Anda di halaman 1dari 8

MONDAY, 20 AUGUST 2007 04:54 Wi-Fi Dan Kesehatan Ragam Kemajuan teknologi internet sudah membawa kita ke zaman

dimana pengaksesan informasi bisa dilakukan dengan mudah, bahkan kini tidak lagi terbatas pada penggunaan sambungan kabel dari komputer ke line telefon. Teknologi nirkabel jaringan lokal yang dikenal dengan istilah kerennya, wi-fi (Wireless Fidelity) itu juga kini semakin berkembang di banyak lokasi umum. WASPADA Online Kemajuan teknologi internet sudah membawa kita ke zaman dimana pengaksesan informasi bisa dilakukan dengan mudah, bahkan kini tidak lagi terbatas pada penggunaan sambungan kabel dari komputer ke line telefon. Teknologi nirkabel jaringan lokal yang dikenal dengan istilah kerennya, wi-fi (Wireless Fidelity) itu juga kini semakin berkembang di banyak lokasi umum. Dampaknya memang secara sekilas sangat positif, namun sebuah teknologi agaknya selalu punya ekses ke banyak aspek kehidupan diantaranya dipandang dari segi kesehatan. Bila sebelumnya banyak yang membahas radiasi elektromagnetik dari banyak perangkat berbasis elektronik mulai dari komputer, ponsel bahkan alat-alat rumah tangga lainnya, belakangan ini yang mulai marak adalah dampak wi-fi ini terhadap radiasi yang ditimbulkannya bagi kesehatan, dan sama seperti teknologi sebelumnya, tentu masih banyak penelitian lanjutan yang dibutuhkan untuk memastikan hal tersebut, dan banyak pula cara untuk bisa berdamai demi mendapatkan manfaat maksimal dari teknologi itu tanpa harus mengorbankan sisi kesehatan kita. Efek Radiasi Elektromagnetik Terhadap Kesehatan Paparan cahaya yang intens termasuk yang ditimbulkan oleh sebuah radiasi elektromagnetik, dalam tubuh manusia akan berpengaruh paling banyak pada pembentukan hormon melatonin yang diproduksi kelenjar pineal di dalam otak, yang memang bersifat sensitif terhadap rangsang cahaya. Ketidakstabilan melatonin ini bisa berdampak pada kelesuan, gangguan tidur, emosi, depresi hingga denyut jantung yang abnormal. Kehidupan kita sehari-hari belum dapat dilepaskan dari medan elektromagnetik yang dihasilkan dari sumber daya listrik seperti pembangkit dan jaringan transmisi-distribusinya, termasuk juga perangkat elektronik rumah tangga mulai dari lampu, penyejuk, multimedia dan peralatan masak elektrik. Pengaruh ini biasanya berbanding lurus dengan tegangan yang dihasilkannya, dan tak jarang pula bersifat paparan lewat kontak berulang yang lama di sekitar perangkat-perangkat atau radiasi elektromagnetik lainnya. Walau begitu, sebuah penelitian dari Perancis yang dimuat dalam sebuah jurnal kesehatan resmi menyebutkan kecil sekali kemungkinan adanya gangguan kesehatan atas radiasi dari alat-alat tersebut karena rata-rata intensitasnya masih berada di ambang yang cukup rendah.

