Anda di halaman 1dari 102

Akuntansi Perusahaan Dagang

BAB I TRANSAKSI & AKUN KAS PERUSAHAAN DAGANG


Tujuan pengajaran setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat :
1. Menerangkan pembelian dan penjualan persediaan barang dagangan, 2. Menganalisis dan mencatat transaksi yang menyangkut pembelian dan penjualan barang dagangan, 3. Menghitung harga pokok penjualan dan marjin kotor.

1. Pendahuluan Perusahaan dagang kegiatan utama adalah dalam hal pembelian dan penjualan barang dagangan tanpa mengubah bentuk barang yang diperjualbelikan. Perusahaan berfungsi sebagai mediator antara produsen dan konsumen. Pendapatan perusahaan dagang diperoleh dari hasil penjualan barang dagangan kepada konsumen sedangkan laba yang diperolehnya dari perbedaan antara harga jual dan harga beli barang dagangan tersebut. Kegiatan perusahaan dagang meliputi : Pembelian Penjualan Pembayaran Utang Penerimaan Piutang

Ada delapan transaksi yang juga berdampak munculnya Akun-Akun khas dari perusahaan dagang, diantaranya : a. Pembelian barang dagangan b. Potongan pembelian c. Retur pembelian dan pengurangan harga d. Penjualan barang dagangan e. Potongan penjualan f. Retur penjualan dan pengurangan harga g. Ongkos angkut h. Pajak penjualan Transaksi-transaksi tersebut akan menyebabkan munculnya Akun-Akun khusus perusahaan dagang diantaranya Akun :
1. 2. 3. 4.

Persediaan Barang Dagangan (Merchandise Inventory) Pembelian (Purchases) Potongan Pembelian (Purchase Discount) Retur Pembelian & Pengurangan Harga (Purchases Allowance)
~1~

&

Return

Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang 5. 6. 7. 8.

Biaya Angkut Barang (Transportation In/out) Penjualan (Sales) Potongan Penjualan (Sales Discount) Retur Penjualan & Pengurangan Harga (Sales Return & Allowance) 2. Transaksi Pembelian Barang Dagangan

Kegiatan pembelian meliputi : Pembelian Aktiva Produksi Pembelian Barang Dagangan Pembelian Barang dan Jasa Lainnya Transaksi pembelian dapat dilakukan dengan tunai atau kredit, Sebelum transaksi terjadi pembeli dan penjual dapat membuat kesepakatan mengenai harga dari barang yang diperjualbelikan beserta syarat-syarat lainnya. Harga barang & syarat tersebut akan dicantumkan dalam dokumen yang disebut faktur. Bagi pembeli faktur yang diterimanya dari penjual disebut faktur pembelian, sedangkan bagi penjual faktur yang diserahkannya disebut faktur penjualan. 3. Pembelian Barang Dagangan Transaksi pembelian dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu pembelian secara tunai atau pembelian secara kredit. Pembelian secara tunai diartikan bahwa pembayaran dilakukan pada saat barang diterima. Dalam pengertian ini termasuk bayar dengan cek. Pada saat dijurnal nama Akun yang biasa dipergunakan "Pembelian Barang Dagangan" atau "Pembelian". Contoh: 02 Jan 2006 membeli barang dagangan tunai. Jurnalnya :
Tanggal 2006 0 1 Jan Keterangan Pembelian Kas

adalah

seharga Rp

2.000.000 secara

Ref.

Debet 2.000.000

Kredit 2.000.000

Apabila pembelian dilakukan secara kredit. Jurnalnya :


Tanggal 2006 Jan 0 1 Keterangan Pembelian Utang Dagang Ref . Debet 2.000.000 2.000.000 Kredit

Apabila Utang tersebut dibayar, misalkan tanggal 25 Jan 2006, maka jurnalnya :
~2~ Akuntansi Dasar II

Tanggal 2006 25 Jan

Keterangan Utang Dagang Kas

Ref.

Akuntansi Perusahaan Dagang Debet Kredit 2.000.000 2.000.000

4. Potongan Pembelian Barang Dagangan Dalam perusahaan dagang dikenal istilah "Potongan". Potongan ini dimaksudkan untuk memperoleh pembayaran (akibat pembelian kredit) secara cepat. Kode yang biasanya digunakan adalah "n/.." sebagai singkatan dari "netterms". Kode (tanda) ini dapat ditampilkan dalam 2 (dua) bentuk yaitu ".../..., n/... atau "n/..., EOM. Contoh :

/10, n/30 berarti jika dibayar dalam jangka waktu sepuluh hari/kurang akan mendapat potongan 2% dan pembayaran paling lambat 30 hari. n /10, EOM artinya pembayaran paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah akhir bulan, tanpa adanya potongan tunai.
2

Contoh: 03 Jan 2006 Perusahaan membeli Barang Dagangan secara tunai senilai 2.000.000 dan mendapat potongan sebesar 100.000, maka jurnal yang dibuat :
Tanggal 2006 Jan 03 Keterangan Pembelian Kas Potongan Pembelian Ref . Debet 2.000.000 1.900.000 100.000 Kredit

Penjurnalan untuk pemmbelian barang secara kredit berbeda dengan pembelian tunai. Sebelumnya harus ditentukan cara mana yang akan dipergunakan apakah : Metoda kotor, dimana jumlah hutang dagang dicatat sejumlah pembelian sebelum dikurangi potongan pembelian. b. Metoda Bersih, yaitu hutang dagang dicatat sebesar jumlah harga pembelian dikurangi potongan pembelian.
a.

Contoh : Metode Kotor : Saat pembelian 03 Jan 2006 Perusahaan membeli Barang Dagangan senilai 2.000.000 dengan syarat 2/10, n/30, maka jurnal yang dibuat :
Tanggal 2006 03 Jan Keterangan Pembelian Utang Dagang Ref. Debet 2.000.000 Kredit 2.000.000

~3~

Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

Saat pembayaran, apabila dilakukan pada tanggal-tanggal mendapat potongan.

10 Jan 2006 Perusahaan membayar pembelian Barang Dagangan tanggal 03 Jan 2006, maka jurnal yang dibuat :
Tanggal 2006 10 Jan Keterangan Utang Dagang Kas Potongan Pembelian Ref. Debet 2.000.000 Kredit 1.960.000 40.000

Metode Bersih : Saat pembelian 03 Jan 2006 Perusahaan membeli Barang Dagangan senilai 2.000.000 dengan syarat 2/10, n/30, maka jurnal yang dibuat :
Tanggal 2006 03 Jan Keterangan Pembelian Utang Dagang Ref. Debet 2.000.000 Kredit 2.000.000

Saat pembayaran, apabila dilakukan pada tanggal-tanggal mendapat potongan.

10 Jan 2006 Perusahaan membayar pembelian Barang Dagangan tanggal 03 Jan 2006, maka jurnal yang dibuat :
Tanggal 2006 10 Jan Keterangan Utang Dagang Kas Ref. Debet 1.960.000 Kredit 1.960.000

5. Retur Pembelian dan Pengurangan Harga Barang yang dibeli tidak selamanya baik atau dapat diterima sesuai pesanan. barang bisa rusak (cacat) atau tidak sama dengan yang dipesan. Barang-barang dengan kondisi demikian biasanya dikembalikan kepada penjualnya. Barang yang cacat atau tidak sesuai dengan pesanan biasanya diperlakukan dengan 2 (dua) cara yaitu dikembalikan atau dikurangi harga pembelian. Barang yang dikembalikan dikenal dengan "pengurangan harga pembelian. Contoh: 05 Jan 2006 diketahui pembelian tanggal 03 Jan 2006 ternyata ditemukan barang rusak seharga Rp 200.000,00. Jurnalnya
Tanggal Keterangan ~4~ Ref . Debet Kredit Akuntansi Dasar II

2006 Jan

0 5

Utang Dagang/KAS Retur Pembelian

Akuntansi Perusahaan Dagang 200.000 200.000

6. Biaya Angkut Untuk membiayai angkutan barang dagangan ada 2 (dua) kemungkinan yang menanggung ongkos angkut, yaitu penjual atau pembeli. Istilah yang dipergunakan adalah : a. FOB Destination Points adalah bahwa semua beban termasuk ongkos angkut ditanggung oleh penjual hingga barang tersebut sampai di tempat atau gudang pembeli. b. FOB Shipping Points adalah bahwa semua beban termasuk ongkos angkut ditanggung oleh pembeli dari tempat penjual sampai ditempat atau gudang pembeli. Bagi pembeli jika menggunakan FOB Shipping Points maka beban yang dikeluarkan oleh pembeli sampai tempatnya termasuk beban perolehan. Sebab itu harus ditambahkan ke jumlah Akun pembelian. Contoh : 05 Jan 2006 membeli barang dagangan seharga Rp 2.200.000 secara kredit. Syarat pengangkutan FOB Shipping Points dan ongkos angkut Rp 120.000, maka jurnalnya : Jurnalnya :
Tanggal 2006 Jan 0 5 Keterangan Pembelian Biaya Angkut UTANG DAG Ref . Debet 2.200.000 120.000 2.320.000 Kredit

7. Transaksi Penjualan Barang Dagangan a. Penjualan Barang Dagangan Penjualan barang dagangan melahirkan sesuatu Akun yaitu "Penjualan atau "Sales". Sebagaimana pembelian, penjualan barang dagangan dapat dilakukan secara tunai atau kredit. Yang dimaksud penjualan tunai adalah penjualan yang dibayar pada saat barang diserahkan pada pembeli. Pembayaran yang diterima bisa dalam bentuk uang tunai atau cek. Contoh: 02 Jan 2006 menjual barang dagangan tunai.
~5~

seharga Rp

2.000.000 secara
Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

Jurnalnya :
Tanggal 2006 Jan 0 1 Kas Penjualan Keterangan Ref . Debet 2.000.000 2.000.000 Kredit

Apabila penjualan dilakukan secara kredit. Jurnalnya :


Tanggal 2006 Jan 0 1 Keterangan Piutang Dagang Penjualan Ref . Debet 2.000.000 2.000.000 Kredit

Apabila Utang tersebut dibayar, misalkan tanggal 25 Jan 2006, maka jurnalnya :
Tanggal 2006 Jan 2 5 Kas Piutang Dagang Keterangan Ref . Debet 2.000.000 2.000.000 Kredit

8. Potongan Penjualan 03 Jan 2006 Perusahaan menjual Barang Dagangan secara tunai senilai 2.000.000 dan memberikan potongan sebesar 100.000, maka jurnal yang dibuat :
Tanggal 2006 Jan 0 3 Kas Potongan Penjualan Penjualan Keterangan Ref . Debet 1.900.000 100.000 2.000.000 Kredit

Seperti halnya, pembelian, penjualan kredit juga memperoleh perlakuan yang sama yaitu menggunakan "metoda kotor" dimana piutang dicatat sebesar nilai jual sebelum dikurangi potongan dan "metoda bersih" dimana piutang dicatat sebesar nilai jual dikurangi potongan penjualan. Contoh : Metode Kotor : Saat Penjualan 03 Jan 2006 Perusahaan Menjual Barang Dagangan senilai 2.000.000 dengan syarat 2/10, n/30, maka jurnal yang dibuat :
Tanggal 2006 0 Keterangan Piutang Dagang ~6~ Ref . Debet 2.000.000 Akuntansi Dasar II Kredit

Akuntansi Perusahaan Dagang 3 Jan Penjualan 2.000.000

Saat menerima pembayaran, apabila dilakukan pada tanggal-tanggal mendapat potongan.

10 Jan 2006 Perusahaan menerima pembayaran atas transaksi tanggal 03 Jan 2006, maka jurnal yang dibuat :
Tanggal 2006 Jan 1 0 Kas Potongan Penjualan Penjualan Keterangan Ref . Debet 1.960.000 40.000 2.000.000 Kredit

Metode Bersih : Saat Penjualan 03 Jan 2006 Perusahaan menjual Barang Dagangan senilai 2.000.000 dengan syarat 2/10, n/30, maka jurnal yang dibuat :
Tanggal 2006 Jan 0 3 Keterangan Piutang dagang Penjualan Ref . Debet 2.000.000 2.000.000 Kredit

Saat penerimaan pembayaran, apabila dilakukan pada tanggal-tanggal mendapat potongan.

10 Jan 2006 Perusahaan menerima pembayaran penjualan Barang Dagangan tanggal 03 Jan 2006, maka jurnal yang dibuat :
Tanggal 2006 Jan 1 0 Kas Piutang Dagang Keterangan Ref . Debet 1.960.000 1.960.000 Kredit

9. Retur Penjualan & Pengurangan Harga Yang dimaksud dengan Retur Penjualan adalah barang dagangan yang telah dijual tetapi dikembalikan oleh pembeli akibat rusak/cacat atau salah pesan. Sedangkan Pengurangan Harga ialah pengurangan harga yang diberikan kepada pembeli karena hal-hal tertentu umpama sebagai imbalan barang cacat atau salah pesan.
~7~ Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

05 Jan 2006 diketahui penjualan tanggal 03 Jan 2006 ternyata ditemukan barang rusak seharga Rp 200.000,00. Jurnalnya
Tanggal 2006 Jan 0 5 Keterangan Retur Penjualan Piutang Dagang Ref . Debet 200.000 200.000 Kredit

10.

Rabat dagangan dalam jumlah yang diberikan karena

Perusahaan-perusahaan yang menjual barang besar seringkali memberi rabat (potongan memberi dalam jumlah besar/banyak).

Contoh : Toko Aman Makmur memberi rabat sebesar 10% untuk pembelian 25-50 unit barang, 20% untuk pembelian 50-100 unit barang. Harga eceran barang per unit Rp 20.000 dan Tuan Rudy membeli 100 unit barang, maka jumlah uang yang harus dikeluarkan oleh Tuan Rudy atau diterima perusahaan Aman Makmur adalah sbb : Harga Eceran 100 x Rp 20.000,00 Rp 2.000.000,00 Rabat (20%xRp 2.000.000,00) Rp 400.000,00 Nilai yang di terima Rp 1.600.000,00 Jurnal (Penjual / Aman Makmur)
Tanggal 2006 Jan 0 5 Kas Penjualan Keterangan Ref . Debet 1.600.000 1.600.000 Kredit

11.

Pajak Pertambahan Nilai (PPn)

Pajak pertambahan nilai (PPn) dulu dikenal dengan sebutan Pajak Penjualan. PPn yang dikenakan oleh penjual biasanya 10%. Pajak ini dikenakan pada dua sumber yaitu saat membeli dan saat menjual. PPn yang dikenakan saat membeli dikenal dengan istilah PPn Masukan, sedangkan PPn yang dikenakan pada saat menjual disebut PPn Keluaran. Biasanya perusahaan dagang akan menacatat PPn ini saat membeli maupun menjual. Jumlah yang dibayar adalah selisih antara PPn Masukan dan PPn Keluaran dalam 1 (satu) periode. Contoh : PD Kurnia membeli barang secara kredit seharga Rp 3.000.000,00 dan PPn 10%. Ayat jurnalnya:
~8~ Akuntansi Dasar II

Tanggal 2006 Jan 0 5

Keterangan Pembelian PPn Masukan Utang Dagang

Ref .

Akuntansi Perusahaan Dagang Debet Kredit 3.000.000 300.000 3.300.000

Jika PD Kurnia berlaku sebagai penjual, maka ayat jurnalnya :


Tanggal 2006 Jan 0 5 Keterangan Piutang Dagang PPn Keluaran Penjualan Ref . Debet 3.300.000 300.000 3.000.000 Kredit

12.

Laporan Laba Rugi Perusahaan Dagang

Laporan Laba Rugi dalam perusahaan dagang mencakup Harga Pokok Penjualan (HPP). Unsur-unsur yang harus diperhatikan dalam menentukan Harga Pokok Penjualan (HPP) adalah; Persediaan Awal, Pembelian dan Persediaan Akhir dan ditampilkan dalam rumus : HPP = Persediaan Awal + Pembelian - Persediaan Akhir Contoh : Pada awal periode barang yang ada di gudang Rp 9.000.000,00. Selama tahun 2005 dibeli barang dagangan seharga Rp 39.800.000,00 pada akhir tahun jumlah barang dagangan yang sesungguhnya ada di gudang Rp 9.800.000,00. Perhitungannya : Persediaan Awal 2-1-2005 Pembelian Bersih Persediaan tersedia untuk dijual Persediaan Akhir HP Penjualan Rp Rp Rp Rp Rp 9.000.000,00 39.800.000,00 + 48.800.000,00 9.800.000,00 39.000.000,00

Data HP Penjualan tersebut harus tampak dalam Laporan Rugi Laba bagi perusahaan dagang sehingga dapat ditentukan jumlah laba bersih yang sesungguhnya. Berikut disajikan contoh perhitungan Laporan Laba Rugi :
PD KURNIA LAPORAN LABA RUGI UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA 31 Desember 2005 I. PENDAPATAN Penjualan Rp 60.000.000 HP Penjualan Rp 39.000.000 Laba Kotor Penjualan Rp 21.000.000 II. BIAYA OPERASI Biaya Pemasaran Rp 12.000.000 Biaya Administrasi Rp 5.000.000+
~9~ Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

Jumlah Biaya Operasi Laba Bersih

Rp 17.000.000 Rp 4.000.000

1. Soal Latihan 1. Selama bulan Februari 2006 PD Salim melakukan transaksi sbb:

01 Dibeli barang dagangan secara kredit, syarat 2/10, n/36 FOB Franco Gudang Penjual Rp 63.500.000,00. 01 Dibayar sewa gudang untuk bulan Agustus Rp 2.000.000,00. 02 Dibayar beban transportasi pada pembelian tgl 1 Februari 2006 Rp 600.000,00. 05 Dibeli perlengkapan kantor secara tunai Rp 1.300.000,00. 07 Dijual barang dagangan secara kredit, syarat bayar 1/10,n/30 FOB Franco Gudang Pembeli Rp 12.220.000,00. 08 Dibayar beban transportasi untuk penjualan 1 Februari 2006 sebesar Rp 820.000,00. 11 Dibayar pembelian barang dagangan tanggal 1 Februari 2006 dikurangi potongan pembelian. 12 Diterima barang yang dikembalikan dari penjualan tanggal 07 Februari 2006 seharga Rp. 475.000. 14 Dibeli barang dagangan secara kredit, syarat 2/15, n/30 FOB Franco Gudang Penjual Rp 3.900.000,00 dengan biaya transportasi yang dibayar dimuka ditambahkan pada faktur sebesar Rp 750.000,00. 15 Dikembalikan barang dagangan yang dibeli tanggal 14 Februari 2006 Rp 200.000,00. 17 Diterima per kas dari penjualan kredit tanggal 07 Februari 2006 dikurangi retur dan potongan. 18 Dijual barang dagangan secara kredit syarat 1/10,n/30 seharga Rp 8.200.000,00. Dibayar dimuka biaya transportasi sebagai akomodasi untuk pelanggan Rp 170.000,00. 26 Dijual barang dagangan dengan pembayaran kartu kredit bank Rp 3.700.000,00. 29 Dibayar barang dagangan yang dibeli tanggal 14 Februari 2006 dikurangi retur & potongan. 31 Diterima kas dari penjualan kredit tanggal 18 Februari 2006 seharga Rp 8.370.000,00. Diminta : Catatlah transaksi tersebut ke dalam jurnal 2 lajur 2. Berikut ini dipilih transaksi yang telah diselesaikan oleh Muslim Company selama bulan Mei 2005 : 01 Dibeli barang dagangan secara kredit dari Green Inc. Rp 5.500.000,00 syarat 2/10,n/30 dengan biaya transportasi dibayar dimuka Rp 225.000,00 ditambahkan pada faktur. 05 Dibeli barang dagangan secara kredit kepada CV R&R seharga Rp 4.100.000,00 syarat 2/10, n/30. 08 Dibeli perlengkapan kantor tunai Rp 475.000,00.
~10~ Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

10 Dikembalikan barang dagangan yang dibeli pada bulan Mei dari Funk Co. Rp 15.000.000,00. 11 Dibayar kepada Green Inc. untuk pembelian secara kredit pada tanggal 1 Mei dikurangi potongan. 14 Dibeli barang dagangan secara tunai Rp 24.000.000,00. 15 Dibayar kepada Funk Co. untuk pembelian kredit tanggal 5 Mei dikurangi retur & potongan tanggal 10 Mei. 16 Diterima kas dari penjualan kredit tanggal 16 Mei kepada R&R Inc. dikurangi potongan. 21 Dijual barang dagangan dengan pembayaran kartu kredit tanggal 1 Mei dikurangi potongan. 22 Dijual barang dagangan secara kredit kepada Tn. Comer Rp 3.480.000,00 syarat 2/10, n/30. 26 Diterima barang yang dikembalikan oleh Tn Comer dari penjualan tanggal 22 Mei sebesar Rp 480.000,00. 30 Diterima per kas dari perusahaan kartu kredit untuk penjualan dengan kartu kredit bukan bank tanggal 25 Mei dikurangi Rp 215.000,00 untuk biaya administrasi. Diminta : buat ayat jurnal dengan jurnal 2 lajur. Daftar Pustaka 1. A.L. Haryono Yusup, Dasar-Dasar Akuntansi I, Penerbit STIE YKPN Yogyakarta: 1995 2. Horngren, Harrison, Robinson & Secokusumo, Akuntansi di Indonesia, Buku Satu, Salemba Empat Simon & Schuster (Asia).Pte. Ltd. PrenticeHall 3. Sumarso S.R., Akuntansi - Suatu Pengantar I, Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi UI, Edisi ke-3, 1990 4. Niswonger and Fess, Accounting Principles I, Cincinnati: South Western Publishing Company, 1991 5. Thacker, Ronald J., Accounting Principles, London, Prentice Hall International 6. Kieso, Donald E., Jerry J. Weigandt, and Walter G. Kell, Accounting Principles I, New York: John Wiley & Sons, 2nd edition, 1990

~11~

Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

BAB II
JURNAL KHUSUS (untuk PERUSAHAAN DAGANG)
Tujuan pengajaran setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat :
1. Menjelaskan jenis-jenis transaksi yang dicatat dalam masing-masing jurnal apabila perusahaan menggunakan jurnal khusus, 2. Menggunakan jurnal penjualan, jurnal penerimaan kas dan buku besar pembantu piutang, 3. Menggunakan jurnal pembelian, jurnal pengeluaran kas, dan buku besar pembantu hutang.

