Anda di halaman 1dari 3

Tasawuf, Ajaran Menyimpang . !

BETUL apa yang pernah dikatakan oleh seorang ustadz dalam sebuah ceramahnya bahwa apabila kita salah menempuh manhaj atau metode dalam memahami Islam ini, maka cepat atau lambat kita akan terseret kepada berbagai kesesatan. Memahami Islam tidak berdasarkan kepada pemahaman Salafus Shaleh - pendahulu Islam yang shaleh yakni para sahabat, tabiin dan tabiit tabiin yang telah diridhai oleh ALLAH Subhanahu wa Ta'ala sebagaimana tersebut dalam Surah At-Taubah ayat 100 kemudian sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (yang terjemahannya) : Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka (Hr.Bukhari), - maka kita tidak akan dapat memahami Islam yang benar dan otentik, sehingga kita juga tidak bisa mengamalkannya dengan benar baik pada tataran pelaksanaan kewajiban sebagai hamba Allah maupun dalam menjawab tantangan zaman dengan segala dampaknya. Akibat selanjutnya kita akan mencari alternatif yang dianggap bisa menjadi solusi problema kehidupan selain apa yang diturunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ini sama saja menganggap bahwa Islam ini belum sempurna sehinga perlu penambahan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang terjemahannya) : Pada hari ini (Arafah) Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku cukupkan nikmat-Ku untukmu dan aku ridhai Islam menjadi agamamu(AlMaidah:3). Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengarkan (Al-Anfaal:20). Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya) : Aku tinggalkan dua perkara kepada kalian dimana kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh kepadanya yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya (Hr.Al-Hakim dalam AlMuwaththa). Oleh karena itu, barangsiapa yang membuat perkara-perkara baru dalam agama ini dan menganggapnya baik dibanding dengan apa yang diturunkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah durhaka kepada-Nya dan tempat akhirnya adalah neraka. Tasawuf yang akhir-akhir ini begitu gencar dipromosikan oleh para akademisi perguruan tinggi Islam (Harian Pagi Fajar ed. 30 Agustus 2001) yang dianggap bersumber dari Islam dan dapat mengatasi krisis spiritual, sama sekali tidak ada dasarnya dari Al-Quran, As-Sunnah dan atsar (jejak) para pendahulu Islam ini. Sangat banyak ajaran tasawuf yang menyimpang dari Islam, namun dalam tulisan ini hanya sebagian kecil yang akan dibicarakan. Salah satu penyimpangannya adalah tujuan yang mereka tetapkan dalam hidup ini yaitu menyatu dengan Allah sama dengan ajaran Hindu (reinkarnasi). Padahal hidup kita adalah untuk beibadah kepada Allah (Adz Dzaariyaat:56) dan mengharap keridhaan-Nya (Al-Anaam:162) guna berjumpa dengan Allah di akhirat kelak. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang terjemahannya) : Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya (Al-Kahfi:110). Untuk itu mereka (sufi) membagi tiga tingkatan dalam beragama yaitu syariat (samina wa atana, menjalankan perintah dan hanya cocok untuk orang awam), marifat (orang sudah memahami esensi ajaran agama dan sudah dapat