Radiasi Elektromagnetik Wi-Fi Publikasi tentang dampak negatif wi-fi sehubungan dengan radiasi elektromagnetik yang ditimbulkannya ini awalnya datang dari sebuah kasus yang dialami seorang wanita di London, yang datang ke institusi kesehatan dengan keluhan nyeri di bagian kepala, telinga, tenggorokan dan beberapa bagian tubuh lain bila berada dekat dengan peralatan elektronik atau menara pemancar. Perangkat elektronik, memang memiliki radiasi elektromagnetik dimana dalam jumlah besar bisa mengakibatkan gangguan fisiologis hingga memicu pertumbuhan sel-sel abnormal seperti kanker, namun intensitasnya berbeda-beda dan ada patokan batas aman yang dianggap tidak sampai membahayakan kesehatan. Atas keluhan ini berikut anjuran dokter yang mendiagnosanya sebagai suatu keadaan elektrosensitif, wanita tadi melindungi rumahnya dengan perangkat khusus antiradiasi untuk meminimalkan gelombang elektromagnetik dari teknologi wi-fi di sekitar tempat tinggalnya. Beberapa publikasi lanjutan tentang dampak radiasi wi-fi ini kemudian dilansir di Swedia langsung dari pemerintahnya serta di Norwegia lewat pernyataan perdana menterinya sendiri. Lagi-lagi, kemungkinan pemberitaan yang awalnya banyak beredar di dunia maya ini sempat dianggap sebagai hoax, suatu berita isu yang belum bisa diyakini kebenarannya, namun adanya beberapa penelitian yang dilaporkan dari institusi resmi mungkin mulai membuat beberapa pihak bersangkutan mulai memikirkan hal ini. Sebagian laporan resmi tersebut menyebutkan tingginya intensitas radiasi elektromagnetik di beberapa situs lokasi wi-fi, namun tak sedikit juga yang melaporkan bahwa intensitas tadi masih berada di bawah ambang batas senilai dengan radiasi elektromagnetik yang dihasilkan oleh beberapa perangkat yang aman seperti televisi maupun radio, begitupun, kesimpangsiuran ini jelas menimbulkan suatu kekhawatiran bagi sebagian orang yang sangat perduli dengan kesehatannya, belum lagi pengakuan sejumlah aktifis di luar negeri yang bergabung untuk mendesak pembatasan penggunaan wi-fi, yang bagi sebagian masyarakat lain sangat diperlukan itu. Beberapa kampus di negara-negara maju malah sudah ikut melarang penggunaan teknologi ini di sekitar lingkungan pendidikan mereka, meski belum ada kejelasan akan bahayanya. Benarkah Berbahaya? Banyaknya publikasi dari pengaruh radiasi elektromagnetik situs-situs umum penyedia wi-fi tadi turut juga memuat kekhawatiran mereka yang dialamatkan lebih ke penggunaan perangkat komputer dan juga usia penggunanya. Di luar masalah kesensitifan masing-masing individu terhadap radiasi elektromagnetik ini, sebagian ahli menyebutkan bahwa anak-anak jauh lebih sensitif dibandingkan dengan usia dewasa. Pihak Health Protection Agency, Inggris, yang baru-baru ini membuat publikasi resmi pada sebuah program BBC bahwa dampak negatif ini sama sekali belum dapat dibuktikan dan pendapat ini didukung juga oleh sebuah institusi riset kesehatan telekomunikasi disana, dengan argument bahwa pemancar yang digunakan untuk teknologi ini sebenarnya berkekuatan sangat rendah dan tetap ada jarak dengan tubuh yang membuat radiasinya juga berlangsung dalam intensitas yang sangat rendah meski nilai yang mereka dapatkan

berjumlah sekitar tiga kali lebih besar dari radiasi penggunaan ponsel biasa. Mereka menekankan lebih lanjut bahwa bukan radiasi wi-fi lah yang menjadi masalah melainkan cara penggunaan komputer terutama laptop yang sering diletakkan di pangkuan hingga tak lagi memiliki jarak dengan tubuh. Gelombang radio elektromagnetik yang digunakan untuk teknologi wi-fi, menurut mereka lagi berada ratusan kali lebih rendah dibandingkan sebuah microwave dan ambang batas yang ditentukan para ahli, dan meski masih terdeteksi adanya thermal interaction berupa kenaikan level temperatur jaringan tubuh, namun nilainya masih jauh dari ambang batas yang bisa mengakibatkan kerusakan. Pendapat ini diperkuat lagi oleh beberapa institusi lain yang rata-rata mendapat hasil jauh lebih rendah daripada sinyal ponsel ketika digunakan untuk berbicara. Hasil yang mereka laporkan, berada selama setahun di sekitar lokasi wi-fi sebanding dengan penggunaan ponsel dalam keadaan bicara selama 20 menit. Bila kekhawatiran akan radiasi ponsel saja masih banyak diperdebatkan, maka wi-fi sama sekali mereka anggap belum pantas mengundang kekhawatiran tersebut. Begitupun, mereka juga tetap menganjurkan untuk menggunakan teknologi ini dalam batas wajar sekaligus memperhatikan penggunaan perangkat komputer yang juga memiliki intensitas radiasi elektromagnetik yang berbeda-beda. Paling tidak, penggunaan dalam batasan wajar ini bisa mencegah pengaruh buruk terhadap kesehatan yang bisajadi kepastiannya baru ditemukan dalam tahun-tahun mendatang. (dr. Daniel Irawan)

