Anda di halaman 1dari 26

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar BeIakang
Kabupaten Tanah Laut memiliki luas wilayah daratan mencapai
3.631,35 km2 atau 363.135 Ha, terdiri dari 11 (sebelas) wilayah kecamatan
yang terbagi dalam 135 Desa/kelurahan. Jumlah penduduk Kabupaten
Tanah Laut pada tahun 2010 sudah berjumlah 296.282 Jiwa (Sumber BPS).
Pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Tanah Laut
23.924 jiwa (Smber BPS Provinsi Kalimantan Selatan) dan berdasarkan data
terbaru pada tahun 2010 penduduk miskin di Kabupaten Tanah Laut telah
berkurang menjadi 15.200 jiwa (15,12%)
Kabupaten Tanah Laut ditetapkan sebagai Kabupaten Pelaksana
Program Aksi Desa Mandiri Pangan sejak tahun 2006 sampai sekarang
tahun 2011.
Program tersebut dilaksanakan di 5 (lima) kecamatan seperti pada
tabel di bawah ini :

No Tahap Dana Desa / Kec
Kelp.
Afinitas
(Kelp.)
Penumbuhan
(Tahun 2010)
APBN 1. Kali Besar / Kurau 2
Pengembangan
(Tahun 2009)
APNB 1. Tanjung Dewa / Panyipatan 2
Kemandirian
(Tahun 2008)
APBN 1. Tungkaran / Pelaihari 4
V Desa nti
(Tahun 2010)
APBN 1. Ujung / Bati-Bati 3
V Desa nti
(Tahun 2011)
APBN 1. Panjaratan / Pelaihari 3
V Pengembangan /
Reflikasi
(Tahun 2010)
APBN 1. Benua Raya / Bati-Bati
2. Ujung Baru / Bati-Bati
3. Bati-Bati / Bati
1
1
1
V Penumbuhan /
Reflikasi
(Tahun 2011)
APBN 1. Telaga / Pelaihari
2. Bumijaya / Pelaihari
3. Guntung Besar
1
1
1
V Desa Binaan
(Tahun 2011)
APBD 1. Handil Gayam / Bumi Makmur 4

Dana Bantuan Sosial Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK)


yang bersumber dari dana APBN Tugas pemantauan yang disalurkan ke
Kelompok Afinitas Proksi Desa Mandiri Pangan tahun 2006 2011 adalah
sebagai berikut :

No
Tahun
dibentuk
Desa/Kec
Dana
PMUK Rp)
Jlh KK
Miskin
Jlh KK
miskin yg
terfasilitasi
1 2006 Ujung / Bati-Bati 100.000.000 248 86
2 2006 Bingkulu / T. Ulang 100.000.000 223 85
3 2007 Panjaratan / Pelaihari 100.000.000 100 96
4 2007 H.Gayam/ Bumi Makmur 100.000.000 95 26
5 2008 Tungkaran / Pelaihari 100.000.000 105 105
6 2009 Tj. Dewa / Panyipatan 100.000.000 243 85
7 2010 Kali Besar / Kurau 100.000.000 208 137
8 2010 Benua Raya / Bati-Bati
Ujung Baru / Bati-Bati
Bati-Bati / Bati-Bati
25.000.000
25.000.000
25.000.000
-
-
-
12
10
10
9 2011 Telaga / Pelaihari
Bumijaya / Pelaihari
Guntung Besar/Pelaihari
15.000.000
15.000.000
15.000.000
-
-
-
-
-
-

Kegiatan Diversifikasi Pangan dilaksanakan tahun 2009
diperuntukkan sebagai kegiatan Perepatan Penganekaragaman Pangan dan
Gizi (P2KPG). Kegiatan tersebut ditujukan kepada kelompok wanita yang
terdapat pada lokasi kegiatan Mandiri Pangan dari Tahap sampai Tahap
V, dengan prioritas kegiatan sebagai berikut :
1. bu hamil
2. bu menyusui
3. bu yang memiliki balita
4. bu dari pasangan usia subur
Kegiatan ini berupa dana untuk memfasilitasi kegiatan kelompok wanita
untuk melakukan kegiatan penanaman bibit sejumlah tanaman sebagai

suatu cara untuk penyediaan suplai pangan terutama di tingkat keluarga dan
apabila berlebih bisa dijual sebagai peningkatan jumlah pendapatan.
Untuk kegiatan ini disediakan dana Rp. 28.000.000 per desa pelaksana
dengan rincian 3 (tiga) jenis penggunaan berupa dana sosialisasi di tiap
desa sebanyak 30 kali, dana pembelian bibit/benih tanaman serta saprodi
serta dana untuk pembelian alat peraga sebagai sarana untuk mendukung
kegiatan sosialisasi/peremuan.
Dana Bantuan Sosial Percepatan Penganekaragaman Konsumsi
Pangan dan Gizi (P@KPG) yang bersumber dari Dana APBN Tugas
Pemantauan TA. 2009 yang disalurkan ke kelompok Wanita di Desa Mapan
tahun 2009 adalah sebagai berikut :

