Anda di halaman 1dari 13

etika pergaulan antara muslim dan non-muslim

Tulisan di bawah ini merupakan butir-butir penjelasan dari Syaikh Muhammad Shalih alMunajjid tentang kode etik dan adab berinteraksi dengan non muslim. Kami memandang perlu untuk menerbitkannnya karena masih ada sebagian kaum muslimin yang terlalu longgar dalam bergaul dengan non muslim hingga melampaui batas-batas syara , dan sebaliknya ada yang terlalu ketat hingga bersikap zhalim terhadap mereka. Padahal Islam mengajarkan sikap pertengahan dan adil. Berikut ini penjelasan beliau : Al-Hamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, (prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam berinteraksi dengan non muslim) adalah: 1. Islam adalah agama rahmat dan agama keadilan. 2. Kaum muslimin diperintahkan untuk mendakwahi kalangan non muslimin dengan cara yang bijaksana, melalui nasihat dan diskusi dengan cara yang terbaik. Allah subhanahu wataala berfirman, artinya, Janganlah engkau berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang terbaik, kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka.. 3. Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam. Allah subhanahu wataala berfirman, artinya, Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imrn : 85) 4. Kaum muslimin harus memberi kesempatan kepada orang-orang non muslim untuk mendengar firman Allah. Allah subhanahu wataala berfirman, artinya, Dan jika seseorang dari orang-orang musyirikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui (at-Taubah: 6) 5. Kaum muslimin harus membedakan antara masing-masing non muslim dalam pergaulan; yaitu membiarkan mereka yang bersikap membiarkan kaum muslimin (tidak memerangi), memerangi mereka yang memerangi, dan menghadapi yang sengaja menghalangi tersebarnya dakwah Islam di muka bumi. 6. Sikap kaum muslimin terhadap non muslim dalam soal cinta kasih dan kebencian hati, didasari oleh sikap mereka terhadap Allah subhanahu wataala. Karena orang-orang non muslim itu tidak beriman kepada Allah subhanahu wataala dan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, menyimpang dari agama Allah subhanahu wataala dan membenci kebenaran (Islam), maka kaum muslimin juga harus membenci mereka. 7. Kebencian hati bukan berarti bersikap menzhalimi, dalam kondisi apapun. Karena Allah subhanahu wataala berfirman kepada Nabi-Nya shallahu alaihi

wasallam tentang sikap yang wajib terhadap Ahli Kitab, (Dan katakanlah), Aku diperintahkan untuk berbuat adil di antara kalian; Allah adalah Rabb kami dan Rabb kalian, bagi kami amalan kami dan bagi kalian amalan kalian. (asy-Syra : 15) Rasulullah shallahu alaihi wasallam adalah seorang Muslim, sementara mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nashrani. 8. Kaum muslimin harus berkeyakinan, bahwa dalam kondisi bagaimana pun, seorang muslim tidak boleh bersikap zhalim terhadap non muslim. Sehingga tidak boleh menganiaya mereka, menakut-nakuti (menteror) mereka, menggertak (mengintimidasi) mereka, mencuri harta mereka, mencopetnya, tidak boleh bersikap curang terhadap hak mereka, atau mengkhianati amanah mereka, tidak boleh tidak membayar upah mereka, membayar kepada mereka harga barang jualan mereka kalau kita membelinya dari mereka, dan membagi keuntungan dalam usaha patungan dengan mereka. Firman Allah subhanahu wataala, artinya, Dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu.Bagi kami amalamal kami dan bagi kamu amal-amal kamu.Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali. (asy-Syra : 15) 9. Kaum muslimin harus berkeyakinan bahwa seorang muslim harus menghormati perjanjian yang dilakukan antara dirinya dengan orang non muslim. Kalau ia sudah setuju dengan persyaratan yang mereka ajukan, misalnya untuk masuk negara mereka dengan visa, dan ia sudah berjanji untuk menaati perjanjian tersebut, maka ia tidak boleh merusaknya, tidak boleh berkhianat atau memanipulasi, membunuh atau melakukan perbuatan merusak lainnya. Demikian seterusnya. 10. Kaum muslimin harus berkeyakinan bahwa kalangan non muslim yang memerangi mereka, mengusir mereka dari negeri mereka dan menolong orang-orang itu memerangi kaum muslimin, boleh dibalas untuk diperangi. 11. Kaum muslimin harus berkeyakinan bahwa seorang muslim boleh berbuat baik kepada orang non muslim dalam kondisi damai, baik dengan bantuan finansial, memberi makan kepada mereka yang kelaparan, memberi pinjaman bagi mereka yang membutuhkan, menolong mereka dalam perkara-perkara yang mubah (boleh), berlemah-lembut dalam tutur kata, membalas ucapan selamat mereka (yang tidak terkait dengan akidah, seperti selamat belajar, selamat menikmati hidangan dll), dan lain sebagainya. Allah subhanahu wataala berfirman, artinya, Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negrimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (al-Mumtahanah: 12. Kaum muslimin hendaknya tidak menahan diri untuk bekerjasama dengan kalangan non muslim dalam melaksanakan berbagai kebajikan, memberantas kebatilan, menolong orang yang dizhalimi, memberantas segala bahaya

