Anda di halaman 1dari 7

NAMA : MICHAEL REFHANDO

NIM : ERB 108028


KELAS : B (Genap)

TUGAS
KEBI1AKAN HUKUM PIDANA

BAB 1
KEBI1AKAN KRIMINAL (CRIMINAL POLICY)

A.Pengertian Kebijakan/Politik Kriminal
!741 Suda794 SH mengemukakan mengenai 3 a79i kebijakan c7iminal :
a. Dalam a79i sempi9 ialah keselu7uhan asas dan me94de yang menjadi dasa7 da7i 7eaksi
9e7hadap pelangga7an hukum yang be7upa pidana
b. Dalam a79i luas ialah keselu7uhan 1ungsi da7i apa7a9u7 penegak hukum 9e7masuk
didalamnya ca7a ke7ja da7i pengadilan dan p4lisi
c. Dalam a79i lebih luas (J47gen Jepsen) ialah keselu7uhan kebijakan yang dilakukan
melalui pe7undang-undangan dan badan-badan 7esmi yang be79ujuan un9uk
menegakkan n47ma-n47ma sen97al da7i masya7aka9.
Selain i9u beliau mengemukakan de1inisi singka9 bahwa p4li9ik c7iminal me7upakan
'sua9u usaha yang 7asi4nal da7i masya7aka9 dalam menganggulangi kejaha9an yang diambil
da7i de1inisi Ma7c Ancel. Be794lak belakang dengan penge79ian da7i Ma7c Ancel G. !e9e7
H4e1nagels mengemukakan bahwa c7iminal p4licy adalah :
a. C7iminal p4licy is 9he 7a9i4nal 47ganiza9i4n 41 9he s4cial 7eac9i4n 94 c7ime
b. C7iminal p4licy is 9he science 41 7esp4nses
c. C7iminal p4licy is 9he science 41 c7ime p7even9i4n
d. C7iminal p4licy is a p4licy 41 designa9ing human behavi47 as c7ime
e. C7iminal p4licy is a 7a9i4nal 949al 41 9he 7esp4nses 94 c7ime

B. Hubungan Politik Kriminal Dengan Politik Sosial
%ujuan u9ama da7i p4li9ik k7iminal adalah pe7lindungan masya7aka9 un9uk mencapai
kesejah9e7aan masya7aka9. !4li9ik k7iminal pada hakika9nya me7upakan bagian in9eg7al da7i
p4li9ik s4sial yai9u kebijakan a9au upaya un9uk mencapai kesejah9e7aan s4sial. G. !e9e7
H4e1nagels mengemukakan : ' c7iminal p4licy as a science 41 p4licy is a pa79 41 la7ge7 p4licy
9he law en147cemen9 p4licy ... %he legisla9ive and en147cemen9 p4licy in 9u7n pa79 41 s4cial
p4licy'.


