Anda di halaman 1dari 42

1D1n 1:1In JJ

T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 1



KINETIKA KIMIA
A. Pendahuluan
Kinetika kimia merupakan materi yang membahas tentang laju reaksi dan
mekanisme reaksi. Laju reaksi dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau
hasil reaksi persatuan waktu. Sementara itu, mekanisme adalah serangkaian reaksi
sederhana yang menerangkan reaksi keseluruhan. Laju reaksi dan mekanisme reaksi
memiliki hubungan, di mana untuk mengetahui mekanisme reaksi, dipelajari perubahan
laju reaksi yang disebabkan oleh perbedaan konsentrasi pereaksi, hasil reaksi, katalis,
suhu, dan tekanan. Misalkan untuk reaksi,
A 2B 3C
laju reaksi, r, dalam bentuk diIerensial dapat dinyatakan sebagai berikut:

n m
B A r atau
dt
C d
dt
B d
dt
A d
r | | | |
| |
3
1 | |
2
1 | |
= = = = (Pers 1)
dimana m adalah tingkat (orde) reaksi terhadap A dan n adalah orde reaksi terhadap B.
m n adalah orde reaksi total. Orde reaksi tidak selalu sama dengan koeIisien reaksi,
tetapi dapat berupa bilangan bulat maupun pecahan. Hal ini terjadi karena orde reaksi
diturunkan dari percobaan, bukan dari persamaan stoikiometri reaksi. Dengan demikian
orde reaksi dapat dideIinisikan sebagai jumlah pangkat Iaktor konsentrasi pada
persamaan laju reaksi bentuk diIerensial.
Di samping pengertian orde reaksi, juga dikenal istilah molekularitas reaksi.
Molekularitas reaksi adalah jumlah molekul yang terlibat dalam tiap tahap reaksi.
Apabila suatu reaksi terdiri dari beberapa tahap, maka gagasan ini tidak dapat
diterapkan untuk reaksi secara keseluruhan. Oleh karena itu, dalam membicarakan
molekularitas reaksi, yang pertama-pertama harus ditentukan adalah apakah reaksi
berlangsung dalam satu tahap atau beberapa tahap. Misalnya pada reaksi berikut ini.
2N
2
O
5
4NO
2
O
2

Reaksi di atas tidak berlangsung dalam satu tahap, jadi molekularitas reaksi tidak dapat
ditentukan begitu saja. Namun bila dibandingkan dengan reaksi,
H Cl
2
HCl Cl
berlangsung dalam satu tahap. Reaksi tersebut merupakan reaksi bimolekular, karena
dalam tahapannya melibatkan dua molekul. Oleh karena itu perlu diperhatikan bahwa
reaksi orde 2 tidak selalu bimolekular, tetapi reaksi bimolekular selalu berorde 2.
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 2


B. Penentuan Laju Reaksi
Laju reaksi dapat ditentukan dengan mengikuti perubahan konsentrasi pereaksi
atau hasil reaksi sejalan dengan waktu. Ada dua cara umum yang dapat dilakukan untuk
menentukan laju reaksi, yaitu cara kimia dan cara Iisika. Cara kimia dilakukan dengan
menentukan konsentrasi salah satu yang terlibat dalam reaksi, yaitu dari zat lain yang
diketahui jumlahnya. Misalnya, laju reaksi hidrolisis ester dapat diikuti dengan
mereaksikan asam yang terbentuk pada waktu-waktu tertentu, dengan bantuan basa
standar (analisis volumetri). Sementara itu, pada cara Iisika, misalnya dengan mengukur
tekanan, indeks bias, intensitas warna, siIat optik aktiI, daya hantar, dan viskositas.

C. Persamaan Laju Reaksi
Pada umumnya laju reaksi akan meningkat apabila konsentrasi ditingkatkan.
Hubungan antara laju reaksi dan konsentrasi dapat diperoleh melalui data eksperimen.
Misalnya, untuk reaksi
aA bB Cc dD
dapat diperoleh bahwa laju reaksi berbanding lurus dengan |A|
m
dan |B|
n
. Jadi
ungkapan laju reaksinya, r, dapat dinyatakan sebagai berikut.
r k |A|
m
|B|
n
, yang disebut sebagai hokum laju atau persamaan laju,
dimana k adalah tetapan laju reaksi, m dan n masing-masing adalah orde reaksi terhadap
A dan B yang dapat berupa bilangan bulat atau pecahan.orde rekasi diperoleh secara
eksperimen dan tidak persamaan stoikiometrinya.
Persamaan laju reaksi dapat diungkapkan dalam bentuk diIerensial dan integral.
Misalnya, untuk reaksi,
2N
2
O
5
4NO
2
O
2

reaksi tersebut merupakan reaksi orde satu terhadap |N
2
O
5
|. Persamaan laju dalam
bentuk diIerensial adalah sebagai berikut.
| |
| |
5 2
4 2

dt
d
r = = (Pers. 2)

Sedangkan , persamaan laju bentuk integralnya adalah sebagai berikut:

t
e

=
5 2 5 2
| | | | (Pers. 3)
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj _


1. Reaksi Orde Nol
Suatu reaksi disebut orde nol terhadap pereaksi jika laju reaksi tidak dipengaruhi
oleh konsentrasi pereaksi tersebut. Misalkan, untuk reaksi berikut.
A produk
persamaan laju reaksi bentuk diIerensialnya adalah sebagai berikut.

dt
A d
r = =
| |
(Pers. 4)
Jika |A| adalah konsentrasi A pada waktu tertentu dan |A|

adalah konsentrasi, maka


hasil integrasi persamaan di atas adalah sebagai berikut:


=
=
=
t t
t
A
A
dt A d

| |
|A| |A|

-kt atau |A| |A|

kt (Persamaan 5)
Kurva konsentrasi sebagai Iungsi waktu dan laju reaksi sebagai Iungsi
konsentrasi untuk orde nol dapat dilihat pada Gambar 1.

(a) (b)







Gambar 1. Kurva (a) |A| vs t dan (b) laju reaksi vs |A| untuk reaksi orde nol

Reaksi orde nol, biasanya berupa reaksi heterogen yang berlangsung pada
permukaan logam (seperti reaksi penguraian ammonia pada katalis wolIram) atau reaksi
Iotokimia yang terkatalis (reaksi Iotosintesis).
2. Reaksi Orde Satu
&ntuk reaksi : A produk, persamaan laju reaksi bentuk diIerensialnya adalah
sebagai berikut:
|A|

Slop k

t

|A|

laju
|A|

1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj

| |
| |
A
dt
A d
r = = (Pers. 6)
Jika |A| adalah konsentrasi A pada waktu tertentu dan |A|

adalah konsentrasi, maka


hasil integrasi persamaan di atas adalah sebagai berikut:


=
=
=
t t
t
A
A
dt
A
A d

| |
| |

t A A =

| | ln | | ln
t
A
A
=

| |
| |
ln
t
e A A

=

| | | |
(Pers. 7)
Kurva ln |A| sebagai Iungsi waktu atau |A| sebagai Iungsi waktu untuk orde
satu dapat dilihat pada Gambar 3.2. Apabila ingin diubah adalah konsentrasi produk
pada waktu tertentu, maka penurunan rumus di atas harus diubah sebagai berikut.
Misalkan konsentrasi awal |A|

dan pada waktu t tertentu, x mol reaktan diubah menjadi


produk. Persamaan laju reaksinya adalah sebagai berikut:
) | (|
| |

A
dt
d
dt
A d
= = (Pers. 8)
(a) (b)
|A|








Gambar 2. Kurva (a) |A| vs t dan (b) |A| vs t untuk reaksi orde satu

Dengan menyusun dan mengintegrasikan persamaan 8 maka akan diperoleh persamaan
baru sebagai berikut.


=

=
=
t

dt
A
d

) | (|

-ln (|A|

- x) ln |A|

k t
Slop -k

t

ln|A|

|A|

t

1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj _

t
A
A
=
) | (|
| |
ln



t
e
A
A
=

| |
| |
(Pers. 9)
Kurva hubungan ln
A
A

| |
| |
terhadap waktu, t, dan ln
A

| |
1
terhadap waktu,
t, dapat dilihat pada Gambar 3.