terhadap kemanusiaan seperti perang melawan sampah, menjaga keamanan lingkungan, memperoleh barang bukti dan memberantas penyakit-penyakit menular, dan lain-lainnya. 13. Kaum muslimin harus meyakini bahwa ada perbedaan antara muslim dengan non muslim dalam beberapa ketentuan hukum, seperti warisan, pernikahan, perwalian dalam nikah, masuk kota Mekkah dan lain-lain. Semua hukum tersebut dijelaskan dalam buku-buku fikih Islam. Kesemuanya itu didasari oleh perintah-perintah dari Allah subhanahu wataala dan Rasul-Nya Muhammad shallahu alaihi wasallam. Sehingga tidak mungkin disamaratakan antara orang yang beriman kepada Allah subhanahu wataala semata, dan tidak menyekutukan Allah subhanahu wataala dengan segala sesuatu, dengan orang yang kafir kepada Allah saja, dan dengan orang yang kafir kepada Allah subhanahu wataala dan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, lalu berpaling dari agama Allah subhanahu wataala yang benar. 14. Kaum muslimin diperintahkan untuk berdakwah mengajak ke jalan Allah subhanahu wataala di seluruh negri-negri Islam dan di negeri-negeri lain. Mereka harus menyampaikan kebenaran kepada semua orang, mendirikan masjid-masjid di berbagai penjuru dunia, dan mengirimkan para dai ke tengah masyarakat non muslim, serta mengajak berdialog dengan para pemimpin mereka untuk masuk ke dalam agama Allah subhanahu wataala. 15. Kaum muslimin harus berkeyakinan bahwa kalangan non muslim, baik yang beragama samawi atau non samawi adalah sama-sama tidak benar. Oleh sebab itu, kaum muslimin tidak boleh mengizinkan mereka untuk menyebarkan para misionaris mereka, atau membangun tempat ibadah mereka di lingkungan kaum muslimin. Allah subhanahu wataala berfirman, artinya, Maka apakah orang yang beriman sama seperti orang yang fasik (kafir)? Mereka tidak sama. (as-Sajdah:18) Barangsiapa yang mengira bahwa Islam itu sama saja dengan agama-agama lain, maka ia keliru besar. Para ulama membuka pintu dialog dengan kalangan non muslim. Mereka juga memberikan kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pandangan dengan orang-orang kafir, serta bersedia menjelaskan kebenaran kepada mereka. Sebagai penutup, Allah subhanahu wataala berfirman, artinya, Katakanlah, Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Ilah selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). (Ali Imrn: 64) Demikian juga firman Allah subhanahu wataala, Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. (Ali Imrn:110). Sumber: Soal-jawab Keislaman, www.islam-qa.com dengan beberapa penambahan dan penyesuaian bahasa

