Anda di halaman 1dari 10

BAB II

PEMBAHASAN


A. Konsep Dasar KTSP
Dalam Standar Nasional Pendidikan pasal 1 ayat 15 dikemukakan bahwa
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional
yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan
(BSNP,2006). Kurikulum ini disusun dan dikembangkan oleh setiap satuan
pendidikan berdasarkan standar isi (Permendiknas No. 22 tahun 2006) dan
standar kompetensi lulusan (Permendiknas No. 23 Tahun 2006). Standar isi dan
standar kompetensi lulusan merupakan pedoman pengembangan KTSP untuk
mewujudkan pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Disamping itu, penyusunan KTSP pun hendaknya memperhatikan dan
mengakomodasi karakteristik dan kondisi daerah serta kebutuhan masyarakat.
Oleh karena itu, pengembangan KTSP perlu melibatkan berbagai komponen,
antara lain kepala sekolah, guru, karyawan, komite sekolah , dewan pendidikan,
tokoh masyarakat, pakar kurikulum dan pejabat daerah. Keterlibatan mereka
diharapkan dapat memberikan masukan dan dukungan terhadap kurikulum yang
dihasilkan dan dilaksanakan sekolah.
Kewenangan pengembangan KTSP oleh masing-masing sekolah
merupakan salah satu wujud otonomi pendidikan. Pendelegasian wewenang
tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan eIektivitas dan eIisiensi
penyelenggaraan pendidikan. Dengan demikian, sekolah pada akhirnya
diharapkan mampu memberdayakan semua sumber daya sekolah secara optimal,
baik sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber dana dan sumber belajar
sehingga dapat mewujudkan kemandirian pengelolaan pendidikan dan
ketercapaian tujuan pendidikan secara eIisien. Oleh karena itu, otonomi dalam
pengembangan kurikulum dan pembelajaran merupakan potensi bagi sekolah
untuk meningkatkan kinerja guru dan staI sekolah, meningkatkan pemahaman
masyarakat, terhadap program-program pendidikan yang dilaksanakan sekolah,
dan meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan
di sekolah. Hal ini merupakan kemajuan dalam penyelenggaraan pendidikan di
tingkat satuan pendidikan. Sebelumnya kurikulum selalu dikembangkan oleh
pemerintah pusat, sementara pihak sekolah hanya sebagai pelaksana berdasarkan
petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang telah disusun oleh pemerintah
pusat.

B. Tujuan KTSP
KTSP memberi peluang kepada pihak sekolah dan masyarakat untuk
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai pengembangan dan
penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah. Dibandingkan dengan
kurikulum yang diberlakukan sebelumnya, KTSP lebih bersiIat Ileksibel.
Pemberlakuan kebijakan KTSP bertujuan untuk memandirikan dan
memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan kepada
lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan
keputusan secara partisipatiI dalam pengembangan kurikulum (Mulyasa,
2006:22). Dengan kebijakan tersebut, diharapkan mutu pendidikan dapat
ditingkatkan oleh sekolah secara mandiri karena sekolahlah yang paling
mengetahui kondisi objektiI siswa dan kebutuhan msyarakat terhadap
pendidikan.
Di samping itu, penerapan KTSP pun diharapkan dapat menciptakan
kompetisi yang sehat diantara sekolah-sekolah dalam meningkatkan kualitas
pendidikannya. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam
pengembangan kurikulum dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang
sehat. Sekolah menjadi lebih bertanggungjawab terhadap peningkatan kualitas
pendidikan yang diselenggarakan, baik kepada pemerintah, orang tua dan
masyarakat, sehingga sekolah akan berupaya semaksimal mungkin
melaksanakan dan mencapai tujuan pendidikan seperti yang telah dituangkan ke
dalam kurikulum yang dikembangkan.