C. Kebijakan Integral Dalam Penanggulangan Kejahatan
Da7i u7aian dia9as upaya penanggulangan kejaha9an pe7lu di9empuh dengan pendeka9an
kebijakan dalam a79i :
a. ada ke9e7paduan (in9eg7ali9as) an9a7a p4li9ik k7iminal dan p4li9ik s4sial
b. ada ke9e7paduan (in9eg7ali9as) an9a7a upaya penanggulangan kejaha9an dengan 'penal
dan 'n4npenal
!enegasan pelunya upaya penanggulangan kejaha9an diin9eg7asikan dengan keselu7uhan
kebijakan s4sial dan pe7encanaan pembangunan nasi4nal. !741. Suda794 pe7nah
mengemukakan bahwa apabila hukum pidana hendak diliba9kan dalam usaha menga9asi segi
nega9i1 da7i pe7kembangan masya7aka9m4de7nisasi maka hendaknya diliha9 dalam hubungan
keselu7uhan p4li9ik k7iminal a9au s4cial de1ence planning dan ini pun ha7us me7upakan
bagian in9eg7al da7i 7encana pembangunan nasi4nal.
Be794lak belakang da7i k4nsepsi kebijakan in9eg7al i9u kebijakan penanggulangan
kejaha9an 9idak banyak a79inya apabila kebijakan s4sial a9au kebijakan pembangunan i9u
sendi7i jus97u menimbulkan 1ac947-1ak947 k7imin4gen dan vik9im4gen. Diliha9 da7i sudu9
p4li9ik k7iminal masalah s97a9egis yang jus97u ha7us di9anggulangi ialah menangani masalah-
masalah a9au k4ndisi s4sial seca7a langsung a9au 9idak langsung dapa9 menimbulkan a9au
menumbuh-subu7kan kejaha9an. Ini be7a79i penanganan a9au pengga7pan masalah ini jus97u
me7upakan p4sisi kunci dan s97a9egis diliha9 da7i sudu9 p4li9ik k7iminal.
Disamping pe7lunya meme7ha9ikan be7bagai aspek s4sial dan dampak nega9i1 da7i
pembangunan se79a pe7kembangankecende7ungan kejaha9an (c7ime 97end) sepe79i
dikemukakan di a9as kebijakan in9eg7al juga be7a79i pe7lunya meme7ha9ikan k47ban
kejaha9an. Hak-hak k47ban ha7us juga diliha9 sebagai bagian in9eg7al da7i keselu7uhan
kebijakan k7iminal. Selain i9u upaya penanggulangan kejaha9an yang in9eg7al mengandung
a79i pula bahwa masya7aka9 dengan selu7uh p49ensinya ha7us juga dipandang sebagai bagian
da7i p4li9ik k7iminal.


BAB 2
KEBI1AKAN HUKUM PIDANA (PENAL POLICY)

A. PENDAHULUAN
Ma7c Ancel pe7nah menya9akan bahwa 'm4de7n c7iminal science 9e7di7i da7i k4mp4nen
'c7imin4l4gy 'c7iminal law dan 'penal p4licy. Dikemukakan 4lehnya bahwa 'penal
p4licy adalah sua9u ilmu sekaligus seni yang pada akhi7nya mempunyai 9ujuan p7ak9is un9uk
memungkinkan pe7a9u7an hukum p4si9i1 di7umuskan seca7a lebih baik dan un9uk membe7
ped4man 9idak hanya kepada pembua9 undang-undang 9e9api juga kepada pengadilan yang
mene7apkan undang-undang juga kepada pa7a penyelengga7a a9au pelaksana pu9usan
pengadilan.
Dikemukakan pula 4leh Ma7c Ancel bahwa sys9em hukum pidana abad XX masih 9e9ap
ha7us dicip9akan. Sys9em demikian hanya dapa9 disusun dan disempu7nakan 4leh usaha
be7sama semua 47ang yang be7i9ikad baik dan juga 4leh semua ahli di bidang ilmu-ilmu
s4sial.
Da7i pengan9a7 dia9as di9egaskan bahwa hakika9nya masalah ebijakan hukum pidana
bukanlah sema9a-ma9a peke7jaan 9eknik pe7undang-undangan yang dapa9 dilakukan seca7
yu7idis n47ma9ive dan sis9ema9ik-d4gma9ik. Disamping pendeka9an yu7idis n47ma9ive
kebijakan hukum pidana meme7lukan pendeka9an yu7idis 1ac9ual yang dapa9 be7upa
pendeka9an s4si4l4gis his947is dan k4mpa7a9i1 bahkan meme7lukan pula pendeka9an
k4mp7ehensi1 da7i be7bagai disiplin s4sial lainnya dan pendeka9an in9eg7al dengan kebijakan
s4sial dan pembangunan nasi4nal pada umumya.
A79inya masalah kebijakan pidana 9e7masuk salah sa9u bidang yang sey4gyanya menjadi
pusa9 pe7ha9ian k7imin4l4gi. %e7lebih memang 'pidana sebagai salah sa9u ben9uk 7eaksi a9au
7esp4n 9e7hadap kejaha9an me7upakan salah sa9u 4bjek s9udi k7imin4l4gi. Dalam buku
seja7ah mengenai kegia9an dan pe7kembangan k7imin4l4gi seca7a in9e7nasi4nal yang
di9e7bi9kan 9ahun 1988 mengemukakan sejak 9ahun 1952-1987 9elah diselengga7akan 39 kali
ku7suspena9a7an k7imin4l4gi yang dapa9 dibedakan dalam empa9 pe7i4de :
1. pe7i4de 1952-1961 menekankan pada k7imin4l4gi klinik
2. pe7i4de 1962-1969 masih ada kecende7ungan pada k7imin4l4gi klinik 9e9api ada
pe7kembangan 9e7hadap k7imin4l4gi pe7bandingan
3. pe7i4de 10970-1975 didasa7kan pada pemiki7an mengenai masalah-masalah mu9akhi7
9en9ang 'delinquency
4. pe7i4de sepuluh 9ahun 9e7akhi7 be7kai9an dengan masalah p4li9ik k7iminal dan
k7imin4l4gi 9e7apan
Mengenai pe7kembangan dia9as waja7 dalam pena9a7an k7imin4l4gi ini disajikan bahan-
bahan mengenai kebijakan (hukum) pidana a9au 'penal p4licy yang pada dasa7nya
me7upakan bagian da7i p4li9ik k7iminal.

B. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP KEBI1AKAN HUKUM PIDANA
!enge79ian kebijakan a9au p4li9ik hukum pidana dapa9 diliha9 da7i p4li9ik hukum maupun
da7i p4li9ik k7iminal. Menu7u9 !741. Suda794 p4li9ik hukum adalah :
a. &saha in9uk mewujudkan pe7a9u7an-pe7a9u7an yang baik sesuai dengan keadaan dan
si9uasi pada sua9u saa9.
b. Kebijakan da7i Nega7a melalui badan-badan yang be7wenang un9uk men9apkan
pe7a9u7an-pe7a9u7an yang dikehendaki yang dipe7ki7akan bisa digunakan un9uk
mengeksp7esikan apa yang 9e7kandung dalam masya7aka9 dan un9uk mencapai apa
yang dici9a-ci9akan.
Be794lak da7i penge79ian demikian !741. Suda794 selanju9nya menya9akan bahwa
melaksanakan p4li9ik hukum pidana be7a79i mengadakan pemilihan un9uk mencapai hasil
pe7undang-undangan pidana yang paling baik dalam a79i memenuhi sya7a9 keadilan dan daya
guna. Selain i9u melaksanakan p4li9ik hukum pidana be7a79i usaha mewujudkan pe7a9u7an
pe7undang-undangan pidana yang sesuai dengan keadaan dan si9uasi pada wak9u dan un9uk
masa-masa yang akan da9ang.
Dengan demikian diliha9 sebagai bagian p4li9ik hukum maka p4li9ik hukum pidana
mengandung a79i bagaimana mengusahakan a9au membua9 dan me7umuskan sua9u pe7undang-
undangan pidana yang baik. Menu7u9 A. Mulde7 's97a17ech9sp4li9iek a9au p4li9ik hukum
pidana ialah ga7is kebijakan un9uk menen9ukan :
a. sebe7apa jauh ke9en9uan pidana yang be7laku pe7lu diubah a9au dipe7ba7ui
b. apa yang dapa9 dipe7bua9 un9uk mencegah 9e7jadinya 9indak pidana
c. ca7a bagaimana penyidikan penun9u9an pe7adilan dan pelaksanaan pidana ha7us
dilaksanakan
Diliha9 dalam a79i luas kebijakan hukum pidana dapa9 mencakup 7uang lingkup kebijakan
dibidang hukum pidana ma9e7il dibidang hukum pidana 147mal dan dibidang hukum
pelaksanaan pidana. %ulisan ini lebih meni9ikbe7a9kan pada kebijakan dibidang hukum
pidana ma9e7il (subs9an9i1)