ETIKA BERDEBAT DENGAN NON-MUSLIM


Berkenaan dengan hal ini, maka kita akan menemukan beberapa ayat Al-Quran yang mengandung seruan kepada umat Islam untuk melakukan perdebatan dengan cara yang terbaik. Lihat salah satunya pada Q.S. Al-Ankabut (29): 46: Janganlah kamu berdebat denga Ahli Kitab kecuali dengan cara yang terbaik Dengan cara yang terbaik dapat diartikan dengan cara menggunakan gaya bahasa yang santun dan lemah lembut dalam berdebat. Artinya kita tidak perlu melakukan tindakantindakan yang mengandung ancaman ataupun kekerasan terhadap lawan bicara. Tapi kenyataannya sekarang, kita sering mendengar atau menyaksikan secara langsung tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Non-Muslim kepada umat Islam, baik melalui lisan maupun tulisan. Dan seringkali tindakan keras tersebut ditujukan untuk melemahkan akidah dan keyakinan umat Islam. Dalam hal ini, agaknya metode debat dengan menggunakan gaya bahasa yang santun di atas tidak terpakai lagi, malah sebaliknya, umat Islam harus bersikap keras dan tegas untuk melindungi harga diri dan martabatnya dari segala tindakan penyimpangan yang dilakukan oleh Non-Muslim. Apakah ini berarti Umat Islam telah melanggar aturan Al-Quran, karena tidak mengikuti seruan untuk melakukan perdebatan dengan cara yang terbaik? Jawabannya adalah: Tidak. Bukankah Al-Quran sendiri telah mengisyaratkan adanya perintah untuk berdebat dengan cara memberikan ancaman dan kekerasan. Hal ini dapat kita pahami dari berbagai ayat yang mengandung perdebatan yang terjadi antara Nabi SAW dengan Ahli Kitab. Lihat saja misalnya pada Q.S. Ali Imran (3): 64: Katakanlah hai Muhammad: Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun Ayat ini berisi ajakan (dakwah) Nabi Muhammad SAW terhadap seluruh umat manusia kepada ajaran tauhid (agama Islam) (Tafsir Al-Maraghi: Juz III). Jelas sekali dengan tegas Nabi SAW mengatakan dalam ayat ini untuk tidak menyembah kepada selain Allah SAW dan tidak berlaku syirik pada-Nya. Inilah unsur sikap keras dan tegas Nabi dalam melakukan dakwah. Berdasarkan hal ini, maka Umat Islam harus membantah dengan tegas segala kekeliruan dan penyimpangan yang dilakukan oleh Non-Muslim, tapi tentunya dengan argumentasiargumentasi yang tepat sasaran. Argumentasi-argumentasi tersebut tidak akan tepat

sasaran jika tidak melalui pemikiran-pemikiran yang bersifat logis, sistematis, dan menyeluruh (radikal). Pemikiran-pemikiran tersebut dapat diketahui melalui ilmu filsafat. Walau bagaimanapun keadaannya, umat Islam tidak boleh berpangku tangan saja menghadapi problematika kehidupan beragama di tempat mereka berada. Maka salah besar orang yang mengatakan bahwa tidak ada gunanya belajar ilmu filsafat dan logika dalam agama Islam, malah ilmu-ilmu tersebut sangat berguna sekali dalam interaksi sosial agama, terutama dalam hal mendakwahkan Islam kepada Non-Muslim.

ETIKA BERTETANGGA Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk hidup bermasyarakat, hidup secara sosial. Islam mengharamkan hidup menyendiri dan tidak peduli terhadap sesamanya. Nabi Muhammad sangat banyak memberikan tuntunan dan etika dalm bertetangga. Bahkan Al Quran sendiri secara tegas memerintahkan agar umat islam berbuat baik dan menjalin hubungan harmonis dengan tetangga. (QS.45) Said Bin Mussayah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, Menghormati tetangga itu seprti menghormati Ibu sendiri. Dalam hadis lain Nabi mengatakan bahwa salah satu bukti iman kepada Allah dan hari akhirat adalah memuliakan jiran.(Bukhari) Selanjutnya Nabi mengatakan, Tetangga itu ada tiga macam 1. Tetangga yang mepunyai tiga hak 2. Tetangga yang mempunyai 2 hak dan 3 Tetangga yang mempunyai satu hak. Tetangga yang mempunyai tiga hak adalh tetangga yang muslim dan kebetulan ia familimu (kerabat) Tiga hak tersebut ialah hak sebagai kerabat, hak sebagai muslim dan hak sebgai jiran. Tetangga yang mempunyai dua hak adalh tetanggamu yang muslim tetap bukan kerabatmu. Dua hak itu tetap sebagai muslim dan hak sebgai jiran. Tetangga yang mempunyai satu hak adalah tetanggamu yang lain yang non-Islam. Baginya melekat satu hak yaitu sebagai jiran saja. Dengan demikian hidup bertetangga tidak menganal agama. Meskipun tetangga kita orang Nasrani, Yahudi, ataupun agma lainya, seperti Cina misalnya. Etika bertetangga ini diterapkan sekali oleh Rasul baik kepada Muslim maupun Non-Muslim. Abdullah bin Umar Ibnu Ash pernah berkata kepada pembantunya, Sembelihlah seekor kambing dan jangal lupa memberi ke tetangga kita yang beragama Yahudi. Pembantu itu menjawab, Bukankah ia menyakiti kita? Abdullah melanjutkan pembicaraannya, Kita harus tetap berbuat baik kepada orang lain. Sikap Abdullah tersebut menunjukan bahwa seorang Muslim harus bersikap terpuji kepada tetangga. Meskipun ia tidak begitu baik dengan kita. Mudah-mudahan dengan

