Anda di halaman 1dari 12

!

72,7$:7;0
Initial Assesment
Dalam praktik kesehariannya, seorang dokter akan banyak sekali menemui kasus trauma.Pada trauma
yang serius membutuhkan pemeriksaan yang cepat, juga terapi awal yang dapat menyelamatkan jiwa.
Tindakan ini dikenal sebagai Initial assessment dan meliputi :
1. Persiapan
2. Triage
3. Primary survey (ABCDE)
4. Resusitasi terhadap Iungsi vital
5. Riwayat kejadian
6. Secondary survey (evaluasi dari kepala- ujung kaki)
7. Monitoring post resusitasi yang berkelanjutan
8. Reevaluasi
9. Perawatan deIinitive

Catatan :
O edua pemeriksaan yaitu primary dan secondary survey harus diulang secara berkala untuk
memastikan tidak adanya proses deteriorasi.
O Pada bab ini tindakan yang dilakukan akan dipresentasikan secara longitudinal. Pada setting
klinik yang sebenarnya, banyak aktivitas ini terjadi secara simultan.
O Serangan jantung yang terjadi pre hospital bisaanya akan berakibat Iatal apabila terjadi lebih dari
5 menit.

!ersiapan Di Rumah sakit
Rencana tambahan bagi pasien trauma sangatlah penting. Tiap rumah sakit harus memiliki Protokol
Trauma.
Triage
Merupakan kegiatan yang dilakukan pada setting prehospital, namun kadang-kadang dapat dilakukan
pada ED, jika :
O asilitas yang tidak mencukupi : pasien yang terlihat paling parah yang akan ditangani lebih dulu.
O ika Iasilitas sangat mencukupi : pasien yang paling potensial untuk diselamatkan yang akan
ditangani lebih dulu.

!rimary Survey (ABCDE) dan Resusitasi
Selama dilakukannya !rimary Survey, kondisi yang mengancam jiwa harus diidentiIikasi dan ditangani
secara simultan. Ingat bahwa tindakan lanjutan yang logis harus disesuaikan dengan prioritas yang
didasari oleh pemeriksaan pasien secara keseluruhan.

Catatan : Prioritas penanganan pasien pediatri dasarnya sama dengan penanganan pada dewasa,
walaupun kuantitas darah, cairan, dan obat-obatan mungkin berbeda.
!emeriksaan 1alan Nafas dengan kontrol Cervical Spine
O !emeriksaan : 1alan nafas dan cari adanya :
1. Benda asing
2. raktur mandibula/Iacial
3. raktur trakeal/laryngeal
O !emeriksaan singkat Untuk mencari Obstruksi jalan nafas
1. Stridor
2. Retraksi
3. Sianosis
O anajemen : !ertahankan jalan nafas yang paten
1. akukan manuver chin lift atau faw thrust
2. bersihkan jalan naIas dari benda asing
3. Masukkan oroIaringeal atau nasoIaringeal airway
4. Pertahankan definitive airway
a. Intubasi orotracheal atau nasotrakeal
b. eedle cricothyrotomy dengan fet insufflation pada jalan naIas
c. rikotirotomi dengan pembedahan
O !erhatian
1. asumsikan bahwa trauma cervical spine merupakan trauma multisistem, terutama dengan
gangguan kesadaran atau trauma tumpul diatas clavicula.
2. Tidak adanya deIisit neurologik bukan berarti kita dapat mengeksklusi trauma pada servical
spine.
3. jangan lumpuhkan pasien sebelum memeriksa jalan naIas untuk mencari 'diIIicult airway
4. Penyebab cardiac arrest/serangan jantung selama atau sesaat setelah intubasi endotrakeal :
a. Oksigenasi yang inadekuat sebelum intubasi
b. Intubasi esophageal
c. Intubasi bronchial pada bagian mainstem atau cabang utamanya.
d. Tekanan ventilasi yang berlebihan menyebabkan memperlambat venous return.
e. Tekanan ventilasi yang berlebihan menyebabkan tension pneumothorax.
I. Emboli udara
g. Respon vasovagal
h. Alkalosis respiratori yang berlebihan.