No
Tahun
Dibentuk
Desa
Jumlah
Kelp.
Dana P2KPG
(Rp)
1 2006 1. Ujung
2. Bingkulu
1
1
28.000.000,-
28.000.000,-
2 2007 1. Panjaratan
2. Handil Gayam
1
1
28.000.000,-
28.000.000,-
3 2008 1. Tungkaran 1 28.000.000,-
Jumlah 5 140.000.000,-

Sampai dengan Nopember 2011, terdapat penambahan bantuan
berupa gabah untuk cadangan pangan kelompok afinitas yang dikelola oleh
Tim Pangan Desa sebesar 1,1 ton untuk kelompok afinitas yang di desanya
terdapat lumbung pangan, desa mapan tersebut adalah :

No Tahun Jumlah Gabah (ton) Desa Mapan
1 2011 1,1 Ujung Kec. Bati-Bati
2 2011 1,1 Panjaratan Kec. Pelaihari
3 2011 1,1 Tanjung Dewa Kec. Panyipatan
Jumlah 3,3

Berdasarkan hasil VPA (Vectorial Project Analisys) yang merupakan


konsep monitoring Proksi Demapan dengan indikator 1) kemajuan tingkat
kehidupan (livehood) yang meliputi : pendapatan, kesempatan kerja,
konsumsi pangan dan sanitasi dan kebersihan; 2) indikator kemajuan pola
fikir (mindset) yang meliputi : aktifitas di kelompok tani, tingkat adopsi
teknologi, kebiasaan menabung, kepercayaan, orientasi pendidikananak,
pengutamaan jender dan praktek bisnis yang bertujuan untuk
menggambarkan status dan kemajuan program desa mandir pangan di
Kabupaten Tanah Laut terlihat peningkatan (dari tahap persiapan sampai
kemandirian) pada Nopember 2011.
Kebiasaan menabung menunjukkan peningkatan yang paling tinggi diikuti
praktek bisnis dengan terbukanya kesempatan kerja yang lebih banyak dan
bervariasi. Hal ini terjadi karena ada dana bantuan social Penguatan Modal
Usaha Kelompok (PMUK) yang dikelola masing-masing Lembaga Keuangan
Desa dan kelompok afinitas.
Sampai saat ini permasalahan implementasi Desa Mandiri pangan
yang selama ini dirasakan adalah :
1. Belum terciptanya koordinasi yang mantap dan permanen antara
sesama Tim Teknis.
2. Tim Pangan Desa belum sepenuhnya memahami kinerja sistem
ketahanan pangan di masyarakat.
3. Pengurus Lembaga Keuangan Desa (LKD) kurang memahami
pengelolaan keuangan.
4. Administrasi / pembukuan masih ada yang belum tertib.
5. Pendamping masih belum sepenuhnya dapat menumbuhkan dan
mengembangkan usaha baru berdasarkan potensi desa setempat.
6. Kurangnya pelatihan bagi petugas sarjana pendamping.

Lembaga Keuangan Desa (LKD) dalam menjalankan tugasnya


sebagai wadah pengelolaan Dana Penguatan Modal Usaha Kelompok yang
tebentuk di masing-masing desa Mapan sudah cukup baik dalam mengelola
modal usaha kelompok serta terbantu dengan modal tabungan/swadaya
kelompok afinitas dan hasil usaha dari jasa pinjaman.
Dengan aktifnya Lembaga Keuangan Desa tersebut permodalan
dapat terkelola dengan baik. Lembaga keuangan Desa juga akan
dikembangkan untuk ikut membangun partisipasi kelompok masyarakat
lainnya yang secara struktural telah memilki surplus keuangan sehingga
dapat lebih mengembangkan usaha produktif masyarakat setempat.
Untuk mengatasi kerawanan pangan dan kemiskinan di wilayah
pedesaan serta melihat kondisi yang diperlukan dalam pengembangan dan
pembangunan desa Mandiri Pangan memerlukan dukungan serta
keterlibatan masyarakat secara menyeluruh menciptakan ekonomi yang
tangguh dan memihak kepada kepentingan orang banyak.
Dukungan dari stake holder SKPD terkait di daerah agar fokus
terhadap kegiatan di Desa Mandiri Pangan sangatlah diperlukan guna
menunjang percepatan program Desa Mandiri Pangan serta diharapkan
semua elemen yang terkait dengan program ini lebih meningkatkan
pembinaan secara rutin dan terjadwal.
Program Desa mandiri Pangan dirasakan sangatlah bermanfaat bagi
masyarakat miskin pedesaan, dengan dana bantuan sosial yang
menggerakkan perekonomian mereka serta solidaritas lokal yang
berkembang dan terbukannya kesempatan vagi kelompok masyarakat yang
lebih mampu untuk membantu kelompok masyarakat miskin dan rawan
pangan tanpa harus mengurangi kepemilikan financial (melalui lembaga
keuangan desa yang dikembangkan bersama-sama).