http://www.waspada.co.id/index.php? option=com_content&view=article&id=2137:wi-fi-dankesehatan&catid=28&Itemid=48

Bahaya Efek Radiasi

Radiasi bisa menyebabkan efek yang sangat parah. Untuk itu jangan pernah mengabaikan efek paparan radiasi. Pancaran gelombangnya punya daya tembus besar hingga mencapai organ dalam dalam waktu yang singkat.

Paparan radiasi bisa sangat berbahaya karena dapat mengangganggu proses normal sel. Hanya paparan dosis rendah yang oleh tubuh masih dapat digantikan sel-selnya.

Sejarah mencatat efek radiasi paling besar adalah saat pesawat perang Amerika menjatuhkan bom nuklir di kota Hiroshima, Jepang pada 6 Agustus 1945. Saat itu diperkirakan 80.000 orang terbakar. Tapi dalam bulan-bulan berikutnya, ada 60.000 orang lainnya meninggal karena efek radiasi.

Begitu juga dengan ledakan reaktor nuklir di Chornobyl, Ukraina pada April 1986. Saat kejadian hanya dua pekerja yang tewas. Tetapi pada hari-hari berikutnya, lebih dari 30 nyawa terkena paparan radiasi. Bahkan Badan Tenaga Atom Internasional Chornobyl mengatakan sedikitnya 4.000 orang meninggal atau akan meninggal terkena kanker akibat radiasi. WHO memperkirakan 9.000 orang terkena penyakit akibat ledakan tersebut.

Seperti dikutip dari CBC, Senin (1/3/2010), semakin besar dosis paparan yang diterima seseorang, maka kemungkinannya untuk hidup akan semakin kecil. Penyebab kematian dalam banyak kasus adalah kerusakan sumsum tulang, yang menyebabkan infeksi dan pendarahan.

Paparan radiasi ini bisa berasal dari makanan, air, sinar matahari, tembakau, televisi, sinar-X, detektor asap, material bangunan dan scanner tubuh di bandara.

Dosis dari rongent sinar-X terlalu rendah untuk menyebabkan penyakit radiasi. Sedangkan dosis pengobatan kanker mungkin cukup tinggi untuk menyebabkan beberapa gejala penyakit radiasi. Emisi dari ponsel dan microwave juga rendah.

Penyakit

radiasi

atau

dikenal

sebagai

sindrom

radiasi akut (acute radiation syndrome/ARS) terjadi setelah terkena paparan radiasi dalam jumlah banyak dan waktu yang singkat.

Gejala awalnya seperti iritasi kulit, mual, muntah, deman tinggi, rambut rontok dan kulit terbakar. Gejala lainnya adalah diare, lemah, lelah, kehilangan nafsu makan, pingsan, dehidrasi, peradangan jaringan, perdarahan dari hidung, mulut, gusi atau dubur dan anemia.

Orang yang terkena radiasi bisa mengalami ARS hanya bila terkena radiasi dosis tinggi. Gejala awal mulai terasa dalam hitungan menit atau hari setelah terkena paparan dan mungkin akan berkala. Tahap serius berlangsung beberapa jam atau beberapa bulan.