mencari alternatif yang dianggap baik), dan tingkatan yang tertinggi adalah hakikat (sudah tersingkap tabir kegaiban dan dapat menyatu dengan ALLAH - wihdatul wujud) dan juga sudah dapat meninggalkan pelaksanaan syariat karena syariat hanya dianggap sebagai tangga untuk mencapai hakikat. Hal ini mirip dengan pembagian tahapan pengembaraan umat beragama dalam menganut agamanya menurut Iqbal yang dikutip oleh Hamka Haq (Dosen IAIN Alauddin Makassar) dalam tulisannya, Perlunya Tasawuf pada Era Reformasi yaitu tahap keyakinan, tahap pemikiran dan tahap penemuan. Pembagian seperti itu sama sekali tidak ada dalam AlQuran, As-Sunnah dan tidak pernah dilakukan oleh generasi terbaik umat manusia sepanjang sejarah kehidupan. Selain itu, juga bertentangan dengan ajaran Islam bahwa sebelum beramal dan berkata, harus berilmu dulu, bahkan untuk bertauhid kunci masuk Islam yakni mengikrarkan syahadat Laa Ilaaha Illallah - harus dipahami dahulu. Allah Taala berfirman (yang terjemahannya) : Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Sembahan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mumin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (Muhammad:19). Artinya tingkatan yang pertama justru tingkat marifat (pengenalan) atau tahap pemikiran menurut Iqbal. Lantas apakah kita akan mendahulukan bualan seorang Iqbal dan semacamnya dari pada Al-Quran dan As-Sunnah ?. Islam mempunyai perbedaan yang sangat mendasar dengan tasawuf yaitu perbedaan dalam hal sumber-sumber pengambilan aqidah dan syariat. Islam menjadikan sumber pengambilan aqidah terbatas pada wahyu (Al-Quran dan As-Sunnah Ash Shahihah) berdasarkan pemahaman Salafus Shaleh, dan pengambilan syariat adalah wahyu, ijma' (kesepakatan Salafus Shaleh dan ulama pengikut mereka), dan qiyas (perbandingan) yaitu pengambilan hukum dengan membandingkan kepada hukum-hukum yang sudah ada ketegasannya dari nash Al-Quran dan Hadits dengan syarat kasusnya sama, tegas dan jelas. Sedangkan tasawuf, sumber pengambilan aqidah maupun syariat adalah mimpimimpi, bisikan jin, Khidir, orang-orang mati, dan syekh-syekh mereka, sehingga aqidahnya berlainan dengan aqidah Islamiyah dan mempunyai syariat yang bermacam-macam karena setiap syekh (orang yang merasa sudah sampai pada tingkat marifat dan hakikat), masing-masing membuat tarekat sendiri-sendiri. Apakah aliran seperti ini benar ? Oleh karena sangat longgar dalam hal shahih tidaknya suatu sumber atau dalil, maka paham tasawuf berada dalam posisi yang sangat strategis bagi kesesatan, seakan-akan sebagai pangkalan tempat transitnya berbagai paham yang menyimpang. Semuanya bisa bertemu di arena tasawuf dan ramai-ramai menggerogoti Islam, dan puncak tasawuf adalah ketidakjelasan, yaitu kemusyrikan, berupa wihdatul wujud (bersatunya makhluk dengan Tuhan) dan wihdatul adyan (penyatuan agama-agama) yang hal itu diajarkan oleh syekh kabir tasawuf yaitu Ibnu Arabi yang telah dikafirkan oleh 37 ulama pada zamannya. Paham ini sejalan dengan paham Pluralisme atau Inklusivisme - yang merupakan peluru Yahudinisasi - yaitu paham yang menganggap bahwa semua agama itu sama. Sungguh paham yang sangat menyesatkan !. Karena tasawuf dianggap bersumber dari Islam oleh kaum muslimin sendiri yang ternyata sangat jauh dari Islam, maka musuh-musuh Islam

tidak menyia-nyiakan peluang ini yaitu dengan membelajarkan sarjanasarjana muslim yang dianggap berpengaruh di kalangan kaum muslimin ke negeri kafir dengan dalih Studi Islam yang ternyata hanya mempelajari tasawuf. Yang sangat mengecewakan adalah tindakan pemerintah maupun petinggi-petinggi perguruan tinggi Islam yang selalu mengirim puluhan dosen-dosen IAIN tiap tahun ke negeri kafir. Kami mengharapkan kaum muslimin sudi membaca buku-buku tentang kesesatan Tasawuf di antaranya : Darah Hitam Tasawuf oleh Ihsan I Zhahir, Fakta dan Data Kesesatan Tasawuf oleh Syekh Muhammad bin Jamil Zainu, Tasawuf Belitan Iblis oleh Hartono Ahmad Jaiz, dll., sehingga kita bisa terhindar dari kesesatannya. Ketahuilah bahwa Islam pun mengajarkan tentang mensucikan hati (tazkiyatun nafs) yaitu dengan banyak berdzikir kepada Allah, banyak membaca Al-Quran, banyak mengingat mati, dan tentu saja melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah, baik yang ditegaskan dalam Al-Quran maupun dari Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, karena sesungguhnya beliau diutus untuk mentazkiyah (membersihkan) hati-hati manusia (Al-Jumuah:2). Wallahu Alam. Ditulis oleh Akh Sudirman, dan disadur ulang oleh Abu Abdillah.