Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

TERMODINAMIKA KIMIA









Nama Praktikan : Maulida Eka Rista
NIM : 091810301031
Kelompok : V (Lima)
Fak/1urusan : MIPA/ Kimia
Nama Asisten :



LABORATORIUM KIMIA FISIKA
1URUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS 1EMBER
2010
ENTALPI PELARUTAN
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Termokimia merupakan salah satu dari ilmu kimia yang mempelajari
tentang perubahan entalpi. Sering kali kita mendengar tentang entalpi, tetapi
kita tidak mengerti bagaimana entalpi itu. Dengan melakukan praktikum ini kita
dapat menghitung entalpi serta dapat menerapkan teori-teori dari entalpi dan
aplikasinya.
Dalam kimia, kita mempunyai reaksi yang dapat dimanIaatkan untuk
menyediakan kalor dan kerja, reaksi-reaksi dengan penghamburan energi yang
dibebaskan tetapi menghasilkan produk yang kita produk yang kita perlukan,
dan reaksi yang merupakan proses kehidupan. Proses pelepasan energi sebagai
kalor disebut eksoterm. Semua reaksi pembakaran adalah eksoterm. Kita akan
menunjukkan bahwa pada tekanan tetap, kalor yang diberikan sama dengan
perubahan dalam siIat termodinamika yang lain dari system yang disebut
entalpi (H). Entalpi (H) suatu zat ditentukan oleh jumlah energi dan semua
bentuk energi yang dimiliki zat yang jumlahnya tidak dapat diukur. Perubahan
kalor atau entalpi yang terjadi selama proses penerimaan atau pelepasan kalor
dinyatakan dengan " perubahan entalpi ( " isalnya pada perubahan es
menjadi air..
Senyawa senyawa yang ditemukan di bumi berdasarkan kelarutan dalam
air dibedakan menjadi dua, yaitu senyawa yang larut dan tidak larut dalam air.
Setiap senyawa yang larut ataupun tidak larut, mempunyai energi tersendiri
yang biasanya disebut dengan entalpi. Yang dimaksud dengan entalpi itu
sendiri adalah jumlah energi internal dari suatu sistem termodinamika ditambah
energi yang digunakan untuk melakukan kerja pada sebuah materi.
Entalpi sendiri digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu entalpi
pembentukan standar, entalpi penguraian standar, entalpi pembakaran standar,
dan entalpi pelarutan standar. Entalpi yang berperan dalam praktikum kali ini
adalah entalpi pelarutan yaitu jumlah kalor yang diperlukan atau dibebaskan
untuk melarutkan 1 mol zat pada keadaan standar. Yang mempengaruhi
kelarutan suatu zat adalah jenis zat pelarut, jenis zat terlarut, temperatur, dan
tekanan.
Berdasarkan tingkat kejenuhannya, larutan terdiri dari larutan jenuh dan
larutan tak jenuh. Pada larutan yang jenuh akan terjadi kesetimbangan antara
zat terlarut dalam larutan dan zat yang tidak terlarut. Sedangkan pada larutan
yang tidak jenuh, akan terbentuk endapan. Pada keadaan setimbang, kecepatan
melarut dalam larutan jenuh akan sama dengan kecepatan mengendap dan
konsentrasi zat dalam larutan akan selalu tetap. Namun jika kesetimbangan
diganggu dengan adanya perubahan suhu maka konsentrasi larutan jenuh itu
akan berubah.
Entalpi suatu reaksi tidak dipengaruhi oleh jalannya reaksi akan tetapi
hanya tergantung pada keadaan awal dan keadaan akhir. Jadi untuk menentukan
entalpi suatu reaksi kita bisa memperolehnya dengan mengambil semua jalan
yang tersedia. Artinya untuk menentukan entalpi suatu reaksi tunggal maka kita
bisa mengkombinasi beberapa reaksi sebagai 'jalan untuk menentukan entalpi
reaksi tunggal tersebut. Hasil akhir yang akan kita peroleh akan menunjukkan
nilai yang sama.


1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh temperatur terhadap kelarutan suatu zat dan panas
kelarutannya?