C. MASALAH PEMBARUAN HUKUM PIDANA
!emba7uan hukum pidana pada hakika9nya mengandung makna sua9u upaya un9uk
melakukan 7e47ien9asi dan 7e147masi hukum pidana yang sesuai dengan nilai-nilai sen97al
s4si4p4li9ik s4si41il4s41is dan s4si4kul9u7al masya7aka9 Ind4nesia yang melandasi kebijakan
s4sial kebijakan k7iminal dan kebijakan penegakan hukum di Ind4nesia. Seca7a singka9
dapa9 dika9akan bahwa pemba7uan hukum pidana pada hakika9nya ha7us di9empuh dengan
pendeka9an yang be747ien9asi pada kebijakan (p4licy-47ien9ed app74ach) dan sekaligus
pendeka9an yang be747ien9asi pada nilai (value-47ien9ed app74ach).

Dengan u7aian dia9as dapa9 disimpulkan makna dan hakika9 pemba7uan hukum pidana :
1. Diliha9 da7i sudu9 pendeka9an-kebijakan :
a. da7i kebijakan s4sial me7upakan bagian da7i upaya menga9asi masalah s4sial dalam
7angka mencapai 9ujuan nasi4nal
b. da7i kebijakan k7iminal me7uakan bagian da7i upaya pe7lindungan masya7aka9
c. da7i kebijakan penegakan hukum me7upakan bagian da7i upaya mempe7baha7ui
subs9ansi hukum dalam 7angka lebih menge1ek9i1kan penegakan hukum
2. Diliha9 da7i sudu9 pendeka9an-nilai :
Me7upakan upaya melakukan peninjauan dan penilaian kembali (7e47ien9asi dan 7e-
evaluasi) niali-nilai s4si4p4li9ik s4si41il4s41is dan s4si4kul9u7al yang melandasi dan
membe7 isi 9e7hadap mua9an n47ma9ive dan subs9an9ive hukum pidana yang dici9a-
ci9akan. Bukanlah pemba7uan hukum pidana apabila 47ien9asi nilai da7i hukum
pidana yang dici9a-ci9akan sama saja dengan 47ien9asi nilai da7i hukum pidana lama
wa7isan penjajah.

D. PENDEKATAN KEBI1AKAN DAN PENDEKATAN NILAI DALAM KEBI1AKAN
HUKUM PIDANA
Dua masalah sen97al dalam kebijakan k7iminal dengan menggunakan sa7ana penal hukum
pidana ialah masalah penen9uan :
1. pe7bua9an apa yang seha7usnya dijadikan 9indak pidana
2. sanksi apa yang sebaiknya digunakan a9au dikenakan kepada si pelangga7
!enganalisisan 9e7hadap dua masalah sen97al ini 9idak dapa9 dilepaskan da7i k4nsepsi
in9eg7al an9a7a kebijakan k7iminal dengan kebijakan s4sialpembangunan nasi4nal. Dengan
demikian kebijakan hukum pidana 9e7masuk pula kebijakan dalam menangani dua masalah
sen97al dia9as ha7us pula dilakukan dengan pendeka9an yang be747ien9asi pada kebijakan
(p4licy 47ien9ed app74ach). Suda794 be7pendapa9 bahwa dalam menghadapi masalah sen97al
yang pe79ama dia9as yang se7ing disebu9 masalah k7iminalisasi ha7us dipe7ha9ikan hal-hal
yang pada in9inya sebagai be7iku9 :

