Anda di halaman 1dari 21

1uLorlal harl 2 mlnggu l blok 12

G S|ntesa dan u[| Informas|


1. Prinsip homeostasis
Adalah keadaan yang stabil, yang sebenernya berubah namun bersiIat konstan.
Semua organ berIungsi sesuai dengan kerja dan Iungsinya masing masing, namun semuanya
bbertujuan sama, yaitu bertujuan homeostasis.
System yang terlibat :
Transportasi
Perolehan nutrient
Pembuangan sisa metabolism
Kontrol oleh SyaraI dan hormone
Reproduksi

TRANSPORTASI
Dengan tramsportasi, darah dapat ,menjaga stabilitas tubuh, sehingga homeostasis dalam
tubuh dapat terjaga.
Contoh :
Pergerakan darah di pembuluh dengan cara darah lewat di organ organ dalam tubuh.
Pergerakan cairan dari kapiler ke sel.
PEROLEHAN NUTRIEN
Dengan adanya homeostasis, maka tubuh akan mendapatkan nutrisi yang tersebar secara
merata.
Contoh :
Respirasi, dengan memanIaatkan tebal alveoli kapiler (0,4 2,0 nanometer ), sehingga
O2 (oksigen) mudah di diIusi.
Pencernaan : pada saat proses penyerapan makanan.
Hati : Iungsi untuk metabolism dalam tubuh.


PEMBUANGAN SISA METABOLIK
Dalam tubuh terdapat proses pembuatan dan juga tentunya terdapat proses pembuangan
agar terjadi kesetimbangan dalam tubuh.
Contoh :
Paru paru : CO2 di buang supaya tubuh tidak terjadi keracunan zat buangan.
Ginjal : membuang asam urat dan urea pada tubuh dan membuang kelebihan air dan juga
ion dalam tubuh.
PENGATURAN FUNGSI
Proses dalam tubuh berlangsung dengan baik, juga merupakan adanya sistem pengarturan
yang sangat baik sehingga homeostasis dapat terjadi.
Contoh :
System syaraI :
1. Sensoris : panca indra
2. Pusat : otak dan medula
3. Motorik : pelaksana
4. Otonom : control bawah sadar
Hormon : berIungsi untuk mengatur metabolism dalam tubuh agar tetap terjaga
kestabilan tubuh.
REPRODUKSI
Sebenernya dalam proses homeostasis tidak terlalu penting, namun dalam masa
pergantian muda dan tua, sangatlah bergantung dari sisem ini.
Contoh :
Untuk penerus kehidupan di dunia
Pengganti generasi
Adanya dorongan kuatpada usia reproduksi







Sistem Pengatur Tubuh
Contoh mekanisme:
Pengaturan konsentrasi oksigen
Di atur oleh hemoglobin, siIat kimiawi hemoglobin yang secara otomatis mengatur berapa
banyak konsentrasi O
2
yang dilepas ke cairan jaringan.
Pengaturan konsentrasi karbondioksida
Diatur dengan merangsang pusat respirasi, saat kadar CO2 tinggi paru-paru dirangsang
sehingga CO
2
dilepas keluar atmosIer.
Pengaturan tekanan arteri
Diatur oleh system baroreseptor, saat arteri tegang system baroreseptor menghambat
vasomotor sehingga arteri lebih longgar.

Batas nilai normal
Dalam mengatur homeostatis ada nilai-nilai batas normal yang harus dipenuhi. Jika nilai sudah
melewati batas bisa mempengaruhi keseimbangan tubuh dan merusak sel-sel tubuh.
Contoh batas nilai normal:
Suhu tubuh 6
o
- 7
o
C
pH 0,5

SiIat Sistem Pengatur
1. negative Ieedback
Ieedback ini mengakibatkan system untuk memberi respon yang melawan keadaan.
Contohnya: saat kelebihan karbondioksida, paru2 di rangsang untuk mengeluarkan CO
2

sehingga kembali ke keadaan normal.
2. positive Ieedback
Ieedback ini mengakibatkan system untuk memberi respon yang mendukung keadaan.
Contohnya: saat seorang ibu melahirkan, serviks teregang, kemudian serviks di tambah lagi
regangannya sehingga bayi dapat keluar.