1.2. Tujuan EvaIuasi Kemandirian


valuasi pelaksanaan Program Desa Mandiri Pangan bertujuan :
a. Untuk mengetahui kegiatan kegiatan yang sudah dilaksanakan sesuai
dengan tahap program.
b. Untuk mengetahui permasalahan atau kendala yang dihadapi dalam
pelaksanaan program serta upaya mengatasinya.
c. Sebagai bahan tindak lanjut untuk pelaksanaan program aksi desa
mandiri pangan tahap berikutnya (persiapan, penumbuhan dan
pengembangan).
d. Bahan penilaian terhadap kinerja pendampingan sarjana pendamping
yang berjalan dengan baik dan berjalan sesuai dengan tugas dan fungsi
yang ada di desa binaan wilayah Kabupaten bersangkutan, namun masih
mengharapkan pembinaan dan masukan dari pihak provinsi agar hasil
kerja yang diharapkan lebih bisa ditingkatkan.

1.3. Sasaran
Sasaran evaluasi akhir Desa Mandiri Pangan adalah tercapainya
Tahapan Persiapan, Penumbuhan, Pengembangan dan Kemandirian
Program Aksi Desa Mandiri Pangan di Kabupaten Tanah Laut dapat sesuai
dengan keinginan bersama yaitu pengentasan kemiskinan dan kerawanan
pangan dengan mewujudkan Ketahanan Pangan dan Gizi tingkat desa yang
ditandai berkurangnya Rumah Tangga Miskin, berkurangnya tingkat
kerawanan pangan dan gizi.
Untuk menunjang keberhasilan yang maksimal Program Aksi Desa
Mandiri Pangan di Kabupaten Tanah laut telah ditetapkan 2 desa inti dan 6
desa reflikasi yang berada di sekitar desa inti tersebut yang dibina oleh
Petugas Sarjana Pendamping Melalui Dana Tugas Pembantuan TA. 2011.
Juga menjadikan desa yang telah melewati tahap kemandirian tetap

sebagai binaan Pemerintah Kabupaten Tanah Laut melalui Kantor


Ketahanan Pangan, yaitu Desa Handil Gayam Kecamatan Kurau dan Desa
Bingkulu Kecamatan Tambang Ulang.
































II. DINAMIKA EKONOMI PEDESAAN LOKASI DEMAPAN


TAHUN 2006 - 2011

2.1 Ekonomi Sumberdaya, Infrastruktur, dan AksebiIitas

Untuk fasilitas listrik sebagian besar rumah tangga berasal dari
layanan PLN sedangkan sisanya masih ada yang menggunakan obor atau
pelita sebagai sumber penerangan.
Sebagian besar masyarakat di lokasi desa mandiri pangan masih
banyak yang menggunakan air sungai dan sumur untuk keperluan
sehari-hari sebagaimana ciri kehidupan di pedesaan.
Pendidikan sebagian besar penduduk di lokasi desa mandiri pangan
hanya sampai jenjang SD saja.
nfrastruktur jalan di lokasi desa mandiri pangan sebagian besar
belum beraspal atau kalaupun beraspal, hanya aspal kasar dan tidak
bertahan lama akan rusak kembali. Penduduk umumnya kalau ingin
berpergian ke kecamatan atau luar desa masih mengandalkan kendaraan
pribadi karena akses jalan angkutan umum belum sampai ke desa mereka.
Untuk pelayanan kesehatan di tiap desa sudah terdapat bidan desa
dalam melayani warga masyarakat untuk persalinan ataupun pemeriksaan
kesehatan lainnya.