a. penggunaaan hukum pidana ha7us meme7ha9ikan 9ujuan pembangunan nasi4nal
b. pe7bua9an yang diusahakan un9uk dicegah a9au di9anggulangi dengan hukum pidana
ha7us me7upakan pe7bua9an yang 9idak dikehendaki
c. penggunaan hukum pidana ha7us pula mempe7hi9ungkan p7insip biaya dan hasil
d. penggunaan hukum pidana ha7us pula meme7ha9ikan kapasi9askemampuan daya ke7ja
da7i badan- badan penegak hukum.
!endeka9an yang be747ien9asi pada kebijakan s4sial 9e7liha9 pula dalam Simp4sium
!emba7uan Hukum !idana Nasi4nal pada bulan Agus9us 1980 di Sema7ang. Mengenai
c7i9e7ia k7iminalisasi dan dek7iminalisasi lap47an Simp4sium i9u an9a7a lain menya9akan :
un9uk mene9apkan sua9u pe7bua9an i9u sebagai 9indak k7iminal pe7lu meme7ha9ikan k7i9e7ia
umum sebagai be7iku9 :
1. apakah pe7bua9an i9u 9idak disukai a9au dibenci 4leh masya7aka9 ka7ena me7ugikan
a9au dapa9 me7ugikan menda9angkan k47ban a9au dapa9 menda9angkan k47ban?
2. apakah biaya mengk7iminalisasi seimbang dengan hasilnya yang akan dicapai?
3. apakah akan makin menambah beban apa7a9 penegak hukum yang 9idak seimbang a9au
nya9a-nya9a 9idak dapa9 diemban 4leh kemampuan yang dimilikinya?
4. apakah pe7bua9an i9u menghamba9 a9au menghalangi ci9a-ci9a bangsa?
Menu7u9 Bassi4uni kepu9usan un9uk melakukan k7iminalisasi dan dek7iminalisasi ha7us
didasa7kan pada 1ac947-1ak947 kebijakan 9e79en9u yang mempe79imbangkan be7macam-macam
1ac947 9e7masuk :
1. keseimbangan sa7ana-sa7ana yang digunakan dalam hubungannya dengan hasil yang ingin
dicapai
2. analisis biaya 9e7hadap hasil yang dipe74leh dalam hubungannya dengan 9ujuan yang
dica7i
3. penilaian a9au penaksi7an 9ujuan yang dica7i i9u dalam kai9annya dengan p7i47i9as-p7i47i9as
lainnya dalam pengal4kasian sumbe7-sumbe7 9enaga manusia
4. penga7uh s4sial da7i k7iminalisasi dan dek7iminalisasi yang be7kenaan dengan a9au
dipandang da7i penga7uh-penga7uhnya yang sekunde7
!endeka9an kebijakan dia9as me7upakan pendeka9an yang 7asi4nal ka7ena ka7ak9e7is9ik
da7i sua9u p4li9ik k7iminal yang 7asi4nal 9idak lain da7ipada pene7apan me94se-me94de yang
7asi4nal. Menu7u9 G.!. H4e1nagels sua9u p4li9ik k7iminal ha7us 7asi4nal hal ini pen9ing
ka7ena k4nsepsi mengenai kejaha9an dan kekuasaan a9au p74ses un9uk melakukan
k7iminalisasi se7ing di9e9apkan seca7a em4si4nal.
Ini be7a79i sua9u p4li9ik k7iminal dengan menggunakan kebijakan hukum pidana ha7us
me7upakan sua9u usaha a9au langkah yang dibua9 dengan sengaja dan sada7. Ini be7a79i
memilih dan mene9apkan hukum pidana sebagai sa7ana un9uk menanggulangi kejaha9an ha7us
bena7-bena7 mempe7hi9ungkan semua 1ac947 yang dapa9 mendukung be71ungsinya hukum
pidana i9u dalam kenya9aannya. Jadi dipe7lukan pula pendeka9an yang 1ungsi4nal dan ini pun
me7upakan pendeka9an yang meleka9 (inhe7en9) pada se9iap kebijakan yang 7asi4nal.
J. Andenaes menungkapkan bahwa pendeka9an kebijakan yang 7asi4nal e7a9 pula
hubungannya dengan pendeka9an ek4n4mis. Sehubungan dengan hal i9u %ed H4nde7ich
be7pendapa9 bahwa sua9u pidana dapa9 disebu9 sebagai ala9 pencegah yang ek4n4mis apabila
dipenuhi sya7a9-sya7a9:
a. pidana i9u sungguh-sungguh mencegah
b. pidana i9u 9idak menyebabkan 9imbulnya keadaan yang lebih be7bahaya da7ipada yang
akan 9e7jadi apabila pidana i9u 9idak dikenakan
c. 9idak ada pidana lain yang dapa9 mencegah seca7a e1ek9i1 dengan bahayake7ugian
yang lebih kecil
Segi lain yang pe7lu dikemukakan da7i pendeka9an kebijakan ialah yang be7kai9an dengan
nilai-nilai yang ingin dicapaidilindungi 4leh hukum pidana. Menu9u7 Bassi4uni 9ujuan yang
ingin dicapai 4leh pidana pada umumnya 9e7wujud dalam kepen9ingan s4sial yang
mengandung nilai 9e79en9u yang pe7lu dilindungi. Kepen9ingan s4sial 9e7sebu9 adalah :
1. pemeliha7aan 9e79ib masya7aka9
2. pe7lindungan wa7ga masya7aka9 da7i kejaha9an ke7ugian a9au bahaya yang 9idak dapa9
dibena7kan yang dilakukan 4leh 47ang lain
3. memasya7aka9kan kembali pa7a pelangga7 hukum
4. memeliha7amempe79ahankan in9eg7i9as pandangan dasa7 9e79en9u mengenai keadilan
s4sial ma79aba9 kemanusiaan dan keadilan individu.