. omposisi Darah
Komponen darah secara garis besar akan terbagi menjadi 2 bagian:
1.plasma darah 55
2.sel darah 45

PLASMA DARAH
terdiri atas :
1.90 air
2.7 protein
a. Albumin
Berperan dalam menjaga tekanan osmotic darah. BerIungsi mengikat berbagai
macam ligand seperti asam lemak bebas, Ca, Cu, Zn, hormone steroid, bilirubin, metheme.
Disintesis dalam hati
b. Globulin, yg terdiri atas 3 yaitu:
- alIaglobulin (ceruloplasimin)
- betaglobulin (transIerin)
-gamaglobulin (immunoglobulin)
BerIungsi sebagai komponen zat kekebalan tubuh untuk melawan pathogen yang masuk ke
dalam tubuh. Terdiri atas IgG, IgE, IgD, IgA, IgM
c. Fibrinogen
Penting untuk proses pembekuan darah
3.senyawa2 lainnya



SEL-SEL DARAH
terdiri atas:
1. Eritrosit
Pada laki2 4,5-5 juta /mm kubik
Pada wanita 4-4, 5 juta / mm kubik
Bebentuk bikonkaI dan tidak memiliki inti. Dibentuk di sumsum tulang merah. Tidak dapat
bergerak bebas dan menembus dinding pembuluh kapiler. Berumur 115 120 hari.
Fungsi Hb: Mengangkut O2 sebagai oksohemoglobin, mengangkut CO2 sebagai
Karbominohemoglobin, menjaga keseimbangan asam-basa.
2. Leukosit
$0 darah putih, 0ukosit (en:hite blood cell, WBC, leukocyte) adalah sel yang membentuk
komponen darah. Sel darah putih ini berIungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit
inIeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sel darah putih tidak berwarna, memiliki inti, dapat
bergerak secara amoebeid, dan dapat menembus dinding kapiler / diapedesis. Dalam keadaan
normalnya terkandung 4x10
9
hingga 11x10
9
sel darah putih di dalam seliter darah manusia dewasa yang
sehat - sekitar 7000-25000 sel per tetes.Dalam setiap milimeter kubil darah terdapat 6000 sampai
10000(rata-rata 8000) sel darah putih .Dalam kasus leukemia, jumlahnya dapat meningkat hingga
50000 sel per tetes.
Yg terdiri atas :
%ip0 ambar Diagram
daam
tubuh
manusia
K0t0rangan
NeutroIil

65
NeutroIil berhubungan dengan
pertahanan tubuh terhadap inIeksi
bakteri serta proses peradangan kecil
lainnya, serta biasanya juga yang
memberikan tanggapan pertama
terhadap inIeksi bakteri; aktivitas dan
matinya neutroIil dalam jumlah yang
banyak menyebabkan adanya nanah.
EosinoIil

4
EosinoIil terutama berhubungan dengan
inIeksi parasit, dengan demikian
meningkatnya eosinoIil menandakan
banyaknya parasit.
BasoIil


1
BasoIil terutama bertanggung jawab
untuk memberi reaksi alergi dan antigen
dengan jalan mengeluarkan histamin
kimia yang menyebabkan peradangan.
LimIosit


25
LimIosit lebih umum dalam sistem
limIa. Darah mempunyai tiga jenis
limIosit:
O Sel B: Sel B membuat antibodi yang
mengikat patogen lalu
menghancurkannya. (Sel B tidak hanya
membuat antibodi yang dapat mengikat
patogen, tapi setelah adanya serangan,
beberapa sel B akan mempertahankan
kemampuannya dalam menghasilkan
antibodi sebagai layanan sistem
'memori'.)
O Sel T: CD4 (pembantu) Sel T
mengkoordinir tanggapan ketahanan
(yang bertahan dalam inIeksi HIV) sarta
penting untuk menahan bakteri
intraseluler. CD8 (sitotoksik) dapat
membunuh sel yang terinIeksi virus.
O Sel natural killer: Sel pembunuh alami
natural killer, NK) dapat membunuh sel
tubuh yang tidak menunjukkan sinyal
bahwa dia tidak boleh dibunuh karena
telah terinIeksi virus atau telah menjadi
kanker.
Monosit


6
Monosit membagi Iungsi "pembersih
vakum" (Iagositosis) dari neutroIil,
tetapi lebih jauh dia hidup dengan tugas
tambahan: memberikan potongan
patogen kepada sel T sehingga patogen
tersebut dapat dihaIal dan dibunuh, atau
dapat membuat tanggapan antibodi
untuk menjaga.
MakroIag


(lihat di
atas)
Monosit dikenal juga sebagai makroIag
setelah dia meninggalkan aliran darah
serta masuk ke dalam jaringan.


3. Trombosit
sebanyak 200.000-400.000/mm kubik yg berIungsi untuk mengumpalkan darah

. ungsi Darah
a. Eritrosit
Produk utama: hemoglobin
Fungsi nya : transport CO2 dan O2
b. NeutroIil
Produk utama : granula spesiIik dan lisosom yang sudah di modiIikasi
Fungsi nya : Iagositosis bakteri
c. EosinoIil
Produk utama : granula spesiIik dan zat yang aktiI secara Iarmakologis
Fungsi nya : pertahanan terhadap parasit cacing
Modulasi proses peradangan
d. BasoIil
Produk utama : granula spesiIik mengandung histamine dan heparin
Fungsi nya : pelepasan histamin dan mediator inIlamasi yang lain



e. Monosit
Produk utama nya: granula dengan enzim lisosomal
Fungsi nya : pembentukan sel Iagosis
Mononuclear di dalam jaringan
Fagositosis dan pencernaan intraseral
I. LimIosit B
Produk utama : immunoglobin
Fungsi nya : pembentukan sel sel terminal pembentuk anti bodi
g. LimIosit T
Produk utama : senyawa yang membunuh sel
Senyawa yang mengatur aktiIitas
AktiIitas dari leukosit la
Fungsi nya : membunuh sel yang trinIeksi Iirus
h. Sel T sitotoksik
Produk utama : senyawa yang menghasilkan perIosi di dalam membrane sel target
Fungsi nya : membunuh beberapa sel tumor dan sel yang terinIeksi virus
i.Trombosit
Produk utama : Iactor pembekuan darah
Fungsi nya : pembekuan darah






