Anda di halaman 1dari 13

FORMULAS1 SEDIAAN OBAT KUMUR BERBAHAN DASAR DAUN SAGA (Abrus precatorius L )

Oleh : STEFANUS KRISTIANTO 2008210248

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PANCASILA 2011

I.PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kesehatan merupakan hal yang penting bagi manusia terutama
dalam pergaulan sehari-hari. Pada orang sehat bau mulut yang terjadi pada umumnya semata-mata berasal dari dalam mulut yaitu berasal dari pembusukan sisa makanan yang ada di rongga mulut. Berbagai penyakit di dalam mulut seperti stomatitis/sariawan, gingvitis, periodentitis, karies gigi sering menjadi penyebab bau mulut kurang sedap pada orang sehat (Amtha,1997). Sungguh sangat menderita bila terkena sariawan. Hal tersebut merupakan pengalaman sendiri yang dialami oleh penulis. Sariawan akan terasa sangat perih bila kita mengkonsumsi makanan yang pedas. Bagi yang suka makanan pedas tentu saja membuat mereka harus puasa untuk memakan makanan pedas. Jangankan untuk makan, untuk bicara saja sakit sekali. Sariawan sendiri (stomatitis apthosa) adalah radang yang terjadi di daerah mukosa , biasanya berupa bercak putih kekuningan dengan permukaan yang agak cekung. Jumlahnya bisa satu atau lebih. Yang diserang sariawan biasanya daerah mukosa pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah, gusi serta langit-langit dalam rongga mulut. Sariawan adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur pada mulut dan saluran kerongkongan.Beberapa faktor pemicunya, antara lain menurunnya sistem kekebalan (imun) tubuh, alergi yang disebabkan oleh kopi, cokelat, keju, kacang-kacangan, buah jeruk, dan kentang. Selain itu, sariawan juga bisa diakibatkan oleh yang

stres, virus (bakteri), luka pada mulut (tergores, tergigit atau lainnya), kurang nutrisi dan kesalahan penggunaan obat-obatan. Salah satu cara untuk mengatasi sariawan dan bau mulut yg kurang sedap adalah dengan menggunakan obat kumur yang mengandung bahan obat bahan antibakteri. Obat kumur menurut Farmakope Indonesia edisi III merupakan sediaan berupa larutan, umumnya pekat, yang harus diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan dan pengobatan infeksi tenggorokan. Pengunaan bahan obat alam yang meningkat akhir-akhir ini menjadi pertimbangan penulis untuk mengambil judul ini. Hal ini disebabkan bahan alam memiliki efek terapeutik yang bersifat konstruktif, efek samping yang ditimbulkan juga kecil dan relatif aman daripada bahan kimiawi (Hembing,1998). Berdasarkan hal-hal tersebut, maka penulis memutuskan mengambil judul ini sebagai terobosan baru untuk menghasilkan produk obat kumur berbahan alami sebagai pengganti bahan yang sudah ada tanpa mengurangi kualitasnya. Bahan alam yang dipilih penulis adalah Daun Saga (Abrus precatorius L) Daun saga, bagi masyarakat Indonesia, dikenal dengan banyak nama. Masyarakat Jawa menyebutnya saga telik/manis, di Aceh dinamakan thaga, saga areuy. Disebut juga saga leutik (Sunda), walipopo (Gorontalo), piling-piling (Bali), seugeu (Gayo), ailalu pacar (Ambon), saga buncik, saga ketek (Minangkabau), dan kaca (Bugis). Selain sebagai obat sariawan, saga juga dapat dimanfaatkan sebagai antiparasit, antiradang, meredakan batuk, amandel dan panas dalam, serta berguna pula untuk melancarkan peredaran darah. Dari sejumlah

penelitian yang dilakukan, saga mengandung abruslactone A, methyl abrusgenate, abrusgenic acid, vitamin A, vitamin C, Kalsium oksalat. Selain itu, tanaman ini mengandung kadar glycyrhizin (glisirisin).

B. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini dimaksudkan mempelajari dan mengembangkan formulasi obat kumur berbahan dasar daun saga (Abrus precatorius L). Dari penelitian ini diharapkan dapat diperoleh formula obat kumur dari daun saga terbaik dan menghasilkan produk obat kumur berbahan alami yang aman dan nyaman untuk digunakan oleh konsumen.

II. TINJAUAN PUSTAKA DAUN SAGA (Abrus precatorius L).


NAMA LAIN: - Sumatra : Thaga (Aceh), hasobe (Batak), kunderi (Lampung, sago batino (Minangkabau) - Kalimantan : Saga (Sampit), taning bajang (Dayak) - Jawa : saga areuy, saga cai (Sunda), saga telik, saga manis (Jawa) - Nusa Tenggara : Maat metan (Timor). Piling-piling (Bali), - Maluku : war kamasin, mali-mali Pemerian: Pemerian : bau lemah, rasa agak manis, khas Pemeriksaan Makroskopik: Anak daun : berwarna hijau sampai hijau pucat atau hijau kekuningkuningan; tangkai daun pendek; helai daun berbentuk jorong melebar atau bundar telur agak rompang; ujung daun tumpul agak membundar, pangkal daun membundar, panjang anak daun 5mm sampai 25 mm, lebar anak daun 3 sampai 9 mm, permukaan atas licin, tulang daun agak menonjol pada permukaan bawah.

A.

Pemeriksaan Mikroskopik: Epidermis atas : terdiri dari sel yang terentang tangensial, dinding antiklinal jelas bergelombang, kecuali sel epidermis di atas tulang daun yang berdinding antiklinal lurus; beberapa sel epidermis menonjol berupa papil; kutikula tipis; tidak terdapat stomata atau rambut penutup. Epidermis bawah : sel lebih kecil dari epidermis atas, dinding antiklinal sangat bergelombang; kutikula tipis; rambut penutup berbentuk kerucut ramping terdiri dari 3 sel dengan 2 sel pertama yang sangat pendek dan sel ketiga atau sel ujung yang sangat panjang, dinding sel rambut penutup berbintik; panjang rambut penutup 50 m sampai 300 m, lebar lebih kurang 20 m. Mesofil jaringan palisade terdiri dari 2 lapis sel palisade, sel palisade berbentuk bulat telur terbalik dengan bagian atas membulat dan bagian bawah mengecil; jaringan bunga karang terdiri dari 2 lapis sel, lapisan sel pertama selnya tersusun mendatar, lapisan sel kedua selnya berbentuk bulat telur dengan bagian lebar dibawah; mesofil seluruhnya mengandung banyak hijau daun kecuali lapisan bunga karang yang mendatar; ruang antar sel banyak; tulang daun disertai deretan parenkim yang berisi hablur kalsum oksalat berbentuk prisma, berkas pengangkutan dengan penebalan spiral. Serbuk : warna hijau, fragmen pengenal adalah rambut penutup; epidermis atas;epidermis bawah; mesofil; fragmen berkas pengangkut yang didampingi deretan sel hablur; stomata; kalsium-oksalat pada urat daun. Dari sejumlah penelitian yang dilakukan, saga mengandung abrin, abruslactone A, methyl abrusgenate, abrusgenic acid, dan vitamin C.

Selain itu, tanaman ini mengandung kadar glycyrhizin (glisirisin). Karena unsur-unsur tersebut membuat daun saga dapat dimanfaatkan sebagai obat amandel, sariawan serta panas dalam.

Gambar 1. Abrin, salah satu komponen yang terbesar dalam daun saga

B. ANTIBAKTERI
Zat antibakteri adalah zat yang dapat mengganggu pertumbuhan atau metabolisme bakteri. Berdasarkan aktifitasnya dibagi menjadi 2 yaitu: yang memiliki aktifitas bakteriostasik (menghambat pertumbuhan bakteri) dan bakterisidal( membunuh bakteri ) ( Peleazar dan Chan, 1988).

