Anda di halaman 1dari 29

HUKUM MAMUL DALAM KALIMAT TANAZU Drs. H.

AMINULLAH, MA Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Arab Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN

Tata bahasa, di dalam bahasa Arab lazim disebut dengan qawaid, adalah salah satu cabang ilmu bahasa yang memiliki peranan sangat penting di antara ilmu-ilmu bahasa yang lain. Dengan tata bahasa memungkinkan seseorang dapat mengoreksi kesalahan-kesalahan yang terjadi di dalam berbahasa, sehingga ia dapat berbahasa dengan baik dan benar. Tata bahasa dapat dibagi menjadi tiga cabang ilmu yang lebih kecil yaitu : 1. Fonologi ( tata bunyi ) di dalam bahasa Arab disebut dengan ilmu aswat. 2. Morfologi ( tata kata ) di dalam bahasa Arab disebut dengan ilmu sorof. 3. Sintaksis ( tata kalimat ) di dalam bahasa Arab disebut dengan ilmu nahwu. Ketika cabang ilmu tersebut memiliki peranan sama-sama penting di dalam rangka penguasaan bahasa asing, termasuk bahasa Arab. Bahasa Arab mempunyai keunikan dibandingkan dengan bahasa lain, satu di antaranya adalah bahwa bahasa Arab memiliki tanda kasus , yaitu adanya perubahan harkat (baris) pada akhir suatu kata , adakalanya bertanda kasus rafun (nominatif), nasbun (akkusatif), jarrun (genetif), dan sukun (jusif). Mamul dalam kalimat tanazu adalah sesuatu yang mempunyai kasus yang berubah-rubah pada akhir kata dengan bentuk rafa, nasab , jazam ataupun kasrah karena bekas amil yang ada di dalamnya . Mamul sebagai kalimat yang dipengaruhi amil dapat dibagi dua yaitu mamul bi l-asalati dan mamul bi t-tabiiyyati. Dari kedua makmul tersebut masing-masing menjelaskan jabatan kalimat yang termasuk di dalamnya. Adapun mamul tanazu fi l-amal dapat dilihat dari kedudukannya dalam jumlah . Pada dasarnya tanazu menjabat pada tiga tempat, yaitu : - Mamul sebagai fail - Mamul sebagai maful bih, dan - Mamul sebagai jarr majrur. Maka mamul dalam jumlah ini adalah kalimat isim . Perubahan yang terjadi pada isim adalah rafa ke nasab, dan ke jarr.

2002 digitized by USU digital library

B A B II. TINJAUAN PUSTAKA Hukum berubah ataupun mamul dalam kalimat tanazu adalah sesuatu yang harkah atau kasus akhirnya dengan rafa , nasab, jazam, kasrah karena bekas amil yang ada di dalanya.

Mamul dalam kalimat tanazu ini juga merukan produk dari ,amil dia dipengaruhi dan ditentuka oleh amil, dan amil sangat mempengaruhinya. sesuai dengan jabatannya dalam suatu jumlah. Perubahan ini juga menentukan jabatan kalimat di dalam jumlah itu sesuai dengan kaedah-kaedah yang ada di dalam bahasa Arab. Mamul dalam jumlah tanazu fi lamal , dilihat dari kedudukannya dalam jumlah itu, pada dasarnya ia menjabat pada tiga tempat, yaitu akan diuraikan pada bab berikutnya.

BAB

III . TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN

3.1 Tujuan Adapun tujuan karya ilmiah ini dilaksanakan adalah untuk sebagai berikut : 1. Mengetahuai pada acuan amil yang dapat beramal pada mamulnya. 2. Mengetahui kaedah perubahan harkat mamul setelah dipengaruhi oleh amilnya. 3. Mengetahui bentuk-bentuk apa saja dari mamul tersebut dalam kalimat. 4. Mencari dan mengatasi problema dalam penggunaan amil mamul dalam tanazu 3.2. Manfaat Manfaat yang dapat diperoleh dari hasil karya ilmiah ini adalah : 1. Mempertajam kepekaan terhadap berbagai masalah kebahasaan. 2. Memberikan kemudahan dan mendekatkan pemahaman terhadap pelajaran dan kaedah-kaedah yang berlaku bagi tata bahasa Arab. 3. Memberi manfaat untuk memperoleh bahan masukan untuk mengenal ilmu pengetahuan khususnya hukum mamul dalam kalimat tanazu dan penggunaannya pada kaedah tata bahasa Arab.

2002 digitized by USU digital library

B A B IV. METODE PENULISAN Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode deskriptif analisis, yaitu mengamati dan memahami bahan-bahan yang dikumpulkan yang berhubungan dengan obyek yang akan ditulis. Kemudian dipaparkan dan dibahas berdasarkan pada penjelasan tertentu, selanjutnya dilakukan intenvarisasi dan diklasifikasikan menurut pola-pola yang akan ditulis. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut : 1. Mengumpulkan data dari berbagai referensi atau sumber yang menunjang tercapainya hasil tulisan yang diharapkan. 2. Mengumpulkan buku-buku rujukan yang berhubungan dengan bidang yang ditulis. 3. Data yang teal dipilih dan ditetapkan sebagai bahan tulisan kemudian dianalisis dan diklasisfikasikan yang selanjutnya diseleksi. Kemudian hasil seleksi disusun kembali dan dituangkan dalam tulisan yang merupakan suatu hasil karya ilmiah.

BAB

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Pengertian Mamul Mustafa Al-Ghalayayni (1980 : 276) mendefinisakan berikut : mamul sebagai

: .
/Al-mamulu : huwa ma yataghayyaru akhiruhu bi rafin aw nasbin, aw jazmin , aw khadfin, bi tasiri l-amili fihi/ Mamul adalah : sesuatu yang berubah akhirnya dengan rafa atau nasab atau jazam ataupun kasrah karena bekas amil yang ada di dalamnya. Dari definisi di atas , maka dapat dilihat bahwa mamul itu merupakan produk dari amil, dia dipengaruhi dan ditentukan oleh amil, dan amil sangat mempengaruhuinya. Mamul dapat berharkat fathah, dammah, kasrah dan jazam, sesuai dengan jabatannya dalam satu jumlah atau kalimat.

2002 digitized by USU digital library

Adapun yang termasuk mamul itu adalah sebagai berikut : 1. Kalimat yang menjadi fail atau subjek. Dan ketentuan fail ini adalah didahului kerja. Misal : oleh fiil atau kata


Jalasa t-tilmizu/ telah duduk seorang murid 2. Kalimat yang menjadi maful bih Misal :


/Yaqrau l-qurana/ Dia (lk) sedang membaca quran. jarr atau karena mudaf 3. Semua isim yang majrur, karena huruf Misal :


/Al-hudayatu mina l-ustazi/ petunjuk itu dari guru


/Baytu abika qaribun/ rumah bapakmu dekat. 4. Semua isim dan khabar inna serta saudara-saudaranya Misal :


/Inna l-walada nasyitun/ sesungguhnya anak itu rajin. 5. Semua isim dan khabar dari fiil naqis Misal :


/Kana l-waladu mujtahidan/ anak itu bersungguh-sungguh 6. Semua fiil yang dinasabkan dengan amil nasab Misal :


/Lan akziba ilayka/ Saya tidak akan berdusta padamu 7. Semua fiil mudari yang dijazamkan oleh amil jazam atau karena menjadi jawab perintah (jawabu l-amr). Misal :


/Lam aqul kazalika/ Saya tidak berkata demikian


/Uzkuru l-LLAHA yazkurkum/ Ingatlah Allah pasti Dia akan ingat engkau.