Fungsi lain darah:
1. respirasi
pengangkutan O2 dari paru-paru ke jaringan
pengangkutan CO2 dari jaringan ke paru-paru
2. nutrisi
-pengangkutan bahan makanan
3. eksresi
-pengangkutan sampah metabolic ke paru-paru, kulit, ginjal, dan usus
4. mempertahankan keseimbangan asam basa
5. keseimbangan air
6. pengaturan suhu tubuh
7. pertahanan
-melalui sel darah putih dan antibodi
8. pengangkut hormone
9. koagulasi


. %empat Pembentukan Sel Darah
1. Tempat pembentukan eritrosit
Dalam minggu-minggu pertama kehidupan embrio, sel-sel darah merah primitiI yang berinti
diproduksi di yolk sac (kantung kuning telur). Dalam pertengahan trimester masa gestasi, sel
darah diproduksi di hati, namun terdapat juga sel-sel darah merah yang di produksi di limpa
dan kelenjar limIe. Lalu kira-kira selama bulan terakhir kehamilan dan sesudah lahir, sel-sel
darah merah hanya di produksi di sumsum tulang.
Sumsum tulang dari semua tulang memproduksi sel-sel darah merah sampai seseorang berusia
5 tahun; tapi tulang panjang, kecuali bagian proksimal humerus dan tibia, menjadi sangat
berlemak dan tidak memproduksi sel-sel darah merah etalah berusia kurang lebih 20 tahun.
Setelah usia ini, kebanyakan sel darah merah diproduksi dalam sumsum tulang membranosa,
seperti vertebra, sternum, rusuk, dan ilium.

2. Tempat pembentukan leukosit
Leukosit sebagian di bentuk disumsum tulang (granulosit dan monosit serta sedikit limposit)
dan sebagian lagi di jaringan limIe (limposit dan sel-sel plasma).


. ematopoeisis dan pengontrolannya
Hematopoiesis merupakan proses pembentukan komponen sel darah, dimana terjadi
proliIerasi, maturasi dan diIerensiasi sel yang terjadi secara serentak.
ProliIerasi sel menyebabkan peningkatan atau pelipatgandaan jumlah sel, dari satu sel
hematopoietik pluripotent menghasilkan sejumlah sel darah. Maturasi merupakan proses
pematangan sel darah, sedangkan diIerensiasi menyebabkan beberapa sel darah yang
terbentuk memiliki siIat khusus yang berbeda-beda.
Hematopoiesis pada manusia terdiri atas beberapa periode :
1. M0sobastik
Dari embrio umur 2 10 minggu. Terjadi di dalam yolk sac. Yang dihasilkan adalah HbG1,
HbG2, dan Hb Portland.
2. H0patik
Dimulai sejak embrio umur 6 minggu terjadi di hati Sedangkan pada limpa terjadi pada umur
12 minggu dengan produksi yang lebih sedikit dari hati. Disini menghasilkan Hb.