Orang yang keracunan radiasi biasanya menunjukkan kerusakan pada kulit setelah beberapa jam terkena paparan. Kerusakannya seperti bengkak, gatal-gatal dan kulit kemerahan seperti tersengat matahari.

Berikut tiga jenis radiasi pengion:

1.

Radiasi

sinar

alpha

Memiliki daya tembus paling kecil dan tidak berbahaya, kecuali jika tertelan. Partikel alpha diemisikan oleh inti radioaktif seperti uranium atau radium. Ketika terjadi peluruhan, inti melepaskan energi

2.

Radiasi

sinar

beta.

Dapat menembus kulit, menyebabkan kerusakan kulit dan kerusakan organ internal jika tertelan. Partikel beta memiliki energi yang besar, elektron dengan kecepatan tinggi atau positron yang diemisikan oleh inti radioaktif tertentu seperti potassium-40.

3.

Radiasi

sinar

gamma

Memiliki daya tembus sangat besar. Sinar gamma digambarkan sebagai cahaya dengan frekuensi dan energi tertinggi dalam spektrum elektromagnetik. Sinar gamma memiliki radiasi pengion berenergi tinggi sehingga menyebabkan kulit terbakar, melukai organ dalam dan menyebabkan efek jangka panjang.

Pengobatan pada penyakit radiasi dirancang hanya untuk meringankan tanda-tanda dan gejalanya. Hal ini tidak dapat membalikkan efek paparan radiasi.

Dokter mungkin menggunakan obat anti-mual dan obat penghilang rasa sakit untuk menghilangkan tanda-tanda dan gejala dan antibiotik untuk memerangi infeksi sekunder. Transfusi darah mungkin diperlukan untuk mengobati anemia.

http://datahardisk.blogspot.com/2010/06/bahaya-efek-radiasi.html
[NEWS] Wi-Fi Bisa Matikan Tanaman? Studi mengenai dampak radiasi jaringan internet wireless atau Wi-Fi terhadap kesehatan manusia sudah sering dibahas. Namun studi terbaru ternyata mengungkapkan bahwa Wi-Fi tak hanya membahayakan manusia. Tumbuhan pun rentan terkena dampak negatif Wi-Fi yang bisa mengakibatkan mereka layu dan mati.
Penelitian yang dilakukan Wageningen University, Belanda, ini menemukan bahwa tanaman yang berada di area Wi-Fi aktifitas tinggi seperti di perkotaan, mengalami gejala aneh yang tidak berhubungan dengan jenis bakteri atau virus tertentu. Dilansir Pop Science dan dikutip detikINET, Rabu (24/11/2010), gejala-gejala yang dialami tumbuhan ini meliputi perubahan warna, retakan pada kulit pohon, rontoknya bagian daun dan pertumbuhan yang tidak normal. Kondisi ini sangat berbeda dengan

yang dialami tumbuhan di wilayah yang jauh dari perkotaan. Dalam studi ini, para ilmuwan menguji 20 pohon khas Eropa, ash, dan sengaja memberikan paparan berbagai jenis radiasi selama tiga bulan lamanya. Hasilnya, pohon ash yang terpapar sinyal WiFi memperlihatkan gejala 'sakit' akibat radiasi, di antaranya daun berkilauan yang menjadi indikasi bagian daun tersebut akan mati. Kendati demikian, tim peneliti mengatakan masih diperlukan studi lebih mendalam untuk membuktikan efek radiasi WiFi terhadap tumbuhan. Di Belanda sendiri, 70 persen pohon di wilayah perkotaan dilaporkan mengalami keracunan radiasi. Persentase ini naik 10 persen dari lima tahun lalu. Ini dapat dipahami mengingat penggunaan WiFi di negeri kincir angin itu meningkat pesat dalam lima tahun terakhir. ( rns / ash ) SUMBER Wah serem juga ya ternyata efek dr Wi-Fi, smoga bs jadi pencerahan. Dan ada solusi kedepannya

http://www.koempoels.com/showthread.php?1809-NEWS-Wi-Fi-Bisa-MatikanTanaman

Benarkah Radiasi Sinyal WiFi Berbahaya?