C. Landasan KTSP
Sekolah memang memiliki kewenangan untuk mengembangkan KTSP. Akan
tetapi, kewenangan sekolah itu tidaklah mutlak. Dalam mengembangkan
kurikulum, setiap sekolah harus mengacu kepada landasan yang sama secara
nasional. Landasan pengembangan KTSP ialah Undang-undang No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah No. 19 tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Permendiknas No. 22 Tahun 2006
tentang Standar Isi, Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar
Kompetensi Lulusan dan Permendiknas No.24 tahun 2006 tentang Standar
Pelaksanaan Peraturan Menteri No.22 dan 23 Tahun 2006. Permendiknas No. 24
pasal 1 ayat 1 mengamanatkan
'satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan
kurikulum tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan berdasarkan pada
Undang-undang No. 20 Tahun 2003, Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Permendiknas No 22 tahun
2006 tentang Standar Isi dan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang
Standar Kompetensi Lulusan

1. Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas
Dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional terdapat sejumlah pasal
yang berkaitan dengan KTSP :

pasal 1 ayat 19 : kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai tujuan,isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran unutk mencapai tujuan
pendidikan tertentu
Pasal 37 ayat 1 : kurikulum dasar dan menengah wajib memuat : (a) pendidikan
agama , (b) pendidikan kewarganegaraan, (c) bahasa, (d) matematika, (e) ilmu
pengetahuan alam, (I) ilmu pengetahuan sosial, (g) seni dan budaya, (h)
pendidikan jasmani dan olahraga, (i) keterampilan dan (j) muatan lokal
Pasal 37 ayat 2 : kurikulum perguruan tinggi wajib memuat (a) pendidikan
agama, (b) pendidikan kewarganegaraan, (c) bahasa
Pasal 38 ayat 1 : kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan
menengah ditetapkan oleh pemerintah
Pasal 38 ayat 2 : kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan
sesuia dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan
komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi Dinas Pendidikan
atau kantor departemen agama kabupaten/ kota untuk pendidikan dasar dan
propinsi untuk pendidikan menengah
2. Peraturan Pemerintah RI No.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan
PP RI No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional merupakan
jabaran operasional dari UU 20/ 2003. Oleh karena itu, ketentuan mengenai
pengembangan KTSP yang telah dirumuskan dalam UU 20/2003 diperjelas
dengan PP RI 19/2005. Yang dimaksud dengan standar nasional pendidikan
adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum
NKRI.
Standar Nasional Pendidikan setidaknya mencakup delapan unsur, yaitu : (1)
standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar
pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6)
standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, (8) standar penilaian
pendidikan
3. Peraturan Mendiknas No.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
Sebagaimana dinyatakan dalam Permendiknas No. 22 tahun 2006, yang
dimaksud dengan standar isi adalah ruang lingkup materi minimal dan
tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal
pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Termasuk dalam standar isi
adalah kerangka dasar dan struktur kurikulum, standar kompetensi,
kompetensi dasar setiap mata pelajaran pada setiap semester dari setiap jenis
dan jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Mengingat standar isi memuat lingkup materi dan tingkat kompetensi
minimal untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis
pendidikan tertentu, maka setiap satuan pendidikan dasar dan menengah
diberi kesempatan untuk mengembangkan kurikulum dengan standar yang
lebih tinggi dari standar isi.