3. Mi0oid
Dimulai pada usia kehamilan 20 minggu terjadi di dalam sumsum tulang, kelenjar limIonodi,
dan timus. Di sumsum tulang, hematopoiesis berlangsung seumur hidup terutama
menghasilkan HbA, granulosit, dan trombosit. Pada kelenjar limIonodi terutama sel-sel
limIosit, sedangkan pada timus yaitu limIosit, terutama limIosit T.
Beberapa Iaktor yang mempengaruhi proses pembentukan sel darah di antaranya adalah asam
amino, vitamin, mineral, hormone, ketersediaan oksigen, transIusi darah, dan Iaktor- Iaktor
perangsang hematopoietik.
Hematopeiseis adalah proses pembentukan sel-sel darah. Dimana sel darah tersebut awalnya
berasal dari s0 indu puripot0n yang selanjutnya akan berkembang menjadi:
a. Sel myeloid yang selanjutnya akan berkembang menjadi:
Eritrosis
Granulosit
Monosit
Trombosit
b. Sel limIoid yang selanjutnya akan berkembang menjadi limIosit
ERITROPOEISIS
Merupakan proses pembentukan eritrosit yang terjadi melalui beberapa Iase:
1. Rubiblast / Proetitroblast
Inti bulat, kromatin halus, sitoplasma berwarna kebiruan.
2. Prorubisit / Eritroblast basoIilik
Kromatin mulai tampak kasar adan anakn inti menghilang. Sitoplasma sudah mulai
mengandung hemoglobin sehingga berwarna kemerahan. Ukuran sel lebih kecil daripada
rubiblast.
3. Rubrisit / Eritroblast polil romatik
Mengandung kromatin yang kasar. Inti sel lebih kecil daripada prorubrisit. Sitoplasma
lebih banyak. Mengandung warna biru karena mengandung RNA dan merah karena
mengandung hemoglobin. Namun warna merah biasanya lebih dominan.
4. Metarubrisit / Eritroblast Ortokromatik
Inti sel padat dengan strukrur kromatin lebih menggumpal. Sitoplasma telah
mengandung lebih banyak hemoglobin sehingga warnanya merah walaupun masih ada
sisa-sisa warna biru dari RNA.
5. Retikulosit
Pada proses maturasi, setelah pembentukan hb dan penglepasan inti sel, masih
diperlukan beberapa hari lagi untuk melepaskan sisa-sisa RNA. Sebagian proses ini
berlangsung di sumsum tulang dan sebagian lagi dalam darah tepi. Pada proses maturasi
akhir, eritrosit juga mengandung berbagai Iragmen mitokondria dan organel lain. Pada
stadium ini disebut dengan retikulosit. Retikulosit ini akan beredar selama 1-2 hari
6. Eritrosit
Sel berbentuk cakram bikonkaI dengan baian tengah lebih tipis dari bagian tepi.
Mengandung hemoglobin, berumur kira-kira 120 hari.

GRANULOPOESIS
Merupakan proses pembentukan leukosit granular yaitu baroIil, netroIil, dan eusinoIil.
1. Mieloblast
Sel termuda dengan inti bulat yang berwarna biru kemerahan. Memiliki satu atau lebih
anak inti. Kromatin halus. Sitoplasma berwarna biru.
2. Promielosit / Proagranulosit
Sitoplasma telah memperlihatkan granula berwarna biru tua. Berbentuk bulat tidak
teratur. Granula tampak menutupi inti. Inti bulat besar. Kromatin kasar. Anak inti masih
ada tapi tidak jelas.


3. Mielosit
Pada Iase ini, granula sudah mengalami diIerensiasi menjadi basoIil, netroIil, atau
eusinoIil. Inti sel bulat atau lonjong pada satu sisi. Anak inti tak tampak lagi. Kromatin
menebal. Sitoplasma sel lebih banyak
4. Metamielosit
Proses pematangan. Inti sel membentuk lekukansehingga berbentuk seperti kacang
merah. Kromatin menggumpal. Sitoplasma mengandung granula kecil kemerahan.
Jika lekukan melebihi setengah ukuran inti, akan terbentuk netroIil batang. Lalu akan
berubah menjadi netroIil segmen
5. Granulosit



PEMBENTUKAN MONOSIT
1. Monoblast
2. Promonosit
Inti lonjong atau berlekuk dengan pola kromatin. Memiliki 2 atau lebih anak inti.
3. Monosit
Anak inti tidak jelas. Sitoplasma banyak mengandung granula azoIil halus. Selanjutnya
monosit akan pindah ke jaringan dan membentuk makroIag.

TROMBOSIPOESIS
Merupakan proses pembentukan trombosit
1. Megakarioblast
Sel dengan inti besar dan kromatin halus. Memiliki satu atau dua anak inti. Sitoplasma
biru tidak bergranula.
2. Promegakariosit
Mengandung inti yang terbagi menjadi dua atau empat lobus. Dalam sitoplasmanya
biasanya sudah terdapat granula biru kemerahan.
3. Megakariosit
Berinti dan bersitoplasma banyak. Lalu membentuk tonjolan sel yang kemudian akan
dilepaskan sebagai trombosit. Setelah pelepasan terjadi, megakariosit akan mengkerut
dan inti akan hancur.


LIMFOPOEISIS
Merupakan proses pembentukan limIosit
1. LimIoblast
Memiliki inti bulat berukuran besar dengan satu atau beberapa anak inti. Kromatin inti
tipis rata dan tidak menggumpal. Sitoplasma sedikit dan berwarna biru.
2. ProlimIosit
Kromatin lebih kasar tetapi belum menggumpal.
3. LimIosit

Pengontrolan Produksi Eritrosit
Dilakukan oleh 0ritropo0itin. Merupakan suatu hormone yang secara langsung
mempengaruhiaktivitas sumsum tulang. Sangat peka terhadap perubahan kadar oksigen dalam
jaringan.
Jika kadar oksigenasi di jaringan menurun, ginjal akan mensekresi suatu enzim yaitu eritrogenin
yamg merupakan Iactor eritropoetik. Eritrogenin akan bereaksi dengan protein dalam sirkulasi
yang disebut eritropoetinogen membentuk eritropoetin yang aktiI. Eritropoetin akan
mempercepat pembentukan eritrosit pada semua stadia. Ini akan meningkatkan jumlah eritrosit
muda yang masuk dalam sirkulasi. Jika oksigenasi jaringan sudah kembali normal, maka
produksi eritropoetin akan ditekan kembali.

