 4. Berikut disajikan tabel yang dibuat untuk mengelompokkan kembali strategi kebijakan struktural pada masing-masing wilayah sungai sesuai dengan bentuknya yang baru. Cilemer kiri seluas 500 ha.02. pemerintah telah menyiapkan suatu rancangan peraturan baru yang menetapkan perubahan susunan wilayah sungai ke dalam suatu komposisi bentuk wilayah yang baru. Mekarsari dan Karang Kamulyan Hulu Sungai Ciliwung MANFAAT&PENJELASAN suplesi air irigasi DI.04. Selain itu Waduk Ciawi juga dapat berfungsi sebagai penyedia air untuk Kota Bogor dan DKI Jakarta serta sebagai sumber air untuk penggelontoran Sungai Ciliwung di musim kering LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .03. 15 Penyusunan Kembali Alternatif Intervensi Struktural menurut Wilayah Sungai yang Baru KODE 02. penyedia air baku untuk kecamatan Banjarsari dan sebagai waduk pengendali banjir mengairi sawah seluas 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sejalan dengan itu. Oleh karena itu.x menunjukkan secara spatial bentuk dari wilayah sungai yang baru. perlu suatu tindakan untuk menyusun kembali (regrouping) kebijakan yang ada pada masing-masing balai penanggungjawab wilayah sungai terdahulu untuk menjadi kebijakan baru mengikuti wilayah sungai yang akan ditetapkan dalam waktu dekat.B Cibaliung Cisawarna Kepulauan Seribu CidanauCiujungCidurianCisadaneCiliwungCitarum Bendung Karet Cibungur Bendung dan Bendung Karet Ciseukeut Bendung Karet Cikoneng.000 ha ASAL WS/ PROGRAM WS Ciujung Ciliman Cisadea – Cikuningan CiliwungCisadane 4-34 02.01. Cikarang. Ciparahu.

Cipinang. Mookervaart Banjir Kanal Barat/ Ciliwung Banjir Kanal Timur. Master Plan 1997 Penyedia air rumah tangga.Bekasi Cengkareng MANFAAT&PENJELASAN penyedia air baku ke daerah Bogor dengan cara gravitasi penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta penyedia air baku untuk daerah Bogor-Jakarta memenuhi kebutuhan air di Kota dan Kabupaten Bogor mengalihkan debit banjir dari Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane guna pengendalian banjir di DKI Jakarta memenuhi kebutuhan air Jabotabek pencegahan banjir dan meningkatkan urban drainage. Sunter. 2 bh. Banjir. Normalisasi alur sungai 22 km. Cikarang. Tangerang Kab. Normalisasi alur sungai 32 km. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Normalisasi alur sungai 29 km. Normalisasi alur sungai 22 km. Normalisasi alur sungai 38 km. serta konstruksi Angke Floodway Pengendalian banjir. Buaran. perkotaan dan industri untuk wilayah Serang dan Jabotabek dengan menggunakan saluran KarianTanjung-Serpong (KTS). Bekasi Waduk Karian Kab.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Genteng Waduk Parung Badak Waduk Sodong Salak Contour Canal Ciliwung Floodway Tunnel Peningkatan Kanal Tarum Barat Pengembangan Cengkareng Floodway System LOKASI Sungai Cisadane tengah Sungai Cisadane hilir Sungai Cikaniki sekeliling Gunung Salak Kota Bogor Karawang . Master Plan 1997 Pengendalian banjir. DKI Jakarta DKI Jakarta CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane WS Ciujung Ciliman Kab. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Tangerang Kab. Tangerang Kota/Kab. perkotaan dan industri untuk kebutuhan Tangerang lewat KSCS mengambil alih fungsi Waduk Karian untuk mensuplai air irigasi ke daerah irigasi Ciujung pemenuhan kebutuhan air baku Jabotabek ASAL WS/ PROGRAM CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane CiliwungCisadane 4-35 Sungai Cidurian Sungai Cimanceuri Sungai Cirarab Sungai Cisadane Cengkareng drain. Normalisasi alur sungai 50 km. Master Plan 1997 Pengendalian banjir. Pembuatan Sal. Cakung Banjir Kanal CBL. Tangerang DKI Jakarta Kota Bogor. Peningkatan fungsi sungai ke hilir dari daerah Angke dan Sungai Pesanggrahan dan Mookervaart Canal. Master Plan 1997 pengendalian banjir. Kali Angke. Normalisasi alur sungai 57 km. Terowongan 1 km. Normalisasi alur sungai 17 km. Bekasi Hulu Sungai Ciujung Waduk Cilawang Waduk Pasirkopo Long Storage Sungai Ciujung Waduk Bojongmanik Sungai Ciujung Sungai Ciujung Sungai Cisemeut WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman WS Ciujung Ciliman LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Master Plan 1997 Pengendalian banjir. menambah persediaan air rumah tangga.

perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung mencukupi kebutuhan air baku Bandung pengairan irigasi seluas 68. Bandung Kab. Bandung Kab.683 jiwa.280 ha. Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Garut mengairi sawah mengairi sawah mencukupi kebutuhan air rumah tangga.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Tanjung LOKASI Sungai Cidurian MANFAAT&PENJELASAN penyedia air baku untuk daerah Tangerang dan DKI Jakarta dengan menggunakan saluran irigasi Cidurian atau dengan saluran lternative Karian-Tanjung-Serpong (KTS) penyedia air baku ke daerah Bogor dengan menggunakan pompa penyedia air untuk areal tambak menampung air dari Sungai Cipamingkis atau dari saluran pembawa penyedia air utama untuk daerah hilir Kanal Tarum Barat secara gravitasi Penyediaan air baku dan tenaga listrik memindahkan air dari wilayah sungai Citarum ke Jakarta ASAL WS/ PROGRAM WS Ciujung Ciliman 4-36 Bendung Anyer Waduk Naragong Waduk Nameng Waduk Pasiranji Waduk Pangkalan Peninggian Dam Cirata Peningkatan Kanal Tarum Barat atau Pembangunan Kanal Tarum Jaya Waduk Talagaherang Waduk Maya Waduk Bodas Dam Sungai Cilame Dam Sungai Cipunagara Waduk Cipunagara dan bendungan pengatur di Sadawarna Waduk Cibeber Waduk Kandung Pengembangan Sungai Cisangkuy Waduk sungai Cikapundung Waduk Sukawana Sudetan sungai Cibeureum Waduk Bojong Jambu Waduk Jatigede Anak Sungai Cileungsi (DAS Bekasi) Sungai Cibeet Cipamingkis Sungai Cibeet Dam Cirata Karawang – Bekasi – DKI Jakarta WS Ciujung Ciliman Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah mengairi sawah Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Hulu Jatiluhur Hulu Jatiluhur Sungai Cisangkuy Sungai Cikapundung Cimahi Kab.102. potensi listrik sebesar 2.400 MWh dan penyediaan air baku untuk 79. perkotaan dan industri Bandung mencukupi kebutuhan air rumah tangga.

Garut Citarum Waduk Ujungjaya Kadipaten Citarum Waduk Kadumalik Majalengka Citarum Waduk Pasirkuda Waduk Ciniru Majalengka Kuningan Citarum Citarum Waduk Cimulya Kuningan Citarum Waduk Gunungkarung Waduk Manenteng Waduk Pecang Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk Seuseupan Waduk Cihirup Waduk Mangit Kuningan Kuningan Kuningan Garut Garut Cirebon Sumedang Kuningan Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pengairan irigasi seluas 2.000 Ha lahan irigasi.6 GWh dan potensi air baku 298 ha. Garut MANFAAT&PENJELASAN pengairan irigasi seluas 18. Nilai ekonomi proyek IRR 2. pengairan irigasi seluas 8.07% pengairan irigasi seluas 9. potensi listrik sebesar 1.439 ha.4 GWh dan potensi air baku 444 ha.40 GWh dan potensi air baku 915 ha. Volume tampungan sebesar 35 juta m3.70 GWh dan potensi air baku. potensi listrik 0.2 GWh dan potensi air baku 444 ha. Potensi paling baik untuk dikembangkan karena memiliki nilai EIRR lebih tinggi (17. pengairan irigasi seluas 4. potensi listrik 3. Volume tampungan sebesar 2. potensi listrik 6.439 ha.960 ha.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.000 MWh. pengairan irigasi seluas 8.982 ha.835 jiwa.126 jiwa.65 %).63% pengairan irigasi seluas 5. pengairan irigasi seluas 9.000 ha.004 jiwa. ASAL WS/ PROGRAM Citarum 4-37 Waduk Cipanas Kab. potensi listrik 5. Nilai ekonomi proyek IRR 12. Volume tampungan sebesar 395 juta m3.145 ha.145 ha dan potensi listrik 17.872 MWh dan penyediaan air baku untuk 22.67% Mengairi 20.4 juta m3.148 ha.153 jiwa. pengairan irigasi seluas 12.20 GWh.16% pengairan irigasi seluas 9. potensi listrik 11.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Cipasang LOKASI Kab.9 GWh dan potensi air baku 915 ha. potensi listrik 1.275 ha dan potensi air baku 828 ha. Volume tampungan sebesar 50 juta m3.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10. pengairan irigasi seluas 4. Jika pembuatan Waduk Jatigede di tunda.639. pengairan irigasi seluas 12. nilai ekonomi proyek IRR 6. Nilai ekonomi proyek IRR 12% pengairan irigasi seluas 9.000 ha dan penyediaan air baku untuk 14.004 jiwa.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5. Volume tampungan sebesar 71 juta m3. maka Waduk Kadumalik dengan EL + 294 dapat menjadi lternative cadangan utama Potensi listrik sebesar 86. Nilai ekonomi proyek IRR 7.

3 GWh dan potensi air baku 828 ha. pengairan irigasi seluas 8. Normalisasi sungai ± 5 km. pengairan irigasi seluas 8. potensi listrik 1.468 Ha sawah dan ± 750 Ha tambak). Pengendalian banjir dan pengamanan pantai.7 GWh dan potensi air baku. Citarik Hulu Pekerjaan Konstruksi S. Indramayu Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum Cisadea Cikuningan Pasir Bungur. Karawang Kab. Cilograng. Cimande Pekerjaan Konstruksi S.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Ciwaru Waduk Cihowe Waduk Dukuh Badag Waduk Cileuweung Long Storage Kumpul KuistaJamblang LOKASI Kuningan Cirebon Cirebon Cirebon Cirebon MANFAAT&PENJELASAN pengairan irigasi seluas 10.017 ha.275 ha. Karawang Rehabilitasi Irigasi Kab. Bekasi Kab. Peningkatan Kapasitas System Sungai Citarum Hulu Q5 menjadi Q20. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Cikeruh Bendung Sungai Cibareno Indramayu Cirebon Kab. pemenuhan kebutuhan air baku dan keperluan irigasi dan perikanan tambak mendukung Long Storage Kumpul Kuista-Jamblang Penyediaan irigasi seluas 6. potensi listrik 10. mengairi sawah seluas 2. Penyediaan irigasi seluas 24. pengairan irigasi seluas 600 ha. Bekasi Rehabilitasi Irigasi Kab. Penyediaan irigasi seluas 19.210 ha. Nilai ekonomi proyek IRR sebesar 22.05.405 ha. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Subang Rehabilitasi Irigasi Kab.275 ha.800 ha ASAL WS/ PROGRAM Citarum Citarum Citarum Citarum Citarum 4-38 Long Storage Indramayu Pengembangan 6 Embung Rehabilitasi Irigasi Kab. potensi listrik 8. Cibareno dan Sawarna 02.355 ha.530 ha. Subang Kab. Penyediaan irigasi seluas 12.173 ha. Indramayu S. Cikatomas. Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Normalisasi sungai ± 5 km.1 GWh dan potensi air baku 60 ha.B Cisadea Cibareno LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pengendalian banjir dan pengamanan pantai Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Sampai dengan Jalan Raya Bandung-Tasik ± 5 km.56 %. Citarik Hulu Pekerjaan Penyempurnaan Flood Warning System Peningkatan Kapasitas Sungai Pekerjaan Konstruksi S. Normalisasi sungai ± 10 km. potensi listrik 0.7 GWh dan potensi air baku 1. memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan IndramayuCirebon (± 4.

dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman. Tasikmalaya. Kabupaten Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Kabupaten Tasikmalaya Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis MANFAAT&PENJELASAN Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Mengamankan daerah permukiman. dan prasarana umum/TPI Mengamankan daerah permukiman.B WILAYAH SUNGAI Ciwulan Cilaki KEGIATAN Penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Rencana induk (Master Plan) pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan chekdam 15 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi Konservasi prasarana air baku : Embung 11 lokasi Bangunan konservasi mata air 3 lokasi Bangunan chekdam 15 lokasi Rehabilitasi Situ 8 lokasi Pengamanan Pantai Pantai Pangandaran 3 km Pantai Bojongsalawe 3 km Pantai Cilaut Eureun 2 km Pantai Ranca Buaya 1 km Pantai Bagolo 1 km LOKASI Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Kabupaten Ciamis. Tasikmalaya. dan prasarana umum/TPI/LAPAN/objek wisata Mengamankan daerah permukiman. Cilacap Kota Banjar. Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE 02. Kabupaten Ciamis dan Garut Kabupaten Cilacap. Kabupaten Garut Kabupaten Cilacap. Ciamis dan Garut Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis.06. Tasikmalaya. pertanian dan prasarana umum. Kabupaten Tasikmalaya. Tasikmalaya. Cilacap Kota Banjar. dan prasarana umum ASAL WS/ PROGRAM Citanduy – Ciwulan Citanduy Ciwulan 4-39 Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Konservasi/Pengendalian sedimentasi Penyediaan air baku/mengatasi kekeringan Mengamankan daerah permukiman dan prasarana umum/obyek wisata Mengamankan daerah permukiman.

Plumpatan. dan prasarana umum Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.229 ha dan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan.A2 Citanduy Penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Wilayah sungai Citanduy Ciwulan (Propinsi Jabar & Jateng) Citanduy Ciwulan Wilayah sungai Rencana induk Citanduy Ciwulan (Master Plan) (Propinsi Jabar & pengelolaan SDA Jateng) Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Lower Citanduy Flood Management: Pengerukan Plawangan .07. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 80 m. Cimeneng. tinggi mercu bendung 80 m. Tampung total 14 juta m3. Irigasi 3. Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Diharapkan dapat mereduksi sedimentasi Segara Anakan Elevasi puncak terhadap MSL 265 m. Kabupaten Cilacap Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Memperlancar aliran sungai Citanduy menuju ke laut lepas Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Cibeureum. perkotaan dan industri Tasikmalaya 800 ltr/det.620 ha. Sebagai kerangka dasar pedoman dalam pengelolaan SDA Wilayah Sungai Citanduy Ciwulan ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan 4-40 Waduk Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya Citanduy Ciwulan Waduk Banjar Kabupaten Banjar Citanduy Ciwulan 02. Cikonde. Dapat menimbulkan dapak sosial ekonomi rakyat. Kawungatan. Pekalongan dan anakanak sungainya Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Sidareja Cihaur Mengembalikan dan meningkatkan fungsi dan kapasitas bangunan klep Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Kabupaten Cilacap Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tampungan total 460 juta m3 dan tampungan aktif 250 juta m3. panjang bendung 180 m. perkotaan dan industri serta irigasi. luas areal 470 ha.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Pantai Cipatujah 2 km Waduk Pasirangin LOKASI Kabupaten Garut Kabupaten Tasikmalaya MANFAAT&PENJELASAN Mengamankan daerah permukiman. Meningkatkan kebutuhan air baku dan pengendali banjir serta sedimentasi. luas arealnya 1. Tinggi mercu bendung 60 m. Meskipun potensi listrik yang dihasilkan kecil.Segara Plawangan Anakan (Kabupaten Cilacap & Ciamis) Kabupaten Cilacap Normalisasi sungai-sungai DAS Segara Anakan Normalisasi sistem drainasi Daerah Irigasi Sidareja Cihaur dan sekitarnya Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. Tampungan total 120 juta m3 dan tampungan aktif 55 juta m3. Jagadenda.

air minum kota sidareja dan pengendalian banjir Penanggulangan sedimentasi di Segara nakan dari sungai Citanduy. Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Waduk Matenggang Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap Waduk Binangun I Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Penyediaan air Irigasi 27. Kabupaten Tasikmalaya. Mengalihkan muara sungai Citanduy langsung ke Laut (teluk Nusaware) Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Tinggi mercu bendung 7 m.000 ha. 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. panjang 40 m. Citalahab dan Cikaso Mengembalikan fungsi dan kapasitas drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Mengembalikan dan meningkatkan fungsi bangunan Klep Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir Citanduy Ciwulan Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis. 10 lokasi Perbaikan tebing kritis 25 lokasi Rehabilitasi Bendung Manganti Tahap II Sudetan Citanduy LOKASI Kabupaten Cilacap MANFAAT&PENJELASAN Mengamankan daerah permukiman dan pertanian dari bahaya banjir ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan 4-41 Kabupaten Cilacap Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran sungai Ciseel.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN 15 lokasi Perbaikan dan peningkatan bangunan tanggul pengendali banjir 30 km Perbaikan tebing kritis. Tinggi mercu bendung 28 m. 20 lokasi Normalisasi sungai-sungai DAS Citanduy Hilir Normalisasi sistem drainase Daerah Irigasi Lakbok Utara dan Lakbok Selatan Perbaikan dan peningkatan bangunan klep pengendali banjir. Ciputrahaji. Tampungan total 485 juta m3 dan tampungan aktif 220 juta m3. bak tampung 3 m dan bahan tubuh bendung adalah urugan tanah dengan inti clay tampungan aktif 27. pertanian dan prasarana umum. Dapat menimbulkan dampak sosial ekonomi rakyat.050 ha. perkotaan dan industri dan tenaga listrik sebesar 50 lt/det.08 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. luas arealnya 3. Elevasi puncak terhadap MSL adalah 48 M. Kabupaten Garut Kabupaten Ciamis Sungai Citanduy Mengamankan tanggul pengendali banjir Mengamankan daerah permukiman. perkotaan dan Industri serta irigasi.

Tinggi Mercu Bendung : 33 .439 ha. Elevasi puncak terhadap MSL 180 m. Elevasi terhadap MSL 180 m.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Binangun II Waduk Ciamis / Leuwi Keris LOKASI Kabupaten Ciamis MANFAAT&PENJELASAN Elevasi puncak MSL : 55 . potensi listrik 4.27 juta m3 ASAL WS/ PROGRAM Citanduy Ciwulan 4-42 Kabupaten Ciamis Waduk Cikembang Kabupaten Ciamis Citanduy Ciwulan 02. Potensi listrik yang dihasilkan kecil.08.Jamblang Cirebon Cimanuk LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Area (ha) : 1. jika Waduk Jatigede ditunda.36 juta m3 Volume tampungan : 0. Memenuhi kebutuhan air untuk mengairi areal sawah dan tambak di sebelah utara ruas jalan Indramayu Cirebon ( sawah 4. tinggi mercu bendung 100 m. volume tampungan 2.330 .000 ha. potensi listrik 0. luas areal 440 ha. maka Waduk Cilutung dengan El + 294 dapat menjadi alternatif cadangan utama Irigasi seluas 12. Tampungan Total (juta m3) : 270 . luas areal 440 ha. tambak 750 ha ).000 ha dan penyediaan air baku untuk 14. perkotaan dan industri serta irigasi Potensi listrik yang dihasilkan kecil. Tampungan aktif (juta m3) : 154 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Irigasi seluas 20. Long Storage K.000 ha. perkotaan dan industri serta irigasi. Harga tampungan per m3 rendah (Rp 650/m3) Volume tampungan netto 796. Kuista .683 jiwa. Tampungan total 150 juta m3 dan tampungan aktif 18 juta m3 Irigasi seluas 90. Irigasi seluas 500 ha dan penyediaan air baku 300 kk Pemenuhan kebutuhan air irigasi dan perikanan tambak Volume tampungan : 0.1 juta m3 Irigasi seluas 4.145 ha.2 GWh dan potensi air baku 444 ha.004 jiwa.7 jt m3.A2 Cimanuk Cisanggaru ng Waduk Jatigede Sumedang Cimanuk Waduk Cipanundan Waduk Cilutung Kuningan Majalengka Cimanuk Cimanuk Waduk Cipanas Indramayu Cimanuk Waduk Sarwadadi Long Storage Indramayu Waduk Bojong Waduk Brahim Waduk Cimulya Cirebon Indramayu Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Kuningan Irigasi seluas 9.5 GWh dan potensi air baku 915 ha dengan volume tampungan sebesar 35 juta m3. volume tampungan sebesar 395 juta m3. tinggi mercu bendung 70 m. potensi listrik terpasang 110 MW dan penyediaan air baku untuk 79.468 ha. Tampungan total 180 juta m3 dan tampungan aktif 78 juta m3 Pemenuhan kebutuhan rumah tangga.

35 lt/dt. Irigasi seluas 9.700 ha dan penyediaan air baku untuk 10.000 ha). Irigasi seluas 12. potensi listrik 8.3 GWh dan air baku 828 ha. pengendalian banjir (± 4. Volume tampungan sebesar 395 jiwa.960 ha. potensi listrik 1.275 ha. Irigasi seluas 8. Irigasi seluas 8. Nilai EIRR 12. volume tampungan 20 jt m3. semi teknis dan sederhana) seluas 38.20 GWh. Volume tampungan 53 juta m3. potensi listrik 0. Gung Kabupaten Tegal Pemali Comal LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .09.439 ha potensi listrik 3. volume tampungan 50 juta m3. Irigasi seluas 5.6% pengendalian banjir (± 5.1 GWh dan air baku 60 ha.000 ha dan penyediaan air baku 175 juta m3. volume tampungan 86 juta m3.4 GWh dan potensi air baku 444 ha. potensi waduk 150 juta m3. Irigasi seluas 10. volume tampungan 12 jt m3.000 MWh dengan volume tampungan 2. volume tampungan 1.534 ha ASAL WS/ PROGRAM Cimanuk 4-43 Waduk Cihowe Waduk Cileuweung Waduk Ujungjaya Cirebon Kuningan Sumedang Cimanuk Cimanuk Cimanuk Waduk Pasirkuda Waduk Balekambang Waduk Cipeles Waduk G.4 juta m3 .000 ha). potensi listrik terpasang187 MW dan penyediaan air baku untuk 22.173 ha potensi listrik 10.982 ha potensi listrik 1. volume tampungan 78 jt m3.A3 Pemali – Comal Waduk Bantar Kawung Kuningan hulu K.7 GWh dan air baku 828 ha. Karung Waduk Maneungteung Waduk Pecang Waduk Seuseupan Waduk Masigit Waduk Ciwaru Majalengka Garut Garut Kuningan Kuningan Kuningan Cirebon Kuningan Kuningan Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Cimanuk Waduk Dukuh Badag 02.153 jiwa .7 GWh dan potensi air baku 1017 ha dengan volume tampungan 69 juta m3. Irigasi seluas 8.145 ha dan potensi listrik 17. Irigasi seluas 2. Irigasi seluas 4.3 jt m3.70 GWh dan potensi air baku 915 ha. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 27. Irigasi seluas 8. Pemali Kabupaten Brebes Cimanuk Pemali Comal Waduk Ki Gede Sebayu hulu K.000 ha dan penyediaan air baku untuk 5.6 GWh dan potensi air baku 298 ha. Potensi listrik sebesar 86.126 jiwa.835 jiwa dengan volume tampungan 71 juta m3. untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi (teknis. volume tampungan 32 jt m3.482 ha dan untuk penyediaan air baku bagi RKI ± 867.275 ha dan potensi air baku 828 ha.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Cipasang Garut LOKASI MANFAAT&PENJELASAN Irigasi seluas 18.275 ha. Irigasi seluas 600 ha. Irigasi seluas 9.000 ha potensi listrik 11.

905 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 8.. pembangunan inlet drainase 11 buah.Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. diharapkan dapat mereduksi daerah rawan banjir seluas 6.717 Ha. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 2. Keruh Kabupaten Pemalang hulu sungai K. untuk mereduksi daerah rawan banjir seluas 1.770 Ha. Penyediaan air baku bagi RKI dengan suplai 965. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.130 ha Pelindung tebing pasangan batu kali 5. 20.5% Pembangunan/perbaikan tanggul. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp. 287. dengan tinggi bendung 95 m. normalisasi alur sungai 7.5 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. pembangunan/perbaikan tanggul. volume tampungan 45.3 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. dengan nilai EIRR adalah sebesar 26. Babakan dan Kabuyutan Pengendalian Banjir Sungai Sragi Pengendalian Banjir Sungai Kupang Sungai Tanjung Pemali Comal Pemali Comal Pemali Comal Sungai Sragi Sungai Kupang Pengendalian Banjir Sungai Kluwut Kabupaten Brebes Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Sambong kabupaten Batang dan kabupaten Pekalongan Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Comal kabupaten Pemalang Pemali Comal LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .93 juta m3. pembangunan bangunan pengukur debit sungai 1 buah. analisa kelayakan ekonomi menunjukkan nilai EIRR sebesar 17.9% Pembangunan/perbaikan tanggul.300 lt/dt.667 m.4 lt/dt dan untuk peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 26. Genteng dan K.5 juta/tahun pada harga ASAL WS/ PROGRAM 4-44 Waduk Sipring hulu sungai K. pembangunan jembatan kereta api baru 1 buah. volume tampungan 30 juta m3. 10.352. dengan nilai EIRR adalah sebesar 42.718 Ha. Peningkatan intensitas tanam bagi lahan irigasi seluas 7. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.730 ha. Informasi kelayakan proyek tidak tersedia. pembangunan/perbaikan tanggul.699. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Sengkarang Kabupaten Pekalongan desa Karanganyar Kabupaten Pemalang Pemali Comal Waduk Krandegan Pemali Comal Waduk Karanganyar Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Tanjung. Selain itu untuk penyediaan air baku dengan suplai 2.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN LOKASI MANFAAT&PENJELASAN dan untuk penyediaan air baku bagi RKI. pembangunan jalan dan jembatan baru.1 km. pembangunan/perbaikan tanggul. tinggi bendung 40 m. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.9%.

Usulan baru dan belum pernah dilakukan studi. Meningkatkan intensitas tanam pada daerah irigasi Cipero seluas 8. nilai EIRR 10. Jatinegara Jateng Pemali – Comal 02. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.1%.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN LOKASI MANFAAT&PENJELASAN dasar tahun 1998. Nilai EIRR 18. Perkiraan manfaat ekonomi dari adanya program tersebut adalah Rp.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.6% (layak) pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah.7 % (layak) pengembangan suplai untuk RKI 750 l/detik dan konservasi air tanah. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai. Semarang Semarang dan Demak Semarang dan Demak Kab.750 l/detik dan konservasi air tanah. Grobogan Kab.1% Pembangunan/perbaikan tanggul. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12.9% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 8% (layak) ASAL WS/ PROGRAM 4-45 Pengendalian Banjir Sungai Waluh Sungai Waluh Pemali Comal Pengendalian Banjir Sungai Rambut Sungai Rambut Pemali Comal Waduk Jatinegara Kec. Semarang Jratun Seluna Waduk Mundingan Jragung Barrage + Tunnel Waduk Dolok Waduk Bandung Harjo Waduk Ngemplak Waduk Coyo Waduk Tirto Embung Kedung Waru Kab.A3 Jratunseluna Waduk Jatibarang Kab. dengan nilai EIRR adalah sebesar 15. Grobogan Kab.529 ha. perkuatan tebing dan normalisasi alur sungai.010 ha dan untuk mensupli waduk Cacaban dengan luas irigasi 1. Nilai EIRR 13.5% (layak) pengembangan suplai untuk RKI 1. Nilai EIRR 22.4% Pembangunan/perbaikan tanggul. Konstruksi dam Jatibarang dimulai tahun 2002 (kegiatan yang masuk dalam jadwal biaya rendah). Nilai EIRR 18. Grobogan Kab.10.8% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Blora Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pengembangan suplai untuk RKI 920 l/detik dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 16. dengan nilai EIRR adalah sebesar 12.2 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998. Nilai EIRR 14% (layak) Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah. Nilai EIRR 11. Grobogan Kab. 822. 231 juta/tahun pada harga dasar tahun 1998.020 l/detik dan konservasi air tanah.1% (layak ) pengembangan suplai untuk RKI 1.