2002 digitized by USU digital library

8. Semua naibu l-fail Fail majhul atau kata kerja pasif , kata sesudahnya menjadi naibu l-fail, sebab teal dirafakan oleh kata kerja pasif tersebut. Fungsi naibu l-fail di sini sebagai mamul. Misal :


/Zubihati l-baqaratu/ Sapi itu sudah disembelih 5.2 Pembagian Mamul Pada dasarnya mamul dibagi atas dua bagian, yaitu : mamul bi l-asalati dan mamul bi t-tabiiyyati. 5.2.1 Mamul bi l-asalati Mustafa Al-Ghalayayni (1980 : 276) mendefinisikannya, yaitu :


/Al-mamulu bi l-asalati : huwa ma yusaru fihi l-amalu mabasyaratan/ Mamul bi l-asalati adalah : kalimat yang di dalamnya dipengaruhi oleh amil secara langsung. Maka kalimat-kalimat yng termasuk mamul, sebagaimana yang teal penulis sebutkan di atas adalah keseluruhannya termasuk mamul bi lasalati. 5.2.2 Mamul bi t-tabiiyyati Menurut Musatafa Al-Ghalayayni (1980 : 276) yaitu :

:
/Al-mamul bi t-tabiiyyati : huwa ma yusaru fihi l-amilu bi wasitati matbuihi/Mamul bi t-tabiiyyati adalah : kalimat yang di dalanya dipengaruhi oleh amil perantara yang diikutinya. Jabatan kalimat dalam mamul ini adalah sebagai berikut : 1. Naat Naat kira-kira sama dengan kata sifat dalam bahasa Indonesia. Naat dalam bahasa Arab harus mengikuti keadaan kalimat sebelumnya yang disifati, baik dalam bentuk mufrad, musanna, jamak, serta muannas dan muzakkar, maupun dalam keadaan Irabnya. Misal :


/Kutiba d-darsu l-mufidu/ Teal ditulis pelajaran yang berguna itu /al-mufidu/ adalah menjabat sebagai Di atas terdapat kalimat naat dan dapat digolongkan sebagai mamul bi t-tabiiyyah. 2. Ataf Pengertian ataf adalah : merangkai suatu kalimat dengan kalimat yang lain dengan menggunakan huruf ataf. Dalam hal ini , kalimat kedua disebut matuf harus sama bentuk dan keadaannya dengan kalimat pertama atau matuf alayhi. Misal :


/Jaa Zaydu wa Amru/ Telah datang si Zaid dan si Amru

2002 digitized by USU digital library

Kalimat di atas yang menjadi yang menjabat sebagai matuf.

mamul at tabiiyyah adalah / Amru

3. Taukid Adapun yang dimaksud dengan taukid dalam bahasa Arab adalah : suatu kalimat yang dipergunakan untuk memperkuat , menetapkan atau untuk lebih meyakinkan arti dan maksud kalimat sebelumnya. Misal :


/Najaha t-tilmizani kilahuma/ Telah berhasil dua orang murid itu keduanya kilahuma adalah mamul bi t-tabiiyyah yang menjabat Kalimat sebagai taukid. 4. Badal Badal artinya : pergantian. Dan yang dimaksud dalam bahasa Arab adalah : suatu kalimat yang mempunyai tugas dan kedudukan untuk mengganti atau mempertegas apa dan mana yang dimaksud oleh kalimat sebelumnya. Misal :


/Marada l-waladu batnuhu/ Teal sakit anak itu perutnya Kata / adalah mamul bi t-tabiiyyati yang menjabat sebagai badal. Dari contoh di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa mamul bi ttabiiyyati terletak sesudah mamul bi l-asalati, mamul ini sebagai pelengkap mamul bi l-asalati, karena adanya perluasan kalimat dalam jumlah tersebut, sehingga jumlah itu lebih sempurna dan orang lebih mudah memahami maksud yang terkandung di dalamnya. 5.3. Kedudukan Mamul dalam Kalimat Tanazu fi l-amal Berdasarkan harkat akhir kalimat dalam satu jumlah mufidah, maka kalimat yang dapat mengybah harkat akhir kalimat yang lain disebut amil dan kalimat yang berubah harkat akhirnya dari rafa ke nasab, jarr dan ke jaza termasuk ke dalam mamul. Perubahan ini juga menentukan jabatan kalimat di dalam jumlah itu sesuai dengan kaedakaedah yang ada di dalam bahasa Arab. Dan mamul dalam jumlah Tanazu fi l-amal , dilihat dari kdudukannya dalam jumlah itu, pada dasarnya ia menjabat pada tiga tempat, yaitu : mamul menjabat sebagai fail, maful bih dan jarr majrur. Maka mamul dalam jumlah ini adalah rafa ke nasab dan ke jarr. 5.3.1 Kedudukan mamul sebagai fail Fail artinya pelaku pekerjaan atau fihak yang melakukan pekerjaan. Setiap fail harus didahului oleh fil baik berupa fiil madi, mudari maupun fil amr. Imam Sunhaji mendefinisikan , fail sebagai berikut :

: 2002 digitized by USU digital library 6

/Al-failu huwa : al-ismu l-marfuu l-mazkuru qablahu filuhu/ Fail adalah : ism yang marfu yang disebutkan orang didahulukan fiilnya. Fail terbagi pada dua bagian yaitu : berupa ism zahir dan isim damir. Dan dalam jumlah tanazu fi l-amal, failnya berupa ism zahir , yaitu pelaku perbuatan jelas/nyata. misal :


/Jaa wa zahaba aliyyun/ Datang dan pergi si Ali Kata/ Aliyyun/ si Ali sebagai fail ism zahir. Dan ali juga merupakan contoh mamul yang berkasus nominatif (rafa) berkedudukan sebagai fail atau pelaku pekerjaan dalam kalimat tersebut. 5.3.2 Kedudukan mamul sebagai maful bih Imam Sunhaji (1986 : 31) menyatakan bahwa : maful bih merupakan ism mansub atau ism yang berkasus akkusatif yang merupakan obyek kalimat . Oleh karena itu ism yang berkasus akkusatif dan berkedudukan sebagai maf,ul bih dapat menjadi mamul dalam kalimat tanazu. / anamakum/ binatang ternak , adalah mamul Misal kata yang berkasus akkusatif berkedudukan sebagai maful bih. Contoh dalam kalimat :


/Kulu war au anamakum/ Makan kamulah dan gembalkan kamulah binatang ternakmu. (Q.S. : 20, 54). 5.3.3 Kedudukan mamul sebagai jarr majrur Ada tiga tempat yang menjadikan ism itu, yaitu : bila didahului oleh huruf jarr, bila menjadi mudaf ilayhi, dan bila menjadi pengikut dua ism yang dijarrkan di atas, dari ketiga tempat ini. Adapun kedua tempat yang menjadi ism itu majrur dalam jumlah tanazu fi l-amal adalah : didahului oleh huruf jarr dan bila menjadi mudaf ilayhi. Mamul dalam jumlah ini berkedudukan sebagai jarr majrur. Misal :


/Asy-syamsu wa l-qamaru bi husbanin/ Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (Q : 55, 5) Adapun dalam jumlah tanazu fi l-amal , kalimat yamg menjadi mamul adalah jarr majrur yang menjadi rebutan amil, yaitu kata /bihusbanin menjadi rebutan dari kedua amilnya, yaitu kata /asy-syamsu dan/ alqamaru. Kemudian mamul yang majrur berkedudukan sebagai mudaf ilayhi. 5.4 Beberapa Hukum Tentang Mamul Dalam Kalimat Tanazu Dalam gramatika bahasa Arab, setiap kalimat tidak terlepas dari hukum. Hukum dapat dilihat pada harkat / syakal akhir kalimat tersebut.