akhlak seperti itu mereka tertarik kepada kelembutan-kelembutan Islam. Akhlak seperti itulah yang banyak diterapkan oleh Rasulullah Saw, sehingga banyak lawan-lawan kerasnya yang terkesima dan terpesona melihat Akhlak Nabi, sehingga meraka berduyunduyun masuk Islam. SALAM Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Sunni dari Abu Umamah, beliau berkata: "Nabi kita(Muhammad SAW) memerintahkan kepada kami supaya menyebarkan salam". Dalam kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi dijelaskan tentang kaifiyyah/tata cara dalam salam. Di saat seseorang mengucapkan: "Assalaamu'alaikum", (salam sejahtera semoga Allah limpahkan padamu)maka jawabnya adalah: " Wa 'alaikumus salaam warohmatullah".(dan salam sejahtera semoga Allah limpahkan juga kepadamu beserta rahmat-Nya). Sedangkan bila yang menyapa mengucapkan: "Assalaamu 'alaikum warohmatullah",(salam sejahtera semoga Allah limpahkan kepadamu beserta rahmat-Nya) maka jawabnya:"Wa 'alaikumus salam warohmatullaahi wa barokaatuh".(dan salam sejahtera semoga Allah limpahkan juga kepadamu beserta rahmat dan keberkahan-Nya). Sedangkan bila yang menyapa mengucapkan: "Assalaamu 'alaikum warohmatullaahi wa barokaatuh", (salam sejahtera semoga Allah limpahkan kepadamu beserta rahmat dan barokah-Nya). Maka jawabnya adalah: "Wa 'alaikumus salaam warohmatullaahi wa barokaatuh wa magfirotuh wa ridhwaanuh".(dan salam sejahtera juga semoga Allah limpahkan kepadamu, beserta rahmat-Nya, barokah-Nya, pengampunan-Nya dan keridhaan-Nya). Bila ditinjau dari sisi hukum Islam, mengucapkan salam adalah sunnat(dikerjakan mendapat pahala bila ditinggalkan tidak apa-apa). Sedangkan menjawab salam hukumnya adalah fardhu 'ain(kewajiban individu) jika sendirian, dan fardhu kifayah(kewajiban yang bisa diwakili) jika banyak orang. Jadi apabila ada seorang saja yang menjawab salam maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya. Sedangkan jika tidak ada seorangpun yang menjawab maka berdosalah seluruhnya. Selanjutnya jika ada orang yang menitip salam buat kita maka kita harus menjawab titipan salam itu tidak hanya bagi orang yang menitip salam saja tapi juga bagi orang yang dititipinya(penyampai) dengan ucapan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW, yaitu ucapan: "Wa 'alaika wa alaihis salaam"(kepadamu juga kepadanya semoga terlimpah salam sejahtera). Kemudian apabila kita hendak masuk rumah atau bangunan yang di dalamnya tidak ada seorangpun maka ucapan salamnya adalah"assalaamu 'alainaa wa 'alaa 'ibaadillaahis shaalihiin".(salam sejahtera semoga terlimpah kepada kita sekalian

dan kepada hamba-hamba Allah yang shalih) Salam adalah do'a yang dikhususkan bagi kaum muslimin, maka apabila ada non muslim yang mengucapkan salam kepada kita maka jawablah "wa 'alaikum"(dan kecelakaanlah bagimu). Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Nabi SAW, bersabda: "Jika salam kepadamu seorang ahli kitab( yahudi dan nashrani) maka jawablah: "wa'alaikum". Juga perlu diketahui salam bukanlah untuk dipermainkan, maka apabila ada seseorang mengucapkan salam kepada seorang wanita yang cantik yang tujuannya hanya untuk mengganggu, maka si wanita itu tidak wajib untuk menjawab salam tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi.