1. Pendahuluan Jurnal dua lajur tampaknya cocok jika dipergunakan dalam pencatatan transaksi yang tidak terlampau banyak dan rumit. Sedangkan jika data (transaksi) yang harus dijurnal sangat banyak maka cocok dipergunakan special journal (jurnal khusus). Ada beberapa alasan mengapa perlu dipergunakan buku jurnal khusus, diantaranya : 1. Jika menggunakan buku harian dua lajur, sedangkan jenis kegiatan perusahaan sangat banyak dan beragam akan sangat merepotkan disamping kurang praktis. 2. Pencatatan data tergantung pada satu orang (petugas). 3. Sulit mencari satu transaksi karena ayat jurnal terlalu panjang (banyak). Yang dimaksud jurnal khusus (special journal) adalah jurnal yang dipergunakan untuk mencatat transaksi-transaksi yang sejenis dan sering terjadi. Untuk dapat menentukan jurnal-jurnal khusus yang diperlukan berikut disajikan inventarisasi jenis-jenis kegiatan yang biasanya terjadi berulang-ulang. a) Jurnal Penjualan untuk mencatat transaksi-transaksi penjualan barang dagangan secara kredit. b) Jurnal Pembelian untuk mencatat transaksi-transaksi pembelian barang dagangan, aktiva produksi atau pembelian barang lainnya secara kredit c) Jurnal Penerimaan Kas untuk mencatat transaksi penerimaan kas d) Jurnal Pengeluaran Kas untuk mencatat transakasi pengeluaran kas Untuk mancatat transaksi-transaksi yang tidak dapat dicatat dalam jurnaljurnal khusus diatas, digunakan Jurnal Umum (Jurnal Memorial).
~12~

Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

2. Jurnal Penjualan Jurnal penjualan hanya digunakan untuk mencatat penjualan barang dagangan secara kredit, sedangkan penjualan barang secara tunai dicatat dalam jurnal penerimaan kas. Penjualan suatu aktiva yang bukan termasuk barang dagangan dicatat dalam jurnal penerimaan kas/jurnal umum, tergantung apakah dijual secara kredit atau tunai. Bentuk buku Jurnal Penjualan yang ditampilkan biasanya relatif sama, seperti disajikan berikut ini : JURNAL PENJUALAN Hal : 1
Tanggal Rekening yang Didebit Syarat Nomor Ref Kredit Faktur Piutang Dagang (Dr) Penjualan (Cr)

Setiap membukukan debet ke Akun pelanggan dalam lajur referensi pembukuan dalam jurnal penjualan dicantumkan tanda periksa () pada akhir bulan, lajur-lajur jurnal penjualan itu dijumlahkan. Dalam kegiatan penjualan barang dagangan secara kredit ada kemungkinan barang tersebut tidak layak pakai (cacat). Biasanya pembeli mengembalikan kepada penjual dan penjualan membukukan transaksi tersebut sebagai retur dan pengurangan penjualan tapi apabila retur tersebut jarang terjadi, pembukuannya cukup dilahirkan pada jurnal umum. Contoh : 01 Desember 2005 Menjual separtai barang dagangan kepada CV. Desdemona Rp 450.000 dengan syarat 2/10;n/30 dan dilampiri faktur nomor kla-001 04 Desember 2005 Menjual kepada PT. Aristocrat barang dagangan Rp 1.000.000 dengan syarat 2/15;n/20 dengan faktur nomor kla-002 05 Desember 2005 Menjual kepada PD. Britanic sejumlah barang dagangan dengan syarat 2/10;n/30 dengan faktur nomor kla-003 senilai Rp 1.000.000. Jurnal : JURNAL PENJUALAN Hal : 1
Tanggal Rekening yang Didebit Syarat Kredit 2/10,n/30 2/15,n/20 2/10,n/30 Nomor PR Faktur Kla-001 Kla-002 Kla-003 Piutang Dag. (Dr) Pejualan (Cr) 450.000 1.000.000 1.000.000 2.450.000

2005 01 CV. Desdemona Des 04 PT. Aristocrat 05 PD. Britanic Total

~13~

Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

3. Jurnal Penerimaan Kas Semua transaksi yang menambah jumlah uang kas dicatat dalam buku harian (jurnal) penerimaan kas. Dalam perusahaan dagang sumber penerimaan uang kas yang paling sering ialah penjualan tunai & penrimaan piutang dari pelanggan. Jurnal penerimaan kas mempunyai lajur khusus yaitu Debet kas. Lajur-lajur lainnya ditentukan oleh frekuensi masing-masing jebis transaksi yang menyangkut penerimaan kas. Lajur kredit Akun Rupa-rupa digunakan untuk mencatat setiap pos kredit yang tidak ada pada lajur khusus. Lajur kredit penjualan digunakan untuk mencatat penjualan barang dagangan secara tunai. Pengkreditan Akun langganan atas pembayaran faktur-fakturnya dicatat pada lajur kredit Piutang Dagang. Jumlah potongan tunai dicatat pada lajur potongan penjualan dan jumlah uang benar-benar diterima dicatat dalam lajur debet Kas berikut satu contoh jurnal penerimaan kas.
JURNAL PENERIMAAN KAS Hal : .
Tgl Akun di Debet Ref. Akun RupaRupa (Cr) Piutan Pot. g Penjualan Penjuala Dagan (Cr) n (Dr) g (Cr) Kas (Dr)

Setiap pos dalam lajur kredit Akun rupa-rupa dari jurnal penerimaan kas pada akhir pembukuan harus dibukukan ke Akun yang semestinya pada buku besar umum setiap jangka waktu tertentu. Waktu membukukan dalam lajur referensi dicantumkan nomor Akun yang dibukukan itu. Tiap jangka waktu tertentu, angka-angka dalam lajur kredit piutang dagang dibukukan ke buku pelanggan pada buku tambahan dan lajur referensi pembukuan Akun tersebut dicantumkan kode huruf Pr & nomor halamannya. Tanda () dicantumkan dalam lajur referensi pembukuan pada jurnal untuk menunjukkan bahwa angka-angka tersebut telah dibukukan. Dari ketiga lajur yang lain tidak ada satu pos pun yang dibukukan sendiri-sendiri. Pada akhir bulan semua lajur dijumlah & jumlah debet serta kredit dicocokan sama atau tidak & pada jurnal tersebut diberi garis bawah. Total dari semua lajur tersebut dibukukan ke Akun pada buku besar. Nomor Akunnya dicantumkan di bawah angka total untuk menunjukkan
~14~ Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

bahwa pembukuan telah selesai. Untuk memberi pengertian yang lebih jelas berikut contoh buku besar yang harus disajikan. Contoh : 09 Desember 2005 PT. Aristocrat membayar lunas utangnya sebesar Rp 1.000.000. Pembayaran ini masih dalam masa potongan sebesar 2% 15 Desember 2005 Menerima bunga deposito (no. Akun 415) Rp 250.000 20 Desember 2005 PD. Britanic melunsi utangnya senilai Rp 1.000.000. 25 Desember 2005 Menjual Tunai barang dagangan kepada Anton Otang senilai Rp 650.000 Jurnal : JURNAL PENERIMAAN KAS Hal : 1
Tgl 2005 Des 09 15 20 25 Akun di Kredit PT. Aristocrat Pend. Bunga PD. Britanic Anton Otang Jumlah Ref Akun RupaRupa (Cr) 250.000 1.000.000 250.000 2.000.000 650.000 650.000 20.000 Piutang Dagang (Cr) 1.000.000 415 Penjualan (Cr) Pot. Penj (Dr) 20.000 Kas (Dr) 980.000 250.000 1.000.000 650.000 2.880.000

4. Jurnal Pembelian Jenis barang yang biasa dibeli secara kredit oleh perusahaan dagang adalah : 1. Barang yang akan dijual kembali kepada pelanggan. 2. Perlengkapan yang digunakan untuk menjalankan perusahaan. 3. Peralatan serta aktiva tetap lainnya. Karena banyak ragam barang yang dibeli secara kredit maka jurnal pembelian harus dirancang sedemikian rupa sehingga memadai sebagai tempat pencatatan tersebut diatas. Berikut contoh jurnal pembelian yang biasa dipergunakan oleh perusahaan dagang. JURNAL PEMBELIAN Hal : ..
Debit Tanggal Keterangan PR Pembelian RupaRupa Kredit Hutang Dag.

Contoh : 02 Desember 2005


~15~ Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

Perusahaan membeli barang dagangan dari PT. Andika senilai Rp 2.000.000 dengan syarat 3/15,n/30 05 Desember 2005 Membeli Perlengkapan dari toko Alian senilai Rp 300.000 yang akan dibayar 1 minggu kemudian Jurnalnya :
JURNAL PEMBELIAN Hal : 1
Tanggal 2005 Des Keterangan PR Debit Pembelia Rupan Rupa 2.000.000 300.000 2.000.000 300.000 Kredit Hutang Dag. 2.000.000 300.000 2.300.000

02 PT. Andika, 3/15, n/30 05 Perlengkapan Total

115

Setiap transaksi dicatat pada lajur pembelian dengan mengkredit lajur hutang usaha. Ketiga lajur lainnya digunkan untuk mengumpulkan pos debet bagi Akun yang paling sering terjadi. Faktur dari pembelian barang dagangan yang akan dijual lagi dicatat ke lajur debet pembelian. Lajur terakhir yang diberi judul Akun Rupa-Rupa digunakan untuk mencatat pembelian barang-barang secara kredit yang tidak ada pada lajur debet khusus. Bila barang yang dibeli dikembalikan atau disesuaikan harganya, biasanya dibuat ayat jurnal dalam jurnal umum dengan kelompok Akun Retur & Pengurangan Pembelian. 5. Jurnal Pengeluaran Kas Patokan untuk menentukan banyaknya lajur khusus pada jurnal pengeluran kas sama halnya dengan jurnal pembelian yaitu jenis transaksi yang harus dicatat & frekuensi transaksi tersebut. Jurnal pengeluaran kas digunakan untuk mencatat semua transaksi pengeluaran tunai. Lajur pertama yang selalu nampak dijurnal pengeluaran kas adalah lajur Kas (Cr). Disamping itu juga ada lajur debet Hutang, lajur kredit Potongan Pembelian dan juga Akun rupa-rupa (Dr). Lajur Akun Rupa-Rupa digunakan untuk mencatat setiap Akun yang tak ada pada lajur khusus. Berikut disajikan contoh jurnal pengeluaran kas :
JURNAL PENGELUARAN KAS Hal : .
Tgl Akun Re di Debet f Akun RupaRupa (Dr) Utang Pembelian Dagang (Dr) (Dr) Pot. Pembelian (Cr) Kas (Cr)

~16~

Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

12 Desember 2005 membayar kepada toko Alian senilai Rp 150.000 20 Desember 2005 Membeli barang dagangan secara tunai dari PT. Alfira senilai Rp 1.000.000 dan mendapat potongan Rp 1.000.000 22 Desember 2005 Membeli peralatan secara tunai Rp 500.000 Jurnalnya : JURNAL PENGELUARAN KAS Hal : 1
Tgl 2005 Des 12 20 22 Akun di Debet Toko Alian PT. Alfira Peralatan Jumlah 121 500.000 500.000 150.000 1.000.000 50.000 Ref Akun RupaRupa (Dr) Utang Dagang (Dr) 150.000 1.000.000 50.000 Pot. Pembelia Pembelia n (Dr) n (Cr) Kas (Cr) 150.000 950.000 500.000 1.600.000

6. Jurnal Umum Jurnal umum, masih digunakan untuk mencatat transaksi yang tidak dapat dicatat dalam jurnal khusus seperti Retur Penjualan atau Retur Pembelian, bentuk jurnal umum seperti di bawah ini
JURNAL UMUM Tanggal Keterangan Ref Debet Hal : ... Kredit

Contoh : 04 Desember 2005 Dikembalikan kepada PT. Andika barang yang dibeli ada yang cacat Rp 200.000 05 Desember 2005 Pengembalian dari CV. Desdemona Rp 100.000 karena baang tidak sesuai pesanan Jurnalnya : JURNAL UMUM Hal : 1
Tanggal 2005 0 4 Des 0 5 Keterangan Utang Dagang Retur Pembelian Retur Penjualan ~17~ Ref Debet 200.000 100.000 Akuntansi Dasar II Kredit 200.000

Piutang Dagang

Akuntansi Perusahaan Dagang 100.000

Soal Latihan

Transaksi yang terjadi selama Bulan Januari 2005 di bawah ini 02 Jan 05 Untuk memulai usahanya Tn. Alibaba menyerah uang tunai ke perusahaan sebesar 10.000.000,-. Tanah seluas 500 M2 senilai 37.500.000,-. Gedung senilai 12.500.000,- dan dua buah truk masing-masing senilai 5.000.000,-. Gedung diAkunirakan berumur ekonomis 20 tahun dengan nilai residu 500.000,sedangkan truk mempunyai umur ekonomis 10 tahun dan nilai residu 500.000,-. PT. ALIBABA SHOES mempunyai kebijakan bahwa semua aktiva tetap yang dimiliki menggunakan metoda penyusutan garis lurus. 03 Jan 05 Membeli 2 set meja tulis dengan harga @ 100.000,- dan 10 buah almari @ 150.000,-. Meja tulis dan almari berumur ekonomis 10 tahun tanpa nilai residu. (catat dalam Akun peralatan) 05 Jan 05 Membayar premi asuransi untuk masa tiga tahun sebesar 750.000,-. Asuransi mulai berlaku tanggal 5 Januari 2001. 10 Jan 05 Membeli barang dagangan (sepatu) dari PT. Sepatu Kaca senilai 16.250.000,- dengan perincian 40% dibayar tunai dan sisanya dengan syarat 2/10, n/30. Sistem pencatatan barang dagangan menggunakan metoda Phisik. 13 Jan 05 Sebagian barang dagangan yang dibeli dari PT. Sepatu Kaca dikembalikan karena adanya kerusakan senilai 450.000,-. 15 Jan 05 Perusahaan menerima kredit dari Bank BRI senilai 15.000.000,-. Bunga bank 18% per tahun yang dihitung dari sisa pokok pinjaman dan dibayar setiap tanggal 15 tiap bulan. Pinjaman ini diangsur setiap bulan yang dimulai tanggal 15 Januari 2002, selama 5 tahun yang masing-masing sebesar 250.000,-. 17 Jan 05 Melunasi hutang kepada PT. Sepatu Kaca atas pembelian barang dagangan pada tanggal 10 Jan 05 (perhatikan syarat pembelian) 18 Jan 05 Penjualan tunai sampai saat ini berjumlah 23.670.000,-. 19 Jan 05 Membeli barang dagangan dari PT. Novel Sepatu senilai 11.250.000,- dengan pembayaran 50% per kas dan sisanya dengan syarat 2/10, n/30. Di samping itu perusahaan membayar biaya listrik dan telepon sebesar 20.000,-. 20 Jan 05 Mengembalikan barang dagangan yang dibeli tanggal 19 Jan 05 senilai 225.000,22 Jan 05 Terjadi penjualan senilai 22.500.000,- dengan perincian penjualan tunai sebesar 22.280.000,- dan penjualan kredit sisanya. 23 Jan 05 Membayar lunas utang kepada PT. Novel Sepatu atas pembelian tanggal 19 Jan 05. 25 Jan 05 Biaya Iklan dan Promosi 225.000,- dan biaya lain-lain berjumlah 300.000,-.
~18~ Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

28 Jan 05 Membeli barang dagangan senilai 4.500.000,- dengan syarat 2/10, n/30. Diminta : Bukukan transaksi siatas ke dalam jurnal khusus dan Jurnal Umum Daftar Pusaka 1. A.L. Haryono Yusup, Dasar-Dasar Akuntansi I, Penerbit STIE YKPN Yogyakarta: 1995 2. Horngren, Harrison, Robinson & Secokusumo, Akuntansi di Indonesia, Buku Satu, Salemba Empat Simon & Schuster (Asia).Pte. Ltd. PrenticeHall 3. Sumarso S.R., Akuntansi - Suatu Pengantar I, Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi UI, Edisi ke-3, 1990 4. Niswonger and Fess, Accounting Principles I, Cincinnati: South Western Publishing Company, 1991

BAB III POSTING KE BUKU BESAR, BUKU PEMBANTU & NERACA SALDO

Tujuan pengajaran setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat :


1. Melakukan pemindahbukuan dari jurnal khusus ke dalam buku besar (posting), 2. Menyiapkan neraca saldo perusahaan dagang.

1. Pendahuluan Data dari jurnal khusus sama seperti jurnal umum akan dipindahbukukan (diposting) berdasarkan periode tertentu (satu bulan sekali) tidak per hari (kecuali yang ada dikolom rupa-rupa). Sedangkan data dari jurnal umum tetap diposting per tanggal pencatatan. Pada akhir periode saldo dari setiap akun buku besar akan diikhtisarkan dalam neraca saldo untuk menguji apakah jumlah debet dan kredit dalam keadaan seimbang. 2. Buku Besar Berdasarkan data jurnal khusus pada bab sebelumnya di atas, apabila diposting akan tampak sbb :
Kode Akun Tanggal 2005 31 Des 31 Kode Akun 111 Kas Keterangan Jurnal pen. Kas Jurnal peng. kas : : 112 Piutang Dagang : :

Ref JPn1 JPg1

Debet 2.880.000

Kredit 1.600.000

Saldo 2.880.000 1.280.000

~19~

Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang


Tanggal 2005 31 Des 05 31 Kode Akun Tanggal 2005 05 Des Kode Akun Tanggal 2005 22 Des Kode Akun Tanggal 2005 31 Des 04 31 Kode Akun Tanggal 2005 31 Des 31 Keterangan Penjualan Kredit Retur Penerimaan Kas 115 Perlengkapan Keterangan Pembelian Kredit : : Ref JPj1 Jum1 JPn1 Debet 2.450.000 Kredit 100.000 2.000.000 Saldo 2.450.000 2.350.000 350.000

Ref JPj1

Debet 300.000

Kredit

Saldo 300.000

121 Peralatan Keterangan Pembelian tunai

: :

Ref JPg1

Debet 500.000

Kredit

Saldo 500.000

211 Utang Dagang Keterangan Pembelian Kredit Retur Pembayaran Utang 411 Penjualan Keterangan Penjualan Kredit Penjualan Tunai : :

: :

Ref JPb1 JUm1 JPg1

Debet 200.000 150.000

Kredit 2.300.000

Saldo 2.300.000 2.100.000 1.950.000

Ref JPj1 JPn1

Debet

Kredit 2.450.000 650.000

Saldo 2.450.000 3.100.000

Kode Akun Tanggal 2005 31 Des Kode Akun Tanggal 2005 05 Des Kode Akun Tanggal 2005 15 Des

412 Potongan Penjualan Keterangan Ref Penjualan Kredit JPn1

: :

Debet 20.000

Kredit

Saldo 20.000

413 Retur Penjualan Keterangan Retur

: :

Ref JUm1

Debet 100.000

Kredit

Saldo 100.000

415 Pendapatan Bunga Keterangan Ref Bunga Deposito JPn1

: :

Debet

Kredit 250.000

Saldo 250.000

Kode Akun Tanggal 2005 31 Des 31

511 Pembelian Keterangan Pembelian Kredit Pembelian Tunai

: :

Ref JPj1 JPg1

Debet 2.000.000 1.000.000

Kredit

Saldo 2.000.000 3.000.000

Kode Akun Tanggal

: :

512 Potongan Pembelian Keterangan Ref

Debet

Kredit

Saldo

~20~

Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang


2005 Des 31 Potongan Pembelian JUm1 50.000 50.000

Kode Akun Tanggal 2005 04 Des

513 Retur Pembelian Keterangan Retur

: :

Ref JUm1

Debet

Kredit 200.000

Saldo 200.000

3. Buku Pembantu Buku Pemabntu adalah buku yang berfungsi untuk menampung mutasi transaksi pembelian dan penjualan serta transaksi penerimaan dan pengeliuaran kas, buku pembantu itu antara lain adalah : Buku Pembantu Piutang / Kartu Piutang Kartu ini berisi rincian setiap pelanggan / debitur yang dimiliki oleh perusahaan. Dalam kartu ini berisi rincian mutasi setiap transaksi yang berhubungan dengan debitur tersebut, baik transaksi penjualan, retur penjualan atau pembayaran dari para debitur. Dari Jurnal Penjualan diatas, maka kartu piutang tampak seperti di bawah ini :
Kode : Nama : Alama : t Tanggal 2005 0 1 Des 0 5 DESD CV. Desdemona Jl. ABC No. 234 Telp (022) 6002134 Keterangan 2/10,n/30; kla-001 Retur Ref JPj1 JU1 Debet 450.000 Kredit Saldo 450.000 350.000

100.000

Kode : Nama : Alama : t Tanggal


2005 Des 04 09

ARIS PT. ARISTOCRAT Jl. Sukajadi No 56 Telp (022) 2032454 Keterangan


2/15,n/30; kla-002 Penerimaan Piutang

Ref
JPj1 J1

Debet
1.000.000

Kredit
1.000.000

Saldo
1.000.00 0 0

Kode : Nama : Alama : t Tanggal


2005 Des 04 09

BRIT PD. Britanic Jl. Setia Budi 345 Telp (022) 2032134 Keterangan
2/10,n/30; kla-003 Penerimaan Piutang

Ref
JPj1 J1

Debet
1.000.000

Kredit
1.000.000

Saldo
1.000.00 0 0

~21~

Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

Buku Pembantu Utang / Kartu Utang Kartu ini berisi rincian setiap Pemasok / kreditur yang dimiliki oleh perusahaan. Dalam kartu ini berisi rincian mutasi setiap transaksi yang berhubungan dengan kreditur tersebut, baik transaksi pembelian, retur pembelian atau pembayaran kepada para kreditur. Dari Jurnal pembelian diatas, maka kartu piutang tampak seperti di bawah ini :
Kode : Nama : Alama : t Tanggal
2005 Des 05 21

ALIA Toko Alian Jl. Sukajadi No 16 Telp (022) 2032354 Keterangan


1 minggu Pembayaran Utang

Ref
JPb1 JPg1

Debet
150.000

Kredit
300.000

Saldo
300.000 150.000

4. Neraca Saldo adalah daftar saldo-saldo Akun yang ada dalam buku besar perusahaan pada periode tertentu. Langkah pertama penyusunan neraca percobaan adalah menentukan saldo setiap Akun dalam buku besar. Bila Akun dua lajur digunakan, penjumlahan pos-pos Akun beserta saldonya di cantumkan dengan pensil . Bila digunakan Akun empat lajur, saldo setiap Akun harus dicantumkan dilajur saldo yang benar, satu baris dengan pos pembukuan terakhir ke Akun itu. Contoh Soal Neraca Saldo dari PT. Arty PT. ARTY ANTIK NERACA SALDO PER 31 DESEMBER 2005
No. Akun 111 112 113 114 115 118 119 120 121 122 123 124 125 126 211 Nama Akun Kas Surat Berharga / Efek Persediaan Barang Dag Piutang Wesel Piutang Dagang Perlengkapan Asuransi Dibyr Dimuka Iklan Dibayar Dimuka Gedung Ak. Penyst. Gedung Kendaraan Ak. Penyst. Kendaraan Peralatan Ak. Penyst. Peralatan Hutang Dagang Debit 64,785,000 75,000,000 20,000,000 10,000,000 6,625,000 2,650,000 2,400,000 15,000,000 41,000,000 7,200,000 25,000,000 5,250,000 10,000,000 3,450,000 1,850,000
~22~ Akuntansi Dasar II

Kredit

Akuntansi Perusahaan Dagang

No. Akun 212 214 221 311 312 411 412 413 499 512 513 514 515 521 522 523 524 525 526 527 528 529

Nama Akun Hutang Wesel Hutang Bunga Utang Bank Modal Saham Laba Ditahan Penjualan Retur Penj & Peng Harga Potongan Penjualan Pendapatan Lain-Lain Pembelian Retur Pmb & Peng Harga Potongan Pembelian Biaya Angkut Pembelian Biaya Gaji Biaya Kerugian Piutang Biaya Iklan Biaya Perlengkapan Biaya Asuransi Biaya Peny Gedung Biaya Peny Kendaraan Biaya Peny Peralatan Biaya Bunga JUMLAH

Debit

Kredit 6,500,000 4,000,000 20,000,000 129,600,000 30,000,000 162,950,000

2,525,000 825,000 750,000 33,350,000 1,100,000 680,000 270,000 47,000,000 7,500,000

3,300,000 2,250,000 1,650,000 2,200,000 373,330,00 0

373,330,000

Soal Latihan

Berdasarkan SOAL-SOAL LATIHAN Bab IX, lakukan posting ke : Buku Pembantu dan Buku BEsar

Daftar Pustaka
1. A.L. Haryono Yusup, Dasar-Dasar Akuntansi I, Penerbit STIE YKPN Yogyakarta: 1995 2. Horngren, Harrison, Robinson & Secokusumo, Akuntansi di Indonesia, Buku Satu, Salemba Empat Simon & Schuster (Asia).Pte. Ltd. PrenticeHall 3. Sumarso S.R., Akuntansi - Suatu Pengantar I, Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi UI, Edisi ke-3, 1990 4. Niswonger and Fess, Accounting Principles I, Cincinnati: South Western Publishing Company, 1991 5. Thacker, Ronald J., Accounting Principles, London, Prentice Hall International
~23~ Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

6. Kieso, Donald E., Jerry J. Weigandt, and Walter G. Kell, Accounting Principles I, New York: John Wiley & Sons, 2nd edition, 1990

~24~

Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

BAB IV AYAT JURNAL PENYESUAIAN

Tujuan pengajaran setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat :


1. Menyebutkan akun-akun khususnya untuk perusahaan dagang yang memungkinkan perlu dibuatkan jurnal penyesuaiannya, 2. Membuat ayat jurnal penyesuaian pada akhir periode akuntansi.