2002 digitized by USU digital library

Adapun kalimat itu terdiri dari : fil, ism dan huruf. Dan dikelompokkan kalimat ini pada dua bagian yaitu mabni dan murab. Mabni adalah : kalimat yang dalam semua keadaan tidak mengalami perobahan pada harkat baris akhir. Sedangkan murab adalah : kalimat yang dapat berobah pada akhirnya, baik harkatnya maupun hurufnya apabila ada amil. Adapun Irab sebagaimana dikatakan Al-Ghalayayni (1980 : 16) : merupakan perobahan baris akhir suatu kata akibat masuknya amil dalam kalimat tersebut, maka ada kata yang baris akhirnya rafa atau nasab atau jarr maupun jazam sesuai dengan fungsi amil tersebut dalam kalimat. Yang dimaksud dengan hukum di sini adalah yang menyangkut masalah Irab , yaitu Irab mamul dalam jumlah tanazu Irab sebagaimana dimaksud di atas dapat dibagi kepada empat macam yaitu : 1. Mansub atau akkusatif 2. Marfu atau nominatif 3. Majrur atau jenetif 4. Majzum atau jusuf Maka mamul dalam jumlah tanazu fi l-amal juga terbagi atas beberapa Irab atau kasus, yaitu : 5.4.1 Irab mamul (kasus) dalam kalimat Beberapa mamul dalam jumlah tanazu fi l-amal sangat berpengaruh pada amil. Adapun mamul itu sendiri terdiri dari ism . Dan ism mempunyai Irab sebagai berikut : Pada tempat marfu atau nominatif, tempat mansub atau akkuasatif, dan pada tempat majrur atau jenetif. Adapun pada setiap tempat, mamul mempunyai kasus dan memerlukan pembahasan. A. Kasus Nominatif Pada kasus ini mamul terletak pada tempat rafa. Dan tanda rafa itu adalah dengan dammah, alif dan waw. Adapun jabatan mamul pada tempat ini yaitu pada tempat fail dan naibu l-fail. Contoh tanda Irab yang dinyatakan dengan dammah :


/Sumia wa kutiba l-mutaallimu/ Didengar dan ditulis pelajaran itu. Contoh tanda Irab yang dinyatakan dengan alif :


/Akramtu wa syakarani t-talibani/Aku muliakan dan berterima kasih padaku dua orang mahasiswa itu.

2002 digitized by USU digital library

Contoh tanda Irab yang dinyatakan dengan waw :


/Usira wa syuniqu l-mujrimuna/ Ditawan dan digantung orang orang yang berdosa itu. B. Kasus Akkusatif Mamul pada kasus ini berada di tempat adalah : fathah, alif, kasrah ,dan ya. Misal : tanda Irab yang berharkat fathah : nasab, dan tanda nasabnya


/Yasytari wa yasytamilu misytarata/ Dia membeli dan memakai mistar itu Contoh tanda nasab yang dinyatakan dengan alif :


/Nazartu wa khatabtu abaka/ Aku melihat dan menegur ayahmu Contoh tanda nasab yang dinyatakan dengan kasrah :


/Akrimu wa ahtarimu l-muallimati/ Aku memuliakan dan menghormati guru-guru perempuan itu Contoh tanda nasab yang dinyatakan dengan ya :


/Yakhuzu wa yaqrau l-kitabayni/ Dia mengambil dan membaca dua buku itu Dari semua contoh tanda nasab di atas, akuusatif menjabat sebagai maful bih. C. Kasus Jenetif Mamul pada kasus jenetif ini terletak pada huruf jarr, dan tand adalah dengan : kasrah, ya, dan fathah. Contoh tanda Irab yang berharkat kasrah : jarrnya bahwa mamul dalam kasus


/Uhibbu lawna wa syakla l-maktabi/ Aku menyukai warna dan bentuk meja itu Contoh tanda majrur yang dinyatakan dengan ya :


/Ahsin wa ati biwalidayka/ Berbuat baiklah dan patuhlah dengan kedua orang tuamu Contoh tanda Irab berharkat fathah :


/Arifna ikhlasa wa taata Ibrahima bi l-LAHI/ Kami mengetahui keikhlasan dan ketaatan nabi Ibrahim terhadap Allah.

2002 digitized by USU digital library

5.4.2 Letak mamul dalam kalimat Dalam jumlah tanazu fi lamal , dikenal peristilahan amil dan mamul. Kedua istilah ini saling berhubungan satu dengan yang lainnya bembentuk satu jumlah. Pada pembahasan tentang letak ini, bahwa kalimat yang menjadi mamul terletak sesudah amil yang berbilang dua atau lebih. Amil-amil ini menempati tempat yang beriringan dan tidak dapat di antarai atau diawali oleh huruf yang beramal selain huruf ataf. Masing-masing amil bertujuan langsung kepada mamul dalam segi pengamalan. Akan tetapi salah satu di antaranya yang dapat beramal kepada jabatan kalimat yang menjadi mamul. Untuk mengetahui amil man yang dapat beramal kepada mamul tersebut , maka penulis mengemukakan dua pendapat ulama nahwu Basrah dan Kuffah tentang hal ini dan sekaligus menerangkan keadaan amil lainnya. Menurut ulama Basrah, bahwa : amil kedua yang lebih utama untuk beramal kepada mamul, alasannya : 1. Karena lebih dekat kepada mamul. 2. Karena adanya pemisahan antara amil, serta antara amil dan mamul. Mamul yang terdiri dari ism zahir berada di samping amil kedua, menyebabkan amil tersebut lebih lazim dan lebih kuat beramal kepada lafaz mamul dari pada amil pertama. 3. Karena adanya huruf ataf atau kata perangkai, yang merangkai dua kalimat. Kalimat kedua mengikut kepada kalimat pertama. Dalam hal ini jumlah kedua yang terdiri dari amil dan lafaz mamul mengikut pada jumlah pertama yaitu amil kedua mengikut pada amil pertama. Sedangkan mamul yang ada yang terletak pada jumlah kedua menjadi milik amil kedua. Oleh karena itu amil ini yang lebih utama. Menurut ulama Kufah, bahwa amil pertama beramal kepada mamul, karena mempunyai dua sebab : 1. Amil pertama lebih dahulu letaknya dan lebih awal disebutkan. 2. Susunan amil pertama ini, tersembunyi damir di dalamnya. Sebelum disebutkan mamul, maka menjadikannya dalam damir. Adapun damir pada amil kedua adalah kembali pada damir amil pertama karena amil ini lebih awal disebutkan.Dan setelah adanya ism zahir dari mamul, maka ia kembali kepada ism damir a mil pertama. Dengan demikian amil pertamalah yang lebih utama beramal kepada mamul. Contoh di bawah ini adalah menurut ulama Basrah :


/Raaytu wa syakartu akhaka/ Aku melihat dan aku berterimakasih kepada saudaramu


/Akramtu wa syakarani t-talibani/ Aku memuliakan dan bersyukur kepadaku dua orang mahasiswa itu Dalam contoh 1 dan 2 di atas terdapat kata / syakartu dan adalah amil kedua dari setiap jumlah yang beramal kepada /syakarani/ /at-talabani/ sebagai mamul. kalimat /akhaka/ dan

2002 digitized by USU digital library

10

Selanjutnya dari jumlah kedua di atas kembali dituliskan, tetapi memakai cara penulisan ulama Kufah. Hal ini merupakan contoh ulama Kufah adalah sebagai berikut :


/Raaytu wa syakartuhu akhaka/ Aku melihat saudaramu dan aku berterimaksih padanya