Pengontrolan Produksi Leukosit
Produksi limIosit bergantung pada jumlah pathogen yang masuk ke dalam tubuh. Semakin
banyak pathogen yang masuk, maka makin banyak pula leukosit yang diproduksi dan sebaliknya.

. orelasi klinis hematopoeisis
Anemia dapat disebabkan oleh penurunan kecepatan eritopoiesis, kehilangan eritrosit
berlebihan, atau deIisiensi kandungan hemoglobin dalam eritrosit. Berbagai penyakit anemia
dapat dikelompokkan ke dalam enam kategori:
nemia gi:i nutritional anemia) disebabkan oleh deIisiensi dalam diet suatu Iaktor yang
diperlukan untuk eritopoiesis. Sebagai contoh, anemia defisiensi besi terjadi jika besi yang
tersedia tidak mencukupi untuk sintesis hemoglobin karena deIisiensi besi dalam makanan atau
gangguan penyerapan besi dari saluran pencernaan.
nemia pernisiosa disebabkan oleh ketidakmampuan saluran pencernaan menyerap
vitamin B12 dalam jumlah adekuat. Seperti asam Iolat, vitamin B12 penting untuk
pembentukan DNA serta peran terkaitnya dalam proliIerasi dan pematangan enzim.
3 nemia aplastik disebabkan oleh kegagalan sumsum tulang untuk menghasilkan sel darah
merah dalam jumlah adekuat, walaupun semua bahan yang digunakan untuk eritropoiesis
tersedia yang disebabkan oleh destruksi sumsum tulang merah oleh zat kimia toksik (misalnya
benzen, arsen, dan obat tertentu, terutama kloromIenikol), radiasi yang berlebihan, atau invasi
sumsum tulang merah oleh sel sel kanker.
4 nemia ginfal disebabkan oleh penyakit ginfal. Karena eritropoietin dari ginjal adalah
stimulus utama untuk mendorong eritropoiesis, sekresi eritropoietin yang tidak adekuat akibat
penyakit ginjal menyebabkan gangguan produksi sel darah merah dan anemia.
5 nemia hemoragik disebabkan oleh hilangnya darah dalam juml ah besar. Kehilangan
darah ini dapat bersiIat akut, misalnya akibat perdarahan luka atau kronik, seperti yang
dijumpai pada wanita dengan riwayat haid berlebihan. Dapat diganti oleh tranIusi darah atau
peningkatan eritropoiesis.
6 nemia hemolitik disebabkan oleh pecahnya eritrosit yang bersirkulasi dalam jumlah
besar. H0moisis atau pecahnya sel darah merah, karena sel bersiIat deIektiI, seperti anemia sel
sabit.

Polisitemia adalah kelebihan eritrosit dalam sirkulasi. Ada 2 yaitu:
!olisitemia primer atau vera disebabkan oleh kelainan pada sumsum tulang tempat
eritropoiesis yang berlangsung dengan kecepatan yang berlebihan dan tidak terkontrol oleh
mekanisme regulator eritropoietin yang normal. Jumlah sel darah yang berlebihan
meningkatkan kekentalan darah sampai lima hingga tujuh kali dibandingkan normal yang
menyebabkan darah mengalir dengan lambat serta dapat mengurangi oksigen ke jaringan.
Peningkatan viskositas dapat meningkatkan tekanan darah sehingga beban kerja jantung
meningkat.
!olisitemia sekunder adalah mekanisme adaptiI oleh eritropoietin untuk meningkatkan
kapasitas darah mengangkut oksigen. Keadaan ini timbul secara normal pada orang yang
tinggal di dataran tinggi, pada keadaan yang lebih sedikit oksigen yang tersedia di atmosIer
atau pada orang yang terganggu penyampaian oksigen ke jaringan akibat penyakit paru kronik
atau gagal jantung.

. Prinsip hemostasis
a. Setelah pembuluh darah terpotong atau pecah, rangsangan dari pembuluh darah yang rusak
itu menyebabkan dinding pembuluh berkontraksi sehingga dengan segera aliran darah dari
pembuluh darah yang pecah akan berkurang (terjadi vasokontriksi).

b. Setelah itu, akan diikuti oleh adhesi trombosit, yaitu penempelan trombosit pada kolagen.
ADP (adenosin diIosIat) kemudian dilepaskan oleh trombosit kemudian ditambah dengan
tromboksan A2 menyebabkan terjadinya agregasi (penempelan trombosit satu sama lain).
Proses aktivasi trombosit ini terus terjadi sampai terbentuk sumbat trombosit, disebut juga
hemostasis primer.