1. Pendahuluan 1. Neraca saldo adalah ringkasan akibat transaksi yang disusun dalam suatu periode akuntansi. 2. Neraca saldo dipersiapkan untuk membuat laporan - laporan keuangan. 3. Sebelum menyusun laporan tersebut perlu diteliti apakah saldo dari tipe rekening (Akun) sudah menunjukan yang sebenarnya sebab ada rekening - rekening yang sudah siap utnuk dicantumkan dalam laporan keuangan tapi ada juga yang belum karena perlu mendapat penyesuaian. 2. Hal-Hal yang perlu disesuaikan di perusahaan dagang adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Piutang Penghasilan Hutang Biaya Biaya Dibayar Dimuka Pendapatan Diterima Dimuka Pemakaian Perlengkapan Taksiran Kerugian Piutang Penyusutan / Depresiasi Persediaan Barang Dagangan

Poin 1 s.d tujuh dapat dilihat di BAB IV, sedangkan penyesuaian persediaan Barang Dagangan dengan metoda pencatatan Phisik, serperti dibawah ini : Persediaan Barang Dagangan Dengan Metoda Ikhtisar L/R Pola Jurnal penyesuaian : Ikhtisar L/R Rp xxx Persediaan Barang Dagangan Rp xxx (Sebesar yang ada di neraca Saldo) Persediaan Barang Dagangan Rp xxx Ikhtisar L/R Rp xxx (Sebesar hasil stock opname)
~25~ Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

Dengan Metoda Harga Pokok Penjualan Pola Jurnal penyesuaian : Harga Pokok Penjualan Rp xxx Persediaan Barang Dagangan Rp xxx (Sebesar yang ada di neraca Saldo) Persediaan Barang Dagangan Rp xxx Harga Pokok Penjualan Rp xxx (Sebesar hasil stock opname) Contoh : Nilai persediaan barang dagangan di Neraca Saldo menunjukan jumlah 10.000.000, sedangkan berdasarkan stock opname nilai persediaan menunjukan jumlah 8.000.000, maka jurnal penyesuaian yang dibuat adalah sbb: Pola Jurnal penyesuaian : Ikhtisar L/R Rp 10.000.000 Persediaan Barang Dagangan Rp 10.000.000 (Sebesar yang ada di neraca Saldo) Persediaan Barang Dagangan Rp 8.000.000 Ikhtisar L/R Rp 8.000.000 (Sebesar hasil stock opname) Dengan Metoda Harga Pokok Penjualan Pola Jurnal penyesuaian : Harga Pokok Penjualan Rp 10.000.000 Persediaan Barang Dagangan Rp 10.000.000 (Sebesar yang ada di neraca Saldo) Persediaan Barang Dagangan Rp 8.000.000 Harga Pokok Penjualan Rp 8.000.000 (Sebesar hasil stock opname)

Contoh Soal
Data-Data Penyesuaian Tanggal 31 Desember 2000
1. Berdasarkan hasil Stock Opname persediaan barang menunjukkan Rp

10.000.000. 2. Hitung Biaya Penyusutan untuk bulan Desember apabila diketahui data sbb : Nama Aktiva Gedung Kendaraan Peralatan Nilai Residu Rp 5.000.000 Rp 7.000.000 Rp 1.000.000 Umur Ekonomis 10 6 5

3. Pembagian deviden untuk semester kedua tahun ini adalah Rp 5.000.000. 4. Bunga yang masih harus dibayar untuk periode 1/10 31/12.
~26~ Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

5. Bunga yang masih harus diterima dari wesel adalah Rp 1.000.000. 6. Kerugian piutang ditaksir 1% dari Penjualan kredit. 7. Pada Akun Potongan Penjualan sebesar Rp 50.000 terbukukan Rp 500.000. 8. Pada Akun Retur Pembelian & Pengurangan Harga terbukukan di Akun Potongan Pembelian sebesar Rp 75.000. 9. Pajak Penghasilan yang terutang sampai dengan akhir tahun ini Rp 1.000.000. PT. ARTY ANTIK JURNAL PENYESUAIAN Hal : 1
Tanggal 3 2005 1 Des Nama Rekening Ikhtisar L/R Persediaan Barang Dag Persediaan Barang Dagangan Ikhtisar L/R Biaya Penyusutan Gedung Akm. Penyusutan Gedung 3 1 3 1 3 1 3 1 3 1 3 1 3 1 3 1 3 1 Biaya Penyusutan Kendaraan Akm. Peny Kendaraan Biaya Penyusutan Peralatan Akm. Peny Peralatan Deviden Kas Biaya Bunga Hutang Bunga Piutang Bunga Pendapatan Lain-Lain Biaya Kerugian Piutang Cad. Kerugian Piutang Kas Potongan Penjualan Potongan Pembelian Retur Pmb & Peng Harga Pajak Penghasilan Hutang Pajak Penghasilan JUMLAH 38,879,50 0 1,000,000 1,000,000 38,879,50 0 75,000 75,000 450,000 450,000 54,500 54,500 1,000,000 1,000,000 600,000 600,000 5,000,000 5,000,000 150,000 150,000 250,000 250,000 Ref Debit 20,000,000 20,000,000 10,000,000 10,000,000 300,000 300,000 Kredit

3 1

~27~

Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

Soal Latihan
Berdasarkan SOAL-SOAL LATIHAN Bab IX, lakukan posting ke :

Buku Pembantu dan Buku Besar

Daftar Pustaka
1. A.L. Haryono Yusup, Dasar-Dasar Akuntansi I, Penerbit STIE YKPN Yogyakarta: 1995 2. Horngren, Harrison, Robinson & Secokusumo, Akuntansi di Indonesia, Buku Satu, Salemba Empat Simon & Schuster (Asia).Pte. Ltd. PrenticeHall 3. Sumarso S.R., Akuntansi - Suatu Pengantar I, Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi UI, Edisi ke-3, 1990 4. Niswonger and Fess, Accounting Principles I, Cincinnati: South Western Publishing Company, 1991 5. Thacker, Ronald J., Accounting Principles, London, Prentice Hall International 6. Kieso, Donald E., Jerry J. Weigandt, and Walter G. Kell, Accounting Principles I, New York: John Wiley & Sons, 2nd edition, 1990

~28~

Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang

BAB V NERACA LAJUR & LAPORAN KEUANGAN


Tujuan pengajaran setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat :
1. 2. Membuat neraca lajur untuk perusahaan dagang, Menyiapkan laporan keuangan perusahaan dagang.

1. Pendahuluan Neraca lajur berfungsi sebagai kertas kerja untuk memudahkan menyusun laporan keuangan (financial statement). 2. Neraca Lajur a. Pengertian Kertas berlajur-lajur yang direncanakan secara khusus untuk menghimpun semua data akuntansi yang dibutuhkan pada saat perusahaan akan menyusun Laporan Keuangan dengan cara yang sistematis. b. Contoh Soal Berdasarkan Neraca Saldo dan Jurnal Penyesuaian PT. ARTY ANTIK, maka Neraca Lajur yang dibuat akan tampak seperti di bawah ini :

~29~

Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang


PT. ARTY ANTIK NERACA LAJUR Per 31 Desember 2000 (000)
No 111 112 113 114 115 118 119 120 121 122 123 124 125 126 211 212 214 221 311 312 411 412 Kas Surat Berharga Persd Brg Dag Piutang Wesel Piutang Dagang Perlengkapan Asr Dibyr Dimk Iklan Dibyr Dimk Gedung Ak. Penyst. Ged Kendaraan Ak. Penyst. Kend Peralatan Ak. Penyst. Peral Hutang Dagang Hutang Wesel Hutang Bunga Utang Bank Modal Saham Laba Ditahan Penjualan Retur Penjualan 2,525 10,000 3,450 1,850 6,500 4,000 20,000 129,600 30,000 162,950 2,525 600 150 25,000 5,250 250 10,000 3,600 1,850 6,500 4,600 20,000 129,600 30,000 162,950 2,525 162,950 Akun NERACA SALDO Debet 64,785 75,000 20,000 10,000 6,625 2,650 2,400 15,000 41,000 7,200 300 25,000 5,500 10,000 3,600 1,850 6,500 4,600 20 ,000 129,600 30,000 10,000 20,000 Kredit PENYESUAIAN Debet 450 Kredit 5,000 NS PENYS. Debet 60,235 75,000 10,000 10,000 6,625 2,650 2,400 15,000 41,000 7,500 25,000 5,500 Kredit LABA RUGI Debet Kredit NE R A C A Debet 60,235 75,000 10,000 10,000 6,625 2,650 2,400 15,000 41,000 7,500 Kredit

~30~

Akuntansi Dasar II

Akuntansi Perusahaan Dagang


No 413 499 512 513 514 515 521 523 526 527 528 529 Akun Pot.Penjualan Pend Lain-Lain Pembelian Retur Pembelian Pot. Pembelian Bi Angkut Pemb Biaya Gaji Biaya Iklan Biaya Peny Ged Biaya Peny Kend Biaya Peny Perl Biaya Bunga 270 47,000 7,500 3,300 2,250 1,650 2,200 373,330 314 313 117 522 116 590 213 Ikhtisar L/R Deviden Piutang Bunga Bi Ker Piutang Cad Ker Piutang PPh Hutang PPh 38,879,5 LABA 1,000 1,000 38,879,5 376,684,5 373,330 20,000 5,000 1,000 54,5 54,5 1,000 1,000 376,684,5 112,774,5 53,705,5 166,480 166,480 263,910 166,480 263,910 10,000 10,000 5,000 1,000 54,500 54,500 1,000 1,000 210,204,5 53,705,5 263,910 54,500 54,500 10,000 5,000 1,000 300 250 150 600 33,350 1,100 680 75 270 47,000 7,500 3,600 2,500 1,800 2,800 75 NERACA SALDO Debet 825 750 Kredit PENYESUAIAN Debet Kredit 450 1,000 33,350 1,175 605 270 47,000 7,500 3,600 2,500 1,800 2,800 NS PENYS. Debet 375 1,750 33,350 1,175 605 Kredit LABA RUGI Debet 375 1,750 Kredit NE R A C A Debet Kredit

~31~

Akuntansi Dasar II

3. Laporan Keuangan a. Tujuan Seperti tampak pada gambar 1 tentang siklus akuntansi bahwa data untuk penyusunan laporan keuangan dapat dibuat dari dua sumber data, yaitu persamaan dasar akuntansi dan neraca lajur. Laporan keuangan yang bersumber dari data neraca lajur relatif komplek sehingga memerlukan pemahaman yang lebih mendalam berkenaan dengan penyuysunan dan komponen yang harus diperhatikan. b. Jenis Berdasarkan karakter data yang disajikan sebuah neraca lajur, biasanya akan dapat disusun sedikitnya tiga laporan keuangan, yaitu Neraca, Laporan Rugi/Laba, dan Laporan Saldo Laba / Laba Ditahan. Neraca
Arti

laporan mengenai keadaan keuangan suatu usaha pada tanggal tertentu. Informasi yang terdapat pada neraca dapat menunjukan total aktiva (aktiva lancar, tetap dan lain-lain),hutang(lancar dan jangka panjang) dan modal pada tanggal neraca.
Pengelom pokan Pos - Pos Neraca

Aktiva(harta) digolongkan atas : Aktiva lancar,aktiva investasi,aktiva tetap, aktiva tidak berwujud.Beban yang ditangguhkan dan aktiva - aktiva lain. Kewajiban , digolongkan atas : Hutang lancar , Pendapatan Diterima Dimuka, Hutang Jangka Panjang, dan Hutang lain-lain. Modal digolongkan atas : pemilik yang terdiri atas modal dan laba tak dibagi.
Bentuk

Bentuk Akun atau Skontro dimana Akun - Akun aktiva dipisah dengan Akun - Akun hutang dan modal. Bentuk laporan atau staffel dimana Akun - Akun diurut mulai dari yang paling liquid (sudah sampai Akun - Akun aktiva berwujud ).

~32~

Akuntansi Dasar II

Laporan Rugi Laba


Arti

Ikhtisar pendapatan dan biaya untuk jangka waktu tertentu.


Unsur unsurnya terdiri atas :

Pendapatan perusahaan adalah uang atau harta lain yang diperoleh sebagai hasil operasi perusahaan. Beban usaha adalah nilai barang atau jasa yang habis dalam operasi perusahaanuntuk memperoleh pendapatan . Tidak semua pengeluaran berarti beban usaha. Pengeluaran usaha dicatat sebagai beben usaha jika mengurangi modal sebagai akibat operasi perusahaan.
Bentuk Laporan Rugi Laba

Bentuk Terklasifikasi Bila bentuk ini yang dipergunakan maka dalam laporan tersebut harus terlihat laba kotor usaha pokok, pendapatan lain, beban lain dan laba bersih. Bentuk Tak Terklsifikasi Pada bentuk ini seluruh pendapatan, beban disatukan. Laba atau rugi merupakan hasil atau selisih antara jumlah pendapatan dan beban. Laporan Laba Ditahan Laba yang tidak dibagikan kepada pemegang saham ditampung dalam perkiraan laba ditahan, sehingga laporan yang dibuat adalah laboran laba ditahan. Laporan ini hanya dibuat untuk perusahaan yang berbentuk PT (Perseroan terbatas) .

~33~

Akuntansi Dasar II

Contoh Laporan Keuangan


PT. ARTY ANTI K L APO RAN L ABA RUG I Un tu k peri ode yan g berakhi r pada 31 D esember 2000 PE ND APATAN Pen dapat an dari Pen ju al an P en ju alan diku ran giR etu r P en j u alan & P en gu ran gan H arga P oton gan P en ju alan Penjualan B ers ih

2.525.000 375.000 +

162.950.000 2.900.000 160.050.000

Harga Pokok Pen ju al an P ers ediaan Baran g D agan gan 1 D es 2000 P embelian 33.350.000 Biaya An gku t P embelian 270.000 D iku ran gi R etu r P embel ian & P en gu ran gan H arga 1.175.000 P oton gan P embelian 605.000 + 1.780.000 P embelian Bers ih B arang ters ed ia untuk d ijual D iku ran gi P ers ediaan Baran g D agan gan 31 D es 2000 Harga Pokok Penjulan L ABA K OTOR BIAYA OPE RASI ONAL Bi aya O perasion al Biaya G aji Biaya K eru gian P iu tan g Biaya I kl an Biaya P en yu s u tan K en daraan T otal B iaya Penjualan Bi aya Adm i n istrasi & Umu m Biaya P en yu s u tan G edu n g Biaya P en yu s u tan P eralatan T otal B iaya Ad minis tras i & U mum Total Bi aya Operasi on al L ABA OPE RASI PE ND APATAN & BIAYA L AI N-L AIN P en dapatan Lain -Lain LABA BE R S I H S E BE LU M BU N G A & P AJ AK (E BI T) BUNG A & PAJ AK Biaya Bu n ga P ajak P en gh as il an T otal B unga & Pajak L ABA SE TE L AH BUNG A & PAJ AK (E AT) 47.000.000 54.500 7.500.000 2.500.000 +

20.000.000

31.840.000+ 51.840.000 10.000.000-

41.840.000118.210.000

57.054.500

3.600.000 1.800.000 +

5.400.000 + 62.454.50055.755.500

1.750.000 + 57.505.500

2.800.000 1.000.000 + 3.800.000 53.705.500

PT. ARTY ANTIK LAPORAN LABA DITAHAN Untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2000 Laba Ditahan 1 Desember 2000 Penambahan / Pengurangan Laba Laba Tahun 2000 Deviden Penambahan Laba Laba Ditahan 31 Desember 2000 Rp 30.000.000

Rp Rp

53.705.500 5.000.000

Rp Rp 48.705.500 78.705.500 +

~34~

Akuntansi Dasar II

PT. ARTY ANTIK NERACA periode 31 Desember 2000 AKTIVA Harta Lancar Kas Surat Berharga / Efek Persediaan Barang Dagangan Piutang Wesel Piutang Dagang Cadangan Kerugian Piutang Piutang yang dapat ditagih Piutang Bunga Perlengkapan Asuransi Dibayar Dimuka Iklan Dibayar Dimuka Total Harta Lancar 60.235.000 75.000.000 10.000.000 10.000.000 6.625.000 54.500 6.570.500 1.000.000 2.650.000 2.400.000 15.000.000

+ 182.855.500

Harta Tetap Gedung Ak. Penyst. Gedung Nilai Buku Gedung Kendaraan Ak. Penyst. Kendaraan Nilai Buku Kendaraan Peralatan Ak. Penyst. Peralatan Nilai Buku Peralatan Total Harta Tetap TOTAL AKTIVA KEWAJIBAN & MODAL KEWAJIBAN Hutang Jangka Pendek Hutang Dagang Hutang Wesel Hutang Pajak Penghasilan Hutang Bunga Total Hutang Jangka Pendek Hutang Jangka Panjang Utang Bank TOTAL KEWAJIBAN

41.000.000 7.500.000 25.000.000 5.500.000 10.000.000 3.600.000

33.500.000 19.500.000 6.400.000 + 59.400.000 242.255.500 +

1.850.000 6.500.000 1.000.000 4.600.000

+ 13.950.000 + 20.000.000 33.950.000

MODAL Modal Saham Laba Ditahan TOTAL MODAL TOTAL KEWAJIBAN & MODAL

129.600.000 78.705.500 208.305.500 242.255.500

Soal Latihan Berdasarkan SOAL-SOAL LATIHAN Bab XI, buatlah jurnal penyesuaian untuk masing-masing soal.

~35~

Akuntansi Dasar II

Daftar Pustaka 1. A.L. Haryono Yusup, Dasar-Dasar Akuntansi I, Penerbit STIE YKPN Yogyakarta: 1995 2. Horngren, Harrison, Robinson & Secokusumo, Akuntansi di Indonesia, Buku Satu, Salemba Empat Simon & Schuster (Asia).Pte. Ltd. PrenticeHall 3. Sumarso S.R., Akuntansi - Suatu Pengantar I, Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi UI, Edisi ke-3, 1990 4. Niswonger and Fess, Accounting Principles I, Cincinnati: South Western Publishing Company, 1991 5. Thacker, Ronald J., Accounting Principles, London, Prentice Hall International 6. Kieso, Donald E., Jerry J. Weigandt, and Walter G. Kell, Accounting Principles I, New York: John Wiley & Sons, 2nd edition, 1990

~36~

Akuntansi Dasar II

BAB VI JURNAL PENUTUP, NERACA SALDO PENUTUPAN DAN JURNAL PEMBALIK


Tujuan pengajaran setelah mempelajari bab ini, anda diharapkan dapat :
1. dan 2. 3. Membuat jurnal penutup untuk akun nominal (pendapatan, beban pengambilan pribadi) pada akhir periode, Menyusun neraca saldo setelah penutupan buku, Membuat jurnal pembalik (jurnal penyesuaian kembali).

Pendahuluan Setelah laporan keuangan disusun, langkah berikutnya dari kegiatan akuntansi adalah menutup Akun pendapatan,beban, ikhtisar rugi-laba, dan pengambilan prive. Jurnal Penutup Akun-Akun yang harus ditutup 1. Akun pendapatan didebet dan Akun ikhtisar rugi-laba dikredit Pola Jurnal Penutup Pendapatan Jasa Ikhtisar L/R Rp xxx Rp xxx

2. Akun beban dikredit dan Akun ikhtisar rugi-laba didebet Pola Jurnal Penutup Ikhtisar L/R Biaya - Biaya Rp xxx Rp xxx

3. Jika saldo kredit (berarti laba),Akun ikhtisar R/L didebet dan Akun modal pemilik di kredit Pola Jurnal Penutup Ikhtisar L/R Laba Ditahan Rp xxx Rp xxx

~37~

Akuntansi Dasar II

Berikut contoh Jurnal Penutup untuk PT. ARTY ANTIK


PT. ARTY ANTIK JURNAL PENUTUP PER 31 DESEMBER 2000
Tanggal 200 3 0 1 Des 3 1 Keterangan Penjualan Ikhtisar L/R 2,900,000 2,525,000 375,000 1,750,000 1,750,000 33,350,000 33,350,000 1,175,000 605,000 1,780,000 66,524,500 270,000 47,000,000 54,500 7,500,000 3,600,000 2,500,000 1,800,000 2,800,000 1,000,000 53,705,500 322,960,00 0 53,705,500 322,960,00 0 Ref Debit 162,950,00 0 Kredit 162,950,00 0

Ikhtisar L/R Retur Penj & PengHarga Potongan Penjualan Pendapatan Lain-Lain Ikhtisar L/R

3 1

3 1

Ikhtisar L/R Pembelian Retur Pemb & Peng Harga Potongan Pembelian Ikhtisar L/R

3 1

3 1

Ikhtisar L/R Biaya Angkut Pembelian Biaya Gaji Biaya Kerugian Piutang Biaya Iklan Biaya Penyusutan Gedung Biaya Penyusutan Kendaraan Biaya Penyusutan Peralatan Biaya Bunga Pajak Penghasilan

3 1

Ikhtisar L/R Laba Ditahan TOTAL

Neraca saldo setelah penutupan Adalah suatu daftar yang berisi saldo-saldo Akun buku besar setelah perusahaan melakukan tutup buku/penutupan.