/Akramtu wa syakarani talibayni/Aku memuliakan dua orang mahasiswa itu dan keduanya berterima kasih padaku. Kata raaytu dan akramtu dan kepada mamul, yaitu kalimat akhaka dan at-talibayni. Menurut ulama Basrah dan Kufah dalam hal tanazu ini, keduanya sependapat bahwa salah satu amil dari kedua amil itu beramal pada ism zahir, tetapi mereka berselisih tentang amil yang diutamakan untuk beramal. Sebagaimana contoh di atas. Dari contoh-contoh itu dapat dibandingkan sistem yang dipakai ulama Basran dan yang digunakan ulama Kufah. jelas terlihat adanya perubahan dalam segi penulisan tetapi mempunyai maksud yang sama. Kedua sistem ini diungkapkan berdasar dari pendengaran orang Arab. Adapun keadaan amil yang lain selain amil yang beramal yaitu amil muhmal dan amil yang batal dan dianya beramal pada ism damir dan mamul tersebut. Ini dapat jelas terlihat, apabila mamul terdiri dari isim musanna atau jama Untuk mengetahui tentang ini penulis akan menguraikan tentang bilangan. 5.4.3 Bilangan mamul dalam kalimat Berbicara mengenai bilangan , maka terbayang dalam fikiran kita berupa angka-angka, yaitu angka satu, dua , tiga ,dan seterusnya. Karena memang demikianlah bilangan itu. Tetapi dalam pembahasan tentang bilangan ini, tidak demikian. Adapun bilangan di sini adalah di dalam kalimat. Kalimat yang dimaksud yakni mamul di dalam jumlah tanazu fi l-amal. Dalam pembahasan tentang bilangan ini, bersumber pada mamul, di mana penulis membahasnya dari dua sisi, yaitu dari bilangan mamul itu sendiri dan dari kalimat yang menjadi mamul yang berbilang mufrad, musanna, dan jama. 5.4.3.1 Dari sisi mamul Sebagaimana teal kita ketahui dalam pembahasan sebelumnya, bahwa ma,mul dalam jumlah tanazu fi l-amal adalah satu yang diperebutkan oleh beberapa amil. Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan bahwa mamul tersebut bisa lebih dari satu. Hal ini dijelaskan Mustafa AlGhalayayni, (1980 : 20) dalam definisinya tentang tanazu :

:
/At-tanazu : an yatawjjaha amilani mutaqaddimani aw aksarun ila mamulin wahidin mutaakhkhirin aw aksarin/ Tanazu adalah : bahwasanya dua amil yang didahulukan tempatnya atau lebih menuju kepada mamul yang satu atau lebih yang diakhiri tempatnya.

2002 digitized by USU digital library

11

Beberapa ahli nahwu lebih banyak membahas mamul yang berbilang satu dalam jumlah tanazu ini. Di antaranya empat definisi tanazu yang akan penulis kemukakan , hanya satu definisi yang menyebutkan bahwa mamul bisa lebih dari satu. Hal ini tergantung pada ungkapan dan maksud dari jumlah tersebut, ada yang sederhana susunannya, dan jelas maksudnya , tetapi ada juga yang luas dengan mengembangkan kalimat, sehingga susunannya lengkap dan difahami maksud dari jumlah tersebut. Untuk mengetahui lebih jelas, contoh : maka penulis mengemukakan beberapa


/Tusabbihuna wa tuhammiduna wa tukabbiruna dubura kulla salati salasa wa salasina/ Kamu bertasbih dan bertahmid dan bertakbir di belakang semua salat sebanyak tiga puluh kali.


/Taktubuna wa taqrauna wa tuhfazuna n-nususa l-adabiyyata kulla usbuin/ Kamu menulis ,mambaca dan menghafal nas-nas sastra setiap minggu. Contoh pertama menunjukkan bahwa : amil terdiri dari kalimat tusabbihuna,tuhammiduna, dan tukabbiruna, sedangkan mamulnya ada dua yaitu pada kalimat /dubura/ dan /salasa wa salasina/. Pada contoh kedua terdiri dari tiga amil dan dua mamul, yaitu : Amil : /taktubuna/, /taqrauna/ dan /tuhfazuna/ Mamul : /an-nususa/ dan /kulla/ Dari definisi dan contoh-contoh di atas, penulis membandingkan bahwa jumlah bilangan mamul lebih kecil dari bilangan amilnya. 5.4.3.2. Dari sisi kalimat pada mamul Dalam pembahasan tentang bilangan selanjutnya, bahwa mamul tersebut terdiri dari kalimat yang berbilang. Ism dilihat dari segi jumlah bendanya terdiri dari : ism mufrad, musanna, dan jamak. Dalam hal ini penulis juga akan membahas amil, karena mamul tersebut berhubungan kepada amil yang muhmal (batal dalam beramal), di mana amil ini beramal kepada isim damir mumal yang diperebutkan. Apabila mumal berbilang mufrad, maka amil muhmal berbentuk mufrad. Demikian juga bila berbilang musanna,amil muhmal berbentuk musanna. Dan berbilang jamakmamulnya, maka amil muhmal berbentuk jamak. A. Jenis Mufrad Isim mufrad adalah : suatu lafaz yang menunjukkan satu atau kata benda tunggal. Dalam hal ini, lafaz mamul terdiri dari ism mufrad. Dan dilihat dari jenis kelaminnya, maka ism terbagi kepada : muzakkar dan muannas. Dan mengenai tanda Irab atau kasus dari ism mufrad ini adalah sebagai berikut : tanda kasus nominatifnya dammah, tanda kasus akkusatifnya fathah, dan tanda kasus jenetifnya kasrah.

2002 digitized by USU digital library

12

Misal :


/Wa ma karu wa makara l-LAHU/ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya dan ALLAh membalas tipu daya mereka itu. (Q. 3 : 54)


/Anastu wa saidtu bi z-zairati l-adibati biha/ Aku gembira dan bahagia dengan pengunjung sastrawan itu dengannya. Dalam bentuk muannas :


/Anastu wa saidtu bi z-zairati l-adibati biha/ Aku gembira dan bahagia dengan pengunjung sastrawati itu, dengannya. Dalam contoh pertama , kalimat /ALLAHU/ adalah mamul menjabat sebagai fail dengan tanda kasus nominatifnya dammah. Sedangkan kalimat /makaru/ dan /makara/ adalah amil-amilnya. Melihat susunan kalimat , maka amil kedua yang dapat beramal kepada ism zahir tersebut, dan amil pertama disebut sebagai muhmal, beramal kepada ism damir dari kalimat /ALLAHU/. Pada contoh kedua terdapat duan amil, yaitu : /anastu/ dan /saidtu/, keduanya memperebutkan mamul /bi z-zairi l-adibi/ yang menjabat sebagai jarr majrur. Amil-amil ini tidak mempunyai kekuatan untuk beramal kepada mamul tersebut. Tetapi kedua amil ini berhak beramal kepadanya dan yang beramal haruslah salah satu di antaranya. Untuk mengetahuiamil yang beramal dan muhmal, maka kembali kepada pendapat ahli nahwu Basrah dan Kufah. Adapun menurut ulama Basrah, bahwa amil kedua /saidtu/ beramal kepada mamul /bi z-zairi l-adibi/ dan amil /anastu/ muhmal, beramal kepada ism damir mamul zahir yaitu /bihi/. Menurut ulama Kufah bahwa, amil /anastu/ beramal kepada /bi z-zairi ladibi/ dan amil /saidtu/ beramal pada /bihi/. Demikian juga sama halnya dengan muannas dengan damir /biha/. B. Jenis Musanna Isim musanna adalah ism yang menunjukkan dua. Cara membentuk sekaligus tanda ism musanna itu adalah : dari ism mufrad dengan menambah alif dan nun apabila berkasus nominatif, serta ya dan nun ketika berkasus akkusatif dan jenetif. Dalam jumlah tanazu, mamulnya dalam bentuk musanna.


/Akramtu wa syakarani t-talibayni/ Aku memuliakan dan keduanya berterima kasih kepadaku dua orang mahasiswa itu Contoh di atas terdiri dari dua amil , yaitu : /akramtu/ dan /syakarani/, sedangkan mamulnya adalah /at-talibayni/ yang menjabat sebagai maful bih dengan tanda kasus akkusatifnya ya dan nun.