c. Setelah itu dimulailah kaskade koagulasi yaitu hemostasis sekunder, diakhiri dengan
pembentukan Iibrin. Produksi Iibrin dimulai dengan perubahan Iaktor X menjadi Iaktor Xa.
Faktor X diaktiIkan melalui dua jalur, yaitu jalur ekstrinsik dan jalur intrinsik. Jalur ekstrinsik
dipicu oleh tissue Iactor/tromboplastin. Kompleks lipoprotein tromboplastin selanjutnya
bergabung dengan Iaktor VII bersamaan dengan hadirnya ion kalsium yang nantinya akan
mengaktiIkan Iaktor X. Jalur intrinsik diawali oleh keluarnya plasma atau kolagen melalui
pembuluh darah yang rusak dan mengenai kulit. Paparan kolagen yang rusak akan mengubah
Iaktor XII menjadi Iaktor XII yang teraktivasi. Selanjutnya Iaktor XIIa akan bekerja secara
enzimatik dan mengaktiIkan Iaktor XI. Faktor XIa akan mengubah Iaktor IX menjadi Iaktor
IXa. Setelah itu, Iaktor IXa akan bekerja sama dengan lipoprotein trombosit, Iaktor VIII, serta
ion kalsium untuk mengaktiIkan Iaktor X menjadi Iaktor Xa. Setelah itu, Iaktor Xa yang
dihasilkan dua jalur berbeda itu akan memasuki jalur bersama. Faktor Xa akan berikatan
dengan IosIolipid trombosit, ion kalsium, dan juga Iaktor V sehingga membentuk aktivator
protrombin. Selanjutnya senyawa itu akan mengubah protrombin menjadi trombin. Trombin
selanjutnya akan mengubah Iibrinogen menjadi Iibrin (longgar), dan akhirnya dengan bantuan
Iakor VIIa dan ion kalsium, Iibrin tersebut menjadi kuat. Fibrin inilah yang akan menjerat
sumbat trombosit sehingga menjadi kuat. Selanjutnya apabila sudah tidak dibutuhkan lagi,
bekuan darah akan dilisiskan melalui proses Iibrinolitik. Proses ini dimulai dengan adanya
proaktivator plasminogen yang kemudian dikatalis menjadi aktivator plasminogen dengan
adanya enzim streptokinase, kinase jaringan, serta Iaktor XIIa. Selanjutnya plasminogen akan
diubah menjadi plasmin dengan bantuan enzim seperti urokinase. Plasmin inilah yang akan
mendegradasi Iibrinogen/Iibrin menjadi Iibrin degradation product

Tipe thrombus (bekuan darah)
1. thrombus putih
terdiri dari trombosit dan Iibrin.
Terbentuk pada luka/ dinding pembuluh darah abnormal
2. thrombus merah
terdiri dari eritrosit dan Iibrin.
Terbentuk di daerah dengan pelambatan aliran darah.
3. endapan Iibrin
tersebar di pembuluh darah kapiler yang kecil.


Jenis transIusi darah
Auto: transIusi darah yang dilakukan dari diri sendiri untuk dirinya sendiri
homo:transIusi darah yang dilakukan untuk sesama individu (satu spesies)
hetero: transIusi darah yang dilakukan dari satu jenis spesies ke spesies yang berbeda. biasanya
dilakukan antarhewan, tidak dilakukan pada manusia dengan hewan



. Penggolongan darah
Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis
karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dengan kata lain,
golongan darah ditentukan oleh jumlah zat (kemudian disebut antigen) yang terkandung di
dalam sel darah merah.
Sistem Golongan darah
O
O #hesus
O Sistem NS didapat golongan darah M, N dan MN. Berguna untuk tes kesuburan
O Diego positiI yang ditemukan hanya pada orang Asia Selatan dan pribumi Amerika.
O Duffy negatiI yang ditemukan di populasi AIrika.
O Sistem utherans yang mendeskripsikan satu set 21 antigen.
O Dan sistem lainnya meliputi olton, Kell, Kidd, ewis, andsteiner-Wiener, !, t atau
artwright, XG, Scianna, Dombrock, hido/ #odgers, Kx, Gerbich, romer, Knops, Indian,
k, #aph dan J.
Ada dua jenis penggolongan darah yang paling penting, yaitu penggolongan OAB dan Rhesus
(Iaktor Rh). Selain sistem OAB dan Rh, masih ada lagi macam penggolongan darah lain yang
ditentukan berdasarkan antigen yang terkandung dalam sel darah merah. Di dunia ini
sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen OAB dan Rh, hanya saja lebih jarang
dijumpai.
ManIaat Golongan Darah :
1. Genetik / Herediter
2. Forensik
3. Transplantasi
4. ???