(a)








(b)
A

| |
1
ln







Gambar 3. (a) Kurva ln
A
A

| |
| |
vs t dan (b) kurva ln
A

| |
1
vs t
Reaksi orde satu meliputi peluruhan radioaktiI (bersiIat unimolekuler) dan
reaksi-reaksi berikut.
2 N
2
O
5(g)
4 NO
2(g)
O
2(g)
(tidak unimolekuler)
CH
2
CH
2

t

Slop k

. J
A

| |
A
ln

t

Slop k

1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj b

CH
2
CH
2
2 C
2
H
4(g)
(reaksi unimolekuler)
Suatu besaran yang penting dalam reaksi orde satu adalah waktu paruh (t
1/2
) dari
suatu reaksi. Waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan agar konsentrasi reaktan
menjadi setengah dari konsentrasi semula. Waktu paruh untuk reaksi orde pertama
adalah sebagai berikut:

t
2 ln
2 / 1
= (Pers. 1)

3. Reaksi Orde Dua
Ada dua jenis reaksi orde dua, yaitu (i) reaksi orde dua yang hanya melibatkan
satu jenis pereaksi dan (ii) reaksi orde dua yang melibatkan dua jenis pereaksi. Reaksi
orde dua jenis (i) dapat dinyatakan sebagai berikut.
A produk
Jika konsentrasi awal A adalah |A|

dan setelah waktu t adalah |A|, maka:


2
| |
| |
A
dt
A d
= (Pers. 11)
Apabila persamaan 11 diintegrasikan, maka akan diperoleh persamaan baru sebagai
berikut:


=
t A
A
dt
A
A d

| |
| |
2

| |
| |

t
A A
=

| |
1
| |
1
(Pers. 12)
Apabila persamaan di atas ditulis berdasarkan pembentukan produk, akan
diperoleh:
2
) | (| A
dt
d
= (Pers. 13)
Apabila persamaan 13 diintegrasikan, maka akan diperoleh persamaan baru sebagai
berikut:
t
A A

A A
=

=
) | (| | | | |
1
) | (|
1

(Pers. 14)
Bentuk kurva dari persamaan di atas dapat dilihat pada Gambar 4.


1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj ;

(a) (b)








Gambar 4. Kurva (a) hubungan
| |
1
A
terhadap t dan (b) laju reaksi terhadap |A| untuk
reaksi orde dua

Jenis reaksi kedua dari reaksi orde dua dapat dinyatakan sebagai berikut.
A B produk
Persamaan laju reaksinya adalah sebagai berikut:
| || |
| | | |
B A
dt
B d
dt
A d
= = (Pers. 15)
Apabila dimisalkan konsentrasi awal A dinyatakan sebagai |A|

, konsentrasi awal B
|B|

dan x mol per liter adalah perubahan konsentrasi A dan B setelah reaksi
berlangsung t satuan waktu, maka:
) | )(| | (|

B A
dt
d
= (Pers. 16)
Apabila persamaan 16 diintegrasikan, maka akan diperoleh persamaan baru sebagai
berikut:


=

dt
B A
d
) | )(| | (|




=

+

t
B
d
B A A
d
A B ) | (| ) | | | (|
1
) | (| | | | |
1

konstanta
t
B
A
B A
=

) | (|
) | (|
ln
| | | |
1


konstanta (Pers. 17)
Pada saat t , maka x , sehingga nilai konstanta adalah ,
| |
| |
ln
| | | |
1


B
A
B A
bila
nilai ini dimasukkan dalam persamaan di atas akan diperoleh:
| |
1
A

t

Slop k

| |
1
A

t

laju reaksi

1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj B


) | (| | |
|) (| | |
ln
| | | |
1



B A
A B
B A

k t (Pers. 18)
Kurva hubungan ln
) | (| | |
|) (| | |


B A
A B

terhadap t dapat dilihat pada Gambar 6.


Beberapa contoh reaksi orde dua adalah sebagai berikut.
Na C
2
H
5
Cl NaCl C
2
H
5

S
2
O
8
2-
2I
-
2SO
4
2-
I
2

2NO
2
2NO O
2

(a) (b)
A

| |
1






Gambar 6 Kurva (a) hubungan
A

| |
1
terhadap t dan (b)
) | (| | |

A A

terhadap t untuk
reaksi orde dua








Gambar 6 Kurva
) | (| | |
|) (| | |
ln


B A
A B

terhadap t untuk reaksi orde dua


4. Reaksi Orde Tiga
Suatu Orde reaksi dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi:
A B C Produk

t

Slop
) | (| | |

A A


t

Slop
-k
) | (| | |
|) (| | |
ln


B A
A B


t

k(|A|

|B|

)

1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj

Jika konsentrasi awal A, B, dan C berturut-turut |A|
o,
|B|
,
|C|
o,
dan |A|
o
|B|
o,
|C|
o,
maka:
(Pers. 19)
Apabila |A|
o
|B|
o


|C|
o,
maka:
(Pers. 2)
Integral antara limit x pada t dan x x pada waktu t,maka diperoleh:

kt (Pers. 21)
Jika dialurkan terhadap waktu t maka akan diperoleh garis lurus dengan arah
lereng sama dengan 2k. Hal ini dapat dilihat pada gambar 7.
Contoh reaksi orde tiga adalah:
2 NO
(g)
Cl
2(g)
2NOCl
(g)
2NO
(g)
O
2(g)
2NO
2(g)
2NO
(g)
2 H
2(g)
2N
2(g)
2H
2
O
(g)








Gambar 7. kurva vs t untuk reaksi orde tiga



D. Penentuan Orde Reaksi
Ada dua cara utama dalam penentuan orde reaksi, yaitu:
1. Cara diIerensial
Slop 2k
t

1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 1D

Dalam metode diIensial laju di ukur secara langsung dengan penentuan
slop/loreng pada kurva konsentrasi pereaksi terhadap waktu, dan analisis dilakukan
untuk mengetahui ketergantungan slop terhadap konsentrasi pereaksi. Metode ini
pertama kali disarankan oleh van`t hoII tahun 1884.
&ntuk satu jenis pereaksi, persamaan laju reaksi, r, dalam bentuk diIIensial dapat
dinyatakan sebagai berikut:
r k|A|
n
(pers. 22)
Agar mendapatkan persamaan garis lurus, persamaan diatas menjadi logaritma
yaitu:
ln r ln k n ln |A| (pers. 23)
plot r vs ln|A| memberikan garis lurus dengan slop n dan intersep pada ln c
adalah ln k . Hal ini terlihat pada gambar 8.







Gambar 8. Plot r vs ln|A|

&ntuk lebih dari satu jenis pereaksi, penentuan orde reaksi dapat dilakukan
dengan cara isolasi dan cara laju awal. Pada cara isolasi, hanya salah satu pereaksi
dapat dibuat berubah-ubah sementara yang lain dibuat tetap (dibuat berlebih).
Sedangkan cara laju awal, laju raksi diukur pada konsentrasi awal yang berbeda-
beda.
O Cara isolasi
&ntuk reaksi, A B produk, maka persamaan laju dalam bentuk diIerensial
adalah sebagai berikut.
r k |A|
m
|B|
n
(pers. 24)
ln r ln k m ln |A| n ln |B| (pers. 25)
ln r
ln k
Slop n
ln |A|
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 11

Apabila |A| berlebih maka perubahan |A| sangat kecil dan dapat diabaikan sehingga
|A| dianggap tetap. Plot ln r terhadap |B| akan memberikan garis lurus dengan slop
sama dengan harga n. Ini dapat dilihat pada gambar 9.








Gambar 9. Plot r vs ln|A|

Di pihak lain, apabila |B| jauh lebih besar dari |A| maka perubahan |B| sangat kecil
dan dapat diabaikan sehingga |B| dianggap tetap. Plot ln r terhadap ln |A| akan
memberikan garis lurus dengan slop sama dengan harga m. Hal ini tampak pada
gambar 1.








Gambar 1. plot ln r vs ln |A|

O Cara laju awal
&ntuk reaksi A B produk, persamaan laju dalam bentuk diIerensial adalah
sebagai berikut.
r k |A|
m
|B|
n

ln r ln k m ln |A| n ln |B|
ln k m ln |A|
Slop n
ln r
ln |A|
ln k n ln |B|
ln r
Slop m
ln |A|
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 12

untuk memperoleh nilai m dan m maka dapat dilakukan dengan cara mengukur laju
reaksi awal yang berbeda-beda. Konsentrasi awal A, |A|

pertama-tama dibuat tetap


sementara konsentrasi awal B, |B|

dibuat berubah-ubah. Jika dibuat kurva laju


reaksi awal terhadap konsentrasi awal B, maka akan diperoleh garis lurus dengan
slop sama dengan n. &ntuk mendapatkan nilai m maka dilakukan hal yang
sebaliknya yaitu konsentrasi awal B dibuat tetap sedangkan konsentrasi awal A
dibuat berubah-ubah.

2. Cara integral
Cara ini merupakan cara coba-coba dengan jalan mencocokan persamaan laju
bentuk integral dengan data percobaan yaitu data konsentrasi dan waktu. Dalam hal
ini, yang dihitung adalah harga k. Sebelum cara ini digunakan, perlu dilakukan
perkiraan terhadap ordereaksinya. &ntuk reaksi, orde satu dan harga k dapat
dihitung dari persamaan berikut.
Orde satu, k
x |A|
|A|
ln
t
1

(pers. 26)
Orde dua, k
) x |A| |A|
x
ln
t
1


(pers. 27)
Harga |A|

adalah konstan tetapi harga ) x |A|

bergantung pada waktu. Jika


harga k yang diperoleh dari berbagai waktu adalah konstan misalnya dari persamaan
reaksi orde satu, maka orde reaksinya adalah orde satu.

E. Reaksi-reaksi Rumit (Kompleks)
Reaksi kompleks adalah reaksi yang memiliki orde reaksi yang tidak sama
dengan molekularitasnya. Molekularitas merupakan jumlah molekul pereaksi yag ikut
dalam reaksi. Istilah molekularitas berbeda dengan tingkat/ orde reaksi. Hal ini
disebabkan karena orde reaksi tergantung pada mekanisme reaksinya (hasil percobaan).
Di samping itu, perlu diketahui bahwa molekularitas selalu merupakan bilangan bulat
sedangkan tingkat reaksi ada yang merupakan bilangan pecahan bahkan bernilai . Ada
beberapa yang tergolong reaksi kompleks, yaitu reaksi reversibel, paralel, berurutan,
dan reaksi rantai.

1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 1_

Reaksi Reversibel
Pada reaksi ini zat hasil reaksi bereaksi kembali menghasilkan pereaksi kembali.
Reaksi seteriIikasi merupakan salah satu contoh reaksi reversibel yang dapat dinyatakan
sebagai berikut.
C
2
H
5
OH CH
3
COOH CH
3
COOC
2
H
5
H
2
O

Konsentrasi awal : a mol/liter a mol/liter
Konsentrasi setelah : (a-x) (a-x)
Reaksi diatas merupakan reaksi orde dua dan bila dianggap berlangsung dalam satu
tahap, maka persamaan laju reaksinya dapat ditulis sebagai berikut.
)
2
2
2
2
a
dt
d

=
Pada keadaan setimbang, reaksi ke kiri reaksi ke kanan. Jadi tidak ada peningkatan
produk yaitu dx/dt , maka persamaan di atas akan menjadi:

(pers. 28)
K adalah konstanta kesetimbangan
X
e
adalah konsentrasi produk pada saat kesetimbangan
k
2
adalah konstanta laju reaksi ke kanan
k
-2
adalah konstanta laju reaksi ke kiri
Apabila persamaan 3.26 disubstitusi ke persamaan 3.25, akan diperoleh:

(pers. 29)
Bila persamaan 3.27 diintegrasi, akan diperoleh:
(pers. 3)




k
1

k
2
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 1

Reaksi paralel
Reaksi paralel adalah suatu reaksi dimana zat pereaksi secara bersamaan
berubah menjadi lebih dari satu hasil reaksi. &ntuk reaksi:




Persamaan laju reaksi dapat diikuti berdasarkan perubahan konsentrasi A, B dan C.
a). Bila diikuti berdasarkan perubahan konsentrasi A



(pers. 31)

b). Bila diikuti berdasarkan perubahan konsentrasi B
(pers. 32)



(pers. 33)






A
k
1
k
2
C
8
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 1_

Contoh reaksi paralel:





Reaksi Beruntun
suatu reaksi disebut beruntun jika terdapat sedikitnya satu hasil reaksi
merupakan pereaksi bagi reaksi lainnya. Contoh reaksi beruntun adalah:
2 (CH
3
)
2
CO 2 CH
2
CO 2 CO CH
4

&ntuk reaksi berurutan:

A B C
Dengan konsentrasi A adalah x mol/liter, B y mol/liter dan C z mol/liter, maka laju
reaksi terurainya reaktan A dapat dinyatakan:
(pers. 34)
Apabila ditinjau dari pembentukan B, maka persamaan laju reaksinya dapat dinyatakan:
(pers. 35)
Apabila ditinjau dari pembentukan produk C, maka persamaan laju reaksinya menjadi:
(pers. 36)
Bentuk integrasi dari persamaan-persamaan di atas adalah:
1. Bentuk integrasi dari persamaan pertama adalah: , dimana x
o
adalah
konsentrasi awal A
2. Bentuk integrasi dari persamaan kedua dapat diperoleh menggunakan
pendekatan keadaan tetap (steady state). Pendekatan ini, setelah reaksi
berlangsung, konsentrasi intermediet B pada waktu tertentu dianggap tetap, jadi
dalam hal ini dy/dt dan akan diperoleh:

C
2
P
3
CP
C
2
P
4
+ P
2
C
C
2
P
3
CPC + P
2

k
1
k
2
+
2 CH
4
k
1
k
2

1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 1b


3. Dari persamaan ketiga diperoleh:
Dengan mengganti y dengan dan kemudian mengintegrasi
persamaan yang diperoleh dengan waktu t dan t 1, maka diperoleh:

Pendekatan Steady State
Asumsi yang terlibat dalam hipotesis steady state adalah bahwa konsentrasi dari
perantara yang bereaksi dapat dianggap konstan, yakni
dt
C d
i
| |
. perlu dicatat bahwa
pendekatan steady state hanya dapat diterapkan untuk jenis-jenis yang mempunyai masa
hidup pendek atau sangat reaktiI. Tahap-tahap berikut digunakan untuk menghitung
hukum laju dalam batasan dari jenis-jenis yang stabil.
i. Hukum laju diIerensial ditulis untuk masing-masing jenis.
ii. Hukum laju diIerensial dari perantara yang reaktiI diletakkan sama dengan nol
dan konsentrasi perantara reaktiI dihitung dalam batasan jenis-jenis yang stabil.
iii. konsentrasi steady state dari perantara yang di hitung dalam (ii) disubstitusi dalam
pernyataan sedemikian rupa, sehingga hukum laju dapat di tulis dalam hanya
batasan jenis yang stabil (reaktan dan produk).
Persamaan untuk Steady-state adalah
X )
t t
e e

A
2 1
2
1

pada t X , tetapi setelah waktu yang sangat singkat (relative terhadap waktu
reaksi, perbedaan )
t t
e e
2 1

telah mencapai harga l, dan konsentrasi X
2
1

A
, yang
jauh lebih kecil daripada A

(ingat bahwa k
2
~~ k
1
). Setelah waktu induksi yang singkat
ini, konsentarsi X secara praktis adalah konstan, sehingga dapat didekati dengan
ungkapan
=
dt
dX

Contoh
Mekanisme
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 1;

A B X

X Z
X AB
dt
dB
dt
dA
2 1
= =
X
dt
dZ
2
=
untuk menyelesaikan masalah ini kita harus mengeliminasi X dan menyelesaikan
persamaan diIerensial untuk mendapatkan |Z| sebagai Iungsi waktu. Tetapi,dalam hal
ini kita tak mungkin mendapatkan persamaan yang eksplisit. Oleh karena itu, kitaambil
pendekatan steady state :
=
dt
dX

sehingga :
k
1
A.B k
-1
X k
2
X
X
2 1
1

AB
+


v v
z
k
2
X
AB


;

2 1
1 2
+
=

Tahap Penentu Laju (Tahap pengontrol laju)
Persamaan steady state adalah
AB


;

2 1
1 2
+
=
jika dalam reaksi tersebut konversi X menjadi Z terjadi sangat cepat, jauh lebih cepat
ketimbang reaksi balik ke (A B), maka dalam hal ini kita dapatkan
v k
1
AB karena k
2
~~k
1
Oleh karena itu, tahap awal merupakan tahap penentu laju.
Jika sebaliknya, k
2
k
1
AB AB


;
2
1
2 1
= =


dalam persamaan ini kita punya k
2
, jadi tahap kedua yang menjadi tahap penentu laju.
k
2
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 1B

F. Pengaruh Temperatur Pada Laju Reaksi
&mumnya konstanta laju meningkat dengan meningkatnya temperatur dan
harganya kira-kira dua kali untuk tiap kenaikan 1

C. Hubungan laju reaksi terhadap


temperatur dijelaskan melalui persamaan Arrhenius. Secara empirik, untuk banyak
reaksi kimia tetapan laju dihubungkan terhadap temperatur absolut T melalui ungkapan

B/T
Ae k

= (pers. 37)
Dimana, A dan B adalah tetapan. Hubungan tersebut dirumuskan oleh Van`t HoII dan
Arrhenius dalam bentuk