~38~

Akuntansi Dasar II

PT. ARTY ANTIK NERACA SALDO SETELAH PENUTUPAN No. Akun 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 211 212 213 214 221 311 312 Nama Akun Kas Surat Berharga / Efek Persediaan Barang Dag Piutang Wesel Piutang Dagang Cadangan Kerugian Piutang Piutang Bunga Perlengkapan Asuransi Dibayar Dimuka Iklan Dibayar Dimuka Gedung Ak. Penyst. Gedung Kendaraan Ak. Penyst. Kendaraan Peralatan Ak. Penyst. Peralatan Hutang Dagang Hutang Wesel Hutang Pajak Penghasilan Hutang Bunga Utang Bank Modal Saham Laba Ditahan TOTAL 258,910,0 00 Debit 60,235,000 75,000,000 10,000,000 10,000,000 6,625,000 54,500 1,000,000 2,650,000 2,400,000 15,000,000 41,000,000 7,500,000 25,000,000 5,500,000 10,000,000 3,600,000 1,850,000 6,500,000 1,000,000 4,600,000 20,000,000 129,600,00 0 78,705,500 258,910,0 00 Kredit

~39~

Akuntansi Dasar II

Jurnal pembalik Jurnal yang dilakukan untuk membalik jurnal penyesuaian yang pernah dibuat, pada dasarnya ada 4 (empat) jenis jurnal yang memerlukan jurnal pembalik, yaitu : 1. Biaya yang masih harus dibayar (Accrued Expenses) 2. Biaya yang dibayar dimuka (Prepaid Expenses), apabila transaksi diawal dicatat sebagai BIAYA (bukan Akun AKTIVA/HARTA seperti biaya dibayar dimuka) 3. Pendapatan yang masih harus diterima (Accrued Revenuses) 4. Pendapatan diterima dimuka (UnEarned Revenues), apabila transaksi diawal dicatat sebagai PENDAPATAN (bukan Akun HUTANG seperti Sewa diterima dimuka)

Berikut contoh JURNAL PEMBALIK untuk PT. ARTY ANTIK


PT. ARTY ANTIK JURNAL PEMBALIK Tanggal 2005 Desembe r 3 1 3 1 Nama Rekening Hutang Bunga Biaya Bunga Ref Debit 600,000 600,000 Kredit

Hal : 1

Pendapatan Lain-2 Piutang Bunga TOTAL

1,000,000 1,600,000 1,000,000 1,600,000

Soal Latihan Berdasarkan SOAL-SOAL LATIHAN Bab XII, buatlah jurnal penutup, neraca saldo pentupan dan jurnal pembalik untuk masing-masing soal.
~End of Chapter 1 ; Module Learning to UTS Test~

~40~

Akuntansi Dasar II

Daftar Pusaka 1. A.L. Haryono Yusup, Dasar-Dasar Akuntansi I, Penerbit STIE YKPN Yogyakarta: 1995 2. Horngren, Harrison, Robinson & Secokusumo, Akuntansi di Indonesia, Buku Satu, Salemba Empat Simon & Schuster (Asia).Pte. Ltd. PrenticeHall 3. Sumarso S.R., Akuntansi - Suatu Pengantar I, Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi UI, Edisi ke-3, 1990 4. Niswonger and Fess, Accounting Principles I, Cincinnati: South Western Publishing Company, 1991 5. Thacker, Ronald J., Accounting Principles, London, Prentice Hall International 6. Kieso, Donald E., Jerry J. Weigandt, and Walter G. Kell, Accounting Principles I, New York: John Wiley & Sons, 2nd edition, 1990

KAS
PENGERTIAN DAN PENGAWASAN KAS
Kas ialah uang tunai dan kertas-kertas berharga yang berfungsi sebagai uang tunai. Adapun ciri-ciri kertas berharga yang dapat digolongkan sebagai kas adalah sebagai berikut : 1. Diterima bank (dalam pertukaran) nilainya sama dengan nilai nominal, 2. Tidak mempunyai tanggal jatuh tempo, 3. Untuk dijadikan uang tunai tidak memerlukan biaya. Karena sifatnya antara nominal), tidak adanya objek penyelewengan . diadakan secara teliti pengeluaran. lain : volume fisik kecil, nilainya tetap (sebesar identifikasi pemilikan, maka Kas sering menjadi Oleh sebab itu pengawasan terhadap kas harus dan tepat, sejak penerimaan sampai dengan

Beberapa prinsip pengawasan terhadap kas, antara lain : 1. Adanya pembagian tugas antara : bagian penerimaan, penyimpanan dan pembukuan kas,
~41~ Akuntansi Dasar II

2. Setiap penerimaan harus segera disetor ke Bank (diberikan batas waktu penyetoran, misalnya : paling lambat satu hari), 3. Gunakan sistem Voucher untuk pengerluaran, agar pengeluaranpengeluaran untuk pribadi dapat dicegah, setidak-tidaknya dikurangi, 4. Sistem kas kecil diselenggarakan untuk pengeluaran dalam jumlah yang kecil (dengan penetapan jumlah maksimum), dan kas kecil tersebut sebaiknya diselenggarakan dalam bentuk dana tetap (imprest fund), 5. Dibagian keuangan ditunjuk seorang petugas untuk mencatat semua penerimaan, baik dalam bentuk tunai, cek maupun bilyet giro dalam suatu daftar tersendiri, 6. Kecuali pembayaran melalui kas kecil, maka pengeluaran sebaiknya dengan cek, 7. Pejabat yang mengeluarkan cek harus mempunyai daftar, untuk mencatat semua cek yang telah dikeluarkan, 8. Kas opname diadakan dengan jarak waktu yang tidak teratur dan mendadak.

REKONSILIASI BANK
Apabila perusahaan menyimpan uangnya di Bank, dan melakukan pembayaran dengan cek (kecuali pengeluaran-pengeluaran dalam jumlah kecil), maka secara periodik Bank akan mengirim laporan saldo uang tersebut ke perusahaan. Laporan saldo tersebut dalam bentuk Rekening Koran, yaitu : Suatu daftar secara sistematis yang menunjukkan perubahan saldo uang nasabah yang disusun oleh Bank. Dalam Rekening Koran tersebut oleh Bank dicatat semua pertambahan (Kredit) dan penguragan (Debet), disertai biaya-biaya (Debet) maupun jasa giro (Kredit) yang mengakibatkan perubahan saldo uang nasabah yang bersangkutan. Pada prinsipnya saldo uang menurut Laporan Bank akan selalu sama dengan saldo uang menurut Buku Kas perusahaan. Namun ada beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan antara saldo menurut Laporan Bank (Rekening Koran) dengan saldo menurut Buku Kas perusahaan, antara lain : 1. Bank belum mencatat transaksi tertentu : a. Setoran dalam perjalanan (deposit in transit) Perusahaan telah mencatat setoran ke bank, tetapi bank belum mencatatnya sehingga tidak tercantum dalam Laporan Bank, b. Cek dalam peredaran (out standing checks) Cek yang ditarik dan telah dibukukan oleh perusahaan, tetapi bank belum mencatatnya karena pemegang cek belum menguangkan ke bank, 2. Perusahaan belum mencatat transaksi tertentu : a. Penerimaan kas melalui bank (inkaso) Bank melakukan penerimaan kas (misalnya dari piutang/wesel tagih) untuk dibukukan ke dalam rekening giro perusahaan,
~42~ Akuntansi Dasar II

b. Biaya administrasi bank Biaya-biaya yang dibebankan oleh bank kepada perusahaan, c. Pendapatan bunga atau jasa giro Bunga yang diberikan bank kepada perusahaan atas saldo rekeningnya, d. Cek kosong dari konsumen atau debitur (cek yang tidak cukup dananya) Cek yang diterima perusahaan kemudian disetorkan bersama-sama dengan uang tunai ke bank, akan tetapi dikembalikan bank karena tidak cukup dana (not sufficient fund), e. Cek yang dikembalikan kepada penyetor dengan alasan lain Cek yang dikembalikan dengan alasan-alasan : (1) rekening penarik cek telah ditutup, (2) cek telah daluarsa, (3) tandatangan yang tercantum pada cek tidak sah, (4) terdapat kesalahan dalam penulisan cek. 3. Bank atau Perusahaan atau kedua-duanya telah melakukan kesalahan pencatatan Tahap-tahap penyusunan rekonsiliasi bank adalah sebagai berikut : 1. Mulailah dengan saldo yang tercantum dalam laporan bank dan saldo yang tercantum dalam rekening Kas perusahaan yang mungkin tidak sama jumlahnya, 2. Tambahkan atau kurangkan pada saldo per bank, hal-hal yang tercantum dalam pembukuan perusahaan tetapi tidak tercantum dalam laporan bank : a. Tambahkan setoran dalam perjalanan pada saldo per bank b. Kurangkan cek dalam peredaran pada saldo per bank 3. Tambahkan atau kurangkan pada saldo per buku, hal-hal yang tercantum dalam laporan bank tetapi tidak tercatat dalam pembukuan perusahaan : a. Tambahkan pada saldo per buku (1) penerimaan-penerimaan kas langsung melalui bank dan (2) pendapatan bunga atas saldo giro di bank, b. Kurangkan pada saldo per buku (1) biaya administrasi bank, (2) biaya pencetakan cek, dan (3) pengurangan yang telah dilakukan oleh bank lainnya (misalnya pengurangan karena adanya pengembalian cek kosong atau cek yang telah lewat waktu) 4. Hitunglah saldo per bank yang telah disesuaikan dan saldo per buku yang telah disesuaikan. Kedua saldo tersebut harus sama, 5. Buatlah jurnal untuk setiap hal yang tercantum pada butir 3 di atas, yaitu hal-hal yang tercantum pada sisi per buku (perusahaan) dalam rekonsiliasi bank, 6. Perbaiki semua kesalahan yang terdapat dalam pembukuan perusahaan, dan sampaikan pemberitahuan ke bank jika bank telah melakukan kesalahan. Contoh Pembuatan Rekonsiliasi Bank : Pada tanggal 31 Maret 2006, PT. ELISYAH menerima Rekening Koran dari Bank Mandiri yang menunjukkan saldo sebesar Rp 28.450.000,00, pada
~43~ Akuntansi Dasar II

tanggal yang sama Buku Kas Perusahaan menunjukkan saldo sebesar Rp 23.410.000,00. Setelah diadakan pemeriksaan ternyata ditemukan hal-hal sebagai berikut : 1. Setoran dalam perjalanan sebesar Rp 2.500.000,00 2. Cek yang beredar pada tanggal 31 Maret 2006 : Nomor : 007 sebesar Rp 1.400.000,00 Nomor : 008 sebesar Rp 3.200.000,00 Nomor : 009 sebesar Rp 2.500.000,00 3. Penerimaan wesel tagih melalui bank sebesar Rp 5.000.000,00 dengan memperhitungkan ongkos inkaso sebesar Rp 30.000,00 4. Bank membebani PT. Elisyah untuk biaya administrasi bank sebesar Rp150.000,00 5. Bank memberikan jasa giro sebesar Rp 110.000,00 6. Sebuah cek yang diterima dari Debitur Dudung dan didepositkan ke Bank ternyata tidak cukup dananya dan dikembalikan oleh Bank Rp 3.500.000,00 7. Terjadi kesalahan pencatatan di Bank, setoran sebesar Rp 2.210.000,00, oleh bank telah dicatat sebesar Rp 2.120.000,00 8. Kesalahan pencatatan oleh perusahaan, yaitu untuk cek sebesar Rp 3.200.000,00, telah keliru dicatat sebesar Rp 2.300.000,00 untuk beban iklan Diminta : a. Susunlah Laporan Rekonsiliasi Bank untuk PT. ELISYAH per tanggal 31 Maret 2006, dalam bentuk skontro (Account form) ! b. Susunlah Laporan Rekonsiliasi Bank untuk PT. ELISYAH per tanggal 31 Maret 2006, dalam bentuk laporan (Report form) ! c. Buatlah ayat jurnal yang diperlukan !

a.

Bentuk Skontro/Horizontal PT. ELISYAH Laporan Rekonsiliasi Bank 31 Maret 2006

Per Bank : Saldo Tambah : Setoran dalam perjalanan Koreksi setoran

Per Buku : 28,450,00 Saldo 0 Tambah : 2,500,00 Penerimaan wesel tagih 0 90,000 Pendapatan bunga 2,590,000 31,040,00

23,410,00 0 5,000,00 0 110,000 5,110,000 28,520,00

~44~

Akuntansi Dasar II

0 Kurangi : Cek dalam peredaran Nomor : 007 Nomor : 008 Nomor : 009 Kurangi : Biaya-biaya bank Cek kosong Koreksi beban iklan 180,000 3,500,00 0 900,000

1,400,00 0 3,200,00 0 2,500,00 0

4,580,000 7,100,000 23,940,0 Saldo per buku setelah koreksi 00

Saldo per bank setelah koreksi

23,940,0 00

b. Bentuk Laporan/Vertikal PT. ELISYAH L 31 Maret 2006


Per Bank : Saldo Tambah : Setoran dalam perjalanan Koreksi setoran 2,500,000 90,000 2,590,000 31,040,00 0 1,400,000 3,200,000 2,500,000 7,100,000 23.940,00 0 28,450,00 0

Kurangi : Cek dalam peredaran Nomor : 007 Nomor : 008 Nomor : 009 SALDO Per Buku : Saldo Tambah : Penerimaan wesel tagih Pendapatan bunga

23,410,00 0 5,000,000 110,000 5,110,000 28,520,00 0 180,000 3,500,000 900,000

Kurangi : Biaya-biaya bank Cek kosong Koreksi beban iklan SALDO

4,580,000 23.940,00 0

c. Ayat jurnal penyesuaian yang diperlukan 1). Kas 5.110.000 Wesel Tagih 5.000.000
~45~ Akuntansi Dasar II

Pendapatan Bunga

110.000

2). Beban-Beban Bank 180.000 Piutang 3.500.000 Beban Iklan 900.000 Kas 4.580.000

KAS KECIL (PETTY CASH)


Apabila volume pekerjaan Kasir bertambah besar sehingga sulit untuk diselesaikan oleh satu orang, maka perusahaan dapat mengambil tindakan sebagai berikut : Khusus untuk pengeluaran-pengeluaran dalam jumlah yang kecil diurus oleh seorang Kasir tersendiri yang disebut Kas Kecil (Petty Cash). Dengan demikian dasar pembentukan Kas Kecil adalah : Pembagian tugas dengan tidak melupakan unsur pengawasan.

Terdapat dua metode dalam pembentukan Kas Kecil, yaitu sebagai berikut: 1. Sistem Dana Tetap (Imprest Fund System) Dalam metode ini Kas Kecil tidak mencatat pengeluaranpengeluarannya, Saldo Kas kecil berubah hanya apabila ada penambahan/pengurangan besarnya dana Kas kecil, 2. Sistem Dana Berubah (Fluctuation Fund System) Dalam metode ini setiap terjadi perubahan jumlah uang dalam Kas kecil selalu disertai dengan pencatatan. Contoh pengelolaan dana kas kecil : Jasa Boga AGHNIA melakukan transaksi-transaksi yang berhubungan dengan Kas kecilnya selama bulan Mei 2006. berikut,

Mei 1 Diserahkan kepada pemegang Kas Kecil uang tunai Rp 1.200.000,00 sebagai pembentukan dana Kas Kecil Mei 5 Kas Kecil membayar iklan Rp 150.000,00 dan ongkos angkut pembelian Rp 50.000,00 Mei 18 Dana Kas kecil dianggap terlalu besar, maka Rp 400.000,00 disetior kembali ke Kas
Mei 20 Kas kecil membayar iklan Rp 400.000,00 dan beban reparasi peralatan Rp 150.000,00

Mei

25 Kas kecil dianggap terlalu kecil dan ditambah sebesar Rp 200.000,00 Mei 30 Dana Kas kecil diisi kembali

~46~

Akuntansi Dasar II

Diminta : Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi-transaksi di atas apabila Kas Kecil memakai : a. Sistem Dana Tetap b. Sistem Dana Berubah
Tangg al
2006 Mei 1 Kas Kecil Kas

Sitem Dana Tetap


1,200,00 0 1,200,00 0 ---

Sistem Dana Berubah


Kas Kecil Kas 1,200,00 0 1,200,000

Beban Iklan Beban Angkut Pembelian Kas Kecil 250,000 250,000 Kas Kas Kecil Beban Iklan Beban Reparasi Peralatan Kas Kecil 200,000 200,000 600,000 50,000 100,000 750,000 Kas Kecil Kas Kas Kecil Kas

150,000 50,000 200,000 400,000 400,000 400,000 150,000 550,000 200,000 200,000 750,000 750,000

18 Kas Kas Kecil 20 ---

25 Kas Kecil Kas 30 Beban Iklan Beban Angkut Pembelian Beban Reparasi Peralatan Kas

Supaya jelas rincian tentang pengeluaran-pengeluaran Kas Kecil, maka pemegang Kas Kecil dapat menyelenggarakan Buku Kas Kecil antara lain seperti bentuk yang berikut :
No. Surat Bukti Akun yang akan di Debet Keteranga n Penerimaan Pengeluaran Beban Iklan Beban Angkut Pemb Beban Reparasi Peralata n Serba-Serbi Akun Jumlah

Tgl

~47~

Akuntansi Dasar II

SELISIH KAS
Mengingat seringnya uang tunai menjadi objek penyelewengan maka sebaiknya pada saat-saat tertentu (dengan jarak waktu yang tidak teratur) diadakan perhitungan Kas secara fisik. Tujuan utama perhitungan tersebut adalah untuk menguji kebenaran Saldo Kas menurut catatan pembukuan. Apabila ternyata terdapat perbedaan antara Saldo Kas menurut catatan pembukuan (saldo akun kas) dengan jumlah kas yang sebenarnya (jumlah uang tunai), maka penyelesaiannya adalah sebagai berikut : 1. Apabila ternyata selisih tersebut timbul karena adanya kesalahan pembukuan, maka diadakan koreksi terhadap pembukuan tersebut, 2. Apabila ternyata selisih tersebut timbul karena kesalahan, maka selisih tersebut dicatat pada akun Selisih Kas sebagai berikut : a. Apabila jumlah Kas (uang tunai) lebih besar dari saldo akun kas, maka dibuat jurnal : Kas xxx Selisih Kas xxx b. Apabila jumlah kas (uang tunai) lebih kecil dari saldo akun kas, maka dibuat jurnal : Selisih Kas xxx Kas xxx 3. Dalam laporan keuangan saldo akun selisih kas, merupakan akun nominal, yaitu sebagai berikut : a. Saldo kredit sebagai Pendapatan di luar usaha b. Saldo debet sebagai Biaya umum lain-lain LATIHAN SOAL : 1. Berikut ini informasi untuk penyusunan rekonsiliasi bank untuk PT. Alun tanggal 30 April 2002. a. Saldo rekening kas perusahaan berjumlah Rp 1.974.400,00 b. Saldo giro menurut laporan bank berjumlah Rp 2.184.200,00 c. Cek-cek yang ditarik namun belum diungkan sampai dengan tanggal 30 April 2002 adalah : Nomor 123 Rp 15.300,00 Nomor 133 Rp 192.800,00 Nomor 135 Rp 451.600,00 d. Setoran sebesar Rp 510.000,00 belum nampak dalam laporan bank e. Bank membebani rekening perusahaan dengan biaya administrasi bank sebesar Rp 11.200,00. Transaksi ini belum dicatat oleh perusahaan
~48~ Akuntansi Dasar II

f. Cek yang ditarik untuk CV. Utama sebesar Rp 831.200,00 keliru dicatat oleh petugas pembukuan perusahaan sebesar Rp 813.200 g. Pada tanggal 29 April, seorang pelanggan meminta kembali cek yang telah dibayarkan kepada perusahaan pada tanggal 28 April. Cek senlai Rp 77.700,00 ini sudah disetorkan ke bank dan dicatat pada tanggal 28 April (diprlakukan sebagai cek kosong) h. Bank telah menagihkan piutang wesel perusahaan senilai Rp 175.000,00. Transaksi ini belum dicatat oleh perusahaan i. Laporan bank menunjukkan pengurangan sebesar Rp 88.800,00 untuk cek nomor 360 yang senilai Rp 80.800,00 Diminta : 1) Buatlah rekonsiliasi bank tanggal 30 April 2002 2) Buatlah jurnal yang diperlukan 2. Di bawah ini keterangan uang kas CV. TITIMPLIK dan keterangan rekening koran dari Bank Bumi Daya sbb : a. Saldo menurut rekening koran per 31 Mei 2002 sebesar Rp 1.227.500,00 b. Saldo menurut buku kas CV. TITIMPLIK 31 Mei 2002 sebesar Rp 1.000.000,00 c. Cek yang sudah dikeluarkan tetapi belum dicairkan si penerima RP 300.000,00 d. Setoran dari debitur Arifin melalui bank baru diberitahukan bank Rp80.000,00 e. Biaya administrasi bank yang dibebankan sebesar Rp 500,00 f. Bunga yang diberikan bank (jasa giro) atas simpanan perusahaan sebesar Rp 2.500,00 g. Setoran berupa cek sebesar Rp 54.500,00 ternya tidak cukup dananya. Diminta : Buatlah laporan rekonsiliasi bank tanggal 31 Mei 2002 dan jurnal yang diperlukan. 3. Berikut ini data yang berhubungan dengan rekening Kas PT. AGHNIA pada tanggal 30 April 2002, sbb : a. Saldo rekening giro menurut laporan bank adalah Rp 18.642.280,00 b. Rekening kas perusahaan pada tanggal yang sama menunjukan saldo Rp 16.469.140,00 c. Sebuah setoran Rp 2.612.450,00 belum dicatat oleh bank sampai tanggal 30 April d. Biaya administrasi bank sebesar Rp11.400,00 belum dicatat oleh perusahaan e. Sebuah cek dari debitur Indra senilai Rp 319.000,00 tidak ada dananya.
~49~ Akuntansi Dasar II

f. Cek yang ditarik dan belum diuangkan ke bank sampai 30 April adalah : Nomor : 511 Rp 320.180,00 Nomor : 515 Rp 617.240,00 Nomor : 519 Rp 455.000,00 Nomor : 521 Rp 964.570,00 g. Cek nomor 517 senilai Rp 178.000,00 telah salah dicatat dalam pembukuan perusahaan menjadi sebesar Rp 187.000,00. Cek ini digunakan untuk membayar beban reparasi h. Bank telah menagih piutang wesel kepada Tn. Memen sebesar Rp 3.100.000,00, termasuk didalamnya bunga Rp 100.000,00. i. Bank keliru membebankan cek PT. REGINA ke rekening PT. AGHNIA Rp 350.000,00 Diminta : Buatlah laporan rekonsiliasi bank tanggal 30 April 2002 dan jurnal yang diperlukan. 4. Data dari Penjahit ORIEN adalah sebagai berikut : Tgl (a) Item Setoran Cek Sisa (Rp) (Rp) (Rp) 1 525.000 Sept 4 62 Alun Foto 19.000 506.000 2 9 Deviden 116.000 622.000 13 62 PT. Bandoro 43.000 579.000 3 14 62 PT. Misrawbreh 58.000 521.000 4 18 62 Kas 50.000 471.000 5 26 62 Sumbangan PMI 25.000 446.000 6 28 62 Apartemen PB 275.000 171.000 7 30 Cek 2.000.00 2.171.000 Pembayaran 0 Rekening koran bulan September sebagai berikut : Sisa Rp 525.000,00 Ditambah Setoran Rp 116.000,00 Dikurangi Cek : No Jumlah 622 Rp 19.000,00 623 Rp 43.000,00 624 Rp 68.000,00 * 625 Rp 50.000,00 (Rp 180.000,00) Beban lainnya : Pencetakan Rp 8.000,00
~50~ Akuntansi Dasar II

Beban Pelayanan Nilai Sisa

Rp 12.000,00 (Rp 20.000,00) Rp 441.000,00

* ini adalah jumlah yang benar dari cek No.624 Diminta : Buatlah rekonsiliasi bank bagi Penjahit ORIEN September 2000 dan jurnal jurnal yang diperlukan. tanggal 30

WESEL DAN PROMES


A. PENGERTIAN
Wesel adalah Surat perintah membayar tanpa syarat, dari yang berpiutang ditujukan kepada yang berutang. Promes adalah Surat pengakuan berutang dari yang berutang kepada yang berpiutang, yang dibuat tanpa adanya permintaan dari pihak yang berpiutang. Aksep adalah Surat pengakuan berutang yang dibuat setalah adanya permintaan dari yang berpiutang.

B. AKUN YANG BERHUBUNGAN DENGAN WESEL


Akun yang timbul berhubungan dengan wesel / promes / aksep adalah sebagai berikut :
1.

Bagi yang berpiutang : Piutang Wesel / Wesel Tagih (Notes Receivable) Di Debet (sebesar nilai nominal) : a. Menarik wesel atas Debitur b. Menerima promes/aksep dari Debitur c. Mendiskonto (membeli) Wesel Tagih Di Kredit (sebesar nilai nominal) : a. Menerima pelunasan wesel tagih pada tanggal jatuh tempo b. Mendiskontokan/menjual wesel tagih sebelum jatuh tempo Bagi yang berutang : Utang Wesel / Wesel Bayar (Notes Payable) Di Kredit (sebesar nilai nominal) a. Mengaksep wesel b. Menyerahkan promes/aksep Di Debet (sebesar nilai nominal) a. Melunasi wesel bayar pada tanggal jatuh tempo b. Mendiskonto (membeli) wesel/promes/aksep sendiri sebelum jatuh tempo.