BAB 2. TIN1AUAN PUSTAKA
2.1 MSDS
2.1.1 Asam Oksalat

Asam oksalat adalah senyawa kimia yang memiliki rumus H
2
C
2
O
4

dengan nama sistematis asam etanadioat. Asam dikarboksilat paling sederhana
ini biasa digambarkan dengan rumus HOOC-COOH. erupakan asam organik
yang relatiI kuat, 10.000 kali lebih kuat daripada asam asetat. Di-anionnya,
dikenal sebagai oksalat, juga agen pereduktor. Banyak ion logam yang
membentuk endapan tak larut dengan asam oksalat, contoh terbaik adalah
kalsium oksalat (CaOOC-COOCa), penyusun utama jenis batu ginjal yang sering
ditemukan.
O
SiIat Iisika dan kimia

Rumus molekul : H
2
C
2
O
4
assa molar : 90.03 g/mol (anhidrat)

126.07 g/mol (dihidrat)
Kelarutan dalam air : 9,5 g/100 mL (15C)
14,3 g /100 mL (25C)
120 g/100 mL (100C)
Titik didih : 101-102C (dihidrat)
KorosiIitas : KorosiI dan beracun, tidak berwarna.
O dentiIikasi bahaya
enyebabkan iritasi dan dermatitis pada kulit. Percikan ke mata dapat
merusak mata.
O Penanganan dan Perlindungan Pribadi
unakan sarung tangan khusus, hindarkan kontak langsung dengan kulit.
unakan kacamata saIety atau pelindung wajah pada saat ada kemungkinan
zat memercik. Hindarkan zat dari panas, kelembaban, logam, asam.




2.1.2 NaOH 0,5 N

NaOH (Natrium Hidroksida) berwarna putih atau praktis putih, massa
melebur, berbentuk pellet, serpihan atau batang atau bentuk lain. Sangat basa,
keras, rapuh dan menunjukkan pecahan hablur. Bila dibiarkan di udara akan cepat
menyerap karbondioksida dan lembab. Kelarutan mudah larut dalam air dan
dalam etanol tetapi tidak larut dalam eter. Titik leleh 318C serta titik didih
1390C. Hidratnya mengandung 7; 5; 3,5; 3; 2 dan 1 molekul air. NaOH
membentuk basa kuat bila dilarutkan dalam air, NaOH murni merupakan padatan
berwarna putih, densitas NaOH adalah 2,1 . Senyawa ini sangat mudah terionisasi
membentuk ion natrium dan hidroksida.
O Umum
Nama Produk : Natrium Hidroksida 0,5
Nama Kimia : Sodium Hidroksida Solusi, 0,5
Formula : NaOH (berair)
Sinonim : Soda Lye, sodium hidroksida 0,5 N

O Data Fisik
assa molar : 39,9971 g.mol
-1
Densitas : 2,1 g.cm
-3
Titik leleh : 318C (591 K)
Titik didih : 1390C (1663 K)
Kelarutan dalam air : 111 g/100 ml (20C)
Berat olekul : 40,00 gram/mol
Tekanan Uap : 14 mmHg
Berat Jenis (H2O 1) : Sekitar 1 pada 20 C
Persen volume penguapan : 99.6 Tingkat
Penampilan dan Bau : tak berwarna, tidak berbau.

O dentiIikasi Bahaya
Darurat khtisar : engiritasi mata dan kulit.
Potensi EIek Kesehatan
ata : menyebabkan iritasi ata.
Kulit : Dapat menyebabkan iritasi pada kulit.
Tertelan : Bisa menyebabkan pencernaan tidak nyaman.
nhalasi : Dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernaIasan.

O Tindakan Pertolongan Pertama
Bantuan Darurat dan Prosedur Pertama:
ata : Dalam kasus kontak dengan mata, segera bilas dengan banyak
air dan dapatkan nasihat medis.
Kulit : Setelah kontak dengan kulit, segera melepas semua pakaian
yang terkontaminasi, dan cuci segera dengan air bersih.
Tertelan : Jika tertelan, mulut bilas dengan air (hanya jika orang itu
sadar).
nhalasi : Dalam kasus kecelakaan terhirup: menghapus korban ke
udara segar dan tetap diam.

O Reaktivitas
Stabilitas : Stabil
Kondisi untuk Hindar i: Jauhkan dari panas.
Ketidaksesuaian (Bahan untuk Hindari): Halogen Organik, Senyawa Nitro,
Logam, Asam.