E/RT
Ae k

=
Dengan R adalah tetapan gas ideal (8,314 J/K) dan E dikenal sebagai energi aktivasi.
Secara historis persamaan tersebut bermula dari ide Van`t HoII yang mengungkapkan
argumentasi berdasar kepada variasi tetapan kesetimbangan terhadap temperatur dan
mencatat bahwa suatu hubungan yang serupa harus berlaku untuk tetapan laju reaksi.
Ide tersebut telah secara sukses digunakan oleh Arrhenius untuk mengkaji banyak reaksi
kimia dan persamaan
E/RT
Ae k

= lebih dikenal sebagai persamaan Arrhenius.
Kebergantungan tetapan kesetimbangan standar terhadap temperatur diberikan
oleh hubungan

2

c
RT
A&
dT
lnK d
=
dengan

A& adalah perubahan energi enternal standar dalam suatu reaksi. &ntuk reaksi
berikut
A B Y Z

1 -
1
k
k
Kc =
Persamaan
2

c
RT
A&
dT
lnK d
= dapat ditulis dengan

2

1 1
RT
A& ln
dT
lnK d
=

dT
d


Persamaan di atas dapat diuraikan menjadi

2
1 1
RT
E
konstanta
dT
k ln d

+ =
dan
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 1

2
1 1 -
konstanta
dT
k ln d
#T
E

+ =
Dengan E
1
-E
-1

A& .Secara eksperimental, tetapan dalam persamaan diatas


dapat di set sama dengan dan dengan pengintegrasian persamaan-persamaan tersebut
diperoleh
Ei/RT
1 - 1 -
E/RT
1 1
e A k
e A k

=
=

Jumlah A
1
dan A
-1
dikenal sebagai Iaktor praeksponensial reaksi dan E
1
dan E
2
dikenal
sebagai energi pengaktiIan.
Pendekatan Arrhenius terhadap hukum tersebut agak sedikit berbeda dari yang
dilakukan Van`t HoII. Dia mencatat bahwa untuk reaksi kimia biasa, kebanyakan
tumbukan antar molekul pereaksi adalah tidak eIektiI dalam artian bahwa energinya
tidak mencukupi. Dalam Iraksi yang kecil dari tumbukan, energinya adalah cukup besar
untuk mengizinkan suatu reaksi berlangsung. Menurut prinsip Boltzmann, Iraksi dari
tumbukan tersebut yang mana energinya adalah eksesiI dari suatu harga khusus E
adalah

E/RT
e


Fraksi tersebut semakin besar dengan makin besarnya suhu T dan semakin reandahnya
E. Oleh karena itu, tetapan laju akan proporsional terhadap Iraksi tersebut. Bentuk
logaritmanya adalah sebagai berikut

RT
E
- A ln k ln =
Plot ln k terhadap 1/T kita peroleh slop E/R dan intersep ln A, dengan demikian kita
dapat menentukan besarnya harga energi pengaktiIan dan Iaktor praeksponensial
dengan memvariasi tetapan laju terhadap suhu.
Jika molekul-molekul bereaksi, mula-mula molekul-molekul ini bertumbukan
terlebih dahulu. Berdasarkan hasil percobaan ternyata tumbukan molekul yang
diperoleh melalui percobaan jumlah tumbukan secara teoritis. Ini berarti bahwa tidak
semua tumbukan molekul menghasilkan molekul-molekul baru utnuk dapat bereaksi,
molekul-molekul harus memiliki tenaga tertentu. Jika A tenaga rata-rata pereaksi dan
C tenaga rata-rata hasil reaksi, maka agar A dan menjadi C molekul-molekulnya harus
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 2D

melewati tenaga pengahalang AE
1
. Tenaga ini disebut dengan tenaga aktivasi untuk
reaksi ke kanan &ntuk reaksi ke kiri dibutuhkan tenaga aktivasi AE
2
.

Energi Aktivasi
Energi pengaktiIan dipandang secara berbeda dalam teori van`t HoII dan
Arrehenius. Van`t HoII menekankan pada tingkat energi pereaksi dan produk dan
terhadap spesies yang terjadi selama reaksi berlangsung. Menurut Arrhenius, pengaruh
temperatur terhadap k dapat dinyatakan sebagai berikut

2

c
RT
A&
dT
lnK d
= , dimana A&

E
1
-E
-1
Sehingga,

2

c
RT
AE
dT
lnK d
= , dimana AE energi aktivasi
Integrasi dari persamaan ini menghasilkan
C'
RT
AE
k ln + =
C'
T
1
R 2,33
AE
k log +
'
+

'

=
atau,

'
+

'

=
2 1
1 2
1
2
T T
T T
R 2,33
AE
k
k
log
Gambar dibawah menunjukkan diagram energi potensial untuk reaksi.
A B Y Z

Gambar 11. Gambar energi potensial untuk reaksi A B Y Z
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 21

Pada diagram tersebut, energi internal untuk produk (Y Z) adalah lebih besar
dari energi internal untuk pereaksi ( A B) sebesar A&. &mumnya tidak ada perbedaan
yang cukup besar antara perubahan energi dalam dan perubahan entalpi, sehingga AH
juga akan positiI, yaitu reaksi endotermik.
Selama reaksi berlangsung antara pereaksi A dan B potensialnya sangat sering
melebihi maksimum, seperti ditunjukkan pada gambar di atas. Ketinggian dari
maksimum memegang peranan sangat penting dalam semua teori laju reaksi. Spesies
yang memiliki energi maksimum kompleks teraktiIkan, dan keadaannya disebut
keadaan transisi. Energi E
1
dari kompleks tersebut merujuk pada energi dari AB
adalah energi terkaktivasi untuk reaksi dari kiri ke kanan. Energi E-
1
dari kompleks
terpengaktiIan yang merujuk pada YZ adalah energi pengaktiIan reaksi balik. Berikut
ini merupakan diagram tingkat energi untuk reaksi eksoterm dan endoterm.










Gambar 12. diagram tingkat energi untuk reaksi eksoterm dan endoterm

G. Mekanisme Reaksi
Mekanisme reaksi adalah urutan tahap-tahap elementer yang mengarah pada
pembentukan produk. Pembentukan produk akhir dari reaktan dapat berlangsung
melalui satu atau beberapa tahap. Saat ini, banyak penelitian dilakukan untuk
mengetahui mekanisme suatu reaksi, yaitu jenis dan jumlah tahapan yang terdapat pada
suatu reaksi.
Dalam mempelajari reaksi yang berlangsung pada tiap tahap, perlu diketahui
banyaknya molekul reaktan yang saling bergabung membentuk suatu kompleks yang
nantinya akan bereaksi membentuk produk. Banyaknya molekul reaktan yang terlibat
ulagram Lnergl AkLlvasl LndoLerm ulagram Lnergl AkLlvasl LksoLerm
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 22

dalam tiap tahap dikenal sebagai molekularitas. Kecuali untuk reaksi-reaksi gas-gas
yang berlangsung pada tekanan rendah, molekularitas suatu tahap reaksi dapat diketahui
dari orde total tahap reaksi tersebut.
Sebagai contoh mekanisme reaksi dapat dilihat reaksi antara nitrat oksida dan
oksigen:
2NO
(g)
O
2(g)
2 NO
2(g)
Pada reaksi di atas, produk tidak terbentuk langsung dari tumbukan dua molekul NO
dengan satu molekul O
2
karena N
2
O
2
terdeteksi selama jalannya reaksi. Anggaplah
bahwa reaksi sebenarnya berlangsung dalam dua tahap elementer seperti berikut:
2NO
(g)
N
2
O
2(g)

N
2
O
2(g)
O
2(g)
2 NO
2(g)
Pada tahap elementer pertama, dua molekul NO bertumbukan membentuk satu molekul
N
2
O
2.
Peristiwa ini diikuti dengan reaksi antara N
2
O
2
dan O
2
yang menghasilkan dua
molekul NO
2.
Persamaan kimia total yang menyatakan keseluruhan perubahan,
dinyatakan dengan menjumlahkan tahap elementer 1 dan 2:
Tahap 1 : NO NO N
2
O
2.