Da7i u7aian dia9as dapa9 disimpulkan bahwa menu7u9 Bassi4uni dalam melakukan
kebijakan hukum pidana dipe7lukan pendeka9an yang be747ien9asi pada kebijakan yang lebih
be7si1a9 p7agma9is dan 7asi4nal dan juga be747ien9asi pada nilai. Hanya menu7u9 hema9 kami
an9a7a pendeka9an kebijakan dan pendeka9an yang be747ien9asi pada nilai jangan 9e7lalu diliha9
sebagai sua9u 'dich494my ka7ena dalam pendeka9an kebijakan sudah seha7usnya juga
dipe79imbangkan 1ak947-1ak947 nilai.
Bagi Ind4nesia yang be7dasa7kan !ancasila dan ga7is kebijakan pembangunan nasi4nalnya
be79ujuan memben9uk manusia Ind4nesia seu9uhnya maka pendeka9an humanis9ic ha7us pula
dipe7ha9ikan. !endeka9an humanis9ic dalam penggunaan sanksi pidana 9idak hanya be7a79i
bahwa pidana yang dikenakan kepada si pelangga7 ha7us sesuai dengan nilai kemanusiaan
yang be7adab 9api juga ha7us dapa9 membangki9kan nilai kemanusiaan dan nilai pe7gaulan
hidup be7masya7aka9.
Menu9u7 Ma7c Ancel pe79anggungjawaban yang didasa7kan pada kebebasan individu
me7upakan kekua9an pengge7ak yang u9ama da7i p74ses penyesuaian-s4sial. %ujuan u9ama
7eadap9asi s4sial ha7us dia7ahkan pada pe7baikan 9e7hadap penguasaan di7i sendi7i sehingga
9idak b4leh diabaikan.
!e79anggung jawaban yang dimaksud Ma7c Ancel be7lainan dengan pandangan klasik
yang menga79ikannya sebagai pe79anggungjawaban m47al seca7a mu7ni dan be7beda pula
dengan pandangan p4si9ivism yang menga79ikannya sebagai pe79anggungjawaban menu7u9
hukum a9au pe79anggungjawaban 4bjek9i1. !e79anggungjawaban p7ibadi menu7u9 Ma7c Ancel
menekankan pada kewajiban m47al pada di7i individu dan 4leh Ka7ena i9u menc4ba
me7angsang ide 9anggungjawabkewajiban s4sial 9e7hadap angg49a masya7aka9 lain dan juga
mend474ngnya un9uk menyada7i m47ali9as s4sial. !enge79ian demikian me7upakan
k4nsekuensi da7i pandangan Ma7c Ancel yang meliha9 kejaha9an sebagai sua9u mani1es9asi
da7i kep7ibadian si pelaku.
Da7i u7aian dia9as 9e7liha9 bahwa pendeka9an nilai humanis9is menun9u9 pula
dipe7ha9ikannya ide individualisasi pidana dalam kebijakanpemba7uan hukum pidana yang
be7ka7ak9e7is9ik sbb:
1. pe79anggungjawaban be7si1a9 p7ibadipe747angan
2. pidana hanya dibe7ikan kepada 47ang yang be7salah (asas culpabili9as)
3. pidana ha7us disesuaikan dengan ka7ak9e7is9ik dan k4ndisi si pelaku. Jadi
mengandung asas 1leksibili9as dan asas m4di1ikasi pidana.
Sheld4n glueck mengemukakan 4 p7insip yang ha7us mendasa7i p74ses individualisasi
elaku kejaha9an :
1. 9he 97ea9men9 (sen9ence-imp4sing) 1ea9u7e 41 9he p74ceedings mus9 be sha7ply
di11e7en9ia9ed 174m 9he guil9-1inding phase
2. 9he decisi4n as 94 97ea9men9 mus9 be made by a b4a7d 47 97ibunal specially quali1ied in
9he in9e7p7e9a9i4n and evalua9i4n 41 psychia97ic psych4l4gical and s4ci4l4gical da9a
3. 9he 97ea9men9 mus9 be m4di1iable in 9he ligh9 41 scien9i1ic 7ep479s 41 p74g7ess
4. 9he 7igh9 41 9he individual mus9 be sa1egua7ded agains9 p4ssible a7bi97a7iness 47 49he7
ac9i4n 4n 9he pa79 41 9he 97ea9men9 97ibunal.
!endeka9an humanis9is dalam kebijakanpemba7uan hukum pidana 9e7liha9 pula pada
pendapa9 Suda794 yang pe7nah menya9akan : ' kalau membica7akan pidana maka ha7us
membica7akan 47ang yang melakukan kejaha9an. .... . jadi pemba7uan hukum pidana 9e9ap
be7kisa7 kepada manusia sehingga ia 9idak b4leh sekali-kali meninggalkan nilai-nilai
kemanusiaan ialah kasih saying 9e7hadap sesama. '