700 l/detik (direncanakan memberikan 900 l/dt ke Semarang dan 800 l/detik ke Kendal) dan konservasi air tanah. Kab. Kudus dan Kab.650 ha. nilai EIRR 17. nilai EIRR 15.13% Pengendalian banjir Pengendalian banjir seluas 21 ha.Cilacap. Kab. Blora Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kota Semarang Kab.A3 Wiso . nilai EIRR 18. Target 16 km Pengamanan pemukiman .6% Pengendalian banjir seluas 6.12. sehingga dapat mengurangi dampak yang lebih buruk Pengamanan pemukiman .8% Pengembangan suplai untuk RKI 1.Gelis Kepulauan Karimunjawa Serayu – Bogowon-to Pengendalian Banjir Sungai Blorong Pengedalian banjir S. Layak secara ekonomi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Embung Balong Pengendalian Banjir Sungai Garang Drainase Kota Semarang Tenggang + Sringin Drain Dombo-Sayung Floodway Kebon Batur Floodway Pengendalian Banjir Jragung/Tuntang Pengendalian Banjir SerangWulan-Juana Waduk Kedung Suren LOKASI Kab. nilai EIRR 15.1% pengendalian banjir seluas 12. Demak Kab.Serayu. DAS Wawar. Peninggian jembatan melintang sungaisungai di DAS Telomoyo Pembangunan pelimpah banjir DAS Telomoyo Penyempurnaan Pengendalian Banjir dan Drainase Penyempurnaan Pengendalian Kab. S.Kebumen S Telomoyo & anakanak sungainya.337 ha. Nilai EIRR 13.Purbalingga dan Banyumas S Telomoyo. nilai EIRR 20. Layak secara ekonomi.C 02. Target ASAL WS/ PROGRAM Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna Jratun Seluna 4-46 02. Pati Kaliwungu. Layak secara ekonomi. Demak Kab.11.957 ha.9% pengendalian banjir seluas 10.20 lokasi kritis Mengatasi adanya halangan sungai yang dapat mengakibatkan banjir dan memperlancar transportasi antar pedesaan di 10 lokasi Mengatasi adanya kejadian banjir melebihi rencana.Kebumen DAS Tipar dan Ijo. persawahan dan transportasi.13. Kab. Nilai EIRR 9.Lukulo & anakanak sungainya. Target 15 . Cokroyasan dan Jratun Seluna Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Layak secara ekonomi.C 02. Brangsong dan Kendal MANFAAT&PENJELASAN Pengembangan suplai untuk RKI dan konservasi air tanah Pengendalian banjir seluas 1. persawahan dan transportasi. Banyumas dan Kebumen. Kab.5 % (layak) Pengendalian banjir seluas 590 ha. Layak secara ekonomi.Klawing lanjutan Perkuatan tebing lokasi kritis dan penanggulangan banjir nopember 2004.Kebumen S Telomoyo & anakanak sungainya. Kab. Kendal Anak S.670 ha.B Bodri .Kuto 02. persawahan dan transportasi.028 ha.14. Layak secara ekonomi. nilai EIRR 24% Pengamanan pemukiman dan persawahan Target 30km Pengamanan pemukiman .4% pengendalian banjir seluas 13.

Purworejo. Kab. DAS Serayu. Lukulo dan Bogowonto. Telomoyo dan Tipar. S. Banjarnegara dan Purbalingga. Wonosobo. Serayu. Banjarnegara. Purworejo. Purbalingga. Banjarnegara dan Purbalingga. Normalisasi Kali Pantai antara S. Cokroyasan. Ijo dan Tipar DAS Telomoyo. Kebumen dan Purworejo DAS Wawar. Cilacap.Bogowonto dan S.Purworejo DAS Bogowonto. Target 15 lokasi Serayu Bogowonto Mengatasi degradasi sungai. dari bahaya banjir.Cokroyasan Operasi dan Pemeliharaan Sungai LOKASI Bogowonto. Kab. Telomoyo. Banyumas. Kab.Jladri. Target 10 lokasi Serayu Bogowonto Mengatasi kekurangan air pada musim kering Serayu Bogowonto LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Muara-muara DAS Bogowonto. Kebumen. Purbalingga. Banyumas dan Cilacap DAS Bogowonto dan DAS Cokroyasan Kab.Telomoyo hilir Serayu Bogowonto Pembangunan Groundsill (Bangunan Penstabil dasar sungai).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Banjir dan Drainase Rehabilitasi Jembatan KA melintang sungai di 7 lokasi. Kebumen.Jatinegara dan S. Kab. Wawar dan Telomoyo. Serayu Bogowonto Normalisasi sungai dan bangunan pengatur air untuk mengatasi banjir daerah pemukiman dan budi daya perikanan. Wawar dan Telomoyo. Banyumas. Kebumen dan Purworejo (200 lokasi) Mengurangi sedimentasi waduk dan pemanfaatan untuk air baku. Penyediaan air baku pedesaan dari mata air & sumber air DAS Bogowonto. Wawar dan Ijo 6 km MANFAAT&PENJELASAN ASAL WS/ PROGRAM 4-47 Pengamanan jalur transportasi KA Yogya -Jakarta. Mempertahankan kapasitas dan fungsi prasarana pengendalian banjir Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Pembangunan bangunan penahan intrusi air laut Pembangunan bangunan pemanfaatan daerah genangan banjir Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) dan Pengerukan hilir sungai Jladri Pembangunan BPS (Bangunan Penahan Sedimen) Menahan pengaruh akibat intrusi air laut di 5 lokasi Serayu Bogowonto Mendaya gunakan lahan depressi Serayu Bogowonto DAS Telomoyo Mengurangi sedimentasi di S. Kab. Kebumen dan Purworejo Kab. Serayu. Kebumen.

Wawar dan Cokroyasan.Trenggulun Pembangunan Waduk Gintung di S.Bogowonto Pembangunan Waduk Wanadadi di S. Kulon Progo Kab. Banyumas. Telomoyo .Pekacangan Pembangunan Waduk Kesegeran di S. Lukulo.Gintung Pembangunan Waduk Kemit di S. Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi.Banjarnegara DAS Serayu Kab. Lukulo. Kab.Kebumen MANFAAT&PENJELASAN Mengatasi kekurangan air pada musim kering ASAL WS/ PROGRAM Serayu Bogowonto 4-48 Mengatasi kekurangan air kota Kebumen dan pedesaan Kab.Purworejo DAS Serayu Kab. Purbalingga. Cilacap. Kulon Progo Mengurangi sedimentasi sungai Serayu Bogowonto Konservasi lahan dan penelitian Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Serayu Bogowonto Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Multi purpose ( Irigasi. Kebumen dan Purworejo. Telomoyo.75 m dengan volume tampungan 7. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Embung Kayangan Kab. Kab. Wonosobo. Tinggi embung adalah 13.500 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Penyediaan air baku pedesaan dari bangunan konservasi (groundsill).000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Banjarnegara.Kebumen Kab. Kebumen dan Purworejo (15 lokasi). Wawar dan Bogowonto.A2 Progo Opak Serang Kab. DAS Bogowonto.kebumen Serayu Bogowonto Penataan kawasan arboretum Pembangunan Waduk Bener Di S. Kab. DAS Serayu.15.75 m dengan volume tampungan 35. Banyumas. Penyediaan air baku dari bendungan Wadaslintang Pembangunan bangunan konservasi terpadu di hulu sungai LOKASI Kab. Kulon Progo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .Banyumas DAS Serayu Kab. Tinggi embung adalah 13. Air Baku dan PLTA) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Multi purpose ( Irigasi dan Air Baku ) Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 02.Banjarnegara DAS Telomoyo Kab.Kemit Embung Tangkisan I Embung Tangkisan II Embung Ngroto DAS Serayu.

Kulon Progo Kab.5 m3/dt penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Embung Kedunggedeng Waduk Tinalah Kab.000. Untuk DAS Serang. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Tinggi embung adalah 11 m dengan volume tampungan 105.000 m3 Berpotensi untuk mengendalikan banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku 73 lt/detik dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Kab. Gunung Kidul Kali Progo Waduk Progo Magelang Waduk Elo Hilir Waduk Kaloran Kali Progo Kali Elo Kaloran Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kulon Progo MANFAAT&PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Sleman Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Tinggi embung adalah 5 m dengan volume tampungan 250. dengan tetap memanfaatkan air dari Kali Progo melalui intake Kalibawang. dengan pembatasan pengambilan air sebesar 2. Belum tersedia data detail Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir ASAL WS/ PROGRAM Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo 4-49 Embung Penggung Embung Girinyono Kab. mengairi irigasi 450 ha dan penyedia air minum 75 lt/detik. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Kab.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Gunung Kidul Embung Ngalang Kab. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Dalam tahap pengukuran dan pra desain tahun 2003 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir. Kulon Progo Embung Weden Kab.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Embung Dawetan LOKASI Kab. Volume tampungan embung adalah 1. Kulon Progo Embung Kebonromo Embung Kronggahan Embung Kedungranti Embung Karang Sari Kab.000 m3 Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir.

A2 Bengawan Solo ASAL WS/ PROGRAM Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Progo-OpakOyo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo 4-50 pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir pengendalian banjir penyediaan air baku Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo Bengawan Solo penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku penyediaan air baku LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Fase II Perbaikan Sungai Kali Madiun. Fase II dan III Pembangunan check dam dan ground sill Pengembangan Bengawan Jero Bengawan Solo FFWS Long-channel Storage Bengawan Solo Hilir Penyediaan Air PDAM di Wilayah Surakarta Penyediaan Air untuk Sstem Pengembangan PDAM Penyediaan Air untuk Daerah Rembang Solo Vallei Werken 9 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hulu 3 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Kali Madiun 16 Waduk Irigasi pada Anak Sungai Bengawan Solo Hilir Waduk Irigasi Kedung Bendo LOKASI Kali Elo Progo Hulu K. Serang Sungai Progo Wonogiri seluruh WS hilir WS hulu WS Kali Madiun Hulu Sungai Bengawan Solo dan Kali Madiun MANFAAT&PENJELASAN Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir Penyediaan air baku dan irigasi dan potensi pengendalian banjir - 02.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Waduk Elo Waduk Sambiroto Waduk Nanggulan I Sedimentasi Waduk Wonogiri Penanganan Pengelolaan Kualitas Air Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hilir. Fase II Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hulu.16.

19.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA KODE WILAYAH SUNGAI KEGIATAN Rehabilitasi dan Peningkatan Sistem Irigasi Waduk Serbaguna Bendo Sabo Gunung Kelud Sabo Brantas Hulu dan Sungai Lesti Pengendalian Banjir Sungai Widas Lodoyo Diversion Tunnel Beng Dam LOKASI MANFAAT&PENJELASAN penyediaan air baku penyediaan air baku ASAL WS/ PROGRAM Bengawan Solo Bengawan Solo Brantas Brantas 4-51 02. Sebanyak 17 Sabo Dam telah direncanakan untuk daerah hulu DAS Sengguruh Dam.6.B 02.18.B 02. Data teknis yang direncanakan untuk volume tampungan efektif 147 milyar m3 Irigasi.B 02.A3 Brantas Kali Konto Brantas Hulu dan Sungai Lesti mengurangi transport sediment ke reservoir Dam Sengguruh dan Dam Sutami.17. water supply dan hydropower.20.B Welang – Rejoso Pekalen Sampean Genteng I Dam Sungai Genteng.B Baru – Bajulmati Bondoyudo . Pengembangan terhadap masalah pengendalian banjir di Sungai Widas sesuai dengan yang direncanakan dalam Master Plan tahun 1985 Pencegahan terhadap bencana yang dapat ditimbulkan oleh Gunung Kelud Irigasi. water supply dan hydropower dan untuk sediment control. Data teknis yang direncanakan adalah untuk volume tampungan efektifnya sebesar 54 milyar m3 sumber daya air yang terbatas berupa sungai-sungai kecil.22.Bedadung Kepulauan Madura Penyediaan air baku industri Pembangunan Waduk Nipah Pembangunan Waduk Blega Pembangunan Waduk Samiran Pembangunan Wa duk Tambak Agung seluruh WS Madura Pamekasan Bangkalan Pamekasan Sumenep Madura Madura Madura Madura Adapun beberapa balai baru yang dibentuk menurut Peraturan Menteri PU No. Lesti Pekalen Sampean 02. 12 tahun 2006 yang akan mengurus pengelolaan wilayah sungai baru ini disajikan pada bagian 4. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .21.2 (Organiasasi dalam pengelolaan SDA). sehingga harus ada solusi sumber daya air bila Madura hendak difungsikan pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 100 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 50 juta m3 pemenuhan air baku untuk irigasi dan permukiman dengan kapasitas tampungan sebesar 30 juta m3 Sungai Widas Brantas Ludoyo Brantas Brantas 02.

Sedangkan untuk Wilayah Sungai yang belum mempunyai Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai. serta Dewan SDA Propinsi dan Kabupaten/Kota untuk Wilayah Sungai Propinsi dan Kabupaten/kota.7/2004 tentang SDA telah diatur bahwa Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai perlu ditetapkan terlebih dulu sebelum Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai disusun.3. disusun dengan mengacu pada Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai yang telah ditetapkan sebelumnya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4-52 4. Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai ini disusun dengan melibatkan para pemangku kepentingan (stakeholders) SDA dan perlu mendapat persetujuan dari Dewan SDA Nasional untuk Wilayah Sungai Nasional. industri. dalam Rencana Induk telah di identifikasi kebutuhan air untuk berbagai sektor yang ada dalam wilayah sungai tersebut diantaranya air baku untuk permukiman didaerah LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Selanjutnya. Setelah Pola Pengelolaan SDA ditetapkan secara formal berdasarkan proses yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan maka Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai telah ada perlu disesuaikan dengan Pola Pengelolaan SDA. Bilamana pada bebarapa wilayah sungai telah mempunyai Rencana Induk (Master Plan) namun belum mempunyai Pola Pengelolaan SDA (karena Master Plan dibuat sebelum adanya UU No. Rencana Induk (master plan) harus mampu mengidentifikasi isuisu yang terkait dengan pengelolaan SDA yang mencakup aspek-aspek konservasi. pertanian dan sebagainya. maka Pola dimaksud dapat menjadi arahan/pedoman penyusunan Rencana Induk.3 Penyusunan Pola Pengelolaan SDA Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai: sebagaimana diamanatkan dalam UU No. dengan demikian pola alokasi air ini juga sekaligus mencerminkan pula garis besar penggunaan ruang dalam wilayah sungai dimaksud. 7/2004) maka penyusunan Pola Pengelolaan SDA perlu disusulkan. dan pendayagunaan SDA serta penanganan bencana yang terkait dengan air di wilayah sungai yang bersangkutan. Dalam pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai akan ditetapkan garis besar alokasi air untuk berbagai sektor diantaranya untuk permukiman dan perkotaan. Pembuatan Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai.

Dewan SDA Propinsi untuk Wilayah Sungai Propinsi dan Dewan SDA Kabupaten untuk Wilayah Sungai Kabupaten. industri. e. pertambangan dan sebagainya yang telah mengantisipasi pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi dalam kurun waktu “planning horizon” minimal 30 tahun kedepan. menetapkan kebijakan nasional sumber daya air. c. wilayah sungai lintas negara. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .4. dan wilayah sungai strategis nasional. dan wilayah sungai strategis nasional. b. lingkungan. wilayah sungai lintas negara. UU No. 4-53 4.1 STRATEGI PEMBIAYAAN Wewenang Tanggung Jawab Pemerintah Berdasarkan pasal 14. wilayah sungai lintas negara. menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas provinsi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA perkotaan (termasuk kawasan jasa & perdagangan) dan perdesaan. perikanan. pertanian. wewenang dan tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan SDA meliputi: a. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. Selain itu Rencana Induk juga harus mendapat persetujuan dari Dewan Sumber Daya Air Nasional untuk Wilayah Sungai Nasional. menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. dan wilayah sungai strategis nasional. melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi.4 4. dan strategis nasional. lintas negara. d. Proses pembuatan Rencana Induk juga harus melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) bidang sumber daya air pada wilayah sungai tersebut. Demikian pula dalam Rencana Induk harus telah diidentifikasi jenis-jenis alternatif prasarana dan sarana yang mampu memenuhi kebutuhan air untuk berbagai sektor termasuk lingkungan yang telah memperhitungkan pertumbuhan penduduk dan ekonomi dalam kurun waktu 30 tahun kedepan serta mampu mengantisipasi dampak iklim yang berubah (terjadinya kejadian ekstrim kekeringan dan banjir).

mengatur. menetapkan. Dari uraian wewenang dan tanggung jawab diatas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. menjaga efektivitas. peruntukan. kualitas. membentuk Dewan Nasional Sumber Daya Air. dan wilayah sungai strategis nasional. dewan sumber daya air wilayah sungai lintas propinsi. wilayah sungai lintas negara. wilayah sungai lintas negara. standar. ii) kebijakan umum dan operasional pengelolaan SDA. efisiensi. 3. menetapkan dan memberi rekomendasi teknis atas penyediaan. dan wilayah sungai strategis nasional. dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. dan dewan sumber daya air wilayah sungai strategis nasional. 2. pedoman dan manual pengelolaan SDA. dan memberi izin atas penyediaan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . h. 4-54 g. memberikan bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. k. dan pedoman pengelolaan sumber daya air. Lingkup wewenang dan tanggung jawab mencakup: i) membuat dan menetapkan peraturan dan perundang-undangan. i. j. penggunaan dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas provinsi dan cekungan air tanah lintas negara.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA f. memfasilitasi penyelesaian sengketa antar provinsi dalam pengelolaan sumber daya air. standar. dan l. iii) norma. mengatur. Lingkup pengelolaan SDA mencakup: i) konservasi SDA. penggunaan. Locus (lokasi) dari wewenang dan tanggung jawab Pemerintah (pusat) adalah pada wilayah sungai lintas propinsi. dan wilayah sungai strategis nasional. ii) pendayagunaan SDA. iv) pemberdayaan masyarakat. wilayah sungai lintas negara. dan v) penyediaan sistem informasi SDA. dan pengusahaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. kriteria. dan iv) melaksanakan pengelolaan. peruntukan. menetapkan norma. iii) penanganan bencana yang terkait dengan air.

(3) a. anggaran pemerintah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi primer dan sekunder menjadi tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya. b.4. Pembiayaan pelaksanaan konstruksi saluran tersier menjadi tanggung jawab petani dan dapat dibantu Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. baik secara sendiri-sendiri maupun dalam bentuk kerja sama. c. evaluasi dan pemberdayaan masyarakat. dan dapat melibatkan peran serta masyarakat petani. (4) biaya sistem informasi. biaya perencanaan. d. 7/2004 pengaturan kebijakan pembiayaan pengelolaan Sumber Daya Air adalah sebagai berikut: (1) (2) Pembiayaan pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan kebutuhan nyata pengelolaan sumber daya air. Pembiayaan pelaksanaan konstruksi. pemeliharaan. (5) Pembiayaan pelaksanaan konstruksi dan Operasi dan Pemeliharaan sistem irigasi diatur sebagai berikut: a. c. saluran sepanjang 50m dari bangunan sadap dan boks tersier serta bangunan pelengkap tersier LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . kecuali bangunan sadap. dibebankan kepada: a) Sumber dana untuk masing-masing jenis pembiayaan dapat berupa: Pembiayaan pengelolaan sumber daya air Pemerintah dan Pemerintah berdasarkan kewenangannya masing-masing dalam pengelolaan Sumber daya Air. b) badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah pengelola sumber daya air. dan/atau hasil penerimaan jasa pengelolaan sumber daya air. b. dan perorangan.2 Kebijakan Pembiayaan 4-55 Berdasarkan UU No. b. e. biaya pemantauan. anggaran swasta. badan usaha lain. Jenis pembiayaan pengelolaan sumber daya air meliputi: a. dan c) koperasi. biaya pelaksanaan konstruksi biaya operasi.

c. Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam batasbatas (9) tertentu dapat memberikan bantuan pembiayaan kepada BUMN/BUMD Pengelola Sumber daya Air. Pengguna sumber daya air lainnya menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air. (12) Pengelola sumber daya air berhak atas hasil penerimaan dana yang dipungut dari para pengguna sumber daya air. (11) Penentuan nilai satuan biaya jasa pengelolaan sumber daya air untuk setiap jenis penggunaan sumber daya air didasarkan pada pertimbangan kemampuan ekonomi kelompok pengguna dan volume penggunaan sumber daya air. pembiayaan pengelolaannya ditetapkan bersama oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang bersangkutan melalui pola kerja sama. dan strategis nasional. (7) Pembiayaan pengelolaan sumber daya air yang ditujukan untuk pengusahaan sumber daya air yang diselenggarakan oleh Koperasi. Badan Usaha lain dan perorangan ditanggung oleh masing-masing yang bersangkutan. (6) Dalam hal terdapat kepentingan mendesak untuk pendayagunaan sumber daya air di wilayah sungai lintas provinsi. (8) Untuk pelayanan sosial serta pelayanan yang ditujukan bagi kesejahteraan dan keselamatan umum. BUMN/BUMD Pengelola Sumber daya Air. Pengguna sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk pertanian rakyat tidak dibebani biaya jasa pengelolaan sumber daya air. (10) Penentuan besarnya biaya jasa pengelolaan sumber daya air didasarkan pada perhitungan ekonomi rasional yang dapat dipertanggung jawabkan. dari para pengguna sumber daya air Dana yang dipungut dipergunakan untuk mendukung 4-56 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . lintas kabupaten/kota.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA lainnya menjadi tanggung jawab Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. kecuali untuk penggunaan non usaha. Pembiayaan pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaan sistem irigasi tersier menjadi tanggung jawab petani dan dibantu Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah.

beban dari pemerintah dapat dikurangi dan kinerja dalam fungsi publik dapat dicapai. Kecenderungan untuk tidak selalu bergantung kepada penyediaan layanan dari pemerintah telah didorong tidak saja oleh kepedulian atas ketidak-efisienan. Pada kondisi sekarang secara umum dikenal bahwa pemerintah.2 Pemerintah sebagai regulator dan pengendali Pembuatan kebijakan. hendaknya mengurangi perannya sebagai penyedia layanan dan lebih berkonsentrasi untuk menjadi regulator dan pengendali penyedia layanan jasa.3.Dengan mengadopsi peran sebagai fasilitator dan arbitrase. seperti sektor swasta. alokasi air. dan memenuhi prinsipprinsip pembangunan berkelanjutan. konflik interest. Pelaku lainnya. bilamana memungkinkan.4.1 Pemerintah sebagai pemberdaya (enabler) Dalam sektor sumber daya air ciri pemerintah sebagai pemberdaya ditunjukan dengan beralihnya pendekatan pembangunan yang ”prescriptive” dan terpusat menjadi kerangka sistem dan pendekatan partisipatif. penindakan dan resolusi konflik final masih perlu menjadi tanggung jawab pemerintah. Pemerintah perlu menciptakan kondisi dimana semua aktor/pelaku yang mempunyai kepentingan dalam permasalahan sumber daya air dapat terlibat dan dapat bernegosiasi diantara mereka untuk mencapai solusi yang dapat diterima semua pihak.3. dan BUMN/BUMD. perancangan (pembuatan rencana induk).4. dan kurangnya transparansi dari manajemen tetapi juga didorong oleh bertambahnya berbagai kesulitan yang dihadapi oleh negara-negara di dalam pembiayaan yang diperlukan untuk investasi dibidang sumber daya air.4. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .3 Peran-peran Lain Pemerintah 4. monitoring. mungkin dapat menyediakan jasa layanan air dengan monitoring dan pengendalian dari lembaga pengawas. 4-57 4. 4. Meskipun partisipasi masyarakat cukup tinggi tidak berarti pemerintah lepas dari tanggung jawab.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA terselenggaranya kelangsungan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan.

akan berkontribusi dalam mengurangi peran dan beban pemerintah didalam pengelolaan sumber daya air.4. Demikian juga. prinsip terpenting yang perlu dilaksanakan adalah bahwa instansi-instansi pemerintah penyedia layanan tersebut hendaknya tidak mengatur untuk dirinya sendiri. pembuangan dan pengolahan limbah cair) dimana investasi publik masih sangat diperlukan. Pemikiran kotemporer menunjukkan bahwa keterlibatan swasta dalam layanan air. hal ini mungkin akan memerlukan waktu beberapa tahun kedepan yang cukup lama dibeberapa negara. Pemisahan ini akan membantu terciptanya transparansi dan akuntabilitas. yaitu dalam layanan air minum dan sanitasi.4.3. 4-58 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . namun tetap diperlukan suatu entitas publik dalam hal ini pemerintah yang mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk memantau dan mengatur penyediaan layanan yang memadai dan dalam harga yang terjangkau. 4.4 Peran Pemerintah dalam ”keterlibatan dunia swasta” Yang dimaksud dengan sektor swasta disini adalah sektor perusahaan swasta dan orgnisasi-organisasi yang berbasis masyarakat. perlindungan terhadap banjir.3 Pemerintah sebagai Penyedia Layanan (Service Provider) Seluruh pemerintahan hendaknya berupaya untuk mengalihkan penyediaan jasa layanan air kepada stakeholders non-pemerintah. Dapat disimpulkan bahwa dalam keterlibatan swasta peran pemrintah dalam pengaturan justru semakin bertambah dan tidak berkurang. perlu dicatat bahwa dalam layanan dibidang air terdapat elemen-elemen yang bersifat layanan umum (diantaranya. keterlibatan masyarakat yang miskin dalam layanan air akan memerlukan katalist berupa dukungan dana dari pemerintah dan sumber dana dari luar lainnya. Diperlukan pemisahan yang jelas diantara fungsi pengatur dan fungsi pelaksana.3. Bilamana pemerintah masih memegang fungsifungsi layanan umum. Disamping itu. Tetapi hal ini tidak selalu demikian: yang terjadi adalah perubahan fungsi. Tugas akan berubah setelah fungsi operasional/pelaksanaan dialihkan ke aktor swasta.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4.