Non Muslim Dalam Pandangan Islam


Al-Ikhwan Al-Muslimun dalam menanggapi berbagai isu selalu dalam bingkai aturan, rambu dan prinsip yang jelas bersumber kepada Al-Quran dan As-Sunah. Diantara sikap mereka adalah sikap terhadap orang-orang Kristen Koptik sebagai sesama warga negara yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Ditambah beberapa sikap Ikhwan terhadap isu-isu kekinian sudah ditegaskan dalam etika perjuangan sejak tahun 1928. Artinya, sikap-sikap itu sudah terdata dan jelas sekali, tidak ada keraguan didalamnya. Akan tetapi sejumlah tulisan tak bertanggungjawab biasanya menggunakan kesempatan untuk melakukan kampanye hitam atas prinsip-prinsip Jamaah.
Selama masa Nabi Muhammad Saw, kaum Kristen, Yahudi, dan orang-orang kafir semua diperlakukan sama. Rasulullah berpegang pada ayat, "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)," (QS Al-Baqarah: 256), dan menjelaskan agama yang benar untuk semua orang, namun membebaskan mereka untuk membuat menetapkan pilihan sendiri. Piagam Madinah, ditandatangani oleh para imigran Muslim dari Makkah, penduduk asli Madinah, dan kaum Yahudi Madinah adalah contoh lain pentingnya keadilan Rasulullah. Sebagai hasil konstitusi, yang menetapkan keadilan antara masyarakat dengan keyakinan berbeda dan memastikan perlindungan dari berbagai kepentingan mereka, dan mengakhiri permusuhan yang terjadi selama bertahun-tahun. Salah satu keistimewaan yang paling luar biasa dari perjanjian ini adalah dikokohkannya kebebasan beragama. Salah satu pasal Piagam Madinah menyebutkan, "Orang-orang Yahudi Bani `Auf merupakan satu bangsa dengan umat Islam. Orang Yahudi memiliki agama mereka dan Muslim memiliki mereka." Pasal 16 dari perjanjian tersebut berbunyi, "Orang Yahudi yang mengikuti kami dipastikan berhak atas dukungan kami dan persamaan hak yang sama seperti salah satu dari kami. Ia tidak akan dirugikan atau musuhnya tidak akan dibantu." Oleh sebab itu, satu-satunya solusi untuk menghentikan pertempuran dan konflik yang terjadi di seluruh dunia adalah dengan mengadopsi moralitas Al-Qur'an. Sebagaimana Rasulullah Saw, beliau tidak pernah

menghindar dari jalan keadilan, dan beliau tidak pernah membeda-bedakan manusia berdasarkan agama, bahasa, atau ras.

Hukum Mengucapkan Selamat Natal Kepada Orang Nasrani


12 Agu 2010 1 Komentar by scorpio in Hukum Muslim Dengan Non Muslim Pertanyaan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Tentang hukum mengucapkan selamat natal kepada orang kafir. Dan bagaimana kita menjawab orang yang mengucapkan natal kepada kita? Apakah boleh mendatangi tempat-tempat yang menyelenggarakan perayaan ini? Apakah seseorang berdosa jika melakukan salah satu hal tadi tanpa disengaja? Baik itu sekedar basa-basi atau karena malu atau karena terpaksa atau karena hal lainnya? Apakah boleh menyerupai mereka dalam hal ini? Jawaban Mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir dengan ucapan selamat natal atau ucapan-ucapan lainnya yang berkaitan dengan perayaan agama mereka hukumnya haram, hukum ini telah disepakati. Sebagaimana kutipan dari Ibnul Qayyim dalam bukunya Ahkam Ahl Adz-Dzimmah, yang mana beliau menyebutkan, Adapun ucapan selamat terhadap simbol-simbol kekufuran secara khusus, disepakati hukumnya haram. misalnya, mengucapkan selamat atas hari raya atau puasa mereka dengan mengatakan, Hari yang diberkahi bagimu atau Selamat merayakan hari raya ini dan sebagainya. Yang demikian ini, kendati si pengucapnya terlepas dari kekufuran, tapi perbuatan ini termasuk yang diharamkan, yaitu setara dengan ucapan selamat atas sujudnya terhadap salib, bahkan dosanya lebih besar di sisi Allah dan kemurkaan Allah lebih besar daripada ucapan selamat terhadap peminum khamr, pembunuh, pezina atau lainnya, karena banyak orang yang tidak mantap agamanya terjerumus dalam hal ini dan tidak mengetahui keburukan perbuatannya. Barangsiapa mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena kemaksiatan, bidah atau kekufuran, berarti ia telah mengundang kemurkaan dan kemarahan Allah. Demikian ungkapan beliau.