Tahap 2 : N
2
O
2
O
2
2 NO
2

Reaksi keseluruhan: 2 NO N
2
O
2
O
2
N
2
O
2.
2 NO
2

Spesi seperti N
2
O
2
disebut zat antara (intermediate) karena spesi-spesi itu
muncul dalam mekanisme reaksi (yaitu, tahap elementer) tetapi tidak ada dalam
persamaan setara keseluruhan. Perlu diingat bahwa zat antara selalu terbentuk di awal
tahap elementer dan terpakai dalam tahap elementer berikutnya.
Banyaknya molekul yang bereaksi dalam tahap elementer menentukan
molekularitas reaksi. Setiap tahap elementer yang baru dibahas disebut reaksi
bimolekuler ialah reaksi yang tahap elementernya hanya melibatkan dua molekul.
Reaksi unimolekuler ialah reaksi yang tahap elementernya hanya melibatkan satu
molekul yang bereaksi. Perhatikan proses alami dari ozon di stratosIer yang menyerap
radiasi ultraviolet yang berbahaya dan terurai membentuk molekul oksigen:
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 2_


Tahap 1 : O
3(g)

.
O
(g)
O
2(g)

Tahap 2 : O
3(g)

.
O
(g)
2 O
2(g)

Reaksi keseluruhan: 2O
3
3O
2(g)


Dalam mekanisme ini, tahap 1 adalah reaksi unimolekuler dan tahap 2 adalah
reaksi biomolekuler.
Contoh lain dapat dilihat pada reaksi penguraian hidrogen peroksida menjadi
oksigen dan air yang dikatalisis oleh ion iodida, persamaan reaksinya adalah sebagai
berikut.
2 H
2
O
2
2 H
2
O O
2
Laju reaksi yang diperoleh dari hasil percobaan menunjukkan bahwa reaksi di atas
adalah reaksi orde dua.
| || |
| |
2 2
2 2
= =
dt
d
r
Penguraian H
2
O
2
diduga berlangsung dalam dua tahapan, yaitu:
(i) H
2
O
2
I
-
H
2
O IO
-

(ii)H
2
O
2
IO
-
H
2
O O
2
I
-

Kedua tahap reaksi ini merupakan reaksi elementer dan bimolekuler. Dalam hal ini,
untuk reaksi-reaksi di atas, orde reaksinya sama dengan molekularitasnya, yaitu
reaksinya orde dua. Pada reaksi di atas terlihat bahwa ion I
-
sebagai katalis, setelah
reaksi selesai jumlahya akan tetap. Apabila reaksi tahap (i) dan (ii) dijumlahkan, akan
tampak bahwa I
-
bertindak sebagai reaktan sekaligus sebagai produk.
Orde reaksi penguraian H
2
O
2
sama dengan orde reaksi tahap (i). Hal ini
disebabkan reaksi tahap (i) dianggap berlangsung jauh lebih lambat daripada reaksi
tahap (ii), sehingga laju reaksi keseluruhan ditentukan oleh reaksi tahap (i). Reaksi
tahap (ii) dianggap berlansung sangat cepat sehingga tidak terukur bila diukur dengan

1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 2

metode yang biasa digunakan. Persamaan reaksi tahap (i) dinamakan tahap penentu laju
reaksi.
Hanya ada sedikit reaksi termolekuler, yaitu reaksi yang melibatkan tiga molekul
dalam satu tahap elementer, yang diketahui. Alasannya ialah bahwa dalam reaksi
termolekuler, produknya terbentuk sebagai akibat tumbukan tiga molekul secara
serentak, yang kecenderungan terjadinya jauh lebih kecil dibandingkan peristiwa
tumbukan bimolekular
&ntuk mendapatkan mekanisme reaksi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,
yaitu:
1. Stoikiometri keseluruhan persamaan reaksi yang sudah setara tidak
memperhatikan molekul-molekul yang sebenarnya berinteraksi.
2. Banyak reaksi berlangsung beberapa tahap, salah satu tahap reaksi berlangsung
lambat. Tahap ini adalah penentu laju reaksi
3. Laju keseluruhan dari reaksi yang berlangsung dalam tahap-tahap adalah laju
dari tahap yang paling lambat.
4. Hukum laju dari keseluruhan reaksi ditentukan oleh stoikiometri dari tahap yang
paling lambat dan bukan stoikiometri keseluruhan.
Contoh :
1. Perhatikan reaksi:
A B C D
Berlangsung dalam dua tahap.
(i). A 2X (cepat)
(ii). B 2X C D (lambat)
Laju reaksi
Menurut reaksi kesetimbangan tahap pertama, , maka
Laju reaksi
2. Reaksi A B C D berlangsung dalam dua tahap berikut.
(i). A 2X (cepat)
(ii). X B C D (lambat)
Laju reaksi
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 2_

, maka
Laju reaksi
&ntuk reaksi-reaksi yang rumit, mekanismenya dibuktikan dengan menggunakan
pendekatan keadaan mantap (steady state). Asumsi dasar pendekatan ini adalah bahwa
konsentrasi zat antara (intermediet) yang bereaksi dianggap konstan, sehingga
perubahan konsentrasi zat antara terhadap waktu sama dengan nol, . Sebagai
contoh pada reaksi penguraian nitrogen pentaoksida.
2N
2
O
5
4 NO
2
O
2
Dari penelitian ditemukan bahwa reaksi ini adalah orde pertama terhadap N
2
O
5
. Diduga
reaksi di atas berlangsung dalam 4tahap reaksi.Dalam hal inimekanisme merupakan hal
yang belum diketahui, dan di siniakan dicoba untuk membuktikanapakah
mekanismenya memang berlangsung dalam 4 tahap atau bukan dengan menggunakan
pendekatan keadaan mantap.
Tahap-tahap reaksi Laju reaksi
(i) N
2
O
5
NO
2
NO
3
r
1

(ii)NO
2
NO
3
N
2
O
5
r
2

(iii)NO
2
NO
3
NO
2
O
2
NO r
3

(iv)NO NO
3
2 NO
2
r
4


NO
3
dan NO merupakan intermediet yang sangat reaktiI, keduanya tidak merupakan
produk reaksi. Berdasarkan pendekatan keadaan mantap persamaan laju penguraian
nitrogen pentaoksida dapat diperoleh sebagai berikut.

2 1
5 2
| |
r r
dt
d
=

| |
4 3 2 1
3
= = r r r r
dt
d

| |
4 3
= = r r
dt
d

1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 2b

Jadi :
2 1
r r 2 r
3
(pers. 38)

Bila r
1
,r
2
, dan r
3
ditulis dalam bentuk yang sebenarnya, maka persamaan 3.36 akan
berubah menjadi:
k
1
|N
2
O
5
| k
2
|NO
2
||NO
3
| 2 k
3
|NO
2
||NO
3
|
|NO
3
|
| |NO k 2 | |NO k
| O |N k
2 3 2 2
5 2 1
+

diketahui bahwa :
2 1
5 2
| |
r r
dt
d
= 2 r
3
(pers. 39)


2 k3 |NO
2
||NO
3
|
2 k3 |NO
2
|

'
+

'

+ | |NO k 2 | |NO k
| O |N k
2 3 2 2
5 2 1

'
+

'

+ k 2 k
k k 2
3 2
1 3
| O |N
5 2

dt
d
=
| |
5 2
| O |N
5 2

k

'
+

'

+ k 2 k
k k 2
3 2
1 3
konstantalaju reaksi keseluruhan
Terlihat bahwa persamaan ini sesuai dengan hasil percobaan, jadi mekanisme reaksi
konsisten dengan kenyataan, bahwa memang benar laju reaksi keseluruhan merupakan
reaksi orde satu terhadap N
2
O
5
.
H. Katalis
Katalis adalah zat yang dapat mempercepat dan mengendalikan reaksi. Dengan
katalis, reaksi dapat berlangsung pada kondisi yang lunak (temperature dan tekanan
rendah) dengan laju reaksidan selektivitas tinggi.
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 2;

Katalis dapat mempercepat reaksi karena mengadakan interaksi dengan paling
sedikit satu molekul reaktan menghasilkan senyawa antara yang lebih aktiI. Interaksi ini
akan meningkatkan laju reaksi sebagai akibat dari satu atau beberapa kemungkinan
berikut : terjadi alur reaksi dengan energy aktivasi yang rendah, peningkatan ketepatan
orientasi tumbukan, peningkatan kemungkinan tumbukan antar reaktan, dan
peningkatan konsentrasi akibat lokalisasi reaktan sehingga meningkatkan jumlah
tumbukan.
Berdasarkan Iasa katalis dan campuran reaksinya, katalis dapat dibedakan
menjadi dua yaitu :
1. katalis homogen
2. katalis heterogen
Katalis homogen adalah katalis yang berIasa sama dengan campuran reaksinya.
Sedangkan katalis heterogen adalah katalis yang berbeda Iasa dengan reaktan dan
produk reaksinya.