4. Peraturan Mendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi
Lulusan
Standar kompetensi lulusan merupakan pedoman penilaian dalam
menentukan standar minimal kompetensi lulusan. Standar ini merupakan
kualiIikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan
keterampilan minimal yang harus dikuasai siswa. Muatan SKL meliputi :
standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran dan standar
kompetensi lulusan mata pelajaran yang akan bermuara pada kompetensi
dasar (Mulyasa 2006 :27).
Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) dikembangkan
berdasarkan tujuan setiap satuan pendidikan sebagai berikut :
a. Pendidikan dasar, meliputi SD/MI/SDLB/Paket A dan
SMP/MTs/SMPLB/Paket B, bertujuan meletakkan dasar
kecerdasan, pengetahuan kepribadian, akhlak mulia serta
keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih
lanjut
b. Pendidikan menengah, yang terdiri atas SMA/MA/ SMALB/Paket
C, bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan,
kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri
dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
c. Pendidikan menengah kejuruan, yang terdiri atas SMK/MAK,
bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan,
kepribadian, akhlak mulia sertaketerampilan untuk hidup mandiri
dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
Standar kompetensi lulusan mata pelajaran kemudian dijabarkan ke dalam
kompetensi dasar dalam standar isi, dan secara langsung dijadikan sebagai
acuan dan pedoman guru dalam mengembangkan silabus dan RPP. Jadi
tugas guru adalah menjabarkan setiap kompetensi dasar ke dalam
indikator-indikator pencapaian kompetensi siswa.
5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006
Permendiknas ini menjelaskan pelaksanaan Permendiknas No. 22 Tahun
2006 dan No. 23 Tahun 2006. Dalam Permendiknas pasal 1 ayat 1
dinyatakan bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan
dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah
sesuai kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan berdasarkan pada :
a. UU No. 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas pasal 36 sampai dengan
pasal 38
b. PP No. 19 Tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan pasal 5
sampai dengan pasal 18, dan pasal 25 sapai dengan pasal 27
c. Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan
pendidikan dasar dan menengah
d. Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang standar kompetensi
lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah
Selanjutnya pada ayat 2 dinyatakan bahwa satuan pendidikan dasar dan
menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih
tinggi dari standar isi dan standar kompetensi lulusan. Berdasarkan kedua
ayat tersebut, dalam pengembangan KTSP, setiap satuan pendidikan
diberikan kesempatan untuk menentukan standar yang lebih tinggi
dibandingkan dengan standar minimal yang telah ditetapkan oleh BSNP.
Akan tetapi, sekolah tidak diperkenankan untuk mengurangi standar
minimal tersebut. Penambahan tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk
penambahan jam pelajaran maupun penambahan jumlah mata pelajaran
yang disajikan.
Selanjutnya, pengembangan KTSP pun harus mengacu pada panduan
penyusunan KTSP dasar dan menengah yang disusun oleh BSNP. Model
kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun
oleh BSNP pun dapat diadopsi atau diadaptasi.
Kurikulum ditetapkan oleh kepala sekolah dengan memperhatikan
pertimbangan dari komite sekolah. Khusus sekolah yang telah
melaksanakan uji coba kurikulum 2004 secara menyeluruh, ia dapat
menerapkan KTSP secara menyeluruh pada semua tingkatan kelas mulai
tahun ajaran 2006/2007. Akan tetapi jika sekolah belum melaksanakan uji
coba kurikulum 2004 secara menyeluruh, maka sekolah itu harus sudah
mulai menerapkan KTSP paling lambat tahun ajaran 2009/2010.