Bergaul dengan Non Muslim


Hidup di tengah-tengah masyarakat kita tak bisa menghindari bergaul dengan orangorang yang tidak seiman dengan kita. Islam tidak melarang umatnya bergaul dengan mereka. Hanya saja, dalam pergaulan dengan non-Muslim, Islam telah memberikan adabadabnya, antara lain sebagai berikut: Pertama, memberi kesempatan kepada orang-orang kafir untuk mendengar kalamullah. Bisa jadi, mereka tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Taala karena belum pernah

mendengar firman Allah. Allah berfirman: Dan jika seseorang dari orang-orang musyirikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah. Kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (At-Taubah [9]: 6) Kedua, karena orang-orang kafir tidak beriman dan menyekutukan Allah dengan sesuatu, hati orang Muslim harus membenci mereka. Namun kebencian hati bukan berarti bersikap zalim. Islam melarang umatnya menganiaya, curang, mencuri harta, serta mengkhianati amanah mereka. dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu.Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita). (Asy-Syuraa [42]:15). Adapun bagi kaum kafir yang memerangi dan mengeluarkan umat Islam dari negerinya, darah mereka halal. Ketiga, Seorang Muslim boleh berbuat baik kepada non-Muslim dalam suasana damai dengan membantu finansial, memberi makan, memberi pinjaman, menolong mereka dalam perkara-perkara yang mubah, serta berlemah-lembut dalam tutur kata. Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Al-Mumtahanah [60]:

Keempat, berlaku adil dalam memutuskan hukum antara orang kafir dan kaum Muslimin, jika mereka berada di tengah-tengah penerapan hukum Islam. Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekalikali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Maidah [5]: Kelima, Kaum muslimin harus meyakini bahwa ada perbedaan antara Muslim dengan non-Muslim dalam beberapa ketentuan hukum, seperti diyat (ganti rugi untuk pihak keluarga terbunuh, bila si pembunuh tidak diqishah), warisan, pernikahan, perwalian dalam nikah, masuk kota Makkah dan lain-lain. Kesemuanya itu didasari oleh perintahperintah dari Allah dan Rasul-Nya, sehingga tidak mungkin disamaratakan antara orang yang beriman dengan yang kafir kepada Allah.

Keenam, wajib membalas salam apabila diberi salam oleh orang kafir, dengan jawaban Wa alaikum. Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda, Jika salah seorang dari Ahlul Kitab mengucapkan salam pada kalian, maka balaslah: Wa alaikum. (Riwayat Bukhari dan Muslim). Akan tetapi, kita dilarang memulai mengucapkan salam lebih dulu pada mereka. Rasulullah bersabda, Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashrani dalam ucapan salam. (Riwayat Tirmidzi dan Ahmad) Demikianlah beberapa adab yang harus dipegang teguh oleh kaum Muslimin dalam hubungannya dengan orang-orang non-Muslim.* Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah, JUNI 2011

Pandangan Non Muslim (yang Berwawasan, Bijak dan Jujur) Tentang Rasulullah saw?
Mari kita simak komentar dr orang pandai, berpengaruh, bijak lagi jujur ttg Nabi Muhammad saw MAHATMA GANDHI (Komentar mengenai karakter Muhammad di YOUNG INDIA): Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia... Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang ) menyingkirkan segala halangan. Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung. Sir George Bernard Shaw (The Genuine Islam,' Vol. 1, No. 8, 1936.) Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris bahkan Eropa - beberapa ratus tahun dari sekarang, Islam-lah agama tersebut." Saya senantiasa menghormati agama Muhammad karena potensi yang dimilikinya. Ini adalah satu-satunya agama yang bagi saya memiliki kemampuan menyatukan dan merubah peradaban. Saya sudah mempelajari Muhammad sesosok pribadi agung yang jauh dari kesan seorang anti-kristus, dia harus dipanggil 'sang penyelamat kemanusiaan." Saya yakin, apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan sedemikian hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia: Ramalanku, keyakinan yang dibawanya akan diterima Eropa di masa datang dan memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini

Dia adalah manusia teragung yang pernah menginjakkan kakinya di bumi ini. Dia membawa sebuah agama, mendirikan sebuah bangsa, meletakkan dasar-dasar moral, memulai sekian banyak gerakan pembaruan sosial dan politik, mendirikan sebuah masyarakat yang kuat dan dinamis untuk melaksanakan dan mewakili seluruh ajarannya, dan ia juga telah merevolusi pikiran serta perilaku manusia untuk seluruh masa yang akan datang. Dia adalah Muhammad (SAW). Dia lahir di Arab tahun 570 masehi, memulai misi mengajarkan agama kebenaran, Islam (penyerahan diri pada Tuhan) pada usia 40 dan meninggalkan dunia ini pada usia 63. Sepanjang masa kenabiannya yang pendek (23 tahun) dia telah merubah Jazirah Arab dari paganisme dan pemuja makhluk menjadi para pemuja Tuhan yang Esa, dari peperangan dan perpecahan antar suku menjadi bangsa yang bersatu, dari kaum pemabuk dan pengacau menjadi kaum pemikir dan penyabar, dari kaum tak berhukum dan anarkis menjadi kaum yang teratur, dari kebobrokan ke keagungan moral. Sejarah manusia tidak pernah mengenal tranformasi sebuah masyarakat atau tempat sedahsyat ini dan bayangkan ini terjadi dalam kurun waktu hanya sedikit di atas 2 DEKADE." MICHAEL H. HART (THE 100: A RANKING OF THE MOST INFLUENTIAL PERSONS IN HISTORY, New York, 1978) Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses baik dalam tataran sekular maupun agama. (hal. 33). Lamar tine, seorang sejarawan terkemuka menyatakan bahwa: Jika keagungan sebuah tujuan, kecilnya fasilitas yang diberikan untuk mencapai tujuan tersebut, serta menakjubkannya hasil yang dicapai menjadi tolok ukur kejeniusan seorang manusia; siapakah yang berani membandingkan tokoh hebat manapun dalam sejarah modern dengan Muhammad? Tokoh-tokoh itu membangun pasukan, hukum dan kerajaan saja. Mereka hanyalah menciptakan kekuatan-kekuatan material yang hancur bahkan di depan mata mereka sendiri. Muhammad bergerak tidak hanya dengan tentara, hukum, kerajaan, rakyat dan dinasti, tapi jutaan manusia di dua per tiga wilayah dunia saat itu; lebih dari itu, ia telah merubah altar-altar pemujaan, sesembahan, agama, pikiran, kepercayaan serta jiwa... Kesabarannya dalam kemenangan dan ambisinya yang dipersembahkan untuk satu tujuan tanpa sama sekali berhasrat membangun kekuasaan, sembahyang-sembahyangnya, dialognya dengan Tuhan, kematiannnya dan kemenangan-kemenangan (umatnya) setelah kematiannya; semuanya membawa keyakinan umatnya hingga ia memiliki kekuatan untuk mengembalikan sebuah dogma. Dogma yang mengajarkan ketunggalan dan kegaiban (immateriality) Tuhan yang mengajarkan siapa sesungguhnya Tuhan. Dia singkirkan tuhan palsu dengan kekuatan dan mengenalkan tuhan yang sesungguhnya dengan kebijakan. Seorang filsuf yang juga seorang orator, apostle (hawariyyun, 12 orang pengikut Yesus-

pen.), prajurit, ahli hukum, penakluk ide, pegembali dogma-dogma rasional dari sebuah ajaran tanpa pengidolaan, pendiri 20 kerajaan di bumi dan satu kerajaan spiritual, ialah Muhammad. Dari semua standar bagaimana kehebatan seorang manusia diukur, mungkin kita patut bertanya: adakah orang yang lebih agung dari dia?"