2.

C. JENIS-JENIS DAN PENCATATAN WESEL TAGIH


~51~ Akuntansi Dasar II

Jenis-jenis wesel tagih : Wesel tagih tanpa bunga/wesel tagih berdiskonto (Non bearing interest notes) 2. Wesel tagih berbunga (Bearing interest notes)
1.

~52~

Akuntansi Dasar II

Beberapa prinsip dalam pencatatan wesel tagih :


1.

2.
3.

4.

5.

6.

7.

Akun wesel tagih seperti halnya piutang merupakan aktiva lancar di Debet dan Kredit sebesar nominal (Face Value) Wesel tagih berbunga, bunganya dihitung dari nilai nominal untuk selama umurnya Jatuh tempo (maturity date) sesuai wesel ditentukan sebagai berikut : a. Wesel tagih harian (umur disebutkan dalam hari) Jatuh temponya dihitung harian, mulai satu hari setelah tanggal penarikan s/d tanggal jatuh tempo tiap bulan menurut hari yang sebenarnya. Contoh : Tanggal penarikan 29 Maret, umur 90 hari, akan jatuh tempo 27 Juni b. Wesel tagih bulanan (umurnya disebutkan dalam bulan) Jatuh tempo tanggal yang sama dengan tanggal penarikan beberapa bulan kemudian sesuai umurnya. Apabila tidak terdapat tanggal yang sama dalam bulan yang bersangkutan, jatuh temponya pada tanggal terakhir bulan tesebut. Contoh : Tanggal penarikan 31 Januari per 3 bulan, jatuh tempo : 30 April Apabila wesel tagih dijual/didiskontokan (discounted) sebelum jatuh tempo, maka diskonto (discount) dihitung sebagai berikut : a. Dasar perhitungan diskonto adalah nilai pada tanggal jatuh tempo, yaitu : Nominal untuk wesel tidak berbunga dan nominal tambah bunga untuk wesel berbunga, b. Hari diskonto dihitung mulai tanggal pendiskontoan s/d tanggal jatuh tempo atau sebaliknya (salah satu tanggal tidak dihitung), c. Tiap bulan dihitung menurut hari yang sebenarnya. Februari 28 hari kecuali tahun kabisat 29 hari. Diskonto dicatat sebagai berikut : a. Debet : Akun Biaya bunga, sebesar diskonto tersebut pada wesel tagih tidak berbunga, b. Debet : Akun Biaya bunga, sebesar selisih diskonto dengan bunga wesel tagih yang bersangkutan pada wesel tagih berbunga, apabila Diskonto > Bunga. c. Kredit : Akun Pendapatan bunga, apabila Bunga > Diskonto Pada saat mendiskontokan wesel tagih, akun wesel tagih didiskontokan (Notes Receivable Discounted) di kredit sebesar nominal, kecuali dinyatakan didiskontokan tanpa hak regres, maka akun wesel tagih langsung di Kredit sebesar nominal. Di Neraca wesel tagih disajikan sebesar nominal dikurangi jumlah yang telah didiskontokan, atau sebesar neto dan jumlah yang didiskontokan dijelaskan dalam bentuk foot note.

~53~

Akuntansi Dasar II

Contoh transaksi wesel : Pada tanggal 1 Maret 2003 Pedagang Besar HANIFAH melakukan penjualan kredit sebagai berikut : Kepada Toko Aghnia, sebesar Rp 1.500.000,00 per 30 hari, Kepada Toko Aziz, sebesar Rp 2.500.000,00 per 60 hari, Kepada Toko Annisa, sebesar Rp 2.000.000,00 per 90 hari Pada tanggal 31 Maret 2003 dari para debitur diterima aksep sebagai berikut : Dari Toko Aghnia,nominal Rp 1.500.000,00 per 2 bulan, bunga 6 % Dari Toko Aziz, nominal Rp 2.500.000,00 per 30 hari Dari Toko Annisa, nominal Rp 2.000.000,00 per 60 hari Pada tanggal 16 April 2003, didiskontokan semua aksep ke Bank Rama dengan diskonto 7 %, (Aksep dari Toko Annisa tanpa hak regres). Diminta : a. Buatlah jurnal untuk Pedagang Besar ELISYAH berdasarkan transaksi tersebut di atas, b. Buatlah jurnal pada tanggal jatuh tempo masing-masing wesel tagih tersebut dengan anggapan semua aksep dibayar oleh para debitur, c. Buatlah jurnal yang diperlukan pada tanggal jatuh tempo wesel tagih dengan anggapan semua aksep tidak dibayar (dishonored) oleh para debitur, d. Buatlah jurnal pada tanggal jatuh tempo wesel tagih tersebut seandainya tidak terjadi transaksi tanggal 16 April 2003 (wesel tagih tidak didiskontokan) dan pembayaran diterima sebagai berikut : 1). Dari Toko Aghnia nominal ditambah bunga, 2). Dari Toko Aziz Rp 2.000.000,00 sisanya diterima dalam bentuk promes 2 bulan dengan bunga 6 %. Jawab :
a.

- Saat melakukan penjualan kredit : 1 M a r e t 2 0 0 3 Piutang Penjualan Rp 6.000.000,00 Rp 6.000.000,00

- Saat diterima aksep dari para debitur :

~54~

Akuntansi Dasar II

3 1 M a r e t 2 0 0 3 Wesel Tagih Piutang Rp 6.000.000,00 Rp 6.000.000,00

- Saat mendiskontokan aksep/wesel ke Bank : 16 April 2003 (dari Toko Aghnia) Kas Rp 1.501.743,75 Wesel Tagih Didiskontokan Pendapatan Bunga Rp

Rp 1.500.000,00 1.743,75

~55~

Akuntansi Dasar II

Perhitungan : Nominal Rp 1.500.000,00 Bunga : 2/12 x (6 % x Rp 1.500.000,00) Rp 15.000,00 + Nilai saat jatuh tempo Rp 1.515.000,00 Diskonto : (16/4 31/5) = 45 hari 45/360 x (7 % x Rp 1.515.000,00) Rp 13.256,25 Diterima per Kas / Nilai Tunai Rp 1.501.743,75 Nilai Nominal Rp 1.500.000,00 Pendapatan Bunga Rp 1.743,75 16 April 2003 (dari Toko Aziz) Kas Rp 2.493.194,44 Biaya Bunga Rp 6.805,56 Wesel Tagih Didiskontokan Rp 2.500.000,00 Perhitungan : Nominal Diskonto : (16/4 30/4) =14 hari 14/360 x (7 % x Rp 2.500.000,00) Diterima per Kas / Nilai Tunai Rp 2.500.000,00 Rp 6.805,56 Rp 2.493.194,44

16 April 2003 (dari Toko Annisa) Kas Rp 1.982.888,89 Biaya Bunga Rp 17.111,11 Wesel Tagih Rp 2.000.000,00 Perhitungan : Nominal Diskonto (16/4 30/5) = 44 hari 44/360 x (7 % x Rp 2.000.000,0) Diterima per Kas / Nilai Tunai Rp 2.000.000,00 Rp 17.111,11 Rp 1.982.888,89

b. Saat jatuh tempo wesel (para debitur membayar) 30 April 2003 (Wesel Toko Aziz) Wesel Tagih Didiskontokan Rp 2.500.000,00 Wesel Tagih Rp 2.500.000,00 31 Mei 203 (Wesel Toko Aghnia) Wesel Tagih Didiskontokan Rp 1.500.000,00 Wesel Tagih Rp 1.500.000,00 c. Saat jatuh tempo wesel (para debitur tidak membayar) 30 April 2003 (Toko Aziz) Piutang Rp 2.500.000,00 Kas Rp 2.500.000,00 Wesel Tagih Didiskontokan Rp 2.500.000,00 Wesel Tagih Rp 2.500.000,00

~56~

Akuntansi Dasar II

31 Mei 203 (Toko Aghnia) Piutang Rp 1.515.000,00 Kas Rp 1.515.000,00 Wesel Tagih Didiskontokan Wesel Tagih Rp 1.500.000,00 Rp 1.500.000,00

d. Saat jatuh tempo wesel (seandainya wesel tagih tidak didiskontokan) 30 April 2003 (Toko Aziz) Kas Rp 2.000.000,00 Wesel Tagih (baru) Rp 500.000,00 Wesel Tagih (lama) Rp 2.500.000,00 31 Mei 203 (Toko Aghnia) Kas Rp 1.515.000,00 Wesel Tagih Pendapatan Bunga

Rp 1.500.000,00 Rp 15.000,00

D.PENYAJIAN WESEL TAGIH DI NERACA


Berikut ini diberikan contoh penyajian piutang di Neraca : NERACA : Piutang Cadangan Kerugian Piutang Wesel Tagih Wesel Tagih Didiskontokan Piutang Bunga Rp 9.500.000,00 Rp 475.000,00 Rp 9.025.000,00 Rp 5.600.000,00 Rp 1.500.000,00 Rp 4.100.000,00 Rp 120.000,00+ Rp 13.245.000,00

LATIHAN SOAL :
1. Pada tanggal 20 Mei 2006, PT. Saudara menerima dari Fa. Kasih sebuah aksep nominal Rp 6.000.000,00 bunga 12 % per 90 hari. Pada tanggal 4 Juli 2006, oleh PT. Saudara aksep tersebut didiskontokan ke Bank Keluarga dengan diskonto 10 %. Diminta : a. Tentukan tanggal jatuh tempo aksep tersebut, b. Buatlah jurnla PT. Saudara untuk tanggal 20 Mei, 4 Juli dan pada tanggal jatuh empo aksep tersebut, c. Buatlah jurnal Fa. Kasih untuk : 1) Tanggal 20 Mei pada saat menyerahkan aksep tersebut kepada PT. Saudara 2) Pada saat melunasi aksep tersebut ke Bank Keluarga pada tanggal jatuh tmpo d. Buatlah jurnal bank untuk :
~57~ Akuntansi Dasar II

1) Tanggal 4 Juli pada saat mendiskontokan aksep tersebut dari PT. Saudara, 2) Pada saat menerima pelunasan aksep tersebut dari Fa. Kasih pada tanggal jatuh tempo aksep tersebut.

PIUTANG DAGANG
A. PENGERTIAN
~58~ Akuntansi Dasar II

Piutang Dagang (Account Receivable) adalah Piutang yang timbul dari penjualan kredit barang / jasa yang merupakan hasil usaha dari perusahaan yang bersangkutan

B. PENCATATAN PIUTANG TAK TERTAGIH


Adakalanya sejumlah piutang tidak dapat ditagih (tidak diperoleh pembayarannya), misalnya : karena debitur yang bersangkutan jatuh pailit. Adanya piutang tak tertagih tersebut merupakan kerugian bagi perusahaan, yang dicatat sebagai biaya usaha dengan nama akun : Kerugian Piutang / Kerugian Piutang Tak Tertagih / Biaya Penghapusan Piutang. Adapun metode untuk mencatat kerugian piutang tak tertagih adalah sebagai berikut : 1. Metode Langsung (Direct Method), dengan ciri-ciri sebagai berikut : a. Kerugian dicatat pada periode penerimaan piutang, berdasarkan jumlah piutang yang dihapuskan, b. Setiap penghapusan piutang langsung dicatat pada akun : Kerugian PiutangTak Tertagih dengan jurnal : Kerugian Piutang Tak Tertagih xxx Piutang xxx 2. Metode Tidak Langsung / Metode Cadangan (Indirect / Allowance Method) a. Mencatat kerugian piutang tak tertagih (berdasarkan taksiran) pada periode penjualan / terjadinya piutang melalui ayat jurnal penyesuaian : Kerugian Piutang Tak Tertagih xxx Cadangan Piutang Tak Tertagih xxx b. Setiap penghapusan piutang dibebankan ke Cadangan piutang tak tertagih dengan jurnal : Cadangan Piutang Tak Tertagih xxx Piutang xxx Dalam metode cadangan, kerugian piutan tak tertagih dicatat sebelum terjadi, melalui taksiran. Adapun cara-cara utnuk menetapkan besarnya taksiran tersebut adalah sebagai berikut : 1. Ditetapkan sebesar persentase tertentu (%) dari Penjualan. Dalam hal ini dasar perhitungan mungkin : a. Penjualan kotor b. Penjualan bersih c. Penjualan kredit bersih 2. Ditetapkan berdasarkan persentase tertentu (%) dari saldo Piutang. Dalam hal ini terdapat 3 (tiga) cara sebagai berikut : a. Jumlah cadangan kerugian piutang tak tertagih ditambah sebesar persentase (%) tertentu dari saldo piutang (tanpa memperhatikan saldo cadangan yang masih ada)

~59~

Akuntansi Dasar II

b. Jumlah cadangan kerugian piutang tak tertagih dijadikan sebesar persentase (%) tertentu dari saldo piutang dengan memperhatikan saldo cadangan yang masih ada) c. Jumlah cadangan kerugian piutang tak tertagih dijadikan sejumlah tertentu dalam rupiah (Rp. ..) yang ditetapkan berdasarkan analisis umur piutang (dengan memperhatikan saldo cadangan yang masih ada). Contoh : Pada tanggal 31 Desember 2005, dalam pembukuan PT. Adawiyyah terdapat antara lain akun beserta saldonya sebagai berikut : Piutang Rp 6.500.000,00 Cadangan Piutang Tak Tertagih Rp 60.000,00 Penjualan (60 % penjualan kredit) Rp 12.500.000,00 Retur Penjualan (dari penjualan kredit) Rp 500.000,00 Potongan Penjualan Rp 300.000,00 Diminta : Jurnal penyesuaian 31 Desember 2005 untuk mencatat taksiran kerugian piutang tak tertagih dengan ketentuan : 1. Besarnya kerugian piutang tak tertagih ditaksir sebesar : a. 2 % (dua persen) dari penjualan b. 2 % (dua persen) dari penjualan bersih c. 2 % (dua persen) dari penjualan kredit bersih 2. Besarnya cadangan piutang tak tertagih ditetapkan : a. Ditambah 4 % (empat persen) dari saldo piutang b. Dijadikan 4 % (empat persen) dari saldo piutang, saldo cadangan piutang tak tertagih(Debet) sebesar Rp 60.000,00 c. Dijadikan Rp 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) yang ditetapkan berdasarkan analisis umur piutang, saldo cadangan piutang tak tertagih(Debet) sebesar Rp 60.000,00 d. Dijadikan 4 % (empat persen) dari saldo piutang tetapi dalam hal ini saldo cadangan piutang tak tertagih (kredit) sebesar Rp 60.000,00 Jawab : Jurnal Penyesuaian per 31 Desember 2005 : 1. Besarnya kerugian piutang tak tertagih ditaksir sebesar : a. 2 % (dua persen) dari penjualan 2 % x Rp12.500.000,00 = Rp 250.000,00 Jurnal : Kerugian piutang tak tertagih Rp 250.000,00 Cadangan Piutang Tak Tertagih Rp 250.000,00 b. 2 % (dua persen) dari penjualan bersih 2%x[Rp 12.500.000,00(Rp500.000,00+Rp 300.000,00)] = 234.000,00 Jurnal : Kerugian piutang tak tertagih Rp 23400,00 Cadangan Piutang Tak Tertagih Rp 23400,00
~60~

Rp

Akuntansi Dasar II

c. 2 % (dua persen) dari penjualan kredit bersih Penjualan kredit 60 % x Rp 12.500.000,00 Rp 7.500.000,00 Retur dan Potongan Penjualan Rp 800.000,00 Penjualan kredit bersih Rp 6.700.000,00 2 % x Rp 6.700.000,00 = Rp 134.000,00 Jurnal : Kerugian piutang tak tertagih Rp 13400,00 Cadangan Piutang Tak Tertagih Rp 13400,00 2. Besarnya cadangan piutang tak tertagih ditetapkan : a. Ditambah 4 % (empat persen) dari saldo piutang 4 % x Rp 6.500.000,00 = Rp 260.000,00 Jurnal : Kerugian piutang tak tertagih Rp 260.000,00 Cadangan Piutang Tak Tertagih Rp 269.000,00 b. Dijadikan 4 % (empat persen) dari cadangan piutang tak tertagih(Debet) sebesar Saldo akhir cadangan 4 % x Rp 6.500.000,00 Saldo cadangan (Debet) Jumlah penyesuaian Jurnal : Kerugian piutang tak tertagih Rp 320.000,00 Cadangan Piutang Tak Tertagih saldo piutang, saldo Rp 60.000,00 Rp 260.000,00 Rp 60.000,00 Rp 320.000,00 Rp 320.000,00

c. Dijadikan Rp 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) yang ditetapkan berdasarkan analisis umur piutang, saldo cadangan piutang tak tertagih(Debet) sebesar Rp 60.000,00 Saldo akhir cadangan Rp 200.000,00 Saldo cadangan (Debet) Rp 60.000,00 Jumlah penyesuaian Rp 260.000,00 Jurnal : Kerugian piutang tak tertagih Rp 260.000,00 Cadangan Piutang Tak Tertagih Rp 260.000,00 d. Dijadikan 4 % (empat persen) dari saldo piutang tetapi dalam hal ini saldo cadangan piutang tak tertagih (kredit) sebesar Rp 60.000,00 Saldo akhir cadangan 4 % x Rp 6.500.000,00 Rp 260.000,00 Saldo cadangan (Kredit) Rp 60.000,00 Jumlah penyesuaian Rp 200.000,00 Jurnal : Kerugian piutang tak tertagih Rp 200.000,00 Cadangan Piutang Tak Tertagih Rp 200.000,00 Contoh Analisis Umur Piutang :

~61~

Akuntansi Dasar II

Nama Pelanggan

Jumlah Saldo Piutang

Belum Jatuh Tempo

Jumlah Hari Lewat Jatuh Tempo

1-30 hari Agam Budi Caca Dudung Lainnya 1,000,0 00 1,500,0 00 2,000,0 00 750,000 1,250,0 00 6,500,0 00 1,000,0 00 1,500,0 00 2,000,0 00 750,000

31-60 hari

61-90 hari

di atas 90 hari

500,000 4,500,0 00 0.02 750,00 0 0.03 22,500 500,000 0.04 20,000

500,000 500,000 0.06 30,000

250,000 250,000 0.15 37,500

Taksiran Persentase Tak Tertagih Jumlah Taksiran Tak Tertagih

200,00 0

90,000

C. PENERIMAAN DIHAPUSKAN

DARI

PIUTANG

YANG

TELAH

Apabila piutang yang telah dihapuskan diterima pembayarannya, maka pencatatannya adalah sebagai berikut : 1. Metode Langsung Jurnal : Kas xxx Kerugian Piutang Tak Tertagih 2. Metode Cadangan Jurnal : Kas xxx Cadangan Piutang Tak Tertagih

xxx

xxx

~62~

Akuntansi Dasar II

PERSEDIAAN
A. PENGERTIAN
Persediaan adalah Barang yang dimiliki dengan tujuan untuk dijual kembali / untuk diproses dan kemudiaan dijual. Jenis-jenis persediaan yang dimiliki oleh perusahaan tergantung pada jenis usaha perusahaan yang bersangkutan, yaitu sebagai berikut : 1. Perusahaan jasa : tidak mempunyai persediaan 2. Perusahaan Dagang : mempunyai satu jenis persediaan, yaitu : Persediaan Barang Dagangan 3. Perusahaan Industri : mempunyai 3 (tiga) jenis persediaan, yaitu : a. Persediaan Bahan Baku b. Persediaan Barang Dalam Proses c. Persediaan Barang Jadi

B. PERANAN PERSEDIAAN DALAM LAPORAN KEUANGAN


Ketetapan dalam penilaian persediaan adalah sangat penting bagi suatu perusahaan. Hal ini mengingat peranan persediaan baik dalam perhitungan Laba Rugi maupun Neraca. Dalam perhitungan Laba Rugi nilai persediaan (awal dan akhir) mempengaruhi besarnya Harga Pokok Penjualan (HPP = Persediaan awal + Pembelian bersih Persediaan akhir). Sedangkan Persediaan akhir di Neraca tercatat sebagai Aktiva Lancar.

