Anda di halaman 1dari 13

Makalah Sejarah Wanita

Wanita Dalam Perspektif Agama Kristen


Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Wanita Dosen Pengampu: Terry Irenewaty, M. Hum

Disusun Oleh: 1. Soni Hari Wibowo (09406241010) 2. Diana Trisnawati (09406241012) 3. Octavian Galih Pambuko (09406241013)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Kristianitas berawal dari provinsi Palestina jajahan Romawi (yang sekarang adalah negara-negara Israel, Palestina, dan Yordania) sekitar 2000 tahun yang lalu dan didasarkan pada kehidupan, pengajaran, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus.1 Kristianitas pada awalnya tumbuh sebagai gerakan radikal di dalam tradisi Yahudi yang jauh lebih tua. Yesus adalah seorang Yahudi dan sepanjang hidupnya ia telah percaya pada iman Yahudi. Tetapi, setelah kematiannya, agama baru itu tersebar lebih luas diantara orang-orang kafir jika dibandingkan dengan orang-orang Yahudi. Tidak lama kemudian, Kristianitas mengembangkan hidupnya sendiri lepas dari agama induknya, walaupun hubungan kedua agama tersebut tetap kompleks dan menimbulkan masalah untuk jangka waktu yang lama. Seorang kristen dapat mempunyai hubungan pribadi dengan Allah melalui Kristus dan dapat hidup dalam kuasa Roh Kudus. Kristianitas tidak hanya perduli terhadap keselamatan peorangan, tetapi juga moral. Mengkaji tentang sejarah wanita tidak hanya terbatas pada satu sudut pandang saja. Melainkan dari berbagai sisi dan pandangan agar dapat menjadi pengetahuan dan sumber untuk sebuah penelitian sejarah. Dalam ajaran Kristen pun juga diberi ruang khusus yang mempelajari tentang wanita sebagai pemeluk Tuhan. Ada tata aturan dan kewajiban yang harus dijalankan dan ditaati oleh wanita-wanita Kristen, sebagaimana
1

menciptakan

suatu

komunitas

kaum

beriman

(gereja)

dan

menanggapi ajaran-ajaran kristus yang radikal tentang perilaku sosial dan

Michael Keene, Kristianitas. (Yogyakarta: Kanisius), 2010, Hlm. 6

wanita yang memeluk kepercayaan lain. Wanita kristen menghadapi banyak masalah yang sama dengan wanita lainnya. Perbedaannya, mereka dapat datang kepada Tuhan untuk memecahkan masalah dan persoalan mereka. Dalam percakapan antara dua orang teman ini, dua wanita menceritakan tentang kegelisahan mereka sebagai wanita, seperti kekhawatiran mereka akan penampilan, keterbatasan, dan kegelisahan mereka, dan anugerah untuk dapat menyerahkan beban tersebut kepada Tuhan.2 Dalam makalah ini, penulis akan menyajikan peranan wanita menurut pandangan alkitab, yang meliputi peran di dalam keluarga, masyarakat, tempat kerja, dan lain-lain. Hal ini dapat dijadikan sebagai pembanding yang bisa menambah pengetahuan kita perihal sosok wanita dari berbagai perspektif. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana wanita dalam perspektif agama Kristen? 2. Bagaimana kedudukan wanita dalam perkawinan? 3. Siapa sajakah tokoh wanita Kristen yang berpengaruh dalam ajaran mereka? C. Tujuan 1. Menjelaskan wanita dalam perspektif agama Kristen. 2. Menjelaskan kedudukan wanita dalam perkawinan. 3. Menjelaskan tokoh wanita Kristen yang berpengaruh dalam ajaran mereka.