1. Katalis Homogen
(i) Katalis Asam-Basa
Katalis asam basa memegang peranan sangat penting dalam perkembangan
kimia Iisika, khususnya pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-2. Ostwald dan
Arrhenius menyatakan bahwa kemampuan suatu asam untuk mengkatalis reaksi tertentu
tidak tergantung pada siIat anion tetapi tergantung pada hantaran listrik larutannya.
Mereka menyimpulkan bahwa hantaran tersebut adalah suatu ukuran kekuatan asam dan
konsentrasi ion hydrogen. Pernyataan yang mirip juga dinyatakan bahwa laju suatu
reaksi yang dikatalis oleh basa tergantung pada hantarannya tetapi tidak oleh siIat
kation, yang menunjukkan bahwa reaksi katalisis dilakukan oleh ion hidroksida.
Jika reaksi dilakukan dalam air yaitu dalam larutan yang bersiIat asam sehingga
konsentrasi ion hidroksida rendah sehingga aksi katalisnya tidak besar. Dilain pihak, ion
hydrogen sangat eIektiI sebagai katalis, dan laju reaksi dapat dinyatakan sebagai
berikut.
r k
o
|S| k
H

|S||H

| (pers. 4)
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 2B

k
o
adalah konstanta laju untuk reaksi tanpa katalis, |H

|adalah konsentrasi ion hydrogen


dan k
H


adalah konstanta laju untuk reaksi yang dikatalisis oleh ion hydrogen.
Bagaimanapun juga, dalam keadaan seperti di atas, reaksi juga dikatalisis
olehion hidroksida, sehingga persamaan laju dapat ditulis
r k
o
|S| k
H

|S||H

| k
OH
-

|S||OH
-
| (pers. 41)

&ntuk reaksi orde pertama, konstanta lajunya dinyatakan sebagai:
k
| |$
r
(pers. 42)
Oleh karena itu :
k k
o
k
H

|H

| k
OH
-
|OH
-
| (pers. 43)

Konstanta k
H


dan k
OH
-
dikenal sebagai konstanta katalitik untuk ion hydrogen dan ion
hidroksida.
&ntuk system larutan dalam air, konsentrasi H

dan OH
-
dihubungkan suatu
pendekatan sebagai berikut.
|H

||OH
-
| k
w
sehingga,
k k
o
k
H

|H

|
| |
+

(pers. 44)
Dalam beberapa larutan salah satu Iactor konsentrasi ini dapat diabaikan terhadap yang
lain. Sebagai contoh, dalam larutan asam klorida ,1 M, Iactor kedua dalam persamaan
diatas adalah 1
-1
k
H

mol dm
-3
, sementara Iactor ketiga adalah 1
-13
k
OH
-
mol dm
-3
(jika
pada 25

C K
w
1
-14
mol
2
dm
-3
). Akibatnya, jika tidak k
OH
-
jauh lebih besar dari k
H

,
maka Iactor ketigadapat diabaikan terhadap Iactor kedua. Pda konsentrasi asam ini,
katalis oleh ion hidroksida tidak begitu penting, hal yang mirip dengan larutan NaOH
,1 M, katalis oleh ion hydrogen biasanya tidak penting. Jadi secaraumumdapat
dikatakan bahwa konsentrasi ion hydrogen jauh lebih besardari ion hidroksida, katalis
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 2

oleh ion hidroksida tidak penting, sebaliknya jika konsentrasi ion hidroksida jauh lebih
besar dari ion hydrogen katalisis oleh ion hydrogen dapat diabaikan.
Tahun 1913, Dawson dan Powis melakukan pengukuran secara hati-
hatipadareaksi aseton dan iodium. Hasil yang diperolehbahwa untuk katalisbuIIerasam
asetaion asetat, reaksi tidak hanyadikatalisis olehion H

dan OH
-
tetapi juga oleh asam
asetat yang tidak TERDISOSIASI oleh ion asetat. Oleh karena itu konstanta laju untuk
proses tersebutdinyatakan sebagai berikut :
k k
o
k
H

|H

| k
OH
-
|OH
-
| k
HA
|HA| k
A
|A
-
|
Dalam hal ini HA menyatakan asam asetat, A
-
menyatakan ion asetat, dan k
HA
dan k
A

berhubungan dengan konstanta katalitik.
Jika katalis dilakukan oleh selain ion hidrogendan hidroksida, katalis
tersebutdikenal sebagai katalisasam basa umum. Sebaliknya jika katalisis dilakukan
hanya oleh ion hydrogen dan ion hidroksid, katalis itu disebut sebagai katalis asam basa
spesiIik.

(ii) Katalis Enzim
Katalis enzim merupakan katalis biologi yangsangat spesiIik dibandingkan katalis
asam-basa. Beberapa enzim menunjukkan spesiIikasi yang absolute, sebagai contoh
adalah urease yang hanya mengkatalisis hidrolisis urea.
CO(NH
2
)
2
H
2
O CO
2
2 NH
3
Katalis yang kurang spesiIik seperti enzim proteolitik yangdapat mengkatalisis
hidrolisis ikatan peptide padaprotein, katalis ini dikenal dengan katalis spesiIikasi
kelompok. Beberapa enzim menunjukkan spesiIikasi stereokimia yang mengkatalisis
reaksi-reaksiyang memiliki bentuk stereokimia dan tidak terhadap yang lainnya; sebagai
contoh enzim proteolitik yang hanya mengkatalisis hidrolisisikatan peptide yang berasal
dari asam-asam amino yang memiliki konIigurasi L.
Enzim adalah suatu protein , yang dapat dihubungkan dengan zat-zat bukan
protein (yang disebutkoenzim atau gugus prostetik) yang mempengaruhi kerja enzim.
Beberapa enzim menjadi tidak aktiI apabila ketidak hadiran ion-ion logam sebagai
koenzim. &ntuk sejumlah enzim, aktivitasnya disebabkan oleh dengan daerah yang
kecil padamolekul protein yang dikenal sebagai pusataktiI.
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj _D

Kinetika reaksi enzimatik dipengaruhi oleh konsentrasi substrat, pH, dan
temperature. Pengaruh konsesntrasi substrat yang paling sederhana adalah substrat
tunggal; seperti hidrolisis ester. Ketergantungan konsentrasi substrat terhadap laju
reaksi enzimatikdapat dilihat pada gambar dibawah. Laju reaksi berbanding lurus
dengan konsentrasi substrat pada konsentrasi substrat rendah danmenjadi tidak
berpengaruh pada konsentrasi (kinetika orde ke-nol) pada konsentrasi tinggi. Perilaku
reaksi seperti ini ditemukan padareaksi permukaan unimolekular yang pertama kali
dijelaskan oleh Michaelisdan Menten dalam suatu mekanisme sebagai berikut.
E S ES
ES E P

S merupakan substrat, E enzim, dan P produk

Dengan pendekatan steady-state diperoleh :
dt
E$ d | |
k
1
|E||S| k
-1
|ES| k
2
|ES|
|ES|
1 2
1
| || |

+
$ E

Laju reaksi r adalah
r | |
| |
2
E$
dt
P d
=
r
1 2
1 2
| || | | |

+
=

$ E
dt
P d

Dalam mempelajari reaksi enzimatis, konsentrasi molar dari substrat biasanya sangat
besardari pada konsentrasi enzim. Total konsentrasi enzim |E|

, sama dengan
konsentrasi enzim bebas, |E| ditambah konsentrasi kompleksenzim substrat |ES|.
|E|

|E| |ES| atau |E| |E|

|ES| (pers. 45)


Eliminasi |E| pada persamaan 46 diperoleh
|ES|
1 2
1
| || | | |

+
$ E$ E

k
1
k
2
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj _1

|ES|
| |
| | | |
1 1 2
1
$
$ E
+ +


Dengan demikian laju reaksi menjadi;
r
| |
| | | |
1 1 2
1 2
$
$ E
+ +


r
| |
| | | |
1
1 2
2
$


$ E
+
+


r
| |
| | | |
2
$
$ E
m
+

Persamaan ini dikenal sebagai persamaan Michaelis-Menten dan K
m
dikenal sebagai
tetapan Michaelis.
Jika konsentrasi substrat sangat kecil maka |S| substrat dapat diabaikan terhadap
K
m
sehingga kinetika reaksi adalah reaksi orde satu terhadap substrat.
. J . J $ E

r
m

2
=
Sebaliknya jika |S| ~~K
m
maka kinetika reaksi adalah reaksi orde nol, dimana enzim
jenuh dengan substrat dan penambahan |S| selanjutnya tidak memberikan pengaruh
terhadap lju rekasi
r k
2
|E|

(pers. 46)


. J
. J S K
S r
r
m
+
=


Dimana r

sam dengan k
2
|E|

yang membatasi laju reaksi pada konsentrasi substrat


tinggi dan sering disebut laju maksimum. Jika |S| K
m
maka

. J
. J . J 2
r
S S
S r
r

=
+
=
Konstanta Micaelis, K
m
dapat ditentukan dari plot r terhadap |S|, dengan membuat
konsentrsi substrat yang memberikan setengan laju pembatas. Secara praktis, cara ini
tidak memberikan nilai yang sangat reliable.
Penyusunan ulang persamaan menghasilkan:
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj _2



+ =
r $ r

r
m
1
| |
1
(pers.47)
Plot 1/r terhadap 1/|S| member garis lurus. Hal ini disarankan oleh Lineweaver dan
Burk, ditunjukkan secara skematik pada Gambar...