2.2 Kondisi Penduduk dan Tingkat Kemiskinan
1. Desa Ujung Kecamatan Bati-Bati
Desa Ujung Kec. Bati-bati adalah desa pelaksana Program
Aksi Desa Mandiri Pangan yang pertama di Kabupaten Tanah Laut, yaitu
tahun 2006. Sejak tahun 2010 sudah menjadi Desa nti dan pada tahun
2011 ini melaksanakan Program Sekolah Lapang untuk desa

sekitarnya/Desa Reflikasi yaitu Desa Ujung Baru, Benua Raya dan


Bati-Bati.
Luas Desa Ujung adalah 6 Km (2,56%) dengan jumlah rumah tangga
sebanyak 597 kk dan jumlah penduduk adalah 1.925 jiwa.
Berdasarkan hasil survey DDRT tahun 2006 terdapat 248 kk
miskin.
. Desa Handil Gayam Kecamatan Bumi Makmur
Desa Handil Gayam Kec. Bumi Makmur adalah desa yang
memulai pelaksana Program Aksi Desa Mandiri Pangan pada tahun
2007. Pada tahun 2010 sudah mencapai Tahap Kemandirian dan mulai
tahun 2011 pembinaan pendampingan terus dilanjutkan oleh Pemerintah
Kabupaten Tanah Laut, melalui Kantor Ketahanan Pangan.
Desa Handil Gayam berada pada Kec Bumi Makmur yang merupakan
pemekaran dari Kec. Kurau berdasarkan Perda No 2 dan 3 Tahun 2008,
dengan luas desa 6 Km (4,26 %).
Berdasarkan hasil survey DDRT tahun 2007 terdapat 95 kk
miskin.
3. Desa Panjaratan Kecamatan Pelaihari
Desa Panjaratan Kec. Pelaihari adalah desa pelaksana
Program Aksi Desa Mandiri Pangan yang pertama di Kabupaten Tanah
Laut, yaitu tahun 2007 dan tahun 2011 menjadi Desa nti.
Desa Panjaratan pada tahun 2008 jumlah penduduknya 1.047 jiwa
dengan kepadatan 65 Jiwa/Km, dan mayoritas penghasilan
penduduknya dari pertanian, perikanan dan perkebunan.
Berdasarkan hasil survey DDRT tahun 2007 terdapat 100 kk miskin.
4. Desa Tungkaran Kecamatan Bumi Pelaihari
Desa Tungkaran Kec. Pelaihari adalah desa yang memulai
pelaksana Program Aksi Desa Mandiri Pangan pada tahun 2008. Pada

tahun 2011 sudah mencapai Tahap Kemandirian dan rencananya pada


tahun 2011 pembinaan pendampingan terus dilanjutkan oleh Pemerintah
Kabupaten Tanah Laut, melalui Kantor Ketahanan Pangan. Jumlah
penduduk Desa Tungkaran tahun 2008 sebanyak 768 jiwa dengan
kepadatan penduduk 28 Jiwa/Km.
Berdasarkan hasil survey DDRT tahun 2008 terdapat 105 kk
miskin.
. Desa Tanjung Dewa Kecamatan Panyipatan
Desa Tanjung Dewa Kec. Panyipatan adalah desa yang
memulai pelaksana Program Aksi Desa Mandiri Pangan pada tahun
2009. Pada tahun 2011 sampai pada Tahap Pengembangan (tahap ).
Desa Tanjung Dewa mempunyai luas 42 Km (12,50 %)
dengan jumlah penduduk 2.312 jiwa, dengan jumlah kk miskin sebanyak
243 kk berdasarkan hasil survey DDRT tahun 2009.
6. Desa Kali Besar Kecamatan Kurau
Desa Kali Besar Kec. Kurau adalah desa yang memulai
pelaksana Program Aksi Desa Mandiri Pangan pada tahun 2010. Pada
tahun 2011 baru sampai pada Tahap Penumbuhan (tahap ).
Desa Kali Besar mempunyai luas 15 Km, dengan jumlah penduduk
adalah 1.012 jiwa.
Berdasarkan hasil survey tahun 2010 terdapat 208 kepala
keluarga yang terdiri dari 137 kk miskin dan 71 kk tidak miskin.
7. Desa Reflikasi Ujung Baru Kecamatan Bati-Bati
Desa Ujung Baru Kec. Bati-bati adalah desa reflikasi dari
Desa Mapan Ujung, yang memulai pelaksana Program Aksi Desa
Mandiri Pangan pada tahun 2010 (Tahap Penumbuhan). Pada tahun
2011 baru sampai pada Tahap Pengembangan (tahap ) dan pada