06 Jan 2011

Pikiran Rakyat

Teknologi

EBERAPA tahun ke belakang marak demo tentang keberadaan SUTET (saluran udara tegangan ekstra tinggi) yang mampu mentransmisikan tegangan listrik 500 KV dan dikhawatirkan mengganggu keseimbangan alam termasuk di dalamnya penyakit akibat pancaran radiasi medan listrik dan medan magnet yang ditimbulkan.. Kemudian semakin pesatnya pertumbuhan teknologi telefon selular juga memunculkan kekhawatiran pada masyarakat akan bahaya radiasi gelombang elektromagnetik yang cukup besar. Keluhan-keluhan berupa sakit kepala, pening, sukar tidur, konsentrasi terganggu, atau merasa letih tanpa tahu penyebabnya bisa jadi merupakan pengaruh dari pancaran gelombang

listrik dan elektromagnetik dari perangkat-perangkat elektronik sehari-hari, salah satunya telefon seluler. Penelitian yang dilakukan di Lund University (Swedia) menunjukkan, radiasi yang dipancarkan telefon seluler dapat memengaruhi fungsi enzim dan protein. Penelitian yang dilakukan terhadap tikus percobaan menunjukkan adanya perubahan biokimia dalam darah tikus, terjadi perubahan protein albumin yang berfungsi dalam memasok aliran darah ke otak. Prof. Leif Salford, seorang peneliti masalah dampak penggunaan telefon seluler terhadap kesehatan mengatakan, gelombang mikro yang keluar dari telefon seluler dapat memicu timbulnya penyakit alzheimer atau kepiku-nan lebih awal dari usia semestinya. Alzheimer adalah salah satu penyakit yang menyebabkan menurunnya kemampuan berpikir serta kemampuan daya ingat, sehingga gejala penyakit ini mirip dengan orang tua yang pikun. Meskipun belum terbukti secara langsung bahwa penggunaan telefon seluler adalah penyebab utama timbulnya penyakit alzheimer, tetapi menurut beliau, akibat yang mungkin ditimbulkan oleh radiasi elektromagnetik dari telefon seluler tidak boleh diabaikan. Akhir-akhir ini muncul pula kekhawatiran masyarakat akan bahaya radiasi WiFi (wirelessfidelity) atau sering kita kenal dengan teknologi hotspot. Hal ini ditengarai dari hasil temuan Panorama, program stasiun televisi BBC Inggris yang menyimpulkan tingkat pancaran radiasi darisatu perangkat WiFi lebih tinggi dari menara transmisi satu operator telefon seluler. Investigasi ini dilakukan di salah satu sekolah di Norwich, Inggris. Berdasarkan hasil pengukuran menunjukkan bahwa kekuatan sinyal WiFi di dalam ruang kelas tersebut tiga kali lebih kuat daripada intensitas radiasi dari menara telefon seluler. Akan tetapi, hal ini masih dalam perdebatan di kalangan ilmuwan, menyangkut metode pengukuran yang dilakukan oleh pihak Panorama. Salah satu yang kontra atas kesimpulan tersebut adalah Prof. Challis, Chairman of the Mobile Telecommunications and Health Research (MTHR), yang mengatakanbahwa daya radiasi yang dikeluarkan oleh perangkat WiFi sangatlah kecil dan berjarak cukup jauh dengan pengguna, sehingga pengaruh yang ditimbulkan terhadap kesehatan tubuh menyangkut bahaya radiasi sangatlah tidak berdasar. Bahaya radiasi gelombang elektromagnetik, menurut Prof. Olle Johansson dari Karolinska Institute, Swedia, yang diwawancarai Panorama, dapat memengaruhi keseimbangan tubuh seperti kerusakan kromosom, menurunnya konsentrasi dan daya ingat, serta menjadi pemicu aktifnya pergerakan sel-sel kanker. Penelitian tentang pengaruh radiasi WiFi juga dilakukan di Wageningen University, Belanda. Didapati bahwa radiasi sinyal WiFi menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman didaerah perkotaan dan terjadinya perubahan warna daun menjadi kekuning-kuningan. Ini berbeda jika dibandingkan dengan tanaman vapc tuiubuii di daerah perdesaan. Tentu saja ini harus dilakukan penelitian Iebih lanjut, karena tidak hanya radiasi sinyal WiFi, tetapi banyak faktor yang memengaruhi pertumbuhan tanaman di daerah perkotaan seperti radiasi sinyal telefon s*lii!? r dan perangkat elektronik lainnya serta polusi kendaraan bermotor Untuk teknologi WiFi, belum