BernaIas (Ventilasi dan pathway oksigenasi jalan naIas sendiri, tidak akan mendukung ventilasi yang
adekuat).
O !emeriksaan
1. periksa bagian leher dan dada : pastikan immobilisasi leher dan kepala.
2. Tentukan laju naIas dan dalamnya pernaIasan.
3. Inspeksi dan palpasi leher dan dada untuk mencari deviasi trakeal, gerakan dada yang
unilateral atau bilateral, penggunaan otot aksesorius, dan adanya tanda-tanda injury.
4. Auskultasi dada secara bilateral, basal dan apeknya.
5. ika terdapat suara yang berbeda antara kedua sisi dada, maka perkusi dada untuk mengetahui
adanya dullness` atau hiperresonan` untuk menentukan adanya hemotorak atau
pneumothorax secara berturut-turut:
a. Tension pneumothorax
b. lail chest dengan kontusio pulmonal
c. Pneumothorax terbuka
d. Hemothorax massive

O !enatalaksanaan
1. Pasang pulse oksimetri pada pasien
2. Berikan oksigen konsentrasi tinggi
Catatan : iO
2
~ 0,85 tidak dapat dicapai dengan nasal prongs atau dengan Iace mask yang simple. Non-
rebreather mask dengan reservoir diperlukan untuk mencapai iO
2
100.
3. Ventilasi dengan bag-valve mask
4. Ringankan keadaan tension pneumothorax dengan memasukkan jarum ukuran besar secara
cepat kedalam ICS 2 pada midklavikular line dari sisi paru yang terkena, kemudian diikuti
dengan pemasangan chest tube pada ICS 5 anterior dari mid aksilari line.
5. Tutup penumothorax yang terbuka dengan pelekat kassa steril, cukup besar untuk menutupi
tepi luka, dan lekatkan pada tiga sisi untuk menciptakan eIek Ilutter-valve. emudian
masukkan chest tube pada sisi sisanya.
6. pasang peralatan monitoring end tidal CO2 (jika tersedia) pada endotrakeal tube.

uapaL mengganggu
pernafasan secara akuL
!erhatian
1. Membedakan gangguan pernaIasan dengan airway compromised mungkin akan sulit, karena jika
gangguan pernaIasan yang terjadi akibat pneumothorak atau tension pneumothorax namun
disalahartikan sebagai suatu masalah jalan naIas sehingga jika pasien diintubasi, keadaan pasien
akan semakin memburuk.
Intubasi dan ventilasi dapat menyebabkan terjadinya pneumothoraks; sehingga CXR harus
dilakukan segera setelah intubasi dan ventilasi.
3 jangan paksa pasien untuk berbaring pada trolley terutama bila pasien lebih nyaman untuk
bernaIas pada posisi duduk.

Sirkulasi dengan Kontrol perdarahan
O Hipotensi setelah terjadi injury harus dipertimbangkan sebagai akibat hipovolemik sampai
terbukti tidak. IdentiIikasi sumber perdarahannya.
O Pemeriksaan cepat dan akurat terhadap status hemodinamik sangat penting. Elemen yang penting
a.l:
1. Tingkat kesadaran : Penurunan tekanan perIusi serebral dapat terjadi akibat hipovolemi.
2. Warna kulit : kulit kemerahan : jarang menandakan hipovolemia. wajah keabu-abuan/kelabu,
kulit ektremitas putih menunjukkan hipovolemi; bisaanya mengindikasikan kehilangan
volume darah setidaknya 30.
3. Nadi
4. BP jika waktu mengijinkan
a. jika nadi pada radialis teraba, BP ~80mmHg
b. ika hanya ada di Carotid BP ~ 60 mmHg.
c. Periksa kualitas nadi; penuh dan cepat
d. Nadi irregular menandakan kemungkinan cardiac impairment
O !enatalaksanaan
1. tekan langsung daerah perdarahan eksternal
2. pasang jalur IV dengan ukuran 14G atau 16G
3. Darah untuk : GXM 4-6 unit darah, BC, urea/elektrolit/kreatinin, proIil koagulasi dan BGA
jika diperlukan
Catatan : ika darah gol. O negatiI tidak tersedia, gunakan tipe darah yang spesiIik
4. berikan terapi cairan IV dengan kristaloid hangat (NS atau Hartmann`s) dan transIuse darah.
5. pasang monitor EG :
a. Disrritmia, pertimbangkan tamponade jantung
b. Pulseless electrical activity : pertimbangkan tamponade jantung, tension
pneumothorax, hipovolemia
c. Bradikardi, konduksi abberant, ventricular ektopik,: pertimbangkan hipoksia,
hipoperIusi
6. Pasang kateter urin dan NGT kecuali ada kontraindikasi.
Catatan : output urin adalah indicator sensitive untuk mengetahui status volume tubuh. ateter urin
merupakan kontra indikasi jika ada kecurigaan injury pada urethra, misal:
a. darah pada meatus uretra
b. Hematom skrotum
c. Prostate tidak bisa dipalpasi
Gastric tube diindikasikan untuk mengurangi distensi lambung dan menurunkan resiko
aspirasi. Darah pada cairan aspirasi lambung mungkin berarti :
a. darah oroIaring yang tertelan
b. akibat tauma pemasangan NGT
c. injury pada GIT bagian atas
ika ada epistaksis atau serebrospinal Iluid rhinorrhea yang mengindikasikan adanya
Iraktur cribriIorm plate, pasang NGT per oral daripada melalui nasal.
7. cegah hipotermi