2002 digitized by USU digital library

13

Melihat susunan kalimatnya dalam jumlah tersebut, maka amil yang beramal adalah amil pertama /akramtu/ dan amil kedua /syakarani/ adalah amil muhmal. Adapun amil muhmal ini beramal pada ism damir dari mamul /at-talibayni/, yaitu damir rafa /huma/ yang menjabat sebagai fail dan damir ini dizahirkan yaitu alif musanna yang ada dalam kalimat amil muhmal tersebut. C. Jenis jamak Sebagaimana bahasa Indonesia, bahasa Arab juga mempunyai istilah jamak. Jamak dalam bahasa Indonesia dimulai dari dua, sedangkan dalam bahasa Arab dimulai dari tiga. Adapun ism jama adalah : suatu lafaz yang menunjukkan benda yang berjumlah tiga atau lebih. Jama terbagi tiga, yaitu : jama muannas salim, jama muzakkar salim, dan jama taksir. 1. Jama muannas salim Jama muannas salim adalah : ism yang menunjukkan jama perempuan. Cara pembentukan jama ini dengan menambah alif dan ta pada ism mufrad, sedangkan tanda kasusnya adalah sbagai berikut : nominatifnya dengan dammah , akkusatifnya dengan kasrah dan jenetifnya dengan kasrah. Dan dalam jumlah tanazu, jama ini terletak pada mamulnya. Misal :


/Ijtahadat wa najahna l-mujaddatu/ Telah bersungguh-sungguh dan berhasil para perempuan. Contoh di atas amilnya adalah /ijtahadat/ dan /najahna/, sedangkan mamulnya pada kalimat /al-mujaddatu/ berkedudukan sebagai fail dengan tanda nominatifnya dammah. Apabila dilihat pada bentuk dan susunan kalimatnya maka amil pertama /ijtahada/ beramal pada mamul /al-mujaddatu/ yaitu /hunna/ damir ini ada dalam fiil /najahna/ yaitu nun niswah yang bersambung dengan fiil tersebut. 2. Jama muzakkar salim Jama muzakkar salim adalah : ism yang menunjukkan jama laki-laki . Jama ini ,mempunyai pola tertentu, yaitu : dengan menambah waw dan nun atau ya dan nun.Adapun tanda-tanda kasusnya adalah : tanda ksusu nominatif dengan waw, kasus akkusatif dan jenetif dengan ya. Misal :


/Awqada wastadaffau l-harisuna/ Teal menyalakan api dan memanaskan badan para penjaga itu


/Samitu wa absartu l-qariina/ Aku mendengar dan melihar para pembaca. Contoh pertama amil-amilnya adalah : /awqada/ dan /istadaffau/, sedangkan mamulnya pada kalimat /al-harisuna/ yang menjabat sebagai fail dengan tanda kasus nominatifnya adalah waw. Dilihat dari bentuk

2002 digitized by USU digital library

14

dan susunan kalimat dalam jumlah itu, maka dapat ditentukan di antara kedua amil, amil pertama /awqada/ yang beramal pada mamul /alharisuna/. Dan amil kedua /istadaffau/ adalah mil muhmal yang beramal pada damir ism mamul /al-harisuna/ yakni /huma/ . Damir ini dizahirkan dengan adanya wa jama di dalam fiil /istadaffau/. Contoh kedua pada jumlah ini terdapat dua amil, yaitu : /samitu / dan /absartu/ serta satu mamul dalam kalimat /al-qariina/ yang berkedudukan sebagai maful bih. Dan mempunyai tanda kasus akkusatifnya ya. Kedua amil memperebutkan mamul /al-qariina/ sebagai mafulnya, akan tetapi salah sati si antara kedua amil itu tidak mempunyai kekuatan untuk memilikinya . Untuk menentukan amil yang beramal pada mamul , maka penulis kembali pada pendapat dua ulama nahwu , yaitu : Menurut ulama Basrah bahwa : amil /absartu/ beramal pada mamul /alqariina/ , dan amil / samitu / beramal pada damir dari ism zahir mamul /al-qariina/ yaitu damir nasab /iyyahum/. Dan damir ini tidak dizahirkan. Menurut ulama Kufah : sebaliknya , yaitu : amil /samitu/ beramal pada /alqariina/ dan amil /absartu/ beramal pada damir nasab /iyyahum/ yang tidak dizahirkan. 3. Jama Taksir Jamal taksir adalah jama yang bentuknya tidak mengikuti rumus tertentu. Jama taksir ini mempunyai tanda kasus nominatif , akkusatif dan jenetif sama dengan ism mufrad , tetapi dalam bentuk sighat muntaha l-jumu. Nakirah tanda kasus jenetifnya dengan fathah. Misal ;


/Zafira famadahtuhumu l-junudu/ Telah berhasil pasukan itu lalu aku memuji mereka

:
/Asy-syaru : jufuni wa lam ajfu l-akhillaa innani lighayri jamilin min khalilia muhmalun/ Syair : mereka menjauhiku dan aku tidak menjauhi sahabat-sahabat, sungguhnya aku tanpa berbuat baik dari persahabatanku yang dilalaikan. Dalam jumlah pertama terdapat dua amil yaitu : /zafira/ dan /madahtuhum/ serta mamulnya dalam kalimat /al-junudu/ yang menjabat fail dengan tanda kasus nominatifnya dammah. Dilihat dari susunan kalimatnya , maka ami pertama /zafira/ beramal pada damir mamulnya yaitu damir /hum/ menjabat sebagai maful bih. Damir ini terdapat dalam jumlah amil kedua /madahtuhum/. Pada contoh kedua amil-amil yang ada pada jumlah adalah : /jufina/ dan /lam ajfu/ dan mamulnya dalam kalimat /al-akhlaa/ yang menjabat sebagai maful bih dengan tanda kasus akkusatifnya fathah. Dari kedua amil ini maka dapat ditentukan, bahwa amil /lam ajfu/ beramal pada mamul /al-akhlaa/. Damir ini terdapat dalam fiil /jufuni/ yaitu damir rafa /hum/ yang dinyatakan dengan waw jamaah dalam fiil tersebut dan berkedudukan sebagai fail.

2002 digitized by USU digital library

15

Dari penjelasan dan contoh-contoh yang teal penulis kemukakan di atas, maka mamul dalam jumlah tanazu fi l-amal ini sangat besar artinya bagi amilamil tersebut, baik dalam arti maupun dalam pengalaman. Bagi amil yang beramal, tidak ada persoalan , akan tetapi bagi amil yang muhmal diperlukan pembahasan untuk menentukan damir dari ism zahir mamul dalam hal pengalaman amil muhmal tersebut. Damir ini disebut juga dengan damir aid. Damir aid ini terkadang ditakdirkan atau dizahirkan dengan amil muhmalnya ataupun dibuang (ditiadakan) dan hanya ditakdirkan tersembunyi sesuai dengan jabatan yang dikehendaki amil muhmal itu. 5.5 Pengertian Tanazu Tanazu termasuk salah satu kelompok ism yang mansub. Tanazu tidak dapat berdiri sendiri, karena terdiri dari amil dan mamul yang membentu satu jumlah. Dr. Abdul Hamid Said Thalab (tanpa sebagai berikut : tahun : 82) mendefinisikan tanazu

: :
/At-tanazuu lughatan : at-tajazubu bi l-kalami wa istilahan : an yataqaddama amilani fa aksara ala mamulin ghayra sababi kulla wahidin minhuma talibin lahu min jihati l-na/ Tanazu dalam bahasa berarti : perebutan dalam jumlah . Dan dalm istilah tanazu berarti : mendahului dua amil atau lebih terhadap satu mamul selain beberapa sebab , tiap-tiap satu di antara dua amil meminta untuknya dari segi arti. Misal :


/Ja-a wa dakhala r-rajulu fi l-bayti/ Telah datang dan masuk seorang lelaki di dalam rumah Kata /ja-a/ dan /dakhala/ adalah amil. Sedangkan /ar-rajulu / merupakan mamul. amil diatas merupakan fiil madi dan mamulnya adalah fail. Maka kedua fiil madi ini masing-masing menginginkan /ar-rajulu/ yaitu failnya. 5.6 Pengertian Amil M. Antoki (tanpa tahun : 65) menjelaskan amil , yaitu :

: .
/Al-amilu : yara n-nahatu anna z-zawahira l-Irabiyyata ay taghayyarati awakhiri l-kalami min rafin ila nasbin ila jarrin ila jazmin innam hiya natuijatun tasiru badi l-kalami fi badin . Fasammu l-kalimati l- muassirata amilan. Al-mutaassirata mamulan wa z-zahirata l-Irabiyyata l- hadisata