8 bulan lalu Lapor Penyalahgunaan

Rincian tambahan

Bosworth Smith, MOHAMMAD AND MOHAMMADANISM, London, 1874, p. 92. Dia adalah perpaduan Caesar dan Paus; tapi dia adalah sang Paus tanpa pretensinya dan seorang caesar tanpa Legionnaire-nya: tanpa tentara, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa pengahasilan tetap; jika ada seorang manusia yang pantas untuk berkata bahwa dia-lah wakil Tuhan penguasa dunia, Muhammad lah orang itu, karena dia memiliki kekuatan meski ia tak memiliki segala instrument atau penyokongnya. Professor Jules Masserman Pasteur dan Salk adalah pemimpin dalam satu hal (intelektualitas-pen). Gandhi dan Konfusius pada hal lain serta Alexander, Caesar dan Hitler mungkin pemimpin pada kategori kedua dan ketiga (reliji dan militer pen.). Jesus dan Buddha mungkin hanya pada kategori kedua. Mungkin pemimpin terbesar sepanjang masa adalah Muhammad, yang sukses pada ketiga kategori tersebut. Dalam skala yang lebih kecil Musa melakukan hal yang sama. 8 bulan lalu THOMAS CARLYLE in his HEROES AND HEROWORSHIP (Betapa menakjubkan) seorang manusia sendirian dapat mengubah suku-suku yang saling berperang dan kaum nomaden (Baduy) menjadi sebuah bangsa yang paling maju dan paling berperadaban hanya dalam waktu kurang dari dua decade. "Kebohongan yang dipropagandakan kaum Barat yang diselimutkan kepada orang ini (Muhammad) hanyalah mempermalukan diri kita sendiri. Sesosok jiwa besar yang tenang, seorang yang mau tidak mau harus dijunjung tinggi. Dia diciptakan untuk menerangi dunia, begitulah perintah Sang Pencipta Dunia. W. Montgomery Watt, MOHAMMAD AT MECCA, Oxford, 1953, p. 52. Kesiapannya menempuh tantangan atas keyakinannya, ketinggian moral para pengikutnya, serta pencapaiannya yang luar biasa semuanya menunjukkan integritasnya. Mengira Muhammad sebagai seorang penipu hanyalah memberikan masalah dan bukan jawaban. Lebih dari itu, tiada figur hebat yang digambarkan begitu buruk di Barat selain Muhammad

Annie Besant, THE LIFE AND TEAC 8 bulan lalu Annie Besant, THE LIFE AND TEACHINGS OF MUHAMMAD, Madras, 1932, p. 4. "Sangat mustahil bagi seseorang yang memperlajari karakter Nabi Bangsa Arab, yang mengetahui bagaimana ajarannya dan bagaimana hidupnya untuk merasakan selain hormat terhadap beliau, salah satu utusan-Nya. Dan meskipun dalam semua yang saya gambarkan banyak hal-hal yang terasa biasa, namun setiap kali saya membaca ulang kisah-kisahnya, setiap kali pula saya mersakan kekaguman dan penghormatan kepada sang Guru Bangsa Arab tersebut." James A. Michener, "Islam: The Misunderstood Religion," in READER'S DIGEST (American edition), May 1955, pp. 68-70. Muhammad, seorang inspirator yang mendirikan Islam, dilahirkan pada tahun 570 masehi dalam masyarakat Arab penyembah berhala. Yatim semenjak kecil dia secara khusus memberikan perhatian kepada fakir miskin, yatim piatu dan janda, serta hamba sahaya dan kaum lemah. Di usia 20 tahun, dia sudah menjadi seorang pengusaha yang sukses, dan menjadi pengelola bisnis seorang janda k 8 bulan lalu kaya. Ketika mencapai usia 25, sang majikan melamarnya. Meski usia perempuan tersebut 15 tahun lebih tua Muhammad menikahinya dan tetap setia kepadanya sepanjang hayat sang istri. Seperti halnya para nabi lain, Muhammad memulai tugas kenabiannya dengan sembunyi2 dan ragu2 karena menyadari kelemahannya. Tapi Baca adalah perintah yang diperolehnya, -dan meskipun sampai saat ini diyakini bahwa Muhammad tidak bisa membaca dan menulis dan keluarlah dari mulutnya satu kalimat yang akan segera mengubah dunia: Tiada tuhan selain Allah "Dalam setiap hal, Muhammad adalah seorang yang mengedepankan akal. Ketika putranya, Ibrahim, meninggal disertai gerhana dan menimbulkan anggapan ummatnya bahwa hal tersebut adalah wujud rasa belasungkawa Tuhan kepadanya, Muhammad berkata: Gerhana adalah sebuah kejadian alam biasa, adalah suatu kebodohan mengkaitkannya dengan kematian atau kelahiran seorang manusia.