adalah sangat penting untuk memberi perhatian yang besar untuk upaya peningkatan kinerja sektor publik. Meskipun telah terjadi kecenderungan akan meningkatnya privatisasi dan pemerintah mempunyai peranan kunci dalam memfasilitasi partisipasi sektor swasta yang lebih besar.3. seperti tarif air. kebutuhankaum miskin kota. 4-59 4. telah dianggap sebagai indikasi umum penyediaan layanan oleh sektor publik dan telah mendorong pemerintah-pemerintah untuk berpaling ke sektor swasta.1 Strategi Pendanaan Sebagaimana diatur dalam UU Sumber Daya Air No. jumlah pegawai yang terlalu banyak. operasi.4 Strategi Pendanaan dan Tujuan Studi Kelayakan Proyek 4. dan penyediaan kerangka hukum dan institusi yang menjamin pelaksanaan partisipasi sektor swasta yang berhasil.4. dalam waktu kedepan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 4. Dampak keterlibatan sektor swasta yang paling mungkin adalah mendorong adanya akuntabilitas dan kompetisi dan oleh sebab itu. Oleh sebab itu. kinerja yang semakin baik dari sektor publik. Peningkatan efesiensi utilitas baik yang ditangani oleh sektor publik atau sektor swasta harus diikuti oleh keputusan-keputusan pemerintah yang mengatasi permasalahan kunci. dan pemeliharaan prasarana dan sarana sumber daya air adalah anggaran pemerintah. Partisipasi sektor swasta hendaknya tidak dianggap sebagai ”panacea” yang akan dengan segera mengatasi masalah-masalah kekurangan kapasitas dan investasi. termasuk yang bersumber LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . kenyataan tetap menunjukkan bahwa penyedia layanan umum dari sektor publik (perusahaan milik pemerintah) akan.4.5 Peningkatan Kinerja Sektor Publik Kenyataan bahwa seperlima dari penduduk dunia (pada umumnya masyarakat yang termiskin) adalah tanpa akses ke air minum yang aman dan hampir separuh dari penduduk dunia tanpa akses yang memadai atas sanitasi yang memadai (kondisi ini juga merefleksikan kondisi layanan air minum dan sanitasi di Indonesia). 7/2004 salah satu sumber pendanaan untuk pembangunan.4. masih melayani sebagian besar dari pengguna.4.

penyediaan akses kepada air minum yang sehat dan parasarana sanitasi bagi penduduk miskin dan pelestarian ekosistem penunjang kehidupan. Selain dana pinjaman dan atau hibah luar negeri melalui mekanisme ”biasa” baik secara ”bi-lateral” maupun ”multi-lateral”. peluang untuk mendapatkannya semakin tinggi semenjak dicanangkannya ”Johannesburg Plan of Implementation (2002)” dana ini sebaiknya ditujukan untuk pencapaian sasaran ”Millenium Development Goals (MDGs)” diantaranya untuk pengentasan kemiskinan. terdapat peluang untuk mendapatkan dana hibah melalui mekanisme ”khusus”.4. b) program ”Clean Development Mechanism (CDM)” yaitu imbalan pembiayaan kegiatan senilai pengurangan karbondioksida. Selain itu dana hibah luar negeri juga tepat digunakan untuk peningkatan kapasitas (capacity building) dalam hal implementasi 4-60 ”Integrated Water Resources Management” (Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air) yang juga merupakan salah satu sasaran MDGs. diantaranya: a) debt swap yaitu penghapusan pinjaman luar negeri senilai biaya kegiatan yang kita laksanakan dengan persetujuan negara/institusi donor. Penggunaan dana pinjaman luar negeri untuk prasarana dan sarana publik khususnya sumber daya air hendaknya dipilih dari ”scheme” yang lunak (berbunga rendah dan tenggang waktu pembayaran yang panjang) dipakai secara selektif penuh dengan ke-hati-hatian. 4. dan diutamakan untuk membiayai proyek-proyek yang mempunyai kelayakan eknomi yang tinggi termasuk peluang untuk pengembalian biaya (cost recovery). Studi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sedangkan dana hibah luar negeri bagi negara-negara berkembang.4. dan c) pendanaan program-program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim untuk negara-negara berkembang.2 Tujuan Studi Kelayakan Proyek Pembuatan studi kelayakan untuk suatu konstruksi prasarana-sarana sumber daya air yang telak diidentifikasi dalam Rencana Induk Pengelolaan Wilayah Sungai yang memerlukan alokasi sumber daya yang cukup besar baik penggunaan ruang (lahan) maupun dana investasi wajib dilakukan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dari pinjaman dan atau hibah luar negeri.

c) kriteria perencanaan. Selanjutnya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kelayakan hendaknya memuat pernyataan tentang tujuan. memberikan nilai ekonomi yang paling baik. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Internal Rate of Return dan Benefi-Cost Ratio. dan c) pembuatan beberapa pompa pengambilan air sungai dengan jaringan irigasinya dengan luas total 3000 Ha. manfaat dan ruang lingkup proyek serta mencakup aspek-aspek. Dari aspek teknis studi kelayakan mencakup antara lain kajian tentang alternatif-alternatif konstruksi (yang mencakup ruang lingkup konstruksi dan taksiran biayanya) untuk mencapai tujuan dan manfaat yang akan dicapai. c) penjadwalan dan pembiayaan proyek. dan sosial-lingkungan. Dalam membuat altenatif-alternatif konstruksi kepentingan pendapatyang hendaknya baik mendengarkan manfaat pendapat maupun mapun dari yang pihak pemangku Pendapatmemerima dampaknya. Kemudian masing-masing alternative konstruksi dimaksud dievaluasi kelayakan ekonominya dengan parameter-parameter Net Present Value of Benefit. b) manajemen konstruksi dan operasi proyek. ekonomi serta sosial dan lingkungan. dihitung biaya (temasuk biaya sosial dan lingkungan) serta manfaatnya/keuntungannya (termasuk manfaat langsung maupun tidak langsung). 4-61 mendukung/menyetujui menolak/keberatan hendaknya dicatat untuk menjadi bahan pertimbnagan dalam pengmbilan keputusan. Untuk proyek-proyek skala besar studi kelayakan selain 3 (tiga) kriteria dimaksud juga dapat mencakup: a) rencana pembiayaan pelaksanaan konstruksi. masingmasing alternatif konstruksi dievaluasi kelayakannya dari aspek teknis. teknis. b) intensifikasi pertanian dengan rehabilitasi dan upgrading jaringan irigasi yang ada serta pembuatan beberapa sumur air tanah dangkal dimana peningkatan produksinya setara dengan pembangunan jaringan irigasi baru seluas 3000ha. ekonomi. dan yang dampak sosial dan lingkungannya paling kecil. Alternatif yang dipilih adalah alternatif yang layak dari aspek teknis. Dari aspek ekonomi. misalnya untuk meningkatkan produksi padi disuatu wilayah alternative-nya adalah: a) pembuatan bendung untuk mengairi areal baru seluas 3000 Ha. dan d) keperluan institusi dan aspek hukum pengelola proyek setelah proyek selesai. Dari aspek sosial-lingkungan dievaluasi dampaknya serta tingkat penerimaan masyarakat yang menerima manfaat maupun dampaknya.

untuk mengevaluasi benefit/manfaat proyek terhadap masyarkat/ individu penerima manfaat c. Kontribusi proyek terhadap pendapatan nasional. menentukan dampak proyek pada penghasilan devisa c. 4-62 4.3 Kriteria Evaluasi Kelayakan Proyek Kelayakan suatu proyek ditentukan berdasarkan hasil evaluasi atas indikatorindikator sebagai berikut: 1. misal 6-2%) 2. Manfaat proyek bagi petani.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Tujuan utama dari studi kelayakan proyek prasarana dan sarana sumber daya air adalah: a. untuk mengevaluasi biaya proyek dan kemungkinan tingkat pengembalian biaya (cost recovery) untuk instansi yang akan membiayai proyek d. menentukan tingkat pentingnya proyek dalam penambahan lapangan kerja b. yang dapat dilihat dari besaran/nilai: economic internal rate of return (EIRR) net present value of benefit pada tingkat suku bunga 12% (untuk proyek yang bersifat sosial dan pelestarian lingkungan dapat lebih rendah. Sedangkan tujuan sekunder dari studi kelayakan proyek dapat mencakup: a. menentukan dampak proyek atas distribusi/pemerataan pendapatan kepada keluarga miskin/tertinggal. yang dapat dilihat berdasarkan % (presentase) pertambahan pendapatan bersih usaha tani karena adanya proyek LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .4.4. untuk mengevaluasi benefit/manfaat proyek dalam lingkup nasional b. untuk mengevaluasi tingkat resiko pokok dan kendala serta memberi saran tentang jalan/langkah untuk mengurangi resiko dan meringankan kendala. misal 6-2%) benefit-cost (B/C) ratio pada tingkat suku bunga 12% (untuk proyek yang bersifat sosial dan pelestarian lingkungan dapat lebih rendah.

Hal ini dapat dilihat dari Cost Recovery Index (CRI) Tingkat resiko proyek Kriteria evaluasi: • • • 75% probability level untuk Economic Internal Rate of Return (EIRR) 75% probability level untuk Net Present Value of Benefit (NPVB) 75% probability level untuk Benefit-Cost Ratio 4-63 5. Dampak proyek terhadap distribusi pendapatan kepada penduduk tertinggal Kriteria evaluasi: • • • % (presentase) perubahan pada Gini Coefficient % (presentase) perubahan pada Poverty Ratio % (presentase) dari “project incremantal benefits” yang mengalir kepada keluarga miskin 4. Dampak proyek terhadap “foreign exchange” Kriteria evaluasi: • • Net foreign exchange savings Domestic Resources Cost 6. misalnya mempertahankan kondisi swa-sembada produksi beras dengan intensifikasi sistem produksi melalui peningkatan jaringan irigasi yang ada maupun perluasan jaringan irigasi melalui perluasan areal sawah beririgasi di luar Jawa. 4. dan menunjang program transmigrasi.4.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3. Tujuan evaluasi: menentukan dampak proyek terhadap penciptaan lapangan kerja Kriteria evaluasi: Biaya untuk menciptakan 1000 oranghari (mandays) lapangan kerja 7. yaitu yang berorientasi pada efisiensi ekonomi nasional maupun yang berorientasi non-ekonomis. Dampak proyek terhadap anggaran pemerintah.5 Penggunaan Model Investasi Pembangunan prasarana dan sarana sumber daya air khususnya jaringan irigasi di Indonesia bersifat ganda-tujuan (multi-objective). kriteria-kriteria pemilihan proyek dengan mana tujuan-tujuan tesebut LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Selain itu. mendorong program pembangunan daerah.

pengalaman dan kemampuan petani untuk memanfaatkan teknologi baru seperti jaringan irigasi teknis. dan menunjang program transmigrasi. Model Integer Goal Programming disarankan untuk dipakai dalam proses pemilihan proyek yang bersifat multi-objective dan multi-criteria. mendorong program pembangunan daerah. sehingga proyek hanya dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang ditentukan. faktor sosiopolitis: jumlah transmigran yang didukung. Model ini mampu menangani proses pemilihan proyek (irigasi) dengan karakteristik sebagai berikut: Multi-objective: economic/monetary objective seperti efisiensi ekonomi. faktor sosio-ekonomis: jumlah luas areal sasaran. seperti kesiapan penduduk untuk memanfaatkan areal pertanian yang baru dicetak. faktor-faktor sosio-teknis: kesiapan penduduk untuk memanfaatkan areal pertanian yang baru dicetak. pelaksanaan pembangunan/rehabilitasi jaringan irigasi mengalami permasalahan dalam penjadwalan. Multi-criteria. misalnya banyak proyek dibangun secara bersamaan tanpa menyadari terjadinya keterbatasan dana. dan non-monetary objective seperti menunjang program swa-sembada beras. pengalaman dan kemampuan petani untuk memanfaatkan teknologi baru seperti jaringan irigasi teknis. Oleh sebab itu pendekatan ekonomis semata seperti analisis Benefit-cost tidak lagi memadai. maka jika proyek dipilih akan diselesaikan dengan tuntas sehingga dihindari penyelesaian proyek yang parsial.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dievaluasi juga mencakup faktor-faktor sosio-teknis. dan faktor lingkungan: skore dampak lingkungan Penjadwalan proyek dalam kondisi keterbatasan dana: dengan digunakannya variabel 0 dan1. dan tingkat keberadaan luas sawah yang sudah ada pada daerah sasaran. Disamping itu. faktor teknis: kecocokan/kesuburan lahan. sehingga diperlukan pendekatan yang bersifat multi-objective dan 4-64 multi-critiria dalam proses pemilihan/penyaringan proyek. ketersediaan air. dan tingkat keberadaan luas sawah yang sudah ada pada daerah sasaran. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

Dapat digunakan untuk mengatasi masalah manajerial penjadwalan proyek. Dapat digunakan sebagai perangkat untuk mengidentifikasi ketidak pastian faktor-faktor sosio-teknis sehingga dapat diantisipasi upaya-upaya untuk meminimalkan ketidak pastian. misal jika dipilih tujuan efisiensi ekonomi sebagai prioritas maka akan terpilih proyek-proyek irigasi yang terletak di Jawa saja (karena dengan investasi yang tidak terlalu besar misalnya untuk rehabilitasi dan atau lanjutan pembangunan jaringan irigasi akan diperoleh nilai net 4-65 present value of benefit yang cukup tinggi). sebaliknya jika pencapaian areal irigasi baru atau dukungan atas program transmigrasi dipilih sebagai tujuan prioritas maka akan terpilih proyek-proyek irigasi yang terletak di luar Jawa. kapasitas petani dan jumlah areal yang sudah berupa sawah pada daerah sasaran. skenario pemilihan prioritas tujuan dan skenario pemilihan prioritas penggunaan kriteria. Demikian halnya untuk tujuan/objective dan kriteria-kriteria lainnya akan menghasilkan pilihan proyek dan pencapaian sasaran yang berbeda tergantung dari tujuan dan kriteria yang diprioritaskan. Dapat digunakan untuk “parametric analysis” untuk berbagai skenario ketersediaan dana.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dibandingkan dengan pendekatan tradisional Benefit-cost analysis. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . jika tujuan penambahan areal irigasi baru di luar Jawa atau dukungan atas program transmigrasi diberi prioritas maka akan diketahui “skor”/posisi masing-masing calon daerah irigasi dalam hal kesiapan petani. manfaat dari penggunaan dari model multi-objective-multi-criteria diantarnya adalah: Dapat digunakan untuk membuat simulasi “trade-off” untuk berbagai pilihan kebijakan pemilihan proyek. Dengan diketahuinya skor/posisi atas faktorfaktor sosio-teknis dapat diantisipasi uapaya penanganannya. misalnya dalam penjadwalan yang optimal yaitu memilih proyek dengan bulat dapat diselesaikan sesuai periode konstruksi proyek ditengah kendala dana yang tersedia. Misalnya.

4-66 4. sosio-ekonomi dari daerah sasaran Misalnya. sosio-teknis. sanitasi. sosio-politis. Pendekatan ini telah mengarah pada LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan kapan dukungan sarana produksi padi dan pelatihan untuk petani harus dimulai dan kapan pula transmigran mulai didatangkan ke daerah sasaran. instream-offstream. Dalam tahun-tahun belakangan ini. Mengingat bahwa sumber daya air menyangkut berbagai sektor pembangunan (multi sector).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Dapat dipakai sebagai perangkat untuk koordinasi antar sektor dengan diketahuinya jadwal dan kondisi faktor-faktor teknis. dan pembangunan jaringan sumber daya air lainnya. air dan lahan. air permukaan-air tanah. berkelanjutan (antar generasi). menyeluruh (hulu-hilir. fokus dan integrasi dari berbagai aspek serta sebagai saluran bagi umpan balik pengguna dan dalam pengembalian biaya. freshwater management and coastal zone management). kapan jaringan irigasi dimulai dan diselesaikan pembangunannya. maka perlu dikelola berdasarkan pendekatan peran serta (participatory approach) semua stakeholders dan segala keputusan publik tentang pengelolaan sumber daya air perlu didahului dengan konsultasi publik sebelum menjadi ketetapan. seperti penyediaan sarana air minum. Model ini dengan berbagai modifikasi dapat digunakan untuk pemilihan prasarana dan sarana lainnya yang mempunyai karakter multi-objective – multi – citreria. suatu pendekatan regional dalam perencanaan pengembangan sumber daya air telah diikuti untuk mengatasi konflik yang muncul dengan cepat pada penggunaan air dalam kaitannya dengan tata ruang wilayah. Pendekatan ini diperlukan untuk optimalisasi penggunaan sumber daya wilayah sungai karena dapat memberikan perhatian. kuantitas-kualitas.5 STRATEGI KELEMBAGAAN DAN KOORDINASI Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan secara terpadu (multi sektoral). berwawasan lingkungan (konservasi ekosistem) dengan wilayah sungai (satuan wilayah hidrologis) sebagai suatu kesatuan perencanaan dan pengelolaan.

yang bertanggung jawab kepada Pemerintah Provinsi. dan mengidentifikasi berbagai kegiatan untuk menghasilkan suatu pedoman pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Mengadakan seminar informal dan diskusi bulanan antara pihak pemerintah. 3.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA definisi batas wilayah sungai dan pembentukan Satuan Pengelola Teknis Wilayah Sungai. 2. harus dilakukan analisis kebutuhan air baik untuk saat ini maupun proyeksinya dimasa mendatang. Masukan-masukan dimaksud dapat dikelompokkan pada: • • • • Integrasi manajemen “freshwater/air tawar” dengan manajemen daerah pantai Integrasi manajemen air permukaan dan manajemen air tanah. Inggris atau Belanda) dan Asia Tenggara (Sarawak dan Malaysia) dan negara-negara lainnya. Integrasi manajemen lahan dan manajemen air. 5. Untuk merumuskan suatu perencanaan termasuk menyusun dokumentasi sumber daya air. 4-67 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . seperti seminar. untuk mensosialisasikan kegiatan proyek dan tujuannya. Dengan demikian perencanaan pengelolaan sumber daya air akan menjadi suatu program komprehensif pengembangan untuk jangka pendek dan jangka panjang. Menjabarkan kerangka kerja institusi pemerintah pusat dalam kegiatan manajemen sumber daya air. Definisi fungsi institusi di tingkat pemerintah pusat yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut: 1. seperti dari Eropa (Republik Checz. 4. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back) dalam Dewan Sumber Daya Air Nasional untuk menampung masukan dari instansi pemerintah dan lembaga non-pemerintah yang terkait dalam pengelolaan sumber daya air. Menjabarkan semua pihak yang terkait yang terlibat dalam manajemen sumber daya air dan menggunakan kerangka kerja pada tingkat WS. Menyiapkan mekanisme umpan balik (feed back). Integrasi aspek kuantitas dan kualitas dalam pengelolaan sumber daya air. juga dibutuhkan evaluasi terhadap alternatif kegiatan untuk memanfaatkan sumber daya air tersebut secara lebih baik. Hal ini juga diikuti dengan studi masalah.

integrasi kepentingan daerah hulu dan hilir. Daerah tangkapan air (catchment area). Daerah banjir. Pembuatan prinsip dan konsep peran institusi dan tanggung jawab mengenai: manajemen integrasi DAS dan daerah pantai.000.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • Integrasi keperluan yang terkait dengan air didaerah hulu dan didaerah hilir Masalah-masalah yang terkait dengan koordinasi dan legislasi sumber daya air. Pembagian institusi yang bertanggung jawab adalah sebagai berikut: LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . perlu dipersiapkan peta Indonesia skala 1: 1. 8. perencanaan. Menghindarkan terjadinya “overlapping” dan “gaps” dalam pengaturan tanggung jawab dan kawasan kerja pada lembaga-lembaga yang terkait dengan pengelolaan air yang ada maka diperlukan pemetaan wilayah kerja berdasarkan pembagian wilayah sungai. Daerah pantai. manajemen. integrasi manajemen lahan dan air. kontrol/pengendalian akses. penggunaan. propinsi. maka daerah aliran sungai (DAS) perlu dibagi berdasarkan area sebagai berikut: • • • • • • • • • • • • • Daerah aliran air bagian hulu. Alur sungai. Daerah aliran air bagian hilir. Daerah aliran air bagian tengah. 4-68 6. Mengklarifikasi pembagian tugas.000 yang menggambarkan kondisi batas Wilayah Sungai yang terbaru berdasarkan Permen PU No:11/M/2006. 7. fungsi dan yurisdiksi untuk koordinasi sektor-sektor yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya air pada tingkat nasional. kabupaten dan kecamatan serta batas kawasan kerja pihak-pihak yang terkait. Daerah pinggiran dataran banjir yang diatur (regulatory floodway fringe). Dataran banjir yang diatur. Untuk keperluan ini.

Informasi diatas digunakan untuk mengkoordinasi secara fungsional dan spasial antara sektor berikut: penyediaan air minum. 10. 4-69 9. air untuk wisata air. air untuk pembangkit listrik tenaga air. penegakan hukum. air irigasi/pertanian. pengendalian kualitas air. Mengadakan studi banding mengenai permasalahan integrasi sub-sistem sosial dan sub-sistem alam dalam pengelolaan terpadu sumber daya air. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan air untuk lingkungan. air industri. Identifikasi tugas institusi dalam menghadapi tantangan dalam pengelolaan sumber daya air yaitu antara lain: meningkatnya kebutuhan air. resolusi konflik. air perikanan. inventarisasi pengguna dan permohonan alokasi air. pengembangan sumberdaya manusia. dan sebagainya. masalah legislasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • • • • • • • • • • • • • • pengendalian penggunaan sumber daya air. 13. masalah institusi. 11. memperkirakan resiko yang mungkin terjadi. Merumuskan kekurangan infrastruktur pengolahan air limbah dan pengaturan aspek legal-nya untuk daerah perkotaan dan daerah urban. menurunnya kuantitas dan kualitas pasokan air. perencanaan pengembangan partisipasi publik. koordinasi pengembangan. evaluasi dan pengawasan. 12. masalah hukum. mengendalikan alokasi sumber daya air. Merumuskan kurangnya koordinasi antar institusi dalam hal penyediaan air untuk berbagai keperluan serta mengidentifikasi upaya-upaya untuk mengatasinya. menurunnya daya dukung lingkungan serta meningkatnya kepedulian atas kelestarian lingkungan. pengendalian alokasi keuangan dan pembiayaan.

meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 15. 22/1999) dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000. erosi dan sedimentasi. baik masalah kekurangan air. akan banyak memberikan perubahan-perubahan mendasar dalam sistem ketatanegaraan. yang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang PokokLAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 (sebagai pengganti UU No. Mengidentifikasi pilihan alternatif pemecahan masalah dengan pernyataan yang jelas tentang kelebihan dan kekurangannnya dari alternatif yang disiapkan. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 merupakan faktor pendorong untuk memberdayakan masyarakat. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 menempatkan otonomi daerah secara utuh pada daerah kabupaten dan daerah kota. Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota dan semua produk hukum yang isinya bertentangan dengan Peraturan perundang-undangan tersebut perlu untuk direvisi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 14. banjir serta kualitas air adalah termasuk upaya penanggulangan secara struktural dan non-struktural pengembangan sumber daya air dalam era otonomi daerah. maka untuk saat ini kedua produk hukum tersebut digunakan sebagai acuan untuk pembagian kewenangan antara Pusat. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas.6 PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DALAM ERA OTONOMI DAERAH Di dalam upaya penanggulangan masalah pengembangan sumber daya air. 4-70 4. Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (sebagai pengganti UU No 22/1999) dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai otonomi daerah. Menyiapkan kerangka kerja tugas dan fungsi koordinasi institusi yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air pada lembaga pemerintah dan pihak non-pemerintah yang terkait.

3. ditetapkan sebagai berikut: Tabel 4. Pelaksanaan otonomi daerah yang bertumpu pada otonomi daerah kabupaten dan daerah kota juga memberikan pengaruh yang besar terhadap pengelolaan sumber daya air. Pemerintah dan DPR telah mengeluarkan Undang-undang (UU) Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber daya air. Dalam UU SDA Pasal 5 dan Pasal 6 Tentang Pengelolaan Sumber daya air. UU SDA ini menggantikan Undang-undang yang berlaku sebelumnya. Berdasarkan prinsip keterpaduan tanpa mengurangi Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Sungai. Berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air. Daerah kabupaten dan kota tersebut berkedudukan sebagai daerah otonomi dan mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat di daerahnya. 2. Penetapan Pola dan Pelaksanaan Pengelolaan SDA Bupati/Walikota Gubernur (konsultasi dengan Dewan Daerah Sumber daya air) Menteri (konsultasi dengan Dewan Nasional Sumber daya air) Pemerintah (dengan persetujuan dan dilakukan bersama Pemerintah Daerah) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4. 4-71 satu Wewenang Penetapan Wilayah Sungai. Pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan seluas-luasnya peran serta masyarakat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pokok Pemerintah di Daerah. Pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan wilayah sungai. Pengelolaan sumber daya air meliputi kegiatan konservasi. 7 Tahun 2004. yaitu UU Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. disebutkan bahwa: 1. berkedudukan sebagai Kabupaten Daerah Tingkat II dan Kotamadya Daerah Tingkat II.16 Wewenang Pengelolaan dan Pelaksanaan Wilayah Sungai Wilayah Sungai Dalam satu Kabupaten/kota Lintas Kabupaten/Kota dalam Propinsi Lintas Propinsi Sungai Strategis Sumber: UU No.

Suatu pengelolaan kuantitas air dan kualitas air yang memadai akan menjadi penting bagi pembangunan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Pengelolaan sumber daya air memerlukan dukungan penuh dan terus-menerus dari institusi jajaran pemerintah propinsi/kabupaten/kota dan stakeholders. Kerangka kerja institusi harus mengatur koordinasi antara tingkat nasional. d. c. Selama proses masa transisi. Perencanaan harus menerapkan prinsip peningkatan fungsi dan daya dukung daerah aliran sungai sebagai sumber air dan manajemen daerah aliran sungai. tapi penegakan hukum dan peraturan mengenai kuantitas air dan kualitas air sampai sekarang masih kurang.1 Permasalahan dan Tantangan dalam Pengelolaan Sumber daya air Masalah khusus yang mendesak untuk pengembangan wilayah sungai terdiri atas terlalu banyak air dimusim hujan. terlalu sedikit air dimusim kemarau sedangkan air yang tersediapun sudah terlalu kotor yang menyangkut pengelolaan air permukaan. 4-72 4. Hal ini juga harus diterapkan tingkat Wilayah Sungai. dan kabupaten dalam manajemen sumber daya air maupun LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Peningkatan manajemen sumber daya air permukaan dan air tanah harus dalam kerangka kerja yang sama pada masing-masing Wilayah Sungai yang bersangkutan. pemerintah harus menjalankan perencanaan dan koordinasi pengembangan sumber daya air dengan tegas. air tanah dan kualitas air. Pemantauan telah dilakukan.6. propinsi. b. baik dari unsur pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah propinsi. termasuk para kelompok pengguna air di dalam pengelolaan sumber daya air. Masalah yang berkaitan dengan penggunaan air permukaan dan air tanah memperlihatkan perlunya pengelolaan bersama antara sumber air tanah dan air permukaan. Masalah dan tantangan yang perlu dikaji adalah sebagai berikut: a. Untuk itu diperlukan suatu terobosan berupa suatu kesepakatan operasional pelayanan sumber daya air yang mengikutsertakan para penanggung jawab operasional di lapangan.