O Pasal dalam KUHP yang tidak relevan lagi dengan zaman atau nilai-nilai yang dianut :

Pasal 207 KUHP
'Ba7angsiapa dengan sengaja dimuka umum dengan lisan a9au dengan 9ulisan
menghina sua9u kekuasaan yang diadakan di dae7ah Republik Ind4nesia a9au
sua9u badan hukum yang diadakan di sini dipidana dengan pidana penja7a selam-
lamanya sa9u 9ahun enam bulan a9au denda sebanyak-banyaknya empa9 7ibu lima
7a9us 7upiah.

!asal ini saya anggap 9idak 7elevan lagi dengan zaman ka7ena saa9 ini kebebasan
mengelua7kan pendapa9 me7upakan hak se9iap 47ang dalam e7a dem4k7asi ini. Seca7a
k4ns9i9usi4nal pasal ini akan be7singgungan dengan pasal 28 E aya9 2 dan aya9 3. !asal ini dapa9
menghamba9 hak a9as kebebasan menya9akan piki7an dengan lisan 9ulisan dan eksp7esi sikap
sese47ang c4n94hnya pada saa9 dem4ns97asi mahasiswa kepada D!R. Selain i9u apabila pasal
ini di9e7apkan dapa9 menimbulkan ke9idakpas9ian hukum ka7ena ama9 7en9an pada 9a1si7 apakah
sua9u p749es menya9akan pendapa9 a9au piki7an me7upakan penghinaan kepada sua9u kekuasaan.