C. SARIAWAN
Sariawan (stomatitis apthosa) adalah radang yang terjadi di daerah mukosa mulut, biasanya berupa bercak putih kekuningan dengan permukaan yang agak cekung. Jumlahnya bisa satu atau lebih. Yang diserang sariawan biasanya daerah mukosa pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah, gusi serta langit-langit pada rongga mulut. Seperti dikutip dari Healthcentre, Sabtu (27/3/2010) ada beberapa hal yang bisa menyebabkan sariawan, yaitu:

1. Akibat virus Sariawan ini disebabkan oleh beberapa bentuk virus yang ada di dalam tubuh, termasuk kasus-kasus khusus seperti yang menyebabkan demam pada kelenjar 2. Akibat bakteri. Sariawan jenis ini biasanya suka terjadi jika seseorang menderita sakit tenggorokan atau penyakit lain yang disebabkan oleh bakteri. 3. Akibat jamur. Sariawan ini timbul saat seseorang memiliki sistem kekebalan tubuh yang sangat rendah atau masalah kesehatan lainnya yang mungkin memerlukan penggunaan antibiotik dosis tinggi. 4. Non-infeksi. Penyebab paling umumnya adalah terjadinya luka di mulut yang berulang, meskipun tidak diketahui penyebabnya tapi biasanya akan hilang dalam waktu 2 minggu. Sariawan ini juga bisa disebabkan adanya masalah dalam sistem pencernaan, kekurangan vitamin, riboflavin, miacin dan B12. Selain keempat penyebab di atas, ada juga hal lain yang diduga dapat menyebabkan sariawan seperti kurang menjaga kebersihan mulut, pemasangan kawat gigi atau gigi palsu dan juga konsumsi makanan atau minuman yang panas.an dalam, lidah, gusi serta langit-langit dalam rongga mulut.

Gambar 2. gambar penderita sariawan.

D. OBAT KUMUR
Definisi yang obat kumur (Gargarisma/Gargle) terlebih dahulu menurut sebelum Farmakope digunakan, Indonesia III adalah sediaan yang berupa larutan, umumnya pekat harus diencerkan dimaksudkan untuk digunakan pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. Menurut Backer ( 1990), obat kumur adalah larutan yang biasanya mengandung bahan penyegar nafas, astrigen, demulsen, atau surfakatan atau antibakteri untuk menyegarkan dan pembersihan saluran pernafasan yang pemakaiannya dengan berkumur. Menurut Sagarin dan Gershon (1972), secara garis besar, obat kumur dalam pengunaannya dibedakan menjadi 3 yaitu: 1. Sebagai kosmetik, hanya membersihkan,menyegarkan, dan/atau menghilangkan bau mulut 2. Sebagai terapeutik, untuk perawatan penyakit pada mukosa atau ginggiva, pencegahan karies gigi atau pengobatan infeksi saluran pernafasan. 3. Sebagai kosmetik dan terapeutik. Berdasarkan komposisinya, Sagarin dan Gershon ( 1972) menggolongkan obat kumur dalam beragai jenis, yaitu:

1. Obat kumur untuk kosmetik; terdiri atas air( dan biasanya alkohol), Flavor, dan zat pewarna. Biasanya mengandung surfaktan dengan tujuan meningkatkan kelarutan minyak atsiri. 2. Obat kumur yang mempunyai tujuan utama untuk menghilangkan atau bakteri yang biasanya terdapat dalam jumlah besar dalam saluran nafas. Komponen antiseptik dari obat kumur ini memegang peranan utama untuk mencapai tujuan tersebut. 3. Obat kumur yang bersifat sebagai astringent, dengan maksud memberi efek langsung pada mukosa mulut, juga mengurangi flokulasi dan presipitasi protein ludah sehingga dapat dihilangkan secara mekanis 4. Obat kumur yang pekat yang pengunaannya perlu diencerkan terlebih dahulu. 5. Obat kumur yang didapar, aktifitasnya tergantung pada pH larutan. Pada suasana alkali dapat mengurangi mucinous deposit dengan dispersi dari protein. 6. Obat kumur untuk deodorant, tergantung dari aktifitas antibakteri, atau mekanisme lain untuk mendapatkan efek tersebut. 7. Obat kumur untuk terapeutik, diformulasikan untuk meringankan infeksi, mencegah karies gigi dan untuk meringankan kondisi patologis pada mulut, gigi, atau tenggorokan.

III. BAHAN DAN METODE


A. BAHAN DAN ALAT Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan obat kumur daun saga adalah daun saga, alkohol 70%, akar kayu manis, antimikroba, dan pewarna. Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan obat kumur ini adalah erlenmeyer, gelas piala, termometer, pipet volumetrik, pipet skala, kertas saring Whattman no. 42, neraca analitik, botol gelas. Untuk alat uji pH digunakan pH meter. B. METODE 1. Ektraksi daun saga (Abrus precatorius L). Pembuatan daun saga dilakukan dengan cara maserasi. Daun saga yang telah dikumpulkan diserbukkan. -Ekstraksi n-heksana daun saga, sampel yang telah ditimbang direndam dengan n-heksana sebanyak 2,5 L dan dimaserasi selama satu malam. Hasil rendaman disaring untuk memisahkan filtrat dan residunya. Perendaman dilakukan selama empat kali sampai filtrat mendekati bening. Filtrat dipekatkan dengan rotavapor sehingga didapat ekstrak n-heksan daun saga dan timbang. - Penyiapan Ekstrak Etil Asetat Daun Saga. Residu diangin-anginkan agar terbebas dari n-heksana. Residu kering direndam dengan etil asetat. Hasil rendaman disaring untuk memisahkan filtrat dan residunya. Perendaman dilakukan empat kali sampai filtrat mendekati

bening. Filtrat dipekatkan dengan vacuum rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak etil asetat daun saga. Ekstrak etil asetat daun saga ditimbang. - Penyiapan Ekstrak Metanol Daun Saga. Residu diangin-anginkan agar terbebas dari etil asetat. Residukering direndam dengan metanol, hasil rendaman disaring untuk memisahkan filtrat dan residunya. Perendaman dilakukan sampai filtrat mendekati bening, filtrat dipekatkan dengan rotavapor sehingga didapatkan ekstrak methanol daun saga. Ekstrak metanol daun saga ditimbang. 2. Pembuatan obat kumur daun saga Menyusul 3.Pengujian Fisikokimia obat kumur daun saga a. Pengukuran pH Setiap sampel obat kumur diukur nilai pH nya, dengan dua kali pengukuran. Sebelum pengukuran alat dikalibrasi menggunakan larutan Buffer standar pH 4 dan pH 7. Pengukuran dilakukan dengan cara elektroda dibilas dengan aquadest dan dikeringkan dengan kertas tissue. Kemudian elektroda dicelupkan pada larutan sampel dan dibiarkan sampai diperoleh pembacaan yang stabil, catat nilai pH.

b. Uji Organoleptik Uji organoleptik yang dilakukan adalah uji penerimaan dimana setiap panelis diharuskan mengemukakan tanggapan

pribadinya terhadap produk obat kumur yang disajikan. Uji penerimaan ini adalah uji hedonik dengan menggunakan 30 panelis. Skala hedonik yang digunakan adalah 1-7, yaitu dimana angka 1 menunjukkan sangat tidak suka, 2= tidak suka, 3= agak tidak suka, 4= netral, 5= agak suka, 6= suka, 7= sangat suka. Data yang diperoleh ditabulasikan dan dianalisis. c. Stabilitas obat kumur menyusul