2 Nathan Dermawan, Wanita Dalam Alkitab, Warta Sejati. (Jakarta: Departemen Literatur Gereja Yesus Sejati), Edisi 48 No 1 tahun 2006, Hlm. 3
3

BAB II PEMBAHASAN
1. Perempuan Dalam Pandangan Kristen Kristen adalah agama yang kompleks, sebagian besar sintesis dari Yahudi dan pemikiran Yunani, dengan pengaruh-pengaruh yang lain. Kristen memiliki latar belakang naturalisme Yahudi, dimana seks dianggap ciptaan Tuhan, dengan penekanan pada prokreasi dan dominasi laki-laki. 3 Kaum wanita pada umumnya dan wanita-wanita muda di seluruh dunia merupakan tubuh kristus dari golongan perempuan yakni untuk anak-anak perempuan dari golongan kerajaan Tuhan, yang diciptakan menurut gambarnya serta telah ditebus dengan harga tertinggi.4 Selain itu, telah dipulihkanlah untuk menjadi rekan sekerjanya, melayani dunia yang sedang luka dengan penuh kasih.5 Wanita dalam penginjilan dibagi ke dalam tiga zaman sesuai dengan urutan waktunya, yakni Perempuan di Zaman Al kitab, Perempuan awal abad ke 20, dan Perempuan zaman sekarang. a. Perempuan di Zaman Penginjilan Wanita yang berpenyerahan mempunyai tempat yang sudah ditunjukkan oleh Tuhan di dalam pekerjaannya. Misalnya Debora, Miryam, dan wanita Sunem adalah contoh-contoh wanita dalam perjanjian lama yang talentanya dipakai Tuhan untuk melaksanakan rencananya. Tuhan
3 Parrinder, 4

Geoffrey, Teologi Seksual. (Yogyakarta: LKIS). 2004, Hlm. 351.

Osborn, Daisy Washburn, Woman Without Limits. (Jakarta: Gandum

Mas), 2007, Hlm. 7. 5 Nathan Dermawan, Wanita Dalam Alkitab, Warta Sejati. (Jakarta: Departemen Literatur Gereja Yesus Sejati), Edisi 48 No 1 tahun 2006, Hlm. 3

menyatakan kepada nabi Yoel bahwa para wanita dari generasi yang akan datang akan termasuk para saksi yang dipenuhi Roh pada zamannya. Sebab itu, pada hari pantekosta, Maria Ibu Yesus, dan wanita-wanita lain berhimpun di ruang atas. Beberapa wanita-wanita tersebut membawa berita kepada murid bahwa kristus telah bangkit dari mati. Para wanita yang setia telah menggabungkan diri dengan gereja yang baru berdiri itu dan di dalam kasih dan pengorbanan menyumbangkan untuk perkembangan dan pelayanan gereja. Pekerjaan mereka menjadi bagian tertentu dari rencana gereja yang disetujui oleh para pemimpin mereka. Mereka memperingati beban para pendeta dengan melayani para janda dan yatim piatu (Kisah Para Rasul 9:36, 39). Mereka memberi makanan dan tumpangan kepada para penginjil, mengunjungi orang yang sakit, dan lain-lain. Para wanita tinggal di daerah terpencil berkumpul di rumah-rumah di bawah naungan pohon.6 b. Wanita Dalam Penginjilan Awal abad ke-20 Wanita-wanita pada zaman tersebutlah yang mengatasi kesukarankesukaran atau masalah-masalah yang ada di belahan Eropa. Mereka membersihkan dan menyiapkan tempat-tempat pertemuan sementara suami mereka bekerja. Wanita menyiapkan keperluan para penginjil, memberi korban persembahan dari uang belanja mereka dan membawa keluarga mereka untuk menghadiri kebaktian di gereja. Walaupun pekerjaan sehari-hari mereka berat, para wanita sering menjadi yang terakhir dalam meninggalkan tempat doa. Banyak wanita yang berserah dan berendah hati melayani dengan setia di smaping pendeta, suami mereka. Mereka mengasuh anak-anaknya supaya taat pada tuhan, ikut serta dalam mengunjungi anggota-anggota jemaat dan turut memikul
6

Wanita Dalam Penginjilan. (Malang: Departemen Kaum Wanita). Hlm. 12-

13
5

beban pelayanan pada umumnya. Wanita-wanita lainnya dipanggil Tuhan untuk berdiri di mimbar dan dengan menarik dan efektif menyampaikan berita tentang Yesus sebagai juru selamat orang berdosa.7 c. Wanita Dalam Penginjilan Zaman Sekarang Dewasa ini, walaupun program pengentasan dari aliran-aliran gereja injil dipercepat, Kekristenan menghadapi krisis yang terbesar. Penghalang yang umum untuk kemajuan iman Kristen adalah ketenangan dan ketidak pedulian orang-orang yang mengunjungi gereja. Penyelamatan jiwa-jiwa yang terhilanh diserahkan kepada para pendeta dan dengan demikian menghasilkan keadaan yang tanpa harapan. Pendeta dan pengurus jemaat yang paling berserah dan efisienpun mendapati bahwa tidak mungkin mereka sendiri menjangkau semua orang di dalam masyarakat yang memerlukan Tuhan. Kesempatan-kesempatan yang tak terbatas ada di hadapan para wanita zaman sekarang yang mau belajar dari kanakkanak nereka dari generasi yang lalu, dan dengan penuh pengharapan akan masa depan, menggabungkan diri dalam pelayanan penginjilan gereja. Wanita memiliki tugas-tugas yang disesuaikan dengan tempatnya. Di rumah Pekerjaan utama ibu adalah mengasuh dan merawat anak-anaknya dan melayani kebutuhan keluarga termasuk suaminya. Diceritakan bahwa Susannah Wesley ibu dari sembilan belas anak mengajar setiap anaknya untuk berdoa segera setelah anak itu dapat berbicara. Dia memberi prioritas dalam runah tangganya kepada kebuthan-kebutuhan rohani keluarga dengan meluangkan waktu 30 menit untuk bercakap-cakap dengan anaknya tentang hubungan dengan Tuhan. 1) Di tetangga kiri kanannya Dalam kehidupan bertetangga, wanita-wanita kristen juga ikut serta 7 Ibid, Hlm. 12-13

dalam membina hubungan baik dengan para tetangganya, yakni dengan memberi jamuan makan kepada para tetangganya ketika berkunjung.8 Tidak jauh berbeda dengan ajaran Islam, para wanita Kristen juga memuliakan tamu yang berkunjung di rumahnya. 2) Di Lingkungan masyarakat Wanita dalam Kristen banyak melakukan kegiatan sosial dari rumah ke rumah, misal: menggalang dana, PMI, dan lain-lain. Mereka diwajibkan berderma dan menolong orang lain yang membutuhkan bantuan. Hal ini, tidak hanya pada ajaran Kristen saja. Setiap agama dan dalam kajian social, memang sudah diharuskan berbuat baik serta menolong orang lain yang kesusahan. 3) Di sekolah dan tempat kerja Dengan mengunjungi ruang kelas anaknya, seorang ibu dapat memberikan dasar untuk pelayanan bersaksi. Ia akan menemui banyak keluarga seperti keluarganya sendiri. Selain itu ada misi missionaris. Mengajar pelajaran agama di sekolah negeri memberikan kesempatan penginjilan yang tak ada bandingannya untuk para wanita kristen yang berijazah guru. Dalam cara ini, perjalanan kehidupan bagi seorang anak yang belum pernah ke gereja seringkali berubah sama sekali melalui hubungannya dengan firman Tuhan.

2. Kedudukan Perempuan Dalam Perkawinan Setiap agama memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan Kristen adalah satu-satunya agama yang sejak awal tampak menuntut monogami. Kristen merupakan agama pembaharu yang berkembang dari naturalism Yahudi. Monogamy akan memberikan kesempatan terbaik terhadap hak8

Wanita Dalam Penginjilan. (Malang: Departemen Kaum Wanita). Hlm. 20


7

hak yang sama bagi suami dan istri, dan pengakuan tertinggi terhadap cinta pernikahan. Tetapi sayangnya, selama beberapa abad, ideal-ideal semacam ini bukanlah yang paling dihargai dan baru pada zaman modern implikasi-implikasinya disadari secara luas.9 Dalam agama Kristen sendiri secara tegas ditanamkan adanya ketentuan bahwa menikah hanyalah satu kali dan tidak mengenal poligami. Monogami yang diajarkan dalam Kristen bermula dari ajaran Yesus bahwa apa yang Tuhan telah satukan, tidak boleh manusia pisahkan. Kerasnya larangan gereja belakangan terhadap perceraian, dalam aplikasi khas ideal tersebut yang diberikan oleh Yesus, adalah tidak mengaplikasikan ideal-idealnya yang lain. Gereja sering mendukung untuk menjalani hidup dalam perang atau hukuman mati, dan menuntut pengucapan sumpah dalam pengadilan hukum sipil dan rohaniawan. Namun, sementara mengabaikan aplikasi literal ajaran-ajaran ideal Yesus yang lain, gereja menuntut pengabdian literal pada ideal mengenai perceraian. Perceraian hamper dianggap satu dosa tak terampuni, meskipun kesalahan aneh tersebut diindikasikan oleh Yesus sebagai dosa terhadap roh suci.10 Kebanyakan ajaran Yesus mengenai moralitas, bahkan ajaran tentang melihat perempuan dengan nafsu, dapat diparalelkan dalam ajaran-ajaran rabi-rabi yang umumnya menganggap perkawinan ideal sebagai perkawinan monogamy permanen. Dalam pengajaran umumnya, Almasih a.s. tidak pernah mengeluarkan kata-kata penghinaan atau merendahkan martabat perempuan. "Kaum Hawa" itu tidak pernah menjadi obyek lelucon olok-olok atau kritikan, dan mereka tidak pernah dianggap rendah gara-gara menjadi perempuan. Dalam kutukanNya terhadap perselingkuhan dan perceraian dalam Matius 5:27-28 dan 19:3-10, Almasih a.s. mengajarkan bahwa perempuan tidak boleh diperlakukan
9

Parrinder, Geoffrey, Teologi Seksual. (Yogyakarta: LKIS). 2004, Hlm. 351. Hlm. 362

10 Ibid,

sebagai obyek sex para lelaki. Perceraian suami-isteri dianggapNya sebagai bentuk dari kedegilan hati bani Israel, sehingga memberi surat talak secara semena-mena menjadi hal yang sudah lazim. Sebab menurut Talmud, para rabbi Yahudi menafsirkan hukum Musa di luar batas. Dengan mudahnya seorang perempuan dapat diceraikan kalau ia "menyajikan makanan yang basi", bila ia berbicara keras-keras sampai didengar tetangganya atau bila suaminya telah menemukan seorang perempuan yang lebih cantik dari isterinya sendiri.11 3. Tokoh Wanita Dalam Ajaran Kristen a. Debora Debora adalah satu-satunya perempuan yang memimpin bangsa Israel di zaman hakim-hakim. Yakni zaman antara kematian Yosua dan Saul diangkat menjadi raja. Debora bukan hanya sekedar hakim kecil, ia adalah seorang perempuan yang memiliki otoritas untuk memutuskan perbedaan di antara para lelakui, dan memegang kekuasaan seperti halnya hakim-hakim Israel yang lainnya. setelah Ehud mati, orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata Tuhan. Lalu Tuhan menyerahkan mereka ke dalam tangan Yabin, raja Kanaan, yang memerintah di Hazor. Panglima tentaranya ialah Sisera yang diam di HarosetHagoyim. Lalu orang Israel berseru kepada Tuhan, sebab Sisera mempunyai Sembilan ratus kereta besi dan dua puluh tahun lamanya ia menindas orang Israel dengan keras. Pada waktu itu Debora seorang nabiah, istri Lapidot memerintah sebagai hakim atas orang-orang Israel. (Alkitab, Hakim-Hakim 3,4) Ini bukan kepemimpinan yang mudah bagi Debora. Bangsa Israel telah dikuasai oleh penguasa Kanaan, tetapi bangsa Israel tidak pernah bangkit melawannya, sampai ketika perempuan turun menjadi

11www.wanitadalamkristen.net/PemberdayaanPerempuanmenurutImanKrist en.htm diakses pada tanggal 28 September 2011 pukul 22:40 WIB.
9

pemimpin.

Sebagai

seorang

nabiah,

Debora

mendengar

dan

mengkomunikasikan kehendak Tuhan kepada umatnya.12 Debora memimpin bangsanya selama peperangan berlangsung secara efektif, meskipun ada kalangan yang tidak senang dengan keberadaannya. Ia dengan sepuluh ribu pasukannya menyerang pasukan Sisera dan memerintahkan mereka untuk berperang pada hari yang dipilih oelh Tuhan. Ketika Barak dan pasukannya taat, pasukan orang-orang Kanaan melarikan diri dari hadapan mereka. b. Ester Nama Ester dalam Bahasa Ibrani adalah Hadassah, yang bermaksud pokok mirtel. Nama ayah Ester adalah Abihail (SHD 32), yang bermaksud bapa saya adalah perkasa. Bapa Ester dan ibu meninggal dunia dan Mordekai, bapa saudaranya, telah membesarkan dia. Mordekai telah menyediakan dan mengajar Ester semua yang dia perlukan, sama seperti Kristus mengajar dan menyara Jemaat. Ester mendapat sokongan ke dalam atas penglihatan semua Hegai. Dia orang yang bertanggungjawab pengantin perempuan

berpotensi untuk Raja Ahasuerus. Hegai (SHD 1896) bermaksud sida. Dia memberi Ester tujuh gadis-gadis pilihan daripada istana raja dan meletakkan Ester dalam tempat terbaik dalam gundik. Ester mengikuti nasihat Mordekai dan tidak beritahu sesiapa apa kewarganegaraannya. Ester patuh kepada Mordekai. Dalam cara serupa Jemaat adalah mendengar dan patuh kepada Kristus melakukan apa yang disuruh. Ester adalah seorang perempuan Yahudi yang takut akan Tuhan, yang elok perawakannya dan cantik parasnya (Ester 2: 7b), juga seorang yang pandai mengatur strategi hingga mampu mengalahkan secara
12

Pamela McQuade, The Top 100 Women of The Bible. (Jakarta: Abiyah

Pratama), 2008, 23-24.

telak lawan politiknya yang berniat jahat untuk memusnahkan bangsa Israel. Wanita bijak dalam kitab Amsal 31, meski tidak disinggung perihal kecantikan atau bagaimana perawakannya, tapi disebutkan bahwa ia mengenakan kain ungu (kain mahal dan berkualitas bagus) jadi boleh dibilang wanita bijak dalam Amsal 31 ini sedang mempercantik dirinya.13 Wanita ini selain berperan sebagai istri idaman, ibu yang baik, juga adalah seorang pengusaha (wanita karir) yang sukses, seorang dermawan, dan seorang guru yang berhikmat. Alkitab juga tidak melarang perempuan untuk menjadi pandai, sukses dalam dunia pekerjaan bahkan berpolitik sekali pun. Tapi mengingatkan kita bahwa bukan kesuksesannya itu sendiri yang sedang kita kejar, melainkan ketaatan mutlak untuk menjalankan hidup seturut kehendak Tuhan. Ester memang dikenal sebagai ratu yang bijak, tapi bukankah sebelum menuju singgasana dia hanyalah satu dari sekian banyak perempuan simpanan Raja Ahasyweros yang tidak mengenal Tuhan.

BAB III PENUTUP


Simpulan 1. Kaum wanita pada umumnya dan wanita-wanita muda di seluruh dunia merupakan tubuh kristus dari golongan perempuan yakni untuk anakanak perempuan dari golongan kerajaan Tuhan, yang diciptakan menurut gambarnya serta telah ditebus dengan harga tertinggi.
13

http://www.oocities.org/meilania90/wanitakristen.htm diakses pada tanggal

29 September 2011 pukul 20:11 WIB


11

2. Setiap agama memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan Kristen adalah satu-satunya agama yang sejak awal tampak menuntut monogami. Kristen merupakan agama pembaharu yang berkembang dari naturalism Yahudi. 3. Tokoh wanita dalam Kristen misalnya Debora dan Ester. Kedua tokoh tersebut merupakan orang yang berpengaruh dalam ajaran Kristen

DAFTAR PUSTAKA
Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia. Anonim. Wanita Dalam Penginjilan. Malang: Departemen Kaum Wanita. Michael Keene. 2010. Kristianitas. Yogyakarta: Kanisius. Nathan Dermawan. 2006. Wanita Dalam Alkitab, Warta Sejati. Jakarta: Departemen Literatur Gereja Yesus Sejati. Edisi 48 No 1. Pamela McQuade. 2008. The Top 100 Women of The Bible. Jakarta: Abiyah Pratama.

Parrinder, Geoffrey. 2004. Teologi Seksual. Yogyakarta: LKIS. Osborn, Daisy Washburn. 2007. Woman Without Limits. Jakarta: Gandum Mas. http://www.oocities.org/meilania90/wanitakristen.htm diakses pada tanggal 29 September 2011 pukul 20:11 WIB www.wanitadalamkristen.net/PemberdayaanPerempuanmenurutImanKristen. htm diakses pada tanggal 28 September 2011 pukul 22:40 WIB.

13