2002 digitized by USU digital library

16

amalan/ Amilun : ahli nahwu berpendapat sesungguhnya menyatakan Irab - artinya perubahan-perubahan baris akhir kalam dari rafa ke nasab, jarr dan jazam. Sesungguhnya dia merupakan satu hasil yang membekali sebahagian kalimat kepada bahagian yang lain. Maka mereka menamakan kalimat yang membekasi itu adalah : amil dan yang dibekali adalah mamul, dan zahir Irab yang terjadi adalah amal. Adapun kalimat-kalimat yang menjadi amil dalam jumlah sebagai berikut : 1. Semua fiil malum maupun majhul 1. Fiil malum dapat merafakan fail 2. Fiil majhul dapat merafakan nabu l-fail 3. Fiil mutaaddi menasabkan maful bih Misalnya : 1. / Nazala l-mataru/ telah turun hujan 2. / Duriba l-kalbu / telah dipukul anjing itu 3. / Akramtu l-ustaza/ Aku memuliakan guru itu Contoh no. 1, menunjukkan bahwa kalimat /nazala/ adalah fiil madi yang malum merafakan kalimat /al-mataru/ pada tempat fail. Demikian juga pada contoh no. 2, kalimat /duriba/ adalah fiil madi majhul merafakan kalimat /al-kalbu/ sebagai naibu l-fail. Dan contoh no. 3, yang termasuk fiil mutaaddi adalah pada kalimat /akramtu/ , sedangkan kalimat /al-ustazu/ adalah maful bih yang berharkat mansub. Maka kalimat-kalimat /nazala/ ,/duriba/, dan /akramtu/, kesemuanya termasuk amil. 2. Semua huruf jarr yang menjarkan ism Misal :


/Fi qulubihim maradun/ Dalam hati mereka ada penyakit Kata /fi/ adalah huruf jarr yang menjarrkan kalimat /qulubihim/. Huruf jarr tersebut adalah amil, karena menjarkan ism sesudah huruf tersebut. 3. Semua fiil naqis Fiil yang beramal merafakan ism dan menasabkan khabar. Misal :


/Kana l-muslimuna akhwatan/ Adalah orang-orang Islam itu bersaudara Kata /kana/ adalah fiil naqis beramal., merafakan ism yaitu /almuslimuna/ dan menasabkan khabar yaitu /ikhwatan/. 4. Kalimat-kalimat yang menjadi syibhul malum dan syibhul jumlah Adapun syibhul malum itu adalah : ism yang beramal seperti fiil . Yang termasuk syibhul malum antara lain : ism fail, ism tafdil, masdar dan lainlain. Misal :


/Faqiun lawnuha/ Yang kuning tua warnanya


/Huwa akbaru minni sinnuhu/ Dia lebih tua dari saya umurnya


/Al-hillu maytatahu/ Halal bangkainya.

2002 digitized by USU digital library

17

Pada contoh pertama kalimat /faqiun/ adalah ism fail , dengan demikian kalimat /lawnu/ merupakan fail dari ism fail tersebut. Pada contoh kedua kalimat / akbaru/ adalah ism tafdil yang beramal sebagai fiil, selanjutnya /sinnu/ merupakan fail dari ism tafdilnya. Pada contoh ketiga, kalimat /Al-hillu/ adalah masdar yang beramal seperti fiil, dengan demikian /maytatu/ fail dari /al-hillu/. Maka kalimat /faqiun/, /akbaru/, dan /al-hillu/ termasuk amil. Kemudian syibhul majhul adalah : yang menyerupai kata kerja pasif. Yang termasuk syibhul majhul adalah isim maful. Misal :


/Hiya mahmudatun khuluquha/ Dia terpuji akhlaknya Kata /mahmudatun/ adalah ism maful yang beramal seperti fiil majhul , sedangkan kalimat /khuluqu/ adalah naibu l-fail dari / mahmudatun /. Dengan demikian ism maful tersebut adalah amil. 5. Inna dan saudara-saudaranya Inna dan saudara-saudaranya ini beramal menasabkan ism dan merafakan khabar yang berasal dari mubtada dan khabar. Misal :


/Inna l-LAHA samiun basirun/ Sesungguhnya Allah Maha Mendengan lagi Maha Melihat. Dalam contoh di atas , terdapat huruf /Inna/ yang beramal menasabkan (mengakkusatifkan) kalimat /Al-laha/ serta merafakan (menominatifkan) kalimat /samiun/, maka huruf /inna/ di atas adalah amil. 6. Mubtada Mubtada itu merafakan khabar mubtada , karena itu mubtada termasuk amil. Misal :


/An-namiru syarisun/ Macan itu buas Kata /an-namiru/ adalah amil yang menjabat sebagai mubtada 7. Semua amil yang menjazamkan fiil mudari Misal :


/Lam yalid/ Dia tidak beranak (Q : 112,3). Huruf /lam/ beramal menjazamkan fiil mudari /yalid/ maka huruf tersebut adalah amil. 8. Semua kalimat mudafun ilaih. Misal : yang menjadi mudaf, karena menjarkan


/Kitabu l-waladi jadidun/ Kitab anak itu baru Kata /Kitabu/ adalah mudaf beramal pada kalimat sesudahnya menjarkan mudaf ilayh. yaitu

() dan fati-a( Zala ( , )bariha (,)infakka )berfungsi seperti kana ( ) dengan syarat disahului oleh kata tugas (

2002 digitized by USU digital library

18

harf (un) ) nafi, yaitu ma ( ) untuk kata kerja masa silam ( filu lmadi ) dan la ( ) untuk kata kerja masa kini ( filu l-mudari ). Kata kerja ( fiil ) kana dan saudara-saudaranya ( kana wa akhawatuha / ,) sebagaimana yang tersebut di atas dapat dibagi menjadi 3 ( tiga ) kelompok : 1. Kata kerja yang mempunyai bentuk sempurna untuk kata kerja masa silam ( fiil madi), kata kerja masa kini ( fiil mudari ), dan kata kerja perintah ( fiil fiil amar ). Yang masuk kelompok ini ialah: kana ( ,) sara ( ,) asbaha , )adha ( ,) zalla ( ,) amsa ( , ) dan bata ( .) Bentuk kata kerja masa kini ( fiil midari ) dari kata kerja di atas ialah : yakunu ( ), yasiru ( ), yusbihu ( ) , yudhi ( ( ( ), yazallu ( ). ) , yumsi ( ), dan yabitu

Sedangkan bentuk kat perintah ( fiil amar ) nya ialah : kun ( ), sir ( ), asbih ( ) , adhi ( ) , zalla ( ) , amsi ( ) , dan bit ( ). 2. Kata kerja yang mempunyai bentuk kata kerja masa silam ( fiil madi ) dan kata kerja masa kini ( fiil mudari ). Yang masuk kelompok ini ialah : zalla ( ) , bariha ( ), Infakka ( ) , dan fati-a ( ). Untuk bentuk kata kerja masa silam (fiil madi) dari kata kerja di atas adalah dengan menambahkan kata tugas ( huruf nafi ) , ma ( ) sehingga bentuknya menjadi : ma zala ( ) , ma bariha ( ) , ma infakka ( ) , dan ma fati-a ( ). Kemudian bentuk kata kerja masa kini ( fiil mudari )nya adalah dengan menambahkan kata tugas ( huruf nafi ) la ( ) di depannya yaitu : la yazalu ( ) , la yabrahu ( ) , la yanfakku ( ) la yafta u ( ). 3. Kata kerja yang hanya mempunyai bentuk kata kerja masa silam ( fiil madi ) saja, yaitu : ma dama ( ) dan laysa ( ). 5.1.1 Kana dan Saudara-saudaranya Dapat Menjadi Fiil Tam Sebagaimana teal kita ketahui bahwasanya kana dan saudara-saudaranya ) termasuk ( kana wa akhawatuha / kata kerja (fiil) naqis, akan tetapi , kata kerja ini dapat pula menjadi kata kerja (fiil) tam, dengan pengertian hanya membutuhkan pelaku ( fail ) saja.