PJT II. Bali Wilayah Sungai/BWS. h. Perencanaan dan koordinasi manajemen sumber daya air dan daerah aliran sungai pada wilayah sungai nasional dan wilayah sungai strategis dikoordinasikan oleh badan pemerintah pusat dengan partisipasi langsung pihak-pihak yang terkait (pengguna sumber daya air. Terdapat juga definisi kawasan kerja yang tidak konsisten pada departemen pemerintah. baik swasta maupun publik) pada setiap WS. Asosiasi profesional. dan tingkat administrasi. lembaga. 3) kabupaten. Departemen pemerintah. g. Sektor pengembang swasta. Organisasi non pemerintahan. yakni: 1) nasional (prioritas pada Wilayah Sungai nasional dan wilayah sungai strategis). 4) kecamatan/daerah tangkapan dan 5) desa/sub DAS yang kecil. Saat ini masih terdapat lembaga pemerintah yang mempunyai tugas yang sama pada perencanaan manajemen sumber daya air dan kawasan kerjanya. 2) propinsi (prioritas pada wilayah sungai propinsi atau lintas kabupaten dalam satu propinsi).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA mengatur koordinasi antar anggota stakeholders pada tingkat yang sama pada berbagi tingkatan yaitu tingkat nasional. provinsi dan wilayah sungai. f. Definisi pihak yang terkait atau pemangku kepentingan/stakeholders adalah: • • • • Lembaga pemerintah pusat yang terkait. Asosiasi perusahaan air minum Asosiasi pengguna air. Kerangka kerja institusi yang terkait harus terdiri dari 5 tahap. Organisasi pengelola wilayah sungai yaitu Balai Besar Wilayah Sungai/BBWS. 4-73 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . PJT I. Balai Pengelolaan SDA Propinsi • • • • • Sektor industri swasta. e. Bappenas seharusnya memulai untuk mengatur koordinasi batasan kawasan kerja.

Manajemen sumber daya air pada wilayah sungai lintas propinsi dan wilayah sungai strategis nasional akan dikoordinasikan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional dengan sekretariatnya dan struktur transisinya. pembaharuan (update). Manajemen informasi sumber daya air akan didirikan dan berada dibawah sekretariat. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Lembaga-lembaga pada tingkat propinsi. manajemen. Insitusi ini juga akan bertanggung jawab dalam penyebaran informasi kepada publik dan pengembangan sistem monitor untuk propinsi. tengah. DAS dan kabupaten. baik dari segi pasokan maupun kebutuhan. Melengkapi strategi sumber daya air nasional dan menyelaraskan dengan ketentuan dan peraturan sektor dan sub sektor yang ada. dan kabupaten. dan koordinasi finansial. n. Hal ini diperlukan untuk koordinasi antara tingkat pemerintah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA • • i. Petani dan asosiasinya. kabupaten. DAS dan kabupaten akan menggambarkan kondisi. m. propinsi. kecamatan dan desa dalam hubungannya dengan daerah hulu. Dalam perumusan program sumber daya air dan irigasi. pengembangan WS akan diuraikan oleh perencanaan strategi untuk WS. o. Pengembangan ini adalah digunakan untuk sistem pengawasan kinerja pemerintah dan sistem koordinasi manajemen informasi. k. 4-74 Prioritas identifikasi pengembangan wilayah sungai (WS) adalah pada WS tingkat nasional dan WS Strategis nasional. propinsi. l. hilir DAS dan daerah pantai yang ada. Nelayan dan asosiasinya. Kabupaten harus menyiapkan bahan perencanaan pembangunan kabupaten dengan prioritas pada kecamatan. Perencananan pengembangan pada tingkat kecamatan dibuat oleh pemakai air dan LSM. Bappenas bertanggung jawab dalam reformasi kebijakan pengelolaan sumber daya air dan membantu Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber daya air. DAS. diawali dengan penetapan pola dan rencana induk pengelolaan sumber daya air yang disetujui oleh Dewan SDA Nasional. diikutsertakan mengenai bidang pengawasan. j.

Kebutuhan air baku untuk non-irigasi makin meningkat sejalan dengan perkembangan penduduk. Masih lemahnya pengelolaan database sumberdaya alam.6. land subsidence. Dewan Sumber Daya Air Nasional bertanggung jawab dalam implementasi dan manajemen kebijakan pengelolaan sumber daya air nasional.1.1 Permasalahan dalam Pengelolaan Sumber daya air Wilayah Sungai di Pulau Jawa sebagian besar mengalami permasalahan yang sama yaitu: Kerusakan catchment area sehingga memberikan ancaman terhadap keberlanjutan daya dukung sumber daya air. 4-75 4. Regenerasi sumber daya manusia pengelola sumber daya air terancam tidak berlanjut. penurunan kapasitas pengaliran sungai dan penurunan kinerja prasarana pengendali banjir. Belum semua wilayah sungai memiliki masterplan. Penurunan kinerja infrastruktur sumber daya air. Kelangkaan air juga diperparah dengan menurunnya kondisi lingkungan dan makin meluasnya lahan kritis. Eksploitasi air tanah yang berlebihan mengakibatkan penurunan muka air tanah. Rendahnya kualitas pengelolaan hidrologi. permukiman dan industri. dan ketatalaksanaan. Meningkatnya potensi konflik pemanfaatan air. Banjir disebabkan oleh perubahan tata lingkungan. kelembagaan. Meningkatnya kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan. Telah terjadi kekeringan/defisit air (di musim kemarau). diperlukan adanya institutusi yang bersifat komprehensif untuk menjawab permasalahan yang berkembang.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA p. dan intrusi air laut. Pengaruh otonomi daerah dalam rangka pengelolaan sumber daya air LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Lemahnya koordinasi. Kualitas air buruk karena daya dukung sungai lebih rendah dibanding beban pencemaran.

yang berarti bahwa kabupaten/kota dituntut dapat lebih intensif mendayagunakan segala potensi yang ada secara bertahap agar mampu membiayai urusan rumah tangganya sendiri dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. industri. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Kepentingan Kabupaten/Kota. Pengaruh yang baik dan bermanfaat dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air dalam era otonomi daerah adalah munculnya budaya kompetisi yang sehat antar daerah untuk berusaha memajukan daerahnya masing-masing dengan memanfaatkan potensi yang ada di masing-masing daerah. 4-76 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . ada kecenderungan kabupaten/kota akan menguasai dan mengelola sumber daya air yang terdapat di daerahnya. Selain itu. dan lain-lain).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pada prinsipnya di satu sisi dapat memberikan dampak yang baik dan bermanfaat. terkait dengan pelaksanaan otonomi daerah: a. Dengan diterapkannya otonomi daerah. adanya otonomi daerah dapat menimbulkan permasalahanpermasalahan yang dapat menimbulkan konflik antar daerah dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air. Penguasaan atas sumber daya air ini didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut: 1) Sumber daya air merupakan unsur penting dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan sangat diperlukan untuk pemenuhan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Berikut ini diberikan berapa permasalahan yang sering muncul dalam pengelolaan sumber daya air. pariwisata. pemerintah kabupaten/kota juga akan berupaya untuk lebih mensejahterakan dan meningkatkan derajat kehidupan masyarakatnya sebagai konsekuensi dari tuntutan masyarakat dan tuntutan jaman. namun di sisi lain juga tidak menutup kemungkinan akan dapat menimbulkan konflik yang sebelumnya mungkin tidak pernah terjadi. 2) Sumber daya air sebagai komoditi ekonomi dapat dikembangkan dan dikelola untuk andalan pendapatan daerah (sebagai air baku. Di sisi lain.

Keuntungan yang timbul dari pemanfaatan air. Sebab dan akibat adanya banjir ini sangat dipengaruhi oleh kondisi tata ruang dalam wilayah sungai. Konflik akan terjadi bilamana wilayah sungai terdiri dari beberapa wilayah administratif baik kabupaten/kota atau bilamana wilayah sungai melalui lebih dari satu propinsi. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan Air Bersih. Alokasi pemanfaatan air. Pemilik sumber air (lokasi sumber). Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pemanfaatan tersebut. daerah ini berfungsi sebagai daerah konservasi tanah dan air. dengan catatan tidak didasari atas niat ingin menguasai dan hanya memikirkan daerah setempat saja. Masalah penanganan banjir secara komprehensif sangat tergantung oleh adanya keterpaduan pengelolaan daerah pengaliran sungai dalam satu wilayah sungai. perlu adanya pembagian dalam penataan ruang dari masingmasing kabupaten/kota untuk memperhatikan lokasi. fungsi dan wilayah sungai tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Daerah aliran sungai bagian atas (hulu). Jalur distribusi yang dilewati. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Banjir. Lokasi. b. fungsi dan sifat dimana daerah tersebut berada dalam wilayah sungai. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Konflik pemanfaatan air bersih dapat terjadi apabila tidak ada kesepakatan yang baik pada pemanfaatan langsung maupun tidak langsung yang terkait dengan: 1) 2) 3) 4) 5) c.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 3) Dengan menguasai dan mengelola sumber daya air akan mengurangi ketergantungan pada daerah lain. 4-77 Pertimbangan-pertimbangan tersebut apabila dikembangkan secara positif akan memajukan daerah dan menumbuhkan kompetisi yang baik. Oleh karena itu. kawasan lindung dan resapan air serta pengendalian terhadap erosi.

Lebih akan mempersulit pelaksanaan keterlambatan berdasarkan respon hidrologis dan upaya-upaya : keterlambatan dalam respon sosial (pembenahan bantaran (penentuan daerah rawan tingkat resiko) keterlambatan respon ekosistem (pembuatan daerah atau titik-titik/sumur resapan air). Selain sangat dipengaruhi oleh curah hujan. penyeimbangan/tradeoffs ini perlu diikuti upaya-upaya yang kondusif agar antara lain: penerimaan masyarakat atas hasil trade offs harus pelaksanaannya dimungkinkan dengan adanya institusi-institusi. banjir pertumbuhan penduduk. Langkah-langkah dijamin. migrasi-urban dan bertambahnya ekspektasi. pengalokasian. peraturanperaturan dan pembiayaan yang siap melaksanakan. daerah ini berfungsi sebagai daerah pengendalian banjir dan drainase serta pencegahan intrusi air laut. lanjut. kesemuanya itu harus diperhitungkan. dan direalisasikannya implementasi dengan menjamin insentip yang mencukupi dan disertai upayaupaya dibidang pendidikan. Hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah kejadian-kejadian pemicu-pemicu yang memerlukan penanganan khusus seperti langkah-langkah intervensi pemerintah dalam LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . masalah banjir juga terkait dengan ada tidaknya tindakan konservasi di daerah hulu dan untuk mengkoordinasikannya sangat sulit karena berhubungan dengan masalah tataguna lahan pada masing-masing daerah kabupaten/kota. Untuk itu diperlukan upaya-upaya khusus diantaranya dengan mengintegrasikan kepentingan hulu dan hilir serta diterapkannya prinsip ”hydrosolidarity”. Suatu daerah tangkapan air dapat dilihat sebagai socio-ecohydrological system dimana trade offs harus dibuat. Dalam upaya-upaya ini. keterlambatan dalam merespon sungai yang dimukimi penduduk). pendistribusian serta pengendalian banjir. penyimpanan. komplikasi dapat timbul seperti perubahan yang terus berlanjut dalam hal perubahan-perubahan yang didorong oleh penggunaan tanah dan modifikasi penggunaan air. daerah ini berfungsi sebagai daerah untuk pengumpulan. 4-78 3) Daerah aliran sungai bagian bawah (hilir).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 2) Daerah aliran sungai bagian tengah.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

memitigasi bencana yang terkait dengan air seperti kekeringan, tanah longsor dan pencemaran.

banjir,

4-79

Tiga arahan kunci menjiwai sistem manajemen yang diperlukan, yaitu: 1) menjamin layanan yang terkait dengan air kepada penduduk, 2) mencegah dan mengurangi degradasi ekosistem, dan 3) memperkirakan perubahan dan variabilitas iklim dan dampaknya. d. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan Air Irigasi. Guna memenuhi kebutuhan pangan, pemanfaatan air untuk irigasi saat ini masih sangat diperlukan dan masih dominan. Berkaitan dengan hal tersebut, peningkatan kebutuhan air non irigasi akan menyebabkan alokasi pemenuhan kebutuhan air irigasi menjadi berkurang, disisi lain, kebutuhan air irigasi juga cenderung berkurang seiring dengan pengurangan lahan irigasi karena adanya perubahan pemanfaatan lahan. Mengingat air yang terbatas, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan konflik antar pengguna air. Oleh karena itu, perlu adanya kesepakatan dalam hal alokasi air dan pola tanam yang diterapkan. e. Permasalahan dalam Kaitannya dengan Kelembagaan. Berbagai instuisi selama ini telah melakukan pengelolaan sumber daya air. Pada waktu sumber daya air masih berupa uap air/embun, BMG merupakan instuisi yang berwenang dan bertanggung jawab dalam melakukan pengelolaan dan pencatatan. Sedangkan sumber daya air yang sudah berada pada badan air, yang berupa sungai atau danau sebagai air permukaan dikelola oleh Departemen Pekerjaan Umum/cq. Ditjen Sumber Daya Air. Selanjutnya, sumber daya air yang berupa air tanah yang berada di bawah permukaan tanah dikelola oleh Departemen Pertambangan dan Energi. Sementara itu, untuk air di laut instuisi pengelolanya adalah Departemen Kelautan dan Perikanan. Mengingat sifat kontinuitas sumber daya air, sementara institusi pengelolanya relatif terpisah, oleh karenanya diperlukan suatu koordinasi yang baik diantara para unsur pengelolaannya.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

Pengelolaan sumber daya air melibatkan banyak stakeholders yang seringkali 1) 2) 3) 4) 5) tidak mudah untuk mengkoordinasikannya dan ada kecenderungan sering terjadi egoisme sektoral dengan implikasi: Menitikberatkan pada kepentingan masing-masing sektor, Merencanakan dan melaksanakan pengelolaan sesuai kebutuhannya sendiri, Membuat peraturan sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan masingmasing sektor, Menyebabkan terjadinya tumpang tindih tanggung jawab dan wewenang instuisi, Menyebabkan kurang terintegrasinya tataguna ruang dan tata air. lembaga-lembaga

4-80

Dalam pelaksanaannya, instansi pemerintah termasuk

penelitian dan Perum yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air cukup banyak, yaitu Departemen-departemen Pertanian, Kehutanan, Perhubungan, ESDM, Pekerjaan Umum, Perindustrian, Dalam Negeri, Keuangan, Kelautan dan Perikanan, Kesehatan, Sosial, Kementerian Negara PPN/BAPPENAS, Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Kantor Menko Perekonomian, Kantor Menko KESRA, BPN, BMG, BAKORNAS PBP, BPPT, LAPAN, LIPI, BAKOSURTANAL, PT. PLN, PJT I, dan PJT II. Permasalahan yang sering timbul adalah mengenai batasan kewenangan antar lembaga pengelola SDA dalam pengelolaan sumber daya air masih belum jelas dan belum ada juklak dan juknis yang mengaturnya, terkait dengan Implementasi PP No. 25 Tahun 2000 atau peraturan pemerintah penggantinya.

4.6.1.2 Tantangan dalam Pengelolaan Sumber daya air a. Meningkatnya eksploitasi Sumber daya air demi mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sumber pendapatan daerah ketentuannya terdapat dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah yang menyatakan

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

bahwa salah satu sumber pendapatan daerah berasal dari Pendapatan Asli Daerah, yang meliputi: • • • • hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, lain-lain pendapatan daerah yang sah.

4-81

Sebagai daerah otonomi yang memiliki kewenangan sendiri untuk mengurus daerahnya, terkadang pemerintah daerah dalam mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) baik yang berupa pajak maupun retribusi daerah, seringkali tidak memperhatikan pengaruhnya terhadap daerah lain. b. Ego sektor berubah menjadi ego daerah Akibat dari pengelolaan sumber daya air menyangkut multi sektor, maka pengelolaan sumber daya air akan melibatkan banyak stakeholders yang tidak mudah untuk mengkoordinasikannya sehingga ada kecenderungan terjadinya egoisme sektoral dengan implikasi mengutamakan pada kepentingan masing-masing sektor. Dari ego sektor tadi kemudian berubah menjadi ego daerah dengan implikasi merencanakan dan melaksanakan pengelolaan sumber daya air sesuai kebutuhan daerahnya sendiri tanpa memikirkan daerah lain yang terkadang air sungai tersebut juga mengalir atau melewati daerah lain. c. Masalah Pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai tidak mengenal batas administratif Pembinaan maupun pengelolaan atas air dan atau sumber air pada suatu wilayah sungai batasannya adalah wilayah sungai (batasan hidrologis) bukan batasan administrasi. Sering terjadi permasalahan suatu sumber air terletak pada wilayah administrasi yang berbeda dengan pengguna sumber air tersebut. Permasalahan tersebut biasanya dapat diselesaikan antar instansi pemerintah namun sulit untuk level masyarakat. Sehingga diperlukan adanya koordinasi dan pengaturan atas sumber daya air yang

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

6. tanggal 17 Juli 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Wilayah Sungai. • • • • • Tujuan pengelolaan dari Adhoc (khusus) menjadi need driven.2 Organisasi dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No:12/PRT/M/2006. 2) Pengembangan kerjasama antar lembaga dan daerah. tanggal 17 Juli 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Wilayah Sungai. karena bagaimanapun juga masyarakat merupakan pihak yang terlibat langsung dalam pemanfaatan dan penggunaan air tersebut. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS)/Balai Wilayah Sungai (BWS) adalah unit pelaksana teknis di bidang konservasi sumber daya air. dengan mempertimbangkan: 1) Perubahan paradigma. pendayagunaan sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA adil dan merata secara jelas dan tegas serta memberikan informasi yang transparan bagi masyarakat setempat. Lingkup pengelolaan dari orientasi proyek menjadi program terpadu. kawasan konservasi dan pengendalian pencemaran. Kerjasama berbasis proyek untuk penanganan masalah sejenis yang dihadapi bersama. Filosofi pengelolaan dari menghindari hukum menjadi melakukan sesuai hukum. • • • Penanganan wilayah perbatasan. Kerjasama dalam pemberian perijinan untuk kegiatan-kegiatan pemanfaatan SDA dan pemanfaatan ruang. pengembangan sumber daya air. diperlukan upaya-upaya pengelolaan sumber daya air yang lebih terpadu. dan PERMEN PU No:13/PRT/M/2006. Pola pengelolaan dari reaktif menjadi proaktif. Sehubungan dengan permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air seperti yang disampaikan diatas. Sistem pengelolaan dari rigid menjadi fleksibel. 4-82 4.

g. melaksanakan ketatausahaan Balai Besar/Balai Wilayah Sungai. i. Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. d. melaksanakan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan SDA. melaksanakan operasi dan pemeliharaan SDA pada wilayah sungai. e. pengembangan SDA. b. Bidang Operasi dan Pemeliharaan. d. 4-83 Balai Besar Wilayah Sungai terdiri dari 2 (dua) tipe. b. melaksanakan penyiapan rekomendasi teknis dalam pemberian ijin atas penyediaan. pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. penggunaan dan pengusahaan SDA pada wilayah sungai. f. peruntukan. melaksanakan pengelolaan SDA yang meliputi konservasi SDA. melaksanakan penyusunan pola dan rencana pengelolaan SDA pada wilayah sungai. yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Sumber Daya Air. pelaksanaan konstruksi. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. j. Dalam melaksanakan tugasnya BBWS/BWS menyelenggarakan fungsi: a. e. Bagian Tata Usaha. Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. melaksanakan penyusunan rencana dan pelaksanaan pengelolaan kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai. pengembangan SDA. h. yaitu: 1) BBWS Tipe A yang terdiri dari: a. Bidang Program dan Evaluasi. BBWS/BWS mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan sumber daya air (SDA) yang meliputi perencanaan. melaksanakan fasilitasi kegiatan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air pada wilayah sungai. melaksanakan pengelolaan sistem hidrologi. operasi dan pemeliharaan dalam rangka konservasi SDA. melaksanakan penyelenggaraan data dan informasi SDA. c. c. pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai.

TIPE A Balai Besar Wilayah Sungai Brantas Balai besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Balai Besar Wilayah Sungai pemali – Juana Balai Besar Wilayah Sungai Serayu – Opak Balai Besar Wilayah Sungai CimanukCisanggarung TIPE B Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy TIPE A BWS Cidanau – Ciujung – Cidurian BWS Ciliwung – Cisadane BWS Citarum TIPE B Serang Jakarta Bandung Wilayah Sungai Cidanau – Ciujung – Cidurian Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane Wilayah Sungai Kep. Tabel 4. b. c.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA f. 1. Seksi Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. Subbagian Tata Usaha. e. Yogyakarta 5. d. Seksi Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. 3. Kelompok Jabatan Fungsional. Kelompok Jabatan Fungsional. c. 3. yaitu: 1) Balai Wilayah Sungai Tipe A terdiri dari: a. 6. I. 2. II. Bidang Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. NAMA BALAI LOKASI WILAYAH KERJA Balai Besar Wilayah Sungai I. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 4-84 3) BBWS Tipe B yang terdiri dari: a. Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. b. - Cirebon Banjar Balai Wilayah Sungai Balai Wilayah Sungai terdiri dari 2(dua) tipe. Seribu Wilayah Sungai Citarum Surabaya Surakarta Semarang Wilayah Sungai Brantas Wilayah Sungai Bengawan Solo Wilayah Sungai Pemali – Comal Wilayah Sungai Jratun Seluna Wilayah Sungai Serayu – Bogowonto Wilayah Sungai Progo– Opak– Serang Wilayah Sungai Cimanuk – Cisanggarung Wilayah Sungai Citanduy 4. Bagian Tata Usaha. 17 Balai Besar Wilayah Sungai & Balai Wilayah Sungai di Pulau Jawa NO. Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air. 2. II. 1.

Urusan irigasi lintas kabupaten/kota. Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air/Pengairan Tingkat Propinsi berperan sebagai penanggung jawab pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai yang menjadi kewenangan Propinsi yang bersangkutan (wilayah sungai propinsi) yang diwujudkan manifestasinya pada usaha-usaha pembinaan teknis dan pengawasan teknis maupuan pelaksanaan fisiknya. Seksi Perencanaan dan Operasi Pemeliharaan. d. c. 5. b. Penyediaan air baku untuk berbagai keperluan. Untuk membantu dinas tingkat propinsi dalam pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersifat lintas kabupaten/kota masih dalam satu propinsi (wilayah sungai propinsi) diperlukan Balai Pengelolaan Sumber daya air Propinsi (Balai PSDA Propinsi) yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 179/1997 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA. 4-85 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Subbagian Tata Usaha. Seksi Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air. 2) Balai Wilayah Sungai Tipe B terdiri dari: a. 4. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Tingkat Kabupaten/Kota berperan sebagai penanggung jawab pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai yang menjadi kewenangan Kabupaten/Kota yang bersangkutan (wilayah sungai Kabupaten/Kota) yang diwujudkan manifestasinya pada usaha-usaha pembinaan teknis dan pengawasan teknis maupuan pelaksanaan fisiknya. Seksi Pelaksanaan Jaringan Sumber Air dan jaringan Pemanfaatan Air. Tugas utama Balai PSDA Propinsi adalah melaksanakan sebagian fungsi dinas di bidang pengelolaan sumber daya air. Pengendalian banjir dan penanggulangan kekeringan. e. Rawa. Sungai. yang meliputi 9 (sembilan) urusan yaitu: 1. 2. waduk. Kelompok Jabatan Fungsional. situ dan embung. Kelompok Jabatan Fungsional.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA d. Danau. 3. 6.

dll). perlindungan pantai dan muara. 8. embung. galian golongan C. Dalam rangka melaksanakan tugas sembilan urusan seperti tersebut di atas. Pelaksanaan operasional pelayanan kepada masyarakat di bidang pengairan (rekomendasi teknis perijinan pengambilan air. Pemeliharaan muara sungai dan delta. Pelaksanaan operasional konservasi/pelestarian sumber (pengendalian pencemaran air. kelestarian situ. pemeliharaan infrastruktur pengairan dll). penanggulangan kekeringan. 9. Perlindungan pantai. Pengendalian pencemaran air. delta. Balai PSDA mempunyai 3 fungsi utama sebagai berikut: 1. air dan irigasi lintas air kabupaten/kota. 3. pengendalian banjir.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA 7. Pelaksanaan pelayanan teknis administratif ketatausahaan (urusan keuangan. 4-86 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 2. pengelolaan rawa. alokasi air. kepegawaian dan perlengkapan). waduk.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-1 5. Dengan melakukan pemantauan perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan dapat diikuti dengan bagik guna menjamin konsistensi antara pelaksanaan dengan rencana yang telah ditetapkan. tujuan. pengawasan. Kegiatan pengendalian meliputi kegiatan pemantauan.1 5. kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan rencana pembangunan dapat dinilai dan dipelajari untuk perbaikan pelaksanaan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . efektifitas. dan tindakan lanjut. Serangkaian kegiatan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. dan kemanfaatan program serta keberlanjutan pembangunan. mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan korektif sedini mungkin. Pemantauan merupakan bagian dari kegiatan pengendalian untuk mengamati/meninjau kembali serta mempelajari dengan cermat yang dilakukan secara terus menerus atau berkala terhadap pelaksanaan rencana pembangunan yang sedang berjalan.1. Pengendalian dilakukan dengan maksud untuk dapat menjamin bahwa pelaksanaan rencana pembangunan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.2 Evaluasi Evaluasi adalah kegiatan penilaian kinerja yang diukur dengan efisiensi.1 INDIKATOR PEMANTAUAN DAN EVALUASI Pemantauan Pemantauan adalah melihat kesesuaian pelaksanaan perencanaan dengan arah. Evaluasi kinerja pelaksanaan rencana pembangunan dilaksanakan terhadap keluaran kegiatan yang dapat berupa barang dan jasa dan terhadap hasil (outcomes) program pembangunan yang berupa dampak dan manfaat.1. 5. Evaluasi dilakukan dengan maksud untuk dapat mengetahui dengan pasti apakah pencapaian hasil. dan ruang lingkup yang menjadi pedoman dalam rangka menyusun perencanaan berikutnya.

hasil (result). (ii) indikator keluaran. Evaluasi ini diarahkan untuk melihat apakah pencapaian (keluaran/hasil/dampak) program mampu mengatasi masalah pembangunan yang ingin dipecahkan. Dalam melaksanakan evaluasi kinerja proyek pembangunan. dibuat perangkat evaluasi yang dapat diukur melalui penyusunan indikator dan sasaran kinerja pelaksanaan rencana yang meliputi. (i) indikator masukan. dan (iii) indikator hasil/manfaat. Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang tercantum dalam dokumen rencana pembangunan. Indikator dan sasaran kinerja mencakup masukan (input). manfaat. keluaran (output). ataupun manfaat (dampak terhadap kebutuhan) dari suatu program. Evaluasi pelaksanaan rencana adalah bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran. 5-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Fokus utama evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan diarahkan kepada hasil. Di dalam opersionalnya. evaluasi sering digunakan untuk menunjukkan tahapan siklus pengelolaan rencana pembangunan yang mencakup: (i) Evaluasi pada Tahap Perencanaan (EX-ANTE). baik Pusat maupun Daerah. setiap Kementerian/Lembaga. dan dampak dari rencana pembangunan. efektivitas (hasil dan dampak terhadap sasaran). Kementrian/Lembaga. berkewajiban melaksanakan pembangunan merupakan dan atau terkait dengan fungsi dan tanggungjawabnya. dan transparan. dan (iii) Evaluasi pada Tahap Pasca-Pelaksanaan (EX-POST). evaluasi sering digunakan untuk memilih dan menentukan skala prioritas dari berbagai alternatif dan kemungkinan cara mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Pada tahap pelaksanaan. serta akuntabel. Pada prinsipnya. manfaat (benefit) untuk dan dampak (impact). efektif. Evaluasi ini dilakukan setelah program berakhir untuk menilai efisiensi (keluaran dan hasil dibandingkan masukan). evaluasi Dalam kinerja rangka perencanaan yang pembangunan. tujuan dan kinerja pembangunan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI rencana pembangunan di masa yang akan datang. untuk menciptakan proses dan kegiatan perencanaan yang efisien. (ii) Evaluasi pada Tahap Pelaksanaan (ON-GOING). evaluasi digunakan untuk menentukan tingkat kemajuan pelaksanaan rencana dibandingkan dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Pada tahap perencanaan.

