Anda di halaman 1dari 5

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SISTEM POLITIK DALAM ISLAM


Disusun oleh : Kelompok 7 Amelia Rizki N. Eki Yonastanti Irma Maya Sari Selvia Pebrianti 1013015029 1013015017 1013015021 1013015023

UNIVERSITAS MULAWARMAN UP. FAKULTAS FARMASI 2010

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena telah memberikan rahmat serta hidayahNya, sehingga makalah Pendidikan Agama Islam Sistem Politik Dalam Islam dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun bertujuan untuk membantu pembaca dalam mempelajari sistem politik dalam Islam serta untuk menambah pengetahuan dan wawasan pembaca. Dalam penyusunan makalah ini tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak atas saran dan dorongannya. Tiada gading yang tak retak, begitu pula dengan makalah ini. Sehingga kami mengharapkan saran dan kritikan yang membangun demi perbaikan makalah ini di masa yang akan datang. Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan kita semua. Amin

Samarinda, 29 November 2010

Penyusun

Pengertian Politik Islam


Politik di dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah siyasah. Oleh sebab itu, di dalam buku-buku para ulama salafush shalih dikenal istilah siyasah syariyyah, misalnya. Dalam Al Muhith, siyasah berakar kata ssa - yassu. Dalam kalimat Sasa addawaba yasusuha siyasatan berarti Qama alaiha wa radlaha wa adabbaha (mengurusinya, melatihnya, dan mendidiknya). Bila dikatakan sasa al amra artinya dabbarahu (mengurusi/mengatur perkara). Jadi, asalnya makna siyasah (politik) tersebut diterapkan pada pengurusan dan pelatihan gembalaan. Lalu, kata tersebut digunakan dalam pengaturan urusan-urusan manusia; dan pelaku pengurusan urusan-urusan manusia tersebut dinamai politikus (siyasiyun). Dalam realitas bahasa Arab dikatakan bahwa ulil amri mengurusi (yassu) rakyatnya saat mengurusi urusan rakyat, mengaturnya, dan menjaganya. Begitu pula dalam perkataan orang Arab dikatakan : Bagaimana mungkin rakyatnya terpelihara (massah) bila pemeliharanya ngengat (ssah), artinya bagaimana mungkin kondisi rakyat akan baik bila pemimpinnya rusak seperti ngengat yang menghancurkan kayu. Dengan demikian, politik merupakan pemeliharaan (riayah), perbaikan (ishlah), pelurusan (taqwim), pemberian arah petunjuk (irsyad), dan pendidikan (ta`dib). Politik, realitanya pasti berhubungan dengan masalah mengatur urusan rakyat baik oleh negara maupun rakyat. tiap ideologi (kapitalisme, sosialisme, dan Islam) punya pandangan tersendiri tentang aturan dan hukum mengatur sistem politik mereka. Dari sinilah muncul pengertian politik yang mengandung pandangan hidup tertentu. Adapun definisi politik dari sudut pandang Islam adalah pengaturan urusan-urusan (kepentingan) umat baik dalam negeri maupun luar negeri berdasarkan hukum-hukum Islam. Pelakunya bisa negara (khalifah) maupun kelompok atau individu rakyat. Rasulullah saw bersabda:

Adalah Bani Israel, para Nabi selalu mengatur urusan mereka. Setiap seorang Nabi meninggal, diganti Nabi berikutnya. Dan sungguh tidak ada lagi Nabi selainku. Akan ada para Khalifah yang banyak (HR Muslim dari Abu Hurairah ra). Hadits diatas dengan tegas menjelaskan bahwa Khalifahlah yang mengatur dan mengurus rakyatnya (kaum Muslim) setelah nabi saw. hal ini juga ditegaskan dalam hadits Rasulullah: Imam adalah seorang penggembala dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya. Jadi, esensi politik dalam pandangan Islam adalah pengaturan urusan-urusan rakyat yang didasarkan kepada hukum-hukum Islam. Adapun hubungan antara politik dan Islam secara tepat digambarkan oleh Imam al-Ghajali: Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan runtuh dan segala sesuatu yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang dan lenyap.

Nilai Nilai Dasar Sistem Politik Islam