O Tindakan Penanggulangan

unakan sarung tangan khusus, hindarkan kontak langsung dengan kulit.
unakan kacamata saIety atau pelindung wajah pada saat ada kemungkinan
zat memercik. Hindarkan zat dari panas, kelembaban, logam, asam.

2.1.3 Indikator pp

O SiIat Fisik dan Kimia
assa molar : 318,32 g/mol
assa jenis : 1,277 g/mol pada suhu 32C
Titik leleh : 262,5C
Keadaan Iisik dan penampilan : Cair.
Warna : Tidak berwarna.
pH (soln 1 / air) : Netral.
Suhu Kritis : 243
o
C
SpesiIik ravity : 0.8 m/s
2
(Air 1)
Tekanan uap : 5,7 kPa
Kepadatan uap : 1,59 (Udara 1)

O Kelarutan:
udah larut dalam air dingin, air panas, metanol, dietil eter. Larut dalam
aseton.

O Stabilitas dan Reaktivitas
Bahan ini stabil dan tidak kompatibel terhadap panas dan sumber api. ReaktiI
dengan oksidasi agen, asam, alkali. Non-korosiI di hadapan kaca.

O nIormasi toksikologi
enyebabkan kerusakan pada organ ginjal.
EIek beracun lainnya pada anusia:
Berbahaya dalam kasus kontak kulit (iritan), menelan, inhalasi. Sedikit
berbahaya dalam mempengaruhi bahan genetik (mutagenik). Penyebab eIek
reproduksi buruk dan cacat lahir (teratogenik) dan menyebabkan kanker
berdasarkan data hewan.
Cukup beracun dan narkotika dalam konsentrasi tinggi. Dapat mempengaruhi
metabolisme, saluran pencernaan, darah, hati. Dapat mempengaruhi saluran
pernaIasan, kardiovaskuler dan sistem kemih. Eksperimental tumorigen.
nhalasi: Dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernaIasan, sakit kepala,
mengantuk, mual, pembiusan.

O dentiIikasi Bahaya
Potensi EIek Kesehatan Akut:
Berbahaya dalam kasus kontak kulit (iritan), kontak mata (iritan), menelan.
Sedikit berbahaya dalam kasus kontak kulit.

Potensi EIek Kesehatan kronis:
Substansi adalah racun bagi darah, sistem reproduksi, hati, saluran
pernapasan bagian atas, kulit, sistem saraI pusat (SSP). Substansi mungkin
beracun untuk ginjal. Berulang atau lama terkena zat tersebut dapat
menghasilkan target kerusakan organ.

O Tindakan Pertolongan Pertama
Kontak ata:
Periksa dan lepaskan lensa kontak. Segera basuh mata dengan air mengalir
selama minimal 15 menit, menjaga kelopak mata terbuka. Air dingin dapat
digunakan. endapatkan perhatian medis.

Kontak Kulit:
Dalam kasus kontak, segera siram kulit dengan banyak air. Tutupi kulit yang
teriritasi dengan yg melunakkan. Hapus terkontaminasi pakaian dan sepatu.
Air dingin mungkin pakaian used.Wash sebelum digunakan kembali.
Bersihkan sepatu sebelum digunakan kembali. Dapatkan perhatian medis.

Kulit
Cuci dengan sabun desinIektan dan menutupi kulit terkontaminasi dengan
krim anti-bakteri. Carilah segera perhatian medis.

nhalasi:
Jika dihirup, lepaskan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan
buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen. Dapatkan medis perhatian jika
gejala muncul.

Tertelan:
Jangan muntah kecuali diarahkan untuk melakukannya oleh tenaga medis.
Jangan memberikan apa pun melalui mulut ke bawah sadar
orang. Jika sejumlah besar bahan ini ditelan, hubungi dokter segera.
Kendurkan pakaian ketat seperti leher, dasi, ikat pinggang atau ikat pinggang.

O Penanganan dan Penyimpanan
Kewaspadaan:
Jauhkan dari panas. Jauhkan dari sumber penyulutan. enghindari kontak
dengan kulit dan mata. Jauhkan dari incompatibles seperti agen oksidator,
asam, alkali.
Penyimpanan:
Simpan di kawasan terpisah dan disetujui. Simpan wadah di tempat yang
sejuk dan berventilasi baik. Jaga agar wadah tertutup rapat dan disegel sampai
siap untuk digunakan. Hindari semua kemungkinan sumber api (percikan atau
nyala).