Sistem OAB

Karl Landsteiner, seorang ilmuwan asal Austria yang menemukan 3 dari 4 golongan darah
dalam sistem OAB pada tahun 1900 dengan cara memeriksa golongan darah beberapa teman
sekerjanya. Percobaan sederhana ini pun dilakukan dengan mereaksikan sel darah merah
dengan serum dari para donor.
Hasilnya adalah dua macam reaksi (menjadi dasar antigen tipe A dan B, dikenal dengan
golongan darah A dan B) dan satu macam tanpa reaksi (tidak memiliki antigen, dikenal dengan
golonga darah O). Kesimpulannya ada dua macam antigen A dan B di sel darah merah yang
disebut golongan A dan B, atau sama sekali tidak ada reaksi yang disebut golongan O.
Kemudian AlIred Von Decastello dan Adriano Sturli yang masih kolega dari Landsteiner
menemukan golongan darah AB pada tahun 1901. Pada golongan darah AB, kedua antigen A
dan B ditemukan secara bersamaan pada sel darah merah sedangkan pada serum tidak
ditemukan antibodi.


Dalam sistem OAB, golongan darah dibagi menjadi 4 golongan:
oongan Darah Antig0n/Agutinog0n Antibodi/Agutinin
A A Anti B
B B Anti A
AB A dan B -
O - Anti A dan B

Bila seseorang tidak mempunyai aglutinogen tipe A didalam darahnya, maka dalam plasmanya
akan terbentuk antibodi yang dikenal sebagai aglutinin anti-A.
Pada bayi yang baru lahir, tidak ada aglutinin pada plasma. Setelah dua sampai delapan bulan
baru terbentuk aglutinin di plasma. Aglutinin merupakan gama globulin dan dihasilkan oleh
sel-sel yang sama di sumsum tulang dan kelenjae limIe yang menghasilkan antibodi terhadap
antigen yang lain.

Proses Aglutinasi.
Bila darah yang tidak cocok dicampur sehingga plasma anti-A atau anti-B dicampur dengan sel
darah merah yang mengandung aglutinogen A atau B, maka sel darah merah akan mengalami
aglutinasi karena aglutinin merekatkan diri pada sel darah merah. Karena aglutinin mempunyai
dua tempat pengikatan (tipe IgG) atau 10 tempat pengikatan (tipe IgM), maka satu aglutinin
dapat melekat pada dua atau lebih sel darah merah pada waktu yang sama, dengan demikian
menyebabkan sel tersebut melekat bersamaan dengan aglutinin. Keadaan ini menyebabkan sel-
sel menggumpal, yang merupakan proses aglutinasi Gumpalan ini akan menyebabkan
penyumbatan pada pembuluh darah kecil di seluruh sistem sirkulasi. Sel darah putih Iagositik
akan menghancurkan sel-sel yang teraglutinasi, yang akan melepaskan hemoglobin ke dalam
plasma, yaitu suatu keadaan yang disebut hemolisis sel darah merah.

Sistem Rhesus (Rh)
Rh atau Rhesus (juga biasa disebut Rhesus Faktor) pertama sekali ditemukan pada tahun 1940
oleh Landsteiner dan Weiner. Dinamakan rhesus karena dalam riset digunakan darah kera
rhesus (Macaca mulatta), salah satu spesies kera yang paling banyak dijumpai di India dan
Cina.
Perbedaan sistem OAB dengan sistem rhesus yaitu pada sistem OAB aglutinin plasma
bertanggung jawab atas timbulnya reaksi transIusi yang terjadi secara spontan, sedangkan pada
sistem Rh, reaksi aglutinin spontan hampir tidak pernah terjadi.
Pada sistem ABO, yang menentukan golongan darah adalah antigen A dan B, sedangkan pada
Rh Iaktor, golongan darah ditentukan adalah antigen Rh (dikenal juga sebagai antigen D).
Terdapat enam tipe antigen Rh yang umum, setiap tipe disebut Iaktor Rh. Tipe-tipe ini ditandai
dengan C, D, E, c, d, dan e. Setiap orang hanya mempunyai satu dari ketiga pasangan anti gen
tersebut.


Jika hasil tes darah di laboratorium seseorang dinyatakan tidak memiliki antigen Rh atau
antigen D, maka ia memiliki darah dengan Rh negatiI (Rh-), sebaliknya bila ditemukan antigen
Rh atau antigen D pada pemeriksaan, maka ia memiliki darah dengan Rh positiI (Rh).
Pada umumnya orang berkulit putih memiliki darah Rh negatiI (Rh-), sedangkan pada orang
yang mempunyai kulit hitam pada umumnya memiliki darah Rh positiI (Rh).