Adapun tahapan yang dimaksud sesuai dengan siklus tersebut adalah sebagai berikut: 1 Olsen. et al.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI baik Pusat maupun Daerah.. Untuk itu diperlukan indikator sebagai perangkat dalam memantau proses pengelolaan yang dilakukan. dan ukuran yang sesuai untuk masing-masing jangka waktu sebuah rencana. 2006 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kerangka praktis untuk menyusun indikator-indikator untuk pemantauan dan hasilnya (outcomes) secara konseptual dapat dibagi dalam 4 (empat) kelompok yang berbeda1 setiap kelompok mewakili kemajuan dari beberapa tahapan/langkah dari siklus proses ini. Visi Pemantauan Assessment Implementasi Lingkungan yang Menunjang Kerangka Institusi Instrumen Managemen Strategi Rencana IWRM Gambar 5. mengikuti pedoman dan petunjuk pelaksanaan evaluasi kinerja untuk menjamin keseragaman metode. materi. arah pemantauan dan evaluasi yang dilakukan juga terkait dengan visi dan rencana yang ditetapkan. 1 Siklus Pengelolaan Terpadu SDA (IWRM).1.3 Indikator dalam Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air 5-3 Sejalan dengan pengelolaan sumber daya air terpadu yang dikenal dengan Integrated Water Resources Management (IWRM). 5.

Kondisi tersebut adalah landasan-landasan untuk kemajuan yang lebih lanjut dan reformasi dalam Pengelolaan Terpadu SDA. A. tetap merupakan dokumen-dokumen statis dan kehendak baik saja. : Kondisi yang menunjang untuk IWRM. : Proses reformasi IWRM telah berdampak BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-4 : Isu/permasalahan kunci sumber daya air telah : didapatkannya penggunaan air yang adil dan dengan keseimbangan yang berlanjut pada aspek ekonomis dan Sepanjang proses reformasi kebijakan pengelolaan SDA mantap. Pada tahap ini kita membahas “kondisi-kondisi dasar untuk reformasi perubahan-perubahan telah ditetapkan”. standar-standar dan kemauan politis untuk melaksanakan rencana-rencana. maka secara alamiah fokus reformasi akan bergerak dari tahapan yang pertama menuju ke tahapan yang berikutnya. Tahap Kedua 3. misalnya “Kebijakan Pengelolaan SDA yang telah disepakati”. “Peraturan-perundangan yang telah ditetapkan:. Tahap ketiga mulai diselesaikan 4. Pendanaan yang diperlukan tersedia. peraturan-peraturan. Tahap ke Empat lingkungan. Tahap Pertama 2. perundangan. Indikatorindikator pada Tahap Pertama dapat berupa. Adanya kebijakan. tetapi dapat. Namun berjhubung proses ini merupakan suatu siklus. Kondisi-kondisi ini termasuk item-item seperti: • • • Kepedulian dan partisipasi pemangku kepentingan (stakeholders). Indikator Outcome Tahap Pertama Kelompok indikator-indikator ini adalah pengukur kondisi yang menunjang (enabling conditions) yang telah dihasilkan suatu waktu tertentu yang ditentukan dalam pemantauan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dalam hal terburuk.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 1. dan sebagainya. maka selalu perlu pertimbangan kembali aspekaspek tahap awal.

Beberapa diantaranya adalah. penyedotan air tanah yang berlebihan. Pada tahap ini kita membahas tentang “perubahan pada system LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dsb-nya. Indikatorindikator Tahap Kedua dapat diformulasikan sebagai “pengaturan alokasi air telah ditegakkan”. dan standarstandar serta peningkatan kapasitas telah mulai menunjukkan hasilnya dan staf dari instansi pengelola SDA semakin mengkoordinasikan penggunaan air secara lintas sector dan mulai menggunakan instrument managemen IWRM. aliran sungai yang tercemar. Efisiensi dalam menangani isu/permasalahan kunci perlu mendapat perhatian. ekonomi. Instansiintansi pengelola SDA mulai bekerja berdasarkan prinsip-prinsip baru (IWRM). “assessment tentang kapasitas telah ditetapkan”. C. bencana banjir dan kekeringan yang menimbulkan kerugian besar. Pada tahap ini kita membahas tentang “perubahan nyata dalam perilaku manajemen telah terjadi”. dimana perubahan-perubahan dalam cara para “pengelola SDA” pada setiap tingkatan melaksanakan pengelolaan SDA mulai berdampak. koheren dan diharmoniskan dengan konteks/kondisi hidrologis. dan sebagainya. Indikator Outcome Tahap Ketiga Prinsip dan proses IWRM dilaksanakan dengan tujuan langsung menangani akar penyebab isu/ permasalahan kunci sumber daya air yang relevan kepada dan diidentifikasi sendiri oleh stakeholders sumber daya air setempat. degradasi fungsi hidrologi daerah tangkapan air Daerah Aliran Sungai. dan kerangka IWRM harus konsisten. geographis setempat. komunikatif.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA B. Hal ini dapat berupa misalnya. konflik kebutuhan air. dan sebagainya. “pemberdayaan stakeholders untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan telah dimulai”. inklusif. proses harus beoperasi dalam system tata penyelenggaraan yang baik (good governance) diataranya transparan. Indikator Tahap Ketiga ini akan mengukur kemajuan menuju diselesaikannya penyebab-penyebab isu/permasalahan kunci dan pengurangan dampak negatif-nya. akuntabel. sedimentasi pada waduk-waduk yang mengurangi kapasitas tampung dan umur waduk. undang-undang baru (UU tentang Sumber Daya Air No 7/2004). Indikator Outcome Tahap Kedua BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-5 Indikator-indikator ini akan menjadi pengukur pelaksanaan aktual proses reformasi. social. terbuka.

Dalam prakteknya. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya melaksanakan pengawasan dengan melibatkan peran masyarakat. 7 Tahun 2004 lingkup kegiatan pengawasan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air diatur sebagai berikut: 1. 3. yang memerlukan keseimbangan yang dinamis diantara kedua kualitas sosial dan lingkungan. beberapa pasang indikator-indikator (Tahap ke Empat) akan menambah dimensi tentang keseimbangan yang berkelanjutan. pembentukan indicatorindikator pada tahap ini memerlukan tinjauan yang menyeluruh atas factor-faktor pembangunan dari aspek-aspek ekonomi. 5.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI pengelolaan dan perilaku telah menghasilkan perubahan positif pada alam dan masyarakat. Untuk menjamin tercapainya tujuan pengelolaan sumber daya air diselenggarakan kegiatan pengawasan terhadap seluruh proses dan hasil pelaksanaan pengelolaan sumber daya air di setiap wilayah sungai. Sementara indikator-indikator Tahap ke Tiga melihat tingkat sejauh mana tujuan-tujuan pokok dicapai. 2. lingkungan dan sosial dalam rangka meng-isolasi dampak upaya-upaya pelaksanaan IWRM pada tahap ini dan kita pada tahap ini belum mampu memberikan daftar dari contoh-contoh yang memadai. Peran masyarakat dalam pengawasan dilakukan dengan menyampaikan laporan dan/atau pengaduan kepada pihak yang berwenang. tujuan akhir dari implementasi reformasi IWRM adalah “pembangunan yang dari aspek ekonomis dan lingkungan berkelanjutan serta berkeadilan”.2 RUANG LINGKUP PENGAWASAN DAN PEMANTAUAN Dalam UU Sumber Daya Air No. Indikator Outcome Tahap Keempat 5-6 Pada akhirnya. 4.” D. Pemerintah menetapkan pedoman pelaporan dan pengaduan masyarakat dalam pengawasan pengelolaan sumber daya air.

penyempurnaan. pengaduan. atau gugatan kepada pihak yang berwenang dalam pengelolaan sumber daya air. Pengawasan atas penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air ditujukan untuk menjamin tercapainya kesesuaian dalam substansi pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. Pihak yang berwenang wajib menindaklanjuti laporan hasil pengawasan. 3. Pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk laporan. dan kesusaian dengan semua ketentuan yang berlaku termasuk ketentuan administratif dan keuangan. 5. dalam bentuk peringatan. instansi berwenang. 2. 5-7 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Penyelenggaraan pengawasan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 4. dan bentuk-bentuk tindakan lainnya dalam rangka memperbaiki dan menyempurnaan penyelengaraan pengelolaan sumber daya air. pemberian sanksi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Lebih rinci lagi tentang kewenangan atas kegiatan pengawasan dalam pengelolaan sumber daya air dan pelibatan masyarakat diatur sebagai berikut: 1. dan masyarakat. Laporan hasil pengawasan merupakan bahan/masukan bagi perbaikan. dan peningkatan penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air 6. Penyelenggaraan pengawasan yang dilakukan oleh pengelola sumber daya air.

c. 3. pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu. 2. pengaturan daerah sempadan sumber air. dan kawasan pelestarian alam.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5. 4. pengisian air pada sumber air. h. d. perlindungan f.3 RUANG LINGKUP PENGAWASAN DALAM PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN SUMBER AIR 5-8 Perlindungan dan pelestarian sumber air terdiri dari beberapa komponen. sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air. pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air. pengaturan prasarana dan sarana sanitasi. e. rehabilitasi hutan dan lahan. Perlindungan dan pelestarian sumber air dapat dilakukan dengan kegiatan konstruksi dan non-konstruksi. pemantauan. kawasan suaka alam. b. salah satu bagiannya adalah kegiatan pengawasan yang melibatkan instansi yang berwenang dan juga partisipasi masyarakat yang dapat didefinisikan sebagai berikut: 1. Pemantauan dan pengawasan terhadap dampak ini dilakukan untuk mengevaluasi terhadap izin yang diberikan. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan melalui : a. dan/atau pelestarian hutan lindung. Pemantauan dan pengawasan dilakukan tidak hanya pada kepatuhan terhadap syarat-syarat perizinan tetapi juga terhadap dampak yang terjadi setelah kegiatan yang diizinkan dilaksanakan. dan pengawasan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan melalui perizinan. pengendalian pemanfaatan sumber air. g. Kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan dengan mengutamakan kegiatan yang lebih bersifat non-konstruksi.

6. Pemerintah atau pemerintah daerah melibatkan peran masyarakat. 7. dimaksud LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Yang dimaksud dengan “tempat-tempat penampungan air”.4 Dalam RUANG LINGKUP PENGAWASAN DALAM ASPEK PEMBIAYAAN aspek pembiayaan juga terdapat pembiayaan untuk kegiatan pengawasan sebagaimana dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1. biaya sistem informasi. Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan perlindungan dan pelestairan sumber air dapat berupa: a. Pelaksanaan pemantauan dan pengawasan dimaksud dapat ditugaskan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya kepada pengelola sumber daya air. biaya perencanaan. misalnya situ. Dalam melaksanakan perlindungan dan pelestarian sumber air dimaksud . Pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya dalam rangka perizinan b. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya mempertahankan keberadaan tempat-tempat penampungan air dan kearifan lokal.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5. b. Dalam melaksanakan perlindungan dan pelestarian sumber air dimaksud. biaya pelaksanaan konstruksi. dan tempat-tempat yang mempunyai fungsi menampung air sementara (retarding basin). Dana yang dibutuhkan dalam pengelolaan sumber daya air mencakup jenis pembiayaan untuk kegiatan: a. 8. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. Pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan pemantauan dan pengawasan. 5-9 5. embung. c.

Untuk melaksanakan pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah perlu dikembangkan sistem pelaporan akuntabilitas kinerja yang mencakup indicator. Setiap instansi pemerintah sampai tingkat eselon II harus mempunyai Perencanaan Strategik tentang program-program utama yang akan dicapai selama 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahunan. 2. evaluasi. Yang dimaksud dengan biaya pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. upaya-upaya peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. 2. berhasil guna. dan bertanggung jawab. uraian tentang tujuan. 3. e. misi. misi dan tujuan organisasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA d. evaluasi. uraian tentang cara mencapai tujuan dan sasaran tersebut. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . metode. uraian tentang visi. bersih. biaya pemantauan. Perencanaan strategic dimaksud mencakup: 1.5 MEKANISME PEMANTAUAN Dalam rangka lebih meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang berdaya guna. 5. Instruksi presiden ini memandang perlu adanya pelaporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah untuk mengetahui kemampuannya dalam pencapaian visi. dan pemberdayaan masyarakat. antara lain pelatihan untuk kelompok masyarakat pemakai air. mekanisme dan tata cara pelaporan kinerja instansi pemerintah. telah diterbitkan Instruksi Presiden RI No. strategidan factor-faktor kunci keberhasilan organisasi. 7/1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. serta biaya untuk pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. sasaran dan aktivitas organisasi. evaluai dan pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. biaya operasi dan pemeliharaan. Biaya pemantauan. dan pemberdayaan masyarakat merupakan biaya yang dibutuhkan untuk pemantauan BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 5-10 dimaksud.

Pengelolaan ini dilakukan melalui LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . untuk menjamin tercapainya tujuan pengelolaan sumber daya air. yaitu. Pengawasan masyarakat. Dalam konteks sumber daya air. Masyarakat akan berperan untuk menyampaikan laporan dan pengaduan kepada pihak yang berwenang dimana cara penyampaian laporan dan pengaduan ini ditetapkan oleh pemerintah melalui suatu pedoman. 2. Pengawasan fungsional. pengawasan yang dilakukan oleh menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam melalui kegiatan-kegiatan pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah. yaitu. pengawasan dimaksudkan untuk mengamati perkembangan pelaksanaan baik dari aspek substansi maupun aspek prosedural. pengujian. pengawasan yang dilakukan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga/SKPD sesuai dengan tugas dan kewenangannya. dan penilaian. 3. diselenggarakan kegiatan pengawasan terhadap seluruh proses dan hasil pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada setiap wilayah sungai. Pengelolaan sumber daya air mencakup kepentingan lintas sektoral dan lintas wilayah yang memerlukan keterpaduan tindak untuk menjaga kelangsungan fungsi dan manfaat air dan sumber air. Kegiatan ini dilakukan oleh pemerintah bersama pemerintah daerah sesuai wewenang dan tanggung jawabnya dengan melibatkan masyarakat. Pengendalian rencana pelaksanaan rencana pembangunan koreksi dan dimaksudkan penyesuaian untuk selama masyarakat. Selanjutnya. kegiatan pengawasan dapat diklasifikasikan ke dalam 3(tiga) ketegori.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Sementara itu. Dalam implementasinya. Menteri/Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya. 1. Pengawasan melekat. pengawasan yang yang dilakukan tugas dan oleh fungsi 5-11 Lembaga/Badan/Unit organisasi mempunyai pengawasan melalui pemeriksaan.

Koordinasi yang disebut di atas dilakukan oleh Dewan SDA atau nama lain sebagai suatu wadah koordinasi dengan tugas pokoknya menyusun dan merumuskan kebijakan serta strategi pengelolaan sumber daya air. Setiap kegiatan atau program yang dilaksanakan oleh masing-masing balai atau instansi maupun pihak yang berkepentingan (stakeholder) di satu wilayah sungai harus dilengkapi dengan laporan pengawasan yang formatnya ditentukan menggunakan suatu pedoman bersama yang dibuat oleh pemerintah. Laporan ini akan didampingi oleh laporan pengawasan dan pengaduan yang dibuat oleh masyarakat. Koordinasi pada tingkat nasional dilakukan oleh Dewan SDA Nasional yang dibentuk pemerintah. dan untuk wadah koordinasi pada wilayah dapat dibentuk sesuai kebutuhan pengelolaan di wilayah sungai bersangkutan. wilayah dan para pemilik kepentingan (stakeholder). Dewan ini sendiri beranggotakan unsur pemerintah dan unsur nonpemerintah dalam jumlah yang seimbang atas dasar prinsip keterwakilan yang susunan organisasinya diatur melalui keputusan presiden. Menimbang pengelolaan sumber daya air melibatkan kepentingan lintas sektoral dan wilayah. Pejabat diberi wewenang mengadakan pengamatan dan penyelidikan untuk memperoleh data dalam hubungannya 5-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sementara untuk tingkat kabupaten/kota dapat dilakukan oleh Dewan SDA kabupaten/kota oleh pemerintah kabupaten/kota. Hubungan antar wadah yang disebutkan di atas bersifat konsultatif dan koordinatif. pada tingkat propinsi oleh Dewan SDA Provinsi yang dibentuk oleh pemerintah provinsi. Laporan yang dibuat ditembuskan ke pemerintah dan pemerintah daerah beserta wadah koordinasi di masing-masing tingkatan dan wilayah kerja. Pembentukan wadah di atas semua diatur melalui surat keputusan menteri yang membidangi sumber daya air. maka mekanisme pemantauan perlu diatur agar tercapai sinergi yang baik antar sektor.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI koordinasi dengan mengintegrasikan kepentingan berbagai sektor. Pengawasan dilakukan oleh Menteri yang pelaksanaannya ditugaskan kepada pejabat pengairan yang ditunjuk.

Penyusunan indikator dan sasaran kinerja proyek pembangunan. Pejabat dimaksud harus membuat berita acara mengenai pengamatan dan penyelidikannya sesuai dengan kenyataan dan kebenaran dan ditandatangani olehnya dan disampaikan kepada Menteri. Apabila hasil pengamatan dan penyelidikan terdapat atau diduga terdapat unsurunsur pidana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelaksanaan studi evaluasi kinerja proyek pembangunan. pengusutannya diserahkan kepada pejabat penyidik yang berwenang. yaitu: 1. 5. Pelaksanaan evaluasi kinerja dengan cara pertama dan kedua saling mendukung.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI dengan kelangsungan fungsi tata pengairan pada tempat-tempat yang diperlukan.6 MEKANISME EVALUASI Evaluasi kinerja dapat dilakukan dengan 2 cara.. Penanggung jawab atas bangunan pengairan diwajibkan memberikan 5-13 keterangan yang benar mengenai hal-hal yang diperlukan dan untuk menyertai pejabat dalam pengamatan dan penyelidikan apabila diminta. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Ketersediaan indikator dan sasaran kinerja dari hasil pelaksanaan cara pertama akan memudahkan pelaksanaan studi evaluasi kinerja. Kedua cara tersebut dibutuhkan dalam pelaksanaan evaluasi kinerja dan keduanya akan memberikan informasi kinerja yang bermanfaat untuk kepentingan perencanaan dan pengendalian pelaksanaan proyek. Cara pertama dapat dilaksanakan tanpa melakukan analisis yang mendalam. 2. sedangkan untuk melaksanakan cara kedua diperlukan penyusunan indikator dan sasaran kinerja sebagaimana dilakukan pada cara pertama. sedangkan cara kedua dapat membantu dalam mengidentifikasikan indikator-indikator baru yang lebih relevan.

Studi evaluasi kinerja adalah suatu upaya yang sistematis untuk mengumpulkan data dan informasi yang bersifat obyektif terhadap hasil. hasil (results/outcomes).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Indikator dan sasaran kinerja adalah ukuran kuantitatif atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. yaitu: teknis atau operasional. dana yang diperlukan. yang mencakup indikator masukan (inputs). productivitas dan lain-lain. jumlah unit yang dihasilkan. Indikator dan sasaran kinerja diklasifikasikan dalam enam kategori. ekonomi. manfaat. Indikator tersebut dijabarkan dalam: waktu yang diperlukan. tingkat kualitas. 5-14 INDIKATOR SASARAN/ KINERJA Sasaran n Rencana Pemanatauan dan pengendalian Outcome/ Manfaat/ Hasil Input/ Masukan Proses Output/ Keluaran Sumber Dana Kesimpulan Rekomendasi Tindak Lanjut Evaluasi Gambar 5. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . atau kombinasi dua kategori atau lebih. untuk dijadikan bahan pertimbangan dan masukan bagi pengambil keputusan dalam merencanakan proyek pembangunan selanjutnya. keluaran (outputs). budaya. dan dampak dari proyek tertentu yang telah selesai dilaksanakan atau pun telah beberapa tahun berfungsi. dan indikator manfaat (benefits) serta dampak (impacts). lingkungan. institusional. 2 Pemantauan dan Evaluasi dalam suatu siklus kegiatan.

menganalisis hasil pengukuran kinerja. serta memakai metode pengumpulan dan analisis data yang tepat dan transparan. 5. dapat dipercaya. 7/1999 pelaksanaan penyusunan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dilakukan dengan: 1. b. merumuskan visi. tepat waktu. membuat pembobotan (rating) keberhasilan pencapaian program. perbandingan kinerja aktual dengan rencana atau target. 6. d. mengukur pencapaian kinerja dengan: a. c. relevan. Berdasarkan INPRES No. merumuskan indikator kinerja instansi Pemeritah dengan berpedoman pada kegiatan yang dominan. menginterpretasikan data yang diperoleh. c. misi. obyektif. b. sasaran dan strategi instansi Pemerintah. melakukan evaluasi kinerja dengan: a. 2. dan dilaporkan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 5 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Hal penting dari studi evaluasi kinerja adalah mengenai informasi yang dihasilkan dan bagaimana informasi itu diperoleh. dapat diverifikasi. 4. membandingkan pencapaian program dengan visi dan misi instansi pemerintah. perbandingan kinerja aktual dengan kinerja di negara-negara lain. mempersiapkan dan menyusun perencanaan strategik. faktor-faktor kunci keberhasilan. 3. perbandingan kinerja aktual dengan tahun-tahun sebelumnya. dapat diandalkan. 5-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dianalisis. atau dengan standar internasional. memantau dan mengamati pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dengan seksama. tujuan. menjadi isu nasional dan vital bagi pencapaian visi dan misi instansi Pemerintah. Informasi studi evaluasi kinerja bersifat independen.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .1 ARAHAN SOSIALISASI PRAKARSA STRATEGIS Prakarsa strategis yang diuraikan dalam buku ini dapat diberdayakan secara efektif bila dilakukan tindak sosialisasi yang bersifat komprehensif. Latar belakang ini menjadi suatu gagasan untuk membentuk suatu pemikiran yang dapat dilakukan untuk saat ini dengan visi ke masa depan untuk menjaga kesinambungan sumber daya air di Pulau Jawa. Persepsi yang benar mengenai potensi terjadinya kekeringan di satu sisi dan banjir di sisi yang lain perlu mendapat perhatian dalam menyusun sosialisasi kepada masyarakat luas.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 6 PENUTUP BAB 6 PENUTUP 6-1 6.1. Pemahaman masyarakat dan daya tangkap masyarakat degan latar belakang yang berbedabeda akan sangat bervariasi terhadap apa yang dijelaskan dalam kebijakan yang tertuang dalam buku prakarsa ini.1 Kekeringan dan banjir Ide awal dari dilaksanakannya prakarsa strategis ini adalah karena adanya suatu kesadaran akan potensi terjadinya dua hal ekstrim yaitu kekeringan dan banjir. Secara umum perlu dijelaskan siklus hidrologi yang terjadi yang dapat membantu pemahaman bagaimana air dapat tersimpan dengan baik di dalam tanah dan syarat-syarat agar mekanisme penyimpanan air ini dapat bekerja secara alamiah. Sebagai kontradiktif perlu dijelaskan pula bagaimana mekanisme sehingga dapat terjadi banjir dan mengapa semakin banyak kejadian banjir yang terlansir belakangan ini di Indonesia. Hal ini patut diperkenalkan sebagai kondisi natural yang ideal dan sangat diperlukan untuk menjaga kesinambungan sumber daya air guna menunjang kehidupan masyarakat dan negara. Oleh karena itu dipandang perlu adanya suatu arahan untuk membangun persepsi yang benar sesuai dengan harapan yang terkandung dalam butir-butir strategi yang telah disusun. 6.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

Dampak kekeringan sangat nyata bagi kehidupan dimana kebutuhan akan air tidak dapat digantikan dengan material lain karena air merupakan substansi dasar bagi kehidupan manusia. Kekeringan yang terjadi karena fenomena alam yang sudah ada sejak dahulu tidak terhindarkan dan perlu disikapi secara bijaksana. Namun lain halnya dengan kekeringan kesalahan dalam mengelola sumber daya alam ataupun pemanfaatan sumber daya yang tidak memperhatikan keseimbangan dan daya dukung alam itu sendiri. Kesalahan yang disebut terakhir ini akan sangat disesalkan karena akan berdampak pada masyarakat luas dan pada tingkat nasional dapat mengganggu stabilitas nasional karena kurangnya bahan pangan, meningkatnya angka kasus kesehatan karena sanitasi yang buruk, hilangnya sumber pencarian bagi sebagian masyarakat dan hal lain yang menjadi dampak lanjutan dari kekeringan. Secara khusus banjir memiliki tingkat fatalitas yang lebih tinggi sebagai suatu bencana karena diakibatkan oleh daya rusak air yang besarannya tidak terduga. Perlu diperjelas bahwa kerusakan dan kerugian yang diakibatkan oleh banjir umumnya lebih besar dibandingkan kerugian yang disebabkan oleh kekeringan. Banjir yang terjadi secara cepat dan genangan air yang meluas menyebabkan kehilangan nyawa juga kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan serta bangunan lainnya karena besarnya daya rusak air yang mengalir, terlebih lagi bila masa air terkumpul dan menjadi besar. Genangan yang terjadi membawa dampak rusaknya bangunan dan harta benda termasuk didalamnya adalah tanaman pangan dan ini semua adalah kerugian yang harus ditanggung. Oleh karenanya banjir harus dapat disikapi secara bijaksana. Sosialisasi yang dilakukan harus mampu menempatkan pemikiran mengenai butuhnya kesadaran akan sindrom ini. Disamping itu perlu dijelaskan pula bahwa ada keterkaitan antara banjir dan kekeringan, dimana banjir merupakan suatu ekstrim dan kekeringan sebagai ekstrim di sisi yang berseberangan. Diantara kedua ekstrim ini ada suatu keseimbangan yang menjadi kondisi ideal. Kondisi inilah yang menjadi tujuan dari pengelolaan sumber daya air yang digariskan dalam strategi ini.