O Perlindungan Pribadi
Sediakan ventilasi atau teknik lain kontrol untuk menjaga konsentrasi udara
uap di bawah masing-masing nilai ambang batas. Pastikan bahwa obat cuci
mata dan kamar mandi stasiun keselamatan proksimal ke lokasi kerja-stasiun.
Perlindungan Pribadi:
Splash kacamata. Lab mantel. Uap respirator. Pastikan untuk menggunakan
respirator /disetujui bersertiIikat atau setara. Sarung tangan.

2.1.4 NaCl
Natrium klorida, juga dikenal sebagai garam, garam dapur, garam meja, atau
garam karang merupakan senyawa ionic dengan rumus NaCl. Natrium klorida adalah
garam yang paling bertanggung jawab atas kadar garam dari laut dan dari cairan
ekstraseluler multiseluler dari banyak organisme. Sebagai bahan utama garam bias
dimakan itu biasanya digunakan sebagai bumbu dan pengawet makanan.
O SiIat Fisik dan Kimia
enampllan 1ak berwarna/ krlsLal padaLan puLlh
Struktur molekul : NaCl
assa molar : 58.443 g/mol
enslLy 2163 g/cm
3

Titik leleh : 801 C 1074 k 1474 l
Titik didih : 1413 C 1686 k 2373 l
Kelarutan di air : 35.6 g/100 mL (0 C)
35.9 g/100 mL (25 C)
39.1 g/100 mL (100 C)
Kelarutan di metanol : 1.49 g/100 mL
Kelarutan di ammonia : 2.15 g/100 mL
Keasaman (pK
a
) : 6.7-7.3
O Kelarutan
Larut di gliserol, etilen glikol, asam Iormic dan tidak larut di HCl.
2.2. Entalpi
Entalpi (H) merupakan suatu Iungsi termodinamika yang berhubungan dengan
energi dalam dan berguna untuk menjelaskan proses-proses pada tekanan tetap.
Entalpi (H) adalah besaran mutlak yang tidak dapat diukur atau ditentukan.
Pada suatu proses yang terukur adalah harga dari AH. Penetuan harga (AH) tidak
bergantung pada jalannya proses namun hanya tergantung pada keadaan awal dan
akhir proses (AH sebagai Iungsi keadaan). Nilai AH dapat digunakan untuk
meramalkan suatu proses reaksi. Bila AH ~ 0 proses berjalan secara endotermis, yaitu
sistem menyerap kalor. Bila AH 0 proses berjalan secara adiabatik, semua kalor
diubah menjadi kerja. Bila AH 0 proses berjalan secara eksotermis, yaitu sistem
melepaskan kalor. Hubungan-hubungan yang melibatkan entalpi diantaranya adalah
AH adalah suatu siIat ekstensiI yaitu perubahan entalpi sebanding dengan jumlah zat
yang terlibat dalam reaksi Jika kita gandakan dua kali jumlah zat yang terlibat dalam
reaksi maka perubahan entalpi reaksi juga menjadi dua kali. AH akan berubah tanda
bila arah reaksi berlangsung sebaliknya (Syukri, S. 1999 : 74-76).
Pada reaksi endoterm, entalpi sesudah reaksi menjadi lebih besar, sehingga
H positiI. Sedangkan pada reaksi eksoterm, entalpi sesudah reaksi menjadi lebih
kecil, sehingga H negatiI. Perubahan entalpi pada suatu reaksi disebut kalor reaksi.
Kalor reaksi untuk reaksi-reaksi yang khas disebut dengan nama yang khas pula,
misalnya kalor pembentukan,kalor penguraian, kalor pembakaran, kalor pelarutan dan
sebagainya. Suatu reaksi kimia dapat dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri dari
dua bagian yang berbeda, yaitu pereaksi dan hasil reaksi atau produk. Perhatikan
suatu reaksi yang berlangsung pada sistem tertutup dengan volume tetap (AV 0),
maka sistem tidak melakukan kerja, w 0. Jika kalor reaksi pada volume tetap
dinyatakan dengan qv , maka persamaan hukum termodinamika dapat ditulis:
AU qv 0 qv q reaksi
2.3 Entalpi Pelarutan Standart
Entalpi pelarutan standart merupakan perubahan entalpi standart jika zat itu
melarut di dalam pelarut dengan sejumlah tertentu. Entalpi pembatas pelarutan adalah
perubahan entalpi standart jika zat melarut dalam pelarut dengan jumlah tak
terhingga, sehingga interaksi antara dua ion ( atau molekul terlarut untuk zat bukan
elektrolit ) dapat diabaikan ( Atkins, 1999: 50 ).