#easi Enimati dengan ehadiran nhibitor
Dalam reaksi enzimatik terdapat tiga jenis inhibitor, yaitu (i) inhibitor kompotitiI
(a), (ii) inhibitor unkompetitiI (b), dan (iii) non kompetitiI (ab).
E S ES P

(a)I (b)I


EI ESI
Inhibitor kompetitif
Mekanisme reaksinya sebagai berikut
K
1

E S ES
K
1
K
1

E S EI


1/|S|

Gambar 13 Plot 1/r vs 1/|S| dalam persamaan 47
Interseo -1/K
m
Intersep 1/r

Slop K
m
/r

1/r

1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj __

Penurunan Persamaan Lajunya adalah sebagai berikut
. J. J
. J
. J . J . J . J . J . J
. J. J
. J. J . J . J . J. J . J
. J
. J
. J . J
. J
. J
. J . J
. J
. J
. J
. J
. J

'
+

'

+ +
=

'
+

'

+ +
=

'
+

'

+ +
=

= =
= =
=
1 1
2
1

1
1
1
1
1
1
1
1

$
$ r

$
$ E
r

$
$ E
E$
E$
$ E$ E$ E
E$
$ E

E$
E$ E E$ E$ E E
E$
E$

m m
m
m


Inhibitor Non Kompetitif
Mekanisme reaksinya :
E S
k
1
ES
ES 1
K
1
ESI
ES P E
k
-1
k
2

2. Katalis Heterogen
I. Komponen katalis heterogen
Katalis heterogen yang biasanya berupa padatan memiliki pusat aktiI
yang tidak seragam. Tidak semua bagian permukaan padatan dapat berIungsi
sebagai pusat aktiI dan tidak semua pusat aktiI memiliki keaktivan yang sama.
Perbedan Iase dan heterogenitas permukaan ini menyebabkan katalis
heterogen menjadi kurang aktiI dibandingkan dengan katalis homogen.
Kelebihan katalis heterogen adalah mudah dipisahkan dari campuran reaksi
sehingga dapat dipergunakan secara berulan. Selain itu katalis heterogen lebih
stabil terhadap perlakuan panas sehingga dapat dipergunakan pada suhu operasi
yang tinggi.
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj _

Adapun komponen-komponen katalis heterogen yaitu Iasa aktiI,
penyangga dan promotor. Ketiga komponen tersebut masing-masing atau secara
bersama-sama dapat memberikn siIat katalis yang diinginkan.
a. Fasa aktiI
Fasa aktiI adalah pengemban Iungsi utama katalis, yaitu mempercepat
dan mengarahkan rekasi.sebagai Iasa aktiI digunkan logam atau oksida logam.
Logam yang banyak digunakan katalis adalah logam transisi. Logam oksida
transisi bersiIat semikonduktor tipe p dan tipe n sehingga pada temperatur tinggi
dapat menyumbangkan atau menangkap elektron yang terlibt dalam rekasi.
b. Penyangga
Pada katalis heterogen dengan katalis padat reaksi berlangsung
dipermukaan katalis. Fase aktiI sering tidak memiliki permukaan yang luas
karena berada dalam bentuk butir yang besar, sehingga tidak semua pusat
aktiInya dapat melakukan kontak dengan reaktan. Pada keadaan ini diperlukan
padatan pendukung / penyangga yang memiliki luas tempat Iasa aktiI ditebarkan
sehingga memperluas kontak antara Iasa ktiI dan reaktan.
Keuntungan yang diperoleh dengn penebaran Iasa aktiI dipermukaan
padatan pendukung adalah :
1. Pendukung dapat memperbesar luas permukaan Iasa aktiI
2. Padatan pendukung dapat mempertahankan struktur kristal mikro Iasa aktiI
dari eIek sintering pada suhu kerja yang tinggi sehingga meningkatkan
kestabilan termal dari katalis
Sesuai Iungsinya sebagai tempat penebaran Iasa aktiI, penyangg harus
memiliki permukaan yang luas sehingga memungkinkan terjadinya kontak yang
maksimal antara rekatan dan Ias aktiI. Penyangga biasanya dibuat dari keramika
atau paduan logam.
c. Promotor
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj __

Promotor ditambahkan dengan katalis dengan tujuan meningkatkan
kinerja, aktivitas, selektivitas dan stabilitas katalis. Promotor dalam interaksinya
dengan komponen katalis yang lain dapat berIungsi sebagai agen pemisah
partikel Iasa aktiIsehingga dapat menghambat terjadinya sintering Iasa aktiI.
Promotor juga dapat berIungsi sebagai pusat aktiI
II. Mekanisme Reaksi Katalis Heterogen
Mekanisme Reaksi Katalis Heterogen mengikuti tahapan-tahapan
sebagai berikut :
1. DiIusi pereaksi menuju permukaan katalis
2. Adsorpsi molekul pereaksi pada permukaan katalis
3. Reaksi berlangsung pada permukaan katalis
4. Desorpsi hasil reaksi dari permukaan katalis
5. DiIusi hasil reaksi meninggalkan permukaan katalis
Mekanisme reaksi katalis heterogen dapat dibedakan menjadi dua yaitu
reaksi unimolekuler dan reaksi bimolekuler
a. Reaksi &nimolekuler
Reaksi permukaan katalis yang melibatkan molekul tunggal disebut
reaksi unimolekuler. Misalkan reaksi berlangsung sebagai berikut
S P AS S A + +
Jika adalah Iraksi permukaan yang tertutupi dan 1- adalah Iraksi
permukaan kosong maka laju adsorpsi adalah . J ) 1 A k
a
, dimana . J A adalah
konsentrasi molekul gas A dan k
a
adalah konstanta laju reaksi. Sedangkan laju
desorpsi adalah k
a
. Pada saat kesetimbangan laju adsorpsi sama dengan laju
desorpsi, sehingga :
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj _b


. J
. J
. J A
A

A
a
a
a a
=


1
1
) 1 (

Dimana K k
a
/ k
1-a
adalah konstanta kesetimbangan untuk proses adsorpsi. Persamaan
ini dapat ditulis sebagai

. J
. J A
A
+
=
1

Laju reksi sebanding denagn Iraksi permukaan yang tertutup , oleh karena itu laju
rekasi r adalah

. J
. J A K 1
A kK
k0 r
+
= =
b. Reaksi Bimolekuler
Terdapat dua mekanisme berbeda untuk reaksi pada permukaan katalis
antara dua reaktan A dan B, yaitu mekanisme Langmuir-Hinshelwood dan
mekanisme Langmur-Rideal. Dalam mekanisme Langmuir-Hinshelwood, reaksi
terjadi antara molekul A dan B jika keduanya teradsorbsi pada permukaan.
Sedangkan dalam mekanisme Langmur-Rideal, reaksi terjadi antara molekul
teradsorpsi dengan molekul dalam Iasa gas.