6-2

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

6.1.2

Strategi Implementasi

6-3

Untuk mewujudkan semangat yang ada dalam kebijakan strategi, maka pola implementasi kebijakan ini sudah diatur sedemikian rupa. Penjelasan mengenai latar belakang pembagian ini perlu disajikan pula terkait guna membangun pemikiran mengenai konsep pengelolaan dan komponen-komponen yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan sumber daya air. Ada strategi implementasi ini, yaitu: 1. Lembaga 2. Koordinasi 3. Pembiayaan 4. Monitoring & Evaluasi Pada komponen lembaga perlu dijelaskan mengenai fungsi-fungsi lembaga negara dan keterkaitannya dalam memberikan kontribusi untuk masalah sumber daya air. Materi sosialisasi harus dapat menjelaskan dengan jelas tugas dan fungsi masing-masing lembaga yang terkait. Sebagai kelanjutannya, terkait dengan strategi pengelolaan sumber dasya air, perlu pula diterangkan kerangka kerja yang melibatkan lembaga-lembaga bersangkutan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dengan demikian dapat diketahui posisi setiap lembaga yang berkontribusi dalam pengelolaan sumber daya air. Koordinasi merupakan komponen lain yang tidak kalah penting untuk diatur secara lugas dalam strategi untuk pengelolaan sumber daya air. Perlu ditanamkan pemahaman yang baik bahwa pengelolaan yang dilakukan mengharuskan pelaksanaan yang terpadu antar sektor (multi sektoral) dan menyeluruh. Bagian ini merupakan sisi yang jarang sekali dapat dilakukan dengan baik karena terikat pada kebijakan-kebijakan yang dibuat pada masingmasing sektor dan terkait dengan kepentingan rumah tangganya. Jelas hal ini merupakan suatu kendala yang harus dijembatani dengan membuat suatu mekanisme koordinasi dengan tugas dan tanggung jawab yang jelas. Upaya yang dilakukan dapat dimulai dengan pembuatan matriks koordinasi antar lembaga yang menjadi model awal untuk dibicarakan lebih lanjut. Beberapa 4 komponen dalam

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

contoh dari negara-negara lain yang dikemukakan dalam seminar-seminar terkait kegiatan ini dapat pula diungkapkan untuk menjadi sumber inspirasi dan pemahaman akan pentingnya koordinasi. Pembiayaan merupakan komponen yang tidak mungkin ditinggalkan mengingat setiap program dan kegiatan membutuhkan pembiayaan. Dalam upaya pengelolaan sumber daya air, sejalan dengan semangat transparansi manajemen, melalui sosialisasi perlu dijelaskan pula mengenai sumber-sumber pembiayaan yang digunakan, prinsip tanggungan dan jenis pembiayaan yang ditanggung oleh sumber dana yang ada. Hal-hal ini sebagian telah diatur pula dalam undang-undang dan menjadi dasar penyusunan sumber pembiayaan yang dapat dianggarkan untuk kegiatan pengelolaan. Bagian terakhir dari komponen strategi implementasi yang perlu disosialisasikan adalah yang berkaitan dengan monitoring dan evaluasi (monev) atau juga dalam dokumen disebut sebagai pemantauan dan evaluasi. Perlu ditanamkan pemikiran bahwa suatu program kegiatan yang dibangun ataupun manajemen/pengelolaan tidak akan berkesinambungana tanpa adanya kegiatan pemantauan dan evaluasi. Minimal tanpa adanya komponen ini upaya pengelolaan tidak akan mengalami kemajuan yang diharapkan karena tidak ada umpan balik dari apa yang telah diterapkan.

6-4

6.1.3

Pengalaman Negara Lain

Selain konsep dan aturan perundang-undangan yang telah kita miliki didalam negeri, pengalaman-pengalaman negara lain dalam mengelola sumber daya airnya juga menjadi suatu informasi yang berharga. Proses belajar yang efisien adalah dengan melihat bagaimana permasalahan serupa dapat diselesaikan di negara-negara lain dengan memperhatikan potensi, kendalanya, serta solusi yang dipilih. Mempelajari bagaimana suatu masalah yang sama diselesaikan oleh negera lain akan memberikan inspirasi bagi peserta dan juga keyakinan bahwa masalah
LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

tersebut memang dapat diatasi. Dengan mempelajari strategi yang diterapkan diharapkan akan ada suatu dorongan pemikiran dan semangat berdasarkan keyakinan bahwa dengan konsekwensi yang terukur hal serupa dapat pula diterapkan dengan peluang keberhasilan yang menjanjikan. Model-model yang diterapkan di negara-negara lain sangat bervariasi. Pengambilan keputusan dan keberhasilan yang telah dicapai memberikan gambaran tingkat keberhasilan dari pola yang dipilih. Perlu kehati-hatian dalam memberikan gambaran pengalaman negara lain karena kondisi latar belakang, fisik lingkungan dan solusi yang dipilih memberikan kombinasi yang sangat beragam. Oleh karenanya penjelasan harus dilakukan secara rinci. Selanjutnya, bila pengalaman dari negara lain ingin diaplikasikan, perlu dipelajari dulu kondisikondisi di atas secara bijaksana untuk menentukan pilihan; solusi mana yang paling tepat untuk diterapkan di negara ini berdasarkan data dan fakta.

6-5

6.2

SARAN

Beberapa saran terkait pada strategi yang diulas dalam buku ini : 1. Pengelolaan sumber daya air melibatkan tidak saja penanganan secara struktural tapi juga penanganan dengan cara non-struktural. Kebijakan strategis pengelolaan perlu kiranya menempatkan kebijakan non-struktural sebagai strategi utama untuk diwujudkan dalam kegiataan riil mengingat saat ini yang paling dibutuhkan untuk menjamin perlindungan potensi sumber daya air utamanya adalah adalah terkait dengan konservasi lingkungan. Perangkat perencanaan tata guna lahan dan perlindungan hukum yang berwibawa hingga kini masih jauh tertinggal dibanding pembangunan infrastruktur karena penilaian terhadap pertanggungjawaban pekerjaan fisik infrastruktur lebih jelas. 2. Pelaksanaan kebijakan perlu dimulai dengan pendekatan non-struktural dan disusul kemudian dengan pendekatan struktural. Program dimulai dengan pendekatan awal terhadap masyarakat, pemeliharaan lingkungan dan

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 6 PENUTUP

seterusnya hingga pembangunan infrastruktur SDA pada lokasi-lokasi strategis yang memberikan keuntungan luas bagi masyarakat. 3. Strategi struktural yang disajikan dalam dokumen ini merupakan kebijakan struktural wilayah sungai di Pulau Jawa yang dikelola oleh beberapa balai sumber daya air. Adanya perubahan wilayah sungai yang digariskan dalam Permen PU No. 11/PRT/M/2006 secara otomatis mengubah lingkup kebijakan di beberapa wilayah sungai yang dibentuk ulang. Pola wilayah yang baru mengindikasikan kemungkinan adanya transfer inter basin. Proses

6-6

regrouping kebijakan dilakukan dalam buku ini atas kegiatan yang sudah
ada ke dalam wilayah baru. Perlu adanya tindak lanjut untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan baru pada masing-masing wilayah sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya sehingga penanganan masalah sumber daya air dilakukan lebih merata. 4. Bentuk wilayah baru yang digariskan dalam Peraturan menteri pada poin (3) di atas selanjutnya menjadi bahan dalam rancangan Peraturan Presiden. Peraturan presedien yang tengah direncanakan ini nantinya akan menjadi dasar hukum yang kuat untuk melaksanakan pengelolaan wilayah sungai yang baru. Demikian pula halnya untuk memulai kegiatan balai-balai sumber daya air baru yang diatur oleh peraturan menteri Permen PU No. 1213/PRT/M/2006 peraturan tersebut sangat berperan. Sebagai langkah konkret disarankan adanya koordinasi terpusat untuk melakukan restrukturisasi keterkaitan tugas-tanggung balai baru dengan balai-balai yang sudah ada selama ini. 5. Untuk mendapatkan strategi yang aplikatif perlu ada masukan dari masingmasing balai berdasarkan pengalaman dan penilaian terhadap kondisi fisik wilayah sungai yang dikelola. Contoh yang diperoleh dari pengelolaan sumber daya air di luar negeri perlu disikapi dengan bijaksana mengingat kondisi alam dan kultur yang berbeda. Untuk itu dalam pengambilan keputusan di masa yang akan datang perlu mengikutsertakan balai-balai yang sudah operasional sejak lama untuk mendapatkan pertimbangan spesifik sesuai lokasi kerjanya.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber daya air. 2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 11A/PRT/M/2006 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayahg Sungai. 3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 12/PRT/M/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Wilayah Sungai. 4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 13/PRT/M/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Wilayah Sungai. 5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 tahun 2005 tentang Kerjasama Infrastruktur. 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 38/PRT/1989 tentang Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan

DP-1

Pembagian Wilayah Sungai 7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 48/PRT/1990 tentang

Pengelolaan Atas Air dan Atau Sumber Air pada Wilayah Sungai. 8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 49/PRT/1989 tentang Tatacara dan Persyaratan Izin Penggunaan Air dan atau Sumber Air 9. Keputusan Mendagri No. 176 tahun 1996 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Balai PSDA. 10. Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Nomor : 19/KPTS/A/1994 tanggal 19 April 1994 tentang Pembentukan Badan Pelaksana Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman 11. Reclaiming Public Water-Achievements, Struggles and Visions from Around the World, 2005.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

1985. Bidang Neraca Sumberdaya Alam Pusat Survei Sumberdaya Alam Darat Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. Directorate General Of Water Resources Development. 20. 2000. Directorate General DP-2 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Semarang. Applied Hydrology. 2000. 19. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Serayu-Bogowonto. Preliminary Study On Ciliwung-Cisadane River Flood Control Project. Neraca Sumberdaya Air Spasial Nasional. Maidment.. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah. Bureau Icim. 13. 2001. 16. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah. David R. 2001. 14.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 12. Feasibility Studi On Karian Multipurpose Dam Construction Project. Jakarta. DUFLOW: A micro-computer package for the simulation of one-dimensional unsteady flow and water quality in open channel system. Cibinong. Directorate General Of Water Resources Development. 1992. Bakosurtanal. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. Instruksi Presiden Nomor 7/1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. 1988. 1979. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan. Directorate General Of Water Resources Development. Bureau Icim. Directorate General Of Water Resources Ministry Of Settlement And Regional Infrastructure Republic Of Indonesia. McGraw-Hill. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. Semarang. The Netherlands. Ciliwung Cisadane River Basin Development Project. Ven Te.. Larry W. 17. 15. 21. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan. 1984. Banjar. Cimanuk River Basin Development Project West Java. Jakarta. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Jratunseluna. and Mays. 18. The Citanduy River Basin Development Project. Chow.

Directorate General Of Water Resources Development. Jakarta. Jakarta. 1998. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development. 24. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. 1995. CisadaneCimanuk Intergrated Water Resources Development (BTA-155). Jatiluhur Water Resources Management Project Preparation Study (JWRMP). 22. Directorate General Of Water Resources Development. 1989.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Republic Of Indonesia. DP-3 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . The Study On Comprehensive Management Plan For The Water Resources Of The Brantas River Basin In The Republic Of Indonesia. 26. Jakarta. The Study On Comprehensive River Water Management Plan In Jabotabek. Jakarta Flood Control Halim Retention Basin Pilot Project. Ministry Public Works Republic Of Indonesia. Jakarta. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. 1997. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Jabotabek Water Resources Management Study. Directorate General Of Water Resources Development. Directorate General Of Water Resources Development. 1999. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of Indonesia. Directorate General Of Water Resources Development. 1994. Jakarta. Jakarta. 27. 28. Jakarta. 23. Jakarta. 1998. 25. Directorate General Of Water Resources Development. The CiujungCidurian Intergrated Water Resources In Indonesia.

Mock. Pedoman Pengendalian Banjir. The Citanduy River Basin Development Project. Ditjen Pengairan PU. Ditjen Pengairan PU. Jakarta. Basic study prepared for FAO/UNDP Land Capability Appraisal Project. Bogor. Jabotabek Water Resources Management Study. 37. 1999. Jakarta. Serang. Directorate Of Management And Conservation Of Water Resources. Jakarta. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 1999. Standar Perencanaan Irigasi: Kriteria DP-4 Perencanaan Bagian Bangunan Utama. 1975. Ditjen Pengairan PU. Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 33. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Ciujung-Ciliman. 1986. 1998. F. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Proyek Pengembangan dan Konservasi Sumberdaya Air Ciujung-Ciliman. Directorate General of Water Resources Development Ministry Of Public Works And Electric Power. Directorate Of Rivers And Swamps. Water Availability Appraisal. 30. 2003. Proyek Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Air Yogyakarta. 34. 32. Directorate General Of Water Resources Development Ministry Of Public Works Government Of The Republic Indonesia.. Direktorat Jenderal Sumberdaya Yogyakarta. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Rencana Pengembangan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Citarum. Jakarta. Jakarta. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Inventarisasi/Penataan Situ/Rawa/Danau Di Wilayah SWS CiujungCiliman. Ditjen Pengairan PU.J. 31. Penyusunan Program Rencana Pengembangan Sumberdaya Air DIY Pada SWS Progo Opak Oyo Daereah Istimewa Yogyakarta. 1999. Jakarta. 35. 1973. 1996. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 29. 36.

Jakarta. Penyusunan Neraca Air Nasional (Tahap . 40. Studi Identifikasi Potensi Air Baku Di Wilayah Sungai Citanduy – Ciwulan. 2000.1) Bagian DPS Cisadane dan DPS Ciliwung. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana. Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. DP-5 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Departemen Permukiman dan Prasarana. 41. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumberdaya Air dan Ketatalaksanaan Pembangunan Pengairan. Proyek Perencanaan Pengembangan Pemanfaatan Sumberdaya Air Di Jawa Barat. 42. Proyek Studi Potensi dan Pengembangan Sumberdaya Air. Pekerjaan Penyiapan Bahan Penyusunan Neraca Air Nasional. 43. 2002. 45. 2003. Studi Potensi dan Pengembangan Sumberdaya Air Tersebar di Propinsi Banten.1). Proyek Induk Pengembangan WS Cimanuk-Cisanggarung Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 44. 2003. 1999. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 38. Perencanaan Sumberdaya Air Wilayah Sungai Pemali-Comal. Jakarta. Indramayu. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai di Pulau Jawa. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Penyusunan/Pembuatan Buku Sungai Ciujung Dan Sungai Cidurian. Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum. 2003. Serang. Proyek Pengembangan dan Konservasi Sumberdaya Air Ciujung-Ciliman. Identifikasi Potensi SDA Di Wilayah Proyek Penyediaan Air Baku Cimanuk – Cisanggarung. Proyek Penyediaan Air Baku Cimanuk – Cisanggarung. Serang. Jakarta. Proyek Peningkatan Pengelolaan Sumberdaya Air dan Ketatalaksanaan Pembangunan Pengairan. 39. 2001. Bandung. Perencanaan Pengembangan Pemanfaatan Air dan Sumber Air (Paket . Proyek PPSA Citanduy-Ciwulan. Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Propinsi Banten. Banjar. 2004.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA DAFTAR PUSTAKA 46.. 1997. Tugas Akhir Sarjana. and Eaglin. Diding. Penerapan Metoda Mock untuk Menghitung Debit Andalan di Sub Daerah Pengaliran Sungai Citarum Hulu. R. Hydrology: Water DP-6 Quantity and Quality Control. Kersten. M. 1999. Sudirman. John Wiley and Sons. R.. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Institut Teknologi Bandung.. Jurusan Teknik Sipil. Wanielista. New York.P. 47.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ANNEX PEMBELAJARAN ANTARA PRAKTEK PRIVATISASI DAN PERKUATAN PERUSAHAAN UMUM LAYANAN AIR A-1 A. sebaliknya malah menaikkan tarif airnya jauh diluar jangkauan keluarga miskin. Kegagalan privatisasi yang bercirikan “high-profile” di kota-kota besar di belahan bumi selatan menjadi bukti yang kuat bahwa pemenuhan kebutuhan air untuk rakyat miskin tidak tepat bila dipercayakan pada pengelolaan perusahaan layanan penyedia air trans-nasional yang berorientasi pada keuntungan1.1 Latar Belakang Akibat adanya gelombang yang membawa ideologi privatisasi. Meningkatnya kampanye anti privatisasi melalui gerakan LSM di tingkat akar rumput (grassroot) di negara-negara seluruh dunia telah mengukuhkan jejaring ditingkat regional dan global yang kemudian memulai gelombang balik melawan “fee-market fundamentalism”. Struggles and Visions from Around the World” (2005) LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Saatnya telah tiba untuk mem-fokuskan kembali wacana (debate) global mengenai layanan air pada pertanyaan kunci: bagaimana meningkatkan/memperbaiki dan memperluas layanan air oleh perusahaan umum diseluruh dunia? Sementara privatisasi adalah bukan solusi. perusahaan-perusahaan layanan air global terbukti telah gagal memenuhi janji-janjinya untuk memperbaiki layananannya. pelayanan air di dekade 1990-an yang pada intinya merupakan masa perjuangan untuk mewujudkan air bersih bagi semua orang akhirnya mengalami kemunduran. di sisi lain perusahaan publik yang ”status quo” dan sering bertindak birokratis dan tidak efektif − yang ada pada sebagian besar negara-negara berkembang − juga gagal untuk memberi layanan 1 ”Reclaiming Public Water-Achievements. Hampir tanpa perkecualian.

pengalaman menunjukkan fakta yang berlainan. Namun seperti yang kita alami. layanan air umum sedang ditingkatkan melalui peningkatan partisipasi masyarakat dan pengguna serta reformasi-reformasi demokratis lainnya. termasuk ”flagship”: konsesi di Aguas Argentinas di Buenos Aires. dimana beberapa seri kota-kota besar telah diprivatisasi. A-2 A. dan di Afrika.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air bersih pada mereka yang membutuhkan. Perluasan perusahaan air dalam dasawarsa 1990-an didukung oleh the World Bank dan institusi international lainnya sebagai bagian dari kebijakan untuk transformasi negara berkembang dan negara dalam proses transisi. Pelajaran penting dapat digali dari model-model yang mengedepankan pendekatan yang berfokus pada manusia (people centered) dan partisipasi publik. di Amerika latin. masyarakat setempat telah mengambil kendali dalam perbaikan layanan air. Manila dan Jakarta. Di Olavanna (Kerala. memobilisasi kapasitas sendiri dan sumber daya setempat. di Asia. India) dan Savelugu (Ghana). Dikota lain seperti Penang. Mulai dari Asosiasi Pekerja Air sampai koperasi pekerja kini telah mempunyai peran kunci dalam pelayanan air di kota-kota di Argentina dan Bangladesh. Privatisasi memasuki negara-negara dalam proses transisi seperti Eropa Timur dengan gelombang konsesi-nya.2 Kegagalan Privatisasi Tahun 1990-an adalah dekade privatisasi air dimana telah terbukti dalam pelaksanaannya konsep ini mengalami kegagalan. menjadi negara dengan ekonomi yang berorientasikan kepada pasar yang terbuka. sebagai contoh adalah yang tengah dilaksanakan di Porto Alegre dan Recife (Brazil) dan kini dalam tahap pengembangan1. Di kota-kota ini. dalam republik Czech dan Hungary. khususnya Argentina. penemuan kembali ethos layanan umum telah membawa pada peningkatan yang signifikan atas kinerja layanan utilitas umum. Malaysia. termasuk privatisasi di 2 kota besar. Privatisasi pada mulanya diharapkan akan membawa efisiensi yang lebih besar dan tarif yang lebih rendah. menarik dan meningkatkan volume investasi (khususnya di negaranegara berkembang) dan memperluas sambungan layanan jaringan air minum dan sanitasi kepada keluarga miskin. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

dimana bentuk kerjasama tersebut harus distrukturkan untuk memberikan keleluasaan bagi mitra swasta untuk memperoleh ”return”/keuntungan. konsesi adalah bentuk privatisasi yang paling favorit. dengan sektor swasta.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dimana konsensi didapat dari sistem koloni Perancis.operate and transfer) schemes. besar disebabkan gagal oleh untuk mereka masih mengacu kepada bentuk yang sama dari konsep hubungan kontraktual pengalaman berdasarkan hasil nyata operasi. Harga-harga yang naik merefleksikan berkurangnya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan juga beberapa kota kecil di Afrika Selatan. perusahaan-perusahaan lebih memilih pilihanpilihan yang kurang berisiko yaitu penyewaan atau kontrak manajemen. investasi swasta dalam infrastruktur telah menurun pada akhir 1990-an dan investasi oleh bank pembangunan juga mengalami penurunan. sedemikian hingga membuat mereka sumber keuntungan untuk modal/kapital swasta. dan kontrak manajemen (atau bentuk khusus dari konsesi untuk pembangunan ”water treatment” atau waduk. yang hasilnya berbeda dengan Perusahaan-perusahaan telah berinvestasi sebanyak yang diharapkan. namun dibanyak tempat bentuk privatisasi dipromosikan berdasarkan bentuk konsesi. misalnya Cote d’Ivore. Privatisasi dari layanan pasokan air dan sanitasi telah mengambil berbagai bentuk. dan beberapa bentuk kontrol yang perlu dikendalikan oleh partner swasta. tetapi sejak tahun 2000. Variasi dari bentuk ini termasuk kerjasama/”joint venture” dengan pemerintah atau perusahaan pemerintah. Penjualan secara lengkap/ tuntas sistem air kepada perusahaan swasta telah diperkenalkan di Inggris. Kalimat-kalimat lain yang biasa dipakai adalah-termasuk ”public- A-3 private partnership” (PPPs) dan ”private sector participation” (PSP) – dimana penggunaan kata ”privatisasi” saja yang merupakan konsep yang menjadi kurang populer dicoba untuk tidak digunakan. penyewaan. Bentuk-bentuk yang lebih tepat telah dipilih oleh perusahaan-perusahaan swasta pada awal tahun 1990-an . Meskipun demikian. tetapi ada elemen yang bersifat konstan. yaitu memindahkan pengendalian dan manajemen operasi kepada perusahaan swasta. dan dikenal sebagai BOTs (build. Ketidak populeran konsep privatisasi sebagian apa yang telah dijanjikan.

perusahaan-perusahaan air multinasional telah memutuskan untuk mengambil tindakan guna memotong kerugiannya. Bila target-target yang dispesifikasikan dalam kontrak tidak dapat dipenuhi. civil society groups (masyarakat madani) dan dari kalangan partai-partai politik. Regulator telah menjadi kekurangan kekuasaan dan kompetensinya untuk mengendalikan perilaku kontraktor-kontraktor. Kontradiksi-kontradiksi dimaksud diperparah oleh pergerakan nilai tukar mata uang dan krisis-krisis ekonomi. kinerja mereka ternyata tidak menjadi lebih baik dari pada operator yang perusahaan umum dalam hal perluasan layanan kepada kaum miskin. seperti ”franchising” vendor-vendor air di daerah-daerah A-4 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pencinta lingkungan. perusahaan multinasional bidang air. pekerja.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pengembalian modal yang diperlukan oleh banyak perusahaan. Manila dan Jakarta. Dihadapkan dengan pengembalian investasi yang jelek. Meski seluruh perhatian dan dukungan telah diberikan kepada konsesi privatisasi air di Amerika Latin. dapat disaksikan bahwa terdapat perlawanan keras yang sedang berkembang atas privatisasi air di negara-negara berkembang. dari konsumen. Ketiga-tiganya menggunakan tindakan politis dan hukum untuk mendapatkan kembali kerugiankerugian yang pernah dialami dan tetap meng-klaim/ menuntut keuntungankeuntungan yang diantisipasi. Telah ditetapkan instrumen baru untuk memberikan jaminan yang lebih kuat kepada perusahaan swasta dan sedang dicari bentuk-bentuk lain dari kesempatan berusaha (business) di sektor ini. dan Veolia dan Thames Water juga menarik dari kontrak-kontrak. mengumumkan akan menarik sepertiga dari invetasi yang ada di negara-negara berkembang. Pada bulan Januari 2003. dan oposisi politis. Akhirnya. dua kota besar di Asia yang menggunakan jasa operator swasta. Bank Dunia telah mengakui kegagalan privatisasi yang dulu diharapkan dapat membawa investasi-investasi dalam perluasan layanan air. resiko-resiko yang tidak diharapkan. justru kontraknya-lah yang dirubah dibanding harus memenuhi apa yang disyaratkan sebelumnya. mempunyai tingkat kehilangan air yang lebih tinggi dari mayoritas kota besar dimana pelayanan air dilaksanakan oleh perusahaan umum. operasi pelayanan air yang di”swastakan” di Argentina sekarang mengalami kebangkrutan. Suez.

khususnya dinegara-negara berkembang pada tahun-tahun sebelumnya. Banyak negara-negara pada periode 1980-an barada didalam cengkeraman rejim yang diktator dan korup dengan pelecehan atas hak azasi manusia dan proses demokratis. mereka hanya mengerjakan hal-hal yang kecil untuk orang-orang yang membutuhkan tingkat layanan yang terjangkau dalam layanan air dan sanitasi.2. privatisasi utilitas Casablanca diatur dengan dekrit Raja Hassan. Tetapi Bank Dunia. struktur tersebut telah mengalami kegagalan dalam menyediakan perluasan layanan air − bahkan ketika bank-bank pembangunan menyediakan pinjaman-pinjaman yang dibutuhkan − dan kegagalan-kegagalan ini dijadikan alasan untuk men-justifikasi kebijakan privatisasi diawal tahun 1990-an. masalah-masalah ekonomi dan politisnya serta kegagalan dalam mengadakan perluasan layanan kepada masyarakat miskin. layanan pada kaum miskin selalu dikorbankan sementara regim yang korup mengambil keuntungan untuk mereka sendiri dari pinjaman yang ditujukan untuk air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA ”peri-urban”. Awal berkembangnya privatisasi justru terjadi pada regim-regim yang tidak demokratis seperti. Suez aktif di Afrika Selatan yang sedang dibawah regim apartheid. Tetapi kampanye-kampanye juga harus mengakui kegagalan dan keterbatasan praktek-praktek dari operator perusahaan umum. Tanpa akuntabilitas. meskipun hal ini menjadi tanggung jawab dari lebih 90% badan layanan air dan sanitasi dunia. Hal-hal ini adalah respon dari perusahaanperusahaan dan Bank Dunia dalam menangani masalah-masalah mereka. bank-bank pembangunan lain dan organisasiorganisasi donor tetap menolak untuk menyediakan dukungan bagi perusahaan publik di sektor air. tidak LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pengembangan dari pendekatan–pendekatan baru dalam pengelolaan layanan air datang dari mereka-mereka yang berkampanye menentang privatisasi.1 Kegagalan Dalam Regim Yang Tidak Demokratis A-5 Isu bersama dari kampanye-kampanye adalah kritik atas privatisasi itu sendiri. Selama tahun 1980-an khususnya. Tidak bijaksana untuk menilai bahwa kegagalan-kegagalan yang terjadi disebabkan karena kepemilikan air yang dikuasi oleh perusahaan umum. privatisasi air untuk Jakarta diatur secara korup di era kediktatoran Suharto. A. dan sama sekali meninggalkan transparansi.

sebagaimana diakui IMF sendiri saat ini. Waktu ia menjadi presiden di tahun 1995. ada kampanye yang luas untuk suatu kebijakan sanitasi nasional yang secara kasar ditolak oleh Cardoso. Analisis yang sama dapat diterapkan atas keluhan oleh bank-bank A-6 pembangunan dan lembaga donor. Inisiatif-inisiatif ini. ia mendorong dilaksanakannya kebijakan ”piecemeal” privatisasi yang mana sesuai dengan kehendak IMF untuk membatasi hutang pemerintah. Pemerintah tidak dapat memberikan prioritas yang memadai kepada kebijakan sektor air dibandingkan dengan kebijakan di sektor lain. calon presiden favorit bagi International Financial Institutions (IFIs). Di Latvia ada LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Masalah pada tahun 1980-an dimana sektor publik mengalami kegagalan dapat dilihat sebagai kurangnya proses demokratis dalam sektor publik. Di Brazil pada awal 1990-an. dari pada sebagai masalah dalam sektor publik itu sendiri. menunjukkan adanya kebutuhan tentang pendekatan baru yang berdasar kepada proses demokrasi dan tingkat partisipasi masyarakat yang menjamin akuntabilitas. tetapi pada kegagalan pemerintah merespon tuntutan ini. termasuk pengembangan pendekatan baru untuk memperluas layanan penyediaan air bersih dan sanitasi ke daerah baru. dibanding privatisasi yang dipilih oleh regim diktator. adalah bukan pada kurang populernya kebutuhan layanan air dan sanitasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA oleh tender kompetitif yang dilaksanakan oleh dewan kota. kesempatan untuk mempraktekkan prinsip baru demokrasi ditangkap dalam berbagai bentuk. Hal ini telah menyebabkan jauh berkurangnya investasi di bidang air (dan infrastruktur lainnya seperti listrik). Masalahnya. dan sistem yang demokratis. sebagaimana pemerintah dan masyarakat di negara-negara berkembang mempunyai perhatian yang kurang atas air dan sanitasi dibandingkan dengan birokrat-birokrat yang sudah dicerahkan oleh institusi internasional. Kontrak-kontrak yang mereka dapatkan dipegang dengan rahasia bahkan terhadap anggota dewan kota—khususnya dikota yang ironis seperti Gdansk (Polandia) dan Budapest (Hongaria) dimana mereka sedang mengalami proses transisi dari regim tidak demokratis komunis menjadi regim yang diharapkan lebih akuntabel. Pengalaman negara Brasil setelah berakhirnya diktator militer mendukung hal-hal ini.