2.4 Perubahan Entalpi
Untuk menentukan perubahan entalpi yang terjadi pada larutan, maka
konsentrasi larutannya perlu ditetapkan terlebih dahulu. Panas pelarutan suatu zat
adalah perubahan entalpi yang terjadi bila 1 mol zat itu dilarutkan ke dalam suatu
pelarutan untuk mencapai konsentrasi tertentu. Panas pelarutan tersebut dinamakan
panas pelarutan integral atau panas pelarutan total. Panas pelarutan bukan bergantung
pada jenis zat yang dilarutkan, jenis pelarut, suhu, dan tekanan, tetapi bergantung
pada konsentrasi larutan yang hendak dicapai ( Alberty, 1992 : 32 ).
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada perubahan entalpi :
a. AH, AE atau q positiI, artinya sistem memperoleh tenaga.
b.W~0 kerja dilakukan oleh sistem
W0 kerja dilakukan terhadap sistem ( Sukardjo, 1997 : 34 ).
Bila perubahan entalpi reaksi pada satu suhu diketahui, maka perubahan
entalpi reaksi pada suhu lain dapat dihitung, bila kapasitas kalor pereaksi dan hasil
reaksi diketahui untuk daerah suhu diantaranya. Laju perubahan AH dengan suhu
didapat dengan mendiIiresensiasi persamaan berikut:

(AE)

p = _
E

] p

Dimana Cp (dH/dT)p, maka

(AE)

= p = Ap
( Alberty, 1992: 33-34 ).

2.4 Panas Pelarutan
Panas pelarutan adalah panas yang menyertai reaksi kimia pada pelarutan mol zat
solute dalam n mol solvent pada tekanan dan temperature yang sama. Hal ini disebabkan
adanya ikatan kimia dari atom-atom. Panas pelarutan dibagi menjadi dua yaitu panas
pelarutan integral dan panas pelarutan diIerensial. Panas pelarutan dideIinisikan sebagai
perubahan entalpi yang terjadi bila dua zat atau lebih zat murni dalam keadaan standar
dicampur pada tekanan dan temperatur tetap untuk membuat larutan ( Alberty, 1992 : 35 ).
Bila suatu zat terlarut dilarutkan dalam pelarut, kalor dapat diserap atau
dilepaskan, kalor reaksi bergantung pada konsentrasi larutan akhir. Bila zat terlarut
dilarutkan dalam pelarut yang secara kimia sama dan tidak ada komplikasi mengenai
ionisasi atau solvasi, kalor pelarutan hamper sama dengan peluluhan. Kalor pelarutan,
integral antara 2 kemolalan m
1
dan m
2
adalah kalor yang menyertai pengenceran
tertentu dengan konsentrasi , yang mengandung 1 mol zat terlarut dengan pelarut
murni untuk membuat larutan dengan konsentrasi m
2
( Alberty, 1992: 34 ).

2.5 Pengaruh temperatur terhadap kelarutan
Larutan terdiri atas zat yang dilarutkan atau solute dan pelarut atau solvent.
Untuk larutan gula dalam air, gula merupakan zat pelarut dan air sebagai pelarutnya,
untuk larutan alkohol dalam air, tergantung zat yang banyak. Karena itu dapat
dikatakan larutan air dalam alkohol atau alkohol dalam air. Selanjutnya, larutan ada
yang jenuh, tidak jenuh, dan lewat jenuh. Larutan disebut jenuh pada temperatur
tertentu, bila larutan tidak dapat melarutkan lebih banyak zat terlarut. Bila jumlah zat
terlarut kurang dari ini, disebut larutan tidak jenuh dan bila lebih disebut lewat jenuh.
Zat yang dapat membentuk larutan lewat jenuh adalah asam oksalat (Sukardjo, 1997 :
141-142).
Pada larutan jenuh terjadi kesetimbangan antara zat terlarut dalam larutan dan
zat yang tidak terlarut. Pada keadaan kesetimbangan ini kecepatan melarut sama
dengan kecepatan mengendap dan konsentrasi zat dalam larutan akan selalu tetap.
Faktor-Iaktor yang dapat menggeser letak kesetimbangan diantaranya adalah:
1. Perubahan konsentrasi salah satu zat
Pengaruh konsentrasi dalam pergeseran kimia adalah apabila dalam sistem
kesetimbangan homogen, konsentrasi salah satu zat diperbesar, maka
kesetimbangan akan bergeser ke arah yang berlawanan dari zat tersebut.
Sebaliknya, jika konsentrasi salah satu zat diperkecil, maka kesetimbangan akan
bergeser ke pihak zat tersebut.
2. Perubahan volume atau tekanan
Jika dalam suatu sistem kesetimbangan dilakukan aksi yang menyebabkan
perubahan volume (bersamaan dengan perubahan tekanan), maka dalam sistem
akan mengadakan berupa pergeseran kesetimbangan.
Jika tekanan diperbesar volume diperkecil, kesetimbangan akan bergeser ke
arah jumlah KoeIisien Reaksi Kecil.

Jika tekanan diperkecil volume diperbesar, kesetimbangan akan bergeser ke
arah jumlah KoeIisien reaksi besar.
Pada sistem kesetimbangan dimana jumlah koeIisien reaksi sebelah kiri jumlah
koeIisien sebelah kanan, maka perubahan tekanan/volume tidak menggeser letak
kesetimbangan.
3. Perubahan suhu
Pengaruh suhu dalam pergeseran kimia enurut Van`t HoII:
Bila pada sistem kesetimbangan subu dinaikkan, maka kesetimbangan reaksi akan
bergeser ke arah yang membutuhkan kalor (ke arah reaksi endoterm).
Bila pada sistem kesetimbangan suhu diturunkan, maka kesetimbangan reaksi
akan bergeser ke arah yang membebaskan kalor (ke arah reaksi eksoterm).
Pengaruh temperatur tergantung dari panas pelarutan. Bila panas pelarutan
(AH) negatiI, daya larut turun dengan naiknya temperatur. Bila panas pelarutan (AH)
positiI, daya larut naik dengan naiknya temperatur. Tekanan tidak begitu berpengaruh
terhadap daya larut zat padat dan cair, tetapi berpengaruh pada daya larut gas
(Sukardjo, 1997 : 142).
Jika kesetimbangan terganggu dengan adanya perubahan temperatur maka
konsentrasi larutannya akan berubah. enutur Van`t HoII pengaruh temperatur
terhadap kelarutan dinyatakan sebagai berikut :
d ln S/dt (AH)/RT
2

dengan mengintegralkan dari T
1
ke T
2
maka akan dihasilkan
ln S
2
/S
1
(AH/R) (T
1
-1
-T
2
-1
).
Ln S -(AH)/RT konstanta
Dimana :
1. S
1
,S
2
kelarutan masing masing zat pada temperature T
1
dan T
2
(g/1000gram
solven).
2. AH panas pelarutan (panas pelarutan/ g (gram)).
3. R konstanta gas umum.
Secara umum panas pelarutan adalah positiI (endodermis) sehingga menurut
Van`t HoII makin tinggi temperatur maka akan semakin banyak zat yang larut.
Sedangkan untuk zat zat yang panas pelarutannya negatiI (eksotermis), maka
semakin tinggi suhu maka akan semakin berkurang zat yang dapat larut (Tim Kimia
Fisika, 2009 : 2).

BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
1. Termostat 0-50C
2. Termometer 50C
3. Buret 50 mL
4. Erlenmeyer 50 mL
5. elas takar 250 mL
6. Pipet volume 10 mL
7. Pengaduk gelas
8. Tabung reaksi
3.1.2 Bahan
1. Asam oksalat
2. Larutan NaOH 0,5 N
3. ndikator PP
4. Es Batu dan garam dapur

3.2 Skema Kerja


- Dilarutkan dalam 10 mL aquades ( Bj
diketahui ) pada temperatur kamar
sedikit demi sedikit sampai keadaan
jenuh.
- Dimasukkan dalam termostat pada
temperatur yang dikehendaki. Larutan
diaduk supaya temperatur menjadi
homogen.
- Diambil 10 mL larutan, Kristal asam
oksalat jangan sampai ikut terbawa.
Asam Oksalat
- Dititrasi dengan larutan NaOH 0,5
dengan menggunakan indicator PP.
- Dilakukan duplo




Hasil