2002 digitized by USU digital library

19

Kana dan saudara-saudaranya ( akana wa akhawatuha / yang dapat menjadi kata kerja tam apabila : a. Kana ( menjadi Misal :

berarti didapati dan

kadang-kadang berarti


b. Sara ( Misal :

/Kana sy-syarru munzu kana l-insanu/ Didapati kejahatan itu semenjak adanya manusia

) berarti berpindah


/Sara l-amru ilayka/ Persoalan itu berpindah kepadamu c. Zalla ( Misal :

) berarti tetap, lama atau terus menerus


/Lan nataqaddam iza yazallu l-kaslu/ Kita tidak akan maju apabila kemalasan itu tetap ada d. Bariha ( Misal :

) berarti hilang atau pergi


/Hiya tabrahu anni/ Dia (pr) pergi dariku e. infakka ( Misal :

) berarti terlepas atau terpisah

/Haza l-amru infakka ani l-mas-alati/ Perkara ini terlepas dari masalah itu ) dan infakka ( ) apabila Khusus untuk Bariha ( tidak didahului oleh kata tugas (huruf nafi) , maka secara langsung menjadi kata kerja (fiil tam). f. Dama ( Misal :

) berarti kekal


/Nahnu masyghuluna damati l-hayat(u)/ Kita sibuk semasih hidup Dama ( ) ini juga menjadi kata kerja (fiil tam) , apabila tidak didahului oleh ma masdariyah.

2002 digitized by USU digital library

20

5.2.2 Keistimewaan Kana Dari Saudara-saudaranya ) mempunyai keistimewaan di antara saudara-saudaranya . Kana ( ) ini adalah : Keistimewaan kana ( ) hanya merupakan tambahan (zaidah) ,apabila terletak di a. Kana ( antara ma taajjub dan fiil taajjub. Misal :

/Ma kana akbara l-bakhirat(a) Alangkah besarnya kapal itu

b. Kana ( ) dan subyeknya (isim) boleh dibuang, apabila terletak sesudah in dan law, huruf syarat. Misal :

/Irji musrian in rakib (an)/ Pulanglah segera bila berkenderaan


/Quli t-taama law qalil(an)/ Makanlah makanan itu walupun sedikit Pada contoh pertama , seharusnya kalimat itu berbunyi :


/Irji musrian in kunta rakib (an)/ Pulanglah segera jika engkau berkenderaan Sedangkan pada contoh kedua, seharusnya kalimat itu :


/Quli t-taama law kana qalil(an)/ Makanlah makanan itu walaupun sedikit c. Kana ( ) saja yang dibuang, sehingga tinggal subyek (ism) dan prediket (khabar)nya, apabila terletak sesudah an masdariyah diganti dengan an zaidah. Misal :


/Amma anta ghaniyyan taftakhirr(u)/ Engkau kaya, karena itu engkau bangga Bentuk asal dari kalimat itu adalah :

/Li an kunta ghaniyyan taftakhirr(u)/ Karena engkau kaya, engkau bangga

2002 digitized by USU digital library

21

d. Dibuang semuanya tanpa ganti, bila didahului in. Misalnya seseorang yang dilarang bergaul dengan orang yang jelek budi pekertinya, maka ia menjawab dengan perkataan : /Ana uasyiruhu wa in/ Saya bergaul dengannya walaupun Maksudnya :

...


/Ana uasyiruhu wa in kana fasidu l-akhlaq(i)/ Saya bergaul dengannya, Walaupun jelek budi pekertinya e. Kana ( ), subyek (isim) dan prediket (khabar) nya dibuang semua dan diganti dengan tambahan (ma zaidah), apabila didahului oleh in yang berupa huruf syarat. Misal :

...
/Ifal haza imma la/ Kerjakan ini, bila tidak Bentuk asalnya adalah :

/Ifal haza imma in kunta la tafal ghayrahu/ Kerjakan ini , bila engkau tidak mengerjakan yang lain masa kini (fiil

f. Boleh dibuang huruf nun pada kata kerja mudari)nya, apabila berkasusu jussif (majzum) dengan sukun (_____). Misal :


/Wa lam aku baghiyyi)an)/ Saya bukan wanita pelacur 5.1 Hukum Subyek Dan Prediket Kana Dan Saudara-saudaranya Subyek (isim) dan prediket (khabar) bagi kana dan saudara-saudaranya (kana wa akhawatuha /

mempunyai kaidah tertentu.

Kaidah yang berhubungan dengan subyek (isim) dan prediket (khabar) bagi kana dan saudara-saudaranya berlaku hukum subyek dan prediket (mubtada dan khabar), karena berasal dari kalimat nominal (jumlatul ismiyyah). Oleh sebab itu, maka berlaku ketentuan sebagai berikut : a. Harus sama dalam bentuk tunggal (mufrad). Misal :


/Sara l-jawwu safiyy(an)/ Udara itu menjadi bersih


/Kanati l-mumarridatu sabir(an)/ Perawat itu orang yang sabar

2002 digitized by USU digital library

22

b. Sama-sama dalam bentuk dua (musanna). Misal :


/Kana l-waladani jalisayni/ Dua anak (lk) itu duduk


/Kana t-talibani masyghulayni/ Dua mahasiswa itu sibuk c. Sama-sama dalam bentuk banyak (jama) Misal :


/Kana l-muslimuna mutaqaddimi(na)/ Orang-orang Islam itu maju


/Kanati l-muwallidatu nasyitat(in)/ Para bidan itu rajin Akan tetapi, apabila subyek (isim) kana dan saudara-saudaranya berupa jamak teruarai (jamak taksir) yang bukan dari kelompok berakal, maka prediketnya (khabar)nya berupa bentuk tunggal untuk perempuan (mufradu l-muannas) Misal :

/Kana t-tuyuru tairat(an)/Burung-burung itu terbang


/Kana l-fawakihu makulat(an)/ buah-buahan itu dimakan 5.2 Pembagian Subyek dan Prediket Kana dan Saudara-saudaranya Subyek (isim) kana dan saudara-saudaranya ada 3 (tiga) bahagian, yaitu: a. Ismu s-sarih Ismu s-sarih ialah setiap kata benda yang dapat menjadi subyek (isim) kana dan saudara-saudaranya (kana wa akhawatuha / kecuali kata ganti terpisah dan kata kerja yang didahului masdar (masdaru l-muawwal) Misal :

), oleh huruf


/Kana l-waladu zakiyy(an)/ Anak (lk) itu pintar


/Laysa l-azharu jamilat(an)/ Bunga-bunga itu tidak indah

2002 digitized by USU digital library

23

b. Ismu d-damir Ismu d-damir ialah kata

ganti diri. Kata

ganti diri ini dapat pula menjadi

subyek (isim) kana dan saudara-saudaranya (kana wa akhawatuha/

.)
Misal :


/Kuntu fi l-mustafa/ Saya di rumah sakit


/Sirtuma akhawayya/ Engkau dua orang (lk) menjadi saudaraku c. Masdar Muawwal Masdar muawwal ialah kata kerja (fiil) yang didahului oleh huruf masdar. seperti halnya ismu s-sarih dan ismu d-damir, maka masdar muawwal juga dapat menjadi subyek (isim) kana dan saudara-saudaranya. Misal :

/Kana an tajtahida mahmud(an)/ Kesungguhanmu terpuji


/Kana an taktuba jamil(an)/ Tulisanmu indah Sedangkan prediket (khabar) kana dan saudara-saudaranya dibagi kepada 3 (tiga) bahagian, yaitu : a. Khabar Mufrad Khabar mufrad ialah prediket (khabar) yang bukan berupa jumlah walaupun terdiri dari kata benda yang menunjukkan dua (musanna) atau banyak (jamak). Misal :


/Kana l-abu tajir(an)/ Ayah seorang pedagang


/Laysa r-rijalu atibbau/ Orang-orang (lk) itu bukan dokter Yang menjadi prediket (khabar), dalam contoh di atas adalah kata tajir(an)( ) atibbaa ( . )Kedua prediket (khabar) tersebut berupa khabar mufrad. b. Khabar Jumlah Khabar julah ini dibagi kepada dua bahagian, yaitu prediket yang berupa kalimat verbal (jumlatu l-filiyyah) dan prediket yang berupa kalimat nominal (jumlatu l-ismiyyah). Khabar jumlah filiyyah ialah prediket (khabar) yang terdiri dari jumlah kata kerja (fiil) dan pelaku (fail) atau jumlah kata kerja (fiil) dan pengganti pelaku (nabu l-fail).