O !erhatian:
1. hipotensi persisten pada pasien trauma bisaanya terjadi karena hipovolemi akibat perdarahan
yang terus-menerus.
2. pada lansia, anak-anak, atlet, dan pasien lain dengan kondisi medis kronik, tidak adanya respon
terhadap hilangnya volume merupakan keadaan yang bisa terjadi. ansia mungkin tidak
menunjukkan takikardi saat kehilangan darah, lebih parah lagi pada pasien pengguna beta
blocker. Pasien anak yang resah akan sering menunjukkan tanda hipovolemi yang parah.
3. coba jangan memasukkan emergency suclavian line pada sisi yang sehat dari pasien trauma dada.
alur IV Iemoral dapat digunakan. ika central line digunakan untuk resusitasi harus digunakan
jarum ukuran besar (~8r)

Disabilitas (Evaluasi Neurologik)
Cek tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil.
O Metode AVPUP
A Alert
V respon terhadap rangsang Vokal
P respon terhadap rangsang !ain
U UnresponsiI
P ukuran dan reaksi !upil
Catatan : GCS lebihdetil namun termasuk pada secondary survey; kecuali jika akan melakukan
intubasi maka pemeriksaan GCS harus dilakukan lebih dulu.
1. tentukan tingkat kesadaran dengan metode AVPUP
2. Periksa pupil untuk ukurannya, equalitas dan reaksinya.
!erhatian
angan anggap AMS hanya terjadi akibat trauma kepala saja, pertimbangkan :
1. Hipoksia
2. Syok
3. intoksikasi alcohol/obat
4. hipoglikemi
5. sebaliknya jangan anggap AMS terjadi akibat intoksikasi alkohol atau obat, dokter harus dapat
mengeksklusi adanya cedera kepala.

ontrol terhadap paparan/lingkungan
epas semua pakain pasien, cegah hipotermi dengan memakaikan selimut dan atau cairan IV yang hangat,
berikan cahaya hangat.
O Monitoring nadi, BP, pulse oksimetri, EG, dan output urin terus-menerus.
O akukan X ray
1. ateral cervical spine
2. Dada AP
3. Pelvis AP
Secodary Survey
O Evaluasi keseluruhan termasuk tanda vital, BP, nadi, respirasi dan temperature
O Dilakukan setelah primary survey, resusitasi, dan pemeriksaan ABC.
O Dapat disingkat menjadi tubes and fingers in every orifice
O Dimulai dengan anamnesa AMPE :
A Alergi
M Medikasi yang dikonsumsi baru-baru ini
P !ast illness (RPD)
Last meal (makan terakhir)
E Event/environment yang terkait injury