ada at-uran yang dikeluarkan seberapa besar ambang batas aman yang mampu diserap oleh tubuh manusia. Sementara untuk telefon seluler, FCC (Federal Communications Commission) yang merupakan salah satu lembaga independen pemerintah di Amerika Serikat yang umumnya mengatur sistem radio, telekomunikasi dan penyiaran, telah menetapkan batas maksimal besarnya radiasi yang diperbolehkan untuk telefon seluler yang dinyatakan dalam SAR (Specific Absorption Rate). SAR adalah nilai maksimum radiasi yang diserap oleh tubuh per satuan berat. FCC menentukan besarnya SAR untuk telefon seluler maksimal sebesar 1.6 W/kg. Sementara negara-negara di Eropa menetapkan bahwa besarnya SAR maksimal sebesar 2 W/kg. Berdasarkan aturan tersebut, telefon seluler yang berada di atas batas ini tidak boleh diproduksi dan diperjualbelikan. Demikian pula berdasarkan perhitungan energi kuantum (dalam electron volt-eV) bahwa pancaran energi telefon seluler berada pada seper sejuta eV (1.241x10" eV), yang menandakan bahwa pancaran energi yang dihasilkan sangatlah kecil dan relatif aman bila kita mengabaikan jarak dan. intensitas radiasi. Dibandingkan dengan radiasi telefon seluler, sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa radiasi yang dipancarkan oleh perangkat WiFi jauh lebih kecil. WiFi umumnya beroperasi pada frekuensi 2.4 gHz (gigahertz) dengan daya yang dipancarkan sekitar 0.1 watt dari antena laptop dan router. Daya ini akan terus menurun berbanding lurus dengan jarak. Bandingkan dengan daya pancar telefon seluler yang berkisar antara 0.6-3 watt (typical 1 watt pada frekuensi 1.9 gHz). Kenyataan ini tentu saja secara tidak langsung menyimpulkan bahwa pancaran radiasi yang ditimbulkan oleh perangkat teknologi ini aman bagi tubuh marusia. Namun, tentu saja kita tidak boleh mengabaikan intensitas dan jarak pengguna dengan titik akses (access point). Semakin sering kita bersentuhan dengan radiasi sinyal WiFi ditambah dengan radiasi telefon seluler dan beberapa perangkat elektronika lainnya dengan intensitas yang cukup tinggi, radiasi elektromagnetik akan berimbas pada terganggunya keseimbangan tubuh. Meskipun terbilang cukup aman dibandingkan dengan radiasi sinyal telefon seluler dan SUTET, tetapi alangkah lebih baiknya mengurangi intensitas menggunakan internet dengan WiFi. Gunakanlah kabel LAN konvesional bila ingin mengakses internet dalam waktu yang cukup lama. Juga disarankan untuk tidak memangku laptop ketika melakukan akses internet, terlebih didalam satu ruangan dengan banyak sinyal WiFi, terutama anak-anak.*** Nasrullah Armi, Ph.D. Candidate from University of Technology Petronas, Malaysia, Master of Engineering - Toyohashi University of Technology, Japan

http://bataviase.co.id/node/521225