Penyakit yang berhubungan dengan sistem rhesus yaitu :
Eritroblastosis Fetalis (Penyakit Hemolitik pada Bayi Baru Lahir)
Eritroblastosis Fetalis adalah penyakit pada janin dan bayi baru lahir yang ditandai oleh
aglutinasi dan Iagositosis pada sel darah merah janin. Ibu mempunyai darah Rh negatiI dan
ayah darah Rh positiI. Bayi mempunyai antigen Rh positiI yang diturunkan dari ayahnya, dan
ibu membentuk aglutinin anti-Rh akibat terpajan dengan antigen Rh janin. Kemudian, aglutinin
ibu berdiIusi ke dalam tubuh janin melalui plasenta dan menimbulkan aglutinasi sel darah
merah.
Sel darah merah yang teraglutinasi akan mengalami hemolisis sesudahnya, dan melepaskan
hemoglobin dalam darah. MakroIag janin kemudian mengubah hemoglobin menjadi bilirubin,
yang menyebabkan kulit bayi kekuningan (ikterik). Jaringan hematopoitik bayi mencoba untuk
mengganti sel-sel darah merah yang mengalami hemolisis. Karena cepatnya produksi sel darah
merah, banyak bentuk sel darah merah yang muda, meliputi banyak bentuk blastik yang
berinti, dilepas dari sumsum tulang bayi ke dalam sirkulasi, dan karena adanya sel darah merah
dalam bentuk blas berinti ini, penyakit tersebut dinamakan eritroblastosis Ietalis.
Pada kehamilan permata, antirhesus mungkin hanya akan menyebabkan si bayi lahir kuning
(karena proses pemecahan sel darah merah menghasilkan bilirubin yang menyebabkan warna
kuning pada kulit).
Tapi pada kehamilan kedua, problemnya bisa menjadi Iatal jika anak kedua juga memiliki
rhesus positiI. Saat itu, kadar antirhesus ibu sedemikian tinggi, sehingga daya rusaknya
terhadap sel darah merah bayi juga hebat. Ini bisa menyebabkan janin mengalami keguguran.
Pengobatan
Pengobatan Eritroblastosis pada bayi yang baru lahir yaitu dengan mengganti darah bayi yang
baru lahir dengan darah Rh negatiI dan Rh positiI bayi dikeluarkan. Cara ini diulangi berkali-
kali selama minggu-minggu pertama kehidupan supaya kadar bilirubin tetap rendah dan
aglutinin anti-Rh yang berasal dari ibu dihancurkan.
Pencegahan
Pencegahannya yaitu dengan cara memasukkan globin imunoglobin Rh, suatu antibodi anti D
pada ibu hamil dimulai dari usia 28 sampai 30 minggu. Hal ini dapat mengurangi resiko
terbentuknya sejumlah besar antibodi D selama kehamilannya berikutnya.


omposisi cairan tubuh dan gangguannya
Air menyusun 60 -75 total berat badan dengan kisaran antara 40-80. Air tubuh
terdistribusi diantara dua kompartemen cairan utama.
- Cairan intraseluler (CIS), dalam membran sel. CIS membentuk sekitar 2/3 dari H
2
O total
tubuh.

Komposisi cairan intrasel:
Kation : Na

10,0 mEq/L
K

140,0 mEq/L
Ca
2
1,0 mEq/L
Mg
2
50,0 mEq/L
Anion : Cl
-
4,0 mEq/L
HCO
3-
10,0 mEq/L
HPO
4
-2
75,0 mEq/L
SO4
-2
20,0 mEq/L
Protein 50,0 mEq/L
- Cairan ekstraseluler (CES)
CES membentuk 1/3 dari kompartmen cairan ekstra sel, yang termasuk dalm CES adalah
LimIe dan cairan limIe sel. CES dibagi menjadi :
o cairan intravaskuler atau plasma darah, berada dalam pembuluh darah yang meliputi 20 CES
atau 15 dari total berat badan.
o Kation : Na

140,0 mEq/L
K

5,0 mEq/L
Ca
2
5,0 mEq/L
Mg
2
2,0 mEq/L
o Anion : Cl
-
100,0 mEq/L
HCO3- 28,0 mEq/L
HPO
4
-2
2,0 mEq/L
SO4
-2
1,0 mEq/L
Protein 16,0 mEq/L
o cairan interstisial (cairan berada diantara sel) yang mencapai 80 CES atau 5 dari total berat
badan. Selain kedua kompartmen tersebut, ada kompartmen lain yang ditempati oleh cairan
tubuh.
o Kation : Na

145,0 mEq/L
K

5,0 mEq/L
Ca
2
3,0 mEq/L
Mg
2
2,0 mEq/L
o Anion : Cl
-
114,0 mEq/L
HCO
3-
30,0 mEq/L
HPO
4
-2
2,0 mEq/L
SO4
-2
1,0 mEq/L
Protein 1,0 mEq/L
o cairan transel (cairan lintas sel). Namun volumenya diabaikan karena kecil, yaitu cairan sendi,
cairan otak, cairan perikard, liur pencernaan, dll. Ion Na

dan Cl
-
terutama terdapat pada cairan
ektrasel, sedangkan ion K

di cairan intrasel. Anion protein tidak tampak dalam cairan


intersisial karena jumlahnya paling sedikit dibandingkan dengan intrasel dan plasma.