Tahapan ini akan melaksanakan kegiatan Sekolah Lapang ke desa inti


yaitu Desa Ujung.
Desa Ujung Baru mempunyai luas 10 Km (4,25%), dengan jumlah
rumah tangga sebanyak 568 kk dan jumlah penduduk adalah 2.078 jiwa.
. Desa Reflikasi Benua Raya Kecamatan Bati-Bati
Desa Benua Raya Kec. Bati-bati adalah desa reflikasi dari
Desa Mapan Ujung, yang memulai pelaksana Program Aksi Desa
Mandiri Pangan pada tahun 2010 (Tahap Penumbuhan). Pada tahun
2011 baru sampai pada Tahap Pengembangan (tahap ) dan pada
Tahapan ini akan mengikuti kegiatan Sekolah Lapang ke desa inti yaitu
Desa Ujung.
Desa Benua Raya mempunyai luas 13 Km (5,54%), dengan jumlah
rumah tangga sebanyak 867 kk dan jumlah penduduk adalah 2.912 jiwa.
9. Desa Bati-Bati Kecamatan Bati-Bati
Desa Bati-bati Kec. Bati-bati adalah desa reflikasi dari Desa
Mapan Ujung, yang memulai pelaksana Program Aksi Desa Mandiri
Pangan pada tahun 2010 (Tahap Penumbuhan). Pada tahun 2011 baru
sampai pada Tahap Pengembangan (tahap ) dan pada Tahapan ini
akan mengikuti kegiatan Sekolah Lapang ke desa inti yaitu Desa Ujung.
Desa Bati-bati mempunyai luas 9 Km (3,83%), dengan jumlah rumah
tangga sebanyak 1.115 kk dan jumlah penduduk adalah 4.241 jiwa.
10. Desa Telaga Kecamatan Pelaihari
Desa Telaga Kec. Pelaihari adalah desa reflikasi dari Desa
Mapan Panjaratan, yang baru memulai pelaksana Program Aksi Desa
Mandiri Pangan pada tahun 2011 (Tahap Penumbuhan). Desa Telaga
mempunyai luas 23 Km (6,07%), dengan jumlah rumah tangga
sebanyak 524 kk dan jumlah penduduk adalah 2.179 jiwa.

10. Desa Bumi Jaya Kecamatan Pelaihari


Desa Bumi Jaya Kec. Pelaihari adalah desa reflikasi dari
Desa Mapan Panjaratan, yang baru memulai pelaksana Program Aksi
Desa Mandiri Pangan pada tahun 2011 (Tahap Penumbuhan), mayoritas
penduduk berkebun dan bertani. Desa Bumi Jaya mempunyai luas 8
Km (2,11%), dengan jumlah rumah tangga sebanyak 561 kk dan jumlah
penduduk adalah 2.110 jiwa.
11. Desa Guntung Besar Kecamatan Pelaihari
Desa Guntung Besar Kec. Pelaihari adalah desa reflikasi
dari Desa Mapan Panjaratan, yang baru memulai pelaksana Program
Aksi Desa Mandiri Pangan pada tahun 2011 (Tahap Penumbuhan),
mayoritas penduduk berkebun, pencari ikan dan bertani. Guntung Besar
mempunyai luas 6 Km (1,58%), dengan jumlah rumah tangga sebanyak
120 kk dan jumlah penduduk adalah 514 jiwa.

2.3 Kapasitas, Kegiatan Usaha dan Akses Ekonomi Penduduk Miskin

Hampir semua desa pelaksana Prokram Aksi Desa Nandiri Pangan
adalah merupakan daerah pertanian dan mempunyai kk miskin > 30%.
Walaupun berusaha di bidang pertanian kebanyakan dari penduduk tersebut
tidak memiliki lahan sendiri dan hanya menyewa lahan orang lain untuk
bercocok tanam sehingga hal tersebut mengurangi pendapatan karena
mereka harus selalu berbagi hasil dengan pemilik lahan atau kalaupun lahan
milik sendiri terkadang masih terkendala dengan keadaan cuaca dan alam
yang semakin tidak menentu.
Diantaranya ada juga yang bermata pencaharian sebagai pedagang
kecil-kecilan (bakulan) ataupun sebagai buruh tani biasa.

2.4 Ekonomi Pertanian dan Ketahanan Pangan



Sektor pertanian sebagai sektor unggulan di Kabupaten Tanah Laut
menunjukkan trend pertumbuhan yang terus menaik. Relatif kecilnya angka
pertumbuhan sektor pertanian ini dibanding sektor pertambangan dan
penggalian karena sebagian dari hasil pertanian yang telah diolah masuk ke
dalam sektor industry pengolahan. Kedepannya, bila pproses industry
berjalan sesuai dengan yang direncanakan maka pertumbuhan sektor
pertanian primer akan cenderung menurun namun perolehan nilai
tambahnya akan semakin meningkat. Sektor industri pengolahan juga
mengambil peranan cukup besar dalam mendorong pertumbuhan.
Aspek ketahanan pangan meliputi ketersediaan, distribusi, dan
konsumsi pangan. Keberhasilan pembangunan ketiga subsistem tersebut
perlu didukung oleh faktor-faktor input berupa sarana, prasarana dan
kelembagaan dalam kegiatan produksi, distribusi pemasaran, pengolahan
dan sebagainya.
Kodisi sosial ekonomi, lingkungan dan sumberdaya daerah berkaitan
erat dengan ketersediaan pangan, distribusi dan konsumsi daerah tersebut.
Jenis pangan pokok juga berkaitan erat dengan ketersediaan pangan,
rata-rata di setiap desa mandiri pangan jenis pangan pokok yang dikonsumsi
rumah tangga miskin hanya beras dan bila tidak mempunyai persediaan
pangan untuk seminggu akan datang serta uang untuk membeli kebutuhan
tersebut maka mereka akan mencari pinjaman untuk memenuhi kebutuhan
tersebut. Karenanya kepada mereka sangat disarankan untuk memiliki
lumbung keluarga.


III. KINERJA DAN PROSPEK PROGRAM


AKSI DESA MANDIRI PANGAN


3.1 Dimensi Utama Proksi Desa Mandiri Pangan

1. Pengembangan Kelembagaan Masyarakat
Semua kk miskin yang berada di desa pelaksana Program Aksi
Desa Mandiri Pangan sudah tergabung dalam kelompok afinitas. Setelah
dilaksanakan survery DDRT hasil tersebut divalidasi lagi oleh kepala
desa/pembekal desa yang bersangkutan, sehingga apabila ada warga
miskin yang tercecer dan belum terdata saat survey bias dimasukkan ke
dalam data tambahan.
. Kinerja Pemberdayaan Masyarakat
Usaha yang dijalankan anggota kelompok afinitas kebanyakan
adalah bertani dan berdagang kecil-kecilan. Sedangkan penambahan
modal kelompok didapat dari bunga pinjaman dan simpanan anggota.
Untuk memenuhi keragaman pangan dan sumber penghasilan
tambahan penadapatan sudah disosialisasikan agar di desa
melaksanakan pemanfaatan pekarangan secara maksimal.
Di setiap desa ada kebun kelompok wanita yang ditanami
bermacam-macam tanaman palawija yang hasilnya bias untuk
dikonsumsi sendiri dan sebagian lagi bias dijual.
Pada pelaksanaan P2KPG telah dilaksanakan sosialisasi konsumsi
pangan beragam, bergizi, berimbang dan aman (B3A) melalui pemberian
makanan tambahan bagi ibu hamil, menyusui dan balita. Juga telah
dilaksanakan praktek dan demontrasi pengolahan makanan yang
beragam, bergizi, berimbang dan aman.

Pada tahun 2011 ini pelatihan dilaksanakan bagi Lembaga Keungan


Desa dan kelompok afinitas dengan materi pelatihan yang beragam,
terutama pelatihan administrasi berkenaan dengan pelaporan keuangan
kelompok serta pelatihan teknis keterampilan agar dapat dimanfaatkan
sebagai sumber pengetahuan untuk menambah penghasilan keluarga.
Dalam pelaksanaannya di desa kelompok afinitas melakukan
pertemuan kelompok sekali dalam tiap bulan dengan didanai oleh APBD
Kabupaten dan juga dana Tugas Pembantuan dengan partisifasi
kehadiran antara 50 70 %. Dalam setiap pertemuan tersebut selalu
melakukan pembahasan mengenai permasalahan yang ditemui anggota
kelompok dan juga mengenai laporan arus keluar masuk dana pinjaman.
Yang paling terlihat peningkatan dalam kehidupan berkelompok
pada afinitas di tiap desa adalah adanya peningkatan kepercayaan diri
untuk mengemukakan pendapat dalam setiap pertemuan. Anggota aktif
berdiskusi untuk mendapatkan kata sepakat mereka juga aktif mencari
sumber informasi usaha dari luar.
Sedangkan kegiatan menabung kelompok kurang mendapat respon
karena masih ada sebagian anggota kelompok yang tidak memahami
pentingnya manabung dan karena kabiasaan menabung dirumah. Tetapi
ada juga anggota sebagian yang aktif menabung karena mereka paham
manfaat pentingnya menabung sebagai sumber penambahan
penghasilan alternatif keluarga.
Dalam keorganisasian dan kegiatan usaha produktif masih lebih
banyak melibatkan wanita, karena wanita dianggap lebih mudah diatur
dibanding laki-laki.
3. Pengembangan Sarana dan Prasarana Pedesaan
nfrastruktur pedesaan sudah memadai, sedangkan pemasaran
komuditas hasil produksi sebagian besar masih terkendala sarana jalan

dan keberadaan pasar desa (mereka harus membawa hasil


produksi/pertaniannya ke kecamatan atau kabupaten).
Sedangkan teknologi budidaya sudah tersedia namun belum bias
dimanfaatkan sepenuhnya begitu teknologi pasca panen.
4. Komitmen Pembinaan dan Pendanaan Dearah
Di Kabupaten Tanah Laut disediakan dana pendampingan (Dana
APBD Kabupaten) melalui kegiatan Pengembangan Desa Mandiri
Pangan pada Program Peningkatan Ketahanan Pangan dan juga dari
Tugas Pembantuan (APBN).
Artinya daerah mendukung program ini secara aktif berdasarkan
pedoman umum proksi demapan yaitu daerah harus menyediakan
minimal 20% dari dana APBN.

3.2 Dampak dan Prospek Program Aksi Desa Mandiri Pangan

1. Pamantapan Sistem Ketahanan Pangan
Kebutuhan pangan pokok kelompok afinitas sudah tercukupi dan
mereka juga berusaha untuk mempunyai cadangan pangan sendiri di
rumah tangga sedangkan non pertanian dipakai untuk melengkapi
keperluan lain.
Sementara pekarangan hanya ditanami tanaman tanaman untuk
kebutuhan konsumsi sendiri dan obat-obatan tradisional tapi cukup
membantu memenuhi kebutuhan pangann beragam, bergizi, berimbang
dan aman bagi keluarga.
Pengolahan pangan local juga sebagian sudah dilaksanakan untuk
menambah penghasilan keluarga tetapi masih secara manual dalam
pengolahannya karena kurangnaya alat teknologi pasca panen serta
pemasaran yang masih terbatas di dalam desa saja.

. Rawan Pangan dan Pengentasan Kemiskinan


Untuk sementara sampai pada tahun 2011 ini di desa Mapan belum
ditemui berat balita di bawah standar maupun kasus malnutrisi balita, ibu
hamil dan menyusui karena kebutuhan makan mereka tercukupi.
Rata-rata pendapatan mereka mengalami peningkatan dengan
adanya bantuan dana PMUK yang dipakai sebagai tambahan modal
usaha tetapi untuk pekerjaan/usaha mereka tidak bertambah.
nfrastruktur yang ada sudah dimanfaatkan semaksimal mungkin
untuk mendukung program ini.
Kelompok afinitas selama ini masih berdiri sendiri, lembaga
keuangan desa juga demikian tetapi sudah ada wacana untuk menjadi
Lembaga Keuangan Mikro Desa.
Dengan adanya program Aksi Desa Mandiri Pangan ini pengetahuan
penduduk miskin di desa Mapan terhadap gizi dan kesehatan lebih
meningkat.
3. Kemandirian dan Keberlanjutan Proksi Desa Mandiri Pangan
Program Desa Mandiri Pangan juga bersinergi dengan jarring
pengalaman sosial lainnya yang telah masuk ke desa-desa pelaksana.
Dalam kaitannya dengan pembangunan desa dalam hal pembangunan
dan pendayagunaan infrastruktur (misalnya lumbung pangan) juga
pengembangan kelembagaan yang ada.
Sampai dengan tahun 2011 dan selanjutnya untuk pengentasan
kemiskinan Kabupaten Tanah Laut melalui gerakan Mandiri Pangan akan
berkomitmen mendukung Program Aksi Desa Mandiri Pangan ini dengan
menganggarkannya di APBD Kabupaten terutama untuk pembinaan
kelompok serta pertemuan-pertemuan.

3.3 AnaIisis Desa Inti Program Aksi Desa Mandiri Pangan


1. Analisis Umum dan Penentuan Desa Inti
Tolak ukur pemilihan Desa Ujung Kec. Bati-bati sebagai Desa nti
adalah karena desa tersebut dinilai bagus dalam pemberdayaan
kelompok afinitasnya. Sebagai Desa nti keaktifan kelompok afinitas
menjadi adalah poin penting dalam penilaian karena mereka akan
menjadi contoh, tempat bertanya dan tempat praktek bagi tiga desa
reflikasi yang berada di dekatnya.
. Faktor Pendukung Kemandirian dan Sejarah Keberhasilan
Pada kenyataannya Desa Ujung Kec. Bati-bati dan Desa Bingkulu
Kec. Tambang Ulang (Tahap Kemandirian pada tahun 2009) maupun
Desa Panjaratan Kec. Pelaihari dan Desa Handil Gayam Kec. Bumi
Makmur (Tahap Kemandirian pada tahun 2010) masih belum dapat
dikatagorikan mandiri sepenuhnya karena belum ada perkembangan
diversifikasi usaha walaupun tingkat pendapatan mereka mengalami
peningkatan.
Sedangkan akses pangan rumah tangga mereka terlihat
peningkatan juga pada pola konsumsi pangan 3B dan aman,
ketersediaan pangan serta terlayaninya masyarakat dalam akses
permodalan, layanan kesehatan dan sarana usaha.
Jalan desa, sarana penerangan, pendidikan, kesehatan dan air
bersih sudah berfungsi sebagaimana mestinya.
3. Prospek dan Antisipasi Keberlanjutan Proksi Demapan
Pelaksanaan program pasti memiliki kelemahan, begitu pula dengan
Program Aksi Desa Mandiri Pangan. Masih lemahnya integrasi dan
koordinasi lintas sektor, tenaga pendamping yang masih belum
sepenuhnya profesional pelaksanaan pendataan kondisi awal yang belum

optimal merupakan beberapa kelemahan yang masih dijumpai dalam


pelaksanaan Program Aksi Desa Mandiri Pangan.
Tapi program ini sangat bermanfaat sekali dengan tersedianya dana
yang dikhususkan bagi keluarga miskin di pedesaan untuk peningkatan
pendapatan melalui pengembangan berbagai jenis usaha on-farm, off-
farm dan non-farm. Jika meningkatnya kemauan masyarakat dalam
berkelompok untuk berusaha dan menjalin kemitraan serta meningkatnya
peran perempuan sebagai gender dalam organisasi kelompok dan
pengembangan usaha.
Sedangkan bagi desa yang telah ditumbuhkan selama 4 tahun
(mencapai Tahap Kemandirian), namun belum dikatogorikan mandiri dab
bukan dijadikan Desa nti akan dilanjutkan pembinaannya oleh
Pemerintah Kabupaten Tanah Laut melalui Kantor Ketahanan Pangan.
Desa-desa tersebut adalah (1) Desa Handil Gayam Kec. Bumi Makmur,
(2) Desa Tungkaran Kec. Pelaihari.
Bagi kelompok afinitas/masyarakat yang telah mampu
memanfaatkan potensi sumberdaya alamnya secara maksimal, dapat
mendorong dikembangkannya sub gerakan menabung mandiri atau
penyediaan fasilitas sarana produktif sebagai upaya untuk memanfaatkan
teknologi tepat guna sesuai dengan potensi dan keadaan daerah.







IV. KESIMPULAN DAN SARAN



4.1 KesimpuIan
Sampai pada tahun 2011 ini, dari hasil pengamatan langsung ke
berbagai lokasi kegiatan Demapan, ditemui permasalahan :
1. Pembinaan oleh pihak-pihak terkait dalam Program Aksi Desa Mandiri
Pangan masih terbatas, karena kurangnya personil serta lokasi yang
sebagian besarnya sulit dijangkau.
2. Di beberapa desa yang menjadi sasaran Program Aksi Desa Mandiri
Pangan dalam hal pengembangan komuditas pada kegiatan
pemanfaatan pekarangan masih ada yang belum maksimal, hal tersebut
disebabkan : (a) kurangnya pembinaan, (b) kondisi alam yang tidak
bersahabat, struktur tanah tidak sesuai dan hama penyakit (c) kurangnya
perencanaan usaha kelompok dan analisis usaha termasuk RUK.
3. Bentuk/kepengurusan organisasi kelompok masih banyak yang belum
sempurna dan kurangnya kesadaran anggota dalam hal berorganisasi.
4. Permasalah yang paling besar adalah modal usaha yang masih kurang
tidak sebanding dengan keperluan / kebutuhan usaha yang dijalankan,
pemahaman serta kemampuan anggota kelompok sangat kurang
sehingga membutuhkan pembinaan yang lebih intensif.
5. Pemasaran beberapa komuditas yang dihasilkan kelompok masih
terbatas di wilayah sekitar desa dan belum mampu menembus pasar
luar.

4.1 Saran

1. valuasi akhir dilakukan pada desa mandiri pangan yang dibangun pada
tahun 2006, atau yang telah memasuki Tahap Kemandirian.

2. Meningkatkan koordinasi dengan berbagai instansi terkait dalam wadah


DKP Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat untuk mendukung
pembangunan desa umumnya dan kegiatan Demapan khususnya dalam
kegiatan yang terintegrasi.
3. Meningkatkan kemampuan Pendamping, LKD dan TPD dalam
menunjang kemampuan kelompok dalam berorganisasi, pengembangan
modal / usaha, serta pengembangan organisasi kelompok.
4. Meningkatkan kemampuan kelompok afinitas melalui peningkatan
pembinaan oleh Pendamping termasuk Pihak Kabupaten dan Provinsi
secara intensif.
5. Perlu melibatkan peran Bupati selaku ketua Dewan Ketahanan Pangan
untuk mengkoordinasikan dan mengintegrasikan program Demapan
dengan program instansi lintas sektor.














DAFTAR PUSTAKA
1. Pedoman Umum Program Aksi Desa Mandiri Pangan menuju Gerakan
Kemandirian Pangan Tahun 2011.
2. Data survey DDRT dan SRT Desa Mandiri Pangan Kabupaten Tanah Laut.


































L A M P R A N














PROFL DSA BANUA RAYA












PROFL DSA UJUNG BARU












PROFL DSA BAT-BAT