2002 digitized by USU digital library

24

Misal : /Bata l-waladu yanamun(a)/Anak-anak (lk) itu menjadi (waktu malam) tidur


/Laysa l-ummalu yasytahgilun(a)/ Para buruh itu tidak bekerja Yang menjadi prediket (khabar) , yanamun(a) ( dalam contoh di atas, adalah kata

)dan yasytaghilun(a) ()

Khabar jumalh ismiyyah ialah prediket (khabar) yang berupa jumlah subyek dan prediket (mubtada dan khabar). Oleh karena itu ,dalam prediket (khabar) kana dan saudara-saudaranya yang berupa jumlah ismiyyah, sudah pasti terdapat dua subyek (mubtada) dan dua prediket (khabar). Misal :


/Kana s-sabburatu syakluha murabbaat(un)/ Papan tulis itu bentunya segi empat


/Kana l-kitabu ghilafuhu jadid(un)/ Buku itu sampulnya baru c. Khabar Syibhu l-Jumlah Khabar syibhu l-jumlah adalah prediket (khabar) yang menyerupai jumlah. Prediket (khabar) kana dan saudara-saudaranya yang berupa syibhu ljumlah ini dibagi dua, yaitu : jar majrur dan zaraf. - Khabar syibhu jumlah yang berupa jar majrur. Misal :


/Kana l-ma-u fi l-kub(i)/ Air itu di dalam gelas


/Kana l-kitabu ala l-maktab(i)/ Buku itu di atas meja - Khabar syibhu l-jumlah yang berupa zaraf. Misal :


/Lastu amamahum/ Saya bukan di depan mereka


/Kanati s-saatu tahta l-wisadat(i)/ Jam itu di bawah bantal

2002 digitized by USU digital library

25

5.3 Pemakaiannya Dalam Kalimat Sebagai lanjutan dari uraian mengenai kana dan saudara-saudaranya, maka penulis mencoba untuk memberikan sedikit gambaran tentang pemakaian kana dan saudara-saudaranya dalam kalimat. Dengan demikian maka akan terlihat bagaimana bentuknya apabila dihubungkan dengan kata benda tunggal (ismu l-mufrad) , kata benda untuk dua (musanna), kata benda jamak untuk laki-laki ( jamu l-muzakkari s-salim), kata benda jamak untuk perempuan (jamu l-muannasi s-salim) dan kata benda jamak terurai (jamu t-taksir) Adapun bentuknya adalah sebagai berikut : a. Yang dihubungkan dengan kata benda tunggal (isim mufrad) Misal :


/Sara t-taamu laziz(an)/ Makana itu menjadi lezat


/Asbaha l-muwazzafu masyghul(an)/ Pegawai itu menjadi (waktu pagi) sibuk b. Yang dihubungkan dengan kata benda unruk dua ( musanna ). Misal :


rajin

/Bata t-talibani nasyitayn(i)/ Dua mahasiswa itu (waktu malam)


/Ma zalati l-madrasatani qaribatayn(i)/Dua sekolah itu senantiasa dekat -Yang dihubungkan dengan kata benda jamak untuk laki-laki (jamu lmuzakkari s-salim) Misal :


/Zalla l-muslimuna nasirin(a)/ Orang-orang Islam (lk) itu menjadi (waktu tengah hari) penolong


/Sara l-kasiluna nadimin(a)/ Orang-orang pemalas itu menjadi menyesal - Yang dihubungkan dengan kata benda jamak untuk perempuan (jamu lmuannasi s-salim)

2002 digitized by USU digital library

26

Misal :


rajin

/Ma barihati t-talibatu nasyitat(i)/ Para mahasiswa itu senantiasa


/Ma fatati s-sabiratu farihat(in)/ Orang-orang yang sabar (pr) itu senantiasa gembira - Yang dihubungkan dengan kata benda jamak terurai (jamu t-taksir) Misal :


/Kanati l-makatibu jadidat(an)/ Meja-meja itu baru


senantiasa

/Ma fati-ati l-awqatu nafiat(an)/ Waktu-waktu itu berguna

Dalam contoh-contoh di atas, semua kata kerja (fiil) kana dan saudarasaudaranya tetap dalam bentuk tunggal (mufrad) , walaupun kana dan saudara-saudaranya tersebut dihubungkan dengan kata benda untuk dua (musanna) ataupun kata benda untuk jamak , baik kata benda jamak untuk laki-laki , kata benda jamak untuk perempuan maupun kata benda jamak terurai.

2002 digitized by USU digital library

27

B A B IV

KESIMPULAN

Setelah penulis mengutarakan uraian pembahasan tentang kata kerja kana da saudara-saudaranya, maka penulis mengambil beberapa intisari yang tercakup dalam uraian bab-bab sebelumnya. Adapun intisari uraian ini adalah sebagai berikut : 1. Kata kerja kana dan saudara-saudaranya adalah jenis kata kerja yang khusus terdapat pada kalimat nominal (jumlatu l-ismiyyah), yang terdiri dari saubyek dan prediket (mubtada-khabar). 2. Kata kerja kana dan saudara-saudaranya ini , merupakan faktor yang mempengaruhi perobahan bunyi akhir suatu kata benda 3. Kalimat nominal di dalam bahasa Arab, yang terdiri dari subyek dan prediket (mubtada-khabar) , apabila masuk kata kerja kana dan saudara-saudaranya, maka subyek itu disebut isim kana dan prediketnya dinamai khabar kana. 4. Kana mempunyai keistimewaan di antara saudara-saudaranya 5. Subyek dan prediket kana dan saudara-saudaranya berlaku ketentuan sbb: 1. Sama-sama dalam bentuk mufrad 2. Sama-sama dalam bentuk musanna 3. Sama-sama dalam bentu jamak Tetapi , apabila subyeknya berupa jamak terurai , yang bukan dari kelompok berakal, maka prediketnya harus dalam bentuk tunggal untuk perempuan (mufradu l-muannas) 6. Subyek kana dan saudara-saudaranya ada 3 (tiga) , yaitu : a. Ismu s-sarih. b. Kata ganti c. Masdar muawwal 7. Prediket kana dan saudara-saudaranya juga ada 3 (tiga) , yaitu : a. Khabar mufrad b. Khabar jumlah c. Khabar syibhu jumlah

2002 digitized by USU digital library

28

DAFTAR BACAAN Ahmad Salabi, DR. 1981. Gramatika Bahasa Arab. Bandung Al-Maarif Al-Ghalayayni, Asy-Syekh Mustafa. 1991. Jamiu d-Durusi l-Arabiyyati. Libanon : Al-Matbaatu l-Asriyyah. Muhammad, Abubakar, Drs. 1982. Bintang Tata Bahasa Arab. Jakarta : Bulan

Nasr, Raja T. 1967. The Structure of Arabic. Beirut : Libraire Du Liban. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa . 1976. Pedoman Penulisan Bahasa Arab dengan Huruf Latin. Kumpulan naskah hasil sidang VIII Majelis Bahasa Indonesia Malaysia, tanggal 9 13 Agustus 1976. Sulaiman , Kasim . 1981. Pramasatra Arab. Jakarta : Prakarsa Belia.

2002 digitized by USU digital library

29