C. PENCATATAN PERSEDIAAN
Untuk mencatat transaksi-transaksi yang mempengaruhi nilai persediaan, terdapat 2 (dua) sistem sebagai berikut : 1. Sistem Pencatatan Fisik / Periodik (Periodic / Physical Inventory System) Dalam sistem ini pencatatan persediaan hanya dilakukan pada akhir periode akuntansi (pada saat akan menyusun laporan keuangan) melalui ayat jurnal penyesuaian. Penilaian persediaan dilakukan dengan mengadakan perhitungan pisik. Transaksi-transaksi yang mempengaruhi persediaan, dicatat masing-masing dalam akun tersendiri sebagai berikut : Pembelian, Retur Pembelian, Potongan Pembelian, Penjualan, Retur Penjualan dan Potongan Penjualan. 2. Sistem Pencatatan Perpetual / Permanen / Terus Menerus (Perpetual / Continual Inventory System) Dalam sistem ini pencatatan persediaan dilakukan setiap terjadi transaksi yang mempengaruhi persediaan. Dengan demikian setiap saat saldo akun persediaan akan menunjukkan saldo persediaan yang sebenarnya. Dengan demikian pada akhir periode akuntansi (pada saat
~63~ Akuntansi Dasar II

akan disusun laporan keuangan) tidak diperlukan ayat penyesuaian terhadap persediaan. Contoh transaksi dan pencatatan menurut masing-masing sistem pencatatan.
Tangga l Sistem Pencatatan Fisik / Periodik Sistem Pencatatan Perpetual / Permanen
2.000.00 0 2.000.000

2006 1 Mei 2006 Pembelian kredit seharga Rp 2.000.000,00 Mei 1 Pembelian 2.000.00 Persediaan Bar Dag 0 Utang Dagang 2.000.00 Utang Dagang 0 2 Mei 2006 Retur pembelian seharga Rp 200.000,00 2 Utang Dagang 200.000 Utang Dagang Retur Pembelian 200.000 Persediaan Bar Dag 10 Mei 2006 Dilunasi utang dan mendapat potongan 5 % 10 Utang Dagang 1.800.00 Utang Dagang 0 Potongan Pembelian 90.000 Persediaan Bar Dag Kas 1.710.00 Kas 0

Mei

200.000 200.000

Mei

1.800.00 0 90.000 1.710.000

Mei

11 Mei 2006 Penjualan kredit , har ga jual Rp 1.000.000,00 (Harga pokok Rp 800.000,00) 11 Piutang Dagang 1.000.00 Piutang Dagang 1.000.00 0 0 Penjualan 1.000.00 Penjualan 1.000.000 0 Harga Pokok Penjualan Persediaan Bar Dag 800.000 800.000

Mei

12 Mei 2006 Retur penjualan, harga jual Rp 50.000,00 (Harga Pokok Rp 40.000,00) 12 Retur Penjualan 50.000 Retur Penjualan 50.000 Piutang Dagang 50.000 Piutang Dagang Persediaan Bar Dag Harga Pokok Penjualan 20 Mei 2006 Diterima pelunasan piutang dan mendapat potongan 2 % 20 Kas 931.000 Kas Potongan Penjualan 19.000 Potongan Penjualan Piutang Dagang 950.000 Piutang Dagang 40.000

50.000

40.000

Mei

931.000 19.000 950.000

D.PENILAIAN PERSEDIAAN
Masalah penilaian persediaan dalam suatu periode, adalah : 1. Menetapkan jumlah dan nilai persediaan yang sudah terjual / sudah menjadi biaya 2. Menentukan jumlah dan nilai persediaan yang belum terjual (yang harus dilaporkan di Neraca) Beberapa metode penilaian persediaan, antara lain :
~64~ Akuntansi Dasar II

1. Metode berdasarkan harga pokok a. Sistem pencatatan fisik 1) Metode Tanda Pengenal Khusus (Specifiec Identification Method) 2) Metode Rata-Rata Sederhana (Simple Average Method) 3) Metede Rata-Rata Tertimbang (Weighted Average Method) 4) Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (First In First Out / FIFO) 5) Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last In First Out / LIFO) b. Sistem pencatatan perpetual 1) Metode MPKP (Masuk Pertama Keluar Pertama) / FIFO 2) Metode MTKP (Masuk Terakhir Keluar Pertama) / LIFO 3) Metode Rata-Rata Bergerak (Moving Average) 2. Metode berdasarkan taksiran Apabila perhitungan persediaan secara fisik tidak mungkin dilakukan (misalnya karena terbakar), maka untuk menilai persediaan dipakai metode taksiran sebagai berikut : 1) Metode Harga Eceran (At Retail Method) 2) Metode Laba Kotor (Gross Profit Method) 3. Metode berdasarkan nilai pengganti Meskipun pada prinsipnya persediaan dinilai menurut harga perolehannya (cost), tetapi adakalanya metode atau cara tersebut diganti dengan mengakui nilai pengganti. Metode Nilai Terendah antara Harga Pokok dengan Harga Pasar (Cost of Market Price Wichever is Lower) 1. Metode berdasarkan harga pokok Contoh Metode Penilaian Persediaan dalam Sistem Pencatatan Fisik : Dari catatan suatu perusahaan diperoleh keterangan-keterangan yang berikut khusus mengenai persediaan barang dagangan : Jan 1 Persediaan awal (A) 300 unit @ Rp 60 Jan 3 Pembelian (B) 750 unit @ Rp 63 Jan 12 Pembelian (C) 600 unit @ Rp 61 Jan 18 Pembelian (D) 800 unit @ Rp 65 Jan 25 Pembelian (E) 500 unit @ Rp 62 Pada tanggal 31 Januari berdasarkan inventarisasi fisik persediaan ternyata jumlah barang dagangan yang masih ada sebanayk 600 unit (B = 300 unit, D = 200 unit, E = 100 unit). Apabila perusahaan memakai metode fisik, maka hitunglah nilai persediaan akhir 31 Januari berdasarkan : 1) Metode Tanda Pengenal Khusus (Specifiec Identification Method) 2) Metode Rata-Rata Sederhana (Simple Average Method)
~65~ Akuntansi Dasar II

3) Method) 4) FIFO) 5) LIFO)

Metede

Rata-Rata

Tertimbang

(Weighted

Average

Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (First In First Out / Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last In First Out /

Jawab : 1) Metode Tanda Pengenal Khusus (Specifiec Identification Method) Di dalam metode ini setiap barang yang mempunyai harga pokok yang sama diberikan tanda yang sama pula. Dengan demikian nilai persediaan akhir sebagai berikut : B = 300 unit x Rp 63,- = Rp 18.900,D = 200 unit x Rp 65,- = Rp 13.000,E = 100 unit x Rp 62,- = Rp 6.200,600 unit Rp 38.100,2) Metode Rata-Rata Sederhana (Simple Average Method) Harga pokok rata-rata per unit = . Jumlah harga . Banyak kelompok HP rata-rata per unit = Rp 60,- + 63,- + 61,- + 65,- + 62,5 = Rp 311,- = Rp 62,20 5 Nilai persediaan akhir = 600 unit x Rp 62,20 = Rp 37.320,3) Metede Rata-Rata Tertimbang (Weighted Method) Harga pokok rata-rata per unit = 3 (unit x harga) 3 Unit Average

HP rata-rata per unit = (300x60) + (750x63) + (600x61) + (800x65) + (500x62) 2.950 = Rp 184.850,= Rp 62,66 2.950 Nilai persediaan akhir = 600 unit x Rp 62,66 = Rp 37.596,4) FIFO) Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (First In First Out /

~66~

Akuntansi Dasar II

Di dalam metode ini terdapat anggapan bahwa barang yang dibeli pertama juga dijual pertama. Dengan demikian persediaan akan selalu berasal dari barang yang dibeli terakhir atau masuk akhir. Nilai persediaan akhir : 500 unit x Rp 62,- = Rp 31.000,100 unit x Rp 65,- = Rp 6.500,600 unit Rp 37.500,5) Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last In First Out / LIFO) Metode ini didasarkan pada anggapan (asumsi) bahwa barang yang masuk terakhir justru lebih dahulu dijual / keluar. Dengan demikian persediaan akhir barang akan selalu berasal dari barang yang masuk lebih dahulu. Nilai persediaan akhir : 300 unit x Rp 60,- = Rp 18.000,300 unit x Rp 63,- = Rp 18.900,600 unit Rp 36.900,Contoh Metode Penilaian Persediaan dalam Sistem Pencatatan Perpetual : Jan Jan Jan Jan Jan Jan Jan 1 3 8 12 18 20 25 Persediaan awal 300 unit @ Rp 60 Pembelian 750 unit @ Rp Penjualan 1.000 unit Pembelian 600 unit @ Rp Pembelian 800 unit @ Rp Penjualan 1.350 unit Pembelian 500 unit @ Rp 63 61 65 62

Berdasarkan keterangan di atas, hitunglah nilai persediaan akhir berdasarkan : 1) Metode MPKP (Masuk Pertama Keluar Pertama) / FIFO 2) Metode MTKP (Masuk Terakhir Keluar Pertama) / LIFO 3) Metode Rata-Rata Bergerak (Moving Average) Jawab : 1)
anggal unit Jan 1 3 750 63 47,25 0 18,00 0 44,10 0

Metode MPKP (Masuk Pertama Keluar Pertama) / FIFO


Masuk Harga/ U Jumla h unit Keluar Harga/ U Jumla h unit 300 300 750 Saldo Harga/ U 60 60 63 Jumla h 18,00 0 18,00 0 47,25 0

8 1 600 61 36,60

300 700 ~67~

60 63

50 50

63 63

3,150 3,150

Akuntansi Dasar II

2 1 8

0 600 800 65 52,00 0 50 600 800 61 63 61 65 36,60 0 3,150 36,60 0 52,00 0

2 0

50 600 700

63 61 65

3,150 36,60 0 45,50 0

100 100 500 600

65 65 62

6,500 6,500 31,00 0 37,50 0

2 5

500

62

31,00 0

2)
Tanggal unit Jan 1 3 750

Metode MTKP (Masuk Terakhir Keluar Pertama) / LIFO


Masuk Harga/ U Jumla h Keluar Harga/ U Jumla h Saldo Harga/ U 60 60 63 Jumla h 18,00 0 18,00 0 47,25 0

unit

unit 300

63

47,25 0 47,25 0 15,00 0

300 750

8 1 2 1 8 36,60 0 52,00 0

750 250 600 61

63 60

50 50 600

60 60 61 60 61 65 60 61 60 61 62

3,000 3,000 36,60 0 3,000 36,60 0 52,00 0 3,000 3,050 3,000 3,050 31,00 0

800

65

50 600 800

2 0 2 5 31,00 0

800 550 500 62

65 61

52,00 0 33,55 0

50 50 50 50 500

~68~

Akuntansi Dasar II

600

37,05 0

3)
Tanggal unit Jan 1 3 8 1 2 1 8 2 0 2 5 750

Metode Rata-Rata Bergerak (Moving Average)


Masuk Harga/ U Jumla h Keluar Harga/ U Jumla h Saldo Harga/ U 60.00 62.14 62.14 61.09 63.25 63.25 62.21 Jumla h 18,00 0 65,25 0 3,107 39,70 7 91,70 7 6,325 37,32 5

unit

unit 300

63

47,25 0 1,000 62.14 62,14 3 36,60 0 52,00 0 1,350 63.25 85,38 3 31,00 0

1,050 50 650 1,450 100 600

600 800

61 65

500

62

2. Metode berdasarkan taksiran Pada prinsipnya dalam metode ini penilaian persediaan didasarkan atas taksiran. Terdapat 2 (dua) metode penilaian persediaan dalam metode taksiran, yaitu : 1). Metode Harga Eceran Langkah-langkah menentukan nilai persediaan sebagai berikut : a. Tiap kelompok barang yang dimiliki ditetapkan harga ecerannya masing-masing, b. Berdasarkan jumlah barang yang dapat dijual (menurut harga pokok dan harga eceran) ditetapkan rasio (perbandingan) antara harga pokok dengan harga eceran, di dalam prosentasi, yaitu sebagai berikut : .Harga Pokok. x 100 % = .. % Harga Eceran c. Ditetapkan persediaan akhir menurut harga eceran, yaitu barang yang dapat dijual menurut harga eceran dikurangi penjualan, d. Persediaan akhir menurut harga pokok ditetapkan berdasarkan prosentase rasio harga pokok terhadap harga eceran. Contoh : Dari catatan suatu perusahaan dagang diperoleh keteranganketeragnan yang berikut : Harga Pokok Harga Eceran Persediaan awal Rp 15.000,Rp 21.000,Pembelian Rp 35.000,Rp 59.000,Penjualan Rp 69.000,~69~ Akuntansi Dasar II

Diminta : Tentukan nilai persediaan akhir Jawab : Harga Pokok Harga Eceran Persediaan awal Rp 15.000,Rp 21.000,Pembelian Rp 35.000,Rp 59.000,Barang tersedia dijual Rp 50.000,Rp 80.000,Rasio harga pokok terhadap harga eceran : (Cost ratio to sale) = 50.000 x 100 % = 62,50 % 80.000 Penjualan Rp 69.000,Persediaan akhir (harga eceran) Rp 11.000,Nilai Persediaan akhir (harga pokok) : 62,50 % x Rp 11.000,- = Rp 6.875,2). Metode Laba Kotor Di dalam metode laba kotor terdapat anggapan bahwa persen laba kotor untuk 2 (dua) periode yang berurutan dianggap sama besarnya. Penetapan nilai persediaan akhir dalam metode ini ditentukan sebagai berikut : a. Persediaan barang yang tersedia untuk dijual menurut harga pokok dikurangi taksiran Harga Pokok Penjualan b. Taksiran Harga Pokok Penjualan ditentukan berdasarkan : Penjualan Bersih Taksiran Laba Kotor Contoh : Dari catatan suatu perusahaan diperoleh data sebagai berikut : 2000 2001 Persediaan awal Rp 100.000,Rp 120.000,Pembelian Rp 425.000,Rp 780.000,Retur pembelian Rp 25.000,Rp 30.000,Penjualan Rp 630.000,Rp 600.000,Retur penjualan Rp 30.000,Diminta : Berdasarkan keterangan-keterangan di atas tentukanlah nilai persediaan akhir tahun 2001 dengan memakai metode Laba Kotor. Jawab : Tahun 2000 : Penjualan Rp 630.000,Retur penjualan Rp 30.000,Penjualan bersih Rp 600.000,Harga pokok penjualan : Persediaan awal Rp 100.000,Pembelian Rp 425.000,~70~ Akuntansi Dasar II

Retur pembelian Rp 25.000,Pembelian bersih Rp 400.000,Persediaan tersedia dijual Rp 500.000,Persediaan akhir Rp120.000,Harga pokok penjualan Rp 380.000,Laba kotor Rp 220.000,Persentase Laba Kotor = 220.000,- x 100 % = 37 % 600.000,Tahun 2001 : Persediaan awal Rp 120.000,Pembelian Rp 780.000,Retur pembelian Rp 30.000,Pembelian bersih Rp 750.000,Persediaan tersedia dijual Rp 870.000,Penjualan Rp 600.000,Taksiran Laba Kotor : 37 % x Rp 600.000,Rp 222.000,Taksiran Harga Pokok Penjualan Rp 378.000,Taksiran Persediaan Akhir Tahun 2001 Rp 492.000,3. Metode berdasarkan nilai pengganti Metode nilai terendah antara harga pokok dan harga pasar (Cost or market Wichever is lower / the lower of cost or market) Meskipun pada prinsipnya persediaan dinilai menurut harga perolehan, tetapi kadang-kadang prinsip tersebut ditinggalkan. Hal ini terutama disebabkan turunnya harga pasar, yang sesuai dengan prinsip akuntansi (konservatisme) dapat diakui sebagai kerugian. Penerapan metode nilai terendah antara harga pokok dan harga pasar terhadap persediaan dapat dilakukan sebagai berikut : a. Untuk setiap jenis barang (Individual Inventory Items) b. Untuk masing-masing kelompok (Class Department) c. Untuk total seluruh persediaan (Inventory as a Whole / Total)

Sebagai ilustrasi disajikan contoh di bawah ini :


Harg a Poko k/ Unit 120 50 100 Harg a Pasa r/ Unit 110 40 110 Total Harga Pokok 360,000 200,000 200,000 760,000 ~71~ Harga Pasar 330,000 160,000 220,000 710,000 Nilai Terendah Antara Harga Pokok dan Harga Pasar Tiap Jenis 330,000 160,000 200,000 710,000 Akuntansi Dasar II Tiap Kelompo k Total Persediaa n

N o

Keterang an

Kuantit as

Bahan Bahan Bahan Bahan

Baku A B C

3,000 4,000 2,000

II

Barang Dalam

Proses Barang D Barang E

6,000 8,000

160 100

140 120

960,000 800,000 1,760,0 00 800,000 300,000 1,100,0 00 3,620,0 00

840,000 960,000 1,800,0 00 680,000 320,000 1,000,0 00 3,510,0 00

840,000 800,000 1,760,0 00 680,000 300,000 1,000,0 00 3,310,0 00 3,470,0 00 3,510,000 3,510,00 0

III

Barang Jadi Barang F Barang G

4,000 2,000

200 150

170 160

Nilai Persediaan

AKTIVA TETAP
A. PENGERTIAN
Aktiva tetap adalah Kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan yang pemakaiannya dalam jangka panjang / lebih dari satu periode normal akuntansi (satu tahun).
~72~ Akuntansi Dasar II

Berdasarkan sifatnya dan untuk keperluan akuntansi, maka aktiva tetap dibagi atas : 1. Aktiva tetap berwujud (Tangible Fixed Assets) 2. Aktiva tetap tidak berwujud (Intangible Fixed Assets) Aktiva tetap berwujud adalah Aktiva tetap yang mempunyai bentuk fisik dengan ciri-ciri sebagai berikut : 1. Dimiliki untuk dipakai, tidak untuk investasi / dijual kembali, 2. Umur pemakaian lebih dari satu tahun, 3. Mempunyai manfaat bagi perusahaan, yang dapat diukur, serta nilainya cukup berarti.

B.

HARGA PEROLEHAN (COST) AKTIVA TETAP

Sesuai dengan prinsip Harga Perolehan (Cost), maka setiap aktiva tetap yang dimiliki akan dicatat sebesar semua pengorbanan (dinilai dengan uang) untuk memperoleh aktiva tetap tersebut, sampai dengan aktiva tetap yang bersangkutan siap untuk dipakai. Dengan demikian harga perolehan suatu aktiva tetap dapat meliputi : 1. 2. 3. 4. 5.
C.

Harga beli berdasarkan harga tunai, Biaya surat-surat pemilikan, Ongkos angkut, Biaya pemasangan / biaya percobaan sebelum dapat dipakai, Komisi.

CARA-CARA PEMILIKAN AKTIVA TETAP (ACQUISITION OF PLANT AND EQUIPMENT)

Untuk memiliki aktiva tetap berwujud terdapat beberapa cara sebagai berikut : 1. Pembelian tunai (Purchase For Cash) 2. Pembelian kredit (Purchase on Deferred Payment) 3. Pertukaran (Acquisition by Exchange / Trade in) Pembelian tunai (Purchase For Cash) Nilai aktiva tetap berwujud yang dimiliki melalui pembelian tunai, adalah sebesar total pengeluaran uang sampai dengan aktiva tesebut siap untuk dipakai (total cash outlay) yang antara lain bisa terdiri dari : Harga faktur (dikurangi potongan jika ada), ongkos angkut, biaya asuransi selama dalam perjalanan, biaya pemasangan, biaya percobaan dan bea balik nama.
~73~ Akuntansi Dasar II

1.

2.

Pembelian kredit (Purchase on Deferred Payment) Dalam hal ini nilai aktiva tetap yang bersangkutan adalah sebesar nilai tunainya. Sedangkan selisih nilai tunai dengan jumlah yang dibayar (harga pembelian kredit) dicatat sebagai biaya bunga. Pertukaran (Acquisition by Exchange / Trade in) Apabila aktiva tetap berwujud diperoleh melalui pertukaran dengan aktiva tetap berwujud yang telah dimiliki, maka pencatatannya sebagai berikut : a. Diadakan penyesuaian penyusutan untuk periode pertukaran yaitu : mulai dari awal tahun sampai dengan tanggal pertukaran, b. Dikredit sebesar harga pokok (cost) aktiva tetap bersangkutan, c. Saldo akun akumulasi penyusutan seluruhnya dikeluarkan dari pembukuan (debet sebesar saldonya), yaitu jumlah setelah disesuaikan, d. Selisih nilai buku dengan nilai dalam pertukaran dicatat : ke akun Laba/Rugi pertukaran, apabila laba/rugi pertukaran diakui/dicatat. Laba pertukaran . (nama aktiva) : apabila nilai dalam pertukaran lebih besar dari pada nilai buku (Profit on trade in). Rugi pertukaran . (nama aktiva) : apabila nilai buku lebih besar dari nilai dalam pertukaran (Loss on trade in). Ke harga aktiva baru apabila laba/rugi pertukaran tidak diakui : 1) Mengurangi harga aktiva baru apabila nilai dalam pertukaran lebih besar dari nilai buku, 2) Menambah harga aktiva baru apabila nilai dalam pertukaran lebih kecil dari pada nilai buku. Aktiva baru : 1) Dicatat sebesar harga tunai (harga pasar) apabila laba/rugi pertukaran diakui / dicatat, 2) Dicatat sebesar harga tunai / pasar dikurangi laba, atau harga tunai / pasar ditambah rugi apabila laba/rugi pertukaran tidak diakui.

3.

Contoh : Sebuah perusahaan memiliki sebuah Mesin sbb : Harga beli Rp 3.000.000,00 Jumlah penyusutan (s/d akhir th 3) Rp 1.800.000,00 (Rp 600.000,00 / th) Pertengahan tahun ke 4 ditukar dengan Mesin baru seharga Rp 5.000.000,00 Dalam pertukaran perusahaan menambah per Kas sebesar Rp 3.500.000,00 a. Apabila laba/rugi pertukaran (dicatat) : 1) Jurnal penyesuaian : Beban penyusutan mesin Rp 300.000,00
~74~

diakui

Akuntansi Dasar II

Akum penyus mesin

Rp 300.000,00

2) Jurnal pertukaran : Mesin (baru) Rp 5.000.000,00 Akum penyus mesin Rp 2.100.000,00 Mesin (lama) Rp 3.000.000,00 Kas Rp 3.500.000,00 Laba pertukaran mesin Rp 600.000,00 Perhitungan : Harga beli mesin lama Rp 3.000.000,00 Penyusutan s/d tahun ke 3 Rp 1.800.000,00 Penyus tahun ke 4 (1/2 th) = x Rp 600.000,00 Rp 300.000,00 Rp 2.100.000,00 Nilai buku mesin lama pada saat pertukaran Rp 900.000,00 Nilai pertukaran ; Rp 5.000.000 Rp 3.500.000 Rp 1.500.000,00 Laba pertukaran mesin Rp 600.000,00 b. Apabila laba/rugi pertukaran tidak diakui : 1) Jurnal penyesuaian : Beban penyusutan mesin Rp 300.000,00 Akum penyus mesin Rp 300.000,00 2) Jurnal pertukaran : Mesin (baru) Akum penyus mesin Mesin (lama) Kas Rp 4.400.000,00 Rp 2.100.000,00 Rp 3.000.000,00 Rp 3.500.000,00

Perhitungan : Harga tunai mesin baru Rp 5.000.000,00 Laba pertukaran (lihat perhitungan jawaban a) Rp 600.000,00 Harga perolehan (cost) mesin baru Rp 4.400.000,00 Contoh : Pada tanggal 18 April 2001 sebuah perusahaan membeli aktiva tetap secara lump sum (bersama) seharga Rp 120.000.000,00. Dibayar tunai sebesar Rp 80.000.000,00 dan sisanya dibuat Promes dengan nominal Rp 40.000.000,00, 2 bulan, tidak berbunga. Adapun harga pasar masingmasing jenis aktiva tetap yang dibeli ; Tanah Rp 30.000.000,00., Gedung Rp 105.000.000,00., Peralatan Rp 15.000.000,00. Diminta : Buatlah jurnal pembelian aktiva tetap di atas (perhitungan disertakan) Jawab : Perhitungan alokasi harga perolehan :
~75~ Akuntansi Dasar II

Golonga n Tanah Gedung Peralata n

Harga Pasar

Rp 30.000.000,00 Rp 105.000.000,00 Rp 15.000.000,00 Rp 150.000.000,00

% dari Total Harg a Pasar 20 % 70 % 10 % 100 %

Perhitungan % dari Harga Beli 20 % x 120.000.000,00 70 % x 120.000.000,00 10 % x 120.000.000,00

Alokasi Harga Perolehan Rp Rp 24.000.000,00 Rp Rp 84.000.000,00 Rp Rp 12.000.000,00 Rp 120.000.000,00

Jurnal : April 18

Tanah Gedung Peralatan Kas Wesel Bayar

Rp 24.000.000,00 Rp 84.000.000,00 Rp 12.000.000,00 Rp 80.000.000,00 Rp 40.000.000,00

D.PENYUSUTAN AKTIVA TETAP


Penyusutan / Depresiasi adalah proses pengalokasian harga perolehan aktiva tetap menjadi biaya selama masa manfaatnya dengan cara yang rasional dan sistematis. Untuk menetapkan besarnya beban penyusutan perlu diperhatikan 3 faktor : 1. Harga Perolehan (Cost) 2. Umur Ekonomis (Useful Life) 3. Nilai Residu / Nilai Sisa (Salvage Value) Metode-metode perhitungan penyusutan aktiva tetap, antara lain : 1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method) 2. Metode Saldo Menurun / Metode Persentasi dari Nilai Buku (Declaining Balance Method) 3. Metode Jumlah Angka Tahun (Sum of The Years Digits Method) 4. Metode Satuan Kapasitas Produksi (Units of Output Method) Contoh : Berikut ini data sebuah mesin yang dimiliki PT. AZZAHRA : Harga perolehan mesin Rp 500.000.000,00 Nilai sisa Rp 50.000.000,00 Taksiran umur ekonomis 5 tahun Taksiran total hasil produksi 10.000 unit
~76~ Akuntansi Dasar II