Mekanisme Langmuir-Hinshelwood
Dalam mekanisme ini laju reaksi sebanding dengan Iraksi molekul A dan B
yang teradsorpsi. Fraksi molekul A dan B teradsorpsi diberikan oleh persamaan
sebagai berikut :

. J
. J . J B A
A
B A
A
A
+ +
=
1


. J
. J . J B A
B
B A
B
B
+ +
=
1

Persamaan laju reaksinya adalah :

B A
r =
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj _;


. J. J
. J . J
2
) 1 ( B A
B A
r
B A
B A
+ +
=
Jika . J B dibuat konstan dan . J A dibuat bervariasi, laju reaksi dapat diperlihatkan
seperti gamabr dibawah ini.

v







Gambar 15. Variasi laju dan konsentrasi A pada reaksi bimolekuler melalui
mekanisme Langmuir-Hinshelwood

Mekanisme Langmuir-Rideal
Misalkan dalam mekanisme Langmuir-Rideal, reaksi terjadi antara molekul
A teradsorpsi dengan molekul B dalam Iasa gas. Laju reaksinya sebanding dengan
Iraksi permukaan yang ditutupi oleh molekul A, 0
A
, dan konsentrasi molekul B,
. J B .
. J B r
A
=

. J. J
. J A
B A
r
A
A
+
=
1

Jika . J B dibuat konstan dan . J A divariasikan, laju reaksinya dapat diperlihatkan
seperti gambar berikut.




v u |A|
| |
1
A
;-

. J. J
. J . J
2
) 1 ( B A
B A
r
B A
B A
+ +
=

|A| dengan |B| dibuat konstan
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj _B

r






Gambar 16. Variasi laju dan konsentrasi A pada reaksi bimolekuler melalui
mekanisme Langmuir-Rideal

1. Teori Laju Reaksi
Terdapat dua teori yang laju reaksi kimia, yaitu :
a. Teori Tumbukan (Theory of Collision)
b. Teori Keadaan Transisi (Transition $tate Theory)
(i) Teori Tumbukan
Menurut teori ini, sebelum terjadi reaksi maka harus terjadi tumbukan antar
partikel/molekul-molekul pereaksi. Traut dan Lewis menyatakan dalam pembahasan
teori ini ada beberapa anggapan dasar, yaitu :
a) Tiap partikel/molekul dianggap berbentuk bola yang keras
b) Setiap tumbukan menghasilkan reaksi
c) Laju reaksi sama dengan jumlah tumbukan per satuan waktu per satuan
volum.
&ntuk gas yang hanya mengandung satu jenis molekul A, jumlah tumbukan Z,
menurut teori tumbukan sederhana adalah sebagai berikut.
u d Z
A A A
2 2
,
2
2
1
6 =
Dimana N
A
adalah jumlah molekul persatuan volum, d adalah diameter molekul
(jarak antara dua pusat molekul jika terjadi suatu tumbukan), dan u adalah kecepatan
molekul rata-rata, yang menurut teori kinetik gas dinyatakan sebagai berikut.

2
1
8

'
+

'

=
m
T
u
6

. J. J
. J A
B A
r
A
A
+
=
1

r u |A|
r u |A|
o
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj _

dimana m adalah massa molekul. Jika persamaan diatas dimasukkan ke persamaan
u d Z
A A A
2 2
,
2
2
1
6 = , diperoleh :

2
1
2 2
,
2
'
+

'

=
m
T
d Z
A A A
6

Satuan SI untuk jumlah tumbukan Z
A,A
adalah m
-3
s
-1
.

Jika tumbukan terjadi antara molekul yang tidak sejenis, misalnya antara
molekul A dan molekul B dengan massa m
A
dan m
B
, maka jumlah tumbukan Z
A,A
adalah :

2
1
2
8

'
+

'
+
=
B A
B A
B A AB
m m
m m
T d Z 6
Massa reduksi 3 dinyatakan dengan persamaan :

B A
B A
m m
m m +
= 3
Sehingga persamaan 1 dapat ditulis :

2
1
2
8

'
+

'

=
3
6T
d Z
B A AB

Apabila jumlah tumbukan yang diIormulasikan oleh Traut dan Lewis di atas,
dikalikan dengan Iaktor Arrhenius
#T
E
e

akan memberikan laju pembentukan


produk reaksi yang menyatakan jumlah molekul yang dibentuk persatuan volum per
satuan waktu. Reaksi antara molekul A dan B, laju reaksinya dinyatakan :

#T
E
B A
e
T
d r

2
1
2
8

'
+

'

=
3
6

Bila persamaan ini dibagi oleh N
A
N
B
akan memberikan konstanta laju dalam
satuan molecular (satuan SI m
-3
s
-1
), ini dapat diubah menjadi satuan molar (satuan SI
m
-3
mol
-1
s
-1
) melalui perkalian dengan bilangan Avogadro, L.

#T
E
e
T
Ld

2
1
2
8

'
+

'

=
3
6

Faktor pra-eksponensial pada persamaan ini dikenal sebagai Iactor Irekuensi
tumbukan, yang disimbulkan dengan Z
AB
(atau Z
AA
untuk satu jenis molekul).
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj D


2
1
2
8

'
+

'

=
3
6T
Ld Z
AB

Oleh karena itu konstanta lajunya dapat dinyatakan sebagai berikut :

#T
E
AB
e Z

=
Lewis menerapkan persamaan ini pada reaksi :
2HI H
2
I
2
dan menghitung Iaktor pra-eksponensial senilai 3,5 x 1
-7
dm
3
mols
-3
pada suhu 556.
Hasil ini sangat sesuai dengan hasil eksperimen yaitu 3,52 x 1
-7
dm
3
mols
-3
. Namun
untuk reaksi-reaksi yang lebih kompleks, terjadi penyimpangan yang sanagt
signiIikan. Agar hasil perhitungan Iaktor pra-eksponensial untuk molekul kompleks
secara teori mendekati hasil yang diperoleh secara eksperimen, maka dalam
persamaan
#T
E
AB
e Z

= , perlu dimasukkan Iaktor lain yaitu P, yang dikenal
sebagai Iaktor sterik (orientasi).

#T
E
AB
e PZ

=
Evaluasi terhadap P juga belum memuaskan, ini menunjukkan bahwa selain
Iaktor orientasi, ada Iaktor lain yang berpengaruh terhadap nilai k namun masih sulit
diramalkan.
Disamping kelemahan diatas, teori tumbukan sederhana tidak konsisten dengan
Iakta bahwa pada kesetimbangan perbandingan laju reaksi maju dan balik adalah
konstan. Oleh karena itu, jika konstanta laju reaksi tersebut diIormulasikan sebagai
berikut .

#T
E
e Z
1
1

1
= dan
#T
E
e Z
1
1


=
Perbandingannya adalah :

#T
E E
c
e

) (

1
1
1
1
2 1


= =
Persamaan ini lebih baik dikaitkan dengan Iaktor entropi sehingga konstanta
kesetimbangan dinyatakan :

#T

#
$
c
e e
H H
=


Tahun 1933, La Mer mencoba memperkenalkan Iaktor entropi kedalam persamaan
teori kinetik sebagai berikut.
1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 1


#T

#
$
e e
H H
=


Dalam hal ini, H $ dan H adalah perubahan entropi dan entalpi standar
dalam reaksi untuk mencapai keadaan transisi. Langkah ini juga kurang memuaskan
secara keseluruhan tetapi sangat berguna dalam menghantarkan menuju teori
keadaan transisi.
(ii)Teori Keadaan Transisi
Kelemahan utama dari teori tumbukan adalah bahwa usaha untuk
menghubungkan Iaktor sterik P dengan struktur molekul dan siIat-siIat reaktan tidak
berhasil dilakukan. selain itu, usaha untuk menduga nilai energi aktivasi tidak
berhasil dilakukan.
Sebagian besar usaha-usaha di atas berhasil dipecahkan dengan menggunakan
teori keadaan transisi (disebut juga teori absolut) yang dikemukakan oleh Henry
Fyring dan kawan-kawan pada tahun 1935. Teori keadaan transisi dapat menduga
nilai konstanta laju reaksi secara tepat dan memungkinkan untuk menghubungkan
Iaktor sterik P dengan entropi. Teori ini didasarkan atas anggapan bahwa ketika
molekul-molekul atau atom-atom bereaksi, sebelum membentuk produk, molekul-
molekul atau atom-atom membentuk kompleks aktiI. Kompleks ini dianggap berada
pada puncak energi penghalang antara keadaan awal dan akhir. &ntuk reaksi antara
reaktan A dan B dapat ditulis :
A B X

produk
X

menunjukkan kompleks aktiI.
Lebih lanjut diasumsikan bahwa walaupun sistem tidak berada dalam keadaan
setimbang, tetapi kompleks aktiI selalu membentuk kesetimbangan dengan reaktan
A dan B.
Dengan menerapkan hukum kesetimbangan terhadap kompleks dan reaktan akan
diperoleh suatu persamaan :

. J
. J. J B A
X






1D1n 1:1In JJ
T_: n:1h, 11:Dn, J+1, `1Dnn, J:Dnj 2

DAFTAR P&STAKA

Sukardjo.1997. Kimia Fisika.Jakarta: Rineka Cipta
Atkins. 199. imia Fisia. Jakarta: Erlangga
Dogra. 199. imia Fisi dan $oal-soal. Jakarta: &niversitas Indonesia
Suardana, I Nyoman, Nyoman Retug, dan I Wayan Subagia. 22. Buu Afar imia
Fisia. Singaraja : &ndiksha