Kepala dan Wajah
O !emeriksaan
1. inspeksi adanya laserasi, kontusio dan trauma panas
2. Palpasi adanya Iraktur
3. Evaluasi ulang pupil
4. ungsi nervus cranial
5. Mata : perdarahan, penetrating injury, dislokasi lensapemakaian contact lenses
6. Inspeksi telinga dan hidung untuk mencari CS leakage
7. Inspeksi mulut untuk mencari perdarahan dan CS
O !enatalaksanaan
1. Pertahankan airway
2. ontrol perdarahan
3. Hindari brain injury sekunder
4. epaskan lensa kontak
eher
O !emeriksaan
1. Inspeksi : trauma tumpul dan tajam, deviasi trakea, penggunaan otot pernaIasan tambahan
2. Palpasi : nyeri tekan, deIormitas, pembengkakan, emIisema subkutaneus, deviasi trakea
3. Auskultasi : periksa bruit` pada arteri karotis
4. X ray lateral, cross-tabel cervical spine
O !enatalaksanaan
Pertahankan immobilisasi cervical spine in-line yang adekuat
Dada
O !emeriksaan
1. Inspeksi : trauma tumpul dan tajam, penggunaan otot pernaIasan tambahan, penyimpangan
pernaIasan bilateral.
2. Auskultasi : naIas dan suara jantung
3. Perkusi : dull` atau resonan
4. Palpasi : trauma tumpul dan tajam, emIisema subkutan, nyeri tekan dan krepitasi.
O !enatalaksanaan
1. Pasang chest tube
2. dekompresi menggunakan jarum venule 14G pada ICS 2
3. tutup luka pada dada dengan benar
4. akukan CXR
Catatan : tidak direkomendasikan untuk melakukan Perikardiocentesis. Torakotomi pada Emergency
Room lebih diperlukan pada pasien tamponade jantung. Rata-rata keberhasilan pasien dengan luka
penetrasi pada dada abdomen, serta pada pasien yang baru mengalami serangan jantung, juga pada pasien
dengan trauma tumpul. Sehingga prosedur ini secara umum tidak diindikasikan pada trauma tumpul.
Abdomen
O !emeriksaan
1. inspeksi : trauma tumpul dantajam
2. Auskultasi : Bising usus
3. Perkusi : nyeri tekan
4. Palpasi
5. X ray Pelvis
O !enatalaksanaan
1. Pemeriksaan klinis pada trauma multiple bisaanya sering menghasilkan pemeriksaan
abdomen yang kurang terperinci. Sehingga diindikasikan pemeriksaan AST (ocuses
Assessment using Sonography in Trauma), CT scan abdomen atau peritoneal lavage. ihat
Bab Trauma, abdominal.
2. Pindahkan pasien ke ruang operasi, jika diperlukan.

!emeriksaan !erineal dan Rektum
O Evaluasi
1. Tonus sphincter ani
2. Darah pada rectal
3. Integritas dinding usus
4. Posisi prostate
5. Darah pada meatus urinary
6. Hematoma scrotum
O Pemeriksaan Perineal
1. kontusio, hematom
2. aserasi
O Pemeriksaan Vagina
1. adanya perdarahan pada vaginma
2. aserasi vagina
O Pemeriksaan Rektum
1. Perdarahan rectum
2. Tonus sphincter ani
3. integritas dinding usus
4. bony Iragments
5. Posisi prostate

!unggung
O ogroll pasien untuk mengevaluasi :
1. DeIormitas tulang
2. adanya trauma tajam atau tumpul

Ekstremitas
O !emeriksaan
1. inspeksi : deIormitas, perdarahan yang meluas
2. Palpasi : nyeri tekan, krepitasi, pergerakan abnormal

O anajemen
1. Splinting Iraktur yang tepat
2. hilangkan nyeri
3. Imunisasi tetanus

Neurologik
O !emeriksaan : reevaluasi pupil dan tingkat kesadaran, skor GCS
1. Evaluasi Sensorimotor
2. Paralise
3. Parese
O anajemen
Imobilisasi pasien secara adekuat

!erawatan Definitif/!emindahan
O ika trauma pada pasien membutuhkan penanganan yang lengkap, pindahkan pasien secepatnya.






Skema !anatalaksanaan Trauma berdasarkan ATS