Diminta : Berdasarkan data di atas hitunglah besarnya penyusutan dengan menggunakan : 1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method) 2. Metode Saldo Menurun / Metode Persentasi dari Nilai Buku (Declaining Balance Method) 3. Metode Jumlah Angka Tahun (Sum of The Years Digits Method) 4. Metode Satuan Kapasitas Produksi (Units of Output Method) Jawab : 1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method) Dalam metode ini setiap periode dibebani dengan penyusuran yang sama besarnya. Rumus : Penyusutan / tahun = Harga Perolehan Nilai Sisa Umur Ekonomis Penyusutan / th = 500.000.000 50.000.000 = Rp 90.000.000,00 5 Persentasi Penyusutan = 1/5 x 100 % = 20 % 2. Metode Saldo Menurun / Metode Persentasi dari Nilai Buku (Declaining Balance Method) Besarnya persentasi penyusutan per tahun, ditetapkan sebesar 2 (dua) kali persentasi penyusutan metode garis lurus. Tarif penyusutan Metode Garis Lurus = 20 % Tarif penyusutan Metode Saldo Menurun = 2 x 20 % = 40 % Dengan demikian besarnya penyusutan setiap tahun drai tahun pertama sampai dengan tahun kelima dapat dihitung sebagai berikut : Tahun : 1. = 40 % x Rp 500.000.000,00 = Rp 200.000.000,00 2. = 40 % x (Rp 500.000.000,00 Rp 200.000.000,00) = Rp 120.000.000,00 3. = 40 % x (Rp 500.000.000,00 Rp 320.000.000,00) = Rp 72.000.000,00 4. = 40 % x (Rp 500.000.000,00 Rp 392.000.000,00) = Rp 43.200.000,00 5. = 40 % x (Rp 500.000.000,00 Rp 435.200.000,00) = Rp 25.920.000,00 3. Metode Jumlah Angka Tahun (Sum of The Years Digits Method) Langkah menghitung penyusutan metode ini : a. Tentukan jumlah angka tahun b. Penyusutan tiap tahun dihitung dari Harga Perolehan Disusutkan (Harga Perolehan Nilai Sisa) c. Dengan jumlah angka tahun sebagai penyebut, maka penyusutan tiap tahun ditentukan dengan memakai angka tahun
~77~ Akuntansi Dasar II

sebagai pembilang, dan dimulai dari angka tahun yang paling besar sesuai dengan umur aktiva yang bersangkutan. Jumlah angka tahun = 1 + 2 + 3 + 4 + 5 = 15 Atau dengan Rumus = n (n + 1) = 5 (5 + 1) = 15 2 2 Harga Perolehan Disusutkan : Rp 500.000.000,00 Rp 50.000.000,00 = Rp 450.000.000,00 Penyusutan : Th. 1 2 3 4 5 = 5/15 x Rp 450.000.000,00 = Rp 150.000.000,00 4/15 x Rp 450.000.000,00 = Rp 120.000.000,00 3/15 x Rp 450.000.000,00 = Rp 90.000.000,00 2/15 x Rp 450.000.000,00 = Rp 60.000.000,00 1/15 x Rp 450.000.000,00 = Rp 30.000.000,00

4. Metode Satuan Kapasitas Produksi (Units of Output Method) Di dalam metode ini, satuan yang dipakai untuk menetapkan besarnya penyusutan adalah : Hasil produksi/jam kerja aktiva tetap yang bersangkutan. Penyusutan per unit = Harga Perolehan Nilai Sisa Taksiran Total Produksi = Rp 500.000.000,00 Rp 50.000.000,00 = Rp 45,00 10.000 Misalnya produksi selama 5 tahun berturut-turut : 3.000 unit, 2.500 unit, 2.000 unit 1.500 unit, dan 1.000 unit. Maka penyusutan per tahun : 1. = 3.000 unit x Rp 45,00 = Rp 135.000.000,00 2. = 2.500 unit x Rp 45,00 = Rp 112.500.000,00 3. = 2.000 unit x Rp 45,00 = Rp 90.000.000,00 4. = 1.500 unit x Rp 45,00 = Rp 67.500.000,00 5. = 1.000 unit x Rp 45,00 = Rp 45.000.000,00

E. PENGHENTIAN AKTIVA TETAP


Yang dimaksud dengan penghentian aktiva tetap ialah : tidak dipakainya lagi suatu aktiva tetap dalam operasi perusahaan dan disertai penghapusan aktiva tetap tersebut dari pembukuan.
Adapun alasan-alasan/sebab-sebab penghentian aktiva tetap antara lain :

1. 2. 3. 4. 5.

Habis umur ekonomis, Dijual sebelum habis umur ekonomis, Rusak sebelum habis umur ekonomis, Rusak akibat kecelakaan sebelum habis umur ekonomis, Ditukar dengan aktiva baru sebelum habis umur ekonomis.

~78~

Akuntansi Dasar II

Pada prinsipnya pencatatan berhubungan dengan penghentian suatu aktiva tetap adalah sbb : 1) Diadakan penyesuaian terhadap penyusutan apabila penghentian tersebut terjadi pada periode yang sedang berjalan, tidak pada awal/akhir periode, 2) Saldo akumulasi penyusutan aktiva tersebut seluruhnya dihapus (jumlah setelah penyesuaian), dengan jalan mendebet akun akumulasi penyusutan sebesar saldonya, 3) Akun aktiva dikredit sebesar harga perolehan aktiva tetap tersebut, 4) Nilai buku pada saat penghentian (harga perolehan dikurangi seluruh penyusutan sampai dengan saat penghentian) dicatat : (a) Rugi penghentian aktiva tetap apabila aktiva tetap tersebut tidak dijual, (b) Apabila aktiva tetap tersebut dijual, maka selisih nilai buku dengan harga jual dicatat : Debet : Rugi penjualan aktiva tetap, apabila : Harga jual < Nilai buku Kredit : Laba penjualan aktiva tertap, apabila : Harga jual > nilai buku (c) Apabila aktiva tetap tersebut ditukar dengan aktiva baru, maka selisih nilai buku dengan nilai dalam pertukaran dicatat : Debet : Rugi pertukaran aktiva tetap, apabila : Harga jual < Nilai buku Kredit : Laba pertukaran aktiva tertap, apabila : Harga jual > nilai buku Contoh : Pada tanggal 8 Januari 1993 PT. Mujur membeli sebuah mesin dengan tunai seharga Rp 8.000.000,00. Mesin ditaksir mempunyai umur ekonomis 5 (lima) tahun dengan nilai sisa Rp 500.000,00. Penyusutan mesin ditetapkan menurut metode garis lurus. Diminta : Buatlah jurnal untuk PT. Mujur berdasarkan ketentuan-ketentuan berikut ini : 1. Pada tanggal 10 Januari 1998 mesin dijual dengan harga sebesar nilai buku, 2. Pada tanggal 10 Januari 1998 mesin dibuang sebagai rongsokan, 3. Pada tanggal 30 Juni 1996 mesin rusak dan dibuang sebagai rongsokan, 4. Pada tanggal 30 Juni 1996 mesin terbakar dan dibuang sebagai rongsokan, 5. Pada tanggal 30 Juni 1996 mesin ditukar dengan mesin baru. Harga pasar mesin baru Rp 10.000.000,00 pembayaran : mesin lama ditambah uang tunai sebesar Rp 7.000.000,00 Jawab : 1. Jurnal tanggal 10 Januari 1998 (mesin dijual seharga nilai buku)
~79~ Akuntansi Dasar II

Kas Akumulasi penyusutan mesin Mesin

Rp

500.000,00 Rp 7.500.000,00 Rp 8.000.000,00

Perhitungan : Harga perolehan mesin Rp 8.000.000,00 Penyusutan : 1993 = Rp 8.000.000 Rp 500.000 Rp 1.500.000,00 5 1994 = sda Rp 1.500.000,00 1995 = sda Rp 1.500.000,00 1996 = sda Rp 1.500.000,00 1997 = sda Rp 1.500.000,00 Rp 7.500.000,00 Nilai buku saat penjualan Rp 500.000,00 Harga jual Rp 500.000,00 Laba/rugi penjualan Rp 0,00 Seandainya harga jual tidak Rp 500.000,00 maka selisihnya merupakan laba/rugi penjualan sbb :
Harga jual Rp 400.000, Rugi penjualan mesin Rp 500.000 Rp 400.000 = Rp 100.000 Harga jual Rp 560.000, Rugi penjualan mesin Rp 500.000 Rp 560.000 = Rp 60.000

2. Jurnal tanggal 10 Januari 1998 (mensin dibuang sebagai rongsokan) Akumulasi penyusutan mesin Rp 7.500.000,00 Rugi penghentian mesin Rp 500.000,00 Mesin Rp 8.000.000,00 Perhitungan : Harga perolehan mesin Rp 8.000.000,00 Penyusutan 1993 s/d 1997 Rp 7.500.000,00 Nilai buku pada saat penghentian Rp 500.000,00 (Kerugian penghentian) 3. Jurnal tanggal 30 Juni 1996 (mesin rusak dan dibuang sebagai rongsokan) Beban penyusutan mesin Rp 750.000,00 Akumulasi penyusutan mesin Rp 750.000,00 Akumulasi penyusutan mesin Rugi karena kerusakan mesin Mesin Perhitungan :
~80~ Akuntansi Dasar II

Rp 5.250.000,00 Rp 2.750.000,00 Rp 8.000.000,00

Harga perolehan Penyusutan : 1993 = 1994 = 1995 = 1996 = (1/1 30/6) = 6 bulan 6/12 x Rp 1.500.000,00

Rp 8.000.000,00 Rp 1.500.000,00 Rp 1.500.000,00 Rp 1.500.000,00 Rp 750.000,00 Rp 5.250.000,00 Rp 2.750.000,00

Nilai buku pada saat rusak (kerugian)

4. Jurnal tanggal 30 Juni 1996 (mesin terbakar dan dibuang sebagai rongsokan) Beban penyusutan mesin Rp 750.000,00 Akumulasi penyusutan mesin Rp 750.000,00 Akumulasi penyusutan mesin Rugi karena kebakaran mesin Mesin Rp 5.250.000,00 Rp 2.750.000,00 Rp 8.000.000,00

Keterangan : Perhitungan sama dengan jawaban no.3 di atas, hanya akun untuk mencatat kerugian disesuaikan dengan sebab terjadinya kerugian tersebut. Apabila aktiva tetap yang mengalami kecelakaan diasuransikan, maka ganti rugi yang diterima dari perusahaan asuransi yang menanggung aktiva tersebut dicatat sebagai pengurang kerugian. Misalnya dari contoh di atas pada tanggal 7 Juli 1996 diterima ganti rugi dari perusahaan asuransi sebesar \Rp 2.000.000,00,maka penerimaan ini dicatat dengan jurnal : Kas Rp 2.000.000,00 Rugi karena kebakaran mesin Rp 2.000.000,00 5. Jurnal tanggal 30 Juni 1996 (mesin ditukar degan mesin baru) Beban penyusutan mesin Rp 750.000,00 Akumulasi penyusutan mesin Rp 750.000,00 Mesin (baru) Akumulasi penyusutan mesin Kas Mesin (lama) 8.000.000,00 Laba pertukaran mesin Perhitungan : Harga perolehan mesin Penyusutan : 1993 = 1994 = 1995 = 1996 = (1/1 30/6) = 6 bulan 6/12 x Rp 1.500.000,00 Rp 10.000.000,00 Rp 5.250.000,00 Rp 7.000.000,00 Rp Rp Rp 8.000.000,00 Rp 1.500.000,00 Rp 1.500.000,00 Rp 1.500.000,00 Rp
~81~

250.000,00

750.000,00
Akuntansi Dasar II

Rp 5.250.000,00 Nilai buku pada saat pertukaran Rp 2.750.000,00 Nilai saat pertukaran : Rp 10.000.000 Rp 7.000.000 Rp 3.000.000,00 Laba pertukran mesin Rp 250.000,00

LATIHAN SOAL :
1. Pada tanggal 30 Juni 1997 PT. AA membeli tunai sebuah mesin seharga Rp 3.250.000,00. Sebelum dapat dipergunakan terhadap mesin tersebut dibayar : a. Ongkos angkut \rp 250.000,00 b. Biaya pemasangan \rp 200.000,00 c. Biaya reparasi dan percobaan Rp 300.000,00 Mesin mulai dipergunakan 20 Agustus 1997, ditaksir mempunyai umur ekonomis 8 tahun dengan nilai sisa sebesar Rp 400.000,00 Diminta : Tentukan besarnya harga perolehan mesin tersebut. Buatlah jurnal untuk memcatat pembelian serta pembayaran pengeluaran-pengeluaran yang berhubungan dengan mesin tersebut Hitunglah besarnya penyusutan mesin untuk tahun 1997 dan 1998 apabila untuk menentukan besarnya penyusutan dipakai : Metode garis lurus Metode jumlah angka-angka tahun Metode persentasi nilai buku dengan tariff penyusutan: dua kali persentasi menurut garis lurus Buatlah jurnal pada saat pembelian mesin, apabila mesin dibayar sebagai berikut : uang muka pada saat pembelian Rp 250.000,00, sisanya dilunasi dengan 8 (delapan) angsuran bulanan masingmasing Rp 400.000,00 tiap angsuran 2. Sebuah perusahaan mempunyai sebuah mesin dengan harga pembelian sebesar Rp 26.278.000,00 ditaksir umur ekonomisnya (masa manfaatnya) 5 tahun atau 50.000 jam kerja, dan ditentukan nilai residu (nilai sisa) sebesar Rp 2.278.000,00 Diminta : Hitunglah biaya penyusutan tiap-tiap tahun, apabila perusahaan menggunakan metode perhitungan untuk menghitung besarnya penyusutan : e. Metode garis lurus (Straight Line Method) f. Metode jumlah angka-angka tahun (Sum of the years digit method) g. Metode jam kerja (Sevice Hour Method) bila diketahui jam kerja setiap tahunnya sbb : Tahun 1 10.000 jam Tahun 2 12.000 jam
~82~ Akuntansi Dasar II

Tahun 3 13.000 jam Tahun 4 8.000 jam Tahun 5 7.000 jam Keterangan : 1) Tunjukkan data perhitungan dalam menjawab a, b, c tersebut di atas 2) Khusus untuk pertanyaan b dan c pergunakan diagram seperti di bawah ini. Tahu Akumulasi Nilai Perhitungan Penyusutan n Penyusutan Buku 3. Fa. AA pada tanggal 29 Maret 1995 membeli sebuah mesin dengan harga Rp 6.250.000,00. Ditaksir umur ekonomis mesin tersebut 5 (lima) tahun dengan nilai sisa sebesar Rp 250.000,00 Diminta : Buatlah jurnal pada tanggal 29 Maret 1998 apabila pada tanggal tersebut mesin dihentikan pemakaiannya dengan anggapan sbb : a. Dijual tunai seharga Rp 3.000.000,00 b. Dibuang sebagai rongsokan karena mengalami kebakaran c. Ditukar dengan mesin baru seharga Rp 7.500.000,00. Pembayaran mesin baru adalah sbb : Mesin lama ditambah uang tunai sebesar Rp 5.000.000,00 4. PT. Makmur selama tahun 1996, membeli 4 (empat) buah mesin sbb : 05 Jan Dengan harga Rp 6.250.000,00. ditaksir umur ekonomis 5 tahun dengan nilai residu Rp 250.000,00 29 Mar 2 (dua) buah mesin masing-masing dengan harga Rp 8.150.000,00, tiap mesin ditaksir mempunyai umur ekonomis 8 tahun dan masing-masing nilai sisa Rp 150.000,00 05 Okt Dengan harga Rp 7.200.000,00 ditaksir umur ekonomis 5 tahun tanpa nilai sisa. Selama tahun 1997 terjadi transaksi-transaksi yang berhubungan dengan mesin sbb : 20 Juni Salah satu dari mesin yang dibeli tanggal 29/3 1996, ditukar dengan mesin baru seharga Rp 10.000.000,00. Pembayaran Rp 3.000.000,00. Mesin baru ditaksir mempunyai umur ekonomis 10 tahun tanpa nilai sisa. 10 AgustDibeli sebuah mesin baru seharga Rp 6.000.000,00 dengan taksiran umur ekonomis 5 tahun tanpa nilai sisa. 30 Okt Mesin yang dibeli tanggal 5/10 1996, dijual tunai dengan harga 25% (dua puluh lima persen) di atas nilai bukunya. Diminta : a. Jurnal transaksi mesin 1996 dan 1997, pembelian dibayar tunai.

~83~

Akuntansi Dasar II

b. Jurnal penyesuaian untuk mencatat penyusutan mesin pada tanggal 31 Desember 1996 dan 31 Desember 1997 (Penyusutan mesin ditetapkan dengan metode garis lurus) 01 Juli 1990 PT. AA membeli sebuah kendaraan seharga Rp 50.000.000,00. dimana umur ekonomis kendaraan tersebut ditaksir 5 tahun dengan nnilai sisa sebesar Rp 5.000.000,00 Diminta : Hitunglah penyusutan kendaraan tersebut sampai tahun ke 5 dengan bagan sbb: Tahu Akumulasi Nilai Perhitungan Penyusutan n Penyusutan Buku Keterangan : o Perhitungan penyusutan menggunakan Metode jumlah angka-angka tahun o PT. AA menutup pembukuannya tiap tanggal 31 Desember.

INVESTASI JANGKA PENDEK DAN JANGKA PANJANG


A. INVESTASI JANGKA PENDEK
1. Pengertian

~84~

Akuntansi Dasar II

Yang dimaksud dengan investasi jangka pendek adalah : Penanaman modal dengan maksud digunakan kembali dalam jangka pendek yang pada umumnya dilakukan dengan pembelian surat-surat berharga (saham / dan obligasi). 2. Pencatatan Apabila investasi jangka pendek dalam bentuk pembelian saham / dan obligasi, maka semua transaksi berhubungan dengan pembelian dan penjualan surat-surat berharga tersebut dicatat dalam satu akun, yaitu : Investasi jangka pendek / efek / surat berharga (marketable securities). Adapun prinsip pemakaian akun tersebut sbb : Debet : Pada saat pembelian saham / dan obligasi berdasarkan harga perolehan (cost), yang terdiri dari harga beli ditambah ongkosongkos pembelian (provisi dan materai) Kredit : Pada saat penjualan saham / dan obligasi berdasarkan harga perolehan (cost), tanpa memperhatikan besarnya harga jual. Apabila sebelum penjualan terdapat beverapa pembelian yang masingmasing mempunyai harga perolehan yang berbeda-beda, maka harga pokok penjualan ditentukan sbb : 1. Berdasarkan identifikasi apabila penjualan tersebut dapat diketahui dengan pasti berasal dari pembelian tertentu. 2. Apabila penjualan tersebut tidak diketahui berasal dari sesuatu pembelian (tidak dapat diidentifikasi), maka harga pokok penjualan ditentukan berdasarkan : a. MPKP (FIFO), metode ini dipakai secara umum (apabila tidak ditentukan metode yang digunakan), b. MTKP, c. Rata-rata. Apabila harga jual efek tidak sama dengan harga pokok, maka selisih tersebut (selisih harga jual dengan harga pokok) dicatat : Debet : Rugi penjualan efek (Loss on sale of marketable securities), apabila harga jual lebih kecil dari harga pokok. Kredit : Laba penjualan efek (Profit/Gain on sale of marketable securities), apabila harga jual lebih besar dari harga pokok. Apabila efek terdiri dari obligasi, maka bunga berhubungan dengan obligasi tersebut dicatat pada akun : Pendapatan bunga sbb : Debet : Sebesar bunga berjalan (tanggal kupon terakhir ke tanggal pembelian) pada saat pembelian.

Kredit : a. Sebesar bunga berjalan (tanggal kupon terakhir ke tanggal penjualan) pada saat penjualan,
~85~ Akuntansi Dasar II

b. Sebesar bunga untuk 6 (enam) bulan tiap-tiap menerima bunga pada tanggal kupon c. Sebesar bunga berjalan (tanggal kupon terakhir ke tanggal penutupan pembukuan) pada saat penutupan pembukuan (akhir) periode akuntansi. Catatan : a. Yang dimaksud dengan tanggal kupon ialah tanggal-tanggal pembayaran bunga obligasi yang umumnya tiap-tiap 6 (enam) bulan, misalnya : 1/1 1/7; 1/3 1/9 dan seterusnya, b. Bunga berjalan ialah : bunga yang telah timbul tetapi belum diterima, dihitung dari tanggal pembayaran (tanggal kupon) terakhir ke tanggal transaksi / ke tanggal akhir periode, c. Apabila transaksi tanggal : 16/4 dengan tanggal kupon 1/3 1/9 : maka bunga berjalan : 1/3 15/4 = 45 hari (1 bulan + 15 hari). Sebaliknya bunga berjalan ke akhir periode (31/12) ; 1/9 30/12 = 120 hari / 4 bulan ( 3 bulan + 30 hari). Contoh : PT. AZIZ melakukan transaksi yang bersangkutan dengan investasi jangka pendeknya (efek) selama tahun 2004. 05 Mar Dibeli 20 lembar saham PT. Semen Cibinong nominal Rp 100.000,00, per lembar kurs 97,5 % ditambah provisi dan materai Rp 25.000,00 15 Mar Dibeli 40 lembar, 12 % obligasi PT. Jasa Marga nominal Rp 100.000,00 per lembar kurs 108 % kupon : 1/3 1/9, ditambah provisi dan materai Rp 25.000,00 20 Apr Dibeli 60 lembar, 12 % obligasi PT. Jasa Marga, nominal Rp 100.000,00 per lembar, kurs 94 % kupon 1/3 1/9, ditambah provisi dan materai Rp 25.000,00 20 Mei Dibeli 30 lembar saham PT. Semen Cibinong, nominal Rp 100.000,00 per lembar dengan kurs 115 %, ditambah provisi dan materai Rp 25.000,00 30 Mei Dijual 50 lembar, 12 % obligasi PT. Jasa Marga dengan kurs 104 %, dengan provisi dan materai Rp 25.000,00 15 Juni Dijual 30 lembar saham PT. Semen Cibinong dengan kurs 110 % dengan provisi dan materai Rp 25.000,00

Diminta : Buatlah jurnal untuk PT. AZIZ, mencatat transaksi-transaksi tersebut di atas dengan ketentuan : a. Perusahaan memakai metode MPKP (FIFO) b. Perusahaan memakai metode MTKP (LIFO) Jawab : a. Perusahaan memakai metode MPKP (FIFO)
~86~ Akuntansi Dasar II

Dibeli 20 lembar saham PT. Semen Cibinong. 05 Mar Efek Rp 1.975.000,00 Kas Rp 1.975.000,00 Perhitungan : Kurs beli 97,5 % x (20 lbr x Rp 100.000,00) Provisi dan materai Harga perolehan (cost) efek Rp 1.950.000,00 Rp 25.000,00 Rp 1.975.000,00

Dibeli 40 lembar, 12 % obligasi PT. Jasa Marga. 15 Mar Efek Rp 4.345.000,00 Pendapatan bunga Rp 20.000,00 Kas Pp 4.365.000,00 Perhitungan : Kurs beli 108 % (40 lbr x Rp 100.000,00) Provisi dan materai Harga perolehan (cost) efek Bunga berjalan (1/3 15/3) = 15 hari 15/360 x (12 % x Rp 4.000.000,00) Jumlah dibayar per kas Rp 4.320.000,00 Rp 25.000,00 Rp 4.345.000,00 Rp 20.000,00 Rp 4.365.000,00

Dibeli 60 lembar, 12 % obligasi PT. Jasa Marga. 20 Apr Efek Rp 5.665.000,00 Pendapatan bunga Rp 100.000,00 Kas Rp 5.765.000,00 Perhitungan : Kurs beli 94 % (60 lbr x Rp 100.000,00) Provisi dan materai Harga perolehan (cost) efek Bunga berjalan (1/3 20/4) = 50 hari 50/360 (12 % x Rp 6.000.000,00) Jumlah dibayar per kas Rp 5.640.000,00 Rp 25.000,00 Rp 5.665.000,00 Rp 100.000,00 Rp 5.765.000,00

Dibeli 30 lembar saham PT. Semen Cibinong. 20 Mei Efek Rp 3.475.000,00 Kas Rp 3.475.000,00 Perhitungan : Kurs beli 115 % (30 lbr x Rp 100.000,00) Provisi dan materai Harga perolehan (cost) efek Rp 3.450.000,00 Rp 25.000,00 Rp 3.475.000,00