Salah satunya adalah sejarah keberhasilan sektor publik di negara-negara maju pada abad 19 dan yang terbanyak di abad 20 − sebagai ”the northern past”. Sebelum 1990. ditemukan kembali pelajaran dari pengalaman negara-negara di belahan utara. yang kadang diperberat oleh kebijakankebijakan yang dibuat oleh IFIs sendiri. masyarakat telah mendemonstrasikan kemauannya dengan menggunakan tenaga kerja mereka sendiri dan dana tabungannya untuk membuat sistem air bersih dan sanitasi. Diketahui bahwa lingkup dan era privatisasi dibidang air ternyata sangat sempit. Dan satu sumber lagi adalah munculnya bentuk baru dari struktur demokratis di selatan. Dengan demikian pemerintah-pemerintah yang tidak efektif dapat dilihat sebagai bukti kegagalan proses-proses politik.2.2 A-7 ”Northern Past Dan Southern Future” Dalam pengembangan kebijakan alternatif dan struktur. Hanya Perancis lah yang berhasil menyelamatkan kontraktor abad 19 dan mengkonsolidasikannya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . khususnya demokrasi partisipatif di Brazil dan India − the ”southern future”. Dibalik perhatian yang ”misleading” kepada privatisasi. masih baru dan sangat pendek.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kampanye publik untuk pembangunan instalasi pengolah air limbah meski masih dibawah Uni Soviet pada waktu itu. A. Masalahnya adalah kurangnya proses yang demokratis. Di permukiman peri-urban dimana pemerintah gagal menyediakan layanan pokok. kampanye-kampanye telah mendasarkan argumen-argumennya atas dua sumber inspirasi pokok. kecuali beberapa kota di Spanyol dan Italia dan beberapa kota bekas koloni Perancis. yang mempunyai pengalaman atau dengan serius mempertimbangkan privatisasi air dalam kurun waktu hampir satu abad terakhir. tidak ada satupun negara diluar Perancis. karena perusahaan milik kota dapat menyediakan perluasan pelayanan dengan lebih efisien dan lebih efektif. seperti di Orangi di Pakistan. Pengalaman kebanyakan negara-negara di Eropa dan Amerika Utara adalah mengganti kontraktor-kontraktor swasta dari pertengahan abad 19 dengan perusahaan pelayanan air milik kota.

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

menjadi

oligopoli

swasta,

yang

menjadi

alasan

bagi

Perancis

untuk

A-8

mempromosikan ideologi privatisasi air dan utilitas lainnya oleh pemerintahan Perdana Menteri Thatcher di Inggris. Negara-negara komunis dan negara-negara yang merdeka setelah pascakolonial berakhir, juga membangun layanan air melalui sektor publik, melalui kepemilikan di tingkat kota, wilayah, atau tingkat nasional. Secara historis, perusahaan utilitas sektor publik adalah model yang cukup berhasil dalam mengembangkan layanan perluasan atas air dan sanitasi untuk seluruh penduduk perkotaan dan bahkan pedesaan. Lebih dari 80% penduduk di Uni Eropa dan Amerika Serikat tetap dilayani operator publik, meskipun mengalami advokasi untuk diprivatisasi pada tahun-tahun belakangan. Di negara-negara belahan selatan, bentuk-bentuk demokratis baru telah muncul dengan mengedepankan partisipasi dan sentralisasi. India mempunyai sistem dewan desa yang dipilih yang disebut ”panchayats”, dan di negara bagian Kerala pemerintahan kiri meng-inisiasi peluncuran program desentralisasi dan partisipasi − hampir 40% dari anggaran negara bagian telah disalurkan melalui panchayat, warga mempunyai hak untuk melihat setiap dokumen dan prioritas anggaran ditetapkan melalui bebarapa tahapan pertemuan-pertemuan umum. Di Brazil, pemerintahan Partai Pekerja telah mengadopsi kebijakan-kebijakan yang membangun sistem devolutif dan partisipasi pada tingkat pemeritahan kota dimana kekuasaan terletak, melalui sistem yang dikenal sebagai ”participatory-

budgeting”.
A.3 Pemberdayaan Perusahaan Umum Pelayanan Air −Langkah Kedepan

Diketaui ada dua pilihan yang layak dalam merencanakan pelayanan air, baik menggunakan privatisasi layanan air maupun menggunakan layanan air yang pernah diselenggarakan oleh pemerintah dan kenyataannya tidak mencukupi. Keberadaaan pilihan ini tidak menjadi masalah bila layanan air dari pemerintah dapat dilakukan secara efektif, namun pertanyaannya adalah bagaimana membuat layanan air dari sektor publik ini menjadi efisien dan efektif. Obsesi

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

ideologi yang baru dibarengi dengan promosi sektor swasta dalam sepuluh tahun terakhir ini telah mengakibatkan pertanyaan di atas belum mendapatkan perhatian yang semestinya dalam penyusunan kebijakan dan proses pengambilan keputusan. Dari uraian pada bagian sebelumnya dijelaskan bahwa sekarang ini mulai muncul situasi baru yang bersifat fundamental akibat adanya beberapa kegagalan privatisasi yang besar, penarikan diri oleh sektor swasta multinasional bidang air dari negara-negara sedang berkembang, dan kenyataan yang dihadapi oleh para pembela privatisasi meski jelas bahwa inestasi sektor swasta tidak akan sampai ke kaum miskin. Oleh karena itu upaya untuk memfokuskan kembali pada perbaikan kinerja dan cakupan utilitas umum sangat dibutuhkan. Beberapa kasus yang disinggung disini menunjukkan bagaimana perbaikan yang signifikan dibidang akses atas air bersih dan sanitasi dapat dicapai dengan berbagai pola manajemen air publik. Solusi atas masalah air publik yang bertitik berat pada masyarakat telah terjadi pada berbagai kondisi lingkungan sosialekonomi, budaya dan politis. Sebagai contoh, termasuk pencapaian utilitas publik dan koperasi di Porto Alegre (Brazil), Santa Cruz (Bolivia) dan Penang (Malaysia); pencapaian perbaikan dengan manajemen model penyediaan publik yang inovatif di Caracas (Venezuela), Harrismith (South Africa) dan provinsi di Buenos Aries (Argentina); dan pencapaian dari pendekatan air yang dikelola masyarakat (community-managed water) di Olavanna (Kerala, India) dan Savelugu (Ghana). Berbagai macam pendekatan publik dimaksud telah membuktikan potensinya sebagai upaya untuk memperbaiki layanan air, dan sudah barang tentu termasuk untuk kaum miskin. Hampir disemua kasus, pencapaian-pencapaian dimaksud telah terjadi ditengah kondisi terjadinya perlawanan terhadap keanehan dan rintangan untuk perbaikan penyediaan air yang dikendalikan oleh publik dan masyarakat. Diantaranya yang terburuk adalah sistematis bias terhadap upaya perbaikan air publik dari

A-9

International Financial Institution (IFI’s) dan privatisasi dengan persyaratanpersyaratan tertentu yang dikaitkan dengan upaya untuk mengurangi jumlah dana bantuan pembangunan yang ditawarkan oleh pemerintahan di negara-

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA

negara di kawasan utara. Hambatan-hambatan yang bersifat politis dan finansial dan hambatan lainnya yang mencegah manajemen air publik mencapai potensi penuhnya tidak dapat diatasi. Pada prinsipnya apa yang diperlukan adalah sikap politis untuk menciptakan lingkungan yang lebih kondusif. Hal ini menggarisbesari kisaran yang luas dari pilihan-pilihan kebijakan yang progresif. Dapat juga disimpulkan bahwa perkuatan demokratis, karakter publik dari layanan air pada prinsipnya tidak sejalan dengan model globalisasi neoliberal yang sedang dominan diwaktu kini, yang mana telah mempengaruhi beberapa aspek kehidupan kedalam kerasnya pemikiran dari pasar global. Menarik beberapa pengalaman dari seluruh dunia beberapa isu kunci yang perlu diwacanakan (debat) secara lebih intensif diwaktu mendatang adalah: • Pilihan-pilihan apa yang diperlukan untuk memperbaiki dan memperluas layanan air dan sanitasi publik untuk menghadapi tantangan keberlanjutan, keadilan dan akses untuk semua? • • • • Apa potensi dari partispasi masyarakat/pengguna dan bentuk-bentuk lain dari demokratisasi? Kondisi-kondisi apa saja yang diperlukan agar membuat reformasi utilitas publik yang berfokus pada penduduk dapat berjalan? Masalah-masalah apa saja yang menghinggapi komersialisasi operasi air sektor publik? Pelajaran-pelajaran apa yang dapat dipetik pada bagaimana caranya untuk mengatasi hambatan-hambatan kenaikan biaya yang diperlukan untuk perbaikan-perbaikan? • • Proses-proses politik macam apa yang terlibat dalam pengembangan air publik yang berhasil? Apa yang diperlukan untuk merealisasikan, dari tingkat lokal ke global, untuk menyebarkan, memperkuat dan melaksanakan layanan air dan sanitasi publik untuk daerah urban?

A-10

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

partisipasi warga masyarakat dan pengguna air dalam berbagai dari layanan air yang dikelola publik. sekarang ini mempunyai akses terhadap air bersih. penggabungan keterlibatan masyarakat madani (civil society) dengan upaya reformasi demokratis yang inovatif seperti ”participatory budgeting/Anggaran Partisipatif”. telah menjadi suatu model yang sering dideskripsikan sebagai ”social control (kontrol sosial)”. Di Porto Alegre dan beberapa kota lainnya yang sedang tumbuh di Brasil. masyarakat langsung menetapkan prioritas anggaran dari perusahaan-layanan-airnya. respon dan pencapaian tujuan sosial Partisipasi dan demokratisasi yang efektif dimaksud dapat tampil dalam berbagai bentuk. misalnya melalui pemilihan badan pengarah perusahaan utilitas (dalam hal ini layanan air dan sanitasi). Koperasi air di Bolivia dan Argentina memperbolehkan para pengguna (yang semuanya adalah anggota dengan hak suara/voting) berpengaruh langsung dalam pengambilan keputusan. Untuk perusahaan utilitas. Bertambahnya rasa memiliki berkontribusi terhadap bertambahnya kemauan untuk membayar dan dengan demikian memungkinkan untuk membuat investasi baru serta LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hal ini memberi kewenangan bagi para pengguna untuk memegang kendali atas akuntabilitas perusahaan dalam menjalankan pelayanannya dengan misinya yang bersifat not-for-profit.5% dari penduduk termasuk yang tinggal dikawasan kumuh dan miskin di penggiran. bentuk adalah faktor penting dibelakang peningkatan-peningkatan dalam efektivitas.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA A. ”anggaran partisipatif” telah memainkan peran penting yang menjamin bahwa 99.4 Partisipasi dan Bentuk-bentuk Demokratisasi Lainnya A-11 Di beberapa kota yang diulas dalam tulisan ini. Di Porto Alegre. Seperti halnya pada beberapa wilayah kehidupan publik lainnya di Porto Alegre. setiap warga dapat menyuarakan pendapatnya misalnya menyatakan dimana suatu investasi dapat pertama-tama dapat dilaksanakan. mendapatkan masukan berdasar pengetahuan yang unik dari masyarakat dengan sendirinya merupakan suatu aset. Melalui suatu proses pertemuanpertemuan publik.

dan Santo Andre. dimulai dengan pertemuan-pertemuan seri tingkat lingkungan. Porto Alegre dan Recife keduanya memiliki penduduk lebih dari satu juta dan model-model yang sejenis telah terbukti berhasil dibeberapa kota-kota besar lainnya. Transparansi dengan sendirinya juga akan meningkat. dan sebelum memulai reformasi demokratis sebagian besar penduduk mengalami kekurangan akses pada air bersih. Konferensi ini menentang privatisasi dan menetapkan tujuan institusi untuk meningkatkan dan memperluas layanan penyaluran air. kota ini mempunyai kesenjangan yang besar antara kaum yang kaya dan kaum yang miskin. dan semua negara bagian dari Sao Paulo. A-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tingkat kemakmuran kota ini sebenarnya merupakan salah satu faktor yang menguntungkan dalam menyiapkan upaya peningkatan akses air bersih. yang juga akan sangat mungkin mengurangi resiko terjadinya korupsi. Pengalaman Brasil menunjukkan bahwa skala tidak mesti sesuatu yang menghambat untuk melaksanakan pengelolaan air yang bersifat partisipatif. bagian tenggara kota yang mempunyai jumlah penduduk berpenghasilan rendah yang sangat besar. Contoh lain dari Porto Alegre-style pengelolaan air yang partisipatif di Brasil dapat ditemukan di kota-kota seperti Caxias do Sul di negara bagian Rio Grade de Sul. dengan prioritas untuk bagian-bagian kota yang miskin. Tetapi hal ini tidak akan mengurangi nilai dari pencapaian yang bisa didapatkan melalui proses partisipasi demokrasi. Hal ini telah dicanangkan di tahun 2001 dengan proses konsultasi partisipatif selama tujuh bulan. Jacarel and Piracicaba.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA meningkatkan pemeliharaan. Seperti ditemui di tempat lainnya di Brasil. Porto Alegre adalah salah satu kota yang makmur di Brasil. Lebih dari 400 orang wakil terpilih pada pertemuanpertemuan (tingkat lingkungan) tersebut telah berpastisipasi dalam suatu konferensi dimana tidak kurang dari 160 keputusan telah diambil berkenaan dengan masalah air dan sanitasi di Recife untuk masa depan. Recife. telah melaksanakan pengelolaan air yang demokratis dan partisipatif serta bertujuan untuk lebih banyak meningkatkan akses air bersih dalam jumlah besar didasawarsa mendatang.

alokasi dana-dana yang tersedia dan penyusunan rencana kerja bersama. Keadaan yang hampir sama terjadi di Savelugu. melibatkan penduduk secara sangat intensif pada bidang-bidang yang memerlukan perbaikan dan peningkatan dalam layanan air. Masyarakat setempat. pelibatan dan pemberdayaan masyarakat setempat secara demokratis telah mengurangi biaya dan membantu mengendalikan kebocoran. Rasa memiliki yang timbul dalam masyarakat berkontribusi terhadap upaya monitoring dan pemeliharaan dari masyarakat sendiri. misalnya dengan mengendalikan akuntabilitas untuk pelaksanaan rencanarencana kerja. tetapi juga dalam konstruksi. Dengan menggunakan teknologi yang tepat guna dan menghindari ketergantungan pada kontraktor dan konsultan luar negeri akan mengurangi biaya. pengelolaan air secara partisipatif telah dilakukan dengan baik juga. Ghana. baik pada proses pengambilan keputusan maupun pekerjaan konstruksi dan pemeliharaan. Sebagai hasil dari kebijakan People’s Plan (Rencana Masyarakat) dari pemerintah negara bagian Kerala (yang me-desentralisasikan pengambilan keputusan hampir sebagian besar dari pembiayaan publik). Penggunapengguna melaksanakan pengendalian demokratis atas pengelola utilitas. pengelolaan dan pemeliharaan. Penduduk setempat tidak hanya berpartisipasi dalam perencanaan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Model pengelolaan air yang partisipatif yang sedang dalam proses A-13 pengembangan di Caracas. Pengelolaan air yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . penduduk setempat mampu memutuskan mengalokasikan dana publik untuk peningkatan akses atas air minum. perusahaan air dan petugas-petugas yang dipilih bekerja sama dalam dewan air komunal untuk mengidentifikasi kebutuhan dan prioritas untuk perbaikan-perbaikan. Di Olavanna dan komunitas-komunitas lain di Kerala. Peningkatan-peningkatan yang pokok atas akses terhadap penyediaan air sistem perpipaan telah dicapai dalam lima tahun terakhir melalui pelibatan dan pemberdayaan masyarakat. India. Dana-dana publik ini kemudian mendapat tambahan dari dana kontribusi masyarakat sendiri. Venezuela. dengan demikian akan menjamin keberlanjutan dari peningkatan dan perluasan layanan air dan sanitasi. dengan cara berkontribusi untuk mengadakan air bersih yang dapat dijangkau oleh semua.

Badan air masyarakat kota (the city’s community board) menetapkan tarif yang direncanakan untuk menjamin akses bagi semua. dimana hal ini adalah salah satu alasan bahwa kebocoran telah dapat dikurangi sampai tingkat yang paling minimum. menggunakan kemampuannya untuk mengelola layanan distribusi air diwilayahnya sementara SEMAPA menyediakan layanan air partai besar (bulk water). Di Cochabamba. namun peningkatan hanya dimungkinkan dengan bantuan dana dari UNICEF dan beberapa LSM dari belahan buni utara. istilah ”public-collective partnership”/kemitraan kolektif publik dipakai untuk menjelaskan model baru dari kepemilikan utilitas skala perkotaan. Untuk mengembangkan akses ke sistem perpipaan untuk dari daerah peri-urban.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dikendalikan oleh masyarakat di Savelugu disebut sebagai ”public-community A-14 partnership/kemitraan sektor publik dan masyarakat”. pemeliharaan. Pada waktu yang sama. Berlainan dengan yang terjadi di Caracas dan Olavanna. Hal ini mengacu kepada kenyataan bahwa perusahaan umum nasional menyalurkan air dalam jumlah besar (bulk water) kepada masyarakat. model Savelugu dibangun tanpa dukungan aktif pemerintah. kemitraan kolektif publik adalah format yang baik dan demokratis yang dapat mengatasi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Perusahaan utilitas air SEMAPA sekarang sedang di-restrukturisasi untuk melayani penduduk. termasuk penagihan kepada pengguna-pengguna. sebanyak 3 dari 7 anggota badan dipilih oleh penduduk-penduduk dari bagian selatan. Bolivia. SEMAPA sedang memasuki model co-management dengan komisi air yang telah ada yang melayani penduduk tanpa sambungan di bagian selatan kota. SEMAPA bekerja sama dengan komisi air didaerah tersebut. partisipasi dan kontrol yang demokratis yang muncul setelah privatisasi yang merusak dari Betchel diakhiri pada bulan April 2000 ”perang air”. Meskipun sejumlah faktor masih mengancam kesuksesan dari hasil dari kerjasama ini. khususnya penduduk yang miskin. pusat dan selatan dari daerah kota. dan pembuatan sambungan baru. Hal yang penting dari sistem dengan tingkat desentralisasi yang tinggi ini adalah bahwa pada tiap lingkungan (setingkat kelurahan) mempunyai komisi pengelolaan air. Pada pemilihan bulan April 2002. yang selanjutnya masyarakat yang akan mengurus semua hal yang berkaitan dengan sistem distribusi air-nya.

dan akuntabilitas dari pengelola utilitas. transparansi. yaitu Phnom Phen. pada sisi yang lain. adalah karena perbedaan prinsip antara sektor swasta pemegang konsesi dan pengelola utilitas air setempat. Argentina. yaitu Azurix (anah perusahaan Enron). ibukota negara Bangladesh. menyediakan air untuk lebih dari 3 juta penduduk. yang menarik diri setelah pemerintah propinsi menolak pertambahan harga dari layanan yang memuaskan yang dijalankan perusahaan dari Amerika Serikat. Pilihan untuk meninggalkannya. untuk mencegah interferensi/ pengaruh-pengaruh yang tidak diperlukan. Disamping contoh-contoh diatas. Cambodia dimana jumlah dari rumah tangga yang dilayani dan memdapat air telah meningkat dengan cepat dari 25% menjadi hampir 80% dalam 10 tahun terakhir. Malaysia. yang sejak tahun 2002 telah dikelola oleh pekerja-pekerja air dan ”trade-unionnya”. seperti utilitas air PBA di Penang. ada beberapa kasus keberhasilan dari belahan bumi selatan yang cukup menarik untuk dikaji. Dengan bekerja sama dengan wakil-wakil pengguna yang berpartisipasi dalam dan mengawasi pengelola. Koperasi para pekerja yang sejenis juga telah dengan sukses mengelola suatu konsesi air di dua bagian kota Dhaka. ini perlu dicatat. Bentuk lain dari pengelolaan partisipatif adalah pada pengelola utilitas air di propinsi Buenos Aires. Efisiensi. Serikat pekerja mengambil alih dalam situasi darurat yang timbul dari sektor swasta pemegang konsesi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA kecenderungan sentralisasi dalam pengelolaan utilitas dan dapat menyelesaikan masalah-masalah akses pada wilayah peri-urban. Faktor kunci dibelakang pencapaian PBA adalah komitmen yang kuat diantara manajemen dan para pekerja atas layanan publik dan pelayanan masyarakat yang prima. Perusahaan utilitas dioperasikan bebas dari pengaruh pemerintah negara bagian. para pekerja telah berhasil membawa kembali perusahaan utiltas kembali ke ”track-nya” setelah bertahuntahun dikelola secara buruk oleh Azurix. Ada juga kasus-kasus dimana pengelolaan air publik yang efektif dan setara dapat dicapai tanpa partisipasi pengguna memainkan peran yang penting. A-15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . termasuk pemeriksaan kritis yang menerus dari pihak partai-partai politik yang sedang berkompetisi. akan didorong dengan cepat oleh aktivitas politik di negara bagian.

Ada potensi umum untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan manajemen. meski badan usaha ini sering berkinerja sangat baik. untuk alasan ideologis. Pengambilan keputusan pada pelayanan air di daerah kota-kota di belahan Selatan kadang-kadang dapat menjadi ”medan perang” politis yang sangat intensif atas kepentingan-kepentingan politis dan ekonomi para elite yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat miskin. hal ini jangan dianggap sebagai ”panacea” yang dapat dilaksanakan di setiap situasi dan pada lingkungan/kondisi tertentu mungkin juga tidak layak. institusi internasional. kapasitas dari pemerintah setempat dalam memberikan layanan.5 Lingkungan yang Menunjang (Enabling Environment) Hal-hal apa yang membentuk lingkungan-lingkungan yang menunjang (lokal. reformasi perusahaan publik utilitas tidak dipertimbangkan sebagai alternatif atas program privatisasi yang diusung oleh Bank Dunia dan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan faktor penting lainnya adalah dukungan politis dari pemerintah setempat. A-16 A. partisipasi dan demokratisasi dalam berbagai bentuknya dapat digunakan sebagai piranti yang kuat untuk perubahan positif pada berbagai kondisi lingkungan. nasional dan internasional) dimana berbagai pendekatan yang berfokus pada orang mempunyai peluang untuk sukses? Diantara faktor-faktor yang paling penting adalah ketersediaan sumber daya air setempat. Sejak tahun 1990-an di Argentina. efektivitas dan responsif dan dengan sendirinya akan berkontribusi pada penyediaan jasa layanan yang lebih baik. Hal yang sama. tetapi elite politik neo-liberal tidak berkeinginan untuk mengijinkan pilihan ini dikembangkan lebih lanjut. pemerintah-pemerintah dan partai-partai politik. secara aktif menghambat pengembangan lebih lanjut dari koperasi dan pengelolaan umum utilitas publik. pemerintah pusat dan daerah telah.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Sementara itu. Sementara itu terdapat alasan yang baik untuk mengharapkan bahwa koperasi dapat memberikan layanan air di beberapa kota besar secara lebih efektif dan lebih betanggung jawab dari aspek sosial dibandingkan perusahaan air swasta.

faktor penting dibelakang keberhasilan koperasi air adalah kebebasannya dari partai politik dan kenyataan bahwa kota dan utilitas airnya telah diabaikan. pemerintah setempat dan pemerintah pusat mengambil sikap untuk tidak mendukung upaya untuk berpindah pada pengelolaan air yang bersifat publik dan partisipatif. Di kota Bolivia lainnya.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA International Monetary Fund (IMF). Utilitas telah ditransfomasikan menjadi suatu koperasi di tahun 1979. dan akuntabilitas dari pada yang dikehendaki masyarakat madani. Malangnya. di Cochabamba hampir tidak ada uang agar penduduk dapat membuat keputusannya. Di Cochabamba. birokrasi. Demikian juga. hal ini adalah pola umum di beberapa negara di seluruh dunia. urbanisasi. Model pengelolaan air yang sekarang muncul masih kurang demokratis. konflik atas sumber daya air semakin meningkat. Reformasi dan peningkatan yang dicapai adalah sebagai hasil dari kekuatan yang dibangun oleh gerakan air ditingkat akar rumput. Suatu masalah yang sedang tumbuh di berbagai belahan bumi. pertumbuhan yang cepat dari pertanian intensif (kadang untuk tujuan ekspor). merefleksikan perjuangan perebutan kekuatan yang berlanjut. Santa Cruz. tetapi tidak dihalangi oleh pemerintah pusat. Santa Cruz. dan yang lebih akhir. Sementara visi dibelakang ”public-popular partnership” di Cochabamba dapat dibanding dengan sistem planning partisipatif di Porto Allgre atau Kerala. Peningkatan pengelolaan sumber daya air untuk A-17 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Status koperasi (dan realitas kurang terpolitisasinya dari pada Cochabamba setelah ”perang air” dan ”deprivatisasi) telah memberikan otonomi yang diperlukan untuk mengendalikan utilitas bebas dari pengaruh politis. kroni-isme dan korupsi tipikal di kota-kota lain di Bolivia. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan karena industrialisasi. dan kecenderungan lain terkait dengan globalisasi ekonomi. Bolivia. kurangnya sumber daya menghalangi partisipasi yang aktif. Hal ini berarti menciptakan lingkungan yang sulit dan membatasi ruang politis untuk mempromosikan pengendalian secara demokratis di Cochabamba. transparan. Cochabamba sedang menghadapi kelangkaan air. pada waktu ideologi neo-liberalisme belum muncul sebagai faktor hambatan terhadap pendekatan air berpusat kepada masyarakat.

dapat dikatakan sebagai hal yang berlawanan dengan kebiasaan. Keberhasilan tidak selamanya dapat dijamin. Kenyataan ini sering disalah gunakan menjadi alasan diperlukannya privatisasi layanan umum. khususnya bila elite politisi setempat menghalangi perubahan yang diperlukan. Sebagai perbandingan. A-18 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kapasitas administrasi dari sektor layanan umum pemerintahan dalam memberikan pelayanan umum adalah faktor yang sangat penting. Dengan berbagai alasan. sektor publik khususnya di negara-negara berkembang seringkali diurus oleh tenaga-tenaga yang kurang mampu dalam menangani urusan pelayanan umum yang terkait dengan jaringan infrastruktur yang besar serta memerlukan kemampuan (”softskill”) yang responsif terhadap tuntutan kebutuhan. khususnya jika penduduk setempat kehilangan kesabaran jika perbaikan layanan air tidak terjamin secara nyata. Hal ini berarti upaya peningkatan kinerja layanan umum harus dimulai dari awal. sudah tentu dimulai dari kondisi awal yang paling sulit. Untuk itu guna mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi dalam perbaikan penyediaan air di Cochabamba.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA menjamin keberlanjutan akan keberadaannya adalah tantangan pokok untuk daerah perkotaan di seluruh dunia. Perancis. Semakin banyak kemampuan yang tidak dimiliki oleh pemerintah kota/daerah. yang terbukti bukan merupakan solusi yang tepat. Setiap model penyaluran air bagi daerah perkotaan yang progresif perlu memasukkan pendekatan yang berkelanjutan atas sumber daya air dan membuat neraca antara kebutuhan air untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Di Grenoble. atau jika tidak. Pencapaian di Cochacamba. sangat diperlukan solidaritas internasional. Pengalaman Di Cochabamba menunjukkan bahwa butuh waktu lama untuk mengubah utilitas yang tidak berfungsi. keberadaan pemeritahan kota yang efektif. adalah kesulitan yang dihadapi dalam mengembalikan pengelolaan utilitas air menjadi pengelolaan oleh publik dengan situasi di kota Grenoble. tidak meluasnya kemiskinan. akan semakin berat tantangan yang dihadapi untuk dapat secara efektif mengelola suatu utilitas publik. serta ketersediaan sumber daya air dari pegunungan Alpen memberikan lingkungan yang kondusif bagi keberhasilan penyediaan layanan air publik.