D. Komponen KTSP
Komponen KTSP secara garis besar mencakup : (1) visi dan misi satuan
pendidikan, (2) tujuan pendidikan satuan pendidikan, (3) struktur muatan KTSP,
(4) kalender pendidikan, (5) silabus, dan (6) RPP

1. Visi dan misi satuan pendidikan
Setiap satuan pendidikan harus memiliki visi. Visi itulah yang kemudian
menjadi acuan dalam mengembangkan misi dan program-program
pendidikan di setiap satuan pendidikan. Menurut Morrisey (dalam
Mulyasa,2006:176), visi adalah representasi apa yang diyakini sebagai
bentuk organisasi masa depan dalam pandangan pelanggan, karyawan,
pemilik, dan stakeholder lainnya. Dalam literatur lain (Dirjen
Dikdasmen,2004:20) dikemukakan bahwa visi adalah (a) wawasan yang
menjadi sumber arahan bagi sekolah dan digunakan untuk memandu
perumusan misi sekolah, (2) pandangan jauh ke depan kemana sekolah akan
dibawa, (3) gambaran masa depan yang diinginkan oleh sekolah agar sekolah
dapat menjamin kelangsungan hidup dan perkembangannya.
Visi sekolah harus mengacu pada kebijakan pendidikan nasional dengan
tetap memperhatikan kesesuaiannya dengan kebutuhan siswa. Tujuan
pendidikan nasional yang digunakan rujukan setiap sekolah pasti sama. Akan
tetapi, karena kebutuhan masyarakat yang dilayani oleh masing-masing
berbeda-beda, maka visi setiap sekolah pun tidak mesti sama.
Misi adalah tindakan untuk mewujudkan atau merealisasikan visi yang telah
ditetapkan (Dirjen Dikdasmen, 2004:21). Misi adalah bentuk layanan atau
tugas untuk memenuhi tuntutan yang dituangkan dalam visi dengan berbagai
indikatornya . sebagai contoh, rumusan misi sekolah dengan visi sebagai
lembaga pendidikan dasar yang unggul dalam prestasi dilandasi kekokohan
iman dan taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa memiliki misi :
O Melaksanakan pembelajaran yang eIektiI berdasarkan keimanan
dan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa untuk
mengembangkan potensi keilmuan siswa
O Menumbuhkan semangat keunggulan kepada seluruh warga sekolah
O Membimbing dan mengembangkan bakat dan minat siswa
O Mendorong dan membantu siswa untuk mengembangkan
potensinya
O Menerapkan manajemen partisipatiI dengan melibatkan suluruh
warga sekolah
O dll
2. Tujuan pendidikan satuan pendidikan
Tujuan adalah apa yang akan dicapai atau dihasilkan oleh suatu sekolah dan
waktu pencapaiannya. Tujuan pendidikan satuan pendidikan merupakan
tahapan wujud sekolah menuju visi yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu,
rumusan tujuan satuan pendidikan harus jelas, mudah dipahami oleh semua
pihak, mengacu pada visi yang telah dirumuskan, serta mewadahi semua
kebutuhan warga sekolah.
Tujuan pendidikan dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan.
Menurut Permendiknas No.22 Tahun 2006 tentang standar isi, tujuan umum
satuan pendidikan dasar dan menengah adalah :
a. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian,akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup
mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut
b. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup
mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut
c. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup
mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan
kejuruannya
Berdasarkan rumusan tujuan umum pendidikan pada satuan pendidikan
dirumuskanlah tujuan khusus pendidikan yang sesuai dengan visi dan
kondisi serta kebutuhan warga sekolah.
3. Struktur muatan KTSP
Stuktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus
ditempuh oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman dan keluasan
muatan kurikulum untuk setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan
dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa sesuai dengan
beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum.kompetensi tersebut
mencakup standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan
berdasarkan standar kompetensi lulusan. Muatan lokal dan kegiatan
pengembangan diri merupakan bagian integral dari struktur kurikulum pada
jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Struktur KTSP memuat :mata pelajaran, muatan lokal, kegiatan
pengembangan diri, pengaturan beban, kenaikan kelas, penjurusan dan
kelulusan, pendidikan kecakapan hidup,serta pendidkan berbasis keunggulan
lokal dan global. Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar
dan menengah yang tertuang dalam standar isi meliputi lima kelompok mata
pelajaran :
- kelompok mta pelajaran agama dan akhlak mulia
- Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian
- Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi
- Kelompok mata pelajaran estetika
- Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan

4. Kalender pendidikan
Kurikulum satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan
diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan pada setiap tahun.
Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran
siswa selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun, minggu
eIektiI belajar, waktu pembelajaran eIektiI, dan hari libur.
Adapun rambu-rambu penyusunan kalender pendidikan menurut standar isi :
- Alokasi waktu
Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan
pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
Minggu eIektiI belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran
untuk setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan. Waktu
pembelajaran eIektiI adalah jumlah jam pelajaran setiap minggu, yang
meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk
muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri.
Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan
pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu
libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antarsemester, libur
akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari besar nasional dan hari-
hari khusus.
- Penetapan kalender pendidikan
a. Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan
berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya
b. Hari libur sekola ditetapkan berdasarkan Kepmendiknas dan atau
menteri agama terkait hari raya keagamaan, Kepala Daerah tingkat
kabupaten /kota untuk hari libur khusus
c. Pemerintah pusat/ propinsi/kabupaten/kota dapat menetapkan hari
libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan
d. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh
masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu dalam
standar isi dengan memperhatikan ketentuan pemerintah.
5. Silabus
Silabus merupakan rencana pembelajaran pada suatu dana atau kelompok
mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi,
kompetensi dasar, mataeri pokok, kegiatan pembelajaran,indikator,
penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan
penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi
pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian
kompetensi untuk penilaian.
6. RPP
Merupakan rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen
pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang
ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus. RPP merupakan
jabaran operasional silabus yang telah dikembangkan untuk digunakan
sebagai panduan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Karena Iungsi
yang diembannya, setiap guru harus menyusun RPP sebelum melaksanakan
kegiatan pembelajaran.