Anda di halaman 1dari 19

PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG PADA WILAYAH GEMPA TINGGI

MENGGUNAKAN SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN KHUSUS (SRPMK)


DITINJAU DENGAN ANALISA PENGARUH BEBAN GEMPA STATIK EKUIVALEN
DAN BEBAN GEMPA DINAMIK
Nama: : Arfian Triastanto
NRP : 3103 100 103
Dosen Pembimbing : Ir.Iman Wimbadi, MS
Ir. Tavio, MS, Ph.D
Jurusan : Teknik Sipil FTSP-ITS
ABSTRAK
Dalam perancangan struktur pada rumah
rumah atau gedung gedung, pengaruh gempa
merupakan salah satu hal yang penting untuk
dianalisa, terutama bangunan bangunan yang
berada dalam wilayah yang sering dilanda gempa
besar. Mengingat bahwa wilayah kepulauan
Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng
tektonik utama dunia, yaitu : Lempeng Australia,
Lempeng Eurasia dan Lempeng Filipina, maka
sebagian wilayah Indonesia termasuk dalam Wilayah
Gempa Tinggi (zone 5 dan 6). Oleh karena itu,
diperlukan suatu perancangan yang baik terhadap
bahaya gempa agar tidak terjadi tingkat kecelakaan
dan kerugian yang besar.
Dalam tugas akhir ini akan direncanakan
struktur gedung beton bertulang menggunakan
Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK)
sesuai dengan SNI 03-2847-2002 dan SNI 03-1726-
2002. Struktur ini akan direncanakan 10 lantai dan
terletak di wilayah gempa kuat (zone 6) dimana
ditinjau dengan menggunakan analisa pengaruh
beban statik ekuivalen dan beban dinamik.
Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus
(SRPMK) adalah sistem struktur yang pada dasarnya
memiliki rangka ruang pemikul momen terutama
melalui mekanisme lentur. Dengan adanya sistem ini
diharapkan suatu bangunan dapat berperilaku
daktail yang nantinya akan memencarkan energi
gempa serta membatasi beban gempa yang masuk ke
dalam struktur.
Dalam Tugas Akhir ini akan digunakan 2
cara pendekatan dalam menganalisa pembebanan
gempa terhadap struktur gedung, yaitu analisa
pengaruh beban gempa statik ekuivalen dan beban
dinamik. Hal ini mengingat bahwa dengan
ketinggian gedung 10 lantai dan 40 meter sehingga
gedung tidak memenuhi salah satu syarat konfigurasi
bangunan beraturan sesuai dengan ketentuan pada
SNI 03-1726-2002. sehingga, untuk melihat perilaku
struktur tersebut perlu dilakukan analisa pengaruh
beban gempa statik ekuivalen dan beban gempa
dinamik.
Diharapkan dengan menggunakan metode
Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) ini
dapat diaplikasikan dan bermanfaat bagi masyarakat
khususnya pada daerah rawan gempa tinggi dan
sebagai cara sosialisasi kepada masyarakat luas
mengingat peraturan peraturan yang digunakan
adalah peraturan baru.
Kata kunci :Beton, SRPMK, Beban Gempa Statik
ekuivalen, Beban Gempa Dinamik.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam perancangan struktur pada rumah
rumah atau gedung gedung, pengaruh gempa
merupakan salah satu hal yang penting dianalisa,
terutama bangunan bangunan yang berada
dalam wilayah yang sering dilanda gempa besar.
Suatu struktur yang didirikan pada daerah rawan
gempa harus mampu menahan gempa besar
tanpa runtuh, walaupun boleh terjadi kerusakan
struktur (Kurdian, 2004). Sedangkan komponen
komponennya harus mempunyai kemampuan
daktilitas, agar tidak gagal oleh beban gempa
rencana yang lebih besar dari beban nominalnya
(Rachmat P, 2005).
Mengingat bahwa wilayah kepulauan
Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng
tektonik utama dunia, yaitu : Lempeng
Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng
Filipina (Qashas, 2001), maka sebagian wilayah
Indonesia termasuk dalam Wilayah Gempa
Tinggi (zone 5,6). Sehubungan dengan sudah
dikeluarkannya peraturan terbaru mengenai
perancangan bangunan tahan gempa yaitu: SNI
03-2847-2002 dan SNI 03-1726-2002 maka
diperlukan adanya pendalaman dan
1
penyosialisasian peraturan peraturan tersebut
kepada masyarakat luas khususnya pada daerah
rawan gempa tinggi.
Dalam Tugas Akhir ini akan digunakan
metode metode Sistem Rangka Pemikul Momen
Khusus (SRPMK) dengan 10 lantai 40 meter
dengan analisa pengaruh beban gempa statik
ekuivalen, namun mengingat struktur gedung
dengan ketinggian ini sudah tidak memenuhi
salah satu syarat konfigurasi bangunan beraturan
sesuai dengan ketentuan pada SNI 03-1726-
2002. Sehingga perlu dilakukan pula analisa
pengaruh beban gempa dinamik.
Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus
(SRPMK) adalah sistem struktur yang pada
dasarnya memiliki rangka ruang pemikul beban
gravitasi secara lengkap. Sedangkan beban
lateral dipikul oleh rangka pemikul momen
terutama melalui mekanisme lentur. Dengan
adanya sistem ini diharapkan suatu bangunan
dapat berperilaku daktail yang nantinya akan
memncarkan energi gempa serta membatasi
beban gempa yang masuk ke dalam struktur
(SNI 03-1726-2002).
Analisa struktur pada Tugas Akhir ini
akan dilakukan dengan 2 analisa pembebanan
gempa yaitu pembebanan gempa statik
ekuivalen dan gempa dinamik dengan Analisa
Respon Spektrum. Dari 2 analisa tersebut akan
dihasilkan gaya gaya dalam yang berbeda,
yang nantinya didapatkan Momen Gabungan
(Momen Envelope) yang terbesar dan digunakan
sebagai disain dan detailing struktur. Dan juga
studi ini untuk mengawali studi selanjutnya
untuk gedung dengan denah dan tingkat
bangunan yang lain.
1.2 Perumusan masalah
1. Bagaimana merencanakan preliminary
design untuk kolom dan balok induk?
2. Bagaimana menghitung pembebanan
yaitu beban hidup, beban mati dan
beban gempa?
3. Bagaimana merencanakan struktur
sekunder, yaitu : plat, tangga, balok
anak dan lift.
4. Bagaimana merencanakan komponen
komponen struktur utama (balok induk
dan kolom) yang menerima kombinasi
lentur dan beban aksial?
5. Bagaimana merencanakan struktur
Hubungan Balok Kolom?
6. Bagaimana merencanakan pondasi yang
aman dan efisien?
7. Bagaimana mengaplikasikan
perhitungan Tugas Akhir ini ke dalam
bentuk gambar?
1.3 Maksud dan Tujuan
1. Merencanakan elemen kolom dan balok
induk.
2. Menerapkan pembebanan terhadap
struktur.
3. Merencanakan struktur sekunder, yaitu :
plat, tangga, balok anak dan lift.
4. Merencanakan komponen komponen
struktur utama (balok induk dan kolom)
5. Merencanakan struktur Hubungan Balok
Kolom.
6. Merencanakan pondasi yang aman dan
efisien.
7. Mengaplikasikan perhitungan Tugas
Akhir ini ke dalam bentuk gambar.
1.4 Batasan Masalah
1. Gedung yang akan direncanakan adalah
gedung dengan 10 lantai 40 meter dengan
metode Sistem Rangka Pemikul Momen
Khusus (SRPMK).
2. Analisa pembebanan gempa dinamik
dibatasi untuk analisis ragam respons
sperktrum.
3. Perancangan hanya ditinjau dari segi
teknis saja tanpa menunjau segi arsitektural
dan segi ekonomis gedung.
4. Asumsi gaya lateral yang bekerja
dominan adalah Gaya Gempa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Umum
Dalam perancangan struktur pada rumah
rumah atau gedung gedung, pengaruh gempa
merupakan salah satu hal yang penting dianalisa,
terutama bangunan bangunan yang berada
dalam wilayah yang sering dilanda gempa besar
Perencanaan dari suatu struktur gedung
pada daerah gempa haruslah menjamin struktur
bangunan tersebut agar tidak rusak atau runtuh
oleh gempa kecil atau sedang, tetapi oleh gempa
yang kuat struktur utama boleh rusak tetapi tidak
sampai terjadi suatu keruntuhan gedung. Hal ini
dapat dicapai jika struktur gedung tersebut
mampu melakukan perubahan secara daktail,
dengan cara memencarkan energi gempa serta
membatasi gaya yang bekerja padanya. Untuk
2
daerah wilayah gempa tinggi, berdasarkan SNI
03-2847-2002 Dilengkapi Penjelasan,
perencanaan pembangunan gedung bertingkat
untuk daerah dengan resiko gempa tinggi
menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen
Khusus (SRPMK).
Sistem rangka pemikul momen adalah
sistem rangka ruang dalam dimana komponen
komponen struktur dan joinjoinnya menahan
gayagaya dalam yang bekerja melalui aksi
lentur, geser dan aksial, dimana perhitungan
struktur dengan Sistem Rangka Pemikul Momen
Khusus dirancang dengan menggunakan konsep
Strong Column Weak Beam yang merancang
kolom sedemikian rupa agar bangunan dapat
berespon terhadap beban gempa dengan
mengembangkan mekanisme sendi plastis pada
balokbaloknya dan dasar kolom.
2.2 Peraturan Yang Digunakan
Di dalam mengerjakan
Tugas Akhir ini akan menggunakan peraturan
peraturan yang berlaku yaitu :
o Tata Cara Perencanaan Struktur
Beton untuk Bangunan Gedung
Dilengkapi Penjelasan, Standar Nasional
Indonesia 2002.
o Tata Cara Perencanaan
Ketahanan Gempa untuk Bangunan
Gedung, Standar Nasional Indonesia
2002.
o Tata Cara Perhitungan
Pembebanan untuk Bangunan Rumah
dan Gedung, Standar Nasional
Indonesia.
o Perencanaan Struktur Beton
Bertulang Tahan Gempa, Rahmat
Purwono, 2005.
2.3 Permodelan Struktur
Struktur gedung dibedakan menjadi 2
macam, yaitu :
1. Struktur Gedung Beraturan,
harus memenuhi ketentuan struktur SNI
03 1726 2002 Pasal 4.2.1. pengaruh
gempa rencana struktur gedung ini dapat
ditinjau sebagai pengaruh beban static
ekuivalen. Sehingga dapat
menggunakan analisa static ekuivalen.
2. Struktur Gedung Tidak
Beraturan, adalah struktur gedung yang
tidak memenuhi syarat konfigurasi
struktur gedung beraturan (SNI 03
1726 2002 Pasal 4.2.1). Pengaruh
gempa struktur ini harus dianalisa
dengan menggunakan pembebanan
gempa dinamik. Dalam pengerjaan
Tugas Akhir ini digunakan Analisa
Respons Spektrum.
Pada Tugas Akhir ini, gedung akan
dilakukan 2 analisa beban gempa. Yaitu analisa
beban gempa static ekuivalen dan dinamik. Hal
ini dilakukan untuk melihat perilaku gaya gaya
yang terjadi pada struktur gedung. Dan nantinya
dilakukan dengan program bantu SAP 2000.
2.4 Metode SRPM (Sistem Rangka
Pemikul Momen)
Adalah suatu metode perhitungan
struktur yang pada dasarnya memiliki rangka
ruang pemikul beban gravitasi secara lengkap.
Beban lateral dipikul rangka pemikul momen
terutama melalui mekanisme lentur.
Dalam tugas akhir ini digunakan Sistem
Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK)
untuk wilayah gempa tinggi (5 dan 6)
2.5 Prosedur Perancangan
Prosedur dan ketentuan umum
perancangan mengacu pada SNI 03 1726
2002, SNI 03 2847 2002, dan RSNI 03
1727 2002 dengan memperhitungkan beberapa
ketentuan umum antara lain :
2.5.1 Gempa Rencana dan Kategori Gedung
2.5.2 Daktilitas Struktur Bangunan dan
Pembebanan Nominal
2.5.3 Faktor daktilitas gedung
2.5.4 Daktilitas
2.5.5 Perancangan Kapasitas
2.5.6 Jenis Tanah dan Perambatan Gelombang
Gempa
2.5.7 Karakteristik Resiko Gempa Wilayah
2.6 Pembebanan dan Kombinasi
Pembebanan Struktur
2.6.1 Pembebanan.
Beban Gempa Statik
Mencakup semua beban statik
ekuivalen yang bekerja pada gedung
yang menirukan pengaruh dari
gerakan tanah akibat gempa. (SNI
03 1726 2002)
Beban Gempa Dinamik
Dalam Tugas Akhir ini gedung akan
diberi beban dinamik dengan analisa
Respon Spektrum sesuai dengan
SNI 03 1726 2002.
2.6.2 Kombinasi pembebanan
3
Sesuai dengan SNI 03 - 2847 2002
Pasal 11.2, meliputi
U = 1,4D
U = 1,2D + 1,6L
U = 1,2D + 1,0L 1E
U = 0,9D 1E
2.7 Analisa Gempa
Di dalam pengerjaan Tugas Akhir ini,
akan digunakan 2 analisa Beban Gempa yaitu,
2.7.1 Analisa Beban Gempa Statis
Ekuivalen
adalah suatu cara analisa 3 dimensi
linier dengan meninjau beban beban gempa
static ekuivalen, sehubungan dengan sifat
struktur gedung beraturan yang praktis
berperilaku sebagai 2 dimensi, sehingga respon
dinamiknya hanya ditentukan oleh respon ragam
yang pertama dan dapat ditampilkan sebagai
akibat dari beban static ekuivalen (SNI 03
1726 2002)
2.7.2 Analisa Beban Gempa Dinamik
dalam hal pengerjaan Tugas Akhir ini
menggunakan Analisa Gempa Ragam Respon
Spektrum adalah analisa untuk menentukan
respon dinamik struktur gedung 3 dimensi yang
berprilaku elastic penuh terhadap pengaruh suatu
gempa melalui suatu metode analisa yang
dikenal dengan analisa Ragam Spektrum,
dimana respon dinamik maksimum masing
masing ragamnya yang didapat melalui
spectrum respons gempa rencana (SNI 03
1726 2002)
Dalam SNI 03 1726 2002
menentukan pengaruh gempa rencana yang
harus ditinjau dalam perancangan struktur
gedung serta berbagai bagian dari peralatannya
secara umum. Gempa rencana ditetapkan
mempunyai periode ulang 500 tahun. Namun
probabilitas terjadinya terbatas 10 % delama
umur gedung yaitu 50 tahun. Gedung
disyaratkan pula adanya perbatasan simpangan
yang terjadi yang dikenal sebagai kinerja batas
layan struktur gedung ditentukan oleh
simpangan antar tingkat akibat pengaruh gempa
rencana, dimana untuk membatasi terjadinya
pelelehan baja dan keretakan beton yang
berlebihan, disamping untuk mencegah
kerusakan non struktur dan ketidaknyamanan
penghuni. Simpangan antar tingkat yang
dihitung dari simpangan struktur gedung tidak
boleh melampaui 0,03/R x tinggi tingkat yang
bersangkutan atau 30 mm bergantung nilainya
yang lebih kecil (SNI 03 1726 2002)
Disamping kinerja batas layan juga
disyaratkan bahwa gedung memenuhi
persyaratan batas ultimit dimana ditentukan oleh
simpangan antar tingkat maksimum struktur
gedung akibat pengaruh gempa rencana dalam
kondisi struktur gedung di ambang keruntuhan,
yaitu untuk membatasi kemungkinan terjadinya
keruntuhan struktur gedung yang dapat
menimbulkan korban jiwa manusia dan
mencegah benturan berbahaya antar gedung atau
antar bagian struktur gedung yang dipisah
dengan sela pemisah (sela dilatasi) sesuai
dengan SNI 03 1726 2002 Pasal 8.2.1. untuk
struktur gedung beraturan ( = 0,7R)
sedangkan untuk gedung tidak beraturan ( =
0,7R/faktor skala). Dalam segala hal simpangan
antar tingkat yang dihitung dari simpangan
struktur gedung menurut pasal tersebut adalah
tidak boleh melebihi 0,02 x tinggi tingkat
gedung.
BAB III
METODOLOGI
Metodologi yang saya gunakan dalam
penyusunan Tugas Akhir ini adalah,
3.1 Pengumpulan data dan pencarian data
data yang diperlukan untuk perencanaan.
a. Gambar Arsitektur
4
b. Data data tambahan seperti Data
Tanah, Brosur Lift, dll.
3.2 Studi Kepustakaan
a. Desain Beton
Bertulang, Wang CK dan Charles GS,
1990.
b. Perencanaan
Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa,
Prof. Ir. Rachmat P, MSc.
c. Edward. G.
Nawy
d. SNI 03 2847
2002
e. SNI 03 1726
2002
f. RSNI 03 1727
2002
3.3 Persyaratan Tata Letak, diasumsikan :
a. Tipe bangunan
: Perkantoran
b. Letak bangunan
: Jauh dari pantai
c. Zone gempa : Zone 6 (Gempa
Tinggi)
d. Tingkat daktilitas
: daktilitas penuh
e. Mutu beton (f
c
)
: 40 MPa
f. Mutu baja (f
y
)
: 400 MPa
3.4 Preliminary Design
1. Perencanaan Balok Induk
Menurut SNI 03 2847 2002 Tabel 8,
bahwa balok pada 2 tumpuan sederhana
memiliki tebal minimum (bila lendutan
tidak dihitung) :
L h
16
1
min

a. Untuk struktur ringan dengan berat
jenis 1.500 kg/m
3
2.000 kg/m
3
,
nilai di atas harus dikalikan dengan
(1,65-(0,0003)w
c
) tetapi tidak
kurang dari 1,09.
b. Untuk f
y
selain 400 MPa, nilainya
harus dikalikan dengan (0,4 + f
y
/
700)
dimana,
L : Panjang balok
w
c
: berat jenis beton
f
y
: Mutu baja
2. Perancangan
dimensi Kolom
Adapun rumus yang digunakan untuk
merencanakan dimensi kolom :
'
c
total
f
W
A

dimana,
A : Luas kolom
W
total
: berat total bangunan
f
c
: Mutu beton
3. Perancangan
ketebalan Plat
Menggunakan SNI 03 2847 2002
Pasal 11.5.3.3, dimana :
a. Untuk
2 , 0
m

menggunakan
(2847) Pasal 11.5.3.2
b. Untuk
2 2 , 0 < <
m

ketebalan
minimum plat harus memenuhi .
[ ] 2 . 0 5 36
1500
8 . 0
1
+
1
]
1

m
y
n
f
L
h

> 120
mm
c. Untuk
2
m

ketebalan minimum
plat harus memenuhi
9 36
1500
8 . 0
2

,
_

fy
L
h
n
> 90 mm
L
n
= Panjang bentang bersih
S
n
= Lebar bentang bersih
f
y
= Tegangan Leleh Baja

= Rasio bentang bersih dalam arah


memanjang terhadap
arah memendek dari pelat 2 arah
m

= Nilai rata-rata untuk semua balok


pada tepi tepi suatu panel
Harga
m

didapat dari
plat plat
balok balok
I E
I E

E
balok
= E
pelat
n
n
S
L


4. Perancangan
dimensi Balok Anak
Untuk dimensi balok anak,
menggunakan rumus yang berlaku pada
perancangan balok induk atau diambil
dari 2/3 dari dimensi balok induk.
3.5 Pembebanan dan Kombinasi
Pembebanan
Berdasarkan RSNI 03 1727 2002 dan
SNI 03 1726 2002
1. Beban Mati
Berdasarkan Tabel P3 hal 116, dimana
mencakup semua beban yang
5
disebabkan oleh beban sendiri dan
bagian lain yang terpisahkan dari
gedung.
2. Beban Hidup
Berdasarkan Tabel P4-1 hal 126, dimana
mencakup semua beban yang terjadi
akibat penghunian atau penggunaan
gedung
3. Beban Gempa
a. Beban Gempa Statik
Gedung diasumsikan sebagai tipe
struktur dengan sistem rangka.
Waktu getarnya (T
y
)
T
y
= C
t
. H
3/4
Koefisien Gempa Dasar (C)
SNI 03 1726 2002
Gaya geser Horisontal Akibat Gempa
t
W
R
I C
V
.

Distribusi Gaya Geser Horizontal Total akibat


Gempa sepanjang Tinggi Gedung
x
i i
n
i
i i
i
V
Z W
Z W
F
1

dengan:
F
i
= Beban gempa nominal static
ekuivalen yang menangkap
pada pusat masa pada taraf
lantai tingkat ke-i struktur atas
gedung.
W
i
= Berat lantai tingkat ke-i,
termasuk beban hidup yang
sesuai.
Z
i
= Ketinggian lantai tingkat ke-i,
diukur dari taraf penjepitan
lateral.
N = Nomor lantai tingkat paling atas
Kemudian dengan menginput gaya
gaya F
i
di tiap lantai pada pusat massa masing
masing lantai dengan menggunakan program
bantu SAP 2000.
b. Beban Gempa Dinamik
Dengan menginputkan grafik respon
spektrum gempa sesuai dengan SNI 03
1726 2002 pada Gambar 2 hal 21 dari
85 pada program bantu SAP 2000 untuk
memperoleh respon spektrum gempa
rencana. Untuk base shearnya perlu
dikontrol dimana harus lebih besar sama
dengan 0,8 base shear respon ragam
pertamanya. Partisipasi massa harus
lebih besar sama dengan 90%. Dan juga
baik pembebanan dengan pendekatan
analisa statik ekuivalen dan dinamik
harus dianggap 100% dan bekerja
bersama sama dengan arah tegak
lurusnya dengan efektifitas sebesar 30%.
4. Kombinasi
pembebanan sesuai dengan SNI 03 -
2847 2002 Pasal 11.2, meliputi :
a. U = 1,4D
b. U = 1,2D +
1,6L
c. U = 1,2D +
1,0L 1E
d. U = 0,9D 1E
5. Analisa struktur
dengan program bantu SAP 2000.
Untuk mendapatkan output gaya gaya
dalam pada struktur gedung yang
nantinya digunakan untuk menentukan
Momen Gabungan (Momen Envelope)
untuk perencanaan struktur.
3.6 Perancangan Struktur Sekunder
Direncanakan terpisah dari struktur
utama karena struktur sekunder hanya
meneruskan beban yang ada pada struktur
utama.
1. Perancangan
tulangan Plat
Tulangan direncanakan setelah
memperhitungkan beban yang akan
diterima struktur. Dalam perhitungan
tulangan digunakan,
Untuk penulangan pelat langkah-
langkah adalah sebagai berikut :
a. Diberikan data data d,
f
c,
f
y
.
b. Menetapkan batas
harga-harga perbandingan tulangan
yang dipilih yaitu
maks balance
, ,
min
c. Menghitung A
s
sesuai

yang dipakai dan memilih


tulangan serta jarak tulangan.
2. Perancangan
tulangan tangga
Pada perancangan tangga pada struktur
menggunakan cor setempat dengan
perletakan Sendi-Rol agar struktur
tangga tidak mempengaruhi struktur
utama terhadap beban gempa. Pada
perencanaan struktur tangga ini lebar
injakan dan lebar injakan harus
memenuhi persyaratan.
Syarat perancangan tangga :
6
2.t + i = 64 67
t = tinggi injakan
i = lebar injakan
3. Perancangan
tulangan balok anak
Dengan program bantu SAP 2000
kemudian didapatkan gaya gaya dalam
dari balok anak yang kemudian
digunakan untuk menghitung
tulangannya.
4. Perancangan
Lift
Dengan data data lift yaitu brosur
dari perusahaan yang
memproduksinya, didapatkan
dimensi lift yang sesuai dengan
denah perancangan lift, kemudian
dilakukan perhitungan tulangan
balok penumpu dan balok pemisah
sangkar lift tersebut.
3.7 Perhitungan Struktur Utama
Setelah didapatkan gaya gaya dalam
dengan menggunakan program bantu SAP
2000, kemudian dilakukan penulangan
terhadap gaya gaya maksimum yang
bekerja (Momen Envelope)
1. Penulangan
Balok Induk
Dihitung sesuai dengan syarat pada SNI
03 2847 -2002 dimana untuk
pendetailan struktur utama untuk
SRPMK digunakan Pasal 23.3 s/d 23.9
2. Penulangan
Kolom
Dihitung sesuai dengan syarat pada SNI
03 2847 -2002 dimana untuk
pendetailan struktur utama untuk
SRPMK digunakan Pasal 23.3 s/d 23.9
3. Penulangan
Hubungan Balok Kolom
Dihitung sesuai dengan syarat pada SNI
03 2847 -2002 dimana untuk
pendetailan struktur utama untuk
SRPMK digunakan Pasal 23.3 s/d 23.9
3.8 Perancangan Pondasi
1. Pengumpulan
data tanah
2. Perhitungan
daya dukung tanah
3. Kontrol
kekuatan tiang pondasi
4. Perencanaan
poer
5. Perencanaan
sloof
3.9 Gambar Struktur
Penggambaran rencana dan detailnya
dilakukan dengan program bantu Autocad
2006.
BAB IV
DESAIN STRUKTUR
4.1 Umum
Struktur gedung terbagi menjadi dua
yaitu struktur utama (dibahas pada bab
berikutnya) dan struktur sekunder. Struktur
utama berperan penting dalam menahan beban
beban yang terjadi pada struktur. Pada bab ini
akan dilakukan preliminary design sebagai
design awal dari struktur gedung.
4.2 Preliminary Design
4.2.1 Data Perancangan
Bahan yang dipakai untuk struktur
gedung ini adalah beton bertulang dengan data-
data sebagai berikut :
Type bangunan : Perkantoran (10lantai )
Letak bangunan : jauh dari pantai
Zone gempa : zone 6
Lebar bangunan : 35 m
Panjang bangunan : 35 m
Mutu beton (f
c
) : 40 MPa
Mutu baja (f
y
) : 400 MPa
Dalam perancangan gedung ini
digunakan peraturan SNI 03-1726-2002 dan
untuk selanjutnya penyebutan satu pasal dari
SNI 03-1726-2002 disingkat dengan (1726)
kemudian Pasal yang ditinjau. Berlaku pula
untuk SNI 03-2847-2002 yaitu (2847) dan juga
untuk RSNI 03-1727-1989 yaitu (1727)
kemudian diikuti dengan penyebutan pasal yang
ditinjau.
7
U
T B
S
Gambar 1.1
Denah dan Elevasi Gedung SRPMK
4.2.2 Item Pembebanan
Bangunan gedung diperhitungkan untuk
memikul beban-beban sebagai berikut :
1. Beban Gravitasi
a. Beban Mati
(1727) tabel P3-1 hal 116
b. Beban Hidup
(1727) tabel P4.1 hal 126
4.2.3 Perancangan Dimensi Balok Induk
dan Balok Anak
Balok induk dimensi 40/60 cm
Balok anak dimensi 30/40 cm
2
4.2.4 Perancangan Dimensi Kolom
dimensi kolom digunakan 80/80 cm
2
4.2.5 Perancangan Dimensi Pelat
Tebal plat atap = 12 cm
Tebal plat lantai = 12 cm
4.3 Analisa Pembebanan
Dalam perhitungan Pembebanan ini
akan dilakukan perhitungan untuk mencari Berat
Bangunan Gedung pada tiap lantai dan pada
lantai atap sehingga nantinya didapat Berat
Bangunan Gedung Total. Kemudian dilakukan
perhitungan Gaya Geser dan Gaya Gempa Statik
yang terjadi pada bangunan, lalu dilakukan
pendistribusian Gaya Gempa Statik pada tiap
lantai yang nantinya diletakkan pada pusat
massa dari bangunan ini. Langkah selanjutnya
adalah menghitung Gaya Gempa Dinamik akibat
Respon Spektrum. Untuk langkah terakhir akan
dilakukan kontrol terhadap simpangan
simpangan yang terjadi pada tiap lantainya
untuk Gaya Gempa Statik dan Dinamik.
4.3.1 Menghitung Berat Bangunan Total
(W
t
)
Beban pada Lantai Atap
Berdasarkan (1727) tabel P3-1 hal 116
Berdasarkan (1727) tabel P4.1 hal 126
Berat Tingkat atap :
W
atap
= 1,2 DL + 1,6 LL
= 1,2 (1.808.896) + 1,6 (98.000)
= 2.327.476 kg
Moment Inersia Massa lantai atap
=
12
) (
2 2
d b M +
=
12
) 35 35 ( 2.327.476
2 2
+
= 475.193.017 kgm
4
Beban pada Lantai 1 s/d 9
Berdasarkan (1727) tabel P3-1 hal 116
Berdasarkan (1727) tabel P4.1 hal 126
Berat tiap Lantai (1 s/d 9) :
Wtiap lantai (
1s/d 9)
= 1,2 DL + 1,6 LL
= 1,2 (1.850.546) +1,6(235.200)
= 2.596.976 kg
Moment Inersia Massa lantai 1 s/d 9
=
12
) (
2 2
d b M +
=
12
) 35 35 ( 2.596.976
2 2
+
= 530.215.933 kgm
4
Jadi Berat Total Bangunan (W
t
) adalah
W
1s/d 9
+W
atap

= (9 2.596.976) kg + 2.327.476 kg
= 25.700.260 kg
4.3.2 Mencari Gaya Geser Total akibat Gaya
Gempa
Waktu Getar Bangunan ( T )
T
x
= 0.0731 . (40)
3/4
= 1.163 detik
Kontrol Pembatasan T menurut (1726) Pasal 5.6
Untuk Wilayah Gempa 6 = 0,15
T = . n = 0,15 10
= 1,5 detik > T
empiris
= 1.163 detik ...(OK)
( Struktur Bangunan tidak terlalu fleksibel)
Koefisien Gempa Dasar ( C )
8
C diperoleh dari (1726) Gambar 2 Respon
spectrum gempa rencana. Untuk T
x
= T
y
= 1.163
detik, zone 6 dan jenis tanah keras, diperoleh
C = 0,36
Faktor Keutamaan ( I ) dan Faktor Reduksi ( R )
Dari (1726) tabel 1, I = 1,0 dan R = 8,5
Gaya Geser Horizontal Total Akibat Gempa
ton kg V
W
R
I C
V V W
R
I C
V
t y x t
5 , 088 . 1 482 . 088 . 1 25.700.260
5 , 8
1 36 , 0
. .


Gambar 1.2 Denah Pembalokan
Tabel 1.1 Distribusi Gaya Geser Dasar Horisontal
Total Akibat Gempa ke Sepanjang Tinggi Gedung
Arah X dan Y utk tiap Portal
Setelah dilakukan perhitungan terhadap Gaya
Gempa seperti yang telah ditabelkan pada Tabel
3.1 kemudian langkah selanjutnya adalah
menginputkan gaya gaya tersebut ke dalam
titik pusat massa bangunan namun dicari terlebih
dahulu pusat rotasi dan pusat massanya.
4.3.3 Pusat Rotasi dan Pusat Massa
4.3.3.1 Pusat Rotasi
Pusat Rotasi lantai 1
x
90 , 18
075 . 33
1.750cm y
90 , 18
075 . 33
1.750cm
Pusat Rotasi lantai 2 s/d lantai 8
x
90 , 18
075 . 33
1.750cm y
90 , 18
075 . 33
1.750cm
4.3.3.2 Pusat Massa
Pusat Massa lantai 1 s/d 10
X

7
10
10 23 , 1
10 14 , 2
1750 cm
y

7
10
10 23 , 1
10 14 , 2
1750 cm
4.3.3.3 Menentukan Eksentrisitas Rencana
Bangunan
Lantai 1 s/d 10
Arah X
e
d
= (1,5 x 0) + (0.05 x 3.500) = 175 cm
Arah Y
e
d
= (1,5 x 0) + (0.05 x 3.500) = 175 cm
4.3.3.4 Lantai Tingkat sebagai diafragma
Menurut (1726) Pasal 5.3.1: bahwa lantai
tingkat, atap beton dan sistem lantai dengan
ikatan suatu struktur gedung dapat dianggap
sangat kaku dan dapat dianggap bekerja sebagai
diafragma terhadap beban gempa horisontal.
4.3.4 Analisa Terhadap T
Rayleigh
Perhitungan T
Rayleigh
Gempa Statik X Barat -
Timur
Besarnya T
x
= T
y
yang dihitung
sebelumnya memakai cara cara empiris harus
dibandingkan dengan T
Rayleigh
, dengan rumus :

n
i
i i
n
i
i i
d F g
d W
T
1
1
1
3 , 6
Besarnya T yang dihitung sebelumnya,
sesuai (1726) Pasal 6.2.2 dimana nilai T tidak
boleh menyimpang lebih dari 20% hasil T
Rayleigh
,
dilakukan analisa terhadap nilai T. (OK)
tingkat
Zi Wi Wi.Zi Fi x,y
30%F
i
V x,y
(m
)
(ton) (ton meter) (ton) (ton) (ton)
10 40 2.327,50 93.099,01
180,7
8 54,23 180,78
9 36 2.597,00 93.491,11
181,5
4 54,46 362,32
8 32 2.597,00 83.103,21
161,3
7 48,41 523,69
7 28 2.597,00 72.715,31
141,2
0 42,36 664,89
6 24 2.597,00 62.327,40
121,0
3 36,31 785,91
5 20 2.597,00 51.939,50
100,8
6 30,26 886,77
4 16 2.597,00 41.551,60 80,68 24,21 967,45
3 12 2.597,00 31.163,70 60,51 18,15 1.027,97
2 8 2.597,00 20.775,80 40,34 12,10 1.068,31
1 4 2.597,00 10.387,90 20,17 6,05 1.088,48
TOTAL 25.700,30 560.554,54
9
4.3.5 Pembebanan Gempa Dinamik Respons
Spektrum
4.3.5.1 Respons Spektrum Rencana
Dalam Tugas Akhir ini digunakan Respon
Spektrum gempa Rencana Wilayah Gempa 6 pada
Tanah keras.
RESPONS SPEKTRUM GEMPA RENCANA
(WILAYAH GEMPA 6 - TANAH KERAS)
0.0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
0.000 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000
T (Periode) - (detik)
C



Menurut (1726) Pasal 5.8.1 menyatakan bahwa
dalam arah pembebanan utama sebesar 100 %
harus dianggap terjadi bersamaan dengan
pengaruh pembebanan gempa dalam arah tegak
lurus tadi sebesar efektivitas 30 %. Maka untuk :
Respons Spektrum X : 100 % efektivitas
untuk arah X (U-S) dan 30 % efektivitas
arah Y (B-T).
Respons Spektrum Y : 100 % efektivitas
untuk arah Y (B-T) dan 30 % efektivitas
arah X (U-S).
4.3.5.4 Nilai Akhir Respons Spektrum
Menurut (1726) Pasal 7.1.3 bahwa nilai
akhir respons spektrum tidak boleh diambil kurang
dari 80 % nilai respon ragam pertama atau V
dinamis
0.8 V
statis
. Maka dari Base Reactions, hasil
analisa struktur menggunakan program SAP 2000
didapat :
Tabel 1.2 nilai V yang Dihasilkan Akibat Gempa
Statik dan Gempa Dinamik
Arah U-S (kN) B-T (kN)
Respons
Spektrum X 14.755,99 5.818,30
Respons
Spektrum Y 5.818,30 14.755,98
Statik X -6.893,19 -2.067,93
Statik Y -2.067,93 -6.893,19
4.3.6 Kinerja Batas Layan ( s) dan Batas
Ultimate ( m)
4.3.6.1 Menghitung Kinerja Batas Layan ( s)
untuk Gempa Statik X dan Y
Menurut (1726) Pasal 8.1.2, untuk
memenuhi syarat kinerja batas layan, jika drift s
antar tingkat tidak boleh lebih besar dari

mm h
R
i
12 , 14 000 , 4
5 , 8
03 , 0 03 , 0


(...menentukan)
30 mm
Tabel 1.3 Analisa s akibat Gempa Statik X Arah
Utara - Selatan
10 40 30.76 1.05 14.12 OK
9 36 29.71 1.72 14.12 OK
8 32 27.99 2.40 14.12 OK
7 28 25.59 3.01 14.12 OK
6 24 22.58 3.55 14.12 OK
5 20 19.03 3.96 14.12 OK
4 16 15.07 4.28 14.12 OK
3 12 10.79 4.41 14.12 OK
2 8 6.38 4.09 14.12 OK
1 4 2.29 2.29 14.12 OK
lantai
ke-
hx
(m)
s
(mm)
drift s
antar tingkat
(mm)
syarat drift
s (mm)
ket
Tabel 1.4 Analisa s akibat Gempa Dinamik-X /
GRSp -X Arah Utara - Selatan
10 40 52.56 1.77 14.12 OK
9 36 50.79 2.82 14.12 OK
8 32 47.97 3.88 14.12 OK
7 28 44.09 4.86 14.12 OK
6 24 39.23 5.76 14.12 OK
5 20 33.47 6.54 14.12 OK
4 16 26.93 7.25 14.12 OK
3 12 19.68 7.79 14.12 OK
2 8 11.89 7.55 14.12 OK
1 4 4.34 4.34 14.12 OK
lantai
ke-
hx
(m)
s
(mm)
drift s
antar tingkat
syarat
drift s
ket
4.3.6.2 Menghitung Kinerja Batas Ultimate
(
m
) untuk Gempa Statik X dan Y

m
dihitung sesuai (1726) Pasal 8.2 yaitu

m
=
a faktorSkal
R 7 . 0
.
s
Selanjutnya (1726) Pasal 8.2.1
membatasi kemungkinan terjadinya keruntuhan
struktur yang akan membawa korban jiwa manusia
dengan membatasi nilai drift m antar tingkat
tidak boleh melampaui 0.02 x tinggi tingkat yang
bersangkutan.
Tabel 1.5 Analisa m akibat Gempa Statik X Arah
Utara - Selatan
10
10 40 1.05 6.25 80.00 OK
9 36 1.72 10.23 80.00 OK
8 32 2.40 14.28 80.00 OK
7 28 3.01 17.91 80.00 OK
6 24 3.55 21.12 80.00 OK
5 20 3.96 23.56 80.00 OK
4 16 4.28 25.47 80.00 OK
3 12 4.41 26.24 80.00 OK
2 8 4.09 24.34 80.00 OK
1 4 2.29 13.63 80.00 OK
lantai
ke-
hx
(m)
drift s antar
tingkat (mm)
drift m antar
tingkat (mm)
syarat drift
m (mm)
ket
Pada Tabel 1.5 dapat disimpulkan bahwa
Kinerja Batas Ultimite (
m
) yang terjadi pada
bangunan ini masih di bawah batas batas yang
disyaratkan.
Perlu diketahui bahwa UBC 1997 tidak
mengadakan pembatasan ini, tapi mensyaratkan
dilakukan perhitungan efek P- (untuk zone 3
dan 4 yang setara WG 5 dan 6) bila drift antar
tingkat melebihi 0.02 h
i
/ R. Namun setelah
diadakan perhitungan pada tabel di atas ternyata
semua drift s antar tingkat < 0.02 h
i
/ R = 0.02 x
4000 / 8.5 = 9.41 mm, jadi tidak perlu perhitungan
efek P- .
BAB V
PERANCANGAN STRUKTUR SEKUNDER
5.1 Umum
Struktur sekunder merupakan bagian
dari struktur bangunan namun terlepas dari
struktur utama pada bangunan. Struktur
sekunder ini dirancang untuk hanya menahan
beban lentur saja, namun struktur sekunder ini
nantinya akan memberikan beban terhadap
struktur utama. Pada Tugas Akhir ini akan
dilakukan perhitungan untuk struktur sekunder
yaitu :
1. Pelat.
2. Tangga.
3. Balok Anak.
4. Balok Sangkar Lift.
5.2 Perancangan Plat
5.2.
1 Data Perancangan
Untuk perancangan plat dipakai data sebagai
berikut :
Mutu baja : f
y
= 400 MPa
Mutu Beton : f
c
= 40 Mpa
Kemudian sebagai contoh diambil cara
perhitungan Plat Atap tipe A arah Barat - Timur
Penulangan Plat Atap A Arah Barat - Timur
Tum. Luar Tump . DalamLap angan Tum. LuarTump . DalamLap angan
Mu (Nmm) 986700 14061200 11450000 16800 239000 194600
Rn (N/mm
2
) 0.23 2.43 1.98 0.003 0.04 0.03
m = fy/(0.85f' c) 11.76 11.76 11.76 11.76 11.76 11.76
p erl u (mm
2
) 0.0006 0.0063 0.0051 0.0000 0.0001 0.0001
yang d ip akai (mm
2
) 0.0018 0.0063 0.0051 0.0018 0.0018 0.0018
As perlu (mm
2
) 119 417 337 119 119 119
Tulangan yang dipakai D8-300 D8-100 D8-125 D8-300 D8-300 D8-300
As pakai (mm
2
) 167.47 502.40 401.92 167.47 167.47 167.47
Pelat At ap 250 x 250
Lokasi p enulangan
Jalur Kolom Jalur Tengah
Penulangan Plat Atap A Arah Utara - Selatan
11
Tum. Luar Tump. Dalam Lapangan Tum. Luar Tump. Dalam Lapangan
Mu (Nmm) 986700 14061200 11450000 16800 239000 194600
Rn (N/mm
2
) 0.23 2.43 1.98 0.00 0.04 0.03
m = fy/(0.85f' c) 11.76 11.76 11.76 11.76 11.76 11.76
perlu (mm
2
) 0.0006 0.0063 0.0051 0.0000 0.0001 0.0001
yang dipakai (mm
2
) 0.0018 0.0063 0.0051 0.0018 0.0018 0.0018
As perlu (mm
2
) 119 417 337 119 119 119
Tulangan yang dipakai D8-300 D8-100 D8-125 D8-300 D8-300 D8-300
As pakai (mm
2
) 167.47 502.40 401.92 167.47 167.47 167.47
Pelat At ap 250 x 250
Lokasi p enulangan
Jalur Kolom Jalur Tengah
5.3 Perancangan Struktur Tangga
5.3.1 Data Perancangan
Data perhitungan perancangan tangga :
Panjang anak Tangga = 375 cm
Tinggi Lantai ke Bordes = 200 cm
Tinggi Injakan = 12.5 cm
Lebar Injakan = 20 cm
Tebal Plat dasar Tangga = 15 cm
Tebal Plat Bordes = 20 cm
Jumlah Injakan (n)
= 200 ( 1 ) = 16 anak tangga
12.5
Jumlah tanjakan
= 16 1 = 15 buah
Panjang Plat Tangga
= 20 15 = 300 cm
Kemiringan Tangga
= arc Tan = 200 = 33,7
300
Penulangan Lentur Pelat Tangga
A
s

perlu
=
perlu
b d
x
= 0,0019 1.000 296 = 5,62 cm
2
=
562 mm
2
Jadi dipakai tulangan D8 75
As
pakai
= 628 mm
2
Penulangan Geser Pelat Tangga
Komponen Struktur dibebani beban geser dan
lentur
V
u
: 3.595,77 kg = 35.957,7 N
N
u
: 2.398,75 kg = 23.987,5 N
Pakai sengkang 6 125 mm
Penulangan Susut Pelat Tangga

min
= 0,0018
A
s

perlu
=
min
b d
x
= 0,0018 1.000 296 = 532,8 mm
2
Jadi dipakai tulangan D8 75
A
s

pakai
= 669,87 mm
2
Penulangan Lentur Pelat Bordes
A
s

perlu
=
perlu
b d
x
= 0,0063 1000 156 = 989 mm
2
Jadi dipakai tulangan D8 50
A
s

pakai
= 1.004,8 mm
2
Penulangan Geser Pelat Bordes
Pakai sengkang 6 75 mm
5.4 Perancangan Balok Anak
Menghitung Tulangan Tumpuan
Mu
Tumpuan
= 57.368.000 kNm
Mn
perlu
=

Tumpuan
Mu
= 57.368.000 / 0,8 =
71.710.000 Nmm
Dipakai : d
tulangan
= 16 mm
d
sengkang
= 8 mm
Selimut beton = 40 mm
d
x
= 400 40 8 .16 = 344 mm
Pakai tulangan : 3 D 16 As = 602,88 mm
2
A
s
= A
s
= (536,64) = 268,32 mm
2
Pakai tulangan : 3 D 16 As = 602,88 mm
2
Menghitung Tulangan Lapangan Balok Anak
Pakai tulangan : 3 D 16 As = 602,88 mm
2
A
s
= A
s
= (402,48) = 201,24 mm
2
Pakai tulangan : 3 D 16 As = 602,88 mm
2
Perhitungan Tulangan Geser Balok Anak
Pasang 2 10-150 (daerah tumpuan)
Pasang 2 10-150 (daerah lapangan)
5.5 Perancangan Lift
Data Perancangan
Pada perancangan lift ini meliputi balok
balok yang berkaitan dengan ruang mesin lift,
yaitu terdiri dari balok pemisah sangkar dan
balok penumpu depan. Untuk lift pada bangunan
ini menggunakan lift penumpang yang
diproduksi oleh Young Jin dengan data data
sebagai berikut :
Tipe Lift : Passenger
Merk : Young Jin
Kapasitas : 15 orang ( 1.000 kg )
Kecepatan : 45 m/menit
Lebar pintu ( opening width ) : 900 mm
Dimensi sangkar ( car size )
- Outside : 1.660 1.655 mm
2
- Inside : 1.600 1.500 mm
2
Dimensi ruang luncur ( Hoistway )
- Duplex : 4.200 2.150 mm
2
Dimensi ruang mesin ( Duplex )
4.400 3.850 mm
2
Beban reaksi ruang mesin
R
1
= 5.450 kg
R
2
= 4.300 kg
Penulangan Balok Pemisah Sangkar (50/70)
Penulangan Daerah Lapangan
A
sperlu
=
min
.b.d
x
= 0,0039 500 637 = 1.242,15 mm
2
Tulangan pasang 4 D22 (A
s
= 1.519,76 mm
2
)
A
s
= 0,5 A
s
= 0,5 1.519,76 = 759,88 mm
2
12
Tulangan pasang 2 D22 (A
s
= 759,88 mm
2
)
Penulangan Geser Balok Pemisah Sangkar
Lift 50/70
Tumpuan :
pasang 12 300 mm
Lapangan :
Pasang 12 300 mm
BAB VI
PERANCANGAN STRUKTUR PRIMER
6.1 Umum
Struktur primer memegang peranan
penting dalam kekuatan suatu gedung. Untuk
perancangan struktur primer pada Tugas Akhir
ini ini menggunakan analisa Sistem Rangka
Pemikul Momen Khusus (SRPMK), yaitu sistem
rangka ruang dimana komponen komponen
struktur dan join joinnya menahan gaya gaya
yang bekerja melalui aksi lentur, geser dan
aksial. Dan pendetailannya memenuhi ketentuan
ketentuan pada (2847) Pasal 23.2
s
/
d
23.5.
Struktur primer yang direncanakan yaitu,
1. Balok Induk
2. Kolom
3. Hubungan Balok Kolom
Gambar Momen Envelope Hasil Analisa SAP2000
6.2 Perancangan Balok Induk Eksterior A(1-
2) Lantai 2
b = 400 mm
h = 600 mm
f
c
= 40 MPa
f
y
= 400 MPa
d
tul
= 22 mm
d
sengkang
= 12 mm
d= 40+12 + .22 = 63mm
d
x
= h-d =60063 =537mm
Rencana Penulangan Balok Induk Baris A(1-2),
A(2-3), B(1-2) dan B(2-3) Lantai 2, 5 dan 10
6.2.3 Menghitung Tulangan Tumpuan Kiri
Balok Induk
Eksterior A (1-2) lantai 2
Pada saat terjadi Gempa Timur (dari Kanan)
Saat terjadi Gempa Timur (kanan) pada
tumpuan kiri balok induk akan mengalami
keadaan tarik pada tulangan sisi atas dan
mengalami keadaan tekan pada tulangan sisi
bawah.
Digunakan tulangan tarik rangkap
= a%
pakai
Luas tulangan tarik = A
s1
= A
s
A
s
= b
w

d
x
13
= 2.577,60 mm
2
Dimisalkan tulangan tekan leleh
M
n1
= A
s1
f
y

,
_

w c
y s
b f
f A
d
' 85 . 0 2
1
= 514.585.999 Nmm
M
n2
=M
n
M
n1
= 76.724.001 Nmm
Kontrol apakah tulangan tekan sudah leleh :
-
y x y
c
f d f
d f


600
600 ' ' 85 , 0
1

0,0120 < 0,0233 (tulangan tekan belum leleh)


Mencari nilai f
s

f
s
=
( )
y
x y
c
f
d f
d f
<

'
' ' 85 . 0
1 600
1

= 211,09 MPa < 400 MPa


Mencari nilai A
s
M
n2
= A
s


f
s

( ) ' d d
x

76.724.001 Nmm = A
s
211,09
( ) 63 537
A
s
=
( ) 63 537 09 , 211
76.724.001

= 766,81
mm
2
Jadi A
s
= A
s1
+ A
s
= 2.577,60 mm
2
+ 766,81 mm
2
= 3.344,41 mm
2
Pemilihan tulangan :
Sisi tarik pakai tulangan 9D22
(A
s
= 3.419,46mm
2
> 3.344,41mm
2
)
Sisi tekan pakai tulangan 3D22
(A
s
= 1.139,82mm
2
> 766,81 mm
2
)
Dengan cara yang sama beban gempa
dilakukan dari arah barat sehingga,
Pemilihan t ulangan :
Pada sisi tekan (atas) pakai tulangan 3D22
(A
s
= 1.139,82 mm
2
> 591,97 mm
2
)
Pada sisi tarik (bawah) pakai tulangan 8D22
(A
s
= 3.039,52 mm
2
> 2.954,77 mm
2
)
Rekapitulasi tulangan lentur pada tumpuan Barat
Akibat gempa Timur
Tulangan Atas : 9D22 (A
s
= 3.419,46 mm
2
)
Tulangan Bawah : 3D22 (A
s
= 1.139,82 mm
2
)
Akibat gempa Barat
Tulangan Atas : 3D22 (A
s
= 1.139,82 mm
2
)
Tulangan Bawah : 8D22 (A
s
= 3.039,52 mm
2
)
Jadi tulangan yang dipakai adalah yang terbesar
dari kedua arah pembebanan gempa, yaitu :
Luas tulangan atas
= 9 D 22 (A
s
= 3.419,46 mm
2
)
Luas tulangan bawah
= 8 D 22 (A
s
= 3.039,52 mm
2
)
Cek Momen Nominal tulangan terpasang
dalam menahan gempa timur :
Luas tulangan tarik
= 9 D 22 (A
s
= 3.419,46 mm
2
)
Luas tulangan tekan = 8 D 22 (A
s


= 3.039,52
mm
2
)
6.2.4 Menghitung Tulangan Lapangan
Balok Induk Eksterior A (1-2) lantai 2
Mu
lapangan
= 47.812.000 Nmm
Mn
perlu
= Mu
Perlu
/ = 47.812.000 / 0,8 =
59.765.000 Nmm
Kontrol balok T
M
n
= C (d-
1
/
2
a)
Didapatkan
a
1
= 1.069,66 mm
a
2
= 4,34 mm < t = 120 mm (penampang balok
persegi)
R
n
= 0,52 N/mm
2
m = 765 , 11
40 85 , 0
400
' 85 , 0

fc
f
y

perlu
=
fy
Rn m
m


2
1 1
1

= 0,0013 <
min
(= 0,0039)
Maka, untuk perencanaan tulangan dipakai
min
A
s
=
perlu b d
x
= 0,0039 400 537= 837,72 mm
2

Pakai tulangan : 3 D 22 A
s
= 1.139,82 mm
2
Untuk nilai A
s

perlu
diambil
= A
s
= 1.139,82 mm
2
= 569,91 mm
2
Pakai tulangan : 3 D 22 A
s


= 1.139,82 mm
2
Penulangan Balok Induk Eksterior A(1-2) Lantai2
Lokasi Mu Tul rangkap terpasang
Mu analisa
tul rangkap
(kNm) terpasang As (mm) (kNm)
Tumpuan
Barat
-473.05 As1 = 9D22 3419.46 523.27
419.20 As1 = 8D22 3039.52 463.72
Lapangan 47.81 3 D 22 1139.82 189.75
Tumpuan
Timur
-450.26 As1 = 9D22 3419.46 523.27
412.24 As1 = 8D22 3039.52 463.72
6.2.5 Kontrol penulangan balok sesuai
(2847)
Kontrol Kekuatan lentur positif dimuka
kolom 0,5 kuat momen negatif di muka
kolom Sesuai (2847) Pasal 23.3.2.2 ...(OK)
Kontrol tulangan minimal sesuai (2847)
Pasal 23.3.2.1 :
...(OK)
14
Kontrol rasio tulangan ( ) tidak boleh
melebihi 0.025 sesuai (2847) Pasal 23.3.2.1...
(OK)
Kontrol akibat tulangan rangkap ...(OK)
Sesuai (2847) Pasal 23.3.2.2 : di tiap
potongan sepanjang balok tidak boleh ada
kuat momen positif maupun negatif yang
kurang dari kuat momen max =
523,27 = 131 kNm. Dari hasil perhitungan
didapat tiap bagian balok terpasang tulangan
dengan M
u
> 131 kNm.
...(OK)
Sesuai (2847) Pasal 23.5.2.1 Tiap potongan
baik di sisi bawah maupun atas harus ada 2
batang tulangan. Ini dipenuhi oleh tulangan
terpasang melebihi 2 batang
...(OK)
Sesuai (2847) Pasal 23.5.1.4 : bila tulangan
longitudinal menembus HBK, harus d
x
=
521,33mm >20 d
b
=20(22) =440mm. ...(OK)
6.2.9 Penulangan Geser Balok Induk
Eksterior A (1-2) Lt.2
Perhitungan Mpr Tulangan Tumpuan Balok
Eksterior (Ujung) A (1-2) Lt.2
Nam
a
Luas a Mpr Mpr
(mm) (mm) (kNm) (kNm)
As1
3.419,4
6 70,93 Mpr1
817.603.44
7 817,60
As1'
3.039,5
2 69,09 Mpr2
724.569.78
5 724,57
As2
3.419,4
6 72,28 Mpr3
817.675.95
6 817,60
As2'
3.039,5
2 67,42 Mpr4
724.273.55
9 724,57
Sesuai dengan (2847) Pasal 23.3(4)
(Kedua momen ujung harus diperhitungkan
untuk kedua arah, yaitu searah jarum jam dan
berlawanan arah jarum jam).
Pemasangan sengkang di dalam sendi plastis
Berdasarkan (2847) Pasal 23.3.4.2 yang
berbunyi tulangan transversal untuk memikul
geser dengan menganggap V
c
= 0, bila
a. Gaya Geser akibat gempa saja >
0.5 total Gaya Geser...(OK)
b. Gaya aksial tekan < A
g
f
c
/ 20 ...
(OK)
pakai sengkang 2 12 -75
Pemasangan sengkang di luar sendi Plastis
(Lapangan)
pakai sengkang 2 12 200
6.3 Perancangan Kolom
Pada bab ini akan dilakukan
perancangan penulangan memanjang dan geser
pada Kolom Tepi untuk Lantai 2, kemudian
dengan cara yang sama dilakukan penabelan
untuk Kolom Ujung dan Tengah Lantai 2 dan
Kolom Tepi, Ujung dan Tengah pada Lantai 5
dan 10. Dimensi kolom diasumsikan sama untuk
Lantai 1
s
/
d
10 yaitu 800mm 800mm.
Rencana Penulangan Kolom Baris A Lt 2, 5,10
Data Perancangan
f
c


= 40 Mpa
f
y
= 400 Mpa
Diameter tulang memanjang = 25 mm
Diameter tulang sengkang = 14 mm
Penampang kolom = 800 800 mm
2
15

663,71
1.235
Diagram Interaksi Kuat Rencana Kolom Tengah
antara Lantai 1 dan 2
Persyaratan Strong Column Weak Beams
Kuat lentur kolom sesuai (2847) Pasal
23.4.2.2 harus memenuhi :
g e
M M
5
6

(Strong Column Weak Beam)
8 , 0
) 33 , 579 24 , 672 ( kNm kNm
M
g
+

=1.564,46 KNm
Persyaratan Strong Column Weak Beam :
g e
M M
5
6
kNm M kNm M
g e
36 , 877 . 1
5
6
92 , 776 . 3
3.776,92 kNm 1.877,36 kNm ..
(OK)
Memenuhi Persyaratan Strong Column Weak
Beams
Penulangan Geser Kolom
Pengekangan kolom di daerah sendi plastis
Panjang
o
h = 800 mm
1/6
n
= 1/6 (4000 600) = 566,67 mm
500 mm
daerah sendi plastis (
o
) sepanjang 800 mm
Digunakan sengkang 4 16 100 mm (A
v
=
803,84 mm
2
)
Pengekangan kolom di luar daerah sendi plastis
sengkang di luar sendi plastis 4 16 150
(A
v
=769,3mm
2
)
Diagram Interaksi Kuat Rencana Kolom Tengah
dengan fs = 1,25fy dan =1
6.4 Perancangan Hubungan Balok Kolom
(HBK)
Data Perancangan
f
c
' = 40 Mpa
f
y
= 400 Mpa
Dimensi Balok Induk =400mm 600mm
Dimensi Kolom = 800mm
800mm
Disain Hubungan Balok Kolom (HBK) Tepi
A2 Lantai 2
Untuk perhitungan Hubungan Balok
Kolom (HBK) Tepi A2 Lantai 2 ini digunakan
Momen M
pr3
dan M
pr4
pada balok sisi kiri HBK
yaitu Balok Eksterior A (1-2) Lantai 2 dimana
perhitungannya dapat dilihat pada BAB VII
Perancangan Balok Induk Tabel 6.4 Perhitungan
M
pr
Tulangan Tumpuan pada Balok Eksterior A
(1-2) Lt.2 hal 131.
M
pr3
= 817,60 kNm
M
pr4
= 724,57 kNm
Sedangkan untuk balok sisi kanan HBK
digunakan Momen M
pr1
dan M
pr2
pada Balok
Interior A (2-3) Lantai 2 dimana perhitungannya
dapat dilihat pada Lampiran Tabel Perhitungan
M
pr
Tulangan Tumpuan pada Balok Interior A
(2-3) Lt.2.
M
pr1
= 731,56 kNm
M
pr2
= 731,56 kNm
M
u
yang dihasilkan Akibat Pengaruh Gempa
Kanan
M
u
=
2
56 , 731 60 , 817
2
2 3
+

+
pr pr
M M

=774,58 kNm
Analisa Geser dari HBK Tepi A2 Lantai 2
16
1.220

,
_

2
n
u
h
h
M
V
455,64 kN
T
1
= A
s2
1.25 f
y
=1.519,76 kN
T
2
= A
s3
1.25 f
y
= 1.709,73 kN
V
x-x
= T
1
+ T
2
- V
h

= 2.773,85 kN
Berdasarkan (2847) Pasal 23.5.3.1 untuk balok
kolom yang terjepit pada ketiga sisinya
menggunakan rumus :

' 25 , 1
c j
f A Vc
40 800 800 25 , 1 75 , 0
= 3.794,73 kN > V
x-x
= 2.773,85 kN (OK)
BAB VII
PERANCANGAN PONDASI
Analisa Beban pada Pondasi
Dari Spesifikasi Wika Pile
Classification (Daya Dukung Pondasi Dalam
oleh Dr. Ir. Herman Wahjudi) direncanakan
tiang pancang beton dengan :
Diameter: 60 cm
Tebal : 10 cm
Kelas : C
f
c
: 600 kg/cm
2
Allowable axial: 229,50
ton
Bending moment crack:
29,00 t-m
Bending moment
ultimate: 58,00 t-m
Kombinasi IV (D + L + GRsp x) :
P
max
= 123,69 ton (menentukan)
P
min
= 66,66 ton
Dari perhitungan di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa yang menentukan adalah
kombinasi IV dengan P
max
= 123,69 ton maka
untuk 1 tiang pancang berlaku beban P
max
=
123,69 ton.
daya Dukung Pondasi Bor :
3
19 , 414

SF
Q
Q
L
ad
= 138,06 t/m
2
(kedalaman 8m)
Q
L
=

ijin
P
= 138,06 1 = 138,06 ton
Jadi Q
L
= 138,06 ton > P
max
= 123,69 ton ..(OK)
P1
x
y
P2
P4 P3
0 . 9 0 1 . 5 0 0 . 9 0
0 . 9 0
1 . 5 0
0 . 9 0
My
Mx
Hy
Hx
0 . 8 0
0 . 8 0
Perletakan Tiang Pancang pada Poer
Perencanaan Poer
Data-data perencanaan :
Dimensi poer (BxL)=3.300 x 3.300 mm
2
Tebal poer ( t ) = 1000 mm
Diameter tulangan utama = 25 mm
Tebal selimut beton = 100 mm
Kontrol Geser Pons Poer
(2847) Pasal 13.12.2.1a
(2847) Pasal 13.12.2.1b
(2847) Pasal 13.12.2.1c
17
.V
c
> V
u
= P
0,75 18.829,16 kN > P = 350.664 kg
1.371.687 kg > P = 350.664 kg
Karena V
c
> V
u
maka hanya digunakan rasio
tulangan minimum = 0,0018 (2847) Pasal
9.12.2.1 maka Luas tulangan terpasang,
x s
d b A
min

5 , 887 000 . 1 0018 , 0


s
A
= 1.597,5
mm
2
Dipasang Tulangan D25-250 mm (A
s
= 1.635,42
mm
2
)
Penulangan Poer
Dengan menganggap jepit pada muka kolom,
kemudian dilakukan perhitungan
Berat poer (q
u
) = 1 3,3 2.400 = 7.920kg/m
= 7,29ton/m
ton 276,12 ,06 138 2
2
4 2 3 1 2 1

+ +
v t t
P P P P P P P
P
k
= 350,66 ton (P hasil Kombinasi IV )
Pakai tulangan D25 125
Untuk arah y dengan cara yang sama dengan
perhitungan penulangan arah x, didapatkan
Pakai tulangan D25 125

Pembebanan Poer (arah x)
Perencanaan Sloof
Struktur sloof dalam hal ini digunakan
dengan tujuan agar terjadi penurunan secara
bersamaan pada pondasi atau dalam kata lain
sloof mempunyai fungsi sebagai pengaku yang
menghubungkan antar pondasi yang satu dengan
yang lainnya. Adapun beban beban yang
ditimpakan ke sloof meliputi berat sendiri sloof.,
berat dinding pada lantai paling bawah, beban
aksial tekan atau tarik yang berasal dari
10%beban aksial kolom.
Data perancangan
Pada perancangan sloof ini, penulis
mengambil ukuran sloof berdasarkan sloof yang
berhubungan dengan kolom yang mempunyai
gaya aksial terbesar yaitu P
u
= 350,66 ton.
Dimensi sloof b = 400 mm
h = 600 mm
A
g
= 240.000 mm
2

Mutu bahan : f
c

= 40 MPa
f
y
= 400 MPa
Selimut Beton = 40 mm
Tulangan utama = 22 mm
Tulangan sengkang = 12 mm
Tinggi efektif (d) = 600 (40 + 12 + .
19) = 538,5 mm
P
u kolom
= 350,66 ton (P hasil Kombinasi
IV Tabel 10.2)
P
u
= 10% P
u kolom
= 10% 350.660 kg
= 35.066 kg = 350.660 N
Diagram Interaksi Sloof
Dari diagram interaksi dengan bantuan
PCACOL didapat = 1,183 %
Dipasang Tulangan 10 D 19 ( As = 2840 mm
2
)
BAB VIII
18
PENUTUP
8.1 Kesimpulan
Berdasarkan keseluruhan hasil analisa
yang telah dilakukan dalam penyusunan Tugas
Akhir ini dapat ditarik beberapa kesimpulan
sebagai berikut :
1.Dengan berdasarkan Gaya gaya dalam yang
terjadi setelah dilakukan analisa struktur
dengan bantuan program SAP 2000 maka
dapat disimpulkan bahwa struktur gedung ini
dominan terhadap gaya gaya gempa yang
dihasilkan oleh beban dinamik.
2.Di dalam suatu perencanaaan perlu
berpedoman pada peraturan yang ada sesuai
dengan tempat berlakunya peraturan tersebut.
Dalam hal ini peraturan yang digunakan
adalah SNI 03 2847 2002 mengenai
peraturan umum pada perencanaan struktur
dan SNI 03 1726 2002 mengenai tata cara
ketahanan gempa untuk bangunan gedung.
Kedua peraturan tersebut merupakan peraturan
baru di Indonesia.
3.Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus
dirancang dengan menggunakan konsep
Strong Column Weak Beam yang merancang
kolom sedemikian rupa agar bangunan dapat
berespon terhadap beban gempa dengan
mengembangkan mekanisme sendi plastis
pada balokbaloknya dan dasar kolom.
4.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
perencanaan struktur gedung dengan sistem
SRPMK adalah : Detailing pada balok, kolom
dan Hubungan balok kolom.
5. Dari hasil analisa struktur dan perhitungan
penulangan elemen struktur didapatkan data
data perencanaan sebagai berikut :
A. Struktur atas dengan menggunakan beton
bertulang dengan
dimensi sebagai berikut:
Mutu Beton : 40 MPa
Mutu Baja : 400 Mpa
Tebal Pelat Atap : 12 cm
Tebal Pelat Lantai : 12 cm
Jumlah Lantai : 10 Lantai
Ketinggian Tiap Lantai : 4 meter
Tinggi Gedung + Atap : 40 meter
Dimensi Kolom : 80 80 cm
2
Dimensi Balok Induk : 40 60 cm
2

Dimensi Balok Anak : 30 40 cm
2

Wilayah Gempa : Zona 6
B. Struktur bawah direncanakan dengan tiang
pancang dengan diameter 60 cm, dan
Sloof dengan dimensi 40 60 cm.

8.2 Saran
Perlu dilakukan studi lebih lanjut dan
mendalam untuk mendapatkan hasil
perbandingan yang lebih baik dengan
mempertimbangkan aspek teknis, nilai ekonomis
dan estetika, sehingga hasil dari perbandingan
yang telah dilakukan akan menjadi semakin
lengkap.
Tanpa mengurangi aspek teknis
(kekuatan), nilai ekonomis dapat ditekan dengan
memperhatikan perbandingan prosentase antara
luas penampang beton dengan luas penampang
tulangan terpasang (
maks
> >
min
). Apabila
syarat prosentase belum dipenuhi maka perlu
adanya perbaikan pada saat preliminary design.
Untuk pelat atap dan lantai dapat
dilakukan pengurangan tebal pelat dengan tanpa
mengurangi aspek kekuatan, karena dengan
didukung oleh adanya balok anak hal ini dapat
mengurangi ketebalan pelat atap dan lantai.
19