Eksprimen ini hanya mungkin dapat berjalan dengan subsidi kepada kaum miskin yang didanai oleh pemerintah. Berkat pembelajaran dari konsultasi. Salah satu jalan untuk mengatasi kelemahan kapasitas pelayanan umum pemerintah setempat adalah melalui ”public-public partnership” (kemitraan antara instansi-instansi pemerintah).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA khususnya untuk kota-kota dengan penduduk yang sebagian besar A-19 berpendapatan rendah. pendekatan tarif sosial dan dukungan dari masyarakat. Percobaan selama 3 tahun menunjukkan bahwa ”sharing” dan transfer pola pengelolaan dan ketrampilan teknis dapat berkontribusi (sebagian pada peningkatan pelayanan air masyarakat secara cepat. Partisipasi dan konsultasi intensif pada tingkat ”ward” dari wilayah pemerintah kota/kabupaten) adalah juga faktor kunci disamping faktor lainnya yaitu finansial untuk mencapai sukses public-public partnership. kemajuan yang dibuat oleh kemitraan publik dan masyarakat di Savelugu sekarang terancam oleh kenyataan bahwa Ghana Water Company (GWC) tidak mampu untuk menyalurkan layanan air bersih yang mencukupi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Harrismith tidak mengalami kerugian dari tingginya tingkat pelanggan yang tidak membayar—tipikal masalah pada konsesi yang diprivatisasikan di Afrika Selatan. public-public partnership antara pemerintah setempat di kota Harrismith dan perusahaan besar utilitas publik bidang air dari kota lain telah mencapai hasil yang baik. Tanpa kebijakan yang lebih bersifat ambisius adalah sulit untuk mencapai kondisi dimana air dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat untuk memerangi kemiskinan dan redistribusi kemakmuran dalam lingkup lokal dan nasional. Di Afrika Selatan. Proyek ”Public-public partnership” telah membawa peningkatan yang nyata. Jelaslah bahwa kapasitas untuk memberikan layanan umum oleh pemerintah kota/daerah setempat adalah komponen kunci dari masyarakat demokratis dan merupakan suatu keharusan guna diberlakukannya hak atas air bagi penduduk. tetapi tidak dikelola untuk mengatasi menumpuknya kebutuhan akses air bersih dalam jumlah yang besar yang ada dikawasan komunitas perkotaan di Harrismith. yang telah dikelola dengan baik melalui kemitraan. Di Ghana.

beberapa upaya-upaya telah dilaksanakan untuk mempercepat peningkatan kapasitas dalam layanan umum. A-20 A. Di kota-kota di Brasilia seperti Porto Alegre dan Recife.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA untuk masyarakat. Penganggaran partisipatif diperkenalkan dan di-institusionalkan setelah partai Pekerja memenangi pemilu dan memperoleh kendali politik. dan juga oleh partai-partai politik. atau masyarakat madani/LSM. sebagaimana telah dijelaskan di bagian sebelumnya dari tulisan ini. peningkatan-peningkatan yang telah terjadi disebabkan oleh peran fasilitasi dan pemberdayaan dari pemerintah-pemerintah pusat dan daerah. kota-kota seperti Recife dan Porto Alegre. Hampir semua utilitas yang berhasil yang dijadikan contoh telah meningkatkan layanan air dan sanitasi melalui penyusunan visi layanan umum yang melayani tujuan-tujuan sosial yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . upaya-upaya ini dipelopori oleh pemerintah setempat. dan juga di Kerala.6 Ethos Baru Layanan Umum Sementara adalah suatu kenyataan bahwa beberapa perusahaan utilitas air dibelahan bumi selatan mengalami hambatan dari birokrasi dan seringkali gagal memberikan layanan kepada warga yang miskin. atau pekerja. Di Kerala. yang dikendalikan oleh Front Demokratis Kiri. Upaya ini mencakup redefinisi dan ”re-invention” yang radikal tentang pelayanan umum dan arti dari ”ke-umum-an”/publicness (kualitas menjadi umum/publik dan menjadi milik masyarakat). Di Brasilia. Krisis yang semakin mendalam GWC sebagaian besar disebabkan oleh kurangnya pembiayaan dan hal-hal yang terkait dengan upaya bersama pemerintah pusat dan Bank Dunia yang sedang menyiapkan suatu perusahaan yang akan menangani privatisasi. India dan Caracas di Venezuela. peningkatan-peningkatan dicapai karena komitmen yang sangat kuat dari walikota dan anggota dewan kota yang berasal dari partai Pekerja. Hal ini menggaris bawahi pentingnya kebijakan nasional dan internasional yang lebih bersifat memfasilitasi dari pada mengahalangi partisipasi dan solusi lainnya atas layanan air untuk publik. penganggaran yang bersifat partisipatif dan di-desentralisasikan dimulai dan dikonsolidasikan oleh pemerintah negara bagian .

”Ke-umuman/publicness” di –redefinisikan sebagai sesuatu yang jauh diluar sekadar kepemilikan oleh umum atau pengelolaan oleh pegawai (negeri/badan usaha milik negara/daerah). Malaysia. Ethos baru pelayanan umum yang sedang muncul dengan berbagai bentuk pengelolaan air yang tidak mencari keuntungan. A-21 A. tetapi juga perusahaan utilitas yang dikendalikan oleh umum. pengaruh ideologi neo-liberal menghasilkan permasalahan yang rumit dalam praktek pengelolaan layanan air diantara pilihan dikelola oleh publik atau privatisasi. Utilitas air di Penang. pada umumnya. Pengertian ”ke-umum-an” yang progresif ini faktor yang sangat penting untuk memenuhi tantangan-tantangan seperti penyediaan air bersih untuk warga miskin yang ter-marginal-kan di pinggiran kota dan. telah mengembangkan ethos layanan umum yang berkualitas tinggi yang memungkinkan menyediakan air berkualitas tinggi untuk semua pada harga yang masih dapat dijangkau. dicapainya manajemen sumber daya yang berkelanjutan untuk kota-kota yang selalu berkembang. dan keamanan masyarakat (human security).7 Catatan Tentang Komersialisasi Beberapa kasus tentang upaya peningkatan pelayanan air untuk umum menunjukkan adanya kecenderungan yang saling bertentangan. internalisasi dan konsolidasi dari philopi dari melayani kebutuhan umum adalah fasilitasi dengan partisipasi warga secara langsung dan bentuk-bentuk lain dari interaksi dengan penggunapengguna. Pengenalan busines neo-liberal dan model-model pengelolaan (sering disebut sebagai New Public Management-NPM) mengarah pada bentuk- LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dimiliki oleh kelompok pekerja dan kelompok pengguna-pengguna. Dalam banyak kasus. keberlanjutan sosial. sebagian. dimana sahamnya. Pengalaman yang diperoleh dari reformasi di bidang utilitas air umum adalah pengembangan ethos baru di bidang pelayanan umum. dapat mengambil bentuk mulai dari koperasi sampai ke pelayanan utilitas yang dikelola pemerintah kota.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA lebih luas. Pertama. termasuk demokrasi.

perusahaan-perusahaan ini bermaksud untuk beroperasi sebagai penyedia layanan air komersial di luar negeri. Outsourcing tugastugas kunci kepada kontraktor swasta dan pengenalan kondisi perburuhan yang ”fleksibel” adalah contoh-contoh peng-adopsian dari model busines korporasi. Pajak biasanya dipakai untuk membiayai perluasan dan pembangunan sistem. biaya dari pinjaman biasanya dikenai pajak. dan juga Rand Water di Afrika Selatan dan PBA di Malaysia. Kecenderungan ini terlihat nyata. dalam hal ini konsumen membayar sebanding dengan air yang digunakan (memakai lebih banyak air akan membayar lebih banyak).BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA bentuk komersialisasi yang akan bertentangan dengan prinsip-prinsip ethos pelayanan umum yang dijelaskan sebelumnya. air seluruhnya dibayar dengan iuran pengguna (full cost recovery). Beberapa utilitas publik air telah mengkombinasikan perluasan layanan air dengan struktur tarif sosial. Kedua. misalnya. dan juga melalui subsidi silang melalui ”stepped tariffs/tarif progresif”. A-22 A. sedang berekspansi untuk beroperasi keluar negeri. dengan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pada prinsipnya ada cara untuk membayar penyediaan air untuk publik: pajak-pajak atau iuran (biaya jasa pengelolaan) dari pengguna. praktek operasi dari EAAB di Bogota.8 Pembiayaan Air Publik Pembiayaan adalah tantangan kunci untuk setiap komunitas yang menghendaki terjaminnya air untuk semua. dan juga menyediakan subsidi untuk mengurangi beban yang harus ditanggung oleh pengguna melalui tarif air. Pelayanan air sehari-hari dari utilitas air memerlukan biaya dan perluasan akses atas air. Jika pemerintah atau pemerintah kota meminjam uang atau menerbitkan bonds/surat berharga untuk membiayai investasi. Di beberapa negara—seperti Irlandia—layanan air dibayar hampir seluruhnya melalui pajak pemerintah pusat. Columbia. Di beberapa kota-kota yang mempunyai keberhasilan dalam penyediaan air publik. memerlukan investasi-investasi awal yang cukup besar. Sementara mereka berpedoman pada ethos pelayanan umum jika beroperasi di dalam negeri. kecenderungan yang terkait dengan utilitas publik seperti EAAB.

Malaysia. dan 6. DMAE di Porto Alegre. termasuk yang paling miskin A-23 mempunyai akses terhadap air yang terjangkau. misalnya. Setelah proses konsultasi publik.000 liter bebas biaya untuk setiap keluarga. ekspansi/perluasan layanan air dapat juga dikerjakan dengan pengurangan biaya operasi dan meningkatkan efisiensi air. Brasil. Di kota Matao. Meteran air pra-bayar yang telah dipasang di beberapa komunitas miskin di Afrika Selatan secara nyata merupakan pelanggaran atas hak azasi manusia atas air. Untuk mengatasi rintangan pembiayaan. privatisasi kelihatannya menjadi satu-satunya pilihan untuk pemerintah kota yang kehausan modal untuk investasi perluasan layanan air untuk mengikuti pertumbuhan penduduk yang cepat. mengurangi jumlah pelanggan yang tidak membayar dan perbaikan dari kelayakan pembiayaan utilitas dapat dicapai. memungkinkan utilitas mempunyai tarif air yang paling rendah di negerinya. kebijakan neo- liberal cost recovery (tanpa subsidi silang) telah menyebabkan problem afordabilitas dan beberapa juta penduduk mengalami pemutusan layanan air. paling tidak diperlukan untuk men-duakali-kan jumlah air gratis yang dijamin konstitusi dan ditambah dengan subsidi silang untuk tarif rendah bagi penduduk berpenghasilan rendah.000 liter air gratis per keluarga terbukti ternyata tidak mencukupi untuk satu keluarga besar penduduk miskin.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA demikian memungkinkan seluruh warga. Untuk menjamin keterjangkauan air untuk semua. utilitas kemudian di-reorganisasi dengan struktur tarif yang berbeda dan insentif untuk mengurangi kebocoran dan limbah. Di Penang. Sementara undang-undang di Afrika Selatan menjamin pemberian 6. Hal ini meningkatkan kesehatan aspek finansial dari utilitas dan menyelesaikan masalah sumber daya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . hak atas air tidak secara efektif dilaksanakan. Beberapa cara lainnya adalah mengatasi kebocoran dan meningkatkan penagihan-penagihan. menyalurkan kelebihan (surplus) atas iuran yang lebih tinggi yang mampu dibayar oleh pengguna yang kaya kedalam dana investasi yang membiayai air baru dan infrasruktur untuk air dan infrastruktur sanitasi bagi semua yang memerlukannya Di Afrika Selatan dan beberapa kota lainnya diseluruh dunia. kondisi tingkat pelanggan air tidak membayar sangat rendah.

akses atas air untuk bagian masyarakat yang miskin tetap ditempatkan pada prioritas yang rendah dan seringkali pendekatan-pendekatan neo-liberal mendominasi para A-24 elite setempat dalam proses politik. Kesulitan akses untuk pembiayaan investasi-investasi dalam pengembangan dan peningkatan penyediaan air merupakan hambatan di banyak kota-kota di belahan bumi selatan. tetapi untuk kelompok masyarakat lain yang berminat melaksanakan model-model yang sama tidak dapat bergantung pada ”philantrophy”. Model Savelugu di Ghana utara hanya mungkin terrealisasi berkat pendanaan dari UNESCO dan LSM internasional. Banyak hal-hal yang dapat diperbaiki untuk pendekatan negara-negara dibelahan bumi selatan dalam penyediaan air. yang mana telah membantu pengurangan biaya dari proyek konstruksi baru. juga bentuk-bentuk yang sangat berbeda dari proses desentralisasi telah terjadi di beberapa negara yang terletak di belahan bumi selatan dalam sepuluh tahun terakhir. hal ini juga merupakan upaya keberlanjutan sumber daya air: pengurangan kebocoran dapat juga membantu mengatasi ancaman atas kekurangan air dan bahkan membuat investasi pokok pembangunan bendungan baru tidak diperlukan lagi. Warga tidak hanya diberdayakan oleh pemerintah untuk mampu memprioritaskan alokasi anggaran publik. Di titik inilah peranan dari pemerintah pusat dan institusi pendanaan internasional untuk menjamin akses untuk memperoleh pinjaman (loans) mutlak diperlukan. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA air. Partisipasi warga dapat membantu kesehatan finansial utilitas air. sebagaimana kasus di Porto Alegre. Keadaan yang sangat kontras dengan pemberdayaan demokratis dari desentralisasi pengambilan keputusan atas dana pemerintah didapati di Kerala. Masyarakat pada area dimana pembangunan infrastruktur air terjadi berpartisipasi dalam komisi-komisi yang mengawasi kontraktor-kontraktor menjalankan pekerjaannya. India. Dibanyak negara. diperlukan dana dari luar untuk membiayai investasi awal yang besar. Hal ini berarti pengawasan yang menerus atas utilitas air dan pengawasan terhadap kontraktor. mereka juga dilibatkan dalam monitoring pelaksanaan keputusan-keputusan dan proyek-proyek. Mengikuti saran-saran IFI. Untuk masyarakat miskin. Dengan jelas.

Kenyataan yang sangat mengganggu adalah sebagain besar IFIs tetap berkeras memihak kepada privatisasi dan menggunakan berbagai jenis tekanan baik secara nyata atau secara halus untuk memaksakan hal tersebut (privatisasi) kepada pihak peminjam. juga bagi negara-negara di Eropa Tengah dan Timur. Dengan keadaan bahwa banyak pemerintah-pemerintah di belahan bumi selatan menderita karena sistem ekonomi global yang tidak adil dan hutang luar negeri yang semakin membesar. Pada waktu yang sama. institusi bantuan untuk pembangunan dan team negosiasi perdagangan.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA pemerintah-pemerintah telah mengalihkan tanggung jawab kepada pengelola utilitas setempat. perdagangan bebas dan reformasi neo-liberal lainnya telah menghasilkan meningkatnya angka pengangguran dan marginalisasi ekonomi. nyatanya kadang hal ini mempersempit alternatif pilihan yang lain dari privatisasi. Solusi jangka panjang. sementara itu pada saat yang bersamaan utilitas setempat kekurangan dana untuk memenuhi kewajiban baru mereka. Pemerintah-pemerintah di belahan bumi utara dan IFIs terus-menerus menggunakan pembiayaan sebagai sebagai alat politik untuk A-25 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kumulatif dampak/impacts dari kebijakan neo-liberal adalah hambatan dasar bagi pengembangan penyediaan oleh publik untuk layanan-layanan penting. Untuk sebagian besar penduduk di belahan selatan. pinjaman-pinjaman dari IFIs adalah satu dan hanya satu-satunya jalan dimana para pemerintah dan pemerintah kota bisa mendapatkan dana-dana untuk investasi guna pengembangan akses terhadap air. Hal ini masih ditambah dengan kenyataan adanya tekanan untuk me-liberalisasi dan privatisasi dari IFIs. kelihatannya layak jika model pembangunan diganti dengan model globaliasi yang lain. Hal ini telah menjadi konsekuensi yang dapat diramalkan atas penyediaan layanan publik yang vital. hal ini sering digabungkan dengan tingginya angka pembayaran pinjaman luar negeri. konteks kini dari globalisasi neo-liberal adalah sangat berlawanan dengan kondisi lingkungan yang diinginkan untuk meningkatkan dan memperluas sistem air publik yang berfokus pelayanan penduduk. Pemerintah-pemerintah mengalami penurunan anggaran disebabkan karena penurunan pajak pendapatan. yaitu yang mem-fasilitasi solusi publik yang progresif dari pada menyembunyikannya.

Porto Alegre dan Recife mendapat pinjaman dari IFI setelah negosiasi yang sangat berat dimana Bank Dunia tetap ”ngotot” mendorong kearah privatisasi.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA menekan pemerintah-pemerintah di belahan bumi selatan untuk bergabung dalam upaya melaksanakan reformasi neo-liberal. Untuk mendorong aliran pembiayaan internasional untuk memperluas akses atas air kepada kaum miskin. Disamping pilihan pendanaan yang bersifat redistribusi dengan pengaturan perpajakan dan tarif air yang bersifat subsidi silang. Penting untuk diketahui bahwa dana yang hanya ”sepersekian” dari dana yang dipergunakan untuk keperluan militer sudah mencukupi untuk membiayai penyediaan air bersih untuk semua orang dibumi ini. yang sesungguhnya sangat sehat. tetapi karena kondisi keuangan pemerintah pusat yang menyebabkannya. seperti pinjaman IBRD untuk koperasi-koperasi di Argentina dan Bolivia. Kehendak untuk membiayai pilhan sektor non-swasta tetap jauh dan terlalu terbatas. Legitimasi demokratis dari pengelola utilitas publik dan dukungan dari walikota-walikota telah membantu ditahannya tekanan-tekanan dan berhasil mendapat pinjaman tanpa kondisi yang dapat menggerus hakikat dari model-model partisipatif. Ada beberapa perkecualian. terdapat berbagai jenis pilihan pendanaan yang berskala lokal dan nasional. Di Eropa. menambah dana bantuan pembangunan dari negara-negara maju di belahan utara adalah pilihan yang langsung. Bolivia. termasuk ”floating municipal bonds”. pajak kecil yang dikenakan pada botol kemasan air mineral dan menghasilkan miliaran euro (triliunan rupiah) pun masih jauh lebih kecil dari jumlah yang sangat besar yang A-26 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . tentunya digabungkan dengan penghilangan atas tekanan-tekanan yang terkait dengan kondisi privatisasi. Koperasi di Santa Cruz. Ada kebutuhan mendesak akan mekanisme pembiayaan tanpa kondisi politis dengan tujuan yang berorientasi pada pelayanan masyarakat dan bukan bertujuan ekonomis dan ideologis. sedang menghadapi pembatasan-pembatasan untuk mendapatkan pinjaman yang lebih besar bukan karena keadaan keuangannya sendiri. Masyarakat Eropa dan beberapa pemerintahan di Eropa secara pro-aktif mendorong dilakukannya privatisasi.

Contoh dari Cochabamba dan beberapa kota lainnya menunjukkan bagaimana model-model penyediaan air oleh publik adalah. sebagian besarnya. begerak lebih dari sekadar hanya bertahan. Keadilan sosial dan demokratisasi pengambilan keputusan pengelolaan air juga perlu diintegrasikan dalam upaya tersebut. partai-partai politik dan para manajer utilitas publik. Tekanan publik kepada pemerintah dan pengelola utilitas umum untuk merubah dan meningkatkan akses atas air bersih mempunyai peran penting dalam upaya dicapainya pemenuhan air untuk semua secara berkelanjutan. A-27 A. mayoritas yang besar mendukung perubahan konstitusi yang akan menetapkan air sebagai hak azasi manusia dan melarang privatisasi. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dibentuk oleh perjuangan politik yang mendahuluinya. kelompok-kelompok perempuan dan para aktivis akar rumput sampai ke serikat buruh. seringkali telah mengelaborasi visi dan usulan yang konkrit tentang alternatif-alternatif untuk pelayanan sektor publik. Proses politis dalam mengupayakan reformasi utilitas publik dan alternatif untuk privatisasi menentukan karakter dari pendekatan pengelolaan air publik.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA dapat dikumpulkan melalui ”pajak Tobin” yang dapat dikenakan pada transaksi keuangan internasional. pergerakan sosial memobiliasi kekuatan untuk mendukung keinginan kaum yang terpinggirkan melawan kebijakan-kebijakan neo-liberal yang dipromosikan oleh elite politik dan ekonomi. mempersatukan berbagai jenis pelaku yang luas. Kampanye anti-privatisasi di beberapa negara didunia. Gerakan-gerakan ini. Perjuangan politik ini adalah elemen penting didalam memahami proses penyediaan air ke masa depan. Perjuangan dan Solusi-Solusi Air Publik Kasus-kasus yang secara singkat diulas.9 Gerakan. dari para environmentalist. Hal ini terjadi pada kasus Urugay dimana. Di banyak negara. menunjukkan bahwa gerakan sosial secara aktif berkontribusi dalam mempertahankan dan meningkatkan karakter publik dari layanan air dan sanitasi di seluruh dunia. dalam referendum nasional di bulan Oktober 2004.

Partipasi publik yang efektif diyakini akan mempebaiki pengelolaan utilitas air publik.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Perubahan konstitusi yang dipromosikan oleh koalisi gerakan-gerakan yang menetapkan bahwa partisipasi konsumen. Kampanye anti privatisasi menghadapi tantangan untuk meyakinkan operator air publik bahwa partisipasi masyarakat dan pengendalian/kontrol yang demokratis dapat membantu memperbaiki efektivitas pelayanan publik. transparansi dan partisipasi warga adalah pergulatan yang pokok. dimana informasi kunci adalah ditetapkan sebagai diluar jangkauan karena alasan kerahasiaan komersial dari privatisasi. masyarakat dan masyarakat madani (LSM-LSM) adalah memegang peran pokok pada setiap tahapan pengelolaan air dan dalam institusi-institusi. dalam kerangka PBB. transparansi adalah karakteristik dasar yang perlu dimiliki hampir untuk semua utilitas publik yang berfokus pada pelayanan masyarakat. Pergulatan untuk transparansi dan akses publik atas informasi adalah tema yang diulang-ulang di banyak kampanye. serikat buruh. Potensi transparansi adalah keuntungan yang esential dari utilitas publik atas privatisasi penyediaan air. kelompok-kelompok masyarakat madani di Argentina juga telah mencanangkan kampanye untuk referendum untuk menentukan bahwa akses atas air dianggap sebagai hal yang mendasar dalam hak azasi manusia dan menyatakan bahwa air untuk publik yang merupakan milik bersama dikecualikan dari privatisasi. Konvensi yang dimaksud hendaknya menyediakan instrumen hukum yang kuat untuk menjamin hak atas air bersih untuk semua dan menjaga agar air tidak diperlakukan sebagai komoditi. Di inspirasi dari kemenangan di Urugay. Di negara pasca komunis seperti Slovakia. Para manajer utilitas publik dan karyawan pemerintah kota sering menganggap pelibatan masyarakat sebagai hal yang mengganggu. Koalisi global LSM yang sedang berkembang menuntut agar pemerintah-pemerintah bersepakat untuk membuat konvensi internasional tentang hak atas air. seperti menghentikan praktek tercela dari politisi yang gagal menyalahkan gunakan utilitas juga pilihan pensiun dengan mendapat pesangon. A-28 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . perlu ditetapkan lingkup dari perbaikan. Disamping itu. Sementara hal-hal ini dapat berjalan dengan baik.

Di Amerika Serikat (dimana 85% penduduk dilayani oleh utilitas publik). aman dan banyak. Dengan demikian hal ini berarti justru merupakan tantangan bagi masyarakat madani di belahan bumi utara. terutama untuk utilitas listrik. Juga di bagian Utara. Kampanye melawan privatisasi dan perbaikan layanan publik di negara seperti Jerman. tekanan sekarang bertambah pada negara-negara Amerika Serikat. dimana air yang murah. Sebagai contoh di Urugay. tentu akan berbeda dari pada untuk tempattempat seperti Ghana atau Afrika Selatan dimana akses terhadap air adalah perjuangan sehari-hari bagi sebagian besar penduduknya. bentuk-bentuk partisipasi warga yang baru di bidang pengelolaan air telah mulai diperkenalkan. Sejauh mana partisipasi masyarakat akan dapat dilibatkan akan menjadi agenda dari upaya perbaikan penyediaan air publik di belahan bumi Utara yang masih akan dilihat perkembangannya. Kanada. untuk seterusnya. Sebagaimana gelombang privatisasi melanda belahan bumi bagian selatan pada tahun 1990-an. akan selalu tergantung kepada keluasan lingkungan politis. berbagai jenis mekanisme yang partisipatif dan demokratis yang telah disusun untuk mengatur dan memperbaiki kinerja utilitas. perjuangan melawan privatisasi tidak hanya sekedar mempertahankan kondisi ”status quo”. Untungnya telah banyak hal-hal yang dapat kita pelajari. Jepang dan Eropa khususnya bagian Barat dimana penyediaan utilitas air publik masih sangat banyak dilaksanakan oleh sektor air yang dikendalikan oleh publik. Pelajaran yang dapat kita petik dari pengalaman-pengalaman dari kampanye untuk air publik diseluruh dunia. Perjuangan untuk air. nilai-nilai universalnya telah melewati batas negara dan bahkan benua. gerakan air berhasil pada saat terjadinya perubahanperubahan politis yang besar dan dalam hal ini politis bergeser ”kekiri”. tidak hanya dari kampanye gerakan anti privatisasi yang telah tumbuh dengan kuat di belahan bumi selatan. A-29 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Di Itali. tetapi hal ini dapat diperluas untuk sektor air.BUKU 1 STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 4 STRATEGI PENGELOLAAN SDA DI PULAU JAWA Strategi kampanye dibentuk oleh konteks lokal dan nasional termasuk diantaranya intensitas masalah dan kesempatan politis. tetapi juga dari berbagai bentuk pengelolaan air yang inovatif yang telah melahirkan kembali berbagai jenis layanan publik di kota-kota di belahan bumi selatan selama 10 tahun terakhir.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful