Anda di halaman 1dari 3

Nama : Annisa Quwwatu Syakhsyiyah

Kelas : 10 G
~Menghias hati dengan menangis
"Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak
menangis." (HR. Bukhari dan MuslimIndahnya hidup dengan celupan iman. Saat itulah terasa
bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata.
Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt.
Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain
Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di
pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang
kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya.
Maha Benar Allah dengan Iirman-Nya dalam surah Al-An'am ayat 164. "...Dan tidaklah seorang
membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang
berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan
akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan."
Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan
besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita
terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi.
Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang
pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau
tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak
masing-masing kita sibuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.
Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung
Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan Allah
swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini
tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik
orang lain.
Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan. Kita
pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi
setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena
berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita begitu 1,67 di hadapan Allah swt.
Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, "Hai manusia, kamulah
yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu)
lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan
makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit
bagi Allah."
Menyadari bahwa surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit
Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah
swt. akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu
banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. "Pasti, pasti saya
akan masuk surga," begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari
cukup.
Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat
pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka
pasti masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang
diperintahkan Rasulullah.
Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak
keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan
memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun
ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih
banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. Lagi-
lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga.
Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214. "Apakah kamu
mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana
halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan,
serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-
orang yang beriman bersamanya: Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah,
sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat."
Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih
Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas
yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa,
pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: surga atau
neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia.
"Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-
anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup
menyibukkannya." (QS. 80: 34-37)
Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali.
Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan
selamanya.
Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw. pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang
paling ringan. "Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah
seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan
otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya
daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka." (HR. Bukhari
dan Muslim)
Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat
keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita. Imam Ghazali
pernah memberi nasihat, jika seorang hamba Allah tidak lagi mudah menangis karena takut
dengan kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu.