Anda di halaman 1dari 5

70:2,94/,79798

Wanita tiga kali lebih sering menderita reumatoid artritis (radang sendi) dibanding dengan laki-
laki. Penyakit ini menyerang semua etnis, dengan insiden pada orang berusia di atas 18 tahun
berkisar 0,1 persen sampai 0,3 persen, sedangkan pada anak-anak dan remaja yang berusia
kurang dari 18 tahun 1/100.000 orang.
Hal tersebut disampaikan ProIesor dr Harry Isbagio SpPD-KR dalam temu wartawan, di Jakarta,
Sabtu (11/2) lalu. Menurut dia, pada tahun 2000 jumlah penderita reumatoid artritis sekitar
120.000 orang. Walaupun prevalensi penyakit rendah, tetapi penyakit ini sangat progresiI dan
paling sering menyebabkan kecacatan. Apabila tidak diobati, ujarnya, akan muncul kecacatan
dalam tempo dua atau tiga tahun kemudian.
Disebutkan, reumatoid artritis adalah penyakit kronis yang ditandai dengan peradangan di
persendian. Tepatnya, di lapisan dalam bungkus sendi (sinovitis).
Akibat dari sinovitis yang menahun akan terjadi kerusakan pada tulang rawan sendi, tulang,
tendon, dan ligamen pada sendi.
Hal ini membuat penderita reumatoid artritis merasa nyeri, sendi kaku dan bengkak. Bahkan
merusak sendi. Pada tahap lanjut, penderita tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari, dan
kualitas hidup menurun.
'Gejala sistemiknya berupa demam, naIsu makan turun, berat badan turun, lemah, anemia.
Reumatoid artritis terjadi pada banyak sendi dan simetris. Sendi membengkak, kemerahan,
hangat dan sangat sakit, jelas Isbagio.
Dikatakan, diagnosis reumatoid artritis didasarkan pada gambaran penyakit, laboratorium berupa
laju endap darah dan Iaktor reumatoid serta radiologi berupa erosi sendi. Terapi yang ada saat
ini, katanya, bertujuan untuk mengurangi nyeri, mengurangi inIlamasi, menghentikan kerusakan
sendi, memperbaiki Iungsi sendi dan membuat pasien merasa nyaman.
Terapi terbagi atas dua, yaitu dengan obat (Iarmakologi) dan nonIarmakologi (tanpa pemakaian
obat). Secara Iarmakologi, obat yang dipergunakan antara lain obat penghilang rasa nyeri dan
radang (nonsteroid anti inflamation drugs/NSAIDs), obat untuk mengurangi peradangan dan
menghambat destruksi sendi (disease modifying antirheumatic drugs/DMARDs) dan pengobatan
dengan target agen biologi (biologic response modifiers). Sedangkan, terapi nonIarmakologi
mencakup proteksi sendi, Iisioterapi dan rehabilitasi, psikoterapi, dan pembedahan.
Rheumatoid Artritis(AR) merupakan suatu penyakit yang tersebar luas serta melibatkan semua
kelompok ras dan etnik di dunia. Penyakit ini merupakan suatu penyakit autoimun yang ditandai
dengan terdapatnya sinovitis erosiI simetrik yang walaupun terutama mengenai jaringan
persendian, seringkali juga melibatkan organ tubuh lainnya. Hingga saat ini masih belum
diketahui pemicunya. Bakteri, virus, jamur tidak terbukti sebagai pemicunya. Diduga diwariskan
secara genetik. Terjadi autoimune, dimana sistem imune menyerang jaringan tubuh terutama
sendi. Autoimune yang terjadi menyebabkan rusaknya jaringan persendian karena aktiIasi sistem
penanda radang
PREVALENSI
Diperkirakan kasus RA diderita pada usia di atas 18 tahun dan berkisar 0,1 sampai dengan
0,3 dari jumlah penduduk Indonesia. Berdasarkan studi, RA lebih banyak terjadi pada wanita
dibandingkan pria dengan rasio kejadian 3 : 1. Penyakit ini 75 diderita oleh kaum wanita, bisa
menyerang semua sendi. Prevalensi meningkat 5 pada wanita diatas usia 50 tahun.
PATOFISIOLOGI
Membran synovial pada pasien rheumatoid arthritis mengalami hiperplasia, peningkatan
vaskulariasi, dan inIiltrasi sel-sel pencetus inIlamasi, terutama sel T CD4. Sel T CD4 ini
sangat berperan dalam respon immun. Penelitian terbaru genetik, rheumatoid arthritis sangat
berhubungan dengan major-histocompatibility-complex class II antigen HLA-DRB1*0404 dan
DRB1*0401. Fungsi utama molekul HLA class II untuk mempresentasikan antigenic peptide
kepada CD4 sel T bahwa rheumatoid arthritis disebabkan oleh arthritogenic yang belum
teridentiIikasi. Antigen ini bisa berupa antigen eksogen, seperti protein virus atau protein antigen
endogen. Baru-baru ini sejumlah antigen endogen telah teridentiIikasi, seperti citrullinated
protein dan human cartilage glycoprotein 39.
Antigen mengaktivasi CD4 sel T yang menstimulasi monosit, makroIag dan syinovial Iibroblas
untuk memproduksi interleukin-1, interleukin-6 dan TNF-u untuk mensekresikan matrik
metaloproteinase melalui hubungan antar sel dengan bantuan CD69 dan CD11 melalui pelepasan
mediator-mediator pelarut seperti interIeron- dan interleukin-17. Interleukin-1, interlukin-6 dan
TNF-u merupakan kunci terjadinya inIlamasi pada rheumatoid arthritis.
AktiIasi CD4 sel T juga menstimulasi sel B melalui kontak sel secara langsung dan ikatan
dengan u12 integrin, CD40 ligan dan CD28 untuk memproduksi immunoglobulin meliputi
rheumatoid Iaktor.
Sebenarnya Iungsi dari rhumetoid Iaktor ini dalam proses patogenesis rheumatoid arthritis
tidaklah diketahui secara pasti, tapi kemungkinan besar rheumatoid Iaktor mengaktiIkan
berbagai komplemen melalui pembentukan immun kompleks. AktiIasi CD4 sel T juga
mengekspresikan osteoclastogenesis yang secara keseluruhan ini menyebabkan gangguan sendi.
AktiIasi makroIag, limIosit dan Iibroblas juga menstimulasi angiogenesis sehingga terjadi
peningkatan vaskularisasi yang ditemukan pada synovial penderita rheumatoid arthritis.
DIAGNOSIS
Sesuai Dengan : 1987 Revised A.R.A. Criteria Ior Rheumatoid Arthritis : Kaku pagi hari 30-60
menit, Artritis pada 3 daerah persendian atau lebih, Artritis pada persendian tangan, Artritis
simetris, Nodul rheumatoid, Faktor rheumatoid serum positiI dan Perubahan gambaran
radiologis.
ASPEK LABORATORIUM
1. ESR, CRF DAN RAF : umumnya masih merupakan biomarker pilihan pada umumnya RS,
RSUD, Laboratorium Klinik Pratama di Indonesia.
2. Biomarker yang lainnya : umumnya hanya dapat dilakukan pada RSUP, RSUPN dan
Laboratorium Klinik Utama (Laboratorium besar).
3. Tidak semua biomarker dapat diperiksa dan dilaksanakan untuk diagnosis RA. Hal ini karena
biaya pemeriksaan masih sangat mahal. Ada beberapa yang digunakan hanya untuk penelitian
saja.
APLIKASI LABORATORIUM
1. Laju Endapan Darah (LED)
Di periksa menggunakan metode : Wintrobe , Westergren dan ModiIikasi Westergren. Dalam
llmu hematologi : ESR meningkat menandakan adanya suatu inIlamasi atau inIeksi pada tubuh.
Meningkat pada RA dan Radang sendi 70-90 kasus. Tidak spesiIik untuk RA, tapi mampu
meningkatkan sensitiIitas dan spesiIisitas bila dipanel dengan biomarker RA lainnya untuk
diagnosis RA
2. CRP
Merupakan Protein Iase akut. Dilepaskan sebagai bukti adanya inIlamasi atau inIeksi. Meningkat
70-85 kasus RA Iase akut. Meningkat juga pada inIeksi bakteri colon tiIoid, rheumatoid Iever,,
inIeksi virus, jamur, transplansi ginjal, tubercolusis, post operasi, dan post transIusi. Sangat baik
bila dipanel dengan RAF, ESR dan anti-CCP.
3. RAF (RF)
Ditemukan protein abnormal yang dikenal sebagai Rheumatoid Factor (RA Iactor RF).
Imunoglobulin atau macroglobulin yang dapat berinteraksi secara spesiIik dengan determinan
antigenic (neoantigen) dari molekul Ig.G pada Fc. Sekitar 75-80 individu yang mengalami RA
juga memiliki nilai RF yang positiI. BermanIaat untuk membedakan antara Rheumatoid artritis
dengan Rheumatoid Iever dan Artritis Gout. Mungkin juga dapat ditemukan pada lupus
erymatosus, hepatitis inIeksius dan kronis, siIilis. Kelemahan : Nilai RAF positiI juga terdapat
pada kondisi penyakit autoimun lainnya, inIeksi kronik, dan bahkan terdapat pada 3-5 populasi
sehat. Uji ini positiI pada pasien dengan RA yang sudah bermaniIestasi. Bila digunakan bersama
dengan anti-CCP sangat berguna untuk diagnosis RA.
4. ANA
Autoantibodi heterogen yang dapat bereaksi dengan berbagai macam antigen dalam inti sel dan
dapat ditemukan dalam serum dari banyak penderita penyakit sendi dan beberapa kelainan lain.
Pada penyakit artritis rematoid antibodi yang banyak terdapat dalam serum mungkin bentuk IgM
yang mempunyai aktivitas rendah terhadap komplemen, sebaliknya dalam cairan sendi mungkin
kadar ANA bentuk IgG juga cukup tinggi.
5. TNF AlIa
Biomarkers yang dapat dideteksi pada perempuan sebelum terjadi RA. Dalam penelitian, terbukti
dalam darah meningkat TNF-alIa yang terdeteksi hingga 12 tahun sebelum gejala rheumatoid
arthritis gejala terjadi dan dua kali terkait dengan risiko berkembang rheumatoid arthritis. Tidak
terlalu spesiIik untuk RA, karena kasus radang lain juga meningkat.
6. IL-6
Merupakan Cytokines yang bersama TNF-alIa dideteksi pada RA. IL-6 dilepaskan oleh monosit
karena pengaruh dari CD4 pada radang RA. IL-6 yang ditemukan meningkat sekitar 4 tahun
sebelum dimulai gejala rheumatoid arthritis.
7. CEP
Citrullinated alpha enolase peptide. Merupakan biomarker baru RA. Saat ini masih dalam tahap
penelitian. Dipercaya mampu meningkatkan diagnosis terhadap RA. Peneliti percaya CEP-1
dapat menjadi bagian penting bagaimana mengembangkan rheumatoid arthritis tertentu dalam
kelompok pasien.
8. Human cartilage glycoprotein-39
Pemeriksaan human Cartilage glycoprotein-39 digunakan untuk evaluasi pada pasien dengan
early onset RA and predictor baik agresiIitas penyakit. Berkorelasi langsung dengan petanda
inIlamasi pada beberrapa laporan kasus. Marker yang baik untuk menilai hasil terapi dan pada
banyak keadaan digunakan untuk proporsi erosi tulang, aktiIitas sinovial dan petanda gangguan
genetik.
9. COMP
Serum protein matriks tulang rawan oligomeric (COMP) ditemukan tinggi dalam serum , dan
anti-berhubung dgn siklus citrullinated peptide (ccp) pada pasien dengan tahap awal RA.
Kenaikan signiIikan yang terkait dengan kerusakan yang lebih parah bersama di tangan dan kaki.
Kehadiran yang lama dalam serum marker ini setara dengan beratnya penyakit dan dapat
membantu dokter dimana dapat dilihat keberhasilan terapi pada penderita rheumatoid arthritis
10. Matrix metalloproteinase-3 (MMP-3) dan Pyridinoline
Dihasilkan oleh sendi yang mengalami radang. AktiIitas penyakit yang persisten dan terjadi
erosiI, maka kadar MMP3 dan Pyridinoline sangat signiIikan meningkat pada pasien
dibandingkan dengan non erosiI. Kadar keduanya berkorelasi dengan ESR dan CRP.
11. Granzyme B
Merupakan salah satu biomarker yang baru ditemukan pada RA. Kadarnya meningkat ketika
terjadi erosi sendi pada RA (). Kadarnya sebanding dengan perjalanan penyakit RA.
12. ACPAs
Anti-citrullinated protein antibodies. Biomarker baru untuk diagnosis RA. Antibodi terhadap
CEP-1 yang diproduksi. Seperti pada RF, tes ini hanya positiI pada proporsi 67 kasus RA.
Memiliki spesiIisitas 95 terhadap RA. Untuk biomarker yang lebih baik maka dilanjutkan
dengan anti-CCP IgG.
13. Anti CCP-IgG
Anti-cyclic citrullinated antibody (anti-CCP antibodi) merupakan penanda baru yang berguna
dalam diagnosis RA. Biomarker ini bermanIaat bila RAF tidak terdeteksi dalam darah. Untuk
deteksi dini adanya RA dibandingkan RAF. Tingkat anti-ccp menurun selama terapi hanya
dalam pasien dirawat dengan sulIasalazine. Kelebihan anti CCP IgG : (1). Anti-CCP IgG dapat
timbul jauh sebelum gejala klinik RA muncul. Artinya pengobatan sedini mungkin sangat
penting untuk mencegah kerusakan sendi. (2). Anti-CCP IgG sangat spesiIik untuk kondisi RA.
Antibodi ini terdeteksi pada 80 individu RA dan memiliki spesiIisitas 98. Antibodi ini juga
bersiIat spesiIik karena dapat membedakan kondisi RA dari penyakit artritis lainnya. (3). Anti-
CCP IgG dapat menggambarkan risiko kerusakan sendi lebih lanjut. Individu dengan nilai anti-
CCP IgG positiI diperkirakan mengalami kerusakan radiologis yang lebih buruk dibandingkan
individu tanpa anti-CCP IgG.
KESIMPULAN
Biomarker RA bermanIaat mendiagnosis adanya Rheumatoid Artritis. RAF merupakan
biomarker yang masih banyak dilakukan di lab RS di Indonesia. Anti-CCP IgG merupakan
biomarker RA terbaru dan lebih baik saat ini dibandingkan yang lain. Biomarker yang lain dapat
digunakan sebagai panel dalam mendiagnosis RA.