Dijual 50 lembar, 12 % obligasi PT. Jasa Marga. 30 Mei Kas Rp 5.325.000,00 Rugi penjualan efek Rp 114.166,67 Efek Rp 5.289.166,67 Pendapatan bunga Rp 150.000,00
~87~ Akuntansi Dasar II

Perhitungan : Kurs jual 104 % (50 lbr x Rp 100.000,00) Rp 5.200.000,00 Provisi dan materai Rp 25.000,00 Harga jual bersih Rp 5.175.000,00 Harga pokok (MPKP) : Pembelian 15/3 = 40 lbr Rp 4.345.000,00 Pembelian 20/4 = 10 lbr 10/60 x Rp 5.665.000,00 Rp 944.166,67 Rp 5.289.166,67 Rugi penjualan efek Rp 114.166,67 Harga jual bersih Rp 5.175.000,00 Bunga berjalan (1/3 30/5) = 90 90/360 (12 % x Rp 5.000.000,00) Rp 150.000,00 Jumlah diterima per kas Rp 5.325.000,00 Dijual 30 lembar saham PT. Semen Cibinong. 15 Juni Kas Rp 3.275.000,00 Efek Rp 3.133.333,00 Laba penjualan efek Rp 141.666,67 Perhitungan : Kurs jual 110 % (30 lbr x Rp 100.000,00) Rp 3.300.000,00 Provisi dan materai Rp 25.000,00 Harga jual bersih Rp 3.275.000,00 Harga pokok (MPKP) : Pembelian : 5/3 = 20 lbr Rp 1.975.000,00 Pembelian : 20/5 = 10 lbr 10/30 x Rp 3.475.000,00 Rp 1.158.333,33 Rp 3.133.333,33 Laba penjualan efek Rp 141.666,67 b. Perusahaan memakai metode MTKP (LIFO) Khusus untuk transaksi pembelian baik metode MPKP (FIFO), maupun metode MTKP (LIFO) perhitungannya adalah sama. Oleh sebab itu dalam metode MTKP (LIFO) ini hanya dibuat pencatatan penjualan (perbedaan kedua metode ini hanya dalam perhitungan : Haraga Pokok Penjualan. Dijual 50 lembar, 12 % obligasi PT. Jasa Marga. 30 Mei Kas Rp 5.325.000,00 Efek Rp 4.720.833,33 Pendapatan bunga Rp 150.000,00 Laba penjualan efek Rp 454.166,67 Perhitungan : Kurs jual 104 % (50 lbr x Rp 100.000,00) Provisi dan materai Harga jual bersih Harga pokok (MTKP) :
~88~

Rp 5.200.000,00 Rp 25.000,00 Rp 5.175.000,00


Akuntansi Dasar II

Pembelian 20/4 = 50/60 x Rp 5.665.000,00 Laba penjualan efek

Rp

Rp 4.720.833,33 454.166,67

Harga jual bersih Rp 5.175.000,00 Bunga berjalan (1/3 30/5) = 90 90/360 (12 % x Rp 5.000.000,00) Rp 150.000,00 Jumlah diterima per kas Rp 5.325.000,00 Dijual 30 lembar saham PT. Semen Cibinong. 15 Juni Kas Rp 3.275.000,00 Rugi penjualan efek Rp 200.000,00 Efek Rp 3.475.000,00 Perhitungan : Kurs jual 110 % (30 lbr x Rp 100.000,00) Provisi dan materai Harga jual bersih Harga pokok (MTKP) : Pembelian : 20/5 = 30 lbr Rugi penjualan efek Rp 3.300.000,00 Rp 25.000,00 Rp 3.275.000,00 Rp 3.475.000,00 Rp 200.000,00

Kemudian seandainya sampai dengan 31 Desember 2004, tidak ada lagi transaksi pembelian maupun penjualan efek, maka pencatatan yang perlu dibuat berhubungan dengan efek tersebut adalah sbb : 1 Sept (Tanggal kupon), mencatat penerimaan bunga obligasi atas sisa obligasi yang masih ada, yaitu : 50 lembar (40 lbr + 60 lbr 50 lbr) sbb : Kas Pendapatan bunga Rp 300.000,00 Rp 300.000,00

1 Sept

Perhitungan : Bunga : (1/3 1/9) = 6 bln dari nominal 50 lbr x Rp 100.000,00 = Rp 5.000.000,00 6/12 (12 % x Rp 5.000.000,00) = Rp 300.000,00 31 Des 31 Des (Tanggal akhir periode) mencatat bunga berjalan atas sisa obligasi sebagai berikut : Kas Pendapatan bunga Rp 200.000,00 Rp 200.000,00

Perhitungan : Bunga berjalan s/d 31/12 = 1/9 31/12 = 120 hari 120/360 (12 % x Rp 5.000.000,00) = Rp 200.000,00 3. Penilaian Efek
~89~ Akuntansi Dasar II

Untuk menilai persediaan efek di neraca pada akhir periode terdapat beberapa metode sebagai berikut : 1. Metode harga perolehan (cost) Menurut metode ini, maka persediaan efek di neraca selalu dicatat sebesar harga perolehan. Dengan demikian nilai persediaan efek selalu sama dengan saldo akun efek. (Efek di Debet dan di Kredit menurut harga perolehan dengan demikian saldonya tentu sama dengan harga perolehan juga), 2. Nilai terendah antara harga pokok dengan harga pasar dapat dicatat berdasarkan : a. Harga pokok (cost), apabila pada saat penilaian tersebut, harga pasar lebih tinggi dari harga pokok b. Harga pasar (harga pokok pengganti), apabila pada saat penilaian efek tersebut, harga pasar lebih rendah dari harga pokok. Dalam hal ini terhadap akun efek harus dibuat jurnal penyesuaian untuk menurunkan nilai efek itu sebagai berikut : Turunnya nilai efek Cadangan turunya nilai efek xxx xxx

B. INVESTASI JANGKA PANJANG


1. Pengertian Yang dimaksud dengan investasi jangka panjang ialah penanaman modal untuk jangka panjang (lebih dari satu tahun) Investasi jangka panjang dapat dilakukan dalam bentuk : 1. Investasi dalam saham (Investment in stock) 2. Investasi dalam obligasi (Investment in bond) 3. Investasi dalam dana (Investment in Fund) 2. Investasi Dalam Saham Yang dimaksud dengan investasi dalam saham ialah pembelian sahamsaham perusahaan lain dengan maksud dimiliki dalam jangka panjang (lebih dari satu tahun), baik saham tersebut merupakan saham biasa maupun saham preferen. Adapun tujuan investasi jangka panjang dalam saham pada umumnya adalah : 1. Untuk memperoleh pendapatan, yaitu berupa dividen, 2. Untuk dapat mengontrol perusahaan lain, 3. Untuk membentuk dana khusus, 4. Untuk menjaga hubungan baik antar perusahaan. Pencatatan Pembelian Saham

~90~

Akuntansi Dasar II

Pada prinsipnya pencatatan pembelian saham untuk investasi jangka panjang adalah sama dengan pembelian saham dalam investasi jangka pendek (efek), yatiu : di Debet dan di Kredit sebesar harga perolehan (Cost), tetapi dengan memakai akun investasi dalam saham / penanaman modal dalam saham. Apabila saham yang dibeli terdiri dari dua jenis (saham biasa dan sahm preferen), maka pembelian tersebut dicatat secara terpisah masingmasing dalam akun : Penanaman Modal dalam Saham Biasa dan Penanaman Modal dalam Saham Preferen. Adapun dasar yang dipakai untuk menentukan harga pokok masing-masing saham adalah : Harga pasar masing-masing saham, atau total harga pokok dikurangi harga pasar saham yang diketahui (Apabila yang diketahui hanya harga pasar saham satu jenis saham). Apabila tidak ada yang diketahui harga pasar kedua jenis saham tersebut, maka pembelian itu dicatat dalam satu akun : Penanaman Modal dalam Saham Biasa dan Saham Preferen. Kelak apabila harga pasar salah satu saham / keduanya diketahui segera diadakan pemisahan. Contoh : Dibeli 60 lembar saham yang terdiri dari 20 lembar saham preferen dan 40 lembar saham biasa dengan harga Rp 4.200.000,00. Harga pasar masing-masing saham adalah sebagai berikut : Saham biasa @ Rp 49.625,00 Saham prereren @ Rp 75.750,00 Diminta : Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi di atas.

Jawab : Jurnal : Penanaman Modal dalam Saham Preferen Penanaman Modal dalam Saham Preferen Kas Rp 1.818.000 Rp 2.382.000 Rp 4.200.000

Perhitungan : Harga beli dua jenis saham Rp 4.200.000,00 Harga pasar masing-masing saham : Saham preferen = 20 x Rp 75.750,00 = Rp 1.515.000,00 Saham biasa = 40 x Rp 49.625,00 = Rp 1.985.000,00 Rp 3.500.000,00 Harga pokok saham preferen = 1.515.000 x Rp 4.200.000 Rp 1.818.000,00 3.500.000
~91~

Akuntansi Dasar II

Harga pokok saham biasa 2.382.000,00 Pencatatan Dividen

= 1.985.000 x Rp 4.200.000 3.500.000

Rp

Sebagai hasil penanaman dalam saham ialah dividen (bagian laba yang dibagikan kepada para pemegang saham). Dividen yang dibagikan tersebut dapat berbentuk: 1. Uang tunai (Cash Dividen) 2. Aktiva (Property Dividen) 3. Saham dari perusahaan yang bersangkutan (Stock Dividen.
1.

Dividen Uang Tunai (Cash Dividen) Pencatatan pada saat penerimaan adalah sbb : Kas xxx Pendapatan dividen xxx Apabila yang diterima itu berupa dividen likwidasi, yaitu dividen yang disertai pengembalian modal, maka jurnalnya sbb : Kas xxx Pendapatan dividen xxx Penanaman Modal xxx Dividen likwidasi biasanya diberikan oleh perusahaan mengusahakan sumber-sumber alam seperti tambang. yang

~92~

Akuntansi Dasar II

2.

Dividen Aktiva (Property Dividen) Apabila dividen yang diterima berupa aktiva lain diluar uang tunai, maka dividen tersebut dicatat sebesar harga pasar dari aktiva yang bersangkutan, dan dijurnal sbb : . (nama aktiva yang diterima) xxx Pendapatan dividen xxx Saham dari perusahaan yang bersangkutan (Stock Dividen. Dividen saham ialah dividen yang diterima berupa saham dari perusahaan yang mengeluarkan saham yang telah dimiliki. Pencatatan dividen saham sbb : a. Apabila saham yang diterima itu sejenis dengan saham yang dimiliki, maka penerimaan tersebut tidak dijurnal, hanya dicatat sebagai memo. Hal ini disebabkan nilai buku saham tetap, hanya saja harga poikok sham yang dimiliki untuk tiap lembar turun. b. Apablila saham yang diterima berbeda dengan saham yang dimiliki, maka penerimaan itu dicatat, dan pemisahan harga pokoknya didasarkan harga pasar tiap-tiap jenis saham yang bersangkutan.

3.

Contoh : 1. Dibeli 60 lembar saham biasa @ Rp 100.000,00. Nominal per lembar dengan harga Rp 105.000,00 per lembar, 2. Diterima sebagai dividen 40 lembar saham @ Rp 100.000,00. Nominal per lembar 3. Dijual 10 lembar saham biasa denga harga Rp 107.500,00 per lembar. Untuk mencatat transaksi tersebut dibuat jurnal sbb : 1. Investasi dalam saham biasa Rp 6.300.000,00 Kas Rp 6.300.000,00 2. Apabila yang diterima saham biasa, penerimaan tidak dijurnal. Dalam hal ini harga pokok saham yang dimiliki per lembar akan menjadi : Rp 6.300.000,00 ; (60 lbr + 40 lbr) = Rp 63.000,00 Apabila saham yang diterima adalah saham preferen, maka diadakan pemisahan berdasarkan harga pasar masing-masing saham. (Seandainya diketahui harga pasar saham preferen @ Rp 97.500,00/lembar dan saham biasa @ Rp 85.000,00 per lembar, maka jurnal dibuat sbb : Investasi dalam saham preferen Rp 2.730.000,00 Investasi dalam saham biasa Rp 2.730.000,00 Perhitungan : Harga pasar saham biasa = 60 x Rp 85.000,00 = Rp 5.100.000,00 Harga pasar saham preferen = 40 x Rp 97.500,00 = 3.900.000,00 Rp 9.000.000,00

Rp

~93~

Akuntansi Dasar II

Harga pokok saham biasa = 5.100.000 x Rp 6.300.000 = Rp 3.570.000 9.000.000 Harga pokok saham preferen = 3.900.000 x Rp 6.300.000 = Rp 2.730.000 9.000.000 3. Untuk mencatat penjualan perlu diperhatikan apakah yang dijual tersebut saham biasa / saham preferen Apabila yang diterima sebagai dividen adalah saham biasa, maka jurnal pada saat penjualan sbb : Kas Rp 1.075.000,00 Investasi dalam saham biasa Rp 630.000,00 Laba penjualan saham Rp 445.000,00 Perhitungan : Harga jual = 10 x Rp 107.500,00 = Rp 1.075.000,00 Harga pokok = 10 x Rp 63.000,00 = Rp 630.000,00 Laba penjualan saham Rp 445.000,00 (Setelah penerimaan dividen saham biasa 40 lembar, jumlah saham biasa menjadi 100 lembar dengan harga pokok Rp 630.000,00) Apabila yang diterima sebagi dividen adalah saham preferen, maka jurnar untuk mencatat penjualan sbb : Kas Rp 1.075.000,00 Investasi dalam saham biasa Rp 595.000,00 Laba penjualan saham Rp 480.000,00 Perhitungan : Harga jual = 10 x Rp 107.500,00= Rp 1.075.000,00 Harga pokok = 10 x Rp 3.570.000,00= Rp 595.000,00 60 Laba penjualan sahm = Rp 480.000,00 (Setelah penerimaan dividen berupa saham preferen maka harga pokok saham biasa untuk 60 lembar adalah Rp 3.570.000,00)

~94~

Akuntansi Dasar II

UTANG JANGKA PENDEK DAN UTANG JANGKA PANJANG


A. PENGERTIAN
Utang ialah : kewajiban kepada pihak luar perusahaan (pihak ke tiga) yang harus dibayar pada suatu saat tertentu dalam bentuk uang / jasa. Berdasarkan sifat (waktu, pembayaran), maka utang dibagi menjadi :
1.

Utang Jangka Pendek (Current Liabilities) Yaitu utang yang waktu pembayarannya tidak lebih dari satu tahun. Dalam neraca sebagai laporan utang jangka pendek disusun sebagai berikut : a. Utang Wesel (Wesel Bayar) Yaitu utang yang disertai adanya perjanjian formil secara tertulis. Wesel Bayar timbul pada saat : 1) Menandatangani Wesel /mengaksep Wesel, 2) Menyerahkan Promes / Aksep b. Utang (Utang Dagang) Yaitu utang yang timbul akibat : Pembelian kredit barang / jasa / meminjam uang tetapi tidak disertai adanya perjanjian tertulis c. Biaya Terutang (Biaya Yang Masih Harus Dibayar) Yaitu : Biaya-biaya yang sudah terjadi (sudah dinikmati manfaatnya), tetapi belum dibayar (timbul pada saat penyesuaian akhir tahun). Misalnya : Gaji yang masih harus dibayar, Sewa terutang, Bunga yang masih harus dibayar dll. d. Pendapatan Diterima Dimuka Yaitu : Pendapatan yang telah diterima tetapi transaksi yang mengakibatkan timbulnya pendapatan tersebut belum terjadi (timbul pada saat penyesuaian akhir tahun). Misalnya : Sewa diterima dimuka, dll

Contoh : Keterangan-keterangan yang berikut diambil dari catatan PD. AZIZ yang berhubungan dengan utang jangka pendeknya. 1. Pembelian barang dagang dari PT. AA seharga Rp 6.000.000,00 per 30 hari, 2. Dipinjam uang dari BPR RAMA sebesar Rp 10.000.000,00 untuk itu ditandatangani sebuah wesel per 3 bulan,
~95~ Akuntansi Dasar II

3. Diserahkan kepada kreditur (Toko Nisa) sebuah aksep per 60 hari sebesar nominal Rp 2.000.000,00 4. Pada tanggal 31 Desember dalam data untuk penyesuaian diketahui : a. Gaji pegawai yang masih harus dibayar sebesar Rp 600.000,00 b. Sewa diterima dimuka sebesar Rp 200.000,00 Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut, maka pencatatan (jurnal) yang harus dibuat oleh PD. AZIZ adalah sbb : 1. Pembelian Utang 6.000.000,00 2. Kas Wesel Bayar 10.000.000,00 3. Utang Wesel Bayar 200.000,00 4. Ayat Penyesuaian : a. Biaya Gaji Gaji YMH Dibayar Rp 6.000.000,00 Rp Rp 10.000.000,00 Rp Rp 200.000,00 Rp

Rp

600.000,00 Rp 200.000,00 Rp 200.000,00 600.000,00

b. Pendapatan Sewa Rp Sewa Diterima Dimuka

Selanjutnya seandainya tidak terdapat utang jangka pendek lain, selain yang disebutkan di atas, maka di neraca susunan utang jangka pendek akan terlihat sbb : Wesel Bayar Rp 10.200.000,00 Utang Rp 6.000.000,00 Gaji YMH Dibayar Rp 600.000,00 Sewa Diterima Dimuka Rp 200.000,00 Jumlah Utang Jangka Pendek Rp 17.000.000,00 2. Utang Jangka Panjang Yaitu : Utang yang waktu (jangka) pembayarannya lebih dari satu tahun. Adapun jenis utang jangka panjang yang lazim terjadi adalah : a. Pinjaman Hipotik b. Pinjaman Obligasi c. KIK (Kredit Investasi Kecil) d. KMKP (Kredit Modal Kerja Permanen) a. Pinjaman Hipotik Pinjaman Hipotik ialah : Pinjaman jangka panjang dengan jaminan barang-barang yang tidak bergerak (misalnya : Tanah dan Bangunan). Pencatatan berhubungan dengan pinjaman Hipotik meliputi : 1) Pada saat menerima (menutup) pinjaman :
~96~ Akuntansi Dasar II

Kas Utang Hipotik

xxx xxx

2) Pada saat membayar bunga (umumnya tiap-tiap 6 (enam) bulan misalnya : 1/3 1/9, - 1/10, dsb) Biaya Bunga xxx Kas xxx 3) Pada saat membayar / angsuran (apabila pelunasan secara angsuran) Utang Hipotik xxx Kas xxx 4) Pada saat akhir periode akuntansi (31/12) melalui ayat jurnal penyesuaian untuk : Bunga berjalan (bunga terutang) dari tanggal pembayaran bunga yang terakhir ke akhir periode dengan ayat penyesuaian : Biaya Bunga xxx Bunga YMH Dibayar xxx Apabila diinginkan agar bunga hipotik dicatat tersendiri / terpisah dari bunga pinjaman lainnya, maka untuk bunga yang berhubungan dengan Hipotik diberi tambahan Hipotik, misalnya : Biaya Bunga HIpotik dan Bunga Hipotik YMH Dibayar 5) Bagian dari Hipotik yang akan dibayar kurang dari satu tahun / pada periode berikutnya (angsuran Hipotik berikutnya) dicatat dengan ayat penyesuaian : Utang Hipotik xxx Angsuran Hipotik Terutang xxx Dalam hal ini pada saat pembayaran angsuran Hipotik tersebut dicatat dengan jurnal (pada periode berikutnya) : Angsuran Hipotik Terutang xxx Kas xxx Di dalam Neraca akun : Angsuran Hipotik Terutang disajikan sebagai utang jangka pendek. Contoh : Pada tanggal 1 Januari 2006, PT. FAJAR mendapat pinjaman Hipotik dari Bank Mandiri sebesar Rp 60.000.000,00 bunga 12 % dibayar tiap-tiap 1/4 1/10, dengan jaminan rumah dan tanah. Hipotik diangsur tiap-tiap 1/7 dimulai tanggal 1/7 2007, dengan besarnya tiap angsuran Rp 10.000.000,00 Diminta : Buatlah semua Jurnal yang diperlukan berhubungan dengan pinjaman tersebut (termasuk pencatatan, penyesuaian, penutupan dan pembalik) untuk tahun 2006 dan 2007.
~97~ Akuntansi Dasar II

Jawab : 2006 01 Jan Kas Utang Hipotik 01 Apr Biaya Bunga Kas

Rp 60.000.000,00 Rp 60.000.000,00 Rp 1.800.000,00 Rp 1.800.000,00

Pembayaran bunga (1/1 -1/4) = 3 bulan 3/12 (12 % x Rp 60.000.000,00) = Rp 1.800.000,00 01 Okt Biaya Bunga Kas Rp 3.600.000,00 Rp 3.600.000,00

Pembayaran bunga (1/4 1/10) = 6 bulan 6/12 (12 % x Rp 60.000.000,00) = Rp 3.600.000,00

~98~

Akuntansi Dasar II

AKUNTANSI DASAR II
(Akuntansi Perusahaan Dagang dengan Pendekatan Siklus Akuntansi)

Budi Lesmana, SE NIDN : 0424117403

Penulis :

POLITEKNIK PIKSI GANESHA BANDUNG

Pertama kali diterbitkan oleh :

Jl. Jend. Gatot Subroto 301 Bandung 40274 http://www.poltek-piksi-ganesha.ac.id, E-mail : Piksi.online@ yahoo.com

Daftar Isi
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI Bab 1 Bab 2 Bab 3 Bab 4 Bab 5 Bab 6 TRANSAKSI & AKUN KHAS PERUSAHAAN DAGANG Basic Entry Sales & Purchase Ledger, Daftar Akun, Prosedur Pencatatan transaksi. JURNAL KHUSUS PERUSAHAAN DAGANG. Buku-buku pembantu (sub-sidiary Ledger), masuk dan keluar Buku Kas 19 1

12

JURNAL PENYESUAIAN Penjurnalan, Bentuk Jurnal, Posting, Modul Besar, Bentuk Modul Besar, Neraca Saldo, Soal Latihan JURNAL PENUTUP, NERACA SALDO PENUTUPAN DAN JURNAL PEMBALIK NERACA LAJUR & LAPORAN KEUANGAN Neraca Lajur 8 Kolom, Neraca Lajur 10 Kolom, Laporan Laba/Rugi dari Neraca Lajur, Neraca dari Neraca Lajur JURNAL PENUTUP, NERACA SALDO PENUTUPAN dan JURNAL PEMBALIK

24 28

36

DAFTAR KEPUSTAKAAN

KATA PENGANTAR

Tidak dapat disangkal lagi bahwa kebutuhan akan kelengkapan belajar terutama modul/diktat-diktat yang lebih bersifat praktika lebih mendapatkan perhatian dari para pengguna modul/modul/diktat itu sendiri, hal ini didasari karena masih rendahnya minat baca dari peserta didik. Atas dasar perhatian tersebut penulis berusaha memberikan bantuan berupa modul/dikta/ modul ini dalam bentuk yang disukai dan didalamnya didukung oleh Soal dan Latihan untuk mereka latihan, mudah-mudahan dapat membantu meringankan dan memberikan wawasan yang luas bagi mahasiswa yang menggunakannya. Terimakasih saya sampaikan kepada rekan-rekan dosen yang telah memberikan saran dan kritik atas modul ini, mudah-mudahan kita semua selalu diberikan kecakapan dan kemampuan berpikir untuk berpikir maju dan terus berusaha. Mudah-mudahan modul yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat dan dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kecerdasan peserta didik. Kritik dan saran sangat saya harapkan.

Bandung, Maret 2007 Budi Lesmana abylesmana@gmail.com